SOP PENAMBANGAN LUMPUR

ISI
1. 2. 3. 4. 5. 6. TUJUAN. CAKUPAN. REFERENSI. DEFINISI. PROSEDURE. DISTRIBUSI & SOSIALISASI
.

Dibuat Oleh

Disetujui Oleh

HSE Departement 1. TUJUAN

Kepala Tekhnik Tambang

Last printed 12/1/2010

Memberikan penjelasan tentang tata cara melakukan operasi penambangan lumpur dengan aman dan efisien. 2. CAKUPAN SOP ini berlaku untuk seluruh proyek PT MTN yang dalam operasinya terdapat material lumpur yang harus ditambang. REFERENSI Tidak ada. DEFINISI Jelas PROSEDUR 5.1 PRA PENAMBANGAN 5.1.1 Aktivitas Pemboran Pada aktifitas pemboran explorasi ataupun infill drilling perlu dilakukan analisa litologi yang lengkap, termasuk pengukuran ketebalan lumpur. Alat bantu software geologi akan dapat membuat model ketebalan lumpur yang ada pada daerah tambang. 5.1.2 Membuat Design Tambang Dalam mendisain “pit shell’ perlu dipertimbangkan untuk membuat “buffer zone” yang dimensinya disesuaikan dengan ketebalan lumpur di daerah tambang tersebut. Material lumpur akan cenderung longsor sampai batas2 tertentu, maka “buffer zone” ini adalah untuk menahan lumpur agar tidak masuk ke dalam tambang. Gambar-1 5.1.3 Menghitung Cadangan & Mine Planning Bila semua data litologi lubang bor sudah dimasukkan ke dalam model komputer dan dengan sudah tersedianya “pit shell” maka perhitungan cadangannya akan bisa memberikan besarnya jumlah lumpur yang akan terikut dalam operasi penambangan. Dalam melakukan perencanaan, mine engineer harus selalu melakukan cek berapa jumlah lumpur yang

3. 4. 5.

Last printed 12/1/2010

ditambang setiap periode. Hal ini berakitan dengan strategi dumping yang akan dilakukan. Gambar 1 – Desain Tambang Material Lumpur

Material Lumpur Low wall Zone Material Keras Buffer

Batubara Wall

High

5.1.4 Perintisan Mine Plan Engineer bersama pengawas dilapangan harus melaksankan aktivitas perintisan sebelum dilakukan penambangan. Perintisan ini bisa dengan menggunakan bantuan alat berat seperti excavator ataupun dozer kecil yang bisa “mengapung” di daerah berlumpur. Perintisan ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi origin daerah target penggalian sehingga diperoleh gambaran yang lebih detail tentang kendala-kendala yang akan dihadapi dan strategi cara mengatasinya.

Last printed 12/1/2010

5.1.5 Survey Topography Original Survey topo original harus meliputi radius minimal 100 meter dibelakang arae penggalian yang aktif. Hal ini dimaksudkan agar bila terjadi longsoran, maka informasi dan data yang diperlukan untuk meghitung volume OB tergali sudah aman. Gambar 2 – Survey Topo Original Untuk Material Lumpur Lokas Penggalian Lumpur 100 m Sudah harus di survey orig Material Keras

5.1.6 Land Clearing Land clearing daerah lumpur, dalam skala terbatas, dapat dilaksanakan dengan menggunakan “swampy dozer” ataupun “swampy excavator”. Tapi bila lumpurnya terlalu cair, maka menggunakan “chain saw” adalah yang terbaik.

Last printed 12/1/2010

5.2

PENAMBANGAN 5.2.1 Penirisan Air Rawa Sebelum Penambangan Untuk mengurangi kandungan air pada material rawa, diperlukan pengeringan terlebih dahulu sebelum operasi penambangan dimulai. Hal ini ditujukan untuk mengoptimalkan proses gali-muat-angkut dan dumping yang akan dilakukan. Beberapa pilihan yang memungkinkan adalah: − membuat paritan untuk mengarahkan kandungan air rawa menjauh dari lokasi penggalian atau − membuat sumuran dan memompa airnya menjauh dari lokasi penggalian 5.2.2 Peralatan Alat gali dan muat yang ideal untuk lumpur adalah alat gali muat dengan konfigurasi Front Shovel. Dengan menggunakan alat gali muat type ini maka pekerjaan penggalian dapat dilaksanakan dengan metode “bottom loading” yang mana akan tidak optimum bila menggunakan excavator type back hoe. Alat angkut yang paling baik untuk operasi adalah “Articulated Dump Truck”. Dalam tingkatan tertentu, “Rigid Dump Truck” masih bisa dioperasikan secara aman dengan catatan sbb: lantai operasi tidak licin sehingga tidak menimbulkan “spinning” pada Rigid Truck tersebut dan juga muatan lumpur tidak akan penuh. Tumpahan lumpur dari (Rigid Truck lebih banyak) disepanjang jalan hauling juga harus diperhatikan karena membuat jalan licin, sehingga diperlukan extra alat pendukung seperti motor grader atau dozer. 5.2.3 Metode Penggalian Untuk mendapatkan hasil optimal maka alat gali muat Front Shovel harus “berada”pada daerah yang keras dan mengarah ke arah daerah lumpur. Dengan metode ini, maka lumpur (yang berada diatas material keras) akan termuat bersama-sama dan akan meminimalkan lumpur masuk ke arah penggalian sehingga kerja alat angkut bisa optimum. Selain itu, dengan bercampurnya material keras dan lumpur akan memudahkan proses menejemen pendumpingan Last printed 12/1/2010

5.2.4 Pengangkutan − Perlu diperhatikan bahwa akan selalu ada tumpahan lumpur dari truck sepanjang jalan hauling yang akan membuat jalan licin sehingga diperlukan extra alat pendukung seperti motor grader atau dozer. − Perlu dilakukan “adjustment” atas “truck factor” karena truck tidak akan bisa dimuati penuh. Besarnya “adjusment” dipengaruhi oleh kondisi lumpurnya. Hal ini harus dilaksanakan sehingga tidak terjadi “variance” yang tinggi antara survey dan “truck count” pada akhir bulan. Gambar 3 – Metode Penggalian Material Lumpur Lokasi Penggalian & Pemuatan Shovel + Truck

Lumpur

Material Keras

5.2.5

Dumping

Dalam melakukan operasi dumping maka perlu dilakukan pencampuran material keras dan lumpur dalam proporsi yang tepat (tergantung kondisi lumpur). Hal ini dimaksudkan agar area dumping masih bisa diakses oleh truck.

Last printed 12/1/2010

Untuk daerah dumping yang tidak mempunyai “penahan”, maka sebelum dilakukan pendumpingan lumpur, maka perlu dibuatkan semacam beberapa tanggul yang terbuat dari material keras dan akan membentuk “cell-cell” dalam ukuran yang memadai. Selanjutnya pendumpingan dimulai dari tanggul tersebut dan dilakukan lapis per lapis (3 meter per lapisan). Untuk mendapatkan kondisi dumping yang layak maka harus tersedia sejumlah material keras yang cukup untuk dicampur. Timing menaikkan elevasi dumping material lumpur akan sangat tergantung berapa lama waktu “settlement” (tergantung ratio lumpur vs material keras) dumping tersebut. Perlu diperhatikan jarak lokasi dumping lumpur dengan beberapa area yang penting seperti: area tambang yang aktif, sungai ataupun fasilitas infrastructure lainnya. Bila diperlukan maka pembuatan tanggul pengaman adalah cara terbaik untuk menghindari longsoran dumping lumpur ke tempat tersebut diatas. LINGKUNGAN HIDUP Tidak semua lumpur mempunyai pH netral. Untuk itu perlu dilakukan analisa lab untuk mengetahui tingkat keasaman lumpur sehingga cara penanganan yang benar bisa dioptimalkan Bila suatu daerah terdiri dari rawa-rawa maka daerah tersebut tidak akan mempunyai top soil. Hal ini perlu dipertimbangkan dalam melakukan “material balance” pada waktu membuat stretegy dumping dan reklamasi lingkungan hidup.

5.3

6.

DISTRIBUSI Prosedur kerja ini harus didistribusikan kepada: Project Manager Safety manager Mine Superintendent Plant Superintendent Engineering Superintendent Last printed 12/1/2010

-

Safety Engineer Mine Supervisor Plant Supervisor Operator

Last printed 12/1/2010

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful