1

EDITORIAL
MEMPERBAHARUI SIKAP AGAMA-AGAMA TERHADAP MASALAH HIV/ AIDS

Lingkup persoalan HIV/ AIDS bukanlah semata-mata persoalan medis, yang mana lembagalembaga keagamaan tidak mempunyai kompetensi untuk melakukan tindakan apapun terhadap masalah yang ditimbulkan oleh virus ini. Pada masalah ini terdapat dimensi sosial yang penting diperhatikan ketika berupaya menghambat laju penyebaran dan pendampingan pada orang-orang yang terinfeksi (sering disingkat ODHA: Orang Dengan HIV/ AIDS). Untuk maksud ini mutlak dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi masalah yang terkait dengan kualitas hidup manusia dan komunitasnya. Sayangnya mengenai persoalan HIV/ AIDS ini terdapat persepsi dan sikap tertentu yang berkembang didalam masyarakat yang tidak mendukung upaya-upaya pencegahan meluasnya penyakit ini, bahkan sebaliknya, pada banyak kesempatan dan dalam taraf tertentu menambah penderitaan ODHA dan keluarganya. Ada peran aktif yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga, pimpinan, imam, maupun para pengajar agama yang terjun langsung didalam kehidupan masyarakat yang mana hal itu terlambat dilaksanakan karena berbagai salah persepsi terhadap persoalan ini.

Salah Persepsi Hingga saat ini masih banyak umat beragama yang beranggapan bahwa AIDS adalah penyakit yang dialami seseorang sebagai hukuman dari Tuhan, sebagaimana Tuhan pernah menghukum umat Nabi Luth (seperti yang terekam di dalam kitab suci agama Kristen dan Islam), atau itu suatu karma dari perbuatan buruk. Oleh karena itu di beberapa kalangan muncul rasa antipati terhadap ODHA, menganggap mereka sebagai orang yang amoral yang sedang menanggung akibat perbuatannya. Tidaklah sedikit cerita yang mengisahkan bagaimana ODHA dikucilkan dan 'dihukum' oleh masyarakat hingga mengalami kesakitan berkepanjangan dan kesepian sampai ajal menjemput. Padahal diantara para ODHA adalah istri-istri yang budiman dan anak-anak yang suci. Tidak sedikit pula gambaran bagaimana lembaga-lembaga agama, ruhaniawan, alim ulama yang dalam kasus lain begitu peduli, namun untuk kasus ini jangankan mengklarifikasi pandangan masyarakat tentang HIV/ AIDS tapi justru membiarkan begitu saja kematian dalam penderitaan berkepanjangan. Sangat mungkin ketidakpedulian itu berlatar belakang ketidaktahuan.

2 Ketidaktahuan menimbulkan kegelapan hati dan jauh dari tindakan bijak, yang terutama tampak dalam aksi pengucilan terhadap para ODHA. Masyarakat yang terlibat aksi pengucilan terhadap ODHA kemungkinan beranggapan, pertama karena kekhawatiran akan tertular penyakit ini menyentuh atau bertatapan saja dapat menyebabkan terinfeksi virus ini. Kedua, sebagai kelanjutan dari anggapan bahwa ODHA adalah orang yang sedang menanggung akibat dari tindakan yang melanggar susila maka orang yang menemani ODHA pun dianggap sebagai bagian dari 'orang yang amoral' atau orang yang setuju dengan tindakan-tindakan amoral. Ternyata prasangka melahirkan prasangka juga. Tanpa disadari akhirnya muncul anggapan pemikiran bahwa masalah HIV/ AIDS adalah masalah moral. Masalah menjadi berlarut-larut karena tokoh masyarakat (dan khususnya tokoh-tokoh agama) membiarkan diri dalam ketidakpahaman terhadap HIV/ AIDS. Akibat aksi 'penghukuman' yang dilakukan masyarakat ini, jarang orang yang beresiko tertular virus ini dengan sukarela memeriksakan darah atas kesadaran sendiri, akibatnya para ODHA tidak dapat berperan aktif dalam menghambat penularannya kepada orang lain. Ketika masyarakat mulai menyaksikan dalam berbagai laporan media tentang anak-anak dan para istri yang setia-budiman menjadi ODHA, hal ini tidak dengan sendirinya menimbulkan dorongan pada masyarakat untuk mengoreksi sikap-sikap mereka. Demikian juga pihak-pihak yang dianggap kompeten untuk berbicara masalah moralitas tidak dengan sendirinya menjadi terusik untuk mengklarifikasi pandangan-pandangannya dan menyampaikan pada masyarakat

pendukungnya.

Dimana Peran Agama? Dalam perspektif religius, masalah HIV/ AIDS adalah suatu peringatan pada setiap orang, bahwa ada krisis dalam penyelenggaraan kehidupan bersama. Mungkin akarnya berada didalam kehidupan keluarga yang tidak berhasil membangun pembelajaran bagi anggota-anggotanya sehingga memunculkan karakter yang rapuh untuk menghadapi banyaknya pilihan yang mempertaruhkan kualitas kehidupan. Mungkin juga struktur sosial-ekonomi yang diwarnai ketidakadilan sehingga, (dalam struktur yang timpang ini) memunculkan lapangan pekerjaan yang sangat riskan dalam melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, dimana kalangan yang tidak beruntung sering terjebak di dalamnya. Dalam situasi ini tidak pada tempatnya lembaga-lembaga agama bersikukuh dengan kaca mata hitam-putihnya menuntut apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh umat atau masyarakat. Dengan menghakimi situasi masyarakat termasuk mengadili para ODHA, agamaagama tidak bisa memberi peran apa pun ditengah ketidakadilan yang sangat menyulitkan ini.

3 Banyak problem kemanusiaan yang terlambat ditanggapi agama-agama, salah satunya adalah permasalahan HIV/ AIDS. Tidak ada cara lain bagi institusi-institusi keagamaan selain memperbaharui wacana yang dikembangkan agar lebih bisa menjadi berkat, rahmat dan memberi damai dalam kehidupan. Agama sudah seharusnya menjadi ‘obat’ bagi masalah kehidupan (termasuk masalah HIV/ AIDS), bukannya menjadi ‘racun’ yang memperburuk masalah[]

Salam Redaksi

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Siapa lagi yang bisa berbicara perilaku yang bertanggung jawab dan tentang kematian yang beradab. Yang dimaksud HIV adalah virus penyebab AIDS. mendampingi orang-orang yang mengalami masalah psikologis dan spiritual. Itu pun peranan yang lebih berada pada tataran teknis. Peranannya dibidang wacana untuk menghilangkan atau mengurangi stigma dan diskriminasi yang begitu kronis belum nampak. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat berlangsung lama/ bertahun-tahun tanpa memberi gejala. Sekarang peranannya ditunggu-tunggu dalam menyuarakan dan mendampingi banyak jiwa yang berhadapan dengan kematian karena virus dalam tubuh telah menghuni begitu banyak anak muda yang disebabkan penggunaan jarum suntik berganti-ganti atau seks yang tidak aman. dan bermartabat kalau bukan rohaniwan. HIV/ AIDS tidak hanya berurusan dengan masalah penyakit namun berurusan dengan masalah perilaku dan kemanusiaan. HIV/ AIDS tidak bisa disembunyikan lagi karena banyak pasien yang telah memasuki tahap AIDS sekarang menjadi penghuni rumah sakit. Orang yang terserang virus tidak menyadari dirinya tertular sebelum dilakukan tes. baik. Agama dalam pengertian orang dan institusinya memiliki peranan besar dalam mengatasi masalah HIV/ AIDS. Kita tidak hanya menghadapi epidemi HIV tetapi juga epidemi AIDS. Itu termasuk menyuarakan tentang perlindungan diri dari virus HIV/ AIDS yang sekarang telah menjadi problem kesehatan masyarakat yang nyata. AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia untuk waktu yang lama. Aktifis bekerja di Yayasan HOTLINE Surabaya Pendahuluan Peranan agama baik rohaniawan maupun institusinya dalam penanggulangan HIV/ AIDS. Sedangkan AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah suatu kumpulan gejala penyakit yang didapat akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. . baik pencegahan maupun dukungan. perawatan dan pengobatan dari awal hingga sekarang belum memiliki makna yang kongkrit.4 FOKUS PERANAN ROHANIWAN DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS : REFLEKSI PENGALAMAN Esthi Susanti H. Bahkan peranannya nyaris tidak terdengar karena yang terlibat baru ditingkat individu. Sayangnya peranan tersebut belum dijalankan karena terpenjara oleh banyak faktor.

dilibatkan pada perdebatan dan kontroversi tersebut. Akibatnya sistem tidak jalan. Sikap mendua dan tidak jelas tersebut berakibat pada citra kondom yang buruk. Suara kritis LSM di bidang lain dinilai sebagai pengganggu. LSM di lapangan berbusa-busa berpromosi . Sekarang status epidemi HIV di beberapa propinsi adalah terkonsentrasi karena angka prevalensi di subpopulasi tertentu telah tinggi. Pejabat kesehatan saat itu tidak pernah bicara jelas tentang kondom di media massa bahkan banyak dari mereka yang menyatakan ketidaksetujuannya. Pada saat awal pengambil kebijakan berkonsentrasi penuh pada surveilans dan pencegahan untuk masa yang cukup panjang. Perawatan dan Pengobatan belum dikembangkan sampai dengan 2 atau 3 tahun yang lalu. Bidang Dukungan. (A = Anda tidak melakukan seks. Selain belum ada obat juga karena belum ada kasus yang bermunculan. Karena itu LSM ditempatkan di garis depan untuk promosi kondom di kalangan pelacur. dari 500 ibu hamil yang ikut Voluntary Counselling Testing ditemukan 3% positif HIV. Masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang cukup. Bicara masalah pencegahan dari kacamata kesehatan (yang menggunakan istilah memutuskan rantai penularan secara efektif dan efisien) maka tidak ada kata lain kecuali mengobati infeksi menular seksual dan penggunaan kondom bagi orang-orang yang berperilaku risiko tinggi. setelah pengguna jarum suntik narkotika berganti-ganti menjadi penyumbang kasus yang besar selain dari seks. Namun secara diam-diam menyetujui promosi kondom yang dilakukan oleh LSM di lapangan. Sekalipun demikian ketidaksenangan terhadap kritik LSM bisa diatasi namun asumsi tentang kritik dari agamawan tidak berani dihadapi. Padahal pada saat itu hubungan antara LSM dengan pemerintah tidak baik. Departemen Kesehatan mempromosikan ABC. Sejak awal pengambil keputusan di bidang kesehatan telah ragu-ragu dan merasa takut berhadapan dengan rohaniwan jika berbicara kondom secara langsung. Ketidaktegasan gambaran tentang kondom diperparah dengan lahirnya policy yang bertentangan antara satu departemen dengan departemen lain. Policy yang mendua telah diterapkan. Berdasarkan pengalaman dokter di RSCM Jakarta sebenarnya HIV telah masuk sebelum tahun tersebut. B = Bersikap saling setia dengan pasangan. Sejak tahun 1999 tiba-tiba kasus melonjak. Berhubung ada masalah teknologi dalam pendeteksian sehingga tanda-tanda yang telak tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis. seperti pada pengguna jarum suntik narkotika berkisar 50% lebih. C = Cegah dengan memakai kondom) sedangkan Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mempromosikan ketahanan keluarga dan kadang menyatakan ketidaksetujuannya dengan penggunaan kondom.5 Periode Awal Penanggulangan HIV/ AIDS Masalah HIV secara resmi diumumkan ada di Indonesia sejak tahun 1987. Data di Jakarta HIV telah masuk ke kalangan ibu rumah tangga. waria 20% lebih dan pelacur 5% lebih.

Lalu bagaimana peranan agamawan dalam situasi tersebut? Rancangan penanggulangan yang hanya difokuskan pada surveilens dan pencegahan di kalangan pelacur tidak memberi ruang gerak yang banyak pada agamawan untuk berkontribusi. Saat ini pintu masuk ke pengguna narkotika hanya mereka. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendidik sebaya yakni mantan pengguna narkotika menjadi penyuluh jarum suntik steril ke teman-temannya yang masih memakai.6 kondom. Dalam kerangka ini kelompok moderat bisa menerima kondom dalam kacamata darurat dan tidak menimbulkan masalah yang lebih besar dalam kaitannya dengan penularan pada pasangan seksnya. Bahkan wacana yang digulirkan oleh media massa yang dengan rajin memberi laporan tentang temuan kasus HIV di kalangan pelacur berdasarkan hasil surveilens. Penggunaan kondom di kalangan pelacur sampai hari ini belum naik secara berarti. Program pencegahan infeksi menular seksual dan HIV menjadi sulit dilaksanakan. Pilihan menempatkan mantan pengguna narkotika sebagai penyuluh merupakan pilihan yang sulit sekali. Lalu isu pencegahan bertambah yakni jarum suntik steril untuk pengguna narkotika suntik. UU yang ada menempatkan orang yang menggunakan narkotika sebagai pelaku tindak pelanggar hukum. kecuali berbicara tentang larangan berzinah dan yang paling moderat hanya bisa berbicara tentang jangan melakukan kesalahan dua kali dengan menulari HIV pasangannya. digunakan oleh agamawan untuk ikut memberikan penilaian buruk. Penutupan lokalisasi pelacuran ternyata justru menambah masalah karena pelacurnya tidak berhenti bekerja namun berpindah tempat yang tidak bisa dipantau oleh pihak kesehatan. Padahal untuk memutus rantai penularan dari pengguna jarum suntik berganti-ganti adalah dengan bertemu secara langsung dengan pengguna jarum suntik berganti-ganti secara diam-diam. Tanpa itu maka komunitas itu sulit sekali dijangkau karena beroperasi secara diamdiam dan tersembunyi. mengundang gerakan untuk melakukan penutupan lokalisasi pelacuran. Penularan Jarum Suntik Tidak Steril Sejak tahun 1999 jarum suntik berganti-ganti dari pengguna narkotika menjadi penyumbang besar kasus HIV. Beberapa tahun setelah laporan periodik temuan kasus HIV di kalangan pelacur. Pencegahan melalui jarum suntik steril berhadapan dengan masalah hukum. Di Jawa Timur telah terjadi penutupan lokalisasi di beberapa kabupaten dan kota. media massa mengangkat kontroversi kondom dan masyarakat yang berperilaku risiko tinggi tidak mau menggunakan kondom. Dalam kerangka pekerjaan tersebut memang agamawan tidak bisa diharapkan banyak. Mereka sebenarnya ditempatkan di area yang berbahaya karena mengundang untuk terjadinya sugesti sehingga akan terjebak untuk memakai kembali. .

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. terisolasi dari keluarga dan komunitasnya. Mereka takut tertular HIV. Dalam situasi seperti itu sebenarnya rohaniwan bisa berkontribusi memecah dilema tersebut dengan membantu membangun tatanan yang memungkinkan penegakan hukum dilakukan sekaligus pencegahan HIV bisa dilakukan dengan tenang dan efektif. Malah beberapa dari mereka dimasukkan penjara karena terbukti memegang barang terlarang tersebut. Korban sudah begitu banyak namun kendala sistem buatan manusia belum bisa diatasi. Banyak generasi muda antara usia 20 sampai dengan 30 tahun banyak terinfeksi HIV dari jarum suntik tidak steril tersebut. Mengapa rohaniwan tidak maju ke publik untuk mengatasi dilema tersebut? Peranan terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) Stigma buruk HIV/AIDS telah menghasilkan drama besar kemanusiaan dari Sabang sampai Merauke karena banyak dari mereka kehilangan pekerjaan. tertolak oleh layanan kesehatan yang mengetahui status HIV mereka. Yang lebih dramatis lagi kebanyakan dari mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan. Masyarakat umum yang terancam keluarganya menjadi korban meminta penegakan hukum yang tegas. Keluarga . Nampaknya hingga sekarang polisi mengikuti UU yang ada. Karena itu kerja sama polisi dengan LSM pendamping pengguna napza belum berjalan dengan baik. Dengan kata lain rohaniwan bisa mengurangi tekanan ke polisi sehingga memberi ruang yang aman pada polisi untuk ikut menanggulangi HIV/ AIDS. Namun hingga sekarang belum ada kepemimpinan yang tegas untuk mengatasi masalah tersebut. Napza suntik telah masuk ke banyak keluarga kaya maupun miskin dan semua kelompok masyarakat yang ada. yang belum mengakomodir isu pencegahan HIV/ AIDS. Itupun hanya dihadiri oleh segelintir orang. pergi dengan kesakitan dan rasa malu. Narkotika adalah masalah sosial baru yang besar sehingga seluk beluknya belum diketahui semua. Di Surabaya karena maraknya isu HIV menyebabkan orang tidak mau lagi menjadi modin.7 Masalah yang timbul kemudian adalah LSM pendamping pengguna napza itu berhadapan dengan masalah hukum. Dengan demikian polisi dihadapkan pada dilema: memenuhi tuntutan masyarakat yang menghendaki penegakan hukum yang tegas atau mengikuti kesepakatan Badan Narkotika Nasional dengan Menkokesra tentang harm reduction jarum suntik yang banyak dilakukan oleh LSM dengan menggunakan tenaga bekas pengguna narkotika sebagai penyuluhnya. Napza suntik menjadi masalah yang begitu serius. Keluarga menghadapi kesulitan untuk memandikan jenazah. Pemakaman Orang Dengan HIV/ AIDS dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Sedangkan pengetahuan tentang aspek perilaku dan kesehatan yang begitu kompleks tidak dipahami oleh masyarakat.

LSM atau orang-orang yang berperilaku risiko tinggi saja. Semangat sektoral tidak mungkin bisa menanggulangi HIV/ AIDS. Sebaiknya semua pihak bekerja sama melakukan apa yang menjadi tugas dan peranannya. Masalah HIV/ AIDS sangat kompleks dan berdimensi banyak. Lalu apa arti pertobatan dan pengampunan yang diajarkan di semua agama? Saat ini peranan rohaniwan sangat dibutuhkan baik di tataran praktis mendampingi Orang Dengan HIV/ AIDS maupun di tataran pelurusan wacana agar stigma bisa dihilangkan/ dikurangi sehingga diskriminasi tidak terjadi di mana-mana. Kontroversi yang dibesar-besarkan di media massa dan policy yang bertentangan terbukti menjadi salah satu kunci penghalang keberhasilan penanggulangan HIV/ AIDS. bukan hanya menjadi masalah pemerintah. Semua komponen masyarakat harus terlibat pada penanggulangan HIV/ AIDS.8 yang ditinggal seolah harus menyimpan aib dari penyakit tersebut. Semua bidang terkait dengan masalah HIV/ AIDS. Belajar Dari Pengalaman Belajar dari penanggulangan HIV/ AIDS yang telah memasuki dua dekade lebih. Isunya tidak hanya soal kondom dan penggunaan jarum suntik steril. Seolah mereka layak mendapatkan semua itu karena perbuatan di masa lampau. Belum lagi kisah bunuh diri ketika mengetahui status dirinya yang positif HIV terjadi di beberapa daerah. sampailah pada kesimpulan bahwa setiap komponen masyarakat dan pemerintah memiliki peranan masingmasing dalam penanggulangan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS merupakan masalah masyarakat yang penting.[] . Pengintegrasian dan sinergi dari semua bidang diperlukan agar HIV/ AIDS bisa ditanggulangi. Begitu banyaknya drama kemanusiaan yang terjadi namun hingga sekarang belum mengundang rohaniwan bersatu meluruskan situasi yang tidak manusiawi tersebut.

Walaupun obat penghambat perkembangbiakan HIV yang tergolong Retrovirus dari famili Lentivirus ini sudah ditemukan lima tahun setelah HIV diketahui sebagai penyebab AIDS. disamping juga takut tertular HIV dari teman kerjanya yang seorang ODHA (orang yang terkena AIDS). Di bidang pekerjaan timbul keraguan apakah orang yang terkena HIV/ AIDS masih dapat dan kuat untuk bekerja. . ARV tidak dapat membunuh HIV tetapi hanya menghambat pertumbuhan HIV. penderita AIDS dikenal terlebih dahulu pada mereka yang berasal dari kelompok perilaku risiko tinggi (KPRT) seperti penjaja seks komersial (PSK) baik perempuan atau laki-laki. Sindrom ini lebih dikenal dengan nama AIDS. Mereka tidak ingin nama kantor atau usaha bisnis mereka tercemar karena mempekerjakan orang dengan stigma AIDS. Tidak dapat dipungkiri diskriminasi tidak hanya berasal dari masyarakat umum atau orang lain tetapi juga dari teman dekat dan bahkan keluarga terdekat. Disamping alasan medis yang menyebabkan orang takut dengan AIDS. dan sebagainya. Dilihat dari aspek sosio-historisnya. pecandu narkoba suntik. sebuah kata yang masih banyak ditakuti orang. Orang takut tertular HIV karena bila tertular pasti fatal akibatnya dan bila sakit. suatu virus yang menimbulkan penurunan kekebalan tubuh. kelompok homoseks. Didalam rumah alat-alat makan/ minum ODHA dipisahkan sehingga tidak tercampur dengan orang lain.9 FOKUS MELONGOK SEGI MEDIS AIDS DAN POTENSI TIMBULNYA DISKRIMINASI Tuti Parwati Merati Direktur Yayasan Citra Usadha Indonesia Pendahuluan Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena tubuh tertular Human Immunodeficiency Virus (HIV). namun obat yang disebut anti-retrovirus (ARV) tersebut belum dapat menyembuhkan pasien AIDS. Kita juga tahu bahwa tanpa terkena HIV/ AIDS pun kelompok tersebut diatas sudah dianggap ”rendah” dan didiskriminasi oleh masyarakat. Diskriminasi terhadap penderita AIDS pun terjadi dalam pelayanan kesehatan karena petugas takut tertular HIV pada saat merawat dan melakukan pekerjaannya. juga ada banyak stigma yang melekat pada AIDS. orang homo. Ini disebabkan belum ditemukan vaksin pencegah penularan dan penyembuhnya selama hampir seperempat abad sejak kasus pertama AIDS ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1981. Kenyataan inilah yang menyebabkan timbulnya ketakutan orang terhadap AIDS. sakitnya tidak bisa disembuhkan. waria dan sebagainya sehingga tidak jarang mereka mengalami diskriminasi.

10 Kenyataannya pada saat ini secara global telah terdapat lebih dari 40 juta orang tertular HIV dan pada tahun 2002 di Indonesia, berdasarkan perkiraan badan kesehatan dunia WHO, terdapat sekitar 90.000-130.000 orang terinfeksi HIV. Kenyataan lain yang penting adalah orang yang terkena HIV tidak hanya dari kelompok perilaku risiko tinggi (KPRT) tetapi orang yang melakukan transfusi darah seperti penderita hemofili, isteri atau suami, bayi-bayi yang baru lahir pun banyak yang tertular tanpa disadari dan para pemakai narkoba yang kebanyakan remaja. Lalu bagaimana caranya sehingga ketakutan terhadap HIV/ AIDS tidak ditujukan pada penderitanya (yang disebut dengan ODHA) tetapi waspada terhadap penularannya sehingga kita dapat bersikap dan berperilaku proporsional? Oleh karena itu pemahaman tentang kumpulan gejala penyakit HIV/AIDS, penularannya, pencegahannya, perlakuan terhadap penderitanya sangatlah penting. (Catatan: Istilah di Indonesia untuk orang yang telah terinfeksi HIV dan yang sudah dalam stadium AIDS disebut Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA).

Penularan HIV HIV menular melalui hubungan seksual yang tidak aman atau berganti-ganti pasangan (baik hubungan heteroseks maupun homoseks) atau melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril/ tercemar, terutama terjadi pada pemakaian bersama di antara pengguna narkotika suntikan. Disamping itu dapat juga menular dari ibu yang mengidap HIV ke bayi yang dikandung atau yang disusuinya. Mengapa demikian? Karena dalam tubuh seorang pengidap HIV, HIV berada paling banyak di dalam darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Kontak langsung dengan bahanbahan tersebut akan dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lain. Penularan dari ibu hamil ke bayi terutama terjadi pada saat persalinan (60-75 %), namun dapat pula terjadi sesudah melahirkan yaitu saat menyusui (12-15%), atau saat dalam kandungan (25-40 %). Total penularan dari ibu ke janin bervariasi antara 20-45% untuk negara berkembang dan 15-30% untuk negara maju. Dengan memakai obat antiretroviral maka penularan dari ibu ke janin ini dapat ditekan dan diturunkan hingga 6-7%. Setelah menular melalui cara-cara tersebut, selanjutnya didalam tubuh, target utama HIV adalah sel darah putih yang disebut sel limfosit T helper atau disebut juga sel limfosit CD4 dimana HIV akan menyatu dengan sel limfosit ini lalu berkembang biak bertambah banyak sehingga dari satu sel limfosit akan terbentuk ribuan HIV. Berbagai jenis sel dapat diserang oleh HIV terutama sel darah putih limfosit CD4 sehingga lambat laun sistim kekebalan tubuh akan menurun secara bertahap, baik secara fungsi maupun jumlah. Pada akhirnya tidak hanya kekebalan imunitas seluler yang terganggu tetapi juga kekebalan humoral sehingga mudah sekali terjadi infeksi oportunistik yang muncul dalam berbagai macam penyakit dan kanker.

11

Tidak Menular Walaupun hampir semua cairan tubuh mengandung HIV, namun dalam jumlah yang demikian kecil tidak terbukti bisa menularkan HIV misalnya air liur, keringat, air seni, air mata, air ketuban dan cairan otak. HIV tidak menular lewat kontak sosial. Misalnya hidup bersama dalam satu rumah/ kamar, berjabatan tangan, berpelukan, berciuman pipi, memakai bersama alat makan dan minum, berenang di kolam yang sama, gigitan nyamuk atau serangga lainnya, batuk dan bersin, atau memakai kamar mandi/ toilet yang sama. Demikian juga tidak terjadi penularan melalui fasilitas umum seperti telepon, bis, kereta api, gedung bioskop, sekolah atau tempat kerja. Jadi sangat tidak beralasan kalau kita menjauhi ODHA hanya karena takut tertular.

Perkembangan Penyakit Pada umumnya sebagian besar orang dengan HIV akan sampai di stadium AIDS dalam waktu antara 5-10 tahun (rata-rata 6 tahun). Ada sebagian kecil yang menjadi AIDS dalam waktu lebih cepat, sekitar 3 tahun dan sebagian kecil lainnya perlu waktu yang lama sampai belasan tahun (long term non progressor). Kerusakan sistim kekebalan tubuh secara bertahap terlihat dalam perkembangan perjalanan penyakit, mulai dari tanpa gejala sama sekali sampai ke keadaan klinis dengan gejala yang berat. Perlu diketahui dalam tahap awal seseorang yang terkena HIV masih tanpa gejala, namun orang tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara yang telah disebutkan tadi. Adapun tahap-tahap perkembangan penyakit ini adalah sebagai berikut: 1. Stadium Infeksi Primer : Ini adalah saat penularan HIV, yang biasanya tidak ada gejala tetapi pada 30-60% setelah 6 minggu terinfeksi orang dapat mengalami gejala seperti gejala influenza, berupa demam, lelah, sakit pada otot dan sendi, sakit menelan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Ada juga yang menunjukkan gejala radang selaput otak (meningitis aseptic), demam, sakit kepala sampai terjadi kejang dan kelumpuhan saraf otak. Gejala ini biasanya sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. 2. Stadium tanpa gejala : Stadium ini merupakan lanjutan dari infeksi primer yang dimulai sejak terinfeksi atau setelah sembuh dari gejala infeksi primer sampai beberapa bulan/ tahun setelah infeksi. Selama bertahuntahun tidak terlihat gejala, bahkan yang bersangkutan tidak mengetahui dan tidak merasa dirinya telah tertular HIV karena tetap merasa sehat seperti biasa. Pada stadium ini hanya tes darah saja yang dapat memastikan bahwa yang bersangkutan telah tertular HIV. 3. Stadium dengan gejala (ringan atau berat) :

12 Setelah melewati masa beberapa tahun tanpa gejala, akan mulai timbul gejala yang ringan pada kulit, kuku dan mulut berupa infeksi jamur pada kuku, sariawan berulang dan radang sudut mulut atau bercak-bercak kemerahan pada kulit. Gejala pada mulut berakibat penurunan nafsu makan, kadang malah terjadi diare ringan. Timbul penurunan berat badan (BB) yang tidak mencolok (kurang dari 10% BB sebelumnya). Sering juga ada infeksi saluran nafas bagian atas yang berulang, tapi penderita masih dapat beraktivitas seperti biasa. Kemudian dengan berjalannya waktu, gejala seperti itu akan semakin berat. Beberapa gejala tersebut diatas bisa timbul secara bersamaan sekaligus. Sering terjadi infeksi paru (pneumonia) bakterial yang berat atau berupa tuberkulosis (TBC) paru yang berat. Aktivitas sudah menurun dan karena sakit dalam bulan terakhir penderita berada di tempat tidur hampir 12 jam sehari. 4. Stadium AIDS: Pada tahap ini berat badan (BB) menurun lebih dari 10% dari BB sebelumnya, ada pneumonia yang berat, Toksoplasmosis otak, demam terus menerus atau berulang lebih dari satu bulan, diare karena berbagai sebab, misalnya jamur kriptosporidiosis, virus sitomegalo (CMV), infeksi virus herpes, jamur kandida pada kerongkongan (kandidiasis esophagus), jamur saluran nafas, atau infeksi jamur jenis lain seperti histoplasmosis, dan koksidioi-domikosis. Disamping itu dapat juga ditemukan kanker kelenjar getah bening atau kanker Kaposi Sarkoma. Aktivitas sangat kurang dan dalam bulan terakhir penderita berada di tempat tidur lebih dari 12 jam sehari karena sakit.

Pencegahan Setelah mengetahui bagaimana sifat dan cara penularan HIV, dapat disimpulkan cara pencegahannya agar kita tidak tertular. Tergantung siapa anda dan posisi anda. Ada beberapa cara pencegahan, yaitu: ABCDE. A: Abstinence atau puasa, maksudnya tidak melakukan hubungan seks atau tidak mengkonsumsi narkoba. B: Be faithful, yaitu saling setia pada pasangan. C: Condom, selalu memakai kondom dalam setiap hubungan seks tidak aman. D: Don't inject, jangan pernah mencoba narkoba. E: Education, cari dan dapatkan informasi yang benar tentang HIV/ AIDS/ IMS dan Narkoba. Perlu ditambahkan, bahwa sering terjadi kekeliruan pada sebagian orang yang mengira bahwa dengan minum obat antibiotik dapat mencegah penularan HIV, minum 'obat kuat' dapat mencegah HIV, merasa kondisi badan sehat akan kebal terhadap HIV, dan lain-lain. Semua itu tidak benar sama sekali, karena antibiotika, obat kuat dan kondisi sehat sama sekali tidak dapat mencegah penularan HIV apabila kita melakukan perilaku berisiko tinggi tersebut.

Dalam tubuh orang yang terinfeksi. Dalam kaitannya dengan perawatan ODHA baik dilingkungan rumah sakit maupun perawatan di rumah perlu dijelaskan bahwa tidak terjadi penularan HIV melalui batuk. memegang pasien. Walaupun HIV terdapat juga dalam hampir semua cairan tubuh. menyuapi. atau memakai kamar mandi/ wc yang sama. karena bisa melakukan upaya pencegahan penularan selanjutnya pada isteri/ suami dan orang yang dikasihinya. Misalnya hidup bersama dalam satu rumah/ kamar. pengambilan darah dan sebagainya. Walaupun belum ada vaksin pencegah AIDS. petugas kesehatan dapat melakukan upaya proteksi sehingga tidak tertular HIV saat melakukan tindakan medis. berciuman pipi. memandikan. berenang di kolam yang sama. Kontak langsung dengan bahan-bahan tersebut akan dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lain. bis. Bila seseorang merasa ada risiko.[] . membantunya bangun. dan air ketuban. Semua hal tersebut dapat dilakukan seperti halnya merawat orang sakit lainnya tanpa merasa takut tertular HIV. dan sebagainya. air mata. Hanya tes darah (HIV Ab) saja yang dapat memastikan hal ini. memberi makan/ minum. sekolah atau tempat kerja. memakai bersama alat makan dan minum. namun dalam jumlah sangat sedikit tidak terbukti bisa menular misalnya air liur. gedung bioskop. Demikian juga tidak terjadi penularan melalui fasilitas umum seperti telepon. air seni. air mani. Demikian juga pengobatan dengan ARV dapat diberikan dengan lebih dini. seseorang yang terkena HIV masih tanpa gejala. namun orang tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara yang telah disebutkan tadi. keringat. kereta api. berpelukan.13 Kesimpulan Sangat tidak mungkin untuk bisa mengenali seseorang yang tertular HIV dalam stadium awal hanya dengan melihat penampilan fisik atau jasmani saja. namun harus diminum selamanya. Karena itu dengan menghindari atau berhati-hati terhadap bahan yang mengandung HIV dalam jumlah yang berpotensi untuk menular. cabut gigi. cairan vagina dan air susu ibu. gigitan nyamuk atau serangga lainnya. Dalam tahap infeksi awal yang berlangsung bertahun-tahun. batuk dan bersin. bedah tulang. HIV berada paling banyak di dalam darah. terutama bedah. tapi sekarang sudah ada ARV yang dapat 'mengobati' AIDS sehingga kualitas hidup ODHA menjadi baik. berjabatan tangan. HIV tidak menular lewat kontak sosial. memapah saat berjalan. Jadi sangat tidak beralasan kalau kita menjauhi ODHA hanya karena takut tertular. baik sekali bila melakukan tes darah ini.

HIV dapat menular melalui tranfusi darah yang sudah tercemar HIV. Tetapi virus HIV tidak bisa dilumpuhkan oleh sel-sel darah putih karena virus HIV memproduksi sel sendiri yang dapat merusak sel darah putih dan merupakan sejenis retrovirus yaitu virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. dan bukan menular melalui air ketuban atau bahan tumbuh yang diterima bayi dari ibunya melalui pusar selama berada dalam kandungan. Adapun cara penularan virus HIV terjadi melalui empat macam: pertama. karena orang yang sudah terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala spesifik apapun bahkan sesudah masa AIDS. jarum tindik. Harahap diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan. Didalam tubuh manusia terdapat sel-sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh (Immune system) untuk menangkal berbagai penyakit. Dengan mengetahui cara penularannya HIV sebenarnya bisa dicegah dengan langkah yang tepat. Virus HIV terdapat dalam larutan darah. dubur dan mulut yang dapat menyebabkan virus HIV masuk ke dalam aliran darah pasangannya. screening darah atau menghindari 1 Lihat Pers Meliput AIDS oleh Syaiful W. kulit penis. melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. dan peralatan lain yang sudah dipakai oleh orang yang terinfeksi 1 . cairan sperma dan cairan vagina dan dapat menular melalui kontak darah atau cairan tersebut. Gejala AIDS baru bisa diketahui 5-10 tahun seteIah tertular HIV. yaitu menggunakan kondom bila berhubungan seksual dengan orang yang diketahui maupun tidak diketahui status HIV-nya. Jakarta tahun 2000. Ini hisa terjadi karena saat berhubungan seksual sering terjadi lecet-lecet yang ukurannya sangat kecil hanya bisa dilihat dengan mikroskop pada dinding vagina. akupunktur. Keempat.14 OPINI RESPON AGAMA ISLAM TERHADAP PROBLEM SOSIAL PENANGGULANGAN HIV/ AIDS DAN NARKOBA Maria Ulfah Anshor Ketua Pimpinan Fatayat NU Periode 2000-2004 Latar Belakang dan Masalah AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome-sindrom cacat kekebaIan tubuh dapatan) bukan merupakan penyakit (disease) tetapi cacat karena sistem kekebalan tubuh dirusak setelah seseorang terinfeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Syndrome Virus). kuman dan bakteri yang masuk ke dalam aliran darah akan dilawan oleh sel-sel darah putih yang ada di dalam tubuh kita sehingga mati dan tubuh kita sembuh dari berbagai penyakit. melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan/ kondom. Kedua. melalui pemakaian jarum suntik. . Setiap virus. Ketiga. Penularan terjadi saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan darah atau cairan anaknya di saat proses melahirkan.

termasuk di dalamnya adalah bagaimana memperlakukan orang yang hidup dengan HIV/ AIDS (ODHA). Salah satunya adalah mengenai etika dan moral (akhlak) yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku terhadap sesama makhluk Tuhan. Mereka tidak boleh didiskriminasi dalam hal apapun karena sama-sama memiliki derajat sebagai manusia yang dimuliakan Tuhan. tetapi setidaknya ada kebijakan yang dapat memfasilitasi upaya peningkatan ekonomi bagi ODHA dan keluarganya agar dapat membeli obat untuk menjaga kondisi tubuhnya. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV/ AIDS Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semesta alam (rahmatan lil `alamin). Jumlah yang tercatat tersebut jauh lebih kecil jika dibanding dengan prevalensi yang sesungguhnya. Dari data tersebut 60. 671 di antaranya AIDS. sebanyak 3. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al Isra/ .6 % diantaranya adalah laki-laki. Ini berbeda dengan di negara-negara maju yang grafiknya mulai mendatar. karena ada fenomena gunung es. terdiri dari HIV sebanyak 680 dan AIDS sebanyak 253 kasus. HIV/ AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 pada seorang turis Belanda yang meninggal di Bali. dengan seperangkat tata nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umatnya untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Asia Timur. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Meskipun tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Negara. Dalam perkembangan HIV/ AIDS sejak pertama ditemukan kecenderungannya menggambarkan bahwa di negara-negara miskin dan negara berkembang jumlahnya terus meningkat seperti di Afrika. Penurunan kasus tersebut bukan karena faktor obat atau vaksin tetapi karena keberhasilan strategi penanggulangan yang efektif ditunjang oleh pendidikan dan kesadaran yang tinggi dalam menggunakan kondom sebagai salah satu cara pencegahan.556 HIV positif dan 1.7 % perempuan dan 3. seorang laki-laki berusia 35 tahun meninggal pula karena AIDS di Bali.4 Pada tahun 2001 meningkat sebanyak 2.7 % tidak diketahui jenis kelaminnya. dimana penderita masih menyembunyikan bahwa dirinya terinfeksi. Setahun kemudian ditemukan pula warga negara Indonesia yang pertama.614 kasus. Sementara biaya perawatan bagi ODHA dari kelompok masyarakat tidak mampu menjadi tanggung jawab Negara. Data tahun 1997-1999 ditemukan sebanyak 933 kasus. Dan hingga 31 Maret 2003.15 penggunaan darah yang terinfeksi serta pemakaian alat yang sudah disterilisasi dan menggunakan jarum yang sekali pakai. Asia Selatan dan Asia Tenggara kecuali Thailand.058 AIDS (dari berbagai sumber).575 kasus. Setelah itu penyebaran HIV/ AIDS di Indonesia terus meningkat dan penyebarannya hampir di semua propinsi meskipun dengan prevalensi yang tergolong rendah. terdiri dari 2. 35. sehingga mampu mengurangi penyebaran HIV.

Kelompok masyarakat miskin termasuk yang rentan pula tertular HIV/AIDS. Padahal bila dilihat dari cara penularannya HIV/ AIDS sesungguhnya bukan merupakan penyakit seksual. di sekolah. maka akan berbahaya karena terjebak pada lingkaran normatif yang tidak menguntungkan ODHA. Dalam hal ini mensosialisasikan pemakaian kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS jauh lebih ringan bahayanya dibandingkan dengan melarang kondom disosialisasikan. Meskipun tidak menutup kemungkinan bisa saja disalahgunakan. di tempat kerja. Sedangkan hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang sudah terinfeksi pasti terjadi penularan. Dalam penanggulangan HIV/ AIDS perlu pendekatan yang holistik. dianggap melegalisisir perzinahan dan sebagainya. Begitu juga pandangan mengenai kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/ AIDS hingga saat ini masih kontroversial karena dikhawatirkan disalahgunakan oleh pasangan di luar nikah. semakin banyak pasangan semakin banyak yang tertular dan lebih berbahaya (madlarat) dibanding kalau menggunakan kondom. sebagaimana yang dikisahkan Tuhan dalam Al-Qur'an surat 7/Al-A'raf : 80-84.16 I7:70: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. yaitu selain strategi umum harus ada strategi khusus dengan pendekatan yang berbasis pada kondisi-kondisi spesifik yang melekat pada penderita HIV/ AIDS dan problem-problem sosial yang mereka hadapi seperti kemiskinan. Pandangan tersebut menurut saya tidak menyelesaikan persoalan karena membiarkan orang yang terinfeksi HIV berhubungan seks tanpa kondom sama dengan membiarkan penularan HIV. hingga saat ini masih banyak kalangan agamawan (dari Islam) yang meyakini bahwa fenomena HIV/ AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan atau identik dengan kaum Luth yang menyukai homoseksual. pisau cukur. Begitu juga norma masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa HIV/ AIDS adalah penyakit menular seksual. Namun ironisnya. Apalagi kalau hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan". karena perilaku masyarakat baik dalam pelayanan kesehatan. jarum suntik. Jika tidak. tetapi tidak bisa digeneralisir dengan suatu kemungkinan yang belum terjadi. kesehatan lingkungan dan sebagainya. karena orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan penderita HIV pun bisa tertular seperti penularan melalui transfusi darah. Bahkan faktor kemiskinan harus dilihat sebagai bagian di dalam penanggulangan HIV/ AIDS. apalagi yang berasal dari . Pandangan tersebut hendaknya diubah dengan pendekatan solutif menggunakan kaidah fiqhiyyah yaitu "memilih bahaya yang lebih ringan di antara dua bahaya untuk mencegah yang lebih membahayakan". Pandangan tokoh agama dan masyarakat tersebut harus diluruskan dengan informasi yang benar mengenai HIV/ AIDS supaya tidak dianggap sebagai norma masyarakat. dan sebagainya. di tempat-tempat umum masih mendiskriminasikan ODHA. surat 27/ An Naml: 56. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan.

17 keluarga miskin. Orang yang miskin semakin dimiskinkan karena tertular HIV/ AIDS. Dan dari kelompok yang miskin tersebut yang paling miskin dan menderita adalah kaum perempuan, karena secara ekonomi umumnya mereka bergantung pada suami atau pasangan yang juga umumnya miskin. Selain itu, menciptakan suasana yang kondusif dengan cara meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap upaya menanggulangi HIV/ AIDS dengan melibatkan semua institusi yang terkait baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, dunia usaha serta lembaga masyarakat dan LSM.

Perempuan dan HIV/ AIDS Meskipun data di atas menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih kecil dibanding jumlah laki-laki, namun tidak berarti perempuan lebih aman atau lebih kebal dibanding laki-laki. Justru sebaliknya perempuan adalah kelompok yang paling rentan terhadap penularan HIV/ AIDS, karena secara sosiologis faktanya menunjukkan bahwa hingga saat ini ketimpangan gender masih mengakar di dalam masyarakat. Ketergantungan perempuan secara ekonomi pada suaminya atau pasangannya dapat memfasilitasi penyebaran HIV. Perilaku yang masih me-nomor dua-kan pelayanan kesehatan bagi perempuan setelah anggota keluarganya yang lain, relasi seksual yang masih didominasi laki-laki, rendahnya bargaining perempuan dalam penggunaan kondom bagi pasangannya, pandangan bahwa penyakit-penyakit yang berkaitan dengan organ reproduksi dianggap memalukan, penyakit kotor dan sebagainya, membuat perempuan rentan terhadap penularan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS, perempuan dan ketimpangan gender seharusnya tidak dilihat secara terpisah karena masing-masing memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Perempuan menjadi sangat rentan dengan penularan HIV karena adanya relasi yang tidak berimbang antara laki-laki dan perempuan. Karena relasi yang tidak berimbang mengakibatkan posisi tawar perempuan rendah, dan akibat posisi tawar perempuan rendah maka perempuan semakin mudah tertular HIV. Oleh karena itu, strategi penanggulangan HIV/ AIDS harus sensitif gender, supaya menyentuh akar persoalan yang menyebabkan perempuan berisiko tertular HIV/ AIDS. Dalam bab tiga halaman 10 (sepuluh) Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS 20032007 memang disebutkan salah satu kegiatannya untuk menurunkan kerentanan yaitu "melalui peningkatan pendidikan, ekonomi dan penyetaraan gender".5 Namun pernyataan tersebut masih sangat umum karena tidak ada penjelasan kegiatannya seperti apa. Perempuan sebagai kelompok yang rentan terhadap penularan HIV/ AIDS tidak bisa ditanggulangi hanya dengan pendekatan umum tetapi membutuhkan pendekatan yang spesifik dengan strategi khusus yang mampu membongkar akar penyebabnya.

18 Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/ AIDS harus melibatkan perempuan dengan strategi pencegahan dan penanggulangan secara holistik, yakni pencegahan HIV tidak hanya dari sisi medis, tetapi dari berbagai dimensi yang secara langsung maupun tidak dapat menjadi faktor penentu terhadap penularan HIV/ AIDS. Termasuk di dalamnya dampak kebijakan-kebijakan pembangunan nasional yang mengakibatkan akses perempuan secara ekonomi dibatasi, terbatasnya peluang kerja bagi perempuan, menyebabkan perempuan migrasi ke kota bahkan ke luar negeri karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di desa dan sebagainya. Dalam bentuk mikro misalnya melakukan analisis terhadap pola hubungan gender yang timpang, relasi kekuasaan laki-laki dan perempuan, mengapa pendidikan perempuan rendah, perempuan menjadi miskin, perempuan menjadi korban kekerasan, perempuan menjadi objek eksploitasi seksual dan sebagainya. Kondisi tersebut merupakan akar permasalahan yang mengakibatkan perempuan rentan terhadap nenyebaran HIV. Dari situ diharapkan penyebaran HIV/ AIDS yang terjadi karena faktor ketimpangan gender, kemiskinan struktural pada perempuan dan sebagainya dapat teratasi

Kesimpulan dan Penutup Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi oleh seluruh komponen masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai moral atau nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama. Mudah-mudahan dengan kebersamaan di antara kita harapan untuk dapat meningkatkan upaya pencegahan terjadinya penularan HIV/ AIDS berjalan dengan lebih baik.[]

Daftar Bacaan Harahap, Syaiful W., Pers Meliput AIDS, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000. Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS 2003-2007. Maria Ulfah Anshor, HIV/AIDS Prevention Through The Religious Approach in Nahdlatul Ulama, Kualalumpur: 5th International Congress on HIV/ AIDS in Asia Pasific, Oct 23-27, 1999. Mukhotib MD, Mengurai Sikap Pesantren Terhadap Isu HIV, Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat NU, 2002 Siyaranamual, R. Siyaranamual, Etika dan Hak Pewabahan HIV/ AIDS, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997. Syahlan dkk, AIDS dan Penanggulangannya: Bahan Bacaan untuk Peserta Didik Keperawatan, Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1997.

19 UN AIDS, Summary Booklet of Best Practices, Geneva: Joint United Nation Programme on HIV/ AIDS (UNAIDS), 1999. Zubairy Djoerban, HIV/ AIDS dan Hak Asasi Manusia, membidik AIDS, Yogyakarta: Galang Press, 2000.

pengharapan dan kebangkitan dengan pola pendekatan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam KASIH. baik manusia dan non-manusia. lebih khusus lagi bagi umat secara individu. teologi penderitaan dan kematian. perlakuan yang tidak berperikemanusiaan serta ketakpedulian terhadap para penderita. "Relasi" tersebut merupakan simpul yang menentukan kualitas kehidupan secara utuh (tubuh. Artinya makhluk ciptaan-Nya diberi ruang untuk bergerak dan bertumbuh dalam kebebasan tetapi yang bertanggung- . yang juga adalah basis masyarakat. relasi antara sesama makhluk hidup.20 OPINI HIV DAN AIDS DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Emmy Sahertian Caretaker Direktur Eksekutif Yayasan PALMA Pendahuluan Berbicara tentang AIDS dari sudut pandang iman Kristen tidak terlepas dari bagaimana pergumulan gereja-gereja menghadapi epidemik AIDS yang telah menghancurkan hidup dari hampir sebagian penduduk bumi ini. Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama melukiskan bahwa semua yang disebut sebagai makhluk hidup selalu berada dalam suatu relasi : Relasi antara Tuhan dan manusia serta makhluk lain. jiwa. Pertanyaan mendasar yang selalu muncul dibenak umat adalah "Mengapa Tuhan Allah mengizinkan virus HIV hidup?" "Apakah AIDS merupakan kutukan Allah kepada manusia yang telah melakukan dosa perzinahan?" Pertanyaan-pertanyaan diatas telah mendorong sebagian besar umat. dan sosial). Teologi Penciptaan. Relasi Allah dengan makhluk ciptaan-Nya adalah relasi yang dinamik. Dasar iman Kristen yang menjadi dasar menyikapi epidemik AIDS adalah : Bagaimana kita memahamai teologi Penciptaan. melalui komisi kesehatannya mengadakan suatu studi teologis mendalam tentang isu HIV/ AIDS agar menjadi pedoman bersama gereja-gereja sedunia. Salah satu cirikhas keilahian Allah adalah setia dalam relasi dengan makhluknya di samping kasih. Opini moral ini tampaknya lebih berbahaya dari virus HIV itu sendiri. menarik garis hitam antara mereka dengan para penderita HIV/ AIDS. isolasi. dan tidak pernah berhenti. Menyadari akan kondisi demikian maka Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Dalam catatan para relawan kemanusiaan ternyata sikap tersebut justru telah melahirkan tindakan diskriminatif. meskipun sering makhluk ciptaan-Nya menghentikan atau murtad. roh. baik manusia dan nonmanusia. tubuh dan seksualitas manusia. Penderita AIDS diposisikan sebagai manusia "pendosa". adil dan berdaulat atas ciptaan-Nya. Relasi yang merupakan inisiatif Allah dengan ciptaannya berjalan secara konstan.

Dalam kerangka inilah maka HIV/ AIDS menjadi bagian dari bentuk penderitaan dunia itu.21 jawab terhadap panggilan hidupnya. Oleh sebab itu upaya keselamatan Allah pun menyentuh masalah-masalah ini. keadilan jender. ketidak adilan. dan penuh cinta kasih. Hal ini mempengaruhi harmonisasi relasi baik antara manusia dengan Allah maupun antar sesama makhluk. dll).3). suatu 'value' yang merupakan identitas manusia itu sendiri. suatu anugerah dari Allah yang menandai keunikan dan kekhususan perempuan dan laki-laki yang diekspresikan dalam hubungan sosial maupun dalam hubungan yang sangat personal atau hubungan intim atau "erotic". pekerja seks dan pemungut cukai. Seksualitas manusia adalah bagian integral dari identitas manusia. Alkitab melukiskan bahwa fungsi sosial seksualitas manusia adalah untuk menjadi mitra dalam mengelola bumi secara adil. lumpuh. Manusia dihadapkan dengan maut dan kematian. Disebut sebagai bumi yang sakit dan membutuhkan penyelamatan atau penyembuhan. pembunuhan. Ada suatu pemahaman dinamis tentang tubuh manusia dan seksualitasnya dan tidak menyangkal bahwa adanya tantangan dan pergumulan dalam mengendalikan kecenderungan yang merusak di mana perlu ditolong dan diselamatkan. jiwa. Namun kenyataannya. kebebasan tersebut tidak dapat dipahami dan dikelola secara bertanggung jawab sehingga berdampak pada kekacauan yang menimbulkan penyakit dan penderitaan. Terjadi penindasan. Manusia laki-laki dan perempuan dalam kebebasannya mengekspresikan melalui berbagai cara yang kudus dan sehat. Dalam relasi yang dinamik inilah maka manusia yang bebas tersebut menjadi berisiko tinggi untuk jatuh ke dalam dosa (Kej. Dalam kondisi yang demikian manusia mengalami penderitaan yang komprehensif (fisik. wadah untuk memuliakan Allah. . sehingga tubuh manusia seyogianya adalah apa yang disebut Paulus sebagai "Bait Allah". Hal ini tercermin dalam sikap Kristus terhadap mereka yang sakit dan yang tertuduh sebagai orang-orang yang menyimpang dari moral agama saat itu (sakit kusta. Pemahaman Tentang Tubuh dan Seksualitas Manusia Alkitab melukiskan bahwa tubuh manusia adalah suatu keajaiban sakral yang membuktikan kebesaran Allah dalam seluruh ciptaanNya. ketimpangan alam yang membuat manusia menderita. Sejak itu bumi dan segala isinya berada pada kondisi yang sangat berisiko tinggi untuk menderita. Dalam hubungan personal atau hubungan intim antara laki-laki dan perempuan yang paling fundamental adalah untuk ekspresi cinta kasih yang paling tinggi dan mendalam. Dalam konteks ekspresi cinta kasih yang mendalam untuk prokreasi ini maka Allah mempercayakan fungsi regenerasi atau penciptaan generasi baru sebagai umat ciptaan Allah. roh dan sosial). melaluinya terjadi prokreasi. Kitab Kejadian melukiskan secara realistik bahwa manusia sebagai mahkota ciptaan dalam kebebasannya selalu memilih jalan yang penuh risiko berujung pada maut atau jatuh ke dalam dosa.

Allah bersentuhan langsung dengan penderitaan dan kematian. mengasuh. juga menjalani tugas profetis yakni menyuarakan Firman Allah untuk menegur dan mengoreksi serta mengasuh moral umat sebagai bentuk tanggung jawab atas panggilan hidupnya yang bebas atau independen. Berbagai upaya dilakukan yakni memanggil dan mengutus utusan-utusan-Nya. Bentuk solidaritas Allah dalam penderitaan manusia yang paling puncak adalah dalam Yesus Kristus. tanpa pamrih. Inilah kerangka dasar sikap Kristiani dalam menghadapi HIV/ AIDS yakni mengambil pola pelayanan Kristus. maut dikalahkan melalui kebangkitan-Nya. Allah menggembalakan umat-Nya. melawat. Bersama para murid pilihan la mengunjungi. menopang. Gereja dalam kapasitas sebagai komunitas peduli dalam rangka merespon epidemik HIV dan AIDS : . Allah merawat umat-Nya. tetapi resiko dari kebebasan manusia yang hidup dalam dunia yang menderita dan sakit. khususnya mereka yang sedang terpuruk dalam belukar kehidupan. suatu komunitas peduli yang memulihkan sesama yang melintas batas budaya. Pengharapan dan Kebangkitan Bagi pemahaman Kristiani. Bagaimana menjadi "the caring/ healing community" bagi sesama yang sedang terpuruk dalam belukar. para nabi dan para hakim untuk mengoreksi. melayani dan mengampuni semua orang yang sedang dalam penderitaan. merawat dan menyembuhkan. Dengan demikian mereka yang ditemuiNya memperoleh hidup yang lebih bermakna dan bermartabat. Allah adalah Allah pemelihara dan penuh kasih setia. Dalam Kristus. Dalam Kristus.22 Teologi Penderitaan dan Kematian. Manusia akan selalu terjebak dan dijebak dalam lilitan itu. Dalam terang pemahaman ini maka World Council of Churches menyerukan bahwa: A. Melalui Kristus. Dalam Kristus. Ia membuka jalan keselamatan bagi manusia dan kemudian mendidik umatnya untuk kembali ke jalan yang benar (bertobat). Hal yang paling nyata adalah tindakan solidaritas Allah terhadap mereka yang menderita. Disini Yesus mengembangkan pola pelayanan seorang gembala: membimbing. Mereka merupakan "the caring/ healing community". agama. Mereka menjalani tugas imamat yakni menjadi penghubung antara Allah dan CiptaanNya. kasih dan pengampunan Allah menjadi nyata. para imam. Hal itu dimanifestasikan melalui tindakan keselamatan kepada manusia. status sosial bahkan moral. menegur dan mengasuh ciptaan-Nya. mendamaikan. Melalui Kristus. Dalam kerangka pemahaman iman ini maka epidemik HIV/ AIDS bukanlah kutukan Allah. Dan untuk mengeluarkannya dari belitan tersebut hanyalah kasih dan pengampunan Allah sajalah yang sanggup mengalahkan maut dan membangkitkan manusia dari keterpurukannya. Oleh karena itu Ia tetap memelihara relasi dengan makhluk-Nya.

Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi pada basis pemahaman teologinya dalam rangka merespons tantangan HIV/ AIDS Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi masalah-masalah etik yang timbul karena pandemik ini. sebab penyelamatan Allah secara holistik menyangkut tubuh dan berbagai dimensinya. yang menghadapi kesulitan menentukan keputusan etis dalam hal pencegahan dan perawatan.23 Meminta perhatian gereja-gereja untuk mengembangkan suatu iklim dan tempat yang penuh cinta kasih. penerimaan. mempromosikan kondisi yang memungkinkan diskusi terbuka dalam rangka menanggulangi penyebaran informasi yang salah yang bisa mengakibatkan reaksi takut. B. Gereja tidak boleh lagi tabu dalam memberikan informasi dan edukasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi pada kelompok umur dengan pendekatan dan metodologi yang bertanggung jawab. bukan hanya rohani saja. Meminta perhatian gereja untuk memberikan perhatian khusus bagi bayi dan anak-anak yang hidup dengan HIV/ AIDS dan mencari jalan keluar dalam membangun lingkup yang mendukung. status sosial maupun keberadaan personal seseorang.suku. Meminta perhatian gereja supaya terlibat aktif dalam berbagai diskusi di masyarakat mengenai isu-isu etik yang muncul karena HIV/ AIDS. khususnya yang melayani dibidang kesehatan. mental. bagaimana menginterpretasikannya ke dalam konteks lokal dan menawarkan panduan bagi mereka yang menghadapi kesulitan dalam menentukan pilihan. Kesaksian gereja dalam hubungannya dengan masalah langsung HIV/ AIDS: Meminta perhatian gereja-gereja untuk melayani sebaik mungkin mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS. Meminta perhatian gereja untuk membantu melindungi hak-hak mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS. dan dukungan bagi mereka yang rentan atau yang telah terkena HIV/ AIDS tanpa memandang latar belakang agama. mengembangkan dan mempromosikan HAM dari ODHA. rohani dan sosial. dan mendukung warga jemaatnya. Meminta perhatian gereja untuk meningkatkan advokasi dan dukungan bagi upaya yang telah dilakukan pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang ada baik masalah sosial maupun medis. Kesaksian Gereja sehubungan dengan masalah yang berkepanjangan dan faktor-faktor yang dapat memberikan pengharapan . mempelajari. Meminta perhatian gereja untuk memberikan informasi yang akurat tentang HIV/ AIDS. C.

keluarga dan iman Kristen. Malaysia. serta mengembangkan program yang efektif dalam hal perawatan. penurunan adiksi. AIDS Working Group WCC. Report of LWF Pan Africa Leadership Consultation on HIV/ AIDS. Dan 45: 35-36: “Maka la akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini. mengakui bahwa ada hubungan antara AIDS dan kemiskinan. May. gereja-gereja perlu bekerja sama dengan kelompok perempuan di mana selama ini mereka berjuang untuk hak dan martabat mereka serta mengaktualisasikan keterampilan mereka secara maksimal. Peran Gereja menghadapi AIDS. relasi dengan orang lain. Report of LWF Youth Consultation. 1990 3. November. ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku (Mat. Geneva.24 Meminta perhatian gereja-gereja untuk menyadari. Meminta perhatian gereja-gereja untuk membina dan melibatkan kaum muda dan para pria dalam rangka pencegahan penyebaran HIV/ AIDS Meminta perhatian gereja-gereja untuk memahami secara penuh tentang anugerah seksualitas manusia dalam konteks pertanggung jawaban personal. ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian. Meminta perhatian gereja untuk memberi perhatian khusus pada situasi yang dapat memperluas kerentanan terhadap AIDS seperti isu pekerja migran. terjemahan atas publikasi WCC: Facing AIDS. Lebih khusus lagi. kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 2001 4. The Challenge. ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan. pengungsian darurat dalam jumlah besar serta isu aktifitas seks komersial. ketika Aku haus kamu memberi Aku minum. Jakarta. Nairobi. Guide to HIV/ AIDS Pastoral Counseling. 25: 35-36 dan 45: 35-36: “Sebab ketika Aku lapar. Palma & PGI. Referensi: 1. Meminta perhatian gereja-gereja untuk memperhatikan pandemik penyalah gunaan NAPZA dan bagaimana peranannya dalam penyebaran HIV/ AIDS. The Churches'Response. 2002 . 1997 2. kamu memberi Aku makan.” Suatu identifikasi empatis bersama mereka yang paling hina dan menderita sebagai etika pelayanan Kristiani yang berporos pada Kristus. Penutup Akhirnya saya menyunting apa yang dikatakan Kristus kepada para muridNya sebagai basis AIkitabiah pemahaman Kristiani dalam menyikapi HIV/ AIDS yaitu Mat. 25: 35-36). rehabilitasi dan pencegahan. ketika Aku sakit kamu merawat Aku. dan mengadvokasi upaya promosi keadilan dan pembangunan yang berkelanjutan.

25 5. Jakarta. Spritia Foundation. Documentation of 'Human Rights Violations against People Living with HIV/ AIDS in Indonesia. Catatan Pengembangan Kegiatan Biro Pemuda PGI untuk HIV/ AIDS dan Narkoba. Batam. Report of LWV Asian Leadership. . 2004 8. Dokumen penyadaran dan pelatihan pen-cegahan dan penanggulangan HIV/AIDS Yayasan PALMA. Rencana Kerja Kelompok Kerja HIV/ AIDS Biro Pemuda PGI. . 1996 7. 1996-2004-07 9. Jakarta. Jakarta. Consultation on HIV/AIDS. December 2003 6.Iakarta. A Peer-Group Documentation Project.

26 OPINI HIV/ AIDS DAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF KATOLIK P Riana Prapdi (Pastor) Pengantar Kasus-kasus HIV/ AIDS (Human Immuno deficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome) dan narkoba telah menjadi epidemik di tengah masyarakat saat ini. Gelombang ketiga dimulai awal tahun . persoalan narkoba di Indonesia telah memasuki gelombang ketiga. Persoalannya bukan sekedar membongkar pemahaman yang keliru mengenai HIV/ AIDS dan narkoba tetapi menyangkut pola dan gaya hidup yang telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kita perlu mengkaji pola dan gaya hidup tersebut agar generasi muda tidak menjadi 'generasi yang hilang'. pandangan mengenai keluhuran martabat manusia dan apa yang bisa kita buat. Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus-menerus. epidemik narkotika terjadi pada tahun70-an. Tetapi yang lebih parah adalah kasus ini telah melibatkan generasi muda kita dan sikap diskriminatif terhadap para pengguna narkoba dan orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Dalam paparan singkat ini. ditandai dengan penggunaan dan penyalahgunaan ganja. Pada pertengahan tahun 1995 dengan masuknya heroin ke Indonesia terjadilah gelombang kedua epidemik narkotika di Indonesia. Hal ini bukan saja menimbulkan kekhawatiran mendalam tetapi juga berkaitan dengan ketidakpedulian masyarakat tentang HIV/ AIDS dan narkoba karena ketidaktahuan. Menurut Al Bachri Husin. Ini berarti setiap minggu 1 berita. HIV/ AIDS dan Narkoba : Apa Masalah Pokoknya ? Sekilas Data Hampir setiap hari mass media menampilkan berita kasus HIV/ AIDS dan narkoba. Gelombang pertama. Tidak sedikit pula orang masih mengkaitkan masalah ini dengan mitos-mitos tertentu. Kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba tidak berdiri sendiri tetapi mesti ditempatkan dalam kerangka usaha terus-menerus membangun 'budaya kehidupan'. belum harian lain. Harian Kompas saja selama bulan September 2004 telah memuat lebih dari 4 kali berita mengenai hal tersebut dalam berbagai kolom. saya akan coba sajikan kepedulian agama-agama terhadap HIV/ AIDS dan narkoba dari sudut pandang Katolik. Akan kita lihat identifikasi pokok permasalahan HIV/ AIDS dan narkoba. Adalah tantangan bagi kita semua untuk mengambil sikap secara bijaksana dan konkret mengimplementasikannya dalam gerakan saling bahu-mambahu.

tidak bertenaga. suka mengantuk. mencuri. kecenderungan untuk menambah takaran/dosis sesuai dengan toleransi tubuh hingga overdosis atau keracunan. Menurut Dadang Hawari. Mei/1997). menipu dan bahkan menjual diri demi mendapatkan narkoba. dan penggunaan dosis yang berlebihan akan mengakibatkan rasa gembira yang berlebihan dan tidak wajar (euforia). telah muncul persoalan baru yakni HIV/ AIDS dan Hepatitis C. Pada tahun 2002 kokain yang berhasil disita di bandara Soekarno-Hatta sebesar 2. diajak teman. heroin dan kokain digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan obatobatan demi menunjang kesehatan manusia seutuhnya. yaitu keinginan yang tidak tertahankan terhadap zat yang dimaksud. Tingkah laku mereka cenderung aneh. dari 32. Penggunaan jarum suntik secara bersama-sama merupakan cara penularan HIV/ AIDS yang cukup tinggi. bersenang-senang. dapat mengalami gangguan mental organik. prevalensi mereka yang terinfeksi HIV mencapai 25-50%.314 gram. dan ketergantungan secara fisik. rasa sedih yang berlebihan (disforia). Tahun 2004 sudah ada penyitaan 8 kilogram kokain di Bandara SoekarnoHatta (Kompas. apatis. Sebenarnya ganja. Hidupnya sangat tergantung pada narkoba.27 2003 dengan masuknya kokain ke Indonesia. Jakarta Timur. Mereka yang menggunakan narkoba. Sejak tahun 1971 pemerintah telah membentuk Badan Koordinasi Penanggulangan Penyalahgunaan dan peredaran Obat Gelap terlarang (Bakolak Inpres No 6/1971). misalnya putauw. pada tahun 2003 meningkat menjadi 28. Sianturi.000 pengguna jarum suntik. Tetapi badan ini tidak sanggup membendung gelombang penyelundupan gelap ganja. 3/9/2004). narkoba dapat menimbulkan ketagihan hingga ketergantungan karena zat ini memilki 4 sifat. di antara 27.556 gram (Kompas. baik dalam fungsi di sosial maupun dalam bekerja (Popular. Bila seseorang menjadi pecandu ia mempunyai kecenderungan untuk berbohong. Mereka juga mengalami kelemahan. Mei 1997). Toga D. heroin maupun kokain ke Indonesia. ketergantungan secara psikis. Sementara penjaja seks. bicara cedal dan sulit berkonsentrasi. Mulai dari sekedar mencoba-coba. Bisa juga malah sebaliknya. relaksasi menghilangkan stres. Tetapi penyalahgunaan obat-obatan tersebut telah menyeret begitu banyak orang ke dalam jurang kehancuran. Berbagai alasan menjadi penyebab mereka mulai berkenalan dengan obat-obatan itu sampai kepada ketergantungan.000 . Indonesia menjadi surga bukan hanya bagi pecandu-pecandu narkotika dan psikotropika tetapi juga bagi bandarnya sebab memberikan keuntungan 100% (Popular. sampai kemudian menjadi pengguna (karena dipengaruhi teman) dan akhirnya menjadi pecandu yang tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan pada narkoba. 14/ 9/ 2004). Sementara penyalahgunaan narkoba yang menimbulkan berbagai persoalan lain seperti kecanduan. Menurut Koordinator Program Kesehatan Warga dan Puskesmas Jatinegara. kekerasan dan perilaku seks bebas belum teratasi.

Sebagian besar orang yang tertular virus itu tidak menyadari bahwa mereka sedang tertular. kita perlu menempatkan mereka yang terkena HIV/ AIDS sebagai pribadi yang utuh dengan segala dimensinya. Sebenarnya kasus HIV/ AIDS pertama kali secara resmi ditemukan tahun 1981 di Amerika Serikat tetapi para ahli meyakini bahwa pada saat itu banyak manusia di seluruh dunia yang sudah terinfeksi HIV. Papua dengan 1.864 kasus HIV dan 1. Selang selama 6 bulan kemudian terjadi peningkatan yang cukup mencolok yakni 4. memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan.392 atau 31. Virus ini juga mempunyai kemampuan untuk menyamarkan genetiknya menjadi genetik sel yang ditumpanginya. Kasus-kasus HIV/ AIDS semakin meningkat. termasuk 1 juta anak.389 kasus.371 kasus AIDS.7% adalah kelompok usia 15-29 tahun yang terdiri dari kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 176 kasus dan kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 1. prevalensinya 15-25% (Kompas.036 kasus. Refleksi Berdasarkan data-data tersebut kita dapat menarik beberapa keprihatinan pokok yang berkaitan dengan saudara kita yang terkontaminasi oleh HIV/ AIDS dan narkoba.225 kasus (Kompas.525 kasus AIDS. terdiri dari 2. melalui cairan kelamin (air mani. Sementara itu kasus HIV/ AIDS jika dilihat dari kelompok umur. Bali 352 kasus. Reuben Granich-Jonathan Mermin diterbitkan oleh Insist Press Yogyakarta tahun 2003.389 kasus. Sel darah putih ini termasuk limfosit yang disebut T-4 sel atau CD-4. dan Jawa Barat 248 kasus. 1. Mereka sebenarnya adalah korban. Saudara kita yang terkena HIV/ AIDS sadar atau tidak mengalami proses dehumanisasi karena kesalahpahaman. Diperkirakan pada tahun 1980 ada sekitar 100.000 orang di seluruh dunia terinfeksi HIV.091 kasus dengan perincian 2720 kasus HIV dan 1. Sekarang.5-5% dan di kalangan narapidana. cairan vagina dan hubungan seksual) dan melalui keturunan (dari ibu ke anak). transfusi darah dan kontak langsung dengan darah orang yang mengidap virus HIV). 3/9/2004). hidup dengan HIV. 2 . prevalensinya 0. yang sungguh mengharapkan bantuan. Jawa Timur 495 kasus. Virus ini menyerang salah satu jenis sel darah putih yang bertugas untuk mengobati dan menangkal infeksi. lebih dari 30 juta orang.443 orang.22-23 dalam Ancaman HIV dan Kesehatan Masyarakat oleh Bdk. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian menyebabkan AIDS. dari 15. entah karena kesalahan mereka sendiri atau bukan. 2 Cara penularan HIV melalui tiga media: melalui kontak darah (pemakaian jarum suntik yang tidak steril dan secara bergantian. Pertama.28 orang. Dari 4. 10/9/2004). Riau 291 kasus. Propinsi yang paling banyak ditemui kasus HIV/ AIDS antara lain DKI Jakarta dengan jumlah kasus 1. stigmatisasi dan diskriminasi.219. Bulan Desember 2003 ada 4. tetapi pada saat ini yang mereka butuhkan bukan khotbah tetapi pertolongan untuk mengembalikan Lihat hal.

Akar terdalam dari peperangan ini adalah surutnya kesadaran akan Allah dan akan manusia. 6. Paus menegaskan :“Manusia dipanggil kepada kepatuhan hidup. Pada posisi seperti itu semua pihak terpanggil untuk membela keluhuran martabat pribadi manusia sebab manusia adalah 'aktor' dalam membangun 'budaya kehidupan'. Pada saat yang sama HIV/ AIDS dan narkoba adalah ancaman serius bagi kehidupan yang manusiawi. tanpa perlindungan bahkan dikucilkan. demi pembanguan peradaban dan cinta kasih yang sejati. Keluhuran panggilan adi-kodrati ini mewahyukan keagungan dan nilai tak terhingga hidup manusiawi bahkan pada tahap yang sementara ini. sadar atau tidak mereka menjadi objek dari segala macam bentuk penyalahgunaan obat-obatan tanpa kebebasan mengatakan tidak. Kedua. yang jauh melampaui dimensi-dimensi hidupnya di dunia. Sistem seperti itu mesti mendapatkan perhatian dalam penanganan masalah ini secara tuntas agar jangan semakin banyak generasi muda kita yang hilang. martabat dan hidupnya. Jakarta tahun 1996. khususnya dalam perkara Lihat hal. Mereka yang membiarkan diri dipengaruhi oleh iklim itu akan mudah terjebak dalam lingkaran setan yang menyedihkan : bila kesadaran akan Allah hilang. 41 oleh Paus Yohanes Paulus II. 4 Ibid hal. Sebaliknya pelanggaran sistematis hukum moral. ciri iklim sosial dan budaya yang didominasi oleh sekularisme. Dalam ensiklik (ajaran resmi gereja). Mereka yang terinfeksi HIV. terutama bila kehidupan itu lemah dan tanpa perlindungan. Seakan-akan ada suatu sistem dan struktur yang menempatkan manusia sebagai objek dan bukan subjek yang bertanggungawab atas hidup dan segala keputusan yang diambilnya. 4 Ada semacam perang antara 'budaya kehidupan' dan 'budaya kematian'. Keluhuran Martabat Manusia Landasan Ajaran Gereja Pada saat ini disadari bahwa secara luar biasa ancaman-ancaman semakin bertambah dan semakin gawat bagi kehidupan manusia dan bangsa-bangsa. penderita AIDS dan pecandu narkoba adalah orang-orang yang berada pada posisi paling lemah. dan berusaha menjamin. sebab terdiri dari partisipasi dalam kehidupan Allah sendiri.” 3 Oleh karena itu Paus mendesak untuk bersama-sama dapat menyajikan kepada dunia kita ini tanda-tanda baru pengharapan. ada kecenderungan pula untuk kehilangan kesadaran akan manusia. dan supaya kebudayaan baru hidup manusiawi akan dimantapkan.2 dalam Evangelum Vitae (Injil Kehidupan) seri Dokumen Gerejawi No. berkaitan dengan ancaman yang begitu serius terhadap keluhuran martabat manusia. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.29 keluhurannya sebagai manusia. Istilah 'budaya kehidupan' dimunculkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam berbagai kesempatan. supaya keadilan dan solidaritas makin berkembang. 3 . tetapi bersama-sama mencari cara-cara yang bijaksana untuk bertindak.

Kita masing-masing wajib menyediakan diri untuk melayani hidup. Di dalam keluargalah. Hubungan antar manusia sangat dimiskinkan karena sangat materialistis. 6 Ketiga. Dalam konteks tersebut.95 pada Membangun Masyarakat Basis Yang Berhati Nurani oleh Yong Ohoitimur dalam Spektrum No. setiap orang mengalami pola asuh dan pengalaman eksistensial sebagai manusia. Dokumentasi dan Penerangan KWI . Agamaagama tidak lagi hidup! Kedua. yang oleh Tuhan dipanggil 'menjadi sesama' bagi setiap orang “Panggilan dan lakukanlah itu”. Lihat hal. . dan masih direduksi lagi dalam aneka manipulasi. Ada kecenderungan penghayatan agama berhenti pada simbol-simbol keagamaan. Keberadaan manusia diukur berdasarkan 'apa yang mereka miliki. tempat Allah menuliskan hukum-hukum-Nya. Itu sesungguhnya suatu tanggungjawab semua orang yang meminta kegiatan terpadu dalam kebesaran jiwa oleh semua anggota dan segala pelaku. agama menjadi suatu kategori sosial-budaya (bahkan politik) yang kosong. Obor Jakarta tahun 1993. Akan tetapi komitmen umat itu tidak mengesampingkan atau mengurangi tanggung jawab masing-masing perorangan. Alam yang semula adalah 'mater' ( ibu. Akibatnya. nilai-nilai kebenaran agama tidak mewujud dan menjadi bagian dari identitas kehidupan. Padahal ‘di lubuk hati nuraninya' manusia menemukan hukum. Gaudium et Spes 16. Hati nurani tidak dipahami sebagai inti manusia yang paling dalam. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik. tempat pendidikan hati nurani pertama-tama dan utama adalah keluarga. 5 6 Konsili Vatikan II. Artinya. kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba dapat mengungkapkan beberapa hal yang lebih mendasar. perbuat dan hasilkan'.3 tahun XXX/ 2002. ibu pertiwi) sebagai sumber dan pemangku kehidupan. “konsekuensi langsung dari krisis identitas tersebut ialah kekosongan hati nurani. dan untuk menghindari yang jahat. Demikian juga peranan suara hati sebagai intisari keberadaan manusia menjadi tak bermakna. kini diturunkan menjadi 'materia'. Namun pada saat yang sama sendi-sendi kehidupan keluarga mengalami kekosongan dahsyat. 5 Keprihatinan Pastoral Ancaman serius dari HIV/ AIDS dan narkoba di satu pihak dan panggilan luhur untuk membela martabat manusia di pihak lain menimbulkan keprihatinan yang mendalam akan terciptanya tatanan kehidupan yang manusiawi (baca: 'budaya kehidupan'). yang tidak diterimanya dari diri sendiri. melainkan harus ditaatinya. Kalau kesadaran akan Allah disingkirkan maka segala sesuatu menjadi tak bermakna. menghasilkan semacam proses makin gelapnya kemampuan mengenai kehadiran Allah Penyelamat yang hidup. dan sumber dari cinta dan perbuatan-perbuatan baik”.30 serius sikap hormatnya terhadap hidup manusiawi serta martabatnya. agama-agama sedang mengalami krisis identitas yang mendalam. Pertama.

waria. Hak asasi mereka juga sama dengan kita tak berbeda sedikitpun! Oleh karena itu sikap diskriminatif adalah sikap yang berlawanan dengan dirinya sendiri. . pun harus dipandang secara arif. bukan budaya kematian.31 Kesibukan orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup serta membanjirnya arus globalisasi telah membuat keluarga kehilangan 'hak'nya untuk mendidik hati nurani setiap anggotanya. mental (mengembalikan kepercayaan diri sebagai pribadi yang berharga). Apa Yang Bisa Kita Buat? Pemahaman Dasar Perlu disadari bahwa setiap orang adalah bermartabat karena diciptakan dan dikehendaki untuk selamat oleh Allah. sosial (kemampuan membangun relasi yang manusiawi) dan spiritual (pengalaman akan Allah). pelaku seks bebas. yakni berkaitan dengan fisik (pembebasan dari ketergantungan fisik). dll. Aktor utama dalam pembangunan budaya kehidupan adalah manusia yang berkepribadian sehat. Mereka tetap manusia biasa yang memiliki hak dan kewajiban. Dengan munculnya kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba. Oleh karena itu pastoral meliputi empat hal. Orang-orang seperti ini kita pandang sebagai sesama yang amat membutuhkan pertolongan dan pendampingan intensif. Kepada mereka tidak bisa begitu saja dikenakan tudingan sebagai sumber penularan HIV atau dicap sebagai kelompok yang mesti disingkiri. kita berdiskusi masalah moral untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Perbedaannya: sistem kekebalan tubuh mereka telah terkontaminasi dengan virus penyebab AIDS dan kebebasan mereka telah dirampas oleh narkoba. keluhuran martabat manusia dan panggilan akan keselamatan dikaburkan. Selain itu kelompok orang yang berperilaku resiko tinggi seperti penjaja seks komersial. Berhubungan dengan kelompok orang-orang seperti ini. homoseks. seperti kita. Dalam konteks itu. perlu kita pahami betul bahwa orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) dan mereka yang mengalami ketergantungan pada narkoba adalah manusia biasa. Karena itu bersama dengan siapapun juga manusia membangun kehidupan yang manusiawi demi bonum commune (kesejahteraan umum). Manusia mendapat tantangan yang serius untuk membangun budaya kehidupan. Arah Pastoral Pendampingan Pastoral adalah segala usaha penuh cinta kasih kepada sesama terutama yang berada dalam kondisi tidak menguntungkan agar mampu berkembang sebagai manusia yang bermartabat di hadapan Allah. apalagi mengenakan stigmatisasi pada mereka dan mengkaitkannya dengan mitos kutukan.

tanpa membiarkan kesalahan yang mungkin dijalankan oleh mereka. Dalam kondisi masyarakat sekarang ini. 7 Arah pastoral pendampingan secara umum berkaitan dengn kasus HIV/ AIDS dan narkoba ditujukan kepada dua hal.32 Kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba mengubah kecenderungan manusia dari 'mater' sumber kehidupan menjadi 'materia'. yang telah ditiadakan oleh HIV/ AIDS atau penggunaan narkoba. sumber-sumber daya pribadi. yakni sebagai penabur dan pelaku budaya kehidupan. Ketiga. Kedua.94 dalam Piagam Panitia Kepausan untuk Reksa Pastoral Kesehatan. 7 . setiap orang beriman mesti terlibat lebih penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu dibutuhkan solidaritas global untuk mengembalikan martabat manusia sebagai pembangun kebudayaan hidup. melalui reaktivasi mekanisme-mekanisme kehendak yang penuh kepercayaan. Piagam bagi Pelayanan Kesehatan. membantu mereka bangkit lagi dan mengembangkan sebagai subyek yang aktif. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Pendidikan menjadi pintu gerbang perubahan untuk membina generasi muda yang bernurani dalam masyarakat plural. mengembangkan cara berpikir dan hati nurani yang baru. diarahkan kepda cita-cita yang aman dan luhur. percepatan untuk kedua hal di atas dicapai dengan pendidikan sebab pendidikan berarti membudayakan kasih. Pertama. Oleh karena itu penyembuhannya tidak dapat dicapai melalui cara yang diterapkan pada orang yang berbuat kesalahan etis atau melalui hukum yang represif. melainkan melalui proses rehabilitasi. Karena itu sangat penting usaha-usaha untuk mengenal orang-orang dan memahami dunia batin mereka. Jakarta tahun 1994. mengantar mereka kepada penemuan ulang martabat mereka sebagai pribadi. Lihat hal. Disini multikultural dimengerti sebagai sikap hidup atau pandangan dasar dinamika kehidupan bersama yang bebas dari diskriminasi dan rintangan-rintangan yang bisa menghambat individuindividu dari berbagai latar belakang kultural untuk mendapatkan kesempatan pengembangan diri serta untuk berpartisipsi dan berkontribusi dalam masyarakat secara adil dan setara. tindakan yang santun. Keterlibatan itu terfokus pada transformasi sosial dan kultural yang efektif. Dalam masyarakat seperti itu identitas setiap agama tidak berhenti pada simbol melainkan pada sikap hidup. proses yang mendukung pembebasan dari kondisi mereka serta reintegrasi mereka. Mereka hidup dalam kondisi 'perbudakan yang berat' dan mereka harus dibebaskan dari padanya. Pembentukan hati nurani bangsa yang sehat secara manusiawi menjadi tugas penting dan mendesak untuk menyelamatkan masyarakat dari kondisi yang koruptif dan merusak. terciptanya masyarakat basis multikultural yang berhati nurani.

seminar. mendapat perhatian khusus karena di dalam keluargalah kekuatan untuk menangkal semua kasus itu mulai ditanamkan. diantaranya kerjasama antara komisi kesehatan dengan kaum muda menyelenggarakan diskusi. Misalnya Pusat Rehabilitasi di Yogyakarta. Suatu Strategi? Strategi yang bisa dipikirkan adalah menyiapkan paroki atau komunitas-komunitas umat beriman sebagai 'keluarga kedua' dimana setiap orang dengan bebas datang dan memperoleh . Bogor. Bidang pelayanan pendampingan untuk para pecandu dan orang dengan HIV/ AIDS dilakukan juga dengan pastoral counselling. kursus dan ceramah mengenai narkoba dan HIV/ AIDS. Bentuk pendampingan dilakukan pula dengan melibatkan para pecandu dalam berbagai kesempatan kegitan gereja supaya mereka pun mampu hidup sewajarnya dalam komunitas umat beriman. Dari keluarga perlu sejak dini ditanamkan pendidikan seksualitas yang benar. Artinya mereka tidak dipisahkan dari keluarga sebab isolasi justru bisa menimbulkan kesan diskriminasi serta memungkinkan munculnya bahaya pembentukan komunitas baru diantara pecandu. Selain keluarga. support and treatment'. Pemisahan seksualitas dari kehidupan suami istri berarti menghancurkan keluhuran keluarga dan masuk dalam arus hedonisme. perawatan. diupayakan pula membangun jaringan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk terlibat dalam berbagai penanganan konkret seperti advokasi dan pemahaman secara komprehensif. keluarga sebagai pusat kehidupan. rumah sakit dan lain-lain. Jawa Tengah. Sebab seksualitas merupakan unsur tak terpisahkan dari keluarga. pendampingan psikologis sosial dan spiritual. juga dilakukan pendampingan terhadap para dokter. Pelayanan perawatan kepada para pecandu narkoba ditempuh melalui sistem rujukan serta pelayanan kesehatan yang holistik. Selain pendampingan kepada para penderita. Sebagai contoh semua pasangan calon penganten yang akan menikah di gereja wajib mengikuti kursus perkawinan. Dalam bidang pencegahan melibatkan sekolah-sekolah. Jawa Timur dan Medan. Selain itu.33 Upaya-Upaya Gereja Katolik Gereja berpihak kepada para korban penyalahgunaan narkoba dan penderita AIDS. Selain itu. Jakarta. Dalam kesempatan seperti itu dipromosikan kesetiaan pada pasangan dan perilaku seks yang sehat serta bermoral. Jawa Barat. perawat dan konselor lain dalam mewujudkan 'care. Bidang yang diusahakan untuk menangani kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba meliputi pencegahan. Keberpihakan itu diwujudkan dalam berbagai bidang usaha untuk menggapai permasalahan HIV/ AIDS dan narkoba secara serius. Bali. kevikepan dan keuskupan). paroki juga menjadi ajang bagi usaha-usaha pencegahan. kelompok-kelompok kerja dari tingkat nasional maupun lokal (paroki.

Rourke mengatakan bahwa ia tidak bisa mengingatnya lagi. yaitu nama seorang kepala sekolah menengah pada saat mereka belajar di sekolah itu. Dia hanya tersenyum dan mengatakan: “Rasanya saya masih mengingat mereka semua dan masih mencintai mereka seperti dulu sewaktu mereka masih remaja! Ah. Mereka meramalkan hampir pasti 90% dari remaja itu akan berurusan dengan polisi dan penjara di kemudian hari. Ia pun menolongnya dengan tongkat. tongkat itu patah. Ny. Dua puluh tahun kemudian seorang Sosiolog lain kebetulan membaca karya tulis para mahasiswa tentang para remaja di daerah kumuh di kota Baltimore itu. Mahasiswa itu harus menganalisa situasi remaja itu dan coba meramalkan masa depan mereka. Ia menolong tetapi tangannya tak mampu menggapai orang itu. Para mahasiwa berhasil menemui 180 dari 200 orang mantan remaja daerah kumuh Baltimore tersebut. mereka selalu menyebutnyebut satu nama. O'Rourke. Apa daya ketika hampir terangkat. Lalu para mahasiswa berusaha untuk mencari tahu mengapa keajaiban itu bisa terjadi. Komunitas yang demikian dapat mengubah orang menjadi lebih santun dan manusiawi. Hasil wawancara mereka dengan orang-orang itu sungguh mencengangkan. Lewat pula seorang rabi. Dalam wawancara dengan 180 orang yang sudah hidup sukses itu. Kebetulan ada pejalan kaki lewat dekat lubang itu. betapa menyenangkan anak-anak itu!” Penutup Alkisah. Namanya Ny. Tak berapa lama lewat pula seorang dengan tongkat. Ia menugaskan mahasiswanya untuk membuat penelitian berhubungan dengan hal itu.34 kesegaran hidup manusiawi. Ia ingin mengetahui apakah ramalan dalam karya tulis itu sudah menjadi kenyataan. ada seorang yang terperosok ke dalam lubang. Analisa situasi remaja dan ramalan tentang masa depan mereka itu harus dituangkan dalam karya tulis. Kepala sekolah itu mempunyai andil besar untuk kesuksesan mereka. “Seorang guru besar Sosiologi (John Hopkins) pernah menugaskan mahasiswanya untuk mengadakan penelitian pada kalangan remaja di suatu daerah kumuh di kota Baltimore. hanya 4 orang yang pernah berkenalan dengan penjara. Karya tulis dari hampir semua mahasiswa memaparkan tentang situasi yang menyedihkan dari para remaja di daerah kumuh itu. Sekarang sudah pensiun dan tinggal di panti jompo! Ketika para mahasiswa menemuinya dan menanyakan apa saja yang telah dibuatnya sehingga hampir semua anak didiknya sukses dalam hidup. Dia mendengar rintihan orang itu dan masuk ke lubang lalu menyuruh naik lewat pundaknya sambil berkata: “Pergilah dengan damai!”[] . Dengan menyesal dia pergi. Ramalan dari para mahasiswa 20 tahun lalu itu ternyata jauh meleset. Orang itu berteriak minta tolong. Hampir semua mantan remaja itu sukses dalam hidupnya.

anggota keluarganya. melebihi penyakit apa pun. juga dialami oleh ODHA sendiri. . dan melalui hubungan seksual yang tidak terlindung dan berganti-ganti pasangan. jumlah penduduk yang terserang terus meningkat dengan pesat. Dari kalangan agama sendiri. Ini karena penularan HIV sebagian besar terjadi melalui penggunaan alat suntik yang tidak steril oleh para pengguna obat. serta masyarakat luas.35 OPINI BUDDHA DHARMA & HIV/AIDS Hudoyo Hupudio.P. tanpa ada tandatanda surut. Sebagai akibat dari persepsi-persepsi yang keliru tersebut. termasuk Indonesia. sering kali terjadi para pemuka agama menambah stigmatisasi dan diskriminasi tersebut dengan menekankan “dosa” yang dianggap telah dilakukan oleh para ODHA. para ODHA selalu menghadapi berbagai bentuk stigmatisasi dan diskriminasi dalam kehidupannya sehari-hari. di banyak wilayah di dunia. sosial. mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan fisik. spiritual dari Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA). Tulisan ini bermaksud untuk merenungkan apa yang dapat disumbangkan oleh Agama Buddha (Buddha Dharma = ajaran Buddha) untuk mengurangi masalah dan meringankan penderitaan dari berbagai pihak tersebut di atas. Malah sebaliknya. masyarakat di sekitarnya. Persepsi-persepsi seperti ini selain meluas di kalangan masyarakat. Seruan untuk “bertobat” sering digunakan untuk memberikan stigma dan mendiskriminasikan para ODHA. Individu Seorang yang dinyatakan terinfeksi HIV akan mengalami goncangan mental yang amat hebat. dan anggota keluarganya yang mendampingi dan merawatnya. mental. Ini disebabkan karena penyakit HIV/ AIDS dilihat sebagai penyakit yang “tidak ada obatnya” dan “selalu berakibat fatal” serta adanya persepsi bahwa pengidap HIV/ AIDS adalah orang yang “bermoral bejat”. termasuk di Indonesia.H Pensiunan Departemen Kesehatan dan Wakil Direktur ASA/FHI Pendahuluan Penyakit HIV/ AIDS telah melanda seluruh dunia. M. HIV/ AIDS.

maka pada gilirannya. tidak terbentuk. Untuk menghindari hal itu. ia akan berupaya mengakhiri loba. melainkan telah “bebas” darinya. Manusia yang mulai menyadari hakekat dari alam dan kehidupan ini yakni anicca. Bagaimanakah keadaan batin seorang arahat. dan 'tidak ada sesuatu yang abadi dalam diri' (anatta. ego) yang diliputi ketidaktahuan dan ingin hidup secara abadi. 'tidak memuaskan' (dukkha). Manusia yang tidak mengenal dan menyadari hakekat kehidupan tersebut diatas akan terusmenerus berada dan tunggang-langgang di dalam roda kehidupan yang terus berputar tanpa awal tanpa akhir (samsara). manusia yang tidak lagi memiliki kesadaran individual itu? Sang Buddha Gautama hanya menyatakan: “Ada sesuatu yang tidak dilahirkan. Apakah yang dapat disumbangkan Agama Buddha (Buddha Dharma) di dalam situasi masyarakat yang penuh penindasan dan penderitaan seperti ini? Agama Buddha (Buddha Dharma) Sang Buddha Gautama mengajarkan agar manusia melihat kehidupannya dan alam semesta di sekitar dirinya sebagaimana apa adanya. maka ia dikatakan bersifat satu/tunggal. 'Aku' itu terwujud dalan kehidupan sehari-hari sebagai keserakahan (loba). situasi ini menyulitkan berbagai upaya untuk mengurangi risiko penularan HIV/ AIDS lebih lanjut. mencapai nibbana (nirvana. Intisari yang mendorong perputaran ini adalah 'aku' (atta. Oleh karena risiko penularan HIV/ AIDS banyak tergantung pada perilaku manusia. dan pada akhirnya kelak meng-akhiri 'aku'-nya (atta).” Karena sesuatu itu tidak lagi bersifat individual. Manusia demikian dinamakan arahat. diri. Manusia yang mencapai lenyapnya 'aku' dikatakan mencapai Pembebasan. tidak lagi memiliki kesadaran individual. dukkha dan anatta akan mulai berpaling dan berupaya untuk membebaskan diri dari roda kehidupan yang tanpa awal tanpa akhir ini.. sering kali mereka berusaha menutupi fakta bahwa dirinya atau anggota keluarganya adalah ODHA. dosa dan moha dalam dirinya. tanpa-diri). Keberadaan individu dalam arus kehidupan ini didorong oleh keinginan (tanha) untuk terus berada sebagai individu di satu pihak. yakni bersifat 'tidak kekal' (anicca).. “padam”artinya padamnya 'aku'). tidak berubah . ruang dan dualitas. Namun perlu diingat bahwa manusia yang demikian tidak lagi memiliki 'aku'. Keadaan ini menimbulkan situasi dimana upaya untuk menjangkau para ODHA mengalami banyak rintangan. ketidak-senangan (dosa) dan ketidak-tahuan (moha). Sesuatu yang bukan . dan di lain pihak terliputinya batin manusia oleh ketidaktahuan (avijja) mengenai ketiga sifat dasar eksistensi tersebut di atas. Manusia yang demikian tidak lagi tunggang-langgang dalam arus kehidupan tanpa akhir. Dengan kata lain.36 Masyarakat Perlakuan diskriminatif dan stigmatisasi oleh masyarakat terhadap para ODHA menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi ODHA dan keluarganya. universal dan bebas dari waktu.

sampai ia meninggal dunia. secara berganti-ganti atau secara terpadu. tidak dapat ditangkap lagi oleh kesadaran empiris manusia. Dalam Buddha Dharma diajarkan dua macam meditasi. Ke mana seorang arahat setelah meninggal. dan penggunaan obat suntik dengan alat suntik yang tidak steril maka dapat dipahami bahwa pengembangan dan peningkatan sila di dalam diri individu berdasarkan kesadaran pribadi merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi penularan HIV/ AIDS. keluarganya dan masyarakat luas. 'Meditasi ketenangan' (samatha-bhavana) terdapat pula dalam praktek spiritual yang kita temukan dalam agama-agama lain (Sufisme. yakni bagi para ODHA. sila hanya bekerja dan efektif apabila didasarkan pada kesadaran pribadi. (2) Samadhi (konsentrasi & meditasi) dan (3) Pannya (Kearifan). bukan pada pemaksaan oleh suatu institusi keagamaan dari luar diri. kedelapan unsur dari Jalan Suci itu dapat diringkas menjadi tiga kelompok: (1) Sila (Moralitas). tetapi dapat pula dijalankan bersama-sama. Buddha Dharma & HIV/AIDS Sila (Moralitas) Ada atau tidak ada HIV/ AIDS di muka bumi ini. moralitas (sila) adalah masalah manusia yang abadi. Kedua jenis meditasi ini sering dibedakan. doa hening dalam Agama Kristen. Begitu sentral sehingga meditasi Buddhis sering dan banyak mengilhami praktek meditasi di kalangan penganut agama lain. Yang tinggal adalah sesuatu yang universal di atas. 'Meditasi . Apabila diakui bahwa penularan HIV/ AIDS untuk sebagian besar terjadi melalui perilaku yang tidak sesuai dengan sila hubungan seksual tak terlindung dengan pasangan yang bergantiganti. Sang Buddha mengajarkan jalan yang dapat ditempuh manusia untuk mengakhiri 'aku'-nya dan dengan demikian mencapai pembebasan/ nirvana. Jalan Suci ini sangat relevan dengan topik tulisan ini. oleh karena kesadaran individual seorang arahat sudah tidak ada lagi bahkan selagi ia masih hidup. Oleh karena itu.” Secara singkat. melainkan sebagai tanggung jawab terhadap diri sendiri. moralitas tidak dipandang sebagai tanggung jawab manusia terhadap “Tuhan Pencipta”. Samadhi (Konsentrasi & Meditasi) Samadhi menempati kedudukan sentral dalam perilaku dan latihan spiritual para siswa Sang Buddha (umat Buddha). yakni 'meditasi ketenangan' (samatha-bhavana) dan 'meditasi pencerahan' (vipassana-bhavana). Dalam Buddha Dharma. dsb). dalam rangka menempuh Jalan Suci menuju Pembebasan.37 individual itulah yang terdapat secara permanen dalam batin seorang arahat. jalan itu dikenal sebagai “Jalan Suci Berunsur Delapan.

” Apabila pengamatan (observation. ego. kemurungan. berkembang pula sikap-sikap yang membantu mengurangi stigmatisasi dan diskriminasi terhadap para ODHA serta kelompok-kelompok masyarakat berisiko tinggi. Sedangkan 'meditasi pencerahan' (vipassana-bhavana) adalah jenis meditasi yang unik. Sikapsikap itu antara lain adalah: metta (cinta kasih). Batin yang bebas berarti memiliki energi ekstra untuk dimanfaatkan secara optimal. rasa bersalah. yang dibutuhkan untuk tercapainya Pembebasan. Alih-alih. mudita (simpati terhadap kebahagiaan orang lain) dan upekkha (keseimbangan batin). Namun 'meditasi ketenangan' tidak bisa menghasilkan Kearifan (pannya). Manfaatnya bagi para ODHA & keluarganya tidak perlu diuraikan lagi. yakni anicca. tenang dan seimbang segala sesuatu yang terjadi pada diri sendiri dari saat ke saat. dukkha dan anatta. . tanpa menolak atau melawan bila tidak enak. dosa dan moha. Kearifan ini adalah kesadaran dan realisasi dari segala sesuatu yang telah dijelaskan di atas. tanpa melekat bila enak. dan pada akhirnya melenyapkan 'aku' (diri. Keadaan ini sangat bermanfaat untuk memperkuat batin dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. yang bisa sangat mendalam. Di dalam 'meditasi pencerahan' tidak digunakan satu obyek meditasi yang diamati terus-menerus. Di sinilah peran 'meditasi ketenangan' dalam memperkuat batin para ODHA dan keluarganya pada khususnya. atta). maka berangsurangsur akan tumbuh kearifan dalam batin orang yang bersangkutan. Pannya (Kearifan) Dengan menjalankan sila dan samadhi secara baik dan berkesinambungan. Batin yang bebas berarti mendukung pengobatan antiretroviral yang dijalani untuk meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh.38 ketenangan' menghasilkan keheningan dan ketenangan batin. 'meditasi pencerahan' merupakan cara yang langsung dan ampuh untuk menyadari/ melihat hakekat dari dirinya dan eksistensi pada umumnya. Batin yang bebas berarti tidak lagi terobsesi oleh keputusasaan. Hanya kesadaran seperti itulah yang bisa mengubah hidup manusia. yang hanya terdapat dalam ajaran Sang Buddha. maka pada waktunya kelak terbukalah pencerahan-pencerahan terhadap sifat/ hakekat eksistensi sebagaimana tersebut di atas. suatu prinsip hubungan batin-jasmani (mind-body) yang telah dikenal dengan baik dalam disiplin psiko-neuro-imunologi. rasa tidak berguna dan sebagainya. Bagi seorang ODHA & keluarganya. praktek 'meditasi pencerahan' pada dasarnya adalah “mengamati segala fenomena badan & batin yang muncul pada setiap saat. Batin yang bebas berarti menerima dengan ikhlas. being aware) ini dilakukan terus-menerus. Pencerahan ini akan membebaskan batin dari loba. karuna (welas asih terhadap penderitaan orang lain). dan dengan demikian terbebas dari penindasan batinnya oleh penyakitnya. tanpa bereaksi sedikitpun. Dengan kearifan.

39 Penutup Semoga uraian singkat tentang Agama Buddha (Buddha Dharma) dalam kaitannya dengan HIV/ AIDS ini dapat mengilhami para ODHA & keluarganya serta masyarakat luas untuk menggali dan memanfaatkan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam ajaran Sang Buddha. tanpa perlu berpindah agama.[] .

Gejala AIDS baru bisa diketahui antara 5 . apabila terjadi kontak langsung antara darah ibu dengan janin pada saat melahirkan secara normal tetapi bukan menular melalui air ketuban atau sari makanan yang diterima janin melalui tali pusar selama berada dalam kandungan. 4. yang berakibat kurang terisinya moral dan mental masyarakat khususnya generasi muda kita tentang ajaran-ajaran moral dan etika kemasyarakatan seperti yang diatur oleh setiap agama. karena virus HIV dapat memproduksi sel sendiri yang dapat merusak sel darah putih dan merupakan sejenis retrovirus atau virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Kontak langsung yang memungkinkan terjadinya infeksi terhadap virus ini adalah : 1. Virus HIV tidak dapat dilumpuhkan oleh sel-sel darah putih. yang adalah efek kurang berhasilnya sistim pendidikan baik formal maupun informal. Melalui penggunaan jarum suntik. . HIV dapat menular melalui tranfusi dengan darah yang terinfeksi virus HIV.40 OPINI PANDANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH HINDU DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS DAN NARKOBA (DUKUH SAMIAGA) Om Swastiastu. 3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. jarum tindik. alat-alat tatoo atau alat lain yang sudah terinfeksi virus HIV. ini biasanya terjadi pada saat melahirkan. dan cairan vagina yang dapat menular melalui kontak darah atau cairan tersebut. 2. tetapi lebih disebabkan penyakit sosial.10 tahun setelah tertular HIV. Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus menerus dan merupakan tantangan bagi kita untuk mengambil sikap secara bijaksana dan secara kongkrit dalam mengimplementasikannya dalam gerakan saling bahu membahu untuk membantu mereka yang sudah terinfeksi HIV dan terus mengkampanyekan di dalam setiap kesempatan tentang penyakit ini. akupuntur. cairan sperma. Hindu memandang AIDS bukan sebagai suatu penyakit kutukan dari Tuhan. Melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan/ kondom. Metode Penularan HIV Virus HIV ini dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita. karena orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala spesifik apapun bahkan sesudah masa AIDS. Virus HIV terdapat dalam cairan darah.

Untuk kasus HIV / AIDS. baru muncul di Indonesia pada tahun 1987 di kawasan wisata Bali yang dibawa oleh wisatawan Belanda. Setelah itu penyebaran HIV/ AIDS di Indonesia terus meningkat dan merata di semua propinsi meskipun penyebarannya relatif rendah. Semenjak itulah kasus-kasus narkoba tetap menghiasi mass media kita bahkan sampai saat ini walaupun dengan ancaman hukuman berat bahkan hukuman mati tetapi para pengedar masih menggila mengingat keuntungan materi yang bisa diraup walaupun harus mengorbankan nilai-nilai moral dari sisi kemanusiaannya. tidak sesuai dengan jalan mulia Hyang Widhi. Dalam perkembangannya sejak pertama ditemukan kecenderungannya menggambarkan bahwa di negara-negara miskin dan negara berkembang jumlahnya terus meningkat dibandingkan dengan negara-negara maju. menghindari tranfusi darah dengan penderita atau menghindari penggunaan yang sudah terinfeksi serta selalu mensterilkan alat suntik atau menggunakan alat sekali pakai. Dari data-data yang ada menunjukkan setiap tahunnya terjadi peningkatan penderita yang kentara (diketahui oleh pihak medis) dan diperkirakan jauh lebih banyak lagi yang tidak kentara yang merupakan carrier (pembawa) virus HIV yang akan sangat mudah penyebarannya. Sejak pertengahan tahun 1971 pemerintah kita telah membentuk badan koordinasi penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap obat terlarang sesuai dengan Inpres No 6 / 1971. yaitu bila berhubungan badan dengan penderita biasakan menggunakan kondom. Di dalam Dharma Sastra (Hukum Hindu) ditentukan larangan-larangan keras terhadap perilaku moral yang menyimpang. . Bukan disebabkan oleh obat dan vaksin tetapi karena keberhasilan di dalam penanggulangan yang efektif ditunjang pendidikan dan kesadaran moral yang tinggi. Upaya Hindu dalam Pencegahan HIV / AIDS Agama Hindu yang sering disebut DHARMA (kewajiban mulia) selalu menekankan umatnya untuk hidup dalam jalan Dharma (jalan mulia) yang tidak keluar dari perintah Hyang Widhi dan selalu mentaati larangan-larangan yang ada.41 Dengan mengetahui proses penularan HIV bisa dicegah dengan langkah-langkah yang bijaksana. Disinilah diperlukan pendidikan dan penerangan-penerangan yang benar tentang HIV/ AIDS sehingga penyebarannya dapat dihambat dengan pengetahuan yang benar tentang proses penyebarannya. Karena melihat besarnya peredaran obat terlarang di Indonesia sepertinya badan ini tidak mampu membendung penyelundupan yang terjadi. Semenjak itulah diperkirakan di Bali khususnya dan Indonesia umumnya sudah mulai masuk virus yang mematikan ini yang terbukti dengan meninggalnya orang pertama dari Indonesia yang mengidap virus HIV / AIDS pada tahun 1988.

Khususnya di Bali. 6. sangat dilarang melakukan hubungan badan dengan yang bukan pasangan yang sah. tetapi diterima sebagai hamba Tuhan yang perlu dirawat dan dibesarkan semangatnya. lewat ibu melahirkan) sehingga masyarakat Hindu selalu menerima penderita HIV/ AIDS sebagai masyarakat biasa yang tidak merupakan momok yang menakutkan. Jadi untuk penderita AIDS khususnya di masyarakat Hindu (Bali) tidak terjadi diskriminatif. 3. Perlakuan Umat terhadap Penderita Seperti telah dikemukakan di atas. 4. transfusi darah. jarum suntik. 2. Dilarang melakukan hubungan badan pada hari prawani (1 hari sebelum bulan penuh dan bulan mati). bahwa HIV/ AIDS bukanlah penyakit kutukan tetapi semata-mata penyakit lahiriah yang disebabkan terjadinya kontak langsung para penderita melalui empat jalan tadi (seks. Pada saat purnama (bulan penuh) dan tilem (bulan mati). Hari-hari keagamaan (dalam satu bulan tidak kurang dari 4 hari). 5. Hindu menganggap seks itu adalah sesuatu yang murni dan luhur sehingga tidak dibenarkan melakukannya di sembarang tempat atau dengan sembarang orang yang bukan pasangannya.42 Misalnya. sehingga . Diajarkan juga agar setiap umat dapat selalu menjaga kebersihan. yang diterima apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Pada penanggal lan pengelong 8 (di tengah-tengah antara purnama dan tilem atau sebaliknya). Maksudnya agar tidak menyimpang dari rel agama. Di hari kelahiran yang bersangkutan. baik fisik maupun spiritual. Jadi secara keseluruhan di dalam Hindu benar-benar sudah diatur bersenggama yang sehat yang merupakan bentuk riil agama dalam usaha mencegah terjadinya senggama yang tidak sah sehingga dapat menjauhkan masyarakat dari kemungkinan terjangkit virus HIV/ AIDS yang disebabkan dari hubungan seks. Disinilah peran pendeta (ulama Hindu) untuk terus memberikan pembinaan pada setiap kesempatan kepada masyarakat yang tentunya juga selalu dibantu oleh lembaga umat tertinggi (Parisada) untuk selalu menginformasikan tentang HIV/ AIDS dan bagaimana penyebarannya. Walaupun tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan dari sebab-sebab lain. Dan ada beberapa ketentuan lagi. Di sini diharapkan agar orang Hindu selalu hidup bersih secara badaniah dan rohaniah. Beberapa contoh misalnya : 1. aturan seks yang sehat diatur di dalam beberapa kitab lontar dan kitab-kitab Wariga yang melarang pada hari-hari tertentu untuk melakukan senggama.

kesehatan. Mudah-mudahan kebersamaan di antara kita (umat beragama) diharapkan dapat meningkatkan upaya pencegahan terjadinya penularan HIV / AIDS.43 penderita bisa menapak kehidupannya dengan lebih baik. Dan bagi penderita yang meninggal dunia. juga mendapat perlakuan yang sama seperti layaknya bukan penderita. Dari sini penyebaran HIV / AIDS bisa diperkecil dan bisa mengurangi jatuhnya korban yang sia-sia. Om Tat Sat . pemerintah dan masyarakat lingkungan) yang selalu bersumber dari ajaran agama. Kesimpulan Pencegahan dan penanggulangan HIV / AIDS merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan bersama-sama dan berkesinambungan oleh komponen masyarakat (tokoh agama.

maka tidak ada satu pun dari kita yang akan terbebas dari bahaya HIV jika kita tidak melakukan upaya-upaya yang bisa mencegah penularan itu. kita masih ingat dua hari yang lalu makan rujak terlalu pedas atau kemarin makan sate di tempat yang banyak lalat. mereka tidak tahu jarum yang mana atau waktu dia memakai yang kapan. karena sebagai penyakit menular. Penyakit ini merupakan kumpulan gejala. Kita tidak tahu penularannya kapan. Salah satu acara dalam kegiatan ini adalah sharing pengalaman ODHA. HIV baru bisa menimbulkan gejala itu setelah 5 sampai 8 tahun. tidak seperti organisme lain yang gampang ditemukan obatnya. Tidak ada gejala-gejala yang khas. dia tidak bisa mengingat. mereka tidak tahu. adalah sesuatu yang pelik. Yayasan Citra Usadha Indonesia. Oleh karena itu jika ada suatu wabah atau penularan apalagi erat sekali kaitannya dengan perilaku manusia kita. Karangasem. . HIV bisa menimbulkan penyakit pada manusia yang sulit untuk diatasi. Kalau sekarang diare. muntah-muntah. orang yang bersangkutan pun tidak tahu kapan sebenarnya dia sudah terinfeksi HIV/ AIDS. Kita masih bisa mengingat ke belakang apa yang kira-kira menyebabkan kita menderita muntaber. Bali.44 DIALOG BELAJAR DARI KESAKSIAN Pada tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 Institut DIAN/ Interfidei Yogyakarta bekerjasama dengan Gedong Gandhi Ashram. dan Uluangkep mengadakan kegiatan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa. Ini berbeda dengan penyakit muntaber. Tuti Parwati : Kita mulai dengan pemaparan mengenai masalah AIDS dan nanti kita bisa lanjutkan ke masalah sosialnya. yang penting di sini adalah perilaku. HIV merupakan jenis virus yang paling banyak diteliti dibanding yang lain. Seringkali dokter pun tidak tahu. Itu yang umum. Dr. Akhirnya yang paling banyak diketahui dari penelitian virologi itu adalah virus HIV sehingga banyak penelitian virus lain yang kemudian menumpang atau mendapat manfaat dari penelitian virus ini. Para ahli kedokteran merasa tertantang untuk menangani virus HIV karena mereka belum bisa menemukan obat yang bisa membunuh virus ini. Dia bisa menimbulkan pewabahan. Kita tahu kalau sudah menyangkut perilaku. Gejala-gejala itu muncul sehingga tidak bisa dikenali. luas sekali spektrum manifestasinya maka menjadi sulit bahkan bagi dokter pun sulit. yang menandakan bahwa HIV telah masuk. Jadi disini yang penting adalah perilaku. Mungkin mereka pemakai jarum suntik narkoba atau mereka tahu bahwa mungkin mereka terkait seks bebas tapi seks bebas yang mana yang menulari dia. Karena luas sekali. Jadi kalau kita tanya kepada yang bersangkutan kapan terkena. Jadi. Kita akan belajar bersama dari pengalaman berikut. yaitu Putu Utami dan Dayan.

Kalau itu positif berarti dalam tubuh kita sudah masuk atau tertular HIV. Bisa saja orang itu tidak merasa sakit atau orangnya bisa saja sudah sakit tetapi tidak kelihatan. Terlebih-lebih dengan pandangan-pandangan sosial. pandangan masyarakat terhadap para pengidap atau mereka yang sudah tertular. itu adalah hukuman bagi mereka” pandangan yang beredar di masyarakat. “Biarkan saja. mereka sudah harus memeriksakan diri karena tingginya revalensi atau kejadian HIV di kelompok pemakai narkoba suntik. Dalam penyampaian informasi ini saya akan dibantu oleh dua orang dari Bali Plus: Putu Utami dan Dayan. Itu lalu menjadi suatu stigma bagi AIDS. Kebetulan saja yang lebih beresiko adalah yang lebih dulu muncul. Mereka akan bergantian menyampaikan apa yang mereka ketahui. kita tidak bisa melihatnya dengan jelas secara kasat mata bahwa ini AIDS dan ini tidak. spektrum keluhan dari yang tidak ada keluhan sampai yang sakit sangat luas. Tetapi masyarakat sendiri sebenarnya sudah bisa mengira-mengira misalnya. Itu juga merupakan suatu hambatan untuk mendiagnosa. jadi perlu pemeriksaan lanjutan. Tidak semua mereka akan terkena tetapi kalau mereka sudah pernah merasa pinjam jarum. Sebenarnya suatu virus bisa mengenai semua orang tetapi tentu saja ada beberapa orang yang lebih berisiko daripada yang lain. Banyak yang tidak tahu. Ini bukan merupakan penyakit yang biasa. Seandainya kita berkumpul dalam jumlah populasi 100 orang. alami sendiri . Disamping itu obatnya belum ada. dia sudah memberikan suatu kunci. pemakai narkoba suntik. yang kelihatan sehat tidak merasa apa-apa bahwa mereka sudah terkena AIDS. pernahkah mereka merasa berperilaku yang entah menjadi sebab atau akibat sehingga dia tertular. Padahal mereka tidak melihat misalnya orang yang tertular karena terlahir saja dari ibunya yang HIV positif atau juga karena suaminya menulari dia padahal dia tidak pernah terlibat seks bebas. Dokter pun sulit. misalnya sudah memakai narkoba suntikan. Sebenarnya dengan merasakan itu. Satu-satunya cara untuk bisa menuntaskan atau memberikan jawaban yang agak pasti yaitu pemeriksaan darah. Kemudian dibuat generalisasi seolah-olah yang terkena adalah mereka yang memang didalam masyarakat sudah dipandang agak miring sedikit. Mereka dari kelompok yang tidak mendapat simpati dari masyarakat. diidentifikasi oleh masyarakat sebagai yang terkena AIDS. Spektrumnya.45 Oleh karena sifat-sifat seperti itulah maka kita jadi sulit untuk mengenali. Itu kunci-kunci yang cukup terang tetapi perlu disosialisasikan. Darah kita ambil kemudian dilakukan tes yang namanya tes antibodi HIV. Karena obat belum ada lalu orang merasa untuk apa juga tahu dan melakukan tes kalau dokter tidak bisa mengobati! Itu yang menyebabkan kesulitan. Mereka yang kena biasanya dikenal sebagai pekerja seks bebas. tes untuk mengetahui bagaimana respon tubuh kita terhadap suatu kuman yang dalam hal ini virus.

saya satu kelas dengan orang yang homoseksual. bisnisnya dia. Tapi kita tidak percaya dengan itu. ada isu-isu yang menakutkan tadi. suasana sepi. Keluarga juga menasehati mana yang baik dan buruk dan bisa memilih keluarga mana yang jadi pilihan keluarga dan pilihan kamu sendiri. misalnya atau istilah Bali-nya meceki . Waktu itu kebetulan suami saya dikonseling sama Ibu Tuti Parwati langsung dites darah ternyata positif HIV. Saya sudah terinfeksi kurang lebih hampir 8 tahun karena putra saya sudah 8 tahun. Sempat juga percaya dengan istilah ngidam-ngidam itu. Saya bukan bagian dari itu. Tetapi saya shock sekali pada waktu itu ketika suami saya sakit dan diopname pada tahun 1996. satu laki-laki dan satunya wanita. mengerikan sekali. Saya mungkin cerita sedikit tentang AIDS karena saya disini sebagai narasumber untuk ODHA. baru sukses. Saya Putu Utami dan sebetulnya hadir disini karena diinformasikan oleh Ibu Parwati bahwa ada pembicaraan mengenai masalah HIV/ AIDS. Saya menikah tahun 1995. kesan-kesan serta harapan dari informasi yang teman-teman ungkapkan tadi sepertinya menakutkan sekali. terus diare. Waktu itu kita percaya mungkin ini buatan keluarga yang iri dengan kita. Saya merasa bukan bagian dari itu. Saya mendapat pilihan sendiri dan dari keluarga juga. apa itu HIV/ AIDS. seperti di Bali. umur saya masih muda sekali. Kita tidak percaya dengan informasi HIV/ AIDS. Saya cerita pengalaman langsung. waktu itu saya menikah umur 20 tahun karena tahu sendiri dalam budaya Bali kalau menikah sebisa mungkin dengan keluarga supaya pura atau leluhur itu ada yang menjaga. Yang tergambar dari awal. orang yang hidup dengan HIV. Saya menikah beda umur 10 tahun dengan suami saya. Di situ sempat ada keluarga yang bisik-bisik. Saya sama sekali tidak paham apa itu homoseksual. Sebelumnya saya mengalami seperti yang disampaikan tadi.46 maupun pengalaman dengan teman-teman yang mereka ajak bekerja untuk HIV/ AIDS. Saya berpikir seperti waktu tahun 1993. dampak-dampak yang saya alami sendiri pada tahun 1996 itu. demam. Jujur saja waktu itu umur saya 20 tahun karena saya anak tunggal saya harus mengikuti apa yang diinformasikan keluarga. kita akhirnya percaya dengan medis. Silahkan! Putu Utami (ODHA) : Jujur saja saya agak down sedikit. itu urusannya dia dan bukan urusan saya. Jadi saya mengajak dua orang. itu privasinya dia. Sempat kita ke dukun dan sempat dokter menyinggung dibilang saya hamil tiga bulan dan suaminya yang mengidam. Mudah-mudahan tidak mengantuk. badannya kurus drastis. Akhirnya diopname lama kok tidak sembuh-sembuh. Ada orang yang kesannya seperti itu. orang iri sama kita. dengan gejala penyakit biasa. apa itu lesbian. Dalam makan bersama. pokoknya dari segi sosial berubah tidak seperti biasa. sudah ke dukun dan diinformasikan ngidam. sudah ke tradisional.

Dengan santainya petugas mengambil darah saya. Saya tidak mau berpikir masalah itu. Sampai saya sempat ke dokter praktek mengantar suami bertemu Dokter Tuti. Saya sama sekali tidak tahu. ini mungkin pasien saya takut sudah dapat informasi. Tetapi tiba-tiba pada saat saya diberi informasi di rumah sakit. Dia bilang untuk kesehatan janin. ah yang penting janin saya sehat. Saya ingat sekali diajak ke laboratorium dan saya bilang untuk apa saya ikut dan dia bilang suami kamu mau tes lagi kok kamu tidak tahu. Saya takut sekali dan berpikir jangan-jangan ditagih sekarang.47 atau main judi di rumah. Dan dia bilang yang penting obat itu sehat untuk saya dan itu harus diminum. padahal cuma Rp. Ternyata informasinya itu lebih banyak dari mertua saya. Saya dikejar oleh Om saya agar bertemu Ibu Tuti. dan bilang obat ini harus diminum. dia mengajak saya ke laboratorium. Dokter sudah banyak memberikan informasi ke mertua saya. Sampai di rumah saya berpikir yang penting Om ngajak saya ke lab berarti dia memperhatikan saya. Saya ketakutan waktu itu bukan karena HIV/ AIDS tapi karena belum bayar.yang saya pegang di dompet. Dan tidak berpikir sedikitpun bahwa darah saya diambil untuk HIV/ AIDS. Sampai saya mau melahirkan. Pada waktu itu saya berpikir untuk kesehatan janin. tidak boleh sedih dan secara psikologis harus dijaga. sekarang kok sepi suasananya. memperhatikan keluarga saya. Mungkin kesannya Ibu Tuti. Waktu ke Bedugul keluarga sempat menyinggung apakah tidak kena AIDS. ada dokter muda yang menyampaikan bahwa saya terinfeksi. Saya sempat berpikir tidak mungkin. Terus saya cerita sama mertua saya ini obat apa. Sampai sekarang saya masih ingat belum bayar karena saat itu saya tidak bawa uang. Akhirnya saya berpikir itu tidak mungkin karena saya orang keluarga baik-baik. Saya berpikir ada infeksi apa di perut. Disitu saya belum ada informasi. Akhirnya saya diajak ke lab. kuliah dan kerja. di situ akhirnya Ibu Tuti masuk. Akhirnya saya sharing dengan ibu saya dan bilang mungkinkah suami saya terkena HIV dan dia bilang tidak kita kan bukan orang-orang yang berzinah. Dari situ Ibu Tuti menginformasikan HIV/ AIDS. informasi dasar sampai Ibu . Akhirnya saya minum seperti biasa tetapi pada saat saya mau melahirkan di USG. saya tanya untuk apa ambil darah. mungkin janin saya cacat begitu. waktu itu umur kehamilan 9 bulan.1. informasi dari dokter pun belum ada. seminggu mau melahirkan sempat Ibu Tuti memberikan saya obat antileterpiral. saya orang yang tidak tersentuh dengan yang begitu-begitu. Saya diajak ke ruang prakteknya Ibu Tuti dan waktu itu sempat diberikan informasi dasar tentang HIV/ AIDS meskipun waktu itu belum ada hasil apa-apa. Tapi terlintas di kepala jangan-jangan benar apa yang dikatakan keluarga bahwa suami saya AIDS.. Pokoknya jangan berpikir ke arah situ. Pokoknya saya berpikir bagaimana janin saya sehat dan psikologis saya sehat karena saya tahu orang yang hamil itu harus positif thinking.500. akhirnya kebetulan Om saya dokter. Saya berpikir positif saja. Saya berpikir itu isu-isu biasa yang tidak perlu saya indahkan karena saya dalam posisi hamil.

juga ibu saya tidak diperbolehkan kesana karena ibu sering tidur sama saya. Ada Om saya nyeletuk bilang ke ibu bahwa saya HIV/ AIDS dan menyuruh ibu saya agar tidak memperbolehkan saya kesana. Ibu saya mungkin ada feeling yang tidak enak. Akhirnya ibu saya datang ke tempat saya tinggal. Saya tidak berani keluar karena di rumah sakit waktu proses persalinan pun. Di situ saya sampai langsung luluh tidak berpikir masalah uang lagi dan berganti ketakutan masalah HIV/ AIDS-nya.48 menyimpulkan suami saya HIV positif dan saya terinfeksi. siapa membongkar rahasia kalau bukan Ibu. tidak ada nama cuma inisial saja. Sempat sama Ibu Tuti agar jangan menyampaikan ke mana-mana cukup saya sendiri yang tahu. butuh informasi lebih lanjut hubungi saya. bagaimana nanti di tempat kerja. saya lihat dokter-dokter berkumpul. Akhirnya di dalam mobil itu saya diam dan keluarga sebetulnya sudah tahu dan memahami kondisi saya yang depresi sehingga sampai di rumah saya berpikir sama siapa saya harus curhat. Terus bagaimana solusinya. Sebagai aktivis AIDS. Dengan informasi dari Ibu Tuti yang langsung saya pikirkan adalah bagaimana supaya orang tidak tahu. bagaimana saya nanti di kampus. Cuma yang saya pikirkan unek-unek saya sudah keluar semua. saya tidak tahu. disitu saya sampaikan unek-unek saya bahwa media begini. Disitu akhirnya curhat. di Yayasan Citra Usadha. kebetulan dia teman SMA. Saya berpikir saya harus pergi dari sini namun tidak mungkin karena suami saya dalam kondisi sakit. solusi tidak ada. Akhirnya dua bulan kemudian datang teman saya namanya Oken dan saya curhat sama dia bahwa suami saya sudah meninggal. dan saya harus keluar dari masalah ini hari ini juga. Tapi itu membuat keluarga tambah takut untuk berkunjung ke rumah. semua saya tinggalkan. Nasehat itu tidak langsung saya telan semua. sama siapa saya harus berbagi. ibu juga berbagi karena sama-sama tidak ada tempat. dia sakit tipes dan Oken pun sebagai pendengar yang baik. semua orang di keluarga saya tidak boleh tahu. Saya tahu bahwa HIV tidak ada obatnya dan anak saya pasti tertular. akhirnya datang ke rumah dan curhat kepada saya. kayaknya sumbernya ini adalah Ibu sendiri. yaitu kalau ada apa-apa. Saya mau menyalahkan Ibu Tuti tapi bagaimana. Sempat muncul di media bahwa HIV/ AIDS sudah menyentuh ibu rumah tangga tepat dengan tanggal saya melahirkan. Disitu saya berpikir bahwa jalan keluarnya harus ke Ibu Tuti. Sempat disitu ada keinginan untuk bunuh diri. dia seakan-akan memberikan . terus keluarga tidak ada yang datang pada saat saya melahirkan. apakah orang tua saya? Saya tidak mau membebani orang tua saya yang sudah tua. berbagi. curhat dan dia mendapatkan stigma diskriminasi di rumah. Rasanya pokoknya harus menghindari suasana yang menakutkan dan mengerikan itu. Namun begitu lamalama akhirnya saya tahu bahwa saya itu adalah penderita AIDS. kok saya tidak diijinkan ke pura. jalan keluar tidak ada. Di situ Ibu Tuti memberi jalan keluar agar saya main ke LSM. seperti yang disampaikan Ibu Tuti masih terlintas. mertua saya juga shock tidak berani ke dokter. akhirnya sebulan kemudian baru saya berpikir alternatif terakhir. Sampai akhirnya setelah saya bertemu dengan Ibu Tuti. Akhirnya 3 hari diam. Jadi berkecamuk disitu. Saya mau keluar dari Bali dan anak saya tinggalkan.

ini masa depan saya. Saya memang tetap di rumah tidak berani ke mana-mana. Hanya beberapa teman saja yang tahu dan hanya beberapa dokter saja yang tahu status saya. Dayan juga aktif di Bali Plus (organisasi Bali positif) yaitu kelompok yang memberikan support kepada mereka yang sudah terinfeksi HIV. Waktu itu saya diundang Oken. dia orang yang cantik. Akhirnya dia telpon saya dan menginformasikan bahwa ini penting sekali. Dr. Itu anggapan yang sering berasal dari masyarakat yang tidak pernah memikirkan dengan jernih dan tepat. Tuti Parwati : Terima kasih Putu sudah menceritakan pengalamannya. Akhirnya saya hadir disana dan berkomunikasi. Solusinya ke Citra Usada dan saya akhirnya mencari informasi yang bagus tentang HIV/ AIDS. Akhirnya saya bergabung di Citra Usadha sampai akhirnya di Citra Usadha saya diberikan skill building. Undangan ini apakah akan menjernihkan. Betul-betul shock sekali keluarga pada waktu itu. Silahkan Dayan. ada keluarga saya disitu dan dia akhirnya diusir oleh keluarga saya. jangan jangan orang-orang sudah tahu kalau saya keluar rumah. Sampai akhirnya 3 bulan kemudian. Mendapat undangan itu saya berpikir jangan jangan orang-orang disitu banyak wartawan. Jadi intinya ODHA punya peran penting dalam program penanggulangan HIV/ AIDS. . Karena diusir dari rumah saya akhirnya Oken mencari ibu saya untuk mengundang saya ke seminar HIV /AIDS itu. dia punya potensi waktu itu kalau ODHA yang bisa berbahasa inggris akan mendapatkan kesempatan ke mana-mana. Di situ baru saya merasa bahwa saya bisa beraktivitas seperti biasa dan harus ketemu Ibu Tuti bagaimana supaya bisa ikut sebagai volunteer di Citra Usada.49 penyuluhan tentang HIV/ AIDS. Kalau saya ringkas kembali bahwa Putu tidak merasa berperilaku resiko tinggi tapi ternyata kena HIV/ AIDS dari suami. Sebelum proses konseling sempat Ibu Tuti menyinggung ada orang HIV positif di Jakarta. memberikan solusi buat saya atau tambah beban dan masalah baru lagi. Bagaimana untuk masa depan saya selanjutnya. Setelah saya bergabung ikut seminar ternyata komunitas masyarakat peserta di seminar itu kok tidak tahu bahwa saya positif HIV/ AIDS. dia sering ke luar negeri. Mbak Suzana Murni waktu itu. ada seminar HIV/ AIDS dan wanita. Jadi yang akan memberikan wajah ke masyarakat bahwa ODHA tidak perlu ditakuti hanya ODHA sendiri. jadi ketakutan saya berlebihan. Akhirnya saya main ke Citra Usadha dengan ibu kandung saya sendiri dan saya lihat teman-teman di Citra Usadha tidak tahu semua status saya berarti benar-benar dirahasiakan. Dia punya peran untuk memutuskan mata rantai cara penularan HIV/ AIDS. Ini satu dari sekian banyak yang kita tidak kenal.

Ibu saja tidak percaya kalau saya HIV positif karena mungkin gambaran teman-teman orang HIV/ AIDS itu seperti yang dikatakan bapak tadi kurus. Terus saya tanya adik. tinggal tulang. takut karena tidak tahu itu hal yang lumrah tapi kalau sudah tahu masih takut itu kurang ajar. Yang tadinya punya bakat. Dua minggu kemudian ternyata anak itu positif HIV dan sekarang dia ada di depan teman-teman sedang bercerita. pendapat bapak tentang HIV/ AIDS bagaimana? Dan dia bilang mau dibakar terus saya tanya sama ibu. setelah itu dia juara kelas. Ternyata banyak tokoh-tokoh agama dan bahkan masyarakat serta orang-orang yang mengurusi HIV/ AIDS kadang-kadang tidak mengerti HIV itu apa. Setelah keluar dari penjara 1 tahun 2 bulan dia masih terus menggunakan narkoba sampai suatu hari dia dijemput oleh temannya diantarkan ke panti rehabilitasi narkoba. Tapi setelah saya bilang bagaimana kalau ODHA itu anak bapak. Saya tahu bahwa HIV/ AIDS itu penyakitnya orang homoseksual bukan pengguna jarum suntik. awalnya ganja. Dalam suatu perjalanan ke Bandung karena kebetulan ada teman di sana. meskipun ada juga yang gemuk. Rasa takut itu wajar. di Geger Kalong.50 Dayan ( ODHA ) : Saya mau cerita mungkin 3 menit tentang ada seorang anak yang dilahirkan dari keluarga menengah. Mereka bilang tolong beri saya informasi yang banyak tentang HIV/ AIDS. yang ada di gambaran mereka mungkin media massa di awal-awal HIV menggambarkan HIV/ AIDS ada tengkoraknya. saya bilang saya beruntung. katanya mau dibuang ke hutan. penyakit orang bule bukan penyakit orang Indonesia apalagi saya dari Manado tidak mungkin. adik anda mau dikarungin. Dan setelah di situ seminggu ada namanya voluntery councelling & testing dan anak ini dites pada tanggal 20 Desember 2001 hasilnya diterima. Saya duduk di sini sekarang. dunia gelap tidak mau terima. Ini seram-seram reaksi orangorang karena mereka tidak tahu seperti apa ODHA itu. kami sempat kesana. Kemudian mencoba sekolah di Jakarta dan di Jakarta dia kenal dengan narkoba. Anak ini sempat mengikuti kejuaraan nasional pencak silat di Jakarta. tentang HIV/ AIDS. Jadi itulah kejadian saya secara singkat dan memang awalnya dunia kiamat. katanya mau dikarungi dibuang ke laut. Epidemi yang di masyarakat terutama orang beragama. Dan acara ini mungkin jadi awal yang baik dimana teman-teman bisa menahan dengan baik. anak terakhir dan anak yang cukup berprestasi di sekolah berumur 14 tahun. Anak ini yang dulu prestasinya bagus sudah tidak mau sekolah. Bahwa hanya kita yang . pil penenang dan akhirnya dia bertemu dengan rajanya heroin dan lucunya anak ini sudah mencoba menggunakan jarum suntik. Tetapi kalau dari segi psikologis. apakah kalau ODHA itu cucu ibu mau dibuang ke hutan? Dan ini yang sering terjadi. Ternyata kalau seperti yang dibilang Soni Tulung: anda belum beruntung. bakatnya sia-sia sampai akhirnya dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena pemakaian narkoba suntiknya. Di Jakarta sekian lama anak ini akhirnya datang ke Bali masih terus dengan kebiasaan lamanya. mental ODHA punya keuntungan disitu. Saya pernah 1 hari di Gianyar tanya sama bapak begini: ”Pak.

Terima kasih. itu jangan kita tolak lagi sebab untuk menolak itu mengakibatkan efek samping bagi kesehatan kita. Putu sampai spektrum yang Bapak Sadra tadi sebutkan tidak bisa bangun. ada harapan mau tahu lebih banyak tentang HIV/ AIDS. Itu mungkin dijelaskan bagaimana cara penularannya agar mereka benar-benar tahu tentang HIV/ AIDS sehingga tidak takut lagi. kalori dan energi dan waktunya. Jadi memang mereka mengatakan beruntung paling bisa memahami HIV karena memang HIV-nya sudah menyatu. Dalam kehidupan sehari-hari. Dr. dari spektrum yang kelihatan seperti Dayan. tokoh agama pun demikian. Bagaimana kita hidup dengan penyakit gula. mau apa lagi. Cara bereaksi yang paling benar yaitu bereaksi positif bagaimana hidup dengan HIV di dalam tubuh seperti orang yang menderita kencing manis. Yos Da Putra : Saya langsung saja kepada Mas Dayan. Sama seperti kalau kita benci sama seseorang padahal orang itu tenang-tenang saja. tinggal kulit yang membungkus tulang seperti itu. menghabiskan tenaga. saya bilang disini. Jadi paling tidak bagi yang belum pernah membayangkan bagaimana orang yang terkena HIV. Sebenarnya orang yang benci itu yang rugi. saya buktikan dan kenyataannya kita lihat kenapa dua teman kita yang ada di sini sekarang masih beraktivitas seperti biasa. Luh de Suryani : Terima kasih. Ada tanggung jawab dan peran masing-masing yang tidak bisa dipisahkan. hal-hal apa yang paling emosional yang dialami? . tidak bisa bergerak. yang saya katakan spektrumnya sangat luas tersebut. Tuti Parwati : Terima kasih Dayan. dalam kegiatan sebagai seorang aktivis LSM apakah ada perubahan dari segi kesehatan dan psikologis? Begitu saja terima kasih. Dalam pengalaman bertahun-tahun yang Mbok Putu dan Bli Dayan alami begitu. Mbok Putu sama Bli Dayan. Secara diam-diam Dokter Tuti belajar juga dari kita dan kita juga belajar dari Dokter Tuti. saya sangat memberikan apresiasi untuk Mbok Putu sama Bli Dayan yang bilang bahwa ODHA-lah yang berperan luar biasa memutus jaringan penularan lebih lanjut. M.51 mengerti bagaimana ODHA itu. Supaya saya tidak hanya mengatakan teori saja. Diana Surjanto : Saya mungkin menindaklanjuti tadi. Dia membenci orang itu padahal orang itu tidak merasa apa-apa dan tenang-tenang saja.

Diana Surjanto : Saya dengar HIV bisa menular lewat nyamuk tapi belakangan ini ada orang yang mengatakan bahwa lewat nyamuk tidak bisa. sendok tidak akan menularkan. Setiap saya mendengar tusuk jarum. Jadi hubungan seks jelas. di dalam air mani pada laki-laki. Kalau seandainya ada. hanya hubungan-hubungan yang intim yang bisa menularkan. Dan hubungan sosial. kita siram pakai bayclin atau cairan pemutih sudah aman baik muntahannya atau air mani tercecer di seprei tidak akan menularkan. Tidak terdapat di dalam keringat atau air liur. Tetapi 1 jarum suntik untuk dipakai bareng sampai sekarang masih terjadi di pemakai narkoba suntikan karena mereka kesulitan mencari jarum suntik dan kondisi ketagihan yang menyebabkan mereka tidak bisa membersihkan jarumnya atau juga karena lingkungan sehingga dia harus sembunyi. Jadi yang bisa menularkan 4 cairan saja: darah. berpelukan. merawat ODHA seandainya ada keluarga yang terkena. Ada tetapi sedikit sehingga tidak bisa menularkan. pemakaian jarum suntik yang tidak steril di dunia kedokteran juga bisa. . Jadi hal itu yang menyebabkan. cairan kelamin dan air susu. Tapi saya yakin praktisi-praktisi yang memakai tusuk-menusuk itu seharusnya sudah mensterilkan dulusebab tidak hanya HIV tetapi Hepatitis B. saya tanya apakah itu satu set dan dia bilang itu satu set milik saya dan dipakai sendiri. misalnya ke apotik takut dengan polisi. Misalnya hubungan seks bebas atau mungkin hubungan seks tapi kok pertama kali melakukan seks ternyata persis dengan orang yang tertular HIV walaupun tidak seks bebas seperti pengalaman Putu.52 Dr. batuk darah dan darah itu memang mengidap tetapi kita tahu bagaimana memperlakukan darah itu sehingga kita tidak tertular. Penularan HIV adalah melalui sedikit cara sebenarnya. juga salaman. Mengenai perilaku yang mana yang bisa menularkan yaitu 4 saja darah. cairan vagina dan air susu ibu. Hepatitis C. Misalnya ada dokter melakukan suntik tidak disterilkan kemudian memakai lagi. ciuman pipi. Umumnya itu tidak terjadi sekarang. bayi itu bisa tertular lewat air susu. air mani. saya duduk dan kemudian Dayan duduk disitu tidak akan ada penularan. minum. misalnya kita berteman. Seandainya dia sakit di rumah ada darah keluar. Itu pasti saja lewat hubungan seks yang tanpa memakai kondom karena virus HIV adanya di dalam cairan darah paling banyak. Hanya harus berhati-hati kepada darah. lalu dipakai lagi sudah tidak berbahaya. cairan vagina pada perempuan. cairan vagina. ini hal yang penting. Tuti Parwati : Mungkin saya dulu. air mani. Biasanya 1 jarum suntik untuk 1 orang. Jadi sebenarnya alat yang bekas pakai direndam dulu setelah itu dijemur. Di salon juga harus disterilkan. Tadi cara penularannya apa. Alat-alat makan. Kalau begitu yang benar yang mana. air susu ibu. di air susu kalau perempuan mengidap HIV dan kalau dia menyusukan pada bayinya.

Terus terang. kok saya sudah terlanjur. Kalau nyamuk menularkan berarti saya tidak perlu penyuluhan seperti ini karena setiap orang pasti akan kena padahal kita masih bisa memilih untuk kena atau tidak kalau kita tahu. baru dapat informasi bisa saja terlanjur sudah terkena. Itu balancing buat saya dimana dalam keseharian teman-teman saya itu heran. sampai dimana saya bisa merawat diri saya sendiri disamping semakin banyak informasi semakin banyak saya terlibat dengan advokasi pengobatan karena saya cenderung kepada advokasi pengobatan. Kemudian untuk HIV dan Hepatitis C. Dayan (ODHA): Mengenai aktivis sama emosi. AIDS itu adalah sekumpulan gejala penyakit dan itu berbeda dengan HIV. Karena banyak yang menyesalkan kok baru sekarang ada penyuluhan ini padahal di Amerika sudah tahun berapa. 8 jam untuk kerja. salah satunya adalah alat untuk mengukur udara sampai di titik mana sistem kekebalan tubuh saya. Saya juga banyak informasi tentang penyakit AIDS. Saya menolong. darimana kekuatan itu datang. Mungkin Dokter Tuti bisa menjelaskannya. . Itu yang paling inti. Tuti Parwati : Yang benar adalah nyamuk tidak menularkan karena sudah diteliti. sekarang ini saya anggap saya manusia yang punya 3 bonus. saya ikut perkumpulan atau filosofi narkotika. yaitu kecanduan. Ini yang disesalkan mengapa baru sekarang ada informasi pencegahan. jangan sampai kita terlambat padahal sudah terlanjur melakukan seks. saya harus tahu dan saya belajar dari diri saya sendiri. 8 jam untuk diri saya sendiri. Memang kita belakangan kena wabahnya tapi bagaimana pun kita harus mulai sesegera mungkin dan dalam kelompok usia yang sedini mungkin. Ketiga-tiganya yang membawa kabar buruk sekaligus kabar baik buat saya. saya bisa adakan treatment dengan dia dan mengenai waktu tadi saya terapkan delapan tiga. untuk mencegah itu akan semakin baik. Saya tidak tahu darimana energi itu mengalir. Orang HIV akan bisa hidup lama sampai ke stadium yang bisa dikategorikan bahwa orang ini sudah berada didalam gejala penurunan sistem kekebalan tubuhnya sendiri. banyak alat yang bisa saya pakai. HIV dan Hepatitis C.30 WITA bahkan sampai jam 24. Saya juga belajar meditasi untuk deal dengan emosi-emosi kecanduan saya. 8 jam untuk tidur.00 WITA belum pulang karena ke mana-mana dan saya nikmati. Banyak persepsi tentang penyakit AIDS namun banyak orang yang tidak mati dengan AIDS. dimana ketiga penyakit ini belum ada obatnya. Karena itu makin cepat kita memberikan informasi walaupun ke desa-desa yang dianggap tidak terkena AIDS. Tapi bukan berarti saya tidak bisa bekerjasama dengan ketiganya. cuma yang jelas tujuan saya satu jika ada yang butuh pertolongan. Saya kerja dari pagi jam 07.53 Dr. saya belajar tegar karena satu tujuan saya selama saya bisa bekerjasama dengan virus yang ada dalam tubuh saya. Tapi saya menolong bukan berarti saya menolong buta. Untuk kecanduan. Sering orang dulu terkena karena dia belum tahu informasi.

tidak makan gula berlebihan. waktu istirahat dan waktu untuk diri sendiri yaitu meditasi. Karena luasnya spektrum seperti itu maka kirakira seperti yang dikatakan Dayan. Jadi bagaimana Dayan bisa melakukan kegiatan itu. Cuma ada kencing manis tetapi dia minum obat untuk menanggulangi kencing manisnya kemudian dia melakukan diet. Itu memang dengan pemeriksaan laboratorium dapat dilihat lalu kalau makin tinggi jumlah virus didalam tubuh bisa sampai jutaan maka makin cepat dia bisa menimbulkan sakit. dia sudah bisa mengukur yang namanya kekebalan tubuh berapa. Seharusnya kita walaupun tidak ada HIV seharusnya sudah seperti itu juga untuk mendapatkan kesehatan yang baik. tidak balik lagi ke narkoba. Dari mengatakan berita buruk menjadi berita baik itu adalah menguntungkan. HIV beda dengan AIDS. Yang penting dari Dayan tadi adalah dia menerima HIV yang sudah terlanjur. di satu pihak bonus dalam arti berita buruk. Seperti yang dikatakan tadi dia dapat bonus. HIV itu adalah nama virusnya dan AIDS adalah kumpulan gejala yang sudah muncul pada seseorang yang sudah terkena HIV. di pihak lain baik karena dia sudah bisa mengatasi. berapa lama kira-kira Dayan untuk mengatasi masalah yang berkecamuk seperti yang dialami oleh Putu.54 Dr. saya cenderung untuk memprioritaskan pemulihan dari sisi kecanduan saya karena itu yang ternyata . Itu harus seimbang. mengatur menunya. Saya melihat dia sudah mengatur waktunya dengan baik sekali yaitu ada waktu kerja. sel darah putih kalau cukup tinggi maka dia tidak akan sakit dan dia bisa beraktifitas seperti orang yang tidak terinfeksi HIV. Kalau tidak ada HIV mungkin tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan semuanya disini. dengan lingkungan dan sebenarnya saya lebih prioritas kecanduan saya daripada HIV. HIV saya prioritaskan nomor dua. Tetapi memang kalau dilepas lagi obatnya virusnya akan naik lagi dan dia bisa menularkan penyakit. Itu perlu waktu berapa tahun. Jadi sama seperti yang saya katakan tadi. Dan malahan sekarang sudah ada obat yang tidak bisa membunuh tetapi bisa menekan perkembangan virus maka sekarang orang hidup belasan tahun lebih bahkan sampai 20 tahun. Demikian juga sel-sel kekebalan tubuh dapat dihitung dengan lab. Dayan (ODHA): Kurang lebih 1. jumlah virus didalam tubuhnya berapa. Kemudian kalau virusnya semakin rendah maka sebaliknya dia akan tetap sehat. Tapi sekarang bagaimana agar tidak kecanduan lagi. 5 sampai 8 tahun bahkan 10 tahun. kegiatan fisik dan kegiatan mentalnya sehingga dia bisa hidup seperti orang yang tidak ada kencing manis.5 tahun saya tawar menawar dengan diri sendiri. Tuti Parwati : Kalau kita dengar apa yang disampaikan oleh Dayan memang spektrumnya luas dari yang mulai bergejala sampai yang gejalanya berat dan sakit berat itu. Jadi AIDS itu di stadium akhir. Ada sekian tahun orang terinfeksi.

Tapi ternyata saya bisa bahkan saya berpikiran begini. beruntung cuma di air mani. kelompok pecandu yang positif itu. Dr. bahkan saya kurang lebih hampir sudah ketemu dengan 1000 orang ODHA yang ternyata deal emosionalnya sama dengan saya. Di kelompok kami. Yogyakarta. Banjarmasin. Tapi sayangnya informasiinformasi seperti ini khususnya di masyarakat belum banyak terdengar dan itu yang menjadi tanggung jawab saya sendiri sebagai ODHA untuk memberikan gambaran bahwa orang HIV itu tidak ada tengkorak. Tuti Parwati: Jadi lebih cepat. Tapi di sisi lain HIV itu justru semacam pemicu saya untuk sadar "Hei itu bisa terus begini" dan saya harus lakukan sesuatu cuma melakukan apa. kita saling berbagi dan saling berempati. setelah saya bisa mengatasi sisi kecanduan saya maka saya bisa berpikir jernih. tidak cuma di tempat tidur saja. bisa duduk 2 jam hanya ngomongin isu-isu kehidupan saya dan bagaimana saya deal dengan kehidupan saya. Jadi banyak kabar baik kalau mau informasi. Saya pernah ketemu dengan orang HIV dari Papua. Jadi sisi kecanduan saya. Riau. yang mendesak saya melakukan beberapa hal. Kalau Putu perlu berapa tahun? Putu Utami (ODHA): Kurang lebih dari tahun 1994 sekitar 4 bulanan dan mungkin karena kepentingan. Dan kalau emosi yang Mbak bilang tadi saya pernah shock dibilang orang HIV tidak boleh kawin lalu bagaimana. kapan. bagaimana. Itu tanggung jawab yang saya ambil. tanggung jawab yang lain mungkin bisa anda ambil. Dan saya bersyukur punya seorang teman dan satu kelompok yang kita ketemunya orang-orang HIV itu sendiri. masih ada strategi lagi dengan pencucian sperma akhirnya istri saya bisa hamil. Bandung. Saya juga ikut jaringan nasional untuk orang-orang HIV. Ada yang bilang kok bisa punya anak. Ini deal-deal yang saya lewati dan yang ada dalam pikiran saya. Itu yang menyelamatkan saya disamping ada beberapa kesempatan-kesempatan yang saya dapatkan dari jaringan nasional. Ghana. perlu waktu. yang kadangkadang itu pengaruh dari sisi kecanduan saya. Balikpapan. Thailand. Tuti Parwati : Jadi perlu waktu 1. Itu bervariasi. Karena virus HIV bukan di cairan sperma namun di cairan mani. kalau saya HIV positif maka cari saja cewek HIV positif.5 tahun untuk Dayan bisa menerima dan tawar menawar dengan dirinya.55 menjadi istilahnya setir dalam kehidupan saya dan entah dari kehidupan kecanduan itu yang menyebabkan saya hancur dan sebagainya. Orang HIV itu belum sakit. Surabaya. Dr. Medan. itu saya tidak tahu. Saya bisa nyambung. kalau Putu bisa mengatasinya tetapi diterimanya juga dengan shock yang begitu berat. Itulah fase-fase yang nanti kita diskusikan dan bagaimana .

selain jaringan ODHA. Dengan tumbuhnya kesadaran dari masingmasing ODHA untuk tidak menularkan. Jadi kebetulan ada beberapa teman yang khusus untuk isu-isu yang berkaitan dengan masalah-masalah perempuan. Reaksi agresif seperti itu bisa kita redam agar mereka tidak membahayakan bagi lingkungan. Itu saja. Dari orang HIV secara nasional kita sudah sepakat bahwa penularan akan distop dari orang yang sudah terinfeksi HIV dan saya rasa itu peran yang cukup baik. tetap stop disana jangan sampai anaknya tertular. Seperti tadi dikatakan apakah ODHA boleh kawin ? Saya bilang boleh saja. kalau kita tidak merangkul mereka. upayanya kurang bisa berhasil. dihargai disamping peran-peran yang lain. Putu mungkin mau menambahkan lagi. Dia bisa menularkannya kemana-mana. Masalahnya kompleks sekali. yang penting dari dalam dirinya sendiri. Kelompok dukungan menjadi penting untuk masalah-masalah yang pribadi seperti ini. Sebab setelah mereka bisa menerima maka tidak ada sesuatu hal yang istimewa dari mereka. Jadi itu peran kami. Tapi siapa yang tahu mereka melakukan apa.56 cara supaya mereka makin pendek fasenya. Orang tidak gampang terbuka sebelum mereka menemukan Bali Plus. Dokter atau kita bisa menyarankan dari luar tapi yang melakukan ini adalah mereka. kelompok Bali Plus penting. Putu Utami ( ODHA ) : Saya tadi ditelepon juga mengenai masalah perempuan. Mungkin itu bisa ditempatkan dimana tempat-tempat konseling yang sesuai seperti itu. Tuti Parwati : Jadi kita harus melibatkan ODHA sebagai salah satu upaya pencegahan. menemukan jaringan ODHA. Itu tidak bisa diberikan oleh media massa karena itu adalah konseling. yaitu kehamilan. kalaupun dia menikah bagaimana supaya istrinya atau suaminya tidak tertular karena dia maunya “stop disini”. misalnya di komplek-komplek karena tidak ingin tertular sendiri. karena di fase yang pendek itu bisa melakukan hal-hal yang membahayakan. Tadi dikatakan bahwa ODHA sebagai pencegah penular lebih lanjut. Tapi itu adalah kesadaran dari orang HIV untuk tidak menularkan kepada orang lain. Kemana mereka menemukan jaringan itu barangkali peran-peran kita disini nantinya. Sekarang menjadi sangat istimewa karena ada fase-fase itu di puluhan juta masyarakat Dayan (ODHA): Jaringan ODHA Nasional punya pertemuan setiap tahun dan disana kita ada inisiatif untuk menyetop penularan yang kita sebut dengan HIV STOP DISINI. Boleh tidaknya dan bagaimana supaya tidak menularkan. Dr. Peran seperti itu sebenarnya kalau tidak dari ODHA sendiri tidak bisa. abortus dan pada saat dia positif HIV bagaimana caranya dia mau . Kalau sudah sama-sama kena.

Jadi peran saya disini biasanya Ibu Tuti kontak ke saya. Karena terlalu banyak permasalahan sering tidak cukup. Bagaimana dalam proses interaksi dengan masyarakat. Istilahnya begini. AIDS adalah kumpulan gejala pada stadium terakhir orang terkena virus HIV. Disitu kita punya peran yang cukup penting secara psikologis untuk membangun motivasinya. tempat curhat sangat dibutuhkan oleh ODHA. perempuan stigmanya lebih tebal lagi. Tapi kalau kita tertutup juga bagaimana rasanya. pengalaman itu bisa dibagi dengan sesamanya.57 terbuka dengan pasangannya. Jadi kita akhirnya rangkul teman-teman yang positif HIV yang mantan pecandu perempuan. apakah ditutupi atau terbuka karena saya rasa itu sangat dilematis. Jadi apa yang dilakukan pada waktu itu. Tuti Parwati : Kelompok dukungan atau support group. orang akan menjauhi karena pendidikan yang kurang. Perempuan disini sangat penting misalnya isu-isu perempuan yang diangkat yang lebih dominan. Tapi saya juga berikan solusi. artinya sesama yang positif HIV. ada teman yang sudah positif HIV ternyata anaknya negatif. Dr. konseling. mungkin sekarang. kita juga merasa bersalah mungkin karena kurang berhati-hati atau bagaimana. Berbeda sekali misalnya seperti yang terlanjur hamil sebelum menikah. Ada banyak masalah emosional yang berkaitan dengan pengurangan penularan yang lebih banyak. Diana Surjanto : Saya mau bertanya mungkin sharing saja dari Mbak Putu sama Bli Dayan. kalau dia sering berganti-ganti pasangan. kaitannya dengan masalah untuk pencegahan itu. sesama perempuan dalam kondisi yang hamil tapi secara medis saya kurang tahu cuma saya berbagi dalam kaitan dengan masalah-masalah psikologis. Ada teman yang bisa diajak berbagi untuk masalah itu. Akhirnya dia bisa memberikan solusi itu. Kita terbuka. Sampai sejauh mana orang yang mengidap HIV akan terkena AIDS dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi sampai ke level AIDS. Disitu saya tidak bisa memberikan solusi untuk perempuan yang pecandu. Yang kedua. pengetahuan masyarakat kurang. terutama ODHA yang mantan pecandu. ODHA ini. Salah satunya adalah bagaimana pada saat kita hamil bila kita positif HIV. Saya betul-betul sebagai orang yang konseling sebaya. Saya mau bertanya HIV berbeda dengan AIDS. . kalau dia pecandu atau perempuan yang mantan pecandu itu berbeda sekali dengan laki-laki yang pecandu. Kompleks sekali masalahnya. Loli : Terima kasih. kalau dengan kondisi seperti itu jangan melakukan sesuatu yang negatif saja.

Pada saat itu saya pikir tanggung jawab saya adalah saya harus mengatakan apa yang terjadi. Memang ada saatnya saya harus membuka diri. Setelah sakit maka ada macam-macam stigma. dari lima yang saya mintai pendapat kebetulan masih keluarga saya terdapat berbagai macam pendapat yang berbeda. Namun sekarang saya malahan bisa bersahabat dengan wartawan. Saya sempat berpikir ingin pergi dari rumah. Itu tanggung jawab yang coba saya ambil dan dengan berbagai konsekuensi kapan lagi saya sempat bilang. ada tempat yang belum saatnya saya membuka diri. Jadi perempuan lebih mudah terkena dua kali lebih cepat dari laki-laki. tidak bisa menjaga dirinya sendiri karena tergantung pada orang lain. Saya sempat cerita sama ibu mertua akan membikin iklan untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar kalau nanti anak saya besar. Keluarga saya menyetujuinya. Tahun 1998 sampai tahun 1999 paling anti dengan wartawan. Mereka jadi heran karena saya sekarang masih belum mati karena tertular HIV. Disamping itu karena perempuan tidak bisa memilih. Putu Utami (ODHA): Saya juga mengalami hal yang sama dan takut ketemu dengan wartawan. Yang mempercepat dia bisa mencapai cepat ke finish adalah bila ada faktor yang mendorong dia seperti penyakit kelamin. Karena anggapan mereka seminggu lagi saya meninggal. Memang stigma dan kecenderungan ketidaktahuan yang menyebabkan ada pendapat bermacam-macam. Saya sudah aktif di sebuah LSM mungkin suatu saat nama atau foto saya disebut disana dan apa yang akan terjadi kalau keluarga tahu dari orang lain. mertua sampai sekarang masih shock. Pada saat kita memberikan penyuluhan di gereja kita punya inisiatif memberikan pada saat adanya perkawinan. justru akan lebih menakutkan. Hampir tidak ada orang yang kebal terhadap HIV. Tuti Parwati : Yang mempengaruhi orang terinfeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah faktor waktu 5 tahun sampai 8 tahun yang umum. faktor kelainan. Kondisi sosial yang menyebabkan atau mendorong perempuan lebih mudah terinfeksi.58 Dr. semuanya bingung sampai akhirnya rapat keluarga dan disuruh saya jangan ke arah itu lagi. pola hidup yang kurang sehat. Saya sempat bikin iklan sama Mbak Nurul Arifin pada waktu itu. Jadi saya diberikan kursus perkawinan dan memberi tahu Romo bahwa saya menyisipkan HIV/ AIDS karena ini penting agar masyarakat di gereja . Di gereja misalnya. Apapun yang saya lakukan saya sudah konfirmasikan kepada ibu mertua saya. tidak bisa menentukan. Masalah interaksi dengan keluarga sendiri. Dayan (ODHA): Waktu saya pulang ke Manado. Syukur sekarang hubungan kami baik sekali. masyarakat akan bisa menerima bahwa orang tuanya tertular namun anaknya tidak tertular karena HIV. Setelah muncul iklan itu.

Ternyata darah yang disimpan tahun 1959 itu sudah ada yang menunjukkan . Tidak ada daerah yang mau dikatakan sebagai sumber. di Thailand begitu juga orang Amerika yang dituduh karena kasus pertama tertularnya di Amerika. di Indonesia tidak ada AIDS. Bapak Sadra : Saya masih agak bingung karena penyebabnya katanya melalui jarum suntik. Saya mengatakan mereka sering sekali tidak terbuka karena mereka tidak tahu. belum muncul mengikuti fenomena gunung es. misalnya sekarang kita tahu ada dua yang sudah terinfeksi. Jadi karena dia sangat sehat dan tidak kelihatan sedikitpun kemurungan di wajahnya atau kadang-kadang saya melihat merenung misalnya. Tapi orang pertama yang kena siapa. penyakit polio. kemana mencari pelayanan kesehatan. Masalahnya sekarang lebih banyak yang tidak terbuka. Kita kasus pertama di Indonesia ada yang mengatakan itu kan bule. sejak kapan HIV ada. kira-kira seperti apa itu? Dr. Tetapi memang seperti itu didukung oleh penelitian karena yang bisa diteliti darah yang disimpannya sejak tahun 1959. Dan yang masih tersimpan itu dicoba dengan alat pengetes sekarang. saya juga tadinya tidak percaya bahwa Dayan HIV positif. Semua penyakit yang berat-berat yang menimbulkan kematian dengan cepat maupun kematian lambat kebanyakan dibilang datang dari Afrika. Tuti Parwati : Tadi mungkin informasi saya belum lengkap. kalau di Bali dibilang Jawa. dia dapat kegiatan kemanamana. dia cerita sebenarnya virus HIV/ AIDS itu dikembangkan di Afrika oleh orang putih dengan maksud menghabisi orang hitam. penyakit malaria. belum tahu mereka terinfeksi. makanya saya tidak percaya dia HIV positif. Tuti Parwati : Kalau riwayat asal muasalnya HIV itu dimana memang semua orang pasti menunjuk ke Afrika. lalu penyebarannya? Masalah seks dengan suami istri itu kan anaknya nanti nyambungnyambung. Saya kasihan sama Afrika karena selalu dikatakan sumber segala macam penyakit yang sampai sekarang tidak sembuh-sembuh. Dr. Tetapi yang kita tidak kenal siapa lagi itu berlipat-lipat. rohani dan sebagainya sudah terbuka. Darah orang Afrika disimpan sebenarnya untuk penelitian penyakit yang lain. Tapi kalau dengan jarum suntik itu yang masih kabur. Jadi itu mitos tidak pernah ada. Jadi tidak mudah juga harus melihat tempat dimana kita bisa terbuka dan tertutup. Yang masih saya tanyakan dalam hati. kalau di Papua dibilang orang Jawa yang bawa mau menghabisi orang Papua. penyakit-penyakit lain. dan bagaimana dia kena? Saya mendengar cerita dari tamu asing yang datang ke sini dari Afrika. Kalau mereka ODHA itu terbuka kan tidak ada masalah.59 paham mengenai masalah-masalah itu. Kalau dia tidak dites dan masih sehat saja seperti Dayan misalnya siapa tahu.

Sampai sekarang masih terbagi bentuk virusnya. tetapi tidak menimbulkan penyakit/ wabah pada manusia. Mereka perlu evolusi/ perkembangannya secara pelan-pelan dan mungkin ada seleksi alamiah. Itu baru bisa menimbulkan penyakit pada manusia dan bisa ada gejalanya. Manusia sudah terinfeksi tetapi belum menunjukkan sakit karena dia paling tidak 10 tahun tidak ada gejala dan melalui seleksi alam juga. nanti anaknya pasti akan kena. Tetapi sekarang dengan adanya obat-obat untuk mengurangi jumlah HIV. Tetapi pada kera tidak menimbulkan penyakit yang sama seperti pada manusia. Bisa menular pada bayi. jadi “stop sampai disini” masih mungkin dilakukan. Tadi Bapak mengatakan kalau orangtuanya sudah terinfeksi. Jadi belum tentu. Jadi hampir 20 tahun dia berevolusi baru menimbulkan pewabahan/ sakit. Yang jelas HIV itu sudah ditemukan pada darah yang tersimpan tahun 1959 tetapi menimbulkan wabahnya baru tahun 1980-an. Jadi pada waktu Putu hamil suaminya positif kita berikan obat untuk mengurangi jumlah virus sehingga mungkin karena obat itu atau Putu masih bagus kondisinya jadi si bayi tidak tertular. Cuma bentuk/ strukturnya yang sama. Virus yang ada sekarang sudah melalui seleksi spesies.[] . Dulu dikatakan sekitar 20 sampai 45 % kemungkinan wanita hamil menularkan AIDS. Dan kalau dari jarum sudah pasti karena itu jarum jangan dipakai dari satu orang ke orang lain tanpa disterilkan apalagi tusuk jarum yang untungnya jarumnya kecil tidak ada lubangnya. Jadi tetap harus direndam bayclin dulu atau mungkin alkohol dan sebagainya terus dikeringkan baru dipakai. mirip-mirip susunannya. sudah mungkin tadi dikatakan ada di kera. Tapi bagaimana pun virus Hepatitis lebih cepat menularnya lewat jarum. kalau yang ada lubangnya itu lebih parah lagi. menekan perkembangannya itu. karena itu bagaimana yang dari kera ke manusia menularnya. Karena itu Dayan mengatakan kabar baik untuk dirinya karena boleh menikah dan masih mungkin punya anak yang tidak terinfeksi. Mungkin HIV yang awal-awal itu tidak begitu ganas atau virolen dibandingkan dengan hidrasi kemudiannya sampai akhirnya sekarang namanya HIV. Masing-masing ada virusnya tetapi memang mirip.60 positif berarti virusnya sudah ada sejak tahun 1959. Kalau penularan dari suami-istri ke anak tidak 100 % ke anak. tidak bisa dikatakan HIV itu virus yang dari kera meloncat ke manusia. obat ARP namanya lalu menurun dibawah 10 % bahkan sampai 7 %. Lebih baik dia tidak kita tolong kalau jarumnya belum steril daripada kita ingin menolong dia siapa tahu ada bonus negatif yang lain ikutan disana.

Inilah masalahnya. khususnya masalah HIV/ AIDS yang kasusnya di Indonesia semakin meningkat. Jadi dari seluruh informasi yang didapat. susternya atau dokternya kaget maka terjadi perlakuan-perlakuan yang menyakitkan hati. Justru Hepatitis jauh lebih cepat menular berapa kali lipat namun ini tidak ada stigmanya sehingga kita biasa saja. seperti dalam buku yang saya baca berisi wawancara dengan penemu virus dari Amerika. Sebetulnya kalau kita cepat. Pada waktu sehat seseorang bisa saja tertular HIV. Itu penolakan/ isolasi dari komunitas. penyebab utamanya adalah virus. Kita sebenarnya terpapar oleh banyak soal. Yayasan Citra Usadha Indonesia. Dari ibu yang terkena HIV ke balitanya pasti akan menularkan HIV. sebenarnya HIV lebih bisa dikendalikan di dunia ini. satunya dengan label negatif dan satunya tidak ada label. Studi ini mengupas tentang kepedulian agama-agama terhadap masalah sosial. Selama ini kita mendapatkan pengetahuan tentang HIV kebanyakan dari media. Bali. semuanya langsung dikirim ke RS Dokter Sutomo. Kita belum bisa membedakan antara HIV dan AIDS. satu dengan stigma dan satunya tidak. Yang membedakan itu adalah imajinasi kita. Ini sebenarnya lingkaran setan. dikaitkan dengan kotor dan sebagainya. Esthi Susanti : Kalau berbicara tentang HIV. Acara ini diselenggarakan dengan bekerjasama dengan Gedong Gandhi Ashram. Kalau di Jawa Timur setelah dites HIV. Sebenarnya keduanya sama. Kalau tidak salah seperti SARS itu bisa cepat dilacak karena sebelumnya ada studi tentang HIV. Studi tentang virus ini menjadi mendalam. Kalau seseorang sudah tahu dia positif. Stigma ini menimbulkan diskriminasi. Tapi kalau dia mengaku. dia harus memberitahu ke dokter supaya tidak perlu putar-putar mencari persoalan. dan Uluangkep. kebanyakan terdapat di rumah sakit yaitu fokusnya pada pasien. penderita diusir dari tempat tinggalnya atau keluarganya. Image yang dibangun oleh media massa kebanyakan salah bahwa orang yang sakit seperti ini sekarang sudah dikatakan tidak bermoral. Itulah jasanya. Namun karena . Jika dia bekerja dipecat dari pekerjaan. Karangasem. Apa sebenarnya perbedaan HIV dengan Hepatitis? Ini sama-sama karena virus.61 DIALOG PERSOALAN SOSIAL BUDAYA SEPUTAR HIV/AIDS Institut DIAN/ Interfidei Yogyakarta pada tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 mengadakan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa. kalau sekolah tidak boleh sekolah dan ditolak oleh pelayanan kesehatan yang banyak. Di Jawa Timur ada yang sampai jualannya tidak laku. Berikut adalah hasil studi kelas tentang persoalan sosial budaya seputar HIV/ AIDS. Orang selalu mengatakan bahwa HIV itu adalah penyakit.

Kalau sekarang kita tinjau dari public health sebetulnya bisa langsung tembak. Sebetulnya kita harus cepat bisa mengendalikan virus ini. Tidak hanya untuk yang sakit tapi kita belajar bagaimana kita bisa menghargai tubuh kita. jadi jangan berpikir. karena salon tidak masuk ke dalam dinas kesehatan namun masuk ke dalam dinas pariwisata. Kalau kita menyerang orangnya. Jadi program pemberdayaan ini abstrak kalau ditinjau dari public health karena tidak memotong penularan secara efisien. Apalagi kalau virus ini sudah mencapai tahap yang lebih lanjut. Baik yang sakit atau yang tidak sebetulnya kita ini berperang melawan virus ini sehingga kita juga harus mengupayakan bagaimana virus ini bisa dikendalikan atau dikalahkan. bukan kemana-mana. kemudian rendah. dan ini sangat rumit. jarum suntik termasuk universal partner notification. Fokus kita adalah bagaimana caranya kita bisa menundukkan atau mengalahkan virus ini. Itu yang harus kita upayakan. Kondom memutus rantai penularan secara efisien. kalau di kedokteran disebutkan. Kalau seseorang positif. suami sebagai pencari nafkah utama dan sebagainya. yaitu ada perilaku beresiko tinggi. dilindungi kondom. aku tidak bertransfusi terus aku tidak pakai jarum suntik berganti-ganti tidak akan terkena virus ini. Itu adalah usaha dan bukannya menyerang. Berhadapan dengan virus ini. Marketing itu memutus penularan secara efisien. bagaimana supaya suami pakai kondom atau minta cerai. Ini persentase tinggi memutus rantai penularan. lalu programnya adalah pemberdayaan. tidak ada pendidikan tentang universal tricolsin. Jika dikaitkan dengan perempuan secara sosial budaya itu berelasi timpang karena perempuan harus tunduk pada suami. Tapi kalau kita mencoba mengendalikan virus ini. apa yang berkembang. Berdaya menghadapi suami yang suka “jajan”. mungkin karena aku tidak berhubungan seks bebas. Mungkin sekali kita tertular lewat suntik silikon atau kerok jerawat karena universal tricolsin belum diterapkan di banyak salon. menghargai wadah. Kalau teman-teman sekalian mendengar testimoni ODHA. termasuk orang yang sudah positif. maka pengendaliannya akan semakin sulit. Jadi kondom. kalau tubuh kita sehat maka daya tahan tubuh kita berarti meningkat dan bisa dipertahankan. spirit dalam mengembangkan kekuatan spiritualnya atau mentalnya untuk menghadapi virus ini. kita menjadi tidak peduli dengan virusnya. Pemberdayaan itu bersifat . selalu ada cerita bagaimana dia deal dengan virus yang ada didalam tubuhnya. Kalau saya positif lalu berhubungan seks dengan yang negatif tapi yang negatif supaya tidak tertular. bukan ke orangnya. Bagaimana kita bersama-sama berperang melawan virus ini. Seperti ditemukan tahun 1959 kemudian bermutasi ada HIV 1 dan HIV 2. Kondom dan jarum suntik ini yang populer dan selalu dipasarkan. Setiap orang punya potensi terinfeksi HIV. sedang. HIV juga sangat berkaitan dengan perilaku. pasangannya dicari supaya penyebarannya dipotong. Pola hidup kita sehat dan banyak cara-cara hidup sehat yang dapat kita kembangkan.62 semakin lama semakin bermutasi sehingga virus banyak ragamnya. jadi kita tidak tahu. lalu kita akan berbicara tentang hidup sehat. lalu juga jarum suntik steril. tidak ada kontrol.

misalnya apakah kita tertular waktu memandikan. Selama ini mereka terisolir karena itu penyakitnya orang nakal. harus mengerti karena dia produktif apalagi kalau dia seksual aktif. terutama perempuan muda. Jadi saya kira begitu. itu merupakan kesalahan yang besar. bagaimana pencegahannya. pemberdayaan bisa berdimensi politis. Program itu sampai sekarang tidak mau masuk pendampingan ke ODHA. lalu ditolak oleh layanan kesehatan. banyak meninggalnya itu dalam keadaan kesakitan. Misalnya dalam suatu buku. dengan bermartabat sebagai manusia. Ini yang saya kira perlu diisi. Itu hak untuk mendapat informasi lengkap. namun pendidikan saya belum dengar. pemberdayaan bisa aspek sosial yaitu dia ikut mengambil keputusan. itu sudah ada prosedurnya. Ada teman saya yang sampai saat ini masih trauma dengan situasi itu. dia minta prosesi kematiannya diperagakan pada waktu dia hidup. mencerahkan. Kalau kita sekarang tarik problem sosialnya yang konkrit. Ini sebetulnya tugas kita supaya kalau orang mati bisa dengan tersenyum. . Lalu kalau yang potensial problem sosialnya adalah aspek jender. Terus jalan keluarnya apa kalau program pemberdayaan ini adalah sebuah program yang tidak tajam dan kelihatan hasilnya? Bagi saya yaitu yang pertama perempuan muda atau perempuan jangan diisolir atau terasing dari diskusi tentang infeksi saluran reproduksi. Kalau itu masalah maka harus kita hadapi. Kalau kita bisa punya cara-cara mati yang bermartabat dan cantik ini. penyakitnya pelacur karena itu tidak perlu mereka tahu karena kelakuannya baik. ada satu orang Amerika yang kena kemunduran tulang. bermartabat. Sebetulnya ini satu segi yang penting dan perlu dikembangkan oleh orang beragama. kalau istilah agamanya. Tapi kalau pakai istilah valiatif. Itu adalah buku tentang cara mati yang luar biasa. Perempuan harus dapat akses. kita akan melihat hidup ini indah. Pemberdayaan bisa aspeknya ekonomi yaitu punya pekerjaan. benar dan jelas itu sebetulnya memberdayakan. Kalau dengan universal tricolsin orang tidak akan tertular. Pemberdayaan ini menjadi tidak populer karena sebetulnya di masa yang akan datang dan sekarang sudah banyak perempuan yang terinfeksi dari pasangannya. Sebetulnya perempuan muda bisa melindungi diri dari HIV. Orang bisa membayangkan sampai dia meninggal. benar dan jelas.63 politis. dipecat dari pekerjaan. itu meninggal dengan tenang atau bisa tertawa. infeksi menular seksual dan HIV/ AIDS. saya kira di Bali masih ada orang (ODHA) yang ditolak oleh lingkungannya. Itu problem sosial yang ada. Pada waktu kesehatannya mundur sekali. Dari teman-teman saya yang melakukan pendampingan pada orang yang mau meninggal. Kemudian yang dikaitkan dengan agamawan sebetulnya banyak ODHA ini meninggal dengan. membuat orang bisa membebaskan orang. Itu luar biasa. Valiatif adalah kanker yang stadium lanjut. Banyak orang memilih meninggal dengan cantik sekali. Bagi perempuan itu penting karena informasi yang lengkap. Tapi kalau kita membiarkan orang meninggal karena kesakitan.

dia bergulung-gulung menangis karena disebut daerah asalnya di koran itu sehingga ia malu dan berlanjut lagi dia sampai hari ini tidak berani pulang ke kampungnya di Madura. Seperti Susana Murni. Kita ikut menjadi pembunuh karena ada kondisi. satu banding berapa. Bagaimana gema yang muncul itu adalah gema harapan. Kita seharusnya mendukung orang yang lemah. Seperti Dayan dan Putu. padahal HIV yang diserang adalah daya tahan tubuh. sampai suaminya mau menempeleng dokternya. mayatnya diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Jangan kita membiarkan mereka melawan sendirian. Tidak ada ganti rugi. anggun dan elegant. Satunya lagi baru diduga karena gejalanya mirip-mirip seperti tifus. pada waktu kita biarkan dia mati dengan seperti itu. Kemenangan-kemenangan seperti Dayan dan Putu itu adalah kemenangan individu dan bukan kemenangan kita sebagai kelompok manusia. tahunya dari koran. Ini standar absolut. tokoh HIV yang meninggal dan sewaktu meninggal banyak yang datang bahkan tidak ada yang jijik. terus pasien ini juga mau bunuh diri. Kita harus berperang melawan virus. kita berposisi sebagai pembunuh secara sosial. Jawa Pos pernah menulis pada waktu dites sekali. Ada juga yang dikubur dengan plastik. dicium. Itu tergantung daripada dukungan keluarga. Namun tidak terjadi pada semuanya. harus lewat 3 kali tes. dukungan kelompoknya termasuk juga bagaimana dia bisa menerima penyakit itu atau tidak. Meskipun tidak semua orang dengan gejala seperti ini. Problemnya adalah orang ini baru dites 1 kali. Jadi mengapa ada orang yang umurnya bisa lebih panjang. bisa lebih pendek. Itu semakin membuat kita dikalahkan oleh virus ini. . Kalau sekarang diberitakan di koran dan keluarganya tidak tahu. Hasil tes 1 ini memang positif lemah karena pakai rapid test. bermartabat. Anak sulungnya mau membunuh wartawannya. Pada waktu kita menyatakan dia perlu diisolasi. Orang-orang yang mati dengan AIDS. tapi sudah ditulis. ada perempuan dari Madura melihat di Jawa Pos ada nama suaminya dan asalnya disebutkan sebagai positif HIV. Pada waktu libur ini diberitakan di Jawa Pos. dia diterima dan melawan sendirian. mencret. Karena sebetulnya kematian itu juga dimensinya banyak yaitu ada kematian fisik.64 Kita harus memikirkan bagaimana mati dengan cantik. Ini berarti kita membiarkan saudara kita mati dengan cara itu dan membiarkan teror berkembang di lingkungan kita. Seseorang dinyatakan positif itu kalau tesnya 3 kali. Tadi Putu tidak cerita waktu suaminya meninggal dikuburkan jam 10 malam hanya dihadiri oleh beberapa orang karena takut. Penerimaan terhadap virus ini penting bagi yang bersangkutan. tidak ada yang mau memandikan mayatnya. tidak ada orang yang mau datang dan sangat tergantung pada perjuangan individu ini. ada kematian sosial. Bagaimana kita mengubah image ini. tapi banyak yang positif lemah kemudian menjadi negatif. Banyak dari kita menjadi pembunuh secara sosial. ternyata hasilnya negatif tetapi diberitakan sudah positif. Pada waktu saya datang ke rumah sakit Dokter Sutomo. Orang yang terinfeksi fisiknya jauh lebih lemah. Kalau orang stres daya tahan tubuhnya menurun. yang lain itu dikubur dengan diam-diam pada waktu malam. berat badan turun dan sebagainya. panas. banyak yang mati dengan menakutkan.

-. Orang alergi dengan masalah ini. Kita menjadi ikut ambil bagian terhadap kekalahan kita sebagai manusia.000. Masalahnya sekarang kalau ngomong kondom dan jarum suntik. kelompok dukungan dari Surabaya. Dengan begitu kita tidak membangun persepsi yang keliru sehingga kita melakukan dosa yang mungkin tidak kita sadari. Ia membuat pernyataan bahwa istrinya terinfeksi HIV karena tertular dari tetangga. jadi ada perempuan yang positif kemudian suami ini menjadi narasumber. Persoalannya banyak sekali. Sekarang mengapa ARP murah padahal dulu mahal sekali. Misalnya narasumber itu suaminya. 380. Kalau sekarang kita bisa bersatu mengatasi masalah ini. Kemudian generik di India bisa diproduksi. Indonesia. Saya kira itu suatu dimensi. Kita bisa sampai pada kondisi itu sebetulnya dimulai pada Deklarasi Doho yaitu para agamawan bersatu membuat deklarasi menyatakan bahwa dunia usaha tidak boleh mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Tidak ada orang yang mau disalahkan dan selalu menyalahkan orang lain. Kita sebetulnya sudah dikalahkan. Di seluruh literatur tidak ada yang tertular dari tetangga karena hubungan sosial. Kalau mau berbicara mengenai penyakit.65 Kasihan sekali ibu ini. Jangan biarkan ini menjadi teror. Jadinya saya bingung untuk mengembalikan spirit dari keluarga ini. Tekanan agamawan ini berhasil sehingga ada dispensasi tentang hak paten. saya kira persoalan ini bisa kita ubah. Saya aktif mendampingi kasus HIV tahun 1990. saya tahu persis dari mana dia tertular. Padahal dokter dari RS Dokter Sutomo tidak mau memberikan keterangan hari itu juga. Waktu keluarganya diwawancarai mengatakan:”adik saya tertular karena dia bergabung LSM peduli AIDS dan tertular setelah bergabung”. namun Jawa Post minta harus ada pernyataan dari dokter bahwa kalau kena paru-paru tidak otomatis HIV. Itu bukannya menyetujui hubungan . Ungkapan ‘tertular dari tetangga’ itu berapa kali ditulis. Ada lagi dari anggota Friend Plus. Yang kita butuhkan adalah supaya virus ini bisa segera dikendalikan. Ini jasanya agamawan yang bersuara menyuarakan suara kemanusiaan. Saya jauh lebih pintar dari dokter misalnya yang baru lulus. Jadi jangan percaya pada koran. Ini masalah teknis. Kalau tidak kita akan dikalahkan virus ini. Itu sering mengambil narasumber-narasumber yang memberi ilmu sesat atau informasi sesat. dia minta tolong kepada saya supaya namanya direhabilitasi dan sudah saya urus ke Jawa Post. Itu berarti orang membangun teror karena mengambil narasumber yang tidak tahu apa-apa. Celakanya karena koran tidak mempunyai policy tentang pemberitaan HIV akibatnya prosedurprosedur biasa dalam penulisan itu dipakai. kemudian Thailand. apalagi sekarang ini perkembangannya begitu kompleks. Desember yang lalu Indonesia bisa memproduksi. Itu justru yang harus diluruskan. Suaranya pesimistis sekali kalau baca koran. jadi jangan percaya koran 100 %. Kalau dari studi yang saya lakukan adalah misalnya mengambil narasumber dari tetangganya. Jadi access opened harus untuk semuanya. harganya menjadi murah Rp. Tapi APBN mensubsidi sehingga ada yang gratis atau yang murah. tidak semua dokter tahu HIV.

bagaimana supaya dia kembali bangkit kemudian bisa mempersiapkan dirinya hidup sehat dan sebagainya. Padahal justru levelnya sudah lebih tinggi dan pada level value. Kalau yang teknis-teknis. Tetapi itu dipahami keliru. Ini adalah value-nya. Kita mengambil keputusan tidak ada yang mendukung value negatif seperti itu. yang perlu disuarakan adalah harapan. Selama ini kelihatannya orang agama ini dipaksa suruh ngomong yang teknis ini. perbuatan kita sendiri. Masalahnya sekarang ada problem riil di masyarakat dimana ada keinginan agar virus ini bisa dikendalikan. bagaimana kita harus bersikap kepada saudara kita yang tertular HIV agar layak seperti manusia biasa. bagaimana reaksi kita semestinya. Bapak Nyoman Sadra : Kita sudah banyak sekali berbicara tentang virus yang sementara ini oleh masyarakat pada umumnya dianggap seperti gambaran kampanye dulu itu. Ini situasi darurat. virus ini perlu segera dikalahkan sehingga ada policypolicy teknis. Kita menghormati orang lain dengan tidak menulari. tidak ada yang mengharuskan. lidahnya api sehingga menakutkan kita semua dan sempat disinggung didampingi tengkorak-tengkorak. Dengan melihat kenyataan seperti itu.66 seks bebas. Juga tentang value menghormati hak orang lain dengan tidak memberi penyakit. bagaimana kita menghindarkan diri jangan sampai tertular. Jadi suara harapan dan suara penghargaan kita kepada kehidupan ini yang perlu kita wujudkan.Tapi jangan dilihat dari sudut pandang negatifnya. bukan value yang mengajari ganti-ganti pasangan. Tapi kita tidak demikian. kita biarkan saja. Lalu penghargaan kita kepada kehidupan termasuk orang yang lemah dan sakit. Kalau dikaitkan dengan agama. Kita tidak diajar untuk mengambil seluruh tanggung jawab terhadap tubuh kita. mengikuti hidup berdasarkan agama itu bagus sekali. . diputus supaya tidak menimbulkan kepanikan sosial atau krisis sosial yang terjadi. Kalau kita ngomong value. dibalik ini ada value yang mulia yaitu bagaimana setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. matanya besar menyala. taringnya panjang. bukan value yang dipertentangkan. Gema optimistik yang kita kumandangkan sambil kita berdoa kita ikut berperang melawan virus ini. narkotika. kita suka menyalahkan orang lain. kemudian tidak menulari orang lain. Tapi kalau orang agama tidak mau ngomong. tugasnya orang yang bekerja di bidang kesehatan. Ini memang tugas public health. Kalau kita bicara masalah penyakit ini. hidup yang dia miliki. Saya berharap diskusi yang akan datang kita bisa mengambil bagaimana kita bisa bersuara bersama menyuarakan harapan dan bisa mengalahkan virus ini. yaitu digambarkan bagaikan leak Bali (hantu Bali). Itu tidak dikembangkan dan kita berbicara tentang itu. Tapi kalau semua orang bisa memenuhi peraturan agama. Itu yang kita dukung. menjaga diri sendiri. saya sendiri bahkan ketika saya melihat langsung di Thailand begitu mengerikan. bukan berperang melawan orang atau sesama kita.

Dia bilang inilah Bali. Banyak sekali kita melihat di dalam awig-awig. dibuatkan perumahan dekat kuburan dan orang dilarang berkomunikasi dengan orang itu. Lalu mulailah semir rambut. selama 2 jam dengan masyarakat. Kalau kita berharap seperti tadi. Di kampung saya pernah sekali oleh Dr. kalau ada penyakit yang dianggap awig (sakit gede) itu adalah penyakit kelamin atau sipilis jaman dulu. seperti Dayan. Orangnya dikucilkan. kalau kita jujur. menanyakan aktivitas ini. Dalam kaitannya dengan pariwisata khususnya di daerah ini kita hanya melihat ruangnya saja. baik yang dilakukan oleh LSM ataupun dari pihak pemerintah. medical antropologist dari Swiss yang dibantu oleh temannya. jemur di matahari sampai hitam dan pemudanya pada kesempatan tertentu mencari ikan di tambak ikan kemudian pesta dengan tamu. AIDS sampai saat ini belum ada yang menyebut dan syukur begitu. dikeluarkan dari kampung. Tapi apakah kamu tahu pariwisata itu temannya pelacuran dan narkoba? Satu hal yang tidak mungkin dipisahkan. Paling selama pengalaman saya hanya penyuluhan tentang narkoba. mulai beranggapan kalau berperilaku seperti turis asing adalah perilaku yang sekarang trendy. seorang dokter umum tapi ahli operasi tangan. ada tokoh agama. saya tidak tahu di daerah lain seperti apa jelasnya tapi kalau menduga-duga mungkin tidak jauh berbeda dengan disini. Yang jelas mereka belum mengenal bahaya daripada perilaku seperti itu karena sampai saat ini penyuluhanpenyuluhan sangat minim. Jadi perilaku kita secara umum ingin coba-coba. begitu terbuka segala macamnya sehingga mungkin kontrolnya lebih mudah untuk mengendalikan penyakit seperti itu. Teman saya. Kalau tidak berperilaku seperti itu berarti anda bukan siapa-siapa dan orang kampungan. Ubud yang sudah berkembang sedemikian rupa. tokoh adat yang berperan. Saya takut bahkan sudah ada kasus pedofilia itu. Saya bilang akan ada dialog tentang penyakit AIDS. paling tidak di kampung saya. Ketika ditanya bagaimana mengembangkan pariwisata Bali. Tapi justru yang paling susah itu sembunyi-sembunyi. Saya lihat sampai pagi dengan memutar musik. Belakangan anak-anak muda disini. Ini yang saya lihat perilaku kita di Bali.67 Kita melihat di Bali dan secara umum manusia dimana saja. terhadap sesuatu yang kita belum tahu. Jadi semestinya kalau kita ingin mengembangkan pariwisata disini kita harus berpikir jauh-jauh hari sebelumnya karena ada pengalaman Kuta. Wimpi Pakahila tapi hanya singkat sekali. Mungkin seperti di Thailand. melakukan penelitian terhadap penyakit tropis disini. Kenapa . dia sangat setuju sekali karena dia melihat ‘dolar’-nya. Namun kalau sudah kecanduan sangat berbahaya. Kemudian ada kebiasaan kita atau tradisi seperti tadi Mbak Esthi banyak mengatakan pengucilanpengucilan di masyarakat Bali. Saya melihat di Candi Dasa ini. naluri kita pingin tahu untuk mencobanya lebih lanjut. Kemudian di Bali saya lihat banyak sekali masyarakat suka meniru apalagi meniru hal-hal yang dianggap sukses. Lepra juga tergolong sakit gede dan diperlakukan seperti itu. sudah itu selesai.

Kenapa tidak dari sana kita berangkat mengembangkan pariwisata. saya sudah praktek tusuk jarum 2 tahun lebih .jadi masyarakat yang sakit berkeinginan kalau sakit datang ke dokter. dia tidak datang-datang lagi padahal saran saya mungkin ada asam urat yang mengakibatkan pembengkakan sehingga harus mengurangi makan makanan yang dilarang. Demikian juga ketika bicara kepada saya ketika dia sakit. Pertama katanya sekali saya tusuk sudah hilang. dia mengalami kesakitan. Coba kalau tetangga anda tidak melakukan itu maka anda tidak akan kena. Kalau ketemu anda harus bersyukur. begadang. Inti dari itu adalah upaya. di tangan penegak hukum. kita percaya bahwa minimal 50 % dari penyakit itu disebabkan oleh kita sendiri. menuding orang lain. rencana yang pasti dari Pemda khususnya Dinas Pariwisata di dalam mengelola kepariwisataan. Perilaku orang sakit di Bali . Itu yang saya lihat dalam gejolak masyarakat Bali. Mungkin dari kecil budaya Bali dicekoki seperti itu. bukan hanya masyarakat yang tidak berpendidikan tapi yang berpendidikan tinggi juga. Tapi yang jelas sampai saat ini memang sudah ada kasus narkoba yang sampai masuk ke pengadilan. Saya selalu bilang bahwa hal-hal yang menjanjikan kenikmatan secara badaniah akan selalu membawa akibat yang sangat negatif. yang paling banyak berperan di pikiran kita. Kemudian ada lagi perilaku masyarakat Bali yang sulit kita lawan. matanya seperti apa. Kalau kita sudah kena penyakit. Barangkali peran agama sekarang yang pertama adalah ceramah dari tokoh Hindu baru Pedanda . Kemudian saya ingin bercerita sedikit. Kita sebagai orang beragama percaya Tuhan Maha Kuasa dan Maha Besar tapi pada kenyataannya anda tidak percaya pada Tuhan namun percaya pada berita angin yang tidak tentu. Ini yang belum saya dengar. Bagaimana kita bisa menghindarkan diri tanpa mengubah perilaku kita sehari-hari. dan yang paling banyak berperan adalah mental. Ada orang yang ditusuk-tusuk dari jauh. Jadi menurut saya sebagai pengobat tradisional. tidak pernah ada penjelasan yang jelas dan menjadi jargon yang sangat kabur. kita tahu yang datang kesini biasanya mereka melakukan penelitian karena Karangasem konsekuen dengan desa-desa tua. Saya kutipkan apa yang dikatakan Mahatma Gandhi yaitu setiap penyakit yang ada di bawah matahari ini ada obatnya. kalau tidak jangan kecewa. Dia sulit melawan kehendaknya seperti itu. Kita coba sedikit mendalami. Kalau di pikiran kita hanya berpikir sakit terus maka akan tambah parah sehingga sering saya kutipkan kepada masyarakat yang datang berobat. Oleh karena itu cari obatnya. tetapi tanda-tanda pariwisata budaya itu berkaki berapa.68 kita tidak mencoba melihat? Kenapa turis datang ke Karangasem? Apa yang dicari di Karangasem? Dari survei turis-turis yang datang ke Karangasem. di tempat ‘kotor’ tetapi tidak ingin sakit lagi. seperti kasus HIV/ AIDS positif ini. Bagaimana orang membuat sakit hanya dengan mantra.karena saya punya pengalaman di klinik. bertelinga berapa. Pulang ‘minum-minum’ lagi. Dulu pemerintah mengatakan pariwisata Bali pariwisata budaya. Oleh karena itu barangkali didalam melawan dimulai dari perilaku kita. Kalau sudah sampai ada penegak hukum maka sangat patut kita curigai bahwa kasus yang tidak terlihat banyak. dikasih obat sakitnya sembuh. yaitu ketika kita sakit.

Jadi permasalahannya penyakit ini belum diakui atau masih private. apakah orang ini masih hidup ataupun sudah mati.69 Gunung. teman-teman saya di Hindu yang sudah mempelajari Weda kapan dia berbuat seperti itu. Dalam beberapa kasus di desa-desa adat sangat berbeda kebiasaannya atau tanggapannya mengenai beberapa hal. Mungkin dari sana kita membahasnya dalam forum ini supaya masing-masing pemuka adat terutama Hindu terbuka mengenai penyakit ini. Masalah ODHA. masalah kembar siam. Kemarin misalnya. namun itu masih sangat kurang. padahal virus tidak bisa berpikir dan tidak bisa ngomong. kita tidak tahu apakah orang yang meninggal karena HIV/ AIDS ini termasuk orang yang meninggal salah pati dalam agama Hindu. Sehingga saya memandang . Tapi dalam upacara saya lebih sering mendengar khotbahnya saudara muslim. MDP mempunyai kekuasaan yang luar biasa untuk mengatur desa-desa adat masyarakat Bali umumnya. ada beberapa desa yang menghapus pengucilan dan ada juga yang tidak. mudah-mudahan ada teman yang menambahkan atau ada cerita yang salah sehingga nanti dikoreksi. Masalah AIDS belum pernah saya temui warga banjar membahasnya. suaminya tidak mau pakai kondom dan kita diceraikan yang rugi kita (perempuan) juga. tidak pernah saya temukan dibicarakan dalam ruang publik. misalnya di parum atau rapat dalam desa adat. Saya sering bertanya dalam hati. Yang pertama adalah kita beri semacam pengertian mengenai AIDS sehingga bisa mensosialisasikannya kepada masyarakat. Karena kita sudah tahu bagaimana mencegahnya namun kalau misalnya suami istri. perempuan adalah 'yang tertindas'. akan ada MDP yang sepertinya tidak akan bisa diinterfensi keputusan-keputusan adatnya yang sangat mengatur masyarakat adat. Kita berbuat tetapi mengapa kita mesti dikalahkan oleh binatang kecil yang melihatnya saja melalui mikroskop. Ibu Habibah Achmad : Saya tertarik mengenai pemberdayaan terhadap perempuan terhadap masalah AIDS. apakah pernah ada orang meninggal karena AIDS di Bali kemudian diijinkan untuk dikubur di desa adatnya atau memang disembunyikan oleh aparat desa. virus yang menteror kita. Ini dianggap masalah yang sangat private dan harus ditanggung sendiri akibat salah pati yaitu penyakit asusila dan sejenisnya atau kotor. Tapi kenyataannya kita lihat baik di Islam maupun di Hindu. Luh De Suryani : Dari pengamatan terbatas saya terutama di masyarakat Hindu Bali. Ini cerita singkat dari saya tentang bagaimana perilaku kita di Bali. Saya menyorotinya terhadap ibu rumah tangga. umumnya perempuan. Jangan kita dikalahkan oleh virus. Kemudian pranata adat ini mulai diseragamkan oleh desa pekraman.

seperti kita. Sangat wajar ketika stigma masyarakat tentang AIDS mengerikan. Sebenarnya orang yang diberi informasi. Kesalahan kolektif yang sudah saya lakukan. tapi selama ini tidak dilibatkan. Jadi kalau berterus terang. orang yang bergerak di public health ini takut dengan kelompok agama. sehingga penderitanya harus diisolasi dari masyarakat. yang pertama adalah anti dengan . sehingga mereka bisa ikut berperan. Ini hal yang pertama.70 kita sebagai LSM atau kita yang punya kepentingan terhadap pemerintah agar memberikan semacam perlindungan terhadap wanita sehingga tahu bagaimana seharusnya berbuat. bagaimana mereka berperan dalam upaya penanggulangan ini. informasinya kurang sehingga mereka mengatakan bahwa informasi yang diperoleh hanya setengah-setengah. Tidak perlu peranan yang mengambil pekerjaan teknis. Itu karena masyarakat kita adalah masyarakat menengah ke bawah yang pendidikannya rendah. Agamawan punya peranan yang sangat besar dan perlu diberi informasi yang benar. Jadi yang terjadi didalam masyarakat dibiarkan saja. Jadi sumber persepsi yang keliru ada pada media massa. Ketika lembaga adat kurang informasi tentang AIDS maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. akan salah tafsir sehingga kita harus bisa menyampaikannya dengan baik. Saya kira ini persoalan yang cukup menarik ketika masyarakat bawah mengetahui informasi itu hanya setengah-setengah sehingga terjadi sebuah image bahwa AIDS sangat mengerikan. Kemudian yang kedua tentang free sex dan saya kira free sex maupun akhirnya AIDS adalah lemahnya kontrol sosial. Mungkin sasaran kita yaitu dengan membetulkan atau bekerjasama dengan media massa karena media massa tidak perlu dimusuhi. Saya sepakat tentang bagaimana memfungsikan lembaga adat karena di Bali mau tidak mau lembaga adat seperti ini sangat berperan. Selama ini kita membangun paradigma yang keliru dan mengatakan bahwa sebaiknya jangan ngomong sama orang yang memakai wacana-wacana agama karena kalau ngomong zina logikanya lain. Kebanyakan ceramah-ceramah ditujukan pada masyarakat menengah ke atas. Bejo Utomo : Yang ingin saya sampaikan adalah stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita AIDS. misalnya pihak yang bergelut dalam agama. Seharusnya itu ada yang memulai. Kita harus memulainya seperti yang dikatakan tadi. Ini sebenarnya cara pendekatan yang salah. tapi peranan sebagai agamawan ditegakkan kembali. Kalau dulu biasanya kekerasan dilawan dengan kekerasan akhirnya kita malah menuai kekerasan. Ini saya kira salah satu solusi bagaimana memberdayakan atau mensosialisasikan AIDS ke lembaga adat atau pemimpin agama. artinya masyarakat dengan adanya sifat individualis akibat modernisasi menjadi cenderung cuek/ tidak peduli. Ibu Esthi Susanti : Sebetulnya kelompok agama ini perlu mengambil kepemimpinan.

Memang perempuan sudah dikonstruksi seperti itu. tetapi sudah menjadi masalah publik. Saya dulu seorang jurnalis. kita beri akses informasi yang sama. Di Jawa Timur kita sudah bisa meyakinkan masyarakat termasuk pemimpin-pemimpinnya dan itu menjadi masalah publik sehingga Perda-nya ditandatangani serta didukung MUI. Seperti perempuan sekarang sudah menjadi korban ingin lagi mengorbankan diri. Kita perlu menyelaraskan agar sesuai dengan kedudukan anak perempuan sekarang sehingga mengurangi hantu yang ada dalam diri kita sendiri. Dia bilang agar jangan memberitahu mertuanya agar dia tidak diasingkan. stigma negatif pada masyarakat. Indonesia memperoleh kemerdekaan karena ada goal yang sama juga. Di Jakarta perawat dan anak jaksa. Kesalahan kolektif yang kedua itu adalah pada pers. Hantunya itu adalah berada dalam diri kita sendiri. Bukan hanya karena seks tapi karena narkoba juga. Memang kalau kita mau strategis yang digarap adalah sumber pencetak pengetahuan ini yaitu koran. Di Surabaya ada anak dokter yang terinfeksi. Sekarang minimal ke anak perempuan. Saya yakin dalam waktu dekat ini sudah bukan masalah private. Tapi betul yang dikatakan Luhde. melakukan perdamaian hubungan sosial. Bagaimana supaya pemerintah melakukan perlindungan? Persoalannya bukan diluar masyarakat terhadap perempuan. Kita aktivis yang bekerja di belakang layar tapi bisa meng-goal-kan ini menjadi isu publik sehingga kelompok agamawan pun sepakat bahwa ini isu publik yang harus kita perangi.71 agamawan karena saya pikir agamawan tidak mengerti dengan yang ada di lapangan. Tapi saya yakin trend ini akan berubah drastis karena yang terinfeksi oleh narkoba banyak dan menyerang kelompok terhormat. mampu menjawab jaman ini. bagaimana anak perempuan dilindungi. sebetulnya perempuan itu apakah salah dididik atau bagaimana? Seperti Putu ditulari dari suaminya dan dia ketakutan pada waktu dia dinyatakan terinfeksi HIV. Kita tempatkan wartawan sebagai peliput berita tapi kita tarik juga bersama-sama. reputasi keluarganya dan lupa dengan dirinya. Seperti istri yang saya dampingi yang jadi korban media itu. Kalau di Bali saya tidak tahu bagaimana gerakan ini bisa dimulai agar virus ini bisa dikendalikan. Tentang pemberdayaan perempuan. Dalam hal memberikan masukan juga perlu diperhatikan dan perlu ada suntikan baru sehingga perempuan menjadi lebih berdaya. Saya hormati betul orang yang mau menjadi ibu dan luar biasa. Problemnya itu ada pada persepsi yang keliru . Tapi saya tidak tahu bagaimana menyuarakan kelompok agama di Bali karena ini tidak saya kuasai. dia sibuk menyelamatkan anaknya. Kemudian tentang pendidikan rendah. kemungkinan dirinya juga sudah terinfeksi. konstruksi sosial atau pendidikan yang kita berikan ke anak perempuan relevan dengan jaman ini. Itu yang melakukan adalah kita. Kita sebagai perempuan dilatih untuk memelihara. dilatih untuk mengalah namun sekarang bagaimana kita bisa mengubah agar sekarang tidak seperti itu lagi. bahwa AIDS dipersepsikan oleh kelompok agama sebagai penyakit yang memalukan dan berhubungan dengan moral. Kita sepakat kalau kita punya goal yang sama menyuarakan optimisme. Ada goal yang sama yang perlu kita capai agar virus bisa dikalahkan.

Dia lupa bahwa ada sikap profesional sebagai penceramah dan sikap pribadi yang harus dibedakan. kacamata. Kalau modernisasi ini sebagai pilihan pembangunan yang penting bagaimana komunitas tetap bisa menjalankan fungsinya dan menyesuaikan diri dengan modernisasi yang berjalan sehingga lembaga adat tidak bisa mengambil seluruh wilayah ruang yang ada. Kalau kita bisa mengatasi persoalan itu dengan benar. Ada satu peperangan luar biasa yang tidak produktif. Kita pengecut. Kecuali kalau dia tidak komersial. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana memberikan kekuatan pada anak itu untuk menghadapi. kecuali kalau dia melakoni dan tidak ikut arus. penyiar berita. Seperti yang dikatakan Gandhi jangan ada panggung depan. Saya sangat setuju bahwa efek negatif dari modernisasi adalah hancurnya komunitas sehingga seseorang menjadi lebih individualistik. dia harus sadar bahwa informasi ini tidak ditujukan untuk satu orang sehingga dia harus membangun suatu sikap yang menyelamatkan. Pada waktu memberikan informasi ke orang lain. saya memakai universal tricolsin supaya tidak tertular atau menulari. Saya betul-betul shock waktu melihat sikap bidan seperti itu. Kita sebagai orang tua sangat menghormati dan sangat menjunjung tinggi value yang . Pada waktu mereka rapat semua menolak kata HIV dan mereka bilang tidak ada urusannya dengan saya. Kemudian mengenai free sex. Kalau seluruh kekuasaan diserahkan kepada lembaga adat dan kita pada satu pihak ingin modernisasi maka akan menjadi kacau. Pada waktu dia menjadi penceramah lupa bahwa dia bekerja pada areal publik yang duplikasinya tidak hanya berefek pada satu orang. lengkap dan jelas. Tidak bisa lembaga adat diseragamkan dan semuanya diberikan karena perilaku juga sudah komersial. saya termasuk perilaku beresiko tinggi karena itu kalau saya sekarang ingin melakukan persalinan. Saya ke kelompok IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Jawa Timur. teror itu tidak akan terjadi. saya sendiri agak kaget. Kalau dibandingkan jaman saya dengan jaman sekarang. Memang untuk menjadi penceramah. Kita jangan memberikan kekuasaan pada orang yang tidak bisa melakoni. Apakah itu tidak seram. Bidan kelahiran termasuk perilaku beresiko tinggi. panggung belakang sama. jamannya berubah.72 dan merupakan akar dari persoalan. kita punya informasi sudah dijamin oleh UU untuk mendapat informasi yang benar. Kalau saya mengidentifikasi diri. Orang yang perilakunya beresiko tinggi tapi tidak mau menghadapi. penulis berita. mengamankan ke kelompok banyak. Menurut saya perlu ada revitalisasi dan jangan berpatokan pada masa lalu. Jadi kalau memberikan informasi harus benar. kalau tidak dia melanggengkan stigma yang ada. Itu lebih powerfull. Jaman sudah berubah dan modernisasi sudah dimulai 5 abad yang lalu. Sering penceramah melanggengkan kesalahan karena pengetahuannya terbatas. Bahasa lembaga adat dan bahasa modernisasi harus dipahami dan dikawinkan menjadi sesuatu yang produktif. Menghadapi free sex memang merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dihapuskan dan malah sudah semakin menjadi-jadi. Lalu dia sendiri melanggengkan stigma. berdarah-darah dan sering tidak memakai hanskum.

Bali ini mempunyai level nasional karena juga mempunyai jaringan dari luar negeri. Kita jangan pakai pendapat yang menghalangi langkah kita. Kalau masalah strategi provokator perlu dicari yang benar-benar bisa membangkitkan dengan arah yang baik ke depan. Jadi intinya adalah mengelola hasrat. Dalam diri saya sudah ada kemampuan untuk menciptakan. ada yang diteror oleh masyarakat karena dia sebagai provokator terhadap instansi kesehatan yang menggunakan jarum suntik yang tidak disterilkan. Jadi mengenai free sex. Masalah mati bermartabat itu memang belum dimunculkan. Dalam masalah ini perlu dicari siapa provokatornya dan ini penting sekali. jelas dan benar. Saya menghilangkan persepsi negatif dan ternyata bisa. kita berusaha singkirkan masalah yang menimpa diri kita. Jangan memaksakan bahasa public health tapi jiwanya sama. Kalau memberikan informasi narkotik jangan sampai ngomong yang otaknya rusak. Kalau dari segi kesehatannya. Ketakutan-ketakutan kita singkirkan. Dan kalau kita ketemu dengan orang yang tepat kita jadi berbahagia karena perubahan dimungkinkan. tapi nikmatnya harus juga diberitahu. Kalau kita menghilangkan hasrat. Seluruh proses tentang narkotika diberikan sehingga mereka mengerti dan memikirkan akibat buruk yang disebabkan. Ngomong kondom pun harus diajarkan dan bukan berarti mengajarkan memakai kondom. Kesimpulannya adalah antara jurnalis dan agama perlu ada saling bahu-membahu namun perlu juga ada provokator yang membuat subsistem-subsistem bisa melakukan peranannya dalam memerangi virus ini. Karena penemuan obat ARP mengubah peta penanggulangan. Kalau kondom sama dengan melokalisasikan pelacuran. yaitu meneruskan karya penciptaan pertama. Kita bisa mengambil perubahan jika punya sikap manajemen. Ini langkah pertama yang dilakukan oleh Interfidei. Dia sebenarnya memperjuangkan aspirasi rakyat. itu sudah ditangkap. Caranya adalah informasi yang lengkap. kalau kita mau mendorong orang ke arah perubahan. Yang harus kita ajari adalah bagaimana hasrat ini dikelola. Di agama ada penciptaan pertama dan tugas kita meneruskan menjadi kedua. Jadi kita cari orang yang tepat sehingga terjadi perubahan sambil diiringi dengan doa. Dua tahun yang lalu masyarakat mengajukan Perda ke pemerintah dan itu haknya eksekutif dan legislatif. Saya ngomong. kita hadapi. Potensi itu saya manfaatkan optimal dengan imajinasi dan membongkar cara berpikir yang lama. Dan harus diupayakan agar seiring sejalan. Seperti yang dilaksanakan di Manado. Menurut saya itu kita dapat memberikan pemberdayaan melalui pendidikan seksualitas atau pendidikan keterampilan hidup. jalan keluarnya adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas atau keterampilan hidup. kita menjadi sombong. saya jadinya optimis. Termasuk juga pendidikan seksualitas yaitu tidak bisa tahan dan mau apa. Kalau ngomong tentang perubahan.73 bagus dan tidak justru melanggengkan free sex. . Sebagai orang dewasa harus dihadapi dan dipikirkan bagaimana dikendalikan dan bukan hanya dikontrol dan diberitahukan hanya yang buruk-buruk agar takut. jangan letakkan masalah di kepala.

Tapi saya kurang setuju itu ditetapkan dengan tergesa-gesa karena kita tidak mensosialisasikan sebelumnya.74 Bapak Sadra : Menanggapi seperti usulan agar provokasi tentang ini dilakukan melalui lembaga adat.3. pohon yang keras ditumbangkan. Tapi perlu diketahui bahwa proses terjadi PERDA No. Karena sosialisasi perlu masukan dari kalangan masyarakat. pelacur-pelacur diberikan ceramah oleh germonya bahwa mereka tidak akan kena. Saya diundang oleh teman-teman untuk bicara masalah itu. kita harus lemas. Stigmanya kalau orang kena hepatitis B perutnya besar itu berarti kena magic dan penangkalnya dicarikan dukun. Kalau bendesa adat diberikan pengertian ini. pohon yang lemah dibelai angin. Lalu muncullah ide-ide untuk merevitalisasi lembaga adat itu. Jadi kalau ada angin menyapu pohon kita. mungkin belum mengerti karena bendesa-nya tamat SD. Bali adalah juara Keluarga Berencana di Indonesia. orang dari (program) Keluarga Berencana memberi pencerahan sehingga diterima dengan baik dan jangan mengharapkan mereka yang tidak bisa berbicara. baru kemudian kita sempurnakan sehingga semua masyarakat dapat menerima dengan baik. Hanya stigmanya tidak seperti orang kena AIDS. 3 adalah proses kekecewaan dimana pada jaman ORBA kalangan intelektual budayawan Bali yang sangat vokal mengatakan bahwa lembaga adat digunakan sebagai advokasi oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya sehingga lembaga adat lumpuh.[] . Kalau di Bali berupa rajah-rajah (bekal-bekal magic) sehingga pelacur-pelacur itu mau saja melakukan itu. Barangkali mengapa laki-laki begitu meremehkan wanita dan wanita mengalah adalah perasaan secara fisik. Seperti pepatah Cina. Kita perlu mencari yang lebih lengkap seperti yang ada dalam PERDA No. Jadi satu mukanya perempuan satu mukanya laki. Saya juga kurang mengerti mengapa AIDS ini mempunyai gambaran yang begitu menakutkan padahal penyakit yang menakutkan seperti itu masih ada banyak seperti Hepatitis B. Setiap ada rapat Banjar. Justru DPRD mengatakan bagaimana lembaga adat akan mensosialisasikan nanti. Tetapi ingat tadi dikatakan yang keras jangan dilawan dengan yang keras. Saya sudah sampaikan kepada DPRD. Jadi maknanya kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sama. bagaimana kita bisa menanamkan ini. Di Thailand. Hak laki-laki dan perempuan di kampung saya sama sehingga tidak ada perasaan risih. Akibatnya sekarang banyak masyarakat terutama di Karangasem belum mengerti isi dari PERDA tersebut. Mengenai jender saya merasa terganggu karena di daerah saya berbeda dengan di daerah lain. Di Bali perlakuan jelas sekali yaitu wanita mendapat tekanan yang sangat banyak dan mungkin interpretasi agamanya yang keliru padahal kalau kita melihat Tuhan dilambangkan dengan manusia yang punya muka dua. adalah tugas yang berat untuk menggamblangkan bahasanya agar masyarakat mengerti. Untuk memahami bahasa PERDA itu sangat sulit. hanya Keluarga Berencananya sistem Banjar.

Karangasem. Dengan menumbuhkan kepekaan agama terhadap realita sosial. agama lebih mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan. Perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri (agama tidak hanya berada di tempat ibadah). 5. Intropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain. 3. 4. Nilai cinta kasih terhadap sesama. mengapa masyarakat yang notabene adalah umat beragama masih sulit menerima kenyataan berkaitan dengan persoalan HIV/AIDS. Sedangkan masyarakat atau umat beragama masih sulit menerima kenyataan mengenai persoalan HIV/ AIDS disebabkan oleh beberapa faktor. Kurangnya informasi HIV/ AIDS baik kepada masyarakat maupun kepada pemuka agama. Penafsiran agama secara tekstual dan doktrinal oleh pemuka agama.75 DIALOG PERANAN AGAMA DALAM MENGHADAPI HIV/AIDS Salah satu acara dalam kegiatan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa. dalam hal ini pemahaman agama. Mengubah image dari masyarakat tentang HIV AIDS. Meditasi. Hal yang dapat dilakukan agar agama-agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sosial adalah: 1. Kekuatan moral dan spiritual yang diharapkan dari agama-agama berkaitan dengan permasalahan HIV/ AIDS. Komang Triartika : Kelompok kami mendiskusikan tentang kekuatan moral dan spiritual yang diharapkan dari agama-agama dalam menghadapi dan menangani masalah HIV/ AIDS. Mengidentifikasi diri dengan sesama dan yang menderita HIV/ AIDS. Berikut ini merupakan hasil diskusi tersebut. Solidaritas kemanusiaan. Bali tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 adalah diskusi Tentang peranan Agama dalam masalah HIV/AIDS. dari aspek kehidupan lain atau terpisah dari realitas kehidupan. Keterpisahan agama. 2. . 2. 2. dan apa yang perlu dilakukan supaya agama-agama tidak menjadi sesuatu yang sematamata hanya diyakini tetapi juga di implementasikan. 4. Sulitnya komunikasi antara pemuka agama dengan umatnya dikarenakan adanya jarak/ gap. 3. yaitu: 1. yaitu: 1. 6.

introspeksi dan meditasi adalah untuk mengubah image HIV/AIDS yang berkembang di dalam masyarakat. pengidentifikasian diri. Kemudian bagaimana cara melakukannnya adalah terjun langsung ke masyarakat seperti membuat shelter untuk penampungan dan pembinaan penderita HIV/ AIDS. Misalnya saja penolakan agama terhadap realitas HIV/ AIDS. Selain mengubah image juga menghilangkan jarak antara agama dengan penderita HIV/ AIDS. Pada intinya kekuatan spiritual dan moral seperti nilai cinta kasih. kita tidak akan menyalahkan mereka. lebih dari sekedar empati. Agama disini lebih diharapkan untuk membangun image baru tentang HIV/AIDS dimana sebenarnya penderita HIV/AIDS bukanlah untuk dijauhi dan dicap salah tetapi bagaimana kita menimbulkan sifat empati kepada mereka. Kami menemukan bagaimana tokoh-tokoh agama dan umat kurang memahami realitas sosial. Diana Surjanto : Saya akan menambahkan tentang masalah kekuatan spiritual dan moral yang diharapkan dari agama. Apakah penolakan ini bagian dari ajaran kitab suci atau bagaimana? Kesimpulan saya bahwa saya khususnya belum betul-betul memahami sebenarnya agama itu apa. Dan pembumian nilai-nilai ajaran agama. Marianus Marchelus : Saya ingin menjelaskan tentang implementasi agama dengan menumbuhkan kepekaan terhadap realita sosial. apakah karena tokoh agama kurang menghadirkan realita ke tengah umatnya ataukah karena pribadi yang ditokohkan oleh umat bukanlah tokoh agama. Jadi kegiatan keagamaan hanya sebatas di gereja. masjid dan tempat-tempat ibadah lain.76 3. untuk apa kita beragama dan . Tadi saya sempat melontarkan ide. I Nyoman Sadra: Disini muncul beberapa hal berkaitan dengan perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri agar agama-agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Kalau kita melihat orang-orang ODHA itu sebagai ‘kita’. Agama tidak dijadikan suatu keyakinan bahwa keberpihakan terhadap orang tertindas juga merupakan bagian dari kewajibannya. barangkali kita harus lebih memahami atau lebih mencari makna kata ‘agama’ itu. solidaritas kemanusiaan. Hudoyo Hupudio : Yang dimaksud dengan pengidentifikasian diri dengan sesama kita yang menderita adalah kita melihat ‘dia’ itu sebagai ‘kita’. Dr. kita tidak akan mengutuk mereka. Kita tidak tahu kenapa bisa seperti ini. khususnya jika dikaitkan dengan permasalahan HIV/ AIDS.

kita harus mampu mengidentifikasi diri kita terhadap saudara kita yang paling menderita. diskriminasi. . kotak ekonomi. Hudoyo Hupudio : Tadi Bapak Sadra melontarkan satu pertanyaan yang sangat menggelitik yaitu agama itu apa? Apakah label-label. doa tidak hanya sembahyang secara kusuk di tempat-tempat ibadah tapi lebih kepada perbuatan dan tingkah laku yang baik. Jadi menurut saya doa hanyalah sebagai sarana pengendalian diri atau kontrol diri. kotak masyarakat. Barangkali ini dikarenakan kita sudah memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. antara orang beragama dan penderita HIV/AIDS yang menjadi bertambah buruk. kotak pekerjaan dan kotak pergaulan. menanggapi persoalan mengenai perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri. Jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana kita menyatukan kembali kotak-kotak ini. Itu perlu dipertanyakan dan apakah ciri-ciri orang beragama itu dapat diketahui secara fisik misalnya seseorang sembahyang dengan cara sedemikian sesuai dengan apa yang diajarkan agama dan pada saat tertentu. Jadi di dalam kehidupan. jarang sekali memahami secara tuntas masalah-masalah kemasyarakatan sehingga munculah stigma. apakah itu sudah dapat dikategorikan sebagai orang beragama? Saya tertarik ketika Bapak Hudoyo mengatakan bahwa kita harus ‘mengidentifikasi diri’ kepada orang yang sakit seperti itu. Apakah orang yang tidak beragama lebih jelek dari pada orang yang beragama? Oleh karena itu. kemudian kita harus merenungkan tentang tindakan apa yang harus kita lakukan. Tentang perihal doa. penghakiman dan lain sebagainya.77 kalau tidak beragama bagaimana. Oleh karena itu orang-orang yang berada di dalam agama ini. kotak ekonomi. agama adalah kepercayaan atau aliran. menurut saya. Kalau ditanya apakah agama itu. Dikarenakan konteks kita sekarang adalah di dalam forum yang membahas masalah agama. kenapa kemudian timbul masalah antara agama dan HIV/AIDS. jadi masing-masing kita sudah mengerti dan hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. lingkungan kerja. konsep-konsep. Agama harus masuk ke dalam kotak-kotak kehidupan kita di dalam kotak keluarga. ide-ide. menurut saya. dan pemikiran-pemikiran yang bersifat memecah belah. Dalam kehidupan kita agama ditempatkan di dalam kotak yang berbeda dengan kotak-kotak lain seperti kotak keluarga. Agama hanya menjadi masalah hari Minggu untuk agama Kristen dan hari Jum’at untuk orang Muslim. yaitu pemuka-pemuka dan sebagainya. Diana Surjanto : Saya ingin. Dr. tempat pergaulan termasuk di kalangan PSK dan penderita HIV/AIDS.

Intinya adalah bahwa sekarang agamawan atau siapa saja bukan saatnya lagi untuk bicara saja tapi harus terjun masuk ke persoalan-persoalan itu. ke dalam pusat-pusat kegiatan masyarakat. yang ada sekarang adalah struktur tentang agama. kemudian mabuk dan judi itu juga haram. Pendeta Emi Sahertian : Kita sekarang mengubah persoalan praktis menjadi suatu debat teologis karena berbicara tentang agama.78 Marianus Marchelus : Saya ingin mengatakan bahwa sudah saatnya tokoh-tokoh agama di dalam membumikan agama harus turun langsung ke lapangan. tetapi ada sebuah upaya dari tokoh-tokoh agama untuk melihat faktor-faktor yang melatarbelakangi perbuatan haram itu. M. Kalau Diana Surjanto mengatakan bahwa agama harus elastis atau fleksibel. Tentunya untuk mengubah struktur diperlukan semacam sidang rakyat supaya agama itu mengayomi masyarakat. mereka tidak akan sekedar menjustifikasi bahwa free sex itu haram. Bejo Utomo : Seandainya Indonesia mengakui umat yang tidak beragama maka saya akan mendaftarkan diri sebagai umat yang tidak beragama. Kalau menurut saya mengenai perubahan paradigma berpikir sebenarnya saya lebih melihat kepada komitmen umat beragama dalam menghayati dan mengimplementasikan apa yang dipercaya dan diimani. Iman menuntut kita untuk mempraktekkannya di dalam realitas sosial dalam artian bahwa kita menghadirkan realitas Allah dalam diri orang-orang yang tertindas termasuk orang-orang yang terkena HIV/ AIDS. Seperti yang telah disampaikan oleh seorang pendeta bahwa kitab suci hanya ditempatkan di ruang yang hampa. bagaimana akhirnya nanti ajaran-ajaran agama ketika agama mengikuti perkembangan dunia. Permasalahan yang mendasar adalah bagaimana kita mengubah paradigma beragama tersebut. Yang mau saya katakan disini adalah adakah orang yang berani berhadapan dengan pimpinan agama dan . Terkait dengan perubahan paradigma baru. Kalau tokoh-tokoh agama bisa melihat realitas yang ada. saya berpikir lebih baik bagi saya untuk tidak beragama daripada beragama karena saya melihat justifikasi stratifikasi yang paling besar adalah di dalam agama itu sendiri. Yos Da Putra : Menarik sekali mengenai apa yang disampaikan oleh Pak Sadra tadi tapi memang menurut saya ini memang butuh sharing yang lebih mendalam dan lebih terbuka dan bisa menghadirkan semua elemen dari berbagai latar belakang.

Akhirnya saya menempuh hal yang paling praktis yaitu menemui pendeta yang memang jemaatnya terkena HIV positif dan saya katakan umatmu sudah terkena HIV positif dan minta untuk digembalakan. Jadi barang kali perlu dibangun suatu ide di dalam masyarakat pluralistik yaitu agama-agama perlu bekerja bersama-sama dalam menanggulangi HIV/ AIDS. Bejo Utomo : Permasalahan yang paling mendasar ketika kita berbicara masalah pluralisme adalah kefanatikan yang timbul bagi mereka yang tidak pernah melihat kebenaran orang lain. ada kekhawatiran kalau agama itu bergerak sendiri-sendiri. Saya kira serumit apapun agama tapi tetap isinya adalah manusia. Listia : Memang sering kali persoalan sosial atau persoalan manusia kadang-kadang mengusik wacana keagamaan itu sendiri. yaitu sesuatu yang masih bisa kita jangkau dan masih bisa kita ajak bicara.79 mengatakan bahwa umatmu sudah hidup dengan HIV Positif. Listia : Saya kira pikiran yang banyak beredar disini adalah bagaimana identitas tidak menjebak kita ke dalam satu kelompok. solidaritas yang terbatas hanya untuk orang-orang tertentu. Seperti pengalaman Pendeta Emi. tetapi masalah utamanya adalah mereka yang komunitasnya adalah komunitas yang menganggap dirinya paling benar. Saya kira yang hadir disini adalah bapak-bapak dan teman-teman yang pluralis dan lebih melihat kehidupan riil. padahal kalau kita bisa mendekatinya secara manusiawi maka tidak sesulit yang kita pikirkan. seperti persoalan jender. persoalan pluralisme agama-agama. Dr. Sarapung : Tadi Listia sempat mengatakan agama itu isinya adalah manusia dan menurut saya manusia itu bukan agama kalau tidak peduli pada manusia lain. adanya fenomena HIV/AIDS juga membuat Gereja untuk belajar dan mau mengadaptasi persoalan yang dihadapi. . Hudoyo Hupudio : Saya lihat ada yang kurang yaitu ketika melihat masyarakat kita yang majemuk dan pluralistik. Saya ingin menyederhanakannya agar kita jangan sampai berpikir bahwa sulit sekali untuk pergi ke petinggipetinggi agama. Elga J.

peran agama selama ini sudah ada tetapi masih sporadis dari masing-masing kelompok kecil. seperti seminar dengan mengikutsertakan kelompok agama. konseling. sebagai contoh tantangan yang dihadapi kaum Kristen misalnya gara-gara HIV. Saya mempunyai contoh: kami melakukan advokasi di komunitas anak jalanan. membuat dan memperluas jaringan lintas agama. Hasil Diskusi Kelompok 1 : Ida Nyoman Triatmaja : Saya ingin menyampaikan hasil diskusi kami sebagai berikut: 1. 3. pelayanannya dan . Ini berarti tidak adanya satu pemahaman yang sama dalam menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan. konsep teologinya. Saya pikir kata kuncinya disini adalah sinergis diantara elemen agama. serta shock theraphy. Adapun metode yang bisa dilakukan adalah dengan membangun solidaritas kelompok agama dan membuat acara yang dapat menginformasikan HIV. Marieta N. advokasi. Yang menjadi tantangan bagi agama-agama bila agama diharapkan menjadi kekuatan yang bisa menyapa dan menyembuhkan mereka yang tengah menghadapi persoalan HIV/ AIDS baik secara langsung atau tidak langsung adalah berasal dari dalam agama itu sendiri. misalnya tiba-tiba seorang pendeta yang tidak tahu apa-apa ternyata dihadapkan kepada umatnya yang sudah menderita HIV positif. Tentu dia pun harus merombak semua. dan secara sosial melakukan pendampingan. 2.80 I Nyoman Sadra : Masalah fanatisme memang yang menghambat perjuangan kita bersama sampai saat ini. Yang perlu dilakukan kedepan untuk memberdayakan kelompok-kelompok agama adalah penyediaan informasi. Kalau itu yang terjadi maka saya harus mengatakan bahwa dengan kenyataan itu kita sudah menolak keberadaan Tuhan. misalnya dari Persatuan Gereja Indonesia (PGI) secara etik-teologis melakukan pencerahan. Marianus Marchelus : Saya mencoba untuk memberikan jalan keluar bagi permasalahan ini. Mengenai peran agama-agama dalam penanganan persoalan HIV/ AIDS baik secara etik-teologis dan sosial. Kemudian masyarakat melihat dan menganggap bahwa itu adalah Kristenisasi. struktur di Gereja menjadi dirombak.G Sahertian : Mungkin shock theraphy yang dimaksud adalah seperti pada suatu kasus.

Ujang Nuryanto : Tadi disinggung masalah penyampaian informasi. untuk masuk ke pemuka-pemuka agama. Ida Nyoman Triatmaja : Jadi shock theraphy yang ibu maksud berarti ketika kita ingin menghadapi seorang ODHA maka secara langsung harus kepada tokoh agama yang bersangkutan? I Nyoman Sadra : Saya kira kesimpulannya disini adalah tantangan kita variatif. Terutama dalam diskusi kita yang beragama Hindu barangkali mempunyai tantangan yang lebih berat dari pada teman-teman yang beragama lain karena persoalannya sangat kompleks sekali. Ida Nyoman Triatmaja : Jadi pada intinya persoalan yang dihadapi ini bisa diselesaikan jika masing-masing individu itu kembali melakukan semacam perbaikan diri. Bejo Utomo : Menyangkut permasalahan pertama saya kira sangat wajar ketika tokoh-tokoh agama belum terlalu berperan terhadap permasalahan ini. Yaitu dengan tidak membuat ketersinggungan antara sesama. Kalau kita mau masuk dalam lingkup . Karena mau tidak mau harus diakui bahwa sebenarnya tokoh-tokoh agama masih disibukkan oleh permasalahan-permasalahan intern agama sehingga untuk melihat realitas sosial kelihatannya sangat kurang. Luh De Suriyani : Ketika Ibu Emi bercerita banyak tentang hal ini. memang di sini dibutuhkan semacam strategi. Setelah saya mendengarkan strategi yang Ibu Emi paparkan tadi hati saya menjadi tergerak yaitu kita hanya membutuhkan strategi yang paling baik. Tapi memang kita dituntut untuk menambah secara konsep teologi kita dengan praktek dan ilmiahnya. Dan untuk itu membutuhkan semacam breaking eyes untuk memecahkan kebekuan-kebekuan spiritual yang selama ini dibangun. Jadi di kalangan teman-teman Hindu memerlukan komitmen yang sangat kuat untuk meneruskan perjuangan ini. jadi masing-masing kelompok agama akan mempunyai tantangan yang berbeda-beda.81 lain sebagainya. kadang kala itu bukan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan masalah sampai atau tidaknya informasi itu biarkanlah waktu yang akan menentukan.

Mungkin yang perlu digarisbawahi disini adalah diimplementasikan. terus terang saya sebenarnya awam kalau membicarakan masalah agama. Kalau kita membahas itu lagi berarti kita kembali ke latar belakang HIV/ AIDS. Misalnya dilarang melakukan hubungan seksual dan untuk melegalkan hubungan tersebut ada suatu ikatan yang disebut dengan pernikahan. sebenarnya sangat menguntungkan sebab mereka sangat berpengaruh sekali ketika berbicara di masyarakat. Ujang Nuryanto : Disini saya melihat sepertinya pemuka-pemuka agama itu hanya menunggu informasi. Hanya yang menjadi kendala utama apakah bisa teman-teman LSM atau teman-teman yang peduli HIV/AIDS ini masuk dalam ruang lingkup mereka. Kritikan-kritikan itu memberikan inspirasi buat saya. . Rolyna Rumansyah : Menanggapi tentang agama. minimal generasi muda bukan hanya menunggu tentang informasi HIV/AIDS tapi juga mencari secara luwes. Semoga ada semacam perubahan yang cukup mengejutkan setelah acara kita ini. Termasuk yang dikatakan oleh Romo. adat maupun lembaga-lembaga yang lain. Sa'roni : Saya akan mencoba untuk mendefinisikan ‘agama’ menurut pertanyaan Bapak Sadra tadi. I Made Sukarma : Memang tanggapan-tanggapan ini sangat baik. Jadi yang ingin saya sampaikan barangkali berkaitan dengan pertanyaan apa yang perlu dilakukan supaya agama-agama tidak menjadi sesuatu yang semata-mata hanya untuk dipercaya tapi untuk diimplementasikan. Suster Maria Chalista : Saya merefleksikan tugas saya sebagai seorang Suster dan juga terlibat di dalam Biarawan. saya juga merefleksi diri saya apakah selama ini saya hanya berdoa saja dan bagaimana kongkritnya. Saya akan mencoba menjawab bahwa agama adalah suatu norma atau aturan-aturan yang meng-ikat kita agar kita tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. apa yang harus saya lakukan dalam kongregasi saya dan dalam Gereja saya secara nyata.82 mereka. seperti yang disampaikan Ibu Suster tadi jangan sampai hanya melayani umat atau jemaat saja sehingga untuk mensosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan HIV belum tersentuh sama sekali. dari kitab suci memang free sex atau seks bebas itu dilarang menurut agama.

Dan mengenai agama. antar etnis dan dialog antar suku yang biasanya dikedepankan adalah persamaan-persamaannya. Listia : Ada yang menarik dari pengalaman Pande mengapa orang menjadi takut tersinggung ketika berbicara soal agama. Kalau saya menanggapi ketakutan akan perbedaan sebenarnya diakibatkan karena setiap ada dialog antar iman. saya takut menyinggung karena didalam lingkungan keluarga saya sendiri ada dua agama yang sering kali menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam pengambilan sikap. Pande Puspita : Sebenarnya saya sudah banyak mendapat pelajaran tentang HIV/ AIDS dan saya semakin mengerti melalui diskusi ini. Jadi gerakan-gerakan seperti bagaimana kita bisa menerima semua perbedaan paling tidak itu berangkat dari wahana-wahana yang kecil sampai kepada hal yang paling besar. saya bukan berarti menolak untuk melakukan dialog tiga wacana dalam konteks ini. Saya juga menjadi lebih tahu bagaimana menghindari maupun menyikapinya. Sekarang begitu banyak isu-isu yang sangat menghantam kekuatan-kekuatan multikultur dan pluralism ini. ini sebenarnya yang membangkitan gerakan-gerakan fundamental yang akhirnya tidak bisa menerima apa yang menjadi perbedaan-perbedaan itu. Dari perspektif agama secara institusinya belum bisa menerima perbedaan-perbedaan ini karena resistensinya yang begitu kuat kemudian masih sangat konservatif. M.83 Dan ternyata HIV itu tidak hanya tertular pada orang yang melakukan free sex saja tapi juga penggunaan jarum suntik dan hal-hal lainnya. Kemudian kalau kita berbicara soal pasar yang sangat mempengaruhi pergeseran-pergeseran nilai lokal. Kita tidak pernah melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai suatu kekayaan multikultur. Saya ingin menanggapi pendapat Pande bahwa kita perlu masuk dalam wacana karena wacana itu terkait dengan realitas. Karena ini soal waktu dan kita sendiri punya fokus tapi kalau memang kita sepakat untuk masuk dalam dialog tiga wacana soal pluralism kemudian bagaimana kita keluar dari ketakutan akan perbedaan. Saya kira kalau kita berbicara soal dialog tiga wacana yang berkaitan dengan ini memang harus dilihat dalam semua aspek ada aspek historis. apalagi ketika itu menyangkut perbedaan agama. saya tidak akan banyak berkomentar. Yos Da Putra : Soal dialog tiga wacana tadi. . civil society dan pasar.

kita tidak mungkin jalan sendiri-sendiri. Kalau dia memahami kebersamaan untuk saling mengerti perbedaan-perbedaan. Pande Puspita : Sebaiknya kita kembali ke pemahaman orang tentang agama. Saya melihat sebenarnya banyak sekali persamaan antara kita tapi kita sendiri yang membuat itu menjadi berbeda dan berakibat kepada kesalahpahaman. Marianus Marchelus : Saya pikir dialog tiga wacana dalam scope dialog orang-orang dari berbagai agama sangat perlu untuk membongkar ketakutan-ketakutan. Jadi dari pribadinya dia paham tetapi dari hati nuraninya dia paham atau tidak? Diana Surjanto : Kalau saya melihat tentang perbedaan agama ini. Karena semua agama mengajarkan hal-hal yang baik hanya saja yang . Jadi penekanan saya adalah mari kita terima realitas perbedaan ini untuk dapat saling mengerti. kepada Masjid. I Nyoman Sadra : Dalam menangani realitas persoalan sosial seperti ini memang mau tidak mau kita harus bekerja bersama. Tentang bahasan perbedaan ini barangkali menjadi masukan kecil saja. Kalau hal itu ada titik temu maka dengan lapang dada kita akan menerima perbedaan ini. Jadi tidak perlu melibatkan konteks wacana karena dengan wacana orang diberikan pengertian. sebenarnya itu tidak perlu dipandang sebagai perbedaan. itu kembali kepada individunya. Saya pikir itu sering kami lakukan di tingkat generasi muda di Denpasar. Karena saya merasa globalisasi di sisi lain juga untuk kelompokkelompok tertentu yang memberikan mereka semacam eksistensi. mengapa kita melakukan ini bersama-sama kepada Gereja. dia memahami atau tidak perbedaan-perbedaan tersebut. saya mengucapkan assalamu’alaikum dan tidak ada persoalan bagi mereka. kepada Pura dan lain sebaginya. Barangkali yang perlu digali secara mendalam adalah kenapa kita lebih resisten terhadap perbedaan-perbedaan ini. tetapi jawabannya memang tidak mudah. misalnya ketika saya bertemu dengan teman muslim.84 Listia : Kita perlu masuk dalam wacana ini karena kita akan melakukan kerjasama. ketidaktahuan satu agama terhadap agama yang lain. Oleh karena itu perlu dibentuk jaringan-jaringan. Kita harus punya konsep dan gagasan yang bisa kita pertanggungjawabkan. memang realitasnya kita berbeda tapi yang penting bagaimana kita bisa saling memahami. apa yang sebenarnya menyebabkan itu ada.

Kita disini memang sangat menyadari perbedaan. Jadi mungkin sebagian besar tokoh agama benar tetapi ada juga yang tidak benar seperti yang saya katakan tadi. Kemudian kenapa timbul banyak sikap fanatisme dari kalangan umat beragama? Saya melihatnya kemungkinan ada peran dari pemuka agama yang mungkin menganggap agamanyalah yang paling benar. Diana Surjanto: Menanggapi Suster. Jadi di dalam diri pemuka agama harus ada perubahan cara berpikir yang lebih menghargai sesama umat beragama. bagaimana cara menghormati orang lain maka tidak akan muncul fanatisme. mereka yang masih menerjemahkan kitab suci secara tekstual. Kenapa saya mengatakan demikian karena jika semua tokoh. Kalau semua pemuka agama menginterpretasikan ajaran agamanya dengan benar. Saya rasa pimpinan agama tidak mengajarkan hal-hal yang aneh. Tapi yang menjadi masalah bagaimana kita menginterpretasikan kefanatikan itu ketika kita berbicara dengan umat agama lain. seperti apa yang dikatakan Diana.85 membedakan adalah ritualnya saja. Listia : . mereka yang tidak pernah menginterprestasikannya sesuai dengan permasalahan di lingkungan sekitarnya . Jika dia paham maka perbedaan tersebut pasti tidak akan ada. yang menjadi permasalahannya adalah tokoh-tokohnya. Suster Maria Chalista : Kalau persoalan itu dikembalikan kepada pimpinan agama. Darimana timbul sikap itu kalau tidak dibangun dari pemuka agama itu sendiri. kita seakan-akan menyalahkan pimpinan agama. mungkin yang saya tekankan disini bahwa itu bukan dimaksudkan untuk seluruh pemuka agama karena setiap ajaran agama sebenarnya baik. pemuka agama menyampaikan hal yang benar dan menghargai sesama manusia kenapa harus ada sikap fanatisme. apakah dia benar-benar paham dan benar-benar mengerti. Yang menjadi masalah utama adalah mereka yang belum menyadari perbedaan itu. Bejo Utomo : Berbicara masalah fanatisme. Tapi kenyataannya umat yang diajari tersebut tidak melaksanakan secara konkrit. Pande Puspita : Saya setuju dengan Suster bahwa itu kembali kepada pribadinya. memang sebuah kewajiban bagi umat beragama untuk fanatik terhadap agamanya itu. Jadi itu bukan salah dari pimpinan agama tetapi pribadi yang melaksanakan itu.

Yang membuat saya ingin bergabung dengan Gandhi adalah ketika dia ditanyakan apa pesan anda untuk Dunia? Maka dia menjawab pesan saya adalah apa yang saya lakukan bukan apa yang saya katakan. welas-asih. saya pikir persepsinya masih seperti dulu. Marianus Marchelus : Kalau di tingkat kita yang sering bertemu dengan orang-orang dari berbagai agama. Dan dia dengan melucuti bajunya. Listia : Jadi wacana yang disukai anak muda sekarang adalah multikultural. tetapi bahwa kesalahan itu mungkin ada dimanamana. Mungkin diskusi lebih lanjut bisa kita peruncing di rencana tindak lanjut. Saya pikir memang yang menarik dari Gandhi adalah bahwa identitas itu bukan ego dan identitas itu perlu tapi yang terpenting jiwa kita tidak terikat oleh sesuatu yang institusional. dia menanam sendiri apa yang mau dia konsumsi. Listia : Kita berbicara tentang pluralisme. Jadi Gandhi itu mempunyai 3 prinsip yaitu: kebenaran. Ada yang menarik dari Gandhi yaitu dia sudah membaca gerakan pasar. Ketika kita berbicara saja dan tidak masuk ke dalam persoalan maka itu akan menjadi lain. I Nyoman Sadra : Saya hanya ingin berkomentar mengenai Hindu yang saya kenal yang mana Gandhi menerjemahkan agama dalam bentuk action.86 Diskusi ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. tapi mungkin juga pemimpinnya yang salah. Tapi bagaimana dengan umat-umat agama yang berada di daerah yang hampir tidak pernah berbicara tentang perbedaan atau berdialog antar agama. dia benar-benar sudah memposisikan diri dan sadar bahwa akan ada gerakan besar yang melindas semua orang. saya pikir tidak masalah.[] . Mungkin juga umat melakukan ini karena diberi informasi yang salah oleh pemimpinnya. dalam bentuk tindakan. ahimsa. Oleh karena itu disitulah kita akan belajar dan akan memperoleh pencerahan. Kita mau diskusi ini menuju kepada arah perubahan bukan mengarah kepada siapa yang salah karena semuanya berpotensi untuk salah. Jadi tidak berarti kemudian pemimpin itu tidak bersalah dan tidak berarti juga umat itu yang selalu bersalah.

Informasi yang tidak lengkap tentang penyakit ini sering tersebar di dalam masyarakat melalui media kemudian dikonsumsi oleh semua orang termasuk kaum berpendidikan dan para elit agama. Lembaga yang kompeten dalam HIV mensosialisasikan program lembaganya. kami melihat lembaga adat belum peduli bahkan menganggap teman-teman ODHA menakutkan sehingga didiskriminasikan. Tantangan yang dihadapi adalah. Mereka hanya melihat bahwa tugas mereka pada urusan spiritual dan tidak peduli pada urusan sosial kemasyarakatan. Bisa dilihat bahwa ini adalah persoalan kemasyarakatan sehingga semua orang harus ambil bagian dalam mencapai harapan yang sudah direncanakan. bahwa lembaga adat tidak serius dengan masalah ini karena tidak mempunyai informasi yang banyak. Dalam permasalahan ini faktor kurangnya informasi memungkinkan paradigma masyarakat tentang persoalan HIV menjadi keliru. Kelompok 1 membahas tentang peranan lembaga masyarakat dalam permasalahan HIV/ AIDS dan kelompok 2 membahas tentang peranan media massa dalam permasalahan ini. Kita akan mencoba mempelajari persoalan-persoalan ini secara lebih jelas melalui suatu diskusi kelompok. Apa yang dapat kita lakukan. Dari persoalan pertama. Hasil Diskusi Kelompok 1 Kami mencoba merumuskan bagian pertama yaitu peranan lembaga adat dan permasalahan yang dihadapi. seolah-olah ini adalah penyakit yang dikutuk sehingga penderita HIV harus disingkirkan. Ini menjadi sulit bagi masyarakat untuk melakukan proses penyelesaian masalah. Kita tahu bahwa ini juga soal kemasyarakatan atau soal sosial. Lembaga adat harus proaktif mengurus HIV dalam intern lembaga sendiri dan bersama pemerintah atau lembaga adat lain. Ternyata persepsi kita sering tidak tepat karena informasi yang kita terima tidak lengkap. seperti LSM atau komunitas yang concern . tentang penyakit HIV/ AIDS. Kemudian lembaga adat tidak mengerti peran dan fungsinya. bahkan mungkin persepsi kita sendiri. mengubah persepsi ataukah terjebak didalam persepsi tersebut? Listia: Kita akan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan persepsi masyarakat.87 DIALOG PERSEPSI MASYARAKAT DAN PERAN LEMBAGA-LEMBAGA MASYARAKAT DALAM PERMASALAHAN HIV/ AIDS Berikut ini adalah hasil diskusi tentang bagaimana persepsi masyarakat dan sejauh mana lembagalembaga yang ada dalam masyarakat mengambil peran dalam masalah HIV/ AIDS. kemudian bagaimana memberdayakan lembaga ini agar ikut ambil bagian dalam persoalan-persoalan HIV. mungkin juga sesat.

Pada umumnya lembaga adat di desa kami kebanyakan mengurus masalahmasalah ritual keagamaan. . Mereka hanya memberikan masukan-masukan bagaimana caranya melakukan upacara spiritual yang benar. Misalnya. Misalnya ada warga yang terkena HIV. Tuti Parwati : Sepertinya mereka masih belum tahu dan tidak acuh. Kita masuk melalui kebiasaan mereka. Hasil akhir yang kita inginkan adalah sesuatu yang lebih riil. apa yang bisa lembaga adat lakukan? Ida Nyoman Triatmaja: Mengenai masalah itu. Dia berpikir biarkan saja. Stakeholders dalam masyarakat harus ambil bagian dan tidak ada satu bagian pun yang tidak terlibat dalam masalah ini. Pemerintah juga harus mengurusi masalah ini. tidak peduli dengan masalah-masalah sosial di lingkungannya sendiri. Kemudian mensosialisasikan HIV ke media yang disenangi masyarakat. Diana Surjanto: Tadi mungkin tentang harapan supaya pemerintah perlu ikut mengurusi masalah HIV belum dijelaskan. Dr. lalu peran apa kira-kira yang ingin lembaga adat lakukan? Untuk sosialisasi seperti pencegahan HIV dan mencegah diskriminasi terhadap penderita HIV sudah dilakukan. Kemudian permasalahan lembaga adat. Dr. dengan sendirinya ada solusi yang akan muncul dari pihak itu. dia kan melakukan hal-hal yang buruk maka dia harus menanggungnya. ada seorang warga yang terjangkit penyakit. bahkan mungkin juga belum tahu apa yang dapat diperbuat. lembaga adat menanggapinya acuh tak acuh. Teman-teman disini mungkin bisa action nanti di File of Project-nya yang memuat tahapan-tahapan. adat tidak menghiraukan orang itu. Tahap awal itu dulu kemudian setelah isu HIV/ AIDS terinformasi dan tersosialisasikan. salah seorang ada yang terkena penyakit. Tapi seandainya sudah terjadi diskriminasi atau penderita HIV tersebut sudah dikucilkan.88 dengan masalah ini. lembaga adat memiliki ketergantungan dengan pemerintah desa sehingga untuk menggerakkan desa adat atau lembaga adat dapat dilakukan secara proaktif melalui pemerintah desa. Seperti yang dikatakan Bapak Sadra contohnya program KB bisa lewat awig-awig tetapi tujuannya agar lebih menukik. Tuti Parwati: Dari hasil diskusi kelompok 1 sudah tercetus bagaimana sebaiknya lembaga adat berperan seandainya ada kasus HIV.

saya kira untuk mengawinkan dengan lembaga non formal akan lebih mudah. Karena ini masalah penyakit. Depdiknas. Tuti Parwati : Memang itu penting tetapi kita harus ingat bahwa AIDS itu bukan masalah kesehatan saja. Seperti program KB.5 tahun. Hal itu sudah disadari maka dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). yang ingin saya ketahui adalah sejauh mana peran Departemen Kesehatan dari pemerintah terhadap penanganan penyakit HIV. Bagaimanapun KPA di Bali dengan BNN. Sedangkan kalau pemerintah bisa menggali keuangan dari APBD dan sebagainya. banyak KPA-KPA yang belum berfungsi karena kepemimpinan dan kepedulian dari pejabat kurang dan terutama dana yang juga kurang. Struktur ini namanya komisi seperti komisi perempuan. Pariwisata. Kalau isu sosialnya tidak ditangani dengan baik maka mempercepat penderita sampai ke stadium AIDS. Tapi saya setuju sekali KPA-KPA diberdayakan. Namun lebih banyak kejadiannya pada masa sehat. Kalau masa sakit kurang lebih 1.89 Bapak I Nyoman Sadra : Mungkin yang ingin saya sampaikan adalah sebuah pertanyaan. sejak beberapa tahun dan sudah cukup lama dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). yaitu 8 sampai 10 tahun. Kenapa sekarang di Depkes tidak dibuatkan bagian khusus yang menangani HIV? Hudoyo Hupudio : Sebetulnya pemerintah sudah menyadari bahwa hal ini tidak hanya menyangkut masalah kesehatan. Sekalipun peran Depkes sangat besar dan memimpin tetapi dengan kesadaran itu. KPA mulai dari tingkat nasional yang berada di bawah Menkokesra bukan di bawah Menkes dimana ada beberapa departemen seperti Depkes. Kalau memang kepedulian dari Depkes sangat besar. isu sosialnya yang dominan. yang belum kelihatan sakit tapi sudah tertular dan bisa menularkan. dulu pemerintah sangat peduli sehingga pemerintah memanfaatkan Banjar untuk memajukan program KB. Kalau badan mudah sekali mendapatkan uang seperti BKKBN. Kalau lembaga swasta yang menangani ini barangkali kendala terbesar adalah dana. Kebetulan di Bali lebih maju karena sejak awal . Karena itu peran sosial sangat penting di dalam penanganan HIV/ AIDS. yang gawat dan kalau kita tidak berbuat akan melumpuhkan generasi mendatang. Dr. Memang pemerintah sudah menyatakan ini masalah yang penting. kepemimpinan dan dana. Kita tidak pernah mendengar dari Depkes dan Pemerintah. Seharusnya ada KPA propinsi dan KPA kabupaten/ kota. dan Departemen Agama sampai di tingkat propinsi dan di tingkat kabupaten kota. Keaktifan KPA di masing-masing propinsi berbeda. Karena itu di dalam fase sudah diketahui HIV tetapi belum sakit. komisi gizi dan sebagainya dan bukan badan. bukan masalah penyakit sebab sakitnya di akhir fase dimana penderita memerlukan rumah sakit. Tentang masalah kepedulian.

Bali termasuk yang pertama melaporkan kasusnya. Informasi. Sedangkan pemerintah mulai dari atas yaitu dari strategi kebijakan yang digarap lebih banyak. Masalahnya . yaitu seka teruna tidak mempunyai kegiatan kesehatan. dilakukan atau tidak dilakukannya program. tetapi tergantung dana. Bejo Utomo : Saya ingin menambahkan tentang pemberdayaan desa adat. balai banjar sebagai tempat belajar yang bukan hanya sebagai tempat rapat atau membuat bazzar pada Galungan dan Kuningan. Memang awal penelitiannya melalui LSM. saya membayangkan. kalau ini memang ingin didokumentasikan perlu dicantumkan bahwa dalam pemberdayaan tersebut diikutsertakan para ODHA karena jauh lebih efektif daripada kita hanya bicara-bicara dan sebenarnya kita akan memberi ‘wajah’ pada HIV/AIDS.90 kasus AIDS. yaitu untuk menjaga kesinambungan program. Beberapa sudah mempunyai program sampai ke desa. pemerintah dari struktur atas kemudian dari bawah kita juga harus mulai. kalau dananya ada maka berjalan. Kita sudah berhasil memasukkan isu kesehatan lewat HIV di dalam agenda seka teruna. bagaimana kita bisa menuntut desa adat untuk peduli akan HIV/ AIDS apabila mereka belum tahu? Langkah konkritnya kemungkinan. Tentu hal itu perlu kerjasama dari semua pihak. Edukasi) dengan sistem Banjar. Pendekatannya memang dari multi-pihak. kalau kita tidak melakukan percuma saja. desa adat itu di masa mendatang mempunyai perpustakaan. Seberapa jauh fungsi seka teruna dan bagaimana fungsi yang bisa dijalankan oleh seka teruna. Walaupun menggebu-gebu disana. Hudoyo Hupudio : Saya tertarik pada persoalan pemberdayaan karena menyangkut langkah di masa depan dimana ada komunikasi lembaga-lembaga adat dan lembaga-lembaga yang concern pada HIV/ AIDS. tapi hanya untuk keagamaan. LSM seperti LSM yang ada ini kita tujukan langsung kepada orangorangnya agar lebih dikenal dan lebih familiar padahal semua pihak sudah melakukan. Pada awalnya fungsinya sama dengan lembaga adat.. Kemudian masalah sosialisasi melalui media. Jadi kegiatan di Bali rata-rata lebih maju dibandingkan dengan propinsi yang lain. ritual dan masalah lain. Kalau melihat lembaga adat yang lain tentunya bisa kita masukkan isu HIV/ AIDS secara bertahap walaupun ada dari program pemerintah yang datangnya sekali-sekali yang terus-menerus tinggal di tempat tersebut. Juga sudah ada termasuk pelatihan pada seka teruna/ teruni. Itulah sebenarnya yang paling penting. Di Bali istilahnya seka teruna. banjar dan lain sebagainya. misalnya salah satu dari KPAD Bali yang sudah mempunyai program KIE (Komunikasi. Hanya saja di atas kertas itu berdasarkan kesepakatan atau sangat tergantung dari individu-individu yang ada dan terlibat di ujung tombak yang terkecil. Kemudian LSM-LSM biasanya langsung bergerak ke ujung tombak ini.

kemudian penularan dan pencegahan. pekerja seksual serta komunitas lainnya. pamflet. spanduk. sekolah ini tidak hanya diasosiasikan sebagai sebuah bangunan dan murid-muridnya yang berseragam. mudah dicerna dan sistematis. penjangkauan kelompokkelompok sebaya bisa dilakukan di antara pasien akibat jarum suntik. Peran media massa selama ini yang dapat kita lihat adalah dari segi positifnya. Kemudian menciptakan stigma buruk yang menakutkan masyarakat. Banyak media telah membuat citra buruk. Kemudian peran yang lainnya kerap mengeksploitasi korban untuk menciptakan sensasionalitas berita berhubungan dengan citra media. Secara normatif adalah sebagai media sosialisasi mengenai apa itu AIDS. Tadi mula-mula memaparkan informasi ke media massa tapi yang lebih penting adalah bagaimana peran ini berlangsung secara sosiokultural di masyarakat. sesama anak jalanan. Dimulai dari sumber informasi. informasi yang cepat laku. Kemudian konseling. Ini penting karena masalah ini berhubungan dengan seksualitas. Tentang permasalahan sekolah. selain media massa koran yang kita kenal. waria. Kemudian peran media masih mengerucut pada media massa. padahal mungkin sekolah yang formal dan non formal. Tidak hanya melalui seminar namun melalui penyuluhan juga. Pertama lembaga adat dan agama banyak sekali yang bisa dikerjakan terutama kalau lembaga adat berhubungan dengan komunitasnya seperti seka teruna. Kemudian selain seka teruna ada pesantren. ada orang berbicara dan ada juga yang tidak serta kelompok-kelompok diskusi. Hasil Diskusi Kelompok 2 Kelompok 2 mendiskusikan peran media cetak. bagaimana kita mencoba untuk sharing kepada kelompok-kelompok yang terjangkau dalam bentuk-bentuk alternatif. Ini diluar etika. berapa korbannya. baliho yang secara kasat mata sering kita lihat. Ini sangat luar biasa efektif karena dengan teman-teman . hal utama yang kita pikirkan disini adalah masalah peran lembaga adat dan agama yang masih mencoba untuk direngkuh misalnya dari seka teruna atau pesantren. elektronik dan media lainnya sebagai sumber informasi dan penyelidikan yang benar tentang HIV/ AIDS bagi masyarakat. apalagi yang kita lakukan untuk menyebarkan informasi-informasi tentang HIV/ AIDS? Mungkin bisa brosur. tahun ini meningkat tajam. Kedua. Beberapa bagian berita atau ulasan media itu menggugah empati yang sudah pada tahap perenungan dan mengajak kita untuk menggelar diskusi seperti ini. Sementara masih ada perdebatan apakah pendidikan seks yang dini bisa masuk kurikulum sekolah formal atau tidak? Hal-hal seperti ini saja yang diperdebatkan padahal kita bisa mengukur secara lebih intim pada masalah efeknya. mempunyai perpustakaan sebagai tempat diskusi. balai banjar dan lainnya.91 sekarang pemerintah hanya berhubungan dengan desa adat kalau ada perlunya saja misalnya ada KB. misalnya. Kebenaran faktualnya perlu dipertanyakan. Kemudian permasalahan lembaga adat dan agama.

Mungkin saja ada media tentang HIV/ AIIDS. semua kalanga. Ini berhubungan dengan keterbatasan akses informasi yang kadang-kadang diterima oleh seorang jurnalis yang ingin menambah informasi beritanya namun karena terhambat oleh arus informasi. Media alternatif adalah media yang mengaku sebagai pengatrol hal-hal khusus misalnya mengamati di bidang AIDS.Yang terakhir adalah penjangkauan di ibu rumah tangga. konfirmasi narasumber. klarifikasi suatu berita yang mungkin salah dibuat oleh dokter. pemberdayaan media dapat dilakukan oleh siapa saja.92 sebaya seseorang bisa menjelaskan dengan enak permasalahannya. Kemudian kemampuan identifikasi atau berpikir jurnalis.[] . Pertama dapat melalui pelatihan/ studi seperti ini. pers sendiri dikejar deadline. Banyak yang dibuat oleh temanteman aktivis di bidang AIDS yang memberikan kita informasi yang bisa dibandingkan dengan di berita itu. Kalau ada stigma dari orang tua. Maksudnya suatu media yang mengkatrol berita-berita di media umum yang dibuat oleh para wartawan tentang HIV/ AIDS. Peran editor yang bertugas meliput isi beritalah yang memutuskan suatu berita dengan enak serta merubah isi berita menjadi penting. Setahu saya teman-teman wartawan lebih dekat dengan aktivis-aktivis AIDS ini karena lebih menguasai persoalan sehingga kemampuan yang dia tulis adalah komprehensif. dan lain sebagainya. Yang terakhir adalah meningkatkan kerjasama atau sinergitas dengan kerja. misalnya tentang cerita dari orang lain bahwa ada yang terkena penyakit maka orang tuanya bisa diajak ngobrol dan diluruskan permasalahannya. Kemudian yang kedua yang terpenting adalah kontrol sosial masyarakat pada media itu sendiri dengan hak menjawab. misalnya. harapan-harapannya adalah kita ingin. Selanjutnya masalah tantangan di media massa. Kemudian yang ketiga adalah pembentukan media-media alternatif. Citra media tertentu yang memang mengundang sensasionalitas adalah kemalasan wartawan berhubungan dengan kemampuan menggali data di lapangan. media atau pers lebih baik di bidang profesionalismenya dan juga media tampil demi membangun harapan bagi permasalahan apa saja. Kemudian masalah pemberdayaan media. Kemudian profesionalitas. masyarakat berhak untuk mengajukan ini seperti klarifikasi dan lain-lain.

Saya sudah bekerja di masalah HIV/ AIDS sejak awal. Sebelum Interfidei mencetuskan untuk mengadakan pertemuan ini memang sudah sering diadakan pertemuan-pertemuan dimana kelompok-kelompok agama itu membahas mengenai HIV/ AIDS. Karena predikat ini maka banyak sekali yang kemudian memperlakukan Orang Dengan HIV/ AIDS secara diskriminatif. Kemudian juga yang saya inginkan sebenarnya adalah bagaimana supaya isu HIV/ AIDS ini juga menjadi agenda didalam kehidupan keagamaan semua agama dimana mereka sebenarnya bisa berperan. Namun itu kebanyakan kita lihat sebatas dalam seminar kemudian mungkin pertemuannya terpisah-pisah tidak semua agama menjadi satu seperti itu. Tuti Parwati : Ide Interfidei untuk penyelenggaraan ini saya sambut baik. apa kita perlu dekati atau hindari. Sebenarnya HIV/ AIDS makin meluas wabahnya. Melihat orang sebagai HIV/ AIDS sudah menyatu didalam masyarakat maka kita tidak bisa memisahkan lagi. Maria Ulfah Anshor : Harapan saya ikut acara ini adalah keingin-tahuan saya bagaimana nanti di lingkungan sekitar kita menghadapi orang yang terkena AIDS. . Diana Surjanto : Sangat berharap agar semua manusia bisa terhindar dari HIV/ AIDS dan sangat mendukung agar bisa dicari pencegahannya agar tidak ada lagi korban yang lebih banyak Luh De Suryani : Sangat mendukung sekali apabila cepat dicari pencegahannya agar generasi muda tidak ada lagi yang menjadi korban dari HIV/ AIDS.93 DIALOG MENATA HARAPAN HIV/ AIDS masih menyandang predikat sebagai sesuatu yang menakutkan. makin akan menjadi salah satu agenda kegiatan kemasyarakatan. Karena masalah HIV/ AIDS tidak bisa ditangani seperti misalnya masalah kesehatan oleh Departemen Kesehatan saja atau rumah sakit. Perlukah HIV/ AIDS ditakuti secara berlebihan? Atau tidak lebih baik bagi kita untuk memberanikan diri mengetahui lebih dalam agar kemudian dapat mengahadapi secara tepat? Berikut rangkuman harapan dari para peserta. Dr. Bagaimana solusi kita agar semua disini tidak terkena narkoba.

mencuri itu. yang jelas Moha. Sukarma (Polres Karangasem) : Harapan dari kita semua dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti dialog tentang penanganan isu-isu baik itu AIDS ataupun narkoba. Yang terpenting disini bagaimana cara kita untuk mengubah sikap dan perilaku kita. Kebetulan kami mengadakan penyuluhan tentang narkoba. Pada prinsipnya kami sangat mendukung sekali apalagi yang namanya kegiatan positif seperti ini dalam hal mendukung apa yang menjadi program pemerintah yang bertujuan memberantas penyebaran narkoba ataupun penyakit-penyakit lainnya. Saya yakin semua agama tidak menghendaki adanya perbuatan-perbuatan yang saya sebut itu. Kalau dikaitkan dengan agama. . kita bisa menyelesaikan persoalan ini secara bathin dulu sebab kalau hanya berdasarkan ajakan-ajakan secara material saja masalah tidak akan pernah selesai. Matsarya yang termasuk mabuk. Komang Tri Artika : Harapan saya. jadi kami mengisi dari sisi Kamtibmasnya sedangkan dari pihak agama yaitu Parisadha menyebutkan hal tersebut. Madha. Apa yang menjadi harapan pemerintah memang harus kita dukung. saya hanya ingin tahu apa itu HIV/ AIDS dan cara melepaskan diri dari HIV tersebut dan saya berharap para remaja termasuk saya bisa terlepas dari HIV tersebut dan HIV bisa ditanggulangi. juga untuk kita semua terutama dalam hal ikut memberantas atau memerangi bahaya narkoba atau penyakit-penyakit yang membuat fatal bagi kita semua. yang kira-kira paling tidak dapat mengubah hal-hal yang tidak kita inginkan seperti dengan adanya AIDS melalui virusnya termasuk juga narkoba. Jadi permasalahannya perbaikan secara batin. Saya tidak bisa merinci dari keseluruhan 5 M itu.94 Kadek Sudiani : Harapan saya ketika kita menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi baik itu HIV/ AIDS atau narkoba. saya pernah mendengar kursus agama Hindu ada 5 M dalam upaya mencegah dan menanggulangi adanya penyakit-penyakit masyarakat yang bisa menimbulkan dampak yang kurang bagus bagi kehidupan kita sehari-hari. Setidaknya perlu kita antisipasi bersama-sama dalam hal memenuhi harapan-harapan kita mengikuti dialog seperti ini termasuk juga kegiatan semacam ini. Diantaranya melalui kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif. Dalam hal ini upaya-upaya yang perlu kita lakukan seperti penanggulangan maupun pencegahan sangat memegang peranan.

Hubungan beragama diartikan hanya hubungan manusia dengan Tuhan tidak manusia dengan manusia. Tapi yang lebih penting adalah kedepan. Komang Suriasih ( Gandhi Ashram ) : Saya belum tahu banyak tentang HIV namun kepedulian kita secara bersama-sama memperhatikan orang yang terkena HIV. Itu barangkali yang bias diberikan oleh Interfidei maupun oleh teman-teman yang hadir ini. pemikiran-pemikiran disamping perkenalan secara pribadi. Lalu agama ketika menemui persoalan-persoalan HIV/ AIDS mungkin hanya bisa memvonis hitam putih. MUI Jawa Timur menghadapi HIV/ AIDS. Kita harus menyadari dalam bidang keagamaan mungkin tidak punya peran apa-apa. sangat paternalistik. Ini sangat baik dan mungkin belum pernah terjadi. Itulah tindak lanjut yang diperlukan oleh kita yaitu berbicara terutama berbicara kepada atasan yang lebih berpengaruh di bidang agama. Saya membayangkan ketika ada seorang perempuan yang tiba-tiba menangis di ruang praktek seorang dokter ketika dia divonis HIV/ AIDS dan ternyata penyakit yang . Tapi ketika minggu yang lalu di Riau. Komang Tri Artika : Harapan saya sama dengan teman-teman semua yaitu bagaimana cara penanggulangan atau pencegahan bagi orang yang kecanduan obat-obat terlarang serta bagi orang yang terkena HIV/ AIDS apakah dibiarkan atau menasehatinya. Inilah sebagai contoh bahwa yang penting itu adalah informasi terus-menerus. itu dosa. Agama biasanya suatu kehidupan atau bagian kehidupan masyarakat yang bersifat sangat hirarki. Pekanbaru diadakan acara yang sama. pemuka agama Islam disana menolak kondom dengan kuat sekali sehingga kami mengantisipasinya dengan menghadirkan Bapak Abdul Somad dari Jawa Timur ke Pekanbaru. Disini saya berharap terjadi pertukaran ide-ide. Sebagai contohnya dua bulan yang lalu di Jawa Timur ada seminar majelis ulama. sudah mengerti.95 Bapak Hudoyo Hupudio : Disini kita berkumpul dengan latar belakang agama yang berbeda-beda serta latar belakang pengetahuan dan pengalaman tentang HIV/ AIDS yang berbeda-beda. neraka surga. Ketut Angga Wijaya ( Gandhi Ashram ) : Menarik sekali ketika agama akhirnya membicarakan masalah sosial. Seperti dikatakan antara pemimpin-pemimpin agama banyak sekali terdapat salah paham juga salah sikap menghadapi adikadik disini. Dalam menghadapi masalah HIV/ AIDS disana tentang kondom mereka tidak terlalu anti lagi. apa dikatakan pemimpin agama biasanya dilaksanakan oleh masyarakatnya. Saya mungkin salah satu orang yang kecewa terhadap perilaku orang yang beragama sekarang.

Jadi saya menanyakan apakah ini karma. Sangat menakutkan karena hanya tinggal tulang dan kulit. Akhirnya saya berpikir itu sangat menakutkan. kelinci makan ganja. Timbul pertanyaan peranan agama itu apa. Jadi agama adalah sesuatu yang tidak bergerak atau langgeng. Bapak Sadra : Kita sepakat menamakan ini penyakit sosial yaitu penyakit yang sangat menyebar di kalangan masyarakat dan oleh karenanya penyelesaiannya pun harus kita selesaikan secara sosial yang artinya banyak orang yang harus terlibat dalam kepedulian terhadap HIV. Mengenai narkoba saya pernah kena tipu ketika saya di India berkumpul dengan 11 orang menyewa sebuah rumah. Ganja itu dijemur dan dijadikan rokok sehingga saya seperti mempunyai pikiran yang tidak terkendali. penyakit kutukan atau apakah Tuhan berperan dalam hal ini. apakah itu agama? Muncul pertanyan-pertanyaan seperti itu artinya ada bait-bait kitab suci yang barangkali perlu kita diskusikan sehingga kita mempunyai pemahaman. apakah kita hanya bisa mengatakan itu jelek. Kepedulian mengenai HIV dan narkoba. Saya selalu ikut seminar dan kebanyakan topiknya adalah mengenai agama. Kemudian saya pernah mengunjungi pusat rehabilitasi AIDS. salahnya dimana? Kita harus diskusikan apakah jalan agamanya yang salah atau kita yang tidak menerapkan atau kita salah interpretasi terhadap ajaran itu. 'a' yaitu tidak dan 'gama' yaitu bergerak. Dari melihat itu saya bayangkan kalau ini menyebar sangat bahaya. Binatang apapun kalau dia langgeng atau batu tidak bergerak. Di kalangan Hindu sendiri saya kecewa ketika sekolah saya mendengar karena kata ‘agama’ dari bahasa sansekerta. babi dan sapi semua makan ganja. padahal khotbah jalan terus manusia kok berlaku tidak baik jalan terus juga. Ada orang dari Australia yang bawa sayur ternyata itu adalah daun ganja. Ganja tumbuh di halaman rumah dimana-mana seperti rumput.96 didapatkannya itu berasal dari suaminya dan dia tertular. rambut tidak berwarna. saya punya pengalaman yang kecil. Jadi kambing makan ganja. Itu adalah pengalaman saya tentang ganja. itu salah dan mengenai permasalahan seperti ini sampai saat ini kita belum melihat saja solusi-solusi yang ditawarkan. Tapi kalau sudah kecanduan sulit untuk dihindari. Saya bergilir dengan teman-teman memasak karena masak sendiri di rumah tersebut dan saya tidak tahu awalnya bahwa rumah itu rumah ganja. Kerusuhan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh agama karena itu penyebabnya adalah manusia sendiri. kijang makan ganja. . Lalu saya duduk di suatu tempat ada orang yang membakar sampah dan ternyata itu adalah ganja. Jadi harapan saya sederhana saja dari pertemuan ini semakin banyak kita berkumpul disini semakin banyak orang yang akan peduli terhadap hal ini dan masing-masing dari kita ada yang bisa membantu masyarakat paling tidak sosialisasi tentang penyakit AIDS. Itu saja.

Saya pribadi sudah melihat dengan kepala saya sendiri bagaimana teman saya mati mengenaskan. Marianus Marchelius : Saya berharap sekali dengan adanya diskusi ini dapat dicarikan solusi bagaimana kedepannya menanggulangi AIDS. Harapan saya terutama generasi muda jangan sampai tertular.[] .97 Widi (Gandhi Ashram ) : Dalam diskusi kita yang paling menonjol adalah masalah penyakit masyarakat AIDS ataupun narkoba walaupun kita ketahui sampai saat ini penyakit HIV/ AIDS belum bisa diobati dan yang paling penting pada saat ini adalah bagaimana cara kita menanggulangi penyakit HIV dan narkoba tersebut. Seperti yang dikatakan Bapak Sadra bagaimana agama bisa peduli terhadap penyakit tersebut dan memberikan solusi terhadap penyakit tersebut. Memang ini penyakit masyarakat yang harus segera dibarantas.

ada yang dalam bentuk media baik media cetak ataupun elektronik. Dalam proposal kami kalau teman-teman membaca dan masih ingat kami mengusulkan kalau bisa Karangasem menjadi pilot project ke depan. itu merupakan follow up jangka pendek dari kami. kesenian dan masih banyak lagi yang lain. Sekarang yang perlu kita pikirkan tim itu seperti apa. Tapi itu mungkin program jangka menengah. Dengan nilai itu kita bukan hanya ingin mewujudkan komitmen. dalam bentuk apa dan bagaimana melakukannya. Agama kalau tidak konkrit dan tidak menyentuh kemanusiaan maka bukan agama namanya. tenaga dan lain-lain. tapi sungguh-sungguh bahwa kita terbuka tentang agama. bahwa perlu ada tim. bagaimana kita membuktikan itu. Kemarin juga sudah didiskusikan beberapa metode pendekatan. institusi agama. kita mau melakukan apa dengan isu HIV/ AIDS ini di Bali. ada nilai yang ingin kita katakan. Sekarang untuk sederhananya kami menyiapkan poster dan stiker. cinta kasih dan menghargai yang berdasarkan motivasi dan tujuan kemanusiaan. Sekarang sesudah kegiatan ini. poster. betapa pentingnya untuk bekerjasama. tentu saja dengan dasar ada spirit bersama dalam bentuk kerjasama antar agama atau dialog antar agama. Bagaimana kita menyebarkan itu supaya dengan poster dan stiker orang juga bisa mendapat informasi tentang HIV/ AIDS ini. Itulah yang benar-benar menjadi harapan kami dengan kegiatan ini. Mulai dari hal sederhana dulu yang memang paling mampu kita lakukan sesuai kemampuan kita baik kemampuan waktu. adakah kesadaran baru tentang bagaimana selanjutnya? Hal terbaik apakah yang bisa diberikan terhadap kemanusiaan melalui permasalahan HIV/ AIDS ini? Apa yang akan kita lakukan? Elga J Sarapung : Kita sekarang coba memikirkan kira-kira apa yang akan kita lakukan setelah ini. Ada komitmen yang kita sendiri katakan. LSM dan lain-lain. Ada nilai yang ingin kita buktikan. diskusi. Jadi ada solidaritas. ada yang dalam bentuk penyuluhan. Apa output yang konkrit sebagai dasar follow up nantinya dari kegiatan ini. lewat agama-agama. media adat. . melakukan sesuatu yang konkrit dengan action.98 DIALOG MENUJU PRAKSIS Setelah pembahasan-pembahasan sebelumnya. Sedangkan medianya bisa lewat sekolah. Seperti yang telah diusulkan. kira-kira seperti apa. Itu merupakan salah satu kegiatan kita tapi mungkin ada usul lain. stiker.

Marianus Marchelus : Kalau saya mungkin sama dengan Yos. jadi saya pribadi siap kalau dibentuk panitia kecil untuk lingkup Karangasem dahulu. kalau bisa untuk action-nya karena dikatakan tadi Karangasem sebagai pilot project. saya sepakat kita menyentuh kalangan muda artinya disini bagaimana kita melibatkan teman-teman di Teruna-Teruni. I Made Sukarma : Rencana tindak lanjut yang mungkin direncanakan tadi juga sudah disampaikan oleh rekan-rekan khusunya di wilayah Karangasem. Kalau kita memang fokus ke Karangasem. Kemudian kita punya media yang dikelola oleh keuskupan yang juga nantinya bisa melalui media ini. kita sendiri punya komunitas yang cukup banyak pesertanya barangkali kami berangkat dari sini dulu yang kami bisa. dan permasalahannya apa? Mungkin Ibu Tuti bisa sharing sedikit permasalahan di Karangasem. Bejo Utomo : Saya sepakat dengan Ujang. Sementara kalau grand design-nya bisa lebih luas dari Karangasem. dan teman-teman yang sering berkecimpung di dalam organisasi kegiatan kemahasiswaan dan lain sebagainya. Ashram ini sudah terkenal sekali di sini. kemudian partner-nya Ibu Tuti sendiri siapa?. Artinya setelah teman-teman selesai ini ada semacam tindak lanjut yang ingin saya tawarkan. setelah itu bisa berkembang scope-nya. Seperti yang kita ketahui kita disini masing-masing membawa organisasi atau ada juga dari individu. Dimanapun bisa kita lakukan. Mungkin sebagai target disebutkan kaum muda menurut saya . Disamping itu juga bisa mensosialisasikan kepada temantemannya yang berada di luar organisasi. Apa yang bisa kita dilakukan dalam jangka waktu pendek? Sambil mencari strateginya. Saya pikir disini kita harus cari siapa saja yang mengelola isu-isu ini. kalau isu-isu seperti ini sepertinya media kami bisa memuatnya. Ujang Nuryanto : Mungkin ini sekedar saran. Luh De Suriyani : Terus terang saya belum memetakan sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh Karangasem. apalagi kalau didukung Bapak Sukarma sebagai institusi kepolisian.99 Diana Surjanto : Mungkin kalau dari saya rencana tindak lanjutnya untuk jangka pendek saja. Mungkin yang organisasi bisa mengadakan semacam pelatihan mengenai HIV/ AIDS dengan teman-teman yang terlibat dalam organisasi itu.

Termasuk di Tulamben karena kami kebetulan pernah tugas di wilayah itu yang merupakan kawasan wisata yang perlu kita adakan pendekatan-pendekatan baik secara penyuluhan melalui media cetak. perlu ada identifikasi persoalan. Listia : Ini sinyalemen adanya persoalan-persoalan di sekitar pariwisata. kami juga siap untuk penyediaan fasilitas acara penyuluhan. Listia : Pertanyaan Luh De ini sangat baik. saya tidak tahu persoalannya secara jelas tapi saya sangat bersedia terlibat dalam kelompok-kelompok ini. kemudian siapa yang akan melakukan ini.100 juga perlu ditambahkan yaitu wilayah kawasan wisata karena wilayah ini sangat rentan dengan HIV/ AIDS. Kalau wisata di Karangasem mungkin Candi Dasa termasuk juga kaum mudanya yang telah disampaikan tadi. Listia : Yang mau merancang kita berkampanye itu siapa? Mungkin Ujang punya komitmen seperti itu? Karena yang menggagas belum ada tapi yang membantu sudah ada. targetnya adalah kaum muda. . Saya yakin dari tempat sekecil apapun isu-isunya akan menjadi besar kalau memang solidaritasnya bagus. Ida Nyoman Triatmaja : Yang jelas kami dari lembaga Seka Truna sanggup untuk memberikan bantuan berupa penyebaran pamflet dan iklan. Apa persoalannya. Ida Nyoman Triatmaja : Mungkin nantinya dari Ibu Tuti atau dari lembaga-lembaga lain yang mengerti tentang HIV akan memberikan ceramah atau pun dialog dengan masyarakat di desa-desa seperti Budakeling misalnya. kita mau melakukan apa dan apakah kita bisa jalan bersama-sama? Luh De Suriyani : Mungkin bisa dimulai dari scope yang paling cair yaitu teman-teman remaja. elektronik ataupun kegiatan-kegiatn sosial seperti ini. wilayah Buitan.

ada dari kesehatan yaitu dokter. Luh De Suriyani : Saya pikir nanti di Budakeling bisa kita mulai pendekatan sosial mengenai ini. maka tidak akan berjalan dengan bagus. dari Kesbanglinmas. Seandainya kita melakukan pelatihan semacam ini kemudian kita fokuskan kepada teman-teman Seka teruna saya kira sangat relevan sekali. Untuk momennya tentu saja teman-teman Dian Interfidei dan yang lain sudah kerja keras untuk memulai ini dan mungkin bisa dilanjutkan disana. jadi saya informasikan kalau narkoba kita sudah punya wadah untuk BNK di Karangasem. Jadi saya minta Ibu Elga atau Mbak Listia bisa menceritakan formatnya bagaimana dan untuk tindak lanjutnya itu . Bejo Utomo : Saya kira kalau misalnya Ujang mau membuat seminar Seka Truna-truni se-Karangasem namun Ujang hanya didukung oleh kawan-kawan yang ada disini tanpa didukung oleh Ibu Tuti. Kalau kerjasama dengan seka Truna-truni kita memang tidak secara langsung tapi Kesbanglinmas mengirim surat kepada setiap kecamatan. Bapak Sadra. I Made Sukarma : Kalau memang masalah kegiatan barangkali bukan tenaga teknis di bidang ini. Organisasi ini diketuai oleh wakil Bupati dan tim yang memberikan penyuluhan itu banyak. Saya tidak tahu persis bagaimana nanti komunikasi kita dengan teman-teman di Budakeling. Ida Nyoman Triatmaja : Saya mohonkan bantuan nantinya datang dari Bapak Polisi sebagai lembaga yang sangat berkompeten juga. kepolisian dalam hal dampak dari pada penyalahgunaannya seperti ancaman hukuman.101 Ujang Nuryanto : Menurut saya teman-teman semua mau membantu tapi kalau scope-nya untuk seluruh Karangasem? Sedangkan kalau sekedar untuk Buitan mungkin saya sendiri masih bisa. namun tetap dengan bimbingan Ibu Tuti. saya pikir kita lanjutkan hubungannya dari sana. Badan Narkoba Kabupaten. mari kita berjalan bersama-sama. Saya menawarkan tadi kalau kita menyentuh ke akar rumput ini memerlukan waktu yang banyak. Ibu Elga dan lain sebagainya. Jadi kalau memang betul-betul ini akan dilaksanakan barangkali perlu dipersiapkan tenaga teknis yang kira-kira lebih tahu untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat. Jadi harapan saya kalau kita memang mau merencanakan suatu rencana tindak lanjut ada semacam sinergi.

Tuti Parwati : Kita harus bisa mencari kesempatan itu. miras sudah jadi satu karena kita sudah bertemu dan duduk bersama dengan remaja jadi lebih mudah dan isu-nya lebih banyak. Kita kalau sudah ke HIV/ AIDS. narkoba. Saya menghubungi teman-teman dari lain-lain desa misalnya pemuda terutama yang justru beresiko tinggi seperti daerah pariwisata di Kecamatan Abang. Karena di desa-desa sering muncul permasalahan. . Awalnya adalah dari sana. Seperti pos Citra Usadha yang sudah ada. saya pikir akan bisa berlanjut dari sana. bentrok antar remaja menyangkut yang lebih besar nanti sebenarnya dimulai dari anak-anak mabuk ini. karena kekurangan dana jadinya tidak bisa dijalankan lagi. Perkelahian antar remaja. Dr.102 mungkin kita bisa kontak person ke masing-masing desa dengan kita semua. Ibu Suster juga saya kira bisa ikut. Tapi jangan nanti saya yang dipilih menjadi ketuanya. Dan sering juga saya baca di koran. kita mulai kecil-kecilan dari Ashram sebagai tempatnya panitia. I Nyoman Sadra : Kalau memang teman-teman mempunyai komitmen untuk melanjutkan ini. Dan tadi Seka terunanya Budakeling sudah siap jadi walaupun tergantung nanti disepakati dimana tempatnya tetapi akan lebih dekat disini.Tuti Parwati : Kayaknya dari Ida Nyoman Triatmaja bilang. supaya lebih dekat untuk mengadakan pertimbangan kalau untuk Karangasem. Intinya membentuk organisasi kecil-kecilan. Kecamatan Kubu. arak. Ida Nyoman Triatmaja : Kalau mungkin kita akan bentuk sebuah perkumpulan atau organisasi dengan cara mengumpulkan semua pemuda yang ada di Budakeling tersebut. Dr. Dulu pos PDI dipakai tempat minum tuak. tapi kita bicarakan yang untuk Karangasem. Misalnya Citra Usadha yang sudah ada di Karangasem juga. Mungkin Ibu Tuti sendiri ingin menyampaikan sesuatu silahkan. Jadi kita kerjasama dengan pemuda disana sebagai yang mendukung fasilitator kalau ada ceramah keliling. Listia : Ini sebenarnya komitmennya sudah mulai muncul walaupun belum begitu jelas. saya kira Ashram kalau hanya fasilitas tempat dan saya sebagai individunya disini siap saja bekerjasama dengan temanteman. Disamping tadi dimana pun mereka berada bisa lokal. kejadian itu terjadi karena mereka mampu.

masuk ke desa orang lain kadang-kadang dikucilkan. kalau di banjar saya memang rutin melaksanakan kegiatan rapat setiap bulan. Kami hanya bisa menyediakan fasilitas seperti membantu mengirimkan surat atau menyediakan fasilitas yang bisa kami lakukan. Kalau untuk Budakeling gampang. Kita lakukan dengan cara yang sederhana dulu. aku bekerja sama baik sebagai individu atau kelompok organisasi sehingga jaringan kita semakin luas untuk mensosialisasikan langkah ke depan yang lebih konkrit. I Nyoman Sadra : Tadi pagi kita masuk ke dalam identitas. Hindu. Citra Usadha. Oleh karena itu usul saya. Kalau secara individu. Remajanya memang banyak namun kebanyakan merantau tinggal di Denpasar. Kalau ingin membentuk wadahnya sebaiknya dipikirkan dulu. Karena kalau kita masuk ke sebuah komunitas maka pertanyaan pertamanya adalah anda siapa. pemudanya dari kalangan berbagai agama. Kami sendiri dari seka teruna masih sedikit yang tinggal di rumah. Jadi lebih efektif dan lebih mudah ketika kita mengadakan penyuluhan ini berangkat dari ketersediaan Bapak Sadra sebagai . kapan dan koordinasinya seperti apa. Kalau di Budakeling mungkin seka teruna di masing-masing banjar. bagaimana kalau dibentuk sebuah wadah dulu yang mempunyai identitas kemudian baru kalau kita katakan birokrasi seperti pemuda Mesjid. Saya akan menambahkan soal kerjasama kita baik Ashram. Kalau kita sepakat ada penyuluhan atau model seperti ini kepada kelompok itu. Untuk langkah jangka pendek ke depan kita targetkan apa yang akan kita lakukan. bagaimana kita melakukan.103 Elga Sarapung : Saya kira sudah semakin jelas. Tadi ada usulan penyuluhan kepada kaum muda. Apakah kegiatan ini kita targetkan setiap bulan. Bisa kita masuk setiap mereka ada pertemuan. Bejo Utomo : Saya sepakat apa yang dikatakan oleh Bapak Sadra bahwa ketika kita bicara disini dan berlatarbelakang identitas yang berbeda saya kira cukup relevan ketika kita membuat jaringan identitas agama. kemudian menyelenggarakan semacam pelatihan. Ida Nyoman Triatmaja : Untuk jangka pendek kita fokuskan dulu pada daerah yang beresiko tinggi seperti daerah pariwisata dl Tulamben dan di Amed. Kita mengadakan pendekatan serta memberi informasi tentang penyakit HIV/ AIDS ini. Untuk koordinasi nanti saya akan hubungi kepala desa disana untuk mengumpulkan warga melakukan ceramah disana. Tapi paling tidak kita bisa berdiskusi untuk mencari pengalaman serta solusinya. Uluangkep dan Interfidei. Sasaran kita pemuda.

Tetapi saya sepakat dengan Luh de tadi. Untuk berbicara lebih teknis lagi saya kira seperti yang saya sampaikan bahwa kawan-kawan membentuk sebuah identitas yang kegiatan dengan bermodal niat. Marianus Marchelus : Memang susah berangkat dari hal seperti itu. saya kira ada faktor-faktor lain yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan ini. Dalam hal penggalian dana juga lebih mudah kalau kita membentuk LSM. paling tidak spirit kebersamaan. Saya kira kita berangkat dari pengalaman jangan sampai kita sudah membentuk wadah kemudian terbentur dengan hal-hal teknis lalu kita mundur. bagian dari itikad. Listia : Mungkin ini yang perlu. Saya pikir memungkinkan untuk itu. saya lebih optimis kegiatan ini akan terlaksana misalkan teladan itu diikuti oleh tokohtokoh teruna-teruni dan diadakan disini. sudah melihat poster itu kita akan berbagi info. Pertama kita dimulai dari pengumpulan alat-alat peraga seperti brosur. pertama kita harus membentuk suatu organisasi yang jelas sehingga nantinya ketika kita mau memasuki desa dan minta pertolongan kepada kepala desa disana identitas kita menjadi jelas. Luh De Suriyani : Saya berpikir kita mulai dari hal yang sangat sederhana. kita mulai dari apa yang kita bisa dulu. Yang kedua semacam poster kita tempel di banjar-banjar. Kemudian nonton videonya. lalu mengadakan pertemuan yang agak rutin. Mungkin saya akan drop ke suatu daerah di dusun Pekarangan. motivasi dari hati nurani. Berarti dalam hal ini dengan membentuk LSM. Pertama karena teman-teman mungkin banyak yang tidak mengenal HIV/ AIDS sehingga kita butuh alat peraga. Sedangkan Bapak Sadra bermodal tempat. Ida Nyoman Triatmaja : Menyikapi yang Bapak Sadra sampaikan.104 tuan rumah. kemudian teman yang lain mungkin di Buitan. kalau memungkinkan nanti kita hunting dimana. Paling penting adalah pemetaan persoalan kemudian pemetaan kelompok strategis disana seperti ada yayasan. leaflet. Misalnya untuk konteks Denpasar. Kemudian di suatu desa kita bertemu dan ngobrol biasa saja. . Nanti kita kumpulkan kemudian kita drop ke beberapa teman-teman yang kita kenal dulu. Tetapi bagi kawan-kawan yang dari Denpasar akan ada spirit mulai dari apa yang kita bisa. Ada persoalan yang agak rutin memikirkan bagaimana kita bisa melakukan sesuatu berkaitan dengan isu HIV/ AIDS dan narkoba ini.

target. Saya bukan bilang soal dana. teknis memang tetapi ini mengganggu proses atau kelancaran action-nya.105 Bejo Utomo : Saya kira apa yang saya sampaikan cukup konkrit namun masih ada yang mengambang. Soal waktu. mereka bekerja sesuai porsi-porsi dan ketika kita bicara rencana tindak lanjut kita jalan sesuai porsi akhirnya akan gampang. Paling tidak awalnya kita punya spirit berangkat dari hal-hal yang kita bisa. Persiapan-persiapan kapan tanggalnya. Kalau kita sudah sepakat kita . mungkin Ibu Tuti sebagai donatur. Kegiatannya ada penyuluhan. Interfidei apakah mendukung. Artinya ada Ashram. saya kira tidak akan terjebak masalah teknis. wadah bersama (pokja kelompok antar iman). lalu mengadakan persiapannya di Ashram. Seperti yang dikatakan Ujang dia sudah siap untuk wilayah Karangasem kemudian kerjasama dengan Luh de dan teman-teman disini. Tadi Bejo bilang apakah nanti beberapa orang-orang penting ini seperti Yayasan Citra Usadha. Sarapung : Sebenarnya tadi sudah jelas bahwa kita perlu saling mendukung satu sama yang lain dan jangan bersikap pesimis. Elga J. Jadi bukan berarti teknis soal uang. Uluangkep. Artinya bukan berarti saya terjebak dalam permasalahan teknis. Daripada kita selalu berkutat dengan hal teknis. Jadi lebih teknis ke pertemuan penyuluhan itu. siapa yang akan bicara. Kita butuh sarana atau alat-alat peraga yang mendukung. Budakeling. Kami generasi muda biasa bekerja karena punya semangat. Kita bermodal niat sebagai tenaga teknis. Misalkan kalau kita buat pamflet saya kira tidak mungkin. Ujang Nuryanto : Maksudnya adalah setelah kita bentuk itu baru kita bentuk renstra-nya. Target kita adalah kaum muda. siapa yang mem-back up saya kira itu nanti kalau sudah ada komitmen untuk membentuk wadah yang informal. Ashram. siapa-siapa yang akan kita undang. Citra Usadha. Saya kira akan lebih konkrit. Kita akan mengadakan penyuluhan tempat di Tulamben. Sesudah ini kapan kita akan bertemu lagi disini untuk membicarakan lebih detail tentang bagaimana persisnya kegiatan ini akan kita lakukan. kalau sepakat yang 6 bulan ke depan kita akan bikin apa. yang tanpa dana pun bisa kami buat tapi paling tidak ada suatu dukungan misalnya kalau di lapangan kami menemukan kesulitan. Dari diskusi terakhir kita akan coba yang jangka pendek. Kalau pamflet misalnya Yayasan Citra Usadha punya pamflet dan kita bekerja bersama. Seperti contoh acara ini. Kita bisa daftar beberapa tempat untuk tahap ini. Marianus Marchelus : Saya kira spirit sudah ada. ada berbagai pihak yang secara sinergis bekerjasama. Interfidei. paling tidak ada pihak yang kami bisa berkomunikasi.

jadi suster yang juru bicara. I Nyoman Sadra : Tambahan pertimbangannnya begini. Bersama-sama komunitas di Budakeling. di suatu tempat. penyuluhan dan saya kira yang lain sama. Tapi sekarang kaum muda dalam bentuk komunitas kaum muda yang ada di suatu desa. Kalau kita mau mengadakan penyuluhan disana kita bisa koordinasi dengan kedua sekolah ini karena pendirinya adalah saya. Darma Kerthi. Elga J Sarapung : Sekarang ada dua usul namun target tetap sama yaitu kaum muda. apakah di Budakeling untuk kaum muda yang secara umum atau di daerah wisata sekitar sini yaitu Manggis. Walaupun tadi ada sedikit penjelasan kalau kita memilih Budakeling. Kita bentuk kegiatan nanti yaitu penyuluhan dimana membutuhkan alat-alat peraga yang memang profesional. Kalau kita ingin mengajak seka teruna kalau mereka tidak mengerti juga percuma. Lokasinya juga ada dua. SMA di daerah-daerah pariwisata karena pengaruh wisata sangat besar. Kalau kebetulan pada hari mereka mengadakan pertemuan orangnya Ibu Tuti tidak bisa saya kira akan menjadi tarik ulur. kapan sesudah ini kita bikin pertemuan lagi. kalau SMA. Jadi yang rentan adalah daerah ini. I Nyoman Sadra : Tambahan sedikit kalau dalam jangka pendek kita berbuat saya pikir yang paling mungkin kita kerjakan sasarannya adalah sekolah SMA. Wadah kita sementara kita namakan kelompok kerja. . Jadi getarannya semakin kuat. Tapi ada usul lain kita coba ke sekolah-sekolah yaitu SMA.106 menghubungi satu lokasi dulu baru kita memilih mana yang harus dipilih. Saya kira kalau di sekolah jauh lebih gampang dan di sekolah itu bukan berasal dari satu desa saja tapi sudah berasal dari beberapa desa adat. Kegiatan yang sama. kita pilih SMA Manggis. Listia : Yang ada dalam pikiran saya kelompok kerja ini tidak hanya melakukan satu kegiatan saja. Yang dua ini paling memungkinkan karena dekat Ashram. Kalau Budakeling masih terisolasi dan fanatisme terhadap hal-hal yang tabu cukup tinggi. berupa narkoba dan seks bebas. Karena ini pokja antar iman mungkin baik jika bersama-sama datang ke komunitasnya Ujang dan bicara soal ini disana. Kemudian di komunitas Gereja karena ada Suster. Mungkin tidak kalau di antara waktu-waktu yang tersisa ada kunjungankunjungan dalam pokja ini tidak hanya orang per orang tapi antar komunitas itu juga ada relasi. kalau kita mengumpulkan anak-anak desa di seka terunateruni mereka punya sangkepan tertentu.

saya lebih menekankan pada usul pertama saya yaitu ada semacam pelatihan atau pertemuan semacam ini. Misalnya 2 hari dan pesertanya tokoh-tokoh kaum muda.Tuti Parwati : Sudah mulai tergambar. bersama-sama dalam action untuk menyentuh kemanusiaan yang kita semua perlu. Tapi saya belum bisa memastikan ya atau tidak apalagi di Gereja kalau saya belum bicara dengan orang Gerejanya atau dengan komunitas saya padahal saya tidak bisa mengambil inisiatif sendiri. Ida Nyoman Triatmaja : Memang boleh saja dari perwakilan misalnya dari ketua-ketua pemuda. Tapi masalahnya kami di pemuda kadang-kadang punya suatu watak yang menyepelekan dan ketika orang-orang yang berbicara bukan pakar maka kurang bisa menyentuh perasaan mereka. Bejo Utomo : Saya ingin memfokuskan ke hal itu. Karena itu kelompok kerjanya antar iman. Dr. Jadi tidak satu kelompok yang kemudian menyuluh ke kelompok masing-masing. contoh yang tidak perlu dikampanyekan lagi dan merupakan contoh yang kita bawa ke lapangan. Artinya setelah acara bisa mentransformasi apa yang diperoleh oleh teman-teman. Ada orang tertentu. Mungkin saya rasa itu baik juga saran agar kita semakin akrab. Tapi kita ke suatu komunitas tertentu. Listia : Jadi yang bicara cuma dari Citra Usadha dan nanti Suster berdasarkan dari gerejanya. walaupun bentuknya masih ada 2 macam dimana yang satu fokusnya adalah HIV/ AIDS dan narkoba tapi yang lainnya tidak hanya untuk HIV/ AIIDS dan narkoba tetapi juga supaya mendapat dampak sampingan daripada kegiatan ini. Saya merasa sangat berat karena saya belum begitu memahami dan baru kali ini ada pertemuan ini. Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah mungkinkah saya merealisasi apa yang ditemukan ini. Itu sebenarnya dampak sampingan yang tadi diusulkan. Mengenai usul saya. Soal HIV-nya nanti kita minta tolong teman-temannya Putu. Disamping itu kalau namanya pokja antar iman lalu isunya hanya terbatas tapi kita jangan memikirkan isu yang terbatas . Kita saling bantu dan bukan suster yang nanti membahas HIV-nya. goresan-goresannya sudah mulai terbentuk. Tambahan dari saya. Jadi kelihatan kita bisa bekerja dengan baik. Itu suatu tindakan praktis.107 Suster Maria Calista : Kalau tawaran seperti itu saya kira sangat baik. bukan penyuluhan. Saya kira ini lebih efektif dan sekali kerja jangkauannya sangat luas.

Disana digali kebutuhan apa yang diinginkan menurut yang datang itu enaknya bagaimana. narkoba yang semua kita akan alami sesudah itu kita bicarakan. Kalau ini bisa kita sepakati akan bagus. sebelum mereka jadi ketua memang dilatih dahulu. Jadi lebih kepada fakta realitas yang diinginkan mereka bukan dari rencananya orang yang jauh dari tempat itu.108 dan hanya membicarakan itu-itu saja namun makin lama makin mulai dengan isu kemanusiaan. Wadah ini kita namakan pokja antar iman. Akhirnya kita sentuh mulai dengan HIV/ AIDS. perlu menampilkan ODHA. Sekretariat bersama adalah Gedong Gandhi Ashram. Elga J Sarapung : Kalau kita lihat usulan kita sudah semakin maju. Jadi itu baru mungkin ada pelatihan. Alfred Benediktus : Saya mengusulkan bagaimana teman-teman membentuk tim pokja dulu nanti mereka yang menentukan. Kita ajak mereka dan undang sehingga mereka terlibat juga dengan kita. bisa di sekolahsekolah maupun di kelompok desa. dan kalau kemudian ketuanya berminat lebih bagus lagi. Dr. diskusi bersama dan pelatihan. Mengenai pembicaranya siapa yang kita akan ajak harus dipilih. Tapi tetap ada rencananya kapan. Misalnya dari Yayasan Citra Usadha kita minta mantan pecandu yang bicara. Kalau tadi langsung ketuanya diundang dan bisa juga dikasih dahulu paparan umum siapa yang berminat. Ida Nyoman Triatmaja : Yang terpenting disini adalah bagaimana membangkitkan perasaan. Jadi dilatih entah yang tadi ketua-ketua. perlu menampilkan lembaga lain seperti yayasan atau lembaga lain yang kompeten untuk memberikan informasi itu. baru setelah ini kita pertemuan dimana dan siapa yang akan terlibat supaya lebih konkrit. Tempat di komunitas masing-masing. Konsentrasi tetap pada HIV. . Tuti Parwati : Sebenarnya sama halnya dengan ketua. Misalnya kalau penyuluhan kita dahulukan maka kita memberikan pemaparan kepada sejumlah orang yang lebih banyak. Kegiatan yang akan kita adakan untuk langkah ke depan adalah penyuluhan. Seperti usul teman tadi kalau hanya ketuanya diundang rasanya sentuhannya kurang. Kemudian setelah penyuluhan itu barangkali siapa yang berminat dan tertarik maka bisa direkrut.

kalau boleh minta ijin Bapak Sadra pertemuannya di Ashram karena lebih enak dan dekat dengan teman-teman yang lain. Menurut pribadi saya. Saya kira harus mengambil satu kegiatan yang kita putuskan sekarang. ini langsung konkrit karena Ujang sering ke Denpasar. Semua orang kerja. Luh De Suriyani : Ini komitmen pribadi yang bersifat sangat manusiawi. Kadang-kadang rasa emosional kita lebih nyaman di tempat yang terdekat dengan kita. Karena disini mungkin mayoritas Hindu.[] .109 Bejo Utomo : Saya kira dari ketiga kegiatan itu terlalu banyak yang kita pikirkan. Kemudian yang kedua mengenai pertemuan saya sudah bicara dengan Ujang. Saya sepakat Ujang. itu yang pertama. Saya akan drop ke dusun Pekarangan. saya akan mulai dari komunitas yang terdekat dengan saya karena rasa primodial atau rasa feodal itu tidak bisa dipungkiri. menggugah rasa kemanusiaan siapa pun. kalau pakai embel-embel kejawaan seperti nama saya kurang mendapat respon dari masyarakat. Yang kedua pokja antar iman. baiklah saya akan coba datang. Kita coba koordinatornya yang lokal. Sebenarnya dalam pokja antar iman ini perlu koordinator teknis. semua orang sibuk namun komitmen pribadi saya. saya akan coba mengumpulkan alat-alat peraga dari teman-teman di Denpasar kemudian minta penjelasan dari Ibu Tuti. Ujang Nuryanto : Menurut penilaian saya Ida Nyoman Triatmaja kayaknya mantap dan lebih konkrit untuk menjadi koordinator.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful