Benign Prostate Hyperplasia (BPH

)
Dibuat oleh: Kelompok IV

Anatomi Urogenitalia Pria

Anatomi Kelenjar Prostat
‡ Pembagian Lobus (Lowsley): ‡ Lobus Lateral kanan dan kiri ‡ Lobus Posterior ‡ Lobus Medius ‡ Lobus Anterior (atrofi saat bayi) ‡ Pembagian Zona (McNeal): ‡ Zona Anterior ‡ Zona Transisional (predileksi BPH) ‡ Zona Central ‡ Zona Perifer
Kundra, V. et al. Am. J. Roentgenol. 2007;189:830-844

Copyright © 2007 by the American Roentgen Ray Society

Histologi Kelenjar Prostat

Insidensi BPH
‡Prevalensi meningkat sesuai pertambahan usia ‡ Pria diatas 50 tahun ‡ Pria usia: ‡ > 60 tahun ‡ > 80 tahun 70 % 90 %

Patogenesis BPH

SharmaAshok.urologyclinic, Benign Prostatic Hyperplasia: A Primary Care Perspective.Slide.pptx

Patogenesis BPH

http://www.ahcpr.gov/clinic/medtep.bphport.htm#bphpsum

Gejala Klinis BPH
‡ Anamnesis
(Faktor utama: Pria USIA > 50 tahun) Seringkali didapatkan gejala LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) 1. Gejala Obstruktif 2. Gejala Iritatif Keluhan keluhan disusun dalam bentuk skor (International Prostate Symptoms Score)

Gejala Klinis BPH (Obstruktif)
‡ Anamnesis
- Melemahnya pancaran urin - Rasa tidak lampias setelah miksi - Hesitancy (lama menunggu keluarnya air kemih) - Straining (mengedan) - Intermittency (BAK terputusputus) - Retensi Urin sampai dengan Inkontinensia (Overflow)

Gejala Klinis BPH (Iritatif)
‡ Anamnesis
- Frekuensi miksi meningkat - Nokturia (sering miksi malam hari) - Urgensi (perasaan miksi yang sangat mendesak) - Disuria (nyeri pada saat miksi)

International Prostate Symptoms Score

Derajat: 1. Ringan skor 0 7 2. Sedang skor 8 18 3. Berat skor 19 35

Gejala Klinis BPH
‡ Pemeriksaan Fisik Urologi
Regio CVA (Costo Vertebrae Angle) Inspeksi : Jejas (-) Hematom (-) Palpasi : Bimanual Ballotement : +/Regio Suprapubik Inspeksi : Buli Menonjol (+) Palpasi : Bulging (+) Perkusi : T.F Buli-buli >N

Retensio Urine

Gejala Klinis BPH
‡ Pemeriksaan Fisik Urologi
Regio Genitalia Eksterna Penis Inspeksi : Dalam batas Normal Palpasi : Dalam batas Normal Skrotum
Palpasi: Testis Batas atas Ukuran Konsistensi Permukaan : teraba : teraba : tidak besar : kenyal/keras : licin/benjol-benjol

Gejala Klinis BPH
‡ Pemeriksaan Fisik
Rectal Toucher Inspeksi: Prostat:
-Pool atas tidak teraba -Latero-lateral membesar Anus Warna, Benjolan, Skin Tag, -Sulkus Medianus mendatar Darah -Konsistensi keras -Fluktuasi -Nodul -/+ Palpasi: -Nyeri Tekan -/+ - Tonus Sphincter Ani (TSA) -BulboCavernous Rflx -/+ Handscoon: - Ampulla Recti - Mucosa Recti - Darah - Nyeri Tekan - Faeces

Gejala Klinis BPH
‡ Derajat Berat Hiperplasia Prostat melalui RT
1. Derajat I penonjolan prostat jelas, batas mudah diraba, sisa volume urine <50 mL 2. Derajat II penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai, sisa volume urine 50 100 mL 3. Derajat III penonjolan prostat jelas, batas atas tidak dapat diraba, sisa volume urine > 100 mL

Pemeriksaan Penunjang BPH
‡ Urinalisis
Volume, Warna, Berat Jenis, Sedimentasi

‡ Laboratorium Darah
H2TL, GDS, Elektrolit, Kadar Ureum Kreatinin, PSA (Prostat Specific Antigen) 0,5 4,0 ng/mL : Normal 4,0 10 ng / mL: Hitung PSA Density (PSA serum dibagi Volume Prostat) 0,15 biopsi > 10 ng / mL : Biopsi Prostat

Pemeriksaan Penunjang BPH
‡ Uroflowmetri ‡ Clinical Grading Urine
Residu Urine: Grade I II III IV indikasi konservatif indikasi operatif 0 50 cc 50 150 cc >> 150 cc retensi urine total

I II III IV

Pemeriksaan Penunjang BPH
‡ Ultrasonography
‡ Trans Abdominal (Suprapubic) ‡ Trans Rectal Ultrasonography (TRUS)
Dapat : 1. Melihat Gambaran Struktur Prostat 1. Hipoechoic: Suspect Keganasan 2. Shadowing: Batu Prostat 2. mengukur Volumetri Prostat (elipsoid) 3. Patologi lain dalam buli-buli

Diagnosis Diferensial dari BPH
‡ Ca. Prostat ‡ ISK ‡ Prostatitis ‡ Neurogenic Bladder ‡ Urethra Stricture

Tatalaksana BPH
‡ Target Manajemen: ‡Dulu Mencegah dan Menurunkan Angka Kematian akibat BPH ‡Sekarang Meningkatkan Kualitas Hidup ‡ Tatalaksana: 1. Watchful Waiting 2. Medika Mentosa 3. Invasif (Operatif)

Tatalaksana BPH
‡ Watchful Waiting (Observasi): ‡ Untuk Pasien dengan gejala ringan s/d sedang dengan
keluhan yang tidak mengganggu (IPSS 7) dan pasien menolak terapi medikamentosa, flowmetri non obstruktif ‡ Diberikan Petunjuk: 1. Hindari obat-obatan yang menyebabkan serangan LUTS atau retensi urin (obat-obat dekongestan) 2. Mengurangi minum banyak setelah makan malam, mengurangi minum kopi dan alkohol 3. Kontrol kembali 3 6 bulan kemudian (IPSS, Flowmetri) juga PSA dalam 12 bulan mendatang

Tatalaksana BPH
‡ Medika Mentosa
Inhibitor of 5 -reductase. - Finasteride 1 x 5 mg/hari

Alpha receptor blockers -Prazosin, Doxazosin, Terazosin - Tamsulosin (selektif 1a)

Tatalaksana BPH
‡ Operative
Sistostomi / pasang kateter dahulu utk keadaan Retensio Urine ‡Invasive:
Transurethral Ressection of the prostate (TURP),transurethral incision of the prostate (TUIP), open prostatektomi, prostatektomi dengan laser Nd-YAG

‡Less invasive:
Transurethral Microwave Thermotherapy(TUMT), Transurethral Baloon Dilatation (TUBD), Transurethral Needle Ablation (TUNA)

Tatalaksana BPH
‡ Operative
‡Indikasi Absolut:
1. 2. 3. 4. 5. 6. Gejala Klinis Grade III IV Retensio Urine Berulang Hematuria Tanda Penurunan Fungsi Ginjal Tanda-tanda obstruksi berat Ditemukan Urolithiasis

Tatalaksana BPH
‡ Operative Invasive ‡Transurethral Resection of Prostate (TURP) ‡Golden Standard Treatment ‡Indikasi: gejala klinis sedang s/d berat, pasien cukup sehat menjalani operasi ‡Komplikasi: Jangka Pendek:
Perdarahan, Infeksi, Retensi bekuan darah

Jangka Panjang:
Striktura Uretra, Ejakulasi Retrograde

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful