P. 1
Faktor Faktor Yg Berkontribusi Gizi

Faktor Faktor Yg Berkontribusi Gizi

|Views: 314|Likes:
Published by my baldi

More info:

Published by: my baldi on Dec 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. Pendahuluan
  • II. Tinjauan Pustaka
  • IV. METODE PENELITIAN
  • VI. SIMPULAN DAN SARAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENELITIAN PENELITI MUDA (LITMUD) UNPAD FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP STATUS GIZI

PADA BALITA DI KECAMATAN CIAWI KABUPATEN TASIKMALAYA

Oleh: Ketua : Sari Fatimah, S.Kp., M.Kes Anggota I : Ikeu Nurhidayah, S.Kep., Ners Anggota II : Windy Rakhmawati, S.Kp., M.Kep

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2008 Berdasarkan SPK No. 394 /H6.26.14/LP/PL/2008 Tanggal 16 April 2008

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BULAN NOVEMBER TAHUN 2008

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENELITI MUDA (LITMUD) UNPAD SUMBER DANA DIPA UNPAD TAHUN ANGGARAN 2008
1. a. Judul Penelitian : Faktor-faktor yang Berkontribusi terhadap Kejadian Gizi Kurang Pada Anak Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya : Kesehatan : II : Sari Fatimah, S.Kp., M.Kes : Perempuan : Lektor/IIId/140 070 429 : Lektor : Ilmu Keperawatan : Keperawatan Anak : 2 orang : Ikeu Nurhidayah, S.Kep., Ners

b. Bidang Ilmu c. Kategori Penelitian 2. Ketua Peneliti a. Nama lengkap dan Gelar b. Jenis kelamin c. Pangkat/Gol/NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/Jurusan f. Bidang Ilmu yang diteliti 3. Jumlah Anggota Peneliti a. Nama Anggota Peneliti I b. Nama Anggota Peneliti II 4. Lokasi Penelitian

: Windy Rakhmawati, S.Kp., M.Kep

: Desa Ciawi Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya 5. Bila penelitian ini merupakan peningkatan kerja sama kelembagaan sebutkan : a. Nama Instansi :b. Alamat :6. Lama Penelitian : 10 (sepuluh) bulan 7. Biaya yang Diperlukan : Rp. 6.125.000,- (Enam juta Seratus Dua Puluh

Lima Ribu Rupiah)
Bandung, 15 November 2008 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Ketua Peneliti,

Hj. Helwiyah Ropi, S.Kp., MCPN NIP. 140 067 327

Sari Fatimah, S.Kp., M.Kes NIP. 140 070 429 Menyetujui, Plh. Ketua LPPM Universitas Padjadjaran

Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, M.Sc NIP. 130 814 978

ABSTRAK

Kurang energi protein atau gizi kurang merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia maupun di banyak negara berkembang lainnya. Kurang energi protein adalah suatu keadaan dimana berat badan anak kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS yang disebabkan oleh kurangnya zat gizi karbohidrat dan kekurangan protein disertai susunan hidangan yang tidak seimbang. Variabel dalam penelitian ini merupakan variabel univariat dengan sub variabel asupan nutrisi pada balita, penyakit infeksi, pengetahuan ibu tentang gizi, keyakinan ibu tentang makanan, mengidentifikasi tingkat sosial ekonomi keluarga balita. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode ex post facto yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan f ktor-faktor yang dapat menyebabkan a timbulnya suatu kejadian dengan merunut ke belakang kronologis kejadian tersebut (Sugiyono, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki balita di Desa Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah dengan accidental sampling. Data dikumpulkan dengan tekn wawancara ik terstruktur, angket dan food recall dan kemudian diolah dan dianalisa dengan menggunakan rumus persentase dan proporsi. Hasil penelitan menunjukkan faktor yang memiliki kontribusi terhadap gizi kurang pada anak adalah riwayat penyakit infeksi, tingkat pengetahuan ibu yang kurang, tingkat sosial ekonomi keluarga yang rendah, dan asupan kalori serta protein yang kurang, sedangkan faktor yang kercayaan i u terhadap b makanan (100%) memiliki kepercayaan yang mendukung terhadap status gizi balita. Jadi faktor kepercayaan ibu terhadap makanan tidak berkontribusi terhadap status gizi kurang pada balita. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka disarankan agar semua pihak terutama keluarga berpartisipasi untuk meningkatkan upaya pe ncegahan terjadinya gizi kurang pada an ak, diantaranya dengan pembina an dan pemberdayaan keluarga yang mem iliki resiko gizi kurang pada anak. Pemberdayaan dan pembinaan keluarga ini dapat dilakukan oleh Puskesmas setempat dengan melibatkan perawat kesehatan komunitas. Selain itu perlu dilakukan diseminasi informasi tentang gizi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga khususnya ibu tentang asupan nutrisi, cara pengolahan dan pemilihan bahan makanan yang baik pada anak, dan perlu dilakukan upaya promotif dan preventif untuk mengurangi angka penyakit infeksi, seperti penyuluhan tentang penyakit infeksi pada balita, terutama ISPA, diare dan tuberkulosis, mislanya melalui revitalisasi posyandu dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan posyandu sebagai pusat kesehatan dan sumber informasi di masyarakat.

i

All that efforts could be held in Posyandu. so Posyandu will be most important place as a public health centered to get information about child health generally. and inadequate calory and protein intake.ABSTRACT Energy Protein Malnutrition is a mainly nutrition problem bo in th Indonesia also in other developed countries. While the mother’s faith of food is not contributing to energy protein malnutrition cases. questionnaire. The results of this study describe that the factors that contributing to energy protein malnutrition are infection history. mother’s cognitive about nutrition. and food recall and then analyzed by percentage and proportion method. Recommended by researcher was need to intensified family participation and family empowering. mother’s faith of food and the level of family social economic state. ii . mainly infection cases in child such us acute respiratory infection. the lower level of family’s social economic state. Research sample taken in accidental sampling. that used ex post facto method. The variables in this study was univariat variable with sub variables are nutrition intake. Energy protein malnutrition is a condition that body weight children less than 80% of body weight index per age based on WHO-NCHS standard. Sample collecting procedures with structured interview. that caused by inadequate calory and protein intake with unbalanced diet. Besides that. the mainly factors that should be intensified is dissemination information about nutrition. the poor level of mother’s cognitive about nutrition. The population in this study are family with child in District of Ciawi Tasikmalaya Residence. Design of this study is descriptive. infection history. total samples are 50 respondences. tuberculosis and diarrhea.

penulis meng ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. sehingga dapat menjadi masukan dalam merancang program pencegahan dan penanganan gizi kurangpada balita khususnya di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tsikmalaya. Penulis mengharapkan. serta seluruh responden yaitu balita dan orang tua yang secara sukarela berpartisipasi dalam penelitian ini. khususnya dalam bidang kesehatan anak. Dalam pelaksanaan Penelitan ini. Oleh karena itu. yang telah dianugerahkan. November 2008 Tim Peneliti iii . dengan dilaksanakannya kegiatan ini dapat memberikan gambaran secara umum mengenai Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Kejadian Gizi Kurang Pada Balita. Bandung. sehingga Tim Pelaksana Penelitian Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran dapat melaksanakan kegiatan penelitian tentang Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Kejadian Gizi Kurang Pada Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Tim Pelaksana Penelitian dibantu oleh petugas kesehatan Puskesmas Ciawi. Dengan adanya penelitian ini.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya. serta aparat pemerintahan Kecamatan Ciawi dan Desa Ciawi. . diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan daerah Kabupaten Tasikmalaya.

............... iv DAFTAR TABEL........................ 11 HASIL PEMBAHASAN........................................................................................................................................................................................................................................................................................................ iii DAFTAR ISI ................ v PENDAHULUAN...................................................................................... 1 TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................................................................................................... i ABSTRACT............................................................................... 11 METODE PENELITIAN........................................................ 4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN............... 18 SIMPULAN DAN SARAN............................................................................................................DAFTAR ISI Halaman LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ABSTRAK........................................... 26 KEPUSTAKAAN LAMPIRAN iv ..... ii KATA PENGANTAR..........................................................

5 Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga Tabel 5.2 Karakteristik Pekerjaan Kepala Keluarga dan Status Gizi anak Tabel 5.4 Distribusi Sub Variabel Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Tabel 5.8 Asupan Protein 18 19 19 20 21 22 23 24 v .DAFTAR TABEL Halaman Tabel 5.7 Asupan Kalori Tabel 5.6 Kepercayaan Ibu Terhadap Makanan Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Riwayat Penyakit Infeksi Pada Responden Tabel 5.1 Karakteristik Pendidikan Ibu Tabel 5.

Jawa Barat merupakan salah satu propinsi yang masih mengalami 1 . gizi buruk 8. Salah satu faktor utama yang berperan penting dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Masih tingginya prevalensi gizi kurang pada anak balita disebabkan berbagai faktor diantaranya masih tingginya angka berat badan lahir rendah pada bayi (BBLR). Angka kematian bayi.940.2%. kekurangan vitamin A (KVA).5%. Namun perubahan yang kedua ini dapa hilang kembali t (reversibel) dengan perbaikan diet. pada tahun 2005 gizi kurang terdapat 19. Gizi pada balita terutama diperlukan untuk untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. 2006). usia 6-11 bulan 14.000 anak dengan gizi kurang. diperkirakan jumlah penderita gizi buruk pada balita adalah 1.777. Dari keempat masalah gizi tersebut. Masalah gizi yang utama di Ind onesia adalah kurang energi protein (KEP). (BKKBN.000 anak dan 4. Akibat dari BBLR dan gizi kurang pada balita akan menghasilkan masalah lanjutan pada pertumbuhan tinggi badan anak baru masuk s ekolah (TBABS).I. dan sesuai dengan target MDG’S 2015 (Millennium Development Goals) adalah menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB).8%.000 anak tersebut mengalami hambatan dalam pertumbuhan. Vi i pembangunan kesehatan di In s odonesia adalah mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Di Indonesia sendiri.520.2%. 7. Untuk usia 0-5 bulan gizi buruk tahun 2005 8. usia 12-23 bulan 20% dan usia 24-59 bulan 21.2%. Kurang terpenuhinya gizi pada anak aka menghambat sintesis protein DNA sehingga n menyebabkan terhambatnya pembentukan sel otak yang selanjutnya akan menghambat perkembangan otak. Jika hal ini terjadi setelah masa divisi sel otak terhenti. balita dan anak. KEP merupakan penyebab kesakitan dan juga sekaligus penyebab kematian (Depkes RI. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkelanjutan.0000 anak usia 5-9 tahun yang sekolah.800. Berdasarkan pemantauan TBABS didapatkan data bahwa dari 21. Pendahuluan A. Berdasarkan hasil sementara SP 2000. balita dan anak merupakan salah satu indikator kesehatan yang sangat mendasar. Angka Kematian Balita (AKABA) dan Angka Kematian Anak (AKA). dan status gizi merupakan faktor utama yang berpengaruh pada peningkatan atau penurunan angka kematian bayi. 1997). anemia gizi besi serta gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI). hambatan sintesis protein akan menghasilkan otak dengan jumlah sel yang normal tetapi dengan ukuran yang lebih kecil.

dan jumlah itu meningkat pada 2002. sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian gizi kurang pada balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. dari 128. Penyebab langsung adalah kurangnya kecukupan zat gizi dan penyakit infeksi pada balita.164 balita yang ditimbang. jumlah itu kembali melambung pada 2006. yakni mencapai 1. mulai tahun 2001 hingga 2006 jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Tasikmalaya terus meningkat. yakni menjadi 737 dari jumlah balita yang ditimbang sebanyak 131.859.537 balita yang ditimbang.097 balita masuk pada katagori gi i buruk. tidak adanya kebijaksanaan pemerintah terhadap penanggulangan masalah gizi dan penghasilan keluarga yang rendah (Depkes RI. Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes Tasikmalaya). sekitar 1.008 balita yang ditimbang. Tragisnya. Jumlah balita yang mengalami gizi buruk melambung tinggi pada tahun 2003. anemia gizi besi serta gangguan akibat kekurangan iodium 2 . Pada tahun 2005. Penyebab gizi kurang pada balita baik yang langsung maupun tidak langsung mempunyai peranan yang bervariasi dan berbeda-beda di setiap daerah. Kekurangan gizi merupakan masalah yang sangat kompleks dan saling berkaitan. Penyebab tidak langsung adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi.permasalahan gizi kurang pada balita.816 balita yang ditimbang. kepercayaan ibu yang kurang baik terhadap makanan tertentu. tid ak tersedianya fasilitas keseh atan. yakni mencapai 849 balita dari jumlah bayi yang ditimbang sebanyak 104. 1997). jumlah balita penderita gizi buruk kembali meningkat yakni 754 balita dari 143.097 balita dari 148. kekurangan vitamin A (KVA). dr. namun angka itu sempat mengalami penurunan secara drastis pada tahun 2004 yakni 541 balita dari 142. dari jumlah itu sebanyak 1. baik penyebab langsung maupun tidak langsung.23% berstatus gizi buruk. Dari 5 juta balita yang ada di Jawa Barat pada tahun 2001.794. Oki Zulkifli. Perumusan Masalah Masalah gizi yang utama di Ind onesia adalah kurang energi protein (KEP). Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu kabupaten dengan jumlah balita penderita gizi buruk dan gizi kurang yang cukup significant. Tingginya angka kejadian gizi kurang tentunya tidak lepas dari faktor-faktor penyebabnya. sebanyak 647 di antaranya mengalami gizi buruk. Oleh karena itu. Tragisnya. pada tahun 2007 sebanyak 16. Data Dinas z Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menyebutkan. Pada 2001. B.386 balita yang tersebar di 39 kecamatan telah dinyatakan mengalami kekurangan gizi.

diperkirakan jumlah penderita gizi buruk pada balita adalah 1. Selain itu. Semakin baik asupan nutrisi maka zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan proses tumbuh kembang secara normal. kepercayaan terhadap makanan tertentu dan status sosial ekonomi keluarga. kepercayaan ibu yang kurang baik terhadap makanan tertentu. pengetahuan ibu tentang gizi.940.520.000 anak dengan gizi kurang. Kelima faktor inilah yang menentukan status gizi anak tersebut. tidak adanya kebijaksanaan pemerintah terhadap penanggulangan masalah gizi dan penghasilan keluarga yang rendah (Depkes RI. Dari keempat masalah gizi tersebut. 3 . Selain asupan nutrisi. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah asupan nutrisi. Berdasarkan hasil sementara SP 2000. artinya bahwa status gizi balita dapat ditingkatkan secara optimal jika faktor-faktor yang memepengaruhinya dapat dikondisikan secara optimal. 1997). melihat tingginya angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk di Kecamatan Ciawi dan pentingnya permasalahan gizi. Penentuan baik buruknya status gizi balita akan sangat ditentukan oleh faktorfaktor yang mempengaruhinya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi. sedangkan semakin buruk asupan nutrisi maka proses pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu karena zat-zat yang dibutuhkannya tidak tersedia. 1997). KEP merupakan penyebab kesakitan dan juga sekaligus penyebab kematian (Depkes RI. infeksi kronis yang diderita oleh seorang anak akan mengakibatkan beberapa gangguan antara lain gangguan absorpsi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh dan penggunaan energi berlebih dari tubuh untuk mengatasi penyakit. Oleh karena itu. sehingga energi yang digunakan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan dialihkan untuk mengatasi penyakit infeksi tersebut. tidak tersedianya fasilitas kesehatan.000 anak dan 4.(GAKI). maka penulis terdorong untuk meneliti faktor-faktor apa saja yang berkontribusi dengan status gizi kurang pada balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. penyakit infeksi. faktor lain yang berpengaruh terhadap kejadian gizi kurang pada balita adalah pengetahuan ibu tentang makanan yang mengandung nutrisi yang baik untuk anak dan masih beredarnya kepercayaan di masyarakat berkaitan dengan makanan yang merupakan kebiasaan turun-temurun yang biasanya memerintahkan untuk menghindari makanan tertentu padahal makanan tersebut sangat dibutuhkan oleh balita untuk proses pertumbuhan dan perkembangan.

Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicialephitel tissues) seperti kulit. Kurang energi protein adalah suatu keadaan dimana berat badan anak kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS yang disebabkan oleh kurangnya zat gizi karbohidrat dan kekurangan protein disertai susunan hidangan yang tidak seimbang. klinis. b.2.2 Cara Menilai Status Gizi 2. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. dan biofisik. a.II. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.1 Penilaian Secara Langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: antropometri. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk melihat status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupn zat gizi. Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemmapuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan tubuh. tinja dan juga bebepara jaringan tubuh seperti hati dan otot. otot dan jumlah air dalam tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. 2. biokimia. mata. Tinjauan Pustaka 2. d. Antropmetri secra a umum digunakan untuk meliha t ketidakseimbangan asupan protein dan energi. 4 . rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. c. Antropometri Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. urine. Ditinjau dari sudut pandang gizi.1 Definisi Kurang energi protein atau gizi kurang merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia maupun di banyak negara berkembang lainnya. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.

irigasi dan lainlain. ternyata terdapat variasi yang luas mengenai keperluan dan 5 .5° C menjadi 15.2. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari ekologi seperti iklim. mineral dan vitamin. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikanan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat. Statistik Vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. 1996). tanah.1 Asupan Gizi Pemberian nutrisi atau asupan nutrisi adalah memberikan zat gizi melalui makanan dan minuman untuk energi dan perbaikan jaringan yang diperlukan untuk pertumbuhan yang melibatkan petambahan ukuran dari semua jaringan dalam tubuh (Sacharin. protein. angka kesakitan. Batasan untuk satu kal adalah jumlah yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg air dari 14. dan kematian akibat penyebab tertentu dan data la innya yang berhubungan dengan gizi. a. Survey Konsumsi Makanan Survey konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. a. Survey ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi. Kalori Kalori merupakan satuan panas dalam proses metabolisme dan dipakai untuk menyatakan besarnya energi yang terkandung dalam bahan makanan. Kualitas dan kuantitas makanan ditentukan dengan kadar zat gizi yang dikandung makanan tersebut.2. biologis dan lingkungan budaya. lemak.2 Penilaian Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung adalah berdasarkan survei konsumsi makanan. c. Faktor Ekologi Bengoa mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik.3 Faktor Penyebab Gizi Kurang 2.2.5° C. statistik vital dan faktor ekologi. keluarga dan individu. b. yaitu kalori. 2.2.3. karbohidrat.

proses elimiasi biasanya melebihi 10% energi untuk pertumbuhan. isoleusin. c. Bobot mineral pada fetus lebih kurang 3% dari berat badan lahir.pengeluaran energi pada anak. Pada waktu ini dikenal 24 jenis merupakan asam amino yang essensial untuk bayi (treonin.35% dari berat badan. kemudian jumlahnya akan meningkat pada masa pertumbuhan anak berikutnya. d.K. Secara garis besar penggunaan energi rata-rata pada anak 6-12 tahun adalah untuk metabolisme basal.D. leusin. sistin dan taurin). triptofan. Lemak Lemak bersama bahan metabolismenya merupakan bagian penunjang membran sel. Protein Secara biokima. 3) sumber gliserida dan kolesterol yang tidak dapat dibuat dari karbohidrat oleh bayi sekurang-kurangnya sampai umur 3 bulan. Mineral Meskipun hanya terdapat dalam jumlah yang kecil. Aktivitas jasmani. b. lisin. bahkan juga bayi. susunan tubuh manusia terdiri dari protein. mineral mempunyai fungsi yang penting terhadap pertumbuhan dan homesotasis tubuh. lemak dalam makanan mempunyai peran sebagai berikut : 1) tempat menyimpan energi yang efisien. Nilai gizi protein nabati ditentukan oleh asam amino yang kurang. metionin. 4) penambah lezat rasa makanan. e. SDA. fenilalain. aktivitas jasmasi 25% dan eliminasi sebesar 8-10%. Vitamin Vitamin merupakan senyawa organik yang jumlah sangat kecil diperlukan untuk terjadinya proses metabolisme sel sebagai bagian dalam kelangsungan hidup suatu 6 . Dalam masa pertumbuhan anak yang cepat. sehingga pada orang dewasa mencapai bobot sebesar 4. Distribusi dalam tubuh adalah 83% dalam kerangka. Secara umum kalori yang diberikan akan dimanfaatkan untuk: metabolisme basal. dan histidin) dengan tambahan 3 jenis diperkirakan esensial untuk BBLR (arginin. Kekhususan asam amino esensial ini adalah tidak dapat disintesis dalam tubuh dan jaringan baru hanya akan terbentuk bila seluruh asam amino esensiaol tersedia dalam satu saat yang bersamaan. 10% dalam jaringan otot dan sisanya pada jaringan tubuh lainnya.E. valin. 5) bahan perantara bagi absorpsi vitamin yang larut dalam lemak A. Protein telur dan protein susu biasanya dipakai sebagai pembanding baku. 2) sumber asam lemak esensial. selain tergantung dari faktor umur juga dari keadaan anak pada saat itu. pertumbuhan 12%. Umumnya protein hewani memiliki nilai gizi protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan protein nabati.

galaktosa). Pengetahuan orangtua terutama ibu. Penyakit infeksi yang paling sering menyebabkan gangguan gizi dan sebaliknya adalah infeksi saluran nafas akut (ISPA) terutama pneumonia. Menurut Rachmi (2005).2 Penyakit Infeksi Penyakit infeksi adalah penyaki yang terdapat dalam hospes hidup akibat terdapatnya mikroorganisme dalam jaringan hidup (Tambayong. penyakit infeksi dapat menyebabkan gizi kurang dan sebaliknya. yaitu gizi kurang akan semakin memperberat sistem pertahanan tubuh yang selanjutnya dapat menyebabkan seorang anak lebih rentan terkena penyakit infeksi. merupakan kelainan saluran napas karena infeksi dan yang tersering diakibatkan oleh virus. Karbohidrat Dalam bahan makanan karbohidrat didapatkan dalam bentuk monosakarida (glukosa. 2.2.3 Pengetahuan ibu tentang gizi Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penti g untuk n terbentuknya tindakan seseorang.organisme. diare juga merupakan penyakit tersering yang diderita oleh anak. salah satu diantara 4 jenis masalah utama gizi adalah defisiensi vitamin A. sukrosa. cara pengolahan makanan. tentang gizi sangat berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi yang diperoleh oleh balita. dan polisakarida (tepung. fruktosa. 2000). selulosa). glikogen. dekstrin. f. Di Indonesia. Penyakit ini paling sulit dicegah dari semua macam infeksi dan bervariasi dalam berat penyakitnya.3.Coli dan shigella Spp. maltose. Pengetahuan tentang gizi yang penting diketahui oleh ibu adalah berkaitan dengan kandungan makanan. Selain itu. Menurut Notoatmodjo (1993). 2.2. mulai dari batuk pilek biasa sampai pneumonia. disakarida (laktosa. Diare paling banyak disebabkan oleh enteritis virus. Penyebab lain diare pada anak adalah E. kebersihan makanan dan lain-lain. tuberkulosis dan diare. hal ini akan mengakibatkan malabsorpsi natrium dan air oleh karena menumpuk dan rusaknya sel epitel vili. Infeksi saluran pernafasan akut. dan isomaltosa).3. perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. 7 .

1990). masalah gizi pada anak berhubungan dengan kegagalan orangtua untuk mengenali kebutuhan gizi pada anak. yaitu: a. Tahu. kepercayaan tentang makanan adalah suatu kepercayaan yang berkaitan dengan makanan dan praktik-praktik makan yang dianut masyarakat berdasarkan agama dan tradisi (Foster dan Anderson. Aplikasi. Evaluasi. masih banyak anggota keluarga yang lebih mementingkan asupan makanan bernutrisi tinggi untuk ayah sebagai pencari nafkah. Memahami. b. c. makanan bukanlah semata-mata suatu produk organik yang dipakai oleh organisme hidup untuk mempertahankan hidup. d.2. diartikan sebagai suatu kemempuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real. menunjukkan kepada s uatu kemampuan untuk meletakka atau n menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk baru f.3. tradisi atau budaya yang turun-temurun atau suatu kebiasaan yang diulang-ulang sehingga menetap dan dianggap sebagai suatu keb enaran (Rachmat. tetapi lebih tepatnya makanan dibentuk secara budaya. Sintesis. e. Di masyarakat. padahal justru anak-anaklah yang lebih memerlukan asupan nutrisi untuk mendukung proses tumbuh kembangnya. 2. Sebagai suatu gejala budaya. dan mengabaikan kebutuhan anak. Berkaitan dengan praktik makan. Dalam konsep gizi. adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. termasuk ke dalam pengetahuan di tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di elajari atau p rangsangan yang telah diterima. diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Analisis.Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.4 Kepercayaan tentang makanan Kepercayaan adalah keyakinan yang didasarkan pada suatu agama. menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian suatu materi atau objek. 8 . 1986).

Ukuran lingkar lengan atas menurun d. terhenti dan adakalanya berat badannya bahkan menurun c. baik kuantitas maupun kualitas. Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti b. pekerjaan dan penghasilan (Ariati dan Boesri. diet yang mengakibatkan KEP sering tidak mengandung cukup zat besi. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari: a. idupnya tergantung dari penghasilannya.2. Status ekonomi juga berkaitan dengan konsumsi (pengeluaran) dan produksi (pendapatan). Maturasi tulang terlambat e. 1990). 2. stomatitis angularis. Kenaikan berat badan berkurang.4 Gejala Klinis KEP Penyakit KEP derajat 1 atau gizi kurang sering ditemukan pada anak-anak dari umur 9 bulan sampai 2 tahun. Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun f.3. Status ekonomi mempengaruhi kebutuhan seseorang karena menentukan k emampuan keluarga untuk memperoleh makanan karena pemenuhan kebutuhan h .2. Juga berpengaruh terhadap penyediaan bahan pangan. Anemia ringan. asam folat dan vitamin lain.2. Kelainan-kelainan yang biasanya ditemukan pada KEP berat adalah xeroftalmia. akan tetapi dapat dijumpai pula pada anak yang lebih besar. Aktivitas dan perhaian mereka juga berkurang/konsentrasi berkurang i.5 Dampak Gizi Kurang Pada Anak Balita Pada umumnya penderita KEP berat juga akan menderita penyakit infeksi karena berkurangnya daya tahan tubuh anak. Dampak 9 .2. Tebal lipat kulit normal atau mengurang g. dll. 1998). Indikator status ekonomi bisa diukur melalui berbagai cara antara lain dengan menghitung tingkat pengeluaran perkapita (Widodo. Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan pada KEP ringan akan tetapi adakalanya dijumpai. h. 2.5 Status sosial ekonomi Status sosial ekonomi menggambarakan tingkat penghidupan seseorang atau keluarga yang ditentukan oleh unsur pendidikan. Keluarga dengan status ekonomi rendah kemampuan untuk mempengaruhi konsumsi makanan keluarga yang berkaitan erat dengan status gizi keluarga.

Pemeriksaan EEG juga telah dilakukan dengan hasil pada pemeriksaan setelah 5 tahun terdapat 30% anak dengan EEG abnormal dan setelah diulang 5 tahun kemudian naik menjadi 65%. Dampak lainnya adalah tinggi badan yang kurang optimal. hambatan sintesis otak akan menghasilkan otak dengan jumlah sel yang normal tetapi dengan ukuran yang kecil. Perubahan yang disebut belakangan ini dapat hilang kembali (reversible) dengan perbaikan diet. Dari studi tersebut ia mengambil kesimpulan bahwa KEP dapat mempengaruhi kecerdasan melalui kecerdasan otak. Pemeriksaan ulang setelah 10 tahun memberi hasil demikian.1. Memang faktor-faktor lain seperti kebudayaan dan keturunan ikut berperan dalam mementukan kecerdasan seseorang. III.1 TUJUAN PENELITIAN 3.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian gizi kurang pada balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat 3. terutama kecerdasan anak. Mengidentifikasi asupan nutrisi pada balita yang mengalami gizi kurang 2. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3. Mengidentifikasi penyakit infeksi yang dialami oleh balita yang mengalami gizi kurang 3. Penelitian dalam bidang pertumbuhan dan fungsi otak pada penderita yang sembuh dari penyakit KEP banya dilakukan.KEP pada umumnya akan mempengaruhi system saraf pusat. Studi lanjutan yang dilakukan 5 tahun kemudian menunjukkan deficit pada IQ mereka. Disamping faktor umur. Jika KEP terjadi setelah masa divisi sel otak berhenti. bahwa nilai IQ anak-anak yang menderita KEP pada umur muda lebih rendah secara bermakna. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang gizi 10 . serta adanya kelainan pada jantung. dengan akibat terdapatnya otak dengan jumlah sel yang kurang walaupun besarnya otak itu normal.2 Tujuan Khusus 1.1. hati dan sebagainya. Pada tahun 1975 Karyadi melaporkan hasil studinya terhadap 90 orang anak yang pernah menderita penyakit KEP. pancreas. Winick dan Russo (1975) k berpendapat bahwa KEP yang diderita pada masa dini perkembangan otak akan mengurangi sintesis protein DNA. penting pula diketahui derajat berat dan lamanya anak menderita KEP.

4.2.2.2 Manfaat Keilmuan Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan memperkaya bahan kajian dan informasi tentang faktor yang berkontribusi dalam kejadian gizi kurang dan upaya perawatan yang telah dilakukan oleh keluarga pada anak dengan gizi kurang. Mengidentifikasi keyakinan ibu tentang makanan pada balita dengan gizi kurang 5.3 Manfaat untuk Penelitian yang akan datang Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai informasi awal bagi penelitian yang akan datang sehubungan dengan kejadian gizi kurang pada anak. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode ex post facto yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya suatu kejadian dengan merunut ke belakang kronologis kejadian tersebut (Sugiyono. Pengetahuan ibu tentang gizi pada balita 11 . Mengidentifikasi tingkat sosial ekonomi keluarga balita yang mengalami gizi kurang. 2003). Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini merupakan variabel univariat dengan sub variabel sebagai berikut : 1. sehingga dengan demikian dapat diperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan program-program kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan anak terutama dalam meningkatkan upaya pencegahan gizi kurang pada anak dimasa yang akan datang.2 MANFAAT PENELITIAN 3. 3. 3. Asupan nutrisi pada balita 2.1 Manfaat Praktis Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian gizi kurang di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. 3.2. Penyakit infeksi yang diderita oleh balita 3. khususnya penelitian yang berhubungan dengan pola perilaku keluarga yang berperan terhadap kejadian tersebut. IV.

Status sosial ekonomi keluarga dikategorikan rendah. Disnakertrans.. (Hasil koordinasi antara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Aspindo). Gizi Kurang Gizi kurang menurut Depkes RI (1997) adalah keadaan seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan penyakit tertentu. Keyakinan ibu tentang makanan pada balita 5. memahami proses pengolahan makanan dan kebersihan makanan. Pengetahuan ibu Pengetahuan ibu tentang gizi a dalah pengetahuan ibu yang tentang gizi pada berhubungan dengan perilaku ibu. Penyakit infeksi Penyakit infeksi dalam penelitian ini adalah adanya riwayat penyakit yang diderita oleh kronis seperti diare kronis. sedang dan tinggi dengan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Tasikmalaya yaitu sebesar Rp.4. ISPA. Baku rujukan yang dilakukan adalah WHO-NCHS. Mengidentifikasi tingkat Status sosial ekonomi adalah mengidentifikasi dari segi besarnya sosial pendapatan dan pengeluaran perkapita per bulan yang dihitung dari ekonomi keluarga biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi makanan dan bukan makan balita dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Penilaian asupan nutrisi dilakukan terhadap satu aspek yaitu jumlah zat gizi makanan. dan TBC kronis dalam tiga bulan balita terakhir. 2008). Dalam 12 . 700. antara lain mampu menyebutkan balita makanan bergizi yang bisa diberikan sehari-hari. SPSI. Mengidentifikasi tingkat sosial ekonomi keluarga balita Definisi Operasional Penelitian Sub Variabel Asupan pada balita Definisi Operasional nutrisi Asupan nutrisi dalam penelitian ini adalah asupan nutrisi pada balita ditinjau dari jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi selama tiga hari. Kesbang. Keyakinan ibu Keyakinan ibu tentang makanan pada balita adalah kepercayaan ibu tentang makanan terhadap makanan tertentu atau adanya pantangan terhadap makanan pada balita tertentu yang didasarkan pada tradisi atau kebiasaan turun temurun.000.

Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasinya.9 %. Pengukuran antropometrik dilakukan untuk mendapatkan data tentang berat badan. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang meliputi seluruh elemen yang ada diwilayah penelitian (Arikunto. Wawancara dilakukan dengan mengidentifikasi critical point untuk mendapatkan data tentang penyakit infeksi. Dalam penelitian ini sampel dambil i dengan menggunakan teknik accidental sampling.Sub Variabel Definisi Operasional penelitian ini diambil klasifikasi anak balita dengan gizi baik adalah skala 80 – 120 % dan anak balita dengan gizi kurang 60 – 79. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Teknik pengumpulkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menanyakan langsung pada ibu (responden) yang mempunyai anak balita. yang terdiri dari 18 orang balita dengan gizi kurang dan 32 orang gizi baik. dan melalui. kepe rcayaan ibu terhadap makanan t rtentu dan tingkat e penghasilan keluarga dan pengetahuan keluarga tentang nutrisi. dan gizi buruk < 60 %. Waktu dan tempat penelitian Penelitian dilakukan selama empat minggu yaitu pada bulan Agustus 2008 bertempat di Puskesmas Ciawi dan Desa Ciawi Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. TB. dengan indeks BB/U WHO-NCHS. 2002). 13 . Untuk menanyakan langsung pada ibu menggunakan dua cara. Sampel diambil pada keluarga yang datang ke Puskesmas Ciawi selama kurun waktu Bulan Agustus 2008. Sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang. pengukuran antropometrik (BB dan TB). Selain itu untuk mendapatkan informasi tentang asupan nutisi digunakan food recall. dan status gizi balita.

1 Batas kategori sosial ekonomi keluarga Batas Minimum P 33. Skor dari masing-masing pertanyaan skor terendah adalah 0 dan skor tertinggi adalah 5. K= banyaknya item. Hasil dari pengukuran ini dikategorikan menjadi dua yaitu kepercayaan yang positif (yang mendukung ke arah peningkatan gizi) dan kepercayaan yang negatif (yang tidak mendukung ke arah peningkatan gizi). Pada penelitian ini untuk mengukur tingkat sosial ekonomi keluarga digunakan 2 pertanyaan. maka nilai batas pengkategorian yang digunakan adalah sebagai berikut : Tabel 3. tidak). Faktor Sosial Ekonomi Keluarga Pengolahan data sosial ekonomi keluarga dengan cara menghitung total skor dalam skala untuk tiap responden dijumlahkan. Kemudian dari skor total tersebut dihitung persentase dengan menggunakan rumus : Keterangan: P = Persentase skor tipa responden X = Skor total dari keseluruhan pada variable atau sub variable penelitian Xmaks= Skor total maksimum atau sub variable penelitian 3.7 Maksimum 14 Skor 1x2=2 2x2=4 3x 2 = 6 4x2=8 . K=banyaknya item. Faktor Kepercayaan Ibu terhadap Makanan Menggunakan wawancara terstuktur dengan 5 pertanyaan yang me liputi kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari kebiasaan yang beredar di masyarakat dengan dua item jawaban (ya.Teknik Pengolahan dan Analisis Data Analisa Univariat 1. Skala tertinggi adalah yang mungkin adalah 4 x K. 2. skala terendah yang mungkin adalah 1xK. Faktor Penyakit Infeksi Menggunakan wawancara terstruktur dengan dua jenis pertanyaan ordinal (positif dan negatif).3 P66.

7 (6) dan nilai m ra aksimal kesimpulannya responden dikategorikan memiliki tingkat sosial ekonomi tinggi 4.3 (4) dan P66 (6) maka . Data yang diperoleh dari responden ditabulasi yan kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi prosentase.3 (4) maka kesimpulannya responden dikategorikan memiliki tingkat sosial ekonomi rendah Jika skor responden jatuh antara batas min P33.Setiap skor responden dicari dengan rumus Dimana n adalah banyaknya responden dan k adalah banyaknya item yang dianalisis dalam setiap sub variable. Faktor Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Untuk mengetahui pengetahuan ibu digunakan wawancara terstruktur yang berisi pertanyaan untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang gizi pada balita. Jawaban dinyatakan benar bila sesuai teori dan sebaliknya. Dan untuk mengukur tingkat pengetahuan digunakan rumus prosentase sebagai berikut : Keterangan: P = prosentase X = Jumlah jawaban yang benar n = Nilai maksimum Dari hasil perhitungan data ya ng besifat kuantitatif untuk a spek pengetahuan dimasukkan ke dalam standar objektif sebagai berikut: Baik Cukup Kurang : > 75 % : 60% . Kriteria uji: Jika skor responden jatuh antara batas min (2) dan P33. dan diberi nilai 1 (satu) bila jawaban benar dan nilai 0 (nol) bla jawaban salah.75 % : < 60% 15 . kemudian diberi skor masing-masing jawaban yang dipilih oleh responden.7 kesimpulannya responden dikategorikan memiliki tingkat sosial ekonomi sedang Jika skor responden jatuh anta batas P66.

Angka tersebut sudah memperhitungkan variasi kebutuhan indidivu yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Masalah gizi yang banyak diderita balita adalah kurang kalori dan protein (Supariasa. tinggi badan. aktivitas. 1999). Jumlah zat gizi makanan ditentukan melalui penentuan zat gizi makanan yang dikonsumsi responden sehari-hari. Menghitung jumlah zat gizi yang telah dikonsumsi oleh balita dengan menggunakan rumus : KGij = Penjumlahan zat gizi i dari setiap bahan makanan atau pangan I yang dikonsumsi 16 . Daftar Bahan Makanan Penukar (DBP) dan Daftar Kecukupan Gizi (DKG) 2. Penilaian asupan nutrisi dilakukan terhadap satu aspek yaitu jumlah zat gizi makanan.5. berat badan. Mengkonversikan konsumsi makanan sehari ke dalam zat gizi energy menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Unsur utama dalam makanan yang diperlukan untuk perumbuhan adalah protein sebagai zat pembangun dan kalori yang menyediakan energi (Pudjiadi. 2001). Oleh karena itu. Cara menghitung : 1. Jumlah zat gizi makanan diukur menggunakan tingkat kecukupan zat gizi makanan (kalori dan protein) yang dikonsumsi selama 24 jam melalui tanya ulang selama 3 hari. metabolisme dan sebagainya. keadaan fisiologis. umur. angka kecukupan energi s erta prosentase tingkat kecukupannya. Daftar Kandungan Zat Gizi Makanan Jajanan (DKMJ). dimana tingkat kecukupan gizi rata-rata per orang per hari bagi orang sehat di Indonesia tercantum dalam suatu daftar yang disebut Daftar Kecukupan Gizi (DKG). tingkat kecukupan gizi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah tingkat kecukupan energi dan protein. Berikut ini adalah angka kecukupan gizi rata-rata pada balita berdasarkan DKG Golongan Umur 1-3 tahun 4-6 tahun Berat Badan 12 18 Energi 1250 1750 Protein 23 52 Angka yang tercantum dalam DKG setara dengan kebutuhan rata-rata individu. Daftar Ukuran Rumah Tangga (DURT). Faktor Asupan Nutrisi Asupan nutrisi dalam penelitian ini adalah asupan nutrisi pada balita ditinjau dari jumlah makanan yang dikonsumsi selama tiga hari.

penyakit infeksi. Setelah data diolah dan didapatkan hasil pengelompokkan berdasarkan tingkat kecukupan gizi kemudian dibuat tabel tingkat kecukupan kalori dan protein pada responden. Menghitung tingkat konsumsi zat gizi balita : x 100% 5. Analisis prosentase ini menggunakan rumus: P 17 .Bj Gij BDDj = Berat bahan makanan j (gram) = Kandungan zat gizi I dari bahan makanan j = Persen bahan makanan j yang dimakan 3. kepercayaan ibu tentang makanan. dengan kategori : Tingkat Konsumsi Baik Tingkat Konsumsi Sedang Tingkat Konsumsi Kurang Tingkat Konsumsi Buruk : > 100% : 80-99% : 70 – 79 % : < 69 % 6. Masing-masing tabel terdiri dari kolom kategori. Analisis prosentase ini digunakan untuk seluruh variabel penelitian yaitu asupan nutrisi. Menghitung jumlah angka kecukupan gizi pada balita dengan rumus: Dimana: AKGi Ba Bs = Berat angka kecukupan energi atau protein pada balita = Berat badan balita yang ditimbang = Berat badan rata-rata yang dianjurkan berdasarkan umur tertentu dan tercantum dalam DKG AKG = Angka kecukupan energi yang tercantum dalam DKG 4. pengetahuan ibu tentang gizi dan tingkat s osial ekonomi keluarga. Menghitung rata-rata tingkat kecukupan gizi pada balita Skala pengukuran yang digunakan adalah ordinal. Seluruh variabel diatas akan dihitung prosentasenya dengan menggunakan analisis prosentase yaitu analisis yang digunakan utnuk mendapatkan g ambaran distribusi responden serta untuk mendeskripsikan sub variabel. frekuensi dan prosentase.

sedangkan untuk anak adalah usia dan status gizi.00% 0.00% 0 0. Tabel 5. Penyajian data ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan kemudian dideskripsikan dalam bentuk narasi.00% 32.00% .00% 4 8.00% 100.00% 10 20.00% 0.59% = Setengahnya reponden 60% . Sebelum jabaran hasil peneliti n dan pembahasan penulisan me a rasa perlu untuk menyajikan karakteristik responden.19% = Sangat sedikit responden responden dalam persent ase 20% .00% 12 24. Penel tian dilakukan di Puskesmas i C iawi Kabupaten Tasikmalaya pada Bulan Agustus 2008. 5. Adapun karakteristik yang dilihat dari orangtua adalah pendidikan ibu dan pekerjaan kepala keluarga.1 Karakteristik Pendidikan Ibu No 1 2 3 4 5 Karakteristik Pendidikan SD SLTP SMU D3 S1 Total F 26 16 4 0 4 50 % 52. Pembahasan meliputi gambaran faktor-faktor yang berkontibusi dengan status gizi kurang pada anak balita.00% 32 64.39% = Sebagian kecil responden 40% .00% 0.00% 0.00% 18 Kurang F % 10 20.Keterangan: P : Persentase X : Frekuensi N : Jumlah responden Kemudian hasil perhitungan fre uensi k diinterpretasikan sebagai berikut : 0% = Tidak seorangpun responden 1% . HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bagian ini penulis akan menyajikan hasil penelitian.00% 4 8.00% 4 8.00% 8.00% 0 0.00% 0.00% 8.00% F 0 0 0 0 0 0 Buruk % 0.1 Karakteristik Responden Dari 50 orang responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini terdiri dari orangtua dan anak. interpretasi dan hasil pembahasan yang diperoleh dari hasil jawaban 50 orang responden yang merupakan sampel dalam penelitian.00% Baik F % 6 12.99% = Hampir seluruh responden 100% = Seluruh responden V.79% = Sebagian besar responden 80% .00% 18 36.00% 0.00% 0 0.

Sebaliknya penyakit infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi.2 dapat diketahui bahwa keluarga yang anaknya paling banyak mengalami gizi kurang adalah keluarga dimana kepala keluarganya bekerja sebagai petani.00% 0. Anak yang kurang asupan nutrisinya maka akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terkena penyakit infeksi. ISPA berulang dan Tuberkulosis. Dalam penelitian ini diketahui bahwa seluruh anak dengan gizi kurang.2 Penyakit Infeksi Tabel 5. yaitu diare berulang.00% Berdasarkan Tabel 5.00% 8 16. yakni sebanyak 8 orang atau 16% dari total responden.00% 64.00% 0 0.00% 20 36.00% 4 8.00% 28.00% 0 0.00% 18 36.00% 0 0.00% 16. 5.00% 28. Tabel 5.00% F 4 14 6 8 32 Baik Kurang % F % 8.00% 32 18 0 50 Dari tabel 5.00% 36.00% 0 60.00% 0 0.3 Distribusi Frekuensi Riwayat Penyakit Infeksi Pada Responden Status Gizi Baik Kurang Buruk Total (+) 12 18 0 30 Infeksi % (-) 24.00% 28.00% 6 12. seluruhnya (100%) memiliki riwayat penyakit infeksi. Pudjiadi (1996) menyatakan bahwa penyakit infeksi dan kurangnya asupan nutrisi mempunyai hubungan yang saling timbal balik.2 Karakteristik Pekerjaan Kepala Keluarga dan Status Gizi anak No 1 2 3 4 Karakteristik Pekerjaan PNS Wiraswasta Petani Buruh Total F 4 18 14 14 50 % 8.00% Buruk F % 0 0.00% 0 0. Pada anak dengan gizi kurang positif seluruhnya (100%) memiliki riwayat infeksi.00% 0.Berdasarkan Tabel 5.00% 0 0.3 diketahui bahwa sebagian kecil dari responden (40%) anak yang tidak punya penyakit infeksi bergizi normal. atau 44% dari responden dengan gizi kurang.1 dapat diketahui bahwa ibu yang anaknya paling banyak mengalami gizi kurang adalah lulusan SD yaitu sebanyak 10 orang atau 20% dari total responden. Penyakit infeksi dalam penelitian ini adalah penyakit infeksi kronis.00% 40.00% 12.00% 20 Total % 40. Anak 19 .00% 100. atau 55% dari total balita dengan gizi kurang.

yang memiliki penyakit infeksi akan menyebabkan menurunnya kemampuan tubuh dalam mengabsorpsi zat-zat yang dibutuhkan tubuh untuk perbaikan jaringan yang rusak. Menurut Notoatmodjo (1993). 1993). 5. Dari ibu yang berpengetahuan kurang ini terdapat 32% yang anaknya bergizi kurang dan 12 % anaknya berstatus gizi baik. Tabel 5. penyuluhan-penyuluhan tentang gizi.00% 0 0. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya tindakan seseorang.00% 0 0. Bila dilihat dari karakteristik responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebagian dari responden (52%) adalah lulusan SD.4 diketahui bahwa sebagian dari responden (44%) ibu berpengetahuan kurang.00% 16 32.3 Pengetahuan tentang Gizi Dari tabel 5. yang mungkin didapat dari televisi. dalam hal ini informasi tentang gizi.00% 10 20.00% 18 36. dll. karena perilak yang didasari u pengetahuan akan bersifat lebih langgeng daripada perilaku y ang tidak didasari pengetahuan yang baik (Rogers dikutip dalam Notoatmodjo.00% Pengetahuan Cukup F % 18 36. Dampak lain dari penyakit infeksi adalah penggunaan energi yang berlebih dari tubuh untuk mengatasi penyakit bukan untuk pertumbuhan dan perkembangan.00% Total Kurang F % 6 12.00% 22 44.00% 2 4. selain itu pengetahuan yang baik juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti paparan terhadap informasi. membentuk sel-sel baru dan sumber energi tidak tersedia secara adekuat.00% Baik Kurang Buruk Total 32 18 0 50 Dalam penelitian ini diketahui bahwa dari 18 orang responden yang memiliki gizi kurang didapatkan data bahwa 16 orang atau 88 % berasal memiliki ibu dengan tingkat pengetahuan kurang. 20 . dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi.4 Distribusi Sub Variabel Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Status Gizi Baik F % 8 16.00% 0 0. sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut. terbentuknya suatu perilaku baru terutama orang dewasa dimulai dari aspek kognitif.00% 0 0. sehingga akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak.

88% diantaranya berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Status sosial ekonomi keluarga akan mempengaruhi kualitas konsumsi makanan.00% 0 0. 40 % memiliki tingkat sosial ekonomi sedang dan 4 % memiliki tingkat social ekonomi tinggi. Pengetahuan tentang gizi yang penting diketahui oleh ibu ada lah berkaitan dengan kandungan makanan. terutama yang berkaitan dengan zat-zat yang dikandung dalam makanan. waktu pemberian makan dan lain-lain. dengan orangtua yang anaknya berstatus gizi kurang 32 % dan berstatus gizi baik 24 %. Dari hasil penelitian didapatkan data bahwa pada anak yang status gizinya kurang.00% 28 56. 5.4 Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga Tabel 5.00% 16 32. cara pengolahan makanan.00% 2 4.5 Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga Status Gizi Tingkat Sosial Ekonomi Rendah Sedang Tinggi F % F % F % 12 24. Status sosial ekonomi keluarga dapat dilihat dari pendapatan dan pengeluaran keluarga. menjaga kebersihan makanan. Keadaan status ekonomi yang rendah mempengaruhi pola keluarga. Kondisi status sosial ekonomi dapat dipakai sebagai alat ukur untuk menilai tingkat pemenuhan kebutuhan dasar (Widodo. baik untuk konsumsi makanan maupun bukan makanan. karena hal ini berkaitan dengan daya beli keluarga.00% 0 0. sehingga 21 .00% 2 4. tentang gizi sangat berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi yang diperoleh oleh balita. sehingga pengetahuan yang baik akan membantu ibu atau orangtua dalam menentukan pilihan kualitas dan kuantitas makanan. Keluarga dengan status sosial ekonomi rendah kemmapuan untuk memenuhi kebutuhan pangan terbatas.00% 0 0. 1990). cara mengolah m akanan.00% 0 0.5 diketahui bahwa sebagian dari responden (56%) memiliki tingkat sosial ekonomi rendah.00% 20 40. kebersihan makanan dan lain-lain.00% Total Baik Kurang Buruk Total 32 18 0 50 Dari tabel 5.00% 18 36. Orangtua perlu memahami pengetahuan tentang gizi.Pengetahuan orangtua terutama ibu. Hal ini sesuai dengan laporan Oda Advisory Committee on Protein pada tahun 1974. demikian juga UNICE (1990) F menyatakan bahwa rendahnya tingkat sosial ekonomi merupakan akar permasalahan dari penyakit KEP. bahwa kemiskinan merupakan dasar penyakit KEP.00% 2 4.

Asupan nutrisi yang rendah dan terdapatnya penyakit infeksi pada anak balita dalam penelitian ini paling dominan disebabkan oleh rendahnya kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan yang memenuhi standar gizi dan untuk pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan.00% 50 100. Kepercayaan bisa timbul dari agama atau dari kebiasaan yang turuntemurun.00% 0 0. Anak yang seharusnya menjadi prioritas justru terabaikan karena ayah lebih didahulukan untuk mengkonsumsi makanan yang bernilai baik. baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Haryanti (2005) jug menyatakan bahwa masalah gizi di Indonesia a disebabkan oleh pola konsumsi pangan yang salah.6 Kepercayaan Ibu Terhadap Makanan Status Gizi Baik Kurang Buruk Total Kepercayaan Ibu Terhadap Makanan (+) % (-) % 32 64. 5.00% 0 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kepercayaan ibu terhadap makanan tidak berkontribusi terhadap kejadian gizi kurang pada anak.00% 18 36. Kepercayaan yang berasal dari agama sulit untuk diubah. Sesuai dengan pernyataan Effendi (1998).00% 0 0.00% Total 32 18 0 50 Dari tabel 5. status ekonomi rendah erat kaitannya dengan kemampuan orang untuk memenuhi kebutuhan gizi. dan prasangka atau kepercayaan yang buruk pada bahan makanan tertentu.akan mempengaruhi konsumsi makanan.00% 0 0. perumahan yang sehat.00% 0 0.6 diketahui bahwa seluruh responden (100%) memiliki kepercayaan yang mendukung terhadap status gizi balita. juga ada pantangan terhadap makanan tertentu karena kebiasaan yang 22 . Hal ini sebenarnya bertentangan dengan pendapat Pudjiadi (1993) bahwa adanya pa ntangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turun-temurun dapat mempengaruhi terjadinya KEP. pakaian dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan. sedangkan yang berasal dari kebiasaan turun-temurun masih dapat diatasi dengan pendidikan kesehatan yang baik. Adanya kepercayaan seperti ini bisa mengakibatkan kacaunya pola konsumsi keluarga. dan diantaranya adalah distribusi makanan di masyarakat yang mempunyai kebiasaan dan beranggapan bahwa seorang ayah mempunyai prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan utama dalam keluarga.5 Kepercayaan Ibu terhadap Makanan Tabel 5.

salah. 5. Bila dilihat dari sisi karakteristik responden.00% 0 0. 23 .00% 48. maka 16 orang anak atau 88% nya memiliki asupan protein yang kurang.00% 0 0.00% 8. Ibu yang kepercayaannya baik tetapi kondisi status sosial ekonominya kurang akan mengakibatkan ibu tidak mampu memenuhi keb utuhan pangan bagi anaknya. Dan dari tabel 5. Sehingga dari data ini dapat diketahui bahwa ada faktor lain yang lebih berkontribusi terhadap status gizi anak.8 dapat diketahui bahwa sebagian dari responden (56%) memiliki asupan protein yang kurang.00% 0. Namun dalam kenyataannya.00% 26 52.00% 0 0.00% 32 18 0 50 Dari tabel 5. dimana sebagian besar memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah yang mengakibatkan keluarga tidak mampu membeli bahan makanan yang baik dan adekuat untuk anak dan keluarganya.00% Total Buruk F % 0 0. Dari penelitian didapatkan data bahwa 80 % anak yang mengalami gizi kurang berasal dari keluarga yang kepala keluarganya bekerja sebagai petani dan buruh. Sedangkan bila dilihat dari total 18 orang anak yang memiliki status gizi kurang.00% Kalori Kurang F % 12 24. dimana 32% nya merupakan anak dengan status gizi kurang.6 Asupan Gizi Tabel 5.7 Asupan Kalori Status Gizi Baik Baik Kurang Buruk Total F 20 4 0 24 % 40.00% 14 28. maka 14 orang anak atau 77% nya memiliki asupan kalori yang kurang. Sedangkan bila dilihat dari total 18 orang anak yang memiliki status gizi kurang. dimana 28 % nya merupakan anak dengan status gizi kurang.00% 0 0. anak dari ibu dengan kepercayaan yang baik terhadap makanan memiliki status n utrisi yang kurang. sehingga zat makanan y ang seharusnya dibutuhkan bagi anak-anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya justru tidak diberikan sehingga akan mengganggu proses tumbuh kembang anak. pada hasil penelitian ini.7 dapat diketahui bahwa sebagian dari responden (52%) memiliki asupan nutrisi yang kurang. maka status gizi balita ini dipengaruhi juga oleh pekerjaan orangtua dalam hal ini adalah pekerjaan kepala keluarga.

selain tergantung dari faktor umur juga dari keadaan anak pada saat itu.00% 0. dalam hal ini berkaitan dengan angka kecukupan konsumsi.00% 52.00% 0 0. aktivitas jasmani.00% 12. Dengan demikian kekurangan asupan kalori akan mengakibatkan kerja tubuh tidak optimal dan aktivitas hidup akan terganggu. bahwa KEP terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan protein dengan kebutuhan energi.Tabel 5.00% 16 32. sebagian responden (52%) memiliki asupan kalori yang kurang dan sebagian lagi (48%) memiliki asupan kalori yang baik (48%). Secara garis besar penggunaan energi rata-rata pada anak 6-12 tahun adalah untuk metabolisme basal. 88% diantaranya memiliki asupan protein yang kurang.00% 0. pertumbuhan 12%.8 Asupan Protein Status Gizi F 20 2 0 22 Baik % 40. Menurut Notoatmodjo (1996).5° C menjadi 15. Dari seluruh responden yang berstatus gizi kurang. bahwa penyebab langsung KEP adalah berkurangnya kecukupan zat gizi dan penyakit infeksi pada balita. Selain itu menurut Depkes RI (1997). Sehingga kurangnya asupan kalori dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.5° C. Batasan untuk satu kal adalah jumlah yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg air dari 14. pembuangan sisa makanan (eliminasi). Kalori merupakan satuan panas dalam proses metabolisme dan dipakai untuk menyatakan besarnya energi yang terkandung dalam bahan makanan. Apalagi kalori pada anak sangat dibuhkan terutama untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. didapatkan data sebagian besar responden gizi kurang (77%) memiliki asupan kalori yang kurang. ternyata terdapat variasi yang luas mengenai keperluan dan pengeluaran energi pada anak. Secara umum kalori yang diberikan akan dimanfaatkan untuk: metabolisme basal. aktivitas jasmasi 25% dan eliminasi sebesar 8-10%. atau terjadi defisiensi atau deficit energi dan protein.00% Baik Kurang Buruk Total 32 18 0 50 Berdasarkan data penelitian didapatkan data bahwa dari keseluruhan responden. kalori dan protein.00% 0. Sedangkan untuk sub variabel asupan protein didapatkan data bahwa dari responden dengan status gizi kurang. SDA (Specific Dinamic Action).00% Total F 0 0 0 0 Buruk % 0.00% 0. Asupan nutrisi sangat berkaitan dengan asupan kalori dan asupan protein. 24 .00% 28 56.00% Protein Kurang F % 12 24.

Anak yang asupan proteinnya kurang akan mengalami gangguan terutama gangguan pertumbuhan dan perkembangan. penyakit infeksi. sedangkan faktor kepercayaan ibu terhadap makanan tidak memiliki kontribusi terhadap status gizi kurang. Selain itu untuk mengantisipasi masalah asupan nutrisi dan penyakit infeksi.Protein berfungsi untuk membangun sel-sel yang rusak. Selain itu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi. atau bagi kader kesehatan dan melakukan revitalisasi posyandu sehingga posyandu dapat menjadi sumber informasi kesehatan yang adekuat bagi masyarakat. membentuk zat zat pengatur seperti enzim dan hormone yang berguna dalam proses metabolisme. tenaga kesehatan dan masyarakat. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan keterlibatan perawat komunitas untuk melakukan asuhan keperawatan pada keluarga yang memiliki masalah kesehatan anak terutama anak dengan gizi kurang. sehingga masyarakat dapat kreatif untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Selain itu protein pada masa balita sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. pengetahuan ibu terhadap makanan. yakni asupan kalori dan protein. serta pe mberdayaan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya karena gizi kurang juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi krpnis pada balita dimana sebagian besar penyakit infeksi berasal dari kebersihan lingkungan yang tidak terjaga. 25 . kiranya perlu dilakukan upaya diseminasi informasi tentang gizi kepada masyrakat. khususnya faktor-faktor yang berkontribusi terhadap status gizi kurang. maka harus ada solusi dari permasalahan di atas. Namun perubahan yang kedua ini dapat hilang kembali (reversibel) dengan perbaikan diet. misalnya melalui pendidikan kesehatan bagi ibu-ibu. Melihat pembahasan tersebut diatas. Jika hal ini terjadi setelah masa divisi sel otak terhenti. sehingga dapat dilakukan pembinaan keluarga yang diharapkan dapat meingkatkan derajat kesehatan keluarga tersebut. perlu ditingkatkan upaya penyuluhan gizi yang berkaitan dengan alternatif-alternatif makanan khususnya bagi keluarga yang kurang mampu sehingga ada makanan pengganti yang harganya lebih murah. hambatan sintesis protein akan menghasilkan otak dengan jumlah sel yang normal tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dibutuhkan kerja sama antara pemerintah. Untuk solusi jangka panjang. karena masalah gizi kurang sebenarnya berakar pada masalah perekonomian. pemerintah perlu memikirkan tentang peningkatan kesejahteraan rakyat. misaslnya dengan cara meningkatkan jiwa enterpreunership masyarakat. Kurang terpenuhinya gizi pada anak akan menghambat sintesis protein DNA sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan sel otak yang selanjutnya akan menghambat perkembangan otak.

diare dan tuberkulosis. mislanya melalui revitalisasi posyandu dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan posyandu sebagai pusat kesehatan dan sumber informasi di masyarakat. VI. dan asupan kalori serta protein yang kurang. 6. diantaranya dengan pembinaan dan pemberdayaan keluarga yang memiliki resiko gizi kurang p ada anak. 26 . 2. 2.7 Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari dalam penelitian ini banyak sekali kekurangannya. cara pengolahan dan pemilihan bahan makanan yang baik pada anak 3. SIMPULAN DAN SARAN 6.2 Saran 1. tingkat pengetahuan ibu yang kurang. tetapi karena keterbatasan peneliti (waktu dan pelaksana penelitian) maka hal tersebut belum bisa dilakukan. Perlu dilakukan upaya promotif dan preventif untuk mengurangi angka penyakit infeksi. Sedangkan faktor yang kercayaan ibu terhada makanan (100%) memiliki p kepercayaan yang mendukung terhadap status gizi balita. Keterbatasan dalam penelitian ini diantaranya jumlah sampel yang kurang representatif.1 Simpulan 1. seharusnya sampel diambil ke tiap-tiap desa. seperti penyuluhan tentang penyakit infeksi pada balita. Semua pihak terutama keluarga diharapkan berpartisipasi untuk meningkatkan upaya pencegahan terjadinya gizi kurang pada anak. Jadi faktor kepercayaan ibu terhadap makanan tidak berkontribusi terhadap status gizi kurang pada balita. Pemberdayaan dan pembinaan keluarga ini dapat dilakukan oleh Puskesmas setempat dengan melibatkan perawat kesehatan komunitas. karena pengambilan sampel dengan melakukan accidental sampling di Puskesmas Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Dari hasil penelitian didapatkan faktor yang memiliki kontribusi terhadap gizi kurang pada anak adalah riwayat penyakit infeksi. terutama ISPA. Selain itu perlu dilakukan diseminasi informasi tentang gizi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga khususnya ibu tentang asupan nutrisi. tingkat sosial ekonomi keluarga yang rendah.5.

misalnya dengan menggunakan teknik observasi. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat diteliti lebih lanjut tentang faktorfaktor yang berkontribusi terhadap kejadian gizi kurang pada balita dengan responden yang lebih representatif dan menggunakan teknik pengumpulan data yang lebih valid.4. 27 .

Jakarta: Depkes RI FKUI.htm (Diakses tanggal 5 Agustus 2008). Jakarta: Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Balai Penerbit FKUI . S. Edisi ke-4. M. 2000. Biddulph dan Stace. Hurlock. 1999.H. Psycological Testing Principles. A. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak.kompascybermedia. M dan P. Gizi Buruk dan Sikap Reaktif K ita. Strategi Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.T. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. 2004. E. Third Edition. Robert. Jakarta. Jilid dua.2002. Available online at http://www. 2003. 1998.depkes. Edisi Revisi V.2003b. 2006. Kesehatan Anak untuk Perawat. Jakarta : P. Depkes RI. Edisi ketiga. Kura ng Asupan Gizi. Friedman. Angka Kematian Bayi dan Balita (online): http://suskernas. Ilmu Kesehatan Anak. Rineka Cipta. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.litbang. 1992. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Metodologi Penelitian Kesehatan. Petugas Penyuluhan Kesehatan dan Bidan Desa. 2005. 1994. Aplication and Issue. California : Brocks/Cole Publishing Company. Kompas Cyber Media. Azwar. M. Jakarta: Erlangga Kaplan. -----------------. Reliabilitas dan Validitas. Jakarta: Rineka Cipta. Dennis. S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Edisi ke-4. Kapita Selekta Kedokteran.com/articles/Fajar_Online Online_Gizi Buruk dan Sikap Reaktif Kita. Jakarta: EGC Haryanti. -----------------. Jakarta: Rineka Cipta Markum. Jakarta: Sagung Seto National Human Development Report. 1994.go. 2005.id.KEPUSTAKAAN Arikunto. Gizi Masyarakat. S. 1999. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. S. Keperawatan Keluarga Edisi 3. Sacuz zo. diakses tanggal 8 Januari 2008 Notoatmodjo. 1993. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Depkes RI. Pudjiadi. Daya Saing Tur n (online): u http://www.1997.google. 2002. 2003. Jak arta: Media Aeskulapius. Pedoman Penanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT pada Balita. Khumaidi. Psikologi Perkembangan. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.com diakses tanggal 8 Januari 2008 Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RS Sanglah.

Penilaian Status Gizi. 2007. Ribuan Balita di Kabupaten Tasikmalaya Kekurangan Gizi (online) http://www. BADAN LITBANGKES DEPKES RI.depkes. Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan di Puskesmas Umur 1-4 Tahun. 2003. 1990. Ilmu Kesehatan Anak. diakses tanggal 8 Januari 2008 Soetjiningsih. 2001. Prinsip Keperawatan Pediatri. 1997. Sekretariat SUSKERNAS. Sugiyono. Indikator Ekonomi Dasar Perhitungan Perekonomian di Indonesia. A. Jakarta: Percetakan Infomedika Sacharin. Yogyakarta: Kanisius . Dinkes Jawa Barat Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Widodo. Kajian Kematian Ibu.id diakses tanggal 8 Januari 2007 Profil Dinas Kesehatan Profinsi Jawa Barat.go. 2005. Jakarta: Pusat Pengembangan Tenaga Gizi Pusat. Bandung : Alfabeta. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Pelaksanaan Intervensi Gizi Masyarakat. dkk. Statistika untuk Penelitian. 1996.id. R.litbang. Tumbuh Kembang Anak. 2003.litbangkes.T. S.go. 1998. Jakarta: EGC Supariasa. Jakarta: EGC Suparman. dkk. Jakarta: Dian Rakyat. Jakarta : EGC Sediaoetama.P2M & PL & LITBANGKES. Kematian Anak dan Status Gizi di Indonesia (online) : http://suskernas. 1990. Edisi ke-5. Ilmu Gizi.M.

Staf perawat di ICU RSHS Bandung .. Raya Bandung – Sumedang KM 21 Jatinangor Telepon/Fax (022) 7795596 4.Pengawas Ruangan Anak RSHS Bandung 1994. Kolonel Bajuri No. Rumah : Jl. S.Kp. Jabatan Struktural : Kepala Bagian Keperawatan Anak FIK UNPAD 1.Kes 2. Riwayat Pendidikan : Lulus S1 Keperawatan Tahun 1989 Lulus S2 Magister Kesehatan Tahun 1999 5. Nama lengkap dan gelar : Sari Fatimah. NIP : Ikeu Nurhidayah.Lampiran – Lampiran CURRICULUM VITAE KETUA PENELITI 1. 15 Januari 2008 Ketua Peneliti Sari Fatimah. NIP : 140 070 429 3.Kep. Ners : 132317012 . 6. Hp.022-6668033.sekarang: Staf pengajar pada bagian ilmu keperawatan anak FIK UNPAD Tingkat Perkembangan Balita Usia1 Bulan 6 Tahun di Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut (2007).Kes 140 070 429 CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI 1. S. Unit Kerja : Bagian Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD 2. 08122183455 3. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala 5. Alamat Kantor : Gd L3 FIK UNPAD Jl.Kp.Clinical Instructor di Ruang ICU RSHS Bandung . Telp. Riwayat Pekerjaan 1974-1994: . S. Nama lengkap dan gelar 2. Pangkat/Golongan : Lektor Kepala/IIId 4. 144 Cihideung Lembang Bandung. Alamat dan Telp... Riwayat Penelitian Bandung. M. M.

S. Alamat Kantor 9.Hubungan Antara Karakteristik Lingkungan Rumah dengan Kejadian TB Pada Anak di Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang (2004) . 10. Ners NIP. Riwayat Pekerjaan 11. Panata No. Riwayat Penelitian Bandung. Unit Kerja 7. S. 132 317 012 CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI 1. Unit Kerja : Windy Rakhmawati.3. Jabatan Fungsional 5. Pangkat/Golongan 2.Kep : 132 257 917 : Penata Tk. Nama lengkap dan gelar 2. Rumah 8. 182 A Sukajadi Bandung. Telp.Kep.sekarang: staf pengajar pada bagian ilmu keperawatan anak FIK UNPAD . Jabatan Struktural 4.6 Tahun di Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut (2007). Sukajadi Gg. III/b : Asisten Ahli :: Bagian Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD . NIP 1. Jabatan Fungsional 3. Jabatan Struktural 6.Gambaran Tingkat Perkembangan Balita Usia 1 Bulan . Alamat dan Telp. Pangkat/Golongan 4.. M. I.Kp. Raya Bandung – Sumedang KM 21 Jatinangor Telepon/Fax (022) 7795596 : Lulus S1 Keperawatan Tahun 2004 Lulus Pendidikan Profesi Ners tahun 2006 2006. Riwayat Pendidikan : Penata Muda/ III A : Asisten Ahli :: Bagian Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD : Jl. 15 Januari 2008 Anggota Peneliti Ikeu Nurhidayah. 08121469051 : Gd L3 FIK UNPAD Jl.

Kp.Cilengkrang I. 132 257 917 .Kep NIP. S. M. Riwayat Pendidikan 8.5. Riwayat Pekerjaan 9. 16 Bandung : Gd L3 FIK UNPAD Jl. Alamat dan Telp. Rumah 6. Kompleks Tirta Wening No. 15 Januari 2008 Anggota Peneliti Windy Rakhmawati. Raya Bandung – Sumedang KM 21 Jatinangor : (022) 7795596 : 1994-1999: S1 Keperawatan PSIK FK UNPAD 2004-2006: S2 Magister Keperawatan FIK UI : 2000-Sekarang : Staf pengajar bagian ilmu keperawatan anak FIK UNPAD : Tingkat kecemasan pada anak usia remaja dengan thalasemia mayor dalam menghadapi penyakit terminal Bandung. Riwayat Penelitian : Jl. Alamat Kantor Telepon/Fax 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->