1

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sebagian besar ilmu pengetahuan kimia merupakan ilmu percobaan, dan sebagian besar pengetahuannya diperoleh dari penelitian di laboratorium. Pada kesempatan ini saya akan memaparkan suatu bagian dari ilmu kimia yaitu mengenai pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dan pemurnian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur. Campuran dua atau lebih zat dimana dalam penggabungan ini zat-zat tersebut mempertahankan identitasnya masing-masing dan tidak memiliki susunan yang tetap. Campuran dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran juga dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat-sifat fisiknya. Untuk memperoleh zat murni, kita harus memisahkannya dari campurannya unyuk mendapatkan zat murni, dilakukan suatu system yang dapat memisahkan antara zat murni dengan bahan-bahan pencemar atau pencemar lainnya pada suatu campuran yakni pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dan pemurnian zat dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu, penyaringn (filtrasi), dekantasi, sublimasi, kristalisasi, destilasi, adsorbsi dan ekstraksi. Melalui percobaan pemisahan dan pemurnian kita dapat memahamisecara tepat cara untuk memperoleh produk yang lebih murni dari campuran zat yang masih tercemar oleh zat lain. 1.2 Tujuan − Mengetahui berbagai jenis pemisahan dan pemurnian − Memahami prinsip pemurnian zat dari campurannya − Mengetahui heterogen perbedaan campuran homogen dengan campuran

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Campuran adalah penggabungan dua atau lebih zat dimana dalam penggabungan ini zat-zat tersebut mempertahankan identitasnya masing-masing. Beberapa contoh diantaranya adalah udara, minuman ringan, susu dan semen. Campuran tidak memiliki susunan yang tetap atau sifat dan komposisi yang tetap. Berdasarkan sifatnya, campuran dikelompokka menjadi 2 macam yaitu : 1. Campuran Homogen Merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam campuran homogen mempunyai sifat yang sama Contoh : a. Teh, merupakan pencampuran antara gula, air dan teh yang diaduk secara merata dan tidak bisa dibedakan antara gula dan airnya. b. Udara, merupakan campuran bermacam-macam gas seperti nitrogen, oksigen dan lain-lain yang masing-masing gas tidak bisa dibedakan. 2. Campuran Heterogen Merupakan campuran yang mengandung zat-zat yang tidak dapat bercmapur satu dengan yang lain secara sempurna sehingga dapat dikenali/diketahui perbedaan sifat-sifat partikel dari zat yang bercampur tersebut, seperti bentuk dan warna, Contoh : a. Tepung yang dicampur dengan air b. Air dengan pasir c. Beras dicampur dengan pasir Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan pemisahan secara kimia satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain

3

sehingga dapat dipisahkan. Cara atau tahnik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud dan sifat komponen yang terkandung didalamnya, jika komponen berwujud padat dan cair misalnya pasir dan air dapat dipisahkan dengan dekantasi. Berdasarkan sifatnya maka pemisahan dan pemurnian campuran menjadi unsure-unsur penyusunnya dapat dibedakan menjadi enam bagian yaitu : 1. Filtrasi (penyaringan), adalah pemisahan zat padat dari suatu larutan berdasarkan ukuran partikelnya yagnberbeda menggunakan kertas saring. Contohnya bubuk kapur tulis ditambhakan air diaduk lalu disaring menggunakan kertas saring yang sangat kecil. Kapur tulis akan tersaring diatas kertas saring dikarenakan partikel kapur tulis tidak dapat menembus pori-pori kertas saring sedangkan air dapat melewati kertas saring, karena partikel air lebih kecil daripada pori-pori kertas saring tersebut. 2. Dekantasi (pengendapan), salah satu jenis reaksi umumnya berlangsung dalam larutan berair adalah reaksi pengendapan yang cirinya adalah terbentuknya produk yang tidak larut, atau endapan. Endapan adalah padatan tak larut yang terpisah dari larutan. Rekasi pengendapan biasanya melibatkan senyawa-senyawa ionik. 3. Ekstraksi, adalah pemisahan zat dengan larutannya berdasarkan kepolarannya dan massa jenisnya. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berada dari komponen-komponen dalam campuran. Pemisahan ini berdasarkan jenis larutannya atau kepolarannya, dan massa jenisnya. Campuran dua jenis cairan yang tidak saling melarutkan dapat dipisahkan dengan corong pisah. 4. Sublimasi (Penyubliman), Peralihan secara langsung suatu zat, dari padat ke gas/uap (dapat juga kembali ke wujud padat lagi), atau dari gas/uap kepadat, tanpa melalui fase cair. Merupakan salah satu metode pemurnian untuk senyawa-senyawa yang dapat menyublim (misalnya yodium, ammonium klorida, arsenitrioksida, dan lain sebaginya). Dan jika padatan yang tersublimasi tersebut bisa diembunkan lagi (rekondensasi) kalau sublimasi digunakan maksud-maksud preparative, maka tekanan atmosfir

4

diatas senyawa tersebut baru dikecilkan dengan sebuah aspirator vakum. Ini mengakibatkan tekanan zat padat itu menyapai tekanan atm pada suhu yang lebih rendah. Pada kondisi ini kecil kemungkinan terjadi dekomposisi jumlah senyawa yang dapat dimurnikan pada tekanan normal termasuk sedikit. 5. Kristalisasi, merupkan proses pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari sutu larutan dengan cara menguapkan pelarutny. Pada kristlisasi, larutan pekat didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu terjadi Karen kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Apabila larutan tidak cukup pekat maka dapat dipekatkan terlebih dahulu dengan cara penguapn. Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan. Melalui kristalisasi diperoleh zat padat yang lebih murni karena komponen larutan lainnya yang kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal. 6. Destilasi, merupakan cara pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan titik didih komponen-komponen penyusunnya. Prinsip kerja cara penyulingan ini didasarkan pada perbedaan titik didih dari dua zat yang bercampur atau pertikelnya yang satu mendidih atau menguap sedangkan yang lain tidak. Larutan, adalah campuran homogen, suatu campuran dikatakan homogen jika antar komponennya tidak terdapat bidang batas hingga tidak terbedakan lagi walaupun menggunakan mikroskop ultra. Komponen larutan tidak dapat dipisahkan melali penyaringan. Komponen larutan dibedakan atas pelarut dan zat terlarut. Proses pelarutan dipengaruhi oleh suhu, pengadukan / jika zat terlarut lebih halus. Zat adalah materi yang susunan dan komponen penyusunannya sama, zat murni memiliki komposisi konstan. Salah satu cara untuk membedakan antara zat murni dan campuran adalah dengan mengukur titik leleh atau titik didih. Suhu zat murni akan tetap konstan ketika meleleh, misalnya es. Es akan meleleh pada suhu 0° C dan suhu ini tetap sama sampai semua es tetap meleleh. Tetapi jika campran

5

dilelehkan biasanya suhu akan berubah secara bertahap ketika zat padat tersebut diubah seluruhnya menjadi cairan. Kinetika adsorbsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh absorben dalam fungsi waktu. Adsorbsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorbsi. Peristiwa adsorbsi disebabkan oleh gaya tarik molekul-molekul di permukaan adsorbens. Dimana adsorben yang biasa digunakan dalam percobaan adalah karbon aktif. Perbedaan sifat ini sering kali digunakan sebagai pengujian untuk perbedaan bahan itu murni ata utidak. Jika suhu tetap, sementara bahan itu melelh, maka bahan itu termasuk murni. Tetapi jika suhu berubah sementara zat tersebut tidak melelh, maka zat tersebut tidak termasuk zat murni, melainkan campuran. Materi dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa. Setiap materi mempunyai sifat yang khas yang membedakan dari materi lainnya. Namun demikian antara berbagai materi juga terdapat berbagai persamaan sehingga kita dapat mengelompokkan materi itu yang juga terdapat berbagai persamaan sehingga kita dapat mengelompokkan materi berdasarkan wujud dan komposisinya. Materi dapat berbentuk padat, cair atau gas. Perbedaan dari ketigaga jenis wujudnya itu terletak pada struktur dan susunan partikelnya. Dalam padatan partikelnya tersusun rapat dan diam di tempat, oleh karena itu mempunyai banyak bentuk dan volum yang tetap. Dalam cairan partikelnya tersusun rapat tetapi dapat bergerak sehingga cairan mempunyai volume tetap, tetapi bentuknya berubah sesuai dengan wadah cairan tersebut. Dalam gas partikelnya relatif sangat renggang dan bergerak bebas, di mana bentuk dan volumnya mengikuti keadaan. Adapun zat-zat murni dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :  Unsur Usnsur adalah materi yang paling sederhana dan tidak dapat diuraikan menjadi zat-zat lain secara kimia. Misalnya air, air dapat diuraikan oleh

6

listrik menjadi dua jenis gas, yaitu hidrogen dan oksigen, sedangkan hidrogen dan oksigen tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih sederhana. Zat seperti hidrogen dan oksigen , yaitu zat tunggal yang secara kimia tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana, disebut unsur. Sedangkan zat-zat sperti air, yaitu zat tunggal yang dapat diurai menjadi zat lain yang lebih sederhana, disebut senyawa. Beberapa contoh unsur dalam kehidupan sehari-hari adalah besi, alumunium, emas, timah, tembaga, karbon, oksigen, hidrogen, dan belerang serta perak.  Senyawa Senyawa adlah zat tunggal yang dapat diuriaikan menjadi zat yang lebih sederhana. Jumlah senyawa jauh lebih banyak dari jumlah unsure. Pada tahun 1799, seorang ilmuwan Prancis bernama Josep Louis Proust (1754 – 1826) menemukan satu sifat yang terpenting dalam senyawa yaitu yang disebut hokum perbandingan tetap. Proust menyimpulan bahwa perbandingan massa unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sifat senyawa sebagaiberikut : a) Tergolong zat tunggal b) Dapat diuraikan menjasi zat yang lebih sederhana. c) Terbentuk dari dua jenis unsure atau lebih dengan perbandingan tertentu. d) Mempunyai sifat tetrtentu yang berbeda dar sifat unsure penyusunan. Pada prinsipnya pemisahan dan pemurnian dilakukan untuk memisahkan antara dua zat atau lebih yang saling bercampur dan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan suatu zat murni dari suatu zat yang tidak tercemar oleh zat lain. Banyaknya campuran dapat dinyatakan dalam persen (per satu bagian) atau BPJ (bagian per juta). Persen sering digunakan dalam perdagangan sedangkan BPJ untuk kadar yang sangat kecil misalnya zat-zat pencemar dalam limbah. Satuan persen dengan % dalam satuan perjuta dengan BPJ.

7

Sehingga dipeoleh rumus Persen Masa = Persen Volume= Rumus lainnya masa zat Perjuta Masa = masa campuran Perjuta Volume = x 100% masa zat x 100% masa campuran volume zat x 100% volume campuran

volume zat x 100% volume campuran

Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Keadaan zat yang diinginkan dan dalam keadaan campuran harus diperhatikan untuk menghindari kesalahan pemilihan metode pemisahan yang akan menimbulkan kerusakan hasil atau melainkan tidak berhasil. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain : 1. Sifat-sifat khusus dari zat yang diinginkan dari campurannya, misalnya zat tidak tahan panas, mudah menguap, kelarutan terhadap pelarut tertentu, titik didih dan sebagainya. 2. Standar kemurnian yang diinginkan. 3. Zat pencemar dan campurannya yang mengotori beserta sifatnya. 4. Nilai guna yang diinginkan, harga, dan biaya proses pemisahan. 5. Kadar zat yang diinginkan terhadap campurannya, apakah kadarnya kecil atau besar.

8

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat − Batang pengaduk − Cawan penguap − Corong pisah − Corong kaca − Gelas kimia 100 mL − Gelas beker − Hot plate − Pipet tetes 3.1.2 Bahan − Garam dapur − Kapur tulis − Pasir − Naftalena − Minyak goreng − Sirup mangga − Norit − Aquades − Kertas saring − Tissu 3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1. Dekantasi − air. − − Diaduk larutan tersebut hingga larut. Dibiarkan sampai air mengendap, kemudian diamati. Dimasukkan 1 sendok pasir ke dalam gelas kimia yang diisi

9

3.2.2 Filtrasi − − − − − 3.2.3 Adsorbsi − − − 3.2.4 Kristalisasi − − − − 3.2.5. Sublimasi − penguap. − − − 3.2.6 Ekstraksi Ditutup cawan penguap dengan kertas saring yang Ditutup lagi dengan corong kaca diatas kertas saring Dipanaskan dan dibiarkan sampai menguap. dilubangi kecil-kecil. dengan posisi terbalik dan lehernya disumbat kertas. Dimasukkan 2gr Naftalena dan garam dicawan Diambil satu sendok garan dapur kemudian dimasukkan Ditambahkan aquades, kemudian aduk hingga larut. panaskan larutan tersebut hingga mendidih dan aquades Didinginkan larutan tersebut, kemudian diamati. ke dalam gelas kimia Diambil satu sendok norit yang telah dihaluskan dalam Dialirkan sedikit demi sedikit sirup Diamati filtrat dari penyaringan tersebut kertas saring. Diambil satu sendok bubuk kapur tulis lalu dimasukkan ke Ditambahkan 50 mL aquades. Diaduk larutan tersebut, hingga larut. Disiapkan kertas saring dan corong kaca. Disaring menggunakan corong kaca dan kertas saring, dalam gelas kimia.

kemudian diamati.

menjadi berkurang sampai habis.

10

− − − −

Diambil 50 mL minyak dimasukkan kedalam corong pisah Ditambahkan 50 mL aquades. Dikocok larutan tersebut hingga tercampur dan dibalik Diamkan dan amati perubahannya.

corong pisah tersebut dan dibiarkan terpisah

11

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan No. 1. PERLAKUAN Dekantasi Dimasukkan pasir Tambahkan mL Di aduk Diamkan dan amati aquades 50 1 sendok Pasir tidak larut dalam aquades Setelah didiamkan, terbentuk dua fase, dimana pasir mengendap pada dasar beker gelas, hal tersebut dapat terjadi karena massa jenis pasir lebih besar disbanding massa jenis aquades 2. Filtrasi Di masukkan 1 sendok bubuk kapur tulis Di masukkan H2O sebanyak 25 ml, diaduk Di saring Kapur bercampur dengan air sehingga air berubah menjadi keruh. Ketika disaring, kapur tulis tersaring labih di kertas daripada saring air. karena partikel kapur tulis besar Sehingga airnya tidak ikut tersaring. 3. Adsorbsi Di masukkan sirup ke Sebelum dicampur srup warna PENGAMATAN

12

dalam beker gelas 250 ml Di saring dengan kertas saring yang telah diberi norit diatas corong kaca. 4. Kristalisasi Dimasukkan 2 gram NaCl + 10 ml H2O, lalu diaduk. Kemudian kristal Di amati hasilnya. dipanaskan hingga terbentuk kristal-

orange Setelah dicampur norit sirup berubah menjadi warna kuning

Garam Melarut Setelah Dipanaskan, Air Akan Menguap Perbedaan Sementara Menjadi Karena Titik Nacl Kristal Terjadi Didih. Terbentuk Yang

Berwarna Putih 5. Sublimasi Kapur barus yang telah di gerus I campur dengan NaCl Di tutup dengan kertas saring Di panaskan 6. Ekstraksi Diambil 50 mL minyak dimasukkan corong pisah Ditambahkan aquades Di bolak balik Diamkan dan amati perubahannya 50 mL kedalam Karena berat jenis minyak lebih besr daripada air, maka air berada dibawah minyak, sehingga air dapat dikeluarkan dar corong pisah. Kapur barus menyublim dari kertas saring dan tertahan pada corong kaca berbentuk kristal sedangkan garam yang dicampur dengan kapur barus tadi, bertahan dibawah

13

4.2 Pembahasan Berdasarkan percobaanyang telah dilakukan pada berbagai jenis campuran. Campuran antara air dan pasir dapat dipisahkan dengan cara diendapkan. Proses pemisahan ini dinamakan dekantasi, Prinsip kerja dekantasi yaitu dilakukan karena perbedaan partikel, massa dan wujudnya yang cukup besar. Dengan dekantasi kita dapat dengan cepat melihat pemisahannya campuran antara air dan pasir sebenarnya dapat dilakukan dengan cara filtrasi tetapi kurang efektif karena memakan waktu yang cukup lama dan membutuhkan banyak kertas saring Terlihat pada endapan pasir yang berada pada dasar beker gelas, hal ini terjadi karena massa jenis pasir lebih berat dari massa jenis air. Berbeda dengan pemisahan antara pasir dan air, pemisahan campuran air dengan kapur tulis, dipishakan dengan cara filtrasi, prinsip kerjanya yaitu, pemisahan zat dari campurannya melalui penyaringan yang didasarkan pada perbedaan ukuran partikel zat-zat yang bercampur dimana ukuran pertikel lebih kecil dari lubang penyaring akan melewati proses penyaringan sedangkan ukuran pertikel yang lebih besar akan tertahan. Hali ini yang terjadi pada percobaan antara air dengan bubuk kapur tulis, ketika dilakukan penyaringan, bubuk kapur tulis tertahan di kertas saring sedangkan air melewati kertas saring. Untuk percobaan norit dengan sirup menggunakan proses adsorpsi, proses ini membuat warna sirup menjadi lebih kuning muda dari warna asal yaitu kuning pekat, hal ini dikarenakan prinsip kerja adsorpsi adalah menyerap zat warna yang terdapat dalam campuran suatu larutan, karena dalam norit terdapat arbon aktif yang berfungsi untuk penghilang warna larutan. Maka dari itu warna sirup mengalami perubahan. Pemisahan zat dari campurannya dengan cara menguapkan perlarutnya sehingga campurannya menjadi jenuh dan membentuk kristal merupakan proses kristalisasi, proses ini dilakukan pada air dan garam yang dipanaskan

14

hingga pelarut airnya habis kemudian saat didinginkan terbentuk kristal-kristal kecil yang bening. Prinip kerjanya didasarkan pada salah satu zat yang bercampur pada keadaan lewa jenuh, serta perbedaan titik beku zat tersebut. Suatu campuran zat dimana salah satu zat dapat menyublin sedangkan yang lainnya tidak ikut menyblin karena mimiliki perbadaan titik leleh merupakan prinsip kerja sublimasi, hal inilah yang terjadi pada campuran naftalena dengan garam yang dipanaskan, dimana naftalena lebih cepat menguap dibandingkan garam karena titik leleh naftalena lebih rendah dari garam. Proses pemisahan antara air dengan minyak digunakan metode ekstraksi pelarut, dimana campuran minyak goreng dengan air yang dimasukkan kedalam corong pisah kemudian dibolak-balik, dan hasilnya adalah air berada pada lapisan bawah sedangkan air berada di atas. Prisip kerjanya yaitu didasarkan perbedaan massa jenis dan kepolaran zat. Sehingga air yang bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat non-polar. Ditinjau dari jenis ikatan antara bahan yang dipisahkan dan bahan sorpsi dapat dibedakan menjadi tiga proses, yaitu: 1. Adsorpsi Adsorpsi yaitu proses peningkatan bahan pada permukaan sorben padat dengan cara pelekatan, dimana adsorbsi memisahkan bahan dari campuran gas atau cair, bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh permukaan sorben padat dan diikat oleh gaya-gaya yang bekerja pada permukaan tersebut. 2. Absorpsi Absorpsi yaitu proses peningkatan bahan pada permukaan sorben cair dengan cara pelarutan. Dimana absorpsi memisahkan bahan dari suatu campuran dengan cara peningkatan bahan tersebut pada permakaan sorben cair yang diikuti pelarutan. 3. Like Dissolved Like Like dissolved like sebagai sebuah ekspresi yang digunakan untuk meningkatkan cara kerja beberapazat pelarut(solvent). Hal ini

15

menunjukkan kepolaran (polar atau non-polar) suatu zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent). Kelarutan yang besar terjadi bila molekulmolekul solute mempunyai kesamaan dan struktur serta sifat-sifat kelistrikannya. Aplikasi Proses Pemurnian Pada Kehidupan Sehari-hari, yaitu: 1. Dekantasi Proses dekantasi umumnya digunakan oleh pihak-pihak industri untuk menstrilkan limbah mereka, sehingga limbah berisi bakteri dan zatzat lain diendapkan terlebih dahulu selama beberapa waktu sebelum dibuang. 2. Filtrasi. Proses filtrasi biasanya digunakan secara sederhana dalam lingkungan rumah tangga. Seperti jika ingin minum the, daun the yang telah diseduh disaring atau dilakukan filtrasi agar air teh tadi bebas dari daunnya. 3. Adsorpsi. Pemurnian dengan cara penyerap biasanya sering diterapkan untuk penjernihan air, baik air minum ataupun air akuarium tempat ikan. Biasanya adsorbs menggunakan bahan karbon aktif, resin, dan realit. 4. Kristalisasi. Sesuai dengan pengeritannya kristalisasi yakni penguraian zat-zat karena adanya perbedaan unsure dengan pembentukan zat padatnya langsung dari pengendapan zat cair dikarenakan adanya perbedaan suhu titik didih atau titik beku campuran. Biasanya diterapkan untuk mengambil garam dari air laut ataupun kristalisasi natrium asetat. 5. biasanya propane. 6. Sublimasi. Ekstraksi. Penggunaan proses ekstraksi atau penambahan unsure lain digunakan dalam proses penjernihan umumnya adalah penjernihan minyak pelumas bekas yakni dengan ditambahkannya

16

Sublimasi hanya dapat digunakan pada unsur-unsur yang mudah menyublim sehingga aplikasinya biasanya pada pemurnian zat seperti kapur barus, yodium, belerang, dan sebagainya. Sturktur Minyak Goreng

Struktur Naftalena

17

BAB 5 PENUTUP
Ksimpulan − Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan dengan cara dekantasi, filtrasi, adsorpsi, kristalisai, sublimasi dan ekstraksi pelarut. − Prinsip pemisahan dan pemurnian didasarkan pada perbedaan massa jenis, titik didih, ukuran partikel dan kelarutan. − Campuran homogen merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam campuran homogen mempunyai sifat yang sama sedangkan campuran heterogen merupakan campuran yang mengandung zat-zat yang tidak dapat bercmapur satu dengan yang lain secara sempurna sehingga dapat dikenali/diketahui perbedaan sifat-sifat partikel dari zat yang bercampur tersebut, seperti bentuk dan warna Saran Diharapkan pada percobaan selanjutnya, digunakan teknik pemisahan dan pemurnian dengan cara rekristalisasi dan sentrifugasi.

18

DAFTAR PUSTAKA
Bernasconi, G. dkk.1995.Teknoklogi Kimia Bagian 2.Bandung: Bumi Aksara Chang, Svehla. 1998.Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta:Binarupa Aksara Kleinfelter, Keenan.1991.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga Sastrohamidjojo, Hardjono.2001.Kimia Dasar.Yogyakarta:Gadjah Mada Syukri, S.1999.Kimia Dasar 1.Bandung:ITB

19

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Banyak bahan kimia yang digunakan untuk praktikum berbentuk larutan. Untuk membuat larutan pada umumnya digunakan pelarut air. Ada beberapa larutan yang menggunakan pelarut lain. Sebenarnya larutan terjadi jika atom, molekul, atau ion dari suatu zat semuanya terdispersi (larut). Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (solute) dan pelarut (solven). Untuk larutan gula dalam air, gula merupakan zat terlarut dan pelarutnya adalah air. Untuk larutan alcohol dalam air, tergantung dari banyaknya zat yang paling dominant. Karena itu dapat dikatakan larutan air dalam alkohol atau larutan alkohol dalam air. Larutan hendaknya dibuat secukupnya saja, misalkan untuk keperluan satu semester. Tetapi harus diingat bahwa ada larutan yang tidak tahan disimpan lama, misal larutan kanji, larutan kalium heksasianoferat (III) dan lain-lain. Larutan-larutan semacam ini hendaknya dibuat seandainya akan digunakan. Jenis serta banyaknya larutan yang dibuat bergantung pada jumlah percobaan yang akan dilakukan serta jumlah praktikan yang akan melakukan percobaan itu. Dalam praktikum ini akan dilakukan percobaan tentang pembuatan larutan dimana praktikan diharapkan dapat mengetahui serta memahami tentang konsentrasi suatu larutan yang ada atau yang akan dibuat. Dalam hal ini akan diketahui apakah larutan tersebut akan terlarut sempurna atau tidak. Dalam percobaan ini pula, kita dapat mengetahui cara-cara ataupun prosedur ketika mencampurkan suatu larutan yang mana ukurannya telah ditentukan terlebih dahulu. Percobaan ini akan membahas mengenai konsentrasi larutan yang dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain : molaritas, molalitas, normalitas, persen berat dan volum, ppm dan lain sebagainya.

20

1.2 Tujuan − Mempelajari cara pembuatan larutan dari bahan cair dan padat dengan konsentrasi tertentu. − Mengetahui perbedaan larutan jenuh dengen larutan tidak jenuh. − Mengetahui perbedaan larutan homogen dengan larutan heterogen.

21

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Larutan Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana solute terlarut. Faktor yang mempengruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah tekanan, sifat zat, suhu, dan luas permukaan. Semua gas pada umumnya dapat bercampur dengan sesamanya (misibel). Karena itu semua campuran gas adalah larutan. Meskipun demikian campuran fase gas jarak pisah antaranya molekul relative jauh, sehingga tidak dapat saling tarik-menarik secara efektif. Larutan dapat berfase padat, dalam larutan pada pelarutnya adalah zat padat. Kemampuan membentuk larutan padat sering terdapat pada logam dan larutan tertentu dimana atom terlarut mengerahkan beberapa atom pelarut dalam larutan padat lain. Atom terlarut dapat mengisi kisi atau lubang dalam kisi pelarut. Pembentukan larutan padat ini terjadi apabila atom terlarut cukup kecil utnuk memasuki lubang-lubang dan diantara atom pelarut. Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak disebutkan pelarutmya. 2.2 Konsentrasi Larutan Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah

22

pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuansatuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume. Banyak cara menentukan konsentrasi larutan yang semuanya menyatakan kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut atau larutan. Dengan demikian, setiap sistem konsentrasi harus menyatakan hal-hal sebgai berikut : a. Satuan yang digunakan untuk zat terlarut b. Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan c. Satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua konsentrasi. Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan: 1. Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang diinginkan. Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat. 2. Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhi persamaan : M1V1 = M2V1 M1 : Konsentrasi larutan sebelum diencerkan V1 : Volume larutan atau massa sebelum diencerkan M2 : Konsentrasi larutan setelah diencerkan V2 : Volume larutan atau massa setelah diencerkan Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara, yaitu: 1. Molaritas Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar. Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1 molar dan ditulis 1 M.

23

Rumus Molaritas Ket n M= V atau Ket : g = massa zat terlarut g M= Mr X V 1000 Mr = massa relatif zat terlarut V = volum dalam ml Ket : M = Molarits n = mol V = volume dalam larutan

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap sehingga molaritas akan berubah. 2. Molalitas Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada suhu. Rumus molalitas Ket : m = molalitas m=n P n = mol P = massa pelarut (Kg)

atau Ket : g = massa terlarut Mr = massa relatif terlarut P = massa pelarut (Kg)

g m= Mr X

1000 P

24

3. Persen Massa Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b), menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan Rumus persen massa : % massa = 4. Persen Volume Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan. Rumus persen volume % volume = Volume zat terlarut Volume larutan x 100 % massa zat terlarut x 100 % massa larutan

5. ppm ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta bagian campuran. Rumus ppm : ppm massa = massa zat terlarut (komponen) massa larutan (campuran) x 100 % x 100 %

ppm volume =

massa zat terlarut (komponen) massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut). Rumus Fraksi mol : larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan.

25

XA =

nA nA + nB

Ket : XA = fraksi mol pelarut nA = mol zat terlarut nB = mol zat pelarut

7. Normalitas Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal. Rumus Normalitas : N = grek atau N = 1000 x gr
x valensi

V V Mr + Valensi menyatakan banyaknya ion H atau OH- (dalam larutan asam dan basa) yang dilepaskan. Komponen Larutan Suatu larutan terdiri atas dari dua komponen yang penting. Biasanya salah satu komponen yang mengandung jumlah zat yang lebih banyak disebut pelarut (solvent). Pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium zat terlarut yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia. Kemudian, komponen lainnya yang mengandung zat yang lebih sedikit disebut zat terlarut (solute). Kedua komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau terlarut tergantung komposisinya. Larutan di bagi menjadi tiga jenis yitu: 1. Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. 2. larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya. 3. Larutan lewat jenuh yaitu larutan yang mengandung lebih banyak solute yang diperlukan dari pada solvent. Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut dibedakan menjadi dua yaitu: 1. Larutan pekat merupakan larutan yang mengandung relatif lebih banyak solute. 2. Larutan encer merupakan larutan yang relatif sedikit mengandung solute.

26

Pembuatan Larutan Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadangkadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit. Prinsip Kelarutan Dua senyawa dapat bercampur (micible) lebih mudah bila gaya tarik antar molekul terlarut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tairk ini ditentukan oleh jenis ikatan pada masing- masing molekul. Bila gaya tari antara molekulnya termasuk dalam kelompok yang sama (misalnya air dan etanol), maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik antara molekulnya berbeda jenis (misalnya air dan heksana), maka tidak akan saling melarutkan. Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan ”Like Dissolves Like,” yaitu jika molekul terlarut dalam pelarut mirip, maka akan mudah bercampur. Secara umum, terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa non polar, dan senyawa kovalen polar atau senyawa ion larut ke dalam pelarut polar. Dengan kata lain ”sejenis melarutakan sejenis,” dimana sejenis di sini menunjukkan persamaan dalam hal kekuatan gaya tarik antara molekulnya.

27

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
Alat dan Bahan Alat − Batang pengaduk − Corong kaca − Enlemeyer − Gelas kimia 100 mL − Labu takar 100 mL − Neraca analitik − Pipet tetes − Pipet ukur 10 mL − Sendok Bahan − Alumunium foil − Aquadest − BaCl2 − H2SO4 − Tissu Prosedur Percobaan Pembuatan Larutan BaCl2 − Ditimbang BaCl2 sebanyak 5,20 gram menggunakan alumunium foil. − Pindahkan secara kuantitatif ke dalam gelas kimia 100 mL yang berisi dan telah dibilas dengan aquades − Tambahkan aquades dan aduk hingga larut sempurna − Dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu takar 100 ml dengan menggunakan corong kaca, dimana hasil bilasannya dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL

28

− Ditambahkan akuades ke dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas dengan menggunakan pipet tetes − Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang tutupnya selama beberapa kali. Pembuatan Larutan H2SO4 − Dipipet 5,6 ml H2SO4 pekat dan dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml yang telah diisi dengan akuades sebanyak 50 ml. − Dibiarkan hingga labu takar terasa dingin, kemudian ditambahkan akuades hingga tinggi permukaan larutan 0,5 cm hingga 1 cm − Keringkan aquades yang menempel pada leher labu takar dengan menggunakan tiisu − Dengan menggunakan pipet tetes tambahkan aquades hingga tanda batas − Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang − tutupnya selama beberapa kali.

29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan No. Percobaan 1 Larutan BaCl2 Dihitung berapa gram BaCl2 yang dibutuhkan Ditimbang Dilarutkan dengan aquades sampai 250 mL dalam labu takar Dihomogenkan 2 Larutan H2SO4 Dihitung pekat Diambil volume H2SO4 sesuai konsentrasi pekat Pengamatan - Dik ; M = 0,1 M ; Mr BaCl2 = 208 ; Vair = 250 mL Dit = gram…..? Penyelesaian M = (gr/Mr)x(1000/ Vair) 0,1 = (gr/208)x(1000/250) 20,8 = 4 x gr Gr = 20,8/4 Gr = 5,2 gram BaCl2 ditmbang sebanyak 5,20 gram BaCl2 larut dalam aquades Larutan berwarna bening Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18 M V1 = 100 mL Dit = V2=....mL? Penyelsaian V1 x M1= V2 M2 100 (1) = V2 x M2 100 = V2 x 18 V2 = 100/18 V2 = 5,6 mL H2SO4 berwarna coklat bening dan berbau tajam

yang diinginkan H2SO4 dengan pipet ukur Dilarutkan dengan aquades sampai 100 mL dalam labu takar Diamati

30

-

Setelah di larutkan labu takar terasa panas Larutan bening bekurang tajam) H2SO4 dan (tidak pekat baunya berbau

4.2 Perhitungan 4.2.1 Perhitungan Pembuatan Larutan BaCl2 Dik : M = 0,1 M Mr BaCl2 = 208 Vair = 250 mL Dit : gr = ……. Gram Penyelesaian: M = (gr/Mr)x(1000/ Vair) 0,1 = (gr/208)x(1000/250) 20,8 = 4 x gr Gr = 20,8/4 Gr = 5,2 gram 4.2.2 Perhitungan Pembuatan Larutan H2SO4 Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18 M V1 = 100 mL Dit = V2=....mL? Penyelsaian: V1 x M1= V2 M2 100 (1) = V2 x M2 100 = V2 x 18 V2 = 100/18 V2 = 5,6 mL 4.3 Pembahasan

31

Larutan merupakan campuran homogen dari molekul atom ion dari dua zat atau lebih, karena susunannya dapat berubah-ubah larutan sering disebut juga sebagai campuran. Larutan terdiri dari zat yang terlarut(solute) dan pelarut(solvent). Solute disebut sebagai fase dalam (fase terdispersi) karena berada dalam jumlah sedikit sedangkan solvent di sebut sebagai fase luar (fase pendispersi) karena memiliki jumlah lebih banyak di bandingkan solute. Dalam percobaan yang dilakukan adalah pembuatan larutan BaCl2 yang dilarutkan dalam air dan pembuatan H2SO4 yang diencerkan dengan air, dimana BaCl2 dan H2SO4 pekat adalah solute dan air adalah solvent. Campuran adalah penggabungan dia atau lebih zat dimana dalam penggabungan ini, zat-zat tersebut mempertahankan identitas masing-masing. Berdasarkan sifatnya, campuran dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1. Campuran homogen, merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam campuran homogenmempunyai sifat yang sama. 2. Campuran heterogen, merupakan campuran yang mengandung zat-zat yang tidak dapat bercampur satu dengan yang lain secara sehingga dapat dibedakan partikel sifat dari zat yang tercampur tersebut, seperti bentuk dan warna. Untuk membuat suatu larutan perlu dihitung konsentrasinya terlebih dahulu. Dalam menghitung knsentrasi dapat dinyatakan dengan molaritas, molalitas, normalitas, fraksi mol (x), persen beratppm dan mg persen. Konsentrasi merupakan perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. 1. Molaritas Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar. Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1 molar dan ditulis 1 M. Rumus Molaritas n M= V

32

Ket

Ket : M = Molarits n = mol V = volume dalam larutan

atau Ket : g = massa zat terlarut g M= Mr X V 1000 Mr = massa relatif zat terlarut V = volum dalam ml

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap sehingga molaritas akan berubah. 2. Molalitas Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada suhu. Rumus molalitas Ket : m = molalitas m=n P n = mol P = massa pelarut (Kg)

atau g m= Mr X P 1000 Ket : g = massa terlarut Mr = massa relatif terlarut P = massa pelarut (Kg)

3. Persen Massa

33

Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b), menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan Rumus persen massa : % massa = 4. Persen Volume Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan. Rumus persen volume % volume = Volume zat terlarut Volume larutan x 100 % massa zat terlarut x 100 % massa larutan

5. ppm ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta bagian campuran. Rumus ppm : ppm massa = massa zat terlarut (komponen) massa larutan (campuran) x 100 % x 100 %

ppm volume =

massa zat terlarut (komponen) massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut). Rumus Fraksi mol : larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan. XA = nA nA + nB Ket : XA = fraksi mol pelarut nA = mol zat terlarut nB = mol zat pelarut 7. Normalitas

34

Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal. Rumus Normalitas : N = grek atau N = 1000 x gr
x valensi

V V Mr + Valensi menyatakan banyaknya ion H atau OH- (dalam larutan asam dan basa) yang dilepaskan. Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadangkadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Pelarut harus ditambahkan sedikit demi sedikit sampai volume larutan mencapai tanda batas labu takar. Saat pembuatanlarutan H2SO4 terjadi reaksi eksoterm yaitu melepaskan panas dari sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Sedangkan untuk reaksi endoterm yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat imia tersebut akan naik. Proses pembuatan larutan di awali dengan menghitung berapa massa larutan BaCl2 yang dibutuhkan, setelah itu ditimbang agar massa yang dibutuhkan tepat, kemudian dilarutkan dengan aquades dengan tujuan agar larutan BaCl2 larut dengan aquades, dan dimasukkan kedalam labu takar kemudian dihomogenkan berfungsi untuk membuat larutan tercampur dengan sempurna.

35

Adanya adhesi dan kohesi partikel-partikel atau molekul-molekul zat mengakibatkan adanya sifat-sifat khusus zat cair yang ditempatkan kedalam labu takar yaitu meniskus cekung dan meniskus cembung. Meniskus cekung merupakan tanda batas bawah dimana air dalam labu takar permukaannya cekung, hal ini disebabkan karena kohesi air lebih kecil daripada adhesi air dengan kaca. Meniskus cembung merupakan tanda batas atas dimana air dalam labu takar permukaannya cembung, hal ini disebabkan karena kohesi raksa lebih besar dari adhesi raksa dengan kaca. Prinsip percobaan pembuatan larutan di dasarkan pada konsentrsi suatu zat yang akan dibuat, serta menggunakan ketelitian tinggi, karena jika terjadi kesalahan yang kecil, maka larutannya tidak akan menjadi larutan yang diinginkan. Larutan standar primer adalah larutan yang dapat digunakan untuk menghasilkan larutan yang stabil dan konsentrasinya dapat diukur. Larutan ini normalitasnya dapat diketahui dari hasil penimbangan dan pelarutan volume tertentu. Contohnya asam oksalat, boraks, NaCl, seng sulfat. Larutan standar sekunder adalah larutan yang stabil atau konsentrasinya tidak dapat dipastikan, normalitsnya baru akan diketahui setelah dilakukan pembakaran dengan larutan standar primer. Contohnya NaOH, H2SO4 dan HCl. Dalam melakukan percobaan pembuatan larutan terdapat beberapa kesalahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: − Kurang teliti dalam menakar dan menambahkan quades, sehingga melebihi batas ukuran yang telah ditentukan. − Alat-alat yang telah digunakan, Pembuatan larutan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya: − Pembuatan larutan cuka − Pembuatan kaldu ayam − Pembuatan sirup dan jus

36

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan − Untuk membuat larutan dari bahan cair dan padat dilakukan dengan cara mencampurkan bahan cair dan padat kedalam gelas kimia, kemudian diaduk. − Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Sedangkan larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya. − Larutan homogen adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat menjadi sama sifatnya karena bergabung, sedangkan larutan heterogen adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat bercampur, namau masih dapat dibedakan unsur-unsurnya. 5.2 Saran Diharapkan sebelum melakukan praktikum, praktikan terlebih dahulu mengetahui proses pembuatan larutan agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan larutan

37

DAFTAR PUSTAKA
Anshary, Irfan. 1999. Kimia Dasar 1. Jakarta: erlangga Baroroh, Uni, L. U. 2004. Kimia Dasar 1. Banjar Baru: Universitas Lambung Mangkurat. Gunawan, Adi dan Roewati. 2004. Konsep Dasr Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Petrucci, Ralph, H. 1996. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Bogor: Erlangga

38

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Dalam analisis kimia suatu bahan, maka akan sering dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan seperti menghilangkan konstituen pengganggu atau mengisolasikannya maupun memekatkan konstituen yang dikehendaki sebelum dilakukuan identifikasi maupun pengukuran jumlahnya. Untuk melakukan analisis kimia tersebut maka kita harus menggunakan suatu metode agar dapat menentukan hasil yang tepat, kromatografi salah satunya. Kromatografi sendiri merupakan salah satu cara pemisahan yang pada saat ini sering digunakan secara rutin dan dapat dilaksanakan dengan waktu yang singkat dan dengan peralatan yang relatif sederhana dan ekonomis. Walaupun cara ini merupakan cara pemisah, namun dapat pula digunakan sebagai analisa secara kuantitatif. Teknik kromatografi merupakan teknik pemisahan yang sangat sensitif. Selain dapat memisahkan zat warna, teknik ini juga dapat menunjukkan residu nikotin dalam darah orang yang duduk di dekat orang yang merokok ketika duduk di sampingnya. Selain itu, kromatografi juga dapat memisahkan campuran kompleks, seperti minyak bumi yang merupakan campuran dari ratusan senyawa yang terkandung di dalamnya, dan masih banyak lagi keunggulan lainnya. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami konsep kromatografi secara langsung, berupa teori-teori kromatografi, cara kerja kromatografi, penggolongan dari kromatografi, macam-macam kromatografi, aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, dan masih banyak yang lainnya.

39

1.2 Tujuan − Memisahkan suatu zat yang didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase (fase diam dan fase gerak). − Mengetahui prinsip kerja dari kromatografi kertas. − Menentukan harga Rf dari masing-masing noda zat warna.

40

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michel Tswett, seorang ahli dari Botani Rusia, yang menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil dari pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman. Kromatografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu chromos yang berarti warna dan graphos yang berarti menulis. Meskipun kromatografi diturunkan dari kata warna dan tulis, warna senyawa-senyawa tersebut jelas hanya kebetulan saja terjadi dalam proses pemisahan ini. Tswett sendiri mengantisipasi penearapan pada beraneka ragam sistem kimia. Seandainya karyanya segera ditanggapi dan diperluas, beberap bidang sains mungkin akan lebih cepat maju. Demikianlah kromatografi tetap tersembunyi sampai sekitar tahun 1931, ketika pemisahan karotenatumbuhan dilaporkan oleh ahli sains organik terkemuka yaitu Kuhn. Penelitian ini menarik lebih banyak perhatian dan kromatografi adsorsi menjad meluas pemakaiannya dalam bidang kimia hasil alam. Seiring perkembangan zaman, terdapat 4 perkembangan utama yaitu : 1. Kromatografi pertukaran ion dalam akhir dasawarsa 1930-an 2. Kromatografi partisi dalam tahun 1941 3. Kromatografi gas pada tahun 1952 4. Kromatografi gel pada tahun 1959 Selain kemajuan utama ini, yang memberi mekanisme tambahan pada adsorpsi untuk mendistribusikan zat terlarut antara fase-fase stationen dan mobil,mucul juga modifikasi dalam geometri sistem kromatografi, seperti dalam kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Perkembangan teoritis yang memungkinkan pemahaman tuntas akan proses kromatografi dan karenanya menjelaskan faktor-faktor yang menentukan penampilan kolom, pertama kali muncul dalam hubungan dengan kromatografi gas. Namun pandangan-pandangan tertentu diantaranya terbukti dengan penyesuaian yang cocok, sama menolongnya dengan memahami kromatografi dalam mana fase geraknya adalah cairan. Jadi sekitar tahun 1968 mulailah suatu

41

revolusi dalam kromatografi cairan yang menjanjikan kevepatan dan efisiensi baru dalam memisahkan senyawa yang tak dapat dikerjakan dengan kromatografi gas. Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan dimana komponenkomponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara dua fase, salah satunya merupakan lapisan stationer dengan permukaan yang luas dan fase yang lain berupa zat cair (fluid) yang mengalir lambat (perkolasi) menembus atau sepanjang lapisan stationer tersebut. Ada beberapa cara dalam mengelompokkan teknik kromatografi. Kebanyakan berdasarkan pada jenis fase yang digunakan (fase gerak dan fase diam) misalnya kromatografi gas dan kromatografi cairan. Cara pengelompokkan lainnya berdasarkan teknik yang digunakan. Disini metode kromatografi sebagian dikelompokkan berdasarkan macam fase yang digunakan dan sebagian lainnya berdasarkan pada mekanisme pada distribusi fase. 1. Kromatografi cairan-padat atau kromatografi serapan. Ditemukan oleh Tswett dan dikenalkan kembali oleh Kuhn dan Lederer pada tahun 1931, telah digunakan secara luas untuk analisis organik dan biokimia. Pada umumnya sebagian isi kolom adalah silika gel atau alumina yang mempunyai angka banding luas permukaan terhadap volume sangat besar. Sayangnya hanya ada beberapa bahan penyerap, maka pemilihannya sangat terbatas. Keterbatasan yang lebih nyata pada kenyataan bahwa koefisien distribusi untuk serapan kerap kali tergantung pada kadar total. Hal ini akan menyebabkan pemisahan tidak sempurna. Contoh : - Kromatografi orisinil Tswett dengan larutan eter petroleum dan kolom CaCO3. - Kromatografi pertukaran ion. 2. Kromatografi cairan-cairan atau kromatografi partisi.

42

Dikenalkan ole Martin dan Synge pada tahun1941, dan kemudian mendapatkan hadiah Nobel untuk hal itu. Fase diam terdiri dari lapisan tipis, cairan yang melapisi permukaan dari padatan inert yan berpori-pori. Ada banyak jenis kombinasi cairan yang dapat digunakan sehingga metode ini sangat berguna. Lebih lanjut koefisien distribusi sistem ini lebih tidak bergantung pada kadar, memberikan pemisahan lebih tajam 3. Kromatografi gas-padat Digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas. Pada waktu dulu teknik tidak berkembang karena keterbatasannya sama seperti halnya kromatografi cairan-padat, tetapi penelitian lebih lanjut dengan macam fase padat baru memperluas panggunaan teknik ini. 4. Kromatografi gas-cairan Merupakan metode pemisahan yang sangat efisien dan serba guna. Teknik lebih menyebabkan revousi dalam kimia organik, sejak dikenalkan pertama kali oleh James dan Marthin pada tahun 1052. hambatan yang paling utama ialah bahan cuplikan harus mempunyai tekanan uap paling tidak beberapa liter pada suhu kolom, sistem ini sangat baik sehingga dapat dikatakan sebagai metode pilihan dalam kromatografi karena daat memisahkan dengan cepat dan peka. 5. Kromatografi penukar ion Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya sistem ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemu resin sintetik dengan sifat penukaran ion sebelum perang dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah dan asam amino. 6. Penyaringan gel Pennyaringan gel merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan

43

yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekulmolekul dengan berat molekul antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan bentuk serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer. 7. Elektroforesis Elektoforesis merupakan kromatografi yang diberi medan lstrik disisinya dan tegak lurus aliran fase gerak. Senyawa bermuatan positif akanmenuju ke katoda dan anion menuju ke anoda,sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan. 8. Kromatografi kertas Pada kromatografi kertas senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan dapat diambil dari kertas dengan jalan memotong noda (spot) yang kemudian melarutkan secara terpisah. Setetes dari larutan cupikan yan gmengandung sejumlah komponen yang dipisahkan dengan cara diteteskan pada daerah yang diberi tanda diatas sepotong kertas saring dimana ia akan meluas membentuk noda yang dibuat. Bila noda telah kering, kertas dimasukkan dalam bejana tertutup yang telah berisi pelarut sebagai fase gerak dimana ujung yang dengan dengan cuplikan tercelup (noda harus tidak tercelup, sedikit diatas permukaan pelarut). Pelarut bergerak melalui serta-serta dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen-kpmponen dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliran pelarut. Bila permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup jauhnya atau setelah waktu yang telah ditentukan, maka kertas diambil dari bejana dan kedudukan dari permukaan pelarut diberi tanda dan lembaran kertas dibiarkan kering. Jika senyawa-senyawa tidak berwarna maka harus dideteksi dengan metode kimia atau fisika. Cara yang biasa adalah menggunsksn suatu pereaksi yang memberikan sebuah warna terhadapbeberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Sering juga menggunakan cara deteksi dengan sinar ultra violet atau teknik radiokimia. Metode identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf:

44

Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut 9. Kromatografi lapis tipis Kromatografi lapis tipis atau TLC seperti kromatografi kertas tidaklah mahal dan sederhana menjalankannya, dibandingkan kromatografi kertas lebih cepat. Proses itu mungkin memelukan waktu hanya sekitar setengah jam,sedangkan pemisahan yang lazim pada kertas memerlukan beberapa jam. TLC sangat populer dan rutin digunakan dalam banyak laboratorium. Medium pemisahnya berupa lapisan yang barangkali setebal 0,1-0,3 mm zat padat absorben pada lempeng kaca, plastik, atau alumunium. Lempeng yang lazim berukuran 20 x 5 cm. Zat padat yang lazim adalah alumina, gel silika, dan selulosa. Dulu peneliti mempersiapkan lempengannya sendiri dengan menyalut kaca itu dengan suspensi air dan zat padat itu biasanya mengandung zat pengikat seperti plester paris dan kemudian mengeringkan lempeng tersebut dalam oven. Lempeng kaca dan lembar plastik maupun alumunium yang telas dilapis sebelumnya dapat dipotong-potong dengan gunting dengan keukuran yang diinginkan dan agaknya mayoritas ilmuan menggunakannya sekarang. Contoh umumnya campuran senyawa organik, ditotalkan didekat salah satu sisi lempeng dalam bentuk larutan, biasanya beberapa mikroliter yang beberapa mikrogram senyawa-senyawa dapat digunakan dengan hipodermik atau pipet kaca kecil. Noda contoh itu dikeringkan dan kemudian sisi lempeng itu dicelupkan dalam fase gerak yang sesuai. Pelarut akan menyerap kertas sepanjang lapisan tipis padat pada lempeng itu dan bersama dengan gerakan itu, zat-zat terlarut contoh diangkat dengan laju yang bergantung pada kelarutan mereka dalam fase gerak tersebut dan pada interaksi mereka dengan zat padat. Setelah garis depan pelarut bermigrasi sekitar 10 cm lempeng itu diambil, lalu dikeringkan dan noda-noda zat terlarutnya diperiksa seperti dalam kromatografi kertas. Sering dilakukan eksperimen dua dimensi yang menggunakan dua fase gerak yang berbeda, disini digunakan lempeng bujursangkar bukannya lempeng sempit. Pemisahan itu dapat diikuti oleh suatu penetapan kuantitatif , dimana

45

terdapat suatu noda absorbennya dapat dikerok dari lempeng dengan suatu spatula.zat terlarutnya dielusi dari dalam bahan padat dengan suatu pelarut yang sesuai dengan konsentrasi larutan itu ditetapkan spektrofometri. Prinsip Kromatografi Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi dilaksanakan sedemikian rupa dengan memanipulasi sifat-sifat fisik umum dar suat senyawa atau molekul yaitu : a) Kecenderungan suatu molekul untuk larut dalam cairan (kelarutan) b) Kecenderungan suatu molekul untuk bertaut dengan suatu serbuk bahan padat (absorbsi) c) Kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas) Dalam kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan ditempatkan pada situasi dinamik (bergerak) yaitu dengan melakukan pengaliran dan selama itu akan terjadi peristiwa pelarutan, absorbsi atau penguapan. Untuk menerangkan suatu proses pemisahan diambil suatu contoh yang berada dala situasi statik (diam). Jika suatu senyawa ditaruh dalam corong pemisah yang berisi dua macam pelarut yang sukar bercampur (misalnya air dan eter) , maka senyawa tersebut akan terdistribusi (partisi) diantara kedua pelarut tersebut. Dalam hal ini sifat kelarutan sangat berperan dalam proses pemisahan. Bila suatu senyawa dimasukkan kedalam cairan yang berisi serbuk absorben (misalnya arang), maka senyawa tersebut akan terdistribusi diantara cairan dan absorben. Maka dalm hal ini sifat kelarutan dan absorbsi berperan dalam proses pemisahan tersebut. oleh suatu teknik seperti

46

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat − Gelas kimia 100 mL − Gunting − Gelas ukur − Penggaris − Pulpen 3.1.2 Bahan − Ekstrak kunyit − Ekstrak mawar − Ekstrak suji − Lidi − Tinta merah − Tinta hijau − Tinta biru − N-heksan 3.2 Prosedur Percobaan − Dipotong kertas saring berbentuk persegi panjang, dengan panjang 10 cm dan lebar 6 cm. − Diberi garis batas 1 cm pada bagian atas dan bawah pada kertas saring tersebut. − Diberi noda (titik) pada kertas saring antara lain tinta hijau, tinta biru, dan tinta merah, juga pada ekstrak mawar dan ekstrak pandan pada garis batas bawah.

47

− Diisi larutan N-heksan sekitar 1 cm dari dasar gelas. − Dimasukkan kertas ke dalam gelas yang berisi N-heksan. − Dibiarkan hingga larutan N-heksan mencapai batas atas kertas, kemudian kertas dikeringkan. − Diukur jarak tempuh masing-masing noda. − Dihitung harga Rf pada masing-masing noda.

48

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan No. Pelarut Noda Jarak pelarut Jarak noda Harga Rf

1

N-eksan

Tinta hijau Tinta merah Tinta biru Ekstrak kunyit Ekstrak mawar Ekstrak suji

5.5 cm 5,5 cm 5,5 cm 7,5 cm 7.5 cm 7,5 cm

0,5 cm 0,4 cm 0 cm 1,5 cm 0,3 cm 0,5 cm

0,09 cm 0,07 cm 0 cm 0,2 cm 0,04 cm 0,02 cm

4.2 Perhitungan − Tinta hijau Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut − Tinta merah Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut − Tinta biru Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut = 5,5 cm = 5,5 cm = 5,5 cm 0,5 cm = 0,009 cm

0,4 cm = 0,07 cm

0 cm = 0 cm

49

− Ekstrak mawar Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut − Ekstrak kunyit Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut − Ekstrak suji Jarak yang ditempuh komponen Rf = Jarak yang ditempuh pelarut 4.3 Pembahasan Kromatografi adalah proses pemisahan campuran dalam berbagai wujud baik gas, padat, maupun cair, dengan didasarkan pada perbedaan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase yaitu fase gerak dan fase diam. Dimana fese diam dapat berupazat padat atau zat cair, sedangkan fase gerak berupa zat cair atau gas. Kromatografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu chromos yang berarti warna dan graphos yang berarti menulis. Meskipun kromatografi diturunkan dari kata warna dan tulis, Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michel Tswett, seorang ahli dari Botani Rusia, yang menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil dari pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman. Prinsip dari kromatografi itu sendiri adalah memisahkan zat-zat berdasarkan perbedaan kecepatan perembesan zat-zat didalam campuran tersebut dalam suatu medium pelarut, dengan kata lain memisahakan campuran dengan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan = 7,5 cm = 7,5 cm = 7,5 cm 0,3 cm = 0,04 cm

1,5 cm = 0,2 cm

0,5 cm = 0,06 cm

50

diantara dua fase yaitu fese diam dapat berupazat padat atau zat cair, dan fase gerak berupa zat cair atau gas. Terdapat berbagai macam-macam penggolongan metode kromatografi. Penggolongan yang didasarkan dengan fasenya dapat dibedakan menjadi: − inert. − − − Kromatografi Gas-Padat, Bila fase geraknya berupa gas dan Kromatografi Cair-cair, Bila fase gerak dan fase diamnya Kromatografi Cair – Padat, Bila fase geraknya berupa cair, fase diamnya berupa padatan yang menyerap. berupa cairan yang dilapiskan pada permukaan padatan yang inert. sedangkan fase diamnyaberupa padatan yang amorf yang dapat mengali. Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi dilaksanakan sedemikian rupa dengan memanipulasi sifat-sifat fisik umum dari suatu senyawa atau molekul, yaitu: a) b) c) Kecenderungan suatu molekul untuk larut dalam cairan (kelarutan). Kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas). Kecenderungan suatu molekul untuk bertaut dengan serbuk suatu Kromatografi Gas-Cair, Bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa cairan yang dilapiskan pada padatan pendukung yang

bahan padat. Dalam kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan, ditempatkan pada situasi dinamik (bergerak), yaitu dengan melakukan pengaliran dan selama itu akan terjadi peristiwa pelarutan, adsorbsi, atau penguapan. Dalam mengitung harga Rf ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai Rf tersebut yaitu : 1. Kepolaran ion lain, kehadiran ion lain dalam solvent atau solut dapat menghambat laju reaksi. 2. jenis pelarut, jenis pelarut dipilih berdasarkan sifat kepolaran zat terlarut.

51

3. kelarutan, sifat kelarutan solvent harus sama atau mirip agar dapat melarutkan solut. 4. Waktu, semakin bertamabah waktu, semakin meningkat harga Rf. Penggolongan yang didasarkan dengan teknik yang digunakan dalam kromatografi dapat dibedakan: 1. Kromatografi Kolom Kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. 2. Kromatografi Kertas Teknik kromatografi kertas yang menggunakan kertas saring sebagai penunjang fase diam 3. Kromatografi Lapis Tipis ( KLT ) Teknik yang menggunakan penyokong fase diam berupa lapisan tipis seperti lempeng kaca, alumunium atau pelat inert 4. Kromatografi Gas Proses pemisahan campuran menjadi menjadi komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati suatu lapisan ( Sorben yang diam ). 5. Kromatografi ion Bidang khusus kromatografi cairan-cairan, seperti namanya, sistem ini khususnya digunakan untuk proses ion, kromatografi penukaran ion dapat mengganti atau mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah dan asam amino. 6. kromatografi Gel proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran molekul polisakarida linear yang mempunyai ikatan silang. Pada percobaan kromatografi, digunakan pelarut N-heksan yang bersifat non-polar akan memperlambat proses kromatografi komponennya karena komponen yang digunakan adalah tinta merah, biru, dan hijau serta ekstrak kunyit, suji dan mawar. Dimana noda tinta warna dan ekstrak bunga mawar

52

merembes naik ke atas kertas dengan ketinggian masing-masing. Rf tinta merah = 0,07; Rf tinta biru = 0; Rf tinta hijau = 0,09, ekstra bunga mawar = 0,04 ekstrak suji = 0,06 dan ekstrak kunyi 0,2. Disini yang berperan sebagai fase diam adalah kertas saring dengan N-heksan (pelarut), dan fase gerak adalah tinta merah,biru dan hajau serta ekstrak mawar, suji dan kunyit. Jarak dari setiap noda berbeda-beda karena dipengaruhi oleh kepolaran masingmasing zat tersebutsehingga harga Rf-nya juga bebeda. Larutan N-heksan yang bersifat non-polar karena akan memperlambat bersifat proses polar, kromatografi akan komponennya, komponennya sehingga

mempengaruhi harga Rf, karena perbedaan kelarutan serta sifat dari campuran tersebut. Jika percobaan kromatografi ini digunakan pelarut aquades yang besifat polar maka tentu saja harga Rf-nya akan lebih tinggi dari pelarut N-heksan. Karena pada percobaan kromatografi berkaitan dengan prinsip Like dissolves like yaitu suatu sifat dua buah unsur atau zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan baik atau dengan sempurna. Hal ini didapatkan migrasi atau gerak yang mempunyai kesamaan kepolaran, semipolar dan semipolar, non polar dan non polar. Dalam melakukan percobaan kromatografi terdapat beberapa kesalahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: − Kurang teliti dalam menentukan jarak tempuh noda − Pemberian titik pada kertas terlalu sedikit sehingga pelarut tidak dapat menguraikan noda tersebut. − Gelas kimia yang digunakan belum steril sehingga mempengaruhi larutan N-heksan.

Kromatografi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya: a) Aplikasi kromatografi dalam bidang klinik

53

Dalam bidang klinik, teknik ini sangat berguna terutama dalam menginvestigasi fluida badan, seperti air liur. Dari air liur seorang pasien yang sedang sakit, dokter dapat mengetahui penyakit yang diderita. Demikian pula dengan air seni (urine) dari pasien tersebut, darah dan fluida badan lainnya pun dapat memberikan data yang cepat dan akurat sehingga penyakit dalam tubuh manusia dapat dideteksi secara dini dan cepat. b) Aplikasi kromatografi dalam bidang bioteknologi Dalam bidang ini, misalnya dalam penentuan baik kualitatif maupun kuantitatif senyawa dalam protein. Selain itu, juga bisa diaplikasikan dalam pemisahan molekul-molekul penting lainnya. Dengan data yang diperoleh sebuah produk obat-obatan dapat ditingkatkan mutunya. c) Aplikasi kromatografi dalam bidang forensik Dalam bidang forensik, kromatografi sangat membantu terutama dilihat dari segi keamanan dan pelacakan serta pengumpulan jejak maupun sisasisa fluida badan pelaku dalam tindak kejahatan.

54

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan − Untuk memisahkan komponen-komponen dari suaut zat, dapt dilakukan dengan teknik kromatografi yang didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase (fase diam dan fase gerak). − Pada kromatografi kertas, senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan dapat diambil dari kertas dengan jalan memotong noda (spot) yang kemudian melarutkannya secara terpisah. − Harga Rf dari masing-masing zat, yaitu:  N-heksan dengan noda (tinta) • • •  • • • Tinta biru, harga Rf = 0 Tinta merah, harga Rf = 0,07 Tinta hijau, harga Rf = 0,09

N-heksan dengan ekstrak Ekstrak kunyit, harga Rf = 0,2 Ekstrak mawar, harga Rf = 0,04 Ekstrak suji, harga Rf = 0,06

5.2 Kesimpulan Disarankan untuk praktikum selanjutnya digunakan pemisahan dengan cara teknik kromatografin kolom, agar dapat dibandingkan harga Rf masingmasing komponen dan pelarutnya.

55

DAFTAR PUSTAKA
Sudjadi.1988.Metode Pemisahan.Yogyakarta:Konsius Underwood, A.L.1986.Analisis Kimia Kuantitas.Jakarta:Erlangga Wetheim.2000.Kamus Kimia Bergambar.Jakarta:Erlangga

56

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perubahan suatu zat dibedakan menjadi dua, yaitu perubahan fisika dan perubahan kimia. Perubahan fisika itu sendiri merupakan perubahan materi yang tidak menghasilkan zat baru, dimana yang mengalami perubahan hanyalah bentuk dan wujudnya.sebagai contoh dari perubahan fisika adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam siklus air. Sedangkan perubahan kimia adalah perubahan suatau materi yang akan menghasilkan zat baru, dan perubahan kimia ini sering di sebut dengan reaksi kimia. Dalam suatu reaksi kimia, kita dapat mengetahui gejala-gejala terbentuknya zat baru yang dapat dipakai sebagai petunjuk terjadinya reaksi kimia antara lain, timbulnya gas, adanya endapan, terjadinya perubahan warna dan terjadinya perubahan suhu. Setiap zat murni yang diketahui, baik unsure maupun senyawa, mempunyai nama dan rumus uniknya sendiri. Cara tersingkat untuk memerikan suatu reaksi kimia ialah menulis rumus untuk tiap zat yang terlibat dalam bentuk suatu persamaan kimia. Suatu persamaan kimia meringkaskan sejumlah besar informasi mengenai zat–zat yang terlibat dalam reaksi. Persamaan itu tidaklah sekedar pernyataan kualitatif yang menguraikan zat–zat yang terlibat. Pengetahuan mengenai stoikiometri dalam merencanakan suatu percobaan maupun dalam industri, dengan memahami apalagi mempraktekkan stoikiometri maka kita dapat menghitung atau memperkirakan jumlah zat yang harus direaksikan serta memperkirakan jumlah produknya.

57

Selain gejala-gejala yang di sebut di atas, dalam reaksi kimia kita harus mengetahui secara pasti jumlah zat yang bereaksi. Untuk itu kita memerlukan satuan yang menyatakan jumlah zat yang telah bereaksi. Dimana satuan tersebut adalah mol dan cara perhitunganzat dalam reaksi kimia di sebut stoikiometri. Sehingga dalam percobaan ini kita akan mengetahui apa sebenarnya arti dari stoikiometri dan bagaimana pengaruhnya terhadap reaksi kimia. 1.2 Tujuan − Mengetahui perbedaan reaksi stoikiometri dan reaksi non stoikiometri. − Mengetahui pengertian reaksi eksoterm dan endoterm. − Mengetahui titik maksium dan titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem.

58

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Kata stoikiometri berasal dari bahasa Yunani stoicheion, artinya unsur. Dari literatur, stoikiometri artinya mengukur unsure – unsure. Istilah ini umumnya digunakan lebih luas, yaitu meliputi bermacam pengukuran yang lebih luas dan meliputi perhitungan yang didasarkan pada rumus – rumus dan persamaan – persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri. Suatu pereaksi ialah zat apa saja yang mula – mula terdapat dan kemudian diubah selama suatu reaksi kimia. Suatu hasil reaksi ialah zat apa saja yang dihasilkan selama reaksi kimia. Suatu persamaan kimia ( atau persamaan kimia berimbang ) menunjukkan rumus pereaksi, kemudian suatu anak panah, dan lalu rumus hasil reaksi, dengan banyaknya atom tiap unsure dikiri dan dikanan anak panah sama, misalnya persamaan berimbang untuk reaksi antara hydrogen dan oksigen yang menghasilkan air ditulis sebagai 2H2O + O2 2H2O Rumus H2 menyatakan bahwa sebuah molekul hydrogen tersusun dari dua atom itu adalah molekul diatom, sama seperti molekul oksigen (O2). Molekul air (H2O) merupakan molekul triatom karena terdiri dari tiga atom, dua hydrogen dan satu oksigen. Persamaan itu menyatakan bahwa dua molekul hydrogen bereaksi dengan satu molekul oksigen, menghasilkan dua molekul air. 2.1 Hukum-hukum Dasar Kimia a. Hukum kekekalan massa (Lavoisier)

59

Menyatakan bahwa “ massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama “. Hukum ini juga dikenal dengan hukum kekekalan zat yang menyatakan bahwa materi tidak dapat dimusnahkan. b. Hukum perbandingan berganda (Dalton) ” Jika dua unsur dapat membentuk dua macam senyawa, maka massa yang sama dari salah satu unsur dikedua senyawa akan menyebabkan massa unsur yang lain akan berbanding sebagai bilangan sederhana (kecil dan bulat). c. Hukum perbandingan timbal balik (Richter) ” Jika A dan B dapat membentuk senyawa, dan masing-masing dapat pula membentuk senyawa dengan unsur lain, misalnya AC dan BC, maka massa yang sama dari unsur C dikedua senyawa akan menyebabkan perbnadingan A dan B dalam AC dan BC sama dengan perbandingan A dan B dalam senyawa AB sama dengan perbandingan A dan B dalam senyawa AB atau kelipatan sederhana dari padanya. d. Hukum perbandingan setara ” Bila suatu unsur bergabung dengan unsur lain, maka perbandingan massa kedua unsur tersebut sama dengan perbandingan massa ekuivalennya (atau suatu kelipatan sederhana dari padanya).” e. Hukum perbandingan tetap ( Proust ) ” Perbandingan massa unsur –unsur pembentuk senyawa selalu tetap.” f. Hukum penyatuan volume ( gay Lussac ) “ Pada suhu dan tekanan tertentu, perbandingan volume gas-gas yang bereaksi dan gas hasil reaksi selalu berbanding sebagai bilangan kecil dan bulat.” g. Hukum avogadro ” Pada suhu dan tekanan tertentu, setiap gas yang volumenya sama akan mengandung jumlah partikel yang sama.” 2.2 Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Relatif

60

Massa setiap atom satu per satu sangat kecil sekali, bahkan atom yang paling berat pun massanya kurang dari 5 x 10-25 kg ialah bilangan yang sangat kecil dan sukar untuk ditetapkan dalam perhitungan. Untuk memudahkan dalam mengingat maupun dalam perhitungan – perhitungan massa satu atom atau massa satu molekul dinyatakan dengan satuan massa atom (atomic massa unit) (SMA). Atom yang dipakai sebagai patokan adalah isotop karbon C1 dengan lambang 12C. Dimana massa 1 atom karbon c = 12 SMA, 1 SMA adalah satuan massa yang sangat keal (1 SMA = 1.66 c 10-24 satuan). 1.1 Massa Atom Relatif Massa realtif suatu atom (Ar) adala perbandingan massa satu atom unsur dengan 1/12 massa 1 atom 12C (2,00 x 10-23 gr)

m _a1_ as st_Uoa mn s u r X A r U= n s u r X 1 2 1/1 _ m2 _a1_ as st Coa m
Massa atau realtif (Ar) mempunyai sinonim 1.2 Berat atom (BA) Nomor atom Bilangan massa Massa Molekul Relatif (Mr) Massa molekul relative (Mr) suatu zat merupakan perbandingan massa 1 molekul zat dengan 1/12 massa 1 atom 0C (2,00 x 10-23 gr)

m _a1_ ms s oa_ z l ae tk Xu l M r U= n s u r X1 2 1/1 _ m2 _a1_ as st Coa m
Massa molekul relatif (Mr) mempunyai sinonim: Berat molekul (BM) Massa rumus

61

-

Massa formula

Massa molekul realtif senyawa adalah jumlah total massa atom relatif unsur-unsur penyusunnya. 2.3 Konsep Mol Reaksi kimia berlangsung antara partikel-partikel pereaksi dalam perbandingan tertentu sesuai dengan koefisien reaksinya. Dalam reaksi kimia dapat mencampurkan pereaksi dalam perbandingan yang tepat sehingga tidak ada zat yang bersisa. Namun mengingat ukuran partikel yang sangat kecil terjadi masalah dalam menentukan jumlah partikel zat tersebut dan oleh karena itu timbullah konsep mol yang menghubungkan massa zat dengan jumlah partikel zat sehingga dapat ditentukan jumlah partikel dengan menimbang massa zat. Mol sendiri memiliki beberapa arti yaitu : a. Satu mol zat adalah banyaknya zat tersebut yang mengandung L partikel. Dimana L merupakan bilangan Avogadro = 6.02 x 10-23 partikel b. Satu mol zat/ volume molar adalah banyaknya zat pada keadaan suhu
0

C dan tekanan 1 atau (keadaan standar/ STP) adalah 22,4 l.

c. Satu mol zat/ massa molar adalah banyaknya zat yang sesuai dengan Ar atau Mr zat tersebut dan dapat dinyatakan dalam gram. Hubungan mol, jumlah partikel dan volume gas dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut : Gram Jumlah Partikel

Ar atau Mr Mol 22,4 Jumlah Partikel

6,02 x 10-23

62

2.3.1 Hubungan Mol dengan Massa Dapat dikatakan mol adalah suatu besaran dalam ilmu kimia yang menyataan banyaknya partikel yang sma dari suatu zat. Dengan kata lain bahwa unit segala macam zat jika molnya sama, jumlah partikelnya sama, tetapi karena massa atom/massa molekulnya tiap zat berbeda juga berbeda, dengan ditetapkannya konsep massa atom realtif (Mr) maka hubungan mol dan massa zat dapat dirumuskan sebagai berikut: 1 mol unsur = Ar gram unsur 1 mol unsure/senyawa. Mr gram unsur/ senyawa Jadi 1 mol suatu zat ialah bilangan yang dinyatakan dalam gram yang banyaknya sesuai dengan Ar/Mr zat tersebut. Dengan demikian hubungan erat antara mol dengan gram sebagai berikut : Dapat dituliskan : Mol = Gram Ar/ Mr 1.3.2 Hubungan Mol dengan Volume Gas Volume Standar Yang dimaksud dengan volume standar ialah volume gas yang diukur pada suhu OoC dan tekanan 1 atm. Volume standar ini biasanya disebut juga volume pada keadaan STP. Dengan menggunkan berat gas oksigen pada keadaan STP dapat dihitung bahwa berat 1 mol gas oksigen (OoC, 1 atm) adalah 22,4 l. Volume Gas pada Keadaan Standar Menurut rumus Boyle dan Gay Lussac, hasil kali tekanan (P) dan volume (v) dibagi dengan suhu mutlaknya selalu tetap atau dirumuskan :
C= PV T

Ar / Mr = Gram Mol

63

Maka pada keadaan standar yaitu pada suhu OoC,tekanan 1 atm = 76 cm (Hg, hasil bagi PV/ T untuk 1 ml gas 10 oC, 1 atm selalu 0,0082. bilangan 0,0082 ini dinyatakan sebagai tetapan gas ditulis dengan notasi (R). 2.4 Persamaan Reaksi Reaksi kimia dituliskan dengan simbol-simbol yang disebut persamaan kimia, yang menyatakan semua reaksi yang terlibat dalam reaksi tersebut dan semua produk terbentuk. Suatu reaksi dikatakan benar, jika memenuhi hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan muatan. Untuk memenuhi kedua hukum tersebut, koefisien reaksi harus disetarakan. Pereaksi pembatas dan berlebihan. Perhitungan banyaknya pereaksi yang diperlukan atau hasil reaksi yang diperoleh dilakukan berdasarkan angka banding stoikiometri yang ditunjukkan dalam persamaan. Persamaan berimbang. Namun dalam praktek kondisi reaksi hampir selalu berbeda. Di laboratorium di industri atau dalam alam. Tak dapat diharapkan bahwa banyaknya pereaksi yang tersedia kebetulan tepat sama yang dibutuhkan untuk reaksi tersebut. Sebelumnya reaksi adalah zat yang bereaksi habis dan karena itu membatasi kemungkinan diperpanjangnya reaksi itu. Pereaksi atau pereaksi. Pereaksi lain dikatakan berlebih karena tertinggal sejumlah yang tak bereaksi. Perhitungan yang didasarkan pada persamaan yang berimbang haruslah dimulai dari banyaknya pereaksi pembatas.Rumus suatu zat menyatakan jenis dan banyaknya atom yang bersenyawa secara kimia dalam suatu satuan zat. Ada beberapa jenis rumus, antara lain : • Rumus unsure Unsure kebanyakan ditulis berupa lambangnya saja. Misalnya, Natrium,Na,besi,Fe,perak,Ag, dan timah, Sn. Namun terdapat tujuh unsure yang lazim dikenal, yang hamper selalu berupa molekul diatom, yakni hydrogen, nitrogen, oksigen, fluor, klor, brom, dan iod ; rumus mereka adalah H2, N2, O2, F2, Cl2, Br2, I2. Disamping itu oksigen mempunyai suatu bentuk triatom yang khusus, O3, ozon, ada

64

unsure – unsure selain yang tujuh tersebut diatas, yang juga berbentuk molekul dengan dua atom atau lebih yang disebut molekul poliatom, misalnya molekul S8 dari belerang dan molekul P4 dari fosforus. • Rumus empiris, menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom – atom yang membentuk suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai rumus empiris HO. • Rumus molekul, menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya yang terdapat dalam molekul atau satuan terkecil dari suatu senyawaan. Dengan mengetahui beberapa sifat jenis reaksi, kita dapat menerangkan reaksi-reaksi kimia lebih mudah, dan mungkin reaksi menjadi lebih mudah dipahami. Jenis-jenis reaksi kimia adalah sebagai berikut:

Reaksi pembakaran adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa tergabung dengan O2 membentuk senyawa yang mengandung O2 sederhana, misalnya CO2, H2O, dan SO2. Reaksi propane dengan oksigen dan trietilena glikol dengan oksigen merupakan reaksi-reaksi pembakaran.

Penggabungan (sintesis) adalah suatu reaksi dimana suatu zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa) seperti reaksi : 2H2 + O2  2H2O

Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat yang lebih sederhana, seperti reaksi: 2Ag2O  4Ag + O2

65

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat − Gelads Kimia 50 mL − Gelas Ukur 25 Ml − Enlemeyer − Termomether − Hot plet − Pipet Tetes 3.1.2 Bahan − Larutan NaOH 1 M − Larutan HCl 1 M − Larutan H2SO4 − Aquades − Tissu 3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl

66

− Dimasukkan larutan NaOH 1 M berturut-turut 2 mL, 4 mL, 6 mL ke dalam enlemeyer dan di ukur suhu masing-masing menggunakan termomether, lalu di catat. − Dimasukkan larutan HCl 1 M berturut-turut 6 mL, 4 mL, 2 mL ke dalam gelas kimia dan di ukur suhu masing-masing menggunakan termomether, lalu di catat. − Dicampurkan kedua larutan tersebut kedalam gelas kimia, kemudian diukur suhu campuran menggunakan termomether, lalu dicatat. 3.2.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4 dalam enlemeyer dan di ukur suhu masing-masing menggunakan termomether, lalu di catat. − Dimasukkan larutan H2SO4 1 M berturut-turut 6 mL, 4 mL, 2 mL ke dalam gelas kimia dan di ukur suhu masing-masing menggunakan termomether, lalu di catat. − Dicampurkan kedua larutan tersebut kedalam gelas kimia, kemudian diukur suhu campuran menggunakan termomether, lalu dicatat. − Dimasukkan larutan NaOH 1 M berturut-turut 2 mL, 4 mL, 6 mL ke

67

No A B C

V NaOH (Ml) 2 4 6

V H2SO4 (Ml) 6 4 2

Suhu NaOH 32o 29 o 30 o

Suhu H2SO4 30 o 30 o 31 o

Suhu Campuran 32 o 30 o 29 o

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl

4.1.2

Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4 V NaOH (Ml) 2 4 6 V HCl (Ml) 6 4 2 Suhu NaOH 30o 30 o 31 o Suhu Campuran 31 o 32 o 30 o

No A B C

Suhu HCl 30
o

31 o 29 o

68

4.2 Reaksi 4.2.1 4.2.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl NaOH(aq) + HCl(aq)  NaCl(aq) + H2O(l) Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4 2NaOH(aq) + H2SO4(aq)  Na2SO4(aq) + 2H2O(l) 4.3 Perhitungan 4.3.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl 2 ml NaOH 1 M dengan 6 ml HCl 1 M = V. M = 2 ml . 1 M = 2 mmol NaOH (aq) + HCl (aq) m r s 2 mmol 2 mmol - mmol 6 mmol 2 mmol 4 mmol V = n/M n HCl = V. M = 6 ml. 1 M = 6 mmol

n NaOH


-

NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

2 mmol 2 mmol = 4 ml

2 mmol 2 mmol

Yang tersisa adalah NaOH ( 4 mmol )

→ 4 mmol/ 1M

4 ml NaOH 1 M dengan 4 ml HCl 1 M = V. M = 4 ml . 1M = 4 mmol n HCl = V. M = 4 ml. 1 M = 4 mmol

n NaOH

69

NaOH (aq) + HCl (aq) m r s 4 mmol 4 mmol 0 4 mmol 4 mmol 0

NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

4 mmol 4 mmol

4 mmol 4 mmol

Tidak ada reaksi yang tersisa 6 mL NaOH 1 M dengan 2 mL HCl 1 M n NaOH = V. M = 6 ml . 1 M = 6 mmol NaOH (aq) + HCl (aq) m r s 6 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol n HCl = V. M = 2 Ml. 1 M = 2 mmol
NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

2 mmol 2 mmol

2 mmol 2 mmol = 4 ml

4 mmol 0 V = n/M

Yang tersisa adalah NaOH ( 4 mmol )

→ 4 mmol/ 1 M

4.3.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4 n NaOH 2 ml NaOH 1 M dengan 6 ml H2 SO4 1 M = V. M = 2ml . 1 M = 2 mmol 2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) m r s 4 mmol 4 mmol 0 6 mmol 2 mmol 4 mmol n H2 SO4 = V. M = 6 ml. 1 M = 6 mmol

→ H2SO4 (aq) + 2H2O (l)
4 mmol 4 mmol 4 mmol 4 mmol

Yang tersisa adalah H2SO4 (4 mmol) V = n/m

→ 4 mmol/ 1M

= 4 ml

70

- 4 ml NaOH 1 M dengan 4 ml H2SO4 1 M n NaOH = V.M = 4 ml. 1 M = 4 mmol 2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) m r s 8 mmol 8 mmol 0 4 mmol 4 mmol 0 mmol n H2 SO4 = V.M = 4 ml. 1 M = 4 mmol

NaSO 4 (aq ) + 2H2O (l)

4 mmol 4 mmol

8 mmol 8 mmol

Tidak ada reaksi yang tersisa - 6 ml NaOH 1 M dengan 2 ml H2SO4 1 M n NaOH = V. M = 6 ml . 1 M = 6 mmol 2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) m r s 12 mmol 4 mmol 8 mmol 2 mmol 2 mmol 0 mmol n H2SO4 = V. M = 2 ml. 1 M = 2 mmol

Na 2 SO 4 (aq ) + 2H2O (l)

2 mmol 2 mmol

4 mmol 4 mmol

Yang tersisa adalah NaOH ( 8 mmol ) V = n/m 4.4 Pembahasan Percobaan ini dilakukan berdasarkan perbandingan pada koefisien dari suatu persamaan reaksi yang telah disetarakan. Percobaan ini termasuk dalam stoikiometri dimana sroikiometri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan-hubungan kuantitatif dari suatu reaksi kimia atau

→ 8 mmol/ 1M = 8 ml

71

senyawa kimia. Reaksi stoikiometri adalah reaksi dimana jumlah mol mulamula seluruh pereaksi habis pada saat bereaksi, sehingga tidak memiliki mol sisa. Sedangkan reaksi non-stoikiometri merupakan reaksi dimana masih terdapat mol sisa dari pereaksi setelah terjadinya reaksi. Prinsip dasar dari percobaan ini adalah metode variasi kontinyu, yaitu dilakukan serangkaian pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama tetapi masing-masing molar pereaksinya berubah-ubah(bervariasi). Tujuannya yaitu untuk menentukan titik maksimum dan titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem. Pada percobaan yang dilakukan terdapat reaksi stoikiometri pada sistem NaOH dan HCl dengan konsentrasi 1M dan volume masing-masing 4 mL. Dan pada sistem NaOH dan H2SO4 denagan konsentrasi dan volume yang sama, sedangkan reaksi non-stoikiometri terdapat pada sistem NaOH dan HCl anrata 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL HCl 1 M, yaitu HCl yang meiliki mol sisa. Sedangkan pada reaksi antara 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL HCl 1 M, yaitu NaOH yang memiliki mol sisa. Pada percobaan 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL HCl 1 M, suhu mulamula NaOH 30oC dan HCl 30oC, sedangkan suhu campuran keduanya 31oC. Karena mengalami penambahan suhu, maka reaksi ini dinamakan reaksi eksoterm. Pada percobaan 4 mL NaOH 1 M ditambahkan 4 mL HCl 1 M, suhu mulamula NaOH 30oC dan HCl 31oC, sedangkan suhu campuran keduanya mengalami penambahan suhu dari kedua suhu awal yaitu 32oC, maka reaksi ini dinamakan reaksi eksoterm. Pada percobaan 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL HCl 1 M, suhu mulamula NaOH 31oC dan HCl 29oC, sedangkan suhu campuran dari kedua zat tersebut berada diantara suhu awal yaitu 30oC. Pada percobaan 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL H2SO4 1 M, suhu mula-mula NaOH 32oC dan H2SO4 30oC, sedangkan suhu campuran keduanya 32oC. Karena mengalami penambahan suhu, maka reaksi ini dinamakan reaksi eksoterm.

72

Pada percobaan 4 mL NaOH 1 M ditambahkan 4 mL H2SO4 1 M, suhu mula-mula NaOH 29oC dan H2SO4 30oC, sedangkan suhu campuran mengalami penambahan suhu dari salah satu suhu awal yaitu 30oC, maka reaksi ini dinamakan reaksi eksoterm. Pada percobaan 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL H2SO4 1 M, suhu mula-mula NaOH 30oC dan H2SO4 31oC, sedangkan suhu campuran dari kedua zat tersebut mengalami penurunan yaitu 29oC, , maka reaksi ini dinamakan reaksi endoterm. Reaksi-reaksi dalam stoikiometri diantaranya adalah reaksi eksoterm, reaksi endoterm,reaksi pembatas dan reaksi sisa. Reksi eksoterm adalah reaksi yang mengeluarkan kalor dari sistem ke lingkungandan pada reaksi tersebut dikeluarkan panas sehingga menyebabkan penambahan atau penaikan suhu. Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor dari sistem ke lingkungan dan reaksi tersebut memerlukan panas sehingga menyababkan suhu berkurang atau menurun. Bila digambarkan grafik antara sifat fisika yang diukur terhadap kuantitas pereaksinya, maka akan diperoleh titik maksimum dan titik minimum sesuai dangan titik stoikiometri sistem yaitu menyatakan perbandingan pereaksi – pereaksinya. Titik maksimum adalah titik (nilai) dimana suatu reaksi dalam keadaan nilai (titik) suhu tertinggi. Hubungannya dengan reaksi stoikiometri adalah titik maksimumakan tercapai ketika reaksi yang berlangsung tidak menghasilkan zat sisa atau disebut stoikiometri. Titik minimum adalah titik (nilai) dimana suatu reksi dalam keadaan titik(nilai)suhu terendah. Titik minimum tidak akanterjadi jika suatu reaksi menhasilkan zat sisa. Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dilihat perbandingan volume pereaksi-pereaksi dengan suhu campuran pada Grafik 1. stoikiometri sistem NaOH dan HCl, titk maksimum berada pada saat perbandingan volume antara NaOH dan HCl adalah 1:1 dengan suhu canpuran adalah 32oC.titik maksimum sistem ini dapat dilihat dari perhitungan pada perbandingan 1:1, reaktan NaOH 1M dan HCl 1M tepat habis bereaksi, sehingga suhu yang dicapai adalah suhu yang paling maksimal.

73

Titik minimum sistem ini dapat dilihat dari perhitungan pada perbandingan 3:1, reaktan NaOH 1M dan HCl 1M masih terdapat mol NaOH yang tersisa, karena larutan NaOH bersifat basa kuat yang dapat mempengaruhi suhu campuran tersebut. Grafik 1. stoikiometri sistem NaOH dan HCl

S toikiom sistem etri NaOH1 M +H 1 M Cl
33

S uhu Cam puran (C )

32 31 30 29 28 27 2 mL +6 mL

Titik Maksimum

Titik Minimum

4 mL +4 mL

6 mL +2 mL

Volum NaOH+HC (m ) e l L

Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dilihat perbandingan volume pereaksi-pereaksi NaOH 1M dan H2SO4 pada grafik 2 stoikiometri sistem tersebut. Titik maksimum berada pada saat perbandingan volume NaOH 1M dan H2SO4 adalah 1:3 dengan suhu campuran sebesar 32oC, titik maksimum sistem ini tidak sesuai dangan stoikiometri sistem yang dilihat dari pehitungannya dimana reaksi ini masih memiliki 8 mmol zat sisa. Sedangkan pada perbandingan volume antara NaOH 1M dan H2SO4 1M. Titk minimumnya memiliki perbandingan 3:1 dengan suhu 29oC. Seharusnya suhu minimum dari kedua percobaan tersebut tidak sebesar itu, karena semakin sedikit volume asam atau basa yang bersisa maka semakin sedikit hambatan yang diterima campuran untuk mencapai titik maksimum. Keadaan-keadaan yang terjadi ini dikarenakan oleh suhu ruangan yang mengalami perubahan pada saat melakukan percobaan yang dibuktikan dengan bervariasinya suhu asam dan suhu basa. Grafik 2. stoikiometri sistem NaOH dan H2SO4

74

S uhu C m a pura n

So io er s t m t ik m t i is e N O 1M+ 2 O 1M aH HS 4
3 3 3 2 3 1 3 0 2 9 2 8 2 7 2m + m L 6 L 4m + m L 4 L 6m + m L 2 L

T M k im m itik a s u

(C )

T M im m itik in u

V lu eN O + o m aH H

O m) 2S 4 ( L

Pada percobaan stoikiometri kali ini terdapat beberapa faktor kesalahan yang mempengaruhi dalam penghambatan antar lain: • • Kurang teliti dalam melakukan perhitungan atau membaca Kesalahan dalam penggunaan termomether, yaitu pada saat skala pada termomether. melakukan perhitungan suhu, termomether tidak boleh menyentuh tubuh.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan − Reaksi stoikiometri adalah proses reaksi dimana jumlah mol mulamula seluruh reaktan habis pada saat bereaksi, sehingga tidak memiliki mol sisa. Sedangkan reaksi non-stoikiometri merupakan reaksi dimana masih terdapat mol sisa dari reaktan setelah terjadi reaksi. − Reaksi eksoterm adalah reaksi yang melepas kalor dari sistem ke lingkungan bertambah, dan reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor dari lingkungan ke sistem sehingga suhu lingkungan berkurang. − Titik minimum adalah titik yang menunjukkan suhu campuran terendah dari beberapa suhu lainnya yang di ukur dari dua zat yang

75

bereaksi pada volume yang sama. Sedangkan titik maksimum adalah titik yang menunjukkan suhu campuran tertinggi dari beberapa suhu campuran lainnya yang yang diukur dari dua zat yang bereaksi pada volume yang sama. 5.2 Sarans Dalam percobaan stoikiometri ini sebaiknya termoether yang digunakan untuk mengukur larutan, masing-masing satu termometer untuk mengukur satu larutan agar hasil yang di dapat lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Anna, P.1988.Dasar-Dasar Ilmu Biokimia.Bandung:Yaasan Cendrawasih. Charles, W.1992.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Keenan,dkk.1999.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga. Kitti,Surra.1993.Kimia Fisika Untuk Universitas.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

76

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Proses industri yang melibatkan adanya reaksi kimia memerlukan peranan ilmu kimia yang memberi dasar untuk mengatur agar suatu proses industri dapat menghasilkan bahan industri sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Disisi lain, terdapat reaksi kimia yang dikehendaki berjalan lambat, misalnya bagaimana agar buah tidak cepat membusuk, memperlambat proses pembusukan makanan dan bagaimana memperlambat perkaratan logam. Masalah diatas adalah permasalahan bagaimana mempercepat suatu reaksi berlangsung dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam ilmu kimia

77

dikenal dengan nama laju reaksi yaitu cepat lambatnya suatu reaksi itu berlangsung atau perubahan konsentrasi pereaksi persatuan waktu. Untuk mempercepat laju reaksi, dalam ilmu kimia dikenal dengan adanya teori tumbukan yaitu mengenai percepatan tumbukan antar molekul, konsentrasi yaitu banyaknya kandungan zat. Luas permukaan yaitu berupa serbuk dengan penampang luas yang dapat mempercepat berlangsungnya reaksi, suhu yaitu semakin tinggi suhu maka semakin cepat pula reaksi berlangsung dan yang terakhir adalah katalisator yaitu zat yang dapat mempercepat suatu reaksi tanpa mengalami perubahan yang berarti dan tidak kekal. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dalam perubahan laju reaksi. Sebagai contoh perubahan suhu dalam laju reaksi. Pada percobaan ini diselidiki apakah dengan bertambahnya suhu laju reaksi suatu campuran akan ikut meningkat atau sebaliknya begitu pula dengan bertambahnya konsentrasi.

1.2 Tujuan − Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi − Mengetahui ketergantungan laju reaksi terhadap teori tumbukan − Menentukan laju reaksi suatu reaksi kimia

78

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Cepat lambatnya suatui reaksi berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol perliter, tetapi untuk reaksi fase gas satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan, seperti Atmosfer (atm), millimeter merkorium (mmHg) atau pascal (Pa). satuan waktu dapat detik, menit, jam, hari, bulan bahkan tahun bergantung pada reaksi itu berjalan cepat atau lambat. Dapat dirumuskan sebagai berikut. Laju reaksi = perubahan konsentrasi satuan waktu

79

Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa setelah penggal-penggal waktu tertentu. Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi: Pereaksi (reaktan) hasil reaksi (produk)

Seperi halnya contoh diatas, maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah pereksi untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya jumlah hasil reaksi untuk setiap satuan waktu. Ukuran jumlah zat dalam reaksi kimia umumnya dinyatakan sebagai konsentrasi molar atau molaritas (M). Dengan demikian maka laju reaksi menyatakan berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya konsentrasi zat hasil reaksi setiap satuan waktu. Satuan laju reaksi umumnya dinyatakan dalam satuan mol.dm-3.det-1 atau mol/Liter detik. Satuan mol dm-3 atau molaritas, merupakan satuan konsentrasi larutan. Penentuan laju reaksi dapat dilakukan dengan cara fisika atau kimia. Dengan cara fisika, penentuan konsentrasinya dilakukan secara tidak langsung yaitu berdasarkan sifat-sifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi campuran, misalnya daya hantar listrik, tekanan (untuk reaksi gas). Adsorpsi cahaya dan lainnya. Penentuan secara kimia dilakukan dengan menghentikan reaksi secara tiba-tiba (reaksi dibekukan). Setelah selang waktu tertentu, kemudian konsentrasinya ditentukan dngan metode analisis kimia. Laju reaksi dapat ditentukan melalui percobaan yaitu dengan mengukur konsentrasi salah pereaksi atau salah satu produk. Dengan selang waktu tertentu selama reaksi berlangsung untuk reaksi yang berlangsung lambat, hal itu dapat dilakukan dengan mengeluarkan sampel dari campran reaksi lalu menganalisisnya. Misalnya reaksi hidrolisis etil asetat berikut in : CH3COOC2H5 + H2O Etil asetat CH3COOH + C2H5OH Asam asetat etanol

80

Reaksi itu berlangsung lambat sehingga konsentrasi asma asetat yang terbentuk dengan mudah dapat ditentukan dengan menggunakan suatu larutan basah. Cara yang lebih umum ialah menggunakan suatu alat yang dapat menunjukkan secara kontinyu salah satu perubahan fisis yang menyertai reaksi, misalnya untuk reaksi yang membebaskan gas, alat dirancang agar dapat mencatat volume gas yang terbentuk ; untuk reaksi yang diserati perubahan warna, alat dirancang agar dapat mengukur perubahan itensitas warna, untuk reaksi gas yang disertai perubahan jumlah mol, alat dirancang agar dapat mengukur perubahan tekanan gas. Gambar diatas memperlihatkan bagan suatu alat yang dapat mengukur perubahan tekanan pada suatu reaksi gas, seperti penguraian dinitrogen pentaoksida membentuk nitrogen dioksida dan oksigen. 2N2O5 (g) 4NO2 (g) + O2 (g) reaksi itu disertai pertambahan jumlah mol gas, yang menyebabkan pertambahan tekanan, yang dapat dibaca pada manometer. Semakin banyak N2O5 yang terurai semakin besar tekanan. Bila reaksi dilangsungkan pada volume dan suhu tetap, maka pertambahan tekanan dapat dikaitkan dengan pertambahan jumlah mol. Dengan demikian laju penguraian N2O5 itu dapat ditentukan. Dalam laju reaksi dikenal juga laju reaksi sesat, yaitu laju reaksi rata-rata yang dihitung dalam selang waktu yang berbeda-beda dan diperlukan perhitungan laju reaksi yang berlaku dalam setiap saat. Lajureaksi juga dapat ditentukan melalui cara grafik. Laju reaksi sesaat merupkan gradient dari kurva antara waktu dengan perubahan konsentrasi pada selang waktu tertentu. Oleh karena itu, terdapat suatu bilangan tetap yang merupakan angka faktor perkalian terhadap konsentrasi yang disebut sebagai tetapan laju reaksi (K). dengan demikian, laju reaksi sesaat secara umum dapat dinyatakan sebagai : Laju reaksi ≈ K [Konsentrasi Zat] FAKTOR –FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI Konsentrasi

81

Secara umum konsentrasi pereaksi akan mempengaruhi laju reaksi. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi. Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam setiap satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin sering terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan untuk menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung lebih cepat. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi. Luas Permukaan Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan reaksi yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen, campuran zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat berlangsungnya reaksi kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu sama lainnya. Dalam system heterogen, reaksi hanya berlangsung pada bidangbidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang bersentuhan dari kedua fase. Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari zat-zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu zat maka makin luas permukaannya sehingga makin besar kemungkinan bereaksi dan makin cepat reaksi itu berlangsung. Temperatur Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar 100C akan menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan laju reaksi ini disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi pengaktifan kinetik. Perumusan laju reaksi sebagai berikut:
t −t 0 10

Vt = V0 .2

82

Dimana: Vt = laju reaksi akhir Vo = laju reaksi awal Katalisator Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai ternyata tidak berubah. Misalnya pada peruraian kalium klorat untuk menghasilkan gas oksigen. 2KClO3 (s) 2KCl(s) + 3O2 t = suhu akhir to = suhu awal

Reaksi berlangsung pada suhu tinggi dan berjalan lambat, tetapi dengan penambahan kristal MnO2 kedalamnya ternyata reaksi akan dapat berlangsung dengan lebih cepat pada suhu yang lebih rendah. Setelah semua KClO3 terurai ternyata MnO2 masih tetap ada (tidak berubah). Dalam reaksi tersebut MnO2 disebut sebagai katalisator. Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin akan terlibat dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi berlangsung, tetapi setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh kembali dalam jumlah yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan cara mengubah jalannya reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah dari pada jalur reaksi yang biasa ditempuh. Jadi dapat dikatakan bahwa katalisator berperan dalam menurunkan energi aktivasi. Tekanan gas Jika tekanan gas diperbesar, maka volume gas itu diperkecil, sehingga letak partikel makin berdekatan dan makin mudah bertumbukkan. Jadi, makin besar tekanan gas maka makin cepat reaksinya. Teori tumbukan Pengaruh dari berbagai faktorterhadap laju reaksi dapat dijaleaskan dengan teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan

83

menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Tumbukan yang menghasilkan reaksi, kita sebut tumbukan efektif. Energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel pereaksi sehingga menghasilkan tumbukan efektif disebut energi pengaktifan (Ea = energi aktivasi). Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu tumbukan adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Jumlah partikel atau konsentrasi, Temperatur Luas permukaan Menambah katalisator

PERSAMAAN LAJU REAKSI Dari percobaan penentuan laju reaksi menunjukkan bahwa laju reaksi akan menurun dengan bertambahnya waktu. Hal itu berari ada hubungan antara konsentrasi zat yang tersisa saat itu dengan laju reaksi. Umumnya laju reaksi tergantung pada konsentrasi awal dari zat-zat pereaksi. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi . Secara umum untuk reaksi pA + qB rC V = K[A]m[B]n dengan, V = Laju reaksi (mol dm-3 det-1) K = tetapan laju reaksi m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B [A] = Konsentrasi awal A (mol dm-3) [B] = Konsentrasi awal B (mol dm-3) Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi. Tingkat reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh konsentrasi pereaksi, tetapi hanya tergantung pada harga tetapan laju reaksi (K). Pangkat konsentrasi pereaksi pada persamaan laju reaksi disebut orde atau tingkat pereaksi. Pada reaksi diatas berorde X terhadap A dan berorde Y terhadap B, orde reaksi keseluruhan X+Y. Jadi, jika disebut orde reaksi maka yang

84

dimaksud adalah orde reaksi keseluruhan. Orde reaksi juga bisa dikatakan sebagai besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi. Orde reaksi memiliki beberapa makna diantaranya : a. Orde Nol Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju reaksi. Reaksi yang berorde nol dapat dijelaskan juga seperti gambar grafik berikut :

V

[X] b. Orde satu Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika konsentrasi pereaksi itu dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31 atau 3 kali lebih besar. Orde satu dapat dijalaskan dengan grafik dibawah : V

[X] c. Orde Dua Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 32 atau 9 kali lebih besar.orde dua dapat juga dijelaskan seperti grafik berikut :

85

V [X] d. Orde Negatif Laju reaksi berbanding terbalik terhadap konsentrasi pereaksi.

V [X] V

[X]

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat − Enlemeyer − Gelas kimia 50 mL − Gelas ukur 50 mL − Hot plate − Stopwacth − Termometer

86

3.1.2 Bahan − Kertas − Larutan HCl 1 M − Larutan HCl 2 M − Larutan Na2S2O3 0,1 M − Larutan Na2S2O3 0,2 M 3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Pengaruh Konsentrasi – Disiapkan 1 gelas kimia – Dimasukkan 2 ml larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia – Disiapkan kertas putih yang dibri tanda X sesuai dengan ukuran gelas kimia. – Diletakkan gelas kimia yang berisi Na2S2O3 0,1 M diatas kertas putih yang telah diberi tanda silang. – Dimasukkan 3 ml larutan HCl 1 M pada larutan Na2S2O3 0,1 M. – Dicatat waktu yang diperlukan sejak penambahan larutan HCl hingga tanda silang tidak terlihat lagi dari atas. − Langkah yang sama untuk HCl 2 M terhadap larutan Na2S2O3 0,2 M. 3.2.2 Pengaruh Suhu – Disiapkan 1 gelas kimia – Dimasukkan 2 ml larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia – Disiapkan kertas putih yang dibri tanda X sesuai dengan ukuran gelas kimia. – Larutan dipanaskan pada hot plate hingga suhu mencapai 40oC kemudian diletakkan gelas kimia yang berisi Na2S2O3 0,1 M diatas kertas putih yang telah diberi tanda silang. – Dimasukkan 3 ml larutan HCl 1 M pada larutan Na2S2O3 0,1 M. – Dicatat waktu yang diperlukan sejak penambahan larutan HCl hingga tanda silang tidak terlihat lagi dari atas. – Langkah yang sama untuk HCl 2 M terhadap larutan Na2S2O3 0,2 M.

87

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Pengaruh konsentrasi No 1. 2. 3. Konsentrasi larutan Na2S2O3 0,1 M 0,1 M 0,2 M Kosentrasi larutan HCl 1M 2M 2M Waktu (sekon) 217 726 184

4.1.2 Pengaruh suhu 400C

88

No 1. 2. 3. 4.2 Reaksi

Konsentrasi larutan Na2S2O3 0,1 M 0,1 M 0,2 M

Kosentrasi larutan HCl 1M 2M 2M

Waktu (sekon) 23 31 26

Na2S2O3 + 2HCl → 2 NaCl + S + SO2 + H2O 4.3 Perhitungan 4.3.1 Pengaruh konsentrasi

Persamaan laju reaksi
X

[Na2S2O3]y

0,304=2x x= 2log 0,304 x=

x=-1,7

89

X

[Na2S2O3]y

3,86=2y y= 2log 3,86 y=

y= 1,9 orde reaksi x=-1,7 orde reaksi y=-1,9 orde reaksi total x + y = (-1,7) + 1,9 = 0,2 konstanta laju reaksi (k) [Na2S2O3]y 0,0046= k [HCl]x[Na2S2O3]y 0,0046= k (1)(0,0126)
X

k= 0,365 jadi persamaan laju reaksi
X

[Na2S2O3]y

= 0,365 [HCl]-1,7[Na2S2O3]1,9 4.3.2 Pengaruh Suhu 40oC

90

Persamaan laju reaksi
X

[Na2S2O3]y

0,74=[2]x x= 2log 0,74 x=

X= -0,43
X

[Na2S2O3]y

1,1875=[2]y y = 2log 1,1875 y=

91

y = 0,25 orde reaksi x = -0,43 orde reaksi y = 0,25 orde reaksi total x + y = (-0,43) + 0,25 = -0,18 konstanta laju reaksi
X

[Na2S2O3]y

0,043 = k [1]-0,43[0,1]0,25 0,043 = k (1)(0,562)

k = 0,076

jadi persamaan reaksi [Na2S2O3]y = 0,076[HCl]-0,043[Na2S2O3]0,25 4.4 Pembahasan Laju reaksi adalah cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung atau dapat juga dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakn dalam mol per liter. Orde reaksi adalah bilangan pangkat yang menyatakan naiknya laju reaksi akibat naiknya reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia pada prinsipnya menentukan seberapa besar pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksinya.tumbukan efektif merupakan tumbukan yang menghasilkan
X

92

reaksi, dan energi minimum yang diperlukan supaya reaksi dapat berlangsung disebut energi aktifasi(Ea). Dalam percobaan laju reaksi ini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu: Konsentrasi Secara umum konsentrasi pereaksi akan mempengaruhi laju reaksi. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi. Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam setiap satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin sering terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan untuk menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung lebih cepat. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi. Luas Permukaan Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan reaksi yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen, campuran zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat berlangsungnya reaksi kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu sama lainnya. Dalam system heterogen, reaksi hanya berlangsung pada bidang-bidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang bersentuhan dari kedua fase. Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau ionion dari zat-zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu zat maka makin luas permukaannya sehingga makin besar kemungkinan bereaksi dan makin cepat reaksi itu berlangsung. Temperatur Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar 100C akan menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan laju reaksi ini disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin

93

cepatnya

molekul-molekul

pereaksi

bergerak,

sehingga

memperbesar

kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi pengaktifan kinetik. Perumusan laju reaksi sebagai berikut:
t −t 0 10

Vt = V0 .2

Dimana: Vt = laju reaksi akhir Vo = laju reaksi awal Katalisator Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai ternyata tidak berubah Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin akan terlibat dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi berlangsung, tetapi setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh kembali dalam jumlah yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan cara mengubah jalannya reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah dari pada jalur reaksi yang biasa ditempuh. Jadi dapat dikatakan bahwa katalisator berperan dalam menurunkan energi aktivasi. Tekanan gas Jika tekanan gas diperbesar, maka volume gas itu diperkecil, sehingga letak partikel makin berdekatan dan makin mudah bertumbukkan. Jadi, makin besar tekanan gas maka makin cepat reaksinya. Teori tumbukan Pengaruh dari berbagai faktorterhadap laju reaksi dapat dijaleaskan dengan teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil t = suhu akhir to = suhu awal

94

tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Orde reaksi juga bisa dikatakan sebagai besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi. Orde reaksi memiliki beberapa makna diantaranya : 1. Orde Nol Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju reaksi. Reaksi yang berorde nol dapat dijelaskan juga seperti gambar grafik berikut :

V

[X]

2. Orde satu Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika konsentrasi pereaksi itu dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31 atau 3 kali lebih besar. Orde satu dapat dijalaskan dengan grafik dibawah : V

[X]

95

3. Orde Dua Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 32 atau 9 kali lebih besar.orde dua dapat juga dijelaskan seperti grafik berikut :

V [X] 4. Orde Negatif Laju reaksi berbanding terbalik terhadap konsentrasi pereaksi.

V [X]

V

[X] Pada percobaan pertama dilakukan pencampuran larutan 0.1M Na2S2O3 2 mL dengan 1M HCl 3 mL, ternyata tanda silang yang ada dikertas hilang pada hitungan ke-217 detik, dimana pada saat itu campuran pun berubah menjadi keruh. Pada percobaan kedua, dilakukan pencampuran larutan 0.1M Na2S2O3 2 mL denag 2M HCl 3 mL, ternyata pada percobaan kedua ini waktu yang

96

dibutuhkan oleh tanda silang untuk hilang (tidak terlihat) lagi. Lebih lama dari percobaan pertama, yaitu 726 detik. Hal ini seharusnya lebih cepat dari percobaan pertama, karena konsentrasi larutan HCl ditambah menjadi 2M. dimana seperti kita ketahui bahwa semakin besar konsentrasi maka laju reaksinya semakin cepat. Hal ini dikarenakan karena larutan yang konsentrasinya besar (pekat) mengandung partikel yang lebih rapat, jika dibandingkan denagn larutan yang konsentrasinya kecil (encer), sehingga lebih mudah dan lebih sering bertumbukan. Pada percobaan ketiga, pencampuran larutan 0.2M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3 mL memerlukan waktu yang lebih cepat daripada percobaan ke-1 dan ke-2 sebelumnya, dimana waktu yang diperlukan agar tanda silang tak terlihat lagi adalah 184 detik. Hal ini dikarenakan bertambahnya konsentrasi Na2S2O3 menjadi 2M. Dari data diatas dapat dilihat bahwa konsentrasi terbesar terdapat pada percobaan ketiga,sehingga pada percobaan ketiga waktu yang diperlukan adalah yang paling cepat. Hal in membuktikan bahwa semakin besar (pekat) konsentrasi maka semakin cepat laju reaksinya. Pada percobaan ke-4 berdasarkan pengaruh temperature pencampuran 0.1M Na 2S2O3 2 mL dengan 1M HCl 3mL, dimana Na2S2O3 dipanaskan hingga 400C, ternyata waktu untuk hilangnya kertas adalah 23 detik. Pada percobaan ke-5 pencampuran antara 0.1M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3 mL didapatkan waktunya adalah 31 detik. Dari hasil pengamatan pada percobaan ke-4 dan ke-5 diketahui telah terjadi kesalahan percobaan. Seharusnya waktu yang diperlukan pada pecobaan ke-4 lebih lama dari percobaan ke-5, karena jumlah konsentrasi pada percobaan ke-4 lebih kecil daripada percobaaan ke-5. selain itu juga karena terjadinya penambahan temperature pada Na2S2O3. Kesalahan ini terjadinya kemungkinan karena lambatnya praktikan dalam memasang stopwatch atau juga karena turunnya temperature lebih dulu sebelum dicampurkan dengan larutan HCl. Pada percobaan ke-6, pencampuran antara 0.2M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3 mL, ternyata waktu yang dibutuhkan agar tanda silang tak telihat lagi adalah 26 detik. Berdasarkan hasil pengamatan, waktu pada percobaan ke-6 jauh

97

lebih cepat dari percobaan ke-5. hal ini dikarenakan karena konsentrasi Na2S2O3 ditambah hingga 0.2M dengan temperature 400C. dimana seperti kita ketahui bahwa semakin tinggi temperature maka semakin cepat laju reaksinya. Kenaikan laju reaksi ini disebabkan dengan kenaikan suhu akan menyebabkan makin cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak sehingga memungkinkan terjadi tabrakan antar molekul. Dari ke-6 pecobaan yang telah dilkuakan dapat dibuktikan bahwa konsentrasi dan suhu mempengaruhi suatu laju reaksi. Fungsi dari Na2S2O3 dan HCl adalah sebagai pereaksi, yang dalam percobaan ini dipengaruhi oleh konsentrasi dan temperature. Pada saat Na2S2O3 dan HCl dengan konsentrasi yang berlainan (bervariasi) direaksikan maka akan terjadi suatu reaksi yang memerlukan waktu untuk menentukan laju reaksi dari masing-masing percobaan. Dengan begitu akan memperoleh orde reaksi, harga K, dan persamaan laju reaksinya. Prinsip percobaan pada laju reaksi ini adalah didasarkan pada perubahan konsentrasi terhadap waktu. Hal ini dapat dilihat pada percobaan Na2S2O3 0.1M dan 0.2M dengan larutan HCl 1M dan 2M. dari setiap campuran yang berbeda konsentrasinya memilki laju reaksi yang berbeda. Pemanasan pada percobaan ini dilakukan pada temperature 400C dikarenakan temperature tersebut merupakan ketetapan yang apabila suhu atau tempratur tersebut diturunkan akan membuat laju reaksi lambat dan apabila temperature tersebut dinaikkan akan membuat laju reaksi menjadi cepat. Sehingga hal ini akan membuat Na2S2O3 menguap. Dengan begitu menguapnya Na2S2O3 maka HCl tidak akan bisa bereaksi karena Na2S2O3 nya tela habis menguap. Tentunya hal ini tidak dapat menentukan laju reaksi suatu reaksi kimia. Sehingga pada temperature 400C inilah yang digunakan sebagai pembanding antara suhu yang lebih rendah (temperature kamar). Pada percobaan kali ini konsentrasi zat dibuat berbeda adalah untuk menghasilkan suatu laju reaksi yang berbeda pula. Sehingga dapat membandingkan laju reaksi suatu reaksi kimia satu sama lain baik yang dipengaruhi oleh konsentrasi maupun temperature terhadap laju reaksi. Dengan bertambahnya suatu konsentrasi zat maka laju reaksinya akan

98

semakin cepat pula, sehingga waktu yan diperlukan pun lebih sedikit dibandingkan dengan kecilnya konsentrasi suatu zat. Karena zat yang konsentrasinya kecil atau rendah mengandung jumlah pertikel yang lebih sedikit, sehingga partikel-patkelnya lebih renggang disbanding zat yang konsentrasina besar. Partikel yang susunannya lebih renggang akan jarang bertumbukan sehingga kemungkinan terjadi reaksi kecil. Dapat dilihat perbedaan antara larutan yang dipanaskan dan lautan yang tidak dipanaskan atau anatara yang dipengaruhi oleh konsentrasi atau temperature. Pada larutan yang tidak dipanaskan (dipengaruhi konsentrasi), reaksi larutan berlangsung lambat dan laju reaksinya pun lebih kecil, sebaliknya pada larutan yang dipanaskan (dipengaruhi oleh temperature), reaksi larutan berlangsung dengan cepat dan laju reaksinya pun lebih besar. Dalam melakukan percobaan laju reaksi terdapat berbagai kesalahan yang dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu: − Kurang teliti dalam melakukan perhitungan waktu yang menggunakan stopwatch. − Saat memanaskan larutan tidak sesuai dengan suhu yang ditentukan − Tidak dilakukan pengadukan saat mencampurkan larutan.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan − Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu luas permukaan, konsentrasi, suhu, tekanan, dan katalis. − Laju reaksi menyatakan ukuran kelajuan berlangsungnya reaksi kimia, dan dapat ditentukan dengan mengukur laju berkurangnya salah satu pereaksi atau laju terbentuknya suatu produk. – ∗ ∗ Berdasarkan teori tumbukan, kelajuan reaksi bergantung pada: Frekuensi tumbukan Energi partikel pereaksi

99

∗ 5.2 Saran

Arah tumbukan

diharapkan dalam melakukan praktikum laju reaksi janga hanya mengganakan larutan Na2S2O3 dan HCl, tapi juga menggunakan larutan H2SO4 agar dapat dibandingkan laju reaksinya.

DAFTAR PUSTAKA
Keenan, Kleinfelter, Wood A. 1999.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga Priyatna, Amien.2001.Kimia Universitas.Bandung:Teknokimia Respah.1989.Dasar-dasar Ilmu Kimia.Jakarta:Rineka Cipta Team Penyusun.2010.Penuntun Praktikum Kimia Dasar 1.Samarinda: Universitas Mulawarman

100

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Unsur merupakan zat tunggal yang tidak dapat diuraikan secara kimia menjadi zat lain yang lebih sederhana. Jenis unsur tidaklah terlalu banyak. Di alam hanya 90 jenis unsur. Beberapa golongan unsur dalam sistem periodik yang sangat menarik untuk dipelajari tersendiri yaitu unsur-unsur yang sangat reaktif dan unsurunsur yang sangat sukar bereaksi dengan unsur lain. Unsur-unsur yang sukar bereaksi dengan unsur lain yaitu unsur yang terdapat pada golongan gas mulia,

101

sedangkan unsur-unsur yang sangat reaktif meliputi unsur pada golongan alkali dan alkali tanah. Logam alkali dan alkali tanah adalah zat pereduksi yang sangat kuat, karena begitu mudah kehilangan elektron. Mereka mudah bergabung dengan kebanyakan unsur non-logam, membnetuk senyawa ion seperti halida, oksida, dan sulfida. Logam alkali adalah unsur-unsur yang termasuk golongan IA (kecuali hidrogen) yaitu litium, natrium, kalium, rubidium, cesium, dan fransium. Unsur-unsur ini memiliki susunan elektron pada kulit terluar ns1 dan merupakan reduktor kuat. Dalam percobaan ini, akan dibahas beberapa sifat-sifat unsur golongan, akan terlihat bagaimana perbedaan kereaktifan golongan IA dan golongan IIA dan bagaimana menentukan kelarutan garam sulfat dan garam hidroksida dari endapan yang terbentuk, selain itu dapat diketahui reaksi yang terjadi pada unsure golongan IA dan golongan IIA. 1.2 Tujuan − Mengetahui perbedaan garam sulfat dengan garam hidroksida. − Mempelajari beberapa sifat unsur golongan IA dan IIA.
− Mengetahui kereaktifan unsur-unsur golongan IA dan golongan IIA.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Definisi unsur yaitu suatu zat tunggal yang tidak dapat diuraikan menjadi zat-zat lain yang lebih sederhana dengan reaksi kimia sederhana. Sedangkan sistem periodik unsur adalah susunan yang menggambarkan suatu letak keadaan, periode, golongan, dan unsur kimia. Sistem periodik unsur disusun berdasarkan kenaikan nomor atom (kenaikan jumlah proton dan muatan inti). Sistem periodik dibagi menjadi periode yaitu unsur-unsur yang terletak dalam baris yang horizontal dan golongan yaitu unsur yang terletak dalam kolom yang vertikal. A. Golongan IA (Alkali)

102

Disebut juga unsur alkali karena sifat logam ini membentuk basa-basa yang kuat. Dalam sistem periodik terletak terletak pada lajur paling kiri. Unsurunsur alkali merupakan unsur-unsur logam dengan satu elektron pada elektron terluarnya. Unsur-unsur yang terletak dalam logam alkali adalah Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr).
Sifat-sifat um um Nomor atom Konfigurasi elektron Titik leleh (K) Titik didih (K) Jari-jari atom ( Ắ) Jari-jari ion (Ắ) Energi ionisasi I (Kj/m ol) Energi ionisasi II (Kj/m ol) Elektronegativitas Poetnsial elektrode (volt) M assa jenis (g/mol) Li 3 1s2 2s1 454 1.609 1,34 0,6 520 7298 0,98 -3,04 0,63 Na 11 [He]3s1 371 1154 1,54 0,95 495 4563 0,93 -2,71 0,97 K 19 [Ne]4s1 337 1039 4,3 1,33 418 3051 0,82 -2,93 0,86 Rb 37 [Ar]5s1 312 967 4,2 1,48 403 2632 0,82 -2,99 1,53 Cs 55 [Kr]6s1 302 952 3,9 1,69 374 2420 0,79 -3,02 1,95

Dibandingkan dengan unsur-unsur lain yang seperiode unsur-unsur alkali adalah unsur yang paling elektropositif. Paling mudah melepaskan elektron valensinya. Hal ini sesuai dengan sifat keperiodikan unsur dalam sistem periodik. Unsur-unsur alkali yang nomor atomnya terkecil dibanding unsur lain yang seperiode. Gaya tarik intinya paling lemah dan untuk mencapai susunan elektron gas mulia cukup melepaskan 1 elektron valensinya. Dalam golongan unsur-unsur alkali makin ke bawah makin kuat sifat logamnya. Hal ini disebabkan karena makin lemahnya gaya tarik intinya terhadap elektron-elektronnya yang terjauh, maka makin mudah melepaskan elektronnya. Unsur-unsur yang banyak terdapat di alam adalah unsur Natrium (Na) dan Kalium (K). Sedangkan yang paling sedikit adalah unsur Fransium (Fr) yang bersifat radioaktif sehingga mudah berubah menjadi unsur lain. 1. Sifat-Sifat Unsur Alkali a. Unsur alkali adalah unsur-unsur logam putih mengkilap seperti kaca atau perak, padat tapi lunak pada suhu normal kecuali Kalium (K) dan Fransium (Fr) cair. Logam berwarna putih keperakan dengan kilap logam yang khas. Tapi, permukaan yang baru diiris segera menjadi buram karena bereaksi dengan udara.

103

b. Unsur-unsur alkali dapat bereaksi dengan air pada suhu biasa membentuk basa dan gas hidrogen yang disertai pembebasab banyak energi. Reaksinya: 2M + 2H2 ⇒ 2MOH + H2 − Natrium dan Kalium mengapung di atas air, karena massa jenis logam lebih kecil daripada air. − Reaksi antara Natrium dan Kalium dengan air bersifat eksoterm. Kalor reaksinya menyebabkan logam Kalium dan Natrium yang belum bereaksi mencair. Hal itu juga bahwa titik air logam itu bersifat relatif rendah. − Reaksi Natrium dan Kalium dengan air membentuk basa dan hidrogen. c. Unsur-unsur alkali bervalensi 1 dalam semua senyawa.
d. Basa yang berasal dari logam alkali adalah basa kuat. Semakin

bertambah atomnya, makin kuat sifat kebebasannya. e. Logam-logam alkali bersifat reduktor kuat, makin ke bawah makin kuat reduktornya. f. Dengan unsur-unsur elektronegatif membentuk senyawa ionik dan dengan asam membentuk garam. g. Merupakan unsur yang sangat reaktif.
2. Sifat-sifat kimia atau reaksi-reaksi logam alkali juga sangat bersamaan.

Berikut hasil-hasil reaksi logam alkali:
a. Reaksi dengan air. Telah disebutkan bahwa logam alkali bereaksi

dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. 2L + 2H2O ⇒ 2LOH + H2 (L= logam alkali). b. Reaksi dengan Hidrogen. Logam alkali dengan Hidrogen membentuk vindna, suatu senyawa ion yang hidrogennya mempunyai biloks-1. c. Reaksi dengan Oksigen. Logam alkali dalam Oksigen membentuk oksida, perioksida, atau superoksida. Dari Litium ke Cesium, daya ikat terhadap Oksigen meningkat. Litium membentuk oksida biasa. Suatu

104

senyawa ion yang mengandung ion 02- (bilangan oksida= -2). Oleh karena itu sangat mudah bereaksi dengan air dan Oksigen, maka logam alkali biasanya disimpan dalam cairan yang inert seperti minyak tanah (kerosin) atau di dalam botol yang diisolasi. Walaupun demikian, permukaan logam itu sedikit demi sedikit bereaksi juga. 3. Jari-jari Atom Dari Li sampai Fr jari-jari atom semakin besar. Hal ini sesuai dengan kenaikan nomor atomnya. Dengan semakin besarnyajari-jari atom maka jarak antara inti atom dan elektron valensinya semakin besar pula. Oleh karena itu elektron valensinya makin lemah dan makin mudah melepas elektronnya. 4. Energi Ionisasi Karena dari Li sampai Fr elektron valensinya makin mudah dilepas maka energi ionisasinya semakin kecil dari Li sampai Fr. Hal ini disebabkan energi yang diperlukan untuk melepas elektron valensi semakin kurang. 5. Keelektronegatifan Unsur-unsur alkali adalah unsur-unsur elektronegatif. Dengan demikian besar keelektronegatifannya relatif rendah dibandingkan unsur lainnya. Dari Li sampai Fr keelektronegatifannya berkurang. Hal ini disebabkan jari-jarinya semakin berkurang. Unsur-unsur logam alkali tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam, melainkan terdapat dalam bentuk NaCl pada air laut juga pada garam. Na dan K adalah unsur keenam dan ketujuh paling banyak dalam kerak bumi. Kedua unsur ini sangat penting dalam kehidupan. Sedangkan unsurunsur yang lain hanya sedikit terdapat di alam.

B. Golongan IIA (Alkali Tanah) Dalam sistem periodik unsur alkali tanah terdapat pada golongan IIA, yaitu lajur di sebelah kanan golongan logam alkali. Unsur-unsur golongan ini disebut logam alkali tanah karena unsur-unsur ini bersifat alkali (basa) seperti unsur-unsur golongan IA, unsur-unsur golongan IIA (alkali tanah) yaitu: a. Berilium (Be) b. Magnesium (Mg) c. Kalsium (Ca) d. Stronsium (Sr)

105

e. Barium (Ba)
f. Radium (Ra)
Sifat-sifat um um Nomor atom Konfigurasi elektron Titik leleh (K) Titik didih (K) Jari-jari atom ( Ắ) Jari-jari ion (Ắ) Energi ionisasi I (Kj/mol) Energi ionisasi II (Kj/m ol) Elektronegativitas Poetnsial elektrode (volt) M assa jenis (g/m ol) Be 4 [He]2s2 1553 3.043 1,12 0,31 900 1800 1,57 -1,85 1,86 Mg 12 [Ne]43s2 923 1883 1,6 0,65 740 1450 1,31 -2,37 1,75 Ca 20 [Ar]4s2 1111 1713 1,97 0,99 590 1150 1 -2,87 1,55 Sr 38 [r]5s2 1041 1653 2,15 1,13 550 1060 0,95 -2,89 2,6 Ba 56 [X e]6s2 987 1913 2,22 1,35 500 970 0,89 -2,9 3,6

Seperti halnya unsur-unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tak sereaktif unsur alkali. 1. Sifat-Sifat Unsur Alkali Tanah a. Merupakan unsur-unsur logam reaktif oleh karena itu di dalam alam tak terdapat dalam keadaan bebas. b. Pada suhu biasa merupakan zat padat berwarna putih mengkilap seperti perak. c. Merupakan logam bivalen yang memiliki a elektron pada kulit terluarnya, oleh karena itu bilangan oksidasi unsur alkali tanah dalam senyawa adalah +2. d. Unsur-unsur alkali tanah sangat reaktif. e. Dapat bereaksi dengan air pada suhu biasa, membentuk basa dan Hidrogen, tetapi biasanya jauh lebih kecil dibanding logam alkali. Reaksinya:M + 2H2O ⇒ M(OH)2 + H2 f. Dapat membentuk garam dengan energi unsur elektronegatif.
g. Basa yang dari unsur-unsur alkali tanah adalah basa kuat, kecuali

Mg(OH)2. Basa lemah dan Ba(OH)2 basa atmosfer, artinya disamping dapat bereaksi dengan asam, dapat juga bereaksi dengan basa kuat, sifatnya basa logam alkali tanah makin ke bawah makin kuat.

106

2. Jari-Jari Atom Seperti pada logam alkali, dari Ba sampai Ra jari-jari atom bertambah besar sehingga kedua elektron valensinya semakin mudah dilepas. 3. Energi Ionisasi Unsur-unsur logam alkali tanah mempunyai 2 elektron valensi. Ionisasinya dapat terjadi dengan melepaskan satu elektron valensi (energi ionisasi pertama) dan kedua (energi ionisasi kedua). M ⇒ M+ + e- (ionisasi ke-1) M ⇒ M2+ + 2e- (ionisasi ke-2) Ionisaisnya dari atas ke bawah semakin kecil karena jari-jari semakin besar. 4. Keelektronegatifan Unsur-unsur alkali tanah lebih keelektronegatifan ketimbang alkali. Hal ini disebabkan jari-jari atomnya semakin besar, sehingga semakin sulit untuk mengikat elektronnya.

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat − Gelas kimia − Gunting − Hot plate

107

− Penjepit tabung − Pinset − Pipet tetes − Rak tabung reaksi − Tabung reaksi 3.1.2 Bahan − Aquades − Indikator PP − Larutan BaCl2 0,1 M − Larutan CaCl2 0,1 M − Larutan H2SO4 1 M − Larutan NaOH 1 M − Logam Kalium − Pita Magnesium 3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Kelarutan Garam Sulfat − Disiapkan 2 tabung reaksi yang bersih − Diisi masing-masing tabung dengan CaCl2 0,1 M, BaCl2 0,1 M 1 pipet. − Ditambahkan 1 ml larutan H2SO4 1 M Kedalam masing-masing tabung reaksi − Diamati endapan yang terbentuk (dibnadingkan endapan yang ada pada setiap tabung reaksi) 3.2.2 Kelarutan Garam Hidroksida − Disiapkan 2 tabung reaksi yang bersih − Diisi masing-masing tabung dengan CaCl2 0,1 M, BaCl2 0,1 M 1 pipet. − Ditambahkan 1 ml larutan NaOH 1 M Kedalam masing-masing tabung reaksi − Diamati endapan yang terbentuk (dibnadingkan endapan yang ada pada setiap tabung reaksi) 3.2.3 Reaktifitas Unsur

108

a) Reaktivitas Pita Magnesium − Disiapkan gelas kimia berisi aquades secukupnya − Dipanaskan hingga mendidih − Dimasukkan pita Mg − Diamati dan perhatikan reaksi yang terjadi(ditandai dengan adanya gelembung-gelembung gas) − Ditambahkan indikator PP − Diamati perubahan warna yang terjadi b) Reaktifitas Logam Kalium − Disiapkan gelas kimia berisi aquades secukupnya − Dimasukkan logam kalium kedalam gelas kimia − Ditambahkan indikator PP − Diamati perubahan warna yang terjadi

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan No. 1 Perlakuan Kelarutan garam sulfat a. Larutan CaCl2 + larutan − larutan bening dan tidak ada Pengamatan

109

H2SO4 - Dicampurkan larutan CaCl2 dan larutan H2SO4 di tabung reaksi. - Diamati b. Larutan BaCl2 + larutan H2SO4 - Dicampurkan larutan BaCl2 dan larutan H2SO4 di tabung reaksi. 2 - Diamati Kelarutan Garam Hidroksida a. larutan CaCl2 + larutan NaOH Dicampurkan di tabung reaksi. - Diamati b. Larutan BaCl2 + larutan NaOH - Dicampurkan larutan BaCl2 dan larutan NaOH di tabung reaksi 3 - Diamati Reaktifitas unsur larutan CaCl2 dan larutan NaOH

endapan di dalamnya.

− larutan

yang

tercampur

menjadi putih dan mengeruh serta terdapat endapan di dasar tabung reaksi.

− Larutan

yang

tercampur

menjadi putih dan mengeruh serta terdapat banyak endapan di dasar tabung reaksi.

− Larutan

yang

tercampur

menjadi putih dan mengeruh serta terdapat sedikit endapan di dasar tabung reaksi.

a. Pita Mg + 2 ml H2O + − reaksi indikator pp Dipanaskan campuran antara Mg dan H2O - Ditambah indikator pp

berlangsung

sangat muncul

lambat sehingga perlu adanya pemanasan, gelembung pada pita Mg, larutan berwarna bening.

110

− larutan mengalami perubahan warna karena bersifat basa. Warna yang terbentuk warna merah b. Logam K + 2 ml H2O + indikator pp - Dicampurkan logam K dan − reaksi yang terjadi secara H2O di dalam gelas kimia. - Ditambahkan indikator pp spontan gelembung ketika dan pada kalium terdapat larutan dimasukkan alkali. lembayung, karena termasuk basa lemah dari

muncul letupan-letupan kecil. − larutan mengalami perubahan warna kuat. 4.2 Reaksi 4.2.1 Reaksi Kelarutan Garam Sulfat BaCl2 + H2SO4 → BaSO4 + 2HCl CaCl2 + H2SO4 → CaSO4 + 2HCl BaCl2 + 2KOH → Ba(OH)2 + 2KCl CaCl2 + 2KOH → Ca(OH)2 + 2KCl menjadi merah lembayung dan bersifat basa

4.2.2 Reaksi Kelarutan Garam Hidroksida -

4.2.3 Reaksi Reaktivitas Unsur − Mg + 2H2O → Mg(OH)2 + H2 − Mg(OH)2 + Indikator PP

111

- 2 K +2H2O → 2KOH +H2 KOH + PP

4.3 Pembahasan Logam alkali (golongan IA) merupakan unsure yang sangat reaktif dan mudah membentuk ion positif. Selain disebabkan oleh jumlah electron valensi yang sedikit dan ukuran jari-jari atom yang besar, sifat ini juga disebabkan

112

oleh harga ionisasimnya lebih kecil dibandingkan unsure logam golongan lain. Kereaktifan logam alkali dibuktikan dengan kemudahannya bereaksi dengan air, unsure-unsur halogen, hydrogen oksigen dan belerang, kereaktifan ini dipengaruhi oleh electron valensi dari unsure-unsur dan energi ionisasinya. Logam alkali tanah (golongan IIA) bersifat pereduksi kuat. Semakin kebawah, sifat pereduksi ini semakin kuat. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan bereaksi dengan air yang semakin meningkat dari berilium ke barium. Selain dengan air, unsur logam alkali tanah juga dapat bereaksi dengan gas oksigen, hidrogen, nitrogen. Senyawa logam alkali tanah kelarutannya meningkat dari berilium ke barium. Sifat fisik logam alkali, memiliki titik leleh dan titik didih di atas suhu ruangan(25oC). Semua unsur logam alkali berwujud padat pada suhu ruangan khusus sesium, jika suhu lingkungan pada saat pengukuran melebihi 28oC, unsur alkali berwujud cair. Sifat fisik logam alkali tanah berwujud padat pada suhu ruangan, kerapatan logam alkali tanah lebih besar dari kerapatan logam alkali sehingga logam alkali tanah bersifat lebih keras dari logam alkali. Apabila kita membandingkan kereaktifan antara golongan IA dan golongan IIA, maka akan diperoleh bahwa golongan IA yang lebih reaktif. Hal ini dikarenakan pada golongan IA memiliki jari-jari atom yang lebih besar dibandingkan dengan golongan IIA, selain itu, karena golongan Ia melepas elektron relatif lebih sedikit, sehingga daya reaktifnya semakin kuat, sednagkan golongan IIA melepas dua elektron valensinya. Karena memiliki kereaktifan yang kuat, maka tanpa dipanaskan logam kalium juga dapat bereaksi. Fungsi ditetesi indikator PP yaitu untuk melihat perubahan warna larutan basa yang terbentuk mengindikasikan tingkat kebasaan larutan tersebut. Dimana fungsi indikator PP sendiri adalah untuk mengidentifikasi ion OH- pada larutan. Jika semakin tua larutan, maka semakin kuat tingkat kebasaan larutan tersebut. Dalam larutan garam sulfat golongan IIA memiliki sifat kelarutan yang kecil dimana kelarutan garam sulfat dari atas ke bawah dalam satu golongan

113

semakin kecil. Sebaliknya pada larutan garam hidroksida golongan IA memiliki sifat kelarutan garam yang besar, dimana semakin kebawah dalam satu golongan maka akan semakin besar. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pada percobaan kelarutan garam sulfat, apabila BaCl2 ditambahkan H2SO4 didapatkan endapan yang banyak berwarna putih susu pekat, dan apabila CaCl2 ditambahkan H2SO4 didapatkan endapat yang sedikit berwarna putih susu. Hal ini dikarenakan semakin kecil endapan, maka semakin besar kelarutan garam tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa garam sulfat dalam satu golongan semakin kebawah kelarutannya semakin kecil. Garam sulfat adalah hasil reaksi dari asam sulfat dengan larutan basa. Percobaan kelarutan garam hidroksida, apabila BaCl2 ditambah NaOH dihasilkan endapan yang sedikit dan berwarna putih yang membentuk larutan koloid, dan apabila CaCl2 ditambahkan NaOH didapatkan endapan yang banyak berwarna putih susu yang membentuk larutan koloid. Jadi hasil kelarutannya, semakin besar dari atas kebawah dalam satu golongan, garam hidroksida adalah hasil reaksi dari natrium hidroksida dengan suatu asam lemah. Ksp adalah hasil kali kelarutan dalam suatu senyawa. Ksp garam sulfat golongan IIA yaitu CaSO4 9,1x10-6, SrSO4 7,6x 10-1, BaSO4 1,1x10-10. Ksp garam hidroksida golongan IIA yaitu Be(OH)2 2x10-18,Mg(OH)2 1,8x10-11 Ca(OH)2 5,5x10-6, Sr(OH)2 3,2x10 -4 dan Ba(OH)2 5x10 -3. Percobaan reaktivitas unsur dadapatkan bahwa apabila logam kalium ditambahkan aquades serta indikator PP menghasilkan warna merah lembayung muda , dan pita magnesium ditambahkan aquades yang sudah dipanaskan seta diberi indikator PP mengkasilkan warna merah lembayung tua, jadi dapat dinyatakan bahwa reaksi logam kalium tingkat kebasaannyalemah sedangkan reaksi pita magnesium tingkat kebasaannya kuat. Karena semakin tua warna larutan, maka tingkat kebasaan larutan tersebut akan semakin besar. Dalam melakukan percobaan sifat-sifat unsur terdapat beberapa kesalahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

114

− Saat melakukan percobaan, praktikan tidak menggunakan alat pengaman, sehingga saat mencampurkan unsur kurang ketelitian dikarenakan takut terkena larutan tersebut. − Reaksi pita magnesium dengan aquades yang telah dipanaskan tidak terjadi reaksi secara optimal, karena pita magnesium terlalu cepat didicampurkan ke aquades sebelum aquades tersebut mendidih, hal itu dapat mempengaruhi hasil kali kelarutan tersebut. − Saat mengambil logam kalium tidak menggunakan pinset, sehingga terdapat kesusahan dalam mencampurkan kedalam aquades.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan

115

− Kereaktifan untuk unsure logam alkali dan alkali tanah semua sama, yaitu kereaktifan dari unsure-unsurnya bertambah dari atas ke bawah dan pada dasarnya kereaktifan lagam alkali dan alkali tanah berkaitan dengan energi ionisasinya yang rendah, sehingga mudah melepaskan electron − Kelarutan garam sulfat dalam satu golongan dari atas ke bawah semakin kecil, sedangkan kelarutan garam hidroksida, dalam satu golongan dari atas kebawah semakin besar. − Sifat unsure golongan alkali yaitu: konfigurasi electron valensi adalah ns1, energi ionisasi relative rendah, serta dalam satu golongan energi ionisasi, titik didih dan titik leleh, dari ats ke bawah semakin kecil. Sedangkan sifat unsure golongan alkali tanah yaitu: jari-jari atom lebih kecil dari golongan alkali, merupakan logam yang lunak dan dapat menghantarkan listrik dan panas yang baik serta konfigurasi electron valensinya ns2. 5.2 Saran Percobaan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya terbatas pada BaCl2 dan CaCl2 tetapi unsure yang lain juga agar lebih banyak perbandingan, seperti MgCl2 dan SrCl2.

DAFTAR PUSTAKA
Brady, James. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Binarupa Aksara

116

Petrucci, Ralph, H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga Suhartono. 1983. Ilmu Kimia. Yogyakarta: Gadjah Mada

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful