You are on page 1of 47

c 


  
Posted on 10 Desember 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi
keberangsungan hidup organisasi itu sendiri, maka setiap orang dalam organisasi dituntut
untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya
mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi, yakni:

c
 


Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif apabila mereka tidak mengetahui tujuan
yang hendak dicapai ke depan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus
mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat
memahami dan mengingatnya. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk
menggambarkan dan menjelaskan visi, tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang
. Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai
visi dan tujuan, serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Mereka mengilhami kepada
setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara-cara yang
inovatif untuk memperoleh kesuksesan.

 
 
 


Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Mereka


berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi.
Mereka akan berkata, ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik, tetapi kita
tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada, kita harus melakukan
hal-hal yang lebih baik lagi´. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang
melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko, dan jika kita tidak bergerak maka akan
jauh lebih berbahaya. Mereka memberikan gambaran menarik tentang segala sesuatu yang
hendak diraih pada masa mendatang. Oleh karena itu, satu-satunya cara menuju ke arah sana
yaitu dengan berusaha memeluk perubahan.
]
    

Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio,
berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Mereka senang
mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan
berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan
diterima.


  ! "

Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat, setiap rencana mudah
dilaksanakan, sumber tersedia dengan baik, responsif dan terbuka untuk semuanya. Berikan
penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki
komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap
pekerjaan.

# 
$ 

Untuk mencapai inovasi yang radikal, Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai
asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang
selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit, tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni, yang
di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral, sehingga mampu
menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan.

% & "


'

Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan
pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka
diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah
mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dari peran
saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya, baik internal maupun
eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau
tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. Tetapi, kebanyakan orang tidak
pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu.

()  

Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi.
Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada
sumber-sumber internal. Oleh karena itu, mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi
lain sebagai mitra, sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team.

*
  

Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Setiap orang harus


dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju
kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas, setiap orang harus diberi
kebebasan berinovasi, bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan
pekerjaannya, termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan
terjadinya kegagalan.
Õ  

Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke
dalam pasar (dunia nyata), kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang-orang. Di
sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata, dibandingkan jika
Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang
saja.

c  

Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. Siap dan senantiasa bergairah
dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Energi dan
semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika
Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda
membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat
yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya
mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat.

Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif, merubah cara-
cara yang biasa mereka lakukan, dan untuk mencapai hasil yang luar biasa, maka Anda
mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan
Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang.

*)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane, pengarang ë   
  yang
berjudul ³ë     ´ dipublikasikan oleh Kogan Page.
www.director.co.uk

  



Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang
menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk
stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau
kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu
sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan
dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang
menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu
kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama
dengan sekolah.
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya :
(1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari
segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan
transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4)
meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera
dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.
Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah :
(1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4)
pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat
proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik
bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.

Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut
ini.

1. 
  +,   -' 
 . Pengembangan budaya sekolah
harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan
tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang
keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata
mengenai penciptaan budaya sekolah.
2.   ) 
.    . Komunikasi merupakan dasar bagi
koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya
budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal.
Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam
menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.
3.        
. Salah satu dimensi budaya organisasi
adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Setiap perubahan budaya sekolah
menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu.
Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil
sikap dan keputusan dalam waktu cepat.
4. 
       /. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh
strategi dan program. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program
menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Strategi dan program
merupakan dua hal yang selalu berkaitan.
5.    )'. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran
yang sedapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah
pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah.
6.   0   /. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya
sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek, sedang,
dan jangka panjang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam
hal: kapan evaluasi dilakukan, siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut
yang harus dilakukan.
7. 
)   ) . Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat
menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. Banyak
bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan
menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik.
8. )  
 ) . Ciri budaya organisasi yang positif adalah
pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan
secara konsensus. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan, namun pada
umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam
melaksanakan keputusan tersebut.
9.      /. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai
dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Bentuk
lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan
perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah.
10.0 ". Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-
masalah yang dihadapi di sekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah
dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan
budaya sekolah. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur
budaya sekolah.

Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas, upaya pengembangan budaya sekolah juga
seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini:

1. )'  1  2 


3. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan
sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Untuk itu,
nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang
bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh
personil sekolah.
2. ). Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung
jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran, kemampuan
profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam
bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik.
3. ) . Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan
tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan
masyarakat. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan
keinginan. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala
sekolah, guru, dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat.
4. ) 1r 3. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil
sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada
lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas, nyaman,
bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Jika perlu dibuat wilayah-
wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah, nyaman, asri
dan menyenangkan, seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah
bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya.
5.
  1|3. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan
kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan    
pendidikan lainnya. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau
tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Sikap
respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa
saja yang kita temui, bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai
ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan
baik. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang
diperoleh dan sebagaianya.
6. /' 1r 3. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam
lingkungan sekolah, baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang
lain. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau
tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Tanpa
kejujuran, kepercayaan tidak akan diperoleh. Oleh karena itu budaya jujur dalam
setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur dalam
memberikan penilaian, jujur dalam mengelola keuangan, jujur dalam penggunaan
waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat
dalam menciptakan budaya sekolah yang baik.
7. " 1u
3. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan
sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin yang dimaksudkan dalam
asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan
kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada
kondisi yang seharusnya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak
harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada.
Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut, tidak
akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim
lingkungan sekolah yang disiplin. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu
saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah, guru
dan staf.
8. 0  1  r 3. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan
itu. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi
dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah
yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan
harapan orang tersebut. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan
budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling
memahami.
9.     ) . Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah
yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan
memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dimensi ini menuntut para
guru, staf dan kepala sekolah tarmpil, profesional dan terlatih dalam memainkan
perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua dan masyarakat.

=================

Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan


Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.2007.
          (materi diklat pembinaan
kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jakarta.

==========

Refleksi:

Tulisan di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa upaya mengembangkan budaya sekolah
merupakan hal amat penting dalam upaya meningkatkan kinerja sekolah, baik secara personal
maupun organisasional.

# 
4
Posted on 12 Mei 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

 
 memiliki bentuk-bentuk budaya tertentu dan salah
satunya adalah bentuk budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola
hubungan guru di sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya
guru, yaitu : àu u
  
    | u 


  

|   dan


  

1. àu u
 ¢ Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru
bekerja secara sendiri-sendiri (soliter), mereka menjadi tersisolasi dalam ruang
kelasnya, dan hanya sedikit kolaborasi, sehingga kesempatan pengembangan profesi
melalui diskusi atau   dengan yang lain menjadi sangat terbatas.
2. 
  ¢ Bentuk budaya yang kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub
kelompok secara terpisah yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan
kelompoknya daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Misalnya,
hadirnya kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru
berdasarkan mata pelajaran. Pada budaya ini, komunikasi jarang terjadi dan kurang
adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan perilaku siswa, bahkan
cenderung mengabaikannya.
3. | u


 ¢ Bentuk budaya yang ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang
ditentukan oleh manajemen, misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama,
konsultasi dan pengambilan keputusan, serta pandangan tentang hasil-hasil yang
diharapkan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal dalam
membangun hubungan kolaboratif para guru. Kendati demikian, pada buaya ini belum
bisa menjamin ketercapaian hasil, karena untuk membangun budaya kolaboratif
memang tidak bisa melalui paksaan.
4. 

| ¢ Pada budaya inilah guru dapat memilih secara bebas dan saling
mendukung dengan didasari saling percaya dan keterbukaan. Dalam budaya
kolaboratif terdapat saling keterpaduan (    ) antara kehidupan pribadi dengan
tugas-tugas profesional, saling menghargai, dan adanya toleransi atas perbedaan.
5.   ¢ Pada model ini sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa
yang disampaikan oleh Senge (1990) tentang ³      ´. Para guru
sangat fleksibel dan adaptif, semua guru mengambil peran, bekerja secara kolaboratif
dan reflektif, serta memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara
berkesinambungan.
%
 

 

$

5 $


2
7. Posted on 29 Maret 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

8. Iklim sekolah didefinisikan orang secara beragam dan


dalam penggunaanya kerapkali dipertukarkan dengan istilah budaya sekolah. Iklim
sekolah sering dianalogikan dengan kepribadian individu dan dipandang sebagai
bagian dari lingkungan sekolah yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis serta
direfleksikan melalui interaksi di dalam maupun di luar kelas. Halpin dan Croft
(1963) menyebutkan bahwa iklim sekolah adalah sesuatu yang bersifat intangible
tetapi memiliki konsekuensi terhadap organisasi.
9. Tagiuri (1968) mengetengahkan tentang taksonomi iklim sekolah yang mencakup
empat dimensi, yaitu: (1) ekologi; aspek-aspek fisik-materil, seperti bangunan
sekolah, ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang BK dan
sejenisnya (2)   : karateristik individu di sekolah pada umumnya, seperti: moral
kerja guru, latar belakang siswa, stabilitas staf dan sebagainya: (3) sistem sosial:
struktur formal maupun informal atau berbagai peraturan untuk mengendalikan
interaksi individu dan kelompok di sekolah, mencakup komunikasi kepala sekolah-
guru, partispasi staf dalam pengenbilan keputusan, keterlibatan siswa dalam
pengambilan keputusan, kolegialitas, hubungan guru-siswa; dan (4) budaya: sistem
nilai dan keyakinan, seperti: norma pergaulan siswa, ekspektasi keberhasilan, disiplin
sekolah.
10.Berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, iklim sekolah telah terbukti memberikan
pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik siswa. Hasil tinjauan
ulang yang dilakukan Anderson (1982) terhadap 40 studi tentang iklim sekolah
sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980, hampir lebih dari setengahnya
menunjukkan bahwa komitmen guru yang tinggi, norma hubungan kelompok sebaya
yang positif, kerja sama team, ekspektasi yang tinggi dari guru dan adminstrator,
konsistensi dan pengaturan tentang hukuman dan ganjaran, konsensus tentang
kurikulum dan pembelajaran, serta kejelasan tujuan dan sasaran telah memberikan
sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik siswa.
11.Hubungan sosial antara siswa dengan guru yang mutualistik merupakan unsur penting
dalam kehidupan sekolah. Guru yang memiliki interes, peduli, adil, demokratis, dan
respek terhadap siswanya ternyata telah mampu mengurangi tingkat   siswa,
tinggal kelas, dan perilaku salah suai di kalangan siswa (Farrell, 1990; Fine, 1989;
Wehlage & Rutter, 1986; Bryk & Driscoll, 1988). Studi yang dilakukan oleh Wentzel
(1997) mengungkapkan bahwa iklim sekolah memiliki hubungan yang positif dengan
motivasi belajar siswa. Sementara itu, studi longitudional yang dilakukan oleh Roeser
& Eccles (1998) membuktikan bahwa guru yang bersikap adil dan jujur memiliki
dampak ke depannya bagi penguasaan kompetensi akademik dan nilai-nilai ()
akademik. Studi yang dilakukan Stockard dan Mayberry (1992) menyimpulkan bahwa
iklim sekolah, yang mencakup : ekspektasi prestasi siswa yang tinggi, lingkungan
sekolah yang teratur, moral yang tinggi, perlakuan terhadap siswa yang positif,
penyertaan aktivitas siswa yang tinggi dan hubungan sosial yang positif ternyata
memiliki korelasi yang kuat dengan hasil-hasil akademik siswa.
12.Selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa, iklim sekolah pun
memiliki kontribusi positif terhadap pencapaian hasil non akademik, seperti
pembentukan konsep diri, keyakinan diri, dan aspirasi (Brookover et al., 1979; McDill
& Rigsby, 1973; Mitchell, 1968; Anderson, 1982). Studi yang dilakukan Battistich
dan Hom (1997) mengungkapkan bahwa adanya perasaan akan komunitas ( 
 ) dapat mengurangi secara signifikan terhadap munculnya perilaku
bermasalah seperti, keterlibatan narkoba, kenakalan remaja dan tindak kekerasan.
Iklim sekolah yang positif juga dapat menurunkan tingkat depresi (Roeser & Eccles
1998). Studi yang dilakukan oleh          (WHO) pada tahun
1983 yang menguji tentang kesehatan perilaku, gaya hidup dan konteks sosial pada
kalangan anak muda di 28 negara menunjukkan bahwa keterlibatan peran dalam
pengambilan keputusan di sekolah, perasaan memperoleh dukungan dari guru dan
siswa lainnya ternyata berkorelasi dengan semakin berkurangnya kebiasaan merokok,
tingginya aktivitas fisik, serta tingkat kesehatan dan kualitas hidup yang baik (Currie
et al. 2000). Iklim sekolah juga berpengaruh terhadap pembentukan nilai-nilai
kewarganegaraan (   ). Sebagai contoh: hubungan guru-siswa yang saling
menghormati, adanya kebebasan untuk menyatakan tidak setuju, mau mendengarkan
siswa meski dalam perspektif yang berbeda telah memberikan dampak terhadap
tingkat kekritisan siswa tentang berbagai isu yang terkait dengan kewarganegaraan
(Newmann, 1990). Selain itu, siswa juga lebih toleran terhadap perbedaan (Ehman,
1980) dan lebih mengenal terhadap berbagai hubungan internasional (Torney-Purta &
Lansdale, 1986).
13.Adaptasi dan disarikan dari : Les Gallay and Suet-ling Pong. 2004.  ! 
  "    s on line www.pop.psy.edu

) "' "

Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

$$ "
 ' "
6

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik
mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.
Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau        
sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan
siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti
pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

Secara    peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-


kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang
mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian
melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (  ). Dalam
sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang
dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem    dalam realitasnya memang lebih
bersifat massal ketimbang bersifat individual.

Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini,
kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat dengan     mengenai
anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka
mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.

Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem    tersebut dipertanyakan, dan
sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem
  tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan
dan perbedaan anak±, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk
mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.
Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-
sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya.

-'. '  "

Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik
agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut,
proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat
memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara
keseluruhan.

Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.


2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat
peserta didik.
3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.
4. Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan
tercapai cita-cita mereka.

Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik
untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi
individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi
peserta didik lainnya.

Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar
mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak
terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum
(kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.
2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar
peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan
keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial
masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk
sosial.
3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah
agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan
minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang
terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik
ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat
penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan
sebayanya.

7' "

Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam
melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal
sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka
memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang
dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen
sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung
terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Ambisi sektoral manajemen peserta
didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh
ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah.
2. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi
pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan,
baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan
untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.
3. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk
mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya
banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan
bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling
memahami dan menghargai.
4. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan
terhadap pembimbingan peserta didik. Oleh karena membimbing, haruslah terdapat
ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin
pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan
dari peserta didik sendiri.
5. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian
peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak
hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini
mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit
dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik.
6. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan
manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di
sekolah lebih-lebih di masa depan.

"
 ' "

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager, 1994).
Pertama, pendekatan kuantitatif (  #     ). Pendekatan ini lebih menitik
beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan
demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan
lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah,
bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat
memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga
pendidikannya.

Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah:
mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi,
penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.
Kedua, pendekatan kualitatif (  #     ). Pendekatan ini lebih memberikan
perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan
agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik
senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka
mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka
sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya
penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah
dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu demikian, peserta didik diminta untuk
memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi
lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan
kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang
berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk
menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan
kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam
rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.

=====================

Diambil dan adaptasi dari $    %  ¢ Direktorat Tenaga
Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007)

'

!  

Posted on 26 Maret 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Dalam kehidupan modern sekarang ini, pendidikan dihadapkan


pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit
diprediksikan, sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan
antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya
perubahan. Begitu pula dengan sekolah, sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa
pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan. Ketidakmampuan sekolah
dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, lambat laun akan dapat
menimbulkan keterpurukan sekolah itu sendiri, dan habis ditelan oleh perubahan.

Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan
perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Jika kita mengacu pada konsep
Total Quality Manajemen, maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses
manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. Dalam hal ini,
Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah
dalam mengaplikasikan TQM adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan.
Untuk itu, kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Dengan melalui kegiatan
evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan usaha inovatif
organisasi dan penyesuaiaian-penyesuaian terhadap berbagai perubahan.

Berbicara tentang sikap antisipatif ini, kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya
organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif
merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko,
percaya, dan proaktif terhadap kehidupan individu. Para anggota secara aktif mendukung
usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan
pemecahan yang dapat berfungsi. Ada suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki
bersama. Para anggotanya percaya, tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah
secara efektif masalah baru dan peluang apa saja yang akan mereka temui. Kegairahan yang
menyebar luas, satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai
keberhasilan organisasi. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi. Rosabeth
Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya ini menghargai dan mendorong kewiraswastaan,
yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah,
dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru.
(John P. Kotter dan James L. Heskett: 17- 49). Dengan demikian, sikap antisipatif dan adaptif
terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah, yang
ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen.

Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen. Ross (Sudarwan Danim, 2002:121)
mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu, yang
mencakup 4 fokus, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini:

Focus From Traditional To Quality


Plan Sort range budget Future Strategic Issue
Hierarchi chain of
Organize Participant/Empowerment
command
Quality Measure and
Control Variance Reporting
Information or Self Control
Communication Top Down Top Down and Bottom Up
Ad Hoc/ Crisis
Decisions Planned Change
Management
Functional Management Parochial, Competitive Cross functional, Integrative
Fixing/One Short Preventive, Continous,
Quality Management
Manifacturing functions, and Process


-  '
- )2")-
Posted on 30 Oktober 2010 by AKHMAD SUDRAJAT
O l i  
   tt t  iit   t  t 
ji it l   
  ii  i i   jj    ji  t 
ii  it:it t  ititt 

it  t  l  it l   


  ii    t  ii 
i ji  iti l 
  l j     ` ` `     
itt   t ti  l   i   tt il   l      t 
ii      it it t  l  it l   
 
ii    t  ii  t  ii` ` `     t  l j  
 iititi t   t ii  

   it  t  ` ` `  ti   t  l j   i t    l !    



   °       it itt i t    l  !   % 
!
 !%! 

B i  it t it°  iliiti 



 
l j    ° it:t t  ;   ttt;i t  iiti 
ttt°   i   uuk      ko    uu   
  k k k `    i 

  i t  t t     l  i t  l j       


 it i
t  t ii ii 
   ttt  l i t  l j        l    ti
l j  
lt ii i  
liit  it  

ti  t l i     ttt itt 
l ii 
  tttt i t  i °  °  t 
  i t   ii ti  ttt  l  i t  l j      
 l    ti l j  
l t  ii   i  
l ii
t   i t   
ti  t l i   i t ii
l
t ii 

B  l j  i t  t t     j  l j       i! i  t 


ii itt    iit:
1. SD atau yang sederajat berlangsung selama 35 menit, dengan jumlah jam
pembelajaran tatap muka per minggu: (a) kelas I s.d. III adalah 29 s.d. 32 jam
pembelajaran dan (b) kelas IV s.d. VI adalah 34 jam pembelajaran
2. SMP atau yang sederajat berlangsung selama 40 menit, dengan jumlah jam
pembelajaran tatap muka per minggu sebanyak 34 jam pembelajaran.
3. SMA atau yang sederajat berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah jam
pembelajaran tatap muka per minggu sebanyak 38 s.d. 39 jam pembelajaran.

Waktu untuk beban penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur berlaku
ketentuan sebagai berikut:

1. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta
didik pada SD atau yang serajat 
  8 dari jumlah waktu kegiatan tatap
muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
2. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta
didik pada SMP atau yang serajat 
# 8 dari jumlah waktu kegiatan tatap
muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
3. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta
didik pada SMA atau yang serajat 
% 8 dari jumlah waktu kegiatan tatap
muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

Berbicara tentang pemberian tugas kepada siswa, kita akan diingatkan pada salah satu metode
dalam pembelajaran yang dikenal dengan sebutan    -  atau  
 . Mulyani Sumantri dkk (Yenrika Kurniati Rahayu, 2007) mengemukakan bahwa
³Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar
mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan peserta didik di
sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau berkelompok.

Selanjutnya, Djamarah (Yenrika Kurniati Rahayu, 2007) mengemukakan tentang langkah-


langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode pemberian tugas atau   ,
yakni sebagai berikut:

c.  

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:

R Tujuan yang akan dicapai


R Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.
R Sesuai dengan kemampuan siswa
R Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
R Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

9

  

R Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru


R Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
R Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain
R Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan
sistematik.
].   '2
  

R Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakan


R Ada tanya jawab/diskusi kelas
R Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara yang
lainnya.

Dari paparan di atas kita melihat bahwa pemberian tugas kepada siswa perlu disediakan
waktu yang cukup. Untuk itu pemberian tugas hendaknya proporsional. Artinya, guru
seyogyanya 

    alias terlalu membebani siswa. Perlu
diingat bahwa dalam KTSP, ketentuan tugas yang dibebankan kepada siswa 

   ' 2

     
    '  

 

Di atas juga dikemukakan bahwa dalam memberikan tugas kepada siswa seyogyanya
disesuaikan dengan kemampuan siswa Oleh karena itu tantangan beban tugas kepada siswa
hendaknya diberikan secara moderat. Artinya, dalam memberikan tugas kepada siswa
diusahakan tidak terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk dikerjakan siswa.

Pemberian tugas yang terlalu mudah akan menyebabkan siswa menjadi kurang termotivasi
dan cenderung menyepelekan. Sedangkan jika terlalu sulit dapat menimbulkan rasa frustasi,
bahkan mungkin hanya akan menimbulkan kebencian terhadap mata pelajaran maupun
terhadap guru yang bersangkutan.

Hal ini tentu saja menjadi berseberangan dengan prinsip pembelajaran menyenangkan (
  ) yang saat ini sedang digelorakan dalam pendidikan kita

 )
Posted on 31 Juli 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah di Indonesia saat ini merupakan suatu upaya inovatif untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Pada hakikatnya, SKS merupakan perwujudan dari amanat Pasal 12 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal tersebut
mengamanatkan bahwa ³Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak, antara
lain: (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;
dan (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing
dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. Amanat dari pasal
tersebut selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.


  i  it i  t  i   l  tt   il t  
i
 l ii   t   i  t      l j  tii t      °
 it:it t°  ititt Mi it l 
t  i°  litl i t i i   ii  t  i  
 tit t l   t tt  l :"B l j  i t
   tt  ii  l    l j  it  t    jj  ii      
  it t l t  ii ti   iitl  
 
ii    t  ii  i ji  iti l 
  l j    
  l j      itt   t ti  l   i   tt il
 l    t ii  

B  l j  ti   t  l j      it  t i t    l 


   
    #B l j  it t  i ti ° it
l t  ii  ji            t l i  
 
l j  li i i ltt it t  l i  t ii   i  
i   t iti t  ii l i    ilii       t 
l j t   itl j    iti    i   

 ti i  
tit ii    °  t° 
i t 

B    it  t°   l j     i i  t
        li $ i ti    %lil  i     °   t°  
i t t  ii  &l    it°     i    i   

 i
 j  
ti t  ii  Ml li ° t  ii j  ii  t
l i  
  ii   li  t  i i
 l j    itt 
 l  ti   t  ii     l  t   i i ti    i it
l   
  ii    t  ii  t  ii  
l j   t l j   iititi t   t ii  B l j 
ti   t  l j      it it t i t    l   t  it t
 B l j  tliti tj l j  t t  ° tj   
ttt°  tj i t  iiti ttt 

B   t   i
 l ii  B   i        i t  l 
 t  it 

 '  ( tt  t   i
 l ii  tl 
 "P u P      uuk  ko    
 : -2 1:-3  
   $ :
$1$:$3;

)

  )  
Posted on 8 Oktober 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Keberhasilan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak hanya ditentukan
oleh keahlian dan ketrampilan para petugas bimbingan dan konseling itu sendiri, namun juga
sangat ditentukan oleh komitmen dan keterampilan seluruh staf sekolah, terutama dari kepala
sekolah sebagai administrator dan supervisor.

Sebagai administrator, kepala sekolah bertanggungjawab terhadap kelancaran pelaksanaan


seluruh program sekolah, khususnya program layanan bimbingan dan konseling di sekolah
yang dipimpinnya. Karena posisinya yang sentral, kepala sekolah adalah orang yang paling
berpengaruh dalam pengembangan atau peningkatan pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolahnya. Sebagai supervisor, kepala sekolah bertanggung jawab dalam melaksanakan
program-program penilaian, penelitian dan perbaikan atau peningkatan layanan bimbingan
dan konseling. Ia membantu mengembangkan kebijakan dan prosedur-prosedur bagi
pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahnya.

Secara lebih terperinci, Dinmeyer dan Caldwell (dalam Kusmintardjo, 1992) menguraikan
peranan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di
sekolah, sebagai berikut:

1. Memberikan   administratif, memberikan dorongan dan pimpinan untuk


seluruh program bimbingan dan konseling;
2. Menentukan staf yang memadai, baik segi profesinya maupun jumlahnya menurut
keperluannya;
3. Ikut serta dalam menetapkan dan menjelaskan peranan anggota-anggota stafnya;
4. Mendelegasikan tanggung jawab kepada ³    ´ atau konselor dalam
hal pengembangan program bimbingan dan konseling;
5. Memperkenalkan peranan para konselor kepada guru-guru, murid-murid, orang tua
murid, dan masyarakat melalui rapat guru, rapat sekolah, rapat orang tua murid atau
dalam bulletin-buletin bimbingan dan konseling;
6. Berusaha membentuk dan menjalin hubungan kerja yang kooperatif dan saling
membantu antara para konselor, guru dan pihak lain yang berkepentingan dengan
layanan bimbingan dan konseling;
7. Menyediakan fasilitas dan material yang cukup untuk pelaksanaan bimbingan dan
konseling;
8. Memberikan dorongan untuk pengembangan lingkungan yang dapat meningkatkan
hubungan antar manusia untuk menggalang proses bimbingan dan konseling yang
efektif (dalam hal ini berarti kepala sekolah hendaknya menyadari bahwa bimbingan
dan konseling terjadi dalam lingkungan secara global, termasuk hubungan antara staf
dan suasana dalam kelas);
9. Memberikan penjelasan kepada semua staf tentang program bimbingan dan konseling
dan penyelenggaraan ³ &    ´ bagi seluruh staf sekolah;
10.Memberikan dorongan dan semangat dalam hal pengembangan dan penggunaan
waktu belajar untuk pengalaman-pengalaman bimbingan dan konseling, baik
klasikal, kelompok maupun individual;
11.Penanggung jawab dan pemegang disiplin di sekolah dengan memberdayakan para
konselor dalam mengembangkan tingkah laku siswa, namun bukan sebagai penegak
disiplin.

Sementara itu, Allen dan Christensen (dalam Kusmintardjo, 1992), mengemukakan peranan
dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
sebagai berikut:

1. Menyediakan fasilitas untuk keperluan penyelenggaraan bimbingan dan konseling;


2. Memilih dan menentukan para konselor;
3. Mengembangkan sikap-sikap yang   di antara para guru, murid, dan orang
tua murid/masyarakat terhadap program bimbingan dan konseling;
4. Mengadakan pembagian tugas untuk keperluan bimbingan dan konseling, misalnya
para petugas untuk membina perpustakaan bimbingan, para petugas penyelenggara
testing, dan sebagainya;
5. Menyusun rencana untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan infomasi tentang
pekerjaan/jabatan;
6. Merencanakan waktu (jadwal) untuk kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling;
7. Merencanakan program untuk mewawancarai murid dengan tidak mengganggu
jalannya jadwal pelajaran sehari-sehari.

Dari uraian di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa tugas kepala sekolah dalam
pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah ádalah sebagai berikut:

1.   . Memilih staf yang mempunyai kepribadian dan pendidikan yang
cocok untuk melaksanakan tugasnya. Termasuk disini mengadakan analisa untuk
mengetahui apakah diantara staf yang ada terdapat orang yang sanggup melakukan
tugas yang lebih spesialis.
2. O     . Menentukan tugas dan peranan dari anggota staf, dan
membagi tanggung jawab. Untuk menentukan tugas-tugas ini kepala sekolah dapat
meminta bantuan kepada anggota staf yang lain.
3. ë     .  
 

,2
 
 

    
 

4.        . Menginterpretasikan program bimbingan dan konseling
kepada murid-murid yang diberi pelayanan, kepada masyarakat yang membantu
program bimbingan dan konseling. Dalam menginterpretasikan program bimbingan
dan konseling mungkin perlu bantuan dari staf bimbingan dan konseling, tetapi
tanggung jawab terletak pada kepala sekolah sebagai administrator. (R.N. Hatch dan
B. Stefflre, dalam Kusmintardjo, 1992)

========

<

Adaptasi dari : Direktorat Tenaga Kependidikan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan. 2007. $
%  ¢


 ,   ,
 ,-

, '
Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

oleh: $
'

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki


kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-
istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode
pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran.
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan
kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.


  ' dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses
yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya,
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada siswa (       ) dan (2) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (      ).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi
pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan
empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan
sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera
masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling
efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh
sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran
(standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil
perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang
paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan
teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan
ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa     '


adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip
pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran
terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat
konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua
bagian pula, yaitu: (1) =   7   dan (2)  7 
(Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya,
strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi
pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya


digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan ³a
         ´ sedangkan metode adalah ³ '    
 ´ (Wina Senjaya (2008). Jadi,  'dapat diartikan sebagai cara
yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran,
diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6)
pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.


Dengan demikian, 

 ' dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan
metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik
tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah
pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode
diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif
dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti
teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara 

 ' merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode
atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang
sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik
yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan
humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi
kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik
karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak
keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman
dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan
menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah
terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan
  '. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk
pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan
A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran,
yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-
humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan
istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat
divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah 
'. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur
umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-
cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi
pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan
tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo,
rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan
dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue
print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan
langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai
dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional,
seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam
mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan,
sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para


guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang
kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian
tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru
(calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada
proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada
dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model
pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-
masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang
bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah
ada.

<

Abin Syamsuddin Makmun. 2003.    . Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990.    $ (Diktat
Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003.    $ . Jakarta: Pusat Penerbitan


Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008.    (       .
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran


(http://smacepiring.wordpress.com/)

  
 <

R Pembelajaran Kontekstual
R 10 Megatrend tentang Belajar
R 9 Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
')  
 
Posted on 29 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Oleh : Depdiknas

$9 


Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak
mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi
pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi
gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang

Pendekatan kontektual (!ë  


  )!ë
) merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan
konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil

Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri
bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual


   '

Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar


sebagai berikut.

c '

R Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di


benak mereka.
R Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
R Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan
mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan.
R Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang
terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
R Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
R Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
R Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan
terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan
seseorang.

-'

R Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
R Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi
sedikit)
R Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu

]2 '

R Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang
anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
R Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru.
Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
R Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang
sudah diketahui.
R Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada
siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa
untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

  9
 '

R Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari
guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya,
guru mengarahkan.
R Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan
baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
R Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar.
R Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.




 ')  
 

Pembelajaran kontekstual (! ë      ) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (!   ), bertanya (*  ),
menemukan ( # ), masyarakat belajar (
   ! ), pemodelan ($  ),
dan penilaian sebenarnya (+   +)

"  ')  
 
1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa
untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial,
dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke
permasalahan/ konteks lainnya.
2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar membuat
hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

0
 )  
  
 - 

)  
 

1. Menyandarkan pada pemahaman makna.


2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.
3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan.
5. Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi,
berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja
kelompok).
8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
9. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
10.Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif.
11.Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan.
12.Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
13.Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting.
14.Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.

- 

1. Menyandarkan pada hafalan


2. Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru.
3. Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru.
4. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan.
5. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan.
6. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.
7. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas,
mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual).
8. Perilaku dibangun atas kebiasaan.
9. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
10.Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor.
11.Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman.
12.Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik.
13.Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas.
14.Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.
.
 )  
 ")

Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam
kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya

1. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik


2. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
3. Ciptakan masyarakat belajar.
4. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
5. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
6. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

4-')  ')  
 

c)  


R Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada


pengetahuan awal.
R Pembelajaran harus dikemas menjadi proses ³mengonstruksi´ bukan menerima
pengetahuan

 >

R Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.


R Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis

]?   1 3

R Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir


siswa.
R Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

9   1


 '3

R Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.


R Bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
R Tukar pengalaman.
R Berbagi ide

#  1 3

R Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
R Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

%  1
3
R Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
R Mencatat apa yang telah dipelajari.
R Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

($   $ 1@ 3

R Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.


R Penilaian produk (kinerja).
R Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

)
 
')  
 

R Kerja sama
R Saling menunjang
R Menyenangkan, tidak membosankan
R Belajar dengan bergairah
R Pembelajaran terintegrasi
R Menggunakan berbagai sumber
R Siswa aktif
R    dengan teman
R Siswa kritis guru kreatif
R Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel,
humor dan lain-lain
R Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
praktikum, karangan siswa dan lain-lain

 ')  
 

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan


kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan
dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam
program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.

Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa
yang akan dikerjakannya bersama siswanya.

Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya
hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada
deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.

Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.

1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa
yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi
Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar.
2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati
partisipasinya dalam pembelajaran.

%c      '


Dalam satu kesempatan pelatihan pengawas sekolah, Endang Abutarya (2007)
mengetengahkan tentang 10 mega trend tentang belajar untuk saat ini dan ke depannya.
Kesepuluh trend tersebut adalah: (1) belajar melalui kehidupan kita; (2) belajar dalam
organisasi, institusi, asosiasi, jaringan; (3) belajar berfokus pada kebutuhan nyata; (4) belajar
dengan seluruh kemampuan otak; (5) belajar bersama; (6) belajar melalui multi media,
teknologi, format, dan gaya; (7) belajar langsung dari berpikir; (8) belajar melalui
pengajaran/pembelajaran; (9) belajar melalui sistem pendidikan kita yang akan berubah cepat
untuk membantu belajar sepanjang hayat dan masyarakat belajar; dan (10) belajar bagaimana
belajar.

Sementara itu, terkait dengan proses pembelajaran, bahwa dalam pembelajaran harus
dapat: (1) meningkatkan pemahaman dan memperbaiki proses belajar; (2) mendorong
prakarsa belajar siswa; (3) mempreskripsikan strategi yang optimal; (4) kondisi
membelajarkan siswa secara simultan; (5) memudahkan proses internal yang belajar;
dan (6) menjadikan belajar lebih efektif, efisien, dan menarik. Pada kesempatan
pelatihan ini Endang Abutarya menjelaskan pula tentang tiga teori belajar utama: (1)
behaviorisme; (2) kognitivisme, dan (3) konstruktivisme.

) 
'  
 )  

 

Posted on 14 Desember 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

Dalam satu kesempatan perkuliahan, Prof. Nyoman S. Degeng dari Universitas


Negeri Malang menyajikan materi tentang          
    %    , yang tampaknya dalam praktik pendidikan di Indonesia saat
ini masih berada di persimpangan jalan.

Meski demikian, suka atau tidak suka kita harus mengucapkan ³Selamat Tinggal´ kepada
Behaviorisme yang telah terbukti saat ini tidak lagi bisa diandalkan untuk menghadapi
tantangan jaman yang serba kompleks´. Kini waktunya untuk menyambut dan mengucapkan
³Selamat Datang´ kepada Konstruktivisme yang tampaknya dapat memberikan harapan baru
bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. Menurut pemikiran beliau terdapat 5 proposisi
utama dari pandangan kontruktivisme beserta implikasinya terhadap praktik pembelajaran,
yaitu:

Proposisi 1: Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru.

R Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari


R Dorong munculnya berpikir divergent, bukan hanya satu jawaban benar
R Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas
R Tekankan pada keterampilan berpikir kritis
R Gunakan informasi pada situasi baru

Proposisi 2: Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar

R Sediakan pilihan tugas


R Sediakan pilihan cara memperlihatkan keberhasilan
R Sediakan waktu yang cukup memikirkan dan mengerjakan tugas
R Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya
R Sediakan kesempatan berpikir ulang
R Libatkan pengalaman konkrit

Proposisi 3: Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajarnya

R Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok
dengan dirinya
R Berdayakan melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, cara belajar, atau
lainnya

Proposisi 4: Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk-kerja

R Motivasilah dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan sehari-hari dan kaitkan tugas
dengan pengalaman pribadi
R Dorong untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil

Proposisi 5: Belajar pada hakikatnya memiliki aspek sosial. Kerja kelompok sangat berharga

R Beri kesempatan untuk melakukan kerja kelompok


R Dorong untuk memainkan peran yang bervariasi
R Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok

Berikut ini dikemukakan pula hasil analisis beliau tentang kedua aliran filsafat pendidikan
tersebut.

Komparasi Pembelajaran Behaviorisme dengan Konstruktivisme

0
$+ & - ) )&5-!)- + - )
P u   P r  
 |u P 
 |  
Pengetahuan: objektif, pasti, tetap Pengetahuan : non- objektif, temporer, selalu
berubah
Belajar: perolehan pengetahuan Belajar: pemaknaan pengetahuan
Mengajar: memindahkan pengetahuan ke Mengajar: menggali makna
orang yang belajar
Mind berfungsi sebagai alat penjiplak Mind berfungsi sebagai alat
struktur pengetahuan menginterpretasi sehingga muncul makna
yang unik
Si pembelajar diharapkan memiliki Si pembelajar bisa memiliki pemahaman
pemahaman yang sama dengan pengajar yang berbeda terhadap pengetahuan yang
terhadap pengetahuan yang dipelajari dipelajari
Segala sesuatu yang ada di alam telah Segala sesuatu bersifat temporer, berubah,
terstruktur, teratur, rapi. dan tidak menentu.

Pengetahuan juga sudah terstruktur rapi Kitalah yang memberi makna terhadap
realitas
 
r
 |u P 
 | 
Keteraturan Ketidakteraturan
Si pembelajar dihadapkan pada aturan- Si pembelajar dihadapkan kepada
aturan yang jelas yang ditetapkan lebih dulu lingkungan belajar yang bebas
secara ketat
Pembiasaan (disiplin) sangat esensial Kebebasan merupakan unsur yang sangat
esensial
Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan
menambah pengetahuan dikategorikan atau ketidakmampuan dilihat sebagai
sebagai KESALAHAN, HARUS interpretasi yang berbeda yang perlu
DIHUKUM DIHARGAI

Keberhasilan atau kemampuan


dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang
pantas dipuji atau diberi HADIAH
Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai Kebebasan dipandang sebagai penentu
penentu keberhasilan keberhasilan
Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar Kontrol belajar dipegang oleh si Pembelajar
diri si Pembelajar
Tujuan pembelajaran menekankan pada Tujuan pembelajaran me-nekankan pada
penambahan pengetahuan penciptaan pemahaman, yang menuntut
aktivitas kreatif-produktif dalam konteks
Seseorang dikatakan telah belajar apabila nyata
mampu mengungkapkan kembali apa yang
telah dipelajari
 
r
 |u P 
 | | P 
 | 
Keterampilan terisolasi Penggunaan pengetahuan secara bermakna
Mengikuti urutan kurikulum ketat Mengikuti pandangan si Pembelajar
Aktivitas belajar mengikuti buku teks Aktivitas belajar dalam konteks nyata
Menekankan pada hasil Menekankan pada proses
 
r
 |u P 
 | 

Respon pasif Penyusunan makna secara aktif
Menuntut satu jawaban benar Menuntut pemecahan ganda
Evaluasi merupakan bagian terpisah dari Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar
belajar


- ')  

Posted on 20 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT

K  

 
      

            !      ! 
         !          !    !  
 !      !   "  ! !! 
   ! #     !        
$      !              %  &%   
           #        !     
 !'("" #)*++),- 

  #       !       '.# )*+* )/*   
!$  !  !                  

      " !    #    
!         "  !#   "  !   
'("" )*++),,           
   !    !  %%    !   "    
 %%  '#)**01

£!    !$    % " #


             #  !   "   !  ! 
    "      !          #  !
  "        !  !     & ! 
  !'  #)***0)

.   !   "   !$


 %          !!&! ! 
     
         !        # .  
 ' #  #)**/---      ! ! ')  $
     !     "       # '-  ! 
 !         !  $# ',   !  
             %  # '2  !  !     
#      !       # '/     !    
   #    ! # #!

           !     !  


  !    "      !$    !     
                        
     "   !          ! 
  !& !!  %  ' #)**+/ 

.      #     !$ !          ! 
%   "  "       !   "      #
    !    

            !    
 !   "!  ! ! ("" ')*++
),,   3')  !        &!   
         #          &
! #'- &! "   ! ð 
      '#   #   # !      
                   ',        &
!        !  #  !   
    '       "  ! ' 

!        "    °         !   
4     !$ !  !                  
 "     ð   !  !            
!   '  # )*** 0- .       ')**+ 1   
!$       4                 
       ! 

        !             '  # )*** 0, 
  !  !  ')         !       
            !"         
     # '-      %           
                     #
  %                !        
       &   ',              "  
  % !     !       5    !"  !   #
" #    !      "         
    ¢

  !      

!        !$    !     #    
     !            $ 
  # !$  $    "
%   !     !     " 
    .   # $    ! ! &!  %     
!!     

!      #   ')**- ,6            
!      !  !         "  $      
 % !         !      
    % !             " 
!   

7   ')**) )-                 
!     !       #        
% "# %  "     " $ #"    ! " "
!           

         !      !   %   "  
             
  %  "    ')**6 2    !$    !  
  ! !            K  
#          !#   !         
   ! ! 

      &            ! 
   # !  ')**0 ,              
! #  ')  $   %    
   # '-  !    !  !    $  # ',     $
!  !  #  '2   $       !       ! 
   

.          !     #    ')**0 -6   
!!   !    % ! # !  !  ')  ! 
   $         !   # '- ! 
  $ !"       !   "
  "# ',  !     $   %!  !# '2  ! 
   !!         $# '/    $
     !   #  '0  %     !  
 "

.  !!    #      !$ !   % 
  !      !  "       $     
         $   "             
        .   #  $ !             
        

 . # 8  9:


;  <  

Õ
& "2
Posted on 15 Februari 2009 by AKHMAD SUDRAJAT

³Pendidikan´ mempunyai banyak pengertian, tetapi secara umum diterima


sebagai suatu perubahan perilaku. Tulisan dimaksudkan bukan untuk menganalisa teori yang
ada dibalik Pendidikan Orang Dewasa, melainkan untuk memahami prinsip-prinsip
Pendidikan Orang Dewasa (atau yang biasa disingkat POD) yang dapat diterima. Prinsip-
prinsip yang disajikan di sini pada dasarnya sama dengan yang dikembangkan pada beberapa
pelatihan yang menggunakan metode instruksional, tetapi satu hal yang membedakan adalah
prinsip-prinsip POD lebih dikenal secara luas.
Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan training (pelatihan) dan pendidikan, dan biasanya
diterapkan pada situasi kelas formal atau untuk sistem on the job training (magang). Tiap
bentuk pelatihan sebaiknya memuat sebanyak mungkin 9 prinsip yang tersebut di bawah ini.
Supaya kita mudah mengingatnya (9 prinsip tersebut), maka biasanya digunakn sistem
jembatan keledai atau istilah asingnya mnemonic, yaitu $.$0

R = Recency
A = Appropriateness
M = Motivation
P = Primacy
2 = 2 ± Way Communication
F = Feedback
A = Active Learning
M = Multi ± Sense Learning
E = Excercise

Prinsip-prinsip ini dalam berbagai cara sangat penting, karena memungkinkan Anda (pelatih)
untuk menyiapkan satu sessi secara tepat dan memadai, menyajikan sessi secara efektif dan
efisien, juga memungkinkan anda melakukan evaluasi untuk sessi tersebut. Mari kita coba
lihat ide-ide yang melatarbelakangi istilah RAMP 2 FAME. Penting untuk dicatat bahwa
prinsip-prinsip ini tidak disajikan dalam satu urutan. Kedudukannya sama dalam satu kaitan
antar hubungan.

R ± RECENCY

Hukum dari Recency menunjukkan kepada kita bahwa sesuatu yang dipelajari atau diterima
pada saat terakhir adalah yang paling diingat oleh peserta/ partisipan. Ini menunjukkan dua
pengetian yang terpisah di dalam pendidikan. Pertama, berkaitan dengan isi (materi) pada
akhir sessi dan kedua berkaitan dengan sesuatu yang ³segar´ dalam ingatan peserta. Pada
aplikasi yang pertama, penting bagi pelatih untuk membuat ringkasan (summary) sesering
mungkin dan yakin bahwa pesan-pesan kunci/inti selalu ditekankan lagi di akhir sessi. Pada
aplikasi kedua, mengindikasikan kepada pelatih untuk membuat rencana kaji ulang (review)
per bagian di setiap presentasinya.

Faktor-faktor untuk pertimbangan tentang recency

R Usahakan agar tiap sessi yang diberikan berjangka waktu yang relatif pendek, tidak
lebih dari 20 menit (jika itu memungkinkan).
R Jika sessi lebih dari 20 menit, harus sering diringkas (direkap). Sessi yang lebih
panjangsebaiknya dibagi-bagi ke dalam sessi-sessi yang lebih pendek dengan
beberapa jeda sehingga anda dapat membuat ringkasan.
R Akhir dari tiap sessi merupakan suatu yang penting. Buatlah ringkasan/rekap dari
keseluruhan sessi dan beri penekanan pada pesan-pesan atau poin-poin kunci.

Upayakan agar peserta/partisipan tetap ³sadar´ kemana arah dan perkembangan dari belajar
mereka

A : APPROPRIATENES (Kesesuaian)

Hukum dari appropriatenes atau kesesuaian mengatakan kepada kita bahwa secara
keseluruhan, baik itu pelatihan, informasi, alat-alat bantu yang dipakai, studi kasus -studi
kasus, dan material-material lainnya harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta/partisipan.
Peserta akan mudah kehilangan motivasi jika pelatih gagal dalam mengupayakan agar materi
relevan dengan kebutuhan mereka. Selain itu, pelatih harus secara terus menerus memberi
kesempatan kepada peserta untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara informasi-
informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah diperolah peserta, sehingga kita
dapat menghilangkan kekhawatiran tentang sesuatu yang masih samar atau tidak diketahui.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai appropriatness :

R Pelatih harus secara jelas mengidentifikasi satu kebutuhan bagi peserta agar
mengambil bagian dalam pelatihan. Dengan kebutuhan yang teridentifikasi, pelatih
harus yakin bahwa sehala sesuatu yang berhubungan dengan sessi sesuai dengan
kebutuhan tersebut.
R Gunakan deskripsi, contoh-contoh atau ilustrasi-ilustrasi yang akrab (familiar) dengan
peserta.

M: MOTIVATION (motivasi)
Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya
keinginan untuk belajar, dia harus siap untuk belajar, dan harus punya alasan untuk belajar.
Pelatih menemukan bahwa jika peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar atau
rasa keinginan untuk berhasil, dia akan lebih baik dibanding yang lainnya dalam belajar.
Pertama-tama karena motivasi dapat menciptakan lingkungan (atmosphere) belajar menjadi
menye-nangkan. Jika kita gagal menggunakan hukum kesesuaian (appropriateness) tersebut
dan mengabaikan untuk membuat material relevan, kita akan secara pasti akan kehilangan
motivasi peserta.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai motivasi:

R Material harus bermakna dan berharga bagi peserta, tidak hanya bagi pelatih
R Yang harus termotivasi bukan hanya peserta tetapi juga pelatih itu sendiri. Sebab jika
pelatih tidak termotivasi, pelatihan mungkin akan tidak menarik dan bahkan tidak
mencapai tujuan yang diinginkan.
R Seperti yang disebutkan dalam hukum kesesuaian (appropriateness), pelatih suatu
ketika perlu mengidentifikasi satu kebutuhan kenapa peserta datang ke pelatihan.
Pelatih biasanya dapat menciptakan motivasi dengan mengatakan bahwa sessi ini
dapat memenuhi kebutuhan peserta.
R Bergeraklah dari sisi tahu ke tidak tahu. Awali sessi dengan hal-hal atau poin-poin
yang sudah akrab atau familiar bagi peserta. Secara perlahan-lahan bangun dan
hubungkan poin-poin bersama sehingga setiap tahu kemana arah mereka di dalam
proses pelatihan.

P : PRIMACY (Menarik Perhatian di awal sessi)

Hukum dari primacy mengatakan kepada kita bahwa hal-hal yang pertama bagi peserta
biasanya dipelajari dengan baik, demikian pula dengan kesan pertama atau serangkaian
informasi yang diperoleh dari pelatih betul-betul sangat penting. Untuk alasan ini, ada
praktek yang bagus yaitu dengan memasukkan seluruh poin-poin kunci pada permulaan sessi.
Selama sessi berjalan, poin-poin kunci berkembang dan juga informasi-informasi lain yang
berkaitan. Hal yang termasuk dalam hukum primacy adalah fakta bahwa pada saat peserta
ditunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, mereka harus ditunjukkan cara yang benar
di awalnya. Alasan untuk ini adalah bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk ³tidak
mengajari´ peserta pada saat mereka membuat kesalahan di permulaan latihan.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai primacy:

R Sekali lagi, upayakan sessi-sessi diberikan dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Sebaiknya sekitar 20 menit seperti yang disarankan dalam hukum recency.
R Permulaan sessi anda akan sangat penting. Seperti yang anda ketahui bahwa sebagian
banyak peserta akan mendengarkan, dan oleh karena itu buatlah semenarik mungkin
dan beri muatan informasi-informasi penting ke dalamnya.
R Usahakan agar peserta selalu ³sadar´ arah dan perkembangan dari belajarnya.
R Yakinkan peserta akan memperoleh hal-hal yang tepat pada saat anda pertama kali
meminta mereka melakukan sesuatu

2 : 2- WAY COMMUNICATION (Komunikasi 2 arah)


Hukum dari 2-way-communication atau komunikasi 2 arah secara jelas menekankan bahwa
proses pelatihan meliputi komunikasi dengan peserta, bukan pada mereka. Berbagai bentuk
penyajian sebaiknya menggunakan prinsip komunikasi 2 arah atau timbal balik. Ini tidak
harus bermakna bahwa seluruh sessi harus berbentuk diskusi, tetapi yang memungkinkan
terjadinya interaksi di antara pelatih/fasilitator dan peserta/partisipan.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai 2-way communication:

R Bahasa tubuh anda juga berkaitan dengan komunikasi 2 arah: anda harus merasa
yakin bahwa itu tidak bertentangan dengan apa yang anda katakan.
R Rencana sessi anda sebaiknya memiliki interaksi dengan siapa itu dirancang, yaitu tak
lain adalah peserta.

F: FEEDBACK (Umpan Balik)

Hukum dari feedback atau umpan balik menunjukkan kepada kita, baik fasilitator dan peserta
membutuhkan informasi satu sama lain. Fasilitator perlu mengetahui bahwa peserta
mengikuti dan tetap menaruh perhatian pada apa yang disampaikan, dan sebaliknya peserta
juga membutuhkan umpan balik sesuai dengan penampilan/kinerja mereka.

Penguatan juga membutuhkan umpan balik. Jika kita menghargai peserta (penguatan yang
positif) untuk melakukan hal-hal yang tepat, kita mempunyai kesempatan yang jauh lebih
besar agar mereka mengubah perilakunya seperti yang kita kehendaki. Waspada juga bahwa
terlalu banyak penguatan negatif mungkin akan menjauhkan kita memperoleh respon yang
kita harapakan.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai feedback:

R Peserta harus diuji (dites) secara berkala untuk umpan balik bagi fasilitator
R Pada saat peserta dites, mereka harus memperoleh umpan balik tentang penampilan
mereka sesegera mungkin.
R Tes bisa juga meliputi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan fasilitator secara berkala
mengenai kondisi kelompok
R Semua umpan balik tidak harus berupa yang positif, seperti yang dipercaya banyak
orang. Umpan balik positif hanya setengah dari itu dan hampir tidak bermanfaat tanpa
adanya umpan balik negatif
R Pada saat peserta berbuat atau berkata benar (misal menjawab pertanyaan), sebut atau
umumkan itu (di hadapan kelompok/peserta lain jika itu mungkin).
R Persiapkan penyajian anda sehingga ada penguatan positif yang terbangun di awal
sessi.
R Perhatikan betul-betul peserta yang memberi umpan balik positif (berbuat betul) sama
halnya kepada mereka yang memberi umpan balik negatif (melakukan kesalahan).

A : ACTIVE LEARNING (Belajar Aktif)

Hukum dari active learning menunjukkan kepada kita bahwa peserta belajar lebih giat jika
mereka secara aktif terlibat dalam proses pelatihan. Ingatkah satu peribahasa yang
mengatakan ³Belajar Sambil Bekerja´ ? Ini penting dalam pelatihan orang dewasa. Jika anda
ingin memerintahkan kepada peserta agar menulis laporan, jangan hanya memberitahu
mereka bagaimana itu harus dibuat tetapi berikan kesempatan agar mereka melakukannya.
Keuntungan lain dari ini adalah orang dewasa umumnya tidak terbiasa duduk seharian penuh
di ruangan kelas, oleh karena itu prinsip belajar aktif ini akan membantu mereka supaya tidak
jenuh.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai active learning:

R Gunakan latihan-latihan atau praktek selama memberikan instruksi


R Gunakan banyak pertanyaan selama memberikan instruksi
R Sebuah kuis cepat dapat digunakan supaya peserta tetap aktif
R Jika memungkinkan, biarkan peserta melakukan apa yang ada dalam instruksi

Jika peserta dibiarkan duduk dalam jangka waktu lama tanpa berpartisipasi atau diberi
pertanyaan-pertanyaan, kemungkinan mereka akan mengantuk /kehilangan perhatian.

M : MULTIPLE -SENSE LEARNING

Hukum dari multi- sense learning mengatakan bahwa belajar akan jauh lebih efektif jika
partisipan menggunakan lebih dari satu dari kelima inderanya. Jika anda memberitahu trainee
mengenai satu tipe baru sandwich mereka mungkin akan mengingatnya. Jika anda
membiarkan mereka menyentuh, mencium dan merasakannya dengan baik, tak ada jalan bagi
mereka untuk melupakannya.
Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai multiple-sense learning:

R Jika anda memberitah/mengatakan sesuatu kepada peserta, cobalah untuk


menunjukkannya dengan baik
R Gunakan sebanyak mungkin indera peserta jika itu perlu sebagai sarana belajar
mereka, tetapi jangan sampai lupa sasaran yang ingin dicapai
R Ketika menggunakan multiple-sense learning, anda harus yakin bahwa tidak sulit bagi
kelompok untuk mendengarnyaa, melihat dan menyentuh apapun yang anda inginkan.

      


      
     
(Confusius, 450 SM)

E. EXERCISE (Latihan)

Hukum dari latihan mengindikasikan bahwa sesuatu yang diulang-ulang adalah yang paling
diingat. Dengan membuat peserta melakukan latihan atau mengulang informasi yang
diberikan, kita dapat meningkatkan kemungkinan mereka semakin mampu mengingat
informasi yang sudah diberikan. Yang terbaik adalah jika pelatih menambah latihan atau
mengulangi pelajaran dengan mengulang informasi dalam berbagai cara yang berbeda.
Mungkin pelatih dapat membicarakan mengenai suatu proses baru, lalu menunjukkan
diagram/overhead, menunjukkan produk yang sudah jadi dan akhirnya minta kepada peserta
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Latihan juga menyangkut intensitas. Hukum dari
latihan juga mengacu pada pengulangan yang berarti atau belajar ulang.

Faktor-faktor untuk pertimbangan dalam exercise:


R Semakin sering trainee mengulang sesuatu, semakin mereka mengingat informasi
yang diberikan
R Dengan memberikan pertanyaan berulang-ulang kita meningkatkan latihan
R Peserta harus mengulang latihannya sendiri, tetapi mencatat tidak termasuk di
dalamnya
R Ringkaslah sesering mungkin karena ini bentuk lain dari latihan. Buatlah selalu
ringkasan saat menyimpulkan sessi
R Buat peserta selalu ingat secara berkala apa yang telah sidajikan sedemikian jauh
dalam presentasi
R Sering disebutkan bahwa tanpa beberapa bentuk latihan, peserta akan melupakan 1/4
dari yang mereka pelajari dalam 6 jam, 1/3 dalam 24 jam, dan sekitar 9 % dalam 6
minggu.

Kesimpulan

Prinsip-prinsip dari belajar berkaitan kepada pelatihan dan pendidikan. Prinsip-prinsip


tersebut digunakan di seluruh sektor/area, baik dalam ruang kelas atau sistem magang.
Prinsip-prinsip ini dapat digunakan kepada anak-anak dan remaja sebaik kepada orang
dewasa. Instruksi yang efektif harus menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip ini, jika
tidak keseluruhan-nya. Pada saat anda merencanakan satu sessi, lihat keseluruhan draft untuk
meyakinkan bahwa prinsip-prinsip telah digunakan dan jika tidak, mungkin perlu suatu revisi
(perbaikan).

Sumber : Diambil dari Bahan TOT Pemberdayaan Komite Sekolah. 2006

) 
)

Posted on 15 September 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah ³bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak´. Adapun
berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak´. Menurut
Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (  ),
perilaku (   ,, motivasi (  ), dan keterampilan ( ,. Karakter berasal dari
bahasa Yunani yang berarti ³to mark´ atau menandai dan memfokuskan bagaimana
mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang
yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.
Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter
mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai
dengan nilai-nilai seperti                        
           '          &   
                         
                     )     
                                      
   )        '   )        
             - ,             ¢ Individu juga
memiliki    untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu
    sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi
perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-
halterbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta
dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya
dan disertai dengan   ,      - ,¢

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai  
                      ..
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan
sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana,
pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan
karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan
pendidikan harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai
berikut:                  
   ¢ '       ''  
         ' '    '         
'           '                     
'     '  .¢

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan
guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak
peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara
atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama
dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi
anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.
Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang
baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu,
yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat
dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai,
yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri,
dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral
universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai   
. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai
karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut
adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur,
hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan
pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai,
dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari:
dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan,
ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan
pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang
selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang
bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan
sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan
pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada
fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat,
seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota
besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena
itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan
dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui
peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan
pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-
perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya.
Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-
pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan
perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai.
Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui
penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan      yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan


sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh
potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks
interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung
sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-
kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati -     
, , Olah Pikir -  , Olah Raga dan Kinestetik -  
    , dan Olah Rasa dan Karsa (+  !    ,
yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et.
al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan;
yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi
nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda
dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang
menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku.
Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian
psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan


upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta
didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran,
sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata
krama, budaya, dan adat istiadat.

=============

<

Kemendiknas. 2010.   %    $  .
Jakarta

Rate This

/         


  0   $-0$,      
    112

Ketika sebuah negara seperti Indonesia sedang terpuruk, hampir semua


sepakat untuk menyoroti Pendidikan sebagai salah satu biang keladi utama. Tapi, apakah
semua sudah sepakat dan sepaham tentang apa itu Pendidikan? Apakah Pendidikan itu sama
seperti ketrampilan atau keahlian di sebuah bidang tertentu? Apakah Pendidikan itu berarti
paham pemikiran logika dan sistematis, yang hanya mengandalkan fungsi otak kiri saja?
Apakah Pendidikan hanyalah sebuah sarana untuk mendapatkan Ijazah formal dan pekerjaan
agar dapat membiayai diri sendiri (dan keluarga) untuk hidup layak?

Di Indonesia, masalah pendidikan sudah sangat pelik. Dari kurangnya komitmen politik
pemerintah untuk memenuhi anggaran pendidikan minimal 20% dari total anggaran
pendapatan dan belanja negara sesuai amanat Undang-Undang Dasar sampai ditudingnya
Departemen Pendidikan sebagai salah satu sarang utama korupsi. Dari mewah fasilitas
sekolah dan mahalnya biaya pendidikan sampai begitu banyaknya bangunan sekolah yang
hampir roboh dimakan usia atau korupsi. Dari pendidikan yang disisipi indoktrinasi
pemahaman tertentu sampai pendidikan disamakan dengan sekedar transfer Ilmu
Pengetahuan semata. Jadi apakah pendidikan itu? Sistem pendidikan seperti apakah yang
cocok diterapkan di Indonesia ini?

Pendidikan bukanlah (hanya) transfer of knowledge


Ada sebuah penelitian di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa, peran otak kiri, yang
berkaitan dengan logika dan intelektual, pada keberhasilan seseorang dalam mencapai
kesuksesan hanya 4%. Porsi terbesar untuk mencapai kesuksesan yakni 96% didominasi
peran otak kanan yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi.

Sayangnya, pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan otak kanan kurang
diperhatikan di Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan emosi dan kepribadian yang dapat
menuntun seseorang menjadi manusia arif dan bijaksana menjadi terlalaikan. Padahal, untuk
bisa membangun suatu bangsa yang kuat diperlukan orang yang tidak hanya berintelektual
tinggi, tetapi juga peka terhadap kondisi yang terjadi. Selain itu, bangsa Indonesia pun
memerlukan orang yang punya kebijaksanaan tinggi untuk dapat menghadapi segala
persoalan dengan tepat. Keseimbangan antara fungsi otak kiri dan otak kanan sangat
ditentukan oleh pola pendidikan jenis apakah yang diterima seorang murid.

Tapi pola pendidikan ideal seperti ini sangat langka di Indonesia yang cenderung lebih
mengarah pada transfer of knowledge daripada pendidikan dalam arti membimbing seorang
anak didik menjadi manusia yang mengenal dirinya sendiri tapi peka terhadap apa yang
terjadi dengan lingkungan sekitar dirinya.

Pendidikan bukanlah Indoktrinisasi Pemahaman


Di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan yang didirikan oleh lembaga-lembaga agama
dengan tujuan secara langsung maupun tidak langsung untuk menanamkan doktrin-doktrin
agama dalam benak anak didik dari usia muda. Hal ini patut disesalkan karena dikhawatirkan
kelak anak-anak tersebut tidak mampu mengapresiasi keberagaman yang diciptakan oleh
Tuhan di dunia ini. Diperparah pula oleh timbulnya perda-perda syariat yang seakan
melegalisir pemisahan bagi para siswa di sekolah. Dan, hasilnya adalah konflik antar agama,
konflik
horisontal antar kelompok masyarakat hanya karena berbeda dengan dirinya. Perbedaan yang
semestinya menjadi rahmat keberagaman bagi umat manusia, malah menjadi kutukan dan
penyebab perang di antara umat manusia.

Pendidikan bukanlah hanya untuk orang kaya saja


Sekolah favorit selalu menjadi incaran orangtua murid untuk menyekolahkan anaknya di
sana. Kenapa? Karena dengan bersekolah di sekolah favorit maka kemungkinan besar, sang
murid akan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak di masyarakat dan menjadi kaya. Jadi
apakah kita berpendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Bila jawabannya
tidak, tapi kenyataannya bahwa banyak sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas dan kelas
ketrampilan tambahan menjadi sekolah-sekolah favorit walaupun bertarif sangat mahal. Dan,
hanya orang-orang kaya saja yang mampu menyekolahkan anak-anaknya di sana karena
banyak juga perusahaan yang hanya mau mempekerjakan para lulusan dari sekolah-sekolah
favorit saja. Pola pikiran seperti ini hanya menimbulkan ekses-ekses bahwa hanya orang kaya
saja yang mampu mendapatkan pendidikan. Jelas ini bertentangan dengan Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab, sila ke-2 dari Pancasila.

Program Televisi (TV) yang tidak mendidik


Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang
berumur lebih dari 10 tahun menonton televisi adalah sebanyak 85.86%, dibandingkan
40.26% yang mendengarkan radio dan 23.46% yang membaca surat kabar. TV telah menjadi
salah satu media yang paling mudah memberikan informasi kepada masyarakat dan mendidik
masyarakat.

Celakanya, program-program TV negara ini dipenuhi hal-hal berbau klenik, perdukunan,


kekerasan, budaya instan, pola hidup konsumtif, dll. Sehingga tidak mengherankan bila
masyarakat kita mudah sekali ditipu oleh sms-sms berhadiah karena ingin cepat kaya (budaya
instan), oleh iklan-iklan yang menimbulkan keinginan berbelanja barang-barang yang tidak
diperlukan (konsumtif), bertikai dengan kekerasan karena berbeda, dan mudah dibodohkan
oleh cerita-cerita gaib ilmu perdukunan.

Solusi : Pendidikan Holistik berbasis budaya Nusantara


Pendidikan holistik adalah pendidikan yang bertujuan memberi kebebasan anak didik untuk
mengembangkan diri tidak saja secara intelektual, tapi juga memfasilitasi perkembangan jiwa
dan raga secara keseluruhan sehingga tercipta manusia Indonesia yang berkarakter kuat yang
mampu mengangkat harkat bangsa. Mewujudkan manusia merdeka seperti ungkapan Ki
Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, "Manusia merdeka yaitu manusia yang
hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas
kekuatan sendiri."

Bila sekarang Pendidikan Barat memperkenalkan istilah PQ, IQ, EQ, SQ, tapi Budaya
Nusantara mengenal istilah Sembah Raga, Sembah Rasa dan Sembah Cipta dari karya agung
Kitab Wedhatama karya KGPA Mangkunegara IV sejak abad ke-19

Pendidikan yang baik akan menempa seorang siswa agar mampu hidup mandiri tanpa
tergantung orang lain dan sebenarnya, negara Indonesia tidak perlu mengadopsi kurikulum
pendidikan bangsa lain, yang belum tentu cocok diterapkan di Indonesia, tapi cukup
mengembangkan sistem
pendidikan nasional yang mampu membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya. Salah
satunya adalah Pelajaran Budi Pekerti seperti yang pernah diterapkan dalam kurikulum
nasional oleh Bapak Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa.

Prinsip dasar dalam pendidikan Taman Siswa yang sudah tidak asing di
telinga kita adalah:

1. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh)
2. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama)
3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan
dorongan).

Inilah pendidikan holistik berbasis budaya Nusantara yang perlu dikembalikan semangat dan
kearifannya bagi pendidikan siswa-siswa, generasi penerus bangsa.