BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dewasa ini pembangunan di Indonesia antara lain diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sangat diperlukan dalam pembangunan bangsa khususnya pembangunan di bidang pendidikan. Dalam era globalisasi ini, SDM yang berkualitas akan menjadi tumpuan utama agar suatu bangsa dapat berkompetisi. Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan formal merupakan salah satu wahana dalam membangun SDM yang berkualitas. Pendidikan IPS sebagai bagian dari pendidikan formal seharusnya ikut memberi kontribusi dalam membangun SDM yang berkualitas tinggi. Tujuan pendidikan dapat dicapai jika guru mampu memilih metode mengajar yang sesuai, efektif dan efisien sehingga siswa dapat menguasai materi yang diberikan dengan baik. Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif jika tujuan pembelajaran tercapai. Semakin tinggi tingkatannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, semakin efektif metode itu. Sedangkan suatu metode dikatakan efisien apabila penerapannya dalam mencapai tujuan yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, pengeluaran biaya dan waktu minimum. Oleh sebab itu untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan seorang guru harus memilih metode mengajar yang tepat atau sesuai dengan materi dan baik. Metode mengajar ialah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh seorang guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara klasikal agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Pendapat lain menyatakan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diuraikan bahwa metode mengajar adalah cara mengajar yang digunakan oleh guru untuk

1

menyampaikan materi pelajaran kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Secara universal IPS adalah ilmu yang mendasari pengetahuan sosial manusia, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan pengetahuan dan pola pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi, informasi dan komunikasi dewasa ini tidak akan berkembang tanpa didukung dan dilandasi oleh pengetahuan sosial. Untuk menguasai dan mengendalikan dunia, negara-negara maju tidak hanya menciptakan teknologi tetapi juga menguasai dan memahami IPS yang bermanfaat dalam mengembangkan teknologi. Oleh karena itu untuk menjadi bangsa yang besar dan maju, tidak hanya diperlukan pemahaman terhadap IPA atau SAINS saja tetapi juga pemahaman IPS secara dini tehadap anak bangsa. Mata pelajaran IPS perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari Sekolah Dasar untuk memberikan pengetahuan kepada peserta didik agar dapat menghayati suatu kejadian nasional dan internasional, mengetahui kekayaan alam dunia, mengetahui kondisi politik dan ekonomi dunia. Sehingga siswa dapat mencerna, berfikir, menanggapi permasalahan, dan mampu memberikan solusi secara afektif dan psikomotor yang dapat membentuk pola pikir dan perilaku manusia. Dengan metode yang lama banyak siswa beranggapan bahwa pembelajaran IPS sangat membosankan karena metode pembelajaran yang digunakan yaitu metode konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru dan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan mengemukakan pendapatnya. Padahal dalam tujuan pembelajaran diharapkan siswa memahami terhadap apa yang dipelajari, sehingga dibutuhkan penerapan dan pengembangan model secara optimal agar mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk itu perlu pembaharuan dalam metode pembelajaran khususnya pembelajaran IPS. Pada saat ini ada beberapa model pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruksivistik yang berkembang, antara lain cooperative learning (pembelajaran kooperatif). Cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan

2

sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur (Lie, 2002:12). Beberapa ahli menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep, tetapi juga membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerja sama, bertanggung jawab terhadap sesama teman kelompok untuk mencapai tujuan kelompok, berpikir kritis dan mengembangkan sikap sosial siswa. Menurut Lie (2002:53-72), Cooperative learning memiliki banyak teknik antara lain : mencari pasangan (make a match), bertukar pasangan, berpikirberpasangan-berempat (think-pair-share and think-pair-square), berkirim salam dan soal, kepala bernomor (number heads), dan lain-lain. Salah satu teknik yang disebutkan di atas adalah peggunaan media televisi murid-murid dalam suatu kelas bisa juga disebut satu kelompok / kesatuan tersendiri dipandang dari kesatuan sekolah, atau murid dalam suatu kelas dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Dengan demikian kerja kelompok / gotong royong sebagai model, dapat dipakai mengajar untuk mencapai bermacam-macam tujuan. Yang paling penting di dalam kelompok / gotong royong harus terdapat hubungan timbal balik antara individu saling mempercayai. Penggunaan media televis tepat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut : a). Apabila kelas memiliki alat / sarana pendidikan yang terbatas misalnya kelas hanya memiliki beberapa buah buku yang diinginkan sedangkan jumlah murid cukup besar. Karena itu agar dapat melaksanakan tugas tersebut para murid harus dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah buku yang tersedia untuk dipelajari bersama. b). Apabila terdapat perbedaan kemampuan individual anak-anak dalam belajar. Dalam hal ini anak yang kurang pandai dapat bekerja sama dengan yang lebih pandai, dapat juga bekerjasama dengan anak-anak yang setaraf dengannya. c). Apabila terdapat perbedaan kemampuan individual anak-anak dalam minat belajar misalnya dalam bidang kesenian, ada yang gemar seni suara, seni tari, seni lukis dan sebagainya. Adapun pengelompokan diharapkan akan lebih banyak memberikan kesempatan untuk mengembangkan minat masing-masing anak.

3

d). Apabila unit pekerjaan perlu diselesaikan dalam waktu bersamaan, atau bila suatu pekerjaan lebih tepat untuk diperinci sehingga kelas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok / secara gotong royong. Menurut jenis kebutuhan masing-masing yang kemudian masing-masing kelompok bertanggung jawab terhadap tugas khusus tersebut. Kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan. Peranan pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, dan demokratis, sehingga pembaharuan pendidikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus adaptasi terhadap perubahan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (Soeparman, 1995:2 ). Peranan pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, dan demokratis, sehingga pembaharuan pendidikan, harus dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus adaptasi terhadap perubahan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nurhadi: 1). Masalah pendidikan merupakan hal yang sangat kompleks. Ini berarti dalam pencapaian tujuan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses pendidikan, salah satunya proses belajar mengajar. Ada beberapa faktor yang berperan dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar khususnya, matematika. Proses kegiatan pembelajaran, dengan model cooperative learning membutuhkan perhatian demi tercapainya peningkatan hasil belajar. Salah satu faktor tersebut adalah proses kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran, intinya adalah kegiatan belajar para peserta didik (Sudjana,1990: 153 ). Pemerintah Indonesia melalui Deperteman Pendidikan Nasional telah melaksanakan berbagai cara untuk mengembangkan sistem Pendidikan yaitu

4

dengan mengeluarkan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional. Undang-undang No 20 tahun 2003 ayat 1 menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Depdiknas,2003:1) Masalah pendidikan merupakan hal yang sangat komplek, ini berarti dalam pencapaian tujuan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses pendidikan, salah satunya adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa. Sudjana (2002:153) berpendapat bahwa inti dari proses pengajaran adalah kegiatan belajar peserta didik. Tinggi rendahnya kadar kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yang digunakan oleh sebab itu pendekatan belajar yang baik hendaknya melibatkan peserta didik untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti secara lebih mendalam mengenai pengaruh media televisi terhadap hasil belajar yang dapat diperoleh siswa pada mata pelajaran IPS, yang dirumuskan dalam kalimat judul : PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA TELEVISI PADA BIDANG STUDI IPS MATERI” PERISTIWA ALAM DI INDONESIA DAN DI NEGARA TETANGGA ” UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SDN WALIDONO 03 PRAJEKAN BONDOWOSO SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2008/2009 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : 1. Bagaimana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melalui penggunaan media televisi untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada siswa kelas VI

5

SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009? 2. Apakah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melalui penggunaan media televisi dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada siswa kelas VI SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009? 3. Bagaimana efektivitas penerapan metode cooperative learning dengan penerapan media televisi dalam bidang studi IPS di kelas VI SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Mengkaji sejauhmana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melalui penggunaan media televisi untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada siswa kelas VI SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009. 2. Mengkaji lebih jauh pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melalui penggunaan media televisi dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada siswa kelas VI SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009. 3. Untuk mengkaji ada tidaknya peningkatan aktifitas dan hasil belajar bidang studi IPS melalui penerapan model cooperative learning dengan teknik penerapan media televisi. 4. Meningkatkan kemampuan guru dalam penerapan metode cooperative learning dengan penerapan media televisi pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. 5. yang ada di kelas VI. Untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

6

6. televisi. 7. dalam pembelajaran. 1.4 Hipotesis Penelitian

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS

melalui model pembelajaran cooperative learning dengan penerapan media Agar guru dapat meningkatkan strategi

pembelajaran IPS dengan model yang tepat guna untuk mencapai tujuan

Dalam penelitian, hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti atau merupakan dugaan yang belum diteliti kebenarannya. Dari latar belakang di atas, maka hipotesis alternatifnya yaitu :  Penerapan model Cooperative Learning dengan teknik penerapan media televisi dalam bidang studi IPS di kelas VI SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dapat meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa. 1.5 Definisi Operasional Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran yang akan digunakan dalam penelitian ini maka penting untuk menentukan definisi operasional. Adapun hal yang perlu didefinisikan secara operasional sebagai berikut : 1. Media pembelajaran adalah alat atau teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi, maka kita membutuhkan suatu alat yang disebut media. Media yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar ada beberapa macam seperti media gambar, peta, media peraga dan lain-lain. Audio visual televisi termasuk media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pendidikan. Maksud dari penggunaan televisi adalah penggunaan media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dan digunakan secara optimal sehingga pesan atau informasi pelajaran dapat di serap dan dipahami oleh siswa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

7

2. Aktivitas belajar merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang melibatkan interaksi antara siswa dengan sesamanya, antara siswa dengan guru sehingga dapat terjadi komunikasi yang baik di dalam kelas. Dengan adanya komunikasi yang baik di kelas diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi siswa berupa peningkatan hasil belajar. 3. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah dia menerima pengalaman belajar. Hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang menyangkut bidang kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990). Hasil belajar yang diperoleh oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran tidak terbatas dari segi pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi juga meliputi sikap dan ketrampilannya. Fungsi utama di prestasi belajar yang merupakan hasil belajar siswa antara lain adalah : 1. sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai siswa; 2. sebagai pemuasan hasrat ingin tahu; 3. sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan dengan asumsi dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan; 4. sebagai indikator intern dan ekstern dari institusi pendidikan; 5. dapat dijadikan indikator terhadap daya serap peserta didik (Arifin, 1991). Hasil yang diperoleh dari pengetahuan dan keterampilan, perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang dialami sebelumnya. 1.6 Manfaat Penelitian Pelaksanaan penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat, yaitu : 1. Bagi peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan bagi peningkatan kualitas pembelajaran IPS di sekolah.

8

2. Bagi tenaga pendidikan, sebagai kontribusi untuk mengembangkan pendidikan khususnya di sekolah ini pada umumnya di lembaga pendidikan lainnya. 3. Bagi guru, penggunaan media televisi dapat membantu guru dalam menjelaskan materi dalam ruang luas. 4. Bagi siswa dapat memberikan motivasi untuk lebih tertarik mempelajari IPS, sehingga dalam proses belajar mengajar siswa bersemangat dalam menerima materi. 5. Bagi penulis, sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam mengembangkan strategi pembelajaran serta menambah wawasan penelitian pendidikan. 6. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan referensi untuk penelitian yang selanjutnya atau penelitian yang sejenis.

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembelajaran IPS Pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap antara siswa dengan guru yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 1999:57). Menurut Dimyati, dkk (1999:159) pembelajaran pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa yang dikembangkan melalui pengalaman belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan memberi bantuan atau pertolongan kepada siswa agar siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap atau tingkah laku setelah pembelajaran selesai. IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai SD sampai SMP yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan sosial. IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi (Dinas Pendidikan Nasional, 2006: 125). Pembelajaran IPS merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar antara siswa dengan guru tentang teori yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan itu antara lain meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang dikembangkan melalui pengalaman belajar. Jadi pembelajaran IPS tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal dan memahami

10

peristiwa, fakta dan konsep saja tetapi siswa juga harus mampu mengaplikasikan suatu makna materi IPS ke dalam kehidupan sehari-hari. Adapun ruang lingkup dalam pembelajaran IPS tersebut diatas adalah sebagai berikut : “Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”  Peristiwa alam di Indonesia • • • • Keadaan alam wilayah Indonesia Peristiwa alam yang menguntungkan dan merugikan Peristiwa alam yang terjadi di Indonesia Daerah rawan bencana di Indonesia

 Daerah rawan gempa    Daerah pertemuan antarlempeng Daerah patahan Daerah titik-titik gunung berapi

 Daerah rawan kebakaran hutan dan banjir  Peristiwa alam di negara-negara tetangga •  Malaysia  Singapura  Filipina  Thailand  Brunei Darussalam • tetangga • Sikap peduli terhadap bencana alam Bencana alam yang terjadi di negara-negara Peristiwa alam negara-negara tetangga

11

Gejala Alam di Indonesia Dan Negara Tetangga terjadi di

Darat

Laut

Terdapat berbagai peristiwa alam antara lain banjir, ombak besar, gempa Memengaruhi kondisi alam dan kondisi sosial penduduk

Adapun tujuan dari pembelajaran IPS dengan materi “Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga” adalah siswa diharapkan dapat :

12

1. Menemutunjukkan pada peta letak dan nama negara-negara tetangga Indonesia 2. Menguraikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia 3. Menguraikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di negara-negara tetangga 4. Membandingkan ciri-ciri gejala alam Indonesia dengan negara-negara tetangga 5. Menemutunjukkan penyebabnya 6. Mendeskripsikan kondisi akibat dari adanya bencana alam 7. Menjelaskan cara-cara menghadapi bencana alam jenis bencana alam di Indonesia dan faktor

2.2 Model Pembelajaran Media diartikan sebagai alat bantu atau media komunikasi, yaitu segala sesuatu yang membawa informasi (pesan-pesan) dari sumber informasi kepenerimanya (Hamalik, 1994:22-23). Pendapat lain menyebutkan media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran demi terciptanya tujuan pendidikan (Arsyad, 1997:2). Media pendidikan juga merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik (Danim, 1994:12). Berdasarkan pengertian media diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang memberikan pesan kepada penerima dalam proses pembelajaran guna tercapainya tujuan pendidikan. Jenis media pembelajaran meliputi : a. Papan tulis; b. Bulletin board dan display; c. Gambar dan ilustrasi fotografi; d. Slide dan filmstrip; e. VCD; f. Rekaman pendidikan;

13

g. Radio; h. Televisi; i. Peta dan globe; j. Buku pelajaran; k. Overhead projector; l. Tape recorder. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perlunya media pendidikan dalam kegiatan pembelajaran seperti tersebut dibawah ini : 1. Terlalu, benda yang terlalu besar tentu tidak mungkin dihadirkan secara langsung didalam kelas; 1 Beberapa obyek organisme atau benda yang terlalu kecil seperti protozoa dan bakteri tidak mungkin diamati tanpa menggunakan media tertentu, misalnya mikroskop; 2 Gejala-gejala yang terlalu lambat gerakan atau perubahannya tidak mudah dilihat. Dengan media pendidikan, misal fotografi, maka gejala tersebut dapat dipelajari, diamati atau terekam; 3 4 5 6 Benda-benda dan hal-hal yang proses terjadinya terlalu cepat, sukar diamati. Dengan menggunakan media pendidikan, maka akan dapat diperlambat; Hal-hal yang terlalu kompleks dapat disederhanakan; Bunyi suara yang terlalu halus yang tidak mungkin didengar, dengan media pendidikan dapat didengar Hal-hal lain seperti iklim, terbentuknya sebuah lembah, tiupan angin, pergantian musim dan hal-hal lain dapat dilihat proses terjadinya menggunakan media pendidikan tertentu (Hamalik,2004). Mengingat IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang penting untuk diajarkan dan merupakan mata pelajaran yang kurang diperhatikan oleh siswa, maka guru yang profesional akan berusaha untuk menarik siswa dengan berbagai cara, yaitu dengan penggunaan alat bantu. Media pendidikan merupakan alat untuk membantu pengajar atau siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Pengajar atau guru sangat dominan peranannya atau memegang kendali dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. Pandangan bahwa media pendidikan merupakan salah satu sumber belajar karena mampu menyampaikan

14

pesan-pesan instruksional kepada siswa adalah salah satu prinsip yang penting dalam teknologi pendidikan (Endang Sunaryo, 1996:4). 2.3 Pengaruh Penggunaan Media Televisi Terhadap Hasil Belajar Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepada siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai – tidaknya tujuan pengajaran (Sudjana dkk, 2002:1). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kedudukan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar ada dalam komponen metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru. Teknologi pendidikan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat relevan bagi kepentingan pendidikan. Teknologi pendidikan memungkinkan adanya : 1. Penyebaran informasi secara luas, merata, cepat, seragam dan terintegrasi, sehingga dengan demikian pesan dapat disampaikan sesuai dengan isi yang dimaksud. 2. Teknologi pendidikan dapat menyajikan materi secara logis, ilmiah dan sistematis serta mampu melengkapi, menunjang, memperjelas konsepkonsep, prinsip-prinsip atau proposisi materi pelajaran. 3. Teknologi pendidikan menjadi partner guru dalam rangka mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif, efisien dan produktif sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan anak didik. 4. Teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, dapat menyajikan materi secara lebih menarik, lebih-lebih jika disertai dengan kemampuan pemanfaatannya (Danim, 1994:3-4). Sungguh pun demikian media sebagai alat dan sumber pengajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya, artinya media tanpa guru suatu hal yang

15

mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan yang telah diperlukan oleh siswa. Media televisi ataupun media audio visual lainnya yang digunakan dalam proses pembelajaran memiliki kelebihan atau kebaikan. Kelebihan dari media ini adalah : 1. Menarik minat atau perhatian siswa untuk belajar; 2. Demonstrasi yang sulit untuk diperagakan bisa direkam sebelumnya; 3. Menghemat waktu karena bisa diputar ulang; 4. Bisa mengamati gambar yang bergerak; 5. Keras lemahnya bisa diatur; 6. Gambar yang belum jelas bisa dihentikan sejenak; 7. Ruangan tidak perlu digelapkan (Sardiman, 1996). IPS di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran yang membutuhkan penanaman konsep dasar dengan melibatkan peristiwa nyata di sekeliling kita sebagai sumber belajar. Oleh karena itu media televisi sangatlah tepat untuk membantu minat siswa menghadirkan peristiwa nyata ke lingkungan belajar / kelas sehingga siswa merasa senang dan aktif dalam belajar. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran yang artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa, sangat jelas sekali bahwa penggunaan media televisi sangatlah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media televisi sangat efektif dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan penggunaan media ini tidak memerlukan waktu yang lama dan penggunaannya dapat dikontrol oleh guru. Bukan hanya itu saja, media televisi ini dapat meningkatkan kreatifitas berpikir siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pemilihan metode dan media yang digunakan dalam proses belajar mengajar dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Walaupun pengajaran menggunakan metode diskusi, namun jika dibantu

16

dengan menggunakan media akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Menjalankan metode pengajaran untuk memperbaiki mutu pelajaran harus didukung berbagai fasilitas, sumber dan tenaga pembantu. Belajar dengan menggunakan televisi membuat siswa menjadi ikut berpikir sehingga muncul berbagai pertanyaan, berangkat dari situ siswa menjadi aktif dan tidak bosan untuk mengikuti pelajaran IPS, sehingga IPS bukan lagi dianggap sebagai pelajaran yang membosankan. 2.4 Hasil Belajar (Prestasi Belajar ) Prestasi belajar adalah keberhasilan yang dicapai dalam belajar dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan tingkah laku yang mengarah penguasaan pengetahuan, kecakapan dan kebiasaan serta sikap, berkat adanya pengalaman latihan. Prestasi belajar atau hasil yang telah dicapai sebagai akibat dari kegiatan belajar dapat dilihat dari perubahan tingkah laku siswa. Perubahan itu terjadi melalui proses dari belum tahu menjadi tahu. Jadi seseorang yang telah banyak mengalami perubahan berarti dia sudah banyak belajar. Akan tetapi bukan berarti bahwa setiap perubahan merupakan hasil dari belajar. Perubahan-perubahan hasil tersebut adalah perubahan dalam bidang pemahaman, kebiasaan dan sikap. Sebagaimana dikemukakan oleh Roestiyah (1982 : 140) bahwa, “hasil belajar adalah perubahan individu dalam hal kebiasaan, pengetahuan dan sikap”. Disamping itu menurut Winkel (1986:102) “perubahan hasil belajar adalah terjadinya perubahan yang dapat diketahui dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan atau soal atau tugas-tugas yang diberikan oleh guru”. Sumartono (1991:18) juga berpendapat bahwa “prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar yang dicapai sesuai dengan kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu”. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar mata pelajaran IPS adalah suatu bukti keberhasilan yang dicapai sebagai hasil belajar atau pengalaman latihan pada program IPS. Sedangkan prestasi belajar yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini meliputi nilai harian. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR

17

Prestasi belajar merupakan hasil dari perbuatan individu sendiri yang belajar. Sebab pada dasarnya prestasi merupakan hasil belajar siswa yang dicapai dari kegiatan belajar mata pelajaran IPS di sekolah. Dalam kegiatan sudah barang tentu akan ada faktor penghambat atau penunjang, maka seberapa jauh faktorfaktor tersebut saling mempengaruhi tergantung dari jenis kegiatan yang dilakukan. Dengan mempengaruhi faktor-faktor penghambat dalam belajar, maka guru siswa hendaknya mampu mengatasi hambatan-hambatan itu untuk mencapai tujuan pengajaran atau tujuan pendidikan. Sumadi Suryabrata (1982 : 6-13) mengatakan bahwa, “faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar siswa”. Secara rinci faktor-faktor tersebut diuraikan sebagai berikut : 1. Faktor dari dalam diri siswa Faktor dari dalam diri siswa meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan jasmaniah siswa, sedangkan faktor psikologis adalah faktor yang berhubungan dengan rohaniah siswa. • Faktor fisiologis Hal ini sangat berpengaruh pada umumnya adalah faktor kesegaran jasmaniah, misalnya kelelahan, kekurangan gizi dan tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra. Seseorang yang belajar dalam keadaan lelah akan berbeda dengan orang yang belajar dengan kondisi segar. Demikian juga anak yang kekurangan gizi akan lekas lelah dan mudah mengantuk pada waktu menerima pelajaran jika dibanding dengan anak yang tidak kekurangan gizi. Pendengaran dan penglihatan juga sangat berpengaruh, karena dalam belajar kita memfungsikan kedua alat indera tersebut untuk membaca, melihat contoh atau metode, mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan ceramah dan lain sebagainya. • Faktor psikologis

18

Hal yang utama berpengaruh dalam belajar adalah minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan berpikir kognitif. Secara singkat faktorfaktor tersebut diuraikan sebagai berikut : • Minat Seseorang yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. • Kecerdasan Kecerdasan besar peranannya dalam berhasil tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti program pendidikan. Orang cerdas cenderung lebih mampu belajar daripada yang tidak. • Bakat Selain kecerdasan faktor lain yang menunjang adalah bakat, seseorang yang belajar sesuai dengan bakatnya lebih besar kemungkinan ia akan berhasil. • Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yag mendorong seseorang melakukan sesuatu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar akan meningkat jika motivasi belajar bertambah. Ada dua motif yaitu : motif intrinsik yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan, sedangkan motif ekstrinsik adalah motif yang berasal dari luar diri orang bersangkutan. • Kemampuan kognitif Hal yang utama dalam hal ini adalah persepsi, ingatan dan berpikir. Karena kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, dalam mengingat dan dalam berpikir besar pengaruhnya terhadap hasil belajar. 2. Faktor dari luar diri siswa Sumadi Suryabrata (1989 : 8-10) mengatakan bahwa “faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dari luar diri siswa terdiri dari faktor lingkungan dan instrumental”. Secara singkat faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

19

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan alami dan sosial. Lingkungan alami meliputi keadaan suhu dan kelembaban, karena seseorang yang belajar dalam keadaan suhu yang segar akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Di Indonesia orang cenderung berpendapat bahwa belajar pada pagi hari akan lebih baik hasilnya daripada belajar pada sore hari. Sedangkan lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar seperti suara pabrik, hiruk-pikuk lalu lintas dan orang mondar-mandir di sekitar orang yang sedang belajar. Oleh karena itu dalam belajar hendaknya diusahakan untuk memperhatikan kondisi lingkungan sosial ini. • Faktor instrument Faktor instrument dibedakan menjadi dua bagian yaitu faktor yang berwujud keras seperti gedung, perlengkapan belajar, dan alat-alat praktikum dan sebagainya. Sedangkan kedua faktor lunak seperti kurikulum program, pedoman-pedoman belajar dan sebagainya. Pada faktor ini hendaknya penggunaannya disesuaikan dengan hasil belajar yang diharapkan. Kualitas pembelajaran adalah kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar. Kualitas proses dapat diketahui dari keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, kualitas hasil dapat diketahui dari tes hasil belajar atau ketuntasan hasil belajar. Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaan penuh dari peserta didik terhadap bahan yang telah diajarkan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses belajar mengajar mencapai ketuntasan hasil belajar maka perlu dilakukan tes hasil belajar (Arikunto, 1989: 228). Tes hasil belajar adalah salah satu alat ukur yang paling banyak digunakan untuk menentukan efektivitas dalam proses pembelajaran. Menurut Winataputra dan Rosita adalah sebagai berikut : a. Tes hasil belajar harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan institusional yang tercantum dalam kurikulum yang berlaku.

20

b. Tes hasil belajar disusun sedemikian rupa sehingga benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari. c. Bentuk pertanyaan tes hasil belajar hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan. d. Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar berikutnya. Menurut Rosyada (2004 :60-73) bahwa tujuan pendidikan yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran terdiri dari 3 aspek yaitu : bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang harus nampak sebagai hasil belajar. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut : 1. Kompetensi kognitif a. b. c. Pengetahuan hafalan (knowledge) yaitu pengetahuan yang sifatnya Pemahaman (comprehention) yaitu kemampuan menangkap makna Penerapan (application), kesanggupan menerapkan dan faktual, merupakan jembatan untuk menguasai tipe hasil belajar lainnya. atau arti dari suatu konsep. mengabtraksikan suatu konsep, ide, rumus, hukum, dalam situasi yang baru, misalnya memecahkan persoalan dengan menggunakan rumus tertentu. d. Analisa, yaitu kesanggupan memecahkan, menguasai, suatu integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur atau bagian yang mempunyai arti e. f. Sintesis, yaitu kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi Evaluasi, yaitu kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai satu integritas sesuatu berdasarkan pendapat yang dimilikinya dan kriteria yang dipakainya. 2. Kompetensi afektif Perilaku atau kecakapan afektif terbagi lima level, yang secara graduatif level yang lebih tinggi dipengaruhi level-level di bawahnya. Adapun kelima level tersebut antara lain :

21

a. gejala. b. c. d.

Receiving (attending) yaitu kepekaan dalam menerima rangsangan

dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah, situasi dan Responding yaitu reaksi yang diberikan seseorang terhadap Valuing yaitu berhubungan dengan nilai dan kepercayaan terhadap Organisasi yaitu pengembangan nilai kedalam satu system

stimulus dari luar. stimulus. organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lainnya dan kemantapan prioritas yang dimilikinya. e. Karakteristik nilai yaitu keterpaduan dari semua nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku. 3. Kompetensi psikomotorik Hasil belajar bidang psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan dan kemampuan bertindak individu. Psikomotorik lebih pada implementasi nilai dalam bentuk tindakan dan perilaku yang dimulai dari pengamatan, peniruan, pembiasaan dan penyesuaian. Kompetensi psikomotorik terbagi empat level dan secara graduatif yang lebih tinggi dipengaruhi oleh level-level di bawahnya. Adapun empat level psikomotorik yaitu sebagai berikut : a. Abserving; yakni mengamati proses, memberikan perhatian terhadap step-step dan teknik-teknik yang dilalui dan yang digunakan dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau mengartikulasikan sebuah perilaku. b. Imitating, yakni mengikuti semua arahan, tahap-tahap dan teknikteknik yang diamatinya dalam menyelesaikan sesuatu, dengan penuh kesadaran dan dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk level ini perlu dukungan yang sungguh-sungguh. c. d. Practicising, mengulang tahap-tahap dan teknik-teknik yang dicoba Adapting , yakni melakukan penyesuaian individual terhadap diikutinya itu, sahingga menjadi kebiasaan. tahap-tahap dan teknik-teknik yang telah dibiasakan, agar sesuai dengan kondisi dan situasi pelaku sendiri.

22

Berkenaan dengan uraian di atas, Hariyono mengatakan (1945:6-14) bahwa hasil belajar yang sangat serius dapat bermanfaat dalam mengantisipasi kehidupan sehari-hari dan dimasa mendatang. Belajar yang berhasil mendorong kita melatih semua aspek intelektual yaitu rasa ingin tahu dan semangat meneliti, memiliki seperangkat logika, ekspresi diri dan komunikasi serta kebiasaan skeptisme dan kritisme. Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Keberhasilan seseorang setelah ia mengalami proses belajar selama satu periode tertentu disebut hasil belajar ( Nurkancana dan Sumartana 1992:11 ). Pendapat lain menyatakan bahwa hasil peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya atau pada hakekatnya belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik setelah melakukan belajar yang biasanya ditunjukkan dengan angka atau nilai ( sudjana, 2002: 22 ) Jadi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah keberhasilan setelah mengalami proses belajar berupa materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Peserta didik dinyatakan berhasil dalam proses perkembangan apabila tujuan pembelajarannya tercapai sebagai kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, dalam mencapai tujuan yang ditetapkan maka evaluasi hasil belajar peserta didik secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu kognitif, afektif, psikomotorik. Hasil belajar yang akan diukur dalam penelitian ini , adalah ranah kognitif. Hal ini dilakukan karena ranah kognitif yang paling cocok dengan materi yang diterapkan. Menurut Bloom ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, analisis, penilaian dan aplikasi. Sedangkan menurut Depdiknas ( 2004 : 2 ) menyebutkan bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan berpikir secara hirarkis terdiri dari pengetahuan, pemahaman aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah keberhasilan siswa setelah mengalami proses belajar berupa materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Siswa

23

dinyatakan berhasil dalam proses pembelajaran apabila tujuan pembelajarannya tercapai. Sebagai kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, maka evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa ranah-ranah yang terkandung dalam tujuan. Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil belajar siswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu : ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik (Dimyati dan Moedjiono, 2002: 201). Menurut Bloom ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar, intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan dan ingatan, pemahaman, analisis, sintesis, penilaian, dan aplikasi. Ranah afektif terdiri dari lima aspek, yaitu sikap menerima, memberikan respon, penilaian, organisasi dan internalisasi. Sedangkan untuk ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil balajar ketrampilan atau kemampuan bertindak. Ranah ini terdiri dari enam aspek, yaitu gerakan reflek, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan, atau ketepatan gerakan, ketrampilan komplek, dan gerakan ekpresif dan interaktif (Sardirman, 2000: 23-24). 2.5 Aktivitas Belajar Proses kegiatan belajar mengajar yang baik salah satunya ditandai dengan adanya interaksi antara siswa dengan sesamanya, antara siswa dengan guru sehingga dapat terjadi komunikasi yang baik di dalam kelas. Dengan adanya komunikasi yang baik di kelas diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi siswa. Dampak positif yang diharapkan dari komunikasi yang baik ini antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. siswa berani untuk mengajukan pertanyaan. siswa dapat mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya dengan siswa berani menjawab pertanyaan, baik pertanyaan dari guru ataupun siswa teliti dalam menganalisis dan mengkaji suatu masalah. siswa dapat mengambil keputusan. siswa dapat menarik suatu kesimpulan dari suatu masalah.

alasan-alasan yang kuat. pertanyaan dari siswa lain.

24

Menurut 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Paul

B.

Dierich

dalam

Sardiman,

(Sardiman,

2000:17)

mengklasifikasikan jenis-jenis aktivitas siswa menjadi 8 golongan antara lain : Visual activities yang meliputi kegiatan membaca dan memperhatikan. Oral activities yang meliputi kegiatan bertanya, mengemukakan Listening activities yang meliputi kegiatan mendengarkan. Writing activities yang meliputi kegiatan menyalin, dan menulis laporan. Drawing activities yaitu kegiatan menggambar. Motor activities yaitu kegiatan melakukan percobaan. mental activities yang meliputi kegiatan menanggapi, mengingat, Emotional activities yaitu kegiatan menaruh minat. Aktivitas siswa yang dapat diamati dalam pembelajaran ini adalah aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaan (oral activities) dan aktivitas memperhatikan kegiatan pembelajaran (visual activities). Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajaran, guru harus menentukan terlebih dahulu media yang cocok untuk diterapkan dalam materi yang disampaikan. Penggunaan media televisi dimungkinkan dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS, karena dalam penggunaan media televisi ini memuat semua komponen yang dapat mendukung aktivitas siswa di kelas secara maksimal, sehingga dampak positif yang diharapkan berupa keaktifan dan hasil belajar yang baik dapat terwujud.

pendapat, berdiskusi, dan memberi saran.

memecahkan soal, dan menganalisa.

25

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk itu desain penelitian lebih bersifat deskriptif. Penelitian tentang pembelajaran Model Cooperative Learning dengan Teknik Penerapan Media Televisi pada bidang studi IPS ini disamping mengkaji perubahan hasil belajar juga mengkaji aktivitas Ide eksperimen dan keefektifan model pembelajaran tersebut. Rancangan penelitian yang digunakan untuk mengkaji model pembelajaran Model Cooperative Learning Aplikasi Televisi pada Hasil dan dengan Teknik Penerapan Media dan pembelajaran IPS yaitu rancangan perencanaan refleksi pengambilan data analisa data penelitian research and development dengan model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan Perbaikan I refleksi yang direncanakan selama 3 siklus.

perencanaan

Aplikasi dan pengambilan data

Hasil dan analisa data

refleksi

Perbaikan II

perencanaan

Aplikasi dan 26 pengambilan data

Hasil dan analisa data

refleksi

Gambar: Rancangan penelitian dengan research and development (Kasbolah 1998:117) Dengan berpedoman pada refleksi awal, maka prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dalam setiap siklus. 1. Perencanaan Kegiatan ini meliputi : a. Peneliti dan guru pengajar menetapkan alternative upaya peningkatan kualitas pembelajaran b. Secara bersama-sama tim peneliti dan guru pengajar mata pelajaran membuat perencanaan pembelajaran c. Melakukan latihan bersama guru pengajar dan tim peneliti, serta mendiskusikan tentang pembelajaran d. Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran, seperangkat alat evaluasi (authentic assessment) seperti membuat lembar observasi, merencanakan bentuk tugas, dll. e. Menyiapkan segala perangkat observasi demi kesuksesan kegiatan penelitian yang dilengkapi pula dengan membuat lembar observasi, lembar wawancara dan catatan bebas. 2. Pelaksanaan Tindakan

27

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan, yakni melaksanakan pembelajaran berikut proses evaluasinya dengan menggunakan berbagai alat evaluasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kegiatan ini juga memberikan melakukan 3. Observasi Dalam tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh tim peneliti dan pemegang mata pelajaran. Observasi ini dilaksanakan pada saat maupun setelah proses pembelajaran berlangsung. Pada kegiatan ini digunakan lembar observasi yang dilengkapi dengan angket pedoman wawancara dan catatan bebas. 4. Refleksi Data-data yang diperoleh melalui observasi dianalisis pada tahap ini. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti bersama guru Pembina mata pelajaran dapat merefleksikan diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini akan dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan kelas pada siklus berikutnya. Setelah semua aspek dipertimbangkan secara seksama dipersiapkan siklus berikutnya, demikian seterusnya hingga tercapai target dan dikatakan efektif atau terjadi peningkatan yang signifikan sebagaimana yang telah ditargetkan. Penelitian ini akan dilaksanakan 3 siklus sehingga pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini benar-benar bermanfaat dan meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila dalam siklus III tidak diperoleh hasil belajar yang diinginkan maka akan diteruskan pada siklus selanjutnya. 3.2 Tempat Penelitian kesempatan penilaian pada siswa terhadap untuk kinerja berpartisipasi temannya dalam selama proses

pembelajaran berlangsung.

28

Tempat penelitian disini merupakan lokasi dimana penelitian itu dilakukan dan tempat penelitian ditetapkan di SDN Walidono Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso dengan alasan kurangnya aktifitas dan hasil belajar khususnya dalam pelajaran IPS, sehingga dengan diterapkannya metode cooperative learning dengan teknik penerapan media televisi diharapkan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dan dapat menghasilkan siswa yang berkualitas. 3.3 Subjek Penelitian Subjek penelitian ditujukan pada seluruh siswa kelas VI SDN Walidono Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso. Metode yang digunakan guru sebelumnya yaitu ceramah yang membuat siswa menjadi bosan dan jenuh di kelas. Hal ini berakibat siswa kurang maksimal dalam menerima atau memahami materi yang diberikan oleh guru. Dengan menerapkan metode cooperative learning dengan teknik penerepan media televisi ini diharapkan dapat mengefektifkan pembelajaran khususnya untuk pembelajaran IPS. Metode cooperative learning dengan teknik media televisi ini berguna untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa. Di samping itu alasan pemilihan subjek ini karena melihat siswa di sekolah tersebut kurang merespon terhadap pembelajaran yang telah disampaikan oleh guru khususnya terhadap mata pelajaran IPS. Maka dari itu guru disini mencoba menerapkan metode cooperative learning dengan teknik penerapan media televisi, dengan harapan nantinya akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. 3.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data bermaksud untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan, akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tes

29

Tes hasil belajar yang digunakan adalah tes buatan guru, dalam hal ini tes yang disusun oleh peneliti di sesuaikan dengan tujuan-tujuan pembelajaran. Tes tersebut di bagi dua yaitu: 1. Pre-tes, untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang materi yang akan dipelajari yang dilakukan sebelum PBM. 2. Post-tes, tes yang dilakukan setelah PBM berlangsung. Observasi Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengamatan yang dilakukan untuk melihat aktifitas selama proses pembelajaran IPS dengan pembelajaran Model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi berlangsung. Peneliti menggunakan observer sehingga peneliti dapat memperoleh data aktifitas siswa dengan ikut berpartisipasi dalam kelas yaitu sebagai fasilitator sehingga dapat mengendalikan situasi sesuai dengan keinginan peneliti. Komponen aktifitas siswa selama proses pembelajaran IPS dengan model pembelajaran cooperative learning teknik penerepan media televisi ini adalah : 1. kesiapan siswa dalam mengikuti PBM 2. keaktifan siswa dalam memperkatikan penjelasan dari guru 3. keaktifan siswa dengan teman selama diskusi kelompok 4. keaktifan siswa dalam diskusi kelas Observasi dilakukan untuk mengkaji bagaimanakah aktifitas siswa selama proses pembelajaran IPS dengan dengan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi pada materi ”Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”. Wawancara Arikunto (2002:132) menyatakan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian dapat diperoleh melalui dialog antara pewawancara dan terwawancara. Adapun pelaksanaan wawancara dapat dibedakan atas : (1) Wawancara bebas; (2) Wawancara terpimpin; (3) Wawancara bebas terpimpin. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas, yaitu wawancara dimana responden mempunyai kebebasan dalam mengutarakan

30

pendapatnya, tetapi telah dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi. Wawancara bebas ini berisi pertanyaan tentang tanggapan siswa mengenai pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi pada materi ”Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”. Wawancara diarahkan untuk memperoleh data tentang model pembelajaran yang diterapkan. Dokumentasi Arikunto (2002:135) berpendapat bahwa metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable dari benda tertulis yang berupa dokumen, transkrip, buku-buku, majalah, prasasti, catatan harian, notulen rapat dan sebagainya. Sedangkan menurut Ali (1997:41-42), dokumentasi adalah segala macam bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen baik yang resmi maupun yang tidak resmi, dalam bentuk laporan statistik, surar-surat resmi, buku harian, dan semacamnya baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan.

3.5 Metode Analisis Data Dijelaskan oleh Molpeng (1993 : 103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dalam pembelajran IPS. Dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti observasi, wawancara, dokumentasi dan tes yaitu dengan mengumpulkan data tersebut diatas, sehingga dapat diketahui efektif atau tidak model pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dalam untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran IPS.

31

3.6 Indikator Hasil Kerja Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila : 1. Penerapan pembelajaran yang dilakukan oleh Pembina mata pelajaran mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar. 2. Proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan produktif, yang dapat diukur dari peningkatan keaktifan peserta didik dalam PBM, prestasi belajar meningkat memenuhi standart ketuntasan yang ditentukan. Ketuntasan secara klasikal sebesar 94 %, secara individual nilainya diatas > 65.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pelaksanaan Pre Tes dan Pos Tes Pre tes adalah tes yang dilakukan pada kondisi awal (sebelum belajar dengan menggunakan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi pada pembelajaran IPS materi ”Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”). Sedangkan pos tes diberikan pada siswa setiap selesai pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Data skor pre tes siswa yang dilakukan sebelum pembelajaran menggunakan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dan pos tes (setelah pembelajaran dengan model pembelajaran ini) dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Hasil Belajar Siswa dalam PBM Nilai Siswa Kondisi awal (Pre tes) Siklus (pos tes) I II 76-100 4 (16 %) 8 (32 %) 18 (72 %) 65-75 7 (28 %) 11 (44 %) 5 (20 % ) <65 14 (56 %) 6 (24 %) 2 (8 % )

32

Sumber: Data penelitian (hasil pre tes dan pos tes) yang diolah.

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 < 65 65-75 76-100 Awal Siklus I Siklus II

Grafik: Perbandingan kondisi awal siswa dengan hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan.

Dari tabel diatas menunjukkan hasil belajar IPS siswa. Pada kondisi awal hasil belajar siswa rendah, siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 14 (56 %) siswa; Siswa yang mendapat nilai 65-75 sebanyak 7 (28 %) siswa; Siswa yang mendapat nilai 76-100 sebanyak 4 (16 %) siswa. Setelah menggunakan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi, hasil belajar dan aktivitas siswa meningkat tiap siklusnya. Pada siklus I, Siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 6 (24 % ) siswa; Siswa yang mendapat nilai 65-75 sebanyak 11 (44 %) siswa; Siswa yang mendapat nilai 76-100 sebanyak 8 (32 %) siswa. Ketuntasan hasil belajar pada siklus ini 19 (76%) siswa dengan kenaikan hasil belajar 32 % dari kondisi awal. Melihat dari ketuntasan hasil belajar pada siklus ini, perlu adanya refleksi untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran atau siklus selanjutnya. Pada siklus II, Siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 2 (8 %) siswa; Siswa yang mendapat nilai 65-75 sebanyak 5 (20 %) siswa; Siswa yang mendapat nilai 76-100 sebanyak 18 (72 %) siswa. Ketuntasan hasil belajar pada siklus ini 23 (92 %) siswa dengan kenaikan hasil belajar 48 % dari kondisi awal. Melihat dari ketuntasan hasil belajar pada siklus ini sangat tinggi maka siklus dihentikan atau tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya. Adanya peningkatan hasil belajar siswa

33

tiap siklusnya, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. Dari hasil observasi, diperoleh data keaktifan siswa pada kondisi awal sebelum pembelajaran menggunakan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dan setelah pembelajaran dengan model pembelajaran ini, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Keaktifan Siswa dalam PBM Aktifitas siswa Kondisi Awal Siklus I Siklus II Sangat Aktif 3 (12 %) 8 (32 %) 20 (80 %) Aktif 5 (20 %) 9 (36 %) 3 (12 %) Kurang Aktif 7 (28 %) 4 (16 %) 2 (8 %) Tidak Aktif 10 (40 %) 4 (16 %) 0 (0 %)

Sumber: Data penelitian (hasil observasi) yang diolah.
20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 sangat aktif aktif kurang aktif tidak aktif Awal Siklus I Siklus II

Grafik : Perbandingan keaktifan pada kondisi awal siswa dengan keaktifan siswa pada saat diberi perlakuan.

Dari tabel diatas, menginformasikan bahwa pada proses pembelajaran yang diamati pada kondisi awal sebelum pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi: sangat aktif 3 (12 %) siswa, aktif 5 (20%) siswa, kurang aktif 7 (28 %) siswa, yang tidak aktif sebanyak 10 (40

34

%) siswa. Kondisi tersebut berubah pada proses pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi. Pada siklus I, sangat aktif 8 (32 %) siswa; kategori aktif 9 (36 %) siswa; kurang aktif 4 (16 %) siswa; tidak aktif 4 (16 %) siswa. Sehingga keaktifan siswa secara keseluruhan pada siklus I yaitu 17 (68 %) siswa, yang dirasakan masih kurang aktif. Pada siklus II, sangat aktif 20 (80 %) siswa; kategori aktif 3 (12 %) siswa; kurang aktif 2 (8 %) siswa; tidak aktif 0 (0 %) siswa. Jadi keaktifan siswa secara keseluruhan pada siklus ini yaitu 23 (92 %). Keaktifan siswa pada siklus ini sudah cukup tinggi atau siswa hampir keseluruhannya telah aktif dalam PBM. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dari setiap siklusnya mengalami peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa. Kondisi sebelumnya mayoritas minat, aktifitas dan hasil belajar siswa untuk belajar IPS media televisi, maka telah terjadi peningkatan secara signifikan. rendah, setelah diterapkan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan

4.2 Pembahasan Adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan ini disebabkan oleh adanya perbedaan yang menonjol dalam hal interaksi belajar mengajar dan motivasi yang dimiliki antara sesudah pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi siswa dan sebelum pembelajaran. Hal ini dapat diketahui dengan melihat data hasil pre tes dan pos tes siswa. Dari data hasil observasi, yaitu dengan menggunakan 3 orang sebagai observer ditunjukkan bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung, pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi lebih aktif dari pada siswa sebelum pembelajaran dengan model ini. Pada pembelajaran dengan model pembelajaran ini, siswa aktif mempelajari materi dan mengerjakan soal latihan secara mandiri, aktif berdiskusi dengan anggota kelompoknya, aktif bertanya, dan siswa bersemangat dalam mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Sedangkan pada pembelajaran sebelumnya, siswa cenderung lebih banyak menyimak dan mendengarkan

35

penjelasan dari guru, mencatat materi, dan siswa kurang bersemangat dalam mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru. Dari data hasil wawancara, didapatkan bahwa siswa merasa senang mengikuti pembelajaran IPS karena melalui pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi mereka dapat belajar sendiri, berdiskusi dan dapat bekerja sama dengan siswa yang lain. Sedangkan pada pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran ini menunjukkan bahwa mereka kurang senang dan mereka merasa cepat bosan dalam mengikuti pembelajaran, karena menurut mereka guru lebih banyak menjelaskan materi pelajaran sedangkan siswa menyimak penjelasan dari guru, mencatat dan mengerjakan latihan soal. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dapat membuat siswa termotivasi mengikuti pembelajaran IPS, sedangkan model pembelajaran konvensional kurang dapat membangkitkan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran IPS. Dari masing-masing siklus menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dari kondisi awalnya. Bahkan pada siklus II, ketuntasan hasil belajar mencapai 95%, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi mampu membuat hasil belajar siswa lebih baik dari pada menggunakan model konvensional. Keberhasilan penggunaan pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi ini sangat tergantung pada keaktifan siswa dalam mengembangkan potensi dan kreativitasnya pada saat kegiatan. Oleh karena itu peran guru juga penting, yaitu untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Usman (dalam Dianawati, 2005:18) bahwa untuk mencapai kondisi belajar yang efektif terdapat lima jenis variabel, yaitu : 1). Melibatkan siswa secara aktif; 2). Menarik minat dan perhatian siswa; 3). Membangkitkan motivasi siswa; 4). Prinsip individualitas; dan 5). Peragaan dalam pembelajaran. Berdasarkan pada pembahasan diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran model Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi ini dapat

36

dijadikan alternatif untuk digunakan dalam pembelajaran IPS, khususnya materi “Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Perubahan hasil belajar IPS pada materi ”Peristiwa Alam di Learning dengan teknik penerepan media televisi Indonesia dan di Negara Tetangga” dengan model pembelajaran Cooperative menunjukkan peningkatan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dalam pembelajaran IPS baik diterapkan di Sekolah Dasar. 2. Dengan model pembelajaran Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi dalam pembelajaran IPS ini dapat meningkatkan keaktifan, minat dan motivasi siswa dalam belajar karena siswa terlibat langsung dalam proses penanaman konsep secara mandiri dengan bimbingan guru. 3. Model pembelajaran Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi lebih efektif dalam pencapaian hasil belajar siswa daripada

37

menggunakan

model

pembelajaran

konvensional

karena

metode

konvensional pembelajaran hanya terpusat pada guru.

5.2 Saran Berdasarkan pemaparan dalam laporan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu diperhatikan, antara lain : 1. Dalam pembagian kelompok, hendaknya guru memilih anggota kelompok yang heterogen agar siswa dapat saling berinteraksi dan saling membantu kesulitan belajar. 2. Hendaknya guru memperhatikan kekurangan dan kelebihan dalam pembelajaran Cooperative sehingga dapat memaksimalkan, mengefektifkan, dan mengefisensi pembelajaran. 3. Untuk guru, karena metode ini cocok untuk siswa Sekolah Dasar maka perlu dicobakan untuk mata pelajaran yang berbeda untuk meningkatkan hasil belajar secara efektif dan efisien. 4. Hendaknya guru dalam menyampaikan materi menggunakan metode yang bisa menciptakan peserta didik tidak tegang dan tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran. 5. Dengan memantau hasil pembelajaran ini metode Cooperative Learning dengan teknik penerepan media televisi bisa diterapkan pada pembelajaran selain bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial. 6. Guru hendaknya memperhatikan dan aktif menerapkan model pembelajaran yang aktual sehingga menjadikan siswa aktif dan produktif. 7. Untuk guru/peneliti lain, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengkaji yang belum dibahas pada penelitian ini atau untuk mata pelajaran yang lain. 8. Untuk guru, melihat adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran yang berbeda dari model pembelajaran yang biasanya (konvensional), maka perlu adanya inisiatif guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode/model pembelajaran yang berbeda.

38

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Rineka Cipta __________. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Dimyati dan Moedjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. Hakim, T. 2001. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara. Hasibuan dan Moedjiono, 1992. Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Ibrahim, dkk 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA-University Press. Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang kelas. Jakarta : Gramedia. Slavin, R. E. 1995. Cooperatif Learning Theory, Research, and Practice. Second edition. Massachusets : Allyn & Bacon. Sriyono. 2002. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta : Rineka Cipta.

39

Sudjana, N.

1989. Cara Belajar Siswa Aktif dan Proses Belajar Mengajar.

Bandung : Sinar baru Argesindo. Mastur, Widiarso Wiyono, dan Slamet. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI Kelas VI. Semarang: Aneka Ilmu. . 1990. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Argesindo. Winataputra, U.S. 1996. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka . 1994. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Lampiran Data Siswa SDN Walidono 03 Prajekan Bondowoso Kelas V Tahun 2008/2009 Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 URIP ROSIYADI HOLIFA CANDRA MARWATI FEBRIYANTO RUDI HARTONO SENIWATI NUR FADILA SLAMET SUGIRI KUSYONO WIYONO Nama L/P L L P L P L L P P L L L L

40

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

ISNAINI WULANDARI SAMSUL ARIFIN MOH. HASAN FATHOR ROSI HASAN BASRI SANTUSO HENGKI YATI OKTAVIA BUSI YANTI NUR HASANAH SUKANTI

P P L L L L L L P P P P

41

Lampiran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PADA SIKLUS 3 SD Pembelajaran Kelas / Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar : SDN Walidono 03 : IPS : VI / II : Memahami gejala alam yang terjadi di Indonesia dan sekitarnya : 1. Mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan Negara tetangga 2. Mengenal cara-cara menghadapi bencana alam Indikator : Siswa mampu : • • • • • • Menemutunjukkan pada peta letak dan nama Menguraikan gejala (peristiwa) alam yang Menguraikan gejala (peristiwa) alam yang Membandingkan ciri-ciri gejala alam negara-negara tetangga Indonesia terjadi di Indonesia terjadi di negara-negara tetangga Indonesia dengan negara-negara tetangga Menemutunjukkan jenis bencana alam di Mendeskripsikan kondisi akibat dari adanya Indonesia dan faktor penyebabnya bencana alam

42

• Alokasi Waktu

Menjelaskan cara-cara menghadapi bencana

alam : 13 kali pertemuan

Tujuan Pembelajaran Dengan menggunakan media VCD guru dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada bidang studi IPS dengan materi “Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”.

Materi Pembelajaran

 Peristiwa alam di Indonesia • • • • Keadaan alam wilayah Indonesia Peristiwa alam yang menguntungkan dan merugikan Peristiwa alam yang terjadi di Indonesia Daerah rawan bencana di Indonesia

 Daerah rawan gempa    Daerah pertemuan antarlempeng Daerah patahan Daerah titik-titik gunung berapi

 Daerah rawan kebakaran hutan dan banjir  Peristiwa alam di negara-negara tetangga •  Malaysia  Singapura  Filipina  Thailand  Brunei Darussalam • tetangga • Sikap peduli terhadap bencana alam Bencana alam yang terjadi di negara-negara Peristiwa alam negara-negara tetangga

43

• •

Metode Pembelajaran Media VCD Langkah Kegiatan a. Kegiatan Pendahuluan   Guru menjelaskan tentang penggunaan media VCD Guru menjelaskan pokok materi yang akan diajarkan

b. Kegiatan Inti  Guru memberikan motivasi pada siswa  Guru dan siswa melaksanakan kegiatan belajar tentang materi “Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara Tetangga”.  Guru lebih mendekatkan diri pada siswa dan lebih membimbing siswa  Guru lebih membimbing siswa dan memfokuskan pada permasalahan yang diberikan c. Kegiatan Penutup  Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan pelajaran d. Refleksi  Guru memberikan pertanyaan pada siswa

44

Lampiran : instrument penelitian FORMAT OBSERVASI AKTIVITAS BELAJAR SISWA Nama No. Absen No 1 : : Skor 1 2 Keterangan 3 4 Aspek yang diamati Minat dan perhatian siswa terhadap bidang studi IPS materi ”Peristiwa Alam di Indonesia dan di Negara 2 Tetangga”. Semangat siswa dalam melaksanakan tugas-tugas 3 belajarnya. Tanggung jawab siswa dalam melaksanakan tugas-tugas 4 belajarnya. Respon yang timbul dari siswa terhadap stimulus yang 5 diberikan guru. Kegembiraan dalam mengerjakan tugas yang diberikan. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

45

Keterangan : 1. Sangat rendah 2. rendah 3. tinggi 4. sangat tinggi

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful