10 Cara Meningkatkan Inovasi

Posted on 10 Desember 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri, maka setiap orang dalam organisasi dituntut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi, yakni:

1. Memiliki visi untuk berubah Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif apabila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi, tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan, serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara -cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan. 2. Memerangi ketakutan akan perubahan Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. Mereka akan berkata, ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik, tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada, kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi´. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko, dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Mereka memberikan gambaran menarik tentang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. Oleh karena itu, satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan.

3. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio, berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima. 4. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat, setiap rencana mudah dilaksanakan, sumber tersedia dengan baik, responsif dan terbuka untuk semuanya. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan. 5. Mematahkan Aturan Untuk mencapai inovasi yang radikal, Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit, tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni, yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral, sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan. 6. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dari peran saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya, baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. Tetapi, kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu. 7. Kolaborasi Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. Oleh karena itu, mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra, sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team. 8. Menerima kegagalan Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas, setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi, bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya, termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan.

9. Membangun prototipe Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata), kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang -orang. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata, dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja. 10. Bersemangat Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif, merubah caracara yang biasa mereka lakukan, dan untuk mencapai hasil yang luar biasa, maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang. *)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane, pengarang The Innovative Leader, yang berjudul ³Ten Ways to Boost Innovation´ dipublikasikan oleh Kogan Page. www.director.co.uk

Pengembangan Budaya Sekolah
Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.

Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. 1. Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah . Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. 2. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal . Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan -pesan pentingnya budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. 3. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. 4. Memiliki Strategi yang Jelas. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. 5. Berorientasi Kinerja. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. 6. Sistem Evaluasi yang Jelas. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek, sedang, dan jangka panjang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan, siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. 7. Memiliki Komitmen yang Kuat. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. 8. Keputusan Berdasarkan Konsensus. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan, namun pada

upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. Kegembiraan (happiness). Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Jika perlu dibuat wilayah wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. 5. Sistem Imbalan yang Jelas. Dalam lingkungan pembelajaran. 9. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. Kerjasama tim (team work). seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. 10. 3. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Kemampuan. 4. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah masalah yang dihadapi di sekolah. nyaman. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat.umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Keinginan. Evaluasi Diri. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Hormat (respect). 2. Jujur (honesty). Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas. Untuk itu. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. asri dan menyenangkan. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang . kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. guru. 6. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. nyaman.

Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Dimensi ini menuntut para guru. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. Tanpa kejujuran. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut.2007. ================= Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. 9. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. staf dan kepala sekolah tarmpil.lain. ========== Refleksi: Tulisan di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa upaya mengembangkan budaya sekolah merupakan hal amat penting dalam upaya meningkatkan kinerja sekolah. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. kepercayaan tidak akan diperoleh. jujur dalam mengelola keuangan. 5 Bentuk Budaya Guru . Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Disiplin (discipline). Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jakarta. Empati (empathy). 7. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Jujur dalam memberikan penilaian. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. guru dan staf. 8. orang tua dan masyarakat. baik secara personal maupun organisasional. Pengetahuan dan Kesopanan.

Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara sendiri-sendiri (soliter). pada buaya ini belum bisa menjamin ketercapaian hasil. Collaboration. 5. Bentuk budaya yang ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang ditentukan oleh manajemen. Pada model ini sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa yang disampaikan oleh Senge (1990) tentang ³learning organisation´. Balkanization.Posted on 12 Mei 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah memiliki bentuk-bentuk budaya tertentu dan salah satunya adalah bentuk budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola hubungan guru di sekolah. saling menghargai. bahkan cenderung mengabaikannya. Individualism. Dalam budaya kolaboratif terdapat saling keterpaduan (intermixing) antara kehidupan pribadi dengan tugas-tugas profesional. 3. komunikasi jarang terjadi dan kurang adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan perilaku siswa. Collaboration. . sehingga kesempatan pengembangan profesi melalui diskusi atau sharing dengan yang lain menjadi sangat terbatas. Balkanization. 2. Moving Mosaic. misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama. serta memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Kendati demikian. Pada budaya ini. 4. dan hanya sedikit kolaborasi. Contrived Collegiality. hadirnya kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru berdasarkan mata pelajaran. konsultasi dan pengambilan keputusan. yaitu : Individualism. 1. Misalnya. dan Moving Mosaic. serta pandangan tentang hasil-hasil yang diharapkan. dan adanya toleransi atas perbedaan. Para guru sangat fleksibel dan adaptif. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya guru. Pada budaya inilah guru dapat memilih secara bebas dan saling mendukung dengan didasari saling percaya dan keterbukaan. semua guru mengambil peran. Bentuk budaya yang kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub kelompok secara terpisah yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan kelompoknya daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Contrived Collegiality. karena untuk membangun budaya kolaboratif memang tidak bisa melalui paksaan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal dalam membangun hubungan kolaboratif para guru. bekerja secara kolaboratif dan reflektif. mereka menjadi tersisolasi dalam ruang kelasnya.

6. stabilitas staf dan sebagainya: (3) sistem sosial: struktur formal maupun informal atau berbagai peraturan untuk mengendalikan interaksi individu dan kelompok di sekolah. Iklim sekolah sering dianalogikan dengan kepribadian individu dan dipandang sebagai bagian dari lingkungan sekolah yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis serta direfleksikan melalui interaksi di dalam maupun di luar kelas. Hasil tinjauan ulang yang dilakukan Anderson (1982) terhadap 40 studi tentang iklim sekolah sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980. iklim sekolah telah terbukti memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik siswa. Tagiuri (1968) mengetengahkan tentang taksonomi iklim sekolah yang mencakup empat dimensi. disiplin sekolah. norma hubungan kelompok sebaya yang positif. Iklim sekolah didefinisikan orang secara beragam dan dalam penggunaanya kerapkali dipertukarkan dengan istilah budaya sekolah. latar belakang siswa. yaitu: (1) ekologi. Halpin dan Croft (1963) menyebutkan bahwa iklim sekolah adalah sesuatu yang bersifat intangible tetapi memiliki konsekuensi terhadap organisasi. 9. aspek-aspek fisik-materil. Berdasarkan berbagai studi yang dilakukan. partispasi staf dalam pengenbilan keputusan. 10. seperti bangunan sekolah. kerja sama team.Hubungan Iklim Sekolah dengan Hasil Akademik dan Non Akademik Sis wa 7. hubungan guru-siswa. seperti: moral kerja guru. ruang guru. ekspektasi keberhasilan. dan (4) budaya: sistem nilai dan keyakinan. hampir lebih dari setengahnya menunjukkan bahwa komitmen guru yang tinggi. ruang perpustakaan. ruang BK dan sejenisnya (2) milieu: karateristik individu di sekolah pada umumnya. ekspektasi yang tinggi dari guru dan adminstrator. konsistensi dan pengaturan tentang hukuman dan ganjaran. keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan. kolegialitas. Posted on 29 Maret 2008 by AKHMAD SUDRAJAT 8. ruang kepala sekolah. mencakup komunikasi kepala sekolahguru. konsensus tentang . seperti: norma pergaulan siswa.

demokratis. peduli. serta tingkat kesehatan dan kualitas hidup yang baik (Currie et al. lingkungan sekolah yang teratur. Studi yang dilakukan Battistich dan Hom (1997) mengungkapkan bahwa adanya perasaan akan komunitas (sense of community) dapat mengurangi secara signifikan terhadap munculnya perilaku bermasalah seperti.kurikulum dan pembelajaran. perasaan memperoleh dukungan dari guru dan siswa lainnya ternyata berkorelasi dengan semakin berkurangnya kebiasaan merokok. iklim sekolah pun memiliki kontribusi positif terhadap pencapaian hasil non akademik. perlakuan terhadap siswa yang positif. penyertaan aktivitas siswa yang tinggi dan hubungan sosial yang positif ternyata memiliki korelasi yang kuat dengan hasil-hasil akademik siswa. Studi yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1983 yang menguji tentang kesehatan perilaku. Studi yang dilakukan Stockard dan Mayberry (1992) menyimpulkan bahwa iklim sekolah. Iklim sekolah juga berpengaruh terhadap pembentukan nilai-nilai kewarganegaraan (civic values). dan aspirasi (Brookover et al. Fine. kenakalan remaja dan tindak kekerasan. dan respek terhadap siswanya ternyata telah mampu mengurangi tingkat drop out siswa. Anderson.. serta kejelasan tujuan dan sasaran telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik siswa. yang mencakup : ekspektasi prestasi siswa yang tinggi. tinggal kelas. Wehlage & Rutter. 11. 12. keterlibatan narkoba. 1979. Mitchell. 1982). dan perilaku salah suai di kalangan siswa (Farrell. Sebagai contoh: hubungan guru-siswa yang saling menghormati. Hubungan sosial antara siswa dengan guru yang mutualistik merupakan unsur penting dalam kehidupan sekolah. Bryk & Driscoll. 1973. tingginya aktivitas fisik. seperti pembentukan konsep diri. 1986. studi longitudional yang dilakukan oleh Roeser & Eccles (1998) membuktikan bahwa guru yang bersikap adil dan jujur memiliki dampak ke depannya bagi penguasaan kompetensi akademik dan nilai-nilai (values) akademik. Iklim sekolah yang positif juga dapat menurunkan tingkat depresi (Roeser & Eccles 1998). mau mendengarkan siswa meski dalam perspektif yang berbeda telah memberikan dampak terhadap . adanya kebebasan untuk menyatakan tidak setuju. McDill & Rigsby. 2000). gaya hidup dan konteks sosial pada kalangan anak muda di 28 negara menunjukkan bahwa keterlibatan peran dalam pengambilan keputusan di sekolah. 1990. Sementara itu. moral yang tinggi. 1989. 1988). Guru yang memiliki interes. 1968. keyakinan diri. adil. Selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa. Studi yang dilakukan oleh Wentzel (1997) mengungkapkan bahwa iklim sekolah memiliki hubungan yang positif dengan motivasi belajar siswa.

peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan. minat. layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan -kesamaan yang dipunyai oleh anak. kemudian digugat. 1990). Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan. Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini. Gugatan demikian.psy. 1986). Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan. Oleh karena berbeda. Adaptasi dan disarikan dari : Les Gallay and Suet-ling Pong. . 2004. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah. School Climate and Students¶ Intervention Strategies on line www. Secara sosiologis.edu Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A.tingkat kekritisan siswa tentang berbagai isu yang terkait dengan kewarganegaraan (Newmann. 13. Adanya kesamaankesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak -hak yang mereka punyai. 1980) dan lebih mengenal terhadap berbagai hubungan internasional (Torney-Purta & Lansdale. berkaitan erat dengan pandangan psikologis mengenai anak. dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan. yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). kebutuhan sampai ia matang di sekolah.± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak±.pop. Dalam sistem demikian. siswa juga lebih toleran terhadap perbedaan (Ehman. maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda. pendaftaran. Selain itu. melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.

2. Dengan terpenuhinya 1. segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. kesenangan dan minatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial. tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. 4. 4. Meningkatkan pengetahuan. C. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik. baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya. dan kemampuan lainnya. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik. dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. lebih lanjut. Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut: 1. dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Menyalurkan aspirasi. bakat dan minat peserta didik. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan). 2. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan -kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. ialah agar peserta didik tersalur hobi. segi aspirasinya. segi sosialnya. kemampuan khusus (bakat). ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 1. sama sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan. 3. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan). oleh karena i juga dapat menunjang a terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan. 3. proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar. harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. Hobi. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik . keterampilan dan psikomotor peserta didik. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. B. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. 2.Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik. dengan orang tua dan keluarganya.

2. Oleh karena itu. Pendekatan demikian. pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). disukai atau tidak disukai oleh peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik. Asumsi pendekatan ini adalah. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Pendekatan Manajemen Peserta Didik Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah. 3. Dalam pendekatan demikian. haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya. memperketat presensi. baik itu ringan. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut: 1. D. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri. berat.Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Oleh karena membimbing. Ialah peserta didik sendiri. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. 5. melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai. Pertama. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. 4. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan. tugas-tugas. memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu. bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya. penuntutan disiplin yang tinggi. peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Segala bentuk kegiatan. 6. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi. ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. manakala dapat memenuhi aturan-aturan. maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya. 1994). Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik. .

Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu. Ketidakmampuan sekolah dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Atau. maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit diprediksikan. Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah . sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan. Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Di antara kedua pendekatan tersebut. penyelesaian tugas-tugas peserta didik. Begitu pula dengan sekolah. peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak. 2007) Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Peru bahan Posted on 26 Maret 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Dalam kehidupan modern sekarang ini. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala Sekolah. iklim yang kondusif.Kedua. tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. pendekatan kualitatif (the qualitative approach). maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. dan habis ditelan oleh perubahan. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya. penyediaan kesejahteraan. jika peserta didik senang dan sejahte maka ra. lambat laun akan dapat menimbulkan keterpurukan sekolah itu sendiri. atau sebutlah dengan pendekatan padu. sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal. Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen. Dalam hal ini. Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. tentu dapat diambil jalan tengahnya. jika dikemukakan dengan kalimat terbalik. Dalam pendekatan padu demikian. pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik. mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Direktorat Tenaga Kependidikan. Asumsi dari pendekatan ini adalah. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

dalam mengaplikasikan TQM adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: Focus Plan Organize Control Communication Decisions Functional Management Quality Management From Traditional Sort range budget Hierarchi chain of command Variance Reporting Top Down Ad Hoc/ Crisis Management Parochial. kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian-penyesuaian terhadap berbagai perubahan. kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko. yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen. Ada suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.49). Ross (Sudarwan Danim. Untuk itu. dan proaktif terhadap kehidupan individu. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi. yang mencakup 4 fokus. Para anggotanya percaya. Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya ini menghargai dan mendorong kewiraswastaan. Kotter dan James L. Berbicara tentang sikap antisipatif ini. dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. Continous. and Process Tentang Beban Belajar dan Pemberian Tugas Kepada Siswa Dalam KTSP Posted on 30 Oktober 2010 by AKHMAD SUDRAJAT . satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah. Competitive Fixing/One Short Manifacturing To Quality Future Strategic Issue Participant/Empowerment Quality Measure and Information or Self Control Top Down and Bottom Up Planned Change Cross functional. (John P. Heskett: 17. Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen. Dengan demikian. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. percaya. functions. Kegairahan yang menyebar luas. tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja yang akan mereka temui. Integrative Preventive. 2002:121) mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu.

yaitu: (1) tatap muka. 1. sedangkan pada Sistem Kredit Semester dinyatakan dalam Sat an Kredit Semester (SKS) Baik pada Sistem Paket maupun Sistem SKS. yang dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada masing -masing satuan pendidikan ditetapkan sebagai berikut:     ¡ . Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan. Sedangkan Sistem Kredit Sementer adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Pada Sistem Paket beban belajar setiap mata pelajaran dinyatakan dalam Sat an Jam embelajaran. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. (3) kegiatan mandiri tidak terstruktur. keduanya memiliki 3 (tiga) komponen beban belajar yang sama. Waktu penyelesaiannya diatur s endiri oleh peserta didik. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi.Dalam Permendi nas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi disebut an bahwa terdapat dua jenis sistem penyelenggaraan progran pendidi an di di semua jenjang dan jenis satuan pendidi an yaitu: (1) Sistem Paket dan (2) Sistem Kredit Semester. 2. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. pengayaan. dan percepatan 3. (2) penugasan terstruktur.

d. Djamarah (Yenrika Kurniati Rahayu. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMA atau yang serajat maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.d. yakni sebagai berikut: 1. SD atau yang sederajat berlangsung selama 35 menit. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SD atau yang serajat maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Berbicara tentang pemberian tugas kepada siswa. Selanjutnya. III adalah 29 s. 3.d. VI adalah 34 jam pembelajaran 2. SMP atau yang sederajat berlangsung selama 40 menit. 39 jam pembelajaran. 3. kita akan diingatkan pada salah satu metode dalam pembelajaran yang dikenal dengan sebutan Metode Pemberian Tugas atau Metode Resitasi. Fase pemberian tugas Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan: y y y y y Tujuan yang akan dicapai Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut. jam jam jam jam Waktu untuk beban penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. 2007) mengemukakan tentang langkahlangkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode pemberian tugas atau metode resitasi. Mulyani Sumantri dkk (Yenrika Kurniati Rahayu. dengan jumlah pembelajaran tatap muka per minggu sebanyak 34 jam pembelajaran. 2. Langkah pelaksanaan tugas y y y y Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri. .d.1. SMA atau yang sederajat berlangsung selama 45 menit. dengan jumlah pembelajaran tatap muka per minggu sebanyak 38 s. 2. dengan jumlah pembelajaran tatap muka per minggu: (a) kelas I s. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP atau yang serajat maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Sesuai dengan kemampuan siswa Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut. 32 pembelajaran dan (b) kelas IV s. 2007) mengemukakan bahwa ³Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau berkelompok. tidak menyuruh orang lain Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.

Sedangkan jika terlalu sulit dapat menimbulkan rasa frustasi.3. Artinya. bahkan mungkin hanya akan menimbulkan kebencian terhadap mata pelajaran maupun terhadap guru yang bersangkutan. Hal ini tentu saja menjadi berseberangan dengan prinsip pembelajaran menyenangkan (joyful learning) yang saat ini sedang digelorakan dalam pendidikan kita Panduan Penyelenggaraan SKS Posted on 31 Juli 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia saat ini merupakan suatu upaya inovatif untuk meningkatkan mutu pendidikan. ketentuan tugas yang dibebankan kepada siswa maksimum hanya separuh dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. antara lain: (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat. Dari paparan di atas kita melihat bahwa pemberian tugas kepada siswa perlu disediakan waktu yang cukup. Fase mempertanggungjawabkan tugas y y y Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakan Ada tanya jawab/diskusi kelas Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara yang lainnya. Pasal tersebut mengamanatkan bahwa ³Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak. Di atas juga dikemukakan bahwa dalam memberikan tugas kepada siswa seyogyanya disesuaikan dengan kemampuan siswa Oleh karena itu tantangan beban tugas kepada siswa hendaknya diberikan secara moderat. Perlu diingat bahwa dalam KTSP. guru seyogyanya tidak memberikan tugas yang berlebihan alias terlalu membebani siswa. Pada hakikatnya. dan kemampuannya. Amanat dari pasal tersebut selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. SKS merupakan perwujudan dari amanat Pasal 12 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dalam memberikan tugas kepada siswa diusahakan tidak terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk dikerjakan siswa. Untuk itu pemberian tugas hendaknya proporsional. . dan (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing -masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. minat. Artinya. Pemberian tugas yang terlalu mudah akan menyebabkan siswa menjadi kurang termotivasi dan cenderung menyepelekan.

namun hal itu belum dimuat dan diuraikan secara rinci kar na Standar Isi hanya e mengatur Sistem Paket. Implikasi dari hal tersebut yaitu antara lain bahwa peserta didik yang pandai akan dipaksa untuk mengikuti peserta didik lainnya yang memiliki kemampuan dan kecepatan belajar standar. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).Sebagaimana diketahui bahwa Standar Isi merupakan salah satu standar dari delapa Standar n Nasional Pendidikan. beban belajar dengan SKS memberi kemungkinan untuk menggunakan cara yang lebih variati dan fleksibel sesuai dengan kemampuan. bakat. dan (2) Sistem Kredit Semester. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. yaitu seluruh peserta didik wajib menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan program belajarnya. Sistem Paket dalam Standar Isi diartikan sebag sistem penyelenggaraan program ai pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menyusun ³Panduan Penyelenggaraan SKS untuk Sekolah Menengah ¢ . Berbeda dengan Sistem Paket. Melalui SKS. yaitu: (1) Sistem Paket. penerapan SKS diharapkan bisa mengakomodasi kemajemukan potensi peserta didik. bakat. Sistem pembelajaran semacam itu dianggap kurang memberikan ruang yang demokratis bagi pengembangan potensi peserta didik yang mencakup kemampuan. Standar Isi mengatur bahwa beban belajar terdiri atas dua macam. dan minat peserta didik.´ Beban belajar dengan Sistem Paket hanya memberi satu kemungkinan. Oleh karena itu. dan minat. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam sat an jam pembelajaran. SKS dalam Standar Isi diartikan sebagai sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. peserta didik juga dimungkinkan untuk menyelesaikan program pendidikannya lebih cepat dari periode belajar yang ditentukan dalam setiap satuan pendidikan. Selengkapnya pernyataan tersebut adalah: ³Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar sistem paket pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. satu jam penugasan terstruktur. Meskipun SKS sudah disebut dalam Standar Isi.

Karena posisinya yang sentral. khususnya program layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang dipimpinnya. Ia membantu mengembangkan kebijakan dan prosedur-prosedur bagi pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahnya. kepala sekolah adalah orang yang paling berpengaruh dalam pengembangan atau peningkatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolahnya. Ikut serta dalam menetapkan dan menjelaskan peranan anggota-anggota stafnya. kepala sekolah bertanggung jawab dalam melaksanakan program-program penilaian. . sebagai berikut: 1. Menentukan staf yang memadai. penelitian dan perbaikan atau peningkatan layanan bimbingan dan konseling. Peran Kepala Sekolah dalam Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Posted on 8 Oktober 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Keberhasilan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak hanya ditentukan oleh keahlian dan ketrampilan para petugas bimbingan dan konseling itu sendiri. Sebagai supervisor. 1992) menguraikan peranan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)´. 4. Memberikan support administratif. 2. 3. Mendelegasikan tanggung jawab kepada ³guidance specialist´ atau konselor dalam hal pengembangan program bimbingan dan konseling. Dinmeyer dan Caldwell (dalam Kusmintardjo. baik segi profesinya maupun jumlahnya menurut keperluannya. namun juga sangat ditentukan oleh komitmen dan keterampilan seluruh staf sekolah. memberikan dorongan dan pimpinan untuk seluruh program bimbingan dan konseling. Sebagai administrator. terutama dari kepala sekolah sebagai administrator dan supervisor. kepala sekolah bertanggungjawab terhadap kelancaran pelaksanaan seluruh program sekolah. Secara lebih terperinci.

3. 8. Merencanakan waktu (jadwal) untuk kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling. Staff selection. 4. . 1992). Merencanakan program untuk mewawancarai murid dengan tidak mengganggu jalannya jadwal pelajaran sehari-sehari. Dari uraian di atas. para petugas penyelenggara testing. Termasuk disini mengadakan analisa untuk mengetahui apakah diantara staf yang ada terdapat orang yang sanggup melakukan tugas yang lebih spesialis. Berusaha membentuk dan menjalin hubungan kerja yang kooperatif dan saling membantu antara para konselor. Menyediakan fasilitas dan material yang cukup untuk pelaksanaan bimbingan dan konseling. dan membagi tanggung jawab. Memberikan dorongan untuk pengembangan lingkungan yang dapat meningkatkan hubungan antar manusia untuk menggalang proses bimbingan dan konseling yang efektif (dalam hal ini berarti kepala sekolah hendaknya menyadari bahwa bimbingan dan konseling terjadi dalam lingkungan secara global. Memberikan penjelasan kepada semua staf tentang program bimbingan dan konseling dan penyelenggaraan ³in-service education´ bagi seluruh staf sekolah. Sementara itu. murid-murid. murid. 7. mengemukakan peranan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah sebagai berikut: 1. termasuk hubungan antara staf dan suasana dalam kelas). Description of staff roles. dan masyarakat melalui rapat guru.5. 2. Penanggung jawab dan pemegang disiplin di sekolah dengan memberdayakan para konselor dalam mengembangkan tingkah laku siswa. baik klasikal. rapat sekolah. Memberikan dorongan dan semangat dalam hal pengembangan dan penggunaan waktu belajar untuk pengalaman-pengalaman bimbingan dan konseling. dan sebagainya. 2. Memilih staf yang mempunyai kepribadian dan pendidikan yang cocok untuk melaksanakan tugasnya. 9. Memperkenalkan peranan para konselor kepada guru-guru. Allen dan Christensen (dalam Kusmintardjo. kelompok maupun individual. Menentukan tugas dan peranan dari anggota staf. Mengadakan pembagian tugas untuk keperluan bimbingan dan konseling. orang tua murid. rapat orang tua murid atau dalam bulletin-buletin bimbingan dan konseling. Menyusun rencana untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan infomasi tentang pekerjaan/jabatan. 10. namun bukan sebagai penegak disiplin. Memilih dan menentukan para konselor. Mengembangkan sikap-sikap yang favorable di antara para guru. Menyediakan fasilitas untuk keperluan penyelenggaraan bimbingan dan konseling. dan orang tua murid/masyarakat terhadap program bimbingan dan konseling. misalnya para petugas untuk membina perpustakaan bimbingan. 5. maka dapatlah disimpulkan bahwa tugas kepala sekolah dalam pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah ádalah sebagai berikut: 1. Untuk menentukan tugas-tugas ini kepala sekolah dapat meminta bantuan kepada anggota staf yang lain. 11. 7. 6. guru dan pihak lain yang berkepentingan dengan layanan bimbingan dan konseling. 6.

kepada masyarakat yang membantu program bimbingan dan konseling. Time and facilities. (R. Metode. Teknik. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. menguatkan. Stefflre. 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha. tetapi tanggung jawab terletak pada kepala sekolah sebagai administrator. waktu dan fasilitas untuk kepentingan program bimbingan dan konseling di sekolahnya. menginsiprasi.N. (4) teknik pembelajaran. dalam Kusmintardjo. Menginterpretasikan program bimbingan dan konseling kepada murid-murid yang diberi pelayanan.3. Manajemen Layanan Khusus Sekolah. (2) strategi pembelajaran. dan (6) model pembelajaran. yaitu: . Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut. Hatch dan B. Interpretation of program. 4. di dalamnya mewadahi. Dalam menginterpretasikan program bimbingan dan konseling mungkin perlu bantuan dari staf bimbingan dan konseling. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Mengusahakan dan mengalokasikan dana. dan Model Pembelajaran Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT oleh: Akhmad Sudrajat Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. 1992) ======== Sumber: Adaptasi dari : Direktorat Tenaga Kependidikan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun. dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan. Istilahistilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran. (5) taktik pembelajaran. Dilihat dari pendekatannya. Pendekatan. (3) metode pembelajaran. Strategi. 2007.

Selanjutnya.1. Jadi. dengan penggunaan metode diskusi. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Dengan demikian. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. 3. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Artinya. R David. strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. 2008). 2. Misalkan. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran. (3) diskusi. yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya. metode dan teknik pembelajaran. strategi merupakan ³a plan of operation achieving something´ sedangkan metode adalah ³a way in achieving something´ (Wina Senjaya (2008). (5) laboratorium. (9) simposium. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai. penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri. 3. (4) simulasi. Dengan kata lain. dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Demikian pula. pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur. yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. dengan mengutip pemikiran J. (2) demonstrasi. (8) debat. perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif . bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya. Dilihat dari strateginya. diantaranya: (1) ceramah. teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. keempat unsur tersebut adalah: 1. 4. 2. Sementara itu. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 4. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. (7) brainstorming. dan sebagainya. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. (6) pengalaman lapangan. Kemp (Wina Senjaya. Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.

(3) model personalhumanistik. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran. (2) model pengolahan informasi. guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Dalam taktik ini. seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) Apabila antara pendekatan. sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor. Kendati demikian. posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut. yaitu: (1) model interaksi sosial. model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran. metode. model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru. sesuai dengan kemampuan. Jadi. tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam hal ini. Misalkan. tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. strategi. Dalam penyajiannya. Dengan kata lain.dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. metode. yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi. dan (4) model modifikasi tingkah laku. Benyamin Surasega. Untuk lebih jelasnya. terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah. kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut: . dan teknik pembelajaran. Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A.

2003. sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masingmasing. 1990. Psikologi Pendidikan. sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada caracara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah. Beda Strategi. seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif. Bandung: FPTK-IKIP Bandung. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran. kreatif dan menyenangkan. Strategi Belajar Mengajar. strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo.Di luar istilah-istilah tersebut. Wina Senjaya. maupun kriteria penyelesaiannya. Benyamin Surasega. Sumber: Abin Syamsuddin Makmun. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya. Winataputra. setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 2008. Model. rumah modern. dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas. masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Metode. Bandung: Rosda Karya Remaja. dan sebagainya). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. Pendekatan. Berdasarkan uraian di atas. jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas. yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada. Dedi Supriawan dan A. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran. Namun. sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan.wordpress. rumah gadang. sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring. yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia. 2003. mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir.com/) Materi terkait: y y y Pembelajaran Kontekstual 10 Megatrend tentang Belajar 9 Prinsip Pendidikan Orang Dewasa . Udin S.

Latar belakang Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual B. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. Pemikiran tentang belajar Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. Anak belajar dari mengalami. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil Dalam kelas kontekstual. bukan mengetahuinya. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru. 1. . Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.Pembelajaran Kontekstual Posted on 29 Januari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Depdiknas A. Maksudnya. Proses belajar y y y Belajar tidak hanya sekedar menghafal. guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Dengan konsep itu.

dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. menemukan ( Inquiri). tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. strategi belajar amat penting. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna. yakni: konstruktivisme (Constructivism). Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri. masyarakat belajar (Learning Community).y y y y Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. Transfer Belajar y y y Siswa belajar dari mengalami sendiri. 4. dan bergelut dengan ide-ide. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah. pemodelan (Modeling). Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. 2. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Strategi belajar itu penting. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. yang berasal dari proses penilaian yang benar. dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. C. Pentingnya Lingkungan Belajar y y y y Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. untuk hal-hal yang sulit. bukan dari pemberian orang lain. bertanya (Questioning). guru mengarahkan. Dari guru akting di depan kelas. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Siswa sebagai Pembelajar y y y y Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. Pengertian Pembelajaran Kontekstual . dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Umpan balik amat penting bagi siswa. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. Akan tetapi.

Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu. 5. 5. berpikir kritis. 13. 9. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. 11. khususnya dari guru. 12. 2. konteks dan setting. 11. mendengar ceramah. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. 7. 6. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. Siswa secara pasif menerima informasi. berdiskusi. Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. sosial. menggali. 14. 14. dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi. Perilaku dibangun atas kebiasaan. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan. 8. 4. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. Menyandarkan pada hafalan Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. tidak bersandar pada realitas kehidupan.1. 3. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Kontekstual 1. 6. 2. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas. 12. dan mengisi latihan (kerja individual). Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik. yang bersifat subyektif. Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. 10. 10. Menyandarkan pada pemahaman makna. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis. 9. 3. 4. atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). 13. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. 2. . 7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan. Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman. 8. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. Perilaku dibangun atas kesadaran diri. Tradisional 1.

2. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja. Questioning (Bertanya) y y Kegiatan guru untuk mendorong. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses ³mengonstruksi´ bukan menerima pengetahuan 2. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6.F. Tukar pengalaman. dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. Berbagi ide 5. Konntruktivisme y y Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. langkahnya sebagai berikut ini. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran Lakukan refleksi di akhir pertemuan Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara G. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. 3. bekerja dan belajar. 5. Reflection ( Refleksi) . Inquiry y y Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Secara garis besar. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. 4. Ciptakan masyarakat belajar. 6. bidang studi apa saja. Modeling (Pemodelan) y y Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir. dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 1. Learning Community (Masyarakat Belajar) y y y y Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4.

peta-peta. karangan siswa dan lain-lain I. Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. Dalam konteks itu. program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. gambar. Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. . Membuat jurnal. yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Atas dasar itu. Kompetensi dasar. saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. humor dan lain-lain Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa. artikel. program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran. Sekali lagi. 2. langkah-langkah pembelajaran. 1. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual y y y y y y y y y y y Kerja sama Saling menunjang Menyenangkan. dan authentic assessmennya. laporan hasil praktikum. materi pembelajaran. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. media untuk mencapai tujuan tersebut. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional). tidak membosankan Belajar dengan bergairah Pembelajaran terintegrasi Menggunakan berbagai sumber Siswa aktif Sharing dengan teman Siswa kritis guru kreatif Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) y y y Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya. sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Penilaian produk (kinerja).y y y Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Mencatat apa yang telah dipelajari. yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. karya seni. diskusi kelompok 7. yang membedakannya hanya pada penekanannya.

bahwa dalam pembelajaran harus dapat: (1) meningkatkan pemahaman dan memperbaiki proses belajar. Menurut pemikiran beliau terdapat 5 proposisi . efisien. (5) memudahkan proses internal yang belajar. (2) mendorong prakarsa belajar siswa. dan (6) menjadikan belajar lebih efektif. 6. (2) belajar dalam organisasi. asosiasi.3. dan (10) belajar bagaimana belajar. format. teknologi.10 Megatrend tentang Belajar Dalam satu kesempatan pelatihan pengawas sekolah. (9) belajar melalui sistem pendidikan kita yang akan berubah cepat untuk membantu belajar sepanjang hayat dan masyarakat belajar. terkait dengan proses pembelajaran. suka atau tidak suka kita harus mengucapkan ³Selamat Tinggal´ kepada Behaviorisme yang telah terbukti saat ini tidak lagi bisa diandalkan untuk menghadapi tantangan jaman yang serba kompleks´. Nyoman S. dan (3) konstruktivisme. (7) belajar langsung dari berpikir. (5) belajar bersama. Endang Abutarya (2007) mengetengahkan tentang 10 mega trend tentang belajar untuk saat ini dan ke depannya. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. (3) belajar berfokus pada kebutuhan nyata. Kesepuluh trend tersebut adalah: (1) belajar melalui kehidupan kita. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. Komparasi Pembelajaran Behavioristik dengan Konstr uktivistik Posted on 14 Desember 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Dalam satu kesempatan perkuliahan. yang tampaknya dalam praktik pendidikan di Indonesia saat ini masih berada di persimpangan jalan. Meski demikian. (8) belajar melalui pengajaran/pembelajaran. yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. (2) kognitivisme. Degeng dari Universitas Negeri Malang menyajikan materi tentang Pergeseran Paradigma Pendidikan dari Behavioristik ke Kontruktivistik. (6) belajar melalui multi media. institusi. dan menarik. Kini waktunya untuk menyambut dan mengucapkan ³Selamat Datang´ kepada Konstruktivisme yang tampaknya dapat memberikan harapan baru bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. jaringan. Sementara itu. Nyatakan authentic assessmentnya. Pada kesempatan pelatihan ini Endang Abutarya menjelaskan pula tentang tiga teori belajar utama: (1) behaviorisme. (3) mempreskripsikan strategi yang optimal. (4) kondisi membelajarkan siswa secara simultan. Prof. (4) belajar dengan seluruh kemampuan otak. dan gaya.

pasti. Komparasi Pembelajaran Behaviorisme dengan Konstruktivisme BEHAVIORISTIK KONSTRUKTIVISTIK Pandangan Tentang Pengetahuan. bukan hanya satu jawaban benar Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas Tekankan pada keterampilan berpikir kritis Gunakan informasi pada situasi baru Proposisi 2: Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar y y y y y y Sediakan pilihan tugas Sediakan pilihan cara memperlihatkan keberhasilan Sediakan waktu yang cukup memikirkan dan mengerjakan tugas Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya Sediakan kesempatan berpikir ulang Libatkan pengalaman konkrit Proposisi 3: Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajarnya y y Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya Berdayakan melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya.objektif. Kerja kelompok sangat berharga y y y Beri kesempatan untuk melakukan kerja kelompok Dorong untuk memainkan peran yang bervariasi Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok Berikut ini dikemukakan pula hasil analisis beliau tentang kedua aliran filsafat pendidikan tersebut. tetap Pengetahuan : non. selalu berubah Belajar: perolehan pengetahuan Belajar: pemaknaan pengetahuan . Belajar dan Pembelajaran Pengetahuan: objektif. atau lainnya Proposisi 4: Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk-kerja y y Motivasilah dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan sehari-hari dan kaitkan tugas dengan pengalaman pribadi Dorong untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil Proposisi 5: Belajar pada hakikatnya memiliki aspek sosial. cara belajar. yaitu: Proposisi 1: Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru. temporer. y y y y y Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari Dorong munculnya berpikir divergent.utama dari pandangan kontruktivisme beserta implikasinya terhadap praktik pembelajaran.

kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu DIHARGAI Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh si Pembelajar Tujuan pembelajaran me-nekankan pada penciptaan pemahaman.Mengajar: memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar Mind berfungsi sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan Si pembelajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengajar terhadap pengetahuan yang dipelajari Segala sesuatu yang ada di alam telah terstruktur. teratur. rapi. berubah. Pengetahuan juga sudah terstruktur rapi Masalah Belajar dan Pembelajaran Keteraturan Si pembelajar dihadapkan pada aturanaturan yang jelas yang ditetapkan lebih dulu secara ketat Pembiasaan (disiplin) sangat esensial Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam menambah pengetahuan dikategorikan sebagai KESALAHAN. Kitalah yang memberi makna terhadap realitas Ketidakteraturan Si pembelajar dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas Kebebasan merupakan unsur yang sangat esensial Kegagalan atau keberhasilan. yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata Seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi Pembelajaran Keterampilan terisolasi Penggunaan pengetahuan secara bermakna Mengikuti urutan kurikulum ketat Mengikuti pandangan si Pembelajar Aktivitas belajar mengikuti buku teks Aktivitas belajar dalam konteks nyata Menekankan pada hasil Menekankan pada proses Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi Respon pasif Penyusunan makna secara aktif Menuntut satu jawaban benar Menuntut pemecahan ganda Evaluasi merupakan bagian terpisah dari Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar . dan tidak menentu. HARUS DIHUKUM Keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas dipuji atau diberi HADIAH Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar diri si Pembelajar Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan Mengajar: menggali makna Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik Si pembelajar bisa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari Segala sesuatu bersifat temporer.

1996: 7). Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkon struksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. 1999: 61). Selanjutnya. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri -ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Sedangkan. Misalnya. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalu asimilasi dan akomodasi. melainkan melalui tindakan. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Sedangkan. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak -seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. i Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. 1988: 132). akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Bahkan. . sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif.belajar Teori Belajar Konstruktivisme Posted on 20 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh: Hamzah *) A.

(2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap -tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Marilyn dan Tony. Driver dan Bell (dalam Susan. melainkan seperangkat pembelajaran. 1999: 62). materi. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir y ang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Dari pengertian di atas. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan ske mata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. 1998: 5). 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). pengelompokan. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. setiap manusia akan mengalami urutan -urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis . Maksudnya. dan sumber. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Selain itu.Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. pengekalan. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. (4) pembelajar n bukanlah transmisi a pengetahuan. (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi.

Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegr sikan ide yang a mereka miliki. (2)memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan . Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. (3) strategi siswa lebih bernilai. Kedua. untuk mempelajari suatu materi yang baru. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Dengan kata lain. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Ar tinya. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. Oleh karena itu. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi penge tahuan pada diri peserta didik. Kedua adalah pentingya me mbuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Sehubungan dengan hal di atas. Pertama. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. B. fasilitor.

maka biasanya digunakn sistem jembatan keledai atau istilah asingnya mnemonic. melainkan untuk memahami prinsip -prinsip Pendidikan Orang Dewasa (atau yang biasa disingkat POD) yang dapat diterima. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. menyajikan sessi secara efektif dan . (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. dan biasanya diterapkan pada situasi kelas formal atau untuk sistem on the job training (magang). Tulisan dimaksudkan bukan untuk menganalisa teori yang ada dibalik Pendidikan Orang Dewasa. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Dari beberapa pandangan di atas. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan training (pelatihan) dan pendidikan.imajinatif. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan kata lain. tetapi secara umum diterima sebagai suatu perubahan perilaku. Supaya kita mudah mengingatnya (9 prinsip tersebut). M. tetapi satu hal yang membedakan adalah prinsip-prinsip POD lebih dikenal secara luas. karena memungkinkan Anda (pelatih) untuk menyiapkan satu sessi secara tepat dan memadai. Tiap bentuk pelatihan sebaiknya memuat sebanyak mungkin 9 prinsip yang tersebut di bawah ini. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. R A M P 2 = F A M = E = Excercise = = = = 2 = = Multi ± Active Sense ± Way Recency Appropriateness Motivation Primacy Communication Feedback Learning Learning Prinsip-prinsip ini dalam berbagai cara sangat penting. Hamzah. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar 9 Prinsip Pendidikan Orang Dewasa Posted on 15 Februari 2009 by AKHMAD SUDRAJAT ³Pendidikan´ mempunyai banyak pengertian. Prinsip prinsip yang disajikan di sini pada dasarnya sama dengan yang dikembangkan pada beberapa pelatihan yang menggunakan metode instruksional. yaitu RAMP 2 FAME.Ed. *) Dr.

Pertama. studi kasus -studi kasus. alat-alat bantu yang dipakai. Ini menunjukkan dua pengetian yang terpisah di dalam pendidikan. R ± RECENCY Hukum dari Recency menunjukkan kepada kita bahwa sesuatu yang dipelajari atau diterima pada saat terakhir adalah yang paling diingat oleh peserta/ partisipan. contoh-contoh atau ilustrasi-ilustrasi yang akrab (familiar) dengan peserta. Kedudukannya sama dalam satu kaitan antar hubungan. Peserta akan mudah kehilangan motivasi jika pelatih gagal dalam mengupayakan agar materi relevan dengan kebutuhan mereka. berkaitan dengan isi (materi) pada akhir sessi dan kedua berkaitan dengan sesuatu yang ³segar´ dalam ingatan peserta. Pada aplikasi kedua. mengindikasikan kepada pelatih untuk membuat rencana kaji ulang (review) per bagian di setiap presentasinya. Selain itu. informasi. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai appropriatness : y y Pelatih harus secara jelas mengidentifikasi satu kebutuhan bagi peserta agar mengambil bagian dalam pelatihan. Akhir dari tiap sessi merupakan suatu yang penting. Pada aplikasi yang pertama. dan material-material lainnya harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta/partisipan. tidak lebih dari 20 menit (jika itu memungkinkan). Gunakan deskripsi. Penting untuk dicatat bahwa prinsip-prinsip ini tidak disajikan dalam satu urutan. baik itu pelatihan. M: MOTIVATION (motivasi) . Sessi yang lebih panjangsebaiknya dibagi-bagi ke dalam sessi-sessi yang lebih pendek dengan beberapa jeda sehingga anda dapat membuat ringkasan. juga memungkinkan anda melakukan evaluasi untuk sessi tersebut. Dengan kebutuhan yang teridentifikasi. Buatlah ringkasan/rekap dari keseluruhan sessi dan beri penekanan pada pesan-pesan atau poin-poin kunci.efisien. pelatih harus secara terus menerus memberi kesempatan kepada peserta untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara informasiinformasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah diperolah peserta. Upayakan agar peserta/partisipan tetap ³sadar´ kemana arah dan perkembangan dari belajar mereka A : APPROPRIATENES (Kesesuaian) Hukum dari appropriatenes atau kesesuaian mengatakan kepada kita bahwa secara keseluruhan. Mari kita coba lihat ide-ide yang melatarbelakangi istilah RAMP 2 FAME. penting bagi pelatih untuk membuat ringkasan (summary) sesering mungkin dan yakin bahwa pesan-pesan kunci/inti selalu ditekankan lagi di akhir sessi. Faktor-faktor untuk pertimbangan tentang recency y y y Usahakan agar tiap sessi yang diberikan berjangka waktu yang relatif pendek. sehingga kita dapat menghilangkan kekhawatiran tentang sesuatu yang masih samar atau tidak diketahui. harus sering diringkas (direkap). Jika sessi lebih dari 20 menit. pelatih harus yakin bahwa sehala sesuatu yang berhubungan dengan sessi sesuai dengan kebutuhan tersebut.

tidak hanya bagi pelatih Yang harus termotivasi bukan hanya peserta tetapi juga pelatih itu sendiri. Sebaiknya sekitar 20 menit seperti yang disarankan dalam hukum recency. poin-poin kunci berkembang dan juga informasi-informasi lain yang berkaitan. upayakan sessi-sessi diberikan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Yakinkan peserta akan memperoleh hal-hal yang tepat pada saat anda pertama kali meminta mereka melakukan sesuatu 2 : 2. kita akan secara pasti akan kehilangan motivasi peserta. Seperti yang anda ketahui bahwa sebagian banyak peserta akan mendengarkan. pelatih suatu ketika perlu mengidentifikasi satu kebutuhan kenapa peserta datang ke pelatihan. dia harus siap untuk belajar. Selama sessi berjalan. dan harus punya alasan untuk belajar. Hal yang termasuk dalam hukum primacy adalah fakta bahwa pada saat peserta ditunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu. Jika kita gagal menggunakan hukum kesesuaian (appropriateness) tersebut dan mengabaikan untuk membuat material relevan. Usahakan agar peserta selalu ³sadar´ arah dan perkembangan dari belajarnya. Pelatih menemukan bahwa jika peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar atau rasa keinginan untuk berhasil.Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya keinginan untuk belajar. dia akan lebih baik dibanding yang lainnya dalam belajar. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai motivasi: y y y y Material harus bermakna dan berharga bagi peserta. pelatihan mungkin akan tidak menarik dan bahkan tidak mencapai tujuan yang diinginkan. mereka harus ditunjukkan cara yang benar di awalnya. demikian pula dengan kesan pertama atau serangkaian informasi yang diperoleh dari pelatih betul-betul sangat penting. Seperti yang disebutkan dalam hukum kesesuaian (appropriateness). Pertama-tama karena motivasi dapat menciptakan lingkungan (atmosphere) belajar menjadi menye-nangkan. Permulaan sessi anda akan sangat penting. dan oleh karena itu buatlah semenarik mungkin dan beri muatan informasi-informasi penting ke dalamnya. Untuk alasan ini. ada praktek yang bagus yaitu dengan memasukkan seluruh poin-poin kunci pada permulaan sessi. P : PRIMACY (Menarik Perhatian di awal sessi) Hukum dari primacy mengatakan kepada kita bahwa hal-hal yang pertama bagi peserta biasanya dipelajari dengan baik. Sebab jika pelatih tidak termotivasi. Secara perlahan-lahan bangun dan hubungkan poin-poin bersama sehingga setiap tahu kemana arah mereka di dalam proses pelatihan. Awali sessi dengan hal-hal atau poin-poin yang sudah akrab atau familiar bagi peserta. Pelatih biasanya dapat menciptakan motivasi dengan mengatakan bahwa sessi ini dapat memenuhi kebutuhan peserta. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai primacy: y y y y Sekali lagi.WAY COMMUNICATION (Komunikasi 2 arah) . Alasan untuk ini adalah bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk ³tidak mengajari´ peserta pada saat mereka membuat kesalahan di permulaan latihan. Bergeraklah dari sisi tahu ke tidak tahu.

sebut atau umumkan itu (di hadapan kelompok/peserta lain jika itu mungkin). Waspada juga bahwa terlalu banyak penguatan negatif mungkin akan menjauhkan kita memperoleh respon yang kita harapakan. kita mempunyai kesempatan yang jauh lebih besar agar mereka mengubah perilakunya seperti yang kita kehendaki.Hukum dari 2-way-communication atau komunikasi 2 arah secara jelas menekankan bahwa proses pelatihan meliputi komunikasi dengan peserta. seperti yang dipercaya banyak orang. Persiapkan penyajian anda sehingga ada penguatan positif yang terbangun di awal sessi. baik fasilitator dan peserta membutuhkan informasi satu sama lain. dan sebaliknya peserta juga membutuhkan umpan balik sesuai dengan penampilan/kinerja mereka. Umpan balik positif hanya setengah dari itu dan hampir tidak bermanfaat tanpa adanya umpan balik negatif Pada saat peserta berbuat atau berkata benar (misal menjawab pertanyaan). . Tes bisa juga meliputi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan fasilitator secara berkala mengenai kondisi kelompok Semua umpan balik tidak harus berupa yang positif. Ingatkah satu peribahasa yang mengatakan ³Belajar Sambil Bekerja´ ? Ini penting dalam pelatihan orang dewasa. mereka harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka sesegera mungkin. F: FEEDBACK (Umpan Balik) Hukum dari feedback atau umpan balik menunjukkan kepada kita. Jika kita menghargai peserta (penguatan yang positif) untuk melakukan hal-hal yang tepat. Jika anda ingin memerintahkan kepada peserta agar menulis laporan. Rencana sessi anda sebaiknya memiliki interaksi dengan siapa itu dirancang. Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai feedback: y y y y y y y Peserta harus diuji (dites) secara berkala untuk umpan balik bagi fasilitator Pada saat peserta dites. bukan pada mereka. jangan hanya memberitahu mereka bagaimana itu harus dibuat tetapi berikan kesempatan agar mereka melakukannya. Perhatikan betul-betul peserta yang memberi umpan balik positif (berbuat betul) sama halnya kepada mereka yang memberi umpan balik negatif (melakukan kesalahan). Fasilitator perlu mengetahui bahwa peserta mengikuti dan tetap menaruh perhatian pada apa yang disampaikan. Penguatan juga membutuhkan umpan balik. tetapi yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara pelatih/fasilitator dan peserta/partisipan. A : ACTIVE LEARNING (Belajar Aktif) Hukum dari active learning menunjukkan kepada kita bahwa peserta belajar lebih giat jika mereka secara aktif terlibat dalam proses pelatihan. yaitu tak lain adalah peserta. Berbagai bentuk penyajian sebaiknya menggunakan prinsip komunikasi 2 arah atau timbal balik. Ini tidak harus bermakna bahwa seluruh sessi harus berbentuk diskusi. Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai 2-way communication: y y Bahasa tubuh anda juga berkaitan dengan komunikasi 2 arah: anda harus merasa yakin bahwa itu tidak bertentangan dengan apa yang anda katakan.

Latihan juga menyangkut intensitas. EXERCISE (Latihan) Hukum dari latihan mengindikasikan bahwa sesuatu yang diulang-ulang adalah yang paling diingat.sense learning mengatakan bahwa belajar akan jauh lebih efektif jika partisipan menggunakan lebih dari satu dari kelima inderanya. lalu menunjukkan diagram/overhead. kemungkinan mereka akan mengantuk /kehilangan perhatian. Yang terbaik adalah jika pelatih menambah latihan atau mengulangi pelajaran dengan mengulang informasi dalam berbagai cara yang berbeda. menunjukkan produk yang sudah jadi dan akhirnya minta kepada peserta untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. oleh karena itu prinsip belajar aktif ini akan membantu mereka supaya tidak jenuh. kita dapat meningkatkan kemungkinan mereka semakin mampu mengingat informasi yang sudah diberikan. Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai active learning: y y y y Gunakan latihan-latihan atau praktek selama memberikan instruksi Gunakan banyak pertanyaan selama memberikan instruksi Sebuah kuis cepat dapat digunakan supaya peserta tetap aktif Jika memungkinkan. Jika anda memberitahu trainee mengenai satu tipe baru sandwich mereka mungkin akan mengingatnya. Mungkin pelatih dapat membicarakan mengenai suatu proses baru. Faktor-faktor untuk pertimbangan dalam exercise: . 450 SM) E. Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai multiple-sense learning: y y y Jika anda memberitah/mengatakan sesuatu kepada peserta. biarkan peserta melakukan apa yang ada dalam instruksi Jika peserta dibiarkan duduk dalam jangka waktu lama tanpa berpartisipasi atau diberi pertanyaan-pertanyaan. tak ada jalan bagi mereka untuk melupakannya. tetapi jangan sampai lupa sasaran yang ingin dicapai Ketika menggunakan multiple-sense learning. dan dan dan saya saya saya lupa ingat paham Saya dengar Saya lihat Saya lakukan (Confusius. Jika anda membiarkan mereka menyentuh. M : MULTIPLE -SENSE LEARNING Hukum dari multi. anda harus yakin bahwa tidak sulit bagi kelompok untuk mendengarnyaa.Keuntungan lain dari ini adalah orang dewasa umumnya tidak terbiasa duduk seharian penuh di ruangan kelas. cobalah untuk menunjukkannya dengan baik Gunakan sebanyak mungkin indera peserta jika itu perlu sebagai sarana belajar mereka. Dengan membuat peserta melakukan latihan atau mengulang informasi yang diberikan. melihat dan menyentuh apapun yang anda inginkan. mencium dan merasakannya dengan baik. Hukum dari latihan juga mengacu pada pengulangan yang berarti atau belajar ulang.

baik dalam ruang kelas atau sistem magang. Buatlah selalu ringkasan saat menyimpulkan sessi Buat peserta selalu ingat secara berkala apa yang telah sidajikan sedemikian jauh dalam presentasi Sering disebutkan bahwa tanpa beberapa bentuk latihan. . Prinsip-prinsip ini dapat digunakan kepada anak-anak dan remaja sebaik kepada orang dewasa. temperamen. personalitas. dan keterampilan (skills). jika tidak keseluruhan-nya. kepribadian. peserta akan melupakan 1/4 dari yang mereka pelajari dalam 6 jam. dan sekitar 9 % dalam 6 minggu. semakin mereka mengingat informasi yang diberikan Dengan memberikan pertanyaan berulang-ulang kita meningkatkan latihan Peserta harus mengulang latihannya sendiri. Sebaliknya. berperilaku. budi pekerti. perilaku (behaviors). Adapun berkarakter adalah berkepribadian. Pada saat anda merencanakan satu sessi. sifat. Instruksi yang efektif harus menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip ini. mungkin perlu suatu revisi (perbaikan). orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. lihat keseluruhan draft untuk meyakinkan bahwa prinsip-prinsip telah digunakan dan jika tidak. 2008). kejam. watak´. Kesimpulan Prinsip-prinsip dari belajar berkaitan kepada pelatihan dan pendidikan. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti ³to mark´ atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes). Prinsip-prinsip tersebut digunakan di seluruh sektor/area. perilaku. tabiat. bertabiat. hati. tetapi mencatat tidak termasuk di dalamnya Ringkaslah sesering mungkin karena ini bentuk lain dari latihan. sehingga orang yang tidak jujur. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY. rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.y y y y y y Semakin sering trainee mengulang sesuatu. jiwa. motivasi (motivations). dan berwatak´. 1/3 dalam 24 jam. bersifat. Sumber : Diambil dari Bahan TOT Pemberdayaan Komite Sekolah. 2006 Konsep Pendidikan Karakter Posted on 15 September 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah ³bawaan.

and act upon core ethical values. etika. rela berkorban. adil. tabah. hidup sehat. produktif. pemberani. dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru. disiplin. and then do what they believe to be right. cinta ilmu. Dalam pendidikan karakter di sekolah. yaitu isi kurikulum. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal hal yang terbaik terhadap Tuhan YME. dinamis. yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif. teliti. berhati -hati. sosial. (2004). termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri. it is clear that we want them to be able to judge what is right. menepati janji.D. antisipatif. pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler. menghargai waktu. berinisiatif. emosi dan motivasinya (perasaannya). ulet/gigih. berpikir positif. ramah. Di samping itu. kreatif dan inovatif. bersahaja. pemaaf. kritis. tertib. dapat dipercaya. pengabdian/dedikatif. lingkungan. Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph. sabar. care deeply about what is right. setia. inisiatif. even in the face of pressure from without and temptation from within´. yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. logis. pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Guru membantu membentuk watak . sesama. bekerja keras. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul. care about. kesadaran atau kemauan. berhati lembut. tekun.Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya. visioner. rasional. jujur. percaya diri. dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan. bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran. bertanggung jawab. pengendalian diri. malu berbuat salah. emosional. terbuka. penanganan atau pengelolaan mata pelajaran. hemat/efisien. proses pembelajaran dan penilaian. pemberdayaan sarana prasarana. pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: ³character education is the deliberate effort to help people understand. dirinya. pengelolaan sekolah. sportif. When we think about the kind of character we want for our children. mandiri. pembiayaan. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan. rendah hati. bersemangat. dan perilaku). dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. analitis. cinta keindahan (estetis). Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai ³the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development´.

Oleh karena itu.peserta didik. keadilan dan kepemimpinan. ada perbedaanperbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. baik dan rendah hati. dan cinta persatuan. konatif. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya. apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. berani. yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri. adil. lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Menurut T. cara guru berbicara atau menyampaikan materi. yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang. kondisi. bagaimana guru bertoleransi. dan masyarakat) dan berlangsung . afektif. seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak. Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010). kewarganegaraan. gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Ramli (2003). tanggung jawab. dalam rangka membina kepribadian generasi muda. dan pendekatan klarifikasi nilai. kasih sayang. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia. dan pantang menyerah. yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan. warga masyarakat yang baik. tanggung jawab. dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa. secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu. tekun. cinta damai. dan berbagai hal terkait lainnya. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti. pendekatan analisis nilai. supaya menjadi manusia yang baik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru. kerja keras. peduli. Namun demikian. dan punya integritas. percaya diri. seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. rasa hormat dan perhatian. Oleh karena itu. yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya). Berhubungan dengan pendekatan. yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik. toleransi. peduli. Menurut para ahli psikolog. dan lingkungan sekolah itu sendiri. Adapun kriteria manusia yang baik. hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai. hormat dan santun. sekolah. kreatif. jujur. Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. dan kerjasama. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatanpendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat. dan warga negara yang baik. secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif. jujur. warga masyarakat. dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga. ketulusan. visioner. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional. disiplin. Bahkan di kota-kota besar tertentu.

sebuah pencerahan dibalik sekian banyak PR pendidikan nasional kita««} Ketika sebuah negara seperti Indonesia sedang terpuruk. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) . ada enam teori yang banyak digunakan. Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. dan afeksi. pendekatan klarifikasi nilai. 2010. diri sendiri. pendekatan afektif. Jakarta Rate This {Sebuah pengantar menarik dari penyelenggaraan simposium pendidikan yang diselenggarakan oleh National Integration Movement (NIM). kognisi. hampir semua sepakat untuk menyoroti Pendidikan sebagai salah satu biang keladi utama.sepanjang hayat. pendekatan pertimbangan. lingkungan. tata krama. apakah semua sudah sepakat dan sepaham tentang apa itu Pendidikan? Apakah Pendidikan itu sama . Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut. Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. budaya. dan pendekatan perilaku sosial. (1980). yaitu: pendekatan pengembangan rasional. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi. Tapi. dan adat istiadat. sesama manusia. sikap. hukum. Olah Pikir (intellectual development). perkataan. yakni: perilaku. dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran. perasaan. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas. Menurut Hersh. di antara berbagai teori yang berkembang. et. yakni: pendekatan kognitif. dan pendekatan perilaku. ============= Sumber diambil dari: Kemendiknas. Berbeda dengan klasifikasi tersebut. dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama. pendekatan pengembangan moral kognitif. al.

Sayangnya. untuk bisa membangun suatu bangsa yang kuat diperlukan orang yang tidak hanya berintelektual tinggi. Kenapa? Karena dengan bersekolah di sekolah favorit maka kemungkinan besar. Dan. peran otak kiri. Dari pendidikan yang disisipi indoktrinasi pemahaman tertentu sampai pendidikan disamakan dengan sekedar transfer Ilmu Pengetahuan semata. Selain itu. pada keberhasilan seseorang dalam mencapai kesuksesan hanya 4%. tetapi juga peka terhadap kondisi yang terjadi. Diperparah pula oleh timbulnya perda-perda syariat yang seakan melegalisir pemisahan bagi para siswa di sekolah. hasilnya adalah konflik antar agama.seperti ketrampilan atau keahlian di sebuah bidang tertentu? Apakah Pendidikan itu berarti paham pemikiran logika dan sistematis. masalah pendidikan sudah sangat pelik. pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan otak kanan kurang diperhatikan di Indonesia. Oleh karena itu. yang berkaitan dengan logika dan intelektual. Jadi apakah pendidikan itu? Sistem pendidikan seperti apakah yang cocok diterapkan di Indonesia ini? Pendidikan bukanlah (hanya) transfer of knowledge Ada sebuah penelitian di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa. Dari kurangnya komitmen politik pemerintah untuk memenuhi anggaran pendidikan minimal 20% dari total anggaran pendapatan dan belanja negara sesuai amanat Undang-Undang Dasar sampai ditudingnya Departemen Pendidikan sebagai salah satu sarang utama korupsi. bangsa Indonesia pun memerlukan orang yang punya kebijaksanaan tinggi untuk dapat menghadapi segala persoalan dengan tepat. Hal ini patut disesalkan karena dikhawatirkan kelak anak-anak tersebut tidak mampu mengapresiasi keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini. Pendidikan bukanlah hanya untuk orang kaya saja Sekolah favorit selalu menjadi incaran orangtua murid untuk menyekolahkan anaknya di sana. Dari mewah fasilitas sekolah dan mahalnya biaya pendidikan sampai begitu banyaknya bangunan sekolah yang hampir roboh dimakan usia atau korupsi. Padahal. Tapi pola pendidikan ideal seperti ini sangat langka di Indonesia yang cenderung lebih mengarah pada transfer of knowledge daripada pendidikan dalam arti membimbing seorang anak didik menjadi manusia yang mengenal dirinya sendiri tapi peka terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan sekitar dirinya. yang hanya mengandalkan fungsi otak kiri saja? Apakah Pendidikan hanyalah sebuah sarana untuk mendapatkan Ijazah formal dan pekerjaan agar dapat membiayai diri sendiri (dan keluarga) untuk hidup layak? Di Indonesia. Porsi terbesar untuk mencapai kesuksesan yakni 96% didominasi peran otak kanan yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. sang . Keseimbangan antara fungsi otak kiri dan otak kanan sangat ditentukan oleh pola pendidikan jenis apakah yang diterima seorang murid. Pendidikan bukanlah Indoktrinisasi Pemahaman Di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan yang didirikan oleh lembaga-lembaga agama dengan tujuan secara langsung maupun tidak langsung untuk menanamkan doktrin-doktrin agama dalam benak anak didik dari usia muda. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat keberagaman bagi umat manusia. pengembangan emosi dan kepribadian yang dapat menuntun seseorang menjadi manusia arif dan bijaksana menjadi terlalaikan. konflik horisontal antar kelompok masyarakat hanya karena berbeda dengan dirinya. malah menjadi kutukan dan penyebab perang di antara umat manusia.

Program Televisi (TV) yang tidak mendidik Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006. Prinsip dasar dalam pendidikan Taman Siswa yang sudah tidak asing di telinga kita adalah: 1. program-program TV negara ini dipenuhi hal-hal berbau klenik. bertikai dengan kekerasan karena berbeda. Jadi apakah kita berpendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Bila jawabannya tidak. Solusi : Pendidikan Holistik berbasis budaya Nusantara Pendidikan holistik adalah pendidikan yang bertujuan memberi kebebasan anak didik untuk mengembangkan diri tidak saja secara intelektual. hanya orang-orang kaya saja yang mampu menyekolahkan anak-anaknya di sana karena banyak juga perusahaan yang hanya mau mempekerjakan para lulusan dari sekolah -sekolah favorit saja. TV telah menjadi salah satu media yang paling mudah memberikan informasi kepada masyarakat dan mendidik masyarakat." Bila sekarang Pendidikan Barat memperkenalkan istilah PQ. Sehingga tidak mengherankan bila masyarakat kita mudah sekali ditipu oleh sms-sms berhadiah karena ingin cepat kaya (budaya instan).86%. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama) . budaya instan. sila ke-2 dari Pancasila. akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. dll. Mewujudkan manusia merdeka seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara. "Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain. menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang berumur lebih dari 10 tahun menonton televisi adalah sebanyak 85. Sembah Rasa dan Sembah Cipta dari karya agung Kitab Wedhatama karya KGPA Mangkunegara IV sejak abad ke-19 Pendidikan yang baik akan menempa seorang siswa agar mampu hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan sebenarnya. kekerasan. tapi Budaya Nusantara mengenal istilah Sembah Raga.46% yang membaca surat kabar. oleh iklan-iklan yang menimbulkan keinginan berbelanja barang-barang yang tidak diperlukan (konsumtif). pola hidup konsumtif. Dan. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh) 2. tapi cukup mengembangkan sistem pendidikan nasional yang mampu membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya. dan mudah dibodohkan oleh cerita-cerita gaib ilmu perdukunan.murid akan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak di masyarakat dan menjadi kaya. Celakanya. pendiri Perguruan Taman Siswa. IQ. Pola pikiran seperti ini hanya menimbulkan ekses-ekses bahwa hanya orang kaya saja yang mampu mendapatkan pendidikan.26% yang mendengarkan radio dan 23. negara Indonesia tidak perlu mengadopsi kurikulum pendidikan bangsa lain. SQ. EQ. dibandingkan 40. yang belum tentu cocok diterapkan di Indonesia. tapi juga memfasilitasi perkembangan jiwa dan raga secara keseluruhan sehingga tercipta manusia Indonesia yang berkarakter kuat yang mampu mengangkat harkat bangsa. Salah satunya adalah Pelajaran Budi Pekerti seperti yang pernah diterapkan dalam kurikulum nasional oleh Bapak Ki Hajar Dewantara. Jelas ini bertentangan dengan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. perdukunan. Bapak Pendidikan Nasional. tapi kenyataannya bahwa banyak sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas dan kelas ketrampilan tambahan menjadi sekolah-sekolah favorit walaupun bertarif sangat mahal.

generasi penerus bangsa. Inilah pendidikan holistik berbasis budaya Nusantara yang perlu dikembalikan semangat dan kearifannya bagi pendidikan siswa-siswa. .3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan dorongan).