POLA PENDIDIKAN ANAK DARI KELUARGA MISKIN

(Kasus Keluarga Miskin Pada Keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja -Kendal)

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh, Nama NIM Jurusan : Haniatul Masruroh : 1214000012 : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

1

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakan tiga hari kemudian. (Abdullah Ibnu Mubarak) Jangan pernah menganggap diri besar karena sejatinya kita kecil, dan jangan menganggap diri kita kecil karena kita sejatinya besar. Semangat !!!!!

PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk : Diriku sendiri. Pak Aji dan Bu Ella. Ayahanda Supriyadi dan Almh. Mamaku Siti Zumaroh serta Ibunda Rohmah Fatimah. Kakak-kakakku: Mbak Ufat, Mbak Anik dan Mas Umar. Adik-adikku: Johan, Arip, Bagus, Ari dan Taufik. Orang yang kucintai dan terkasih. Rinda, Desti, Rima, Uswah, Indri, Nova dan seluruh teman-teman yang ada di Wisma Putri Sederhana I. Uda, Kamal dan seluruh kawan-kawan PLS Angkatan 2000. Tanpa mereka , Aku dan karya ini takkan pernah ada

2

PRAKATA
Alhamdulillahirobbil’aalamiin, segala puji serta syukur yang terlimpah hanyalah untuk Allah S.W.T yang telah memberikan segala nikmat dan kasih sayang-Nya sehingga akhirnya skripsi yang penulis buat ini dapat terselesaikan. Tiada kemudahan yang datang selain karena izin-Nya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Qudwah sepanjang zaman, Rosulullah S.A.W beserta para keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada setiap masa untuk menyebarkan segala ajarannya. Skripsi yang berjudul “Pola Pendidikan Anak dari Keluarga Miskin” ini berisi tentang penelitian mengenai pola dari orang tua yang berlatar belakang ekonomi miskin dalam memberikan pendidikan anak dalam keluarga. Penulis menyadari bahwa selama proses pembuatan skripsi ini, banyak sekali pihak-pihak yang telah membantu penulis. Oleh karena itu, tidak lupa dalam kesempatan yang baik ini penulis ingin mengucapkan terima kasih untuk berbagai pihak, yaitu : 1. Dr. H. A. T. Soegito, SH, M.M, Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto M.Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Achmad Rifai,M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Fakhrudin Mpd, selaku dosen pembimbing I yang telah begitu sabar dan telaten selama membimbing pembuatan skripsi ini.

3

5. Dra. Emmy Budiartati, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah begitu sabar dan telaten selama membimbing pembuatan skripsi ini. 6. HM. Siswoyo ,SH ,M.KN selaku Kepala Desa Meteseh yang telah

mengizinkan peneliti untuk meneliti di daerah Meteseh. 7. Keluarga informan atas waktu kebersamaannya dan pembelajaran tentang realita hidup. 8. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu penulisan skripsi. Semoga apa yang telah kalian berikan digantikan oleh Allah dengan ganti yang lebih baik dan lebih berlipat ganda. Yang pada gilirannya nanti penulis yakin akan dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca dan mengkaji skripsi ini.

Semarang, …..2005 Penulis

4

SARI
Masruroh, Haniatul.2005. Pola Pendidikan Anak Dari Keluarga Miskin (Studi Kasus Keluarga Miskin Pada Keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja-Kendal). Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Fakultas Negeri Semarang. Pembimbing: I.Drs.Fakhrudin, M.Pd, II. Dra. Emmy Budiartati, M.Pd. Kata Kunci: Pola Pendidikan Anak, Keluarga Miskin Pendidikan adalah sebagai sebuah usaha sadar dari pendidik kepada peserta didik yang melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah terciptanya pribadi yang dewasa –susila merupakan sesuatu yang berhubungan langsung dengan pembangunan sumber daya manusia. Perlunya sumber daya manusia yang handal tentunya memerlukan sarana pembentukan yang baik dan lingkungan pendidikan yang pertama kali diterima setiap individu adalah lingkungan keluarga. Dalam hal ini, proses pendidikan keluarga adalah sangat penting karena dari keluarga dibekali pengetahuan, sikap, mental dan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan ketrampilan agar dapat mengembangkan dirinya sendiri dan menjadi keluarga yang sejahtera dan bahagia. Pola pendidikan anak dalam keluarga ditandai dengan interaksi secara terus menerus antara orang tua dengan anak-anaknya. Interaksi ini ditujukan agar anaknya dapat diasuh hingga tumbuh kembang secara sempurna. Dengan pola pendidikan ini akan terlihat cara orang tua dalam merawat anak, mendidik anak sampai dewasa, baik untuk tujuan pengembangan jasmani atau rohani. Berdasarkan hal tersebut diatas, penelitian ini merupaka salah satu upaya untuk mengidentifikasi sebuah keluarga dengan latar belakang miskin yaitu pada keluarga Pak UI dengan masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu a) Bagaimanakah pola pendidikan anak yang diterapkan keluarga Pak UI, b) Faktorfaktor apa yang mempengaruhi keluarga Pak UI menerapkan pola pendidikan terhadap anak-anakya. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang halhal yang berkaitan dengan pola pendidikan keluarga miskin pada keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan mempertimbangkan gejala yang diteliti bersifat apa adanya , buka holistik. Tipe atau jenis penelitian ialah studi diskriptif dan menggunakan metode studi kasus yang berupaya untuk menelaah suatu kasus secara mendalam, intensif, mendetail dan komprehensif. Hasil penelitian ini adalah bahwa keluarga Pak UI yang mempunyai latar belakang miskin yaitu menerapkan pola pendidikan secara demokratis dan permissive dalam mendidik anak-anaknya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga Pak UI menerapkan dua pola tersebut yaitu a) faktor pengalaman pribadi orang tua sebagai pendidik, b) faktor curah waktu, c)faktor lingkungan masyarakat, dan d) faktor informasi dari media.

5

Saran yang disampaikan yaitu kepada Pak UI dan Ibu S untuk meningkatkan perhatian kepada anak-anaknya terutama dalam akhlaq dan budi pekerti.; memberikan saran kepada anaknya yang sudah selesai dari jenjang SLTP agar mengukuti Kejar Paket C untuk menambah pengetahuan atau disarankan untuk bekerja untuk kesejahteraan hidupnya sehingga tidak tergantung dengan orang tuanya; tidak memberikan kebebasan tanpa aturan terhadap anaknya yang drop out tetapi lebih meningkatkan dalam hal perhatian dan arahan demi masa depannya; memperhatikan waktu belajar dan memotivasi untuk menjadi anak yang berprestasi terhadap anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Kepada peneliti lain dengan penelitian yang sejenis, diharapkan hasil dari penelitian ini sebagai dasar untuk penelitian lanjutan.

6

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................................ iii PERNYATAAN ................................................................................................ iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... v PRAKATA ......................................................................................................... vi SARI ................................................................................................................... viii DAFTAR ISI ...................................................................................................... x DAFTAR TABEL .............................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................. 7 C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 8 D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan ............................................................................................ B. Pola-Pola Pendidikan ............................................................................ C. Keluarga ................................................................................................ D. Kemiskinan ........................................................................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Teknik Pemilihan Informan .................................................................. B. Lokasi Penelitian ................................................................................... C. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... D. Prosedur Pengumpulan Data ................................................................. E. Analisis Data dan Interpretasi ............................................................... F. Pengecekan Keabsahan Data ................................................................. BAB IV HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN A.Kondisi Demografis Desa Meteseh ........................................................ 1. Kondisi Geografis ....................................................................... 2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin ........................... 3. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian .................... 4 Fasilitas Pendidikan .................................................................... 5. Komposisi Penduduk Menurut Agama ....................................... 6. Fasilitas Sarana Peribadatan ....................................................... 7. Fasilitas Kesehatan ..................................................................... B.Deskripsi Hasil Penelitian ....................................................................... 1.Profil Keluarga Informan ............................................................

10 17 23 30

41 42 44 47 50 53

57 57 58 58 60 60 61 62 62 62

7

2. Pendidikan yang Diterapkan Oleh Keluarga Informan...............

71

C.Analisis Hasil Penelitian ......................................................................... 81 1. Pola Pendidikan Anak yang Diterapkan Oleh Keluarga Pak UI . 82 2.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Pendidikan Anak ........ 83 BAB V PENUTUP A. Simpulan ................................................................................................ 88 B. Saran........................................................................................................ 90 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 92 LAMPIRAN........................................................................................................ 93

BAB I

8

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia yang sampai saat ini masih terus berupaya melanjutkan usaha pembangunan di segala bidang. Sebagai salah satu negara yang baru-baru ini mengalami guncangan hebat akibat krisis ekonomi yang berakhir pada krisis multi dimensional, Indonesia masih harus banyak mengkonsentrasikan dirinya pada permasalahan pembangunan di berbagai bidang secara terencana dan bersungguh-sungguh. Pembangunan nasional bertujuan untuk mencapai tingkat

kesejahteraan yang lebih baik dari dari suatu masyarakat dengan memenuhi berbagai kebutuhan anggota masyarakat, baik kebutuhan material maupun spiritual yang kemudian akan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Daoed Joesoef dalam sebuah artikel yang berjudul Dua Pendekatan dalam Mempolakan Pendidikan menuliskan bahwa suatu pembangunan nasional tidak hanya tergantung pada sumber-sumber dan kekayaan alam yang terkandung oleh bangsa yang bersangkutan,antara daratan dan lautan suatu negara dengan pendapatan perkapita yang dimiliki rakyatnya, terdapat suatu variabel penting yang menghubungkan keduanya, variabel tersebut adalah pendidikan ( Daoed Joesof dalam bukunya Sindhunata 2001:15 ). Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Schumacher, bahwa pembangunan tidak dimulai dengan barang tetapi dimulai dengan manusianya,

9

pendidikannya, organisasinya serta disiplinnya ( E. F. Schumacher, Kecil Itu Indah, 1979 : 3 ). Manusialah yang pada akhirnya menentukan karakter dan langkah ekonomi dan sosialnya, bukan modal dan bukan pula sumber-sumber materialnya. Jelaslah bahwa faktor sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting bagi keberhasilan pembangunan suatu negara. Dalam hubungannya dengan pernyataan diatas tidaklah mengherankan jika pembangunan sumber daya manusia kemudian menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh seluruh lapisan bangsa, karena bagaimanapun juga pendidikan merupakan sarana penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Adapun maksud dari pembangunan sumber daya manusia itu ada 2 hal, yang pertama adalah meningkatkan ketrampilan dan kemampuan manusia dalam melakukan kegiatan di masyarakat dan yang kedua adalah untuk peningkatan taraf hidup. ( Priyono Tjiptoherijanto, 1982 : 73 ). Pendidikan yang dimengerti secara luas dan umum sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah terciptanya pribadi yang dewasa-susila merupakan sesuatu yang berhubungan langsung dengan pembangunan sumber daya manusia suatu negara. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1, bahwa Satuan Pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan

10

dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan Nonformal adalah adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan peserta didik berlangsung sepanjang hayat. Dalam pelaksanaannya, pendidikan anak dalam keluarga mempunyai peran menentukan bagi pencapaian mutu sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan melalui pendidikan keluarga individu pertama kali mempelajari dan mengenal sistem nilai budaya yang berwujud aturan-aturan khusus, norma, kebiasaan dan teladan dari masyarakat lain. Setiap anak berada dalam suatu proses perkembangan. Perkembangan anak tersebut berjalan secar kontinu (terus menerus), unik (komplek dan sifat khas) serta dinamis (berubah menyempurnakan diri). Perkembangan seorang anak juga membutuhkan keserasian dengan perkembangan anak lain serta lingkungan. Namun adakalanya perkembangan seorang anak berjalan secara lamban bahkan mengalami hambatan sehingga anak tidak akan berkembang secara optimal untuk membantu mengatasi kelambanan dan hambatan. Hambatan yang dihadapi anak serta agar anak mencapai pembangunan yang optimal maka dibutuhkan pola pendidikan yang tepat. Keluarga tidak terbatas hanya berfungsi sebagai penerus keturunan. Namun keluarga merupakan tempat peletak landasan dalam membentuk sosialisasi anak dan dalam bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber

11

pendidikan utama karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri. Proses dan hasil pendidikan keluarga akan sangat bermakna bagi pencapaian mutu pendidikan pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dalam penyelenggaraan pendidikan keluarga tidak sekedar berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab dalam meletakkan landasan dan arah serta pola-pola kehidupan anak, sehingga keluarga khususnya orang tua harus memiliki wawasan, sikap dan kemampuan analisis pasif yang memadai dalam menyelenggarakan pendidikan prasekolah di keluarga. Sebagai salah satu komponen pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan pendidikan keluarga yaitu orang tua harus dapat menciptakan suasana yang mendukung anak melakukan aktivitas belajar. Tujuan diselenggarakan pendidikan keluarga adalah membekali pengetahuan, sikap, mental dan ketrampilan produktif bagi penanggung jawab keluarga dalam menanamkan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan ketrampilan agar dapat mengembangkan dirinya sendiri dan menjadi keluarga yang sejahtera dan bahagia. Keluarga merupakan tempat peletak landasan dalam membentuk sosialisasi anak, sehubungan dengan hal itu Vembrianto (dalam bukunya Supartinah, 1981: 45) menyatakan sebagai berikut : Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis perkembangan lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam suasana otoriter, memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus

12

ditakuti dan bersifat magis. Ini mungkin menimbulkan sifat tunduk pada kekuasaan atau justru sikap menentang kekuasaan. Pemahaman terhadap sistem nilai budaya ini selanjutnya tidak akan dijadikan sebagai acuan atau rujukan oleh individu untuk berfikir dan bertindak dalam rangka mencapai tujuan kehidupannya, termasuk di dalam menjalani atau menempuh pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, proses dan hasil pendidikan keluarga tidak sekedar berperan sebagai pelaksana yang bersifat rutin dan alamiah, melainkan berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab dalam meletakkan landasan, memberikan bobot dan arah serta pola-pola kehidupan anak. Implikasinya, keluarga (orang tua) mesti memiliki wawasan, sikap dan kemampuan yang memadai dalam

menyelenggarakan pendidikan pra-sekolah di keluarga. Keluarga miskin yang pada dasarnya merujuk pada suatu keluarga yang kekurangan harta benda materi untuk pemenuhan kebutuhan dalam rangka mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan hidup, suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Tingkat kesejahteraan hidup yang rendah ini dapat secara langsung tampak pengaruhnya terhadap :(1) tingkat pemenuhan kebutuhan primer seperti kesehatan , makanan yang dikonsumsi, pakaian yang disandang, kondisi rumah yang dihuni dan kondisi pemukiman tempat tinggal; (2) tingkat atau bentuk pemenuhan kebutuhan sekunder untuk mengembangkan diri dalam kehidupan sosial yang lebih luas, yang mampu memperjuangkan kepentingan

13

sesama orang miskin utnuk meningkatkan kesejahteraan mereka, dan ; (3) secara tidak langsung tampak dalam kehidupan moral, etika, dan estetika, yang digunakan oleh mereka yang hidup dalam kondisi miskin sebagai pedoman hidup, harapan dan harga diri yang mereka mempunyai sebagaimana tercermin dalam sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka (Tjetjep Rohendi Rohidi 2000: 25 ) Dalam kategori hubungan dengan masyarakat yang lebih luas, tampak bahwa pada umumnya orang miskin tidak atau kurang mempunyai konsepkonsep atau tradisi-tradisi yang menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian integral dari pranata-pranata sosial yang lebih luas. Pada tingkat keluarga tampak bahwa keluarga orang miskin terwujud sebagai suatu struktur parsial, yang di dalamnya terdapat kecenderungan anak-anak cepat menjadi dewasa karena beban ekonomi, kerapuhan keluarga, serta ciri-ciri rumah tangganya yang menunjukkan kepadatan yang tinggi dan tiadanya ruang pribadi. Dan pada tingkat individu tampak adanya perasaan tidak berdaya, rasa rendah diri, orientasi pada kekinian, serta ketergantungan sesuatu dari luar termasuk bantuan gaib dan jimat-jimat. Pada kehidupan keluarga yang masih kekurangan biarpun bekerja keras, kenyataan mereka tetap berada dalam kondisi masih serba kekurangan tersebut memaksa anak-anak mereka pada umur yang sangat muda harus berfikir bahwa yang penting ialah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, yakni pangan, sandang dan papan. Anak-anak dalam umur yang sangat muda sudah harus bekerja mencari nafkah, suatu hal yang semestinya

14

dilakukan oleh orang dewasa. Seiring dengan kondisi tersebut, perlu dilakukan pemikiran dan upaya sistemik dan menyeluruh terhadap pengelolaan pendidikan dalam keluarga, khususnya bagi keluarga yang berada pada komunitas kurang mampu di pedesaan. Tujuan diselenggarakan pendidikan keluarga adalah membekali pengetahuan, sikap mental dan ketrampilan produktif bagi penanggung jawab keluarga dalam menanamkan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan ketrampilan agar dapat mengembangkan dirinya sendiri dan keluarga yang sejahtera dan bahagia. Berdasarkan pengamatan dilapangan dijumpai masih kurangnya warga masyarakat dalam perhatian pendidikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : (a) masih rendahnya keadaan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat umumnya, (b) faktor pendidikan warga masyarakat yang rendah, (c) faktor lingkungan yang kurang mendukung.

15

B.

Rumusan Masalah Pola pendidikan dalam keluarga pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai masalah, yang akan ditimbulkan keluarga terutama yang bertanggung jawab orang tua. Sikap dari orang tua yang cenderung mendukung, orang tua akan memperhatikan pendidikan anak-anaknya, bahkan sampai pada perkembangan selanjutnya baik dalam bidang akademis dan bidang sosial. Bagi orang tua yang bersikap cenderung kurang mendukung, orang tua bersikap tidak tahu menahu tentang bagaimana keadaan anaknya dalam pendidikan, semua hanya terserah saja. Kemiskinan atau kondisi miskin dari susut pandang biologis merupakan keluarga yang keseluruhan pendapatannya tidak cukup untuk memperoleh keperluan-keperluan minimum untuk mempertahankan efisiensi fisik angota-anggota keluarganya secara layak. Keadaan tersebut menciptakan keluarga miskin memiliki pola-pola tertentu dalam kehidupannya salah

satunya yaitu dalam hal pendidikan keluarga oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Kondisi semacam ini mendorong penulis untuk meneliti sebuah keluarga miskin di Desa Meteseh Kecamatan Boja. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat mengidentifikasi

permasalahannya sebagai berikut : 1. Bagaimanakah pola pendidikan anak yang diterapkan oleh keluarga miskin pada keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja-Kendal ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pola pendidikan anak yang diterapkan keluarga miskin pada keluarga Pak UI di Desa Meteseh

Kecamatan Boja –Kendal ?

16

C. Penegasan Istilah Untuk memudahkan dan menghindari salah pengertian dalam memberikan interpretasi tentang hal-hal yang ada dalam skripsi, peneliti memberikan batasan istilah-istilah sebagai berikut :

1. Pola Pendidikan Anak Pola pendidikan anak yaitu suatu wujud, tipe, sifat yang dikenakan kepada anak oleh orang tua dalam kegiatan mendidik, membimbing, mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. 2. Keluarga Miskin Bahwa rumah tangga yang tergolong tidak cukup dalam hal penghasilan diukur dengan ukuran senilai (ekuivalen jual- beli) beras buka rupiah tanpa perlu membuat perhitungan pengaruh inflansi dan perbedaan harga pangan di beragam daerah. Hal ini terlihat dari hasil laporan kasus desa Sriharjo (Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta) bahwa ukuran tingkat penghasilan “cukup” yang diambil serendah 20 kg ekuivalen beras per orang sebulan (penghasilan Rp 10.000,00 bagi keluarga sebesar 5 orang, jika harga beras Rp 100,00 per kg). (Sajogyo dan Pujiwati Sajogyo, 1989:217)

D.Tujuan Penelitian 1. Mendiskripsikan pola pendidikan yang diterapkan oleh keluarga miskin pada keluarga Pak UI di Desa Meteseh Kecamatan Boja-Kendal.

17

2. Mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pola pendidikan anak yang diterapkan di keluarga miskin di Desa Meteseh Kecamatan BojaKendal.

E. Manfaat Penelitian Penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut : 1. Secara toritis diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan untuk mengembangkan Fakultas Ilmu Pendidikan terutama jurusan Pendidikan Luar Sekolah khususnya di bidang pendidikan anak dalam keluarga. 2. Secara praktis diharapkan memberikan informasi bagi pakar-pakar pendidikan untuk memperdalam penelitian khususnya pendidikan keluarga miskin.

18

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.

Pendidikan Pendidikan dipahami sebagai suatu sosialisasi karena didalamnya ada tujuan untuk meneruskan kebudayaan dengan beberapa perubahan dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda, melalui interaksi sosoial. Menurut Emile Durkheim pendidikan adalah suatu pelatihan terlatih dari orang dewasa kepada generasi yang belum siap untuk kehidupan sosial yang tujuannya adalah meningkatkan dan mengembangkan pada diri sang anak sejumlah keadaan fisik, intelektual dan moral yang diperlukan baik oleh keseluruhan komunitasnya atau sebagian saja (Vivin Alvian, 2002: 26) Pendidikan dalam arti luas adalah proses pembudayaan, dimana masing-masing anak yang dilahirkan dengan potensi belajar yang lebih besar dari makhluk menyusui lainnya, dibentuk menjadi anggota penuh dari suatu

19

masyarakat, menghayati dan mengamalkan bersama-sama anggota lainnya suatu kebudayaan di dalamnya termasuk ketrampilan, pengetahuan, sikapsikap dan nilai-nilai serta pola-pola perilaku tertentu. Pendidikan juga dinyatakan sebagai “the transmision of culture” (Lukas and Cookriel, 1988: 352). Pendidikan di Indonesia menganut konsep pendidikan seumur hidup, yang bertolak dari suatu pandangan bahwa pendidikan adalah unsur esensial sepanjang umur seseorang. Pada hakekatnya pendidikan adalah suatu proses kehidupan masa kini dan sekaligus adalah proses untuk persiapan bagi kehidupan yang akan datang. Lingkungan pendidikan adalah lingkungan atau keadaan, kondisi tempat yang ada disekitar peserta didik yang mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan. Lingkungan pendidikan secara umum dibagi menjadi tiga macam yaitu lingkungan pendidikan keluarga, lingkungan pendidikan sekolah dan lingkungan pendidikan masyarakat. Ketiga lingkungan pendidikan itu mempunyai peranan yang besar dalam proses pertumbuhan dan

perkembangan anak menuju terbentuknya kepribadian anak. 1. Lingkungan pendidikan keluarga Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Dikatakan pertama karena sejak anak masih ada dalam

kandungan dan lahir berada dalam keluarga. Dikatakan utama karena keluarga merupakan yang sangat penting dalam proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang utuh. Semua aspek kepribadian dapat dibentuk di

20

lingkungan ini. Pendidik yang bertanggung jawab pada lingkungan keluarga adalah orangtua. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang berhubungan dengan perasaan dapat dibentuk di dalam keluarga. Misalnya menanamkan rasa disiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, bersahaja, bersemangat, bersyukur, bertanggung jawab,

bertenggang rasa, cermat, gigih, hemat, jujur, kreatif, mandiri, mawas diri, pemaaf, pemurah, pengendalian diri, rajin, ramah tamah, kasih sayang, percaya diri, rendah hati, sabar, setia, adil, rasa hormat, tertib, sopan santun, sportif, susila, tegas, teguh, tekun, tepat janji, terbuka dan ulet (Edi Setyawan, dalam bukunya Soelaiman Joesoef, 1992: 75). Semua sifat dan sikap diatas dapat ditanamkan dihati anak, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kematangan, kecerdasan, umur anak, dan tingkat perkembangan anak sehingga tidak ada unsur paksaan. Mengingat adanya ketentuan ini orang tua perlu mengetahui keadaan anak pada setiap memberikan pengaruh. Sebagai pendidik dalam pendidikan keluarga, maka orang tua harus meninjau apa yang menjadi sifat umum, fungsi dan sifat khusus dari pendidikan keluarga. a. Sifat-sifat umum pendidikan keluarga Yaitu sifat keluarga sebagai lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dalam proses pendidikan . Sifat-sifat tersebut meliputi: a) Lembaga pendidikan tertua

21

Ditinjau dari sejarah perkembangan pendidikan maka pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling tua terutama pendidikan lahir (sejak adanya manusia), orang tua yaitu ayah serta ibu sebagai pendidiknya dan anak sebagi terdidiknya. b) Lembaga pendidikan informal Yaitu lembaga pendidikan yang tidak terorganisasi, tidak mengenal perjenjangan kronologis atas dasar usia merupakan pengetahuan/ keterampilan atau dengan kata lain tidak adanya kurikulum dan daftar jam pelajaran yang tertulis secara resmi dalam bentuk yang tertentu dan jelas. c) Lembaga pendidikan pertama dan utama Dalam keluargalah, pertama anak memperoleh pendidikan sejak dia dilahirkan dan pendidikan keluarga pula yang merupakan pembentuk dasar kepribadian anak. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting, oleh karena sejak timbulnya adat kemanusiaan hingga kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti tiap-tiap manusia. d) Bersifat kodrat Pendidikan keluarga bersifat kodrat karena terdapatnya hubungan antara pendidik dan anak didiknya. b. Fungsi pendidikan keluarga Fungsi-fungsi pendidikan keluarga yang penting yaitu : a) Pengalaman pertama masa kanak-kanak

22

Dalam pendidikan keluarga, anak memperoleh pengalaman pertama yang merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak-anak selanjutnya dan menurut penelitian para ahli , pengalaman pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan individu dalam hidupnya. b) Menjamin kehidupan emosional anak Dalam pendidikan keluarga maka kehidupan emosional atau kebutuhan rasa kasih sayang seorang anak dapat menjamin dengan baik. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan darah antara pendidik dan anak didik, karena orang tua hanya mengahadapi sedikit anak didik dan karena hubungan atas kasih sayangnya yang murni. c) Menanamkan dasar pendidikan moral Dalam pendidikan keluarga, maka pendidikan ini selanjutnya mengarah kepada pendidikan moral anak-anak karena di dalam keluarga tertanam dasar-dasar pendidikan moral melalui contoh-contoh yang kongret dalam kehidupan sehari-hari. d) Memberikan dasar pendidikan kesosialan Dalam kehidupan keluarga sering anak-anak harus membantu (menolong) anggota keluarga yang lain da menolong saudaranya sakit, bersama-sama menjaga ketertiban keluarga dan sebagainya. Kesemuanya memberi pendidikan pada anak, tertutama memupuk berkembangnya benihbenih kesadaran sosial pada anak-anak. e) Pendidikan keluarga dapat pula merupakan lembaga pendidikan penting untuk meletakkan dasar pendidikan agama bagi anak.

23

Seperti tampak adanya anak yang belajar mengaji pada orangtuanya atau tetangganya. c. Sifat khusus pendidikan keluarga Sifat khusus pendidikan keluarga dimaksudkan adalah beberapa hal khusus yang berhubungan si terdidik dalam lembaga pendidikan keluarga. Sifat-sifat yang dimaksud diantaranya yaitu :

(a) Sifat menggantungkan diri Anak yang baru lahir memiliki sifat serta ketergantungan pada orang tuanya, sehingga tanpa pertolongan orang tua anak tidak akan bisa berkembang dalam hidupnya atau tidak dapat melanjutkan hidupnya. (b) Anak didik kodrat Terbentuknya keluarga karena pernikahan antara ayah dan ibu, maka keluarga merupakan lembaga pendidikan yang mengikat anak secara takdir menjadi anak didik dalam pendidikan tersebut, kecuali dalam keadaan tertentu menyebabkan anak dipelihara oleh orang lain maka nilai anak didik kodrat menjadi hilang. ( Soelaiman Joesoef, 1992:74-77) 2. Lingkungan pendidikan sekolah Lingkungan pendidikan sekolah merupakan lingkungan

pendidikan yang kedua. Pada lingkungan sekolah perlu dilengkapi dengan suasana yang ideal dan kondusif.

24

Sekolah merupakan tempat yang dapat membentuk dan melatih kecerdasan intelektual serta kecerdasan emosional. Keduanya sangat penting bagi terbentuknya kepribadian. Manusia yang berkepribadian tidak cukup hanya cerdas atau pandai saja, akan tetapi juga bermoral. Sekolah membantu pendidikan moral antara lain budi pekerti disamping tugas utamanya mencerdaskan anak melalui pemberian ilmu pengetahuan dan teknologi. Dijelaskan oleh Sikun Pribadi (1981,73) bahwa dalam lingkungan pendidikan sekolah, anak dipersiapkan untuk memecahkan berbagai masalah hidup, seperti mengurus kesehatannya, mencari pekerjaan, bergaul dengan orang lain yang bukan anggota keluarga, mengurus barang-barang yang menjadi miliknya, mempertahankan diri dari berbagai ancaman dan mengenal dirinya sendiri. Berbagai contoh persiapan tersebut ditunjukkan kepada perkembangan seluruh kepribadiannya, terutama perbuatan etis sebagai orang dewasa bertanggung jawab. 3. Lingkungan pendidikan masyarakat Lingkungan pendidikan yang ketiga yaitu lingkungan pendidikan masyarakat. Pendidikan pada lingkungan masyarakat merupakan pendidikan yang lebih luas dan kompleks. R.A Santoso dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Masyarakat” menyatakan bahwa pendidikan masyarakat adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa termasuk pemuda di luar batas umur tertinggi kewajiban belajar dan dilakukan diluar lingkungan dan sistem pengajaran sekolah dasar (Sulaiman Joesoef,2000:91). Lingkungan

25

pendidikan ini memberi kesempatan yang sangat luas bagi anak dalam mengembangkan kreativitasnya. Proses pendidikan akan berhasil jika faktor pendidikan dipenuhi, jika salah satu tidak ada proses pendidikan akan berjalan pincang atau dengan kata lain bahwa faktor pendidikan harus ada semua. Adapun faktor yang dimaksud adalah : a. Peserta didik : orang atau sekelompok orang yang menjadi subyek pendidikan b. Pendidik : yang berwewenang mendidik dan mengajar c. Tujuan pendidikan : membentuk manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri dan tidak tergantung orang lain ( pendidikan teoritis ) d. Lingkungan pendidikan : suatu keadaan atau kondisi yang berada disekitar yang mempengaruhi berlangsungnya pendidikan. e. Alat pendidikan : tindakan perlakuan atau kegiatan yang digunakan untuk mendidik misalnya perlindungan , perhatian, hadiah, hukuman. Adapun yang dimaksud peneliti dalam kajian pola pendidikan anak ini adalah mengenai pendidikan anak di lingkungan keluarga, baik itu anak kandung maupun anak pungut atau anak yang berada dalam asuhan mereka.

B.

Pola-pola Pendidikan Kelakuan budaya diorganisasi dan dipolakan. Ini berarti bahwa ada keteraturan, ada pola yang tidak terwujud dengan begitu saja, di

26

lingkungan masyarakat di mana anak itu dibesarkan. Dengan perkataan lain, ada kegiatan atau kejadian-kejadian yang berlangsung berulang dan ajeg sebagai suatu kebiasaan yang merupakan proses pendewasaan anak yang diatur oleh norma-norma masyarakat setempat. Setiap anak mengalami suatu proses pengkondisian, baik yang disadari ataupun tidak disadari, di lingkungan sosial-budayanya sendiri sehingga mereka dapat memainkan peran dalam lingkungan masyarakat. Anak senantiasa mendapat kesempatan dalam kebudayaan yang didukung oleh masyarakat untuk mengembangkan kepribadian atau dalam upaya memuaskan keinginan pribadi dalam batas-batas harapan yang dimungkinkan oleh lingkungan sosialnya. Tingkah laku mereka merupakan proses

pengkondisian sejak dini yang berlangsung secara teratur di lingkungan keluarga sampai beberapa kurun waktu berikutnya di lingkungan (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:200) Pola pendidikan yaitu suatu wujud, tipe, sifat, yang dikenakan kepada anak oleh orang tua dalam kegiatan mendidik, membimbing, mendisiplinlan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumya. Menurut Prof. Dr.Soegeng Santoso, terdapat tiga pola pendidikan yaitu : 1. Pola pendidikan otoriter Yaitu suatu cara mendidik yang bersifat keras, tegas, suka menghukum dan tidak simpatik. Anak-anak cenderung dipaksa untuk patuh terhadap perintah, nilai-nilai yang dianut orang tua dan bersifat

27

mengekang, orang tua tidak mendorong untuk mandiri, termasuk dalam belajar karena semuanya ditentukan orang tua. Anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan atau berbuat sesuatu sesuai

keinginannya sehingga merasa tertekan. Tujuannya adalah agar anak menurut, disiplin, tertib, tidak melawan dan tidak banyak kemauan. Kebaikan dengan pola pendidikan otoriter yaitu sekolah atau keluarga terlihat aman, tertib, tidak ada masalah, disiplin, tenang dan anak menurut. Kelemahan, anak tidak ada kemauan untuk mencoba hal yang baru, penakut, tidak memiliki kreativitas, rendah diri. Akibat lain adalah emosinya labil, penyesuaian diri terhambat, tidak simpatik, tidak puas dan mudah curiga serta kurang bijaksana dalam pergaulan. Akibat seringnya mendapat hukuman dari orangtua dapat menyebabkan anak menjadi agresif, nakal dan sejenisnya. Menurut Stewart (1983, dalam bukunya Sutari Imam Barnadib 1986 :12) orangtua yang otoriter berciri selalu kaku, suka menghukum, tidak menunjukkan perasaan kasih sayang dan tidak simpati. Mereka selalu menilai anak-anak dari segi kepatuhan terhadap otoriter orang tuanya. Orang tua yang otoriter amat berkuasa terhadap anak dan mereka memegang kekuasaan tertinggi, maksudnya bahwa perintah-perintahnya harus ditaati oleh anak. Menurut Sutari Imam Barnadib (1986:12) mengatakan bahwa orangtua otoriter tidak memberikan hak untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan anak. Dari pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang tua yang

28

menerapkan pola pendidikan otoriter ialah orang tua yang menerapkan otoriter penuh terhadap segala aktifitas anaknya, menonjolkan kekuasaan orang tua, bersikap kaku, suka memaksakan kehendak, selalu mengatur, tanpa mengindahkan perasaan dan kemauan anaknya. Pola pendidikan otoriter ini sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak. 2. Pola pendidikan permisif Yaitu pendidikan yang lebih banyak memberikan kebebasan pada anak untuk bertindak, berbuat atau berkreasi. Baumrind (dalam bukunya Paul Hauck 1986 : 17) mengatakan bahwa orang tua yang menerapkan pola pendidikan permisif, perilaku orang tua memberi kebebasan sebanyak mungkin. Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya baik dalam belajar, bermain maupun lainnya. Anak tidak dituntut tanggungjawab, tidak banyak dikontrol, bahkan mungkin dipedulikan. Akibat yang timbul dengan penerapan pola ini adalah agresif, menentang atau tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, emosi kurang stabil,perkembangan tidak matang, penuh ketergantungan, kurang percaya diri, sulit menghargai orang lain, mudah frustasi, kurang bersahabat, selalu mengalami

kegagalan karena tidak ada bimbingannya. Selain itu tidak mempunyai tujuan pendidikan yang jelas dan terencana. Dalam hal ini Hurlock (1980: 19) mengatakan bahwa pola pendidikan permisive bercirikan adanya kontrol yang kurang. Orangtua bersikap bebas dan longgar, bimbingan terhadap anak sangat kurang. Keadaan ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

29

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan pola pendidikan permisif dalam keluarga oleh orang tua akan memberikan kebebasan kepada anak, anak akan berjalan tanpa arah yang pasti, karena menentukan sendiri apa yang dikehendaki, sehingga membuka

kemungkinan tindakan atau perbuatan yang menyimpang dengan tatanan yang ada dalam masyarakat, hal ini akan merugikan anak itu sendiri. 3. Pola pendidikan demokratis Yaitu pola pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menampilkan kreativitasnya, tetapi dengan penuh bimbingan pendidik. Jadi anak bebas tetapi dengan penuh pengawasan dan pemantauan pendidik. Dalam mendidik anak diberi peluang untuk berbicara, berpendapat, mengemukakan pandangan dan berargumentasi, jadi anak tidak dikekang. Baumrind (dalam bukunya Hurlock 1980: 20) mengatakan bahwa ciri pola pendidikan demokrasi bercirikan adanya hak dan kewajiban orangtua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak dilatih utnuk bertanggungjawab dan mencapai kedewasaannya. Orangtua selalu mendorong untuk sangat dan penuh pengertian. Jika orangtua bertindak sesuatu misalnya mengingatkan, maka tindakan tersebut disertai alasan yang rasional. Suasana pola pendidikan yang demikian membuat emosi anak stabil, mempunyai percaya diri yang kuat, memungkinkan anak terbuka, maupun menghargai hak orang lain, peka terhadap lingkungan

30

dan bijaksana dalam bertindak, periang, mudah menyesuaikan diri dan penuh persahabatan. Cole (1963) (dalam bukunya Hurlock 1980: 20) mengatakan bahwa orangtua yang menerapkan pola pendidikan demokratis selalu memberikan penjelasan, mendiskusikan terlebih dahulu dengan anak, sebelum menerapkan peraturan-peraturannya. Pola pendidikan demokratis yang diterapkan orangtua memandang anak sebagai individu yang sedang berkembang. Hal ini disebabkan karena orangtua menyesuaikan dengan taraf-taraf perkembangan anak dengan cita-citanya, minatnya,

kecakapannya dan pengalamannya. Keuntungan dan manfaat dengan menggunakan pola pendidikan demokratis menurut Sutari Imam Barnadib adalah : (1) anak aktif dalam hidupnya ; (2) penuh inisiatif; (3) percaya pada diri sendiri ; (4) perasaan sosial ; (5) penuh tanggung jawab ; (6) emosi lebih stabil; (7) mudah menyesuaikan diri ( Sutari Imam Barnadib, 1986: 125 ) Menurut Hurlock (1978: 61) pola pendidikan demokratis ditandai ciri-ciri : anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan kontrol internalnya; anak diakui keberadaanya oleh orang tua turut dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Melengkapi hal ini Conger (1976) (dalam bukunya Hurlock 1980: 21) menyatakan bahwa orang tua yang menerapkan pola pendidikan demokratis lebih terbuka terhadap anak-anaknya, anak diberi kesempatan untuk mengemukakan pandangan

31

termasuk dalam hal yang harus dilakukan dan keputusan itu dibuat atas dasar persetujuan antara anak dengan orangtua. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan pola pendidikan demokratis dalam keluarga orangtua menempatkan anak pada posisi yang sama dalam keluarga. Dimana anak selalu diajak diskusi masalah-masalah yang dihadapi dalam keluarga, terutama yang

menyangkut persoalan anak itu sendiri. Antara orangtua dan anak saling terbuka, saling menerima dan saling memberi, anak diakui keberadaannya. Orangtua yang menerapkan pola pendidikan demokratis ini begitu memperhatikan perkembangan kejiwaan anak.

C.

Keluarga Keluarga sebagai wadah pertama dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal akan sangat menentukan proses pendidikan seorang anak. Sebagai sumber pendidikan utama, keluarga adalah tempat dimana pertama kali diperoleh segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia dari orangtuanya dan juga anggota keluarga yang lain, melalui suatu proses interaksi yang berlangsung secara terus-menerus. Oleh karena itu pola, pemikiran, sikap serta tindakan orang tua sangat berpengaruh bagi pendidikan seorang anak. Melalui pendidikan keluarga, dengan cara-cara yang sederhana anak dibawa ke suatu sistem nilai atau sikap hidup yang diinginkan dan disertai teladan orangtua yang secara tidak langsung sudah membawa anak kepada

32

pandangan dan kebiasaan tertentu, sekaligus dimulai pendidikan fisik. Proses pendidikan yang meliputi mental, fisik dan intelektual di lingkungan keluarga dapat berlangsung terus hingga anak dewasa. Semakin dewasa anak, peranan orang tua semakin berkurang dan lebih bersifat mengawasi dan membantu. Orang tua selalu siap memberikan bantuan berupa informasi atau nasehat jika anak menghadapi jalan buntu dan tidak dapat memecahkan masalahnya sendiri. Namun harus dijaga agar kasih sayang tidak berubah menjadi memanjakan anak. Sebab memanjakan anak justru akan menjerumuskan untuk seumur hidupnya (Suryohadiprojo, 1987: 98-99). Para orangtua harus dapat mengambil sikap tegas terhadap anak, bahkan sikap keras. Sikap demikian bukan karena kemarahan atau kebencian, tetapi justru karena kasih sayang untuk mencegah anak jatuh dalam berbagai kesalahan yang dapat merugikannya. Utamanya pada waktu anak masih kecil, orangtua harus dapat menunjukkan dengan tegas apa yang dikehendaki dan apa yang tidak disukai. Bila dengan nasehat dan teladan dari orangtua masih saja anak berbuat hal lain yang bertentangan, maka orangtua yang sayang kepada anaknya harus memberi teguran, dan bahkan hukuman kalau beberapa kali teguran tidak mengubah sikap anak. Di samping menerima bimbingan fisik, mental dan keterampilan, di dalam keluarga anak-anak juga mengalami proses sosialisasi. Proses sosialisasi adalah suatu proses menjadikan seseorang dalam hal ini anak, tumbuh-kembang sebagai warga masyarakat yang memahami, menghayati dan bertingkah laku dalam masyarakat. Tujuannya adalah agar anak dapat

33

hidup bersama-sama orang lain, secara selaras, serasi dan seimbang. Proses sosialisasi terjadi pertamakali dalam keluarga, baru kemudian mengalami perluasan ke luar lingkungan keluarga seperti lingkungan sekolah, teman sebaya, masyarakat dan seterusnya ( Yaumil Achir, 1994:6 ). Proses sosialisasi dapat terjadi melalui hubungan timbal balik antara kedua orang tua dengan anaknya. Hubungan timbal balik ini kita sebut interaksi. Melalui interakasi dengan orang tuanya maka anak mempelajari berbagai hal, utamanya sosialisasi nilai-nilai yang diunggulkan, yaitu : 1. Nilai-nilai Keagamaan Nilai-nilai keagamaan seluruhnya ditujukan untuk membimbing anak menjadi anak yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sosialisasi nilai keagamaan adalah upaya orang tua agar anak-anaknya dapat menjalani hidup bahagia dunia dan akhirat. 2. Budi Pekerti Luhur Biasanya orang tua ingin agar anaknya berkembang menjadi seseorang yang memiliki budi pekerti luhur, yang dapat diajarkan atau dicontohkan orang tua pada anaknya. Biasanya orang tua memakai patokan-patokan agama atau patokan budaya sebagai pedoman. Lebih konkritnya, sejak kecil anak diajarkan untuk tidak berbohong, tidak mengambil sesuatu barang miliknya, patuh pada orang tua, berani membela kebenaran, tidak malu mengakui kesalahan sendiri, dan sifat-sifat lainnya.

34

Budi pekerti seorang anak tergantung pada kualitas akhlaknya. Disinilah kemudian terlihat dengan jelas kaitan antara nilai budaya dan nilai keagamaan dengan perilaku sosial. 3. Gotong Royong Sikap gotong royong anggota masyarakat dewasa ini boleh dikatakan hampir pudar. Bila orang tua tidak memberi suri tauladan kepada anak mengenai sikap gotong royong ini, maka ada kemungkinan nilai unggul budaya bangsa kita dalam hal tolong menolong, bekerja sama dan membina kekuatan sosial untuk tujuan mulia seperti kesetiakawanan sosial, akan segera menipis. 4.Sikap Merendah, Tidak Sombong, Tidak Pamer Orang yang banyak bicara tetapi tidak berisi, sering dikatakan seperti “ tong kosong yang nyaring bunyinya”. Orang seperti ini tidak begitu disukai dalam pergaulan. Seandainya kita mempunyai banyak kelebihan, tidak sepantasnya kelebihan tersebut dipamerkan. 5. Sikap Sabar, Ulet, Alot Sikap-sikap ini sejak dulu dimiliki nenek moyang kita. Maka dari itu para orang tua hendaknya senantiasa menanamkan kesabaran pada anak dalam menganggapi berbagai masalah dalam kehidupan. Kesabaran yang disadari oleh sikap ulet dan alot pun sudah banyak dicontohkan oleh para pendahulu kita. Nenek moyang kita telah berhasil menciptakan berbagai peninggalan seperti Candi Borobudur. Hasil karya tadi hanya dapat dilestarikan dengan kesabaran, keuletan dan tekad hati saja.

35

6. Tata Krama Tata krama tetaplah merupakan sikap dan perilaku yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Anak-anak tetap harus belajar menghargai dan menghormati orang tua, para guru dan pihak-pihak lain yang dianggap perlu. Dalam peradaban yang sedang berubah, budaya luhur bangsa tetap harus dipertahankan, salah satu diantaranya adalah sopan santun dalam hubungan sesama manusia. Karena itu anak dilatih untuk mengontrol ucapan, sikap dan perbuatannya. 7. Nilai-nilai Baru Sosialisasi nilai-nilai baru yang dituntut sesuai dengan perubahan zaman, antara lain adalah kemandirian, kecerdasan, keuletan, rajin belajar, bekerja keras, menghargai prestasi, sikap dan berfikir kreatif dan sikap-sikap lain yang dianut masyarakat yang sedang berkembang ( Yaumil Agoes Achir: 7-10 ). Dengan suasana yang baik di dalam keluarga sudah ada pencegahan penting terhadap pengaruh dari luar. Makin dewasa, semakin banyak kebebasan yang diberikan oleh orang tua. Anak dibiasakan tanggung jawab, termasuk tanggung jawab atas nasibnya sendiri. Orang tua bersikap tut wuri handayani. Orang tua memberi pendapat , tetapi anak dibiasakan untuk mengambil keputusan bagi diri sendiri didalam hidupnya (Suryahadiprojo, 1987:100). Keluarga dengan keterbatasan dan kemungkinan-kemungkinan dapat merupakan tantangan dan kesempatan realisasi bagi anak. Diharapkan

36

bahwa dua hal ini dapat saling mengisi dan bermanfaat bagi perkembangan anak secara optimal Siti Rahayu Haditono, 1987:151). Terdapat beberapa pengartian tentang keluarga dan yang paling umum di pakai adalah pengertian tentang Keluarga Batih dan Keluarga Luas.

Keluarga Batih (Nuclear Family)adalah satuan keluarga terkecil yang terdiri ayah,ibu dan anak, sedangkan Keluarga Luas (Extended Family) adalah keluarga yang terdiri dari beberapa keluarga batih. Sebenarnya keluarga itu sendiri merupakan suatu unit terkecil dari lembaga masyarakat yang memiliki nilai strategi dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), keluarga bisa mampu menjalankan fungsi keluarga dengan baik. Ada 8 fungsi dari keluarga (Membangun Keluarga Sejahtera secara Mandiri, 1996 :2) yaitu : a. Fungsi keagamaan Yaitu fungsi yang mendorong dan mengembangkan setiap

anggotanya untuk menjadikan kehidupan keluarga sebagai wahana pengamalan nilai-nilai agama dan untuk menjadi insan-insan agamis yang penuh dengan iman dan takwa pada Tuhan Yang Maha Esa. b. Fungsi sosial budaya Yaitu fungsi keluarga untuk memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggota keluarga untuk mengembangkan kebudayaan bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan c. Fungsi cinta kasih

37

Yaitu fungsi untuk memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan antara anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anak serta hubungan kekerabatan yang penuh cinta kasih lahir dan batin. d. Fungsi melindungi Yaitu fungsi keluarga untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan diantara anggota keluarga dengan saling melindungi satu sama lain. e. Fungsi reproduksi Merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan manusia. sehingga dapat meunjang tercapainya kesejahteraan

f.

Fungsi sosialisasi dan pendidikan Yaitu fungsi yang memberikan peranan kepada keluarga untuk mendidik keturunannya agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di masa depan.

g.

Fungsi ekonomi Dimaksudkan untuk mendorong keluarga untuk meningkatkan pendapatan materiil dan finansiil yang menunjang dan mendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.

h.

Fungsi pembangunan lingkungan

38

Memberikan kepada setiap anggota keluarga kemampuan untuk menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis. Keseluruhan fungsi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk

meningkatkan kualitas sumber daya manusia seorang anggota dari suatu keluarga dan pendidikan sebagai suatu investasi sumber daya manusia tentunya turut pula menuntut peranserta keluarga. Dalam kenyataanya tidak seluruh keluarga mampu menjalankan fungsi-fungsi tersebut dengan baik secara keseluruhanya, ada di antara mereka yang tidak mampu berfungsi seperti fungsi-fungsi yang tersebut diatas dan salah satu penyebab terjadinya ketidakmampuan kelurga berfungsi adalah karena alasan kemiskinan. Orang tua memang memiliki semacam tanggung jawab eksklusif dalam hal proses membesarkan dan mengasuh seorang anak, termasuk didalamnya adalah tentang pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak mereka. Tanggung jawab tersebut tentunya harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan untuk itulah orang tua dituntut harus dapat menjalankan peranannya dengan baik. Namun, jika keluarga ternyata berada pada suatu kondisi yang menyebabkan mereka tidak mampu menjalankan segala fungsinya dengan baik, maka akan sangat terbuka kemungkin untuk menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM) para anggota keluarga terutama anak-anak.

39

D. Kemiskinan Dalam setiap masyarakat atau perkembangan masyarakat dimanapun dan kapanpun, senantiasa ada kelompok yang karena barbagai keterbatasan yang membelenggunya, tidak dapat mensejajarkan diri dengan kelompok lainnya untuk memperoleh dan menikmati kekayaan dan harta benda yang berharga. Sesungguhnya, tidak ada masyarakat yang semua warga atau kelompok di dalamnya memiliki kekayaan dan peluang secara sama rata. Faktor penyebab utama adanya perbedaan itu adalah sistem stratifikasi sosial dan sistem pendistribusian kekuatan sosial yang ada di masyarakat. Mereka yang tertinggal, tidak bisa terlibat untuk berkembang bersama-sama dengan warga masyarakat lainnya karena lemah secara ekonomi, sosial, politik dan budaya Kelompok atau warga masyarakat yang tertinggal itu yang dapat digolongkan sebagai kelompok masyarakat miskin umumnya berpendidikan rendah atau sama sekali tidak mengalami pendidikan sekolah. Mereka kurang memiliki kesempatan untuk menyatakan dirinya, baik yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan hidup materi maupun kesempatan untuk berperan dalam organisasi sosial politik serta kurang mampu mengembangkan jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan yang layak. (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:17) Kemiskinan merupakan suatu masalah sosial klasik yang mengandung begitu banyak dimensi dan terikat pula dengan banyak hal. Dan ketika kini

40

kita membicarakan mengenai kemiskinan, sebenarnya masih banyak perdebatan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan konsepsi kemiskinan. Dan untuk memperkokoh validitas penelitian ini maka perdebatan –

perdebatan tersebut tidak akan di permasalahkan di sini. Scot (1979) (dalam bukunya Tjetjep R.R, 2000:24) berpendapat bahwa kemiskinan dapat didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan nonmateri yang diterima oleh seseorang. Kemiskinan, pertama-tama, dapat diartikan sebagai kondisi yang diderita manusia karena kekurangan atau tidak memiliki pendidikan yang layak untuk meningkatkan taraf hidupnya, kesehatan yang buruk, dan kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua,

kemiskinan didefinisikan dari segi kurang atau tidak memiliki aset, seperti tanah, rumah, peralatan, uang, emas, kredit dan lain-lain. Ketiga, kemiskinan dapat didefinisiskan sebagai kekurangan atau ketiadaan nonmateri yang meliputi berbagai macam kebebasan, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak, hak atas rumah tangga dan kehidupan yang layak. Friedmann (1979) (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:25) menyatakan bahwa kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk

mengakumulasikan basis kekuasaan sosial meliputi (tidak terbatas pada): modal yang produktif atau asset, misalnya tanah, perumahan, peralatan, kesehatan dan lain-lain ; sumber-sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai); organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (partai politik, sindikat, koperasi dan lain-

41

lain); jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang dan lainlain; dan pengetahuan atau ketrampilan yang memadai, serta informasi yang berguna untuk memajukan kehidupannya. Coleman dan Cressy memberikan pengertian tentang kemiskinan dengan mendefinisikannya melalui 2 jalur pendekatan, yang pertama adalah pendekatan absolut yang menyatakan bahwa pembeda antara yang kaya dengan yang miskin adapila suatu standar obyektif tertentu seperti misalnya kurangnya uang untuk mendapatkan makanan, pakaian dan tempat berlindung yang cukup, mereka yang miskin adalah mereka yang memiliki keadaan dibawah standar obyektif tersebut. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan relatif yang menyatakan bahwa orang miskin adalah mereka yang secara signifikan memiliki pendapatan dan kekayaan yang kurang dari rata-rata orang yang berada disekitar mereka (Vivin Alvian, 2002: 19) Dimensi lain dari kemiskinan itu sendiri tidaklah hanya pada masalah yang bisa disebut miskin dan yang mana tidak, permasalahan yang ada sebenarnya jauh lebih kompleks dari pada itu semua. Terutama jika kita mengetahui bahwa sebenarnya perbedaan pendapatan antara mereka yang kaya dengan yang miskin akan membawa pengaruh-pengaruh terhadap gaya hidup seseorang, sikap seseorang terhadap orang lain bahkan pengaruh pada sikap terhadap dirinya sendiri. Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan memiliki berbagai karakteristik diri yang mau tidak mau akan berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan mereka. Karakteristik-karakteristik tersebut kebanyakan

42

muncul sebagai hasil dari upaya mereka untuk mempertahankan diri di tengah kondisi kemiskinan yang mereka alami, yang kadangkala memang tampak tidak berujung. Suparlan (1984) menyatakan bahwa masyarakat miskin menganut prinsip ekonomi bahwa hasil kerja mereka adalah hasil kerja yang harus dapat segera dinikmati, karenanya mereka belum memikirkan masa-masa

mendatang dan itulah sebabnya mereka sangat tidak tertarik kepada segala bentuk tabungan atau investasi. Menurut Lincolin Arsyad, indikator kemiskinan ada bermacammacam yaitu konsumsi beras perkapita per tahun, tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang terdiri dari 9 komponen yaitu kesehatan, konsumsi makanan dan gizi, pendidikan, kesempatan kerja, perumahan, jaminan sosial, sandang, rekreasi dan kebebasan. Sajogjo (1977) menggunakan tingkat konsumsi beras per kapita sebagai indikator kemiskinan. Untuk daerah pedesaan, penduduk dengan konsumsi beras kurang dari 240 kg per kapita per tahun, sedangkan daerah perkotaan adalah 360 kg per kapita pertahun. Seorang ahli antropologi, Oscar Lewis bahkan pernah menyatakan bahwa kemiskinan telah membuat para penderitanya membangun sebuah kebudayaan tersendiri, yang disebut oleh Lewis sebagai kebudayaan kemiskinan. Ia menyatakan bahwa kebudayaan kemiskinan merupakan suatu hasil dari reaksi para orang miskin terhadap kesenjangan secara ekonomi yang mereka alami dari masyarakat sekitarnya.Pertama kali kebudayaan

43

kemiskinan itu tumbuh, maka hal itu akan diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya secara terus menerus. Pramuwito juga menyatakan bahwa kemiskinan telah membuat orangorang yang berada didalamnya memiliki karakteristik tingkah laku yang melekat erat dalam kehidupan mereka sehari-hari, salah satu tingkah laku tersebut adalah tingkah laku ekonomi yang di gambarkan sebagai berikut : - Mereka ingin bekerja yang cepat mendapatkan hasil dan karena modal yang mereka miliki hanya otot mereka maka mereka bekerja di sektor informal. Dengan pekerjaan itu, mereka merasa dapat langsung segera menikmati hasilnya. - Masyarkat miskin pada umumnya menginginkan pekerjaan yang sederhana, tidak idealis dan yang tidak menggunakan prosedur yang rumit. - Oleh karena pekerjaan mereka yang sederhan dan hanya mengandalkan otot, maka sebagian besar dari mereka penghasilannya relatif kecil. Dengan penghasilan yang relatif kecil tersebut, mereka berusaha dengan tindakantindakan yang spekulatif, seperti hutang, bejudi, gadai menggadai dan lain sebagainya. Kemiskinan memang telah menjadi suatu masalah sosial yang sangat kompleks dan rumit, kebanyakan cara dan metode yang di gunakan oleh pihak-pihak yang ingin memerangi kemiskinan memang memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan tidak parsial. Dan karena kemiskinan masyarakat tentang manusia, maka upaya penyelesaian masalah itu harus dengan mempertimbangkan ketiga aspek yang melekat dalam diri manusia yaitu aspek biologis atau fisik, aspek sosial dan aspek psikis atau pemikiran.

44

Sebagai sebuah masalah sosial konvensional telah disadari bahwa kemiskinan memang tidak dapat dihilangkan dari seluruh wajah dunia ini dengan total dan tanpa bersisa, tetapi kemiskinan itu sendiri sebenarnya dapat dikurangi. Dan yang mungkin paling sering kita dengar dalam berbagai program pengentasan kemiskinan, baik oleh pemerintah maupun pihak-pihak non pemerintah adalah tentang tujuan program-program tersebut dengan berbagai cara dan metodenya untuk meningkatkan taraf penghasilan para masyarakat miskin. Ini artinya ada suatu tujuan yang ingin mengurangi kesenjangan penghasilan antara mereka yang hidup dalam kemiskinan dengan mereka yang hidup berkecukupan. Banyaknya perdebatan tentang batasan yang dipergunakan tentang kategori kemiskinan dalam penelitian ini akan disederhanakan dengan jalan memakai kategori kemiskinan menurut Pramuwito. D. Keluarga Miskin Di Indonesia terdapat istilah keluarga miskin yang biasanya lebih sering disebut dengan keluarga pra-sejahtera ataupun keluarga sejahtera 1 dan seterusnya. Di dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia tahun 1995, disebutkan bahwa pengertian Keluarga Pra-Sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum dalam hal sandang, pangan, papan dan pelayanan kesehatan yang sangat dasar. Sedangkan

keluarga Sejahtera I adalah kelarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya dalam hal sandang, pangan, papan dan pelayanan kesehatan yang sangat dasar tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya.

45

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) merupakan sebuah lembaga pemerintah non-departemen telah menetapkan suatu standar penilaian yang kemudian berguna untuk memberikan secara jelas perbedaan antara keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I.

Untuk keluarga Pra- Sejahtera belum terpenuhi seluruh standar penilaian, sedangkan untuk keluarga Sejahtera I kriteria 1 sampai 5 telah terpenuhi. Standar penilaian tersebut adalah : a. melaksanakan ibadah menurut agama yang dianut oleh masingmasing anggota keluarga. b. c. pada umumnya anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih pada umumnya anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja untuk sekolah dan bepergian. d. e. bagian terluas dari lantai rumah bukan tanah. bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ( PUS ) ingin ber-KB maka dibawa kesarana kesehatan. f. g. anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur. paling kurang 1 kali seminggu keluarga menyediakan

daging/telur/ikan. h. seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun. i. j. sehat. luas lantai rumah kurang 8 m2 untuk tiap penghuni. seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan

46

k.

paling kurang 1 orang anggota keluarga berumur 15 tahun keatas berpenghasilan tetap.

l.

seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa baca tulis huruf latin.

m.

seluruh anggota keluarga yang berusia 6-15 tahun bersekolah pada saat ini.

n.

bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih PUS ini memekai kontrasepsi (kecuali sedang hamil).

o. p.

mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama. sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.

q.

biasanya makan bersama paling kurang 1 kali dalam sehari dan kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk komunikasi keluarga.

r. s.

ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal. mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang sekali per 6 bulan.

t. u.

dapat memperoleh berita dari surat kabar/radio/televisi/majalah. anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi sesuai ketentuan daerah.

v.

secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk material.

47

w.

kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/ yayasan/ institusi masyarakat. Menurut Sajogjo dan Pudjiwati Sajogjo, bahwa rumah tangga yang

tergolong tak cukup dalam hal penghasilan diukur dengan ukuran senilai (ekuivalen jual-beli) beras bukan rupiah tanpa perlu membuat perhitungan pengaruh inflansi dan perbedaaan harga pangan di baragam daerah. Hal ini terlihat dari laporan kasus desa Sriharjo (Kabupaten Bantul, D. I. Yogyakarta) bahwa ukuran tingkat penghasilan “cukup” yang diambil serendah 20 kg ekuivalen beras per orang sebulan (penghasilan Rp 10.000,00 bagi keluarga sebesar 5 orang, jika harga beras Rp 100,00 per kg). Kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia adalah makhluk berbudaya, yaitu sebagai konsekuensi logis dari hidup manusia dan berkembang dalam kondisi kebudayaan tertentu. Manusia telah hidup, dibesarkan dan bekerja, dalam lingkungan budaya tertentu. Tidak hanya orang-orang dewasa yang merupakan manusia berbudaya, melainkan juga anak-anak. Anak-anak merupakan manusia yang telah terlatih untuk dapat berbicara dengan orang lain dengan penggunaan bahasa tertentu, manusia; manusia yang mempunyai kepercayaan-kepercayaan tertentu; manusia yang mempunyai pengetahuan tertentu; terutama pengetahuan tentang lingkungan dekat masing-masing; manusia yang telah mempunyai nilai-nilai tertentu yang dijadikan pedoman untuk bertindak dan pedoman dalam menanggapi banyak hal yang dihadapi; manusia yang berpegang pada aturan-aturan tertentu yang telah diajarkan kepadanya sebagai pegangan dalam pergaulan dengan orang-

48

orang lain, aturan yang menyatakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing; manusia yang telah mempunyai cara berpikir sesuai dengan kebudayaan di lingkungannya (Bachtiar, 1987 dalam bukunya Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:26) Singkatnya, anak merupakan manusia berbudaya yang mendukung kebudayaan tertentu yang juga dianut oleh para orang tuanya atau masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian dapat dipahami bahwa anak-anak dari orang tua yang hidup dalam kondisi kemiskinan dibesarkan dan tumbuh dalam polapola kehidupan masyarakat yang mendukung kebudayaan tertentu yaitu kebudayaan yang menyiratkan adanya sifat-sifat kebudayaan kemiskinan. Lewis(1984:32) mengatakan bahwa tatkala kebudayaan kemiskinan sudah muncul, akan cenderung terus dilestarikan, betapa banyaknya perubahan yang terjadi dalam kondisi lingkungan disekitar orang-orang miskin tersebut. Lewis melihat kebudayaan kemiskinan sebagai suatu subkebudayaan yang ditransmisikan antar generasi. Artinya dalam konteks sosialisasi dan kulturasi adalah bahwa anak yang hidup dalam kebudayaan kemiskinan sejak dini telah tercetak dalam kebudayaan kemiskinan tersebut ( Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohani, 2000:201). Di Amerika dan dikebanyakan budaya barat lainnya, perbedaan kelas sosial suatu keluarga dengan keluarga lain mampu menimbulkan perbedaan dalam pola pengasuhan anak-anak dalam keluarga tersebut. Orang tua yang berasal dari kelas sosial rendah sering menempatkan menempatkan

49

nilai-nilai yang tinggi terhadap karakteristik eksternal anak, contohnya adalah kepatuhan. Sedangkan orang tua dari keluarga menengah lebih memberikan penilaian yang tinggi terhadap karakteristik internal seperti misalnya saja konsep diri. Selain itu terdapat pula perbedaan dalam perilaku para orang tua yang berasal dari kelas sosial yang berbeda, orang tua yang berasal dari kelas sosial menengah akan lebih sering menjelaskan sesuatu dengan menggunakan bahasa verbal, mengajarkan kedisiplinan dengan alasan dan membiarkan serta mengijinkan anak-anak mereka untuk bertanya. Sedangkan orang tua dari kelas sosial rendah akan lebih sering mendisiplinkan mereka dengan hukuman fisik dan menghina anak-anak (Vivin Alvian, 2002 : 18).

BAB III METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang menekankan pada kedekatan pada data dan berdasarkan konsep bahwa pengalaman memahami perilaku sosial. Sedangkan tipe atau jenis penelitian ini adalah studi diskriptif yaitu tipe penelitian yang ingin mendiskripsikan atau menggambarkan secara terperinci fenomena sosial tentang apa yang terjadi dengan menggunakan merupakan cara terbaik untuk

50

metode studi kasus yang berupaya untuk menelaah suatu kasus secara mendalam, intensif, mendetail dan komprehensif. Sebagaimana disebutkan dalam tujuan, penelitian ini tidak menguji hipotesa tetapi ingin mendiskripsikan, mengungkap dan menganalisa pola pendidikan anak yang diberikan oleh keluarga miskin.

A. Teknik Pemilihan Informan Prosedur pengambilan dan pemilihan informan dalam penelitian kualitatif pada umumnya menampilkan karakteristik sebagai berikut : 1. Diarahkan tidak pada jumlah subjek yang besar, melainkan pada kasuskasus tipikal sesuai kekhususan masalah penelitian. 2. Tidak ditentukan secara kaku sejak awal, tetapi dapat berubah baik dalam hal jumlah maupun karakteristik subjeknya sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian. 41 3. Teknik penentuan subjek dilakukan secara porposif, dimana kasus yang dianggap sesuai dengan fenomena yang diteliti. Dengan demikian kriteria yang dipergunakan untuk penelitian ini adalah : a. Keluarga yang masuk dalam kategori keluarga miskin yang memiliki karakteristik menurut Pramuwito (hal:32). b. Keluarga yang masuk dalam kategori tidak cukup dalam hal penghasilan yang diukur dengan beras. ukuran senilai (ekuivalen jual-beli)

51

c.

Keluarga yang memiliki anak usia 6-15 tahun baik laki-laki maupun perempuan.

d.

Keluarga yang memiliki anak baik anak kandung, anak pungut maupun anak yang berada dalam asuhan mereka.

e.

Keluarga yang diteliti adalah satu keluarga.

B. Lokasi Penelitian Untuk menentukan lokasi penelitian, dilandasi oleh beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama yaitu memungkinkan subyek bisa dikaji secara mendalam. Pertimbangan yang kedua yaitu subyek memberikan peluang untuk dapat diamati kegiatan dan interaksinya. Ketiga yaitu memungkinkan peneliti untuk memainkan peran yang layak dalam rangka mempertahankan kesinambungan kehadiran peneliti sepanjang waktu yang diperlukan.pertimbangan yang terakhir yaitu adanya satuan kajian yang memberi peluang diperolehnya kualitas data dan kredibilitas kajian. Desa Meteseh terkenal dengan desa penghasil genting di kota Kendal sekitarnya. Terlihat banyak home industri genting pres di desa tersebut terutama Dukuh Krajan Barat, Dukuh Krajan Tengah dan Dukuh Teseh. Paling sedikit pada home industri tersebut membutuhkan 2-3 pekerja. Dari home industri yang ada, pemilik home industri sendiri yang mengerjakan dari mencampur bahan sampai pada pembongkaran pembakaran kecuali

penggilingan bahan genting. Tetapi ada juga buruh tetap untuk ngepres genting, untuk penjemuran genting dilakukan oleh pemiliknya. Biasanya para

52

buruh genting pres tersebut memulai bekerja kira-kira pukul 05.30 pagi sampai pukul 04.00 sore. Dari beberapa buruh tetap pres genting, terdapat wanita diantaranya. Dan kebanyakan dari mereka berstatus sebagai ibu rumah tangga. Alasan lain yang bersifat subyektif, yang secara langsung mendukung teknis operasional lokasi kajian ini adalah bahwa peneliti pernah mengikuti KKN 2003/2004 Di Desa Meteseh, Kecamatan Boja. Kegiatan KKN yang berlangsung selama 40 hari. Keterlibatan peneliti dalam kegiatan selama KKN tersebut, memperoleh keuntungan yaitu dapat menentukan lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang dikemukakan, yang kedua secara operasional sudah tercipta hubungan sosial yang baik dengan pejabat daerah dan sebagian dari warga masyarakat setempat. Dengan pertimbangan dan alasan diatas, maka ditetapkan sebuah lokasi yang dapat memenuhi pretimbangan dan alasan tersebut diatas. Lokasi yang ditetapkan sebagai lokasi penelitian yaitu Desa Meteseh, Kecamatan Boja.

C. Teknik Pengumpulan Data Dalam proses pengumpulan data,peneliti merupakan instrumen peneliti yang utama. ( Moleong, 1991:121). Interaksi antara peneliti dengan informan diharapkan dapat memperoleh informasi yang mampu mengungkap

permasalahan di lapangan secara lengkap dan tuntas. Beberapa alat perlengkapan penelitian yang akan dipergunakan seperti : alat tulis, catatan

53

kancah, dan kamera foto. Alat tersebut digunakan sepanjang tidak menganggu kewajaran pengamatan. Ada 3 ( tiga ) teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berikut ini dijabarkan ketiga teknik dalam pengumpulan data : 1. Observasi/ penelitian lapangan Observasi/penelitian lapangan yaitu peneliti langsung di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang keadaan lingkungan, keadaan tempat tinggal dan keadaan keseharian informan. Teknik ini dianggap kuat karena meskipun sasarannya individu, akan tetapi selalu disadari bahwa yang dipotret adalah ”dunia sosial” mereka, sehingga dapat ditampilkan potret masyarakat yang bersangkutan. Data yang akan diungkap melalui observasi, antara lain : (a) keadaan fisik rumah tangga, (b) pola perilaku orang tua dalam mendidik anaknya, dan (c) proses sosialisasi pendidikan anak pada keluarga miskin di Desa Meteseh, Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. 2. Wawancara Wawancara mendalam yaitu pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada informan dan jawaban. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang utama dalam penelitian. Melalui wawancara, peneliti memperoleh data atau informasi langsung dari informan , baik berkaitan dengan apa yang ingin diketahui peneliti maupun informasi yang berhasil diungkap

54

atau direspon berdasarkan ekspresi wajah, ucapan ataupun perilaku informan. Bentuk wawancara yang dilakukan melalui wawancara tidak terencana yang terfokus dan sambil lalu. Wawancara tidak terencana terfokus adalah pertanyaan diajukan secara tidak terstruktur, akan tetapi selalu berpusat kepada suatu pokok yang diteliti, dan kedua menggunakan wawancara terstruktur. Wawancara mendalam (interview) digunakan untuk mengungkap hal-hal yang terdapat di dalam “dunia mereka” yakni meliputi kondisi sosial ekonomi keluarga, pendapatan dan pengeluaran keluarga, model pengasuhan anak, aspirasi pendidikan serta pandangan orang tua terhadap keberhasilan dan kehidupan di masa depan. Pertimbangan dipilihnya teknik wawancara sebagai teknik

pengumpul data yang utama adalah : (a) sasaran penelitian adalah keluarga miskin, memiliki anak baik kandung maupun anak asuh sehingga wawancara akan memperlancar dalam pengumpulan data atau informasi yang lebih akurat, (b) gejala penelitian bersifat holistik, sulit dipilah-pilah antara gejala yang satu dengan gejala yang lain, sehingga jika digunakan teknik lain seperti angket hanya akan menyulitkan peneliti dalam mendiskripsikan informasi yang diperoleh, dan (c) gejala yang diteliti bersifat alamiah sehingga sulit dilakukan penskoran. 3. Dokumentasi Dokumentasi yaitu digunakan untuk menggali data yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara dan observasi. Dokumentasi adalah

55

setiap pemanfaatan bahan tertulis yang tersedia yang tidak dipersiapkan secara khusus untuk penelitian ( Lincoln dan Guba, 1985 : 228 ) Data yang akan diungkap melalui dokumentasi, yaitu : (a) luas wilayah desa, (b) jumlah penduduk, (c) jumlah KK,dan pencaharian penduduk. Pertimbangan peneliti menggunakan teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data adalah : dokumentasi merupakan sumber data yang stabil, menunjukkan suatu fakta yang telah berlangsung dan mudah didapatkan, data dari dokumentasi memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi akan kebenaran atau keabsahan, dokumentasi selalu tersedia dalam monografi atau buku induk kantor desa, dan dokumentasi sebagai sumber data yang kaya untuk memperjelas keadaan atau identitas subyek (d) mata

penelitian sehingga dapat mempercepat proses penelitian.

D. Prosedur Pengumpulan Data Dalam upaya pengumpulan data, peneliti yang ditempuh ada lima langkah melalui tahap orentasi, tahap eksplorasi, tahap memberi cek, tahap triangulasi sampai audit trail. 1. Tahap Orientasi Tahap orientasi ini merupkan tahap awal mendekati subjek. Melalui tahap ini diharapkan dapat diperkirakan faktor pendukung dan faktor penghambat, sehingga dapat diperhitungkan pelaksanaan penelitian secara cermat. Pada tahap ini pula dilakukan pendekatan dengan para sumber data

56

baik yang bersifat primer maupun yang bersifat sekunder, sehingga terbina persahabatan dan saling percaya. Pertama-tama peneliti datang ke Kelurahan setempat dan karyawan berdialog dengan peneliti sehingga dapat disusun strategi untuk kegiatan selanjutnya. 2. Tahap Eksplorasi Setelah mendapatkan gambaran secara umum lokasi/ tempat atau kelurahan yang akan diteliti serta telah terbina hubungan baik dengan nara sumber data, selanjutnya kegiatan meningkat pada tahap eksplorasi, peneliti dapat terjun ke lapangan. kegiatan yang akan dilakukan adalah : a. Menggali data dan informasi data yang diperlukan b. Menentukan sumber data yang dapat dipercaya c. Mendapatkan dan mengumpulkan data sesuai dengan fokus penelitian d.Mendokumentasikan data dan informasi dalam bentuk catatan lapangan, laporan lapangan dan buku harian lapangan. Catatan lapangan merupakan catatan yang dibuat ketika peneliti pada saat membuat laporan kelak. Untuk keperluan catatan lapangan ini dapat digunakan tape recorder sebagai alat bantu. Sedangkan laporan lapangan atau field note merupakan menuskrip sebagai hasil observasi, wawancara studi dokumentasi. Laporan ini yang merupakan inti dari data penelitian. Oleh karena itu pembuatannya segera dilakukan setelah pulang dari lapangan dituangkan dalam buku harian lapangan. Oleh karena itu buku harian lapangan ini berisikan catatan-catatan mengenai pengalaman, perasaan, kesulitan, buah pikiran, pertimbangan-pertimbangan ketika menghadapi suatu masalah.

57

3. Tahap Mamber Check Data diperoleh melalui tahap eksplorasi selanjutnya dilakukan pengujian secara kritis, kegiatan ini dilakukan dalam tahap mamber check. Ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu meminta tanggapan kepada subjek untuk mencek kebenaran data dan melakukan koreksi serta melengkapi terhadap hal-hal yang dirasa masih kurang sesuai atau kurang lengkap. Untuk dapat melakukan pengujian kritis terhadap data, terutama kepada para subjek, perlu ditanamkan hubungan baik dan saling percaya dengan mereka selain itu nama baik mereka, serta menjaga kerahasiaan datas oleh karena itu identitas mereka tidak mencantumkan secara jelas, melainkan hanya tanda inisialnya saja. 4. Tahap Pengabsahan data Setelah data dilakukan dari lapangan, langkah berikutnya yang amat penting adalah pengecekan keabsahan data, kegiatan ini erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmiah terhadap hasil temuan penelitian, pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan 4 kriteria, sebagaimana dianjurkan Lincoln dan Guba (dalam bukunya Moleong, 2002: 175-185), yaitu 1. Terdapat derajat kepercayaan yang tinggi terdapat data ( Relidibility) Ada beberapa teknik untuk melacak atau menggali derajat kepercayaan data yaitu sebagai berikut : a. Perpanjangan keikutsertaan ( Prologed Engagement )

58

Peneliti menambah waktu pengumpulan data dari alokasi waktu yang telah dirancang agar dapat mendalami atau mempelajari pula materi atau bahan penyuluhan dan dapat mengurangi adanya distribusi data baik dari informan, selain tujuan tersebut perpanjangan waktu merupakan nara sumber. Lebih lanjut diharapkan informan memberikan data yang benar atau apa adanya. b. Ketekunan pengamatan ( Persistence Observation ) Dalam pelaksanaan pengumpulan data, peneliti mencatat dan merekam semua informasi atau data yang sangat relevan dengan masalah penelitian. Dengan demikian peneliti mampu menelusuri unsur-unsur yang mendukung diskripsi masalah secara rinci, masalah yang diamati. c. Triangulasi ( Triangulation ) Mengecek kebenaran atau kepercayaan data dengan melihat gejala dari berbagai sudut pandang dan melakukan pengujian temuan dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan dengan berbagai teknik. d. Referensi yang memadai ( Referential Adequasy ) Kepercayaan data dapat diperoleh dengan menggunakan patokan bahan-bahan yang tercatat atau yang telah terekam. Bahan referensi tersebut sebagai alat untuk menjawab kritikan-kritikan yang muncul. e. Pengecekan Anggota

59

Informan yang terlibat dalam pemberian data diminta untuk memberikan tanggapan terhadap interpretasi data yang telah

diorganisir oleh peneliti. Teknik ini bermanfaat untuk memberi kesempatan atau tambahan ( pelengkap ), memperbaiki penafsiran data yang salah dan memberikan kesempatan untuk merangkum hasil perolehan sementara sehingga akan memudahkan dalam penganalisaan data. 2. Penerapan keterlibatan ( Transferbility ) Keabsahan data dapat diperoleh dengan memberikan deskriptif data yang memungkinkan seseorang (pembaca) dapat mengalihkan hasil penelitian ke daerah lain sesuai dengan konteknya. Usaha mempertinggi keteralihan dapat dilakukan dengan melaporkan hasil temuan secara rinci diharapkan sesuai dengan konteks penelitian dan fokus penelitian. Deskripsi secara rinci diharapkan memudahkan pembaca dalam memahami temuan dan memanfaatkannya sebagai keputusan. 3. Ketergantungan terhadap data ( Dependentability ) Dalam penelitian non kualitatif sering disebut relibilitas. Penelusuran data mentah, data yang telah direduksi dan hasil kajian dilakukan oleh evaluator. Pelaksanaannya menggunakan catatan tentang pengembangan instrumen dan konstruksi data dan hasil sintesis, seperti integrasi konsep penafsiran hasil temuan dan penarikan kesimpulan. 4. Kepastian data ( Confirtability ) landasan berpijak dalam mengambil

60

Gambaran tentang kepastian data dapat diupayakan dengan memperhatikan catatan kancah, koherensi internalnya dalam penyajian penafsiran dan simpulan-simpulan peneliti. Upaya tersebut dilakukan dengan cara minta dosen pembimbing untuk melakukan audit kesesuaian temuan penelitian yang digunakan, melaporkan proses dan hasil temuan penelitian kepada audior untuk mendapatkan kritik dan saran dalam rangka perbaikan. Dalam penelitian keabsahan data dilakukan melalui triangulasi.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan diluar data itu, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data ( Moleong, 1995:179 ). Macam triangulasi : 1) sumber, 2) metode, 3) peneliti, dan 4) teori. Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek baik derajat

kepercatatan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Triangulasi metode menurut Patton (1987) terdapat dua strategi, yaitu : (1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan (2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi peneliti yaitu memanfaatkan peneliti yang lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan. Triangulasi teori menurut Lincoln dan Guba (1981) bahwa berdasarkan fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat

kepercayaannya dengan satu atau lebih teori dan dinamakan penjelasan pembanding (Moleong, 2000: 178).

61

Triangulasi merupakan proses pengujian terhadap keabsahan data yaitu dilakukan dengan cara menggunakan suatu yang lain untuk keperluan pengujian, atau sebagai pembanding terhadap yang ada. Beberapa cara untuk melakukan pengujian keabsahan data dengan triangulasi yaitu : (a) membandingkan hasil wawancara, antara yang dilakukan ketika ada orang banyak atau ada orang lain dengan yang dilakukan dengan empat mata (b) membandingkan fenomena-fenomena berupa kasus responden dengan pendapat perangkat atau pandangan seseorang (c) membandingkan data antara yang diperoleh melalui wawancara dengan yang diperoleh melalui observasi, serta dokumentasi (d) membandingkan data yang diperoleh dalam waktu yang berbeda atas data dan teknik yang sama. 5. Tahap Audit Trail Tahap ini merupakan tahap pemantapan yang dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran data yang disajikan dalam laporan penelitian untuk memudahkan penelusuran terhadap data yang sah, setiap data-data yang ditampilkan disertai dengan keterangan sesuai dengan etika penelitian, penyebutan terhadap sumber data yang sebatas penyebutan saja, formasikan menjadi kesimpulan-kesimpulan yang singkat dan bermakna.

E. Analisis Data dan Interpretasi Data yang terjaring melalui ketiga teknik penelitian yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi masih merupakan data mentah. Oleh karena itu

62

akan

dilakukan

pemilihan,

pereduksian,

pengelaborasian

dan

untuk

selanjutnya diadakan analisis sesuai dengan tujuan penelititian. Jadi melalui kegiatan ini, semua data dan informasi yang telah terkumpul disederhanakan dan ditransformasikan menjadi kesimpulan-kesimpulan yang singkat dan bermakna. 1. Analisis data Dalam proses analisis data, dilakukan langkah kegiatan yang mencakup teorisasi, analisis induktif, analisis tipologis dan neumerasi. Langkah-langkah tersebut tidak bersifat diskrit antara yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, proses analisis data inipun terpisah dengan proses pengumpulan data. Hal ini sesuai dengan karakteristik analisis data yang bersifat kualitatif. Bagian-bagian konsep yang akan dianalisis berdasarkan tahapantahapan tersebut adalah : (a) gambaran secara umum keadaan geografi dan kependudukan (b) keadaan sosial ekonomi (c) keadaan sosial budaya dan (d) tentang potensi pendidikan keluarga yang mencakup tingkat pendapatan keluarga, kontribusi orang tua terhadap pendidikan dan aspirasi pendidikan keluarga. a. Tahap Teorisasi Tahap ini merupakan kegiatan pembahasan data dan informasi yang telah terjaring dari responden. Tahap teorisasi merupakan proses untuk mengabstraksikan fenomena-fenomena, membuat kategorisasi dan mencari keterkaitan antar fenomena tersebut. Pada dasarnya tahap

63

teorisasi dilakukan sejak awal kegiatan pengumpulan data. Dalam pelaksanaannya, peneliti menyediakan lembaran-lembaran untuk

mencatat data, baik yang bersifatt silent data maupun yang berupa human orally data. Hasil dari tahap ini berupa konstruk-konstruk (kesimpulan yang bersifat tentatif ). b. Tahap Analisis Induktif Tahap ini diawali dari fenomena/fakta empirik lapangan yang selanjutnya diambil dalam konstruk yang lebih luas. Kesimpulan-

kesimpulan yang bersifat tentatif sebagai hasil dari teorisasi, kemudian direduksi dan dimodifikasi agar selaras dengan fokus dan tujuan penelitian. Proses ini adalah proses analisis induktif, melalui analisis induktif ini akan diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang lebih singkat dan jelas meskipun masih bersifat tentatif. c. Tahap Analisis Tipologi Meskipun telah dikukan penyederhanaan dan kategorisasi dan melalui kegiatan analisis induktif, namun kesimpulan yang dihasilakan masih belum menggambarkan keterkaitan antara beberapa hal yang dikehendaki oleh fokus dan tujuan penelitian. Oleh karena itu dilakukan kegiatan analisis tipologis, yaitu kegiatan yang membandingkan,

menarik implikasi, serta membuat kategorisasi baru, sehingga nantinya kesimpulan yang diperoleh semakin halus dan jelas. d. Tahap Enumerasi

64

Penghalusan data yang terakhir sebelum dilakukan interpretasi adalah berupa kegiatan enumerisasi. Seperti pada tahap analisis tipologi pada tahap inipun berisikan kegiatan penyederhanaan dan kategorisasi yang ditujukan pada hal-hal yang diras kurang mengena ataupun terhadap mata rantai yang terputus dari hasil analisis tipologis, yang berkenaan dengan bahasa maupun yang berkenaan dengan konteknya. Jadi enumerisasi merupakan kegiatan pengelaborasian kembali,

sehingga data dan informasi yang ada dapat dimaknakan secara holistik, dari tahap ini nantinya akan diperoleh data yang siap untuk dilakukan interpretasi terhadapnya.

2. Interpretasi data Interpretasi data merupakan kegiatan yang bersifat reformatif. Jadi tidak sekedar sekedar diskriptif biasa, seperti kegiatan analisis data. Atau sering disebut bahwa proses interpretasi masalah pemaknaan yang berlandaskan etic (dalam pendekatan penelitian kualitatif dikenal pandangan emic dan pandangan etic). Jika pandangan emic peneliti berbicara atas dasar perspektif informen, maka dalam pandangan etic peneliti berbicara dalam perspektif keilmuan. Jadi dalam hal ini temuan-temuan yang diperoleh melalui peneliti dituntut mampu menafsirkan, melakukan keterkaitan konsep, serta pada akhirnya membangun pemahaman-pemahaman baru. Dalam upaya proses interpretasi inilah diperlakukan analisis dan sintesis secara kritis antara telaah teoritik yang menjadi dasar kerangka

65

acuan, hasil-hasil penelitian, serta temuan-temuan yang diperoleh dari peneliti lain sejenisnya.

BAB IV HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Bab ini menyajikan

deskripsi data kasus hasil penelitian dan

pembahasannya. Untuk mempermudah pemahaman di dalam mengkaji bab ini berturut-turut disajikan sistematika kerangka sajian sebagai berikut : (a) kondisi demografis desa Meteseh, (b) deskripsi hasil penelitian (c) analisis hasil penelitian. A. Kondisi Demografis Desa Meteseh Desa Meteseh sebagai salah satu desa yang berada di wilayah

Kecamatan Boja, merupakan suatu wilayah yang memiliki beberapa

66

karakteristik tertentu dan salah satunya adalah karakteristik dalam kondisi demografis. Berikut ini disajikan beberapa karakteristik demografis yang ada di wilayah Desa Meteseh ini. 1. Kondisi Geografis Desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal memiliki luas 751.293 Hm. Ketinggian dari permukaan laut 280 m, dengan suhu udara rata-rata 280 C - 300 C. Desa Meteseh secara administratif terdiri dari 7 dusun yaitu Krajan Barat, Krajan Timur, Krajan Tengah, Slamet, Teseh, Rowosari dan Segrumung dan dibagi menjadi 8 RW dan 46 RT. Desa Meteseh dipimpin oleh Kepala Desa dan dibantu oleh Sekretaris Desa, Kepala Urusan Kesejahteraan, Kepala Urusan Pembangunan dan Kepala Dusun. Lembaga-lembaga yang berada di pemerintahan Desa Meteseh yaitu Lembaga Ketahanan Musyawarah Desa ( LKMD ), Lembaga Musyawarah Desa (LMD), Badan Perwakilan Desa ( BPD) dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga ( PKK ). 2. Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin Dalam tabel di bawah ini, disajikan data mengenai jumlah penduduk Desa Metesah berdasarkan kategori jenis kelamin : Tabel 1. Jumlah Penduduk DesaMeteseh Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi 3.505 3.849 Persentase 49 % 51 %

67

Jumlah

7.152

100 %

Dari tabel di atas tersebut terlihat bahwa penduduk perempuan di Desa Meteseh adalah lebih banyak daripada penduduk laki-laki, walaupun memang perbedaan yang ada tidaklah terlalu besar dan juga tidak terlalu mencolok. 3. Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Sebagian besar warga Desa Meteseh bermata pencaharian sebagai petani. Luas lahan pertanian meliputi lebih dari separuh wilayah desa. Hasil pertanian yang menonjol adalah pisang, rambutan dan durian. Akan tetapi untuk sekarang ini banyak yang bekerja sebagai buruh, baik itu buruh pabrik maupun buruh dari home industri di wilayah desa tersebut yaitu home industri pengrajin genting pres. Selain itu mata pencaharian warga Desa Meteseh adalah sebagai pengrajin, pedagang, jasa angkutan, buruh tani, buruh bangunan dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS, TNI / POLRI. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. Mata Pencaharian Warga Desa Meteseh Mata Pencaharian Petani Buruh Tani Pengusaha Buruh Industri Frekuensi 667 210 52 346 Persentase 39,86 % 12,56 % 3,10 % 20,68 %

68

Buruh Bangunan Pedagang Pensiunan PNS Nelayan Lain-lain Jumlah

270 30 22 26 50 1673

16,14 % 1,79 % 1,32 % 1,55 % 0% 2,99 % 100 %

5. Fasilitas Pendidikan Fasilitas pendidikan yang tersedia di Desa Meteseh, yaitu : Tabel 3. Fasilitas Pendidikan di Desa Meteseh
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama YKTM Farming Meteseh 0I Meteseh 02 Meteseh 03 Meteseh 04 Meteseh 05 Pertiwi 01 Pertiwi 02 Pertiwi 03 Tingkat Sekolah Menengah Kejuruan Sekolah Dasar Sekolah Dasar Sekolah Dasar Sekolah Dasar Sekolah Dasar Taman Kanak-kanak Taman Kanak-kanak Taman Kanak-kanak Lokasi RW 01 RW 04 RW 02 RW 03 RW 06 RW 08 RW 02 RW 08 RW 07

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa di desa Meteseh sudah tersedia sarana pendidikan meskipun belum lengkap. 4. Komposisi Penduduk menurut Agama

69

Komposisi terbesar penduduk Desa Meteseh adalah pemeluk agama Islam, hal ini kemudian berimbas pada fasilitas-fasilitas sosial yang berada di wilayah desa ini seperti jumlah Mesjid dan Mushola, dan juga hadirnya sarana pendidikan yang bernuansakan Islam seperti Taman Pendidikan Al-Quran ( TPA). Selain itu kegiatan yang bernuansakan Islam dilaksanakan di masyarakat dianataranya yaitu kegiatan Berjanjen, Kumpulan Jamaah Yasin baik ibu-ibu atau bapak-bapak, pengajian selapanan dan kesenian rebana.

Dibawah ini akan disajikan data mengenai jumlah penduduk Desa Meteseh menurut agama yang diyakini. Tabel 4. Jumlah Penduduk Desa Meteseh Menurut Agama yang Diyakini Agama Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Hindhu Budha Jumlah Frekuensi 6.900 226 26 7.152 Persentase 96,48 % 3,15 % 0,36 % 0% 0% 100 %

6. Fasilitas Sarana Peribadatan Berikut ini akan disajikan tabel yang memuat data mengenai saranasarana peribadatan yang terdapat di wilayah Desa Meteseh :

70

Tabel 5. Sarana Ibadah di Desa Meteseh
Jenis Sarana Mesjid Mushola Gereja Vihara Pura Jumlah 10 21 -

Melihat pada tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa hanya sarana ibadah umat Islam saja yang tersedia di Desa Meteseh, dan hal ini karena komposisi terbesar penduduk menurut agama di wilayah Desa Meteseh adalah pemeluk agama Islam. 7. Fasilitas Kesehatan Di Desa Meteseh terdapat satu orang bidan desa yang bertempat tinggal di sebelah balai desa Meteseh. Kegiatan Posyandu dilaksanakan secara rutin satu bulan sekali. Selain itu di Desa Meteseh terdapat dua orang dokter umum dan biasanya mereka membutuhkan jasa dokter tersebut ketika salah satu keluarga mereka sakit karena Puskesmas Boja terletak jauh dari wilayah desa tersebut.

B. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Profil Keluarga Informan Keluarga ini adalah keluarga besar dengan empat orang anak. Pak UI adalah seorang warga desa Meteseh yaitu dusun Segrumung yang lahir di

71

Jakarta pada tahun 1950 Pak UI adalah anak pertama dari 5 saudara. Sejak kecil Pak UI belum pernah melihat ayahnya karena ayahnya telah meninggal sejak Pak UI berumur 4 bulan dalam usia kandungan. Empat saudara yang lain berbeda ayah dengan Pak UI. Sejak umur 1 tahun Pak UI tinggal dan diasuh dengan kakak laki-laki ibu Pak UI. Pak UI hanya bersekolah di Sekolah Rakyat ( belum ada SD ) dan itupun Pak UI drop out di kelas satu dengan alasan rumah Pak UI jauh dari sekolahnya. Jarak sekolah dengan rumahnya yaitu kurang lebih 6 km. Waktu itu belum ada angkutan desa seperti saat ini, karena alat transportasi memang belum masuk desa tersebut. Sehingga Pak UI harus berjalan kaki. Seperti penuturannya : “Yo...teko wegah sekolah. Lha wong adoh seko ngomah.Jarake seko ngomah kurang luwih 6 km, kuwi we nggo mlaku. Ora koyo saiki ono angkot, mbiyen hurung ono angkot mlebu ndeso, ono trek we mbiyen aku gumun tak elus-elus treke he..he..”. (Ya...tidak mau sekolah saja. Karena jauh dari rumah. Jaraknya dari rumah kurang lebih 6 km, itupun harus jalan. Nggak seperti sekarang ada angkot, dahulu belum ada angkot masuk desa, ada truk saja dulu aku heran dan saya sentuh –sentuh truknya he..he..). Kakak dari Ibu Pak UI mempunyai 3 anak angkat salah satunya Pak UI. Karena ketiga anak asuhnya tidak sekolah, mereka disuruh untuk mencari kayu bakar di hutan karet setiap hari yang jauh dari rumahnya Ketika mereka tidak mau, mereka sering kena marah dan dipukuli. Pernah

72

suatu hari Pak UI diikat di tiang jemuran seharian tanpa dikasih makan dan minum padahal waktu itu sedang musim kemarau, yang sebelumnya Pak UI dipukul sampai badannya berdarah dan disiram air garam. Setelah berumur 11 tahun Pak UI pergi dari rumahnya dan ke kota Semarang. Disana Pak UI merasa bebas dan pergaulannya pun tidak terarah yang akhirnya pada usia tersebut Pak UI sudah mengenal minum-minuman keras dan sampai melakukan tindakan kriminal yang kemudian

mengakibatkan Pak UI keluar masuk penjara. Terakhir Pak UI keluar dari penjara sekitar tahun 1972. Sejak saat itu Pak UI mulai tersadar dan hidupnya lambat laun mulai terarah. Sejak saat itu Pak UI mencoba bekerja dengan membuka tambal ban di Simpang Lima yang waktu itu adalah GOR. Peralatan yang digunakan dari dahulu sampai sekarang belum ada peningkatan, misalnya saja Pak UI ingin mengganti pompa angin dengan kompresor tetapi belum bisa. Pak UI buka tambal ban di emper salah satu toko di Simpang Lima. Dan hanya pekerjaan itu yang digeluti untuk mencukupi keluarganya sampai sekarang. Penghasilan Pak UI saat ini rata-rata Rp 300.000,00 perbulan. Menurutnya, penghasilan dahulu lebih mencukupi kebutuhannya daripada penghasilan saat ini. Menurutnya bukan karena anaknya sudah banyak tetapi karena uang saat ini banyak tetapi tidak ada artinya. Seperti penuturannya : “Duit saiki karo mbiyen bedo. Duit Rp 1.500,00 mbiyen ki aji

ketimbang Rp15.000,00 duit saiki. Lha pie..mbiyen duit Rp 1500,00 iso tuku beras 7 kilo we turah wis iso mangan enak nganggo iwak opo endok.

73

Padahal aku mbiyen entuke biso luwih seko semono. Saiki duit Rp15.000,00 kasarane tuku beras, gawe blonjo, gawe nyangoni anake kurang” (Uang sekarang dengan dahulu berbeda. Uang Rp 1.500,00 dahulu lebih banyak nilainya daripada Rp 10.000,00 uang sekarang. Lha gimana... dahulu uang Rp 1.500,00 sudah bisa membeli beras 7 kilo saja uang masih sisa dan bisa makan enak pakai daging atau telur. Padahal aku dahulu dapatnya bisa lebih dari segitu. Sekarang uang Rp 10.000,00 untuk membeli beras, belanja, untuk memeberi uang saku anaknya kurang). Pak UI menikah tahun 1979 dan tinggal di Semarang. Waktu itu Pak UI dan istrinya tinggal di gerobak. Pada tahun 1984 anak pertama Pak UI lahir. Pada saat anak tersebut berumur 4,5 tahun, meminta untuk sekolah. Karena biaya sekolah di kota sangat mahal, maka Pak UI dan istrinya memutuskan untuk tinggal di desa Meteseh meskipun Pak UI masih bekerja di Semarang sebagai tambal ban dan harus pulang seminggu sekali ke rumah. Biasanya Pak UI beristirahat dirumah 1-2 hari. Di rumah pun Pak UI sering membantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mencari kayu di hutan karet atau mencari kayu di kebun milik saudara Pak UI yang agak jauh dari rumah. Istri Pak UI yaitu Ibu S adalah anak ketiga dari 4 bersaudara, lahir tahun 1967 di Salatiga. Ia bersama keluarganya pindah ke Desa Brayo,Boja pada tahun 1970. Pada tahun 1972 Ibu S dan keluarganya pindah ke desa Meteseh karena tanah dan rumah di desa Brayo dijual untuk membeli tanah di desa Meteseh. Pekerjaan orang tua Ibu S adalah pembuat gula merah.

74

Ibu S sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah. Hal ini karena Ibunya tidak pernah mengijinkan Ibu S untuk sekolah. Menurut Ibu S, orang tuanya tidak mau menyekolahkan Ibu S karena Ibu S adalah seorang perempuan, ibunya bilang bahwa seorang perempuan sekolahnya yaitu di sawah untuk mencari padi (atau istilah jawanya yaitu ngasak) atau mencari jagung atau mencari kacang tanah dan alat untuk menulisnya yaitu ani-ani (alat pemotong padi), caping dan tenggok (alat yang berasal dari bambu). Ibu S berangkat mencari padi sejak dini hari yaitu pada saat terdengar adzan subuh sampai Dzuhur. Jika Ibu S belum bangun atau ibunya lebih dahulu bangun Ibu S selalu dimarahi bahkan seringkali Ibu S mendapat siraman air bekas cuci piring. Lebih-lebih jika Ibu S tidak mau berangkat, ibunya tidak segan-segan untuk memukulnya. Bapak dari Ibu S sendiri tidak pernah menghiraukan Ibu S yang selalu dipukul oleh ibunya. Menurut ceritanya, Ibu S dahulu sehari makan dua kali yaitu siang dan malam. Pagi hari sebelum berangkat ngasak, Ibu S makan ketela rebus. Ibu S juga mendapat uang jajan meskipun jumlahnya lebih sedikit daripada kedua kakak dan adiknya. Dengan keadaan yang demikian Ibu S selalu berpikir bagaimana caranya untuk bisa keluar dari rumah dan mempunyai uang sendiri. Suatu ketika Ibu S meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke Arab Saudi untuk menjadi TKW, ibunya melarang dengan menakut-nakuti akan dibuang di laut dan dimakan ikan besar. Pada saat itu, untuk pergi ke Arab Saudi masih menggunakan sarana kapal laut. Karena rasa takut tersebut, akhirnya Ibu S mengurungkan niatnya untuk pergi ke Arab Saudi,

75

meskipun bukan berarti ibu S tidak ada keinginan lagi untuk pergi dari rumah. Pada akhirnya Ibu S bisa pergi dari rumah yaitu hanya dengan pakaian satu stel yang dipakainya dan satu stel pakaian yang dibungkus dengan plastik, Ibu S pergi ke Jakarta ikut truk. Ibu S di Jakarta bekerja sebagai kuli bangunan. Setelah dua tahun bekerja Ibu S pulang ke rumah dan hasil kerjanya diberikan kepada orang tuanya dan untuk biaya rumah sakit yang pada saat itu adiknya terkena penyakit typus dan harus dirawat di rumah sakit. Ibu S bekerja lagi menjadi pembantu rumah tangga di kota Semarang. Pada tahun 1977 Ibu S berhenti menjadi pembantu rumah tangga dan bekerja di salah satu rumah makan di kota Semarang. Pada saat itulah Ibu S pertama kali bertemu dengan Pak UI dan akhirnya menikah pada tahun 1979. Setelah menikah dengan Pak UI, Ibu S bekerja sebagai buruh pencuci pakaian di perumahan Anggrek dekat tempat tinggalnya. Setelah pindah ke desa Meteseh, Ibu S mencoba dengan membuka usaha genting. Karena manajemen usahanya kurang tepat akhirnya usahanya bangkrut. Kemudian Ibu S bekerja sebagai buruh genting pres di salah satu usaha genting milik tetangganya. Setiap hari Ibu S bekerja sejak pukul 6 pagi sampai pukul 3 sore. Ibu S bisa memperoleh 250-300 genting setiap harinya. Setelah bahan genting habis, pada saat itulah Ibu S menerima upah. Ratarata Ibu S bekerja selama 12 hari dan penghasilannya rata-rata Rp 75.000,00. Untuk menunggu tanah bahan genting digiling, Ibu S mengisi waktu luangnya kurang lebih 1 minggu untuk mencari kayu atau menggantikan buruh genting pres yang lain atau istilahnya “pocokan/

76

srobotan” dan hasil pocokan tersebut kurang lebih Rp 10.000,00 – Rp 20.000,00. Jika dikalkulasi penghasilan Pak UI dan Ibu S rata-rata Rp 400.000,00 setiap bulannya. Keluarga ini harus mengeluarkan biaya bulanan secara hati-hati. Pengeluaran yang dianggap paling besar yaitu untuk keperluan makan keluarga yaitu Rp250.000,00; untuk biaya sekolah dan TPQ Rp 25.000,00 ; untuk uang jajan Rp 15.000,00 untuk membayar listrik Rp15.000,00, untuk kepentingan sosial Rp 5.000,00, membayar cicilan

hutang Rp 30.000,00 dan arisan Rp 10.000,00. Jika dikalkulasi antara pemasukan dan pengeluaran, Pak UI dan Ibu S mempunyai sisa uang sejumlah Rp 50.000,00. Sisa tersebut menurut Pak UI dan Ibu S tidak pernah menikmati karena selalu ada kebutuhan yang mendadak seperti salah satu keluarga atau saudara ada yang sakit atau meninggal atau apa saja yang mengharuskan mengeluarkan uang. Namun yang sering menjadi kendala

yaitu kadang-kadang dalam waktu yang cukup lama Pak UI di rumah tidak bekerja atau Pak UI mendapat hasil yang sedikit biasanya itu terjadi pada musim penghujan. Penghasilan Pak UI tidak cukup untuk makan sekeluarga dalam satu bulan. Begitu juga dengan Ibu S, jika kondisi badan kurang sehat, tidak berangkat bekerja atau bahan genting keras, Ibu S sering merasa cepat capek. Seperti saat ini Ibu S menceritakan kadang hasil ngepres bisa kurang karena badannya sekarang sudah lemah. “ Aku saiki entuke ora akeh...awakku wis ora kuat, opo meneh nek lemahe atos,lara kabeh rasane....”

77

(Aku sekarang dapatnya tidak banyak... badanku sudah tidak kuat, apalagi kalau tanahnya keras, sakit semua rasanya....) Ibu S bercerita bahwa ia memang tidak bisa terlalu lelah, karena tubuhnya tidak memiliki ketahanan bekerja seperti wanita lain. Ia mengakui sering merasa lemas karena kurang darah dan tekanan darahnya rendah. Jika ia bekerja secara berat sebentar saja ia akan sakit dan kemudian tidak dapat mengerjakan apapun meskipun pekerjaannya berat. Menurutnya, uang sejumlah itu tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya apalagi jika suaminya sedang sepi atau lama di rumah, Ibu S sering menjual ayamnya untuk uang belanja bahkan tidak jarang Ibu S pinjam uang kepada pemilik usaha genting tempat bekerjanya dan di kembalikan dengan cara dipotong upah kerjanya. Ibu S bercerita bahwa Ibu S jarang meminta uang kepada anaknya meskipun sudah bekerja juga sebagai buruh genting pres. Ibu S merasa kasihan meskipun kadang tanpa meminta, anaknya sering memberinya uang untuk belanja. “ Nek aku njaluk anakku rasane mesakke... ben ditabung karo gawe tuku rokok. Yo kadang aku njaluk, kadang... aku ora nembung teko diwenehi kanggo blonjo....” (Kalau aku minta anakku rasanya kasihan... biar ditabung dan buat beli rokok. Ya kadang-kadang aku minta, kadang-kadang.... aku tidak meminta dikasih begitu saja untuk belanja ...)

78

Keadaan yang sering dapat memaksanya untuk tetap bekerja misalnya ketika Pak UI lama dirumah dan uang belanja serta uang saku anak-anak sudah menipis atau habis. “ Nek aku ora ngepres meh mangan opo, bocah-bocah sangu njaluk sopo, bayar sekolah seko ngendi.....” (Kalau aku tidak ngepres mau makan apa, uang saku anak-anak minta siapa, bayar sekolah dari mana....) Menurut Pak UI dan Ibu S, latar belakang pendidikan khususnya sekolah, tidak merupakan suatu penyebab dari keadaan ekonominya. Seperti penuturan Pak UI, bahwa semua yang mereka jalani ini merupakan takdir mereka dari TUHAN. Keluarga Pak UI dan Ibu S tinggal di Desa Meteseh RW 2 RT 2. Rumah yang saat ini dihuninya terbuat dari papan. Luas rumahnya sekitar 85 m2. Menurut Ibu S rumah yang saat ini dihuni merupakan warisan dari orang tuanya. Rumah tersebut dibagi menjadi 3 kamar tidur, 1 ruang tamu dan dapur yang sekaligus digunakan sebagai ruang makan yaitu dengan meletakkan meja kecil ukuran 1x1 m dengan 1 kursi panjang dan satu ruang kecil yang digunakan untuk tempat sholat yaitu dengan meletakkan amben buatan sendiri dari papan. Adapun peralatan rumah tangga yang dimilikinya yaitu 1 stel meja kursi, 1 bifet yang sudah agak kropos papan-papannya dan digunakan sebagai lemari pakaian, 3 tempat tidur dari papan yang dibuatnya sendiri dan peralatan dapur. Lantai rumah Pak UI dari tanah. Listrik yang digunakan menyalur dari tetangganya. Untuk keperluan minum, MCK

79

menggunakan sumur yang menurut Ibu S sumur tersebut juga peninggalan dari orangtuanya. WC dan kamar mandinya tidak permanen serta terpisah dari rumah. Kamar mandi dibuat dekat sumur dengan dinding yang berasal dari spanduk bekas dan kakus tidak permanen yaitu dibuat hanya dengan membuat lubang agak besar yang tidak jauh dari rumah dan kamar mandi. Dinding kakus juga terbuat dari spanduk bekas. Adapun anak dari Pak UI dan Ibu S adalah MA (laki-laki, berumur 21 tahun) lulus STM dan bekerja sebagai buruh genting pres ,MI (perempuan,18 tahun ) lulus SLTP, MU ( laki-laki, 14 tahun ) drop out kelas 2 SD, ME (perempuan, 11 tahun) duduk dikelas 5 Sekolah Dasar Meteseh 02. Seperti layaknya desa yang lain, warga Desa Meteseh sering mengadakan kegiatan masyarakat seperti jamaah Berjanjen dan Yasin, PKK, gotong royong dan kegiatan masyarakat yang lain. Sebagai warga, Pak UI dikatakan sebagai warga yang pasif dengan kegiatan masyarakat karena jarang dirumah, ketika Pak UI dirumah dan ada undangan rapat warga atau undangan tahlilan kadang diwakilkan oleh anaknya yang pertama yaitu MA. Lain halnya dengan Ibu S, beliau sudah hampir satu tahun tidak mengikuti kegiatan jamaah Yasin dan Berjanjen yang diadakan setiap hari rabu malam. Waktu itu Ibu S mengundang jamaah untuk datang kerumahnya, namun hanya dua orang saja yang datang padahal Ibu S sudah mempersiapkan segalanya termasuk makanan. Alasan jamaah lainnya tidak datang karena di rumah Pak UI dan Ibu S ada seekor anjing. Ketidakhadiran jamaah tersebut

80

akhirnya Ibu S memilih untuk keluar meskipun pemimpin jamaah sering memintanya untuk mengikuti kegiatan tersebut. 2. Pendidikan Yang Diterapkan Oleh Keluarga Informan Pak UI dan Ibu S selama ini mempunyai cita-cita jika anak-anaknya sudah besar nanti bisa hidup lebih baik dari pada kehidupan Pak UI dan Ibu S seperti saat ini. Mereka memiliki cita-cita yang demikian karena mereka merasakan bagaimana susahnya menjadi orang yang serba kekurangan. Selain itu jika mereka sudah menjadi orang yang sukses harus menjadi orang yang dermawan terhadap orang yang kurang mampu dan yang lebih penting lagi harus ingat dan mengerti terhadap saudara dan kedua orang tuanya yang telah membesarkan mereka sejak kecil. Keluarga Pak UI mempunyai saat-saat tertentu untuk berkumpul, yaitu pada sore hari tepatnya pada saat menjelang maghrib. Menurut

mereka hal tersebut tidak pernah terencana, melainkan karena waktu tersebut bagi mereka adalah waktu santai. Biasanya mereka berkumpul di ruang tamu sambil makan-makanan kecil atau kadang mereka makan sore bersama. Pada saat-saat itulah keluarga Pak UI bergurau, berdiskusi kecil dengan anak-anaknya dan waktu tersebut digunakan Pak UI dan Ibu S untuk menasehati anak-anaknya. Pak UI dan Ibu S dalam mengasuh anak-anaknya tidak menerapkan apa yang mereka terima dari kedua orangtuanya. Menurut Pak UI, hal ini karena Pak UI dahulu tidak diasuh oleh orangtuanya tetapi diasuh oleh

81

saudaranya. Sehingga apa yang pernah Pak UI rasakan tidak ingin anakanaknya merasakan kepahitan yang Pak UI alami. Ibu S tidak pernah memanjakan salah satu dari anak-anaknya, begitu juga dengan jumlah uang saku yang diberikan kepada anak-anaknya. Ibu S menyesuaikan sedikit banyaknya uang yang dibutuhkan oleh masing-masing anaknya. Menurut Ibu S jika anak dimanja, maka anak akan sulit untuk berpikir lebih dewasa. Lain halnya dengan Pak UI, Pak UI memanjakan salah satu dari keempat anaknya. Yaitu Pak UI merasa lebih sayang kepada anaknya yang nomor dua MI. Hal tersebut disebabkan karena pada saat MI masih kecil, MI yang sering mengambil uang milik Pak UI dan Ibu S dituduh mencuri perhiasan milik tetangganya. Dan karena malu dan sangat marah MI dipukul sampai sulit untuk bernafas. Dan akhirnya Pak UI menyesal dengan perbuatannya tersebut apalagi setelah mengetahui bahwa sebenarnya bukan MI yang mengambil. Dengan kejadian tersebut, Pak UI sampai sekarang tidak pernah marah kepada MI sebesar apapun kesalahannya. Bukan itu saja, Pak UI juga sering memberikan uang jajan kepada MI tanpa sepengetahuan Ibu S. Meskipun Ibu S sering mengetahuinya dan akhirnya Ibu S akan marah-marah, tetapi Pak UI tetap saja memberikan uang jajan tambahan kepada MI. Hal ini juga diakui oleh MI sendiri bahwa dirinya merasa lebih dekat dengan Pak UI daripada Ibu S karena Pak UI sering memberinya uang.

82

“ Kalau aku memang lebih dekat dengan bapak, karena bapak sering memberiku uang. Dan kadang aku minta ke bapak dan minta bapak untuk tidak bilang ke ibu. Kalau tau ya..aku dimarahi...” Tetapi menurut MA anak pertama Pak UI, dia tidak merasakan bahwa salah satu diantara mereka ada yang dimanja. “ Ya...mungkin itu perasaan ibu saja. Wajarlah kalau sampai adikku minta uang ke bapak tidak sepengetahuan ibu, mungkin ada kebutuhan mendadak..” Ketika anak-anak Pak UI melakukan kesalahan, Pak UI dalam mensehati keempat anaknya-anaknya dengan memahami sifat anakanaknya.menurut Pak UI cara menasehati dengan cara yang halus dan

disesuaikan dengan sifat masing-masing anak adalah cara yang terbaik agar anak-anaknya tidak melakukan kesalahan. Yang mendorong Pak UI melakukan hal tersebut, yaitu agar anak-anaknya lebih dekat dengan orang tuanya dan anak akan merasa diperhatikan. Dan hal tersebut seperti penuturan dari keempat anaknya, bahwa Pak UI bukan sesosok bapak yang galak. Tetapi pada saat peneliti menanyakan tentang Ibu S kepada anakanak mereka, mereka mengakui bahwa Ibu S adalah ibu yang pemarah . Karena Ibu S selalu marah-marah dan ketika anak-anaknya melakukan kesalahan meskipun jarang memukul. Ketika penelitian sedang dilakukan, Pak UI maupun Ibu S dalam menasehati ketika anak-anaknya melakukan kesalahan cenderung menggunakan kata-kata kasar yang kurang normatif.. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan dari tetangga Pak UI, Ibu M :

83

“...marah-marah kalau anaknya salah. Kedengeran dari sini lho...” Begitu juga dengan pernyataan Ibu P: “..jangankan Ibu S, aku juga galak sama anak-anak kalau anakanakku tidak nurut..tapi Ibu S ngomongnya kasar sama anaknya...” Pak UI dan Ibu S mempunyai perhatian terhadap sekolah anakanaknya meskipun pada kenyataanya anak-anak mereka saat ini yang masih sekolah hanya anaknya yang nomor empat. Salah satu hambatannya yaitu karena keadaan ekonomi keluarganya. Menurut MA anak pertama dari Pak UI dan Ibu S, MA sebenarnya mempunyai keinginan untuk kuliah namun karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai akhirnya MU tidak melanjutkan kuliah . Begitu juga dengan MI anak kedua dari Pak UI dan Ibu S, ia tidak mau melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena merasa kasihan kepada orang tuanya yang tidak mampu untuk membiayai sekolah. Pak UI dan Ibu S membiarkan anak ketiganya yaitu MU drop out di kelas dua dengan alasan mereka tidak mau memaksa anaknya untuk sekolah. Menurut cerita Ibu S dan Pak UI alasan MU memilih untuk tidak sekolah karena malu. MU waktu itu tinggal kelas, sampai akhirnya ketika ME adiknya naik di kelas tiga, MU masih di kelas dua. Selain itu karena MU sering disuruh guru kelasnya setiap pagi mengambil es dari rumah guru kelasnya untuk dibawanya ke sekolah dan sepulang sekolang harus mengembalikan, yang pada akhirnya MU berpikir bahwa dirinya sebagai suruhan.Tetapi menurut pengakuan MU, MU tidak sekolah karena dirinya selalu mendapatkan hukuman dari guru kelas karena sering mengganggu teman-temannya.

84

Meskipun sudah dinasehati bahkan sampai dipukul agar mau berangkat sekolah, MU tetap memilih tidak mau berangkat ke sekolah. penuturannya: “ Digebuk kakange yo wis tau, tak tambahi sangune yo tetep ora gelem. Wis tak kandhani...tetep ora gelem sekolah, yo wis..daripada takpekso malah nggawe bingunge wong tuwo...” (Dipukul kakaknya juga sudah pernah, uang saku ditambah juga tetap tidak mau berangkat. Sudah saya nasehati... tetap tidak mau sekolah. Ya sudah....daripada saya paksa justru membuat bingung orang tua....) Pada saat walikelas mengundang orang tua murid, yang sering datang kesekolah yaitu Ibu S. Seperti penuturan Ibu S, bahwa Pak UI belum pernah mendatangi sekolah dari keempat anak-anaknya dengan alasan malas. Oleh karena itu yang lebih mengetahui perkembangan anak-anaknya di sekolah adalah Ibu S yaitu dari hasil rapor dan dari menanyakan tentang anak-anaknya kepada guru kelasnya. “ Bapakne bocah-bocah ora tau gelem ning sekolahan... njipuk rapot yo aku, undangan rapat yo aku, njupuk ijazah kelulusan yo aku....alasane yo mung njawab males ki, pie meneh..tekan saiki ki lho, ora tau gelem..dadi ono opo-opo karo bocah-bocah ning sekolahan yo aku...” (Bapaknya anak-anak sering tidak mau datang ke sekolah .... ambil raport saya, undangan rapat juga saya, ambil ijazah kelulusan juga saya... alasannya hanya malas, gimana lagi ....sampai sekarang ini lho, tidak pernah mau ... jadi ada apa-apa dengan anak-anak di sekolah juga saya .....) Seperti

85

Apabila anak-anak Pak UI mengalami kesulitan mengerjakan PR, biasanya mereka meminta bantuan kepada kakaknya atau jika Pak UI bisa membantu dibantu oleh Pak UI . Ketika peneliti menanyakan kepada ME anak keempat Pak UI siapa yang membantu mengerjakan PR, ME menjawab bahwa kakaknya dan kadang Pak UI yang membantu mengerjakannya. Seperti penuturannya : “Yang mbantu ya...kakakku. Kadang bapak kalau bahasa Jawa..” Hal ini disebabkan karena Pak UI dahulu tidak sekolah (drop out) begitu juga dengan istrinya yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Pak UI dan Ibu S,mempunyai batasan waktu bermain kepada anak-anaknya. Hal ini menurut mereka, anak butuh bermain tetapi waktu bermain mereka ada batasannya. Misalnya anak-anak dilarang bermain ketika waktu belajar dan setelah jam sembilan malam kecuali esok harinya adalah libur yaitu sampai jam sepuluh malam.Pak UI dan Ibu S mengijinkan mereka bermain malam hari karena mereka tahu bahwa anaknya menonton televisi di tetangganya yang tidak jauh dari rumahnya bahkan tidak jarang pula Ibu S ikut bersama mereka. Di lain waktu , ketika peneliti menanyakan perihal MU yang setiap harinya dihabiskan untuk bermain dan meonton televisi di tetangganya, peneliti menyimpulkan bahwa Pak UI dan Ibu S bersikap membiarkan. Seperti penuturannya :

86

“ Dipekso kon ora dolan yo ora gelem...pie meneh, daripada nggawe ribut ning ngomah...takkon ngrewangi nggolekke kayu yo ora mesti gelem...” (Saya paksa untuk tidak bermain juga tidak mau... bagaimana lagi, daripada membuat ribut di rumah... saya suruh membantu mencari kayu juga belum pasti mau.. ) Pergaulan anak-anak Pak UI dan Ibu S dibatasi. Mereka diperbolehkan bermain dengan siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini juga seperti yang dinyatakan oleh tetangga Pak UI Ibu M dan Ibu W, bahwa anak Pak UI yaitu MA dan MI sering didatangi teman-temannya. Tidak seperti anak lainnya, meskipun sama-sama sekolah tetapi MA dan MI banyak dikunjungi teman-temannya. Tetapi oleh Pak UI mereka dilarang untuk mengikuti tingkah laku teman-teman mereka yang tidak baik. Menurut Pak UI dan Ibu S, jika anakanak mereka tidak dibatasi mereka takut anak-anaknya akan terjerumus terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama kepada anak-anak Pak UI dan Ibu S yang pertama dan kedua yaitu MA dan MI yang menurut Pak UI mereka sudah menginjak dewasa. Sebagai orang tua, Pak UI dan Ibu S selalu menasehati bagaimana bergaul dengan teman sebaya, dengan teman yang lebih muda, dengan orang yang usianya lebih tua dan dengan tetangga. Karena Pak UI menginginkan anak-anaknya bisa bergaul dengan siapa saja tetapi harus dengan aturan-

87

aturan agar anak-anaknya tidak dikatakan sebagai anak yang sombong. Hal ini juga seperti penuturan dari MA : “Kalau orang tuaku membatasi pergaulan ndak...ya itu tadi, asal tau aturan jangan ikut sana sini tapi nggak tau arah. Karena orang tuaku juga berpikir kalau anak selalu bergaul bebas juga tidak baik, kurang pergaulan juga kurang baik”. Aturan-aturan yang diterapkan kepada anak-anak Pak UI misalnya terhadap teman sebaya saling pengertian , saling menghargai, tidak membeda-bedakan si kaya dengan si miskin diantarnya. Terhadap anak yang usianya lebih muda harus menyayangi, tidak menganggu. Terhadap orang yang usianya lebih tua, terhadap tetangga misalnya harus sopan-santun,. Menurut Pak UI , hal itu dilakukan dengan harapan agar anak-anaknya bertingkah laku baik di masyarakat meskipun anak orang miskin . Pendidikan kepada anak tentang perbedaan jenis kelamin menurut Pak UI dan Ibu S adalah sangat penting untuk menunjukkan kepada mereka bahwa anak-anak mereka tersebut laki-laki atau perempuan. Misalnya sejak kecil anaknya yang laki-laki diberi mainan, diajak bermain permainan lakilaki, memakai pakaian anak laki-laki. Begitu juga sebaliknya untuk anaknya yang perempuan. Selain itu, pergaulan tentang perbedaan jenis kelamin menurut mereka sangat penting terutama untuk MA dan MI yang menurut Pak UI dan Ibu S, mereka sudah menginjak dewasa dan sudah besar. Sebagai orang tua, Pak UI dan Ibu S sangat tidak menginginkan anakanaknya terjerumus kepada hal-hal yang tidak didinginkan. Misalnya,

88

anaknya hamil muda. Seperti saat ini fenomena yang banyak terjadi baik di kota maupun didesa. Selain itu juga dari informasi yang Pak UI dan Ibu S peroleh dari media elektronik maupun media cetak. Seperti penuturannya : “ ... aku iso ngerti berita ki yo seko koran nek ning Semarang... nek ning ngomah yo seko radio... ben ora ketinggalan informasi” (Aku bisa tahu berita itu ya dari koran kalau di Semarang.. kalau di rumah ya dari radio...biar tidak ketinggalan informasi) Hal ini juga ditambahkan oleh Ibu S: “ Bapakne ngono iso moco koran...aku iso ngerti berita yo seko radio opo meneh nek bapakne ning ngomah, senengane ngrungokke berita...” ( Bapak bisa baca koran...aku tidak bisa membaca ya dari radio apa lagi kalau bapak dirumah, sukanya mendengarkan berita...) Ketika peneliti menanyakan kepada anak Pak UI tentang acara radio yang sering didengar oleh Pak UI,mereka mengakui bahwa Pak UI sering mendengarkan berita, tembang kenangan dan wayang orang. Seperti pengungkapan MI anak kedua Pak UI kepada peneliti : “Bapak suka ndengerin radio tu..berita, tembang kenangan dan kalau tiap malam mesti nyari siaran wayang kulit...” Dengan hal ini, Pak UI dan Ibu S selalu meminta anak-anaknya untuk meminta ijin terlebih dahulu ketika mereka ingin pergi bermain dan harus terbuka kepada kedua orang tuanya dengan siapa mereka berteman.

89

Pendidikan agama telah ditanamkan oleh Pak UI dan Ibu S sejak anak-anaknya masih kecil bahkan sampai sekarang. Hal tersebut menurut Pak UI dan Ibu S untuk benteng bagi anak-anaknya selama mereka hidup di dunia agar tidak terperdaya dengan kehidupan yang fana ini. Pendidikan agama ditanamkan sejak kecil oleh Pak UI dan Ibu S, karena apabila ditanamkan sejak kecil maka anak akan lebih meyakini akan kebenaran agama yang dianutnya. Bentuk Pak UI dan Ibu S dalam memberikan pendidikan agama yaitu misalnya selalu mengingatkan anak untuk sholat lima waktu, jika masuk rumah dan dari pergi harus mengucap salam, berdoa pada waktu akan dan sesudah makan, akan dan sesudah tidur, dandisuruh untuk mengikuti kegiatan keagamaan misalnya kumpulan jamaah Yasin remaja, diikutkan TPQ pada sore hari diantaranya. Anak-anak Pak UI dan Ibu S tidak ada yang diberi tanggung jawab untuk membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah. Menurut Ibu S, hal ini pernah diberlakukan kepada anaknya namun anakanaknya sering tidak mengerjakan, sehingga akhirnya pekerjaan rumah hampir semuanya dikerjakan oleh Ibu S dan anak Ibu S yang kedua kadangkadang membantunya. C. Analisis Hasil Penelitian Pendidikan merupakan suatu kebutuhan sosial yang sangat besar tuntutannya untuk dapat dipenuhi setiap saat. Pendidikan dengan segala bentuknya terutama pendidikan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap arah dan wajah masa depan seseorang. Karena itulah pentingnya pendidikan

90

keluarga menjadi syarat tersendiri bagi terpenuhi atau tidaknya kebutuhan akan pendidikan yang merupakan pendidikan dasar bagi anak. Kesadaran itu dapat muncul dan kemudian menetap dalam diri seseorang tentunya melalui suatu proses tersendiri, karena bagaimanapun pandangan dan tindakan yang muncul sebagai efek sebuah kesadaran adalah merupakan suatu proses tersendiri pula. Pada konteks keluarga yang merupakan unit terkecil dari suatu masyarakat, kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga akan menciptakan suatu pola tertentu terutama pola yang diciptakan orang tua yaitu sebagai pendidik . Pola pendidikan anak yang diterapkan oleh keluarga yang satu dengan keluarga yang lain tidak sama. Salah satunya yaitu yang diterapkan oleh sebuah keluarga yang memiliki penghasilan rendah atau miskin. 1. Pola Pendidikan Anak yang Diterapakan Oleh Keluarga Miskin Pada bab sebelumnya telah dipaparkan hasil temuan lapangan yang menyangkut pola pendidikan anak yang diterapkan oleh sebuah keluarga miskin dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga tersebut menerapakan pola tertentu. Dari hasil penelitian dan penemuan di lapangan penulis dapat menganalisis bahwa keluarga Pak UI dan Ibu S menerapkan dua pola dalam mendidik anak-anaknya. Pola yang pertama yaitu pola pendidikan secara demokratis dan yang kedua yaitu pola permisive.

91

Sebagai orang tua, mereka mampu menyadari bahwa di tangan mereka terletak tanggungjawab untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi orang-orang yang terbaik yaitu terlihat dari cita-cita yang dimiliki Pak UI dan Ibu S terhadap anak-anaknya. Baik Pak UI maupun Ibu S menyadari apa yang mereka lakukan saat ini yaitu bagaimana mereka dalam mendidik, membimbing dan mengasuh anak-anak mereka merupakan apa yang akan kembali lagi kepada mereka dengan bentuk yang lebih baik. Dengan kata lain timbul kesadaran pada diri mereka bahwa pendidikan anak adalah suatu investasi tersendiri. Hal ini seperti hasil penelitian Suparlan (1980) dinyatakan bahwa rakyat miskin memiliki pola-pola hidup tertentu yang salah satunya adalah kesadaran bahwa pendidikan merupakan kunci untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Sebagai sebuah keluarga, dapat dikatakan bahwa keluarga ini telah mampu menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik (Bab II hal 25-27) sehingga dapat menyumbang secara significan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menjadi anggota dari keluarga ini, yaitu terlihat dari kesadaran orang tua akan tanggung jawab mereka terhadap anak-anaknya. Terlepas dari pembedaan kasih sayang ataupun pembedaan perlakuan terhadap masing-masing anak yang terjadi pada keluarga ini, baik Pak UI dan Ibu S dapat dikatakan sebagai orangtua yang cukup menyadari akan tanggung jawab yang mereka miliki terhadap anak-anak mereka meskipun dalam memenuhi kebutuhan anak terutama pendidikan anak

92

diukur dengan kemampuan mereka. Mereka menyadari bahwa pendidikan yang mereka berikan dalam keluarga akan mampu membuat anak-anaknya memiliki dasar untuk hidup di lingkungan yang lebih luas. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Pendidikan Anak Setiap individu melakukan suatu kegiatan dipengaruhi oleh satu atau bahkan beberapa faktor. Begitu juga suatu pola pendidikan anak yang diterapkan oleh sebuah keluarga akan memiliki faktor-faktor yang

mempengaruhi orang tua sebagai pendidik menerapkan pola pendidikan anak. Hasil analisis penulis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu keluarga menerapkan pola pendidikan anak, yaitu : a. Faktor pengalaman pribadi orang tua sebagai pendidik Pengalaman merupakan pendidikan yang tidak ternilai harganya. Faktor pengalaman yang dialami dan dimiliki oleh orang tua adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan pola apa yang diterapkan untuk anak-anaknya dibandingkan dengan faktor yang lain. Faktor pengalaman ini terutama sekali ditentukan oleh faktor pengalaman pendidikan yang mereka dapatkan. Bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya didasari oleh kenyataan dan harapan mereka agar anak-anak mereka tidak mengalami nasib yang sama atau agar anakanak bisa memiliki keberhasilan hidup seperti mereka. Dari faktor pengalaman itu pada akhirnya akan terbentuk suatu pandangan tertentu

93

sehingga sebagai dasar mengapa mereka menerapkan pola tersebut kepada anak-anaknya. Besarnya rasa tanggung jawab pada prose pendidikan anak dalam keluarga Pak UI merupakan contoh betapa pengalaman tidak diasuh oleh orang tua menjadi suatu pengalaman berharga bagi dirinya untuk memperhatikan anak-anaknya. Pengalaman pahit yang dialaminya menjadi sebuah pengingat bagi diri Pak UI tentang tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk mengasuh anak-anaknya. Kesempatan untuk menikmati bangku sekolah adalah kesempatan yang dimiliki untuk setiap individu. Begitu juga dengan anak-anak Pak UI dan Ibu S yang diberikan kesempatan untuk menikmati bangku sekolah sesuai dengan kemampuan Pak UI dan Ibu S dalam membiayai meskipun ada salah satu dari keempat anaknya yang drop out. Hal ini merupakan salah satu contoh pengalaman yang pada akhirnya mereka memiliki suatu pandangan bahwa anaknya baik laki-laki maupun perempuan harus sekolah. b.Faktor curah waktu Curah waktu bagi anak-anak merupakan faktor kedua yang mempengaruhi pola orangtua terhadap pendidikan anak dalam keluarga. Waktu yang dimiliki oleh orang tua bagi anak adalah hal yang perlu diperhatikan. Dimana orangtua akan mengetahui perkembangan anak dari tingkah laku, sikap dan permasalahan yang dihadapi anak. Banyak

sedikitnya waktu yang dimiliki oleh orang tua untuk anak-anak adalah suatu perhatian khusus terhadap anak-anak. Anak-anak akan merasa diperhatikan.

94

Penulis menganalisis bahwa Pak UI dan Ibu S sebagai orang tua dalam memberikan waktu untuk anak-anak cukup tetapi dari waktu yang dimiliki membuat anak dalam suatu pola permisive terutama pada siang hari ketika Pak UI dan Ibu S bekerja mereka tidak bisa memantau dan mengontrol keadaan anak-anak dirumah. c. Faktor lingkungan masyarakat Lingkungan adalah faktor ketiga. Hal ini karena lingkungan masyarakat merupakan lingkungan yang paling luas. Dimana anak-anak akan memperoleh pendidikan yang dilakukan diluar sehingga anak akan memiliki kesempatan dalam mengembangkan kreatifitasnya. Pengaruh lingkungan masyarakat yang bersifat negatif dan positif dihadapi anak-anak sejak mereka mulai mengenal lingkungan masyarakat pertama kali. Anakanak harus bisa mengenal lingkungan dan bisa mengendalikan dan memilah pengaruh –pengaruh masyarakat yang mudah mempengaruhi mereka. Informasi yang lain dari lingkungan masyarakat yaitu informasi guru dari sekolah. Karena perhatian orangtua pada saat anak sekolah terlepas dan berpindah menjadi tanggungjawab guru. Tetapi bukan berarti orang tua sama sekali tidak bertanggungjawab dalam memperhatikan perkembangan anak. Seperti keluarga Pak UI dan Ibu S, informasi tentang anak terutama prestasi anak diperolehnya ketika walikelas mengundang walimurid dan biasanya ketika pembagian rapor. Faktor ini merupakan faktor pendukung bagi orang tua dalam menerapkan pola pendidikan anak dalam keluarga.

95

Hasil analisis yamg lain dari penelitian yang penulis lakukan, Pak UI dan Ibu S membatasi waktu bermain tetapi memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk bergaul dengan siapa saja dengan aturan-aturan tertentu merupakan sebab dari luasnya lingkungan masyarakat dan sifat-sifat yang dimiliki oleh lingkungan masyarakat itu sendiri. d. Faktor informasi dari media Faktor informasi dari media merupakan faktor yang tidak menjadi faktor dominan dalam mempengaruhi orang tua dalam menerapkan pola pendidikan anak di keluarga. Media disini adalah berupa televisi, radio dan surat kabar bukanlah sarana sosial yang dapat diakses dengan mudah oleh keluarga yang menjadi informan penelitian ini. Hal ini dapat diketahui bahwa keluarga tersebut bukan merupakan pelanggan koran atau majalah tertentu. Bukan berarti mereka sama sekali tidak pernah melihat televisi, mendengarkan radio maupun membaca koran, tetapi berdasarkan observasi yang berhasil dilakukan, terlihat meskipun menonton televisi di rumah tetangga seperti yang dilakukan Ibu S , maka beliau lebih sering menonton program sinetron atau film atau program musik saja bahkan jarang sekali melihat atau mendengar program yang mampu mempengaruhi mereka sebagai orang tua untuk menerapkan pola pendidikan anak-anaknya di dalam keluarga Pak UI dan Ibu S.

96

BAB V PENUTUP

A. SIMPULAN

97

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna mampu bertahan hidup dengan berbagai latar belakang kondisi apapun yang menyertai kehidupannya. Kemiskinan sebagai suatu masalah sosial yang kompleks, telah pula membawa manusia pada berbagai realita yang tidak dapat dianggap sebelah mata. Keluarga sebagai suatu masyarakat terkecil dalam masyarakat merupakan suatu lingkungan awal bagi pendidikan anak-anaknya sebagai anggota keluarga. Dengan pendidikan yang dilakukan secara terus menerus, akan memperlihatkan pola pendidikan tertentu dimana pendidikan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama bulan Februari sampai akhir Maret di Rw 003 Rt 003 Desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal pada keluarga Pak UI yang berasal dari latar belakang keluarga miskin diperoleh simpulan sebagai berikut : 1. Pola pendidikan anak yang diterapkan oleh keluarga Pak UI adalah pola permissive dan pola demokratis. Pola permissive terlihat dalam cara mendidik,membimbing dan merawat serta mengasuh anak-anaknya cenderung bebas tanpa aturan-aturan keluarga yang jelas. Dan pola ini lebih pada MU anak ketiga Pak UI. Pola demokratis lebih diterapkan kepada anak Pak UI yang pertama dan kedua yaitu memberikan kesempatan untuk berbicara, berpendapat dan mengemukakan pandangan serta berargumentasi yang disesuaikan dengan aktifitas dan kebutuhan masing-masing anaknya.

98

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pak UI dan Ibu S menerapkan pola permissive dan demokratis adalah sebagai berikut : a. Faktor pengalaman pribadi orang tua sebagai pendidik Pada keluarga Pak UI, pengalaman hidup Pak UI dan Ibu S merupakan faktor dominan yang mempengaruhi mereka sebagai orang tua sekaligus sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga. Pengalaman pendidikan masa kecil yang diperolehnya dari orang tuanya dahulu adalah suatu pengalaman pahit bagi mereka sehingga mereka mempunyai keinginan agar anakanaknya tidak merasakan kondisi yang sama. b. Faktor curah waktu Faktor curah waktu yang diberikan kepada anak-anaknya adalah faktor kedua. Faktor ini mempengaruhi karena Pak UI dan Ibu S setiap hari harus bekarja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehingga waktu untuk berkumpul dengan anak-anaknya terbatas.. c. Faktor lingkungan masyarakat Masyarakat adalah lingkungan yang sangat luas. Dampak dari masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Apabila orang tua sebagai pendidik dalam keluarga tidak mampu memberikan pendidikan, arahan dan bimbingan kepada anak-anaknya maka anak-anak akan cepat terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat negative. Oleh sebab itu Pak UI dan Ibu S memberikan suatu kebebasan kepada anak-anaknya dalam bergaul dengan disertai arahan dan aturan-aturan di dalam kebebasan yang diberikan tersebut. d. Faktor informasi dari media

99

Informasi yang paling cepat adalah dari media. Koran, televise dan radio adalah contoh diantaranya. Meskipun informasi dari media bukan faktor yang dominan, namun faktor ini mampu mempengaruhi Pak UI dan Ibu S dalam mendidik anak-anaknya.

B. SARAN-SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran yang dapat berguna bagi beberapa keadaan dan kelompok sasaran tertentu, sebagai berikut : 1. Kepada Pak UI dan Ibu S untuk meningkatkan perhatian kepada anakanaknya terutama dalam akhlaq. Dan seyogyanya Pak UI dan Ibu S dapat dijadikan suri tauladan bagi anak-anaknya. 2. Pada penulisan-penulisan lebih lanjut tentang penelitian yang sama, menggunakan subjek penelitian lebih dari satu.

100

DAFTAR PUSTAKA

Achir, A Y.1994. Peranan Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta. BKKBN. Alvian,V.2002.Proposal Skripsi : Pandangan Orang Tua Dari Keluarga Miskin Tentang Pendidikan Anak (Studi Kasus 3 Keluarga Miskin di Kelurahan Kemiri Muka,Depok).FISIPOL Universitas Indonesia. Arsyad, L.Ekonomi Pembangunan. Edisi 4. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Djojonegaro,W.1993. Pengarahan Menteri Dikbud Pada Rapat Pendidikan Nasional. Depdikbud, Bogor Sawangan. Gunarsa,Ny Singgih D.1985. Psikologi untuk Keluarga. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. Hauck, Paul.1986. Mendidikan Anak Dengan Berhasil. Jakarta. Arcon. Jhonson,Doyle Paul.1981. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid 1,Jakarta: PT Gramedia. Pramuwito. 1998.Penelitian Tindakan(Action Research) Pengembangan Masyarakat Giri Rejo. Yogyakarta:Dep. Sos RI BaLitBang Kesejahteraan Sosial. Rohidi, T.R.2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung : Penerbit Nuansa. Sajogja, Sajogja & Pudjiwati.1989. Sosiologi Pedesaan. Jilid 2. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Suparlan, P.1995. Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa. Surayin.2004.Undang-Undang Sisdiknas (Tanya Jawab).Bandung:CV.Yrama Widya “Dunia Pendidikan dan Krisis Moneter”, dalam Kompas,5 Maret 1998. “Keppres : Dua Persen untuk Masyarakat Miskin”, dalam Kompas, 9 Januari 1996. Membangun Keluarga Sejahtera secara Mandiri, Jakarta :BKKBN, 1996..

101

PEDOMAN WAWANCARA

Identitas Informan

Nama Lengkap

:

Tempat ,Tanggal Lahir / Usia : Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga : : : : : ( Ayah / Ibu )

Data Anak

NO

Nama Lengkap

Tempat, Tanggal Lahir

Pendidikan

102

INSTRUMEN WAWANCARA
INSTRUMEN UNTUK ORANG TUA

1. Bapak / ibu mempunyai cita-cita apa jika anak-anak ( laki-laki dan perempuan ) sudah besar nanti ? 2. Mengapa berpendapat demikian ? 3. Sejak pukul berapakah bapak/ ibu bekerja ? 4. Diantara bapak dan ibu siapakah yang lebih banyak waktu dirumah ? 5. Kegiatan masyarakat apa sajakah yang diikuti bapak/ibu? 6. Kapan kegiatan tersebut dilaksanakan ? 7. Apakah bapak/ibu mempunyai waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga ? 8. Kapankah bapak/ibu melakukan hal tersebut ? 9. Mengapa hal tersebut bapak/ibu lakukan ? 10. Dalam kegiatan tersebut apa sajakah yang biasanya dilakukan ? 11. Apakah bapak/ibu memanjakan salah satu dari anak-anak bapak/ibu ? 12. Mengapa bapak/ibu melakukan hal tersebut ? 13. Apakah cara bapak / ibu dalam mengasuh anak-anak sama dengan orang tua Anda dulu ? 14. Apa yang mendorong bapak / ibu mengasuh anak-anak dengan cara demikian ? 15. Menurut bapak / ibu apakah pendidikan bapak / ibu dahulu berpengaruh terhadap keadaan ekonomi bapak/ ibu sekarang ? 16. Apakah bapak/ibu dalam mengasuh anak dibantu oleh orang lain ? 17. Jika ya, siapakah yang membantu bapak/ibu mengasuh anak? 18. Mengapa bapak/ibu meminta bantuannya ? 19. Siapakah yang sering datang ke sekolah ketika walikelas mengundang orang tua murid ? 20. Mengapa ?

103

21. Bagaimana bapak/ ibu dapat mengetahui perkembangan anak di sekolah ? 22. Apa yang bapak / ibu lakukan ketika anak mengalami kesulitan mengerjakan PR di rumah ? 23. Apakah bapak/ ibu membatasi waktu bermain anak ? 24. Mengapa demikian ? 25. Apakah bapak/ ibu membatasi pergaulan anak-anak ? 26. Mengapa berpendapat demikian ? 27. Apa saja yang bapak / ibu terapkan pada anak-anak ketika mereka bergaul dengan teman sebaya? 28. Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih tua dari mereka? 29. Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih muda dari mereka? 30. Mengapa bapak/ibu menerapkan hal-hal tersebut pada si anak ? 31. Menurut bapak/ibu pentingkah pendidikan kepada anak tentang

perbedaan jenis kelamin ? 32. Mengapa demikian ? 33. Bagaimana bapak /ibu mengenalkan pendidikan untuk perbedaan jenis kelamin? 34. Upaya-upaya apa sajakah yang bapak/ibu lakukan terhadap anak agar si anak tidak melakukan kesalahan dalam bertindak ? 35. Ketika anak memperoleh suatu prestasi dalam hal belajar, apa yang bapak/ ibu lakukan untuk anak ? 36. Sejak kapan bapak / ibu mengenalkan pendidikan agama ? 37. Mengapa bapak/ibu mengenalkan pendidikan sejak…..? 38. Bagaimana cara bapak / ibu menanamkan pendidikan agama ? 39. Dalam bentuk apakah bapak/ibu mengenalkan pendidikan agama ? 40. Apakah anak-anak diberi tanggung jawab untuk mengerjakan suatu pekerjaan dalam membantu pekerjaan rumah ? 41. Mengapa ? 42. Apabila anak tidak melakukan pekerjaan tersebut apakah anak diberi suatu sanksi ?

104

43. Jika ya, dalam bentuk apakah sanksi tersebut ? 44. Ketika anak berbeda pendapat dengan bapak/ ibu, bagaimana bapak/ ibu menyelesaikannya ? 45. Bagaimana cara bapak/ibu dalam menanamkan disiplin pada anak yang dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi ? 46. Apakah yang bapak/ibu terapkan ketika ada tamu dirumah ? 47. Apakah bapak/ibu dalam memberikan uang jajan antara anak yang satu dengan yang lain sama ? 48. Mengapa demikian? 49. Ketika anak meminta sesuatu sedangkan bapak/ibu tidak memiliki uang yang cukup bahkan tidak ada, apa yang bapak/ibu lakukan terhadap sang anak ? 50. Bagaimana cara bapak/ibu mendidik anak agar anak mempunyai rasa suka menabung ?

INSTRUMEN PENDUKUNG UNTUK ANAK

1. Apa cita-citamu untuk orang tuamu ? 2. Mengapa ? 3. Apakah kamu berbahasa jawa kromo ketika berbicara dengan kedua orang tuamu? 4. Mengapa ? 5. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu melakukan kesalahan ? 6. Apakah orang tuamu sering memukulmu ketika kamu melakukan kesalahan? 7. Bagaimana sikapmu terhadap tindakan orang tuamu tersebut ? 8. Apakah orang tuamu membatasi waktu bermain kamu ? 9. Apakah orang tuamu membatasi kamu bergaul dengan seseorang ? 10. Mengapa demikian ? 11. Siapakah yang membantumu mengerjakan PR ?

105

12. Apakah buku-buku pelajaran yang kamu miliki lengkap? 13. Bagaimana sikap kedua orang tuamu ketika kamu menginginkan membeli sesuatu dan meminta uang kepada mereka ketika mereka tidak bisa memenuhi permintaanmu ? 14. Pekerjaan rumah apa yang kamu lakukan ? 15. Ketika kamu tidak melakukan apa yang bapak / ibumu lakukan terhadapmu ? 16. Apakah uang jajan yang kamu terima sama dengan yang diterima saudaramu yang lain ? 17. Apakah kamu suka menabung ? 18. Mengapa ? 19. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu bangun pagi terlambat ? 20. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu terlambat pulang sekolah? 21. Kegiatan masyarakat apa saja yang kamu ikuti di masyarakat ? 22. Bagaimana pendapat orang tuamu ketika kamu mengikuti kegiatan tersebut ? 23. Ketika kamu memperoleh prestasi tertentu apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ? 24. Ketika kamu mempunyai masalah kepada siapa kamu meminta nasehat ? 25. Kamu lebih dekat dengan bapak atau ibu ? 26. Orang tuamu lebih suka program apa ketika melihat TV ? 27. Orang tuamu lebih suka program apa ketika mendengarkan radio ? 28. Apakah orang tuamu sering membaca koran ? 29. Koran apa yang sering dibaca orang tuamu? 30. Pernahkah kamu mendengar orang tuamu bertengkar ? 31. Sepengetahuanmu masalah apa biasanya yang mereka pertengkarkan ? 32. Bagaimana sikapmu sebagai anak ketika mengetahui mereka bertengkar ?

106

INSTRUMEN UNTUK TETANGGA 1. Berapa lama Anda bertetangga dengan keluarga Pak UI ? 2. Apakah Anda akrab dengan keluarga Pak UI ? 3. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S sering marah kepada anaknya ketika anaknya melakukan kesalahan ? 4. Apakah Anda sering melihat Pak UI atau Ibu S memukul anak-anaknya? 5. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengeluarkan kata-kata kotor ketika mereka sedang marah ? 6. Menurut Anda apakah Pak UI memanjakan salah anak-anaknya ? 7. Bagaimana dengan Ibu S ? 8. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengekang anak-anaknya ? 9. Menurut Anda apakah anak-anak Pak UI bebas pergaulannya? 10. Bagaimana tanggapan Anda terhadap anak-anak Pak UI ?

107

Lampiran 4

99

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: Pak UI : Jakarta, 31 Desember 1950 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Wiraswasta : Drop Out : Ayah

Pak UI bangun kira-kira pukul 05.00 pagi. Setelah sholat Subuh, membantu istrinya di dapur menunggui api karena memasaknya masih memakai tungku kayu. Setelah sarapan pagi, kemudian mandi. Santai, kadang menjemur kayu atau bersih-bersih kebun atau kadang mencari kayu atau kalau ada cucian kering menggosok pakaian dengan gosokan arang. Siang, sholat dhuhur kemudian makan siang dan istirahat biasanya tidur siang. Bangun kira-kira pukul 04.00 kemudian sholat Asyar. Kalau istrinya sudah mulai memasak menemani istrinya di dapur. Santai. Mandi sore. Santai menunggu Maghrib. Setelah sholat Maghrib, makan malam. Santai dengan istri dan anaknya yang berada di rumah. Setelah sholat Isya, tidur kurang lebih pukul 09.00 malam kadang sampai malam ngobrol dengan istri dan anaknya .

108

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: Ibu S : Salatiga,11 Desember 1967 / 38 tahun : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Buruh : Tidak Sekolah : Ibu

Setiap pagi Ibu S selalu membangunkan anak-anaknya kecuali MU. Menurutnya, beliau tidak membangunkan MU karena anak tersebut tidak mempunyai kegiatan seperti kedua kakaknya dan adiknya. MA harus bangun pagi karena harus bekerja ngepres, MI bangun pagi untuk membantu Ibunya membersihkan rumah dan membantu menyiapkan sarapan pagi dan ME harus bangun pagi karena harus kesekolah. Sedangkan ketika anakanak belum bangun setelah dibangunkan Ibu S, biasanya Ibu S akan teriakteriak kadang marah agar anaknya mau bergegas bangun. Setelah menyiapkan sarapan pagi dan menyelesaikan pekerjaan rumah serta sarapan pagi, Ibu S kemudian berangkat bekerja dan akan selesai bekerja kira-kira pukul 03.00 sore. Sesampainya di rumah biasanya Ibu S beristirahat sebentar. Setiap hari ME anak ketiga dari Pak UI dan Ibu S diikutsertakan kegiatan TPQ. Ibu S selalu memperhatikan kegiatan anaknya ini, yaitu Ibu S selalu menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi dan sholat Asar kemudian berangkat TPQ.

109

101

Kira-kira pukul 16.00 Ibu S memasak untuk mempersiapkan makan malam sambil membersihkan rumah dibantu oleh anaknya yang kedua dan setelah selesai mandi. Kadang-kadang jika suaminya tidak dirumah Ibu S bermain ke tetangga sampai Maghrib. Setelah sholat Maghrib, Ibu S makan malam terkadang sendirian terkadang bersama suaminya atau anaknya. Santai sampai dua anaknya pulang dari masjid. Setelah anaknya selesai mengerjakan PR biasanya ngobrol dengan suami dan anaknya dirumah. Jika si bungsu meminta ditemani menonton televisi di tetangga, Ibu S ikut menonton TV kira-kira sampai pukul 09.00 malam. Setelah sholat Isya, tidur.

110

102

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: MA : Kendal, 08 Juni 1984 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Buruh : Tamat SLTA : Anak ke-1

Dibangunkan oleh ibunya jam 05.00 pagi. Sholat Subuh, biasanya duduk di depan tungku api (gegarang) sambil minum teh hangat. Memberi makan ayam. Setelah sarapan pagi berangkat ngepres genting. Selesai kerja pukul 02.00 siang. Mandi dan Sholat Dhuhur, kemudian tidur siang sampai pikul 04.00 sore. Selesai sholat Asar, kemudian memberi makan ayam dan membersihkan kandangnya. Pukul 05.30 sore, mandi. Santai di ruang tamu, terkadang sambil makan sore atau bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya. Selesai sholat Maghrib, santai. Kemudian membantu adiknya mengerjakan PR. Setelah sholat Isya, ngobrol. Kemudian tidur kurang lebih pukul 09.00 malam.

111

103

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: MI : Semarang, 05 November 1987 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Belum Bekerja : Tamat SLTP : Anak ke-2

Dibangunkan Ibu S pukul sekitar 05.00-05.30 pagi. Sholat Subuh, kemudian membantu ibunya didapur atau membersihkan rumah. Sarapan pagi, kemudian mandi. Membantu ibunya bekerja (kerik genting). Pukul 11.00 pulang kerumah. Seringnya makan siang kemudian tidur siang. Setelah bangun dan sholat Dhuhur, kemudian tidur lagi atau main ke tetangga. Pukul 04.00 sore pulang main kemudian membereskan rumah dan membantu ibunya mempersiapkan makan malam. Sering pekerjaan belum selesai langsung mandi sore dan main. Setelah waktu Maghrib, berangkat ke Mushola, pulang selepas sholat Isya. Makan malam sambil ngobrol dengan anggota keluarga yang lain. Kadang membantu adiknya mengerjakan PR, kalau tidak membantu mengerjakan PR adiknya, nonton TV dengan adiknya (MI dan MU). Pulang kurang lebih pukul 09.00 malam kemudian tidur.

112

104

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: MU : Kendal, 10 September 1991 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 :: Drop Out : Anak 3

Bangun tidur waktunya tidak pasti, kadang pagi kadang siang. Setelah cuci muka, jika sarapan pagi sudah tersedia langsung sarapan pagi. Kemudian main atau mancing di sungai. Pulang kalau hanya ada perlu misalnya meminta uang jajan. Anak ketiga dari Pak UI dan Ibu S, jarang dirumah. Waktunya dihabiskan untuk bermain. Malam hari setelah makan malam kemudian nonton TV. Pulang paling lambat jam 10.00 kemudian tidur. Sering tidur di rumah tetangganya. Pulang kerumah kalau sudah pagi.

113

105

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan Posisi dalam Keluarga

: ME : Kendal, 26 April 1994 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Pelajar : SD : Anak 4

Bangun pagi dibangunkan oleh Ibu S pukul 06.30, sering bermain dahulu beberapa menit kemudian sholat Subuh. Setelah air hangat disiapkan, mandi pagi dan bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah sarapan pagi kemudian berangkat ke sekolah. Pulang ke sekolah kurang lebih pukul satu siang. Setelah ganti baju dan makan siang, kemudian sholat Dhuhur. Main sampai pukul 03.00 sore kemudian mandi. Setelah sholst Asar, berangkat TPQ. Pulang TPQ pukul 05.00 sore. Bercengkerama dengan anggota keluarga yang ada dirumah. Terdengar Adzan Maghrib, kemudian berangkat ke mushola. Pulang selepas Isya kemudian makan malam dan belajar apabila ada PR sekolah. Kalau tidak ada PR, biasanya dengan Ibu S menonton TV di tetangga. Pukul 09.00 malam pulang kemudian tidur.

114

HASIL WAWANCARA DENGAN ORANG TUA Bapak / ibu mempunyai cita-cita apa jika anak-anak ( laki-laki dan perempuan ) sudah besar nanti ? Pak UI : “Kalau saya ya…bisa hidup enak, senang, ingat dengan orang tua terutama sama ibunya, jadi orang yang suka mbantu orang, yang penting lagi hidupnya lebih enak dari saya” Ibu S : “Ya sama dengan bapaknya anak-anak.ini. Kalau bisa jadi orang, akur. Saya sebagai orang tua tidak meminta apa-apa kok..” Mengapa berpendapat demikian ? Pak UI : “Karena sejak kecil saya ikut Pakdhe. Dan ikut orang itu susah. Apalagi saya sering dibeda-bedakan. Bapak saya sudah meninggal sejak saya umur 4 bulan masih dalam kandungan. Terus saya ditinggal di desa Segrumung dengan Pakdhe. Pokoknya anak-anak saya harus lebih baik dan lebih enak dari saya” Ibu S : “ Ini…saya kan sejak kecil hiduonya susah meskipun orang tua. Makan saja dibedakan “jatahnya” . yang lain boleh sekolah, saya tidak. Uang saku jarang dikasih, bangunnya lebih pagi, kalu telat pernah diguyur air bekas cuci piring. Pokoknya sengsara terus sampai sekarang ini..”

Sejak pukul berapakah bapak/ ibu bekerja ? Pak UI: “Kalau saya tidak tentu. Saya tidurnya di tempat saya kerja. Ya..kira-kira jam 07.00 pagi sudah buka. Nanti tutup jam 10.00 malam. Tergantung ada yang mau menambalkan atau tidak”. Ibu S :”Saya ya…kalau dirumah sudah selesai kerjaannya. Biasanya jam setengah enam jam enam berangkat dan pulang jam 03.00 atau jam 04.00 sore”

Diantara bapak dan ibu siapakah yang lebih banyak waktu dirumah ? Pak UI: “Ibunya anak-anak…saya jarang pulang. Seminggu sekali saya pulang dan hanya dua atau tiga hari paling lama di rumah. Tidak tentu ”. Ibu S : “Iya..kadang kalau sedang malas kerja juga lama dirumah…”.

115

Kegiatan masyarakat apa sajakah yang diikuti bapak/ibu ? Pak UI: “Yaa..kalau saya dirumah ada undangan Tahlilan atau rapat ya datang. Tetapi seringnya anak saya yang pertama yang sering mewakili saya..” Ibu S : “Ah…kalau suami saya ini jarang mau kumpul dengan tetangga. Kalau saya ikut itu arisan RT. Dulu saya ikut Yasin dan Berjanjen ibu-ibu. Waktu saya dapat giliran ditempati, meeka tidak mau datang karena dirumah saya punya anjing. Ya sudah…saya keluar saja. Terlanjur sudah sakit hati. Saya sudah capek-capek masak ..eeh…malah yang datang cuma 2 orang saja. Sudah hampir satu tahun ini saya keluar..”.

Kapan kegiatan tersebut dilaksanakan ? Ibu S : “Kalau arisan RT seminggu sekali tiap hari Jum’at Kalau Yasin dan Berjanjen juga setiap seminggu sekali, setiap hari rabu malam”

Apakah bapak/ibu mempunyai waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga ? Pak UI : “Kalau saya di rumah ya..bisa kumpul dengan anak-anak. Kalau kerja ya..tidak bisa..” Ibu S : “Yaa…tidak waktu khusus. Tetapi kalau ngobrol sore atau malam. Anakanak seringnya sudah dirumah kalu sore dan malam. Kalau tidak keluar…nonton tv biasanya..?

Kapankah bapak/ibu melakukan hal tersebut ? Pak UI : “Seringnya kalau saya dirumah itu sore menjelang maghrib atau malam. Sambil makan malam biasanya..”

Mengapa hal tersebut bapak/ibu lakukan ? Pak UI : “ Sebenarnya bukan kenapa-kenapa. Hanya seringnya waktu itu karena santai ”.

Dalam kegiatan tersebut apa sajakah yang biasanya dilakukan ?

116

Pak UI : “Ngobrol “

Apakah bapak/ibu memanjakan salah satu dari anak-anak bapak/ibu ? Pak UI : “Kalau saya tidak..sama semua..” Ibu S: “ Ahh…tidak. Bapaknya ini sering menganak emaskan MI. Uang jajan saja sering dikasih lebih tanpa sepengetahuan saya. Kalau saya sama semua.”

Mengapa bapak/ibu melakukan hal tersebut ? Pak UI: “He..he..yaa..kan kebutuhannya kadang banyak dan butuh uang. Tetapi memang saya cenderung sedikit memanjakan MI. Karena dia pernah saya pukul pakai kayu karena saya dikasih tau tetangga saya kalau MI mencuri perhiasan miliknya. Tetangga dikasih tahu semua. Saya malu waktu itu. Memang sih..dia sejak kecil sering mengambil uang sisa belanja. Karena saya jengkel, saya pukul sampai tidak bisa bernafas.Sejak saat itu saya kapok memukul anak-anak saya”. Ibu S: “Kalau anak saya dimanja, tidak akan bisa berpikir dewasa. Tidak baik buat anak-anak saya kalau dimanja”

Apakah cara bapak / ibu dalam mengasuh anak-anak sama dengan orang tua Anda dulu ? Pak UI: “Tidak. Kasihan kalau mereka merasakan hal yang sama dengan saya. Susah. Sering mau makan kalau belum kenyang mau tambah tidak boleh. Yaaa..jalan satu-tunya saya mencuri kalau malam. Mencuri tapi dirumah sendiri..he..he..bagaimana lagi..masih lapar..” Ibu S: “Tidak. Saya tidak anak-anak seperti saya. Kasihan. Saya tidak betah waktu itu dirumah. Sengsara sekali hidup saya…samapi sekarang juga masih seperti ini”

Apa yang mendorong bapak / ibu mengasuh anak-anak dengan cara demikian ? Pak UI : “Agar mereka tidak merasakan keadaan yang sama dengan saya ”

117

Ibu S : “Saya kasihan kalau mereka sampai merasakan seperti yang saya rasakan dahulu”

Menurut bapak / ibu apakah pendidikan bapak / ibu dahulu berpengaruh terhadap keadaan ekonomi bapak/ ibu sekarang ? Pak UI : “Tidak menurut saya. Semua itu Tuhan yang mengaturnya. Dahulu, kemarin, sekarang, besok..itu semua Tuhan yang mengaturnya..” Ibu S : “Ya memang sudah jalannya saya hidup susah mungkin...semoga saja anak-anak saya tidak seperti saya semuanya”

Apakah bapak/ibu dalam mengasuh anak dibantu oleh orang lain ? Pak UI : “Tidak…” Ibu S: “Ya..”

Jika ya, siapakah yang membantu bapak/ibu mengasuh anak? Ibu S : “Tetangga saya ” Pak UI : “Ehh ..benar..”

Mengapa bapak/ibu meminta bantuannya ? Ibu S : “Waktu anak-anak masih kecil saya repot dan bapaknya anak-anak tidak dirumah ya..saya titipkan tetangga”

Siapakah yang sering datang ke sekolah ketika walikelas mengundang orang tua murid ? Ibu S: “Saya… ”.

Mengapa ? Ibu S: “Bapaknya anak-anak sering tidak mau datang ke sekolah..ambil rapor saya, undangan rapat saya, ambil ijazah kelulusan juga saya..alasannya hanya malas, bagaimana lagi..sampai sekarang ini lho.tidak pernah

118

mau..jadi ada apa-apa dengan anak-anak di sekolah juga saya..kalau tidak percaya tanya saja anak-anak saya..”

Bagaimana bapak/ ibu dapat mengetahui perkembangan anak di sekolah ? Pak UI : “Ya..dari hasil rapor. Dan ibunya ini kan sering tanya bagaimana anakanak di sekolah ..” Ibu S : “Saya sering tanya bagaimana anak saya di sekolah biasanya kalau mengambil rapor itu…”

Apa yang bapak / ibu lakukan ketika anak mengalami kesulitan mengerjakan PR di rumah ? Pak UI : “Karena saya tidak sekolah, dulu keluar di kelas satu, ya..saya suruh kakak-kakaknya membantu” Ibu S :“Saya orang bodoh., tidak pernah sekolah. Baca tulis saja tidak bisa. Bagaimana bisa membantu..”

Apakah bapak/ ibu membatasi waktu bermain anak ? Pak UI :“Dibatasi ya tidak, bebas juga tidak”

Mengapa demikian ? Pak UI : “Boleh bermain dan bergaul dengan siapa saja, tidak pilih kasih. Yang penting ada aturan, jangan sampai mengikuti arus tetapi tidak tahu muaranya.Untuk pergaulan MA dan MI yang sering saya awasi. Mereka sudah besar”. Ibu S: “Apalagi sekarang jamannya seperti ini. Kalau mendengar yang beginibegini..takutnya kalau anak-anak saya ikut-ikutan”.

Apa saja yang bapak / ibu terapkan pada anak-anak ketika mereka bergaul dengan teman sebaya?

119

Pak UI : “Ya itu tadi..tidak pilih kasih, saling pengertian, jangan membedabedakan yang kaya dengan yang miskin…yaa bagaimana wajarnya kalau

berteman saja”

Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih tua dari mereka? Ibu S : “ Harus sopan tentunya..”

Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih muda dari mereka? Pak UI : “Jangan mengganggulah..jangan mentang-mentang contohnya saja dengan adik-adiknya..ya ..harus sayang..” lebih besar,

Mengapa bapak/ibu menerapkan hal-hal tersebut pada si anak ? Ibu S: “Namanya orang tua itu ingin anak-anaknya bertingkah laku baik di mana saja terutama di masyarakat” Pak UI : “Apalagi orang miskin seperti saya ini..meskipun miskin tapi kalau sopan, baik juga tidak ada jeleknya.. bisa membuat nama baik orang tuanya”

Menurut bapak/ibu pentingkah pendidikan kepada anak tentang perbedaan jenis kelamin ? Pak UI : “Ya penting..”

Mengapa demikian ? Pak UI ;“Ehmm…jika tidak bisa-bisa anak saya kelakuannya tidak baik. Sekarang banyak orang yang maaf..hamil di luar nikah. Saya bisa tahu berita itu ya..dari koran kalau di Semarang..kalau di rumah ya dari radio..biar tidak ketinggalan informasiI tu mungkin ya..kurang didikan dari orangtuanya”. Ibu S: “Bapak bisa baca koran..aku tidak bisa membaca ya dari radio apalagi kalau bapak dirumah, sukanya mendengarkan berita. Saya juga bisa tahu kadang dari televise. Agar anak-anak juga tahu dirinya laki-laki atau perempuan kalau itu. Tuh tetangga…anak perempuan tingkah lakunya seperti laki-laki..”

120

Bagaimana bapak /ibu mengenalkan pendidikan untuk perbedaan jenis kelamin? Pak UI :“Ya saya nasehati bagaimana mereka harus bergaul ..dikoran, di radio saya sering tahu berita ya dari itu. Tidak usah jauh-jauh daerah sini juga ada” Ibu S: “Itu..caranya saya kasih baju perempuan kalau perempuan mainannya juga mainan perempuan ..”

Upaya-upaya apa sajakah yang bapak/ibu lakukan terhadap anak agar si anak tidak melakukan kesalahan dalam bertindak ? Pak UI :“Ya saya kasih tahu mana yang benar, mana yang salah. Memang sudah jadi kewajiban saya sebagai orang tua…tapi kalau sudah dikasih tahu tidak mau menurut ya..silahkan, orang tua cuma mengarahkan anaknya saja” Ibu S: “ Ya seperti kata bapaknya…dikasih tahu..”

Ketika anak memperoleh suatu prestasi dalam hal belajar, apa yang bapak/ ibu lakukan untuk anak ? Pak UI :“Ya bilang kalau bapak senang begitu saja...he..he..”

Sejak kapan bapak / ibu mengenalkan pendidikan agama ? Pak UI :“Sejak kecil sampai sekarang “ Ibu S: “Tapi itu..MU sulit anaknya. Saya suruh TPQ saja sudah tidak mau berangkat. Sampai capek ngasih tahu. Sekarang saya biarkan. Dia itu mirip saya tidak sekolah juga tidak bisa ngaji (baca Qur’an-red)”

Mengapa bapak/ibu mengenalkan pendidikan sejak…..? Pak UI : “Untuk benteng anak-anak saya. Kalau tidak dari kecil bagaimana….MU contohnya, sudah sulit dikasih tau” Ibu S: “ Iya…”

Bagaimana cara bapak / ibu menanamkan pendidikan agama ? Pak UI : “Sholat lima waktu jangan sampai lupa..yang penting jangan sampai lupa dengan yang membuat hidup”

121

Dalam bentuk apakah bapak/ibu mengenalkan pendidikan agama ? Ibu S: “Ya itu… kalau sore saya suruh ikut TPQ ..ME sekarang yang masih TPQ di Krajan Tengah, supaya tidak seperti saya”.

Apakah anak-anak diberi tanggung jawab untuk mengerjakan suatu pekerjaan dalam membantu pekerjaan rumah ? Ibu S: “Tidak...masalahnya mereka tidak mau, ya sudah akhirnya saya sendiri yang mengerjakan ”.

Mengapa ? Ibu S: “Ya itu tadi…ya sudah saya kasih marah, tapi namanya juga anak…”.

Ketika anak berbeda pendapat dengan bapak/ ibu, bagaimana bapak/ ibu menyelesaikannya ? Pak UI : “Saya dengarkan dulu alasannya. Kalau salah saya luruskan..” Ibu S: “Tapi kalau bapaknya ini sama MA sama kerasnya, tidak ada yang mau mengalah..”.

Bagaimana cara bapak/ibu dalam menanamkan disiplin pada anak yang dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi ? Pak UI : “Yang penting ingat waktu itu saja..” Ibu S: “Bangun tidur ya diberesi, sholat jangan lupa, waktu makan jangan sampai telat, waktunya pulang sekolah ya pulang, jangan mampir sana-sini. Orang tua itu sukanya mikir yang tidak-tidak kalau anaknya pergi waktunya pulang belum di rumah..”

Apakah bapak/ibu dalam memberikan uang jajan antara anak yang satu dengan yang lain sama ? Pak UI : “Ya tidak. Kebutuhan anak saya yang besar dengan yang kecil kan berbeda ”

122

Ibu S: “Tapi bapaknya itu sering ngasih tambah MI tanpa sepengetahuan saya…iya kan?” Pak UI : “Lha bagaimana…kadang ada kebutuhan mendadak ya kasihan..”

Mengapa demikian? Pak UI : “ Kebutuhan anak saya yang besar dengan yang kecil kan berbeda” Ibu S: “ Kalau yang kecil paling cukup buat jajan saja, tapi kalau MA sudah tidak minta uang, sudah bisa cari sendiri. Malah dia sering ngasih adik-adiknya buat jajan”

Ketika anak meminta sesuatu sedangkan bapak/ibu tidak memiliki uang yang cukup bahkan tidak ada, apa yang bapak/ibu lakukan terhadap sang anak ? Pak UI : “Saya lihat-lihat dulu minta apa, tetapi seringnya saya bilang besok kalau ada uang” Ibu S: “Kalau yang minta harus sekarang itu MU..kalau tidak dikasih nangis, kayak anak kecil..”

Bagaimana cara bapak/ibu mendidik anak agar anak mempunyai rasa suka menabung ? Pak UI : “Saya beri nasehat uangnya disimpan..jangan buat jajan terus..tapi namanya anak, sulit dikasih tau. Saya dan ibunya ini sampai capek ngasih tahu anak-anak agar menabung”

123

HASIL WAWANCARA ANAK KE I PAK UI DAN IBU S

1.

Apa cita-citamu? Mengapa?

Jawab : “Cita-cita saya ingin jadi orang yang baiklah buat keluarga… bisa menjadi suri tauladan bagi adik-adik saya karena saya anak yang paling besar di keluarga ini. Ya itu karena berdasarkan keadaan ya.. kalau cita-cita saya melambung terlalu tinggi takutnya cuma angan-angan thok. Nah, dengan keadaan keluarga saya yang kayak gini ya gimanalah tindakan saya untuk berbuat baik bagi adik-adik saya, orang tua dan selain itu saya ingin berbakti dengan orang tua serta menjadi contoh yang baik buat adik-adik saya”.

2.

Bagaimana cita-citamu tentang pekerjaan?

Jawab : “Oooh…kalau itu sih ada, cuma cita-citaku lebih condong ke hidup yang lebih baik , lebih kecukupan dan bagaimana caranya entah nanti bisa hidup mapan ya cari kerjaan yang cukup lumayanlah gajinya buat hidup “

3.

Kenapa kamu tidak berbahasa jawa kromo ketika berbicara dengan kedua orang tuamu ?

Jawab :“Ya…kadang-kadang aku keceplosan tapi aku seringnya keceplosan he..he… bahkan aku sering ngomong kasar kalau keadaanku lagi banyak problem. Tapi bapak sama ibu sering mengarahkan dan bilang gini : Kowe ora boso rapopo mbek wong tuamu, tapi kowe mbek sopo wae opo meneh luwih dhuwur umure kowe kudu boso lan ngajeni wong liyo. Soale wibowo wong kuwi seko tepo seliromu dewe. Bapak sama Ibu bilang gitu ..ya udah. Tanpa bapak dan ibu bilangpun saya juga ngerti wong itu orang lain bukan keluarga aku dan aku harus mengormati”

4.

Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu melakukan kesalahan ?

124

Jawab :” Setiap kali melakukan kesalahan nggak langsung dipukul atau langsung dinasehati tapi yang pertama diajak cerita yang santai-santai kemudian menyinggung-nyinggung kesalahanku yang akhirnya dinasehati. Cara mereka nasehati pelan. Dan tanggapanku mereka” sering tak pikir nasehat

5.

Apakah orang tuamu membatasi waktu bermain kamu ?

Jawab :”Waktu kecil sebelum SMA sih iya…dibatesi jam 9 malam harus pulang dan ada dirumah. Bobok..besok sekolah, bilang gitu bapak sama Ibu”

6.

Apakah orang tuamu membatasi kamu bergaul dengan seseorang ?

Jawab :”Kalau orang tuaku membatasi pergaulan, ndak…yaa..itu tadi, asal tau aturan jangan ikut sana ikut sini tapi nggak tau arah. Bapak ibu bilang juga bilang terserah kamu mau bergaul sama siapa saja bermain dengan siapa saja asal kamu tau aturan dan jangan ikut-ikutan hal yang negatif”

7.

Mengapa demikian ?

Jawab :” Karena orang tuaku juga berpikir kalau anak selalu bergaul bebas juga tidak baik, kurang pergaulan juga tidak baik”

8.

Pekerjaan rumah apa yang kamu lakukan ?

Jawab :”Nggak ada kalau bantu Ibu…tapi aku punya kerjaan di rumah ..tuh ngasih makan ayam-ayamku…”

9.

Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu bangun pagi terlambat ?

Jawab :” Yang sering bangunin aku tiap pagi kan Ibu. Kalau aku nggak bangun-bangun yaa…itu tadi kasarane..tetet toet tetet toet…he..he…”

10.

Kegiatan masyarakat apa saja yang kamu ikuti di masyarakat ?

125

Jawab :”..ikut Karang Taruna namanya Tunas Bakti..setiap bulan 2 kali”

11.

Bagaimana pendapat orang tuamu ketika kamu mengikuti kegiatan tersebut ?

Jawab : “Ya tidak gimana-gimana sih..itu sudah kewajiban aku sebagai remaja di dusun aku dan itupun berkumpul dengan teman-teman satu dusun bisa bertukar pikiran juga bisa berkembang ini otak, ada teman untuk diskusi..ya asiklah..”

12.

Apakah kamu sering mendengar orang tuamu bertengkar ?

Jawab : “Namanya bertengkar sih menurut aku wajarlah namanya juga rumah tangga, tidak bisa setenang air. Air saja pasti beriak. Ya..itulah sedikit problem, bagiku sih wajar-wajar saja. Yang penting debat ya debat, sudah selaesai ya selesai..”

13.

Biasanya mereka bertengkar karena masalah apa ?

Jawab : “Ya mungkin karena bapak sering terlalu lama dirumah tidak bekerja. Mungkin ekonomi juga mulai menurun, ibu banyak pikiran, kebutuhan banyak uangpun nggak pegang. Seperti saat ini musim penghujan, produksi genting juga tidak bisa banyak, bapak disana juga sama. Hasil berkurang, kebutuhan nambah.. ”

14.

Apakah orang tuamu sering memukul ?

Jawab : “Ah ndak, ibu nggak pernah. Bapak itu yang sering nasehatin adikadik kalau susah dinasehatin. Paling ya dipukul. Yaa..anak kecil gimana lagi. Yang penting anak itu dibuat takut dan mau njalanin nasehat kata orang tuanya “.

15.

Ketika kamu mempunyai masalah kepada siapa kamu meminta nasehat ?

126

Jawab : “Yang pertama aku curhat sama bapak.Minta nasehat dari bapak, minta arahan. Sudah minta nasehat dari bapak ya juga masih ngomong sama teman gimana pemecahannya. Kalau aku ngomong sama Ibu, biasanya ibu paling-paling cuma haalah..paling kowe sing salah, sing nyasar. Ibu jawabannya gitu nggak ngasih solusi yang baik”

16.

Bagaimana pendapat orangtuamu ketika mereka berbeda dengan pendapatmu ?

Jawab : “Sikap mereka paling akhir-akhirnya itu..ya sudah terserah kamu, kamu yang njalanin kok. Kalau bagimu baik ya sudah, lakukan..”

17. Kamu lebih dekat dengan bapak/ ibu ? Jawab : “Aku lebih deket sama Ibu. Tapi tiap kali ada masalah bilang ke bapak ”

18. Orang tuamu lebih suka program apa ketika melihat tv ? Jawab : “Aku kurang tahu..tapi kayaknya film dan sinetron. Aku jarang ikut nonton tv ibukku paling aku tongkrong sama anak-anak ”

19. Orang tuamu lebih suka program apa ketika mendengarkan radio ? Jawab :“ee..kalau ibu jarang mendengarkan radio. Tapi kalau bapak senengnya radio RASIKA itu..bapak seneng mendengarkan berita-berita baru”

20. Menurutmu apakah orang tuamu dalam memberikan uang jajan sama anak yang satu dengan yang lain? Jawab :”Ah ndak. Ortuku bagi-bagi uang jajan itu nggak sama. Orang tuaku tuh bagi uang sesuai kebutuhan anak masing-masing. Kalau yang lebih besar

127

kelihatannya kebutuhannya semakin besar ya dikasih lebih tapi kalau yang kecil-kecil ya paling cukup buat jajan-jajan gitu..”

21. Bagaimana sikap orangtuamu dengan hasil kerjamu, apakah mereka menyuruhmu untuk menabungnya ? Jawab : “Kalau ortuku terutama ibuku tuh pasti sering banget tiap kali nrima upah dari majikanku, untuk ditabung sebagian untuk bekal aku kedepan, tapi pada kenyataannya nggak tau ya..entah larinya kemana, maklumlah...”

22. Apakah dengan hasil tersebut kamu membantu kedua orang tuamu ? Jawab :”Itu ya kadang..tanpa diminta saya kasih, tapi kadang ortuku sempat ngucap: Le..mbok mae disroboti duite ndisik, gitu..”

128

HASIL WAWANCARA ANAK KE 2PAK UI DAN IBU S

1. Apa cita-citamu untuk orang tuamu ? Jawab : “Ingin menjadi polwan”. 2. Mengapa ? Jawab : “Karena bisa melindungi rakyat”. 3. Apakah kamu berbahasa jawa kromo ketika berbicara dengan kedua orang tuamu? Jawab : “Tidak”. 4. Mengapa ? Jawab : “Nggak bisa”. 5. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu melakukan kesalahan ? Jawab : “Ibu sering marah-marah”. 6. Bagaimana sikapmu terhadap tindakan orang tuamu tersebut ? Jawab : “Cuek saja 7. Apakah orang tuamu sering memukulmu ketika kamu melakukan kesalahan? Jawab : “Sering”. 8. Bagaimana sikapmu terhadap tindakan orang tuamu tersebut ? Jawab : “Berontak…pergi keluar kalau nggak tidur”. 9. Apakah orang tuamu membatasi waktu bermain kamu ? Jawab : “Ya”. 10. Apakah orang tuamu membatasi kamu bergaul dengan seseorang ? Jawab : “Ya”. 11. Mengapa demikian ? Jawab : “Mungkin itu yang terbaik buat aku. Mungkin juga mereka itu memberi yang terbaik , Cuma..ya…gitulah”. 12. Atuan-aturan apa saja yang orang tuamu terapkan kepadamu ketika kamu bergaul dengan teman?

129

Jawab : “Kamu tuh…ibu bilang kalau kamu kenal sama orang tuh yangbener. Jangan yang gimana..orangnya tuh harus yag bener-bener baik, jangan sembarangan bergaul dengan orang, itu saja…kalau ibu sih ngajarinnya nggak boleh mandang kaya atau miskin. Kita tuh bergaul menurut sifatnya saja. Misalnya kaya kalau sifatnya buruk yaa mending tidak usah. Tapi kalau miskin sifatnya baik ya mending berrgaul dengayang seperti itu- seperti itu”. 13. Bagaimana sikap kedua orang tuamu ketika kamu menginginkan membeli sesuatu dan meminta uang kepada mereka ketika mereka tidak bisa memenuhi permintaanmu ? Jawab : “Ya bilang kalau tidak ada duit. Terus saya ya…gimana, ya sudah”. 14. Pekerjaan rumah apa yang kamu lakukan ? Jawab : “Beres-beres rumah”. 15. Ketika kamu tidak melakukan apa yang bapak / ibumu lakukan terhadapmu ? Jawab : “ngomel-ngomel….maarah pasti..” 16. Apakah uang jajan yang kamu terima sama dengan yang diterima saudaramu yang lain ? Jawab : “Tidak”. 17. Apakah kamu suka menabung ? Jawab : “Nggak”. 18. Mengapa ? Jawab : “karena enaknya buat jajan”. 19. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu bangun pagi terlambat ? Jawab : “Ndobrak pintu ibu…pakai marah”. 20. Kegiatan masyarakat apa saja yang kamu ikuti di masyarakat ? Jawab : “ikut bersih-bersih…juga ikut karang taruna yang kegiatannya sebulan dua kali”. 21. Bagaimana pendapat orang tuamu ketika kamu mengikuti kegiatan tersebut ?

130

Jawab : “Ya boleh-boleh saja’. 22. Ketika kamu mempunyai masalah kepada siapa kamu meminta nasehat ? Jawab : “Bapak dan kakak”. 23. Kamu lebih dekat dengan bapak atau ibu ? Jawab : “Bapak”. 24. Mengapa? Jawab : “Bpak itu sejak aku kecil sayang ma aku. Terus dia tuh nggak pernah pilih-pilih. Kalau ibu kan selalu pilih yang disayang ini…ini…kalau bapak ndak ”. 25. Orang tuamu lebih suka program apa ketika melihat TV ? Jawab : “sinetron, drama-drama…film-film”. 26. Orang tuamu lebih suka program apa ketika mendengarkan radio ? Jawab : “Kalau yang sering mendengarkan radio itu bapak. Bapak suka wayang, tembang kenangan dan yang lebih sering tuh berita”. 27. Apakah orang tuamu sering membaca Koran ? Jawab : “Sering”. 28. Koran apa yang sering dibaca orang tuamu? Jawab : “Suara merdeka, Jawa Pos”. 29. Pernahkah kamu mendengar orang tuamu bertengkar ? Jawab : “Sering”. 30. Sepengetahuanmu masalah apa biasanya yang mereka pertengkarkan ? Jawab : “Karena masalah ekonomi”. 31. Bagaimana sikapmu sebagai anak ketika mengetahui mereka bertengkar ? Jawab : “Ikut marah, menegur…masak sudah tua pakai bertengkar melulu kan malu didengar tetangga kan, apalagi cuma masalah ekonomi”.

131

HASIL WAWANCARA ANAK KE 3 PAK UI DAN IBU S

1. Apa cita-citamu untuk orang tuamu ? Jawab :”Meneruskan bengkel bapak”. 2. Mengapa ? Jawab :”Biar bisa menjadi tukang tambal ban”. 3. Apakah kamu berbahasa jawa kromo ketika berbicara dengan kedua orang tuamu? Jawab :”Tidak”. 4. Mengapa ? Jawab : “Tidaak bisa kok”. 5. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu melakukan kesalahan ? Jawab : “Menasehati dan marah kadang mukul”. 6. Bagaimana sikapmu terhadap tindakan orang tuamu tersebut ? Jawab : “Aku ya lari”. 7. Apakah orang tuamu membatasi waktu bermain kamu ? Jawab : “Tidak”. 8. Apakah orang tuamu membatasi kamu bergaul dengan seseorang ? Jawab : “Ya..”. 9. Mengapa demikian ? Jawab : “Kalau dengan yang nakal-nakal tidak boleh”. 10. Bagaimana sikap kedua orang tuamu ketika kamu menginginkan membeli sesuatu dan meminta uang kepada mereka ketika mereka tidak bisa memenuhi permintaanmu ? Jawab : “Nangis..”. 11. Pekerjaan rumah apa yang kamu lakukan ? Jawab : “Ngasih makan ayam punya masku”. 12. Ketika kamu tidak melakukan apa yang bapak / ibumu lakukan terhadapmu ? Jawab : “Tidak kenapa-kenapa”.

132

13. Apakah uang jajan yang kamu terima sama dengan yang diterima saudaramu yang lain ? Jawab : “Sama dengan adik tapi beda dengan kakak”. 14. Apakah kamu suka menabung ? Jawab : “Tidak suka menabung”. 15. Mengapa ? Jawab : “Uangnya untuk jajan”. 16. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu bangun pagi terlambat ? Jawab : “Tidaaak diapa-apain”. 17. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu terlambat pulang sekolah? Jawab : “Mas dan ibu”. 18. Kamu lebih dekat dengan bapak atau ibu ? Jawab : “Dekat semua”. 19. Orang tuamu lebih suka program apa ketika melihat TV ? Jawab : “Setaaan-setan, Angling Dharma…film”. 20. Orang tuamu lebih suka program apa ketika mendengarkan radio ? Jawab : “Sandiwara, wayang, berita..”. 21. Apakah orang tuamu sering membaca Koran ? Jawab : “Ya pernah lihat”. 22. Koran apa yang sering dibaca orang tuamu ? Jawab : “Koran ya..seperti itu..warnanya putih..aaku tidak bisa membaca”. 23. Pernahkah kamu mendengar orang tuamu bertengkar ? Jawab : “Sering”. 24. Sepengetahuanmu masalah apa biasanya yang mereka pertengkarkan ? Jawab : “Bapak tidaak kerja, ibu kerja. Bapak kerja, ibu tidaak ..sampai sore”. 25. Bagaimana sikapmu sebagai anak ketika mengetahui mereka bertengkar ? Jawab : “Maen, pulangnya sore”. 26. Setiap harinya kegiatan kamu apa saja? Jawab : “Makan, tidur, main”.

133

HASIL WAWANCARA ANAK KE 4PAK UI DAN IBU S 1. Apa cita-citamu untuk orang tuamu ?

Jawab : “Polwan” 2. Apakah kamu berbahasa jawa kromo ketika berbicara dengan kedua orang tuamu ? Jawab : “Tidak” 3. Mengapa ?

Jawab : “Ya nggak kenapa-kenapa. Nggak bisa” 4. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu melakukan kesalahan ? Jawab : “Marah” 5. Apakah orang tuamu sering memukulmu ketika kamu melakukan kesalahan? Jawab : “Tidak” 6. Siapakah yang membantumu mengerjakan PR ?

Jawab :”Kakak-kakakku” 7. Apakah buku-buku pelajaran yang kamu miliki lengkap?

Jawab :”Tidak” 8. Bagaimana sikap kedua orang tuamu ketika kamu menginginkan membeli sesuatu dan meminta uang kepada mereka ketika mereka tidak bisa memenuhi permintaanmu ? Jawab :”Bilang besok” 9. Bagaimana pendapatmu ?

Jawab : ”Nggak mau. Nangis.Ibu marah” 10. Pekerjaan rumah apa yang kamu lakukan ?

Jawab : “Nggak pernah mbantu” 11. Apakah uang jajan yang kamu terima sama dengan yang diterima saudaramu yang lain ?

134

Jawab : “Tidak. Lebih sedikit” 12. Apakah kamu suka menabung ?

Jawab : “Tidak” 13. Mengapa ?

Jawab : “Tidak punya untuk ditabung” 14. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu bangun pagi terlambat ? Jawab : “Ibu marah” 15. Apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ketika kamu terlambat pulang sekolah? Jawab : 16. Ketika kamu memperoleh prestasi tertentu apa yang bapak / ibu lakukan terhadapmu ? Jawab :”Bangga. Tapi nggak dikasih hadiah” 17. Kamu lebih dekat dengan bapak atau ibu?

Jawab :”Semuanya” 18. Orang tuamu lebih suka program apa ketika melihat TV ?

Jawab :”Film” 19. Orang tuamu lebih suka program apa ketika mendengarkan radio ?

Jawab :”Wayang kulit dan berita” 20. Apakah orang tuamu sering membaca koran ?

Jawab :”Tidak tahu” 21. Apakah waktu yang tersedia orang tuamu bagimu cukup ?

Jawab :”Kurang, bapak jarang dirumah” 22. Pernahkah kamu mendengar orang tuamu bertengkar ?

Jawab :”Ya..” 23. Sepengetahuanmu masalah apa biasanya yang mereka pertengkarkan ?

Jawab :”Tidak tahu..” 24. Bagaimana bertengkar ? Jawab :”Pergi” sikapmu sebagai anak ketika mengetahui mereka

135

136

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan

: Ibu P : Kendal, 18 Januari 1983 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Pengusaha genting pres : Tamat SD

INSTRUMEN UNTUK TETANGGA 1. Berapa lama Anda bertetangga dengan keluarga Pak UI ? Jawab :”Yaa..sudah lama, kurang lebih yaa..lima tahunan. Sejak saya menikah saya tinggal di rumah ini” 2. Apakah Anda akrab dengan keluarga Pak UI ? Jawab :”Ya..anak-anaknya Pak UI yang sering nonton televisi di sini” 3. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S sering marah kepada anaknya ketika anaknya melakukan kesalahan ? Jawab :”Gimana ya..kalau marah itu sudah waja. Saya juga sering jengkel kalau anak-anak saya nakal” 4. Apakah Anda sering melihat Pak UI atau Ibu S memukul anak-anaknya? Jawab :”Kalau memukul tidak pernah lihat. Tetapi kalau marah iya..saya sering lihat dan dengar “ 5. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengeluarkan kata-kata kotor ketika mereka sedang marah ? Jawab :”Ya seperti itulah…” 6. Menurut Anda apakah Pak UI memanjakan salah anak-anaknya ? Jawab :”Tidak tahu kalau itu” 7. Bagaimana dengan Ibu S ? Jawab :”Tidak tahu kalau itu” 8. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengekang anak-anaknya ?

137

Jawab :”Menurut saya tidak. Anak-anaknya Pak UI banyak temannya. Tetapi saya sering kasihan dengan MU, dia tidak sekolah. Dia sebaya dengan anak saya yang sulung” 9. Menurut Anda apakah anak-anak Pak UI bebas pergaulannya? Jawab :”Tidak kalau saya lihat” 10. Bagaimana tanggapan Anda terhadap anak-anak Pak UI ? Jawab :”Ya gimana ya…baik karena meskipun orang tidak punya tapi anakanaknya sekolah meskipun salah satu itu si MU tidak sekolah…dan perlu lebih di apa ya…diperhatikan…itu saja”

138

CATATAN LAPANGAN

Nama Tempat, Tanggal Lahir / Usia Agama Alamat Pekerjaan Pendidikan

: Ibu M : Kendal, 14 September 1981 : Islam : Dusun Krajan Timur Rt 003 Rw 003 Meteseh Boja Kendal 51381 : Ibu rumah tangga dan pengusaha genting pres : Tamat SLTP

INSTRUMEN UNTUK TETANGGA 1. Berapa lama Anda bertetangga dengan keluarga Pak UI ? Jawab : “Kurang lebih 4 tahun. Kalau suami saya yang asli dari sini. Saya dari dusun Teseh” 2. Apakah Anda akrab dengan keluarga Pak UI ? Jawab : “Akrab. Rumahnya juga belakang rumah saya” 3. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S sering marah kepada anaknya ketika anaknya melakukan kesalahan ? Jawab : “He..he..iya. Tapi yang sering saya dengar kalau marah itu Ibu S” 4. Apakah Anda sering melihat Pak UI atau Ibu S memukul anak-anaknya? Jawab : “Memukul itu kayaknya tidak. Tetapi ya tidak tahu” 5. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengeluarkan kata-kata kotor ketika mereka sedang marah ? Jawab : “Ya…seperti itulah..” 6. Menurut Anda apakah Pak UI memanjakan salah anak-anaknya ? Jawab : “Menurut saya tidak” 7. Bagaimana dengan Ibu S ? Jawab : “Tidak” 8. Menurut Anda apakah Pak UI dan Ibu S mengekang anak-anaknya ? Jawab : “Tidak kayaknya. Lha itu MU main terus kerjaannya. . Tidak sekolah to..anak itu. SD saja tidak lulus” 9. Menurut Anda apakah anak-anak Pak UI bebas pergaulannya?

139

Jawab : “Saya rasa tidak ya..sebagai orang tua pasti juga ada nasehat meskipun sedikit” 10. Bagaimana tanggapan Anda terhadap anak-anak Pak UI ? Jawab : “Menurut saya..baik, tapi ya itu tadi karena MU tidak sekolah jadi ya..kerjaannya kesana-kesini main terus dan sudah besar tapi masih kayak anak kecil, masih sering nangis..”

140

Pedoman Observasi 1.Latar belakang informan a. identitas informan. b. jumlah penghasilan dan pengeluaran perbulan. c. kebiasaan sehari-hari satu keluarga 2.Keadaan fisik rumah tangga informan a. Ukuran rumah. b. Kondisi rumah . c. Perabot rumah tangga (macam dan jenis, bahan yang dibuat untuk perabot). d.Kondisi fasilitas rumah yang tersedia ( kamar mandi, sumur dan kakus). 3.Pola perilaku orang tua dalam mendidik anak-anaknya a. perhatian untuk anak. b. waktu yang tersedia untuk anak. c. penanaman disiplin. 4. proses sosialisasi pendidikan anak -penanaman dalam cara bergaul dengan orang tua, saudara dan orang lain.

141

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful