You are on page 1of 3

Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Politik

KAA 2005 ,MELAWAN IMPERIALISME BARU?

Anton A. Setyawan, SE,MSi


Dosen Fak. Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102
Hp 08156718444
e-mail: agussetyawan-a@mailcity.com dan rmb_anton@yahoo.com

Peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika dilangsungkan di Jakarta


dan Bandung pada 21-24 April 2005. Peringatan itu dihadiri beberapa
pemimpin negara berkembang di benua Asia dan Afrika. Agenda dari
pertemuan yang disebut dengan Konferensi Asia Afrika 2005 ini adalah
mereaktualisasi semangat KAA 1955. 50 tahun yang lalu, KAA 1955 adalah
sebuah konferensi internasional pertama yang diselenggarakan oleh
Indonesia. Waktu itu, sebagai sebuah negara yang baru saja merdeka,
Indonesia dipuji sebagai negara besar karena kemampuannya
menyelenggarakan konferensi internasional yang berkelas. Dampak politik
KAA 1955 adalah memberikan semangat perubahan di negara-negara
berkembang yang baru merdeka, serta memberikan semangat bagi
pemimpin-pemimpin di negara terjajah untuk merebut kemerdekaan.

Pertemuan KAA 1955 menandai lahirnya gerakan Non-Blok, sebuah


kekuatan negara berkembang yang tidak mau terbawa pertarungan dua
negara adi kuasa waktu itu, yaitu AS dan Uni Soviet. Negara berkembang
membentuk Gerakan Non-Blok sebagai sebuah kekuatan alternatif bagi dua
negara adi kuasa waktu itu. Pengaruh gerakan ini sangat besar dalam
menjaga keseimbangan politik internasional. Selain itu, gerakan Non-Blok
juga berusaha melawan kolonialisme yang dilakukan negara-negara maju
(Eropa dan AS) di negara-negara berkembang. Pada masa itu, masih banyak
negara berkembang yang terjajah secara militer dan politik.

Saat ini situasi ekonomi-politik internasional telah berubah. Perang


dingin telah usai dan AS adalah satu-satunya negara adikuasa militer di
dunia. Peta kerjasama antar negara berkembang juga telah berubah.
Tantangan baru yang harus dihadapi oleh negara berkembang di dunia
adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Sebagian besar negara di Asia dan
Afrika yang menghadiri acara ini adalah negara berkembang yang
menghadapi masalah kemiskinan dan keterbelakangan. Pada saat ini,

1
Fak Ekonomi UMS-April 2005
Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Politik

kolonialisme yang terjadi dalam bentuk baru, yaitu penjajahan ekonomi


yang dilakukan negara maju terhadap negara berkembang. Ide perdagangan
bebas dan globalisasi adalah bentuk baru imperialisme ekonomi dari negara
maju. Akibatnya ternyata sangat fatal, hampir sebagian besar negara
berkembang mengalami proses pemiskinan. Selain itu, struktur ekonomi di
negara berkembang mengalami ketimpangan karena proses imperialisme
baru ini.

Dampak Kesepakatan Washington

Kesepakatan Washington atau yang sering disebut Washington


Consensus berisi kebijakan luar negeri AS yang akan disebarkan di seluruh
dunia. Inti dari kesepakatan Washington adalah privatisasi, penyesuaian
structural dan demokratisasi. Wacana pembangunan yang berkembang
sesuai dengan pendekatan ini adalah neo liberalisme. Ketiga isu ini
berkembang menjadi inti kebijakan AS dan sekutu-sekutunya di Eropa.
Masalahnya adalah kebijakan itu merupakan sebuah ekploitasi ekonomi-
politik yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan negara maju. Negara
berkembang menjadi korban eksploitasi itu.

Potret riil struktur ekonomi dunia saat ini adalah negara industri maju
dengan penguasaan teknologi dan modalnya menguasai perekonomian
dunia, sementara negara berkembang dengan andalan produk primer
semakin termarjinalkan kepentingannya. Hal ini mengakibatkan negara maju
semakin kaya sementara negara berkembang malah semakin miskin. Ide
globalisasi ekonomi dengan keharusan meminimalkan campur tangan
pemerintah sebenarnya merupakan penyebab tidak langsung dari krisis
ekonomi di Asia (lihat Jayasurya, 1998). Rezim devisa bebas mengakibatkan
ketidakmampuan pemerintah mengontrol arus modal keluar-masuk suatu
negara. Akibatnya pemerintah di negara bersangkutan tidak mampu
melakukan kontrol atas kebijakan moneter yang dilakukannya.

Negara berkembang di Asia dan Afrika adalah korban ekploitasi


ekonomi negara maju dalam kerangka neo liberalisme. Kemiskinan dan
keterbelakangan di negara-negara Asia Afrika disebabkan oleh eksploitasi
ini. Sebagai contoh ketimpangan dalam struktur ekonomi-politik
internasional bisa dikaji dalam narasi data ini. Saat ini pendapatan perkapita
dunia adalah senilai US$ 31 triliun, jadi jika dirata-rata pendapatan per
kapita setiap penduduk dunia adalah US$ 40.000. Akan tetapi saat ini ada
lebih dari 2,8 miliar penduduk dunia yang ada di negara berkembang di
2
Fak Ekonomi UMS-April 2005
Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi&Politik

Asia-Afrika yang memiliki pendapatan per kapita US$ 700.Dan yang lebih
memilukan di negara-negara berkembang tersebut ada sebagian penduduk
yang penghasilannya kurang dari US$ 1 per hari. KAA 2005 saat ini
terselenggara dalam situasi ketimpangan ekonomi-politik yang serius. Tidak
ada kesediaan negara maju untuk sedikit membagi kesejahteraannya pada
negara berkembang. Sebagai contoh saat ini tidak ada negara maju yang
bersedia memberikan penghapusan utang kepada negara berkembang.

Melawan Imperialisme Baru

Saat ini imperialisme yang dilakukan negara maju terhadap negara


berkembang tidak lagi berupa serangan militer, melainkan sudah berubah
bentuk menjadi sebuah serangan social, ekonomi dan budaya. Hasilnya
ternyata menyebabkan struktur ekonomi politik dunia semakin
timpang.KAA 2005 ini mempertemukan pemimpin dunia dari negara-negara
berkembang di Asia-Afrika. Mereka mewakili hampir dua pertiga penduduk
dunia, maka suara mereka harus didengarkan oleh negara maju. Namun
demikian, sebuah konferensi internasional tidak akan mampu memberikan
dampak riil tanpa ada agenda yang lebih nyata.

Ketimpangan struktur ekonomi-politik dunia mengakibatkan adanya


proses pemiskinan di negara berkembang. Rakyat miskin di negaar
berkembang sudah cukup menderita karena proses ekploitasi ini. Rakyat di
negara berkembang membutuhkan tindakan nyata. Kita berharap KAA 2005
ini tidak terjebak pada sebuah seremonial mengenang kejayaan masa lalu.
Namun lebih dari itu, KAA 2005 diharapkan juga membawa kesadaran bagi
pemimpin dan rakyat di negara Asia-Afrika untuk memperjuangkan
kesejahteraannya.

3
Fak Ekonomi UMS-April 2005