You are on page 1of 2

3. ENY KARIM Batu Sangkar, 27 Oktober 1910.

Tamat HIS tahun 1924, MULO (1928) dan MOSVIA (1931) dan B-I Sejarah Bukittinggi 3 tahun, tidak ikut ujian karena diangkat menjadi Menteri Pertanian (1956-1957). Bekerja sebagai pegawai muda kemudian sebagai juru buku Kerajaan Menpawah, Kalimantan (1940). Kemudian pindah ke Sumatera Barat sebagai Pegawai Muda Pamong Praja di Solok, Sawah Lunto, Bukittinggi dan Air Bangis. Setelah kemerdekaan kembali ke Solok sebagai Wakil Bupati, Sekretaris Residen Sumatera Barat di Bukittinggi. Selama Perang Kemerdekaan II mengungsi ke Koto Tinggi dan menjabat Ketua Pertahanan Daerah. Kemudian menjadi Residen yang diperbantukan kepada Gubernur Sumatera Tengah di Bukittinggi (1946). Resien Mr. Sutan Moh. Rasyid baru menggantikan Dr. M. Djamil sebagai Residen Sdumatera Barat ( 21 Julu 1946) Saya sebagai Ketua Volksfront di daerah Solok melakukan berbagai pungutan, dan hasilnya secara priodik dibagikan untuk perjuangan seperti Divisi IX Banteng di Bukittinggi. Sebagai Ketua Volksfront sayasaya melepaskan 9 orang tahanan Jaksa karena dituduh merampas senjata Jepang di daerah Lubuk Silasih. Rumah Tahanan diserbu masyarakat dan bertindak melepas tahanan. Jaksa keberatan dan mengajukan surat keberatan ke Pengadilan Tinggi di Padang, dan Eny Karim minta dukungan Komite Nasional Keresidenan Sumatera Barat yang membenarkan tindakan saya, untuk perjuangan. Pada subuh 3 Maret 1947 datanglah satu peleton tentara palsu menculik Eny Karim, lalu dibawa ke Birugo Di tempat itu didapat Dr. A. Rosma dan isterinya. Tidak lama kemudian datang tentara lain membebaskan kami bertiga dan membawa ke Hotel Merdeka dan dijumpai kawan-kawan yang sama diculik, seperti A.Gaffar Jambek, Anwar Sutan Saidi, Taher Samad, disusul tahanan-tahanan lain yang diculik di payakumbuk dan daerah lain. Penangkapan ini adalah dalam *Peristiwa 3 Maret 1947 Dalam Perang Kemerdekaan (Agressi ke2) setelah mengungsi ke Koto Tinggi diangkat menjadi Ketua Dewan pertahanan Daerah berkedudukan di tempat Gubernur

Militer Sumatera barat dan Riau, Mr. Mohammad Rasyid. Padatanggal 14 November 1949 diangkat menjadi penghubung Pemerintah Sipil dengan Militer Belanda di Bukittinggi, merangkap menjadi Wali Kota Bukittinggi. Tahun 1955 diangkat menjadi Residen diperbantukan kepada Gubernur Sumatera tengah, Prof. Mr. M. Nasrun yang mengalami kesukaran dengan DPRD Sumatera Tengah dan digantikan oleh Gubernur Ruslan Mulyohardjo yang juga mengalmi kesukaran politik dengan berdirinya Dewan Banteng. Pada Tahun 1957 Gubernur Ruslan Mulyohardji digantikan oleh Ketua daerah Sumatera Tengah, Letnan Kolonel Ahmad Husein. Saya ditangkap dan ditahan dan dilepaskan di Muara Labuh. Ia terus ke Jakarta. Saya bersama Djuir Muhammad melalui hutan Banko, Lubuk Linggau< Palembang, dan sampai ke Jakarta. Pada tahun 1956 -1957 menjadi Menteri Pertanian pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Pada tahun 1958 menjadi Kepala Direktorat Otonomi dan Desentralisasi Departemen Dalam Negeri. Pada tahun 1962, jadi Sekretaris Jendral Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Pensiun pada tanggal 1 Oktober 1967.

Sumber: Markas Legiun Veteran RI, Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan IV, Cetakan I, Jakarta 1991