SISTEM PERS INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN PRESIDEN K. H.

ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR)

SI SUSUN OLEH:
1. Yani Estiarti (1071510752) 2. Wahyu Adityo (1071510737) 3. Pati Mubarok (1071510893) 4. Langgeng Slamet Subekti (1071510612)

6. Ihsan Nurjaman (1071510844) 7. Achmad Baihaqi (1071510957) 8. Yarman Zai (1071510075) 9. Ali Reza (1071510786)

5. Nurtiara Santi (1071510828)

UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA SELATAN 2010
ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT sehingga kami dapt merampungkan paper ini yang berjudul “Sistem Pers Indonesia Pada Masa Pemerintahan Presiden Gusdur”. Dalam pembuatan paper ini tidak terlepas dari masih banyaknya kekurangan dan kelemahan karena keterbatasan yang ada Meskipun begitu kami tetap berusaha semaksimal mungkin dalam menyajikannya, kami berharap semoga kekurangan dan kelemahan tidak mengurangi arti pembuatan paper ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pihak pembaca sangatlah kami harapkan.

Jakarta, 05 Desember 2010

Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ................................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 4

BAB III KEUNGGULAN MEDIA ............................................................................................ 10 KEKURANGAN MEDIA ............................................................................................ 10

BAB IV KESIMPULAN ............................................................................................................ 11 SARAN ........................................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sistem pers di ciptakan untuk menentukan bagaimana sebaiknya pers tersebut dapat melaksanakan kebebasan dan tanggungjawab. Sistem kebebasan pers Indonesia sendiri merupakan bagian dari sistem kemerdekaan yang lebih luas, yaitu kemerdekaan untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat dengan lisan dan tulisan sebagaimana tercantum pada pasal 28 UUD 1945. Ketika masa pemerintahan B.J Habibie muncullah era Indonesia baru yang disebutsebut dengan “Era Reformasi”. Ditandai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baik dalam kehidupan politik, sosial, hukum dan budaya. Independensi dan penegakan Hak Azazi Manusia (HAM) menjadi tuntutan fundamental sehingga proses penyaluran aspirasi rakyat menjadi lebih berani dan terbuka. Pemerintahan Habibie yang pada masa itu menggantikan Soeharto dari tahun 1998 – 1999 mencabut SIUPP. Era kebebasan pers pun dimulai. Hasilnya telah tumbuh sangat banyak penerbitan surat kabar, tabloid, maupun majalah. Pada sektor komunikasi non media, kegiatan aksi unjuk rasa semakin merajalela. Kemudian pemerintah mengeluarkan UU No. 9 tahun 1998 tentang kegiatan unjuk rasa. Proses interaksi masyarakat dibeberapa daerah terasa mencekam. Komunikasi kurang harmonis. Sikap prejudice makin merebak. Berbagai issue menyebar. Saling menghujat antara tokoh-tokoh bangsa selalu muncul di media cetak maupun elektronik. Ketegangan hubungan antara orang diharapkan mencair. Sebuah sistem sangat dirindukan untuk menjadi obat bagi mencairnya ketegangan itu. Semakin demokratis suatu bangsa dan semakin meluasnya tuntutan reformasi justru semakin dirasakan perlunya perangkat yang mampu mempersatukan berbagai perbedaanperbedaan tersebut. Maka pada saat itulah perlu peranan sistem komunikasi Indonesia yang dapat diterima oleh semua lapisan dan golongan masyarakat Indonesia. Kemudian pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999-2001 pemerintah meneruskan kebijakan dari pemerintahan B.J Habibie mengenai kebebasan pers. Secara konsisten mendukung kebebasan pers, membebaskan pers dari pembredelan (wikipedia.com:dewan pers). Atas dukungan Menteri Penerangan Mohamad Yunus, seorang
ii

mantan komandan pasukan tempur, membantu upaya menyempurnakan perundang-undangan pers, maka pemerintah waktu itu mengeluarkan UU RI no. 40 tahun 1999 tentang pers yang menggantikan UU Pers tahun 1966 dan 1982. Maka sistem lisensi atau izin penerbitan pers dihapus dan Dewan Pers sepenuhnya bebas dari dominasi dan intervensi pemerintah. Pembentukan Dewan Pers baru, beranggotakan 9 orang, disahkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid dengan Keppres No. 96/M tahun 2000. Presiden bersama Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, bertekad untuk melanjutkan kebebasan pers. Saat masa pemerintahannya ia membubarkan Departemen Penerangan yang merupakan senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media. Keputusan Gus dur untuk menghapus Departemen Penerangan menutup sejarah sebuah lembaga eksekutif yang awalnya merupakan pendukung pers nasional namun dari era Soekarno sampai Soeharto berbalik menjadi pemasung kemerdekaan pers. Kemudian sistem pers Indonesia pun mengalami perubahan yaitu mengalami masa transisi. Euforia demokrasi dan kebebasan di awal masa reformasi membawa dampak positif tetapi juga negatif. Lalu dibidang media massa, ratusan penerbitan pers baru bermunculan, umumnya tabloid, sebagian tidak profesional, cenderung sensasional, mengabaikan standard jurnalistik yang universal, pemberitaan yang melanggar nilai-nilai dasar jurnalistik memicu protes anggota masyarakat yang dirugikan (http://new-media.kompasiana.com) meskipun kebebasan pers pada masa Gus Dur juga lebih maju dari pemerintahan sebelumnya. Dan bagaimana pemaknaan kebebasan pers pada masa Gus Dur, bagaimana aktualisasi kebebasan pers pada era pemerintahan tersebut yang merupakan lanjutan dari pemerintahan Habibie. Dan bagaimana sistem komunikasi pada masa Gus Dur, apakah sudah sesuai dengan fungsi serta peranannya dan sebagai medium penghubung antara pemerintah dan rakyat.
B.

Landasan Teori
Istilah pers berasal dari bahasa Belanda, yang berarti dalam bahasa Inggris berarti

press. Secara harfiah pers berarti cetak, dan secara makna berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak (Effendy, 1994). Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan, bahkan termasuk pers elektronik, radio siaran dan televisi siaran. Sedangkan pers

ii

dalam arti sempit hanya terbatas pada pers cetak, yakni surat kabar, majalah, dan buletin kantor berita. Sistem dapat dilukiskan sebagai keterkaitan secara fungsional antara masukan(input) dengan proses (transformasi) yang menghasilkan keluaran (output) serta umpan balik (feed back) dan kembali menjadi input secara sinambung, teratur dan terus menerus. Sistem pers merupakan bagian atau subsistem dari sistem yang lebih besar, yaitu sistem komunikasi, sedangkan sistem komunikasi itu sendiri merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan (sosial) yang lebih luas. Fred Sibert, Wilbur Schramm, dan Theodore Peterson dalam bukunya Four Theories Of The Press (1993), setidak-tidaknya ada empat kelompok besar teori (sistem) pers, yakni sistem pers otoriter(authoritarian), sistem pers liberal (libertarian), sistem pers komunis (Marxist) dan sistem pers tanggung jawab sosial (Social Responsibilty) (Rachmadi 1990, dalam Nurudin 2004). Dewan pers adalah lembaga yang menaungi pers di Indonesia. Sesuai UU Pers Nomor 40 tahun 1999, dewan pers adalah lembaga independen yang dibentuk sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional. Ada tujuh fungsi dewan pers yang diamanatkan UU, diantaranya (www.jurnalnasional.com):
1.

Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, bisa pemerintah dan juga masyarakat.

2. 3.
4.

Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers.

5.
6.

Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah. Memfasilitasi organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi wartawan.

7.

Mendata perusahaan pers.

ii

BAB II PEMBAHASAN

Setiap negara memiliki sistem persnya sendiri-sendiri dikarenakan perbedaan dalam tujuan, fungsi, dan latar belakang sosial politik yang menyertainya. Akibatnya berbeda dalam tujuan, fungsi dan latar belakang sosial-politik yang menyertainya. Inti permasalahan dalam membicarakan suatu sistem pers, adalah sistem kebebasannya. Suatu sistem pers diciptakan untuk menentukan bagaimana sebaik-baiknya pers itu dapat melaksanakan kebebasan dan tanggung jawabnya. Paham dasar sistem pers di indonesia tercermin jelas dalam konsideran undang-undang pers No.40 tahun 1999 yang mengatakan bahwa “Pers Indonesia (nasional) sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun. Pada masa pemerintahan Gus Dur sistem pers bisa dikatakan termasuk kedalam sistem pers yang liberalis. Sistem liberalis ini memandang manusia mempunyai hak asasi dan meyakini bahwa manusia akan bisa mengembangkan pemikirannya secara baik jika diberi kebebasan. Oleh karena itu pers harus diberi tempat yang sebebas-bebasnya untuk mencari kebenaran. Kebenaran akan diperoleh jika pers diberi kebebasan sehingga kebebasan pers akan menjadi tolak ukur dihormatinya hak bebas yang dimiliki manusia. Dibawah ini adalah beberapa contoh bagaimana media membuat pemberitaan yang penulis ambil dari berbagai media massa, sebagaimana media memanfaatkan dan menggunakan kesempatan pasca pembubaran Departemen Penerangan: 1. Majalah: Tempo Gus Dur tidak memiliki Sense Of Crisis yang cukup untuk merespon perkembangan sosial-politik yang terjadi. Gambaran ini muncul pada cover Tempo (8-14/5/2000). Cover ini terdiri dari foto Gus Dur mengenakan baju batik dan kaca-mata, sedang duduk santai dan tertawa rileks. Di depan Gus Dur terdapat sebuah alat ukur bertuliskan Clean Goverment.
ii

Alat ulur ini merupakan indeks dari prestasi Gus Dur dalam mewujudkan Clean Goverment. Digambarkan tingkat kemerosotan clean goverment sudah mencapai angka 50%, namun Gus Dur masih saja bersantai-santai, bahkan tertawa-tawa, Gus Dur tidak menunjukan ithikad atau keseriusan untuk memperbaiki keadaan. Penampang alat ukur yang menunjukan angka 50% itu - yang juga menggambarkan betapa rendah tingkat kredibilitas pemerintah – sudah setinggi leher Gus Dur. Gus Dur dituduh mempermainkan hukum dalam majalah Tempo (1925/6/2000), menampilkan cover gambar Gus Dur menggunakan pakaian bak Dewi keadilan dengan pedangnya yang khas. Gus Dur memegang sebuah timbangan yang disatu sisinya terdapat patung setengah badan Suharto bertuliskan 1 Kg, sementara pada sisi timbangan yang lain terdapat tumpukan uang dan miniatur gedung. Cover juga dilengkapi dengan caption berbunyi, Politik Barter Presiden”. Karikatur ini merupakan sindiran terhadap Gus Dur yang cenderung

mengesampingkan mekanisme hukum dalam menyelesaikan kasus KKN Soeharto, Pada rubrik opini, tempo mengatakan pihak keluarga Soeharto dan pemerintah saat itu dikabarkan sedang melakukan tawar-menawar untuk menyelesaikan kasus KKN, mengambil kutipan dari (Agus Sudibyo, 2008, Harmoni Hubungan Pers dan Gus Dur: Sejarah yang Tak Terulang). Gus Dur otoriter dan tidak konsisten dalam memimpin pemerintahan dalam cover majalah Tempo (7-13/5/2000). Cover ini berupa gambar potongan lengan bawah. Pada punggung telapak tangan terdapat gambar wajah Gus Dur dengan senyum dan kacamata khasnya. Di sekitar tangan, ada beberapa karikatur orang-orang sebagai simbol menterimenteri yang digusur Gus Dur dari jajaran kabinet, dengan jari tengahnya, Gus Dur menyentil orang-orang itu sehingga mereka jatuh satu persatu. Namun ketika sudah jatuh, mereka berusaha menebas tangan yang menjadi simbolisasi tegaknya kekuasaan Gus Dur. Dengan cover karikatur itu, tempo mempersoalkan keputusan-keputusan Gus Dur dalam melakukan pergantian menteri adalah hak prerogratif presiden. Pemberhentian Hamzah Haz, Jusuf Kala dan Laksamana Sukardi dari jabatan masing-masing dalam kabinet Gus Dur memang tidak melanggar hukum (Agus Sudibyo, 2008, Harmoni Hubungan Pers dan Gus Dur: Sejarah yang Tak Terulang).

2. Koran: Kompas

ii

Kompas menampilkan 3 berita tentang Bruneigate. Berita tersebut berjudul “Jangan Soalkan Sumbangan Sultan Brunei” (Berita 1) (12/06/00), “Gus Dur Perlu Klarifikasi Kasus Bulog Dan Bantuan Brunei” (Berita 2), (14/06/00), “DPR Perlu Klarifikasi Gus Dur Soal Bantuan Sultan Brunei” (Berita 3) (19/06/00). Pada berita 2, kompas mendesak Presiden Gus Dur agar memberikan klarifikasi kasus Bulloggate dan Bruneigate sekaligus, dalam rapat konsultasi DPR dengan Presiden. Berita 3, menyatakan ”Ini perlu dilakukan untuk menjaga kredibilitas pemerintahan Indonesia di mata internasional, karena kita belum tahu persis apakah bantuan itu diberikan secara pribadi kepada Gus Dur atau atas nama pemerintah....!”. Berita 1, Kompas menampilkan pendapat pakar hukum Todung Mulya Lubis bahwa Bruneigate adalah gambaran betapa Gus Dur masih memelihara kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan posisinya sebagai kepala negara. Melihat keterbukaan Gus Dur mengungkapkan sumbangan dari Sultan Brunei. Lubis yakin Gus Dur tidak melakukan KKN. Yang terjadi dalam Bruneigate menurutnya adalah kebiasaan-kebiasaan tradisional yang masih dipertahankan Gus Dur dalam praktek-praktek ketatanegaraan. Kebiasaan-kebiasaan itu menimbulkan prasangka di kalangan elite politik dan perlu ditertibkan. Oleh karena itu, Lubis mengusulkan dibentuknya Undang-Undang kepresidenan untuk mengantisipasi kebiasaan-kebiasaan Gus Dur yang tidak sesuai dengan formalitas seorang presiden.

Contoh judul pemberitaan dari Kompas tersebut cukup menghadirkan perimbangan perspektif dengan memberikan ruang yang relatif berimbang antara sumber berita yang pro maupun yang kontra terhadap Gus Dur. Kompas terkenal sebagai media yang terarah, mengkritik tidak kebablasan. Pendiri Kompas Presiden Direktur (Presdir) Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jacob Oetama, pendiri dan pengelola media yang terbaik, filosofi kultur jurnalisme damai (promovendus) kultur budaya kerja, knowledge, skill, dan inovasi yang melahirkan kelompok KKG membawahi 11.000 lebih karyawan dengan 30 bendera usaha (sumber: Hotman Jonathan Lumbangaol 2008) Melihat contoh kasus tersebut diatas bahwa pada masa pemerintahan Gus Dur, banyak pihak menilai pers menciptakan kondusivitas pemerintahan Gus Dur dengan terus menerus menampilkan berita-berita yang negatif tentang pemerintahan Gus Dur dalam hal ini Majalah Tempo. Kritik dan serangan politik melalui media yang bertubi-tubi dan seakan-akan sistematis menciptakan dan membesarkan opini publik yang negatif tentang pemerintahan
ii

Gus Dur dan kelompoknya. Dan media kompas memberitakan sebuah informasi yang independen dan berimbang. Pemberitaan pers dapat bersikap pro dan kontra. Media massa juga dapat menentukan diri sebagai lawan pemerintah atau bahkan sebagai pengawal kebijakan pemerintah. Suara pemerintah bisa menjadi bahan perbincangan, perdebatan dan interpretasi oleh figur-figur yang terlibat dalam pengolahan media. Seperti contoh ketika Departemen Penerangan dibubarkan pada masa pemerintahan Gus Dur, media tentu pro dan menyambutnya dengan antusias karena keran kebebasan pers sudah terbuka mengingat Departemen Penerangan era Soeharto membatasi ruang gerak pers. Media juga dapat bersikap kontra, seperti cover yang digambarkan dalam karikatur di majalah Tempo tersebut. 3. Stasiun Televisi: Metro TV Stasiun televisi baru pimpinan Surya Paloh mengudara 25 November 2000, bernama Metro TV, memulai siaran percobaan. memiliki konsep agak berbeda dengan yang lain, hanya memusatkan acaranya pada siaran warta berita saja. Tetapi dalam perkembangannya, stasiun ini kemudian juga memasukkan unsur hiburan, dialog atau talk show dan informasi bersifat educational. Metro TV adalah stasiun pertama di Indonesia yang menyiarkan berita dalam bahasa Mandarin: Metro Xin Wen, dan juga satu-satunya stasiun TV di Indonesia yang tidak menayangkan program sinetron. Metro TV juga menayangkan siaran internasional berbahasa Inggris pertama di Indonesia Indonesia Now yang dapat disaksikan dari seluruh dunia. Stasiun ini dikenal memiliki presenter berita terbanyak di Indonesia. Metro TV juga menayangkan program e-Lifestyle, yakni program talk show yang membahas teknologi informasi dan telekomunikasi. Slogan Metro TV pada pemerintahan Gus Dur ”Be Smart Be Informed" sekarang menjadi "Knowledge to Elevate". Beberapa program acara di Metro TV: Metro Sport, Metro Hari Ini, Metro Siang, Indonesia This Morning, Breaking News, Headline News, Metro Malam dan lain lain. Saat pemerintahan Gus Dur empat stasiun lainnya- Pasaraya, Global, Trans TV, Trans 7 dan Duta – direncanakan beroperasi tahun 2001. Dalam beberapa wawancara khusus di Metro TV atau di media televisi lain, Gus Dus mempopulerkan kalimat “Gitu Aja Kok Repot” Menurut Woodward (www.estibx.blogspot.com) ”Ada dua hal yang tidak mungkin diketahui, Mungkin secara alamiah sepertinya lelucon sebagai ungkapan perlawanan, kedua tentunya, hanya Gus Dur yang tahu”. Dia memberikan tanggapan perihal pernyataan Probosutedjo perihal kebenaran kondisi Soeharto yang sakit. Saat itu (2 Maret 2000), Gus Dur mengaku tidak diijinkan
ii

bertemu dengan Soherto. Gus Dur mengakui, dari pihaknya tidak ada masalah sama sekali untuk mengunjungi Soeharto, dan pintunya selalu terbuka. "Perkara saya pergi dengan siapa tidak masalah. Dengan Marzuki Darusman atau kalau perlu seluruh kabinet saya bawa. Begitu saja kok repot-repot," katanya dalam wawancara eksklusif dengan RCTI. Humor itu kemudian menjadi trend dan merebak ke seluruh media lain. Media pertelevisian sudah berperan dalam menyebarluaskan sosok pemimpin Indonesia yang waktu itu dianggap low profile, apa adanya. Di beberapa kesempatan, di Metro TV menayangkan Gus Dur sebagai sosok yang suka menjawab spontan, apa adanya, jawaban bisa dikonfirmasikan tanpa ada rekayasa. Metro TV cenderung pro terhadap pemberitaan-pemberitaan sosok Gus Dur. Mengingat tahun 2000 Gus Dur resmikan Metro TV (www.metronews.com). Dan Metro TV diuntungkan semasa kepemimpinan Gus Dur yang telah membubarkan Departemen Penerangan. Peranan media pada masa pemerintahan Gus Dur (dikutip dari: UU no. 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers): 1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui,
2. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum,

dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan. 3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan

dengan kepentingan umum. 5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Selain peranan yang disebutkan dalam Undang-Undang tersebut media saat itu juga sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi rakyat kepada pemerintah. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang semakin beragam. Sebagai kontrol sosial, membentuk opini publik. Dan di era refornasi ini, pers nasional benar-benar bebas mengkritik pemerintah. Media dapat mendukung semua kebijakan pemerintah, menentang, atau bahkan mendua terhadap suatu kebijakan. Media massa pada masa pemerintahan Gus Dur, tumbuh media komunikasi dan informasi baru – internet – terjadi tepat saat reformasi digulirkan. Sampai Desember 2000
ii

tercatat lebih 390 situs diantaranya: kemana.com, kapanlagi.com. Sekitar 90 merupakan majalah web. 30 tergolong portal berita atau informasi diantaranya: Astaga, Satunet, Detik, Berpolitik, Koridor, Suratkabar, Inilho, dan Indonesia-raya. Surat kabar online mencapai 40 lebih. Sebagian besar bertujuan bisnis murni. Secara global, media ”dot com” mengalami pasang-surut dan diperkirakan sebagian besar akhirnya terpaksa gulung tikar. Begitu pun, potensi dan prospeknya secara umum dianggap bagus mengingat perluasan pesat jaringan telpon dan pertumbuhan komputerisasi di kantor-kantor maupun rumah-rumah (sumber: Dewan Pers: Langkah Awal Meneggakkan Kebebasan Pers – Wikipedia.com). Tahun 1999 tercatat sebanyak 502 radio AM dan 413 radio FM (Ramako Magic, Prambors, I-Radio, Female, Mustang) di seluruh Indonesia, sebagian di antaranya melakukan liputan jurnalistik atau berita. Pertumbuhan mencolok juga terjadi di bidang media cetak. Koran-koran baru dalam grup Jawa Pos, yang bermarkas di Surabaya, bermunculan di sejumlah ibukota provinsi dan kabupaten. Grup Kompas-Gramedia dan Grup Pos Kota juga menyelenggarakan sejumlah penerbitan, selain di Jakarta juga di daerah lain (Dewan Pers: Langkah Awal Meneggakkan Kebebasan Pers – Wikipedia.com)

AB III KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN MEDIA

A. Keunggulan Media
1. Media (Koran Kompas) sudah tampil sedemikian rupa dalam memberitakan issueissue yaitu ada yang pro, kontra, dan independen.
ii

2. Media bebas mengkritik pemerintah dengan keras. 3. Berbagai wacana penting dalam kehidupan berbangsa yang bisa dimasuki oleh publik

dapat dinikmati khalayak atau masyarakat secara luas.
4. Sistem komunikasi sudah tidak lagi monolog pada masa pemerintahan Gus Dur.

Bahkan pers mempunyai hubungan vertikal dengan pemerintah dan sebagai penyambung lidah antara khalayak dengan pemerintah.
5. Media tidak hanya sebagai pusat informasi berupa hiburan tetapi juga memberikan

sajian informasi yang bersifat dialog atau talk show (Metro TV) dan informasi bersifat educational.

B. Kekurangan Media
1. Media (Majalah Tempo) terlampau kebablasan dalam memberitakan issue-issue

dengan karikatur-karikatur (dalam hal ini seperti dicontohkan pada karikatur cover Gus Dur) tanpa mengindahkan etika.
2. Angin

segar

kebebasan

pers

pasca

pembubaran

Departemen

Penerangan

mengantarkan penyajian informasi cenderung lepas dan tidak terkontrol.
3. Jika bermacam aktualisasi berita, opini dan foto disajikan dengan negatif, maka opini

publik menjadi negatif

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Perubahan pers dari masa ke masa sangatlah signifikan. Pers pada masa era reformasi tampak berbeda jauh dengan era sebelumnya baik era orde lama dan orde baru. Pers jauh
ii

lebih berani bersikap kritis terhadap penguasa. Pers menjadi lebih agresif dan kreatif dalam memberi nilai tambahan suatu berita dan juga mengeksploitasi issue-issue permasalahan untuk diolah menjadi komoditas informasi. ”Namun kebebasan media yang terjadi cenderung kebablasan” (perkataan Megawati: dalam Masa Jabatan Ketiga dan Menuju Reformasi: Wikipedia.com) hal tersebut terjadi khusus beberapa media saja. Sudah tidak ada lagi tanggungjawab sosial dari pers atas apa yang di sajikan ke khalayak atau masyarakat. Beberapa media sudah meletakkan peranannya sesuai fungsinya dan sebagai pilar ke 4 demokrasi setelah lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui serta menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar melakukan pengawasan kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan peranannya yaitu salah satunya dapat membentuk opini publik dan kontrol sosial.

B. Saran
Sistem pers yang ada di Indonesia khususnya Dewan Pers sebagai lembaga yang menaungi pers dan lembaga yang independen seharusnya bisa mengawasi para insan pers yang ada. Pers harus bisa menyajikan informasi yang bermanfaat dan bertanggungjawab atas apa yang disajikan terhadap masyarakat sesuai dengan kode etiknya (UU 40 Tahun 19994). Sehingga masyarakat bisa menjadi lebih maju dan tidak terus menerus dijejali dengan informasi yang belum tentu sesuai dengan fakta. Selayaknya pers harus menjaga kebebasannya dengan tidak bertindak kebablasan karena pers merupakan penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Pers harus terus mendidik masyarakat. Menunjukkan ke mana negara dan bangsa ini, sebab media massa punya kewajian dekat dengan rakyat, mendidik dan mencerahkan. Selain mempengaruhi masyarakat, pers juga harus dapat mempengaruhi pemerintah khususnya dalam menyampaikan aspirasi-aspirasi rakyat. Kita harapkan media dan pemerintah menjadi patner yang saling mendukung. Mendukung dalam arti memberikan hal yang positif untuk memperlihatkan keberhasilan pembangunan nasional, namun juga menjadi media kritik untuk pemerintah dapat

ii

mengevaluasi dan memperbaiki yang salah dalam mencapai tujuan masyarakat adil dan sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA

Nurudin. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta. PT Raja Graffindo Persada. 2004. Eyo, Kahya. Perbandingan Sistem dan Kemerdekaan Pers. Jakarta. Pustaka Bani Quraisy. 2004. Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung. Citra Aidya Bakti. 1993 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Kebebasan Pers. Lumbangaol, Hotman Jonathan. Tarik Ulur Kebebasan Pers. 2008.
ii

Sudibyo, Agus. Harmoni Hubungan Pers dan Gus Dur: Sejarah yang Tak Terulang. 2008 Iswara, Dana. Pers di Ambang Kekhawatiran. 2000 www.tempointeraktif.com www.jurnalnasional.com www.estibx.blogspot.com www.metronews.com www.unhas.ac.id/likuidasidepartemenpeneranganri/ www.library.usu.ac.id – www.google.co.id http://luckybae.com/2010/04 http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06 http://id.wikipedia.org/dewanpers/ http://www.nusantara6.com

ii

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times