©TiyoWidodo 2010 http://www.setiyowidodo.blogspot.

com/

MASA DEPAN WILAYAH PERKOTAAN SEBAGAI IDEOLOGI Sumber: John Friedmann, The Prospect of Cities Diterjemahkan & dirangkum oleh Tiyo Widodo Semarang, 2010 Kota tengah menjelang ajalnya. Terkadang kota menjadi hilang begitu saja dalam perjalanan selama abad XX. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perluasannya secara horisonal, banyak yang berusaha untuk menyelamatkan kota, melahirkan kembali kota, mempertahankan jatidirinya, memulihkan rasa identitas wilayah perkotaan dan tatanan peradaban. Namun dorongan yang menuju ke arah hilangnya kota tidak dapat dihindarkan, atau sedikit-banyak diulangi. Apa yang tersisa ialah kenangan; kota telah menjadi semacam metafora. Penulis akan merujuk pada kondisi yang tersisa ini dengan sebutan “perkotaan (urban).” Secara historis kota belum pernah, tentu saja, merujuk pada satu jenis saja. Tanpa usaha untuk melacak kembali evolusi (perubahan) dari proto-cities Meso-Amerika, Timur Tengah, dan Asia, kita tetap akan memahami bahwa pusat-pusat perkotaan di negara-negara Islam, pada masa prakolonial Afrika Barat, pada masa dinasti Tang, Eropa abad pertengahan, dan masa kolonial Amerika sangatlah berbeda satu sama lain dalam sejumlah dimensi yang dipengaruhi oleh: arsitektur bentuk bangun, struktur administrasi politik, hubungan sosial, makna budaya, dan ekonomi. Namun, masih saja karena mereka adalah kota dan oleh sebab itu dengan kepadatan dan bentuk fisiknya menciptakan hunian manusia, kota tetap ada di tengah-tengah daerah pedesaan/pelosok yang mengelilinginya serta terus berusaha untuk mempertahankan diri melalui kegiatan perdagangan dan industri/manufaktur. Hal ini, setidaknya, adalah ciri umum yang dimiliki oleh kota, yang menyamakannya dengan kota lain. Wacana akademis tentang kota menggambarkan beragamnya bentuk dan karakteristik kota. Lewis Mumford (1938) dan Carl E. Schorske (1980) menulis tentang budaya kota; Georg Simmel (1969) dan Richard Sennett (1990) membahas tentang hubungan sosial; Hannah Arendt (1958) menginginkan untuk membangkitkan kembali

polis

Yunani

dalam

nuansa

politik;

Spiro

Kostof

(1992)

begitu

bersemangat

mengumpulkan gambar-gambar tentang “bangunan kota”; dan sejarawan seperti Fernand Braudel (1992) meneliti kota dari sudut pandang hubungan ekonomi. Namun tidak berbeda dari senyuman kucing Cheshire, kota historis secara perlahan hilang, daerah perkotaan muncul di tempat tersebut, dan wacana ekonomi menjadi dominan. Apa yang terkadang masih kita katakan sebagai kota – dan bagaimana, dalam banyak

Halaman | 1

dan perencana semuanya menuju ke akar permasalahan yang melingkupi perkotaan. sosiolog. pada simpulannya. pada gilirannya. ada pula yang membahas tentang dampak pertumbuhan pendidik terhadap lingkungan hayati. perbedaan antara satu kota dan kota lainnya tampak menjadi penting kedudukannya.blogspot.com/ tempat di dunia. yakni “masalah bersama wilayah perkotaan dan tugas pembangunan yang harus dijalankan secara bersama dalam bentuk kerjasama” (Ghali 1996). dan ada pula kelompok pakar yang menekankan pada berbagai bagian dari pesatnya aglomerasi perkotaan satu sama lain melalui infrastruktur. akan terdapat kelompok pemenang dan kelompok pecundang di dalam permainan ini. Perpindahan abad: Masa depan wilayah perkotaan Memasuki akhir abad XX. Peristiwa besar ini menghasilkan sebuah kepentingan yang besar pula dan. pemerintah. pakar geografi. Namun dengan menguatnya imajinasi tentang wilayah perkotaan.©TiyoWidodo 2010 http://www. perumahan dengan penghuni ratusan jiwa – sekarang ini tampak hampir eksklusif dari sudut pandang akumulasi modal dan kegiatan mencari nafkah manusia. dan organisasi nonpemerintah (NGO) dengan tujuan untuk membahas pernyataan Sekjen PBB Boutros-Boutros Ghali. Kota sekarang telah menjadi. dan ekonominya hanya sebatas salah satu ciri khas diantara cirikhas yang lain. Seperti yang kita ketahui. kota dapat berkembang lebih dari ratusan atau bahkan ribuan kilometer persegi. dalam bahasa ahli statistik. perbedaan-perbedaan yang ada semakin terabaikan. Pakar statistik. Namun. semua topik tersebut di atas menyatu ke dalam satu narasi induk: persaingan yang ketat antar semua pusat perkotaan untuk memenangkan pasar global. sektor swasta. Bersamaan dengan terjadinya transformasi dramatis ini. Pertanyaannya ialah apakah kota pada abad yang baru akan menjadi hilang tanpa arah dengan pola-pola yang telah diterka sebelumnya melalui evolusi. beberapa diantara pakar tersebut menitikberatkan masalah kemiskinan. menjadi tonggak diselenggarakannya sejumlah konferensi yang membahas tentang masa depan wilayah pertanyaan. otoritas lokal. ekonom. perspektif mengenai wilayah perkotaan menjadi bersifat global.setiyowidodo. sebuah aglomerasi tanpa batasan yang jelas. United Nations Centre for Human Settlements menyelenggarakan sebuah konferensi dunia. Halaman | 2 . Konferensi ini dihadiri oleh organisasi internasional. di kota Istanbul. Selama masih ada kota. yang biasanya disebut sebagai Habitat II. Konferensi yang disponsori oleh pemerintah Prancis ini pertama kali diselenggarakan di La Rochelle yang terletak di wilayah pantai Atlantik dengan judul “Cities in the 21st Century: Cities and Metropolises: Breaking or Bridging?” (Kota pada abad XXI: Kota dan Metropolis: akankah kota menjadi hilang atau semakin tumbuh berkembang?).

Desember 1999).blogspot. yang sangat diwarnai oleh organisasiorganisasi akar rumput. Menurut undangan resmi konferensi. forum ini akan mendiskusikan tiga rangkaian pertanyaan dengan referensi khusus untuk perubahan sejak berlangsungnya konferensi Habitat II. perdamaian. keamanan. manajemen.©TiyoWidodo 2010 http://www. Kota besar dan berkembang semakin menguatkan fokus pada masalah lokal dan global tentang kemungkinan mendatang tatakelola. (Dari laporan konferensi. dan persediaan perumahan yang memadai dan aman? Halaman | 3 . Afrika Selatan sebagai penyelenggara mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Akankah kota Johannesburg menjadi seperti Lagos atau Kuala lumpur pada abad XXI? Akankah kehidupan kami menyerupai sesuatu dari film manga buatan Jepang? Akankah kami hidup dalam sebuah kota posmodern seperti yang digambarkan di dalam film Bladerunner atau akankah seperti virtul reality dalam film Matrix? Kehidupan manusia/penduduk kota akan ditentukan secara global oleh eksistensi sebuah daerah perkotaan pada milenium mendatang. penentuan nasib sendiri. University of California – Los Angeles mensponsori kegiatan sejenis dengan tema utama mengenai apa yang oleh penyelenggara konferensi sebut sebagai global city regions (wilayah perkotaan global). seperti yang tersirat di dalam pertanyaan-pertanyaan di bawah ini: 1. kesempatan yang sama dan pembangunan yang berkelanjutan. Pertanyaan-pertanyaan di atas terselip di antara rasa takut/khawatir dan harapan. tenaga kerja.” Tujuan konferensi yang satu ini ialah menjelaskan peran civil society di dalam membentuk masa depan daerah perkotaan.” dan beberapa hari kemudian berlanjut dengan konferensi yang membawa tema lebih jelas. Ideologi Jerman Gerakan sosial perkotaan negara Jerman dan Prancis memutuskan untuk menyelenggarakan konferensi “pelengkap” di kota Berlin dengan tajuk “Cities for All – Local Heroes 21 – European Meeting of Urban Grassroots Organizations. konferensi terakhir ini disponsori oleh University of Witwaterstand dan Greater Johannesburg Metropolitan Council. Pada bulan Juli 2000..com/ Tahun berikutnya.setiyowidodo. Strategi-strategi apa sajakah yang paling tepat memberikan kontribusi kepada realisasi dan pemeliharaan hak untuk permukiman. “Urban Futures” (dalam bentuk jamak). konferensi berlangsung di kota Berlin dengan tema “The Future of the City: URBAN 21. Strategi-strategi apa sajakah yang sebaiknya dikembangkan untuk sebuah kota tanpa pengecualian dan diskriminasi serta yang menawarkan akses yang sama kepada semua sumber daya perkotaan? 2. pembiayaan kota.

wilayah perkotaan selanjutnya dibatasi menjadi satu dimensi saja. yang menghimpun semua bentuk keragaman lain di bawah logika pasar bebas.©TiyoWidodo 2010 http://www. Penulis juga memberikan respon kepada MieterEcho. yang secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Laporan draft (empirica 2000) tersebut dapat diringkas ke dalam tujuh proposisi. yang diterima dari Roger Keil (2000) dan Neil Brenner (2000).setiyowidodo.com/ 3. Namun apa sajakah hal lain yang mungkin terjadi. faktor utamanya ialah ekonomi. dan lingkungan yang berbudaya. Tujuanny ialah untuk mengungkap pemikiran di balik apa yang disebut sebagai konsensus global tentang kota.blogspot. Hampir di seluruh dunia akan saling koeksis (muncul bersama-sama) di dalam sebuah jaringan perkotaan global yang didorong oleh persaingan seluruh dunia. untuk mendapatkan fasilitas air bersih. 410-19). Bagaimanakah civil society lokal dapat digalakkan? Bagaimanakah civil society dapat memberikan kontribusi kepada pengembangan lokal dan global yang bertanggung jawab suatu kota? Konferensi berikutnya yang perlu dikomentari ialah draft mengenai Reinventing the City: Urban Future 21 (empirica 2000). Jika diproyeksikan ke seluruh dunia. untuk mendapatkan rumah yang layak huni dan menjadi tempat untuk memperoleh penghasilan. 2. maka akan terbentuklah sebuah ruangan tempat diperolehnya kesejahteraan dan kekuasaan. sama dengan kehidupan yang baik yang dinikmati oleh penduduk kelas menengah Jerman: “Untuk dapat memiliki rumah yang harganya terjangkau. Semua manusia di dalam semua kota di dunia memiliki aspirasi yang sama Apa yang semua orang inginkan. yang penulis teruskan kepada MieterEcho sebagai tanggapan dari permintaan mereka. untuk menyekolahkan anak ke sekolah yang bermutu. Di dalam formulasi laporan draft konferensi dunia. sanitasi modern dan pelayanan kesehatan yang terjangkau. untuk merasakan bahwa mereka adalah stakeholders yang sebenarnya di Halaman | 4 . Persaingan seluruh dunia antar-wilayah perkotaan diidentifikasikan sebagai dinamika yang mendorong lahirnya sebuah sistem global. “Jaringan perkotaan global” di sini sama dengan space of flows abstrak yang dikemukakan oleh Manuel Castells. atau untuk memenangi pasar global. yang ia gambarkan sebagai sebuah kondisi yang terdiri atas tiga lapisan: (1) sirkuit impuls elektronik yang saling terkait dengan (2) tempat-tempat tertentu – titik dan hub – dengan karakteristik yang sangat nyata dan (3) sebuah lapisan elit-elit manajerial yang dominan yang menjalankan fungsi kewajiban mereka di sekililing ruang alir (space of flows) tersebut (Castells 1996. Kita tidak diberitahukan untuk mendapatkan apa persaingan tersebut berlangsung. kejayaan. apakah untuk kekuasaan. memberikan keyakinan kepada penyusun laporan.

com/ dalam kota mereka sendiri” (empirica 2000. Namun. dan gerakan sosial. apakah ia dipersiapkan untuk bekerjasama dengan pemerintah lokal? Dan atas dasar agenda siapakah kerjasama itu? Halaman | 5 . Namun sasaran inti dari “keberlanjutan” di sini pertama-tama ialah sasaran komunal. baik itu umum maupun spesifik. 4. seorang pakar ilmu politik. manakala terjadi pergesaran tanggung jawab (namun dengan sedikit sumber daya) menuju pemerintahan lokal.setiyowidodo. (Brenner. 2). memiliki hubungan dengan prirotas yang harus diberi lampu hijau dan dijadikan tolok ukur. menurut sejumlah Cassandra. 2000. Laporan ini hanya menawarkan pabulum. dan bahwa. dorongan sosial. 3. institusi politik. Namun demikian. yang tidak merlukan respon-respon yang spesifik dari modal global. Dari sini kita ketahui mengapa ide tentang aspirasi bersama itu dikedepankan? Karena model ekonomi yang melandasi laporan ini adalah “tahap-tahap pertumbuhan” yang dikemukakan oleh W. Neil Brenner. memberikan komentar mengenai laporan draft yang disusun: bahwa perbedaan sosiopolitik dan kepentingan yang mewarnai setiap usaha untuk mengelola sebuah kota hanya akan kita ketahui pada saat situasi generik/umum seperti “pekerjaan dan kesejahteraan” “memberdayakan warga” dan “ekosistem yang stabil” dikonkretkan dengan referensi untuk kondisi sisoekonomi. argumen bergesar secara perlahan menuju mantra yang lebih mutakhir tentang pembangunan “berkelanjutan” yang mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi terkadang melekat atau menyatu di dalam lingkungan hayati. Rostow (1961) dengan thesisnya yang terkenal mengenai “tinggal landas” menuju pertumbuhan ekonomi kumulatif yang berkelanjutan. maka akan menjadi jelas kiranya bahwa pertukaran besar-besaran terjadi dengan cara yang hampir menyerupai kebijakan wilayah perkotaan.blogspot. Jika hal ini telah tercapai. Apa yang diperlukan untuk mencapai perkembangan kota yang berkelanjutan ialah tindakan politik lokal yang pasti bekerjasama dengan civil society Civil society dikatakan sebagai sebuah partner baru di dalam tatakelola yang baik. Tatakelola yang baik harus menjadi instrumen bagi perbaikan sasaran bersama pembangunan berkelanjutan Dengan proposisi ini. 1). akan terjadi batas yang lebih nyata dari pertumbuhan. misalnya. apakah sebenarnya civil society itu? Dan apakah civil society ada di seluruh dunia atau hanya di beberapa tempat saja? Dan di manapun civil society itu berada.©TiyoWidodo 2010 http://www. dalam politik riilnya. tatakelola yang baik memiliki hubungan yang erat dengan keberlanjutan. Dengan memastikan bahwa apapun pertumbuhan yang terjadi dalam wilayah perkotaan adalah berkelanjutan secara lingkungan adalah sesuatu yang dapat disebut sebagai “tatakelola yang baik”. Adapun masalah utama yang terkait dengan citra aspirasi yang homogen ini ialah bahwa karakteristik yang muncul memberitahu kita tentang prioritas-prioritas yang relatif. Pada kenyataannya. W.

Sehingga di manakah manufaktur akan dijalankan demi memenuhi aspirasi “seluruh warga” (proposisi 2)? Jawabannya ialah barangkali jauh di sana di daerah pelosok tempat beradanya pekerja perempuan yang sangat banyak dapat dimanfaatkan untuk menjalankan industri.setiyowidodo. bilamana itu memang nyata. 6. 7. dan disfungsi sosial baik pada negara kaya maupun negara miskin. konsep tentang civil society secara umum belum diketahui. Setelah sekian lama dunia menganut norma pemerintahan terpusat. Kota abad XXI dapat menimba pengalaman dari kota-kota yang telah berhasil mengatur perkembangannya pada akhir abad XX Laporan di sini mengemukakan tentang best practices. di negara seperti Cina. bahwa civil society yang otonom dapat memberikan kelebihan maupun kerugian: civil society yang otonom tak ubahnya klub ikebana atau mafia. Ekonomi wilayah perkotaan akan berpindah dari produksi barang menuju penyediaan jasa/pelayanan. posisi relatifnya masing-masing pada grafik hanyalah sekedar memberikan perbedaan yang signifikan antara mereka.com/ Beberapa penulis dari berbagai latar belakang telah mengemukakan. Sehingga proposisi keenam ini akan dapat diterima jika kita menerima premis mayor laporan. Untuk benar-benar berhasil. Teknikteknik pengelolaan (jika memang ada tekniknya). tidak akan dapat ditiru begitu saja. Di sini muncul prediksi yang berani: Ekonomi wilayah perkotaan dalam jaringan global akan berpindah dari manufaktur menuju jasa. Perubahan ini akan memungkinkan kota untuk emansipasi dirinya dari basis sumber daya tradisional dan menentukan nasib sendiri. dan QUANGO. yang. Dan pada saat muncul ide tentang kerjasama yang harmonis dengn pemerintah. mereka memperjuangkan kepentingan sendiri secara terpisah. civil society yang baik adalah masyarakat yang dapat dipercaya. Atau barangkali pula referensinya lebih merujuk pada NGO. 5. Tidak satupun dari kelompok sosial ini yang khusus tertarik atau berkepentingan terhadap kerjasama dengan pemerintah. menjadi bagian dari jargon persaingan yang ketat.blogspot. bersama dengan benchmarking. Terdapat ribuan kota di dunia dan satu sama lain saling berbeda. Dalam pernyataan Tocqueville (1966. kota abad XXI akan memerlukan otonomi yang lebih luas. CBO. Sebagai contoh. pengembangan masyarakat. Kota yang dikelola secara buruk harus belajar dari kota yang dikelola secara baik dan mampu bersaing secara global. 1848).©TiyoWidodo 2010 http://www. Halaman | 6 . yang lebih kental nuansanya dengan masalah kemiskinan. menempatkan kota ke dalam posisi ujung tombak. saat ini muncul balance of power (perimbangan kekuasaan) baru. Perubahan ini akan menyebabkan emansipasi kota dari basis sumber daya tradisional dan. bahwa semua kota pada hakikatnya adalah sama dan hanya disituasikan oleh titik-titik yang berbeda disepanjang garis trayektori dari status kaya hingga miskin. mengulangi pernyataan dari Bank Dunia. dan sebagainya. maka politik sehari-hari dari sektor-sektor warga yang tidak diberdayakan sering menjadi oposisi.

com/ Proposisi ini adalah sebentuk tuntutan untuk restrukturisasi national state menuju arah virtual city-states pada masa depan.setiyowidodo.blogspot.1 Model Pengembangan Wilayah Kota Model 1: City Marketing Ruang tindakan Kerangka waktu Lingkup Impuls pengembangan pokok Mode Basis kekuasaan/wewenang Keberlanjutan Kota pusat Payoff jangka panjang Maksimalisasi pertumbuhan ekonomi Eksogen Persaingan (zero-sum) Sempit/teknokratik Buruk Model 2: Quasi Citi-States Wilayah-kota Payoff jangka pendek Optimalisasi tujuan yang bermacam-macam Endogen Kerjasama (jaringan) Inklusif/demokratis Baik Model 1: City-Marketing Kerangka waktu (time frame) berupa kota pusat (core city) yang terpisah dari daerah pinggiran kota atau daerah pelosok yang terletak di sekelilingnya. 4). seperti yang dapat kita temui di wilayah Pasifik Selatan. Lingkup model 1 berada pada ekonomi yang paling sempit. tentang banyak kota di seluruh dunia yang dikendalikan oleh pemerintah nasional. mulai dari sumber daya anggaran. Muncul tren di sepanjang grasi ini. bersifat eksogen. Time frame di sini biasanya memiliki keuntungan politik jangka pendek. yang bertujuan mempromosikan sebuah bentuk baru rezim politik nasional di mana persaingan yang ketat antar-pemerintah kota untuk mendapatkan modal investasi mengalami institusionalisasi. seperti sosial dan lingkungan. Basis kekuasaan pengembangan wilayah kota pada Model 1 memiliki lingkup yang tidak terlalu luas. Menurut Brenner (2000. dan masalah-masalah lain. Akan tetapi. cenderung dikorbankan untuk memenuhi keuntungan jangka pendek. dan laporan mencantumkannya. PEMASARAN KOTA DAN QUASI CITY-STATES: DUA MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH PERKOTAAN Tabel 2. yang Halaman | 7 .©TiyoWidodo 2010 http://www. yang memiliki tradisi panjang otonomi pemerintahan kota. dengan argumen kebijakan yang lebih proaktif. Impuls pokok dari model pengembangan ini diasumsikan terdapat di luar kendali kota dan. hal inilah salah satu hal yang menjadi tolok ukur restrukturisasi di Republik Federasi jerman. proposisi 7 ini memuat agenda politik yang lebih mendalam tentang laporan yang dissun.

sehingga lebih mengedepankan hasilnya dibandingkan prosesnya. apakah kita hanya memikirkan masalah proess atau hanya dengan hasil. Kepentingan-kepentingan lain diabaikan secara efektif atau kalau tidak dinyatakan secara simbolik. Kelompok ini harus pula memiliki kemampuan materiil. dan begitu pula sebaliknya.©TiyoWidodo 2010 http://www. Pertama. Bertentangan dengan pendapat ini ialah idealis penganut Emmanuel Kant yang mengedepankan maksud baik untuk mencapai kebaikan.com/ terdiri atas kepentingan bisnis lokal yang bergerak bersama-sama dengan pemerintah kota dan modal transnasional. Adalah Hannah Arendt yang membentuk konsep penulis mengenai tindakan dan praksis politik (ia menggunakan dua istilah ini secara bergantian). Halaman | 8 . Proseduralis demokratis mempercayai proses.blogspot. keberlanjutan memiliki hubungan dengan langue dureé. Intensi dan Praktek Kota yang baik memerlukan bentuk praktek yang berkomitmen. menurut definisinya. Dari sini diperoleh kesimpulan bahwa prospek bagi pembangunan/perkembangan yang berkesinambungan adalah hal yang buruk karena. Di dalam konsep tersebut dijelaskan pula kondisi tertentu untuk menjalankan tindakan. Gambaran Kota yang Baik 1: Pertimbangan teoretikal Sebelum melanjutkan pembahasan. terlebih dahulu kita harus mengetahui kota siapakah yang sedang kita bicarakan? Dapatkah kita secara legitimasi mengasumsikan kemungkinan “kebaikan bersama” bagi sebuah kota? Kedua. atau haruskah hasil dan proses sama-sama dikedepankan? Dan terakhir. Pemasaran-kota (city-marketing) adalah sebuah model payoff materiil jangka-pendek bagi beberapa aspek dan kerusakan jangka panjang bagi sebagian besar aspek. Dalam jangka panjang setiap orang akan mendapatkan giliran. bagaimana sebuah kerangka normatif seperti yang kita anggapkan dipahami dalam hubungannya dengan praktek profesional? Perbandingan antara proses dan hasil Perbandingan istilah ini telah memiliki akar sejarah yang lama dan kuat. Kelompok pengkonsep ini pertamatama dikemukakan dan dimobilisasikan. Di baliknya muncul kepemimpinan. sebagian karena mereka mengasumsikan bahwa perbedaan antar-partai yang bersaing relatif kecil. di dalam menetapkan status sebuah kota yang baik. dan kekuatan moral untuk menghadapi resistensi terhadap proyek yang diajukannya. dan karena mayoritas saat ini akan menjadi minoritas pada masa yang akan datang.setiyowidodo. kita perlu mengetahui hal-hal dasar. simbolis. Adapun posisi ketiga ialah mereka yang terdorong untuk menunjukkan kebenaran posisi etis mereka bahwa mereka tidak memiliki kesabaran dengan prosedur demkratis.

dan ekologi – yang esensial bagi perkembangan manusia. kita selalu terbatas oleh (1) hubungan sosial dengan keluarga. dan sebagainya. Ruang sosial melahirkan sejumlah persyaratan sendiri. graduate income tax. Karena adanya referensi untuk institusi politik. dan tetangga. Sehingga. namun sebagai beings-in-relation.com/ Kota yang Baik 2: Manusia berkembang bersama lahirnya Hak asasi Di dalam masyarakat Barat yang kontemporer. maka potensi perkembangan manusia hanya dapat direalisasikan dalam konteks masyarakat yang lebih luas. hak kelas. Namun. Dalam aspek politik. umat manusia harus meiliki awal yang sama di dalam kehidupan. undang-undang antidiskriminasi. dan tekanan sosial. Secara ringkas dapat kita katakan bahwa manusia tidak sekedar menggunakan kota untuk mengemukakan kepentingan pribadi – beberapa orang akan melakukannya untuk menjadi lebih sukses ketimbang orang lain – namun untuk memberikan kontribusi sebagai anggota-warga masyarakat politik sehingga menciptakan kondisi sosial – politik. rekan kerja. kesehatan masyarakat. Ekonom politik dapat saja tidak sependapat dengan aturan ini.sosial. pendeknya. diperlukan bimbingan lebih lanjut. dan hal tersebut dapat menghasilkan batasan bagi tindakan. atau dapat juga diartikan sebagai kehidupan warga yang otonom secara substansial terbebas dari bimbingan langsung dan kontrol dari pemerintah. ekonomi. oleh etika kewajiban bersama kultural dan (2) ruang sosiopolitik yang lebih luas di dalam hidup melalui cara yang bermacam-macam dapat menghambat perkembangan manusia.setiyowidodo. telaah yang cermat tentang batasan di mana sebuah kota menjalankan peran bagi penciptaan perkembangan manusia. tentu saja. individu dan kelompok menghasilkan keinginan. Sehingga sejak awal. dan khususnya di Amerika.blogspot. kontrol adminsitrasi. keluarga. Multipli/city. kita memposisikan manusia. perkembangan manusia melandasi keyakinan yang sangat kuat bahwa hak harus diperjuangkan namun tidak diwariskan. yang memiliki perbedaan satu sama lain karena adanya perbedaan kemampuan sejak lahir. dan penduduk wilayah kota dalam arti pencantuman atau pelibatan ke dalam pasar pekerja dan kelas-kelas sosial. Mereka cenderung mendeskripsikan kota dalam istilah akumulasi modal. Multipli/city mengakui prioritas civil society. yang merupakan ruang bagi kebebasan dan reproduksi sosial. yang kesemuanya berusaha mencari persamaan kesempatan dalam hidup antara individu dan kelompok. Namun untuk dapat membantu kita secara menyeluruh. Sepanjang masa. dan sebagainya. kita bertanggung jawab mutlak terhadap segala sesuatu yang kita lakukan. tetal saja ide tentang persamaan dasar diantara semua warga menjadi landasan bagi sosialisme masyarakat Barat dengan sistem pendidikan untuk warga.©TiyoWidodo 2010 http://www. sebagai umat manusia/makhluk yang esensial. Meskipun dalam kedudukan sebagai individu. bukan sebagai Leibnizian monads. teman. pertukaran pasar. Kota yang Baik 3: Multipli/city sebagai Primary Good Perkembangan manusia berperan sebagai ajang untuk menilai kinerja kota. civil society memuat masyarakat politik yang terdapat di Halaman | 9 .

dan keseluruhan hasil bagi kota. melarikan diri dari bahaya fisik. Kepemimpinan politik yang terinsipirasi. Sepanjang sejarah. Beberapa diantaranya tidak berbicara bahasa yang dominan di kota tersebut. Tatakelola yang baik adalah sebuah konsep yang barangkali sifatnya lebih inklusif dibandingkan pemerintahan dan administrasi pada umumnya dan menggambarkan fakta bahwa semakin hari semakin luas pula jangkauan partisipan did alam proses yang berlangsung yang telah sekian lama menjadi pokok permasalahan. dan migran datang dari banyak tempat.setiyowidodo. memenuhi hidup. 3.blogspot. Warga harus memiliki hak untuk mendapatkan informasi. dan memobilisasi sumber daya agar dapat direalisasikan. untuk keamanan.com/ dalam kota. dan juga mungkin. budaya. khususnya mengenai kontrak antara kota dan korporasi swasta. Akan tetapi sebenarnya terdapat aspek-aspek lain yang sangat ditegaskan di dalam kehidupan sehari-hari. tingkat kinerja pemerintah.©TiyoWidodo 2010 http://www. Pemimpin yang mampu untuk mengartikulasikan visi bersama bagi politi. Tatakelola harus bersifat transparan dalam operasinya. Mereka juga tidak berusaha mencari dan menciptakan keragaman. Akuntabilitas publik: (1) pemilihan periodik perwakilan politik dan (2) hak warga untuk mendapatkan informasi yang sama tentang siapa yang ikut di dalam pemilihan umum. sehingga keragaman yang muncul hanyalah sebuah produk-sampingan dari “proyek bagian dari proyek”. membangun konsensus yang kuat di sekeliling visi. masih ada pula kelompok penduduk lain yang merasa asing berada di kota tersebut. sedangkan kelompok penduduk yang lain memiliki agama yang berbeda. misalnya aspek keagamaan. yang kesemuanya dapat dihimpun berdasarkan konsep civil society yang mampu mengatur diri sendiri. Tatakelola berhubungan dengan berbagai cara yang digunakan untuk menghimpun/mengikat keputusan-keputusan yang menjadi dasar pembentukan kota dan wilayah-kota. untuk melebur berdasarkan sebuah konsep tunggal tentang hidup yang benar. Transparansi dan hak mendapatkan informasi. penduduk kota telah mengalami pertumbuhan melalui migrasi. sosial. Mereka datang ke kota untuk memenuhi janji untuk menjadi lebih bebas. dijalankan dengan pengawasan pihak warga. maka kita akan perlu mempertimbangkan proses-proses tatakelola di dalam kota yang baik. Kota yang Baik 4: Tatakelola yang Baik Jika proses sama pentingnya dengan hasil. Mereka hanya tidak ingin terganggu haknya. dan kehidupan sosial. Halaman | 10 . Mereka tidak datang ke kota untuk membentuk sebuah rezim. 2. Kriteria untuk memahami kinerja sebuah sistem tatakelola wilayah-kota (city-regional) 1.

Sifat inklusif. memiliki akses atas saluran-saluran yang tepat bagi pencapaian tujuan. dan tepat terhadap klaim dan amanat penderitaan mereka. dan proyek kapanpun konsekuensi mereka dapat diharapkan untuk berpengaruh signifikan bagi kehidupan dan penghidupan.©TiyoWidodo 2010 http://www. Cara-cara yang terinstitusionalisasi untuk memecahkan konflik antara pemerintah/negara dan warga tanpa harus diwarnai dengan kekerasan fisik. Daya respon. memiliki pemerintahan yang dapat diakses di dalam wilayahwilayah “kehidupan sehari-hari”.com/ 4.setiyowidodo. 5.blogspot. Halaman | 11 . 6. Manajemen konflik antikekerasan. Hak primordial warga adalah mengklaim hak dan mengemukakan amanat penderitaan. Hak semua warga untuk terlibat langsung di dalam perumusan kebijakan. program. dan merespon secara tepat waktu. atentif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful