You are on page 1of 8

Kitab ini ditulis oleh seorang Alim al-Allamah Syahrastani.

Kitab al-Milal
wa al-Nihal berisi tentang belief yang terbagi dalam bab-bab menandakan luasnya
bahasan yang ia bahas, belief (keprcayaan) yang ia bahas adalah keprcayaan yang
bisa kita jumpai dari ufuk barat sampai ufuk timur dari bumi sebelah utara hingga
bumi sebelah selatan.
Selanjutnya kitab ini akan direview per-bab-nya setelah masing-masing
bab dibaca dan dipelajari.
Kaum muslimin pada zamannya lebih cenderung mempelajari ajaran
agama dan kepercayaan untuk keperluan pribadi yang mereka pergunakan untuk
membuktikan kebathilan agama dan kepercayaan lain. Sedangkan Al-Syahrastani
lebih cenderung menulis buku yang berbentuk ensiklopedi ringkas tentang agama,
kepercayaan, sekte dan pandangan filosof yang erat kaitannya dengan metafisika
yang dikenal pada masanya.
Al-Syahrastani mempunyai beberapa buah karya tulis diantaranya adalah:
Al-Milal wa Al-Nihal, Al-Mushara’ah, Nihayah al-Iqdam fi Ilm al-Kalam, Al-
Juz’u Alladzi la yatajazzu, Al-Irsyad ila al-’Aqaid al-’ibad, Syuhbah Aristatalis
wa Ibn Sina wa Naqdhiha, dan Nihayah al-Auham.

PANDANGAN AL-SYAHRASTANI TERHADAP AGAMA


Jika dipandang dari segi pikiran dan kepercayaan, menurut Al-Syahrastani
manusia terbagi menjadi pemeluk agama-agama dan penghayat kepercayaan. Pemeluk
agama Majusi, Nashrani, Yahudi dan Islam. Penghayat kepercayaan seperti Filosof,
Dahriyah, Sabiah dan Barahman. Setiap kelompok terpecah lagi menjadi sekte,
misalnya penganut Majusi terpecah menjadi 70 sekte, Nashrani terpecah menjadi 71
sekte, Yahudi terpecah menjadi 72 sekte, dan Islam terpecah menjadi 73 sekte. Dan
menurutnya lagi bahwa yang selamat di antara sekian banyak sekte itu hanya satu,
karena kebenaran itu hanya satu.
Al-Syahrastani berpendapat bahwa faktor yang mendorong lahirnya sekte-
sekte tersebut antara lain adalah; Pertama, masalah sifat dan keesaaan Allah. Kedua,
Masalah Qada’ Qadar dan keadilan Allah, jabar dan kasab, keinginan berbuat baik
dan jahat, masalah yang berada di luar kemampuan manusia dan masalah yang
diketahui dengan jelas (badihiyah). Ketiga, masalah wa’ad (janji), wa’id (ancaman),
dan Asma Allah. Keempat, Masalah wahyu, akal, kenabian (nubuwwah), kehendak
Allah mengenai yang baik dan yang lebih baik, imamah, kebaikan dan keburukan,
kasih sayang Allah, kesucian para nabi dan syarat-syarat imamah. Menurutnya ada
empat madzhab di kalangan ummat Muslim, yaitu Syi’ah, Qadariyah, Shifatiyah dan
Khawarij. Setiap madzhab bercabang menjadi sekian banyak sekte hingga mencapai
73 sekte.
Dalam Bukunya Al-Milal wa Al-Nihal, Syahrastani juga memaparkan dengan
panjang lebar tentang kepercayaan dan secara umum mengklasifikasikan kepercayaan
kepada beberapa kelompok sebagai berikut; Pertama, Mereka yang tidak mengakui
adanya sesuatu selain yang dapat dijangkau oleh indera dan akal, mereka ini disebut
kelompok Stoa. Kedua, Mereka yang hanya mengakui sesuatu yang dapat ditangkap
oleh organ inderawi dan tidak mengakui sesuatu yang hanya dapat dijangkau oleh
akal, mereka ini disebut kelompok materialis. Ketiga, Mereka yang mengakui adanya
sesuatu yang dapat dicapai melalui indera dan akal, namun mereka tidak mempunyai
hukum dan hukuman, mereka ini disebut kelompok filosof athies. Keempat, Mereka
yang mengakui adanya sesuatu yang dapat dicapai oleh organ inderawi dan akal,
namun mereka tidak mempunyai hukum dan hukuman juga tidak mengakui agama
Islam, mereka ini disebut kelompok Ash-Shabiah. Kelima, Mereka yang mengakui
adanya sesuatu yang dapat dicapai indera dan akal dan mempunyai syariat, namun
mereka tidak mengakui syariat Muhammad, mereka ini kelompok Majusi, Yahudi dan
Nasrani (Kristen). Dan yang Keenam, Mereka yang mengakui semua yang disebut
diatas, dan mengakui kenabian Muhammad, mereka itu disebut kelompok Muslim.

KEPERCAYAAN

Dalam Bab ini Syahrastani memaparkan dengan panjang lebar tentang kepercayaan
dan secara umum mengklasifikasikan kepercayaan kepada beberapa kelompok
sebagai berikut :
1. Mereka yang tidak mengakui adanya sesuatu selain yang dapat dijangkau oleh
indera dan akal, mereka ini disebut kelompok Stoa.
2. Mereka yang hanya mengakui sesuatu yang dapat ditangkap oleh organ
inderawi dan tidak mengakui sesuatu yang hanya dapat dijangkau oleh akal,
mereka ini disebut kelompok materialis.
3. Mereka yang mengakui adanya sesuatu yang dapat dicapai melalui indera dan
akal, namun mereka tidak mempunyai hukum dan hukuman, mereka ini
disebut kelompok filosof athies.
4. Mereka yang mengakui adanya sesuatu yang dapat dicapai oleh organ
inderawi dan akal, namun mereka tidak mempunyai hukum dan hukuman juga
tidak mengakui agama Islam, mereka ini disebut kelompok Ash-Shabiah.
5. Mereka yang mengakui adanya sesuatu yang dapat dicapai indera dan akal dan
mempunyai syariat, namun mereka tidak mengakui syariat Muhammad,
mereka ini kelompok Majusi, Yahudi dan Nasrani (Kristen).
6. Mereka yang mengakui semua yang disebut diatas, dan mengakui kenabian
Muhammad, mereka itu disebut kelompok Muslim.
Dan selanjutnya Syahrastani menguraikan kelompok yang tidak mengakui
syariat Islam yang diambil dari mazhab dan sekte-sektenya.

ASH- SHABIAH
Kelompok ini dinamakan Ash-Shabiah berasal dari kata Shabwah berarti
tergelincir dan melenceng dari kebenaran dan ajaran para nabi. Ajaran utama Ash-
Shabiah adalah memuja unsur spiritual seperti malaikat atau dewa, kelompok ini
mengakui pokok ajarannya bersumber dari akal dan mengajak orang lain untuk
berpikir. Ass-Shabiah mengingkari akidah dan syariat yang bersumber dari wahyu,
kelompok ini hanya mengakui akidah dan syariat yang ditetapkan oleh akal.

KELOMPOK PEMUJA MAKHLUK ROHANI


1. Pemuja malaikat: Menurut kaum ash-Shabiah, Tuhan menciptakan segala
sesuatu melalui perantara malaikat. Malaikat yang mengubah dan
mengarahkan manusia semenjak dalam rahim sampai lahir menjadi manusia
sempurna. Malaikat memperoleh kekuatan daari yang Mahakuasa kemudian
melimpahkannya lagi kea lam bawah. Malaikat pula yang mengedarkan
planet-planet dst.
2. Perdebatan Antara Ash-Shabiah dan Hunafa
 Ash-Shabiah menegaskan bahwa Malaikat diciptakan bukan dari materi dan
bukan pula dari atom. Sebagai makhluk rohani, ia diciptakan dari cahaya
(nur) yang murni dan tidak terdapat noda kegelapan oleh karena itu ia
begitu terang dan halus.
Sedangkan manusia diciptakan dari empat unsur, terdiri dari materi dan
bentuk, unsur-unsurnya saling berlawanan bercampur menjadi satu menjadi
benih kerusakan dan sumber kejahatan yang membentuk tubuh. Jadi
malaikat mempunyai kelebihan karena bersifat rohani sedangkan manusia
hanya bersifat materi.
 Al-Hunafa menjawab dengan mengatakan bagaimana kamu dapat mengenal
malaikat padahal indra kamu sendiri tidak dapat membuktikan
keberadaannya dan tidak ada bukti lain yang mendukung adanya malaikat.
Kamu sebenarnya terperangkap dalam pendapat kamu sendiri, sekalipun
tujuan kamu ingin membuktikan kelebihan Malaikat dari manusia dan
menolak manusia sebagai perantara.
Al-Hunafa beralasan Malaikat dan manusia adalah sama-sama makhluk
namun manusia mempunyai kelebihan tidak hanya pada ilmu dan amal;
ilmu pengetahuan para nabi ada yang umum dan ada pula yang khusus,
amaliahnya ada yang fitrah ada pula yang kasbiah (usaha). Manusia
meneliti alam syahadah dengan indera kemudian lahirlah ilmu khusus
secara berurutan dan bertingkat, kalau semua ini tidak dilakukan maka tidak
dapat menjangkau apa yang diperdebatkan diatas.

ALIRAN NATURALISME
Aliran-aliran ini lahir dari pokok-pokok ajaran yang berkesimpulan bahwa
perantara itu memang diperlukan, perantara harus dapat dilihat karena kepadanya
beribadah dan memperoleh manfaat.

1. Pemuja Benda-Benda Alam


Menurut mereka perantara itu dalam bentuk benda-benda alam (natur), mereka
membikin cincin dan gelang, mempelajari do’a-do’a dan mantera, menetapkan hari
sabtu sebagai Zuhal (Jupiter) dan pada hari pertama itu mereka memakai cincin dan
pakaian dalam tertentu, membaca do’a dan mantera agar Zuhal mengabulkan hajat
mereka.

Pemuja Lukisan-Lukisan
Aliran ini berkeyakinan setiap planet mempunyai tempat terbit baik pada
waktu pagi dan petang serta menghilang di waktu siang, oleh karena itu mereka tidak
dapat beribadat dan memohon kepadanya, sebagai penggantinya dilambangkan dalam
bentuk lukisan-lukisan atau patung-patung supaya dapat dilihat langsung di depan
mata. Lukisan atau patung menjadi penghubung kepada planet, kemudian planet
menjadi perantara kepada malaikat dan malaikat menjadi perantara dengan Tuhan.
2. Ibrahim Memberikan Kritik Kepada Pemuja Planet dan Patung serta
Menolak Pendapat Mereka.
Kritikan Ibrahim ini terdapat dalam al-Qur’an Surah al-An’aam ayat 74, yang
artinya :

“…Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan-Tuhan.


Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang
nyata…”
Dan pada surah Maryam ayat 42, yang artinya :
“…Wahai Bapakku mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak
mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun”
Dirimu lebih mulia dari pada patung-patung itu karena dirimu diciptakan dapat
melihat dan mendengar, dapat memberikan manfaat dan mudharat. Alangkah anehnya
diri kamu yang membikin patung kemudian menjadikannya sebagai Tuhan, yang
membikin tentu lebih mulia dari yang dibikin.

ALIRAN AL- HIRNANIYAH


Aliran ini merupakan sub kelompok dari mazhab as-Sabiah, menurut mereka
Sang Pencipta adalah esa dan banyak; esa dalam Zat-nya karena Dia adalah yang awal
yang menjadi asal muasal dan azali, sedangkan yang dimaksud dengan banyak bahwa
zatnya tepecah-pecah dalam bentuk patung-patung menurut pandangan mata. Tuhan
menjelma ke dalam patung dan lukisan lainnya, dan tidak membatalkan keesaan-Nya.

1. Lahirnya Aliran Tanasukh dan Hulul


Teori reinkarnasi (tanasukh) dan hulul berasal dari kelompok mereka.
Tanasukh adalah kelahiran berulang kali atau periodesasi dan proses terus
menerus. Apa yang lahir dalam suatu periode akan lahir kembali di periode
berikutnya. Siksa dan ganjaran terjadi didunia ini bukan di dunia lain,
peristiwa yang terjadi sekarang merupakan balasan dari periode sebelumnya.
Adapun yang dimaksud dengan hulul (mengambil tempat atau menanti) adalah
masuknya roh ketuhanan kedalam tubuh manusia. Menurut mereka roh
ketuhanan menempati seluruh tubuh, sedangkan Tuhan Maha Esa tidak akan
lahir perbuatannya kecuali satu demi satu sesuai dengan perbedaan obyek dan
waktu.
2. Praduga Al-Hirnaniyah
Menurut kelompok ini Tuhan tidak menciptakan keburukan, kejahatan,
kotoran, kelelawar, ular dan kalajengking, itu semua terjadi karena hubungan
antraplanet yang menyebabkan terjadinya unsure kebahagian dan
kesengsaraan., kesucian dan kuburukan.

PARA FILOSOF
TUJUH FILOSOF
Berikut Syahrastani mengemukakan ajaran filsafat Romawi dan Yunani
kuno secara berurutan dari buku-buku mereka sendiri. Ilmu filsafat lahir di daerah
Romawi sedangkan di daerah-daerah lain hanya merupakan cabangnya.
1. Pendapat Thales
Thales (624-550 SM) adalah filosof pertama yang dilahirkan di pulau Malta.
Menurutnya alam semesta ada yang menciptakannya namun akal manusia
tidak mampu menjangkau hakekatnya. Manusia hanya mampu mengenal jejak
dan sifatnya, disamping itu manusia tidak mengenal keadaan Pencipta yang
sebenarnya, dia juga tidak mengetahui nama-Nya. Dia hanya mengenal
perbuatan-Nya dalam mencipta segala yang ada. Manusia tidak mengenal
nama zat-Nya, bahkan manusia tidak mengenal dirinya sendiri.
2. Pendapat Anaxagoras
Anaxagoras (611-548 SM) juga berasal dari pulau Malta. Pendapat tentang
keesaan Tuhan mirip dengan pendapat Thales namun berbeda tentang asal
muasal alam semesta. Katanya asal muasal segala yang ada adalah zat pertama
yang bagian-bagiannya sama, ialah bagian-bagian yang halus dan tidak dapat
dicapai oleh indra dan tidak dapat dijangkau akal, yang menjadi hakekat alam
semesta baik alam atas mapun alam bawah.
3. Pendapat Anaximenes
Anaximenes (588-524 SM) juga berasal dari pulau Malta (Miletos), ia dikenal
dengan keluasan ilmu pengetahuannya dan kebaikannya. Menurutnya, Tuhan
yang azali tidak berawal dan tidak berakhir. Dia adalah permulaan segala
sesuatu yang tidak berawal. Dia maha mengetahui segala yang diciptakannya,
tidak ada sesuatu yang mirip dengannya dan segala sesuatu berasal dari-Nya.
Dia adalah esa, tidak sama dengan satu dalam jumlah karena dalam jumlah
masih bisa ditambah dan dikurangi, sgala yang ada bentuknya dalam ilmunya
yang pertama dan bentuk-bentuknya tidak akan berakhir.
4. Pendapat Empedocles
Empedocles (495-435 SM) termasuk salah seorang tokoh filosof karena
pandangan yang luas dalam ilmu fisika dan mampunyai budi pekerti yang
mulia. Dia hidup sezaman dengan nabi Daud, pernah bertemu dan belajar
dengan nabi Daud. Katanya Tuhan tidak diketahui hakekatnya, Dia ilmu
semata, Dia kehendak semata, Dia Maha Pemurah, Maha mulia, Maha Kuasa,
Maha Adil, kebaikan dan kebenaran dariNya, tidak ada sesuatu atau kekuatan
yang mempunyai sifat yang seperti ini bahkan sifat adalah zatnya dan semua
sifat yang diterangkan diatas ada pada zatnya. Dia adalah Pencipta dan bukan
diciptakan dari sesuatu.
5. Pendapat Phitagoras
Phitagoras bin Minsarahus berasal dari Samya (pulau Samos) yang hidup
sezaman dengan dengan Nabi Sulaiman bin Daud dan ia pernah belajar dengan
Sulaiman. Menurutnya Tuhan itu Maha Esa, Esa tidak sama dengan satu
karena esa tidak termasuk angka (bilangan), hakekatnya tidak dapat dijangkau
oleh akal dan indera, akal tidak mampu menjangkaunya dan sifatnya tidak
mampu diuraikan bahasa. Karena tuhan mempunyai sifat-sifat rohaniah,
zatnya tidak dapat dijangkau oleh indera, hanya yang mampu dijangkau adalah
bekas perbuatan dan ciptaannya.
6. Pendapat Socrates
Socrates putra Supranicus (470 SM) terkenal dengan keluasan pengetahuan
dan kezuhudan di Athena. Menurutnya Tuhan adalah zat yang sangat halus
keadaannya tidak diketahui. Apabila kita kembali kepada hakekat sifat dan
mengakui adanya, kita temui bahwa akal dan pikiran tidak mampu
menemukan hakekat dan nama Tuhan, Tuhan Maha Mengetahui sifat dan
namanya.
7. Pendapat Plato
Plato (490 SM) Ariston anak Aristocles yang berasal dari kota Athena, ia
filosof terakhir yang masuk jajaran filosof (Yunani) belakangan yang terkenal
dalam filsafat dan filsafat ketuhanan. Katanya alam ini diciptakan dan
penciptanya wajib ada. Dia Maha Mengetahui segala yang ada sifatnya sama
dengan sifat asalnya. Dia wujudnya tidak dapat dibayangkan baik bentuk
maupun panjangnya.

FILSAFAT AKIDAH (TEOLOGIA)


Yang termasuk filsafat akidah adalah para filosof kuno namun tidak
ditemukan tulisan khusus dalam msalah ini, hanya ditemukan dalam kata-kata hikmah
yang mereka ucapkan. Diantara mereka yang tergolong filosof akidah adalah para
penyair yang mengungkapkan ajarannya dalam syair-syair namun tidak bersanjak
seperti syair sekarang. Biasanya pokok pikiran dalam syair itu berbentuk khayal
termnya (mukaddimah) tetapi ada juga yang bersanjak namun jumlahnya sedikit,
syair-syair itu ada yang berupa hikmah (kata mutiara) ada juga yang sanggahan
(argumentasi).
Kelompok kedua adalah para “ubbad” yakni orang yang mengkhususkan
dirinya untuk beribadah namun ibadah mereka dalam bentuk ibadah akliyah bkan
dalam bentuk ibadah badaniyah. Ada juga yang berbicara tentang penciptaan, yang
sifatnya maha mengetahui dan mengenai ciptaan pertama yang menjadi asal muasal.
Adapun para filosof akidah ini adalah sebagai berikut : Plutarch, Xenophanes,
Zeno of Elea, Democritus, Akademikus, Heraklitus, Epicurus, Solon, Hippocrates,
Democritus, Euclides, Patlemus dan Stoic.

FILOSOF YUNANI MUTAAKHIR


Yang termasuk filosof Yunani muta’akhirin adalah Aristotales Bin Nicomakhus,
Alexander, Dijujanus, Para Senator, Taupavistis, Pricles, Thamositlas, Alexander
Aprodis danPorphyry

FILOSOF MUTAAKHIRIN DAN FILSAFAT ISLAM


Ibnu Sina (Abu ‘Ali al-Husaini bin ‘Abdullah bin Sina)
1. Logika: Menurut Ibnu Sina seseorang yang ingin mempunyai ilmu
pengetahuan seyogyanya memiliki ilmu logika, fitrah manusia belum mampu
membedakan macam-macam ilmu kecuali mendapatkan petunjuk Allah SWT
karena itu bagi orang yang berpikir harus mempunyai kaidah (aturan) berpikir
agar terpelihara dari kesalahan dan ini dilalui dengan ilmu logika. Logika yang
benar adalah yang terdiri dari materi dan susunan kalimat yang benar dan
menyakinkan. Yang terdiri dari komposisi, kias, unsure, bentuk dan
kesimpulannya.
2. Ketuhanan : Pembahasan masalah ketuhanan dijelaskannya dalam sepuluh
masalah, yaitu mengenai wujud, jauhar jasmaniyah dan strukturnya, , macam-
macam illat, taqadum, taakhur, qadim, hadits, maddah, universal dan
pertikular, wajib al wujud bi zatihi dan wajib al wujud bi ghairihi, wajib al
wujud adalah akal, zat yang tunggal, inayah dan hari akhirat.
3. Material (Benda)
Pembicaraan masaah materi (benda) dibaginya kedalam 6 masalah, yaitu :
4. Gerak dan diam, ruang dan waktu, ketunggalan dan keragaman, arah,
berdempetan, bergabung dan berurutan.
5. Tabi’I dan yang bukan tabi’I, satu unsur dan beberapa unsur.
6. Unsur materi.
7. Jiwa (nafs) dan kekuatan-kekuatannya.
8. Jiwa manusia
9. Kala nazari dari sifat dirinya kea lam wujud, keadaan khusus roh (jiwa) dalam
mimpi yang benar dan dusta, berhubungan dengan alam gaib, penyaksian
terhadap bentuk yang ada wujudnya di alam fisik. Makna nubuah, mukjizat
dan kekhususannya.

AL-SYAHRASTANI SANG PELOPOR


Diskursus tentang agama-agama dan ketuhanan telah menjadi perhatian
ulama-ulama klasik. Salah satu kitab terkenal dalam soal ini adalah al-Milal wa al-
Nihal (The Book of Sects and Credo). Kitab ini adalah monumental Muhammad ibn
Abd al-Karim al-Syahrastani , seorang ulama besar, sejarawan, dan tokoh
perbandingan agama abad VI H. Sebagai seorang Muslim, al-Syahrastani memadukan
metode objektif dan subjektif dalam mengkaji agama-agama.
Melalui al-Milal wa an-Nihal al-Syahrastani menunjukkan kepeloporan-nya
dalam studi agama-agama yang secara objektif memotret objek kajiannya, tetapi
sekaligus tetap bersandar pada aqidah Islam. Ia mengkritisi argumentasi rasio yang
dianut oleh Ahli Kitab yang dianggap menyimpang dari aqidah Islam.Nama lengkap
al-Syahrastani adalah Abu al-Fatih Muhammad Abdul Karim Ibn Abi Bakr Ahmad al-
Syahrastani. Nama al-Syahrastani dinisbatkan pada tempat kelahirannya di
Syahrastan, propinsi Khurasan di Persia. al-Syahrastani lahir tahun 479 H, dan wafat
tahun 548 H/1153 M, dalam usia kurang lebih 70 tahun. Ulama yang hidup sezaman
dan memiliki hubungan yang baik dengannya adalah al-Ghazali. Syahrastani
menuntut ilmu pada para ulama di zamannya dan di antara gurunya yang utama
adalah Syekh Ahmad al-Khawaf , seorang hakim dari Thus.
Selain al-Milal wa an-Nihal, berikut adalah karyanya al-Irsyad iia al-Aqaid al-
Ibad, al-Aqtarifi al-Ushul, al-tarikh al-Hukuma, al-Musharaah al-Falasifah, Nihayah
al-Iqdamfi Hm al-Kalam, Al-Juzhi Alladzi la yatajazzu, Syuhbah Aristatalis wa Ibn
Sina wa Naqdhiha, dan Nihayah al-Auham.Tentang Ahl al-kitab, misalnya, al-
Syahrastani menyebut, bahwa mereka adalah yang beragama dengan kitab Taurat dan
Injil, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Keduanya merupakan dua umat terbesar dari
keturunan Bani Israil. Syariat agama Yahudi berasal dari Musa AS dan kepada
mereka dibebankan untuk mengikuti syariat Taurat, yang memuat syariat perintah dan
larangan, serta halal dan haram. Kitab Injil bagi kaum Nasrani diwahyukan kepada
Nabi Isa AS bertujuan selain meluruskan berbagai penyimpangan kaum Yahudi,
sekaligus menyempurnakan ajaran Nabi Musa.
Syahrastani berpendapat bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidaklah mungkin
menegakkan ajaran Taurat dan Injil, kecuali mereka menerima dan menegakkan
ajaran Alquran dan menerima syariat Nabi Muhammad SAW al-Syahrastani juga
menegaskan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah mengubah dan mengganti isi
kitab suci mereka, padahal Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS telah mengabarkan
tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW.Sikap mereka inilah yang dikecam x
dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 89 "... padahal sebelumnya mereka biasa
memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir,
Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu
ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu."
(Syahrastani, hlm 209-210)
Dalam melakukan kajiannya, Syahrast n melakukan kajian serius terhadap
Kitab Yahudi. Ia menemukan, bahwa orang Yahudi menganggap syariat hanya satu.
Syariat bermula dari syariat Musa dan mencapai kesempurnaannya jugapada Musa;
tidak ada syariat sebelumnya maupun sesudahnya. Menurut mereka, syariat Musa
tidak mungkin diubah (nasakh). Nasakh berarti perubahan terhadap perintah Allah dan
ini menurut mereka tidak mungkin terjadi. (Syahrastarii, hlm 213)Tentang kaum
Nasrani, Syahrastani membahas dua hal, yakni tentang al-Masih Isa ibn Maryam dan
tentang Paulus. Tentang al-Masih Isa ibn Maryam, Syahrastani mencatat adanya
perselisihan pendapat di kalangan murid-muridnya menyangkut penyatuan unsur
Tuhan dengan unsur manusia dalam diri Isa. Sebagian murid Nabi Isa AS percaya
bahwa ruh ketuhanan dapat menjelma dalam bentuk manusia, sebagian lainnya
menyatakan ruh ketuhanan bercampur dengan ruh manusia dalam jasadnya, seperti
percampuran air dengan susu. (Syahrastani, hlm 221).
Dari semua klaim kaum Nasrani tentang al-Masil Ibn Maryam, Syahrast n
berpendapat Isa AS adalah Rasulullah dan Kalimah Allah, dan sebenar-benar utusan
Allah sesudah Musa AS seperti yang diberitakan kepada Bani Israil di dalam Taurat.
Isa AS dengan izin Allah, memiliki beberapa mukjizat utama, seperti dapat
menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang buta, dilahirkan tanpa proses
kejadian manusia biasa, dapat berbicara ketika dalam buaian tanpa belajar terlebih
dahulu, dan memerima wahyu Allah ketika dalam buaian tatkala menyampaikan
kebenaran tentang ibunya. Ia menyampaikan wahyu ketika berusia tiga puluh tahun,
dan masa penyampaian wahyu yang relatif sangat singkat, yaitu tiga tahun, tiga bulan,
dan tiga hari. (Syahrastani, hlm 221, lihat juga Ibn Hazm,tanpa tahun, Kitab al-Fasl fi
al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal, Beirut Dar al-Jil hlm 178).
Tentang Paulus, Syahrastani menilai bahwa Paulus telah mengubah wasiat
Nabi Isa AS dan mencampur adukkan ucapan al-Masih dengan ucapan para filosof.
Pauluslah yang merusak ajaran Tauhid yang diajarkan Isa AS seperti firman Allah
dalam surah Maryam 1988-92, yang menjelaskan tentang kemurkaan Allah gara-gara
kaum Nasrani menuduh Allah Yang Pemurah mempunyai anak. Ia mengajarkan Injil
kepada empat orang muridnya yang bernama Matius, Lukas, Markus dan Yohanes,
yang akhirnya menjadi inti ajaran Kristen sekarang ini, dengan doktrin utamanya,
"Kepada-Ku telah diberikan kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikan
semua bangsa murid-Ku dan bap-tislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus" (Matius 28 18-19) dan "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-
sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 11). (Syahrastani, hlm
222)
Pandangan Syahrastani tentang agama Yahudi dan Nasrani, dalam al-Milal wa
an-Nihal terkadang bersifat eksplisit, jelas dan gamblang, tentang penolakan beberapa
hal tentang kaum agama Ahli Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani. Namun dalam banyak
hal Syahrastani menggambarkan perihal kedua kaum ini secara dan pembaca
dibebaskan mengambil kesimpulan tentang apa yang ditulisnya.Kitab al-Milal wa-
Nihal yang ditulis pada abad ke-12 M, merupakan kitab pelopor dalam studi agama-
agama di dunia. Beratus tahun sebelum orang Barat mengenal studi ini, kaum Muslim
telah menjadi pelopornya.

RINGKASAN
Selain al-Milal wa an-Nihal, berikut adalah karyanya al-Irsyad iia al-Aqaid al-
Ibad, al-Aqtarifi al-Ushul, al-tarikh al-Hukuma, al-Musharaah al-Falasifah, Nihayah
al-Iqdamfi Hm al-Kalam, Al-Juzhi Alladzi la yatajazzu, Syuhbah Aristatalis wa Ibn
Sina wa Naqdhiha, dan Nihayah al-Auham.Tentang Ahl al-kitab, misalnya, al-
Syahrastani menyebut, bahwa mereka adalah yang beragama dengan kitab Taurat dan
Injil, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Syahrastani berpendapat bahwa kaum Yahudi
dan Nasrani tidaklah mungkin menegakkan ajaran Taurat dan Injil, kecuali mereka
menerima dan menegakkan ajaran Alquran dan menerima syariat Nabi Muhammad
SAW al-Syahrastani juga menegaskan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah
mengubah dan mengganti isi kitab suci mereka, padahal Nabi Musa AS dan Nabi Isa
AS telah mengabarkan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW.Sikap mereka
inilah yang dikecam x dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 89 "... Karena itu
pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan bap-tislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28 18-19) dan "Pada mulanya adalah Firman,
Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 11).
(Syahrastani, hlm 222) Pandangan Syahrastani tentang agama Yahudi dan Nasrani,
dalam al-Milal wa an-Nihal terkadang bersifat eksplisit, jelas dan gamblang, tentang
penolakan beberapa hal tentang kaum agama Ahli Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani.