ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN PELABUHAN PERIKANAN KAMAL MUARA DAN DADAP DALAM KONTEKS PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU

Oleh: RUDDY SUWANDI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN PELABUHAN PERIKANAN KAMAL MUARA DAN DADAP DALAM KONTEKS PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU

Oleh: RUDDY SUWANDI

Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

ii

Judul Disertasi

: Analisis Pengembangan Kawasan Pelabuhan Perikanan Kamal Muara dan Dadap dalam Konteks Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu : Ruddy Suwandi : SPL 995163 : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Metujui , Komisi Pembimbing

Nama NRP Program Studi

Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja Ketua

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS Anggota Mengetahui, Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Anggota

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Sulistiono, M. Sc

Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodipuro, M.Sc.

Tanggal Ujian 16 Juli 2007

Tanggal Lulus.............................................. iii

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “Analisis Pengembangan Kawasan Pelabuhan Perikanan Kamal Muara dan Dadap dalam Konteks Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu”, adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutif dari karya tulis yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, September 2007

Ruddy Suwandi NRP: SPL 995163

iv

ABSTRACT

RUDDY SUWANDI. Development Analysis of Kamal Muara – Dadap Fishing Port Area in the Context of Integrated Coastal Zone Management. Supervised by DANIEL R MONINTJA as the chairman, ROKHMIN DAHURI and ERNAN RUSTIADI as the members.

Two fish landing ports which located at different administrative zone and at the very short distance would give different impact of development program at each area. Tangerang has a fish landing port named PPI/TPI Dadap at the eastern area while Jakarta Utara has the PPI/TPI Kamal Muara at the west part. Both separated only 700 meter. Self autonomy gave also influence on the development program. To observe the inter-influence of both fish landing port, some analysis were used eg. fisheries dependent ratio, Shift share, Location Quotient, scalogram, and stella and visual basic. The result indicated that PPI/TPI Dadap has no dependent any more on fisheries, on the contrary with PPI/TPI Kamal Muara; the development program at both local government has not implemented the ICZM concept. It is recommended that TPI Dadap function is switched from fish

landing place to coastal tourism activity landing base.

Key word: ICZM, self autonomy, and fisheries dependent regions

v

ABSTRAK
RUDDY SUWANDI. Analisis Pengembangan Kawasan Pelabuhan Perikanan Kamal Muara dan Dadap dalam Konteks Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Dibimbing oleh DANIEL R MONINTJA sebagai Ketua, ROKHMIN DAHURI dan ERNAN RUSTIADI masing-masing sebagai anggota. Dua buah pusat aktivitas pendaratan ikan yang berdekatan dan terletak di dua wilayah administrasi yang berbeda dapat menimbulkan pengaruh yang tidak sama terhadap program pembangunan di daerah masing-masing. Tangerang

mempunyai PPI/TPI Dadap di wilayah paling timur yang letaknya hanya sekitar 700 m dengan PPI/TPI Kamal Muara di kawasan paling barat dari Pemkot Jakarta Utara. Era otonomi daerah juga berpengaruh terhadap kebijakan program

pembangunan masing-masing pemerintah daerah. Untuk melihat pengaruh yang terjadi akibat keberadaan kedua PPI/TPI tersebut, maka digunakan analisis ketergantungan perikanan, analisis shift share, LQ, skalogram, serta stella dan visual basic. Kesimpulan penelitian penunjukkan bahwa PPI/TPI Dadap sudah tidak bergantung lagi pada sumberdaya perikanan, sementara PPI/TPI Kamal Muara ketergantungannya semakin meningkat; serta program pembangunan yang dilakukan di kawasan Dadap-Kamal Muara sejauh ini belum sepenuhnya dilakukan berdasarkan konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Direkomendasikan bahwa TPI Dadap difungsikan sebagai pelabuhan yang mendukung kegiatan wisata pantai dan wisata bahari.

Kata kunci: pengelolaan wilayah pesisir terpadu, otonomi daerah, dan ketergantungan daerah perikanan

vi

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil‘alamin, puji syukur ke hadirat Allah SWT atas kanrunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program doktor (S3) pada PS SPL SPs IPB. Disertasi ini tidak mungkin dapat selesai tanpa bantuan beberapa pihak, baik yang terkait langsung maupun yang tidak. Kepada Komisi Pembimbing, yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja dengan anggota Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri dan Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. penulis mengucapkan terimakasih atas bimbingan yang diberikannya. Ucapkan terimakasih penulis

sampaikan juga kepada Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc. Ir. Aminuddin, M.Si., Dr. Ir. AM Azbas Taurusman, M.Si, dan Ir. Arief Budi Purwanto, M.Si., atas kesediaannya dalam memberikan arah penyusunan model dinamika ekonomi serta meningkatkan mak’na sejak rencana penelitiannya ini; kepada Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc., atas waktunya dalam melayani diskusi dan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan penulisan sejak usulan penelitian sampai draft disertasi ini; kepada Ir. Ita Carolita, M.Si dari LAPAN, atas bantuannya dalam penyediaan citra satelit LANDSAT untuk kawasan Dadap-Kamal Muara, kepada Sdr. Ir. MA. Rakhmat Kurnia, M.Si dan Ir. Admo Wibowo, atas bantuannya dalam konsultasi tentang pemanfaatan program visual basic untuk pemodelan ketergantungan daerah perikanan dari TPI. Penulis menyampaikan terimakasih juga kepada Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto atas dorongan semangat dan kewenangannya dalam memberikan kelonggaran waktu selama penyelesaian disertasi ini. Bantuan biaya juga penulis peroleh dari Ditjen Dikti Depdiknas melalui program BPPS dan juga dari PKSPL IPB. Semoga Allah YME membalas semua kebaikan orang dan lembaga tersebut dengan limpahan rahmat yang setimpal. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa disertasi ini jauh dari sempurna. Namun demikian, semoga ada manfaatnya bagi yang menggunakannya. Bogor, September 2007 Penulis

vii

penulis aktif sebagai staf peneliti pada Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – IPB. penulis menempuh program S-2 lagi di School of Food and Environmental Studies Humberside University di England. lulus tahun 1981. Fakultas Perikanan IPB. Pada tahun 1999.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. yang dapat diselesaikan oleh penulis pada tahun 1990. Pada lembaga ini. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Teknik dan Manajemen Penangkapan. penulis diterima pada program S-2 Program Studi Ilmu Pangan PPs IPB. penulis menjadi staf pengajar Departemen Teknologi Hasil Perairan . Selain itu. Penulis melakukan penelitian tentang perkembangan aktivitas perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara. ICZPM) dan juga yang berkaitan dengan penanganan dan pengolahan pasca panen hasil perikanan. dan menuangkannya dalam disertasi yang berjudul “Analisis Pengembangan Kawasan Pelabuhan Perikanan Kamal Muara dan Dadap dalam Konteks Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu”. sebagai anak ke empat dari 13 bersaudara dari pasangan Suwanda (almarhum) dan Onah Mariyam. Sejak tahun 1981 sampai sekarang. sejak didirikannya tahun 1996 sampai sekarang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sumedang pada tanggal 11 Mei 1958. Pada tahun 1984. penulis banyak terlibat dalam kegiatan pelatihan untuk topik-topik pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu (Integrated Coastal Zone Planning and Management. viii . Masa kecil sampai menempuh pendidikan di SLA penulis habiskan di Garut Jawa Barat. penulis diterima untuk program S-3 pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Sekolah Pascasarjana IPB. Penelitian yang dimulai tahun 2002 ini baru dapat diselesaikan dalam bentuk disertasi tahun 2007. Dari tahun 1991 sampai 1993.

........ 59 Beberapa Hasil Penelitian yang Terkait dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir...............1 2......... 1 1... social rent....... xv 1 PENDAHULUAN............................................ vi RIWAYAT HIDUP.......3 2....................4...DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................4 2................3...4.....4.....................................................................................3 Tujuan ... 12 2................ 35 Kebijakan pengelolaan perikanan di Indonesia........................................................................5 Pengembangan Wilayah dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu 14 Pengembangan wilayah..2 2.3.................. 44 Pelabuhan perikanan ................................................................................ 57 Ketergantungan daerah perikanan (fisheries dependent region) .. vii DAFTAR ISI ................3 2.............................................................................................. dan environmental rent..................2.....................................4 2............................................1 2............................................4 Kerangka Berpikir ....................................2 Perumusan Masalah ........ xi DAFTAR GAMBAR .................2...........................4 2.....................1 Latar Belakang .... 5 1....................2 2........................... 45 Tempat pelelangan ikan ....................................3 Pengelolaan Perikanan Terpadu dan Berkelanjutan ...........................................3.................... 70 2............................................ 10 2 TINJAUAN PUSTAKA ..................... 14 Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu ..... 24 Pengelolaan wilayah Jakarta dan sekitarnya secara terpadu ........................2...........................................4 2............................4...................................... 59 Land rent....................3.................... 61 Metode skalogram .................... 55 Kelembagaan TPI ....... 41 Analisis Perkembangan Aktivitas Pembangunan.......... 1 1...........2 2.............................................. Perikanan................... dan Pelabuhan .... 77 ix ............................... 12 2....3 2......................................................1 2............2............................................................................................. 68 Model sistem pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan .................................... viii DAFTAR TABEL ... 10 1..............1 Wilayah Pesisir ............

............................ 81 Alat dan Bahan Penelitian . 85 3................ 83 3.................. 106 Lingkungan perairan ...........................1............................... 168 Analisis Kondisi Lingkungan Kawasan Dadap-Kamal Muara................................ 188 Pemusatan aktivitas ekonomi wilayah .................................................................... 122 Keragaan perikanan Kabupaten Tangerang ....................................................................................2......................4..............4..1 HASIL DAN PEMBAHASAN ............1 Pemanfaatan lahan di kawasan Dadap-Kamal Muara .......................................................... 168 5..................... Pemusatan Aktivitas serta Distribusi dan Hierarki Pelayanan Fasilitas Sosial.........2.................1 4............................ 90 4 4. 83 Metode Penelitian ........................2.... 187 5.................. 122 5 5.................................................................. 196 x ...............................2 Analisis Data ............1 3............................................................ 98 Keadaan Umum.... pemanfaatan dan ketergantungan daerah perikanan dari TPI Dadap dan TPI Kamal Muara .....2 Penduduk dan mata pencaharian ............4. 83 3...............2 5............................................................1......................3 Analisis pemanfaatan lahan dan daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara ...............2 5................2 4...... 190 Distribusi dan hierarki pelayanan fasilitas sosial .......1 5..................2.... 118 4. 174 Analisis Struktur Komposisi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah.....................................................3 Keragaan perikanan Kota Jakarta Utara.............................. 153 Keragaan perikanan kawasan Dadap-Kamal Muara .................................3 3...............3 Komposisi pertumbuhan sektor-sektor ekonomi wilayah ..................3 Model Analisis ......................................... 110 4........2 3............1 4................3 METODOLOGI PENELITIAN ............................. 160 4............................. 196 5.3................. 168 Analisis tingkat ketergantungan Kawasan Dadap dan Kamal Muara terhadap perikanan .2 Kondisi Lingkungan Kawasan Dadap-Kamal Muara ................. 81 Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian................................4 Kondisi Perikanan ......4..........1 5......1 4...................2................................................3 Kondisi Pemanfaatan Lahan .......................... 194 5.......................4...............4 Waktu Penelitian ..................... 81 3....................................4.......... 101 4.............1 Pengumpulan Data ......................... 98 Kondisi Lingkungan .......2 KEADAAN DAERAH PENELITIAN .

..... 255 Saran.............. 214 5.......................................2 Kesimpulan ....................................... 227 5....................................................................3.....1 5......................... ...............................................................3 Penentuan lokasi pelabuhan perikanan ... 255 6 6...........2 5.... 209 Analisis model kelimpahan kapal ikan yang dapat dipindahkan dari PPI/TPI Dadap dan PPI/TPI Muara Angke ke PPI/TPI Kamal Muara ........ 257 xi ..............................................................................5 Analisis Opini Masyarakat tentang Kondisi Perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara ................... 226 KESIMPULAN DAN SARAN ............4..............4...................... 255 DAFTAR PUSTAKA .............2 5............................ 230 Aspek kelembagaan pelabuhan perikanan ...3 Analisis daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara .................................................4............................4 Skenario pengembangan dan pengelolaan pelabuhan perikanan di kawasan TPI Dadap dan TPI Kamal Muara ............................1 6.5................................. 232 5................................. 227 Kelayakan teknis pelabuhan perikanan ..........................3...........

..................11 4.............12 4.....1............... 108 Jumlah kepala keluarga menurut jenis kegiatan di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 .........................DAFTAR TABEL Halaman Nomor 2............. 112 Nilai parameter kualitas air di perairan Kronjo dan Tanjung Pasir . 102 Luas wilayah...... 4..5 4............ dan output .. dan pelabuhan di Indonesia...................... 115 Kandungan logam berat di perairan Teluk Jakarta dan daging kerang hijau antara tahun 2000-2001 ...........3 3..... 109 Kisaran tinggi muka laut di Pantai Dadap berdasarkan data Pasut Tanjung Priok . 127 Potensi budidaya perikanan darat di Jakarta Utara tahun 2003 ................................. Kepala Keluarga.... perikanan.......... sumber data............................................. 4...... 4..7 4..................2......... 28 2............. 123 Distribusi ikan konsumsi di DKI Jakarta tahun 2005 .......................... 77 Matriks keterkaitan antara tujuan.....3........ dan pelabuhan di Indonesia ...........8 4.................... 117 Nilai parameter kualitas air di Perairan Dadap hasil uji Kantor MenLH 118 Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Wilayah Kota Jakarta Utara ...9 4.......1 Kumpulan konsensus dari panduan ICM ...........10 4.............2......4 4.........................2 2.. 107 Jumlah Penduduk.....................6........ indikator/parameter.............................. 70 Daftar thesis/disertasi yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir............................... 31 Daftar thesis/disertasi yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir.......... 129 2......................13 xii .............. Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga di Penjaringan 2003 ......................1 4................... perikanan.......... jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 ........ Derajat dan nama istilah dalam co-management .. 87 Luas dan jumlah desa di Kecamatan Kosambi tahun 2003.......... 109 Jumlah Kepala Keluarga Menurut Jenis Kegiatan di Penjaringan tahun 2003 .... 126 Data jumlah kapal ikan di Kota Jakarta Utara tahun 1992-2003 ...... 4........................................................... metode analisis.......

..........26 4................................ 2002) ..........20 4......150 menjadi Rp 4....................... 152 Potensi Areal Penangkapan di Kabupaten Tangerang ......................4................ 158 xiii 4..... ..... 133 Rekapitulasi retribusi pemakaian tempat pelelangan ikan lokal dan ikan luar daerah dari masing-masing PPI yang ada di Provinsi DKI Jakarta........ 154 Produksi Potensi Pertambakan Kabupaten Tangerang tahun 2004............... 141 Data Nilai Produksi TPI Kamal Muara dan DKI Jakarta dari Tahun 1997 – 2003 .......... 130 Data produksi ikan lokal dan ikan luar daerah dari masing-masing PPI yang ada di Provinsi DKI Jakarta.....................25 4...27 4................................ tahun 2001-2004 .................................29 ............................................. .. 139 Ketersediaan dan kebutuhan sarana dan prasarana penanganan dan pengolahan hasil perikanan .. 138 Dampak kenaikan BBM terhadap biaya eksploitasi penangkapan ikan di TPI Muara Angke Maret 2005 dari Rp 2......................................300 .15 Potensi budidaya kerang hijau di Jakarta Utara tahun 2003 .........22 4........ 147 Daftar jenis ikan yang didaratkan di TPI Kamal Muara dari tahun 1997-2001 (Disnakkanlut.............................................. 136 Rekapitulasi data tambat labuh kapal yang masuk di Pelabuhan Perikanan Muara Angke tahun 2005 ........................ 157 Perkembangan produksi ikan hasil tangkap di laut dan perairan umum di Kabupaten Tangerang.14 4..... 136 Dampak kenaikan BBM terhadap biaya eksploitasi penangkapan ikan di TPI Muara Angke Maret 2005 dari Rp 1.600 menjadi Rp 2............ tahun 2001-2004 ..................... 134 Rekapitulasi data frekwensi tambat labuh kapal yang masuk di PPI Muara Angke Jakarta Utara tahun 2002-2004 ............................... ...............23 4....................28 4..................................................... 148 Volume dan nilai produksi ikan lokal di TPI Kamal Muara berdasarkan alat tangkap tahun 1997-2001 (Disnakkanlut................. 149 Potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Kamal Muara tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM..................... 2002) ........19 4..............................................16 4...21 4........................... 155 Keragaan Tempat Pelelangan Ikan dan Institusi Penanggungjawab Operasionalnya.......................18 4.......24 4..............................................................................150 ........17 4.....................

...... 184 Hasil rataan variabel ketergantungan daerah penangkapan. 176 Skenario solusi konflik rencana reklamasi pantura...................16 ............... 201 xiv 5.......9 5. 185 Hasil normalisasi data berbagai variable ketergantungan perikanan daerah Dadap dan Kamal Muara dari tahun 1999-2003.................14 5.......... 159 Data umum PPI Dadap Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang tahun 2003 .............................. 184 Hasil modifikasi dari input data rataan variabel ketergantungan daerah penangkapan..................................................10 5....... 161 4.....1 Skenario solusi konflik reklamasi pesisir Dadap dan peran diantara para stakeholders . 182 Rasio jumlah nelayan terhadap total tenaga kerja (RMt) ................4 5............. 164 5.......32............ 183 Rasio kontribusi sektor perikanan wilayah desa terhadap wilayah kabupaten/kota (KPIti) ................................ 195 Data penggunaan lahan di kawasan Dadap dan Kamal Muara (m2) .............. 182 Rasio jumlah kapal ikan (RKt) ................ ........................................................ Daftar Jenis Ikan yang tertangkap di Pantai Dadap (PPLH...... 178 Rasio jumlah nelayan terhadap total penduduk(RNt)..2 5..................................... 182 Rasio jumlah hasil tangkapan ikan .. 185 Hasil analisis data tahunan berbagai variable ketergantungan perikanan daerah Dadap dan Kamal Muara dari tahun 1999-2003.............................. ................ 183 Rasio jumlah tenaga kerja sektor pengolahan hasil perikanan.........6 5.....................................30 4........................ 184 Rasio industri sektor perikanan wilayah desa terhadap jumlah penduduk wilayah kabupaten/kota (RIti) .............. 186 Hirarki wilayah Kecamatan Kosambi dan Penjaringan berdasarkan analisis skalogram ...15 5............31 Keragaan alat tangkap ikan di Kabupaten Tangerang tahun 2003.........4......................8 5.......................... 1997) .......... ........13 5.........3 5........5 5............7 5.......12 5............................................................................... 183 Rasio kesempatan kerja sektor perikanan wilayah desa terhadap total jumlah penduduk wilayah kabupaten/kota (KPIti) ...........11 5...........................

... TPI Kamal Muara........ Tabel 4...20 5............................................ 218 Model perubahan jumlah kapal yang pindah dan fasilitas pelabuhan yang perlu ditingkatkan .. Data peruntukan lahan di Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan dari tahun 1995-2000 (ha) ...................10.......................................... 204 Persentase penggunaan tanah di Kecamatan Penjaringan Tahun 2003 ..........................26 2...............................30 5....12)......24 5..29 5. 203 5.........5...........21 Distribusi hutan mangrove di wilayah Jakarta .19.......................... 220 Besaran jumlah ikan dan nilai retribusi yang diperkirakan dapat diperoleh dari operasional 299 unit kapal ikan di TPI Muara Angke (data diolah dari Tabel 4...........23 5......000 GT)1) . 217 Nilai konversi variabel sarana dan prasarana pelabuhan perikanan di Kamal Muara (kapasitas pelabuhan untuk sebanyak 500 unit kapal berukuran 50 GT (perubahan dari total bobot kapal 2..310 GT ke 25........25 5........18...................17 Status lahan di Kelurahan Kamal Muara antara tahun 1997-2000 . dan TPI Dadap dalam skenario optimasi TPI Kamal Muara dari tahun 2006-2011 ..................22 5........ 202 5....................................... 237 Rangkuman kondisi sarana perikanan di kawasan DadapKamal Muara berdasarkan responden nelayan .... 216 Pergerakan atribut diantara TPI Dadap.....................................28 5... 240 Rangkuman biaya operasi penangkapan ikan per trip di kawasan Dadap-Kamal Muara berdasarkan responden nelayan tahun 2004 ... 226 Aspek kelembagaan pengelola TPI Dadap dan Kamal Muara.........31 xv ............. 241 5................27 2.... 202 5........... Data perubahan jumlah bangunan di Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan dari tahun 1993-2001 (unit) .......... TPI Kamal Muara......... dan TPI Muara Angke................................................................. ...... 221 Data pola perubahan keseimbangan jumlah kapal (dalam GT) di TPI Muara Angke............................................11 dan Tabel 4........ 212 Daftar fasilitas yang perlu dikembangkan di TPI Kamal Muara untuk menampung kelebihan kapasitas TPI Muara Angke ............................ 204 Daftar fasilitas logistik kegiatan perikanan disekitar TPI Dadap dan Kamal Muara .........................

......34 Pendapat masyarakat lokal tentang masalah perikanan .....................................32.... 246 5....... 248 xvi . 243 5..33........................ Kegiatan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang Tahun Anggaran 2003 ........ ....5................. Rangkuman saran penduduk responden nelayan berkaitan dengan aktivitas perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara............

32 Latar belakang...2 5..........9 2................ 2............ 82 Profil pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang 2000 -2002 ....8 2.............. 6/2006 . 58 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Provinsi Jawa Timur ........5 2..........................1 Kerangka berfikir pemecahan masalah pengembangan pelabuhan perikanan di kawasan TPI Dadap dan TPI Kamal Muara dalam konteks pengelolaan pesisir terpadu........... 190 Grafik LQ Sesaat untuk Komoditi Unggulan di Kabupaten Tangerang pada Tahun 2003 ..................................................1 5............... 27 Derajat interaksi diantara pemerintah dan komunitas dalam co-management ................. 38 Bagan alir fungsi pemasaran yang terjadi di TPI ......................................... 76 Peta lokasi penelitian ......7 2..........2 2....1 2......12 2... 63 Konsep land rent . 19 Indikator pembangunan berkelanjutan ...................................................................... 67 Model sebagai re-presentasi realitas dunia nyata ...6 2....... 22 Hubungan antara berbagai komponen dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan ................................10 2.........................13 2. 58 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Provinsi Bali ................14 3.. 63 Kurva penawaran (S) dan permintaan (D) dari lahan ......................... 56 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Jawa Tengah .. gagasan........................................................................... 11 Dasar pemikiran terbentuknya virtue universal ...............................1 5........................3 xvii .......... 189 Profil pertumbuhan PDRB Kota Jakarta Utara 2000-2003 .............11 2......................................................................4.........DAFTAR GAMBAR Halaman Nomor 1......................................... 59 Model Von Thunen tentang land-rent ............... 191 2........ 36 Bagan Sekretariat BKSP Jabotabekjur sesuai PERMENDAGRI No................................................ dan sejarah kerjasama BKSP Jabotabekjur ..................3 2.........

........ 238 5.5......... 222 Model kualitatif perpindahan sebagian armada penangkapan ikan ke TPI Kamal Muara .............................9 Citra satelit landsat di lokasi penelitian.............................. 193 5......... 192 5......... TPI Kamal Muara.................................................... Grafik LQ Sesaat untuk Komoditi Unggulan di Kota Jakarta Utara pada Tahun 2003 .........................7 5........10 5..................11 5................... Grafik LQ untuk Komoditi Unggulan di Kota Jakarta Utara pada Tahun 2000 – 2003 ................ 211 Kurva laju perubahan keseimbangan jumlah kapal di TPI Muara Angke.... ........12 xviii .........5................... 224 Diagram hierarki pengelolaan kawasan Dadap-Kamal Muara ...............................................................6............................ 193 5.. 223 Causal loop yang diasumsikan dapat terjadi pada proses pindah kapal ikan dan investasi fasilitas pelabuhan. dan TPI Dadap dalam skenario optimasi TPI Kamal Muara............................ 200 Pola distribusi ikan yang berasal dari Kawasan Dadap-Kamal Muara ..................... Grafik LQ untuk Komoditi Unggulan di Kabupaten Tangerang pada Tahun 2000 – 2002 ....................8 5.......................... tahun 1992-2002........4..................

.......................................... dan PPI/TPI Dadap ... PPI/TPI Kamal Muara..................................................... 283 Hasil pengolahan data nelayan lokal dengan survey pro ........................................................................................ 289 2 3 4 5 6 7 8 xix ............... 275 Analisis skalogram fasilitas sosial di Kecamatan Penjaringan.................................................................................. 269 Data PDRB Kabupaten Tangerang dan PDRB Provinsi Banten ...................................... Jakarta Utara .......................... Kabupaten Tangerang . 279 Persamaan dalam model dinamik Stella untuk perubahan kapasitas kapal di PPI/TPI Muara Angke........... 274 Data PDRB Kota Jakarta Utara...... 281 Hasil pengolahan data komunitas lokal dengan survey pro ....... 276 Analisis skalogram fasilitas sosial di Kecamatan Kosambi..................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Nomor Lampiran: 1 Hasil analisis ketergantungan perikanan dengan menggunakan WSA program ......... dan Provinsi DKI Jakarta ...............................

1 Latar Belakang PENDAHULUAN Sesuai dengan harapan-harapan yang dilontarkan oleh berbagai pihak tentang otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Mengingat masalah otonomi yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan mempunyai dimensi yang berbeda dengan pengelolaan wilayah dan sumberdaya daratan (terrestrial). dalam rangka membuat rencana pengelolaan dan pengembangan kawasan ini. 1 . Semakin dini suatu daerah mengetahui secara akurat potensi sumberdaya ini. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sangat diperlukan. tetapi kerelaan untuk saling mengerti tentang adanya masalah bersama dan kemudahan untuk melakukan koordinasi yang efektif sangatlah besar pengaruhnya pada keberhasilan pelaksanaan program pembangunan. baik dalam koordinasi dan pelaksanaan program pembangunan di lingkungan Pemerintah Daerah (PEMDA) yang bersangkutan maupun dengan PEMDA yang berbatasan wilayahnya. Pengelolaan secara terpadu diyakini dapat menjamin pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir. Untuk kegiatan pembangunan di wilayah pesisir. ICZM).1 1. semakin besar pula peluangnya untuk melakukan pengelolaan secara terpadu. maka berbagai masukan yang dapat dijadikan bahan untuk membuat peraturan turunan dari UU No. Sumberdaya manusia adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu program pembangunan. Tidak perlu semua stakeholders tersebut mengerti ICZM secara mendalam. 32/2004 tentang Otonomi Daerah dan No. maka yang sangat mendesak untuk dilakukan secara konkrit oleh daerah adalah mengidentifikasi semua potensi sumberdaya (baik yang dapat pulih maupun tidak dapat pulih) pesisir dan lautan yang dimiliki oleh daerah masing-masing. maka stakeholders yang terkait dengan hal tersebut haruslah mengerti betul tentang apa dan bagaimana konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (integrated coastal zone management.

(3) Adanya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari pajak bangunan. Hal ini merupakan tantangan bagi para birokrat di lingkungan pemerintah daerah untuk memanfaatkan para ahli ICZM tersebut untuk mencapai hasil pembangunan yang optimal. bukan sebagai sebuah metropolitan yang dikelilingi oleh perkampungan terbesar di dunia. pemukiman. dan jasa. dan jasa. 2 . Kabupaten Tangerang adalah salah satu kawasan penyangga (buffer) setiap gerak pembangunan yang dilakukan oleh DKI Jakarta. Posisi tersebut memungkinkan pemerintah daerah untuk memanfaatkan para pakar ICZM yang banyak terdapat di sekitar JABODETABEK untuk berperan serta dalam kegiatan pembangunan wilayah pesisir. Keberhasilan atau kegagalan program pembangunan wilayah pesisir di daerah ini akan dengan cepat dapat dipublikasikan ke seluruh Indonesia dan bahkan ke seluruh dunia karena semakin baiknya sistem komunikasi.Kawasan Dadap-Kamal Muara yang berlokasi di perbatasan JakartaBanten. Hal ini berkaitan dengan semakin padatnya penduduk DKI Jakarta serta semakin banyaknya aspek yang harus ditata oleh PEMDA DKI Jakarta untuk menjaga statusnya sebagai ibukota negara. adalah suatu wilayah yang mempunyai tingkat pembangunan yang relatif pesat. maka PEMDA Kabupaten Tangerang diharapkan lebih jeli untuk menangkap setiap peluang pengembangan sumberdaya pesisir dan lautannya. Dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakukan di kawasan Ibu Kota Negara tersebut dapat bersifat positif atau negatif. khususnya di kawasan Jakarta Utara. Dampak positifnya antara lain: (1) Berkembangnya investasi di berbagai bidang yang terlalu mahal biayanya jika dikembangkan di kawasan DKI. (2) Adanya lowongan pekerjaan yang dapat diisi oleh warga Tangerang (khususnya untuk tenaga kerja yang tidak memerlukan keakhlian spesifik). khususnya bidang industri. Berkaitan dengan program otoda ini. barang.

lingkungan pantai dan perairan) dan pemukiman yang kumuh. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kamal Muara. maupun aspek keamanan lingkungannya. Kapuk Muara di sebelah barat atau Cilincing dan Marunda di sebelah timur. tetapi kesan kumuh untuk kedua daerah ini tetap saja ada. bagaimanapun kecilnya mempunyai kemungkinan menimbulkan dampak negatif. Beberapa dampak negatif yang timbul akibat berkembangkan kawasan Tangerang yang berbatasan dengan DKI Jakarta antara lain: (1) Terjadinya peningkatan pencemaran lingkungan yang berasal dari kegiatan industri dan pemukiman yang tidak ramah lingkungan.(4) Adanya keuntungan bagi daerah (baik individu maupun perusahaan) dari berkembangnya kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan secara umum maupun karyawan perorangan. serta pemasarannya) selalu dikonotasikan sebagai daerah sumber polusi (khususnya polusi udara. Meskipun PEMDA DKI Jakarta telah berhasil melakukan penataan untuk kawasan perikanan Muara Baru dan Muara Angke. Peningkatan kapasitas pendaratan 3 . merupakan PPI yang terletak paling barat di wilayah DKI Jakarta. serta (3) Terjadinya perubahan ekosistem dalam suatu kawasan. Hal yang sama juga akan terjadi dengan daerah-daerah perikanan di kawasan DKI Jakarta lainnya seperti Kamal Muara. Sektor perikanan tidak terlepas dari aspek penataan yang perlu dilakukan oleh PEMDA DKI Jakarta. Setiap aktivitas pembangunan. baik pada tingkah laku dan aspek sosialnya penduduk secara umum. (5) Terbukanya peluang pemasaran hasil perikanan. karena perkampungan di sekitarnya terimbas kegiatan primer tersebut dan muncullah konsentrasi-konsentrasi kegiatan ekonomi di luar kawasan peruntukannya. penanganan dan pengolahannya. karena kawasan perikanan (khususnya tempat pendaratan ikan. khususnya kawasan pesisir. (2) Timbulnya dampak negatif sosial budaya masyarakat setempat.

PPI/TPI Tanjung Pasir. sehingga akses ke Jakarta. (2) (3) 4 . atau daerah lainnya di Jawa Barat dan Banten menjadi lebih lancar. maka biaya pengembangan PPI/TPI Dadap akan lebih kecil dibandingkan dengan PPI/TPI lainnya di kawasan Kabupaten Tangerang dan akan memberikan keuntungan yang lebih besar. Pangkalan Pendaratan Ikan Dadap terletak di muara Kali Perancis yang mengalirkan air dari daerah genangan kawasan Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng. Tangerang. PPI/TPI Ketapang. seperti misalnya PPI/TPI Cituis yang terletak di tepi sungai dan dikelilingi oleh pemukiman penduduk. pemberangkatan. Kawasan ini merupakan perbatasan dengan wilayah DKI Jakarta yang telah merencanakan pembangunan suatu “Kota Air” di Kamal Muara. PPI/TPI Banyawakan. baik bagi kegiatan pendaratan ikan. Tangerang mempunyai beberapa konsentrasi kegiatan perikanan. maupun aktivitas pemasarannya melalui restoran seafood. Tidak semua PPI/TPI yang ada di Kabupaten Tangerang mempunyai tingkat aktivitas yang optimal. khususnya jika ditinjau dari aspek ekonomi. sehingga kemungkinan terjadinya pendangkalan kolam pelabuhan sangat lambat sekali. Jika dilihat dari aspek investasi dan penghasilan yang akan diperoleh. sehingga dampak posisif dari pembangunan kota ini dapat dimanfaatkan oleh kawasan Dadap. Akses jalan yang sempit juga menyebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengembangkan PPI/TPI ini. dan berlabuhnya kapal pesiar yacht untuk kegiatan mancing dan wisata di kawasan Kepulauan Seribu. tempat perbaikan. Sejak direncanakan untuk dibangunnya Pelabuhan Kapal Baruna Jaya tahun 1997. Faktor-faktor yang mendukung PPI/TPI Dadap dapat lebih berhasil dari PPI/TPI lainnya adalah: (1) Lokasinya dekat dengan jalan TOL Jakarta Cengkareng.PPI ini merupakan bagian dari upaya untuk menampung kelebihan kapasitas PPI Muara Angke di sebelah timurnya. PPI/TPI Cituis. Kondisi PPI/TPI lainnya yang ada di Tangerang ada yang sudah sulit untuk dikembangkan. maka kondisi PPI Dadap ini semakin ramai. dan PPI/TPI Dadap. yaitu di PPI/TPI Kronjo. sebagaimana dinyatakan dalam hasil studi PKSPL IPB (PKSPL IPB 2000).

Kerusakan ekosistem perairan ditunjukkan dengan rendahnya nilai kualitas air di pesisir utara Jakarta dan Tangerang. sampai jarak sekitar 500 m dari garis pantai warna air sudah hitam dengan bau khas senyawa sulfida. maka terjadinya penurunan fungsi PPI/TPI Dadap sebagai pusat kegiatan perikanan tangkap di kawasan paling timur Kabupaten Tangerang ini adalah suatu hal yang wajar dan dapat dimengerti. program pengembangan PPI/TPI Dadap dan PPI/TPI Kamal Muara di masa yang akan datang tidaklah diketahui oleh masyarakat umum. atau hanya menguntungkan segelintir orang saja. khususnya ekosistem perairan pantai adalah salah satu isu pokok yang sekarang sedang berkembang di kawasan Dadap-Kamal Muara. tidak hanya bagi nelayan tangkap dan para pedagang 5 . dan program pembangunan yang direncanakan haruslah dikomunikasikan dengan sangat cermat dan terpadu. Tingkat polusi air juga sudah tinggi yang telah menyebabkan terjadinya beberapa kali kasus matinya ribuan ekor ikan.1. Isu yang lainnya adalah masa depan PPI/TPI Dadap dan PPI/TPI Kamal Muara yang tidak diketahui secara jelas dan transparan oleh penduduk lokal. Kejadian bulan Mei 2004 dimana ribuan ekor ikan mati di perairan pesisir Jakarta sudah menunjukkan bagaimana buruknya kondisi kualitas airnya.2 Perumusan Masalah Kerusakan lingkungan pesisir.). Kajian juga dapat memberikan jawaban apakah suatu program pembangunan masih layak untuk diteruskan padahal dukungan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia tidak ada. sumberdaya manusia. dan tingginya kandungan logam berat pada benthos dan kerang hijau (Perna viridis L. Meskipun menjadi sumber pendapatan bagi nelayan dan pedagang ikan serta menjadi tempat belanja ikan bagi penduduk sekitarnya. Bilamana perlu dapat dilakukan suatu kajian yang cukup mendalam untuk mencari jawaban apakah program yang direncanakan pemerintah dapat memberikan keuntungan kepada semua stakeholders. Kondisi sumberdaya alam. hal ini telah membawa dampak negatif. Sebagai akibat adanya berbagai kepentingan dalam pengembangan kawasan Dadap. Dari penampakan warna air. Namun demikian.

rencana pembangunan Kota Air Kamal Muara secara perlahan tapi pasti tetap bergulir. sejak lama sudah ada rencana pembangunan Pelabuhan Kapal Penelitian Baruna Jaya yang tidak jelas kelanjutannya. tetapi juga terhadap para pemilik restoran seafood yang sebelumnya tumbuh menjamur di kawasan ini. Mungkinkah masyarakat mendapat keuntungan langsung. Berkurangnya volume pemasaran ikan kemudian menyebabkan pendaratan ikan di PPI/TPI pun jauh berkurang. Dampak lanjutan dari kerusuhan tersebut adalah berkurangnya restoran seafood karena konsumen yang berkunjung ke kawasan ini merasa jengah. Di Kelurahan Dadap. 6 . Vakumnya kegiatan PPI/TPI Dadap sejak tahun 1997 secara langsung juga merugikan Pemda Tangerang yang kehilangan sumber dana dari retribusi PPI/TPI dan kegiatan ekonomi ikutannya.kecil dan pengolah ikan. seandainya Pemkab Tangerang mempunyai program lain yang dinilai akan lebih banyak menghasilkan PAD. pembangunan kawasan wisata Pantai Mutiara Dadap. khususnya ke TPI Kamal Muara yang berjarak 700 m di sebelah timurnya. apa yang akan terjadi dan apa akibatnya bagi penduduk. Data jumlah hasil retribusi kegiatan lelang di PPI/TPI Dadap tahun 1994 sebesar 18. Perkembangan kegiatan ekonomi di kawasan Dadap ini ternyata juga diikuti oleh maraknya aktivitas prostitusi. serta pembangunan Pelabuhan Peti Kemas. atau keuntungan tidak langsung yang masih memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di tempat tinggalnya sekarang. maka pe-non-aktifan TPI Dadap tersebut akan menjadi suatu jalan ke arah alternatif yang lebih menguntungkan. maka sebagian dari nelayan yang biasanya mendaratkan hasil tangkapannya di sini. Padahal masyarakat yang akan terkena dampaknya perlu mengetahui secara dini. Namun demikian di sisi yang lain. Dengan tidak aktifnya PPI/TPI Dadap ini. dimana areal prostitusi tersebut akhirnya dibakar massa. kini beralih ke TPI lain yang umumnya berada di kawasan Jakarta Utara. Di Kamal Muara. namun sejak tahun 2000 nilai ini belum pernah tercapai lagi (Diskankab Tangerang 2003). Keresahan masyarakat akhirnya memuncak pada tanggal 14/08/1997. yang merupakan salah satu dampak negatif dari kegiatan pembangunan ini.3 juta rupiah. Semua program tersebut seolaholah menggantung di langit dan sewaktu-waktu dapat turun untuk dilaksanakan.

tetapi juga oleh kendala-kendala kelembagaan (institutional) seperti kepemilikan. yang dipelopori oleh puluhan Ibu-ibu PKK. Berdasarkan Perda RTRW No. Konflik yang terjadi di kawasan Dadap tersebut cukup komplek. Kondisi ini menyebabkan tingginya permintaan terhadap lahan sehingga harganya pun menjadi sangat tinggi. 5/1992.Penurunan kualitas lingkungan sosial ini sangat meresahkan masyarakat. termasuk jasa perdagangan yang tidak melibatkan secara langsung barang yang diperjual belikan. khususnya bagi masyarakat yang masih memiliki rasa idealisme untuk mendapatkan pendidikan keluarga yang baik. Kompleksitas masalah ini disebabkan sudah terdapatnya aspek legal yang mengijinkan dilakukannya reklamasi oleh para pengembang. dalam kaitannya dengan hak-hak (property right) atas tanah yang dapat menjadi suatu kendala dalam pemanfaatannya. kelangkaan ini tidak hanya dilihat dari aspek fisik (ketersediaannya terbatas). Isu lain yang juga bergulir cepat di daerah ini adalah rencana pembangunan kawasan wisata terpadu Pantai Mutiara. kegiatan reklamasi seluas 300 ha sudah dilakukan sehingga meresahkan masyarakat dan pemerintah daerah (Anonimous 2004a dan 2005a. serta Perda No 5/2002 tentang Perubahan Atas RTRW. (2003). ataupun tempat jasa perdagangan itu dilakukan (seperti perkantoran). Belum juga dokumen AMDALnya dibuat. Anonimous 2004b).2/330-DTRB/IX/2001 tertanggal 26 September 2001 yang 7 . sehingga keberadaannya menjadi langka. Kondisi ini memicu terjadinya perusakan 68 rumah liar yang digunakan untuk praktek prostitusi di Dadap tanggal 20 Oktober 1994. 3/1996. 655. semua fenomena ekonomi selalu memerlukan tempat (ruang) geografis. Legalitas yang membolehkan dilakukannya reklamasi ini berupa Fatwa Rencana Pengarahan Lokasi dengan No. Shock therapy ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Sehingga. Menurut Rustiadi et al. Menurut McCann (2001). karena secara perlahan-lahan tetapi pasti kegiatan prostitusi tersebut tetap berjalan (Anonimous 1996). kawasan Dadap diperuntukkan sebagai daerah pengembangan perikanan dan pariwisata. No. baik dalam bentuk tempat perdagangan barang (pasar). performa dari lokasi ini sangat menentukan pula keberhasilan proses jual beli.

Hilangnya kegiatan perikanan di PPI/TPI Dadap serta peningkatan yang drastis pula di PPI/TPI Kamal Muara dan PPI/TPI Muara Angke telah menyebabkan terjadinya kelebihan kapasitas penanganan pelabuhan (overload) di 8 .” jelas sumber tadi. Sebaliknya. Dalam fatwa tersebut ditetapkan bahwa dasar hukum pemberian fatwa itu adalah Perda No 8 tahun 1986 jo Perda No 11 tahun 1987 tentang IMB dan Perda No 4 tahun 1994 (Bab IV) tentang retribusi. Perpindahan tempat pendaratan ikan dari nelayan-nelayan tersebut secara ekonomi akan sangat merugikan masyarakat wilayah Dadap khususnya dan Kabupaten Tangerang umumnya. tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang cukup besar bagi Kota Metropolitan Jakarta. seperti munculnya daerah-daerah kumuh di sekitar pelabuhan perikanan dan meningkatnya masa tunggu (waiting time) di pelabuhan. Apalagi pada saat yang bersamaan Dinas Tata Ruang dan Bangunan juga mengeluarkan surat penetapan retribusi fatwa rencana pengarahan lokasi bernomor 974/330-DTRB/IX/2001 yang ditandatangani Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan. Anonimous 2005d). Dalam berita tersebut juga disebutkan bahwa Pemkab Tangerang telah menerima retribusi ratusan juta rupiah dari pengembang untuk mengeluarkan ijin tersebut. meskipun telah dibawa dalam diskusi di tingkat DPRD (Suara Publik 2004) dan Komisi VII DPR (Anonimous 2005c. Menurutnya.ditandatangani oleh Bupati Agus Djunara. Nanang Komara yang kini menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang. berdasarkan ketetapan tersebut pihak pengembang diharuskan membayar retribusi biaya urukan senilai Rp 100 per meter persegi (Sinar Harapan 2004a). Meningkatnya masa tunggu bongkar muat di suatu pelabuhan ini secara ekonomi sangat merugikan nelayan khususnya dan juga merugikan pemerintah secara umum. peningkatan jumlah nelayan yang mendaratkan hasil tangkapannya di wilayah Jakarta Utara tidak hanya menyebabkan peningkatan pendapatan karena terjadinya peningkatan volume kegiatan perikanan. menunjukkan bahwa telah terjadi kekisruhan dalam implementasi Perda tentang RTRW dan desakan kepentingan beberapa pihak yang berorientasi pada keuntungan ekonomi sesaat. Kemelut yang belum selesai hingga kini tersebut.

sosial ekonomi. potensi kawasan Dadap dan Kamal Muara tersebut dapat berpeluang untuk menyumbangkan sesuatu yang bersifat positif bagi kedua belah pihak atau bersifat negatif bagi salah satu atau keduanya. Kurang baiknya prasarana dan sarana pelabuhan telah menyebabkan kurang optimalnya penggunaan tenaga buruh di PPI/TPI Kamal Muara. serta juga terdapatnya beberapa lokasi pemukiman penduduk (yang umumnya bukan penduduk asli kawasan Dadap/Muara Kamal atau para pendatang). baik dilihat dari aspek sumberdaya manusia. (2) Salah satu daerah akan mendapat keuntungan besar tetapi daerah lainnya mendapat keuntungan sekedarnya. yaitu Kabupaten Tangerang Provinsi Banten dan Kota Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta. biofisik. karena beberapa kegiatan yang saling bertentangan di suatu kawasan yang sama akan menimbulkan dampak negatif. sementara di PPI/TPI Muara Angke. besar kemungkinan akan terjadi beberapa hal berikut: (1) Masing-masing daerah mendapat keuntungan. Tetapi jika hal tersebut dilakukan secara kedaerahan atau bahkan sektoral. peran 9 . Suatu kegiatan pembangunan di kawasan tersebut yang direncanakan dan dilaksanakan secara terpadu oleh kedua daerah tingkat kabupaten/kota tersebut akan secara pasti memberikan keuntungan bagi keduanya.kedua TPI di Jakarta Utara ini. tetapi persaingan jenis usaha tidak dapat dikontrol dan akan saling menjatuhkan salah satu pihak. penduduk yang terlibat dengan kegiatan lain seperti perdagangan dan jasa. Dalam konsep ICZM. petani. (3) Salah satu daerah mendapat keuntungan tetapi daerah lainnya mendapat kerugian. optimalisasi tenaga buruh terhambat karena kapal ikan yang sudah melakukan bongkar muatan terhambat untuk melakukan “parkir” karena keterbatasan kolam pelabuhan. Sebagai kawasan yang terletak di perbatasan antara dua daerah tingkat kabupaten/kota dan dua provinsi. maupun lingkungan. Masyarakat sekitar Dadap dan Kamal Muara terdiri dari nelayan. Kawasan Dadap dihuni oleh berbagai komunitas masyarakat yang mempunyai aktivitas primer yang berbeda-beda. (4) Kedua daerah mendapat kerugian.

5) Membuat kajian opini masyarakat tentang kondisi perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara 1. Opini masyarakat harus diakomodasi oleh pemerintah sehingga akan diperoleh prinsipprinsip saling mendapat keuntungan (win-win solution) meskipun tidak penuh. maka kerangka pikir penelitian yang perlu dilakukan dapat diuraikan sebagaimana tercantum dalam Gambar 1.4 Kerangka Berpikir Dari kerangka permasalahan yang ada di lapangan. 10 . 1. 3) Mengkaji pemanfaatan lahan dan daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara berkaitan dengan kapasitas tampung TPI Muara Angke di masa yang akan datang 4) Membuat analisis dan skenario pengembangan dan pengelolaan pelabuhan perikanan dalam konteks pengelolaan pesisir terpadu.penduduk lokal dalam perencanaan pembangunan sangatlah vital. pemanfaatan dan ketergantungan daerah perikanan dari TPI Dadap dan TPI Kamal Muara sesuai dengan perkembangan kegiatan pembangunan daerah di kawasan tersebut. 2) Menganalisis struktur komposisi pertumbuhan ekonomi wilayah dan pemusatan aktivitas serta hierarki aktivitas pelayanan.1.3 Tujuan Penelitian yang berjudul ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN PELABUHAN PERIKANAN KAMAL MUARA DAN DADAP DALAM KONTEKS PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji kondisi lingkungan.

kapasitas kecil Pengangguran dan prostitusi Konflik tataruang Gambar 1. kapasitas kecil Tenaga buruh kurang optimal Gelanggang olah raga Batas kabupaten dan batas provinsi PPI/TPI DADAP TPI tidak aktif o Rencana Pembangunan Pelabuhan Kapal Riset o Rencana Pembangunan Pelabuhan Kapal Kontainer o Rencana pembangunan Kawasan Wisata Pantai Pasir Putih/Mutiara Dadap Alur masuk pelabuhan dangkal. .1.TPI DAN ISU PPI/TPI MUARA ANGKE Overload PPI/TPI KAMAL MUARA Aktivitas perikanan tidak optimal Kota Air Kamal Muara MASALAH EKONOMI & KEBIJAKAN Inefisensi MASALAH FISIK Kekurangan sarana prasarana MASALAH SOSIAL Tenaga buruh kurang optimal SKENARIO SOLUSI ? ? ? 11 Batas kelurahan Tidak optimal Alur masuk pelabuhan dangkal. Kerangka berfikir pemecahan masalah pengembangan pelabuhan perikanan di kawasan TPI Dadap dan TPI Kamal Muara dalam konteks pengelolaan pesisir terpadu.

1 Wilayah Pesisir Wilayah pesisir didefinisikan oleh FAO sebagai wilayah peralihan atau transisi di antara daratan dan laut. secara langsung dipengaruhi oleh kekuatan alam baik yang berasal dari daratan maupun dari laut. Interaksi antara proses-proses fisika.2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Chua (2006) juga menjelaskan bahwa aktivitas manusia adalah faktor ke tiga yang mempengaruhi keterpaduan dan kesehatan wilayah pesisir. suhu. Oleh karena itu wilayah pesisir adalah suatu kawasan tempat terjadinya interaksi antara daratan dan perairan. proses alami dapat menjaga kondisi wilayah tersebut tetap pristine. Wilayah pesisir mempunyai fungsi. termasuk danau besar di tengah daratan (Scialabba 1998). Sementara itu coastal area lebih luas penggunaannya pada wilayah pesisir yang belum ditetapkan sebagai wilayah untuk tujuan pengelolaan. kimia. wilayah pesisir memiliki suatu keunikan tertentu. dan curah hujan. Sementara itu Chua (2006) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai bagian daratan yang berada di sepanjang garis pantai dan berbatasan dengan air laut. Kekuatan alam lainnya yang juga berlangsung di wilayah pesisir dan berpengaruh nyata adalah angin. dan dinamika yang beragam. Pengaruh daratan antara lain aliran air tawar dan sedimen ke pesisir yang mengakibatkan terbentuknya delta. Sebaliknya. serta tidak dibatasi oleh batas spasial yang ketat. dalam arti bahwa di tempat ini dapat dibangun pelabuhan dan berbagai fasilitas penunjangnya sehingga dapat menangkap setiap peluang keuntungan dari . Bentuk coastal zones lebih dimaksudkan pada definisi berdasarkan wilayah geografis dimana suatu peraturan pengelolaan diberlakukan. yaitu coastal zones dan coastal area (Scialabba 1998). pasang surut dan arus laut mendorong air asin jauh masuk ke wilayah daratan. wetlands dan mudflats. Secara geografis. bentuk. Sebagai akibatnya. Di suatu kawasan pesisir yang tidak terdapat komunitas manusia. badai. Terdapat dua istilah yang umum dipakai. dan biologi di wilayah peralihan tersebut menciptakan sistem sumberdaya yang menghasilkan barang dan jasa yang unik dan kondusif untuk kehidupan manusia.

Wilayah pesisir secara biologis juga merupakan tempat yang mempunyai produktivitas paling tinggi dan paling kaya dengan berbagai habitat. sejalan dengan berlangsungnya jaman. sumberdaya manusia. Menurut Cicin-Sain dan Knecht (1998). 1996). Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline). baik kegiatan ekonomi primer maupun sekunder. yaitu: batas sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (crossshore) (Dahuri et al.kegiatan-kegiatan ekonomi yang terjadi. dan sistem pemerintahan. tingginya nilai ekonomi suatu kawasan pesisir juga disebabkan oleh daya tariknya yang besar untuk kegiatan wisata. dan batas ke arah laut umumnya adalah sesuai dengan batas jurisdiksi provinsi. Chua (2006) menyebutkan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia hidup di kawasan yang lebarnya 100 km sepanjang garis pantai. yaitu batas untuk wilayah perencanaan (planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day management). seperti badai angin dan gelombang pada skala yang bervariasi. Angka ini kemungkinan akan meningkat lagi menjadi 75 % penduduk dunia akan hidup di kawasan pesisir pada tahun 2020. Menurut kesepakatan umum. (2) Untuk kepentingan pengelolaan. maka wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries). kawasan pesisir merupakan suatu tempat yang dapat bertahan terhadap berbagai pengaruh peristiwa alam. sumberdaya alam. batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat ditetapkan sebanyak dua macam. artinya batas wilayah pesisir dapat saja berbeda antara satu dengan negara yang lain. sejauh ini belum ada kesepakatan. Selain itu. definisi wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Wilayah perencanaan sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat kegiatan manusia (kegiatan pembangunan fisik) yang dapat 13 . Akan tetapi penetapan batas-batas suatu wilayah pesisir yang tegak lurus terhadap garis pantai. Sorensen dan Mc Creary (1990) sebagaimana yang dikutip Dahuri et al. (1996) mengkompilasi beberapa definisi wilayah pesisir dengan kesimpulan: (1) Batas wilayah pesisir ke arah darat pada umumnya adalah jarak secara arbitrer dari rata-rata pasang tertinggi (mean high tide). Hal ini dapat difahami karena adanya perbedaan kondisi lingkungan.

preserving and restoring coastal zones. continuous and iterative process designed to promote sustainable management of coastal zone. pengembangan wilayah dapat didefinisikan sebagai “suatu aktivitas pembangunan yang menganalisis secara interdisiplin yang mengkhususkan pada integrasi analisis-analisis fenomena sosial dan ekonomi wilayah. Tujuannya adalah untuk mengenal lebih baik struktur dan fungsi suatu kota atau 14 . maka wilayah perencanaan selalu lebih luas daripada wilayah pengaturan. the benefits from protecting. pengelolaan wilayah pesisir terpadu didefinisikan oleh European Commission (EC 1999) sebagai berikut: “ICZM has been defined as a dynamic. the benefits from minimising loss of human life and property. tergantung pada isu pengelolaan yang dilakukannya. Sementara itu. antisipasi (peramalan) perubahan-perubahan hingga perencanaan pembangunan di masa yang akan datang dengan penekanan pada pendekatan kuantitatif”.2 Pengembangan Wilayah dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu Mengadopsi definisi regional science dari Mayhew (1997 dalam Rustiadi et al. program pengelolaan wilayah pesisir menetapkan dua batasan wilayah pengelolaan (wilayah perencanaan dan wilayah pengaturan). over the long-term to balance the benefits from economic development and human uses of the coastal zone.1 Pengembangan wilayah Menurut McCann dan Shefer (2004). pengetahuan kewilayahan berkaitan dengan analisis penomena perkotaan dan kedaerahan (urban dan regional). and the benefits from public access to and enjoyment of coastal zone. Oleh karena. mencakup aspekaspek perubahan. ICZM seeks. itu batas wilayah pesisir ke arah darat untuk Jika suatu kepentingan perencanaan dapat sangat jauh ke arah hulu. 2. all within the limits set by natural dynamics and carrying capacity”. 2003). 2.2. (3) Batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat berubah.menimbulkan dampak secara nyata terhadap lingkungan dan sumberdaya pesisir.

baik ekonomi. Suatu pengertian tentang bagaimana kota dan wilayah melakukan kegiatan dan fungsinya agar dapat menghasilkan kontribusi pembuatan kebijakan yang lebih baik. maka harus dipertimbangkan sebagai suatu komponen integral dari kumpulan fungsi produksi regional. the generation of externalities. 24/92 tentang Penataan Ruang. politik. di Indonesia terdapat berbagai konsep nomenklatur kewilayahan. sehingga dapat memperbaiki kualitas standar hidup penduduk di kota atau wilayah tersebut. and long time-periods).wilayah sambil memperhitungkan fenomenanya yang dimensi multifaset. pengertian “daerah tidak dijelaskan secara eksplisit dalam UU 24/92 tersebut. karena produk marjinal dari jasa-jasa tersebut biasanya bersifat positif. “kawasan”. keberadaan generasi eksternal. “area”. banyak dipergunakan dalam berbagai konteks permasalahan yang sering saling dapat dipertukarkan pengertiannya dan walaupun masing-masing memiliki penekanan pemahaman yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena infrastruktur menunjukan berbagai karakter barang publik dimana jasa dari modal milik umum didistribusikan secara bebas kepada para produser swasta. “daerah”. Peran dari infrastruktur publik dalam pengembangan wilayah sangatlah komplek sekali karena melibatkan pengadaan barang milik publik. 15 . Secara yuridis sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No. dan beberapa istilah sejenis. “ruang”. seperti “wilayah”. pembuatan keputusan politik. (2003). infrastruktur modal milik masyarakat dapat berperan penting dalam melengkapi proses produktivitas sektor swasta regional. atau lingkungan. “regional”. namun umumnya dipahami sebagai unit wilayah berdasarkan aspek administratif. Oleh karena itu. sosial. dan lamanya masa berlalu (The role of public infrastructure in regional development is a highly complex issue involving aspects of public good provision. Sementara itu. Sedangkan pengertian dari “kawasan” adalah wilayah dengan fungsi utama ditekankan pada pengertian “lindung” dan “budidaya”. sebagaimana dinyatakan oleh Lynde dan Richmond (1992) serta Gramlich (1994) dalam McCann dan Shefer (2004). political decision-making. pengertian “wilayah” adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis berserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. Menurut Rustiadi et al.

tempat pemasaran produk-produk yang dihasilkan di kota. Wilayah homogen dibatasi oleh keseragaman atau kesamaan ciri yang dimilikinya.Menurut Winoto (1999/2000). dibatasi. Dengan demikian. Untuk lebih tepat lagi. pengembangan wilayah diartikan sebagai suatu perencanaan area geografis tertentu yang akan menguntungkan baik bagi individu nelayan. pemusatan pasar. yang dikelilingi oleh wilayah pedesaan. tenaga kerja. Dalam kenyataan sehari-hari. yaitu wilayah homogen dan wilayah fungsional. Hoover dan Giarratani (1985) mengelompokkan wilayah ke dalam dua bentuk. 16 . juga sangat dipengaruhi oleh virtue atau nilai keutamaan yang dianut masyarakat. dan aspek administrasi. wilayah dapat didefinisikan. Bentuk spesifik dari wilayah fungsional ini disebut wilayah nodal. Aspek fungsional meliputi tempat pemusatan penduduk. dan digambarkan berdasarkan ciri atau kandungan area geografis tersebut. petani. sementara wilayah fungsional didasarkan pada interaksi yang terjadi dalam suatu wilayah. Winoto (1999/2000) juga menyatakan bahwa pengembangan wilayah dapat dilihat dari berbagai aspek. dan pusat inovasi. masyarakat dan wilayah yang bersangkutan dengan tetap memperhatikan kemampuan sumberdaya alam dan lingkungan pendukung ekosistem yang dikembangkan. Virtue ini bisa didefinisikan dari berbagai sudut pandang karena sifatnya yang normatif. Keberhasilan suatu program pengembangan wilayah (lebih spesifik lagi yang berkaitan dengan ekonomi wilayah dan perdesaan). wilayah merupakan area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi. khususnya dilihat dari keterkaitan aspek ekonomi. aspek kehomogenan. yaitu berdasarkan aspek fungsional. dan sebagai tempat penyeimbang ekologis. dimana seluruh pusat kegiatan dan pelayanan terdapat di dalamnya dan didukung oleh wilayah pedesaan yang merupakan daerah pemasok bahan-bahan mentah. pusat industri dan perdagangan. nodal ini dapat diibaratkan sebagai kota. dimana dapat dianggap sebagai suatu sel dengan satu inti dan dikelilingi oleh plasma. pemusatan pelayanan. Berdasarkan hal ini.

ketahanan masyarakat dan bangsa yang semakin kuat. Menurut Winoto (1998/1999). dan pandangan politis dari setiap komponen masyarakat ini. agama. 17 . Dalam konteks pengembangan wilayah. adanya kaitan antara kegiatan pembangunan dengan sistem nilai masyarakat dapat dijelaskan sebagi berikut: pembangunan (baik sebagai suatu proses maupun sebagai suatu cara perwujudan) mengemban tugas kemanusiaan dan tugas kehidupan. etnis (sosial budaya). virtue ini sangatlah kaku dan tidak kenal kompromi. atau virtue-virtue yang ada dalam masyarakat diintegrasikan ke dalam perencanaan. Begitu beragamnya faktor yang mempengaruhi perumusan virtue ini. tentu saja harus menemukan resultan virtue tersebut kemudian mengintegrasikannya ke dalam rencana yang akan diterapkan. Dengan kata lain. rasa memiliki yang kian meningkat. kemungkinan virtue yang ada dalam masyarakat berlaku umum. maka virtue ini baru dapat timbul setelah terbentuk suatu komunitas masyarakat yang saling mengetahui keinginan masingmasing sehingga dapat menemukan suatu resultan dari berbagai keinginan atau ide-ide yang ada dalam masyarakat. Untuk suatu masyarakat yang homogen (contoh kasus ekstrim adalah masyarakat Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya). keadilan yang lebih terjamin. dan kepercayaan diri sebagai manusia maupun sebagai bangsa yang semakin meningkat. baik dilihat dari pendidikan. Namun demikian. antara lain tingkat kehomogenan masyarakat. kebebasan dalam mengekspresikan aspirasi kemanusiaannya yang semakin terbuka. rencana induk yang sudah ada diintegrasikan ke dalam virtue yang sudah terbentuk.Perumusan suatu virtue atau nilai keutamaan yang dianut masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor. pembangunan haruslah dapat mengkomodasi berbagai harapan masyarakat. Harapan-harapan inilah yang menjadikan setiap anggota masyarakat dan/atau kelompok masyarakat (dengan segala perbedaan latar belakang dan kepentingannya) perlu senantiasa terlibat dan ikut berproses dalam menentukan arah serta prioritas pembangunan pada setiap tahapan yang dilakukan. sehingga suatu perencanaan pengembangan wilayah yang mencakup kawasan seperti ini haruslah menyesuaikan diri dengan virtue yang berkembang dimasyarakat. Artinya proses perencanaan itu dapat saja berlangsung timbal balik. antara lain harapan tentang kehidupan yang lebih baik.

tidak pernah ada kesepakatan virtue siapakah yang harus dijadikan dasar dalam mengimplementasikan prioritas pelaksanaan pembangunan. yang tercantum dalam pita yang dicengkeram burung garuda. jasa. antar agama. 18 . dan lain lain. yang telah berlangsung sangat lama (sejak mulai tercatatnya sejarah adanya kerajaan-kerajaan di Indonesia samapi jaman penjajahan Belanda dan Jepang). Diagram virtue universal ini dapat dilihat pada Gambar 2. dan antar kondisi sosial budaya.Contoh kasus yang heterogen adalah kelompok masyarakat di kawasan pesisir. industriawan. berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu dimana program pembangunan lebih banyak ditetapkan dari atas (top-down). Sebagai contoh. jaminan kebebasan mengemukakan pendapat dan menjalankan keyakinannya masing-masing. jaminan aksesibilitas antar wilayah. mulai dari nelayan. Keragaman mata pencaharian juga mengakibatkan terjadinya interaksi yang lebih intensif diantara berbagai aktivitas yang dapat menghasilkan dampak positif dan negatif. PNS. pedagang. dimana terlibat berbagai jenis kegiatan manusia sesuai dengan bidang garapannya masing-masing. Tentu saja terdapat virtue yang bersifat universal bagi seluruh anggota masyarakat antar wilayah dan antar waktu. maka virtue universal masyarakat diharapkan akan lebih banyak tertampung dalam program pembangunan yang disusun secara bottom up. falsafah “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun demikian. adalah suatu virtue yang lahir setelah terjadinya pertikaian antar suku. antar wilayah. dan orang. yaitu antara lain: kedamaian dan ketenangan menjalani kehidupan. Sebenarnya virtue “Bhinneka Tunggal Ika” ini dapat dipertahankan untuk melewati periode waktu yang panjang dalam sejarah. selain itu juga tidak ada jaminan bahwa keadilan akan terwujud bila salah satu virtue masyarakat atau kelompok masyarakat dipilih atau dipaksakan sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan. Virtue ini sangat disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang lebih mencintai perdamaian untuk melewati kehidupan yang aman dan tenang. seandainya kebhinnekaan setiap kelompok masyarakat dan antar wilayah ini dapat diikat dan dipadukan oleh sesuatu yang saling dibutuhkan mereka. baik barang.1. Menurut Winoto (1998/1999).

Begitu tali pengikat kebhinnekaan ini dilanggar. dan barangkali perlu diramu suatu virtue baru sesuai dengan perkembangan sosial. sebagai alat pemersatu atau pemecah virtue. 19 . aspek kepentingan golongan atas dasar latar belakang politis sangat menonjol. MANUSIA ASPEK SOSEK BUDAYA POLITIK & KEAMANAN Gambar 2. Dasar pemikiran terbentuknya virtue universal Dari diagram Gambar 2. sosial-ekonomi budaya. dan manusia. kampung sebelah. politik. agama lain. Pada saat ini. atau bahkan oleh regim pemerintahan yang otoriter. agama. aksesibilitas barang. ekonomi. aspek spasial perwilayahan.1.1 di atas tampak bahwa virtue universal harus mencakup sebagian atau seluruh kepentingan dari setiap unsur yang membentuk ekosistem tersebut (suku bangsa. baik oleh tetangga sebelah. mulailah virtue itu tidak ditaati lagi.SUKU/ BANGSA ASPEK AGAMA ASPEK WILAYAH SPASIAL VIRTUE UNIVERSAL AKSESIBILITAS BARANG. jasa. JASA. dan keamanan. serta aspek politik dan keamanan).

kimia. masyarakat. Kurangnya perhatian terhadap faktor-faktor sosial ini telah menyebabkan suatu proses pembangunan dalam bahaya dari kurang efektifnya proyek yang dilakukan. suatu perencanaan pembangunan suatu wilayah haruslah mencakup individu manusia. meskipun sebagian kecil yang berpandangan kurang ekstrim juga bertujuan pada pemeliharaan dan adaptasi sistem penyangga kehidupan alami. dimana bentuk organisasi sosial yang ada sangat krusial dalam mencari solusi apakah suatu kegiatan pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan atau tidak. Artinya. sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di wilayah tersebut (termasuk yang harus dipertimbangkan adalah virtue universal dan partial dari masyarakatnya). seorang sosiologis akan memandang setiap persoalan pembangunan dari kacamata manusia sebagai aktor kunci. Menurut Serageldin (1994). bukan uang. Sebagian berargumentasi pada penyelamatan seluruh ekosistem. suatu kegiatan berkelanjutan haruslah mencari semaksimal mungkin keuntungan untuk kesejahteraan manusia diantara kendalakendala modal yang tersedia serta teknologi yang digunakan. harus menjadi persyaratan adanya konsep pembangunan berkelanjutan. dan disiplin yang berlaku pada biologi.Aspek wilayah perlu dimasukkan dalam kegiatan perencanaan pembangunan suatu kawasan adalah karena sebagaimana definisi Winoto (1999/2000). geologi. 20 . Istilah ini akan mendapat pengertian yang berbeda dari setiap orang yang mempunyai keahlian berbeda pula. dan umumnya pengetahuan alam. Pandangan seorang ekologis berbeda pula. Faktor-faktor yang diperhitungkan adalah fisik. wilayah merupakan area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi. Konsep pembangunan berkelanjutan telah digunakan oleh the World Commision on Environment and Development pada tahun 1987. Sementara itu disebutkannya pula bahwa dari aspek ekonomi. yaitu menekankan pada penyelamatan subsistem ekologi yang terpadu ditinjau sebagai kritisi untuk keseluruhan stabilitas ekosistem global. Pada intinya. Di dalam setiap upaya pengembangan wilayah. dibatasi dan digambarkan berdasarkan ciri atau kandungan area geografis tersebut.

sampai pada pertanggungjawabannya dilakukan oleh pusat sedangkan pelaksanaannya dapat melibatkan daerah dimana tempat kegiatan tersebut dilaksanakan. Secara praktikan. pembangunan wilayah merupakan kegiatan pembangunan yang perencanaan. Menurut Idrus et al. maka perencanaan pembangunan wilayah/daerah dapat diartikan sebagai suatu proses persiapan penyelenggaraan pembangunan suatu wilayah atau daerah. peningkatan pendapatan per kapita. tetapi harus juga disertai beberapa tolok ukur lain 21 . pemahaman filosofis demikian sukar diterapkan sehingga perlu dicarikan berbagai tolok ukur yang multidimensional. serta (5) kualitas lingkungan hidup dan produktivitas sumberdaya alam. sampai pada pertanggungjawabannya. (4) persentase pengangguran. Berdasarkan pengertian tersebut di atas.Istilah pengembangan wilayah tentu saja berkaitan erat dengan perencanaan pembangunan wilayah/daerah. Menurut Rustiadi et al. Pembangunan daerah sendiri berindikasi bahwa kegiatan pembangunan yang segala sesuatunya dilaksanakan dan dipersiapkan di daerah. tetapi beberapa pakar perencanaan dan pengembangan wilayah telah menyepakati beberapa tolok ukur penilaian suatu kegiatan pembangunan. munculnya permasalahan-permasalahan tersebut memaksa pakar 70-an mulai mengkaji ulang tolok ukur yang hanya berdasarkan pada GNP semata. pembiayaan. (2003). (1999) menyatakan bahwa perencanaan pembangunan wilayah diartikan sebagai suatu proses atau tahapan pengarahan kegiatan pembangunan di suatu wilayah tertentu yang melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya termasuk sumberdaya alam. setiap perencanaan pembangunan wilayah memerlukan batasan praktikal yang dapat digunakan secara operasional untuk mengukur tingkat pengembangan wilayahnya. seperti perencanaan. Anwar dan Setia Hadi yang dikutif Idrus et al. (3) tingkat kemiskinan. pembiayaan. Sementara itu. Menurut Hoover dan Giarratani (1985). dan perubahan struktur ekonomi. (1999). Nasution (1990) menambahkan bahwa mengukur perkembangan suatu wilayah adalah relatif sulit. yaitu dilihat dari aspek: (1) pertumbuhan ekonomi. perkembangan suatu wilayah dapat dilihat pada aspek pertumbuhan jumlah penduduk. Oleh karena itu. (2) distribusi pendapatan.

Indikator pembangunan berkelanjutan (Rustiadi et al. masyarakat dan wilayah yang bersangkutan dengan tetap memperhatikan kemampuan sumberdaya alam dan lingkungan pendukung ekosistem yang dikembangkan. Ekologi 1 S 2 3 D Budaya Ekonomi Gambar 2. (3) Bagian 3: Economy-ecology interface: menggambarkan fusngsi tujuan di dalam termin dari nilai-nilai ekonomi dan cost benefit analysis. Indikator yang termasuk dalam ukuran perubahan etika lingkungan. Ilustrasi dari tolok ukur pembangunan berkelanjutan dapat dilihat pada Gambar 2. keragaman budaya. ekonomi.2. institusi.yang intinya terkait dengan aspek ekologi. khususnya bagi individu nelayan. 2003) Keterangan: (1) Bagian 1: culture-ecology interface: didefinisikan bahwa pembangunan merupakan fungsi yang terintegratif dari nilai-nilai budaya yang menyatu terhadap ekosistem. komitmen untuk menjaga keseimbangan politicalcultural dan eco-tourism. Dinilai positif jika indikator-indikator tersebut menguntungkan. demikian juga refleksinya terhadap politik. petani. (2) Bagian 2: culture-economy interface: menggambarkan fungsi tujuan di dalam termin nilai-nilai non market dan keputusan untuk menjaga konservasi lingkungan untuk tujuan budaya. Untuk mengukur pengembangan suatu wilayah. Nilai-nilai kultural ekonomi lebih tinggi. dan budaya. dan ekosistem kesehatan sebagai indikator kualitas lingkungan. maka beberapa indikator dapat digunakan sebagai penakar positif tidaknya dampak suatu program pembangunan wilayah. Indikator dari pembangunan berkelanjutan diukur dari cadangan konservasi alam dan ekonomi capital yang ditunjukkan oleh produksi (keinginan) flow of environmental dan ekonomi yang baik serta pelayanan untuk generasi saat ini dan yang akan datang. Dinilai negatif 22 . Misalnya kesuburan tanah. dan struktur hukum.2.

Sebagaimana yang diuraikan oleh Serageldin (1994). Realistis. dan pengembangan kelembagaan (institutional development). perencanaan pembangunan dapat berhasil dengan baik antara lain ditentukan oleh beberapa hal seperti: (1) (2) Dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. maupun pengembangan lahan untuk kawasan persawahan. keeratan sosial (social cohesion). dan ekologi. tujuan sosialnya kesamarataan dan pengurangan kemiskinan. pada dasarnya indikator-indikator umum keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu program pengembangan wilayah dapat dinilai secara ekonomi. dan isu global. bahwa tujuan ekonomi dari pembangunan yang lestari lingkungan adalah: pertumbuhan (growth). Menurut Serageldin (1994) juga bahwa seorang ekonom akan melihat pembangunan yang lestari lingkungan itu agak berbeda. daya dukung (carrying capacity). identitas budaya (cultural identity). serta tujuan ekologinya adalah: keterpaduan ekosistem (ecosystem integrity). kesamarataan (equity). sosial. tujuan sosialnya adalah: pemberdayaan (empowerment). Menurut Idrus et al.jika dampaknya merugikan unsur-unsur terkait tersebut. Di beberapa negara. Contoh-contoh lain tentu saja masih sangat banyak. Baru sekitar 20 tahun kemudian disadari orang bahwa freon ternyata dapat memecahkan lapisan ozon yang menyelimuti bola bumi dari sinar ultra violet. sedangkan tujuan ekologinya adalah pengelolaan sumberdaya alam. sesuai dengan kemampuan sumberdaya alam dan dana. mobilitas sosial (social mobility). partisipasi (participation). antara lain hilangnya keragamanan hayati karena kegiatan pengembangan wilayah yang tidak didahului studi AMDAL terlebih dahulu. Dengan demikian. keanekaragaman hayati (biodiversity). keberhasilan perencanaan pembangunan sangat tergantung pada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya. baik dalam bentuk reklamasi lahan untuk kegiatan industri dan pemukiman. Contoh kasus adalah penemuan senyawa freon yang dapat digunakan sebagai refrigeran (bahan pendingin) dalam mesin-mesin pembeku dan sebagai bahan penekan pada alat pembentuk aerosol. positif dan negatifnya suatu dampak pengembangan wilayah belum dapat dilihat dalam jangka waktu yang pendek. Kadang kala. dan efisiensi (efficiency). (1999). yaitu tujuan ekonominya adalah: pertumbuhan dan efisiensi. 23 .

pengelolaan suatu kawasan secara berkelanjutan mencakup 3 aspek. memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). Transparan dan dapat diterima oleh masyarakat. serta pemanfaatan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai. stabilitas siklus hidrologi. tidak terjadi eksploitasi berlebih terhadap sumberdaya dapat diperbaharui (renewable resources). yaitu aspek ekonomi. maka perubahan haruslah bergerak ke arah posistif. siklus biogeo- 24 . Sistem pemantauan dan pengawasan yang terus menerus. untuk kesamarataan haruslah semakin baik/banyak. Tentu saja untuk unsur-unsur yang bersifat positif. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer.(3) (4) (5) (6) (7) Kestabilan politik dan keamanan dalam negeri. 2. Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). Sebagai contoh. ekologi. dan sebaliknya untuk unsur-unsur yang bersifat negatif maka perubahan haruslah bergerak ke arah negatif.2. tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. Koordinasi yang baik. Suatu kawasan pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis). maka perlu ditentukan berbagai perubahan dari komponen-komponen tersebut. sekunder. dan sosial. Top down dan bottom up planning. atau tersier.2 Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu Menurut Dahuri (2003). Untuk melihat apakah tujuan-tujuan tersebut tercapai atau tidak dalam suatu kegiatan pembangunan. tetapi untuk kemiskinan semakin sedikit. pembangunan secara ekologis dianggap Sedangkan suatu kawasan (an ecologically berkelanjutan sustainable area/ecosystem) manakala berbasis (ketersediaan stok) sumberdaya alamnya dapat dipelihara secara stabil.

suatu kawasan pembangunan dianggap berkelanjutan secara sosial (a socially sustainable area/ecosystem). guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Sementara itu. terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. IPCC 1994). perumahan. kesehatan. Berbagai konsep pengelolaan terpadu telah dikemukakan oleh berbagai kalangan dan para ahli. menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan. dengan cara melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) tentang kawasan pesisir beserta sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya. Konsep yang secara umum berarti “pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang terdapat di kawasan pesisir. dan kondisi iklim. sandang. apabila kebutuhan dasar (pangan. ada kesetaraan gender (gender equity). Tahun 1978. dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya. sebuah monumen legislasi yang memberi semangat negara bagiannegara bagian lainnya di kawasan pesisir untuk melakukan hal yang sama. Chua (2006) menyatakan bahwa upaya pengelolaan pesisir terpadu dimulai tahun 1965 dengan pembentukan Komisi Pengembangan dan Konservasi Teluk San Francisco (San Francisco Bay Conservation and Development Commission). Amerika Serikat mengeluarkan Undang-undang Pengelolaan Pesisir Terpadu. Tahun 1972. Konferensi Wilayah Pesisir diselenggarakan untuk pertama kalinya di San Francisco. 25 . dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. Lebih jelas Chua (2006) menyebutkan bahwa tujuan dari konsep pengelolaan pesisir terpadu adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pesisir dalam bentuk kemampuan suatu kawasan untuk pemanfaatan sumberdaya pesisirnya yang berkelanjutan serta dapat memberikan jasa yang dihasilkan dari ekosistem di kawasan tersebut. terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. Proses pengelolaan ini dilaksanakan secara kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada (Sorensen dan McCreary 1990.kimia.

pendekatan sektoral terhadap pengelolaa lingkungan. Kemudian WB melakukan pengumpulan informasi. Setelah itu. dan konferensi. dan keterkaitan ekologis (Dahuri et al. Antara lain dimulai dengan upaya untuk mempengaruhi formulasi politik tingkat tertinggi melalui berbagai aktivitas masyarakat seperti program bersih pantai yang dimotori oleh kelompok-kelompok advokasi lingkungan. Hasil dari aktivitas ini adalah dukungan WB terhadap pelaksanaan Agenda 21 di Rio de Janeiro. Menurut Ellsworth et al. maka Scialabba (1998) mengembangkan 26 . sumberdaya. lokakarya. 1996). Bank Dunia (World Bank= WB) secara formal mendukung program Integrated Coastal Zone Management (ICZM) yang terbentuk atas kreasi Tim Biru (sekelompok ahli lingkungan di Departemen Lingkungan WB). bidang ilmu. Target utama dari dukungan ini adalah untuk: 1) mengintervensi pelatihan dan kreasi kesadaran lingkungan. konsep pengelolaan wilayah pesisir terpadu ini sudah dilaksanakan cukup lama.Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir yang melibatkan dua atau lebih ekosistem. Konsep pengelolaan wilayah pesisir terpadu ini sudah menjadi kebijakan global yang didukung oleh lembaga keuangan internasional. Di Kanada sejak tahun 1960-an telah terjadi perubahan paradigma pembangunan dimana keterlibatan masyarakat lebih banyak dari sebelumnya. dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu (integrated) guna mencapai pembangunan wilayah pesisir secara berkelajutan. dalam bentuk sponsor pada kegiatan seminar. Timur Tengah. dan mensosialisasikan konsep ICZM dikalangan staf dan para nasabahnya tentang apa bedanya dengan konsep tradisional. menganalisis. (1997). serta dilanjutkan dengan lokakarya pelatihan yang diorganisasikan di berbagai negara di Afrika. Dalam konteks ini. dan dukungan WB yang tersedia dan paling efektif dalam mempromosikan ICZM. sebagaimana dinyatakan oleh Hatziolos (1997) bahwa tahun 1993. dan 3) partnership. Asia. Berdasarkan pada perbandingan di antara konsep ICZM dengan implementasinya serta konsep ICAM (Integrated Coastal Area Management) dan implementasinya. keterpaduan (integration) mengandung tiga dimensi. aktivitas dengar pendapat menjadi sering dilakukan pada saat suatu program pembangunan akan dibuat. yaitu dimensi sektoral. 2) penanaman modal. dan Karibia.

suatu kesepakatan untuk membuat Panduan ICM, sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.1. Panduan ini memperkuat konsensus tersebut tetapi juga mengakui bahwa keterpaduan vertika dan horizontal tidak akan berhasil tanpa pembangunan kapasitas individu sektor untuk mengakomodasi dampak trans-sektoral. Menurut Chua (2006), di Indonesia terdapat satu ekosistem besar kelautan (large marine ecosystem, LME), yang meliputi luas area sebesar 400.000 km2, kedalaman rata-rata 2.935 m dan kedalaman maksimal di atas 6.500 m (Palung Jawa, serta produktivitas primernya antara 150-300 gC/cm2/tahun). Pada LME ini terdapat 500 spesies koral pembangun terumbu, 2.500 spesies ikan, 47 spesies mangrove, dan 13 spesies rumput laut. Tingginya aktivitas ekonomi di LME ini ditunjukkan dengan isu yang berkembang, yaitu kegiatan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, modifikasi habitat dan pemukiman, serta eksploitasi sumberdaya hayati yang tidak berkelanjutan. Hubungan antara komponen-komponen dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan menurut Hatziolos (1997) dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Aspek Ekonomi
o o Pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth) Efisiensi modal (capital efficiency)

Aspek Sosial:
o o o o Kesamaan hak (Equity) Mobilitas sosial (Social mobility) Partisapasi (Participation) Pemberdayaan (Empowerment) o o o

Aspek Ekologi
Keterpaduan ekosistem (Ecosystem integrity) Keragaman sumberdaya alam (Natural resources biodiversity) Kapasitas daya dukung lingkungan (Carrying capacity

Gambar 2.3. Hubungan antara berbagai komponen dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan (Hatziolos 1997)

27

Tabel 2.1 Tujuan ICM

Kumpulan konsensus dari panduan ICM

Untuk memandu kegiatan pembangunan di wilayah pesisi yang secara ekologis berkelanjutan Prinsip ICM didasarkan pada prinsip-prinsip Pertemuan Puncak Rio de Janeiro dengan tekanan khusus pada prinsip kesamaan antar generasi, prinsip tindakan pencegahan, dan prinsip denda bagi pencemar. ICM secara alami adalah holistik dan interdisiplin, khususnya yang beraitan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan Fungsi ICM memperkuat dan mengharmoniskan sektor-sektor yang terkait dalam pengelolaan kawasan pesisir. ICM memelihara dan melindungi biodiversiti dan produktivitas ekosistem pesisir serta mempertahankan nilai-nilai keaslian/indigenous (amenity values). ICM mempromosikan pembangunan ekonomi rasional dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan secara berkelanjutan serta memfasilitasi resolusi konflik yang terjadi di kawasan pesisir Keterpaduan Suatu program ICM mencakup seluruh wilayah hulu dan hilir, Spatial dimana pemanfaatannya akan menghasilkan dampak pada sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir serta ke perairan yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak sampai ke wilayah daratan di kawasan pesisir tersebut. Program ICM juga mencakup seluruh wilayah perairan yang berada di dalam zona ekonomi ekslusif, dimana pemerintah pusat memiliki tanggungjawab untuk mengurus dibawah kewenangan Konvensi Hukum Laut {(the Law of the Sea Convention dan the United Nations Conference on Environment and Development (UNCED)}. Keterpaduan Upaya penanggulangan fragmentasi sektoral dan antar pemerintahan yang terjadi sekarang ini dalam pengelolaan Horizontal wilayah pesisirmerupakan tujuan utama dari ICM. Mekanisme dan vertical kelembagaan untuk mencapai koordinasi yang efektif diantara berbagai sektor yang aktif di wilayah pesisir serta diantara berbagai tingkatan pemerintahan di wilayah pesisir adalah merupakan dasar terhadap penguatan dan rasionalisasi proses pengelolaan pesisir. Dari berbagai opsi/pilihan yang tersedia, mekanisme koordinasi dan harmonisasi harus dibuat agar sesuai dengan kekhususan setiap pemerintahan. Penggunaan Dengan adanya kondisi yang komplek dan ketidakpastian yang terdapat di kawasan pesisir, maka ICM harus dibangun ilmu pengetahuan berdasarkan pengetahuan (alam dan sosial) yang tersedia. Teknikteknik seperti prakiraan resiko, valuasi ekonomi, prakiraan kerentanan, akuntansi sumberdaya, benefit-cost analysis, dan monitoring berdasarkan outcome harus dibangun ke dalam proses ICM seperlunya. Source: Cicin-Sain, Knecht and Fisk (1995) dalam Scialabba (1998).

28

Salah satu bentuk dukungan WB untuk program ICZM di Indonesia adalah terselenggaranya program COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and

Management Project), yang dilaksanakan dibawah koordinasi LON-LIPI. Tujuan dari pelaksanaan proyek ini adalah memandu pendekatan berbasis masyarakat terhadap perlindungan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu untuk menciptakan keuntungan dari pemanfaatan yang berkelanjutan. Proyek ini juga bertujuan untuk penguatan kebijakan dan kapasitas kelembagaan pada tingkat nasional dalam menolong pengimplementasian konsep ICZM di tingkat lokal
(Hatziolos 1997). Dari pengalaman Bank Dunia menunjukkan bahwa inisiatif

pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan supaya berkelanjutan maka negaranegara yang menerapkan program tersebut haruslah melakukan beberapa hal berikut: (1) Keterpaduan dengan perencanaan pembangunan yang lebih besar, baik pada tingkat nasional maupun regional; (2) Mempunyai dukungan kelembagaan, peraturan perundang-undangan, dan keuangan serta terhubung dengan sektor swasta; (3) (4) Mempunyai dukungan dari mayoritas komunitas lokal; Melaksanakan program pemantauan dan evaluasi (monitoring dan evaluation); (5) Melakukan koordinasi yang efektif diantara stakeholders.

Sebagai kesimpulan, Hatziolos (1997) menyatakan bahwa implementasi konsep ICZM harus didukung oleh aspek kelembagaan yang baik, penguatan aspek legal dan kerangka peraturan perundang-undangan, penciptaan kesempatan investasi, penyediaan fasilitas akses pada informasi, evaluasi dampak, dan bagi-bagi pengalaman pembelajaran. Cicin-Sain dan Knecht (1998) menjelaskan bahwa pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu bertujuan untuk mewujudkan pembangunan wilayah pesisir dan laut yang berkelanjutan, mengurangi kerusakan daerah pantai dan kerusakan sumberdaya alam lainnya serta juga mengelolaan proses-proses ekologi, sistem kehidupan pendukungnya dan kelimpahan biota di daerah pesisir dan laut.

29

Menurut Pickave et al. (2004), ICZM secara umum dikenal sebagai perangkat yang paling efektif untuk menggabungkan suatu upaya konservasi dengan pemanfaatan berkelanjutan suatu sumberdaya pesisir dan lautan dalam suatu perencanaan wilayah pesisir. Sejak tahun 1996, negara-negara Eropa telah mengembangkan berbagai program pengelolaan wilayah pesisir yang bertujuan untuk mencapai suatu pengembangan berkelanjutan di seluruh pesisir Eropa. Tiga direktorat jenderal (Direktorat Jenderal Lingkungan, Direktorat Jenderal Pengembangan Wilayah, dan Direktorat Jenderal Perikanan) telah bekerjasama dalam suatu proyek yang bertujuan untuk menguji model kerjasama pengelolaan wilayah pesisir terpadu dan untuk menstimulasi suatu diskusi terbuka diantara berbagai stakeholders yang terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan wilayah pesisir. Hasil dari proyek ini akan dijadikan bahan bagi lembaga-lembaga di lingkungan Uni Eropa untuk berdialog dengan para stakeholders. Dari program ini kemudian diproduksi dua dokumen penting ICZM, yang pertama adalah strategi Eropa tentang implementasi ICZM di seluruh negara-negara pantai Eropa; dokumen kedua adalah Rekomendasi Pengelolaan Kawasan Pesisir, yang sekarang telah diadopsi dan diimplementasikan dan didasarkan pada tiga prinsip penting, yaitu pendekatan ekosistem, prinsip kehati-hatian, dan pengelolaan adaptif. Kewajiban lanjutan bagi setiap negara tersebut adalah melakukan inventarisasi sumberdaya alamnya serta menganalisis siapa pelaku utama dari pengelolaan wilayah pesisir di negaranya serta aspek hukum dan kelembagaan yang mempengaruhinya. Berdasarkan kegiatan kerjasama pengelolaan pesisir terpadu tersebut maka penyusunan strategi pembangunan nasional untuk mengimplementasikan ICZM. Salah satu strategi yang harus dimasukan adalah sistem yang memadai untuk mengumpulkan dan menyediakan informasi dalam format yang sesuai dan kompatibel bagi seluruh tingkatan para pembuat keputusan, mulai dari tingkat pusat (nasional), regional, dan lokal. Untuk tingkat Eropa, pertemuan baru

diselenggarakan pada bulan Oktober 2002 di Brussel, dimana ditentukan sebuah kelompok kerja yang mengurusi masalah data dan indikator (WG-ID = Working Group Data and Indicator).

30

Di Indonesia, sebagaimana juga dengan di Eropa, keterpaduan pengelolaan suatu sumberdaya alam saat ini sedang digiatkan oleh Pemerintah Indonesia sejak disyahkannya Konvensi Hukum Laut 1982 dan diratifikasi dengan UU No 17/1985, meskipun UU ini baru berlaku sejak tanggal 16 November 1994. Tahun 1993, untuk pertama kalinya masalah pembangunan sumberdaya kelautan dicantumkan secara resmi dalam GBHN 1993 dalam BAB IV. F. Ekonomi. 13.e yang mengamanahkan supaya “organisasi dan kelembagaan kelautan perlu dikembangkan agar makin terwujud sistem pengelolaan yang terpadu secara efektif dan efisien sehingga mampu memberikan pelayanan dan dorongan berbagai kegiatan ekonomi disektor kelautan” (Djalal 2000). Hal ini didasarkan pada pengalaman bahwa selama ini pelaksanaan kegiatan pembangunan dinilai banyak pihak berlangsung tidak sehat dan telah menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan, serta dampaknya bagi peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tidak signifikan. Dalam pengelolaan pesisir dan lautan secara terpadu, terdapat 3 (tiga) derajat keterlibatan stakeholder yang saat ini diterapkan di lapangan, sebagaimana dikemukakan oleh Pomeroy et al. (2004). Ketiga derajat dan nama untuk Comanagement, yaitu”consultative co-management”, “collaborative or cooperative co-management”, and “delegated co-management”. Pomeroy et al. (2004) juga mengutip Pomeroy dan Berkes (1997) serta Berkes et al. (2001) yang membedakan derajat peran dalam co-management di antara pemerintah dan komunitas sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.4. Tabel 2.2 Derajat dan nama istilah dalam co-management
Consultative Government has the most control co-management Government interacts often but makes all decisions Collaborative co-management Government and the stakeholders work closely and share decisions Delegated co-management Government lets formally organised users/stakeholders make decisions People have most control

Sumber: Pomeroy dan Berkes (1997); Berkes et al. (2001) dikutip oleh Pomeroy et al. (2004)}.

31

Government-based management

Government centralised management

Community-based management Co-management Community self-governance and self-management Informing Consultation Cooperation Communication Information exchange Advisory role Joint action Partnership Community control Inter-area coordination

Gambar 2.4. Derajat interaksi diantara pemerintah dan komunitas dalam comanagement {Pomeroy dan Berkes (1997); Berkes et al (2001) dikutip oleh Pomeroy et al. (2004)} Aspek positif dari suatu CBM menurut Carter (1996) adalah: (1) Mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam; (2) Mampu merefleksikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik; (3) (4) Mampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis; Responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal; (5) Mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada; (6) (7) Mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen; serta Masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.

32

Sebagai kesimpulan, Hatziolos (1997) menyatakan bahwa implementasi konsep ICZM harus didukung oleh aspek kelembagaan yang baik, penguatan aspek legal dan kerangka peraturan perundang-undangan, penciptaan kesempatan investasi, penyediaan fasilitas akses pada informasi, evaluasi dampak, dan bagibagi pengalaman pembelajaran. Dalam implementasi ICZM, pelaksanaan program tidak selalu berjalan mulus. Tingkat keberhasilannya tergantung pada seberapa besar integrasi setiap komponen stakeholders dan fasilitas yang tersedia. Konflik yang sering terjadi diantara para stakeholders disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) perencanaan tidak disosialisasikan ke semua stakeholder, sehingga tidak semua aspirasi yang berkembang di mayarakat dapat diakomodasi; (2) pembagian peran dalam pelaksanaan program tidak sesuai dengan hasil kesepakatan saat perencanaan; (3) adanya intervensi pihak luar untuk mengatur pelaksanaan implementasi program, dengan berbagai tekanan yang hanya diketahui oleh beberapa orang tertentu; serta (4) sumberdaya manusia dan perangkat sosial yang ada belum memadai. Pengalaman Thailand dalam pelaksanaan ICZM menunjukkan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam implementasi ICZM diperlukan partisipasi lima sektor, yaitu: komunitas lokal, kewenangan pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, para ilmuwan, dan investor (Sudara 1999). LSM harus memegang peranan penting dalam penyediaan kesempatan bagi seluruh sektor untuk berkomunikasi. Setiap sektor harus mempunyai kesempatan untuk

mengemukakan pendapatnya dan bertukar fikiran dengan sektor lainnya. Setiap keputusan yang akan diambil berkaitan dengan kawasan pesisir dimana mereka telibat didalamnya harus diambil berdasarkan keinginan bersama. Peran para ilmuwan dan akademisi dalam hal ini adalah manakala semua permasalahan dan kepentingan sudah dapat diidentifikasi, maka kemudian dengan keahlian mereka dilakukan formulasi perencanaan pengelolaan wilayah pesisir. Perencanaan

tersebut harus mencakup semua kepentingan setiap sektor yang telah dikemukakan sebagaimana juga dengan ukuran mitigasi untuk implementasinya. Penerapan sistem co-management harus menghasilkan kepuasan bersama dan keberlanjutan pengelolaan.

33

Burak et al. (2004) memberi contoh tentang implementasi konsep ICZM di Turki yang mengalami keterlambatan karena kegagalan politis dan kelembagaan yang berkaitan dengan implementasi dari keputusan yang rasional tentang pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan. Lebih dari 20 peraturan

perundang-undangan telah diterapkan dan menghasilkan lebih dari 15 lembaga, yang meghasilkan berbagai keputusan yang bias karena adanya kemajemukan dan terpecah-belahnya suara saat proses pengambilan keputusan. Terjadinya konflik sebagai akibat pengembangan ekonomi di wilayah pesisir juga terjadi di Turki dan memicu terjadinya degradasi sumberdaya alam. Berbagai program yang telah dikembangan dan menjadi penyebab terjadinya degradasi lingkungan adalah ekoturisme dan berbagai proyek rumah peristirahatan di kawasan pesisir, pengembangan marikultur, preservasi dan konservasi sumberdaya alam, urbanisasi, pengembangan industri, navigasi, dan transportasi sejak tahun 1980-an (Tuba 2002 dalam Burak et al. 2004). Salah satu contoh implementasi ICZM yang paling berhasil di Kawasan Asia Tenggara adalah dalam bidang wisata bahari. Menurut Wong (1998),

berdasarkan distribusinya, maka wisata bahari di Kawasan Asia Tenggara didominasi oleh Indonesia dan Philippina karena kekayaan pulau dan garis pantainya. Kelompok wisata bahari tersebut terdiri dari wisata bahari yang

berstatus merintis (pioneer), sudah bangkit, dan sudah mapan. Wisata bahari yang berstatus mapan diantaranya Bali, Penang, Phataya dan Phuket. Berstatus bangkit diantaranya Lombok di Indonesia; Rayong, Hua Hin dan Ko Samui di Thailand; Langkawi, Kuantan, Tioman dan Kota Kinabalu di Malaysia; dan Cebu di Philipina. Sedanglan yang berstatus merintis antara lain Biak, Manado, Ujung Pandang, Flores, Kepulauan Seribu, Lampung, Bintan, Bangka Belitung, dan Nias di Indonesia; Pangkhot di Malaysia; Krabi di Thailand; serta Boracai, Palaman, dan Samal di Philipina. Di Indonesia, setelah terjadinya bencana tsunami di Wilayah Aceh dan Nias tahun 2004, semakin terasa betapa konsep ICZM itu belum dipahami secara merata di seluruh daerah dan perlu segera diimplementasikan. Kejadian bencana tsunami tersebut masih mungkin terulang kembali di daerah pesisir wilayah Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan semua komponen yang terkait

34

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 151 Tahun 1975 tentang Perubahan Batas Wilayah DKI Jakarta. dan sejarah) dicantumkan dalam Gambar 2. gagasan awal.2.3 Pengelolaan wilayah Jakarta dan sekitarnya secara terpadu Sebagai Daerah Khusus Ibukota. Hal ini dibuktikan dengan dibuatnya Rencana Induk DKI Jakarta tahun 1965-1985. 35 . flowchart yang menguraikan kejadian terbentuknya Badan Kerja Sama Pembangunan JABODETABEKJUR (meliputi latar belakang. Jakarta seharusnya menjadi contoh dalam upaya meningkatkan keserasian dan keterpaduan pembangunan serta pemecahan masalah bersama di wilayah JABOTABEK.5. Dalam Rencana Induk DKI Jakarta tahun 1965-1985. salah satu pasalnya menyebutkan bahwa pengembangan pembangunan yang ada di wilayah DKI Jakarta juga diarahkan ke wilayah BOTABEK dan perlunya kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. maka Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1974. Secara rinci. 2. Upaya kearah keterpaduan pelaksanaan pembangunan di wilayah DKI Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya telah mulai dilakukan secara sungguh-sungguh oleh Pemerintah DKI Jakarta. Penyelesaian lebih lanjut dan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1974 ini diselesaikan oleh Tim Pelaksana Penetapan Batas-batas Wilayah DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat yang dibentuk dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 151 Tahun 1975 (Anonimous 2006a). sehingga kerugian yang diderita dapat diantisipasi seminimal mungkin.(stakeholders) dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan harus sudah siap dan sigap untuk menghadapinya. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut mengatur tentang 16 Desa dari Provinsi Jawa Barat masuk menjadi wilayah Provinsi DKI Jakarta dan 1 Kelurahan yaitu Kelurahan Benda masuk ke wilayah Kota Tangerang. jo. Untuk mendukung kelancaran dilakukannya integrasi pelaksanaan pembangunan di wilayah BOTABEK.

36 .

dibantu Kelompok Pembantu Pimpinan dan Sekretariat Badan yang dipimpin oleh seorang Sekretaris. maka dengan Keputusan Bersama Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat No.Pem.Mengingat kerjasama antara Provinsi DKI Jakarta dengan Jawa Barat dianggap telah mendesak untuk dilaksanakan. Status Badan yang dibentuk oleh Keputusan Bersama ditingkatkan dengan Peraturan Bersama Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1990 dan 2 Tahun 1990 tentang Perubahan Pertama Peraturan Bersama Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dan DKI Jakarta Nomor 1/DP/040/PD/76 dan 3 Tahun 1976 yang disyahkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 1991 tertanggal 13 Nopember 1991. Untuk melaksanakan kerjasama dimaksud maka keluarlah Keputusan Bersama Gubernur Jawa Barat dan Gubernur DKI Jakarta No.6 (Anonimous 2006a).IV-320/d/II/76 dan 197. pelaksanaan dan pengendalian pembangunan atas dasar hal wewenang dan kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat I dan Pemerintah Daerah Tingkat II serta urusan yang tumbuh dan berkembang di JABOTABEK.121/SK/76 tentang Kerjasama Dalam Rangka Pembangunan Jakarta. Tugas pokoknya mengkoordinasikan perencanaan. 6375/A-1/1975 dan 2450/A/K/BKD/75 dibentuk Badan Persiapan Daerah untuk Pengembangan Metropolitan JABOTABEK. 1/DP/040/PD/76 dan 3 Tahun 1976 tentang Pembentukan Badan Kerjasama Pembangunan JABOTABEK dan Peraturan Bersama Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta Nomor D. Bogor. telah ditetapkan Organisasi dan Tata Kerja Badan Kerjasama Pembangunan JABOTABEK. yang disyahkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 107 Tahun 1994. 37 . Selanjutnya dalam rangka meningkatkan status kelembagaan dan memberikan eselonering untuk menjamin pengembangan karier bagi pejabat dan staf yang ada di dalamnya. sebagaimana tercantum dalam Gambar 2. 10/34/16282 tanggal 26 Agustus 1976 (Anonimous 2006a). dengan Peraturan Bersama Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dan DKI Jakarta Nomor 8 dan 7 Tahun 1994. Tangerang dan Bekasi (JABOTABEK) yang disyahkan dengan Keputusan Mendagri Nomor: Pem. Badan ini diketuai oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

38 .

pada Rapat Kerja Forum Badan Kerjasama Pembangunan JABOTABEK yang diselenggarakan pada tanggal 2 Maret 2000. Pemerintah Kabupaten Bogor. Sekretariat dipimpin oleh Kepala Sekretariat dan diberikan Eselonering IIIA. Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon. dan evaluasi kerjasama pembangunan di wilayah JABOTABEK (Anonimous 2006a). Tugas pokok Sekretariat adalah menyiapkan bahan penyusunan dan penetapan rancangan meliputi koordinasi analisis perencanaan. Pemerintah Kabupaten Bekasi. Setelah ditandatanganinya Kesepakatan Bersama tentang Peningkatan Kerjasama. maka Kotamadya DT II Depok yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dan wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian dalam kerjasama regional ini. dan Pemerintah Kota Depok (Anonimous 2006a). dan Depok tentang Tindak Lanjut dan Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sekretariat BKSP JABOTABEK bersama-sama dengan unsur terkait dari Provinsi dan Kabupaten/Kota yang bekerja sama membahas upaya peningkatan lembaga kerjasama ini. Tangerang. analisis pelaksanaan.Pembentukan organisasi dan tata kerja Badan ini berpedoman kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 1994 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata kerja Badan Kerjasama Pembangunan JABOTABEK. Bekasi. Pemerintah Kabupaten Tangerang. Pemerintah Kota Tangerang. Jawa Barat. analisis evaluasi penyusunan program dan laporan serta memberikan layanan teknis administratif kepada Forum Kerjasama. ditandatangani Kesepakatan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Tugas pokoknya menyusun dan menetapkan rancangan kebijaksanaan koordinasi perencanaan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. pemerintah Kota Bekasi (JABOTABEK). mengingat permasalahan di JABODETABEK 39 . Sekretariat berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Ketua Forum. pelaksanaan. serta Bupati/Walikota Bogor. Selanjutnya dengan terbitnya Undang- undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 87. Pemerintah Kota Bogor.

Walikota Tangerang. Bekasi dan Cianjur (JABODETABEKJUR) di mana dalam rancangan tersebut Badan sebagai wadah kerjasama antar Daerah. Bupati Tangerang. dan Banten. Gubernur Banten.296Pem/2002 tentang Keikutsertaan Pemerintah Daerah dalam Badan Kerjasama Jakarta. Dengan terbentuknya Provinsi Banten berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 dan posisi strategis Kabupaten Cianjur pada kawasan penanganan tata ruang. dan Cianjur . Walikota Bogor. Jawa Barat. Tangerang. Depok. Maka disusun rancangan Keputusan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Depok. Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK). Bupati Bogor. Keikutsertaaan Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam Badan Kerjasama dituangkan dalam Keputusan Bupati Cianjur Nomor 065/Kep. Banten. merupakan lembaga koordinasi yang mewakili kepentingan Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Forum dan disetarakan dengan Eselon II b (Anonimous 2006a). Walikota Depok. konservasi dan penyeimbang pembangunan di daerah Puncak sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Bekasi. dan Cianjur tentang Kerjasama Antar Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.sudah sangat kompleks. Bupati/Walikota Bogor. Bekasi. Gubernur Jawa Barat. Salah satu isinya menegaskan untuk melanjutkan dan meningkatkan kerjasama pembangunan antar daerah di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Maka disepakatilah bahwa Eselonering Sekretariat BKSP JABOTABEK perlu ditingkatkan mengingat Dinas/Instansi yang dikoordinasikan memiliki eselon yang lebih tinggi (Anonimous 2006a). Tangerang. Jawa Barat. serta Kabupaten/Kota Bogor. Banten. Bogor. Tangerang. Bupati Bekasi. Bekasi. Tangerang. Sebagai payung dalam pelaksanaan kerjasama antar Daerah JABODETABEKJUR maka pada tanggal 16 Juni 2005 yang difasilitasi oleh Menteri Dalam Negeri telah ditandatangani Kesepakatan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta. dipandang perlu untuk mengikutsertakan Provinsi Banten dan Kabupaten Cianjur. Walikota Bekasi dan Bupati Cianjur tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Kerjasama Jakarta. serta Kabupaten/Kota Bogor. Depok. Depok. Depok. Bogor. dan Kabupaten Cianjur dengan ruang lingkup kerjasama meliputi bidang penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom yang 40 . Jawa Barat.

Bekasi. dan Banten. hal ini baru dilihat dari aspek rantai makanannya saja. Oleh karena itu. saling mempengaruhi dan saling ketergantungan yang memberi manfaat kepada kesejahteraan masyarakat antara lain mengenai keselarasan. Sebagai contoh. Dengan dasar Kesepakatan Bersama tanggal 16 Juni 2005 tersebut. sangat dipengaruhi kegiatan pengelolaan sumberdaya di daratan dan di kawasan pesisir.saling keterkaitan. kemudian disusun draft Peraturan Bersama tentang peningkatan Badan Kerjasama Pembangunan JABOTABEK (Anonimous 2006a). Ikan menjadi tidak subur. Bekasi. 2. pengelolaan lahan pertanian yang kurang baik di daerah hulu akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan di kawasan pesisir yang menjadi muara daerah aliran sungai yang melalui kawasan pertanian tersebut. keserasian dan keseimbangan di dalam pelaksanaan pembangunan. serta Bupati/Walikota Bogor. yang kemudian ditandatangani pada saat pelaksanaan Rapat Kerja Forum I pada tanggal 14 September 2006 di Hotel Horison Bandung (Anonimous 2006a).3 Pengelolaan Perikanan Terpadu dan Berkelanjutan Kegiatan perikanan laut. yang ditunjukkan oleh penurunan 41 . Jawa Barat. sangat tergantung pada sumberdaya yang terdapat di suatu kawasan pesisir. Aspek lain yang juga sangat dipengaruhi oleh penurunan kualitas air adalah perkembangbiakan ikan menjadi sangat terganggu. Jawa Barat. Tangerang. pengelolaan sumberdaya alam di daratan dan kawasan pesisir tidak hanya mempengaruhi kegiatan perikanan di kawasan laut dangkal saja tetapi juga mempengaruhi kegiatan perikanan lepas pantai (samudera). Depok. dan Bupati Cianjur tentang Pembangunan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. yang dimulai dari rantai makanan tingkat primer (plankton) sampai ke sumberdaya ikan karnivora dengan ukuran yang besar. Depok. Beberapa kali pertemuan dengan Instansi Pusat dan Daerah terkait maka disepakatilah draft akhir yaitu Peraturan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta. serta Kabupaten/Kota Bogor. dimanapun dilaksanakan. Penurunan kualitas perairan ini otomatis akan mempengaruhi kehidupan sumberdaya ikan secara keseluruhan. Tangerang. dan Banten. dan Cianjur. Kegiatan perikanan tangkap yang dilakukan di wilayah laut dangkal (laut teritorial).

Akuakultur pantai juga sangat tergantung pada kawasan pesisir dalam hal kebutuhan ruang dan sumberdaya (FAO 1996). tingkat penetasan telur menurun. Kebanyakan perikanan tangkap berbasiskan pada stok ikan pantai. Pemerintah Meksiko bekerjasama dengan FAO telah mengorganisasikan sebuah konferensi internasional mengenai 42 . Stok ikan juga mengandalkan produktivitas primer di kawasan pesisir sebagai bagian penting dari rantai makanannya. Pada bulan Mei 1992. Rezim Hukum Laut ini memberikan hak dan tanggung jawab kepada negaranegara pantai untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di dalam zona ekonomi eksklusif setiap negara yang meliputi sekitar 90 % dari kegiatan perikanan dunia. Berkembangnya kegiatan perikanan di seluruh dunia yang merupakan dampak dari meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan-proteinnya. Dimulai dengan pertemuan Komite FAO untuk perikanan (COFI) pada bulan Maret 1991.jumlah telur. memberikan suatu panduan baru yang lebih baik bagi pengelolaan sumberdaya laut. Disini FAO telah meminta dikembangkannya suatu konsep perikanan yang bertanggungjawab dan menguraikan sebuah tatalaksana untuk membantu dalam perkembangan penerapannya. yang meliputi aspek konservasi dan lingkungan serta petimbangan aspek sosial ekonomi. serta terjadinya perselisihan diantara beberapa negara yang berkaitan dengan kegiatan perikanan. serta tingkat kelulusa hidup anak ikan pun menjadi sangat terganggu. Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang diselenggarakan tahun 1992. umpamanya di daerah asuhan atau daerah tempat mencari makan. perikanan tangkap lainnya mengusahakan stok ikan lepas pantai yang sebagian fase kehidupannya di perairan pantai. sebagaimana diuraikan secara lengkap dalam Integration of Fisheries into Coastal Area Management (FAO 1996). Kejadian-kejadian seperti ini oleh PBB telah direspon dengan dilakukannya serangkaian konperensi internasional yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan. telah menimbulkan berbagai kondisi tangkap lebih di beberapa kawasan perairan pantai. yang merekomendasikan bahwa sudah mendesak diperlukanya pendekatanpendekatan baru dalam pengelolaan perikanan.

Menurut Dahuri (2003). Praktek Pasca-panen dan Perdagangan. Fakta ini 43 . Konsep keberlanjutan pengelolaan perikanan lebih ditekankan pada pertimbangan bio-ekonomi. Konsultasi teknis FAO mengenai Penangkapan Ikan di Laut Lepas yang dilakukan bulan September 1992 telah merekomendasikan lebih lanjut untuk memperluas draft tatalaksana tersebut sehingga mencakup kegiatan perikanan tangkap di samudera. Artikel pendahuluan ini diikuti oleh sebuah artikel tentang asas umum yang mendahului enam artikel tematik mengenai: Pengelolaan Perikanan. Pelaksanaan. Integrasi Perikanan kedalam Pengelolaan Kawasan Pesisir. pengelolaan perikanan telah dianggap sebagai penjaminan pertanggungan jawab dari eksploitasi sumberdaya yang efisien secara ekonomi dan ekologi (Owens 1994 dalam Kasimis dan Petrou 2000). Perjanjian untuk Memajukan Kepatuhan terhadap Langkah-langkah Pengelolaan dan Konservasi Internasional oleh Kapal Penangkap Ikan di laut lepas. yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. karakteristik geografi Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemnya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai mega-biodiversity terbesar di dunia. Hubungan dengan perangkat internasional lainnya. yaitu: Sifat dan Ruang Lingkup. yang merupakan pusat perhatian dalam Pertemuan Tingkat Tinggi UNCED di Rio de Janeiro Brazilia pada bulan Juni 1992. merupakan bagian integral dari Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab ini (FAO 1996).Penangkapan Ikan yang Bertanggungjawab. Dengan kata lain. Pembangunan Akuakultur. Proses penyusunan Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab terus berlangsung melalui berbagai pertemuan internasional yang dimotori oleh berbagai badan dunia dibawah PBB. dan Pemutakhiran. Operasi Penangkapan Ikan. serta Penelitian Perikanan. Isi dari dokumen Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab tersebut terdiri atas lima artikel pengantar. serta Kebutuhan Khusus Negara Berkembang. CCRF). Sasaran-sasaran. yang berlangsung di Cancun dan menghasilkan Deklarasi Cancun. yang mendukung penyiapan sebuah Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries. Pemantauan.

menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam membangun Bangsa Indonesia.1 Kebijakan pengelolaan perikanan di Indonesia Mengingat luasnya kawasan perairan (potensi perairan tawar sebesar 24. pesisir. 6) Peningkatan peran laut sebagai pemersatu bangsa dan peningkatan budaya bahari bangsa Indonesia. 2.8 juta km2. 165/2000 (Anonimous 2003a). DKP menyusun visi pembangunan kelautan (Anonimous 2007a). Meskipun sejak awal berdirinya Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17. Indonesia sudah sepantasnya memiliki suatu kebijakan pengelolaan perikanan yang baik. tetapi kebijakan pemerintah dari waktu ke waktu belum memprioritaskan sumberdaya perikanan dan kelautan sebagai penggerak pembangunan bangsa. 145/1999. Sedangkan misinya adalah: 2) Peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan. 4) Pemeliharaan dan peningkatan daya dukung serta kualitas lingkungan perairan tawar. Untuk mewujudkan semua harapan tersebut di atas.3. 44 . pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir lainnya.355/M/1999 dalam Kabinet Periode 1999-2004 tentang pembentukan Departemen Eksplorasi Laut (DEL) yang kemudian namanya diubah menjadi Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (DELP) berdasarkan Keppres No. yaitu: "Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang lestari dan bertanggung jawab bagi kesatuan dan kesejahteraan anak bangsa". serta menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melalui Keppres No. 5) Peningkatan kecerdasan dan kesehatan bangsa melalui peningkatan konsumsi ikan. pulau-pulau kecil dan lautan.508 pulau. Dahuri 2003). Atas dasar inilah maka konsep Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab harus segera dilaksanakan di Indonesia sebelum terlambat dan sulit untuk diperbaiki kembali.53 juta ha dan laut sebesar 5. 3) Peningkatan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Hal ini baru direalisasikan melalui Keppres No.

Komponen-komponen tersebut (Anonimous 2007a) adalah : (1) perlu adanya pemantapan regulasi. dan (4) perlu adanya kegiatan penyuluhan dan pendampingan dalam rangka diseminasi teknologi dan informasi. benih. baik dalam bentuk unit usaha terpisah atau terpadu. (2) perlu adanya kejelasan dukungan pembiayaan. (4) perlu ditunjang oleh industri pendukung misalnya galangan kapal. baik pemerintah pusat. Pelaksanaan program revitalisasi akan lebih berdayaguna dan berhasil guna bilamana komponen-komponen utama atau komponen esensial ditunjang oleh komponen-komponen berikut: (1) perlu ada rencana komprehensif serta rencana pengembangan komoditas atau produk di tingkat pusat dan daerah. pakan.2 Pelabuhan perikanan Menurut Kramadibrata (2002). Dalam melaksanakan revitalisasi perikanan. DKP menetapkan beberapa komponen utama yang dipandang sebagai syarat mutlak yang harus dipenuhi sehingga program revitalisasi berdampak positip bagi masyarakat. 45 . yang diselenggarakan tanggal 15 Januari 2007. sehingga bongkar muat dapat dilaksakan untuk menjamin keamanan barang. dan masyarakat. (5) perlu dikembangkan industri pengolahan hasil yang secara terus menerus menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi pelaku ekonomi. (6) perlu dilaksanakan riset secara terus menerus dalam rangka menghasilkan teknologi dan informasi baru bagi peningkatan efisiensi usaha.3. dan (7) perlu pengembangan sumberdaya manusia terutama pada sektor swasta melalui pendidikan dan pelatihan (Anonomous 2007a). 2. pelabuhan adalah tempat berlabuhnya kapalkapal yang diharapkan merupakan suatu tempat yang terlindung dari gangguan laut. daerah. DKP telah membuat beberapa program kerja sebagaimana disampaikan dalam Lokakarya Refleksi Kebijakan Revitalisasi Kelautan dan Perikanan. (3) perlu melibatkan swasta dalam program revitalisasi mengingat bahwa pemerintah memiliki kemampuan yang kapasitas yang terbatas. baik di tingkat daerah. (3) Perlu adanya perencanaan pemasaran dalam rangka menjamin kepastian pasar produk atau komoditas yang dihasilkan. (2) perlu adanya kawasan yang jelas sebagai kawasan basis (contohnya pelabuhan perikanan). swasta.Untuk mencapai misi tersebut. kawasan usaha. serta kawasan pengembangan. dok.

dan sebaliknya. Tipe tempat lain yang dibentuk dan diperuntukan bagi berlabuhnya kapal adalah pelabuhan buatan. definisi pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar berlabuh. Pelabuhan seperti ini disebut pelabuhan alam. yaitu pelabuhan adalah salah satu simpul dari mata rantai bagi kelancaran angkutan muatan laut dan darat. Dalam kaitannya dengan kapal ikan. Dubrocard dan Thoron (1998) menyatakan bahwa suatu pelabuhan dapat digambarkan sebagai suatu tempat dimana berlangsung mekanisme transportasi barang-barang yang berasal dari daratan menjadi barang-barang yang berasal dari laut. yaitu suatu pelabuhan alam yang tidak selalu memiliki fasilitas buatan. sehingga hanya dibutuhkan adanya suatu dermaga (wharf) tempat ditambatkannya suatu perahu. jika ikan yang dibongkar tersebut menambah jumlah ikan yang sudah ada di pelelangan. Kramadibrata (2002) membuat definisi pelabuhan dilihat dari subsistem angkutan. dalam arti pelabuhan buatan. dan/atau bongkar muat ikan yang 46 . terjadinya antrian akan sangat mempengaruhi nilai dari muatannya tersebut. dimana alur masuh dan kolam pelabuhan. dan pemecah gelombang harus dibangun secara penuh. dikhawatirkan akan terjadi penurunan harga karena kelebihan pasokan di pasar. Pelabuhan menawarkan dua macam pelayanan. Istilah port dipadankan dengan pelabuhan. Diantara kedua tipe pelabuhan ini ada juga yang termasuk pelabuhan semi alam.Suatu lokasi di pantai dapat memenuhi persyaratan ini dengan kedalaman air dan besaran kolam yang cukup untuk ukuran tertentu. Pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan didasarkan pada hasil dari pengalaman dalam jangka waktu yang lama. Artinya. terkait dengan proses lelang (Dubrocard dan Thoron 1998). Murdiyanto (2004) membuat padanan untuk istilah harbour dengan bandar. yaitu pelayanan kapalnya dan pelayanan muatannya. Hal ini tidak hanya waktu tunggu yang penting tetapi lebih pada harga ikan yang dapat dicapai saat lelang. Mengacu pada definisi yang tercantum dalam International Maritime Dictionary. Menurut UU No 31/2004 tentang perikanan.

dukungan prasarana wilayah. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). yang mengatur beberapa hal berikut: 1) Rencana induk pelabuhan perikanan secara nasional disusun dengan mempertimbangkan: daya dukung sumberdaya ikan yang tersedia. BUMN maupun perusahaan swasta. 7) Klasifikasi pelabuhan perikanan dibagi ke dalam 4 kelas. 47 . investigation. 8) Setiap pembangunan pelabuhan perikanan wajib terlebih dahulu Lokasi memperoleh persetujuan Menteri Kelautan dan Perikanan. pembangunan pelabuhan perikanan ditetapkan oleh bupati/walikota setempat.16/MEN/2006 tanggal 23 Juni 2006 tentang Pelabuhan Perikanan (DKP 2006). PER. pihak swasta dapat membangun dan mengoperasionalkan pelabuhan perikanan. 2) 3) Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan rencana induk secara nasional. Pemerintah menyelenggarakan dan membina pelabuhan perikanan yang dibangun oleh pemerintah. dan geografis daerah dan kondisi perairan. yakni Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS). rencana umum tata ruang wilayah propinsi/kabupaten/kota. daya dukung sumberdaya manusia. telah dikeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. detail design. dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. 4) Pemerintah. construction. wilayah pengelolaan perikanan (WPP). Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). 31/2004 tentang perikanan tersebut. operation dan maintenance (SIDCOM). Untuk mengatur pelaksanaan UU No. 5) Pembangunan pelabuhan perikanan dilaksanakan melalui pentahapan study. BUMN maupun perusahaan swasta yang akan membangun pelabuhan perikanan wajib mengikuti rencana induk pelabuhan perikanan secara nasional dan peraturan pelaksanaannya. 6) Selain pemerintah.

c. dan groin. dan alur pelayaran.. (4) pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan seperti dock/slipway. b. seperti mess operator. es. Fasilitas pokok. dan pos pelayanan terpadu. serta (8) pengolahan limbah seperti instalasi pengolah air limbah (IPAL). (7) transportasi seperti alat-alat angkut ikan dan es. (6) perkantoran seperti kantor administrasi pelabuhan. (4) penghubung seperti jalan. revetment. pos jaga. seperti tempat peribadatan. (3) suplai air bersih. (2) pengelolaan pelabuhan. serta (5) penyelenggaraan tugas pemerintahan seperti keselamatan 48 . dan menara pengawas. rambu-rambu.9) Pengelolaan pelabuhan perikanan dipimpin oleh seorang Kepala Pelabuhan. internet. dan (5) lahan pelabuhan perikanan. Fasilitas penunjang. gorong-gorong. SSB. (4) kios IPTEK. lampu suar. (5) penanganan dan pengolahan hasil perikanan seperti transit sheed dan laboratorium pembinaan mutu. Kepala Pelabuhan Perikanan bertindak sebagai koordinator tunggal dalam penyelenggaraan pelabuhan perikanan. (2) navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telepon. yang terdiri dari: (1) tempat pelelangan ikan sebagai tempat pemasaran hasil perikanan. (3) sosial dan umum. yaitu fasilitas dasar yang diperlukan dalam kegiatan di suatu pelabuhan yang berfungsi untuk menjamin keamanan dan kelancaran kapal baik sewaktu berlayar ke luar masuk pelabuhan maupun sewaktu berlabuh di pelabuhan. yaitu fasilitas yang berfungsi untuk meningkatkan nilai guna dari fasilitas pokok sehingga dapat menunjang aktivitas di pelabuhan. adalah fasilitas yang secara tidak langsung meningkatkan peranan pelabuhan. drainase. yaitu: (1) pembinaan nelayan. listrik. bengkel dan tempat perbaikan jaring. 10) Fasilitas-fasilitas yang ada di pelabuhan perikanan: a. Fasilitas fungsional. seperti balai pertemuan nelayan. jembatan. Fasilitas pokok meliputi: (1) pelindung seperti breakwater. (2) tempat tambat seperti dermaga dan jetty. (3) perairan seperti kolam. dan MCK.

yang meliputi: (1) jalan (alur) masuk pelabuhan dengan kedalaman air yang cukup. dimana pelabuhan perikanan merupakan suatu tempat (terjadinya) kontak bagi nelayan dan/atau pemilik kapal. Dari pendekatan aktivitas. 3) Fungsi pemasaran. keimigrasian. dimana pelabuhan perikanan merupakan suatu tempat awal untuk mempersiapkan pemasaran produksi perikanan dengan melakukan transaksi pelelangan ikam. dimana pelabuhan perikanan memberikan jasa-jasa pelabuhan mulai dari ikan didaratkan sampai ikan didistribusikan. yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. (3) kedalaman dan luas kolam air yang cukup serta terlindung dari gelombang dan arus yang kuat untuk keperluan kegiatan kapal di dalam pelabuhan. pelabuhan niaga). fungsi pelabuhan adalah: 1) Fungsi maritim. bea dan cukai. 3) Fungsi jasa. dalam hal ini pelabuhan perikanan lebih ditekankan sebagai (tempat) pemusatan sarana dan kegiatan pendaratan dan pembongkaran hasil tangkapan di laut. antara laut dan daratan melalui penyediaan kolam pelabuhan dan dermaga. kesehatan masyarakat. yakni ditinjau dari pendekatan kepentingan dan pendekatan aktivitas. Fungsi umum merupakan fungsi yang juga dimiliki oleh tipe pelabuhan yang lainnya (pelabuhan umum. dimana pelabuhan perikanan berfungsi sebagai tempat untuk menciptakan mekanisme pasar yang menguntungkan atau mendapatka harga yang layak bagi nelayan maupun pedagang. Berdasarkan pendekatan aktivitas. Murdiyanto (2004) membagi fungsi pelabuhan menjadi 2. fungsi pelabuhan perikanan dapat dikelompokan menjadi dua. dan karantina ikan. 2) Fungsi pemasaran. dimana pelabuhan perikanan sebagai tempat membina peningkatan mutu serta pengendalian mutu ikan dalam menghindari kerugian pasca tangkap. Berbeda dengan Lubis (2002). (4) bantuan peralatan navigasi baik visual maupun elektronis 49 . (2) pintu atau gerbang pelabuhan dan saluran navigasi yang cukup aman dan dalam. fungsi pelabuhan menurut Lubis (2202) adalah: 1) Fungsi pendaratan dan pembongkaran. K3.pelayaran. 2) Fungsi pengolahan. Menurut Lubis (2002). pengawas perikanan.

(6) dermaga yang cukup panjang dan luasnya untuk melayani kapal yang berlabuh. Sifat ini menhendaki pelayanan khusus berupa perlakuan penanganan. Fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi fungsi khusus pelabuhan perikanan ini adalah: (1) fasilitas pelelangan ikan yang cukup luas dan dekat dengan tempat pendaratan. 50 . Murdiyanto (2004) menjelaskan bahwa klasifikasi pelabuhan didasarkan pada cakupan peruntukannya. air minum. pengemasan. pendistribusian hasil ikan secara cepat ataupun pengolahan yang tepat. PPS) diperuntukan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan samudera yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan perikanan jarak jauh sampai ke perairan ZEEI dan perairan internasional. Fungsi khusus dari pelabuhan perikanan menurut Murdiyanto (2004) diturunkan dari karakteristik komoditas perikanan yang sifatnya mudah busuk (highly perishable). (11) halaman tempat parkir yang cukup luas untuk kendaraan industri atau perorangan di dalam pelabuhan sehingga arus lalulintas di kompleks pelabuhan dapat berjalan dengan lancar. dan (4) fasilitas penyediaan sarana produksi penangkapan ikan. (12) fasilitas perbaikan. (5) bila dipandang perlu. reparasi dan pemeliharaan kapal seperti dok dan perbengkelan umum untuk melayani permintaan sewaktu-waktu. dapat mendirikan bangunan penahan gelombang (breakwater) untuk mengurangi pengaruh atau memperkecil gelombang dan angin badai di jalan masuk dan fasilitas pelabuhan lainnya. sanitasi dan kebersihan. dan sistem pemadam kebakaran. dan cold storage. yakni: 1) Pelabuhan Perikanan Tipe A (atau Pelabuhan Perikanan Samudera. (8) bangunan rumah dan perkantoran yang perlu untuk kelancaran dan pendayagunaan operasional pelabuhan. (9) area di bagian laut dan darat untuk perluasan atau pengembangan pelabuhan. listrik.untuk memandu kapal agar dapat melakukan manuver di dalam areal pelabuhan dengan lebih mudah an ama. saluran pembuangan sisa kotoran dari kapal. (2) fasilitas pengolahan ikan seperti tempat pengepakan. penanggulangan sampah. pelumas. (3) pabrik es. (10) jalan raya atau jalan kereta api/lori yang cukup panjang untuk sistem transportasi dalam areal pelabuhan dan untuk hubungan dengan daerah lain di luar pelabuhan. (7) fasilitas yang menyediakan bahan kebutuhan pelayaran seperti BBM.

Kapasitas penanganan ikannya sampai dengan 5 ton per hari. berskala lebih kecil dari PPP baik ditinjau dari kapasitas penanganan jumlah produksi ikan maupun fasilitas dasar dan perlengkapannya.250 ton per tahun. serta mempunyai cadangan lahan untuk pengembangan seluas 30 ha. Pelabuhan perikanan tipe C ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran 15 GT sebanyak 25 unit sekaligus.000 ton per tahun. 4) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). baik untuk pemasaran dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). PPP) diperuntukan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan. hanya untuk pemasaran dalam negeri.300 ton per tahun. dan dapat menampung kapal berukuran 5 GT sebanyak 15 unit 51 . Pelabuhan perikanan tipe A ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran 60 GT sebanyak 100 unit sekaligus. 3) Pelabuhan Perikanan Tipe C (atau Pelabuhan Perikanan Pantai. PPN) diperuntukan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan Nusantara yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan perikanan jarak sedang sampai ke perairan ZEEI. mempunyai perlengkapan untuk menangani (handling) dan mengolah sumberdaya ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu jumlah ikan yang didaratkan minimum 20 ton per hari atau 7. untuk pemasaran di daerah sekitarnya atau untuk dikumpulkan dan dikirim ke pelabuhan perikanan yang lebih besar. 2) Pelabuhan Perikanan Tipe B (atau Pelabuhan Perikanan Nusantara. mempunyai perlengkapan untuk menangani (handling) dan mengolah sumberdaya ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu jumlah ikan yang didaratkan minimum 50 ton per hari atau 18.mempunyai perlengkapan untuk menangani (handling) dan mengolah sumberdaya ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu jumlah ikan yang didaratkan minimum 200 ton per hari atau 73. Pelabuhan perikanan tipe B ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran sampai 60 GT sebanyak 50 unit sekaligus. serta mempunyai cadangan lahan untuk pengembangan seluas 10 ha. serta mempunyai cadangan lahan untuk pengembangan fasilitas seluas 5 ha.

Lubis (2003) juga berpendapat bahwa sebagian besar pelabuhan perikanan di Indonesia belum berfungsi optimal (70 %) dan umumnya belum dilengkapi fasilitas modern. tidak semua pusat-pusat pendaratan ikan yang ada di Indonesia mempunyai prospek pengembangan yang menggembirakan bilamana diteliti secara mendalam dan ilmiah. Menurutnya. serta Semakin meningkatnya pendapatan penduduk per kapita. baik kegiatan sendiri-sendiri maupun bersamaan. terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Oleh karena itu. prasarana dan sarana penangkapan dan pendaratan ikan. Semakin meningkatnya (kegiatan) industri perikanan. serta mempunyai cadangan lahan untuk pengembangan fasilitas seluas 1 ha. maupun pemasaran. baik dilihat dari sumberdaya ikan. pengolahan. pedagang. alasan lain yang juga mendukung adalah: 1) 2) 3) 4) 5) Semakin meningkatnya kebiasaan penduduk untuk makan ikan. Di Indonesia. Menurut Lubis (2003). kemungkinan besar tidak memperhitungkan berbagai variabel yang diperlukan bagi suatu perencanaan pengembangan daerah perikanan secara ilmiah. (2) Masih belum sadarnya para pelaku (nelayan. baik itu berupa kegiatan penangkapan. Disamping itu. maupun pembinaan mutu hasil tangkapannya. (3) Masih belum adanya kemauan dari pemerintah sendiri untuk 52 . budidaya. Oleh karena itu. penentuan awal terbentuknya suatu kawasan menjadi daerah perikanan pada mulanya kemungkinan besar ditentukan hanya oleh adanya aktivitas yang berkaitan dengan perikanan. serta potensi pasarnya.sekaligus. pemasaran. Adanya (dukungan) politik dalam rangka pengawasan perairan. antara lain: (1) Rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) pengelola dan pelaku. pengolah) dalam memanfaatkan pelabuhan perikanan dengan sebaikbaiknya sebagai tempat pendaratan. Masih besarnya potensi sumberdaya ikan yang ada di perairan. salah satu alasan perlunya dibangun pelabuhan perikanan di suatu daerah adalah berkembangnya kegiatan perikanan laut di daerah tersebut.

membantu para nelayan dalam memanfaatkan potensi perairan. Pengelolaan suatu pelabuhan tergantung pada apa yang dimilikinya (kapasitasnya) dan apa yang diminta oleh para pelanggannya. dan sebaliknya. Kualitas pelayanan ini diukur dari keterlambatan yang ditentukan oleh kapasitas pelabuhan dan jumlah permintaan. Pelabuhan menawarkan dua macam pelayanan. 53 . (5) Masih belum tersedianya berbagai fasilitas yang memang diperlukan oleh nelayan atau pedagang di pelabuhan perikanan atau juga rusaknya beberapa fasilitas di pelabuhan tanpa adanya perbaikan dalam jangka waktu yang lama. suatu pelabuhan perikanan dapat dipertimbangkan sebagai suatu tempat dimana terjadi mekanisme perpindahan barang yang berasal dari daratan ke arah laut dan sebaliknya. Hal ini merupakan hasil analisis dari pengalaman pemberian pelayanan bongkar muat kapal yang cukup lama. (6) Belum tersedianya prasarana dan sarana transportasi yang baik yang dapat menjamin mutu ikan sampai ke daerah konsumen. yaitu pelayanan kapalnya dan pelayanan muatannya. Menurut Dubrocard dan Thoron (1998). (7) Masih banyak nelayan yang terikat dengan para tengkulak sehingga terjadi ketergantuangan harga jual hasil tangkapannya. Suatu pelabuhan dapat digambarkan sebagai suatu mekanisme transportasi barang-barang yang berasal dari daratan menjadi barang-barang yang berasal dari laut. baik dalam manajemen pemberian kredit maupun dalam pemberian subsidi. yaitu pelayanan kapal. Pada saat suatu kapal tiba di suatu pelabuhan. Menurut Dubrocard dan Thoron (1998). dan (8) Belum berjalannya fungsi koperasi secara baik sehingga tidak dirasakan manfaatnya oleh nelayan. sudah harus dipertimbangkan kemungkinan adanya biaya tunggu di pelabuhan. baik di laut maupun di darat. Kasus terjadinya keterlambatan bongkar muat suatu kapal adalah menunjukkan bagaimana keadaan kualitas pelayanan pelabuhan tersebut. (4) Belum adanya jaminan keamanan bagi para nelayan. telah terdapat suatu spesifikasi yang telah disesuaikan dengan kondisi kapal dan muatannya. pelayanan bongkar muat kapal merupakan faktor utama dari jasa pelayanan pelabuhan. Aktivitas yang dilakukan dalam suatu pelabuhan secara jelas dapat dibagi 2. Pada saat suatu pelayanan bongkar muat kapal dilakukan. dan pelayanan muatan yang akan dibawa atau dibongkarnya.

Mengutip Lubis (1989) dan Vigarie (1979). pada saat kapal datang di pelabuhan secara acak (dengan kata lain kualitas ditentukan oleh harga yang diperoleh. para perencana dan perancang pelabuhan harus mengarahkan pemikirannya pada fungsi pelabuhan. Namun secara formal. Menurut Kramadibrata (2002). yang dalam Bahasa Perancis ketiganya disebut tryptique portuaire. kualitas pelayanan diukur dalam dua bentuk gambaran. Jika ketiga komponen tersebut dikelola dengan baik.Dalam kasus situasi kapal ikan. Salah satu pelabuhan perikanan yang sudah menerapkan sistem pengelolaan seperti ini adalah Port Douglas di Darwin-Australia http://www. 54 . Lubis (2003) menyatakan bahwa terdapat tiga komponen yang harus mendasari analisis geografi dalam merencanakan pengembangan pelabuhan perikanan. dan hal ini pada gilirannya ditentukan oleh proses kedatangan dari kapal ikan). Dengan perkataan lain. fishing port. dikhawatirkan akan terjadi penurunan harga karena kelebihan pasokan di pasar. artinya pelabuhan dikeloka sedemikian rupa sehingga masyarakat sekitar pelabuhan dan para pemanfaat lainnya dapat menggunakan pelabuhan tersebut sebagai tempat yang nyaman untuk berwisata. Ketiga komponen tersebut terdiri dari foreland. yaitu sebagian dari fungsi angkutan yang mampu melaksanakan tugasnya. Dubrocard dan Thoron (1998) menyatakan bahwa tidak hanya waktu tunggu yang penting tetapi lebih pada harga ikan yang dapat dicapai saat lelang. analisis terhadap situasi ini sangat mirip dengan teori antrian dan kemacetan. maka pengembangan pelabuhan perikanan terpadu dapat dicapai. tampaknya belum sampai ke taraf komersial.com.fishingportdouglas. Di Indonesia. mulai dengan fasilitas akomodasi (hotel berbintang 4. bukan hanya dimasa sekarang tetapi juga mampu berperan di masa mendatang. Perkembangan terakhir dari pengelolaan pelabuhan perikanan yang berkelanjutan adalah dimasukannya aspek eco-port.au/). jika ikan yang dibongkar tersebut menambah jumlah ikan yang sudah ada di pelelangan. hampir semua kegiatan wisata air dapat dilakukan dan dikelola secara professional.5 dan motel) sampai ke fasilitas sport fishing (mancing di laut). Artinya. meskipun kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat juga sudah biasa dilakukan dan dihadapi oleh pengelola pelabuhan. Di pelabuhan ini. dan hinterland.

juragan kapal. pengembangan pelabuhan perikanan di Indonesia semakin menarik bagi investor untuk dijadikan basis dalam pengembangan industri perikanan. Sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. yaitu harga yang terbentuk tidak mencerminkan supply dan demand yang aktual (quasiauction). mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia dan membuka industri perikanan di Indonesia. jika fungsi pemasaran berhasil maka pendapatan dari jasa pelabuhan perikanan akan 55 . (2) berdasarkan pasal 41 ayat 3 UU No.3 Tempat pelelangan ikan Salah satu sarana yang sebaiknya terdapat di pelabuhan perikanan adalah tersedianya tempat pelelangan ikan (TPI). (3) adanya kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan bahwa kapal-kapal asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia kecuali kapal-kapal asing harus berpangkalan. dan (4) semakin banyak kemudahan yang diberikan kepada investor di pelabuhan mulai dari pelayanan prima. Alasannya yakni: (1) investor semakin sulit memperoleh tanah yang bebas masalah d luar kawasan pelabuhan sehingga areal industri perikanan di kawasan pelabuhan semakin diminati. dan pembeli dan penjual ikan bertransaksi dan diawasi oleh petugas TPI. PER. 31/2004 tentang perikanan. tempat pelelangan ikan adalah salah satu fasilitas fungsional yang dapat meningkatkan nilai guna dari fasilitas pokok sehingga dapat menunjang aktivitas di pelabuhan (DKP 2006). transparansi antara harga on-farm dan off-farm masih terbatas. 2. Tempat pelelangan ikan juga merupakan fasilitas fungsional yang sangat vital dalam rangka mengoptimalkan fungsi pemasaran ikan.16/MEN/2006 tanggal 23 Juni 2006 tentang Pelabuhan Perikanan. Dengan demikian TPI hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi saja. Tempat ini merupakan areal dimana nelayan. Pada gilirannya. sampai kepada murahnya tarif dalam memanfaatkan fasilitas pelabuhan. Menurut Adrianto (2007). TPI adalah tempat dimana kesepakatan harga jual beli ikan tercapai.Menurut Mahyuddin (2007).3. Namun demikian beberapa hal perlu diperhatikan. tengkulak. setiap kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan diharuskan untuk mendaratkan ikan tangkapannya di pelabuhan perikanan.

56 . wholesalers (fishers cooperatives/ association) Auctions and Bidding Middle-men Buying on consignment Auctions and Bidding Retail Traders FISHERS Gambar 2. pembayaran kadang-kadang dilakukan hari berikutnya. Pembayaran kontan terjadi pada saat transaksi antara pedagang perantara dengan pedagang eceran serta antara pedagang eceran dengan konsumen. Fungsi pemasaran ikan yang terjadi di TPI digambarkan oleh Adrianto (2007) sebagaimana tercantum dalam Gambar 2.7 Bagan alir fungsi pemasaran yang terjadi di TPI (Adrianto 2007) Dari Gambar 2.juga bertambah. Jika kepercayaan sudah ter jadi diantara tengkulak/pedagang besar dengan pedagang perantara dan juga sampai ke pedagang pengecer. kemudian terjadi proses lelang pertama diantara tengkulak/pedagang besar A (wholesaler. baik dari kelompok nelayan atau koperasi) dengan pedagang perantara A (middle man).7 Sales Consumers Fix price transaction Middle-men LANDING Consignment Consignees. Sedangkan transaksi pada waktu lelang dibayar berdasarkan komisi penjualan. Proses pemasaran kemudian terjadi secara eceran di antara pedagang perantara B dengan pedagang eceran yang langsung menjual ikannya kepada konsumen. Proses pelelangan kedua terjadi antara tengkulak/pedagang besar B dengan pedagang perantara B. wholesalers (larger wholesaler market) Consignees.7 tampak bahwa aktivitas ekonomi (pemasaran) di TPI dimulai dari proses pendaratan ikan yang dilakukan oleh nelayan.

Dari Gambar 2.2. Jumlah karyawan KUD 50 orang dengan keanggotaan penuh (535 orang). Adrianto (2007) mengidentifikasi aliran fungsional yang terjadi di TPI di Jawa Tengah. calon anggota (155 orang) dan anggota yang dilayani (3. asuransi nelayan. dana paceklik. maka TPI harus memiliki lembaga pengelola.75 % disampaikan ke PUSKUD (yang digunakan untuk dana sosial.4 Kelembagaan TPI Untuk dapat beroperasi secara benar dan optimal.25 % diberikan ke Kas Provinsi (Pemda Provinsi 0.000. Banyak kasus di pelabuhan-pelabuhan perikanan di Pulau Jawa lembaga pengelola TPI dipegang oleh koperasi nelayan (KUD Mina). dan perawatan TPI). Contoh kasus yang terhitung berhasil adalah di PPI/TPI Belanakan di Subang yang dikelola oleh KUD Mina Fajar Sidik. sebagaimana tampak dalam Gambar 2. 10/11 tahun 1998 Jo Prop Jawa Barat no.8. dan uang yang beredar dari hasil transaksi lelang yang terjadi di TPI setiap hari sebesar Rp. Jika besaran retribusi sebesar 8 %. ada yang berhasil dan ada pula yang gagal total sehingga lembaga tersebut tidak dipercaya lagi. Keberhasilan lembaga pengelola TPI ini telah menjadikannya sebagai acuan dalam pengembangan Terminal Agribisnis/Sub Terminal Agribisnis (TA/STA) produkproduk pertanian.(seratus lima puluh juta) (Anonimous 2006). lelang. Jawa Barat tanggal 24 Desember 1994. pengembangan PUSKUD. Tata cara pelaksanaan lelang di TPI KUD Mina Fajar Sidik dilaksanakan berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Barat no.85 % dan Pemda Kabupaten/kota) dan 3.. tabungan bakul. dimana 1. Distribusi dana retribusi pelelangan yang dilakukan di Jawa Timur dan Bali 57 . maka biaya pengelolaan TPI sebesar 3 % dari seluruh transaksi pelelangan.804 orang).8 tampak besaran distribusi dana retribusi. pengembangan KUD. tabungan nelayan. 150.3. KUD Mina Fajar Sidik didirikan tahun 1958 dan mendapat predikat KUD Mandiri Inti berdasarkan Surat Kakanwil Depkop dan PPK Prop. 13/2006 tanggal 8 Maret 2006 tentang pelaksanaan penyelenggaraan dan retribusi tempat pelelangan ikan dan berdasarkan Perda Provinsi Jawa Barat no. 8/9 tahun 2000 pelaksanaan lelang dikenakan ongkos sebesar 8 %.000.

20% Dana Paceklik 0.25% TPI 3.85% Pemda Kab/Kota 0.75% Kas Provinsi Dana Sosial 0.45% 0.25% Pengembangan KUD 0.75 % 1. sebagaimana tampak pada Gambar 2.40% Asuransi Nelayan 0.mempunyai variasi yang cukup berbeda.9 dan Gambar 2.9 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Provinsi Jawa Timur (Adrianto 2007a) 58 .50% Lelang 1.50% Pemda Provinsi 0.8 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Jawa Tengah (Adrianto 2007) 5% TPI KUD DISPENDA BANK JATIM ANGGARAN RUTIN 0.25 % ANGGARAN PEMBANGUNAN PROVINSI DINAS KAB/KOTA 3% TPI/KUD PENGELOLA Gambar 2. 1.50% Pusat KUD Tabungan Nelayan 0.10.15% Pengembangan TPI Perawatan TPI Provinsi Jawa Tengah Gambar 2.0% Pengembangan Puskud 0.20% Tabungan Bakul 0.

land rent. 2.5 % Bendaharawan Provinsi Provinsi Bali (SK Gubernur No 190/1986) Gambar 2. definisi pokok dari daerah perikanan adalah untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang memiliki tingkat resiko tinggi.di suatu kawasan.5 % BPD Kabupaten/ Kota Pungutan Paceklik/ Sosial Kecelakaan 1% Bendaharawan Khusus Perikanan Provinsi Wasdalop 0. yang masing-masing dalam istilah Indonesia disebut rente lahan yang mencakup rente ekonomi. baik dalam konteks sumberdaya maupun kebijakan. yang meliputi economic rent.Biaya operasional dan tabungan nelayan Retribusi Provinsi 0.4 Analisis Perkembangan Aktivitas Pembangunan Setiap aktivitas pembangunan di suatu kawasan dapat diamati tingkat keberhasilannya dengan berbagai tools. dan environmentlan rent. tools yang digunakan adalah: ketergantungan daerah perikanan (fisheries dependent region). Menurut Symes (2000). Dalam penelitian ini. konsep yang dikembangkan oleh Symes (2000) tentang daerah yang bergantung pada kegiatan perikanan (daerah perikanan = fisheries dependent regions) sangat bermanfaat bagi aktivitas pengelolaan.5 % BPD Bali TPI KUD Bendaharawan Dinas Perikanan Kabupaten/Kota Retribusi Kabupaten/Kota 0.10 Bagan aliran fungsional yang terjadi di TPI di Provinsi Bali (Adrianto 2007b) 2. terhadap turunnya intensitas kegiatan 59 . rente sosial.1 Ketergantungan daerah perikanan (fisheries dependent region) Untuk melihat prospek pengembangan suatu daerah perikanan.4. social rent. Daerah perikanan ini merupakan barometer bagi keberhasilan suatu kebijakan perikanan. dan rente lingkungan.

yaitu: 1) Indikator ketergantungan perikanan (fisheries dependence indices) yang mencakup 3 komponen utama. b) indikator absolut aktivitas perikanan (indikator yang terkait langsung dengan menurunnya kinerja sektor perikanan). yakni: a) Indikator ketenagakerjaan perikanan (kontribusi tenaga kerja perikanan dalam total struktur ketenagakerjaan daerah). mulai dari individu. dan lain-lain. Sebelumnya Otterstad et al. rumah tangga. Penentuan daerah perikanan di Indonesia mempunyai beberapa hambatan. Sedangkan variabel sosial memiliki peran dalam penyediaan indikasi umum dari kesejahteraan sosial (social welfare) dari suatu daerah. menurut Phillipson (2000) terdapat tiga sistem indikator yang dapat digunakan. indikator ekonomi wilayah dan industri. Menurut Adrianto (2004). Untuk mengklasifikasi apakah suatu daerah termasuk dalam suatu daerah perikanan atau bukan. pendidikan. Daerah perikanan dalam konteks ini terkait dengan istilah fisheries dependent region. definisi daerah perikanan perlu difokuskan dalam konteks struktur ekonomi daerah (regional depencies) dimana sektor perikanan berkontribusi secara sosial dan ekonomi. Ketergantungan daerah jelas berdimensi regional atau wilayah. kesehatan. ketergantungan daerah terhadap perikanan. 3) Indikator sosial demografis yang mencakup indikator kependudukan. dan c) indikator tingkat signifikasi ekonomi dari sektor perikanan terhadap ekonomi daerah. sedangkan ketergantungan perikanan memiliki banyak dimensi. hingga ke komunitas.perikanan termasuk dampak yang mungkin timbul dari turunnya kesempatan kerja dan pendapatan sektor perikanan. paling tidak terdapat 3 persoalan (obstacles) yang perlu 60 . daripada ketergantungan perikanan (fisheries dependencies). 2) Indikator ketergantungan ekonomi (economic dependence indices) yang meliputi indikator ketenagakerjaan wilayah. Menurut Phillipson (2000). (1997b) dalam Symes (2000) menyatakan bahwa ketergantungan secara ekonomi (economic dependencies) lebih relevan secara langsung terhadap isu daerah perikanan.

Perkembangan sejarah menunjukkan bahwa definisi rent ternyata berkembang terus sejalan dengan kemajuan jaman dan berbagai aktivitas yang dilakukan di suatu kawasan. untuk menggolongkan apakah suatu daerah bergantung secara relatif terhadap sektor perikanan atau tidak.diperhatikan. namun hasilnya cenderung tidak meyakinkan karena sektor perikanan seringkali masuk (embedded) ke dalam ekonomi lokal yang kompelks dan beragam (pluriactive). yang 61 . Di antara para ahli. dapat di lakukan. masalah level data. asal kata rent atau rente berasal dari kata Bahasa Perancis tua pada abad 12.2 Land rent. social rent.4. Ketiga. Secara teoritis. dan environmental rent Menurut Fetter (1977). yaitu “pendapatan yang diperoleh dari penggunaan lahan dan pemberian alam lainnya”. Ketika pengukuran dimaksudkan untuk mengidentifikasi peren penting dari sektor perikanan di suatu daerah. Namun demikian. tidak ada sistem data yang langsung dapat dipakai (straightforward) untuk mengidentifikasi sebuah daerah agar dapat digolongkan sebagai daerah perikanan. Pada abad yang sama pula terjadi penggunaan kata tersebut dalam Bahasa Inggris. Pertama. Data statistik nasional misalnya belum menempatkan informasi tentang angkatan kerja perikanan dalam sebuah bentuk yang standar. Dari istilah inilah kemudian muncul definisi rente menurut Alfred Marshall yang banyak digunakan oleh para ekonom. 2. maka penerapan indeks batas arbitrer (arbitrary threshold index). Parikesit (2005) menyatakan bahwa teori awal dari penggunaan lahan berawal dari teori mikro ekonomi. dalam beberapa hal istilah fisheries dependence dapat menimbulkan kontradiksi. Dalam konteks ini. dari nuansa teknis hukum definisi yang lebih sesuai adalah: kompensasi yang diterima oleh tuan tanah untuk penyewaan tanahnya (corpus juris). sehingga level ketergantungan (level of dependencies) daerah tersebut mudah ditentukan walaupun tidak untuk semua kasus. yang diambil dari Bahasa Latin rendita dan reddita yang berarti kembali atau hasil panen. Kedua. Data perikanan saat ini tidak standar antar level sehingga sering ditemukan ketidaksesuaian data antar level. yang nuansa artinya lebih pada kata penghasilan (revenue atau income). identifikasi kegiatan perikanan lebih mudah dilakukan di tingkat lokal.

dan pada saat pemodal menyewa pekerja atau menyewa lahan.paling signifikan berpengaruh adalah Von Thünen dengan teori lokasinya. Setiap faktor produksi memperoleh inkamnya sesuai dengan produk marginalnya. atau dikapitalisasi untuk mendapatkan nilainya sekarang sesuai dengan semua tingkat sosial berdasarkan waktu. serta implementasinya terhadap daerah perkotaan dijelaskan oleh Wingo dan Alonso (de la Barra 1989). bahwa land rent bukan suatu lokasi yang menentukan (kompetitif). Model Von Thunen tentang land-rent dapat dilihat pada Gambar 2. dalam suatu ekonomi tertutup non-altruistik. Von Thünen melihat bahwa lokasi perdagangan yang penting dan terlibat adalah penurunan biaya output transportasi dengan cara mendekati lokasi pasar. dimana lahan dianggap sebagai suatu input dan juga sebagai asset. Hal ini berarti bahwa suatu perusahaan yang membeli mesin hanya akan membayar nilai saat ini untuk nilai pendapatan yang diharapkan datang di masa yang akan datang. Christaller dan Lösch dengan penjelasan tentang daerah pemasaran dan perencanaan geometrik untuk membentuk kawasan. serta lahan dan pekerja merupakan suplai yang tidak elastis. Hasil ini ditemukan oleh Feldstein tahun 1977. bukan suatu faktor produk marginal. tetapi ditetapkan sebagai suatu hasil (Parikesit 1996 dalam Parikesit 2005). 62 . suatu pajak atas land rent dihubungkan dengan stok modal dan output per orang yang lebih tinggi dalam kondisi yang stabil. diskon oleh tingkat sosial yang berdasarkan waktu. Pendekatan Von Thünen dan Weber sudah dikenal umum sebagai dua paradigma yang berbeda dimana Von Thunen menggunakan paradigma land use sementara yang kedua paradigma lokasi (Stahl 1987 dikutip oleh Parikesit 1996 dalam Parikesit 2005). tetapi diskon dari produk mariginal yang diharapkan dimasa yang akan datang berasal dari tingkat sosial yang berdasarkan waktu.11. dia akan membayar saat ini. Lebih jauh. Weber dengan model lokasi industri. dan setiap rente yang akan datang didiskon. Fetter merupakan ekonom pertama yang menjelaskan tingkat bunga berdasarkan waktu. Menurut Petrucci (2003). lawannya adalah peningkatan harga input lahan (atau barangkali juga buruh) yang terlibat dalam hal pindah lokasi. Menurut Rothbard (1997). Von Thünen menyatakan bahwa land rent dirasakan sebagai pendekatan yang paling tepat sebagai sisa.

sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Single houses Gambar 2. 1 .11 Model Von Thunen tentang land-rent (Petrucci 2003) distance d Untuk lebih mudah mengerti tentang konsep land rent. Apartements D.12.Rent/Cost 100 cost of fixed non-land inputs 50 30 M 20 km 50 km Gambar 2.Bid rent curve 2 – Overlay of bid rent curve Rent A-Retailling B-Industry/ commerccial Distance City limits C. diagram di bawah ini menjelaskan tentang kaitan antara besarnya nilai suatu kapital dengan jarak.12 Konsep land rent (Anonimous 2005) 63 .

Pada kenyataannya. persepsi) akan mempengaruhi kurva nilai penawaran (bid rent curves) (Anonimous 2005). termasuk daerah pedesaan. Lokasi optimal. bukit. berkeinginan untuk mempunyai aktivitas di sekitar pusat bisnis tersebut. Di bidang ekonomi (khususnya aktivitas produksi). seperti kawasan pedagang eceran. Di bidang non ekonomi. lahan yang terpencil sekalipun mulai menunjukkan rente yang jual tinggi khususnya yang memiliki akses yang baik. atau pemukiman. dimana akses adalah optimal. maka dipastikan tidak akan cukup untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya alamnya (Turner 1993. Lahan merupakan tempat dimana terjadi pelbagai kegiatan dengan berbagai manfaat yang akan menentukan tingkat harga dan kompetisi. Husein 1997). Setiap aktivitas. terutama di daerah perkotaan dimana lahan merupakan input lokal yang langka dan apabila terjadi kapitalisasi dari manfaat nilai lahan yang kepemilikannya diberikan melalui hibah.12 bagian 1 (bid rent curve) menggambarkan toleransi dari aktivitas ekonomi terhadap rent. Pada saat suatu kota berkembang. adalah pusat kegiatan bisnis. Hal ini merupakan representasi suatu ruang isotropik (isotropic space). dan lain lain). Dengan menumpang-tindihkan kurva dari semua aktivitas ekonomi perkotaan tersebut (bagian 2). Mubyarto (1979) menambahkan bahwa proses urbanisasi dan industrialisasi merupakan faktor penting yang mendorong kenaikan sewa dan harga lahan. kombinasi antara atribut-atribut physiographic (tepi perairan. Penggunaan lahan oleh karena itu didefinisikan sebagai kemampuan untuk membayar dari fungsi ekonomi yang berbeda di daerah perkotaan. Northam 1975). lahan memiliki makna struktur penguasaan dan pemilikan. densitas dan rente mempunyai hubungan yang erat (Anonimous 2005). industri/komersial pada lingkaran berikutnya. selain itu dengan meningkatnya jumlah penduduk maka nilai lahan 64 . lahan adalah faktor produksi yang sangat penting disamping faktor manusia dan modal (Mubyarto 1979. Hal ini kemudian menghasilkan tingkat densitas dan produktivitas yang tinggi. maka pusat pemanfaatan lahan dapat dibuat dimana aktivitas bisnis eceran pada lingkaran CBD. sejarah (turisme) dan sosial (suku bangsa. apartemen di lingkaran berikutnya dan kemudian perumahan tunggal. industri.Gambar 2. kriminalitas. Oleh karenanya.

sebentar. Sebelum itu hampir tidak diketahui dengan pasti seberapa besar nilai tambah di daerah tersebut. yaitu: (1) terjadinya suatu bencana alam yang menimpa kawasan tersebut. Penentuan harga lahan yang terburu-buru dan parsial.akan terus naik dan tidak mungkin turun. Pemanfaatan lahan untuk berbagai macam penggunaan bertujuan untuk menghasilkan barang-barang (atau jasa) kebutuhan manusia yang terus meningkat sebagai akibat pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Suparwoko (1994) menjelaskan bahwa lahan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui. sehingga kurang mempertimbangkan kelestarian sumberdaya lahan tersebut. Salah satu penyebab utama ketidakmampuan Penurunan nilai lahan ini dapat berlangsung lama atau berkoordinasi tersebut adalah karena nilai lahan yang sangat spekulatif dan subyektif yang mengandung unsur-unsur sosial-psikologis yang sangat dalam dan sulit dihitung. Untuk tujuan tersebut seringkali pemanfaatan lahan tidak rasional dan kurang bijaksana dalam jangka pendek. Akibat pemanfaatan yang tidak rasional tersebut. karena lahan adalah satu-satunya faktor produksi yang tidak dapat dibuat oleh manusia. Penurunan nilai lahan di suatu kawasan masih mungkin terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. contohnya kebocoran instalasi nuklir di Siberia. DEPTAN. meskipun seandainya harga tanah dapat dimonitor di tiap daerah. Menurut Husein (1997). (2) terjadi bencana dari suatu industri. dalam arti bahwa lahan tersebut dapat ditingkatkan kesuburannya. baik karena faktor manusia (perselisihan atau peperangan) maupun wabah penyakit yang berlangsung lama. (3) kawasan tersebut menjadi tidak aman. serta belum mantapnya kerjasama secara sinergis (misalnya antara Dinas Pajak Bumi dan Bangunan dengan instansi pengatur dan pengguna lain seperti BPN. 65 . penentuan harga lahan di Indonesia dalam banyak kasus dilakukan setelah ada usulan untuk pembebasan lahan dari si pemohon atau pengguna. dan DEPDAGRI) membuat harga lahansecara riil dan potensial belum dapat ditentukan dengan tepat. per daerah. lahan mengalami penurunan persediaan dan manusia semakin tergantung pada sumberdaya lahan yang rendah kualitasnya.

balas jasa (return to land) yang diterima oleh lahan dibandingkan dengan faktor-faktor produksi mempunyai kedudukan yang paling penting. sehingga perubahan dalam permintaan akan mempengaruhi rent dan bukan kuantitas (K) dari lahan 66 . Peningkatan harga lahan (rent) tidak diikuti dengan meningkatnya penawaran. ekonomi. dan semua faktor produksi sumberdaya alam. Lahan merupakan faktor alam dari produksi dan oleh karena itu suplai lahan tidak dipengaruhi oleh harga.13. Lahan meliputi juga bahan bakar. sinar matahari. Pengertian rent dan lahan berbeda dari definisi ekonomi. Dengan kata lain. lahan tersebut disebut extensive economic margin yang artinya bahwa pengetrapan tenaga kerja dan kapital per satuan lahan adalah sangat rendah dan jika lahannya yang open access tersebut diperluas maka economic return-nya juga sama rendahnya. Kuantitas lahan tidak dapat ditingkatkan sebagai respon dari harga yang meningkat atau menurun karena menurunnya harga. Hal ini mengingat kebutuhan konsumsi untuk masyarakat sering tidak ditunjang oleh pengelolaan yang baik dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam. Menurut Mubyarto (1972). Rent merupakan keuntungan bagi lahan dan ditentukan oleh hubungan antara supply dan demand terhadap lahan sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Suparwoko (1989) menjelaskan bahwa sewa lahan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai surplus ekonomi. Surplus ekonomi dari sumberdaya lahan dapat disebabkan oleh tingkat kesuburannya. Blair (1991) menyatakan bahwa rent merupakan keuntungan bagi lahan. hujan. lahan merupakan suplai tetap. yaitu merupakan kelebihan nilai produksi total di atas biaya total.Fauzi (2000) menyebutkan bahwa tekanan pembangunan ekonomi yang dilakukan di negara-negara berkembang khususnya sering menimbulkan dilema bagi kelestarian sumberdaya alam. Property terdiri dari lahan dan bangunan. sehingga penurunan kualitas lingkungan sering dianggap sebagai biaya yang harus dibayar untuk suatu proses pembangunan ekonomi. Lahan yang dikelola masyarakat Dalam istilah sebagai common property dapat disebut dengan open access. Pembayaran atas jasa produksi tersebut disebut sewa lahan (rent). Para ahli ekonomi sangat berhati-hati dalam membedakan antara lahan dan property.

Jika suatu pabrik menjual outputnya dalam suatu pasar yang kompetitif. penambahan lahan untuk tujuan tertentu akan lebih mahal dibandingkan dengan jenis penggunaan lahan lainnya (Blair 1991). Jika terdapat kompetisi diantara produser. nilai dari produk marjinal dapat dinyatakan sebagai harga output dikali 67 . Jika semua input non lahan tetap konstan. Dalam kasus ini. Pertanian atau pabrik tidak akan mampu membayar lebih untuk penambahan lahan dibandingkan dengan nilai dari atribut output yang meningkat dari lahan tersebut. maka akan menerima suatu harga yang konstan dari setiap unit ekstra yang dijual. Produk marjinal suatu unit lahan ekstra (MPi) merupakan output yang dihasilkan dari penggunaan suatu unit lahan ekstra dalam suatu proses produksi. Penawaran untuk jenis lahan tertentu. permintaan terhadap lahan sama dengan nilai dari produk marjinal.tersebut. Mereka akan membayar sekecil mungkin untuk lahan ekstra. Ketika suatu pabrik berjualan dalam suatu pasar yang kompetitif.13 Kurva penawaran (S) dan permintaan (D) dari lahan (Blair 1991) Permintaan lahan didasarkan atas kontribusi lahan terhadap keuntungan. mungkin dapat ditingkatkan dengan tekanan pasar dan oleh keputusan politik. maka mereka akan menawar satu sama lain hingga rent lahan sama dengan kontribusi lahan terhadap keuntungan pabrik. VMP. seperti perubahan zonasi. Rent Slahan Dlahan = VMPL Kuantitas lahan Gambar 2. harga produk tidak dipengaruhi oleh output dari pabrik. seperti lahan komersial. Meskipun demikian.

2. irritability. dalam penelitian ini digunakan untuk menentukan hirarki wilayah. dan = produk marjinal dari unit lahan ke-I Fungsi VMP menyatakan kuantitas dari penggunaan lahan dalam produksi yang meningkat karena produk marjinal dari lahan turun seperti yang dinyatakan pada hukum penurunan produktivitas marjinal.dengan produk marjinal dari unit lahan tambahan. Untuk lebih jelas lagi.). . dalam arti bahwa kesemuanya mengukur sesuatu yang sama (Anonimous 1999). maka barang-barang tersebut disebut unidimensional.. pabrik akan menggunakan lebih banyak lahan yang mengakibatkan pada penurunannya MP dan VMP. Ketika VMP lebih besar dibandingkan dengan market rent untuk suatu unit lahan. yang didasarkan pada dimensi tunggal (single dimension). Harsono (2001) menyatakan bahwa metode ini digunakan untuk menentukan peringkat pemukiman atau wilayah dan kelembagaan atau fasilitas pelayanan.4.3 Metode skalogram Skalogram didasarkan pada analisis skalogram dan untuk yang lebih luas lagi pada Rasch analisis. keduanya digunakan untuk menilai apakah suatu kelompok barang dalam keadaan konsisten. barang-barang tersebut dipertimbangkan sebagai suatu definisi operasional dari satu bangunan psikologis (psychological construct). Oleh karena itu. Nilai VMP akan menurun hingga sama dengan rental rate. titik awalnya adalah satu kelompok barang yang salah satunya tertarik karena percaya bahwa mengukur konstruksi psikologi (inductive reasoning ability. Dalam bentuk rumus ditulis sebagai berikut: VMPi = Po x MPi dimana: VMPi = nilai produk marjinal dari unit lahan ke-I Po MPi = net price dari output (setelah dikurangi biaya transportasi). Biasanya. assertiviness.. Analisis ini didasarkan pada pemikiran bahwa pada 68 . Jika semua barang tersebut mengukur sesuatu yang sama.

dan (3) pengelompokan pelayanan pada tingkat yang berbeda dan penentuan dari keterkaitan atau jaringan jalan untuk mengembangkan aksesibilitas dan efisiensi. maka semakin tinggi pula hirarki dari pusat pelayanan tersebut. (2) Boudeville tentang kutub pertumbuhan dan pusat pertumbuhan dalam dimensi geografis. (2) Penentuan dari fasilitas infrastruktur pokok untuk memuaskan Pengintegrasian atau kebutuhan beragam sektor dari penduduk. (5) Hirschman tentang trickling down dan polarization effects suatu pertumbuhan ekonomi. Budiharsono (2001) menyebutkan bahwa konsep pusat pelayanan mempunyai beberapa asumsi. lokasi. yaitu: (1) (2) Penduduk didistribusikan pada berbagai ukuran pemukiman. (4) Gunnar Myrdal tentang spread-backwash effects pertumbuhan ekonomi dalam tata ruang. dan (7) Galpin dan Kolb tentang anatomi sosial dari masyarakat pertanian (Roi dan Patil 1976). konsep pusat pelayanan berawal dari teori yang dikembangkan oleh: (1) Perroux tentang pusat pertumbuhan dan kutub pertumbuhan dalam ruang ekonomi.umumnya semakin besar jumlah penduduk dan semakin banyak jumlah fasilitas serta jumlah jenis fasilitas pada suatu pusat pelayanan. dan pengelompokkan kegiatan ekonomi. distribusi. Menurut Budiharsono (2001). (6) Hagerstestrand den Pottier tentang difusi inovasi dalam tata ruang dan sumbu-sumbu pertumbuhan. (3) Walter Christaller dan August Losch tentang ukuran. 69 . Penduduk mempunyai kebutuhan biofisik sama baiknya dengan kebutuhan sosial ekonomi. Dengan analisis ini maka akan dapat diidentifikasi: (1) Pusat pelayanan dan daerah pelayanan pada tingkat yang berbeda.

4 Model sistem pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan Menurut Grant et al. definisi sistem yang dikemukakan oleh Grant et al. dusun kecil. menerangkan. (2) suatu kumpulan materi (bahan) yang saling berinteraksi dan sekelompok proses yang secara bersama-sama membentuk beberapa kumpulan fungsi. (1997). (4) Penduduk membentuk pemukiman dalam bentuk rumah.4. dan juga Sushil (1993). Manessch dan Park (1979) dalam Eriyatno (1999). 1997).(3) Penduduk menggunakan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia untuk kebutuhannya. 70 . dan kota serta memutuskan untuk tingkal bersama selama sumberdaya mencukupi kebutuhan mereka. Sedangkan analisis sistem dapat didefinisikan secara lebih langsung sebagai penerapan dari metoda ilmiah terhadap pemecahan yang mencakup sistem yang kompleks (Grant et al. (3) suatu proses yang kompleks dan saling terkait yang dicirikan oleh banyaknya hubungan sebab akibat dan timbal balik. (5) Penduduk menggunakan sumberdaya untuk kebutuhan dasar yang dibatasi atau keinginan yang terbatas. 2. desa. (6) Penduduk berpindah ke tempat lain (migrasi) untuk mencari barang-barangdan jasa yang tidak mereka dapati di pemukiman mereka. dan pendugaan-pendugaan tentang sistem yang kompleks. Hal ini merupakan suatu teori dan teknik untuk mempelajari. yang sering dicirikan oleh penggunaan prosedur matematika dan statistika lanjutan serta oleh penggunaan komputer. (1997) tersebut adalah sama dengan para pendahulunya seperti yang telah dikutip oleh Damai (2003) yang mencakup Forrester (1968). definisi sistem adalah: (1) suatu kumpulan komponen fisik yang terorganisir yang saling berhubungan dan dicirikan oleh suatu kesatuan fungsi dan terbatas. Pada intinya. O’Connor dan McDermott (1997).

Artinya. yang dibuat sebagai sarana/alat (tool) untuk memecahkan persoalan (Jorgensen 1988). Model empiris atau korelatif dikembangkan terutama untuk menerangkan atau meringkas sekelompok hubungan tanpa menghiraukan gambaran 71 . Deskripsi tersebut dapat berupa sesuatu yang bersifat fisik. (2) Model dinamis dan model statis Model dapat mencerminkan suatu sistem yang tetap ataupun yang berubah menurut waktu.Model. karena melalui model dapat merepresentasikan dan memanipulasi penomena nyata. contohnya antara lain maket bangunan. Sebuah model dinamis menerangkan suatu Dari hubungan yang bergantung terhadap waktu. adalah suatu gambaran miniatur dari suatu realita. Sebuah model statis menerangkan suatu hubungan atau sekelompok hubungan yang tidak berubah menurut waktu. Salah satu contoh model abstrak adalah model matematis yang ditulis dalam bahasa matematika. yaitu suatu deskripsi formal dari elemen-elemen penting pada suatu masalah. Contoh umum termasuk model-model regresi yang tidak mempunyai waktu sebagai sebuah variabel bebas. Model abstrak menggunakan simbol-simbol dari alat fisik untuk menggambarkan sistem yang sedang dipelajari. (3) Model empiris (korelatif) dan model mekanistis (penjelasan). Hal ini dimaksudkan untuk membantu para peneliti dalam memvisualisasikan apa yang dipelajari tersebut. Tentu saja model fisik pun masih merupakan abstraksi dari realitas jika dikaitkan denga definisi awal mengenai sebuah model. contohnya termasuk modelmodel simulasi serta model regresi yang memasukan waktu sebagai salah satu variabel bebasnya. beberapa literatur. Jorgensen (1988) mengelompokan model menjadi: (1) Model fisik dan model abstrak Model fisik umumnya merupakan replika fisik berukuran miniatur dari obyek yang sedang dipelajari. atau bahkan kata-kata. kemudian mengeksplorasi hasilnya. matematik. model merupakan abstraksi dari realitas. Ruth dan Hannon (1997) menambahkan bahwa model merupakan pusat pemahaman kita terhadap alam dunia.

yang tepat untuk proses-proses atau mekanisme yang bekerja di dalam sistem riil pada setiap kelompoknya. Dalam model jenis ini hanya keluaran metabolisme yang diukur. Sasarannya adalah pendugaan (prediksi) dan bukan penjelasan. Sasarannya adalah diperolehnya penjelasan melalui penggambaran mekanisme sebab akibat yang mendasari perilaku suatu sistem. Model mekanistis atau model penjelasan dikembangkan terutama untuk menggambarkan dinamika internal dari suatu sistem yang dipalajari secara lebih tepat. Sebuah model yang mencerminkan tingkat metabolisme hewan sebagai fungsi dari ukuran tubuh. angin. Contoh model deterministik antara lain adalah suatu model sederhana yang dikembangkan untuk menggambarkan hubungan antara 72 . Suatu model yang kita lihat sebagai penjelasan pada suatu tingkat detail mungkin kita lihat sebagai korelatif pada tingkat yang lebih detail lagi. (4) Model deterministik dan model stokastik Sebuah model disebut deterministik jika tidak mengandung variabel acak. sedangkan proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh hewan tersebut tidak digambarkan. dan lamanya terkena oleh kondisi ambien merupakan sebuah contoh. tingkat aktivitas. Pendugaan model deterministik dibawah suatu kondisi khusus selalu persis sama hasilnya. Sebuah model yang menggambarkan rekruitmen populasi tahunan sebagai fungsi dari ukuran populasi terlihat sebagai model penjelasan dibandingkan dengan sebuah model yang menggambarkan rekruitmen tahunan hanya sebagai suatu konstanta yang ditentukan dengan merataratakan data historis. Contohnya adalah sebuah model yang menduga tingkat metabolisme suatu jenis hewan sebagai satu-satunya fungsi dari ukuran (berat atau panjang) tubuh. model tersebut terlihat sebagai model korelatif dibandingkan dengan suatu model yang menghitung rekruitmen berdasarkan tingkat kelahiran individu pada umur tertentu di dalam populasi yang pada gilirannya didasarkan pada ranking sosial individu dan status gizi selama musim berkembangbiak. Namun demikian. suhu lingkungan.

Bentuk umum dari model kebutuhan energi deterministik adalah sebagai berikut: Y = a-bX Dimana a dan b adalah konstanta. Pendugaan model stokastik dibawah kondisi tertentu tidak selalu menghasilkan nilai dugaan yang persis sama.0 atau 2.5 dengan probabilitas yang sama. apakah model deterministik atau stokastik tergantung pada tujuan khusus pembuatan model tersebut. sementara pada pendugaan model stokastik perlu dilakukan pengulangan secukupnya untuk memperoleh respon rata-rata dari situasi yang diberikan. Model deterministik umumnya lebih mudah untuk dibuat karena hanya memerlukan estimasi dari nilai-nilai konstanta. sedangkan model stokastik memerlukan persyaratan suatu distribusi lengkap dari variabel acak. Model tersebut dapat diubah menjadi sebuah model stokastik dengan menggambarkan a atau b sebagai variabel acak. yang ditulis sebagai berikut: Y = 100 – 2X Sebuah model disebut stokastik jika mengandung satu atau lebih variabel acak. maka setiap dilakukan penghitungan pendugaan. Pemilihan model mana yang akan digunakan. serta juga pada pekerjaan yang 73 .kebutuhan energi suatu individu (Y. Andaikata b dinyatakan sebagai variabel acak yang mempunyai nilai 2. karena variabel acak di dalam model secara potensial dapat memberikan nilai yang berbeda setiap kali model dipecahkan. Selain itu. harus dipilih secara acak suatu nilai untuk b dari distribusi nilai b yang ditentukan. o C). Model deterministik juga lebih mudah digunakan karena pendugaan pada situasi yang diberikan hanya perlu dibuat sekali (karena selalu sama). kkal/hari) terhadap suhu ambien (X. model stokastik juga digunakan pada pekerjaan yang memerlukan penggambaran keragaman secara eksplisit (baik keragaman yang terkait dengan pendugaan parameter sistem ataupun keragaman yang melekat pada sistem itu sendiri).

dan beberapa model persamaan diferensial sederhana adalah merupakan contoh model analitik. Inilah yang disebut sebagai model simulasi. (5) Model simulasi dan model analitik Model-model yang dapat diselesaikan secara matematis dalam bentuk yang tertutup disebut model analitik. Et) Dimana: Nt+1 = ukuran populasi pada waktu t + 1 74 . hubungan kompetisi. Suatu model analitik sederhana tentang tingkat pertumbuhan populasi dalam lingkungan yang tidak terbatas (tingkat pertumbuhan eksponensial) dapat digambarkan sebagai berikut: Nt = Noert Dimana: Nt = ukuran populasi pada waktu t No = ukuran populasi awal r = tingkat intrinsik dari penambahan populasi t = waktu model-model yang tidak mempunyai penyelesaian analitik umum harus dipecahkan secara numerik dengan menggunakan satu perhitungan khusus untuk setiap kondisi tertentu.. yang pada gilirannya dipengaruhi oleh perubahan kondisi lingkungan. dapat disimpulkan dengan menggunakan rumus umum berikut: Nt+1 = f (Nt. Sebagai contoh. Model regresi. suatu model yang menggambarkan dinamika populasi karena pengaruh ketergantungan densitas. satu penyelesaian umum dapat diperoleh yang berlaku untuk semua situasi dimana model tersebut mewakili. untuk model seperti itu. model teori baku (sebaran) statistik.menginginkan pembandingan secara statistik dari pendugaan model untuk berbagai situasi yang berbeda. sebagaimana yang digambarkan dalam adalah model-model ekologis.

atau berdimensi tiga seperti prototipe.f (Nt. dimensi. 75 . kurva distribusi frekuensi pada statistik. menyajikan transformasi sifat menjadi analognya kemudian mengetengahkan karakteristik dari kejadian yang dikaji. maka tidak dapat lagi dikonstruksi secara fisik sehingga diperlukan kategori model simbolik 2) Model analog (model diagramatik). Dengan menggunakan istilah-istilah yang senada. Dalam hal model berdimensi lebih dari tiga. penggambaran dengan model analitik tidak akan cukup. Tetapi jika tingkat ketelitian yang mencukupi terlalu kompleks untuk dapat disajikan dalam bentuk analitik. merupakan perwakilan fisik dari beberapa hal. Model ikonik dapat berdimensi dua seperti peta. Model ini bersifat sederhana namun efektif dalam menggambarkan situasi yang khas. Et) = fungsi kompleks dari ukuran populasi dan kondisi lingkungan pada waktu t. Menurut Eriyatno (1999). pemilihan antara model simulasi dan analitik melibatkan keputusan apakah kita mengorbankan realitas ekologi untuk memperoleh suatu model analitik atau mengorbankan kekuatan matematis untuk memasukkannya kedalam realitas ekologi yang lebih tinggi. tujuan pokok kajian. oleh karenanya perlu digunakan suatu model simuasi. Dari sudut aplikasi praktis. atau derajat keabstrakannya. maka kita harus menggunakan model simulasi. pertimbangan ini kurang menarik dan dipengaruhi terutama oleh tujuan dari pembuatan model tersebut. maka memang seharusnya digunakan model analitik. baik dalam bentuk ideal maupun dalam skala yang berbeda. suatu model dikelompokkannya menjadi tiga. yaitu: 1) Model ikonik (model fisik). Jika tingkat ketelitian dimana sistem yang dipelajari untuk memenuhi tujuan tertentu memungkinkan digunakannya suatu model analitik. Dalam hampir semua kasus manajemen sumberdaya alam dan lingkungan. Contoh dari model ini adalah kurva permintaan. Secara filosofis. model dapat dikategorikan menurut jenis. dan diagram alir suatu proses. fungsi.

14. (3) Pemodelan (modelling) adalah berfikir (thinking) mengikuti sekuen logis. sebagaimana dicantumkan dalam Gambar 2. simbol. dengan jenis yang umum dipakai adalah persamaan matematis. Pada dasarnya ilmu sistem lebih terpusat pada penggunaan model simbolik. Menurut Fauzi (2000). tampil melalui persepsi indera (sense) Dunia luar Pemikir (thinker) Model dari realitas Penampilan kembali realitas sebagai hasil dari proses berfikir Gambar 2. Dua katagori model yang paling umum digunakan (Fauzi 2000) yaitu: 76 .3) Model simbolik (model matematik). Fauzi (2000) menyatakan bahwa prinsip-prinsip model dan pemodelan adalah: (1) Model adalah jembatan antara dunia nyata (real world) dan dunia berfikir (thinking) untuk memecahkan masalah. secara umum yang dikatakan model adalah suatu re- presentasi dari realitas dunia nyata yang tampil melalui persepsi indera. menyajikan format dalam bentuk angka. Secara ringkas. serta aliran bahan dan pelayanan pada suatu struktur ekonomi. Model sebagai re-presentasi realitas dunia nyata (Fauzi 2000). posisi sebuah mobil pada suatu aliran transportasi. (2) Masalah (problem) ada yang bersifat “thinkable” dan ada yang “unthinkable”.14. dan rumus. Berfikir merupakan suatu hal yang harus dipelajari. Contoh dari model matematis adalah persamaan antara arus dan tegangan listrik.

5 Beberapa Hasil Penelitian yang Terkait dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir.(1) Bahasa: bahasa adalah suatu model yang terdiri dari urutan (sekuen) metafor-metafor untuk menyapaikan perasaan. berstruktur ini kita sebut sebagai model. Daftar thesis/disertasi yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir. 2. 1997). perikanan. mengapa kita hidup. perikanan. Hasil-hasil penelitian yang berupa thesis dan disertasi yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir. memformulasikan. Dalam Tabel 2. Diagram model seperti ini sangat penting perannya untuk memvisualisasikan gambaran sebenarnya serta dengan memfasilitasi komunikasi antara berbagai orang yang berbeda yang tertarik dengan sistem khusus (Grant et al. Dengan demikian permodelan merupakan proses menyerap. dlsb. Dengan demikian bahasa merupakan suatu sistem penyandian (encoding) pemikiran-pemikiran. keinginan. (2) Agama: agama juga merupakan model untuk pertanyaan-pertanyaan. dan pelabuhan di Indonesia No 1 NAMA PENULIS/JUDUL Yose Rizal Anwar Kajian Pengembangan Kegiatan Perikanan dalam Kerangka Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu di Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat Siti Kamarijah Analisis Dampak Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir. dlsb. misalnya kenapa kita hidup. memproses.3 dicantumkan judul thesis dan disertasi yang dapat diperoleh sejauh ini. Hasil dari proses Salah satu tool yang dapat digunakan untuk menggambarkan model adalah stella. dan pelabuhan. dan Pelabuhan. model konseptual digambarkan dengan diagram kotak dan panah. ternyata belum begitu banyak. Perikanan.3. JENIS/TH Thesis/ 2002 INSTITUSI PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 2 Thesis/ 2003 PS TKL Sekolah Pascasarjana IPB 77 . dan menampilkan kembali. Tabel 2. Kepada orang lain. Secara formal.

Lanjutan Tabel 2.3 No 3 NAMA PENULIS/JUDUL Urip Triyono Pengembangan Koperasi Desa Pantai untuk Menunjang Pembangunan Wilayah Pesisir Secara Berkelanjutan Eggi Sudjana Analisis Ekonomi Politik dan Hukum Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan Kota Batam dalam Rangka Pembangunan Berkelanjutan Endang Suparti Tingkat Partisipasi Masyarakat Pengolah dalam Pengelolaan Lingkungan Sentra Pengolahan Hasil Perikanan (Kasus di PHPT Muara Angke). Frans Asisi Simon Analisis Manfaat Pelabuhan Perikanan Nusantara Tanjungpandan terhadap Masyarakat Pesisir Kecamatan Tanjungpandan Hery Edy Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Malalui Perbankan Mikro Irwan A Strategi Pengelolaan Kualitas Perairan Pelabuhan Perikanan Cilincing Jakarta Utara Sandra Dina Juliana Lintang Analisis Pemanfaatan Pesisir dalam Rangka Pengembangan Wilayah Berbasis Pelabuhan (Studi Kasus Pengembangan Pelabuhan Bitung) Asbar Laga Analisis Sistem Pengelolaan Pelabuhan Perikanan (Studi Kasus: Pangkalan Pendaratan Ikan Paotere Makassar) Bambang Sasongko Pengembangan Organisasi Pengelolaan Pengembangan Kawasan Bahari Terpadu (KBT) Kabupaten Rembang Helmi Yusuf Pengaruh Pembangunan Pelabuhan Perikanan terhadap Kualitas Air dan Persepsi Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Idil Ardi Analisis Sistem Pelabuhan Perikanan di Kabupaten Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat JENIS/TH Thesis/ 2003 INSTITUSI PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB 4 Disertasi/ 2004 5 Thesis/ 2004 PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 6 Thesis/ 2004 PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 7 Disertasi/ 2004 Thesis/ 2004 Thesis/ 2004 8 9 PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 10 thesis/ 2005 PS TKL Sekolah Pascasarjana IPB Thesis/ 2005 Sekolah Pascasarjana ITB 11 12 Disertasi/ 2005 PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS TKL Sekolah Pascasarjana IPB 13 Disertasi/ 2005 78 .

Dhona Arianti Strategi Kebijakan Pengelolaan Kualitas Air di Pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara Farida Hanim Analisis Kebijakan Pemanfaatan Pelabuhan dalam Kerangka Pengelolaan Lingkungan di PPS Nizam Zachman Jakarta Provinsi DKI Jakarta JENIS/TH Disertasi/ 2005 INSTITUSI PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 15 Disertasi/ 2005 16 Disertasi/ 2006 PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS SPL Sekolah Pascasarjana IPB 17 Disertasi/ 2006 18 Thesis/ 2006 Disertasi/ 2007 19 PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS TKL Sekolah Pascasarjana IPB PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB PS PSL Sekolah Pascasarjana IPB 20 Thesis/ 2007 Thesis/ 2007 21 No 22 23 NAMA PENULIS/JUDUL Slamet Subari Optimalisasi Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Ekonomi dan Koservasi Sumberdaya Alam di Kawasan Pesisir Kabupaten Sidoarjo-Jawa Timur. Pola Pengembangan Perikanan dengan Konsep Triptyque Portuaire: Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu.3 No 14 NAMA PENULIS/JUDUL Rofiko Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Pesisir Teluk Kelabat Kawasan Utara Pulau Bangka Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung Soebagio Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Laut Kepulauan Seribu dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Melalui Kegiatan Budidaya Perikanan dan Pariwisata Hengky Penerapan Konsep Ekowisata untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Pesisir di Kabupaten Pandeglang Banten.Lanjutan Tabel 2. Suaedi Rancang Bangun Kebijakan Pembangunan Wilayah Pesisir Berkelanjutan Secara Partisipatif di Kabupaten Subang JENIS/TH INSTITUSI Disertasi/2 PS PWD 007 Sekolah Pascasarjana IPB Disertasi/2 PS PWD 007 Sekolah Pascasarjana IPB 79 . Sofyan Pemodelan Keragaan Sektor Perikanan untuk Pengembangan Ekonomi Sumberdaya dan Regional Pesisir: Suatu Analisis Model Hybrid Syarifah Wirdah Analisis Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Pelabuhan Sunda Kelapa DKI Jakarta Bustami Mahyuddin.

baik satu-satu maupun gabungan dari aspek-aspek tersebut. 80 .Dari Tabel 2. komunitas di daerah pesisir. baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.3 tampak bahwa sebagian besar topik penelitian yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu lebih diarahkan pada analisis pengelolaan aspek sumberdaya perikanan. dan interaksi diantara aspek-aspek tersebut yang dilakukan di satu kawasan yang secara administratif berada dalam satu pemerintah daerah. Sampai saat ini belum ditemukan analisis yang diarahkan pada pengelolaan sumberdaya yang berada di bawah pemerintahan daerah yang berbeda. lingkungan kawasan pesisir. pemerintahan.

sebagaimana dapat dilihat dalam Gambar 3. Data tambahan diambil sampai pertengahan tahun 2007.1. .1 Waktu dan Tempat Penelitian Kegiatan Penelitian ini dimulai sejak pertengahan tahun 2002 sampai pertengahan semester genap 2005.2 Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian Kawasan pengembangan yang menjadi sasaran penelitian ini adalah satu kesatuan ekosistem yang terdiri dari: (1) Kawasan Teluk Dadap di Kabupaten Tangerang dan Kamal Muara di Wilayah Kota Jakarta Utara. (3) Kebijakan-kebijakan dalam bidang perikanan yang dikeluarkan baik oleh tingkat propinsi maupun Kabupaten yang berkaitan dengan kedua daerah tersebut. Lokasi penelitian mencakup Kawasan Dadap-Kamal Muara yang merupakan daerah perbatasan diantara Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang dengan Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan Kota Jakarta Utara.Bab 3 METODOLOGI PENELITIAN 3. cakupan penelitian juga diperluas sampai ke TPI Muara Angke untuk melihat aspek kelimpahan kapal-kapal yang mendarat di TPI ini yang memungkinkan untuk dialihkan. Selain itu. Kawasan Teluk Dadap ini tercakup ke dalam Kecamatan Kosambi di Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Penjaringan di Kota Jakarta Utara. 3. (2) Kawasan administrasi Pemerintahan Kecamatan Kosambi di Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara. Secara administratif.

1 Peta lokasi penelitian 82 .Gambar 3.

Perangkat keras dan perangkat lunak komputer digunakan untuk menganalisis datanya. Data primer diperoleh melalui kegiatan survey penelitian di lapangan. pengelola PPI/TPI.4. pedagang ikan. pedagang alat penangkapan. pedagang eceran bahan bakar. pengolah ikan.3. maupun pengambilan data biofisik sebagai pelengkap data sekunder. wawancara dengan stakeholders pengelolaan wilayah pesisir di kawasan penelitian tersebut.1 Pengumpulan data Jenis data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer yang berkaitan dengan TPI Dadap dan dalam kurun waktu 1999 sampai 2003.3 Alat dan Bahan Penelitian Alat dan bahan penelitian yang digunakan terdiri dari alat tulis dan kuesioner. baik berupa hasil diskusi dengan para pejabat instansi terkait. dan komunitas lokal. Dokumentasi foto diambil secara langsung dan juga menggunakan sumber dari referensi. pengisian kuesioner. Metode pengambilan contoh dilakukan secara acak per kelompok masyarakat yang terkait dengan kegiatan perikanan. pedagang eceran es. serta alat bantu untuk merekam wawancara (tape recorder). nelayan budidaya kerang hijau.4 Metode Penelitian Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survai. baik yang ada di lokasi penelitian maupun di instansi dan lembaga-lembaga terkait dengan permasalahan penelitian. Jumlah sampel responden yang diambil berdasarkan rumus yang dikutip dari Nawawi (2001) berikut ini ⎛ (z α ) ⎞ n ≥ pq ⎜ 1 / 2 ⎟2 b ⎝ ⎠ . penelitian di Kawasan Dadap-Kamal Muara 3. 3. yaitu: nelayan tangkap. untuk mencari data yang berkaitan dengan data biofisik dan sosial ekonomi.

kondisi ekonomi masyarakat (antara lain penghasilan keluarga dan penghasilan pemerintahan desa dan kecamatan). yaitu mencakup perubahan jumlah nelayan dan penduduk secara umum. (2) Kondisi biologi kawasan pesisir yang terdiri dari. Untuk data sekunder. batimetri.dimana: n p q = jumlah sampel minimum = proporsi populasi persentase kelompok pertama = proporsi sisa di dalam populasi (1. serta kegiatan ekonomi dan jasa (khususnya yang berkaitan dengan sumberdaya perikanan). (3) Data primer dan sekunder yang Kondisi ekonomi masyarakat sekitar kawasan yang terdiri dari: pendapatan keluarga dan mata pencaharian. dikumpulkan terdiri dari : (1) Kondisi fisik kawasan yang meliputi bentang alam. alat tangkap. dan iklim (curah hujan. pertumbuhan dan 84 . bahan dan peralatan pendukung operasional penangkapan ikan. persepsi masyarakat terhadap rencana pembangunan pelabuhan perikanan atau pelabuhan kontainer. nilai transaksi ikan. serta perubahan sosial. perubahan peruntukan ruang. salinitas dan turbiditas. input air tawar. bilamana dimungkinkan akan diambil data seri dari tahun 1992 sampai 2003. yaitu selang sepuluh tahun dimana saat penonaktivan TPI Dadap berada hampir di tengah-tengahnya. jenis dan penyebaran sumberdaya perikanan dan sejenisnya. dan laporan kegiatan dari setiap instansi yang ada di Kabupaten Tangerang dan Pemkot Jakarta Utara. perubahan jumlah dan jenis ikan yang ditangkap atau didaratkan.00 – p) z1/2 = derajat koefisien konfidensi pada 95 % b = persentase perkiraan kemungkinan membuat kekeliruan dalam menentukan ukuran sampel Data sekunder diperoleh melalui studi literatur. pendapatan dan mata pencaharian. temperatur dan angin). arus air laut. dan perubahan kualitas lingkungan. perubahan jumlah dan jenis alat tangkap. pasang surut. kesesuaian peruntukan kawasan pesisir.

pemerintahan daerah. yang meliputi daerah alami (natural). perikanan. perindustrian. dll. untuk menjawab hipotesis yang diajukan. perhubungan.2 Analisis data Data dan informasi yang telah diperoleh akan dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk melihat perkembangan peruntukan Kawasan Dadap dan Kamal Muara sebagai daerah kegiatan perikanan. serta perkembangan fasilitas sosial lainnya seperti jalan.4.1. 3. kondisi permukiman. kehutanan. pariwisata. masjid.perubahan kondisi pendidikan dan kesehatan penduduk. Data fisik. dan daerah yang terkena dampak pengembangan (impacted areas). penerangan umum. termasuk peraturan perundangan yang terkait. Keterkaitan diantara jenis-jenis data yang akan dikumpulkan dalam pelaksanaan penelitian ini diperlukan untuk memperoleh suatu dasar berpijak yang kuat dalam pengambilan kesimpulan yang sah dari hasil penelitian yang diperoleh. pendidikan. daerah pengembangan (development areas). pertambangan. (4) Kebijakan pengelolaan saat ini dan rencana per sektor dari berbagai aspek yaitu tata ruang dan tata guna lahan. Kebijakan pengelolaan saat ini dan rencana per sektor yang telah ada. dievaluasi untuk mencari formulasi yang terbaik bagi penyusunan rencana pengelolaan.penyebarannya. kehakiman. dan sosialekonomi dianalisis secara statistik untuk mengetahui potensi-potensi sumberdaya alam dan kondisi sumberdaya manusia serta kelembagaannya. 85 . Penyusunan ini memperhatikan rencana tata ruang wilayah. pendidikan dan kebudayaan serta sosial. biologi. Keterkaitan tujuan pengambilan jenis-jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan alir Tabel 3.

Tabel 3.PDRB sektor ekonomi wilayah Shift share sekunder Informasi tentang tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah 86 . dan output No. Menganalisis struktur komposisi pertumbuhan ekonomi wilayah dan pemusatan aktivitas serta hierarki aktivitas pelayanan. metode analisis. Matriks keterkaitan antara tujuan. INDIKATOR/ PARAMETER ANALISIS SUMBER DATA OUTPUT Mengkaji kondisi lingkungan. pemanfaatan dan ketergantungan daerah perikanan dari TPI Dadap dan TPI Kamal Muara sesuai dengan perkembangan kegiatan pembangunan daerah di kawasan tersebut a) Melihat perubahan komponen biofisik Kondisi biofisik lingkungan b) Melihat seberapa besar tingkat Perubahan data ketergantungan Kawasan Dadap dan Kamal hasil perikanan dan aspek sosial Muara terhadap perikanan Deskriptif Primer/ sekunder Primer sekunder Informasi kondisi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan Informasi tentang dasar pengambilan keputusan perlu tidaknya dilakukan perubahan fungsi pengelolaan TPI Dadap dan Kamal Muara dimasa depan Ideks ketergantun gan daerah perikanan 2. indikator/parameter. TUJUAN 1. sumber data. a) Melihat komposisi pertumbuhan sektor.1.

. 87 . deskriptif Primer/ sekunder Skenario pengelolaan PPI/TPI Dadap dan PPI/TPI Kamal Muara Survey Pro 20 primer Informasi berbagai pendapat dari penduduk lokal tentang kondisi lingkungan dan TPI. 5.b) Melihat wilayah pemusatan aktivitas ekonomi Sektor-sektor ekonomi LQ (Location Quotient) Skalogram sekunder Informasi tingkat keunggulan sektor ekonomi di suatu kawasan 3. pelayanan sosial Mengkaji pemanfaatan lahan dan daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara berkaitan dengan kapasitas tampung TPI Muara Angke dimasa yang akan datang a) Melihat kesesuaian pemanfaatan lahan peruntukan lahan dalam RTRW b) Melihat model kelimpahan kapal ikan yang Kapal ikan dan dapat dipindahkan dari TPI Dadap dan TPI sarana dan prasarana Muara Angke ke TPI Kamal Muara penangkapan ikan dan pelabuhan Membuat analisis dan skenario pengembangan Perubahan dan pengelolaan pelabuhan perikanan dalam aktivitas PPI/TPI konteks pengelolaan pesisir terpadu Dadap dan Kamal Muara Membuat kajian opini masyarakat tentang Hasil kuesioner kondisi perikanan di kawasan Dadap-Kamal responden Muara Primer/ sekunder Informasi pusat pelayan dan pengembanghan Deskriptif Sekunder Informasi tingkat penyimpangan terhadap RTRW Model kelimpahan kapal ikan di Kamal Muara Stella & visual basic Primer sekunder 4. c) Melihat distribusi dan hierarki pelayanan Fasilitas dan fasilitas-fasilitas sosial.

Kelompok analisis data sosial ekonomi dimaksudkan untuk melihat: (1) perubahan ekonomi. yaitu mencakup perubahan nilai transaksi yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan. yaitu mencakup perubahan jumlah nelayan dan penduduk secara umum. perubahan jumlah dan jenis ikan yang ditangkap atau didaratkan. Kelompok analisis data pemanfaatan ruang dimaksudkan untuk melihat bagaimana pola pemanfaatan sumberdaya lahan di kawasan penelitian dan jenis 88 . yaitu: (1) (2) (3) (4) Kelompok analisis data biofisik Kelompok analisis data sosial ekonomi Kelompok analisis data pemanfaatan ruang Kelompok analisis data pengembangan wilayah Kelompok analisis data biofisik bertujuan untuk melihat: (1) (2) (3) (4) (5) Perubahan pemanfaatan lahan. Kesesuaian peruntukan kawasan pesisir. (2) perubahan sosial. Metode analisis yang digunakan adalah analisis hirarkhi wilayah dengan menggunakan metode skalogram. perubahan kualitas lingkungan. serta untuk melihat beberapa faktor pembatas (constraint) pengembangan TPI. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk data fisik perubahan bentang alam. (3) Perubahan hirarkhi wilayah diantara kedua kawasan tersebut dilihat selama periode 5 tahun. perubahan jumlah dan jenis alat tangkap.Metode analisis data yang digunakan akan dikelompokkan menjadi 4 kelompok. data kimia fisik untuk daya dukung lingkungan sesuai dengan baku mutu yang ada. potensi sosial bagi pengembangan suatu pelabuhan perikanan (persepsi umum dari komunitas penduduk di kawasan penelitian).

serta antar sektor ekonomi. keterkaitan pendapatan suatu wilayah dengan sumberdaya perikanan yang terdapat di kawasan penelitian. Tahapan dalam penyusunan analisis skalogram adalah: 1) menyusun fasilitas sesuai dengan 89 . digunakan adalah: (1) (2) analisis shift share untuk melihat pergeseran penggunaan ruang. kemudian akan dilanjutkan dengan analisis konsentrasi dari setiap aspek pemanfaatan tersebut. selain itu juga untuk melihat skenario jumlah kapal yang dapat dipindah dari TPI Dadap ke TPI Kamal Muara. untuk kurun waktu antara 2000 – 2002. analisis skalogram digunakan untuk menentukan hirarkhi wilayah. 3. digunakan untuk menganalisis pergeseran pemusatan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di lokasi penelitian (Kecamatan Penjaringan-Jakarta Utara dan Kecamatan KosambiMetode analisis yang Kabupaten Tangerang). digunakan untuk menganalisis model kualitatif kelimpahan jumlah kapal yang mendarat di TPI Muara Angke dan yang dapat ditampung di TPI Kamal Muara.4.3 (1) Model analisis Analisis skalogram Menurut Rustiadi et al. (2003). analisis location quotient (LQ). (5) visual basic digunakan untuk membuat model matematik yang menggambarkan hubungan antara kelengkapan sarana dan prasarana pelabuhan dengan kondisi sebenarnya. Caranya adalah seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap unit wilayah didata dan disusun dalam satu tabel. Metode analisis yang digunakan adalah: (1) analisis tipologi (analisis skalogram) untuk melihat distribusi dan hierarki pelayanan pelabuhan-pelabuhan perikanan di kawasan penelitian (2) (3) analisis shift share untuk melihat komponen pengembangan wilayah.output yang dihasilkannya. analisis dekriptif terhadap citra satelit Kelompok analisis data pengembangan wilayah dimaksudkan untuk melihat bagaimana pola distribusi pendapatan wilayah. (4) stella.

bobot (rasio antara total terisi dengan jumlah desa). total terisi (countif. 2) khusus untuk fasilitas yang menandakan jarak harus dibuat inversnya. serta 7) menjumlahkan masing-masing unit fasilitas secara vertikal sehingga diperoleh jumlah unit fasilitas yang tersebar di seluruh unit wilayah. 5) menjumlahkan seluruh fasilitas secara horizontal untuk menentukan indeks perkembangan suatu wilayah. nilai maksimum (max) dan nilai minimum (min). selain itu ditentukan juga rata-rata unit fasilitas tersebut (average). 3) semua nilai fasilitas dirasiokan terhadap luas di setiap wilayah sehingga diperoleh sebaran fasilitas di wilayah tersebut.penyebaran dan jumlah fasilitas di dalam unit-unit wilayah. standar deviasi (st-dev). 6) mencari kapasitas pelayanan fasilitas tersebut terhadap jumlah penduduk yang ada dengan cara mengalikan indeks perkembangan di setiap wilayah dengan jumlah penduduk. 4) semua nilai haris distandarisasikan dulu sehingga nilai tersebut memiliki satuan yang sama. sehingga fasilitas yang bernilai nol tidak akan dihitung). Model untuk menentukan nilai Indeks Perkembangan suatu wilayah/pusat pelayan: IP j = ∑ ij mn I ' ij Dimana: I ' ij = IPj Iij I’ij I ij − I i min SD i : Indeks Perkembangan wilayah ke-j : Nilai (skor) indeks perkembangan ke-i wilayah ke-j : Nilai (skor) indeks perkembangan ke-i terkoreksi (terstandarisasi) wilayah ke-j Ii min = Nilai (skor) indeks perkembangan ke-i terkecil (minimum) SDi = standar deviasi indeks perkembangan ke-i = Untuk menentukan nilai Kapasitas Pelayanan (KPj) adalah KPj = IPj x Pj KPj = Kapasitas Pelayanan untuk wilayah ke-j IPj Pj = Indeks Perkembangan wilayah untuk wilayah ke-j = Jumlah Penduduk wilayah ke-j 90 .

(3) Komponen differential share: mengidentifikasi lebih spesifik lagi untuk dapat menunjukkan seberapa penting pengaruh dari sektor tertentu di setiap kabupaten/kota tertentu dalam mempengaruhi laju pertumbuhan aktivitas.i j (2) = 1. pemerintahan tingkat desa.. (2) Komponen propotional share: mengidentifikasi aktivitas.. sektor atau jenis penggunaan yang mana yang berpengaruh penting dan seberapa penting dalam mempengaruhi dinamika setiap kabupaten/kota....). n = 1... m Analisis shift share Prinsip analisis dilakukan dengan dekomposisi indeks pertumbuhan.. 2. Apapun kegiatan pembangunan yang dilakukan di kedua kawasan yang 91 . 3. situasinya diduga agak berbeda sehubungan dengan terdapatnya beberapa program pembangunan yang berinduk pada Pemda masing-masing. dll. besar kemungkinan terdapat suatu kegiatan ekonomi yang berbasis sumberdaya pesisir... 3. Model analisis shift share dapat digambarkan sebagai berikut: Kawasan Dadap dan Kamal Muara adalah dua kawasan yang berdampingan tetapi berada di dua wilayah administratif yang berbeda..... 2. yang saling menguntungkan kedua unsur setempat (antara lain penduduk. Ketiga komponen tersebut dikenal dengan: (1) Komponen regional share: mengidentifikasi peran dinamika keseluruhan wilayah analisis. Tetapi pada tingkat yang lebih tinggi (kecamatan atau kabupaten). untuk mengetahui pentingnya pengaruh dinamika seluruh wilayah penelitian terhadap setiap unit analisis. Pada tatanan lokal dan mikro. Teknik ini dikembangkan dengan mendasarkan adanya 3 komponen pertumbuhan dinamika yang mempengaruhi laju pertumbuhan suatu aktivitas.

/YTo.. 92 . = YTtij/YToij. = YTti/YToi. = YTt. = ΣYTtij = PDRB atau tenaga kerja dari sektor ke-i pada tahun akhir analisis.berdampingan tersebut. = output dari sektor ke-i pada wilayah ke-j pada tahun akhir analisis.. Model matematis dari analisis shift share tersebut adalah sebagai berikut: ΔYij = Pkij + Pw + Pm ij ij YTt ij −YT0 ij = ΔYij =Yij (Ra−1) +Yij (Ri− Ra +Yij (ri− Ri) ) Dimana: m n ΔYij YToij YTtij YToi YTti YTo. = persentase perubahan PDRB atau tenaga kerja pada sektor i kawasan j. = output dari sektor ke-i pada wilayah ke-j pada tahun dasar analisis. ri Ri Ra (rj – 1) = jumlah wilayah studi = 2 = jumlah sektor ekonomi = perubahan dalam output sektor ke-i pada wilayah ke-j... = ΣYToij = PDRB atau tenaga kerja dari sektor ke-i pada tahun dasar analisis. = ΣΣYTtij = PDRB atau tenaga kerja pada tahun akhir analisis. = ΣΣYToij = PDRB atau tenaga kerja pada tahun dasar analisis. (Ra – 1) = Pkij = persentase perubahan PDRB atau tenaga kerja yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan di Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara. (Ri – Ra) = Pwij = persentase perubahan PDRB atau tenaga kerja yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan di Kawasan Dadap dan Kamal Muara (proporsional).. sudah dapat dipastikan akan mempengaruhi kondisi mikro dikedua Desa tersebut. YTt.

(3) Kuosien Lokasi (LQ) Metode Location Quotient (LQ) atau kuosien lokasi merupakan perbandingan antara pangsa relatif pendapatan (tenaga kerja) sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan (tenaga kerja) total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan (tenaga kerja) sektor ke i pada tingkat nasional terhadap pendapatan (tenaga kerja) nasional (Budiharsono 2001)..m) Koefisien konsentrasi S β = (N ) − ( i i ∑ Si ) ∑ Ni Dimana: β = kuosien lokasi/koefisien konsentratsi 93 . Hal tersebut secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: ei et LQ = ∑ ∑ i i m m Si St Dimana: ei et ΣSi = jumlah pendapatan sektor ke-i pada Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara = jumlah pendapatan total di Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara = jumlah pendapatan sektor ke-i daerah Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara dari sektor ke-i ΣSt = jumlah pendapatan total Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara dari sektor ke-i (i = 1.(ri – Ri) = Pmij = persentase perubahan PDRB atau tenaga kerja yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan kompetitif di kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara. 2.. 3.. ...

Si = jumlah PDRB sektor ke-i pada wilayah Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara. indikator ekonomi wilayah dan industri. Ni = jumlah PDRB total di wilayah Kabupaten Tangerang/Kota Jakarta Utara (4) Analisis ketergantungan daerah perikanan Menurut Phillipson (2000) dalam Adrianto (2004) kriteria daerah perikanan ini terdiri dari tiga sistem indikator. pendidikan. kesehatan. dll. (b) indikator absolut aktivitas perikanan (yang terkait langsung dengan menurunnya kinerja sektor perikanan). yaitu: (1) Indikator ketergantungan perikanan (fisheries dependence indices) yang mencakup tiga komponen utama: (a) indikator ketenagakerjaan (kontribusi tenaga kerja perikanan dalam total struktur ketenagakerjaan). Pt = total jumlah penduduk pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota. Dalam bentuk rumus matematika. (3) Indikator sosial demografis yang mencakup indikator kependudukan. variabel ketergantungan daerah perikanan oleh Kasimis dan Petrou (2000) indikator-indikatornya digambarkan sebagai berikut: (1) Rasio jumlah nelayan dan atau petani ikan terhadap total penduduk (RNt) RNt = ∑Pt ti N Dimana: Nti = jumlah pelaku perikanan primer dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. dan (c) indikator tingkat signifikasi ekonomi dari sektor perikanan terhadap ekonomi daerah (2) Indikator ketergantungan ekonomi (economic dependence indices) yang meliputi indikator ketenagakerjaan wilayah. 94 .

Rasio jumlah nelayan dan atau petani ikan terhadap total tenaga kerja (RMt) RMt = ∑ t ti TK N Nti Pt n (3) = jumlah pelaku perikanan primer dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. = total jumlah penduduk pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota = jumlah sektor dalam perikanan Rasio jumlah hasil tangkapan ikan (RPIt) RPIt = ∑ PI ti ∑ tj PI PIti = jumlah produksi perikanan dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. PItj = jumlah produksi perikanan dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota n (4) = jumlah sektor dalam perikanan Rasio jumlah kapal ikan (RKt) RK=∑KIti t ∑ ti JK JKti = jumlah kapal ikan dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa.n (2) = jumlah sektor dalam perikanan. KIti = jumlah kapal perikanan dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota n (5) = jumlah sektor dalam perikanan Rasio jumlah tenaga kerja sektor pengolahan hasil perikanan (RTKPt) TKP RTKP t = ∑ TK ti ∑ tm 95 .

PDBt n = total produk domestik bruto perikanan pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota.TKPti = jumlah tenaga kerja pengolahan hasil perikanan dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. = jumlah sektor dalam ekonomi Sementara itu. 2000) sebagai berikut: (7) Rasio kesempatan kerja terhadap total jumlah penduduk (RKKt) KK RKK t = ∑ Pt ti KKti Pt n (8) = jumlah kesempatan kerja dari sektor ke-i dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. TKtm = jumlah total tenaga kerja sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota n (6) = jumlah sektor dalam perikanan Rasio kontribusi sektor perikanan wilayah desa terhadap wilayah kabupaten/kota (KPIti) KPI ti = ( ∑ PDBP t / n ∑ PDBT i ) PDBPt = produk domestik bruto perikanan pada tahun-t untuk wilayah desa. untuk variabel ketergantungan ekonomi rumus matematika dari indikator-indikatornya (Kasimis dan Petrou. = total jumlah penduduk pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota = jumlah sektor dalam ekonomi Rasio kesempatan kerja dalam industri terhadap total jumlah penduduk (RIti) RIti = ∑Pt KKti KKti Pt = jumlah kesempatan kerja dari sektor ke-i pada tahun-t untuk wilayah desa. = total jumlah penduduk pada tahun-t untuk wilayah kabupaten/kota 96 .

pedagang ikan.n = jumlah sektor dalam industri = 3 (sektor primer. Dengan menggunakan kuesioner sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1. Y i = ki X + b 97 .. 3. (6) Analisis Stella dan visual basic untuk model kelimpahan kapal ikan Stella adalah salah satu tipe software yang dapat digunakan untuk membuat model dinamika dari suatu kondisi dilapangan yang diprediksikan untuk masa yang akan datang. dan komunitas lokal. pedagang bahan bakar. Data dianalisis dengan menggunakan Survey Pro 20. n = faktor jenis fasilitas yang berubah Asumsi yang ditetapkan adalah bahwa setiap perubahan yang terjadi pada jumlah kapal akan berdampak terhadap perubahan jenis fasilitas secara linier. pengelola pelabuhan. pengolahan ikan.. dan tersier). pendapat masyarakat diambil dari berbagai kelompok mata pencaharian.. 2. Untuk membangun model matematik yang dibuat untuk menggambarkan kelimpaha kapal ikan dengan kelengkapan sarana/prasarana pelabuhan digunakan rumus Dimana: Y = fasilitas sarana/prasarana X = total bobot kapal i = 1. yaitu: nelayan penangkap dan budidaya. sekunder. (5) Analisis pendapat responden masyarakat lokal Survey dilakukan untuk mendapatkan data pendapat masyarakat yang berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perikanan. Seluk beluk yang berkaitan dengan Stella dalam disertasi ini diambil dari Ford (1999) dengan menggunakan software Stella versi 7... .

20 % dari total penduduk Kabupaten Tangerang. yaitu terdiri dari Kecamatan Kosambi. Jika dilihat dari jumlah penduduk yang ada di kawasan pesisir. Mauk. Kabupaten Bogor. Sukadiri. dan Kabupaten Bekasi. Namun demikian. Posisi geografi Kabupaten Tangerang yang persis berbatasan dengan DKI Jakarta telah menyebabkannya menjadi daerah penyangga. Jakarta sebagai suatu kawasan pusat kegiatan pemerintahan dan bisnis utama di Indonesia tidak mampu lagi menampung dinamika perkembangan penduduk DKI dan kegiatannya. atau sebesar 7. sebagaimana juga dengan Kota Tangerang. Hal ini mengakibatkan tumbuhnya migrasi pekerja industri. Dari 26 kecamatan yang menjadi wilayah Kabupaten Tangerang. 25 % dari total penduduk Provinsi Banten. dan Kecamatan Kronjo. khususnya sektor industri manufaktur. Teluk Naga. maka wilayah pesisir Kabupaten Tangerang memiliki 541. hanya 7 kecamatan yang mempunyai wilayah pesisir dan lautan. Wilayah kabupaten ini secara administratif terbagi menjadi 26 kecamatan dan 328 desa. Kota Depok. Kemiri. termasuk mengakomodasi arus investasi.4 4.110.38 km2.1 KEADAAN DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Tangerang terletak pada posisi 106o20’ sampai 106o43’ BT dan diantara 6o00’ sampai 6o22’ LS. baik dicirikan oleh pertumbuhan berbagai jenis investasi maupun dampak sosialnya (antara lain pertambahan penduduk). Luas wilayah Kabupaten Tangerang adalah 1. Jumlah penduduk pesisir Tangerang pada tahun 2002 ini merupakan hasil estimasi berdasarkan prakiraan penduduk Kabupaten Tangerang pada Laporan Revisi RTRW Kabupaten Tangerang (BAPPEDA 2001). Paku Haji. baik yang bekerja di wilayah DKI Jakarta maupun di Tangerang. hasil pengolahan PKSPL IPB terhadap data kependudukan (BAPPEDA 2004) menunjukkan bahwa dinamika jumlah penduduk Kabupaten .076 jiwa atau sebesar 16. Besarnya pengaruh perkembangan DKI Jakarta terhadap Tangerang ditunjukkan dengan cukup pesatnya perkembangan ekonomi Tangerang.

Salah satu kawasan yang sangat dinamik di Kecamatan Kosambi adalah Desa Dadap.185. di kampung ini akhirnya dibentuk RT dan RW.994 jiwa) (PKSPL IPB 2004) Tahun 2002. Mereka mulai memadatkan tanah dan membangun rumah-rumah sederhana di tepi Kali Perancis. (5) Terdapatnya areal pergudangan dengan segala aktivitas bongkar muatnya.647 jiwa) sampai tahun 2002 (3. (2) (3) (4) Dekat dengan jalur tol bandara. yaitu: (1) Berbatasan dengan wilayah DKI Jakarta Utara yaitu dengan Kelurahan Kamal Muara. kenaikan populasi penduduk di Kecamatan Kosambi hampir mencapai 2. Muara Kali Perancis merupakan tempat berlabuhnya beberapa kapal pesiar (yacht).921 jiwa tinggal di Kecamatan Kosambi (kenaikan 36. pemukiman Dadap di lokasi tanah Perum Angkasa Pura (PAP) dan Pemda ini mulai tumbuh sekitar awal 1976. Bahkan.95 %). dan 94. (6) Sumberdaya manusia untuk pekerjaan yang tidak spesifik tersedia cukup banyak.701 jiwa. Menurut informasi. Kecamatan Kosambi berpenduduk 103. dan kantor KUD.3 kali lipat dibandingkan dengan populasi penduduk di Kecamatan Teluk Naga. dan nomor dua penduduk kecamatan pesisir terbanyak setelah Teluk Naga.51 % dari tahun 1961 (643.140 jiwa tinggal di Kecamatan Teluk Naga (kenaikan 15.Tangerang telah meningkat sebanyak 463.59 %). Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan data tahun 1999. lengkap dengan masjid. Warga juga membayar Pajak Bumi Bangunan. Tingginya dinamika yang terjadi di desa ini disebabkan oleh beberapa hal. Lambat laun.157 jiwa (BAPPEDA 2004). madrasah. 99 . Para nelayan yang tergusur dari Muara Karang berpindah ke sini. meski sejak 1991 berhenti (Republika Online 1996). yaitu sebanyak 109. gereja. Dengan demikian. tumbuhlah sebuah kampung. Terdapat pangkalan pendaratan ikan (PPI) Dadap. mulai dari tepi laut sampai ke darat sekitar dua kilometer. yaitu 75.

taman-taman. ke Kecamatan Mauk dan Kronjo. serta tempat parkir. meliputi dermaga nelayan. pasar ikan. penginapan. Tanjung Kait Kecamatan Sukajadi. Sektor perikanan dan kelautan juga mempunyai beberapa rencana di kawasan pantura tersebut. (2) (3) (4) (5) (6) (7) Wisata lahan pertanian dan tambak Pembenahan kegiatan-kegiatan hiburan Pembukaan gerbang tol Jakarta-Cengkareng ke arah Dadap Perbaikan jalur jalan Pengadaan air bersih Pengadaan jaringan infrastruktur Disamping rencana-rencana sektor pariwisata tersebut di atas. dan pasar sayur 2) daerah komersial. (2) Membangun TPI dan pelabuhan nelayan di muara Kali Perancis. kebijakan sektor perhubungan (Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2001) adalah: (1) Pembangunan fasilitas pergudangan di Kecamatan Kosambi dan pelabuhan peti kemas di sekitar muara Kali Perancis. 100 . dan kawasan campuran wisata dan perumahan.Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tangerang (Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2001). dan Paku Haji. dimana aktivitas yang direncanakan adalah: (1) wisata keluarga: 1) waterfront. Kawasan-kawasan wisata tersebut secara terpadu akan dialokasikan untuk 3 kegiatan utama. meliputi restoran. kawasan wisata. Objek wisata andalan di Kecamatan Kosambi adalah Pantai Dadap. play ground dan tempat olah raga terbuka. di kawasan pantura direncanakan akan dikembangkan beberapa kawasan wisata. yaitu kawasan perumahan. Teluk Naga. Arukan/Muara (Kecamatan Kosambi). yakni: (1) Relokasi kawasan pertambakan dari Kecamatan Kosambi. tempat pelelangan ikan. yaitu di Pulau Cangkir (Kecamatan Kronjo). Salembaran Jati dan Dadap (Kecamatan Kosambi). (2) Membangun dermaga wisata bahari di kawasan wisata Tanjung Pasir. Tanjung Burung dan Tanjung Pasir (Kecamatan Teluk Naga).

akibat kondisi kualitas jalan yang tidak sesuai dengan beban yang diterimanya. Terdapat dua komplek perumahan yang sudah dibangun. PT Mutiara Kosambi.473 ha yang terdiri dari 5 dusun. 7 RW dan 28 RT. Berkembangnya areal pergudangan menyebabkan tingginya frekwensi kendaraan berat yang melalui Wilayah Dadap. Kadang-kadang ada para nelayan atau pedagang ikan yang berjualan di TPI Dadap tersebut. Salah satu tanda sedang berkembangnya kegiatan ekonomi di Dadap ditunjukkan oleh pesatnya pembangunan komplek pergudangan. dimana total jumlah gudang sekitar 400 unit. maka terjadi kerusakan jalan yang cukup parah. yang menawarkan dagangannya kepada para pengunjung restoran seafood yang terdapat di sekitar TPI tersebut. TPI Dadap sebenarnya sudah tidak berfungsi lagi. Sampai saat ini. Artinya.2 Kondisi Lingkungan Kawasan Teluk Dadap terletak di sebelah utara Kabupaten Tangerang bagian timur. Terdapat 3 perusahaan pengelola pergudangan. Komplek pergudangangan ini dibangun di atas areal persawahan. yaitu PT Parung Harapan. Luas wilayah dan jumlah desa yang termasuk Kecamatan Kosambi dicantumkan dalam Tabel 4. 101 . hanya sedikit fasilitas pelabuhan dan TPI yang secara permanen dibangun di muara Kali Perancis. kedua komplek perumahan tersebut belum sepenuhnya berpenghuni. yang mencakup wilayah Desa Dadap. dan PT Marina Dadap. Perkembangan kegiatan pembangunan di Desa Dadap yang semakin pesat telah mendorong dilakukannya pembangunan fasilitas pemukiman bagi penduduk.Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampai tahun 2004. meskipun sudah lebih dari lima tahun dibangun. 4. yaitu Villa Taman Bandara dan Christer Griya Lestari.1. baik sebagai tempat pelelangan ikan maupun tempat pendaratan ikan. Desa Dadap ini mempunyai luas wilayah 401. yang tingkat produktivitasnya satu tahun sekali panen.

25 4.26 1. Tidak konsistennya data luasan desa ini kemungkinan disebabkan oleh tidak akuratnya pengukuran lahan yang dilakukan dan karena terjadinya erosi dan atau reklamasi pantai.85 Sumber : *) = Dinas Tata Ruang dan Bangunan (2001) **)= Laporan Tahunan Kecamatan Kosambi Bulan Desember 2003.Tabel 4. Sebagai wilayah yang cukup dekat dengan Teluk Naga.866 1. Desa Kosambi Barat dan Desa Kosambi Timur Kabupaten Tangerang.300 6.18 6.309 2.97 2. Luas dan jumlah desa di Kecamatan Kosambi tahun 2003. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Desa Rawa Rengas Rawa Burung Belimbing Jati Mulya Dadap Kosambi Timur Kosambi Barat Cengklong Selembaran Jati Selembaran Jaya Luas Wilayah (km2) 1999* 1.015 2.963 2002** 1. yang merupakan pusat pertumbuhan di bagian utara Kabupaten Tangerang sebagaimana 102 .1.720 4. Dari Tabel 4.06 1. No.97 1.88 3.206 1.49 Jumlah 29.888 4.531 1.1 dapat dilihat bahwa data luas desa relatif tidak seragam antara tahun 1999 dan 2002.93 4. Wilayah Desa Dadap berbatasan dengan: (1) (2) Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa dan Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara (3) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kosambi Timur Kabupaten Tangerang dan Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara (4) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Jatimulya.882 2.86 2.678 30.

karena menghadap ke Teluk Jakarta dan mempunyai kondisi perairan yang sama. Tegal Alur. kepedulian warga Kamal Muara dalam bergotong royong. (4) Sebelah Barat dengan Desa Dadap Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang. diantaranya kalau ada yang meninggal tanpa disuruh langsung memberikan bantuan.053 ha meliputi 3 Rukun Warga dan 19 Rukun Tetangga. Menurut penduduk. baru kemudian menjadi nelayan. Contoh yang paling terlihat dewasa ini. dan Kelurahan Kapuk Kota Jakarta Barat. Bentang alam kawasan Kamal Muara ini relatif sama dengan kawasan Dadap. Sebelah Selatan dengan Jalan Kapuk Kamal yang mengarah ke timur berbatasan dengan Kelurahan Kamal. Sebelah timur dengan Kelurahan Kapuk Muara. maupun ketersediaan prasarana dan sarana pembangunan yang sudah tersedia. Penduduk awalnya bertani sawah. Kekompakan masyarakat di Kamal Muara terbilang tinggi. Kawasan Kamal Muara terletak berbatasan dengan Desa Dadap yang ada di sebelah baratnya. 2002). mulai dari memandikan jenazah sampai dikuburkan termasuk dengan melakukan tahlilan. Wilayah Kamal Muara berbatasan dengan: (1) (2) (3) Sebelah utara dengan Teluk Jakarta. wilayah Teluk Dadap mempunyai potensi pengembangan yang cukup besar. Partisipasi Hal ini dibuktikan dengan 103 . Kelurahan Kamal Muara yang mempunyai luas wilayah sebesar 1. pemukiman di kawasan Kamal Muara sendiri sudah ada sejak tahun 1953. khususnya aspek sosial kemasyarakatan. Dengan demikian aspek dukungan terhadap pengembangan ekonomi wilayah sangatlah besar. warga dalam menjaga keamanan sangat tinggi. Kali Cengkareng Drain. saat kawasan ini masih hutan. Cengkareng Timur.ditentukan dalam rencana struktur tata ruang (Rustiadi et al. baik dilihat dari letak strategisnya di pesisir utara yang berbatasan langsung dengan Wilayah Kota Jakarta Utara. Prasarana dan sarana transportasi sangat memadai untuk mencapai jalan tol arah Jakarta Bandara Sukarno Hatta.

terpilihnya Kamal Muara sebagai juara pertama lomba siskamling tingkat Polda Metro Jaya pada tahun 2005. sisanya juga tergantung pada aktivitas perikanan (jumlah penduduk Kelurahan Kamal Muara sebanyak 1. konsumen mengalami kesulitan untuk mendapatkan ikan. Padahal jumlah nelayan di RW IV ini mencapai 90 %. Dampak ikutan dari kegiatan reklamasi ini tentu saja akan dialami oleh keluarga nelayan. pendapatan daerah turun. dan sero-sero yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Informasi yang dikumpulkan oleh IMC (2006) menunjukkan bahwa nelayan tidak sepenuhnya dilibatkan oleh PT Kapuk Naga Indah (KNI). Di kelurahan nelayan yang kini dihuni oleh sekurangnya 6000 jiwa. Informasi yang diterima nelayan menyebutkan bahwa akan dilakukan reklamasi pantai di areal tempat usaha nelayan. Tidak adanya transparansi dalam perencanaan propgram pasca reklamasi tersebut menyebabkan terjadinya kegelisahan masyarakat sekitar Kamal Muara. khususnya nelayan yang tinggal di sana. produksi ikan turun.821 kepala keluarga yang terbagi kedalam 4 RW) (Anonimous 2007). Sebagai wilayah paling barat dari DKI Jakarta. Implementasi dari sosialisasi tersebut dilakukan oleh Sudintantrib Jakut yang melakukan pembongkaran 105 unit sarana usaha nelayan tersebut dengan ganti rugi sebesar 1. secara turun temurun air bersih diperoleh dari tiga 104 . Istilah KNI adalah akan menggusur bagan-bagan ikan. bagan tempat budi-daya kerang hijau. Alasan yang disodorkan oleh Sudintantrib adalah melanggar Perda no 11 dan no 6. tetapi masyarakat menilai waktu pemberitahuannya sangat singkat.5 juta rupiah per unit dan hanya dibayarkan kepada 95 orang nelayan. Meskipun sosialisasi program reklamasi telah dilakukan. khususnya para nelayan yang terancam kehilangan mata pencahariannya. dll. Kamal Muara ikut mengalami dampak pembangunan yang cukup besar. Masalah penting yang dihadapi oleh penduduk di Kamal Muara adalah kesulitan air bersih (Anonimous 2006). Reklamasi pantai Indah Kapuk yang sudah keluar acuannya lewat Keppres 52/95 dan sedang berjalan juga berpengaruh pada masyarakat sekitarnya.

2 ha yang membentuk greenbelt selebar 4 m sepanjang 4 km. setiap hari minimal sepikul air yang terdiri dari dua kaleng seharga Rp 3. air dari ketiga sumber ini tidak layak diminum dan hanya dimanfaatkan untuk aktivitas mandi. Kawasan mangrove ini terletak di sebelah timur TPI Kamal Muara.82 hektar (Distanhut 2007). dengan perkiraan luas sekitar 99. Di kawasan Kamal Muara terdapat Hutan Wisata Kamal Muara. direncanakan masuk ke Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. dimana juga terdapat TPI Kamal Muara. Total luas kawasan Muara Angke mencapai 65 ha. Menurut analisis UPC (2005). Untuk kebutuhan MCK. artinya kampung ini cepat atau lambat pasti akan tergusur. layanan perusahaan daerah air minum (PDAM). Kamal Muara yang merupakan tempat pindahan dari penduduk yang terkena gusuran untuk jalan tol ke bandara Soekarno Hatta yang terjadi tahun 1996. tambak uji coba 105 . dan kakus (MCK).000 atau minimal Rp 90. Secara administratif kawasan ini termasuk Kelurahan Pluit Kecamatan Penjaringan. pilihan sumber air bersih bisa ditambah sumur-sumur bor yang diusahakan oleh warga setempat. yang terdistribusi menjadi: perumahan nelayan (21. air Sungai Kamal pun tak lagi layak untuk dipakai untuk MCK. Kondisi ini mengharuskan setiap keluarga untuk membeli air kalengan untuk air minum. Apalagi sejak tahun 1980-an. Sesuai dengan master plan-nya. Dari segi kualitas. Di sebelah timur Kamal Muara terletak Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PP/PPI) Muara Angke. berlangganan layanan air dari PDAM dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang kualitas airnya kerap tak layak konsumsi. karena limbah kegiatan industri yang berdekatan dengan pemukiman penduduk memperburuk kualitas air yang sebelumnya telah tercemar sampah rumah tangga. lebih dari separuh jumlah penduduk Kamal Muara menggantungkan pasokan air bersih dari penjaja air pikulan untuk memenuhi kebutuhan air minum.26 ha). Tinggi tegakan sekitar 4 m. Sisanya. yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Penjaringan.. dan air sungai.sumber pokok. Saat ini. Luasan areal hutan mangrove diperkirakan 19. Kamal Muara akan dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Administratif Kepulauan Seribu. sumur bor yang diusahakan penduduk lokal. cuci.000 setiap bulannya.

dan bioskop (1 ha).568 jiwa/km2. yang terdiri dari tempat pelelangan ikan. sedangkan tahun 2003 sebesar 1. Tahun 2003.870 jiwa. bangunan Pangkalan Pendaratan Ikan serta fasilitas penunjangnya (5 ha). jumlah penduduk ini meningkat drastis sampai 14.442 jiwa. kios pujaseri. lahan kosong (6. gedung pengecer ikan. Dengan luas desa sebesar 401.287 jiwa dan terdiri dari 3.473 ha dan jumlah penduduk 6.174 rumah tangga. areal docking kapal (1. gedung pasar grosir ikan.798 laki-laki dan 10. Adapun keadaan jumlah penduduk laki-laki dan perempuannya berimbang dengan nilai seks ratio 1.1 Penduduk dan Mata Pencaharian Pada tahun 1994 penduduk Desa Dadap berjumlah 6.budidaya air payau (9. 106 . Adapun jumlah rumah tangganya adalah 1. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa secara fungsional PP/PPI Muara Angke yang berstatus sebagai pangkalan ikan daerah telah memiliki fasilitas setara dengan pelabuhan perikanan nusantara. gudang.072 perempuan serta 5. serta terminal (2. bank. Perubahan tingkat kepadatan penduduk ini disebabkan oleh adanya beberapa kompleks pemukiman baru dan berkembangnya kompleks pergudangan. kios. kantor yang dimanfaatkan oleh para pengusaha perikanan.7 ha). yang merupakan jumlah penduduk desa tertinggi di Kecamatan Kosambi jika dibandingkan dengan desa-desa yang lain (Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2001). dengan komposisi 9.57 ha) dan lapangan sepak bola (1 ha) (Disnakkanlut 2006). dll. .02 tahun 1994 dan menjadi 0.411 rumah tangga (Anonimous 2004).35 ha).2.174 laki-laki dan 3.287 jiwa. yaitu 1. tahun 1999 kepadatannya mencapai 3. Tahun 1999. pasar. 4. tahun 1994 Desa Dadap tergolong mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. tempat pengepakan ikan.857 jiwa/km2. jumlah penduduk Desa Dadap bertambah menjadi 19.12 ha).97 tahun 2003.597 jiwa/km2.113 perempuan. Hal ini tidak hanya ditinjau dari fasilitas yang tersedia tetapi juga dari jumlah produksi hasil perikanan dan kelautan yang didaratkan dan dipasarkan.

234 perempuan).71 3.560 laki-laki dan 3.2. hanya 1.508 Sumber: BPS Jakut (2004a).597 55. 2. Penjaringan 35.Jumlah penduduk di Kelurahan Kamal Muara tahun 2003 adalah 5.974 Rasio Sex 107 108 103 110 93 102 No.518 56.505 5. kepadatan penduduk dan sex rasio dapat dilihat pada Tabel 4. Kelurahan 1. artinya terdapat 107 wanita untuk setiap 100 orang pria.653 14. Tabel 4.574 4.974 jiwa/km2.23 7. dengan kepadatan penduduk masing-masing mencapai 17. Kamal Muara Kapuk Muara Pejagalan Pluit Penjaringan Kec.915 KK yang berdomisili di Kecamatan Penjaringan. 5.821) dari 49. jumlah pendudukan.2. Jumlah KK yang terbanyak berada di Kelurahan Pluit (14.505 jiwa/km2 dan 14. Jumlah KK yang tercatat di Kamal Muara berdasarkan Penjaringan Dalam Angka (2003) juga terendah. jumlah kepala keluarga. Jika dibandingkan dengan kepadatan penduduk rata-rata di Kecamatan Penjaringan yang mencapai 7.794 jiwa. nilai seks rasio mencapai 107. Luas wilayah. maka Kelurahan Kamal Muara merupakan kelurahan dengan kepadatan penduduk terendah.444 17. jumlah penduduk sudah mencapai 6.321 KK).95 Jumlah 5. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 Luas (km2) 10. Kelurahan yang kepadatannya tertinggi adalah Kelurahan Pajagalan dan Kelurahan Penjaringan.315 14. dengan kepadatan penduduk 568 jiwa/km2.898 KK).980 jiwa (April 2007.321 49.06 3. dengan komposisi 3.807 KK) dan Kelurahan Penjaringan (14.807 14. Kelurahan Pejagalan (14.980 14.574 KK (April 2007 jumlah KK tercatat sebanyak 1.574 43.49 176.839 KK 1. dengan kisaran antara 93 – 110. Data selengkapnya mengenai luas wilayah.121 jiwa/km2. 107 . data diolah. Di tingkat Kelurahan Kamal Muara.898 14. 4. Nilai sex rasio penduduk Kecamatan Penjaringan pada umumnya seimbang. dengan rata-rata sex rasio sebesar 102.53 10.121 7.915 Kepadatan Penduduk 568 1. 3.

71 % (6. baik berupa tambak maupun lahan pertanian. yakni 1. jasa. 3. yakni sebanyak 36. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.597 55.3. 5. Kamal Muara Kapuk Muara Pejagalan Pluit Penjaringan Kec. rukun warga (RW) dan rukun tetangga di Penjaringan 2003 Jumlah Penduduk 5.518 56.3.54 % kepala keluarga (701 KK) menekuni kegiatan pertanian. Penjaringan Berdasarkan jenis kegiatan (mata pencaharian) yang ditekuni oleh penduduk di Kamal Muara dan Kecamatan Penjaringan. serta usaha lainnya.980 14.574 43. Sisanya menekuni kegiatan usaha bangunan. Hal ini terjadi karena masih banyaknya lahan-lahan yang kosong terdapat di kelurahan ini. sebanyak 44. 12.807 14.Dari Tabel 4. Kondisi kependudukan untuk setiap kelurahan di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 dicantumkan dalam Tabel 4. 4. tetapi jumlah dan kepadatan penduduknya adalah yang paling kecil.400 KK) dan bangunan sebesar 13.898 14.321 49. Tabel 4.574 4.315 14.83 % (7.81 % (902 KK). Usaha yang ditekuni penduduk Kamal Muara tersebut berbeda dengan usaha yang ditekuni pada umumnya di Kecamatan Penjaringan. 108 .839 176.96 % (204 KK) menekuni industri.35 % (18.4. dimana sebagian besar kepala keluarga di kecamatan ini menekuni bidang industri.48 % (165 KK) menekuni kegiatan perdagangan. Penduduk yang menekuni usaha pertanian di Kecamatan Penjaringan hanya sebagian kecil saja. Kelurahan 1. perdagangan sebanyak 14.915 RW 3 7 18 18 17 63 RT 21 66 226 221 237 771 No.2 tampak bahwa meskipun luas Kelurahan Kamal Muara paling besar jika dibandingkan dengan kelurahan-kelurahan lainnya di Kecamatan Penjaringan.142 KK). kepala keluarga.842 KK). transportasi dan komunikasi.508 KK 1. Jumlah penduduk. dan 10. 2.

094 2.338 2.4 Jumlah kepala keluarga menurut jenis kegiatan di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 Kamal Muara (KK) 701 204 95 165 87 0 52 83 187 1. 5. sebagian besar penduduk yang menekuni bidang pertanian (dalam hal ini perikanan) terkonsentrasi pada wilayah Kamal Muara.81 9.400 4.980 1. Dengan demikian. 7.321 Kec. Tabel 4.315 Peja galan 0 6.807 Pluit 0 3. Jenis Kegiatan Pertanian Industri Bangunan Perdagangan Transportasi dan Komunikasi Keuangan dan Perbankan Pemerintahan Jasa Lainnya Jumlah Sumber: BPS Jakut (2004a) data diolah. Data jumlah kepala keluarga dan jenis kegiatan matapencaharian penduduk di Kecamatan Penjaringan dapat dilihat pada Tabel 4.78 4. 4. Pertanian Industri Bangunan Perdagangan Trans-Kom Keuangan/Perbankan Pemerintahan Jasa Lainnya Jumlah Sumber: BPS Jakut (2004a) 109 . 7.206 734 229 694 1. Jenis Kegiatan Kamal Muara 701 204 95 165 87 0 52 83 187 1. yang jika dipersentasekan mencapai 77. Jumlah Kepala Keluarga Menurut Jenis Kegiatan di Penjaringan tahun 2003 Kelurahan/Kecamatan No.941 49.04 10.Tabel 4. 6.898 Penjaringan 0 6.96 6.142 6.959 2.574 % 44. 6.773 417 733 14.574 Kapuk Muara 201 2.27 11.5. 4.85 5.915 Kec. Penja ringan 902 18.216 1.757 792 314 187 3. 2. 5.306 14.81 36. 2.5. 9.941 49.422 2.142 6.83 9.422 2.98 2. Penjaringan 902 18.886 2.145 681 854 149 7 53 162 63 4.400 4.90 No.48 5.35 13.551 652 14.400 4.842 7. 8.253 394 1.915 1.161 2.886 2. 8.30 5. 9.980 % 1.400 4. 3.88 1.71 14.842 7.72 %. 1. 3.54 12.53 3.294 984 1.988 2.

kita dapat menduga bahwa pola arus di perairan ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. lanau dan pasir (PKSPL 2004). Dari kondisi seperti ini. bertambah menjadi 5 m sampai jarak sekitar 2.250 m.4. perairan di sekitar kawasan tersebut dapat dikatakan dangkal dan landai.5 m sampai 10 m hingga jarak sekitar 1.000 m. terbuka lebar ke arah timur laut menghadap Teluk Jakarta.2 Lingkungan perairan Kondisi perairan di Pantai Dadap dan Kamal Muara ini dipastikan sama persis karena mempunyai posisi lintang yang berdekatan dan terletak pada satu garis pantai yang relatif lurus terhadap Laut Jawa. Kedalaman perairan ini mulai dari 0. 7 m sampai jarak sekitar 3. lempung.2. Kawasan pesisir Kecamatan Kosambi (sebagaimana juga kawasan pantura lainnya) mempunyai dasar perairan berlumpur dan berpasir. (1) Pasang surut Proses gerakan massa air suatu perairan sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis dari wilayah perairannya. Posisi Pantai Dadap dan Kamal Muara yang terletak pada koordinat sekitar 6o 15’ BT. serta mengalami pengaruh pasang surut dan gelombang yang sama.000 m (diolah dari BAPPEDA Tangerang 2002). Karena kawasan Pantai Dadap dan Kamal Muara terdapat di Teluk Jakarta yang berhadapan dengan Laut Jawa. maka dilihat dari keadaan batimetrinya. Pola pasut di perairan 110 . kemudian 6 m sampai jarak sekitar 3. kerapatan.8 km dari darat. salinitas. serta mencapai kedalaman 10 m sampai jarak sekitar 4. Kedalaman laut di pesisir Kecamatan Kosambi menurut hasil survey Dishidros tahun 1999 sekitar 4 m sampai jarak sekitar 1.500 m. komponen-komponen oseanografi seperti suhu.750 m. Pengukuran komponen oseanografi dilapangan yang dilakukan bulan Februari 1995 dan Oktober 2004 oleh PKSPL IPB (2004) mendukung dugaan tersebut. maupun arus di lapisan permukaan laut diduga tidak jauh berbeda dengan yang di lapisan bawahnya (kecuali di daerah muara sungai). Dengan memperhatikan keadaan geografis kawasan Muara Dadap. Material dasar perairan tersusun dari lumpur.

maka daerah tersebut bertipe pasang tunggal. Dengan asumsi bahwa kondisi pasut di Muara Dadap dan Kamal Muara mirip dengan kondisi pasut di Tanjung Priok. dan sekitar 0. terjadi pada bulan purnama atau bulan mati. maka perubahan yang terjadi di Tanjung Priok akan dialami pula oleh daerah Muara Dadap.ini ditentukan oleh pola pasut dari perairan yang lebih besar yaitu Laut Jawa. Kondisi perairan setempat. Sedangkan jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari. Pengaruh utama yang 111 . Hasil pengukuran menunjukan bahwa kisaran pasut di Tanjung Priok adalah sekitar 1. yang terjadi pada waktu bulan sabit (perempat pertama dan perempat ke tiga). Tipe pasut suatu perairan ditentukan oleh jumlah air pasang dan air surut yang terjadi per hari. maka pasutnya bertipe pasut ganda. Keadaan ini baik berlaku pada waktu pasang purnama maupun ketika pasang perbani. Tipe pasut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan tipe ganda. seperti perubahan batimetri atau morfologi pantai akan mengubah tipe pasut yang ada ke tipe lainnya. Kebalikan pasang purnama adalah pasang perbani. Jika perairan tersebut mengalami satu kali pasang dan satu kali surut per hari.0 m pada waktu pasang purnama. Pada kondisi pasang purnama dan pasang perbani pada saat matahari berada dibelahan bumi utara (bulan Juni). Pasang purnama adalah pasang tertinggi (dan surut terandah) yang dialami oleh suatu perairan. Pasut dari Laut Jawa itu sendiri pun bukan disebabkan oleh gaya pembangkit pasang astronomis (bulan dan matahari) melainkan oleh rambatan pasut dari Lautan Pasifik yang memasuki Laut Jawa melalui Laut Cina Selatan dan Selat Makasar (Pariwono 1985).3 m pada waktu pasang perbani. dapat disimpulkan bahwa kisaran pasut terbesar di Tanjung Priok terjadi pada saat kedudukan matahari berada dibelahan bumi selatan. yang disebut tipe pasut campuran. dimana kisaran pasutnya paling rendah. Membandingkan kedua pasut pada kedua bulan tersebut. dan dibelahan bumi selatan (bulan Desember). yaitu antara bulan Oktober hingga Februari.

arus musim yang terbentuk mengalir kearah timur selama periode musim Barat (Desember- 112 . K1.6. yang terdapat pada DISHIDROS-AL (1995).6 hanya didasarkan atas 5 komponen pasut.ditimbulkannya pada kecepatan arus di Perairan Teluk Jakarta.12 m. 3. Dari data pasut tersebut dapat diprakirakan kisaran perubahan tinggi muka laut (sea level) dari perairan di kawasan Dadap. arus laut utamanya terjadi karena pengaruh angin Muson dan pasang surut. dan perbedaan densitas air laut. No. Mengingat wilayah utara Banten berada dalam sumbu utama angin Muson.6 tersebut dapat diketahui kisaran tinggi muka laut maksimum yang disebabkan oleh pasut mencapai 1. Pergerakan massa air secara mendatar (arus) di suatu perairan terbentuk karena beberapa faktor. seperti oleh seretan angin. O1. Notasi HHWL MHWL HMSL MLWL Tinggi (cm) 116 108 60 12 4 Kisaran Muka Laut Tinggi muka laut pada air pasang tertinggi Tinggi muka laut pada air pasang teratas Tinggi muka laut teratas Tinggi muka laut pada air surut teratas Tinggi muka laut pada air surut LLWL terendah Sumber: Dishidros (1995) dalam PPLH (1997). dan kisaran pasut reratanya mencapai 0. pasang surut. 5. 4.6. Hasil prakiraan sebagaimana tertera pada Tabel 4. S2. Tabel 4. Dari Tabel 4. Di wilayah perairan Banten. termasuk juga Teluk Dadap dan Kamal Muara. 1. Besarnya perubahan tinggi muka laut di perairan yang dimaksud disajikan pada Tabel 4. Kisaran tinggi muka laut di Pantai Dadap berdasarkan data pasut Tanjung Priok.96 m. 2. yaitu M2. Arus pasut di perairan ini akan relatif lebih deras ketika matahari berada pada belahan bumi selatan dibanding ketika berada dibelahan bumi utara. dan P1.

yaitu dari Kali Perancis (secara umum disebut juga Sungai/Kali Dadap) dan Kali Kamal yang membawa partikel-partikel sedimen dari hulu sungai. yang dikenal sebagai kecepatan pengendapan (settling velocity). Proses pengendapan partikel tersebut ditentukan oleh ukuran partikel dan kecepatan aliran dari fluida yang mengangkutnya. yang mengalirkan hasil erosi di daratan. Sehingga secara umum arus yang ditimbulkan oleh pasang surut diperkirakan bergerak kearah utara dalam kondisi pasang. Jika kecepatan fluida tersebut lebih kecil dari nilai ambang tertentu. Sedimen yang dimaksudkan disini adalah partikel-partikel padat yang diendapkan di dasar media fluida. dari daratan yang terbawa oleh limpasan air masuk ke dalam sungai. kawasan Kamal Muara dialiri sebuah sungai. sedimen dapat berasal dari berbagai sumber. Umumnya media fluida yang dimaksud adalah air. Karena letak kawasan Dadap dan Kamal Muara berada di pantai dan dekat muara sungai. yang mempunyai kawasan DAS lebih luas 113 . dan sebaliknya kearah selatan dalam kondisi surut. Kecepatan arus Musim berkisar antara 20 sampai 40 cm/detik (PKSPL IPB 2004). Keadaan sebaliknya akan terjadi bila kecepatan fluida lebih besar dari nilai ambang tersebut. dalam periode musim Timur (Juni-Agustus) arus musim mengalir secara dominan kearah barat. yaitu Kali Kamal. Untuk perairan Pantai Dadap dan Kamal Muara. Sebaliknya.Februari). Pengaruh kedalaman perairan lokal dan morfologi pantai dapat memodifikasi arus tersebut. dan dari perairan pantai disekitar Dadap dan Kamal Muara. Berbeda dengan kawasan Dadap. (2) Sedimentasi Sedimentasi adalah proses pengendapan partikel sedimen. Pasang surut yang terjadi ini berasal dari Samudera Hindia yang merambat masuk melalui perairan Selat Sunda. maka sumber sedimen diduga berasal dari laut dan dari sungai. maka partikel sedimen tersebut akan mengendap ke dasar fluida.

02/ MENKLH/I/1988. masih jauh dari kadar baku mutu maksimum yang ditetapkan menurut Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. tinggi rendahnya muka air Kali Kamal ditentukan oleh curah hujan yang terjadi di kawasan DAS-nya. maka kondisi kualitas perairan Teluk Dadap dan Kamal Muara adalah relatif sama.7. nilai DIN-nya (yang ditunjukkan oleh kadar amonia) sama sebesar 1. parameter kualitas air lainnya dapat dilihat dalam Tabel 4. sebesar 80 mg/l.008 114 .6 NTU di Tanjung Pasir) menunjukkan bahwa di Tanjung Pasir terdapat aktivitas yang lebih tinggi yang mengakibatkan terjadinya kekeruhan perairan. yaitu untuk raksa < 0. seperti penambangan pasir. Kep. Kadar nitrogen anorganik terlarut (dissolved inorganic nitrogen = DIN) dan ortofosfat dalam perairan menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. kadar total padatan terlarut (total suspended solid = TSS) sebesar 5 dan 10 mg/l. sedimen yang terbawa aliran sungai. maka kawasan DAS Kali Kamal jauh lebih luas lagi. Artinya. (3) Kualitas perairan Sebagaimana dua wilayah yang berdekatan.336 mg/l sementara nilai ortofosfatnya 0.003 mg/l di Kronjo dan 0. Namun demikian. data besarnya tingkat sedimentasi yang terjadi di kawasan Kamal Muara ini belum ada.005 mg/l di Tanjung Pasir. dan tingkat abrasi. sehingga konsentrasi sedimen yang terbawa sepanjang musim hujan menjadi lebih besar.5 di Kronjo dan 7.001 mg/l. Sementara itu parameter senyawa logam terdeteksi masih dibawah baku mutu air. timah hitam 0. Dari data TSS dan tingkat kekeruhan di kedua lokasi tersebut (2. Hasil penelitian PKSPL (2004) menunjukkan bahwa nilai-nilai parameter kualitas air dari sampel yang diambil di perairan Pantai Kronjo dan Tanjung Pasir menunjukkan bahwa untuk parameter fisika.dengan fluktuasi muka air yang beragam. Jika Kali Perancis hanya merupakan tempat mengalirnya air hujan yang tertampung oleh kawasan Bandara Sukarno-Hatta. Di Data Kronjo dan Tanjung Pasir.

5 5 sampling T.005 0. serta krom total < 0.005 mg/l. Nilai parameter kualitas air di perairan Kronjo dan Tanjung Pasir.005 < 0.035 <0.003 <0.005 <0.90 9.K I M I A : 1 Salinitas *) 2 pH *) 3 Oksigen Terlarut *) 4 COD 5 BOD5 6 Amonia (NH3+NH4) 7 Nitrit (NO2 .001 0.03 < 80 <1 Nihil 0.5 7.5 65.6 11 Maksimum BM **) < 80 1 2 3 4 I.001 0. Kep.N) 8 Nitrat (NO3-N) 9 Minyak dan Lemak 10 Ortho Phosphat 11 Raksa (Hg) 12 Timah hitam (Pb) 13 Kadmium (Cd) 14 Tembaga (Cu) 15 Krom Total (Cr) 16 Sulfida (H2S) 17 Fenol BIOLOGI : 1 Klorofil-a /oo mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 31. Hasil penelitian PKSPL IPB menunjukkan data yang tertinggi terdapat di 115 .008 0.2 7.dan 0.5 2.001 <0.336 0.006 0.20 0.5 48.7.20 13.002 < 1.078 <0.013 mg/l.01 0.01 0.006 31.050 <0.01 dan 0.01 <0.178 13.F I S I K A : Suhu *) Kecerahan *) Kekeruhan TSS C meter NTU mg/l O II.5 7.5 1.013 0.0 14.01 0.336 0. Pasir 29 1.950 - Sumber: PKSPL IPB (2004) Catatan: BM = Baku Mutu Air Laut untuk Budidaya Perikanan menurut Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. tembaga 0.044 dan 0. Tabel 4.1 1.0 11. Parameter COD (chemical oxigen demand) dan BOD (biological oxigen demand) adalah suatu angka yang menunjukkan seberapa besar kadar oksigen yang dibutuhkan untuk melakukan perombakan bahan organik secara kimiawi dan biologis yang sulit terurai di perairan.002 0.044 <0.02/MENKLH/I/1988. NO PARAMETER SATUAN o Lokasi Kronjo 29 2.035.001 mg/l (PKSPL IPB 2004).006 dan 0. kadmium 0.01 0.0 - µg/l 7.002 0.

20 mg/l dan BOD5 > 13.5 mg/l). Salah satu penyebab bertambahnya tingkat pencemaran perairan kawasan Dadap-Kamal Muara adalah dari proses reklamasi lahan di sekitar Dadap. Akibat dari pencemaran bahan organik ini akan menimbulkan eutrofikasi perairan. Semakin tinggi biomasa fitoplankton mengindikasikan bahwa perairan tersebut mempunyai kadar nutrien yang tinggi (tingkat kesuburannya tinggi).Tanjung Pasir (COD= 65. Damar (2003) menyatakan bahwa kondisi perairan di Pantura tergolong subur mengingat banyaknya sungai yang bermuara di sana dan membawa bahan organik. kondisi ini menyebabkan terjadinya blooming (peledakan) populasi fitoplankton.95 µg/l. Jika dilihat dari warna perairan yang hampir hitam dan baunya yang cukup menyengat. Beberapa dampak yang dapat terjadi antara lain blooming algae dan perubahan bau perairan. nampak bahwa terdapat korelasi yang erat antara kelimpahan dan klorofil-a. Stephanopyxis dan Chaetoceros (PKSPL IPB 2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomasa fitoplanton di perairan sekitar Kronjo mencapai 7. sedangkan di Kronjo (COD= 48. maka kondisi perairan di kawasan Dadap dan Kamal Muara sudah dapat dipastikan dalam kondisi tercemar bahan organik. Kelompok utama pendukung populasi fitoplankton di lokasi tersebut adalah dari kelompok diatom yaitu dari genus Leptocylindrus.1 mg/l). Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa distribusi nilai klorofil-a ini terkait erat dengan komposisi jenis dan kelimpahan sel fitoplankton.90 mg/l dan BOD5 > 9. Dari hasil perbandingan tersebut. yaitu lokasi yang memiliki nilai kelimpahan yang tinggi juga memiliki nilai biomasa yang tinggi pula.178 µg/l dan di Tanjung Pasir 13. Akibat langsung dari tingginya tingkat pencemaran ini secara otomatis akan dirasakan oleh biota perairan yang hidup dalam ekosistem tersebut. Sebagai akibat dilakukannya reklamasi untuk pengembangan Pantai Wisata Mutiara. Biomasa fitoplankton merupakan indikator tingkat kesuburan suatu perairan. ada indikasi terjadinya peningkatan pencemaran limbah 116 .

Deden Sugandhi disela-sela acara mutasi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah kabupaten (Pemkab) Tangerang. indikasi pencemaran limbah B3 di Pantai Dadap tersebut diakibatkan oleh adanya pengurukan pantai yang dilakukan PT Parung Harapan dan Koperasi Pasir Putih sebagai pengembang proyek reklamasi pantai Dadap. yaitu yang panjangnya 5 cm sebanyak 40 ekor.0288 (+0.0273) 0.8.5 ppm3) Sumber: Setyobudiandi (2004) Catatan: 1) = dikutip Setyobudiandi (2004) dari the Australian Health & Medical Research Council) 2) = dikutip Setyobudiandi (2004) dari WHO 3) = dikutip Setyobudiandi (2004) dari FAO Dari hasil penelitian tersebut Setyobudiandi (2004) menyarankan bahwa jumlah konsumsi kerang hijau per hari harus dibatasi berdasarkan ukurannya.0165 (+ 0. 5. 4.74 4.0316 (+ 0. Harian Sinar Harapan (Kamis 24 Juni 2004) memuat berita bahwa hal ini dikonfirmasikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tangerang. baik di perairan maupun yang terkandung pada kerang hijau. Hasil penelitian Setyobudiandi (2004) menunjukkan bahwa kondisi perairan Teluk Jakarta sudah tercemar logam berat. 7 cm sebanyak 9 ekor. Kandungan logam berat di perairan Teluk Jakarta dan daging kerang hijau antara tahun 2000-2001 No JENIS LOGAM Cd Cu Zn Pb KADAR RATA-RATA DI PERAIRAN (mg/l) 0.23-10.71-1. 2.0052 (+ 0.8. Tabel 4.39 BAKU MUTU 2 ppm1) 30 ppm1) 1.005) 0.617-8.511 2 ppm2) KERANG HIJAU (ppm) 0.0057) 0. sebagaimana tercantum dalam Tabel 4. 3.049) 7. 8 cm sebanyak 4 ekor. Hal ini menunjukkan terjadinya akumulasi logam berat sesuai dengan semakin besarnya ukuran atau semakin tuanya umur kerang tersebut. 117 .B3 (bahan berat berbahaya dan beracun) dalam dua tahun terakhir ini. Hg 0. dan yang berukuran 9 cm hanya 2 ekor per hari.

51/MENLH/I/2004.9.3 Kondisi Pemanfaatan Lahan Sebagai kawasan yang terletak di perbatasan antara Pemkot Jakarta Utara dan Kabupaten Tangerang.010 0.001 mg/l mg/l mg/l mg/l Sumber: Sinar Harapan (2004a) *) hasil analisis laboratorium (Damar 2004) Catatan: BM = Baku Mutu Air Laut untuk Budidaya Perikanan menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Berdasarkan data hasil analisis kualitas perairan tersebut sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.008 0.5 1. sehingga dalam kondisi ini amonia sudah merupakan racun bagi mahluk hidup di sana. kadmium (Cd).4 0.023 0.093* 0.2 0. nitrat (NO3-N) dan timbal (Pb). Keempat zat tersebut adalah amonia bebas (NH3-N). Nilai parameter kualitas air di perairan Dadap hasil uji Kantor MenLH tahun 2004.054* Maksimum BM **) < 0. Khusus untuk kadar timbal dan kadmium. Tabel 4. Dari hasil uji laboratrium nomor 045/lab-DLH/V/2004 tersebut parameter kualitas air dapat dilihat pada Tabel 4.Berdasarkan hasil uji laboratrium dinas Lingkungan Hidup (LH) di perairan tersebut pada bulan Mei 2004 lalu yang menyebutkan ada empat zat berbahaya yang mengotori Pantai Dadap.7 dan Tabel 4.8 0. dinamika perencanaan pembangunan di kawasan ini 118 .004 3.3 0. Kadar amonia yang terkandung di perairan juga sudah jauh diatas nilai baku mutu yang diperbolehkan.005 0. 4. hasil analisis laboratorium PKSPL IPB menunjukkan nilai yang lebih tinggi lagi pada saat terjadinya kematian ikan bulan Mei 2004 yang lalu (Damar 2004). NO PARAMETER SATUAN Amonia 1 (NH3+NH4) 2 Nitrat (NO3-N) 3 Timah hitam (Pb) 4 Kadmium (Cd) KADAR Minimal maksimal 1.9 maka tingkat pencemaran yang terjadi di Pantai Dadap relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan perairan disekitar Kronjo dan Tanjung Pasir.008 0.9. Kep.

90/APH-1993 dan No. 119 . 345/DB. Hal ini dapat diamati dari berbagai berita di media massa.N-250 Kejar Sertifikasi. Rabu 29 Mei 1996 . BPPT menjadi Panitia Indonesia Air Show (IAS) yang sempat menimbulkan issu akan menggusur tanah rakyat di Desa Gili-Dadap. Menurut berita Media Indonesia. Kabupaten Tangerang.net. Konflik pemanfaatan ruang di kawasan Dadap terus berlanjut dengan dilakukannya reklamasi (pengurukan) kawasan pesisir dimana awalnya Pelabuhan Kapal Riset Baruna Jaya akan dibangun. BPPT sudah mengaspal dan mengembangkan site plan dan pemagaran di lokasi tanah kosong tadi. Issu ini ternyata tidak benar karena pelaksanaan pergelaran dirgantara IAS ’96 itu terletak di lokasi pelabuhan udara SoekarnoHatta pada kuadran II (sebelah terminal II-internasional). Menurut juru bicara pengembang (Tubagus Dudy Chumaidi) yang dikutip media massa menyebutkan bahwa kawasan Dadap dipilih karena wilayah itu berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu (Suara Pembaharuan Daily 2004). apakabar@clark. Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang. BPPT meminta agar pihak yang berkepentingan di kawasan itu mengetahui bahwa pembangunan dermaga sandar Armada Kapal Riset BPPT Baruna Jaya akan dilaksanakan pada tanah kosong yang sudah dipagar sejak 1994 (IN/EKON: MI . Berdasarkan perjanjian kerjasama antara BPP Teknologi dan Perum Angkasa Pura II yang tertuang dalam surat No SWT 07/HK.PKA/BPPT/XII/93. Atas dasar itu. yang awalnya berupa tanah kosong dan tidak berpenduduk. sejak tahun anggaran 1994/95. Kecamatan Kosambi.sangat tinggi. Tanah tersebut diperuntukkan sebagai Dermaga Sandar Kapal Riset BPPT Baruna Jaya.17:15:00). Pelabuhan Peti Kemas atau Kapal Barang. Desa Dadap. Dinamika perencanaan yang tinggi ini sangat dipengaruhi oleh munculnya Orde Otonomi Daerah yang telah terjadi dan melahirkan konsep desentralisasi sistem pemerintahan. yang terdiri dari 800 KK nelayan (Republika Online 1996). mulai dari aktivitas perencanaan pembangunan Pelabuhan Kapal Riset Baruna Jaya. dan kawasan Wisata Mutiara Dadap. BBP Teknologi telah menyewa sebidang tanah seluas 6. Tahun 1996.5 hektar di pantai Muara Dadap.

Berdasarkan peraturan itu.2/330-DTRB/IX/2001 tertanggal 26 September 2001 yang ditandatangani oleh Bupati Tangerang yang kala itu masih dijabat oleh Agus Djunara. Salah satu berita yang dimuat berbunyi “Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang tidak akan pernah dapat melakukan penutupan lokasi reklamasi Pantai Dadap. Kecamatan Kosambi. Kepala Sub Dinas Tata Ruang pada Dinas Tata Ruang dan Bangunan Pemda Tangerang Didin Samsudin menyatakan. Menurut sumber di Tangerang. kawasan pantai yang akan direklamasi setelah Dadap adalah Mauk. Nanang Komara yang kini menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang (Sinar Harapan 2004b). yang akhirnya direspon oleh anggota DPR dan DPRD setempat. Perubahan RUTR tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah No 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Tata Ruang Daerah. yang merupakan implementasi Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 1997 tentang Perubahan Tata Ruang Nasional. sekitar 20 km dari 120 . dugaaan telah dibayarkan retribusi pengurukan pantai oleh para pengembang reklamasi Pantai Dadap tersebut tertuang jelas dengan adanya Fatwa Rencana Pengarahan Lokasi dengan nomor 655.Dari berbagai berita di media massa dapat disimak bahwa proses reklamasi yang sedang dilakukan ternyata menuai berbagai protes dari beberapa kelompok masyarakat dan LSM {antara lain Banten Environmental Watch (BEW). dan (PIELS)}. Desa Dadap. lembaga ini diduga telah menerima retribusi pengurukan pantai yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Dalam perubahan tata ruang tersebut pemerintah berencana menjadikan pesisir pantai utara sebagai kawasan wisata terpadu (SUARA PEMBARUAN DAILY 2004b). Dengan keluarnya fatwa Bupati tersebut secara otomatis si pengembang berani untuk melakukan reklamasi Pantai Dadap karena sudah ada lampu hijau. Polemik terus berlanjut dan menyangkut Pemda DKI Jakarta yang tampaknya juga mempunyai kepentingan dengan kegiatan pembangunan. Pasalnya. menyusul revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR). Apalagi pada saat yang bersamaan Dinas Tata Ruang dan Bangunan juga mengeluarkan surat penetapan retribusi fatwa rencana pengarahan lokasi bernomor 974/330-DTRB/IX/2001 yang ditandatangani Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan. yang kini dilakukan.

ratusan gudang kini sudah berdiri memenuhi 40 % lahan di desa seluas 401 hektar itu. serta perbaikan jalan. Menurut Dames. sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Desa Dadap Dames Taufik yang mengklaim bahwa tidak ada masalah dengan warganya terhadap reklamasi pantai itu.000 hektare. warga Desa Dadap. Sisa lahan masih akan terus berkurang karena sampai saat ini pembangunan gudang baru masih terus berlangsung. Menurut informasi berbagai harian ibukota. informasi kerusakan lingkungan dan penolakan warga yang berkembang selama ini dikendalikan orang luar Dadap (SUARA PEMBARUAN DAILY 2004a). Luas pantai yang akan direklamasi dan dijadikan kawasan wisata terpadu sepanjang 10 km garis pantai dari laut dan satu km dari garis pantai atau sekitar 1. belum mengatahui ada proyek pengurukan laut besar-besaran di Pantai Mutiara Dadap. yang terkena dampak hanyalah sebagian kecil penduduk yang memang tinggal disekitar kawasan pengembangan. Mereka bahkan tak peduli aktivitas reklamasi kawasan untuk wisata bertaraf internasional tersebut. 121 . pengurukan Kali Perancis. "Kami tak peduli. Berbagai kepentingan ternyata banyak yang bermain dalam masalah proyek tersebut. Kosambi. Kemelut pemanfaatan lahan yang terjadi di Desa Dadap tidak seluruhnya dimengerti oleh penduduk desa. Kecamatan Pakuhaji untuk kawasan wisata. Kasus pemanfaatan lahan yang juga mencuat di kawasan Dadap-Kamal Muara adalah untuk pembangunan kawasan pergudangan.. asal warga disediakan infrastruktur seperti tempat pelelangan ikan. Menurut warga. Namun demikian kenyataannya pemilik gudang lebih memilih tenaga kerja dari luar Dadap yang dinilai lebih mempunyai kompetensi daripada tenaga kerja setempat (Tempo interaktif 2005c). Kabupaten Tangerang. proyek reklamasi silakan saja. dengan harapan bahwa kelak ia dan anak-anaknya dapat ikut bekerja di kawasan pergudangan itu. Yang penting bagi kami para nelayan bisa tetap melaut” (Tempo Interaktif 2005b).50 km total panjang pantai di Kabupaten Tangerang atau dari Dadap Kosambi hingga pantai Tanjung Kait. Mantan para pemilik tanah merasa bahwa dulu mereka terbujuk menjual lahannya kepada para investor untuk dibuat gudang. Saat ini.

4. tergantung pada program pemerintah daerah tentang lokasi pusat kegiatan perikanan yang akan dikembangkan. Pemda DKI melakukan reklamasi pantai di daerah Kamal Muara. Seluruh aktivitas kapal perikanan yang ada di wilayah Jakarta Utara dilayani oleh beberapa pelabuhan perikanan yang tersebar disepanjang pantai utara. meskipun pada kenyataan ada beberapa pelabuhan yang selalu tidak dapat mengejar kecukupan fasilitasnya jika dibandingkan dengan beban yang harus ditanggungnya.10. pemerintah setempat telah membangun berbagai prasara dan sarana pendaratan ikan. Reklamasi meliputi bagian perairan laut Jakarta yang diukur dari garis pantai utara Jakarta secara tegak lurus ke arah laut. Meskipun demikian. sampai garis yang menghubungkan titik-titik terluar yang menunjukkan kedalaman laut delapan meter. mulai dari TPI Kamal Muara di sebelah barat sampai ke TPI Cilincing di sebelah timur.5 kilometer ke utara. (Kompas Online 1997). Aktivitas reklamasi yang telah dilakukan pengembang di wilayah DKI Jakarta akan menciptakan sebuah daerah baru seluas 2.Dalam rangka mewujudkan pembangunan Kota Air Kamal Muara. Sesuai dengan kapasitas yang direncanakan. Kapasitas setiap pelabuhan tidak sama. 4. maka fasilitas yang dimiliki setiap pelabuhan juga disesuaikan.1 Keragaan perikanan Kota Jakarta Utara Sebagai bagian dari program pengembangan perikanan di kawasan Jakarta Utara. kawasan Pantai Utara Jakarta itu akan direklamasi.700 hektar. Klasifikasi semua TPI di Wilayah Kota Jakarta Utara dicantumkan dalam Tabel 4. yaitu berada di pesisir dengan kondisi perairan pantai yang sama. garis pantai akan maju sekitar 1. secara fisik kondisi pelabuhan perikanannya cukup berbeda jauh dan terbagi secara jelas diantara yang ada di wilayah Pemkot Jakarta Utara dengan yang ada di Kabupaten Tangerang. Keputusan Presiden No 52 Tahun 1995 menetapkan. Itu artinya.4 Kondisi Perikanan Kondisi perikanan di kawasan Dadap – Kamal Muara secara geografis relatif sama. Secara legal.4. 122 .

10 No.5 m Tempat Pelelangan dan Kantor: 1.993 m2 Dermaga beton 176 m2 Tanggul pemecah gelombang: 2.Tabel 4. Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Wilayah Kota Jakarta Utara KOORDINATOR ADMINISTRATIF DAN OPERASIONAL (3) UPT Pengelolaan Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan KAPASITAS TAMBAT LABUH FASILITAS LOKASI TEMPAT PENDARATAN IKAN (TPI) (2) Muara Baru (1) 1. Muara Angke kapal dengan UPT Pengelolaan 500 Kawasan Pelabuhan ukuran 10 s/d 80 GT Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan Kelurahan Pluit Kecamatan Penjaringan 123 . timur 290 m2 Kolam pelabuhan seluas 10 ha Kawasan Industri dan Perkantoran Dermaga lebar 6 m panjang 475 m dan kedalaman 4. (4) Darmaga Barat: 40 s/d 80 kapal ukuran > 30 GT Darmaga Timur: 80 kapal (ukuran: > 80 GT) (5) Penataan Gelombang Barat 760 m2.250 m2 Tempat pengepakan ikan: 33 unit Tempat pengecer Ikan:341 m2 Kios/gudang/kantor: 40 unit Gudang alat-alat perikanan: 5 unit Pos penjagaan: 1 unit Kios ikan bakar: 24 unit Gedung workshop: 1 unit Waserda TA: 1 unit (6) Kelurahan Penjaringan Kecamatan Penjaringan 2.420 m2 Kolam pelabuhan: 63.

100 m2 Gedung Pelelangan+kantor: 500 m2 Dermaga: 200 m2 (6) Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan 4. Kali Baru Walikota Jakarta Utara 10 s/d 15 motor tempel (ukuran: dibawah 10 GT) Kelurahan Kali Baru Kecamatan Cilincing 5. 4. (2) Kamal Muara (3) Walikota Jakarta Utara (4) 10 s/d 15 motor tempel (ukuran: dibawah 10 GT) (5) Kantor pelelangan ikan:75 m2 Gedung pelelangan ikan (TPI): 200 m2 (jumlah lapak 40 unit diisi oleh 40 pedagang) Gedung pengecer ikan: 75 m2 Dermaga kayu sepanjang 50 m2 Kolam pelabuhan: 30 m2 Luas lahan: 2.084 m2 Kantor: 40 m2 Gedung Pelelangan: 200 m2 (jumlah lapak 82 unit diisi oleh 31 pedagang) Tempat Penjualan Ikan: 1. Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara TPI Kali Baru : Sudin Peternakan. Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara TPI Cilincing : Sudin Peternakan. Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara 124 .Lanjutan Tabel 4.400 m2 Dermaga: 35 m2 Luas lahan: 1.022/1999 Keterangan: penyelenggara Pelelangan Ikan di: TPI Muara Baru : Koperasi Mina Baruna dan Koperasi Muara Makmur TPI Muara Angke : Koperasi Mina Jaya TPI Kamal Muara : Sudin Peternakan.10 (1) 3. Cilincing Walikota Jakarta Utara 10 s/d 15 motor tempel (ukuran: dibawah 10 GT) Kelurahan Cilincing Kecamatan Cilincing Sumber: SK Gubernur Propinsi DKI Jakarta No.

Besarnya minat pemilik kapal ikan atau nakhodanya untuk mendaratkan hasil tangkapannya di TPI Muara Angke dan Muara Baru antara lain disebabkan oleh fasilitas bongkar muat dan harga jual ikan yang diperolehnya. yaitu: (1) jumlah kapal ikan yang berlabuh melebihi kapasitas tambat.Dari Tabel 4. jarak antara TPI Kamal Muara dengan TPI Muara Angke sekitar 6 km (lewat darat jaraknya dua kali lipat sekitar 12 km).4 km Jarak antara TPI Dadap dengan TPI Kamal Muara sekitar 700 m jika ditempuh lewat laut dan sekitar 4 km jika ditempuh lewat darat. dan kondisi pasar ikan (konsumen). Kasus terjadinya antrian ini antara lain disebabkan oleh beberapa hal. keberadaan para pembeli. (3) proses muat perbekalan juga memerlukan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan ukuran kapal dan lama waktu penangkapan ikan di laut. (2) proses bongkar hasil tangkapan yang memerlukan waktu lebih lama untuk kapal ikan yang membawa hasil tangkapan lebih banyak (tidak ada keseragaman). tetapi tetap saja telah terjadi antrian yang cukup signifikan. pada saat musim ikan. dan Kelurahan Penjaringan) dan dua lainnya di Kecamatan Cilincing. Sehingga 125 . sedangkan di PPI Muara Angke lama waktu antrian mencapai 7 jam. dan TPI Kali Baru ke TPI Cilincing sekitar 2. Pada saat ini. Jika diukur lewat laut. antrian bongkar muat palka ikan dapat mencapai 10 jam. Di PPSJ Muara Baru. Kelurahan Pluit. sehingga beberapa kapal harus menunggu di luar kolam pelabuhan. TPI Muara Angke ke TPI Muara Baru sekitar 3. (4) kecepatan proses lelang sangat tergantung pada kelancaran proses bongkar muat. Jarak yang begitu dekat jika dilihat dari laut telah menyebabkan kurang efisiennya penggunaan TPI tersebut dan terjadinya pemborosan fasilitas (prasarana dan sarana pelabuhan).. TPI Muara Baru ke TPI Kali Baru sekitar 13 km.10 tampak bahwa terdapat tiga TPI di Kecamatan Penjaringan (masing-masing satu TPI di Kelurahan Kamal Muara.6 km. meskipun telah dilakukan klasifikasi kapasitas tambat labuh dari setiap TPI yang ada di kawasan Jakarta Utara.

Dengan demikian.3 kg/kapita/tahun adalah sebesar 580 ton per hari (Disnakkanlut 2005). Tabel 4. (3) melakukan pengelolaan terpadu diantara penaggungjawab operasional TPI-TPI tersebut sehingga setiap akan timbul masalah di setiap TPI tersebut dapat langsung diantisipasi sebelumnya. Distribusi ikan konsumsi di DKI Jakarta tahun 2005. tetapi jika berlebihan akan juga menjadi tidak efisien karena waktu (dan otomatis kesempatan untuk berusaha) menjadi hilang. Hal ini disebabkan oleh fasilitas yang tersedia belum memadai. baik untuk pemasaran ikan maupun untuk pembelian perbekalan lainnya. Kebutuhan ikan konsumsi di Provinsi DKI Jakarta dengan asumsi jumlah penduduk sekitar 9.54 % 20 % 10 % 10 % 126 . dan besarnya tingkat konsumsi sebanyak 22. (2) membangun dan atau meningkatkan kapasitas dan kualitas prasarana dari TPI ke lokasi pasar.kapal yang berlabuh tidak hanya yang ber-KTP Jakarta tetapi juga dari daerahdaerah lainnya.11.11. Limpahan antrian kapal ikan yang berlabuh di TPI Muara Angke dan TPI Muara Baru tersebut tidak secara otomatis dapat ditampung oleh TPI-TPI disebelahnya (baik di barat maupun di timurnya). dan transparan.74 ton 3 Ikan tawar 116 ton 4 Ikan asin/olahan 58 ton 5 Ikan kaleng 58 ton Sumber: data diolah dari Disnakkanlut (2005) PERSENTASE 32. untuk menyelesaikan masalah tersebut antara lain adalah: (1) membangun dan atau melengkapi fasilitas bongkar muat untuk kapal ikan dan sarana transportasi darat yang terlibat dalam sistem TPI tersebut. dengan proporsi masing-masing dapat dilihat pada Tabel 4. (4) menerapkan penegakkan hukum secara tegas.26 ton 2 Ikan laut segar luar daerah 159. Kebijakan menerima kapal dari luar daerah ini secara ekonomi memang dapat menambah nilai retribusi dan meningkatkan volume aktivitas ekonomi di sekitar TPI tersebut. ASAL IKAN JUMLAH 1 Ikan laut segar lokal 188. Jumlah kebutuhan tersebut dipenuhi oleh ikan lokal dan dari luar daerah.5 juta jiwa. No.46 % 27. adil.

108 839 366 182 170 477 3.076 1. Kepulauan Natuna.20-30 GT . Data jumlah kapal ikan di Kota Jakarta Utara dari tahun 1992 sampai 2001 dicantumkan dalam Tabel 4.174 2.640 1.738 2.651 1.12.095 466 585 544 253 214 3. Data jumlah kapal ikan di Kota Jakarta Utara tahun 1992-2003 Jenis/tahun Perahu layar .029 1.Asal ikan laut segar yang didatangkan ke Jakarta berasal dari daerah perikanan (fishing ground) di sekitarnya.108 menjadi 2. Menurut Disnakkanlut (2005). Kemungkinan perubahan ini dipicu oleh terjadinya perubahan nilai mata uang rupiah terhadap nilai US$ yang menyebabkan terjadinya gejolak ekonomi dan sosial.325 791 791 526 567 Kapal Motor -0-5 GT .5-10 GT .12 tampak bahwa perubahan jumlah kapal tampak nyata dari tahun 1998-1999. terjadi kenaikan mencolok untuk jenis perahu layar (hampir 400 %) sedangkan untuk kapal dengan motor tempel mencapai 200 %. kondisi sebaliknya terjadi dimana pada periode yang sama telah terjadi penurunan jumlah dari 2.924 Sumber: Disnakkanlut (2002) dan *) Disnakkanlut (2004) Dari Tabel 4. Tabel 4.215 659 1.123 85 510 501 344 683 5.965 2. Laut Jawa.357 2. Selat Karimata. serta Karimun Jawa. Untuk jenis kapal motor.246 97 538 538 376 697 2.>50 GT Total kapal 1.686 278 223 284 124 707 3. Sumatera.720 1.10-20 GT .531 2.566 1.542 238 226 122 231 655 2.724 523 602 544 363 647 3.639 unit. Kalimantan Barat. daerah perikanan tersebut adalah perairan-perairan Bangka Belitung. Teluk Jakarta dan Karawang.121 833 375 189 201 453 3.639 246 413 400 292 249 4.Besar 92 230 0 174 56 93 230 0 167 63 94 354 0 231 123 95 350 0 221 129 96 219 0 90 129 97 195 0 90 105 98 309 0 143 166 99 1210 0 560 650 00 852 0 394 458 01 450 0 208 242 02*) 142 03*) 111 Motor Tempel 998 879 989 1.614 2.745 277 203 315 139 741 3. 127 .730 278 203 317 131 731 3.338 263 210 181 125 490 2.12.Sedang .Kecil .650 1.

817 m2.78 ton. Aktivitas budidaya laut yang sangat dominan adalah budidaya kerang hijau.7 ha. Sebagaimana tercantum dalam Tabel 4. Jumlah petani ikan ini meningkat hampir mencapai 400 %.14. tetapi juga berasal dari aktivitas budidaya (baik budidaya ikan maupun jenis kerang-kerangan). Meskipun jumlah petani ikan hias hanya 7 orang. Dari Tabel 4. Data potensi budidaya perikanan darat dan potensi budidaya kerang hijau di wilayah Jakarta Utara dicantumkan dalam Tabel 4.025 ekor. Meskipun jumlah unit budidaya kerang hijau di Kamal Muara lebih banyak dua kali lipat. yang mengelola 530 rakit dengan luas areal 102.13 dan Tabel 4.615 ekor.Sumberdaya ikan yang dihasilkan oleh Kota Jakarta Utara tidak hanya berasal dari kegiatan penangkapan ikan di laut.13 tampak bahwa perikanan budidaya air tawar di wilayah Jakarta Utara didominasi oleh tambak di Kecamatan Penjaringan dan Cilincing serta perikanan di perairan umum yaitu di danau dan situ.7 ha. Aktivitas budidaya ikan jenis lain yang juga menguntungkan adalah budidaya ikan hias. Nelayan Cilincing juga mengembangkan kegiatan yang sama dengan jumlah petani 210 orang dan jumlah rakit 241 serta mencakup luasan 4. dengan tingkat produksi total 170. Jumlah petani ikan sebanyak 168 orang petani tambak dan 65 orang petani ikan di danau.213 orang) daripada di Kamal Muara (678 orang). budidaya kerang hijau paling banyak dilakukan oleh 404 orang nelayan Kamal Muara. kolam hanya seluas 2.14.452 m2. tetapi jumlah produksi tahun 2003 mencapai 89. tetapi jumlah tenaga kerja yang dapat diserap oleh aktivitas budidaya ini ternyata lebih banyak di Cilincing (1. Luas lahan budidaya bertambah dari 193 ha tahun 2002 menjadi 250. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh semakin ketatnya isu lingkungan terhadap ikan hias yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Jumlah ini jauh menurun jika dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 632. 128 .

Kecamatan Potensi Budidaya Danau Luas Petani Produksi (ha) (orang) (kg) 75 2 25 7 1 81. No.000 60 63 8.700 1 4. Kodamar Pademangan Situ Pademangan Koja Situ Rawa Badak Jumlah 2002 2001 2.500 9 22.000 5. Potensi budidaya perikanan darat di Jakarta Utara tahun 2003. 5.025 13 13 2.500 14.500 5.300 30 42. 6. Sunter Podomoro Kelapa Gading D.025 632. Papanggo D. 3.380 2.000 40.000 Ikan Konsumsi Petani Produksi (orang) (kg) 11 6.000 4.13.000 170.000 28 49 2.7 193 193 40 128 60 5 13 246 62 62 11.000 Petani (orang) 7 Ikan Hias Produksi (ekor) 15.800 19.413 222 136 136 25.810 18.400 3. 4.300 2 4.611 53 84 84 89.000 Bak/AQ (unit) 60 1.615 626. Sumber: BPS (2004) 129 .050 439 303 302 25 3.7 25 30 2 1 1 250.Tabel 4.000 140.780 43.000 150 Kolam (m2) 27.413 40.000 1.000 128 61 3.000 4 2. Penjaringan Tambak Situ Teluk Gong Situ Penjaringan Situ PIK Situ Mega Mall Pluit Cilincing Tambak Tanjung Priok D.

1.000 122.855 1.161 404 210 614 603 603 Jumlah petani Penyerapan tenaga kerja 678 1.160 51.269 102.213 1.891 1.660 122.817 4.452 107. Potensi budidaya kerang hijau di Jakarta Utara tahun 2003 Lokasi budidaya Rakit Bagan tancap Luas (m2) 530 241 771 735 735 102.161 102. 2.14. No.Tabel 4.500 125.855 Produksi (ton) 74.000 Kelurahan Kamal Muara Kelurahan Cilincing Jumlah 2002 2001 Sumber: BPS (2004) 130 .

Dinas Peternakan. Untuk mencapai misi yang diembannya tersebut. perencanaan. Perikanan. Adapun visinya adalah mewujudkan masyarakat sejahtera melalui pengelolaan sumberdaya peternakan. Mengembangkan kelembagaan dan peraturan perundangan. Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. perumusan kebijakan. pelestarian dan perlindungan sumberdaya perikanan dan kelautan. khususnya Pemkot Jakarta Utara telah menetapkan berbagai kebijakan pembangunan perikanan. pelaksanaan dan pengendalian di bidang peternakan.Untuk mencukupi kebutuhan ikan konsumsi tersebut. rehabilitasi. perikanan dan kelutan sebagai salah satu motor penggerak usaha skala kecil masyarakat yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha yang produktif. (8) Konservasi. Melindungi masyarakat dari bahaya penyakit yang ditimbulkan/bersumber dari hewan/ternak. Perikanan. sebagaimana tercantum dalam Perda 3 Tahun 2001. (2) Menggugah kesadaran masyarakat untuk melindungi dan merehabilitasi ekosistem perairan laut. Pemerintah DKI Jakarta. dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta telah menyusun kebijakan strategik. dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta adalah “menyelenggarakan penyusunan. Pengendalian/pengawasan eksploitasi dan eksplorasi serta penataan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan. tugas pokok Dinas Peternakan. sungai dan situ agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan usaha budidaya ikan. (3) (4) (5) (6) (7) Meningkatkan derajat warga ibukota melalui peningkatan kesehatan. perikanan dan kelautan”. sehingga misi yang diembannya meliputi: (1) (2) Mencukupi kebutuhan pangan hewani bagi warga DKI Jakarta. 131 . perikanan dan kelautan yang berwawasan lingkungan secara berkelanjutan. sebagaimana tercantum di bawah ini: (1) Mewujudkan kegiatan peternakan.

(6) Meningkatkan pengawasan. pengendalian dan merehabilitasi ekosistem habitat pesisir dan laut.109 ton. perikanan dan kelautan di Provinsi DKI Jakarta. sedangkan ikan yang ditangkap di luar kawasan tersebut oleh kapal yang tidak berbasis di pelabuhan Muara Angke disebut ikan luar daerah dan kapalnya disebut kapal andon. pengolahan dan pemasaran.(3) Mendorong penganekaragaman pengolahan hasil peternakan. perikanan dan kelautan. setelah Muara Baru. (4) Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. perikanan dan kelautan yang laku di pasar modern (supermarket) dan ekspor. tahun 2003 turun sedikit menjadi 8.15. Untuk jenis ikan yang ditangkap dari wilayah penangkapan di perairan Laut Jawa dan sekitarnya oleh kapal yang berlabuh di Muara Angke disebut ikan lokal. Dari Tabel 4. dan tahun 2004 mencapai jumlah 8.472 ton.163 ton. (1) TPI Muara Angke Muara Angke adalah tempat pendaratan ikan kedua paling besar di wilayah Kecamatan Penjaringan Kota Jakarta Utara. kepastian usaha ekspor. (5) Menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi berkembangnya usaha peternakan. tetapi juga banyak kapal yang berasal dari luar daerah yang mendaratkan hasil tangkapannya di sini.15 tampak bahwa jumlah ikan lokal yang didaratkan di TPI Muara Angke tahun 2001 mencapai 7. 132 . yaitu: sebagai bagian dari Provinsi DKI Jakarta. Besarnya jumlah ikan yang didaratkan di TPI Muara Angke dapat dilihat pada Tabel 4.725 ton. perikanan dan kelautan untuk usaha. antara lain: jaminan keamanan. Dari kebijakan-kebijakan strategik tersebut ditetapkan tujuan pembangunan peternakan. Kota Jakarta Utara menetapkan program pengembangan perikanannya terpusat di TPI Muara Angke. dan terus meningkat tahun 2002 menjadi 8. Muara Angke ternyata tidak hanya diperuntukan bagi kapal yang berbasis di Jakarta.

dan 2.882 763.358.007 ton tahun 2004.744 2.357 5.724 539.511 No.562 548.083.243 2004 8.135.500 4.370 326.254. Sementara itu.920 3. Data lain yang juga menarik dari TPI Muara Baru adalah menurunnya jumlah ikan luar daerah yang didaratkan di sini.074 25.187 2.047. 2. turun menjadi 18.702 ton.183.124 Sumber: Disnakkanlut (2005) Untuk TPI Muara Baru terdapat data yang paling menarik.464 3.368 53.183 ton.024.281.060 3.866 ton setahun kemudian.575.322 ton dan 2.828 ton tahun 2001. yaitu dari jumlah fantastis mencapai 25.263 1.343 41.456.109.472.077 66.493 2003 8.857.454 16.787 18. jumlah ikan luar daerah yang didaratkan di TPI Muara Angke paling banyak terjadi tahun 2003 sebesar 4.724. Data produksi ikan lokal dan ikan luar daerah dari masingmasing PPI yang ada di Provinsi DKI Jakarta. yakni 4.488 7.666.007.634 743.866. lalu turun drastis pada angka 2.Sementara itu.162.135.967 ton menjadi 29. Jika disandingkan dengan angka data ekspor produk perikanan yang sangat melonjak dari tahun 2003 sebesar 16.690 29.321.181.504 57.132.670.796 4.598 2. yaitu terjadi penurunan jumlah ikan tuna dari tahun ke tahun.702.786.828.313.715 422.857 ton.077 5.081 17.15.490 577. I A B C II III A B C D E F IV Tempat Pelelangan Ikan Ikan lokal TPI Muara Angke Ikan tuna TPI Muara Baru Ikan tradisional TPI Muara Baru Ikan Olahan Sunda Kelapa Ikan Luar Daerah Ikan daerah Muara Angke Ikan daerah Muara Baru Ikan daerah Pasar Ikan Ikan daerah Kamal Muara Ikan daerah Kali Baru Ikan daerah Cilincing Data ekspor jenis produk TPI Muara Baru Jumlah Total 279.422. tahun 2001-2004 JUMLAH PRODUKSI (kg)/TAHUN JENIS PRODUKSI 2001 2002 8.485 5. Tabel 4.343 5.967.183 1. maka terjadinya 133 . data ikan lain (ikan tradisional selain tuna) menunjukkan jumlah yang relatif stabil pada 5000-an ton.245.047 ton.725 529.828 16.666 ton dari tahun 2001 sampai 2004.133 ton tahun 2003 dan 2004.280 2. 3.550 3.

934 16.547.007 2. selengkapnya dicantumkan dalam Tabel 4.654 764 530 83.830 291.646 394.212 2003 1.16.610. Rekapitulasi retribusi pemakaian tempat pelelangan ikan lokal dan ikan luar daerah dari masing-masing PPI yang ada di Provinsi DKI Jakarta.145 63.penurunan jumlah ikan daerah yang datang ke TPI Muara Baru tersebut kemungkinan disebabkan oleh dilakukannya penanganan sebelum ekspor di daerah-daerah sehingga produk tersebut hanya tercatat sebagai barang ekspor di PPS Muara Baru.351 II 1.527 1.967 2.000) 2001 2002 1.758 309.290 63.235.3 396.814 29.659.16.447. Ditinjau dari nilai retribusi yang diperoleh dari aktivitas penjualan ikan tersebut.550.084 548 99.615. Tabel 4.125 20.313 1.584 III A B C D E F IV 106.587 Sumber: Disnakkanlut (2005) 134 .576 2.7 223.025 540 98.307 325.398.007 743 577 327 423 17. TPI Muara Angke memperoleh jumlah yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan TPI lainnya di DKI Jakarta.086 280.311 16.104 1. tahun 2001-2004 RETRIBUSI/TAHUN (x Rp 1.277 2004 1.957 Data No I A B C JENIS PRODUKSI Tempat Pelelangan Ikan Ikan lokal TPI Muara Angke Ikan tuna TPI Muara Baru Ikan tradisional TPI Muara Baru Ikan Olahan Sunda Kelapa Ikan Luar Daerah Ikan daerah Muara Angke Ikan daerah Muara Baru Ikan daerah Pasar Ikan Ikan daerah Kamal Muara Ikan daerah Kali Baru Ikan daerah Cilincing Data ekspor jenis produk TPI Muara Baru Jumlah Total 1.

18 menunjukkan bahwa antara tahun 2002-2004 terjadi sedikit perubahan jumlah kapal yang berlabuh di TPI Muara Angke. Untuk kapal ikan yang berlabuh di TPI Muara Angke. 135 .Dari Tabel 4.17. saat ini (27 Desember 2005) terdapat 815 unit kapal yang berlabuh di kolam pelabuhan TPI Muara Angke. Selama bulan Januari sampai dengan bulan Oktober 2005.18. Kelompok kapal penangkap ikan yang paling banyak ternyata adalah kapal dengan alat tangkap purse seine dan gill net. Tabel 4. dari jumlah kapal yang mendarat dan berukuran lebih besar cenderung mengalami kenaikan. yaitu dari 4.16 tampak bahwa nilai retribusi yang diperoleh TPI Muara Angke adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan yang diperoleh dari TPI lainnya.66 milyar rupiah tahun 2004 (sekitar 65. dari 63 sampai lebih dari 100 unit.934. Frekwensi pendaratan kapal di TPI Muara Angke semakin hari semakin tinggi. nilai retribusi ini mencapai 1.17. Sebagian besar dari kapal yang mendarat berukuran kurang dari 30 GT dan jenis kapal angkut (ojek) yang melayani transportasi dari Jakarta ke Kepulauan Seribu. Rekapitulasi data frekwensi tambat labuh kapal yang masuk di PPI Muara Angke Jakarta Utara tahun 2002-2004 dicantumkan dalam Tabel 4. sedangkan data frekwensi tambat labuh selama tahun 2005 dicantumkan dalam Tabel 4.842.17 dan Tabel 4. Menurut informasi lisan dari Kepala UPT Muara Angke. Turunnya persentase nilai retribusi tersebut tahun 2004 karena terjadinya peningkatan nilai retribusi ikan ekspor dari TPI Muara Baru. yang menggunakan jenis alat tangkap bouke ami dan jaring cumi juga mengalami peningkatan.15 %). sebagaimana tampak pada Tabel 4.859. 4.74 % dari total retribusi perikanan). Pada tahun 2001. padahal kapasitas tampungnya hanya 500 kapal. dan secara lambat meningkat menjadi 1.2 milyar rupiah lebih (sekitar 76. dan 4. dan meningkat dari tahun ke tahun.

700 80. PG = payang. JC = jaring cantrang.LB = lion bung (gillnet cucut) . BB = bubu. LP = lampara.645 20.550 81. PS = purse seine. JT = jaring tangsi. JM = jaring cumi.700 91.545 SPI YG MATI <30 >30 24 8 24 8 37 16 49 11 46 23 49 32 30 62 28 18 29 15 52 26 368 216 SPI LD 1 41 21 25 17 28 39 174 <30 >30 AK BA BB FN GN JC JM JT JN 1 Januari 344 282 62 110 31 36 28 32 21 4 2 Pebruari 390 337 53 125 32 38 35 34 18 3 3 Maret 454 372 82 132 68 39 30 28 39 4 2 4 April 442 379 63 134 72 33 35 29 41 9 3 5 Mei 496 101 395 171 83 41 38 29 47 3 6 Juni 476 369 107 148 88 40 43 18 62 3 7 Juli 491 388 103 142 88 38 34 24 49 6 8 Agustus 468 350 118 115 100 31 1 41 30 51 2 9 September 468 366 102 112 108 45 30 29 53 2 10 Oktober 480 389 91 103 98 36 44 31 75 3 Jumlah 4.842 4.18. LP = lampara.176 1.761 1.597 1.450 761. JC = jaring cantrang.380 836. BA = bouke ami (lift net cumi).029 773 1.750 89. PS = purse seine.027 AK 1. Rekapitulasi data tambat labuh kapal yang masuk di Pelabuhan Perikanan Muara Angke tahun 2005 no BULAN JML KAPAL GT ALAT TANGKAP PG 1 12 13 LP 4 6 9 8 15 8 9 1 1 61 LB 1 2 2 2 1 8 PC 1 1 1 1 2 6 PS 75 98 101 76 65 65 83 94 84 88 829 MA 1 1 1 2 1 5 1 12 PENGGUNAAN ES BALOK 60.400 92.050 89. Rekapitulasi data frekwensi tambat labuh kapal yang masuk di PPI Muara Angke Jakarta Utara tahun 2002-2004 TAHUN JML KAPAL < 30 2002 4.934 3.333 1.884 Sumber: Disnakkanlut (2005) GT >30 1. BA = bouke ami (liftnet cumi). JN = jaring nilon.612 847. Tabel 4. PC = pancing.069 2004 4.407 BA 350 622 803 BB 614 560 GN 722 516 485 ALAT TANGKAP JC 107 288 553 FN 255 16 3 JT 122 196 103 LP 101 91 23 MA 5 PS 683 831 982 PC 6 934. GN = gill net.17.292 768 377 1 358 284 456 39 5 Sumber: UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (2005) Catatan:AK = kapal angkutan.Tabel 4. FN = fish net.700 89. BB = bubu.293 610 579 109 175 175 34 234 8 PENGGUNAAN ES BALOK SPI YG MATI SPI LD Catatan:AK = kapal angkutan.509 3. MA = muro ami.830 2003 4. GN = gill net.600 65. JT = jaring tangsi.859 3. PC = pancing. FN = fish net. MA = muro ami 136 .

sehingga biaya operasional penangkapan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan hasil tangkap yang diperoleh.20. karena besarnya biaya operasional sudah melebihi perkiraan hasil tangkapan. Tetapi pada bulan Oktober mengalami penurunan drastis sampai pada jumlah 20.000).6 % dari kapal ikan yang berlabuh di Muara Angke tidak dapat beroperasi. antara 5-10 GT = Rp 1. Perubahan besarnya biaya operasional kapal penangkap ikan sebelum dan setelah kenaikan harga BBM dicantumkan dalam Tabel 4. 137 . 3/1999 (dimana biaya tambat untuk kapal perhari sampai dengan 5 GT = Rp 300.000. Besarnya overload dari TPI Muara Angke ini disebabkan oleh beberapa faktor. Proses pelayanan administrasi bongkar muat berlangsung sangat singkat (15-20 menit) sedangkan proses sortir dan bongkat muatan sekitar satu jam. Fasilitas pendukung operasional penangkapan tersedia secara lengkap. Terjadinya hal ini dipastikan karena kenaikan bahan bakar minyak. (3) (4) Mudahnya dilakukan proses pemasaran ikan. antara lain: (1) (2) Lengkapnya fasilitas bongkar muat pelabuhan. (6) Rendahnya biaya tambat kapal perhari. sesuai dengan Perda No. dari 60 ribu balok menjadi 90 ribu lebih. dan > 20 GT = Rp 4.000. (7) Tidak adanya batasan jangka waktu kapal boleh bersandar di kolam pelabuhan. maka sekitar 50.450 balok saja. (5) Semakin besarnya biaya operasional penangkapan sebagai akibat naiknya BBM. Sebagai akibat dari kenaikan harga BBM tersebut.Penggunaan es balok untuk kegiatan perikanan mengalami peningkatan antara bulan Januari sampai September.19 dan Tabel 4. antara 10-20 GT = Rp 2.

000 48.990.900.500.000 15.500.600 menjadi Rp 2.000.000 16.000 10.500.000 3.000 12.790.Tabel 4.780.000 BIAYA EKSPLOITASI STLH NAIK BBM 1.000 39.000 15.185.000 5.000.000 15.000 5.000 4.900.000 28.500.000 14.150.300.000 49.19.000 20.360.000.000 22. Dampak kenaikan BBM terhadap biaya eksploitasi penangkapan ikan di TPI Muara Angke Maret 2005 dari Rp 1.000 1.550.000.000 17.000 37.000 27.000. No ALAT TANGKAP LAMA TRIP (hari) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Payang Jaring cumi Gillnet Jaring cumi Jaring tangsi Purse seine Fish net Fish net Purse seine cakalang Bubu 4 15 20 60 60 10 30 45 7 20 7 UKURAN KAPAL (GT) 6 6 29 43 15 < 30 29 29 88 26 24 KEBUTUHAN BBM (liter) 500-600 4.000 14.000 11.300 BIAYA EKSPLOITASI SBLM NAIK BBM 1.000.600.000 17.000 38.000.000 13.000 % KENAIKAN 27 18 23 26 15 17 28 26 16 20 14 11 Angkutan Sumber: Disnakkanlut (2005) 138 .250.000 8.000 20.000 10.

700 3. Dampak kenaikan BBM terhadap biaya eksploitasi penangkapan ikan di TPI Muara Angke Maret 2005 dari Rp 2.000 500 5.500 3.400 30.Tabel 4.000 400 4.335 2-2.525 50.320 38.000 13.000 4.675 5.700 304.000 11.100 201.000 350 3.000 18.975 9 Bubu 25 < 30 6.050 50.700 4.000 400 4.000 250 2.470 32.000 3.000 25.550 54.900 5 Purse seine 15 > 30 8.017 1.300 No ALAT TANGKAP LAMA TRIP (hari) UKURAN KAPAL (GT) BIAYA OPERASIONAL BIAYA OPERASIONAL SDH NAIK BBM (x Rp 000) Premi nakhoda x Rp 1000 6.000 98.500 10.5 1.800 2.000 16.440 195.000 5.000 3.000 6.100 7.425 HASIL PER TRIP (juta) BIAYA OPERASIONAL SBLM NAIK BBM (x Rp 000) Ransum Gaji ABK Oli dll Es (balok) BBM (Lt) x Rp x Rp x Rp Harga (x Harga (x 1000 1000 1000 Rp 1000) Rp 1000) 1 Payang 4 6 200 20 60 350 600 860 240 2 Jaring cumi 20 < 30 7.000 6.150 menjadi Rp 4.075 24.5 20-40 25-50 50100 25-40 20-50 25-40 15-30 20-30 20-40 200230 1-1.000 6.400 11 Tuna long line 81 < 100 32.550 10 Bubu 40 > 30 8.000 12.470 31.200 38.20.000 cakalang 36.000 42.775 38.500 3.175 41.000 4.850 31.400 72.400 3.100 3400 3 Jaring cumi 20 > 30 9.670 35.000 400 6.770 45.000 89.500 5.500 24.250 8 Gillnet tongkol 25 </>30 6.125 7 Gillnet pari 60 </>30 9.550 5.110 50.400 4 Bouke ami 50 > 30 23.250 4.000 300 3.000 ckl/kembung 17.800 2.300 141.000 3.500 5.372 12 Perahu harian 1 < 10 150/645 5/60 150 480 Sumber: UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (2005) 2.200 2.325 71.000 7.700 25.950 6 Purse seine 10 < 30 4.000 13.500 700 4.900 62.150 70.837 1.400 34.005 139 .

gudang garam. Memungkinkan terjadinya praktek kolusi dalam proses bongkar muat. Rendahnya biaya tambat kapal sesuai dengan Perda No. sarana pengolahan. (2) Upaya pemeliharaan fasilitas pelabuhan dan TPI menjadi lebih berat. dan menghalangi kapal yang akan melakukan bongkar muat. (3) (4) Upaya pemeliharaan kebersihan lingkungan harus ditingkatkan. gudang dingin untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. 3/1999 juga menjadi penyebab kapal nelayan tersebut untuk tetap berlabuh. sehingga menimbulkan dampak sosial bagi buruh nelayan dan buruh yang bekerja di pelabuhan. kontainer. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penumpukkan kapal di kolam pelabuhan. Secara rinci.Tidak seimbangnya antara kapasitas tampung kolam pelabuhan dengan jumlah kapal yang berlabuh. ketersediaan dan kebutuhan prasarana/sarana penanganan dan pengolahan hasil perikanan di Muara Angke dicantumkan dalam Tabel 4. air tawar bersih. dll. (5) Kenaikan harga BBM telah mengakibatkan tingginya persentase kapal yang tidak dapat beroperasi. antara lain: (1) Kebutuhan bahan perbekalan untuk operasional kapal ikan meningkat. yang terdiri dari es. telah menimbulkan berbagai permasalahan. karena setiap kapal yang terdapat dalam antrian menginginkan ditangani lebih cepat dan lebih dulu. 140 . gudang pembeku. Overload-nya TPI Muara Angke menimbulkan terjadinya pasokan kurang untuk bahan-bahan kebutuhan operasional kapal ikan.21. boks ikan.

200-2.5 ton/hari 250 ton H I 7 unit 5 ton 3.000 unit 2.000 balok/hari B C D E Cool room/chill room Cold storage Cool box Air bersih 1 unit 1 unit 1.000 balok 3.5 ton/hari G 1 lokasi 208 unit 30-40 ton F Sentra pengolahan tradisional (UKM) Sarana/peralatan pengolahan Gudang garam Kontainer 5 unit 18 unit 15 ton/hari 432 ton 7 unit 5 ton 250 unit 50 ton 150 ton 1.122 m3/bln F Sentra pengolahan tradisional (UKM) G Sarana/peralatan pengolahan H I Gudang garam Kontainer 5 unit 12 unit 15 ton/hari 288 ton 10.000 balok KAPASITAS 150 ton 400 ton 100 ton 2.000 ton 100 ton 2.395 m /bln 3 750 ton 1.122 m /bln 3 KEBUTUHAN PRODUKSI PRASARANA JUMLAH (unit) A Pabrik es 1 7.000 3.000 balok/hari Pasokan es kop putri salju 2.500-3. 141 .000 balok/hari Pasokan es kop KPNDP 1.000-8.21. Ketersediaan dan kebutuhan sarana dan prasarana penanganan dan pengolahan hasil perikanan KETERSEDIAAN PRASARANA JUMLAH KAPASITAS TERPASANG A Pabrik es 1 unit 6.122 m /bln 3 B C D E Cool room/chill room Cold storage Cool box Air bersih 5 1 2.Tabel 4.000 m3/bln Sumber: UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (2005).000 ton 200 ton 5.

Namun demikian. dll) dengan cara membelinya. gudang garam. sarana promosi dan pemasaran hasil-hasil perikanan serta pembangunan perumahan dan fasilitasnya (BPRP 2001). Beberapa dari fasilitas yang kurang tersebut dapat dengan mudah dipenuhi (seperti cool box. Untuk menghadapi era ini. Pemenuhan kekurangan fasilitas tersebut pada gilirannya akan menimbulkan masalah ekonomi dan sosial yang cukup rumit. dan kontainer. Salah satu kawasan yang mendapat prioritas untuk dibenahi adalah kawasan Pantura Jakarta. bahan bakar. kontainer. karena adanya faktorfaktor pembatas di bagian hulunya.Dari Tabel 4. (2) TPI Kamal Muara Globalisasi telah membawa dampak yang cukup besar ke seluruh dunia. cold storage. es. antara lain juga ke Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Jakarta mempersiapkan diri untuk menjadi kota unggulan yang mampu bersaing dengan kota-kota besar lainnya di kawasan Asia Pasifik. Pemda DKI melalui BPR Pantura dan PT Pembangunan Pantura sudah melaksanakan studi untuk penyusunan Master Plan Penataan DAS Kali Kamal-Kamal Muara. listrik. dll). sarana dan prasarana TPI. namun kesan semrawutnya penataan bangunan dan aktivitasnya masih terasa. Tujuan studi tersebut adalah untuk mengkonkritkan pembangunan DAS Kali Kamal sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan dan juga meningkatkan produktivitas nelayan melalui pengembangan usaha. Meskipun sudah dilakukan pembenahan. saat ini berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan (TPI). sentra pengolahan tradisional. yang direncanakan sebagai water front city. ruang pendingin. jika dikaitkan dengan penempatannya maka hal ini menjadi tidak mudah. seperti ketersediaan lahan dan keterbatasan sarana penunjang (antara lain air. Muara Kali Kamal.21 tampak bahwa kekurangan pasokan fasilitas terdiri dari air bersih. Tujuan yang 142 . cool box.

baik keberadaan nelayannya maupun ketidak- berfungsian dari TPI Dadap tersebut. belum memasukan kawasan Dadap sebagai bagian dari unsur yang harus dipertimbangkan. adalah untuk menciptakan suatu kawasan komunitas sosial terpadu dengan pengembangan usaha. Adapun sasaran studi ini adalah disamping terjadinya peningkatan pendapatan dan produktivitas nelayan. 143 . antara lain pendaratan ikan (fishing port). mulai dengan rencana pembangunan tempat pendaratan ikan dan restoran tradisional kawasan DAS Kali Kamal sampai Rencana Pembangunan Kota Air Kamal Muara. pengawetan dan pengasapan ikan. pasar pelelangan ikan.lainnya dari studi ini adalah: 1) terbangunnya salah satu kawasan nelayan sebagai asset produksi pengembangan terpadu Jakarta Utara. serta rumah makan laut (seafood restaurant). meskipun pembangunan fisiknya belum dimulai. Kedua rencana pembangunan tersebut telah diwujudkan sampai tahap studi kelayakan. Dari informasi di atas tampak bahwa program pembangunan yang direncanakan oleh Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Jakarta Utara. Ketidakterpaduan program pembangunan di wilayah perbatasan seperti ini merupakan salah satu faktor yang kemungkinan dapat memberi pengaruh negatif terhadap pengelolaan program-program pembangunan di kemudian hari. Berbagai rencana pembangunan kawasan Kamal Muara telah dilakukan oleh Pemkot Jakarta Utara. kolam pembiakan. dan 4) penambahan sarana rekreasi sebagai asset wisata Jakarta. 2) tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas dan lingkungan yang memadai. yaitu dapat dibangun “fasilitas multi purpose/public facility” berupa fasilitas yang ada kaitannya dengan aktivitas perikanan dan kegiatan penunjang. 3) terbangunnya suatu kawasan komersil yang dapat mendukung adanya perkampungan/pemukiman nelayan yang lengkap dengan fasilitasnya.

Ketersediaan sarana khusus perikanan memang masih belum lengkap seperti: pabrik es dan Depot BBM. dimana terdapat beberapa kegiatan yang meliputi aspek: (1) Pemasaran Kegiatan pemasaran ikan bertujuan untuk menjaga stabilitas harga agar tercapai keuntungan optimal bagi nelayan dan kepuasan bagi para konsumen. Masalah yang teridentifikasi antara lain: produksi hasil tangkap. dan kebersihan lingkungan. es. kelembagaan. harga ikan. Beberapa permasalahan yang sedang terjadi saat ini di kawasan Kamal Muara antara lain: 144 . Sebagaimana di TPT-TPI lainnya. masalah krusial yang sering dijumpai adalah penyediaan air bersih. Kondisi perikanan di kawasan Kamal Muara berpusat di TPI Kamal Muara. (3) Penarikan retribusi Pada setiap kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan sumberdaya perikanan dikenakan biaya retribusi. tetapi karena lokasinya sangat dekat dengan sumber prasarana yang diperlukan tersebut maka masalah ini dapat cepat diatasi. dan penurunan produktivitas usaha budidaya.Isu dan permasalahan yang berkembang berkaitan dengan bidang perikanan di lokasi penelitian hampir merata juga dialami oleh kawasan lainnya di pantura. (2) Pembinaan mutu Berbagai usaha untuk melakukan peningkatan mutu ikan yang didaratkan sudah dilakukan oleh pemerintah daerah melalui kegiatan penyediaan sarana dan prasarana pelelangan sehingga ikan yang dipasarkan mempunyai kualitas yang masih baik. baik konsumen langsung maupun tidak langsung.

dan para pengolah dan pedagang sebanyak 1. sedangkan di Jakarta Utara adalah sebanyak 17. Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta tahun 2003 di wilayah Kecamatan Penjaringan sebagian besar merupakan nelayan pendatang (8.(1) Adanya kapal ikan yang parkir untuk mengisi bahan perbekalan meskipun ikan yang mereka tangkap sebelumnya telah didaratkan di TPI lain.848 nelayan.341 nelayan.38 %) yang merupakan nelayan pemilik. baik karena domisili nelayan yang berubah ataupun karena terjadinya perubahan pola mata pencaharian dari nelayan ke jenis usaha lain.615 orang. Ini berarti sebanyak 62. tercatat hanya ada 636 nelayan (Anonimous 2007).71 % nelayan pemilik dan sisanya 52. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perikanan sudah mulai menurun. terdapat sekitar 1. Jumlah nelayan yang resmi tercatat berdasarkan data dari Dinas Peternakan. 145 . pembudidaya kerang hijau 397 orang. Banjir hampir setiap saat terjadi pada saat air laut pasang. Dari 397 orang pembudidaya kerang hijau ini.000 unit rakit. (2) (3) Instalasi limbah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Data terakhir menunjukkan bahwa pada bulan April 2007.748 orang atau 25.29 % merupakan nelayan pekerja. total nelayan yang ada di Kecamatan Penjaringan adalah 10. yang jika dilihat dari daratan pun akan tampak seolah-olah pesisir Kamal Muara seperti dipagari oleh pagar-pagar bambu.100 orang atau 74.33 %) merupakan nelayan menetap.62 %) merupakan nelayan pekerja dan hanya sebagian kecil (12. Hasil penelitian Litasari (2002) menunjukkan bahwa jumlah nelayan di Kelurahan Kamal Muara adalah 10. Sedangkan untuk nelayan menetap.350 orang. dengan persentase masing-masing 47. Sebagian besar dari nelayan pendatang (87. proporsinya kurang lebih sama antara nelayan pemilik dan nelayan pekerja. hal ini agak mengganggu kegiatan bongkar-muat hasil tangkapan kapal-kapal ikan lainnya.67 %) dan hanya sebagian kecil (2.56 % nelayan yang beroperasi di wilayah Jakarta Utara terkonsentrasi di Kecamatan Penjaringan. Secara keseluruhan.

dan hanya merupakan 50 % dari produksi tahun 1999. dengan harga jual Rp. Jumlah ikan yang berhasil didaratkan di TPI Kamal Muara pada tahun 2002 adalah sebesar 529.550 kg atau senilai Rp.000. 146 .245. Hasil samping dari budidaya kerang hijau dan bagan adalah ikut terpanennya oyster. Pendapatan rata-rata pembudidaya kerang hijau di Kelurahan Kamal Muara sekitar Rp 4.000 per kg (Litasari 2002).910. 17.000 per rakit per musim. tetapi daging oyster ini berharga sampai Rp 15. Produksi per rakit juga menurun dari 15-20 ton menjadi sekitar 10 ton saja. Kerang hijau rebusan laku terjual seharga Rp 6. 776. Sedangkan hasil samping nelayan kerang darah adalah kerang kapak-kapak (Pina sp). dan pancing.Litasari (2002) juga menyebutkan bahwa produksi kerang hijau tahun 2000 mencapai 10. Sedangkan untuk aktivitas budidaya ikan. yang tadinya dapat dipanen setelah 6-7 bulan.000 per kg. Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan yang beroperasi dari TPI Kamal Muara adalah gill net. Meskipun jumlahnya sedikit. Jumlah ini sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya yang mencapai nilai Rp 889.000. sero.000 per kg. jaring payang. penurunan jumlah produksi ini disebabkan oleh bertambah rusaknya kualitas perairan pantai sehingga menyebabkan pertumbuhan kerang lebih lambat.22. tetapi tahun 2002 sudah memerlukan waktu pemeliharaan antara 8-11 bulan. meskipun tetap menunjukkan kecenderungan terjadinya peningkatan jika dilihat dari produksi tahun 1997. sarana produksi yang tersedia berupa tambak (untuk bandeng) serta bambu dan tambang tami untuk budidaya kerang hijau.000 ton. jaring tembang.500. Data selengkapnya dari volume dan nilai produksi ikan lokal di TPI Kamal Muara berdasarkan alat tangkap dicantumkan dalam Tabel 4.

Disnakanlut (2002). kue.13 0.363 64.27 Nilai Produksi DKI Jakarta 58.24.Tabel 4. jaring payang. yakni hanya sebesar 13.000.23.46 %) terhadap total nilai produksi ikan untuk wilayah DKI Jakarta. kembung.52 1.27 Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Nilai Produksi TPI Kamal Muara 113.85 -25.60 -23. Data selengkapnya dari volume dan nilai produksi ikan lokal di TPI Kamal Muara berdasarkan jenis dicantumkan dalam Tabel 4. manyung.188.27 %/tahun di TPI Kamal Muara. 147 . cendro.024. Selain itu diproduksi juga ikan bandeng dan mujair. cumi-cumi.12 -12. yang merupakan hasil tambak.692.509 70. volume atau nilai ikan tersebut hanya sedikit saja sumbangannya (0.427. Namun demikian.15 %.20 0. layur. data diolah.636 889.910 776. Beberapa jenis ikan tawar yang dibudidayakan di karamba jaring apung di waduk-waduk juga ikut dipasarkan.22.000) % Kenaikan/ Penurunan 13. ekor kuning.245 Rata-rata Sumber: BPS (2004a). Ikan yang berhasil ditangkap diantaranya ikan bawal hitam. Rincian nilai produksi ikan dari Tahun 1997 – 2002 dicantumkan dalam Tabel 4. Dari data yang dikumpulkan antara tahun 1997 – 2002 menunjukan kenaikan volume dan nilai produksi rata-rata sebesar 62. Hasil pengamatan terakhir tahun 2007 menunjukkan bahwa jenis ikan yang dipasarkan di TPI Kamal Muara tidak hanya terbatas pada ikan-ikan laut dan tambak saja. ataupun pancing.867 94.555.728 ta 10. belanak.176 % Kenaikan/ Penurunan Proporsi Nilai Produksi 0.49 91. layang.600 488. Data nilai produksi TPI Kamal Muara dan DKI Jakarta dari Tahun 1997 – 2003 (dalam Rp 1.626 160. baronang.77 62.46 23.15 0.87 204.89 123. Rata-rata kenaikan volume/nilai ikan ini lebih besar dibandingkan dengan rata-rata kenaikan volume dan nilai ikan untuk DKI Jakarta. kakap merah.840 129.19 0.65 13.26 82. dan ikan pari. Alat tangkap yang digunakan berupa gill net.

646 3.810 1.070 896 15.530 16.568 6.800 75.900 13.580 148 .000) 24.650 24.900 100.032 4.900 10.700 4.700 950 4.146 Kg 20.654 1.436 280 7.300 760 2.190 1.000) 363.240 Kg 255.430 670 9.978 19.316 4.150 1.660 3.560 13.280 4.290 16.625 37.762 -324 13.450 11.930 2001 (Rp 1.880 10.668 3.106 7.280 1.372 10.660 4.770 1.018 24.400 167.810 1.880 1.700 36.325 40.328 4.737 1.530 1.170 84.156 2.540 24.450 6.710 11.450 1999 (Rp 1.270 61.530 2.210 220 10.750 5.775 1.900 45.980 2.Tabel 4.224 22.590 20.665 57.010 63.904 10.418 Kg 16.370 Kg 61.390 73.560 1998 (Rp 1.430 10.620 19.000) 131.350 6.330 740 12.348 1.554 8.820 2.520 58.390 6.238 55.940 87.360 510 9.23.400 13.160 21.458 11.770 51.475 11.800 6.293 1.990 20.540 16.378 5.940 610 14.470 16. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Lokal Bandeng Bawal hitam Belanak Beronang Campur Cendro Cumi-cumi Ekor kuning Japuh Kakap merah Kembung Kuwe Layur Manyung Mujair Pari Rebon Selar Talang-talang Tembang Teri Tonglol Udang Kg 17.050 364 7.992 7.650 6. 2002) No.660 8.308 1.000) 12.202 30.250 38.120 1997 (Rp 1.220 10.050 8.292 22.490 121.610 1.632 4.682 4.300 14.112 18.380 44.946 4.926 5.860 150 63.920 100 100 600 12. Daftar jenis ikan yang didaratkan di TPI Kamal Muara dari tahun 1997-2001 (Disnakkanlut.212 280 5.460 12.800 9.780 2000 (Rp 1.380 121.938 7.850 7.010 192 17.000) 17.840 4.560 28.690 28.086 5.440 1.440 134 164 604 2.046 6.310 1.

800 28.24.730 Jumlah 257.460 34.200 488.180 12. Nama Lokal Kg 1997 (Rp 1.040 32.050 110.060 889.520 92.046 66.800 137.910 149 .954 2.790 18.720 129.840 56.240 62.080 160.626 256.840 299.870 24.896 Kg 50.050 189.815 119.298 55.300 1999 (Rp 1.590 98.000) 36.940 85.000) 53.869 6.964 Kg 50.794 Kg 43.250 - 1 Empang 2 Gill net 3 Jaring rampus 4 Jaring tembang 5 Pancing 6 Payang 7 Sero 61.050 22.600 285.070 2001 (Rp 1.570 19.950 2000 (Rp 1.Tabel 4.639 548.100 113.167 63.000) 211.800 166.995 27.530 1.800 1998 (Rp 1.785 Kg 95.782 3.902 58.870 610 6.690 49.000) 31.695 93.530 44.460 15. 2002) No.925 355.938 78.570 3. Volume dan nilai produksi ikan lokal di TPI Kamal Muara berdasarkan alat tangkap tahun 1997-2001 (Disnakkanlut.000) 544.

245 juta. Selain perikanan tangkap dan budidaya di atas. yakni 529. 776. masing-masing secara berurutan adalah seberat 33.39 % total produksi) dari gill net.850 kg (6. nelayan setempat juga mengusahakan budidaya kerang hijau.810 kg (3. seberat 17. (2) Industri pemasaran ikan: berupa pengepakan ikan. dan perahu tradisional.160 ton yang berasal dari 530 rakit dengan luas 102. Bilamana disimpulkan. pembuatan garam secara tradisional.550 kg atau senilai Rp. sistem distribusi ikan yang dilakukan adalah dengan cara: dijual langsung kepada masyarakat konsumen secara eceran. yaitu : ukuran besar (> 10 GT) 1. Sedangkan volume dan nilai produksi yang berasal dari gill net. Berdasarkan data nilai produksi dari masing-masing jenis alat tangkap yang digunakan. maka kegiatan perekonomian yang berlangsung di kawasan Kamal Muara terdiri dari: (1) Pendaratan ikan yang berasal dari kapal motor. kapal dengan motor tempel. di Kamal Muara terdapat 404 petani atau 65. Lokasi lainnya terdapat di Cilincing dengan 210 petani kerang hijau. jaring payang dan pancing hanya sebagian kecil saja. dan tidak terdapat perahu dengan ukuran kecil (kurang dari 5 GT tanpa motor atau motor < 10 PK dengan dimensi 7 x 2. ukuran sedang (5 – 10 GT) sebanyak 21 buah. sebagian besar ikan yang mendarat di TPI Kamal Muara adalah dari tambak.095 juta.076 buah. Volume tersebut 83.740 kg (7.817 ha yang dikelola oleh sebanyak 678 tenaga kerja (petani kerang hijau) atau kurang lebih 1 orang per-rakit.36 % total produksi) dari jaring payang dan 37.150 kg atau setara dengan Rp 599.13 % total produksi) dari alat tangkap pancing. dan dijual partai besar kepada grosir. Kegiatan pasar 150 . Produksi yang telah dihasilkan pada tahun 2003 mencapai 74.Perahu/kapal yang dioperasikan di wilayah perairan Kamal Muara ini secara umum dapat dikelompokan ke dalam 3 golongan. dengan volume 440.80 m2).80 % dari keseluruhan petani kerang hijau yang ada di Jakarta Utara.12 % dari volume total volume produksi ikan di TPI Kamal Muara. Jika dilihat dari jumlah petani yang mengusahakannya.

yang merupakan sarana perekonomian yang paling vital belum terdapat di Kamal Muara. Kegiatan perkoperasian. Sarana perekonomian berupa bank hanya terdapat 2 buah. dimana total keseluruhan bank yang ada di kecamatan ini mencapai 18 buah bank dan tersebar di semua kelurahan. Pasar Inpres. Total jumlah Pasar Inpres yang ada di Kecamatan Penjaringan sebanyak 5 buah. dari yang berskala besar hingga industri yang berskala kecil atau rumah tangga. baik ikan yang di-es maupun yang tidak. (7) Kegiatan industri. (3) Warung/restoran ikan: banyak dilakukan oleh penduduk disekitar pintu masuk perkampungan nelayan Kamal Muara yang langsung berbatasan dengan Kali Kamal. Perikanan dan Kelautan DKI pada tahun 2003 hanya terdapat sarana koperasi berupa sebuah koperasi simpan pinjam dengan 81 anggota dan sebuah koperasi serba usaha dengan jumlah anggota 109. Dilihat dari jumlah bank yang ada. (5) (6) Kegiatan perbankan. Jenis koperasi lainnya. berdasarkan data yang berasal dari Dinas Peternakan. (4) Pemuatan perbekalan penangkapan ikan disuplai oleh unit perbekalan nelayan. yang terdiri dari koperasi konsumsi. masing-masing satu buah bank pemerintah dan sebuah bank swasta. Sarana perekonomian berupa pasar yang ada hanya 1 buah pasar lingkungan dan 1 buah lokasi pedagang K-5 dengan jumlah pedagang sebanyak 46 orang. yakni koperasi konsumsi dan koperasi produksi belum ada. tersebar di 151 .ikan tradisional berlangsung setiap hari. Kamal Muara merupakan wilayah yang jumlah banknya paling sedikit di Kecamatan Penjaringan. Sarana perekonomian lain adalah koperasi. koperasi produksi dan koperasi serba usaha. yang menyediakan sarana penangkapan ikan dan kebutuhan hidup sehari-hari. baik pemerintah maupun swasta.

000 30.000 25.750.000 375. Tabel 4.000 30. Data selengkapnya dari potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di sekitar TPI Kamal Muara dicantumkan dalam Tabel 4.000 4.000 15.000 20.000 35.000 25.800.000 JUMLAH TRANSAKSI HARIAN 6.000 375.000 1.000 7.000 2.000/blk Perda No 3/99 KET.000 20.620.25 Potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Kamal Muara tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM.000.000 150.000 30.840.000 3.000 700.000 6. No JENIS KEGIATAN/ PELAYANAN Transaksi TPI Anak buah peserta lelang Bahan bakar Buruh Es balok Kegiatan tambat labuh Buruh dilingkungan TPI Kuli gerobak pengasin Kuli gerobak lelang Buruh Pedagang K5 produk ikan Buruh 6 unit pengepakan Workshop Buruh Kios alat perikanan (2 unit) Buruh pedagang otak-otak Buruh depot es Upah ABK Gillnet (56) Purse seine (27) Jaring rampus (42) Jaring nilon (35) Payang (11) Pancing (28) Bagan (530) Kerang Hijau (1.000 250.000 17.000 15.000 100.000 15.000 50.000 51.500.000 27.25.000 240.Kelurahan Pluit (3 buah) dan Kelurahan Kapuk Muara dan Pejagalan masing-masing 1 buah.000 500 balok 15 25.000 30.425.590 3.000 350.290. JUMLAH BURUH/ UNIT NILAI SATUAN TRANSAKSI HARIAN 35 35.000 600.000 75.000 168.150.000 15.000 35.300.650/lt 12.520.000 35.000 20.000 Sumber: diolah dari BPS (2004) dan dan data primer 152 .000) Jumlah 1 20 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 10 15 10 10 25 12 4 2 5 3 336 270 210 105 132 84 1.000 16.000 60.000 31.000 10 ton 35.

4. luas wilayah Kabupaten Tangerang mencapai 164.2 Keragaan perikanan Kabupaten Tangerang Sebagai bentuk tanggapan atas pemberlakuan UU No.62 % industri besar. Aspek legal ini sebenarnya dapat dijadikan landasan bagi kedua pemerintahan daerah untuk melakukan pengelolaan bersama kawasan perairan Dadap dan Kamal Muara dan fasilitas yang terdapat di dalamnya. dan 12 buah industri kecil. Jika dilihat dari persentasenya terhadap Kecamatan Penjaringan.77 % industri kecil di Kelurahan Kamal Muara. maka sebarannya mencapai 43.4.Jumlah perusahan industri sebagai salah satu penunjang sarana perekonomian masyarakat.05 % (PKSPL IPB 2004) 153 . Dari 2 pendekatan produksi total maka potensi Kabupaten Tangerang hanya mencapai 16. 23. dengan jumlah 18 buah. hanya terdapat 1 buah hotel melati yang berada di Kelurahan Pluit. motel.441 ton dengan tingkat pemanfaatan sebesar 14. losmen. Sarana perekonomian lain berupa hotel.76 %).339 ton (73. Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang telah menetapkan kawasan perairan Kecamatan Kosambi merupakan suatu zona pengelolaan bersama antara Kota Jakarta Utara. Tercatat ada 65 buah industri besar. Kabupaten Tangerang memiliki panjang pantai 51 km. dan restauran tidak terdapat di Kamal Muara. Di Kecamatan Penjaringan. 23/1999 tentang Otonomi Daerah.90 % dari luas wilayah Provinsi Banten. 100 buah industri sedang. dan Kabupaten Tangerang. dengan potensi sumberdaya ikan yang mencapai 19. Sarana perekonomian berupa hotel dan restauran atau sejenisnya hanyalah berupa warung makan.31 km atau hanya 1. banyak terdapat di Kamal Muara. antara lain TPI. hostel.664 ton dengan pemanfaatan sebesar 86. 3/1996 tentang RTRW. sebagaimana tercantum dalam Perda No 5/2002 tentang Perubahan Atas Perda No.53 % industri sedang dan 12. Secara keseluruhan. Kabupaten Kepulauan Seribu.

1. tetapi juga beberapa ekosistem lainnya. Rawa Situ Sungai Eks galian pasir JENIS POTENSI PERAIRAN LUAS/PANJANG 357. 154 . Potensi areal penangkapan ikan di Kabupaten Tangerang. Namun demikian. Potensi areal penangkapan ikan di Kabupaten Tangerang dicantumkan dalam Tabel 4. situ.3 km 350. Tabel 4.26. masing-masing satu buah untuk setiap kecamatan pesisir.8 ha Sumber : TPI Dadap (1996) dan Diskanlut Tangerang (2004) Kebijakan Pemda Kabupaten Tangerang melalui RTRW Kabupaten Tangerang tahun 2000 menetapkan bahwa areal pertambakan yang ada di Kecamatan Kosambi.28. 3. sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4. seperti rawa. dan Paku Haji akan direlokasi ke Kecamatan Mauk dan Kecamatan Kronjo.26. Data potensi tambak di Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Tabel 4. dan sungai.0 ha 116. tahun 2000 tersebut dalam perencanaannya juga menyatakan bahwa di muara Kali Dadap akan dibangun TPI. 2. yang tampaknya hanya diperuntukan bagi nelayan yang mau mendaratkan ikan hasil tangkapannya di laut. Teluk Naga.27. 4.Produksi ikan yang dihasilkan Kabupaten Tangerang tidak hanya berasal dari laut. No. Kegiatan perikanan laut di Kabupaten Tangerang dipusatkan di 7 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).5 ha 314.

155 Tabel 4.00 3.10 57.69 80.29 97.40 235.Marga Mulya .Ketapang .30 78.50 119.00 2.30 201.00 231.50 0. No.00 894.140.25 526.84 18.00 20.00 0.35 371.72 143.40 15.34 18.Pegadean Ilir .50 78.40 103.00 12.Mauk Barat .10 70.50 15.29 92.84 111.30 0.00 350.50 1.00 395.00 1.Kronjo .Karanganyar .00 180.32 64.80 155 .29 100.28 13.85 433.57 85.00 162.00 350.Patra Manggala Subtotal Mauk: .50 62.64 12. 43 31 19 12 105 40 30 19 8 97 3 1 0 4 8 115.77 30.00 0.00 265.Lontar .85 1.302.64 0. Kecamatan/Desa JUMLAH RTP PEMBUDIDAYA Total Bandeng Udang LUAS (Ha) Total Bandeng Udang Potensi Diusahakan Potensi Diusahakan Potensi Diusahakan 80.00 61.72 122. Anom Subtotal 29 57 71 75 11 49 63 75 232 18 8 8 0 34 2.00 61.50 50.00 21.29 72.00 0.27.80 247.00 369.84 111. 21 16 22 59 21 16 22 59 0 0 0 0 338.5 214.50 351.30 20.021.00 123.30 23.20 65.78 6.00 0.10 57.00 126.90 23.Tj.80 247.30 96.25 403.00 65.90 392.00 55.00 327.00 0.58 13.Jenggot .00 0. Produksi potensi pertambakan Kabupaten Tangerang tahun 2004.00 264.50 78.85 1. Kronjo: .Muncung Subtotal Kemeri: .00 334.Bab4.30 96.

00 171.00 20.00 6.26 0.90 146.00 61.Bab4.00 277.50 256.64 858.89 4.50 259.00 0.00 0.40 15. 39 17 17 24 97 0 0 0 1 1 196.00 0.50 404.40 2.00 20. Sukadiri: .26 196.00 0.00 0.00 148.30 Sumber : TPI Dadap (1996) dan Diskanlut Tangerang (2003) 156 .53 0.00 0.00 0.00 0.20 0.50 116.329.477.00 0.85 325.00 0.11 0.00 1.156 Lanjutan Tabel 4.14 975.00 0.50 70.00 0.50 274.75 18.00 7.00 120.40 117.00 0.08 152.Muara Subtotal Kosambi: .00 0.600.Sukawali .50 238.Karang Serang Subtotal Pakuhaji: .20 0.20 117.70 18.00 0.15 291.Lemo .Kohod Subtotal Teluknaga: .00 96.27 4.20 119.40 15. 0 30 39 2 0 71 637 0 30 39 2 0 71 594 0 0 0 0 0 0 43 467.00 0.00 0.04 0.00 0.00 679. 1 22 34 15 72 : 39 17 17 25 98 1 22 34 15 72 0.46 135.00 120.Dadap Subtotal TOTAL 0.50 70.46 135.30 228.00 0.49 0.Kramat .20 117.90 18.60 573.00 0.99 30.Tj Pasir .00 7.00 0.Tj Burung .00 20.00 43.90 146.59 157.00 277.20 119.00 1.75 0.00 142.00 0.00 0.826.50 66.00 0.50 0 0 0 19.00 0.85 325.00 0.15 195.50 774.20 117.Selembaran Jaya .00 5.00 20.30 104.99 49.50 120.00 0.00 120.00 0.00 18.Kosambi Barat .39 3.40 2.00 0.20 157.50 66.50 403.Selembaran Jati .30 103.00 7.61 0.00 18.20 119.Suryabahari .00 20.60 512.20 120.00 0.00 142.41 228.00 850.Kosambi Timur .38 315.

No. PPI Cituis di Kecamatan Teluknaga KUD “Mina Samudera” 6.Tabel 4.895 ton.834. Alur masuk ke pelabuhan kurang dalam sehingga menyulitkan perahu dalam proses pendaratan ikan yang dibawanya. dan 142 ton dari tahun 2000 sampai 2003. Hal ini disebabkan oleh: (1) (2) Belum memadainya fasilitas PPI. Adanya kompetisi dari PPI yang berada di wilayah DKI.28. data menunjukkan jumlah 130. (4) Banyak nelayan yang sudah mengingat kontrak jual beli dengan bakul. Hasil tangkapan dari perairan umum didominasi oleh jenis ikan tawes. PPI Kronjo di Kecamatan Kronjo Dinas Perikanan dan Kelautan 2. TPI Ketapang di Kecamatan Mauk Dinas Perikanan dan Kelautan 4. karena akses ke lembaga keuangan resmi sulit diperoleh.725. antara lain: tempat sandar kapal. TPI Karang Serang di Kecamatan Koperasi Perikanan Laut Sukadiri “Bahari” 5.731 ton.25 ton dan tahun 2003 mencapai 15. Untuk produksi ikan hasil perairan umum. NAMA TEMPAT PENANGGUNGJAWAB PELELANGAN IKAN 1. 157 . Produksi tahun berikutnya meningkat sedikit menjadi 17. 165. TPI Dadap di Kecamatan Kosambi KUD “Mina Bahari” Sumber: Diskanlut Kabupaten Tangerang (2003) Kriteria PPI di Kabupaten Tangerang sebenarnya belum optimal. karena belum menjadi tempat pemasaran ikan yang utama. (5) (6) Pengawasan petugas lapangan masih lemah. TPI Benyawakan di Kecamatan Kemiri Dinas Perikanan dan Kelautan 3. data produksi ikan hasil tangkap Kabupaten Tangerang mencapai 16. (3) Produksi masih relatif rendah karena armada sebagian besar didominasi oleh perahu bermotor tempel yang melakukan operasi penangkapan ikan secara harian.70 ton dan turun lagi tahun 2002 pada jumlah 16. Data perkembangan produksi ikan di Kabupaten Tangerang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4. Keragaan tempat pelelangan ikan dan institusi penanggungjawab operasionalnya. 123. PPI Tanjung Pasir di Kecamatan Teluk KUD “Mina Dharma” naga 7.30. Pada tahun 2000.29.

70 123.40 ton (Rp 19. 10. No. dan kapal motor bermesin dalam (157 unit).400 juta) dari sawah (minapadi).62 juta) dari tambak. Keragaan alat tangkap ikan di Kabupaten Tangerang secara lengkap dicantumkan dalam Tabel 4. dan 388.676 juta) yang berasal dari perairan umum dan jaring apung.626.999.30. Produksi ikan tersebut dihasilkan oleh sekitar 1.Tabel 4.725.90 ton (Rp 3.672 rumah tangga nelayan laut. 823 nelayan tambak.00 142. 1. jenis alat tangkap ikan di Kabupaten Tangerang mencapai 15 jenis dan total unit 2. jaring hanyut (254 unit). dan 2.29.834.325 petani ikan di kolam.00 130.060 buah. kapal dengan motor tempel (909 unit). PRODUKSI (TON) 2000 2001 17.873.00 17.025. jaring klitik (374 unit). Berbagai jenis alat tangkap yang beroperasi di wilayah Kabupaten Tangerang adalah payang (48 unit).25 165.54 ton (Rp 133. jaring rampus (15 unit).30 16.70 2002 16.130. 158 . 2.55 2003 15. sedangkan untuk produksi perikanan darat mencapai 7.00 17.977. jaring klitik. Jenis yang paling populer adalah jaring insang hanyut (drift gill net). 2.60 juta) dari kolam.00 15. 921 nelayan di perairan umum.(Banten dalam Angka 2002. bagan tancap (247 unit).895. bagan perahu (132 unit).35 juta).848.00 16. BAPEDA dan BPS Banten).25 ton (Rp 156. Perkembangan produksi ikan hasil tangkap di laut dan perairan umum di Kabupaten Tangerang.226.731. data produksi dan nilai jual ikan laut Kabupaten Tangerang mencapai 16.56 ton (Rp 77.834.. serta 9 orang petani ikan jaring apung. dan jenis pancing. jaring dogol (50 unit).294. Jumlah kapal penangkap ikan yang beroperasi terdiri dari: perahu layar kecil (76 unit).00 JENIS USAHA Laut Perairan umum Total Sumber: Diskanlut Tangerang (2004) Pada tahun 2002. Tahun 2003.

JENIS ALAT TANGKAP Jaring payang Jaring dogol Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Jaring klitik Jaring insang lingkar Bagan tancap Jaring angkat lainnya Pancing lainnya Sero Bubu ikan Bubu rajungan Garok kerang Alat lainnya (jala laut) Purse seine Jumlah Sumber : TPI Dadap (1996) dan Diskanlut Tangerang (2004) JUMLAH (UNIT) 81 119 532 2 526 16 38 61 401 2 25 14 192 50 1 2. 6. Kestabilan harga jual ikan hasil tangkap adalah suatu hal yang diidamkan oleh para nelayan. 13. 10. Tetapi fluktuasi hasil tangkap dan kualitas ikan yang Sering kali para diperolehnya menyebabkan terjadinya fluktuasi harga jual.Tabel 4. 4.000/trip. 3. 9. 14. 8. atau mengalami penambahan tingkat kesulitan untuk memperoleh jumlah hasil tangkap yang sama. 2.000 – 500. Keragaan alat tangkap ikan di Kabupaten Tangerang tahun 2003 No. 5.30. 15. jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 12. nelayan bahkan tidak dapat menutupi biaya operasi penangkapan yang berjumlah antara Rp 200. 1. Hal ini mengindikasikan bahwa gejala over fishing di perairan pantai Teluk Dadap dan Kamal Muara sudah sangat nyata. Bukan suatu hal yang aneh jika terdapat peran dominan dari juragan yang juga bertindak sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari 159 . 11.060 Hasil tangkapan para nelayan dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan. 7.

Perkembangan jumlah kapal penangkap ikan di Kabupaten Tangerang dari tahun 2002-2003 menunjukkan adanya penurunan untuk perahu tanpa motor (dari 76 menjadi 74 buah). yaitu di Desa Dadap terletak di sekitar muara Kali Perancis dan di muara Kali Kamal untuk Kelurahan Kamal Muara. 2002 dan Diskan Banten 2003). gill net.740 buah). sedangkan kapal motor berkurang dari 157 menjadi 89 unit (turun sebesar 160 . jaring rampus. terdapat dua tempat pendaratan ikan. Hal ini menunjukkan bahwa kapal penangkap ikan mengalami peningkatan positif yang mencapai 66 %.3 Keragaan perikanan kawasan Dadap-Kamal Muara Di kawasan Dadap-Kamal Muara. dan penurunan juga untuk kapal motor (inboard) dari 157 menjadi 89 buah (Diskan Tangerang. Faktor ini pula yang menyebabkan rendahnya nilai jual dari ikan hasil tangkapan nelayan. Sebagian besar dari nelayan ini merupakan pendatang dari daerah Indramayu dan Cirebon.dari nelayan dan keluarganya. pancing senggol dan pancing kakap).086 KK nelayan domisili dan 56 KK nelayan pendatang. 4. jaring bondet dan beberapa jenis pancing (pancing rawe. Jumlah nelayan Desa Dadap yang resmi tercatat di Kantor Cabang Dinas Perikanan terdiri dari 1. Sebagian kecil (± 50 kk) nelayan merupakan penduduk asli Desa Dadap. Dari hasil wawancara diperoleh bahwa mereka lebih menyukai alat tangkap sero. maka garapan tanah petani di Desa Dadap ini berubah menjadi perkampungan nelayan dengan segala sarananya. peningkatan untuk perahu dengan motor tempel (dari 909 menjadi 1. Sebagai akibat dari dilakukannya pembongkaran perkampungan nelayan di Muara Karang dan Muara Angke antara tahun 1975 sampai 1977. dengan jenis alat tangkap jaring udang. Peningkatan terbesar terjadi pada perahu motor tempel sebesar 87.5 %. Sementara nelayan Bugis yang jumlahnya lebih sedikit (± 30 kk) lagi umumnya mengoperasikan bagan dan membudidayakan kerang hijau.4. Penduduk Kampung Baru Dadap hampir seluruhnya merupakan pendatang yang berasal dari Muara Karang dan Muara Angke (nelayan asli orang Dadap bertempat tinggal di Kampung Dadap).

43,3 %). Perahu/kapal yang dioperasikan di wilayah perairan Dadap ini secara umum dapat dikelompokan ke dalam 3 golongan, yaitu : ukuran besar (7 – 20 GT) 6 buah; ukuran sedang (5 – 7 GT) sebanyak 227 buah; ukuran kecil, (kurang dari 5 GT tanpa motor atau motor < 10 PK 7 x 2 80 m3) sebanyak 55 buah. Berdasarkan informasi Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten

Tangerang, data umum PPI di Desa Dadap Kecamatan Kosambi tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 4.31. Tabel 4.31. No. 1. 2. 3. 4. Data umum PPI Dadap Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang tahun 2003 DATA UMUM Kampung Desa Kecamatan Jarak ke: IDENTITAS Dadap Dadap Kosambi 0,40 km 20 km 180 km 1.000 TN 2.000 TN 45 m 3.000 m D Dinas 74 unit 1.740 unit 89 unit 88 unit 142 unit 39 unit 20 unit 227 orang 1.124 orang 71 orang 12 orang 4 orang 1.128 ton 1.692.000

5.

Lahan:

6. 7. 8. 9.

Sungai:

Jalan raya Ibukota kabupaten Ibukota provinsi Luas lahan Status lahan Kemungkinan pengembangan Status lahan pengembangan Lebar panjang

10.

11.

12.

13. 14.

Klasifikasi Pengelolaan PPI Armada: perahu layar (tanpa motor) motor tempel inboard Alat tangkap: pancing jaring insang jaring kantong perangkap Nelayan: RTP RTBP Bakul Pengolah: Pindang Ikan asin lainnya Produksi per tahun Raman (Rp 000/tahun)

Sumber: Diskan Tangerang (2002) dan Diskanlut Banten (2003)

161

Dari Tabel 4.31 di atas tampak bahwa terdapat perbedaan informasi diantara berbagai sumber data, meskipun itu berasal dari Dinas Perikanan dan Kelautan. Contohnya tentang lembaga yang mengelola TPI/PPI Dadap, dimana dalam Tabel 4.31 disebutkan dikelola oleh Dinas (Perikanan), tetapi kenyataannya sampai sebelum vakum dikelola oleh KUD Mina Bahari sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.28. Berdasarkan hasil survey PKSPL IPB (2004), daerah penangkapan ikan (fishing ground) untuk perahu tanpa motor hanya di perairan Laut Jawa di sekitar Kepulauan Seribu. Untuk perahu dengan motor tempel, upaya penangkapan

dilakukan mulai dari Laut Jawa sampai Selat Sunda. Sementara itu untuk perahu dengan motor dalam, penangkapan dilakukan mulai dari Laut Jawa, Selat Sunda, sampai ke Laut Cina Selatan. Daya tahan kapal/perahu tersebut berkisar antara 5 – 20 tahun, tergantung pada kualitas pemeliharaannya. Biaya perawatan perahu per tahun berkisar dari Rp. 50.000 – Rp. 200.000 pada tahun 1995 meningkat menjadi Rp 500.000 – Rp 2.000.000, pada tahun 2004, yang sebagian besar berupa biaya penambalan dan pengecatan ulang. Jumlah awak kapal yang mengoperasikan satu unit penangkapan berkisar antara 2 sampai 8 orang tergantung jenis unitnya. Di dalam satu unit ABK terbagi dalam beberapa jabatan seperti nakhoda, juru mesin, juru mudi dan sebagainya. Jabatan ini menentukan jumlah bagi hasil yang diperoleh. Sebagian nelayan yang mengoperasikan jaring udang mempunyai alat tangkap jenis lain seperti jaring rampus dan pancing, yang digunakan pada musim yang berlainan. Khusus nelayan pancing yang status kependudukannya musiman, pada musim barat berlabuh di Dadap wilayah Kabupaten Indramayu, menurut keterangan penduduk setempat dapat berjumlah ratusan pada suatu saat dan hanya belasan di saat lainnya. Alat pancing yang banyak dioperasikan adalah pancing rawe dan pancing ular. Sebagian besar dari nelayan pancing rawe ini merupakan pendatang dari

162

Eretan Indramayu. Dengan jumlah ABK antara 4 – 8 orang, nelayan pancing rawe ini melakukan penangkapan ikan di perairan Tanjung Pandang – Belitung. Lama operasi penangkapan berkisar antara 2 – 4 minggu, yang memerlukan biaya operasi sekitar 1 juta rupiah. Untuk penanganan ikan hasil tangkap setiap kapal pancing rawe ini membawa 50 batang es balok. Seperti halnya dengan nelayan lain, nelayan pancing juga terjerat bakul dalam pelaksanaan operasi penangkapan dan pemasaran hasil tangkapannya. Penentuan harga jual ikan merupakan hak bakulnya. Kerang darah dan kerang menyon (Anadara sp) dipanen nelayan dengan cara digaruk dan diselami. Menurut seorang pemilik perahu dan juga sebagai bakul, jumlah armada perahu yang melakukan kegiatan pemanenan kerang ini dapat mencapai 250 buah pada musim panen (bulan Mei – Oktober). Jumlah ini jauh diatas data resmi yang ada di TPI. Dengan jumlah ABK antara 4 – 8 orang, pada musim panen satu perahu dapat menghasilkan 84 karung sehari. Padahal pada musim paceklik hanya berkisar antara 4 – 5 karung. Harga jual kerang darah per ember (kapasitas 10 liter) berkisar antara 3 – 4 ribu rupiah. Satu karung berisi antara 5 – 6 ember (tergantung dari ukuran karungnya). Observasi lapangan menunjukan bahwa selektivitas ukuran kerang tidak dilakukan oleh nelayan, tetapi sesuai dengan alat garuk yang digunakannya. Nelayan kerang hijau rata-rata mempunyai 200 batang bambu (yang dililit dengan tambang goni atau pita waring) sebagai sarana tempat menempelnya kerang hijau. Satu batang bambu (yang harganya Rp. 10.000) memerlukan 3 kg tambang (Rp. 1.000/kg). Setelah bambu yang dililit tambang tersebut ditancapkan di dasar laut (pada kedalaman ± 3 – 7 m), diantara batang-batang bambu tersebut juga direntangkan tambang, yang berfungsi selain sebagai penguat juga merupakan tempat menempelnya kerang hijau. Pemanenan kerang hijau dilakukan setelah selang waktu 8 bulan (nelayan melakukan penancapan bambu pada waktu yang berbeda-beda sehingga memungkinkannya untuk memanen kerang setiap hari). Pada musim panen,

dilakukan penyelaman dan pemilihan kerang hijau yang berukuran besar-besar

163

setiap kelompok nelayan (terdapat 50 kelompok nelayan yang beranggotakan antara 3 – 5 orang) dapat memperoleh 23 karung per hari, sedangkan pada musim ujung hanya berkisar antara 4 – 5 karung. Harga jual kerang hijau ditingkat nelayan hanya Rp 13.000 per ember (volume sekitar 10 liter). Pada saat panen bambu dicabut untuk dibersihkan dari teritip dan jenis kerang yang menempel lainnya. Tambang yang melilitnya praktis harus diganti. Ikan-ikan yang hidup dan tertangkap di sekitar perairan pesisir Dadap dan sekitarnya (Teluk Jakarta) dapat diketahui antara lain dengan mengindentifikasi ikan yang tertangkap oleh nelayan dan didaratkan di TPI Mina Bahari Desa Dadap. Ikan-ikan tersebut meliputi ikan yang bernilai ekonomis penting seperti kakap (Lates sp), kembung (Rastrelliger sp), tenggiri (Scomberomerus sp), dan selar (Caranx sp). Pada daerah yang memiliki terumbu karang tertangkap pula ikan beronang (Siganus sp), ekor kuning (Caesio sp) dan kerapu (Epinephelus sp). Jenis-jenis ikan yang tertangkap di pantai Dadap secara lengkap disajikan pada Tabel 4.32. Tabel 4.32. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Daftar jenis ikan yang tertangkap di Pantai Dadap (PPLH, 1997) Species Caranx sp Lates sp Rastralligor sp Epinephelus sp Stolephorus tri Caesio sp Dasyatis sp Gazza sp Scomberomorus sp Hemirhampus melanus Siganus sp Caranx sp Ordo Percomorphi Percomorphi Scombriformes Percomorphi Malacopterygii Percomorphi Batoidei Percomorphis Percomorphis Synentognathi Percomorphi Percomorphi Famili Carangidae Centroponidae Scombridae Serranidae Clupeidae Lutjanidae Dasyatidae Leiognathidae Scomberomoridae Hemirhamphidae Siganidae Carangidae

Nama Lokal Kuweh Kakap Kembung Kerapu Teri Ekor Kuning Pari Peperek Tenggiri Rebon Beronang Selar

Meskipun sedikit, kegiatan penangkapan ikan di Dadap menyebabkan timbulnya kegiatan pengolahan ikan asin dan rajungan. Terdapat 3 unit

pengolahan ikan asin di Desa Dadap dengan kapasitas maksimal 50 kg. Jenis ikan yan diasin beraaneka ragam dan yang berukuran kecil (sisa penjualan untuk

164

konsumsi segar). Harga jual ikan asin ini berkisar antara Rp. 1000 – 15.000 per kg di Pasar Kamal. Observasi lapangan menujukan bahwa kualitas ikan asin di desa Dadap jauh lebih bagus dari daerah perikanan lainnya di sekitar utara Pulau Jawa. Di samping pengolah ikan asin terdapat pula pengolah rajungan. Hanya terdapat seorang pengolah rajungan di Desa Dadap. Produksi rata-rata antara 20 – 30 kg daging (maksimal 50 kg) perhari. Daging rajungan merupakan komoditi yang ekonomis. Harga jualnya tergantung bagaimana daging tersebut berasal, yaitu daging capit Rp. 8.400/kg, daging kempal Rp. 12.400/kg, daging jari Rp. 5.000/kg dan daging adan Rp. 8.400/kg. Daging rajungan ini merupakan bahan ekpor yang dikumpulkan oleh PT Phillips Sea Food, sebuah industri pengolahan di Jakarta Kota. Rajungan yang cangkangnya dibeli dari nelayan seharga RP. 1.200 per kg (tergantung dari ukuran). Dengan rendemen 6 – 7 berbanding 1 (6 – 7 kg rajungan bercangkang menghasilkan 1 kg daging), ditambah dengan upah buruh pengupasan Rp. 700/kg (bersih, dengan bonus makan, minum, tidur, mandi), nelayan pengolah yang memperkerjakan 14 orang buruh patut dijadikan teladan. Penyebaran alat tangkap yang bersifat statis ini, mulai dari pantai hingga kedalaman perairan sekitar 7 meter. Kedalaman tersebut dicapai pada jarak

sekitar 1,5 – 2,5 km dari pantai. Melihat kepadatan alat tangkap yang demikian rapat pada lokasi dimana kapal harus berolah gerak sebebas mungkin, maka pengaturan penempatan alat tangkap yang bersifat tetap ini harus benar-benar mengacu kepada alur pelayaran agar tidak terjadi benturan kepentingan antara nelayan dengan kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan terutama pada malam hari. Pada tahun 1995, kegiatan perekonomian di Desa Dadap sudah cukup maju. Hal ini antara lain terlihat dari adanya sarana perekonomian yang telah tersedia, yaitu 50 buah toko, 75 warung, 10 bengkel, 1 KUD Mina Bahari, 1 pabrik abon ikan, 1 pabrik pencelupan jean dan 6 restoran sea food. Tetapi sejak

165

diakukannya penon-aktifan aktivitas TPI, maka terjadi pengurangan aktivitas ekonomi yang dicirikan dengan berkurangnya restoran seafood menjadi tinggal 3 buah. Data dampak penutupan TPI terhadap aktivitas ekonomi secara tertulis belum dapat diperoleh. Tempat pelelangan ikan (TPI) yang ada di Desa Dadap terletak di tepi sungai (muara Kali Perancis). Lokasinya yang sekarang merupakan lokasi baru setelah pindah dari lokasi awalnya yang berada dekat KUD Mina Bahari. Pindahnya lokasi tersebut disebabkan oleh pembuatan sodetan Kali Dadap yang baru. Lokasi yang baru cenderung lebih tenang perairannya karena berada di tepi sungai dan agak ke hulu. Tahun 1997, dilakukan renovasi TPI Dadap, tahun 2004 kondisinya relatif masih dapat dimanfaatkan meskipun diperlukan beberapa perbaikan. Beberapa kerusakan yang terjadi lebih banyak disebabkan kurang efektifnya penggunaan TPI tersebut. Lantai tempat ikan dilelang berlantai

keramik putih. Selain itu juga terdapat sebuah kantor dimana kepala TPI dan manajer TPI berkantor mengelola TPI. Hasil tangkapan berupa udang dan kerang ditimbang di TPI tetapi tidak dilakukan oleh petugas TPI, sedangkan kerang (kerang hijau dan kerang darah) didaratkan di sepanjang Kali Perancis bagian barat langsung disetorkan ke para juragan. Secara umum Tempat Pendaratan Ikan di Kabupaten Tangerang adalah type D, termasuk TPI Dadap. Tempat Pelelangan Ikan Dadap ini tidak seperti lazimnya dimana kegiatan lelang amat jarang dilakukan. Hal ini disebabkan oleh peran para bakul yang amat besar dalam kegiatan perikanan tangkap disana. Para nelayan Dadap (nelayan domisili) yang telah menangkap ikan khususnya udang tidak pernah melelang hasil tangkapannya di TPI tetapi langsung membawanya ke para bakul dimana masing-masing nelayan telah memiliki bakul sendiri. Mekanisme harga pun banyak ditentukan oleh para bakul tersebut. Dalam hal penarikan retribusi yang seharusnya dilakukan setiap kali pelelangan, karena hal tersebut maka manajer TPI memungutnya dari bakul-bakul yang ada dengan besar yang tidak tentu.

166

Para bakul mempunyai peran yang amat besar karena mereka membuat suatu kondisi dimana para nelayan selalu terikat kepada mereka. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa para bakul ini menjamin hidup nelayan dan keluarganya dengan syarat seluruh hasil tangkapan di setor ke bakul. Bila musim paceklik atau nelayan tidak membawa hasil tangkapan (empty hauling) maka nelayan boleh berhutang kepada bakul yang pembayarannya dapat dilakukan kemudian. Uang jaminan hidup nelayan dan keluarganya pun dihitung sebagai hutang. Demikian pula bila nelayan ingin melakukan perbaikan atau pembelian alat/kapal baru. Para bakul umumnya memberikan pinjaman yang merupakan utang dan harus dibayar secara cicilan. Dengan demikian sepanjang hidupnya para nelayan Dadap ini terus terkait dengan hutang yang sulit dibayar. Kegiatan lelang biasanya

dilakukan bila ada nelayan pendatang dari daerah lain seperti Tanjung Pasir atau Kamal. Tetapi itu pun tidak dilakukan oleh petugas TPI melainkan oleh para bakul. Retribusi yang diberikan tidak tentu jumlahnya. Tempat Pelelangan Ikan Dadap secara struktural berada di bawah Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang, belum diserahkan kepada KUD Mina Bahari yang ada disana. Menurut manajer TPI Dadap rencana untuk

menyerahkan pengelolaannya kepada KUD Mina Bahari sudah sejak lama tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Sampai saat sebelum vakum,

pengelolaan TPI Dadap dilakukan oleh dua orang yaitu seorang kepala TPI dan seorang manajer TPI. Sarana dan prasarana yang sudah dimiliki oleh TPI Dadap antara lain: tempat pelelangan, tempar parkir, mesjid, sarana air bersih, dermaga, es, bak air, KUD, ruang pertemuan nelayan. Sedangkan SPBU dan MCK belum tersedia dan masih mengandalkan prasarana dan sarana perorangan.

167

pertumbuhan larva yang tidak normal. Beberapa aspek yang dipengaruhi adalah sumberdaya ikan. Perairan yang tercemar akan mengakibatkan semakin tidak sesuainya kondisi lingkungan tersebut dengan makhluk hidup yang biasanya tinggal di sana. sementara yang tidak dapat bergerak akan mencoba beradaptasi dengan lingkungannya yang secara nyata sudah tercemar tersebut.5. proses tataproduksi hasil perikanan. pemanfaatan dan ketergantungan daerah perikanan dari TPI Dadap dan TPI Kamal Muara 5. Pencemaran yang melampaui batas akan menyebabkan terganggunya pematangan telur dan larva ikan. habitat atau ekosistem dimana sumberdaya ikan tersebut hidup. Menurut Setyobudiandi (2004).1. Lingkungan yang buruk ini juga akan mencegah mendekatnya induk untuk melakukan pemijahan.9 ppm) sudah jauh di atas . Makhluk hidup yang dapat bergerak bebas seperti ikan akan segera mencari perairan yang lebih baik dan subur. Kerang hijau yang banyak dibudidayakan di kawasan pantai Dadap-Kamal Muara adalah sejenis makhluk hidup yang mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan perairan tercemar. 5. serta proses penanganan dan pengolahannya.1 Kondisi lingkungan kawasan Dadap-Kamal Muara Bertambah buruknya kualitas perairan di sekitar kawasan pantai DadapKamal Muara menyebabkan aktivitas perikanan berada dalam kondisi yang kurang baik jika dilihat dari rantai sanitasi dan higienis lingkungan dalam kaitannya dengan proses produksi hasil perikanan. serta mempengaruhi proses perkembangbiakan generasi makhluk tersebut selanjutnya. Ekosistem perairan yang tercemar akan mengganggu kesehatan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. kandungan Pb yang tinggi di perairan Teluk Jakarta tidak mengganggu proses metabolisme kerang hijau.1 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kondisi Lingkungan Kawasan Dadap-Kamal Muara. meskipun kadar Pb yang tinggi pada daging kerang hijau ini (mencapai 0.

Hal ini dilihat dari tidak terjadinya abrasi di wilayah pantai disekitarnya. Untuk aktivitas pencucian perahu. Sebagaimana juga yang dirasakan oleh nelayan yang tinggal di Kepulauan Seribu.ambang batas aman yang ditetapkan oleh FAO sebesar 0. tetapi malah sedimentasi yang terus menerus dan memerlukan penanganan yang rutin agar alur lalu lintas kapal ikan tetap terbuka dari dan ke pelabuhan. Sebagaimana diidentifikasi oleh Suryaningrum (2003. keberadaan TPI Dadap dan Kamal Muara tidaklah dalam kondisi yang membahayakan. Dilihat dari aspek oseanografi (khususnya pasang surut). alat tangkap.05 ppm sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. namun upaya untuk ikut berusaha memperbaiki kualitas lingkungan masih belum maksimal dilakukan. peningkatan pencemaran perairan pantai Dadap juga disebabkan oleh kandungan B3 dalam tanah urukan. Kontaminasi dari media air ini akhirnya akan sampai juga pada ikan dan akhirnya ke konsumen. Aktivitas perikanan yang dilakukan di sekitar TPI Dadap dan TPI Kamal Muara sedikit banyak berhubungan dengan kondisi perairan yang tercemar tersebut. belum dilakukan seleksi yang cermat terhadap material urukan tersebut berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk proses pengurukan suatu perairan. Tekanan hidup yang berat telah menyebabkan upaya pelestarian ekosistem perairan bukan merupakan prioritas utama para nelayan. dan alat bantu lainnya selalu berkaitan dengan penggunaan air. mencari ikan dari hari ke hari semakin sulit didapat. proses gerakan massa air suatu perairan sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis dari wilayah 169 . baik air laut maupun air sungai. tempat pelelangan. Nelayan sudah cukup mengetahui juga mengapa beberapa jenis ikan banyak yang menghilang dari perairan mereka. Sebagaimana telah disampaikan dalam Bab 4. lihat Bab 4). Menjauhnya sumberdaya ikan dari perairan di sekitar pantai Dadap-Kamal Muara mengharuskan nelayan tradisional untuk mencari ikan lebih jauh ke tengah ke perairan sekitar Kepulauan Seribu.

Pasang purnama adalah pasang tertinggi (dan surut terandah) yang dialami oleh suatu perairan. arus laut utamanya terjadi karena pengaruh angin Muson dan pasang surut. Mengingat wilayah utara Banten berada dalam sumbu utama angin Muson. Hasil pengukuran menunjukan bahwa kisaran pasut di Tanjung Priok adalah sekitar 1. Sehingga secara umum arus yang ditimbulkan oleh pasang surut diperkirakan bergerak ke arah utara dalam kondisi pasang. Kebalikan pasang purnama adalah pasang perbani. Pasang surut yang terjadi ini berasal dari Samudera Hindia yang merambat masuk melalui perairan Selat Sunda. dan perbedaan densitas air laut. dalam periode musim Timur (Juni- Agustus) arus musim mengalir secara dominan ke arah barat. pasang surut. terjadi pada bulan purnama atau bulan mati. Dengan memperhatikan keadaan geografis kawasan Muara Dadap. Sebaliknya. yang terjadi pada waktu bulan sabit (perempat pertama dan perempat ke tiga). Kecepatan arus Musim berkisar antara 20 sampai 40 cm/detik (PKSPL IPB 2004). termasuk juga Teluk Dadap dan Kamal Muara.3 m pada waktu pasang perbani. seperti oleh seretan angin. Pada kondisi pasang purnama dan pasang perbani pada saat matahari berada dibelahan bumi utara 170 . Pasut dari Laut Jawa itu sendiri pun bukan disebabkan oleh gaya pembangkit pasang astronomis (bulan dan matahari) melainkan oleh rambatan pasut dari Lautan Pasifik yang memasuki Laut Jawa melalui Laut Cina Selatan dan Selat Makasar (Pariwono 1985).0 m pada waktu pasang purnama. dimana kisaran pasutnya paling rendah. kita dapat menduga bahwa pola arus di perairan ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Pengaruh kedalaman perairan lokal dan morfologi pantai dapat memodifikasi arus tersebut. Pergerakan massa air secara mendatar (arus) di suatu perairan terbentuk karena beberapa faktor. maka perubahan yang terjadi di Tanjung Priok akan dialami pula oleh daerah Muara Dadap. dan sebaliknya kearah selatan dalam kondisi surut. dan sekitar 0. arus musim yang terbentuk mengalir kearah timur selama periode musim Barat (Desember-Februari). Pola pasut di perairan ini ditentukan oleh pola pasut dari perairan yang lebih besar yaitu Laut Jawa. Dengan asumsi bahwa kondisi pasut di Muara Dadap dan Kamal Muara mirip dengan kondisi pasut di Tanjung Priok.perairannya. Di wilayah perairan Banten.

cukup banyak program pembangunan yang sekarang dilakukan lebih mengarah pada keuntungan ekonomi semata. Proses reklamasi yang dilakukan di Pantai Dadap dan akan dilakukan juga di pesisir Jakarta Utara dipastikan akan menimbulkan beberapa dampak positif dan negatif. Dalam setiap kegiatan pembangunan. artinya dampak positif hanya bagi segelintir orang dan untuk jangka 171 . Pengaruh utama yang ditimbulkannya pada kecepatan arus di Perairan Teluk Jakarta. yaitu antara bulan Oktober hingga Februari. para perencana hampir selalu lebih menonjolkan berbagai target positif yang akan dapat dicapai dibandingkan dengan kemungkinan terjadinya dampak negatif. mustahil suatu program pembangunan dapat dibiayai. Meskipun dampak positif yang akan dicapai tersebut ternyata tidak atau hanya sedikit dinikmati oleh masyarakat di sekitar proyek tersebut. seperti prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi. Hanya saja. 000 – 1.9 juta jiwa. dan dibelahan bumi selatan (bulan Desember). fasilitas kegiatan pariwisata. Keadaan ini baik berlaku pada waktu pasang purnama maupun ketika pasang perbani. sarana transportasi. dapat disimpulkan bahwa kisaran pasut terbesar di Tanjung Priok terjadi pada saat kedudukan matahari berada dibelahan bumi selatan. (2) (3) Penciptaan kegiatan ekonomi dan lapangan kerja. Dampak positifnya. Membandingkan kedua pasut pada kedua bulan tersebut. perkantoran pusat bisnis. Arus pasut di perairan ini akan relatif lebih deras ketika matahari berada pada belahan bumi selatan dibanding ketika berada dibelahan bumi utara. untuk Pemda Tangerang dan masyarakat Dadap antara lain: (1) Pembangunan fasilitas umum. sebagaimana direncanakan oleh para pengembang dan juga pemerintah. dan perumahan penduduk untuk 750. Hal ini masuk akal karena tanpa dampak positif. Pendapatan pemerintah Untuk Pemkot dan masyarakat Jakarta Utara dampak positif dari kegiatan reklamasi yang akan dilakukan adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) pembangunan kegiatan industri.(bulan Juni).

tanpa memperhitungkan dampak negatif yang akan datang dalam jangka panjang. belum mengetahui ada proyek pengurukan laut besa-besaran di Pantai Mutiara Dadap. warga Desa Dadap. Desa Dadap. warga dari dulu 172 . Menurut Koordinator Himpunan Nelayan Dadap Mbing. "Kami tak peduli. proyek reklamasi silakan saja.pendek. Kabupaten Tangerang. Reklamasi yang sudah dilakukan sejak tahun 2002 dan kemudian menjadi masalah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. yang penting bagi kami para nelayan bisa tetap melaut. yaitu: (1) (2) Perencanaan tidak dilakukan secara terbuka kepada semua stakeholders. Asal. Kurang sosialisasi sehingga banyak stakeholders yang mendapat informasi yang kurang tepat. meskipun tidak sebanding jika dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkannya. Ketua RW O2. mengatakan. Kosambi. Kampung Giri Baru merupakan perkampungan nelayan yang dibangun 1975. Reklamasi Pantai Dadap sudah menunjukkan beberapa dampak negatifnya sebelum dampak positifnya diperoleh. (2) (3) (4) kematian beberapa ekosistem mangrove peningkatan kontaminasi logam berat di perairan kerusakan prasarana transportasi selama proses pengurukan berlangsung (kerusakan jalan karena kendaraan-kendaraan berat. Dampak positif memang sudah diperoleh Pemda dari retribusi pengurukan yang sudah dilakukan. dampak negatif yang sudah dirasakan penduduk sekitar lokasi reklamasi adalah: (1) terjadinya pendangkalan saluran Kali Perancis sehingga mengganggu lalulintas perahu nelayan. Sebagaimana dapat diikuti dari berbagai media massa (lihat Bab 4). serta perbaikan jalan. Kampung Gili Baru. warga disediakan infrastruktur seperti tempat pelelangan ikan.. Aktivitas proyek. Menurut warga.tidak diintegrasikan dengan kepentingan penduduk lokal. Umar Bahrudin. Mereka bahkan tak peduli aktivitas reklamasi kawasan untuk wisata bertaraf internasional tersebut. pengerukan Kali Perancis. Kurang melibatkan tenaga kerja lokal sejak awal pelaksanaan proyek. (3) (4) (5) Tidak dilakukan kajian analisis dampak lingkungan terlebih dahulu.

Penjabaran tahapan proses resolusi konflik dibuat untuk empat tujuan. (Tempo Interaktif 2005b). Menurut Dames. informasi kerusakan lingkungan dan penolakan warga yang berkembang selama ini dikendalikan orang luar Dadap. Dirangkum dari berbagai sumber. sistem bagi hasil diantara nelayan dengan pengolah. Widjajanto (2004) menuliskan bahwa terdapat 4 tahap resolusi konflik. Pertama. serta konflik pengelolaan diantara nelayan dengan pemerintah. resolusi konflik hanya dapat diterapkan secara optimal jika dikombinasikan dengan beragam mekanisme penyelesaian konflik lain yang relevan. Suatu mekanisme resolusi konflik hanya dapat diterapkan secara efektif jika dikaitkan dengan upaya komprehensif untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng. namun harus dilihat sebagai suatu fenomena sosial. Kepala Desa Dadap Dames Taufik mengklaim. Suatu konflik sosial harus dilihat sebagai suatu fenomena yang terjadi karena interaksi bertingkat berbagai faktor. Kedua. bidang perikanan merupakan suatu sistem yang sangat komplek dan dinamik. 2) 173 . turisme.hanya ingin bekerja dengan didukung sarana prasarana yang memadai. Konflik yang terjadi umumnya disebabkan oleh kelangkaan sumberdaya ikan. sebab-sebab suatu konflik tidak dapat direduksi ke dalam suatu variabel tunggal dalam bentuk suatu proposisi kausalitas bivariat. tidak ada masalah dengan warganya terhadap reklamasi pantai itu. konflik memiliki suatu siklus hidup yang tidak berjalan linear. Menurut Widjajanto (2004). Siklus hidup suatu konflik yang spesifik sangat tergantung dari dinamika lingkungan konflik yang spesifik pula. dimana terjadi interaksi diantara sumberdayasumberdaya alam. Ketiga. Konflik juga umum terjadi dengan bidang diluar perikanan. resolusi konflik merupakan suatu terminologi ilmiah yang menekankan kebutuhan untuk melihat perdamaian sebagai suatu proses terbuka dan membagi proses penyelesaian konflik dalam beberapa tahap sesuai dengan dinamika siklus konflik. seperti kehutanan. dan pertambangan di lautan. manusia. Setiap permasalahan tentu ada solusinya. Terakhir. yaitu: 1) Tahap I: de-eskalasi konflik. dan kelembagaan. Menurut Charles (1992). dan terdapat kecenderungan yang mengherankan bahwa konflik yang seringkali terjadi sudah dianggap sebagai sesuatu hal yang lumrah. konflik tidak boleh hanya dipandang sebagai suatu fenomena politik-militer.

3 meter kubik. Luas pantai yang akan direklamasi dan dijadikan kawasan wisata terpadu seluas 10 km dari laut dan satu km dari garis pantai atau sekitar 1.000 hektar. dan berbasis saling menguntungkan. Perdamaian memerlukan upaya terus menerus untuk melakukan identifikasi dan eliminasi terhadap potensi kemunculan kekerasan struktural di suatu komunitas (Widjajanto 2004). Dalam kasus konflik yang terjadi di kawasan Dadap. mediator internasional (Zartman dan Touval 1996). maka untuk melakukan reklamasi sekitar 1. Untuk menimbun seluas 174 . skala yang terjadi masih sangatlah kecil karena tidak sampai melibatkan intervensi militer. Sehingga.000 hektar sebagaimana direncanakan dalam PerDa No 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Tata Ruang Daerah. pengembang. dan penduduk ini adalah: (1) Jika untuk menghasilkan satu meter persegi luasan tanah siap pakai hasil reklamasi diperlukan rata-rata 12. Widjajanto (2001) dalam Widjajanto (2004) mengusulkan perlunya dikembangkan beragam mekanisme resolusi konflik lokal yang melibatkan sebanyak mungkin aktor-aktor non militer di berbagai tingkat eskalasi konflik Widjajanto (2004) mengutip beberapa referensi menyebutkan bahwa aktor-aktor resolusi konflik tersebut dapat saja melibatkan Non-Governmental Organisations (NGOs) (Aall 1996). atau institusi keagamaan (Sampson 1997 dan Lederach 1997). Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk menengahi konflik kepentingan diantara Pemerintah. Kecamatan Pakuhaji untuk kawasan wisata. dimana berdasarkan peraturan itu. Tahap-tahap tersebut juga menunjukkan bahwa resolusi konflik menempatkan perdamaian sebagai suatu proses terbuka yang tidak pernah berakhir.Tahap II: intervensi kemanusiaan dan negosiasi politik. tampaknya resolusi yang dapat dilakukan adalah dengan komunikasi yang baik. Keempat tahap resolusi konflik tersebut harus dilihat sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dijalankan secara terpisah. dan 4) Tahap IV: peace-building. sekitar 20 km dari 50 km total panjang pantai di Kabupaten Tangerang atau dari Dadap Kosambi hingga pantai Tanjung Kait. Kegagalan untuk mencapai tujuan disatu tahap akan berakibat tidak sempurnanya proses pengelolaan konflik di tahap lain. transparansi di antara kedua belah pihak. 3) Tahap III: problemsolving approach.

(2) Pengerukan jalur lalulintas perahu nelayan di Kali Perancis sampai ke laut yang berkedalaman sekitar 4 m. yaitu sampai sejauh 1.000 m3. material yang dibutuhkan adalah 12. Chua (2006) menambahkan bahwa di suatu kawasan pesisir yang tidak terdapat komunitas manusia.3 x 200 x 10. (3) Setelah proses pengerukan dilakukan. proses alami dapat menjaga kondisi wilayah tersebut tetap pristine.000 = 24.000 meter kubik. hanya dengan memenuhi 1. Konflik yang terjadi sebagai akibat dari rencana pembangunan Kota Air Kamal Muara tidaklah seramai yang terjadi di Dadap.28 % dari kebutuhan material urukan maka masalah pendangkalan jalur lalu lintas perahu nelayan di Kali Perancis sudah dapat ditanggulangi. faktor manusia harus berperan secara aktif untuk mencari solusi pemecahannya. Sebagian dari kebutuhan material ini dapat diambil dari dasar perairan Kali Perancis maupun Kali Kamal Muara. Jika diasumsikan kedalaman rata-rata Kali Perancis saat ini hanya sekitar 50 cm. yang merupakan jalur lalu lintas perahu nelayan. Mengacu pada pendapat Chua (2006) yang menyatakan bahwa aktivitas manusia adalah faktor ke tiga yang mempengaruhi keterpaduan dan kesehatan wilayah pesisir. maka jumlah lumpur yang harus dikeruk adalah sebanyak 3.750 m dari garis pantai.50 x 2. dimana faktor pertama dan keduanya adalah daratan dan perairan. Artinya. perlu dibangun suatu tanggul disepanjang jalur lalu lintas kapal penangkap ikan tersebut agar terjadinya pendangkalan dapat dihindarkan sedapat mungkin.600. maka untuk memecahkan konflik pengelolaan sumberdaya pesisir di kawasan Dadap-Kamal Muara.000 x 45 m3 = 315.000 m. maka dengan lebar sungai sebesar 45 m dan panjang sungai sampai ke laut yang berkedalam 4 m ada sekitar 2. beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mencari solusi masalah tersebut antara lain: 175 .200 hektar saja. karena masih dalam fase awal dimana hasil studi amdal dan masalah legal aspek dipertanyakan oleh berbagai pihak. Untuk menanggulangi konflik di kawasan Dadap pada tahap ini.

dan melaksanakan sosialisasi dengan masyarakat. (2) Perhatian dan pertimbangan terhadap pelestarian sumberdaya lingkungan (plasma nutfah atau biodiversiti) harus juga memperhatikan keuntungan yang perlu digali dan diperoleh untuk kepentingan masyarakat lokal yang akan terkena dampaknya. (3) Setiap perencanaan dan aktivitas yang akan dilakukan di lokasi proyek (untuk setiap tahapan pelaksanaan proyek. Skenario solusi konflik reklamasi pesisir Dadap diantara para stakeholders dicantumkan dalam Tabel 5. dan penduduk setempat tentang proyek reklamasi yang sedang dilaksanakan serta beberapa peran dan keuntungan yang dapat diambil oleh penduduk setempat. Tabel 5. baik saat persiapan dan pelaksanaan proyek maupun setelah berjalannya aktivitas (2) Mendahulukan penggunaan tenaga kerja lokal dalam proses reklamasi kawasan pesisir Dadap PENGEMBANG 176 .1. Pemda. harus dijelaskan kepada semua stakeholders.(1) Semua diskusi dan perdebatan tentang aktivitas reklamasi Pantura harus diwakili oleh semua stakeholders. mulai dari land clearing sampai berjalannya aktivitas di lokasi tersebut setelah proyek fisik selesai). sehingga mereka akan menyadari peran apa yang akan diambilnya. nelayan.1 Skenario solusi konflik reklamasi pesisir Dadap dan peran antar para stakeholders STAKEHOLDERS PEMDA TANGERANG PERAN (1) Melaksanakan pertemuan diantara stakeholders untuk mencari solusi masalah pengurukan pesisir Dadap (2) Memandu diskusi diantara wakil-wakil stakeholders tentang manfaat proyek pembangunan kawasan Wisata Mutiara Dadap serta kaitannya dengan kegiatan reklamasi yang sedang dilakukan dan untung ruginya jika proyek diteruskan atau dihentikan (3) Mengumumkan secara terbuka rencana pembangunan kawasan wisata Pantai Mutiara Dadap. tidak hanya dilakukan diantara para pemerhati lingkungan. khususnya masyarakat lokal (4) Menetapkan kepada pengembang untuk mengambil bahan urukan dari Kali Perancis dan sepanjang jalur pelayaran perahu nelayan (5) Menetapkan kepada pengembang untuk menggunakan tenaga lokal dalam berbagai bidang (1) Menjelaskan kepada Pemda. dan Pemerintah Pusat.

2) berperan aktif sekunder (bergerak dalam bidang sarana pendukung kegiatan).Lanjutan Tabel 5. 177 . artinya sudah jelas berapa rupiah nilai uang yang akan diperoleh dari proses pembebasan lahan. Pasir Putih. dan Belitung. (2) Mempersiapkan diri untuk ikut berperan dalam aktivitas wisata bahari yang telah direncanakan pemerintah dan pengembang di Pantai Mutiara Dadap PENDUDUK LAIN Beberapa peran yang dapat ditawarkan kepada masyarakat setempat antara lain: 1) berperan aktif primer (ikut terlibat secara langsung baik sebagai tenaga kerja di tahap awal aktivitas pembangunan. Tanjung Pontang. Jumlah material yang dibutuhkan untuk kegiatan reklamasi tersebut mencapai 335 juta meter kubik. dan lain-lainnya yang akan dilakukan. Pantai Cemara. 3) tidak berperan. Pulau Tidung. baik dalam kegiatan proyek reklamasi pantai Dadap maupun setelah kawasan Wisata Pantai Mutiara Dadap tersebut berjalan.1 STAKEHOLDERS PERAN (3) Melakukan pengerukan Kali Perancis dan jalur pelayaran perahu nelayan sebagai material urukan pesisir Dadap (4) Membangun dinding penahan longsor di sepanjang Kali Perancis yang berfungsi sebagai jalur lalu lintas perahu dan tempat bersandarnya perahu nelayan NELAYAN (1) Membantu pemda dan pengembang untuk melakukan pengerukan dasar Kali Perancis dan jalur pelayaran perahu nelayan dimana lumpur hasil kerukan digunakan untuk mereklamasi perairan pesisir. maupun sebagai karyawan setelah proyek fisik selesai). Menurut informasi Nurhayati (2003). (2) Dengan bertambah dalamnya Kali Perancis maka aktivititas perikanan dapat dilakukan tanpa terganggu lagi (3) Mempersiapkan diri untuk ikut berperan dalam aktivitas wisata bahari yang telah direncanakan pemerintah dan pengembang di Pantai Mutiara Dadap (1) Melakukan koordinasi dan identifikasi kapasitas sumberdaya manusia lokal yang dapat berperan-serta. Tanjung Kait. serta bekas pertambangan timah di Pulau Bangka. material urukan yang akan dipakai untuk reklamasi pantura adalah berasal dari Tanjung Burung.

serta peran aktif apa yang dapat dipegang oleh setiap stakeholders. baik pada massa konstruksi maupun saat kegiatan sudah berlangsung. (3) Mengumumkan secara terbuka rencana pembangunan kawasan kota air. Solusi yang disarankan untuk memecahkan masalah reklamasi ini dapat dilihat pada Tabel 5. bahkan kini telah mendekati jalan raya Pantura.yang akan digunakan untuk mereklamasi pantai utara (Pantura) seluas 2. Selain memerlukan biaya transportasi yang sangat besar.700 hektar sepanjang 32 km yang membentang dari Tangerang hingga Bekasi. Reklamasi bandara Sukarno Hatta yang menggunakan pasir laut dari perairan Indramayu.2. dan pembenahan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat yang dilakukan di lokasi umum. (5) Menetapkan kepada pengembang untuk menggunakan tenaga lokal dalam berbagai bidang 178 . yang nyaris tenggelam akibat pengerukan pasir laut oleh pengusaha untuk mereklamasi kawasan pesisir Singapura. Contoh paling nyata adalah Pulau Nipah di Batam. Tabel 5. pengambilan material urukan tersebut tentu saja akan mempengaruhi ekosistim tempat material tersebut diambil. kasus reklamasi Pantai Indah Kapuk. apalagi jika pengurukan tersebut berskala besar. Jakarta. pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Konsekuensi apa yang akan diterima oleh penduduk lokal jika mereka aktif/tidak aktif terlibat dalam aktivitas proyek. dampaknya berupa abrasi yang tidak terelakkan di pesisir sepanjang Eretan. yang telah terbukti mendatangkan banjir bagi penduduk setempat. Lainnya. (2) Memandu diskusi diantara wakil-wakil stakeholders tentang manfaat proyek reklamasi pantura serta kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. khususnya masyarakat lokal (4) Membuat kesepakatan diantara pengembang dengan masyarakat pesisir yang terkena dampak pembangunan kota air tersebut dan memberikan gambaran secara jelas kepada setiap stakeholders apa yang akan terjadi pada saat proyek ini sudah jadi dan berkembang.2 Skenario solusi konflik rencana reklamasi pantura STAKEHOLDERS PERAN PEMKOT (1) Melaksanakan pertemuan diantara stakeholders untuk mencari JAKARTA UTARA solusi masalah rencana reklamasi pantura yang dikaitkan dengan program pembangunan DKI sebagai ibu kota negara. dan melaksanakan sosialisasi dengan masyarakat.

dan ekosistem laut yang akan hilang dan terusir dari kawasan ini. (2) Mempersiapkan diri untuk ikut berperan dalam aktivitas program pembangunan yang akan dilaksanakan di daerah reklamasi Menurut analisis Nurhayati (2003). padang lamun. baik saat persiapan dan pelaksanaan proyek maupun setelah berjalannya aktivitas (2) Mendahulukan penggunaan tenaga kerja lokal dalam proses reklamasi kawasan pesisir Kamal Muara (3) Melakukan pengerukan Kali Kamal dan jalur pelayaran perahu nelayan sebagai material urukan pesisir pantura (4) Membangun dinding penahan longsor di sepanjang Kali Kamal yang berfungsi sebagai jalur lalu lintas perahu dan tempat bersandarnya perahu nelayan NELAYAN (1) Membantu pemda dan pengembang untuk melakukan pengerukan dasar Kali Kamal dan jalur pelayaran perahu nelayan dimana lumpur hasil kerukan digunakan untuk mereklamasi perairan pesisir. Pemda DKI tidak pernah mengkaji secara mendalam aspek sosial dari penggusuran secara besarbesaran terhadap penduduk setempat yang selama ini menjadi bagian dari sebuah lingkungan dan turut menjaga dan melestarikannya. (2) Dengan bertambah dalamnya Kali Kamal maka aktivititas perikanan dapat dilakukan tanpa terganggu lagi (3) Mempersiapkan diri untuk ikut berperan dalam program pembangunan yang akan dilaksanakan di daerah reklamasi PENDUDUK LAIN (1) Melakukan koordinasi dan identifikasi kapasitas sumberdaya manusia lokal yang dapat berperan-serta. seperti mangrove.Lanjutan Tabel 5. hilangnya mata pencarian ribuan pembudidaya ikan yang memanfaatkan Teluk Jakarta selama ini. nelayan. baik dalam kegiatan proyek reklamasi pantura maupun setelah program pembangunan yang akan dilaksanakan di daerah reklamasi tersebut berjalan. terumbu karang. dan penduduk setempat tentang proyek reklamasi yang sedang dilaksanakan serta beberapa peran dan keuntungan yang dapat diambil oleh penduduk setempat. tetapi diusir yang belum jelas mau dikemanakan dan akan bekerja apa nantinya. Pemda DKI Jakarta tidak pernah menilai ongkos kerusakan ekosistem.2 STAKEHOLDERS PENGEMBANG PERAN (1) Menjelaskan kepada Pemda. Selain itu. Sedangkan keahlian mayoritas di kawasan itu adalah budidaya dan menangkap ikan. 179 . ikan. tidak pernah menjadi bahan pertimbangan.

artinya tidak ada lembaga yang khusus dibentuk untuk menjalankan program ICZM. Hal yang janggal ini justru dijadikan dalih oleh Pemprov DKI untuk melakukan pelanggaran. proyek ini tidak ada dalam peraturan daerah tentang RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) 1960 . didasarkan pada paradigma pengelolaan yang objektif yang mengintegrasikan antara kebijakan. maka 180 . mekanisme implementasi. Kedua. Selain itu. penghambat yang terus menerus yang menahan laju keberhasilan. 6 tahun 1999 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) 2010 muncul ketentuan tentang reklamasi pantura. Oleh karena itu. Keempat. 52 tahun 1995 tentang Reklamasi Pantura. dan kapasitas pemberdayaan. terdapat juga beberapa faktor Pertama. didukung pengetahuan ilmiah. Namun demikian. terlalu banyak pihak yang terlibat dalam memperebutkan sumberdaya yang terbatas sehingga memunculkan konflik multidimensi. landasan hukum dari proyek reklamasi Pantura sangat kontroversial.Chua (2006) menjelaskan bahwa solusi untuk permasalahan yang komplek di kawasan pesisir memerlukan suatu paradigma yang bergeser dari pendekatan konvensional yang sekarang dilakukan ke suatu perencanaan yang cukup matang. pengelolaan sumberdaya alam gagal untuk menyesuaikan diri dengan perubahan populasi dan ekonomi yang cepat di wilayah pesisir.1985 maupun RUTR 1985 . Dalam Peraturan Daerah No. tidak terdapat institusi yang dapat dijadikan home-base untuk ICZM. adanya ketidakpastian (uncertainty) karena adanya kapasitas daya dukung lingkungan. Sampai saat ini para ahli ilmu pengetahuan belum dapat menyediakan metoda yang dapat diandalkan untuk menghitung atau memperkirakan daya dukung lingkungan suatu ekosistem. Seringkali. pendanaan. Ketiga. banyak bantuan dana luar negeri tidak digunakan secara efektif karena buruknya koordinasi diantara lembaga-lembaga terkait. Tetapi tiba-tiba saja lahir Keppres No. Kelima. 52 sangat tidak visibel dan tidak mengakomodir kepentingan ekologi dan sosial. Kebijakan pembangunan pemerintah daerah di Indonesia rata-rata lebih didominasi oleh kepentingan politik jika dibandingkan dengan pertimbangan ilmiah atau untuk kepentingan umum. pengelolaan sumberdaya alam cenderung terbatas untuk menanggulangi krisis pengelolaan secara khusus. Sebagai contoh.2005. berorientasi ke masa depan. peraturan perundang-undangan. Keppres No.

14 tahun 2003 untuk mencabut Keppres tentang Reklamasi Pantai Pantura Jakarta dan diganti dengan Keppres pembatalan Reklamasi Pantai Pantura. forum sepakat untuk mengadakan gugatan judicial review terhadap Keppres tersebut. sehingga kekayaan spesies yang terdapat di dasar perairan pesisir dapat teridentifikasi. upaya reklamasi yang dilakukan oleh para pengembang (juga di kawasan pesisir lainnya) sangat merugikan karena apa yang hidup di dasar perairan belum seluruhnya sudah teridentifikasi. Dengan demikian. hanya dilakukan di sebagian kecil kawasan yang mendapat kajian amdal pesisir yang sangat lengkap. 181 . terakhir Menteri LH Nabiel Makarim. Ketidaksetujuan terhadap proyek reklamasi pantura juga ada di kalangan birokrasi. mengecam proyek ini dengan mengeluarkan SK Menteri No. keberadaan berbagai spesies flora dan fauna dikhawatirkan sudah mengalami kepunahan sehingga upaya reklamasi yang dilakukan merupakan aktivitas yang dinilai lebih menguntungkan sepanjang untuk tujuan menciptakan lingkungan yang lebih baik. Peningkatan polusi lingkungan perairan di beberapa kawasan pesisir Indonesia (termasuk di lokasi penelitian) sudah sangat parah. Hal ini ditunjukkan dengan warna air laut yang sudah kehitam-hitaman dengan bau yang lumpur yang menusuk. Emil Salim mantan Menteri Lingkungan Hidup menentang keras proyek ini. Dalam kondisi perairan seperti ini. Kenyataan menunjukkan bahwa aktivitas eksplorasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman spesies yang terdapat di kawasan pesisir Indonesia sebagian besar belum dilakukan. Rokhmin Dahuri mendukung Nabiel Makarim soal reklamasi (Nurhayati 2003). bila diperlukan (Nurhayati 2003).dalam rangka konsolidasi di tingkatan LSM peduli lingkungan termasuk WALHI Jakarta dan LP3ES pada 3 April 2003 lalu. Kalaupun sudah. Ali Sadikin mantan Gubernur DKI Jakarta. Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri baru-baru ini. Dipandang dari aspek konservasi sumberdaya perairan yang berbentuk flora atau fauna bawah air. Bahkan. sumberdaya plasma nutfah yang sangat berragam tersebut akan menjadi punah karena dilakukannya penimbunan dasar perairan. dan yang paling hangat pada tanggal 5 Mei 2003 lalu.

189 = 0.634.0005301 1.0006321 715/1.270 = 0.293289154 3.0006541 717/1.619.436.330/1.3 Rasio jumlah nelayan terhadap total penduduk (RNt) TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RNt RNt –Dadap/Tangerang 1.351/3.547 = 0.698.230 = 0.00088404 1.2 Analisis tingkat ketergantungan kawasan Dadap dan Kamal Muara terhadap perikanan Untuk melihat seberapa jauh ketergantungan kawasan Dadap-Kamal Muara terhadap aktivitas perikanan. Hasil analisis ketergantungan daerah perikanan dengan menggunakan WSA program dicantumkan dalam Lampiran 1.250 = 0.896.185.266.844/11.00084809 0.134.105.127 = 0.0004739 RNt = ∑Pt ti N RNt –Kamal Muara/Jakarta Utara 723/1.000 = 0.001285879 717/567.0004420 1.649/16.240704505 3.0005052 1.001264267 715/574.893 = 0.00106026 1.0006324 N ti Tabel 5.5 Rasio jumlah hasil tangkapan ikan RPIt = ∑ PI ∑ tj TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RPIt RPIt –Dadap/Tangerang 3.994 = 0.212 = 0.704/17.080/95.001222445 0.413 = 0.400 = 0.00093622 1.3 sampai dengan Tabel 5.550/58.725.1.785 = 0.351/3.834.732 = 0.001243768 715/584.628 = 0.595 = 0.254.330/1. menunjukkan hasil sebagaimana tercantum pada Tabel 5.236358722 3.195 = 0.528/16.10.330/2.060/48.169.5.149.407. maka analisis data perikanan antara tahun 1999 sampai 2003.004933 548.000/16.0009478 RMt –Kamal Muara/Jakarta Utara 723/662.309.001091098 717/557.002681 285.528.007496 182 .809.826 = 0.256 = 0.001221489 PI ti Tabel 5.460 = 0.873.473.345/2.345/1.0004240 0.115.0006112 0.009063 0.351/1.196566531 0.878 = 0.102 = 0.4 Rasio jumlah nelayan terhadap total tenaga kerja (RMt) RMt = ∑ t TK TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RMt RMt –Dadap/Tangerang 1. Tabel 5.500/56.011250 539.0004681 1.0006219 715/1.665.200/57.508.0006429 717/1.983.997 = 0.000 = 0.00101046 1.632.351/1.900 = 0.635 = 0.253 = 0.592.009553 529.866 = 0.316.423 = 0.208 = 0.330/2.508.236406086 RPIt –Kamal Muara/Jakarta Utara 256.215111742 4.056.854.

00000297915 71.3171366 Tabel 5.00000242656 9.0000175378 19/1.00000298543 11/4.595 = 0.0000542854 30/557.528.000003049 KPIt –Kamal Muara/Jakarta Utara 12.0000476084 27/574.0000427429 0.00000440914 0.805 = 0.0000126172 16/1.316967 1.0000538025 27/567127 = 0.161 = 0.903 = 0.121.9/4.00000408754 73.487 = 0.871 = 0.317101 1.00000386119 13/4.00000100884 39.284092 RKt = ∑ KI ti ∑ ti JK RKt –Kamal Muara/Jakarta Utara 1.151340 0.997 = 0.265 = 0.456 = 0.094/3.635 = 0.7.230 = 0.212 = 0.193/14.872.091/3.316691 1.426.00027114 RTKPt –Kamal Muara/Jakarta Utara 30/552.0000469675 25/584.800/12.097/3.687.099/15.646.8 Rasio kontribusi sektor perikanan wilayah desa terhadap wilayah kabupaten/kota (KPIti) PDBP t / ∑ PDBT i ) ( KPI ti = ∑ n TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 KPIti KPIt –Dadap/Tangerang 19/4.00000486078 62.000003468 183 . Rasio jumlah tenaga kerja sektor pengolahan hasil perikanan (RTKPt) TKP RTKP = ∑TK ti t ∑ tm TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RTKP RTKPt –Dadap/Tangerang 22/1.321111 288/908 = 0.547 = 0.317181 288/909 = 0.354.091/13.192.445 = 0.00000207898 0.955 = 0.316832 288/1.0000145322 18/1.453 = 0.000050319 Tabel 5.091/3.254431 = 0.592.Tabel 5.409 = 0.0000469752 16/1.0000439112 0.143.533.807 = 0.00000389914 16/4.628 = 0.956 = 0.442 = 0.893 = 0.316.761.317505 1.6 Rasio jumlah kapal ikan (RKt) TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RKt RKt –Dadap/Tangerang 289/910 = 0.759.317419 0.096/3.866 = 0.450 = 0.317582 289/900 = 0.897/16.

0009478 0.7143e-6 3/1.53504e-7 RIt –Kamal Muara/Jakarta Utara 1/1.785 = 8.6901e-6 3/1.632.0476e-7 1/1.11.7987e-7 1/2.54E-07 KAMAL MUARA 0.3171366 0.994 = 3.115.508.9859e-7 1/2.134.169.82E-07 BOBOT 8 8 8 8 8 8 2 2 184 .284092 0.007496 0.236406086 0.732 = 8.994 = 6.134.105.6977e-7 1/1.270 = 9.9 Rasio kesempatan kerja sektor perikanan wilayah desa terhadap total jumlah penduduk wilayah kabupaten/kota (KPIti) TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RKKti RKKIt –Dadap/Tangerang 3/2.Tabel 5.1384e-7 3.423 = 6.185.64E-06 8.2718e-7 1/3.253 = 2.5436e-7 2/3.732 = 2.873.460 = 3.256 = 6.270 = 2. maka diperoleh data input sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.000050319 0.105.189 = 2.149.11 Hasil rataan variabel ketergantungan daerah penangkapan. Input data set VARIABEL RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI DADAP 0.6446e-6 Tabel 5.8674e-7 KK RKK t = ∑ Pt ti RKKIt –Kamal Muara/Jakarta Utara 3/1.000003049 7.056.508.0004739 0. Tabel 5.81548e-7 Jika nilai-nilai variabel ketergantungan ekonomi tersebut dirata-ratakan untuk jangka waktu 5 tahun tersebut.10 Rasio industri sektor perikanan wilayah desa terhadap jumlah KK penduduk wilayah kabupaten/kota (RI ) RI = ∑ ti ti ti Pt TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 RIti RIt –Dadap/Tangerang 1/2.9578e-7 2/2.5975e-7 2/2.0006324 0.000003468 2.169.4804e-7 1/3.6093e-6 3/1.785 = 2.149.5646e-6 2.115.253 = 8.9607e-7 2/3.5486e-7 8.256 = 3.9671e-7 1/1.185.2775e-7 7.873.826 = 11.423 = 3.189 = 8.87E-07 3.6449e-6 3/1.00027114 0.826 = 3.001221489 0.460 = 7.8164e-7 1/1.632.056.

000003468 2.000050319 0.15385 0.87E-07 3.82E-07 BOBOT 0.000003049 7. Sementara itu.Dengan menggunakan multicriteria evaluation of alternatives maka dihasilkan perhitungan sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.30769 dan 0.236406086 0. Tabel 5.236406086 0.03846 0.001221489 0.0004739 0.15385 0.0009478 0.00000 KAMAL MUARA 1.03846 IDEAL 0.53504E-07 Setelah dilakukan pengolahan standarisasi data dengan normalisasi.00000 1.000050319 0.15385 0.000003468 2.81548E-07 BASAL 0.007496 0.00000 1.8674E-07 3.000003049 7.00000 0.81548E-07 BASAL 0.15385 0.64E-06 8.284092 0.15385 0.03846 IDEAL 0.3171366 0.00000 1.6446E-06 8.00027114 0. VARIABEL MAX RN MAX RM MAX RPI MAX RK MAX RTKP MAX KPI MAX RKK MAX RI DADAP 0.236406086 0.00027114 0. Tabel 5.000003049 7.0006324 0.284092 0.15385 0.00000 0.54E-07 KAMAL MUARA 0.00000 0.69231.0006324 0.000050319 0.3171366 0.13.15385 0.12 VARIABEL MAX RN MAX RM MAX RPI MAX RK MAX RTKP MAX KPI MAX RKK MAX RI Hasil modifikasi dari input data rataan variabel ketergantungan daerah penangkapan.13 Hasil normalisasi data berbagai variable ketergantungan perikanan daerah Dadap dan Kamal Muara dari tahun 1999-2003.00000 1. DADAP 0.0004739 0.15385 0.007496 0.00000 0.001221489 0.03846 0.15385 0.15385 0.53504E-07 Analisis multi kriteria dengan pemberian bobot antara 0-1 terhadap setiap variabel tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan daerah perikanan dari Desa Dadap lebih kecil dari pada Kelurahan Kamal Muara dengan nilai 0. diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.00000 BOBOT 0.15385 0.00027114 0.00000 1.0006324 0.3171366 0.00000 0. lebih banyak variabel yang berpengaruh terhadap Kamal 185 .15385 0.8674E-07 3.00000 0.000003468 2.001221489 0.0009478 0.00000 1.284092 0.00000 0.12.007496 0.00000 1.6446E-06 8.0009478 0.0004739 0.

LOKASI Kamal Muara 0. RM. RKK.Muara (yaitu RN. Menurut Briguglio (1995) dalam Symes (2000).19231 Hasil analisis data tahunan berbagai variable ketergantungan perikanan daerah Dadap dan Kamal Muara dari tahun 1999-2003.14 TAHUN 1999 2000 2001 2002 2003 Dadap 0. status ketergantungan perikanan Desa Dadap bertambah kecil sedangkan sebaliknya Kelurahan Kamal Muara semakin besar (dengan tipe ketergantungan sedang). Menurut Phillipson (2000). sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5.46154 sedangkan Kelurahan Kamal Muara sebesar 0.30769 0. RK. rasio ketergantungan (rasio penduduk dibawah usia kerja/manula terhadap populasi tenaga kerja). analisis ketergantungan perikanan dapat dilakukan secara lengkap dengan menghitung juga indeks sosial-demografis. nilai ketergantungan kedua daerah tersebut menunjukkan adanya perubahan. maka ketergantungan perikanan Kelurahan Kamal Muara semakin besar dan termasuk kelompok besar. tingkat kelahiran dan kematian kasar.34615 0.65385 0. Indeks sosial-demografis ini termasuk demografi {pertumbuhan dan struktur penduduk (tingkat kenaikan/penurunan jumlah penduduk tahunan).53846 0. ketergantungan Desa Dadap terhadap Baru pada tahun 2003. Pada tahun 1999 dan 2000. rasio gender. dan RI) jika dibandingkan dengan Dadap (RPI dan RTKP).53846 0. nilai ketergantungan perikanan Desa Dadap sebesar 0.53846. Dengan cara yang sama dilakukan analisis data per tahun.80769 Dari Tabel 5. sementara perikanan semakin kecil. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari tahun 1999 sampai 2003. besaran nilai ini termasuk tipe ketergantungan sedang.46154 0.14 terlihat bahwa nilai ketergantungan perikanan dari Desa Dadap berubah semakin kecil jika dibandingkan dengan Kelurahan Kamal Muara.69231 0.46154 0.14. tingkat migrasi 186 . Pada tahun 2001 dan 2002.

densitas populasi. jadi perlu dikonversi menjadi tempat lain yang sesuai dengan perkembangan program pembangunan di sekitarnya. Meskipun lebih lambat.bersih. dll). tingkat penghunian (jumlah rata-rata orang yang tinggal dalam setiap ruangan). tingkat perceraian dan perkawinan}. serta pendidikan {tingkat pendidikan (jumlah dan katagori pendidikan pada berbagai kualifikasi). indeks kepemilikan (proporsi antara rumah milik yang ditempati. indeks keramah-tamahan (amenity) (rata-rata jumlah mobil. tingkat kematian bayi. kesehatan {harapan hidup. Pemusatan Aktivitas serta Distribusi dan Hierarki Pelayanan Fasilitas Sosial Aspek pengembangan wilayah di kawasan Dadap-Kamal Muara menunjukkan gambaran terjadinya pergeseran kemajuan dari arah Dadap ke Kamal Muara da n terus ke arah pusat Kota Jakarta Utara. indeks pemeliharaan kesehatan (rata-rata jumlah rumahsakit. meskipun masih dapat menjadi bahan perdebatan. Dengan demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa TPI Dadap sudah tidak layak lagi sebagai tempat pendarat kapal ikan. Meskipun indeks ketergantungan perikanan dan indeks ketergantungan ekonomi diberi bobot yang lebih besar karena mempunyai relevansi langsung terhadap ketergantungan regional. dokter gigi. Realita di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan pembangunan fisik infrastruktur di Desa Dadap (antara lain bertambahnya areal pergudangan) tampaknya juga berpengaruh terhadap status ketergantungan terhadap kegiatan perikanan. gerak pembangunan fisik di wilayah Dadap juga lebih besar jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah di sebelah baratnya. perumahan {indeks pembangunan rumah baru. Pengembangan wilayah di kawasan penelitian berlangsung relatif cepat. dan jumlah tempat tidur di rumah sakit per populasi penduduk). khususnya di wilayah timur yang termasuk DKI Jakarta. jumlah rumah tangga tanpa kebutuan dasar). Sulitnya mendapatkan data yang akurat menyebabkan indeks sosial-demografis ini tidak dapat dilakukan. disewakan. 187 . dokter. 5. Pergeseran ini tampak dari hasil analisis skalogram dan shift share.2 Analisis Struktur Komposisi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah.

Nilai setiap komponen tersebut berkisar dari negatif hingga tak hingga sampai dengan positif tak hingga. Nilai differential share yang positif di suatu unit analisis pada aktivitas tertentu menunjukkan bahwa aktivitas tersebut kompetitif untuk di unit tersebut.j) pada sumbu PP (sebagai absis) dan PPW (sebagai ordinat).5.j) sebesar 0. Data PDRB Provinsi Banten dicantumkan dalam Lampiran 2. tampak bahwa PDRB 188 . dan sebaliknya nilai koefisien yang posisif menunjukkan terjadinya peningkatan laju aktivitas.1 Komposisi pertumbuhan sektor-sektor ekonomi wilayah Shift share (pergeseran pertumbuhan) adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui dinamika perubahan penggunaan lahan yang dapat diidentifikasi dengan menggunakan data yang sama dengan data untuk identifikasi pusat pertumbuhan. Berdasarkan hasil analisis shift share.4 dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW. Kabupaten Serang dan Analisis shift share juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi sektor atau aktivitas apa yang paling kompetitif dikembangkan di setiap unit analisis. Nilai koefisien shift share yang negatif menunjukkan terjadinya penurunan laju aktivitas. sedangkan PDRB Kota Jakarta Utara pada Lampiran 3.25 %. Dengan mengekspresikan persen perubahan komponen pertumbuhan proporsional (PP. Sebaliknya. analisis shift share digunakan untuk memahami pola perkembangan aktivitas perekonomian yang paling kompetitif sekaligus paling dinamis di wilayah penelitian.1. dengan komponen pertumbuhan proporsional (PP.2. Dalam penelitian ini.j) sebesar 0. Informasi ini diperlukan untuk kebutuhan membangun Model Pengembangan Kawasan Pelabuhan Perikanan Kamal Muara dan Dadap dalam Konteks Pengelolaan Wilayah Pesisir. jika negatif berarti aktivitas tersebut tidak kompetitif jika dijadikan sebagai pilihan aktivitas.j) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW. untuk Kabupaten Tangerang nilai pertumbuhannya adalah sebesar 22. Profil pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang periode 2000 -2002 dicantumkan pada Gambar 5.7. yaitu data penduduk menurut aktivitas perekonomian yang dilakukan serta Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setiap kabupaten/kota.

1.93 %.51 dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW.j) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW.50 1.50 IV I PP -1. Hal ini juga menunjukkan bahwa pergeseran bersih bernilai positif (PB.00 PB.2.50 0. Tangerang merupakan wilayah progresif.2 tampak ternyata Kota Jakarta Utara terletak pada Kwadran III. yang berarti sektor-sektor tersebut pertumbuhannya cepat (PP.j=0) dan juga 189 .00 -0.38.Kabupaten Tangerang terletak pada Kwadran I.00 0. dengan komponen pertumbuhan proporsional (PP. Dengan mengekspresikan persen perubahan komponen pertumbuhan proporsional (PP.00 III -0.1. Profil pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang 2000 -2002 Hasil analisis shift share untuk Kota Jakarta Utara menunjukkan bahwa nilai pertumbuhannya adalah sebesar -9.j=0) yang berarti Kab.j) sebesar -0.j) pada sumbu PP (sebagai absis) dan PPW (sebagai ordinat) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5.j) sebesar -0. yang berarti sektor-sektor tersebut pertumbuhannya lambat (PP.j=0 0. Demikian juga daya saing wilayah untuk sektorsektor tersebut cukup baik apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya (PPW.00 PPW Gambar 5.50 II -1.00 0.j=0). Dari Gambar 5.j=0).

00 0.00 PPW Gambar 5. Profil pertumbuhan PDRB Kota Jakarta Utara 2000-2003 5. Berdasarkan ketentuan dalam analisis LQ.00 III -0.2.j=0 0. analisis LQ (Location Quotient) digunakan untuk menganalisis pergeseran pemusatan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di lokasi penelitian (Kecamatan Penjaringan-Jakarta Utara dan Kecamatan Kosambi-Kabupaten Tangerang). 1.j=0). Disamping itu.00 -0. Sedangkan 190 .2 Pemusatan aktivitas ekonomi wilayah Sebagaimana telah dinyatakan dalam Bab 3. untuk kurun waktu antara 2000 – 2002. Hal ini juga menunjukkan bahwa pergeseran bersih bernilai negatif (PB.daya saing wilayah untuk sektor-sektor pertumbuhannya lambat apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya (PPW.50 0.j=0) yang berarti Kota Jakarta Utara merupakan wilayah lamban.50 1. Sebagian dari penduduk wilayah yang bersangkutan harus memanfaatkan fasilitas atau melakukan aktivitas tersebut di wilayah luar administrasinya.50 IV I P 1.50 II -1. dapat dijelaskan bahwa apabila LQ kurang dari 1.00 0.00 PB. dapat pula diartikan bahwa wilayah dengan koefisien LQ kurang dari 1 merupakan wilayah yang aktivitas di sektor yang dikaji memiliki intensitas yang lebih rendah dibandingkan dengan rataan aktivitas di seluruh wilayah yang dikaji.2. maka di daerah tersebut tidak terjadi pusat aktivitas.

40 0.3.4. Banyak penduduk dari wilayah lain yang memanfaatkan fasilitas penunjang aktivitas ataupun melakukan aktivitas sektor tersebut di wilayah yang bersangkutan. sebagai sektor yang dikaji dalam penelitian ini masih merupakan sektor unggulan karena nilai LQ > 1 dan sudah terspesialisasi dengan baik. industri pengolahan (nilai LQ 1. 6. Bangunan. dan pertanian termasuk perikanan (nilai LQ 1.20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Keterangan:1. maka diartikan bahwa sub wilayah tersebut mempunyai pangsa aktivitas setara atau sama dengan pangsa lokal. keuangan. Nilai LQ 1.60 1. Industri Pengolahan. 7. Persewaan dan Jasa Perusahaan.40 1. Hotel dan Restauran.47). gas dan air (nilai LQ 1.apabila nilai LQ lebih besar dari 1.20 1. Keuangan. Pertambangan dan Galian.3 dan Gambar 5. Indeks LQ yang lebih besar dari 1 juga mengindikasikan terjadinya aktivitas yang sangat intensif dan melebihi ratarata wilayah lain.. Perdagangan. Dengan demikian. Pertanian.00 0.38). 8. 5. maka berdasarkan hasil analisis ditentukan bahwa daerah tersebut menjadi pusat aktivitas. Hasil analisis LQ sesaat dan LQ dari tahun 2000 – 2002 untuk Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Gambar 5. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa untuk Kabupaten Tangerang lapangan usaha (komoditi unggulan) yang perlu dikembangkan adalah listrik. Listrik. Sementara apabila nilai LQ sama dengan 1.09). 4. 2. persewaan dan jasa (nilai LQ 1. Grafik LQ sesaat untuk komoditi unggulan di Kabupaten Tangerang pada Tahun 2003 191 .60 0. Gas dan Air.80 0. Pengangkutan dan Komunikasi. Gambar 5. 9. Jasa-jasa. komoditi perikanan.07). 3.

Pertambangan dan Galian. 2.42).1. 5. Persewaan dan Jasa Perusahaan. Pertanian. Hotel dan Restauran. 6. lapangan usaha (komoditi unggulan) yang perlu dikembangkan adalah industri pengolahan (nilai LQ 2. gas dan air. baik untuk sektor listrik. Dapat dikatakan bahwa peningkatan sektor unggulan untuk meningkatkan nilai LQ nampaknya harus ada input dari luar daerah untuk merangsang pertumbuhan masing-masing sektor di daerah ini. persewaan dan jasa. Gambar 5.20 1. 7. komoditi pertanian yang didalamnya termasuk perikanan. maupun untuk sektor pertanian.40 0. dan sektor pengangkutan dan komunikasi (nilai LQ 1. 4. termasuk perikanan. Perdagangan. sebagai sektor yang dikaji dalam penelitian ini masih merupakan sektor unggulan karena nilai LQ > 1 dan sudah terspesialisasi dengan baik. Pengangkutan dan Komunikasi. keuangan.6. Untuk analisis LQ Jakarta Utara.44) dan pertanian (nilai LQ 1.80 0. Keuangan.60 0.20 Nilai LQ2000 Nilai LQ2001 Nilai LQ 2002 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Keterangan: 1. 192 .00 0. industri pengolahan.4. Listrik.40 1.69). Bangunan.2002 Perhitungan nilai LQ secara berturut dari tahun 2000 hingga tahun 2002 terhadap lapangan usaha (komoditi) unggulan di Kabupaten Tangerang menunjukkan adanya kecenderungan tidak terjadi perubahan yang berarti (relatif stabil). sebagaimana dicantumkan dalam Gambar 5. 8. 3. 9. Grafik LQ untuk komoditi unggulan di Kabupaten Tangerang pada Tahun 2000 . Dengan demikian. Jasa-jasa.60 1. Gas dan Air.80 1. Industri Pengolahan.5 dan Gambar 5.

7. 5. Listrik. Bangunan. Gas dan Air.40 0.00 1 2.00 0. Bangunan. Jasa-jasa. Perdagangan/Hotel dan Restauran. Industri Pengolahan.76 0. 3.22 6 7 8 Keterangan: 1. Hotel dan Restauran. Keuangan. Industri Pengolahan.66 0. 4.44 1.50 1. Persewaan dan Jasa Perusahaan.00 0. Grafik LQ untuk komoditi unggulan di Kota Jakarta Utara pada Tahun 2000 – 2003 193 . 8.6. 2. Pertanian. Pertanian. 8.LQ 2003 3. Gambar 5.50 0.50 1. 6. 3. 2.00 1. Grafik LQ sesaat untuk komoditi unggulan di Kota Jakarta Utara pada Tahun 2003 3. 7. 6. Perdagangan. Gambar 5.69 2. Pengangkutan/Komunikasi. Jasa-jasa.50 2. 4. Pengangkutan dan Komunikasi. Listrik/Gas/Air.00 1 2 3 4 5 1.50 2.50 Nilai LQ 2000 Nilai LQ 2001 Nilai LQ 2002 Nilai LQ 2003 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan: 1.42 LQ 2003 0. 5.00 2. Keuangan/PersewaanJasa Perusahaan.00 1.71 0.5.

untuk Kelurahan Kamal Muara (dengan jumlah tipe fasilitas 19 buah) jika dibandingkan dengan kelurahan-kelurahan lainnya di Kecamatan Penjaringan (yang jumlah total tipe fasilitasnya sebanyak 148 buah). mall. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi pergerakan penduduk dalam pemenuhan kebutuhan fasilitas pelayanan. swalayan. masih banyak kekurangan fasilitas sosial antara lain pelayanan kesehatan (rumah bersalin dan bidan). restaurant. Jumlah tipe fasilitas yang terdapat di Desa Dadap adalah 18. hal ini menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Kosambi (yang jumlah total tipe fasilitasnya sebanyak 111 buah). Kondisi ini berbeda dengan Kamal Muara dimana jumlah total fasilitasnya mencapai 19 tipe namun termasuk wilayah yang masih kekurangan fasilitas. Data selengkapnya mengenai hasil analisis skalogram untuk wilayah Kecamatan Penjaringan dan Kecamatan Kosambi dapat dilihat pada Tabel 5. Namun demikian.2.5. Dadap merupakan pusat pelayanan atau pusat pengembangan. dengan total jumlah fasilitas mencapai 18 tipe fasilitas. karena di wilayah ini fasilitas pelayanannya cukup lengkap. dll. untuk Kecamatan Kosambi. Meskipun demikian. Di Kamal Muara. dimana diperkirakan penduduk yang bermukim di wilayah Dadap atau Kamal Muara bergerak ke wilayah sekitar Kecamatan Penjaringan seperti Pejagalan dan Pluit. maka Desa Dadap merupakan desa yang paling maju. hotel. Kondisi ini memang akan memicu terjadinya migrasi tenaga kerja dari tempat yang kurang ke tempat yang banyak fasilitasnya. Dari keseluruhan gambaran tersebut dapat diamati bahwa pergerakan kemajuan pembangunan di tingkat desa dan kelurahan di kawasan Dadap-Kamal Muara bergerak mengarah ke pusat aktivitas di Ibu Kota Jakarta.3 Distribusi dan hierarki pelayanan fasilitas sosial Dari hasil analisis skalogram dapat disimpulkan bahwa untuk wilayah Kecamatan Penjaringan yang menjadi pusat pelayanan atau pusat pengembangan wilayah utama adalah Kelurahan Pejagalan dan Kelurahan Pluit. dan sarana penunjang perekonomian (pasar inpres.15 dan Lampiran 4 dan Lampiran 5. 194 . maka Kelurahan Kamal Muara merupakan kawasan yang paling kurang maju.). pelayanan pendidikan (SMA dan perpustakaan).

195 . suatu studi kelayakan yang menyeluruh perlu dilakukan mengingat keberadaan pusat-pusat kegiatan wisata yang ada di wilayah Jakarta Utara akan sangat sulit untuk ditandingi. Pengembangan objek wisata yang terjangkau oleh masyarakat luas (lebih murah). maka Pemerintah Kabupaten Tangerang harus menciptakan berbagai kegiatan yang dapat memancing terjadinya pergerakan orang dan barang (aktivitas ekonomi) dari daerah disekitar kawasan Dadap ke wilayah Tangerang sendiri. Rencana pembangunan kawasan wisata Pantai Pasir Putih Mutiara Dadap merupakan salah satu peluang untuk terjadinya hal tersebut. Namun demikian. baik harga tiket masuk dan maupun harga-harga produk yang dijajakan. serta objek wisata dan atraksi yang disajikan tetap menarik para wisatawan.15 Hierarki wilayah Kecamatan Kosambi dan Penjaringan berdasarkan analisis skalogram Jumlah Tipe Fasilitas Kosambi Dadap Kosambi Timur Salembaran Jaya Rawa Burung Rawa Rengas Cengklong Belimbing Jati Mulya Kosambi Barat Salembaran Jati Jumlah Tipe Jumlah Unit Penjaringan Pejagalan Pluit Penjaringan Kapuk Muara Kamal Muara Jumlah Tipe Jumlah Unit 18 15 12 11 10 10 10 9 8 8 111 Jumlah Unit Fasilitas 64 32 39 42 45 32 26 28 17 17 342 37 34 31 27 19 148 339 164 205 92 45 845 1 2 3 4 5 Peringkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Untuk mengurangi tekanan dari kemungkinan terjadinya migrasi penduduk dari daerah sekitar Dadap ke ke arah wilayah DKI Jakarta (yang berarti pula terjadinya pergesaran kegiatan ekonomi). sarana dan prasarana transportasi yang memadai.Tabel 5.

Hal ini dapat diamati dari berbagai berita di media massa.5 hektar di pantai Muara Dadap. BPPT sudah mengaspal dan mengembangkan site plan dan pemagaran di lokasi tanah kosong tadi.PKA/BPPT/XII/93. dinamika perencanaan pembangunan di kawasan ini sangat tinggi. Kabupaten Tangerang. yang awalnya berupa tanah kosong dan tidak berpenduduk. apakabar@clark. Berdasarkan perjanjian kerjasama antara BPP Teknologi dan Perum Angkasa Pura II yang tertuang dalam surat No SWT 07/HK. Rabu 29 Mei 1996 . BPPT menjadi Panitia Indonesia Air Show (IAS) yang sempat menimbulkan issu akan menggusur tanah rakyat di Desa Gili-Dadap. Atas dasar itu.17:15:00). mulai dari aktivitas perencanaan pembangunan Pelabuhan Kapal Riset Baruna Jaya. BPPT meminta agar pihak yang berkepentingan di kawasan itu mengetahui bahwa pembangunan dermaga sandar Armada Kapal Riset BPPT Baruna Jaya akan dilaksanakan pada tanah kosong yang sudah dipagar sejak 1994 (IN/EKON: MI N-250 Kejar Sertifikasi. Desa Dadap.3. Sebagai daerah yang terletak di perbatasan kabupaten/kota dan provinsi. Issu ini ternyata tidak benar karena pelaksanaan pergelaran 196 . Pelabuhan Peti Kemas atau Kapal Barang.1 Pemanfaatan lahan di kawasan Dadap-Kamal Muara Sebagai kawasan yang terletak di perbatasan antara Pemkot Jakarta Utara dan Kabupaten Tangerang.90/APH-1993 dan No. 5. dan kawasan Wisata Mutiara Dadap.3 Analisis pemanfaatan lahan dan daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara Pengembangan suatu pelabuhan perikanan harus mempertimbangkan kondisi lahan yang tersedia di kawasan tersebut. Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang. Dinamika perencanaan yang tinggi ini sangat dipengaruhi oleh munculnya Orde Otonomi Daerah yang telah terjadi dan melahirkan konsep desentralisasi sistem pemerintahan.5. Tanah tersebut diperuntukkan sebagai Dermaga Sandar Kapal Riset BPPT Baruna Jaya. Menurut berita Media Indonesia. 345/DB. kawasan Dadap-Kamal Muara mempunyai tingkat perubahan pemanfaatan lahan yang sangat pesat. yang terdiri dari 800 KK nelayan (Republika Online 1996). BBP Teknologi telah menyewa sebidang tanah seluas 6. Kecamatan Kosambi.net. sejak tahun anggaran 1994/95. Tahun 1996.

Kecamatan Kosambi. dugaaan telah dibayarkan retribusi pengurukan pantai oleh para pengembang reklamasi Pantai Dadap tersebut tertuang jelas dengan adanya Fatwa Rencana Pengarahan Lokasi dengan nomor 655. Polemik terus berlanjut dan menyangkut Pemda DKI Jakarta yang tampaknya juga mempunyai kepentingan dengan kegiatan pembangunan. 197 . Apalagi pada saat yang bersamaan Dinas Tata Ruang dan Bangunan juga mengeluarkan surat penetapan retribusi fatwa rencana pengarahan lokasi bernomor 974/330DTRB/IX/2001 yang ditandatangani Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan. Nanang Komara yang kini menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang (Sinar Harapan 2004b). yang akhirnya direspon oleh anggota DPR dan DPRD setempat. Menurut sumber di Tangerang. Desa Dadap. Menurut juru bicara pengembang (Tubagus Dudy Chumaidi) yang dikutip media massa menyebutkan bahwa kawasan Dadap dipilih karena wilayah itu berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu (Suara Pembaharuan Daily 2004). Pasalnya. yang kini dilakukan.dirgantara IAS ’96 itu terletak di lokasi pelabuhan udara Soekarno-Hatta pada kuadran II (sebelah terminal II-internasional).2/330-DTRB/IX/2001 tertanggal 26 September 2001 yang ditandatangani oleh Bupati Tangerang yang kala itu masih dijabat oleh Agus Djunara. Dengan keluarnya fatwa Bupati tersebut secara otomatis si pengembang berani untuk melakukan reklamasi Pantai Dadap karena sudah ada lampu hijau. Salah satu berita yang dimuat berbunyi “Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang tidak akan pernah dapat melakukan penutupan lokasi reklamasi Pantai Dadap. Konflik pemanfaatan ruang di kawasan Dadap terus berlanjut dengan dilakukannya reklamasi (pengurukan) kawasan pesisir dimana awalnya Pelabuhan Kapal Riset Baruna Jaya akan dibangun. dan (PIELS)}. Dari berbagai berita di media massa dapat disimak bahwa proses reklamasi yang sedang dilakukan ternyata menuai berbagai protes dari beberapa kelompok masyarakat dan LSM {antara lain Banten Environmental Watch (BEW). lembaga ini diduga telah menerima retribusi pengurukan pantai yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.

yang merupakan implementasi Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 1997 tentang Perubahan Tata Ruang Nasional. informasi kerusakan lingkungan dan penolakan warga yang berkembang selama ini dikendalikan orang luar Dadap (SUARA PEMBARUAN DAILY 2004a). yang terkena dampak hanyalah sebagian kecil penduduk yang memang tinggal disekitar kawasan pengembangan. Mereka bahkan tak peduli aktivitas reklamasi kawasan untuk wisata bertaraf internasional tersebut. Mantan para pemilik 198 . Yang penting bagi kami para nelayan bisa tetap melaut. proyek reklamasi silakan saja. Kosambi. serta perbaikan jalan. Kemelut pemanfaatan lahan yang terjadi di Desa Dadap tidak seluruhnya dimengerti oleh penduduk desa. belum mengatahui ada proyek pengurukan laut besa-besaran di Pantai Mutiara Dadap. Kabupaten Tangerang. Dalam perubahan tata ruang tersebut pemerintah berencana menjadikan pesisir pantai utara sebagai kawasan wisata terpadu (SUARA PEMBARUAN DAILY 2004b). sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Desa Dadap Dames Taufik yang mengklaim bahwa tidak ada masalah dengan warganya terhadap reklamasi pantai itu. Luas pantai yang akan direklamasi dan dijadikan kawasan wisata terpadu sepanjang 10 km garis pantai dari laut dan satu km dari garis pantai atau sekitar 1.. warga Desa Dadap. Kasus pemanfaatan lahan yang juga mencuat di kawasan Dadap-Kamal Muara adalah untuk pembangunan kawasan pergudangan.000 hektare. Kecamatan Pakuhaji untuk kawasan wisata. pengurukan Kali Perancis.Kepala Sub Dinas Tata Ruang pada Dinas Tata Ruang dan Bangunan Pemda Tangerang Didin Samsudin menyatakan. Menurut Dames. menyusul revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR).(Tempo Interaktif 2005b). Menurut informasi berbagai harian ibukota. sekitar 20 km dari 50 km total panjang pantai di Kabupaten Tangerang atau dari Dadap Kosambi hingga pantai Tanjung Kait. . Berbagai kepentingan ternyata banyak yang bermain dalam masalah proyek tersebut. Menurut warga. "Kami tak peduli. asal warga disediakan infrastruktur sepeti tempat pelelangan ikan. Perubahan RUTR tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah No 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Tata Ruang Daerah. Berdasarkan peraturan itu. kawasan pantai yang akan direklamasi setelah Dadap adalah Mauk.

5 kilometer ke utara (Anonimous 1997).80 ha.52 %. Aktivitas reklamasi yang telah dilakukan pengembang di wilayah DKI Jakarta akan menciptakan sebuah daerah baru seluas 2. Keputusan Presiden No 52 Tahun 1995 menetapkan.7. Namun demikian kenyataannya pemilik gudang lebih memilih tenaga kerja dari luar Dadap yang dinilai lebih mempunyai kompetensi daripada tenaga kerja setempat (Tempo interaktif 2005c). ratusan gudang kini sudah berdiri memenuhi 40 persen lahan di desa seluas 401 hektar itu.31 ha menjadi 479. lahan terbuka tinggal 66.95 ha dalam jangka waktu yang sama yaitu 10 tahun.tanah merasa bahwa dulu mereka terbujuk menjual lahannya kepada para investor untuk dibuat gudang. sampai garis yang menghubungkan titiktitik terluar yang menunjukkan kedalaman laut delapan meter. Secara legal.700 hektar. Sementara itu. sebagai mana ditunjukkan citra satelit pada Gambar 5. kawasan Pantai Utara Jakarta itu akan direklamasi. Selama kurun waktu 10 tahun (dari tahun 1992 sampai 2002).59 ha menjadi 242. Saat ini. sedangkan di Kamal Muara hanya terjadi peningkatan sedikit dari 442.16. dengan harapan bahwa kelak ia dan anak-anaknya dapat ikut bekerja di kawasan pergudangan itu. Dalam rangka mewujudkan pembangunan Kota Air Kamal Muara. Itu artinya.67 %. telah terjadi perubahan pemanfaatan lahan di kawasan Dadap-Kamal Muara. Di wilayah Desa Dadap. Pemda DKI melakukan reklamasi pantai di daerah Kamal Muara. 199 . Secara rinci perubahan pemanfaatan lahan dapat dilihat pada Tabel 5. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan di kawasan Dadap – Kamal Muara mengalami perubahan yang cukup drastis. untuk wilayah urban mengalami perubahan mencolok sebesar 200 %. Sisa lahan masih akan terus berkurang karena sampai saat ini pembangunan gudang baru masih terus berlangsung. perubahan terjadi pada luasan sawah yang menyusut sampai hanya tersisa 18.85 %. dari 120. tubuh air tinggal 42. dan kebun campuran tersisa 32. Reklamasi meliputi bagian perairan laut Jakarta yang diukur dari garis pantai utara Jakarta secara tegak lurus ke arah laut. garis pantai akan maju sekitar 1.34 %.

200 .Citra satelit Landsat 92 Citra satelit Landsat 2002 Hasil klasifikasi Land Use Thn 1992 (Sumber : Landsat 1992) Hasil klasifikasi Land Use Thn 2002 (Sumber : Landsat 2002) Gambar 5. tahun 1992-2002.7 Citra satelit landsat di lokasi penelitian.

464. 3.520. yang pengembangannya dilanjutkan sampai ke kawasan Kamal Muara.5 2.087.799.5 + 8. dll.70.90 ha 201 . Status hak milik tahun 1998 tercatat seluas 547. dll. perubahan lainnya adalah pertambahan luasan rumput/semak hanya terjadi di wilayah Kamal Muara.7 + 101.5 % 508.96 % 0 0 0% 0 0 0% KAMAL MUARA 1992 2002 5.5 18.00 % 131. luas tanah daratnya sebesar 105 ha sedang sisanya berupa sawah seluas 453 ha dan rawa/empang seluas 495 ha.6 37.216. lahan milik adat.611.3 .56 % 508.4 .5 .573. Kelurahan Kamal Muara memiliki lahan dengan status milik negara. dan sebagian dari lahan tersebut dikuasai oleh swasta (PT Mandara Permai) dan BPL Pluit. Pada saat pembangunan kawasan real estate ini.5 . Hal ini disebabkan belum adanya sertifikat pada tanah seluas 584 ha.4 + 3.3 5.37 % 18.2 .7 301.423. Perubahan status hak kepemilikan lahan di Kelurahan Kamal Muara terjadi antar tahun 1999 sampai dengan 2000 (BPS Jakut 2000).00 % 282.57.7 188.33 % 1. 2.204.432.757. seperti rawa gambut. dilakukan reklamasi (penimbunan kawasan pantai).94.30 % 621. sungai.992. Konversi lahan yang juga signifikan adalah terbentuknya kawasan hutan yang merupakan ekses dari dibangunnya perumahan real estate Pondok Indah Kapuk.).573.200 % 0 18.4 37.643.Tabel 5.665.3 376.5 56. jika berasosiasi dengan yang lain dapat dipisah.11 ha.821.184.54.324.821.751.2 357.175. rawa bakau.7 . 4. genangan. rawa.6 > + 18.643.29 % 150. 6.5 150. Awalnya.3 + 100.16 Data penggunaan lahan di kawasan Dadap dan Kamal Muara dari antara tahun 1992-2002 (m2) No 1.585.9 + 5. yaitu dari 1. 8. VARIABEL Tambak Perubahan Sawah Perubahan Tubuh air Perubahan Lahan terbuka Perubahan Urban Perubahan Kebun campuran Perubahan Rumput/semak Perubahan Hutan Perubahan DADAP 1992 2002 357. seluas 9.9 .50 % 18.821.316.427.3 + 137.5 4.64 % 658.821.146. 5.6 % Keterangan: tubuh air adalah perairan di wilayah daratan (danau.114.114.611.6 621. Khusus untuk rawa.821.16 tersebut menunjukkan bahwa selain terjadinya perubahan wilayah urban selama kurun waktu sepuluh tahun.184.60 ha dan turun drastis menjadi 287 ha tahun 1999. 7.8. 00 % 4. Dari Tabel 5.953.88 ha menjadi 62.

00 0.17 Status lahan di Kelurahan Kamal Muara antara tahun 1997-2000 TAHUN SENSUS 1997 Hak milik HGB HP Belum bersertifikat Jumlah Sumber: BPS Jakut (2001) STATUS LAHAN 547. taman.17. Perubahan lahan pertanian ini dapat diidentifikasi sebagian digunakan untuk lahan perumahan.00 1998 547.53 0. kantor dan gudang.65 0. pertanian.90 8. dan lain-lain.00 1999 287.(tahun 1998 mencapai 505.00 760.76 0.71 ha.00 210.13 1. Data peruntukan lahan di Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan dari tahun 1995-2000 (ha) TAHUN SENSUS 1995 Perumahan Industri Kantor/gudang Taman Pertanian Lainnya Jumlah Sumber: BPS Jakut (2001) PERUNTUKAN 1996 84.22 1.00 175.25 421.053.40 ha).053. dan yang berstatus hak pakai (HP) seluas 8 ha (sebelumnya tidak tercatat.00 84.71 221.98 0. Tabel 5.00 1998 263.90 8.93 290.053.60 1.053.40 0. kantor/gudang.00 0.053.00 1997 244. Tahun 2000 lahan pertanian baru tercatat lagti seluas 73.16 55.00 1999 84.053.60 505.03 142.00 9.30 52.70 195.00 1.00 0.00 2000 287.18 tampak bahwa perubahan yang cukup mencolok adalah pada lahan pertanian yang turun sangat drastis pada tahun 1997 sampai tercatat tidak ada sisanya selama tiga tahun berturut-turut.00 1.18.27 1.00 0.053.53 73.25 142.20 105.00 2000 96.76 769.053.00 584. industri.76 769.18.70 195. Data selengkapnya tentang status lahan di Kelurahan Kamal Muara dicantumkan dalam Tabel 5.49 1.00 Peruntukan lahan di Kelurahan Kamal Muara secara garis besar terdiri dari pruntukan perumahan.00 1. Data selengkapnya tercantum dalam Tabel 5. industri.81 10.053. lahan tidur.94 91.00 584.00 1. 202 .40 0.00 9. Tabel 5.60 505.00 Dari Tabel 5.81 10.93 249.053.16 55.49 1.76 0.

perubahan terbesar terjadi dari tahun 1997 (286 unit) menjadi 481 unit pada tahun 1998. Data perubahan jumlah bangunan di Kelurahan Kamal Muara tercantum dalam Tabel 5.20.19. kemudian menjadi 425 tahun 1999.80 ha. hutan mangrove di Jakarta diantaranya terdapat dalam kawasan hutan dan pulau-pulau di Kepulauan Seribu dan kawasan hutan di DKI Jakarta sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.76 ha.255 2001 425 593 237 1. sedangkan di Hutan Lindung Angke Muara Kapuk terdapat ekosistem mangrove seluas 44.dan peruntukan lainnya.00 ha. Untuk bangunan semi permanen. dan menjadi 593 tahun 1999 serta tidak mengalami perubahan sampai tahun 2001. yang pertama berkaitan dengan kegiatan pembangunan yang harus mendirikan bangunan darurat untuk para buruh dan peralatan. dari 140 unit tahun 1995 menjadi 254.19 tampak bahwa pertambahan bangunan permanen dan semi permanen terjadi secara nyata dari tahun 1997. Untuk bangunan darurat. 203 . dan tinggal 141 unit tahun 1997.19. yang kedua adanya komunitas gelandangan dan pengemis yang membangunan tempat tinggal darurat.255 JENIS BANGUNAN Permanen Semi permanen Darurat. Kemudian naik lagi tahun 1999 sampai mencapai 237 unit. yang kedua di pesisir Pulau Rambut yang merupakan Suaka Margasatwa seluas 45. Menurut Situs Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta. Tabel 5. Kawasan hutan mangrove yang terluas terdapat di Hutan Wisata Kamal Muara seluas 99. Ada dua kemungkinan yang dapat ditafsirkan dari perubahan jumlah bangunan darurat tersebut.255 2000 425 593 237 1. dari tahun 1994 mengalami penurunan dari 305 unit menjadi 280 unit tahun 1995. Data perubahan jumlah bangunan di Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan dari tahun 1993-2001 (unit) TAHUN SENSUS 1993 137 207 305 649 1994 137 207 305 649 1995 140 211 280 631 1996 1997 254 286 141 681 1998 263 481 180 924 1999 425 593 237 1. dll Jumlah Sumber: BPS Jakut (2001) Dari Tabel 5.

21 tampak bahwa persentase luas tanah yang digunakan untuk sektor pertanian di Kelurahan Kamal Muara adalah yang paling tinggi. 3.00 1. 8.00 0. 3.00 0.40 21.20.18 Sumber: Diperhut (2005) Untuk Kecamatan Penjaringan. Kelurahan Kamal Muara Kapuk Muara Pejagalan Pluit Penjaringan 8.12 56. sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.00 18.00 58.00 0. baik untuk aktivitas pra dan pasca penangkapan ikan maupun budidaya ikan air tawar.15 11.00 0.20 0.00 0. Tabel 5.21 Persentase penggunaan tanah di Kecamatan Penjaringan tahun 2003 Persentase Luas Tanah Yang Digunakan (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 No.00 0.02 45.76 99. (4) Taman. (3) Kantor dan Gudang.40 29.00 19.00 0. 204 . Penjaringan 45. karena sektor pertanian masih mencakup perikanan. 4. 5. 5.94 10.65 17.83 50.58 100 Sumber: BPS Jakut (2004) Keterangan: (1) Perumahan. (8) Jumlah Dari Tabel 5. (7) Lainnya.00 6.85 0. Namun demikian.00 17. lahan ini sebenarnya sebagian besar digunakan untuk aktivitas perikanan. 2.00 17.70 28.00 8.90 9.14 0. NAMA Hutan Lindung Angke Muara Kapuk Hutan Wisata Kamal Muara Suaka Marga Satwa Muara Angke Suaka Margasatwa Pulau Rambut Cagar AlamPulau Bokor Cagar Alam Pulau Penjaliran Barat Cagar Alam Pulau Penjaliran Timur Hutan dengan tujuan istimewa: Pembibitan Jalan Tol dan Jalur Hijau Transmisi PLN Cengkareng Drain Jumlah LUAS (ha) 44. (5) Pertanian.70 28.64 0. Distribusi hutan mangrove di wilayah Jakarta No 1.00 100 100 100 100 100 Kec.50 23.80 25.00 0. 4.23 3.80 3.00 36.73 5. 2.00 28.18 74.85 19.21.24 0.39 430.93 20. (6) Lahan Tidur.00 0.00 4.Tabel 5. 1. 7.65 10.37 9. (2) Industri.00 0. persentase distribusi pemanfaatan lahan di setiap kelurahan pada tahun 2003 menunjukkan cukup besarnya lahan tidur di Kelurahan Kamal Muara.02 16.51 95. 6.

kawasan pantai yang akan direklamasi setelah Dadap adalah Mauk. Konversi lahan yang juga signifikan adalah terbentuknya kawasan hutan yang merupakan ekses dari dibangunnya perumahan real estate Pondok Indah Kapuk. lahan di kawasan tersebut tidak lagi produktif dan penataan ulang lahan dalam bentuk penanggulangan abrasi sia-sia. Akibat abrasinya.Sebagaimana tampak dari hasil citra satelit yang diambil tahun 1992 dan 2002 dan tercantum pada Gambar 5. perubahan yang paling signifikan terjadi di kawasan Dadap-Kamal Muara adalah peningkatan wilayah urban di Dadap sebesar 101. telah terjadi perubahan yang sangat siginifikan dari tataguna lahan di kawasan penelitian. Alasan dilakukannya revisi RUTR tersebut karena terjadinya perubahan fungsi lahan secara besar-besaran di kawasan tersebut akibat eksploitasi lahan untuk tambak dan abrasi pantai. Hal ini juga ditunjukkan oleh hasil analisis terhadap citra satelit ini yang memperlihatkan bahwa selama jangka waktu sepuluh tahun (dari 1992-2002) terjadi peningkatan mencolok dari luasan wilayah urban pemukiman (lihat Tabel 5. "Lahan di sana sudah 205 . pertambahan luasan semak dan tanah terlantar sebesar 3. tempat mendaratnya kapal-kapal pesiar (yacht). yang pengembangannya dilanjutkan sampai ke kawasan Muara Kamal.56 %. Sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Sub Dinas Tata Ruang pada Dinas Tata Ruang dan Bangunan Pemda Tangerang Didin Samsudin. Sehingga sudah jelas bahwa penetapan kawasan pesisir sepanjang 20 km dari 50 km total panjang pantai di Kabupaten Tangerang atau dari Dadap Kosambi hingga pantai Tanjung Kait. hal ini didasarkan foto udara tahun 2002.7. Aktivitas reklamasi (penimbunan kawasan pantai) yang dilakukan pada saat pembangunan kawasan real estate ini kemudian dihijaukan dengan tanaman mangrove yang sekaligus juga membuat fasilitas marina.200 %.000 hektare. Kecamatan Pakuhaji adalah untuk kawasan wisata dengan aktivitas reklamasi yang akan dilakukan sepanjang 10 km dan satu km dari garis pantai atau sekitar 1. dimana kawasan tersebut sudah rusak dan sulit untuk dipulihkan kembali karena kerusakannya sudah sejauh 600 meter dari bibir pantai. menyusul revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) tersebut yang tertuang dalam Peraturan Daerah No 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Tata Ruang Daerah (Suara Pembaharuan Daily 2004a). Hal tersebut menunjukkan bahwa selama kurun waktu sepuluh tahun.16).

300 jiwa dengan kepadatan sekitar 112 jiwa/Ha pada tahun 2010.tidak bisa diperbaiki lagi kecuali dengan reklamasi karena lahan yang terkena abrasi sudah mencapai puluhan ribu hektar. sebagaimana disampaikan dalam Sub-bab 5. tetapi masih ditataran para politisi dan pemerhati lingkungan. Cukup banyak kebijakan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta yang semula dianggap kontroversial dan mendapat tentangan dari berbagai pihak tetapi kemudian dianggap suatu keberhasilan setelah hasil positif dicapainya.000 jiwa dengan kepadatan sekitar 204 jiwa/ha pada tahun 2010. 6 Tahun 1999. Pemanfaatan lahan di Kelurahan Kamal Muara relatif lebih tenang dan teratur dan tidak lagi terdengar ada gejolak.1 di atas. sebagai contoh adalah Program Pemagaran Kawasan Monumen Nasional. Hal ini dimungkinkan karena telah mapannya RUTR melalui Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. yaitu membuka rencana reklamasi Pantura tersebut secara luas. maka banyak pihak secara tidak langsung mengucapkan terimakasih kepada 206 . untuk dilakukan kajian secara ilmiah oleh berbagai fihak yang bersifat netral. Dalam Pola Peruntukan Lahan. Langkah yang sama perlu juga dilakukan oleh Pemkot Jakarta Utara.600 jiwa dengan kepadatan sekitar 128/ha pada tahun 2010. Konflik rencana reklamasi yang akan dilakukan Penda DKI belum terlalu parah terjadi di tingkat grassroot. (2) Sub-kawasan tengah Sub-kawasan tengah terdiri dari Kecamatan Tanjung Priok direncanakan akan menampung penduduk sebesar 452." katanya. Setelah menunjukkan hasil yang baik. pemanfaatan ruang kawasan Pantura Jakarta Ditetapkan dalam 3 sub-kawasan: (1) Sub-kawasan barat Sub-kawasan barat terdiri dari Kecamatan Penjaringan dan Pademangan direncanakan akan menampung penduduk sebesar 737. (3) Sub-kawasan timur Sub-kawasan timur terdiri dari Kecamatan Koja dan Cilincing direncanakan akan menampung penduduk sebesar 670.

Menurut Beatley et al. 6 Tahun 1999. 6 tahun 1999 tentang RUTR Pasal 8. Jika dilihat jumlah penduduk Kecamatan Penjaringan tahun 2003 yang tingkat kepadatannya mencapai 7. berdasarkan Perda No. (1999). karena Monas yang ada sekarang tampak lebih rindang.300 jiwa dengan kepadatan sekitar 112 jiwa/ha pada tahun 2010. dan berbagai kepentingan umum lainnya. dalam perancangan perkotaan dan perlindungan pusat kegiatan masyarakat upaya untuk melindungi karakter dan nuansa masyarakat pesisir merupakan isu yang penting di banyak tempat. antara lain dengan membuat bangunan publik serta ruang umum (taman) menjadi pusat ruang kota. pemanfaatan ruang kawasan Pantura Jakarta. 207 . 3) Mengembangkan fungsi pelabuhan dan perniagaan. lebih bersih. dalam Pola Peruntukan Lahan. memperjelas orientasi bagi pejalan kaki. Mengacu pada Perda Khusus Ibukota Jakarta No. maka dapat diduga sebelum tahun 2010 target 112 jiwa tersebut sudah akan tercapai. 2) Mempertahankan permukiman nelayan. terdapat kecenderungan baru yaitu timbulnya semangat tradisionalisme. dengan kebijakan meliputi: (1) Pantai Lama: 1) Meningkatkan dan melestarikan kualitas lingkungan Jakarta Utara. indah dan menyenangkan untuk dikunjungi. pelabuhan serta pariwisata.Pemda DKI. Dalam kegiatan pembangunan kini. Perlindungan ini dilaksanakan antara lain dengan melembagakan evaluasi ulang dari proses perencanaan tata kota. Kamal Muara termasuk Sub-kawasan barat yang terdiri dari Kecamatan Penjaringan dan Pademangan yang direncanakan akan menampung penduduk sebesar 737. (2) Pantai Baru: melalui pengembangan reklamasi yang terpisah secara fisik dari pantai lama dengan kegiatan utama jasa dan perdagangan berskala internasional. sesuai dengan karakteristik fisik dan perkembangannya. perumahan.974 orang per km2 (atau sebesar 79. Untuk kawasan Kamal Muara yang merupakan bagian wilayah Jakarta Utara. Banyak wilayah pesisir memiliki bangunan bersejarah dan sumberdaya lain yang berharga untuk dilindungi. termasuk WP (Wilayah Pengembangan) Pantai Utara (WP-PU).74 orang per ha).

Mengingat sudah jelas tertera dalam RUTR dan revisinya. Menurut informasi dari Urban Poor Consortium (UPC. Oleh karena itu. Pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk membentuk satu rencana khusus yang terfokus pada pembangunan daerah pantai utara kota yang disebut: the Jakarta Waterfront Development Program. 2005). Program ini meliputi: (1) Reklamasi 2. Pembangunan Kota Pantai Jakarta direncanakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. sudah saatnya dilakukan secara terbuka dan transparan serta dengan jangka waktu sosialisasi yang cukup. Panjang garis pantai Utara Jakarta adalah 32 km. Tujuan dari pembangunan the Jakarta Waterfront ini adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) Merevitalisasi kota tua Mengembangkan jantung kota yang baru di Jakarta Menyediakan standar pengembangan kelas dunia Membuka kesempatan terhadap pembangunan berskala besar Menciptakan level baru untuk efisiensi yang terorganisasi Membentuk kondisi kehidupan masyarakat yang lebih baik 208 . 52 Tahun 1995. maka setiap aktivitas pembangunan yang akan dilaksanakan di kawasan Pantura DKI Jakarta. Sehingga keberhasilan setiap program pembangunan di DKI Jakarta dengan semua kendala yang dihadapinya dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Mega Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta 2003-2020 dilatar belakangi oleh letak Indonesia di persimpangan antara Asia dan Australia.500 ha untuk penataan kembali kawasan pantai/revitalisasi (2) Reklamasi meliputi bagian perairan laut yang diukur dari garis pantai Utara Jakarta secara tegak lurus ke arah laut sehingga mencakup garis yang menghubungkan titik titik terluar dengan kedalaman laut 8 meter. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan salah satu kota yang perkembangannya cukup pesat di Asia Tenggara. 2.700 Ha di sebelah utara Kota Jakarta.

sumber energi listrik. dll. Sedangkan sarana pelabuhan dapat berupa: tempat menambat kapal. baik bagi pemerintah DKI Jakarta maupun masyarakat disekitarnya. darmaga tempat bersandar. tempat sampah dan unit pengolahan limbah. bengkel mesin. industri. unit perbaikan bodi kapal dan alat tangkap. Hanya saja. jalur komunikasi dan transportasi. pelindung gelombang.3. Pengelolaan kawasan di luar wilayah pelabuhan tentu saja tergantung pada siapa pemilik lahan tersebut yang juga harus berdasarkan pada peraturan yang tersedia.2 Analisis daya tampung pelabuhan perikanan di kawasan DadapKamal Muara Untuk mengkaji daya tampung pelabuhan perikanan yang terdapat di kawasan Dadap-Kamal Muara. 209 . tempat bongkar muat barang. kolam pelabuhan. bahan bakar minyak. 5. pemukiman dan rekreasi. keterbukaan dan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan akan sangat menentukan keberhasilan program ini serta seberapa besar dampak yang akan ditimbulkannya. tempat lelang ikan. baik yang berkaitan dengan tata ruangnya maupun aturan pengembangannya. Rencana yang cukup ambisius tersebut sebenarnya masuk akal jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Singapura yang telah mereklamasi sebagian kawasan pesisirnya dengan menggunakan material urukan yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.(7) Mengembangkan lahan baru untuk kegiatan bisnis. Pengelolaan wilayah pelabuhan di Dadap dan Kamal Muara secara resmi masih ditangani oleh Dinas Perikanan masing-masing kabupaten/kota khusus untuk kawasan sekitar pelabuhannya. perumahan nelayan. (1) Prasarana dan sarana Prasarana yang diperlukan dalam suatu pelabuhan perikanan antara lain mencakup: alur masuk kapal. Sebagian besar data sudah disampaikan dalam Bab 4. dan sumber air bersih. diperlukan data yang menyangkut keduan PPI/TPI tersebut.

Sehingga tidak mengherankan jika di pasar ini dapat ditemui udang sungai yang masih hidup. Bagaimanapun. Meskipun TPI Dadap sudah tidak berfungsi. Dari Gambar 5. sepeda. sisanya (70 %) masuk ke pasar 210 . pedagang yang akan membeli langsung berhubungan dengan nakhoda kapal.8. dibawa oleh pedagang dari Muara Angke. sementara ikan yang dilelang di TPI Kamal Muara hanya 15 % untuk pasar lokal. Sebagian besar ikan diborong oleh para pedagang besar yang membawa mobil sebagai alat angkut. Di TPI Kamal Muara. di PPI/TPI Kamal Muara sudah terdapat darmaga dan kolam pelabuhan. serta tempat bongkar muat ikan yang akan dilelang.Kondisi PPI/TPI Kamal Muara jauh lebih baik jika dibandingkan dengan TPI Dadap. Pola distribusi ikan yang berasal dari kawasan Dadap-Kamal Muara dapat dilihat pada Gambar 5. tetapi juga pasar eceran. atau gerobak dorong. (2) Pasokan ikan Pasokan ikan yang datang ke kawasan Dadap-Kamal Muara berasal dari kapal yang berlabuh di sepanjang Kali Perancis dan di PPI/TPI Kamal Muara. sementara di TPI Dadap belum ada. Pedagang besar memasok kebutuhan supermarket atau untuk dikirim ke Muara Angke. Kegiatan pemasaran ikan di TPI Kamal Muara tidak hanya berupa pelelangan ikan hasil tangkapan nelayan. meskipun bangunan koperasi masih berdiri dan bagian depan yang diperuntukan bagi kegiatan lelang masih tetap tidak digunakan karena perahu yang berlabuh jauh jaraknya. baik untuk ikan yang didaratkan nelayan lokal. lelang tetap berlangsung mulai jam 04 pagi sampai jam tujuh atau delapan.8 di atas dapat dilihat bahwa distribusi ikan yang didaratkan di kawasan Dadap sebagian besar didistribusikan ke pasar lokal (70 %). sementara pedagang kecil mengangkut ikan dengan menggunakan beca. Tidak ada proses lelang. atau dijajakan oleh para pedagang ikan yang menampung hasil tambak atau hasil tangkapan dari perairan umum. tetapi pendaratan ikan dari kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil (dibawah 5 GT) tetap dilakukan. tergantung jumlah ikan yang didaratkan.

elit (mal) di Jakarta. Dari keseluruhan ikan yang didaratkan di kawasan Dadap-Kamal Muara. Sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.22. TPI Dadap TPI Kamal Muara 5% 5% 70 % 15 % 65 % Pasar lokal Dadap Pasar lokal Kamal Muara Pasar elit Jakarta 10 % Pasar Kabupaten Tangerang 10 % Gambar 5. Sebagai contoh. ketersediaan fasilitas logistik yang berkaitan dengan kegiatan perikanan relatif tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar Jakarta selalu terbuka untuk ikan-ikan yang didaratkan di kawasan tersebut. fasilitas bongkar pendukung muat yang diperlukan dan untuk bekal kegiatan operasi hasil tangkapan penangkapan. maka 211 .8 Pola distribusi ikan yang berasal dari kawasan DadapKamal Muara (3) Dukungan logistik pelabuhan perikanan Perkembangan suatu pelabuhan perikanan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan penangkapan. fasilitas BBM tersedia cukup. hanya sekitar 20 % yang masuk ke Pasar Kabupaten Tangerang. Meskipun demikian. Secara garis besar. Karena tidak tersedianya SPBU khusus di TPI. meskipun jarak SPBU relatif jauh (sekitar 2 km).22. permasalahan tidak selalu terletak di sana. serta penyediaan bahan dan fasilitas perbaikan kapal dan alat penangkapan. kondisi logistik yang ada di sekitar TPI Dadap dan Kamal Muara dicantumkan dalam Tabel 5. tetapi pada kemampuan (daya beli) nelayan untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan kebutuhannya ini tentu saja akan berakibat negatif pada daya tahan mesin.500 10 Dari Tabel 5.nelayan harus membeli lewat tangan kedua (baik eceran maupun pemasok) dengan harga yang lebih mahal dari harga resmi di SPBU (berbeda antara Rp 400 – Rp 600 per liter solar). dengan perbandingan satu liter oli mesin untuk 70 liter minyak tanah.22 tersebut diperoleh kenyataan bahwa setiap faktor input yang berpengaruh pada kegiatan penangkapan ikan di sekitar perairan Pulau Jawa tersedia dengan cukup dan mudah diupayakan pada saat diperlukan. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal: • kawasan perairan pantai utara sudah mengalami keadaan tangkap lebih (overfishing). masalah sebenarnya adalah kurangnya hasil tangkapan yang diperoleh jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan untuk operasi penangkapan. Namun demikian. sehingga kelompok ikan sudah ditemukan.22 Daftar fasilitas logistik kegiatan perikanan disekitar TPI Dadap dan Kamal Muara No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FASILITAS Air bersih BBM Toko peralatan penangkapan ikan Depo es Toko bahan makanan Bengkel mesin kapal Montir mesin kapal Dok kapal/perahu Pasar umum Penjual ikan TINGKAT KETERSEDIAAN Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Tidak ada Cukup Cukup Cukup Cukup JARAK DARI (m) TPI TPI KAMAL DADAP MUARA 1 1 1 1 50 25 50 10 1 1. Dengan demikian. Jalan keluar yang dilakukan sebagian nelayan adalah melakukan pengoplosan bahan bakar minyak tanah dengan oli. Tabel 5. serta juga pada keselamatan operasional penangkapan secara keseluruhan. beban operasional nelayan menjadi lebih besar. 212 .000 25 25 10 1 2.

masuk simpang Rawa Bokor atau simpang Kamal Muara-Dadap dan Kapuk-Pluit-Kota. agar orang dapat berjalan dengan tenang. Trotoir sudah 213 . • semakin menjauhnya gerombolan ikan dari kawasan pesisir mengakibatkan diperlukannya biaya operasional penangkapan yang lebih besar. maka dukungan transportasi mudah disediakan. Jalan masuk beraspal mempunyai lebar 6 m. kondisi jalan yang rusak. sehingga kelompok ikan akan menjauh untuk mencari habitat yang baru yang sesuai dengan persyaratan hidupnya. Salah satu isu yang sekarang sedang berkembang di lokasi adalah dirasa perlu adanya trotoir di ruas Jalan Perancis dan ruas Jalan Dadap-Kamal ke arah Kosambi. sementara jarak TPI Kamal Muara ke simpang Kamal Muara-Dadap hanya berjarak 1 km. lebar. sedangkan kepadatan kendaraan rata-rata 628 mobil per jam.• kondisi perairan tepi di pantai utara Pulau Jawa umumnya sudah tercemar. karena harus mencari sumberdaya ikan ke tempat yang lebih jauh dan dalam jangka waktu yang l. yang sebagian besar disebabkan oleh tidak teraturnya kendaran umum berhenti di tengah jalan saat menaikan dan menurunkan penumpang. Dari kondisi jalan (termasuk kualitas jalan.8 km km dari jalan TOL Pintu Cengkareng.ebih lama (4) Akses transportasi Lokasi TPI Dadap dan TPI Kamal Muara relatif dekat dengan jalan TOL Jakarta Bandara Sukarno Hatta. Meskipun demikian. banyaknya kendaraan truk yang berukuran besar dengan muatan yang berat serta kualitas jalan yang kurang baik telah menyebabkan kondisi menjadi cepat mengalami kerusakan. Jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu 10 mnt. Melalui Jalan Kamal. tingkat kemacetan) dan sarana transportasi dapat disimpulkan bahwa akses transportasi tidak ada masalah dari dan ke TPI Dadap dan TPI Kamal Muara. dan saat jam kerja pabrik selesai. Jika ada barang dan permintaan. TPI Dadap berjarak hanya 6. Kemacetan kadang-kadang juga terjadi pada pagi dan sore hari.

Namun demikian. 5. atau per minggu). pada saat sekarang ini. Selain karena TPI sudah tidak beroperasi lagi. baik menyangkut berapa jumlah kapal yang dapat berlabuh. Faktor lain yang juga berkaitan dengan kapasitas pelabuhan adalah jalan masuknya. Namun demikian. (1) Kapasitas PPI/TPI Kamal Muara dan PPI/TPI Dadap Di PPI/TPI Dadap. 214 . Kondisi di PPI/TPI Kamal Muara jauh lebih baik. Jalur masuk ke kolam pelabuhan secara rutin (1 kali per tahun sampai tahun 2005) dikeruk untuk mengangkat lumpur yang mengendap di dasarnya. Untuk PPI/TPI Dadap.3. per hari. untuk mencegahnya terjebak dan terdampar di dalam sungai sehingga tidak dapat keluar. kapal ikan tidak dapat berlabuh di tepi sungai dekat TPI. Hal ini juga menyebabkan kapal ikan lebih suka untuk berlabuh di tepi pantai. sedimentasi di muara sungai telah menyebabkan terjadinya pendangkalan sehingga kapal yang dapat memasuki alur sungai menjadi terbatas. Kapal ikan dapat berlabuh di sepanjang tepi sungai dengan syarat kedalaman alurnya dapat dilalui kapal tersebut. baik karena kerusakan mesin maupun perbaikan body. dan juga jumlah kapal yang dapat dipasok dengan kebutuhan bahan dan alat yang diperlukan untuk kegiatan penangkapan. dua jalur jalan mengapit Kali Perancis. kolam pelabuhan juga banyak digunakan oleh kapal ikan untuk docking. kecuali jika sedang terjadi pasang naikair laut. meskipun cukup banyak dipenuhi oleh para pedagang kaki lima.dibangun di ruas Jalan Dadap-Kamal ke arah timur.3 Analisis model kelimpahan kapal ikan yang dapat dipindahkan dari PPI/TPI Dadap dan PPI/TPI Muara Angke ke PPI/TPI Kamal Muara Salah satu parameter yang dijadikan ukuran pada suatu pelabuhan perikanan adalah kapasitasnya. juga pendangkalan sungai telah menyebabkan kapal tidak dapat mendekati daratan tempat TPI Dadap berada. sehingga kapasitas tampung kolam pelabuhannya berkurang. jumlah kapal yang dapat ditangani untuk dibongkar muatannya per satuan waktu (per jam.

Di PPI/TPI Kamal Muara. Untuk meningkatkan kapasitas bongkar muat barang dari dan ke kapal ikan. hanya satu sisi tepi sungai yang dapat dilalui kendaraan. sehingga setiap operasi penangkapan dapat dipersiapkan sebaik mungkin untuk menjamin keberhasilan penangkapan secara optimum. dengan tersedianya prasarana ini kondisi kedalaman pelabuhan dapat dijaga secara rutin. • Unit perbaikan body dan mesin kapal serta alat tangkap. • Fasilitas istirahat bagi awak kapal yang memadai. Jadi pada waktu ada kendaraan yang sedang melakukan bongkar muat barang. hanya satu sisi jalan juga yang dapat digunakan. fasilitas tersebut antara lain: • • • pipa air bersih dengan banyak kran sehingga satu waktu yang sama dapat memenuhi kebutuhan kapal sekaligus. saat ini terjadi kelebihan kapasitas TPI Muara Angke yang mencapai 63 %. es balok dengan kualitas yang cukup. • Fasilitas pengerukan alur masuk dan kolam pelabuhan. maka arus lalulintas sedikit terganggu karena lebar jalan hanya sebesar 6 meter. atau sebanyak 315 kapal ikan yang Fasilitas- 215 . diperlukan pengadaan fasilitas yang lebih banyak dan baik. Panjang jalan di tepi kolam pelabuhan yang dapat digunakan untuk melakukan bongkar muat sepanjang 250 meter. (2) Peluang pemanfaatan kapasitas TPI Muara Angke Sebagaimana dijelaskan dalam Bab 4. Dengan demikian.sehingga pada dasarnya bongkar muat barang dapat dilakukan dari kedua tepi sungai. diperlukan khusus di areal tertentu agar tidak sembarang kapal dapat melakukan perbaikan di kolam pelabuhan. Kapal-kapal ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di Kali Perancis sebagian besar merupakan kapal pengangkut kerang hijau. sehingga harga bahan bakar tidak lebih tinggi dari patokan harga eceran. SPBU (sistempenyaluran bahan bakar umum) tersedia khusus untuk kapal ikan. pada saat proses bongkar muat hasil tangkap atau bekal operasi penangkapan ikan.

395 m /bln 250 unit 7 unit 5 unit 18 unit 3 KAPASITAS 7. maka untuk mencapai efisiensi penanganan kapal oleh TPI Muara Angke. maka jumlah kapal yang harus dialihkan adalah {315 – (5 % x 315)} = 299 unit (angka dibulatkan). Dari Tabel 5.24 tampak bahwa jika kelebihan kapasitas kapal ikan dari TPI Muara Angke dapat 216 . dibuat suatu matrik pergerakan atribut dari ke tiga TPI yang terlibat dalam sistem dicantumkan pada Tabel 5.23. maka harus dilakukan rehabilitasi fasilitas pelabuhan. yaitu: (1) (2) (3) kelebihan kapal yang mendarat sebanyak 299 unit per bulan semua kapal merupakan kapal ikan jenis purse seine semua kapal aktif beroperasi pada waktunya Untuk membuat model pergerakan kapal ikan dari TPI Muara Angke dan TPI Dadap ke TPI Kamal Muara. sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.23 Daftar fasilitas yang perlu dikembangkan di TPI Kamal Muara untuk menampung kelebihan kapasitas TPI Muara Angke KEBUTUHAN PRASARANA A Pabrik es B C E F G H I Cool room/chill room Cold storage Air bersih Sentra pengolahan tradisional (UKM) Sarana/peralatan pengolahan Gudang garam Kontainer JUMLAH 1 unit 5 unit 1 unit 2.000 m3/bln 50 ton 5 ton 15 ton/hari 432 ton D Cool box Sumber: Disnakanlut (2005) Untuk melakukan analisis terhadap pengelolaan kelebihan kapasitas (daya tampung) kapal di TPI Muara Angke. beberapa asumsi harus ditentukan.000 balok 750 ton 1. Tabel 5. Untuk mengalihkan kapal tersebut ke TPI Kamal Muara.000 ton 200 ton 5.000-8. Tanpa memperhitungkan jumlah kapal yang tidak dapat beroperasi karena kenaikan harga bahan bakar.000 3.harus ditata ulang. dengan asumsi deviasi sebesar 5 %.24.

Penurunan jumlah pendapatan dari ongkos sandar kapal di kolam pelabuhan. seperti bahan bakar. es. (3) Penurunan volume perdagangan sarana dan prasarana penangkapan ikan. dan TPI Muara Angke ATRIBUT (1) Tersedia 1) Kapal ikan 2) Nelayan 3) Bahan bakar 4) Es 5) Cold storage 6) Komplek pengolahan 7) Bengkel/dok 8) toko peralatan tangkap 9) kebersihan lingkungan 10) keamanan/ketertiban 11) Retribusi 12) Land rent 13) Lowongan kerja 14) Pengerukan Kolam pelabuhan dan alurnya 15) Restoran seafood TPI MUARA TPI KAMAL ANGKE MUARA TPI DADAP (2) Perencanaan 1) Taman Wisata Pasir Putih Mutiara Dadap 2) Kapal Baruna Jaya 3) GOR Kamal Muara 4) Water front city 5) Pelabuhan peti kemas Keterangan: = keluar/pindah = dibangun = mengalami kenaikan 217 . Pergerakan atribut TPI Dadap. diperlukan pembangunan TPI Kamal Muara dan TPI Dadap untuk pengadaan fasilitas-fasilitas tersebut. maka bilamana pengalihan itu dilaksanakan. dan perbekalan ransum.dialihkan ke TPI Kamal Muara.24. TPI Kamal Muara. air PAM. Tabel 5. Penurunan jumlah kapal yang berlabuh di TPI Muara Angke diduga akan membawa dampak sebagai berikut: (1) (2) Penurunan jumlah hasil retribusi lelang.

026 0.000032 0.375 1. PRASARANA/ SARANA PPI Lebar alur masuk3) (m) Panjang darmaga sandar4) (m) Luas kolam pelabuhan/ darmaga2) (m2) Kedalaman kolam5) (m) Volume kolam (m3) Frekuensi keruk (perth) Volume keruk Air (m3) (m3) bersih6)/bulan BBM7) per bulan(ton) Oli per bulan8) (ton) R.000 75 75 0.6 0.13 0.003 0.25.0038 0.004 0. Kapasitas awal TPI Kamal Muara adalah 15 unit kapal ukuran 10 GT (lihat Tabel 4.5 1 0 1.250 1. 8. 17.0014 0.Untuk membandingkan kondisi awal dan kondisi prediksi TPI Kamal Muara setelah terjadinya pemindahan kapal ikan yang berlebihan. 15.750 1 1. 10.0024 0.055 kIDEAL 0.053 No 1.433 0 0.76 0.0024 0. 2005).250 1.8 FAKTA 35 50 1.216 5 0. 13.07 0. 14.25 Nilai konversi variabel sarana dan prasarana pelabuhan perikanan di Kamal Muara (kapasitas pelabuhan untuk sebanyak 500 unit kapal berukuran 50 GT (perubahan dari total bobot kapal 2.032 0.310 GT ke 25. 7.75 1. 6.000 5 120. 3.00043 0.032 0.002 0.05 0. 16.000 1. 5.400 125.57 1 0 0. panjang kapal maksimal 30 m.49 0.012 0.043 6. 12.004 0.016 0.022 0.375 1.055 0.312.13 0.000 300 0. Tabel 5.8 75 60 100 15.0002 4.003 ideal 0.055 0.375 3. 2.896 0. sebagaimana kapasitas awal TPI Muara Angke.000 GT)1) UKURAN IDEAL 60 400 24.015 0.000 8. kenyataannya jumlah 218 .00035 0.032 k-FAKTA realitas 0.003 0.penanganan14)(m2) R pengolahan14) (m2) Keterangan: k = faktor konversi per GT kapal ikan Beberapa asumsi yang diambil adalah: 1) kapal yang akan ditampung sebanyak 500 unit yang masing-masing berukuran 50 GT.00004 0. maka dibuat suatu nilai konversi dari variabel-variabel yang terkait dengan pengembangan suatu pelabuhan perikanan.16).000 2 96. 4.375 5. pelelangan9) (m2) Ruang perbaikan alat tangkap ikan10) (m2) Dok/bengkelan11) (m2) Es balok)12) /bulan) Cold storage13) (ton) R.84 0. dan tinggi 2 m (Mahdi. 11.055 0. 9. Dimensi lebar kapal maksimal 6 m. Nilai konversi dari variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.04 0.000 3.

dengan volume hasil tangkap per kapal sebanyak 10 ton ikan. luas gedung pelelangan diperhitungkan berdasarkan rumus S = NP/Rα. jadi untuk 250 kapal per bulan = 1 jt liter = kebutuhan oli rata-rata per kapal per trip = 35 liter.16-0. P = faktor daya tampung ruang terhadap produksi. jadi lebar kolam pelabuhan sebesar {(2 x 6) + 40} m = 52 m. lebar = 2 B + (30. N = jumlah produksi per hari {(250 x 10) ton/25 hari} = 100 ton. dan t = lama hari kerja per tahun. rata-rata sebesar (11 ton/m2). R = frekuensi pelangan per hari (2 kali per hari). untuk kebutuhan penanganan ikan di tempat pelelangan 100 liter per ton ikan. 2002) = panjang Kali Kamal yang diasumsikan dapat dikembangkan menjadi tempat darmaga bongkar = menurut Murdiyanto (2002) kedalaman kolam pelabuhan sebesar {jarak lunas kapal dari dasar kolam (0.5) m = 4. diasumsikan sebesar ruang pelelangan.0 ~ 40. dibulatkan 5 m = kebutuhan air bersih setiap kapal dengan 30 orang ABK untuk beroperasi selama 20 hari per trip adalah (20 x 30 x 5 liter) = 3 m3. α = rasio antara ruang lelang dan gedung pelelangan (0. dimana S = luas gedung pelelangan.12 + 1. atau jika menghitung panjang kapal maka lebar kolam pelabuhan minimal dua kali panjang kapal.28 kali setahun selama masing-masing 5. jadi untuk 250 kapal per bulan = 8. l = lama hari docking.375 m2 = ruang perbaikan alat penangkapan ikan. dimana N = jumlah kapal. maka luas keseluruhan dock sekitar 5. yaitu 1.5 GT.12 unit kapal. L = panjang kapal. panjang Kali Kamal yang dapat dimanfaatkan untuk darmaga sepanjang 400 m. Jumlah kapal yang pergi melaut sebanyak 50 %.4)+ jarak antara dek kapal dengan lantai darmaga (0. Dengan asumsi dimensi kapal sebagaimana tercantum dalam point 1) di atas.750 liter = menurut Murdiyanto (2002).250 m3 3) 4) 5) 6) 7) 8) = jumlah BBM per trip 4.5)} m = (1. = 8-10 kali lebar kapal (Murdiyanto. 2) panjang darmaga = d = {n. n = frekuensi perbaikan per hari.076 buah dengan ukuran > 10 GT dan 21 unit dengan ukuran 5-10 GT. Sehingga luas gedung pelelangan yang diperlukan seluas 1. Jadi jumlah dock yang perlu dibangun harus mempunyai kapasitas untuk 22.4). ditambah jarak antara kapal yang didocking sebesar 2 m. yaitu sebesar 56 m.400 m2.375 m2 = ruang bengkel (workshop) dan dockyard diperhitungkan berdasarkan pada laporan Kurniawati (2005) bahwa kapal purse seine rata-rata melakukan docking sebanyak 2. = jumlah es balok yang digunakan dalam satu trip diasumsikan sebanyak 500 balok (@ 40 kg) 9) 10) 11) 12) 219 . dibulatkan sebanyak 22.62 m. 2002).310 GT (angka dibulatkan). Jadi kebutuhan air per bulan = (50 % x 500 x 13) m3= 3.5 ~ 1.L + (n-1) 15. Diasumsikan bahwa ke 1. dan B = lebar (Murdiyanto.0 + 50. dimana n = jumlah kapal yang akan ditampung di darmaga.000 liter per kapal. Dengan jumlah kapal yang ditampung sebanyak 500 kapal.076 kapal mempunyai GT rata-rata sebesar 20 GT dan yang 21 unit sebesar 7. diasumsikan 300 hari kerja.0 + 2 + 1. maka jumlah dock yang diperlukan mengikuti rumus Nnl/t.0) + tinggi draft kapal (2 m) + beda pasang tertinggi dan terendah (1.8 ~ 1.0) m.0} m. maka GT total semua kapal yang berlabuh di TPI Kamal Muara adalah sebesar 2.kapal yang berlabuh di TPI Kamal Muara sebanyak 1.82 hari.

Model matematika dari hubungan antara jumlah kapal yang dipindah dari TPI Muara Angke ke TPI Kamal Muara dengan pembangunan (ketersediaan) fasilitas pelabuhan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: Yi = ki .353.71 20.38 3. 88 2.000 43.09 6.69 1. n. maka model perubahan fasilitas pelabuhan dikaitkan dengan jumlah kapal yang dipindah dapat dilihat pada Tabel 5.21 92.936. Tabel 5. 84 1.26 41..53 7.26. Lebar alur masuk3) (m) Panjang darmaga sandar4) (m) Luas kolam pelabuhan/ darmaga2) (m2) Kedalaman kolam5) (m) Volume kolam (m3) 35.47 195. 220 . Rumus perhitungan GT kapal berdasarkan Kepmen DKP No 10/2003 GT = (a + b)0..000 60 400 24.24 67.306.98 263. 2.0 00 PRASARANA/ SARANA PPI 1.19 3. 2.03 2. 3.000 54.49 331.000 37. sehingga kapasitas cold storage yang tersedia harus sebesar = 50 % x 250 kapal x 10 ton = 1. 3.92 3.57 15.13) = diasumsikan 50 % dari ikan hasil tangkap bermutu baik dan perlu disimpan di cold storage. 5.X Dimana: X Y i = bobot kapal dalam GT. 32 1.7 5 4. dimana a = volume ruang tertutup di bawah dek.845. faktor fasilitas pelabuhan yang berubah oleh bobot kapal.96 126. untuk kapal ukuran < 50 GT = fasilitas pelabuhan di TPI Kamal Muara = 1.12 93.387.500 5.96 4.00 0 5 120. . 86 25.43 10. 36 4.47 15.6 9 19.000 48..60 1.26 No Model perubahan jumlah kapal yang pindah dan fasilitas pelabuhan yang perlu ditingkatkan NILAI IDEAL DARI PRASARANA/SARANA PPI KAMAL MUARA BERDASARKAN TOTAL BOBOT KAPAL YANG HARUS DIPINDAH 2..290.250 ton.0 6 9. Dengan menggunakan program visual basic. b = volume ruang tertutup di atas dek).3 76 14.

89 5.081 3.1 2 10. 75 382.109.56 53.000 1.754.0 6 795.27 Besaran jumlah ikan dan nilai retribusi yang diperkirakan dapat diperoleh dari operasional 299 unit kapal ikan di TPI Muara Angke (data diolah dari Tabel 4.12 11.232.000 1.262 3.. 09 100. 10.penanganan14)( m2) R pengolahan14) (m2) 1. 7.9 0 728. 17 76.00 0 3.92 produksi ikan lokal (x Rp 1. Tabel 5. 16.8 6 0.11 dan Tabel 4.187 Total produksi ikan lokal Nilai retribusi lelang dari total 1.896.1 9 845.584. 5.1 2 215.1 2 229.24 974.01 5. pelelangan9) (m2) Ruang perbaikan alat tangkap ikan10) (m2) Dok/bengkelan11) (m2) Es balok)12) /bulan) Cold storage13) (ton) R.744 8.0 00 1.000 1.340.78 74.8 8 1.693.375 1.69 0.89 85. Tabel 4. PARAMETER 2002 2003 2004 8.12).944.Lanjutan Tabel 5.10. 15. 11.258.088.75 1.5 9 15. 1 2.3 8 15.75 7.375 1.250 1.330.7 60.162. 17. 37 691.6 5 515.00 1.085.74 423.99 148.27.92 1.25 882.87 85.26 2.47 85.080 137.000 1. 31 2.000 8. 9.11 10.5 9 505.74 229.527 Jumlah kapal ikan yang tambat labuh 378.14 1.472. 144.49 699.4 5 3.266.61 2.920 8. 53 1.5 5 1.812 524.232 149.615.49 5.845.9 9 1.000 2 96.0 6 802.5 9 515. 3.000) 3.01 803.28 0.500 6.064.0 6 20.92 1.23 1.177 Nilai rata-rata retribusi per kapal ikan Perkiraan nilai retribusi dari 299 108. 12.622 kapal ikan 221 . 14.762.38 1. 8.49 515.280 480.04 0.34 32.2 3 4.2 4 3.088.5 3 1.375 Besarnya nilai penurunan akibat dialihkannya ke 299 unit kapal ikan tersebut dapat dihitung sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. 53 25.1 0 802.3 4 28.235.375 13.400 125. 4.89 71. 56 537. Frekuensi keruk (perth) Volume keruk (m3) Air bersih6)/bulan (m3) BBM7) per bulan(ton) Oli per bulan8) (ton) R.18 1.52 0.018. 841 305. 25 52.685.6 7 1.088.250 1.307.53 5.1 9 229.

2006 Gambar 5. nilai retribusi ini tidak akan hilang dari kas keuangan daerah Kota Jakarta Utara.00 2007. maka pada tahun pertama dapat dipindah sebanyak 2942 GT. dan TPI Dadap dalam skenario optimasi TPI Kamal Muara Dari Gambar 5.00 Years 2009. karena perpindahan tempat pendaratan kapal dari TPI Muara Angke ke TPI Kamal Muara masih ada dalam suatu wilayah administrasi.9. dan secara tetap dapat dipindah sebanyak ini pada tahun-tahun 222 .00 2011.9 Kurva laju perubahan keseimbangan jumlah kapal di TPI Muara Angke. TPI Kamal Muara. 1: kplTPI Muara AÉ 2: TPI Dadap 1: 2: 3: 4: 5: 45000 1954 30000 20000 400 1 2 3 5 2 1: 2: 3: 4: 5: 30000 1204 15000 10000 250 4 3 1: 2: 3: 4: 5: Page 1 15000 454 0 0 100 4 3 5 3 3 3: TPI Kamal Muara 4: kplpindahdrMA 5: jmlkpl pindahDdÉ 2 5 1 1 4 4 5 1 2 4 5 1 2 2006.Dari Tabel 5. dan TPI Dadap menggunakan Stella dapat dilihat pada Gambar 5. diperkirakan akan dihasilkan nilai retribusi sebesar Rp 137.00 2008. dari jumlah 815 sekarang ini sampai kembali ke kapasitas awal yang direncanakan sebanyak 500 kapal. Secara teoritis. Tetapi dampak ikutan dari proses pembangunan TPI Kamal Muara dan pemindahan kelebihan kapasitas tampung TPI Muara Angke tersebut dapat memancing kegiatan ekonomi yang lebih besar.00 10:19 AM Sat. Nilai retribusi bulanannya berarti sebesar Rp 11. Prediksi perubahan jumlah kapal di TPI Muara Angke.9 tampak bahwa perubahan jumlah kapal di TPI Muara Angke akan terjadi secara drastis dalam kurun waktu satu tahun pertama.27 di atas dapat dilihat bahwa untuk jumlah kapal ikan sebanyak 286 unit.00 2010.33 juta rupiah per tahun untuk tahun 2004. Jika dijadwalkan pemindahan kelebihan kapal ikan tersebut berlangsung selama lima tahun.44 juta. TPI Kamal Muara. Apr 29.

Sementara itu. Model Stella yang dapat dibuat untuk menggambarkan sistem tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5.berikutnya.10. pemindahan kapal sebenarnya dapat dilakukan tuntas.10 Model kualitatif perpindahan sebagian armada penangkapan ikan ke TPI Kamal Muara 223 . Bentuk kurva pindah kapal dan kapal yang tersisa mempunyai bentuk yang relatif sama. hanya saja tergantung pada peningkatan prasarana dan sarana pelabuhan sesuai dengan yang direncanakan. sedangkan persamaannya dicantumkan dalam Lampiran 6. pola perubahan jumlah kapal yang dipindahkan dari TPI Dadap dan jumlah yang tersisa bentuknya sama. Hanya saja pada tahun pertama tersebut.

224 .11 Causal loop yang diasumsikan dapat terjadi pada proses pindah kapal ikan dan investasi fasilitas pelabuhan Dari Gambar 5.Salah satu causal loop dari model ini yang diprediksikan dapat terbentuk dicantumkan dalam Gambar 5. 2) Peningkatan jumlah kapal ikan yang disertai oleh terpenuhinya prasarana dan sarana serta fasilitas operasional penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapnya akan menghasilkan peningkatan produksi hasil tangkap. PEMDA TANGERANG PRODUKSI IKAN + + + + PROGRAM WISATA BAHARI PPI/TPI DADAP + + PPI/TPI KAMAL MUARA + PEMDA DKI + + + PEMBANGUNAN FASILITAS PPI/TPI PPI/TPI MUARA ANGKE Gambar 5. baik oleh restoran seafood.11. 4) Berbarengan dengan hal tersebut. maka yang akan terjadi adalah: 1) Pemda DKI Jakarta harus meningkatkan fasilitas fisik yang berkaitan dengan operasional PPI Kamal Muara. selain itu.11 tampak bahwa bilamana dilakukan pemindahan sebagian kapal ikan dari PPI Muara Angke dan PPI Dadap ke PPI Kamal Muara. perkembangan kegiatan wisata bahari yang direncanakan di PPI Dadap juga akan menyerap hasil tangkapan ikan dari PPI/TPI Kamal Muara. para pengolah produk diversifikasi ikan. maupun pedagang eceran ikan. fasilitas pelelangan dan pemasaran ikan akan meningkatkan volume ikan yang diperjualbelikan. 3) Dampak langsung dari peningkatan volume produksi dan pemasaran ikan akan secara otomatis meningkatkan nilai retribusi ke PEMDA DKI Jakarta.

(2) Relokasi dan kapal-kapal ikan yang berukuran kecil.000 GT. rumah makan.9 terjadi secara gradual dalam jangka waktu 5 tahun tersebut. baik ke daerah-daerah lain yang memiliki sumberdaya ikan di perairan pantai yang masih baik. baik dari ukuran kapal dan alat penangkapnya maupun daya jangkaunya ke fishing ground. keamanan. Jumlah kapal ikan di TPI Kamal Muara meningkat secara tajam setelah tahun pertama. 225 . dimana total jumlahnya adalah sebanyak 25. baik yang berkaitan langsung dengan kegiatan wisata bahari tersebut. maupu dialih-fungsikan untuk aktivitas lain yang masih berkaitan dengan keahlian nelayan. maupun yang tidak langsung seperti souvenir. 6) Berkembangnya kegiatan ekonomi di Dadap secara otomatis harus juga dapat meningkatkan PAD Kabupaten Tangerang. Hal ini terjadi karena adanya kapal yang masuk dari TPI Muara Angke dan TPI Dadap. mengingat saat ini jumlah kapal sebenarnya 2. sarana parkir. secara otomatis akan menyebabkan timbulnya efek ganda. Bentuk kurva yang menaiki tajam sampai akhir tahun kedua diduga karena jumlah unit kapal sebenarnya lebih banyak dari yang tercatat. untuk sport fishing. Hal ini akan menyebabkan terjadinya proses penyesuaian diri antara jumlah kala dengan ketersediaan fasilitas yang tersedia. antara lain: kapal pemandu wisata pesisir. dan juga untuk transportasi antar pulau.000 kapal dengan ukuran berat berbeda. Pertambahan jumlah kapal di TPI Kamal Muara sebagaimana tampak dalam Gambar 5. untuk layaran. seperti: penyediaan umpan. Artinya persiapan pengembangan fasilitas di TPI Kamal Muara memang memerlukan waktu yang cukup lama sebelum siap untuk menampung kapal-kapal pindahan tersebut. Namun demikian.5) Peningkatan aktivitas wisata bahari di Dadap yang melibatkan nelayan pemandu. dll. peralatan pancing. maka beberapa strategi pengelolaan kapal penangkap ikan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut: (1) Berkurangnya sumberdaya ikan di perairan pantai mengharuskan dilakukannya kerjasama kelompok nelayan untuk membentuk suatu unit armada penangkapan ikan yang lebih besar.

251 1.282 GT. Tabel 5.28. (4) Mengembangan fasilitas pelabuhan TPI Kamal Muara sesuai dengan kapasitas yang direncanakan.563 1.954 1. kemudian sudah mulau terjadi proses pindah sebagian kapal dari Muara Angke dan Dadap.492 2011 640 Catatan: nilai dibulatkan. Pada akhir tahun 2007. namun hasil analisis Stella menunjukkan bahwa perubahan jumlah kapal yang terjadi pada tahun 2011 tidak sebesar yang direncanakan.492 2.391 18.630 26.282 40.195 20. TPI Dadap akan menisakan jumlah kapal sebanyak 640 GT. TPI Kamal Muara.000 800 50 15.28. dengan berlakunya persyaratan ukuran kapal sebesar 50 GT.324 15. Data perubahan keseimbangan jumlah kapal di TPI Muara Angke.308 20.(3) Melakukan peremajaan kapal ikan yang sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Data pola perubahan keseimbangan jumlah kapal (dalam GT) di TPI Muara Angke. 226 .750 25.492 2. Dari Tabel 5. dari yang direncanakan sampai jumlah 500 GT. Pada tahun 2006 menunjukkan data awal yang ada di setiap TPI. sementara di TPI Kamal Muara jumlahnya mencapai 26.832 391 313 250 200 160 2.800 23.492 2.492 2.28 tampak bahwa meskipun direncanakan untuk memindahkan jumlah kapal dari TPI Muara Angke dan TPI Dadap dalam persentase yang sama untuk tiap tahun selama jangka waktu lima tahun. dan TPI Dadap dalam skenario optimasi TPI Kamal Muara selengkapnya dicantumkan dalam Tabel 5.816 18. dan TPI Dadap dalam skenario optimasi TPI Kamal Muara dari tahun 2006-2011 kpl Kplp indah Kpl Jml Tahun Jml kapal di TPI Jml kapal Jml Dadap di TPI TPI Muara pindah dari dr TPI MA TPI Dadap Angke Kamal Muara 2006 2007 2008 2009 2010 1. TPI Kamal Muara.938 23. (5) Membentuk suatu lembaga pengelolaan terpadu diantara Dinas Teknis terkait di Kabupaten Tangerang dan di Kota Jakarta Utara.

1 kapal yang diharapkan merupakan suatu tempat yang terlindung dari gangguan laut. Murdiyanto (2004) membuat padanan untuk istilah harbour dengan bandar. pelabuhan adalah tempat berlabuhnya kapal- 5. Pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan didasarkan pada hasil dari pengalaman dalam jangka waktu yang lama. terkait dengan proses lelang (Dubrocard dan Thoron 1998). Dubrocard dan Thoron (1998) menyatakan bahwa suatu pelabuhan dapat digambarkan sebagai suatu tempat dimana berlangsung mekanisme transportasi barang-barang yang berasal dari daratan menjadi barang-barang yang berasal dari laut. Artinya. Diantara kedua tipe pelabuhan ini ada juga yang termasuk pelabuhan semi alam. Pelabuhan menawarkan dua macam pelayanan. Pelabuhan seperti ini disebut pelabuhan alam.4. maupun fasilitas pengembangan yang dilakukan di TPI Dadap. baik yang diperlukan oleh TPI Kamal Muara. dan pemecah gelombang harus dibangun secara penuh. dan sebaliknya. Suatu lokasi di pantai dapat memenuhi persyaratan ini dengan kedalaman air dan besaran kolam yang cukup untuk ukuran tertentu.Hal ini mungkin terjadi karena adanya perkembangan yang tidak linier dari pembangunan fasilitas. dalam arti pelabuhan buatan. Mengacu pada definisi yang tercantum dalam International Maritime Dictionary. 5. Istilah port dipadankan dengan pelabuhan. terjadinya antrian akan sangat mempengaruhi nilai dari muatannya tersebut. sehingga bongkar muat dapat dilaksakan untuk menjamin keamanan barang. Hal ini tidak hanya waktu tunggu yang penting tetapi lebih pada harga ikan yang dapat dicapai saat lelang. jika ikan 227 . Tipe tempat lain yang dibentuk dan diperuntukan bagi berlabuhnya kapal adalah pelabuhan buatan. yaitu pelayanan kapalnya dan pelayanan muatannya. yaitu suatu pelabuhan alam yang tidak selalu memiliki fasilitas buatan. sehingga hanya dibutuhkan adanya suatu dermaga (wharf) tempat ditambatkannya suatu perahu. Dalam kaitannya dengan kapal ikan. dimana alur masuh dan kolam pelabuhan.4 Skenario pengembangan dan pengelolaan pelabuhan perikanan di kawasan TPI Dadap dan TPI Kamal Muara Penentuan lokasi pelabuhan perikanan Menurut Kramadibrata (2002).

5) Ada kegiatan perbaikan perahu dan suplai kebutuhan awak kapal. Ada kegiatan pemeliharaan dan perbaikan kapal/perahu di dermaga/ pelabuhan. air. yaitu: ukuran dan tipe kapal yang akan digunakan. Guckian (1974) menambahkan bahwa pembangunan fasilitas di suatu pelabuhan harus ditentukan pada dua faktor. suatu kapal ikan yang berlabuh di sebuah pelabuhan sudah harus mempunyai pertimbangan tentang adanya biaya 228 . Pelabuhan Perikanan Dadap dan Kamal Muara. keterlibatan arsitek kelautan. dan bahan lainnya. Menurut Dubrocard dan Thoron (1998). teknik sipil. 4) Diperlukan suatu penanganan ikan hasil tangkap. seperti peralatan tangkap. Ada proses gerakan kapal melalui suatu alur yang dangkal yang berbahaya. master penangkapan. atau di pantai. bars. Fungsi pelabuhan ini berkembang lebih disebabkan oleh kebutuhan terhadap suatu tempat bersandarnya kapal-kapal ikan yang memerlukan tempat berlindung dari ombak dan angin. arus kencang. dll. jika dilihat dari bentuk fisik dan tataletaknya bukanlah suatu pelabuhan yang ideal yang sejak awal secara resmi direncanakan untuk dibuka oleh pemerintah (meskipun kemudian beberapa fasilitas pendukung dibangun di sekitarnya).yang dibongkar tersebut menambah jumlah ikan yang sudah ada di pelelangan. es. bahan bakar. dan sosiologi. baik dari perahu ke darat maupun ke kapal/perahu lainnya. ahli ekonomi. Menurut Guckian (1974). 6) 7) Ada kegiatan penanganan dan pengolahan ikan di pantai. spesialis industri perikanan. surf. dikhawatirkan akan terjadi penurunan harga karena kelebihan pasokan di pasar. dan aktivitas khusus yang memerlukan pelayanan khusus pula. Karena kondisi muara sungai di kedua daerah tersebut relatif dangkal dan laju sedimentasi cukup besar. 3) Diperlukan suatu prasarana penambatan (berthage) dan berlabuh (anchorage) kapal/perahu yang aman untuk terapung (afloat). seperti pantai berkarang. suatu lokasi akan memerlukan pembangunan fasilitas pelabuhan jika: 1) 2) Ada kegiatan peluncuran kapal/perahu ke suatu perairan. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam suatu pembangunan pelabuhan.

dan slipways. yang ditentukan oleh kapasitas pelabuhan dan permintaan untuk mendapatkan pelayanan pelabuhan tersebut. kecuali jika terjadi kerusakan mesin yang relatif parah sehingga memerlukan montir yang lebih akhli. berfungsi untuk melindungi kapal dari pengaruh buruk yang diakibatkan oleh kondisi oseanografis seperti gelombang. bongkar muat ikan. arus. berlabuh. Menurut Kramadibrata (2002) dan Murdiyanto (2002). digunakan untuk kapal bertambat. c. bollards piers.tunggu. dan saat menganggur (idle berthing). Untuk kasus TPI Dadap dan TPI Kamal Muara. Fasilitas dapat berbentuk alur atau kanal pelayaran atau kolam pelabuhan. tidak mengandalkan bengkel khusus. groin. yaitu: (1) Fasilitas pokok (basic facilities). Fasilitas ini dapat berupa breakwater. fasilitas perlindungan (protective facilities). yang mencakup: a. mooring quays. fasilitas perairan pelabuhan (water side facilities). maupun untuk pemuatan ransum dan keperluan operasi penangkapan. b. pasang. Untuk kegiatan servis mesin dan kapal juga dilakukan oleh awak kapal sendiri. baik untuk ikan hasil penangkapannya. Mereka mempertimbangkan waktu pelayanan bongkar muat menjadi penentu utama kualitas pelayanan pelabuhan yang disediakan. luapan air di muara sungai. belum diperlukan sistem analisis khusus untuk membahas teori antrian di TPI Kamal Muara. Oleh karena itu. (2) Fasilitas fungsional terdiri dari berbagai fasilitas yang berfungsi untuk melayani berbagai kebutuhan lainnya di areal pelabuhan tersebut. erosi. kelengkapan fasilitas dalam suatu pelabuhan perikanan haruslah mencakup dua unsur utama. atau bangunan maritim lainnya. pelayanan yang dilakukan oleh pelabuhan sebenarnya hampir tidak ada. fasilitas tambat (mooring facilities). berguna untuk pintu masuk pelabuhan dan manuver kapal di areal pelabuhan dan untuk kapal berlabuh (anchorage). dsb. seperti 229 . Hal ini tampak karena setiap kapal ikan melakukan bongkar muat sendiri. Kualitas pelayanan ini diukur dengan keterlambatannya (the delay). tembok laut. Fasilitas ini dapat berupa dermaga pendaratan. aliran pasir.

mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri Kelautan 230 . layanan komunikasi. instalasi pengolahan limbah dan saluran pembuangannya. jika faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kegiatan perikanan tidak diteliti dengan cermat. ekonomi. tempat penanganan dan pengolahan ikan. Banyak kasus program pembangunan pelabuhan yang dilakukan oleh pemerintah tidak dapat dimanfaatkan sama sekali. baik hancur karena arealnya tergerus abrasi atau tidak dapat difungsikan karena sudah cukup jauh dari tepi pantai. layanan transportasi. perbengkelan untuk perbaikan dan pemeliharaan kapal.bantuan navigasi. baik dari aspek teknis-biofisik. Namun demikian. layanan kebutuhan air bersih dan perbekalan melaut (makanan. maupun sosial. PPI/TPI Dadap sudah kurang layak lagi untuk dijadikan pangkalan pendaratan ikan. dsb). baik karena tidak ada pembeli. maupun karena faktor keamanan berlabuh yang kurang sempurna. sarana penangkapan. fisilitas darat untuk perbaikan jaring. 5.4. Proses pembangunan fisik pelabuhannya sendiri dapat dilakukan dengan cepat asalkan dananya tersedia. tidak dilengkapi fasilitas kegiatan perikanan yang memadai. Penyebab terjadinya semua kegagalan tersebut adalah faktor perencanaan yang tidak baik dan tidak terpadu. Kasus lain lagi ada pelabuhan yang tidak dipakai karena nelayan tidak ada yang mau mendaratkan kapalnya. serta faktor pengawasan pelaksanaan pembangunan pelabuhan tersebut yang sangat lemah. Temuan lapangan dari Program Pembangunan dan Peningkatan Sarana Pelabuhan Perikanan di Indonesia tahun 1998-2000 diperoleh data ternyata beberapa pelabuhan perikanan tersebut ada yang sudah rusak sebelum difungsikan. layanan suplai kebutuhan bahan bakar minyak dan pelumas. Keseluruhan proses tersebut tercakup dalam studi kelayakan dan kajian amdalnya. Secara teknis. hal ini belum menjamin suatu pelabuhan akan dapat berkembang dengan baik. dlsb.2 Kelayakan teknis pelabuhan perikanan Untuk membangun suatu pelabuhan diperlukan suatu proses perencanaan yang komprehensif (menyeluruh). layanan kesejahteraan sosial bagi nelayan dan umum. atau dapat dimanfaatkan tetapi jauh dibawah kapasitas optimal.

(3) perairan seperti kolam. yang meliputi: (1) pelindung seperti breakwater. yaitu dalam hal berikut: 1) Tidak lengkapnya fasilitas-fasilitas yang ada di PPI/TPI Dadap. lampu suar. (4) kios IPTEK. Ketiadaan fasilitas yang tersedia menyebabkan fungsi pelabuhan perikanan sebagaimana yang dinyatakan oleh Lubis (2002). baik yang berdasarkan pendekatan kepentingan maupun pendekatan aktivitas. tidak dapat dijalankan semua. serta (5) tempat penyelenggaraan tugas pemerintahan seperti keselamatan pelayaran. dan karantina ikan. seperti mess operator. Fungsi yang dapat berjalan hanya fungsi pemasaran yang juga tidak dilakukan di TPI. seperti: (1) balai pertemuan nelayan.. (7) belum tersedianya alat transportasi ikan dan bahan perbekalan penangkapan. drainase. bengkel dan tempat perbaikan jaring dilakukan oleh dan ditempat nelayan sendiri. bea dan cukai. (5) tempat penanganan dan pengolahan hasil perikanan tidak tersedia. 2) Tidak tersedianya fasilitas penunjang. pengawas perikanan. dan menara pengawas. dan alur pelayaran. fasilitas fungsional yang terdiri dari: (1) tempat pelelangan ikan sebagai tempat pemasaran hasil perikanan (tidak difungsikan lagi). es. pos jaga.dan Perikanan No. internet. (4) pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan seperti dock/slipway. keimigrasian. (3) kurangnya suplai air bersih. listrik. (2) tidak ada sistem navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telepon. rambu-rambu. demikian juga laboratorium pembinaan mutu. dan (5) lahan pelabuhan perikanan.16/MEN/2006 tanggal 23 Juni 2006 tentang Pelabuhan Perikanan (DKP 2006) dan Lubis (2002) tentang fungsi pelabuhan perikanan. dan pos pelayanan terpadu. SSB. jembatan. (6) tidak berfungsinya perkantoran untuk administrasi pelabuhan. kesehatan masyarakat. baik fasilitas pokok. dan groin. revetment. (4) penghubung seperti jalan. (2) tempat tambat seperti dermaga dan jetty. dan MCK. (3) fasilitas sosial dan umum. goronggorong. (2) tempat pengelolaan pelabuhan. seperti tempat peribadatan. PER. K3. 231 . serta (8) belum adanya TPA (tempat pengolahan limbah) seperti instalasi pengolah air limbah (IPAL).

4. SSB.3 Aspek kelembagaan pelabuhan perikanan Keberhasilan suatu aktivitas pembangunan. kondisinya jauh lebih baik. serta (2) tempat penyelenggaraan tugas pemerintahan seperti keselamatan pelayaran. Ketiadaan fasilitas yang tersedia tersebut memang tampaknya belum diperlukan untuk pelabuhan perikanan yang berukuran kecil dan skala usahanya hanya tingkat lokal saja.Untuk kasus PPI/TPI Kamal Muara. 3) Fasilitas penunjang belum lengkap. 5. ramburambu. keimigrasian. pelelangan ikan malah dilakukan di jalan di depan TPI. (2) fungsi pendaratan dan pembongkaran. serta (3) fungsi pemasaran. kesehatan masyarakat. lampu suar. serta (7) belum adanya TPA (tempat pengolahan limbah) seperti instalasi pengolah air limbah (IPAL). Sebagai contoh: 1) Fasilitas pokok belum lengkap. meliputi: (1) fungsi jasa. (6) tidak tersedia laboratorium pembinaan mutu. listrik. sangat dipengaruhi oleh aspek kelembagaan yang merupakan sebuah kerangka pengelolaan yang efektif. (5) tempat penanganan dan pengolahan hasil perikanan tidak tersedia. seperti: (1) kios IPTEK. dan menara pengawas. Di sini hampir semua fungsi pelabuhan dan tempat pelelangan ikan masih berfungsi meskipun belum sempurna. es. dan karantina ikan. seperti tidak tersedia breakwater sebagai pelindung dari gelombang dan arus. internet. dan hanya dilakukan di tempat/rumah masing-masing pedagang/pengolah. Jadi di PPI/TPI Kamal Muara fungsi pelabuhan perikanan yang dapat dijalankan jika mengacu kepada Lubis (2002). pengawas perikanan. Analisis kelembagaan mencakup aspek peran dan tanggungjawab dari berbagai 232 . seperti: (1) TPI tidak lagi digunakan sebagai tempat pelelangan. (4) tempat pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan dilakukan di sekitar kolam pelabuhan oleh dan ditempat nelayan sendiri. 2) Fasilitas fungsional belum lengkap dan belum difungsikan optimal. (2) belum lengkapnya sistem navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telepon. (3) kurangnya suplai air bersih.

kedua. Menurut Nur et al (1999). dan ketiga. Bilamana perlu dapat dilakukan revisi. badan-badan pada semua tingkat tetap terus diberi informasi menyangkut kebijakan kawasan pesisir untuk menjamin pertalian dalam pelaksanaan kebijakan (FAO 1996). ditetapkan tatanan-tatanan pengkoordinasian/pengintegrasian yang tepat. analisis and desiminasi hasil lapangan. dan pada sisi lain tidak ada isu penting yang tidak ditangani oleh suatu badan yang bertanggungjawab. dan (3) Meningkatkan kesadaran sektor swasta (para pengelola kawasan pariwisata dan kawasan industri) akan pentingnya arti dari pelertarian lingkungan hidup. misalnya : untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap sumberdaya pesisir yang disebabkan oleh tata cara penangkapan ikan yang tidak berwawasan lingkungan (pemakaian bom ataupun racun) maka kita akan cari 233 . pada saat itu sebuah proyek sedang dirumuskan. sebagaimana dicantumkan dalam Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries. (2) Mengintegrasikan kegiatan peningkatan kualitas kawasan pesisir sebagai salah satu bagian dari program permbangunan pemerintah (pusat dan daerah). Program kegiatan disusun berdasarkan analisa ruang dari permasalahan. Proyek ini akan berfungsi sebagi sebuah forum koordinasi dari proyek-proyek yang berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kawasan Metropolitan Jakarta. garis begar kegiatan adalah sebagai berikut: (1) Menggalakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup dengan mendorong partisipasi masyarakat dan LSM dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan. Oleh karena itu. UNESCO-CSI berkesimpulan bahwa perlu peningkatan dan pengembangan pilot proyek tersebut (Nur et al 1999). merumuskan kebijaksanaan lingkungan hidup dan system pemantauan. ditetapkan tanggungjawab secara sektoral yang tepat. yaitu "Environmental governance and wise practices for tropical coastal mega-cities: Sustainable human development of the Jakarta Metropolitan Area". sehingga pada suatu sisi yurisdiksi yang tumpang tindih atau yang berselisih dapat diminimumkan. Mengamati perkembangunan kegiatan pembangunan di wilayah DKI Jakarta melalui hasil evaluasi pilot proyek Teluk Jakarta setelah tiga tahun pelaksanaan.badan. sebuah mekanisme kelembagaan bagi pengelolaan pesisir terpadu akan menjamin hal berikut: pertama. CCRF).

pengelolaan dan penyususnan anggaran pembangunan Jabotabek tidak begitu jelas. Adanya Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) Jabodetabekjur. I DKI Jakarta dan Jawa Barat. Singkatnya BKSP tidak memiliki alat untuk mengkoordinaksikan dan mengintegrasikan program pembangunan di Jabotabek. dan untuk menurunkan polusi perairan Teluk Jakarta oleh pestisida dan pupuk maka kita akan memperkenalkan dan membimbing petani yang berada di hulu (di Kabupaten Bogor dan Purwakarta. dan (4) tidak ada petunjuk pelaksanaan pembangunan di Jabotabek. Informasi dari Sekretarian BKSP Jabodetabekjur menyebutkan bahwa koordinasi sudah berjalan baik. Pada prinsipnya. merupakan suatu titik awal yang baik untuk melakukan pengelolaan suatu wilayah yang terletak diperbatasan. Setelah mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi BKSP. Hingga saat ini belum ada satu pun Badan Pemerintah yang berhasil menangani pembangunan dan pengelolaan Kawasan Jakarta Metropolitan (DKI Jakarta dan beberapa Dati II di Jawa Barat) secara keseluruhan. (2) kegiatan BKSP bertumpang tindih dengan beberapa lembaga pemerintah lainnya. ditarik kesimpulan bahwa Pemerintah Pusat dan Daerah perlu memberikan dukungan kepada lembaga ini (berupa penjelesan 234 . Nur et al (1999) menyatakan bahwa permasalahan lingkungan hidup di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu tidak dapat dipecahkan hanya pada tingkat lokal. BKSP menghadapi beberapa persolan untuk melaksanakan tugas ini. persoalan yang dihadapi antara lain: (1) tidak ada dana khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan BKSP. Badan Kerjasama Pembangunan Jabotabek (BKSP) adalah satu-satunya badan yang bertanggung jawab atas koordinasi inter-regional dan inter-sectoral baik antara pemerintah pusat dan instansi-instansi lain yang terlibat dalam pembangunan Jabotabek. pelaksanaan. Pada saat ini. meskipun ternyata diperlukan waktu yang lebih banyak untuk sampai pada tingkat implementasi di lapangan. yaitu Kawasan Metropolitan Jakarta.alternatif kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat yang sifatnya tidak merusak lingkungan. teurama Bappeda Tkt. melainkan dibutuhkan pemecahan persoalan yang skalanya regional. sebagaimana Dadap dan Kamal Muara. terletak sekitar 70 hingga 90 km dari pantai) untuk melakukan praktek pertanian berwawasan lingkungan. (3) peran BKSP dalam perencanaan.

Tjetje Hidayat Padmadinata. Pemikiran secara tenang dan cerdas adalah yang seharusnya dilakukan. Khusus untuk poin 3 di atas. birokrasi pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemerintah daerah lain harus melalui proses pembahasan di kalangan DPRD. Selain persoalan-persoalan di atas. justru mendapat sambutan positif dari beberapa tokoh Jawa Barat. Sesepuh Jawa Barat. konsep kawasan Megapolitan sebagai upaya membangun ibu kota. Tjetje mengemukakan. Sengketa dan rencana "pencaplokan" wilayah Jawa Barat oleh DKI Jakarta ternyata bukan terjadi saat ini saja. Sutiyoso. Sejalan dengan perkembangan jaman. ternyata ide serupa yang kembali dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta sekarang. Konsep Megapolitan baru dikemukakan secara sepihak oleh Sutiyoso hingga perlu lebih dicermati untuk melihat permasalahan secara menyeluruh. dukungan politik dan pendanaan) agar dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan baik. Solihin G.statusnya. berpendapat bahwa tidak seharusnya warga Jawa Barat bereaksi secara berlebihan (over reaction) dalam menanggapi konsep Jakarta Megapolitan. beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keterlambatan fungsi BKSP Jabodetabekjur adalah: 1) Hasil rapat koordinasi diantara anggota di dalam BKSP Jabodetabekjur masih memerlukan waktu pembahasan di daerah masing-masing. 34 Tahun 1999 tentang pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. 2) Setelah adanya era otonomi daerah ini. "Kalau saja konsep Megapolitan hanya untuk daerah ibu 235 . saat Gubernur DKI dipegang Ali Sadikin. Namun ide tersebut ditentang keras Gubernur Jawa Barat saat itu. wacana seperti itu sudah pernah dilontarkan DKI Jakarta sejak 1974. beberapa tokoh masyarakat Jawa Barat berbeda pendapat tentang konsep pembentukan Jakarta Megapolitan. 3) Masih adanya perbedaan persepsi dikalangan tokoh-tokoh masyarakat tentang konsep “Jakarta Megapolitan”. H.P. Dr.H {mantan Sekretaris Eksekutif Badan Kerja Sama Pembangunan Jakarta Bogor Tangerang Bekasi (Jabotabek)}. Menurut Prof. (Anonimous 2006b). dilakukan dengan merevisi UU No. kecepatan proses pembahasan tersebut juga tidak sama. Ateng Syafrudin. S.

"Ibu kota negara seharusnya berada di tempat yang tenang sebagai tempat berpikir untuk para negarawan. Ateng menyayangkan. ternyata tidak mau mengakui lembaga itu sebagai lembaga struktural. lembaga yang dirintisnya itu hanya jadi tempat pembuangan. Bukan penuh hiruk pikuk. saat itu Soekarno pernah mengusulkan kota Palangkaraya Kalimantan Tengah sebagai ibu kota RI. Tapi. "Pusat harus memberikan atensi tinggi. Menurut Tjetje. lembaga resmi yang ditunjuk oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Tangerang untuk mengelola kegiatan perikanan di PPI/TPI Dadap adalah KUD Mina Bahari. maka sebenarnya Jakarta tidak cocok sebagai ibu kota RI. informasi dari nelayan menyebutkan bahwa TPI Dadap tidak lagi berfungsi sebagai tempat pelelangan ikan. Terhambatnya kinerja BKSP Jabodetabekjur mungkin pula ada kesan negatif terhadapnya. Namun demikian. yang menunjukkan bahwa tak selamanya ibu kota negara adalah kota besar. dengan keterlibatan pemerintah pusat. Konsep ibu kota yang seharusnya tenang dan hening itu. sehingga para pejabatnya tidak bisa naik pangkat.kota. Sebagaimana disampaikan oleh Atje. Selama ini. sehingga para pegawai tidak bisa naik pangkat. beberapa negara besar lain seperti Amerika Serikat dan Australia. lembaga itu malah dijadikan "tempat pembuangan" pejabat-pejabat bermasalah. BKP Jabotabek hanya menjadi lembaga temporer. Ateng Syafrudin berpendapat. Persoalan hanya bisa diatasi jika konsepnya adalah kerja sama antara tiga pemerintah provinsi. Satu hal lagi yang menjadi penghambat kinerja tersebut adalah karena pemerintah pusat. setelah meninggalnya ketua KUD tersebut tahun 1997. sayang dalam perkembangannya. Sama sekali tidak ada 236 . bukan Jakarta (Anonimous 2006b). Dia ingin lembaga itu memiliki posisi yang penting karena kinerjanya." (Anonimous 2006b). pembentukan BKPS Jabotabek (saat itu) telah menarik banyak pejabat yang melamar untuk masuk di dalamnya. bahkan telah dikemukakan Presiden RI Soekarno tahun 1950-1960. Siapa bilang ibu kota negara harus besar? Menurut Tjetje sebagaimana dikutif dari PIKIRAN RAKYAT. tidak akan berjalan jika konsepnya perluasan wilayah. penanganan persoalan di perbatasan wilayah DKI Jakarta dengan Jawa Barat dan Banten. Prof.

aktivitas yang berkaitan dengan perikanan. perhubungan. dimana terdapat wakil-wakil dari instansi-instansi yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Rekomendasi kelembagaan pengelola TPI di Dadap dan Kamal Muara dicantumkan dalam Tabel 5. Tabel 5.29 No Aspek kelembagaan pengelola TPI Dadap dan Kamal Muara INSTANSI PPI/TPI DADAP √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ PPI/TPI KAMAL MUARA √ √ √ - AKTIVITAS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12. maka pengelolaannya diharapan dipegang oleh UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi:perikanan yang mengarah pada wisata (sport fishing). sebagaimana yang sekarang berlaku di TPI Muara Baru dan TPI Muara Angke. setelah dilakukan rehabilitasi sesuai dengan kapasitas yang akan diembannya. Untuk PPI/TPI Kamal Muara. dan pariwisata. Untuk mengaktifkan kembali pengelolaan PPI/TPI Dadap sesuai dengan aktivitas yang direkomendasikan. gedung TPI juga menunjukkan sebagai tempat yang sudah lama tidak dihuni. maka lembaga pengelolanya haruslah berupa kantor bersama. penelitian. Koordinasi pembangunan Perikanan tangkap Perikanan wisata Wisata pantai Kapal penelitian Kapal pesiar Seafood restorant Kapal petikemas Kepelabuhanan Pindah barang/hewan Migrasi Pajak BKSP Jabodetaberkjur Dinas Perikanan-Kelautan Dinas Pariwisata Dinas Pariwisata LIPI/BPPT Dinas Pariwisata Dinas Perindag Dinas Perindag Syahbandar Dinas Karantina Dinas Imigrasi Dinas Bea cukai 237 . perdagangan.29. Hal ini perlu dilakukan semata-mata untuk meningkatkan efisiensi dan koordinasi secara profesional diantara pelabuhan-pelabuhan perikanan besar yang ada di DKI Jakarta.

KEBERSIHAN & LINGKUNGAN HIDUP = SUB BAGIAN TRANSPORTASI & PERHUBUNGAN = SUB BAGIAN AGRIBISNIS.Dalam bentuk diagram. Gubernur Banten = Bupati/Walikota = Sekretaris = Sekretariat = SUB BAGIAN TATA RUANG & PERTANAHAN = BAGIAN PEREKONOMIAN = BAGIAN PEMERINTAHAN DAN KESRA = BAGIAN UMUM = SUB BAGIAN PERMUKIMAN. Gubernur Jawa Barat. khususnya pada masa proses pemindahan kapal dan pembangunan fasilitas di kedua PPI/TPI tersebut.12 Diagram hierarki pengelolaan kawasan Dadap-Kamal Muara. kelembagaan yang diusulkan untuk dibentuk dalam rangka pengelolaan kawasan Dadap dan Kamal Muara dicantumkan dalam Gambar 5.12. PERDAGANGAN. SARANA & PRASARANA = SUB BAGIAN SUMBER DAYA AIR. 238 . LIPI/BPPT KANTOR BERSAMA PENGELOLA PPI/TPI DADAP PENGELOLA PPI/TPI KAMAL MUARA Catatan: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 = Gubernur DKI Jakarta. PERTAMBANGAN & INVESTASI = SUB BAGIAN KEPENDUDUKAN. KETENTRAMAN & KETERTIBAN = SUB BAGIAN KESEHATAN & PENDIDIKAN = SUB BAGIAN SOSIAL & TENAGA KERJA = SUB BAGIAN = PROGRAM DAN KEUANGAN = SUB BAGIAN RUMAH TANGGA & PERLENGKAPAN = SUB BAGIAN TATA USAHA & KEPEGAWAIAN Gambar 5. Gambar 5.12 menunjukkan suatu skenario perlu dibentuknya lembaga pengelola PPI/TPI Dadap-PPI/TPI Kamal Muara. KOPERASI & USAHA KECIL MENENGAH = SUB BAGIAN INDUSTRI.

baik yang ada di masa kini maupun masa depan (FAO 1996). pengalaman suatu negara tidak mesti secara langsung bisa dipindahkan ke lain negara. untuk mengklarifikasikan semua perencanaan dan pelaksanaan program yang sudah berjalan serta untuk penyusunan dan perbaikan program selanjutnya. Berhubung sumber daya pesisir semakin langka. Tugas Kantor bersama ini dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Menterjemahkan semua kebijakan yang ditetapkan oleh Pemda Kabupaten Tangerang dan Pemkot Jakarta Utara melalui dinas-dinas teknis terkait. Tambahan pula. ekonomi dan budaya (FAO 1996). salah satu dari fungsi kelembagaan dan hukum yang paling penting adalah memastikan adanya suatu mekanisme untuk penyelesaian sengketa. dengan tembusan kepada Bupati Tangeran dan Walikota Jakarta Utara. politik. Perlu di pertimbangkan bagaimana menyelesaikan tuntutan yang bersaing diantara sektorsektor. 239 . (4) Ikut secara aktif dalam diskusi pleno yang diselenggarakan oleh semua instansi terkait dari kedua pemerintah daerah tersebut.Lembaga khusus ini (disebut Kantor Bersama) berfungsi untuk mengakomodasikan dan mengkoordinasikan semua kepentingan dari setiap institusi yang berkaitan dengan kedua PPI/TPI tersebut. sekalipun negara itu memiliki kesamaan latar belakang sosial. mengingat sudah lengkapnya bagian-bagian dalam BKSP yang dapat mengakomodasi setiap kegiatan yang akan direncanakan dan yang sudah dilakukan di kawasan tersebut. Dalam pengelolaan kawasan pesisir. Dalam Tatalaksana Perikanan yang Bertanggungjawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries. Sifat yang tepat dari peraturan dan perundangan di setiap negara tergantung pada ruang lingkup dan kesenjangan dalam peraturan dan perundangan yang ada. CCRF) sudah dinyatakan bahwa diperlukan sebuah kerangka legislatif yang mengesahkan lembaga pengelolaan pesisir serta kegiatan yang dilakukannya. Melaporkan semua perkembangan yang terjadi selama tahun anggaran yang sudah lewat kepada atasan-atasannya. (2) (3) Menjalankan program kerja di kedua PPI/TPI tersebut. Keberadaan BKSP Jabodetabekjur dapat lebih mempercepat terlaksananya pengelolaan wilayah Dadap-Kamal Muara secara terpadu.

bahan snar keras. Bengkel khusus Mesin penggerak Montir Dari Tabel 5. 1 knot Kayu Bobot 400 kg 6 bulan sekali 21 hp.5 Analisis Opini Masyarakat tentang Kondisi Perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara Hasil identifikasi aktivitas perikanan yang berasal dari responden menunjukkan bahwa kondisi unit penangkapan di kawasan Dadap-Kamal Muara adalah sebagaimana dicantumkan dalam Tabel 5. 100-200 kg. Waring: mesh size 0. dengan lebar 4 m Waring: mesh size 0.kecepatan sekitar 2 knot per jam 6 kali per tahun 4 kali per tahun 2 kali per tahun 1 kali per tahun sendiri beserta ABK. 10 ral. bahan plastik Mesh size 2”. 5 pis.1”. tenaga khusus SARANA JENIS ALAT PERIKANAN Alat tangkap Jaring rampus Jaring kampung Jaring klitik Perbaikan jaring: Tenaga perbaikan jaring Kapal/perahu Dimensi (6 x 1. 10 ral.5. bahan plastik mesh size 4’. Rangkuman kondisi sarana perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara berdasarkan responden nelayan SPESIFIKASI Mesh size 2”. bahan kayu Dongfeng 11 hp. lebar 4 m.5) m3 Mesin & Kecepatan Bahan Dimensi (10 x 1.30. 2 knot Honda 5 hp. snar 2 kali per tahun. Tabel 5. 10 pis.5 x 0. 1 kali per minggu.30.8) m3 Pemeliharaan Merk Dongfeng Perbaikan mesin Bobot.1”.30 tampak bahwa sebagian besar responden adalah berstatus nelayan jaring rampus dan jaring kampung dengan rata-rata panjang 10 m per pis 240 . 10 pis.7 x 0. 4 kali per minggu ABK. Hasil pengolahan data komunitas lokal dengan survey pro dicantumkan pada Lampiran 7. bahan snar.

dan jumlah jaring per unit sebanyak 10 pis (lembar). Bahan jaring adalah snar nilon, dimana frekuensi perbaikan yang dilakukan bervariasi antara harian sampai per enam bulanan, tergantung pada tingkat kerusakan dan frekuensi

penggunaannya. Tenaga kerja yang memperbaiki jaring umumnya dilakukan oleh ABK sendiri, atau tenaga khusus yang diupah untuk pekerjaan tersebut. Upah perbaikan jaring juga bervariasi tergantung tingkat kerusakan yang dialami. Kapal yang digunakan nelayan untuk pergi melaut semuanya terbuat dari kayu, dengan dimensi antara 6-10 m, lebar antara 1,6-1,7 m, dan tinggi antara 0,50,8 m. Bobot ditaksir antara 100-200 kg. Pemeliharaan dan perbaikan kapal dilakukan rata-rata setiap tahun dua kali. Mesin penggerak yang digunakan umumnya buatan Cina merek Dongfeng yang berbahan bakar solar dan bensin serta buatan Jepang merek Honda, dengan tenaga berkekuatan antara 5-21 hp dan berbahan bakar bensin. Perbaikan mesin dilakukan antara setiap dua bulan sampai satu tahun sekali, tergantung pada merek mesin kapal yang digunakan. Secara umum, mesin buatan cina memerlukan

perawatan mesin yang lebih sering dibandingkan dengan mesin buatan Jepang. Operasi penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan yang menjadi responden penelitian ini umumnya hanya di sekitar perairan Kepulauan Seribu, khususnya di sekitar Pulau Bidadari, Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Bokor, atau ke areal dimana perjalanan antara 2 sampai 8 jam dari TPI, tergantung kekuatan motor penggerak perahunya. Biaya yang dikeluarkan oleh nelayan setiap kali melakukan penangkapan ikan dapat dilihat dari Tabel 5.31. Tabel 5.31. Rangkuman biaya operasi penangkapan ikan per trip di kawasan Dadap-Kamal Muara berdasarkan responden nelayan tahun 2004 LOKASI PENANGKAPAN JENIS & VOLUME BIAYA (Rp) 25.000-450.000 25.000-100.000 3.500-14.000 30.000-125.000 83.500-689.000

Perairan Kep. Seribu BBM-solar 5-90 liter per trip BBM-bensin 5-20 liter per trip Es balok: ¼ - 2 balok Makanan Kisaran biaya operasional per kapal ikan

241

Rata-rata biaya operasional per kapal ikan

386.250

Nelayan yang beroperasi pulang hari tersebut ada yang berangkat mulai jam 02 dini hari, kemudian ada yang berangkat jam 04 subuh (63,3 %), kemudian ada juga yang berangkat jam 07 atau jam 08 pagi. Sebagian besar nelayan

tersebut pulang melaut sekitar jam 17 (73,3 %), sebagian lagi ada yang sudah pulang jam 11 pagi. Kegiatan penangkapan ikan umunya dilakukan sebanyak 20 kali per bulan. Sebagian besar nelayan berpendapat bahwa musim ikan puncaknya terjadi antara bulan Juli sampai Oktober, musim biasa dari Februari sampai Juni, dan bulan-bulan sisanya merupakan musim paceklik. Selama aktivitas penangkapan, nelayan Dadap-Kamal Muara seringkali bertemu dengan nelayan lain yang umumnya berasal dari Indramayu. Alat

tangkap yang digunakan para nelayan Indramayu tersebut juga berupa (baik jaring cincing, gill-net, maupun jaering udang) dan pancing. Sebagian besar nelayan responden melakukan pendaratan perahunya di Muara Angke (66,7 %) dan Kamal Muara (63,3 %). Hanya dua responden yang kadang-kadang mendaratkan ikannya di Muara Baru. Alasan nelayan untuk

mendaratkan ikannya di Muara Angke dan muara Baru disebabkan oleh layaknya TPI Dadap untuk tempat pendaratan ikan, karena selain fasilitas yang kurang memadai juga karena pendangkalan alur sungai. Nelayan ternyata juga kadang-kadang menjual ikannya di tengah laut (73,3 %). Ada beberapa alasan yang dikemukakan nelayan, antara lain: pemilik kapal tidak mengetahui (70,0 %), harga jual lebih baik (66,7 %). Selain menjual sendiri, nelayan kadang-kadang juga mnitipkannya pada sesama nelayan di tengah laut untuk dijualkan (66,7 %). Kebijakan Pemda Kabupaten Tangerang melalui RTRW Kabupaten Tangerang tahun 2000 menetapkan bahwa areal pertambakan yang ada di Kecamatan Kosambi, Teluk Naga, dan Paku Haji akan direlokasi ke Kecamatan Mauk dan Kecamatan Kronjo. Namun demikian, tahun 2000 tersebut dalam

perencanaannya juga menyatakan bahwa di muara Kali Perancis akan dibangun TPI. Namun demikian dengan keluarnya Peraturan Daerah No 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Tata Ruang Daerah, maka prioritas pembangunan kawasan Dadap tidak lagi ditujukan untuk mengembangkan perikanan tetapi sudah pada

242

persiapan pengembangan kawasan wisata. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah program yang direncanakan dan dilaksanakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan yang hanya sedikit sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.32. Tabel 5.32. Kegiatan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang Tahun Anggaran 2003.
No. NAMA KEGIATAN BIAYA (x Rp 1.000) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Optimalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lontar di Kecamatan Kemiri Rehabilitasi Saluran Tambak Peningkatan Sarana Pelelangan Ikan (TPI) Master Plan Pelabuhan Cituis Optimalisasi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Pembangunan Pasar Ikan Higienis (PPHLT) Penerapan Teknologi Perikanan dan Pengembangan Perikanan Darat Peningkatan Kinerja Penyuluh Perikanan dan Kelautan Melalui Peningkatan Operasional Penyuluh Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya Pengembangan Perikanan Tangkap Melalui Armada Penangkapan Skala Kecil Pemberdayaan (PEMP) Ekonomi Masyarakat Pesisir 125.000 485.000 300.000 750.000 300.000 450.000 475.000 75.000 SUMBER DANA DAU DAU DAU PAD DAU DAU DAU DAU

9. 10. 11. 12.

400.000 600.000 965.238 100.000

DAU DAU APBN DDL/PBB

Dana Pendamping PEMP

Sebagaimana juga dengan aspek lingkungan, semua penduduk yang menjadi responden penelitian ini menganggap bahwa aktivitas perikanan TPI Dadap dan TPI Kamal Muara berhubungan erat dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Penduduk secara bulat (100 %) berpendapat bahwa kondisi lingkungan

di sekitar TPI tersebut menyebabkan timbulnya aspek sosial yang berdampak buruk bagi anak-anak (kenakalan remaja, prostitusi, perjudian, perkelahian, dll. Dampak lainnya yang dirasakan oleh penduduk adalah masalah keamanan lingkungan yang rawan (sebanyak 35,7 %); dan gangguan transportasi (14,3 %).

243

Penduduk berpendapat bahwa pemecahan masalah lingkungan dapat dilakukan dengan cara pengerukan sungai (92,9 %) dan pembenahan lingkungan (14,3 %). Pembenahan lingkungan dilaksanakan secara konkrit dengan perbaikan lingkungan (50,0 %), penataan lingkungan perumahan (28,6 %), dan beberapa aktivitas lainnya (21,4 %) seperti penyuluhan, penataan lingkungan oleh Pemda, serta kerja sama pemerintah dan masyarakat. Sementara itu, untuk mengatasi masalah kerawanan sosial, penduduk mengusulkan untuk menghilangkan minuman keras (40,0 %), menghilangkan WTS (40,0 %), keamanan terpadu (40,0 %); dan melaksanakan siskamling terpadu (20,0 %). Cara mengatasi

permasalahan keamanan lingkungan yang rawan diusulkan dengan cara tindakan pemberantasan pelacuran dan perjudian (57,1 %), alih profesi (50,0 %), serta tindakan lainnya seperti pendekatan sosial dan keagamaan, serta memberantas perdagangan minuman keras (21,4 %). Untuk mengatasi permasalahan

transportasi hasil perikanan yang terganggu penduduk mengusulkan secara bulat bahwa alat angkutan harus merapat ke TPI (100,0 %). Nelayan yang tinggal di sekitar TPI Dadap dan Kamal Muara tidak hanya apatis menghadapi kesulitan hidup sehari-hari yang dihadapinya, tetapi juga berharap adanya peningkatan taraf hidup nelayan (60 %). Sebagian kecil dari mereka (6,7 %) menginginkan adanya upaya untuk meningkatkan taraf hidupnya, tanpa merinci apa bagaimana peningkatan taraf hidup itu dapat terjadi. Namun demikian, beberapa upaya perbaikan yang diduga dapat meningkatkan taraf hidup nelayan dan keluarganya menurut mereka adalah: (1) TPI/PPI tidak jauh dari AUP, ada harapan bahwa mahasiswa dapat lebih berperan aktif dalam menanggulangi permasalahan dalam kehidupan nelayan sehari-hari; (2) TPI/PPI diatur sesuai dengan kondisi wilayahnya masing-masing, untuk kawasan Dadap dan Kamal Muara diharapkan adanya koordinasi dari Dinas Perikanan setempat untuk melakukan distribusi bongkar muat kapal dari TPI yang padat ke yang kosong, sehingga kegiatan ekonomi primer dan sekunder dapat tetap berjalan; . (3) Adanya kesinambungan generasi nelayan, masih terdapat keinginan sebagian besar nelayan untuk menjadikan anak yang mereka miliki ikut

244

menjadi nelayan dan membantu menopang kehidupan sehari-hari yang semakin sulit ini; (4) Pemusnahan alat tangkap trawl, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa para nelayan tradisional masih harus berebut ikan dengan lawan yang tidak sepadan, sehingga semakin terpuruk karena lingkungan perairan yang buruk menyebabkan kelompok ikan semakin jauh dari pantai ditambah kemampuan armada perikanan dan modal yang terbatas; (5) Menindaklanjuti aspirasi nelayan, dari pengalaman ternyata banyak sekali aspirasi nelayan yang tidak ditindaklanjuti tanpa alasan yang jelas; (6) Pengerukan Kali Perancis dan Kali Kamal sudah diajukan nelayan beberapa tahun yang lalu, dan sejak itu sudah menjadi aspirasi nelayan namun tidak ada program pengerukan yang tuntas. Keberadaan TPI Dadap dan Kamal Muara yang relatif berdekatan tersebut juga mengundang komentar responden. Sebanyak 71,4 % tetap menginginkan adanya pemisahan kedua TPI/PPI sesuai UU. Hanya sebanyak 14,3 %

menyatakan bahwa hal tersebut tergantung masing-masing wilayah, mau digabung atau mau tetap dipisah. Sebanyak 14,3 % lainnya memberikan beberapa pendapat yaitu: 1) setiap keputusan yang berkaitan dengan TPI sebaiknya melibatkan nelayan dan penduduk lokal; 2) prospek TPI masih bagus tetapi perlu menggunakan tenaga profesional; 3) sungai sudah tidak layak, sering banjir saat pasang atau hujan, sehingga perahu tidak bisa mendarat. Responden juga berpendapat bahwa kedua TPI yang berdekatan tersebut sangat merugikan (100 %), dengan alasan tidak sesuai UU OTDA (78,6 %); menimbukan dampak sosial (71,4 %); dan menyatakan perlu adanya otonomi masing-masing wilayah. 14,3 %. Sementara itu berkaitan dengan isu bahwa di kawasan Dadap akan dibangun pelabuhan peti kemas, maka seluruh responden (100 %) berpendapat bahwa lebih baik menggabungkan kedua TPI (Dadap dan Kamal Muara menjadi satu Pelabuhan Perikanan Terpadu (PPI) untuk wilayah Jakarta-Tangerang, sehingga limpahan kepadatan antrian kapal untuk bongkar muat yang terjadi di TPI Muara Angke dapat dipindahkan ke Kamal Muara. Sebagian dari responden juga ada yang tetap bersikukuh untuk menggunakan TPI Dadap sebagai tempat berlabuh. Responden juga berpendapat bahwa ada

245

kemungkinan terjadinya kecemburuan sosial diantara kedua komunitas nelayan yang bertetangga tersebut (85,7 %). Sebagai upaya untuk ikut urun rembuk dalam rangka memperbaiki taraf hidupnya, nelayan dan penduduk lainnya memberikan beberapa saran, sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.33. Tabel 5.33. Rangkuman saran penduduk responden nelayan berkaitan dengan aktivitas perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara.
KELOMPOK PENDUDUK (1) Nelayan tangkap TARGET SARAN (2) SARAN (3) % (4) 66,7

Pedagang BBM Fasilitas BBM di sekitar TPI Pemerintah/Pertamin a Ada kerjasama dengan KUD antara

Pertamina 56,7

BBM langsung dari Pertamina supaya 13,3 murah Pengusaha bahan/alat penangkapan ikan harga terjangkau nelayan 66,7

tersedia sesuai kebutuhan bisa beli ke DKP

56,7 46,7

di lokasi berdekatan dengan muara & 10,0 TPI Pemerintah pengerukan alur kapal hentikan penggunaan trawl (sejenisnya) TPI pindah ke barat sungai 63,3 60,0 40,0

lainnya (TPI/PPI layak pakai, mudah 6,7 merapat, ada lelang, dekat TPI Nelayan budidaya Pemerintah harga kerang memadai lainnya (pemasaran dekat TPI); Pengolah ikan Pemerintah bantuan peralatan fiberglass lokasi penjemuran bantuan permodalan dan peralatan bantuan peralatan Fasilitas pengolahan dekat dengan TPI pengasinan, 63,3 6,7 bak 56,7 56,7 53,3 6,7 6,7

246

Lanjutan Tabel 5.33
(1) Pedagang ikan (2) Pemerintah (3) kurangnya pedagang karena tak adanya TPI yang memadai Permodalan lainnya (pasar ikan yang higienis di masing-masing wilayah, harga bersaing dengan pedagang luar, dekat TPI pembenahan pemukiman nelayan (4) 60,0 6,7 10,0

Penduduk (komunitas lokal)

Pemerintah

60,0

lainnya (setuju pembangunan PPI/TPI dekat dengan pemukiman nelayan, dekat TPI) Pengelola pelabuhan DKP instansi terkait KUD Syahbandar lainnya (peningkatan kondisi pelabuhan agar mudah didarati nelayan dekat TPI); Pengusaha dok atau lokasi di bantaran muara Kali Perancis bengkel dekat TPI Pengusaha pabrik es Tersedia cold storage/pabrik es di muara Kali Perancis lainnya (perlu pedagang es eceran agar harga murah) Saran untuk Pemda peningkatan taraf hidup nelayan Tangerang/Pemkot Jakarta Utara Lainnya: (TPI/PPI tidak jauh dari AUP kesinambungan generasi nelayan pemusnahan trawl (sejenisnya) menindaklanjuti aspirasi nelayan Pemda Provinsi PPI/TPI diatur sesuai masing-masing Banten/DKI Jakarta wilayah lainnya (tingkatkan taraf hidup nelayan sejajar dengan profesi lainnya di Banten; pengerukan Kali Perancis; DKI: Kamal Muara, TPI tetap di Muara Angke

10,0

63,3 63,3 63,3 63,3 6,7

70,0 70,0 3,3 60,0

6,7

60,0 6,7

247

masyarakat menyatakan berbagai pendapatnya yang ditujukan kepada Pemda Kabupaten Tangerang dan Pemkot Jakarta Utara serta Pemda Provinsi Banten dan DKI Jakarta.0 % %) berkeinginan agar Pemerintah membangun fasilitas pengadaan BBM.34 No.. 1. Dalam menghadapi berbagai permasalahan masyarakat nelayan di kawasan tempat tinggalnya tersebut.Dari Tabel 5.34.) (semua reponden). pabrik es dan cold storage di sekitar TPI.7 % Hasil analisis data respon penduduk terhadap kondisi lingkungan disekitar kawasan Dadap dan Kamal Muara menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah: 1) polusi lingkungan (semua reponden).3 % Persentase 60 % 6. selain itu ada aktivitas rutin pengerukan alur Kali Kamal dan Kali Perancis. prostitusi.33 tampak bahwa sebagian besar nelayan (66.3 % dari responden). 5) terganggunya transportasi darat (14. Tabel 5.7-70. sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. 248 . 2) kekumuhan lingkungan pemukiman (semua reponden). Pendapat Masyarakat Lokal tentang Masalah Perikanan Pendapat Peningkatan taraf hidup nelayan TPI/PPI tidak jauh dari AUP Adanya kesinambungan generasi nelayan Pemusnahan alat tangkap trawl Menindaklanjuti aspirasi nelayan Pengerukan Kali Dadap dan Kamal Muara TPI tetap di Muara Angke 3. Tidak menjawab 33. antara Dinas Perikanan. perkelahian. 4) keamanan lingkungan (35. 3) dampak sosial dari kekumuhan (kenakalan remaja. perjudian. dll. Hal lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah adanya keterpaduan pengelolaan TPI Dadap dan Kamal Muara. KUD. dan syahbandar. tentu saja dengan harga yang terjangkau. serta masalah-masalah lainnya (50 % dari responden). 2.7 % dari responden). perbaikan kapal (dock). antara lain adanya debu pada musim kemarau dan lumpur pada musim hujan.

baik dalam jangka pendek maupun panjang. prostitusi. Sosialisasi program pembangunan yang dilakukan secara terbuka dan waktu yang cukup akan memberikan beberapa keuntungan. dll. (3) Masyarakat dapat melakukan konsultasi kepada berbagai pihak yang bersikap netral apakah proyek tersebut akan memberikan dampak positif atau negatif pada mereka. yaitu: (1) Masyarakat lebih cepat mengetahui secara langsung tentang akan adanya suatu aktivitas pembangunan.). apakah aktivitas proyek tersebut akan berpengaruh secara langsung atau tidak pada kehidupannya. perkelahian. hal ini tampaknya merupakan dampak negatif dari aktivitas pembangunan yang kurang matang direncanakan dan disosialisasikan sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. (2) Setiap individu dalam masyarakat dapat melakukan analisis tentang posisinya. dan dampak sosial dari kekumuhan (kenakalan remaja. perjudian. kekumuhan lingkungan pemukiman. yaitu: (1) Tidak jalannya fungsi pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan fisik dan sosial (2) Belum sempurnanya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan fisik dan sosial (3) (4) Kurangnya prasarana dan sarana pembersihan dan ketertiban lingkungan Adanya aktivitas proyek yang mempersulit upaya pembersihan dan ketertiban lingkungan Bilamana ditelusuri. (4) Karena keputusan yang diambil masyarakat (baik secara individu maupun kelompok) adalah didasarkan pada keputusan yang matang sehingga dapat dijadikan dasar yang kuat bagi Pemda dan pengembang bilamana terjadi sengketa dikemudian hari. Responden yang dimintai pendapatnya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah rencana berbagai kegiatan di kawasan Dadap 249 . baik secara pribadi atau kelompok. Timbulnya masalah tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor.Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa semua responden setuju masalah paling besar yang mereka hadapi di kawasan Dadap – Kamal Muara adalah: polusi lingkungan.

Ellsworth et al. maka pendapat responden adalah: 1) seluruhnya (100.5 %) dari responden tersebut juga menyatakan akan pindah ke tempat lain agar tetap dapat menekuni pekerjaan yang sekarang. maka penduduk yang tinggal di kawasan pesisir perlu berperan serta. Agar tujuan ini tercapai. Namun demikian. yaitu: (1) (2) (3) Adanya dukungan publik Memiliki kelayakan secara ekonomi Secara ilmiah dapat dipertahankan berdasarkan rencana pengelolaan lingkungan yang komprehensif 250 . 2) kalau TPI sudah tidak layak dipindahkan ke sebelah barat sungai (71. diperlukan adanya informasi yang akurat dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengemban peran tersebut. Pendapat yang lainnya menyatakan setuju (14. sebagian besar responden menyatakan tidak setuju (92.3 %) adalah menyetujuinya dengan alasan dapat memajukan Desa Dadap. the Atlantic Coastal Action Program).4 %).9 %). meskipun kalauTPI dipindah harus dengan kesepakatan KUD dan nelayan).0 %) bersepakat untuk tetap tinggal di tempat sekarang. Karena Pemerintah Kanada merasa tidak akan mampu untuk melakukan semua kegiatan yang ditujukan untuk mencapai kondisi ekosistem yang berkelanjutan.menyatakan bahwa seluruhnya (100 %) pernah mendengar tentang rencana pembangunan Pelabuhan Kapal Riset Baruna Jaya. Jika seandainya Pelabuhan Peti Kemas Dadap itu tetap dibangun. Alasan penolakan yang dismpaikan responden adalah: 1) masih adanya nelayan yang tinggal di areal TPI (92. ternyata informasi tersebut tidak ada kelanjutannya Berkaitan dengan rencana Pemda Kabupaten Tangerang untuk pembangunan Pelabuhan Peti Kemas di bekas TPI Dadap. baik tetap pada pekerjaan sekarang atau akan mencari kerja lain.9 %).1 % yang menyatakan setuju. Penduduk diberdayakan untuk mengambil tanggungjawab sebagai bagian dari pemeliharaan lingkungan. Contoh kasus yang menarik dikemukakan oleh Ellsworth et al. dan hanya 7. sebagian kecil (38. Namun demikian. (1997) yang melakukan penelitian di Pantai Timur Kanada untuk Program Aksi Pesisir Atlantik (ACAP. (1997) menyebutkan adanya beberapa persyaratan untuk mencapai keberhasilan dalam suatu program yang melibatkan masyarakat pesisir. yaitu di lokasi tempat akan dibangun TPI.

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari pengelolaan perikanan terpadu ini antara lain: 251 . padahal sebagaimana dinyatakan oleh Pickave et al. serta penegakan hukum yang belum sempurna. ego sektoral. Selain itu. Batam. maka keterpaduan pengelolaan kegiatan perikanan sangat perlu dilakukan di Indonesia. pola pikir aparat pemerintah dan masyarakat yang terpaku pada sistem keproyekan juga menyebabkan kurang berhasilnya aspek keberlanjutan suatu program pembangunan. 1997). Belajar dari berbagai pengalaman yang terjadi selama ini. Daerah-daerah tersebut antara lain: DKI Jakarta. yaitu: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Panduan perencanaan pesisir berbasis masyarakat Profil lingkungan penduduk Aplikasi GIS berbasis komunitas Hasil identifikasi dan evaluasi opsi-opsi remedial Buku pegangan tentang ekonomi lingkungan Electronic network-linking initiatives Akses pada pertukaran limbah dan network lainnya. Untuk itu Pemerintah Kanada (melalui Departemen Lingkungannya) menyediakan beberapa perangkat (tools) yang dapat digunakan oleh penduduk untuk berperan serta (Ellsworth et al. ICZM secara umum dikenal sebagai perangkat yang paling efektif untuk menggabungkan suatu upaya konservasi dengan pemanfaatan berkelanjutan suatu sumberdaya pesisir dan lautan dalam suatu perencanaan wilayah pesisir.(4) Didasarkan pada informasi yang akurat dan dapat diakses serta informasi ekosistem yang dapat dimengerti. Jika diperhitungkan sejak mulai dikenalnya program pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (ICZM = integrated coastal zone management) sekitar tahun 1992. Hambatan utama sulitnya implementasi ICZM di Indonesia adalah lemahnya koordinasi perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. maka di Indonesia (minimal di beberapa daerah yang sudah lama melakukan kajian potensi sumberdaya peisisir dan lautan) seharusnya sudah mampu untuk melaksanakannya secara penuh. Pulau Lombok. dll. (2004). Bali.

perbekalan (alat tangkap. Selain dari berbagai keuntungan yang dapat diperoleh.. perbengkelan (galangan kapal dan bengkel mesin). dll. baik secara swakarsa maupun dengan memanfaatkan tenaga keamanan resmi (pihak kepolisian). beberapa kerugian juga mungkin timbul dengan dilakukannya keterpaduan pengelolaan perikanan ini. kebakaran. banjir.(1) Tercapainya efisiensi waktu pengadaan bahan baku (baik berupa peralatan untuk kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. 252 . bahan makanan. dll. bahan bakar. kemungkinan bagian yang lain pun akan terkena dampaknya (seperti polusi lingkungan. .).). (2) Perikanan tangkap.). (3) Pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan perikanan tersebut lebih mudah karena keterbatasan kawasan yang dikelola serta pengelolaan limbah dapat dilakukan secara terpadu. yang mencakup sumberdaya perairan (ketersediaan berbagai jenis ikan dalam jarak yang terjangkau secara fisik dan ekonomi) dan sumberdaya lahan (untuk lokasi kegiatan perikanan terpadu dan lokasi budidaya ikan). (2) Aspek sosial politik akan cepat menjalar dari satu bagian ke bagian lainnya (seperti pemogokan karyawan. yang mencakup unit-unit pelabuhan perikanan. keterpaduan kegiatan perikanan terdiri dari berbagai komponen. (2) Tercapainya efisiensi pemasaran bahan baku dan produk yang dihasilkan oleh kegiatan industri pasca panen. berbagai peralatan pembantu. maka keamanan lingkungan lebih mudah untuk ditanggulangi. Dalam suatu kawasan pesisir. maupun untuk kegiatan pasca panen). seperti: (1) Jika terjadi malapetaka di suatu bagian/kawasan. dll. seperti: (1) Sumberdaya alam. (5) Karena kawasan industri perikanan terpadu ini dapat dibangun terpisah dari kawasan pemukiman penduduk sekitarnya. dll. (4) Kemudahan memperoleh tanaga kerja yang berpengetahuan dalam bidang perikanan.

(3) Pasca panen. cold storage. kesyahbandaran. dll. Prasarana dan sarana tenaga listrik dan air serta BBM. bahan tambahan makanan. dll. instalasi pengatur air (kelimpahan dan kualitas). yang mencakup unit-unit penanganan dan pengolahan ikan. (4) Budidaya.}. 253 .. promosi. pembesaran. laboratorium analisis penyakit ikan dan baku mutu air. budidaya. pabrik es. bahan bakar. perbengkelan (bengkel mesin pengolahan). dan pasca panen serta pemasaran. keamanan. yang mencakup unit-unit pemasaran. yang mencakup unit-unit pembenihan (hatchery). sebagai sumber tenaga kerja baik bagi kegiatan penangkapan. Masyarakat sekitar. berbagai peralatan pembantu. (6) (7) (8) Prasarana dan sarana transportasi. pakan. dll. laboratorium analisis mutu bahan baku dan produk yang dihasilkan. perbekalan {alat penanganan dan pengolahan. (5) Perkantoran.

(2) Membangun TPI dan pelabuhan nelayan di muara Kali Perancis. maka semua aktivitas 254 . yakni: (1) Relokasi kawasan pertambakan dari Kecamatan Kosambi. serta tempat parkir. dan Dinas Perikanan. Sesuai dengan hasil analisis ketergantungan daerah perikanan dan kenyataan di lapangan sejak tahun 1997 sampai saat ini. meliputi dermaga nelayan. tempat pelelangan ikan.Sebagaimana tercantum dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tangerang (Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2001). dan Paku Haji. dan pasar sayur 2) daerah komersial. kebijakan sektor perhubungan (Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2001) adalah: (1) Pembangunan fasilitas pergudangan di Kecamatan Kosambi dan pelabuhan peti kemas di sekitar muara Kali Perancis. meliputi restoran. Dinas Perhubungan. dengan alasan untuk meningkatkan efisiensi aktivitas perikanan di kawasan Dadap-Kamal Muara. Sektor perikanan dan kelautan juga mempunyai beberapa rencana di kawasan pantura tersebut. Teluk Naga. penginapan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) Wisata lahan pertanian dan tambak Pembenahan kegiatan-kegiatan hiburan Pembukaan gerbang tol Jakarta-Cengkareng ke arah Dadap Perbaikan jalur jalan Pengadaan air bersih Pengadaan jaringan infrastruktur Disamping rencana-rencana sektor pariwisata tersebut di atas. (2) Membangun Dermaga Wisata Bahari di kawasan Wisata Tanjung Pasir. pasar ikan. maka diusulkan untuk dilakukan revisi terhadap Rencana-rencana Induk Dinas Pariwisata. penetapan Dadap sebagai daerah wisata yang mencakup aktivitas: (1) wisata keluarga: 1) waterfront. taman-taman. ke Kecamatan Mauk dan Kronjo. play ground dan tempat olah raga terbuka.

27 tersebut tampak bahwa untuk mencapai kondisi ideal yang diinginkan. (5) Alih fungsi TPI Dadap menjadi pelabuhan yang mengkoordinasikan kapal penelitian Baruna Jaya. Selain itu. suatu kerjasama yang saling melengkapi dalam hal penyediaan prasarana dan sarana pembangunan di kawasan tersebut akan memberikan keuntungan optimal bagi kedua belah pihak. Pembangunan kembali TPI Kamal Muara harus mencakup berbagai fasilitas prasarana dan sarana pelabuhan perikanan. darmaga Kapal Riset Baruna Jaya. 255 .27. Konsep pembangunan kawasan pesisir terpadu benar-benar harus diterapkan di kawasan perbatasan ini. Tidak perlu dikembangkan suatu kegiatan yang sama di kedua kawasan perbatasan tersebut tetapi yang lebih baik adalah kegiatan yang saling mendukung dan saling mengisi. kegiatan pembangunan di kedua TPI tersebut juga perlu dikoordinasikan dengan baik oleh para perencana pembangunan dari kedua Pemda terkait (Pemkot Jakarta Utara dengan Pemda Kabupaten Tangerang). (3) Kali Perancis sudah sangat dangkal sehingga kapal ikan hanya dapat masuk pada saat laut pasang. Hal ini untuk mencegah terjadinya pemborosan sumberdaya akibat pembangunan prasarana dan sarana yang tumpang tindih dan tidak perlu dilakukan di areal yang secara fungsional kurang diperlukan.perikanan yang berlangsung di TPI Dadap perlu dipindahkan ke TPI Kamal Muara. Alasan utama pemindahan aktivitas perikanan ini adalah: (1) (2) Jarak kedua TPI ini terlalu dekat. Secara lengkap fasilitas yang pelu dibangun dapat dilihat pada Tabel 5. kapal pesiar. kapal angkutan ke dan dari Kepulauan Seribu.27. Dari Tabel 5. (4) Adanya rencana pembangunan kawasan wisata Pantai Mutiara. Tabel 5. dengan mengedepankan prinsip saling mendapat keuntungan (win-win solution). kapal pesiar (yacht). TPI Dadap sudah tidak aktif lagi sejak Ketua KUD Mina Bahari meninggal tahun 1997. yaitu hanya 700 m lewat laut. dan kapal peti kemas. kapal peti kemas. serta perahu-perahu nelayan yang berubah fungsi menjadi perahu untuk wisata air. Daftar fasilitas pelabuhan yang perlu dibangun di TPI Dadap dan TPI Kamal Muara setelah rencana penataan.

000 balok per 24 jam 1 unit. 12. kebanggaan diri dan kelompok berkaitan dengan prestasi kerja sangat mempengaruhi mulus tidaknya suatu koordinasi.250 ton 1 unit. 5.No FASILITAS & DIMENSI 1 Kapasitas awal 2.097 5-10 GT= 21 unit 500 kapal ikan dengan rata-rata bobot 50 GT. 7. tambahan penghasilan. 8. dan kapal pesiar kolam kedalaman minimal 7 m jalur 176 m2 24. kap. Oleh karena itu. 4. kap. KKN (korupsi. Beban sekarang (jumlah unit kapal) 3.000 m2 1. 13. kedalaman minimal 5 m 176 m2 24.375 m2 1. 40 ton per hari 1 unit 1 unit 24 unit 2 unit TPI Kamal Muara 15 motor tempel > 10 GT = 1. Kapasitas direncanakan 4. Ada beberapa faktor yang menyebabkan 256 . 40 ton per hari 5. 1. 15.400 m2 5 unit 24 unit 1 unit Dalam dunia nyata.000 m2 1 unit. 10. agak sulit untuk mendapatkan suatu perencanaan terpadu yang benar-benar mulus. kap. 6. Pengerukan pelabuhan dan pelayaran Pembangunan darmaga sandar Pembangunan kolam pelabuhan Tempat pelelangan ikan Tempat penanganan ikan Tempat pengecer/pengolah ikan Pembangunan pabrik es Pembangunan cold storage Pembangunan SPBU Bengkel/dok Gudang alat perikanan Pujaseri Pos jaga TPI Dadap < 5 GT = 55 unit 5-7 GT = 227 unit 7-20 = 6 unit yang Dapat menampung Kapal Riset Baruna Jaya (300 GT). kolusi. termasuk juga gratifikasi) sulit diberantas. Ego sektoral. 9. kapal peti kemas. 14. kap. koordinasi pembangunan tidaklah semudah apa yang ditulis para ahli. terjadinya hal tersebut: 1) Setiap kegiatan di unit kerja pemerintah (baik pusat maupun daerah) selalu diharapkan akan mendapatkan tambahan penghasilan bagi orang-orang yang terlibat didalamnya. Di Indonesia.375 m2 340 m2 1 unit. dan nepotisme. 11.

sederhana. Beberapa kegiatan pembangunan yang dapat dikerjasamakan diantara Pemkot Jakarta Utara dengan Pemda Kabupaten Tangerang antara lain dapat dilihat pada Tabel 5. 2) Setiap pekerjaan dan tugas yang dilakukan di kantor adalah suatu kewajiban bagi pegawai tersebut dan tidak akan mendapatkan tambahan penghasilan. TANGERANG PEMKOT JAKARTA UTARA 257 . Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas. beberapa hal dapat dilakukan antara lain: 1) Menaikan gaji pegawai sampai pada tingkat dimana pegawai pada semua tingkatan tidak lagi memikirkan untuk mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan primer (termasuk biaya pemeliharaan kesehatan dan pendidikan anak). Hal ini terjadi karena juga aparat hukum dan aparat keamanan belum benar-benar bekerja bersih. 4) Keteladanan pimpinan yang berkaitan dengan hidup jujur. karena mengharapkan kegiatan yang sama diwaktu yang akan datang. 3) Penghargaan pemerintah kepada pegawai harus didasarkan pada kejujuran dan prestasi kerja yang berlandaskan kelestarian lingkungan. tidak hanya didasarkan pada nilai uang semata. masih belum umum dan kurang diekspose oleh media massa. 3) Sanksi hukum yang belum benar-benar ditegakkan secara adil dan merata (tidak melakukan tebang pilih). Hal ini mengakibatkan kualitas pekerjaan yang dilakukan sangat rendah. 4) Pemerintah harus menerapkan sanksi hukum secara adil dan merata.28 Beberapa kegiatan pembangunan yang berkaitan dengan perikanan yang dapat dikerjasamakan diantara Pemkot Jakarta Utara dengan Pemda Kabupaten Tangerang di kawasan Dadap-Kamal Muara No AKTIVITAS PEMDA KAB. dan bersih. Tabel 5.2) Moral pegawai yang lebih mengedapankan kepentingan pribadi dan kelompoknya dibandingkan dengan hasil akhir yang harus dicapai dari kegiatan tersebut.28. Dia bertanggungjawab terhadap aspek adminstrasi dan kualitas pekerjaan tersebut.

Perikanan • • • • • Instalasi air bersih pabrik es mesin penghancur es coldstorage memfungsikan gudang untuk produk-produk perikanan • mengganti fungsi TPI Dadap menjadi pelabuhan wisata pantai dan laut • pengerukan dasar Kali Perancis secara reguler • Melakukan penataan lokasi budidaya kerang hijau • Pembangunan fasilitas PPI Kamal Muara • perumahan nelayan • bengkel mesin dan dock • tempat perbaikan alat tangkap • rumah sakit • pengerukan dasar Kali Kamal secara reguler 258 .1.

2.2 Opini masyarakat tentang kondisi perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5. Teluk Naga).3. Tanjung Kait Kec. Sukajadi.3 259 .2 prasarana dan sarana 5.1 Kapasitas PPI Kamal Muara dan TPI Dadap 5. Kronjo).3.5 Dukungan logistik untuk pelabuhan perikanan 5. 4.2. Arukan/Muara dan Salembaran Jati (Kec.3.2.3 Aspek kelembagaan pelabuhan perikanan 5.2.4 5.1.3 skalogram 5.2.1 biofisik (hidrooseanografi) 5. Tanjung Burung dan Tanjung Pasir (Kec.2.2 kelayakan teknis pelabuhan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5.2.1 aspek pengembangan wilayah: 5.2.1.3.2.Lanjutan Tabel 5.2.2 shift share 5.2. • wisma/hotel untuk wisatawan • toko peralatan wisata laut Galangan kapal kayu dan fiber Toko peralatan tangkap. Kosambi).2.4 Ketergantungan daerah perikanan 5.2. penangkapan Kawasan • melakukan koordinasi • Menyiapkan kawasan konservasi dengan kecamatan lain yang mangrove sebagai memiliki kawasan konservasi daerah konservasi yang memungkinkan untuk • memelihara arealmenjadi objek wisata alam: areal konservasi laut Pulau Cangkir (Kec.1 LQ 5. Manajemen kawasan sekitar Analisis Permasalahan Umum Penentuan Lokasi Pelabuhan Perikanan 5.3.28 No 2. Prasarana SPBU khusus dan Sarana glass.1 5.2.2 5.4 Aspek Ekonomi-Sosial Kawasan Pesisir Dadap-Kamal Muara AKTIVITAS 3.3 Kapasitas pelabuhan perikanan 5.2.2.2.2. PEMDA PEMKOT KAB.6 akses transportasi 5.2.2 Peluang pemanfaatan kapasitas TPI Muara Angke Manajemen kawasan pelabuhan 5.1 tata ruang 5. TANGERANG JAKARTA UTARA Wisata laut • Penyiapan objek • Pendidikan pemandu wisata wisata laut • menyediakan perahu untuk kegiatan wisata • sarana keselamatan wisata laut • rumah makan & restoran • menyiapkan objek seafood wisata mangrove.3.3 Pasokan Ikan 5.1. 5.2.

4 Aspek ekonomi-sosial kawasan pesisir Dadap-Kamal Muara Sebagai pusat kegiatan ekonomi yang dibangkitkan oleh sektor perikanan. Potensi ekonomi TPI Muara Angke ini dihitung sebelum terjadinya kenaikan bahan bakar minyak.000 260 . NILAI JUMLAH BURUH/ TRANSAKSI HARIAN UNIT (3) (4) 70 orang 60 35.000 1. No JENIS KEGIATAN/ PELAYANAN (1) (2) 1 Transaksi TPI Anak buah peserta lelang 2 Bahan bakar Buruh 3 Es balok 4 Kegiatan tambat labuh 5 Tryas (tryaze.000. penyortiran)) 6 Buruh dilingkungan TPI Buruh kuning Buruh biru (6) 1.766. Data selengkapnya dari potensi ekonomi TPI Muara Angke dicantumkan dalam Tabel 4.000.5.000 balok 18 600 unit JUMLAH TRANSAKSI HARIAN (5) 250.3.000/blk Perda No 3/99 31 34 32 25.000 850.650/lt 12.000 KET.989 8.000 300.22.000 100.000 25.000 198.100.000. TPI Muara Angke telah menghasilkan suatu input yang bernilai lebih dari Rp 758 juta per harinya.000 800.000 2.22 Potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Muara Angke tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM (Disnakkanlut 2005). Tabel 4.000 112 ton 56.667 96.

22 (1) (2) Buruh merah Buruh jijau 7 8 9 10 Kuli gerobak pengasin Kuli gerobak lelang Puja seri Buruh Pedagang K5 produk perikanan Buruh Pedagang grosir Buruh Unit pengepakan Buruh Workshop Buruh Kios alat perikanan Buruh Kios gudang/kantor Buruh Mirasih Buruh Pedagang otak-2 Buruh Cold storage Buruh Pabrik es Buruh PHPT Buruh Koperasi putri salju Agen depot es Buruh depot es Buruh pikul pjg Buruh pikul pdk Buruh kantor (3) 10 9 40 83 24 unit 144 85 79 276 828 30 unit 90 10 unit 109 38 unit (4) 20.000 4.000 38.000 1.031.667 15.000 30 unit 240 60 85 20 40.080.000 3.000 20.250.500 11 12 13 14 15 16 unit 16 17 18 1 unit 20 22 unit 20 I unit 53 1 unit 44 203 unit 1.333 1.333 333.000 20 21 30.000 50.000.000 15.000 (6) 10.667 261 .440.666.000 1.000 30.333 9.000 50.452.760.000 2.81.000 83.000 22.600.000 (5) 200.667 Kisaran gaji: 0.8-4 jt/bl 19 40.490.Lanjutan Tabel 4.000 2.000 30.000 600.000 pedagang 25.000 1.000 2.000 16.185.500 1.250.000 15.5 jt/bl Kisaran gaji: 0.000 2.000 pedagang 15.700.000 25.000 135.

440.000 35.000 29.000 1.540.000 35.000 (5) (6) 40.000 32.330.000 32.975. Namun demikian.22 (1) (2) Jml buruh pikul angkutan Mobil putri salju Buruh 10 Upah ABK Jaring cumi Bouke ami Bubu Angkutan Gillnet Purse seine Jaring cantrang Jaring rampus Jaring nilon Jaring tangsi Lampara Payang Pancing Muro ami Jumlah (3) 55 12 unit 24 369 1.258 Ket: Buruh kuning = bertugas untuk mengangkut ikan dari kapal sampai darmaga Buruh biru = bertugas untuk mengangkut ikan dari darmaga sampai ke lantai pelelangan Buruh merah = bertugas untuk mengangkut ikan setelah pelelangan sampai ke truk pengangkut ikan Buruh hijau = bertugas untuk mengangkut ikan setelah pelelangan sampai ke PHPT Dari Tabel 4.525 411 35 18 96 53 174 48 58 (4) 25.840. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya kapal yang tidak dapat beroperasi.000 40.375.000 2.000 27.000 12.808.000 540.000 35.000 30.000 1.050.880.000 30.590.000 2.175.000 35. kemudian pada bulan Oktober naik kembali menjadi Rp 4.975.000 6.248.258.000 904.300 pada bulan April.000 68.000 35. 262 . kenaikan biaya operasional ini tidak menjamin terjadinya kenaikan hasil tangkap ikan yang dapat digunakan untuk menutup biaya operasional. termasuk untuk kebutuhan operasional penangkapan ikan.000 30.000 30.000 1.320.770.000 11. Kenaikan harga BBM telah mendorong terjadinya kenaikan harga barang lain.000 28.300.000 1.024 2.000 30. Jumlah transaksi ini menjadi jauh mengecil pada saat terjadinya kenaikan bahan bakar sampai dua kali dalam tahun 2005 ini.000 30.090.Lanjutan Tabel 4.039 822 844 1.000 960.650 naik menjadi Rp 2.22 tersebut tampak bahwa total nilai transaksi harian di TPI Muara Angke dapat mencapai Rp 904.000 33. yaitu harga solar dari Rp 1.

KET.000 3 Es balok 200 balok 2.000 pengasin 10 Pedagang K5 2 15.550.000 2. sesuai dengan perkembangan.000 Bubu (20) 80 20.530.33 Tabel 4.600.2.000/blk Ditinjau dari aspek land rent.000 250.000 1.000 Sumber: UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (2005) No 1.000 10.000 270.2.580.1.1. JENIS JUMLAH NILAI JUMLAH KEGIATAN/ BURUH/ TRANSAKSI TRANSAKSI PELAYANAN UNIT PER HARI PER HARI 1 Transaksi TPI 2 Bahan bakar 5 ton 8.000 7 Kuli gerobak 4 15.000 Pancing (88) 264 20.000 600.000 Kerang Hijau 150 17.000 5. Data perubahan harga lahan di sekitar Kawasan Dadap dan Kamal Muara dicantumkan dalam Tabel 5. Tabel …Perubahan harga lahan di Kawasan Dadap dan Kamal Muara JARAK DARI PUSAT KEGIATAN Harga lahan per meter di sekitar TPI Dadap dan TPI Kamal Muara 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 1.250.000 30.000 (50) Jumlah 61. nilai lahan di daerah penelitian berubah dari tahun ke tahun.000 produk perikanan 16 Mirasih 3 unit Buruh 18 15.Data potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Dadap tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM dicantumkan dalam Tabel 4.000 29.400.820.000 10 Upah ABK Gillnet (142) 852 35.000 Purse seine (39) 390 27.280.33 Potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Dadap tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM.000 Buruh 10 25. 263 .650/lt 12.

dan = produk marjinal dari unit lahan ke-I As the rent .bid curve represents the willingness for the urban inhabitant to con 264 . 2 3 4 5 6 Perubahan harga lahan dan juga kontrakan rumah/tempat usaha menunjukkan kecenderungan yang meningkat meskipun pada skala yang berbeda.2 3 4 5 6 JARAK DARI PUSAT KEGIATAN Harga kontrakan rumah/toko per meter di sekitar TPI Dadap dan TPI Kamal Muara 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 1. Perubahan harga lahan di lokasi penelitian dianalisis menggunakan regresi linier menghasilkan gambaran sebagai berikut: VMPi = Po x MPi dimana: VMPi = nilai produk marjinal dari unit lahan ke-I Po MPi = net price dari output (setelah dikurangi biaya transportasi).

It means that the benefit could only be exploited only at one time. instead of individual (Ulayat Land: indigenous land ownership belong to the traditional clan/family . a rent-bid curve can be obtained. Similar graph was produced for cross sectional land value. for identifying market price for land belong to the ethnic clan.231 for the whole corridor.land use interaction theory.333. CONCLUSIONS AND RECOMMENDATION FOR FUTURE RESEARCH The proposed methodology for estimating land benefit of road investment scheme above has demonstrated the applicability of microeconomic theory of land use and trans port . or spread over the period of analysis.bid Curve for the City of Padang along the Corridor possible to estimate the change in the land value. Estimating the rent . It is important to note that the above land development benefit is "one-off" benefit. Assuming the influence with is 500 meters. The equations for the land value are as follows: The aggregate analysis shows that the equation for both under-developed and developed corridor yield satisfactory R2. For both aggregate and disaggregate analysis. can hardly be used to represent land value. It shows that the change in the rentbid curve can be used as a proxy for estimating land development benefit. The data were collected and categorized into two groups. the calculation of land benefit along proposed road corridor yields a total benefit of Rp 526.bid curve and utilizing equations (4) and (5) above. The data collection has a specific challenge.often not transferable and saleable). they were sparsely distributed. Figure 5 Rent . particularly in Padang.bid curve for developed and underdeveloped land along corridor. and (2) land located at the proposed (under-developed) corridor.Cross sectional land value data along the corridor were collected for each 100 meters resulting 107 x 5 set data to create three-dimensional equation as formulated in the equation (3) above. and the road corridor is calculated between 3+000 and 20+000. What is currently seen to be a "taken-for-granted" investment for promoting property development can be captured and calculated. Three-dimensional graphs for with and without project case are shown in Figure 6. 265 . When the data were plotted graphically. namely: (1) land located at developed corridors. Figure 5 below demonstrates the aggregate rent .454. The increased land benefit alone can be used as a foundation for the government to initiate negotiation with private developer for the investment sharing. is still to be developed to incorporate non-discrimination issue for affected land along the development corridor. The research collected market price data from respective land use since the current tax-object sales value (NJOP: Nilai Jual Obyek Pajak). The current regulatory framework however. it is now Figure 6 Three-dimensional Representation of With and Without Project Situations The information obtained from the development benefit estimation can now be used and internalized in the feasibility and project appraisal process.

Teknisia Journal. Hong Kong: Conference Proceeding: 3rd inter. 1995. 26-34 __________ 2000. Urban Facilities And Transportation Interaction: A Case Study Of Vienna. the development benefit in the case of Padang urban road project produces Rp 526. Future research should be directed to integrate the diminishing impacts of road investment along corridor width using discrete parcel instead of a continuous function. The integration will pave a new way for dynamic modelling of measuring development benefit to be share in more equal manner by private land developers. Great Britain: Cambridge University Press Banister. WB Technical Paper 409. FSTPT Journal Vol 2 No 1 June 2000 pp. London: Spon Heggie. Ditinjau dari potensi ekonomi yang dapat berkembang di ke tiga TPI tersebut. Private Sector Investment in Roads: The Rhetoric and the Reality. Significant increase in the land value from road investment as shown in the case of Padang shows that this renewed and replicable methodology encourages creative public private partnership for urban road infrastructure for many other Indonesian cities.national Conference of Hong Kong Society for Transportation Studies __________ 1998b. II No. Interdependence between Accessibility of Transport Infrastructures and Location Choice and Its Effects on Energy Consumption. 2332 Ditinjau dari aspek ekonomi. Vickers. Integrated Land Use and Transport Modelling: Decision Chains and Hierarchies. Vol. pp. pengaturan bersama terhadap aktivitas yang berkaitan dengan fungsi TPI Dadap dan TPI Kamal Muara dalam bidang perikanan khususnya dan bidang-bidang lainnya yang terkait dengan pengelolaan kawasan pesisir dan lautan (yaitu wisata bahari dan pelabuhan). 266 . D. 1989.Internalization of land benefit into project appraisal will further enrich the current road investment externalities besides environment and safety. Development of Algorithm for Tri-proportional Approach in Urban Location Choice. in David Banister (ed) Transport and Urban Development. Commercial Management and Financing of Roads.1998. akan memberikan keuntungan optimal dari banyak aspek ekonomi di sekitar kawasan tersebut. de la Barra. Tomas. Development of Land Use Transport Model Using Constant Travel Time Budget Principles. Washington Parikesit. David. Austria. Using the proposed method.Vienna: TU Wien _________ 1998a. Unpublished Doctoral Dissertation. 1996. Ian and J.454 billion worth of land value change. 6.

dibandingkan dengan yang terjadi di TPI Kamal Muara (Rp 168. di TPI Muara Angke menghasilkan persentase dana untuk kas daerah yang lebih besar jika dibandingkan dengan kedua TPI lainnya.4 juta dari 11 aktivitas).6 juta dari 6 aktivitas saja).maka kondisi awal dapat dilihat dari hasil penggabungan data Tabel 4.27 dan Tabel 5.31 dan Tabel 4. berbagai jenis aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan perikanan tersebut. 267 . dan di TPI Dadap hanya (Rp 61.39. Dari Tabel 5.27 tampak bahwa secara deskriptif sekalipun aktivitas ekonomi yang terjadi di TPI Muara Angke menghasilkan transaksi harian hampir sebesar Rp 905 juta dari 22 variabel aktivitas. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi komplek TPI yang lebih terkonsentrasi jika dibandingkan dengan di kedua TPI lainnya.27. sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.28. Hanya saja. Tabel 4.

490 1.440 30.000 10 ton 35.989 8. dan Dadap tahun 2005 sebelum kenaikan harga BBM.000 6.67 96. (12) 1 Transaksi TPI Anak buah peserta lelang 2 Bahan bakar Buruh 3 Es balok (balok) 4 Kegiatan tambat labuh 5 Tryas (tryaze.000 15.Tabel 5.000) (9) (10) (11) MA KM D 250.000 100 300 700 16.000 10.100 198.000 25.000 NILAI SATUAN TRANSAKSI PER HARI (6) (7) (8) MA KM D 35 35. JUMLAH BURUH/ UNIT (3) MA 70 orang 60 31 (4) KM 20 10 15 34 32 10 9 40 83 24 unit 144 10 10 3 12 (5) D 0 0 2 25.000 15.000 20.27 No (1) JENIS KEGIATAN/ PELAYANAN (2) Potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja rata-rata per hari di lingkungan TPI Muara Angke.766.000 850 800 200 135 600 2.250 50 240 120 Rp 1.000/blk Perda No 3/99 KET.500 350 600 50 375 150 200 8. Kamal Muara.750 2.000 15.000 1.650/lt Rp 12.000 112 ton 56.000 200 - .000 18 600 unit 25.000 20. penyortiran)) 6 Buruh dilingkungan TPI Buruh kuning Buruh biru Buruh merah Buruh hijau 7 Kuli gerobak pengasin 8 Kuli gerobak lelang 9 Puja seri Buruh - 5 ton 25.000 10.000 30.000 500 25 JUMLAH TRANSAKSI PER HARI (x Rp 1.

000 22.250 2.333 40.5 juta/bl Kisaran gaji: 0.700 2.000 9.600 Kisaran gaji: 0.Lanjutan Tabel 5.000 15.000 15.000 (8) 15.000 30.000 38.000 30 unit 240 (4) 25 25 6 unit 12 2 4 2 2 5 5 3 (5) 2 2 (6) pedagang 15.67 1.000 - (9) 1.000 (7) 15.000 15.031.452.33 1.000 16.8-1.5 760 (10) 375 240 60 30 75 60 (11) 30 - (12) 10 Pedagang K5 produk perikanan Buruh 11 Pedagang grosir Buruh 12 Unit pengepakan Buruh 13 Workshop Buruh 14 Kios alat perikanan Buruh 15 Kios gudang/kantor Buruh 16 Mirasih Buruh 17 Pedagang otak-otak Buruh 18 Cold storage Buruh 19 Pabrik es Buruh 20 PHPT Buruh 21 Koperasi putri salju Agen depot es Buruh depot es 20.185 20.667 15.27 (1) (2) (3) 85 79 276 828 30 unit 90 10 unit 109 38 unit 38 16 unit 1 unit 20 22 unit 20 I unit 53 1 unit 44 203 unit 1.000 25.000 - 333.000 25.000 20.8-4 juta/bl 30 269 .000 15.080 2.000 40.500 20.760 30.

770 29.000 35. 540 2.300 4.000 30.000 35.000 17.000 30.320 904.520 31.590 3.540 35.880 1.024 2.000 30.000 (5) (6) 50.175 12.330 1.000 270 .000 (8) (9) 3.150 4.000 17.808 33.000 27.67 1.580 (12) Buruh pikul pjg Buruh pikul pdk Buruh kantor Jml buruh pikul angkutan Mobil putri salju Buruh 22 Upah ABK Jaring cumi Bouke ami Bubu Angkutan Gillnet Purse seine Jaring cantrang Jaring rampus Jaring nilon Jaring tangsi Lampara Payang Pancing Muro ami Bagan Kerang hijau Jumlah harian transaksi 80 142 390 264 150 32.000 50.620 2.039 822 844 1.000 35.000 30.000 30.250 1.000 20.800 51.000 30.000 27.Lanjutan Tabel 5.000 168.290 6.550 61.248 28.840 68.000 27.000 35.975.000 40.000 30.000 35.000 4.000 30.000 35.280 2.000 32.050.760 7.000 83.666.000 30.333 25.000 20.26 (10) 11.425 (11) 5.590 6.525 411 35 18 96 53 174 48 58 - (4) 336 270 210 105 132 84 1.000 40.375 960 11.27 (1) (2) (3) 60 85 20 55 12 unit 24 369 1.090 1.440 2.000 (7) 35.000 - 20.

dan Dadap tahun 2005 JUMLAH UNIT MA KM 56 313 42 35 11 28 530 1. 2005) (2) gill net 27-30 GT = 370 jt (Muhartono.058 A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 456 768 377 1292 358 543 284 5 39 61 13 6 12 - 4.675 3.250 3.000) MA 114.500 1.850 10.900 240 2.000 75.729 339 1.600 1. KM = Kamal Muara.918 6.Tabel 5.500 . Kamal Muara.256.255 8. 2004) (3) jaring cumi (30 GT) = 250 jt (4) Bouke ami (30 GT) = 250 jt (5) bubu (25 GT) = 200 jt (6) angkutan (35 GT) = 150 jt (7) jaring cantrang (25 GT) = 200 jt (8) jaring rampus (25 GT) = 200 jt (9) jaring nilon (20 GT) = 150 jt (10) jaring tangsi (20 GT) = 150 jt] (11) lampara (20 GT) = 175 jt (12) payang (35 GT) = 300 jt (13) pancing) (40 GT) = 250 jt (14) pancing (10 GT) = 75 jt (15) muro ami (20 GT) = 175 jt.256 trilyun rupiah dari sekitar 4.400 193.300 2.000 192. D = Dadap Nilai investasi unit alat tangkap diasumsikan : (1) pukat cincin (purse seine) 40 GT = Rp 565 jt (Mahdi.000 D 52.400 5.800 750 5. (16) bagan (15 GT) = 125 jt (17) kerang hijau (5 GT) = 20 jt Hasil analisis pada Tabel 5. dimana jumlah investasi untuk unit armada perikanan diperkirakan mempunyai nilai sebesar Rp 1.385 56.360 141.540 21. data primer Catatan: MA = Muara Angke.000 82.000 D 20 142 39 88 50 No JENIS INVESTASI Alat tangkap Jaring cumi Bouke ami Bubu Angkutan Gillnet Purse seine Jaring cantrang Jaring rampus Jaring nilon Jaring tangsi Lampara Payang Pancing* Muro ami Bagan Kerang hijau TOTAL INVESTASI (x Rp 1.800 132.250 20.275 Jumlah Investasi Sumber: Disnakkanlut (2005).100 66.100 KM 20.28 menunjukan tingginya transaksi yang terjadi di TPI Muara Angke.28 Potensi ekonomi investasi alat tangkap di lingkungan TPI Muara Angke.000.720 15.460 468.

14. 6. Tabel 5. Prediksi pola investasi yang dapat berkembang di lingkungan TPI Muara Angke. 23. dan Dadap POLA PERUBAHAN INVESTASI MA KM D - BIDANG INVESTASI Penangkapan ikan Kapal angkutan ikan Sentra pengolahan ikan Pabrik es Cold storage/cool room/cool box Dock/perbengkelan BBM/pelumas Grosir alat penangkapan Pujaseri/rumah makan Pembangunan pelabuhan Air bersih Objek wisata pantai Pemandu wisata air Pemandu wisata ilmiah Kapal angkutan penumpang Operator kendaraan wisata air Klinik kesehatan Souvenir Jasa telekomunikasi Jasa penginapan/perhotelan Jasa kebersihan lingkungan Jasa keamanan Kontainer Gudang garam Gedung perkantoran/bisnis Jumlah variabel - - - 12 6 . 17.729 unit). 22. 19 20.unit. 24. maka perubahan pola investasi yang kemungkinan dapat dicapai di ketiga TPI tersebut diperkirakan adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. 22. 18 17 1 Keterangan: MA = Muara Angke. 11. 16. 8. 18. Kamal Muara. KM = Kamal Muara.29. 12. dan untuk TPI Dadap hanya Rp 82. sedangkan untuk TPI Kamal Muara sebesar Rp 141. 21. 15. 9. D = Dadap = perlu dibangun = dikurangi = kondisi tetap 272 .28 milyar (dari 1. Jika skenario pengalihan sebagian kapal dari TPI Muara Angke dan TPI Dadap ke TPI Kamal Muara dapat berjalan. 5. 13.29 No 1 2 3 4. 10.06 milyar (dari 339 unit). 7.

3 Pasokan Ikan 5.3 Kapasitas pelabuhan perikanan 5.2.2.3 skalogram 5. kapal riset Baruna Jaya.2.2.2.3.2.2 Opini masyarakat tentang kondisi perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5.2 Peluang pemanfaatan kapasitas TPI Muara Angke Manajemen kawasan pelabuhan 5.3. Untuk TPI Kamal Muara.2.3. maupun yang berkaitan dengan aktivitas wisata pantai yang berpusat di Pantai Pasir Putih Mutiara Dadap.2.2.2.1.2.1.4 Aspek Ekonomi-Sosial Kawasan Pesisir Dadap-Kamal Muara 5.5 Dukungan logistik untuk pelabuhan perikanan 5. kapal pesiar. 5.1. kontainer dan gudang garam. sedangkan di TPI Dadap terdapat satu variabel yang harus dikurangi.1 aspek pengembangan wilayah: 5.2 prasarana dan sarana 5.2.2. pabrik es.1 Kapasitas PPI Kamal Muara dan TPI Dadap 5. Sejak dahulu kala. cold storage/cool room/cool box.3.1 5.2.6 akses transportasi 5.3.2 kelayakan teknis pelabuhan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5.1 LQ 5.2 Analisis Permasalahan Umum Penentuan Lokasi Pelabuhan Perikanan 5.3 Aspek kelembagaan pelabuhan perikanan 5.2. Di TPI Dadap juga tersedia kesempatan untuk melakukan investasi di 17 bidang. dengan meningkatnya pengetahuan dan dinamisnya pembangunan 273 . yaitu: sentra pengolahan.3.3 Responsible fisheries LATAR BELAKANG 1. Sesuai dengan data dari Disnakanlut (2005). terdapat 18 variabel investasi yang perlu dibangun.Dari Tabel 5. dan kapal nelayan untuk pemandu wisata.2 shift share 5.1 biofisik (hidrooseanografi) 5.4 Ketergantungan daerah perikanan 5.29 tampak bahwa terdapat 12 variabel investasi yang diduga tidak akan berubah keberadaannya di TPI Muara Angke meskipun dilakukannya pemindahan sejumlah kapal ikan dari sini ke TPI Kamal Muara.1 tata ruang 5.2.2. baik yang berkaitan dengan operasional kapal yang terdiri dari kapal peti kemas.2.2.2. Akan tetapi. terdapat enam variabel investasi yang masih perlu ditingkatkan kapasiatasnya di Muara Angke. Penangkapan ikan menjadi sumber utama pangan untuk manusia dan penyedia kesempatan kerja serta memberi manfaat ekonomi bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan ini. yaitu unit armada perikanan yang sebagian besar perlu dipindahkan ke TPI Kamal Muara.

Deklarasi Cancun yang disahkan pada Konperensi tersebut telah dibawakan untuk menjadi perhatian Pertemuan Tingkat Tinggi UNCED di Rio de Janeiro. Brazilia. perikanan dunia telah menjadi sebuah sektor industri pangan yang berkembang secara dinamis.perikanan . didasari bahwa sumber daya akuatik. dan Negara-Negara pantai sudah berusaha keras mengambil keuntungan dari peluang baru yang mereka peroleh dengan menanamkan modal dalam armada penangkapan dan pabrik pengolahan modern sebagai tanggapan atas permintaan internasional yang meningkat akan ikan dan produk perikanan. ekonomi dan kesejahtraan masyarakat dari penduduk dunia yang terus bertambah ingin di pertahankan. lebih lanjut merekomondasikan perluasan uraian draft dari Tatalaksana untuk menangani isu eperikanan laut lepas. 4. mengorganisasikan sebuah Konperensi Internasional mengenai Penangkapan Ikan yang Bertanggungjawab di Cancun. Dalam tahun-tahun belakang ini. Bagaimanapun. yang mendukung penyiapan sebuah Tatalaksana untuk Perikanan yang Bertanggungjawab (TPB). 274 . bekrjasama dengan FAO. Tanda-tanda jelas mengenai pengusahaan-lebih stok ikan penting. Rezim hukum baru menyangkut samudra telah memberi Negara-Negara hak dan tanggungjawab bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan di dalam ZEE mereka yang meliputi sekitar 90% dari perikanan laut dunia. Konsultasi Teknis FAO mengenai penangkapan Ikan di Laut lepas. 3. Sesi ke 19 Komite FAO tentang Perikanan. meskipun bisa diperbarui. yang diadakan pada Maret 1991. FAO telah diminta untuk mengembangkan konsep perikanan yang bertanggungjawab dan menguraikansebuah tatalaksana untuk membantu dalam perkembangan penerapannya. Oleh karena itu. 2. dan sengketa internasional menyangkut pengelolaan dan perdagangan ikan telah mengancam kelestarian jangka panjang perikanan dan kontribusi perikanan pada pasok pangan. tampak jelas bahwa banyak sumber daya perikanan tidak dapat menopang peningkatan pengusahaan yang sering tidak terkendali. modifikasi ekosistem. bila kontribusinya terhadap gizi. Mei 1992. demikian pula pertimbangan sosial dan ekonomi. merekomondasikan bahwa sudah mendesak diperlukan pendekatan-pendekatan baru pada pengelolaan perikanan yang meliputi konservasi dan lingkungan. 5. Adopsi konvensi PBB mengenai Hukum Laut tahun 1982 memberikan kerangka baru bagi pengelolaan sumber daya laut yang lebih baik. Juni 1992. kerugian ekonomi yang berarti. bukanlah tidak terbatas dan karena itu perlu dikelola secara baik. Kemudian Pemerintah Meksiko. yang diadakan September 1992.

9. 7. yang menurut revolusi Konperensi FAO 15/93. Integrasi Perikanan ke dalam Pengelolaan Kawasan Pesisir. Sesi ke 102 FAO Council. sebagaimana tercermin dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut. 1995. yang diadakan pada Maret 1993. Hukum Laut10 Desember 1982 yang berkaitan dengan konservasi dan pengelolaan stok ikan Pengembara dan Stok Ikan Beruaya jauh. serta Kebutuhan Khusus Negara Berkembang. demikian pula dengan Perjanjian bagi Pelaksanaan dari Ketentuan Konvensi PBB tentang. Tatalaksana terdiri atas lima artikel pengantar. Sesi ke 20 COFI. Pembangunan Akuakultur. merupakan bagian integral dari Iatalaksana. Upaya ini telah membuahkan hasil dalam Konperensi FAO. termasuk perluasan uraian petunjuk. telah menguji secara umum kerangka dan isi yang diusulkan untuk Tatalaksana tsb. Tatalaksana telah dirumuskan sedemikian rupa untuk ditafsirkan dan diterapkan sesuai dengan hukum dan peraturan internasional yang relevan. sebagai bagian dari Tatalaksana.6. 10. Hubungan dengan perangkat Internasional Lainnya. atas dasar “pelacakan cepat”. Deklarasi Rio 1992 mengenai Lingkungan dan Pembangunan khususnya Bab dari Agendda 21. Sikap dan Ruang Lingkup. Artikel pendahuluan ini diikuti oleh sebuah artikel tetang asa Hukum yang mendahului enam artikel tematik mengenai. serta Penelitian Perikanan. Deklarasi Cancun 1992. Sasaransasaran. Pengembangan Tatalaksana ini dilakukan oleh FAO dengan berkonsultasi dan bekerjasama dengan Badan-badan PBB relevan dan organisasi internasional lainnya termasuk organisasi non-pemerintah. Pemantauan dan Pemutakhiran. 1982. Pengelolaan Perikanan. Perjanjian untuk Memajukan kepatuhan dengan Langkah-langkah Pengelolaan dan konservasi Internasional oleh Kapal Penangkapan Ikan di Laut Lepas merupakan bagian integral dari Tatalaksana. telah membahas perluasan uraian dari Tatalaksana tsb. usulan untuk mencegah pembendaraan-ulang kapal penangkapan ikan yang mempengaruhi langkah konservasi dan pengelolaan di laut lepas. merekomondasikan agar memberikan prioritas pada isu laut lepas dan meminta agar usulan untuk Tatalaksana itu disajikan pada 1993 dari Komite FAO tentang Perikanan. 8. mengadopsi Perjanjian untuk Memajukan kepatuhan dengan Langkah-langkah konservasi dari Pengelolaan Internasional oleh Kapal Penangkapan Ikan di Laut Lepas. dan mengesahkan sebuah kerangka waktu untuk penguraian lebih lanjut Tatalaksana tsb. Pelaksanaan. Operasi Penangkapan Ikan. COFI juga meminta FAO untuk menyiapkan. Seperti sudah dikemukakan. mengingat antara lain. 275 . Praktek Pasca-panen dan Perdagangan. pada Sesi ke 27 bulan November 1993. diadakan November 1992.

serta keperluan komunitas pesisir. syarat yang pertama adalah agar Negara menetapkan kerangka kebijakan. Sumberdaya pesisir menjadi semakin langka disebabkan oleh gabungan pembangunan ekonomi dan meningkatnya penduduk dikawasan pesisir. Ketiga.1. Sesi ke 28 dari Konperensi dalam Resolusi 4/95 telah mengadopsi Tatalaksana untuk Periakan yang Bertanggungjawab. kawasan pesisir merupakan suatu sistem yang dinamis tempat berinteraksi proses fisik. Pertama. dengan memperhatikan kondisi lokal. Ketiga. Jika mungkin.1) 13. Kedua. seperti Perjanjian untuk Memajukan kepatuhan dengan langkah konservasi dan Pengelolaan oleh Kapal Penangkapan Ikan di Laut Lepas. kelangkaan sumber daya pesisir menuntut agar dibuat pilihan-pilihan diantara pemanfaatan yang berlainan. valuasi terhadap pilihan pembangunan yang beragam dan atau konservasi (isu dari valuasi ditunjuk lebih lanjut dalam 10. 15. dengan memperhatikan kerentanan ekositem pesisir dan sifat terbatasnya sumber daya alamnya. 17. perikanan artisanal mungkin sangat sulit mengelolanya kecuali jika ada pembangunan ekonomi di darat yang menciptakan alternatif 276 . ekologi. Dalam mempertimbangkan keterpaduan perikanan ke dalam pengelolaan kawasan pesisir yang lebih luas sifatnya. 16 Bagaimanapun.11. bagian tertentu dari Tatalaksana didasarkan pada aturan yang relevan dari hukum internasional. Masalah mendasar pengelolaan kawasan pesisir adalah salah satunya pengalokasian sumberdaya. Kerangka Kelembagaan (Artikel 10. Dalam pengelolaan sumber daya pesisir. masalah pengelolaan adalah bagaimana mengambil keputusan diantara kebijakan-kebijakan itu. hukum dan kelembagaan bagi pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu.2. Akan tetapi. kawasan pesisir memiliki sejumlah ciri istimewa yang merumitkan pilihan tersebut. 18. 14.2 di bawah) memberikan suatu dasar yang kuat bagi perumusan kebijakan. seperti yang tercermin tercermin dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 10 Desember 1982. perencanaan pengelolaan pesisir perlu memperhatikan berbagai proses dinamis tsb. Pengelolaan kawasan pesisir meliputi penetapan suatu kerangka yang di dalamnya dibuat pilihan-pilihan dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan agar dilaksanakan. Kerangka ini menetapkan kisaraan kebijakan yang akan dipertimbangkan secara ekologi lestari. Misalnya. 1. Tatalaksana juga memuat ketentuan yang mungkin atau sudah diberi efek mengikat dengan memakai perangkat hukum dan perundangan lainnya antara Pihak-pihak. harus dilakukan kehati-hatian untuk menghindari pendekatan sektoral sempit yang tidak sesuai. Dalam pengelolaan pesisir terpadu (PPT) perlu suatu pendekatan holistik. 12. sosial dan ekonomi. pada 31 Oktober 1995. karakter lokal dan regional dari sumber daya tsb bisa merumitkan koordinasi kebijakan di antara berbagai badan yang berlainan. Seperti lazimnya dengan sumber daya lainnya. karakter lokal dan regional dari sumber daya pesisir merumitkan pengalokasian sumber daya tersebut. termasuk pertimbangan sosial ekonomi.” (pasal 10. Sifat alir dari sejumlah sumber daya pesisir merumitkan pengalokasian sumber daya tersebut.1) “Negara-negara harus menjamin bahwa suatu kerangka kebijakan. Kerangka kebijakan dasar yang di dalamnya dibahas pengelolaan kawasan pesisir adalah satu kebijakan dasar mengenai pembangunan yang secara ekologi lestari. hukum dan kelembagaan‘ yang yang tepat diadopsi untuk mencapai pemanfaatan sumber daya pesisir yang lestari dan terpadu. Resolusi yang sama meminta FAO antara lain untuk menguraikan petunjuk teknis yang tepat untuk mendukung pelaksanaan dari Tatalaksana bekerjasama bekerjasama dengan para anggota dan organisasi relevan yang berkepentingan. Tatalaksana ini bersifat sukarela.

sekalipun negara 277 . beberapa negara dapat mengadopsi suatu pendekatan dimana berbagai badan-badan berlainan yang terlibat dalam pengelolaan pesisir tetap memiliki semua tanggungjawab mereka akan tetapi mengkoordinasikan perencanaan dan kegiatan mereka melalui suatu badan pusat. kedua. Pada awal dari spektrum. Banyak bidang lainnya yang membutuhkan suatu pendekatan terrkoordinasi pada pengambilan keputusan. yurisdiksiyang tumpang tindih atau yang berselisih diminimumkan. dan pada sisi lain. 19. badan-badan pada semua tingkat tetap terus diberi informasi menyangkut kebijakan kawasan pesisir untuk menjamin pertalian dalam pelaksanaan kebijakan. 21. sebuah mekanisme kelembagaan bagi pengelolaan pesisir terpadu akan menjamin hal berikut: pertama. Walaupun pendekatan ini bisa menghasilkan suatu permulaan dari perencanaan pesisir lintas sektor. harus dianalisis peran dan tanggungjawab dari berbagai badan dan.negara-negara dapat mengadopsi sebuah pendekatan yang benar-benar tepadu yang di dalamnya banyak tanggungjawab atas perencanaan dan pengalokasian sumberdaya dilakukan oleh sebuah lembaga terpadu. yang antara lain. perlu suatu analisis kelembagaan. Oleh karena itu. Dalam menyusun sebuah kerangkapengelolaan yang efektif. 20. Lebih lanjut sepanjang spektrum. lembaga yang demikian bisa berupa sebuah organisasi yang ada yang dilengkapi dengan kekuasaan yang ditinggalkan untuk menengahi ataupun secara alternatif sebuah lembaga yang baru sama sekali. kelihatannya cenderung jarang yang efektif dalam jangka panjang. Sifat yang tepat dari peraturan dan perundangan di setiap negara tergantung pada ruang lingkup dan kesenjangan dalam peraturan dan perundangan yang ada. sebuah badan yang ada mungkin diberi mandat untuk mengawali perencanaan pesisir lintas sektor akan tetapi tanpa tambahan tanggungjawab atau kekuasaan. Tambahan pula. Akhirnya. Untruk mendapatkan jenis pendekatan ini. dibutuhkan sebuah kerangka kelembagaan’ yang menyediakan pertalian yang tepat di antara otoritas nasional. regional dan lokal. Sebuah spektrum pendekatan telah diadopsi oleh negara-negara untuk menyediakan kerangka tsb.kesempatan kerja. direvisi. ditetapkan tatanan-tatanan pengkoordinasian/pengintegrasian yang tepat. ditetapkan tanggungjawab secara sektoral yang tepat. Diperlukan sebuah kerangka legislatif yang mengesahkan lembaga pengelolaan pesisir serta kegiatan yang dilakukannya. sehingga pada sutu sisi. mandat-mandat dari badan-badan tsb bervariasi sangat luas. dan ketiga. tidak ada isu penting yang tidak ditangani oleh suatu badan yang bertnggungjawab. jika perlu. pengalaman suatu negara tidak mesti secara langsung bisa dipindahkan ke lain negara.

Sangat sering. para nelayan dan pembudidaya ikan di pantai biasanya adalah yang pertama merasakan dampak dari banyak perubahan yang mungkin terjadi dalam lingkungan akuatik sebagai akibat dari pencemaran atau penyebab lainnya. pengolahan serta distribusi dari produksi. “Mengingat sifat multiguna kawasan pesisir. baik di darat maupun di perairan. ekonomi dan budaya.2) 22. otoritas yang berwenang mengenai perikanan dan sektor perikanan harus ikut serta dalam keputusan-keputusan yang menyangkut pembangunan di kawasan tersebut. yang mempunyai tanggungjawab sektor maupun antarsektor. politik. Suatu cara yang menjamin terwakilinya kepentingan perikanan secara tepat adalah menunjuk sebuah otoritas atau otoritas-otoritas untuk perikanan.itu memiliki kesamaan latar belakang sosial. 24. sektor perikanan bersaing di kawasan pesisir dengansektor lain untuk kebutuhan akan ruan.” (Pasal 10. adalah berupa peran yang nyata para nelayan dan pembudidaya ikan sebagai pengamat dari lingkungan pesisir. baik secara langsung bagi kegiatanproduktif-penangkapan ikan dan akuakultur pantai-maupun untuk penanganan. suatu aspek dari ketergantungan sektor tersebut pada lingkungan pesisir.1. Konsekwensinya. 23. semakin kuat struktur kelembagaan yang 278 . Sebuah ringkasan dari dampak utama terhadap perikanan yang diakibatkan oleh kegiatan sektor lain diperhatikan dalam Kotak 1. Negara harus memastikan bahwa wakil sektor perikanan dan komunitas penangkapan dimintakan pendapat dalam proses pengambilan keputusan dan dilibatkan dalam kegiatan lainnya yang berkaitan dengan perencanaan pengelolaan dan pembangunan kawasan pesisir. Dalam hubungan ini.

Lebih lanjut. tidaklah sama dengan isu yang dihadapi oleh sektor pertanian. model produksi pertanian-dengan meningkatnya masukan menghasilkan produksi yang lebih tinggi-tidak dapat diterapkan untuk sektor perikanan. 279 . Sifat dari sektor yang membuatnya sangat rentan terhadap perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan di pantai bisa mengakibatkan kepentingan yang berbeda yang saling bertentangan dengan sektor berbasis daratan seperti misalnya sektor pertanian. Khususnya.diadopsi bagi sektor perikanan akan semakin efektif mewakili kepentinganperikanan. Oleh karena itu. juga pada tingkat yang lebih rendah dihadapi akuakultur. mungkin terdapat alasan persuatif kenapa suatu badan perikanan seharusnya tidak merupakan bagian dari kementrian atau Departemen lain di mana mungkin bisa timbul pertentangan kepentingan. 25. isu yang dihadapi perikanan tangkap.

Misalnya. misalnya. misalnya melalui pencemaran minyak dari kapal penangkapan ikan. penggundulan hutan atau praktek tataguna lahan yang buruk. limbah cair dari pabrik pengolahan ikan dan oleh sistem akuakultur inetnsif yang berakibat pada pengkayaan bahan organik dan hara di dasar laut dan dalam kolam air. misalnya. sebagai akibat dari pembabatanhutan mangrove untuk berbagai kegiatan. serta pembabatan hutan mangrove dan pemakaian bahan kimia pengembangan akuakultur. atau secara tidak langsung. Sektor perikanan sendiri bisa memberikan kontribusi terhadap pencemaran pesisir. pembangunan pelabuhan. contohnya limbah industri dan pertanian yang di buang ke sungai dan di hanyutkan ke kawasan pesisir. Betapapun. Mengingat arti penting kawasan pesisir bagi sektor perikanan sangat peting dimasukkan ke dalam proses perencanaan pengelolaan pesisir. oleh pengendapan sedimentasi di dasar pdang lamun dan tumbu yang disebabkan larian tanah yang berkaitan dengan misalnya. dan 280 . misalnya tumpahan minyak dan buangan samudera limbah beracun ke laut. 26. atau sumber yang berbasiskan lautan. pengambilan karang. umpamanya. Menurunnya produktivitas akan merugikan kesehatan keuangan sektor perikanan. penangkapan dengan bahan peledak atau bahan kimia beracun. larian pestisida dan pupuk ke dalam sungai. otoritas perikanan harus diikutkan dalamproses pengkajian dampak lingkungan dari proyek mempunyai dampak penting terhadap perairan pantai: otoritas perikanan harus dilibatkan dalam penyiapan draf undang-undang dan peraturan sehubungan dengan kawasan pesisir. misalnya. Penurunan kualitas habitat: Hal ini dapat terjadi secara langsung. Seperti halnya pencemaran. umumnya sektor perikanan lebih sebagai penderita dibandingkan penyebab pencemaran. Dalam kasus yang gawat bisa bisa terjadi risiko terhadap kesehatan manusia. penurunan kualitas habitat akan mempengaruhi sektor perikanan itu sendiri. Sengketa Tataruang: Hal ini bisa terjadi jika perikanan dan akuakultur pantai mempunyai hak properti yang tidak terjamin secara berangsur-angsur terdesak dari kawasan tradisionalnya oleh pengembangan wilayah oesisir lainnya (khususnya perluasan perkotaan dan pengembangan pariwisata). dan pembuangan kotoran melalui air. Beberapa pencemaran dapat meningkatkan produktivitas kawasan pesisir akan tetapi sangat sering berakibat pada penurunan produktivitas. misalnya melalui konsentrasi limbah beracun pada keterangan.Kotak 1 : sektor lai Beberapa dampak terhadap perikanan yang diakibatkan oleh kegiatan Pencemaran: Hal ini dapat berasal dari sumber berbasiskan lahan daratan. dan harus dilibatkan dalam proses perencanaan tataruang jika hal ini mempengaruhi kepentingan perikanan.

Seperti halnya pengelolaan pesisir pada umumnya. regional dan lokal guna menjamin bahwa pengelolaan perikanan dapat dilaksanakan pada tingkat yang sesuai. perikanan pantai mungkin paling mudah dikelola pada tingkat lokal di dalam kerangka menyeluruh yang dibentuk pada tingkat nasional atau regional. B rbagai tingkat pengelolaan tsb merupakan bentuk yang diistilahkan di sini “otoritas perikanan”. kerangka kelembagaan dan hukum dalam 281 . Di banyak negara.yang paling penting. Otoritas yang diadakan pada tiap tingkat akan ditentukan atas dasar kasus-per-kasus. Juga penting agar otoritas perikanan harus menetapkan mekanisme untuk bekerja dengan seluruh pihak terkait di dalam sektor perikanan sehingga sektor tersebut bisa terwakili secara memadai dalam pembahasan antar-badan yang mempertimbangkan dampak lintas-sektor. “Negara harus seperlunya mengembangkan. fungsi penting dari otoritas perikanan adalah menjamin bahwa semua tingkatan administrsi memperoleh informasi yang cukup dan dimotivasi sehingga tujuan bersama dapat tercapai. 29. Dalam banyak hal. 28. otoritas perikanan akan paling efektif dalam negosiasi antar-badan jika dibentuk suatu kerangka otoritas yang tepat ditingkat nasional. otoritas perikanan harus dimasukkan ke dalam proses perencanaan pengelolaan terpadu kawasan pesisir. oleh karena itu. Yang dimaksud pihak terkait di sini adalah mereka yang diakui oleh pemerintah sebagai yang mempunyai kepentingan di dalam sektor perikanan bersangkutan. 27.

Merupakan hal penting bahwa jika terdapat akses bebas dan terbuka ke sumber daya perikanan pesisir agar rezim ini digantikan sesegera mungkin oleh rezim yang didasarkan pada hak pemanfaatan ekslusif.1. Khususnya air. dan produktivitas primer.menetapkan pemanfaatan yang mungkin menyangkut sumber daya pesisir dan mengatur akses ke sumber daya tersebut dengan memperhatikan hak nelayan pesisir dan praktek turun temurun sejauh serasi dengan pembangunan yang berkelanjutan. 31. Satu penyebab utama dari permasalahan dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah akses ke sumber daya pesisir yang bisa diperbarui.” (pasal 10. Ruang. Ada sejumlah alasan yang memperhitungkan tidak hanya ketidak-efisiensian yang ditimbulkan dalam sektor oleh akses bebas dan terbuka akan tetapi juga disebabkan oleh interaksi dengan sektor lain di kawasan pesisir. jika perikanan bergerak ke arah rezim berbasis hak ekslusif. Sebaliknya.3) 30. Merupakan suatu hal penting perikanan itu dapat beroperasi dalam suatu sistem 282 . Jika sektor perikanan tetap terus bersifat akses terbuka maka mungkin sukar mendesak dan meyakinkan badanbadan dan para pemanfaat sumber daya lainnya untuk membatasi kegiatan mereka demi kebaikan perikanan karena setiap manfaat tambahan meningkat akan dengan cara yang sama sebagai rente sumberdaya. Hal ini sudah lama dikenal sebagai sebuah masalah di dalam sektor perikanan akan tetapi juga mempengaruhi banyak sumber daya pesisir lainnya.

terkadang ditambah dengan perangkat kebijakan ekonomi. Pelarangan atau pembatasan . 33. terumbu karang dan ke perairan lautan pantai sebagai suatu wadah bagi limbah. dan seterusnya akan tetapi juga terhadap fungsi-fungsi lain bernilai dari ekosistem.berbasis hak menyeluruh menyangkut pengembangan sumber daya pesisir. Kedua pendekatan itu bisa mempunyai sasaran yang sama. Akan tetapi. yaitu pendekatan – pengaturan dan ekonomi. Sering akses terus tetap bebas dan terbuka ke sumber daya kunci seperti halnya sumber daya hutan mangrove. misalnya dalam bentuk kerusakan habitat dan pencemaran akuatik. Ada dua pendekatan luas untuk menangani hal yang berkenaan dengan sengketa antar sektor. terhadap 283 pengelolaan atau hasilnya. Misalnya. Metode ekonomi memiliki sejumlah kelebihan. Ke dalam langkah itu termasuk. Sebagai akibatnya para pemanfaat lainnya kawasan pesisir bisa merasakan efek negatif yang berarti. khususnya bahwa pendekatan ini mengalokasikan sumber daya langka secara efisien di dalam suatu kerangka pasar. Perikanan bukanlah satu-satunya sumber daya akses terbuka di kawasan pesisisr. metode ekonomi sering sukar diterapkan dan dalam banyak situasi sering perlu mengadopsi suatu pendekatan pengaturan. Peraturan membatasi secara hukum apa yang boleh dilakukan.aku yang layak. Bedanya terletak pada cara sasaran itu mencapai tujuannya. 32. Sedangkan pendekatan ekonomi berupaya untuk menyediakan insentif guna mendorong tingkah l. Suatu tinjauan menyeluruh yang singkat tentang metode pengaturan dan ekonomi dicantumkan dalam Kotak 2 Kotak 2: Perangkat pengaturan dan kebijakan ekonomi Langkah pengaturan mengendalikan pemanfaatan sumber daya dengan cara pelararangan atau pembatasan. tidak saja terhadap sektor perikanan.

Solusi yang sama bagi penghapusan akses terbuka tidaklah bisa diterapkan dimana saja.34. walaupun masih 284 .

285 . kini maupun historis. Negara mungkin merasa adalah diperlukan memberi suatu pengakuan de facto menyangkut hak-hak sumber daya. 35. sasaran. Pada waktu yang bersamaan. Produktivitas alami terumbu karang. maka para nelayan yang memanfaatkan terumbu tersebut tidak akan mampu mengamankan hak-hak yang perlu bagi kesejahteraan masa depan mereka dan rentan terhadap produktivitas yang terancam oleh para pemanfaat lainnya. contohnya. Sering kali. tatanan kelembagaan. tidak ada. Akuakultur pantai berskala kecil juga sudah sejak lama merupakan praktek tradisional dan berkelanjutan di banyak negara yang mungkin digusur oleh operasi perindustrian. dan seterusnya. Lebih lanjut. Kotak 3: Hak-hak menyangkut para nelayan dan pembudidaya ikan tradisional dan hak adat terhadap mutu lingkungan yang bisa diterima Jika pasar bagi barang-barang lingkungan di dalam kawasan pesisir. pariwisata dan penambangan koral. hal ini mengakibatkan para nelayan dan pembudidaya ikan tradisional dan para nelayan serta pembudidaya ikan berhak adat tidak diuntungkan ketika para pemanfaat sumber daya lainnya menjadi dominan. Negaranegara bisa berharap mengubah legislasi mereka sesuai dengan itu. solusi terbaik bisa berubah sepanjang waktu. Jika rezim hukum tidak mengizinkan pendekatan ini. Satu aspek dari akses terbuka adalah bahwa para pemanfaat sumber daya tidak sanggup mendapatkan pengakuan dari Negara menyangkut hak-hak mereka atas sumber daya. Jika rezim hukum cukup fleksibel menyadari dan memadukan persepsi hak adat lokal mengenai hak dan kewajiban. pemerintah perlu memperjelas mengenai apa yang sedang diupayakan untuk dicapai dan menguji suatu kemungkinan solusi sebelum memutuskan mengenai pilihan yang terbaik: juga perlu agar tetap fleksibel. Sehingga sanggup menanggapi keadaan yang berubah. otoritas perikanan harus menetapkan syarat-syarat yang mensyaratkan bahwa para nelayan dan pembudidaya ikan menyadari dan menghormati kendala ekologi yang dibebankan oleh lingkungan pesisir. misalnya.dalam satu negara sekalipun. Solusi terbaik akan tergantung seluruhnya pada keadaan – sifat alami dari sumber daya. Sebuah gambaran diperlihatkan dalam Kotak 3. Oleh karena itu.

Para pemanfaat sumber daya tradisional atau berhak adat mungkin sudah mengembangkan tatanantatanan akses dalam menanggapi perubahanperubahan musiman yang mempengaruhi ketersediaan ikan atau menentukan pewaktuan dari operasi-operasi pertanian utama. seperti musim tanam waktu dan waktu panen. “Negara harus memberi kemudahan pengadopsian praktek penangkapan guna menghindari sengketa di antara para pemanfaat sumber daya perikanan yang berlainan dan 286 .36. Rencana-rencana pengelolaan yang dirumuskan oleh para perencana untuk masing-masing sumber daya yang belum memperhitungkan strategistrategi tersebut mungkin menghadapi konsekuensikonsekuensi ekonomi dan sosial yang serius. Langkah tersebut akan melindungi lingkungan dan memberi para pemanfaat sumber daya tradisional dan berhak adat akan hak sampai suatu tingkat mutu lingkungan tertentu sebagai bagian dari mata pencaharian mereka. 37.

dan dalam banyak lagi situasi. Sengketa di dalam sektor perikanan sendiri bisa dihadapi dengan alokasi-alokasi menurut kawasan yang menghasilkan alokasi sumber daya yang jelas (di mana sebuah sumber daya mendiami suatu kawasan tertentu) atau dengan pengurangan sengketa di antara kelompok-kelompok (bila mana sebuah sumber daya bergerak pindah di antara kawasan-kawasan).4) 38.” (Artikel 10. Di antara para nelayan dan para pembudidaya ikan. menurut kawasan perikanan atau menurut perikanan. di antara para nelayan yang menggunakan alat tangkap yang berbeda. Otoritas-otoritas harus juga mempertimbangkan pembentukan panitia/komite nelayan dan pembudidaya. Sengketa mungkin terjadi di antara para nelayan dari berbagai tempat berlainan yang ingin menangkap ikan di kawasan yang sama. 39. seperti pembatasan alat tangkap atau pengendalian menurut waktu. dan diantara para pemanfaat ini terhadap para operator pariwisata: semuanya mereka bersaing atau ruang dan sumber daya. di antara para penangkap ikan komersial dan penangkap iakn olahraga. 287 . umpamanya.dengan para pemanfaat lainnya dari lingkungan marin. dan seterusnya.1. sekiranya layak. dengan cara pengendalian terhadap masukan. di antara para nelayan artisanal dan nelayan industri. diselesaikan. jika permasalahan tersebut harus dibahas dan andaikata mungkin. zona pemukatan. kawasan bubu. seperti kuota. atau cara pengendalian luaran.

Otoritas 288 . sekalipun solusinya mungkin serupa. Sengketa antar-sektor secara khas lebih sulit menyelesaikannya dibandingkan dengan perselisihan intra-sektor. Rencana-rencana pembangunan dan pengelolaan sektor perikanan sering kali disusun dari perspektif hanya dari sekor perikanan atau malahan hanya untuk satu stok ikan. (Artikel 10. Sengketa potensial harus diantisipasi dan dicegah lebih dulu bila mungkin . teristimewa dengan menggunakan campuran perbatasan waktudan kawasan . Jika diperlukan.1. Otoritas-otoritas perikanan harus mewakili kepentingan dari sektor perikanan dalam negosiasi-negosiasi dengan lain-lain badan-badan untuk memastikan bahwa sektorsektor lainnya menghormati kepentingan para nelayan dan pembudi daya ikan. “Negara harus mengingatkan penetapan prosedur dan mekanisme pada tingkat administratif yang tepat untuk menyelesaikan sengketa yang timbul didalam lingkup sektor perikanan dan diantara para pemanfaatan sumber daya perikanan dan para pemanfaat kawasan pesisir lainnya. 41. Penzonaan merupakan pendekatan yang lazim dalam penyelesaian perbedaan-perbedaan antar sektor yang melibatkan perikanan. Langkah-langkah ekonomi bisa pula berperan.5) 42. otoritas perikanan dan nelayan harus mempunyai kemungkinan untuk memiliki sumber daya yang diatur dengan peraturan perundang-undangan untuk melindungi kepentingan mereka.40.

Jika hal itu dipandang potensial atau aktual penting. dan harus diambil tindakan untuk menangani sengketa potensial. Tambahan pula. jika otoritas perikanan erat bekerja sama dengan para nelayan dan pembudidaya. Perlu di pertimbangkan bagaimana menylesaikan tuntutan yang bersaing diantara sektor-sektor. Maka interaksi tersebut harus dipertimbangkan di dalam rencana. 43.24 berikut ini . Dipandang perlu agar otoritas perikanan berperan aktif dalam pengindetifikasian skala dari setiap masalah yang mempengaruhi lingkungan akuatik dan sumbernya. Dalam pengelolaan kawasan pesisir. Hal ini dipertimbangkan lebih lanjut dalam seksi 10. Berhubung sumber daya pesisir semakin langka. Mereka segera mampu dengan cepat mengindentifikasi perubahan kondisi ekologis bahkan mungkin terbukti lebuh sulit mengindentifikasikan mereka yang bertanggungjawab. Sekalipun andaikata otoritas perikanan dimintai pendapat mengenai isu perencanaan. Untuk tugas ini menjadi sangat penting adanya suatu sistem pemantauan yang tepat.pengelolaan perikanan harus mempertimbangkan secara tegas seberapa jauh kecenderungan terjadi interaksi dengan kegiatan perikanan atau sektor lain. 289 . dan memerlukan suatu mekanisme untuk pemecahannya. bbaik yang ada masa kini maupun masa depan. Sengketa-sengketa masih mungkin timbul . 44. salah satu dari fungsi kelembagaan dan hukum yagn paling penting adalah memastikan adanya suatu mekanisme untuk penyelesaian sengketa.

Below are a few suggestions to suit varying budgets from motel style accommodation to boutique apartments. the selection process can become a daunting process. These properties are situated in the hub of Port Douglas close to shopping. cenderung tidak akan berhasil dalam jangka panjang. Langkah-langkah Kebijakan (Pasal 10. They also have brilliant on-site management who provide excellent service and will ensure your stay is a memorable one.2. Suatu pendapat publik yang memadai untuk proses pengambilan keputusan (misalnya:keputusan pemanfaatansumberdaya) menjamin adanya dukungan luas bagi rencana yang diajukan dapat diberikan kemudahan melalui proses kelembagaan dan kerangka hukum. Para pembuat undang-undang serta peraturan dan para perencana harus menyadari bahwa langkah yang menjauhkan mereka yang paling terkena pengaruh. Below we have hand picked a few reputable accommodation places to recommend during your stay. PEMBAHASAN UMUM Salah satu pelabuhan perikanan yang telah dikembangkan secara maju dan termasuk pelabuhan yang mencakup aspek eko With so many places to stay on offer in Port Douglas.1) 45. restaurants and the marina.2. the beach. 290 .” (Pasal 10. They also love their outdoors and fishing! Please contact us for the best available rates.2) “Negara harus meningkatkan kesadaran publik akan perlunya perlindungan dan pengelolaan sumber daya pesisir dan keikutsertaan mereka yang terkena pengaruh dalam proses pengelolaan.

3.2.1 tata ruang 5.2. yang meliputi : Pengembangan industri perikanan berbasis armada nasional menunjang Permen 17 tahun 2006.3 Aspek kelembagaan pelabuhan perikanan 5.2 shift share 5.2.2.2.2.2.2.2. Sarana dan Prasarana.1 aspek pengembangan wilayah: 5.3 Pasokan Ikan 5.3 skalogram 5. membawahi .3 Analisis Permasalahan Umum Penentuan Lokasi Pelabuhan Perikanan 5.2.1 biofisik (hidrooseanografi) 5.5.1 5. tentang usaha perikanan tangkap Revitalisasi budidaya rumput laut Pengembangan cluster industry perikanan Pengembangan jasa kelautan Peningkatan Akses modal dan akses pasar mendukung revitalisasi perikanan Sekretariat BKSP JABODETABEKJUR terdiri atas : Bagian Pembangunan.1.Sub Bagian Permukiman.2.6 akses transportasi 5.1 LQ 5.2.2 5.3. .2. diantaranya : Terjadinya peningkatan investasi yang signifikan dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan Tercapainya peningkatan pendapatan nelayan melalui kegiatan industri terpadu dan penciptaan pasar (domestik dan pasar ekspor) Terlaksananya pemberdayaan masyarakat nelayan sehingga mampu memposisikan diri sebagai pelaku ekonomi yang unggul Terwujudnya pelestarian lingkungan (ekologi terpelihara secara berkelanjutan) sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan Terlaksananya pengembangan jasa kelautan dan non pariwisata untuk menunjang pembangunan sektor kelautan Hadirin sekalian yang saya hormati.3. setidaknya meliputi beberapa aspek.1.4 Ketergantungan daerah perikanan 5.3.2.3. Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut.2.2 Opini masyarakat tentang kondisi perikanan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5.2.1 Kapasitas PPI Kamal Muara dan TPI Dadap 5.1.2 kelayakan teknis pelabuhan di Kawasan Dadap-Kamal Muara 5.2.2.Sub Bagian Tata Ruang dan Pertanahan.5 Dukungan logistik untuk pelabuhan perikanan 5. 291 . : .3.2. perlu didukung komponen-komponen kegiatan.2 prasarana dan sarana 5.2.3 Kapasitas pelabuhan perikanan 5.4 Aspek Ekonomi-Sosial Kawasan Pesisir Dadap-Kamal Muara Beberapa sasaran yang hendak dicapai dari implementasi kebijakan revitalisasi perikanan.2 Peluang pemanfaatan kapasitas TPI Muara Angke Manajemen kawasan pelabuhan 5.

Sub Bagian Tata Usaha dan Kepegawaian. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. . .Sub Bagian Transportasi dan Perhubungan.Sub Bagian Kependudukan. Sarana & Prasarana ♦ Pembangunan rumah-rumah di BODETABEKJUR. Penataan Ruang ♦ Koordinasi pembahasan rancangan RTRW JABODETABEKJUR. Sumber Daya Air. ♦ Pemaduserasian dan keterpaduan RTRW / RTRK antar daerah JABODETABEKJUR. .Sub Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga. membawahi . Pertambangan dan Investasi. ♦ Penyeragaman nomenklatur. . Bagian Perekonomian. Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.. Kebersihan dan LH 292 . . skala.Sub Bagian Sosial dan Tenaga Kerja. Perdagangan. Permukiman.Sub Bagian Industri.Sub Bagian Agribisnis. Ketentraman dan Ketertiban.Sub Bagian Keuangan dan Penyusunan Kegiatan. . .Sub Bagian Kesehatan dan Pendidikan. ♦ Pemerataan pembangunan pusat-pusat perbelanjaan.Sub Bagian Sumber Daya Air. membawahi . simbol-simbol peta perencanaan JABODETABEKJUR. Kebersihan dan Lingkungan Hidup. . membawahi . . Bagian Umum.

tarif. Perdagangan.♦ Kawasan lindung. Agribisnis. perbaikan saluran (drainase) air. Industri. moda angkutan dan manajemen lalu lintas. usaha penanggulangan pencemaran sungai dan udara. hutan dan penghijauan. ♦ Peningkatan investasi melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal. ♦ Penyuluhan dan bantuan teknis bidang pertanian. terminal. ♦ Keterpaduan pendirian industri. ♦ Pengelolaan sampah. Pertambangan dan Investasi ♦ Relokasi industri dan pertambangan. Transportasi. ♦ Penataan dan pelestarian daerah-daerah wisata. ♦ Peningkatan jalan-jalan terobosan dan penataan ruas-ruas jalan. Perhubungan dan Pariwisata ♦ Jaringan jalan. galian C. wilayah operasi. infrastruktur. normalisasi sungai. ♦ Pemberian bantuan bagi usaha kecil dan menengah. perkebunan dan persawahan. situ. pengaturan trayek. daerah resapan air. pembuatan bendungan/kantong air. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah ♦ Perencanaan pembangunan terminal agribisnis. ♦ Pengamanan/pelestarian/penghijauan daerah hulu. sarana dan prasarana daerah wisata. sungai. 293 .

♦ Pada Pertemuan tersebut salah satu kegiatan yang perlu direalisasikan pada tahun anggaran 2006 adalah program kerjasama peningkatan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan kesehatan dasar di wilayah JABODETABEKJUR. ♦ Tertib administrasi kependudukan yang akan diberlakukan SIAK Offline..000.000. Kesehatan dan Pendidikan ♦ Kerjasama peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan di wilayah JABODETABEKJUR diawali adanya pertemuan forum untuk tahun 2005 antara Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Bekasi dan Cianjur pada tanggal 20 Agustus 2005 bertempat di Hotel Borobudur Jakarta. Depok. 2. Gubernur Banten dengan Bupati/Walikota Bogor. 3.- 294 . Tangerang. ♦ Ketegasan pelaksanaan hukum Indonesia. Ketentraman & Ketertiban ♦ Mobilitasi penduduk termasuk migrasi dan komuter.000.000.000.(tiga milyar) untuk masing-masing Kabupaten/Kota BODETABEKJUR dialokasikan untuk sarana prasarana pendidikan sebesar Rp. 3. disepakatilah bahwa kerjasama pendidikan dasar dan kesehatan dasar memperoleh bantuan dana dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk masing-masing Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp. 24 milyar (dua puluh empat milyar rupiah). Gubernur Jawa Barat. Pada pertemuan forum ke dua untuk tahun anggaran 2005 dilaksanakan pada tanggal 28-29 Desember 2005 bertempat di Hotel Aryaduta Karawaci Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.000.000.(tiga milyar rupiah) dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp. ♦ Dari anggaran sebesar Rp.Kependudukan.000.000.

000..Hari ini dilaksanakan acara penyerahan dana bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp. 1. yang dilaksanakan di Balai Agung Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.(satu milyar rupiah). 24 milyar untuk peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan. yang dilaksanakan di Balai Agung Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sosial dan Tenaga Kerja ♦ Pengawasan bidang ketenagakerjaan baik lokal maupun tenaga kerja asing. ♦ Adanya operasi yustisi secara berkala.(dua milyar rupiah) dan untuk sarana prasarana kesehatan sebesar Rp. Hari ini dilaksanakan acara penyerahan dana bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp. 12/10/2006 SERAH TERIMA DANA BANTUAN KEUANGAN DARI PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA BODETABEKJUR Hari ini dilaksanakan acara penyerahan dana bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp. 24 milyar untuk peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan. Hari ini dilaksanakan acara penyerahan dana bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada 295 .000. ♦ Usaha penekanan terhadap masalah PMKS di perbatasan. yang dilaksanakan di Balai Agung Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.000. 24 milyar untuk peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan.

Pemerintah Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp.php?id=1 13/09/2006 Lokakarya pengembangan wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil. mengingat di Indonesia bagian timur sangat membutuhkan akan air bersih bagi rumah tangga.id/berita/index. http://bkspjabodetabekjur. 24 milyar untuk peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan. yang dilaksanakan di Balai Agung Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.Hari ini dilaksanakan acara penyerahan dana bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota BODETABEKJUR sebesar Rp. yang dilaksanakan di Balai Agung Balai Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. sekaligus penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Pearturan Bersama Gubernur. yang dilaksanakan di Jakarta yang dihadiri oleh unsur-unsur kelautan seluruh Indonesia. 02/10/2006 Pelaksanaan Rapat Forum Kerja BKSP JABODETABEKJUR di Hotel Horison Bandung. Setiap dalam 1 (satu) tahun anggaran Sekretariat BKSP JABODETABEKJUR selalu mengadakan Rapat Kerja Forum BKSP JABODETABEKJUR yang 296 .jakarta. Sehingga pelaksanaan koordinasi dan kerjasama antar daerah dapat dilaksanakan dengan baik. Pada lokakarya ini dibahas mengenai pemanfaatan air laut yang diolah menjadi air tawar. Bupati dan Walikota. 24 milyar untuk peningkatan sarana prasarana pendidikan dan kesehatan.go. karena berkaitan dengan pelaksanaan lokakarya tersebut dibutuhkan pula suatu pola kerjasama antar daerah dalam usaha peningkatan kebutuhan daerah. Sebagai usaha peningkatan pengembangan sumber daya laut di Selat Karimata. Pertemuan ini juga menghadirkan Sekretariat BKSP JABODETABEKJUR sebagai nara sumber. Departemen Dalam Negeri bekerjasama dengan Instansi terkait mengadakan lokakarya pengembangan wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil.

Walikota Tangerang. Bupati Tangerang. Gubernur Jawa Barat. 297 . Secara rinci adalah penandatangan : Peraturan Bersama Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Gubernur Banten.dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun. Tangerang. Gubernur Jawa Barat. Provinsi Banten. sekaligus penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Peraturan Bersama Gubernur. Gubernur Banten.Jabotabek/97 Dan 2169 Tahun 1997 Tentang Penetapan Titik Koordinat Tanda Batas Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Dan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Bupati Bogor.1884. Bupati Bekasi. Kota Tangerang. Kabupaten Bogor. Walikota Bogor. Pelaksanaan Rapat Forum Kerja BKSP JABODETABEKJUR di Hotel Horison Bandung. Kabupaten Bekasi. Walikota Bogor. Keputusan Bersama Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Depok. Walikota Bekasi Dan Bupati Cianjur Tentang Badan Kerjasama Pembangunan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Bupati Bekasi. Bupati Bogor. Bupati Tangerang. Bupati dan Walikota dalam hal ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Provinsi Jawa Barat. Keputusan Bersama Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kota Depok. Bekasi dan Cianjur (JABODETABEKJUR). dan Kabupaten Cianjur. Dalam forum ini dibahas mengenai evaluasi seluruh kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan sekaligus perencanaan kegiatan pada tahun anggaran berikutnya. Gubernur Banten dan Bupati/Walikota BODETABEKJUR. Kabupaten Tangerang. Kota Bogor. Walikota Tangerang. Walikota Bekasi dan Bupati Cianjur tentang Kerjasama Di Bidang Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil Di Wilayah Jakarta. Bupati dan Walikota JABODETABEKJUR. Kota Bekasi. Rpat forum ini suatu forum bertemuanya Gubernur. Gubernur Jawa Barat Dan Gubernur Banten Tentang Perubahan Atas Keputusan Bersama Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Dan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 126/Sk. Gubernur Jawa Barat. Bogor. Walikota Depok. Walikota Depok.

perguruan tinggi.html Jakarta. dan asosiasi profesi. perguruan tinggi. Penyempurnaan oleh tim kecil dilakukan pada tanggal 3-4 Agusutus 2001 berdasarkan masukan dan tanggapan yang diperoleh dari ekspose tersebut."PEMANTAPAN JABOTABEK " RANCANGAN KEPPRES PENATAAN RUANG http://www. Bappeda. dan asosiasi-asosiasi profesi. instansi daerah (Pemda. Acara pemantapan RaKeppres tanggal 9 Agustus tersebut dipimpin oleh Ketua Pokja 1 BKTRN dan juga melibatkan instansi pusat. DPRD). Tim Kecil ini terdiri dari Sekretariat Tim Teknis BKTRN. Bappeda. BKSP Jabotabek. Tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi ini adalah untuk mendapatkan tanggapan.pu.id/Ditjen_ruang/Tarunews/taru0908011. DPRD). pada tanggal 9 Agustus 2001 Direktorat Jenderal Penataan Ruang selaku Sekretariat Tim Teknis BKTRN bekerja sama dengan BKSP Jabotabek memfasilitasi pemantapan Rancangan Keppres Jabotabek hasil penyempurnaan tim kecil. wakilwakil dari masing-masing pemda serta instansi-instansi pusat terkait. 9 Agustus 2001 Tanggal 27 Juni 2001 yang lalu telah diadakan kegiatan Ekspose Rancangan Keppres Penataan Ruang Kawasan Jabotabek yang dipimpin oleh Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah. LSM. 298 . Sebagai tindak lanjut kegiatan ekspose tersebut. LSM. masukan dan saran terhadap penyempurnaan RaKeppres tersebut yang melibatkan instansi pusat dan instansi daerah (Pemda.go.

Tata Ruang 09-08-2001 299 . dan lain-lain. Namun menurut floor masih perlu penyempurnaan substansi dan peta seperti misalnya : perlunya memuat ketentuan tentang kewenangan pemerintah pusat dan masing-masing daerah.Seluruh unsur yang dilibatkan menyatakan bahwa Rancangan Keppres Jabotabek diperlukan sebagai pedoman atau wadah hukum pengaturan bersama dalam rangka koordinasi pembangunan wilayah Jabotabek. perlunya pengaturan sistem pariwisata dan sistem komunikasi antar daerah. pengendalian banjir. Langkah selanjutnya tim kecil akan menyempurnakan naskah RaKeppres Jabotabek berdasarkan masukan tanggapan maupun saran yang masuk. dan naskah hasil penyempurnaan oleh tim kecil tersebut akan disosialisasikan kepada pemerintah daerah. sharing/dukungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam mengimplementasikan Keppres tersebut menjadi jelas.

Bekasi. Namun badan kerja sama tersebut tidak fungsional. DKI . sebagai ajang dialog dan sinkronisasi pembangunan di kedua daerah itu. Namun. Tangerang. atas keinginan pemerintah 300 . Sudah jadi nasib Agaknya. Jakarta.com/cetak/2006/022006/22/0902. Depok. Jalan keluar pemerintah pusat pada waktu itu adalah membentuk wilayah Jabotabek melalui kerja sama pembangunan Jabotabek antara Jabar dan DKI.wajar-wajar saja bila "ditolak" oleh Gubernur dan DPRD Jawa Barat. Bogor. Selain itu ada kegamangan karena "kesepakatan bersama" yang ditandatangani ketiga Gubernur. Jawa Barat sering "dikerjain" orang-orang pusat yang banyak merugikan daerah.htm GAGASAN segar dan cerdik Gubernur DKI Sutiyoso tentang kawasan megapolitan Jakarta dengan memanfaatkan daerah di sekitarnya. ”PR” Kamis. Cianjur. 8/2/2006: 1). Isu Jakarta sebagai megapolitan bukanlah hal baru. Depok. Jabotabekjur . Tangerang. (lih. dan Cianjur. tanggal 16 Juni 2005 samasekali tidak menyingung gagasan Sutiyoso itu. pada pascakepemimpinan Solihin GP Jabar selalu "tunduk" dan menerima saja. bahkan keberadaannya sekarang tidak terdengar lagi.http://www. Gubernur DKI Ali Sadikin pertama kali melontarkan gagasan Jakarta sebagai kota metropolitan. Mungkin karena pengalaman masa lalu. Bekasi. Jadi ada "kekhawatiran" pemerintah daerah Jawa Barat sebagian wilayah administratifnya dicaplok DKI.Jabar . sumuhun dawuh. Kemudian dibentuk Badan Kerja sama Pembangunan (BKSP) Jabotabek sebagai upaya mendukung perkembangan Jakarta ibu kota negara. sebelumnya sudah ada apa yang disebut Sekertariat Jabar-DKI.pikiran-rakyat.Banten dan para bupati serta Wali Kota Bogor. sudah menjadi "nasib". Waktu itu pun Ali Sadikin harus berhadapan dengan Gubernur Jawa Barat Solihin GP.

Pertumbuhan kedua daerah itu demikian cepat." Selain itu. Logika awam yang terbangun adalah bahwa Jakarta miniatur Indonesia. Celakanya daerah tujuan utama para migran dan urbanis itu tetap saja Jakarta dan sekitarnya. Jabar harus rela dijadikan daerah "penyangga". Kehebatan sebuah ibu kota negara adalah manifestasi dari kehebatan negara itu sendiri. Berlaku pepatah usang "ada gula ada semut. pendidikan. istilah keren-nya buffer zone. perspektif dan cerdas. Karena tidak ditata dengan baik. Namun. Lahan ini dijadikan kawasan permukiman dari yang sederhana hingga super modern dilengkapi sarana rekreasi. kritis. meningkatnya sarana transportasi dan komunikasi antarkota dan antardaerah serta kota-desa yang berdampak terhadap meningkatnya intensitas migrasi antar kota dan daerah serta urbanisasi dari desa ke kota. lahan sawah dan pertanian lahan kering terus berlangsung. Kondisi menambah risiko banjir dan kerusakan lingkungan karena terganggunya stabilitas ekosistem baik di sekitar Jakarta maupun di seluruh kawasan Jabotabek itu. 301 . diharapkan semua pihak berpikir jernih. dengan terjadinya alih fungsi lahan sawah yang subur begitu cepat di daerah utara menjadi wilayah industri. yang sesungguhnya tidak lebih dari "keranjang sampahnya" ibu kota negara. Dari situlah awal marginalisasi daerah Jabar. Maka keberadaan Jakarta sebagai ibu kota negara tidak terelakkan lagi perlu mendapat dukungan semua pihak. DKI dan Jabar kini menghadapi dilema. Di sekitar Jabotabek. tidak kuuleun alias memble. karena perkembangan penduduk.pusat yang banyak merugikan daerah itu sendiri. konsentrasi pembangunan di DKI sebagai ibu kota negara. barangkali masih diwarnai kuatnya pandangan tradisional masyarakat bahwa ibu kota negara identik dengan negara itu sendiri. terlepas dari masalah sosial dan lingkungan tersebut. maka akibatnya terasa sekarang pada penyediaan stok pangan nasional dan kerusakan lingkungan padahal semangatnya adalah "Jabar sebagai lumbung padi nasional". alih fungsi hutan. Dalam memahami logika sebab-akibat itu. pembelanjaan dan sarana sosial lainnya.

atau egoisme daerah. megapolis.Dilema lain. Ciliwung dapat dikembangkan menjadi alternatif angkutan barang melalui sungai Bogor . Lambat atau cepat akhirnya Jabar-DKI harus memiliki satu perencanaan pengembangan daerah yang terkoordinasi.DKI. Jabar dan DKI bisa memelihara aliran Sungai Ciliwung dari hulu ke hilir antara Kabupaten Bogor . sebagai peluang untuk menangani kesemrawutan pembangunan di Jabar-DKI (karena Banten mungkin lebih senang bergabung dengan DKI). Selama ini daerah hanya peduli kepada dirinya masing-masing. Selain itu. intensitas pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan berorientasi ke Jawa. Ada bidang-bidang yang harus dikelola bersama yang menyentuh kepentingan bersama yang bersifat lintas daerah. karena yang muncul adalah kemiskinan dengan kampung kumuhnya yang berakibat terhadap degradasi lingkungan dan munculnya budaya kekerasan. mengupayakan suplai air bersih dari Jatiluhur atau daerah lain di Jawa Barat ke Jakarta. pembangunan sistem transportasi murah Jabotabek DKI. Banyak hal yang dapat dikerjakan bersama tanpa harus saling mengganggu wilayah administratif masing-masing. Oleh karena itu isu megapolitan Gubernur DKI Sutiyoso sesungguhnya dapat dijadikan momentum yang baik.Jakarta.DKI untuk menangkal "banjir kiriman" di Jakarta. sampai kepada urusan kartu penduduk dan pajak kendaraan sehubungan dengan mobilitas penduduk yang begitu tinggi antara Jabotabekjur . kedua daerah juga bisa mengelola sampah secara terpadu untuk kesehatan penduduk dan kebersihan lingkungan. Berjubelnya manusia Indonesia di kota-kota di Jawa memberatkan pemerintah kota. Maka tidak heran pula apabila Jawa tetap saja menjadi daerah tujuan utama migran dan urbanis dari daerah dan desa di sekitarnya. Berlimpah-ruahnya sebagian besar penduduk Indonesia di Jawa (70 %) menjadikan Jawa sebuah kota pulau. Dalam 302 .

maka terjadi pula pergeseran konsep dari pembangunan daerah ke pembangunan wilayah. Sejalan dengan itu. damai dan bersahabat. tetapi juga untuk Indonesia bagian barat agar khususnya Jawa bebas dari ancaman kemusnahan. Pergeseran paradigma Konsep dan paradigma pemerintahan sekarang sudah bergeser.analog dengan menteri negara urusan percepatan Indonesia bagian timur. presiden atau mendagri untuk tidak membiarkan masing-masing daerah mencari upaya masing-masing yang cenderung mempertahankan kepentingannya masingmasing. Kendalanya adalah perilaku birokrasi kita masih keukeuh saja mempertahankan cara-cara lama yaitu paradigma kekuasaan. Barangkali sudah menjadi kebutuhan mendesak sekarang adanya seorang menteri yang bertugas bukan saja mengoordinasikan dan mengendalikan berbagai program pembangnan yang berkelanjutan di Jawa Barat-DKI. Dalam pembangunan wilayah itu. sebagaimana tampak dari pernyataan 303 . utamanya antara lain adalah pemanfaatan tata ruang dengan cara mengintegrasikan aspek sosial.mencari solusi mendesak. Di mana masih kentalnya kesenjangan antara gagasan perubahan dengan praktik pemerintahan di lapangan. karena beban yang sudah di luar kemampuan support-system lingkungannya . Hal inilah yang merupakan masalah satu sumber konflik yang terjadi di berbagai daerah sekarang. dari kekuasaan ke pelayanan. Upaya pemerintah pusat saat ini dalam menghadapi fenomena Jabar-DKI adalah memfasilitasi kebersamaan kedua provinsi tersebut agar ekosistem di kedua daerah tersebut dalam jangka panjang tetap mampu menyangga kehidupan umat manusia yang tertib. maka dituntut pula sikap tanggap pemerintah pusat. ekonomi dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan dan keberlanjutan umat manusia.

Oleh karena itu. Hakikat pelayanan itu yang utama adalah kesejahteraan dan keadilan bagi semua. cara terbaik untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bagi semua di kedua daerah tersebut adalah membina pengertian dan kerja sama.dan tanggapan reaksi atas isu megapolitannya Gubernur DKI Sutiyoso. dosen senior dan Ketua LPM Unpad Bandung 304 . Kedua pemerintah duduk bersama.*** Penulis. bukan saling meniadakan.DKI. borderless. Dalam kasus Jabar . yang tidak lagi berorientasi pada batas-batas administratif daerah. agaknya dialog adalah salah satu instrumen yang harus dikedepankan. (trade off). menyusun program dan anggaran bersama serta melaksanakan bersamasama dengan melibatkan seluruh stakeholders agar kedua daerah itu tetap eksis menyangga kelangsungan hidup umat manusia.

at 7:01 p.m. A new project has been determined "Environmental governance and wise management practice for tropical coastal mega-cities: sustainable human development of Jakarta Metropolitan Area. UNESCO-CSI considers that the project needs to be extended and improved. The main aims of the activities are to: (1) promote greater community involvement in coastal environmental quality development. DESCRIPTION: Based on the result of an evaluation of the Jakarta Bay pilot project.| View Thread | Return to Index | Read Prev Msg | Read Next Msg | Wise Coastal Practices for Sustainable Human Development Forum A regional approach to environmental quality management / Jakarta-Indonesia (+Bahasa Indonesia) http://www. public sector awareness. encouraging local communities and NGOs participating in Jakarta Metropolitan Area sustainable human development. inter-agency coordination. 4 August 1999." It is a coordination forum on sustainable human development of the Jakarta Metropolitan Area.csiwisepractices. Bahasa Indonesia Key words: community involvement.org/?read=73 Posted By: Yoslan Nur Date: Wednesday. 305 .

The programme activities were determined as a result of the analysis of spatial problems. and (3) develop private sector awareness (industrial zone and resort managers) in environmental development. CAPACITY BUILDING: The activities provide improved management capabilities and education for stakeholder groups as well as knowledge and efforts to protect the coastal marine environment. Similarly to reduce the pollution of Jakarta Bay by pesticides and fertilizers and to diminish sedimentation by eroded soil. local communities and other donors to demonstrate innovative approaches for managing small islands and coastal areas 306 . DISCUSSION LONG-TERM BENEFIT: The multi-dimensional and inter-sectoral approach should allow for long-term sustainable human development while providing immediate benefit for the local communities. and disseminate the results of field activities. STATUS: The project has yet to be implemented. we have to find an alternative economic activity for the local community. we have to introduce an environmentally sound farming system in the upstream area (in District of Bogor and Purwakarta. situated around 70 .90 km from the coast). analyse.(2) integrate coastal quality improvement as one of the local government's programmes. For example: to reduce the pressure on coastal marine resources in Jakarta Bay and Kepulauan Seribu. the private sector. UNESCO will form partnerships with the government. establishing an enabling policy environment and a system to monitor. NGOs.

and that a regional solution is required. skill development in management.s responsibilities. (2) some agencies. INSTITUTIONAL STRENGTHENING: The pilot project experience has revealed that the environmental problems of Jakarta Bay and Kepulauan Seribu cannot be resolved on a local level. Activities with local Government: Some training activities and technical assistance on environmental management are projected for local government staff. the Coordination Body for Jabotabek Development (Badan Kerjasama Pembangunan or BKSP Jabotabek). There is neither an effective management authority nor a central agency to plan for the whole JMA or to coordinate sectoral planning in Jakarta City and West Java. as well as bottom-up and topdown program coordination. and more efficient and sustainable use of coastal resources. At present. (3) the role of BKSP in planning. notably the Jakarta and West Java Provincial Planning Agency (Bappeda Tingkat I) overlap and duplicate the BKSP. Activities with the private sector: Training in industrial zones for resort area managers on sustainable human development and the dangers of pollution for the environment. Theoretically. should be a mechanism for interregional coordination and inter-sectoral integration. and women's participation in economic and environmental development. programming and budgeting for 307 . the agency has some constraints on its ability to do so: (1) there are almost no resources nor enforcement basis available for BKSP.with an emphasis on local community participation. Activities with society (local community): Training for locally-based groups on: (1) integrated conservation and development of coastal regions and small islands and (2) social empowerment through development of their own potentiality by improvement of working techniques. entrepreneurship to expand livelihood options.

Indicators of success will include the following: (1) strengthened networks for environmental policy and law reform. 5 years after the project's termination (2000-2005) the system installed will continue to function when the technical assistance finishes. seminars. and (3) improved information sharing on environmental 308 . SUSTAINABILITY: The project will ensure sustainability of the ecosystem for the future generation. BKSP has no tools to coordinate and integrate interregional and intersectional development programmes in the JMA. it is obvious that the function and role of this agency needs to be strengthened by giving it a clear status. PARTICIPATORY PROCESS: The project will strengthen networks and cooperation between governments. and provide indirect and long-term benefit for the private sector. as measured by the number of women in workshops. development policies. institution. Having identified the BKSP's weaknesses. implementation and monitoring. universities. and training programmes.g. (2) increased participation by women in coastal management. political and financial support from central and local governments (DKI Jakarta and West Java Provinces). with some adaptation (e. scientific institutions.Jabotabek development is not specifically defined.) CONSENSUS BUILDING: The activity should benefit the stakeholder groups. and (4) there is a lack of operational guidelines for Jabotabek plan implementation. TRANSFERABILITY: The project of "Environmental governance and wise management practice for tropical coastal mega-cities: sustainable human development of Jakarta Metropolitan Area" is transferable to the others tropical coastal mega-cities. etc. NGOs and communities for policy analysis. culture. as measured by the number of working groups dealing with policy implementation including universities and NGOs established in tropical coastal megacity management.

and realization are needed. community learning centre. as measured by (a) the number of environmental coastal newsletters produced. (b) the number of coastal management seminars held annually. an annual workshop for the principle stakeholders. etc. brochures. programmes. The project has planned to improve the efficiency of the Coordination Body for Jabotabek Development and local government's involvement in the improvement of the quality of life and of the environment. and other publications and exhibitions. EFFECTIVE AND EFFICIENT COMMUNICATION PROCESS: A multidirectional communication process involving dialogue. whereas the involvement of the community and local government is very limited.issues. 309 . REGIONAL DIMENSION: The project design is based on the perception that the Jakarta Bay and Kepulauan Seribu is ecologically part of the Jakarta Metropolitan Area and on the assumption that environmental degradation in this area is caused by environmental governance. result of development process. consultation and discussion is planned in this project. STRENGTHENING LOCAL IDENTITIES-DECENTRALIZATION: The development programmes in JMA are mostly central government oriented in implementation.g. evaluation of environmental standards and norms of quality coastal resource management guidelines and political instruments for the protection of the environment. e. PUBLIC POLICY: In terms of public policies. technical assistance will be given to central government and local governments in land use planning. An effort towards decentralization of the development plan.

Proyek ini akan berfungsebagi sebuah forum koordinasi dari proyek-proyek yang berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kawasan Metropolitan Jakarta. (2) Mengintegrasikan kegiatan peningkatan kualitas kawasan pesisir sebagai salah satu bagian dari program permbangunan pemerintah (pusat dan daerah). Dalam rangka itu sebuah proyek sedang dirumuskan.EVALUATION: The success achieved in the overall strategic objective will be measured by: (1) improvement of environmental quality in the Jakarta Metropolitan Area. (2) the number of local communities actively participating in environmental planning. "Environmental governance and wise practices for tropical coastal mega-cities: Sustainable human development of the Jakarta Metropolitan Area". Program kegiatan disusun berdasarkan analisa 310 . UNESCO-CSI berkesimpulan bahwa perlu peningkatan dan pengembangan pilot proyek tersebut. and (4) the number of partnerships among the local governments. ****************************************************************** ********************************* PENDEKATAN REGIONAL DALAM PENGELOLAAN MUTU LINGKUNGAN HIDUP/TELUK JAKARTA-INDONESIA DESKRIPSI. Berdasarkan hasil evaluasi proyek pilot Teluk Jakarta setelah tiga tahun pelaksanaan. (3) the number of NGOs strengthened to promote improved coastal Jakarta Metropolitan Area environmental quality. particularly the seawater quality in Jakarta Bay. dan (3) Meningkatkan kesadaran sektor swasta (para pengelola kawasan pariwisata dan kawasan industri) akan pentingnya arti dari pelertarian lingkungan hidup. merumuskan kebijaksanaan lingkungan hidup dan system pemantauan. implementation and management. garis begar kegiatan adalah sebagai berikut: (1) Menggalakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup dengan mendorong partisipasi masyarakat dan LSM dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan. the private sector. and communities for locals and regional environmental impact planning and monitoring that have been strengthened. analisis and desiminasi hasil lapangan.

Masyarakat. misalnya : untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap sumberdaya pesisir yang disebabkan oleh tata cara penangkapan ikan yang tidak berwawasan lingkungan (pemakaian bom ataupun racun) maka kita akan cari alternatif kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat yang sifatnya tidak merusak lingkungan. terletak sekitar 70 hingga 90 km dari pantai) untuk melakukan praktek pertanian berwawasan lingkungan. . melalui partisipasi masyarakat dengan cara yang lebih efisien untuk menjaga kelestarian sumberdaya pesisir. Peningkatan kemampuan pengelolaan kawasan pesisir bagi para pelaku yang terlibat merupakan bagain dari proyek ini. sektor swasta. UNESCO dengan bekerjasama dengan Pemda. (2) pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan berdasarkan potensi ekonomi yang mereka miliki dengan bantuan peningkatan teknologi.ruang dari permasalahan. kewiraswastaan untuk memperbaiki perekonomian keluarga. MANFAAT JANGKA PANJANG. LSM. masayarakat dan para donator lainnya akan memperkenalkan pendekatan baru dalam mengelola kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. keahlian managerial. PENINGKATAN KEMAMPUAN. Pelatihan bagi masyarakat tentang: (1) konservasi dan pembangunan terintegrasi di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. 311 . Pendekatan multi-dimensi and intersectoral akan memungkinkan terlaksanannya pembangunan masyarakat berkelanjutan tanpa mengabaikan manfaan langsung dari proyek tersebut terhadap masyarakat pelakunya. dan untuk menurunkan polusi perairan Teluk Jakarta oleh pestisida dan pupuk maka kita akan memperkenalkan dan membimbing petani yang berada di hulu (di Kabupaten Bogor dan Purwakarta. peningkatan partisipasi wanita dalam perekonomian dan pembangunan berkelanjutan.

ditarik kesimpulan bahwa Pemerintah Pusat dan Daerah perlu memberikan dukungan kepada lembaga ini (berupa penjelesan statusnya. I DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kawasan Metropolitan Jakarta. (3) peran BKSP dalam perencanaan. persoalan yang dihadapi anatara lain: (1) tidak ada dana khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan BKSP. Pelatihan dan bantuan teknik dalam pengelolaan lingkungan hidup akan diberikan kepada staf Pemda. melainkan kita butuh pemecahan persoalan yang skalanya regional. Badan Kerjasama Pembangunan Jabotabek (BKSP) adalah satu-satunya badan yang bertanggung jawab atas koordinasi inter-regional dan inter-sectoral baik antara pemerintah pusat dan instansi-instansi lain yang terlibat dalam pembangunan Jabotabek. 312 . dukungan politik dan pendanaan) agar dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan baik. Pada saat ini. Setelah mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi BKSP. . Pelatihan bagi pengelola kawasan pariwisata dan kawasan industri dalam rangka meningkatkan kepedulian mereka terhadap pentingnya arti pemeliharaan kualitas lingkungan hidup dan membekali mereka dengan keterampilan mengelola limbah yang di produksi kawasan pariwisata dan kawasan industri. Singkatnya BKSP tidak memiliki alat untuk mengkoordinaksikan dan mengintegrasikan program pembangunan di Jabotabek. pelaksanaan. Hingga saat ini belum ada satu pun Badan Pemerintah yang berhasil menangani pembangunan dan pengelolaan Kawasan Jakarta Metropolitan (DKI Jakarta dan beberap[a Dati II di Jawa Barat) secara keseluruhan.Sektor swasta. Pada prinsipnya. (2) kegiatan BKSP bertumpang tindih dengan beberapa lembaga pemerintah lainnya. BKSP menghadapi beberapa persolan untuk melaksanakan tugas ini. Berdasarkan pengalaman proyek pilot. permasalahan lingkungan hidup di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu tidak dapat dipecahkan hanya pada tingkat lokal. teurama Bappeda Tkt. dan (4) tidak ada petunjuk pelaksanaan pembangunan di Jabotabek.Pemerintah daerah.. pengelolaan dan penyususnan anggaran pembangunan Jabotabek tidak begitu jelas. PEMBANGUNAN KELEMBAGAAN.

budaya. kebijaksanaan pembangunan. Kriteria keberhasilan dari proyek akan dinilai dari : (1) keeratan kerjasama dalam perumusan peraturan dan kebijaksanaan lingkungan hidup dapat diukur dari jumlah kelompok kerja yang terlibat dalam kegiatan ini. EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PROSES KOMUNIKASI. 313 . konsultasi dan diskusi akan digalakkan dalam proyek ini melalui : Rapat Kerja tahunan antara para pelaku pembangunan.) PARTISIPASI MASYARAKAT. TRANSFERABILITAS. Proyek ini bermaksud untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup agar tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. dsb. pusat penduidikan masyarakat. (3) peningkatan penyebaran informasi di bidang lingkungan hidup dapat dinilai dari (a) jumlah newsletter yang diterbitkan. tentu sebelumnya harus dilakukan beberap adaptasi (seperti kelembagaan. seminar. universitas. laporan etc. (2)peningkatan partisipasi wanita dalam pengelolaan kawasan pesisir dapat dinilai dari jumlah wanita yang berpartisipasi dalam rapat-rapat kerja. LSM dan masyarakat dalam rang perumusan kebijasanaan. (b) jumlah seminar. publikasi. pelaksanaan dan pemantauan. rapat kerja ataupun pertemuan-pertemuan tentang lingkungan hidup.KEBERLANJUTAN. diharapkan sistem yang sudah dibangun akan tetap berjalan secara mandiri meskipun bantuan teknik dari UNESCO sudah dihentikan. Proyek ini akan memperkuat jaringan kerja antara Pemerintah (Pusat dan Daerah). Pada akhir 5 tahun pelaksanaan proyek. dan publikasi lainnya seperti pameran. 2000-2005. program pelatihan. brosur. Komunikasi multi arah yang mencakup dialog. dsb. Proyek "Environmental governance and wise practices for tropical coastal mega-cities: Sustainable human development of the Jakarta Metropolitan Area" dapat dengan mudah diterakpan di mega-city tropis lainnya. lembaga-lembaga penelitian.

KEBIJASANAAN PEMERINTAH. dimana peranan masyarakat dan Pemda sangat terbatas. penyusunan program. Proyek ini menggalakan usaha desentralisasi perencanaan. EVALUASI. Akan diberikan bantuan teknik terhadap beberapa instansi Pemerintah Pusat dan daerah dalam hal: penataan ruang. Program-program pembangunan di Jabotabek sebagian besar adalah proyek Pemerintah Pusat. Rancangan proyek didasarkan atas persepsi bahwa Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu secara ekologis merupakan bagain yang tak terpisahkan dara Kawasan Metropolitan Jakarta. Messages in This Thread 314 . khususnya kualitas air di Teluk Jakarta. pelaksanaan dan pengelolaan lingkungan hidup. dan (4) jumlah kerjasama antara pemda dengan pihak swasta dan masyarakat dalam perencanaan dan pemantauan lingkungan hidup.DESENTRALISASI. dan didasarkan juga atas asumsi bahwa perusakan lingkungfan hidup di kawasan ini berasal dari permasalahan pengelolaan. dan realisasi pembangunan. DIMENSI REGIONAL. (3) jumlah LSM yang terlibat dalam usaha peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kawasan Metropolitan Jakarta. Keberhasilan proyek akan diukur dengan kriteria sebagai berikut : (1) peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kawasan Metropolitan Jakarta. (2) jumlah masyarakat yang secara aktif berpartisipasi dalam perencaan. Peranan BKSP dan Pemda perlu diperkuat unutuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan tingkat hidup dari masyarakat setempat. evaluasi standar dan norma-norma lingkungan hidup di kawasan pesisir dan mempersiapkan kebijakaan pemerintaha (pusat dan daerah) dalam pelestarian lingkungan hidup.

A regional approach to environmental quality management / Jakarta-Indonesia (+Bahasa Indonesia) Yoslan Nur Bay Management Ian Dutton How societal thinking shapes attitudes to resource exploitation / Indonesia.(+Bahasa Indonesia) Boedhihartono and Nurlini Kasri Assessing the way society views natural resources / Indonesia and Russia Ian Dutton and Michael Shilin SEND YOUR REACTION/RESPONSES TO THE MODERATOR. | View Thread | Return to Index | Read Prev Msg | Read Next Msg | 315 .

6. Berdasarkan hasil analisis ketergantungan daerah perikanan sampai tahun 2003. Dadap merupakan pusat pelayanan atau pusat pengembangan. dengan total jumlah fasilitas mencapai 18 tipe fasilitas (3) Pemanfaatan lahan di masing-masing kawasan sejauh ini masih perlu dikoordinasikan secara terpadu. sedangkan untuk Kecamatan Kosambi. Di Kecamatan Penjaringan. sedangkan PPI/TPI Kamal Muara tetap berfungsi di sektor perikanan sebagaimana semula. sedangkan TPI Kamal Muara masih mempunyai ketergantungan yang cukup besar.1 Simpulan SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Kondisi lingkungan pesisir dan perairan di kawasan Dadap-Kamal Muara dalam keadaan belum baik. baik secara horizontal (yang menyangkut masyarakat sekitarnya) maupun vertikal (yang berkaitan dengan pemerintah pusat dan instansi lainnya). PPI/TPI Dadap lebih baik untuk difungsikan sebagai pelabuhan yang mendukung aktivitas wisata bahari. Analisis LQ menunjukkan bahwa komoditi perikanan di Kabupaten Tangerang dan Kota Jakarta Utara masih merupakan sektor unggulan. . Program pembangunan yang dilakukan di Kawasan Dadap-Kamal Muara sejauh ini belum sepenuhnya dilakukan berdasarkan konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Daya tampung PPI/TPI Kamal Muara dapat ditingkatkan untuk menampung limpahan kapal dari PPI Muara Angke dan PPI Dadap. (4) Dimasa yang akan datang. dengan tetap mewadahi aspirasi masyarakat lokal untuk menghindari terjadinya konflik sosial. pusat pelayan atau pusat pengembangan wilayah utama bukan terletak di Kamal Muara tetapi di Kelurahan Pejagalan dan Kelurahan Pluit. 6. PPI/TPI Dadap sudah tidak dapat lagi dipertahankan sebagai tempat pendaratan dan pelelangan ikan. sedangkan Kota Jakarta Utara merupakan wilayah lamban dimana pergeseran bersih bernilai negatif. (2) Hasil analisis shift share menunjukkan bahwa Kabupaten Tangerang merupakan wilayah progresif dimana pergeseran bersih bernilai positif.

kegiatan kapal penelitian Baruna Jaya. 255 .2 Saran (1) Direkomendasikan bahwa pengembangan selanjutnya untuk TPI Dadap diharapkan agar diarahkan untuk menjadi suatu pelabuhan terpadu. (4) Konsep pembangunan kawasan pesisir terpadu benar-benar harus diterapkan di kawasan perbatasan ini. cold storage.495 GT).(5) Opini masyarakat menunjukkan adanya kekhawatiran tentang kondisi lingkungan pantai dan perairan serta menuntut kepastian program masa depan sektor perikanan 6. direkomendasikan untuk dikembangkan sampai mempunyai kapasitas sama dengan kapasitas TPI Muara Angke. memfungsikan gudang untuk produk-produk perikanan. (2) Untuk TPI Kamal Muara. mesin penghancur es. Sektor Perikanan: Pemda Kabupaten Tangerang • Instalasi air bersih. dan aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata pantai (baik layaran. baik dari TPI Dadap (sebanyak 1. dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan pembangunan fasilitas pelabuhan di kedua TPI tersebut. maupun transportasi ke objek-objek wisata yang akan dikembangkan. yaitu sebesar 500 unit kapal ikan dengan bobot rata-rata 50 GT. Tidak perlu dikembangkan suatu kegiatan yang sama di kedua kawasan perbatasan tersebut tetapi yang lebih baik adalah kegiatan yang saling mendukung dan saling mengisi. mengganti fungsi TPI Dadap menjadi pelabuhan wisata pantai dan laut. yang dapat menangani kegiatan perikanan olah raga (sport fishing). pabrik es. (5) Beberapa kegiatan pembangunan yang direkomendasikan untuk dikerjasamakan diantara Pemkot Jakarta Utara dengan Pemda Kabupaten Tangerang antara lain: a. (3) Pemindahan kapal ikan.500 GT) maupun dari TPI Muara Angke (sebanyak 1. dengan mengedepankan prinsip saling mendapat keuntungan (win-win solution).

SPBU khusus Kawasan konservasi Pemda Kabupaten Tangerang • melakukan koordinasi dengan kecamatan lain yang memiliki kawasan konservasi yang memungkinkan untuk menjadi objek wisata alam: Pulau Cangkir (Kec. Kosambi) Pemkot Jakarta Utara • Menyiapkan kawasan mangrove sebagai daerah konservasi. Prasarana dan Sarana penangkapan Pemda Kabupaten Tangerang • • d. menyiapkan objek wisata mangrove. Arukan/Muara dan Salembaran Jati (Kec. bengkel mesin dan dock. tempat perbaikan alat tangkap. Melakukan penataan lokasi budidaya kerang hijau Pemkot Jakarta Utara • Pembangunan fasilitas PPI Kamal Muara. c. toko peralatan wisata laut Pemkot Jakarta Utara • Penyiapan objek wisata laut. Tanjung Burung dan Tanjung Pasir (Kec. rumah makan & restoran seafood. wisma/hotel untuk wisatawan. sarana keselamatan wisata laut. Sukajadi. menyediakan perahu untuk kegiatan wisata. Tanjung Kait Kec. Teluk Naga). memelihara areal-areal konservasi laut 256 . Wisata laut Pemda Kabupaten Tangerang • Pendidikan pemandu wisata. Kronjo). rumah sakit. b.pengerukan dasar Kali Perancis secara reguler. Galangan kapal kayu dan fiber glass Pemkot Jakarta Utara Toko peralatan tangkap. perumahan nelayan. pengerukan dasar Kali Kamal secara reguler.

Columbia University Press. Sejarah Terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Kejar Sertifikasi. Sustainable fisheries development in the tropics: trawlers and licence limitation in Malaysia. [Anonimous]. PKSPL IPB. 29 Mei 1996. F. Alam MF. New York. H. <apakabar@clark. 1994. http://www. <apakabar@clark. Naskah Akademik Kelembagaan Tempat Pelelangan (1). Analisis Penentuan Daerah Perikanan (Fisheries Dependent Region).pikiran-rakyat. [Anonimous]. Naskah Akademik Kelembagaan Tempat Pelelangan (3). J. 2002. A. Bogor. PKSPL IPB. Adrianto L. [Anonimous]. Keputusan Menteri Perhubungan No. net. 2004. berubah dari waktu ke waktu. 1997. Squires D. 22 Pebruari 2006. NY. Adrianto L. Poster Paper. Kompas online. Working paper. et al. (2003). 1996. Naskah Akademik Kelembagaan Tempat Pelelangan (2). Pikiran Rakyat. 2007a. Teluk Jakarta.dkp.htm Adrianto L.go. T.DAFTAR PUSTAKA Adimihardja K. 2003. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang.com/cetak/2006/ 022006/22/0902. Selasa. Applied Economics (34) 325-337 Allen.. [Anonimous]. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. Tainter.net>. Poster Paper. 2007b. From: apakabar@clark. Identifikasi dan Penyusunan Program Potensi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang. PKSPL IPB. 54 tahun 2002 tentang Peenyelenggaraan Pelabuhan Laut.. Supply-side Sustainability.id/ . Adrianto L. berubah dari waktu ke waktu. 2007.net>. Poster Paper. Jabar-DKI Harus Bekerja Sama. 2003a. Omar IH. 2006. http://www. 29 April 1997. Media Online. Teluk Jakarta. 23 Oktober 1994 [Anonimous]. Kompas online. 2002. Rabu. [Anonimous].

[Anonimous].html).id/ [Anonimous]. Tangerang Belum Prioritaskan Penanggulangan Banjir Kamal Malang.go. Sinar Harapan.emb-japan. Penyebab Matinya Ikan di Teluk. 2004c. 22 April 2004. Sinar Harapan. 2005. http://www. [Anonimous]. Perubahan RUTR Pantai Dadap. 16 Maret 2004. Jakarta. Kompas. 2005b. [Anonimous]. 2004d. 18 Januari 2005. Tindaklanjuti Penghentian Reklamasi Pantai Dadap. Logam Berat. Down load 5 Julu 2007. 2003b. Tempo Interaktif. Suara [Anonimous]. Edisi Juli 2004 [Anonimous]. 23 Februari 2004 [Anonimous]. [Anonimous]. Pemkab Terima Retribusi Ratusan Juta Rupiah. 2004d. 2005c. 23 Februari 2005 Kompas. 2005a.id/ 258 .go.jp/news. Monografi Desa Dadap 2003. Pemerintah Jepang Menyatakan Memberikan Bantuan bagi Pembangunan Sumur Air Umum di Desa Kamal Muara di Jakarta Utara.deptan. Sepotong Kisah dari Desa Dadap. Agribisnis Indonesia on line. 06 Agustus 2004 16:38:22 [Anonimous]. Website Resmi Sekretariat Badan Kerjasama Pembangunan Jabodetabekjur. Kabupaten Tangerang. Warga Dadap Tolak Reklamasi Pantura. Jakarta Utara Mulai Diterjang Banjir. 17 Juni 2004. Tempo Interaktif. 23 Februari 2004 16:38. Tempo Interaktif. Jakarta Utara Tergenang Akibat Hujan Deras. Warga Dadap Tak Peduli Ada Reklamasi Pantai. 2006.jakarta.[Anonimous]. [Anonimous].hofstra. 09 Maret 2005. Merujuk Sistem TPI Belanakan untuk TA/STA. 2005d. Kecamatan Kosambi [Anonimous]. 2004f. Sejumlah Instansi Saling Tuding Reklamasi Pantai Dadap Liar. Suara Publika. (http://people.edu/geotrans/eng/ch6en/conc6en/ [Anonimous]. 2006a. http://bkspjabodetabekjur. 2004. 23 Februari 2005.go. [Anonimous]. 2004a. Suara Pembaharuan. Pembaharuan Daily. [Anonimous].html [Anonimous].id. http://agribisnis. 2004b. 2004e. landrent. Suara Pembangunan Daily. Press release 2004. Tempo Interaktif.

Program Pascasarjana IPB. Laporan Kegiatan Pemerintahan Kelurahan Kamal Muara bulan April 2007. [BAPPEDA Lebak] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tangerang. Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25. Edisi 1 – 2001. 2003.dkp. [BAPPEDA Pandeglang]. fishing port douglas. Keynote Speech Menteri Kelautan dan Perikanan RI.com/cetak/2006/ 022006/07/0910. 2006b. Fishing Port Douglas. Bailey C.000. [BAPPEDA Lebak] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lebak. Lembar 1209-434 Teluknaga.: 333-344 [BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. [BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. 2001. Booklet online. 2001. Peta Lingkungan Pantai Indonesia 1:50. 2004. http://www. "Lokakarya Refleksi Kebijakan Revitalisasi Kelautan dan Perikanan". 2003. Lembar LPI 1210-03 Jakarta. http://www. 2003. 2003.htm [Anonimous]. Kabupaten Pandeglang dalam Angka 2002. 2007a. [BAPPEDA Cilegon] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon. 2001. 1990.000.. [BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi Banten. Revisi RTRW Kabupaten Tangerang. com. Jentoft S. J. Kabupaten Serang dalam Angka 2002 259 .id/ Atmaja SB. 15 Januari 2007. Hard choices in fisheries development. 2002. Jakarta. Kota Cilegon dalam Angka 2002. Banten Dalam Angka 2003. Dinamika Perikanan Purseseine di Laut Jawa dan sekitarnya. [Anonimous]. 2006c. [BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi Banten. Kelurahan Kamal Muara Kecamatan Penjaringan Kotamadya Jakarta Utara. 2007. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pandeglang. [BAPPEDA Serang] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Serang. PIKIRAN RAKYAT Selasa 7 Pebruari 2006 http://www. Kabupaten Lebak dalam Angka 2002. Megapolitan Jangan Mencaplok.au/ [Anonimous].pikiran-rakyat. 2000. Edisi 1 – 2000.[Anonimous]. Marine Policy. Thesis. Bogor. July 1990. Banten Dalam Angka 2000.go.

1992. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Blair JP. 2001. [BPS Tangerang] Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang. [BPS] Badan Pusat Statistik DKI Jakarta. Chua TE. Urban and Regional Economics. 2001. Bengen DG. A unified framework. 2006. Sinopsis. Washington DC.. Budiharsono S.[BAPPEDA Tangerang] Badan Perencanan Pembangunan Daerah Kabupaten Tangerang. Inc. 1991. 2004. 2004a Kecamatan Penjaringan Dalam Angka 2003. An Introduction to Coastal Zone Management. 2004. Inland Press. 2002. Marine Policy. Beatley T. The Dynamics of Integrated Coastal Management: Practical Aplications in the Sustainable Coastal Development in East Asia. New York. Peta Rencana Pengelolaan Kawasan Budidaya (2011). Gazioğlu C. J. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. 1992. McGraw-Hill.. Penduduk Jakarta Utara 2000. 1999. September 1992.. Bogor. . 47 (2004) 515527 Charles AT. PKSPL IPB. 585 pp. Burak S. Doğan E. Elements of Dynamic Optimization. Tinjauan Ekonomi Regional DKI Jakarta dan Pulau Jawa-Bali tahun 2001-2002. Schwab A. [BPRP] Badan Pelaksana Reklamasi Pantura DKI Jakarta. 2000. Kosambi Dalam Angka 2000 [BPS Jakut] Badan Pusat Statistik Kodya Jakarta Utara. 2003. Impact of urbanization and tourism on coastal environment. Jakarta Utara Dalam Angka 2003.. [BPS] Badan Pusat Statistik DKI Jakarta.Ocean & Coastal Management Vol. Fishery conflicts. [BPS Jakut] Badan Pusat Statistik Kotamadya Jakarta Utara. Pradnya Paramita. Jakarta.: 379-393 Chiang AC. Brower DJ. Studi Kelayakan Pembangunan Tempat Pendaratan Ikan dan Restoran Nelayan Tradisional Kawasan DAS Kali Kamal Wilayah Jakarta Utara. 2001. GEF/UNDP/IMO Regional Programme on Building Partnerships in 260 . 2001. Irwins Inc..

2001. Peta Jabotabek (Jakarta. Konsep Pengembangan Sektor Perikanan dan Kelautan di Indonesia. Jakarta. Tangerang. Skala 1:70. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indenesia Nomor PER. Orasi Ilmiah: Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Damai AA. Perikanan dan Kelautan Pemda DKI Jakarta. Dahuri R. Bogor. Cicin-Sain B. 2003. Bogor. Dinas Tata Ruang dan Bangunan. Dahuri R. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu. 1996. 2004.distanhut. Island Press. Tangerang. Kematian Masal Ikan di Teluk Jakarta: antara Limbah Industri dan Eutrofikasi . dan Bekasi. Philippines. Lampung Bay. Thesis.Pendekatan Sistem untuk Penataan Ruang Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung. Jakarta. 2005. 2000. 261 . [DIPERHUT] Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta. 2003. Damar A. Publication Series No. CV Indo Buwana. Quezon City. Concepts and Practices. Ginting SP. Monografi Desa Dadap 2003. Distribusi hutan mangrove di wilayah DKI Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. Integrated Coastal and Ocean Management. phytoplankton dynamic and productivity in Indonesian Tropical Water: a comparison between Jakarta Bay. 29: 199 p.Environmental Management for the Seass of East Asia (PEMSEA). 2003..com/ Dinas Tata Ruang dan Bangunan. Desa Dadap. [Disnakkanlut] Dinas Peternakan. PT Pradya Paramita. Http://www. Data Perikanan tahun 1992-2001. Effect of enrichment on nutrient dynamic. Washington DC. CV Indo Buwana. Rais J. PKSPL IPB. and Semangka Bay. 2003. 2004. Darmawan dan Yopi Novita (Editor). Damar A. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. 1998.16/MEN/2006 tanggal 23 Juni 2006 tentang Pelabuhan Perikanan. Knecht RW. FTZWESTKUESTE. dan Sitepu MJ. 2002. Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Utara Tahap I Kabupaten Tangerang.000. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 2006.

1999. [Diskan Tangerang] Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang. University of Toulon. Terjemahan Tim Ditjenkan dari Integration of Fisheries into Coastal Area Management. Implementasi Konvensi Hukum Laut 1982. Integrasi Perikanan ke dalam Pengelolaan Kawasan Pesisir. Proyek Kerjasama IPB-New Guinea University of Technology. 1996. Dubrocard A. Laporan Perikanan2002. Laporan Perikanan2001. 2004. No. Data Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kabupaten Tangerang 2003. Regional Policies and Cohesion. 262 . Directorates General Environment. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.gov. GREQAM. [EC] European Commission. Canada’s Atlantic Coastal Action Program: A community-based approach to collective governance. [FAO] Food and Agricultural Organization – UN. Glover EA. Nuclear Safety and Civil Protection. [Diskan Tangerang] Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang. Ocean & Coastal Management. Rome. Ellsworth JP. Toulon. Fisheries. ICZM in the UK: A stocktake. General Principles and Policy Options. [Diskan Banten] Dinas Perikanan Provinsi Banten. ATKINS. Hildebrand LP. 3. Renstra Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Banten [Diskanlut Tangerang] Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang. Hotel Savoy Homann Bandung. Perikanan dan Kelautan Pemda DKI Jakarta. 2003. Potensi Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke. Makalah dalam Seminar Nasional “Mewujudkan Pemerintahan Bahari”. http:/www. 20-25 Maret 2000. pp 121-142. : UPT Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (2005) [Disnakkanlut] Dinas Peternakan. Kumpulan data perikanan DKI Jakarta. FAO Technical Guidelines for Responsible Fisheries.uk/environment/water/marine/uk/iczm/stocktake/sect ion 1.[Disnakkanlut] Dinas Peternakan. 2006. Fauzi A. 2003. 1997. 2000. Program Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Vol 36 Nos 1-3. Final Report. 2005. Bogor. 1998. Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta. 2002. 2000a. Cimahi. Thoron S. Strategic aspects of the planning of fishing harbours. A reflection paper. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir. Djalal H.defra. “Towards a European Integrated Coastal Zone Management (ICZM) Strategy. FAO.pdf.

Fujita M. Kansas City: Sheed Andrews and McMeel. Makalah pada Pelatihan Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu (ICZPM) Segara Anakan II. Fujita M. Day JW.. 1977. An economic valuation guide. Bogor. B. 83. environment. A Willey-Interscience Publication. 1976. New York. New York.. Bower BT. Editor.. Hatziolos ME. Hu D. Hall CAS.. Baltimore. Ecology and Natural Resources Management: System Analysis and Simulation. 1999. Capital. Meister AD. Ketika-air-mengucur-di-Kamal-Muara. 37 No. 1997 Hoover EM. Ford A.. Inc. (2001) 35: 3-37. wordpress. Giarratani F. present. Bogor. Hasyim I. Girsang P. Bogor. 1985. A World Bank Framework for ICZM with Special emphasis on Africa. James DE. Knopf. 23 September-22 Oktober 1998. Murray N. 139-164 (2004). Ocean & Coastal Management Vol. 1997. and Development. Institute of Fisheries Economic and Community Development IPB. Rothbard. Analisis PIR-LOK Kelapa Sawit dalam Hubungannya dengan Pengembangan Wilayah serta Kaitannya dengan Distribusi Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan. An Introduction to Regional Economics. New York. The Johns Hopkins University Press. Island Press. Third Edition. Fetter FA. Gray. Grant WE. 1997. Sci. 14Aug06 http://sendaljepit. 2006. PKSPL IPB.com/. pp 281-294. Panduan Pelatihan Pemodelan Optimasi. The economic geography: past. 1994. 263 . 2001. 3. Inc. 1998. and Rent: Essays in the Theory of Distribution. DC. Marin SL. John Wiley and Sons. Pedersen EK. Perencanaan Pembangunan Segara Anakan dalam Rangka Kerjasama Dua Propinsi (Jabar-Jateng). Tesis. 2000b. Ann. 1983. Washington. Dixon JA. Ecosystem Modelling in Theory and Practice: an introduction with case histories. Krugman P. PPS IPB. 2004. Modeling the Environment: An Introduction to System Dynamics Modeling of Environmental Systems. Regional disparity in China 1985-1994: The effect of globalization and economic libelarization. and future. Alfred A. Reg. Natural Systems. John Wiley & Sons. Interest. Hufschmidt MM. Reg.Fauzi A. Sci.

Petrou A. Y. Thesis. 2006. Klinger T. konflik Pertanahan: Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi. D. V. A. LAN bekerjasama dengan DSE.. Putturuhu. Nursalman. M. Konsep pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan. Pustaka Sinar Harapan. 1988. F. Bogor. 2005. Pengantar Pelabuhan Perikanan. 2000. A. Jakarta Utara). Blackwell Science.. Ocean & Coastal Management 47 (2004) 195-196. 2003. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Tesis. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB. Lubis E. 264 . [IMC] Information Media Center. Dalam Konsep Pengembangan Sektor Perikanan dan Kelautan di Indonesia. Litasari L. Fishing News Books. 17:38 jakarta / lingkungan hidup / news repo Jorgensen SE. A. (eds). Sinaga. Y. Kramadibrata S. Flassy. M. Bambang Rianto.Husein. Kurniawati W. Penerbit ITB. Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan Pembangunan Wilayah/PPW (Planning of Regional Development Programmes-PRDP). Ismail. 2002. 1997. Editor Darmawan dan Yopi Novita.a Pelabuhan Perikanan. Bogor. M. Amsterdam. Dalam Symes. AS. Program Pascasarjana IPB. Identifying fisheries dependent regions in Greece. Imbaruddin. London. Kasimis C. Nasib nelayan Kamal Muara dan reklamasi PANTURA. 2004. Harder. dan A. 2002. Taufik. Elsevier. Fisheries Dependent Regions. Kajian Kesesuaian Lahan dan Kebijakan Pemanfaatan Areal Budidaya Kerang Hijau (Mytilus viridis) (Kasus di Kelurahan Kamal Muara. 1999. Sekolah Pascasarjana IPB. Optimisasin Pengembangan Perikanan Purse Seine di PPN Pemangkat Kabupaten Sambas Propinsi Kalimantan Barat. Riyadi. Lubis E. Bandung. G. 2002. Perencanaan Pelabuhan. Buku I Bahan Kualiah Program Pascasarjana m. Fundamentals of Ecological Modelling. Jakarta Idrus. International ICZM: in search of successful outcomes. Dikirim oleh : Jakarta IMC Editorial Group Jakarta IMC pada tanggal : 06-09-2006. Jakarta. Laboratorium Pelabuhan Perikanan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. D.

2005. San Francisco. Pelabuhan Perikanan: Fungsi. Mardiana H. Gadjah Mada University Press. http://www. 177-196 McClave JT. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Murdiyanto B. Bogor. Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan FPIK IPB. Bogor. Location. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. (2003). A regional approach to environmental quality management. Yogyakarta. McCann P. 2004. Forth Edition. Statistics. Pola Pengembangan Pelabuhan Perikanan dengan Konsep Triptyque Portuaire: Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Alternatif Pola Bagi Hasil Nelayan Gillnet di Muara Baru Jakarta Utara. Wise Coastal Practices for Sustainable Human Development Forum. Sekolah Pascasarjana IPB. 1975. Skripsi. I Dutton. Papers Reg. Nawawi HH. Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan FPIK IPB. Shefer D. Mubyarto. 2001. Bay Management. Antrian Kapal. Skripsi. USA. How societal thinking shapes attitudes to resource exploitation. Reklamasi pantura Jakarta hanya menuai masalah. agglomeration. Disarikan dari Perkembangan Advokasi Reklamasi Pantura Jakarta-Walhi. Edisi Pertama. 2001. 2004.Mahdi MR. 2007. Metode Penelitian Bidang Sosial. 1988. ISBN 979-420-064-6. Boedhihartono. Sci. Tingkat Pendapatan Usaha Nelayan Gill net di Desa Pangandaran Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis. 2000. and infrastructure. Membangun Sistem Ekonomi. 83. Pengembangan Perikanan Oukat Cincin di Lampulo Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 265 . John Wiley &nSon. Fasilitas. Mahyuddin B. Inc. Program Studi TKL.csiwisepractices.org/?read=73 Nurhayati I. Dellen Publishing Company. 2005. Benson PG. McCann P. Michael Shilin. Yogyakarta Northam RM. Nur Y.. Panduan Operasional. Oregon State University. BPFE. 2004. Urban Geography. Urban and Regional Economics. Assessing the way society views natural resources. Sekolah Pascasarjana IPB. Disertasi. N Kisri. Oxford University Press. Bogor. Thesis. 1999. Muhartono R.

(eds). What is the scalogram used for? . http://www. Phillipson J. Panuju D. Bogor Rustiadi E. D.de/doc/Maris/ node4. 1999.ac. Mahon R. JULY 2003.id/Jurnal/ volume_8/ No_3_8/6_3_8. Pickave AH. New York. Buletin Walhi.walhi. Blackwell Science. Ruth M. Dalam Symes. Ocean & Coastal Management 47 (429-447) [PPLH IPB] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor. A proposal for measuring land development benefit in urban road project: a case of Padang. 2003. London.. 1997. pengembangan Pelabuhan Perikanan di Pantai Utara Pulau Jawa serta Sistem Data Informasi. 2004. Petrucci A. Rustiadi E. McConney P. Panuju D. Taxing Land Rent in an Open Economy. West Sumatera. 266 . Breton F. Pomeroy RS. Comparative analysis of coastal resource co-management in the Carribean.uni-bonn. PPLH IPB. Laporan AMDAL Pelabuhan Kapal Riset Barauna Jaya.itenas. Bogor. Saefulhakim S. Bogor. Ocean & Coastal Management 47 (449-462) [PKSPL IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. SIEV – Sustainability Indicators and Environmental Valuation. Kajian Pemanfaatan Ruang Jabotabek.or. Carli. 2004. Shidiq D.id/kampanye/pela/pela_patura_maslh_060503/#top [ODL] Open Distance Learning. 6 Mei 2003. Trisasongko BH. 2002. Fishing News Books. NOTA DI LAVORO 63. Perencanaan Pengembangan Wilayah. 2003. Hidayat J. 1997. 2000. Hannon. http://www.. http://lib. Centre for Transportation and Logistics Studies Gadjah Mada University.2003. Fisheries Dependent Regions. 2000. Radnawati D. BAPPEDA Propinsi DKI Jakarta dan LP IPB. Kerjasama antara PKSPL IPB dengan Ditjen Perikanan Departemen Perikanan. Konsep Dasar dan Teori. Fakultas Pertanian IPB. Gilbert C. 2002..htm as retrieved on 22 Dec 2005 11:39:14 GMT. Medrial A. html. Università del Molise and LUISS G. An indicator set to measure the progress in the implementation of integrated coastal management in Europe.oleh Slamet Daroyni. Springer. Modeling Dynamic Economic Systems. Delimiting fisheries dependent regions: the problem of inadequate data.mathpsyc. Parikesit D.

Environmentally Sustainable Development Occasional Paper Series No. Pantai Dadap dicemari limbah B3. National Park Service. 1999. Sinar Harapan. Seratus Tahun Lembaga Penelitian Bidang Ilmu Kelautan LIPI 1905-2005. Reklamasi Pantai Dadap liar. Editor Darmawan dan Yopi Novita. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB. 2004. Sinar Harapan. Dalam Making Development Sustainable. Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Kerang Hijau (Perna viridis L. US Department of the Interior and US Agency for International Development. Sci. 256p Serageldin I. Dalam Konsep Pengembangan Sektor Perikanan dan Kelautan di Indonesia. Reg.Scialabba N (ed). COAST. 2003. Akibat reklamasi liar. Ann. 2005. Who and what is to be involved in succesful coastal zone management: a Thailand example. Ocean & Coastal Management Vol. Sinar Harapan. Jakarta Sudara S. Ditertibkan. (2003) 37: 421-434. Sondita F et al. Setyobudiandi I. 1998. wanita PSK. JC. “Institutional arrangements for managing coastal resources and environments”. 2003. 1990. 1758) pada Kondisi Perairan Berbeda. 1994. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sorensen. FAO. from concepts to action. Sejumlah instansi saling tuding. 2. 24 Juni 2004a. Coastal Management Publication No. Masalah dan Upaya Optimalisasi Usaha Perikanan Tangkap: Suatu Tinjauan Kebijakan. Prosiding Seminar Nasional Perikanan Tangkap: Menuju Paradigma Teknologi Perikanan Tangkap yang Bertanggungjawab dalam Mendukung Revitalisasi Perikanan. 42 (1999) 39-47 267 . Solihin I. Environment and Natural Resources Service. Renewable Resources Information Series. Forestry and Fisheries. Disertasi. Do the donors have it right? Decentralization and changing local governance in Indonesia. Making Development Sustainable. Subagjo S et al. 17 Juni 2004. 2nd edition. 18 Oktober 2002. FAO Guidelines. Rome. Steer. Editor Ismail Serageldin dan A. Program Studi Biologi Program Pascasarjana IPB. dan ST McCreary. Silver C. Integrated Coastal Area Management and Agriculture. 1.

(Sabtu. Suzuki T. Winoto J. Ph. Suku Dinas Perikanan Kotamadya Jakarta Utara. Economic and geographic backgrounds of land reclamation in Japanese port. ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Suatu Pendekatan Teoritis. dan Mahasiswa PWD '98. Dalam Bahan Kuliah (tambahan) Perencanaan Ekonomi Regional dan Perdesaan (PWD 512). 1996. Tangerang. Tempo Interaktif (Kamis. Prinsip-prinsip Dasar Alokasi Ruang: Prinsip pendampingan untuk Land Rent. 268 . Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah & Perdesaan PPs IPB. Laporan Tahunan 1995/1996. Dipersiapkan oleh Joyo Winoto. London. [TPI] Tempat Pelelangan Ikan Dadap. Wong PP. 9 April 2005) Widjayanto. Surya N. Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah & Perdesaan PPs IPB. 1999/2000. 17 Juni 2004. Ph. 1996. Fishing News Books. Suparmoko. Ocean & Coastal Management Vol. Fisheries Dependent Regions. Marine Pollution Bulletin 47 (2003) 226-229 Symes D. 2000. Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan FPIK IPB. Winoto J. 12:51 WIB). 1998. Empat Tahap Resolusi Konflik. 38 (1998) 89-109. 2004. 1998/1999. Edisi 3. Laporan Proses Pelelangan di TPI Dadap. 1994. 1998. Dalam Pengembangan Wilayah. 2004. Pembangunan dan Sistem nilai Masyarakat. Skripsi. [UPC] Urban Poor Consortium.[Sudinkan] Suku Dinas Perikanan Jakarta Utara. (Ed). Winoto. 2003. Analisis Permintaan Solar oleh Unit Penangkapan Ikan di PPI Muara Angke Jakarta Utara. J. Coastal tourism development in Southeast Asia: relevance and lessons for coastal zone management. Dalam Pengembangan Wilayah. 2005. D. Pengertian Wilayah. Dipersiapkan oleh Joyo Winoto. D. dan Mahasiswa PWD '98. Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah & Perdesaan PPs IPB. BPFE – Yogyakarta. Bogor.

71E-06 2.316967 MAX RTKP 1.90E-06 1.15385 0.15385 5.00000 MAX RI 3.00106 0.90E-06 1.01E-06 0.03846 u(alt) 0.00000 1.15385 0.00000 1.75E-05 5.001091 0.43E-05 0.000654 0.002681 0.WSA The decision problem with 2 alternatives and 8 criteria date 7/21/05 .20E-06 2.000654 Basal 0.00000 MAX RKK 1.00000 0.00000 0.15385 0.03846 0.00053 Kamal Mua 0.002681 MAX RK 0.15385 0.05E-07 2.00000 1.03846 9.99E-07 9.293289 0.293289 0.01E-06 MAX RKK 1.15385 Ideal 0.00000 Weights 0.00000 Kamal Mua 1.99E-07 Normalised criterion matrix R: MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI Dadap 0.00000 0.46154 0.00000 1.00000 0.317582 0.12:37:50 PM Data 1999 Input data set: MAX MAX RN RM Dadap 0.00000 MAX RK 0.001091 Bobot 8. Hasil analisis ketergantungan daerah perikanan dengan menggunakan WSA program Weighted sum approach .293289 0.9E-06 1.00000 1.05E-07 3.53846 .00000 MAX RTKP 1.15385 0.05E-07 0.15385 3.15385 0.15385 0.317582 0.99E-07 9.20E-06 2.43E-05 8.71E-06 0.71E-06 1.001091 0.000654 Weights 0.2E-06 MAX RI 3.00000 0.15385 0.00000 MAX KPI 3.15385 0.75E-05 MAX KPI 3.03846 2.00106 Kamal Mua 0.00000 1.00053 0.00000 8.317582 0.00000 0.00053 MAX RM 0.00000 0.00000 Modified input data set: MAX RN Dadap 0.00000 1.75E-05 5.00000 MAX RPI 0.00106 MAX RPI 0.43E-05 1.01E-06 8.Lampiran 1.316967 8.002681 8.316967 0.

00000 0.00000 1.38E-05 1.215112 0.00000 0.69E-06 2.00000 MAX KPI 3.00101 MAX RPI 0.00000 1.86E-06 2.53846 .45E-05 5.004933 8.316691 8.86E-06 2.45E-05 5.15385 0.00000 MAX RPI 0.316691 MAX RTKP 1.00000 0.46154 0.80E-07 8.00000 MAX RKK 7.15385 0. Weighted sum approach .004933 MAX RK 0.321111 0.00000 1.000505 MAX RM 0.00000 1.00000 MAX RK 0.004933 0.03846 8.215112 0.000643 Basal 0.00000 0.98E-06 MAX RKK 7.00000 0.15385 0.60E-07 2.00000 0.15385 0.15385 5.001286 0.86E-06 2.69E-06 0.00000 Modified input data set: MAX RN Dadap 0.15385 0.00000 1.000505 0.97E-07 0.97E-07 3.45E-05 MAX KPI 3.8E-07 Normalised criterion matrix R: MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI Dadap 0.15385 0.15385 0.15385 3.12:38:55 PM Data 2000 Input data set: MAX MAX RN RM Dadap 0.00000 0.000643 0.00000 1.WSA The decision problem with 2 alternatives and 8 criteria date 7/21/05 .321111 0.00000 Weights 0.001286 0.03846 2.98E-06 8.69E-06 7.321111 0.97E-07 2.00000 Kamal Mua 1.00101 Kamal Mua 0.00000 MAX RTKP 1.38E-05 8.316691 0.03846 0.215112 0.000643 Weights 0.6E-07 MAX RI 3.60E-07 2.98E-06 0.38E-05 0.2 Lanjutan Lampiran 1.000505 Kamal Mua 0.00000 MAX RI 3.80E-07 8.15385 0.15385 0.00000 8.001286 Bobot 8.15385 Ideal 0.03846 u(alt) 0.00000 1.00101 0.

15385 0.00000 8.00000 0.15385 0.15385 0.317181 0.001264 0.317101 8.00000 0.86E-06 0.001264 0.64E-06 MAX RI 3.03846 8.15385 Ideal 0.86E-06 2.001264 0. Weighted sum approach .000468 Kamal Mua 0.15385 0.00000 0.00000 MAX KPI 2.49E-07 8.240705 0.00000 1.34615 0.WSA The decision problem with 2 alternatives and 8 criteria date 7/21/05 .15385 0.65385 .00000 MAX RTKP 1.00000 1.240705 0.00000 0.03846 0.26E-05 4.96E+00 2.2 Lanjutan Lampiran 1.00000 Modified input data set: MAX RN Dadap 0.15385 0.49E-07 8.240705 0.9607 2.00000 Weights 0.15385 4.00000 1.00000 1.00000 MAX RK 0.76E-05 8.76E-05 1.15385 0.99E-06 4.000632 Weights 0.01125 8.26E-05 4.03846 6.00000 0.000936 0.000468 Kamal Mua 0.000936 0.64E-06 2.96E+00 2.82E-07 2.76E-05 0.00000 MAX RKK 6.00000 0.000632 Basal 0.317101 MAX RTKP 1.15385 0.99E-06 4.317181 0.00000 1.000468 MAX RM 0.82E-07 0.01125 0.317101 0.00000 1.00000 1.64E-06 0.00000 Kamal Mua 1.00000 MAX MAX RM RPI 0.000936 MAX RPI 0.82E-07 3.01125 MAX RK 0.00000 0.86E-06 8.49E-07 Normalised criterion matrix R: MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI Dadap 0.00000 MAX RI 3.99E-06 MAX RKK 6.12:41:00 PM Data 2001 Input data set: MAX RN Dadap 0.03846 u(alt) 0.15385 0.317181 0.15385 4.000632 Bobot 8.26E-05 MAX KPI 2.

43E-06 4.000442 MAX RM 0.000622 Bobot 8.000884 0.009553 8.15385 4.15385 0.03846 u(alt) 0.000884 0. Weighted sum approach .00000 MAX MAX RK RTKP 0.27E-07 8.09E-06 2.7E-05 4.00000 0.12:42:11 PM Data 2002 Input data set: MAX RN Dadap 0.54E-07 2.00000 1.03846 8.7E-05 0.000622 Basal 0.001244 0.15385 0.00000 1.27E-07 2.00000 2.00000 0.00000 MAX KPI 2.WSA The decision problem with 2 alternatives and 8 criteria date 7/21/05 .43E-06 MAX RKK 6.00000 0.09E-06 0.00000 MAX RM 0.61E-06 6.30769 0.15385 0.316832 0.00000 Modified input data set: MAX RN Dadap 0.317505 4.54E-07 3.15385 0.7E-05 8.316832 MAX RTKP 4.00000 0.54E-07 MAX RI 3.03846 0.61E-06 0.00000 MAX RPI 0.00000 0.000622 Weights 0.236259 0.000442 Kamal Mua 0.15385 0.7E-05 4.000884 MAX RPI 0.43E-06 4.00000 1.316832 4.00000 0.7E-05 0.00000 1.00000 8.009553 0.00000 0.69231 2 8 .7E-07 0.27E-07 Normalised criterion matrix R: MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI Dadap 0.00000 Kamal Mua 1.15385 0.15385 Ideal 0.317505 0.236259 0.15385 0.7E-07 3.00000 1.2 Lanjutan Lampiran 1.009553 MAX RK 0.15385 0.09E-06 8.317505 0.00000 Weights 0.7E-07 2.000442 Kamal Mua 0.00000 1.001244 8.15385 4.00000 1.15385 0.61E-06 8.7E-05 MAX KPI 2.00000 MAX MAX RKK RI 6.03846 2.001244 0.236259 0.

41E-06 0.000848 0.28E-07 2.000611 Weights 0.00000 0.00000 MAX RI 3.151343 0.14E-07 8.28E-07 2.00000 1.00000 0. Weighted sum approach .196567 0.196567 0.03E-05 4.15385 0.001222 0.00000 1.39E-05 MAX KPI 2.08E-06 4.14E-07 Normalised criterion matrix R: MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX MAX RN RM RPI RK RTKP KPI RKK RI Dadap 0.00000 0.15385 5.00000 MAX RM 0.000611 Bobot 8.009063 8.03846 6.15385 0.56E-07 0.00000 1.001222 8.317419 0.39E-05 5.03846 u(alt) 0.03846 8.00000 0.08E-06 4.08E-06 MAX RKK 6.00000 Weights 0.317419 0.03E-05 8.80769 .196567 0.00000 1.28E-07 2.19231 0.15385 0.03E-05 0.001222 0.00000 MAX RTKP 4.41E-06 8.00000 1.000424 Kamal Mua 0.00000 MAX RK 0.WSA The decision problem with 2 alternatives and 8 criteria date 7/21/05 .00000 MAX RPI 0.55E-07 0.151343 0.41E-06 2.00000 MAX RKK 6.317419 8.151343 MAX RTKP 4.15385 0.55E-07 2.000424 Kamal Mua 0.56E-07 MAX RI 3.00000 0.15385 0.000848 0.14E-07 8.00000 0.009063 0.00000 Kamal Mua 1.15385 0.15385 0.00000 1.00000 0.009063 MAX RK 0.55E-07 3.00000 MAX KPI 2.03846 0.00000 1.56E-07 2.15385 4.15385 0.000424 MAX RM 0.39E-05 5.15385 Ideal 0.000611 Basal 0.Lanjutan Lampiran 1.12:43:40 PM Data 2003 Input data set: MAX RN Dadap 0.15385 0.00000 Modified input data set: MAX RN Dadap 0.000848 MAX RPI 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful