You are on page 1of 4

BAGINDO TAN LABIH (1897-1888)

-SAN-

Bagindo Tan Labih, berasal dari Kurai Taji, Pariaman. Ia adalah orang
semenda dari Tuanku Imam Bonjol yang kawin dengan kemenakannya yang
dipanggil Kak Uwo Raya oleh Naali Sutan Caniago, anak kandung Tuanku Imam
Bagindo Tan Labih juga dubalang dan pengawal Tuanku Imam Bonjol yang sama-
sama dibuang ke Cianjur, Ambon, dan meninggal di Manado pada tahun 1888.

Nama Bagindo Tan Lobe menurut lidah Belanda tampil di tengah masa
peperangan berkecamuk antara pasukan Belanda dengan pasukan hulubalang Tuanku
Imam Bonjol pada tahun 1835. Pada suatu hari datanglah Bagindo Tan Labih dan
Bagindo Saidi membawa sepucuk surat dari Residen Belanda, Francis, di Padang.
Francis menganjurkan agar Tuanku Imam menghentikan perlawanan dan tunduk
kepada Wakilnya Steinmetz.

Setelah Tuanku Imam Bonjol dan rombongannya keluar dari benteng


Bonjol,mereka mengungsi ke Koto Marapak. Kemudian terus ke rimba yang disebut
Bukit Gadang. Pada suatu hari, di tempat pengungsian Bukit Gadang, Tuanku Imam
berunding dengan Tuanku Haji Tuo dan Sutan Caniago. Yang dibicarakan tentang
tawaran yang disampaikan Residen Francis dulu. Mereka sepakat agar Sutan Caniago
berunding sebagai wakil Tuanku Imam ditemani oleh Bagindo Tan Labih dan Sutan
Saidi.

Dalam perjalanan, di Pasir Lawas mereka bertemu Tuanku Manis, murid Tuanku
Imam Bonjol. Keduanya dibawa menemui kontelir Tulp. Tiga hari kemudian
datanglah Jaksa dari Bukittinggi menemui utusan Tuanku Imam Bonjol itu. Jaksa
minta agar Sutan Caniago berunding dengan Arbacht, Asisten Residen Bukittinggi.
Selesai berunding dengan Residen Agam di Bukittinggi, Sutan Caniago, Bagindo Tan
Labih dan Sutan Saidi diantar oleh Jaksa itu sampai ke Palupuh. Dengan hati-hati
mereka sampai ke Bukit Gadang, tempat pengungsian Tuanku Imam.

Pada malam harinya, terjadi perpisahan antara Tuanku Imam dengan Sutan
Caniago, karena ia akan tinggal bersama kaum keluarganya. Setelah sembahyang
subuh, Tuanku Imam berangkat bersama Abdul Wahab (Durahap), Sutan Saidi,
Bagindo Tan Labih, dan si Gelek, tukang meriam di Bukit, bekas pasukan Sentot
Prawirodirjo. Sikap dan ketelitian Bagindo Tan Labih sebagai dubalang Tuanku
Imam terlihat ketika rombongan tiba di Kampung Ateh. Seorang datang mendekat
kepada mereka, segera ditanya oleh Bagindo Tan Labih, "Siapa itu?" Orang itu
menjawab, "Saya Janggut Putih." Untuk membuktikan kebenarannya, Bagindo Tan
Labih menanyakan nama anaknya, yang dijawabnya, "Simarasuk"

Tuanku Imam menghentikan perlawanan dan dalam perundingan di Palupuh


kemudian diperdayakan Belanda. Ia ditangkap serta diperlakukan sebagai tawanan,
dibawa ke Bukittinggi. Selama di Bukittinggi mereka tinggal di rumah Residen
Steinmetz dengan penjagaan ketat dari pasukan Tuan Gadang di Batipuh. Pada hari
keempat, Tuanku Imam ditandu sampai di Padang. Tuanku Imam dibuang bersama
seorang anaknya Sutan Saidi, kemenakannya Abdul Wahab gelar H, Muhammad
Amin, seorang semenda Bagindo Tan Labih, serta seorang Jawa yang setia, Gelek.
Di rumah Assisten Residen yang dijaga oleh orang Batipuh. Bagindo Tan Labih
keluar rumah. Ia ditangkap dan diikat oleh penjaga pasukan Tuan Gadang Batipuh.

Tuanku Imam bersama pengawalnya Bagindo Tan Labih, anaknya Sutan Saidi
dan pengikut setia Gelek dibuang mula-mula ke Cianjur, kemudian ke Ambon. Pada
tahun 1840, Tuanku Imam, bersama H. Muhammad Amin, Bagindo Tan Labih dan
Gelek dibuang ke Manado dan ditempatkan di Komba. Kemudian pindah ke Koka
dan terakhir di Lotak Pineleng, 9 km dari Manado.

Tunjangan yang diterima Tuanku Imam Bonjol dari Pemerintah Belanda


disisihkannya sebagian sehingga ia dapat membeli sebidang tanah di Koka, 3 km
dari Manado, dari Tuan Agisir seharga 168 gulden 80 kepeng. Bagindo Tan Labih
dikawinkan dengan seorang gadis Minahasa yang bernama Watok Pantow. Tanah itu
diberikan Tuanku Imam Bonjol sebagai mahar perkawinan Bagindo Tan Labih
dengan Watak Pantow.

Tanah seluas satu hektar itu sampai saat ini menjadi tanah pusaka atau tanah
kalakeran (tana'ni pangeran) oleh seluruh keturunan Bagindo Tan Labih yang
bersebaran di Manado. Keturunan Bagindo Tan Labih di Sulawesi Utara memakai
nama keluarga (faam) Bagindo atau tete baginda. Tana ini pangeran dijadikan
sebagai tali pemikat bagi keturunan Bagindo Tan Labih di Koka. Mereka
menyebutnya tanah milik berbanyak orang dari satu famili, semacam tanah pusaka
di Minangkabau.
Pada saat ini 60% dari penduduk Koka adalah keluarga Bagindo dan beragama
Kristen. Yang pindah ke Pineleng, Malalayang dan kampung Banjar tetap memeluk
agama Islam. Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia di Lotak, 6 November 1854
(berdasarkan laporan Residen Manado kepada Gubernur Jendral 13 November 1854
No. 1847). Setelah Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia, berdasarkan Keputusan
Residen Manado tunjangannya dibagikan kepada:

1) Sutan Sidi sebesar f. 20 dan 40 pond beras

2) Abdul Wahab f. 7,60 dan 20 kg beras

3) Bagindo Tan Lobe f 9.45 dan 20 kg beras,

Sutan Saidi dan Abdul Wahab diizinkan pulang ke Sumatra Barat atas biaya
pemerintah Belanda, sedangkan Bagindo Tan Labih tetap tinggal di Minahasa,
keresidenan Manado.

Pada tanggal 10 Januari 1882, pada saat Bagindo Tan Labih berumur 85 tahun,
ia bermohon kepada Gubernur Jendral Nederlandsche Indie di Bogor meminta
tambahan onderstandnya, karena ia telah tua dan lemah. Empat puluh tahun lamanya
ia di tanah buangan dan meninggal dunia pada tahun 1888. Bagindo Tan Labih
meninggalkan seorang isteri (Watok Pantow) dan 7 orang anak, tiga orang laki-laki
dan empat orang perempuan. Mereka memakai nama faam (keluarga ) Bagindo, yaitu
Mahmud Baginda, Ibrahim Baginda, Maryam Baginda, Aminah Baginda, Latifah
Baginda, dan Yusuf Baginda. Lima orang yang melanjutkan fam (keluarga) Baginda
sampai beribu-ribu orang yang tersebar di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan
Ambon.

Tak heran, jika seorang penulis yang mengatakan sejarah perjuangan Tuanku
Imam Bonjol berakhir di Lotak Pineleng. Dengan kehadiran Bagindo Tan Labih,
meninggalkan belahannya di Koka berupa keluarga baginda, silat baginda dan
sebidang tanah pusaka (kalakeran) sebagai alat pemersatu keluarga Baginda di tanah
Minahasa, dan sebagai bukti adanya hubungan dengan tanah leluhur Minangkabau
akibat kontak dua subkultur kebudayaan.

Sumber: Sjafnir Aboe Nain, drs, Naskah Naali Sutan Caniago- Naskah Tuanku Imam Bonjol,
alih tulis, Padang, 1992
------, Laporan Studi Perbandingan, Lotak Pineleng Makam Tuanku Imam Bonjol di
Sulawesi Utara, Padang 1983
J.P. Thoy, Menyingkap Sejarah Masyarakat Islam di desa Pineleng, tesis Sarjana
Pendidikan
FKPS-IKIP Manado, 1968