You are on page 1of 15

Mengoptimalkan Peran Perekonomian Syariah dalam

Pengembangan dan Pemerataan Kesejahteraan Sosial dengan …
( Oleh : Agus Arifin )

Ekonomi Syariah merupakan perekonomian yang tidak asing lagi bagi
Negara-negara islam, seperti halnya Negara Indonesia yang beberapa karena
Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari
masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Ekonomi
syariah atau sistim ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme,
maupun negara kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme, Islam
menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan
melarang penumpukan kekayaan. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam
merupakan tuntutan kehidupan sekaligus merupakan sebuah anjuran yang
memiliki dimensi ibadah.
Saat ini ada tiga pendapat yang sering diacu seputar potensi zakat.
Pendapat pertama, saat menjabat Menteri Agama, Said Agil Munawar
menyatakan potensi zakat sekitar Rp 7 triliun per tahun lebih tepatnya adalah
Rp7,4 triliun. Pendapat kedua, PIRAC yakin zakat mencapai Rp 9 triliun.
Pendapat ketiga, PBB UIN menegaskan per tahun zakat bisa terhimpun di angka
Rp 19 triliun. (www.teropong.com). Namun, kenyataannya dana yang berhasil
terkumpul tidak sesuai dengan potensi yang ada. Bahkan jauh lebih kecil dari
perkiraan semula.. Menurut Data yang dikeluarkan Departeman Agama, tahun
2002, ZIS yang dihasilkan tidak menyentuh angka Rp 1 triliun. Dari zakat fitrah
hanya dikantongi dana Rp 208,2 miliar, zakat mal Rp 25,7 miliar, infaq Rp 13,8
miliar dan sedekah Rp 144 miliar (www.tempointeraktif.com). Angka ini masih
sangat jauh jika dibandingkan dengan yang dikemukakan Menteri Agama itu.

Sedangkan untuk beberapa tahun terakhir, sejumlah lembaga zakat
mengalami tren penerimaan zakat yang meningkat. Secara keseluruhan pada tahun
2006, penghimpunan zakat di seluruh Indonesia melalui badan pengelola zakat,
berjumlah sekitar Rp 830 miliar. Sedangkan pada tahun 2007, yang dihitung pada
akhir Desember lalu, angkanya hanya mencapai kurang lebih Rp 1 triliun

1

(www.sctv.6%. ternyata juga menjadi masalah utama yang pastinya akan semakin memperburuk citra LAZIS saat ini. jumlah rakyat miskin di tahun 2006 meningkat menjadi 39.05 juta orang dari tahun sebelumnya yang berjumlah 35 juta orang. Jumlah rakyat miskin masih cukup banyak.4 juta orang pada 2008. Di tahun 2007.tempointeraktif.com). Kebanyakan Umat Islam lebih memilih menyerahkan ZIS-nya secara langsung kepada orang yang berhak menrimanya daripada harus melalui LAZIS. atau sedekah yang telah dibayar oleh para muzaki itu dilarikan? Meski hanya selintas. Dari sinilah kemudian timbul pertanyaan dalam benak hampir setiap umat muslim di Indonesia.com). Tidak hanya kurang optimalnya penarikan ZIS.17 juta orang atau 16. (www. Selama tahun 2007. dan tidak mengalami perubahan secara signifikan meski berbagai usaha telah dilakukan. infaq. Kemana sebenarnya dana zakat. dari jumlah penduduk Indonesia 232. LAZIS harus berusaha lebih keras lagi untuk menumbuhkan kepercayaan umat Islam agar mau membayar ZIS melalui LAZIS yang telah ada. Hal ini terjadi karena semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah (LAZIS) yang ada saat ini.9 juta orang pada 2007 dan 236. indikasi ketidakadilan dalam hal pendistribusian ZIS.org). Namun menurut Bank Dunia menyatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia tetap di atas 100 juta orang atau 42. Namun. Ketidakadilan dalam pendistribusian hasil penghimpunan ZIS menjadi masalah klasik LAZIS di negeri ini.pk-sejahtera.58 persen dari total penduduk Indonesia selama periode bulan Maret 2006 sampai dengan Maret 2007 (www. angka tersebut tidak sebanding dengan penduduk miskin di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. meski pemerintah melalui BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin turun menjadi 37. Ini didasarkan pada perhitungan penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah USD 2/hari/orang. Malah menurut BPS. Oleh karena itu. kondisi kesejahteraan rakyat secara umum masih memprihatinkan. tentu 2 . jika dilihat lebih jauh dan lebih nyata.

red. maka akan sangat berpengaruh besar terhadap menurunnya loyalitas para pembayar ZIS kepada LAZIS. Sejalan dengan upaya Pemerintah dalam penanggulangan masalah kemiskinan dan Penjabaran Rencana Strategis Departemen Agama 2005 – 2009. Penguatan kelembagaan zakat agar menjadi institusi yang memiliki kinerja baik dan dipercaya oleh masyarakat.) terdapat dua lembaga yang mengelola zakat yaitu BAZNAS yang dikelola oleh pemerintah dan LAZNAS yang berstatus lembaga swadaya masyarakat (LSM). 38/1999 (undang-undang tentang pengelolaan zakat. Sekadar informasi. Apalagi. 2007). infaq. sehingga kemungkinan terjadi korupsi terhadap dana ZIS sangatlah besar. salah satunya yaitu Rumah Zakat Indonesia (Republika. Direktorat Pemberdayaan Zakat telah melakukan program-program yang bersifat mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan zakat dengan signifikansi sebagai berikut : 1. Inilah salah satu penyebab tidak adilnya pendistribusian ZIS selama ini. menurut Undang-Undang No. Adanya dua jenis badan pengelola ZIS tersebut.pertanyaan semacam ini jika tidak segera mendapatkan tanggapan. sebaliknya yang seharusnya tidak menerima malah mendapat berlipat-lipat. karena database mustahiq dan muzaki tidak dapat diketahui secara menyeluruh serta hasil penghimpunan dan penyaluran zakat. Saat ini diperkirakan terdapat 400 LAZNAS. diantaranya adalah kemungkinan seorang mustahiq memperoleh dana pembagian ZIS yang berasal lebih dari satu BAZIS. tanpa didukung oleh sistem informasi zakat nasional yang berbasis teknologi informasi. juga muncul pertanyaan apakah tempat-tempat mereka biasa menyalurkan zakat. Di sisi lain. infak dan sedekah melalui amil (badan/lembaga). kita mengetahui dengan pasti bahwa pengertian kaum dhuafa di Indonesia ini masih rancu. 2. sehingga mereka yang seharusnya berhak atas dana tersebut justru tidak menerima. Penyadaran zakat dan membangun persepsi umat agar membayar zakat. akan memunculkan berbagai masalah. Program ini dilakukan dengan 3 . dan sedekah itu sudah layak untuk menyalurkan?. infaq dan sedekah tidak dapat dimonitor setiap saat.

harus bertanggung jawab kepadanya dan mengikuti standart operating prosedure (SOP) yang ditetapkan. Selain itu. perlu adanya lembaga pemerintahan yang berwewenang dalam hal pengelolaan ZIS. sangat memungkinkan untuk diterimanya gagasan tentang pembentukan Kementrian ZIS. Pengembangan sinergi dan kerjasama antar lembaga pengelola zakat di dalam negeri dan kerjasama yang bersifat multilateral. Hal ini nantinya akan mempermudah proses pendistribusian dana ZIS secara adil dan merata. kementian ZIS adalah Bank Sentral (Bank Indonesia). Kurang efektifnya pola hubungan dan koordinasi antar lembaga pengelola zakat di tanah air dalam kerangka perundang-undangan yang ada saat ini. Dalam hal ini adalah dibentuk suatu Kementrian ZIS atau minimal setingkat Direktorat Jenderal ZIS. Untuk pengelolaannya diserahkan kepada tim yang telah dibentuk dari para praktisi yang berpengalaman di bidang pengelolaan ZIS. 2007). maka masalah-masalah penghimpunan dan penyaluran ZIS akan tetap bermunculan. Meskipun saat ini. atau jika diibaratkan seperti perbankan. maka lembaga amil zakat yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. selama BAZNAS dan LAZNAS belum terkoordinasi secara sempurna atau dengan kata lain masih bekerja sendiri-sendiri. Ketika. pengalokasian bantuan APBN untuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Provinsi seluruh Indonesia. Oleh karena itu. 4 . 30 Oktober 2007 lalu (Republika. 4. kementrian ZIS telah terbentuk. terpusat dan menyeluruh. kementrian zakat hanya sebagai regulator. Peningkatan peran Pemerintah dalam upaya pemberdayaan ekonomi fakir miskin dan penanggulangan bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi. Sedangkan operatornya dapat berasal dari lembaga milik pemerintah ataupun swasta. Hal ini sesuai dengan gagasan yang muncul pada Konferensi Zakat Internasional (KZI) di Padang. sehingga database mustahiq dan muzaki dapat diperoleh secara lengkap. 3. Lebih tepatnya. sistem informasi yang ada telah memadai. juga harus ada koordinasi yang jelas.

dengan kata lain dana ZIS yang seharusnya dibagikan kepada para mustahiq tidak mencukupi jumlahnya. Selain itu juga diharapkan dapat memperkecil tingkat kesenjangan sosial yang selama ini terjadi. Dengan begitu. Sedangkan untuk LAZIs milik swasta yang setara dengan LPC bertanggung jawab kepada LPD dan yang setara dengan LPD bertanggung jawab kepada LPW. yang tidak kalah penting adalah semakin kuatnya persatuan dan kesatuan (ukhuwah) di kalangan 5 . Sehingga nantinya di setiap wilayah akan ada penanggung jawab terhadap pengelolaan dan pendistribusian dana ZIS. Selain itu. agar kondisi perekonomian umat dapat berkembang secara lebih merata. upaya pemerintah untuk menyukseskan program pengentasan kemiskinan dapat lebih mudah dan jelas. Pemerataan yang dimaksud disini adalah. misalnya. sehingga kinerjanya dapat berjalan lancar dan lebih efektif. Dalam sistem lembaga pengelola ZIS yang dikomando oleh kementrian ZIS. sedangkan LPW dan LAZIS Milik Swasta yang setara dengan LPW. jika suatu daerah yang mayoritas penduduknya miskin. sebaiknya dibentuk Lembaga Perwakilan Wilayah (LPW) untuk setiap propinsi dan Lembaga Perwakilan Daerah (LPD) untuk setiap kota/kabupaten serta Lembaga Perwakilan Camat (LPC) untuk setiap kecamatan yang akan bertanggung jawab dan berwewenang untuk memungut ZIS dari masyarakat. Namun dalam hal pendistribusian. Kementrian ZIS dapat bekerjasama dengan seluruh bank yang ada di Indonesia. Seperti DPW Jakarta yang pendapatan dari ZIS relatif sangat besar dapat mensubsidi DPW Papua yang pendapatan ZISnya sangat kecil. DPD dan DPC masing-masing dengan memperhatikan unsur keadilan dan pemerataan. Rancangan alur pertanggung jawaban yang sudah jelas tersebut tentunya sekali lagi harus didukung oleh sistem informasi yang berteknologi modern. Sistem pemeratan dengan cara subsidi silang tersebut harus dijalankan. LPC nantinya akan bertanggung jawab kepada LPD dan LPD sendiri akan bertanggung jawab kepada LPW. maka disini diberlalukan sistem pemerataan atau subsidi silang dari daerah yang terdapat kelebihan dana ZIS. bertanggung jawab kepada Kementrian ZIS. sepenuhnya diserahkan kepada DPW. Dalam penarikan dana ZIS dari masyarakat.

Keempat negara tersebut akan bekerjasama dalam hal pengelolaan zakat serta penyalurannya kepada masyarakat. Ketika sebuah badan pengelola zakat tidak memiliki peta kemiskinan dan database muzaki maka akan sangat sulit untuk mencapai keberhasilan pendistribusian dan pengumpulan dana ZIS. merupakan parameter kegagalan bagi LAZIS. Singapura.tempointeraktif. Terbukti baru-baru ini terdengar kabar bahwa Indonesia bersama tiga negara di Asia Tenggara yaitu Malaysia. bahwa adanya peta kemiskinan dan database muzaki adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap LAZIS. Ini merupakan langkah awal yang nantinya akan memberikan dampak positif. baik milik pemerintah maupun swasta di negeri ini. Penyalahgunaan Dana ZIS 6 . (www.umat Islam. b. baik milik pemerintah maupun swasta. Usaha perbaikan dalam pengelolaan ZIS semakin terlihat baik dari pemerintah maupun praktisi pengelola ZIS itu sendiri. untuk mendukung proses pencapaian distributive justice dana ZIS kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. dan Brunei Darussalam bersepakat membentuk dewan zakat dan rencananya akan dideklarasikan pada Februari 2006 di Malaysia. Belum tercapainya keadilan dalam pendistribusian dana ZIS selama ini. menunjukkan perhatian antara umat muslim yang satu terhadap umat muslim yang lain.com). baik dalam hal pengelolaan ZIS yang terstandarisasi maupun dalam hal pendistribusian dana ZIS untuk mencapai Distribuive Justice. Ketidakadilan itu muncul karena berbagai sebab diantaranya adalah: a. Belum Adanya Peta Kemiskinan dan Database Muzaki Seperti yang telah disinggung diawal tadi. karena adanya subsidi silang ZIS tersebut.

Namun yang terjadi adalah. Penyalahgunaan atau korupsi terhadap dana ZIS yang dilakukan oleh para pengelola ZIS mungkin saja terjadi jika tidak ada pengendalian yang baik dari manajemen. pemerintah kurang mampu memaksimalkan potensi ZIS yang ada di negeri ini. petugas yang menjalankan fungsi pencatatan harus berbeda dengan petugas yang menjalankan fungsi pemegang uang dan hak otorisasi. Tenaga Kerja yang Tidak Profesional Tenaga kerja yang profesional akan menjadi ujung tombak perubahan pengelolaan ZIS menuju kearah yang lebih baik. d. Akibatnya 7 . Contohnya adal sebagian kiyai di Jawa Timur banyak yang memungut zakat dan mengelolanya secara langsung. Tapi ironisnya. c. Kurangnya perhatian pemerintah juga dibuktikan dengan tidak adanya standarisasi dari pemerintah mengenai sistem pendistribusian dana ZIS kepada masyarakat. Kurang Maksimalnya Dukungan Pemerintah Dukungan pemerintah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mewujudkan distributive justice dana ZIS. Pengendalian dengan cara pemisahan fungsi. pengendalian manajemen dengan cara pemisahan fungsi dan hak akses. Penyalahgunaan dana tersebut pastilah menyebabkan tidak tersampaikannya amanah ZIS yang dibayar oleh para muzaki untuk didistribusikan secara adil kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Suatu pekerjaan akan selesai dengan baik jika dikerjakan oleh tangan yang benar-benar ahli dibidangnya. Tidak hanya itu kiyai tersebut juga banyak memperoleh zakat dari para santrinya. Misalnya. contonya adalah. dengan hanya memfokuskan pendapatan dari sektor pajak. banyak sekali lembaga amil zakat di daerah-daerah dikelola oleh orang yang bukan ahlinya dan dengan modal pengetahuan yang seadanya.

sehingga ada rasa saling percaya dan tidak ada prasangka buruk dari masyarakat mengenai pendistribusian dana zakat. Sehingga msyarakat semakin loyal untuk membayarkan zakatnya melalui lembaga tersebut. Transparan Transparansi menunjukkan kejujuran. yaitu diusahakan semaksimal mungkin si penerima ZIS (mustahiq) dapat memperbaiki kondisi perekonomiannya. benar-benar sampai ke tangan orang yang tepat yaitu orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Untuk menjamin keadilan dalam pendistribusian dana ZIS. b. Hal ini dapat dicapai dengan cara melakukan survey secara langsung ke tempat calon peneriman ZIS. Contohnya adalah transparansi yang dilakukan oleh LAZIS dengan cara membuat laporan keuangan per bulanan. tentang pendistribusian dana zakat secara jelas (mencakup nama-nama pemberi dan penerima zakat. Tepat dan Terarah Tepat dan terarah yang dimaksud adalah ZIS yang berhasil terkumpul. ’3T+2P’ merupakan standar komperehensif yang dapat menutupi buruknya kinerja LAZIS yang ada saat ini. Adapun ’3P+2P’ yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Terkendali 8 . biaya operasional dan sebagainya). Sedangkan terarah disini lebih pada tujuan dan maksud pemberian ZIS. c. yang nantinya laporan keuangan tersebut akan ditunjukkan kepada para muzaki dan masyarakat umum. dan kejujuran pasti akan melahirkan kepercayaan. Cara tersebut bahkan akan semakin meningkatkan citra baik lembaga tersebut dimata masyarakat. Itulah kenapa transparansi dalam sebuah organisasi menjadi sangat penting. setiap lembaga pengelola zakat milik pemerintah dan swasta harus memilki ’3T+2P’ sebagai standar operasi pengelolaan dan pendistribusian ZIS. pendistribusian zakat menjadi sangat tidak merata dan hanya terkumpul pada si kiyai dan beberapa orang saja.

Sedangkan dari segi pendistribusian. Itulah sebabnya tenaga kerja ahli dan profesional di bidang pengelolaan ZIS masih sangat minim. Misalnya. Terkendali. artinya pengelolaan benar-benar memiliki sistem pengendalian yang baik dan aman. petugas harus menyeleksi secara ketat dan obyektif serta menghilangkan unsur-unsur subjektifitas dalam memilih mustahiq. Petugas LAZIS dituntut untuk dapat bersikap profesional baik dalam pengelolaan maupun pendistribusian. Hal ini harus dilakukan agar uang ZIS yang telah mereka terima tidak habis begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Profesional Profesionalitas yang tinggi pastilah akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula. d. sehingga para mustahiq tersebut nantinya tidak selama-lamanya menjadi mustahiq. Petugas LAZIS seharusnya mendapatkan gaji. Seseorang yang telah mendapat amanah untuk mengelola ZIS harus menjalankan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. pada saat penentuan calon mustahiq. karena pemahaman masyarakat pada umumnya adalah petugas LAZIS adalah orang yang bekerja dengan iklas tanpa digaji. untuk menambah motivasinya dalam bekerja. 9 . benar-benar dapat dipastikan bahwa dana ZIS benar- benar sampai kepada yang berhak menerimanya. Pengarahan yang secara terus-menerus sangat penting untuk dilakukan. pihak LAZIS juga melakukan pendampingan terhadap para penerima ZIS untuk memanfaatkan uang yang mereka terima dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu. sudah selayaknyalah para pengelola ZIS mendapatkan gaji sebagai balasan atas jerih payah mereka. karena kurangnya peminat. begitu pula sebaliknya profesionalitas yang rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah pula. Misalnya dengan cara membentuk kelompok usaha bersama diantara anggota masyarakat dengan didampingi oleh petugas LAZIS. Petugas ini yang nantinya akan mengarahkan masyarakat untuk berbuat sesuatu yang produktif dan memantau pemanfaatan uangnya. tapi suatu saat dapat berubah status menjadi muzaki. Selain itu.

Karena uang yang tidak segera dimanfaatkan untuk bisnis. karena kebijakan tersebut nantinya akan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan sektor riil. Namun. Pembagian ZIS kepada para mustahiq dalam bentuk modal usaha.e. Selain mampu bersikap obyektif. pengelola ZIS seharusnya mampu melihat potensi setiap mustahiq. Pengelola ZIS yang berjiwa entrepreneur akan selalu berpikir bagaimana memanfaatkan dana yang ada untuk bisnis yang menguntungkan. tuntutan yang lebih justru ditujukan bagi para pengelola ZIS. sehingga dana ZIS yang akan didistribusikan untuk para mustahiq. agar nantinya dapat melihat dan menangkap setiap peluang bisnis yang ada. Hendaknya dana ZIS yang didistribusikan. Tuntutan untuk menjadi produktif tidak hanya ditujukan kepada para mustahiq. para mustahiq tidak dilatih untuk hidup konsumtif melainkan dilatih untuk menjadi manusia-manusia yang kreatif dan produktif. Produktif Pengelola ZIS akan sangat menentukan. tidak akan membiarkan modal yang ada menjadi pasif terlalu lama. Status mereka pun berubah dari mustahiq menjadi muzaki. Uang 10 . sedikit-demi sedikit mulai memiliki penghasilan tetap dari kegiatan usahanya. hingga akhirnya tidak lagi bergantung pada pembagian ZIS. Petugas pengelola ZIS haruslah berjiwa entrepreneur. Dengan pemberian modal tersebut. karena keadaan mereka telah menjadi lebih baik. kemana dana ZIS itu nantinya akan didistribusikan. tidak dalam bentuk barang sekali pakai yang cenderung mengarah pada kehidupan konsumtif. Sehingga para mustahiq. karena mengalami keuntungan setelah digunakan sebagai modal usaha bisnis. melainkan dalam bentuk uang yang nantinya dapat dipergunakan sebagai modal usaha. adalah sebuah kerugian yang besar. nantinya bertambah dapat banyak. merupakan tindakan yang tepat. Seorang entrepreneur sejati.

’3T+2P’ merupakan kunci pokok pengelolaan ZIS untuk mencapai Justice Distribute dan pengembangan sektor riil. Adapun manfaat yang dapat diperoleh antara lain: 1. telah didistribusikan secara adil dan tepat sasaran. 7. Meminimalisir pandangan miring atau dugaan negatif masyarakat terhadap LAZIS. Sehingga nantinya terlahir manusia-manusia yang amanah dan profesional. karena masyarakat dan para muzaki telah menerima laporan keuangan LAZIS setiap bulannya. Melatih berwirausaha. ZIS yang ada pada LAZIS. setiap LAZIS harus menjalankan fungsi ’3T+2P’ ini. seharusnya setiap LAZIS menjalankan usaha/bisnis yang nantinya dapat memberikan nilai tambah (value added) baik terhadap jumlah dana ZIS tersebut maupun terhadap sektor riil. karena yakin bahwa ZIS yang telah dibayarkan akan didistribusikan secara adil dan sesuai tuntunan Rasulullah. 11 . Selain itu. maka dari itu. LAZIS memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Melatih para mustahiq untuk berbisnis dan berusaha untuk memanfaatkan modal yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Mendidik umat muslim untuk memahami dan mempraktikkan arti sebuah profesionalisme. Para muzaki memperoleh ketenangan dan kenyamanan. Jikalau begitu. 6. 3. banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan penerapan ’3T+2P’ ini. Masayarakat menjadi lebih produktif dan mandiri serta tidak cenderung konsumtif karena mendapat penyuluhan dan pendampingan dari pihak LAZIS. sehingga meningkatakan nilai tambah terhadap dana ZIS yang cenderung pasif bila tidak diputar sebagai modal bisnis. boleh diputar untuk modal usaha selama itu ditujukan untuk kemaslahatan umat. 2. 5. karena ZIS yang telah dibayakan. 4.

ada beberapa saran yang dapat penulis berikan untuk pemerintah dan LAZIS. sebaiknya dibentuk Lembaga Perwakilan Wilayah (LPW) untuk setiap propinsi dan Lembaga Perwakilan Daerah (LPD) untuk setiap kota/kabupaten serta Lembaga Perwakilan Camat (LPC) untuk setiap kecamatan yang akan bertanggung jawab dan berwewenang untuk memungut ZIS dari masyarakat. muzaki maupun mustahiq. Sehingga kemungkinan seorang mustahiq memperoleh pembagian ZIS yang bersumber lebih dari satu LAZIS dapat diminimalisir. 8. Mempercepat terwujudnya Distributive Justice dan peningkatan sektor riil. Oleh karena itu. LAZIS. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pencapaian Distributive Justice dan peningkatan sektor riil akan dapat diwujudkan jika ada dukungan dari semua pihak. Penerapan 3T+2P dalam pengelolaan ZIS merupakan kunci pokok untuk menjamin keadilan dalam pendistribusian ZIS. sistem informasi dan koordinasi antara LAZIS milik pemerintah dan swasta juga sangat penting untuk menjamin keadilan dan pemerataan ZIS melalui subsidi silang antar daerah. sedangkan LPW dan Lembaga Amil Zakat Milik Swasta yang setara dengan LPW. Pembentukan Kementrian ZIS sebagai regulator. 12 . Sehingga nantinya di setiap wilayah akan ada penanggung jawab terhadap pengelolaan dan pendistribusian dana ZIS. b. Sedangkan untuk LAZIS milik swasta yang setara dengan LPC bertanggung jawab kepada LPD dan yang setara dengan LPD bertanggung jawab kepada DPW. agar database muzaki dan mustahiq dapat diketahui secara menyeluruh. Adapun saran tersebut antara lain: a. Selain itu. baik pemerintah. Sedangkan LPC nantinya akan bertanggung jawab kepada LPD dan LPD akan bertanggung jawab kepada LPW. bertanggung jawab kepada Kementrian ZIS. Perbaikan sistem informasi dan koordinasi antara LAZIS milik pemerintah dan swasta. Dalam sistem lembaga pengelola ZIS yang dikomando oleh kementrian ZIS.

”Menegakkan keadilan adalah ibarat menggenggam batu bara yang panas. karena dari situlah akan telahir sebuah kejayaa”. 2006. setiap penggerak perubahan adalah inspirator bagi setiap manusia lainnya untuk bergerak dan menuntaskan perubahan itu. Daftar Pustaka Al-Qur’an. c. Keadilan adalah sebuah keindahan yang terlahir dari sebuah perjuangan. Pemerintah menetapkan standar operasi bagi setiap LAZIS. Jakarta: Gema Insani ________.ac.org (Diakses. menjadi pejuang adalah harga mati bagi seorang perindu keadilan. Namun. 2006. agar nantinya dapat berjalan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah seta dapat terkelola secara profesional. Surah At-Taubah ayat 60. 20 Januari 2008). demi menjamin Distributive Justice dan peningkatan sektor riil.Penduduk Indonesia Lahan Subur Zakat.ac. www.org 13 . ________. 2007.wikkipedia. Untuk itu. Zakat di Indonesia Berpotensi Besar. d. sangat sulit dan menyakitkan. Setiap LAZIS hendaknya menerapkan ’3T+2P’ sebagai kunci pokok pergerakan LAZIS baik dalam proses pengelolaan maupu pendistribusian dana ZIS.wikkipedia. www.

LAZNAS Menjamur di Indonesia.2007. (Diakses. 20 Januari 2008).sctv. Acuan Potensi Zakat Indonesia.tempointeraktif.tempointeraktif. Watu Gilang 3 No. 20 Januari 2008) ________.org (Diakses. www. Curriculum Vitae Nama : Agus Arifin Tmp/tgl lahir : Banyuwangi. 20 Januari 2008). www.40 Malang 65145 Telp/ Hp : (0341)560473/ 085233095011 14 . 20 januari 2008).pk-sejahtera. Padang Gelar Konferensi Zakat Internasional. Pengumpulan Zakat Masih Perlu Dimaksimalkan. ________. 20 Januari 2008). 2006. Republika. Edisi 21 Oktober 2007. 20 Januari 2008). 2006. (Diakses. 2007. ________. ________. www.teropong.com . .com (Diakses. www. Penduduk Miskin Indonesia Versi IDB. Penduduk Miskin Makin Meningkat. (Diakses. Republika.2007. ________.com. www.com (Diakses. 2006. ________. ________. Perolehan Zakat Belum Capai Target. 10 Februari 1989 Alamat : JL. edisi 1 November 2007.2007.

Motto Hidup : Manjadda Wajadda. Makan-makan.com Ikhwn_sjati@yahoo.com Hobi : Membaca.Universitas : Universitas Brawijaya Fakultas/ jurusan : Ekonomi/Akuntansi Email : agus_arifin@yahoo. Memotivasi. Berusaha yang terbaik untuk hasil yang terbaik Prestasi : Juara 3 LKTI tingkat nasinal di UNDIP Juara 2 LKTI tingkat propinsi JATIM Juara 3 PPKM se-Unibraw Juara 1 LKTI Fakultas Ekonomi Unibraw Juara 2 Essay BEM FE Unibraw 15 . Menulis.