Penyakit menular seksual

Referensi

Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Penting untuk diperhatikan bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual melalui alat kelamin. Kontak seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan pemakaian “mainan seksual”, seperti vibrator. Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang dapat benar-benar disebut sebagai “seks aman” . Satusatunya yang betul-betul “seks aman” adalah abstinensia. Hubungan seks dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu bebas dari IMS juga dianggap “aman”. Kebanyakan orang

menganggap berciuman sebagai aktifitas yang aman. Sayangnya, sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktifitas yang nampaknya tidak berbahaya ini. Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko. Kondom umumnya dianggap merupakan perlindungan terhadap IMS. Kondom sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit seperti HIV dan gonore. Namun kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan klamidia. Kondom memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan penyebab kutil kelamin.

Beberapa penyakit menular seksual:

Klamidia – klamidia adalah PMS yang sangat berbahaya dan biasanya tidak menunjukkan gejala; 75% dari perempuan dan 25% dari pria yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gonore – gonore adalah salah satu PMS yang sering dialporkan. 40% penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) jika tidak diobati, dan hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan. Hepatitis B – vaksin pencegahan penyakit ini sudah ada, tapi sekali terkena penyakit ini tidak dapat disembuhkan; dapat menyebabkan kanker hati. Herpes – terasa nyeri dan dapat hilang timbul; dapat diobati untuk mengurangi gejala tetapi tidak dapat disembuhkan. HIV/AIDS – dikenal pertama kali pada tahun 1984, AIDS adalah penyebab kematian ke enam pada laki-laki dan perempuan muda. Virus ini fatal dan menimbulkan rasa sakit yang cukup lama sebelum kemudian meninggal. Human Papilloma Virus (HPV) & Kutil kelamin – PMS yang paling sering, 33% dari perempuan memiliki virus ini, yang dapat menyebabkan kanker serviks dan penis dan nyeri pada kelamin. Sifilis – jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati yang serius. Trikomoniasis – dapat menyebabkan keputihan yang berbusa atau tidak ada gejala sama sekali. Pada perempuan hamil dapat menyebabkan kelahiran premature.

Klamidia
Tipe: Bakterial Cara Penularan: Hubungan seks vaginal dan anal. Gejala: Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki tidak menunjukkan gejala. Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada laki-laki mungkin akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis. Pengobatan: Infeksi dapat diobati dengan antibiotik. Namun pengobatan tersebut tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan. Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan, jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang pada gilirannya dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis. Pada laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di mana sperma disimpan), yang mungkin dapat menyebabkan kemandulan. Individu yang terinfeksi akan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut. Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir: lahir premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada bayi baru lahir yang dapat terjadi karena penularan penyakit ini saat proses persalinan. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual secara vaginal maupun anal dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya

penyakit ini merupakan penyebab utama Penyakit Radang Panggul. Gejala: Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala. Dapat menyebabkan kemandulan pada pria. jika gejala muncul. sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah terpapar. kemandulan dan nyeri panggul kronis. Gonore Tipe: Bakterial Cara penularan: Hubungan seks vaginal. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko tertular penyakit ini. anal dan oral. vagina. Gejala-gejala meliputi discharge dari penis. atau rektum dan rasa panas atau gatal saat buang air kecil.cara pencegahan yang 100% efektif. Pengobatan: Infeksi dapat disembuhkan dengan antibiotik. Gonore yang . yang kemudian dapat menyebabkan kehamilan ektopik. Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan jika tidak diobati. Namun tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.

semua bayi yang lahir di rumah sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan gonore. . Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Gonore dapat menyebabkan kebutaan dan penyakit sistemik seperti meningitis dan arthritis sepsis pada bayi yang terinfkesi pada proses persalinan. oral dan khususnya anal. melalui transfusi darah. anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk pencegahan. Untuk mencegah kebutaan. perlukaan kulit karena alat-alat medis dan kedokteran gigi. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini.tidak diobati dapat menginfeksi sendi. Hepatitis B (HBV) Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seks vaginal. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal. katup jantung dan/atau otak. memakai jarum suntik bergantian.

Pengobatan: Belum ada pengobatan. Gejalagejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati meliputi air kencing berwarna gelap. kehilangan nafsu makan.Gejala: Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala. kanker hati dan kerusakan sistem kekebalan. nyeri otot. Bicarakan dengan petugas kesehatan kewaspadaan yang harus . Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi khususnya seks anal. Hindari pemakaian narkoba suntik dan memakai jarum suntik bergantian. darah. Gejala yang muncul meliputi demam. penyakit ini dapat berkembang menjadi cirrhosis. lemah. Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis. air mani dan secret vagina paling mungkin dipertukarkan adalah satusatunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus hepatitis B melalui hubungan seks. sakit kepala. Bayi dari seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi immunoglobulin dan divaksinasi pada saat lahir. Kebanyakan infeksi bersih dengan sendirinya dalam 4-8 minggu. di mana cairan tubuh. nyeri perut. Kondom dapat menurunkan risiko tetapi tidak dapat sama sekali menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini melalui hubungan seks. muntah dan diare. Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Untuk orang-orang yang terinfeksi secara kronis. Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Perempuan hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang dikandungnya. ini berpotensi untuk menghilangkan risiko infeksi kronis. kulit menguning dan mata pucat. 90% bayi yang terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan berisiko untuk tejadinya penyakit hati dan kanker hati. Mereka juga dapat menularkan virus tersebut.

Gejala-gejala: Gejala-gejala biasanya sangat ringan dan mungkin meliputi rasa gatal atau terbakar. rasa nyeri di kaki. HSV-1 dapat juga menular lewat hubungan seks oral dan dapat menyebabkan infeksi alat kelamin. Vaksin sudah tersedia dan disarankan untuk orang-orang yang berisiko terkena infeksi Hepatitis B. anal atau oral. Virus sejenis dengan strain lain yaitu Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) umumnya menular lewat kontak non-seksual dan umumnya menyebabkan luka di bibir. pantat atau . vaksinasi Hepatitis B sudah dilakukan secara rutin pada imunisasi anak-anak sebagaimana direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics. Herpes Genital (HSV-2) Tipe: Viral Cara Penularan: Herpes menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan bagian-bagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan seks vaginal. Namun. khususnya ketika akan menerima tranfusi produk darah atau darah.diambil untuk mencegah penularan Hepatitis B. Sebagai tambahan.

walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh yang lain. anus dan paha. Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab infeksi yang mengenai bayi yang baru . Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk penyakit ini. Bintil-bintil berair atau luka terbuka yang terasa nyeri juga mungkin terjadi.daerah kelamin. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur. biasanya di daerah kelamin. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Orang yang terinfeksi dan memiliki luka akan meningkat risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar sebab luka tersebut menjadi jalan masuk virus HIV. pantat. Luka-luka tersebut akan sembuh dalam beberapa minggu tetapi dapat muncul kembali. atau keputihan. Obat anti virus biasanya efektif dalam mengurangi frekuensi dan durasi (lamanya) timbul gejala karena infeksi HSV-2.

Walaupun memakai kondom saat melakukan hubungan seks. . masih ada kemungkinan untuk tertular penyakit ini yaitu melalui adanya luka di daerah kelamin. anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus herpes genital melalui hubungan seks.lahir akan dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius. Kondom dapat mengurangi risiko tetapi tidak dapat samasekali menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal.

Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: HPV adalah virus yang menyebabkan kutil kelamin. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Pada bayi-bayi yang terinfeksi virus ini pada proses persalinan dapat tumbuh kutil pada tenggorokannya yang dapat menyumbat jalan nafas sehingga kutil tersebut harus dikeluarkan. Pengobatan: Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini. anus dan tenggorokan. Pada kenyataannya 90% penyebab kanker serviks adalah virus HPV. kutil yang menyerupai bunga kol tumbuh di dalam atau pada kelamin. anal atau oral.Human Papilloma Virus (HPV) Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seksual vaginal. vagina. Beberapa strains dari virus ini berhubungan kuat dengan kanker serviks sebagaimana halnya juga dengan kanker vulva. Kutil dapat dihilangkan dengan cara-cara kimia. penis dan anus. pembekuan. Kanker serviks ini menyebabkan kematian 5. . Gejala-gejala: Tonjolan yang tidak sakit. terapi laser atau bedah.000 perempuan Amerika setiap tahunnya.

penyakit ini juga dapat ditularkan melalui hubungan non-seksual jika ulkus atau lapisan mukosa yang disebabkan oleh sifilis kontak dengan lapisan kulit yang tidak utuh dengan orang yang tidak terinfeksi. rambut rontok dan pembengkakan kelenjar di seluruh tubuh. . anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan. Namun. penyakit ini menimbulkan luka yang tidak terasa sakit atau "chancres" yang biasanya muncul di daerah kelamin tetapi dapat juga muncul di bagian tubuh yang lain. jika tidak diobati penyakit akan berkembang ke fase berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit. demam. Kondom hampir tidak berfungsi sama sekali dalam mencegah penularan virus ini melalui hubungan seks. Gejala-gejala: Pada fase awal. anal atau oral. luka pada tenggorokan. Sifilis Tipe: Bakterial Cara Penularan: Cara penularan yang paling umum adalah hubungan seks vaginal.Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal.

sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati. tulang dan sendi dan dapat menyebabkan kematian. Janin meninggal di dalam dan meninggal pada periode neonatus terjadi pada sekitar 25% dari kasus-kasus ini. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Jika tidak diobati. . sistem saraf. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Jika tidak diobati. Jika tidak terdeteksi. seorang ibu hamil yang terinfeksi sifilis akan menularkan penyakit tersebut pada janin yang dikandungnya. kerusakan pada organ tubuh yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki. namun. anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan sifilis melalui hubungan seksual. mata. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal.Pengobatan: Penyakit ini dapat diobati dengan penisilin. otak. 40-70% melahirkan bayi dengan sifilis aktif. kerusakan dapat terjadi pada jantung. otak dan mata bayi. Seorang yang sedang menderita sifilis aktif risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut akan meningkat karena luka (chancres) merupakan pintu masuk bagi virus HIV.

dan berwarna kuning-hijau. Prevalensi: Trikomoniasis adalah PMS yang dapat diobati yang paling banyak terjadi pada perempuan muda dan aktif seksual. Trikomoniasis Tipe: Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis. Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan atau saat berhubungan seksual juga sering terjadi. Mungkin terdapat juga nyeri vagina dan gatal atau mungkin tidak ada gejala sama sekali. berbusa. Usaha untuk mencegah kontak non-seksual dengan luka. 5 juta kasus baru terjadi pada perempuan dan lakilaki. Cara Penularan: Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Pada laki-laki mungkin . Trichomonas vaginalis dapat bertahan hidup pada benda-benda seperti baju-baju yang dicuci.Masih ada kemungkinan tertular sifilis walaupun memakai kondom yaitu melalui luka yang ada di daerah kelamin. Gejala-gejala: Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak. dan dapat menular dengan pinjam meminjam pakaian tersebut. ruam atau lapisan bermukosa karena adanya sifilis juga perlu dilakukan. Diperkirakan.

. kelenjar. Pengobatan: Penyakit ini dapat disembuhkan. Adanya trikomoniasis pada perempuan yang juga terinfeksi HIV akan meningkatkan risiko penularan HIV pada pasangan seksualnya. atau kulup dan/atau luka pada penis. namun pada laki-laki umumnya tidak ada gejala.akan terjadi radang pada saluran kencing. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Trikomoniasis pada perempuan hamil dapat menyebabkan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur. Pasangan seks juga harus diobati. Kondon dan berbagai metode penghalang sejenis yang lain dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari untuk saling pinjam meminjam handuk atau pakaian dengan orang lain untuk mencegah penularan non-seksual dari penyakit ini. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Radang pada alat kelamin pada perempuan yang terinfeksi trikomoniasis mungkin juga akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HIV jika terpapar dengan virus tersebut. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satu cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan trikomoniasis melalui hubungan seksual.

Lymphogranuloma Venereum – Menyebabkan lesi-lesi. dapat disebabkan oleh klamidia. Nongonococcal Urethritis (NGU) – Mengenai laki-laki dan dapat menyebabkan masalah pada saat buang air kecil. dapat menyebabkan Penyakit Radang Panggul atau keguguran pada ibu hamil. namun biasanya dapat kambuh. jika tidak diobati dapat menyebabkan kegagalan ginjal. Molluscum Contagiosum – Virus ini menyebabkan lesi-lesi yang halus dan mengkilap yang harus dihilangkan satu per satu oleh dokter. Chancroid – Luka atau bintil yang besar dan nyeri. HIV/AIDS . Kandidiasis . Granuloma Inguinale – Menyebabkan luka-luka yang tidak terasa sakit yang dapat membesar dan mudah berdarah. luka dan abses pada lipat paha.Infeksi Saluran Reproduksi lain di antaranya: • • • • • • • • • Bakterial Vaginosis – Menyebabkan nyeri saat buang air kecil.Kandidiasis. atau infeksi jamur. Dapat menyebabkan rasa nyeri. dapat pecah. kemandulan dan bahkan kematian. menular melalui hubungan seksual atau cara-cara lain. gatal dan tidak nyaman. Mucopurulent Cervicitis (MPC) – Menyebabkan keluarnya keputihan dari serviks. sesungguhnya bukan PMS namun dapat juga ditularkan melalui hubungan seksual. Dapat diobati dengan obat yang dijual tanpa resep. menyebabkan rasa seperti terbakar. Penyakit Radang Panggul/Pelvic Inflammatory Disease (PID) – Dapat disebabkan oleh berbagai bakteri.

termasuk demam. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: 2030% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS akan muncul dalam satu tahun pertama kelahiran. lemah dan pembengkakan saluran getah bening. virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem kekebalan. Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk infeksi ini. memakai jarum suntik bergantian pada pengguna narkoba. atau saat menyusui. menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap infeksi-infeksi oportunistik. berat badan turun. darah atau produk darah yang terinfeksi. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Hampir semua orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi AIDS dan meninggal karena komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan AIDS. kehilangan nafsu makan. . Obat-obat lain digunakan untuk melawan infeksi oportunistik yang juga diderita. dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya. oral dan khususnya anal. Namun. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam seminggu sampai sebulan. dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant) selama beberapa tahun.Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seks vaginal. 20% dari bayi-bayi yang terinfeksi tersebut akan meninggal pada saat berusia 18 bulan. Sementara yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu. Gejala-gejala: Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali. Obat-obat anti retroviral digunakan untuk memperpanjang hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi. saat persalinan.

Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus. FIV. cairan preseminal.[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah. dan air susu ibu. seperti darah. bersalin. cairan vagina. dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. khususnya hubungan seks anal. transfusi darah. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. atau menyusui. ataupun oral). darah. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seks. air mani atau secret vagina paling mungkin dipertukarkan. Hindari pemakaian narkoba suntik dan saling berbagi jarum suntik. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. anal. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kondom dapat menurunkan risiko penularan tetapi tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan penularan. jarum suntik yang terkontaminasi.6 juta orang . di mana cairan tubuh. dan lain-lain). Diskusikan dengan petugas kesehatan tindakan kewaspadaan yang harus dilakukan untuk mencegah penularan HIV.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. antara ibu dan bayi selama kehamilan. air mani.Obat antiretroviral yang diberikan pada saat hamil dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV dalam proporsi yang cukup besar Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38. terutama saat harus menerima transfusi darah maupun produk darah.

Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan. virus. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV. Dengan demikian. penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. Gejala dan komplikasi Gejala-gejala utama AIDS. namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara. dan lebih dari 570. sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. fungi dan parasit.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2.di seluruh dunia. umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya.3 juta jiwa pada tahun 2005 saja.[5] Pada Januari 2006.4 hingga 3. Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orangorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981.[6] Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara. yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri. yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem .

juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. seperti demam. disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii. tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. kedinginan. Pneumonia pneumocystis (PCP)[10] jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik. perawatan. merasa lemah. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. berkeringat (terutama pada malam hari). pembengkakan kelenjar.kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik. dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat. dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. serta penurunan berat badan. [8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS. . Di negara-negara berkembang. Penyakit paru-paru utama Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru. kanker leher rahim. Sebelum adanya diagnosis.

TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada individu yang terinfeksi HIV. Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya. Namun demikian.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang. kelenjar getah bening (nodus limfa regional). serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. hati. penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) . walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL. dapat muncul pada stadium awal HIV.[11] Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksiinfeksi lainnya yang terkait HIV. Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat. dan sistem syaraf pusat. gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.[12] Dengan demikian. Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi. Pada stadium lanjut infeksi HIV. Penyakit saluran pencernaan utama Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus).penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orangorang yang belum dites. resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini. tulang. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL). ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). saluran kemih dan saluran pencernaan.

Pada stadium akhir infeksi HIV. yang disebut Toxoplasma gondii.[13] Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab. serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV. meskipun kasusnya langka. diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV.atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis). namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan . serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis. Mycobacterium avium complex. Listeria. Selain itu. atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri. dan Escherichia coli). Pada beberapa kasus. Kampilobakter. Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu. dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis). mikrosporidiosis. Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae). antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella. yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan. diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Shigella. atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri.

dan motorik. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%.[16] Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV. perilaku. sakit kepala. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan. . Ia disebabkan oleh virus JC.penyakit pada mata dan paru-paru. sehingga mengeluarkan neurotoksin. yang jika tidak ditangani dapat mematikan.[19][20] Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal). tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif. yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten. sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson).[17] Kerusakan syaraf yang spesifik. Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi. lelah.[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV. dan muntah. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah. sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. mual. dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV. Hal ini dapat menyebabkan demam. yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi.

dan virus papiloma manusia (HPV). Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS.[21][22] Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. terutama mulut. Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan. yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae. yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV). Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik. dan paru-paru.Kanker dan tumor ganas (malignan) Sarkoma Kaposi Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL). saluran pencernaan. . lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. dan limfoma sistem syaraf pusat primer. tetapi dapat menyerang organ lain. virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma).

Namun demikian. terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Pada beberapa kasus.Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun. Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. limfoma adalah tanda utama AIDS. banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon). Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei. atau disebut Penisiliosis. Infeksi oportunistik lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik. kanker usus besar bawah (rectum). yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi. dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus). Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia. namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV. kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara. Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya. Di tempattempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS. dan kanker anus. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas. yang dapat menyebabkan kebutaan. . seperti limfoma Hodgkin.

kemudian timbul gejala infeksi HIV awal. laju perkembangan penyakit ini pada . dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9. dilihat dengan mikroskop elektron. yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.Penyebab HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut. dan sel dendritik. Tanpa terapi antiretrovirus. padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. seperti sel T CD4+ (sejenis sel T). dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. maka kekebalan di tingkat sel akan hilang. makrofaga. dan akhirnya AIDS. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah.[25] Namun demikian. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis. rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun.2 bulan. AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV.

dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis.setiap orang sangat bervariasi. atau membran mukosa mulut pasangannya.[34] Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Penularan seksual Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda. Banyak faktor yang mempengaruhinya. juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. alat kelamin.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda.[35] . sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang ratarata waktu berkembangannya AIDS. yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.

infeksi chlamydia. dan resipien transfusi darah dan produk darah. ekologi serta fisiologi mikroba vaginal. dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. penderita hemofilia.[38][39] Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata. dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara. dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid.[36][37] Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. tidak hanya merupakan risiko utama atas . Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen). oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah. Kontaminasi patogen melalui darah Berhubungan dengan pengguna obat suntik. dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga. walaupun lebih kecil.Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin. Eropa. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV.[36] Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi.

yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi". Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara.5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman Oleh sebab itu. didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini.infeksi HIV. Penularan masa perinatal Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal. WHO memperkirakan 2. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu. mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan. dokter. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. pekerja laboratorium. tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Republik Rakyat Cina. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. menurut WHO. dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat. dan Eropa Timur. Bila tidak ditangani. Namun demikian. pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah . Di negara maju.

jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar. Sistem tahapan infeksi WHO Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4+ pada rata-rata infeksi HIV yang tidak ditangani. semakin tinggi risikonya). terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus. kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien.[45] Diagnosis Sejak tanggal 5 Juni 1981. Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.[44] Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi. Namun demikian. banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS. sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.sebesar 25%. sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium. karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Namun demikian. Keadaan penyakit dapat bervariasi tiap orang. tingkat penularannya hanya sebesar 1%. seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. . Di negara-negara berkembang.

trakea. dan sarkoma kaposi. Sistem klasifikasi CDC Terdapat dua definisi tentang AIDS. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat. yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Semua penyakit ini adalah indikator AIDS. World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1. dan mendefinisikan penyakit ini.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi tersebut. kandidiasis esofagus. walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat . Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini. CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap positif HIV.jumlah limfosit T CD4+ (sel/mm³) HIV per mL plasma jumlah RNA Pada tahun 1990. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan. • • • • Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan. sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya.[46] Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. bronkus atau paru-paru. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut. dan tuberkulosis. baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. infeksi bakteri parah. Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak.[49] Tahun 1993.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September tahun 1982. contohnya ialah limfadenopati.

dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Tes HIV umum. Namun demikian.5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan. menjalani pemeriksaan. darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis. harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya. termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot. atau menerima hasil tes mereka. dan HIV-DNA. periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. HIV-RNA. atau urin pasien. [51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV. . tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju. dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum. cairan mulut. yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Tes HIV Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.di atas 200 per µL darah setelah perawatan ataupun penyakitpenyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh. Selain itu. hanya 0. darah kering. plasma. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV.[51] Dengan demikian.

000[53] Persalinan 2.500[44] .Pencegahan Perkiraan risiko masuknya HIV per aksi. menurut rute paparan[52] Perkiraan infeksi per 10.000 Rute paparan paparan dengan sumber yang terinfeksi Transfusi darah 9.

Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur. hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia. serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan. air mata dan urin orang yang terinfeksi.[60] Selama hubungan seksual. namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut.[61] Kondom laki-laki berbahan .Penggunaan jarum suntik bersama-sama 67[54] Hubungan seks anal reseptif* 50[55][56] Jarum pada kulit 30[57] Hubungan seksual reseptif* 10[55][56][58] Hubungan seks anal insertif* 6. Hubungan seksual Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antarindividu yang salah satunya terkena HIV. Bukti terbaik saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim mengurangi risiko penularan HIV sampai kira-kira 80% dalam jangka panjang.5[56]§ * tanpa penggunaan kondom § sumber merujuk kepada seks oral yang dilakukan kepada laki-laki Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual. persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi.5[55][56] Hubungan seksual insertif* 5[55][56] Seks oral reseptif* 1[56]§ Seks oral insertif* 0. walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan.

Kondom wanita lebih besar daripada kondom laki-laki dan memiliki sebuah ujung terbuka keras berbentuk cincin. dan lemak babi tidak digunakan dengan kondom lateks karena bahanbahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang.[62] Kondom wanita adalah alternatif selain kondom laki-laki dan terbuat dari poliuretan. Jika diperlukan. Pelumas berbahan dasar minyak digunakan dengan kondom poliuretan. mentega. adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi transmisi HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan tersedianya kondom wanita.[64] Strategi pencegahan telah dikenal dengan baik di negara-negara maju. Kondom wanita memiliki cincin bagian dalam yang membuat kondom tetap di dalam vagina — untuk memasukkan kondom wanita.[63] Penelitian terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten. dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina.lateks. Kendalanya ialah bahwa kini kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sejumlah besar wanita. Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin. hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga kondom wanita merupakan strategi pencegahan HIV yang penting. pihak produsen menyarankan menggunakan pelumas berbahan dasar air. cincin ini harus ditekan. penelitian atas perilaku dan epidemiologis di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan keberadaan kelompok minoritas anak muda yang . Namun. yang memungkinkannya untuk digunakan dengan pelumas berbahan dasar minyak. jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak. laju infeksi HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi adalah di bawah 1% per tahun.

budaya. dan perilaku masyarakat. Pada bulan Desember tahun 2006. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa persepsi kurangnya kerentanan HIV pada laki-laki bersunat.[66] Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan menganjurkan Pendekatan ABC untuk menurunkan risiko terkena HIV melalui hubungan seksual. sehingga mengabaikan risiko yang mereka hadapi atas infeksi HIV. penelitian yang menggunakan uji acak terkendali mengkonfirmasi bahwa sunat laki-laki menurunkan risiko infeksi HIV pada pria heteroseksual Afrika sampai sekitar 50%. .Adapun rumusannya dalam bahasa Indonesia: Kontaminasi cairan tubuh terinfeksi Wabah AIDS di Afrika Sub-Sahara tahun 1985-2003. walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan. transmisi HIV antarpengguna narkoba telah menurun. dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko sehingga mengurangi dampak dari usaha pencegahan ini. Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah.tetap melakukan kegiatan berisiko tinggi meskipun telah mengetahui tentang HIV/AIDS.[65] Namun demikian. dan transmisi HIV oleh transfusi darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.

Banyak negara telah melegalkan kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter.[70] Dari semua anak yang diduga kini hidup dengan HIV. 630. sedotan. jarum bersih terdapat gratis di sejumlah kota. bedah caesar. Informasi tentang membersihkan jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan dan program penukaran jarum.Pekerja kedokteran yang mengikuti kewaspadaan universal.000 infeksi di antaranya terjadi di Afrika. dapat membantu mencegah infeksi HIV. Di sejumlah negara maju. dan lain-lain). terutama melalui penularan ibu ke anak. kapas bola. . terjangkau. Semua organisasi pencegahan AIDS menyarankan pengguna narkoba untuk tidak berbagi jarum dan bahan lainnya yang diperlukan untuk mempersiapkan dan mengambil narkoba (termasuk alat suntik. ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka. pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.000 anak di bawah umur 15 tahun terkena HIV. Penularan dari ibu ke anak Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus. sendok. Namun demikian. Orang perlu menggunakan jarum yang baru dan disterilisasi untuk tiap suntikan. jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi. di penukaran jarum atau tempat penyuntikan yang aman. berkelanjutan.[5] Pada tahun 2005. seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan selalu mencuci tangan. dan aman. dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak (mother-to-child transmission. dapat dikerjakan dengan mudah. 2 juta anak (hampir 90%) tinggal di Afrika Sub Sahara. air pengencer obat. sekitar 700. MTCT).[69] Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima.[5] Penanganan Lihat pula HIV dan Obat antiretrovirus.

dan lelah. disingkat HAART). mual.[71] Terapi antivirus Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy.[6] Pilihan terbaik .[72] Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996. yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor. perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan.Abacavir – Nucleoside analog reverse transcriptase inhibitor (NARTI atau NRTI) Struktur kimia Abacavir Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare.[40] PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. disebut post-exposure prophylaxis (PEP). Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau. tidak enak badan. jika gagal.

2 bulan.[73] Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART.[81][82] Bagi beberapa pasien lainnya.[25] Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun. banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka.[78][79] [80] Tanpa perawatan HAART. Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa. perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek samping/dampak . HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan. sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor. dan selanjutnya waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.[75][76] Lagi pula.[74] Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien.[77] Meskipun demikian. kecepatan berkurangnya CD4. berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahan antiretrovirus. atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. saat memilih waktu memulai perawatan awal.HAART saat ini. dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. serta kesiapan mental pasien. seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus. berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun. maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa. yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen.

frekuensi dosis.[89] Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian. karena adanya beragam kombinasi jumlah pil.[89] Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk usaha mengurangi efek samping obat. dislipidaemia. kurangnya dukungan sosial.[84][85][86] Berbagai efek samping yang juga menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART. antara lain lipodistrofi. penyakit kejiwaan. pembatasan makan. penolakan insulin. dan penentuan urutan . serta penyalahgunaan obat.[87][88] Obat anti-retrovirus berharga mahal. dan lainlain yang harus dijalankan secara rutin . Perawatan HAART juga kompleks. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya akses atas fasilitas kesehatan. dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.[83] Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif. dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut. penyederhanaan kombinasi obatobatan untuk memudahkan pemakaian. Penanganan eksperimental dan saran Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya. peningkatan risiko sistem kardiovaskular. dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat.pengobatan tidak bisa ditolerir. sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian. HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART.

[90] Pasien yang mengalami penekanan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis.[91] Akupunktur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala.[92] Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini. namun tidak menyembuhkan infeksi HIV. Beberapa penelitian menunjukan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik dapat menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram.[71] Pengobatan alternatif Berbagai bentuk pengobatan alternatif digunakan untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit. demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam berisiko terinfeksi.kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat.[94] Suplemen vitamin A pada anak-anak kemungkinan juga memiliki beberapa manfaat.[94] Pemakaian selenium dengan dosis rutin harian dapat menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. [93] Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa. meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat kematian (mortalitas) akan berkurang pada orangorang yang memiliki status nutrisi yang baik. tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius. Selenium dapat digunakan sebagai terapi pendamping . kesemutan atau nyeri.

Manfaat-manfaat psikologis dari beragam terapi alternatif tersebut sesungguhnya adalah manfaat paling penting dari pemakaiannya.4 dan 3.3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan . Hormon tiroksin dikenal dapat meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariotadan memperbaiki gradien pH pada mitokondria Epidemiologi UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981. Meskipun baru saja. akses perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia.8 juta (antara 2.terhadap berbagai penanganan antivirus yang standar. tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas. epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2. namun dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah.[95] Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa terapi pengobatan alteratif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini. beberapa pakar menyarankan terapi dengan asupan hormon tiroksin.[96] Namun oleh penelitian yang mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita AIDS yang terjangkit virus HIV1.

6 juta] anak yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara.3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia. antara 3.5 juta (4.6 sampai 27.3 tahun .7 juta infeksi (perkiraan 3. Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2.4 dan 6.4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara.4 juta) (0.[100] Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar. Pada tahun 2005.9% dari populasi) infeksi. Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi. Pada tahun 2005. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India.000 anak-anak mati di region ini karena AIDS. lebih dari tiga per empat (76%) dari semua wanita hidup dengan HIV.9% dari populasi). dengawn perkiraan 5.4 . ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.anak-anak Secara global. membuat negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk .5 tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.0 juta [10. Sejarah AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981.6. dengan perkiraan 21.1 juta) (11. peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981. terdapat 12. melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5.0 juta] dari mereka adalah anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun.6-13. 500. Dua juta [1.4 dan 3. Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%.9-6.5&-3.9. harapan hidup normal sebesar 48. antara 33.4 juta jiwa kini hidup dengan HIV.2 juta orang terinfeksi dan antara 2.

Sosial dan budaya Stigma . atau berusaha untuk memperoleh perawatan. Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya. memeriksa bagaimana hasil tes mereka. komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada. sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang dapat dikendalikan menjadi "hukuman mati" dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV. Gabon. dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV Kekerasan atau ketakutan atas kekerasan. Namun demikian. telah mencegah banyak orang untuk melakukan tes HIV. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS. antara lain tindakan-tindakan pengasingan. penolakan. menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata.Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara.kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia. monyet dari Guinea Bissau. . diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu atau perlindungan kerahasiaannya. contohnya selama berburu atau pemotongan daging. dan Kamerun. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys). dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV. sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. diskriminasi.

Stigma simbolis AIDS .yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut. Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan seksual antar laki-laki. yang berkorelasi dengan tingkat prasangka seksual yang lebih tinggi. terutama yang berhubungan dengan homoseksualitas. Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma.yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular. dan penggunaan narkoba melalui suntikan. biseksualitas. pelacuran. terdapat penghubungan antara AIDS dengan homoseksualitas atau biseksualitas. misalnya sikapsikap anti homoseksual. Di banyak negara maju. termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.Stigma AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga kategori: • • • Stigma instrumental AIDS . Stigma kesopanan AIDS . .yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.

mengurangi dana publik seperti pendidikan dan fasilitas kesehatan lain yang tidak berhubungan dengan AIDS. ia melemahkan populasi pembayar pajak. Karena AIDS menyebabkan meninggalnya banyak orang dewasa muda. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan mekanisme produksi dan investasi sumberdaya manusia (human capital) pada masyarakat. Ini memberikan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.Dampak ekonomi Perubahan angka harapan hidup di beberapa negara di Afrika. pelatihan (untuk menggantikan pekerja . dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit. yaitu akibat hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Botswana Zimbabwe Kenya Afrika Selatan Uganda Semakin tingginya tingkat kematian (mortalitas) di suatu daerah akan menyebabkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti karena sakit juga akan mengurangi produktivitas. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda.

Pada tingkat rumah tangga. serta perawatan yatim piatu korban AIDS.yang sakit). . Penelitian di Pantai Gading menunjukkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jika peningkatan tajam mortalitas orang dewasa menyebabkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan. dari keluarga kepada pemerintah. AIDS menyebabkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. penggantian biaya sakit. Berkurangnya pendapatan menyebabkan berkurangnya pengeluaran. dan terdapat juga efek pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.