KEBERADAAN PASAR TRADISIONAL WAGE WADASLINTANG SEBAGAI PUSAT KEGIATAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT WADASLINTANG, KABUPATEN

WONOSOBO TAHUN 1998-2005

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Ifah Chasanah NIM 3101403038

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia Ujian Skripsi pada : Hari : Jum’at

Tanggal : 13 Juli 2007

Menyetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Ufi Saraswati, M. Hum NIP. 131 876 209

Dra. Rr. Sri Wahyu S, M. Hum NIP. 132 010 313

ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada : Hari :

Tanggal :

Penguji Skripsi

Drs. Im Jimmy De Rossal, M.Pd NIP. 131 475 607 Anggota I

Anggota II

Dra. Ufi Saraswati, M. Hum NIP. 131 876 209

Dra. Rr. Sri Wahyu S, M. Hum NIP. 132 010 313

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. H. Sunardi, M. M NIP. 130 367 998

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Juli 2007

Ifah Chasanah NIM. 3101403038

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Hidup yang berlebih-lebihan adalah sebuah ketenangan yang terrenggut. Kebutuhan yang melampaui batas adalah beban yang memberatkan. Menahan diri dalam kecukupan lebih baik dari pada berlebih-lebihan” (Dr.’Aidh Al Qarni) “Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit tapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit akibatnya” (Ali bin Abi Thalib) “Jangan menganggap kritik sebagai permusuhan, ambillah hikmahnya karena kita lebih membutuhkan perbaikan daripada pujian” (penulis)

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT, skripsi ini saya persembahkan untuk : 1. Bapak dan ibu tercinta yang tak hentihentinya memberikan doa, dukungan dan kasih sayangnya. 2. Adik-adikku tercinta atas kasih sayang dan doanya. 3. Rudy Rustandy, atas perhatian dan

dukungannya. 4. Alm. Hj. Isroni dan Keluarga Besar atas dukungan, kasih sayang dan bantuannya. 5. Galuh, Zam, Yudhi, Ayu dan teman-teman di Prodi Pendidikan Sejarah’03. 6. Almamater Universitas Negeri Semarang.

v

PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini yang merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosial di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Keberhasilan penulis dalam menyusun skripsi ini atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Studi Strata 1 pada Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. H. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Drs. Jayusman, M.Hum, Ketua jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial yang telah memberikan kesempatan Penulis untuk menyelesaikan skripsi. 4. Dra. Ufi Saraswati, M.Hum, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan ide, pengarahan, bimbingan, dan saran pada penulis. 5. Dra. Rr. Sri Wahyu Sarjanawati, M.Hum, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan petunjuk, bimbingan, dan saran pada penulis. 6. Drs. Im Jimmy De Rossal, M.Pd, Dosen Penguji yang telah memberikan petunjuk dan saran pada penulis.

vi

7.

Bapak/ Ibu Dosen di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial yang telah memberikan ilmu dan bimbingan pada Penulis sehingga dapat menyelesaikan studi.

8.

Ahmad Muhadjir, B.A, Kepala Kelurahan Wadaslintang yang telah memberikan ijin melakukan penelitian kepada penulis di Pasar Wadaslintang Kelurahan Wadaslintang.

9.

Sumardi, S.E, Kepala UPT. Pasar Kaliwiro/ Wadaslintang yang telah memberikan ijin penelitian di Pasar Wadaslintang serta membantu dalam memberikan informasi.

10.

Bapak, Ibu, dan adik-adikku tercinta yang telah memberikan doa, kasih sayang dan dukungan pada penulis.

11. 12.

Rudy Rustandy, makasih untuk bantuan, dukungan, dan perhatian. Ari dan Wayenk, makasih atas bantuannya. Galuh, Zaman dan Chupu buat persahabatan yang terlalu indah. Teman-teman Kost (anik, mbak awang, ani) thank udah nemenin aku tiap malam.

13.

Para informan dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak

kekurangannya maka saran dan kritik senantiasa penulis harapkan dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan peneliti selanjutnya. Semarang, Juli 2007

Penulis

vii

SARI Ifah Chasanah. 2007. Keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo Tahun 1998-2005. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. 135 halaman Kata Kunci : Pasar, Ekonomi, Sosial Budaya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang merupakan pasar yang masih menerapkan sistem klasifikasi pancawara yang dikaitkan dengan konsep panatur desa. Pasar ini berada di daerah yang jauh dari kota kabupaten namun keberadaannya masih tetap bertahan ditengah-tengah masyarakat. Pasar Wadaslintang mempunyai status Pasar Daerah yang berbeda dengan pasar-pasar desa lainnya di Kecamatan Wadaslintang yang masih berstatus pasar desa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah:(1)Bagaimana sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang di Kelurahan Wadaslintang?,(2) Bagaimana kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005?,(3)Bagaimana pengaruh keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005?. Penelitian ini bertujuan:(1)Untuk mengetahui sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang,(2)Untuk mengetahui kondisi ekonomi, sosial dan budaya Masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005,(3)Untuk mengetahui pengaruh keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005. Metode yang dipakai untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang meliputi empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa tujuan pembangunan pasar ini untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat yang sangat sulit pada waktu itu yaitu pada pemerintahan Glondong Sastro Sukarno. Keberadaan Pasar Wage Wadaslintang di Kelurahan Wadaslintang telah membawa perubahan terhadap kehidupan ekonomi dan sosial budaya masyarakat sekitarnya. Pasar tidak hanya berperan sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi pasar juga sebagai tempat bertemunya budaya yang dibawa oleh setiap mereka yang memanfaatkan pasar. Pasar juga berperan di bidang sosial budaya yaitu sebagai tempat interaksi, komunikasi dan informasi serta tempat keramaian dan hiburan sehingga terjadi pembauran dan pembaharuan. Pengaruh keberadaan Pasar Wage Wadaslintang terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya cukup luas. Pembaharuan yang berkaitan dengan ekonomi sangat tampak. Wadaslintang sebagai penghasil kelapa membawa pengaruh bagi petani untuk memproduksi gula Jawa sehingga meningkatkan pendapatan. Pasar telah mengubah masyarakat menjadi konsumtif dan suka meniru. Nilai-nilai kegotong royongan yang dilandasi hubungan timbal balik telah mengalami perubahan dan hubungan ketetanggaan lebih bersifat hubungan kerja semata. Motif-motif sosial telah menghilang dan digantikan dengan motif ekonomi. viii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING....................................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................................ iii PERNYATAAN.................................................................................................. iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................ v PRAKATA ......................................................................................................... vi SARI ................................................................................................................... viii DAFTAR ISI....................................................................................................... ix DAFTAR TABEL .............................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 8 C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 9 E. Ruang Lingkup Penelitian.............................................................. 9 F. Tinjauan Pustaka ............................................................................ 11 G. Metode Penelitian .......................................................................... 18 H. Sistematika Penulisan ................................................................... 27 BAB II SEJARAH PASAR TRADISIONAL WAGE WADASLINTANG ix

A. Pengertian Pasar ............................................................................ 29 1. Latar Belakang Pasar................................................................ 29 2. Jenis Pasar ................................................................................ 31 B. Komponen Pasar ........................................................................... 33 1. Rotasi Pasar.............................................................................. 33 2. Jenis Pedagang ......................................................................... 45 3. Arus Barang dan Jasa .............................................................. 48 a. Barang Produksi Dalam Pasar............................................ 49 b. Penjual Jasa ........................................................................ 49 c. Mekanisme Pengatur Arus Barang dan Jasa ...................... 50 C. Sejarah Pembangunan dan Perkembangan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang ....................................................................... 53 1. Sejarah Berdirinya Pasar Wadaslintang ................................... 53 2. Perkembangan Pasar Wadaslintang Tahun 1998-2005............ 60

BAB III KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT WADASLINTANG TAHUN 1998-2005 A. Kondisi Geografis Kelurahan Wadaslintang ................................. 66 B. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang . 69 1. Kehidupan Ekonomi.................................................... ............ 69 a. Sistem Produksi.................................................................. 72 1) Bidang Pertanian .......................................................... 74 2) Bidang Peternakan ....................................................... 77 3) Bidang Perikanan ........................................................ 77 4) Bidang Industri ............................................................ 78 x

b. Sistem Distribusi ................................................................ 78 c. Sistem Konsumsi ............................................................... 81 2. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Wadaslintang...............84 a. Interaksi Sosial ................................................................... 87 b. Informasi dan Komunikasi................................................. 93 c. Hiburan .............................................................................. 96 BAB IV PENGARUH PASAR TRADISIONAL WAGE WADASLINTANG BAGI MASYARAKAT WADASLINTANG A. Pengaruh Pasar Terhadap Kehidupan Ekonomi............................. 99 1. Produksi ................................................................................... 99 2. Konsumsi ................................................................................. 102 3. Distribusi .................................................................................. 103 B. Pengaruh Pasar Terhadap Kehidupan Sosial Budaya ................... 104 1. Pengaruh di Bidang Sosial ....................................................... 104 2. Pengaruh di Bidang Kebudayaan ............................................ 107 BAB V SIMPULAN ........................................................................................... 115 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 118 LAMPIRAN........................................................................................................ 121

xi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia itu ada. Salah satu kegiatan manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut adalah memerlukan adanya pasar sebagai sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini didasari atau didorong oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber pada problem untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok). Manusia sebagai makhluk sosial dalam perkembangannya juga menghadapi kebutuhan sosial untuk mencapai kepuasan atas kekuasaan, kekayaan dan martabat. Pasar adalah tempat dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli (Chourmain, 1994 : 231). Pasar merupakan pusat dan ciri pokok dari jalinan tukar-menukar yang menyatukan seluruh kehidupan ekonomi (Belshaw, 1981 :98). Pasar di dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang yang masuk ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar main saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi tentang sesuatu (Majid, 1988: 308).

1

2

Pembahasan mengenai pasar tidak bisa dipisahkan dari pola yang terjadi di Jawa pada umumnya. Kelompok-kelompok orang Jawa yang dominan berdagang di pasar adalah pedagang ikan kering (ikan asin) dari Semarang, pengrajin perhiasan emas dari Kota Gede, pedagang batik dari Solo dan pedagang tembakau dari Magelang dan Madura (Hefner, 2000 : 285). Pasar secara harfiah berarti tempat berkumpul antara penjual dan pembeli untuk tukar menukar barang, atau jual beli barang. Pasar dalam konsep urban Jawa adalah kejadian yang berulang secara ritmik dimana transaksi sendiri bukan merupakan hal yang utama, melainkan interaksi sosial dan ekonomi yang dianggap lebih utama (Saraswati, 2000 : 141). Pada masyarakat Jawa dikenal konsep panatur desa. Konsep panatur desa ini dikaitkan dengan sistem klasifikasi hari-hari pasar yang lima atau pancawara1, yaitu Manis/Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Satu rotasi yang lamanya lima hari pada masyarakat Jawa sekarang disebut sepasar (Nastiti, 2003 : 54-55). Pasar desa hanya terselenggara pada hari tertentu menurut konsep panatur desa yang kemudian dikenal dengan konsep macapat, yaitu satu desa dikelilingi oleh empat desa yang terletak di arah empat penjuru mata angin. Ikatan macapat desa-desa di Jawa menjadi struktur, desa penyelenggara akan menjadi puser (pusat) terhadap empat desa lainnya (Saraswati, 2000: 141). Menurut Nastiti (2003:54) konsep macapat merupakan tanda rasa kerukunan sebuah desa dengan keempat desa tetangga yang letaknya kira-kira di arah keempat mata
Pancawara adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yamg terdiri dari lima hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Pancawara juga disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa. Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali terdapat 2 macam siklus waktu yaitu mingguan dan pasaran.
1

3

angin. Rasa kerukunan antar desa-desa kemudian meluas lebih jauh letaknya. Konsep macapat tidak hanya sekedar tanda kerukunan saja, akan tetapi berhubungan juga dengan masalah-masalah yang terdapat di daerah pemukiman yang bersifat agraris. Misalnya masalah-masalah yang berhubungan dengan pengairan sawah, keamanan dan sebagainya yang perlu diatasi dengan membentuk semacam kumpulan diantara desa-desa yang bertetangga. Jadi pasar tradisional atau dikenal dengan nama pasar desa di Jawa hanya terselenggara sehari secara bergiliran begitu pula dengan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang yang terselenggara pada hari pasaran Wage dan dikelilingi desa-desa lainnya di kecamatan Wadaslintang. Pasar merupakan pranata penting dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pasar sudah dikenal sejak masa Jawa Kuno yaitu sebagai tempat berlangsungnya transaksi jual beli atau tukar menukar barang yang telah teratur dan terorganisasi. Hal ini berarti pada masa Jawa Kuno telah ada pasar sebagai suatu sistem (Nastiti, 2003:13). Pasar sebagai sistem maksudnya adalah pasar yang mempunyai suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung fungsi secara keseluruhan, atau dapat pula diartikan pasar yang telah memperlihatkan aspek-aspek perdagangan yang erat kaitannya dengan kegiatan jual-beli, misalnya adanya lokasi atau tempat, adanya ketentuan pajak bagi para pedagang, adanya pelbagai macam jenis komoditi yang diperdagangkan, adanya proses produksi, distribusi, transaksi dan adanya suatu jaringan transportasi serta adanya alat tukar.

4

Menurut Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi dikatakan bahwa (2003 : 60) : “Timbulnya pasar tidak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Kelebihan produksi setelah kebutuhan sendiri terpenuhi memerlukan tempat pengaliran untuk dijual. Selain itu pemenuhan kebutuhan akan barang-barang, memerlukan tempat yang praktis untuk mendapatkan barang-barang baik dengan menukar atau membeli. Adanya kebutuhan-kebutuhan inilah yang mendorong munculnya tempat berdagang yang disebut pasar”. Alasan inilah yang melatar belakangi manusia membutuhkan “pasar” sebagai tempat untuk memperoleh barang atau jasa yang diperlukan tetapi tidak mungkin dihasilkan sendiri. Keberadaan pasar dapat dianggap sebagai pusat perekonomian. Pengertian tradisional menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah bersifat turun temurun. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pasar tradisional berkaitan dengan suatu tradisi2. Kata tradisi dalam percakapan sehari-hari sering dikaitkan dengan pengertian kuno atau sesuatu yang bersifat luhur sebagai warisan nenek moyang. Tradisi pada intinya menunjukkan bahwa hidupnya suatu masyarakat senantiasa didukung oleh tradisi, namun tradisi itu bukanlah statis. Arti paling dasar dari kata tradisi yang berasal dari kata tradium adalah sesuatu yang diberikan atau diteruskan dari masa lalu ke masa kini (Sedyawati, 1992 : 181). Berbicara mengenai tradisi pada dasarnya tidak lepas dari pengertian kebudayaan, karena tradisi sebenarnya merupakan bagian isi kebudayaan. Karakter suatu kebudayaan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan alam.
2

Tradisi adalah segala sesuatu (seperti adat, kepercayaan, kebiasaan, ajaran,dsb) yang turun temurun dari nenek moyang dan masih dijalankan di masyarakat (Poerwadarminta. 2002 :959)

5

Hal ini dapat dimengerti mengingat kebudayan pada dasarnya merupakan hasil budi manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan guna

mempertahankan hidupnya dari tantangan alam (Subroto, 1985 : 7). Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari kebudayaannya, dimana kebudayaan yang dipunyai oleh manusia merupakan jembatan antara hubungan kegiatan manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan merupakan alat kontrol bagi kelakuan dan tindakan manusia. Pengertian kebudayaan yang lebih detail menurut Parsudi Suparlan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan

lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong serta menciptakan tindakan yang diperlukan (Widiyanto,1997 : 47). Menurut Koentjaraningrat (2002: 5) kebudayaan mempunyai tiga wujud: pertama, kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan yang ketiga adalah sebagai benda-benda hasil karya manusia. Jadi dengan adanya pasar maka akan terjadi perubahan nilai, gagasan, norma, kepercayaan dan aktivitas berpola dari manusia dalam masyarakat. Pasar memiliki multi peran, yaitu tidak hanya berperan sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi pasar juga memiliki fungsi sebagai tempat bertemunya budaya yang dibawa oleh setiap mereka yang

6

memanfaatkan pasar. Interaksi tersebut tanpa mereka sadari telah terjadi pengaruh mempengaruhi budaya masing-masing individu (Depdikbud, 1993 :4). Pasar tradisional memegang peranan yang amat penting pada masa ini, terutama pada masyarakat pedesaan. Pasar, pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung di dalam suatu masyarakat. Melalui pasar ditawarkan alternatif-alternatif kebudayaan yang berlainan dari kebudayaan setempat (Sugiarto, 1986 : 2). Pasar desa di Jawa atau peken 3(Bahasa Jawa halus/ bahasa Jawa krama), biasanya letaknya tidak jauh. Jarak dari rumah seorang petani ke pasar, yang letaknya biasanya di tepi jalan besar, hanya kira-kira tiga sampai lima kilometer saja (Koentjaraningrat, 1984 : 186-187). Pasar desa biasanya tumbuh di persimpangan jalan atau di tempat-tempat yang strategis di dalam desa dan seringkali juga mengambil nama dari tempat atau daerah di mana pasar tersebut berada, misalnya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang yang nota bene berada di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Pasar tradisional selain sebagai sarana jual-beli juga merupakan tempat bertemunya warga masyarakat dari berbagai kalangan. Pasar tradisional juga mempunyai peranan dalam kegiatan sosial. Perannya sebagai tempat melakukan aktivitas sosial, pasar tradisional terlihat sebagai tempat interaksi, komunikasi dan informasi serta tempat keramain dan
3

Menurut Wiryomartono peken adalah kata lain dari pasar, yang kata kerjanya mapeken, artinya berkumpul. Berkumpul dalam arti saling bertemu muka dan berjual beli pada hari pasaran (Saraswati, 2000 : 140. Dalam Paramita. No. 2)

7

hiburan. Pasar dengan kata lain juga mempunyai peranan dalam kegiatan sosial selain berperan sebagai tempat berniaga. Pasar selain mempunyai peranan dalam aktivitas ekonomi ternyata juga mempunyai peranan dalam aktivitas sosial. Pernyataan ini dipertegas dalam buku Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat disebutkan bahwa (Depdikbud,1990 :2) : “Pasar pada prinsipnya adalah tempat dimana para penjual dan pembeli bertemu. Tetapi apabila pasar telah terselenggara dalam arti para pembeli dan penjual sudah bertemu serta barang-barang kebutuhan sudah disebarluaskan, maka pasar memperlihatkan peranannya bukan hanya sebagai pusat kegiatan ekonomi tetapi juga sebagai pusat kebudayaan” Pasar Tradisional Wage Wadaslintang adalah salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo walaupun berada didaerah yang terpencil namun keberadaannya masih tetap bertahan ditengah-tengah masyarakat yang terus berkembang. Pasar merupakan salah satu penyebab adanya pergeseran nilainilai tradisional yang semula masih dipertahankan. Kehadiran pasar setidaktidaknya telah merubah pola ekonomi tradisional kepada ekonomi komersial. Salah satu ciri untuk dapat melihat setiap usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah berorientasi kepada untung dan rugi atau diukur dengan uang (Depdikbud, 1993 :201). Dari uraian di atas, peneliti terdorong untuk mengkaji Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Oleh karena itu peneliti mengambil judul “Keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi, Sosial

8

dan Budaya Masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo Tahun 19982005”

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang di Kelurahan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo ? 2. Bagaimana kondisi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo tahun 1998-2005? 3. Bagaimana pengaruh keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo tahun 1998-2005?

C. Tujuan Penelitian Sebuah penelitian akan efektif apabila sebelum penelitian berlangsung, penelitian harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut merupakan penunjuk arah penelitian agar tidak membias pada bidang lain. Sehubungan dengan ini maka tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang di Kelurahan Wonosobo. Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten

9

2.

Untuk mengetahui kondisi ekonomi, sosial dan budaya Masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005.

3.

Untuk mengetahui pengaruh keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005.

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Memberi wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat umum tentang sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. 2. Memperkaya khasanah sejarah lokal dalam upaya melengkapi sejarah nasional 3. Dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti–peneliti lainnya yang meneliti tentang latar belakang sejarah terbentuknya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang dan perananya dalam bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang.

E. Ruang Lingkup Penelitian Agar penelitian ini terfokus perlu adanya batasan ruang lingkup yaitu ruang lingkup wilayah (scope spacial) dan ruang lingkup waktu (scope temporal). Ruang lingkup wilayah membahas suatu daerah atau wilayah dimana peristiwa itu terjadi. Lingkup wilayah dalam penelitian ini yaitu di Pasar

10

Tradisional Wage Wadaslintang yang terletak di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Pemilihan wilayah penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat kelurahan Wadaslintang merupakan subjek yang langsung merasakan dampaknya bagi perkembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya sejak adanya Pasar Wage tersebut. Selain itu didasarkan pula pada pertimbangan bahwa Pasar Tradisional Wage Wadaslintang tersebut letaknya relatif jauh dari kota Kabupaten sehingga peranannya terhadap masyarakat sekitar sangat besar. Lingkup temporal adalah pada tahun 1998-2005. Pemilihan tahun 1998 didasarkan karena adanya Otonomi Daerah, sehingga status desa Wadaslintang yang semula berstatus desa berubah menjadi Kelurahan Wadaslintang. Kepala pemerintahan terdahulu dipegang oleh seorang Kepala Desa yang dipilih secara langsung oleh rakyat Wadaslintang kemudian beralih status kepada kepala kelurahan (lurah), yang ditunjuk oleh pemerintah daerah Kabupaten. Pemilihan tahun 2005 didasarkan pada alasan bahwa pada tahun 2005 atau tepatnya pada tanggal 3 Maret 2005, status Pasar Tradisional Wage Wadaslintang telah berubah status secara resmi dari pasar Kelurahan menjadi Pasar Daerah yang berada di bawah pengelolaan Dinas Pasar Kabupaten Wonosobo. Selain itu pada tahun tersebut, keberadaan pasar telah menyebabkan adanya pergeseran nilai-nilai tradisional yang semula masih dipertahankan. Kehadiran pasar setidak-tidaknya telah mengubah pola ekonomi tradisional kepada ekonomi komersial. Hal inilah yang sekarang terjadi di Kelurahan

11

Wadaslintang, usaha yang dilakukan masyarakat telah berorientasi kepada untung dan rugi atau diukur dengan uang.

F. Tinjauan Pustaka Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan, Mentalitas dan

Pembangunan (2002) membahas mengenai kebudayaan. Kehidupan manusia tidak lepas dari kebudayaan karena kebudayaan yang dimiliki manusia merupakan penghubung antara manusia dengan lingkungannya. Banyak orang mengartikan kebudayaan dalam arti yang terbatas, yaitu pikiran, karya, dan hasil karya manusia akan keindahan. Padahal banyak para ahli yang mengartikan kebudayaan itu dalam arti yang sangat luas. Konsep kebudayaan dalam arti yang sangat luas yaitu seluruh total dari dari pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Konsep kebudayaan akhirnya dipecah lagi ke dalam unsur-unsurnya guna keperluan analisa konsep kebudayaan. Unsur-unsur terbesar yang terjadi karena pecahan tahap pertama disebut unsur-unsur kebudayaan yang universal yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Unsur-unsur universal iu yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan di dunia ini, yaitu: (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi masyarakat, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pencaharian hidup, dan (7) sistem teknologi dan peralatan.

12

Ketujuh unsur tersebut masing-masing dapat dipecah lagi ke dalam sub unsur-unsurnya. Ketujuh unsur kebudayaan universal tadi memang mencakup seluruh kebudayaan makhluk manusia di dunia dan menunjukkan ruang lingkup dari kebudayaan serta isi dari konsepnya. Pasar tradisional berkaitan erat dengan unsur kebudayaan yaitu sistem dan organisasi kemasyarakatan serta berkaitan dengan sistem mata pencaharian hidup. Adanya pasar maka terjadi pertemuan atau tatap muka antara penjual atau pembeli. Pasar memiliki multi peran, selain terjadinya pertemuan antara produsen dan konsumen pasar juga memiliki fungsi sebagai tempat bertemunya berbagai budaya yang dibawa oleh setiap masyarakat yang memanfaatkan pasar. Berbagai individu dari berbagai kelas sosial dan budaya berinteraksi di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang ini. Interaksi tersebut tanpa mereka sadari telah terjadi pengaruh-mempengaruhi budaya masing-masing individu. Mereka saling memberi dan menerima budaya yang dibawa. Bertemunya warga masyarakat Wadaslintang di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang mempunyai maksud yang berbeda-beda. Ada yang bermaksud berjualan, berbelanja, berdagang sekaligus berbelanja, atau hanya sekedar melihat-lihat untuk mencari hiburan. Buku Sistem Ekonomi Tradisional Jawa Tengah (1986) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membahas mengenai pola kehidupan ekonomi penduduk Jawa Tengah yang paling dominan yaitu pada sektor pertanian. Penduduk Jawa Tengah di samping bermata pencaharian di bidang pertanian juga mempunyai usaha sambilan, seperti misalnya pedagang,

13

pengrajin dan lain-lain. Adanya pedagang dan pengrajin ini tentunya mereka membutuhkan tempat penyaluran untuk penjualan barang-barang dagangan mereka, dan pasarlah tempat yang tepat untuk menyalurkan barang-barang dagangan mereka. Pasar dilihat dari segi pengertian ekonomi ialah suatu tempat menetap yang penduduknya terutama hidup dari perdagangan daripada pertanian. Pengertian yang lebih luas dikemukakan oleh Geertz dalam buku Penjaja dan Raja (1977) bahwa “pasar sebagai suatu pranata ekonomi sekaligus cara hidup, suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi yang mencapai segala aspek”. Geertz membahas mengenai pasar sebagai tempat jalinan hubungan penjual dan pembeli dalam melaksanakan transaksi tukar-menukar, baik pada suatu tempat maupun dalam suatu keadaan yang lain. Pasar dapat dilihat dari tiga sudut pandangan : pertama, sebagai arus barang dan jasa menurut pola tertentu; kedua sebagai rangkaian mekanisme ekonomi untuk memelihara dan mengatur arus barang dan jasa tersebut; dan ketiga sebagai sistem sosial dan kebudayaan dimana mekanisme itu tertanam. Ciri khas pasar yang paling menonjol dari arus barang dan jasa adalah jenis barang yang diperjualbelikan, yaitu bahan pangan, sandang dan lain-lain serta dapat juga berupa kegiatan pengolahan dan pembuatan barang-barang produksi sedangkan dalam mekanisme ekonomi pasar cenderung untuk lebih menekankan persaingan antar penjual dan pembeli sehingga terjadi tawar-menawar. Proses dari perdaganganpun akhirnya berlangsung.

14

Pasar sebagai sistem sosial kebudayaan, bermakna bahwa pasar tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat yang berbeda struktur dan budayanya. Pedagang yang ada di pasar terdiri dari berbagai etnis yang memiliki sifat dan adat yang berbeda sehingga bisa terjadi perilaku dalam jual beli mempunyai cara yang berbeda pula, seperti halnya yang terjadi di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Pedagang yang berjualan di Pasar Tradisional Wage

Wadaslintang tidak hanya berasal dari Kelurahan Wadaslintang maupun Kecamatan Wadaslintang akan tetapi mereka juga berasal dari daerah-daerah di luar Wadaslintang seperti Kaliwiro, Wonosobo, Temanggung, Semarang, Prembun Kebumen dan Banjarnegara. Adanya pedagang yang berasal dari luar daerah Wadaslintang maka memunculkan cara berdagang yang berbeda, adat yang berbeda dan etnis yang berbeda pula. Hal ini tidak dapat dipungkiri, akan tetapi sebagian besar dari para pelaku pasar di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang adalah masyarakat Jawa. Nastiti dalam bukunya yang berjudul Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi (2003) antara lain membahas tentang Peranan Pasar dalam kegiatan Ekonomi dan peranan Pasar dalam kegiatan Sosial Budaya. Buku tersebut menjelaskan bahwa pasar merupakan suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi secara keseluruhan. Adapun komponen-komponen pasar antara lain adalah lokasi, bentuk fisik, komoditi, produksi, distribusi, transportasi, transaksi serta rotasi.

15

Komponen-komponen pasar tersebut mempunyai keterkaitan fungsi masing-masing yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, umpamanya faktor produksi sangat tergantung pada faktor distribusi dan untuk lancarnya suatu distribusi sangat diperlukan sarana transportasi yang baik, sehingga hasil produksi dapat mencapai pasar. Jalur transportasi tidak dapat dilepaskan dari lokasi pasar karena suatu pasar dianggap baik jika lokasinya mudah dicapai. Lokasi yang mudah dijangkau sangat mempengaruhi banyaknya orang yang datang kepasar yang dapat mengakibatkan naiknya jumlah transaksi. Meningkatnya transaksi dapat menyebabkan jumlah produksi naik. Satu hal yang penting kaitannya dengan sistem pasar ialah rotasi pasar yang merupakan kerjasama antar beberapa desa yang tentunya melibatkan warga masyarakat dari desa-desa bersangkutan. Pasar selain mempunyai peran dalam bidang ekonomi, pasar juga berperan dalam kegiatan sosial. Peranannya sebagai tempat melakukan aktivitas sosial, pasar terlihat pula sebagai tempat interaksi, komunikasi dan informasi serta tempat keramaian dan hiburan. Interaksi yang terjadi di antara warga masyarakat di dalamnya terdapat kontrak diadik yang sifatnya informal dan tidak dilandasi hukum. Kontrak diadik yang terjadi dapat bersifat simetris dan asimetris. Kontrak diadik tersebut hampir terjadi di seluruh lapisan masyarakat termasuk masyarakat Wadaslintang yaitu adanya interaksi antara warga masyarakat Wadaslintang maupun warga selain Wadaslintang yang berasal dari berbagai kalangan, baik antara orang-orang yang berasal dari desa sama maupun interaksi

16

yang terjadi antara orang-orang dari desa yang berlainan yang datang di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Pasar memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia pada umumnya dan masyarakat pedesaan pada umumnya dan hal ini tidak dapat dipungkiri. Buku Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat (1990), membahas mengenai pasar bagi masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Pasar berarti mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung didalam suatu masyarakat. Buku ini juga membahas mengenai Peranan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial budaya. Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi mengenal sistem produksi, sistem distribusi dan sistem konsumsi. Pasar sebagai kegiatan sosial dijelaskan bahwa peranan pasar yaitu sebagai tempat interaksi masyarakat di pasar, pasar sebagai arena pembauran, pasar sebagai pusat informasi serta pasar sebagai pusat pembaharuan. Pasar di dalamnya menawarkan alternatif-alternatif kebudayaan yang berlainan dari kebudayaan masyarakat setempat, sedangkan kebudayaan itu adalah seperangkat nilai-nilai dan keyakinan, pilihan hidup dan alat komunikasi. Pasar sebagai pintu gerbang diperkirakan akan terjadi perubahan nilai, gagasan, dan keyakinan. Pasar dapat pula diartikan sebagai sentral dari masyarakat pedesaan yang berada disekitarnya. Pasar di dalamnya bukan saja akan terjadi saling interaksi sesama warga masyarakat pedesaan, tetapi akan terjadi pula tukar-menukar

17

benda hasil produksi bahkan informasi-informasi tentang berbagai pengalaman diantara sesama warga masyarakat. Pasar sebagai sentral dengan segala perangkat yang ada di dalamnya dapat pula menjadi panutan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya peranan ekonomi, tetapi peranan kebudayaan terhadap masyarakat disekitarnya cukup besar. Peranan-peranan tersebut dengan demikian akan menimbulkan perubahan-perubahan baik dalam bidang ekonomi maupun sosial budaya. Soerjono Soekanto (1990) dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar membahas tentang pendekatan sosial dan kebudayaan. Buku tersebut menjelaskan tentang bentuk-bentuk perkembangan sosial dan kebudayaan, fakta-fakta yang menyebabkan perkembangan sosial dan kebudayaan serta faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya proses perkembangan dan perubahan masyarakat. Kajian dalam buku ini penting dalam kaitannya untuk memahami perkembangan kehidupan masyarakat Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo sebagai pengaruh di fungsikannya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai sarana jual-beli, baik ditinjau dari segi sejarah, ekonomi maupun sosial dan budayanya. Kuntowijoyo dalam bukunya berjudul Budaya dan Masyarakat (2006) membahas mengenai gejala pertumbuhan ekonomi dan masyarakat pasar yaitu terbentuknya kelas-kelas sosial yang saling bertentangan kepentingan. Pembentukan masyarakat pasar disini dimulai pada abad ke-19 dengan masuknya modal Barat, akan tetapi dalam sistem pasar di Pasar Wage Wadaslintang belum dikenal adanya modal Barat. Sistem pasar yang ada di

18

Pasar Tradisional Wage Wadaslintang hanya mengenal adanya sumber modal yang merupakan awal modal kegiatan perdagangan para pedagang di pasar. Menurut Kuntowijoyo, pasar adalah kekuatan revolusioner dan proses pemasaran masyarakat yang mempunyai akibat yang jauh bagi perkembangan sejarah. Pasar menuntut perilaku rasional dalam menentukan pilihan-pilihan.

G. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian sejarah (historical method). Pengertian metode penelitian sejarah disini adalah suatu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk, 1985 : 32). Menurut Garraghan (Wiyono,1990 :6) metode penelitian sejarah adalah suatu kumpulan yang sistematis dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang dimaksudkan untuk membantu dengan secara efektif dalam pengumpulan bahan-bahan sumber dari sejarah, dalam menelaah/menilai sumber-sumber itu secara kritis, dan menyajikan suatu hasil sinthese (yang biasanya dalam bentuk tertulis) dari hasilhasil yang dicapai. Penelitian ini dilakukan dengan cara meninjau masalah-masalah dari perspektif sejarah berdasarkan dokumen dan literatur yang ada. Empat langkah kegiatan dalam metode penelitian sejarah, yaitu : 1. Heuristik Heuristik adalah kegiatan mencari sumber-sumber dan menghimpun bahan-bahan sejarah atau jejak-jejak masa lampau yang otentik dengan cara

19

mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah untuk dijadikan sebagai bahan penulisan sejarah. Diartikan pula sebagai usaha yang dilakukan untuk menghimpun data dan menyusun fakta–fakta sejarah yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Sumber sejarah yang dipakai adalah sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber asli dalam arti kesaksiannya tidak berasal dari sumber lain melainkan berasal dari tangan pertama. Sumber primer adalah sumber yang diperoleh melalui kesaksian daripada seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indera yang lain, atau dengan alat mekanis seperti diktafon, yakni orang atau alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakannya atau lebih dikenal dengan saksi pandangan pertama

(Gottschalk,1985:35). Sumber sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi pandangan pertama yakni seseorang yang tidak hadir dalam peristiwa kisahnya (Gottschalk, 1985 : 35). Sumber sekunder dengan kata lain adalah sumber yang berasal dari seseorang yang bukan saksi hidup atau tidak sejaman dengan peristiwa tersebut. Penulis mendapatkannya sumber sekunder ini melalui buku-buku mengenai pasar atau bentuk tukar-menukar dalam masyarakat dan peranan pasar dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat serta buku-buku terbitan Pemerintah Daerah kabupaten Wonosobo. Peneliti juga menggunakan sumber lisan yang dapat membantu peneliti dalam penelitian. Sumber lisan merupakan sumber tradisional sejarah dalam pengertian luas. Sumber ini bersifat tua karena waktu pikiran manusia yang

20

mulai tumbuh waktu kebudayaan mulai lahir dan serempak dengan itu bahasa mulai digunakan. Warisan atau sumber lisan masih dipakai sebagai bahan pelengkap, bahan perbandingan atau bahan yang dapat ditarik kesimpulan tentang hal yang telah berlalu dalam penulisan metode ilmiah. Peneliti menggunakan sumber lisan berupa cerita sejarah dari para tokoh masyarakat yang berkaitan dengan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang untuk mengungkap sejarah dan pengaruh keberadaan pasar bagi masyarakat Wadaslintang. Teknik yang dipakai penulis dalam pengumpulan sumber adalah sebagai berikut: a. Studi Pustaka Studi Pustaka yaitu proses mencari informasi, menelaah, dan menghimpun data sejarah yang berupa buku-buku, referensi, surat kabar, majalah dan sebagainya untuk menjawab pertanyaaan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan diteliti (Gottschalk, 1985: 46). Studi pustaka ini banyak bersumber pada buku. Buku yang telah ditemukan oleh peneliti antara lain dalah tentang Pasar atau yang ada kaitannya dengan pasar. Buku Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi (Nastiti : 2003) yang membahas tentang Peranan Pasar dalam kegiatan Ekonomi dan peranan Pasar dalam kegiatan Sosial Budaya. Penulis dalam penelitian ini mendapatkan sumber-sumber/ buku–buku yang ada dan ditemukan di Perpustakaan UNNES, Perpustakaan Jurusan Sejarah

21

UNNES, Perpustakaan Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Perpustakaan UNDIP dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonosobo. b. Studi Lapangan Studi Lapangan yaitu suatu upaya untuk menghimpun jejak dengan cara terjun langsung di lapangan. Teknik ini bermanfaat untuk bahan perbandingan antara data dari berbagai sumber tertulis dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Penulis melakukan pengamatan langsung di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo; termasuk pengamatan terhadap kehidupan masyarakat di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. c. Wawancara Menurut Koentjaraningrat, wawancara adalah usaha untuk

mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat beserta pendirian-pendirian mereka (1986 :129). Teknik wawancara bertujuan untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah yang benar-benar dapat dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan dari para pelaku sejarah atau saksi sejarah. Wawancara selain itu juga merupakan alat informasi berupa tanggapan pribadi, pendapat, atau opini serta keyakinaan. Penulis dalam hal ini mencari sumber berupa informasi dari para pelaku sejarah yaitu orang-orang/tokoh masyarakat yang mengetahui seluk beluk tentang Pasar Tradisional Wage Wadaslintang termasuk pengaruh keberadaan pasar yang terjadi pada kehidupan masyarakat sekitarnya meliputi segi ekonomi, sosial dan budayanya. Adapun para informan yang di wawancarai adalah beberapa tokoh

22

masyarakat Wadaslintang, Kepala Kelurahan Wadaslintang, Kepala UPT. Dinas Pasar Wadaslintang dan beberapa pedagang sebagai pelaku ekonomi pasar yang ada di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Langkah-langkah yang digunakan dalam wawancara : (1) membuat rambu-rambu pertanyaan sebagai pedoman wawancara, (2) menetapkan dan menghubungi tokoh-tokoh peristiwa, (3)

pelaksanaan wawancara tanpa mengadakan perjanjian terlebih dahulu, dan (4) pengolahan hasil wawancara dengan cara mengambil keterangan-keterangan yang relevan. 2. Kritik Sumber Tahap ini merupakan tahap penilaian atau tahap pengujian terhadap sumber-sumber sejarah yang berhasil ditemukan dari sudut pandang nilai kebenarannya. Kritik sumber adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan data yang tingkat kebenarannya atau kredibilitasnya tinggi dengan melalui seleksi data yang terkumpul. Kritik sumber in terbagi menjadi dua, yaitu kritik sumber ekstern dan kritik sumber intern. Kritik ekstern adalah kritik yang menilai apakah sumber yang didapat merupakan sumber yang dikehendaki, sumber asli, atau turunan, sumber itu lengkap, atau sudah berubah. Kritik ekstern berusaha menjawab pertanyaan tentang keaslian dari sumber sejarah. Kritik intern adalah kritik yang menilai apakah isinya relevan dengan permasalahan dan dapat dipercaya kebenarannya. Pada tahap kritik intern penulis melakukan pengecekan dan pembuktian terhadap sumber-sumber yang diperoleh. Apakah sumber-sumber tersebut isinya dapat diterima sebagai sebuah kebenaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara

23

membandingkan antara sumber satu dengan sumber yang lain dimana sumber tersebut sama-sama berkaitan dengan masalah yang dikaji. Contohnya adalah penulis melakukan pengecekan mengenai hasil wawancara antara tokoh masyarakat Wadaslintang satu dan lainnya, apakah semuanya dapat memberikan informasi yang benar dan dapat dipercaya berkaitan dengan masalah yang dikaji. 3. Interpretasi Interpretasi adalah usaha untuk menghubung-hubungkan dan

mengkaitkan peristiwa atau fakta satu sama lain sedemikian rupa sehingga fakta yang satu dengan yang lainnya kelihatan sebagai satu rangkaian yang masuk akal menunjukkan kecocokan satu sama lain. Fakta sejarah dalam proses ini tidak semua dapat dimasukkan, tetapi harus dipilih mana yang relevan dan mana yang tidak relevan dengan gambaran cerita yang akan disusun.

Menginterpretasikan penelitian dalam bentuk karangan sejarah ilmiah, sejarah kritis, perlu diperhatikan sasaran karangan yang logis menurut urutan yang kronologis dan tema yang jelas dan mudah dimengerti ( Gottschalk, 1985: 131). 4. Historiografi Historiografi merupakan langkah perumusan cerita sejarah ilmiah, disusun secara logis menurut urutan kronologis dan sistematis yang jelas dan mudah dimengerti, pengaturan bab atau bagian yang dapat menggabungkan urutan kronologis dan tematis. Hal ini disebabkan penelitian sejarah sekurangkurangnya harus memenuhi empat hal yaitu : detail faktuil yang akurat, struktur yang logis, dan penyajian yang terang dan halus (Gottschalk, 1985: 131).

24

Masalah pendekatan dapat disebut sebagai permasalahan inti dari metodologi dalam ilmu sejarah. Penggambaran kita mengenai suatu peristiwa sangat tergantung pada pendekatan, ialah dari segi mana kita memandangnya, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkapkan, dan lain sebagainya. Penelitian mengenai Keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang ini peneliti memfokuskan pada bidang sejarah ekonomi dengan menggunakan beberapa pendekatan. Kartodirdjo dalam buku Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (1992) membahas mengenai pendekatan ekonomi yang mengungkapkan bahwa kompleksitas sistem ekonomi dengan sendirinya menuntut pula pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi dan sebagainya. Untuk menjelaskan relevansi metodologi sejarah dengan pendekatan ilmu sosial kita perlu bertolak dari konsep sejarah sebagai sistem. Konsep sistem sendiri mencakup prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Suatu sistem terdiri atas unsurunsur atau aspek-aspek yang merupakan satu kesatuan; (2) Fungsi-fungsi unsurunsur tersebut saling pengaruh-mempengaruhi dan ada saling ketergantungan, bersama-sama mendukung fungsi sistem; (3) Saling ketergantungannya disebabkan karena setiap unsur memiliki dimensi-dimensi unsur lain; (4) Dalam mendeskripsi unsur-unsur serta saling pengaruhnya tidak ada satu faktor atau dimensi yang deterministik; (5) Dalam studi sejarah pendekatan sistem yang sinkronis sifatnya perlu diimbangi oleh pendekatan diakronis. Kita berangkat dari konsep ekonomi sebagai pola distribusi alokasi produksi dan konsumsi dalam pendekatan sistem, maka jelaslah bahwa pola itu

25

berkaitan, bahkan sering ditentukan oleh sistem sosial serta stratifikasinya. Korelasinya faktor sosial itu lebih lanjut jelas pula dengan sistem politik atau struktur kekuasaanya. Akhirnya kesemuanya dipengaruhi oleh faktor kultural, dengan demikian fungsi ekonomi tidak terlepas dari fungsi-fungsi sosial dan politik serta kulturnya. Sejarah ekonomi dalam perkembangannya mengalami diferensiasi dan subspesialisasi, antara lain dengan timbulnya: (1) sejarah pertanian, (2) sejarah kota, (3) sejarah bisnis, (4) sejarah perburuhan, dan (5) formasi kapital. Perubahan ekonomi dari ekonomi tradisional yang bersifat pedesaan, primitif dan petani, menuju ke ekonomi kolonial dengan masuknya peraturan-peraturan ekonomi kolonial dan pada akhirnya ekonomi kapitalis tidak menunjukkan tingkatan yang sepadan. Perubahan dari ekonomi pasar ke ekonomi warung dan ke ekonomi toko serta ke ekonomi toserba (department strore) tidak mempunyai laju yang sama di setiap lokalitas. Bahkan di suatu lokalitas ciri-ciri ekonomi agraris seperti dalam hubungan kerja, bakulan masih berlaku di tengah-tengah kota. Perubahan pasaran masing-masing juga tergantung seberapa jauh derajat penguasaan dari pasar yang didominasi oleh usaha-usaha besar dan kapital besar jika dibandingkan dengan operasi dari usaha kecil dengan kapital rendah. Burger mengemukaan adanya dualisme pasar semacam itu, menurut Burger bahwa lalu lintas pasar yang ada di Jawa, mengenal pekan pasar tradisional lima hari adalah sesuatu yang tua, lebih tua daripada kapitalisme tinggi. Pasar-pasar erat hubungannya satu sama lain dan merupakan suatu jaringan pasar yang meliputi seluruh Jawa, serta mempunyai hubungan pula

26

dengan pulau-pulau lain dan dengan pasar dunia. Lalu lintas ini bukan bersifat kapitalis tinggi saja, ada juga lalu lintas non-kapitalis dan kapitalisme perdagangan. Berbeda dengan Boeke yang melihat pasaran dalam negeri terlalu sepihak, yaitu sebagai lalu lintas dalam batas desa, ditambah lalu lintas dengan lingkungan kapitalis tinggi, yang diartikan terlalu sempit. Pendekatan Sosilogi pada penelitian ini menitikberatkan pada bentuk proses sosial, yaitu interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok manusia maupun antar orang perorangan dengan kelompok manusia dalam aktivitas pasar maupun kegiatan di luar pasar. Pendekatan Sosilogi juga digunakan dalam melihat berbagai perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat Wadaslintang akibat adanya aktivitas dan interaksi yang terjadi di pasar, baik perubahan yang terjadi secara lambat maupun secara cepat. Studi tentang kehidupan sehari-hari dalam suatu komunitas, pranata atau lembaga-lembaga, sistem ekonomi, sosial, politik, struktur masyarakat, struktur kekuasaan, golongan sosial, kesemuanya memerlukan pendekatan antropologi sosial di satu pihak dan pendekatan sejarah dilain pihak. Antropologi ekonomi menitikberatkan perhatiannya pada keterlibatan manusia itu dalam upaya mempertahankan hidupnya yang merupakan perwujudan nilai-nilai budaya yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Wadaslintang.

27

Buku Metodologi Sejarah (2003) karya Kuntowijoyo membahas secara singkat sejarah ekonomi. Menurutnya, sejarah ekonomi mempelajari manusia sebagai pencari dan pembelanja. Sejarah ekonomi bukanlah interpretasi ekonomis terhadap sejarah. Sejarah ekonomi haruslah spesifik. Sektor ekonomi yang dikenal dalam ekonomi pedesaan tentu saja yang berhubungan pertanian, perdagangan, peternakan dan industri rumah tangga. Lembaga-lembaga ekonomi seperti kredit, koperasi, lumbung desa, bank sudah banyak dikenal dalam ekonomi pedesaan, terutama atas campur tangan kekuasaan negara. Munculnya antropologi dan sosiologi ekonomi merupakan usaha untuk menumbuhkan antara ekonomi dengan sistem budaya dan sosial. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu dengan digunakannya beberapa pendekatan dalam penelitian ini adalah dengan digunakannya pendekatan ekonomi maka akan membantu penelitian ini dalam bidang produksi, distribusi dan konsumsi serta sistem tukar menukar yang terjadi di masyarakat Wadaslintang. Pendekatan antropologi-sosiologi membantu dalam kajian mengenai masyarakat Wadaslintang yang beranekaragam struktur dan budayanya.

H. Sistematika Penulisan Secara garis besar sistematika penulisan skripsi yang berjudul “Keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo Tahun 1998-2005 ”. Terbagi dalam beberapa bab :

28

Bab I.

Pendahuluan, bab ini berisi: latar belakang masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab II. Sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, bab ini berisi:

Pengertian Pasar, meliputi Latar Belakang Pasar dan Jenis Pasar; Komponen Pasar yang mencakup: Rotasi Pasar, Jenis Pedagang Pasar, Arus Barang dan Jasa; Sejarah Pembangunan dan Perkembangan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, meliputi Sejarah berdirinya Pasar Wadaslintang dan

Perkembangan Pasar Wadaslintang Tahun 1998-2005. Bab III. Kehidupan Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat

Wadaslintang tahun 1998-2005, bab ini terdiri dari Kondisi Geografis Kelurahan Wadaslintang; Kondisi Ekonomi yaitu Kegiatan Produksi, Distribusi dan Konsumsi; Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang yang meliputi Interaksi, Penyebaran Informasi dan Komunikasi serta Hiburan. Bab IV. Pengaruh Keberadaan Pasar Tradisioanal Wage Wadaslintang Bagi Masyarakat Wadaslintang tahun 1998-2005, bab ini berisi: Pengaruh Pasar bagi Masyarakat Wadaslintang bidang Ekonomi yaitu bidang Produksi, Konsumsi dan Distribusi; Pengaruh Pasar Wadaslintang bagi Masyarakat Wadaslintang bidang Sosial dan Budaya. Bab V. Simpulan.

BAB II SEJARAH PASAR TRADISIONAL WAGE WADASLINTANG

A. Pengertian Pasar 1. Latar Belakang Pasar Sejak masa prasejarah manusia telah menyelenggarakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup utamanya. Adapun faktor yang mendorong perkembangan ekonomi pada awalnya hanya bersumber pada problem untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs), yaitu kebutuhan untuk memuaskan kebutuhan hidup/ biologis. Ilmu ekonomi mengenal dua kegiatan ekonomi yaitu ekonomi subsistensi dan ekonomi pasar. Ekonomi subsistensi adalah ekonomi yang terselenggara dengan melakukan produksi untuk kebutuhan sendiri sedangkan ekonomi pasar terjadi akibat terciptanya hubungan antara dua pihak karena adanya penawaran (supply) dan permintaan (demand) (Chourmain, 1994: 231). Pada prakteknya tidak ada ekonomi subsistensi yang memungkinkan segala macam hasil produksi dikonsumsi sendiri oleh produsen. Ekonomi pasar juga begitu karena tidak semua barang disalurkan melalui pasar. Ekonomi pasar memiliki ciri : 1) Harga barang tidak pasti, orang dapat tawarmenawar; 2) Barang beralih dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain berkali-kali sebelum akhirnya jatuh ketangan konsumen; 3) Adanya hubungan utang-piutang yang kompleks antara pedagang tersebut; 4) Barang dagangan sedikit ( Majid, 1988: 291).

29

30

Menurut Jacob dan Stern, tukar menukar secara sederhana mulai terdapat pada masyarakat pengumpul makanan tingkat lanjut (advanced food gathering economies). Masyarakat pada tingkat ini mulai mengenal surplus sehingga kelebihan produksinya itu disalurkan dengan cara ditukar, baik secara barter maupun dengan memakai kulit kerang sebagai alat tukar atau dipertukarkan dengan hadiah (gift) dari satu komunitas dengan komunitas lain (Nastiti, 2003:52). Benda-benda yang diperjualbelikan ada dua macam. Pertama adalah barang-barang untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sandang dan pangan. Kedua adalah barang-barang sekunder yang mempunyai makna dan fungsi sosial atau barang-barang yang dianggap sebagai simbol kekayaan masyarakat pemakainnya. Masyarakat yang telah mencapai surplus, mulai menyadari akan adanya kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak dapat dipenuhi sendiri. Mereka selain itu, juga memerlukan tempat untuk menyalurkan hasil produksinya. Adanya kebutuhan akan barang-barang dan kebutuhan untuk penyaluran hasil produksi ini yang mendorong timbulnya pasar. Timbulnya pasar tidak terlepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Manusia memerlukan pasar tempat ia memperoleh barang atau jasa yang diperlukan tetapi tidak mungkin dihasilkan sendiri. Pemenuhan kebutuhan akan barang-barang memerlukan tempat yang praktis untuk mendapatkan barang-barang, baik dengan cara menukar maupun membeli. Adanya kebutuhan dan kelebihan inilah yang mendorong timbulnya arena perdagangan tempat tukar menukar barang dan

31

jasa yang disebut pasar (Nastiti, 2003: 11-12). Timbulnya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang juga begitu, pasar ini timbul karena adanya surplus atau kelebihan hasil produksi masyarakat Wadaslintang dan adanya kebutuhan masyarakat yang tidak dapat diproduksi sendiri. 2. Jenis Pasar Menurut jenisnya pasar dibedakan atas pasar yang terdapat di kota dan pasar yang terdapat di desa. Sekalipun ada dua jenis pasar, namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam hal kepentingan ekonomi masyarakat kota. Adanya pasar kota maupun pasar desa maka terjadi hubungan yang timbal balik antara masyarakat kota dengan masyarakat desa. (Saraswati, 2000:140). Pasar yang terdapat dikota biasanya terselenggara setiap hari sehingga kegiatan perekonomiannya terjadi secara rutin dan menetap sering disebut pasar harian. Hal ini berbeda dengan pasar yang terdapat di desa (pasar desa). Pasar desa tidak terselenggara setiap hari. Pasar desa biasanya dibuka seminggu sekali sehingga dikenal

dengan sebutan peukan (Majid, 1988: 289). Pasar Wadaslintang pasar desa juga dan sekali.

merupakan
Gambar 1. Pasar Wadaslintang pada hari biasa tampak depan
Sumber :Dokumen diambil tanggal 1 Maret 2007 Pribadi,

terselenggara

seminggu

Keadaan Pasar Wadaslintang dapat dilihat pada gambar.

32

Gambar di samping menunjukkan bahwa Pasar Wadaslintang setiap hari. tidak Pasar

terselenggara

Wadaslintang dibuka hanya pada hari pasaran Wage. Pada hari biasa Pasar
Gambar 2. Pasar Wadaslintang pada hari biasa dilihat dari sebelah Selatan.
Sumber :Dokumen diambil tanggal 1 Maret 2007 Pribadi,

Wadaslintang sepi tidak ada kegiatan jual-beli maupun interaksi sosial.

Menurut Sutjipto, secara garis besar

tipe pasar dapat dibedakan menurut letak geografisnya, yaitu pasar-pasar daerah pantai dan pasar-pasar daerah pedalaman. Adanya perbedaan kegiatan dari kedua macam pasar tersebut, menimbulkan perbedaan jenis-jenis komoditinya. Komoditi yang diperdagangkan di pasar pantai terdiri dari dua jenis, yaitu barang-barang impor yang dibawa perahu-perahu dagang dan barang-barang hasil produksi setempat. Hasil produksi agraris seperti beras, sayuran, palawija, buah-buahan, barang-barang kerajinan, dan lain-lain lebih banyak diperjualbelikan di pasar-pasar pedalaman (Nastiti, 2003:67). Pasar Tradisional Wage Wadaslintang adalah tipe pasar daerah pedalaman. Hal ini disebabkan karena letaknya berada di daerah pedalaman dan jauh dari pantai meskipun di Wadaslintang terdapat sebuah waduk, namun tetap merupakan tipe pasar daerah pedalaman.

33

B. Komponen Pasar 1. Rotasi Pasar Penyelenggaran hari-hari pasar sangat bervariasi, dari beberapa sumber tertulis dikenal tiga konsep minggu, yaitu Saptawara (satu minggu terdiri dari tujuh hari atau padewan) yaitu Ahad/Minggu (Raditya), Senin (Soma), Selasa (Anggara), Rabu (Buda), Kamis (Wrehaspati/Respati), Jumat (Sukra) dan Sabtu (Saniscara/tumpek); Sadwara (satu minggu terdiri dari enam hari atau paringkelan) yaitu Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, Mawulu dan Tungleh; dan Pancawara (satu hari terdiri dari lima hari atau pasaran). Hal ini berbeda dengan pasaran yang dikenal di daerah Bali. Masyarakat Bali mengenal triwara (satu minggu terdiri dari tiga hari) yakni, pasah, beteng atau galang tegeh dan kajeng (Nastiti 2003: 55; Purwadi 2006: 24). Berdasarkan hasil penelitian di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, dapat diketahui bahwa para pedagang yang berjualan di pasar ini menerapkan lima hari pasar kecuali hari pasaran pon. Pasar Kelurahan Wadaslintang yang terselenggara seminggu sekali menurut sistem klasifikasi hari-hari pasar yang lima atau pancawara, yaitu dibuka setiap hari “wage”. Pasar Kelurahan Wadaslintang terselenggara setiap hari pasaran wage maka dapat dikatakan bahwa masyarakat Wadaslintang masih menempatkan konsep panatur desa yang kemudian dikenal dengan konsep macapat atau mancalima yaitu satu desa induk dikelilingi oleh empat desa yang terletak di arah delapan penjuru mata angin. Kenyataannya letak desa-desa tersebut tidak selalu tepat di arah

34

empat atau penjuru mata angin. Ada beberapa alasan yang menguatkan ketidaksesuaian sistem ini. Pertama, penerapan konsep pancawara terhadap sistem pemukiman adalah mengatur rotasi hari-hari pasar pada desa-desa tertentu. Masing-masing hari-hari pasar itu mempunyai watak yang berbeda. Watak hari-hari pasar ini dapat dihitung menggunakan Kalender Jawa (Petungan Jawi), yaitu perhitungan baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak suatu hari, tanggal, bulan dan tahun. Petungan Jawi dengan kelengkapannya itu dapat dipercaya sebagai pelukisan watak bawaan atau pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan kesesuaiannya dengan alam. Adapun watak atau karakter dari masing-masing hari-hari pasar adalah sebagai berikut: (1) Pahing, wataknya melikan artinya suka pada barang yang kelihatan, mempunyai rupa merah dan bertempat di sebelah selatan; (2) Pon, wataknya pamer artinya suka memamerkan harta miliknya, mempunyai rupa kuning dan bertempat di sebelah barat; (3) Wage, wataknya kedher artinya kaku hati/ teguh bicara, mempunyai rupa hitam dan bertempat di sebelah utara; (4) Kliwon, wataknya micara artinya dapat mengubah bahasa, bertempat di tengah-tengah/induk dan mempunyai rupa manca warna; (5) Manis/Legi, wataknya komat artinya sanggup menerima segala macam keadaan, mempunyai rupa putih dan bertempat disebelah timur ( Purwadi, 2006 : 2) Jadi menurut watak atau karakter dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pasar Wage mempunyai watak yang kedher artinya kaku hati/ teguh bicara, mempunyai rupa hitam dan bertempat di sebelah utara.

35

Akan tetapi kurang diketahui, mengapa Pasar Wadaslintang jatuh pada hari pasaran “wage” padahal menurut karakter hari pasar, hari wage terletak di sebelah utara. Hal ini berbeda dengan Pasar Wadaslintang yang terletak di tengah-tengah dan tidak berada di sebelah utara dalam wilayah Kecamatan Wadaslintang (Lihat Gambar 3. Peta Lokasi Pasar-pasar Desa di Kecamatan Wadaslintang) . Kedua, konsep pancawara terhadap sistem pemukiman macapat dengan mengatur rotasi hari-hari pasar yang ada di Wadaslintang dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1 Hari-hari Pasar di Kecamatan Wadaslintang Hari Pelaksanaan Pasar Hari Wage Hari Kliwon Hari Manis/ Legi Hari Pahing
Sumber : pribadi

Tempat Pasar Pasar Kelurahan Wadaslintang Pasar Sikapat (Desa Besuki) dan Pasar Desa Lancar Pasar Desa Erorejo dan Pasar Desa Ngalian Pasar Desa Kaligowong dan Pasar Desa Panerusan

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pada hari pasarana pon tidak dilakukan atau terselenggara pasar. Jadi konsep panatur desa yang dikaitkan dengan sistem klasifikasi pancawara tidak sesuai. Ketidaksesuian yang ketiga yaitu dapat di lihat pada denah lokasi pasar-pasar desa yang berada di Kecamatan Wadaslintang tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

36

Gambar 3. Peta Lokasi Pasar-pasar Desa di Kecamatan Wadaslintang
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2004

Berdasarkan gambar di atas dapat diamati dan diketahui bahwa letak kelurahan Wadaslintang berada di tengah-tengah desa-desa lainnya yang berada di kecamatan Wadaslintang. Jadi dapat disimpulkan bahwa letak pasarpasar desa di Kecamatan Wadaslintang, tidak selalu tepat dengan arah penjuru mata angin. Pasar Wage yang seharusnya terletak di sebelah utara namun dalam kenyataannya berada di tengah-tengah, begitupula dengan letak pasar desa lainnya yang tidak sesuai dengan konsep pancawara terhadap sistem pemukiman di kecamatan Wadaslintang.

37

Keempat, kenyataan lain yang tidak sesuai dengan konsep pancawara dalam sistem pemukiman di kecamatan Wadaslintang adalah kelurahan Wadaslintang yang digunakan sebagai desa induk dan pasar induk serta sebagai pusat pemerintahan kecamatan diantara desa atau pasar-pasar desa yang berada di kecamatan Wadaslintang. Hal ini berbeda dengan konsep pancawara yang menjadikan pasar kliwon sebagai pasar induk. Pasar Wadaslintang dianggap sebagai pusat pasar di kecamatan Wadaslintang dan tentu saja mempunyai pendapatan yang lebih besar dari pada pasar-pasar desa lainnya. Pasar Wadaslintang juga mempunyai status yang berbeda dengan pasar-pasar yang ada di kecamatan Wadaslintang tersebut. Pasar Wadaslintang dikatakan berbeda karena sejak tahun 2004 status Pasar Wadaslintang telah berubah dari milik Kelurahan Wadaslintang menjadi milik Dinas Pasar Kabupaten Wonosobo, perbedaan lain yaitu di Kecamatan Wadaslintang yang melakukan hari pasaran Wage hanya pasar Wadaslintang. Hal ini berbeda dengan pasar-pasar lain di Kecamatan Wadaslintang yang melakukan hari pasaran bersamaan dengan pasar lain, misalnya pasar Ngalian dan pasar Erorejo yang secara bersamaan melakukan pasaran di hari Manis/ Legi. Di Kecamatan Wadaslintang tidak ada desa yang melakukan kegiatan perekonomian pasar pada hari pon. Pada hari pon pasar Wadaslintang sudah mulai ramai dikunjungi masyarakat walaupun pada hari pasaran pon tidak ada desa yang melakukan aktivitas perekonomian, namun aktivitas perekonomian tetap berjalan di Pasar Wadaslintang. Aktivitas perekonomian dilakukan oleh

38

para pedagang yang berasal dari luar Wadaslintang yang akan berdagang keesokan harinya di Pasar Wadaslintang. Luas Pasar Wadaslintang adalah 5.400 m2, yang meliputi Pasar Atas dengan luas 3.300 m2 dan Pasar Bawah dengan luas

2.100 m2. Pasar Tradisional Wage Wadaslintang ini terdiri dari beberapa Blok, yaitu : Blok Sayuran terdiri dari Los Soto, Los Cukur, Los Sayur A sampai Los Sayur E; Blok Kios terdiri dari Kios A sampai Kios G; Blok Pakaian terdiri dari Los A sampai Los H; dan yang terakhir Terminal. adalah Adapun Komplek rincian
Gambar 4. Suasana Blok Pakaian di Pasar Atas pada hari pasaran Wage.
Sumber :Dokumen tanggal 3 Maret 2007 Pribadi, diambil

jumlah pedagang yang ada di Pasar Tradisional Wage
Gambar 5. Suasana Los Sayuran di Pasar Bawah pada hari pasaran Wage.
Sumber :Dokumen tanggal 3 Maret 2007 Pribadi, diambil

Wadaslintang adalah sebagai berikut :

39

Tabel 2 Data Potensi Pasar KelurahanWadaslintang Tahun 1998-2005 Tahun 1998/1999 No 1 2 3 4 5 6 Jenis Pedagang
Pedagang sayuran di Los Tukang cukur di Los Pedagang pakaian di Los Pedagang pakaian di Kios Pemilik Makan Pedagang Kaki Lima Jumlah 287 2.139 m2 250 608 500 m2 2.462 m2 Kios/ Warung

Tahun 2004/2005 Jumlah Pedagang
104 38 114 3 99

Jumlah Pedagang
106 11 81 89

Luas
728,14 m2 115 m2 687,35 m2 608,51 m2

Luas
560 m2 112 m2 151 m2 29 m2 1.110 m2

Sumber : Dinas Pasar Wadaslintang & Kelurahan Wadaslintang

Berdasarkan tabel di atas, jumlah pedagang-pedagang yang terdaftar di Kelurahan Wadaslintang tahun 1998/1999 hanya berjumlah sekitar 287 orang dan pada tahun 2004/2005 naik menjadi 608 orang. Pada tahun 1998/1999 para pedagang kaki lima belum terdaftar di data potensi pasar sehingga kenaikan jumlah pedagang yang terjadi di Pasar Wadaslintang cukup besar yaitu sekitar 321 orang pedagang. Luas lahan yang digunakan pada tahun 1998/1999 adalah seluas luas 2.139 m2 sedangkan pada tahun 2004/2005 lahan pasar yang terpakai sekitar 2.462 m2, sehingga terjadi perluasan pasar sekitar 323 m2. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang.

40

Gambar 6. Pedagang pendatang yang menempati salah satu sudut Pasar Tradisional Wage Wadaslintang pada hari pasaran Wage sedang menanti pembeli datang.
Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 3 Maret 2007

Kenyataannya pedagang yang berjualan di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang lebih dari jumlah tersebut. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya para pedagang pendatang dan pedagang musiman yang tidak terdaftar di Kelurahan Wadaslintang pada waktu itu. Keadaan tersebut juga dapat dilihat dari luas pasar yang ada yaitu seluas 5.400m2. Dari lahan seluas 5.400m2, pedagang tetap yang menempati kios/ los pada tahun 2004/2005 hanya seluas 2.462 m2, sedangkan sisanya seluas 2.938 m2 ditempati para pedagang yang tidak terdaftar pada daftar pedagang di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa para pedagang yang berjualan di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang jumlahnya lebih dari jumlah pedagang yang terdaftar di Kelurahan Wadaslintang. Data

41

kios/ los Pasar Tradisional Wage Wadaslintang berdasarkan sumber dana pembangunannya adalah sebagai berikut : Tabel 3 Data Los/ Kios Pasar Tradisional Wage Wadaslintang No Jenis Kios/ Los 1. 2. 3. Kios APBD Kios Swadaya Los Swadaya Sebelum tahun 2004 Jumlah Luas 6 51 m2 110 292 1.226 m2 1.591 m2 Tahun 2004 Jumlah 6 110 196 Luas 51 m2 1.226 m2 1.046 m2 Los Revitalisasi 96

Sumber : Kelurahan Wadaslintang tahun 2004

Data di atas menunjukkan bahwa Pasar Tradisional Wage Wadaslintang mengalami Revitalisasi Los pada tahun 2004 seluas 545 m2 dengan jumlah 96 buah los. Los yang mengalami

revitalisasi adalah los swadaya yang sudah tidak layak. Di dalam pasar terdapat Bank Pasar, Kantor Dinas Pasar Wadaslintang, Kantor Kelurahan dan Balai Kelurahan serta Komplek Terminal Wadaslintang. Kantor
Gambar 7. Los Revitalisasi Pasar Tradisional Wage Wadaslintang pada hari biasa, dilihat dari sebelah Selatan
Sumber :Dokumen diambil tanggal 1 Maret 2007 Pribadi,

Kelurahan, Balai Kelurahan dan komplek Terminal rencananya akan dibongkar karena untuk perluasan pasar . Pembongkaran Kantor Kelurahan dan Balai Kelurahan Wadaslintang karena Tanah Kantor Kelurahan dan Balai Kelurahan adalah tanah Kas (Bondo Desa). Status desa yang berubah menjadi

42

kelurahan maka beralih pula status pasar desa menjadi pasar daerah, sehingga tanah desa beralih status menjadi tanah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo. Kantor Kelurahan dan Balai Kelurahan rencananya akan

dipindahkan ke Puskesmas Wadaslintang sekarang sedangkan Puskesmas Wadaslintang akan dipindahkan ke Rumah Rawat Inap Wadaslintang. Berubahnya status desa Wadaslintang menjadi kelurahan Wadaslintang, berakibat pada pergantian kepemilikan pasar sehingga statusnya berubah

menjadi milik pemerintah daerah kabupaten Wonosobo. Hal ini dikarenakan kecamatan Wadaslintang hanya memiliki satu kelurahan yaitu kelurahan Wadaslintang, yang terdiri dari empat dusun yaitu dusun Wadaslintang, Cangkring, Dadapgede dan Paras disamping 16 desa lainnya4. Ada beberapa pedagang datang membawa barang ke Pasar Wadaslintang sehari sebelum pasar dibuka yaitu pada hari pasaran pon. Mereka menempatkan barang pada los pasar dengan menggunakan plastik yang dibentangkan secara melingkar sebagai dinding pemagar barang. Kadang ada pedagang yang tidur diatas barang itu sekaligus untuk menjaganya dan kadang pula mereka sudah menggelar barang dagangannya pada hari pon tersebut. Pada hari pon pasar Wadaslintang sudah mulai ramai dikunjungi oleh para pembeli khususnya pembeli sayuran, karena jika mereka datang pada hari pon maka sayuran yang mereka beli masih segar-segar dan bagus-bagus.

4

Desa-desa lain di Kecamatan Wadaslintang kecuali kelurahan Wadaslintang, yaitu desa Kaligowong, Sumbersari, Sumberejo, Erorejo, Karanganyar, Panerusan, Plunjaran, Kumejing, Lancar, Somogede, Trimulyo, Tirip, Besuki, Gumelar, Ngalian dan Kalidadap.

43

Tujuan utama pedagang yang datang pada hari pon itu agar pada pagi harinya saat hari pasaran wage, mereka sudah siap berdagang karena tempat tinggal mereka jauh dari Wadaslintang. Pasar Wadaslintang pada hari pasaran pon sudah mulai ramai, walaupun tidak seramai ketika hari pasaran wage karena para pedagang yang datang dan melakukan aktivitas perdagangannya baru sebagian yang ada yaitu yang berasal dari luar daerah Wadaslintang. Para pedagang yang berasal dari wilayah Wadaslintang baru akan datang pada waktu hari pasaran wage tersebut. Ketika hari pasaran wage tiba, sebelum matahari terbit, para pedagang mulai berdatangan sekaligus dengan barang dagangannya. Para buruh pasar sibuk menurunkan barang dan membawanya ke tempat jualan mereka masingmasing, sementara pedagang sibuk mempersiapkan tempat barang yang akan diperdagangkan. Banyak para pedagang yang tidak memiliki los atau berjualan di luar los tetapi mereka tidak kesukaran tentang tempat berjualan. Tampaknya sudah menjadi kebiasaan/ aturan yang tidak tertulis bagi pedagang yang datang secara kontinyu, selalu menempati tempat semula. Pedagang lainpun menyadari dan tidak berusaha untuk menempati tempat dagang yang telah ditempati pedagang lain sebelumnya. Bagi pedagang yang baru tentu mencari tempat yang belum pernah ditempati orang lain. Hal ini ditegaskan dengan bahwa : penuturan Sa’adah seorang pedagang pakaian yang mengatakan

44

“Saya berjualan di pasar wage Wadaslintang ini baru dua bulan namun saya sudah bisa langsung menempati los pakaian. Pertama kali berjualan sebenarnya saya tidak mempunyai los tapi kemudian saya menyewa dari pedagang lain. Ketika bulik saya yang juga seorang pedagang pakaian, tidak berjualan lagi maka saya yang menempati losnya sekarang ini. Jadi saya tidak serta merta menempati los orang lain” (Wawancara, 3 Maret 2007). Adanya kebebasan pedagang memasuki pasar, di satu pihak

menimbulkan keresahan bagi pedagang yang menetap, karena mereka merasa disaingi. Pihak lain, masyarakat konsumen, merasa lebih leluasa membeli didalam menentukan pilihannya. Konsumen lebih leluasa membeli dalam menentukan pilihannya, maka konsumen juga dapat melakukan tawar menawar sesuka hatinya. Jika barang dagangan yang ada di pasar sedikit maka para pedagang dapat menentukan harga sesukanya sehingga mendapatkan keuntungan sesuai dengan harapannya. Kegiatan pasar Tradisional Wage Wadaslintang dimulai jam 07.00 pagi dan berakhir jam 14.00 siang. Waktu yang teramai di kunjungi oleh pengunjung adalah antara jam 08.00 sampa jam 11.00 siang sehingga waktu berjualan pada pasar Wage Wadaslintang menjadi terbatas. Jumlah

pengunjung tiap pasaran wage mencapai ribuan orang dan bisa berkurang jika cuaca buruk atau turun hujan. Menjelang saat Agustusan atau bulan puasa serta Hari Raya, jumlah pengunjung meningkat (Wawancara Marliyah tanggal 3 Maret 2007). Hasil wawancara dengan pedagang-pedagang di pasar Wage

Wadaslintang dapat diketahui bahwa para pedagang berjualan di beberapa desa, mengikuti perputaran hari-hari pasar. Satu pedagang pada umumnya

45

berdagang di dua atau tiga pasar dan variasinya tidak selalu sama. Ada pedagang yang berjualan di pasar Wadaslintang dan pasar Ngalian; ada yang berjualan di pasar Erorejo, pasar Kaligowong dan pasar Panerusan; dan ada pula yang berjualan di pasar Lancar, pasar Wadaslintang, pasar Ngalian dan pasar Panerusan. Marliyah, seorang pedagang pakaian mengatakan bahwa : “Saya sudah berjualan pakaian semenjak tahun 1970an. Saya berjualan dibantu suami dan anak saya. Saya berjualan pakaian di pasar Ngalian dan pasar Wadaslintang saja sedangkan anak saya berjualan di pasar Pahing Kaliwiro” (Wawancara, 3 Maret 2007). Perputaran para pedagang itu atas dasar kemauan sendiri atau mengikuti pedagang-pedagang sedesa lainnya tanpa peraturan yang mengikat. Jadi para pedagang di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang hanya berdagang di dua atau tiga pasar dalam sepasar. 2. Jenis Pedagang Pada hari pasar wage, situasi di pasar Wadaslintang sangat ramai. Para pedagang datang dari segala penjuru sehingga yang berjualan tidak hanya di kios-kios dan los-los yang sudah tersedia, tetapi juga meluap sampai ke jalanan. Mereka menggelarkan dagangannya di pinggir jalan. Para petani biasanya membawa sayur-mayur atau buah-buahan yang merupakan hasil kebun/palawija dari kebun/ladangnya sendiri atau yang ia beli dari hasil kebun/palawija penduduk di desanya atau dari desa tetangga. Adakalanya seorang petani, laki-laki atau perempuan, pergi ke pasar tanpa membawa uang, ia hanya membawa hasil kebun atau hasil palawija yang berupa buah-buahan atau sayuran khususnya buah kelapa. Sesampainya di pasar, jika ia tidak menjualnya sendiri, biasanya telah ada pedagang yang

46

menunggu, pada umumnya yang membeli adalah perempuan. Dari hasil penjualan ini para petani mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pedagang yang menunggu petani yang menjual hasil kebun atau palawija dalam jumlah yang tidak banyak, oleh penduduk di kelurahan Wadaslintang disebut bakul5. Para bakul ini datang sebelum aktivitas pasar dimulai. Mereka menunggu para petani yang menjual hasil kebun atau hasil palawija dalam jumlah yang tidak banyak, di pintu masuk pasar. Hasil pembelian dari beberapa petani tersebut dikumpulkan kemudian dijual, baik secara eceran maupun diborongkan kembali kepada tengkulak kedua. Menurut Koentjaraningrat (1984: 188), ada beberapa jenis pedagang di pasar-pasar di Jawa, yaitu : 1) petani atau tengkulak pertama yang membawa hasil bumi atau kerajinan sebanyak yang dapat mereka angkut ke pasar; 2) para tengkulak bakul yang membeli hasil bumi maupun industri rumah dari para petani atau tengkulak pertama tersebut diatas dan menimbun barang itu untuk kemudian mereka jual secara eceran atau secara borongan kepada tengkulak kedua; 3) tengkulak kedua yang membeli barang dagangan secara borongan dari para bakul, dan mengangkutnya ke suatu pasar lain untuk di jual kepada bakul-bakul disana; 4) para makelar (pedagang perantara, sering juga disebut dengan bakul atau sodagar) yang berkeliaran di daerah-daerah pedesaan untuk membeli dan menghimpun hasil hasil pertanian yang kadangkadang mereka simpan sementara, dan kemudian mengangkutnya ke pasar; 5)

5

Bakul dalam bahasa Jawa berarti pedagang/ penjual (Koentjaraningrat, 1984:188)

47

pemilik pedati dan opelet yang menyewakan kendaraan mereka kepada para pedagang “tengkulak pertama” maupun “tengkulak kedua”; 6) para penjaja keliling yang membeli barang dagangan mereka dari bakul dan menjajakannya ke rumah-rumah penduduk di desa maupun di kota; 7) para pemilik toko keturunan Tionghoa yang membeli dagangan dari para tengkulak, para bakul, maupun para makelar untuk dijual ke kota-kota yang jauh letaknya; 8) para pemilik warung makanan; 9) para tukang yang terdiri dari tukang cukur, tukang jahit, tukang sepatu dan sebagainya. Di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terdapat berbagai pedagang, ada pedagang kelontong6, pedagang sayuran, buah-buahan, tembakau, pedagang makanan dan minuman, pecah belah, kain/ pakaian, emas, logam, pedagang sepatu, pedagang ikan asin, daging, alat-alat

pertanian bahkan ada penjual jasa seperti tukang cukur, tukang jahit dan lain-lain. Mereka berasal dari berbagai daerah di Wadaslintang maupun dari luar wilayah
Gambar 8. Pedagang alat-alat pertanian sedang menanti pembeli.
Sumber :Dokumen Pribadi, diambil tanggal 3 Maret 2007

kecamatan Wadaslintang seperti Kaliwiro, Wonosobo, Prembun Kebumen, Banjarnegara, Temanggung, Semarang dan lain-lain. Di dalam pasar Tradisional Wage Wadaslintang terdapat berbagai jenis pedagang, namun secara keseluruhan dapat digolongkan dalam tiga macam,
6

Pedagang kelontong adalah pedagang yang menjual berbagai keperluan termasuk sembilan bahan makanan pokok (sembako)

48

yaitu : Pertama, pedagang menetap, pedagang yang berasal dari Wadaslintang atau yang bertempat tinggal dalam pasar Wadaslintang dan berjualan juga pada hari pasaran Wage, mereka kebanyakan adalah pedagang nasi; Kedua adalah pedagang lokal yang bersifat insidentil, yaitu pedagang yang berasal dari daerah sekitar Wadaslintang; Ketiga adalah pedagang yang berasal dari luar. 3. Arus Barang dan Jasa Ciri khas pasar dilihat dari sudut arus barang dan jasa adalah jenis barang yang diperjualbelikan (Geertz, 1977: 31). Barang yang dijual di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang pada umumnya adalah barang yang dibutuhkan oleh masyarakat sehari-hari. Barang-barang yang masuk ke pasar berasal dari beberapa daerah cukup bervariasi. Barang yang datang dari sekitar Pasar Wadaslintang berasal dari hasil produksi tani dan hasil produksi pasar. Maju mundurnya suatu pasar tergantung pada gerak roda ekonomi pasar itu. Penggerak ekonomi itu antara lain pedagang. Pedagang berperan sebagai penjual dan pembeli dalam rangka mempersiapkan barang kebutuhan

konsumen. Konsumen berhadapan langsung dengan pedagang yang memiliki kedai. Penjual mengharapkan barang yang dijual agar cepat laku, sebaliknya bagi pembeli ingin memiliki barang yang ia butuhkan. Adanya barang dalam pasar karena adanya permintaan dan penawaran. Untuk memperoleh barang tersebut bisa terjadi dibeli sendiri oleh pedagang atau melalui pedagang keliling, bahkan ada yang dibuat dalam pasar (Majid, 1988: 321).

49

a. Barang Produksi Dalam Pasar Ada pula hasil produksi dalam pasar selain barang dagangan yang datang dari luar, yaitu barang yang dibuat dalam pasar, seperti makanan dan minuman serta barang-barang lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang jumlah pemilik kios/ warung makan berjumlah 99 orang sehingga dapat dikatakan bahwa barang produksi dalam pasar seperti halnya makanan dan minuman dibuat dan dipasarkan dalam pasar. Pedagang nasi/ warung makan di pasar Wadaslintang sekaligus menjual minuman, kesemuanya itu dibuat sendiri. Tenaga kerjanya biasanya adalah keluarga sendiri, namun ada juga yang tenaga kerjanya bukan keluarga tetapi biasanya masih saudara. Mbah Sutrisno seorang pedagang soto di los pasar bawah Wadaslintang mengungkapkan : “Saya membuka warung makan berjualan nasi rames dan soto. Saya memasak dan mempersiapkan makanan tersebut dibantu suami dan anak saya. Saya tidak memberi upah mereka, mereka hanya sekedar membantu sebisanya” (Wawancara, 3 Maret 2007). Pekerjaan dalam warung sudah dibagi sesuai dengan bidang masingmasing. Ada yang khusus memasak dan ada yang melayani pembeli. Tiap warung nasi terdapat berbagai macam lauk makanan maupun minuman, mulai dari yang bermodal kecil sampai kepada yang bermodal besar. b. Penjual Jasa Penjual jasa pasti ada dimana disitu ada pasar, begitu juga di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Penjual jasa yang terdapat di pasar Wadaslintang antara lain tukang cukur, penjahit dan para buruh-buruh jasa

50

(kuli-kuli kasar) yang membawakan barang dagangan para pedagang maupun pembeli. Menurut data potensi pasar Kelurahan Wadaslintang, di Pasar Wadaslintang terdapat 38 tukang cukur (lihat tabel 2). c. Mekanisme Pengatur Arus Barang dan Jasa Pasar dalam masyarakat petani, merupakan pusat dan ciri pokok dari jalinan tukar-menukar yang menyatukan seluruh kehidupan ekonomi. Di dalam pasar terjadi suatu sistem pemasaran barang dagangan yang

menghasilkan pengaturan harga-harga dengan sendirinya. Sistem pengaturan harga ini termasuk ke dalam sistem pertukaran (Belshaw, 1981 : 98). Menurut Belshaw (1981 : 10), ciri-ciri sistem pertukaran dipandang dari: (1) sifat interaksi antara penjual dan pembeli; (2) sistematisasi dari nilai tukar yaitu harga-harga apakah saling mempengaruhi; (3) berapa jauh pembelian serta penjualan barang-barang dan jasa merupakan fungsi pasar; (4) rangkaian barang-barang dan jasa-jasa yang diperjualbelikan; (5) berapa jauh transaksi masuk ke tahap produksi dari bahan mentah ke produksi atau jasa yang dapat dikonsumsi; (6) tingkat dan persaingan jual-beli; (7) tingkat dimana jual-beli dapat dibeda-bedakan menurut alat tukar-menukar. Pertemuan antara penjual dan pembeli menimbulkan suatu peristiwa tawar-menawar. Timbulnya tawar-menawar karena barang yang diminta oleh pembeli itu bukan harga pasti, karena tidak tahu secara pasti harga sesuatu barang, melainkan hanya perkiraan saja. Ada beberapa barang tertentu tidak terjadi tawar-menawar, karena harganya sudah diketahui secara pasti.

51

Perilaku penjual dan pembeli di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang dalam tata cara tawar-menawar secara umum dapat dibagi dua bagian. Pertama, tawar-menawar dalam bentuk pendek serta singkat dan yang kedua, tawar-menawar dalam bentuk panjang serta lama. Tawar-menawar dalam bentuk pendek dan singkat lazimnya ditujukan kepada barang yang telah diketahui oleh pembeli baik tentang harga maupun mutunya. Tawar-menawar kedua, umumnya terjadi atas barang yang masih kabur, baik mengenai sifat barang itu sendiri maupun terhadap barang yang jarang mereka beli sehingga pedoman tentang harga sama sekali tidak ada (Majid, 1988: 330). Barang yang dijual tanpa mendapatkan tawaran harga yang menyolok pada umumnya barang kebutuhan sehari-hari, seperti: beras, minyak goreng, minyak tanah, ikan asin, rokok, tepung terigu, perhiasan emas dan lain-lain. Barang dagangan yang mendapat tawaran yang lama dan panjang seperti : barang pecah belah, pakaian, sepatu, bahan kain, dan lain-lain. Sebaliknya pula jika petani membawa hasil pertaniannya, seperti : kelapa, petai, cengkeh, kopi, dan yang lainnya; mereka menjual kepada pedagang yang diawali dengan tawar-menawar yang bersifat lama. Persaingan terjadi dalam menentukan harga, di satu pihak menawarkan dengan harga yang tinggi, dipihak lain menawarkan dengan harga yang murah dengan memberikan beberapa pertimbangan kepada penjual (petani). Terkadang tawar-menawar bisa membuat harga yang pasti hingga terjadi transaksi jual-beli, akan tetapi sebaliknya jika tidak ditemukan harga yang disepakati bersama, maka pembawa barang itu beralih menawarkan kepada yang lain.

52

Menurut Nastiti (2003 : 99), ada dua bentuk transaksi yang dikenal : pertama, transaksi yang dilakukan secara barter yang didasarkan atas perbandingan satuan yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak; kedua transaksi dilakukan dengan mempergunakan mata uang sebagai alat penukar. Barang yang dijual atau dibeli pada umumnya dibayar secara konstan dengan uang, ada pula yang dilakukan dengan utang piutang, serta ada pula yang melakukan dengan cara barter. Utang piutang dilakukan jika keduanya yaitu antara penjual dan pembeli telah memiliki kepercayaan dan mengenal satu sama lain. Sistem barter biasanya dilakukan antara petani yang membawa hasil pertaniannya dengan para pedagang yang menjual barang kebutuhan pokok. Penggunaan mata uang sebagai alat tukar muncul karena ada kebutuhan akan benda-benda yang dapat dihitung untuk tujuan tukar menukar secara tidak langsung. Uang itu sendiri didefinisikan sebagai sarana untuk melakukan pertukaran secara tidak langsung yang dipakai sebagai alat pembayar, sebagai satuan baku, dan sebagai alat tukar menukar (Nastiti, 2003: 99). Menurut Belshaw (1981 : 11), uang pada hakekatnya bukanlah benda fisik, uang adalah kumpulan dari berbagai fungsi. Fungsi-fungsi uang tersebut lebih dari anggapan mengenai uang tunai yaitu sebagai alat tukar dan atau alat simpanan; daya beli; modal likuid atau jangka pendek; cadangan likuid pada umumnya; dan kesatuan nilai. Banyaknya pedagang yang berasal dari luar pada Pasar Tradisional Wage Wadaslintang menyebabkan variasi barang cukup banyak. Transportasi yang

53

lancar turut mempercepat gerak keluar-masuk pedagang dan barang dalam Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Ada beberapa pedagang yang menyewa mobil colt atau truk selain menggunakan bus umum untuk mengangkut barang dagangan mereka. Pengangkutan dari jalan atau dalam lokasi pasar ke tempat jualan, dilakukan oleh sekelompok penjual jasa.

Pekerjaan yang dilakukan oleh penjual jasa adalah menurunkan serta menaikkan barang dari dan ke mobil. Volume arus barang dengan demikian cukup deras yang masuk. Ketinggian jumlah barang mempengaruhi atas keluasaan pengunjung untuk memilih barang yang dibelinya. Faktor yang mempercepat barang masuk pasar selain transportasi yang lancar juga ditunjang oleh sekelompok penjual jasa dengan memberikan imbalan yang setimpal dengan pekerjaannya.

C. Sejarah Pembangunan dan Perkembangan Pasar Wadaslintang 1. Sejarah Berdirinya Pasar Wadaslintang Pasar Wadaslintang terletak di Kelurahan Wadaslintang. Pasar

Tradisional Wage Wadaslintang ini berbatasan dengan: sebelah utara Kantor Kecamatan Wadaslintang dan Perumahan Warga. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Raya Wadaslintang, Jalan Perkampungan Kauman dan Perumahan Warga. Sebelah Selatan berbatasan dengan Masjid Wadaslintang yang berfungsi sebagai tempat ibadah lima waktu, juga sebagai tempat sembahyang Jum’at para umat Islam yang datang dari berbagai desa sambil

54

berbelanja di pasar. Sebelah Barat berbatasan dengan Perkampungan Gondang Wadaslintang (Gambar dapat dilihat di Lampiran Denah Pasar Wadaslintang). Sejarah berdirinya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terkait erat dengan sejarah Wadaslintang dan perkembangan kekuasaan Desa

Wadaslintang. Menurut Heri Susanto, seorang tokoh masyarakat dusun Cangkring Wadaslintang mengatakan bahwa sejarah berdirinya desa Wadaslintang tidak dapat dilepaskan dengan Peristiwa Perang Diponegoro yang terjadi tahun 1825-1830. Wilayah Wadaslintang ketika itu masih berupa hamparan kawasan hutan belantara. Sekitar tahun 1827 datanglah pasukan Diponegoro yang mencari daerah persembunyian, yang akhirnya terdamparlah pasukan Diponegoro di wilayah Cangkring. Kedatangan pasukan Diponegoro di Cangkring ini untuk menghindari kejaran pasukan Belanda dari arah

Kebumen ke Wonosobo. Mereka datang ke Cangkring lewat Kalipuru, Lancar kemudian Cangkring. Ki Selarong Magelang juga sempat tinggal beberapa lama di Cangkring (Wawancara tanggal 4 Maret 2007). Beberapa anggota pasukan yang tinggal di Cangkring adalah Joko Kanoman dan Suryo Mataram. Mereka ditugaskan untuk membuka hutan dan mengubahnya menjadi tempat pemukiman, yang pada akhirnya berdirilah desa Wadaslintang. Menurut peristilahannya, Wadaslintang berasal dari dua kata yaitu, wadas yang berarti batu dan lintang yang berarti bintang. Jadi kata Wadaslintang kurang lebih berarti batu yang mirip bintang yang bersinar terang. Konon menurut cerita rakyat, sebelum desa Wadaslintang dibuka

55

menjadi pemukiman disana terdapat bebatuan yang berkilauan menyerupai bintang sehingga dinamailah Wadaslintang (Ahmad Toyib, Wawancara 28 Februari 2007). Bebatuan yang mempunyai ciri berwarna putih susu dan berkilauan seperti bintang ini sampai sekarangpun masih banyak terdapat di desa Wadaslintang, terutama banyak terdapat di pasir-pasir kali Kelurahan Wadaslintang. Joko Kanoman diminta untuk menjadi Dhemang7, namun Joko Kanoman tidak bersedia untuk diangkat menjadi Dhemang. Cadipura akhirnya diangkat sebagai Dhemang yang pertama di Wadaslintang yang diangkat secara langsung dari Kadipaten. Cadipura bukan merupakan penduduk asli desa Cangkring, beliau berasal dari Lamuk, Kaliwiro. Daerah kekuasaannya adalah wilayah Wadaslintang, Cangkring dan Panerusan. Pada waktu itu pusat pemerintahannya berada di desa Cangkring, namun pada masa pemerintahan Dolah Sirod (1907-1910) yang merupakan Lurah yang diangkat oleh Camat maka pusat pemerintahannya dipindahkan ke desa Wadaslintang. Pengangkatan Cadipura sebagai Dhemang adalah awal dari sebuah perjalanan panjang bagi bumi Wadaslintang, awal dari sebuah tatanan pemerintahan dan awal dari kumpulan sosial kemasyarakatan. Adapun namanama Lurah yang pernah memerintah Wadaslintang adalah sebagai berikut (Susanto, wawancara tanggal 4 Maret 2007) : 1) Dhemang Cadipura, memerintah antara tahun 1834-1848

7

Dhemang adalah jabatan setingkat Lurah atau Kepala Desa pada waktu itu. Hal ini dipertegas oleh Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa yang menyatakan bahwa “seorang kepala desa yang pada umumnya disebut lurah, tetapi seringkali juga bekel, perbekel, dhemang, penatus, atau petinggi,…” (1984, 202).

56

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10)

Dhemang Cadireja, memerintah antara tahun 1848-1895 Kartodirjo, memerintah antara tahun 1895-1907 Lurah Dolah Sirod, memerintah antara tahun 1907-1910 Glondong Sastro Sukarno, memerintah antara tahun 1910-1955 Kepala Desa Maryo Sudarmo, memerintah antara tahun 1955-1973 Kepala Desa Sardi Susilo Miharjo, memerintah antara tahun 1973-1975 Kepala Desa Abdulholim, memerintah antara tahun 1975-1990 Kepala Desa Joyo Dipuro, memerintah antara tahun 1990-1998 Lurah Ahmad Muhadjir, memerintah mulai tahun 1998- sekarang. Adanya perbedaan nama antara nama Dhemang, Glondong, Kepala Desa

maupun Lurah sebenarnya mempunyai sejarah tersendiri. Pada awalnya, sekitar tahun 1827 sedang terjadi Perang Diponegoro datanglah pasukan Joko Kanoman di Cangkring Wadaslintang kemudian dia diangkat oleh Bupati di Kadipaten Wonosobo untuk menjadi Penguasa Wilayah Wadaslintang atau yang pada waktu itu disebut Dhemang, akan tetapi Jaka Kanoman tidak mau sehingga Bupati mengangkat Cadipura sebagai Dhemang pertama di Wadaslintang. Nama Lurah adalah jabatan yang diberikan oleh pemerintah yang ada diatas desa, yang diangkat secara langsung oleh Camat. Lurah Dolah Sirod adalah Lurah pertama yang diangkat oleh Camat Wadaslintang pada waktu itu secara langsung, tetapi status wilayahnya masih desa Wadaslintang bukan kelurahan. Bapak Ahmad Muhadjir, Lurah Wadaslintang sekarang, adalah Lurah yang diangkat oleh Bupati secara langsung. Status desanya juga

57

berubah dari desa menjadi kelurahan. Lurah sekarang sudah tidak mempunyai tanah bengkok karena statusnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang digaji oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan lurah terdahulu yang belum berstatus pegawai negeri. Glondong adalah merupakan ketua dari lurah-lurah yang ada pada waktu itu. Glondong Sastro Sukarno merupakan ketua lurah-lurah desa yang ada di kecamatan Wadaslintang pada waktu itu. Pada masa pemerintahan Glondong Sastro Sukarno, pada tahun 1955 di Indonesia ada pemilihan umum yang pertama. Adanya Pemilu tahun 1955 itulah maka melahirkan memikiran demokrasi sehingga berubahlah cara pemilihan lurah. Pada pemerintahan Bapak Maryo Sudarmo, pemilihan lurah dilakukan secara langsung dipilih oleh rakyat Wadaslintang sehingga berubah pula nama lurah menjadi Kepala Desa. Adanya otonomi daerah, maka status kepala desa juga berubah lagi menjadi lurah pada masa pemerintahan Bapak Ahmad Muhadjir. Nama Wadaslintang sebelum wilayahnya dikenal, daerah tersebut termasuk dalam desa Plunjaran. Desa Plunjaran sendiri termasuk kedalam wilayah Cangkring yang meliputi, desa Cangkring, desa Tirip dan desa Plunjaran. Pembagian wilayah ini terjadi pada masa pemerintahan Lurah Sastro Sukarno dengan jabatan Glondong8. Glondong Sastro Sukarno berkuasa antara tahun 1910-1955. Pada masa pemerintahan Glondong Sastro Sukarno, di Wadaslintang terjadi

pembangunan fisik secara besar-besaran. Pembangunan fisik tersebut antara
8

Glondong adalah seorang Lurah namun mempunyai kekuasaan untuk membawahi lurah-lurah yang ada didaerah sekitar (Ketua Lurah-lurah). Penunjukan Glondong berasal dari Kadipaten atau Bupati pada waktu itu (Susanto,wawancara tanggal 4 maret 2007) .

58

lain pembangunan Jalan Raya yang menghubungkan Wonosobo-Kebumen, pembangunan Irigasi dan pembangunan Pasar desa. Menurut Nastiti, kelebihan produksi setelah kebutuhan sendiri terpenuhi memerlukan tempat pengaliran untuk dijual. Pemenuhan kebutuhan akan barang-barang juga memerlukan tempat yang praktis untuk mendapatkan barang-barang, baik dengan menukar atau membeli. Adanya kebutuhankebutuhan inilah yang mendorong munculnya tempat berdagang yang disebut pasar (Nastiti, 2003: 60) Alasan itulah yang mungkin ada dalam benak Glondong Sastro Sukarno sehingga beliau merealisasikan pembangunan pasar desa di Wadaslintang pada waktu itu. Pembangunan pasar desa Wadaslintang tidak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat Wadaslintang setempat. Pembangunan pasar desa ini tidak diketahui secara pasti kapan mulai ada, tetapi dari keterangan penduduk sekitar, bahwa pasar desa Wadaslintang sudah ada sekitar tahun 1900-an. Pembangunan pasar desa ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat yang amat sulit pada waktu itu. Pada masa pemerintahan Glondong Sastro Sukarno inilah terjadi kesepakatan antara para Dhemang di kecamatan Wadaslintang mengenai letak-letak pasar desa yang berada di wilayah kecamatan Wadaslintang. Menurut Sutaryo kepala dusun (bau) Wadaslintang sejak tahun 1962 sampai sekarang, mengatakan bahwa pasar desa Wadaslintang sebelumnya terletak di desa Plunjaran akan tetapi setelah beberapa saat berada di desa Plunjaran,

59

akhirnya pasar desa ini dipindahkan ke desa Wadaslintang (Wawancara, 2 Maret 2007). Pemindahan lokasi pasar Plunjaran ke desa Wadaslintang ini menurut Sutaryo disebabkan karena beberapa alasan antara lain karena letak desa Wadaslintang yang strategis dekat dengan jalan raya yang menghubungkan antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Kebumen sehingga pasar desa ini mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar Wadaslintang. Alat transportasi pada waktu itu masih jarang, namun dengan keberadaan pasar desa ini di Wadaslintang telah memunculkan alat transportasi berupa mobil angkutan yang beroperasi tiap hari pasaran wage dimana aktivitas pasar dilakukan. Jadi selain hari pasaran wage dimana tidak ada aktivitas pasar maka tidak ada alat transportasi sehingga orang-orang yang mau bepergian ke kabupaten Wonosobo yang berjarak 37 km pada waktu itu harus berjalan kurang lebih satu hari perjalanan. Menurut penuturan Ahmad Toyib yang mengatakan bahwa : “Sejak saya lahir, Pasar Wage Wadaslintang ini sudah ada. Desa Wadaslintang ini sekitar tahun 1960an masih sangat sepi. Apalagi desa Wadaslintang ini letaknya jauh dari ibukota kabupaten Wonosobo. Jadi desa Wadaslintang ini hanya ramai pada hari-hari tertentu saja yaitu pada hari pasaran pon dan hari pasaran wage. Alat transportasinyapun masih sangat jarang hanya ada pada hari pasaran pon dan wage saja, itupun hanya terdapat satu atau dua mobil angkutan saja. Sedangkan pada harihari biasa tidak ada angkutan sama sekali” (Wawancara, 28 Februari 2007) Menurut Sutaryo Kadus Wadaslintang, alasan kedua di pindahkannya pasar Plunjaran ke Wadaslintang adalah karena letak desa Wadaslintang yang

60

dekat dengan kecamatan9 Wadaslintang sehingga informasi yang berasal dari pemerintah akan cepat disampaikan pada masyarakat (Wawancara, 2 Maret 2007). Masa pemerintahan Glondong Sastro Sukarno, pembangunan fisik masih terus dilakukan dan paling banyak dilakukan sesudah adanya Pemilihan Umum I tahun 1955. Pembangunan fisik ini dilakukan untuk memulihkan keadaan ekonomi rakyat setelah penjajahan Jepang. Sutaryo juga mengatakan bahwa pembangunan los pasar juga dilakukan sesudah kemerdekaan atau sekitar tahun 1945an (Wawancara, 2 Maret 2007). Nama Pasar Tradisional Wadaslintang ini sebenarnya bukanlah Pasar Wage, namun karena diselenggarakan setiap hari wage maka banyak orang yang menyebutnya sebagai Pasar Wage Wadaslintang. Keberadaan pasar Wadaslintang ini masih ada sampai sekarang. Pasar ini melakukan aktivitasnya setiap hari wage, namun pada hari pon pun pedagang dari daerah sekitar Wadaslintang sudah banyak yang datang sehingga ada pula pedagang yang sudah memulai aktivitas perdagangan pada hari pon. Menurut keterangan Pak Muhadjir (Lurah Wadaslintang sekarang), bahwa Pasar Wadaslintang ini telah mengalami beberapakali revitalisasi los, revitalisasi terakhir dilakukan pada tahun 2004 (Wawancara, 5 Maret 2007). 2. Perkembangan Pasar Wadaslintang Tahun 1998-2005 Era Reformasi yang bergulir 1998 melahirkan Otonomi Daerah. Dampak adanya Otonomi Daerah adalah berubahnya status desa Wadaslintang yang
9

Kecamatan pada waktu itu masih bernama seten belum kecamatan (wawancara dengan Heri Susanto, tanggal 4 maret 2007)

61

semula berstatus desa berubah menjadi Kelurahan Wadaslintang. Kepala pemerintahan terdahulu dipegang oleh seorang Kepala Desa yang dipilih secara langsung oleh masyarakat Wadaslintang kemudian beralih status kepada kepala kelurahan (lurah), yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten. Perubahan ini berdampak pada status Pasar Wadaslintang. Pasar Wadaslintang yang berstatus pasar desa dengan adanya Otonomi Daerah maka beralih menjadi pasar daerah. Status Pasar Wadaslintang telah berubah status secara resmi dari pasar desa menjadi Pasar Daerah yang berada di bawah pengelolaan Dinas Pasar Kabupaten Wonosobo tepatnya pada tanggal 3 Maret 2005. Beralihnya status Pasar Kelurahan Wadaslintang menjadi Pasar Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo berkaitan erat dengan adanya otonomi daerah Kabupaten Wonosobo. Adanya Otonomi Daerah maka status desa Wadaslintang berubah menjadi Kelurahan Wadaslintang secara resmi pada tanggal 24 Maret 1998 (Muhajir, Wawancara 5 Maret 2007). Berubahnya status desa menjadi kelurahan Wadaslintang, maka berubah pula struktur birokrasi yang ada di dalamnya. Struktur birokrasi sebelum berubahnya status desa menjadi kelurahan, Desa Wadaslintang dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades) yang dibantu oleh beberapa perangkat desa. Menurut Koentjaraningrat, sebagai kepala desa yang membawahi suatu daerah, seorang lurah dibantu oleh suatu staff yang terdiri dari 10-15 orang pegawai (perabot dhusun atau lebih sering disebut perangkat desa) yang pada umumnya diangkat walaupun ada beberapa yang menempati jabatan itu

62

berdasarkan pemilihan. Perangkat desa tersebut antara lain terdiri dari wakil kepala desa (congkok), penulis atau sekretaris desa (carik), bendaharawan (kamisepuh), pegawai keagamaan (kaum atau modin) untuk mencatat perkawinan dan perceraian, beberapa orang polisi (jagabaya) dan beberapa orang penyiar pengumuman (kebayan) di desa-desa di tanah dataran rendah dimana pembagian air dan sistem pengairan memerlukan perhatian khusus, seringkali ada seorang pegawai pengairan yang disebut ulu-ulu, anjir, reksabumi (1984: 203). Menurut tradisi, di desa Wadaslintang hanya lima orang saja yang dianggap sebagai pegawai pamong desa kecuali jumlah sesungguhnya, yaitu kepala desa, sekretaris desa (carik), bendahara desa, pegawai keagamaan (kaum) dan juru penyiar pengumuman. Selain itu juga ada beberapa kepala dusun yang membawahi dusun-dusun yang berada di desa Wadaslintang. Kepala desa Wadaslintang pada waktu itu dipilih secara langsung oleh warga masyarakat Wadaslintang melalui pemilihan kepala desa. Kepala desa memiliki masa jabatan selama delapan tahun dan dapat dipilih kembali melalui pemilihan kepala desa berikutnya apabila masih didukung oleh rakyatnya. Seorang kepala desa yang sudah tidak dipercayai lagi oleh para penduduk desanya dapat dilepaskan dari jabatannya oleh camat. Seorang kepala desa dan pegawainya tidak menerima gaji dari pemerintah tetapi sebagian dari penghasilan mereka diperoleh dari hak mereka untuk menggunakan tanah (siti bengkok) yang diberikan kepada mereka

63

selama mereka menjabat pekerjaan mereka, dan sebagian lagi dari pajak serta jasa yang mereka terima dari penduduk desa, yang berdasarkan adat. Kepala desa memiliki tanah bengkok yang dapat dimanfaatkan secara pribadi selama menjabat sebagai seorang kepala desa. Carik dan Kadus juga demikian, mereka memiliki tanah bengkok selama menjabat jadi perangkat desa dan jika sudah tidak menjabat maka tanah bengkok tersebut akan jatuh ketangan perangkat desa yang baru dan seterusnya. Tanah bengkok ini adalah sebagai imbalan kepada perangkat desa karena mau mengabdikan dirinya untuk kemajuan desanya. Jadi mereka tidak mendapatkan gaji dari desa atas jabatan mereka selama menjadi perangkat desa. Kepala Kelurahan (Lurah) adalah pejabat pemerintah yang diangkat secara langsung oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini yang berwenang mengangkat adalah Bupati. Rakyat tidak memilih secara langsung seperti halnya Kepala Desa. Lurah memiliki jabatan sama dengan Kepala Desa yaitu selama delapan tahun dan dapat dipilih kembali. Lurah dan perangkat kelurahan merupakan pejabat pemerintah jadi statusnya adalah sebagai pegawai pemerintah (pegawai negeri), sehingga Lurah dan perangkat kelurahan tidak memiliki tanah bengkok, namun mereka mendapatkan gaji dari pemerintah. Adapun susunan struktur birokrasi Kelurahan terdiri dari Lurah, Sekretaris Kelurahan, Kasi Pemerintahan, Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Kasi Kesejahteraan Sosial, Kasi Ketentraman dan Ketertiban serta Kepala

64

Lingkungan yang membawahi Rukun Rumah Tangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Kelurahan Wadaslintang saat ini belum ada Kepala Lingkungan yang membawahi RT dan RW. Hal ini terkait dengan berubahnya status desa menjadi kelurahan yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah struktur birokrasi desa. Kepala kelurahan tidak mempunyai wewenang untuk memberhentikan kepala dusun yang ada di Wadaslintang. Kepala dusun yang ada di Wadaslintang saat ini mempunyai kedudukan yang sama dengan Kepala Lingkungan dan membawahi RT dan RW yang berada di lingkungan Kelurahan Wadaslintang, akan tetapi karena statusnya tetap sebagai Kepala Dusun maka mereka tetap memiliki Tanah Bengkok dan tidak berstatus sebagai pegawai negeri yang mendapatkan gaji dari pemerintah seperti halnya Kepala Lingkungan. Berubahnya status desa Wadaslintang menjadi kelurahan Wadaslintang mengakibatkan berubahnya status Pasar Wadaslintang. Memperhatikan Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan, Penghapusan, dan atau Penggabungan Kelurahan Pasal 11 yang antara lain menyebutkan bahwa seluruh kekayaan dan sumber pendapatan yang menjadi milik pemerintah desa dengan berubahnya status desa menjadi kelurahan maka menjadi milik Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan peraturan daerah tersebut, maka Kepala Kelurahan Wadaslintang berkoordinasi dengan Dinas Pengelola Pasar Daerah Kabupaten

65

Wonosobo yang intinya membahas perubahan status pasar Desa/Kelurahan Wadaslintang menjadi pasar Daerah Kabupaten Wonosobo. Perubahan Status Pasar Wadaslintang ini telah ditindak lanjuti dengan Musyawarah Kelurahan pada tanggal 3 Juli 2004 di Balai Kelurahan Wadaslintang. Hasil

Musyawarah Kelurahan menyatakan dengan mufakat bulat bahwa : 1) Setuju alih status Pasar Wadaslintang menjadi Pasar Daerah Kabupaten Wonosobo; 2) Fasilitas berupa Kantor Kelurahan dan Balai Kelurahan Wadaslintang yang kemudian hari akan dibongkar untuk penataan Pasar dan Areal Parkir/ Terminal, mendapatkan kompensasi dibuatkan penggantinya di tempat lain yaitu di tempat Puskesmas Wadaslintang sekarang. Puskesmas Wadaslintang akan dipindahkan di Rumah Rawat Inap Wadaslintang yang sedang dalam proses penyelesaian (Muhajir, Wawancara 5 Maret 2007). . Status Pasar Desa menjadi Pasar Daerah berubah secara resmi yaitu pada tanggal 3 Maret 2005, sehingga akhirnya Pasar Wadaslintang dikelola oleh Dinas Pengelola Pasar Kabupaten Wonosobo dibawahi oleh UPT Pasar Kaliwiro. Wilayah Wadaslintang merupakan Kawedanan Kaliwiro sehingga UPT Pasar masuk kedalam UPT Pasar Kaliwiro (Tri Ukendarwati, Wawancara 8 Maret 2007). Perubahan status pasar berakibat pada pergantian kepemilikan tanah pasar dan halaman Balai Kelurahan/ Terminal Wadaslintang yang berada di dalam pasar yang merupakan tanah kas (bondo desa) maka dengan berubahnya status pasar menjadi milik Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

BAB III KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT WADASLINTANG TAHUN 1998-2005

A. Kondisi Geografis Kelurahan Wadaslintang Kelurahan Wadaslintang terletak di Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan Wadaslintang merupakan Kecamatan terjauh dan terluas di Kabupaten Wonosobo dan wilayah paling selatan Kabupaten Wonosobo. Luas kecamatan Wadaslintang adalah 12.716 Ha, terletak pada ketinggian 275 m diatas permukaan laut sehingga merupakan wilayah yang paling rendah di kabupaten Wonosobo. Kecamatan Wadaslintang merupakan wilayah yang udaranya cukup panas dari pada kecamatan-kecamatan lain yang berada di kabupaten Wonosobo, hal ini disebabkan karena posisi wilayahnya yang paling rendah dari permukaan laut. Curah hujan pada tahun 2000 sebanyak 3.293 milimeter dengan jumlah hujan sebanyak 136 hari. Jarak ibukota kecamatan Wadaslintang ke ibukota kabupaten adalah 37 km kearah timur dan merupakan kecamatan terjauh dari kota Wonosobo. Kecamatan Wadaslintang ini berbatasan dengan beberapa wilayah, antara lain: pada sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kaliwiro, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Kebumen. Penduduk Kecamatan Wadaslintang akhir tahun 2005 sebanyak 53.811 jiwa yang tersebar di 16 desa dan 1 kelurahan dengan sex ratio 99,47% dengan

66

67

kepadatan rata-rata 423 jiwa/km2. Kelurahan Wadaslintang adalah satusatunya kelurahan yang berada di Kecamatan Wadaslintang. Kelurahan Wadaslintang sendiri mempunyai luas 442,000 Ha dengan jumlah penduduk 4.692 jiwa dengan rincian laki-laki 2.322 jiwa dan perempuan dengan jumlah 2.370 jiwa, sehingga kepadatan penduduknya adalah 1.062 jiwa/km2 pada akhir tahun 2005. Batas-batas wilayah Kelurahan Wadaslintang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

68

Gambar 9. PETA KELURAHAN WADASLINTANG
Sumber : Kelurahan Wadaslintang

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa Kelurahan Wadaslintang berbatasan dengan: sebelah utara berbatasan dengan Desa Trimulyo dan Hutan Pinus milik Kehutanan Kedu Selatan, sebelah barat berbatasan dengan Desa Plunjaran, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panerusan dan Waduk Wadaslintang dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Tirip.

69

Kelurahan Wadaslintang terdiri dari 4 Dusun yaitu Dusun Wadaslintang, Cangkring, Dadapgede dan Paras serta terdiri dari 39 RT dan 10 RW. Masingmasing dusun dikepalai oleh seorang kepala dusun. Jabatan kepala dusun sebenarnya sudah tidak berlaku lagi jika wilayahnya berstatus kelurahan karena jika suatu desa mempunyai status kelurahan maka yang membawahi suatu lingkungan dibawah Kelurahan adalah Kepala Lingkungan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil. Proses perubahan status desa Wadaslintang menjadi kelurahan

Wadaslintang itu sangat panjang dan tidak mudah maka kelurahan Wadaslintang masih menggunakan Kepala Dusun untuk membawahi suatu Lingkungan Warga. Kepala dusun tersebut masing-masing masih mempunyai hak atas tanah bengkok yang merupakan “bondo desa” sehingga mereka tidak mendapatkan gaji dari pemerintah seperti halnya Kepala Lingkungan.

B. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat Wadaslintang 1. Kehidupan Ekonomi Kehidupan masyarakat Wadaslintang, sebagian besar menitikberatkan kepada sektor pertanian, sehingga masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Jenis tanah di Wadaslintang sebagian besar adalah tanah kering yang digunakan sebagai areal pemukiman, bangunan, pekarangan, hutan,

perkebunan dan waduk. Kegiatan pertanian masyarakat adalah pertanian tegalan dan perkebunan.

70

Pertanian tanaman pangan untuk wilayah Wadaslintang lebih rendah kalau dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Wonosobo. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi lahan pertaniannnya yang kering dan terpengaruh pada keadaan iklim yang kurang mendukung, khususnya untuk lahan sawah/padi, yang sebagian besar adalah sawah tadah hujan. Pertanian perkebunan cukup bagus terutama pada tanaman keras/tanaman tahunan seperti kelapa, cengkeh, kopi dan sebagian telah dikembangkan tanaman lada. Sektor yang mendukung perekonomian masyarakat Wadaslintang selain sektor pertanian adalah dibidang perdagangan dan jasa. Pengembangan sektor perkebunan dan perikanan juga cukup baik. Masyarakat Wadaslintang juga mempunyai pekerjaan sambilan lainnya. Pekerjaan sambilan adalah pekerjaan yang dilakukan bila pekerjaan disawah sudah selesai artinya menunggu waktu bersawah yang akan datang atau menunggu waktu panen tiba. Adapun pekerjaan sambilan yang dilakukan oleh masyarakat petani kelurahan Wadaslintang adalah beternak dan berdagang yang biasanya dilakukan seminggu sekali yaitu di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, dan lain-lain. Para petani ini biasanya menghentikan aktivitas pertaniannya pada hari pasaran wage. Pada hari itu mereka melakukan kegiatannya di Pasar Wadaslintang, untuk menjual hasil pertaniannya. Keadaan Wadaslintang dapat dilihat pada tabel berikut ini. perekonomian masyarakat

71

Tabel 4 Komposisi Penduduk Kelurahan Wadaslintang Menurut Mata Pencaharian Tahun 1998 dan Tahun 2005 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Mata pencaharian Petani Sendiri Buruh Tani Nelayan Pengusaha Industri Bangunan Perdagangan Transportasi Pegawai Negeri Sipil POLRI Pensiunan Lainnya Jumlah Tahun 1998 749 98 17 11 76 27 176 38 49 43 1620 2.904 Tahun 2005 1.030 100 14 68 98 190 120 74 3 47 68 1.798

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo tahun 1998 dan 2005

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa mata pencaharian pokok masyarakat kelurahan Wadaslintang adalah sebagai petani. Pertanian yang dilakukan adalah persawahan dan pertanian ladang. Kebanyakan masyarakat Wadaslintang membudidayakan tanaman tahunan seperti kelapa. Kehidupan ekonomi masyarakat Wadaslintang terlihat jelas dengan

adanya pasar. Pasar mempunyai peran dalam kegiatan ekonomi, sosial maupun budaya. Terdapatnya peranan pasar yang bermacam-macam maka pasar dapat dilihat sebagai suatu sistem. Adapun yang dimaksud dengan sistem ialah organisasi yang saling terkait dan tergantung antar bagiannya yang membentuk suatu kesatuan. Pasar sebagai suatu sistem merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung fungsi secara keseluruhan. Sistem pasar oleh karena itu dapat dirumuskan sebagai sistem

72

pertukaran barang dan jasa yang diperlukan untuk spesialisasi karakteristik fungsi ekonomi dari masyarakat yang kompleks dan diatur oleh norma-norma sosial yang telah dilembagakan (Nastiti, 2003 : 53). Sistem pasar tampak sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan sehingga terjadi saling ketergantungan antara masing-masing komponen. Adapun komponen-komponen yang ada di pasar adalah produksi, distribusi, transportasi, transaksi, dan rotasi serta konsumsi. Masing-masing komponen yang terdapat dalam sistem pasar, misalnya faktor produksi sangat tergantung pada faktor distribusi dan untuk lancarnya suatu distribusi sangat diperlukan sarana transportasi yang baik sehingga hasil produksi dapat mencapai pasar, begitulah seterusnya sampai barang tersebut sampai di tangan konsumen. a. Sistem Produksi Bagi masyarakat pedesaan di Wadaslintang, keberadaan Pasar

Tradisional Wage Wadaslintang mempunyai peranan yang sangat penting. Pasar merupakan tempat bertemunya penjual atau pembeli atau dapat dikatakan sebagai tempat dimana produsen dan konsumen bertemu untuk melakukan transaksi jual-beli. Pasar berperan sebagai tempat pengumpulan hasil usaha tani dan sebagai tempat pembagian barang untuk konsumsi lokal Pada awalnya pasar hadir dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Wadaslintang dari hasil bumi masyarakat Wadaslintang itu sendiri. Pasar tradisional ini dalam perkembangannya tidak hanya menampung hasil bumi dan produksi masyarakat Wadaslintang saja melainkan juga menampung hasil bumi dan produksi daerah lain yang diperlukan masyarakat Wadaslintang.

73

Pelaku pasar pun yang semula hanya oleh dan untuk masyarakat Wadaslintang, dalam perkembangannya selanjutnya hadir pelaku pasar dan pembeli dari daerah-daerah sekitar, misal Kelurahan Kaliwiro, Wonosobo, Prembun (Kebumen), Banjarnegara dan lain-lain. Pasar Tradisional Wage pada akhirnya merupakan pusat pertemuan dari beberapa daerah disekitar Wadaslintang. Komoditi yang diperdagangkan di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari. Wadaslintang termasuk dalam kategori daerah pedalaman, sehingga komoditi yang banyak diperjualbelikan adalah hasil produksi agraris (pertanian) seperti padi atau beras, sayur-mayur, buah-buahan dan lain-lain. Sayur-mayur dan buah-buahan yang

diperjualbelikan berasal dari Kecamatan Garung, Kalikajar dan Dieng. Daerah Wadaslintang tanahnya tidak cocok untuk menanam sayur-mayur karena daerahnya cukup panas dibandingkan dengan Kecamatan lain yang berada di Kabupaten Wonosobo. Sayur-mayur dan buah-buahan yang produksi sendiri adalah sayur daun singkong, buah kelapa, durian, duku dan lain-lain. Sayur dan buah-buhana yang ditanam disesuaikan dengan tanah dan cuaca di Wadaslintang. Wadaslintang terletak di daerah pedalaman, namun di pasar dijualbelikan juga berbagai jenis ikan, baik ikan laut ataupun tambak10. Jenis

10

Menurut Subroto (1985: 38), pengertian tambak terdapat beberapa tafsiran antara lain : tambak yang dapat berarti dinding dam, kolam ikan dan pintu air untuk mengatur banjir; dapat pula berarti tanggul sungai; atau hanya terbatas pada pengertian kolam pemeliharaan ikan; serta dapat pula berarti sebuah dam yang menyeberangi sungai dan berfungsi sebagai pengatur air sungai agar pada waktu musim kering kebutuhan air tetap dapat terpenuhi. Sedangkan Tambak yang dimaksud disini yaitu kolam pemeliharaan ikan. Tambak disini adalah budidaya ikan yang dilakukan masyarakat Wadaslintang dengan memanfaatkan keberadaan Waduk Wadaslintang.

74

ikan laut berasal dari Kebumen, ikan tambak diproduksi sendiri dengan memanfaatkan Waduk Wadaslintang. Jenis-jenis komoditi yang diperdagangkan dapat dibedakan oleh produksinya, yaitu produksi primer dan produksi sekunder. Produksi primer yaitu barang-barang yang dihasilkan oleh usaha manusia atau kelompok masyarakat yang berhubungan dengan alam seperti pertanian, perikanan, atau bahan mentah lainnya; sedangkan produksi sekunder adalah suatu barang yang dihasilkan oleh usaha industri yang berupa barang-barang yang dihasilkan oleh usaha industri yang berupa barang-barang konsumsi seperti makanan dan pakaian (Syamsidar, 1991: 48). 1) Bidang Pertanian Kondisi geografis dan geologis serta tersedianya sumber-sumber bahan untuk keperluan pertanian menyebabkan pertanian sudah dikenal di Indonesia sejak masa sebelum Masehi (Geertz, 1983 :38). Pertanian tanaman pangan untuk wilayah Wadaslintang bisa dikatakan lebih rendah kalau dibandingkan dengan daerah atau kecamatan lain di Wonosobo11. Hal ini disebabkan karena memang kondisi lahan pertaniannya sangat terpengaruh pada keadaan dan iklim yang kurang mendukung, khususnya untuk lahan sawah atau padi, yang sebagian besar sawah tadah hujan. Berdasarkan pada perbedaan sifat dari masing-masing jenis tanamannya, secara umum dikenal adanya pertanian basah dan pertanian kering. Pertanian kering tidak memerlukan irigasi baik dari sumber mata air atau sungai atau air
11

Di Wonosobo ada 13 kecamatan yaitu Wadaslintang, Kepil, Sapuran, Kaliwiro, Leksono/ Sukaharjo, Selomerto, Kalikajar, Kertek, Wonosobo, Watumalang, Mojotengah, Garung, dan Kejajar.

75

hujan secara teratur, sebaliknya pertanian basah sangat menggantungkan pada penggunaan irigasi yang sangat teratur. Termasuk dalam jenis pertanian kering adalah: (1) pertanian di tanah tegalan, yaitu kegiatan penanaman tanaman pangan secara tetap pada daerah lahan kering dan perlu adanya pengolahan tanah sebelum ditanami, jenis tanamannya juga lebih bervariasi; (2) pertanian di ladang, yaitu jenis kegiatan pertanian yang dilakukan secara berpindahpindah dengan penanaman berbagai tanaman berumur pendek, terutama tanaman pangan, dan tanah yang akan ditanami tidak diolah sehingga tingkat kesuburannya makin lama makin berkurang; dan (3) pertanian di kebun, yaitu kegiatan menggarap pertanian tanaman yang perdu

berusia panjang atau tanaman penghasil panenan yang ditanam pada lahan tetap, biasanya dengan

letaknya
Gambar 10. Wadaslintang Sentra Buah Kelapa. Bahu jalan menuju Pasar Wage Wadaslintang yang digunakan untuk memasarkan hasil pertanian kelapa.
Sumber :Dokumen Pribadi, diambil tanggal 3 Maret 2007

berdekatan

dengan suatu bangunan tempat penghunian. Sebaliknya yang

termasuk jenis pertanian basah

adalah pertanian yang dilakukan di sawah. Jenis pertanian basah biasanya dihubungkan dengan jenis tanaman padi pada suatu lahan yang di sebut sawah.tanaman padi memerlukan banyak air maka air merupakan faktor penting di dalam pertanian sawah, baik air dari sumber mata air dan sungai maupun air hujan. Jenis sawah yang mendapatkan air dari aliran sungai atau

76

sumber mata air disebut sawah sorotan, sedang sawah yang menggantungkan pada air hujan disebut sawah tadahan (Subroto, 1985: 28-31) Masyarakat Wadaslintang telah mengenal ragam sistem pertanian, akan tetapi hasil produksi bidang pertanian terutama didapat dari hasil bersawah dan berkebun. Hasil pertanian bersawah adalah padi atau beras yang merupakan salah satu jenis hasil bumi yang menjadi bahan komoditi di pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Hasil pertanian perkebunan cukup bagus terutama pada tanaman keras12 atau tanaman tahunan seperti kelapa, cengkeh, kopi dan sebagian telah dikembangkan tanaman lada. Wadaslintang merupakan daerah sentra penghasil buah kelapa/kopra selain Kaliwiro, sehingga komoditas utama di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang selain padi adalah buah kelapa. Masyarakat Wadaslintang kemudian memanfaatkan pohon kelapa untuk pembuatan gula Jawa (gula hitam). Wadaslintang juga terkenal sebagai sentra penghasil Gula Jawa. Penghasilan dari penjualan Gula Jawa dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak masyarakat Wadaslintang terutama yang tinggal didekat Waduk Wadaslintang dalam pengolahan sawah, tidak sedikit yang memanfaatkan keberadaan Waduk Wadaslintang untuk mengairi sawah-sawah pertanian mereka. Bila musim panen tiba, maka berbagai jenis tanaman akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Hasil panen itu mereka jual di pasar Wage Wadaslintang, baik untuk konsumsi lokal maupun bukan sehingga segala macam barang yang dibutuhkan dapat dibeli, mulai dari kebutuhan yang kecil
12

Hasil produksi bidang pertanian terdiri atas jenis tanaman keras berumur panjang dan tanaman muda, yaitu tanaman yang habis dalam satu kali panen (Nastiti, 2003:77)

77

sampai kebutuhan yang besar. Pada umumnya kebutuhan sehari-hari itu dapat diperoleh di Pasar Wage Wadaslintang, sedang kebutuhan sekunder seperti kendaraan bermotor misalnya mereka beli di ibu kota Kabupaten. 2) Bidang Peternakan Di sektor peternakan wilayah kecamatan Wadaslintang pada umumnya sangat cocok untuk beternak sapi maupun kambing. Hal ini disebabkan karena kondisi alam yang sangat mendukung antara lain rumput tumbuh liar secara alami cukup banyak dan rumput yang dikembangkan juga dapat tumbuh subur seperti Kunggres13 dan sejenisnya. Peternakan ayam pedaging dan burung puyuh juga mulai dikembangkan oleh masyarakat Wadaslintang. 3) Bidang Perikanan Masyarakat Wadaslintang selain memproduksi hasil pertanian dan peternakan, juga membudidayakan sistem perikanan. Jadi komoditi di pasar selain dibidang pertanian dan peternakan juga bidang perikanan walaupun bukan dari hasil laut. Hasil perikanan masyarakat Wadaslintang sebagian besar dihasilkan dari sistem karamba (tambak) yang memanfaatkan genangan air Waduk Wadaslintang14, selain dimanfaatkan untuk pengairan sawah. Pengembangan sektor perikanan dengan sistem karamba pada genangan waduk cukup baik, sebagai contoh pada PT. Acua Pam dengan sistem pembesaran

13

Kunggres adalah sejenis rumput liar yang digunakan sebagai makanan hewan ternak khususnya sapi dan kerbau. Rumput kunggres ini, sekarang banyak dibudidayakan oleh para peternak hewan sapi dan kerbau. Rumput ini tingginya bisa mencapai beberapa meter berbeda dengan rumpu-rumput liar pada umumnya yang tingginya hanya mencapai beberapa centimeter saja. 14 Waduk Wadaslintang adalah Waduk yang berada di Kecamatan Wadaslintang, waduk ini dibangun pada tahun 1982 dan selesai tahun 1988. Pembangunan waduk tersebut menghabiskan dana sebesar 185 Milyar dan memakan lahan seluas 1.463,08 Hektar, yang merupakan tanah dari beberapa desa di kecamatan Wadaslintang (Muntaha, 2002 : 12).

78

ikan jenis Nila merah di Karamba dengan hasil cukup baik, rata-rata perhari bisa meningkat 5-8 ton ikan segar (BPS Kab. Wonosobo tahun 2004). 4) Bidang Industri Sektor indutri dan jasa masih relatif kecil, penyebabnya karena sektor industri masih terbatas pada Industri Kecil dan Industri Rumah Tangga. Indutri ini dikelola oleh para perajin yang bergerak dalam berbagai bidang usaha. Jenis usaha rumah tangga antara lain, Industri Tahu, Industri Tempe dan lain-lain. Sektor perdagangan sangat berkembang, hal ini disebabkan karena

wilayah Wadaslintang yang sangat strategis berada di jalur alternatif Wonosobo-Kebumen sehingga menjadi persinggahan orang-orang yang melewatinya. Apalagi dengan difungsikannya Waduk Wadaslintang sebagai obyek wisata maka sektor perdaganganpun semakin berkembang. Sarana ekonomi yang menunjang kegiatan perekonomian di kelurahan Wadaslintang antara lain berupa 2 buah pasar, yaitu pasar umum Kelurahan Wadaslintang atau sering disebut Pasar Wadaslintang dan Pasar Hewan Wadaslintang serta beberapa toko atau kios dan beberapa koperasi serta Bank. Adapun Koperasi yang ada di wilayah pasar adalah berupa kios, toko serta wartel milik KUD Gemah Ripah Wadaslintang. Bank yang ada di dalam pasar adalah Bank Pasar sedangkan yang berada diluar lokasi pasar adalah BRI, BKK, dan Bank Muamalat. 2. Sistem Distribusi Pasar mempunyai peranan penting dalam mendistribusikan barangbarang kebutuhan masyarakat. Distribusi pada dasarnya ialah proses

79

penyebaran dan penyaluran bahan baku dari tempat asalnya ke tempat pembuatan atau langsung ke tempat pemakaian atau dapat pula dikatakan sebagai penyaluran barang hasil produksi kepada konsumen. Distribusi adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produksi dan konsumsi (Syarifuddin, 1990 : 84). Sistem distribusi mengenal dua macam sistem distribusi, yaitu distribusi langsung dan distribusi tak langsung. Distribusi langsung adalah beredarnya barang atau benda hasil suatu produksi sampai ketangan konsumen dari produsen langsung tanpa melalui perantara atau pedagang. Barang biasanya dibawa langsung oleh produsen kepada konsumen atau konsumen mendatangi produsen untuk mendapatkan suatu produk tertentu. Distribusi tak langsung adalah suatu distribusi barang dari produsen yang tidak langsung diterima oleh konsumen, melainkan melalui jasa pihak ketiga. Hal ini dapat terjadi bila produsen memerlukan pihak ketiga sebagai perantara barang produksinya sampai kepada konsumen. Pihak ketiga dalam distribusi tak langsung ini biasanya adalah agen, distributor ataupun seorang pengecer dan untuk sampai pada konsumen, suatu produk tertentu dapat berkali-kali melalui pihak perantara ini baru sampai pada pengguna atau konsumen sebagai mata rantai terakhir dari suatu proses distribusi (Depdikbud, 1990 :88-91). Kedua macam sistem distribusi ini sangat dipengaruhi oleh diferensiasi kerja yang ada pada masyarakat Wadaslintang dan sistem transportasi yang ada. Lancarnya sistem transportasi dan semakin jelasnya pembagian kerja suatu masyarakat memungkinkan sistem distribusi tak langsung semakin

80

berkembang. Kenyataan ini yang sekarang dijumpai di Wadaslintang, seperti yang terlihat pada jenis produksi hasil pertanian dan produksi Industri Rumah Tangga seperti produksi tahu, tempe serta hasil peternakan. Para pedagang di kelurahan Wadaslintang yang menjual barang-barang kebutuhan pokok adalah pihak perantara dalam jaringan distribusi tidak langsung. Hal ini terjadi karena barang-barang yang mereka jual bukan hasil produksinya sendiri melainkan mereka membeli barang dagangan dari tempat lain. Sarana distribusi merupakan unsur yang sangat penting dalam proses penyebaran barang produksi. Hal ini karena memungkinkan suatu barang menyebar sampai kepada para konsumen. Sarana distribusi ini dapat berujud yang terutama adalah alat transportasi dan kondisi jalan, sedangkan alat tukar, alat ukur dan tempat juga merupakan pendukung dimungkinkannya distribusi berlangsung. Alat transportasi adalah alat untuk memudahkan barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Alat ini sangat berperan dalam perekonomian, terutama kendaraan bermotor, sebab kecepatannya tinggi sehingga dapat memperlancar 1991: 59). Jalan merupakan sarana yang sangat penting bagi transportasi,
Gambar 11. Keadaan Jalan menuju Pasar pada hari pasaran Wage.
Sumber :Dokumen diambil tanggal 3 Maret 2007 Pribadi,

distribusi

(Utomo,

semakin baik kondisi jalan akan semakin memperlancar transportasi

81

sehingga akan semakin memperlancar proses distribusi. Di kelurahan Wadaslintang mempunyai kondisi jalan yang baik dan sudah beraspal serta armada angkutan yang cukup banyak. Hal inilah yang mendukung lancarnya barang keluar masuk dari dan ke kelurahan Wadaslintang. namun masih ada sebagian jalan-jalan antar desa ke pasar Pasar Tradisional Wage Wadaslintang yang masih sulit terjangkau dan rusak. Kendala ini membuat keluar masuknya hasil bumi para petani ke pasar sedikit terhambat. Tempat berlangsungnya distribusi di kelurahan Wadaslintang ini ada dua macam, yaitu adanya pasar Wadaslintang dan toko, kios serta warung. Pasar Wadaslintang tidak setiap hari buka karena hanya buka pada hari pasaran wage saja sehingga masyarakat Wadaslintang tidak dapat setiap saat berbelanja disana. Masyarakat Wadaslintang dapat berbelanja setiap hari di toko, kios dan warung yang hampir setiap saat selalu dibuka. Kedua tempat ini merupakan bertemunya antara penjual dan pembeli sehingga proses distribusi berlangsung. 3. Sistem Konsumsi Pada dasarnya sistem konsumsi dibedakan menjadi dua yaitu konsumsi sebagai pemenuhan kebutuhan primer dan konsumsi sebagai pemenuhan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer atau kebutuhan-kebutuhan adalah kebutuhan yang keberadaanya harus dipenuhi untuk pokok dapat

terselenggaranya sebuah kehidupan. Kebutuhan sekunder atau kebutuhan tambahan adalah kebutuhan yang keberadaanya tidak harus dipenuhi dan kehidupan tetap dapat terselenggara meskipun kebutuhan tersebut tidak dipenuhi (Syarifuddin, 1990 : 94).

82

Kebutuhan primer masyarakat kelurahan Wadaslintang sebagian besar pemenuhannya dengan membeli dan sebagian kecil diusahan sendiri. Jenisjenis barang yang tidak dapat diproduksi di kelurahan Wadaslintang ini misalnya kain, minyak tanah, garam, dan lain-lain. Kebutuhan akan barangbarang yang dapat diproduksi di kelurahan ini adalah kelapa, beras/ padi, cengkeh, kopi dan lain-lain. Jenis barang kebutuhan pokok yang tidak dapat diproduksi di kelurahan ini oleh para pedagang dibelinya dari daerah lain kemudian dijual kembali di kelurahan ini. Hal inilah yang mendorong munculnya warung pada rumahrumah penduduk (rumah toko/ruko) yang menyediakan barang-barang kebutuhan pokok. Kebutuhan sekunder atau kebutuhan tambahan adalah kebutuhan yang keberadaannya tidak mutlak harus ada untuk dapat terselenggaranya suatu kehidupan. Jenis kebutuhan sekunder ini muncul setelah kebutuhan-kebutuhan pokok terpenuhi, oleh karena itu fungsi kebutuhan ini adalah tidak untuk mempertahankan hidup melainkan untuk mempertinggi mutu hidup.. kebutuhan sekunder ini dapat berupa Televisi, Radio, Telepon/ HP, Sepeda motor, mobil dan lain-lain. Kehidupan manusia pada umumnya dan masyarakat Wadaslintang pada khususnya tidak cukup dipenuhi kebutuhan pokoknya untuk menjadikan hidup lebih berkualitas, tetapi mereka juga memerlukan hiburan, informasi, pendidikan, perawatan kesehatan dan kebutuhan pelengkap lainnya. Barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sekunder masyarakat Wadaslintang ini

83

biasanya diperoleh dari membeli. Pasar merupakan suatu sarana yang dapat menyerap dan menyediakan semua hasil serta kebutuhan masyarakat. Jika diperhatikan secara seksama, kehadiran pedagang dan petani produsen di Pasar Wage Wadaslintang hanya ingin mendapatkan tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi pedagang, kelebihan harga dari harga beli tiap unit barang yang didapatkan merupakan rejeki yang diperoleh melalui perdagangan.. kebanyakan pembeli di Pasar Wage Wadaslintang adalah petani sehingga pedagang dan petani adalah dua unsur yang tak dapat dipisahkan dalam gerak ekonomi pasar rakyat (Majid, 1988 : 310). Adanya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang menambah pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo melalui retribusi pasar yang di setor ke Dinas Pengelola Pasar Kabupaten Wonosobo. Retribusi pasar ini didasarkan atas Peraturan Daerah (Perda) No. 24 Tahun 2001 tentang Karcis Pasar Daerah Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Dari para pedagang ditarik retribusi pasar Rp. 1000 rupiah tiap pedagang pada hari peuken Wage (wawancara Tri Ukendarwati tanggal 8 Maret 2007). Hasil penarikan retribusi pasar dipergunakan untuk kebersihan pasar, sebagian dipergunakan untuk gaji pegawai yang membersihkan pasar dan sebagian lagi disetorkan ke Dinas Pengelola Pasar Kabupaten Wonosobo (Mardi, wawancara tanggal 8 Maret 2007). Kesimpulan dapat diambil bahwa Pasar Wadaslintang merupakan tempat Masyarakat Wadaslintang berbelanja dan tempat menjual barang hasil usaha tani. Keberadaan Pasar juga berfungsi untuk menambah pendapatan

84

pemerintah, karena setiap pedagang yang berjualan dikenakan retribusi pasar atau uang kebersihan. 2. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Wadaslintang Masyarakat Wadaslintang masih menerapkan sistem gotong royong dalam kehidupan sosial dan budaya. Sistem gotong royong ini sekarang sudah mulai berkurang di sebagian wilayah Wadaslintang terutama di Dusun Cangkring dan Dusun Wadaslintang. Masyarakat Dusun ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang yang membuka kios/warung yang buka setiap hari. Mereka tinggal di sekitar pasar, mereka saling bersaing dalam mendapatkan pelanggan sehingga mereka cenderung individual. Kegiatan gotong royong pada masyarakat Wadaslintang sudah mulai berkurang, akan tetapi pada saat salah satu keluarga masyarakat Wadaslintang memiliki hajat, berkabung dan lain-lain, tetangga sekitar tempat tinggal keluarga tersebut secara serempak bergotong royong untuk membantu. Bentuk gotong royong ini dapat diwujudkan berupa tenaga, bahan material (barang) maupun uang. Gotong royong dalam bentuk kerja bakti seperti membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan (krigan) biasanya tokoh pemrakarsanya adalah tokoh masyarakat dan aparat kelurahan. Adapun peran lembaga desa yang ada di kelurahan Wadaslintang dan dipandang cukup aktif dalam kegiatan pembiayaan terhadap masyarakat seperti lembaga PKK, Posyandu, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), dan lain-lain sehingga hubungan sosial masyarakat Wadaslintang sudah berjalan dengan

85

baik. Hubungan sosial antar warga ditujukkan apabila ada diantara warga tersebut yang mempunyai hajat atau ada yang meninggal dunia. Mayoritas penduduk Wadaslintang beragama Islam walaupun ada beberapa perbedaan penganut agama, namun toleransi antar umat beragama sangat terjaga. Terbukti dengan adanya Masjid Muhammadiyah dan Gereja Katholik yang berdiri berdampingan di RT 2 RW I Kelurahan Wadaslintang. Berdampingannya kedua tempat beribadah ini semakin menunjukkan bahwa toleransi yang terjaga sangat tinggi dan kerukunan antara umat beragama semakin terjalin. Adapun keadaan penduduk Kelurahan berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5 Penduduk Kelurahan Wadaslintang Dirinci Menurut Agama Tahun 1998 dan Tahun 2005 No Agama Tahun 1998 Tahun 2005 1 2 3 Islam Katholik Kristen Protestan Jumlah 4672 12 28 4.712 4.640 24 28 4.692 Wadaslintang

Sumber : Kecamatan Wadaslintang Dalam Angka Tahun 1998 dan 2005

Sarana tempat ibadah dirasa cukup memadai bila dilihat dari data akhir tahun 2005. Jumlah masjid ada 6 buah, musholla 29 buah, dan gereja 2 buah. Lembaga-lembaga Islam yang terdapat di Wadaslintang antara lain NU, Muhamadiyah dan LDII. Penduduk Wadaslintang sebagian besar beragama Islam sehingga adat istiadat/ tradisi masyarakat mulai dari acara perkawinan, khitanan, tujuh bulanan dan upacara kematian semua didasarkan pada ajaran Islam, walaupun tidak semua masyarakatnya melakukan tradisi tersebut.

86

Tingkat kemajuan masyarakat salah satunya dapat diperhatikan dari tingkat pendidikannya. Tingkat pendidikan di Wadaslintang tergolong masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini. Tabel 6 Komposisi Penduduk Kelurahan Wadaslintang menurut Tingkat Pendidikan bagi penduduk usia 5 tahun keatas tahun 1998 dan tahun 2005 No. 1 2 3 4 5 6 7 Pendidikan Tamat AK/PT Tamat SMA Tamat SMP Tamat SD Tidak tamat SD Belum tamat SD Tidak Sekolah Jumlah Tahun 1998 16 107 384 1.798 588 496 194 3.583 Tahun 2005 120 209 1.025 2.507 267 607 93 4.828

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo tahun 1998

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat kelurahan Wadaslintang dari tahun 1998 sampai 2005 sudah menamatkan pendidikan minimal di Sekolah Dasar. Jumlah ini terus meningkat diikuti lulusan SMP dan lulusan SMA. Pemerintah tetap berusaha memacu ketinggalan dengan latar belakang pendidikan masyarakat Wadaslintang seperti ini dengan Otonomi Daerah. Hal ini dapat dilihat dari prasarana pendidikan yang berangsur-angsur dibenahi dan dipenuhi untuk mengimbangi minat anak sekolah untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Sarana pendidikan di kelurahan Wadaslintang cukup memadai dibandingkan dengan tahun-tahun lalu sampai akhir tahun 2005 dengan adanya fasilitas/sarana pendidikan berupa sekolah-sekolah antara lain: sekolah TK sampai MA, dengan rincian TK 5

87

buah, SD 3 buah, MI 1 buah, SMP 1 buah, Mts 1 buah dan MA 1 buah serta terdapat 1 pondok pesantren. Kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat Wadaslintang terlihat melalui cara berinteraksi, penyebaran informasi maupun adanya hiburan yang didapatkan dengan keberadaan dan peranan pasar Wadaslintang. Peranan pasar tidak terbatas pada kegiatan ekonomi saja, tetapi juga dalam kegiatan sosial budaya. Setiap orang yang pergi ke pasar tidak selalu akan membeli barang, tetapi ada yang datang hanya sekedar main saja, atau ingin berjumpa dengan seseorang guna menadapatkan informasi tentang sesuatu. Hal ini merupakan pertemuan sosial. Jadi dalam kehidupan bermasyarakat, pasar merupakan pranata yang penting, dimana secara berkala atau insidental warga masyarakat saling berhubungan. 1. Interaksi Sosial Interaksi merupakan prasyarat dari segala macam aktivitas sosial, oleh sebab itu suatu interaksi sosial umumnya mengacu pada hubungan-hubungan sosial yang terjadi di antara individu dengan individu, individu dengan

kelompok, dan di antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat sehingga terjadi komunikasi dan respons di antara keduanya. Ada dua hal yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial dapat bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerjasama sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan tidak menghasilkan suatu interaksi sosial. Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder.

88

Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, sedangkan kontak sekunder dapat dilakukan dengan melalui perantara, baik oleh orang lain maupun benda-benda budaya (Nastiti, 2003 : 102). Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai tempat bertemunya antara warga masyarakat Wadaslintang maupun warga masyarakat dari desa-desa sekitarnya, dan dengan sendirinya menimbulkan interaksi diantara mereka. Interaksi tersebut dapat berhubungan langsung dengan masalah transaksi jual beli atau berhubungan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dalam masyarakat. Mengingat kontak yang terjadi baik antara penjual dan pembeli, pembeli dan pembeli, maupun penjual dan penjual lebih mungkin berhadapan muka langsung, maka interaksi sosial yang terdapat di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, lebih cenderung ke dalam kontak primer. Meskipun sebenarnya, dapat saja kontak itu bersifat sekunder, misalnya jika seorang menitipkan membeli sesuatu kepada tetangganya yang pergi ke pasar, maka yang terjadi adalah kontak tidak langsung antara si pembeli dan si penjual. Hal ini terjadi di kelurahan Wadaslintang. Menurut Ratmi seorang ibu rumah tangga, warga RT 3 RW 1 Wadaslintang yang mengatakan bahwa, “Setiap kali saya pergi ke pasar wage pasti ada saja tetangga nitip belanjaan. Biasanya yang nitip belanjaan adalah tetangga yang tidak sempat pergi ke pasar. Mereka nitip dibelikan sayuran, bumbu dapur atau buah-buahan” (Wawancara, 3 Maret 2007). Rupanya interaksi yang terjadi di pasar tidak hanya melibatkan warga desa yang masuk dalam sistem panatur desa saja, tetapi yang datang dari luar

89

sistem itu. Pada sistem produksi, adanya produk pesisir yang di dapatkan di pasar Wadaslintang yang notabene merupakan daerah pedalaman, menandakan adanya distribusi komoditi, baik yang dilakukan oleh pedagang dari pesisir, pedagang dari pedalaman/ pegunungan maupun perantara. Adanya pedagang ataupun perantara yang datang dari pesisir ke pegunungan/ pedalaman untuk menjual hasil produksi mereka atau sebaliknya, menggambarkan adanya interaksi di antara warga masyarakat yang tercakup dalam sistem pasar dengan orang-orang dari luar sistem tersebut. Menurut penuturan Ahmad Toyib, yang mengatakan bahwa : “Pedagang yang berjualan di Pasar Wage Wadaslintang ini tidak hanya para pedagang yang terdapat di pasar-pasar desa di kecamatan Wadaslintang, tapi mereka juga para pedagang yang biasanya berjualan di Pasar Pahing Kaliwiro, Pasar Wonosobo, Pasar Kertek, Pasar Banjarnegara, bahkan adapula yang berasal dari Semarang. Jadi mereka tidak hanya berasal dari kecamatan Wadaslintang” (Wawancara, 28 Februari 2007). Pasar Tradisonal Wage

Wadaslintang sebagai Interaksi Sosial Masyarakat Wadaslintang dan sekitarnya. Gambar suasana pasar di bawah ini merupakan contoh interaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Interaksi yang paling sering terjadi antara penjual dan pembeli adalah tawar menawar, yang dilakukan untuk mencapai kesepakatan harga. Proses tawarGambar 12. Suasana Pasar Wage Wadaslintang
Sumber : Dokumen Pribadi diambil tanggal 3 Maret 2007

90

menawar antara penjual dan pembeli merupakan hal yang sangat lumrah dijumpai di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Penjual dan pembeli yang melakukan aktivitas di pasar biasanya berasal dari masyarakat petani walaupun tidak sedikit yang merupakan pedagang. Pada umumnya mereka mengenal satu sama lain baik antara penjual dan pembeli, maupun antara pembeli dengan pembeli atau pejual dengan penjual. Hal ini menyebabkan rasa ketergantungan antara penjual dan pembeli yang

menimbulkan rasa keterikatan satu sama lainnya. Keterikatan itu dapat mempengaruhi tingkah laku penjual dan pembeli dalam menentukan harga dalam tawar menawar. Salah satu bentuk yang memperlihatkan adanya ikatan-ikatan yang erat dalam interaksi antara penjual dan pembeli yang dibina oleh kepercayaan yang tinggi di antara mereka adalah dengan adanya penjual yang berusaha menyediakan barang-barang yang dipesan oleh si-pembeli, meskipun barangbarang pesanan itu bukanlah jenis komoditi yang dijualnya. Ikatan-ikatan seperti itu terjadi pula pada pedagang pakaian, hal ini terjadi pada Sa’adah seorang pedagang pakaian. Seorang pelanggannya membutuhkan baju daster padahal Sa’adah adalah pedagang pakaian sekolah. Hasil pengamatan di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang menunjukkan bahwa kadang-kadang pesanan itu tidak dipesan langsung ke si produsen, akan tetapi melalui pedagang pakaian yang lain yang berjualan di Pasar Wage Wadaslintang. Pada kasus semacam ini, pedagang lebih cenderung sebagai perantara sehingga besarkecilnya keuntungan yang diperoleh si pedagang tergantung dari hubungan si

91

pedagang dan si pelanggan. Biasanya makin baik hubungan si pedagang dengan si pelanggan, makin sedikit keuntungan yang akan diambil. Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat menyebabkan adanya kontrak diadik (dyadic contract) atau hubungan yang terjalin antara dua orang dalam kurun waktu yang telah ditentukan atau pun dalam waktu yang tidak terbatas. Kontrak diadik ini sifatnya informal dan tidak dilandasi hukum, serta dilakukan kedua belah pihak tanpa paksaan. Kontrak diadik tersebut dapat berupa simetris dan asimetris. Adapun yang dimaksud hubungan simetris adalah hubungan dua pihak yang mempunyai kedudukan sama dan diantara keduanya saling melengkapi, sedangkan hubungan asimetris jika salah satu pihak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi sehingga hubungannya lebih menyerupai patron-klien (patron-client) (Nastiti, 2003: 109) Seseorang dapat melakukan kontrak diadik dengan beberapa orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan, umpamanya seorang pedagang melakukan kontrak diadik dengan istrinya, yaitu selama mereka terikat dalam pernikahan, si suami mencari nafkah dan si istri mengurus rumah tangga. Kontrak diadik selain itu juga dapat dilakukan dengan tetangganya yaitu saling tolong-menolong dalam suka dan duka, juga ia, jika seorang pedagang, dapat mengadakan kontrak diadik dengan langganannya, dengan pedagang-pedagang lainnya, dengan pemasok barangnya, dan sebagainya. Interaksi sosial menyebabkan pula adanya kontak budaya dalam masyarakat, diantara mereka saling memperkenalkan barang-barang baru hasil produksi mereka. Hasil produksi yang menjadi komoditi dapat menyebabkan

92

difusi atau penyebaran pengetahuan mengenai produksi dan pengetahuan mengenai konsumennya. Berbekal pengetahuan mengenai produksi yang disukai konsumen, produsen dapat menciptakan sesuatu yang bersifat inovatif yang diperkirakan laku di pasar. Difusi pengetahuan dapat terjadi di dalam satu komunitas yang tinggal dalam satu desa, atau dapat juga antara satu komunitas dengan komunitas lainnya yang tinggal di beberapa desa15. Adanya difusi pengetahuan yang diakibatkan oleh interaksi yang terjadi dalam masyarakat dapat mempengaruhi pola pikir dan pola tingkah laku yang terus menerus akan mengakibatkan adanya inovasi16 yang dapat membawa masyarakat kearah kemajuan. Pengetahuan mengenai produksi suatu barang, misalnya, dapat diperoleh secara turun temurun, dapat diperoleh dari tetangga dalam satu desa, atau dari warga desa tetangga. Keahlian ini kemudian

dikembangkan terus menerus oleh warga masyarakat desa tersebut sehingga barang-barang yang diproduksi merupakan ciri khas dari desanya.

Wadaslintang merupakan sentra produksi kelapa sehingga ciri khas Kelurahan Wadaslintang adalah buah kelapa. Seringnya warga masyarakat Wadaslintang dari berbagai lapisan bertemu di pasar Tradisional Wage Wadaslintang, orang-orang yang tadinya tidak mengenal satu sama lain menjadi saling mengenal sehingga terjadi ikatan15

Yang dimaksud difusi pengetahuan disini adalah peminjaman pengetahun dari atau antar komunitas. 16 Istilah inovasi biasa digunakan dalam tiga konteks yang berbeda-beda, yaitu (1) sinonim dengan invention,dalam pengertian ini inovasi menunjuk pada suatu proses kreativitas yaitu kombinasi dari dua konsep atau lebih sehingga melahirkan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Mereka, individu atau organisasi, yang memiliki daya kreativitas itu disebut inovatif; (2) proses penerimaan, dalam pengertian ini inovasi diartikan sebagai proses pengambilan dan internalisasi atau proses memasarkan ide-ide baru; dan (3) hasil invention,inovasi dalam pengertian ini lebih menekankan pada hasil penemuannya, yaitu ide-ide, praktek-praktek, dan alat-alat yang ditemukan (Joyomartono, 1991, 44-45).

93

ikatan yang erat diantara mereka. Apalagi interaksi ini terjadi pada masyarakat pedesaan yaitu masyarakat Wadaslintang yang belum begitu kompleks sehingga interaksi di antara mereka lebih mudah terjadi. Interaksi ini dapat berlanjut dalam aktivitas sosial yang terdapat di luar pasar, misalnya dalam perkawinan maupun kemalangan/ musibah. Hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa interaksi sosial yang terjadi di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang pada umumnya adalah berdagang untuk mengambil keuntungan sekaligus berinteraksi untuk mendapatkan teman. Kemungkinan penyebabnya adalah ciri khas masyarakat pedesaan yang bergotong royong sehingga mereka selalu merasa membutuhkan orang lain. Adanya pelanggan juga membuat para pedagang merasa di untungkan tanpa harus memasang iklan. Mengapa dikatakan demikian karena dengan banyaknya teman yang dimiliki maka para teman inilah yang akan memberitahukan jenis dagangan para pedagang ke orang lain. 2. Informasi dan Komunikasi Bertemunya antara pedagang dan penjual di pasar, yang berasal dari berbagai kalangan, kelas sosial dan latar belakang budaya menjadikan fungsi pasar tidak sekedar sebagai tempat yang berfungsi ekonomis tetapi juga informatif. Sumber informasi tidak hanya melalui media cetak (koran, majalah) ataupun media elektronik (televisi dan radio), tetapi juga tidak kalah pentingnya adalah sumber informasi yang diperoleh dari seseorang. Bagi masyarakat Wadaslintang, Pasar Wage Wadaslintang secara otomatis berfungsi sebagai tempat berkomunikasi dan juga sebagai sumber

94

informasi. Interaksi sosial yang terjadi di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang, baik antara penjual dan pembeli atau antara sesama pembeli ataupun sesama penjual, secara tidak langsung di antara mereka telah terjadi pertukaran informasi. Informasi ini dapat berupa informasi penting atau hanya informasi-informasi tentang berbagai kejadian yang mereka alami. Masyarakat Wadaslintang selama berinteraksi di pasar tidak hanya membicarakan masalah-masalah ekonomi semata, tetapi juga membicarakan semua aspek kehidupan. Berbagai macam informasi dapat secara cepat menyebar di pasar yang berlangsung dari mulut ke mulut sehingga pasar menjadi tempat mendapatkan sekaligus menyebarkan informasi. Dari gambar di samping dapat diamati, pedagang bahwa obat

keberadaan yang

menawarkan

dagangannya melalui suara speaker dengan suara yang
Gambar 13. Suasana Pasar Wage Wadaslintang sebagai Pusat Informasi dan Komunikasi
Sumber :Dokumen tanggal 3 Maret 2007 Pribadi, diambil

keras

di

Pasar

Wage ternyata perhatian

Wadaslintang mampu menarik

pengunjung sehingga Informasi yang akan disampaikan yaitu mengenai barang dagangannya yaitu obat-obatan yang ditawarkan akan tersampaikan. Pasar Tradisonal Wage Wadaslintang sebagai tempat berkumpulnya warga masyarakat Wadaslintang, masyarakat sekitar Wadaslintang maupun

95

masyarakat dari daerah luar Wadaslintang, disadari ataupun tidak ternyata Pasar Wadaslintang merupakan sarana yang paling baik untuk menyebarkan suatu pesan atau berita walaupun dalam era sekarang ini sudah tersedia alat komunikasi yang maju, misalnya Telepon ataupun HP ternyata pasar tradisional masih merupakan sarana informasi yang baik. Multifungsi yang dimiliki pasar secara tidak langsung sangat menguntungkan pihak pemerintah dalam menyebarkan pesan-pesan pembangunan dan hasil yang telah tercapai. 3. Hiburan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang pada umumnya selain

menawarkan kebutuhan pokok (primer) maupun pelengkap (sekunder), juga menawarkan hiburan yang dapat dinikmati meskipun hanya untuk melihat-lihat keramaian di pasar untuk menonton pertunjukan. Hiburan bagi masyarakat sampai sekarang masih merupakan unsur penting dalam kehidupan. Masyarakat Wadaslintang memanfaatkan hari pasar sebagai selingan dari pekerjaan rutin yang harus dilakukan, seperti yang dinyatakan oleh Sukirman seorang buruh tani yang mengatakan bahwa : “ Saya setiap wage pasti pergi ke pasar Wadaslintang untuk menjual hasil kebun, selain itu juga untuk mencari selingan hiburan. Saya jarang sekali bahkan tidak pernah ke pasar selain wage kecuali kalau ada keperluan mendesak” (Wawancara, 28 Februari 2007). Pengunjung Pasar Wadaslintang sangat bervariasi. Anak-anak, pemudapemudi, orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Diantara pengunjung pasar, ada yang sengaja untuk mencari hiburan (rekreasi) di pasar. Rekreasi merupakan kebutuhan setiap individu dimana saja berada, bukan hanya

berlaku bagi orang yang tinggal di kota (Majid, 1988 : 311).

96

Di Wadaslintang, selain Waduk Wadaslintang tidak ada tempat wisata untuk hiburan yang dikunjungi banyak orang sehingga yang menjadi sasaran tempat untuk mencari hiburan hanyalah pasar Wadaslintang. Kehadiran orangorang yang mencari hiburan di pasar Wadaslintang didorong oleh beberapa faktor antara lain disebabkan karena di kampung selalu dipacu dalam bekerja, tidak waktu kosong untuk bersantai, kecuali saat tertentu seperti pada acara hajatan seperti perkawinan atau khitanan. Jika hari pasar tiba, para pemuda-pemudi banyak yang datang ke pasar Wadaslintang, kendatipun tidak ada maksud apa yang dibeli, seperti yang diutarakan oleh Ari seorang remaja putri dari desa Trimulyo yang mengatakan bahwa : “Saya berasal dari desa Trimulyo. Saya datang ke pasar jalan kaki. Saya masih kuliah, jadi kalau saya di rumah ketika liburan hampir setiap hari wage saya pasti pergi ke Pasar Wage Wadaslintang, sebab kalau saya di rumah terus-terusan bosan tidak ada kerjaan. Saya pergi ke pasar biasanya untuk jalan-jalan sambil cuci mata kecuali kalau dititipi belanja sama ibu saya” (Wawancara, 3 Maret 2007). Datangnya pengunjung di Pasar Wadaslintang yang hanya sekedar mencari hiburan di pasar tampaknya sangat berpengaruh terhadap keramaian pengunjung pasar. Apalagi dengan keadaan jalan yang sempit semakin menambah kesulitan bagi orang yang berbelanja ataupun para pengunjung pasar yang hanya sekedar cuci mata sehingga disana-sini terjadi desak-desakan. Para pelajar sekolah juga tidak sedikit yang masuk pasar. Apalagi dengan keberadaan pasar yang dekat dengan sekolah-sekolah yaitu dekat dengan SD 1, SD 2, MI, SMP, dan MTs serta SMA Maarif sehingga kalau hari pasaran Wage tiba frekuensi pelajar yang masuk ke pasar banyak. Para pelajar biasanya

97

hanya sekedar jalan-jalan, walaupun mungkin ada yang berbelanja. Tujuan mereka untuk berbelanja kemungkinan sangat kecil. Mereka ke pasar biasanya setelah pulang sekolah, akan tetapi dari hasil penelitian kebanyakan para pelajar yang masuk ke pasar paling banyak ditemui pada hari jum’at. Hal ini disebabkan pada hari Jum’at mereka pulang lebih awal sehingga pasar Wage Wadaslintang masih ramai. Hal ini berbeda dengan pada hari peken yang jatuh pada hari selain Jum’at, para pelajar ini pulang siang sehingga pasar sudah sepi. Adanya beberapa kemungkinan yang ditawarkan di pasar, maka tujuan orang-orang pergi kepasar tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja barang-barang yang diperlukan, tetapi juga untuk mencari hiburan.

BAB V SIMPULAN

Berdasarkan permasalahan dan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa : 1. Berdirinya pasar Tradisional Wage Wadaslintang terkait erat dengan sejarah Wadaslintang dan perkembangan kekuasaan Desa Wadaslintang. Munculnya pasar desa ini tidak diketahui secara pasti kapan mulai ada, tetapi dari keterangan penduduk sekitar, bahwa pasar desa Wadaslintang sudah ada sekitar tahun 1900-an yaitu pada masa pemerintahan Glondong Sastro

Sukarno. Pada pemerintahannya terjadi pembangunan fisik secara besarbesaran, termasuk pembangunan pasar desa. Pembangunan pasar desa ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat yang amat sulit pada waktu itu. Pasar Wadaslintang ini terletak di tengah-tengah wilayah kecamatan Wadaslintang. Letak Pasar Wadaslintang yang berada di tengah-tengah ternyata berbeda dengan konsep watak atau karakter menurut perhitungan Jawa dimana “wage” yang berwatak kedher (kaku hati) bertempat di sebelah utara. Menurut konsep watak dalam perhitungan Jawa letak pasar Wadaslintang yang berada di tengah-tengah seharusnya hari pasarannya adalah kliwon. Pasar Wadaslintang yang merupakan pusat pasar atau pasar induk sesuai dengan konsep watak perhitungan Jawa, dimana pasar yang terletak di tengahtengah merupakan pasar induk (pusat pasar).

115

116

2. Kondisi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang sedikit banyak telah terpengaruh dengan adanya pasar. Pasar ternyata telah menjadikan masyarakat Wadaslintang menjadi masyarakat konsumtif. Nilainilai kegotongroyongan yang selama ini diperlihatkan mulai luntur. Pertanian yang dikembangkan adalah pertanian tegalan dan berkebun. Hasil produksi yang utama adalah penghasil buah kelapa/kopra serta penghasil gula Jawa (gula aren). Masyarakat Wadaslintang masih merupakan masyarakat sederhana jadi barang-barang yang diperdagangkan di pasar masih terbatas pada barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sektor perdagangannya sangat berkembang apalagi wilayah Wadaslintang yang berada di jalur alternatif Wonosobo-Kebumen serta di fungsikannya Waduk Wadaslintang sebagai objek wisata sehingga sektor perdagangan semakin berkembang. 3. Keberadaan Pasar Wage Wadaslintang di Kelurahan Wadaslintang sedikit banyak telah membawa perubahan terhadap kehidupan ekonomi dan sosial budaya masyarakat sekitarnya. Pasar memiliki multi peran, yaitu tidak hanya berperan sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi pasar juga sebagai tempat bertemunya budaya yang dibawa oleh setiap mereka yang memanfaatkan pasar. Pasar dalam bidang ekonomi menawarkan barang dan jasa yang beranekaragam baik jenis, mutu maupun jumlahnya. Pasar dengan keanekaragaman barang dan jasa yang ditawarkan pada akhirnya akan mempengaruhi pola konsumsi, pola distribusi dan pola produksi masyarakat di sekitar pasar.

117

Pasar dilihat dari aspek sosial yaitu sebagai arena interaksi dari berbagai golongan dan lapisan masyarakat. Pasar mewujudkan masyarakat majemuk. Interaksi antara masyarakat setempat dengan masyarakat luar Wadaslintang tidak dapat dihindari. Pertemuan antar masyarakat ini akan saling mempengaruhi dan pada akhirnya akan membawa pengaruh pada masingmasing pihak. Pasar sebagai pusat kebudayaan, menawarkan ide-ide dan gagasan baru pada masyarakat di sekitar pasar melalui barang dan jasa yang diperdagangkan di pasar. Mobilitas yang tinggi juga membawa gagasan dan informasi yang baru serta membawa pengaruh pada pola berfikir dan pola tingkah laku masyarakat. Pengaruh yang ditimbulkan di pasar berupa pengenalan terhadap ide-ide baru yang ternyata dapat meningkatkan hasil produksi. Penggunaan teknologi baru menyebabkan arus informasi menjadi lebih cepat. Kebudayaan teknologi maju banyak mengubah pola kebiasaan masyarakat. Pasar Wage Wadaslintang yang berstatus pasar daerah milik Dinas Pasar, jelas secara kuantitas dan kualitas pola interaksinya berbeda dengan pasar desa yang berstatus pasar desa murni. Pasar Wage Wadaslintang sebagai pasar daerah dimana mempunyai pengaruh yang lebih besar dari pada pasar-pasar desa lain yang berada di Kecamatan Wadaslintang fungsinya sebagai pusat ekonomi lebih bersifat komplek, sebab di Pasar Wage Wadaslintang terjadi pola interaksi antar dan inter warga di Kecamatan Wadaslintang tersebut bahkan antar dan inter desa di luar Kecamatan Wadaslintang.

DAFTAR PUSTAKA Belshaw, Cyril S. 1981. Tukar-Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta : Gramedia. Boeke dan Burger. 1973. Ekonomi Dualistis. Jakarta : Bhatara. BPS. 1998. Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo dalam Angka. Wonosobo : BPS Kab. Wonosobo ------. 2002. Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo dalam Angka. Wonosobo : BPS Kab. Wonosobo ------. 2005. Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo dalam Angka. Wonosobo : BPS Kab. Wonosobo Chourmain, Imam dan Prihatin. 1994. Pengantar Ilmu Ekonomi. Jakarta : Depdikbud. Depdikbud. 1986. Sistem Ekonomi Daerah Jawa Tengah. Jakarta : Depdikbud. -------------. 1990. Peranan Pasar Pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat. Jakarta: Depdikbud. --------------.1993. Dampak Pembangunan Ekonomi (Pasar) Terhadap Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat di Pedesaan Sumatera Barat. Padang: Depdikbud. --------------.1993. Dampak Pembangunan Ekonomi (Pasar) Terhadap Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat di Pedesaan Sumatera Selatan. Palembang: Depdikbud. Djoyomartono, Mulyono. 1989. Perubahan Kebudayaan dan Masyarakat dalam Pembangunan. Semarang: IKIP Semarang press. Geertz, Clifford. 1977. Penjaja dan Raja terjemahan Supomo. Jakarta : Gramedia. ------------------. 1983. Involusi Pertanian. Jakarta : Bharatara Karya Aksara. Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press. Heilbroner, Robert L (ed). 1982. Terbentuknya Masyarakat Ekonomi. Terjemahan Sutan Dianjung. Jakarta : Ghalia Indonesia.

118

119

Hefner, Robert W. 2006. Budaya Pasar (Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru). Jakarta : PT. Pustaka Utama LP3S. Kartodirjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodelogi Sejarah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Koentjaraningrat. 1971. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. -------------------. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta : PN. Balai Pustaka. Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta : Tiara Wacana. ----------------. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta : Tiara Wacana. Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya. Majid, M. Dien. 1988. Pasar Angkup (Studi Kasus Perilaku Pasar). Dalam Perdagangan, Pengusaha Cina, Perilaku Pasar (Pengantar Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti). Jakarta : PT. Pustaka Grafika Kita. Purwadi. 2006. Petungan Jawa. Yogyakarta : Pinus. Saraswati, Ufi. 2000. ‘Peranan Pasar Bagi Kerajaan Banten’. Dalam Paramita. No. 2. Hal. 137-149. Syamsidar (ed). 1991. Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan di Daerah Riau. Jakarta : Depdikbud. Syarifuddin, dkk. 1990. Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan di Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta : Depdikbud. Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Subroto, Ph. 1985. Sistem Pertanian Tradisional pada Masyarakt Jawa Tengah secara Arkeologis dan Etnografis. Yogyakarta :Depdikbud Dikjen Javanologi. Sugiyarto, Dakung (ed). 1986. Peranan Pasar Pada Masyarakat Pedesaan Jawa Barat. Jakarta : Depdikbud. Utomo, Cahyo Budi dan JB. Tjoek Soewarno. 1991. Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan di Daerah Jawa Tengah. Jakarta : Depdikbud.

120

Widiyanto, T. Sigit dan Elizabeth T. Gurning. 1997. Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan, dan Perilaku Budaya Tradisional Pada Generasi Muda di Kota Ambon. Jakarta : Depdikbud. Wiyono. 1990. Metode Penelitian Sejarah. Makalah tidak diterbitkan. Semarang : FPIPS Semarang.

123

INSTRUMEN PENELITIAN

A. Informan 1. Nama 2. Alamat 3. Jenis Kelamin 4. Umur 5. Pendidikan 6. Pekerjaan :…………………………………………. :…………………………………………. :…………………………………………. :…………………………………………. :…………………………………………. :………………………………………….

B. Sistem Kemasyarakatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Desa ini terbentuk semenjak kapan? Mengapa desa ini dinamakan Wadaslintang? Bagaimanakah sejarahnya? Apakah mata pencaharian utama penduduk desa? Pasar desa ini telah ada semenjak kapan? Bagaimana sejarah terbentuknya pasar desa ini? Tanah pasar ini milik siapa? Mengapa pasar desa ini terselenggara pada hari Wage kenapa tidak terselenggara pada hari Kliwon misalnya? bagaimana sejarahnya? 8. 9. Kedai/toko disekitar los dibangun sejak tahun? Fasilitas yang terdapat di pasar, apa saja?

10. Bagaimana peranan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi, Sosial dan Budaya bagi masyarakat Wadaslintang?

124

Daftar Pertanyaan Pedoman Wawancara Penelitian pada Masyarakat / Pedagang di Pasar Tradisional Wage Wadaslintang

A. Pasar sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi. 1. Sejak kapan saudara berdagang di pasar ini? 2. Tahukah saudara asal mula atau sejarah Pasar Wage Wadaslintang? 3. Apakah sejak dahulu pasar Wage sudah ramai dan lengkap seperti sekarang ini? 4. Apakah saudara mempunyai tempat berjualan yang sudah tetap di pasar ini?Sejak kapan? 5. Sebelum berdagang di pasar Wage Wadaslintang pernahkan saudara berdagang di pasar lain? 6. Adakah perubahan yang saudara rasakan dengan perbedaan tempat berdagang? 7. Kebutuhan apa saja yang biasa saudara beli di pasar Wage Wadaslintang? 8. Selain pasar ini, apakah saudara berbelanja kebutuhan pokok ke tempat/pasar lain? Di pasar mana?apa alasannya? 9. Barang kebutuhan pokok apa yang paling banyak dibeli di pasar Wage? 10. Adakah pedagang musiman yang berjualan di pasar ini?

B. Pasar sebagai Pusat Kegiatan Sosial dan Kebudayaan 1. Adakah pedagang dari daerah lain yang bertempat tinggal di sekitar pasar? 2. Pernahkah saudara berkenalan dengan orang dari desa lain di pasar ini? 3. Bagaimana hubungan antara pedagang di pasar ini? Dengan pedagang mana saudara menjalin hubungan? 4. Selain hubungan jual-beli, apakah saudara menjalin hubungan dengan pembeli diluar pasar? 5. Dari lapisan /golongan mana pembeli yang banyak berbelanja di pasar ini? 6. Apakah di pasar ini ada Petugas pasar atau pegawainya? Misal, Kepala Pasar, keamanan, dan lain-lain. 7. Siapakah yang mengatur tempat-tempat berjualan di pasar ini?

125

8. Apakah pasar ini dilengkapi dengan fasilitas seperti penerangan listrik, air bersih, tempat parkir, gudang, dan lain-lain? 9. Pernahkah ada pertunjukan yang diselenggarakan di pasar ini? Pertunjukan apa saja? 10. Siapa yang mengadakan pertunjukan tersebut? 11. Dalam rangka apa pertunjukan tersebut diadakan? 12. Pernahkah diadakan penyuluhan dari pemerintah? Misalnya, tentang kebersihan lingkungan, kesehatan, dan lain-lain? 13. Menurut saudara, pengunjung pasar ini yang ramai disaat apa? Adakah pengaruhnya bagi usaha saudara? 14. Keuntungan apa yang saudara peroleh dengan adanya pasar ini? 15. Apakah pengelolaan pasar ini sudah baik? 16. Apakah pergaulan saudara selama ini di pasar ini membawa pengaruh dalam kehidupan anda?Jelaskan!

126

SURAT KETERANGAN

Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Umur Pekerjaan Alamat : H. Ahmad Toyib : 60 tahun : Wiraswasta/ Ketua Rt 3 Rw I : Wadaslintang Rt 3 Rw I

Menerangkan bahwa saya telah diwawancarai oleh mahasiswa dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang. Nama NIM : IFAH CHASANAH : 3101403038

Demikian surat keterangan ini kami buat dengan sesungguhnya.

Wonosobo, 2 Maret 2007

(

)

126 BIODATA INFORMAN

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: Ahmad Muhadjir, BA : Wonosobo, 23 Desember 1952 : PNS (Kepala Kelurahan Wadaslintang) : Wadaslintang RT 01 RW III : Pejabat Pemerintah

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: Mardi, SE : 56 Tahun : PNS : Tanjungsari Kaliwiro : Kepala UPT Pasar Kaliwiro-Wadaslintang

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: Sutaryo : 63 Tahun : Petani (Kadus Wadaslintang) : Wadaslintang RT 01 RW II : Tokoh Masyarakat

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: H. Ahmad Toyib : 60 Tahun : Wiraswasta (Ketua RT 03 RW I) : Wadaslintang RT 03 RW I : Tokoh Masyarakat

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: Tri Ukendarwati : 42 Tahun : PNS : Trimulyo : Karyawan UPT Pasar Wadaslintang

127 Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan : Heri Susanto : 47 Tahun : Wiraswasta : Cangkring : Tokoh Masyarakat Cangkring

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat

: Hj. Marliyah : 57 Tahun : Pedagang Pakaian : Ngalian

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat

: Sutrisno : 60 Tahun : Pedagang Makanan : Wadaslintang RT 01 RW II

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat

: Sa’adah Aryati : 22 Tahun : Pedagang : Kemutug, Tirip

Nama Lengkap Umur Pekerjaan Alamat Posisi Informan

: Ari S : 20 Tahun : Mahasiswa : Sarimulyo : Pengunjung Pasar

128 INFORMAN

Gambar 17. Bp. Ahmad Muhajir, BA (Lurah Wadaslintang ) Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 5 Maret 2007

Gambar 18. Bp. Mardi, SE (Kepala UPT Pasar Wadaslintang) Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 8 Maret 2007

129

Gambar 19. Bp. Sutaryo (Kadus Wadaslintang). Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 2 Maret 2007

Gambar 20. Bp. H. Ahmad Toyib (Ketua RT 03 RW I Wadaslintang) Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 28 Februari 2007

130

Gambar 21. Ibu Tri Ukendarwati ( Karyawan UPT Pasar Wadaslintang). Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 8 Maret 2007

Gambar 22. Ibu Hj. Marliyah (Pedagang Pakaian). Sumber : Dokumen Pribadi, diambil tanggal 3 Maret 2007

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful