You are on page 1of 13

FUNGSI LEGISLASI DPRD DALAM KERANGKA OTONOMI

(Studi Kasus DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi)

Oleh: Meri Yarni, S.H., M.H.*)

Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Jambi

ABSTRAK

Adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD telah menempatkan DPRD pada posisi
yang sejajar dengan Pemerintah Daerah, dan dikembalikan ke fungsi yang seharusnya
sebagai badan legislative daerah. Dan seharusnya DPRD dapat memainkan peranannya
dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, diantaranya dalam pembentukan Perda
yang merupakan fungsi legislasi diwujudkan melalui pelaksanan hak mengajukan
Raperda dan hak mengadakan perubahan atas Raperda.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui dan


mengevaluasi pelaksanaan fungsi legislasi oleh DPRD Kota Jambi dan DPRD
Kabupaten Muaro Jambi dan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi serta bagaimana langkah-langkah
yang perlu dilakukan untuk

mencari solusinya Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan


yuridis – normative, yuridis sosiologis, yuridis histories dan komparatif. Data
diambil dari kepustakaan dan data lapangan dan dianalisa dalam bentuk
deskriptif.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa DPRD Kota Jambi dalam menjalankan
fungsinya kurang berperan, karena hanya 2,50% dari Perda tersebut yang rancangan
berasal dari DPRD begitu juga dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi, sedangkan dalam
pelaksanaan hak mengadakan perubahan atas Raperda sudah boleh dikatakan meningkat,
karena terlihat lebih baik dari sebelum adanya perubahan berdasarkan asas-asas
pembentukan perundang-undangan. Adapun factor yang mempengaruhi pelaksanaan
fungsi DPRD adalah: factor sumber daya manusia, peraturan tata tertib DPRD dan sarana
dan prasarana.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Esensi dari Undang-Undang yang mengatur Pemerintah Daerah pada dasarnya
adalah untuk membangun Pemerintah Daerah dalam mengisi pembangunan dan
meningkatkan kesejahteraan, serta pelayanan masyarakat yang ada di daerah. Di sisi lain
Undang-Undang Pemerintah Daerah di samping mengatur satuan daerah otonom juga
mengatur satuan pemerintahan administratif. Untuk melaksanakan Pemerintahan secara
efektif dan efisien, maka setiap daerah diberi hak otonomi.(Bagir Manan, 2002)

Pada hakikatnya hak otonomi yang diberikan kepada daerah –daerah adalah untuk
mencapai tujuan negara, Menurut UU No. 32 Tahun 2004, otonomi yang diberikan secara
luas berada pada Daerah Kabupaten/Kota. Dengan maksud asas desentralisasi yang
diberikan secara penuh dapat diterapkan pada Daerah Kabupaten dan Kota, sedangkan
Daerah Propinsi diterapkan secara terbatas (penjelasan umum UU No. 32 Tahun 2004).

Berdasarkan Bab V Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang penyelenggaraan


Pemerintahan, Pasal 19 ayat (2) menyatakan: Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah
Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Dalam penjelasan umum Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dapat diambil suatu
makna pemisahan Pemerintahan Daerah (Eksekutif) dengan DPRD (Legislatif) adalh
untuk memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban pemerintahan
kepada rakyat. Oleh karena itu, DPRD diberi hak-hak yang cukup luas dan diarahkan
untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dalam pembuatan suatu
kebijakan daerah dan pengawasan pelaksanaan kebijakan. DPRD sebagai badan
legislatif, anggotanya dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum (Pemilu)..

Sebagai Legislatif Daerah, DPRD mempunyai fungsi sebagaimana tercantum dalam


Penjelasan Umum Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Pasal 41 menyebutkan bahwa :
DPRD memiliki fungsi antara lain: (a) fungsi legislasi, (b) fungsi pengawasan, dan (c)
fungsi anggaran. Untuk melaksanakan fungsi tersebut, maka DPRD dilengkapi dengan
tugas, wewenang, kewajiban dan hak. (Pasal 42 UU No. 32 Tahun 2004).

Salah satu fungsi DPRD yang sangat penting dalam rangka mendukung pelaksanaan
otonomi luas di Daerah adalah fungsi legislasi. Untuk melaksanakan fungsi legislasi
DPRD diberi bermacam-macam hak yang salah satunya ialah “hak mengajukan
rancangan peraturan daerah dan hak mengadakan perubahan atas Raperda” atau
implementasi dari fungsi legislasi harus ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah
(Perda).

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan, Peraturan Daerah yang telah


disetujui oleh DPRD Kota Jambi pada tahun 2003 sebanyak 13 buah; tahun 2004
sebanyak 11 buah; dan tahun 2005 sebanyak 16 buah. Dari 40 buah Peraturan Daerah
tersebut hanya 1 (satu) Peraturan Daerah yang berasal dari Hak Prakarsa DPRD Kota
Jambi pada tahun 2003 ,
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa, anggota DPRD Kota Jambi dalam
melaksanakan haknya sebagai implementasi dari fungsi legislasinya sangat kurang
bahkan hampir tidak terlaksana sama sekali.

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah:
seberapa jauh kontribusi DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dalam
melaksanakan fungsi legislasi dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelaksanaan
fungsi legislasi serta langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencari
solusinya.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
mengevaluasi pelaksanaan fungsi legislasi oleh DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten
Muaro Jambi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi
legislasi serta bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencari
solusinya. Sedangkan manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah Secara
teoritis diharapkan dapat mengembangkan ilmu Hukum Tata Negara khususnya Hukum
Pemerintahan Daerah yang berkaitan dengan fungsi legislasi DPRD dan secara praktis
diharapkan memberikan sumbangan pemikiran, khususnya kepada DPRD Kota Jambi
dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dan Pemerintah Daerah dalam rangka
penyelenggaraan fungsi legislasi DPRD.

II METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan yuridis – normative,


gistoris, sosiologis dan komparatif. Adapun sumber data terdiri dari bahan hukum primer
dan sekunder dan tertier dengan teknik pengumpulan data berdasarkan data kepustakaan
dan data lapangan dengan analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif dan
disajikan dalam bentuk deskriptif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Gambaran Umum DPRD Kota Jambi

Adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD, ditandai dengan lahirnya UU No. 22


Tahun 1999 tang diganti dengan UU No. 32 Tahun 2004. Semenjak itu telah terbentuk
dua periode anggota DPRD, yaitu periode 1999-2004 dan periode 2004-2009.

Berdasarkan hasil penelitian jumlah seluruh anggota DPRD Kota Jambi pada masing-
masing periode berjumlah 40 orang dengan rincian komposisi DPRD periode 1999-2004
terdiri dari 12 partai dan 4 orang (4,8%) anggotaa TNI/Polri yang diangkat. Dari 13 partai
politik didominasi oleh partai PDI-P sebesar 31,7 % kemudian partai Golkar 24,3 %, PPP
dan PAN masing-masing 7,3 % dan partai lainnya masing-masing 2,4 %. Sedangkan
DPRD periode 2004-2009 didominasi oleh partai Golkar 27,2 %, kemudian partai PAN
24,2 %, PDIP dan PKS masing-masing 15,1%, PBR 6,0% dan partai lainnya masing-
masing 3,0%. Komposisinya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Komposisi DPRD Kota Jambi Periode 1999-2004 dan Periode 2004-

2009.

No Periode Jumlah % Periode Jumlah %

1999-2004 2004-2009
1. Golkar 10 24,3 Golkar 9 27,2
2. PDI-P 13 31,7 PDI-P 5 15,1
3. PPP 3 7,3 PPP 1 3,0
4. PAN 3 7,3 PAN 8 24,2
5. PBN 1 2,4 PBR 2 6,0
6. PKS 1 2,4 PKS 5 15,1
7. PKP 1 2,4 PBB 1 3,0
8. PKB 1 2,4 PKPB 1 3,0
9. PSII 1 2,4 PDS 1 3,0
10. PP 1 2,4 -
11. PBB 1 2,4 -
12 PBBTNI/Polri 4 4,8 -
12 40 100 8 33 100
Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi

Dengan komposisi fraksi periode 1999-2004, 6 fraksi dan periode 2004-2009, 5


fraksi. Fraksi ini merupakan gabungan atau pengelompokan anggota berdasarkan partai
politik yang memperoleh kursi dalam pemilihan umum. Untuk periode 1999-2004 di
samping partai politik juga ditambah dengan anggota TNI/POLRI yang diangkat.
Sedangkan untuk periode 2004-2009, keberadaan TNI.POLRI dalam komposisi anggota
DPRD sudah dihapuskan. Sedangkan DPRD Kabupaten Muaro Jambi memiliki 5 fraksi
yaitu, Golkar, PAN, PDIP, Peduli Bangsa dan Kerakyatan yang berasal dari Partai
Polotik yaitu: Golkar, PAN, PDIP, PKPB, PPP, PKB, DEMOKRAT dan P. MERDEKA.
Nama-nama fraksi tersebut diatas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Nama-nama Fraksi DPRD Kota Jambi Periode 1999-2004 dan

Periode 2004-2009.

No Fraksi Periode Asal Parpol Fraksi Periode Asal Parpol

1999-2004 2004-2009
1 Golkar Golkar Golkar Golkar
2. PDI-P PDI-P PDI-P PDI-P
3. PAN PAN, PBN PAN PAN
4 PPP PPP, PP Demokrat PKS, PDS
5. Kesatuan PKS,PBB,PKB, BPI PBB,PBR

PSI,
6 TNI/Polri TNI/Polri -
6 fraksi 5 fraksi

Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi

Adapun tingkat pendidikan anggota DPRD sebelum menjadi anggota DPRD pada
umumnya pendidikan pada kedua periode tersebut adalah sarjana. Pada periode 1999-
2004 yang berpendidika S1 dan S2 sebesar 42,50 % dan pada periode 2004-2009 sebesar
57,57%. Pada periode 2004-2009 tidak ada lagi dewan yang berpendidikan SLTP dan SD
seperti periode 1999-2004. Hal ini disebabkan oleh ketentuan undang-undang pemilu
yang baru, yang memperketat persyaratan pendidikan bagi anggota DPRD adalah
minimal SLTA. Sedangkan kalau dilihat latar belakang pendidikan anggota DPRD
Kabupaten Muaro Jambi, Sarjana 10 orang, Diploma 1 orang dan sisanya 19 orang
berpendidikan SLTA. Dengan tingkat pendidikan demikian, maka dianggap DPRD akan
mampu dalam menjalankan fungsinya terutama fungsi legislasi, yang berkaitan dengan
hak yang dimiliki untuk mengusulkan Raperda dan untuk mengadakan perubahan atas
Raperda. Mengenai tingkat pendidikan dapat diihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Tingkat Pendidikan Anggota DPRD Kota Jambi peride 1999-2004

dan Periode 2004-2009.

No Periode 1999-2004 Periode 2004-2009


Pendidikan Jumlah % Pendidikan Jumlah %
1. S2 - S2 5 15,15
2. S1 17 42,50 S1 14 42,42
3. Diploma - - Diploma 2 6,06
4. SLTA 19 47,50 SLTA 12 36,36
5. SLTP 4 10,00 SLTP - -
6. SD(sederajat) - - SD(sederajat) - -
40 100 33 100

Sumber : Sekretariat DPRD Kota Jambi

Sedangkan latar belakang pekerjaan anggota DPRD Kota Jambi sangat bervariasi
jenis pekerjaannya. Pada peride 1999-2004, jumlah pensiunan PNS 10 %, TNI.Polri 10%,
wiraswasta 47,5%, dagang 5%, kontraktor dan pengacara masing-masing 7,5%,
sedangkan Ex. Mahasiswa dan pengusaha sebesar 2,5%. Sedangkan pada periode 2004-
2009, pensiunan PNS sebesar 15,15%, wiraswasta, 42%, ex.mahasiswa sebesar 21,21%,
dagang, ibu rumah tangga dan pengacara masing-masing 6,06% sedangkan pengusaha
sebesar 3,03%. Dengan pengalaman pekerjaan tersebut, tentunya mempengaruhi kinerja
sebagai anggota DPRD.

Sedangkan jenis pekerjaan anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi yaitu; Karyawan
swasta berjumlah 6 orang, TNI/POLRI 4 orang, Pensiunan PNS 5 orang, Wiraswasta 3
orang , Kepala Desa 2 orang dan pekerjaan lain (tidak pekerjaan yang tetap) sebelum
menjadi anggota DPRD sebanyak 10 orang. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 4: Jenis Pekerjaan Anggota DPRD sebelum menjadi Anggota DPRD


Periode 1999-2004 dan Periode 2004-2009.

Pekerjaan Anggota DPRD Sebelum Menjadi Anggota DPRD


Periode 1999-2004 Jumlah % Periode 2004-2009 Jumlah %
1 Pensiunan PNS 4 10,0 Pensiunan PNS 5 15,15
2 TNI/Polri 4 10,0 - -
3 Wiraswasta 19 47,5 Wiraswasta 14 42,42
4 Kontraktor 3 7,50 - -
5 Pengacara 3 7,50 Pengacara 2 6,06
6 Ex.Mahasiswa 1 2,50 Ex. Mahasiswa 7 21,21
7 Pengusaha 1 2,50 Pengusaha 1 3,03
8 Ibu Rumah Tangga 3 7,50 Ibu Rumah Tangga 2 6,06
9 Dagang 2 5,00 Dagang 2 6,06
Jumlah 40 100 33 100

Sumber : Sekretariat DPRD Kota Jambi

3.2. Pelaksanaan Fungsi Legislasi DPRD

Dalam pelaksanakan fungsi legislasi DPRD dapat dilihat dari terlaksananya hak yang
dimiliki. Hak yang berhubungan lansung dengan fungsi legislasi adalah hak inisiatif
DPRD dan hak mengadakan perubahan terhadap Raperda. Menurut UU No. 10 Tahun
2004 yang kemudian diatur dalam UU No. 32 tahun 2004, peranan eksekutif dalam
pembentukan perda tersebut terdapat pada setiap tahap dalam proses pembentukan Perda,
baik pada tahap persiapan, pembahasan, penetapan maupun pengundangan.

Adapun Perda yang telah dihasilkan oleh DPRD bersama Pemerintah Daerah Kota
Jambi setelah adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD dapat dilihat bahwa sejak
tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 DPRD Kota Jambi telah menghasilkan 40 Perda,
dan hanya 1 Perda yang merupakan inisiatif DPRD. Sedangkan DPRD Kabupaten Muaro
Jambi ssejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah menghasilkan 60 Perda dan
yang merupakan inisiatif dari DPRD berjumlah 2 (dua) Perda.

Dalam pelaksananaan hak mengajukan Raperda atau hak inisiatif yang dimiliki
DPRD dari 40 Perda yang dihasilkan oleh DPRD Kota Jambi dari Tahun 2003- 2005
hanya 1 dari Perda tersebut yang rancangannya berasal dari inisiatif DPRD, sedangkan
39 Perda lainnya berasal dari Pemerintah Daerah. Adapun Perda yang diusulkan DPRD
yaitu Perda No. 1 Tahun 2005 tentang Kedudukan keuangan pimpinan dan anggota
DPRD Kota Jambi.. Kalau dibandingkan dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi, Dari
jumlah 60 Perda yang tebentuk selama tahun 2003-2005, yang diusulkan DPRD pada
tahun 2005 berjumlah 2 Perda.

Adanya inisiatif DPRD tersebut di atas, walaupun dalam kapasitas yang sangat
minim, hal ini menunjukan adanya tanggung jawab moral yang dimiliki oleh anggota
DPRD. Sedangkan dalam mengadakan perubahan terhadap Raperda, dapat dilakukan
dalam proses pembahasan Raperda oleh DPRD bersama Kepala Daerah. Proses
pembahasan Raperda ini telah diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD Kota Jambi,
yang dilakukan dalam empat tahap pembicaraan, Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah
ini:

Tabel 5: Perda yang dihasilkan DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten
Muaro Jambi Tahun 2003-2005.

DPRD Kota Jambi DPRD Kab. Muaro Jambi


Tahun Raper Inisiatif Inisiatif Jumlah Raper Inisiatif Inisiatif Jum

da Pemda DPR Perda da Pemda DPRD lah


2003 13 13 0 13 38 38 0 38
2004 11 11 0 11 14 14 0 12
2005 16 15 1 16 16 14 2 10

Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi dan DPRD Kab.Muaro Jambi

Hasil wawancara dengan responden , dapat diketahui bahwa yang menjadi


pertimbangan bagi dewan dalam pembahasan terhadap Raperda ini, 60 % dari responden
berpendapat sama yaitu apakah tidak bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi, tidak terlalu memberatkan kepada masyarakat, dan apakah
sesuai dengan kondisi objektif di daerah. Selain ketiga hal tersebut, 30 % responden
lainnya menambahkan yaitu mempertimbangkan anggaran yang ada, serta sarana
pendukung pelaksanaan Perda dan 10 % lainnya menambahkan yaitu tidak merugikan
kepada pemerintah daerah. Ini menunjukan adanya pemahaman responden terhadap
norma-norma yang berlaku dalam pembentukan Perda. Sementara itu pengambilan
keputusan dilakukan secara musyawarah, apabila tidak diperoleh kesepakatan, maka
keputusan diambil berdasarkan atas suara terbanyak, sehingga kebenaran yang dihasilkan
berdasarkan jumlah anggota yang menyatakan persetujuan.
3.3.. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Fungsi Legislasi
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi DPRD adalah


sumber daya manusia atau kualitas anggota DPRD sangat menentukan agar mampu
memainkan peranan dalam arti mampu menngunakan hak-hak secara tepat,
melaksanakan tugas dan kewajiban secara efektif dan menempatkan kedudukannya
secara proposional. Untuk itu anggota DPRD harus didukung dengan tingkat pendidikan
dan pengalaman di bidang organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan.

Hasil wawancara yang dilakukan dengan responden, 40 % dari responden


menyatakan mendapatkan pelatihan hanya awal dilantik menjadi anggota DPRD, melalui
orientasi yang diberikan kepada semua anggota DPRD. Sedangkan 60% responden
lainnya telah beberapa kali mengikuti pelatihan, shehubungan dengan bidang kerja
komisi yang diwakili.Dengan demikian menunjukan bahwa pelatihan yang diperoleh
anggota DPRD belum merata terhadap semua anggota DPRD.. Jelaslah bahwa kualitas
anggota yaitu tingkat pendidikan dan latar belakang keilmuan yang terkaitserta
pengalaman dalam bidang pemerintahan sangat mempengaruhi kemampuan dan
ketrampilan teknis yang berkaitan dengan bidang tugasnya DPRD seperti menyusun
Raperda, menangkap dan menyerap aspirasi masyarakat dan merumuskan dalam bentuk
kebijakan publik. Kurangnya pengetahuan dan pengalamn yang dimiliki sehubungan
dengan bidang tugasnya, akan menyulitkan anggota DPRD dalam menuangkan pikiran
serta menganalisa suatu permasalahan guna menuangkannya dalam pembentukan Perda.

Peraturan Tata Tertib DPRD yang merupakan acuan bagi Dewan untuk menjalankan
fungsinya, tugas dan wewenang serta hak dan kewajiban harus memenuhi syarat yang
telah ditentukan, diantaranya suatu usul tentang Raperda tersebut harus diajukan oleh
sekurang-kurangnya 5 orang anggota Dewan yang terdiri dari lebih satu fraksi. Dari hasil
wawancara dengan sepuluh orang responden, tiga orang dari responden menyatakan
kurangnya inisiatif untuk mengajukan Raperda juga disebabkan oleh ketentuan yang
diatur dalam Peraturan tata Tertib DPRD. Selanjutnya dengan diperbaharui peraturan tata
tertib DPRD periode 2004-2009, yang meniadakan persyaratan tentang jumlah fraksi
untuk dapat mengusulkan Raperda, maka kedepan diharapkan semakin banyak jumlah
Perda yang diusulkan Dewan., sejalan dengan UU No. 32 Tahun 2004 yang tela
memberikan kekuasaan untuk membentuk Perda pada DPRD, apalagi dengan penegasan,
bahwa hak inisiatif merupakan hak anggota DPRD bukan hak DPRD (lembaga), sehingga
dapat memudahkan anggota DPRD untuk mengajukan Raperda.

3.4. Sarana dan Prasarana

Peranan DPRD dalam melaksanakan fungsinya juga dipengaruhi sarana dan


prasarana yang diperlukan guna menunjang berperannya DPRD dalam melaksanakan
fungsinya. Untuk itu diperlukan adanya fasilitas dan tenaga ahli DPRD guna membantu
DPRD dalam menjalankan fungsinya. , guna menunjang kualitas sumber daya manusia
anggota DPRD.Berdasarkan hasil wawancara dengan responden mengungkapkan bahwa
dalam pembentukan Perda, keberadaan tenaga ahli ini diperlukan untuk memberikan
masukan dari segi muatan suatu Raperda yang dibahas untuk dapat mempertinggi bobot
kerja DPRD dalam pembentukan Perda.

Berkaitan dengan ini tidak kalah pentinya adanya dana yang tersedia agar DPRD
dapat menjalankan fungsinya. berdasarkan hasil wawancara dengan responden maupun
informan yang diperoleh dari bagian persidangan DPRD Kota Jambi, diketahui bahwa
dana yang ada untuk menunjang kinerja Dewan adalah dana untuk membahas suatu
Raperda, seperti biaya operasional pansus. Sedangkan alokasi anggaran untuk merancang
suatu Perda oleh DPRD ternyata tidak ada.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

a. Bahwa pelaksanaan fungsi DPRD Kota Jambi, sehubungan dengan pelaksanaan hak
inisiatifnya dapat dikatakan masih kurang apabila dibandingkan dengan hak inisiatif
DPRD Kabupaten Muaro Jambi . Hal ini karena dari 40 Perda yang telah dihasilkan
mulai tahun 2003-2005, hanya 1 Perda (2,5%) dari Perda tersebut yang berasal dari
inisiatif DPRD. Begitu juga dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi, dari 60 Perda yang
dihasilkan selama tahun 2003-2005 hanya 2 Perda (3,33%) yang merupakan inisiatif
DPRD. Sedangkan dalam pelaksanaan hak mengadakan perubahan terhadap Raperda ,
juga dapat dikatakan sebagai langkah maju karena sudah mulai memainkan perannya
sebagaimana yang diatur dalam peraturan peraturan perundang-undangan.

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi DPRD dalam pelaksanaan fungsinya adalah


factor (a) Sumber Daya Manusia, (b) Peraturan Tata Tertib DPRD, (c) Sarana dan
Prasarana. Kurangnya peranan DPRD dalam menggunakan hak inisiatifnya, dilihat dari
kualitas anggota DPRD, sangat sedikit anggota DPRD yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang menunjang kemampuan guna menyusun suatu Raperda dan ditambah
lagi kurangnya pelatihan-pelatihan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas anggota
maupun kurangnya kesempatan yang diberikan untuk mengikuti seminar-seminar yang
berkualitas, sehingga DPRD kurang memiliki keterampilan teknis yang berkaitan dengan
bidang tugasnya seperti menyusun Raperda. Kemudian dilihat dari sarana dan prasarana
yang ada, seperti perpustakaan dan minimnya buku-buku serta bahan-bahan lainnya
belum sepenuhnya menunjang kelancaran tugas Dewan.
4. 2. Saran

a. Perlu dilakukan peningkatan kualitas anggota DPRD, baik dari segi pendidikan,
pengalaman dan juga pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan tugas serta fungsi
yang dimiliki DPRD.

b. Perlu diperluass tugas dari tenaga ahli yang tidak hanya bertugas paruh waktu, bukan
saja memberikan masukan , tetapi juga lebih dari itu. Dan perlu kirannya disediakan
tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang menunjang fungsi DPRD.

c. Perlu menyediakan anggaran untuk penyusunan Raperda inisiatif DPRD, yang


merupakan salah satu fasilitasi bagi DPRD dalam menyusun Raperda.

d. Agar sekretariat DPRD berperan aktif menunjang kinerja DPRD, seperti melengkapi
perpustakaan dengan literature penunjang maupun sarana informasi lainnya seperti
internet, sehingga dapat lebih mempermudah anggota DPRD mendapat informasi dalam
menjalankan fungsinya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Bagir Manan, Menyonsong Fajar Otonomi Daerah, , Pusat Studi
Hukum (PSH) Fakultas Hukum UII Yogyakarta, 2002

Bintan R.Saragih, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia, Gaya


Media Pratama, Jakarta, 1988.

Josef R. Kaho, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik


Indonesia,

Yogyakarta, Raja Grafindo, 1997.

Miriam Budiardjo dan Ibrahim Ambong, Fungsi Legislatif Dalam


Sistem Politik Indonesia, Raja Grafindo, Jakarta, 1995.

Solly M, Lubis, Landasan dan Teknik Perundang-undangan , Mandasr Maju,


Bandung, 1989.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji dalam Penelitian Hukum


Normatif Suatu

Tinjauan Singkat, P.T. Rajawali Pers, Jakarta, 1990.

Fauzi Syam. Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Daerah, {PSHP


UNJA, Jambi, 1999.)

Rozali Abdullah, Produk Hukum Daerah, (PSHP UNJA, Jambi, 2000)

Peraturan Perundang-undangan
UUD 1945

Tap MPR RI No. III/MPR/2000

UU No. 5 Tahun 1974

UU No. 22 Tahun 1999

UU No. 32 Tahun 2004

Kepres No. 44 Tahun 1999

Tatip DPRD Kota Jambi

Tatip DPRD Kabupaten Muaro Jambi