MAKALAH

ASKEP HALUSINASI PADA NY. Y DI RS DR V.L. RATUMBUYSANG MANDO

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN JIWA 1 DISUSUN OLEH: Laura F. Makaminang Tania M. Lontah Lingsey Paparang Fiska Polii Helty T. Rorimpandey Amanda Q. Manitik Amsal Kasiaheng Switly Wungkana Yusman Labulu

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO 2010
1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidaktepatan individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat

pembangunan karena mereka tidak produktif (Hawari, 2000). Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi dan menimbulkan hendaya yang cukup skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang sering ditunjukan oleh adanya gejala positif, diantaranya adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus yang nyata atau klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar. Penanganan atau perawatan intensif perlu diberikan agar klien skizofrenia dengan halusinasi tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Dengan pernyataan diatas maka kelompok kami tertarik untuk mengangkat kasus tersebut dengan askep pada klien Ny Y dengan halusinasi Auditori dan visual di Rumah Sakit Ratumbuysang Manado Sulut.

2

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Setelah melakukan praktek di Rumah Sakit Ratumbuysang Manado Sulut diharapkan mahasiswa S1 Keperawatan Unika DE LA SALLE Manado mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny Y dengan Halusinasi Auditori dan Visual di Ruang Kabela RS Ratumbuysang Manado Sulut. 2. Tujuan khusus a. Mampu memahai konsep dasar halusinasi b. Mampu melaksanakan pengkajian pada klien dengan halusinasi c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan halusinasi d. Mampu menyusun tujuan dan intervensi keperawatan pada klien dengan halusinasi e. Mampu melaksanakan intervensi keperawatan yang telah disusun pada klien dengan halusinasi f. Mampu mengevaluasi hasil pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan halusinasi.

C. RUANG LINGKUP Dalam laporan ini kelompok kami hanya membatasi penyelesaian masalah keperawatan pada Ny Y dengan Perubahan Persepsi Sensori Halusinasi di Ruang Kabela mulai tanggal 22 sampai tggl 27 november 2010.

3

D. METODE PENULISAN Metode yang dilakukan dalam pembuatan makalah ini adalah : 1. Studi kasus Kelompok melakukan asuhan keperawatan secara langsung pada seorang klien dengan masalah perubahan sensori persepsi halusinasi pendengaran di ruang Kabela RSJ Manado. 2. Observasi Mengobservasi gejala ± gejala perilaku yang dialami klien dengan halusinasi pendengaran dan observasi keberhasilan standard asuhan keperawatan yang diberikan. 3. Wawancara Pengkajian dalam rangka pengumpulan data dilakukan terhadap klien dan perawat ruangan 4. Studi perpustakaan Dengan mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan halusinasi termasuk bahan ± bahan perkuliahan agar makalah ini mempunyai nilai ilmiah untuk dipertahankan.

E. SISTEMATIKA PENULISAN Adapun metode penyusunan ini terdiri dari V bab yaitu : Bab I Pendahuluan, menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, ruang lingkup, metode dan sistematika penulisan. Bab II Bab III Bab IV Bab V Landasan teori, menjelaskan tentang LP dan ASKEP teori. Mengenai ASKEP kasus Pembahasan, sedangkan Penutup, yang menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran.

Daftar pustaka. Demikian metode penulisan makalah kami.

4

BAB II LANDASAN TEORI

A. LAPORAN PENDAHULUAN 1. MASALAH UTAMA Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi

2. PENGERTIAN Halusinasi adalah salah satu cara respon maladaktif individu yang berada dalam rentang neurobiologis (struart dan Araira, 2001). Ini merupakan respon paling maladaktiv. Jika orang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasika stimulus berdasarkan informasi yang diterimanya melalui panca indera. Stimulus tersebut tidak ada pada pasien halusinasi. Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987). Menurut Maramis (1998) : halusinasi adalah gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu sebenarnya yang tidak terjadi. Perubahan persepsi sensorik adalah suatu keadaan individu yang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat disertai dengan pengurangan berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan respon perubahan yang sering ditemukan pada klien gangguan orientasi realitas adalah halusinasi dan dipersonalisasi (Stuart and sunden, 1998) Struart and Sunden, 1998 mengelompokan karakteristik halusinasi sebagai berikut :

1)

Halusinasi Pendengaran (Auditori)
y Karakteristik,

Mendengar

suara,

paling

sering

suara

orang

yang

membicara sesuatu.
5

y Perilaku Klien yang diamati 

  2)

Melirikan mata kekiri dan kekanan mencari orang yang berbicara, Mendengarkan penuh perhatian pada benda mati, Terlihat percakapan dengan benda mati.

Halusinasi Penglihatan (Visual)
y Karakteristik,

Stimulus penglihat dalam bentuk pancaran cahaya atau panorama yang luas dan komplek.
y Perilaku Klien yang diamati 

Tiba-tiba, tanggap, ketakutan pada benda mati,  Tiba-tiba lari keruang lain tanpa stimulus. 3. KLASIFIKASI HALUSINASI a. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya. b. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada. c. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya. d. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya. e. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.
6

4. PROSES TERJADINYA HALUSINASI Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara ± suara bising atau mendengung. Tetapi paling sering berupa kata ± kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti : bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan

mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati. Halusinasi pendengaran merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik.

5. TANDA DAN GEJALA Klien dengan halusinasi sering menunjukan adanya (carpenito, L.J, 1998: 363, Townsend, M.C, 1998, Stuart and Sunden 1998: 328 329):

Data Subjektif 1) 2) Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat. Tidak mampu memecahkan masalah halusinasi (misalnya: mendengar suara-suara atau melihat bayangan) 3) Mengeluh cemas dan khawatir

Data Objektif 1) 2) 3) Mudah tersinggung Apatis dan cenderung menarik diri Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi kadang berhenti bicara seolah-olah mendengar sesuatu
7

4) 5) 6) 7) 8) 9)

Menggerakan bibirnya tanpa menimbulkan suara Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai Gerakan mata yang cepat Pikiran yang berubah-ubah dan konsentrasi rendah Kadang tampak ketakutan Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang komplek)

6. PENYEBAB Stuart and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya halusinasi, antara lain:

1) Faktor Biologis 1. Abnormalitas otak seperti : lesi pada areo frontal, temporal dan limbic dapat menyebabkan respon neurobiologist

2. Beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon yang neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine

neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine.

2) Faktor sosial Budaya Stres yang menumpuk, kemiskinan, peperangan, dan kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaftive.

3) Faktor Psikologis Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang

maladaftive

8

Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain: 1. Faktor biologis Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan Stres ketidakmampuan ini dapat

menghadapi

rangsangan.

biologis

menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftive. 2. Faktor Stres dan Lingkungan Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi. 3. Faktor Pemicu Gejala a) Kesehatan

Gizi yang buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang informasi. sampai berat, dan gangguan proses

b)

Lingkungan

Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari), rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik, masalah perumahan, gangguan dalam hubungan interpersonal, kesepian (kurang dukungan sosial), tekanan pekerjaan, keterampilan sosial, yang kurang, dan kemiskinan. c) Sikap/ perilaku

Konsep diri yang rendah, keputusasaan (kurang percaya diri), kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas, perilaku amuk dan agresif.
9

Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

7. EMPAT TAHAPAN HALUSINASI, KARAKTERISTIK DAN PERILAKU YANG DITAMPILKAN TAHAP KARAKTERISTIK PERILAKU KLIEN Tahap I
y

Memberi rasa nyaman tingkat ansietas sedang secara umum, halusinasi merupakan suatu kesenangan.

y y

Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan. Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas

y

Pikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.

y y

Tersenyum, tertawa sendiri Menggerakkan bibir tanpa suara
10

y y y

Pergerakkan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Diam dan berkonsentrasi

Tahap II
y y

Menyalahkan Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipasti

y y y y y y y y

Pengalaman sensori menakutkan Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut Mulai merasa kehilangan control Menarik diri dari orang lain non psikotik Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah Perhatian dengan lingkungan berkurang Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas

Tahap III
y y y y y y y y y y

Mengontrol Tingkat kecemasan berat Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi) Isi halusinasi menjadi atraktif Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik Perintah halusinasi ditaati Sulit berhubungan dengan orang lain Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat

11

Tahap IV
y y

Klien sudah dikuasai oleh halusinasi Klien panic Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.

y y y y

Perilaku panic Resiko tinggi mencederai Agitasi atau kataton Tidak mampu berespon terhadap lingkungan

8. AKIBAT Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Kelliat, BA, 1998: 27). Menurut Townsend, M.C, 1998: suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri dan orang lain.

9. MASALAH DAN DATA YANG HARUS DIKAJI Masalah Keperawatan terdiri dari Data Subjektif dan Data Objektif Masalah Utama : Gangguan persepsi sensori halusinasi Masalah Keperawatan : DS :       klien mengatakan melihat atau mendengar sesuatu klien tidak mampu mengenal tempat, waktu dan orang klien mengatakan merasa kesepian klien mengatakan tidak berguna DO : tampak bicara dan tertawa sendiri mulut seperti bicara tetapi tidak keluar suara
12 

     

berhenti berbicara seolah melihat dan mendengarkan sesuatu gerakan mata yang cepat tidak tahan terhadap kontak mata yang lama tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara tidak ada kontak mata ekspresi wajah murung, sedih tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri, kurang aktivitas tidak komunikatif

10. RENTANG RESPON Rentang respon halusinasi ( berdasarkan Stuart dan Laria, 2001). Adaptif Maladaptif

Pikiran logis Persepsi kuat Emosi konsisten Perilaku sesuai Berhub. Sosial

Distorsi piker Ilusi Reaksi emosi meningkat Perilaku aneh/tidak biasa Menarik diri

Gangguan pikiran Halusinasi Sulit berespon emosi Perilaku disorganisasi Isolasi social

11. POHON MASALAH

Resiko Tinggi menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

CP : Perubahan persepsi sensori: Halusinasi Auditori dan Visual

Isolasi sosial : menarik diri

(Pohon masalah Keliat, 1998: 6)
13

12. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi auditori 2. Halusinasi berhubungan dengan kurangnya interaksi social 3. Harga diri rendah berhubungan dengan halusinasi

13. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : 1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan. 2. Melaksanakan program terapi dokter Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.

14

3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. 4. Memberi aktivitas pada pasien Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehid upan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. 5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien dalam agar ada kesatuan pendapat misalny dan dari

kesinambungan

proses

keperawatan,

percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat

menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

15

B. ASKEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DEWASA DENGAN HALUSINASI 1. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari modul ini Saudara diharapkan mampu: a) Melakukan pengkajian pada pasien halusinasi b) Menetapkan diagnosa keperawatan pasien halusinasi c) Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien halusinasi d) Melaksanakan tindakan keperawatan kepada keluarga pasien dengan halusinasi e) Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam merawat pasien halusinasi f) Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan halusinasi

2.

Pengkajian Pasien Halusinasi Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. 1. Jenis halusinasi Jenis halusinasi Halusinasi dengar/suara Bicara sendiri, Marah-marah sebab, atau tertawa Mendengar suaraData objektif Data subjektif

suara/kegaduhan. tanpa Mendengar suarayang mengajak bercakap-

Menyedengkan telinga cakap. kea rah tertentu Menutup telinga Mendengar suara

menyuruh melakukan
16

sesuatu berbahaya halusinasi penglihatan Menunjuk-nunjuk rah tertentu kea Melihat sinar,

yang

bayangan, bentuk bentuk

Ketakutan pada sesuatu geometris, yang tidak jelas

kartoon, melihat hantu atau monster

Halusinasi penghidu

Menghidu

seperti Membaui

bau-bauan bau darah,

sedang membaui bau- seperti bauan tertentu. Menutup hidung

urin, feses, kadangkadang bau itu

menyenangkan Halusinasi pengecapan Sering meludah Muntah Merasakan seperti darah, rasa urin

atau feses Halusinasi perabaan Menggaruk-garuk permukaan kulit Mengatakan serangga permukaan merasa tersengat listrik ada di kulit, seperti

2. Isi halusinasi Data tentang isi halusinasi dapat saudara ketahui dari hasil pengkajian tentang jenis halusinasi ( lihat no 1 di atas )

3. Waktu, frekuensi dan situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan
17

munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya untuk

halusinasi dapat

direncanakan

frekuensi tindakan

mencegah terjadinya halusinasi.

4. Respons halusinasi Untuk mengetahui dampak halusinasi pada pasien dan apa respons pasien ketika halusinasi itu muncul perawat dapat menanyakan pada pasien hal yang dirasakan atau d ilakukan saat halusinasi timbul. Perawat dapat juga menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat dengan pasien. Selain itu dapat juga dengan mengobservasi dampak halusinasi pada pasien jika halusinasi timbul.

3.

Merumuskan Diagnosa Keperawatan Diagnose keperawatan ditetapkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang ditemukan pada pasien.

GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI««..

4.

Tindakan Keperawatan Pasien Halusinasi 1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien a. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi: 1) 2) 3) Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya Pasien dapat mengontrol halusinasinya Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal

18

b. Tindakan Keperawatan 1) Membantu pasien mengenali halusinasi. Untuk membantu pasien mengenali halusinasi Saudara dapat melakukannya dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang waktu isi terjadi halusinasi (apa yang

didengar/dilihat),

halusinasi,

frekuensi

terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul . 2) Melatih pasien mengontrol halusinasi. Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi Saudara dapat melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi: a) Menghardik halusinasi Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk melatih mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan halusinasinya. Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi akan tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi :
j Menjelaskan cara menghardik halusinasi j Memperagakan cara menghadik j Meminta pasien memperagakan ulang

menuruti apa

yang ada

dalam

19

j Memantau penerapan cara ini, menguatkan

perilaku pasien.

b) Bercakap-cakap dengan orang lain Untuk mengontrol halusinasi dapat juga bercakapcakap dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi ; fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi kepercakapan yang dilakukan dengan orang tersebut. Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

c) Melakukan aktivitas yang terjadwal Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri dengan aktivitas yang teatur. Dengan beraktivitas secara tejadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasinya. Untuk itu pasien yang mengalami halusinasi bisa dibantu untuk mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur daari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. Tahapan intervensinya sebagai berikut:
j Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur

untuk menngatasi halusinasinya.
j Mendiskusikan aktivitas yang bisa dilakukan

oleh pasien.
j Melatih pasien melakukan aktivitas. j Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai

dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan

20

pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu
j Memantau

pelaksanaan

jadwal

kegiatan

;

membrikan penguatan tehadapa perilaku pasien yang positif

d) Menggunakan obat secara teratur Untuk mampu mengontrol halusinasinya pasien juga harus dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien gangguan jiwa yang

dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:
j Jelaskan guna obat j Jelaskan akibat bila putus obat j Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat j Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip

lima benar ( benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis ).

21

BAB III ASKEP KASUS

A. PENGKAJIAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Ruang rawat

: Ruang Kabela

Tanggal masuk RS : 14 september 2010 No. CM : 15958

I.

IDENTITAS KLIEN A. KLIEN Nama TTL/Umur : Ny. Y : 18 tahun

Status perkawinan : Belum kawin Jumlah anak Pendidikan Pekerjaan Alamat rumah : : SMK : tiada : Bahu, ling. VI, Manado

B. PENANGGUNG JAWAB Nama Alamat : Tn. Tonny Pesik : Bahu, lingk. VI, Manado

Hubungan dgn klien : Paman

II. ALASAN MASUK Klien masuk Rumah Sakit jiwa diantar oleh keluarganya, menurut keluarga klien saat di rumah Klien sering bicara sendiri, sulit tidur, banyak melamun/menyendiri,kadang agresif.

22

III. FAKTOR PREDISPOSISI A. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu ? Ya Tidak B. Pengobatan sebelumnya Berhasil Kurang berhasil Tidak berhasil

C.

Trauma

usia saksi

pelaku

korban

Aniaya fisik Aniaya seksual Penolakan

«« «« ««

«« «« «« «« ««

«« «« «« «« ««

Kekerasan dalam keluarga «« Tindakan criminal ««

Penjelasan : Sebelumnya pasien sudah pernah masuk RS jiwa. Pasien sudah pernah ke dokter keluarga dan mendapatkan obat tapi tidak berhasil. Kemudian keluarga meminta untuk di bawa ke RS RD

D.

Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : Kegagalan kehilangan Kematian Trauma proses tumbuh kembang Penjelasan : 1. Klien mulai mengalami kelainan tingkah laku karena meninggalnya orang tua ( ayah) 2. Trauma
23

IV. PEMERIKSAAN FISIK A. Tanda vital : TD : 120/80 mmHg X/mnt °C

Nadi : 77 Suhu : 36,5

Pernapasan : 19 X/mnt B. Badan : Tinggi : 150 cm Berat IMT C. Keluhan Fisik: Klien tidak mengalami keluhan fisik : 49 : kg

V. STATUS PSIKOSOSIAL A. Genogram ( gambar dan jelaskan isi genogram)

Ket gambar : : laki-laki : perempuan : klien : meninggal

24

B. Konsep diri: b. Gambaran diri Klien dapat menerima kondisi tubuhnya dan tidak ada keluhan c. Identitas diri Sewaktu sekolah dulu klien senang dapat berkumpul dengan temannya dan bermain dan klien juga termasuk orang yang mudah bergaul. Saat kerja klien dapat melakukan dan mengertikan pekerjaannya dan merasa senang. d. Peran Klien mempunyai hobi yaitu menyanyi dan memasak. e. Ideal diri Klien berharap cepat sembuh dan dapat diterima kembali dilingkungan masyarakat. f. Harga diri Klien merasa bangga dan senang diperhatikan oleh orang orang terdekatnya.

C. Hubungan sosial 1. Orang yang berarti : klien mengatakan orang yang paling berarti dalam kehidupannya adalah keluarga dan saudara-saudaranya. 2. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat : Di Rumah Sakit Jiwa klien mudah bergaul 3. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Klien suka ada rasa malu dan terkadang suka menyendiri tapi suka ngobrol dan interaksi dengan temannya yang ada di ruangan kabela.

25

D. Spiritual 1. Nilai dan keyakinan : Klien beragama katolik dan klien mengetahui dan meyakini Tuhannya satu

E. Kegiatan ibadah Sebelumnya klien rajin beribadah ke gereja

VI. STATUS MENTAL A. Penampilan Tidak rapi Pakaian tidak sesuai Cara berpakaian tidak seperti biasanya

Penjelasan : Penampilan klien tampak rapi, rambut rapi, baju cukup bersih, gigi cukup bersih, baju setiap hari selalu diganti, mandi tidak harus dimotivasi.

B. Pembicaraan Cepat Keras Gagap Apatis Lambat Inkoheren Membisu Tidak mampu memulai

Penjelasan : Klien selalu bicara pelan dan agitatif
26

C. Aktivitas Motorik Lesu Tegang Gelisah Agitasi Tik Grimasem Tremor Kompulsif

Penjelasan : Klien terlihat aktif mengikuti kegiatan.

D. Alam perasaan Sedih Ketakutan Putus asa Kuatir Gembira berlebihan

Penjelasan : Klien terkadang suka malu dan kadang menyendiri.

E. Afek Datar Tumpul Labil Tidak sesuai Penjelasan : Afek klien normal terhadap rangsangan.
27

F. Interaksi selama wawancara Bermusuhan Tidak kooperatif Mudah tersinggung Kontak mata kurang Defensive Curiga

Penjelasan : Selama interaksi klien kooperatif, ada kontak mata selama berkomunikasi.

G. Persepsi : Halusinasi Pendengaran Penglihatan Perabaan Pengecapan Penghiduan

Penjelasan : Klien mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan

H. Proses pikir Sirkumstansial Tangensial Kehilangan asosiasi Flight of ideas Blocking Perseverasi Neologisme
28

Penjelasan : Klien selalu menjawab langsung pertanyaan perawat dengan tanggap dan cepat sesuai topik pertanyaan yang dilontarkan 

Isi pikir Obsesi Phobia Hipokondria Depersonalisasi Pikiran magis Ide yang terkait

Waham : Agama Somatic Kebesaran Curiga Nihilistik Sisip pikir Siar pikir Kontrol pikir

Penjelasan : Klien merasa takut apabila suara itu datang kadang sering melampiaskan pada objek yang ada di depannya.

J.

Tingkat kesadaran Bingung Sedasi Stupor
29

Disorientasi : Waktu Tempat Orang

Penjelasan : Orientasi klien terhadap orang, tempat, dan waktu sesuai

K. Memori Gangguan daya ingat jangka panjang Perubahan proses pikir pendek Gangguan daya ingat saat ini Konfabulasi

Penjelasan : Tidak ada gangguan memori.

L. Tingkat konsentrasi dan berhitung Mudah beralih Tidak mampu berkonsentrasi Tidak mampu berhitung sederhana Penjelasan : Tingkat konsentrasi klien sudah menurun, sehingga kurang mampu dalam menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh perawat.

M. Kemampuan penilaian Gangguan ringan Gangguan bermakna

30

Penjelasan : Penilaian untuk klien konsekwen dengan apa yang dijanjikan baik dari dirinya maupun dari perawat tentang waktu dan tugas.

N. Daya tilik diri (Insight) Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal diluar dirinya

Penjelasan : Klien menerima penyakit yang dideritanya, klien masih butuh pengobatan.

O. Pengetahuan Kurang Tentang Penyakit jiwa Obat-obatan Cara penaggulangan masalah Lain-lain«««««..

P. Data medik  Diagnose medic  Terapi medic : halusinasi :

31

B. ANALISA DATA TANGGAL DATA 22 November 2010 Data Subjektif :  klien melihat mendengar sesuatu Resiko Data Objektif :    tampak bicara dan kekerasan perilaku MASALAH Halusinasi mengatakan pendengaran atau penglihatan dan

tertawa sendiri mulut seperti bicara

tetapi tidak keluar suara berhenti seolah berbicara melihat dan

mendengarkan sesuatu  Melirikkan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara

23 November 2010

Data Subjektif :  klien melihat mendengar sesuatu

Isolasi social : menarik mengatakan diri atau

Data Objektif :   tidak tahan terhadap

kontak mata yang lama tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara
32

24 November 2010

Data Subjektif :   klien

Gangguan konsep diri : mengatakan harga diri rendah

merasa kesepian klien mengatakan tidak berguna

Data Objektif :   ekspresi wajah murung, sedih dalam  tampak pikiran larut dan

ingatannya sendiri, aktivitas kurang

C. MASALAH KEPERAWATAN NO MASALAH KEPERAWATAN 1. 2. 3. 4. Halusinasi pendengaran Resiko perilaku kekerasan Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : HDR DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko perilaku kekerasan b/d gangguan persepsi : halusinasi 2. Gangguan persepsi : halusinasi b/d isolasi social : menarik diri 3. Isolasi social : menarik diri b/d gangguan konsep diri : harga diri rendah

33

D. POHON MASALAH RESIKO PERILAKU KEKERASAN

GANGGUAN PERSEPSI HALUSINASI

ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH

34

E. INTERVENSI RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG

INISIAL KLIEN : Ny. Y

UMUR : 18 THN

RUANGAN : KABELA

RM NO : 15958

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN TGL DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA EVALUASI 23 Nov Gangguan persepsi Selama melakukan tindakan : keperawatan selama 3 INTERVENSI 1. Bina hubungan saling  percaya menggunakan dengan prinsip RASIONAL

Hubungan merupakan

saling landasan

percaya utama

2010 halusinasi pendengaran ditandai dengan : DS :

hari, diharapkan pasien dapat   Mengenali halusinasinya Mengontrol halusinasi Mengikuti pengobatan

untuk hubungan selanjutnya.

komunikasi terapeutik. 2. Bantu pasien y Untuk membantu pasien

mengenali halusinasi

mengenali halusinasi Untuk membantu klien agar mampu mengontrol halusinasi

klien mengatakan  bahwa ia sering

program 3. Latih klien mengontrol y secara halusinasi.

mendengar sesuatu DO:
y

optimal dengan criteria 4. Fasilitasi hasil :  Eksprresi wajah menggunakan obat

klien y

Untuk halusinasi

mampu

mengontrol cara

dengan

menggunakan obat dengan benar

klien tampak bingung

bersahabat,menunjukan rasa senang, ada kontak

y

mulut seperti

klien

mata, tangan,

mau

berjabat mau nama,

berbicara namun tidak mengeluarka n suara
y

menyebutkan

dank lien dapat duduk berdampingan yang lainnya Klien menyebutkan dapat tindakan dengan

klien kadang  tersenyum sendiri

yang biasanya dilakukan untuk halusinasi  Klien dapat minum obat mengendalikan

36

F. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI IMPLEMENTASI DAN EVALUASI TINDAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG

INISIAL KLIEN : Ny. Y TGL DIAGNOSIS

UMUR : 18 THN

RUANGAN : KABELA

RM NO : 15958 EVALUASI S : Klien mengatakan bahwa ia senang bisa berkenalan dengan perawat. O : Klien tampak senang, ekspresi wajah + A : Masalah teratasi P : Intervensi lanjut

IMPLEMENTASI TINDAKAN KEPERAWATAN

Gangguan persepsi : 1. Membina Hubungan saling Percaya halusinasi pendengaran ditandai dengan : DS :
y 

Menyapa klien dengan ramah /mengucap salam terapeutik  Berkenalan dengan klien  Buat kontrak asuhan yang jelas  Dengarkan ungkapan klien dengan empati  Mendengar keluhan  Segera menolong jika pasien membutuhkan perawat 2. Membantu mengenal halusinasi tampak  Klien tidak sedang mengalami halusinasi:

klien mengatakan

bahwa ia sering  Tidak membantah atau menyokong mendengar sesuatu DO:
y

S : Klien mengatakan bahwa ia sering
37

klien

bingung
y 

Berdiskusi tentang isi, waktu, frekuensi dari klien halusinasi  Berdiskusi hal yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi

mendengar dan kadang melihat sesuatu padahal itu tidak didengar / dilihat oleh orang

mulut

seperti berbicara namun tidak

mengeluarkan suara
y 

Pasien sedang halusinasi : kadang  menanyakan apa yang didengar atau dilihat  mengatakan bahwa perawat tidak mendengar atau melihat hal serupa  Berdiskusi apa yg dilakukan jika halusinasi timbul  Berdiskusi perasaan klien saat mengalami halusinasi

lain. O : Klien menyadari bahwa ia sedang menderita gangguan persepsi : halusinasi pendengaran / penglihatan A : Masalah teratasi P : Intervensi lanjut

klien

tersenyum sendiri

3. Melatih klien mengontrol halusinasi

S: 

mengidentifikasi cara yang dilakukan klien untuk O : mengendalikan halusinasi A:  Mendiskusikan cara yang digunakan klien apabila P :
38

halusinasinya mincul  Menghardik halusinasi Dilakukan saat sedang mengalami halusinasi Katakan pada diri ³Saya tak mau dengar / lihat kamu´  Berbincang dengan orang lain Dilakukan menjelang halusinasi muncul (tandatanda awal halusinasi) Berbicara dengan orang lain memaparkan pada stimulus eksternal. Menurunkan fokus perhatian pada stimulus internal (halusinasi)

4. Melatih pasien menggunakan obat secara teratur  Menjelaskan pentingnya penggunaan obat. program  Menjeaskan akibat putus obat  Menjelaskan cara mendapatkan obat

S: O: 

Menjelaskan akibat bila tidak menggunakan obat sesuai A : P:

39 

Menjelaskan 5 benar cara menggunakan obat

40

G. DAFTAR OBAT DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN 1. Nama Obat 1. Klasifikasi Obat 2. Dosis Obat : CPZ (chlorphomazme) : Antipsikosis : 100mg/ tablet ; 25mg/ml : 3X1 tablet

3. Dosis untuk pasien yang bersangkutan 4. Cara pemberian obat 5. Mekanisme kerja dan fungsi obat

: Intramuskular dan Oral : Kerja obat-obat ini ditujukan untuk pemulihan Keseimbangan kedua

neurotransmitter mayor secara alamiah yang terdapat di SSP : asetilkolin dan dopamine. Fungsi obat ini untuk

menenangkan pasien 6. Alasan pemberian obat pada pasien : Klien seringkali membuat keributan dan banyak bicara 7. Kontraindikasi : Pasien dengan depresi tulang belakang, gagal ginjal dan lever berat,

hipersensitif fenotiazin, vertigo, dan mabuk perjalanan, bayi kurang 6 bulan, sindrom reye. 8. Gejala keracunan 9. Side effect obat :: Lesu, mengantuk, pusing, sakit

kepala, mulut kering, agitasi, gangguang tidur, fotosensitif, dan ruam kulit.

DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN 1. Nama Obat 2. Klasifikasi Obat 3. Dosis Obat : HLP (haloperidol) : Antipsikosis : 2X0,5mg/hari Sedang Berat 4. Dosis untuk pasien yang bersangkutan 5. Cara pemberian obat 6. Mekanisme kerja dan fungsi obat : 2-3 X 0,5-2mg/hari : 2-3 X 3-5mg/hari

: 3X1 tablet

: Oral, IM, dan IV : Memblokade reseptor dopamine dan reseptor kolinergik, adrenergic, dan

histamine, fungsinya yaitu agar pikiran klien menjadi teratur. 7. Alasan pemberian obat pada pasien : Pikiran tidak teratur. Yang bersangkutan, dosis, dan cara pemberian 8. Kontraindikasi : Gangguan Neurologis dengan gejala pyramidal atau ekstra pyramidal, hama, depresi, SPP berat. 9. Gejala keracunan 10.Side effect obat :: Hipertonia otot dan gemetar, ataksia, spasema otot, hipotensis ortus

statistic, hepatis kolestatik,glaktorea, sedasi.

42

DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN 1. Nama Obat 2. Klasifikasi Obat 3. Dosis Obat : THP (Triheksiphenidy) : Antiparkinson : Dewasa 3X1 tablet 2mg : 3X1 tablet

4. Dosis untuk pasien yang bersangkutan 5. Cara pemberian obat 6. Mekanisme kerja dan fungsi obat

: Oral : Kerja obat-obat ini ditujukan untuk pemulihan keseimbangan kedua

neurotransmitter mayor secara alamia yang terdapat I SPP: asetil kolom dan dopamine. Fungsinya agar klien rileks. 7. Alasan pemberian obat pada pasien : Klien seringkali membuat keributan dan banyak bicara 8. Kontraindikasi : Hipersensitivitas, glukoma, angle-

closure, tukak lambung,hipertropi pros miastemia gravis. Takikardia, aritmia, jantung,hipertensi, retensi urine. 9. Gejala keracunan 10. Side effect obat :: Mulut kering, penglihatan kabur, tendesi terhadap

pusing, mual,muntah,bingung, agitasi konstipasi, takikardi, dilatasi ginjal, dan retensi urine.

43

H. STRATEGI PELAKSANAAN LAPORAN PENDAHULUAN SP TINDAKAN KEPERAWATAN SETIAP HARI (SP 1. P halusinasi) B. Proses keperawatan
y

Kondisi klien Do : -kontak mata + -klien bicara + -keadaan umum baik -senyum + -selalu ceria Ds : -mendengar suara-suara yang tidak jelas -mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap -melihat sesuatu yang tidak pasti

y Diagnosa keperawatan

Perubahan proses pikir : halusinasi pendengaran
y Tujuan Khusus :

Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata. Proses pelakasanaan tindakan :  ORIENTASI
y Salam terapeutik : selamat pagi,,saya perawat Amsal, bole saya

berbincang-bincang dengan anda..????nama sapa..???suka di panggil sapa..???
y Evaluasi/validasi :klien merespon dengan baik,dan dapat menjawab

salam dari perawat,dan menyebut namanya dengan lengkap.

44

y kontrak topic : ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu

muncul.yang pertama menghardik,kedua bercakap-cakap ketiga melakukan kegiatan yang sudah terjadwal,dan yang ke empat minum obat dengan teratur.Nah..kita akan belajar dengan cara yang pertama yaitu dengan cara menghardik. Waktu :kita akan bercakap-cakap sekitar 15 menit Tempat :di ruang kabela 

KERJA (Langkah-langkah tindakan keperawatan)
y

Namanya siapa..??suka di panggil siapa..??alamat di mana..??umur berapa..??

y y

apa sdr tau kalau ini di mana..??dan kenapa sampai sdr ada di sini..?? nah..sekarang saya akan mengajarkan cara yang pertama sesuai dengan perbincangan kita saat ini yaitu tentang menghardik.apa sdr sudah tau cara untuk menghardik..??Caranya sebagai berikut :saat suara itu muncul,langsung sdr bilang pergi saya tidak mau dengar ,«saya tidak mau dengar.kamu suara palsu Begitu di ulang-ulang sampai suara tidak terdengar lagi.coba sdr peragakan! Nah.. begitu bagus! 

TERMINASI 4. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan Evaluasi klien(subjektif)¶¶apakah sdr senang berbincang dengan saya..??? 5. Tindakan lanjutan klien(yang perluh dilatih pada klien sesuai dengan hasil tindakan yang dilakukan) menganjurkan pada klien untuk peragakan SP1 ketika suarasuara itu datang lagi yaitu dengan cara menghardik.

45

6.

Kontrak yang akan datang(dua jam lagi perawat balik lagi ya..kita akan lanjutkan cara yang ke dua yaitu tentang bercakap-cakap dengan orang lain) Topik :melanjutkan pengkajian Waktu :15 menit Tempat :seperti biasa di ruang kabela.

46

LAPORAN PENDAHULUAN SP TINDAKAN KEPERAWATAN SETIAP HARI (SP 2 P halusinasi) Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua.bercakapcakap dengan orang lain.

A. Proses keperawatan
y

Kondisi klien

DO :-kontak mata positif -klien banyak bicara -keadaan umum baik -banyak senyum -selalu ceria DS :-mendengar suara-suara yang tidak jelas -mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap -melihat sesuatu yang tidak pasti

y

Diagnosa keperawatan Perubahan proses pikir : halusinasi pendengaran

y

Tujuan Khusus: Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata.

y

Tindakan keperawatan : Mengajarkan pasien dengan cara ke dua yaitu bercakap-cakap dengan orang lain.

47

B. Proses pelaksanaan tindakan
j ORENTASI

1. Salam teraupetik : ¶¶met siang masih ingat saya..??? Evaluasi/validasi :seperti kesepakatan kita tadi pagi kita akan berbincang dengan cara ke dua. 2. kontrak topic : siang ini kita akan berbincang tentang cara yang ke dua yaitu bercakap-cakap dengan teman. 3. Waktu : Berbincang-bincang 15 menit 4. Tempat : Ruang kabela.

j KERJA (langka-langka tindakan keperawatan) :

1. Bagaimana kabar siang ini..???dapat istirahat dgn baik..??sudah minum obat siang ini..??? 2. Masih ingat apa yang akan kita bicarakan siang ini..??? 3. Nah,,kita akan belajar cara ke dua yaitu untuk mengontrol halusinasi yaitu bercakap-cakap dengan orang lain.jadi kalau sdr mendengar suara-suara langsung saja sdr pangil teman yang ada untuk ajak ngobrol. Contoh:saya mendengar suara itu,ayo ngobrol dengan saya.
j TERMINASI

1. evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan Evaluasi klien (subjekif):bagimana perasaan sdr setelah belajar cara mengontrol halusinasi yang ke dua..???jadi sudah berapa cara sdr pelajari..???
48

2. Tindakan lanjut klien:setelah ini coba sdr peragakan apa yang sudah sdr pelajari.nah besok pagi saya akan kembali lagi untuk melakukan cara ynag ke tiga yaitu aktivitas terjadwal.mau jam berapa..???bagaimana kalau jam 9..??ok met siang sampai ketemu besok ya..

49

LAPORAN PENDAHULUAN SP TINDAKAN KEPERAWATAN SETIAP HARI (SP 3 P halusinasi) Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ke tiga :melaksanakan aktivitas terjadwal.

A. Proses keperawatan
y

Kondisi klien :-kontak mata positif -banyak bicara -suka senyum -selalu ceria

y

Diagnosa keperawatan : Perubahan proses piker :halusinasi pendengaran

y y

Tujuan khusus :pasien dapat berorentasi dan dapat bina saling percaya Tindakan keperawatan :mengidentifikasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas terjadwal.

B. Proses pelaksanan tindakan.  ORENTASI 1. Salam terapeutik :selamat pagi..??bagaimana kabar pagi ini..??semalam tidurnya bagaimanan..???apa suara itu masih muncul lagi..??apa sudah di pakai dua cara yang telah kita latih..??? 2. evaluasi/validasi :seperti janji saya kemarin, pagi ini saya akan datang untuk berbincang bincang cara yang ke tiga yaitu melakukan kegiatan terjadwal.
50

3. kontrak topic :sesuai dengan kesepakatan kita kemarin hari ini kita akan melakukan cara yang ke tiga yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Waktu :15 menit Tempat :ruang kabela  KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan) Apa saja yang bisa sdr lakukan..???pagi-pagi apa kegiatan Ya..???terus jam berikut apa yang di lakukan..??? 

TERMINASI 1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan Evaluasi klien (subjektif) :bagaimana perasaan sdr setelah kita bercakap-cakap cara yang ke tiga untuk mencegah suara2..???coba sdr sebutkan tiga cara yang telah kita latih untuk mencegah suara. 2. Tindakan lanjut klien:setelah ini coba sdr melakukan tiga cara yang sudah kita lati untuk mencegah suara-suara. kita bertemu besok lagi yah untuk membahas cara minum obat yang baik dan guna obat.jam berapa??

51

LAPORAN PENDAHULUAN SP TINDAKAN KEPERAWATAN SETIAP HARI (SP 4 P halusinasi) Pasien : Melatih pasien dengan cara minum obat secara teratur.

A. Proses keperawatan
j Kondisi klien:-kontak mata baik

-banyak bicara -suka senyum -selalu ceria
j Diagnosa keperawatan :

Perubahan proses pikir : halusinasi pendengaran
j Tindakan keperawatan :

Mengajarkan pasien cara minum obat yang baik serta kegunaanya.

B. Proses pelaksanaan tindakan  ORIENTASI 1. salam terpeutik : selamat pagi..bagaimana perasaan sdr hari ini..??apa suara2 masih muncul??sudah di pakai 3 cara yang kita latih..??pa kegiatan tiap hari sudah di laksanakan..??sudah minum obat pg ini..?? 2. Evaluasi/validasi : seperti kesepakatan kita kemarin pagi ini kita akan berbincang-bincang kurang lebih 15 menit 3. Kontrak topic : kita akan berbincang2 tentang cara yang ke empat yaitu cara minum obat dan kegunaan obat.

52

Waktu :15 menit Tempat : ruang kabela.  KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan) Adakah bedanya setelah minum obat secara teratur,,??apakah suara sudah berkurang..??minum obat sangat penting untuk menghilangkan suara2 itu supaya tidak muncul lagi.berapa macam obat yang sdr minum..??coba sdr sebutkan obat2 itu..?? 

TERMINASI 1. Evaluasi respon terhadap tindakan keperawatan Evaluasi klien(subjektif) : bagaimana perasaan sdr setelah kita bercakap2 tentang obat..??sudah berapa cara yang kita pelajari untuk mencegah suara2?? 2. Tindakan lanjut klien : besok kita akan ketemu ya untuk melihat manfaat 4 cara mancegah suara yang telah kita bicarakan.ok sampai ketemu yaaa«..

53

I. API ANALISA PROSES INTERAKSI Nama klien : Ny Y Umur Interaksi : 18 tahun : perawat-klien Waktu komunikasi non verbal P : selamat pagi Y P:kontak mata,berjabat tangan dengan pasien. Deskripsi : Tujuan : Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata. : ±15 menit analisa berpusat pd perawat Memberikan salam awal dari perkenalan untuk menciptakan saling percaya Rasional

Lingkungan : ruang kabela Komunikasi verbal

analisa berpusat pd klien

Dengan senyum sambut Berharap pasien sapaan berinteraksi dengan perawat dengan baik dalam berkenalan

K : selamat pagi pa perawat

K:kontak mata jelas dan banyak bicara.

Pasien duduk berhadapan dengan perawat

Merasa senang pasien mau menerima ajakan

Membutuhkan bina hubungan saling percaya

P : Nama saya perawat A, bisa

P:membimbing klien

Klien mendekatkan diri

Berharap pasien

Untuk menciptakan

saya berbincang-bincang dengan saudara? nama saudara siapa? suka di panggil apa? umur? alamat? K : bole, nama saya Y,biasa di pangil Y. umur 18 tahun

di ruangan kabela

pada perawat

dapat membalas percakapan

rasa kepercayaan perawat memperkenalkan diri.

P:mempertahankan kontak mata duduk lebih mengarah pada pasien

P:apa yang di rasakan skarang? apa mendengar suara-suara?

K:memperhatikan kepada perawat

Klien dengan senyum dan dengan tatapan mata mendengar apa yang dikatakan perawat

Berharap ada respon balik yang positif dara klien

Mengharapkan ada interaksi antara klien dengan perawat

K : iya,

P :baik kalu begitu saya akan membantu untuk menghilangkan suara-suara itu,ada 4 cara untuk menghilagkan suara-auara yaitu:yang pertama dengan

P:tetap membarikan pandangan kepada klien dalam hal menjelaskan untuk mencegah halusinasi

55

cara menghardik,kedua bercakap-cakap dengan orang lain,ketiga melkukan aktivitas setiap hari dan yang ke empat dengan cara minim obat dengan teratur.nah saat ini kita akan belajar cara yang pertama yaitu dengan cara menghardik.apa sdr tau cara untuk menghardik?

K:ia saya mendengar suarasuara itu selalu datang pada malam hari. Saya sudah tau cara untuk menghardik kan ses Fifi yang ajar.

P:ok bagus kalu Y sudah tau

K:tatapan mata
56

cara untuk menghardik.bisa Y peragakan atau lakukan sekarang??

terjerumus kepada perawat dan memperhatikan apa yang di katakan oleh perawat.

K:bisa perawat.´bila mendengar suara itu Tutup telinga,tutup mata dan katakan pergi-pergi aku tidak mau dengar kamu karena kamu suara palsu´

Dengan antusias dan penuh semangat

Klien mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya

P: yah, bagus. Apakah Y senang berbicara dengan saya?

P:dengan penuh antusias

Berharap klien dapat menerima kehadiran perawat

K: ya, saya senang«

Klien mengatakan dengan begitu antusias

P: kalau suara-suara itu

Berharap klien dapat
57

muncul lakukan seperti yang diajarkan tadi yah, yaitu«

Sambil tersenyum

memperagakan apa yang telah diajarkan

K: menghardik halusinasi.

Langsung menjawab pertanyaan dari perawat

P: betul.., dua jam lagi perawat balik lagi ya..kita akan lanjutkan cara yang ke dua yaitu tentang bercakap-cakap dengan orang lain. Ok Dengan antusias langsung menjawab

K: iya

58

ANALISA PROSES INTERAKSI II Nama klien : Ny Y Umur Interaksi : 18 tahun : perawat-klien Waktu komunikasi non verbal Deskripsi : Tujuan melatih pat mengontrol halusinasi dgn cara aktivitas

: Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata. : ±15 menit analisa berpusat pd perawat Rasional

Lingkungan : ruang kabela Komunikasi verbal

analisa berpusat pd klien

P : selamat siang masih Memberi senyum ingat saya

Klien dapat memberi Untuk salam balik mendapatkan respon yang

Salam terapeutik untuk menjalin hubungan

K : siang.. Iya,,,

Sambil tersenyum

baik

P : seperti kesepakatan Dengan wajah yang ramah kita tadi pagi kita akan dan sedikit tersenyum berbincang dengan cara ke

Berharap pasien Mengingatkan masih mengingat dapat kontrak disepakati yang

kembali telah

59

dua. Baiklah siang ini kita akan berbincang tentang cara yang ke dua yaitu dengan

kontrak

yang

telah disepakati

bercakap-cakap teman.

P : bagaimana kabar siang Sambil tersenyum ini,

Berharap dalam baik

klien Untuk

mengetahui

keadaan kondisi klien pada saat ini

K : baik,

Tersenyum merunduk

sambil

P : ada istirahat dengan baik?

K : saya tidak tidur, Klien Tampak murung karena ribut

P : sudah minum
60

obat siang ini?

K : belum, sedikit lagi..

P : masih ingat apa yang akan kita bicarakan siang ini?

Mengingatkan

kembali

apa yang telah disepakati

K : so lupa«

Klien

tampak

tidak

bersemangat P : nah,,kita akan belajar Mengatakan pada klien Berharap dapat dan memahaminya klien Memberi pengetahuan

cara ke dua yaitu untuk sambil sedikit tersenyum mengontrol yaitu halusinasi

mengerti baru tentang bagaimana cara mengontrol

bercakap-cakap

halusinasi yang ada.

dengan orang lain, jadi kalau Y mendengar suarasuara langsung saja Y pangil teman yang ada untuk ajak bicara.
61

K

:

Jadi

kalau

saya Klien mengatakan dengan Klien belum begitu mengerti

mendengar suara itu saya wajah yang agak bingung harus bicara dengan orang lain sust? P : Iya, Y harus cari teman untuk berbicara biar suara itu menyingkir Coba ulangi apa yang sust katakan tadi?

Berharap pasien Agar dapat

pasien

dapat tentang cara

mengetahui

mengulangi apa bagaimana yang

telah mengontrol halusinasinya

disampaikan oleh perawat

K : kalau ada suara-suara Dengan serius berusaha Klien dapat menjawab datang langsung mencari untuk menjawab. teman untuk bicara.. pertanyaan perawat dari

P : iya benar« Sekarang

Sambil bagaimana tangan

memberi

tepuk

perasaan Y setelah belajar cara mengontrol halusinasi
62

yang ke dua ini?

K : senang sust P : jadi sudah berapa cara Y pelajari?

Senyum Berharap masih klien dapat

tmengingatnya K : dua sust, Dengan antusias klien

menjawabnya P : apa-apa saja itu? Membantu mampu kembali K: pertama dengan Sedikit kedua klien bingung namun mampu Berharap masih klien dapat klien agar

mengingat

menghardik,

berbicara dengan teman

mengingatnya kembali

tmengingatnya

P: setelah ini coba Y peragakan apa yang sudah Y pelajari. Besok pagi saya akan

Berharap

klien Kontrak

yang

akan

dapat menerima datang kontrak tersebut

63

kembali

lagi

untuk

melakukan cara yang ke tiga yaitu aktivitas

terjadwal. Y mau jam berapa? K: terserah pada sust saja. Sambil merunduk

P: Bagaimana kalau jam Sambil senyum 9? ok

Kontrak jam agar pasien dapat bersiap-siap

K : iya

senyum

P : ok. met siang sampai menyampaikan salam dan ketemu besok ya.. berjalan meninggalkan klien K : iya pergi

64

ANALISA PROSES INTERAKSI III Nama klien : Ny Y Umur Interaksi : 18 tahun : perawat-klien Waktu Deskripsi : Tujuan melatih pat mengontrol halusinasi dgn cara bercakap

: Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata. : ±15 menit

Lingkungan : ruang kabela

Komunikasi verbal

komunikasi non verbal

analisa berpusat pada klien

analisa berpusat pada perawat Salam

Rasional terapeutik, untuk

P : selamat pagi Y bagaimana Sambil tersenyum kabar pagi ini?

menjalin hubungan

K : pagi sust, baik.

Sambil tersenyum

P

:

semalam

tidurnya

bagaimana?

65

K : seperti biasanya, sering Biasa jo sest, terjaga malam

Klien

menjawab Berharap komunikasi baik

ada yang

hanya seperlunya

P : apa suara itu masih muncul lagi? dalam sehari bisa berapa kali muncul? K : iya sust, tidak tau sest.

Untuk frekuensinya

mengetahui

P : apa sudah di pakai dua cara yang telah kita latih..???

Berharap

pasien

menggunakan caracara yang dianjurkan

K : iya, kalau ada suara datang tutup telinga dan

Klien mengatakannya

dapat

katakan pergi jangan ganggu saya,

P : iya, hebat

Memberi

pujian

Untuk menimbulkan rasa percaya diri
66

disertai tepuk tangan

P : baiklah seperti janji saya kemarin, pagi ini saya akan datang untuk berbincang-

Memberi pengetahuan baru tentang bagaimana cara

mengontrol halusinasi yang ada.

bincang cara yang ke tiga yaitu melakukan kegiatan

terjadwal. Kita akan berbincang-

bincang sekitar 15 menit, apa bisa?

K : iya sust.

P : apa saja yang dilakukan Y pagi-pagi ?

Untulk mengetahui apa-apa saja yang dilakukan klien padda pagi hari

K : bangun tidur, langsung Sambil tertawa bercerita teman. dengan teman-

67

P : terus jam berikut apa yang di lakukan?

Menggali informasi lebih

K : bercerita lagi sust, kalu tidak duduk diam.

P : lalu tidak buat apa-apa?

K : iya.

Dengan serius

P : bagaimana kalau kita sekarang buat jadwal untuk hari besok?

Klien menerima yang bersam telah

dapat Membuat kesepakatan jadwal dibuat

K : jadwal apa sest?

P : jadwal kegiatan harian, jadi itu harus dilakukan tiap
68

hari

dan

kalau

sudah

dilakukan beri tanda . Bangun pagi langsung mandi, lalu bersisir, kemudian cari aktivitas dan seperti membaca kemudian

menulis,

minum obat lalu makan pagi, istirahat sejenak membantu membersihkan kamar

kemudian menunggu minum obat siang lalu makan siang Stelah kemudian itu menyimpan siang,

istirahat

bangun, mandi bercerita,, Bisa begitu?

K : iya sest,

P : bagaimana perasaan Y
69

setelah kita bercakap-cakap cara yang ke tiga untuk mencegah suara-suara itu? Berharap klien dapat menerimanya K : agak sulit, namun harus Sambil tersenyum tetap semangat. P : bagus, coba Y sebutkan tiga cara yang telah kita latih untuk mencegah suara-suara itu. Untuk mengingat kembali apa yang telah didapat

K

:

pertama kedua untuk

mengusir merunduk mencari berbicara

Mencoba

menjawab

halusinasi teman

namun ada yang lupa

ketiga«.so lupa«

P : yang ke tiga itu buat jadwal dan usahakan agar tidak ada waktu lowong,

supaya tidak ada tempat untuk berhalusinasi

70

supaya

tidak

ada

tempat

untuk berhalusinasi. Skarang coba sebutkan ulang apa yang perawat bilang?

K : yang ketiga buat jadwal agar tidak ada waktu lowong.

P : iya benar

Memberikan semangat.

K : pertama menghardik, kedua mencari teman dan ketiga buat jadwal.

P : hebat! Baiklah makan Y setelah kita habis akan

siang

membahas cara minum obat yang baik dan guna obat.
71

bagaimana setuju?

K : setuju sest

P : ok kalau begitu, sekarang sest mau pergi dulu yah, nanti bertemu pada besok hari« Sampai jumpa«

K : dah dah sest«

72

ANALISA PROSES INTERAKSI IV Nama klien : Ny Y Umur Interaksi : 18 tahun : perawat-klien Waktu komunikasi non verbal P : kontak mata + berjabat tangan dengan pasien. K:kontak mata jelas Deskripsi : Melatih pasien dengan cara minum obat secara teratur. Tujuan : Membina hubungan saling percaya untuk mendapatkan data pasien atau biodata. : ±15 menit analisa berpusat pada perawat Rasional

Lingkungan : ruang kabela Komunikasi verbal P : selamat pagi..bagaimana perasaan Y hari ini..? K : pagi sest, baik.. P : apa suara-suara itu masih muncul? K : iya sest, P : sudah di pakai 3 cara yang kita latih..? K : Dengan wajah

analisa berpusat pada klien Dengan senyum sambut sapaan

Pasien duduk berhadapan dengan perawat

Berharap pasien masih Memberikan salam awal dapat berinteraksi dari perkenalan untuk menciptakan saling percaya Merasa senang pasien mau menerima ajakan Mengharapkan ada interaksi Berharap pasien dapat antara klien dengan perawat membalas percakapan

Klien mendekatkan

Berharap ada respon balik yang positif dari klien
73

K : sudah sest, mar nda ilang- yang agak sedih ilang sest. P : mempertahankan P : pa kegiatan tiap hari kontak mata duduk sudah di laksanakan..? lebih mengarah pada pasien K : iya set, cuman yang lain K:memperhatikan so jaga lupa« kepada perawat P : iya nanti pelan-pelan buat yah, sudah minum obat pagi ini? K : sudah sest. P : seperti kesepakatan kita kemarin pagi ini kita akan berbincang- bincang kurang lebih 15 menit K : mau bercerita di sini sest P : ia, disini saja. kita akan berbincang-bincang tentang cara yang ke empat yaitu cara minum obat dan kegunaan obat. Menurut Y adakah bedanya P : tetap memberikan pandangan kepada klien dalam hal menjelaskan untuk mencegah halusinasi

diri pada perawat

Klien dengan senyum dan dengan tatapan mata mendengar apa yang dikatakan perawat

Berharap ada respon balik yang positif dari klien

74

setelah minum obat secara teratur? K : mungkin ada, karena kalau saya tidak minum obat rasa tidak enak, trus suka mo bamarah. Klien mampu mengatakan apa yang akan terjadi jika ia tidak minum obat Berharap klien dapat menerima kehadiran perawat

K:tatapan mata terjerumus kepada perawat dan P : iya, minum obat sangat memperhatikan apa penting untuk menghilangkan yang di katakan oleh suara-suara itu supaya tidak perawat. muncul lagi, ada berapa macam obat yang K : Dengan antusias Y minum? dan penuh semangat K : ada 3 P : coba Y sebutkan obatobat itu? K : tidak tahu sest.. P : yang ini warna oranye namanya cpz minum 3 X sehari jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam, gunanya untuk menghilangkan suara-suara. P:dengan penuh antusias

Mengetes daya ingat pasien

75

Kalau yang putih ini namanya THP 3 X sehari jamnya sama dan fungsinya untuk rileks dan tidak kaku, sedangkan yang merah jambu ini namanya HP 3 X sehari jamnya sama gunanya untuk pikiran biar pikirannya tenang. Kalau suaranya sudah hilang obatnya jangan dihentikan nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat Y akan kambuh dan akan sulit untuk kembali kekeadaan semula. Kalau obat habis Y bisa minta ke dokter untuk mendapatkan Klien mengatakan obat lagi dengan begitu antusias K : iya sest« Saya harus minum obat dengan teratur agar cepat sembuh dan cepat pulang. P : iya biar cepat sembuh dan cepat pulang.. Y juga harus teliti saat
76

Sambil tersenyum

mengguunakan obat-obat ini , pastikan obatnya benar, artinya Y harus memastikan bahwa itu obat-obat yang benar punya Y jangan sampai keliru dengan obat milik orang lain K : sest« Kalu disini sest-sest yang jaga kase obat. Jadi kami hanya menerima dari sestsest noch P : iya biar nda salah lagi tapi kalau sudah pulang taw sest lupa itu harus dipastikan. Oh ya jangan lupa minum tepat waktu dasn dengan cara yang benar yaitu diminum sesudah makan dan tepat jamnya. K : iya sest« P : bagaimana perasaan Y setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Mengetahui respon yang akan diberikan Dengan antusias langsung menjawab
77

Agar pasien dapat minum obat dengan tepat waktu

Langsung menjawab pertanyaan dari perawat

K : senang« P :sudah berapa cara yang kita pelajari untuk mencegah suara-suara itu?

Sambil tersenyum

Klien mampu K : empat sest.. Klien dengan serius mengingat apa yang walaupun agak tertate- telah dipelajarinya P : apa-apa itu? tate K : pertama mengusir Klien mampu mengingat apa yang halusinasi kedua mencari telah dipelajarinya walaupun sedikit lama teman untuk berbicara ketiga buat jadwal.

Berharap klien dapat memperagakan apa yang telah diajarkan

P : keempat ?

Berharap klien dapat mengigatnya

K : ke empat«. Minum obat P : ya, hebat.. K: K : klien tersenyum sipu Memberikan dukungan moral Untuk menimbulkan rasa percaya diri bagi klien Untuk mengevaluasinya
78

P : besok kita akan ketemu ya untuk melihat manfaat 4 cara mancegah suara yang telah kita bicarakan.ok sampai ketemu yaaa«.. K : ok« Sambil melambaikan tangan dan tersenyum

79

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi dan pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu dilakukan pendekatan secara terus menerus, membina hubungan saling percaya yang dapat menciptakan suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yangdiberikan. 2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien khususnya dengan halusinasi, pasien sangat membutuhkan kehadiran keluarga sebagai sistem pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan dirinya. Disamping itu perawat / petugas kesehatan juga membutuhkan kehadiran keluarga dalam memberikan data yang diperlukan dan membina kerjasama dalam memberi perawatan pada pasien. Dalam hal ini penulis dapat menyimpulkan bahwa peran serta keluarga merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan klien, namun pada kenyataannya keluarga klien jarang sekali bahkan tidak pernah datang menjengguknya. B. SARAN 1. Dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya perawat mengikuti langkah-langkah proses keperawatan dan melaksanakannya secara sistematis dan tertulis agar tindakan berhasil dengan optimal 2. Dalam menangani kasus halusinasi hendaknya perawat melakukan pendekatan secara bertahap dan terus menerus untuk membina hubungan saling percaya antara perawat klien sehingga tercipta suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan 3. Bagi keluarga klien hendaknya sering mengunjungi klien dirumah sakit, sehingga keluarga dapat mengetahui perkembangan kondisi klien dan dapat membantu perawat bekerja sama dalam pemberian asuhan keperawatan bagi klien.

DAFTAR PUSTAKA Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003 Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa,Edisi I, Jakarta : EGC, 1999 Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa,Jakarta : EGC, 1995 Jhoxer, kris. 2009. asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi . Blog. Diambil dalam : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/01/asuhan-

keperawatan-pada-pasien-dengan_09.html. diakses pada 24 November 2010. Pukul 15.15

81