BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Daging merupakan sumber protein dengan asam amino lengkap. Daging didefinisikan sebagai bagian muskus uang berasal dari muskulus sketal yaitu tulang, diafragma, jantung dan oesafagus dari lemak. Hewan ternak penghasil daging dalam indutri panagn biasanya adalah sapi, domba dan rusa. Secara umum, daging sapi mengandung H2O (66 %), protein (19 %), lemak (14 %), Vit B (0,08 mg/g), Ca (11 mg/g), P (170 mg/g), dan Vit A. Sebelumnya, daging merupakan bagian dari karkas, yaitu bagian tubuh hewan yang sudah disembelih dan masih utuh atau disebelah disepanjan tulang belakang. Bagian yang dipisahkan hanya kepala, kaki, kulit, dan bagian dalam serta ekor. Untuk dinyatakan layak konsumsi, karkas mengalmi berbagai tahap salah satunya inspeksi kesehatan, penyembelihan, penunutasan darah, pemisahan kepala, kulit atau jeroan atau yang sering disebut dengan istilah dressing, dan inspeksi sesudah penyembelihan. Ikan mengandung protein dengan jaringan yang sedikit dan asam amino yang lengkap. Jenis protein ini sangat sesuai untuk dikonsumsi dengan beras dan kacang-kacangan, karena mengandung lisin dan metionin yang tinggi serta jumlahnya minim pada kacang-kacangan dan beras. Telur adalah hasil pembuahan sel telur pada hewan betina oleh sperma dari hewan jantan, sehingga telur merupakan calon hewan dewasa. Oleh karena itu, telur mengandung bahan-bahan dan zat-zat yang sama dengan hewan induknya. B. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menguji sifat organoleptik, dan mengenal karakteristik dan sifat fisik bahan hewani terutama ikan, daging ternak dan telur.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Daging untuk dikonsumsi diartikan sebagai otot tubuh hewan termasuk pengikat dan bagian tubuh lainnya. Sedangkan meat produk adalah hasil dari keseluruhan pemotongan hewan termasuk hasil ikutannya. Hewan penghasil daging yang biasanya digunakan sebagai bahan industri adalah sapi, domba, kambing dan unggas. Bagian hewan yang digunakan sebagai bahan pangan adalah muscular organ (lidah, jantung dan usus) dan non muscular(hati, limpa, paru, dan otot). Sedangkan yang digunakan dalam industri adalah kulit, tulang, dan bulu. Telur merupakan bakal hewan dewasa. Hanya sebagian telur yang lazim dikonsumsi oleh manusia diantaranya telur ayam, telur bebek, telur burung puyuh, dan telur penyu. Struktur telur terbagi tiga yaitu kulit telur, putih telur dan kuning telur. Khusus telur ayam, sebagian besar terdiri dari air, sedangkan bagian padatnya terdiri dari protein, lemak, karbohidrat dan mineral. Ikan merupakan bahan hewani yang mengandung protein dengan asam amino lengkap dan lemak yang tidak jenuh sehingga mudah dicerna. Lengkapnya protein dapat menanggulangi kekurangan gizi makanan dari serealia. Agar dsapat dijangkau oleh semua lapisan, ikan diolah menjadi Fish Concentrate Protein (FPC) atau yang lebih dikenal sebagai tepung ikan. Iakn sendiri dibagi menjadi tiga kelas yaitu ikan tak berahang, ikan bertulang rawan, dan ikan bertulang biasa. B.Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menguji sifat organoleptik, dan mengenal karakteristik dan sifat fisik bahan hewani terutama ikan, daging ternak dan telur.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Daging merupakan bahan makanan berprotein yang berharga serta sumber penting Vit B (terutama asam nikotinat) dan zat besi. Dging miskin akan kalsium, meskipun hati dan ginjal mengandungh Vit A dan D. tidsak ada perbedaan nyata nilai gizi antara daging mahal dan murah, atau antara daging bekundan segar. Kandungan tiamin daging kaleng lebih kecil daripada daging segar yang direbus (wahyu, 1992). Ciri-ciri ikan segar antara lain kulit berwarna cerah, sisik melekat dan kuat, mata jernih tidak terbenam atau berkerut, daging keras dan lentur, ikan berbau segar, tubuh kaku serta ikan tenggelam didalam air. Pada ikan yang busuk, berbau busuk, terutama pada insang, dan terapung dalam air. Kulit berwarna buram dan pucat dengan sisik mudah lepas (Buckle. Et. Al, 1987). Putih telur pada dasarnya adalah larutan koloid protein (terutama albumin) dalam air, bersama dengan sejumlah kecil vitamin dan garam mineral. Kuning telur adalah emulsi lemak dalam air dengan susunan kurang lebih sepertiga berupa lemak, dan setengahnya air, serta seperenamnya protein. Protein utamanya adlah vitelin (Gaman, 1992). Besar telur umumnya bervariasi,k ada yang berat dan adapula yang ringan. Contohnya dalan 1 Kg telur ayam bisa berisi 17 butir atau 21 butir. Pengaruh jenis hewan juga penting, seperti telur bebek lebih besar dari telur ayam dan warnanyapun berbeda-beda. Factor yang mempengaruhi besar telur, diantaranya jenis hewan, zat-zat mkakanan induk, sifat genetic induk, dan umur pembuahan (Syarief, 1986). Sumber pospor yang utama adalah bahan makanan dengan kadar protein tinggi seperti daging, unggas, ikan, dan telur. Piospor berperan dalam pembentukan tulang dan gigi, penyimpanan dan pengeluaran energi. Bahan pangan yang kaya protein dan kalsium biasanya juga kaya akan pospor (Winarno, 1982).

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Daging terdiri dari tiga komponen utama yaitu jaringan otot, jaringan lemak dan jaringan ikat. Jaringan otot terdiri dari jaringan otot melintang, jaringan otot lian, dan jaringan otot special. Jaringan otot melintang yaitu jartingan otot yang langsung menempel pada tulang. Jaringan lemak yang terdapat pada daging dibedakan menurut lokasinya yaitu lemak sub kutan, lemak intermuskular, dan lemak intramuscular. Jaringan ikat memiliki fungsi sebagai pengikat bagianbagian daghing serta mempertautkannya ke tulang. Jaringan yang penting adalah serabut kolagen, serabut elastin dan serabut retikulin (Buckle, 1995). Golongan vertebrata yang terbesar hidup di air adalah ikan. Ikan adlah biantang berdarah dingin yang mendorong tubuh rampingnya didalam air dengan menggerakkan sirip. Ikan memiliki indera pencium dan pendengar serta gurat sisi peka yang dapat menangkap getaran. Ikan bernapas dengan insang. Pembuahan pada ikan terjadi diluar tubuh ikan (Syarief, 1986). Telur yang normal segera setelah dikelurkan mempunyai mutu yang terbaik. Hal ini disebabkan keadaan kulir telur, besarnya ruang udara, kondisi putih telur dan kuning telur, serta lembaga masih dalam keadaan normal. Dengan pertambahan waktu simpan, mutu ntelur tersebut semakin menurun, karena terjadi perubahan beberapa sifat fisik telur yang dipengaruhi keadaan lingkungan tempat telur berada dan sifat fisik dan kimia telur tersebut, peralihan telur dari alat reproduksi induk yang mempunyai kelembaban yang tinggi dan dengan suhu hangat keruangan dengan keadaan yang lebih kering dan suhu yang lebih rendah menyebabkan berbagai perubahan (Mukhtadi, 1997). Zat kimia warna daging adlah pigmen heme atau tepatnya pigmen mioglobin. Dalam daging ternak, jumlah besi yang ada sebagian besar terdapat pada mioglobin (95 %) disbanding hanya 10 % pada badan ternak yang masih hidup. Mioglobin bukan merupakan satu-satunya pigmen yang terdapat pada daging.pigmen lain adalah sitokrom dan flavin (Winarno, 1982).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan antara lain daging sapi segar, daging busuk, ikan segar, reagen eber, NaCl fisiologis, telur ayam ras, telur ayam buras, telur bebek, telur puyuh, dan telur angsa. Alat yang digunakan antara lain jangka sorong, timbangan, sendok, pisau, cawan, cawan petri besar, mikrometer sekrup, tabung reaksi, dan PH meter. B. Cara Kerja 1. Ikan dan Daging A. Pengujian Organoleptik 1) Daging Diperiksa warena daging secara visual, diamati warna daging, dibuat irisan dan dilihat warna irisan. Diperiksa bentuk dan ukuran serat. Dibuat irisan memanjang dan melintang, dilihat keadaan daging halus/kasar. 2) Ikan Dilihat keadaan mata, warna dan bentuknya. Dilihat insang; dibuka tutup insang, dilihat warnanya, ada tidaknya lendir, apakah lepas atau lekat satu sama lain. Dilihat sisik; apakah mengkilap atau suram, berlendir atau tidak, sisik mudah dicabut atau tidak. Dilihat keadaan daging; dilihat konsistensinya, icenya, keras atau lembek dengan cara ditekan dengan jari. B. Perubahan PH Daging dan Ikan Otot daging atau ikan diperiksa PHnya, dibasahi dengan larutan fisiologis. Ditentukan PH dengan PHmeter setiap 10 menit. Dibuat grafil hubungan antara waktu dengan perubahan PH.

C. Uji Eber Dimasukkan 3-5 ml reagen eber dalam tabung reaksi. Dipotong daging atau ikan sebesar kacang tanah, ditusuk dengan lidi atau kawat. Ujung lidi ditusukkan pada gabus. Dimasukkan dalam tabung reaksi dan disumbat. Diperhatikan asap yang timbul. 2. Telur A. Sifat fisik Telur Diamati telur yang tersedia secara visual warna, kebersihan, kekasaran permukaan, bentuk, diukur panjang, lebar, dan tinggi. B. Isi Telur Ditimbang telur, dipecahkan, dituangkan diatas piring dan diukur tinggi dan lebar kuning telur dengan jangka sorong. Dihitung yolk indeks. Diukur tinggi dan lebar putih telur dengan cara yang sama. Dihitung albumin indeks. Dihitung harga Z dari masingmasing jenis telur. C.komposisi fisik Telur Ditimbang telur, dipisahkan kulitnya dan ditimbang. Dipisahkan putih telur dan kuning telur dan ditimbang. Dihitung persentase masing-masing bagian.

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan antara lain daging sapi segar, daging busuk, ikan segar, reagen eber, NaCl fisiologis, telur ayam ras, telur ayam buras, telur bebek, telur puyuh, dan telur angsa. Alat yang digunakan antara lain jangka sorong, timbangan, sendok, pisau, cawan, cawan petri besar, mikrometer sekrup, tabung reaksi, dan PH meter. B. Cara Kerja 1. Ikan dan Daging A. Pengujian Organoleptik 1) Daging Diperiksa warena daging secara visual, diamati warna daging, dibuat irisan dan dilihat warna irisan. Diperiksa bentuk dan ukuran serat. Dibuat irisan memanjang dan melintang, dilihat keadaan daging halus/kasar. 2) Ikan Dilihat keadaan mata, warna dan bentuknya. Dilihat insang; dibuka tutup insang, dilihat warnanya, ada tidaknya lendir, apakah lepas atau lekat satu sama lain. Dilihat sisik; apakah mengkilap atau suram, berlendir atau tidak, sisik mudah dicabut atau tidak. Dilihat keadaan daging; dilihat konsistensinya, icenya, keras atau lembek dengan cara ditekan dengan jari. B. Perubahan PH Daging dan Ikan Otot daging atau ikan diperiksa PHnya, dibasahi dengan larutan fisiologis. Ditentukan PH dengan PHmeter setiap 10 menit. Dibuat grafil hubungan antara waktu dengan perubahan PH.

C. Uji Eber Dimasukkan 3-5 ml reagen eber dalam tabung reaksi. Dipotong daging atau ikan sebesar kacang tanah, ditusuk dengan lidi atau kawat. Ujung lidi ditusukkan pada gabus. Dimasukkan dalam tabung reaksi dan disumbat. Diperhatikan asap yang timbul. 2. Telur A. Sifat fisik Telur Diamati telur yang tersedia secara visual warna, kebersihan, kekasaran permukaan, bentuk, diukur panjang, lebar, dan tinggi. B. Isi Telur Ditimbang telur, dipecahkan, dituangkan diatas piring dan diukur tinggi dan lebar kuning telur dengan jangka sorong. Dihitung yolk indeks. Diukur tinggi dan lebar putih telur dengan cara yang sama. Dihitung albumin indeks. Dihitung harga Z dari masingmasing jenis telur. C.komposisi fisik Telur Ditimbang telur, dipisahkan kulitnya dan ditimbang. Dipisahkan putih telur dan kuning telur dan ditimbang. Dihitung persentase masing-masing bagian.

B. Pembahasan Warna daging yang merah pada daging segar dipengaruhi oleh pigmen daging mioglobin yang beroksidasi dengan O2 membentuk oksimioglobin (merah segar) yang terbentuk pada permukaan daging yang kontak dengan udara. Sementara pada daging busuk, warna merah kecoklatan dihasilkan dari oksimioglobin yang tereduksi menghasilkan metmioglobin (merah kecoklatan). Bentuk serat-serat daging yang halus merupakan myofibril, yaitu komponen serat-serat daging yang berbentuk serabut yang tersusun secara melintang. Sehingga saat daging dipotong melintang serat terlihat halus, tapi saat dipotong membujur serat terlihat kasar karena myofibril-miofibril tersebut dipotong melawan susunannya. Myofibril ini dilapisi oleh sarkolema yang berikatan dengan tenunan pengikat membentuk miofilamen. Umumnya, daging yang dikonsumsi berasal dari ternak sapi yang mempunyai komposisi air (66 %), protein (19 %), lemak (14 %), Ca (11 mg/g), P (170 mg/g), serta vitamin A dan B. Parameter produk perairan seperti ikan yang penting adalah bau, flavour, warna dan kekerasan. Dari pengamatan dapat disimpulkan bahwa perecobaan menggunakan ikan segar, cirr-ciri ikan segar antara lain insang berwarna merah, cemerlang, tak berbau, mata cemerlang dengan piupih hitam dan cembung, warna asli kulit belum pudar, sisik melekat kuat dan mengkilat, dan terdapat lendir alami yang menghasilkan bau amis khas ikan. Sementara ikan busuk memiliki cirri-ciri yang berkebalikan dengan ikan segar, seperti sisik yang mudah lepas, insang pucat dan berbau serta lendir yang menyebabkan bau busuk. Pembusukan dapat terjadi karena proses penyembelihan yang tidak higienis atau proses pengolahan setelah penyembelihan/penagkapan yang tidak sesuai. Pembusukan dapat diketahui dengan munculnya bau, perubahan warna dan adanya lendir. Salah satu uji yang dilakukan untuk dapat mengetahui tingkat kebusukan adalah reaksi Eber. Hasil reaksi berupa gas yang keluar dari daging yang sudah busuk yang bergerak menuju kepermukaan reagen eber. Mekanisme reaksinya sendiri antara lain amonia bebas dari daging busuk bereaksi dengan HCl menghasilkan asam salmiak (NH4Cl).

Dari pengamatan perbandingan perubahan PH dalam setiap interval waktu 10 menit didapat grafik :
12 10 8 PH 6 4 2 0 10 20 30 Waktu daging segar daging busuk ikan segar

Dari grafik, dapat dijelaskan bahwa PH daging meningkat setiap penambahan waktu, sehingga terbentuk grafik yang linier. Dari literature diketahui, jika PH daging sudah diatas batas normal yaitu PH 6,2 maka kemungkinan terjadinya pembusukan dan perkembang biakan mikroorganisme lebih mungkain terjadi. PH meningkat karena daging dibiarkan pada suhu kamar selama 30 menit tanpa dilakukan pengolahan apapun. Dari pengamatan diketahui warna dan ukuran pada masing-masing jenis telur berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh jenis induk, umur induk, sifat genetic induk, lamanya pembuahan, berat tubuh induk, perubahan musim yang terjadi dan zat makanan yang diterima induk. Variasi warna dapat dilihat dari telur bebek yang berwarna dari biru langit hingga biru seperti telur asin, atau telur ayam yang berwarna putih, kuning sampai kecoklatan. Sementara untuk ukuran telur yang meliputi panjang, lebar dan berat dapat dilihat dari telur bebek yang lebih besar dari telur ayam bdan telur puyuh yang berukuran kecil namun dapat dihasilkan dalam jumlah banyak. Dari berat utuh telur, 60 % merupakan kuning telur yang mengandung nilai gizi tinggi seperti lesitin yang berperan penting dalam fase emulsi, dan zat gizi lain yang mengandung embrio. 40 % biasanya albumen yang bersifat alkalis dengan PH 7,6. putih telur terdiri dari cairan kental dan bahan setengah padat

yang terdiri dari 4 lapisan. Komponen penting lain dari telur adalah kulit telur. Unggas biasanya memiliki kulit telur yang halus, kuat dan berkapur yang melindungi isi telur dari serangan-serangan luar terutama mikroba. Perbandingan antara kulit telur, albumen dan yolk pada telur bebek adalah 12,0; 52,6; 35,4. umumnya telur ayam yang utuh mengandung air (24 %), protein (13 %) yang lebih banyak terdapat dalam kuning telur, lemak (11 %) juga dalam kuning telur, karbohidrat (1 %), dan abu (1%). Persentase kuning telur, putih telur dan kulit telur yang berbeda juga dipengaruhi oleh faktor yang sama yang mempengaruhi warna dan ukuran telur.

B. Pembahasan Dari pengamatan yang dilakukan terhadap daging segar diketahui berwarna merah, keadaan melintang serat halus, dipotong membujur seratnya kasar. Tektur daging kenyal dengan bau khas daging. Sementara untuk daging yang busuk, memiliki warna daging yang merah kecoklatan, bentuk serat halus baik yang dipotong melintang maupun yang membujur. Daging bertekstur lembek dan menimbulkan bau yang busuk. Dari literature, daging mempunyai pigmen mioglobin, yang memberikan warna merah pada daging. Mioglobin yang merupakan bagian dari sarkoplasma mempunyai dua gugus dalam strukturnya, yaitu gugus heme dan satu molekul protein globin. Pada daging segar, warna yang terbentuk adalah merah cerah yang terjadi dikarenakan mioglobin bereaksi dengan oksigen membentuk oksimioglobin (merah cerah). Sedangkan pada daging yang busuk, oksimioglobin tereduksi karena lamanya daging dibiarkan pada suhu ruang sehingga terjadi pencemaran oleh mikroorganisme membentuk metmioglobin (merah kecoklatan). Daging dibentuk oleh serat-serat otot daging berbentuk rambut yang diikat kuat oleh tenunan pengikat yang dihubungkan dengan tulang. Setiap sel seratserat otot mengandung beberapa inti sel. Jika dilihat dengan mikroskop, seratserat otot daging tampak sebagai serat-serat kecil panjang berdiameter 2-3 mikron yang tersusun sejajar dan melintang (saat dipotong serat terlihat halus) yang sering disebut miofibril. Didalam miofibril terdapat sarkoplasma yang larut dalam air dan garam encer serta terdapat pigmen didalamnya. Selain itu, miofibril juga dilapisi oleh sarkolema yang berikatan dengan tenunan pengikat endomisium membentuk miofilamen yang berfungsi dalam kontraksi otot. Pembusukan terjadi karena setelah penyembelihan tidak dilakukan pengendalian higienis saat penanganan pembersihan dan pembersihan karkas, sehingga memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme pada suhu kamar, yang ditandai dengan timbulnya lendir dan bau busuk. Daging sapi secara umum mengandung 66 % air, 19 % protein, 14 % lemak, 11 mg/g Ca, 170 mg/g P, dan 0,08 mg/g vitamin B dan sedikit vitamin A.

Pada pengamatan ikan segar, matanya berwarna hitam bulat, insang merah, teksturnya kenyal, sisik mengkilat dan melekat, tidak berlendir dengan bau amis khas ikan. Dari data setelah disesuaikan dengan literatur, ikan yang diuji termasuk dalam kelompok ikan yang masih segar. Untuk mengetahui tingkat kebusukan daging, dapat dilakukan uji Eber. Jika daging tersebut sudah mengalami pembusukan maka akan menimbulkan asap yang terjadi dari reaksi antara amonia bebas dari pembusukan daging dengan gas HCL yang membentuk NH4Cl. Sedangkan bila daging belum busuk, maka tidak akan timbul asap. Menurut grafik dibawah, diketahui bahwa PH daging meningkat dengan penambahan waktu. Namun, range tertinggi dipegang oleh daging busuk. PH normal untuk daging segar adalah sekitar 5,1-6,2, sementara jika > 6,2 maka daging tersebut lebih memungkinkan untuk perkembangan mikroba. Untuk mempertahankan mutu daging, diusahakan PH rendah yaitu sekitar 5,4-5,5. peningkatan PH dikarenakan daging dibiarkan pada suhu kamar tanpa adanya penanganan apapun.grafik yang didapat adlah sebagai berikut :
12 10 8 PH 6 4 2 0 10 20 30 Waktu daging segar daging busuk ikan segar

Dari pengamatan diketahui bahwa warna kulit telur dari tiap-tiap jenis telur berbeda. Dari literature diketahui warna telur tergantung dari jenis induk seperti warna telur ayam berwarna kuning hingga kecoklatan, dan warna telur bebek yang biru langit. Begitu juga dengan ukuran telur juga tergan tung dar

beberapa faktor yaitu jenis hewan, umur hewan, sifat genetic induk, lamanya pembuahan, zat makanan induk, berat tubuh induk dan perubahan musim. Umumnya, telur terbagi atas tiga bagian utama yaitu kulit telur, putih telur dan kuning telur jika di urut dari bagian yang paling luar. Umumnya 2/3 dari berat telur adalah albumen yang berupa cairan kental, sisanya kuning telur yang bernilai gizi tinggi dan kulit telur yang berfungsi melindungi isi telur dari faktor-faktor eksternal. Kulit telur terdiri dari kutikula, lapisan bunga karang lapisan mamila dan membrane. Nilai persentase kulit, putih dan kuning telur juga dipengaruhi oleh faktor yang sama.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Daging merupakan bahan pangan hewani yang mengandung asam amino lengkap. 2. Warna daging dipengaruhbi oleh pigmen mioglobin. 3. Pembusukan dapat ditandai dengan perubahan bau, warna dan timbulnya lendir. 4. Serat daging merupakan myofibril, yaitu kumpulan serat otot daging yang berikatan tenunan pengikat secara lengkap. 5. Ikan merupakan hasil pengairan yang mengandung asam amino lengkap dan lemak yang tidak jenuh sehingga mudah dicerna. 6. Semakin lama waktu akan semakin meningkatkan PH daging. 7. Telur terdiri dari kulit, putih dan kunibg telur. 8. Bagian terbesar dari telur adalah putih telur. B. Saran 1. Penjagaan terhadap kebersihan dan kenyamanan laboratorium bukan hanya tanggung jawab praktikan tetapi juga semua asisten. 2. Setiap alat yang sudah dimiliki laboratorium sebaiknya dijaga bersamasama. 3. Asisten seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga waktu dimulainya praktikum agar tidak telat karena adanya kendala yang seharusnta tidak terjadi seperti masih dikuncinya laboratorium.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil antara lain : 1. Warna daging dipengaruhi oleh pigmen mioglobin, yang jika dioksodasi membentuk oksimioglobin (merah cerah) dan jika tereduksi menjadi met mioglobin (merah kecoklatan). 2. Serat–serat pada daging merupakan myofibril atau kumpulan serat otot daging yang tersusun secara melintang. 3. Daging merupakan sumber gizi dengan asam amino lengkap. 4. Telur berbeda-beda, tergantung dari induknya. 5. 60 % dari telur adalah albumen, sisanya kuning telur dan kulit telur.

B. Saran Setiap membuat praktikum, semua praktikan diharuskan membuat saran tentang praktikum yang dilakukan dan juga untuk laboratorium serta asisten. Tetapi, asisten dan yang bertanggung jawab terhadap laboratorium seperrti buta huruf sehingga apa yang disarankan oleh praktikan tidak pernah untuk dilakukan. Oleh karena itu, sebaiknya saran ditiadakan saja yang namanya saran karena tidak membuahkan hasil apa-apa.

DAFTAR PUSTAKA Wahyu. 1992. ILMU NUTRISI UNGGAS, UGM-Press, Yogyakarta. Buckle, K. A. Ewards, R. A. Fleet, G. H. Wotton, M. 1987. ILMU PANGAN. UIPress, Jakarta. Gaman. 1982. ILMU PANGAN, UGM-Press, Yogyakarta. Syrief, Rizal. 1986. PENGETAHUAN BAHAN UNTUK INDUSTRI PERTANIAN. PT. Sastra Medyatama Perkasa, Jakarta. Winarno, F. G. 1982. KIMIA PANGAN DAN GIZI. Gramedia, Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful