SARI Dwi Retnaningtyas. 2005.

Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas Kerja Di Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri Semarang Stres kerja dapat menimpa semua tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Penyebab terjadinya stres kerja yaitu faktor- faktor intrinsik pekerjaan, peran individu dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam organisasi, struktur organisasi, hubungan di luar organisasi atau pekerjaan, ciri individu. Stres yang dialami oleh tenaga kerja dapat berkembang kearah positif yaitu stres dapat menjadi kekuatan positif bagi tenaga kerja. Adanya dorongan yang tinggi untuk berprestasi membuat makin tinggi tingkat stresnya dan makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Tetapi stres juga dapat berkembang kearah negatif yaitu penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan mengalami kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Penelitian dilakukan pada tenaga kerja wanita bagian linting PT Gentong Gotri Semarang. Populasi penelitian berjumlah 100 orang dengan sampel sebanyak 25 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan tersebut yaitu tenaga kerja wanita, berkeluarga, umur 20-35 tahun, masa kerja 1-5 tahun, pendidikan terakhir SMP, Kesehatan fisik baik (tidak sedang sakit). Setelah penentuan sampel maka dilakukan pengambilan data. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala stres kerja dan lembar pencatatan produktivitas tenaga kerja. Sebelum skala stres kerja disebarkan, diadakan uji coba skala stres kerja. Kemudian hasilnya dianalisis yang terdiri dari validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan skala stres kerja yang absah. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan besarnya probabilitas yaitu 0,005. Karena probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Didapatkan ρ hitung sebesar -0,549 yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara dua variabel. Koefisien korelasi mempunyai tanda negatif yang berarti semakin tinggi stres kerja maka produktivitas tenaga kerja semakin rendah. Demikian sebaliknya makin rendah stres kerja, maka produktivitas tenaga kerja semakin tinggi. Kata kunci: Stres kerja, produktivitas kerja

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat yang telah dilimpahkan kepada penulis dan berkat bimbingan bapak dan ibu dosen, penulis dapat menyusun skripsi dengan judul “Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas Kerja Semarang”. Skripsi ini disusun untuk melengkapi persyaratan kelulusan jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat S1, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak dapat selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis sampaikan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan, Bapak Drs. Sutardji, MS yang telah memberikan kemudahan administrasi dan perijinan penelitian ini. 2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ibu dr Oktia Woro KH, MKes atas masukannya 3. Pembimbing I, Bapak Eram Tunggul P, SKM MKes yang telah memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini. 4. Pembimbing II, Ibu dr Yuni Wijayanti, yang telah memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Manajer Personalia PT Gentong Gotri Semarang, Bapak Noerwito, MBA, MM yang telah memberikan ijin penelitian di perusahaan tersebut. Di Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri

v

6. Wakil Manajer Personalia PT Gentong Gotri Semarang, Bapak Bangun yang telah membantu selama penelitian. 7. Keluargaku atas segala perhatian dan doa yang telah diberikan selama ini. 8. Dora, sahabat- sahabatku Tika, Anisa, Ida, Dewi dan Ita atas segala bantuan dan dukungan selama ini. 9. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan dalam penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik selalu penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya semua pihak yang telah memberikan bantuannnya mendapatkan berkat yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Semarang, September 2005 Penulis

vi

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i SARI ................................................................................................................... ii PENGESAHAN ................................................................................................ iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv KATA PENGANTAR ....................................................................................... v DAFTAR ISI ................................................................................................... vii DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul .................................................................................. 1 1.2 Permasalahan ................................................................................................ 4 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 4 1.4 Penegasan Istilah............................................................................................ 5 1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 5 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori ............................................................................................. 6 2.1.1 Stres ............................................................................................................ 6 2.1.1.1 Stres Kerja ............................................................................................... 6 2.1.1.2 Penyebab Stres Kerja ............................................................................... 8 2.1.1.3 Gejala Stres Kerja .................................................................................. 16

vii

2.1.1.4 Dampak Stres Kerja ............................................................................... 22 2.1.2 Produktivitas ............................................................................................. 27 2.1.2.1 Pengertian Produktivitas ......................................................................... 27 2.1.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas ............................................. 28 2.1.2.3 Pengukuran Produktivitas ....................................................................... 31 2.2 Hipotesis ...................................................................................................... 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi Penelitian ....................................................................................... 36 3.2 Sampel Penelitian......................................................................................... 36 3.3 Variabel Penelitian ....................................................................................... 37 3.4 Rancangan Penelitian ................................................................................... 38 3.5 Instrumen Penelitian .................................................................................... 38 3.6 Prosedur Penelitian ...................................................................................... 44 3.7 Teknik Pengambilan Data ............................................................................ 45 3.8 Analisis Data................................................................................................ 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data ............................................................................................ 48 4.2 Hasil Penelitian ............................................................................................ 50 4.3 Pembahasan ................................................................................................. 53 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ...................................................................................................... 60 5.2 Saran............................................................................................................ 60 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 61 LAMPIRAN viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. 2. 3. 4. 5 6. 7. 8. 9. 10. Skala Stres Kerja Untuk Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Stres Kerja Untuk 25 Responden Uji Validitas dan Reliabilitas Lembar Pencatatan Produktivitas Tenaga Kerja Grafik Produktivitas Tenaga Kerja Skor Hasil Penelitian Variabel Stres kerja Statistik Deskriptif Data Penelitian Output Analisis Korelasi Rank Spearman Daftar Nama Responden Surat Keterangan Penelitian

Halaman 64 68 72 74 75 76 77 79 80 81

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul Pembangunan nasional yang telah dilaksanakan sampai saat ini telah menghasilkan banyak perubahan dan kemajuan diberbagai bidang dan sektor kehidupan. Selain itu pembangunan tersebut telah memunculkan banyak fenomena baru. Salah satu diantara fenomena itu adalah semakin besarnya jumlah wanita yang bekerja. Bahkan saat ini banyak perusahaan yang sebagian besar tenaga kerjanya adalah wanita. Jika dahulu wanita hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, namun sekarang banyak wanita yang berpartisipasi dalam dunia kerja. Adanya tuntutan untuk mendukung ekonomi rumah tangga menjadi salah satu alasan bagi wanita untuk bekerja (Pandji Anoraga, 1998: 119). Dalam proses industri memerlukan kegiatan tenaga kerja sebagai unsur dominan yang mengelola bahan baku atau material, mesin, peralatan dan proses lainnya yang dilaksanakan di tempat kerja guna menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Saat melaksanakan pekerjaannya tenaga kerja wanita perlu mendapatkan perlindungan sehingga terhindar dari segala resiko akibat kerja, kecelakaan, atau penyakit akibat kerja. Hal ini telah diatur dalam UndangUndang Nomor 13 tahun 2003 tentang tenaga kerja wanita yang memuat waktu kerja, cuti haid, waktu melahirkan, perlindungan dari jenis pekerjaan terburuk, dan sebagainya. Namun selain itu, tenaga kerja juga berhak mendapatkan derajat kesehatan setinggi- tingginya baik fisik, mental maupun sosial (Sugeng Budiono dkk, 2003:89,145). 1

2

Setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga kerja yang menentukan sejauhmana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres. Berbagai tekanan yang dirasakan oleh tenaga kerja dapat berasal dari faktor- faktor intrinsik dalam pekerjaan yang menimbulkan kebosanan karena pekerjaan berulang- ulang dan tempat kerja yang bising, konflik peran yang dirasakan wanita pekerja yaitu sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai pekerja, adanya karir yang tidak berkembang, hubungan yang buruk dengan rekan sekerja maupun dengan atasan, ditambah lagi adanya struktur organisasi yang jelek, aturan main yang terlalu kaku, sedikitnya keterlibatan atasan, serta ciri individu dalam menanggapi situasi yang dihadapi. Selain itu, tenaga kerja dalam interaksinya dengan pekerjaan juga dipengaruhi pula oleh hasil interaksi di tempat lain seperti di di rumah, di perkumpulan dan sebagainya (Ashar Sunyoto, 2001:380). Hampir 50- 75 % dari seluruh kunjungan kepada dokter, langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan stres (Laurentius Panggabean, 2003:1). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rice seorang ahli psikologi didapatkan bahwa wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Hal ini dikarenakan wanita yang bekerja menghadapi konflik peran. Di satu pihak wanita berperan sebagai ibu rumah tangga yang harus terlebih dahulu mengatasi urusan keluarga, suami, anak, dan hal lain yang menyangkut rumah tangga. Tetapi di pihak lain wanita sebagai pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaannya di tempat kerja. Tuntutan ini sangat berpotensi menyebabkan wanita bekerja mengalami stres (Jacinta, 2002). Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Regina (2003) pada wanita bekerja didapatkan

3

bahwa wanita yang mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu sekaligus sebagai pekerja sering mengalami stres. Stres yang dialami oleh tenaga kerja dapat berkembang kearah positif yaitu stres dapat menjadi kekuatan positif bagi tenaga kerja. Adanya dorongan yang tinggi untuk berprestasi membuat makin tinggi tingkat stresnya dan makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya (Ashar Sunyoto, 2001:374). Tetapi stres juga dapat berkembang kearah negatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Randall Schuller, stres yang dihadapi tenaga kerja berhubungan dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan mengalami

kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu (Jacinta, 2002). Dari hasil observasi dan wawancara yang telah kami lakukan pada tenaga kerja bagian linting PT Gentong Gotri Semarang didapatkan bahwa tenaga kerja bekerja selama 6 hari yaitu hari Senin sampai Sabtu. Setiap harinya harus bekerja selama 7 jam dengan 1 jam istirahat. Tenaga kerja bagian linting bertugas membuat rokok dalam bentuk batangan dengan menggunakan peralatan sederhana sesuai dengan target perusahaan, yaitu sehari minimal sebanyak 4500 batang rokok yang harus dihasilkan oleh setiap tenaga kerja. Selama bekerja, meskipun sudah memakai masker namun tenaga kerja masih menghirup bau dari tembakau. Selain itu, pengawasan terhadap kualitas rokok yang dihasilkan setiap tenaga kerja dilakukan selama jam kerja berlangsung. Upah yang diberikan pada tenaga kerja berbentuk borongan yaitu Rp 7600,00 per 1000 batang rokok yang

4

dihasilkan. Posisi kerja yang tidak nyaman dirasakan oleh tenaga kerja karena peralatan kerja letaknya lebih rendah dari tempat duduk tenaga kerja sehingga pada saat bekerja harus menundukkan kepala, serta jarak antara tenaga kerja satu dengan yang lain sempit sehingga membatasi gerak tenaga kerja. Banyak tenaga kerja yang mengalami keluhan kaku leher dan punggung. Adanya tuntutan fisik dan tuntutan tugas yang berupa pekerjaan berulang- ulang mengakibatkan tenaga kerja mengalami kebosanan sehingga tenaga kerja bagian linting diduga mengalami stres kerja, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada produktivitas tenaga kerja tersebut. Berdasarkan gambaran tersebut diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian apakah memang ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang.

1.2 Permasalahan Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang ?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang.

5

1.4 Penegasan Istilah 1.4.1 Stres Kerja Yang dimaksud stres kerja dalam penelitian ini adalah suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja tertentu (Bambang Tarupolo, 2002:17). 1.4.2 Produktivitas Kerja Produktivitas kerja adalah rasio hasil kerja (keluaran) dan berbagai sumber yang diperlukan untuk tercapainya hasil kerja tersebut (masukan)(I Ketut Gde Juli S, 2004:18). 1.4.3 Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri Semarang Bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang adalah suatu bagian yang bertugas membuat rokok dalam bentuk batangan dengan menggunakan peralatan sederhana.

1.5 Manfaat Penelitian 1) Bagi perusahaan dan tenaga kerja adalah mengetahui terjadinya stres kerja yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. 2) Bagi perguruan tinggi adalah menambah referensi pengetahuan tentang hubungan stres kerja terhadap produktivitas. 3) Bagi penulis adalah mengetahui hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja.

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Stres Stres adalah reaksi seseorang secara psikologi, fisiologi, maupun perilaku bila seseorang mengalami ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan tersebut dalam jangka waktu tertentu. Selye mendefinisikan stres sebagai reaksi non spesifik tubuh terhadap beberapa tuntutan yang melebihi dari kemampuannya (Bambang Tarupolo, 2002:4). Definisi stres menurut Agus M (1994:23) adalah tanggapan menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya . David Hager dan Linda C (1999:21) menyatakan stres sebagai suatu keadaan ketegangan fisik atau mental atau kondisi yang menyebabkan ketegangan. Menurut David A (1990:240), stres adalah respon otomatis dari tubuh, termasuk pikiran sampai pada perubahan- perubahan, tantangan- tantangan, dan tuntutan lain yang kita temui dalam setiap bagian kehidupan sehari- hari. Stres dapat juga berarti respon fisiologi, psikologi dan perilaku dari seseorang dalam upaya untuk menyesuaikan dari tekanan baik secara internal maupun eksternal (Laurentius Panggabean, 2003:2). 2.1.1.1 Stres Kerja Stres kerja adalah suatu perasaan yang menekan atau rasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaannya (Anwar Prabu, 1993: 93).

6

Beehr dan Franz (dikutip Bambang Tarupolo, 2002:17), mendefinisikan stres kerja sebagai suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang tertentu. Menurut Pandji Anoraga (2001:108), stres kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang, baik fisik maupun mental terhadap suatu perubahan di lingkunganya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Gibson dkk (1996:339), menyatakan bahwa stres kerja adalah suatu tanggapan penyesuaian diperantarai oleh perbedaan- perbedaan individu dan atau proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar (lingkungan), situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang. Setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga kerja yang menentukan sejauhmana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres atau tidak. Tenaga kerja dalam interaksinya dipekerjaan, dipengaruhi pula oleh hasil interaksi di tempat lain, di rumah, di sekolah, di perkumpulan, dan sebagainya (Ashar Sunyoto, 2001: 380). Phillip L (dikutip Jacinta, 2002), menyatakan bahwa seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika: 1) Urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab stress kerja.

7

2) Mengakibatkan dampak negatif bagi perusahaan dan juga individu. 3) Oleh karenanya diperlukan kerjasama antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan stres tersebut. Sebenarnya stres kerja tidak selalu membuahkan hasil yang buruk dalam kehidupan manusia. Selye membedakan stres menjadi 2 yaitu distress yang destruktif dan eustress yang merupakan kekuatan positif. Stres diperlukan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Semakin tinggi dorongan untuk berprestasi, makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Demikian pula sebaliknya stres kerja dapat menimbulkan efek yang negatif. Stres dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit, baik fisik maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal (Ashar Sunyoto, 2001: 371,374). 2.1.1.2 Penyebab Stres Kerja Menurut Gibson dkk (1996:343-350), penyebab stres kerja ada 4 yaitu 1) Lingkungan fisik Penyebab stres kerja dari lingkungan fisik berupa cahaya, suara, suhu, dan udara terpolusi. 2) Individual Tekanan individual sebagai penyebab stres kerja terdiri dari: (a) Konflik peran Stressor atau penyebab stres yang meningkat ketika seseorang menerima pesan- pesan yang tidak cocok berkenaan dengan perilaku peran yang sesuai. Misalnya adanya tekanan untuk bergaul dengan baik bersama orang- orang yang tidak cocok.

8

(b) Peran ganda Untuk dapat bekerja dengan baik, para pekerja memerlukan informasi tertentu mengenai apakah mereka diharapkan berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Peran ganda adalah tidak adanya pengertian dari seseorang tentang hak, hak khusus dan kewajiban- kewajiban dalam mengerjakan suatu pekerjaan. (c) Beban kerja berlebih Ada dua tipe beban berlebih yaitu kuantitatif dan kualitatif. Memiliki terlalu banyak sesuatu untuk dikerjakan atau tidak cukup waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan beban berlebih yang bersifat kuantitatif. Beban berlebih kualitatif terjadi jika individu merasa tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan pekerjaan mereka atau standar penampilan yang dituntut terlalu tinggi. (d) Tidak adanya kontrol Suatu stresor besar yang dialami banyak pekerja adalah tidak adanya pengendalian atas suatu situasi. Sehingga langkah kerja, urutan kerja, pengambilan keputusan, waktu yang tepat, penetapan standar kualitas dan kendali jadwal merupakan hal yang penting. (e) Tanggung jawab Setiap macam tanggung jawab bisa menjadi beban bagi beberapa orang, namun tipe yang berbeda menunjukkan fungsi yang berbeda sebagai stresor.

9

(f) Kondisi kerja 3) Kelompok Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan diantara kelompok. Karakteristik kelompok menjadi stresor yang kuat bagi beberapa individu. Ketidakpercayaan dari mitra pekerja secara positif berkaitan dengan peran ganda yang tinggi, yang membawa pada kesenjangan komunikasi diantara orang- orang dan kepuasan kerja yang rendah. Atau dengan kata lain adanya hubungan yang buruk dengan kawan, atasan, dan bawahan. 4) Organisasional Adanya desain struktur organisasi yang jelek, politik yang jelek dan tidak adanya kebijakan khusus.

Sumber stres kerja menurut Carry Cooper (dikutip Jacinta F, 2002) ada 4 yaitu 1) Kondisi pekerjaan, meliputi (a) Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadahi, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan. (b) Overload. Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya

10

pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam tegangan tinggi. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit sehingga menyita kemampuan karyawan. (c) Deprivational stres. Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial). (d) Pekerjaan beresiko tinggi. Pekerjaan yang beresiko tinggi atau berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan minyak lepas pantai, tentara, dan sebagainya. 2) Konflik peran. Stres karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga ahirnya timbul keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Para wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya wanita bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga.

11

3) Pengembangan karir. Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Namun cita- cita dan perkembangan karir banyak sekali yang tidak terlaksana. 4) Struktur organisasi . Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab, aturan main yang terlalu kaku atau tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya keterlibatan atasan membuat karyawan menjadi stres.

Adnyana Manuaba (2005:4), menyebutkan bahwa stres yang berkaitan dengan pekerjaan, dapat disebabkan oleh 1) Tuntutan pekerjaan terlalu berat atau terlalu rendah 2) Pekerja tidak punya hak/ tidak diikutkan dalam mengorganisir kerja mereka 3) Dukungan rendah dari manajemen dan teman sekerja 4) Konflik karena tuntutan yang tinggi seperti tercapainya kualitas dan produktivitas. Pengendalian yang buruk terhadap penyebab stres kerja dapat berakibat pada penyakit dan menurunnya penampilan dan produktivitas. Stres kerja dapat disebabkan oleh beban kerja yang dirasakan terlalu berat, waktu kerja yang mendesak, kualitas pengawasan yang rendah, iklim kerja yang

12

tidak menentu, autoritas yang tidak memadahi yang berhubungan dengan tanggung jawab, konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan dengan perusahaan, dan frustasi (Anwar Prabu, 1993: 93). Ashar Sunyoto (2001: 381), mengelompokkan faktor- faktor penyebab stres dalam pekerjaan yaitu 1) Faktor- faktor intrinsik dalam pekerjaan Meliputi tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik berupa bising, vibrasi (getaran), higene. Sedangkan tuntutan tugas mencakup: (a) Kerja shift atau kerja malam Kerja shift merupakan sumber utama dari stres bagi para pekerja pabrik. Para pekerja shift lebih sering mengeluh tentang kelelahan dan gangguan perut daripada para pekerja pagi, siang dan dampak dari kerja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin menyebabkan gangguan perut. (b) Beban kerja Beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan pembangkit stres. (c) Paparan terhadap risiko dan bahaya Risiko dan bahaya dikaitkan dengan jabatan tertentu merupakan sumber stres. Makin besar kesadaran akan bahaya dalam pekerjaannya makin besar depresi dan kecemasan pada tenaga kerja.

13

2) Peran individu dalam organisasi Setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan- aturan yang ada dan sesuai yang diharapkan atasannya. Namun tenaga kerja tidak selalu berhasil memainkan perannya sehingga timbul: (a) Konflik peran (b) Ketaksaan peran Ketaksaan peran dirasakan jika seseorang tenaga kerja tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau tidak merealisasikan harapan- harapan yang berkaitan dengan peran tertentu. 3) Pengembangan karier Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih dan promosi yang kurang. 4) Hubungan dalam pekerjaan Harus hidup dengan orang lain merupakan salah satu aspek dari kehidupan yang penuh stres. Hubungan yang baik antar anggota dari satu kelompok kerja dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan individu dan organisaasi. 5) Struktur dan iklim organisasi Kepuasan dan ketidakpastian kerja berkaitan dengan penilaian dari struktur dan iklim organisasi. Faktor stres yang ditemui terpusat pada

14

sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau barperan serta dalam organisasi. 6) Tuntutan dari luar organisasi atau pekerjaan Kategori pembangkit stres potensial ini mencakup segala unsur kehidupan seorang yang dapat berinteraksi dengan peristiwa- peristiwa kehidupan dan kerja didalam satu organisasi dan dengan demikian memberikan tekanan pada individu. Isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan- keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan semuanya dapat merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaannya. 7) Ciri individu Stres ditentukan oleh individunya sendiri, sejauhmana ia melihat situasinya sebagai penuh stres.

Sarafino (dikutip Bart Smet, 1994: 117) membagi penyebab stres kerja menjadi 4 yaitu 1) Lingkungan fisik yang terlalu menekan seperti kebisingan, temperatur atau panas yang terlalu tinggi, udara yang lembab, penerangan di kantor yang kurang terang. 2) Kurangnya kontrol yang dirasakan 3) Kurangnya hubungan interpersonal

15

4) Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja. Para pekerja akan merasa stres bila mereka tidak mendapatkan promosi yang selayaknya mereka terima.

Sedangkan menurut Igor S (1997:248), stres kerja dapat disebabkan oleh (a) Intimidasi dan tekanan dari rekan sekerja, pimpinan perusahaan dan klien (b) Perbedaan antara tuntutan dan sumber daya yang ada untuk melaksanakan tugas dan kewajiban (c) Ketidakcocokan dengan pekerjaan (d) Pekerjaan yang berbahaya, membuat frustasi, membosankan atau berulang- ulang (e) Beban lebih (f) Faktor- faktor yang diterapkan oleh diri sendiri seperti target dan harapan yang tidak realistis, kritik dan dukungan terhadap diri sendiri. 2.1.1.3 Gejala Stres Kerja Menurut Ashar Sunyoto (2001: 378) gejala- gejala stres di tempat kerja sebagai berikut: 1) Tanda- tanda suasana hati (mood ) Berupa menjadi overexcited, cemas, merasa tidak pasti, sulit tidur malam hari, menjadi mudah bingung dan lupa, menjadi sangat tidak enak dan gelisah, menjadi gugup.

16

2) Tanda- tanda otot kerangka (musculoskeletal) Berupa jari- jari dan tangan gemetar, tidak dapat duduk diam atau berdiri di tempat, mengembangkan tic (gerakan tidak sengaja), kepala mulai sakit, merasa otot menjadi tegang atau kaku, menggagap ketika bicara, leher menjadi kaku. 3) Tanda- tanda organ- organ dalam badan (viseral) Berupa perut terganggu, merasa jantung berdebar, banyak keringat, tangan berkeringat, merasa kepala ringan atau akan pingsan, mengalami kedinginan, wajah menjadi panas, mulut menjadi kering, mendengar bunyi berdering dalam kuping. Igor S (1997:249) menyatakan bahwa ada beberapa gejala- gejala dari stres kerja yaitu (a) Menolak perubahan (b) Produktivitas dan efisiensi yang berkurang (c) Kehilangan pengendalian (d) Kurang tidur, kehilangan nafsu makan dan menurunnya nafsu seks (e) Tidak menyukai tempat bekerja dan orang- orang yang bekerja bersama anda. Carry Cooper dan Alison Straw (1995: 7) membagi gejala stres kerja menjadi tiga yaitu motivasi, ingatan, perhatian, tenggang rasa dan

17

1) Gejala fisik Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang, pencernaan terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah 2) Gejala- gejala dalam wujud perilaku Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku, mencakup: (a) Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa- apa, gelisah, gagal, tak menarik, kehilangan semangat. (b) Kesulitan keputusan. (c) Hilangnya: kreatifitas, gairah dalam penampilan, minat terhadap orang lain. 3) Gejala- gejala di tempat kerja Sebagian besar waktu bagi pekerja berada di tempat kerja, dan jika dalam keadaan stres , gejala- gejala dapat mempengaruhi kita di tempat kerja, antara lain: (a) (b) (c) (d) (e) Kepuasan kerja rendah Kinerja yang menurun Semangat dan energi hilang Komunikasi tidak lancar Pengambilan keputusan jelek dalam: berkonsentrasi, berfikir jernih, membuat

18

(f) (g)

Kreatifitas dan inovasi berkurang Bergulat pada tugas- tugas yang tidak produktif.

Gejala- gejala stres kerja dapat berupa letih dan lelah, kecewa, perasaan tidak berdaya, gangguan tidur, kegelisahan, ketegangan, kecemasan, cepat marah, kehilangan rasa percaya diri, perasaan kesepian atau keterasingan, makan terlalu sedikit, mudah tersinggung, berdebar- debar dan sulit berkonsentrasi (Bambang Tarupolo, 2002:5). Gejala stres kerja menurut Terry B dan John N (dikutip Jacinta F, 2002), dapat dibagi dalam 3 aspek yaitu 1) Gejala psikologis, meliputi Kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitif, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, kebosanan, ketidakpuasaan kerja, lelah mental, menurunnya fungsi intelektual, kehilangan daya konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas, kehilangan semangat hidup dan menurunnya harga diri dan rasa percaya diri. 2) Gejala fisik, meliputi Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin, gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung), mudah terluka, mudah lelah secara fisik, kematian, gangguan kardiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat,

19

gangguan pada kulit, kepala pusing, migrain, kanker, ketegangan otot, problem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur). 3) Gejala perilaku, meliputi Menunda atau menghindari pekerjaan atau tugas, penurunan prestasi dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi seperti berjudi, meningkatnya agresifitas dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman serta kecenderungan bunuh diri.

Sedangkan menurut Agus M Hardjana (1994: 23-26) indikator- indikator stres sebagai berikut: 1) Gejala fisikal berupa (a) Sakit kepala, pusing, pening (b) Tidur tidak teratur: insomnia (susah tidur), tidur terlantur, bangun terlalu awal (c) Sakit punggung terutama dibagian bawah (d) Mencret- mencret dan radang usus besar (e) Sulit buang air besar, sembelit (f) Gatal- gatal pada kulit (g) Urat tegang- tegang terutama pada leher dan bahu

20

(h) Terganggu pencernaanya atau bisulan (i) Tekanan darah tinggi atau serangan jantung (j) Keluar keringat banyak (k) Selera makan berubah (l) Lelah atau kehilangan daya energi (m) Bertambah banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam kerja dan hidup. 2) Gejala emosional (a) Gelisah atau cemas (b) Sedih, depresi, mudah menangis (c) Merana jiwa dan hati atau mood berubah- ubah cepat (d) Mudah panas dan marah (e) Gugup (f) Rasa harga diri menurun atau merasa tidak aman (g) Terlalu peka dan mudah tersinggung (h) Marah- marah (i) Gampang menyerang orang dan bermusuhan (j) Emosi mengering atau kehabisan sumber daya mental (burn out) 3) Gejala intelektual (a) Susah berkonsentrasi atau memusatkan pikiran (b) Sulit membuat keputusan (c) Mudah terlupa (d) Pikiran kacau

21

(e) Daya ingat menurun (f) Melamun secara berlebihan (g) Pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja (h) Kehilangan rasa humor yang sehat (i) Produktivitas atau prestasi kerja menurun (j) Mutu kerja rendah (k) Dalam kerja bertambah jumlah kekeliruan 4) Gejala interpersonal (a) Kehilangan kepercayaan kepada orang lain (b) Mudah mempersalahkan orang lain (c) Mudah membatalkan janji atau tidak memenuhinya (d) Suka mencari- cari kesalahan orang lain atau menyerang orang dengan kata- kata (e) Mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri (f) Mendiamkan orang lain. 2.1.1.4 Dampak Stres Kerja Menurut Gibson dkk (1996:363), dampak dari stres kerja banyak dan bervariasi. Dampak positif dari stres kerja diantaranya motifasi pribadi, rangsangan untuk bekerja lebih keras, dan meningkatnya inspirasi hidup yang lebih baik. Meskipun demikian, banyak efek yang mengganggu dan secara potensial berbahaya. Cox membagi menjadi 5 kategori efek dari stres kerja yaitu

22

1) Subyektif berupa kekhawatiran atau ketakutan, agresi, apatis, rasa bosan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kendali emosi, penghargaan diri yang rendah, gugup, kesepian. 2) Perilaku berupa mudah mendapat kecelakaan, kecanduan alkohol, penyalahgunaan obat, luapan emosional, makan atau merokok secara berlebihan, perilaku impulsif, tertawa gugup. 3) Kognitif berupa ketidakmampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat sensitif terhadap kritik, hambatan mental. 4) Fisiologis berupa kandungan glukosa darah meningkat, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar, panas, dan dingin. 5) Organisasi berupa angka absensi, omset, produktivitas rendah, terasing, dari mitra kerja, komitmen organisasi dan loyalitas berkurang. Selain efek tersebut terdapat juga efek stres yang lain yaitu perilaku tidak produktif dan menarik diri seperti lekas marah, kecanduan alkohol,

penyalahgunaan obat, dan tindakan legal (hukum) secara khusus mengganggu dalam bentuk hilangnya produktivitas . Menurut Bambang Tarupolo (2002:18), tenaga kerja yang tidak mampu bereaksi secara baik terhadap stres yang dialami, kesehatan jiwanya akan tergangu dan karenanya kualitas hidup dan produktivitasnya menjadi rendah. Karyawan tersebut akan menunjukkan:

23

(a) Sering mengeluh sakit dan berobat (b) Malas dan sering mangkir (c) Sering membuat kesalahan dalam pekerjaan dan cenderung mengalami kecelakaan kerja (d) Sering marah dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik (e) Tidak peduli dengan lingkungan, bingung dan pelupa (f) Cara pandang yang negatif dan rasa permusuhan (g) Terlibat penyalahgunaan narkoba (h) Terlibat tindak sabotase di lingkungan kerja.

Igor S (1997:249) menyatakan beberapa akibat stres kerja yaitu (a) Sering tidak masuk kerja (b) Semangat dan produktivitas yang rendah (c) Kepuasan kerja yang rendah (d) Perputaran pegawai tinggi (banyak pegawai keluar) (e) Kenaikan beban biaya terhadap masyarakat dan para majian.

Stres kerja dapat mengakibatkan hal- hal sebagai berikut: (a) Penyakit fisik yang diinduksi oleh stres yaitu penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan menstruasi, gangguan pencernaan, mual, muntah, dan sebagainya. (b) Kecelakaan kerja: terutama pada pekerjaan yang menuntut kinerja yang tinggi, bekerja bergiliran (shift), penyalahgunaan zat aditif

24

(c) Absen: pegawai yang sulit menyelesaikan pekerjaan sebab tidak hadir karena pilek, sakit kepala (d) Lesu kerja: pegawai kehilangan motivasi bekerja (e) Gangguan jiwa: mulai dari gangguan yang mempunyai efek yang ringan dalam kehidupan sehari- hari sampai pada gangguan yang mengakibatkan ketidakmampuan yang berat.Gangguan jiwa ringan seperti mudah gugup, tegang, marah- marah, mudah tersinggung, kurang berkonsentrasi, apatis dan depresi. Perubahan perilaku berupa kurang partisipasi dalam pekerjaan, mudah bertengkar, terlalu mudah mengambil resiko. Gangguan yang lebih jelas lagi dapat berupa depresi, gangguan cemas (Laurentius Panggabean, 2003:2).

Menurut Jacinta (2002), stres kerja dapat juga mengakibatkan hal- hal sebagai berikut: 1) Dampak terhadap perusahaan yaitu (a) Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja (b) Mengganggu kenormalan aktivitas kerja (c) Menurunnya tingkat produktivitas (d) Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Randall Schuller, stres yang dihadapi tenaga kerja berhubungan dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan

25

mengalami kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu. 2) Dampak terhadap individu. Munculnya masalah- masalah yang berhubungan dengan: (a) Kesehatan Banyak penelitian yang menemukan adanya akibat-akibat stres terhadap kesehatan seperti jantung, gangguan pencernaan, darah tinggi, maag, alergi, dan beberapa penyakit lainnya. (b) Psikologis Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan

kekuatiran yang terus menerus yang disebut stres kronis. Stres kronis sifatnya menggerigoti dan menghancurkan tubuh, pikiran dan seluruh kehidupan penderitanya secara perlahan- lahan. (c) Interaksi interpersonal Orang yang sedang stres akan lebih sensitif dibandingkan orang yang tidak dalam kondisi stres. Oleh karena itu sering salah persepsi dalam membaca dan mengartikan suatu keadaan, pendapat dan penilaian, kritik, nasehat, bahkan perilaku orang lain. Orang stres sering mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan harga diri.

26

2.1.2 Produktivitas 2.1.2.1 Pengertian Produktivitas Produktivitas kerja seringkali dikaitkan dengan keefektivan dan efisiensi dari kerja atau dikaitkan dengan masalah rasio hasil kerja (keluaran) dan berbagai sumber yang diperlukan untuk tercapainya hasil kerja tersebut (masukan) (I Ketut Gde Juli S, 2004:17). Menurut Sugeng Budiono (2003: 263) produktivitas mempunyai beberapa pengertian yaitu 1) Pengertian fisiologi Produktivitas yaitu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik kemarin, esok harus lebih baik dari hari ini. Pengertian ini mempunyai makna bahwa dalam perusahaan atau pabrik, manajemen harus terus menerus melakukan perbaikan proses produksi, sistem kerja, lingkungan kerja dan lain- lain. 2) Produktivitas merupakan perbandingan antara keluaran (output) dan masukan ekonomi (input). Perumusan ini berlaku untuk perusahaan, industri dan keseluruhannya. Secara sederhana produktivitas adalah

perbandingan secara ilmu hitung, antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah setiap sumber daya yang dipergunakan selama proses berlangsung.

Produktivitas adalah hasil nyata terukur, yang dapat dicapai seseorang dalam lingkungan kerja nyata untuk setiap satuan (Sjahmien Moehji, 2003: 75).

27

Husein Umar (1998:9) menyatakan produktivitas adalah hasil perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). 2.1.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan antara lain motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan dan aspek- aspek ekonomis (Handoko, 2001:193). Sritomo Wignjosoebroto (2003:9) mengungkapkan bahwa pada hakikatnya produktivitas kerja akan banyak ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu 1) Faktor teknis yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis. 2) Faktor manusia Yaitu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha- usaha yang dilakukan manusia didalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Ada 2 hal pokok yang menentukan, yaitu kemampuan kerja dari pekerja tersebut dan yang lain adalah motivasi kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan peningkatan prestasi kerja atas seseorang.

28

Sjahmien Moellfi (2003:75) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi produktivitas yaitu 1) Beban kerja Berhubungan langsung dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan. 2) Kapasitas kerja Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya pada waktu tertentu. Kapasitas kerja sangat bergantung pada jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia dan status gizi. 3) Beban tambahan akibat lingkungan kerja Lingkungan kerja yang buruk akan memberikan dampak berupa penurunan produktivitas kerja, antara lain: (a) Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dan getaran. (b) Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu, partikel. (c) Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus, dan parasit. (d) Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.

29

(e) Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik serta pekerjaan yang monoton.

Balai Pengembangan Produktivitas Daerah (dikutip Husein Umar, 1998:11) menyebutkan ada 6 faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja yaitu (a) Sikap kerja (b) Tingkat ketrampilan (c) Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan (d) Manajemen produktivitas (e) Efisiensi tenaga kerja (f) Kewiraswastaan

Sedangkan menurut Sugeng Budiono dkk (2003:265),

produktivitas

dipengaruhi banyak faktor. Faktor- faktor tersebut dapat berada dalam diri tenaga kerja maupun diluar diri tenaga kerja itu sendiri. Didalam diri tenaga kerja antara lain sikap mental, motivasi, disiplin dan etos kerja. Faktor lain yang dapat mempengaruhi produktivitas yaitu pendidikan, ketrampilan dan kemampuan, sistem manajemen, teknologi yang digunakan, sarana produksi, iklim lingkungan kerja, kesehatan dan gizi kerja, jaminan sosial.

30

2.1.2.3 Pengukuran Produktivitas Menurut I Ketut Gde Juli S (2004:18), produktivitas kerja seringkali dikaitkan dengan keefektivan dan efisiensi dari kerja atau dikaitkan dengan masalah rasio hasil kerja (keluaran) dan berbagai sumber yang diperlukan untuk tercapainya hasil kerja tersebut (masukan). Rasio keluaran dan masukan ini dapat juga dipakai untuk mengetahui usaha yang dilakukan manusia. Produktivitas secara umum dapat diformulasikan sebagai berikut: Produktivitas = Output Input . Waktu

Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2003:5-7), produktivitas merupakan rasio antara keluaran (output) dan masukan (input). Untuk beberapa jenis masukan atau keluaran tertentu kadang- kadang agak sulit diukur besarnya karena sifatnya yang abstrak. Masukan terdiri bahan baku dan penunjang, tenaga kerja, mesin dan fasilitas produksi lainnya, informasi, energi, waktu. Selain itu terdapat masukan yang sulit dinilai dan diukur besarnya, tetapi cukup penting dalam penentuan produktivitas kerja. Faktor itu dikenal dengan masukan bayangan (invisible input) yang antara lain meliputi tingkat pengetahuan, kemampuan teknis, metodologi kerja dan pengaturan organisasi serta motivasi kerja. Sehingga produktivitas dapat diformulasikan sebagai berikut: Produktivitas = Output Input (Measurable) + Input (Invisible)

31

Produktivitas akan bertambah bila ada penambahan secara proporsional dari nilai keluaran per masukan. Bilamana masukan dalam keadaan konstan, sedang keluaran yang dihasilkan terus bertambah, maka hal ini menunjukkan bahwa sumber- sumber produksi (masukan) telah berhasil dilaksanakan, dioperasikan, dimanfaatkan dan dikelola secara efektif dan efisien. Untuk mengukur produktivitas kerja dari tenaga kerja manusia, operator mesin misalnya, produktivitas dapat hitung dengan: Produktivitas Tenaga kerja = Total keluaran yang dihasilkan Jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan

Produktivitas dari tenaga kerja ditunjukkan sebagai rasio dari jumlah keluaran yang dihasilkan per total tenaga kerja yang jam manusia (man- hour), yaitu jam kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Untuk produkproduk tertentu rasio antara keluaran dan pemasukan dapat dinyatakan dalam jumlah produk yang dibuat per jam kerja yang dipergunakan untuk itu. Seseorang dinyatakan telah bekerja dengan produktif jikalau ia menunjukkan output kerja yang paling tidak telah mencapai suatu ketentuan minimal. Ketentuan ini didasarkan atas besarnya keluaran yang dihasilkan secara normal dan diselesaikan dalam jangka waktu yang layak pula. Ada 2 unsur dalam kriteria produktivitas yaitu a. Besar atau kecilnya keluaran yang dihasilkan b. Waktu kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

32

Sugeng Budiono (2003:263) menyatakan bahwa produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut: P=O I Dimana: P O I : Produktivitas : Keluaran (output) : Masukan ( Input )

Masukan dapat berupa bahan baku, teknologi (pabrik, mesin, peralatan kerja), modal, SDM. Produktivitas dapat digunakan sebagai ukuran tingkat efisiensi, efektivitas dan kualitas setiap sumber daya yang digunakan selama produksi berlangsung. Hasil bagi antara output dan input akan menghasilkan suatu besaran angka mutlak. Angka ini akan memperlihatkan: 1) Apakah produktivitas akan meningkat dari satu periode ke periode yang lain ? 2) Apakah produktivitas suatu perusahaan lebih baik dari yang lain? Setiap sumber daya mempunyai produktivitas tersendiri (produktivitas partial). Produktivitas dari masing- masing sumber daya dihitung sebagai berikut:

a) Produktivitas tenaga kerja =

Keluaran Jumlah tenaga kerja

b) Produktivitas modal

=

Keluaran Jumlah modal

33

c) Produktivitas bahan =

Keluaran Jumlah bahan

Produktivitas akan meningkat bila: 1) Keluaran meningkat tetapi masukan menurun 2) Keluaran tetap tetapi masukan menurun 3) Keluaran meningkat dan masukan meningkat tetapi perbedaan keluaran lebih besar dari kenaikan masukan. Produktivitas dikatakan meningkat bila P ≥ 1, yaitu: 1) Tenaga kerja mampu menghasilkan keluaran (barang) yang lebih besar dalam waktu yang sama. 2) Hasil perhitungan: Produktivitas Tenaga Kerja Produktivitas yang Diharapkan Sedangkan menurut Husein Umar (1998:10), produktivitas memiliki 2 dimensi yaitu 1) Efektivitas yang mengarah kepada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu 2) Efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaanya atau hal bagaimana tersebut, pekerjaan produktivitas tersebut dapat ≥1

dilaksanakan.Berdasarkan

diformulasikan sebagai berikut:

34

Produktivitas

=

Efektivitas menghasilkan output Efisiensi menggunakan input

2.1 Hipotesis Ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang.

35

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Populasi Penelitian Menurut Sugiyono (2002:55), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja bagian linting PT Gentong Gotri Semarang yang berjumlah 100 orang.

3.2 Sampel Penelitian Menurut Sugiyono (2002:56), sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 25 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan tersebut yaitu 1) Tenaga kerja wanita 2) Sudah berkeluarga 3) Umur 20- 35 tahun 4) Masa kerja 1-5 tahun 5) Pendidikan terakhir SMP 6) Kesehatan fisik baik (tidak sedang sakit).

36

37

3.3 Variabel Penelitian Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (variabel terikat). Jadi variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi. Sedangkan variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2002:3). Dalam penelitian ini variabel yang digunakan yaitu 1) Variabel bebas yaitu stres kerja 2) Variabel terikat yaitu produktivitas 3) Variabel pengganggu yaitu beban kerja, beban tambahan lingkungan kerja tidak diukur karena tempat kerja sama sehingga dianggap sama. Sedangkan jenis kelamin, status, kesehatan fisik, umur, masa kerja, pendidikan dikendalikan. Kerangka Konsep Variabel Bebas Stres kerja Variabel Terikat Produktivitas

Variabel Pengganggu Beban Kerja, Beban Tambahan Lingkungan Kerja Jenis kelamin, status, kesehatan fisik, umur, masa kerja, pendidikan

38

3.4 Rancangan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:145). Jadi dalam penelitian ini semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama.

3.5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat- alat yang digunakan untuk pengumpulan data (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:48). Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa: 3.5.1 Skala Stres Kerja Dalam penelitian ini, skala stres kerja disusun berdasarkan indikatorindikator atau gejala- gejala stres kerja menurut Carry Cooper dan Alison Straw (1995: 7). Gejala- gejala stres kerja dibagi menjadi 3 yaitu 1) Gejala fisik Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang, pencernaan terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah. 2) Gejala- gejala dalam wujud perilaku Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku, mencakup:

39

(a) Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa- apa, gelisah, gagal, tak menarik, kehilangan semangat.. (b) Kesulitan dalam: berkonsentrasi, berfikir jernih, membuat keputusan. (c) Hilangnya: kreatifitas, gairah dalam penampilan, minat terhadap orang lain. 3) Gejala- gejala di tempat kerja Sebagian besar waktu bagi pekerja berada di tempat kerja, dan jika dalam keadaan stres , gejala- gejala dapat mempengaruhi kita di tempat kerja, antara lain: (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) Kepuasan kerja rendah Kinerja yang menurun Semangat dan energi hilang Komunikasi tidak lancar Pengambilan keputusan jelek Kreatifitas dan inovasi berkurang Bergulat pada tugas- tugas yang tidak produktif

Dalam skala stres kerja ini terdiri dari 2 pernyataan yaitu pernyataan positif (Favorabel) dan pernyataan negatif (Unfavorable). Pernyataan positif adalah pernyataan yang mendukung tentang stres kerja dan pernyataan negatif adalah pernyataan yang tidak mendukung stres kerja. Dalam skala ini disediakan 4 jawaban yaitu selalu, seringkali, kadang- kadang, dan tidak pernah. Dengan penilaian selalu = 4, seringkali = 3, kadang- kadang = 2, tidak pernah = 1 untuk pernyataan positif. Sedangkan untuk pernyataan negatif selalu = 1, seringkali = 2.

40

kadang- kadang = 3, dan tidak pernah = 4. Dari 40 pernyataan dapat disusun jawaban skala stres kerja sebagai berikut: Tabel 1 Komponen dan Distribusi Butir Soal Skala Stres Kerja No Indikator stres kerja 1. 2. Gejala fisik Gejala dalam wujud perilaku 3. Gejala di tempat kerja Jumlah 30 10 40 No Item Favourable 1,2,7,8,9,15,16,20,40 3,10,11,18,21,22,25,26, 27,30,34,37,38,39 4,6,12,14,19,24,31 5,13,23,28,32,35 13 Unfavourable 36 17,29,33 10 17 Jumlah

3.5.1.1 Pengujian Skala Stres kerja Untuk mendapatkan instrumen yang ampuh dalam mengukur seluruh indikator atau gejala dalam skala stres kerja, maka dilakukan uji instrumen terlebih dahulu. Uji instrumen tersebut meliputi uji validitas dan reliabilitas. 3.5.1.1.1 Validitas Butir Soal Skala Stres Kerja Rumus yang digunakan Product Moment yaitu

rxy =
Keterangan : rxy n ∑Xi ∑Yi

N ∑ XiYi − (∑ Xi )(∑ Yi )

{n ∑ Xi

2

− (∑ Xi ) n ∑ Yi 2 − (∑ Yi )
2

}{

2

}

= Koefisien korelasi tiap butir = Jumlah peserta tes = Jumlah skor butir = Jumlah skor total

41

∑XiYi = Jumlah perkalian skor butir dan skor total ∑Xi2 = Jumlah kuadrat butir ∑Yi2 = Jumlah kuadrat skor total (Sugiyono, 2002:213).

Untuk menentukan valid atau tidaknya pernyataan yang digunakan dalam skala stres kerja, dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir pernyataan dengan skor total. Hasil perhitungan validitas butir pernyataan dapat dilihat pada lampiran 3. Setelah dilakukan korelasi skor total dengan skor butir pernyataan, maka rxy didapatkan. Kemudian dibandingkan dengan rtabel product moment. Untuk n = 5 dan taraf signifikan 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0, 878. Apabila rhitung > rtabel maka pernyataan yang bersangkutan dinyatakan valid, sebaliknya apabila rhitung < rtabel maka pernyataan yang bersangkutan dinyatakan tidak valid. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan: 1) Pernyataan yang mempunyai rhitung < 0, 878 = pernyataan nomor 16 yaitu sebesar -0,0039 dan pernyataan nomor 28, yaitu sebesar -0,2572. Dengan demikian, pernyataan nomor 16 dan 28 dinyatakan tidak valid. 2) Pernyataan yang mempunyai rhitung > 0, 878 = seluruh pernyataan kecuali pernyatan nomor 16 dan 28. Dengan demikian, pernyataan selain nomor 16 dan 28 dinyatakan valid. Sehingga pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

42

Tabel 2 Komponen dan Distribusi Butir Soal Skala Stres Kerja No Indikator stres kerja 1. 2. Gejala fisik Gejala dalam wujud perilaku 3. Gejala di tempat kerja Jumlah 29 9 38 No Item Favourable 1,2,7,8,9,15,20,40 3,10,11,18,21,22,25,26, 27,30,34,37,38,39 4,6,12,14,19,24,31 5,13,23,32,35 12 Unfavourable 36 17,29,33 9 17 Jumlah

3.5.1.1.2 Uji Reliabilitas Instrumen Uji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik Alpha, dengan rumus:
2  k  ∑ σb r11 =  1 − σ 12  k − 1  

   

Keterangan: r11 : Reliabilitas instrumen

Σσb2 : Jumlah varians butir
k : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal : Varians total (Suharsimi Arikunto, 2002:171).

σ12

43

Penentuan reliabilitas instrumen dilakukan dengan membandingkan harga koefisien r Alpha dengan r tabel. Apabila rhitung > rtabel, maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel. Perhitungan reliabilitas instrumen dapat dilihat pada lampiran 3. Dari hasil perhitungan reliabilitas instrumen diperoleh rhitung = 0, 9930. Untuk n = 5 dengan taraf signifikansi 5% diperoleh rtabel sebesar 0, 878. Dengan demikian rhitung > rtabel, sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Dalam penelitian ini tingkatan stres kerja disajikan dalam 5 tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Menurut Sudjana (1996: 47), langkah-langkah yang dilakukan untuk penentuan tingkatan tersebut adalah sebagai berikut: a. Menentukan skor maksimal = jumlah item skala x skor maksimal = 38 x 4 = 152 b. Menentukan skor minimal = jumlah soal x skor minimal = 38 x 1 = 38 c. Menentukan rentang skor = skor maksimal – skor minimal = 152 – 38 = 114 d. Jumlah kelas kategori = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 25 = 5,6 dibuat 5 kelas kategori e. Panjang kelas = rentang skor : jumlah kelas =114 :5 = 22,8

44

Adapun penentuan kriteria tingkatan stres kerja sebagai berikut: 1) Jika nilai terletak pada interval 38-59,8 maka mengalami stres kerja tingkat sangat rendah. 2) Jika nilai terletak pada interval 60,8- 82,9 maka mengalami stres kerja tingkat rendah. 3) Jika nilai terletak pada interval 83,6-105,4 maka mengalami stres kerja tingkat sedang. 4) Jika nilai terletak pada interval 106,4- 128,2 maka mengalami stres kerja tingkat tinggi 5) Jika nilai terletak pada interval 129,2-152 maka mengalami stres kerja tingkat sangat tinggi.

3.5.2 Lembar Pencatatan Produktivitas Tenaga kerja
Produktivitas tenaga kerja merupakan rasio antara jumlah barang yang dihasilkan tenaga kerja dan waktu yang dibutuhkan. Produktivitas tenaga kerja diukur dengan cara: Jumlah batang rokok yang dihasilkan dalam 1 minggu Jumlah batang rokok yang ditargetkan perusahaan 1 minggu Dengan kriteria: Jika hasilnya: < 1, maka produktivitas rendah

≥ 1, maka produktivitas tinggi

3.6 Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini melalui beberapa tahap yaitu: 1) Pembuatan proposal skripsi dan bimbingan kepada kedua dosen pembimbing.

45

2) Pembuatan surat ijin observasi di PT Gentong Gotri semarang. 3) Mengajukan permohonan ijin observasi kepada perusahaan tersebut. 4) Penerimaan dari perusahaan untuk melakukan observasi dan penelitian. 5) Observasi terhadap lokasi serta wawancara terhadap tenaga kerja bagian linting. 6) Penyusunan Skala Stres Kerja. 7) Persetujuan terhadap Skala Stres Kerja yang telah disusun serta pengesahan proposal untuk melakukan peneltitian. 8) Pembuatan surat ijin penelitian di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang. 9) Permohonan ijin penelitian di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang 10) Penerimaan dari perusahaan untuk melakukan penelitian di perusahaan tersebut. 11) Meminta ijin kepada perusahaan dan pengawas bagian linting untuk pemberian Skala Stres Kerja kepada tenaga kerja. Sebelum skala diberikan pada sampel, skala terlebih dahulu diuji cobakan kebagian lain. 12) Setelah skala valid dan reliabel, skala dibagikan kepada responden bagian linting untuk diisi. Dan skala dikumpulkan lagi. 13) Setelah Skala Stres Kerja dan data jumlah produk yang dihasilkan tenaga kerja diperoleh dilakukan analisis data.

3.7 Teknik Pengambilan Data 3.7.1 Skala Stres Kerja
Skala adalah alat pengumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan dan menilai seseorang atau suatu gejala. Skala berupa daftar yang berisikan ciri- ciri

46

tingkah laku, yang dicatat secara bertingkat (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:100). Dalam penelitian ini skala yang digunakan yaitu Skala stres kerja. Skala stres kerja adalah alat pengumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan dan menilai gejala- gejala stres kerja. Skala stres kerja berisi indikator- indikator atau gejala- gejala perilaku stres kerja (Saifudin Azwar, 1999:2). Dalam penelitian ini skala stress kerja diberikan secara langsung kepada responden yang menjadi subyek penelitian. Adapun cara pemberian dan pengumpulan skala stres kerja sebagai berikut: 1) Meminta ijin pada perusahaan untuk membagikan skala stress kerja pada responden di bagian linting. 2) Sebelum skala diberikan pada sample, skala diuji cobakan pada bagian lain. 3) Setelah skala valid dan reliabel kemudian skala diberikan pada 25 responden di bagian linting. 4) Responden diberikan waktu selama 30 menit untuk mengisi skala stress kerja. 5) Setelah 30 menit skala dikumpulkan kembali.

3.7.2 Pencatatan Produktivitas Kerja
Pengukuran produktivitas tenaga kerja dilakukan terhadap 25 responden selama 1 minggu. Cara yang digunakan dalam pencatatan produktivitas responden sebagai berikut: 1) Meminta ijin pada perusahaan untuk mencatat data jumlah rokok yang dihasilkan responden selama 1 minggu. 2) Setelah ijin didapatkan maka dilakukan pencatatan terhadap jumlah rokok yang dihasilkan responden.

47

3) Kemudian dilakukan pengukuran produktivitas dari 25 responden 4) Setelah pengukuran produktivitas kerja selesai kemudian dilakukan pencatatan produktivitas responden.

3.8 Analisis Data
Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah analisis data, sehingga data tersebut dapat ditarik menjadi suatu simpulan. Adapun data dianalisis dengan menggunakan bantuan komputer yang meliputi:

3.8.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan variabel stres kerja dan variabel produktivitas kerja yang disajikan dalam bentuk mean, nilai terendah, nilai tertinggi dan standar deviasi.

3.8.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan variabel terikat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan skala data yaitu ordinal. Uji statistik yang digunakan adalah korelasi Rank spearman. Menurut Sugiyono (2002: 216), kriteria keeratan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, yaitu sebagai berikut : 1. 0,00 – 0,199 2. 0,20 – 0,399 3. 0,40 – 0,599 4. 0,60 – 0,799 5. 0,80 – 1,000 : hubungan sangat rendah : hubungan rendah : hubungan cukup kuat : hubungan kuat : hubungan sangat kuat.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data Langkah yang dilakukan setelah mendapatkan data dari seluruh responden adalah mendeskripsikan data hasil penelitian. Deskripsi data ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara nyata dan jelas tentang aspek- aspek atau faktor- faktor yang menjadi variabel penelitian. Deskripsi data dalam penelitian ini akan mengungkap gambaran tentang stres kerja dan produktivitas yang dialami oleh tenaga kerja wanita bagian linting PT Gentong Gotri Semarang. Pendeskripsian data dilakukan dengan menggunakan perhitungan mean (ratarata), skor tertinggi dari responden, skor terendah dari responden serta standar deviasi. 4.1.1 Stres Kerja Pengukuran tingkat stres kerja pada tenaga kerja wanita dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala stres kerja. Setelah dilakukan pengumpulan data diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 3 Statistik Deskriptif Variabel Stress Kerja Jumlah Nilai Nilai Mean Standar Sampel 25 terendah 65,00 Tertinggi 94,00 79,2000 deviasi 9,79371

49

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dari sampel penelitian sejumlah 25 responden, rata-rata skor yang diperoleh seluruh responden adalah 79,2 dengan standar deviasi sebesar 9,79. Skor tertinggi yang diperoleh responden adalah sebesar 94 dan skor terendah yang dicapai responden sebesar 65. 4.1.2 Produktivitas Tenaga Kerja Pengukuran tingkat produktivitas tenaga kerja wanita dalam penelitian ini dilakukan dengan pencatatan. Setelah dilakukan pengumpulan data diperoleh hasil statistik deskriptif sebagai berikut: Tabel 4 Statistik Deskriptif Variabel Produktivitas Kerja

Jumlah Sampel 25

Nilai Terendah 0,81

Nilai Tertinggi 1,24

Mean

Standar Deviasi

1,0516

0,11164

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dari sampel penelitian sejumlah 25 responden, rata-rata tingkat produktivitas kerja yang ditunjukkan seluruh responden adalah 1,0516 dengan standar deviasi sebesar 0,1116. Tingkat produktivitas tertinggi yang ditunjukkan responden adalah sebesar 1,24 dan tingkat produktivitas terendah yang dicapai responden sebesar 0,81.

50

4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Penyajian Data Hasil Penelitian Penyajian data hasil penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan sebaran data hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan daftar disribusi frekuensi serta dilengkapi dengan tabel dan grafik. 4.2.1.1 Stres Kerja Gambaran tingkatan stres kerja dalam penelitian ini disajikan dalam 5 tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Tabel 5 Daftar Distribusi Frekuensi Tingkatan Stress Kerja INTERVAL KATEGORI FREKUENSI PROSENTASE 38 - 59.8 SANGAT RENDAH 0 0 60.8 - 82.6 RENDAH 15 60 83.6 - 105.4 SEDANG 10 40 106.4 - 128.2 TINGGI 0 0 129.2 - 152 SANGAT TINGGI 0 0 Jumlah 25 100 % Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut: Grafik 1 Tingkatan Stress Kerja Tenaga Kerja
60 50 40 30 20 10 0 SANGAT RENDAH SEDANG RENDAH TINGGI SANGAT TINGGI PROSENTASE

51

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, dapat diketahui bahwa dari 25 responden, 15 orang (60%) mempunyai tingkat stres kerja yang rendah dan 10 orang (40%) mempunyai tingkat stres kerja pada taraf sedang. Hasil tersebut juga menunjukkan tidak ada responden yang mempunyai stress kerja pada tingkatan sangat rendah, tinggi dan sangat tinggi. 4.2.1.2 Produktivitas Kerja Tingkatan produktivitas responden disajikan dalam 2 tingkatan yaitu produktivitas tinggi dan produktivitas rendah. Produktivitas diukur dengan membandingkan jumlah rokok yang dihasilkan selama1 minggu dan jumlah rokok yang ditargetkan selama 1 minggu. Apabila hasilnya 1 atau lebih maka tenaga kerja tersebut dinyatakan mempunyai produktivitas kerja tinggi, namun jika tingkat produktivitas yang diperoleh kurang dari 1, maka tenaga kerja tersebut dinyatakan mempunyai tingkat produktivitas kerja yang rendah. Berdasarkan pengukuran produktivitas kerja responden didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 6 Prosentase Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja Wanita PRODUKTIVITAS KERJA FREKUENSI PROSENTASE RENDAH 8 32 TINGGI 17 68 JUMLAH 25 100 % Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut:

52

Grafik 2 Tingkatan Produktivitas Tenaga Kerja

70 60 50 40 30 20 10 0 RENDAH TINGGI PROSENTASE

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, diketahui bahwa 8 responden (32%) mempunyai tingkat produktivitas kerja yang rendah, sedangkan 17 responden (68%) mempunyai tingkat produktivitas kerja yang tinggi.

4.2.2 Pengujian Hipotesis Penelitian Analisis terhadap data dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah disusun. Teknik yang digunakan adalah dengan menggunakan korelasi Rank Spearman. Dengan menggunakan teknik tersebut akan diperoleh nilai rhohitung (ρhitung). Hasil perhitungan dapat disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 7 Korelasi Rank Spearman Variabel Bebas dan Variabel Terikat Jumlah Sampel 25 Variabel Bebas Stres Kerja Variabel Terikat Produktivitas Batas Signifikan 0,01 P 0,005 ρ hitung -0,549

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan besarnya probabilitas = 0,005. Karena probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita.

53

Dari tabel di atas, juga terlihat ρ

hitung

= -0,549 (di antara nilai 0,40- 0,599),

yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara dua variabel (Sugiyono, 2004:216). Koefisien korelasi mempunyai tanda negatif yang berarti semakin tinggi stres kerja maka produktivias tenaga kerja semakin rendah. Demikian sebaliknya makin rendah stres kerja, maka produktivitas tenaga kerja semakin tinggi.

4.3 Pembahasan Berdasarkan analisis deskriptif pada variabel stres kerja dapat diketahui bahwa dari 25 responden, 15 orang (60%) mempunyai tingkat stres kerja rendah dan 10 orang (40%) mempunyai tingkat stres kerja pada taraf sedang dan tidak ada responden yang mempunyai tingkat stres kerja sangat rendah, tinggi dan sangat tinggi. Berdasarkan observasi dan hasil pengisian skala stres kerja yang dilakukan responden, beberapa hal yang dapat diduga sebagai penyebab stres kerja yang dialami oleh tenaga kerja yaitu: 1. Faktor- faktor intrinsik pekerjaan, meliputi: (a) Tuntutan fisik: tempat kerja yang dirasakan bising karena alat kerja, posisi kerja yang tidak nyaman, ketidaksesuaian antara sarana kerja dengan bentuk tubuh, keterbatasan gerak saat bekerja. (b) Tuntutan tugas: Tenaga kerja melakukan pekerjaan secara berulang- ulang sehingga mengakibatkan kebosanan.

54

2. Peran individu dalam organisasi, meliputi: (a) Konflik peran: responden mengalami konflik peran yaitu disatu sisi berperan sebagai ibu rumah tangga dan disisi lain berperan sebagai pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaan. (b) Tidak dapat mencapai target yang ditetapkan perusahaan. 3. Tidak adanya perkembangan karir sehingga tenaga kerja merasa tidak puas dengan pekerjaan saat ini. 4. Hubungan dalam organisasi, terdiri: (a) Tidak adanya kecocokan dengan teman sekerja (b) Tidak adanya kecocokan dengan atasan. 5. Struktur Organisasi, berkaitan dengan tidak adanya hak yang dimiliki oleh tenaga kerja dalam mengorganisir pekerjaan mereka. 6. Hubungan diluar organisasi atau pekerjaan, meliputi adanya masalah keluarga yang terbawa di tempat kerja.

Gejala-gejala stres kerja yang banyak dialami oleh tenaga kerja adalah sebagai berikut 1. Gejala fisik a. Menjadi susah tidur bila sedang mempunyai masalah (nomor 1) b. Telapak tangan berkeringat bilang sedang bekerja (nomor 2) c. Kepala terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai (nomor 7) d. Merasa panas meskipun bekerja di tempat kerja dengan jendela yang cukup (nomor 8)

55

e. Bila bekerja terlalu lama leher menjadi kaku (nomor 19) f. Nafsu makan berubah jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan (nomor 34) 2. Gejala perilaku secara umum a. Merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuannya (nomor 3) b. Menerima semua kebijakan dari perusahaan (nomor 10) c. Tidak tenang bila menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja (nomor 16) d. Merasa tidak cocok dengan teman sekerja (nomor 24) e. Merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan (nomor 26) f. Tidak mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja (nomor 27) g. Merasa tidak selalu senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari atasan (nomor 30) h. Lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja (nomor 35) i. Tidak dapat bekerja dengan tenang bila ada masalah keluarga (nomor 37) 3. Gejala di tempat kerja a. Merasa tidak puas dengan pekerjaan saat ini (nomor 4) b. Merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam mengambil ijin atau cuti kerja (nomor 14) c. Tempat kerja yang bising membuat tidak nyaman bekerja (nomor 21)

56

Gejala- gejala yang dialami oleh tenaga kerja tersebut sesuai dengan pendapat Carry Cooper and Alison Straw (1995 : 7) yaitu ada 3 macam gejala stres kerja, meliputi gejala fisik, perilaku secara umum yang dapat muncul juga di tempat kerja serta gejala-gejala di tempat kerja. Stres dapat menimpa semua orang dari satu individu ke individu yang lain dan dari waktu sampai kurun waktu tertentu. Munculnya gejala-gejala tersebut merupakan hasil dari tidak atau kurang adanya kecocokan antara orang (dalam arti kepribadiannya, bakatnya dan kecakapannya) dan lingkungan, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif. Stres kerja tidak selalu membuahkan hasil yang buruk dalam kehidupan manusia. Selye membedakan stres menjadi 2 yaitu distress yang destruktif dan eustress yang merupakan kekuatan positif. Stres diperlukan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Semakin tinggi dorongan untuk berprestasi, makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Demikian pula sebaliknya stres kerja dapat menimbulkan efek yang negatif. Stres dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit, baik fisik maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal (Ashar Sunyoto, 2001: 371,374). Stres kerja dapat menjadi bagian dari kehidupan individu dan organisasi atau perusahaan. Sekecil apapun gejala stres kerja yang muncul tidak perlu menunggu hingga menjadi besar dan parah, yang pada akhirnya akan merugikan tenaga kerja dan juga perusahaan yang bersangkutan karena sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja yang dihasilkan.

57

Hasil analisis deskriptif pada variabel produktivitas kerja menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja (68%) mempunyai tingkat produktivitas tinggi. Hal ini disebabkan wanita dalam melaksanakan pekerjaannya lebih terampil, teliti dan ulet sehingga produktivitas tenaga kerja tinggi. Selain itu, umur responden masih muda sehingga kekuatan fisiknya lebih baik dibandingkan dengan umur yang lebih tua dalam melaksanakan pekerjaannya. Pada dasarnya produktivitas dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu beban kerja, kapasitas kerja dan beban tambahan akibat lingkungan kerja. Beban kerja berhubungan dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja, kapasitas kerja berkaitan dengan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan pada waktu tertentu. Sedangkan beban tambahan akibat lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, dan psikologis (Sjahmien Moellfi, 2003:75). Setelah dilakukan pengukuran produktivitas kerja terhadap 25 responden dalam 1 minggu, terlihat bahwa pada hari senin sebagian responden mempunyai produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan hari yang lain. Adanya beban yang harus ditanggung tenaga kerja dapat mengakibatkan tenaga kerja tertekan sehingga tenaga kerja mengalami stres kerja, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Setelah tenaga kerja libur pada hari minggu, tenaga kerja menjadi malas bekerja pada hari senin karena tenaga kerja dihadapkan kembali dengan berbagai beban yang ada di tempat kerja, sehingga hasilnya produktivitas pada hari senin lebih rendah. Namun, setelah

58

menjalani hari berikutnya tenaga kerja sudah mulai menyesuaikan dengan tekanan tersebut, sehingga produktivitas tenaga kerja mulai meningkat kembali. Hasil analisis korelasi dengan menggunakan teknik korelasi Rank Spearman, diperoleh keeratan hubungan sebesar –0,549 yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja. Koefisien korelasi negatif yang berarti adanya hubungan negatif antara kedua variabel. Semakin tinggi stres kerja maka produktivitas tenaga kerja semakin rendah. Demikian juga sebaliknya semakin rendah stres kerja maka semakin tinggi produktivitas tenaga kerja. Hasil analisis korelasi tersebut sesuai dengan pendapat Handoko (2001 : 193) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah tingkat stres. Stres kerja dapat berdampak, baik bagi individu maupun organisasi atau perusahaan. Stres dapat berhubungan dengan kesehatan, psikologis dan interaksi sosial. Sedangkan dampak stres kerja terhadap perusahaan yaitu terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja, mengganggu kernormalan aktivitas kerja, menurunkan tingkat produktivitas, menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan (Jacinta, 2002). Stres kerja sekecil apapun juga harus ditangani dengan segera. Menurut Igor S (1997 : 250) ada beberapa cara untuk mengobati stres kerja : 1. Dukungan sosial 2. Menjaga kesehatan tubuh dengan tidur cukup, makan makanan sehat dan berolahraga dengan benar.

59

3. Bekerja lebih sedikit dan mengurangi ketakutan akan perkejaan 4. Menghindari perbaikan tambal sulam seperti minum alkohol dan kopi 5. Manajemen waktu yang benar 6. Yoga 7. Senam pagi, bisa dilakukan pada hari senin mengingat produktivitas tenaga kerja pada hari senin lebih rendah dari hari yang lain.

Adapun kelemahan dalam penelitian ini, yaitu : 1) Waktu yang diberikan perusahaan untuk melakukan penelitian terlalu singkat. 2) Adanya batasan dalam pengambilan data di perusahaan. 3) Peraturan perusahaan terlalu ketat terhadap penelitian.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dari dua variabel didapatkan bahwa ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting rokok PT. Gentong Gotri Semarang.

5.2. Saran Berdasarkan simpulan yang telah diperoleh, peneliti mengemukakan beberapa saran, antara lain: 1) Perlu kiranya menyediakan tempat kerja yang nyaman dan bersih sehingga tenaga kerja merasa betah saat di tempat kerja, mengadakan senam bersama setiap hari Senin, serta diadakan kegiatan bersama misalnya piknik bersama tiap setahun sekali untuk menghilangkan kejenuhan. 2) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya faktor- faktor dari dalam diri individu seperti motivasi, disiplin, sikap mental dan etos kerja ikut diteliti serta diadakan penelitian yang lebih mendalam tentang faktor- faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas kerja pada hari Senin.

60

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana Manuaba. 2005. Ergonomi Dalam Industri. Denpasar: Universitas Udayana Agus M Harjana. 1994. Stres tanpa Distres Seni Mengolah Stres. Yogyakarta: Kanisius Anwar Prabu. 1993. Psikologi Perusahaan. Bandung: Trigenda Karya Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia Bambang Tarupolo. 2002. Warta Kesehatan Kerja Media Komunikasi Kesehatan Kerja edisi 2 Bart Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo Carry Cooper dan Alison Straw. 1995. Stres Manajemen Sukses Dalam Sepekan. Editor: Fathudin. Jakarta: Kesaint Blanc David A. 1990. Industrial Safety Management and Technology. New Jersey: Prectice Hall David Hager dan Linda C. 1999. Stres dan Tubuh Wanita. Alih Bahasa: Widjaja Kusuma. Batam: Interaksa Gibson dkk. 1996. Organisasi. Editor: Lyndon Saputra. Jakarta: Binarupa Aksara Handoko, TH. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE Husein Umar. 1998. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

61

Igor S. 1997. Pekerjaan Anda Bagaimana Mendapatkannya Bagaimana Mempertahankannya. Alih Bahasa: Monica. Solo: Dabara I Ketut Gde Juli S. 2004. Pemberian Kudapan dan Istirahat Pendek Menurunkan Kehilangan Berat Badan, beban Kerja dan Keluhan Subjektif Serta Meningkatkan Produktivitas Perajin Gamelan di Desa Tihingan Kabupaten Klungkung. Jei Vol 5. No.1/Juni 2004, hlm. 16-22 Jacinta F. 2002. Stres kerja.www.e-psikologi.com/masalah/stres. Pandji Anoraga. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta: PT Rineka Cipta Pedoman Penyusunan Skripsi Mahasiswa Program Strata 1. 2004. Universitas Negeri Semarang Laurentius Panggabean. 2003. Warta Kesehatan Kerja Media Komunikasi Kesehatan Kerja edisi 1 Regina Naisa. 2003. Konflik dan Coping Ibu Terhadap Stres Ketika Akan Bekerja.www.F.PsiUntar.com. Saifuddin Azwar. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Singgih Santosa. 2004. SPSS Versi 10. Jakarta: PT Gramedia Soekidjo Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta Sjahmien Moellfi. 2003. Ilmu Gizi. Jakarta: PT Papas Sinar Sinanti Bhatara Sugeng Budiono, dkk. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan KK. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Sugiyono. 2002. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfa Beta Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta

62

Sritomo Wignjoebroto. 2003. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu Teknik Analisis Untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Surabaya: guna Wijaya

63

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG 16- 21 Mei 2005 Kode Respond en R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Hari Senin 4860 5600 4600 4780 4820 4900 5480 5200 4900 5180 4880 4750 5020 4980 4300 4200 4180 4540 4900 4160 4200 4100 4120 4200 4180 Selasa 4900 5600 4840 4860 4900 4900 5580 5580 4880 5320 4980 4880 5280 5000 4860 4200 4180 4880 4900 4200 4200 4160 4180 4200 4200 Rabu 4900 5580 4880 4900 4900 4880 5600 5580 4900 5320 4900 4800 5300 5040 4900 4200 4200 4900 4880 4200 4200 4180 4200 4200 4200 Kamis 4880 5600 4900 4900 4880 4900 5600 5600 4900 5380 4900 4900 5280 5040 4900 4200 4200 4900 4880 4200 4200 4200 4200 4200 4200 Jumat 4900 5600 4900 4900 4900 4900 5600 5600 4900 5460 4900 4900 5300 5020 4900 4200 4200 4900 4900 4200 4200 4200 4200 4200 4200 Sabtu 4900 5600 4900 4900 4900 4900 5580 5560 4820 5400 4900 4840 5280 5000 4900 4200 4200 4900 4900 4200 4200 4200 4200 4200 4180 Total PTK Target 1 Minggu 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 27000 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,07 1,08 1,08 1,08 1,23 1,22 1,08 1,18 1,09 1,07 1,16 1,11 1,06 0,93 0,93 1,07 1,08 0,93 0,93 0,81 0,92 0,93 0,93 Kategori

29340 33580 29020 29240 29300 29380 33440 33120 29300 32060 29460 29070 31460 30080 28760 25200 25160 29020 29360 25160 25200 25040 25100 25200 25160

4890 5596,6 4836,6 4873,3 4883,3 4896,6 5573,3 5520 4883,3 5343,3 4910 4845 5243 5013,3 4793,3 4200 4193,3 4836,6 4893,3 4193,3 4200 4173,3 4183,3 4200 4193,3

4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Senin, 16 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,02 1,06 1,07 1,08 1,21 1,15 1,08 1,15 1,08 1,05 1,11 1,10 0,95 0,93 0,92 1,00 1,08 0,92 0,93 0,91 0,91 0,93 0,92 Kategori

4860 5600 4600 4780 4820 4900 5480 5200 4900 5180 4880 4750 5020 4980 4300 4200 4180 4540 4900 4160 4200 4100 4120 4200 4180

694,2 800 657,1 682,8 688,5 700 782,8 742,8 700 740 697,1 678,5 717,1 711,4 614,2 600 597,1 648,5 700 594,2 600 585,7 588,5 600 597,1

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Selasa, 17 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,07 1,08 1,08 1,08 1,24 1,24 1,08 1,18 1,10 1,08 1,17 1,11 1,08 0,93 0,92 1,08 1,08 0,93 0,93 0,92 0,92 0,93 0,93 Kategori

4900 5600 4840 4860 4900 4900 5580 5580 4880 5320 4980 4880 5280 5000 4860 4200 4180 4880 4900 4200 4200 4160 4180 4200 4200

700 800 691,4 694,2 700 700 797,1 797,1 697,1 760 711,4 697,1 754,2 714,2 694,2 600 597,1 697,1 700 600 600 594,2 597,1 600 600

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Rabu, 18 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,08 1,08 1,08 1,08 1,24 1,24 1,08 1,18 1,08 1,06 1,17 1,12 1,08 0,93 0,93 0,93 1,08 1,08 0,93 0,93 0,92 0,93 0,93 Kategori

4900 5580 4880 4900 4900 4880 5600 5580 4900 5320 4900 4800 5300 5040 4900 4200 4200 4200 4900 4880 4200 4200 4180 4200 4200

700 797,1 697,1 700 700 697,1 800 797,1 700 760 700 685,7 757,1 720 700 600 600 600 700 697,1 600 600 597,1 600 600

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Kamis, 19 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,08 1,08 1,08 1,08 1,24 1,24 1,08 1,19 1,08 1,08 1,17 1,12 1,08 0,93 0,93 1,08 1,08 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 Kategori

4880 5600 4900 4900 4880 4900 5600 5600 4900 5380 4900 4900 5280 5040 4900 4200 4200 4900 4880 4200 4200 4200 4200 4200 4200

697,1 800 700 700 697,1 700 800 800 700 768,5 700 700 754,2 720 700 600 600 700 697,1 600 600 600 600 600 600

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Jumat, 20 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,08 1,08 1,08 1,08 1,24 1,24 1,08 1,21 1,08 1,08 1,17 1,11 1,08 0,93 0,93 1,08 1,08 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 Kategori

4900 5600 4900 4900 4900 4900 5600 5600 4900 5460 4900 4900 5300 5020 4900 4200 4200 4900 4900 4200 4200 4200 4200 4200 4200

700 800 700 700 700 700 800 800 700 780 700 700 757,1 717,1 700 600 600 700 700 600 600 600 600 600 600

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG Sabtu,, 21 Mei 2005 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 Total PTK Target Sehari PYD Tingkat Produktivitas (PTK/ PYD) 1,08 1,24 1,08 1,08 1,08 1,08 1,24 1,23 1,07 1,20 1,08 1,07 1,17 1,11 1,08 0,93 0,93 1,08 1,08 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 Kategori

4900 5600 4900 4900 4900 4900 5580 5560 4820 5400 4900 4840 5280 5000 4900 4200 4200 4900 4900 4200 4200 4200 4200 4200 4200

700 800 700 700 700 700 797,1 794,2 688,5 771,4 700 691,4 754,2 714,2 700 600 600 700 700 600 600 600 600 600 600

4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500 4500

642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8 642,8

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

Lampiran 1 SKALA STRES KERJA UNTUK UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Nama Umur Pendidikan Terakhir Lama Bekerja

: : : :

Petunjuk Dibawah ini terdapat 40 pernyataan. Pilihlah jawaban dengan cara memberi tanda silang (×) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua pilihan jawaban adalah benar, karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan yang anda alami.

1. Saya menjadi susah tidur bila saya sedang mempunyai masalah. a. Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 2. Telapak tangan saya berkeringat bila saya sedang bekerja a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 3. Saya merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya. a Selalu b. Seringkali c. Kadang- kadang d. Tidak Pernah

4. Dengan pekerjaan yang saya tekuni saat ini, saya merasakan belum puas. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 5. Keadaan lingkungan kerja yang nyaman membuat saya betah. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 6. Saya tidak puas dengan kondisi kebersihan lingkungan kerja sehingga menambah kelelahan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 7. Kepala saya terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai. a Selalu b. Seringkali c. Kadang- kadang d. Tidak Pernah

8. Saya merasa panas meskipun bekerja di tempat dengan cendela yang cukup. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 64

9. Saya merasa lelah meskipun belum melakukan pekerjaan apapun. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 10. Saya menerima semua kebijakan dari perusahaan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 11. Saya merasa kecewa bila tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 12. Jadwal kerja dapat menurunkan motivasi saya dalam bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 13. Meskipun tenaga saya terkuras untuk pekerjaan tetapi saya tetap semangat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 14. Saya merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam mengambil ijin atau cuti kerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 15. Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 16. Pada saat banyak pikiran, haid saya menjadi lebih cepat. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 17. Saya tetap tenang meskipun menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 18. Saya merasa malas bila harus bekerja lembur. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 19. Tambahan kerja yang diberikan pada saya membuat saya jengkel. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 20. Bila bekerja terlalu lama leher saya menjadi kaku. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 21. Suara alat kerja mempengaruhi konsentrasi saya dalam bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 65

22. Tempat kerja yang bising membuat saya tidak nyaman bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 23. Saya senang dengan atasan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 24. Saya hanya diam dengan pendapat atasan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 25. Saya merasa tidak cocok dengan teman sekerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 26. Saya tidak senang bila atasan mengawasi saya saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 27. Saya merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 28. Saya merasa betah walaupun peraturan perusahaan keras. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 29. Saya mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 30. Saya merasa tersinggung bila teman sekerja mencela pekerjaan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 31. Gairah kerja saya menurun bila pekerjaan yang saya kerjakan tidak dihargai perusahaan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 32. Saya merasa senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari atasan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 33. Adanya poliklinik di perusahaan membuat saya nyaman bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 34. Saya tidak peduli dengan teman sekerja yang tidak menghargai saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah

66

35. Kemajuan perusahaan membuat saya percaya diri dengan pekerjaan yang saya tekuni. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 36. Nafsu makan saya tetap meskipun banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 37. Saya menjadi lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 38. Saya tidak mudah percaya dengan teman sekerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 39. Saya tidak dapat bekerja dengan tenang bila sedang ada masalah keluarga. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 40. Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah

Periksalah kembali jangan sampai ada nomor yang terlewatkan. Terima kasih.

67

Lampiran 2 SKALA STRES KERJA UNTUK 25 RESPONDEN Nama Umur Pendidikan Terakhir Lama Bekerja : : : :

Petunjuk Dibawah ini terdapat 38 pernyataan. Pilihlah jawaban dengan cara memberi tanda silang (×) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua pilihan jawaban adalah benar, karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan yang anda alami.

1. Saya menjadi susah tidur bila saya sedang mempunyai masalah. c. Selalu c. Kadang- kadang d. Seringkali d. Tidak Pernah 2. Telapak tangan saya berkeringat bila saya sedang bekerja a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 3. Saya merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya. a Selalu b. Seringkali c. Kadang- kadang d. Tidak Pernah

4. Dengan pekerjaan yang saya tekuni saat ini, saya merasakan belum puas. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 5. Keadaan lingkungan kerja yang nyaman membuat saya betah. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 6. Saya tidak puas dengan kondisi kebersihan lingkungan kerja sehingga menambah kelelahan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 7. Kepala saya terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 8. Saya merasa panas meskipun bekerja di tempat dengan cendela yang cukup. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah

68

9. Saya merasa lelah meskipun belum melakukan pekerjaan apapun. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 10. Saya menerima semua kebijakan dari perusahaan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 11. Saya merasa kecewa bila tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 12. Jadwal kerja dapat menurunkan motivasi saya dalam bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 13. Meskipun tenaga saya terkuras untuk pekerjaan tetapi saya tetap semangat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 14. Saya merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam mengambil ijin atau cuti kerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 15. Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 16. Saya tetap tenang meskipun menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 17. Saya merasa malas bila harus bekerja lembur. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 18. Tambahan kerja yang diberikan pada saya membuat saya jengkel. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 19. Bila bekerja terlalu lama leher saya menjadi kaku. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 20. Suara alat kerja mempengaruhi konsentrasi saya dalam bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 21. Tempat kerja yang bising membuat saya tidak nyaman bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 69

22. Saya senang dengan atasan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 23.. Saya hanya diam dengan pendapat atasan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 24. Saya merasa tidak cocok dengan teman sekerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 25. Saya tidak senang bila atasan mengawasi saya saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 26. Saya merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 27. Saya mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 28. Saya merasa tersinggung bila teman sekerja mencela pekerjaan saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 29. Gairah kerja saya menurun bila pekerjaan yang saya kerjakan tidak dihargai perusahaan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 30. Saya merasa senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari atasan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 31. Adanya poliklinik di perusahaan membuat saya nyaman bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 32. Saya tidak peduli dengan teman sekerja yang tidak menghargai saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 33. Kemajuan perusahaan membuat saya percaya diri dengan pekerjaan yang saya tekuni. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 34. Nafsu makan saya tetap meskipun banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 70

35. Saya menjadi lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 36. Saya tidak mudah percaya dengan teman sekerja saya. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 37. Saya tidak dapat bekerja dengan tenang bila sedang ada masalah keluarga. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah 38. Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja. a Selalu c. Kadang- kadang b. Seringkali d. Tidak Pernah

Periksalah kembali jangan sampai ada nomor yang terlewatkan. Terima kasih.

71