MIOMA UTERI 1.

Definisi Mioma uteri (uterine fibroids atau juga disebut fibromyoma, leimyoma atau fibroids) adalah tumor jinak otot dinding rahim yang muncul pada wanita di masa reproduksi. Mioma uteri adalah merupakan tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan dan tidak juga berhubungan dengan keganasan. Mioma uteri merupakan neoplasma (tumor) jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya (Wiknjosastro, 2005). 2. Etiologi 2.1. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri tetapi diduga merupakan penyakit multifaktorial.Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom lengan 12q13-15. 2.2. Pendapat lain juga mengatakan Etiologi namun tetap tidak jelas, namun disangka bahwa estrogen mempunyai peranan penting walaupun dalam teori ini sukar diterangkan bahwa pada seorang perempuan estrogen dapat menyebabkan mioma uteri sedangkan pada perempuan lain tidak padahal estrogen dihasilkan oleh semua wanita. 2.3. Pada kondisi kehamilan atau paparan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dosis tinggi neoplasma membesar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dan dapat mencapai ukuran yang sangat besar. Dijelaskan oleh Dhanardhono (2006) tentang hormon estrogen yang mempengaruhi timbulnya mioma uteri. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot (miometrium) sekitarnya. Karena ada hubungan antara mioma dengan hormon estrogen tersebut maka mioma membesar pada usia reproduksi dan mengecil pada usia paska menopause. 3. Klasifikasi Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena. 3.1. Lokasi a. Cervical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. b. Isthical (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. c. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala. 3.2. Lapisan Uterus Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 3.2.1. Mioma Uteri Submukosa, berada dibawah endometrium dan menonjol didalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai 5% dari seluruh kasus moima. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan, dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks disebut mioma geburt. Hal ini dapaat menyebabkan dismenore, namun ketika telah dikeluarkan dari serviks dan menjadi nekrotik, akan memberikan gejala pelepasan darah yang tidak regular dan dapat disalahartikan dengan kanker serviks. Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi. 3.2.2. Mioma Uteri Subserosa. Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. Mioma

yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik. 3.2.3. Mioma Uteri Intramural. Disebut juga sebagai mioma intraepitelial, terdapat di dinding uterus diantara serabut miometrium. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi lunak. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat. Pada mioma uteri dapat terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau transformasi maligna.

Gambar 2. Jenis Mioma berdasarkan lokasi 4. Faktor Risiko Ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu : 4.1. Umur, mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. 4.2. Paritas, lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi. 4.3. Faktor ras dan genetik, pada wanita ras tertentu khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.

4.4. Fungsi ovarium, diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarkhe, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. 4.5.Infeksi dan jamur di dalam rahim juga bisa menjadi perangsang pertumbuhan miom atau memungkinkan miom tumbuh kembali walaupun telah diangkat. 5. Patofisiologi Mioma merupakan monoklonal, dengan tiap tumor merupakan hasil dari penggandaan satu sel otot. Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang mengalami mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian menunjukkan bahwa pada 40% penderita ditemukan aberasi kromosom yaitu t(12;14)(q15;q24). Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast. Percobaan Lipschultz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen (Winkjosastro, 2009). Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini. 6. Manifes tasi Klinis Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada dan besarnya tumor. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut : 6.1. Perdarahan abnormal. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Perdarahan yang massiv dapat mengarah pada terjadinya anemia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah : 6.1.1. Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai adeno karsinoma endometrium. 6.1.2. Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa. 6.1.3. Atrofi endometrium di atas mioma submukosum. 6.1.4. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. 6.2. Rasa nyeri. Nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan juga dismenore. 6.3.Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urin, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

6.4.Infertilitas dan abortus. Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars intertisialis tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain infertilitas sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi. 7. Pemeriksaan Diagnostik 7.1.Anamnesis, dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi. 7.2.Pemeriksaan fisik, pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri dapat diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk yang tidak teratur, gerakan bebas, tidak sakit. 7.3.Pemeriksaan penunjang. 7.3.1. Pemeriksaan laboratorium. Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia karena perdarahan uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi. Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah Darah Lengkap (DL) terutama untuk mencari kadar Hb. Pemeriksaaan lab lain disesuaikan dengan keluhan pasien 7.3.2. Imaging 1) Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi. 2) Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil. 3) MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal. 8. Komplikasi Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri : 8.1. Degenerasi ganas. Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause. 8.2. Torsi (putaran tangkai).Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.3.Nekrosis dan infeksi.Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya. Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan sekunder tersebut antara lain : 1) Atrofi, sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil 2) Degenerasi hialin, perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya. 3) Degenerasi kistik, dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.

4) Degenerasi membatu (calcereus degeneration) terutama terjadi pada wanita

berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen. 5) Degenerasi merah (carneus degeneration), perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai. 6) Degenerasi lemak, jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin. 9. Penatalaksanaan Medis Jika miom tidak menyebabkan gejala, biasanya akan dilakukan pendekatan “wait and see”, dengan pemeriksaan ulangan dilakukan secara rutin dan kadangkala membutuhkan pemeriksaan USG untuk melihat ukuran miom. Jika terdapat gejala-gejala, pengobatan dilakukan sebagai berikut ini: 9.1. Terapi Obat Pil KB yang rendah estrogen digunakan untuk mengendalikan perdarahan haid yang berat. Tetapi obat ini tidak mengendalikan pertumbuhan miom. Obat lain yang disebut agonis GnRH (agonist Gonadothropin-releasing Hormone) dapat digunakan untuk menyusutkan miom dengan mengurangi jumlah estrogen dalam tubuh. Bentuk pengobatan ini bukan pemecahan masalah untuk jangka panjang, tetapi mungkin digunakan untuk persiapan pembedahan. Tetapi agonis GnRH menyebabkan gejala-gejala nya menopause, misal gejolak panas si sekitar leher (hot flashes), perubahan emosi, pusing, vagina kering, dan keropos tulang. Jika dibutuhkan pengobatan jangka panjang, dokter akan menambah obat lain untuk mengurangi gejala-gejala menopause tersebut, tetapi miom dapat muncul kembali setelah pengobatan dihentikan. 9.2. Pembedahan. Kadangkala diperlukan pembedahan untuk mengangkat miom. Salah satu pilihannya adalah miomektomi, yaitu tindakan pembedahan yang mana hanya miomnya saja yang diangkat dan rahim tetap dibiarkan. Ini merupakan pilihan yang paling sesuai untuk wanita yang masih ingin mempunyai anak. Pilihan pembedahan lain adalah histerektomi untuk mengangkat rahim. Histerektomi mempunyai laju komplikasi yang rendah dibanding miomektomi dan merupakan pemecahan masalah secara tuntas untuk miom rahim. Sedangkan dengan miomektomi, sekitar 10% kasus miom dapat muncul kembali. Beberapa tahun belakangan ini telah dikembangkan teknik pembedahan yang lebih tidak invasif, misal histeroskopi dan laparoskopi untuk menghilangkan miom. Pada tindakan ini digunakan alat teropong (teleskop) tipis dan panjang yang dilengkapi lampu dan kamera video untuk melihat daerah yang akan ditangani pada video monitor. Dengan laparoskopi, sebuah teleskop dimasukkan melalui tusukan kecil di bawah pusar dan peralatan khusus digunakan untuk menghilangkan miom. Dengan teknik-teknik ini akan cepat pulih dan hanya sedikit luka parut. Tetapi teknik ini merupakan pilihan bilamana ukuran miom masih kecil (5-6 cm). Bilamana miom cukup besar, terlebih dulu digunakan pengobatan agonis GnRH untuk menyusutkan miom, dengan penyuntikan setiap 4 minggu sekali ke dalam jaringan lemak di kulit dekat pusat. Setelah ukuran miom menyusut baru dilakukan tindakan laparoskopi. 9.3. Embolisasi miom rahim Tindakan tanpa pembedahan ini merupakan pilihan lain bagi beberapa wanita yang ingin menghindari pembedahan. Tindakan ini dirancang untuk menyusutkan miom dengan memotong persediaan darah

yang ke arah miom. Pada tindakan ini, dokter Radiologis menggunakan gambar sinar-X untuk mengarahkan pipa tipis (kateter) pada tempatnya. Kemudian dokter memasukkan partikel kecil dari plastik atau gelatin melalui kateter untuk menyumbat aliran darah di dalam miom. Tanpa persediaan darah, miom akan menyusut dan hilang setelah beberapa waktu. ASUHAN KEPERAWATAN 10. Pengkajian 10.1. Identitas Kaji identitas pasien meliputi nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, alamat. 10.2. Keluhan Utama Kaji adanya keluhan misalnya riwayat haid tidak lancar, dismenorhea, perdarahan, nyeri bawah perut, perut terasa sebah, adanya anemia, sering berkemih, konstipasi atau retensi urine. 10.3. Riwayat Kesehatan Kaji keluhan pasien yang menjadi alasan pasien datang ke pelayanan kesehatan seperti adanya perdarahan nyeri hebat atau terabanya massadi daerah perut. 10.4. Riwayat Tindakan Operasi Kaji riwayat pasien terhadap tindakan pembedahan yang pernah dialami, jenis tindakan, kapan dilakukan tindakan tersebut, dilakukan dimana dan kondisi setelah dilakukan tindakan. 10.5. Riwayat Penyakit yang pernah dialami Kaji penyakit yang diderita pasien seperti riwayat DM, hipertensi, asma, kelainan jantung, TB, riwayat tumor atau kanker, masalah endokrin atau masalah ginekologi. 10.6. Riwayat Kesehatan Keluarga Kaji penyakit keturunan yang dialami keluarga, apakah terdapat anggota keluarga yang juga punya keluhan yang sama, riwayat DM, hipertensi, asma,TB. 10.7. Riwayat Kesehatan Reproduksi Kaji riwayat menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat perdarahan saat menstruasi, keluhan selama menstruasi, dismenorhea, amenorrhea,menopause serta gejala dan keluhan yang menyertai. 10.8. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Kaji riwayat kehamilan, jumlah anak, cara persalinan, kondisi anak saat ini. 10.9. Riwayat Seksual Kaji aktivitas seksual, keluhan yang menyertai seperti perdarahan pasca coitus, jenis kontrasepsi yang digunakan, berapa lama. 10.10. Riwayat Pemakaian Obat Kaji riwayat penggunaan obat yang pernah dikonsumsi, pemakaian obat-obat kontrasepsi oral maupun injeksi, penggunaan obat –obat hormonal. 10.11. Pola Aktivitas Sehari-hari Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, pola eliminasi, pola istirahat, kebersihan diri, tingkat ketergantungan. 10.12. Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi, lihat adanya perbesaran abdomen, apakah ada pembesaran, klinis anemia. 2. Palpasi, apakah teraba massa, dan kaji adanya nyeri tekan pada area bawah atau di abdomen. 3. Perkusi 4. Auskultasi, kaji bunyi jantung, pernapasan, bising usus 10.13. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan lab darah lengkap berkaitan dengan adanya perdarahan, urin, pemeriksaan radiologi, USG, biopsy. 10.14.Keluarga Berencana Kaji pengetahuan pasien tentang KB, diskusikan kontrasepsi apa yang digunakan, jenis kontrasepsi dan kaji adanya keluhan yang menyertainya. 10.15. Riwayat Dirawat Kaji pengalaman hospitalisasi pasien, waktu pengobatan, jika ada tindakan apa yang dilakukan. 10.16. Data Psikososial Kaji support system, pola komunikasi, mekanisme koping dan kemempuan menyelesaikan masalah 10.17. Status Sosial Ekonomi 10.18. Data Spiritual Kaji keyakinan pasien terhadap Tuhan dan dihubungkan dengan kondisi penyakit yang dialami. 11. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul dan dapat ditegakkan antara lain : 11.1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemaparan tentang penyakit dan tindakan operasi. 11.2. Cemas/ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya. 11.3. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflex spasme otot sekunder akibat operasi. 11.4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organism sekunder akibat pembedahan. 11.5. Risiko kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan 12. Rencana Intervensi 12.1. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemaparan tentang penyakit dan tindakan operasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x60 menit, pemahaman pasien mengenai penyakit dan tindakan operasi dapat meningkat. Kriteria hasil : 1. Pasien mengungkapkan pemahaman proses penyakit atau prosedur operasi 2. Ikut serta dalam regimen perawatan Intervensi: 1. Kaji tingkat pemahaman pasien 2. Gunakan sumber – sumber pengajaran sesuai kebutuhan 3. Melaksanakan program pengajaran individual : pembatasan dan prosedur praoperasi, misalnya perubahan urinarius dan usus, pertimbangan diet, perubahan aktivitas, serta control rasa sakit. 4. Sediakan kesempatan untuk latihan tarik napas dalam untuk mengontrol nyeri postoperasi 5. Informasikan orang terdekat mengenai perjalanan rencana operasi, jadwal, ruang operasi, durasi serta keadaan pascaoperasi. 12.2. Cemas/ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya. Tujuan : setelah dilakukan tindaan keperawatan selama 1x24 jam pasien menunjukan penurunan rasa takut dan cemas. Kriteria hasil : kecemasan klien menurun, TTV dalam batas normal Intervensi:

1. Identifikasi tingkat kecemasan dan rasa takut pasien 2. Jelaskan tujuan serta efek samping setiap tindakan atau prosedut operasi 3. Beri kesempatan untuk mengekspresikan rasa cemas 4. Beritahu kemungkinan dilakukannya anestesi dimana rasa pusing atau mengantuk akan muncul 5. Libatkan keluarga untuk member support mental 6. Bicara dengan tenang dan perlahan 7. Beri teknik pengontrolan rasa cemas dengan teknik relaksasi 8. Kolaborasi : obat sedatif jika cemas tidak terkontrol 12.3. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflex spasme otot sekunder akibat operasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan penurunan rasa nyeri dan kemampuan mengontrol rasa nyeri pasca operasi Kriteria Hasil : 1. Pasien melaporkan penurunan rasa nyeri dan kemampuan pengontrolan rasa nyeri 2. Tanda vital normal Intervensi: 1. Kaji dan evaluasi rasa sakit dengan menggunakan skala nyeri 2. Kaji tanda vital, observasi terhadap adanya takikardi, peningkatan frekuensi napas, akral dingin. 3. Atur posisi senyaman mungkin 4. Kaji penyebab ketidaknyamanan selain adanya luka operasi 5. Dorong pengunaan teknik relaksasi, misalnya dengan teknik tarik napas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi. 6. Kolaborasi : pemberian obat analgesic dan observasi efek penggunaannya. 12.4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organism sekunder akibat pembedahan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam infeksi tidak terjadi dan pasien menampilkan tanda bebas infeksi. Kriteria hasil : 1. Tanda vital normal 2. Nilai laboratorium leukosit normal Intervensi: 1. Lakukan teknik aseptic untuk semua tindakan invasive dan ganti balutan 2. Monitor tanda vital 3. Monitor hasil laboratorium yang menunjukkan adanya infeksi (nilai Leukosit) 4. Monitor dan catat tanda dan gejala infeksi 5. Ambulansi dini secara bertahap dan rubah posisi secara regular 6. Observasi daerah pemasangan IV line dan lakukan perawatan IV line 7. Lakukan perawatan DC dang anti atau lepas sesuai indikasi 8. Lakukan ganti balutan secara teratur 9. Anjurkan konsumsi makanan yang bergizi 10. Jaga kebersihan lingkungan sekitar pasien 12.5. Risiko kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jan kekurangan volume cairan tidak terjadi. Kriteria Hasil : 1)Tanda vital stabil 2)Tidak ada tanda dehidrasi

3)Balance cairan seimbang 4)Kulit lembab, turgor baik, mukosa lembab 5)Nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, akral hangat 6)Tidak ada perdarahan 7)Nilai laboratorium Hb dalam batas normal.

Intervensi: 1. Observasi tanda vital, tingkat kesadaran dan adanya perdarahan 2. Ukur dan dokumentasikan input output 3. Observasi tetesan infuse 4. Observasi tanda dehidrasi seperti turgor kulit, membrane mukosa 5. Observasi pemeriksaan laboratorium 6. Kolaborasi : pemberian transfusi PRC PENATALAKSANAAN KLIEN DENGAN MIOMA Klien dengan Mioma

Pemeriksaan fisik dan diagnostic untuk mendukung penegakan diagnose mioma uteri dan kemungkinan komplikasinya

Jelaskan seluruh prosedur pemeriksaan hasil dan rencana tindakan pada pasien.

Penenganan nonoperatif dengan pemeriksaan berkala dan terapi hormonal.

Penanganan operatif

Miomectomi Penatalaksanaan klien dengan mioma (Moore, 2001;Wiknjosastro, 2005)

Histerectomi

PATOFLOW
Genetic & estrogen

Sel otot uterus

Monoklonal neoplasma [Mioma Uteri]

Submukosa polip
nekrotik

Subserosa
Penekanan n Peritoneal

Intramural

dismenore

Perdarahan

Vesika Retensi urin

Tindakan Operatif

Anemi a
Ggn.rasa nyaman:nyeri

Risti kurang vol. cairan

Intoleransi aktivitas

Ggn. Rasa nyaman;nyer i

Ansietas

Nyeri Risti infeksi Risti kurang vol. cairan

DAFTAR PUSTAKA Bobak, dkk. (2004). Buku ajar keperawatan mataeranitas/ pengarang, Bobak, Lowdermilk, Jensen; alih bahasa, Maria A, Peter I, Anugrah; editor edisi bahasa Indonesia, Renata Komalasari. Jakarta: EGC Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku saku diagnose keperawatan.Jakarta: EGC Depkes RI. (2001). Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Depkes RI Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.Jakarta: EGC Kurniawati, W. (2007). Penerapan konsep dan teori keperawatan pada klien mioma uteri dengan rencana operasi histerektomi. Jakarta: FIK UI Murtiningsih. (2005). Laporan residensi ners spesialis keperawatan maternitas dengan penerapan model konseptual dan teori keperawatan pada asuhan keperawatan klien dengan mioma uteri. Jakarta: FIK UI Wiknjosastro, H. ,dkk. (2005). Ilmu kebidanan edisi ketiga. Cetakan kelima. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, FK UI (http://www.scribd.com/doc/7432183/LAPORAN-KASUS-MIOMA, diambil pada hari Jumat, 12 Desember 2009 Pukul 13.00 WIB).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful