You are on page 1of 4

Anton A.

Setyawan-Artikel Manajemen Publik

ARAH PEMBANGUNAN KOTA SOLO


Catatan Bagi AKU Kota Solo tahun 2006

Anton A. Setyawan, SE,MSi


Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta, saat ini
sedang menempuh studi lanjut di Program Doktor Ilmu-ilmu Ekonomi
UGM
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 571002
Telp : 0271-730021 (home) dan HP 08156718444
e-mail : agussetyawan-a@mailcity.com

Pada tanggal 1 November 2005 lalu, walikota Solo Ir Joko Widodo dan
Wakil Ketua DPRD Kota Solo Alqaf Hudaya menandatangani nota
kesepakatan arah dan kebijakan umum (AKU) APBD tahun 2006. AKU 2006
ini menjadi dasar bagi pemkot Solo dalam melaksanakan kebijakan
pembangunan dalam satu tahun ke depan. Agenda pembangunan kota Solo
diarahkan untuk menuju pemberdayaan masyarakat Solo. Agenda ini
kemudian diwujudkan dalam konsep pembangunan partisipatif oleh pemkot
Solo. Pembangunan partisipatif mempunyai banyak keuntungan bagi
pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah mendapatkan keuntungan berupa
kemudahan dalam memperoleh informasi tentang apa yang dibutuhkan
masyarakat. Selain itu pemerintah mempunyai banyak masukan yang akan
diformulasikan dalam bentuk kebijakan. Masyarakat juga mendapatkan
manfaat berupa diterimanya aspirasi mereka dalam wujud kebijakan
pembangunan.

Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Solo menyimpan banyak


potensi. Namun demikian krisis ekonomi, membuat perekonomian kota Solo
terpuruk. Sebagai contoh keterpurukan kota Solo dapat dilihat dari sumbangan
PDRB kota ini terhadap provinsi Jawa Tengah yang menurun. Dibanding kota
Salatiga yang lebih kecil, perkembangan ekonomi kota Solo masih kalah
(Sjahrir, 2003). Meskipun demikian, saat ini kota Solo sudah mulai berbenah
untuk membangun dirinya. Wujud pembenahan yang dilakukan kota Solo
adalah upaya pembangunan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa
yang perlu dibangun dan diperbaiki? Apa yang dibutuhkan masyarakat Solo
tercinta ini? Masihkah kita perlu melakukan pembangunan fisik? Beberapa

1
Fak. Ekonomi UMS-November 2005
Anton A. Setyawan-Artikel Manajemen Publik

agenda penting yang perlu dipertimbangkan dalam membangun kota Solo,


adalah pemulihan ekonomi regional, pemberantasan kemiskinan dan
pengembangan masyarakat (community development). Ketiganya perlu
menjadi perhatian pemkot Solo pada saat menentukan kebijakan
pembangunan bagi kota tercinta ini.

Pemulihan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan

Pemulihan ekonomi kota Solo menjadi agenda penting pembangunan


kota ini karena hal ini terkait dengan pemberantasan kemiskinan. Salah satu
cara pemulihan ekonomi kota Solo adalah dengan membangun iklim investasi
di daerah. Beberapa waktu lalu Komite Pengawasan Pelaksanaan Otonomi
Daerah (KPPOD) membuat suatu survei yang menilai daya tarik investasi dari
134 kabupaten di Indonesia. Survei tersebut menghasilkan peringkat 10
daerah di Indonesia yang mempunyai iklim investasi kondusif. Provinsi Jawa
Tengah menempatkan, Kota Semarang di urutan pertama sebagai daerah
tujuan investasi, Tegal menduduki peringkat tiga, serta Kendal pada peringkat
10. Kota Solo dalam peringkat investasi versi KPPOD tersebut tidak masuk
dalam daftar. Hal ini sangat menyedihkan mengingat kota ini termasuk kota
besar dengan potensi ekonomi tinggi.

PDRB kota Solo mendapatkan banyak sumbangan dari sektor jasa


terutama perdagangan dan pariwisata. Kenyataan ini seharusnya memberikan
garis besar kebijakan bagi pemkot Solo untuk menentukan pola pembangunan
ekonominya. Pengusaha harus distimulir agar bersedia menanamkan
modalnya di kota ini. Pemkot perlu membuat regulasi yang mengatur
kemudahan berinvestasi dalam sektor tersebut. Sebuah diskusi tentang iklim
investasi daerah yang dilakukan FE-UMS beberapa waktu lalu
mengungkapkan keluhan utama para pengusaha yang akan berinvestasi di kota
Solo adalah birokrasi yang bertele-tele dan masalah KKN. Untuk mengurus
perijinan usaha diperlukan waktu berbulan-bulan. Hal ini dikarenakan ketika
sebuah proyek investasi akan dilakukan maka pengusaha harus meminta ijin
dari pemerintah paling rendah yaitu kelurahan dan Badan Permusyawarahan
Desa, selanjutnya ijin kepada kecamatan, pemkot dan akhirnya DPRD. Pada
setiap level tersebut pengusaha harus memberikan sejumlah amplop pelicin,
yang kelak dibebankan pada harga jual atau mengurangi biaya tenaga kerja
(memperkecil upah tenaga kerja). Kondisi ini sebenarnya agak kontradiktif
dengan paradigma pembangunan partisipatif. Pengusaha dan pemkot
menginginkan agar proyek investasi “disetujui” oleh setiap tingkatan dalam
masyarakat, namun hal ini malah mempersulit perijinan investasi. Kondisi ini
2
Fak. Ekonomi UMS-November 2005
Anton A. Setyawan-Artikel Manajemen Publik

masih diperburuk oleh kualitas layanan yang diberikan aparatur pemkot.


Pejabat yang menduduki posisi penting dalam masalah perijinan usaha
berperilaku layaknya “raja-raja kecil”. Mereka selalu mempersulit perijinan,
bahkan di kalangan pengusaha timbul semacam ungkapan bahwa aparat
pemerintah daerah mempunyai pikiran ”kalau bisa dipersulit mengapa harus
dipermudah”. Penulis pernah mempunyai pengalaman tidak mengenakan
dengan pejabat pemerintah daerah, yaitu saat diajak berdiskusi tentang
membangun iklim investasi di daerahnya, ia bersikap skeptis, padahal
investasi adalah bidang tugasnya.

Pemulihan ekonomi akan berdampak langsung terhadap pemberantasan


kemiskinan. Realisasi investasi (langsung) yang tinggi akan berdampak pada
pembukaan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan baru berarti mengurangi
angka pengangguran, dan berkurangnya pengangguran berarti mengurangi
kemiskinan. Beberapa sentra kemiskinan di Solo seperti wilayah kelurahan
Nusukan, Sangkrah dan Semanggi memberikan gambaran pada kita bahwa
kemiskinan bisa berdampak buruk pada lingkungan sosial. Angka kejahatan di
ketiga kelurahan diatas cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh banyaknya
pemuda pengangguran.

Pengembangan Masyarakat

Francis Fukuyama dalam bukunya The Great Disruption (1999),


mengemukakan bahwa salah satu kontributor memburuknya kualitas
lingkungan sosial di AS dari tahun 1960-an sampai dengan saat ini adalah
kurangnya perhatian terhadap pola pengembangan masyarakat. Tingginya
angka kriminalitas, perceraian dan berbagai penyakit sosial lainnya
disebabkan semakin rendahnya kualitas social capital. Social capital adalah
serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama
diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya
kerjasama antar mereka (Fukuyama, 1999). Konsep ini adalah dasar dari pola
pengembangan masyarakat atau community development. Pola inilah yang
diadopsi dalam pembangunan partisipatif. Namun, masyarakat masih
memahami bahwa pembangunan partisipatif hanya berhenti pada
pembangunan fisik, dan bukan membangun mentalitas masyarakat. Konsep ini
harus disosialisasikan agar muskelbang dan muskelcam tidak terjebak pada
usaha melegitimasi pemkot Solo dalam melaksanakan pembangunan tanpa
visi yang jelas. Setiap usaha membangun kota Solo harus berdasarkan visi dan
misi yang sesuai dengan tujuan akhir pembangunan itu sendiri.

3
Fak. Ekonomi UMS-November 2005
Anton A. Setyawan-Artikel Manajemen Publik

Ada banyak agenda pembangunan yang harus diselesaikan pemerintah


dan masyarakat kota Solo. Pemulihan ekonomi dan pemberantasan
kemiskinan adalah agenda penting yang harus segara diatasi. Penyelesaian
kedua masalah itu membutuhkan usaha yang komprehensif baik dari aspek
ekonomi, politik dan sosial.

4
Fak. Ekonomi UMS-November 2005