Demokrasi Deliberatif: Teori, Prinsip, dan Praktik

Tulisan ini hendak membahas sebuah konsep yang sekarang menjadi mode, yaitu demokrasi deliberatif. Istilah ini tampak baru, namun bila direnungkan isinya, masyarakat kita telah memilikinya. Deliberatif yang berasal dari kata deliberation, atau deliberatio dalam Bahasa Latin, adalah musyawarah, omong-omong, berunding, memberikan nasihat satu sama yang lain, berbincang-bincang, dan menimbang-nimbang. Sebagai ilustrasi, kalau kita berpikir apakah mau menikah atau tidak, itu berarti kita sedang melakukan deliberation. Itu adalah forum internal kita dalam kepala. Tetapi kalau kita mulai omong dengan orang lain, misalnya dengan pasangan kita, apakah jadi menikah atau tidak, itu adalah forum eksterna Itu pun l. merupakan bentuk deliberasi. Jadi, akar dari deliberasi sebenarnya adalah perbincangan dan komunikasi. Oleh karena itu, demokrasi deliberatif tidak asing bagi masyarakat kita yang suka berbicara dan bermusyawarah. Kalau memang sudah biasa, mengapa demokrasi deliberatif itu harus dipelajari? Memang itu adalah hal biasa, tetapi ada yang tidak biasa dalam demokrasi deliberatif, yaitu bentuk komunikasi macam apa yang dituntut secara perfeksionis dari teori demokrasi deliberatif sehingga para aktivis yang bergerak untuk membangun forum warga misalnya juga bisa melihat bahwa proses komunikasi ada prosedurnya, pola, tatanan, dan pencapaian yang harus bisa diikuti prosesnya. Dengan kata lain, apa yang mau disajikan dalam teori demokrasi deliberatif adalah suatu pandangan bagaimana mengaktifkan individu dalam masyarakat sebagai warga negara untuk berkomunikasi, sehingga komunikasi yang terjadi pada level warga itu mempengaruhi pengambilan keputusan publik pada level sistem politik. Mengingat sistem politik menggunakan bahasa yang berbeda dari masyarakat sipil, maka level-level komunikasi ini harus dipahami. Apa yang menurut masyarakat sipil itu merupakan aspirasi kalau tidak dikemas dengan bahasa sistem, maka ia tidak bisa dimengerti oleh sistem politik. Teori demokrasi deliberatif sedikit banyak menjelaskan level-level bagaimana proses pembentukan opini, karier opiniâ¼´dari mana opini dan menuju ke manaâ¼´penyaringan komunikasi, bentuk-bentuk komunikasi, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, saya hendak membagi uraian ini pada tiga hal, yaitu teori, prinsip, dan praktik. Seputar Teori Demokrasi Deliberatif Adalah Jà rgen Habermas, seorang pemikir yang pada 60-an dekat dengan gerakan Marxis Kiri dan banyak menginspirasi gerakan mahasiswa tahun 1968. Pengaruhnya juga cukup besar di Amerika. Gagasan Habermas baru masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, dan ini juga mewarnai gerakan-gerakan sosial di tanah air. Habermas, dengan runtuhnya komunisme, mengubah cara berpikirnya. Dia tidak lagi membuat kritik terhadap kapitalisme, melainkan membuat buku-buku yang isinya menganalisa proses demokrasi dalam era pasca komunisme. Teori demokrasi deliberatif adalah salah satunya, dan Jà rgen Habermas salah satu tokohnya. Ada tokoh-tokoh lain, seperti Cohen dan John Rawls yang juga diacu sebagai orang-orang yang menyumbangkan pemikiran mengenai proses deliberasi. Di tangan Habermas, teori demokrasi delibe¬ratif menjadi cukup matang. Buku â ×Filsafat dalam Masa Teror⠌ yang berisi wawancara

Ketika ada problem dan tematisasi problem. Jadi. ada dua bentuk komunikasi. lebenswelt itu dibedah pelan-pelan. Di sini ada klaim kesahihan menyangkut kesahihan harga cabe. lifeworld (Inggris). Ada sebuah ilustrasi menyangkut lebenswelt. atau dunia kehidupan adalah latar belakang komunikasi yang diandaikan begitu saja dan sifatnya pra-reflektif. Lebenswelt (Jerman). Sederhananya. tentu saya bertanya-tanya. terjadilah apa yang disebut diskursus. diskursus adalah bentuk komunikasi yang reflektif yang mentematisasi sebuah problem tertentu. kita membeli cabe dan kita membayarnya. Misalnya. saya sebenarnya sedang meneguhkan klaim kebenaran bahwa tidaklah bermasalah bila orang yang bukan pemeluk Islam berbicara terus meskipun adzan sedang berkumandang. Discourse adalah suatu bentuk komunikasi yang tidak sehari-hari. ada keharusan untuk berhenti sejenak hingga adzan itu usai. Tendensi itu tidak selalu buruk. Dalam setiap komunikasi. Klaim kesahihan ini diam-diam ada ketika saya menyoal kenapa saya harus berhenti ketika adzan. Diskursus teoretis adalah percakapan argumentatif menyangkut persoalan-persoalan yang faktual. di balik kata-kata itu. diskursus adalah perbincangan. di pasar misalnya. Si pembeli membatah. Dalam komunikasi sehari-hari. tapi juga apa yang disebut klaim-klaim kesahihan. Tetapi. Diskursus selalu bergerak dalam masyarakat. maka akan terjadi diskurus yang membuat komunikasi semakin cerdas. Inilah yang disebut diskursus teoretis. tidak akan ada komunikasi yang berarti. Habermas masih konsisten berbicara mengenai proses deliberasi. Jadi. Dalam komunikasi seharihari. tapi nyata-nyata menuntun komunikasi kita membuat tendisensi. ada beragam tipe diskursus: diskursus teoretis. Begitu saya mempertanyakan kenapa harus berhenti. Artinya. kenapa saya harus berhenti berbicara. Suatu ketika saya menyampaikan ceramah di sebuah forum. menunjukkan bahwa di tahun 2000-an. bahwa harga cabe masih 19 ribu/kg berdasarkan laporan media dan informasi lainnya. Dengan demikian. Klaim semacam itu banyak dijumpai dalam komunikasi. Akibat diskursus. diskursus praktis. bukan hanya lebenswelt yang berperan. dan setiap upaya tematisasi akan selalu keluar dari lebenswelt: komunikasi sehari-hari yang taken for granted. diskursus ini mengacu pada fakta yang .dengan Habermas. ada upaya untuk mengecek fakta. saya diminta berhenti karena ada suara adzan. Oleh moderator. Jika kita memperhatikan dan semakin sadar tentang klaim itu. Jadi. Sehingga para peserta komunikasi semakin sadar tentang kebudayaannya dan masyarakatnya secara reflektif. itu bukan diskursus. Ketika kita membuat diskursus. dan saya mempersoalkan. ketika kita berbincang-bincang tentang adzan misalnya. begitu kita bertanya mengapa harganya sekian dan kemarin sekian. Bagi saya yang tidak paham. sehingga makin jelas. Ini salah satu contoh bahwa ritual pun adalah lebenswelt. Saya bertanya. terjadilah diskursus dalam bentuk yang sederhana. ada beberapa hal yang berperan. Kata diskursus berbeda dengan speech atau saying. harga cabe 20 ribu/kg. mulai ditematisasi. ketika dikumandangkan adzan. Contohnya. Diskursus itu membuat problem menjadi semakin jelas dan semakin rasional. terjadilah apa yang disebut diskursus. dalam pernyataan saya implisit sebuah klaim kebenaran tertentu. Lebenswelt di antaranya. â¼ Mengapa harus berhenti?â¼ Saya disadarkan bahwa dalam Islam. bahkan pra-sadar. Habermas termasyhur dengan apa yang disebut dengan teori diskursus. bukankah ini hanya berlaku untuk pemeluk agama tertentu? Ketika bertanya begitu. yaitu komunikasi sehari-hari dan diskursus. dan diskursus kritis. tapi memungkinkan kita berkomunikasi. wacana. Tanpa lebenswelt.

Ada dua macam kritik. Di pihak yang lain. dalam diskursus praktis. Lalu belalai-belalai kapitalisme mulai masuk dan mengatur komunikasi. itu adalah bentuk komunikasi sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. proble-matis. Unsur atas adalah negara dan pasar. Terakhir. kalau kita bertemu dengan seseorang dan bertegur sapa. sistem itu kecil. Dari empat macam bentuk komunikasi di atas. Ini yang disebut sistem. Lalu Anda mengundang pengacara untuk memperkarakannya di pengadilan. Ini disebut kritik terapoitis. Masyarakat pun berkembang. Kalau berbicara terus. Ini juga disebut diskursus. Indonesia misalnya. pasar (uang).kita temukan. pengaruhnya sangat terbatas. tetapi juga pembedaan bentuk komunikasi. kurang santai. Misalnya. lalu terjadi diskusi. wah. karena lebenswelt semakin kecil. tema yang menjadi problem adalah norma. Seolah-olah menjadi subsistem dari lebenswelt. Ada dua unsur dalam bagan ini. Tetapi. maka komunikasi tidak lagi taken for granted. Kalau dalam diskursus itu harus ada konsensus. Ketika ada kritikus sastra atau kritikus seni melihat karya seni apakah karya se¬ni itu indah atau tidak. Ini yang disebut lebenswelt. kita tidak tahu bagaimana perasaan publik kita. apakah orang yang berbicara terus selama adzan dikumandangkan itu melanggar sopan-santun atau tidak. entah dari laporan pedagang yang lain atau sumber-sumber berita resmi dari media. Mari kita mengamati apa yang terjadi pada masyarakat. melainkan masuk dalam sistem. kritik. komunikasi bisa reflektif. dalam kritik tidak perlu. dan menganalisanya sebagai keseluruhan. bahkan tegang dan sarat konflik. Berbeda dengan diskursus teoretis. maka itu bisa disebut sebagai diskursus kritik estetis. Singkatnya. dll. Misalnya. Habermas melihat bahwa perkembangan masyarakat menurut pola gambar di atas. Singkatnya. Di satu sisi. mengecil. di mana orang bisa semakin pandai bicara dan semakin bisa memproblematisasikan. diskursus tentang komprehensifilitas. di desa. Sebagai ilustrasi. bahwa pencemaran lingkungan itu dibiarkan begitu saja karena ada kolaborasi politis antara pemerintah dan pengusaha. Sementara kritik terapoitis adalah bentuk pembicaraan yang mengkritik. Banyak contoh lain yang⼴misalnya⼴dilakukan oleh para analis kritik sosial. Pembedaan itu bukan semata-mata terjadi karena pembedaan analisa. Sementara lebenswelt besar. yaitu kritik estetis dan kritik terapoitis. Komunikasi ini tidak lagi berada pada level sehari-hari. Melalui proses modernisasi. interaksi lebih berbentuk interaksi kultural. orang yang sama bisa mewakili bentuk komunikasi yang berbeda. main-main ke rumahku. Sistem mulai membesar. marxisme mengkritisi pencemaran lingkungan. masyarakat tradisional misalnya. birokrasi sangat lemah. Disebut terapoitis⼴asal katanya terapi⼴karena berupaya untuk menyembuhkan masyarakat dari penindasan. terkadang dalam komunikasi orang memproblematisir semuanya secara komprehensif. Misalnya. Kalau kita melihat negara modern. terjadi perubahan. dan unsur bawah yaitu masyarakat. mungkin Anda jengkel karena hutangnya tidak dibayar setelah ditagih berkali-kali. setidaknya ada tiga komponen di dalamnya: negara/birokrasi (kekuasaan). Ketika masyarakat masih sederhana. Kritikus itu memberikan tilikan. sementara lebenswelt terdesak. Artinya sistem⼴birokrasi dan pasar⼴dalam masyarakat tradisional masih kecil. diskursus praktis terjadi kalau yang menjadi problem itu adalah norma. ⼠Apa kabar. dan masyarakat (solidaritas). Menurut Habermas. dalam kapitalisme. saya mau hutang uang dan mau dibayar minggu depan⼠. yang terjadi dewasa ini adalah membesarnya sistem .

Kenapa? Padahal sistem besar sekali. kalau kita hendak meng-adakan seminar untuk menyukseskan pemilu. Artinya. Sebagai ilustrasi. masyarakat yang peduli becak. Ketika kita mau mencapai sebuah produk UU tertentu. Tetapi. hukum memiliki wajah ganda. masyarakat modern yang majemuk itu masih ber¬tahan dan tidak bubar. apa keistimewaan hukum? Hukum memiliki wajah ganda. Setiap proses komunikasi. kalau tidak ada prinsip. mencari dana demikian sulitnya. hukum ini yang menjembatani sehingga kedua-duanya bisa berkomunikasi. Dalam kenyataan. Tapi mengapa masyarakat modern yang sistemnya besar dan kuat itu masih bertahan. Tentu saja ini ideal. pemilik becak. legitimed. apakah ini suatu malapetaka bagi eksistensi masyarakat? Habermas menyatakan bahwa saat ini. maka sebelum UU itu diputuskan. Hukum tidak pernah menjadi kata akhir. maka hukum harus dikomunikasikan sehingga terjadi konsensus. Tetapi kalau kita menggunakan prinsip itu. Ini artinya. Mereka adalah tukang becak. dalam konteks kapitalisme. wajah hukum bersifat instrumental strategis. tapi komunikasi tidak pernah berakhir. Birokrasi mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. apakah benar UU itu mencerminkan aspirasi publik. ketika Pemda DKI hendak mengundangkan daerah bebas becak. Menyaksikan perkembangan yang sedemikan rupa. menggunakan bahasa sistem lebih mudah dipahami ketimbang bahasa lebenswelt. Hukum adalah produk komunikasi. bahasa hukum bisa dipakai sebagai alat. Kalau ada satu dari mereka tidak sepakat. dan legitimed. mobilisasi dana demikian mudah. maka kita permisif dengan produk undangundang. . sahih. itu terjadi berkat hukum. Lalu bagaimana proses menyepakati produk hukum? Ini sebenarnya inti dari deliberasi. yaitu antara birokrasi dan ekonomi kapitalis dengan masyarakat. dll. Jika kita terlalu permisif. Jadi. ada prinsip yang tidak bisa ditolak: mengikutsertakan pihak-pihak yang terkena peraturan itu. sementara yang membuat integritas sosial adalah lebenswelt. hal ini tidak pernah dicapai. Dengan demikian.dan lebenswelt mengecil. maka produk UU hanya menjadi kompromi politik. sementara kebudayaan semakin terdesak. Anda bisa menuntut dan mempersoalkan hukum dengan hukum itu sendiri. Berbeda ketika kita hendak mengadakan seminar kebudayaan. Sistem bisa mencabik-cabik lebenswelt. hukum bukan kata akhir. Di satu pihak. wajah hukum bersifat komunikatif. Dalam konteks ini. Kata akhir adalah komunikasi. bahkan mempersoalkan kompromi dan kepentingan menjadi sesuatu yang ideal. Karena harus disetujui. Dengan prinsip tadi. UU tentang Air. Menurut Habermas. apa yang disebut asas atau prinsip-prinsip teori diskursus itu berlaku dalam proses demokrasi. Kalau Anda tidak puas dengan permainan hukum. termasuk juga menyepakati produk semisal hukum UU Sisdiknas. masyarakat pengguna becak. maka hukum itu tidak sahih. Artinya. hukum dalam masyarakat majemuk menjadi engsel (medium) antara sistem dan lebenswelt. kita bisa mempersoalkan. Ini terjadi karena sebenarnya produk hukum itu harus disetujui. Misalnya. dan semua yang terkena aturan itu harus diandaikan menerima peraturan itu secara universal. karena masih bisa dipersoalkan dalam komunikasi. Di lain pihak. ada prinsip yang berbunyi: keputusan/kesepakatan/produk hukum yang sahih atau mengkalaim kesahihan itu hanyalah produk hukum yang disepakati secara universal oleh setiap subyek atau orang yang terkena oleh produk hukum itu. karena prinsip memang harus ideal. dan sahih. pengguna jalan.

Berbeda jika kita hendak menyepakati suatu persoalan. individualitas sangat ditekankan. sama-sama ditunggangi. kekuasaan itu ada ketika orang berbicara dan bertindak bersama tanpa paksaan. maka kematangan sangat penting perannya. dengan menciptakan forum inisiatif warga. Si A dan Si B adalah warga negara. kekuasaan tidak terletak pada kemampuan orang untuk memaksa orang lain. Dalam kondisi budaya bisu (silence culture). saya hendak membedakan dua kategori tindakan kolektif: massa dan gerakan civil society. Ketika Indonesia berubah menjadi demokrasi. baik dalam bidang sosial. dan paksaan adalah kekerasan. . deliberasi tidak terjadi. Sekarang. jaringan komunikasi yang tumbuh. â¼ Indonesia adalah negara kepulauan. Fasilitator harus terdiri dari orang yang sangat matang. Kekuasaan seperti ini disebut kekuasaan komunikatif. dari perbedaan pendapat itu ada cukup banyak perspektif yang dibuka. Tetapi. Karena. Kita membincang dan mendiskusikan. Tetapi setiap kebudayaan tertentu bisa mematahkan proses komunikasi dengan membuat orang tidak berdaya dalam kompetensi komunikatif. solider. Prinsip-Prinsip Demokrasi Deliberatif Saya berpikir bahwa era demagog telah berakhir dan seharusnya berakhir. membiarkan mereka menghargai pendapat sendiri. Karena itu bukanlah kekuasaan. Misalnya. Dalam konteks ini. Anda sedang menjadi generator kekuasaan tertentu atau meminjam istilah Hannah Arendt sedang mereproduksi kekuasaan? Menurut Arendt. Sehingga subyek yang paling lemah dalam forum deliberatif itu mampu mengemukakan suaranya. melainkan paksaan. Habermas melihat bahwa dalam masyarakat modern. Implikasinya. Anda adalah disseminator atau penebar partisipasi publik. dalam arti bahwa berbeda pendapat sering kali menakutkan karena disertai dengan ancaman. yakinkah kalau Anda mengajak masyarakat untuk berkomunikasi. Caranya. memberikan ruang perbedaan pendapat sehingga mereka menyadari bahwa perbedaan pendapat itu menguntungkan. dan lalu terjadi persetujuan. Setiap individu dalam masyarakat mempunyai kompetensi komunikatif. karena suara yang paling bodoh sekalipun adalah suara yang memiliki hak dalam deliberasi. stimulatif. Anda meminta menandatangani dokumen tertentu sambil Anda menginjak kaki atau menyerahkan uang. Si A dan Si B itu sama: sama-sama mendapat duit. berbeda pendapat itu tidak menakutkan. untuk melaksanakan aksi bersama. dan sama-sama tidak sadar apa yang terjadi di antara mereka. melainkan manipulasi (menyogok) dan represi (menginjak kaki sebagai wujud ancaman). yang mampu membuka wawasan dan cukup partisipatif. Dalam proses deliberasi. diperlukan proses yang sangat panjang. Dengan persetujuan itu. Orang dibiarkan pasif. Sebagai massa. Untuk meredam kekerasan dalam komunikasi. budaya. dan tidak memaksakan kehendak. Ini bukan kekuasaan. kita menghadapi proses yang menakutkan. tugas kita adalah memperbesar lebenswelt dengan membangun kekuasaan komunikatif (communicative power). Tugas dari forum deliberasi adalah membangun kompetensi komunikatif. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kekuasaan komunikatif ini ada ketika ada kekuasaan jaringan. Dan yang lebih penting untuk silence culture. Kekuasaan komunikatif inilah yang seharusnya ditumbuhkan dalam forum-forum deliberatif. mereka adalah individu. Adalah bukan zamannya Anda berperan sebagai penggerak massa. dll. dan persetujuan itu terjadi atas dasar komunikasi bebas. Karena dalam porses deliberasi harus ada apa yang disebut kompetensi komunikatif. orang Eropa mengatakan kepada saya. sebagai civil soceity. Jadi.Ada sebuah pertanyaan yang perlu dicamkan. orang lain juga menyetujui dan akhirnya ada gerakan. tetapi memperkaya. Itu bukan komunikasi.

parlemen. dan semacamnya. maka diskursus etis politis paling banter menghasilkan diskursus yang disepakati oleh kelompok kultural atau kelompok sosial tertentu. untuk itu diperlukan pengetahuan expert. eksekutif. dan politik pada umumnya. dan dalam komunikasi politik pada umumnya. yang terjadi malah merunyamkan persoalan. kalau pemerintah berbicara mengenai kenaikan harga BBM dan yang diproblematisir adalah kelangkaan sumber-sumber minyak yang itu terkait dengan sumber ekonomi. Diskursus pragmatis dapat diilustrasikan dengan. tetapi hasilnya adalah suatu konsensus partikular karena ada kelompok yang tidak setuju dengan fatwa itu. apakah itu bisa diterima oleh masyarakat. dan bukan ahli perminyakan. Habermas menspesifikasi kembali diskursus praktis. Tipologi Diskursus Politik Diskursus politik adalah derivasi dari diskursus praktis. Tetapi berbeda kalau yang dipersoalkan menyangkut persepsi masyarakat dalam arti bahwa kalau harga BBM dinaikkan. sebenarnya kita telah memiliki ruang-ruang dalam masyarakat kita untuk deliberasi. Jika demikian. aktornya sudah meluas tidak saja expert. bukan ahli manajemen. APBN. dll. dan diskursus moral. Dalam konteks ini. diskursus tentang pelarangan Ahmadiyah melalui fatwa MUI. diskurus etis-politis. mereka berhak mengatakan demikian. kalau sudah masuk pada value. Jadi. Ketiga diskursus praktis itu adalah diskursus pragmatis. Dalam konteks ini. Kalau ia mau berubah menjadi demokrasi. Apa yang bisa disepakati oleh kelompok yang pro pelarangan tidak bisa disepakati oleh orang yang anti pelarangan . misalnya. Kalau melihat ke dalam. Pelarangan ini bagi kalangan muslim merupakan persoalan internal. seorang pastur atau ulama⼴walaupun dipuja oleh umatnya⼴tidak berwenang masuk dalam diskusi itu. Menurut Habermas. Karena dia bukan akuntan. dibutuhkan waktu paling lambat 10 tahun. maka diskursus pragmatis sampai pada kesimpulan bahwa dari segi teknis mustahil untuk mempertahankan harga BBM. Misalnya. tetapi juga warga negara secara keseluruhan. Dalam diskursus etis-politis.⼠Bagi saya. kebudayaan. Tapi sebenarnya mereka tidak melihat ke dalam Indonesia. itu menyangkut etis-politis. apakah tidak menyu-sahkan masyarakat. Yaitu bahwa⼴katakanlah⼴value-nya adalah kepenti¬ngan publik. non-diskriminatif. Publik yang dimaksud adalah pemakai kendaraan bermotor. seni. rel diskursus beralih menjadi diskursus etis-politis.dan paling cocok dipimpin secara diktator. Ketika mulai mempersoalkan masalah value. karena akibatnya negara bisa bangkrut. Diskursus pragmatis ini diskursus para ahli untuk menyelesaikan kasus itu (katakanlah kenaikan harga BBM) dari segi pengetahuan ekonomis. nonmanipulatif. sebetulnya masyarakat kita punya potensi deliberatif yang tinggi yang dalam masyarakat tradisional ada pada apa yang disebut gotongroyong dan musyawarah. setidaknya ada tiga diskursus dalam politik. Alih-alih menyelesaikan persoalan. kualitas diskursif yang ada dalam konteks pelarangan Ahmadiyah adalah etis politik. media massa. teknologis. Diskursus semacam ini mempersoalkan teknis. Dengan musyawarah yang bebas. Dalam diskursus ini sudah ada suatu value yang tidak diproblematisir. dalam arti bahwa diskursus itu terjadi dalam forum warga. Yaitu menyangkut apakah klaim-klaim itu bisa disepakati secara universal. Jadi tugas kita menghidupkan dan menvitalisasi potensi itu menjadi suatu gerakan. Tetapi kalau kita lihat klaim-klaim yang ada di sana. Karena diskursus etis politis bisa terjadi dalam perspektif sektarian tertentu dalam arti bisa terjadi dari nilai kebudayaan dan etnis tertentu. bagaimana implikasinya pada pendidikan.

bahkan mematikan partisipasi. Karena. Diskursus moral hanyalah suatu idealisasi yang harus didekati. lagi-lagi yang dicapai adalah suatu konsensus parsial. Kebenaran yang lain adalah bahwa Nazi mencerminkan peranan kelompok masyarakat yang kuat atas ke¬lompok yang lain. Batas-batas antara negara dan masyarakat harus dihormati. Setiap saat hukum diubah-ubah seenaknya oleh Hitler. Diskursus moral itu memproblematisasi konsensus etis. Sebelum masuk dalam pro¬ses deliberasi. harus mempunyai intensi (tujuan) untuk melakukan diskursus moral. melainkan nilai-nilai universal. sumbatan-sumbatan dihilangkan. karena ia merupakan forum warga. Betapapun busuknya negara. Teori ini sebenarnya dibangun berdasarkan pengalaman Nazi. Di satu sisi. Dan kekuasaan dimiliki legislatif. dan ini hanya mungkin melalui reformasi. tetapi negara hukum tetap ada. Secara normatif. ongkos politiknya akan sangat besar. yaitu hanya kepentingan kelompok atau partainya saja. tetapi reformasi. menurut teori deliberasi. Kalau intensinya hanya sampai pada diskursus etis-politis. Dalam praktik. DPR harus menjadi teman. negara harus ada. bukan revolusi. maka problem-problem itu memuat kualitas diskursus moral. Oleh karena itu. mereka (DPR) harus mempunyai intensi untuk melakukan diskursus moral. Nazi merupakan gambaran di mana negara hukum macet. Jadi. Nazi adalah kekuatan negara yang sangat besar. Ia menjadi kesepakatan partikular yang terbatas pada horison kelompok tertentu. Tetapi dalam teori demokrasi deliberatif. kanal-kanal komunikasi dalam negara hukum harus dibuka. Dengan demikian. parlemen diharapkan semakin mendengar. negara hukum dan konstitusi harus tetap ada sebagaimana adanya. bukan horison kelompok. terjadi tirani massa dan keuntungan akan diambil oleh para demagog dan provokator. saya menyampaikan kritik pada Ha¬bermas. Apa yang saya gambarkan di atas adalah teori. apa yang disebut diskursus moral adalah sangat normatif. diskursus etis-politik itu di¬tingkatkan tarafnya ke diskursus moral. atau diskursus dalam media massa tentang mengapa keputusan itu bertentangan dengan norma-norma masyarakat majemuk. Ini semua merupakan upayaupaya untuk menarik perhatian pada sistem politik supaya kanal-kanal komunikasi dibuka.misalnya. Nah. Forum warga yang kuat harus mempunyai kekuasaan. Hitler itu . koran berbicara keras mengontrol penyimpangan. Yang dibela bukanlah nilai-nilai sektarian. Lalu apa artinya ada diskursus moral? Habermas memberikan jawaban bahwa para anggota deliberasi. akses dibuka. Karena tanpa negara. Revolusi⼴dan itu selalu dengan kekerasan⼴tidak membiakkan partisipasi. Forum warga itu berupaya membangun partisipasi. Tetapi apa yang terjadi jika itu muncul dalam praktik politik? Dalam konteks ini. Itu hanya separoh kebenaran. forum warga. Prinsip Negara Hukum Teori demokrasi deliberatif tidak mengakui revolusi. seharusnya mereka (DPR) memihak kita. Sebenarnya yang selalu terjadi adalah diskursus etis politis. Misal¬nya. Negara hanyalah tunggangan dari kelompok yang kuat itu. prinsip-prinsip negara hukum harus tetap ada. tujuan dalam deliberasi adalah. para partisipan mencapai suatu konsensus di dalam horison kemanusiaan. Yaitu harus ada pembedaan antara state dan society. bila fatwa MUI tadi lalu dipertanyakan validitasnya dalam konteks masyarakat majemuk.

Jadi. Proseduralisasi kedaulatan rakyat artinya adalah membuat kedaulatan rakyat sebagai proses komunikasi. Demokrasi yang diperankan bukan demokrasi langsung. media massa dimasuki belalai-belalai pemerintah. mengatakan bahwa rakyat itu berdaulat kalau mereka berkumpul. Karena kalau kita berbicara tajam dan bisa menelanjangi manipulasi-manipulasi dan itu relevan dengan kekuasaan. ada yang disebut kedaulatan rakyat. tugas forum warga mendeteksi proses semacam itu dan menentang keras-keras se-hingga mereka merasa tidak nyaman. Artinya. Praktik Demokrasi Deliberatif . Kapan rakyat berdaulat? Menurut teori deliberasi. kemudian ada otonomi publik dan otonomi privat warga negara. Jadi. kita jangan terlalu pesimis bahwa forum deliberatif itu sia-sia dan hanya berlelah-lelah. relevan menjelaskan tentang volante generale (kedaulatan rakyat). maka manipulasi itu akan tampak di permukaan dan akhirnya disadari oleh warga. Jean Jaques Rousseau. melainkan kontrol diskursif atas pemerintah. suara publik yang dibeli kalau ditelanjangi oleh publik sebagai suara yang dibeli. dia membuat hukum untuk menggolkan maksud-maksudnya. Kaitannya dengan ini. Sebenarnya. dan oleh karena itu tidak boleh dikendalikan oleh modal dan birokrasi. kedaulatan rakyat terjadi bukan saja ketika rakyat berkumpul. kalau kita amati. itu juga kedaulatan rakyat. Kata prosedur yang dipakai Haber¬mas. Media memiliki otonomi. Ke¬daulatan rakyat sebenarnya adalah konsep yang sangat kabur. yang bergerak terus melalui aliran anonim komunikasi. tetapi juga ketika media massa memihak publik. tetapi juga sebuah diskusi di antara warga negara yang peduli. bahkan politik demokrasi. Artinya. berarti proses. bahkan John Rawls. demokrasi representatif tetap diperlukan dengan sudut pandang yang berbeda. dan kita hanya ngomong tanpa ada hasilnya. tetapi hukum lebih patuh pada dia. produk UU dikontrol seluruhnya oleh suara publik. misal¬nya terhadap pencemaran lingkungan. Jadi. kedaulatan terjadi bukan karena orang berkumpul dengan tubuhnya di suatu tempat sebagaimana diyakini JJ. Konsep ini cukup berbahaya. Semakin suatu koran mempunyai kualitas yang berwibawa dan mampu mendesakkan aspirasi publik. Yaitu mencoba melihat bahwa peranan komunikasi publik itu harus semakin besar. tetapi juga harus ada komunikasi publik. ada upaya untuk membeli suara publik. karena konsep ini sebenarnya konsep demagog. suara publik bisa dibeli. Dalam teori demokrasi deliberatif terjadi apa yang disebut proseduralisasi kedaulatan rakyat. Seorang demagog bisa mengumpulkan orang dan mengatakan inilah kedau-latan rakyat. Memang. Kalau batas-batas antara pemerintah dan masyarakat jebol. maka ada kedaulatan rakyat. Dalam demokrasi. penggagas konsep ini. Ini proseduralisasi dari kedaulatan rakyat menurut Habermas. Rousseau. Kalau mereka masih dikendalikan. bahwa dewasa ini. Dalam konteks ini. konsep plastis yang bisa dipakai di sana-sini.patuh pada hukum. itu tidak bisa mempunyai kualitas publik lagi. Tapi menurut Habermas. Jadi. namun bukan berarti publik mendikte pemerintah. Dalam politik. Dalam negara hukum. Begitu juga obrolan yang kritis di warung-warung yang bersifat politis dan sangat peduli de¬ngan problem sekitarnya juga disebut kedaulatan rakyat. maka akan terjadi tirani kelompok. Pemerintah misalnya mengatur agar media massa itu jangan melaporkan hal ini dan itu. civil society dan negara ada batas-batasnya. Tidak cukup dengan peran media. bahkan internasional. hal semacam ini menyalahi prinsip negara hukum. kedaulatan rakyat itu jangan dilihat sebagai substansi melainkan sebagai proses nasional.

maka kita masuk ke tahap berikutnya: tahap yang lebih deliberatif. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga bisa menjadi tema ruang publik. terjadi benturan kepentingan. Buku Immanuel Kant. Menurut penafsiran Kant. menjadi dasar dari teori-teori demokrasi. Dari buku ini dipahami bahwa civil society adalah suatu masyarakat atau kelompok yang otonom. Titik tengah dari pertemuan itu adalah kekebasan bersama. ketidakberdayaan rakyat. ruang publik adalah ruang penyingkapan. Apa yang terjadi dalam komunikasi? Dalam proses komunikasi ini yang terjadi adalah penyingkapan. Tidak ada yang bisa melarang. Konsep ini sudah dikenal dalam pemikiran John Lock. Sebenarnya model ini diambil dari teoretikus lain. tiran-tiran kecil itu merasa tidak nyaman. Sebenarnya. segala tema bisa dijadikan problem dalam ruang publik. civil society itu terjadi kalau ada ke¬bebasan berekspresi di dalam warga negara. yaitu model bendungan. Ruang publik (public sphare) adalah ruang komunikasi yang terbentuk ketika dua orang atau lebih menjalankan proses komunikasi. Apa yang terjadi di ruang publik? Habermas mengatakan bahwa apa saja bisa terjadi. Apa yang terjadi dalam masyarakat? Yang kita lihat adalah kekuasaan modal. Ada satu model untuk praktik yang dikemukakan Habermas. Tapi. Dengan demikian. dan dengan kewenangan saya memaksa Anda dan Anda dengan kewenangannya memaksa saya. Kenyataan yang terjadi tentu saja tidak seindah dalam teori. adalah mencoba mendiseminasi partisipasi publik. maka kualitas . civil society berbeda dengan ruang publik. kekuasaan birokrasi. Tahap ini harus dilampaui. bagaimana teori demokrasi deliberatif dipraktikkan dalam konteks masyarakat seperti Indonesia yang majemuk? Untuk tahap permulaan. Kalau kita lihat. Dia memiliki hak dan ruang yang boleh menentukan nasib nya sendiri. Sehingga perlahan tapi pasti. pasti terjadi kegagapan-kegagapan atau dalam psikologi politik ada sindrom anak kehilangan bapak. termasuk teori Habermas itu sendiri. Sebagai ilustrasi. Sebenarnya Habermas itu Kantian. menurut Habermas. adanya aliran komunikasi dari forum-forum warga (civil society) menuju ke sistem politik (state). kebebasan atas benturan kepentingan. Civil society itu terbentuk kalau. Menuju Perdamaian Abadi: Sebuah Konsep Filosofis (Mizan: 2005). ada prinsip yang terkait dengan rasio dan akal kita sendiri. Ruang publik itu anarki. Jadi wajar jika masing-masing orang memiliki kepentingan yang berbeda. dan lepas dari pengaruh pasar dan negara. Habermas percaya akal mempunyai mekanisme seleksi apakah opini tersebut memiliki kualitas publik atau tidak. Dia mengatakan. dan ini tidak mungkin dilampaui kalau partisipasi warga lemah. pertama. Tugas para penggerak. dan matang dalam pemikiran Immanuel Kant. dan kedua. termasuk juga forum warga. Ruang publik ada aturan dan prinsipnya. Jangan sampai benturan kepentingan itu menjadi sesuatu yang saru (tabu). nanti kewenangan Anda akan bertemu dengan kewena¬ngan saya. Thomas Hobbes. konsep civil society adalah konsep tua dalam teori politik. tidak berarti ruang publik itu tidak ada aturannya dan tidak ada prinsipnya. Kalau tahap itu dilampaui karena cukup banyak mata yang mengontrol kekuasaan dan cukup banyak komunitas yang tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan. dan masih belum terjadi. mesikpun anarkis. Ketika opini semakin rasional dan semakin menyangkut kepentingan umum. Tahap ini sedang diusahakan. kalau negara baru bergerak dari otoritarianisme ke demokrasi.Semua teori akan selalu ber¬hadapan dengan datum (data) sosiologis. Civil society adalah aktor dari ruang publik. kalau saya dan Anda berbeda kepentingan. Nah. mandiri.

melainkan untuk menafsirkan konstitusi secara baru. bukan gerakan untuk mengubah konstitusi. berarti ini sudah kronis. bukan gerakan kekerasan.id/publikasi/79/demokrasi-deliberatif-teori-prinsip-dan-praktik . mereka mengorganisasi diri untuk tidak patuh pada undang-undang. ruang publik kacau balau. ini akan menolong proses deliberasi level atas. tapi filternya menghambat dan hukumnya tidak adil.lakpesdam. hukum yang menjadi filter tidak adil. yang membayangkan adalah parlemen ataupun eksekutif. rakyat bisa-bisa me¬lakukan civil disobedience (pembangkangan sipil). berarti ruang publik juga peka. Tetapi andaikata ruang publik sudah begitu kritis. Tetapi. maka hancurlah semua. Sumber : http://www. jadi masih dalam bingkai negara hukum.or. Seharusnya. Lalu gerakan itu. Kan tidak ada aturannya? Itu berdasarkan intuisi dan sense of justice (rasa keadilan masyarakat) dari ma¬syarakat akan membimbing rasio¬nalitas komunikatif untuk sampai pada suatu momen di mana ma¬syarakat tidak tahan lagi dengan undang-undang ini. Tapi andaikata sistemnya menghambat dan DPR-nya juga menghambat. dan sekarang mereka akan mogok dengan UU tersebut. kata Habermas. Akibatnya. sebuah republik di mana DPR-nya tuli. Kalau syarafnya peka. Apa yang dimaksud ruang publik itu bisa dibayangkan se¬bagai sistem saraf dalam negara hukum. tetapi proses demokrasi tidak berjalan. Jadi ini mungkin terjadi dalam model bendungan ini. Filter itu adalah sistem hukum. Opini yang terjadi di ruang publik itu akan masuk pada filter. Jika demikian.diskursif¬nya akan masuk diskursus moral. maka yang terjadi adalah keterasingan antara produk hukum dan kepenti¬ngan publik. atau DPR-nya mulai peka. maka ia akan membuat sumbatan-sumbatan pada filter itu.