You are on page 1of 6

Umbul Wadon dan tragedi pengelolaan sumberdaya milik bersama

Oleh : Yuli Nugroho1

Air yang juga dikenal sebagai “emas biru” saat ini bukanlah barang yang murah,

mudah, dan bisa setiap saat diperoleh oleh siapa saja. Kesulitan petani untuk mengairi

sawahnya di pedesaan, sama sulitnya dengan penduduk perkotaan memperoleh air

untuk keperluan sehari-hari (masak, minum, mencuci, mandi, dan sebagainya). Belum

lagi bila melihat kualitas air (rasa, warna, pH) yang sudah banyak menurun, baik

sewaktu keluar dari sumbernya, maupun (apalagi) ketika sampai di tangan konsumen

karena pencemaran selama di perjalanan.

Bahkan tidak jarang, kompleksnya permasalahan air telah menyebabkan

terjadinya konflik antara para pihak yang berkepentingan, sebagaimana yang terjadi di

Umbul Wadon akhir-akhir ini. Konflik ini berakar dari tidak disepakatinya Amdal (Analisis

mengenai dampak lingkungan) yang ditetapkan tahun 1999 yang lalu, khususnya

berkaitan dengan prosentase penggunaan dan pembagian air Umbul Wadon.

Sebagaimana diketahui, Amdal 1999 menyarankan prosentase pengambilan air Umbul

Wadon adalah 35% untuk air minum, 15% untuk konservasi, dan 50% untuk irigasi.

Namun demikian hasil pengukuran Dinas PPPBA (Pengairan, Pertambangan, dan

Penanggulangan Bencana Alam) Kabupaten Sleman tanggal 4 Desember 2003

menunjukkan pengambilan air minum dari Umbul Wadon mencapai angka 270,54 liter

per detik atau 75,8% dari debit yang ada, yang berarti jauh di atas yang dijatahkan

sebanyak 35% (Kompas, 24 April 2004).

Pengambilan atau eksploitasi air minum yang melebihi jatah tersebut telah

mengakibatkan berkurangnya jatah air untuk irigasi dan konservasi. Dalam bahasa

seorang petani di Dusun Panguk, Umbulharjo, Cangkringan berkurangnya air irigasi

1
Yuli Nugroho, Direktur Eksekutif Yayasan Damar – Yogyakarta <yuli_nugroho@hotmail.com>.

Tesis Hardin tersebut menggambarkan akan terjadinya kerusakan lingkungan bila banyak pihak menggunakan sebuah sumberdaya yang terbatas secara bersama- sama. Bila penggembala yang lain juga punya pandangan serupa. Catatan Dinas PPPBA menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir penurunan debit air Umbul Wadon mencapai 35. karena dia dapat mengambil manfaat langsung berupa rumput di padang penggembalaan tersebut. 2 telah menyebabkan petani.54 liter per detik pada 4 Desember 2003 (Kompas. maka suatu saat akan terjadi kelebihan pengambilan rumput (overgrazing) pada padang penggembalaan yang . sementara resiko kerusakan padang pengembalaan akan ditanggung bersama dengan pengembala lain. Penggembala yang ‘rasional’ akan terdorong untuk terus menambah jumlah ternaknya. hutan. Untuk mendukung tesis tersebut. Tragedi pengelolaan sumberdaya milik bersama Tesis tragedi pengelolaan sumberdaya milik bersama (tragedy of the common) pertama kali dikenalkan oleh Garret Hardin pada tahun 1968. tidak hanya gagal panen. tetapi gagal tanam karena air untuk mengairi sawah tidak cukup. udara. Tesis ini merujuk pada suatu kerusakan lingkungan sebuah sumberdaya alam milik bersama (laut. Sumberdaya tersebut rentan terhadap eksploitasi yang berlebihan karena tidak dimiliki orang per orang sehingga tidak seorangpun yang punya kepedulian untuk melindunginya (Acheson 1989 dalam Lubis 2000). dari 573. Hardin mengilustrasikan situasi sebuah padang penggembalaan yang “terbuka bagi semua orang”. 30 April 2004).7 %. Padahal mereka tinggal di lereng Gunung Merapi yang menyediakan air bagi ribuan masyarakat di seluruh Yogya (Kompas. 23 April 2004). Dan kurangnya perhatian untuk konservasi daerah tangkapan air Umbul Wadon juga telah menyebabkan turunnya debit air.5 liter per detik pada 9 Desember 1998 menjadi 368. dan sebagainya) akibat eksploitasi yang berlebihan. sungai.

Tesis Hardin tersebut kiranya bisa diterapkan untuk melihat kasus Umbul Wadon yang menjadi polemik akhir-akhir ini. menyebabkan semakin menurunnya jumlah debit air dari waktu ke waktu. menurut Hardin (1968 dalam Ostrom 1990:2) akan terjadi sebuah tragedi. Pada situasi inilah. Kecamatan Cangkringan. sampai sekarang mata air tersebut masih tetap dimanfaatkan. OPAB (Organisasi Pengurus Air Bersih) dan masyarakat sekitar. khususnya untuk memenuhi kebutuhan akan air minum dan irigasi untuk pertanian. Belum lagi dengan pelanggan lain. Kurangnya upaya konservasi dan semakin banyaknya pengambilan air. tahun 2002 mempunyai jumlah pelanggan rumah tangga sebanyak 17. intansi pemerintah. dan Ngemplak.293. 15% untuk . Umbul Wadon juga menjadi sumber irigasi bagi sawah ribuan petani di 3 Kecamatan. Umbul Wadon yang terletak di Desa Umbulharjo. dimana setiap orang (baca: penggembala) terkunci pada sebuah sistem yang mendorong dia (mereka) untuk meningkatkan pengambilan tanpa batas. Kabupaten Sleman bersumber dari Kali Kuning di lereng Gunung Merapi. 3 luasnya tetap dan terbatas tersebut. Sumber air ini mempunyai debit air sekitar 450 liter per detik (pada musim kemarau) sampai 650 liter per detik (pada musim hujan). dan niaga (Kompas. PD Arga Jasa. PDAM Sleman yang mengandalkan dari Umbul Wadon misalnya. sejak semula juga terjadi di Umbul Wadon. pada sebuah sumberdaya yang terbatas. Namun demikian. Pakem. Untuk air minum sendiri setidaknya ada 5 pihak yang mengambil air dari Umbul Wadon. yaitu PDAM Sleman. Seperti halnya untuk air minum. PDAM Tirtamarta Kota. Rekomendasi prosentase penggunaan dan pembagian air Umbul Wadon menurut Amdal 1999 (35% untuk air minum. hidran umum. Ada ribuan pelanggan yang pemenuhan kebutuhan sehari-hari akan air bersih menggantungkan dari Umbul Wadon ini. yaitu Cangkrigan. 7 Juni 2004). Kasus penggembala dan padang penggembalaan-nya Hardin. Sumber dan debit air yang terbatas harus memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dari banyak pihak. seperti lembaga sosial.

PDAM Sleman melakukan hal tersebut dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat. 23 Maret 2004). Perlunya aksi bersama Untuk mengatasi permasalahan dan konflik di Umbul Wadon. Pada prakteknya. khususnya antara masyarakat dengan PDAM. Ratusan petani dari Cangkringan dan Pakem mengeluh sudah tiga tahun terakhir mereka tidak dapat menanam padi karena tiadanya irigasi dari Kali Kuning. “Mereka (PDAM) hanya berpikir mengeruk untung sebanyak-banyaknya saja. Desa Hargobinangun. 24 April 2004). 4 konservasi. dan PD Arga Jasa dikurangi antara 45 – 70 % dari sebelumnya (Kompas. tetapi tidak peduli dengan rakyat kecil” (Kompas. bahkan dengan “melanggar aturan” berupa pemasangan pipa by pass yang tidak melalui alat penghitung air. 28 Mei 2004). Air yang semula mempunyai banyak fungsi. Dan kurangnya upaya konservasi juga telah menyebabkan posisi muka air tanah di seputar Merapi cenderung turun karena berkurangnya daerah tangkapan air (Kompas. Kecamatan Pakem. 30 April 2004) Pengambilan air minum yang berlebihan (melebihi 35 % yang dijatahkan) telah menyebabkan berkurangnya air untuk irigasi dan konservasi. pada kasus ini menjadi tidak lebih hanya sebagai komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini antara lain dilakukan dengan membongkar pipa-pipa yang tidak melalui alat penghitung air. jatah air minum untuk PDAM Sleman. Dengan penertiban ini. karena pengambilan yang berlebihan oleh PDAM (Kompas. Untuk . PDAM Tirtamarta. masing-masing pihak secara rasional berusaha mengambil air sebanyak-banyaknya. Dalam bahasa Budi Atmodjo. dan 50% untuk irigasi) hanya berlaku di atas kertas. Dinas PPPBA Kabupaten Sleman melakukan penertiban pengambilan air dan menyesuaikan dengan rekomendasi Amdal 1999. seorang petani dari Dusun Panggeran. Hal ini disebabkan oleh semakin sedikitmya air dari Umbul Wadon.

Yogyakarta. Dan bila ini yang terjadi. (2) perlunya sebuah mekanisme untuk menjamin ditaatinya pengaturan pengambilan dan penggunaan sumber air tersebut oleh para pihak. yang berbeda dengan rasionalitas individu sebagaimana terdapat pada penggembala-nya Hardin. khususnya petani di Kecamatan Cangkringan. Pakem dan Ngemplak. Terlepas dari ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Pengurangan jatah air dan waktu mengalir (menjadi hanya 4-5 jam perhari) akan dialami oleh pelanggan PDAM. maka tidak ada satu pihakpun yang akan diuntungkan. pada saat yang sama. 13 Juni 2004 . yaitu: (1) pembatasan jumlah pihak yang dapat mengakses secara langsung sumber air tersebut. dan (3) aksi bersama dan suka rela dari para pihak yang berkepentingan untuk menjaga kelestarian sumber air tersebut. kesediaan para pihak untuk mengurangi pengambilan air dari Umbul Wadon membuktikan adanya rasionalitas kolektif dari para pihak. penertiban ini juga telah mengecewakan dan merugikan PDAM dan pelanggannya. OPAB. bahwa penggembala tidak mampu membatasi akses mereka sendiri maupun pemberlakuan peraturan penggunaan padang penggembalaan. 5 sementara penertiban ini mungkin dapat menjawab keresahan masyarakat. telah membuka peluang bagi munculnya kebijakan-kebijakan alternatif dalam pengelolaan sumberdaya (air) milik bersama. Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diatur dalam pengelolaan sumber air Umbul Wadon ke depan. para pihak yang yang mempunyai akses di Umbul Wadon (PDAM. Dan berbeda dengan asumsi Hardin. masyarakat) ternyata mampu untuk membatasi pengambilan air dan memberlakukan peraturan penggunaan air. Munculnya motif dan aksi bersama dari para pengguna air di Umbul Wadon. Pengabaian tiga hal tersebut akan semakin mengancam kelestarian Umbul Wadon sebagai sumber air bagi ribuan masyarakat. Namun demikian.

puluhan hektar sawah di lereng Merapi”. penyangga air kehidupan”. 28 Mei 2004 “Merapi itu punya nyawa …”. Kompas. Februari 2000. Djamal. 24 April 2004 “Air diperebutkan. 23 Maret 2004: D. Governing the Commons: The evolution of institution for collective action. New York. Cambridge University Press. Hariyadi. Kompas. Kompas. “Gagal tandur di lahan subur”. 23 April 2004 “Kering. Kompas. “Kawasan Merapi.. tahun kedua. Kompas 30 April 2004 “Debit air PDAM tinggal 33%. Elinor. belasan ribu pelanggan terganggu”. Merapi tidak dipedulikan”. dalam Seri Kajian Komuniti Forestri. 6 Daftar pustaka Lubis. 1990. Ostrom. “Menyelaraskan pola dan ruang pengelolaan sumberdaya milik komunal”. Kompas 7 Juni 2004: 35 . Zulkifli B.