P. 1
Referat OMSK Dengan Komplikasi

Referat OMSK Dengan Komplikasi

|Views: 1,836|Likes:
Published by masykura

More info:

Published by: masykura on Dec 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) didalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah congek, teleran atau telinga berair. Kebanyakan penderita OMSK menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang biasa yang nantinya akan sembuh sendiri. Penyakit ini pada umumnya tidak memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi. Biasanya komplikasi didapatkan pada penderita OMSK tipe maligna seperti labirinitis, meningitis, abses otak dan dapat menyebabkan kematian. Perburukan penyakit dan komplikasi akibat OMSK harus dihindari, dengan demikian perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dan dini pada penderita OMSK sehingga penatalaksanaan yang tepat pun dapat segera dilakukan.

1.2 Batasan Masalah Refrat ini membahas mengenai “Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)”, meliputi definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, komplikasi, penatalaksanaan dan prognosis OMSK.

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan refrat ini adalah untuk memahami mengenai definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, komplikasi, penatalaksanaan dan prognosis “OMSK”.

1.4 Metode Penulisan Refrat ini disusun berdasarkan studi kepustakaan dengan merujuk ke berbagai literatur.
1

1.5 Manfaat Penulisan Penulisan refrat ini diharapkan bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman mengenai definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, komplikasi, penatalaksanaan, dan prognosis “OMSK”.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI Suatu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul.1

2.2 EPIDEMIOLOGI Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.1 Survei prevalensi di seluruh dunia, yang walaupun masih bervariasi dalam hal definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat OMSK melibatkan 65–330 juta orang dengan telinga berair, 60% di antaranya (39–200 juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan. Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia.1 2.3 ETIOLOGI Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi campuran bakteri dari meatus auditoris eksternal , kadang berasal dari nasofaring melalui tuba eustachius saat infeksi saluran nafas atas. Organisme-organisme dari meatus auditoris eksternal termasuk staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus, B.coli dan aspergillus.

3

2 2. streptococcus B hemolitikus dan pneumococcus).4 PATOGENESIS Banyak penelitian pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius.1 Pada keadaan normal. tuba yang pendek. Tuba Eustachius ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar (tekanan udara atmosfer).1 Gambar 1. penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan OM daripada dewasa. merupakan penyebab utama terjadinya radang telinga tengah ini (otitis media. Anatomi tuba eustachius anak dan dewasa3 4 . yaitu suatu saluran yang menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah (kavum timpani). muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup dan akan membuka bila kita menelan. Fungsi tuba yang belum sempurna. OM).Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus viridans (Streptococcus A hemolitikus.

1 Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia. serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob. mempunyai stroma yang banyak serta pembuluh darah. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.5 KLASIFIKASI OMSK4 OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 1. Mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel imun infiltrat. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek. mukosa berubah bentuk dari satu lapisan.1 2. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah. Penyembuhan OM ditandai dengan hilangnya sel-sel tambahan tersebut dan kembali ke bentuk lapisan epitel sederhana. pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah. seperti netrofil. menjadi pseudostratified respiratory epithelium dengan banyak lapisan sel di antara sel tambahan tersebut. epitel skuamosa sederhana. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: 5 . adanya peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan terjadinya akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah. luas dan derajat perubahan mukosa. Epitel respirasi ini mempunyai sel goblet dan sel yang bersilia. Selain itu. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel. monosit. bakteri menyebar dari nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan terjadinya infeksi dari telinga tengah.Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas. dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit akibat proses infeksi tersebut akan menambah permiabilitas pembuluh darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga tengah. infeksi saluran nafas atas.

Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. tonsilitis kronis – Mandi dan berenang dikolam renang. atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa.• Fase aktif Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luar. Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani : – Infeksi saluran nafas yang berulang. • Fase tidak aktif / fase tenang Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. dimana kadang-kadang adanya sekret yang berpulsasi diatas kuadran posterosuperior. rhinosinusitis kronis – Pembesaran adenoid pada anak. Kolesteatom adalah suatu massa amorf. terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotis.atau suatu rasa penuh dalam telinga. Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol infeksi. mengkorek telinga dengan alat yang terkontaminasi – Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia – Otitis media supuratif akut yang berulang 2. berwarna putih. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 6 . Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. alergi hidung. konsistensi seperti mentega. tinitus. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo. atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius.

tapi jika terbentuk kantong retraksi dan proses pembersihan ini gagal. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Kolesteatoma yang didapat seringnya berkembang dari suatu kantong retraksi. menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : – Berkembang dibelakang dari membran timpani yang masih utuh. Jika telah terbentuk adhesi antara permukaan bawah kantong retraksi dengan komponen telinga tengah. Kongenital Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital. dan gangguan keseimbangan. kantong tersebut sulit untuk mengalami perbaikan bahkan jika ventilasi telinga tengah kembali normal : mereka menjadi area kolaps pada segmen atik atau segmen posterior pars tensa membrane timpani. Teori lain pembentukan kolesteatoma menyatakan bahwa metaplasia skuamosa pada mukosa telinga tengah terjadi sebagai respon terhadap infeksi kronik atau adanya suatu pertumbuhan ke dalam dari epitel skuamosa di sekitar pinggir perforasi. Epitel skuamosa pada membrane timpani normalnya membuang lapisan sel-sel mati dan tidak terjadi akumulasi debris. tuli saraf berat unilateral. debris keratin akan terkumpul dan pada akhirnya membentuk kolesteatoma. Pengeluaran epitel melalui leher kantong yang sempit menjadi sangat sulit dan lesi tersebut membesar. – Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. – Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan.1. botol itu sendiri penuh dengan debris epitel yang menyerupai lilin. umumnya pada apeks petrosa. Dapat menyebabkan fasialis parese. Membran timpani tidak mengalami ‘perforasi’ dalam arti kata yang sebenarnya : lubang yang terlihat sangat kecil. 2. terutama pada perforasi marginal. 7 . merupakan suatu lubang sempit yang tampak seperti suatu kantong retraksi yang berbentuk seperti botol. Didapat.

Granuloma kolesterol tidak memiliki hubungan dengan kolesteatoma. Perjalanan Penyakit OMSK3 2. meskipun namanya hampir mirip dan kedua kondisi ini dapat terjadi secara bersamaan pada telinga tengah atau mastoid. Granuloma kolesterol.Destruksi tulang merupakan suatu gambaran dari kolesteatoma didapat.6 DIAGNOSIS5 8 . dengan cirsi khas sel raksasa dan jaringan granulomatosa. Gambar 2. Kristal ini menyebabkan reaksi benda asing. yang dapat terjadi akibat aktivitas enzimatik pada lapisan subepitel. disebabkan oleh adanya kristal kolesterol dari eksudat serosanguin yang ada sebelumnya.

Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom. mengkilap. Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. 2. Telinga berair (otorrhoe) Sekret bersifat purulen ( kental. berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Bila tidak dijumpai kolesteatom. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe jinak. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran.1. Gangguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Dapat terlihat keping-keping kecil. tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. 9 . Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. berwarna putih. putih) atau mukoid ( seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Sekret yang sangat bau. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Keluarnya secret biasanya hilang timbul.

dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Fistula merupakan temuan yang serius. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani. Vertigo Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. atau ancaman pembentukan abses otak. 3. 4. TANDA KLINIS Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna : 10 . Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat. hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea. Otalgia ( nyeri telinga) Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK.Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis. dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom.

Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran Normal : -10 dB sampai 26 dB Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB Tuli total : lebih dari 90 dB.1. 11 . Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan. Pemeriksaan Audiometri Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut : 1. Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekivalen dengan skala ANSI 1969. PEMERIKSAAN KLINIK Untuk melengkapi pemeriksaan. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom) 4. sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea. Paparela. Adanya Abses atau fistel retroaurikular 2. 3. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom. sedang berat. sedang. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut ISO 1964 dan ANSI 1969. Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui membran fenstra rotundum. dan ketulian total. tergantung dari hasil pemeriksaan ( audiometri atau test berbisik). beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah.

gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral. Pemeriksaan Radiologi. lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Audiometri tutur dengan masking adalah dianjurkan. 12 . 3. Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barani. biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan.Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi koklea. yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. 2. terutama pada daerah atik memberi kesan kolesteatom Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah : 1. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian tutur. Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB 2. Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri. observasi berikut bisa membantu : 1. Proyeksi Mayer atau Owen. menunjukan kerusakan kohlea parah. terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur. 4. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang. Untuk melakukan evaluasi ini. Pada keadaan mastoid yang skleritik. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. Proyeksi Schuller. 2. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah. diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Erosi tulang. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.

Proyeksi Chause III. memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Dengan demikian haruslah dievaluasi faktorfaktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Cholesteatoma yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida. ada atau tidak tulangtulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal. Khasnya perforasi marginal pada bagian posterosuperior. Berkembang dari suatu kantong retraksi yang disebabkan peradangan kronis biasanya bagian posterosuperior dari pars tensa.3. Proyeksi Stenver. dan proses infeksi yang terdapat 13 . perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta mengganggu fungsi.7 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan OMSK yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebab dan pada stadium penyakitnya. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom. 4. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat kolesteatom. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya penyakit mastoid. Terbentuknya dari epitel kanal aurikula eksterna yang masuk ke kavum timpani melalui perforasi membran timpani atau kantong retraksi membran timpani pars tensa. – Secondary acquired cholesteatoma. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Banyak teori yang diajukan sebagai penyebab cholesteatoma didapat primer. 2. – Cholesteatoma. vestibulum dan kanalis semisirkularis. tetapi sampai sekarang belum ada yang bisa menunjukan penyebab yang sebenarnya. memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna.

5 Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. Konservatif 2. 14 . dimana pengobatan dapat dibagi atas5 : 1. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Operasi OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan (aural toilet) Tujuan aural toilet adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Pemberian antibiotika : • • antibiotika/antimikroba topikal antibiotika sistemik ad 1. Bila didiagnosis kolesteatom.ditelinga. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani 2.5 OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK benigna aktif adalah5 : 1. maka mutlak harus dilakukan operasi. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi.

dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. Pengerjaan aural toilet6 Cara pembersihan liang telinga (aural toilet)5 : 1. misalnya asam boric dengan Iodine. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. 15 . Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. Cara ini sebaiknya dilakukan di klinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Aural toilet secara basah ( syringing). Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan ke mastod. 2. Aural toilet dengan pengisapan ( suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.Bagan 1. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anak-anak diperlukan anastesi. Aural toilet secara kering ( dry mopping). Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. 3.

Cara pemilihan antibiotik yang paling baik adalah dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif. Terramycin. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dengan secret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. c. baik pada anak maupun dewasa. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Acidum boricum 2.Ad 2. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotika topikal untuk OMSK. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. dikombinasi dengan pembersihan telinga.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotika topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif.5 16 . adalah tidak efektif. Selain itu dikatakan bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negative. Dianjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.5 Bubuk telinga yang digunakan seperti5 : a. Seperti aminoglikosida yang lain.

Pada kondisi ini sebaiknya pasien di rawat di RS untuk 17 . bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. pemberian antibiotik sistemik (seringkali IV) dapat membantu mengeliminasi infeksi. yang akan menyebabkan ototoksik. Pilihan antibiotik yang memiliki aktifitas terhadap bakterigram negatif. Terapi sistemik diberikan pada pasien yang gagal dengan terapi topikal. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Jika fokus infeksi di mastoid.Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. terutama pseudomonas. dan gram positifterutama Staphylococcus aureus.5 Antibiotika topikal yang sering digunakan pada pengobatan Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah6 : Catatan: Terapi topikal lebih baik dibandingkan dengan terapi sistemik. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. polimiksin dan hidrokortison. Tujuannya untuk mendapatkan konsentrasi antibiotik yang lebih tinggi. Pemberian antibiotik seringkali gagal. hal ini dapat disebabkan adanya debris selain juga akibat resistensi kuman. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. tentunya tidak dapat hanya dengan terapi topikal saja. khususnya. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa.

daya penetrasi antimikroba di masing-masing jaringan tubuh dan toksisitas obat terhadap kondisi tubuh. Ad. misalnya golongan beta laktam. misalnya golongan aminoglikosida dan kuinolon. Pemberian antibiotika sistemik Pemilihan antibiotika sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab.5 Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah5. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. perlu diketahui daya bunuh antimikroba terhadap masing.5 Dalam penggunaan antimikroba. Golongan pertama antimikroba dengan daya bunuh yang tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat. Berdasarkan konsentrasi obat dan daya bunuh terhadap mikroba. Tetapi tidak dianjurkan diberikan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun.masing jenis kuman penyebab. Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin dan ofloksasin) mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. 3. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. kadar hambat minimal terhadap masingmasing kuman penyebab. Terapi dilanjutkan hingga 3-4 minggu setelah otore hilang. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Bila terjadi kegagalan pengobatan . makin banyak kuman terbunuh. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.mendapatkan aural toilet yang lebih intensif. Golongan sefalosforin generasi III 18 .

5 OMSK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu. Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy) 2. seftazidim dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. antara lain5 : 1.(sefotaksim. Pembedahan pada tatalaksana OMSK6 19 . Bila terdapat abses subperiosteal. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup. Mastoidektomi radikal 3. tetapi harus diberikan secara parenteral. Timpanoplasti 6. Metronidazol dapat diberikan pada OMSK aktif. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Miringoplasti 5. baik tipe benigna atau maligna.5 Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis. Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach tympanoplasty) Bagan 2. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi 4.

memperbaiki membran timpani yang perforasi. serta memperbaiki pendengaran. mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat.5 Pedoman umum pengobatan penderita OMSK adalah Algoritma berikut5 : 20 .Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen.

Pertahanan pertama ini adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran nafas. dan duktus endolimfatik. akan menimbulkan komplikasi. meatus akustikus internus. Bila sawr ini runtuh. mampu melokalisasi infeksi. tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. dapat diperkirakan jalan penyebaran suatu infeksi telinga ke intrakranial.BAB III KOMPLIKASI OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK Otitis media supuratif kronis mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang sangat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Cara penyebaran lainnya adalah toksin masuk melalui jalan yang sudah ada. 21 . Runtuhnya periostium akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal. sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya.1 Penyebaran Penyakit7 Komplikasi OMSK terjadi apabila sawar ( barrier ) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati. Dari gejala dan tanda yng ditemukan.7 3. misalnya melalui fenestra rotundum. tromboflebitis sinus lateralis. duktus perilimfatik.fasialis atau labirinitis. Bila sawar tulang terlampaui. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna. meningitis dan abses otak. ke tulang temporal. masih ada sawr kedua. Pada OMSK penyebaran terjadi mellui erosi tulang. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. akan menyebabkan abses ekstradural. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK yang berhubungan dengan kolesteatom. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan. yaitu dinding tulang kacum timpani dan sel mastoid. maka akan menyebabkan paresis n. Apabila infeksi mengarah ke dalam. maka struktur lunak disekitarnya akan terkena. suatu dinding pertahanan ketiga yaitu jaringan granulasi akan terbentuk. Pemberian antibiotika telah menurunkan insiden komplikasi. suatu komplikasi yang relatif tidak berbahaya. Bila sawr ini runtuh. Bila ke arah kranial.

(2) gejala prodormal infeksi lokal biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih luas. (2) gejala prodormal tidak jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis lokal.1. didapatkan dinding tulang telinga tegah utuh. 3.1.3.1. Menembus selaput otak. atau gejala meningtis lokal mendahului meningitis purulen. dapat terjadi pada hari pertama atau kedua sampai hari ke sepuluh. sehingga disebut juga mastoiditis hemoragika. riwayat operasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah sembuh.fasialisyang total. (2) ada serangan labirinitis atau meningitis berulang. 22 . misalnya paresis n.1 Penyebaran Hematogen Penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui dengan adanya (1) komplikasi terjadi paa awal suatu nfeksi atau eksaserbasi akut. Struktur jaringan lunak yang terbuka biasanya dilapisi oleh jaringan granulasi 3.fasiaringan yang hilang timbul mendahului paresis n. mugkin dapat ditemukan fraktur tengkorak.3 Penyebaran melalui jalan yang sudah ada Penyebaran melalui jalan ini dapat diketahui bila (1) komplikasi terjadi pada beberapa mingggu setelah awal penyakit. (3) pada operasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak diantara fokus supurasi dengan struktur sekitarnya. dan tulang serta lapisan mukoperiosteal meradan dan mudah berdarah. (3) pada operasi ditemukan jalan penjalaran melalui sawr tulang yang bukan oleh karena erosi Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial melewati 3 macam lintasan : 1. (3) Pada operasi.2 Penyebaran melalui erosi tulang Penyebaran melalui erosi tulang dapat diketahui bila (1) komplikasi etrjadi beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak 2. Kompliksi intrakranial mengikuti komplikasi labirinitis supuratif.

3. Ad. Cara penyebaran infeksi ke jaringan otak ini dapat terjadi baik akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi ke ruang Virchow Robin yang berakhir didaerah vaskular subkortek. Penyebaran ke jaringan otak. Dimulai begitu penyakit mencapai duramater. dan menjadi lebih melekat ke tulang. dan pada pemeriksaan otoskopik tidak menunjukkan berkurangnya reaksi inflamasi dan pengumpulan cairan maka harus diwaspadai kemungkinan terjadinya komplikasi. dan ruang subduramater akan terobliterasi. Jalan lain penyebaran ialah melalui tromboflebitis vena emisaria menembus dinding mastoid ke duramater dan sinus duramater. seperti garis fraktur tulang temporal. Masuk kejaringan otak. Jaringan granulasi terbentuk pada bagian duramater yang tidak melekat. Labirin juga dapat dianggap sebagai jalan penyebaran yang sudah ada. Penyebaran menembus selaput otak. 3. hiperemi. Ad 2. somnolen atau gelisah yang menetap dapat merupakan tanda 23 . menyebabkan pakimeningitis. Melalui jalan yang sudah ada. Bila dalam medikamentosa tidak berhasil mengurangi gejala klinik dengan tidak berhentinya otorea. dapat memudahkan masuknya infeksi. menyebabkan mudahnya infeksi ke fosa kranii media. Duramater akan menebal.2 Diagnosis Kompliksi yang Mengancam Pengenalan yang baik terhadap perkembngan suatu penyakit telinga merupakan prasyarat untuk mengetahui timbulnya komplikasi. nyeri kepala atau adayna tanda toksisitas seperti malaise. 1 . Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah di antara ventrikel dan permukaan korteks atau tengah lobus serebelum. Penyebaran ke selaput otak dapat terjadi akibat dari beberapa faktor. bagian tulang yang lemah atau defek karena pembedahan. Tromboflebitis pada susunan kanal haversian yang (osteitis atau osteomielitis) merupakan faktor utama penyebaran menembus sawar tulang daerah mastoid dan telinga tengah. Ad 3. Pada stadium akut. naiknya suhu tubuh. perasaan mengantuk (browsines).

Erosi tulang pendengaran 3.bahaya. Paralisis nervus fasial B. Trombosis sinus lateralis 3. Komplikasi di telinga tengah : 1. hidrosefalusndan lain-lain dapat dilakukan pemeriksaan CT scan otak tanpa dan dengan kontras. Komplikasi ke susunan saraf pusat 24 . tetpi dasarnya tetap sama. tanda-tanda penyebaran penyakit dapat erjadi setelah sekret berhenti keluar. misalnya abses otak. muntah yang proyektil serta kenaikan suhu badan yang menetap selam terapi diberikan merupakan tanda komplikasi intrakranial. CT scan bermanfaat menegakkan diagnosis sehingga terapi dapat diberikan lebih ceoat dan efektif. Adam dkk mengemukakan klasifikasi sebagai berikut7 : A. Komplikasi telinga dalam 1. Timblnya nyeri kepala di daerah parietal atau oksipital dan adanya keluhan mual. hal ini menandakan adanya sekret purulen yang terbendung. Tuli saraf ( sensorineural) C. Pada OMSK. Fistel labirin 2. 3. tetapi untuk yang lebih akurat diperlukan pemeriksan CT-Scan.3 Klasifikasi kompliksi OMSK Peberapa penulis mengemukakan klasifikasi kompliksai otitis media yng berlainan. Pemeriksaan radiologik dapat membantu memperlihatkan kemungkinan kerusakan dinding mastoid. Labirinitis supuratif 3. Petrositis D. Erosi tulang merupakan tanda nyata komplikasi dan memerlukan tindakan operasi segera. Perforasi persisten 2. Untuk melihan lesi otak. Abses ekstradural 2. Komplikasi ekstradural 1.

Komplikasi otologik 1. 2. 1. Tromboflebitis sinus lateral 4. Labirinitis. Labirinitis B. Petrositis 3. Paresis fasial. Abses ekstradural dan abses perisinus 2. Petrositis. Abses otak 3. 3. Komplikasi non meningeal. Abses otak. Trombosis sinus lateralis 3. Komplikasi Intrakranial 1. 25 . 3. Komplikasi meningeal 1. Abses subdural 4. Meningitis 2. Meningitis 5. Hidrosefalus otitis Shambough (1980) membagi atas komplikasi meningeal dan non meningeal : A. Mastoiditis koalesen 2. Meningitis. Hidrosefalus otitis 5. Abses otak 6. Paresis fasialis 4.1. Abses ekstradural 2. Hindrosefalus otitis Paparella dan Shumrick (1980) membagi dalam : A. Otore likuor serebrospinal B. 4.

Selama kerusakan hanya sampai bagian basalnya saja biasanya tidak menimbulkan keluhan pada pasien. ada kemungkinan produk infeksi itu akan menyebar ke telinga dalam melalui tingkap bulat ( fenestra rotundum).pada membrn timpani yang masih utuh. akan menyebabkan tuli konduktif yang berat. kerusakan terjadi oleh erosi tulang oleh kolesteatomatau oleh jaringan granulasi.3. Biasanya derjat tui konduktif tidak selalu berhubungan dengan penyakitnya. 3Preseis Nervus Facialis.4. Nervus fasialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke kanalis fasialis pada otitis media akut. 3. Pada OMSK tindakan dekompresi harus segera dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnostik.1 Perforasi membaran Timpani Persisten 3. misalnya koleseatoma dapat menghantar suara ke telinga dalam.4.2 Erosi Tulang Pendengaran 3. 3. akan tetapi apabila kerusakan telah menyebar ke koklea akan menjadi maslah. Hal ini sering dipakai sebagai indikasi untuk melakukan meringotomi segera pada pasien OMA yang tidak membaik dalam 48 jam dengan pengobatan medikamentosa saja. tetapi rangkaian tulang penengran terputus. 5 Komplikasi di Telinga Dalam Apabila tedapat peninggian tekanan di telinga tengah oleh produk infeksi.4. sebab jaringan patologis yang tedapat di kavum timpani pun .4 Komplikasi di telinga tengah Akibat infeksi di telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. disusul oleh infeksi ke dalam kanalis fasialis tersebut. Pada otitis media kronis. 26 .

Pada keadan ini. dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat. maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membran. 27 . Bila fistula yang terjadi masih paten. bila fistulanya sudah tertutup ileh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati/paresis kanal. 3. Matriks kolesteatom dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih dan daerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau sekeping tulang/ tulang rawan. sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. yang biasanya ditemukan di kanalis semisirkularis horisontal.5. Tindakan bedah harus adekuat. 3.Penyebaran oleh proses destruksi seperti oleh kolesteatom atau infeksi langsung ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan pendengaran. Balon karet dipencet dan udara di dalamnya akan menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga.1 Fistula Labirin OMSK terutama yang dengan kolesteatom dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin sehingga terbentuk fistula. Pemeriksaan radiologik tomografi atau CT scan yang baik kadang-kadang dapat memperlihatkan fistula labirin.5. sedangkan labirinitis yang terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan vertigo saja atau tuli saraf saja. 2 Labirinitis Supuratif Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut labirinits umum (general). misalnya vertigo. Pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga. untuk mengontrol penyakit primer. operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula. Tes vistula bisa negatif. Tes fistula positif akan menimbulkan nistagmus atau vertigo. Pada fistula labirin atau labirinitis. mual dan muntah serta tuli saraf. infeksi dapat masuk sehingga terjadi labirinitis dan akhirnya terjadi kompliksai tuli total atau meningitis Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula yaitu dengan memberikan tekanan udara positif ataupun negatif ke liang telinga melalui otoskop Siegel dengan corong telinga yang ked atau balon kare dengan bentuk elips.

Pada umumnya abses ini baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi. seperti fibrosis dan osifikasi. sehingga terjadi kerusakan yang irreversibel. 3. Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa infasi sel radang. tetapi kini sudah jarang terjadi. tetapi setelah penyakit menjadi berat 28 . Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus. Demam yang tidak dpat diterangkan penyebabnya merupakan tanda pertama dari infeksi pembuluh darah. Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif.5.Labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruangan perilimfa. Dengan foto rontgen mastoid yang baik. Komplikasi ini sering ditemukan pada zaman pra-antibiotik. terutama posisi schuller. Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk menghialangkan infeksi dari telinga tengah. Pada otitis media supuratif kronis keadaan ini berhubungan dengan jaringan granulasi dan kolesteatoma yang menyebabkan erosi tegmen atau mastoid. sel radang menginfasi labirin.6 Komplikasi Ekstradural 3.menandakan tembusnya tegemen. 3. Kadang-kaang diperlukan juga drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis.6.6. sedangkan pada labirinitis supuratif. Pemberian antibiotika yang adekuat terutam ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan/ tanpa kolesteatoma.1 Abses Ekstra Dural Abses ekstradural ialah terkumpulnya nanah diantara duramater dan tulang. dapat dilihat kerusakan di lempen tegmen (tegmen plate) yang . Pada mulanya suhu tubuh turun naik. Gejalanya terutama berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. Labirinitis serosa dapat berupa labirinitis serosa difus dan labirinitis sirkumskripta.3 Tuli Saraf ( Sensorineural ) 3.2 Trombosis Sinus Lateralis Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan menyebabkan terjadinya trombosis sinus lateralis.

membuang sumber infeksi di sel-sel mastoid. hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda kernig positif. membuang tulang yang berbatasan dengan sinus (sinus plate) yang nekrotik. Yang sering ialah penyebaran langsung ke sel-sel udara tersebut. Gejalanya dapat berupa demam . Jika sudah terbentuk trombus harus juga dilakukan drenase sinus dan mengeluarkan trombus. Gejala kelainan susunan saraf pusat bisa berupa kejang. Sebelum itu dilakukan dulu ligasi vena jugulare interna untuk mencegah trombus terlepas ke paru dan ke dalam tubuh lain. 3. Pada waktu melakukan operasi telinga tengah dilakukan juga eksplorasi sel-sel udara tulang petrosum serta mengeluarkan jaringan patogen.3 Petrositis Kira-kira sepertiga dari populasi manusia. Pengobatan petrositis ialah operasi serta pemberian antbiotika protokol komplikasi intrakranial. temporal atau oksipital.VI.V.4 Abses Subdural Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses eksradural biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena. 3.6. Rasa nyeri biasanya tidak jelas. ditambah dengan terdapatnya otore yang persisten. 29 . karena kelemahan n. Pengobatan haruslah dengan jalan bedah. Terdapat beberapa cara penyebaran infeksi dari telinga tengah ke os petrosum. Kurve suhu demikian menandakan adanya sepsis. Kecurigaan terhadap petrositis terutama bila terdapat nanah yang keluar terus menerus dan rasa nyeri yan menetap pasca mastoidektomi. Kultur darah biasanya positif. Adanya pertositis sudah harus dicurigai. tulang temporalnya mempunyai sel-sel udara sampai ke apeks os petrosum. terutama bila darah diambil ketika demam. terbentuklah suatu sindrom yang disebut sindrom Gradenigo. apabila pada pasien otitis media terdapat keluhan diplopia. nyeri kepala dan penurunan kesadaran sampai koma pada pasien OMSK. oleh karena terkenanya n.6.didapatkan kurve suhu yang naik turun dengan sangat curam disertai dengan menggigil. atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik. kecuali bila sudah terdapat abses perisinus. sering kali disertai dengan rasa nyeri di daerah parietal.

3. Gejala klinis OMSK yang dicurigai MA antara lain otore purulen kental dalam jumlah banyak dan bau.6. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar pada waktu operasi mastoidektomi. Pengobatan berupa antibiotika sistemik dan operasi mastoidektomi. Pemilihan antibiotika umumnya berdasarkan efektifitas kemampuan mengeliminasi kuman (mujarab). pengobatan harus secepat dan seefektif mungkin untuk menghindari komplikasi.7 Komplikasi ke Susunan Saraf Pusat 3. keamanan. risiko toksisitas dan harga. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang radiologi yang menunjukkan mastoiditis baik foto polos mastoid Schuller maupun CT scan mastoid. sistemik ataupun topikal berdasarkan pengalaman empirik dari hasil kultur mikrobiologi.5 Mastoiditis8 Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi telinga tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid melalui antrum mastoid. pada abses subdural nanah harus dikeluarkan secara bedah saraf (neuro-srgical). Paa abses subdural pada pemeriksaan likuor serebrospinal kadar protein biasanya normal dan tidak ditemukan bakteri. perforasi membran timpani.7.1 Meningitis Meningitis 30 . Pada pemeriksaan fisik mungkin akan ditemukan granulasi di dinding superoposterior kanalis auditorius eksterna.Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan meningitis. 3. nyeri belakang telinga. Pada beberapa kasus dapat dijumpai perluasan abses ke ruang/rongga dalam leher sekitar mastoid seperti m. Walau dalam praktek kejadian komplikasi ini rendah. abses/fistel retroaurikula. tak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan antibiotika selama dua minggu. meliputi dua hal penting : pertama pembersihan telinga (menyedot/mengeluarkan debris telinga dan sekret) kedua antibiotika baik peroral. resistensi. Diagnosis mastoiditis ditegakkan melalui gejala klinis.sternokleidomastoideus (Bezold’s mastoiditis) dan paralisis nervus fasialis. sebelum dilakukan operasi mastoidektomi. m.digastrikus.

serta nyeri kepal hebat. serta dapat terlokalisasi. 3. Dilaporkan dari 96% abses otak.Komplikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering ialah meningitis. 2) melalui sinus sigmoid ke fossa kranii posterior yang membentuk abses serebellum. sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri.2 Abses Otak Abses otak otogenik merupakan salah satu komplikasi intrakranial yang sering terjadi pada otitis media supuratif kronik tipe maligna1. Keadaan ini dapat terjadi oleh otitis media akut. pada pemeriksaan likuor serebrospinal terdapat bakteri pada bentuk yang umum (general). Mortalitasnya masih sangat tinggi yaitu sekitar 40%.7. Bila sawar ini runtuh masih 31 .Pada saat ini dengan penggunaan antibiotik angka kematian 12-40%. Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip. Pertahanan pertama ialah mukosa kavum timpani yang menyerupai mukosa saluran pernapasan yang mampu melokalisasi dan mengatasi infeksi. Biasnaya kadar gula menurun dan kadar protein meninggi di likuor serebrospinal. Pada kasus abses otak dimana Otitis Media Suppurativa Kronik (OMSK) sebagai faktor predisposisi. muntah yang kadang-kadang muntahnya muncrat (proyektil). Pada kasus yang berat biasanya kesadaran menurun (delir smpai koma). Gambaran klinik meningitis biasanya berupa kaku kuduk.kenaikan suhu tubuh. Proctor menyimpulkan bahwa pada era preantibiotika angka kematian karena abses otak 50-100%.9 Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur sekitarnya. kemudian infeksi di telinganya ditanggulangi dengan operasi mastoidektomi. Penyebaran infeksi melalui beberapa cara yaitu 1) melalui tegmen timpani yang membentuk temporal abses. mual. 3) dari labirin ke sakkus endolimfatikus yang membentuk abses serebellum. Dapat juga melalui vena-vena dan 4) melalui meatus akustikus internus. abses sering berlokasi pada lobus temporalis kemudian diikuti oleh abses pada serebellum. maupun kronis . Pada pemeriksaan klinik terdapat kaku kuduk waktu difleksikan dan terdapat tanda kernig positif. Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan mengobati meningitisnya dulu dengan antibiotik yang sesuai. atau umum (general).62% abses berlokasi pada lobus temporal dan 34% pada serebellum.

9 Gejala dan tanda klinis abses otak mengikuti patogenesis terjadinya abses seperti yang digambarkan oleh Neely dan Mawson yaitu :9 1. Apabila pertahanan pertama untuk mencegah penyebaran infeksi gagal karena telah terjadi nekrosis dura. Penderita mengeluh sefalgia. menggigil. Walaupun biasanya ruangan ini telah terobliterasi oleh reaksi inflamasi sebelumnya. rasa mengantuk. mual dan muntah. Bila infeksi supuratif meluas ke daerah sekitarnya. defisit neurologis fokal tidak selalu dijumpai. biasanya berupa pembentukan abses yang terlokalisasi. dapat menjadi besar karena longgarnya perlekatan dura dengan skuama os temporal. terjadilah invasi ke ruang subdura. malaise. Akan tetapi bila terdapat hal tersebut maka kecurigaan terhadap abses otak menjadi lebih kuat. 32 . Bila sawar ini masih runtuh maka struktur lunak disekitarnya akan terkena. Dura sangat resisten terhadap penyebaran infeksi sehingga akan menebal.ada sawar kedua yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. reaksi pertahanan lokal berusaha untuk bereaksi. gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang sangat tidak spesifik. Gejala biasanya ringan. Perluasan menembus tegmen akan menyebabkan abses ekstradura fossa media sedangkan perluasan menembus dinding posterior tulang temporal dapat menghasilkan abses ekstra dura atau abses perisinus. Stadium inisial: gejalanya biasanya ringan dan sering terabaikan.hiperemikdan lebih melekat ke tulang. sering terabaikan dan kadang-kadang tampak sebagai eksaserbasi otitis media supuratif kronik.kadang-kadang terjadi juga empiema yang dapat meluas bahkan bisa sampai ke hemisfer kontra lateral. Bila suatu abses subdura terbentuk akibat penyebaran melalui tegmen. Gejala ini dapat menghilang dalam beberapa hari. papil edema. Kecurigaan terdapatnya abses otak pada pasien OMSK adalah bila timbul sakit kepala yang bersifat hemikranial atau yang paling sering pada seluruh kepala. Penyebaran melalui selaput otak dimulai begitu penyakit mencapai dura menyebabkan pekimeningitis.9 Untuk diagnosis sampai sekarang masih merupakan problem untuk para dokter karena baik secara anamnesis. menetap dan tidak berespon dengan pengobatan penurunan kesadaran.

kurang bermakna. Stadium laten: secara klinis tidak jelas karena gejala berkurang. mungkin dapat memperlihatkan pergeseran kelenjar pineal yang mengalami kalsifikasi. Foto polos kepala. Gejala ini dapat timbul beberapa minggu dan kadang-kadang sampai beberapa bulan. Gejala dan tanda peningkatan tekanan intrakranial berupa. Pada stadium ini abses terlokalisir dan terjadi pembentukan kapsul. Stadium manifest : pada stadium ini abses mulai membesar dan menyebabkan gejala bertambah. Sebaiknya dilakukan dengan kontras. 3. iii) perubahan tingkat kesadaran berupa lethargi. Stadium akhir: pada stadium ini kesadaran makin menurun dari stupor sampai koma dan akhirnya meninggal yang disebabkan karena ruptur abses ke dalam sistem ventrikel dan rongga subarakhnoid1. kelemahan yang progresif. kurang nafsu makan dan sakit kepala yang hilang timbul.000/m3). ii) mual dan muntah biasanya bersifat proyektil terutama bila lesi pada serebellum.Laboratorium: umumnya jumlah lekosit normal atau meningkat (<15. Pada pemeriksaan    33 . Pada stadium ini dapat terjadi kejang fokal atau afasia pada abses lobus temporalis sedangkan pada abses serebellum dapat terjadi ataksia atau tremor yang hebat. stupor edema biasanya tidak tampak pada kasus dini. kadang-kadang masih terdapat malaise. Lumbal punksi: analisis liquor cerebro spinalis (LCS) pada abses otak tidak spesifik dan tindakan ini merupakan kontraindikasi untuk membuktikan kecurigaan abses otak.Penurunan kesadaran dapat terjadi pada 20% pasien yang dilakukan LP. Computed tomography (CT) Scan kepala: pemeriksaan ini sangatlah penting untuk menegakkan diagnosis abses otak merupakan pemeriksaan non invasif. 4.2. Gejala ini tampak bila peningkatan tekanan intrakranial bertahan selama 2-3 minggu dan v) denyut nadi lambat dan temperature subnormal. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis dapat berupa:  1. i) sakit kepala yang hebat. memburuk pada pagi hari. Gejala klinik pada stadium ini terjadi karena peningkatan tekanan intrakranial dan gangguan fungsi serebrum atau serebellum yang menyebabkan tanda dan gejala fokal.

abses otak tampak sebagai daerah hipodens yang dikelilingi oleh lingkaran yang disebut tanda cincin (ring sign). Biasanya diberikan golongan penisilin untuk bakteri gram positif dan aminoglikosida untuk bakteri gram negatif dan yang lebih penting bakteri anaerob. Prinsip terapi abses otak adalah menghilangkan fokus infeksi dan efek massa. Letak abses di sebelah dalam atau daerah yang membahayakan 4.dengan kontras. Kombinasi sefalosforin generasi ketiga dan metronidazol yang dapat melalui sawar darah otak dan merupakan efektif untuk bakteri anaerob. Kortikosteroid diberikan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi pembengkakan otak dan efek desak ruang yang disebabkan oleh abses. Tes kepekaan dapat membantu pemilihan antibiotik dan diberikan sampai suhu badan menjadi normal. Harus diusahakan agar dapat diperoleh bahan baku untuk kultur dan tes kepekaan. Terdapatnya abses multipel terutama bila lokasinya saling berjauhan 3. Bila setelah pemberian antibiotik pada 2 minggu pertama ukuran abses menjadi kecil. Kombinasi penisilinase-resisten penisilin dan aminoglikosida dapat digunakan untuk bakteri aerob gram positif dan gram negatif. Dapat diberikan 4 mg tiap 6 jam secara intravena. Keadaan pasien akan menjadi buruk bila tindakan bedah dilakukan 2. Terapi medikamentosa dengan antibiotik dapat diberikan pada abses otak bila:9 1. penting untuk mengetahui ukuran dan lokasi abses serta membantu memantau perkembangan abses selama pengobatan. Pada penanganan medikamentosa diberikan antibiotik dosis tinggi secara parenteral. 34 .Pemilihan antibiotik biasanya sulit karena adanya variasi bakteri penyebab abses otak. Bersamaan dengan meningitis 5. Pemberian antibiotik dapat dikombinasikan karena biasanya terjadi infeksi campuran dan diindikasikan pada infeksi yang berat. Bersamaan dengan hidrosefalus yang memerlukan shunt yang dapat menyebabkan infeksi pada tindakan bedah 6.  Magnetic resonance imaging (MRI): membantu mengidentifikasi abses otak pada stadium lebih awal dan lebih sensitif dalam mendeteksi penyebaran ekstra parenkimal ke ruang subarakhnoid.

Untuk penanganan abses dilakukan oleh ahli bedah saraf dengan pendekatan a) aspirasi melalui sawar b) eksisi abses c) insisi terbuka abses dan evakuasi pus. Kontaminasi infeksi yang terus menerus dari mastoid ke jaringan otak akan menyebabkan respon pengobatan menjadi buruk. Saat kondisi pasien sudah stabil maka tindakan mastoidektomi dapat dilakukan dan biasanya sesudah 3-4 hari sesudah kraniotomi atau dapat lebih cepat tergantung keadaan umum pasien.Mengenai kapan dilakukan tindakan bedah pada abses otogenik ada beberapa pendapat dari para ahli. Pada kasus-kasus berat tentu saja hal tersebut tidak mungkin dilakukan tetapi bila pengobatan infeksi telah berhasil mengurangi edema jaringan otak maka operasi mastoid harus dilaksanakan. Pada pemeriksaan terdapat edema papil.9 3.7. Selanjutnya ada yang berpendapat bahwa idealnya kedua operasi tersebut dilakukan bersamasama. Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya sinus lateralis yang mengakibatkan kegagalan absorpsi likuor serebrospinal oleh lapisan araknoid. mual dan muntah. Gejala berupa nyeri kepala yang menetap.9 Pendapat yang lain mengatakan bahwa operasi mastoid dan bedah saraf dilakukan pada waktu yang berdekatan. keadaan ini dapat menyertai otitis media akut atau kronis.3 Hidrosepalus Otitis Hidrosefalus otitis ditandai dengan peninggian tekanan likuor serebrospinal yang hebat tanpa adanya kelainan kimiawi dari likuor itu. 35 . pandangan yang kabur. diplopia. Akan tetapi sebelum tindakan bedah dilakukan maka diberikan dulu antibiotik spektrum luas selama 2 minggu 1.

diikuti dengan penatalaksanaan yang tepat pada penderita OMSK. 36 . abses otak dan dapat menyebabkan kematian.2. 1. Sekret bisa encer atau kental.BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari 2 bulan dengan adanya perforasi membran timpani. Penyakit ini pada umumnya tidak memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi. sekret yang keluar dari telinga tengah dapat terus menerus atau hilang timbul. Saran Perburukan penyakit dan komplikasi akibat OMSK harus dihindari dengan menegakkan diagnosis secara tepat dan dini. Biasanya komplikasi didapatkan pada penderita OMSK tipe maligna seperti labirinitis. bening atau berupa nanah.1. meningitis.

p:1363. Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK). Burton. 2. Soepardi. Cermin Dunia Kedokteran 163/vol. Volume II-Otology and Neuro-otology Third Edition. Efiaty Arsyad et. Nursiah. BMJ Clinical Evidence. 3. Hartcourt Brace and Company Limited. London. 2007: p 79-80.p: 41-42 5. Acuin. 7. 4. Medan. 6.35 no. Chronic Suppurative Otitis Media. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Hall & Collman’s Diseases of The Ear. 2000.DAFTAR PUSTAKA 1. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher pada Fakultas Kedokteran USU. Siti. 1991. Martin et al.al. Adam Malik Medan. Nose and Throat Fifteenth Edition. Radang Telinga Tengah Menahun. 2007. A. 8. Soetjipto. FKUI. Jose.4/ Juli–Agustus 2008. Aboet. Jakarta. Edisi ke enam. January 2007. Paparella et al. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan terhadap beberapa Antibiotika di bagian THT FK USU / RSUP H. 2003. Otolaryngology. damayanti et. 37 . Medan.al. Komite Nasional Penaggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian. WB Saunders Company.

38 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->