You are on page 1of 7

c    

 
  

Salah satu kebijakan penting yang berada di dalam otoritas pemerintah adalah kebijakan
fiskal, dan pelaku dari kegiatan ekonomi secara makro ialah Negara. Negara berperan untuk
mengatur kegiatan ekonomi agar terjaga stabilitas ekonomi dan mensejahterakan rakyatnya agar
tidak mengalami kemiskinan dan pengangguran. Salah satu kegiatan ekonomi yang dilakukan
pemerintah adalah membuat APBN, mengatur inflasi agar tidak terjadi krisis ekonomi,
membangun ekonomi dengan pertumbuhan yang signifikan dan merata.

Pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh pada kebijakan fiskal yang terwujud dalam
APBN. Ketika APBN digunakan sesuai dengan waktu dan tempat yang tepat maka inflasi yang
akan terkendali dengan baik sehingga berdampak pada pertumbuhan yang signifikan dan merata
dalam ruang lingkup makro yaitu Negara.

Untuk itu kita perlu mengkaji peranan pajak dalam kebijakan fiskal yang termasuk dalam
sumber penerimaan suatu Negara. Agar kita mengetahui seberapa pentingkah pajak dalam suatu
Negara yang merupakan sumber penerimaan Negara.

Pajak sudah dikenal sejak ratusan tahun atau lebih seribu tahun yang lalu. Konsep pajak
pada masa itu jauh berbeda dengan masa sekarang. Intinya adalah pengalihan harta dari suatu
pihak kepada pihak yang lain dengan paksaan yang digunakan untuk kepentingan pihak yang
berkuasa. Secara bertahap dan melalui berbagai perubahan yang disertai dengan pemberontakan,
revolusi atau perlawanan lain, lambat laun dalam masa yang lama, pajak yang berbentuk seperti
dahulu mengalami perubahan. Dari ketakutan untuk membayar pajak sampai kepada kesadaran
untuk membayar pajak. Sistem perpajakan mengalami pelbagai perubahan dari masa lampau
hingga sekarang. Bila masa lalu pajak ditetapkan atas kehendak penguasa secara sepihak maka
pajak pada masa sekarang telah berubah sebagai suatu keputusan berdasarkan dengan tujuan
untuk kepentingan rakyat banyak.


c  c

Pajak adalah iuran wajib yang harus di keluarkan oleh wajib pajak yang berpenghasilan di
atas PTKP. Pajak merupakan sumber penerimaan suatu Negara

Jenis-jenis pajak yang di pungut oleh pemerintah, antara lain:

a. Pajak penghasilan (PPH)

b. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa (PPN)

c. Pajak penjualan atas barang mewah

d. Pajak bumi dan bangunan (PBB)

e. Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan

f. Bea materai

g. Pajak daerah dan retribusi daerah

Fungsi pajak dibagi menjadi dua, yaitu fungsi budgetair (penerimaan) dan fungsi
regular (mengatur).

a. Fungsi budgetair (penerimaan) yaitu memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke


dalam kas negara. Pajak haruslah digunakan untuk membiayai kepentingan
penyelenggaraan pemerintahan, oleh sebab itu pajak harus di atur senetral
mungkin dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain.

b. Fungsi regular (mengatur), pajak dsamping berfungsi mengisi kas negara, juga
berfungsi untuk mengatur sebagai usaha pemerintah untuk turut campur dalam
segala bidang guna tercapainya tujuan-tujuan lain pemerintah.


  

Setiap tahun pemerintah menyiapkan anggaran keuangan yang disebut Anggaran


Pendapatan dan Belanja yang mempunyai fungsi sebagai kebijakan keuangan pemerintahan
dalam memperoleh dan mengeluarkan uang yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan.
Anggaran ini memperlihatkan jumlah pendapatan dan belanja yang diantisipasikan dalam tahun
berikut.

Kebijakan fiskal dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang di ambil oleh pemerintah
dalam bidang Anggaran Pendapatn dan Belanja Negara (APBN) dengan maksud untuk
mempengaruhi jalannya perekonomian.

Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan ekonomi negara, yang dapat juga
diartikan sebagai tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk membelanjakan pendapatannya
dalam merealisasikan tujuan-tujuan ekonomi.

Pada umumnya kebijakan fiskal suatu negara meliputi tindakan pemerintah tentang
perpajakan, kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan bantuan-bantuan pemerintah. Dengan
kebijakan fiskal pemerintah dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional, kesempatan kerja,
investasi, distribusi penghasilan dan sebagainya.

Dalam pemerintahan islam, kebijakan fiskal telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW.
Pada masa itu Baitul Mal sebagai lembaga pengelolaan keuangan Negara. Kebijakan fiskal di
Baitul Mal memberikan dampak positif terhadap tingkat investasi, penawaran agregat, dan secara
tidak langsung memberikan dampak pada tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan fiskal dalam islam bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang didasarkan
pada keseimbangan distribusi kekayaan dengan menempatkan nilai-nilai material dan spiritual
secara seimbang. Kebijakan fiskal dalam ekonomi islam digunakan untuk kepentingan yang
sama dengan kebijakan fiskal dalam ekonomi konvensional, yaitu sama-sama menganalisis dan
membuat kebijakan ekonomi.
Kebijakan fiskal dalam ekonomi islam juga ada tujuan tertentu. Jikalau kebijakan fiskal
dalam ekonomi kapitalis mempunyai tujuan untuk pertumbuhan, stabilitas, dan sebagainya tetap
sah dan diterima dalam ekonomi islam, tujuan-tujuan tersebut akan menjadi pengantar untuk
tujuan selanjutnya dalam kebijakan islam, yaitu menanggulangi kaum muslim dan dakwah
menyebarluaskan keseluruh penjuru dunia. Tujuan ini harus dipertimbangkan menjadi kebijakan
publik dari kebijakan fiskal, sebab dengan adanya kebijakan fiskal ini diharapkan dapat
membantu dalam pencapaian tujuan tersebut.

Menurut p  setidaknya ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan fiskal
dalam ekonomi islam, yaitu:

a. Islam menghendaki tingkat kesetaraan ekonomi yang demokratis melalui prinsip


bahwa ³kekayaan seharusnya tidak beredar diantara orang-orang kaya saja´.
Prinsip ini menegaskan bahwa setiap orang seharusnya memiliki akses yang sama
dalam memperoleh kekayaan.

b. Islam melarang pembayaran bunga (riba). Hal ini berarti islam tidak dapat
memanipulasi tngkat suku bunga untuk mencapai keseimbangan dalam pasar
uang.

c. Islam mempunyai komitmen untuk membantu ekonomi masyarakat yang kurang


berkembang dan untuk menyebarkan pesan dan ajaran islam seluas mungkin.

Berbagai macam pendapatan yang diterima oleh Negara, antara lain:

1. Penerimaan Dalam Negeri, terdiri atas:

a. Pajak dalam negeri

b. Pajak perdagangan internasional, yaitu Bea masuk dan Tarif ekspor

2. Hibah
Adalah penerimaan atau bantuan yang berasal dari swasta, baik dalam negeri
maupu luar negeri dan pemerintah luar negeri.

c c  

Pajak merupakan bagian yang terbesar dari pendapatan Negara. Dari sudut Pemerintahan
pertimbangan pajak dihubungkan dengan kebutuhan keuangan pemerintah untuk mampu
menjalankan pemerintahan. Pandangan ini sering tidak sejalan dengan faktor keadilan maupun
yang lain. Akibatnya pembayar pajak berusaha agar penghasilan lebih kecil dari yang seharusnya
sehingga beban pajak yang dilaporkan juga menjadi lebih kecil.

Kemudian tentang kebijakan fiskal, adalah suatu komponen penting kebijakan publik.
Kebijakan fiskal meliputi kebijakan pemerintah dalam penerimaan, pengeluaran dan utang.
Peranan kebijakan fiskal dalam suatu ekonomi ditentukan oleh keterlibatan pemerintah dalam
aktivitas ekonomi, yang khususnya itu kembali ditentukan oleh tujuan sosio-ekonominya,
komitmen ideologi, dan hakikat sistem ekonomi.

Dalam literatur keuangan negara, ada beberapa teori yang memberikan pembenaran
bagi negara untuk memungut pajak dengan cara dipaksa. Adam Smith dalam bukunya
v  
 mengemukakan empat asas dalam pemungutan pajak, yaitu:

a. Equality (persamaan), asas ini menekankan bahwa setiap warga negara memiliki
kewajiban memberikan sumbangsinya kepada negara, seanding dengan
kemampuan mereka masing-masing, sesuai dengan perlindungan dan manfaat
yang mereka terima dari negara.

b. Certaintly (kepastian), asas ini menekankan bahwa setiap wajib pajak harus jelas
dan pasti tentang waktu, jumlah, dan cara pembayaran pajak. Dalam hal ini
kepastian hukum sangat dipentingkan terutama mengenai subyek dan objek
pajak.

c. Convinency of payment (asas menyenangkan), pajak seharusnya dipungut dari


wajib pajak pada waktunya dengan cara yang menyenangkan.
d. Low cost of collection (asas efisiensi), asas ini menekankan bahwa biaya
pemugutan pajak tidak boleh lebih besar dari hasil pajak yang akan diterima.
Pemungutan pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan anggaran negara.

Dalam bidang ekonomi, untuk mencegah agar industri ekonomi dalam negeri karna tidak
mampu bersaing dengan hasil produksi luar negeri, maka pemerintah dapat menerapkan
pengenaan tarif yang tinggi bagi hasil produksi luar negeri yang ingin masuk ke dalam negeri.

Dalam bidang sosial, kecendrungan masyarakat untuk hidup mewah dapat di


minimalisasi dengan mengenakan tarif pajak yang tinggi terhadap barang mewah.
Dengan demikian, secara teoritis terjadi redistribusi pendapatan dalam masyarakat.

Kebijakan fiskal dianggap sebagai alat untuk mengatur dan mengawasi prilaku
manusia yang dapat dipengaruhi melalui insentif atau meniadakan insentif yang
disediakan dengan meningkatkan pemasukan pemerintah ( melalui perpajakan, pinjaman,
atau jaminan terhadap pengeluaran pemerintah). Dalam teori tentunya, sistem perpajakan
yang digunakan oleh Negara-negara modern mengusulkan agar berdasarkan teori sosio-
politik dan keuntungan sosial maksimum dengan tujuan kesejahteraan umum rakyat.

 c

Pajak pada hakikatnya mempunyai peranan penting dalam kebijakan fiskal. Melihat
kebijakan fiskal tersebut, meliputi kebijakan pemerintah dalam penerimaan, pengeluaran, dan
utang. Maka, pajak memang memberikan kontribusi yang signifikan. Ada beberapa fungsi pajak
sendiri, selain berfungsi sebagai sumber utama penerimaan Negara (budgetary) seperti yang telah
dikemukakan diatas, juga berfungsi sebagai alat pengatur (regulatory) dan mengawasi kegiatan
swasta dalam perekonomian.

Dalam sejarah islam pun, kita masih bersua dengan pajak walaupun dengan istilah yang
lain. Dengan tujuan yang hampir sama dengan semua kebijakan di Negara manapun, islam tetap
tidak melarang dengan adanya pajak. Prakteknya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW.
Namun, tujuan yang lebih dari sekedar instrument kebijakan fiskal adalah untuk menjaga islam
dan untuk dakwahnya ke segala penjuru dunia.
Begitu pentingnya peranan pajak sampai aktivitas rutin harian kita juga tidak ada yang
terlepas dari sentuhan pajak, mulai dari tempat tinggal, tempat usaha, pendapatan bahkan
perbelanjaan yang dikenakan PPN. Pajak selalu terkait dengan semua itu. Dengan input
(penerimaan pajak) di semua masyarakat kini, hendaknya output ( penggunaan anggaran) oleh
pemerintah juga dapat dirasakan oleh masyarakat luas.