You are on page 1of 5

BADAGANG JO "MANGGALEH"

"Badagang" bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap "identik
dengan sebutan yang melekat kepada "Orang Minang" itu. Karena bagi orang Minang, kiranya
"Badagang" adalah suatu kebaikan, suatu idaman dan bukan suatu celaan.
Di Minangkabau kata-kata "dagang" menyimpan banyak makna. Terkandung fasafah
hidup yang utuh dan hidup. Dagang di Minangkabau, tidak hanya berarti "bussiness" (bisnis)
tok. Kata ini bisa mengandung makna "marantau", dengan tujuan yang pasti "mencari". Bisa
dalam arti sempit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa berarti mencari
"kehidupan" dalam arti yang luas. Jadi jelas tidak hanya terbatas kebiasaan menyangkut
(menggaet) materi semata. Bussines is only bussiness, kurang melekat di Minangkabau.
Di "Ranah" ini, anak dagang tidak dianggap orang buangan. Dia dihormati sebagaimana
adanya seorang manusia. Punya hak-hak tertentu. Mereka tidak akan dihardik atau
dipermalukan. Dibuatkan "surau" tersendiri, bahkan diberi nama "surau dagang". Penilaian
orang Minang terhadap orang dagang, tidak terbatas kepada "negeri asal" si anak dagang, tetapi
kepada "kebaikan perilakunya di ranah ini, serta hasil karya-karyanya yang diterima sebagai
"menantu" atau bahkan dipercayakan memikul tugas-tugas didalam "negeri". Duduak
samo-randah, tagak samo tinggi.
Penilaian ini, dikarenakan "orang Minang" suka "badagang". Badagang, juga berarti
"berdagang" dalam arti yang sering dipakai ditangah balai", "manggaleh". Jual beli,
tukar-menukar, dagang babelok, bertoko, dengan seluruh transaksi yang mencakup "rugi-laba".
"MANGGALEH", suatu kosa-kata jarang tersua dalam penggunaan bahasa lain di
Nusantara. Tepat dikatakan, yang tersua hanya dalam penggunaan istilah orang-Minang, atau
merupakan kata-kata yang "khas". Dari mana asalnya, kapan mulai penggunaannya, apa-apa
saja yang terkandung dalam pesan kata ini, belum sempa diselidiki secara tuntas. Mungkin
suatu ketika perlu dibahas, dalam sebuah forum "seminar" tentang "aspek manggaleh bagi
orang Minang".
Manggaleh didalam paham orang Minang, adalah memelihara sebuah amanah.
Mungkin, asal katanya dari "galeh" atau gelas", yang diyakini sebagai satu produk
"pecah-belah". Sebagai mana lazimnya, sebuah produk pecah-belah, sudah pasti "mau pecah"
dan "bisa belah". Lebih jauh bisa berserakan, sudah hancur berantakan, maka tidak mungkin
dipertautkan lagi. Karena itu, memegang gelas (manggaleh) perlu ada kiat, yakni "hati-hati" dan
"selalu pandai memelihara". Maklumlah yang dibawa adalah "barang yang mudah pecah,
mudah pula hancur", perlu sekali "ketelitian".
Kepada "Orang Minang" yang akan memulai "badagang", dalam arti yang luas,
dipesankan sebuah petuah dari orang tua-tua "HIYU BALI, BALANAK BALI, IKAN PANJAG
BALI DAHULU, (dihulu)", yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah pesan (falsafah hidup),
"IBU CARI, DUNSANAK CARI, INDUAK SAMANG CARI DAHULU". Terkandung sebuah
kaedah merantau bagi setiap putra Minang. Kalau dikampung halaman ditinggalkan ibu, maka
ditanah perantauan ibupun harus dicari. Pelajarannya ialah, pandai menghormati "orang-tua"
dimana saja. Selanjutnya "dunsanak" dengan pengertian "teman sejawat", teman sama besar
"sepergaulan", bahkan "sesama tempat tugas", harus dianggap sebagai saudara sendiri".
Makanya, telah menjadi kenyataan selama diperantauan itu, orang itu, orang Minang sering
berkata "urang lain (terasa akrab) Labiah dari dunsanak (dikampung sendiri)". Kemudian yang
berikut, diperlukan "induak samang" yang erat kaitannya dalam istilah Bussiness-man, ialah
"teman-berusaha".
Selama pesan-pesan ini kita anggap sebagai falsafah "badagang" bagi orang Minang,
maka terlihat bahwa orang Minang tidak berdagang dengan membawa "modal fasilitas" atau
"kartebeletje". Atau dengan lebih dahulu "menggadai" dan "menjual" harta pusaka, sebagai
"modal akumulasi". Sama sekali tidak tersua hal seperti ini. Setidak-tidaknya semasa-doeloe.
Orang Minang dalam "badagang" dengan arti "manggaleh", memulai dari yang kecil
menuju besar. Bukan dari besar, dengan manggulung dan melahap sesama besar. Kita sangat
setuju dengan argumentasi AA.NAVIS (Singgalang, No. 6187 Tahun XXIII, Sabtu 3 Agustus
1991/ 22 Muharram 1412, sebagai pengungkapan "moral bisnis" dibawah judul wawancara
"Orang Minang Tak Pandai Bisnis Besar" (?), dimana AA. Navis berkata "URANG MINANG
ITU PAIBO".
Caranya, ialah "SENTENG BABILAI, SINGKEK BA-ULEH, BATUKA BA-ANJAK,
BARUBAH BASAPO". Prinsipnya, sama-sama bekerja mencapai tujuan, bekerja sma
mengangkat beban, saling mau perbaikan jika terlihat satu kesilapan.
Kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih "esensial" (mendasar) kata orang kini.
"ANGGANG JO KEKEK CARI MAKAN, TABANG KA-PANTAI KADUO-NYO, PANJANG JO
SINGKEK PA-ULEH-KAN, MAKO-NYO SAMPAI NAN DICITO". Semua potensi yang ada,
dalam hidup (badagang) digali dan dipertemukan, untuk mencapai suatu "kesuksesan" tanpa
harus mengorbankan rasa persaudaraan, bahkan selalu menghargai "existensi" sebagaimana
adanya. Karena itu, orang Minang" masih memakai kaedah-kaedah pergaulan yang nyaman,
seperti "ADAIK HIDUIK TOLONG MANOLONG, ADAIK MATI JANGUAK MANJANGUAK,
ADAIK LAI BARI MAMBARI, ADAIK TIDAK SALING MANYALANG
(BA-SELANG-TENGGANG)".
Dan bagaimanapun kemelut yang terjadi, "sikap-paibo" itu, masih tercermin dalam
peri-kehidupan bermasyarakat luas ("PAWAG BIDUAK NAK RANG TIKU? PANDAI
MANDAYUANG MANALUNGKUIK, BASILANG KAYU DALAM TUNGKU DISINAN API
MANGKO KA-IDUIK", karenanya masyarakat Minang secara umum dengan kaedah/falsafah
ini, hanya mengenal "kompetisi" (perlombaan rensi", maju sendiri dengan menjatuhkan semua
seteru (apa itu kawan bahkan lawan).
Dikunci dengan satu perhatian : INGEK SABALUN KANAI, KALIMEK SABALUN
ABIH, INGEK-INGEK NAN KA-PAI, AGAK-AGAK NAN KATINGGA !!! Jeli dan jelimet
dengan perhitungan matang tentang manfaat sebuah tindakan, bagi yang badagang
(manggaleh) maupun korong kampung yang ditinggalkan.
Teranglah sudah, disini kita menemui suatu "mental-climate", suatu iklim (suasana)
sikap jiwa yang indah, subur dan bersih. Manusia Minang tidak hanya berpandangan sebagai
"homo-ekonomicus" semata dengan mengabaikan "nilai-nilai budaya" yang diwarisinya. Bahkan
tidak economics-animals.
Namun, tidaklah pula bearti, bahwa "orang Minang" tertutup untuk menerima semua
sistem yang dari luar, selama sistem itu baik, berguna dan menunjang pencapaian suatu
keberhasilan, selama dapat dikaitkan kepada "pantas" dan "patut". Mereka "badagang" dengan
sebuah kompas yang jarumnya di arahkan "DIMA BUMI DI-PIJAK, DI-SINAN LANGIK
DI-JUNJUNG", artinya penyesuaian, situasional dan kondisional. Karena ini, mereka maju dan
berkiprah disegala bidang. Sebuah mental-climate yang benar-benar indah, sesuai dengan
"agama" dan adatnya. Syara' mamutuih, adat mangato.
Badagang jo Manggaleh, bagi putra Minangkabau sejak dahulu, dimulai dengan apa
yang ada. Yang ada itu, ialah "alam" (alam takambang jadi guru), dan potensi-manusiawi.
Secara awal ditanamkan "percaya diri" untuk melaksanakan idea "self-help", kata para ekonomi
dewasa ini.
Mencukupkan dari apa yang ada, "tulang delapan karat" dan "moralitas" dengan
panduan "Agama" serta "Adat". Adat dan Agama berjalin berkelindan membentuk watak yang
produktif , menuju "self-help" (menolong diri sendiri). Kemudian meningkat kepada
"mutual-help", berkiprah saling membantu orang keliling. TA'AA WANUU'ALAL BIRRI
(bantu-membantu, ta'awun mutual-help) dalam pembagian pekerjaan (albirri/kebaikan).
Membentuk suatu division of labour menurut keahlian masing-masing, jelas ini akan
berdampak percepatan mutu yang dihasilkan. Kemudian akan menuju "take-off" dengan serba
keberhasilan.
Kerjasama yang terjalin rapi, dengan memfungsikan potensi yang riil, sungguh
merupakan "kiat" keberhasilan manajemen. TUKANG NAN TIDAK MAMBUANG KAYU,
NAN BUNGKUAK KA-SINGKA BAJAK, NAN LURUIH KA-TANGKAI SAPU, SA-TAMPOK
KA-PAPAN TUAI, NAN KETEK PA-PASAK SUNTIANG". Konklusinya, tidak ada yang
terbuang, semua dapat dimanfaatkan sesuai kematangan dan kemampuan masing-masing, akan
mengangkat "orang Minang" nan-badagang dari self-help kepada mutual-help itu. Manajemen
seperti ini, terlihat nyata dalam usaha "lapau nasi" yang sangat digandrungi oleh pedagang
Minang. Sejak dari "dapur", hingga ke lemari pajangan, sampai "kemeja hidangan" yang terakhir
"penerimaan uang" (banking/accounting). Seluruhnya berjalan secara otomatis, teratur,
sama-sama bekerja (sama mempunyai kewajiban), dan dengan kerjasama itu, akhirnya kelak
berhak mendapatkan pembagian, sesuai dengan modalnya masing-masing (tenaga, waktu dan
uang). Tanpa exploitasi, tapi mutual-help dalam arti hakiki. Bentuk inilah yang secara akademis,
kelak berkembang , dan dikembangkan menjadi satu bentuk "koperasi", dan sejarah Indonesia
mencatat, mungkin bukan secara kebetulan, kalau Bapak Koperasi Indonesia adalah putra
Minangkabau, MOHAMMAD HATTA (allahuyarham). Kiat mutual-help, sesuai sekali dengan
bentuk ideal perekonomian menentang kapitalis (materi untuk materi), yang jelas dinegara kita
ini sikap menumpuk modal hanya pada satu tangan dan untuk kemakmuran pihak konglomerat
saja, pasti tidak akan diterima keberadaannya.
Ada dua "pemeo" yang paling menyakitkan hati orang Minang, yaitu kalau dia dituduh
badagang-cino". Sebuah usaha tanpa memperhatikan kaedah-kaedah, terbenam dalam usaha
mencari hidup dan berebut hidup, dan tidak ada kampung tempat pulang. Terbenam
diperantauan, tidak ingat lagi anak kemenakan, tidak pernah berbuat baik ke-korong kampung,
tidak pula mau tahu dengan lingkungan. Untuk mengantisipasi pemeo ini, dipesankan melalui
petuah "HUJAN AMEH DI NAGARI URANG, HUJAN BATU DIP-NAGARI AWAK,
KAMPUANG HALAMAN DIKANA JUO".
Karena itu, materi hasil "badagang" tidaklah untuk kesejahteraan sendiri, pemilik
modal, tetapi harus dinikmati juga oleh "orang kampung" nan jauah dimato.
Pemeo kedua, yang menyakitkan itu, ialah "di-pagaleh-kan urang". Yakni kehilangan
jati-diri, yang bisa berakibat lebih fatal terhadap orang Minang itu sendiri (nan-di-pagalehkan
urang), bisa berbuat "menjual kampung halaman" untuk kepentingan orang lain
(penjajah/kolonial) dimasa itu.
Jelaslah sudah, bahwa "badagang" jo "manggaleh" bagi orang Minang, punya falsafah
mendalam, dan berurat berakar baginya dalam memilih secara teliti penerapan kiat manajemen
yang tengah berkembang. Karena akhir dari keberhasilan seseorang yang "badagang" atau
"manggaleh" adalah "selfess help", yaitu kesediaannya membantu orang lain (kampung halaman
dan karib kerabat) dengan cara ikhlas (ihsan) tanpa memerlukan balasan apa-apa. Atau, sebagai
kata orang "INDAK BA-UDANG DIBALIK BATU", itulah selfess help, menurut istilabh orang
berilmu.
Sesuai dengan Firman Allah, "WA AHSIN KAMAA AHSANALLAHU ILAIKA
WALAA TABHIL FASAA DA FIL ARDHI", artinya "Berbuat baiklah kamu (kepada sesama
makhluk) sebagaimana Allah (yang menciptakan manusia) telah memberikan segala bentuk
kebaikan kepada kamu, (yakni berbuat selfless-help, membantu tanpa mengharapkan balasan).
Dan Ingatlah, jangan sekali-kali kamu menjadi penabur bencana dipermukaan bumi; (Q.S.
XXVIII Al-Qashash, ayat 77).
Sekarang mampu-kah orang Minang masakini mengulang sejarah, mengelola Bisnis
Besar, seperti masa lalu??? Jawabnya, tidaklah mustahil, kalau ada kemauan dan punya
kesempatan. "MAMUTIAH CANDO RIAK DANAU, TAMPAK NAN DARI MUKO-MUKO,
BATAHUN-TAHUN DIDALAM LUNAO, NAMUN NAN INTAN BACAYO JUO".
Alhamdulillah, orang Minang sampai kini, masih memiliki "piala" yang belum
berpindah ke tangan orang lain, yaitu orang Minang masih "pandai hidup", "ALAH BAKARIH
SAMPORONO, BINGKISAN RAJO MAJO-PAIK, TUAH BASARAB BAKARANO, DEK
PANDAI BATENGGANG DI NAN RUMIK".
Kuncinya, barangkali pertajamlah observasi, tingkatkan daya-fikir, dinamiskan
daya-gerak, perhalus raso pareso, perkembang daya-cipta, dan bangkitlah kembali kemauan.
Insya Allah, "Innallaha ma'ana", Allah akan selalu menyertai kita. Amin.