You are on page 1of 2

Prof. Dr.

HARSJA BACHTIAR
H a r s j a Bachtiar berasal dari keluarga pendidikan. Ibunya Siti Nasibah, adalah seorang guru TK. Ayahnya H. Sutan Adam Bachtiar, juga seorang yang terkenal, berasal dari Pariaman. Harsja Wardhana Bachtiar atau yang dikenal sebagai Prof. Dr. Harsja Bachtiar, lahir di Bandung pada tanggal 3 Mei 1934. Ia masuk TK di Magelang. Selama dua tahun ia bersekolah di Europesche Larege School, kemudian tahun 1943 ia pindah ke Jakarta. Sekolah Dasar diselesaikannya di Sekolah Rakyat Majoemi (Sekolah Cikini). Ia tamat dari sekolah ini tahun 1947, yang pada waktu itu Jakarta dikuasai oleh Belanda. Ia masuk SMP Republik dari tahun 1947-1950. SMA juga diselesaikannya di Jakarta pada tahun 1953. Pendidikan selanjutnya adalah Seksi B (Sosiologi) Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik, Universitas Amsterdam pada tahun 1953-1955 dan pernah pula kuliah di Cornell University, Amerika Serikat dan Harvard University, la memperoleh gelar Doktor pada tahun 1973 dan di Harvard University Cambridge, Mass, Amerika Serikat dalam Sosialogi. Disertasi untuk gelar Doktor ini berjudul The Formation of the Indonesian Nation. Harsja Bachtiar menikah tahun 1962 dengan gadis Bandung bernama Sawiah Soemardja, yang lulusan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung dan lulusan program D4 Penerjemah Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Dari perkawinannya dengan Sawiah, ia memperoleh tiga orang anak, dua pria dan seorang wanita. Masing-masing adalah lr. Andi Wardhana Bachtiar, lahir di Amerika Serikat tahun 1964, drg. Chaerani Wardhana Bachtiar, juga lahir di Amerika Serikat tahun 1965 dan yang terkecil Emir Wardhana Bachtiar, lahir di Jakarta tahun 1969. Harsya belajar dengan beasiswa dari Pemerintah Rl di Belanda. Namun pada kurun waktu itu terjadi ketegangan dengan Belanda. Ia ditugaskan belajar ke Amerika Serikat dan di sanalah ia memeperoleh gelar MA, dan kemudian Doktornya. Di Amsterdam, ia juga belajar bahasa, sastra Cina, sejarah dan falsafah Cina. Belajar kebudayaan dan bahasa Cina itu ketika ia masih mahasiswa, bersama dengan seorang mahasiswa Amerika. Ia sempat menjadi Dekan Fakultas Sastra, bahkan tiga kali masa jabatan. Kemudian ia digantikan oleh Prof. Dr. Haryati Sudabio. Bersamaan itu, ia juga menjadi Asisten Direktur, Pejabat Direktur Lembaga

Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari tahun 1967-1975. Walaupun ia pernah menjelajahi Sosiologi bahkan belajar kebudayaan dan bahasa Cina, dengan terus terang diakui bahwa ia tidak bisa berbahasa Minang. (MF)