Analisis Artikel “Dua K

Berdas

Tugas ini diajukan sebagai

PENDAHULUAN 1. 1.1. Pengertian Organon Organon adalah sebutan bagi enam buah buku yang Aristoteles tulis semasa hidupnya. Buku-buku tersebut memuat tatacara berfikir yang baik. Buku-buku tersebut adalah :
a. Categoriae (pengertian) b. De Interpretatie (keputusan) c. Analitica Priora (hubungan) d. Analitica Posteriora (pembuktian) e. Topika (debat), dan f. De Sophisticis Elenchis (kesalahan berfikir)

Dimulai dari pengertian, seseorang akan menerima informasi tanpa adanya penolakan sama sekali. Selanjutnya dalam keputusan seseorang akan memutuskan apakah pengertian tadi baik atau buruk. Dalam hubungan, seseorang akan menghubungkan keputusan tersebut dengan keputusan keputusan lainnya sehingga ia mendapatkan bukti bahwa keputusannya memanglah benar. Dilanjutkan dengan debat yang berarti orang tersebut harus mengutarakan atau membicarakan atau bahkan mendebatkannya dengan orang lain. Sehingga pada akhirnya orang tersebut mengetahui dimana letak kesalahan-kesalahannya dalam berfikir. Menurut Aristoteles, keenam kegiatan tersebut adalah rangkaian pemikiran yang perlu dilakukan seseorang untuk mendapatkan pemikiran yang benar. Walau masih sederhana, Organon digunakan sebagai dasar dari pengembangan ilmu logika di masa modern.

2

BAB II ISI 2. 2.1. Pengertian Pengertian yang bisa kami angkat dari kasus ini adalah : Tim gabungan direktorat reserse Narkoba (Ditnarkoba) Kepolisian Daerah Jawa Barat bersama kantor pengawasan dan pelayanan Bea Cukai Madya Bandung, menggagalkan pengedaran heroin dan sabu-sabu jaringan internasional. Kedua jaringan yang berbeda itu tertangkap Pabean Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Dalam pengungkapan tersebut Ditnarkoba dan Bea Cukai Madya Bandung mengamankan lima orang yang diantaranya adalah perempuan. Sebanyak tiga orang tercatat sebagai WNA, dua orang tercatat sebagai WNI. Untuk kasus heroin, yang tertangkap adalah mahasiswi asal Kirgistan berinisial ZS (21) sementara untuk kasus sabu-sabu, yang tertangkap adalah seorang ibu rumah tangga asal Filipina berinisial DT (57). Tersangka ZS ditangkap pada akhir Oktober silam seusai turun dari pesawat penerbangan Air Asia jurusan Kuala Lumpur – Bandung. Petugas Bea Cukai mencurigai gerak-geriknya. Barang bukti yang disita adalah 1,1 Kg heroin senilai Rp 3,2 miliar dan 415 gram sabu-sabu senilai Rp 1,1 miliar serta tujuh unit ponsel.

2.2. Keputusan

3

Keputusan yang bisa diangkat dari kasus tersebut adalah : Menurut Kepala Bagian Humas Polda Jabar, Komisaris Besar Agus Rianto, kedua kelompok mafia narkoba tersebut dijerat pada pasal 114 (2) dan/atau Pasal 112 (2) UUD No. 35/2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 6 tahun penjara dan maksimal seumur hidup.

2.3. Hubungan Hubungan yang bisa kami angkat dari kasus ini adalah : Pengungkapan kedua kasus tersebut berawal dari kecurigaan petugas Bea Cukai Bandung. Untuk kasus kasus heroin, yang tertangkap adalah mahasiswi asal Kirgistan berinisial ZS (21). Taufik Husni, pengacaranya, menceritakan bahwa ZS adalah seorang warga miskin di Bishkek City, Republik Kirgistan yang kepergiannya ke Indonesia adalah semata-mata ingin memperoleh tambahan penghasilan untuk menopang biaya kuliahnya. Menurutnya, ZS datang ke Bandung untuk berjualan tas bersistem MLM yang ia masuki melalui teman kuliahnya, Violetta. ZS berminat maka Violetta meminta ZS untuk menemui Ben dan mengambil tas-tas yang harus dijualnya. Tak ZS sangka, dari 9 tas yang ia bawa, salah satunya ternyata bermuatan barang haram. Saat memasuki Kota bandung, perjalanan ZS harus berakhir, mimpi untuk jalan-jalan dan memperoleh uang pupus sudah. Jauh dari kampung halaman kian membuat ZS tertekan. Kini ZS hanya bisa berharap agar Ben bisa tertangkap sehingga polisi mengetahui otak pelaku sebenarnya. Akhirnya ZS dijerat dengan pasal 114 (2) dan/atau Pasal 112 (2) UUD No. 35/2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 6 tahun penjara dan maksimal seumur hidup.

4

Hukuman tentang narkoba

Padahal, bila dihubungkan dengan berbagai hukum yang ada di Indonesia mengenai narkotika, seharusnya kasus-kasus seperti ini sudah tidak ada mengingat UU telah mengaturnya dengan amat ketat. Ada 3 Undang-Undang dan perda yang biasa digunakan untuk melakukan penyidikan tindak pidana Narkoba, yakni :

UU No. 22 Tahun 1997, tentang Narkotika. UU No. 5 tahun 1997, tentang Psikotropika. UU No. 23 tahun 1992, tentang Kesehatan.

• •

Hukuman yang dijatuhkan berdasarkan tingkat kasusnya di antaranya : • Kejahatan Narkoba tingkat A atau kelas 1. Merupakan kasus obat yang paling berbahaya dengan hukuman yang paling serius. Narkoba yang disalahgunakannya adalah : Opium, Heroin, Methadone, Dextromoramide, Methylamphetamin, Kokain, Ecstasy, dan LSD. • Kejahatan Narkoba tingkat B atau kelas 2. Merupakan kasus obat yang lebih rendah ketidakamanannya dibanding kelas 1. Narkoba yang disalahgunakannya adalah : Kodein, Amphetamin, Barbiturates dan Dihydrocodeine. • Kejahatan Narkoba tingakt C atau kelas 3. Merupakan kasus obat uang tingakat ketidakamanannya paling rendah dan berhukuman paling ringan. Narkoba yang disalahgunakannya adalah : Obat resep seperti Tranquillisers, Ketamine, GHB dan Cannabis (Ganja).

5

Fungsi dari Hukum Narkoba dalam suatu negara adalah untukmembatasi penyalahgunaan narkoba sehingga lingkungan masyarakat menjadi aman dan nyaman. Hukum bersifat kompleks dan terus berubah, karena disesuaikan dengan jenis dan tindakkan kejahatan obat terlarang. Begitu pun dengan tingkat hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan tindak kejahatan yang dilakukan.

2.4. Pembuktian Walau UU No 22 tentang Narkotika telah diresmikan sejak 13 tahun lalu, masih terdapat banyak kasus narkoba yang terjadi di Indonesia. Berikut kami paparkan bukti bahwa hukum mengenai narkoba belum ditegakkan secara sempurna: Sejak empat tahun terakhir seiring dengan upaya gencar penegak hukum dalam membongkar jaringan narkoba, makin sering dan makin banyak saja pabrik narkoba ditemukan di Indonesia. Sebelum tahun 2005, pengungkapan kasus narkoba hanya sebatas pengedar dan pemilik, baik skala besar maupun kecil. Namun sejak polisi sukses mengungkap pabrik-pabrik ekstasi skala besar di Jalan Cikande, Serang, Banten, 11 November 2005, berbagai kasus pabrik narkoba pun silih berganti terungkap ke publik. Kasus pabrik ekstasi di Cikande seakan telah membuka mata polisi bahwa Indonesia telah menjadi produsen narkoba, bahkan disebut-sebut terbesar ketiga setelah Fiji dan China. Pada 29 Mei 2007, Mahkamah Agung menghukum mati sembilan terdakwa yang terlibat dalam kasus pabrik ekstasi di Cikande. Dari sembilan terpidana mati itu, dua orang Warga Negara Indonesia; Benny Sudrajat alias Tandi Winardi (58) dan Iming Santoso alias Budhi Cipto (60). Lima terpidana mati lainnya warga negara China; Zhang Manquan (42), Chen Hongxin (36), Jian Yuxin (37), Gan Chunyi (43), dan Zhu Xuxiong (35).

6

Lalu, seorang warga negara Belanda bernama Nicolaas Garnick Josephus Gerardus alias Dick (61), dan warga Perancis Serge Areski Atlaoui (43) juga dihukum mati. Selain menghukum mati sembilan terdakwa kasus pabrik ekstasi tersebut, MA menjatuhkan hukuman 20 tahun kepada tiga terdakwa lain dalam kasus yang sama, yaitu Samad Sani alias Agus alias Atjai (40), Arden Christian alias Kevin Saputra (25), dan Hendra Raharja (37) karena membantu sembilan terpidana mati. Usai terungkapnya pabrik narkoba di Cikande, Polri berhasil mengungkap puluhan kasus pabrik narkoba, baik jenis shabu maupun ekstasi, yang ada di Jakarta maupun di luar Jakarta. Modus pendirian pabrik narkoba pun bermacam-macam, namun umumnya lokasi pabrik shabu berada di pemukiman, baik rumah maupun apartemen. Lokasi pabrik juga cenderung menyebar ke sebagian besar Tanah Air. Januari 2009, Polri menemukan pabrik narkoba skala besar di Blok A3 No 18, Perumahan Palem Mutiara, Cengkereng, Jakarta Barat. Untuk mengaburkan adanya pabrik tak resmi itu, pengelola pabrik shabu membuka usaha warnet. Direktur Narkoba Badan Reserse Kriminal Polri Brigjen Pol Harry Montolalu mengatakan, para tersangka mendapatkan pengetahuan soal pembuatan shabu lewat intenet. “Selain dari internet, salah satu tersangka pernah kuliah di jurusan farmasi,” katanya. Presiden Yudhoyono pun kembali mengapresiasi kinerja kepolisian dengan datang langsung ke lokasi pabrik itu. “Ada berita besar bahwa kepolisian telah berhasil melakukan operasi pengungkapan pembuatan shabu-shabu. Saya menghargai kinerja aparat kepolisian yang berhasil mengungkap hal tersebut,” kata Yudhoyono ketika itu. Sekitar Jakarta

7

Para bandar narkoba tidak saja membuat pabrik di Jakarta, tetapi juga di kotakota sekitarnya. Januari 2009, polisi menemukan pabrik narkoba di Perumahan Citra Raya, Cikupa, Tangerang, Banten, yang ternyata satu jaringan dengan pabrik yang sama di Tangerang. Di Bogor, 23 Pebruari 2009, polisi lagi-lagi menemukan pabrik shabu di sebuah vila mewah di Kampung Pasir Peuteuy RT 9/3 Desa Karya Mekar Kecamatan Cariu. Harry Montolalu mengatakan, dilihat dari banyaknya bahan kimia yang dijadikan bahan baku, pabrik itu bisa menghasilkan berton-ton shabu yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah. “Bahkan jika dilihat dari jumlahnya, pabrik shabu ini lebih besar dari pabrik pembuatan shabu dan ekstasi di Cikande Serang, Banten,” katanya. Polisi menyita tujuh drum ukuran 200 liter berisi bahan kimia cair, 120 jerigen masing masing berukuran 20 liter bahan baku, 886 butir ekstasi, satu kantong plastik daun ganja kering, belasan bejana gelas, alumunium foil, dan beberapa jenis serbuk campuran seperti fosfor, iodin, soda api, evedrin, amphetamin cair, poisuni cair dan acertone cair. Mei 2009, Polda Metro Jaya menggerebek pabrik narkoba di Jalan Camar Blok MD No 9 RT 005 RW 005 Kelurahan Pasir Gunung Kecamatan Cimanggis, Depok. Pabrik di sini dilengkapi dengan kamera pengintai (CCTV) untuk memantau setiap orang yang berada di lokasi pabrik. Merata di Jawa Tidak hanya Jakarta dan sekitarnya yang menjadi lokasi pabrik narkoba karena pabrik gelap itu menyebar merata di Pulau Jawa, dari Banten hingga Jawa Timur. Pada 3 Mei 2009 polisi menemukan dua pabrik shabu di Kelurahan Kauman dan Mulyoharjo Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Bahkan, pabrik

8

di Jepara itu adalah bagian dari jaringan internasional karena ada indikasi keterkaitan dengan jaringan di negara lain. Pada 14 April 2009, Polri menggerebek salah satu kamar di Apartemen Grand Water Place Jalan Pakuwon Indah, Surabaya Barat karena dipakai sebagai pabrik shabu. Di Surabaya, 11 Juni 2009, Polwiltabes Surabaya menggerebek industri rumahan shabu di Jalan Tidar. Polda Jatim pada 6 Mei 2009 juga menemukan pabrik shabu di Kelurahan Tertek, Kecamatan Kota Tulungagung. “Saat ini sudah mulai ada perubahan lokasi pabrik, dari semula di kota besar, bergeser ke kota kecil,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bachrul Alam saat melihat lokasi pabrik itu. Satuan Narkoba Kepolisian Wilayah Kota pada September 2008 menggrebek sebuah rumah mewah di Perumahan Pesona Mendut Hijau Banyuwangi yang dijadikan tempat memproduksi sabu-sabu. Luar Jawa Tidak hanya di Jawa, pabrik narkoba juga merambah luar Jawa. April 2009, polisi menemukan pabrik ekstasi di Kecamatan Medan Krio, Kota Medan. Masih di kota yang sama, polisi menemukan pabrik ekstasi di ruko Krakatau Multi Centre (KMC) Jalan Krakatau Medan. Polisi meyakini, pabrik di KMC itu adalah yang terbesar di Sumatera. Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Baharuddin mengatakan, pabrik pil ekstasi tersebut beromzet mencapai miliaran rupiah dan dilaporkan mampu memproduksi 100 ribu hingga 200 ribu butir per hari dan diperjualbelikan di Medan, Jakarta, dan daerah lain. Pada Oktober 2007, polisi menemukan pabrik shabu skala besar di Ruko Kawasan Hijrah Karya Mandiri dan Blok E Kompleks Taman Niaga dan Blok A No 4 Gudang Shile Lee Kabil, Kota Batam.

9

Tidak itu saja, polisi juga membongkar pabrik ekstasi di Senapelan, Pekanbaru, Desember 2008. Di Banjarmasin, Polda Kalsel mengungkap pabrik ekstasi di kawasan pemukiman Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar pada Mei 2009. Pada 23 April 2009, Polwiltabes Makassar membongkar tempat pembuatan ekstasi dan shabu-shabu di dalam sebuah pasar di Kota Maros, sekitar 30 km utara Kota Makassar. Melihat fakta-fakta di atas, maka pabrik narkoba telah menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sebaran pabrik narkoba di Indonesia bisa dikatakan sudah mencapai 90 persen, karena jumlah penduduk di keempat pulau itu mencapai 90 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Kendati belum menyebar hingga Maluku, Nusa Tenggara dan Papua namun keberadaan pabrik narkoba itu membuktikan bahwa pabrik narkoba telah mengepung masyarakat, karena 90 persen dari total 220 juta penduduk Indonesia hidup berdampingan dengan pabrik narkoba

2.5. Debat Dalam menanggapi kasus-kasus narkoba selama ini, kami menghimpun banyak pendapat dari berbagai kalangan untuk kemudia dihimpun dan disatuolahkan menjadi sebuah solusi yang dapat diaplikasikan bersama. Pemerintah mengaku telah membentuk UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika sebagai upaya dalam pemberantasan mafia narkoba di Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya, pemerintah mengaku masih banyak kekurangan. Hal ini terbukti dari timbulnya kembali kasus-kasus serupa dengan motif yang hampir sama. Pihak kepolisian mengaku telah berupaya semaksimal mungkin dalam mencari, menjaring, menangkap dan memberantas jaringan mafia narkoba di

10

Indonesia. Kepolisian pun telah berusaha mengembangkan metode pencarian dan pemberantasan mafia narkoba sesuai dengan perkembangan metode penyelundupan yang digunakan para kurir narkoba. Menurut masyarakat, kasus-kasus seperti ini harus segera dituntaskan sampai ke akar-akarnya karena jika tidak, akan menimbulkan banyak kasus serupa yang kemudian menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Masyarakat mengaku tidak nyaman jika di sekitar lingkungan tempat tinggalnya terdapat kegiatan jual-beli narkoba terlebih lagi jika pabriknya pun ada di situ. Para kriminolog dan sosiolog melihat bahwa tindak kriminalitas di Indonesia umumnya dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah. Hal ini menjelaskan bahwa salah satu faktor utama dari seseorang yang berperilaku kriminal atau dalam kasus ini berjualan narkoba adalah karena desakan ekonomi. Banyak di antara mereka yang tidak mampu menafkahi keluarga, berulang kali tidak mendapat pekerjaan, terlilit hutang sana-sini dan berstatus pendidikan yang amat rendah dan akhirnya memutuskan berjualan narkoba sebagai upaya mereka dalam mencari nafkah. Serupa dengan para kriminolog, mereka para pelaku pun mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, dari pada istri dan anak tidak bisa makan, lebih baik mereka mencari uang dengan cara menjual narkoba karena hasil yang di dapat itu sangat besar dan cepat didapat. Namun, beberapa di antaranya mengaku hanya menjadi korban penitipan barang yang tidak diketahui dari orang yang tidak di kenal yang ditemuinya di luar negeri, seperti halnya ZS. Solusi yang akhirnya terbentuk dari hasil penyatuan pendapat-pendapat di ats adalah bahwa solusinya dimulai dari masyarakat sendiri. Ketika kita melihat salah satu faktor kriminalitas adalah tekanan ekonomi, maka masyarakat terutama perangkatnya harus lebih merangkul dan memberdayakan mereka yang berekonomi kurang. Seperti misalkan dengan membuka industri rumahan untuk mempekerjakan mereka yang tidak bekerja dengan sumber dana dari berbagai program pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat.

2.6. Kesalahan Berfikir

11

Kesalahan berfikir yang dapat kami angkat dari kasus ini adalah : Selama ini, pihak kepolisian belum bekerja secara optimal dalam menangani kasus narkoba di Indonesia. Kepolisian seringkali hanya menjaring orang-orang yang berperan sebagai penyebar narkoba tersebut tanpa menindaklanjuti lebih dalam orang-orang yang terlibat dalam jaringan tersebut. Karena kepolisian tidak memberantas kasus narkoba secara tuntas, banyak orang yang akhirnya memilih penyebaran narkoba sebagai upaya pencarian nafkah. Seperti contohnya ZS. Seharusnya, polisi mencari orang-orang yang terlibat di balik tersebut agar kasus tersebut tuntas sepenuhnya dan cepat tanggap terhadap masalah narkoba ini agar masalah ini tuntas sepenuhnya dan tidak menimbulkan lebih banyak korban. ZS hanya memikirkan mendapatkan keuntungan dari menjual barang haram tersebut tanpa memikirkan resiko yang ia dapatkan dan efek buruk yang dia sebar terhadap masyarakat. Seharusnya, ZS memikirkan upaya pembiayaan kuliahnya dengan cara yang lebih baik agar tidak menimbulkan resiko yang merugikan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

BAB III PENUTUP 3. 3.1. Kesimpulan

12

Dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, dapat kami simpulkan bahwa :

Peredaran Narkoba di Indonesia sudah begitu luas, bahkan pabriknya pun sudah banyak di Indonesia. Hal ini mengindikasikan Indonesia menjadi produsen Narkoba terbesar ketiga setelah Fiji dan RRC.

Para pelaku kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah dan mengaku terpaksa berjualan Narkoba untuk mencari nafkah.

Kepolisian sudah memberikan upaya optimal dalam pemberantasan kasus Narkoba.

Ketika yang menjadi faktor utama dari tindak peredaran Narkoba ini adalah masalah ekonomi, yang bagaimana pun, untuk masyarakat merangkul dan dan perangkatnya-lah memungkinkan

memberdayakan mereka yang tidak bekerja supaya berpenghasilan sendiri dan menjauhi upaya peredaran Narkoba.

13

DAFTAR PUSTAKA

14

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful