MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

Oleh Nama NIM : Veri Dani Wardani : 2150401506

Program Studi : Sastra Indonesia Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

SARI
Dani Wardani, Veri. 2005. Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: I. Drs. Sukadaryanto, M. Hum. II. Drs. Agus Nuryatin, M. Hum. Kata kunci : Feminis, male feminis dan kontra male feminis. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan salah satu novel yang menceritakan perjalanan tokoh perempuan (Srintil) yang dipengaruhi oleh tokoh laki-laki. Dalam kehidupannya Srintil bertemu dengan tokoh penyelamat (male feminis) dan tokoh penghambat (kontra male feminis). Rumusan masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?, (2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari? Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif karena analisis ini berangkat dari teks. Sumber data ini adalah semua perilaku tokoh yang pro feminis (male feminis) dan kontra male feminis dalam teks novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang berkaitan dengan peran male feminis dan kontra male feminis. Teknik analisis data yang dipergunakan untuk mengelompokkan perilaku tokoh laki-laki yang berhubungan dengan peran tokoh utama, kemudian diterapkan dalam model aktan (peran tokoh) menurut Claude Bremond untuk mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan kontra male feminis. Hasil pembahasan ini menunjukkan bahwa laki-laki ada yang menghargai perempuan dan juga ada yang tidak menghormati perempuan. Peran male feminis dan kontra male feminis ini pada intinya menggambarkan perilaku yang menghargai sosok perempuan dan perilaku yang tidak menghargai perempuan. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis adalah faktor kultur kesenian tradisional dan kontra male feminis itu meliputi faktor ekonomi, faktor seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dapat menjadi jembatan bagi munculnya penelitian baru. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dalam dunia apresiasi sastra Indonesia.

ii

PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etika ilmiah.

Semarang, 28 Agustus 2005

Veri Dani Wardani

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, 31 Agustus 2005

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Drs. Sukadaryanto, M. Hum. NIP 131764057

Drs. Agus Nuryatin, M. Hum. NIP 131813650

iv

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari tanggal Panitia Ujian Skripsi : Rabu : 31 Agustus 2005

Ketua,

Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono NIP 131281222

Drs. Mukh. Doyin, M.Si NIP 132106367

Penguji I,

Penguji II,

Penguji III,

Dra. Nas Haryati S, M.Pd NIP 131125926

Drs. Agus Nuryatin, M.Hum NIP 131813650

Drs. Sukadaryanto, M.Hum. NIP 131764057

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: Ada orang yang masuk ke dalam hidup kita dan berlalu dengan cepat. Ada yang tinggal beberapa lama dan meninggalkan jejak dalam hati kita. Dan diri kita pun tak akan pernah sama seperti sebelumnya. (Veri)

Persembahan Setetes peluh dan sebentuk karya kecil ini kupersembahkan untuk: 1. Allah SWT “Peniup nafas kehidupan” 2. Muhammad “Pemberi tutunan hidupku” 3. Ayahanda M. Subandi dan ibunda R. Mudiyanti “tercinta” 4. Saudara kembarku Vera Dani Wardani serta adik-adikku Vedi Destriyanto dan Vika Ari Wijayanti “tersayang” 5. Hermawan Widyastantyo “dukungan dan semangatku” 6. Angkatan ’01 7. Almamaterku tercinta

vi

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Masa Penyayang atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan. Penulis mengakui bahwa penyelesaian karya ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan Drs. Sukadaryanto, M. Hum sebagai pembimbing I dan Drs. Agus Nuryatin, M. Hum sebagai pembimbing II yang senantiasa memberikan motivasi, kesabaran dan membimbing kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih atas dorongan dan keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi; 2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menyusun skripsi; 3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan kemudahan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini; 4. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Bahasa dan Seni, khususnya Jurusan Sastra Indonesia yang penulis perlukan dalam penulisan skripsi ini;

vii

5. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan ’01 yang telah memberikan semangat dan dorongannya; 6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Mudah-mudahan segala amal dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan ridho dan balasan dari Allah SWT. Amin Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi almamater tercinta dan bermanfaat bagi yang membacanya.

Semarang, September 2005

Penulis

viii

DAFTAR ISI
SARI................................................................................................................. ii PERNYATAAN............................................................................................... iii PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iv PENGESAHAN . ............................................................................................. v MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... vi PRAKATA ....................................................................................................... vii DAFTAR ISI.................................................................................................... ix BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah........................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 8 1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 8 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................... 8 BAB II LANDASAN TEORETIS............................................................. 9 2.1 Tokoh dan Penokohan ............................................................. 9 2.2 Feminisme ................................................................................ 14 2.3 Male Feminis dan Kontra Male Feminis ................................. 19 BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 26 3.1 Pendekatan Penelitian .............................................................. 26 3.2 Sasaran Penelitian .................................................................... 26 3.3 Teknik Analisis Data................................................................ 27 BAB IV PERAN MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS DAN FAKTOR YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK….. 30 4.1 Peran Male Feminis dan Kontra male Feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. ......................... 30 4.1.1. Male Feminis.................................................................. 38 4.1.1.1. Rasus .................................................................. 39 4.1.1.2. Goder.................................................................. 48 ix

4.1.1.3. Sakum................................................................. 49 4.1.1.4. Mertanakim ........................................................ 52 4.1.1.5. Partadasim .......................................................... 53 4.1.1.6. Pak Blengur........................................................ 55 4.1.2. Kontra Male Feminis ..................................................... 57 4.1.2.1. Mantri Kesehatan ............................................... 57 4.1.2.2. Sakarya............................................................... 58 4.1.2.3.Kartareja.............................................................. 59 4.1.2.4. Dower................................................................. 61 4.1.2.5. Sulam ................................................................. 63 4.1.2.6. Pak Simbar dan Babah Pincang . ....................... 64 4.1.2.7. Marsusi............................................................... 65 4.1.2.8. Komandan Polisi ................................................ 67 4.1.2.9. Darman............................................................... 69 4.1.2.10. Bajus................................................................. 69 4.2. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya Male feminis dan Kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk .......................... 72 4.2.1. Faktor ekonomi ............................................................ 73 4.2.2. Faktor kesenian tradisional. ......................................... 76 4.2.3. Faktor seksualitas kultur masyarakat Jawa .................. 78 BAB V PENUTUP..................................................................................... 82 5.1 Simpulan .................................................................................. 82 5.2 Saran......................................................................................... 83 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 84 LAMPIRAN

x

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah
Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budidaya masyarakat yang

dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari masyarakat lingkungannya. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang mengangkat persoalan perempuan dan menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan (Srintil) dalam menggapai kehidupan yang diinginkannya. Selanjutnya, tokoh perempuan itu juga bertemu dengan banyak tokoh laki-laki yang mempunyai karakter yang berbeda-beda, karakter yang mendukung tokoh perempuan dan karakter yang menghambat kebahagiaan tokoh wanita.. Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk

1

2

berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel. Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan. Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca (segera) membaca ulang karya sastra yang dikajinya. Dengan cara ini akan dirasakan adanya pembedaan: ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam karya sastra itu sebagai akibat kekompleksitasan karya yang bersangkutan sehingga sesuatu yang dihadapi baru dapat ditentukan. Dengan demikian, pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh, gaya bahasa, dan hal-hal lain yang diungkapkan dalam karya yang dikaji (Nurgiyantoro 1995: 32). Dalam kesusastraan Indonesia modern banyak pengarang yang

menghasilkan cerita fiksi, sebagai contoh dapat disebutkan di antaranya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala karya Ahmad Tohari, Para Priyayi karya Umar Kayam. Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG serta Roro Mendut karya J.B. Mangunwijaya. Kebanyakan inti cerita

3

dan karya-karya itu tentang etika Jawa dan persoalan wanita Jawa yang masih memegang teguh nilai-nilai dan pandangan hidup wanita Jawa. Karya sastra yang dijadikan objek kajian penelitian ini adalah novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari karena novel tersebut menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Tokoh wanita dalam novel Ahmad Tohari adalah sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, asal usul, dan kebahagiaan yang masih dihadapi dan harus dipecahkan oleh sang tokoh. Lebih lanjut, Srintil ingin mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Ia ingin berhenti menjadi ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya, menikah dan mempunyai anak. Srintil sebagai ronggeng harus melakukan pengorbanan, ia mengorbankan sebuah kesucian dalam acara Bukak-Klambu. Kartareja telah menyanyembarakan kesucian Srintil pada laki-laki yng bisa memenuhi syarat. Pembaca menyukai novel-novel Ahmad Tohari karena kemenarikan ceritanya. Ahmad tohari sering mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat lapisan bawah yang disajikan dengan gaya bahasa yang mampu menghidupkan suasana cerita dan mudah dipahami pembaca. Ahmad Tohari bisa melahirkan karya yang mengangkat kesukaran hidup kaum bawah karena pengalaman hidup yang sangat berkesan, terutama yang mengangkat tentang kemelaratan para tetangga, kebodohan, serta ketidakberdayaan mereka keberpihakan Ahmad Tohari terhadap wong cilik seakan menjadi obsesinya yang tidak pernah berkesudahan.

4

Pribadi-pribadi yang terwujud dalam diri tokoh-tokoh manusia Jawa dalam karya Ahmad Tohari merupakan cerminan dari kepribadiannya selaku pengarang dalam pergulatannya dengan pengalaman hidup. Ahmad Tohari memang tinggal dan dibesarkan di daerah Jawa, tepatnya di daerah Jati Lawang, Banyumas, sehingga wajar bila nilai kultur Jawa yang melatarbelakangi hidupnya sangat lekat dan kentara mewarnai hampir dalam semua karyanya. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri dari tiga episode yaitu episode pertama berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, episode kedua diberi judul Lintang Kemukus Dini Hari, dan yang ketiga adalah Jantera Bianglala. Menurut pengarangnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk sengaja dipersiapkan untuk menjadi trilogi, ketika menulis episode pertama, pengarang mengakui mengalami kebuntuan untuk menyelesaikan dalam sebuah trilogi sekaligus. Novel tersebut berkisah tentang dunia Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh-tokohnya adalah Srintil dan Rasus yang menginjak dewasa pada sekitar tahun 1965. Sekian tahun sebelumnya, Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan terbilang miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik Srintil pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng (Yudiono 2003: 1718).

5

Lebih jauh, novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari sepertinya ingin menunjukkan sisi lain dari kehidupan perempuan, sebuah fenomena yang jarang terjadi ketika sosok perempuan dengan tekad dan kegigihannya berusaha keluar dari jeratan nasib yang kurang memihaknya. Hal lain, novel ini banyak mengangkat tokoh laki-laki untuk secara bersama-sama memerangi suatu ketidakadilan, baik yang berasal dari sosok laki-laki maupun sosok perempuan itu sendiri. Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang secara maknawi mereka sama, konstruksi sosial di masyarakatlah yang menyebabkan mereka diperlakukan berbeda. Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil sebagai seorang ronggeng, harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu sendiri yang menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa sosok perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Laki-lakilah yang dianggap dominan yang berada di pusat. Perempuan hanya sebagai kanca wingking atau dalam istilah bahasa jawanya “swargo nunut neroko katut” (Fakih 2003: 12).

6

Srintil merupakan sosok wanita yang berparas cantik. Sejak usia sebelas tahun ia sudah menjadi Primadona karena menjadi ronggeng. Kecantikan Srintil banyak menrik perhatian orang terutama kaum laki-laki. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk sekedar bertayub dan tidur dengan Srintil. Perbedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin (sex) telah melahirkan ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama perempuan. Disadari atau tidak, ketika gagasan feminis ini dilihat secara sekilas, sepertinya perempuanlah yang menjadi korban konsep-konsep gender tersebut. Laki-laki bisa menjadi feminis jika sikap dan tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Namun, tatkala istilah male feminis dimunculkan, akan ada sebuh oposisi yang menyatakan perlawanan dari male feminis yang bisa disebut dengan istilah kontra male feminis. Sikap laki-laki yang kontra male feminis terlihat dari tingkah laku mereka yang tidak menghargai perempuan, bahkan cenderung semena-mena (Adian dalam Subono 2001: 26). Dominasi tokoh laki-laki cukup mewarnai novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut Srintil banyak melibatkan tokoh laki-laki. Pada kenyataannya tokoh lakilaki ada yang mendukung atau yang disebut male feminis dan ada pula yang tidak mendukung dan disebut kontra male feminis. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tokoh kontra kontra feminis lebih dominan dibanding dengan laki-laki yang male feminis. Tokoh male feminis inilah yang banyak membantu tokoh perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka dalam bersikap dan tingkah lakunya sangat menghormati dan menghargai perempuan.

7

Jadi, laki-laki pun bisa menjadi feminis jika tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Dan laki-laki bisa menjadi kontra male feminis jika mereka menunjukkan sikap tidak menghargai dan menghormati perempuan. Terlihat jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu berkolaborasi untuk membangun sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi dan hal ini jelas terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah Srintil, Rasus, Ki Kertareja, Bajus, Marsusi, Sakarya, Sulam, Dower, Warta, Darsun, dan lain-lain. Deretan nama-nama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah mampu memerankan perannya dengan baik. Hampir semua tokoh yang dimunculkan oleh Ahmad Tohari telah mampu menunjukkan karakteristik pribadi yang unik, sanggup memberikan penginderaan yang jelas dan terasa begitu nyata, lengkap dengan segala pelukisan gambaran, penempatan, dan perwatakannya masing-masing tokoh tersebut. Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berdasarkan teori male feminis dan kontra male feminis.

8

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

masalah yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?

2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra
male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?

1.3.

Tujuan Penelitian

1. Mengungkap peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari? 2. Mengungkap faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?

1.4.

Manfaat Penelitian

1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

2. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor apa yang
menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

9

11

BAB II LANDASAN TEORETIS
2.1. Tokoh dan Penokohan
Suatu cerita bukan hanya rangkaian kejadian-kejadian saja. Kejadiankejadian itu ada yang bersangkutan dengan orang-orang tertentu atau sekelompok orang tertentu. Oleh karena itu, dalam suatu cerita harus ada tokoh utama, tokoh antagonis, tokoh bawahan (tokoh penunjang cerita), dan tokoh tambahan. Tokoh dibedakan menjadi beberapa jenis menurut kriterianya. Tokoh berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu tokoh sentral, tokoh antagonis, tokoh wirawan dan tokoh bawahan. Tokoh sentral atau tokoh utama adalah tokoh yang selalu muncul dalam cerita, yaitu tokoh yang memegang peranan pimpinan. Tokoh ini menjadi pusat sorotan dalam cerita. Intensitas keterlibatan tokoh itu dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dan hubungan antara tokoh itu menjadi tokoh utama atau tidak. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menentang tokoh protagonis. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Tokoh bawahan misalnya tokoh andalan, yaitu tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh protagonis yang dimanfaatkan untuk memberi gambaran lebih rinci mengenai tokoh utama, dan tambahan adalah tokoh yang tidak memegang peranan penting dalam cerita (Sudjiman, 1991:17-19). Berdasarkan cara pengarang dalam menampilkan tokoh cerita, dibedakan menjadi tokoh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar adalah tokoh stereotif Tokoh bulat yaitu tokoh yang watak kompleks, terlihat kekuatan dan kelemahannya. 11

12

Tokoh ini mempunyai watak yang dapat mengejutkan pembaca, karena kadang dirinya dapat terungkap watak yang tidak terduga sebelumnya dan sedikit sekali berubah (Sudjiman, 1991:20). Robert Stanton mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penokohan dalam suatu fiksi biasanya dapat dipandang dari dua segi, yaitu: 1. Mengacu kepada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita. 2. Mengacu kepada pembauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita, (Baribin, 1985: 54). Penokohan adalah cara penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh, baik keadaan lahir maupun batinnya, dapat berupa pandangan hidup, sikap keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya (Suharianto, 1982:3 1). Watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar, dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain. Nurgiyantoro (1994:23) berpendapat, bahwa penokohan adalah penyajian atau penciptaan watak tokoh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah pelukisan yang jelas tentang tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita dengan segenap aspek-aspeknya. Artinya, segala perilaku-perilaku yang dilakukan oleh seorang tokoh dilukiskan secara konkrit, baik itu wajah, tabiatnya, pandangan hidupnya, kenyakinnnya, dan sebagainya. Sedangkan tokoh cerita hanya, mengacu kepada pelaku cerita. Tokoh cerita telah mengacu pada aspek “perorangan” dalam sebuah komunitas yang dibangun dalam sebuah karya sastra novel. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang akan dikaji dalam skripsi ini, kajian hanya

13

akan dibatasi pada tokoh ceritanya, saja, tidak sampai pada aspek penokohannya. Namun demikian, tidak berarti kajian yang akan dihasilkan tidak “menyinggung” aspek penokohan. Selanjutnya, ditentukan peran tokoh (aktan) male feminis dan tokoh kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang sebelumnya akan dipaparkan tentang peran tokoh. Tokoh male feminis merupakan tokoh penyelamat, sedangkan tokoh kontra male feminis merupakan tokoh penghambat dalam perjuangan hidup tokoh utama. Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki orang yang berkedudukan dalam masyarakat (Moeliono 2000: 667). Dimaksudkan sebagai pola perilaku yang ditentukan bagi seseorang yang mengisi kedudukan tertentu, keberadaan peran manusia berjenis kelamin pria dan wanita tidak bisa dilepaskan dari atribut-atribut sosial yang melekat secara kultural. Tokoh itu sendiri merupakan bagian yang bersama unsur lain membangun totalitas karya sastra novel. Tokoh merupakan pelaku yang berfungsi sebagai fakta cerita sebagai peranan yang besar dalam menentukan keutuhan cerita dan karakteristik sebuah novel. Tokoh-tokoh yang dihadirkan pengarang, untuk dapat membangun persoalan dan menciptakan konflik-konflik, biasanya melalui peran-peran tertentu yang harus mereka lakukan. Jarang tokoh mempunyai peran yang tunggal, biasanya tergantung dengan interaksi sosial yang dilakukannya. Perubahan lawan interaksi sosial akan menyebabkan berubahnya peran seorang tokoh. Peran umumnya selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu

14

permasalahan atau konflik. Setiap permasalahan atau konflik dapat muncul atau dibentuk oleh beberapa peran dari beberapa tokoh. Namun beberapa peran itu, tetap hadir dalam peran yang berpasangan. Sehingga terbentuk relasi beberapa peran dalam membentuk permasalahan. Setiap peran membawa misi

permasalahan. Oleh karena itu, perubahan peran akan menyebabkan perubahan tingkah laku, ucapan, tindakan, sebagai perwujudan pikiran dan perasaan tokoh dalam perannya itu (Hasanuddin 1996: 80). Tokoh male feminis dan kontra male feminis ini ditentukan dengan menggunakan model aktan yang berdasar kepada pendapat Claude Bremond karena model aktan ini memilah tokoh penyelamat dan penghambat dalam perjalanan hidup tokoh utama novel sehingga sesuai bila diterapkan untuk memilah peran tokoh dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh yang akan diteliti dalam skripsi ini adalah tokoh yang berperan sebagai male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmd Tohari. Uraian tentang aktan menurut Claude Bremond yang digunakan untuk menentukan tokoh male feminis dan kontra male feminis akan diuraikan di bawah ini. Peran tokoh yang mengalami peristiwa dalam novel disebut dengan actant (aktan). Kedudukan tokoh dalam naratif berbeda antara satu tokoh dengan tokoh lain sehingga peran tokoh (aktan) juga mempunyai perbedaan. Aktan diisi oleh tokoh-tokoh yang sesuai dengan tindakan yang dilakukannya.

15

Peran tokoh dalam peristiwa itu disebut aktan (Barthes 1977: 106). Kedudukan tokoh dalam naratif dapat berbeda menurut peristiwanya dan aktan itu sendiri dapat diisi oleh peran tokoh yang berbeda pula. Oleh karena itu, aktan dapat memuat peristiwa yang banyak dan berbeda-beda dan naratif. Aktan menurut Bremond (dalam Remon & Kenan 1983: 22) diawali dengan tokoh yang mengalami perjuangan hidup dari kondisi awal atau permulaan (potentiality) hingga sampai kearah yang dituju. Peranan aktan dalam tingkat aksi ini berupa perjuangan hidup, penyelamat, dan penghambat. Bremond dalam Rimmon-Kenan (1983), telah memberi gambaran diagram tentang peranan aktan dalam tingkat aksi sebagai berikut:

Potentiality (Keadaan awal) Penolong Aktan Perjuangan hidup Penghambat Menderita Bahagia

Pada skema itu aktan diawali dengan perjuangan tokoh (X) yang merupakan proses aktualisasi bergerak menuju ke arah sesuatu yang dituju (hasilnya), dalam perjuangannya tokoh dapat bertemu dengan penyelamat yang akan mengantarkan dia pada kebahagiaan atau keberhasilan. Apabila bertemu dengan penghambat maka mengakibatkan kegagalan dalam perjuangan hidupnya.

16

Selanjutnya di bawah ini akan diurikan tentang feminisme yang merupakan faham feminisme yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita.

2.2. Feminisme
Feminisme pada dasarnya merupakan sebuah topik pembicaraan wanita dengan mengikutsertakan pria sebagai “makhluk” yang selalu dicemburui, sebagai makhluk yang superior (kuat), yang senantiasa menganggap wanita sebagai mahkluk inferior (lemah). Pandangan inilah yang tidak pernah mendudukkan wanita sebagai subjek dalam bidang apapun. Apalagi pembagian kerja yang secara seksual juga tidak menguntungkan. Bidang-bidang kerja domestik akhirnya memarginalkan mereka sebagai makhluk yang lemah, yang hanya dapat bekerja sesuai dengan kodratnya. Pandangan sikap yang masih diskriminatif tersebut masih tampak diberbagai negara di dunia. Feminisme berasal dari kata feminist (pejuang hak-hak kaum wanita), yang kemudian meluas menjadi feminism (suatu faham yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita). Dalam arti leksikal feminisme berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria (Moeliono 1988: 241). Menurut Goefe, feminisme ialah teori persamaan hak antara laki-laki dan wanita dibidang politik, ekonomi, dan sosial, atau gerakan yang terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita (dalam Sugihastuti 2000: 37). Feminisme sebagai gerakan pada mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi, serta usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Mereka sepaham bahwa hakikat

17

perjuangan feminis adalah demi kesamaan, martabat dan kebebasan mengontrol raga dan kehidupan baik di dalam maupun di luar rumah (Fakih 1996: 99). Dalam dunia masyarakat pria, proses mengamati lawan jenis selalu dihubungkan dengan estetika fisik demi melayani nafsu dan rasa ingin tahu. Ini merupakan salah satu perilaku andrticentric “berpusat pada pria” (andro dalam bahasa Yunani berarti pria) atau Phallocentric (pallus merupakan penanda jenis kelamin pria). Dalam masyarakat pria phallocentric, memiliki phallus berarti memiliki kekuasaan dengan kata lain, sistem itu memungkinkan pria menguasai wanita dalam semua bentuk hubungan sosial. Dalam paradigma feminis, situasi seperti itu diekspresikan dengan istilah patriarki. Patriarki merupakan penyebab utama munculnya fenomena-fenomena penindasan hak wanita oleh kaum pria. Konsep ini memandang wanita sebagai kelas kedua setelah laki-laki sehingga muncul dominasi pria atas wanita. Akibat kekuasaan patriarki termanifestasikan dengan apa yang disebut seksisme (dasar ideologi penindasan yang merupakan sistem hirarki seksual dimana laki-laki memiliki superior dan economic privilege (Fakih 1996: 86). Dalam konteks itu, phallocentrisme memiliki ciri yang sama dengan ideologi yaitu disimulasi: menyembunyikan kenyataan-kenyataan yang benarbenar dihayati oleh kelompok perempuan, yaitu ketidakadilan dan aspirasi akan kesetaan gender. Ciri disimulasi dari phallocentrisme itu lebih terasa dalam hubungannya dengan peran domonasi yang terkait dengan hirarki suatu organisasi sosial. Biasanya apa yang ditafsirkan dan mendapat pembenaran dari ideologi adalah hubungan kekuasaan. Maka tidak mengherankan masalah pastor wanita,

18

pemuka agama perempuan dan pemimpin politik perempuan, menjadi isu yang hangat dan mengundang reaksi keras terutama dari laki-laki (Haryatmoko dalam Subono 2001: 19). Menurut Fakih (2003: 12) sesungguhnya perbedaan gender tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Sejak sepuluh tahun terakhir kata gender telah memasuki perbendaharaan disetiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan social dan pembangunan di Dunia Ketiga. Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Sedangkan konsep gender, yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural (Fakih 2003: 7-8). Budianta (1999: 15) memperkenalkan istilah pebedaan antara seks dengan gender. Seks itu adalah pebedaan biologis pria dan wanita, sedangkan gender adalah segala macam atribut sosial yang dikenakan pada perbedaan. Artinya yang melihat bahwa perbedaan-perbedaan sifat dan sebagainya itu hanya karena perbedaan biologisnya. Hal seperti itu yang didobrak, dengan memperkenalkan istilah perbedaan seks dengan gender.

19

Adanya ketidakadilan gender inilah yang memunculkan gerakan feminisme. Gerakan ini pada mulanya, terinspirasi oleh kaum postmodern dengan ilham dekonstruksinya Derrida. Mengambil dari istilah Supriyanto (1997: 6) bahwa berpikir ala postmodern berarti berpikir dalam strategi dekonstruksi. Dengan kata lain, sebuah konsep atau pengertian selalu tersusun secara binaryopposition, yang membangun serangkaian pengertian yang saling berlawanan, misalnya kata laki-laki-perempuan, cantik-jelek. Sebagian feminis mengakui bahwa jika cita-cita feminisme untuk mencapai keadilan dan kesetaraan tanpa memperhitungkan jenis kelamin berhasil, maka perhatian pada masalah-masalah perempuan tidak relevan lagi. Karena bagaimanapun juga bahwa ketidakadilan gender merupakan konstruksi sosial di masyarakat yang pendukungnya bisa laki-laki maupun perempuan. Secara politik, feminisme, baik sebagai ide maupun aksi politik, akan memiliki pengaruh kepada dua jenis kelamin (gender) yang ada, yakni di satu sisi akan memberikan banyak keuntungan kepada perempuan dan di sisi yang lain, akan mensyaratkan laki-laki untuk menyerahkan berbagai ‘hak-hak istimewa’ yang mereka miliki selama ini. Dengan demikian, laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai feminis akan menimbulkan kecurigaan dari laki-laki dan perempuan pada umumnya. Ada kata lain yang digunakan yakni meninis (meninist) atau yang kelihatannya lebih moderat adalah laki-laki pro-feminis (Subono 2001: 59-60). Dalam perkembangannya wanita tidak lagi dihadirkan sebagai korban kekuasaan kaum patriarki, tetapi dihadirkan sebagai wanita yang berhak dan bebas

20

menentukan nasib atau masa depannya (seperti dalam Belenggu). Tini yang diharapkan Tono hadir sebagai ibu rumah tangga, ternyata gagal karena lebih memilih sebagai wanita karir, tidak mau dikalahkan kaum pria, dan tidak mau tergantung pada pria. Pada novel tersebut, gambaran wanita tidak lagi pesimis, yang digambarkan adalah wanita aktif, dinamis, optimis, sadar akan kondisi sosialnya, serta berani berjuang mendapat persamaan hak dengan kaum pria. Periode 80-an banyak novel-novel warna lokal dengan pengarang pria, tetapi tidak mengemukakan semangat feminisme. Wanita hanya dihadirkan sebagai makhluk yang menyimpan kelembutan tetapi sekaligus menyembunyikan kekerasan seperti Roro mendut (dalam Roro Mendut karya YB. Mangunwijaya), Srintil (dalam Ronggeng Dukuh Paruk) Sri Sumarah (dalam Sri Sumarah), dan Bu Bei (dalam Canting). Pengarang pria tetap mendudukkan wanita sebagai objek yang tidak mampu melawan kemapanan budaya. Novel yang membicarakan masalah feminisme, tokoh-tokoh cerita pada dasarnya berfungsi memperkuat gagasan feminisme dan emansipasi perempuan yang ada dalam karya sastra. Karena itu dalam pelukisan penokohan laki-laki digolongkan kedalam tokoh male feminist dan kontra male feminis. Tokoh male feminis adalah tokoh laki-laki yang setuju dan memperjuangkan ide feminis, sedangkan kontra male feminis adalah tokoh laki-laki yang tidak

memperjuangkan, bahkan menentang ide feminisme. Berikut ini adalah uraian tentang male feminis dan kontra male feminis.

21

2.3. Male Feminis dan Kontra Male Feminis
Istilah male feminis bagi kalangan feminis di Indonesia masih sangat baru dan belum terdengar akrab di telinga. Persoalannya jelas, feminis di Indonesia dapat dikatakan baru berjalan kurang lebih 15 tahun ini, tepatnya dimulai pada pertengahan tahun 1980-an. Itupun baru berupa pergerakan feminisme dan belum sampai pada taraf studi yang intensif yang berupa pengembangan wacana yang kritis dan analisis sifatnya, apalagi masalah feminis laki-laki (Arivia dalam Subono 2001: 1). Sebagian kaum feminis berpendapat bahwa laki-laki dapat menyatakan diri mereka feminis sepanjang mereka ikut berjuang bagi kepentingan kaum perempuan. Sekelompok feminis lain beranggapan bahwa laki-laki tidak dapat menjadi feminis karena tidak mengalami diskriminasi dan penindasan sebagaimana dialami kaum perempuan. Oleh karena itu, kaum laki-laki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai kelompok pro-feminis (male feminis) (Muchtar 1999: 5). Secara sederhana bisa katakan bahwa mereka adalah laki-laki yang secara aktif terlibat dalam mendukung ide-ide feminisme dan upaya-upaya untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender (Subono 2001: 70). Pandangan male feminis muncul karena adanya gerakan kaum feminisme yang menolak keterlibatan laki-laki dalam penyetaraan masalah gender. Menurut Soenarjati (2000: 4), inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat lakilaki.

22

Sejalan dengan nafas filsafat yang telah dihembuskan oleh Haryatmoko, tulisan Donny Gahral Adian mencoba membahas persoalan feminis laki-laki dengan lebih teoritis lagi. Ia lebih jauh mengkolaborasi metafisika kontenporer yang mengkritik metafisika klasik yang melahirkan pemahaman dikotomi dan akhirnya menjagokan rasio ketimbang emosi, laki-laki ketimbang perempuan. Tampak pula pengakuannya bahwa semakin banyak laki-laki intelektual-borjuis yang mempelajari feminisme sebagai sebuah teori yang tidak kalah

“menterengnya” dengan teori-teori besar lainnya (Arivia dalam Subono 2001: 3). Ketika muncul kesadaran bahwa “laki-laki” dan juga “perempuan” tak lebih dari sebuah konstruksi politis yang melibatkan berbagai otoritas sosial, kemungkinan seorang laki-laki menjadi feminis pun terbuka lebar. Buat apa seorang laki-laki membela mati-matian kodrat istimewanya yang bukan hanya melapangkan sebuah reaksi dominan tapi juga membebani dirinya. Laki-laki harus menyadari bahwa kualitas-kualitas unggul yang melekatkan patriarki kepadanya merupakan pedang dengan dua sisi tajam. Sisi tajam pertama mengarah pada perempuan, sedang sisi tajam lainnya mengarah kepada dirinya sendiri. Keunggulan laki-laki adalah semu dan juga tidak manusiawi, dan kesetaraan gender adalah harga yang pantas dibayar dengan melucuti satu persatu hak-hak istimewanya (Adian dalam Subono 2001: 27-28). Alasan mengapa laki-laki bisa begitu terkabutkan rasa kemanusiaannya adalah karena ia masih berada pada tingkat kesadaran praktis ideologi patriarki. Mengikuti logika Giddens, laki-laki bisa menjadi feminis dengan senantiasa menjaga kesadaran diskursifnya lewat kewaspadaan, kecurigaan, pengambilan

23

jarak terus menerus terhadap struktur patriarki yang menyelimutinya. Laki-laki feminis adalah laki-laki yang tidak mau dininabobokkan oleh struktur yang merupakan rajutan-rajutan sosial terhadap eksistensi dirinya. Berangkat dari pengambilan jarak yang berkesinambungan, laki-laki lambat laun dapat peka terhadap penindasan yang dialami perempuan dan menjadi pejuang feminis (Adian dalam Subono 2001: 31). Secara sederhana bisa katakan bahwa mereka adalah laki-laki yang secara aktif terlibat dalam mendukung ide-ide feminisme dan upaya-upaya untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender. Banyak dari mereka yang berpartisipasi dalam aktivitas politik, dan kelihatannya wilayah perhatian mereka yang sangat umun adalah masalah kekerasan laki-laki. Kegiatan mereka sendiri seringkali merupakan bentuk kerjasama dengan kalangan feminis dan organisasiorganisasi perempuan (seperti pusat krisis perkosaan dan kekerasan domestik). Ada juga yang lebih memperlihatkan komitmen mereka terhadap ide-ide feminisme dalam bentuk kehidupan sehari-hari yang lebih egaliter dan saling menghargai, baik di rumah, tempat kerja maupun tempat publik lainnya (Subono 2001: 70-71). Dinamika yang terjadi di masyarakat tidak memungkinkan bahwa perempuan bisa berjuang sendiri tanpa bantuan laki-laki. Ketika muncul kesadaran bahwa “laki-laki” dan juga “perempuan” tidak lebih dari sebuah konstruksi politis yang melibatkan berbagai otoritas sosial, kemungkinan seorang laki-laki menjadi feminis pun terbuka lebar (Adian dalam Subono 2001: 26-27).

24

Jadi, laki-laki pun bisa menjadi feminis jika sikap dan tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Terlihat jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu berkolaborasi untuk membangun sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi. Sebuah bentuk dekonstruksi, ketika istilah male feminis, berarti akan ada paradoksal yang menyatakan kebalikannya dalam hal ini bisa disebut kontra male feminis. Hal ini merupakan bentuk dari oposisi biner. Kontra male feminis merupakan kebalikan dari male feminis. Jika male feminis mempunyai sifat menghargai terhadap perempuan, maka kontra male feminis adalah mempunyai sifat menentang perempuan. Tokoh kontra male feminis ini tidak mempunyai upaya untuk menyelamatkan perempuan atau bahkan menghargai perempuan. Tokoh seperti ini hanya menginginkan keuntungan saja tanpa memperdulikan orang lain. Asal ia puas dan bahagia maka jalan apa saja akan ia tempuh. Sifat inilah yang membedakan antara tokoh male feminis dan kontra male feminis. Namun, seperti halnya roda kehidupan, bahwa tokoh laki-laki pun ada yang bersifat kontra male feminis. Tokoh laki-laki yang bersifat seperti ini cenderung tidak menghargai sosok perempuan dan tidak mendukung ide-ide feminisme. Secara nyata tokoh laki-laki yang kontra male feminis ini sangat menikmati keistimewaan-keistimewaan yang melekat pada dirinya. Bahkan ia tidak ingin keistimewaan itu hilang. Menyikapi isu laki-laki feminis, kalangan feminis terbagi menjadi menjadi dua kubu yaitu mereka yang sepakat dan mereka yang kontra.

25

Mereka yang sepakat mengemukakan argumentasi sebagai berikut: pertama, terbukti bahwa dalam dua dekade belakangan ini laki-laki telah menjadi sekutu yang efektif dalm perjuangan feminis; kedua, generasi muda feminis tidak merasakan perlunya melakukan segregasi gender seperti yang dilakukan feminis generasi sebelumnya. Perubahan konteks sosio-historis memaksa mereka untuk menyadari pentingnya peran laki-laki dalam perjuangan feminis; ketiga, tidak semua laki-laki merasa nyaman dengan statusnya sebagai penindas kemanusiaan. Ada juga laki-laki yang muak dengan status tersebut dan menginginkan sebuah relasi sosial yang lebih setara dan manusiawi. Sebaliknya, mereka yang kontra memberi argumentasi sebagai berikut: pertama, mereka menuduh laki-laki feminis sebagai oportunis yaitu mereka yang mempelajari habis-habisan feminisme demi keuntungan sosial, akademis dan politik; kedua, adalah mustahil seorang laki-laki menjadi feminis. Laki-laki sudah terlampau lama menjadi warga kelas satu peradaban dengan segala privilisenya, ia tersosialisasi ke dalam konstruksi identitas yang berseberangan dan bermusuhan dengan feminisme, baik ide mupun gerakan (Adian dalam Subono 2001: 23-24). Perdebatan yang muncul kelihatannya belum bergeser yaitu antara mereka yang pro dengan argumentasi laki-laki harus merupakan bagian dari perjuangan feminis dengan mereka yang kontra, yang menganggap bahwa sangat tidak mungkin laki-laki menjadi feminis mengingat bahwa sudah ratusan tahun laki-laki diuntungkan oleh posisi dan peran gendernya selama ini (Subono 2001: 59) Kekerasan yang melibatkan laki-laki dan perempuan di mana perempuan biasanya menjadi korban diakibatkan oleh hubungan kekuasaan yang timpang

26

antara laki-laki dan perempuan. Jika terjadi kekerasan terhadap perempuan biasanya laki-lakilah yang ditunjuk sebagai pelakunya. Padahal, terdapat masyarakat di mana laki-lakinya tidak melakukan atau tidak pernah terlibat dalam kekerasan terhadap perempuan. Persoalan mengenai pertanyaan dapatkah laki-laki menjadi feminis memang bukan merupakan persoalan yang mudah. Namun, feminisme bukanlah soal kecerdasan akademis, melainkan perihal kecerdasan etis. Laki-laki dapat menjadi feminis dengan memakai akalnya secara sehat. Akal tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Akal membedakan manusia dengan binatang (Gerung 2001: 127-129). Jadi laki-laki pun bisa menjadi feminis jika sikap mereka mau menunjukkan penghormatan dan sikap menghargai terhadap perempuan. Hal yang paling sederhana jika laki-laki mau membantu perempuan ketika perempuan tersebut membutuhkan bantuannya. Mereka tidak segan-segan membantu. Sebaliknya laki-laki bisa menjadi kontra male feminis jika mereka tidak mempunyai upaya untuk menyelamatkan perempuan atau bahkan tidak menghargai perempuan. Mereka hanya menginginkan keuntungan saja tanpa memperdulikan orang lain. Sudah saatnya laki-laki dan perempuan saling bekerjasama dalam membangun agenda pemikiran dan aksi untuk menciptakan masyarakat yang bebas dari diskriminasi. Suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat di mana lakilaki dan perempuan merasa aman dan terlindungi.

27

Terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari memunculkan tokoh-tokoh seperti Rasus, Goder, Pak Blegur, Partadasim dan tokoh laki-laki yang lain. Tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh male feminis, sedangkan tokoh yang kontra male feminis dapat dilihat dalam sikap Bajus, Marsusi, Kartareja, Sakarya, Dower, Tamir dan lain sebagainya dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pada dasarnya keberadaan tokoh male feminis dan kontra male feminis adalah sebuah keniscayaan, apalagi untuk novel-novel yang mengangkat persoalan perempuan dan berangkat dari dunia feminis.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu menitikberatkan

pada teks sastra yang disebut strukturalisme atau instrinsik. Penelitian struktural dipandang lebih objektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri (Endraswara 2003: 9). Gagasan tentang male feminis yang merupakan tokoh penyelamat dan kontra male feminis yang merupakan tokoh penghambat dalam perjuangan hidup tokoh utama. Sebenarnya di dalam kehidupan ada laki-laki yang berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan, tapi di lain sisi ada juga laki-laki yang tidak memperjuangkan hak-hak perempuan. Perempuan merasa bahwa laki-laki tidak akan pernah bisa dan mau membantu mereka dalam pemenuhan hak-hak perempuan. Untuk hal ini, perempuan harus berusaha sendiri tanpa pernah meminta bantuan pada laki-laki. Analisis peran male feminis dan kontra male feminis itu berdasarkan kepada teori aktan (peran tokoh) menurut Claude Bremond karena teori aktan ini memilah tokoh penyelamat dan penghambat dalam perjalanan hidup tokoh utama novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

3.1.

Sasaran Penelitian
Sasaran atau objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah peran

tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari; dan faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya 27

28

male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Data dalam penelitian ini yaitu semua perilaku tokoh yang pro feminis (male feminis) dan kontra male feminis dalam teks novel Trilogi Ronggeng Dukuh paruk karya Ahmad Tohari yang berkaitan dengan peran male feminis dan kontra male feminis. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk cetakan ke-2 ini terbit pada bulan Februari tahun 2003 yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, sebuah penerbit di Jakarta. Tebal buku 397 halaman, 15 x 21 cm.

3.2.

Teknik Analisis Data Data diperoleh dari Perilaku para tokoh laki-laki dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Cara kerja analisis data dimulai dengan mengelompokkan perilaku tokoh laki-laki yang berhubungan dengan peran tokoh utama. Kemudian diterapkan dalam model aktan (peran tokoh) menurut Claude Bremond untuk mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan kontra male feminis. Selanjutnya perlu diungkap faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dengan cara mengungkap peran masing-masing tokoh yang berhubungan dengan peran utama sehingga dapat

29

diketahui faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis. Adapun langkah kerja dalam penelitian ini dapat dipaparkan secara rinci sebagai berikut: 1. Membaca novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. 2. Menentukan tokoh yang berperan sebagai male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan menggunakan model aktan menurut Claude Bremond untuk mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan kontra male feminis dan menentukan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. 3. Menyimpulkan hasil analisis tentang peran tokoh male feminis dan kontra male feminis serta faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis.

BAB IV PERAN MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS SERTA FAKTOR YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS
Berikut ini adalah analisis male feminis dan kontra male feminis yang menyoroti tentang peran male feminis dan kontra male feminis dan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk k arya Ahmad Tohari. 4.1.

Peran Male Feminis dan Kontra male Feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
Tokoh utama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah seorang

perempuan cantik yang bernama Srintil. Dukuh Paruk yang telah lama kering kini menampakkan kehidupannya kembali ketika Srintil, bocah yang berusia sebelas tahun, menjadi ronggeng, seorang bromocorah yang dianggap moyang mereka, menganggap bahwa kehadiran Srintil akan mengembalikan citra pedukuhan yang sebenarnya. Sebagaimana layaknya seorang ronggeng, Srintil harus melewati tahaptahap untuk menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil harus dimandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala setelah ia diserahkan kepada Kertareja, dukun ronggeng di dukuh itu, Srintil juga harus melewati tiga tahap bukakklambu. Dia tidak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran kalau tidak

31

32

melewati tahap yang lebih mirip sebagai sayembara bagi setiap laki-laki yang mampu memberikan sejumlah uang sebagai syaratnya. Sayembara bukak-klambu tersebut terdengar sampai kemana-mana, banyak laki-laki yang berusaha mengikutinya dengan segala cara. Srintil sengaja menyerahkan keperawanannya kepada Rasus pada malam bukak-klambu tanpa sepengetahuan Nyai Kartareja. Kenyataan itu tidak dibayangkan Rasus sebelumnya. Rasus tidak menolak keinginan orang yang merupakan bayangbayang ibunya yang entah kemana itu. Srintil dalam menjalani hidupnya selalu bertemu dengan tokoh penyelamat dan tokoh penghambat. Tokoh penyelamat berperan mengantarkan Srintil untuk mendapatkan keberhasilan dalam tujuan hidupnya sehingga dapat membuat Srintil bahagia. Tokoh penghambat membuat Srintil menderita dan gagal memperoleh kebahagiaan dalam mencapai tujuan hidupnya. Tokoh penyelamat dalam perjalanan hidup Srintil diperankan oleh tokoh male feminis dan tokoh penghambat diperankan oleh tokoh kontra male feminis. Peran tokoh penyelamat dan penghambat dalam perjuangan hidup Srintil dianalisis dengan tujuan untuk memudahkan analisis male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Berikut ini peran tokoh penyelamat dan penghambat dalam kehidupan Srintil pada novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut. Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan

33

hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Harapan Sakarya kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat. Srintil pun membuktikan kebolehannya menari dalam waktu singkat, disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional sebagai seorang ronggeng dan puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, di sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk. Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka

34

hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan, kelak dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil. Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya setelah beberapa hari singgah di Dukuh Paruk. Semua itu tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Rasus melangkah gagah pada saat fajar merekah tanpa berpamitan pada Srintil yang masih pulas tidurnya. Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil Tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Srintil setiap hari tampak murung setelah kejadian itu dan sikap Srintil yang kemudian menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk. Kemurungan Srintil tetap tertahan ketika didatangi lelaki bernama Marsusi yang berniat menikmati kecantikannya dan kegairahan seksualnya. Pak Marsusi yang telah membawa seratus gram kalung emas buat Srintil sesuai dengan tawaran Nyai Kartareja ternyata gagal merangkul ronggeng itu. Srintil memang berjanji akan pulang dari

35

tegalan, langkahnya justru menuju pasar Dawuan hendak mencari Rasus. Niatnya melarikan diri dari rumah Nyai Kartareja itu akhirnya pasrah kembali ke rangkulan Nyai Kartareja yang begegas menyusul dan mengajaknya pulang. Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, Srintil senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dalam kurun waktu tertentu dengan gaya asuhan seorang ibu kandung. Marsusi kembali datang ke rumah Nyai Kartareja hendak menikmati kegairahan seks bersama Srintil. Nyatanya Srintil tetap bertahan dengan menegaskan sikap untuk bersedia menerima seratus gram kalung emas dari Pak Marsusi hanya untuk menari bukan melayani kelelakian Marsusi. Marsusi marah dengan pernyataan Srintil, kemarahannya dilimpahkan kepada Nyai Kartareja yang gagal membujuk ronggeng asuhannya. Perlawanan atau pemogokan Srintil masih bertahan ketika datang tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Akhirnya Srintil runtuh dan pasrah, bukan semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak melawan kekuasaan. Srintil sama sekali tidak membayangkan akibat lebih jauh dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1964 sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Slogan

36

seperti itu diperdengarkan kehadapan Sakarya sebagai tetua Dukuh Paruk, justru timbullah sebuah reaksi yang mencerminkan kebingungan. Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk. Rapat, pidato, gambar, dan simbol partai dipasang di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup makam Ki Secamenggala di puncak bukit kecil di tengah-tengahnya. Mereka tidak mengetahui perubahan sosial yang berkembang dari dunia politik yang berpusat di Jakarta, sebuah tempat yang terlalu jauh dari alam pikiran mereka. Padahal saat itu mereka terancam perubahan sosial. Pemberontakan PKI kandas dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah mana pun ditangkapi dan di tahan. Nasib itu terjadi juga pada Srintil yang harus mendekam di tahanan tanpa alasan yang jelas. Paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala zaman yang berkembang di luar wilayahnya. Masa paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena jarang orang mengundangnya berpentas untuk suatu hajatan. Tidak lama kemudian ronggeng Srintil sering berpentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri atau dipimpin tokoh Bakar. Srintil tidak memahami makna rapat-rapat umum, pidato yang sering diselenggarakan orang. Srintil paham hanya untuk menari sebagai ronggeng atau melayani nafsu kelelakian. Hubungan mereka tetap baik.

37

Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan padi yang dilakukan oleh orang-orang kelompok Bakar. Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah menjadikan Sakarya merasa tersinggung dengan sikap Bakar. Kejadian itu membuat itu Sakarya memutuskan hubungan dengan kelompok Bakar. Sakarya tidak hanya melarang ronggeng Srintil berpentas di rapat-rapat umum, Sakarya juga meminta pencabutan lambang partai. Dasar Bakar dengan tenang menanggapinya dengan sikap bersahaja. Dukuh Paruk dalam tempo singkat kembali ketradisinya yang sepi dan miskin. Kedamaian itu hanya sebentar, mereka kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau di dekat pekuburan itu. Sayang, mereka tidak mampu membaca simbol itu. Srintil pun menjadi semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang sudah-sudah. Penampilan yang berlebihan itu merupakan akhir perjalanan Srintil sebagai ronggeng. Mendadak pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan banyak orang limbung, ketakutan, dan kebingungan, kehidupan kembali terasa sepi dan mencekam. Berbagai peristiwa menjadikan orang-orang Dukuh Paruk ketakutan. Mereka sama sekali tidak mengetahui cara-cara penyelesaiannya. Melaksanakan upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda setiap saat adalah satusatunya cara yang mereka lakukan. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk

38

melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Harapan berlindung kepada polisi itu berantakan, karena kepolisian dan tentara justru sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI. Harapan Srintil dan Kartareja menjadi Pupus untuk mendapatkan perlindungan polisi karena justru harus ditahan seperti orang-orang kelompok Bakar. Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun keberadaan Rasus. Nyai Kartareja menghubungi Marsusi tanpa sepengetahuan Srintil,. Akibatnya, Srintil mengumpat kebodohan neneknya dan meratapi nasibnya sebagai perempuan yang terlanjur dikenal sebagai ronggeng. Untungah Srintil masih bisa mengelak perangkap Marsusi. Selepas dari perangkap Marsusi, Srintil kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil dan Srintil berusaha mencintai Bajus. Srintil harus kecewa lagi, Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.

39

Tokoh penyelamat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu termasuk tokoh pro feminis yang membantu tokoh utama (Srintil) untuk mendapatkan kesejajaran dengan laki-laki, sedang tokoh penghambat dapat dikatakan sebagai tokoh kontra male feminis karena kehadirannya membuat tokoh utama menderita. Tokoh-tokoh pro feminis yang menolong Srintil berjenis kelamin laki-laki sehingga mereka dapat dikatakan sebagai sosok male feminis. Para tokoh yang memerankan male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yaitu seperti Rasus, Sakum, Mertanakim, Sentika, Partadasim, Pak Blengur. Tokoh kontra male feminis yaitu Mantri Kesehatan, Kartareja, Sakarya, Bajus, Marsusi, Dower, Sulam, Babah Pincang, Pak Simbar, Darman. Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang berperan sebagai male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. 4.1.1. Male Feminis Kaum feminis berpendapat laki-laki dapat menyatakan diri mereka feminis sepanjang mereka ikut berjuang bagi kepentingan kaum perempuan. Kaum lakilaki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai kelompok male feminis. Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang berperan sebagai male feminis.

40

4.1.1.1. Rasus Rasus adalah teman bermain Srintil sebelum menjadi ronggeng. Persahabatan mereka mulai renggang setelah Srintil menjadi ronggeng. Rasus merasa Srintil makin menjauh. Rasus mengakui hatinya tersiksa dengan keadaan seperti itu. Rasus tetap kecewa karena tidak bisa lagi bermain bersama Srintil. Rasus mulai mencari jalan untuk memperoleh kembali perhatian Srintil. Rasus acap kali mendengar orang berceloteh bila Srintil habis menari tari Baladewa. Tubuh Srintil masih terlampau kecil bagi kerisnya yang terselip di punggungnya. Celoteh semacam itu membuka jalan karena di rumah Rasus ada sebuah keris tinggalan Ayahnya. Rasus berani berbohong tentang keris itu dengan mengatakan mendapat wangsit Ayahnya. Perhatikan kutipan berikut. “Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku itu Ayah berpesan yang wanti-wantinya harus kulaksanakan, ”kataku dengan hati-hati. “Apa pesan Ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing kebohonganku. “Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada siapa saja yang menjadi ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit Ayah, Nek.” (TRDP, hlm. 39). Neneknya percaya dengan mimpi Rasus karena menyebut kata wangsit. Orang Dukuh Paruk menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar. Akhirnya Rasus menyerahkan keris itu kepada Srintil ketika Srintil sedang terlelap. Perhatikan kutipan berikut. “Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi tergulung dalam baju. Aku merasa lebih baik menyerahkan benda ittu kepada Srintil selagi dia tertidur...... yang terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur.” (TRDP, hlm. 41).

41

Rasus berharap Srintil mengenali pemilik baju yang digunakan untuk membungkus keris itu. Rasus berharap perhatian Srintil akan kembali padanya. Keris peninggalan Ayahnya ternyata adalah pusaka ronggeng yang telah hilang. Keris pemberian Rasus dipakai Srintil saat melaksanakan upacara pemandian. Upacara pemandiaan yang dilaksanakan di depan cungkup makam Ki Secamenggala sedang berlangsung, ada kejadian yang sangat menyesakkan dada Rasus dan membuat Rasus bertindak untuk menolong Srintil ketika semua orang sibuk mengurus Kartareja. Tubuh Kartareja telah dirasuki roh Ki Secamenggala. Kartareja perlahan-lahan mengendurkan dekapan atas diri Srintil, entah oleh siraman air kembang atau oleh siraman kepulan asap pedupaan. Dukun ronggeng itu mulai berdiri goyah, dan akhirnya roboh ke tanah. Tangan dan kaki Kartareja kejang. Melihat kejadian itu, Rasus langsung ke depan. Ia ingin menjadi orang pertama yang menolong Srintil dari ketakutan. Lihat kutipan berikut. “Kau tidak apa-apa, Srin?” tanyaku. Srintil hanya menggeleng. Dingin terasa tubuhnya. Tangannya gemetar.” (TRDP, hlm. 49) Rasus hanya ingin segera membawa Srintil menyingkir. Rasus menggandeng tangan Srintil menuruni bukit kecil pekuburan. Srintil tidak diantar ke rumahnya, melainkan di bawa ke rumah Rasus untuk dihiburnya. Suatu keberanian yang tak pernah terbayangkan dapat dilakukan oleh Rasus. Srintil menurut. Srintil bisa terbebas dari cengkraman Kartareja yang saat itu sedang kemasukan arwah Ki Secamenggala. Sikap Rasus yang menolong Srintil terbebas dari cengkeraman Kartareja bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

42

Rasus salah menyira bahwa upacara pemandian itu akhir dari segalanya, masih ada satu acara lagi yaitu bukak-klambu. Dower adalah pemuda pertama yang datang untuk mengikuti sayembara bukak-klambu. Memenangkan

sayembara bukak-klambu bukan hanya menyangkut rencana berani. Melainkan juga kebanggaan. Rasus Ingin sekali menyakiti Dower yang akan menggagahi Srintil. Rasus merasa tidak bisa berbuat apa-apa dengan adanya sayembara bukakklambu. Rasus hanya bisa berjalan tanpa arah, perjalanan yang tanpa tujuan membawa Rasus sampai ke lorong yang menuju pekuburan Dukuh Paruk. Srintil dalam waktu yang sama ternyata juga berjalan menuju cungkup makam Ki Secamenggala. Srintil tidak mengetahuinya kalau Rasus membuntutinya. Srintil menaruh sesaji di depan pintu makam Ki Secamenggala. Srintil bangkit dan berbalik, setelah selesai ia baru menyadari Rasus ada di belakangnya. Rasus hendak melangkah pergi setelah berbicara sebentar, Srintil menghalangi langkah Rasus dengan menarik bajunya. Srintil membimbing Rasus duduk di atas akar beringin. Keduanya duduk dengan membungkam mulut masing-masing. Ronggeng kecil itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang sedang mengalami kekecewaan. Srintil pasti tahu Rasus menyukainya. Srintil tahu pula bahwa malam bukak-klambu baginya menjadi sesuatu yang sangat dibenci Rasus. Lihat kutipan berikut. “Aku tak bergerak sedikit pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Nafasnya terdengar cepat. Kurasakan telapak tangannya berkeringat. Ketika menoleh ke samping kulihat wajah Srintil tegang. Ah, sesungguhnya aku tidak menyukai Srintil dengan keadaan seperti itu......pohon-pohon puring dan kamboja yang mengelilingi pekuburan Dukuh Paruk menjadi pagar yang sangat rapat.”

43

“Srintil melepaskan rangkulannya. Kemudian aku mengerti perbuatan itu dilakukannya agar ia dapat membuka pakaiannya dengan mudah.” (TRDP, hlm. 66). Rasus sering melihat perempuan mandi telanjang di pancuran. Rasus sudah tahu beda tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Rasus merasa jantungnya memompa darahnya ke segala penjuru ketika melihat Srintil telanjang di hadapannya. Kehendak alam terasa begitu perkasa menuntut Rasus bertindak. Srintil dengan tidak canggung menarik tangan Rasus. Wajahnya merona merah, matanya berkilat-kilat. Srintil mulai mendekat badan Rasus yang mulai basah oleh keringat dingin. Kemudian Rasus tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan dua telapak tangan. Lihat kutipan berikut. “Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil membenahi pakaian Srintil. “Ya, tetapi kau sungguh bangsat.” “Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah kepadaku,” kataku menirukan cara seorang kacung yang minta belas kasihan kepada majikannya. (TRDP, hlm. 67) Srintil kecewa dengan penolakan Rasus dan ia merasa malu. Rasus mencoba menjelaskan pada Srintil bahwa perbuatannya akan mendapat kualat. Konon menurut cerita di Dukuh Paruk pernah terjadi sepasang manusia mati di pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk setelah berzina di atas makam Ki Secamenggala. Rasus percaya akan cerita itu, dan segera mencegah perbuatan Srintil yang akan berbuat senonoh. Penolakan Rasus bisa disebut peran male feminis. Rasus memilih meninggalkan Dukuh Paruk setelah kejadian itu. Pertama kalinya Rasus diajak berburu oleh Sersan Slamet setelah ia keluar dari Dukuh Paruk, sekarang ia menjadi seorang tobang. Rasus berburu bersama tiga orang

44

tentara ke hutan. Rasus berharap orang Dukuh Paruk akan melihat Rasus mengenakan baju hijau. Rasus tidak pernah mimpi sebelumnya bahwa suatu pengalaman yang amat luar biasa diperolehnya dalam kesempatan berburu itu. Rasus sempat kecewa karena tiga orang tentara yang diiringnya sama sekali tidak berpengalaman dalam hal berburu, hanya seekor ular yang didapatnya. Rasus bertugas menguliti ular besar itu, memotongnya pendek-pendek dan memasukkan dalam tiga ransel. Pekerjaan mengguliti ular besar selesai sudah. Sementara suasana sepi, Sersan Slamet dan dua orang anggotanya masih terlelap. Rasus tidak mempunyai keberanian membangunkan ketiganya, Rasus hanya duduk berdiam diri dalam kelengangan hutan. Dalam kesendiriannya tiba-tiba Rasus mendapat ilham gemilang ketika memandang tiga pucuk bedil yang dibiarkan tersandar oleh pemiliknya. Lihat kutipan berikut. “Ketiga bedil itu masih tersandar di tempatnya. Selagi Sersan Slamet bersama dua rekannya pulas, aku bisa menggunakan salah sebuah bedil mereka untuk kepentinganku sendiri. Aku mempunyai musuh bebuyutan yang meski hanya merajalela dalam angan-angan, namun sudah sekian lama aku ingin menghancurkan kepalanya hingga berkepingkeping:......Ketika datang kesempatan buat menghancurkan kepala mantri itu, mengapa aku tidak segera bertindak?” (TRDP, hlm. 96) Rasus merasa sudah saatnya membalas kesumatnya. Rasus mulai mencari sebongkah batu cadas sebesar kepala. Rasus membayangkan kepala mantri keparat yang telah mencuri Emaknya. Rasus memantapkan hatinya, Rasus mengambil sebuah bedil dengan tangan gemetar. Denyut jantungnya ternyata mampu menggerak-gerakkan ujung laras bedil yang telah bertuju lurus pada

45

sasaran. Kepala Mantri itu! Rasus menunggu sampai jantungnya tenang. Lihat kutipan berikut. “Bedil kembali kuarahkan kepada sasaran.....Picu kutarik. Ledakan dendam membuat gerak telunjuk kananku menjadi kuat dan pasti. Aku hampir tidak mendengar letupan karena seluruh indra terpusat kepada kepala Mantri yang hancur dan terlempar ke belakang. Tapi gabusnya terbang entah ke mana.” (TRDP, hlm. 98). Rasus telah membalas dendam kesumatnya pada Mantri yang telah membawa Emaknya. Rasus bahkan siap menerima hukuman dari Sersan Slamet karena telah menggunakan senjata sembarangan, Rasus sekarang benar-benar puas. Rasus benar-benar puas walau yang dibunuh hanya sekedar bayangan Emaknya. Selama Rasus menjadi tobang Rasus telah membuktikan kejujuran dan kerja kerasnya pada Sersan Slamet sebagai atasannya. Rasus juga berhasil membunuh perampok yang akan merampok rumah Kartareja di mana Srintil tinggal. Kedatangan tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah perampokan. Rasus tidak berharap sesuatu akan memimpa Dukuh Paruk. Malam kesembilan dari tempat pengintaian Rasus melihat sinar lampu senter mendekat. Empat-lima orang sedang berjalan beiringan di atas pemantang. Keadaan genting seperti itu Kopral Pujo tidak bisa dengan cepat mengambil keputusan. Rasuslah yang mengambil keputusan. Lihat kutipan berikut. “Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari secepatnya ke Dawuan. Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah kembali bersama Sersan Slamet.” “Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke markas.”

46

“Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan Slamet. Kopral harus berlari sampai ke pertengahan pemantang.” “Tak mengapa.” “Nah, inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan meninggalkan tempat ini, mengikuti para perampok itu dari belakang.” (TRDP, hlm. 100). Kopral Pujo langsung ke tengah pemantang dan Rasus mengendap mengikuti para perampok yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat pengintaian. Perampok tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal, melainkan ke rumah Sakarya. Perampok itu tidak menemukan Srintil maupun hartanya. Perampok itu langsung menanyakan di mana Srintil tinggal. Kegaduhan di rumah Sakarya saat itu sudah mendengar oleh dukun ronggeng itu. Barangbarang miliknya dan milik Srintil disembunyikannya di dalam abu tungku. Rasus tetap mengintai di balik pohon beberapa langkah dengan salah seorang di antara mereka. Perampok itu mendobrak pintu dan Srintil menjerit ketakutan. Rasus mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul dalm keadaan seperti itu. Rasus tidak sabar menunggu dan akhirnya timbul keberaniannya. Lihat kutipan berikut. “.......Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul......Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama.....Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar......Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku ambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri......Senjata yang telah terkokang ittu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.” (TRDP, hlm. 102-103) Keberanian Rasus muncul karena keadaan. Rasus merasa harus menyelamatkan Srintil dan hartanya. Sesaat setelah kejadian itu Kopral Pujo datang dengan membawa bantuan. Rasus mengatakan kalau perampok sedang berada di rumah Kertareja, dua di antara mereka telah dibunuh dirinya.

47

Peran male feminis terletak pada keberanian Rasus yang telah berani membunuh perampok tanpa menghiraukan keselamatannya. Kejadian perampokan di Dukuh Paruk sudah tidak terdengar lagi. Rasus dan rombongan tentara kembali ke markas mereka. Setelah beberapa lama Rasus meninggalkan neneknya sendirian di Dukuh Paruk, ia meminta izin pulang untuk menjenguk neneknya. Rasus Meninggalkan Dukuh Paruk selama dua tahun dan kini dia kembali untuk menjenguk neneknya. Rasus terkejut setelah sampai di depan rumah melihat banyak orang berkumpul. Langkahnya dipercepat, perasaannya kembali seperti seorang bocah yang ingin segera menghambur ke pangkuan neneknya. Lihat kutipan berikut. “Nek, aku pulang!” “Oalah, Gusti Pangeran. Rasus, cucuku wong bagus. Kau datang kemari bukan hendak menangkap kami, bukan? Kau hendak menjenguk nenekmu yang sudah payah ini, bukan? Kau masih mengaku saudara kepada kami orang-orang Dukuh Paruk, bukan?” (TRDP, hlm. 256) Rasus seperti mendapat pukulan keras di dadanya setelah mendengar ucapan itu. Lengan dan bibirnya bergetar. Rasus langsung mendekap neneknya perlahan dia mulai bergerak menjauh membiarkan neneknya istirahat. Tengah malam ketika bulan terbenam hanya tinggal Rasus dan Sakarya yang masih terjaga. Tiba-tiba mata nenek itu terbeliak. Lalu kelihatan ada sesuatu yang bergerak cepat dari arah dada dan berhenti dalam tekak. Rasus merasakan neneknya telah berangkat. Keberangkatan neneknya ke tempat asal-muasalnya Rasus merasa berada dalam ketenangan sempurna. Rasus tidak menyesal

48

menjenguk neneknya saat ajal sudah menunggu neneknya, Rasus akan benarbenar menyesal bila saat kematian nenek, ia tidak berada di samping neneknya. Rasus ikut menguburkan neneknya, dan setelah keadaan tenang ia bermaksud mencari Srintil karena perintah semua warga Dukuh Paruk. Rasus seperti bertanggung jawab atas diri Srintil. Sakarya tidak salah ketika dia menitipkan nasib Srintil kepada Rasus. Rasus tergagap ketika mendengar kenyataan bahwa Sakarya sendiri yang menyampaikan ketegasan tanggung jawab moral Rasus atas nasib Dukuh Paruk, khususnya atas diri Srintil. Lihat kutipan berikut. “Bagaimana cucuku, sampean mau, kan?” “Yah, ya. Besok akan kucoba mencari tahu di mana Srintil kini berada dan bagaimana keadaannya.” Sakarya kembali mengusap air matanya. “Kemudian, cucuku, apakah sampean mau berusaha agar Srintil segera dibebaskan? Karena sampean tahu tak seorang Dukuh Paruk pun sebenarnya mengerti urusan yang menyebabkan geger itu.” “Akan kucoba juga, Kek.” (TRDP, hlm. 263) Kesediaan Rasus mencari Srintil adalah kesanggupan seorang anak Dukuh Paruk yang bertanggung jawab. Rasus merasa semua orang Dukuh Paruh adalah tanggung jawabnya karena ia merupakan satu-satunya anak yang menjadi tentara. Kesediaan Rasus mencari Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis. Rasus berhasil mencari Srintil tetapi tidak segera menikahinya karena sebagai seorang tentara Rasus akan ditugaskan di luar Jawa. Setelah kembali bertugas dari luar Jawa Rasus menyesal karena Srintil ternyata merasa tertekan dan menjadikan Srintil hilang ingatan. Merasa bertanggung jawab pada Srintil, Rasus segera membawa Srintil berobat ke rumah sakit.

49

Rasus menengok Dukuh Paruk setelah dia berangkat ditugaskan ke luar Jawa. Ketika Rasus melintasi rumah Srintil sejenak ia tertegun. Srintil tertawa terbahak-bahak lalu bertembang seorang diri di dalam rumah terdengar. Srintil menjadi gila karena Bajus menjadikan impiannya lenyap seketika. Lihat kutipan berikut. “Srintil jadi ngengleng begitu Bajus menyatakan tidak bisa mengawininya. Itu kata Bajus sendiri, yang mengantar Srintil pulang.” “Aku bangkit dan mengentakkan kaki ke tanah. Bagaimanapun jua aku ingin menempeleng laki-laki yang bernama Bajus. Ah, tetapi tindakan semacam itu percuma saja. Ada benarnya kata Kartareja; bukan hal yang mudah meminta pertanggungjawaban kepada Bajus. Aku hanya akan menambah kepusingan.” (TRDP, hlm. 387) Semua orang seolah menyalahkan Rasus yang selalu menunda menikahi Srintil sampai terjadi peristiwa itu. Rasus mengajak Srintil untuk berobat untuk menghapus rasa bersalahnya. Rasus membawa Srintil ke rumah sakit jiwa. Sikap Rasus yang mempunyai keinginan supaya Srintil bisa disembuhkan merupakan peran male feminis. Rasus mempunyai haparan Srintil bisa sembuh dan mereka bisa hidup bahagia.

4.1.1.2. Goder
Goder adalah anak Tampi tetangga Srintil. Semenjak Srintil sakit Goder adalah satu-satunya bayi yang dapat mengembalikan semangat hidupnya. Lihat kutipan berikut. “Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi tampi…..Hasrat memeteki Goder telah menjadi renjana jiwanya, renjana hatinya, dan renjana system ragawinya…..Ketika kali pertama Srintil sadar teteknya mengeluarkan air susu maka dia berurai air mata….Hanya dalam beberapa hari tubuhnya kembali segar dan kelihatan lebih hidup.” (TRDP, hlm. 139)

50

Srintil sekarang telah memasuki usia dewasa yang sudah mempunyai keinginan menikah dan melahirkan seorang anak. Srintil tidak mungkin memiliki anak karena dia adalah seorang ronggeng yang perutnya telah dipijit terlalu keras sehingga dia tidak akan bisa mempunyai anak. Kenyataan itu membuat Srintil sempat putus asa, setelah Srintil mengetahui semua itu. Untung ada Goder anak Tampi. Goder telah berhasil memberi Srintil motivasi baru dan gairah dalam hidupnya. Goder masih terlalu kecil dan suci, Goder walau masih kecil bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

4.1.1.3. Sakum
Srintil berhenti di depan rumah Sakum ketika mau ke rumah Tampi untuk mengambil Goder. Hatinya terkesan oleh suasana di rumah Sakum. Setelah Srintil memutuskan tidak berjoget yang berakibat kehidupan Sakum menjadi berantakan karena penghasilannya hanya diperolehnya ketika mengiringi ronggeng. Sakum membuat anyaman kukusan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Lihat kutipan berikut. “……Jemarinya terus bekerja; menganyam, menyambung, atau memotong serpih bambu yang kepanjangan. ”Bila aku masih mendengar suara anakku, itu pertanda baik. Berarti mereka masih hidup.” Ini senda gurau Sakum yang bukan sekali-dua diucapkan.” (TRDP, hlm. 163) Sakum tidak bisa hanya mengandalkan indra pendengarannya, terkadang naluri dan perasaannya lebih dipercaya. Mata Sakum buta tapi dia bisa membuat anyaman kukusan dengan baik dan ketika ia sedang menabuh gendang mengiringi ronggeng, Sakum sempurna melakukannya. Naluri Sakum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

51

Sakum kecewa dengan Srintil tidak mau berjoget lagi, Sakum dengan sabar mendengarkan keluh kesah Srintil. Srintil tetap teringat Rasus dan membuat dia tidak mau berjoget lagi. Lihat kutipan berikut. “Ya, Kang. Sebaiknya aku menuruti permintaan mereka. Aku mau menari lagi, Kang. Tetapi hatiku, Kang, hatiku!” “Hati?” “Ya. Hatiku tak bisa kubawa menari.” “bisa,” ujar Sakum cepat. “Aku percaya indang ronggeng masih tetap bersemayam pada diri sampean. Hati sampean yang buntu akan terobati bila sampean melupakan dia.” (TRDP, hlm. 165) Sakum memperlihatkan kesungguhannya. Sakum ingin menyatakan kebenciannya dengan cara itu atas hubungan Srintil-Rasus yang telah membawa banyak persoalan bagi rombongan ronggeng, bagi Dukuh Paruk. Sakum kembali menarik nafas lega setelah memberi penjelasan pada Srintil, Sakum telah lama ingin mengungkapkan perasaannya kepada Srintil; mengingatkannya dan mengajarinya tentang bagaimana seharusnya sikap seorang ronggeng. Kesedian Sakum mendengarkan cerita Srintil bisa dikatakan sebagai male feminis. Srintil menolak berjoget setelah sekian lama dan kini ia menerima tawaran panitia Agustusan. Tidak semua orang tahu bahwa sebenarnya Srintil menari dalam keadaan marah. Lihat kutipan berikut. “Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami sesuatu dengan intuisinya. Sakum ingin menghentikan Srintil……..Maka Sakum yang bertindak. Sentuhan irama calungnya dibuat sumbang dengan cara menyimpangkan nada-nada tertentu………Baru setelah tiga buah lagu berlalu Srintil patuh akan aba-aba yang diberikan Sakum.” (TRDP, hlm. 192) Calung berhenti suasana mendadak janggal dan hampa. Tiba-tiba Srintil pingsan. Sakum yang mengerti keadaan Srintil hanya dengan nalurinya. Kepekaan hati Sakum terhadap Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

52

Sakum dengan keadaan cacat fisik tidak bisa mencari keberadaan Srintil setelah Srintil pergi melapor ke kantor polisi, Sakum menyuruh Rasus mencari Srintil. Nenek Rasus dikuburkan di pekuburan Dukuh Paruk. Selesai

menguburkan jasad neneknya Rasus tidak segera turun dari bukit pekuburan itu. Sakarya dan Rasus menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk setelah beberapa lama termenung dan memilih jalan memutar karena Rasus ingin melihat-lihat keadaan lebih menyeluruh. Ketika Rasus melewati rumah Sakum dan Rasus berdiri agak lama. Sakum keluar memanggil Rasus. Lihat kutipan berikut. “Ah, Pak Tentara. Jadilah orang Dukuh Paruk lagi.” “Aku tetap orang Dukuh Paruk, Kang.” “Itu iya. Maksudku, ada sesuatu yang sangat layak, sangat pantas. Semua orang di sini pasti senang bila sampean kembali tinggal bersama kami. Dan mengambil istri orang sini. Ah, Pak Tentara. Aku kan Sakum. Aku tidak pernah lupa siapa sampean, siapa Srintil, dan bagaimana kalian pada waktu dulu. Carilah Srintil dan bawa kemari. Ambil dia jadi istri sampean.” (TRDP, hlm. 261) Mendengar kata-kata Sakum, wajah Rasus langsung berubah. Kata-kata Sakum mengusik harapan yang pernah ada dan kini diam-diam masih dipeliharanya, Rasus akan menjadi cucu menantunya suatu hari nanti. Sakum menunggu jawaban Rasus dengan hampa. Sakum tidak mendapat jawaban pasti dari Rasus. Usaha Sakum yang telah membujuk Rasus untuk mencari Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis. Srintil setelah sekian lama di penjara akhirnya dia dibebaskan bersyarat. Srintil keluar dari penjara dan ia tidak kembali meronggeng karena takut terjadi apa-apa. Srintil menemukan pria yang dikira bisa menggantikan Rasus.

53

Perkenalannya dengan Pak Bajus menjadikan keduanya akrab. Bajus berjanji datang ke rumah Srintil untuk berkunjung. Tidak seperti biasanya Srintil mempersiapkan semua. Srintil merasa Bajus bisa menggantikan Rasus yang telah pergi meninggalkannya. Srintil menyuruh Sakum untuk membelikan keperluan menyambut Bajus. Lihat kutipan berikut. “Ya. Aku mau minta tolong, Kang. Belikan gula dan bubuk kopi yang bagus. Juga papaya dan jeruk. Mau, Kang?” “Tentu saja mau, jenganten,” jawab Sakum yang cengar-cengir. “Ada tamu ya? Siapa?” “Benar, Kang. Ada orang mau bertamu ke rumahku.” “He….he. Marsusi, ya?” “Salah. Orang Jakarta, Kang.” (TRDP, hlm. 325-326) Srintil menyerahkan uang pada Sakum, dan Sakum langsung berangkat ke Pasar Dawuan. Sakum membeli menurut pesanan. Sambil menunggu Sakum, Srintil mandi di pancuran. Pulang dari pancuran Srintil menengok Goder yang masih tidur. Sakum pulang beberapa saat kemudian dan menyerahkan barang belanjaannya pada Srintil. Keikhlasan Sakum membantu Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

4.1.1.4. Mertanakim
Rombongan Srintil memenuhi undangan datang ke Alaswangkal. Mereka naik bus tua dari Dawuan dan untuk sampai Alaswangkal harus menempuh perjalanan beberapa jam. Rombongan dari Dukuh Paruk turun di daerah sepi berhutan jati setelah dua jam dalam kendaraan. Seorang laki-laki tua bercawat lancingan tergopoh-gopoh menjumpai Kartareja. Lihat kutipan berikut. “Saya Mertanakim,” katanya. “Saya utusan Pak Sentika untuk menjemput sampean semua.”

54

“Ah, ya. Terima kasih,”jawab Kartareja. “Apakah ada tenaga buat mengangkut bawaan kami?” “Lha, orang-orang ini! Sampean semua tinggal berjalan bersama saya.” “Jauh?” “Paling-paling dua jam perjalanan,” jawab Mertanakim tanpa perubahan emosi pada wajahnya.” (TRDP, hlm. 205) Rombongan Srintil mulai berjalan mengikuti Mertanakim. Mereka berjalan di jalan sempit, turun-naik, dan berlapis batu cadas yang besar dan kasar. Mertanakim membimbing rombongan Srintil dengan sadar, dan selalu membesarkan hati rombongan Srintil bila mereka kelihatan lelah. Lihat kutipan berikut. “Apa kira-kira masih jauh lagi, Kang Kartareja?” kata Sakum, yang merasa paling sengsara bila melangkahkan kaki pada jalan yang belum dikenalnya. “Memang masih jauh,” kata Mertanakim. “Tetapi sampean tidak perlu berkecil hati. Majikan kami sudah mempersiapkan sambutan yang istimewa bagi sampean semua.” (TRDP, hlm. 206) Mendengar rayuan Mertanakim rombongan Srintil menjadi semangat untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan diteruskan saat matahari mulai terik. Rombongan Dukuh Paruk memasuki kampung Alaswangkal ketika hampir tengah hari. Ucapan Mertanakim benar-benar terbukti. Di Alaswangkal rombongan Srintil diperlakukan istimewa, terlebih perlakuan tuan rumah terhadap Srintil. Peran male feminis terletak pada keikhlasan Mertanakim yang dengan sabar membimbing rombongan Srintil.

4.1.1.5. Partadasim
Srintil masih diwajibkan lapor setelah keluar dari penjara. Srintil ditawari Marsusi untuk membonceng motornya ketika hendak melapor. Marsusi merayu

55

Srintil supaya Srintil mau membonceng motornya. Srintil mau juga membonceng Marsusi. Srintil yang semula mengira akan diantar ke rumah oleh Marsusi salah mengira. Marsusi hendak berbuat jahat pada Srintil. Lihat kutipan berikut. “Namun ketika perjalanan hampir sampai simpang tiga, ada pikiran baru yang membuat Marsusi mengambil keputusan mendadak. Dibelokkannya motornya ke kiri masuk ke jalan kecil yang menuju daerah perkebunan karet Wanakeling. Ketika “barang” yang sangat diinginkannya sudah berada di tangan, mengapa tidak langsung membawanya pulang ke rumah?” pikir Marsusi. (TRDP, hlm. 287) Srintil merasa dibohongi, dan segera menanyakan hendak ke mana dirinya di bawa. Srintil tidak mau di ajak ke Wanakeling oleh Marsusi. Marsusi tetap memaksanya. Srintil Berkali-kali berusaha terjun dari motor, namun setiap kali diurungkannya. Marsusi begitu semangat membawa Srintil ke Wanakeling, tanpa disadari kecerobohannya mengakibatkan rencananya gagal. Ketika melewati ruas jalan yang sangat rusak motor Marsusi kelihatan melompat-lompat dalam kecepatan yang berubah-ubah. Kejadian itu membuat pantat Srintil terangkat karena guncangan dan terhempas ke permukaan jalan tanpa diketahui Marsusi. Srintil yang merasa mendapat jalan berusaha bangkit keluar dari hutan. Srintil berjalan menuruni lorong setapak menuju jalan pengunungan yang membelah hutan jati. Usaha Srintil sia-sia, Marsusi telah mencegatnya di tepi jalan. Marsusi merasa bersalah karena telah menjatuhkan Srintil dan melukainya. Srintil menolak diantar Marsusi pulang. Marsusi terus mengejar Srintil yang terus menjauh. Sintil sudah kehabisan tenaga ketika mencapai jalan pengunungan. Marsusi muncul sesaat kemudian. Seorang laki-laki pengendara sepeda lewat di

56

depan mereka saat Marsusi merayu Srintil untuk mengantarnya pulang,. Lihat kutipan berikut. “Kang, sampean mau ke mana?” “Lha, aku mau pulang.” “Ke mana?” “Lha, ya ke Pecikalan. Aku kan orang Pecikalan. Sampean orang Dukuh Paruk, kan?” “Kebetulan, Kang. Aku minta dengan sangat sampean mau menolongku. Mau?” “Ya mau saja. Lalu apa tidak salah, karena sampean kan.....kan….kan….” (TRDP, hlm. 295-296) Srintil menjelaskan kejadiannya pada Partadasim, Partadasim mau mengantarkan Srintil pulang. Kesempatan memboncengkan Srintil adalah sesuatu yang diimpikannya selama ini. Marsusi kalah dan berusaha menutupi kekalahannya dengan menyuruh Partadasim untuk mengantar Srintil. Sikap Partadasim yang mau mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

4.1.1.6. Pak Blengur
Bajus membawa Srintil untuk mengikuti sebuah rapat. Sikap Bajus memperlihatkan bahwa Bajus seolah-olah hendak menikahi Srintil. Srintil salah mengartikannya sikap Bajus. Bajus menyuruh Srintil melayani Pak Blengur demi untuk mendapatkan pekerjaan juga uang lima juta. Lihat kutipan berikut. “Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blengur. Percayalah, dia orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa kepadanya, berapa pun harganya, akan dia kabulkan. Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia. Temanilah dia, Srin.” (TRDP, hlm. 372) Srintil tersentak mendengar kata-kata Bajus. Gerakannya limbung, Srintil bangkit dan berlari ke kamar. Srintil menyesal ikut Bajus. Srintil dengan

57

keberaniannya hendak melawan Bajus, Bajus segera bertindak, menangkap tangan Srintil dan mengunci Srintil di dalam kamar. Beberapa langkah di luar kamar, Bajus duduk gelisah ketika sopir Pak Blengur menyuruhnya datang ke hotel. Berbagai alasan telah dipersiapkan untuk Pak Blengur tentang Srintil. Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan sosok yang penuh kesantaian. Lihat kutipan berikut. “Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.” “Kata yang mana, Pak?” “…...Aku terkesan oleh citra pada wajahnya. Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga. Jus!” “Ya, Pak.” “Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi objek petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.” (TRDP, hlm. 375-376) Pak Blengur menyuruh Bajus mengantar Srintil pulang. Pak Blengur memberi uang pada Srintil tanpa harus melayaninya. Sikap Pak Blengur bisa dikatakan sebagai peran male feminis karena mengerti keadaan Srintil yang telah berhenti melayani nafsu laki-laki. Dari beberapa peran male feminis di atas, peran terbanyak dilakukan oleh tokoh Rasus, karena Ahmad Tohari menitikberatkan peran male feminis pada sosok Rasus. Dalam roda kehidupan, tokoh laki-laki pun ada yang bersifat kontra male feminis. Tokoh laki-laki yang bersifat seperti ini cenderung tidak menghargai sosok perempuan dan tidak mendukung ide-ide feminisme. Secara nyata tokoh laki-laki yang kontra male feminis ini sangat menikmati keistimewaan-

58

keistimewaan yang melekat pada dirinya. Bahkan ia tidak ingin keistimewaan itu hilang. 4.1.2. Kontra Male Feminis Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang berperan sebagai kontra male feminis.

4.1.2.1. Mantri Kesehatan
Orang Dukuh Paruk pada saat terjadi keracunan tempe bongkrek belum percaya dengan adanya dokter, mereka percaya bahwa malapetaka itu adalah kutukan Ki Secamenggala. Sakarya mendengar Ki Secamenggala mengatakan kematian delapan belas warga Dukuh Paruk adalah kehendaknya. Selama hidupnya menjadi bromocorah, Ki Secamenggala berutang nyawa sebanyak itu, nyawa keturunannya dipakai sebagai tebusan. Cerita nenek Rasus yang paling membuat Rasus penasaran adalah yang menyangkut Emaknya. Emaknya juga termakan racun seperti Ayahnya. Ayahnya langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian halnya dengan Emaknya. Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga. Lihat kutipan berikut. “Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuah kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada diantara mereka.” (TRDP, hlm. 34) “………Ada orang yang secara tak sengaja mengatakan Emak memang meninggal di poliklinik kota kawedanan itu. Namun mayatnya dibawa ke kota kabupaten, di sana mayat Emak diiris-iris oleh para dokter. Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek. Dengan demikian mayat Emak tidak pernah sampai kembali ke Dukuh Paruk. Di mana Emak dikubur, tak seorang Dukuh Paruk pun yang mengetahuinya.” (TRDP, hlm. 34)

59

Bermacam-macam versi kisah tentang nasib selanjutnya Emak Rasus. Rasus tetap percaya Emaknya meninggal. Mayatnya dicincang untuk kepentingan penyelidikan. Mantri itu ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek, tanpa berpikir kepanikan yang dialami keluarga Emaknya karena menanti kabar dari kota kawedanan. Sikap Pak Mantri yang lebih mementingkan penyelidikan demi karier dapat dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.2. Sakarya
Sakarya adalah kakek Srintil yang merawat dirinya sejak kecil sejak bencana tempe bongkrek yang melanda Dukuh Paruk. Karena tanpa sepengetahuan Srintil, kakeknya mengetahui ulahnya tadi sewaktu menari layaknya seorang ronggeng di bawah pohon nangka. Sakarya yakin cucunya itu telah kerasukan indang ronggeng. Sakarya yakin cucunya akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan. Lihat kutipan berikut “Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri……… (TRDP, hlm. 15) Sakarya tahu kalau cucunya telah kerasukan indang ronggeng lalu ia menyerahkan Srintil pada Kartareja seorang dukun ronggeng. Sakarya tahu akibat setelah Srintil menjadi ronggeng, ia akan menjadi pelampiasan nafsu kaum lakilaki. Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah ronggeng. Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada

60

sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Lihat kutipan berikut. “Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di parapara di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, Dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 16) Srintil segera diserahkan ke dukun ronggeng yaitu Kartareja. Srintil sekarang sudah berada dalam asuhan Kartareja dan Srintil harus menjalani serangkaian upacara sebelum Srintil sah menjadi ronggeng. Srintil setelah selesai dimandikan. Ronggeng itu dituntun ke depan pintu cungkup. Di sana Srintil menyembah dengan takzim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para penabuh. Kartareja komat-kamit sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba kepada pemukul gendang. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk pecah. Semua gendang dan calung menggema bersama dalam irama khas. Sikap Sakarya yang menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng walaupun dia adalah cucunya sendiri bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.3. Kartareja
Upacara pemandian dilaksanakan di pekuburan Ki Secamenggala, dan Srintil harus menempuh satu syarat lagi yaitu bukak-klambu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun, dan yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat

61

menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. Kartareja sebagai dukun ronggeng jauh-jauh hari sudah menentukan malam bukak-klambu tersebut. Kartareja memasang syarat sekeping uang ringgit emas. Lihat kutipaan berikut. “......Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang.” (TRDP, hlm. 54) Kartareja merasa layak memasang harga sekeping uang ringgit emas untuk acara bukak-klambu karena di Dukuh Paruk belum pernah ada ronggeng secantik Srintil. Harga itu sudah terlalu pantas. Kartareja ditegur oleh beberapa pemuda di pasar saat menyebarkan berita itu. Mereka menegur Kartareja karena terlalu berat harga untuk mengikuti sayembara bukak-klambu bagi orang Dukuh Paruk. Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Lihat kutipan berikut. “Berita tentang malam berahi itu cepat menyebar ke mana-mana, jauh ke kampung-kampung di luar Dukuh Paruk......Tetapi sebagian besar segera memadamkan keinginan setelah mengerti apa syarat untuk tidur bersama Srintil pada malam bukak-klambu.......Hanya beberapa pemuda yang merasa dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu.” (TRDP, hlm. 54) Kartareja mendapat keraguan setelah menyebarkan berita itu. Kartareja tetap melaksanakan malam bukak-klambu pada sabtu malam. Sikap Kartareja yang telah menentukan malam bukak-klambu bagi Srintil bisa dikatakan sebagi peran kontra male feminis.

62

Kartareja menyuruh istrinya untuk melayani Sulam. Kartareja mempunyai cara licik untuk mendapatkan uang Dower dan Sulam dalam acara Bukak-klambu. Kartareja memberi keduanya minuman ciu, Sulam mulai mengigau karena dia minum terlalu banyak. Sebaliknya Dower sama sekali tidak mabuk. Sulam merasakan melihat beribu bintang jatuh dari langit. Telinganya mendengar suara tembang asmara, dan Nyai Kartareja dianggapnya Srintil dan mengajaknya bertayub. Lihat kutipan berikut. “Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri dukun ronggeng itu......Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam.” (TRDP, hlm. 74-75) Nyai Kartareja menuruti kemauan suaminya untuk melayani Sulam. Keduanya sudah membayangkan sebuah ringgit emas, dua rupiah perak, dan seekor kerbau. Nyai Kartareja melayani Sulam bertayub, renjana yang menguasai Sulam tidak berlangsung lama karena kemudian Sulam roboh dalam pelukan Nyai Kartareja. Dan Nyai kartareja segera melapor pada suaminya kalau tugas melayani Sulam sudah selesai. Kartareja tetap menyuruhnya untuk melayani Sulam walau Nyai Kartareja istrinya sendiri, sikap Kartareja terhadap istrinya bisa dikatakan sebagai kontra male feminis.

4.1.2.4. Dower
Dower pemuda dari Pecikalan adalah pemuda pertama yang datang ke rumah Kartareja untuk mengikuti sayembara. Dower sampai di rumah Kartareja ketika Kartareja sedang melamun karena sudah jumat malam belum ada seorang pemuda pun yang datang memenuhi harapannya, menyerahkan sekeping ringgit

63

emas bagi keperawanan Srintil. Lamunan dukun ronggeng itu berhenti ketika pintu depan berbunyi. Lihat kutipan berikut. “Kula nuwun,” Dower mengucapkan salam. “Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil menyipitkan mata. Sinar lampu membuat matanya silau. “Oh, maari masuk.”” Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu duduk.....Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena mendengar nafas Dower yang terengah-engah.” (TRDP, hlm. 58) Kartareja segera mempersilakan tamunya masuk dan segera menanyakan maksud kedatangannya. Dower datang untuk mengikuti sayembara. Kartareja harus kecewa karena Dower baru membawa dua buah rupiah perak, dan uang itu dijadikan panjar terlebih dahulu kemudian besok harinya Dower akan datang lagi dengan membawa seringgit emas. Lihat kutipan berikut. “Jadi beginilah maksudmu, Nak?’ “Ya, Kek.” “Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau harus datang membwa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang panjarmu hilang. Bagaimana?” “Kalau engkau berkeberatan, maka terserah. Silakan berpikir. Atau segera pulang ke Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu pemuda lain, beberapa orang akan segera tiba.” (TRDP, hlm. 59) Gertakan Kartareja menggena di hati Dower. Dower berjanji datang lagi dengan membawa sebuah ringgit emas. Sesaat kemudiaan terdengar gemerincing. Dower menyerahkan dua buah uang rupiah perak pada Kartareja. Usaha Dower untuk mendapatkan sebuah ringgit emas demi memperoleh keperawanan Srintil bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis karena untuk mendapatkannya Dower berhasil mengelebuhi orang tuanya. Dower datang lagi ke rumah Kartareja pada malam berikutnya dengan menuntun seekor kerbau. Dower dengan bajunya yang baru duduk di hadapan

64

tuan rumah. Dower menyerahkan seekor kerbau sebagai pengganti ringgit emas setelah berbincang-bincang dengan Kertareja,. Kartareja menyambutnya dengan senyum kecut, bahkan menyepelekan. Lihat kutipan berikut. “Tetapi bagaimana juga kau tak bisa kuanggap telah mencukupi syarat yang kutentukan. Seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak sama dengan sebuah ringgit emaas.” “Jadi engkau menolak, Kek?” tanya Dower gelisah. “Ya. Kecuali......” “Kecuali apa?” potong Dower cepat. “Kecuali kau mau hanya menjadi cadangan. Bila sampai tengah malam nanti tak ada orang lain membawa ringgit emas kepadaku, maka kaulah pemenangnya. Kalau kau menolak, silakan terima kembali dua rupiah perak ini. Bawalah pula kerbaumu itu.” (TRDP, hlm. 70) Dower tidak menyangka Kartareja akan menolak dengan kata-kata sekeras itu. Perjaka Pecikalan tergagap. Bukan main kecewa hati Dower. Dower menerima dengan mengutuk Kartareja dengan sengit. Sikap Dower bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis karena ia bersedia dijadikan cadangan yang penting dia bisa mewisuda Srintil.

4.1.2.5. Sulam
Dower dan Kartareja ketika sedang mendiskusikan masalah bukak-klambu. Di halaman seorang pemuda datang ke rumah Kartareja. Sulam dengan angkuhnya melangkah ke dalam rumah Kartareja. Kebanggaan menjadi anak seorang lurah dibawanya ke mana-mana. Di rumah Kartareja, Sulam terkejut sejenak ketika dilihatnya Dower sudah duduk di hadapan Kartareja. Sebelum terjadi bersitegang antara Dower dan Sulam, Kartareja bertanya pada Sulam tentang maksud kedatangan Sulam ke rumahnya. Sulam seperti halnya dower datang untuk mengikuti sayembara bukak-klambu. Lihat kutipan berikut.

65

“Baiklah. Bila demikian katamu, pasti kau sudah siap dengan sebuah ringgit emas,” ujar Kartareja. “Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku membawa ringgit emaas. Bukan rupiah perak, apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu membalas keras.” (TRDP, hlm. 72) Sulam dengan angkuh menyerahkan ringgit emas pada Kartareja. Sulam merasa telah mengalahkan Dower anak Pecikalan. Mereka berdua belum tahu siasat sedang dijalankan Kartareja untuk mendapatkan uang keduanya, Sulam tetap angkuh. Sikap Sulam yang menurutnya dapat mengikuti sayembara bukakklambu bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.6. Pak Simbar dan Babah Pincang
Srintil dan Nyai Kartareja ketika sedang berbelanja di pasar menjadi perhatian orang banyak. Tidak sedikit pedagang yang memberikan barang dagangannya secara cuma-cuma. Bermacam-macam celoteh orang pasar. Para perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan para lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan, berkata dengan mata bersinar kepada Srintil. Lihat kutipan berikut. “Eh, wang kenes, wong kewes. Aku tahu di Dukuh Paruk orang menggosok-gosokkan batu ke badan bila sedang mandi. Tetapi engkau tak pantas melakukannya. Mandilah dengan sabun mandinya. Tak usah bayar bila malam nanti kaubukakan pintu bilikmu bagiku. Nah, kemarilah.”........Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak menepiskan tangan laki-laki itu. Bangsat!” (TRDP, hlm. 83) Pak Simbar bermaksud memberikan sabun pada Srintil tapi ia meminta imbalan yaitu tidur bersama ronggeng itu. Di pasar itu bukan hanya Pak Simbar

66

yang gatal tangannya pada Srintil. Babah Pincang juga memperlakukan Srintil senonoh. Lihat kutipan berikut. “Nah. Aku punya sandal kulit. Mulah. Barang baik, kamu olang tida pantas beltelanjang kaki. Betismu baagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 83) Babah Pincang di tengah dagangannya akhirnya ikut berbicara dengan wajah beringas dan mata berkilat menawarkan dagangannya. Selain menawarkan dagangannya tangan Babah Pincang juga mengamit pipi Srintil. Sikap Pak Simbar dan Babah Pincang termasuk peran kontra male feminis.

4.1.2.7. Marsusi
Suatu malam Marsusi datang lagi ke rumah Kartareja dengan membawa kalung emas yang diminta Nyai Kartareja. Suami-istri Kartareja menerima keuntungan lebih besar manakala mereka menjadi mucikari. Seorang laki-laki yang mabuk kepayang terhadap Srintil dan ingin bersamanya barang satu-dua malam harus melalui perantara Nai Kartareja. Baginya untuk sementara tak mengapa kalau Srintil masih enggan menari asalkan dia mau melayani laki-laki yang menginginkannya. Lihat kutipan berikut. “Ketika suatu malam Marsusi muncul kembali di Dukuh Paruk, tibalah saat bagi Nyai kartareja meminta Srintil kembali kepada kebiasaan semula. Dalam mempengaruhi Srintil, Nyai Kartareja menggunakan segala kemampuannya karena dia tahu Marsusi pastilah membawa kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Perhiasan seperti milik istri lurah pecikalan itu telah lama menjadi buah impiannya. Tetapi kepada Marsusi dia menyatakan Srintil-lah yang menginginkannya.” (TRDP, hlm. 140) Nyai kartareja menggunakan dalih bahwa Srintil yang menginginkan kalung itu. Srintil masih berada di rumah Sakarya dengan mengendong Goder ketika Marsusi datang lagi. Srintil disusul oleh Nyai Kartareja untuk segera

67

menemui tamunya. Nyai Kartareja menyuruh Srintil melayani Marsusi dengan imbalan kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Srintil dengan tegas menolak melayani Marsusi, ia akan menerima kalung tersebut sebagai upah menari bukan melayani Marsusi. Mendengar pernyataan Srintil betapa marahnya Marsusi. Sikap Marsusi yang menuntut Srintil melayaninya adalah peran kontra male feminis. Kemarahan Marsusi membawa dia mendatangi Pak Tarim seorang dukun teluh. Pak Tarim adalah laki-laki tua berkepala semar. Setiap hari berleha-leha menghadapi gelas besar dengan kue-kue jajan pasar. Di kampung laut nama Tarim sering dihubungkan dengan ngelmu. Melalui jalur informasi yang panjang berlikuliku sampailah Marsusi kepada Tarim. Marsusi datang ke rumah Tarim ketika panas udara mulai reda. Marsusi di suruh istirahat terlebih dahulu setelah sampai rumah Tarim. Tarim memanggilnya untuk diajak diskusi setelah Marsusi istirahat. Marsusi mulai menceritakan perihal yang membawanya sampai ke rumah Tarim. Mendengar cerita Marsusi, Tarim berusaha menasehati Marsusi supaya mengubah rencana balas dendamnya. Tarim berhasil mengubah keinginan Marsusi. Lihat kutipan berikut. “Ya. Dan untunglah, setidaknya aku telah berhasil mengubah niatku,” kata Marsusi setelah beberapa kali mengangguk. Tetapi dia kaget karena Tarim menertawakannya, ditambah dengan pandangan mata menyindir.” (TRDP, hlm. 177) Marsusi merasa rencana balas dendamnya akan berakibat fatal. Srintil bukan hanya milik dirinya tapi ia milik semua orang. Sikap awal Marsusi yang ingin membalas dendam Srintil bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis. Marsusi tidak jadi membalas dendam pada Srintil, Marsusi masih mempunyai

68

keinginan melihat Srintil menderita. Srintil mengisi acara Agustusan itulah Marsusi dapat melaksanakan rencananya. Semangat Agustusan tidak hanya ada pada orang-orang yang menonton acara itu, Srintil juga dengan semangat yang mengesankan terus menari. Srintil terus melenggang dan melenggok pada saat yang biasa dia gunakan untuk istirahat, Srintil sedang melampiaskan kemurkaannya sampai alam bawah sadarnya tanpa seorang pun tahu. Srintil menari setelah beberapa lama tanpa istirahat akhirnya Srintil pingsan. Suasana mulai kalut. Sesaat setelah sadar Srintil menari lagi sesat setelah sadar dan begitu seterusnya. Kartareja adalah orang yang mengetahui kalau Srintil sedang dalam bahaya. Kartareja menduga adanya tangan jail. Kartareja segera menemukannya. Lihat kutipan berikut. “Tunggu sebentar, Mas,” panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu. “Oh, sampean? Ah, meskinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di sini, bukan?” “Yah, terkadang orang ingin menyendiri,” jawab Marsusi tenang.” (TRDP, hlm. 195) Ulah Marsusi diketahui oleh Kartareja. Marsusi sengaja merusak acara itu karena ia masih merasa sakit hati terus menerus ditolak Srintil. Sikap Marsusi yang ingin mencelakakan Srintil bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.8. Komandan Polisi
Sakarya menangis keras karena mendapati cungkup makam Ki Secamenggala poranda dirobohkan orang. Orang Dukuh Paruk merasa sedih dan

69

marah, mereka merasa terhina. Mereka melaporkan kejadian itu kepada polisi untuk meminta perlindungan. Polisi yang mendapat laporan kejadian di Dukuh Paruk hanya mengecewakan. Polisi belum memberikan keterangan siapa sebenarnya para pelakunya sampai lima hari. Kejadian demi kejadian yang memilukan terus menimpa Dukuh Paruk. Srintil sebagai warga Dukuh Paruk merasa harus melakukan tindakan. Lihat kutipan berikut. “Aku akan pergi ke kantor polisi!” kata Srintil tiba-tiba. “Aku akan bertanya kepada mereka apa kesalahan kita.” “Ya. Aku setuju,” ujar Kartareja. “Kami hanya meronggeng. Kita sama sekali tidak merojeng pada siapa pun. Srintil, aku akan menyertaimu ke kantor polisi.” Kata-kata Kartareja menimbulkan sedikit harapan dan percaya diri. Hanya Nyai Sakarya yang mempertahankan Srintil agar jangan pergi ke kantor polisi. Tetapi nenek itu mengalah karena Srintil bersikeras. “Aku mengenal mereka, Nek. Juga komandannya,” kata Srintil.” (TRDP, hlm. 239) Srintil dan Kartareja berangkat menuju kantor polisi dengan membawa harapan. Mereka berdua tidak tahu bahwa sesungguhnya mereka sedang menyerahkan diri, sebenarnya mereka ikut dalam nama orang yang ditahan. Lihat kutipan berikut. “Kami datang kemari hendak bertanya, Pak,” kata Srintil dengan keberanian yang masih tersisa......Apabila kami dikatakan salah, maka tolong, Pak, katakan apakah kesalahan kami.” “Mereka malah datang sendiri. Bagaimana ini?” “Belum nama-nama mereka tercantum dalam daftar?” “Ini, lihat,” kata komandan polisi sambil membuka cacatan yang mulai kumal.” (TRDP, hlm. 240) Srintil dan Kartareja mendengar seluruh ucapan komandan, bahwa mereka termasuk orang-orang yang harus ditahan. Komandan menahan Srintil dan Kartareja tanpa alasan yang jelas. Sikap komandan bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

70

4.1.2.9. Darman
Darman adalah salah satu orang yang bekerja di kantor polisi. Marsusi dengan Darman sudah saling kenal. Marsusi mendatangi Darman dikira Marsusi mau menawarkan pohon karet yang mau ditebang, Marsusi datang dengan membawa maksud. Marsusi menanyakan Srintil. Dengan ditutup satu truk pohon karet mulut Darman, ia membantu rencana Marsusi. Lihat kutipan berikut. “Baik, Pak Marsusi. Asal sampean camkan, situasinya bisa berkembang demikian rupa sehingga dapat menyulitkan diriku.” “Oh, aku sadar betul, Mas Darman. Akan kujaga sekuat tenaga agar segala akibat tindakanku, akulah yang menanggung, aku seorang. Sekarang katakan, kapan kiranya Srintil bebas dari kewajiban melapor.” (TRDP, hlm. 283) Kedua orang itu menyusun rencana untuk Srintil. Srintil datang ke kantor polisi untuk melapor seperti biasanya. Srintil minta diri setelah selesai, Darman dengan santainya menyuruh Srintil membonceng Marsusi, Srintil mau membonceng Marsusi karena takut terjadi apa-apa lagi akhirnya. Demi satu truk pohon karet Darman rela membantu Marsusi. Sikap Darman dapat dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.10. Bajus
Bajus sudah dipercaya Srintil sejak pertama kali mereka kenal. Bajus sekarang dapat dengan mudah membawa Srintil pergi ke mana dia mau. Bajus mengajak Srintil pergi ke Jakarta untuk menenami menghadiri rapat, Srintil dengan mudah diajaknya. Srintil sudah berangan-angan terlalu tinggi untuk menjadi istri Bajus. Harapan Srintil sirna seketika karena ternyata Srintil dibawa ke Jakarta untuk melayani nafsu bosnya Bajus. Lihat kutipan berikut.

71

“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blengur. Percayalah, dia orangnya baik......Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia. Temanilah dia, Srin.” Srintil tersentak dengan kedua matanya terbelalak. Mulutnya terbuka dan dadanya turun cepat. Kedua tangannya gemetar. “Tidak!” “Tunggu dulu....” “Tidak, tidak, tidak!” (TRDP, hlm. 372-373) Srintil bangkit dengan gerakan limbung dan berlari ke kamar. Bajus langsung naik pitam melihat sikap Srintil. Bajus berkelakuan keras pada Srintil untuk pertama kali. Srintil dikunci dari luar. Bajus berjalan menemui Pak Blengur. Sikap Bajus bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis karena memaksa Srintil untuk melayani Pak Blengur demi mendapatkan tender. Peran tokoh (aktan) yang termasuk tokoh penyelamat (male feminis) maupun tokoh penghambat (kontra male feminis) dalam perjuangan hidup Srintil dapat diklasifikasikan dalam bentuk skema berikut ini.

72

Potentiality (keadaan awal) Male Feminis 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Rasus Sersan Slamet Goder Sakum Mertanakim Partadasim Pak Blengur bahagia

Srintil → Perjuangan hidup

Kontra male Feminis 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Menderita

Mantri Kesehatan Sakarya Kartareja Dower Sulam Babah Pincang dan Pak Simbar 7. Marsusi 8. Komandan Polisi 9. Darman 10. Bajus

Pada skema itu terlihat Srintil dalam menjalani hidupnya selalu bertemu dengan tokoh penyelamat dan tokoh penghambat. Tokoh penyelamat berperan mengantarkan Srintil untuk mendapatkan keberhasilan dalam tujuan hidupnya sehingga dapat membuat Srintil bahagia. Sedangkan tokoh penghambat membuat Srintil menderita dan gagal memperoleh kebahagiaan dalam mencapai tujuan hidupnya. Tokoh penyelamat dalam perjalanan hidup Srintil diperankan oleh

73

tokoh male feminis, sedang tokoh penghambat diperankan oleh tokoh kontra male feminis. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini pada akhirnya menceritakan perjalanan tokoh utama (Srintil) tidak mengalami kebahagiaan atau menderita. Srintil banyak mendapatkan tekanan yang mengakibatkan ia mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila. Tokoh Rasus yang merasa bersalah pada Srintil langsung membawa Srintil ke rumah sakit jiwa. Rasus berharap Srintil bisa sembuh dan mereka bisa hidup dengan bahagia.

4.2.

Faktor yang menyebabkan munculnya peran male feminis dan kontra male Paruk
Male feminis dan kontra male feminis merupakan isu yang masih hangat

feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

dan menarik untuk diangkat dalam karya sastra. Timbulnya peran tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam karya sastra disebabkan oleh beberapa faktor yang mendukungnya. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, di antaranya faktor ekonomi, faktor kultur kesenian tradisional, faktor seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa. Berikut ini akan dibahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

74

4.2.1. Faktor Ekonomi Dukuh Paruk dengan kemelaratannya, keterbelakangannya serta sumpah serapah cabul menjadi bagian yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala kekurangan di sana. Dukuh Paruk yang dikelilingi hamparan sawah berbatas kaki lngit, tak seorang pun penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling kecil sekalipun. Ahmad Tohari menggambarkan Dukuh Paruk dengan masyarakat yang serba kekurangan dan miskin. Sebagian masyarakat di sana hanya menggandalkan menggiringi ronggeng baru bisa makan layak. Suami-istri Santayib berjualan tempe bongkrek setiap hari untuk memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk. Mereka hanya bisa berjualan karena keadaan ekonomi. Santayib tidur paling terakhir setiap malam untuk menyiapkan dagangan esok hari. “......Semua penghuni pedukuhan itu telah tidur pulas, kecuali Santayib, Ayah Srintil. Dia sedang mengakhiri pekerjaannya malam itu. Bungkil ampas minyak kelapa yang telah ditumbuk halus dalam air.....Besok hari pada bungkil ampas minyak kelpa itu akan tumbuh jamur-jamur halus. Jadilah tempe bongkrek. Sudah sejak lama Santayib memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk akan tempe itu.” (TRDP, hlm. 21) Santayib berangkat tidur bila pekerjaannya telah selesai. Meski Santayib orang yang paling akhir pergi tidur, dia pula yang pertama kali terjaga di Dukuh Paruk. Keduanya mulai sibuk bekerja. Suami-istri Santayib menyiapkan dagangannya.

75

Desakan ekonomi yang dialami suami-istri Santayib tidak membuat mereka sedih. Mereka dengan bahagia menjalani hidupnya. Walau miskin mereka bisa berbangga diri karena mereka bisa memenuhi kebutuhan tetangganya. Keadaan ekonomi sumi-istri Santayib sangat berbeda dengan Sulam. Ahmad Tohari memunculkan tokoh seperti Sulam misalnya dengan keadaan ekonomi tinggi. Sulam adalah anak seorang lurah kaya dari seberang kampung Dukuh Paruk. Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal. Uang yang dimiliki Sulam menjadikan ia dapat mengikuti sayembra bukak-klambu yang diadakan oleh Kartareja. “Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja engkau membawa ringgit emas itu. Bukan rupiah perak, apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu membalas keras.” (TRDP, hlm. 72) Ekonomi tinggi memang bisa membuat orang mampu meraih apa pun yang diinginkannya. Seperti halnya Sulam, Dower pun sama perilakunya dengan Sulam. Dower berani membohongi orang tuanya sendiri untuk dapat mengikuti sayembara. Dower merasa Sulam telah menghinanya karena belum mampu membawa ringgit emas sebagai persyaratan. Masalah itu menjadikan dower dan Sulam bersitegang, sebagai dukun ronggeng Kartareja berhasil mencairkan keadaan. Mereka sepakat memberi Dower dan Sulam minuman ciu supaya mereka mabuk. Tapi setelah meminum ciu hanya Sulam yang mabuk. Melihat keadaan itu Kartareja menyuruh istrinya untuk melayani Sulam yang telah mabuk.

76

“Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri dukun ronggeng itu. Dia sangat berpengalman. Jadilah. Teringat masa mudanya, maka Nyai Kartareja melayani Sulam dengan sepenuh hati. Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam.” (TRDP, hlm. 74-75) Demi seekor kerbau dan rupiah perak Kartareja rela menyuruh istrinya melayani orang lain. Suami-istri itu sama saja sifatnya, yang terpenting bagi mereka adalah uang, jalan apapun akan mereka tempuh. Srintil dijadikan barang dagangan oleh suami-istri Kartareja. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Srintil tertekan akan keadaannya. Mereka juga tidak mengetahui kalau sebenarnya kehormatannya telah diserahkan pada Rasus. Srintil suatu ketika merasa menyesal kenapa dirinya menjadi ronggeng. Tidak bisa menpunyai anak dan juga ditinggalkan Rasus. Suami-istri Kartareja dengan sikapnya yang selalu memanfaatkan Srintil dan itu menambah beban di hatinya. Nyai Kartareja selalu saja memaksa Srintil melayani nafsu kaum lakilaki. Demi uang Nyai kartareja menjadi seorang mucikari atas diri Srintil. “Aku tak ingin pergi kemana pun, Nyai,” jawab Srintil. Nyai Kartareja masih tak percaya akan kedua daun telinganya. Dadanya turunnaik. Namun hanya sesaat. Kematangannya sebagai seorang mucikari berhasil menata kembali perasaannya.” (TRDP, hlm. 147) Menjadi mucikari bagi Nyai Kartareja akan mendatangkan keuntungan lebih besar, karena bila ada seorang laki-laki yang menginginkan Srintil, maka mereka harus melewati perantara Nyai Kartareja.

77

4.2.2. Faktor Kultur Kesenian Tradisional
Sebelas tahun sejak kematian ronggeng Dukuh Paruk yang terakhir, tidak ada lagi suara calung. Perangkat gamelan itu telah tertutup lapisan debu campur jelaga di para-para dapur keluarga Kartareja. Tali ijuk yang merenteng tiap mata calung telah putus oleh gigitan tikus atau ngengat. Warga Dukuh Paruk menunggu kedatangan seorang ronggeng untuk meramaikan pedukuhan itu. Kesenian ronggeng hampir gulung tikar, hanya orangorang tertentu saja yang tetap teguh mempertahankannya sebagai rasa bangga dan cinta terhadap kesenian tradisional. Mereka masih bertahan karena memang tidak ada yang bisa dikerjakan selain itu. Ahmad Tohari memunculkan tokoh Srintil sebagai “primadona” dalam perkumpulan ronggeng. Dukuh Paruk kembali bergembira dengan munculnya seorang gadis cilik yang telah dirasuki indang sejak lahir. “.....Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di parapara di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 16) Dukuh Paruk kembali mempunyai ronggeng. Srintil yang dipercaya telah kemasukan indang oleh Sakarya diserahkan pada Kartareja untuk diasuhnya. Srintil menjadi ronggeng sudah dua bulan. Adat Dukuh Paruk mengatakan ada dua tahapan yang harus dilalui Srintil, Srintil belum berhak menyebut dirinya sebagai seorang ronggeng yang sebenarnya sebelum menjalani beberapa syarat. Salah satu diantaranya adalah upacara pemandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala.

78

“.......Upacara memandikan seorang ronggeng adalah peristiwa yang penting bagi orang di pedukuhan itu, lagi pula amat jarang terjadi.....Mereka akan mengiring Srintil dari rumah itu sampai ke makam Ki Secamenggala. Di sana Srintil akan dipermandikan.” (TRDP, hlm. 44) Warga Dukuh Paruk menjadi semangat bila ada kejadian yang berhubung dengan ronggeng. Srintil dipermandikan dan didandani dengan pakaian kebesaran seorang ronggeng. Ronggeng itu kemudian dituntun ke depan pintu cungkup. Srintil di sana menyembah dengan takzim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para penabuh. Srintil mulai menari dan lagu pertama yang dinyanyikan adalah sari gunung, konon semasa hidupnya Ki Secamenggala sangat menyukai lagu tersebut. Upacara pemandian di pekuburan itu bukanlah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng. Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tidak mungkin naik pentas dengan memunggut bayaran. “Dari orang-orang Dukuh paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh srintil bernama bukak-klambu......bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu.” (TRDP, hlm. 51) Bukak-klambu yang harus dialami Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Setelah Srintil melaksanakan upacara itu, Srintil sudah bisa naik pentas dengan memungut bayaran. Bukan hanya itu, Srintil juga harus melayani nafsu laki-laki yang menginginkannya. Lewat suami-istri Kartareja itulah Srintil menjalani kehidupan sebagai seorang ronggeng.

79

Banyak tekanan yang dialami selama menjadi ronggeng. Srintil tidak akan bisa mempunyai anak, ditinggal Rasus dan masih banyak lagi tekanan itu. Srintil menyesal menjadi ronggeng. Srintil menolak naik pentas setelah ditinggal Rasus,. Dukuh Paruk kembali sepi tanpa suara calung. Sampai akhirnya Dukuh Paruk harus kehilangan ronggeng lagi karena tekanan membuat Srintil gila.

4.2.3. Seksualitas dalam Kultur Masyarakat Jawa
Sebagian kaum laki-laki Jawa ada yang beranggapan bahwa tugas utama perempuan yaitu berperan sebagai pemuas naafsu seksual sehingga merekaa sering bermain perempuan, yang terkenal dengan istilah madon. Laki-laki pada umumnya memang selalu tertarik kepada perempuan cantik seperti Srintil, bahkan di antara mereka kadang ada yang tidak peduli meski sudah beristri. Kecantikan Srintil ternyata memikat perhatian banyak orang, termasuk Sulam dan Dower. Mereka berdua rela mengeluarkan uang banyak demi memenangkan sayembara Bukak-Klambu bagi ronggeng Srintil. Mereka berdua ingin meniknati kecantikan Srintil yang bagi masyarakat Dukuh Paruk, Srintil adalah gadis tercantik di Dukuh Paruk. Dower pemuda dari Pecikalan adalah pemuda pertama yang datang ke rumah Kartareja untuk mengikuti sayembara. Dower tetap mengikuti sayembara walaupun hanya dijadikan cadangan. Sulam juga datang untuk mengikuti sayembara.

80

Perilaku madon juga dilakukan oleh kalangan atas. Kecenderungan seperti ini dengan memperlihatkan perilaku Marsusi, salah seorang majikan yang senang main perempuan. Marsusi membalas dendam pada Srintil ketika sedang mengisi malam Agustusan. Untungnya Kartareja mengetahui ulah Marsusi dan segera menegur Marsusi. Uraian di atas menggambarkan bahwa orang semacam Marsusi yang sudah dikuasai oleh nafsu seksual dapat mengejar seoarang perempuan seperti Srintil tanpa memperdulikan perasaan perempuan itu (Kontra Male Feminis).

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Male feminis dan kontra male feminis dimunculkan Ahmad Tohari sebagai tokoh penolong dan tokoh penghambat bagi tokoh utama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Peran male feminis dan kontra male feminis serta faktorfaktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Peran male feminis meliputi tokoh-tokoh sebagai berikut: Rasus berperan sebagai orang yang banyak membantu Srintil dalam kehidupannya dan orang yang membawa Srintil ke rumah sakit jiwa, Goder berperan sebagai penyemangat hidup Srintil, Sakum berperan sebagai pria buta yang selalu mengerti keadaan Srintil, Mertanakim berperan sebagai orang yang menjemput rombongan Srintil menuju Alaswangkal, Partadasim berperan sebagai orang yang menolong Srintil dari Marsusi, Pak Blegur berperan sebagai orang yang mengerti akan keadaan Srintil yang tidak mau lagi melayani nafsu laki-laki. Peran kontra male feminis meliputi tokoh-tokoh sebagai berikut: Mantri Kesehatan berperan sebagai orang yang telah membawa Emak rasus dan tidak pernah mengembalikan ke Dukuh Paruk, Sakarya berperan sebagai kakek Srintil dan menjadikan Srintil menjadi ronggeng, Kartareja berperan sebagai dukun ronggeng dan mucikari bagi Srintil, Dower berperan sebagi orang yang mengikuti sayembara BukakKlambu untuk Srintil, Sulam juga berperan sebagai orang yang mengikuti 80

81

acara Bukak-klambu, Babah Pincang berperan sebagai pedagang yang menggoda Srintil, Pak Simbar berperan sebagai pedagang yang menggoda Srintil, Marsusi berperan sebagai orang yang menginginkan Srintil melayani nafsunya, Komandan Polisi berperan sebagai orang yang menahan Srintil tanpa alasan yang jelas, Darman berperan sebagai petugas kantor polisi yang memaksa Srintil membonceng marsusi demi satu truk pohon karet, Bajus berperan sebagai sebagai orang yang telah membuat Srintil gila karena harapannya. 2. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah faktor kultul kesenian tradisional dan kontra male feminis adalah faktor ekonomi, faktor seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa.

5.2

Saran
Penelitian skripsi ini diharapkan dapat menjadikan jembatan dalam

menulis penelitian lain yang sejenis. Penulisan tentang male feminis dan kontra male feminis dalam novel yang ditulis oleh pengarang laki-laki belum banyak dilakukan oleh peneliti sastra, kalau pun ada maka jumlahnya mungkin masih sangat terbatas sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Adian, Donny Gahral. 2001. Feminis Laki-laki Sebagai Seni Pengambilan Jarak. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-Laki Solusi dan Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Arivia, Gadis. 2001. Dominasi Laki-laki, Pengambilan Jarak dan ‘Meninist’. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang press. Budianta, Melani. 2002. Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar. Dalam Kris Budiman (ed.) Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal. Chatman, Seymour. 1928. Story And Discourse Narrative Structure In Ficion and Film. London: Cornell University Press. Djajanegara, Soenarjadi. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi Model Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Gerung, Rocky. 2001. T. G. I. F. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis LakiLaki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Haryatmoko. 2001. Dominasi Laki-laki Melalui Wacana. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Hasanuddin. 1996. Drama Karya dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah dan Analisis. Bandung: Angkasa Moeliono, Anton dkk. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

84

85

Qomariyah, U’um. Male Feminis Dan Kontra Feminis Dalam Perspektif Sastra. Makalah yang disampaikan dalam Seminar. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Rimmon-Kenan, Shlomith. 1983. Narrative Fiction: Contemporary Poetics. London: Methuen. Rochmayati, Endang. 2003. Male Feminis Dalam Novel Bekisar Merah Dan Belantik (Bekisar Merah II) Karya Ahmad Tohari. Skripsi. Semarang: FBS UNNES Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra. Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis. Subono, Nur Iman. 2001. Laki-laki, Kekerasan Gender dan Feminisme. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Sugihastuti, dkk. 2002. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suharianto, S. 2005. Dasar-dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia. Sujdiman Panuti. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Supriyanto, Teguh. 1997. “Dekonstruksi Dalam Kajian Sastra Di Indonesia”. Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan No. 2 Tahun XXVI. Semarang: IKIP Semarang Press. Wardana Veven Sp. 2001. Pornografi dan Media: Yang Bukan Perempuan (tak) Ambil Bagian. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan. Yudiono. 2003. Ahmad Tohari Karya Dan Dunianya. Jakarta: Grasindo. Yunus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

LAMPIRAN SINOPSIS
NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK
Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat. Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.

Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, di sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk. Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan, dan kelak dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan

penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil. Beberapa hari singgah di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Pada saat fajar merekah, Rasus melangkah gagah tanpa berpamitan pada Srintil yang masih pulas tidurnya. Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil setiap hari tampak murung dan sikap Srintil yang

kemudian menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk. Kemurungan Srintil tetap tertahan ketika didatangi lelaki Marsusi yang berniat menikmati kecantikannya dan kegairahan seksualnya. Pak Marsusi yang telah membawa seratus gram kalung emas buat Srintil sesuai dengan tawaran Nyai Kartareja ternyata gagal merangkul ronggeng itu, bahkan melihat wajah pun tidak. Waktu itu, Srintil memang berjanji akan pulang dari bermain di tegalan, tetapi langkahnya justru menuju pasar Dawuan hendak mencari Rasus. Namun, niatnya melarikan diri dari rumah Nyai Kartareja itu akhirnya pasrah kembali ke rangkulan Nyai Kartareja yang begegas menyusul dan mengajaknya pulang. Dalam kurun waktu tertentu, Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, bahkan senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dengan gaya asuhan seorang ibu kandung. Bahkan ketika Marsusi kembali datang ke rumah Nyai Kartareja hendak menikmati kegairahan seks bersama Srintil. Nyatanya Srintil tetap bertahan dengan menegaskan sikap untuk bersedia menerima seratus gram kalung emas dari Pak Marsusi hanya untuk menari bukan melayani kelelakian Marsusi. Marsusi marah dengan pernyataan Srintil, kemarahannya dilimpahkan kepada Nyai Kartareja yang gagal membujuk ronggeng asuhannya. Perlawanan atau pemogokan Srintil masih bertahan ketika datang tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Kalau pun pada akhirnya runtuh dan pasrah,

bukan semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak melawan kekuasaan. Sama selaki ia tidak membayangkan akibat lebih jauh dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1964 sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebutnyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Ketika slogan seperti itu diperdengarkan kehadapan Sakarya sebagai tetua Dukuh Paruk, justru timbullah sebuah reaksi yang mencerminkan kebingungan. Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk. Rapat, pidato, gambar, dan simbol partai dipasang di mana-mana. Akan tetapi, Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup makam Ki Secamenggala di puncak bukit kecil di tengahtengahnya. Mereka tidak mengetahui perubahan sosial yang berkembang dari dunia politik yang berpusat di Jakarta, sebuah tempat yang terlalu jauh dari alam pikiran mereka. Padahal saat itu mereka terancam perubahan sosial. Pemberontakan PKI kandas dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah mana pun ditangkapi dan di tahan. Nasib itu terjadi juga pada Srintil yang harus mendekam di tahanan tanpa alasan yang jelas. Pada mulanya, terjadi paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Pada waktu itu, orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala zaman yang

berkembang di luar wilayahnya. Dalam masa paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena amat jarang orang mengundangnya berpentas untuk suatu hajatan. Akan tetapi, tidak lama kemudian ronggeng Srintil sering berpentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri atau dipimpin tokoh Bakar. Walaupun Srintil tidak memahami makna rapat-rapat umum, pidato yang sering diselenggarakan orang. Yang dia pahami hanyalah menari sebagai ronggeng atau melayani nafsu kelelakian. Tapi hubungan mereka tetap baik. Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan padi yang dilakukan oleh orang-orang kelompok Bakar. Sukarya merasa tersinggung dengan Bakar, karena Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah. Karena hal itu Sakarya memutuskan hubungan dengan kelompok Bakar. Sakarya tidak hanya melarang ronggeng Srintil berpentas di rapat-rapat umum, tetapi juga meminta pencabutan lambang partai. Akan tetapi, Bakar menanggapinya dengan sikap bersahaja. Dalam tempo singkat, Dukuh Paruk kembali ketradisinya yang sepi dan miskin. Akan tetapi, kedamaian itu hanya sebentar, karena mereka kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau di dekat pekuburan itu. Sayang, mereka tidak mampu membaca simbol itu. Dan Srintil pun

semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang sudahsudah. Ternyata penampilan yang berlebihan itu merupakan akhir perjalanan Srintil sebagai ronggeng. Mendadak pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan banyak orang limbung, ketakutan, dan kebingungan, sehingga kehidupan terasa sepi dan mencekam. Berbagai peristiwa menjadikan orang-orang Dukuh Paruk ketakutan, tetapi tidak mengetahui cara-cara penyelesaiannya. Yang terpikir adalah melaksanakan upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda setiap saat. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Tapi ternyata harapan berlindung kepada polisi itu berantakan, karena kepolisian dan tentara justru sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI. Pupuslah harapan Srintil dan Kartareja untuk mendapatkan perlindungan polisi karena justru harus ditahan seperti orang-orang kelompok Bakar. Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun keberadaan Rasus.

Tanpa sepengetahuan Srintil, Nyai Kartareja menghubungi Marsusi. Akibatnya, Srintil mengumpat kebodohan neneknya dan meratapi nasibnya sebagai perempuan yang terlanjur dikenal sebagai ronggeng. Untungah Srintil masih bisa mengelak perangkap Marsusi. Selepas dari perangkap Marsusi, Srintil kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful