TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM EKONOMI DAN SYARIAH

Oleh : EKOWIJAYA H1C106077

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2010/2011

DAFTAR ISI

HALAMAN AWAL DAFTAR ISI EKONOMI DAN SYARIAH 1. Pengertian a. Ekonomi b. Ekonomi Syariah 2. Ruang Lingkup Ekonomi syariah 3. Keunggulan ekonomi syariah KOMENTAR KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

EKONOMI DAN SYARIAH

1. Pengertian a. Ekonomi Ilmu Ekonomi diartikan sebagai Ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa dengan menentukan pilihan-pilihan sumber daya yang langka untuk mencapai kesejahteraan manusia, maka pada dasarnya definisi ilmu ekonomi Islam juga sama dengan definisi tersebut. b. Ekonomi Syariah Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Ekonomi syariah berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State).Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah. (Dian Eki Purwanti ;http://www.scribd.com/doc/9137139/ArtikelEkonomi-Syariah) 2. Ruang Lingkup Ekonomi Syariah Ekonomi syari¶ah atau ilmu ekonomi syari¶ah terutama mengenai permasalahan yang menyangkut uang, oleh ahli ekonomi yang menyokong pandangan bahwa ilmu ekonomi adalah mengenai perilaku manusia yang berhubungan dengan kegiatan mendapatkan uang dan membelanjakan uang.Tetapi penulis klasik dan pengikut mereka masa kini, cenderung

menyelidiki yang tersirat menggambarkan masalah

di belakang selubung keuangan itu dan ekonomi dari segi yang bukan

moneter.Permasalahan ekonomi umat manusia yang fundamental bersumber dari kenyataan bahwa kita mempunyai kebutuhan dan kebutuhan ini pada umumnya tidak dapat dipenuhi tanpa mengeluarkan sumber daya energi manusia, di samping peralatan materil yang terbatas. Bila seseorang memiliki sarana tidak untuk memenuhi semua jenis kebutuhan, maka masalah ekonomi tidak akan timbul. Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbedaan apapun antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern.Andaikata ada perbedaan, hal itu terletak pada sifat dan volumenya.Itulah sebabnya mengapa perbedaan pokok antara kedua sistem ilmu ekonomi ini dapat ditemukan dengan memperhatikan penanganan masalah pilihan. Persoalan pilihan timbul dari kenyataan bahwa sumber daya begitu terbatas sehingga dipenuhinya suatu jenis keinginan, berarti mengorbankan suatu kebutuhan lain yang harus terus tidak terpenuhi. Pertikaian yang selalu terjadi antara beraneka ragamnya keinginan dan kurangnya sarana memaksa untuk mengadakan pilihan di antara kebutuhankebutuhan kita, guna menetapkan daftar prioritas dan kemudian mendistribusikan sumber daya itu sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara maksimum.Dalam ilmu ekonomi modern masalah pilihan ini sangat tergantung pada bermacam-macam tingkah masing-masing individu.Mereka mungkin tidak memperhitungkan persyaratan-persyaratan masyarakat.Namun dalam ilmu ekonomi Islam, tidaklah berada dalam kedudukan untuk mendistribusikan sumber-sumber daya sekelompok hati.Dalam hal ini ada suatu pembatasan moral yang serius berdasarkan ketetapan Kitab Suci Al-Qur¶an dan Sunnah atas tenaga individu. Suka atau tidak suka, ilmu ekonomi syari¶ah tidak dapat berdiri netral di antara tujuan yang berbeda-beda.Demikianlah kegiatan membuat dan menjual minuman alkohol dapat merupakan aktivitas ekonomi yang baik

dalam sistem ekonomi modern.Namun hal ini tidak mungkin terjadi di negara Islam. Karena dalam banyak hal usaha ini tidak akan memajukan kesejahteraan manusia, suatu kesejahteraan yang dapat diukur dengan uang. Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan individu dianggap sebagai fungsi yang kian meningkat dari komoditi dan jasa yang menurut skala nilainya, ingin dimiliki.Dan sebagai fungsi kian berkurang dari usaha pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencapainya.Tetapi dalam ilmu ekonomi Islam, individu harus memperhitungkan perintah Kitab Suci Al-Qur¶an dan Sunnah dalam melaksanakan aktivitasnya. Dalam Islam, kesejahteraan sosial dapat dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sedemikian rupa, sehingga dengan pengaturan kembali keadaannya, tidak seorang pun lebih baik dengan menjadikan orang lain lebih buruk dalam kerangka Al-Qur¶an dan sunnah. Segala sesuatu yang tidak secara nyata terlarang dalam Al-Qur¶an dan sunnah tetapi taat dengan semangat yang sama boleh dinyatakan islami. Dan dalam sistem ekonomi Islam, melakukan kegiatan-kegiatan demikian, tidak dianggap salah. Walaupun ilmu ekonomi Islam, seperti halnya ilmu ekonomi modern, tidak hanya mengenai aspek perilaku manusia yang berhubungan dengan cara mendapatkan uang dan membelanjakannya, namun sebagian besar ia merupakan aktivitas ekonomi kita. Benar-benar menabjubkan, bahkan seribu empat ratus tahun yang lalu Islam telah mengusahakan keseimbangan yang langgeng antara pendapatan dan perbelanjaan guna mencapai sasaran keuntungan sosial yang maksimum.Islam selalu menekankan agar setiap orang mencari nafkah dengan halal.Semua sarana dalam hal mendapatkan kekayaan secara tidak sah dilarang, karena hal tersebut pada akhirnya, dapat membinasakan suatu bangsa (QS. An-Nisa (4): 29).

Terjemahnya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Almaraghi mengemukakan bahwa µbathil´ berarti kesia-siaan dan kerugian. Yaitu mengambil harta tanpa mengganti hakiki yang biasa, dan tanpa keridhaan dari pemilik harta yang diambil itu atau menafkahkan harta bukan jalan hakiki yang bermanfaat, dan termasuk dalam hal ini adalah lotre, penipuan di dalam jual beli, riba, dan menafkahkan harta benda pada jalan yang diharamkan, serta pemborosan dengan mengeluarkan harta untuk hal-hal yang tidak dibenarkan oleh akal. Kata menunjukkan bahwa harta yang haram biasanya menjadi pangkal persengketaan di dalam transaksi antara orang yang memakan dengan orang yang dimakan hartanya.Masing-masing ingin menarik harta itu menjadi miliknya.Dengan demikian dapat dipahami bahwa Islam mensyariatkan agar dalam memperoleh harta hendaknya dengan jalan yang halal atau tidak secara batil karena hal tersebut dapat berakibat pertentangan atau pertengkaran atau tidak secara ikhlas dari kedua belah pihak.Oleh karena itu, telah ditetapkan aturan-aturan tertentu yang mengatur dan menentukan bentuk dan intensitas kegiatan-kegiatan manusia dalam memperoleh kekayaan.Hal ini begitu dibatasi sehingga serasi dengan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.Pada tahap manapun tidak ada kegiatan ekonomi yang bebas dari beban pertimbangan moral. Untuk tujuan tersebut diatur dalam QS. Al-Baqarah (2): 168.

Terjemahnya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Al-Maraghi mengemukakan bahwa makalah kalian sebagian apa yang ada di bumi ini yang terdiri dari berbagai makanan, termasuk binatang ternak yang kalian haramkan, dan makanlah apa saja yang halal dan baik. Jadi, suatu negara Islam hanya dapat mendorong kegiatan-kegiatan sah, yang sepenuhnya sejalan dengan kebajikan sosial.Karena itu Islam tidak menyetujui segelintir sumber daya manusia kapitalis. Islam selalu menekankan agar selalu meletakkan suatu pemanfaatan sosial yang berguni. Sebagai dasar tersebut, dapat dipahami firman Allah dalam surah Al-Fathir (35): 29:

Terjemahnya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Keserakahan dianggap sebagai sifat negatif dan merusak.Kekayaan orang-orang kikir, selain hanya memberikan keuntungan bagi mereka, juga menjadikan rintangan dan mengalangi pertumbuhan moral dan spiritual mereka (QS.Ali Imran/2: 180), sebaliknya hidup bermewah-mewahan pun dikecam.Sesungguhnya Allah itu tunggal dan serba kecukupan.Manusialah yang serba kekurangan, dan kemakmuran dapat tercapai bukan dengan

keserakahan, atau karena tidak pernah memberi, melainkan dengan memanfaatkan harta demi kepentingan Allah swt.yakni guna pengabdian mahluk-makhluk-Nya. (QS. Muhammad 47: 38). Dengan cara ini, Islam mengatur kegiatan-kegiatan memperoleh uang dan mengeluarkan uang sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Demikianlah ruang lingkup ilmu ekonomi Islam yang tampaknya menjadi administrasi kekurangan sumber-sumber daya dalam masyarakat manusia dipandang dari segi konsepsi etik kesejahteraan dalam Islam.Oleh karena itu, ekonomi Islam tidak hanya mengenai sebab-sebab materil kesejahteraan.Tetapi juga mengenai hal-hal non materil yang tunduk kepada larangan Islam tentang konsumsi dan produk. Dalam Islam, baik konsumen maupun produsen bukanlah raja. Perilaku keduanya harus dituntun oleh kesejahteraan umum, individual dan sosial bagaimana dipahami dalam syariat. (Muhammad Zainal Abidin ; http://meetabied.wordpress.com/2009/10/30/tinjauan-umum-tentang-ekonomisyariah/) Ruang lingkup ekonomi syariah berdasarkan Undang-Undang Perbankan Syariah, telah, disahkan oleh DPR-RI pada hari Selasa, 17 Juni 2008. Dengan lahirnya UU Perbankan Syariah perkembangan bank syariah ke depan, diharapkan, akan mempunyai peluang usaha yang lebih besar di Indonesia. UU Perbankan Syariah memberikan peluang akivitas usaha bank syariah yang lebih banyak dan beragam dibandingkan bank konvensional.Terdapat usaha-usaha yang bisa dilakukan oleh sebuah bank umum syariah dan tidak dapat dilakukan oleh bank konvensional. Usahausaha yang dapat dilakukan oleh sebuah bank umum syariah dan tidak dapat dilakukan oleh bank konvensional (vide Pasal 19 s.d 21) adalah: a. Menghimpun dana dalam bentuk simpanan berupa Giro, Tabungan atau bentuk lainnya, dan bentuk investasi berupa Tabungan, Deposito atau

bentuk lainnya berdasarkan akad yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; b. Menyalurkan pembiayaaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; c. menyalurkan pembiayaan untuk transaksi jual-beli dengan berbagai akad yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qardh atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; e. menyalurkan pembiayaan penyewaan kepada nasabah berdasarkan akad ijarah dan/atau sewa beli yang tidak bertentangan dengan prinsip syaraih; f. melakukan pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; g. Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan prinsip syariah; h. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia ; i. j. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga berdasarkan suatu akad yang sesuai dengan prinsip syariah; Melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan akad yang berdasarkan prinsip syariah; k. Melakukan fungsi Wali Amanat berdasarkan akad wakalah; l. Memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan prinsip syariah; m. Menyediakan tempat penyimpanan barang dan surat berharga, memindahkan uang, dan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan; n. Melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan prinsip syariah;

o. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada Bank Umum Syariah atau lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah; p. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip berdasarkan prinsip syariah; q. Bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun berdasarkan prinsip syariah; r. Melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal; s. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan prinsip syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang; t. Menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan prinsip syariah dengan menggunakan sarana elekronik. Kegiatan usaha yang dapat dilakukan bank syariah di atas, tidak semuanya dapat dilakukan oleh unit usaha syariah, dan hanya dapat dilakukan oleh bank umum syariah. Kegiatan yang hanya dapat dilakukan oleh bank umum syariah adalah: a. Menjamin penerbitan surat berharga; b. penitipan untuk kepentingan orang lain; c. menjadi wali amanat; d. Penyertaan modal; e. Bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun; f. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang syariah. Di samping usaha komersial, bank syariah dapat pula menjalankan fungsi sosial dalam bentuk:

a. Lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi penelola zakat (Pasal 4 ayat 2); b. Menghimpun dana sosial dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada lembaga pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (wakif) (Pasal 4 ayat 3). Dengan demikian, perbankan syariah dapat menawarkan jasa-jasa lebih dari yang ditawarkan oleh sebuah investment banking, karena jasa-jasa bank syariah merupakan suatu kombinasi yang dapat diberikan oleh commercial bank, finance company, dan merchant bank. Walaupun kesempatan bank syariah berkembang sangat besar setelah lahirnya UU Perbankan Syariah, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menjadi tantangan dalam perkembangan bank syariah ke depan. Beberapa hal yang dapat menjadi tantangan adalah pembebasan pemilikan dan tenaga kerja asing pada bank syariah, prinsip syariah untuk produk/jasa perbankan syariah didasarkan kepada fatwa Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Ulama Internasional, dan bank syariah dapat memilih jalur yang tepat dalam penyelesaian sengketa selain Peradilan Agama asalkan sudah diperjanjikan sebelumnya dalam akad. Dengan demikian, lahirnya UU Perbankan Syariah hendaknya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku perbankan syariah di Indonesia serta memperhatikan tantangan yang ada agar dalam pertumbuhan bank syariah ke depan warganegara Indonesia tidak hanya menjadi penonton. (MERZA GAMAL ; http://nani3.wordpress.com/2008/06/25/ruang-lingkupusaha-bank-syariah/)

3. Keunggulan Ekonomi Syariah Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada ditengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua tanggungjawab kepada warganya serta komunis ditransaksikan. Ekonomi yang ekstrim, ekonomi Islam menetapkan boleh Islam harus mampu memberikan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak dalam

kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang mendasar saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak sekali membahas tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai produsen, konsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem ekonomi. Sebagaimana diungkapkan dalam pembahasan diatas, ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Selain itu, ekonomi syariah menekankan empat sifat, antara lain: 1. Kesatuan (unity) 2. Keseimbangan (equilibrium) 3. Kebebasan (free will) 4. Tanggungjawab (responsibility) Manusia sebagai wakil (khalifah) Tuhan di dunia tidak manusia adalah kepercayaannya mungkin di bumi. bersifat individualistik, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan Didalam menjalankan kegiatan ekonominya, Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti "kelebihan". Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 275 disebutkan bahwa Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan

mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

KOMENTAR Di Negara kita Indonesia, ekonomi syariah sudah termasuk berkembang, hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank-bank umum yang membuka cabang menjadi bank syariah. Bagi umat ISLAM, hal ini sangat menggembirakan karena kita dapat menginvestasikan uang kita pada bank syariah, sehingga kita tidak perlu takut lagi akan bunga bank, potongan-potongan dari tabungan yang menurut kita kurang baik dalam ajaran ISLAM dan banyak keuntungan lain yang kita dapatkan. Ekonomi syari¶ah menggunakan system-system ekonomi yang menyandarkan diri pada transaksi riil. Ekonomi ini nantinya akan ditopang dengan Bank Syariah dengan system bagi hasil (mudharabah). Lain halnya dengan bank yang dikenal saat ini yang menyandarkan keuntungan pada suku bunga dari hasil aksi spekulasi pasar.Namun Bank Syari¶ah nantinya memperbaiki sistemnya agar terlepas dari bias bank konvensional yang selama ini kita kenal.Bank syari¶ah nanti segera bisa lepas dari principle bank konvensional.Tidak hanya ganti istilah dari interest menjadi mudharabah.Kemiskinan sungguh merupakan bencana, yakni dapat membuat kepala tegak menjadi tunduk, merendah jiwa manusia yang mulanya luhur, memudarkan pancaran hati, mengacaukan pikiran, menghamburkan cita harapan, menyeret manusia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan dan banyak meninggalkan akhlak dan budi pekerti serta nilai-nilai mulia, kemudian terjerumus ke dalam perbuatan dan tindakan tercela serta bergelimang dalam dosa. Kehadiran bank syariah pertama kali di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat pada 1992 hingga Juni 2010, jumlah bank syariah yang beroperasi baru mencapai 10 bank dengan 1.058 kantor cabang di seluruh Indonesia. Faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan bank syariah, adalah sebagai berikut : kondisi bunga tinggi pada bank syariah di Indonesia; seperti terlihat dalam penetapan bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang berdampak pada penurunan pembiayaan syariah. Namun sebaliknya memicu perbankan konvensional menaikan suku bunga baik pinjaman maupun deposito, yang pada akhirnya berimplikasi penurunan bank syariah di Indonesia. Bank syariah di Indonesia menerapkan biaya administrasi atau

biaya tambahan yang dibebankan kepada nasabah Bank Syariah.Sehingga pada buntutnya jauh lebih besar dari bunga bank konvensional.Meskipun biaya administrasi ini ditarik atas kesepakatan bersama antara pihak bank syariah dengan nasabahnya.Kerjasama bagi hasil ini, memang menghindari adanya bunga. Dengan kata lain, tidak ada bunga. Namun biaya administrasi itu menjadi besar karena sebenarnya juga mengacu pada bunga bank konvensional yang berlaku di pasar. Bank syariah belum dipercaya oleh bangsa asing ; Yang jelas, kata pengamat perbankan syariah Dr. Abdul Adihim, para investor asing terutama dari Arab dan Timur Tengah belum percaya manajemen bank syariah di Indonesia, karena bankir-bankir syariah itu kebanyakan sebelumnya pernah bekerja di bank konvensioanl. Dimana bankir bank konvensional di Indonesia sering bermasalah dan salah kelola. Jadi wajar Bankir-bankir syariah tersebut belum mendapat kepercayaan oleh asing, khususnya pemodal Timur Tengah untuk mengelola dana mereka. Masalah network ; menurut Ketua Asosiasi bank-bank Syariah Indonesia (Asbsindo), Riawan Amin mengakui sumber daya manusia (SDM) pada level eksekutif yang tidak kompeten menyebabkan perkembangan bank syariah tidak bisa optimal. Islam membuat seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, yaitu bertanggung jawab atas kewajiban membebaskannya dari perangai rendah, mencegah diri dari perbuatan khianat, dan mengarahkannya kepada kegiatan bekerja untuk soalsoal keduniaan, serta mengarahkannya kepada ketekunan beribadah. Islam bukan hanya agama kerohanian semata-mata yang mengantarkan manusia dari kehidupan dunia kepada kehidupan akhirat, tetapi juga merupakan tuntutan hidup yang sempurna bagi manusia, termasuk segala dasar dan landasannya. Islam adalah agama akhirat dan juga agama dunia, agama yang mengandung kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat menuntut adanya kekuatan jasmani,akal pikiran, rajin melakukan pekerjaan yang baik dan gemar berbuat kebajikan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa agama tidak menghendaki adanya kemiskinan, karena kemiskinan merupakan bencana, yakni membuat kepala menjadi tunduk, merendahkan jiwa yang mulanya luhur, menghancurkan cita-cita harapan dan sebagainya.Kemiskinan juga dapat berbahaya terhadap akidah, akhlak,

kelangsungan keluarga dan sebagainya; sehingga agama Islam menganjurkan untuk menghindarinya dengan jalan berusaha, bekerja dan sebagainya.Salah satu perkembangan positif yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini ialah kendaraan yang semakin besar dari para pemimpin atau pemerintah tentang pentingnya melaksanakan keadilan sosial sebagai bagian dari kegiatan pembangunan. Salah satu aspek keadilan sosial tersebut ialah pembagian kekayaam nasional yang lebih murah, seperti pembangunan rumah atau panti-panti asuhan, pemberian kredit kepada mereka atau warga yang membutuhkan dan sebagainya.Berabad-abad manusia memikirkan masalah tersebut, dan untuk itu telah ditulis berjilid-jilid buku yang tidak semua memahaminya.Namun kesadaran di timbulkan hampir merata di seluruh dunia, yaitu bahwa kepincangan sosial yang terpenting ialah menyangkut distribusi rejeki, tujuannya yang pokok ialah bagaimana menghilangkan kemiskinan. Dan kemiskinan itu ada karena di situ ada kekayaan: tidak ada orang miskin dalam suatu masyarakat jika di situ tidak terdapat orang kaya. Kemiskinan tidaklah mengakibatkan ketidakbahagiaan.Banyak orang yang melarat dalam hidupnya ternyata lebih gembira dan bahagia daripada orang kaya.Tapi kemiskinan mengakibatkan degradasi, sehingga membahayakan bagi suatu masyarakat.Kejahatan yang ditimbulkan bersifat menular, dan tidak dapat dihindari hanya dengan pengasingan diri orang-orang kaya dalam bentuk apapun. Islam menjamin kemerdekaan setiap individu dan mengakui hak milik atas harta kekayaan, hak untuk mengatur dirinya sendiri dan keluarganya, dan kebebasan untuk melakukan kegiatan yang baik untuk kebajikan, menuntun orang yang sesat ke jalan yang lurus, bahkan wajib berjuang dan berperang untuk menangkal agresi. Islam menuntut supaya setiap orang memberikan sumbangannya sedapat mungkin dalam segala bidang kehidupan, dan menetapkan kewajiban agar setiap orang menginfakkan sebagian dari harta kekayaan di jalan yang benar, menolong kaum fakir miskin, dan untuk melawan kezaliman serta membasmi kedurhakaan.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan ini adalah : 1. 2. 3. 4. Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Kehadiran bank syariah pertama kali di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat pada 1992 hingga Juni 2010. Ruang lingkup ekonomi syariah berdasarkan Undang-Undang Perbankan Syariah, telah, disahkan oleh DPR-RI pada hari Selasa, 17 Juni 2008. Ekonomi syariah di Indonesia sudah mulai berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

http://islampeace.clubdiscussion.net/ekonomi-islam-f8/pengertian-tujuan-prinsipprinsip-ekonomi-islam-t13.htm http://www.scribd.com/doc/9137139/Artikel-Ekonomi-Syariah http://ekonomisyariah.blog.gunadarma.ac.id/2010/03/18/pengertian-ekonomi-syariah/ http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_syariah http://nani3.wordpress.com/2008/06/25/ruang-lingkup-usaha-bank-syariah/ http://meetabied.wordpress.com/2009/10/30/tinjauan-umum-tentang-ekonomisyariah/

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful