BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak.

Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick. Daerah metafisis pada anak relatif masih lemah sehingga fraktur banyak terjadi pada daerah ini, selebihnya dapat mengenai suprakondiler humeri (transkondiler humeri) diafisis femur dan klavikula, sedangkan yang lainnya jarang. Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang anak yang berbeda dengan tulang orang dewasa. Selain itu proses penyembuhan ini juga dipengaruhi oleh faktor mekanis dan faktor biologis. Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti. Tulang panjang terdiri atas epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang panjang yang berdekatan dengan diskus epifisialis,, sedangkan diafisis merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primer. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan

1

berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah. Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Anak 2 2. Mengetahui apa yang dimaksud tentang fraktur anak. 3. Mengetahui asuhan keperawatan yang harus diberikan pada anak yang mengalami fraktur 4. Melatih mahasiswa keperawatan untuk dapat berpikir kritis.

2

BAB II PEMBAHASAN FRAKTUR 2.1 Definisi Terdapat beberapa pengertian tentang fraktur antara lain adalah kerusakan kontinuitas tulang, tulang rawan, epifisis atau tulang rawan sendi yang biasanya dengan melibatkan kerusakan vascular dan jaringan sekitarnya yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan tenderness. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Smelter&Bare,2002). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 1995). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur yang patologis (Barret dan Bryant, 1990). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi (Doenges, 2000). Fraktur adalah teputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. 2.2 Manifestasi Klinik Manifestasi klinis fraktur antara lain adalah didapatkan adanya riwayat trauma,hilangnya fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal, merah akibat perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi). Pseudoartrosis dan gerakan abnormal. Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan

3

diagnosis adalah pemeriksaan X-foto,yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tidaknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. Diagnosis fraktur sendiri bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain. 2.3 Pembagian Fraktur Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas: complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi: 1. Fissure/Crack/Hairline – tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat, biasa terjadi pada tulang pipih
2. Greenstick Fracture – biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna,

clavicula, dan costae
3. Buckle Fracture – fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam

Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi.
1. Transversal – garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu

tulang)
2. Oblik – garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari

sumbu tulang) 3. Longitudinal – garis patah mengikuti sumbu tulang 4. Spiral – garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih
5. Comminuted – terdapat 2 atau lebih garis fraktur

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: a. Undisplace – fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya b. Displace – fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: - Shifted Sideways – menggeser ke samping tapi dekat

4

- Angulated – membentuk sudut tertentu - Rotated – memutar - Distracted – saling menjauh karena ada interposisi - Overriding – garis fraktur tumpang tindih - Impacted – satu fragmen masuk ke fragmen yang lain Gambar 1. Tipe Fraktur menurut garis frakturnya

Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Tertutup (simple) dan terbuka (gabungan) adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan fraktur. Fraktur tertutup atau simple adalah fraktur dengan kulit yang tidak tembus oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan. Secara teknik, fraktur terbuka atau gabungan adalah fraktur dengan kulit ekstremitas yang terlibat telah ditembus. Konsep penting yang harus diperhatikan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur tersebut. Fragmen fraktur dapat menembus kulit pada saat terjadinya cedera, terkontaminasi, kemudian kembali hampir pada posisinya semula. Pada keadaan semacam ini maka operasi untuk irigasi, debridement, dan pemberian antibiotika secara intravena mungkin diperlukan untuk mencegah terjadinya osteomielitis. Pada

5

Penyatuan tulang provisional ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Penyatuan dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas. 4 Penyembuhan Fraktur Jka satu tulang sudah patah. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut. dan terjadi perdarahan yang cukup berat. 6 . yang merangsang deposisi kalsium. 68-6). periosteum terpisah dari tulang. bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya. Kalus tulang akan mengalami remodeling untuk mengambil bentuk tulang yang utuh seperti bentuk osteoblas tulang baru dan osteoklas akan menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang sementara (Gbr. jaringan lunak sekitarnya juga rusak. yang melekat pada tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi di dalamnya dengan sel-sel pembentuk tulang primitive (osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Lapisan ini terus menebal dan meluas.umumnya. Terbentuk lapisan tebal (kalus) di sekitar lokasi fraktur. operasi irigasi dan debridement pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Kondroblas akan mensekresi fosfat. dan menyatu. 2.

Fraktur kaput radius dan tulang panggul pada anakanak seringkali juga membutuhkan penanganan bedah. Tulang anak-anak memiliki potensial yang besar untuk koreksi remodeling. tapi tidak ada kecenderungan bagi deformitas rotasional untuk sembuh secara spontan.Potensial Penyembuhan Fraktur Pada Anak-Anak Fraktur pada anak-anak biasanya sembuh secara cepat dan baik. Ini penting bagi pertumbuhan tulang panjang agar terjadi. Kegagalan untuk menurunkan kembali fragmen secara benar ke posisi anatomic yang normal dapat menyebabkan reduksi fungsi siku dan menahan pertumbuhan ekstremitas. Sehingga. Bagian ini juga menjadi satu titik kelemahan dari semua struktur tulang terhadap trauma mekanik. ekstremitas pernah cedera cenderung akan tumbuh lebih cepat daripada yang normal. Growth Plate pada anak Growth plate atau fisis adalah lempeng kartilago yang terletak di antar epifisis (pusat penulangan sekunder) dan metafisis. 7 . fraktur yang meluas ke dalam sendi atau melewati lempeng pertumbuhanlah yang paling membutuhkan pembedahan. Hanya beberapa fraktur pada anak-anak yang sembuh optimal bila diterapi secara bedah. Posisi rotasional yang normal selama penyembuhan harus dipertahankan. Kebanyakan fraktur pada anak-anak diterapi secara tepat dengan gips atau traksi. Salah satu contoh adalah fraktur pada kondilus lateral humerus yang meluas ke sendi dan dapat melibatkan cedera lempeng pertumbuhan epifisial. Selain itu. sehingga dapat berakibat dalam perkembangan deformitas seluruhnya dengan meningkatnya maturitas. deformitas angular pascareduksi dapat diterima dengan keyakinan bahwa tulang yang matur akan tetap lurus tanpa terdapad bekas cedera. Pelindung periosteal aktif di sekitar tubulus tulang pada anak-anak masih kuat. Aposisi bayonet seringkali lebih baik untuk eduksi tanpa end-on-end dalam mencapai panjang ekstrimitas dewasa yang sesuai. Secara umum. Karena di daerah ini jarang terjadi fraktur secara lengkap. Walaupun deformitas angular sembuh dengan cepat. maka fragmen fraktur cenderung dipertahankan dalam posisi yang dapat diterima setelah fraktur.

Sel mempersiapkan matriks untuk mengalami kalsifikasi dan berubah menjadi tulang. Calcified zone: Secara metabolik. matriks menyebar untuk deposisi garam kalsium.  Kekerasan tidak langsung Terkena bukan padabagian yang terkena trauma. Resting zone: Lapisan teratas yang terdiri dari sel-sel germinal yang datar dan merupakan tempan penyimpanan bahan-bahan metabolik yang akan digunakan nantinya. Proliferating zone: Sel-sel di area ini secara aktif bereplikasi dan tumbuh menjadi lempeng. fraktur terjadi karena adanya :  Kekerasan langsung Terkena pada bagian langsung trauma. dan membentuk osteoid. Pada area ini. yaitu :  Trauma Langsung : Kecelakaan lalu lintas  Trauma tidak langsung: Jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang  Proses penyakit (osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis). Menurut Oswari E (1993). Di daerah yang dekat metafisis. sel-selnya menggunakan bahan metabolik yang sebelumnya disimpan untuk perjalanan mereka ke metafisis. c.  Kekerasan akibat tarikan otot 8 . Area ini menjadi letak terlemah secara mekanis. Hypertrophic zone: Sel-sel di area ini cenderung membengkak dan berubah menjadi lebih katabolik. Sel-sel tersebut disebut seperi tumpukan lempeng. jarang ditemukan kekakuan sendi. yaitu : a. cabangcabang pembuluh darah kecil menjalar ke lapisan basal dari lempeng fisis. Sifat penyembuhan patah tulang pada anak antara lain adalah sering dahan hihjau. d. 2.Fisis. traksi kulit efektif.5 Etiologi Fraktur Fraktur dapat disebabkan oleh beberapa hal. pertumbuhan cepat. secara histologik terdiri dari 4 lapisan. penanganan tertutup memuaskan. b.

fraktur terjadi karena adanya :  Benturan & cedera (jatuh. kelainan)  Patah karena letih 2.6 Patofisiologi Kondisi Patologis Laserasi kulit akibat pemakaiai n gips Trauma langsung tidak Kondisi Patologis pergeseran fargmen tulang nyer i Discontinuit as tulang Perubahan jaringan sekitar Pergeseran fragmen tulang deformita s Gangguan fungsi tulang Gangguan mobilitas fisik Fraktur Reaksi peradangan Pembengkakan interstitium /udem Ganggua n integrita s kulit Tekanan pada pembuluh darah Kolaps Hipoksia jaringan Kematian saraf Resiko cedera Cedera fisik Perubahan proses keluarga 9 . kecelakaan)  Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen.Sedangkan MenurutBarbaraCLong(1996).

Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera. penting untuk meng-imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri. Kemudian lakukan foto radiologis. B. mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam. singkat dan lengkap.2. ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. pasien berada dalam keadaan bingung. yang kemudian dibebat dengan kencang. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang. proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation). kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut.7 Penatalaksanaan Fraktur A. maka bila dicurigai adanya fraktur. apakah terjadi syok atau tidak. tidak menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah. baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai 10 . komplikasi infeksi semakin besar. Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway). Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi.

bahan tidak menyerap (kertas khusus.bersama. Pakaian dilepaskan dengan lembut. dsb. dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan di atas. kertas tisue. pasien dievaluasi dengan lengkap. bahan penyerap (kasa atau kapas). plester. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. cahaya. Pada fraktur terbuka. • Persendian Jenis-Jenis Pembalutan a. atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Pada bagian gawat darurat. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Pada cedera ektremitas atas. sutera). bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. bahan elastis (spons. Pembalutan Tujuan Membalut atau perban • • • • • • • Menutupi bagian yang cedera dari udara. 1. kain taf. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur. pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. dan kuman Menopang yang cedera Menahan dalam suatu sikap tertentu Menekan Menarik Bahan untuk Perban Bahan yang diperlukan untuk membalut antara lain salep. lengan dapat dibebatkan ke dada. debu. bubuk luka. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi jaringan perifer. kapas). Perban Segitiga (Mitela) 11 .

panjang dasar segitiga kira-kira 125 cm dan kedua kakinya masing-masing 90 cm. Lipatlah dasar segitiga beberapa kali sesuai dengan kebutuhan lalu ujung dasar tadi di ikat di punggung. 12 . Dasar segitiga ditarik sehingga bagian bahu yang cedera tertutup. Kain segitiga amat berguna karena dapat dilipat bermacam-macam bentuk sesuai dengan kebutuhan dan bentuk badan yang memerlukan. sehingga dasar segitiga berada di depan dada.ikatlah kedua ujung puncak itu secara longgar di belakang leher. Balut segitiga untuk dada Gunting puncak segitiga tegak lurus pada dasarnya sepanjang 25 cm. Lalu kedua ujung dasar segitiga dililitkan ke lengan dan diikat.Perban segitiga dibuat dari kain belacu atau kain muslim. Kedua ujung yang baru dibuat. Balut segitiga untuk bahu Guntingan ujung puncak segitiga tegak lurus pada dasar sepanjang kira-kira 25 cm. Perbannya dibuat segitiga samakaki yang puncaknya bersudut 900. misalnya saputangan yang dilipat pada garis diagonal akan membentuk kain segitiga juga. b. Ukuran kain segitiga tadi dapat pula lebih kecil dari ukuran di atas. Buatlah terlebih dahulu kain segiempat dengan sisi 90 cm lalu lipat dua atau diguntung pada garis diagonalnya. dililitkan secara longgar ke leher. Demikian pula dapat kita pasang perban segitiga pada sisi dada. lalu diikat di belakang. c.

Cara ini adalah ascendens (naik). mulailah membalut dari distal (jauh dari jantung) mengarah ke proksimal (ke arah jantung). Letakkan dasar segitiga pada telapak tangan. a. Membalut cara dolabra reversa dapat pula dimulai dari proksimal lalu turun ke distal. Buatlah beberapa lingkaran pada dasar segitiga. Balut segitiga untuk tangan Bila seluruh telapak tangan akan dibalut. Balut segitiga untuk pantat Gunting puncak segitiga tegak lurus pada dasar sepanjang 25 cm. Lalu kedua ujung dasar segitiga dililitkan beberapa kali pada pergelangan tangan dan diikat.d. Demikian pula caranya bila hendak membalut segitiga pada kaki. e. 2. sehingga seluruh jari-jari tertutup. Perban pada anggota badan berbentuk bulat panjang. Bila segitiga terlalu besar buatlah beberapa kali lipatan pada dasar segitiga. Cara ini disebut descendens (turun). dapat dipakai perban segitiga. lalu kedua ujungnya di ikatkan melingkar di pinggang. Ikatlah kedua ujuung puncak itu melingkari paha yang cedera. Perban Pada Anggota Badan Berbentuk Bulat Panjang • membalut biasa (dolabra currens) 1. namun prinsip membalutnya tetap sama. Ujung puncak segitiga dililitkan ke pungung tangan. 13 .

harus dibalut : 14 . sebelum dibalut. Balutan terakhir dililitkan beberapa kali di tempat yang sama. Lalu secara perlahan-lahan balutan digerakkan ke atas. sampai seluruh bagian yang luka tertutup. perbannya dilipat (reversa) lalu Lipatan kedua diletakkan di atas lipatan pertama. Tentu saja luka atau koreng harus diobati terlebih dahuludan ditutup dengan kassa steril. • Membalut pucuk rebung (dolabra reversa) 1. ke arah proksimal.3. 5. Akhir dililitkan kembali pada lengan. lalu dilekatkan dengan plester atau dibelah dua ujungnya lalu diikat. • Membalut anggota gerak berbentuk kerucut Lengan bawah dan tungkai bawah berbentuk kerucut. 2. 4. lalu berangsur-angsur lilitan itu bergerak Setiap satu lilitan. Mula-mula perban dililitkanpada anggota gerak (misalnya lengan atas).Buatlah lilitan perban pada distal lengan atas. sampai seluruh bagian yang luka tertutup. 3. lipatan dilekatkan dengan plester. Kita ambil saja contoh lengan atas. Tentu saja balutan digerakkan ke atas.

yang akan diterangkan hanya spiral manus saja.. Untuk menutup bagian yang terbuka. 15 . 2. putarlah kembali perban ke arah mulainya balutan. Oleh karena itu. sehingga tetap melekat erat pada anggota gerak. • Membalut persendian Untuk membalut persendian dipakai: . Setelah sampai ke ujung anggota yang diperban. Akan ada bagian kulit yang tidak tertutup.cara balut penyu (testudo) membalut silang (spica) membalut silang dipakai pada pergelangan tangan (spica manus) atau pergelangan kaki (spika pedis). Cara balutan spiral (dolabra repens) 1.cara balutan spiral (dolabra repens).cara balut silang (spica) . Cara melakukan balutan spika manus dan spika pedis kurang lebih sama.cara membalut pucuk rebung (dolabra reversa) . Perban dililitkan kencang dan lilitan perban itu mengikuti lengan bawah.

lalu ujung perban di plester. sambil digeser sedikit ke arah pergelangan tangan. Balutkanlah perban beberapa kali pada keempat jari tangan (tidak termasuk ibu jari). Pekerjaan itu diulangi terus sambil seluruh punggung tangan terbalut. 2. terus ke sela jari telunjuk dan ibu jari. lalu sambil membalut geserkan perban ke arah proksimal (ke pangkal jari-jari). arahkan perban ke punggung tangan terus ke pangkal ibu jari. 4. lalu arahkan perban ke distal melilit punggung tangan dan telapak tangan. Sesampainya perban pada pangkal jari-jari. Putar di pangkal telapak tangan menuju punggung tangan. 16 . 3. Pergelangan tangan dapat pula dibuat silang mulai dari distal (dari jarijari) ke proksimal (ke pergelangan tangan). miring pada punggung tangan menuju pergelangan tangan. Cara balut silang pada pergelangan tangan (Spica Manus Ascendens) 1. Mulailah dari ujung jari-jari. Akhirnya lilitkan beberpa kali perban pada pergelangan tangan.Cara Membuat Silang Pergelangan Tangan (Spica Manus Descendens) 1. 2. 3. Masukkan lilitan di antara ibu jari dan jari telunjuk. sehingga lewat lagi pada pangkal pergelangan tangan menuju ke sela ibu jari dan jari telunjuk. Lilitkan lagi pada punggung tangan dan pangkal ibu jari. Lilitkan satu kali lalu ulangi pekerjaan itu sambil menggeser perban sedikit demi sedikit sehingga seluruh pergelangan tangan terbalut. Mulailah dengan melilitkan perban beberapa kali pada pergelangan tangan. Ujung perban akir diletakkan dengan sepotong plester.

Teruskan dengan setiap kali lilitan digeser sedikit sehingga seluruh ibu jari terbalut. sambil di geser sedikit demi sedikit ke arah proksimal. 3. Lekatakan perban dari pangkal ke puncak ibu jari. 17 . Teruskan sampai seluruh ibu jari terbalut. Lilitkan perban terakhir pada pergelangan tangan dilekatkan dengan plester. Lilitkan lagi satu kali. 4. Setelah setengah ibu jari terbalut.Membalut Silang Sendi Pergelangan dan Ibu Jari (Spica Pollicis Descendens) 1. Membalut sendi pergelangan tangan dan seluruh ibu jari (Spica Pollicis Ascendens) 1. lalu telapak tangan. Akhirnya perban dilillitkan beberapa di pergelangan tangan dan ujungnya dilekatkan dengan plester. Arah selanjutnya adalah ke pergelangan tangan dan kembali lagi ke ibu jari. dan kembali melilit ibu jari. Kemudian lilitkan perban mengelilingi ibu jari beberapa kali. lalu ke pangkal ibu jari-jari sisi lain hingga beberapa lapis. 2. Melalui punggung tangan menuju ke ibu jari. 2. Balutkan perban beberapa kali pada pergelangan tangan. lilitkan satu kali. perban kita arahkan ke punggung tangan.

lilitkanlah beberapa kali di tengahtengah siku. balutlah perban beberapa kali pada lengan atas. Membalut sendi siku cara penyu nasuk (Testudo Cubiti Inversa) 1. maka membalut sendi lutut sama saja caranya. lanjutkan lilitan perban ke lengan atas dan ke lengan bawah berulangulang sampai seluruh sendi siku terbalut. 2. Sebagai contoh membalut sendi siku. ujung lilitan perban terakhir dilekatkan dengan plester. bengkokkan sedikit sikku yang akan dibalut 2. 18 . 5.Membalut sendi siku dan lutut Untuk membuat sendi siku dan lutut dipakai cara balut penyu atau testudo. Balut sendi testudo ada dua variasi yaitu testudo reversa dan testudo inversa. kemudian letakkanlah ujung perban dengan plester atau buat simpul. sebelum mengakhiri lilitan perban. lilitan selanjutnya dilakukan bergantian pada lengan bawah dan lengan atas sambil sedikit demi sedikit digeser ke arah sendi 3. balutka perban beberapa kali pada pertengahan siku 3. arahkan lilitan perban bergantian ke proksimal (lengan atas) dan ke distal (lengan bawah) 4. Membalut Sendi Siku Cara Penyu Keluar (Testudo Cubiti Reversa) 1.

2 Definisi Pembidaian Pembidaian adalah tindakan memfixasi/mengimobilisasi bagian tubuh yang mengalami cedera. diulangi cara pembalutan tadi dengan menggeser sedikit demi sedikit ke arah proksimal. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan sementara 19 . lilitkanlah perban ke belakang pergelangan kaki menuju ke mata kaki (luar) kemudian peban diarahkan ke punggung kaki lagi. Selanjutnya. 2. lalu putarlah perban ke telapak kaki.Membuat sendi pergelangan kaki secara balut silang (Spica Pedia Descendens) 1. perban melalui punggung kaki menuju ke mata kaki medial (dalam). dari pinggir lateral (luar) kaki. sehingga seluruh sendi terbalut. dengan menggunakan benda yang bersifat kaku maupun fleksibel sebagai fixator/imobilisator. 3. 4. Jenis a. balutkanlah perban beberapa kali pada pergelangan kaki.

karton dan lain-lain. Contoh : bidai traksi tulang paha c. alumunium. plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Gendongan/Belat dan bebat. Contoh : majalah. hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus. d. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong. 20 . Bidai keras Umumnya terbuat dari kayu. bidai vakum. bidai udara. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan definitif dll) Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih Dilakukan di fasilitas layanan kesehatan (klinik atau rumah sakit) Pembidaian dilakukan untuk proses penyembuhan fraktur/dislokasi Menggunakan alat dan bahan khusus sesuai standar pelayanan (gips. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. koran. karton.- Dilakukan di tempat cedera sebelum penderita dibawa ke rumah sakit Bahan untuk bidai bersifat sederhana dan apa adanya Bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan menghindarkan Bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah mengetahui prinsip dan kerusakan yang lebih berat teknik dasar pembidaian b. umumnya dipakai pada patah tulang paha. b. Beberapa macam jenis bidai : a. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan. Bidai traksi Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya. Contoh : bidai kayu. Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang. Bidai improvisasi.

Mencegah gerakan bagian yang sakit sehingga mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan lebih lanjut b. Tujuan Pembidaian a. Ekstremitas yang cedera lebih pendek dari yang sehat. Mempertahankan posisi yang nyaman c. umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera. Mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera e. Mempercepat penyembuhan Indikasi Pembidaian Pembidaian sebaiknya dilakukan jika didapatkan : • • • Adanya fraktur. Mempermudah transportasi korban d. bengkak. baik terbuka maupun tertutup Adanya kecurigaan terjadinya fraktur Dislokasi persendian Kecurigaan adanya fraktur bisa dimunculkan jika pada salah satu bagian tubuh ditemukan : • • • cedera • Pasien merasakan tulangnya terasa patah atau mendengar bunyi “krek”. memar.Pembidaian dengan menggunakan pembalut. Contoh : gendongan lengan. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang Posisi ekstremitas yang abnormal. atau mengalami angulasi abnormal perubahan bentuk 21 .

Komplikasi Pembidaian • • Jika dilakukan tidak sesuai dengan standar tindakan. pernapasan dan sirkulasi penderita sudah distabilisasi. jika ada resiko memperlambat sampainya penderita ke rumah sakit. Jika terdapat gangguan sirkulasi dan atau gangguan persyarafan yang berat pada distal daerah fraktur. 22 . saraf atau jaringan lain di sekitar fraktur oleh berikut bisa ditimbulkan oleh tindakan pembidaian ujung fragmen fraktur. maka • fraktur. beberapa hal Cedera pembuluh darah. • • Gangguan sirkulasi atau saraf akibat pembidaian yang terlalu ketat Keterlambatan transport penderita ke rumah sakit. Nyeri gerak aktif dan pasif Nyeri sumbu Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan ekstremitas yang mengalami cedera (Krepitasi) Fungsiolesa Perdarahan bisa ada atau tidak Hilangnya denyut nadi atau rasa raba pada distal lokasi Kram otot di sekitar lokasi cedera Jika mengalami keraguan apakah terjadi fraktur atau perlakukanlah pasien seperti orang yang mengalami Kontra Indikasi Pembidaian Pembidaian baru boleh dilaksanakan jika kondisi saluran napas. jika penderita menunggu terlalu lama selama proses pembidaian.• • • • • • cedera • • tidak. sebaiknya pembidaian tidak perlu dilakukan. jika dilakukan upaya meluruskan atau manipulasi lainnya pada bagian tubuh yang mengalami fraktur saat memasang bidai.

• • Periksalah sirkulasi distal dari lokasi fraktur Periksa nadi di daerah distal dari fraktur. Menjelaskan secara singkat dan jelas kepada penderita tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. bagi korban dan atau penolong) • • Sebaiknya guntinglah bagian pakaian di sekitar area fraktur. Bersihkan luka dengan cairan antiseptik dan tekan perdarahan dengan kasa steril. Jelaskanlah bahwa akan memberikan pertolongan kepada penderita. Pemeriksaan untuk mencari tanda fraktur atau dislokasi. normal.Prosedur Dasar Pembidaian Mempersiapkan penderita Penanganan kegawatan (Basic Life Support) • • • • Menenangkan penderita. maka sebaiknya dianggap bahwa telah terjadi patah tulang terbuka. Meminimalkan gerakan daerah luka. Jangan menggerakkan atau memindahkan korban sampai daerah yang patah tulang distabilkan kecuali jika keadaan mendesak (korban berada pada lokasi yang berbahaya. Balutlah luka terbuka atau fragmen tulang yang menyembul dengan bahan yang se-steril mungkin • • Pasang Collar Brace maupun sejenisnya yang dapat digunakan untuk menopang leher jika dicurigai terjadi trauma servikal Tindakan meluruskan ekstremitas yang mengalami deformitas yang berat sebaiknya hanya dilakukan jika ditemukan adanya gangguan denyut nadi atau sensasi raba sebelum dilakukannya pembidaian. ataukah bahkan mungkin menghilang. Jika diperlukan. melemah. Proses pelurusan ini harus hati-hati agar tidak makin memperberat cedera. Jika luka tersebut mendekati lokasi fraktur. kainnya dapat dimanfaatkan untuk proses pembidaian. 23 . Jika ada luka terbuka maka tangani dulu luka dan perdarahan.

Jika pada bagian ekstremitas yang cedera mengalami edema. papan kayu. dll) • Bahan yang digunakan sebagai pembalut pengikat untuk pembidaian bisa berasal dari pakaian atau bahan lainnya. dll. 24 . maka penderita harus langsung dibawa ke rumah sakit secepatnya. • Pada fraktur terbuka. Persiapan alat • Bidai dapat menggunakan alat bidai standar telah dipersiapkan.• Periksa kecepatan pengisian kapiler. setalah anda menjelaskan pada penderita. Manipulasi terhadap fraktur terbuka tanpa sterilitas hanya akan menambah masalah. namun juga bisa dibuat sendiri dari berbagai bahan sederhana. Bahan yang digunakan untuk membalut ini harus bisa membalut dengan sempurna mengelilingi extremitas yang dibidai untuk mengamankan bidai yang digunakan. kecepatan penanganan merupakan hal yang esensial. • Bidai yang terbuat dari benda keras (kayu. Tekanlah kuku jari pada ekstremitas yang cedera dan ekstremitas kontralateral secara bersamaan. kassa. jangan pernah pula mencoba untuk membersihkannya. • • Jika ditemukan gangguan sirkulasi. maka sebaiknya perhiasan yang dipakai pada lokasi itu dilepaskan. Jangan pernah menyentuh tulang yang tampak keluar. Panjang bidai harus melebihi panjang tulang dan sendi yang akan dibidai. misalnya ranting pohon.dll) sebaiknya dibungkus/dibalut terlebih dahulu dengan bahan yang lebih lembut (kain. Periksalah apakah pengembalian warna kemerahan terjadi bersamaan ataukah terjadi keterlambatan pada ekstremitas yang mengalami fraktur. namun tidak boleh terlalu ketat yang bisa menghambat sirkulasi. Lepaskan tekanan secara bersamaan.

superior dari sendi proximal dari lokasi fraktur b. maka bidai harus bisa mengimobilisasi pergelangan kaki maupun lutut. Sendi yang masuk dalam pembidaian adalah sendi di bawah dan di atas patah tulang. maka pembidaian dilakukan apa adanya. jangan melepaskan tarikan sebelum ekstremitas yang mengalami fraktur telah terfiksasi dengan baik. • Beri bantalan empuk dan penopang pada anggota gerak yang dibidai terutama pada daerah tubuh yang keras/peka(lutut. pembidaian harus mencakup tulang di bagian proksimal dan distal. krepitasi.ketiak. jangan mencoba untuk melakukan traksi. • Luruskan posisi korban dan posisi anggota gerak yang mengalami fraktur maupun dislokasi secara perlahan dan berhati-hati dan jangan sampai memaksakan gerakan. diantara lokasi fraktur dan lokasi ikatan ketiga (point c) 25 . Pada trauma sekitar sendi.Pelaksanaan pembidaian Prinsip umum dalam tindakan pembidaian • Pembidaian minimal meliputi 2 sendi (proksimal dan distal daerah fraktur).dll). diantara lokasi fraktur dan lokasi ikatan pertama c. inferior dari sendi distal dari lokasi fraktur d. Jika terjadi kesulitan dalam meluruskan. yakni pada beberapa titik yang berada pada posisi : a. dapat terbantu dengan traksi atau tarikan ringan ketika pembidaian. Jika anda telah berhasil melakukan traksi. • Ikatlah bidai di atas dan bawah luka/fraktur. jika tungkai bawah mengalami fraktur. Sebaiknya dilakukan sebanyak 4 ikatan pada bidai. karena kedua ujung tulang yang terpisah dapat menyebabkan tambahan kerusakan jaringan dan beresiko untuk mencederai saraf atau pembuluh darah.siku. Jangan mengikat tepat di bagian yang luka/fraktur. Sebagai contoh. • Fraktur pada tulang panjang pada tungkai dan lengan. yang sekaligus untuk mengisi sela antara ekstremitas dengan bidai. Jika saat dilakukan tarikan terdapat tahanan yang kuat. atau pasien merasakan peningkatan rasa nyeri.

Demikian pula bisa diterapkan pada fraktur jari.• Pastikan bahwa bidai telah rapat. Pastikan bahwa pemasangan bidai telah mampu mencegah pergerakan atau peregangan pada bagian yang cedera. • • Pastikan bahwa ujung bidai tidak menekan ketiak atau pantat Harus selalu diingat bahwa improvisasi seringkali diperlukan dalam tindakan pembidaian. 26 . cedera pada tungkai bawah seringkali dapat dilindungi dengan merekatkan tungkai yang cedera pada tungkai yang tidak terluka. Harus diberikan perhatian khusus untuk melepaskan kantong es secara berkala untuk mencegah “cold injury” pada jaringan lunak. es tidak boleh ditempelkan secara terus menerus lebih dari 10 menit. namun jangan terlalu ketat sehingga mengganggu sirkulasi pada ekstremitas yang dibidai. Secara umum. Ekstremitas yang mengalami cedera sebaiknya sedikit ditinggikan posisinya untuk meminimalisasi pembengkakan. jika tidak ditemukan bahan yang sesuai untuk membidai. dengan merekatkan pada jari disebelahnya sebagai perlindungan sementara. • Kantong es dapat dipasang dalam bidai dengan terlebih dahulu dibungkus dengan perban elastis. Sebagai contoh.

Diagnosis dengan mudah dibuat dengan evaluasi fisik dan radiologis. Pasien akan menderita nyeri pada pergerakan bahu dan leher. Pembengkakan local dan krepitus dapat tampak.C. Cidera neurovaskuler jarang terjadi. Radiografi klavikula AP biasanya cukup 27 . Letak tersering adalah di antara 1/3 tengah dan lateral. Fraktur klavikula dapat sebagai akibat dari cidera lahir pada neonatus. Penatalaksanaan Fraktur pada Anak • Fraktur klavikula Klavikula adalah daerah tulang tersering yang mengalami fraktur.

• Fraktur proksimal humerus Biasanya akibat jatuh ke belakang dalam lengan yang ekstensi. Akan tetapi. Pembengkakan. kerusakan saraf aksila harus dicurigai jika pasien merasakan fungsi deltoid yang tidak normal dan parestesia atau anesthesia sepanjang aspek bahu lateral. Pin sering digunakan untuk memfiksasi fraktur setelah 28 . imobilisasi bahu (dengan balutan seperti kain gendongan atau yang mampu menyandang/memfiksasi bagian lengan bawah dalam posisi horizontal melawan batang tubuh) sebaiknya digunakan untuk mengangkat ekstremitas atas untuk mengurangi tarikan ke bawah pada klavikula distal.untuk diagnosis. Fraktur klavikula pada neonatus biasanya tidak memerlukan terapi lebih lanjut. Kalus yang teraba dapat dideteksi beberapa minggu kemudian. Fraktur klavikula biasanya sembuh dengan cepat dalam 3-6 minggu. Compartment syndrome pada lengan bawah volar dapat terjadi dalam 12-24 jam.brachialis maka cidera sebaiknya ditangani sebagai emergensi akut. Cidera neurovascular sering terjadi pada displacement yang berat. jika berat. Pasien akan menahan lengan dalam pronasi dan menolak untuk fleksi karena nyerinya. Penatalaksanaan dengan immobilisasi lengan dengan “sling-and swathe” (balutan papan elastis yang memfiksasi humerus melawan tubuh) selama 3-4 minggu. Fraktur dengan angulasi yang ekstrim (lebih dari 900) dapat memerlukan reduksi dengan operasi. Pemeriksaan neurovascular yang cermat diperlukan. Kalus yang dapat dipalpasi dapat dideteksi beberapa minggu yang kemudian akan remodel dalam 6-12 bulan. Pada anak-anak yang lebih tua. Volkmann’s contracture karena iskemia intrakompartemen dapat mengikuti. Cidera neurovaskular jarang. Karena mengalir a. Karena potensi remodelling yang signifikan pada daerah ini. deformitas dalam derajat tertentu masih dapat diterima. Terjadi sering pada usia antara 3 -10 tahun. • Fraktur suprakondiler humerus Fraktur suprakondiler (metafisis humerus distal daerah proksimal dari siku) adalah fraktur siku yang paling sering pada anak-anak. dapat menghambat aliran arteri atau vena.

dan lengan bawah dibidai dalam pronasi atau posisi netral. • Fraktur buckle atau torus Fraktur ini pada metafisis radius distal adalah sering. Biasanya disertai pembengkakan yang berat meskipun fraktur tampak kecil pada X-ray. Patsien mengalami nyeri yang berat tersering dengan supinasi atau pronasi sedangkan nyeri yang ringan biasanya dengan fleksi atau ekstensi siku. Fraktur suprakondiler yang umumnya tanpa gangguan neurovaskular dapat dibidai dengan posisi siku fleksi 900. Manipulasi tertutup diperlukan pada angulasi yang lebih besar. Angulasi 450 atau kurang biasanya akan remodel secara spontan. Penatalaksanaan dengan short-arm cast (gips lengan pendek). Fracture biasanya sembuh dalam 3-4 minggu. Karena growth plate dan permukaan sendi displaced.reduksi terbuka atau tertutup. Leher radius dapat mengalami angulasi hingga 70800. • • Fraktur kaput radialis Fraktur kaput radialis sering didiagnosis secara klinis karena biasanya sulit untuk terlihat dengan X-ray. reduksi terbuka dan fiksasi dengan pin perkutaneus mungkin diperlukan. • • Fraktur kondilus lateral Fraktur kondilus lateral adalah akibat jatuh dimana kaput radialis pindah ke kapitelum humerus. Fraktur gunting oblik permukaan sendi lateral sering terjadi. Biasanya akibat jatuh dengan bersandar dengan pergelangan tangan dalam dorsofleksi. Gips tanpa pinning mungkin cukup memuaskan untuk fraktur non-displaced. Fraktur adalah impaksi dan terdapat pembengkakan jaringan lunak yang ringan atau perdarahan. Penatalaksanaan khusus pada fraktur terbuka Fraktur terbuka merupakan suaru keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi risiko infeksi. Selain mencegah 29 . D. Risiko tinggi malunion dan nonunion pada fraktur ini tinggi. Biasanya terdapat fraktur ulna distal yang berhubungan dengan fraktur distal radius ini.

Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena. fasia. otot. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya. 3. Antibiotik diberikan dalam dosis yang besar sebelum. pada saat. 6. 7. Pemberian antibakteri. di kamar operasi dan setelah operasi. dan fragmen-fragmen yang lepas. 8. jaringan subkutaneus. 8.infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian 30 . Dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. 2. Sedangkan tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka adalah sebagai berikut : 1. Pembersihan luka. Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit. Pencegahan tetanus. Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah : 1. Segera dilakukan debridemen dan dan irigasi yang baik. 4. 3. 4. Penutupan kulit. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat. Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan. Stabilisasi fraktur. Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen). lemak. 7. 2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian. 9. 5. 5. dan sesudah tindakan operasi. 6.

• • Metode reduksi : 1. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi : a. Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya. Pengobatan fraktur itu sendiri. Pada kebanyakan kasus. Tapi bagi yang belum. Sebelum reduksi dan imobilisasi. analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Reduksi tertutup Pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan “Manipulasi dan Traksi manual”. imobilisasi. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur. reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan. Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup. yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima. bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. namun prinsip yang mendasarinya tetap sama.toksoid. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips. pasien harus dimintakan persetujuan tindakan. 10. 3. dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin. • Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal. traksi. Prinsip Penanganan Fraktur Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi. dan reduksi terbuka. Alat imobilisasi akan menjaga 31 . Reduksi.

paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Mobilisasi terbatas 3. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin. 2001 ). 1998). sekrup. Keuntungan pemakaian traksi 1. Perawatan RS lebih lama 2. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginka untuk mendapatkan efek terapeutik. Anak = 1/13 x BB (Barbara. fragmen tulang direduksi. Dewasa = 5 . dan untuk menambah ruangan diantara kedua permukaan patahan tulang. kawat. Beban traksi 2. untuk mereduksi. palt. Mengimobilisasi sendi yang sakit Kerugian pemakaian traksi 1.reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Dengan pendekatan bedah. Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot . dan mengimobilisasi fraktur . 32 . 2. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. mensejajarkan. Faktor-faktor yang mengganggu keefekktifan tarikan traksi harus dihilangkan (Smeltzer & Bare.7 Kg 3. untuk mengurangi deformitas. Menurunkan nyeri spasme 2. Traksi Traksi adalah Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh.Reduksi terbuka Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Mengoreksi dan mencegah deformitas 3. Penggunaan alat-alat lebih banyak. 3.

untuk mengurangi deformitas. traksi russell. 4. 1998). Traksi buck 33 . Traksi 90-90-90 pada fraktur tulang femur pada anak-anak usia 3 thn sampai dewasa muda (Barbara. Traksi horizontal diberikan pada humerus dalam posisi abduksi. Jenis. untuk menambah ruang diantara dua permukaan antara patahan tulang. untuk mereduksi. Traksi Dunlop merupakan traksi pada ektermitas atas. dan traksi Dunlop”. dan mengimobilisasi fraktur. Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus pemoralis orang dewasa 6. Tujuan Pemasangan Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot. Traksi kulit apendikuler ( hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa) termasuk “ traksi ektensi Buck. tetapi kadang-kadang traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan (Barbara. mensejajarkan. Traksi rusell digunakan pada pasien fraktur pada plato tibia 2.Jenis Traksi 1. Traksi kulit Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi . a. dan traksi vertical diberikan pada lengan bawah dalm posisi flexsi. Traksi kulit Bryani sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha 5. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek terapeutik. Traksi buck. indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut 3. 1998).Indikasi 1.

Digunakan untuk memberikan rasa nyaman setelah cidera pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer & Bare. 1995). kemudian plester diberikan pada bagian medikal dan lateral dari stoking tersebut lalu stoking tersebut dibungkus lagi dengan perban elastis. Alergi kulit terhadap plester juga dapat menumbuhkan masalah. 2001). Ujung plester traksi pada pergelangan kaki di hubungkan dengan blok penyebar guna mencegah penekanan pada maleoli. Mula. Ban perban elastis yang melingkar dapat mengganggu sirkulasi yang menuju kekaki penderita. 34 . Jarang dibutuhkan berat lebih dari 5 lb.Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan diberikan pada satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang diinginkan. Indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut (Wilson. dan paling tepat bila dipasang untuk anak muda dalam jangka waktu yang pendek. tingtura benzoid atau pelekat elastis dipasang pada kulit penderita dibawah lutut. terutama bila perawatan harus dilakukan selama beberapa hari. yang sebelumnya sudah menderita penyakit vaskular. Kemudian disebelah distal dibawah lutut diberi stoking tubular yang digulung. Traksi berlebih dapat merusak kulit yang rapuh pada orang yang berusia lanjut. penggunaan traksi kulit ini dapat menimbulkan banyak komplikasi.mula selapis tebal semen kulit. Bahkan untuk peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka. Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana. Seutas tambang yang diikat ketengah blok penyebar tersebut kemudian dijulurkan melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Kalau tidak dirawat dengan baik mungkin akan menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada maleolus.

Efek dari rancangan ini adalah memberikan kekuatan traksi ( berasal dari gaya tarik vertikal beban paha dan gaya tarik horizontal dari kedua tali pada kaki ) yang segaris dengan tulang yang cidera dengan kekuatan yang sesuai.b. Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya penderita kebagian kaki ketempat tidur. 2001).sehingga kerekan bagian distal saling berbenturan dan beban turun kelantai. 1995). 35 . Bila perlu. Meskipun traksi Russell dapat digunakan sebagai tindakan keperawatan yang utama dan penting untuk patah tulang panggul pada penderita tertentu tetapi pada penderita usia lanjut dan lemah biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan timbul karena berbaring terlalu lama ditempat tidur seperti dekubitus. Traksi longitudinal diberikan dengan menempatkan pin dengan posisi tranversal melalui tibia dan fibula diatas lutut. tungkai dapat disangga dengan bantal agar lutut benarbenar fleksi dan menghindari tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare. pneumonia. dan tromboplebitis. Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir semua fraktur femur. Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi rasa nyaman pada pasien yang menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum operasi dan selama persiapan pembedahan. Traksi Russell Dapat digunakan pada fraktur plato tibia. menyokong lutut yang fleksi pada penggantung dan memberikan gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan elastis ketungkai bawah. reduksi untuk fraktur panggul mungkin lebih sering diperoleh dengan memakai traksi Russell dalam keadaan ini paha disokong oleh beban. Mungkin perlu ditempatkan blok-blok dibawah kaki tempat tidur sehingga dapat memperoleh bantuan dari gaya tarik bumi (Wilson.

Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah dalam posisi fleksi. 36 .c. Traksi kulit Bryant Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha. kalau batas ini dilampaui maka kulit dapat mengalami kerusakan berat. Traksi Dunlop Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat badannya lebih dari 30 kg. d.

Traksi skelet Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. dan untuk merawat luka lokal serta mempermudah perawatan oleh perawat. ektermitas yang cidera mudah dijangkau untuk pemeriksaan ulang status neuro vascular. kerekan dan beban yang sesuai sehingga kaki tergantung bebas diudara. Seperti bentuk traksi yang mempergunakan 37 . Dipasang pancang traksi dan tali traksi utama dipasang pada pancang tersebut.batas tertentu dan memungkinkan kemandirian pasien maupun asuh keperawatan sementara traksi yang efektif tetap dipertahankan yang termasuk skelet traksi adalah sebagai berikut (Smeltzer & Bare. Kadang.2. Seluruh bidai dapat diadduksi atau diabduksi untuk memperbaiki deformitas angular pada bidang medle lateral fleksi panggul dan lutut lebih besar atau lebih kecil memungkinkan perbaikan lateral posisi dan angulasi alat banyak memiliki keuntungan antara lain traksi elefasi keaksial. a. Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi panggul dan lutut membentuk sekitar 35° . Traksi rangka seimbang Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus femoralis organ dewasa. Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang pada bidai tomas alat parson dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali. tibia. Dengan demikian pemeliharaan penderita ditempat tidur sangat mudah. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek. Metode traksi ini digunakan paling sering untuk menangani fraktur femur. Beban yang cukup berat dipasang sedemikian rupa mencapai panjang normalnya. memungkinkan gerakan pasien sampai batas. humerus dan tulang leher.kadang skelet traksi bersifat seimbang yang menyokong ekstermitas yang terkena.2001). kerekan primer disesuaikan sedemikian sehingga garis ketegangan koaksial dengan sumbu longitudinal femur yang mengalami fraktur. Longitudinal pada tulang panjang yang patah. tetapi sesunguhnya hanyalah satu pin rangka yang ditempatkan tramversal melalui femur distal atau tibia proksimal. Bentuk traksi ini sangat berguna sekali untuk merawat berbagai jenis fraktur femur.

Garis-garis tersebut dikenal sebagai vektor gaya.pin rangka. Prinsip pemasangan traksi Traksi harus dipasang dengan arah lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan. pasien sebaiknya diperiksa setiap hari untuk mengetahui adanya peradangan atau infeksi sepanjang pin. Traksi 90-90 Traksi 90-90 sangat berguna untuk merawat anak. Dengan cara ini. 1995).anak usia 3 tahun sampai dewasa muda. 1995). kontrol terhadap fragmen – fragmen pada fraktur tulang femur hamper selalu memuaskan dengan traksi 90-90 penderita masih dapat bergerak dengan cukup bebas diatas tempat tidur (Wilson. Resultanta adalah gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat diantara kedua 38 . geseran atau pin yang kendor dan pin telah tertarik dari tulang (Wilson. bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya.

seorang dengan patah tulang femur diharuskan memakai kruk untuk waktu yang lama. berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan. Pada setiap pemasangan traksi. Tarikan dapat dilakukan pada kulit ( traksi kulit ) atau langsung kesekelet tubuh (traksi skelet). 1995). Prinsip traksi efektif : Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks. terapi fisik harus dimulai segera agar dapat mengurangi keadaan ini. Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang dengan agak cepat. Cara pemasangan ditentukan oleh tujuan traksi . Traksi ektensi buck dan traksi pelvis merupakan contoh traksi lurus. harus dipikirkan adanya kontraksi. tetapi semua prinsip-prinsip ini berlaku untuk mengatasi patah tulang pada ektermitas atas. dan untuk meningkatkan kekuatannya harus dimulai segera setelah cedera terjadinya (Wilson. menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi reaksi dengan besar yang sama namun arahnya yang berlawanan ) umumnya berat badan pasien dan pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar X. harus dipikirkan adanya kontraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan ( hukum Newton III mengenai gerak. Walaupun hanya traksi untuk ektermitas bawah yang dijelaskan secara terinci.garis tarikan tersebut. Ini merupakan traksi yang sangat sementara yang bisa digunakan pada saat pemasangan gips. Rencana latihan untuk mempertahankan pergerakan ektermitas atas. Traksi suspensi seimbang memberikan dukungan pada ektermitas yang sakit diatas tempat tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu yanpa terputus garis tarikan. dan mungkin diperlukan penyesuaian. Traksi lurus atau langsung memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan bagian tubuh berbaring di tempat tidur. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot 39 . Traksi dapat dipasang dengan tangan (traksi manual).misalnya.

Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat • “eksternal” (bebat. misalnya pada pertengahan atau sepertiga proksimal (dekat siku) maka panjang gips spalk adalah dari pangkal jari sampai ke lengan atas kira-kira dua jari di bawah lipatan ketiak. Lengan harus ditekuk sampai 90o dengan telapak tangan agak diputar ke dalam (supinasi). • Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan. Bila terjadi patah lebih proksimal. lempeng. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur. sekrup. balutan) dan alat-alat “internal” (nail. pen dalam plester. fragmen tulang harus diimobilisasi. traksi.dan biasanya diberikan terputus. Setiap faktor yang dapat mengurangi tarikan atau mengubah garis resultanta tarikan harus dihilangkan. dll) E. Penatalaksanaan Fraktur dengan Pemasangan Gips Panjang gips spalk untuk lengan bawah (fraktura atebrachi) bila terjadi pada sepertiga distal (dekat pergelangan tangan) adalah dari siku sampai ke ujung metacarpal (pangkal jari-jari). 40 . batang. atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai. Setelah fraktur direduksi. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang. case. kawat. brace. Pergelangan tangan lurus dengan tulang lengan bawah. sebagai traksi intermiten. 2001). Agar pasien tidak merasa sakit sewaktu mengukur panjang gips spalk (bidai) ukurlah anggota gerak yang tidak patah. Tali tidak boleh macet. Imobilisasi • Selalu dikontrol dengan sinar roentgen ( Brunner & suddarth. fiksator eksterna. Traksi skelet tidak boleh Pemberat tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten.

bukalah gulungan gips perban dan letakkan di meja sepanjang ukuran yang diinginkan. Setelah diketahu panjangnya ukuran spalk. Pada cedera persendian dibalut dengan cara balut silang (spika). dilapisi dengan kain trikot atau kapas berlemak. Posisi kaki dan tungkai bawah dibuat 90o sedangkan persendian lutut agak ditekuk membuat sudut kira-kira membuat sudut 170o. Setelah lapisan gips spalk dibuat basahkan lalu letakkan ke anggota gerak untuk digips. setelah dipasang gips spalk dibalut dengan perban kasa. Cara membalut adalah balut pucuk rebung (dolabra reversa). 41 . gips spalk dan sirkuler harus dipasang mulai ujung jari sampai 2-3 cm di bawah sendi paha. Setelah direposisi.Pada patah tulang tungkai bawah (fraktura tibia dan fibula). Sebelum digips tentu saja anggota yang patah harus direposisi. Sebaiknya mulai membalut dari daerah yang patah. baik dari luar maupun dari dalam melalui operasi. Pada patah tulang kaki dan tumit gips sirkular dipasang mulai dari ujung jari sampai kira-kira 2-3 cm di bawah sendi lutut saja. Untuk anggota gerak atas cukup dibuat 6 lapis sedangkan untuk tungkai dibuat 8-10 lapis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 3.1. cedera sebelumnya.1 Pengkajian Awal • • • • • • Riwayat kejadian. instruksikan anak untuk menunjukan area yang nyeri 42 . pengalaman dengan tenaga kesehatan. Observasi adanya manifestasi fraktur : Tanda-tanda cedera Pembengkakan umum Nyeri atau nyeri tekan Penurunan penggunaan fungsional dari bagian yang sakit (pada anak kecil yang menolak untuk berjalan atau menggerakkan ekstremitas atas sangat dicurigai terjadi fraktur) • • • • Memar Kaku otot yang parah Krepitasi (sensasi memarut pada sisi fraktur) Kaji lokasi fraktur : obserfasi adanya deformitas.

Observasi adanya tanda-tanda infeksi 43 . Perhatikan keketatan gips. Kaji adanya peningkatan hal-hal berikut: Nyeri Bengkak Rasa dingin Sianosis(pucat) Kaji gerakan dan sensasi jari tangan atau jari kaki Minta anak untuk menggerakan jari tangan atau jari kaki Observasi adanya gerakan spontan pada anak yang tidak mampu berespon terhadap perintah Laporkan dengan segera tanda-tanda ancaman kerusakan sirkulasi Instruksikan anak untuk melaporkan adanya rada kebas atau kesemutan. yang meningkatkan panas. gips harus memungkinkan insersi jari diantara kulit ekstremitas dengan gips setelah gips kering.• Kaji sirkulasi dan sensasi distal pada sisi fraktur.1. bantu dalam prosedur diagnostic dan tes. Periksa suhu (gips plester) Reaksi kimia dalam proses pengeringan gips.2 Pengkajian terhadap ekstremitas yang di gips • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Pantau status kardiovaskuler Pantau nadi perifer Pucatkan kulit ekstrimitas pada bagian distal dari fraktur untuk memastikan sirkulasi yang adekuat pada bagian tersebut. Evaporasi air Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau area tekan Inspeksi bagian dalam gips untuk adanya benda-benda yang terkadang dimasukan oleh anak yang masih kecil. 3. Misalnya radiografi dan tomografi.

Tempatkan gips kaki di atas bantal. bengkak. lethargi dan ketidak nyamanan. kaji adanya peningkatan perdarahan Kaji kebutuhan terhadap obat nyeri Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi cedera berhubungan dengan adanya gips. Tinggikan ekstremitas yang digips untuk menurunkan pembengkakan. Kaji bagian gips yang terpajan untuk mengetahui adanya nyeri. pastikan bahwa gips tersebut tertopang dengan baik dan tidak ada tekanan di atas tumit 3. dan kemampuan untuk bergerak Nyeri berhubungan dengan cedera fisik 44 .• • • • • • • • • • Periksa adanya drainase cium gips untuk adanya bau menyengat Periksa gips untuk adanya bercak panas yang menunjukan infeksi di bawah gips Waspadai adanya peningkatan suhu. pembengkakan jaringan. sling lengan segitiga adekuat untuk elevasi dan topangan yang lebih sedikit 4. kemungkinan kerusakan saraf. pulsasi. Observasi kerusakan pernafasan (gips spika) Kaji ekspansi dada anak Observasi frekuensi pernafasan Observasi warna dan prilaku Kaji adanya bukti-bukti perdarahan (reduksi bedah terbuka) Batasi area perdarahan. karena peninggian ekstremitas meningkatkan aliran balik vena 2. Intervensi : 1. hangat. perubahan warna (cyanosis atau pucat). Tinggikan lengan di atas bantal atau topang dengan sling stockinet digantung dari ujung infuse intravena baik di tempat tidur maupun selama ambulasi.

Intervensi : 1. Hilangkan rasa gatal di bawah gips dengan udara dingin yang ditiupkan dari spuit Asepto. kikir dan atau lapisi tepi gips bila perlu 2. atau menggaruk atau menggosok ekstremitas yang tidak sakit 4. Intervensi : 1. kecuali jika gips sintetik tahan terhadap air. Beri posisi yang nyaman. atau pengering rambut (dengan pengesetan dingin atau rendah). 6. Waspadai anak yang lebih besar untuk tidak memasukkan benda-benda ke dalam gips. Setelah gips dilepas rendam dan basuh kulit dengan perlahan karena gips akan mengeras dengan kulit terdeskuamasi dan sekresi sebasea 8. Waspadai anak dan keluarga untuk tidak memaksakan menyingkirkan gips tersebut karena gosokan keras dapat menyebabkan ekskoriasi dan perdarahan Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal Intervensi : 1. karena kulit dapat teriritasi akibat adanya air di dalam gips 7. Jangan membiarkan anak-anak memasukkan sesuatu ke dalam gips untuk mencegah trauma kulit 3. Batasi aktivitas yang melelahkan untuk mencegah nyeri 2. Dorong untuk ambulasi sesegera mungkin untuk meningkatkan mobilitas 45 . Jaga agar kulit yang terpajan tetap bersih dan bebas dari iritan. Pastikan bahwa semua tepi gips halus dan bebas dari proyeksi pengiritasi. gunakan bantal untuk menyokong area dependen 3. jelaskan mengapa hal ini penting untuk mendorong kepatuhan 5. karena substansi ini mempunyai kecenderungan untuk menggumpal dan menimbulkan iritasi. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gips. Hindari menggunakan bedak atau lotion di bawah gips. Jaga agar benda-benda kecil yang dapat dimasukkan ke dalam gips tetap jauh dari jangkauan anak kecil 4. fan. Lindungi gips selama mandi.

10. Jaga agar ekstremitas yang di gips ditinggikan di atas bantal atau penopang yang serupa untuk hari pertama. Ikuti instruksi professional kesehatan yang berkaitan dengan pembatasan aktifitas 7. Batasi aktifitas keras selama beberapa hari pertama. Angkat dan topang gips yang basah hanya dengan telapak tangan. untuk menghindari penekanan karena jari 4. Periksa dengan sering gerakan dan sensasi ekstremitas yang terlihat 6. Sertakan dalam aktifitas tenang tetapi orong penggunaan otot-otot. Latihan khusus untuk anak harus didemonstrasikan oleh staf rumah sakit. Sokong lengan yang di gips dengan ambin atau / mitela atau sling 3. jaga agar ekstrimitas yang cedera tetap ditinggikan saat beristirahat. atau sesuai petunjuk professional kesehatan 3. Gerakkan sendi di atas dan di bawah gips pada ekstremitas yang sakit.2. Dorong anak untuk menggunakan sendi-sendi di atas dan di bawah gips untuk mempertahankan fleksibilitas dan fungsi sendi Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita cedera fisik Intervensi : 1. Dorong aktifitas bermain dan penglihan untuk melatih otot yang tidak sakit 6. 46 . Dorong istirahat yang sering selama beberapa hari. Observasi ekstremitas (jari tangan atau jari kaki) untuk adanya bukti pembengkakan atau perubahan warna (lebih gelap atau lebih terang dari ekstremitas yang lainnya) dan menghubungi professional kesehatan bila terjadi hal-hal tersebut 5. dan juga harus diberikan dalam bentuk salinan tertulis pada orangtua. 9. Ajarkan penggunaan alat mobilisasi seperti kruk untuk kaki yang di gips (alat berjalan digunakan bila diperbolehkan untuk menopang beban berat badan) 4. 8. Pajankan gips plester pada udara sampai kering 2. Dorong anak dengan alat ambulasi untuk berambulasi segera setelah kondisi umumnya memungkinkan 5.

11. 13. 18. dan memberikan obat sesuai yang dianjurkan oleh praktisi. 22. kolam renang). Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk dan hindari berdiri selama lebih dari 30 menit. Hindari membiarkan ekstremitas yang sakit tergantung selama periode lebih dari 30 menit. 17. Kruk harus tepat ukurannya. atau barang-barang lain yang dapat membuat anak tersandung. 12. visualisasi kulit pada tepi gips. 47 . peliharaan. binatang. Jangan membiarkan anak memasukkan apapun ke dalam gips. lindungi gips dengan plester tahan air dan plastic. berikan ujung karet yang halus untuk mencegah tergelincir. Jaga agar benda-benda kecil yang dapat dimasukka ke dalam gips tetap jauh dari jangkauan anak. Gunakan kruk dengan tepat bila terjadi fraktur pada ekstremitas bawah. Singkirkan maenan. barang-barang berserakkan yang berbahaya. 21. 16. dan berikan bantalan yang baik pada aksila. Jaga agar ekstremitas atas yang cedera tetap ditinggikan (misalnya dengan mitela) saat berdiri. Gatal dapat dihilangkan dengan kompres es. 20. Bila pasien mengalami inkontinensia. Jaga agar jalur ambulasi tetap bersih. 14. Instruksikan anak dan orangtua untuk tidak menempatkan gips di dalam air (misalnya bak mandi. 19. 15. pancuran.

Kebanyakan fraktur pada anak-anak diterapi secara tepat dengan gips atau traksi. biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price.2002). (Smelter&Bare. 1995). hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi. Fraktur dapat dibagi berdasarkan derajat atau luas garis fraktur. 48 .1 Simpulan Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.BAB IV PENUTUP 4. biomekanik serta fisiologi tulang anak yang berbeda dengan tulang orang dewasa. fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa. garis patah/konfigurasi tulang. proses penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik. hubungan antar fragmen fraktur. Fraktur adalah patah tulang. Hanya beberapa fraktur pada anak-anak yang sembuh optimal bila diterapi secara bedah.

Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang. proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation). 4. apakah terjadi syok atau tidak. Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi.Fraktur biasanya menyertai trauma. dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi : reduksi.2 Saran BAB V DAFTAR PUSTAKA 49 . Pada fraktur terbuka. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway). imobilisasi. luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.

50 .