PROPOSAL PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMANFAATAN PELAYANAN IMUNISASI BCG DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS DTP GUNUNG KENCANA

OLEH: HESTI AWALIYAH

PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN POLITEKNIK BAKTI PERTIWI HUSADA 2010

KATA PENGANTAR

Assalumu’alaikum Wr.Wb Syukur alhamdulillah penulis mengucapkan kehadirat Allah SWT yang memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal penelitian yang berjudul “ Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Dalam Memanfaatkan Pelayanan Imunisasi BCG di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana”. Penyusunan proposal ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Metodologi Penelitian. Dalam menyelesaikan proposal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Djauhari Muas, SKM.MM.Kes selaku Dosen Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kedua orang tua yang selalu memberikan doa dan dukungan moril maupun materil Teman-teman yang telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis selama belajar menyelesaikan proposal ini Serta semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran serta kontribusi positif yang bersifat membangun sangat diaharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga KTI ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Malingping, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang................................................................................. Perumusan Masalah ........................................................................ Tujuan ............................................................................................. Ruang Lingkup Penelitian................................................................ Manfaat............................................................................................ BAB II PEMBAHASAN Tinjauan Teori.............................................................................. Imunisasi................................................................................ Tuberkulosis........................................................................... Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan......................... Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu........ Kerangka Konsep dan Definisi Operasional................................ Kerangka Konsep................................................................... Definisi Konseptual................................................................ Definisi Operasional............................................................... BAB III METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian......................................................................... Populasi dan Sampel.......................................................................... Populasi............................................................................................ Sampel ............................................................................................ Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................................. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data..........................................

Teknik Analisa Data............................................................................ Pengolahan Data atau Manajemen Data............................................ Analisa Data........................................................................................ LAMPIRAN......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Tubercolosis pada anak. Penyakit ini disebabkan infeksi Micobacterium tubercolosis yaitu sejenis kuman berbentuk batang, dinamakan tubercolosis karena bentuknya nodul yang khas yakni tubercle. Hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (Soeparman, 1998). Menurut pikiran World Health Organization terdapat 8 juta penduduk dunia terserang TBC dengan kematian 3 juta orang. Dengan meningkatnya epidemik penyakit lain, penyakit TBC juga meningkat, diperkirakan seperempat penduduk dunia telah terinfeksi TBC ( Depkes, 1999 ). Asia Tenggara merupakan wilayah penyumbang kasus penderita TBC terbesar didunia yaitu 2,9 juta (34,2%), wilayah Pasifik Barat Daya 2 juta (27%) dan Afrika sebanyak 1 juta (13,5%). Dari jumlah kematian penduduk dunia penyebab kematian nomor 8 (WHO, 1999). Perkiraan jumlah penyakit TB baru 500.000 petahun dan jumlah kematian akibat TB 200.000 pertahun, indonesia menduduki tempat ketiga didunia dalam besarnya masalah TB. Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Thailand menyumbangkan 95 % kasus TB di Asia Tenggara. Walaupun, berbagai upaya telah dilaksanakan, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga(SKRT) Departemen Kesehatan tahun 2001 memperlihatkan TB masih merupakan salah satu dari lima penyebab utama kematian di Indonesia.

Puskesmas DTP Gunung Kencana merupakan salah satu puskesmas di Kabupaten Lebak yang mempunyai wilayah kerja terdiri dari desa 11 Desa dengan jumlah penduduk 60. angka cakupan imunisasi BCG hanya mencapai 33. Menghindari kontak dengan penderita TB.000 diantaranya meninggal dunia. pengobatan untuk pencegahan (Kemoprofilaksis). Sedangkan pada bayi umur 0-1 tahun jumlah penderita TB Paru sebanyak 10 orang. Mengingat angka kejadian TB yang cenderung meningkat. mendiagnosis dan mengobati kasus TB dewasa secara tepat. 2008 ).10 % dan cakupan imunisasi BCG diKabupaten Lebak Tahun 2007 yaitu 98. 1999). TB pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara sepeti imunisasi BCG ( Bacillus Calmette Guerin ). Pemberian imunisasi BCG ini mungkin dipengaruhi oleh karakteristik dan perilaku orangtua tentang pentingnya mendapat imunisasi ( BPS.3 juta setiap tahun dan 450.40 % sedangkan pada tahun 2010 terhitung dari bulan Januari sampai dengan bulan April. Berdasarkan informasi dari petugas Puskesmas DTP Gunung Kencana jumlah penderita TB Paru tahun 2009 sebanyak 117 orang dengan BTA (+) sebanyak 77 orang dan BTA (-) dengan ronsent sebanyak 40 orang. 2008). serta dengan menerapkan strategi DOTS / Directly Observed Treatment Short Course ( Kartasasmita. sedangkan target yang telah ditetapkan untuk jangka .85 % ( Dinkes Provinsi Banten. 2010 ). Pada tahun 2010 tercatat bayi yang diimunisasi BCG diseluruh Desa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana dari bulan Januari sampai dengan Maret 2010 baru mencapai 88 bayi. Secara Nasional cakupan imunisasi BCG pada tahun 1998/1999 adalah 93.14% (Depkes. 1999 ). Berdasarkan data dari Puskesmas DTP Gunung Kencana diperoleh hasil cakupan imunisasi BCG tahun 2009 sebesar 65 %. Manfaat imunisasi BCG yaitu memberikan kekebalan terhadap penyakit TBC (Tubercolosis).150 pada tahun 2007. sedangkan di Jawa Barat imunisasi BCG 1998/1999 hanya 88. diberikan hanya satu kali dengan usia efektif dilakukan imunisasi pada 4 atau 5 minggu setelah kelahiran. Di Banten sendiri angka cakupan imunisasi BCG pada Tahun 2009 mencapai 91. untuk pencegahan agar anak tidak tertular penyakit ini.Dalam “ Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis “ yang dikeluarkan Depkes RI tahun 2003. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. 2002 ).3 % ( Dinkes Lebak.213 bayi (Dinkes Lebak. kasus tuberkolosis pada anak terjadi sekitar 1. Dari jumlah tersebut terdapat bayi sebanyak 1.

maka dapat dicegah dengan cara melakukan imunisasi BCG ( Bacillus Carmette Guerin ). jarak. Bayi yang sudah diimunisasi BCG di Kecamatan Gunung Kencana sampai dengan bulan Maret 2010 baru mencapai 88 bayi dari target yang telah ditetapkan untuk jangka waktu 1 tahun yaitu sebanyak 1162 bayi dari jumlah penduduk 63. jumlah anak. Salah satu upaya agar anak tidak tertular penyakit ini. Berdasarkan masalah tersebut diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan dalam imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana Kabupaten Lebak Tahun 2010. . dan dukungan suami/keluarga. Hasil cakupan imunisasi BCG di Kecamatan Gunung Kencana tahun 2009 sebesar 65. pendidikan ibu. umur ibu. Faktor lain yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pelaksanaan imunisasi BCG yaitu persepsi ibu terhadap pelayanan petugas.3 %. pengetahuan ibu. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. tenaga kesehatan kurang.waktu 1 tahun yaitu sebanyak 1162 bayi dari jumlah penduduk 63.167 orang.9 %. dukungan pemerintah terutama Kepala Desa ( Aparat Desa ) kurang menggerakkan masyarakat agar mau datang ke Puskesmas. ibu tidak mau anaknya disuntik.167 orang. Rumusan Masalah Tuberkolosis masih merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia dan Indonesia menduduki tempat ketiga di Dunia dalam besarnya masalah Tuberkolosis. Rendahnya cakupan imunisasi BCG mungkin dipengaruhi beberapa gambaran karena pengetahuan masyarakat kurang. Berdasarkan data tersebut diatas menunjukan bahwa cakupan imunisasi di kecamatan Gunung Kencana masih rendah dan penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG di wilayah keraj Puskesmas DTP Gunung Kencana Kabupaten Lebak Tahun 2010. Beberapa gambaran yang dapat mempengaruhi ibu untuk melaksanakan imunisasi adalah waktu. hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan imunisasi BCG di Kecamatan Gunung Kencana belum berhasil karena cakupannya masig rendah bila dibandingkan dengan cakupan imunisasi BCG di Kabupaten Lebak yaitu sebesar 98.

Tujuan Tujuan umum Diperoleh informasi tentang gambaran perilaku ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG. f. e. 2. Diketahui gambaran perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana.4 Ruang Lingkup Penelitian Keberhasilan pelaksanaan imunisasi BCG pada bayi dipengaruhi oleh banyak faktor. Diketahui hubungan antara media informasi denganibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. c. i. Diketahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. d. Diketahui hubungan antara jarak tempat pelayanan imunisasi dengan ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. b. Tujuan Khusus a. h. Diketahui hubungan antara dukungan suami/keluarga dengan ibu dalam pemanfaatan imunisasi di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. g. Diketahui hubungan antara umur ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. Diketahui hubungan antara pelayanan petugas kesehatan dengan ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. Diketahui hubungan antara jumlah anak dengan ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. 1. Diketahui hubungan antara pendidikan ibu dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan imunisasi BCG di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana. namun dalam penelitian ini penulis hanya membatasi variabel yang akan diteliti yaitu meliputi .

media informasi. khususnya pelayanan imunisasi untuk dapat lebih meningkatkan cakupan. umur. khususnya penelitian dalam bidang kesehatan. dukungan suami/keluarga. penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2010. Penelitian dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana Kabupaten Lebak pada tahun 2010. Manfaat Bagi Puskesmas Sebagai bahan masukan untuk perencanaan dan pelaksanaan terpadu terutama dalam bidang kesehatan. jumalah anak dan pelayanan petugas kesehatan. jarak rumah dengan tempat pelayanan imunisasi. .pengetahuan. pendidikan. Bagi Peneliti Penelitian ini akan menambah pengetahuan sekaligus memperluas wawasan keilmuan penelitian.

tetapi mendapatkannya dengan cara penyuntikan serum yang telah mengandung antibodi. tubuh anak akan membuat sendiri antibodi setelah satu atau serangkaian suntikan antigen. .BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA Imunisasi Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. 2). 2004). Contoh imunisasi pasif yang sering dilakukan adalah pemberian profilaksis serum anti tetanus (Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Jenis-jenis Imunisasi Jenis imunisasi dibedakan menjadi dua jenis. yaitu bila diduga tubuh anak belum mempunyai kekebalan yang cukup ketika terinfeksi oleh kuman yang virulen. sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut (Depkes. 2000). yaitu : 1). kekebalan yang didapat akan bertahan selama bertahuntahun. Karena itu imunisasi pasif hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Imunisasi pasif Pada imunisasi pasif. Imunisasi aktif Pada imunisasi aktif. tubuh tidak membuat sendiri antibodi. kekebalan yang diperoleh biasanya hanya akan berlangsung 1-2 bulan.

Vaksin BCG melindungi anak terhadap penyakit TBC (Tuberculosis) yang dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan. Vaksin BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk seperti bubuk. Pembekuan tidak merusak vaksin kering (Depkes RI. Pelayanan imunisasi Pelayanan imunisasi meliputi kegiatan-kegiatan : 1). Dosis dan pemberian dilakukan untuk bayi < 1 tahun 0. Penyimpanan vaksin BCG didalam lemari es suhu 2-80C.1 ml diberikan melalui intra dermal pada insertio m. Reaksi imunisasi yaitu biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Sebelum menyuntikan BCG. Efek samping umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai.9%). vaksin untuk bayi harus terlebih dahulu dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCL 0. Botol biasanya terbuat dari bahan yang berwarna gelap untuk menghalangi cahaya. sedangkan untuk pengangkutan dalam wadah yang dingin dan terhindar dari matahari baik langsung maupun tidak langsung.Imunisasi BCG Imunisasi BCG gunanya untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkolosis dalam batas-batas tertentu (TBC Miller).deltodeus kanan. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung. mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening ke tempat yang terbatas dan biasanya sembuh sendiri walaupun lambat. ditemukan oleh Calmette-guerin sehingga disebut BCG.1 ml. Penyuntikan berhasil apabila menimbulkan scar dengan garis tengah 3-7 mm. Bila demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan karena teknik menyuntik yang kurang.05 ml dan untuk anak > 1 tahun 0. Invertarisasi sasaran . Bila suntikan BCG dipaha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar diselangkangan. lebih baik tidak didalam freezer. Imunisasi ulang diberikan pada umur 5-7 tahun dengan dosis 0. Pemberian subcutan atau intramuscular tidak efektif dan dapat menyebabkan abses atau pembengkakan kelenjar. 1997). Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam.

Dikbud. siaran pedesaan dan pemutaran film. KB. 2). Pengajian. Berikut adalah tahapan-tahapan penggerakan sasaran untuk masing-masing tingkat administrasi : Tingkat Provinsi Penyampaian informasi kepada lintas program dalam unit kesehatan dan lintas sektoral untuk kerjasama dalam rapat koordinasi tingkat provinsi. untuk selanjutnya dipakai sebagai angka kelahiran di puskesmas yang dilakukan oleh kader. Rumah Sakit. dukun terlatih. form registrasi bayi. PKK. HS. RS Bersalin ). Gizi. Agama. persiapan masyarakat mutlak harus dilakukan. posyandu.1. leaflet. Diare. Tingkat Desa Pergerakan sasaran dilapangan oleh : kader PKK. billboard. menunggu pelayanan di puskesmas dan kunjungan rumah. Penyuluhan melalui media massa dan cetak seperti siaran televisi.Kegiatan ini dilakukan di tingkat puskesmas dengan mencatat daftar bayi. Sumber dari kelurahan. dan petugas KB. PKM dan untuk lintas sektoral : Camat. 2. BP. Penyuluhan oleh kader atau petugas dengan menggunakan alat peraga pada kesempatan : Arisan. Tingkat Puskesmas Pemberian informasi dalam rapat koordinasi untuk kerjasama lintas program : KIA. Persiapan masyarakat Untuk mensukseskan pelayanan imunisasi. LSM. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang ideal dimana sasaran datang mencari . poster.1.5 Kegiatan imunisasi Menurut tempatnya imunisasi dibagi atas : Pelayanan imunisasi di Komponen Statis ( Puskesmas. pertemuan koordinasi. pamong dan dukun terlatih. UKS. Tingkat Kabupaten Penyampaian informasi kepada lintas program diantara seksi di dinas dan lintas sektoral dalam rapat koordinasi tingkat kabupaten Penyuluhan melalui media massa seperti : radio.

penyuluhan perorangan diberikan. catatan diberikan imunisasi dilakukan segera setelah pelayanan. . sebaiknya petugas menemui kader dan bersama-sama menemui kepala desa / pamong serta ibu ketua PKK desa untuk mengutarakan tujuan serta persiapan kegiatan di desa ( minta bantuan penggerakan masyarakat ). apabila pengunjung datang dapat dilakukan pendataan sasaran dan sebelum pelayanan dimulai diberikan penyuluhan kelompok. program memerlukan hubungan baik yang harus dijaga untuk program selanjutnya. Missi Agama katolik/kristen.pelayanan. bidan. Bila persiapan ada maka yang perlu diperhatikan adalah menepati jadwal. Pelayanan imunisasi di Posyandu Sebelum menuju tempat pelayanan di posyandu. spesialis anak/kebidanan. baik KMS maupun dibuku catatan hasil imunsasi desa ( buku merah dan kuning ). anggota POGI. jadwal pelayanan diatur agar tidak terjadi pemborosan vaksin. Tempat pelayanan di posyandu diatur mengikuti sistem pelayanan 5 meja dan pelayanan imunisasi diberikan 5 meja. bila kunjungan harian sedikit. Pelayanan imunisasi di Tempat Swasta Yang termasuk dalam pelayanan imunisasi swasta adalah pelayanan imunisasi yang dilakukan oleh : anggota IBI. paramedis. Diharapkan jangkauan pelayanan ini semakin tinggi sehingga efisiensi program tercapai dan tidak terlalu banyak sisa vaksin / vaksin terbuang. Pelayanan diusahakan setiap hari. Yayasan Muhammadiyah. Prosedur pelayanan : Sasaran imunisasi adalah pengunjung unit pelayanan swasta dan pelaksana imunisasi adalah dkokter praktek umum. Hal ini penting karena kesempatan yang bisa dipakai hanya selama jam sekolah. Pelayanan imunisasi di Sekolah Dasar Sasaran anak sekolah telah terkumpul dan terorganisir dengan baik. Selama pemberian imunisasi. pengadaan vaksin dan peralatannya adalah swadaya atau pengadaan vaksin dari pemerintah dan kewajiban memberi laporan cakupan imunisasi.

Demikian juga sebelum pulang. hasil kegiatan dilaporan hari itu direkap dibuku biru (catatan vaksinasi puskesmas). Polio 2. Tabel 2. HB. berikan imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi imunisasi sebelum usia bayi 1 tahun. Polio 1.Setelah selesai pelayanan di posyandu.1.1. Sesampai di puskesmas. petugas melaporkan hasil kegiatan dan masalah yang ditemukan dilaporkan kepada kepala desa / pamong. DPT 1 HB 1. hasil cakupan imunisasi dan masalah yang ditemukan didiskusikan dengan kader. Polio dapat segera diberikan Umur Keterangan 2. BCG. DPT 2 .2 Umur Pemberian Imunisasi di Posyandu / Puskesmas Umur 1 bulan 2 bulan Antigen BCG. Tabel 2.6 Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi Sebelum bayi mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.1 Jadwal Pemberian Imunisasi Vaksin Pemberian Imunisasi BCG DPT Polio Campak Hepatitis B 1x 3x 4x 1 3x Selang Waktu Pemberian 4 minggu 4 minggu 4 minggu 0-11 bulan 2-11 bulan 0-11 bulan 9-11 bulan 0-11 bulan Untuk bayi yang lahir di RS/Puskesmas.

DPT 2. Berbagai macam organ yang terinfeksi. terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan bila ibunya mengidap penyakit TBC. mulai dari yang paling sering terkena akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Gejala klinis Menurut Soeparman (1998) keluhan yang dirasakan penderita tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali.3 Umur Pemberian Imunisasi di Rumah Sakit Umur 0 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 9 bulan Antigen HB 1. Polio 2 HB 3. Campak Tabel 2.3 bulan 9 bulan HB 2. yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. DPT 1. Polio 3. Basil tuberkulosis termasuk dalam genus mycobacterium. tapi kadang-kadang panas badan . Polio 4. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. 1992). Polio 3 DPT 3. DPT 3 HB 3. Polio 1 HB 2. suatu anggota dari famili mycobacteriaceae dan termasuk kedalam ordo actinomycetales. Ada 3 jenis micobacteria yang menimbulkan penyakit yaitu micobacteria tuberculosa. Keluhan yang terbanyak adalah 1). mycobacteria buvis dan mycobacteria atiptik (George. Demam Biasanya subfebris menyerupai demam influenza. Polio 4 Campak Tuberkolosis Penyakit Tuberkulosis Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. BCG.

Pada penyakit yang ringan (baru timbul) belum dirasakan sesak nafas. bersin. batuk terjadi karena adanya iritasi pada broncus. karena terdapat pembuluh darah yang pecah. mungkin saja bukti baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan semula. sehingga penderita merasa tidak terbebas dari serangan demam influenza. Sesak Nafas Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dan infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru. yaitu : 1). sakit kepala. 3). Sifat batuk bermulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk yang menghasilkan dahak (produktif). Cara penularan tuberkulosis Menurut kurniawan (1998) kuman tuberkulosis dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui beberapa macam cara. Batuk Gejala ini dapat ditemukan .dapat mencapai 40-410C. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. Malaise Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. begitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza. 4). berbicara atau . Inhalasi Cara ini adalah yang paling sering terjadi yaitu penderita yang batuk. Karena terlibatnya broncus pada setiap penyakit tidak sama. batuk ini diperlukan untuk membuat produk-produk radang keluar. Serangan demam pertama dapat sembuh kembali. 5). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah (hemoptoe). Nyeri dada Gejala ini jarang ditemukan. Gejala malaise sering ditemukan berupa tidak ada nafsu makan (anoreksia). badan makin kurus (berat badan turun). 2). nyeri otot. dan lain-lain. Keadaan ini sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehinggga menimbulkan pleuritis. keringat malam.

dapat juga masuk sampai usus halus dan menyebar ke kelenjar limfe mesenterium. menimbulkan limfadenitis koli. suasana yang menyenangkan dan makanan yang bergizi tinggi. yaitu bila kulit luka tercemar kuman TBC. Health resort era Setiap penderita tuberkulosis harus dirawat di sanatorium. b). yang berukuran cukup kecil tetapi berada di udara selama beberapa jam. Transplasenta Cara ini pun jarang terjadi dan dapat terjadi bila ibu menderita tuberkulosis (resisten terhadap infeksi) Cara penanganan tuberkulosis 1). Terbukti jarangnya ditemukan enteritis tuberkulosis sedangkan penderita mungkin menelan banyak kuman dari dahak ( sputum). 2). pengobatan tuberkulosis mengalami beberapa tahapan. Tertelan Kuman TBC masuk menembus tonsil dan menjalar ke kelenjar getah bening leher. 3). c). Pertikel ini bila terhirup akan masuk sampai ainus paru dan tertahan disana. Sejarah pengobatan tuberkulosis Sebelum ditemukannya obat-obat anti tuberkulosis. Bila bagian airnya menguap tertinggal partikel ukuran 1-5 u (mikron). Bed rest era Dalam hal ini penderita tidak perlu dirawat di sanatorium. Saluran gastrointestinal lebih beresiko daripada paru. disamping makanan yang bergizi tinggi. tapi cukup diberi istirahat setempat terhadap fisiknya saja. Callapse therapy era Disini cukup paru-paru yang sakit saja diistirahatkan dengan melakukan pneumotorik artifisial. Resection era Paru-paru yang sakit dibuang dengan cara operasi. d). yakni tempat-tempat yang berudara segar.menyanyi dapat mengeluarkan butiran halus (droplet nuclei) yang berukuran 2-10 u (mikron). 4). Bagian yang sakit dibuang secara . yang mengandung kuman TBC. Implantasi langsung dari kulit Cara ini jarang terjadi. yakni : a). Paru-paru yang sakit menjadi kolaps dan tidak bisa aktif lagi bekerja.

Pada tahun 1964 dengan ditemukannya rifampisin terjadi semacam “mini revolusi” dalam kemoterapi terhadap tuberkulosis. Chemotherapy era Disini terjadi revolusi dan pengobatan tuberkulosis. Aktivitas sterilisasi Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolisme kurang aktif). karena jangka waktu pengobatan dapat dipersingkat menjadi 6-9 bulan. Prinsip pengobatan tuberkulosis Terdapat dua macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberkulosis yaitu: a). Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon. makanan serta lingkungan. maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Aktivitas bakterisid biasanya diukur dari kecepatan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (dua bulan dari permulaan pengobatan). bersikap dan mempersepsi) tentang penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan luar dirinya. b). 2). Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. baik secara positif ( mengetahui. Aktivitas bakterisid Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang bertumbuh (metabolismenya masih aktif). Dengan demikian secara lebih rinci perilaku kesehatan ibu mencakup : a). yaitu dengan ditemukannya stoptomisin suatu obat anti tuberkulosis mulai tahun 1994 dan bermacam-macam obat lainnya pada tahun-tahun berikutnya. sistem pelayanan kesehatan. b). e).wedge resection atau satu lobus maupun satu bagian paru. yaitu respon seseorang terhadap sistem . Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Konsep perilaku sehat Menurut Notoatmodjo (1993) perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.

Baik pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. petugas kesehatan dan obat-obatnya yang terwujud dalam pengetahuan. d). pengelolaan makanan dan sebagainya sehubungan denga kebutuhan tubuh kita. jenis kelamin. Faktor predisposisi (predisposing factor). 3). persepsi. terdiri dari status sosial ekonomi. Perilaku ini menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan. keluarga.1 . nilai. Sosio-demografi. yang mencakup faktor kognitif dan efektif terdiri dari pengetahuan. Faktor ini tidak dapat diintervensi tetapi berguna dalam menentukan sasaran dan strategi/metode intervensi. sikap dan penggunaan fasilitas. petugas dan obat-obatan. umur. sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalam (zat gizi). c). keterjangkauan sumber daya kesehatan. Faktor pendukung (enabling factor). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2. keyakinan. persepsi. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior). b). Perilaku ini meliputi pengetahuan. yaitu : a). prioritas dan komitmen masyarakat/pemerintah terhadap kesehatan dan keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan. guru dan lain-lain. yaitu: 1). yaitu sikap dan perilaku petugas kesehatan dan petugas lain. Sedangkan perilaku itu sendiri (perilaku kesehatan) dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor.pelayanan kesehatan. 2). Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behavior) yaitu respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan manusia. Faktor penguat (reinforcing factor). Green (1980) menganalisis bahwa masalah kesehatan itu dipengaruhi oleh dua faktor pokok. Sosio-psikologik. sikap yang dapat diintervensi dengan pendidikan gizi. teman sejawat/sebaya. cara pelayanan. yaitu faktor perilaku (behavior caouses) dan faktor non perilaku ( non behavior caouses). yaitu respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. yaitu ketersediaan sumber daya kesehatan. dan ukuran keluarga.

1 Skema hubungan antara perilaku dan faktor yang berkontribusi Terhadap perilaku kesehatan Faktor Predisposisi Pengetahuan Keyakinan Variabel Demografik Tertentu Sikap Nilai Faktor Pemungkin Ketersediaan sumber daya kesehatan Keterjangkauan sumber daya kesehatan Prioritas dan komitmen masyarakat/pemerintah terhadap kesehatan Keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan .Masalah perilaku spesifik Gambar 2. Nomor menunjukan urutan terjadinya tindakan Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu dalam Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi Pengetahuan ibu Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Faktor Penguat Keluarga Majikan Teman sebaya Petugas kesehatan Guru Catatan : Garis utuh menunjukan pengaruh dan garis putus menunjukan akibat sekunder. Pengetahuan atau kognitif merupakan .

Dari hasil penelitian ditemukan . Persalinan ini mengasuh bayi yang dilahirkan.2000). Jumlah anak Jumlah anak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam melakukan atau berperilaku terhadap pemanfaatan pelayanan imunisasi. Pendidikan kesehatan tidak terlepas dari proses belajar pada individu. Bagaimana ibu memiliki pemahaman dan pengertian yang jelas tentang tindakan apa saja yang harus dilakukan. Jadi suatu perilaku ibu terhadap kesehatan tidak akan bertahan lama jika didasari atas pengetahuan baik makna dan tujuan dari pelayanan yang diberikan.domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Nototmodjo. Selanjutnya pendidikan menurut Notoatmodjo (1993) adalah suatu penerapan konsep pendidikan dibidang kesehatan atau dengan kata lain konsep pendidikan kesehatan dimaksudkan untuk menerapkan pendidikan dalam bidang kesehatan yang meliputi proses pembelajaran. Pendidikan ibu Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Syah. Menurut penelitian Nadia (2001) mengungkapkan bahwa ibu yang berumur tua mempunyai kecenderungan untuk melaksanakan imunisasi BCG pada bayinya 4. Ibu yang dibawah umur 21 tahun belum matang atau siap baik fisik maupun mental dan sosial untuk menghadapi kehamilan. 1993) Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan atau dengan kata lain pengetahuan mempengaruhi seseorang dalam perilaku. Umur ibu Umur ibu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam pengambilan sikap atau tindakan sehubungan dengan perilaku kesehatan. Pengetahuan ibu mengenai pelayanan imunisasi berhubungan dengan bagaimana ibu memahami arti dan tujuan dari pelayanan imunisasi bagi bayinya yang dilakukan oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan.54 kali dibandingkan ibu yang berumur muda. kelompok masyarakat dari tidak tahu nilai-nilai kesehatan menjadi tahu dan mampu mengatasi sendiri masalah-masalah kesehatan.

buku.dll) Media elektronika yaitu radio. Media Cetak. Komunikasi didalam kesehatan masyarakat berarti penyampaian pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai media massa ( TV. Jarak Jarak dari tempat tinggal ke fasiitas pelayanan kesehatan juga merupakan faktor penentu lain untuk pelayanan kesehatan. Salah satu karakteristik komunikasi massa yang disampaikan dalam media informasi adalah bahwa komunikasi ditujukan pada sasaran yang jumlahnya besar atau luas. film dll. umumnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat (heterogen) dan tidak dikenal (anonim) dengan pesan-pesan yang disampaikan bersifat umum. Peran media informasi sangat berpengaruh pada perbedaan dan pengembangan wawasan . Jarak dapat membantu kemampuan dan kemauan wanita untuk mencari pelayanan terutama ibu. 2001). juga terbatasnya sarana transportasi. dll) dengan tujuan agar masyarakat berperilaku hidup sehat. majalah.billboard. yaitu surat kabar.tidak ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi. Media informasi Keberadaan media informasi berhubungan erat dengan komunikasi massa yang sangat berpengaruh dalam peningkatan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang kesehatan. 1994). Media informasi untuk komunikasi massa terdiri dari : Media cetak atau cetakan. IB. artinya ibu yang memiliki anak sedikit cenderung memanfaatkan pelayanan imunisasi BCG dibandingkan ibu yang memiliki banyak anak (Nadia. Komunikasi massa merupakan interaksi yang berjalan secara tidak langsung melalui suatu media dan sifatnya satu arah dengan sasaran (Mantra. Radio. menunjukan bahwa proporsi responden yang menyatakan jaraknya jauh dari rumah ke tempat pelayanan imunisasi cenderung melakukan imunisasi lebih kecil dibandingkan dengan responden yang menyatakan jaraknya dekat dari rumah ke tempat pelayanan imunisasi (Sugiri. Sedangkan Notoatmodjo (1993) menyebutkan bahwa komunikasi massa ialah penggunaan media massa untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi-informasi kepada khalayak atau masyarakat. tv. 2001). pamflet. Berdasarkan penelitian bahwa kategori responden yang menyatakan jarak dari rumah ke tempat pelayanan imunisasi jauh dan dekat.

dan pengetahuan sehubungan dengan informasi kesehatan. Dalam struktur masyarakat indonesia yang paternalitis. namun tidak dapat secara langsung menggunakan salah satu dari kerangka model tersebut secara utuh. perawat D3. KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka model yang telah ditemukan sebelumnya. keluarga dekat dari si ibu sangat menentukan dalam pemilihan tempat pelayanan kesehatan. penelitian coba membuat suatu kerangka konsep yang dipakai dalam penelitian ini. peranan suami atau orang tua. Green menyebutkan bahwa dukungan keluarga merupakan salah satu elemen penguat (reinforcing) dalam penentuan perilaku seseorang memanfaatkan fasilitas kesehatan. Faktor-faktor perilaku ibu bayi dalam pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG yang . Perawat SPK (Depkes RI. Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan merupakan salah satu faktor yang menentukan seseorang memanfaatkan fasilitas kesehatan dan sangat besar peranannya. Dukungan suami/keluarga Peranan suami sangat besar bagi ibu dalam mendukung perilaku atau tindakan ibu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Bidan. Suami sebagai orang terdekat di lingkungan keluarga ibu berharap agar bayinya sehat. 2002). Dalam penelitian ini faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana cakupan imunisasi BCG masih dibawah target yang diharapkan. Petugas kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan formal dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. Petugas pelaksana imunisasi terdiri dari Dokter. Pelayanan petugas kesehatan Pelaksana imunisasi adalah tenaga kesehatan yang terlatih yang ditunjuk oleh kepala puskesmas.

biaya pelayanan imunisasi. Secara skematis penulis tuangkan kerangka konsep ini dalam bentuk gambar seperti berikut : Gambar 2. Faktor-faktor tersebut adalah variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi.Pemanfaatan pelayanan Imunisasi BCG berhubungan dengan : Faktor predisposing atau predisposisi yang meliputi : pengetahuan ibu tentang imunisasi. Faktor reinforsing atau penguat yaitu media informasi dan dukungan suami/keluarga dalam pelaksanaan imunisasi.2 Kerangka Konsep Peneitian Variabel Independen Faktor Predisposing Pengetahuan ibu Pendidikan ibu Umur ibu Jumlah anak Faktor Enabling Jarak Faktor Reinforcing Media Informasi Dukungan suami/keluarga Pelayanan petugas kesehatan Definisi Konseptual Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan . umur dan jumlah anak. pendidikan ibu dan pekerjaan ibu. Faktor enabling atau pedukung yang meliputi jarak tempat pelayanan imunisasi.

1993). 2002) Pelayanan petugas kesehatan Petugas kesehatan adalah orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan formal dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya pelayanan kesehatan (Depkes. Umur ibu Lamanya waktu hidup (sejak dilahirkan atau diadakan) atau berdasarkan tahun kelahiran ( Kamus Besar Bahasa Indonesia. Media informasi Suatu alat untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi-informasi kepada khalayak atau masyarakat (Notoatmodjo.penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pendidikan Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo. Dukungan suami/keluarga Dorongan moril atau material dalam hak mewujudkan suatu rencana (Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002). (Kamus Besar Bahasa Indonesia. . 2002).2002). 1993). 2002). Jumlah anak Jumlah adalah banyaknya (tentang bilangan atau suatu yang dikumpulkan menjadi satu). Jarak Ruang sela (panjang atau jauh) antara benda atau tempat (Kamus Besar Bahasa Indonesia.

≥ 21 tahun Ordinal Ordinal Ordinal Alat ukur Kuesioner Hasil ukur 1= tidak mengimunisasi bayinya 2= Mengimunisasi bayinya Skala Ordinal . ≥ SLTA/sederajat 1 = muda ≤ 21 tahun 2= Tua.Definisi Operasional Tabel 2. jika benar ≥ 3 soal 1= rendah.4 Definisi Operasional Variabel Pemanfaatan pelayanan imunisasi Definisi Operasional Ibu yang mengimunisasi bayinya dengan imunisasi BCG ditempat pelayanan Pengetahuan ibu kesehatan Tingkat pemahaman ibu tentang imunisasi Pendidikan ibu BCG pada bayi Tingkat pemahaman ibu tentang imunisasi Umur ibu BCG pada bayi Waktu yang telah dijalani ibu mulai dari lahir sampai saat wawancara dalam hitungan Jumlah anak tahun Anak hidup yang dimiliki oleh ibu saat wawancara Kuesioner 1= sedikit. ≤ 3 SLTP/sederajat 2= tinggi. jika benar ≤ 3 soal 2= baik. jika ≤ 2 km Ordinal Ordinal Kuesioner Kuesioner Kuesioner 1= kurang. jika ≤ 2 orang 2= banyak. jika > 3 orang Jarak dari rumah ke Jauh atau dekat yang harus Kuesioner 1= jauh.

median dari jumlah pertanyaan tentang imunisasi BCG yang diterima responden melalui sebuah media cetak/eletronik dan petugas Kuesioner 2= dekat. jika < 1 km 1= kurang baik bila jawaban responden mengatakan “ya” ≥ median dari jumlah pertanyaan Ordinal Dukungan suami/ keluarga kesehatan Pendapat responden terhadap tindakan suami/keluarga dalam dukungannya Kuesioner 1= kurang apabila responden menjawab < 3 soal 2= baik apabila responden menjawab ≥ 3 soal Ordinal kepada responden untuk memanfaatkan imunisasi BCG .tempat Pelayanan imunisasi Media informasi ditempuh dari rumah responden Tempat pelayanan imunisasi BCG Hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan imunisasi. pengetahuan dan pemahaman ibu .

KISI-KISI INSTRUMEN Tabel 2. 2 Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. 1 Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. Ha.5 Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemanfatan pelayanan imunisasi BCG Variabel Indikator Nomor Jumlah Instrumen . Ha. 7 Ada hubungan antara dukungan suami/keluarga dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. Ha. 8 Ada hubungan antara pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. Ha. 4 Ada hubungan antara umur ibu dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi.Pelayanan petugas kesehatan Persepsi ibu bayi terhadap pelayanan imunisasi yang diberikan oleh petugas kesehatan Kuesioner 1= kurang apabila < mean 2= baik apabila ≥ mean Ordinal Hipotesis Ha. Ha. Ha. Ha. 5 Ada hubungan antara jarak rumah ke tempat pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. 3 Ada hubungan antara jumalah anak dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi. 6 Ada hubungan antara media informasi dengan pemanfaatan pelayanan imunisasi BCG pada bayi.

20.4 5. yaitu mencari hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.21 3 Kuesioner BAB III METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasional. desain penelitian yang digunakan yaitu suatu penelitian yaitu Cross Sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo.11 12.18 item 8 Kuesioner 3 2 5 Kuesioner Kuesioner Kuesioner informasi imunisasi BCG Jarak tempat Dari rumah ibu ke imunisasi Dukungan suami/ keluarga Pelayanan petugas kesehatan pelayanan imunisasi Menanyakan tentang imunisasi atau melarang ibu melakukan imunisasi pada bayinya Sikap dan rutinnya pelayanan imunisasi 19.13 14.10.6.2002).3. tempat. responden Media umur.Pengetahuan Macam-macam. .8 9. dan tujuan imunisasi Informasi mengenai Item 1.16 17.15.2.7. manfaat.

Kemudian ditambah 10 % akulasi sebanyak 8 orang. sehingga jumlah sampel seluruhnya 88 orang. 2002). 2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti ( tujuan atau masalah dalam penelitian ).9 % (0.96) : Proporsoi cakupan imunisasi BCG di Puskesmas DTP Gunung Kencana 65. Tahap kedua setelah sampel didapat dari setiap desa. Kemudian kertas ini digulung dan diambil sesuai dengan .2 Populasi dan Sampel 1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Atikunto. Dengan adanya keterbatasan baik waktu maupun dana. Populasi pada penelitian ini adalah ibu-ibu di Desa Gunung Kendeng Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Kencana sebanyak 20 orang. satu nomor untuk setiap kertas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel 1. sehingga sampek tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam. digunakan perhitungan menurut Ariawan (2002) sebagai berikut : n= Z2 x p x ( 1 – p) d2 keterangan : N Z P : Jumlah sampel yang diteliti : Nilai baku distribusi normal pada tingkat kepercayaan 95 % (1. maka diambil secara acak / random dengan menggunakan undian yaitu pada kertas –kertas kecil dituliskan responden. pengambilan sampel dilakukan sebagai berikut : Tahap pertama menemukan sampel setiap desa meggunakan cara membagi jumlah sampel yang dibutuhkan dengan seluruh desa sehingga diperoleh jumlah sampel tiap-tiap desa ada yang berjumlah 6 bayi maupun 7 bayi.659) D : Derajat akurasi/presisi 10 % (0. 2002). Dalam menentukan jumlah sampek penelitian yang dibutuhkan.3. 2003).1) Dari rumus diatas diperoleh sampel sebanyak 80 orang.

Instrumen Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara langsung menggunakan kuesioner ibu-ibu yang memiliki bayi yang berumur 0-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana yang mengikuti variabel dependen dan independen. Cicaringin. Kramat Jaya. Sukanegara. Gunung Kendeng. Cisampang. . Ciakar. Tanjung Sari. Bulakan. Tabel 3. Bojong Koneng. nomor yang tertera pada gulungan kertas adalah nomor responden yang akan dijadikan sampel. Data sekunder sebagai data penunjang.1 Jumlah sampel yang didapat di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Desa Gunung Kencana Sukanegara Cisampang Bojong Koneng Ciakar Cicaringin Kramat Jaya Cimanyangray Gunung Kendeng Bulakan Tanjung sari Total Jumlah bayi 136 80 105 96 92 105 131 98 115 89 115 1162 7 8 9 7 7 8 9 9 8 8 88 Sampel 8 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2010 di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Gunung Kencana yang terdiri dari 12 desa yaitu Gunung Kencana. Cimanyangray.jumlah yang ditentukan pada tahap pertama setiap desa.

Hal uji reliabel unutk faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu didapatkan nilai α (0. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan oneshot atau sekali ukur. 2002 ). Suatu instrumen dikatakan Reliabel bila r α lebih besar r tabel.5.6. 2002 ). Uji validitas yang digunakan penelitian ini adalah teknik korelasi “product moment”. Perhitung dilakukan dengan sistem komputer. berarti instrumen tersebut dikatakan reliabel.5. dan konsisten.1 Editing Data Pada editing dilakukan pengecekan pengisian formulir atau kuesioner.Uji Validitas dan Reliabilitas 3.9752) lebih besar dari r tabel.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan ( Notoatmodjo. apakah jawaban yang ada kuesioner sudah lengkap. Pengelolaan Data atau Manajemen Data Setelah data yang diharapkan terkumpul dilakukan pengolahan data dengan tahapan sebagai berikut : 3. . jelas. R= N (Ʃ xy) (Ʃx Ʃy) [ ( N Ʃx2 – Ʃx)2 ] ( Nʃy2 – ( Ʃx)2] Keterangan : N X Y xy : Jumlah sampel : Skor pertanyaan yang diuji : Skor total : Skor pertanyaan yang diuji dikali skor total 3. relevan.1 Uji Validitas Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur ( Notoatmodjo.

3. Data ditampilkan dalam bentuk tabular dan tekstular ( Notoatmodjo. 2001 ). 3.1 Analisis Univariat Analisis univariat yaitu dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan prensentase dari tiap variabel (Notoatmodjo. Rumus Mean yang digunakan adalah sebagai berikut: X = Ʃ Xi N . Kegunaan koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data.4 Cleaning Cleaning ( pembersihan data ) merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak ada kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita mengentry ke komputer ( Hastono. Teknik Analisis Data Analisis data dibagi dalam tiga macam yaitu “ Analisis Univariat. Dalam penelitian ini hanya dilakukan dua analisis univariat dan analisis bivariat. Masing-masing kategori dari variabel diberi kode 1 dan 0. Analisis Bivariat dan Analisis Multivariat ( Notoatmodjo. 2002 ).7. pengolahan data dilakukan dengan cara memasukkan data kuesioner kepaket program komputer.3 Processing Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar.2 Koding Data Pada tahap ini dilakukan pemberian kode pada jawaban pertanyaan dalam kuesioner.6. Hal ini untuk memudahkan pada saat tabulasi data. 3. 2002 ).6.6. yaitu variabel kecemasan dan variabel pengetahuan diukur melalui jawaban responden pada kuesioner yang telah disedikan.3. yaitu apabila jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0. juga sudah melewati pengkodingan maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis. 2002 ).

2002 ). Bila nilai p < 0.05. sedangkan bila nilai p > 0.7. Dengan tujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Untuk membuktikan adanya hubungan antara dua variabel tersebut digunakan Uji Statistik Chi Square dengan batas kemaknaan α = 0.Keterangan : X Ʃ Xi n : Rata-rata sampel : Jumlah nilai setiap responden : Jumlah responden 3. maka hasilnya tidak terdapat hubungan yang bermakna ( Notoatmodjo. 2002 ).05 berarti secara statistik terdapat hubungan yang bermakna. Rumus Chi Square ( x2 ) yang digunakan adalah : X 2 = Ʃ ( O – E )2 E Keterangan : X2 O E : Nilai Chi Square : Frekuensi observasi : Frekuensi harapan Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan α sebesar 0.2 Analisia Bivariat Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi ( Notoatmodjo. dan apabila p lebih dari α.05 maka secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna.05 apabila nilai p kurang dari α maka hasilnya terdapat hubungan yang bermakna. .

.

Tidak . Iya b.KUESIONER PENELITIAN Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu Dalam Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi BCG Tahun 2010 No Responden : Keterangan Wawancara Nama Pewawancara : Tanggal Wawancara : Identitas Responden Nama Responden Umur Responden Jumlah Anak Nama Bayi Umur Bayi Imunisasi BCG Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan formal tinggi yang ibu tempuh? : : : : : : a.

Campak. DPT. Polio. Hepatitis Tahu Tidak tahu Menurut ibu apa manfaat imunisasi BCG? Agar tidak sakit TBC Untuk mengobati TBC Tidak tahu Menurut ibu umur berapa anak harus mendapat imunisasi BCG? Segera setelah lahir sampai 11 bulan .Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD/sederajat Tamat SMP/sederajat Tamat SMA/sederajat Tamat Akademik/Universitas Pengetahuan Responden Menurut ibu ada berapa macam imunisasi ? 2 macam 3 macam 5 macam Sebutkan macam-macamnya? BCG.

1-3 tahun Tidak tahu Menurut ibu berapa kali anak harus mendapat imunisasi BCG? 1 kali 2 kali 3 kali Apa ibu tahu dimana saja imunisasi bisa diperoleh? Puskesmas Praktek Bidan Posyandu Menurut ibu apa yang mungkin terjadi setelah mendapat imunisasi BCG? Demam/panas Bengkak pada area suntikan Tidak tahu Menurut ibu apa tujuan imunisasi BCG? Untuk mencegah penyakit Polio Untuk mencegah penyakit TBC Tidak tahu Media Informasi Apa ibu pernah mendapatkan infprmasi mengenai imunisasi BCG? Ya Tidak .

... darimana ibu mendapatkan informasi tersebut? TV Radio Petugas kesehatan Siapa saja yang pernah menginformasikan tersebut? Dokter Bidan/Perawat Kader kesehatan Jarak Kira-kira berapa kilometer jarak rumah ibu ke tempat pelayanan imunisasi?... Km Bagaimana persepsi ibu terhadap jarak tersebut? Jauh Dekat Dukungan suami/keluarga Apakah ibu mendapatkan dukungan suami/keluarga waktu melakukan imunisasi? Ya Tidak Pernahkah suami/keluarga ibu menanyakan tentang imunisasinya selama ini? Ya Tidak Apakah suami/keluarga ibu meluangkan waktu untuk mengantar ke tempat pelayanan ..Jika Ya.

memuaskan Biasa saja Buruk Apakah tempat pelayanan imunisasi ditempat ibu rutin dalam memberikan imunisasi? Ya .imunisasi? Ya Tidak Apakah suami/keluarga ibu menganjurkan mendapatkan pelayanan imunisasi? Ya Tidak Apakah suami/keluarga melarang ibu melakukan imunisasi pada bayinya? Ya Tidak Pelayanan Petugas Kesehatan Menurut ibu bagaimana sikap dari petugas kesehatan yang memberikan imunisasi selama ini? Ramah. sopan Judes. galak Cuek / tidak peduli Bagaimana pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan selama ini? Baik.

Kadang-kadang Tidak .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.