P. 1
Artikel Publikasi-Informal-2-for USAHAWAN

Artikel Publikasi-Informal-2-for USAHAWAN

4.67

|Views: 1,420|Likes:
Published by Anton Agus Setyawan
This article is a research about informal sector in Indonesia
This article is a research about informal sector in Indonesia

More info:

Published by: Anton Agus Setyawan on Aug 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

ARTIKEL PUBLIKASI

MEMBERDAYAKAN SEKTOR INFORMAL PERKOTAAN, STUDI EMPIRIK PKL KOTA SOLO∗

Oleh: Anton A Setyawan, SE,Msi Dosen Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta dan Mahasiswa S3 Ilmu-ilmu Ekonomi UGM Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102 HP 08156718444 e-mail:agussetyawan-a@mailcity.com danrmb_anton@yahoo.com

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

*∗Paper ini telah disampaikan penulis dalam Kongres ISEI XVI “Meletakkan Kembali Dasar-Dasar Pembangunan Ekonomi Yang Kokoh” Manado 18-20 Juni 2006

1

MEMBERDAYAKAN SEKTOR INFORMAL PERKOTAAN, STUDI EMPIRIK PADA PKL KOTA SOLO

Abstract Informal sector is an interesting issue in Indonesia’s economic development. The term informal sector in this paper refers to PKL (Pedagang Kaki Lima). It has two different sides. First, PKL has been recognized as a social net to underemployment problem in many cities in Indonesia, while their existence always against regional government’s interest in their city development. This research analyses the effect of work experience and location to PKL’s revenue. This research uses regression analyses with dummy variables. The result shows that work experience and location has a positive effect to PKL’s revenue. This research has two implications to regional government. First, the enterpreneurship of PKL is a great potency for regional government in developing unemployment reduction program. Second, PKL should relocate by considering their business interest. Keywords: Informal sector, PKL, location, experience, enterpreneurship. PENDAHULUAN Keberadaan sektor informal dalam perekonomian nasional ternyata mempunyai dua sisi yang kontradiktif. Di saat perekonomian nasional masih lesu karena dampak krisis ekonomi, sektor informal ternyata mampu bertahan. Bahkan eksistensinya mampu menghidupi jutaan korban PHK akibat terpuruknya industri nasional. Namun, demikian sektor informal seringkali menimbulkan masalah terutama di perkotaan. Masalah yang muncul terkait dengan kepentingan pebisnis sektor informal dan rencana tata kota. Di kota Surakarta keadaannya tidak jauh berbeda. Setelah di landa tiga kali kerusuhan yang memporakporandakan perekonomian regional, sektor informal berkembang sangat pesat. Terlepas dari lokasi usaha sektor informal yang terkadang menyalahi aturan tata kota, tidak bisa dipungkiri bidang usaha ini menjadi salah satu solusi dalam mengatasi masalah pengangguran di kota Surakarta. Sektor informal merupakan wujud nyata dari self employed yang dilakukan masyarakat strata bawah di Surakarta. Akan tetapi, seperti

2

kebanyakan unit usaha kecil lainnya,

sektor informal ini kurang di kelola secara

profesional. Hal ini tentu tak lepas dari banyaknya permasalahan yang dihadapi usaha kecil pada umumnya. Permasalahan tersebut a.l : kekurangan modal, menghadapi ketidakpastian pasar, produk-produk yang akan di jual, harga jual, serta ketidakpastian apakah dalam beberapa tahun pertama perusahaan dapat bertahan hidup atau tidak (Bangs, Jr, 1995 ). Perekonomian Kota Solo saat ini didominasi oleh sektor perdagangan. Data dari Bappeda Kota Solo menunjukkan adanya trend peningkatan dari sumbangan sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Solo.Tahun 1999 sektor ini memberikan sumbangan sebesar 23,58 persen dari PDRB atau Rp 6 milyar. Selanjutnya tahun 2000 angka ini meningkat menjadi 24,97 persen dari PDRB atau Rp 7,4 milyar. Tahun 2001 angka ini meningkat lagi menjadi 24,93 persen dari PDRB atau Rp 8,2 milyar. Data statistik ini menunjukkan potensi riil dari sektor perdagangan dan pariwisata dalam mendukung perekonomian Kota Solo. Trend in ternyata juga berlaku dalam sektor informal di kota Solo. Sektor perdagangan di kota ini diramaikan pula oleh sektor perdagangan informal atau yang popular disebut dengan Perdagangan Kaki Lima (PKL). PKL Kota Solo menyebar di hampir seluruh wilayah perkotaan, namun demikian ada 3 sentra PKL di kota ini yang merupakan pusat kegiatan perdagangan informal. Ke-3 sentra perdagangan informal itu adalah Monumen 45 Banjarsari, sekitar Stadion Manahan dan sekitar Lapangan Kotta Barat. Ke-3 sentra PKL ini seringkali menjadi masalah karena oleh pemkot Solo dianggap menganggu tata kota, maka pemkot kemudian berencana untuk melakukan penataan. Penataan yang dilakukan mencakup penertiban lokasi perdagangan dan relokasi. Dalam proses ini selalu terjadi konflik antara PKL dan Pemkot Solo. PKL merasa mereka berhak menempati wilayah itu karena pemkot menarik retribusi dari mereka, sementara Pemkot menganggap penataan kota lebih penting. Penelitian ini menganalisis tentang potensi PKL Kota Solo dilihat dari dua hal yaitu kemampuan kewirausahaan, yang diukur dengan lamanya mereka bekerja sebagai PKL dan lokasi PKL yang sering menjadi perdebatan antara Pemkot dan PKL. Penelitian ini mengadopsi model dari Mincer (1974) yang dikombinasikan dengan model dari Jones (2001) yang menganalisis produktivitas pekerja sektor informal di Afrika serta

3

model dari Bester dan Petrakis (2004) yang menguji keterkaitan antara produktivitas pekerja dengan upah. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah variabel pengalaman kerja berpengaruh positif terhadap pendapatan PKL Kota Solo?dan apakah lokasi berpengaruh positif terhadap pendapatan PKL Kota Solo? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman kerja dengan pendapatan serta menganalisis hubungan antara lokasi dengan pendapatan PKL Kota Solo. Penelitian ini memberikan manfaat kepada para pengusaha sektor informal dalam mengelola usaha mereka terutama untuk memahami pentingnya lokasi dan pengalaman dalam menjalankan usaha mereka.Penelitian ini juga bermanfaat bagi Pemkot Solo dalam menentukan kebijakan yang lebih tepat terhadap PKL Kota Solo. MARJINALISASI SEKTOR INFORMAL Sektor informal seringkali dipandang sebelah mata dalam kebijakan pembangunana di Indonesia. Bahkan sektor ini seringkali dianggap sebagai akibat adanya dualisme ekonomi yang terjadi di Indonesia (lihat Boeke, 1953). Selain itu, sektor informal juga disebut sebagai potret kegagalan proses transformasi struktur ekonomi di Indonesia dari pertanian menjadi industri (Kuncoro, 2000). Teori ekonomi arus utama yaitu klasik maupun Keynessian juga tidak mengakui eksistensi sektor informal. Bahkan dalam perhitungan pendapatan nasional versi Klasik menyebutkan komponen pendapatan nasional hanya terdiri dari konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah (G) dan sektor luar negeri (NX). Sektor informal dalam teori ekonomi arus utama sering disebut dengan underground economy, yaitu perekonomian yang aktivitasnya tidak tercatat dalam penghitungan pendapatan nasional (Mankiw, 2002). Meskipun demikian, di banyak negara berkembang sektor ini memberikan kontribusi besar dalam menanggulangi masalah pengangguran (Gilbert & Gugler, 1996). Ironisnya, realitas ini belum “diakui” oleh para ekonom kecuali mereka yang menganut mazhab strukturalis. Sebagian besar para ekonom menganggap bahwa sektor informal hanya merupakan “fase transisi” menuju era industrialisasi. Bahkan, ada anggapan bahwa sektor informal diperuntukkan bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat dalam industrialisasi. Munculnya sektor informal di negara berkembang berkaitan erat dengan tiga

4

permasalahan umum di negara berkembang, yaitu: adanya perekonomian dua sektor (modern dan tradisional), ketimpangan distribusi pendapatan dan tingginya angka pengangguran. Ketiganya mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam pola penyebaran angkatan kerja. Penjelasannya sebagai berikut, banyak negara berkembang termasuk Indonesia, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengundang sebanyak mungkin investor asing. Investor asing yang paling diharapkan adalah penanaman modal langsung (Foreign Direct Investment) karena selain meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi juga menciptakan lapangan kerja. Investor asing yang masuk ke dalam negara berkembang pada umumnya adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Menurut Cox (1989), ekspansi perusahaan multinasional di negara-negara berkembang menciptakan tiga kelas pekerja yang berbeda. Pertama, kelas pekerja “White collar” yang terdidik dan memiliki daya serap terhadap teknologi baru cukup tinggi. Kelas pekerja ini pada umumnya terkonsentrasi di kota-kota inti (negara maju) dan mereka memiliki jaminan kesejahteraan serta masa depan yang baik. Kelas pekerja ini umumnya bergerak di sektor jasa dan memiliki tanggung jawab manajemen. Kedua, kelas pekerja “lapis kedua”, yaitu kelas pekerja yang sangat tergantung pada kondisi ekonomi dan mempunyai tantangan pekerjaan yang kurang menarik. Mereka adalah para pekerja terdidik di negara-negara berkembang, meskipun untuk ukuran negara Dunia Ketiga kelas pekerja ini memiliki kesejahteraan yang lebih baik, namun nasib mereka tergantung “belas kasihan” pengusaha-pengusaha multinasional negara maju. Ketiga, kelas pekerja marginal, yaitu para pekerja tak terdidik di negara-negara Dunia Ketiga yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah dan jaminan masa depan yang tak pasti. Kelas pekerja ketiga ini nota bene adalah masyarakat miskin serta para pekerja sektor informal. Di negara-negara berkembang, kelas pekerja ini adalah bagian terbesar dari keseluruhan angkatan kerja. Sektor informal atau Usaha Mikro Kecil-Menengah (UMKM) ini di beberapa negara maju, justru mendapat perhatian berlebih dari pemerintah. Sebagai contoh pemerintah Amerika Serikat telah melindungi eksistensi UKM-nya dengan dua undangundang sekaligus yaitu Small Business Act dan Anti Trust Act sejak tahun 30-an (Clarkson & Miller, 1982). Selain itu, perekonomian negara-negara Skandinavia, Italia, Jerman dan Korea Selatan ternyata banyak di topang oleh UMKM-nya (Sengenberger, et al, 1990). Adalah ironis, tatkala negara-negara maju yang cenderung kapitalis sekalipun, masih

5

memberi “udara” yang baik bagi kelangsungan hidup UMKM-nya. Salah satu sebab berlarut-larutnya krisis ekonomi Indonesia, karena kita tidak pernah mempunyai struktur UKM yang tangguh dalam menopang perekonomian nasional. Menurut Thoha (2000), pemerintah harus mempunyai visi dalam membangun sektor informal, yaitu mewujudkan pengusaha menengah yang kuat dan dominan jumlahnya dalam struktur usaha nasional serta meningkatkan jumlah pengusaha kecil modern yang berdaya saing tinggi. SEKTOR INFORMAL DAN DISPARITAS PENDAPATAN Sumbangan utama sektor informal di beberapa negara secara empirik adalah daya serap tenaga kerjanya sangat tinggi (Levenson dan Maloney, 1998). Namun demikian kualitas kesejahteraan pekerja sektor informal juga tidak layak (Wiebe, 1996). Perekonomian kota Solo yang didominasi sektor perdagangan dalam empat tahun terakhir mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan. Berikut adalah data pertumbuhan ekonomi kota Solo.
TABEL 1 PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA SOLO TAHUN 2000 - 2004

TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004

PERTUMBUHAN EKONOMI 4,15 % 3,93 % 5,12 % 6,46 % 4,37 %

Sumber : www.surakarta.go.id Trend pertumbuhan ekonomi yang menurun ini juga dibarengi dengan adanya angka pengangguran terbuka yang tinggi. Tahun 2004 lalu angka pengangguran di Kota Solo mencapai 26.334 orang dengan perincian 13.585 laki-laki dan 12.749 wanita. Jumlah angkatan kerja total di kota Solo adalah 251.845 orang. Hal ini bisa diartikan angka pengangguran di Kota Bengawan ini mencapai 10,45 persen. Angka ini hampir sama dengan angka pengangguran terbuka nasional. Namun demikian, ternyata jumlah

6

penganggur di kota Solo tersebut diserap oleh sektor UMKM. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan pekerja sektor informal yang lebih besar dibandingkan industri besar di kota Solo. Tabel 2 Tenaga Kerja di Kota Solo Menurut Jenis Industri Jenis Industri/Usaha Besar Menengah Kecil Non-Formal Ket 2001 872 19.240 20.893 10.803 : na = tidak ada data Tenaga Kerja (orang) 2002 Perubahan (%) Na 12.953 0,10 20.983 4,24 11.096 2,71 Sumber: www.surakarta.go.id

Data diatas memberikan keterangan penambahan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor usaha kecil dan informal. Usaha kecil menambah daya serap tenaga kerjanya sebesar 4,24% , sementara sektor informal kemampuan menyerap tenaga kerjanya bertambah 2,71%. Gejala ini tidak sehat karena dalam sektor informal, tenaga kerja tidak terjamin tingkat upah dan kesejahteraannya (Levenson dan Maloney, 2004). Selain itu, pola pertumbuhan pekerja sektor informal menunjukkan adanya ketidakadilan dalam perekonomian yang disertai dengan adanya disparitas pendapatan antara pekerja sektor formal dan informal (Zelleke, 2005). Dalam perhitungan Biro Pusat Statistik para pekerja sektor informal ini dihitung sebagai angkatan kerja yang setengah menganggur, karena mereka biasanya bekerja dibawah upah minimum. PENGALAMAN DAN PENDAPATAN PKL Pengalaman kerja secara teoritis juga menjelaskan tingkat upah. Semakin seorang pekerja memiliki pengalaman maka ketrampilannya juga akan meningkat. Ketrampilan yang meningkat ini akan dihargai dengan kenaikan tingkat upah. Penelitian dari Dhanani (2004) menyatakan factor pengalaman kerja akan menambah kekuatan tawar-menawar pekerja. Penelitian itu menganalisis fenomena tingginya angka pengangguran di Indonesia. Penelitian lain yang dilakukan Jollife (2004) dengan menggunakan analisis regresi berganda menyatakan adanya pengaruh positif antara pengalaman kerja dengan tingkat produktivitas pekerja. 7

Penelitian yang dilakukan Setyawan dan Fatchurrohman (2005) mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa semakin lama seorang PKL menjalankan usahanya maka pendapatannya mengalami peningkatan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dalam penelitian tersebut, seorang PKL yang sudah berpengalaman lebih memahami seluk beluk perdagangan informal sehingga ia mampu menyiasati berbagai kesulitan dalam rangka meningkatkan pendapatannya. H1 Pengalaman kerja berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan. LOKASI PERDAGANGAN DALAM SEKTOR INFORMAL Penyebab utama resistensi PKL terhadap rencana relokasi biasanya disebabkan oleh PKL yang merasa kepentingan bisnis mereka terancam. Alasan utama PKL menolak relokasi adalah karena lokasi baru yang ditawarkan oleh pemkot tidak memenuhi kriteria bisnis mereka, misalnya lokasi sulit dijangkau, jauh dari konsumen dan infrastruktur yang buruk. Bagi seorang pedagang, lokasi adalah segalanya. Berman dan Evans (2002) menyatakan keunggulan daya saing sebuah ritel ditentukan oleh lokasi. Bahkan bila strategi yang digunakan oleh ritel tersebut biasa-biasa saja, asalkan lokasinya berada di daerah yang tepat maka ritel itu akan menuai profit maksimal. Namun demikian, sebuah lokasi usaha yang baik bagi si pengusaha belum tentu baik bagi kepentingan publik, maka harus dicari lokasi pusat perbelanjaan demi kepentingan bisnis tetapi tidak menganggu kepentingan publik. Menurut Berman dan Evans (2002), tujuan dari penggunaan analisis area perdagangan adalah, pertama, memperjelas karakteristik demografi dan social ekonomi konsumen yang menjadi sasaran perusahaan. Kedua, aktivitas promosi lebih terfokus. Ketiga,mengenali kondisi persaingan antar ritel di wilayah itu. Dalam ilmu manajemen pemasaran untuk retail atau pedagang eceran, masalah lokasi adalah hal yang sangat penting. Menurut Berman dan Evans (2002), lokasi perdagangan terbagi menjadi tiga jenis yaitu, wilayah bisnis terisolasi, wilayah bisnis yang tidak direncanakan dan pusat perbelanjaan terencana. Wilayah bisnis terisolasi adalah outlet pedagang eceran tunggal yang berada di pinggir jalan. Keuntungan lokasi jenis ini adalah tingkat persaingan cenderung rendah, biaya tanah murah dan sangat fleksibel. Kelemahannya adalah agak sulit menarik konsumen, biaya operasional tinggi dan biaya promosi juga tinggi. Tipe lokasi kedua adalah wilayah bisnis yang tidak

8

Lokasi (Dummy) Pengalaman Kerja

Tingkat pendapatan

direncanakan, yaitu lokasi pedagang eceran yang terdiri dari dua outlet pedagang atau lebih di mana pengaturan lokasi tersebut bukan berdasarkan rencana jangka panjang. Keuntungan lokasi jenis ini adalah akses terhadap sarana transportasi publik lebih baik, variasi pedagang dan posisi yang strategis. Kelemahannya adalah biaya sewa tinggi, tingkat pajak tinggi dan imej yang negatif. Contoh dari lokasi jenis ini yang sudah mapan dan disetujui oleh pemkot adalah toko buku di belakang stadion Sriwedari Solo. Tipe lokasi ketiga adalah pusat perbelanjaan terencana, yaitu sejumlah outlet pedagang yang menempati kawasan tertentu dengan fasilitas lengkap, dikelola, didesain dan dioperasikan secara mandiri. Keuntungan dari tipe ketiga ini adalah akses yang lebih mudah kepada konsumen, kemudahan akses pada fasilitas publik dan biaya sewa yang murah. Kelemahannya persaingan antar pedagang lebih ketat, dominasi oleh pedagang besar dan kurang fleksibel. H2 Lokasi berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan. METODE PENELITIAN Model Penelitian Model penelitian ini merupakan kombinasi dari model penelitian Mincer (1974), Bester dan Petrakis (2004) dan Jones (2001). Model penelitian ini adalah sebagai berikut:

Sumber : Mincer (1974), Jones (2001) dan Bester & Petrakis (2004).

Sampel dan Populasi Populasi dari penelitian ini adalah pekerja sektor informal di Kota Surakarta.

9

Jumlah pasti dari pekerja sektor informal di Kota Surakarta tidak diketahui ketiadaan data. Maka peneliti menyimpulkan population frame tidak diketahui sehingga sampling frame-nya juga tidak diketahui. Menurut Cooper dan Schindler (2001), apabila population frame dan sampling frame tidak diketahui maka peneliti harus menggunakan metode non-probability sampling. Penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling yaitu metode convenience. Kelemahan metode non-probability sampling adalah kemampuan generalisasi dari penelitian menjadi lemah. Sampel dalam penelitian ini adalah para pekerja sektor informal yang bergerak sektor informal yang bergerak di perdagangan dengan omzet Rp 3 juta per bulan dengan jumlah karyawan kurang dari 10 orang di Kota Surakarta. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 150 orang. Jumah ini berdasarkan kriteria dari Cooper dan Schindler (2001) dan Cooper dan Emory (1995). Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian Mincer (1974), Jones (2001) dan Bester dan Petrakis (2004). Skala Pengukuran dan Variabel Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yang dikembangkan oleh Mincer (1974) dan Jones (2001). Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala rasio. Variabel yang diteliti ada 3 variabel, yaitu variabel tingkat pendapatan sebagai variabel dependen. Variabel pengalaman kerja dan lokasi (dummy) sebagai variabel independen. Definisi Operasional Variabel Tingkat pendapatan adalah jumlah nominal uang yang diterima pekerja per bulan yang diukur dengan skala rasio. Pengalaman kerja adalah lama waktu sejak pertama kali bekerja dalam sektor informal yang diukur dengan skala rasio. Lokasi adalah tempat usaha dengan kategori wilayah bisnis tidak direncanakan (0) yaitu PKL yang berada di kawasan Kotta Barat dn wilayah bisnis yang direncanakan (1) yaitu PKL yang ada di Sekitar Stadion Manahan dan Banjarsari .

10

ANALISIS DATA Sentra PKL yang dijadikan obyek penelitian adalah PKL di sekitar Monumen 45 Banjarsari atau sekarang lebih dikenal dengan Pasar Klitihikan Banjarsari, sekitar Stadion Manahan dan sekitar Lapangan Kotta Barat. Pemilihan ketiga daerah itu berdasarkan pertimbangan, ramainya wilayah itu dengan PKL, padahal lima tahun lalu kawasan itu terhitung bersih dari PKL. Pemerintah Kota Surakarta mempunyai sikap mendua terkait dengan pertumbuhan PKL ini. Pihak pemkot dalam pernyataannya di publik selalu mengatakan akan menertibkan dan merelokasi para PKL ini. Mereka juga menyatakan usaha PKL menyalahi tata kota dan perda sehingga harus ditertibkan. Akan tetapi, pemkot masih juga menarik retribusi dari PKL yang berarti keberadaan mereka memberikan kontribusi langsung bagi penerimaan pemkot Solo. Dalam penelitian ini jumlah responden yang berhasil diwawancarai adalah sebanyak 100 orang PKL. Dengan rincian 50 orang PKL di pasar Klithikan Banjarsari, 30 orang PKL dari Manahan dan 20 orang PKL dari Kotta Barat. Dari hasil observasi peneliti, ada beberapa temuan yang menarik yaitu sebagian besar PKL yang berada di tiga kawasan itu mengorganisir dirinya dengan cukup baik. Mereka membentuk semacam paguyuban yang tujuannya memperjuangkan kepentingan bersama. Paguyuban itu juga menjamin keamanan setiap pedagang dari gangguan pihak eksternal maupun menghindari persaingan tidak sehat antar pedagang. Dari sisi penghasilan ada perbedaan mendasar dari ketiga lokasi ini. Beberapa informasi penting yang diperoleh peneliti dari para PKL itu, diringkas dalam tabel berikut: Tabel 3. Karakteristik PKL Kota Solo Karakteristik Keterangan Rp 1.034.000,00  Rata-rata penghasilan per bulan SMU  Rata-rata pendidikan 6 bulan  Pengalaman kerja Sumber: Hasil wawancara dengan responden

Berdasarkan tabel diatas kita bisa melihat bahwa rata-rata penghasilan para PKL itu

11

adalah Rp 1.034.000,00. Jumlah ini tidak bisa dianggap sedikit di kota Solo. Jumlah ini hampir sama dengan gaji pokok PNS golongan IIIA. Hanya saja, nilai rata-rata ini mempunyai gap yang lebar, artinya PKL dengan penghasilan rendah dan penghasilan tinggi jaraknya cukup lebar. Bahkan ada seorang PKL dengan bisnis warung wedangan yang memiliki omzet per bulan mencapai Rp 16 juta. Bila dalam sebulan dia mendapatkan keuntungan bersih sebesar 40-50 persen, maka penghasilannya per bulan bisa mencapai Rp 5-8 juta. PKL yang memiliki penghasilan rendah berada di kisaran Rp 300.000,00 per bulan. PKL ini kebanyakan berlokasi di Kotta Barat. Kawasan ini dalam satu tahun terakhir memang mengalami penurunan dalam jumlah pengunjung. Bahkan berdasarkan informasi dari ketua paguyuban PKL, dalam dua bulan terakhir ada empat warung yang harus gulung tikar. Hal ini membuktikan, factor keberlanjutan pekerjaan (job safety) tidak terjamin dalam pekerjaan ini. Tingkat pendidikan para PKL yang menjadi responden dalam penelitian ini rata-rata SMU. Namun demikian ada juga beberapa yang memiliki pendidikan sarjana muda, bahkan sarjana penuh. Jenis pekerjaan ini tidak membutuhkan ketrampilan atau skill tertentu sehingga tingkat pendidikan pedagang tidak berpengaruh terhadap penghasilannya. 50 persen dari responden yang diwawancarai adalah mantan pekerja sektor formal. Mereka pernah bekerja di pabrik tekstil, elektronik dan beberapa sektor formal lainnya. Mereka terjun ke dalam sektor informal karena menjadi korban PHK pada masa puncak krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Pengalaman kerja adalah jangka waktu PKL mulai membuka usahanya. Rata-rata mereka mempunyai pengalaman kerja 6 bulan. Namun ada juga beberapa pedagang yang sudah berdagang sejak 10-15 tahun lalu. Dari 100 orang PKL yang diwawancarai 95 persen menyatakan mereka menikmati pekerjaannya sebagai wirausahawan. Bahkan pada saat diberikan pilihan, kembali pada pekerjaan yang dulu atau tetap menjalankan usahanya 90 persen menyatakan ingin tetap menjadi wirausahawan. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa para pedagang mikro di kota Solo, yang menjadi responden penelitian ini memiliki jiwa wira usaha yang tinggi. Padahal untuk menjalankan usahanya, mereka menggunakan modal sendiri. Tidak ada satupun pedagang mikro yang penulis wawancarai berhubungan dengan bank. Hal ini menunjukkan kemandirian mereka sebagai pengusaha.

12

Pengujian Normalitas Data Pengujian normalitas data dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dengan distribusi normal. Menurut Kuncoro (2003), data yang memenuhi distribusi normal akan menghasilkan generalisasi hasil penelitian yang lebih baik. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dengan memperhitungkan mean, median, mode, skewness dan kurtosis. Data yang diuji normalitasnya dalam penelitian ini hanya data tentang tingkat pendapatan dan pengalaman kerja saja, karena keduanya adalah data rasio, sedangkan data lokasi tidak bisa diuji dengan normalitas data karena datanya bersifat ordinal. Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel tingkat pendapatan dan pengalaman kerja dan: Tabel 4. Ringkasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif TK PENDAPATAN 100 1.034.000 600.000 300.000 1.892.917,2 6,256 0,241 44,043 0,478 PENGALAMAN 100 63,25 36 6 71,7295 2,063 0,241 5,408 0,478

Observasi Mean Median Mode Std Deviasi Skewness Std Error Skewness Kurtosis Std Error Kurtosis

Interpretasi dari hasil analisis deskriptif adalah sebagai berikut: Tingkat Pendapatan Jumlah observasi adalah 100 orang , seluruhnya adalah data yang valid tidak ada data hilang.Rata-rata tingkat upah adalah Rp 1.034.000,00 dengan deviasi standar 1.892.917,2. Jumlah deviasi standar ini sangat tinggi karena melebihi nilai rata-rata. Nilai median Rp 600.000,00 dan nilai mode adalah sebesar Rp 300.000,00. Apabila kita bandingkan antara nilai mean, median dan mode maka kita sudah mendapatkan indikasi awal bahwa data tingkat pendapatan tidak memenuhi distribusi normal, karena nilai mean, median dan mode berbeda. Nilai skewness sebesar 6,256 sehingga distribusi datanya memiliki kecondongan

13

positif. Hal ini berarti nilai rata-rata merupakan estimasi yang terbesar, lebih besar dari median dan mode adalah nilai yang terkecil. Rasio skewness dibagi dengan standard error of skewness adalah 25,958 sedangkan rasio kurtosis dibagi dengan standard error of kurtosis 92,140. Kedua nilai ini semakin menunjukkan bahwa distribusi data tingkat pendapatan tidak memenuhi distribusi normal karena karena berada di luar kisaran angka –2 sampai dengan 2. Pengalaman Kerja Jumlah observasi adalah 100 orang , seluruhnya adalah data yang valid tidak ada data hilang.Rata-rata pengalaman kerja adalah 63,25 bulan dengan deviasi standar 71,72. Jumlah deviasi standar ini sangat tinggi karena melebihi nilai rata-rata. Nilai median 36 bulan dan nilai mode adalah sebesar 6 bulan. Apabila kita bandingkan antara nilai mean, median dan mode maka kita sudah mendapatkan indikasi awal bahwa data pengalaman kerja tidak memenuhi distribusi normal, karena nilai mean, median dan mode berbeda. Nilai skewness sebesar 2,063 sehingga distribusi datanya memiliki kecondongan positif. Hal ini berarti nilai rata-rata merupakan estimasi yang terbesar, lebih besar dari median dan mode adalah nilai yang terkecil. Rasio skewness dibagi dengan standard error of skewness adalah 8,56 sedangkan rasio kurtosis dibagi dengan standard error of kurtosis 11,31. Kedua nilai ini semakin menunjukkan bahwa distribusi data pengalaman kerja tidak memenuhi distribusi normal karena berada di luar kisaran angka –2 sampai dengan 2. Secara ringkas persamaan regresi dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Log pendapatan = 12,22 + 0,230 Log pengalaman + 0,48 Dummy (lokasi) t stat F stat R2 = 0,228 Ket: * = signifikan pada α=5%. Berdasarkan hasil persamaan regresi diatas, yaitu dari pengujian t secara parsial dan uji F secara komprehensif maka variabel pengalaman dan lokasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pendapatan PKL Kota Solo. Namun demikian kemampuan prediksi dari model regresi ini rendah karena variabel tingkat pendapatan dijelaskan oleh (52,94)* (14,392)* (4,60)* (2,651)*

14

variabel pengalaman dan lokasi hanya sebesar 0,228 atau 22,8 persen. Adapun sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model regresi ini. Model regresi diatas juga diuji dengan White Heteroskedasticity test dan hasilnya adalah sebagai berikut: Residual = 0,007+ 0,054 Log pengalaman+ 0,038 Log Pengalaman2 + 0,226 Dummy (lokasi) t stat F stat R2 = 0,06 Ket: tidak ada nilai uji t secara parsial maupun nilai F statistik yang signifikan Dari hasil pengujian ini disimpulkan model regresi tersebut terbebas dari masalah heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat dari pengujian F stat untuk Uji White yang tidak signifikan secara statistik. Pengujian ketepatan model yang lain, selain heteroskedastisitas adalah pengujian multikolinearitas, untuk menghindari adanya korelasi linear antar variabel independen. Dalam penelitian ini pendeteksian multikolinearitas adalah dengan uji Klein, yaitu membandingkan antara R2 model regresi dengan R2 dari regresi antar variabel independen (Gujarati, 2003). Hasilnya adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Analisis Uji Klein untuk Mendeteksi Multikolinearitas Model Regresi Log Pendptan= a + b log penglmn kerja + dummy (lokasi) + e Log pengalaman kerja = a + b dummy (lokasi) + e R2 0,228 0,00052 (0,017) (2,06) (-0,18) (0,772) (0,774)

Tabel diatas memperlihatkan bahwa koefisien determinasi dari model utama lebih tinggi daripada koefisien determinasi model regresi antar variabel independen. Hal ini berarti tidak terjadi multikoliearitas dalam model regresi ini. PEMBAHASAN Hasil pengujian hipotesis penelitian ini dapat diringkas dalam tabel 7 Tabel 7. Ringkasan Hipotesis

15

Pernyataan Hipotesis H1: Pengalaman kerja berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan H2: Lokasi berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan

Keterangan Didukung Didukung

Variabel pengalaman kerja, ternyata berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat pendapatan. Hal ini sebenarnya sesuai dengan teori umum yang berlaku dalam bisnis, yaitu semakin seorang menjadi ahli di bidangnya ia akan mendapatkan pendapatan semakin tinggi. Dalam kasus pekerja sektor informal dimana pemilik sekaligus juga menjadi karyawan, pengalaman sebagai PKL sangat bermanfaat untuk menyiasati seluk beluk bisnis di sektor informal. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Jones (2001) yaitu pengalaman kerja mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat upah pekerja. Dalam sektor informal, skill lebih terkait dengan pengalaman kerja daripada pendidikan. Penelitian yang dilakukan oleh Manasse, Stanca dan Turrini (2004) menyatakan untuk pekerjaan klerikal atau pekerjaan yang membutuhkan sedikit ketrampilan, maka pengalaman kerja sangat penting dalam meningkatkan produktivitas. Dalam konteks sektor informal, pengalaman kerja berperan penting dalam meningkatkan pendapatan PKL. Lokasi PKL adalah masalah yang seringkali menjadi pangkal sengketa antara PKL dengan pemerintah daerah. Menurut Berman dan Evans (2002), usaha perdagangan (ritel) sangat tergantung kepada lokasi perdagangan. Dalam penelitian ini kategori lokasi yang digunakan juga mengacu pada konsep Berman dan Evans (2002) tentang lokasi perdagangan. Lokasi perdagangan yang direncanakan dalam penelitian ini adalah wilayah Manahan dan Monumen 45 Banjarsari dengan pertimbangan lokasi ditengah kota dan konsentrasi PKL banyak di wilayah ini. Lokasi perdagangan yang tidak direncanakan adalah wilayah sekitar lapangan Kotta Barat, yang sebenarnya adalah salah satu jalan utama kota Solo. Model regresi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa lokasi ternyata mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap tingkat pendapatan PKL Kota Solo. Dari hasil pengolahan data tentang lokasi dan tingkat pendapatan, terdapat fakta bahwa pedagang di kawasan sekitar Monumen 45 Banjarsari mempunyai penghasilan cukup tinggi untuk ukuran Solo, yaitu diatas Rp 1 juta per bulan. Sementara di kawasan Manahan, rata-rata penghasilan PKL berada di kisaran Rp 750.000,00 per bulan.

16

Sedangkan di sekitar Kotta Barat, para PKL-nya memiliki rata-rata penghasilan paling rendah yaitu Rp 500.000,00 per bulan. Berdasarkan analisis ini, tidak mengherankan bila PKL di kawasan Banjarsari tidak bersedia untuk menempati lokasi baru yang disediakan untuk mereka karena tidak ada jaminan bahwa lokasi baru itu (di kawasan Silir, kota Solo) menjamin keberlangsungan usaha mereka. SIMPULAN Penelitian ini mengkaji tentang factor-faktor apa yang menjadi penentu tingkat pendapatan PKL Kota Solo. Hal ini penting karena pemahaman terhadap factor penentu tingkat pendapatan ini akan mempermudah kebijakan pemkot terhadap usaha memberdayakan PKL khususnya dan sektor informal perkotaan pada umumnya. Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan secara empirik, pengalaman PKL dan lokasi perdagangan berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat pendapatan PKL. Namun demikian, daya prediksi dari model ini rendah karena factor pengalaman kerja dan lokasi perdagangan hanya menjelaskan sebesar 22 persen dari tingkat pendapatan PKL. Akan tetapi dua factor itu memberikan arah bagi pemkot Solo dalam menentukan kebijakan penataan PKL yang lebih komprehensif dan memenuhi prinsip win-win solution bagi pemkot Solo dan PKL Kota Solo. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki dua keterbatasan yaitu, pertama, penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel convenience sampling sehingga kemampuan generalisasinya sampling method. Kedua, jumlah responden yang hanya sebesar 100 orang kurang representatif untuk menggambarkan sektor informal perdagangan mikro di kota Solo, yang jumlahnya ribuan. Peneliti terpaksa hanya mengambil sampel sebanyak 100 orang karena keterbatasan dana dan waktu, serta tidak ada data resmi yang memberikan informasi berapa jumlah usaha perdagangan mikro di kota Solo. Hal ini penting untuk menentukan jumlah sampel yang tepat. rendah. Untuk penelitian mendatang diharapkan peneliti lain menggunakan metode pengambilan sampel yang masuk dalam kategori probability

17

IMPLIKASI KEBIJAKAN Penelitian ini mempunyai dua implikasi, yaitu bagi perkembangan ilmu ekonomi pembangunan dan kebijakan penataan PKL bagi pemerintah daerah. Implikasi teoritis bagi ilmu ekonomi pembangunan adalah adanya fakta empirik sektor informal berperan besar dalam perekonomian perkotaan, terutama sebagai jaring pengaman sosial dalam mengatasi masalah pengangguran. Kajian tentang sektor informal dan UMKM yang kurang mendapatkan perhatian dalam analisis ekonomi pembangunan menyebabkan peran sektor informal dan UMKM seolah-olah tidak diakui. Penelitian ini memberikan fakta empirik bahwa sektor informal mempunyai peran potensial dalam mengatasi masalah pengangguran di perkotaan. Maka, kajian tentang sektor informal perlu diperdalam dan sudah seharusnya menjadi salah satu topik utama dalam ilmu ekonomi pembangunan. Implikasi kebijakan bagi pemkot Solo adalah relokasi PKL harus mempertimbangkan kepentingan bisnis PKL. Hal ini dilakukan untuk menghindari penolakan dari PKL terhadap relokasi. Lokasi perdagangan PKL seharusnya memenuhi aspek bisnis yaitu lokasi yang strategis dan dukungan infrastruktur yang cukup. Hal ini untuk menjaga kelangsungan hidup PKL. Pengalaman PKL ternyata memberikan pengaruh positif bagi tingkat pendapatannya. Hal ini memberikan arah bagi pemkot Solo tentang perlunya memahami karakteristik PKL Kota Solo yang sebenarnya mempunyai jiwa wirausaha tinggi. Jiwa wirausaha ini sangat diperlukan pada saat pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Potensi wirausaha PKL ini sebenarnya menunjukkan kemandirian mereka dalam memperoleh lapangan pekerjaan. Para “pebisnis” informal ini tidak perlu menunggu investor datang atau menunggu pemulihan sektor perbankan untuk memulai dan mempertahankan usahanya. Kemandirian para PKL ini seharusnya menyadarkan pemkot Solo akan potensi ekonomi sektor informal perkotaan khususnya PKL. DAFTAR PUSTAKA Bangs, David H. (1995), Pedoman Langkah awal Menjalankan Usaha, Erlangga, Jakarta.

18

Berman, Barry dan Joel R. Evans (2001). Retail Management A. Strategic Approach. Prentice Hall.New Jersey. Bestera, Helmut dan Emmanuel Petrakis (2004), Wages and productivity growth in a dynamic monopoly, International Journal of Industrial Organization 22, h 83– 100. Boeke, J.H (1953), Economics and Economic Policies of Dual Societies-as Exemplified by Indonesia, Institute of Pacific Relations, New York. Clarkson, Kenneth W. & Miller, Roger LeRoy (1982), Industrial Organization : Theory, Evidence and Public Policy, Miami, McGraw-Hill Book Company. Cooper, Donald A. dan Emory, C. William (1995), Business Research Methods, Fourth Edition, Irwin. Cooper, Donald P dan P. S. Schindler (2001). Business Research Methods. 7 th Edition Boston. McGraw Hill. Cox (1989), “ Marxism And Dependency “ dalam Edward Weisband (eds) Poverty Amidst Plenty, New York, Westview Press. Dhanani, Shafiq, (2004), Unemployment and Underemployment in Indonesia, 19762000: Paradoxes and Issues, Research Paper, International Labour Office, Geneva. Gilbert, James dan Gugler, Josef (1996), Urbanisasi Dan Kemiskinan Di Dunia Ketiga, edisi pertama, Yogyakarta, PT Tiara Wacana. Gujarati, Damodar (2003). Basic Econometrics., Boston. McGraw Hill International Jolliffe, Dean (2004), The Impact of Education in Rural Ghana: Examining Household Labor Allocation and Returns On and Off the Farm, Journal of Development Economics 73, pp 287– 314. Jones, Patricia (2001), Are Educated Workers Really More Productive?, Journal of Development Economics 64, pp 57-79. Kuncoro, Mudrajad (2000), Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah dan Kebijakan, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Kuncoro, Mudrajad (2003), Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi, Erlangga, Yogyakarta. Levenson, Alec R.dan William F. Maloney (1998), The Informal Sektor, Firm Dynamics

19

and Institutional Participation, Research Paper, World Bank. Lipsey , Robert E dan Fredrik Sjoholm (2004), Foreign Direct Investment, Education and Wages in Indonesian Manufacturing, Journal of Development Economics 73, pp 415– 422. Manasse Paolo, Luca Stanca dan Alessandro Turrini (2004), Wage premia and skill upgrading in Italy: why didn’t the hound bark?, Labour Economics 11, h 59– 83. Mincer, J dan Solomon Polanchek (1974), Family Investment in Human Capital: Earning of Woman, Journal of Political Economy 82 No. 2. Mincer, J, (1974), Schooling, Experience and Earnings, Columbia Univ. Press, New York. Sengenberger, W. et.al (eds). (1990). The Re-emergence of Small Enterprises Industrial Restructuring in Industrial Countries. Geneva: International Institute for Labour Studies. Setyawan, Anton A. dan M. Fatchurrohman (2005), Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Upah Sektor Informal Kota Solo, Laporan Penelitian Tidak dipublikasikan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta. Thoha, Mahmud .(2000). “Pengembangan Ekonomi Kerakyatan : Kekuatan, Kelemahan, Tantangan dan Peluang” dalam Indonesia Menapak Abad 21, Kajian Ekonomi Politik, IPSK-LIPI. Zelleke, Almaz (2005), Distributive Justice and the Argument for an Unconditional Basic Income, Journal of Socio-Economics, Vol. 34 (1).

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->