1

PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC Oleh : MOLIN ADIYANTO 7405 030 025 Proyek Akhir ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Disetujui Oleh : Tim Penguji Proyek Akhir Dosen Pembimbing

1. Arna Fariza, S.Kom, M.Kom NIP. 132 233 198

1. Ir. Budi Aswoyo, MT NIP. 131 843 379

2. Setiawardhana, S.T. NIP. 132 310 243

2. Idris Winarno, S.ST.

3. Fernando Ardilla, S. ST

Mengetahui : Ketua Jurusan Teknologi Informasi

Arna Fariza, S.Kom, M.Kom NIP. 132 233 198

ii

3o untuk polarisasi horisontal.4 GHz untuk jaringan wireless LAN.4 dB untuk antena wajanbolic kecil dan 30. 13o untuk wajanbolic besar polarisasi vertikal. dan penerima sinyal menggunakan wireless USB adapter. dan directivity. Line of Sight (LoS) iii . Kata kunci – Antena wajanbolic.2 dB untuk antena wajanbolic besar.4 GHz. 14o untuk polarisasi horisontal. Selain itu. antena ini menggunakan reflektor dari wajan.15 dBi untuk antena wajanbolic besar. Mengingat selama ini masyarakat hanya mengenal keunggulan antena wajanbolic tanpa mengetahui bukti riil yang ditinjau dari segi keilmuan.ABSTRAK Tugas Akhir ini menitik beratkan pada pembuatan antena wajanbolic untuk Line of Sight (LoS) yang bekerja pada frekuensi 2. Mempunyai nilai gain sebesar 16. Kemudian dilakukan analisa terhadap pola radiasi. antena wajanbolic juga merupakan solusi murah untuk jaringan wireless LAN. Mempunyai polarisasi yang sejajar dengan antena pemancar.15 dBi untuk antena wajanbolic kecil dan 24. wireless LAN 2. dengan waveguide dari pipa paralon yang dilapisi dengan lakban alumunium. polarisasi. Dari hasil pengukuran dan analisa diperoleh hasil bahwa antena wajanbolic adalah antena directional yang mempunyai keterarahan sinyal. Sesuai dengan nama antena wajanbolic. gain. Antena wajanbolic dibuat sebanyak 2 macam dengan diameter yang berbeda yaitu 40 cm dan 60 cm. Serta mempunyai nilai directivity sebesar 21. Mempunyai nilai HPBW (Half Power Beam Width) sebesar 21o untuk wajanbolic kecil polarisasi vertikal.

and signal receiver using wireless USB adapter. 3o at horizontal polarization. Appropriate with name wajanbolic antenna. Having parallel polarization with transmitter antenna. Next step is analyze its radiation pattern. Wajanbolic antenna is made in 2 different of diameters.4 GHz. Line of Sight (LoS) iv . Wajanbolic antenna is also as a cheap solution for wireless LAN network. these antenna using reflektor from frying pan. Keywords – Wajanbolic antenna.15 dBi for big wajanbolic antenna. these are 40 cm and 60 cm. gain. 14o at horizontal polarization. polarization. And also having value of directivity in the amount of 21.4 GHz for wireless LAN network. From the counting and analyzing provideable result that wajanbolic antenna is directional antenna which has signal directedness.ABSTRACT This Final Project focused in making of wajanbolic antenna for Line of Sight (LoS) which is work at frequency 2. Having gain value in the amount of 16.15 dBi for little wajanbolic antenna and 24. Considering this time public has just known about wajanbolic antenna’s advantages without knowing real evidence based on science side. with waveguide from PVC pipe which is layered by tape alumunium.4 dB for little wajanbolic antenna and 30.2 dB for big wajanbolic antenna. Having HPBW (Half Power Beam Width) value in the amount of 21o for little wajanbolic antenna at vertical polarization. and directivity. 13o for big wajanbolic antenna at vertical polarization. wireless LAN 2.

Md) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Surabaya. Tentunya masih banyak kekurangan dalam perancangan dan pembuatan buku proyek akhir ini. Proyek akhir ini digunakan sebagai salah satu syarat akademis untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Agustus 2008 Penyusun v . Dan semoga buku ini dapat memberikan manfaaat bagi para mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada umumnya dan dapat memberikan nilai lebih untuk para pembaca pada khususnya.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT karena hanya dengan rahmat dan hidayahNya dapat diselesaikan proyek akhir yang berjudul : PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC Proyek akhir ini dikerjakan berdasarkan pada teori yang pernah didapatkan serta bimbingan dari dosen pembimbing proyek akhir.

syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmatNya. 2. serta adikku tercinta. 3. Budi Aswoyo. dan pinjaman access pointnya. 7. kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaaan yang sebesar-besarnya kepada : 1. semoga sukses di Jepang. Dan semuanya. Bapak Idris Winarno.Eng. terimakasih. dan semua dosen yang telah memberikan segala ilmu kepada kami. Bapak Dr. Mas Reza – makasih udah minjemin & bantuin nyolder. selaku Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 9. Mas Endar – atas bantuan materi antena. Bapak Ir. Kami menyadari bahwa terwujudnya proyek akhir ini tidak lepas dari bantuan. doa serta dukungan dari berbagai pihak. bimbingan. Keluarga Bapak Dodik yang ada di Kediri. Mas Andik yang udah nemenin di lab. atas segala kasih sayang dan pengorbanan yang diberikan kepada ananda. Titon Dutono. 4. atas bantuannya mengerjakan tugas akhir ini dan uji coba ke Poltek Kediri. ST.ST selaku pembimbing ke II. Mas Robi & Pak Lek Dumadi atas semua bantuannya. Seluruh staf dosen dan karyawan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 5. Huda (Abaz) atas semuanya. Monika Nuraini. MT.Sc – terimakasih atas judul antena wajanbolicnya. Dengan segala kerendahan hati. selaku pembimbing I yang telah dengan sabar menuntun dan membimbing kami sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan. 6.UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah. 8. Ibu Arna Fariza selaku ketua jurusan Teknologi Informasi. M. M. S. Budhe Wit. Ibu Fitri Setyorini. vi . keikhlasan dan ketulusan. Habibi. terimakasih buat bimbingan. Keluarga Pak Poh Di. Teman-teman kost di Kalisari Damen 22. Ayah dan Ibu. bimbingan dan semuanya.

14. Agustus 2008 Penyusun vii . dan semua member lab telkom D4 lantai 3 – terima kasih aku udah dibolehkan jadi penyusup di lab kalian. 13. Mas Yorr – buat tawa ngakak sepanjang hari. kapan beli gule maryam lagi? Wisata kuliner selanjutnya ditunggu. Budi (dan kembarannya) atas semua bantuan dan materi antena juga dan atas semua wisatanya. Taufik atas pinjeman bornya 15.10. Teman-teman D3 IT A ’05. Mbak Kiki dan mbak Cici – temen seperjuangan antena. Mas Wildan – terimakasih udah nganterin beli wajan & pinjaman laptopnya. Semua temen-temen kelas D3 IT A ’05. kapan ke Pacet lagi. demikian juga dalam penyusunan buku proyek akhir ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang lebih baik di kemudian hari. Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu – terimakasih banyak atas bantuannya. Pramitya atas info buku antena wajanbolic (aku doain semoga cepet lulus). saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semua teman-teman lab TA Telkom D4 lantai 3. 11. Namun demikian penulis berharap semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Penulis menyadari bahwa “tak ada gading yang tak retak“. SEMUANYA!!! 12. Surabaya. Temen-temen lab TA IT D4 lantai 2.

............. Pola Radiasi Antena ..8................................... Karakteristik Waveguide ...............3........3...................................... 10 2.................................................. ii ABSTRAK .. Dominan Mode Waveguide Silinder ........14... i HALAMAN PENGESAHAN ....................6.........1...................................2................................................... Tujuan ........ 20 2....................... Umum ...................................................3....... Metodologi ..................... Antena Wajanbolic ........... 11 2...................... 4 BAB II DASAR TEORI 2................................1....... x DAFTAR TABEL .....10..... 23 2....4......4..................... 1 1.......................................... 21 2............................... iv KATA PENGANTAR .................. viii DAFTAR GAMBAR .............................. 9 2........................ Lebar Band Frekuensi ....2................................................... 7 2....... 20 2...................................................................... 23 2............................ Pengertian Antena Wajanbolic........................................ 13 2...DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..... 2 1..............14....... xiii BAB I PENDAHULUAN 1...... Waveguide Silinder .................... VSWR ............................................. 17 2....................... Batasan Masalah ........5................... Pengertian Antena .......................................... Reflektor ..................................................2..........1... 22 2.................12............... Coupling Untuk Waveguide ............................. Impedansi Input ...............................................7....................................... Pengertian Waveguide .......................11.............................................................1........................................................... 3 1............................................................... Latar Belakang .... 14 2.............14............................................................ 19 2....... Polarisasi Antena ............................................. 29 viii .........................................................................................4....... v UCAPAN TERIMA KASIH ..5.. iii ABSTRACT ..................13.............. 12 2............................................................ 7 2............... 11 2........................... vi DAFTAR ISI .......................... Distribusi Medan Waveguide Silinder ........... Sistematika Pembahasan .....................1......9....................................... Directivity ............................... 2 1............. Gain.

.......................3............................................................................................. Wireless LAN ....................... Polarisasi.......................4............................. 39 3...... Alat Dan Bahan..... 101 ix .........................................5.....................................6..............1.........................3............... Penghitungan .................. 51 4......................................... Wireless USB Adapter.............. Pengukuran Gain..... Saran .........4.................................. 38 3.......1........ Umum .... Kesimpulan ...............2...... Directivity ...........................................15................... 51 4...... 75 BAB V PENUTUP 5.2.......................2................................................. Pengukuran Pola Radiasi .................. 73 4..................... Pembuatan Antena Wajanbolic ..... 61 4.......................... 30 2...............................................................................7........2........ 33 3............... 77 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 81 RIWAYAT HIDUP ........................................ 72 4.......... 46 BAB IV PENGUKURAN PARAMETER ANTENA DAN ANALISA 4........................................................... 77 5...................... 31 BAB III PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC 3........................... 79 LAMPIRAN ............ Pembuatan Kabel USB Extender ...... Aplikasi Antena Wajanbolic ....................16.. Persiapan Pengukuran Dan Pengujian ...... 69 4........1............

........12 Irisan pada kerucut sehingga membentuk parabola..............25 Gambar 2............................11 Waveguide ........9 Gambar 2.........................1 Bagan penghitungan antena wajanbolic ............................10 Gambar 2..........10 Polarisasi pada antena .........33 Gambar 3........39 Gambar 3.........12 Gambar 2..........7 Bagian tengah wajan yang telah di bor ..7 Dimensi pola radiasi ..8 Ilustrasi pola radiasi dalam koordinat polar ...10 Tutup pipa paralon yang telah dilapisi dengan lakban alumunium bagian dalamnya .........19 Gambar 2....18 Gambar 2....................13 Fokus dan direktris ...........................................2 Capture file excel untuk mengukur fokus dan gain antena wajanbolic (diameter 40 cm) .....43 x ...14 Gambar 2..27 Gambar 2.......................................................................................6 Penghitungan nilai ¼ λG dan ¾ λG ..............5 Penghitungan titik fokus wajan ....41 Gambar 3...............17 Tipe antena parabola .........DAFTAR GAMBAR Gambar 2..........................................14 Penghitungan nilai fokus..................14 Gambar 2......................23 Gambar 2..............5 Distribusi medan untuk mode TEmn .................2 Karakteristik umum waveguide .............9 Wajan dan tutup pipa paralon yang telah dibaut .4 Distribusi medan untuk TE11 mode..40 Gambar 3..............................................37 Gambar 3................................13 Gambar 2.......41 Gambar 3.................37 Gambar 3...... 28-29 Gambar 3.......................................16 Fokus yang ada di luar parabola..........4 Capture file excel untuk menghitung nilai ¼ λG dan ¾ λG .................15 Fokus yang terletak di dalam parabola...........8 Salah satu tutup pipa 3”yang telah di bor ......................38 Gambar 3...27 Gambar 2...........15 Gambar 2..40 Gambar 3...........16 Gambar 2...........24 Gambar 2..1 Jenis waveguide ......3 Sistem koordinat silinder .......6 Coupling untuk waveguide .42 Gambar 3................................................11 Bandwidth pada antena .11 Gambar 2.....................................3 Capture file excel untuk mengukur fokus dan gain antena wajanbolic (diameter 60 cm) ............9 Gambaran pola radiasi berbagai antena .........

......9 Setting SSID ............71 Gambar 4..........47 Gambar 3..........19 Tampilan program WirelessMon ........75 xi .............................20 Cara menyambungkan kabel UTP dengan kabel USB ............63 Gambar 4............74 Gambar 4.....60 Gambar 4.........3 D-Link DWA-110 Wireless USB Adapter ...........44 Gambar 3.6 Access Point D-Link DWL-2100AP ....61 Gambar 4............18 Diagram pengukuran level sinyal wireless USB adapter ......17 Pemutaran antena setiap 10o ............15 Antena wajanbolic yang telah jadi .......60 Gambar 4......53 Gambar 4......22 Uji coba antena wajanbolic di Kediri..........................14 Diagram pengukuran antena ................21 Pengukuran directivity .................7 Konfirmasi user dan password ....................55 Gambar 4......5 Penggunaan laptop dalam pengukuran antena ..21 Hasil akhir pembuatan kabel USB extender ................8 Halaman Home pada pengesettan access point ......................16 Kabel UTP yang telah dikupas ujungnya ..........57 Gambar 4......58 Gambar 4...........44 Gambar 3...........................................................59 Gambar 4................64 Gambar 4....16 Tampilan program Network Stumbler .........................20 Tampilan program Network Stumbler ...............4 BAFO USB 2........................................2 Wajanbolic diameter 60 cm ..................45 Gambar 3..0 Extension cable ...................12 Wireless USB adapter yang diikat pada plat L (non logam) ..........54 Gambar 4.....................48 Gambar 3...15 D-Link Wireless Connection ..............62 Gambar 4..54 Gambar 4.....70 Gambar 4...14 Plat L (non logam) dengan wireless USB adapter yang telah dibaut ke pipa paralon ..18 Kabel USB yang telah dikupas bagian luarnya ......11 Proses restart untuk mengaplikasikan setting .............57 Gambar 4...........10 Setting DHCP server ...........1 Wajanbolic diameter 40 cm .........45 Gambar 3..........................................47 Gambar 3...................17 Kabel USB yang dipotong menjadi 2 ................12 Penggunaan tripod untuk pengambilan data .............49 Gambar 3..........................53 Gambar 4..13 Lubang pada plat L (non logam) untuk tempat membaut dengan pipa paralon ...........................................13 Busur derajat untuk perputaran antena .....50 Gambar 4..............48 Gambar 3....Gambar 3....19 Memasukkan pipa ke kabel sebelum disolder ...........58 Gambar 4.71 Gambar 4.....52 Gambar 4.......................

...24 Tampilan sinyal pada program NetStumbler ..23 Tampilan D-Link Wireless Connection Manager .76 xii .Gambar 4.76 Gambar 4....

............DAFTAR TABEL Tabel 4........... 74 xiii ............2 Hasil Polarisasi ...............................3 Directivity pada antena wajanbolic . 73 Tabel 4.............................. 72 Tabel 4...................1 Hasil pengukuran gain ...............

Tapi lain halnya bagi mereka yang letak rumahnya jauh dari fasilitas tersebut. koneksi internet harus tetap ada.1. Jika dihitung tentu akan sangat mahal sekali. Gunadi. Dengan gain yang lebih besar maka secara otomatis jangkauan juga akan menjadi lebih jauh.BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan berisi mengenai materi yang memberikan penggambaran secara umum hal-hal yang berhubungan dengan penulisan tugas akhir. internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita seharihari. Mereka akan kesulitan untuk mengaksesnya. maka hal itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. adalah perintis antena wajanbolic dan teknologi RT/RW-net yang menghubungkan antara rumah dengan kantor melalui jaringan radio dengan membuat antena wajanbolic berfrekuensi 2. AP client. Keadaan saat ini. beberapa puluh meter kabel UTP. pigtail. Maka sebagai solusi murahnya adalah dengan membuat antena wajanbolic. POE (Power Over Ethernet). Solusinya mereka harus membeli antena grid. Beberapa hal tersebut antara lain : • Latar belakang • Tujuan • Batasan masalah • Metodologi • Sistematika pembahasan 1. Selain itu dengan antena wajanbolic bisa didapat gain yang lebih besar. Bagi mereka yang tempat tinggalnya dekat dengan free hotspot. pipa tower. outdoor box. di kota-kota besar sudah banyak sekali tersedia jaringan hotspot yang gratis.4 GHz. Kapanpun dan dimanapun. dan biaya instalasi. [1] 1 . internet murah sepertinya hanya menjadi impian setiap orang yang ada di Indonesia ini. Latar Belakang Di zaman seperti saat ini yang tingkat mobilitasnya sangat tinggi. Namun sayangnya.

Juga dengan menggunakan alat-alat dan bahan-bahan yang sederhana sehingga didapatkan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan membeli antena grid. Tujuan Tujuan dari proyek ini adalah membuat antenna wajanbolic yang bekerja pada frekuensi 2.4 GHz yang ditandatangani oleh Hatta Rajasa.4 GHz dengan menggunakan media wajan sebagai subantena.2.4 GHz • Membatasi daya pancar maksimum sebesar 100 mW atau 20 dBm • Membatasi EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) pada pancaran antena sebesar 36 dBm • Semua peralatan yang digunakan harus mendapat sertifikasi dari POSTEL 1. 3. 2. Keputusan Menteri ini pada dasarnya : [2] • Membebaskan izin frekuensi bagi penggunaan frekuensi 2. dengan menggunakan antena wajanbolic bisa didapat gain antenna yang lebih besar bila dibandingkan dengan wireless USB adapter standar sehingga jarak jangkau antena juga bisa lebih jauh.3. Antena built up yang ada ternyata membutuhkan biaya yang cukup mahal dibandingkan dengan merancang sendiri.2 Penggunaan antena wajanbolic sebagai solusi murah untuk membuat koneksi internet didasari Keputusan Menteri No. Bagaimana membuat antena wajanbolic bisa menghasilkan performansi gain antena yang optimal. 2 tahun 2005 tentang frekuensi 2. Selain itu. Rumusan masalah pada proyek akhir ini antara lain : 1. Bagaimana membuat proses pengerjaan antena wajanbolic dengan mudah dan jelas. Batasan Masalah Pada proyek akhir ini akan dibuat antena wajanbolic yang bekerja pada frekuensi 2. Bagaimana menekan biaya seminimal mungkin dengan merancang antena yang ekonomis.4 GHz. 1. .

1. Metodologi Perencanaan serta pembuatan antena wajanbolic ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : 1. Bahan lainnya dibeli di toko bangunan & toko peralatan rumah tangga. Melakukan analisa dan evaluasi. Mempersiapkan Alat dan Bahan Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat antena wajanbolic. Sedangkan bahan yang sulit untuk diperoleh tapi sekiranya bisa untuk dibuat . 2. Studi Literatur Dalam mempelajari bagaimana cara membuat antena wajanbolic dilakukan pendalaman bahan-bahan literatur yang berhubungan dengan proyek akhir. 2. Pendalaman literatur dan pengambilan data dilakukan dengan cara bowsing di intrenet. gain. 1. Studi literatur tentang permasalahan yang ada serta mengumpulkan data-data yang dianggap penting dan menunjang 2.4. atau meminjam buku dari perpustakaan sesuai dengan proyek terkait.3 Batasan masalah pada proyek akhir ini adalah : 1. dan directivity. Melakukan pengukuran parameter antena 5. Memulai proses membuat antena wajanbolic 4. 3. Perbandingan performansi antara gain wireless USB adapter tanpa menggunakan antena wajanbolic dengan wireless USB adapter yang menggunakan antena wajanbolic. dari buku. Mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan 3. polarisasi. Bahan-bahan yang termasuk piranti elektronik dibeli di toko elektronik atau toko komputer. Penerima sinyal menggunakan wireless USB adapter. Analisa parameter antena wajanbolic meliputi pola radiasi.

. 1. proses yang dikerjakan adalah membuat antena wajanbolic. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan yang akan diuraikan dalam buku proyek akhir ini terbagi dalam bab-bab yang akan dibahas sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini membahas tentang latar belakang. 4.4 sendiri maka bahan tersebut dapat dibuat sendiri. metodologi. polarisasi dan directivity. Proses Pembuatan Antena Wajanbolic Pada tahap ini. batasan masalah. 5. Dari pengukuran inilah akan diketahui apakah parameter-parameter yang didapat merupakan parameter yang baik untuk digunakan sebagai antena penerima. Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran pola radiasi. gain. Analisa dan Evaluasi Tahapan terakhir dari proyek ini adalah melakukan analisa dan evaluasi hasil dari pembuatan antena wajanbolic.5. Setelah itu dibuat kesimpulan sesuai dengan hasil analisanya. dan sistematika pembahasan yang digunakan dalam pembuatan proyek akhir ini. Diusahakan pembuatan dilakukan dengan cara yang sesederhana mungkin dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sederhana namun tetap menghasilkan antena wajanbolic yang baik dan rapi serta memiliki performansi yang handal. Sebagian besar alat bisa diperoleh dengan mudah karena menggunakan alat-alat yang sederhana. Melakukan Pengukuran Parameter Antena Setelah antena jadi dilakukan pengukuran parameter antena wajanbolic. 3. tujuan.

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA Berisi hasil. pengujian dan analisa dari hasil pembuatan antena wajanbolic. Untuk lebih meningkatkan mutu dari sistem yang telah dibuat maka diberikan saran-saran untuk perbaikan dan penyempurnaan sistem. . BAB III PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC Berisi tentang tata cara pembuatan antena wajanbolic.5 BAB II DASAR TEORI Menjelaskan teori yang berkaitan dengan antena secara umum beserta parameter-parameternya. mulai dari pengukuran sampai ke proses pengerjaan antena wajanbolic. disertai data-data yang diperoleh selama uji coba dan kendala yang terjadi. DAFTAR PUSTAKA Pada bab ini berisi tentang referensi-referensi yang telah dipakai oleh penulis sebagai acuan dan penunjang yang mendukung penyelesaian proyek akhir ini. BAB V KESIMPULAN Bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan pada perancangan awal serta analisa yang diperoleh. Lebih lanjut dijelaskan teori tentang antena wajanbolic secara khusus.

6 -.Halaman ini sengaja dikosongkan -- .

antena phase array.BAB II DASAR TEORI 3. maka antena harus mempunyai sifat yang sesuai (match) dengan saluran pencatunya. Secara umum.1. seperti permukaan bola. Antena ini tidak ada dalam kenyataan dan hanya digunakan sebagai dasar untuk merancang dan menganalisa struktur antena yang lebih kompleks. dan dalam pengukuran sering digunakan sebagai pembanding terhadap antena yang lebih 7 . Karena merupakan perangkat perantara antara saluran transmisi dan udara.2. Umum Pada bab ini akan dijelaskan tentang teori-teori yang mendasari permasalahan dan penyelesaian tugas akhir ini. Antena ini ada dalam kenyataan. antena optimal dan antena adaptif. Antena omnidirectional adalah antena yang memancarkan daya ke segala arah. antena directional. Pemancaran merupakan satu proses perpindahan gelombang radio atau elektromagnetik dari saluran transmisi ke ruang bebas melalui antena pemancar. Pengertian Antena Antena adalah suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan menerima gelombang radio atau elektromagnetik. 3. pengenalan wireless LAN dan wireless USB adapter yang digunakan dalam pembuatan antena. antena omnidirectional. dan VSWR. dan bentuk pola radiasinya digambarkan seperti bentuk donat (doughnut) dengan pusat berimpit. Sedangkan penerimaan adalah satu proses penerimaan gelombang radio atau elektromagnetik dari ruang bebas melalui antena penerima. Selanjutnya akan dijelaskan pula mengenai antena wajanbolic yang dibangun pada proyek akhir ini. polarisasi antena. Antena isotropis (isotropic) merupakan sumber titik yang memancarkan daya ke segala arah dengan intensitas yang sama. impedansi input. gain. lebar band frekuensi. Diantaranya adalah pengertian antena yang meliputi penjelasan definisi antena dan parameter-parameter pada antena diantaranya yaitu pola radiasi antena. antena dibedakan menjadi antena isotropis.

8

kompleks. Contoh antena ini adalah antena dipole setengah panjang gelombang. Antena directional merupakan antena yang memancarkan daya ke arah tertentu. Gain antena ini relatif lebih besar dari antena omnidirectional. Contoh, suatu antena dengan gain 10 dBi (kadang-kadang dinyatakan dengan “dBic” atau disingkat “dB” saja). Artinya antena ini pada arah tertentu memancarkan daya 10 dB lebih besar dibanding dengan antena isotropis. Ketiga jenis antena di atas merupakan antena tunggal, dan bentuk pola radiasinya tidak dapat berubah tanpa merubah fisik antena atau memutar secara mekanik dari fisik antena. Selanjutnya adalah antena phase array, yang merupakan gabungan atau konfigurasi array dari beberapa antana sederhana dan menggabungkan sinyal yang menginduksi masing-masing antena tersebut untuk membentuk pola radiasi tertentu pada keluaran array. Setiap antena yang menyusun konfigurasi array disebut dengan elemen array. Arah gain maksimum dari antena phase array dapat ditentukan dengan pengaturan fase antar elemen-elemen array. Antena optimal merupakan suatu antena dimana penguatan (gain) dan fase relatif setiap elemennya diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan kinerja (performance) pada keluaran yang seoptimal mungkin. Kinerja yang dimaksud kinerja antara lain Signal to Interference Ratio (SIR) atau Signal to Interference plus Noise Ratio (SINR). Optimasi kinerja dapat dilakukan dengan menghilangkan atau meminimalkan penerimaan sinyal-sinyal tak dikehendaki (interferensi) dan mengoptimalkan penerimaan sinyal yang dikehendaki. Antena adaptif merupakan pengembangan dari antena antena phase array maupun antena optimal, dimana arah gain maksimum dapat diatur sesuai dengan gerakan dinamis (dinamic fashion) obyek yang dituju. Antena dilengkapi dengan Digital Signal Proccessor (DSP), sehingga secara dinamis mampu mendeteksi dan melecak berbagai macam tipe sinyal, meminimalkan interferensi serta memaksimalkan penerimaan sinyal yang diinginkan.

9

3.3. Pengertian Waveguide Waveguide adalah saluran tunggal yang berfungsi untuk menghantarkan gelombang elektromagnetik (microwave) dengan frekuensi 300 MHz – 300 GHz. Dalam kenyataannya, waveguide merupakan media transmisi yang berfungsi memandu gelombang pada arah tertentu. Secara umum waveguide dibagi menjadi tiga yaitu, yang pertama adalah Rectanguler Waveguide (waveguide dengan penampang persegi) dan yang kedua adalah Circular Waveguide (waveguide dengan penampang lingkaran), dan Ellips Waveguide (waveguide dengan penampang ellips) seperti di tunjukkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Jenis Waveguide Dalam waveguide diatas mempunyai dua karakteristik penting, yaitu : 1. Frekuensi cut off, yang ditentukan oleh dimensi waveguide. 2. Mode gelombang yang ditransmisikan, yang memperlihatkan ada tidaknya medan listrik atau medan magnet pada arah rambat. Faktor-faktor dalam pemilihan waveguide sebagai saluran transmisi antara lain : 1. Band frekuensi kerja, tergantung pada dimensi. 2. Transmisi daya, tergantung pada bahan. 3. Rugi-rugi transmisi, tergantung mode yang digunakan.

10

Pemilihan waveguide sebagai pencatu karena pada frekuensi diatas 1 GHz, baik kabel pair, kawat sejajar, maupun kabel koaksial sudah tidak efektif lagi sebagai media transmisi gelombang elektromagnetik. Selain efek radiasinya yang besar, redamannya juga semakin besar. Pada frekuensi tersebut, saluran transmisi yang layak sebagai media transmisi gelombang elektromagnetik (microwave) adalah waveguide. Waveguide merupakan konduktor logam (biasanya terbuat dari brass atau aluminium) yang berongga didalamnya, yang pada umumnya mempunyai penampang berbentuk persegi (rectanguler waveguide) atau lingkaran (circular waveguide). Saluran ini digunakan sebagai pemandu gelombang dari suatu sub sistem ke sub sistem yang lain. Pada umumnya di dalam waveguide berisi udara, yang mempunyai karakteristik mendekati ruang bebas. Sehingga pada waveguide persegi medan listrik E harus ada dalam waveguide pada saat yang bersamaan harus nol di permukaan dinding waveguide dan tegak lurus. Sedangkan medan H juga harus sejajar di setiap permukaan dinding waveguide. 2.3.1. Karakteristik Waveguide Karakterik dari waveguide dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Gambar 2.2 Karakteristik umum waveguide

4. seperti gambar 2. Distribusi Medan Waveguide Lingkaran Distribusi medan untuk mode-mode dari waveguide lingkaran ditunjukkan oleh gambar 2.11 Dari Gambar 2. 3. Waveguide Silinder Sekarang kita akan mempertimbangkan suatu propagasi gelombang didalam suatu pipa berongga dengan penampang lintang lingkaran atau silinder. dapat kita ikuti cara-cara pemecahan pada bentuk koordinat persegi (rectangular).4. Selain itu waveguide juga memiliki karakteristik yang penting yaitu frekuensi cut off dan mode gelombang yang ditransmisikan.2 dapat dilihat bahwa frekuensi kerja berada di antara fmin dan fmax.1.3. Gambar 2. Didalam pemecahan tentang bentuk yang silinder ini. yaitu koordinat silinder (cylindrical). band frekuensi kerja : ω > ωc atau λ < λc.4. karena akan memberikan pemecahan yang lebih sederhana. .3 Sistem koordinat silinder 2. Mode TE11 adalah mode yang paling sederhana yang mungkin dapat terjadi pada mode TE untuk waveguide silinder. meskipun dalam hal ini akan kita pilih koordinat yang lain.

ej(ωt – βgz) Er = (2-1) j kc g E0 Jm (Kc r) cos mθ . Distribusi medan dari dominan mode ini dapat dilihat pada gambar 2. Perlu dicatat bahwa mode ini pada dasarnya sama dengan mode TE10 dari waveguide persegi. Sehingga.5. Hasil-hasil untuk mode TMmn dapat dibuat persamaan sebagai berikut : EZ = E0 Jm (KC r) cos mθ . yang seringkali digunakan dalam praktek.12 Gambar 2. Distribusi medan TE11 pada waveguide silinder dapat dibayangkan sebagai distribusi medan TE10 pada waveguide persegi yang secara berangsur mengalami pembelokkan dalam rangka menyesuaikan bentuk waveguide yang silinder ini. maka distribusi medan TE11 pada waveguide silinder ini memepunyai banyak kesamaan.4 Distribusi medan untuk TE11 mode 3. Ini berarti bahwa dalam hal pembuatan bend atau twist tidak memerlukan pemberian toleransi yang besar selama hal ini tidak terjadi secara berangsur-angsur.5. ej(ωt – βgz) Ei = j gm kc r 2 . suatu bentuk waveguide persegi yang berubah bentuk dari bentuk aslinya tanpa mengalami suatu perubahan pada salah satu frekuensi cut-off-nya atau konfigurasi medannya. Dominan Mode Waveguide Silinder Dapat kita lihat dari gambar 2.4. Apabila kita lihat kembali distribusi medan TE10 pada waveguide persegi. bahwa dominan mode untuk waveguide silinder adalah mode TE11. ej(ωt – βgz) E0 Jm (Kc r) cos mθ .

diperlukan peralatan untuk menghubungkan kedalam dan keluar dari waveguide. ej(ωt – βgz) Gambar 2.13 Hz = 0 Hr = j nm 2 kc r J n Hθ = E0 Jm (Kc r) cos mθ . Dengan cara seperti ini probe menghubungkan medan listrik di . Coupling Untuk Waveguide Untuk membangkitkan suatu mode dari suatu waveguide.6. ej(ωt – βgz) kc E0 Jm (Kc r) cos mθ . Masalah ini dapat diatasi dengan cara memasukkan probe kedalam waveguide sedemikian rupa sehingga probe muncul di dalam waveguide dengan jarak λG/4. Permasalahannya adalah bagaimana menghubungkan energi dari suatu saluran transmisi ke waveguide atau sebaliknya.5 Distribusi medan untuk mode TEmn 3.

Dengan adanya gambaran pola radiasi kita bisa melihat bentuk pancaran yang dihasilkan oleh antena tersebut. Pola Radiasi Antena Pola radiasi (radiation pattern) suatu antena adalah pernyataan grafis yang menggambarkan sifat radiasi suatu antena pada medan jauh sebagai fungsi arah.7. Situasi seperti ini ditunjukkan oleh gambar 2. probe ke kabel USB active extender λG/4 Gambar 2.7.14 dalam waveguide.7 Dimensi pola radiasi . Pola radiasi dapat disebut sebagai pola medan (field pattern) apabila yang digambarkan adalah kuat medan dan disebut pola daya (power pattern) apabila yang digambarkan pointing vektor.6 Coupling untuk waveguide 3.6. Gambar 2. Gambaran dimensi pola radiasi dapat dilihat pada Gambar 2.

pola radiasi ditunjukkan pada Gambar 2.15 Sedangkan pada koordinat polar.8 Ilustrasi pola radiasi dalam koordinat polar Gambar pola radiasi diatas adalah pola radiasi antena directional Yagi Uda.9. Gambar 2. .8. Gambaran pola radiasi dari beberapa antena dapat dilihat pada Gambar 2. Dari pola radiasi diatas dapat terlihat bahwa posisi antena mempengaruhi arah pancaran radiasi.

Begitu juga dengan antena Yagi Uda pola radiasinya juga mengarah ke arah tertentu. Pada antena dipole. Sehingga sedut pemancarannya lebih kecil dan terarah. Kedua antena tersebut disebut dengan antena directional karena memiliki pola radiasi yang terarah. Hanya saja antena parabola memiliki penguatan yang lebih besar.9 Gambaran pola radiasi berbagai antena (a) Pola radiasi antena parabola (b) Pola radiasi antena Yagi Uda (c) Pola radiasi antena dipole (d) Pola radiasi antena omni Dari gambaran berbagai macam pola radiasi pada Gambar 2. Antena ini biasa digunakan oleh client karena pola radiasi yang terarah akan membuat antena dapat menjangkau jarak yang relatif jauh.16 Gambar 2.9 dapat dilihat sifat radiasi dari berbagai antena. pola radiasi memiliki pancaran yang kuat pada arah yang tegak lurus sedangkan pancaran ke samping kecil. Beamwidth antena directoinal ini lebih sempit dibanding dengan antena lain. Untuk antena omnidirectional pola radiasi terlihat . Antena parabola memiliki pancaran radiasi ke arah tertentu.

maka pada keadaan ini polarisasi elips menjadi polarisasi linier. 3. karena gelombangnya memiliki vektor medan listrik dimana ujung dari vektor tersebut seolah-olah berputar membentuk suatu lingkaran ataupun suatu elips dengan pusat sepanjang sumbu propagasi. Polarisasi antena adalah polarisasi dari gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh antena itu. sedangkan pada keadaan khusus lainnya dimana salah satu dari sumbu elips sama dengan nol. sehingga perputaran ujung vektor medannya seolah-olah hanya bergerak maju mundur pada satu garis saja. dan jika perputaran ujung vektor medan itu membentuk elips maka dinamakan polarisasi elips. Ada beberapa jenis polarisasi yang dapat terjadi pada gelombang elektromagnetik.8. Namun demikian ada beberapa jenis antena yang polarisasinya bukan polarisasi vertikal atau horisontal. Dan karena pola radiasinya yang mengarah ke segala arah itulah sangat memungkinkan antena omnidirectional mengumpulkan sinyal lain di sekitarnya yang selanjutnya dapat menyebabkan interferensi. Dan disebut polarisasi horisontal jika medan listriknya arahnya horisontal terhadap permukaan bumi. polarisasi ini berasal dari bentuk elips dengan panjang kedua sumbu elipsnya sama. Suatu polarisasi disebut polarisasi vertikal jika medan listrik dari gelombang yang dipancarkan antena berarah vertikal terhadap permukaan bumi. . Antena omnidirectional dapat digunakan sebagai sambungan Point to Multi Point (P2MP) karena pola radiasinya yang mengarah ke segala arah. Sebenarnya semua jenis polarisasi gelombang ini pada dasarnya berasal dari polarisasi elips dengan kondisi khusus. Polarisasi lingkaran misalnya. Polarisasi Antena Polarisasi adalah sifat dari gelombang elektromagnetik yang menggambarkan magnitudo relatif dari vektor medan listrik (E) sebagai fungsi waktu pada titik tertentu di ruang. Antena ini memiliki gain yang lebih rendah dibandingkan dengan antena directional. Selanjutnya jika perputaran ujung vektor medan yang dipancarkan itu membentuk lingkaran maka dinamakan polarisasi lingkaran.17 mengarah ke segala arah.

polarisasi silang tegak lurus dengan polarisasi yang diinginkan dan untuk antena polarisasi lingkaran.18 Polarisasi linier inilah yang bisa berupa polarisasi linier arah vertikal. dikatakan berpolarisasi lingkaran. Polarisasi silang ini menimbulkan side lobe yang mengurangi gain. Frekuensi putaran radian adalah ω dan terjadi satu dari dua arah perputaran. Suatu gelombang yang berpolarisasi elips untuk tangan kanan dan tangan kiri. Untuk antena polarisasi linier. Jika vektor medan listik konstan dalam panjang tetapi berputar disekitar jalur lingkaran. yang disebut dengan polarisasi silang (cross polarized). Gambar 2. Jika jalur dari vektor medan listrik maju dan kembali pada suatu garis lurus dikatakan berpolarisasi linier. . polarisasi silang berlawanan dengan arah perputarannya yang diinginkan. Jika vektornya berputar berlawanan arah jarum jam dinamakan polarisasi tangan kanan (right hand polarize) dan yang searah jarum jam dinamakan polarisasi tangan kiri (left hand polarize).10 Polarisasi pada antena Sebuah antena dapat memancarkan energi dengan polarisasi yang tidak diinginkan. horisontal ataupun polarisasi linier antara kedua posisi tersebut (miring). sebagai contoh medan listrik dari dipole ideal.

sehingga masih sesuai dengan pola radiasi yang direncanakan serta VSWR yang diijinkan.11 Bandwidth pada antena Bandwidth dapat dinyatakan dalam bentuk persen. Pada range frekuensi kerja tersebut. Lebar band frekuensi atau dikenal sebagai bandwidth antena adalah range frekuensi kerja dimana antena masih dapat bekerja dengan efektif. Gambar 2. antena diusahakan dapat bekerja dengan efektif agar dapat menerima dan memancarkan gelombang elektromagnetik pada band frekuensi tertentu.19 3. Dapat dituliskan sebagai berikut : (2-2) Selain itu bandwidth dapat pula dinyatakan dalam bentuk : (2-3) . Pengertian harus dapat bekerja dengan efektif disini adalah bahwa distribusi arus dan impedansi dari antena pada range frekuensi tersebut benar-benar belum mengalami perubahan yang berarti.9. Lebar Band Frekuensi Penggunaan sebuah antena didalam sistem pemancar ataupun penerima selalu dibatasi oleh daerah frekuensi kerjanya.

Gain Gain antena berhubungan erat dengan directivity dan faktor efisiensi. Namun dalam prakteknya sangat jarang gain suatu antena dihitung berdasarkan directivity dan efisiensi yang dimilikinya. Metode pengukuran gain diatas dapat dihitung menggunakan rumus : (2-4) Pada satuan decibel dapat dituliskan menjadi : (2-5) 3. Secara matematis dapat dituliskan : (2-6) . Directivity Directivity suatu antenna dapat diperkirakan dengan menggunakan pola radiasi yang dihasilkan pada pengukuran pola radiasi bidang E dan bidang H. Dimana membandingkan daya yang diterima antara antena standar (Ps) dan antena yang akan diukur (Pt) dari antena pemancar yang sama dan dengan daya yang sama.11. karena untuk mendapatkan directivity suatu antena bukanlah suatu yang mudah.20 dimana: BW : Bandwidth fu : frekuensi diatas frekuensi center (fc) fL : frekuensi dibawah frekuensi center (fc) 3. sehingga pada umumnya gain maksimum suatu antena dihitung dengan cara membandingkannya dengan antena lain yang dianggap sebagai antena standar (dengan metode pengukuran).10. Gain antena (Gt) dapat dihitung dengan menggunakan antena lain sebagai antena yang standar atau sudah memiliki gain yang standar (Gs).

12. juga dipengaruhi oleh antena lain atau benda-benda yang berada disekitar antena serta frekuensi kerjanya. Sebagai contoh . Impedansi input selain ditentukan oleh letak titik catu antena. Impedansi Input Impedansi input adalah impedansi yang diukur pada titik catu pada terminal antena yang merupakan perbandingan tegangan dan arus pada titik tersebut. atau dapat ditulis dengan : (2-8) Impedansi input dapat juga dihitung dengan rumus : (2-9) Dimana: Zin = Impedansi Input (Ohm) V = Tegangan terminal input (Volt) I = Arus terminal input (A) Impedansi antena penting untuk pemindahan daya dari pemancar ke antena dan dari antena ke penerima. Bagian real merupakan resistansi (tahanan) masukan yang menyatakan daya yang diradiasikan oleh antena pada medan jauh. Sedangkan bagian imajiner merupakan reaktansi masukan yang menyatakan daya yang tersimpan pada medan dekat antena.21 dimana H E = sudut pada titik setengah daya bidang H (radian) = sudut pada titik setengah daya bidang E (radian) Jika sudut terukur dalam bentuk derajat maka kita juga dapat menggunakan rumus: (2-7) 3. Impedansi input antena dinyatakan dalam bentuk kompleks yang memiliki bagian real dan bagian imajiner.

22

untuk memaksimumkan perpindahan daya dari antena ke penerima, impedansi antena harus conjugate match. Jika ini tidak dipenuhi maka akan terjadi pemantulan energi yang dipancarkan atau diterima. 3.13. VSWR Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) merupakan kemampuan suatu antena untuk bekerja pada frekuensi yang diinginkan. Pengukuran VSWR berhubungan dengan pengukuran koefisien refleksi dari antena tersebut. VSWR sangat dipengaruhi oleh impedansi input. Impedansi antena penting untuk pemindahan daya dari pemancar ke antena dan dari antena ke penerima. Sebagai contoh untuk memaksimumkan perpindahan daya dari antena ke penerima, impedansi antena harus conjugate match. Jika ini tidak dipenuhi maka akan terjadi pemantulan energi yang dipancarkan atau diterima. Perbandingan level tegangan yang kembali ke pemancar (V-) dan yang datang menuju beban (V+) ke sumbernya lazim disebut koefisien pantul atau koefisien refleksi yang dinyatakan dengan simbol “Γ” atau dapat dituliskan: (2-10)

Hubungan antara koefisien refleksi, impedansi karakteristik saluran (Zo) dan impedansi beban/ antena (Zl) dapat ditulis: (2-11)

Harga koefisien refleksi ini dapat bervariasi antara 0 (tanpa pantulan / match) sampai 1, yang berarti sinyal yang datang ke beban seluruhnya dipantulkan kembali ke sumbernya semula. Maka untuk pengukuran VSWR besar nilai VSWR yang ideal adalah 1, yang berarti semua daya yang diradiasikan antena pemancar diterima oleh antena penerima (match).

23

(2-12)

Semakin besar nilai VSWR menunjukkan daya yang dipantulkan juga semakin besar dan semakin tidak match. 3.14. Antena Wajanbolic 3.14.1.Pengertian Antena Wajanbolic Dalam matematika, parabola adalah irisan kerucut yang berbentuk kurva yang dihasilkan oleh perpotongan menyilang yang sejajar terhadap permukaan kerucut.

Gambar 2.12 Irisan pada kerucut sehingga membentuk parabola

24

Direktris adalah garis sumbu simetri pada parabola terhadap titik fokus. Sedangkan fokus dari parabola adalah letak suatu titik dimana jarak antara titik sembarang pada garis parabola M(x,y) ke fokus adalah sama dengan jarak antara M(x,y) ke direktris D(x,0).

Gambar 2.13 Fokus dan direktris Dari pengertian diatas diketahui bahwa nilai dari jarak titik F (fokus) ke titik M dan jarak dari titik M ke titik D (direktris) adalah sama, sehingga dapat dihasilkan persamaan :

( x 0) 2

(y

f )2

(x

x) 2

( y ( f )) 2

(2.-13)

Karena pada persamaan diatas kedua sisi sama-sama mempunyai akar, maka bisa dieliminasi sehingga menghasilkan persamaan :

x2 x x2
2

y2
2

f2
2

2 yf f
2

y2 f
2

f2 2 yf

2 yf 2 yf

y y 4 yf

dimana diketahui diameter dari parabola (D) dan kedalaman parabola (d).d) terletak pada parabola. sehingga : y d x2 4f D ( )2 2 4f D2 1 x 4 4f d . Dari dua parameter tersebut maka bisa dihitung nilai / letak dari titik fokus parabola.25 y x2 4f (2-14) Sekarang perhatikan gambar 3 dibawah.14 Penghitungan nilai fokus Dari gambar 3 diatas.d) dan titik (-D/2. Gambar 2. diketahui titik (D/2.

maka nilai fokusnya akan menjadi semakin besar. .26 d D2 16 f (2-15) Dari persamaan diatas bisa kita ubah menjadi sebuah persamaan untuk menghitung nilai fokus. d 16 f D2 16 f D2 d D2 d 16 1 D2 1 x d 16 D2 16d f f f (2-16) Dari persamaan diatas bisa kita perhatikan bahwa semakin besar nilai diameter dari suatu parabola (D) dan semakin kecil nilai kedalaman (d) suatu parabola.

reflektor berupa wajan yang sering kita jumpai. maka jika pada antena wajanbolic.27 Gambar 2. televisi dan komunikasi data. dan juga untuk radiolocation (RADAR). gelombang pendek dari energi elektromagnetik (radio) pada frekuensi ini . Jika pada antena parabola biasa reflektor adalah dish yang didesain khusus agar dapat memantulkan sinyal dengan sebagaimana mestinya. Antena parabola adalah high-gain reflektor antenna yang digunakan untuk radio. Letak perbedaannya hanya pada reflektor.16 Fokus yang ada di luar parabola Pada dasarnya antena wajanbolic hampir sama dengan antena parabola. Secara relatif. pada bagian UHF dan SHF dari spektrum gelombang elektromagnetik.15 Fokus yang terletak di dalam parabola Gambar 2.

Waveguide sebagai salah satu komponen dari antena parabola (dan juga antena wajanbolic) terletak pada fokus reflektor.28 mengijinkan pemasangan reflektor dengan berbagai macam ukuran untuk menghasilkan kuat sinyal yang baik pada saat transmitting dan receiving seperti yang diinginkan. Pada antena wajanbolic feed atau waveguide sebenarnya juga merupakan sebuah antena tipe lowgain seperti half-wave dipole atau small waveguide horn. Antena parabola secara umum terdiri atas reflektor. Pada waveguide ini terdapat sebuah alat yang berfungsi untuk memancarkan dan menerima sinyal radio-frequency (RF). Paraboloid ini memiliki titik fokus yang berbeda-beda berdasarkan atas diameter reflektor dan kedalaman reflektor. (a) (b) . dan waveguide. Reflektor adalah sebuah permukaan yang terbuat dari bahan logam yang dibentuk lingkaran paraboloid yang biasannya merupakan diameter dari antena tersebut.

29 (c) Gambar 2. maka persamaan untuk mengetahui nilai pendekatan gain maksimum adalah : G ( 2 D2 ) 2 (2-17) Dimana : G = penguatan (gain) isotropic D = diameter reflektor dengan satuan yang sama dengan panjang gelombang λ = panjang gelombang 3. Dipilih bahan alumunium karena bahan alumunium secara umum merupakan bahan yang ringan bila dibandingan dengan bahan logam lainnya. Hal ini tentu merupakan sebuah keuntungan bila kita akan mengimplementasikan antena wajanbolic karena walaupun .Reflektor Antena wajanbolic ini menggunakan reflektor dari wajan yang berbahan alumunium.2.17 Tipe antena parabola (a) Parabolic (b) Off-Center (c) Cassegrain Dianggap bahwa antena parabola sebagai circular aperture.14.

15. Wireless USB Adapter Antena sebenarnya pada antena wajanbolic adalah sebuah alat yang mentransmisikan energi frekuensi radio ke ruang bebas. Permukaaan pemantul (wajan) adalah komponen pasif. Titik fokus (jarak titik fokus dari tengah reflektor) dihitung dengan persamaan berikut : . Sifat reflektor yang baik adalah : 1. Pencatu harus dapat meradiasikan gelombang ke pemantul dengan baik. Gelombang dari fokus yang dipantulkan oleh permukaan reflektor akan memotong suatu bidang yang tegak lurus terhadap sumbu dengan fase yang sama Selain reflektor yang baik. supaya energi (gelombang) dapat dipancarkan langsung ke pemantul tanpa ada rintangan.30 mempunyai dimensi besar. yaitu wireless USB adapter. Pencatu harus membatasi supaya VSWR saluran koaksial mendekati satu 3. Wireless USB adapter berada di dalam waveguide yang ada di depan titik fokus dari wajan. Karena setiap gelombang yang datang dari fokus akan dipantulkan oleh permukaan reflektor dengan arah yang sejajar dengan sumbu atau sebaliknya. 2. Setiap gelombang yang datang dari fokus dipantulkan oleh permukaan sejajar dengan sumbu dan sebaliknya. Sistem pencatuan harus memenuhi dua kepentingan : 1. Pemasangan wireless USB adapter pada pencatuan waveguide terletak di depan pemantul. kita juga harus memperhatikan pencatuan pada waveguide. Titik fokus adalah titik dimana semua gelombang pantul terkonsentrasi. bobot dari antena tersebut akan tetap lebih ringan jika dibandingan bila kita menggunkan dari bahan logam lain. artinya tidak banyak gelombang yang keluar dari permukaan pemantul 2. Penggunaan reflektor ini dimaksudkan untuk mendapatkan penguatan (gain) yang lebih besar bila dibandingkan hanya menggunakan wireless USB adapter biasa atau hanya menggunakan antena kaleng (waveguide).

3. WLAN sering disebut sebagai jaringan nirkabel atau jaringan wireless.31 f D2 16d (2-18) Dimana : f = panjang fokus dari reflektor D = diameter reflektor dengan satuan yang sama dengan panjang gelombang d = kedalaman reflektor Radiasi dari wireless USB adapter akan merambat di dalam waveguide.4 GHz yang disebut juga dengan ISM (Industrial. Wireless LAN ini biasanya menggunakan frekuensi 2. Hal-hal seperti ini akhirnya mendorong pengembangan teknologi wireless untuk jaringan komputer. dimana oleh FCC (Federal Communication Commission) . Scientific. Medical) Band. dan peralatan radio lainnya. Wireess LAN Wireless Local Area Network (WLAN) adalah jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai media transmisi data. Proses komunikasi tanpa kabel ini dimulai dengan bermunculannya peralatan berbasis gelombang radio. cordless phone. seperti walkie talkie. atau di lokasi tersebut tidak terdapat jaringan kabel untuk penyaluran data. Wireless USB adapter ini harus menunjukkan directivity yang secara efesien dapat mengiluminasi reflektor dan juga haru mempunyai polarisasi yang sesuai. Polarisasi dari wireless USB adapter ini menentukan polarisasi dari seluruh sistem antena. ponsel. remote control. Biasanya wireless LAN ini dipakai di suatu daerah atau lokasi dimana pemakainya selalu dalam keadaan bergerak.16. kemudian akan diradiasikan ulang oleh reflektor pada arah yang diinginkan. Informasi (data) ditransfer dari satu komputer ke komputer lain menggunakan gelombang radio. Lalu adanya kebutuhan untuk menjadikan komputer sebagai barang yang mudah dibawa (mobile) dan mudah digabungkan dengan jaringan yang sudah ada.

wireless LAN ini dapat digunakan untuk hubungan dari point to multipoint begitu pula sebaliknya. Jadi siapa pun dapat menggunakan frekuensi ini dengan bebas asalkan tidak menggunakan pemancar berdaya tinggi.32 memang dialokasikan untuk berbagai keperluan industri. sains. tetapi dengan perkembangan teknologi. dan media. Anatomi dari wireless LAN sendiri biasanya digunakan sebagai hubungan dari satu point to point yang lain. .

yaitu : [3]  Menghitung titik fokus wajan dan menghitung panjang bagian pipa paralon yang tidak diberi lakban alumunium. Penghitungan Perhitungan untuk pembuatan wajanbolic dapat diperoleh dari beberapa handbook/ makalah di situs DIKLAT ORARI pada alamat berikut ini :  http://ybizdx.4ghz/buku-wifi/homebrewantenna.arc.1.  Menghitung panjang pipa paralon yang harus diberi lakban alumunium  Menentukan lokasi penempatan wireless USB adapter pada pipa paralon Gambar 3.BAB III PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC 6.pdf (file PDF)  juga pada folder teknik/2.itb.id/orari-diklat pada folder teknik/2.ac.1 Bagan penghitungan antena wajanbolic Pada gambar diatas diperlihatkan sebuah bagan antena wajanbolic.xls (file EXCEL untuk menghitung) Pada dasarnya diperlukan 3 penghitungan utuk membuat antena wajanbolic. Beberapa parameter yang digunakan adalah : [3][4] Dw = diameter wajan dw = kedalaman wajan D = diamater paralon 33 .4ghz/ antena/Handbook.

437 GHz) Sehingga bila nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan menjadi : [3] (3-3) (3-4) . Yang perlu diperhatikan adalah panjang pipa paralon adalah fw+L.792. Yang harus dihitung pertama kali adalah panjang gelombang radio 2. Maka penghitungan harus dilakukan secara bertahap.458 meter/detik) dibulatkan menjadi 300.34 fw L S = fokus wajan = panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium = titik tempat penempatan wireless USB adapter Beberapa parameter desain yang harus dihitung nilainya adalah fw (fokus wajan).4 GHz di udara C = kecepatan cahaya di udara (299.000. L (panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium).000 meter/detik Freq = frekuensi operasi yang digunakan (2. Penghitungan nilai titik fokus wajan dilakukan dengan menggunakan persamaan : [3] (3-1) Sementara menghitung panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium (L) dan titik penempatan wireless USB adapter (S) diperlukan langkah yang lebih panjang. dan S (titik tempat penempatan wireless USB adapter). Dimana nilai fw sangat dipengaruhi oleh diameter (Dw) dan kedalaman wajan (dw).4GHz (λ) yang ada di udara dengan menggunakan persamaan : [3] (3-2) Dimana : λ = panjang gelombang radio 2.

35 Jadi nilai panjang gelombang radio 2.174 (3-8) (3-9) .31 12. dlam hal ini pipa paralon 3” mempunyai lebar 8. Selanjutnya dilakukan penghitungan panjang gelombang (λ) frekuensi 2. Rumus untuk menghitung panjang guiding wavelength adalah : [3] (3-7) Dimana : λG = panjang guiding wavelength λ = panjang gelombang radio 2.9 cm G 12.706 * 8.31 cm D = lebar diameter pipa paralon yang digunakan. dapat ditentukan diameter dari pipa paralon (D) yang bisa digunakan.4 GHz di udara.31 cm.4 GHz (λ) di udara.4 GHz di udara adalah 12. bernilai 12. Adapun diameter pipa paralon yang bisa digunakan harus memenuhi syarat : [3] (3-5) (3-6) Dalam hal ini. Dari nilai panjang gelombang 2.9 cm memenuhi syarat agar bisa digunakan sebagai waveguide.31 1 ( ) 1.4 GHz yang merambat dalam pipa paralon (guiding wavelength) dengan simbol λG. pipa paralon 3” yang memiliki diameter 8.9 λG = 21.

Untuk menentukan posisi lokasi lubang S dari ujung pipa paralon dapat digunakan persamaan : [3] S = 0. Perlu diperhatikan bahwa panjang total pipa paralon yang digunakan adalah nilai L+fw.29 cm. Karena yang dihitung adalah panjang minimal dari L maka jika seandainya panjang dari pipa paralon yang ditutup lakban alumunium lebih panjang dari nilai minimum yang ditentukan akan lebih baik selama tidak merusak konstruksi dari antena itu sendiri.88 cm. Dalam banyak tutorial nilai ini biasanya dibulatkan menjadi 20 cm. Untuk mempermudahkan penghitungan.88 (3-10) (3-11) Dalam tugas akhir ini digunakan pipa paralon 3” dengan diameter 8.75 x λG Lminimal = 15.36 Setelah nilai guiding wavelength diketahui. Maka panjang minimum dari pipa paralon yang ditutupi lakban alumunium (Lminimum atau ¾λG) adalah 15. Karena merupakan nilai minimum. kita dapat menghitung panjang minimal dari pipa paralon yang diberi lakban alumunium (L).25λG (3-12) Untuk pipa paralon 3” yang digunakan dalam dalam tugas akhir ini. dapat dipergunakan file excel yang telah tersedia. . Adapun nilai panjang L minimal adalah : [3] Lminimal = 0. supaya aman biasanya nilai dibulatkan ke atas. Setelah itu barulah ditentukan titik tempat penempatan wireless USB adapter pada pipa paralon (S atau ¼λG ).9 cm. nilai S adalah 5.

2 Capture file excel untuk mengukur fokus dan gain antena wajanbolic (diameter 40 cm) Gambar 3.3 Capture file excel untuk mengukur fokus dan gain antena wajanbolic (diameter 60 cm) .37 Gambar 3.

Lakban alumunium . Alat Dan Bahan Alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan antena wajanbolic adalah sebagai berikut : [1] Alat Alat yang diperlukan : 1. Solder 7. Palu Bahan Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan adalah : 1. Cutter 6. Wajan 2. Kabel ekstender listrik 9. Pipa PVC 3 inci 3.2. Pulpen atau sepidol untuk menandai yang akan dipotong 5. Gergaji besi 2. Tutup pipa PVC 3 inci sebanyak 2 buah 4.38 Gambar 3. Mesin bor 3. Besi lancip/ paku untuk penanda titik yang akan di bor 10.4 Capture file excel untuk menghitung nilai ¼λG dan ¾λG 6. Penggaris 4. Papan kayu untuk alas pengeboran 8.

3. Tie wrap/ tali plastik kecil 7. Pembuatan Antena Wajanbolic Langkah-langkah cara pembuatan antena wajanbolic adalah sebagai berikut : 1. Mur baut kecil 2 buah untuk membaut dudukan Wifi USB ke pipa paralon 8. Plat ”L” dari bahan non logam untuk dudukan WiFi USB 6. Mur baut agak besar untuk meng-klem salah astu tutup pipa paralon ke wajan 9.39 5. Rubber tape 10.5 Penghitungan titik fokus wajan . Wireless USB adapter 6. λG/4 dan ¾ λG dengan file excel yang telah tersedia [5] Gambar 3. Persiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan 2. Lakukan perhitungan nilai fokus wajan (fw).

Tandai bagian tengah wajan dengan paku kecil pada bagian yang akan di bor 4. Bor bagian dasar wajan tepat di tengah Gambar 3.40 Gambar 3. Tandai salah satu tutup pipa paralon 3” pada bagian tengah kemudian bor .7 Bagian tengah wajan yang telah di bor 6. Buat sedikit cekungan pada bagian tengah wajan yang akan di bor dengan paku kecil sebagai penuntun saat pengeboran agar bor tidak mudah meleset 5.6 Penghitungan nilai λG/4 dan ¾ λG 3.

Hal ini akan membuat bentuk wajan tidak simetris lagi. Sambungan jangan terlalu kencang karena pada wajan tipe tertentu yang tipis hal ini dapat menyebabkan bagian belakang tengah wajan penyok ke depan. Gambar 3.8 Salah satu tutup pipa 3” yang telah di bor 7.9 wajan dan tutup pipa paralon yang telah dibaut . Sambungkan antara wajan dan salah satu tutup pipa yang sudah di bor tadi dengan mur baut serta beri ring diantara baut depan dan belakang.41 Gambar 3.

. Lapisi tutup pipa paralon 3” yang satunya dengan lakban alumunium di bagian dalamnya Gambar 3. terbuat dari bahan logam.42 8. Lapisi pipa paralon dengan lakban alumunium di bagian luar sepanjang ¾λG dari salah satu ujungnya. Lubangi pipa paralon pada nilai λG/4 sesuai lebar wireless USB adapter 11. Buat 2 lubang di pipa paralon di dekat nilai λG/4 untuk membaut plat L (non logam) ke pipa paralon 12. Potong pipa paralon 3” sepanjang nilai fw + ¾λG sebagai waveguide 10.10 Tutup pipa paralon yang dilapisi dengan lakban alumunium bagian dalamnya 9. yang pada antena kaleng. Hal ini dimaksudkan agar sinyal yang telah masuk ke dalam pipa paralon tidak terpancar keluar kembali mengingat fungsi dari pipa paralon adalah sebagai waveguide. waveguide.

Bor plat L (non logam) sebanyak 2 lubang di salah satu sisi untuk membaut plat L non logam ke pipa paralon dan buat beberapa cekungan di tepi salah satu sisi lainnya untuk letak tie wrap agak tidak mudah bergeser 14.43 Gambar 3. ikat ke plat L (non logam) dengan tali plastik (tie wrap) .11 Waveguide 13. Lapisi wireless USB adapter dengan rubber tape.

13 Lubang pada plat L (non logam) untuk tempat membaut dengan pipa paralon 15.44 Gambar 3.12 Wireless USB adapter yang diikat pada plat L (non logam) Gambar 3. Baut plat L (non logam) ke pipa paralon dengan mur dan baut kecil .

14 Plat L (non logam) dengan wireless USB adapter yang telah dibaut ke pipa paralon 16. Bor plat logam untuk membaut plat logam ke wajanbolic dan untuk tempat clamp 18. Sambungkan pipa paralon ke wajan dan kemudian tutup dengan salah satu tutup pipa yang telah dilapisi dengan lakban alumunium di bagian dalamnya Gambar 3. Sambungakan clamp dengan plat logam .15 Antena wajanbolic yang telah jadi 17.45 Gambar 3.

Solder Bahan Bahan yang diperlukan : 1. Sambungkan wajan dengan plat logam 6. dan jika dipaksakan disambung sampai panjang maka data akan loss di tengah jalan. Kabel UTP + 10 meter 2. Jika menggunakan kabel USB biasa jelas tidak akan mungkin karena pada umumnya kebel USB biasa pendek. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan 2. Cutter 2. Selotip 5. aplikasi antena wajanbolic membutuhkan kabel yang panjang untuk tersambung ke PC atau laptop. Pipa kecil + 5 cm x 2 buah 6. Kabel USB extender + 1 meter 3.4.46 19. Sehingga digunakan kabel USB extender yang dibuat dari kabel UTP yang ujungnya dikonversi ke USB. Lakban Cara Pembuatan 1. Jika menggunakan kabel USB active extender maka harga akan menjadi mahal. Karena antena wajanbolic membutuhkan koneksi line of sight. maka tidak jarang harus memasang antena wajanbolic pada ketinggaian tertentu untuk memperoleh line of sight agar tidak terhalang oleh apapun. Timah untuk menyolder 4. Pembuatan Kabel USB Extender Pada kenyatannya. Alat Alat yang diperlukan : 1. Berikut akan diuraikan cara pembuatan kabel USB ekstender. Kupas selongsong luar dari kabel UTP di kedua ujung .

16 Kabel UTP yang telah dikupas ujungnya 3.17 Kabel USB yang dipotong menjadi 2 .47 Gambar 3. Potong kabel USB jadi 2 Gambar 3.

Kupas ujung kabel UTP dan USB + 3 mm untuk sambungan 6. Kupas juga selongsong luar dari kabel USB Gambar 3. Pasang potongan pipa kecil untuk melindungi kabel sebelum disolder Gambar 3.48 4.18 Kabel USB yang telah dikupas bagian luarnya 5.19 Memasukkan pipa ke kabel sebelum disolder .

Rekatkan pipa paralon denga lakban untuk melindungi sambungan .49 7. putih coklat. Setelah semua kabel tesambung dengan baik. coklat disatukan untuk menghungngkan ke Ground (kabel USB hitam) Gambar 3. Solder kabel UTP ke kabel USB dengan cara sebagai berikut :  Kabel UTP orange – putih orange disatukan untuk menghubungkan pin +5V (kabel USB merah)  Kabel UTP putih hijau dihubungkan dengan pin Data+ (kabel USB putih)  Kabel UTP hijau dihubungkan dengan Data. biru. lapisi sambungan kabel dengan selotip agar tidak terjadi hubungan pendek 9.(kabel USB hijau)  Kabel UTP putih biru.20 Cara penyambungan kabel UTP dengan kabel USB 8.

50 Gambar 3.21 Hasil akhir pembuatan kabel USB extender .

4 GHz yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh ketepatan hasil perancangan dan pembuatan antena perlu dilakukan pengukuran pada beberapa parameter antena. maka tahap selanjutnya adalah pengukuran parameter-parameter antena. Tentunya diharapkan hasil dari pengukuran ini sesuai dengan teori. Selain itu yang paling penting adalah mengetahui seberapa jauhkan antena yang telah dibuat telah sesuai dengan harapan. pengujian pada jaringan wireless LAN 2.BAB IV PENGUKURAN PARAMETER ANTENA DAN ANALISA 10. 2. hasil pengukuran serta analisis dari antena untuk gain optimum pada frekuensi 2. Pengukuran direktivity Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengukuran adalah.4 GHz. 10. jarak antara pemancar dan penerima. tinggi antena pemancar di sisi access point dengan antena wajanbolic yang diukur sebagai penerima di sisi laptop haruslah sejajar dan lurus. menghindari gangguan pantulan (bendabenda disekitar tempat pengukuran). Umum Setelah selesai proses pembuatan antena wajanbolic. Karena alasanalasan praktis maka parameter-parameter yang dapat diukur meliputi : 1. Pengukuran pola radiasi. Pada bab 4 ini akan disajikan metode pengukuran. Polarisasi 4.2.1. Persiapan Pengukuran Dan Pengujian Pengukuran pola radiasi dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah bentuk pola radiasi antena wajanbolic yang telah dibuat. Untuk mendapatkan hasil yang baik dari pengukuran pola radiasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan adalah menghindari gangguan pantulan dari benda disekitar pengukuran. Pola radiasi suatu antena merupakan 51 . yaitu didapatkan pola radiasi antena yang terarah. Pengukuran gain 3.

1 Wajanbolic diameter 40 cm . maka level daya akan nampak di layar laptop dengan bantuan software Network Stumbler berupa sinyal dalam unit dBm. Peralatan yang digunakan dalam pengukuran ini adalah : 1. Antena dalam hal ini adalah dua buah antena wajanbolic dengan diameter lingkaran 40 centimeter dan 60 centimeter.11g dengan frekuensi 2. baik pada bidang H maupun pada bidang E. Setelah wireless USB adapter pada antena terhubung dengan laptop. Antena wajanbolic Dalam pengukuran kali ini antena mutlak ada.4 GHz beserta BAFO USB 2. Arah disini adalah memutar antena wajanbolic dari posisi 0o sampai 360o. dengan bantuan laptop dan wireless USB adapter pada frekuensi 2.0 Extension Cable yang berguna untuk menghubungkan wireless USB adapter yang diletakkan pada waveguide antena wajanbolic dengan laptop.52 karakteristik yang menggambarkan sifat radiasi antena pada medan jauh sebagai fungsi dari arah. Gambar 4. Pada pengukuran ini antena pemancar menggunakan antena yang sudah terpasang pada access point D-link DWL-2100AP standar protokol 802. Untuk mengukur pola radiasi antena yang sudah dibuat. Karena antena itu sendirilah yang akan diukur nilai-nilai yang telah ditentukan sebelumnya. maka antena tersebut dipakai sebagai antena penerima.4 GHz.

11b dan 802. Wireless USB adapter Wireless USB adapter di sini adalah penerima sinyal wireless yang dipancarkan oleh access point.11g.2 Wajanbolic diameter 60 cm 2.0.53 Gambar 4. USB extension USB extension berguna sebagai kabel penyambung antara wireless USB adapter dengan laptop.3 D-Link DWA-110 wireless USB adapter 3. Pada proyek akhir ini digunakan wireless USB adapter DLink DWA-110 yang beroperasi pada jaringan wireless 2. Merek yang digunakan adalah BAFO USB Extension Cable yang kompatibel dengan USB 2. Gambar 4. .4 GHz yang kompatibel dengan 802.

Laptop Pada pengukuran parameter antena dan pengujian antena pada jaringan wireless ini penggunaan laptop sangat dibutuhkan. hal pertama adalah harus diinstall software Network Stumbler.5 Penggunaan laptop dalam pengukuran antena Agar laptop dapat digunakan. Network Stumbler adalah sebuah tool untuk Windows yang . Penggunaan laptop adalah untuk memantau aktifitas wireless yang ada dengan menggunakan software Network Stumbler.0 Extension Cable 4.4 BAFO USB 2. Gambar 4.54 Gambar 4.

Access Point Alat ini sering digunakan sebagai piranti server pada jaringan WLAN. Selain itu laptop juga digunakan untuk mengkonfigurasi access point. Gambar 4. Led pada power menyala memberitahukan AP tercatu oleh listrik melalui adaptor.11a/b/g. juga tersedia kabel UTP agar dapat terhubung secara wired dan antena eksternal dengan gain 2. LAN dan WLAN. Alat ini dapat menyalurkan data secara wireless dari PC ke PC secara infrastruktur. 5.55 dapat digunakan untuk mendeteksi Wireless Local Area Networks (WLANs) menggunakan standar 802.15 dBi.6 Acces Point D-Link DWL-2100AP . Agar laptop dapat digunakan untuk mengkonfigurasi access point maka IP dari ethernet card laptop harus satu jaringan dengan access point. Access Point (AP) ini disertai adaptor sebagai pencatu daya dari alat tersebut. Dan biasanya diletakkan di langitlangit dalam ruangan WLAN indoor. led pada LAN menyala memberitahukan bahwa AP terhubung secara wired melalui kabel UTP dan led pada WLAN memberitahukan AP terhubung secara wireless dengan piranti lain. Ada 3 indikator led di bagian depan alat ini yang terdiri dari : power.

2) Hubungkan kabel UTP straight trough antara LAN laptop dan access point.168. Langkah langkahnya adalah sebagai berikut : 1) Set IP pada laptop dengan IP 192.56 Pada tugas akhir ini. 5) Ketikkan pada address http://192.0.11g dengan frekuensi 2. 3) Buka web browser (Mozila Firefox). Pengaturan ini dilakukan secara GUI melalui web.255. 4) Matikan konfigurasi proxy.255. karena secara default access point D-Link DWL-2100AP mempunyai setting IP 192. digunakan AP produk D-Link tipe DWL-2100AP standar IEEE 802.255.255. Username default adalah admin dan password tidak perlu diisi (kosong).50 dengan netmask 255.0. Dengan cara masuk ke menu Tools Options Tab Advanced Tab Network Setting Pilih Direct connection to the Internet.xxx dengan netmask 255.168. .50.0.4 GHz. Sebelumnya yang perlu diperhatikan dalam menggunakan AP untuk koneksi antar jaringan komputer secara wireless adalah penamaan SSID (Service Set IDentifier).168.0. Access Point digunakan sebagai pemancar dan terhubung secara wireless dengan wireless USB adapter yang terpasang pada laptop.0.

8 Halaman Home pada pengesetan access point .7 Konfirmasi user dan password 6) Jika berhasil maka akan tampak halaman utama sebagai berikut : Gambar 4.57 Gambar 4.

58 7) Masuk ke tab wireless yang ada di sebelah kiri.10 Setting DHCP server . Gambar 4. Pada bagian ini set semua parameter yang diperlukan.9 Setting SSID 8) Agar client bisa menerima IP secara otomatis maka fitur DHCP server harus kita aktifkan. Gambar 4.

59 9) Setiap bagian pada setting diatas. maka access point dapat digunakan. Gambar 4. . tripod juga sangat berperan sekali. Tripod Dalam pengukuran ini. harus kita konfirmasi dengan menekan tombol Apply dan access point akan direstart selama selang waktu 30 detik sebelum kembali ke halaman awal. Tripod berfungsi sebagai penyangga agar antena dapat berdiri dengan tenang dan tidak goyang saat melakukan pengukuran. Tripod juga berperan untuk memberikan ketinggian pada antena dengan access point. 6.11 Proses restart untuk mengaplikasikan setting 10) Setelah semua pengaturan selesai.

60 Gambar 4.13 Busur derajat untuk perputaran antena . Gambar 4.12 Penggunaan tripod untuk pengambilan data 7. Penggaris busur derajat (360o) Penggaris busur derajat berbentuk lingkaran atau 360o. Busur derajat berguna karena pada pengukuran pola radiasi antena akan diputar 360o dengan step pergantian setiap 10o.

14 Diagram pengukuran antena .3. Rangkai semua peralatan seperti pada Gambar 4. Yaitu pola radiasi pada bidang E dan pada bidang H.14 dan pastikan posisi AP dan antena yang diukur sejajar 3 meter Gambar 4.61 10. Dalam pengukuran harus memperhatikan jarak pada proses pengukuran. Pengukuran Pola Radiasi [6] Pengukuran pola radiasi dilakukan dua kali untuk masingmasing antena. Peralatan yang digunakan pada pengukuran pola radiasi ini diantaranya adalah:  Antena wajanbolic yang telah dibuat  Laptop  Wireless USB adapter D-Link DWA-110  Kabel USB extension BAFO  Tripod  Penggaris busur derajat 360o yang terpasang pada tripod  Access point D-Link DWL-2100AP Langkah-langkah pengukuran pola radiasi yaitu dilakukan dengan: 1.

Klik Windows All Program D-Link D-Link Wireless G DWA-110 Wireless Connection Manager. Nyalakan access point (AP). Jalankan program Network Stumbler . Pastikan wireless USB adapter telah terkoneksi dengan access point dan telah mendapat IP address secara DHCP 8. pastikan indikasi led pada power menyala. Set antena pada access point pada posisi vertikal atau horisontal 5. AP yang terpasang adalah AP yang telah diset dengan SSID tertentu seperti yang telah dijelaskan di atas 4. 6. Pilih SSID “test” dan tekan Activate Gambar 4. Nyalakan laptop dan pasangkan kabel USB exstension pada wireless USB adapter yang ada pada waveguide 3.62 2.15 D-Link Wireless Connection 7.

63 9. Setelah terlihat grafik sinyal.16 Tampilan program Network Stumbler 10. Klik tanda + pada menu SSID yang ada di sebelah kiri kemudian klik pada nama SSID dari access point dan kemudian angka MAC Gambar 4. putar antena setiap 10o dengan satu satuan waktu tertentu pada program Network Stumbler 11. Putar setiap 10o mulai dari 0o sampai 360o searah jarum jam .

lakukan konversi nilai sinyal dari program Network Stumbler ke nilai dB. Hal ini dilakukan karena nilai level sinyal yang didapat dari program nerwork Stumbler masih dalam bentuk grafik. Setelah semua percobaan selesai dilakukan dengan menggunakan antena wajanbolic besar dan kecil. langkah selanjutnya adalah dengan melakukan normalisasi dengan cara mengurangi nilai level sinyal yang didapat 10o dengan nilai level sinyal tertinggi yang didapat.17 Pemutaran antena setiap 10o 12.64 Gambar 4. Data hasil pengukuran serta normalisasi selengkapnya dapat dilihat pada bab lampiran. Langkah percobaan tersebut diatas digunakan pada antena wajanbolic besar ataupun kecil. . Dengan cara tersebut dapat dibuat grafik pola radiasinya dalam Microsoft Excel. Simpan hasilnya Ulangi langkah percobaan diatas untuk antena access point pada posisi horisontal. Berikut ini dapat dilihat gambar pola radiasi yang didapat dari hasil pengukuran. Bila nilai level sinyal dari antena wajanbolic setiap perputaran 10o telah didapat.

Wajanbolic Kecil Pola Radiasi Vertikal Beamwidth = 21o .65 1.

66 2. Wajanbolic Kecil Pola Radiasi Horisontal Beamwidth = 14o .

Wajanbolic Besar Pola Radiasi Vertikal Beamwidth = 13o .67 3.

68 4. Ini disebabkan karena level sinyal terbesar ada pada saat posisi antena 0o. Kemudian ketika antena diputar level sinyal yang ditangkap akan terus berkurang. Pada posisi tersebut antena menerima sinyal secara maksimal. antena masih menangkap sinyal yang dipancarkan access point hanya saja levelnya rendah. Dari percobaan yang telah dilakukan. Pada posisi antena sekitar 180o. . Ini karena posisi antena tidak tepat mengarah pada pemancar dalam hal ini adalah access point. level sinyal yang terekam sangatlah minim. Wajanbolic Besar Pola Radiasi Horisontal Beamwidth = 3o Dari gambar pola radiasi diatas dapat dilihat bahwa pola radiasi antena wajanbolic mengarah ke satu arah tertentu.

Hanya saja level sinyal yang ditangkap agak sedikit berbeda. Antena wajanbolic dengan diameter besar menangkap sinyal lebih baik. 10. Sedangkan level sinyal terendah yang ditangkap adalah -52 dB untuk bidang H dan -58 dB untuk bidang E. Perhitungan yang digunakan adalah dengan membandingkan level sinyal maksimum yang diterima wireless USB adapter dengan level sinyal maksimum yang diperoleh antena wajanbolic. Untuk mengetahui nilai level sinyal maksimum yang diterima oleh wireless USB adapter adalah dengan mengkoneksikan wireless USB adapter ke access point tanpa bantuan wajanbolic ataupun waveguide. Pada antena wajanbolic besar level sinyal tertinggi adalah -22 dB untuk bidang E dan -23 dB untuk bidang H. Yaitu menerima sinyal dengan baik pada posisi 0o dan menerima sinyal dengan lemah pada posisi sekitar 180o. Kedua antena tersebut sama-sama memiliki pola radiasi yang terarah. Dan level sinyal terendah adalah -62 dB untuk bidang E dan -58 dB untuk bidang H.69 Dari pengukuran pula dapat diketahui pada antena wajanbolic kecil (40 cm) level sinyal tertinggi yang ditangkap adalah senilai -30 dB untuk bidang E dan bidang H.4. Sehingga dari gambar pola radiasi yang didapat dari hasil pengukuran dapat dikatakan bahwa antena yang dibuat telah sesuai dengan harapan karena memiliki pancaran daya yang terarah. Pengukuran Gain [6] Untuk pengukuran gain maksimum antena wajanbolic ini dilakukan dengan cara membandingkan dengan wireless USB adapter yang digunakan. .

18 Diagram pengukuran level sinyal wireless USB adapter Langkah-langkah untuk mengetahui nilai level sinyal yang diperoleh oleh wireless USB adapter adalah sebagai berikut : 1.70 3 meter Gambar 4. didapat level sinyal yang ditangkap oleh wireless USB adapter yang ditunjukkan oleh program WirelessMon dan Network Stumbler adalah sama. Jalankan program Network Stumbler 6. Periksa nilai level sinyal yang diterima oleh masingmasing program Dari percobaan yang telah dilakukan. Hubungkan kabel USB extension ke laptop 4. Nyalakan laptop dan access point 2. Hubungkan wireless USB adapter ke kabel USB extension 3. . yaitu sebesar -44 dB. Jalankan program WirelessMon 5.

19 Tampilan program WirelessMon Gambar 4.20 Tampilan program Network Stumbler .71 Gambar 4.

4 GHz sebesar -44 dBi.15 dBi 16.15 dBi Polarisasi [6] Polarisasi antena ditentukan oleh polarisasi gelombang yang dipancarkan oleh antena atau oleh efektivitas antena dalam menerima gelombang. Dan sebaliknya saat wireless USB adapter pada antena wajanbolic tetap pada posisi vertikal dan antena pada access point dirubah pada posisi horisontal. Penamaan polarisasi antena ditentukan oleh arah medan listrik (E) gelombang yang dipancarkan oleh antena terhadap bidang permukaan bumi / tanah.15 dBi 2.15 dBi 24.72 Apabila pada wireless USB adapter telah diketahui nilai level sinyal yang diterima. -30 dBi -22 dBi -44 dBi -44 dBi 2. maka dari pengukuran diatas gain antena wajanbolic dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : Gt(dB) = (Pt(dBm) – Ps(dBm)) + Gs(dB) (4-1) Dimana Gt = Gain antena wajanbolic Pt = Nilai level sinyal maksimum yang diperoleh antena wajanbolic Ps = Nilai level sinyal maksimal yang diterima wireless USB adapter Gs = Gain wireless USB adapter Tabel 4.1 HASIL PENGUKURAN GAIN Diameter Pt Ps Gs Gt Wajan 40 cm 60 cm 10. yaitu pada frekuensi 2. ternyata antena wajanbolic lebih efektif menangkap gelombang sehingga polarisasi ini dinamakan polarisasi vertikal. Untuk pengukuran polarisasi. maka sinyal yang ditangkap . saat wireless USB adapter yang ada di dalam waveguide antena wajanbolic berada pada posisi vertikal dan antena pada access point juga pada posisi vertikal.5.

Hal ini tergantung bagaimana antena pada sisi pemancar diset. Tabel 4. Sedangkan saat wireless USB adapter tetap pada posisi vertikal dan antena pada access point dirubah ke posisi horisontal maka level sinyal yang didapat lebih kecil yaitu -23 dBi. pada saat wireless USB adapter dan antena access point sama-sama pada posisi vertikal. Namun secara umum polarisasi dari antena wajanbolic adalah polarisasi vertikal karena kebanyakan antena omni directional yang menyebarkan sinyal wireless pada hotspot dipasang secara vertikal. Sehingga dari sudut yang didapat kita dapat mengukur directivity. Hal ini dikarenakan telah terjadinya polarisasi silang sehingga level sinyal yang ditangkap oleh antena wajanbolic menjadi banyak yang loss. Sudut tersebut dapat dicari dengan menggunakan gambar pola radiasi. antena wajanbolic dapat menerima sinyal maksimum sebesar -22 dBi. Dan pada antena wajanbolic hanya perlu mengatur posisi wireless USB adapter yang ada pada waveguide. -30 dB -22 dBi -30 dB -23 dBi Directivity [6] Directivity suatu antena dapat diperkirakan dengan menggunakan pola radiasi yang dihasilkan pada pengukuran pola radiasi bidang E dan bidang H. Hal ini dibuktikan pada antena wajanbolic besar. Antena wajanbolic dapat menerima polarisasi baik vertikal ataupun horisontal.6. .2 HASIL POLARISASI Polarisasi Diameter Wajan Vertikal Horisontal 40 cm 60 cm 10. Ini dilakukan untuk bidang E dan H. Dengan menandai titik setengah daya pada pola radiasi kemudian menarik sudut pada titik tersebut.73 antena wajanbolic menjadi lebih lemah.

4 dB 2 60 cm 30.74 Sehingga nilai directivity dicari dengan perhitungan : (4-2) Atau jika dalam satuan decibel (dB) : D(dB ) 10 log D Tabel 4.21 Pengukuran directivity .3 Directivity pada antena wajanbolic Diameter No Directivity Antena Wajanbolic 1 40 cm 21.2 dB (4-3) Gambar 4.

Gambar 4.4 GHz.22 Uji coba antena wajanbolic di Kediri . Antena wajanbolic ini telah diuji coba di Kediri dengan menangkap sinyal hotspot dari Poltek Kediri. Aplikasi Antena Wajanbolic Antena wajanbolic yang telah dibuat diaplikasikan sebagai antena penerima atau antena client dalam jaringan wireless LAN 2. sinyal yang diterima juga akan lemah. posisi antena harus sejajar dengan antena pemancar selain itu jalurnya harus line of sight agar sinyal dapat ditangkap dengan baik oleh antena wajanbolic. Dan juga. Jika posisi antena pemancar tidak sejajar atau terdapat penghalang dengan antena penerima (antena wajanbolic). Dalam aplikasinya ketika digunakan sebagai antena penerima.75 10.7. Uji coba dilakukan dalam radius jarak + 500 meter line of sight. antena wajanbolic dapat menangkap sinyal dengan baik dan dapat melakukan koneksi ke internet. Dari hasil uji coba. jika posisinya mengalami perbedaan. maka sinyal yang diterima akan melemah. ketika antena digunakan harus memiliki polarisasi yang sama dengan antena pemancar.

php/Hasil_Peng ukuran_Pola_Radiasi_Wajanbolic_e-goen .24 Tampilan sinyal pada program NetStumbler Selain itu.23 Tampilan D-Link Wireless Connection Manager Gambar 4. Hal ini dibuktikan oleh komentar Pak Onno W. antena wajanbolic ini telah sesuai dengan hasil yang diharapkan yaitu mempunyai performansi (gain) yang baik yang tidak kalah bila dibandingakan dengan antena grid yang dijual dipasaran.com/wiki/index. Purbo mengenai pola radiasi dari antena wajanbolic yang telah dibuat yang dapat dilihat pada alamat website berikut : http://opensource.telkomspeedy.76 Gambar 4.

Serta mempunyai nilai directivity sebesar 21. Penggunaan wireless USB adapter dengan merek yang lebih baik ataupun penggantian wireless USB adapter dengan access point untuk mendapatkan performansi yang lebih optimal. SARAN Dari Proyek Akhir yang telah dilakukan kiranya masih diperlukan pembenahan-pembenahan sehingga didapatkan hasil yang lebih memuaskan. gain. antena wajanbolic yang telah dibuat telah berhasil sesuai performansi yang diharapkan.15 dBi untuk antena wajanbolic besar. Mempunyai nilai gain sebesar 16. Mempunyai polarisasi yang sejajar dengan antena pemancar. Penggunaan software monitor wireless yang lebih presisi dan mudah dalam pembacaan nilai level sinyal yang diperoleh.BAB V PENUTUP 15. Pemilihan bahan dan material pembuat antena yang lebih tepat serta penggunaan peralatan yang lebih diperhatikan kepresisiannya agar hasil yang diperoleh sesuai dengan perhitungan secara simulasi atau perhitungan secara teoritis. 3o untuk polarisasi horisontal.15 dBi untuk antena wajanbolic kecil dan 24. dan directivity yang dimiliki oleh antena wajanbolic yang telah dibuat. maka dapat disimpulkan bahwa antena wajanbolic adalah antena directional yang mempunyai keterarahan sinyal. 15. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa. 77 .4 dB untuk antena wajanbolic kecil dan 30. 14o untuk polarisasi horisontal. 13o untuk wajanbolic besar polarisasi vertikal.1. Pada Tugas Akhir ini. Mempunyai nilai HPBW (Half Power Beam Width) sebesar 21o untuk wajanbolic kecil polarisasi vertikal. Hal ini dapat dilihat dari pola radiasi yang dihasilkan. Saran-saran yang dapat diberikan diantaranya adalah peningkatan keakuratan perhitungan dan keakuratan serta kerapian dalam proses pembuatan antena wajanbolic.2.2 dB untuk antena wajanbolic besar.

78 -.Halaman ini sengaja dikosongkan -- .

PENS-ITS.4 GHz Untuk Jaringan Wireless-LAN. 2007 Onno W. Ery. 2005. 2007 http://yb1zdx. Purbo. Salsabil. Syailendra.itb. “Membuat Sendiri Antena Wajanbolic & Kenthongan”.DAFTAR PUSTAKA [1] [2] [3] [4] Gunadi. PENS-ITS. CHIP Edisi Oktober. P. Purbo. “Internet Wireless dan Hot Spot”. E-Goen. 2007 Onno W. Elex Media Komputindo. 2006. Prima Infosarana Media. “Panduan Praktis RT/RW-net & Antena Wajanbolic”.ac.T. Raga Putra. “Antena & Propagasi”. [5] [6] [7] [8] [9] 79 .4ghz/wajanbolicegoen/ Diyah Andari.4 GHz Sub Judul (Implementasi Pada Wireless LAN 2. PENS-ITS. ”Pembuatan Antena Omni Directional 2. Purbo.4 GHz)”.id/oraridiklat/pemula/multimedia/foto-station/2. ”Rancang Bangun Antena YagiUda Berbasis Algoritma Genetika Dan Implementasinya Pada Wireless LAN 2. P.arc. PENS-ITS.”Disain Dan Implementasi Antena Kaleng Pada Frekuensi 2.65 GHz”. P. 2005. Prima Infosarana Media.T. 2007 Budi Aswoyo. 2006 Onno W.T. Roose. “Merakit Sendiri Wajanbolic Step-by-Step”.

80 -.Halaman ini sengaja dikosongkan -- .

LAMPIRAN LAMPIRAN A PENGUKURAN POLA RADIASI ANTENA WAJANBOLIC KECIL VERTIKAL POSISI (derajat) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 SINYAL (dB) -30 -32 -43 -48 -40 -38 -40 -40 -40 -42 -44 -45 -48 -48 -52 -54 -54 -58 -54 -54 -50 -52 -48 -50 -48 SINYAL TERNORMALISASI 0 -2 -13 -18 -10 -8 -10 -10 -10 -12 -14 -15 -18 -18 -22 -24 -24 -28 -24 -24 -20 -22 -18 -20 -18 81 .

82 POSISI (derajat) 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350 360 SINYAL (dB) -48 -48 -44 -42 -42 -42 -40 -40 -46 -42 -35 -32 SINYAL TERNORMALISASI -18 -18 -14 -12 -12 -12 -10 -10 -16 -12 -5 -2 .

83 LAMPIRAN B PENGUKURAN POLA RADIASI ANTENA WAJANBOLIC KECIL HORISONTAL POSISI (derajat) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 SINYAL (dB) -30 -32 -44 -49 -46 -42 -42 -44 -44 -46 -44 -46 -46 -52 -48 -48 -48 -50 -48 -48 -50 -52 -50 -50 -50 SINYAL TERNORMALISASI 0 -2 -14 -19 -16 -12 -12 -14 -14 -16 -14 -16 -16 -22 -18 -18 -18 -20 -18 -18 -20 -22 -20 -20 -20 .

84 POSISI (derajat) 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350 360 SINYAL (dB) -50 -46 -46 -50 -46 -44 -44 -38 -40 -40 -38 -30 SINYAL TERNORMALISASI -20 -16 -16 -20 -16 -14 -14 -8 -10 -10 -8 0 .

85 LAMPIRAN C PENGUKURAN POLA RADIASI ANTENA WAJANBOLIC BESAR VERTIKAL POSISI (derajat) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 SINYAL (dB) -22 -30 -44 -46 -42 -42 -44 -44 -46 -46 -52 -54 -54 -52 -50 -50 -54 -54 -52 -56 -58 -62 -54 -60 -60 -52 SINYAL TERNORMALISASI 0 -8 -22 -24 -20 -20 -22 -22 -24 -24 -30 -32 -32 -30 -28 -28 -32 -32 -30 -34 -36 -40 -32 -38 -38 -30 .

86 POSISI (derajat) 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350 360 SINYAL (dB) -48 -48 -48 -42 -42 -42 -42 -40 -40 -40 -25 SINYAL TERNORMALISASI -26 -26 -26 -20 -20 -20 -20 -18 -18 -18 -3 .

87 LAMPIRAN D PENGUKURAN POLA RADIASI ANTENA WAJANBOLIC BESAR HORISONTAL POSISI (derajat) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 SINYAL (dB) -23 -30 -45 -43 -46 -48 -46 -46 -48 -48 -52 -48 -50 -52 -48 -52 -58 -50 -54 -48 -54 -52 -50 -55 -58 -54 SINYAL TERNORMALISASI 0 -7 -22 -20 -23 -25 -23 -23 -25 -25 -29 -25 -27 -29 -25 -29 -35 -27 -31 -25 -31 -29 -27 -32 -35 -31 .

88 POSISI (derajat) 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350 360 SINYAL (dB) -50 -50 -48 -48 -44 -42 -38 -40 -40 -42 -23 SINYAL TERNORMALISASI -27 -27 -25 -25 -21 -19 -15 -17 -17 -19 0 .

89 LAMPIRAN E SPESIFIKASI WIRELESS USB ADAPTER D-LINK DWA-110 .

90 .

91 LAMPIRAN F SPESIFIKASI ACCESS POINT D-LINK DWL-2100AP .

92 .

93 LAMPIRAN G TAMPILAN LEVEL SINYAL WAJANBOLIC KECIL POLARISASI VERTIKAL .

94 LAMPIRAN H TAMPILAN LEVEL SINYAL WAJANBOLIC KECIL POLARISASI HORISONTAL .

95 LAMPIRAN I TAMPILAN LEVEL SINYAL WAJANBOLIC BESAR POLARISASI VERTIKAL .

96 LAMPIRAN J TAMPILAN LEVEL SINYAL WAJANBOLIC BESAR POLARISASI HORISONTAL .

97 LAMPIRAN K CONTOH SPESIFIKASI ANTENA GRID .

98 .

99 .

Halaman ini sengaja dikosongkan -- .100 -.

HP Email : Molin Adiyanto : Jl.DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Alamat No.net Riwayat Pendidikan :  TK Kartanegara II Kediri (1991 – 1993)  SDN Mojoroto II Kediri (1993 – 1999)  SLTPN IV Kediri (1999 – 2002)  SMAN I Kediri (2002 – 2005)  D3 Teknologi Informasi PENS – ITS (2005 – 2008) Motto : Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat Penulis telah mengikuti Seminar Tugas Akhir pada tanggal 25 Juli 2008 sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A.co.Md).id : pecky_guk@telkom. 101 . K. X / 2B Mojoroto Kediri : 08563508192 : molin_it05@yahoo. Achmad Dahlan Gg.H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful