suara pemberdayaan

Bulletin
Edisi Juli 2010

Opini dan Pendapat Anda SMS-kan ke 0819877136 akan langsung Kami muat di http://menuju-sejahtera.blogspot.com

Content
Mencari Kebenaran Sejati

Redaksi
Kang Warsa Opick Iwan Andi Komo Jahidin Hawhaw Iwenk Avediz

Bulletin Suara Pemberdayaan Terbit 1 (satu) bulan sekali. Menginformasikan kegiatan-kegiatan pemberdayaan di Kelurahan Sudajayahilir Kecamatan Baros Kota Sukabumi. Website: http://menuju-sejahtera.blogspot.com, Radio Komunitas : SPM FM 88.0 Mhz (Setiap Pukul 18.00-20.00) SMS Center : 0819877136

MENCARI KEBENARAN SEJATI
(SUDAJAYAHILIR) Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, tepatnya Bulan Juli tahun 1998, dengan hitungan matematis sudah genap 12 tahun lebih, saya cenderung masih belum bisa memilah dan memilih antara kebutuhan, keinginan, bahkan hasrat. Ujung-ujungnya berakhir pada satu pemikiran yang tidak ajeg, konstruktif, apalagi holistik. Pola pikir daya cenderung linear, lurus, sering memandang hidup dan kehidupannya dengan kacamata kaum puritan. Sebuah keyakinan eksklusif dimana dunia seolah terbagi menjadi dua kutub saja, hitam dan putih. Okelah, sikap seperti itu dalam kacamata keyakinan, apalagi saya seorang muslim, merupakan sebuah pandangan bagus, idealisme murni, dimana antara benar dan salah, hak dan bathil merupakan dua kutub bersebrangan dan sampai kapanpun sama sekali tidak akan pernah bersatu. Hanya saja, keyakinan dan ajaran agama kita pun tidak serigid dan sekaku seperti yang selama ini masih digaungkan oleh kaum fundamentalis. Lagi pula, apa sich sebenarnya kebenaran hakiki? Oke, seorang teman dengan keyakinan agamanya dan jujur dia merupakan panutan dalam bersikap bisa menginterpretasikan tentang kebenaran sejati yang ada di kolong langit ini hanya agama yang dianut oleh orang itu, lantas akan muncul juga pertanyaan susulan, agama yang pernah diturunkan oleh Allah SWT kepada para Rasul untuk membimbing manusia ini, apakah pernah mengajarkan sikap eksklusifitas? Pembenaran terhadap keyakinan yang dianut lalu menjadi bumerang efek bagi orang yang meyaininya? Saya pikir, agama Islam yang saya anutpun sama sekali tidak mengajarkan demikian. Kerigidan dalam memandang dan memajukan kayakinan dan kebenaran sejati di dalam kompleksitas hidup di dunia, bukan malah menjadi sebuah solusi. Hidup tidak melulu dipandang dengan dua warna hitam dan putih. Pencarian kebenaran bukan dogma, melainkan harus berkumpulnya antara dogma dan akal sehat. Jangan memandang, jika pernyataan saya seperti ini dijadikan dalil jika saya memiliki faham permisif mengenai keyakinan, bukan itu, kecuali… kebenaran sejati akan tercapai ketika manusia sendiri lah yang bisa menemuannya. Saya berusaha menjadi semakin menyadari, jika hidup di dunia ini, selain saya yang menganut keyakinan Islam, di sini juga kita bersanding dengan mereka yang menganut keyakinan-keyakinan lain. Tentu saja, agama terlalu sakral dan suci untuk diperdebatkan. Agama mengatur hidup manusia agar perdebatan di dunia ini sama sekali tidak terjadi. Kebenaran sejati, muncul dari pernyataan nurani diri kita masing-maasing. Saya sering berpikir demikian, apakah seorang yang disebut kafir oleh kita sementara hidupnya dipenuhi oleh kebaikan dan segala potensi kebaikan, bahkan seorang komunis pun akan diperlakukan secara tidak adil di pengadilan Allah kelak? Ya, pertanyaan saya sudah tentu terlalu melangit karena keterbatasan akal kita belum bisa menjamah hal itu. Lalu, apakah kita yang merasa telah menganut keyakian paling benar namun hidup kita tida

lebih baik dari orang-orang yang kita sangkakan jauh dari petunjuk Tuhan akan tetap di anak emaskan oleh Tuhan? Jika pun hal demikian adalah merupakan preogratif Tuhan, maka keadilan Tuhan terhadap manusia pun masih pantas dipertanyakan? Tuhan maha pengadil, hakim dari hakim, maka keputusannya pun akan menjadi hal terbaik bagi kita. Pemikiran rigid terhadap keyakian , dalam pandangan saya merupakan akar dari permasalahan kemanusiaan. Perang antar agama, ras, suku, golongan, bahkan sampai saat ini dan masih dibahasakan oleh kita terhadap anak cucu kita mengenai perang salib merupakan dampak dari pemikiran pembenaran dogmatis. Selalu, kita memandang perang dan penjajahan dilatar belakangi oleh sebuah perbedaaan keyakinan. Padahal, keserakahan lah yang menjadi pemicu latar belakang imperialisme di muka bumi ini. Jika, kita menjadikan alasan perbedaaan keyakian keagamaan sebaia pemicu perang dan penjajahan, lantas kenapa di antara sesama agama pun ada yang saling membunuh, ada yang saling hasud, fitnah. Jauh sebelum ummat manusia mengenal peradaban dan alat-alat perang pun Kabil telah membunuh Habil. Mereka sama-sama satu orangtua. Keyakinan apa yang mereka anut? Lantas bagaimana dengan atheisme? Pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan. Secara kasat mata kita akan mengecam para penganut atheisme, Tuhan telah dimarjinalkan bahkan dibunuh. Ini pun penting dicermati, ketika Nietczhe menyebut Tuhan telah mati, maka dia telah meyakini ada nya Tuhan sebelum mati. Yang perlu dipertanyakan adalah, dengan cara bagaimana Tuhan mati, dibunuhkah? Mati secara wajarkah? Atau memang bunuh diri? Sebagai seorang muslim saya memiliki pandangan Tuhan maha kekal, Tuhan akan tetap hidup, namun saya tidak akan memaksa jika ada orangyang berpendapat saat ini Tuhan telah mati karena dibunuh oleh sikap kita, dikerangkeng dan dipenjarakan oleh kemunafikan kita, bahkan dikambing hitamkan oleh kebejatan kita. Sorban, Peci haji, Penutup kepala pastur, tasbih biksu, lambang salib, sering dijadikan persembunyian hitam dan pekatnya hidup ini. Seorang pencuri ayampun bisa mengucap Bismillah atau membuat lambang salib ditubuhnya ketika akan mengambil ayam tetangganya. Siapa yang membunuh Tuhan? Sejak meletusnya pemberontakan G/30/s.PKI, terdogmakan bahwa mereka, antek-antek komunis adalah musuh agama, bahkan selama orde baru, mereka sama sekali tidak dimanusiakan, hidupnya dianggap sebagai pelengkap bernegara dan tidak lebih mulia dari lap kotor di dapur kita. Anak cucu dari orang-tua yang terlibat di dalam gerakan pemberontakan itu dipaksa harus alim, santun, bahkan… seorang anak kecilpun harus dianggap dan dijadikan seperti mereka yang telah dewasa, tua, kakek-nenek. Kehidupan bernegara mereka tercerabut, nilai-nilai kemanusiaan mereka hilang, mereka tidak dianggap sebagai manusia semestinya. Adilkah kita terhadap hal ini? Saat ini, saya tetap mencoba mengedepankan kejernihan berpikir dan memandang hidup. Hidup serba komplek, kebenaran sejati bukan sesuatu yang harus kita paksakan kepada siapa pun. Ajakan dan dakwah tidak selalu harus dengan cara membeberkan keyakinan saya lah yang paling benar. Biarkan…saya, kita, kamu, dan mereka menemukan kebenaran sejati.. Sukabumi, Menjelang Ramadhan beberapa hari lagi…

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful