You are on page 1of 3

Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Bisnis

GODAAN ITU BERNAMA HUTANG LUAR NEGERI,

Anton A. Setyawan SE,MSi


Dosen Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta, sedang
menempuh studi lanjut di Program Doktor Ilmu-ilmu Ekonomi UGM
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 571002
Telp : 08156718444 dan 0271-717417 psw 211/204 (office)
e-mail : rmb_anton@yahoo.com atau agussetyawan-a@mailcity.com

Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia memenuhi syarat untuk


mengajukan pinjaman luar negeri sebesar US$ 1,4 miliar. Hal ini merupakan
“penghargaan” dari lembaga donor tersebut atas prestasi Indonesia dalam
pemulihan ekonomi. Menkeu Sri Mulyani menyatakan, meskipun ada
scenario itu, kemampuan pemerintah saat ini dalam menyerap dana
pinjaman hanya sebesar US$ 900 juta, sehingga pemerintah hanya akan
mengajukan pinjaman baru sebesar US$ 1,2 miliar. Total hutang pemerintah
Indonesia saat ini adalah sebesar Rp 1.318 triliun dengan perincian hutang
dalam negeri Rp 636,6 triliun dan hutang luar negeri Rp 679,2 triliun . Ada
kekhawatiran negara ini akan terjebak dalam perangkap hutang luar negeri
seperti yang dialami Argentina. Beratnya beban pembayaran utang pokok
dan bunganya akan mengalami puncak pada tahun 2007 dan 2008.

Hutang baru pemerintah ini jelas akan menambah beban APBN.


Pemerintah juga akan menghadapi pilihan yang terbatas dalam pola
penyelesaian hutang luar negeri. Pemerintah tidak bisa lagi berharap adanya
penjadwalan kembali utang luar negeri karena saat ini Indonesia sudah
melepaskan diri dari program IMF dan menempuh PPM (Post Program
Monitoring). Jika ingin melakukan penjadwalan utang maka pemerintah
baru nanti harus rajin melakukan lobi dengan negara kreditur melalui
mekanisme bilateral.

Hutang luar negeri adalah salah satu masalah ekonomi yang dialami
negara ini. Total jumlah utang luar negeri Indonesia sebenarnya sudah
mencapai angka 60 persen dari PDB. Hal ini merupakan prestasi bagus dari
pemerintah saat ini yang mati-matian melakukan kebijakan disiplin fiscal.
Resikonya anggaran pembangunan harus dipangkas sama sekali. Sebagai
contohnya adalah APBN 2006 ini yang tidak memberikan stimulus fiscal
bagi perekonomian, karena minimnya anggaran pemerintah. Pada saat
dihadapkan pada pilihan yang terbatas dalam mengatasi hutang pemerintah,
hanya ada tiga cara yang bisa ditempuh yaitu peningkatan penerimaan pajak,
1
Fak. Ekonomi UMS-April 2006
Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Bisnis

peningkatan penerimaan dari privatisasi dan pengetatan fiscal. Ketiganya


juga memiliki resiko masing-masing.

Kecurangan Di Dalam Mekanisme Hutang Luar Negeri

Mengamati kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pengelolaan hutang


luar negeri (LN), kita belum melihat komitmen yang cukup kuat untuk
mengurangi ketergantungan terhadap hutang LN tersebut. Selain itu, para
ekonom pemerintah sangat tidak setuju dengan pernyataan moratorium atau
pernyataan tidak mampu membayar hutang LN yang disarankan ekonom
non pemerintah dengan alasan akan memperburuk kondisi di Indonesia.
Seharusnya kita juga melihat kenyataan bahwa hutang LN Indonesia penuh
dengan kecurangan (KKN) yang dilakukan birokrat Indonesia dengan para
kreditur di Bank Dunia atau berbagai lembaga keuangan internasional
lainnya. Kita bisa melihat dari studi Ichizo Miyamoto yang mengemukakan
studi pada periode ‘67-69’ menunjukkan nilai nominal pinjaman proyek dari
pihak asing berada 25 persen diatas nilai riilnya (Arief & Sasono, 1981). Hal
yang sama juga diungkapkan oleh Winter (1999) yang memperkirakan 30
persen hingga 33 persen pinjaman proyek dari Bank Dunia merupakan hasil
perbuatan yang sengaja meninggikan nilai pinjaman sehingga nilai nominal
berada 30 sampai 33 persen diatas nilai riilnya.

Praktek kecurangan di dalam mekanisme hutang luar negeri tersebut


masih diperburuk oleh fenomena Fisher Paradox yang terjadi di Indonesia.
Fenomena ini adalah situasi dimana semakin banyak cicilan hutang luar
negeri dilakukan semakin besar akumulasi hutang luar negeri negara
bersangkutan. Hal ini disebabkan cicilan plus bunga hutang luar negeri
secara substansial dibiayai oleh hutang baru. Oleh karena nilai cicilan plus
bunga luar negeri lebih besar dari nilai hutang baru, maka terjadilah apa
yang disebut net–transfer sumber–sumber keuangan dari Indonesia ke
pihak–pihak kreditor asing (Arief, 2000). Melihat kondisi tersebut,
sebenarnya pemerintah layak untuk mengajukan moratorium atau
pernyataan tidak mampu membayar, mengingat terjadinya hutang LN sedikit
banyak diwarnai dengan berbagai kecurangan. Alternatif lain, ada baiknya
pemerintah Indonesia mencoba bernegosiasi dengan para kreditur untuk
menerapkan odious debt. Odious debt adalah hutang yang diperoleh
pemerintah lalim dan penindas, namun bukan untuk kepentingan negara
tetapi untuk memperkuat kekuasaan, dikorup dan disalahgunakan (Sack,
1923). Konsep hutang seperti ini pernah diterapkan di Kosta Rika tahun
1923 dan Afrika Selatan tahun 1982. Dengan penerapan jenis hutang
2
Fak. Ekonomi UMS-April 2006
Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Bisnis

tersebut maka pemerintah bisa menghapus hutang luar negeri yang tidak
dikelola dengan baik atau mengalami kebocoran.

Mengurangi Ketergantungan Terhadap Hutang LN

Dalam publikasi resmi Bank Dunia yang berjudul Indonesia, The


Imperative For Reform (2001) disebutkan bahwa untuk mengurangi beban
hutang LN Indonesia tergantung dari tiga hal, pertama, mengembalikan
tingkat pertumbuhan ekonomi. Meskipun sering dikritik menafikan masalah
pemerataan, namun dalam untuk keluar dari perangkap hutang LN,
pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan lebih banyak membantu. Hal ini
sesuai dengan kebijakan yang dikemukakan oleh pemerintah untuk
meningkatkan kualitas pengelolaan hutang LN diatas . Kedua, disiplin fiskal.
Penekanan pada disiplin fiskal ini terutama dalam mengoptimalkan
penerimaan pemerintah (baik dari sektor pajak maupun non pajak). Saat ini,
pos pengeluaran dalam APBN untuk membayar cicilan hutang LN sudah
hampir menyamai anggaran rutin belanja pegawai. Hal ini menyebabkan
anggaran untuk pembangunan berkurang drastis. Ketiga, percepatan
program restrukturisasi. Keberhasilan program privatisasi dengan penjualan
asset-asset perusahaan yang berada di BPPN akan membantu mengurangi
beban keuangan pemerintah. Apabila ketiga hal tersebut mencapai hasil
yang optimal, diharapkan Indonesia akan keluar dari skenario muddling
through alias berputar-putar tidak karuan dalam program pemulihan
ekonominya.

Ketiga hal diatas adalah mekanisme text book yang sesuai dengan
logika ekonomi dan hal tersebut belumlah cukup untuk mengurangi beban
hutang pemerintah. Oleh karena itu, berbagai kebijakan diatas juga harus
ditambah dengan “keberanian” pemerintah untuk mengambil kebijakan yang
lebih inovatif (mengusahakan hair cut atau odius debt) agar masalah hutang
LN ini tidak terlalu membebani perekonomian nasional.

3
Fak. Ekonomi UMS-April 2006