You are on page 1of 11

Pro Kontra tentang Wacana Peningkatan Kuota

Perempuan dalam Perwakilan Politik
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas UTS

Mata Kuliah Perempuan, Politik, dan Negara

Oleh:

Setiaji Wibowo

NPM 0806346842

JURUSAN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

2010

makalah ini ingin memfokuskan pada dua hal yang coba dipaparkan melalui rumusan masalah. dan Negara. Kaum laki-laki yang sudah mapan dalam hal politik. Politik. secara umum berusaha atau menolaknya atau miminal melakukan banyak resistensi atas kebijakan ini. Apa perbedaan antara Teori Demokrasi secara Umum dengan Teori Demokrasi Berbasiskan Perspektif Gender? 2. Saat dihadapkan pada isu ini. 1. mendukung atau menolaknya. penulis ingin mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai wacana affirmative action peningkatan kuota perempuan dalam perwakilan politik dipandang dari teori demokrasi berbasiskan gender. BAB I Pendahuluan I. Juga akan dibahas tentang pertentangan antara pengertian demokrasi secara umum dan demokrasi diliat dari sudut pandang feminisme. Sedangkan kaum feminis selalu berusaha untuk mendukung wacana ini. Dengan melakukan affirmative action untuk meningkatkan kuota perempuan dalam parlemen. Makalah ini akan membahas argument-argumen yang mendukung hal peningkatan kuota perempuan dalam parlemen dan argument-argumen yang menentangnya.3 Tujuan Pembuatan Makalah Selain sebagai pemenuhan kewajiban pengerjaan UTS dalam mata kuliah Perempuan. Apa argument pandangan yang mendukung penambahan kuota perempuan dan pandangan yang menentangnya? I. I.2 Rumusan Permasalahan Atas paparan yang dijelaskan di atas. dianggap akan tercipta suatu lompatan besar untuk meningkatkan partisipasi perempuan di ranah politik.1 Latar Belakang Isu tentang perwakilan perempuan dalam parlemen selalu menjadi masalah yang sangat menarik untuk dibahas. . orang-orang dihadapkan pada pilihan antara dua hal.

saling melindungi. Hal. dan penuh kesetaraan. Perbedaan pemilikan menurut Locke ditentukan oleh kerja individu itu. hal. tak ada rasa takut. Hak pemilikan individu baru muncul manakala individu bekerja keras mengolah apa yang telah diberikan tuhan itu. 2 Ibid. BAB II Wacana Peningkatan Kuota Perempuan II. tapi dalam pengertian yang berbeda. Pemikiran Politik Barat.2 1 Ahmad Suhelmi. dan memiliki kemauan baik dan telah mengenai hubungan sosial. Teori demokrasi yang ada sekarang sesungguhnya hanya mewakili laki-laki saja dan perempuan tidak terwakili secara langsung di dalamnya. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007). Rasa takut dan perlunya perlindungan atas pemilikan kekayaan dan diri itulah yang kemudian mendorong individu untuk menyerahkan sebagian hak-hak alamiahnya kepada suatu kekuasaan yang disebut Locke sebagai supreme power. manusia semakin khawatir dan takut terhadap adanya ancaman hak-hak pemilikan dan dirinya. . 1 Perbedaan Teori Demokrasi Mainstream dan Demokrasi yang Berperspektif Jender Banyak orang yang menganggap bahwa istilah demokrasi yang ada sekarang bebas nilai dan netral.1 Dalam keadaan alamiah hak pemilikan individu belum ada. Kedua-duanya menyebut kata keadaan alam (state of nature). Di sini hanya akan dijelaskan pemikiran John Locke. John Locke dan Hobbes. Salah satu doktrin demokrasi yang sekarang sudah dianut secara umum memakai teori kontrak sosial sebagai landasan utamanya. John Locke menyatakan keadaan alamiah dimana manusia hidup dalam kedamaian. Semakin terakumulasi pemilikan itu. 194. Manusia dalam keadaan alamiah pada dasarnya baik. penuh kebebasan. kebajikan. saling tolong menolong. 195-197. Ada dua orang yang secara tersurat menyebut kata kontrak sosial dalam karya mereka. Nyatanya tidak begitu. selalu terobsesi untuk berdamai dan menciptakan perdamaian.

46-47 . seorang murid Plato. The Sexual Contract. 4 Ahmad Suhelmi. Bentuk ketiga adalah demokrasi (yang pengertianya agak berbeda dengan demokrasi yang dimaknai sekarang). 3 Untuk lebih jelas lihat Carol Pateman. 1998). Salah seorang tokoh yang menjadi penyumbang terhadap teori demokrasi adalah Aristoteles. Monarki yang dibentuk oleh satu orang bertujuan untuk kesejahteraan bersama. Negara yang dikuasai beberapa orang yang digunakan untuk kepentingan umum. Derajat perempuan adalah sama dengan budak karena budak juga tidak diakui sebagai warga Negara. Kala itu yang diakui sebagai warga itu hanyalah lelaki dewasa.Cit. Polity press. Jadi bisa disimpulkan bahwa demokrasi yang berjalan di zaman Yunani sama bersifat diskriminatif gendernya dengan teori kontrak sosial yang dibangun pada abad renaissance. Beberapa diantaranya misalnya. Salah satu alasan kenapa banyak teoritisi politik yang jarang menyadari hal ini adalah karena kontrak yang asli itu sudah menghilang. Aslinya perjanjian sosial tersebut bersifat kontrak secara seksual selain kontrak yang bersifat sosial. Terjadi dominasi laki-laki terhadap perempuan dan dalam pembuatan perjanjian dilihat hak laki-laki untuk menikmati akses seksual terhadap perempuan. Menurut Aristoteles ini adalah bentuk Negara yang paling baik. Pelaksanaan demokrasi di Yunani yang sering menjadi tonggak demokrasi dianggap sebagai suatu masa di mana demokrasi dijalankan dengan baik dan berstruktur. ada satu lagi tema utama yang sering menjadi rujukan demokrasi. Demokrasi pada zaman itu adalah pemerintahan yang dipimpin oleh banyak orang yang bertujuan hanya untuk kepentingan mereka. Kebebasan sipil kala itu adalah atribut maskulin yang bergantung kepada hak patriarki. Demokrasi yang berjalan pada masa itu sangat tidak memperhitungkan perempuan. Op. hal.3 Selain teori kontrak sosial. Aristoteles menyatakan ada beberapa bentuk Negara yang bisa dipakai. Pandangan yang bersifat netral tentang kontrak sosial lupa menyebutkan bahwa kala itu barang jauh lebih berpengaruh daripada kebebasan. Hal 1-3. (Cambridge. Pertama adalah oligarki. 4 Perlu diketahui bahwa pemerintahan yang berjalan pada masa Negara kota di Yunani bersifat patriarkis ekstrem.Carol Pateman menyatakan bahwa masyarakat (tersebut) yang dahulu melakukan kontrak sosial adalah masyarakat yang bercorakkan masyarakat paternal atau patriarki. Perempuan bukan dianggap sebagai warga Negara. Penyebab lainya juga karena masyarakat masih menganggap patriarkisme yang berkembang sebagai perjanjian paternal (secara literal).

Gender Inequality and Electoral Quotas in Political Representation: Lesson from Indonesia and Argentina. sekarang tugas untuk merekonstruksi hal tersebut menjadi sangat mendesak. (Ilmu Politik Universitas Indonesia). Selanjutnya ia dalam pandangan masyarakat umum menerima beban yang begitu besar untuk melakukan fungsi perawatan dalam keluarga.6 Argumen ini menjadi sangat rentan melihat bagaimana struktur masyarakat membuat perempuan memiliki akses yang begitu rendah dalam hal politik. 1991). Karena itu. Namun pada kenyataanya keduanya tidak bergerak dalam satu arah. Pertama secara umum mereka melihat bahwa representasi yang sama (antara laki-laki dengan peremppuan) akan terjadi dengan sendirinya.. 5 Anne Philips. Hal. Teori-teori ini telah mengekslusi atau dan mengabaikan perempuan. Ia mendapatkan peran sebagai entitas yang melanjutkan keberlangsungan hidup manusia. Akibat tuntutan yang begitu tinggi untuk turun di ranah keluarga. (Cambridge: Polity Press. 2 Argumen Kalangan Penentang Kuota Perempuan Menurut Drude Dahlreup dan Lenita freidenvall. tapi pengembangan ini dilakukan seakan-akan tanpa menganggap kehadiran perempuan. hanya segelintir perempuan yang benar-benar bisa mencurahkan hidupnya di dunia politik.Kata demokrasi dan feminisme sering dianggap ada dalam satu lajur. hlm. Engendering Democracy. 3. Teori politik dan demokrasi dikembangkan selama berabad-abad. Struktur masyarakat masih sangat patriarkis sehingga perempuan ada dalam keadaan yang begitu berat. Namun hal itu akan otomatis terjadi dengan proses perkembangan suatu Negara. 6 Sebagaimana dikutip Chusnul Mar’iyah dalam artikelnya. Padahal seorang laki-laki tentu saja punya tanggung jawab yang sama dengan perempuan untuk mengurus anak-anaknya. . ada beberapa argument yang menjadi dasar berpikir penentang wacana peningkatan kuota perempuan. Gagal disadari bahwa penekanan pada kebebasan dan persamaan didasari pada “hak laki-laki”. Kedua-duanya sama-sama menantang kekuasaan yang sewenang-wenang dan juga memiliki penekanan yang sama-sama dengan istilah persamaan. Mary O’Brien melihat teori politik yang berkembang sebagai “malestream theory” atau teori laki-laki. Mungkin proses ini akan membutuhkan waktu beberapa decade. Para feminis melihat bahwa ketidaksamaan seksual telah menjadi suatu yang dibangun sebagai landasan pemikiran politik klasik dan kontemporer. 1-3.5 II.

Padahal jika kita melihat sekarang banyak perempuan yang bisa menerapkan standar kerja yang sama atau bahkan lebih baik dibanding laki-laki. Penyebab yang lain ialah sikap-sikap dan prasangka (terhadap perempuan) yang telah mengurat akar. Penulis berpendapat bahwa perempuan memiliki komitmen yang sama kuat dengan laki-laki untuk terjun ke dalam dunia politik.8 Ada beberapa hal yang perlu dikomentari terkait strategi yang perlu dijalankan kaum yang kontra pada peningkatan kuota perempuan. Perlu diberikan (latihan) untuk meningkatkan kapasitas perempuan melalui pendidikan. perempuan selalu dipersepsikan dengan hal- hal negative seperti lemah secara fisik dan mental.perlu ada peningkatan sumber daya dan komitmen perempuan dalam civil society melalui pendidikan. Ketiga. penurut. para penentang kuota perempuan memiliki beberapa strategi untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam masyarakat. Namun stigma jelek yang diberikan kepada mereka membuat mereka bisa merasa lebih terbebani untuk menjalankan tanggung jawab politik mereka. 8 Ibid . Sementara sebagai Negara 7 Ibid. Setiap orang tidak dapat dipungkiri memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. dan kurang komitmen. partisipasi kekuatan buruh. yang membatasi perempuan. Penyebab timbulnya masalah itu adalah perempuan kekurangan sumber daya dan komitmen untuk terjun ke ranah public.7 Sekali lagi dapat kita lihat dari paragraph sebelumnya bahwa perempuan selalu mendapatkan diskriminasi dalam masyarakat. program mentor. mereka juga melakukan resistensi yang sangat tinggi pada wacana peningkatan kuota perempuan karena menganggap itu adalah bentuk diskriminasi pada laki-laki.Yang kedua. para penolak kuota perempuan memiliki tafsir sendiri dalam mengidentifikasi kenapa ada begitu sedikit perempuan yang terjun di ranah politik. Mereka mendapatkan kondisi yang sangat tidak menguntungkan melalui konstruksi sosial yang dibentuk masyarakat. Yang ketiga. Kedua. Yang perlu diingat bahwa pendidikan memerlukan waktu yang panjang untuk bisa meningkatkan kuota perempuan dalam parlemen. kerja. partai politik harus bekerja lebih aktif untuk merekrut perempuan. dan politik. Pertama terkait dengan strategi untuk meningkatkan kapabilitas perempuan melalui pendidikan. dan penyediaan sarana agar perempuan bisa mengkombinasikan kaluarga. penyediaan (sarana) yang ada di Negara kesejahteraan seperti pusat penitipan. Kesatu.

Salah satu sebab laki-laki menjadi calon yang lebih menjual adalah adanya stigma dari masyarakat bahwa laki-laki lebih pantas memimpin daripada perempuan. pandangan seperti ini sangat aneh mengingat laki-laki sejak awal manusia ada di dunia telah melakukan subordinasi kepada perempuan. perempuan sebagai setengah dari populasi masyarakat sebisa mungkin harus menempatkan wakilnya dalam proporsi yang lebih baik dalam waktu secepat mungkin yang bisa dicapai. hal. Secara umum. Komentar keempat adalah tentang pandangan kalangan yang menolak peningkatan kuota atas dasar premis bahwa laki-laki terdiskriminasi oleh kebijakan tersebut.demokratis. 83. . Komentar ketiga menyangkut tentang strategi mereka yang sangat lunak terhadap partai politik. himbauan itu hanya akan dianggap angin lalu saja. kita akan menyadari bahwa solusi yang diberikan di Negara kesejahteraan tidak selalu bisa diterapkan di Negara yang memiliki system ekonomi yang berbeda. Jika tidak ada aturan baku dan law enforcement mengenai kenaikan kuota perempuan.Cit. Sejujurnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Negara kesejahteraan (terutama yang berada di Skandinavia) memiliki tingkat representasi perempuan yang cukup tinggi.9 Namun jika dipikirkan secara lebih seksama. Komentar kedua berhubungan adalah penyediaan sarana-sarana yang ada dalam masyarakat yang menganut teori Negara kesejahteraan. Perempuan selalu dinomorduakan dan tidak mendapatkan hak untuk memimpin. laki-laki memiliki kesempatan jauh lebih baik dibandingkan dengan perempuan untuk mendapatkan jabatan politik yang merupakan hasil dari privilege atas mereka selama ratusan ribu tahun. tapi sebagian besar laki-laki malah memaknainya selalu negative sebagai ancaman pada eksistensi mereka atas ketakutan bahwa pemberian peningkatan kuota akan akan membuat 9 Lihat Anne Philips Op. Strategi yang digunakan hanya mencoba untuk menghimbau partai politik untuk meningkatkan keterwakilan perempuan. Pemberdayaan yang diberikan pada perempuan justru semakin akan memberikan nilai yang lebih dalam iklim kompetisi demokrasi. Konsesi penambahan kuota tidak sebanding dengan kerugian yang dialami oleh perempuan selama ratusan ribu tahun. Partai politik tentu akan lebih memilih calon yang lebih menjual dalam pemilihan umum (yang ini lebih banyak dimiliki oleh calon laki-laki). Padahal partai politik itu tidak lepas dari konflik kepentingan untuk mengekalkan kekuasaan mereka.

14 Chusnul Mar’iyah. Op. 11 Chunsul Mar’iyah Op. hal. 78.perempuan memiliki kelompok-kelompok pilihan baru (dalam pemilu) yang berbeda dari laki- laki.12 Jalan yang sangat panjang ini misalnya bisa dilihat dari kasus Inggris. Secara general mereka melihat bahwa representasi perempuan (dalam parlemen) tidak meningkat sendirinya dalam sejarah. 3 Argumen Kalangan Pendukung Kuota Perempuan Orang-orang yang mendukung pandangan perlu adanya kuota khusus bagi perempuan dalam hal perwakilan politik menurut Drude Dahlreup dan Lenita freidenvall memiliki tiga landasan cara berpikir. mereka mencoba mengidentifikasi masalah kenapa bisa ada begitu sedikit perempuan dalam politik.quotaproejct.10 II. hal.org di Chusnul Mar’iyah hal. Padahal kita tahu bahwa Inggris adalah termasuk Negara demokratis yang jauh lebih egaliter dalam hal gender dibandingkan dengan banyak Negara lainya di dunia. penyebab masalah ini adalah adanya diskriminasi yang dilakukan secara formal dan informal terhadap representasi perempuan (dan kelompok lainya) terjadi secara meluas dalam ranah politik. Hal.13 Yang kedua. Di banyak Negara. Lalu mereka juga melihat lompatan dalam hal representasi perempuan itu sangat dibutuhkan dan ini mungkin saja bisa dilakukan.Cit. 13 Anne Philips Op. 3. Juga diidentifikasi terjadi proses ekslusi dan glass ceiling pada perempuan (pembatasan dalam suatu organisasi dengan adanya kekuatan yang memaksa kaum perempuan atau kaum minorits mencapai posisi pemimpin). 4-5.14 10 Ibid.4 persen. 12 Lihat table 2 dari www.Cit. Hal 3. terbukti bahwa pematokan kuota tertentu bagi perempuan yang memiliki payung hukum memilliki dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan representasi perempuan. 60. .11 Peningkatan kuota perempuan dalam perwakilan politik adalah jalan yang sangat panjang jika diharuskan terjadi dengan sendirinya. Sampai dengan tahun 1983 (atau 55 tahun setelahnya) tingkat keterwakilan perempuan inggris hanya sampai dengan 14. Inggris memberikan hak pilih pada perempuan di tahun 1928.Cit. bahkan pertentangan (reaksi berlebihan) malah bisa muncul. Menurut mereka.

Sudah sewajarnya jika perempuan berusaha keras untuk mendapatkan hak mereka 15 Ibid. Selanjutnya kuota dilihat sebagai sebuah kompensasi atas halangan-halangan structural terhadap perempuan (dalam masyarakat). . Sebabnya ialah tidak cukup sekedar memberikan himbauan bagi partai politik. Perlu diberikan dorongan yang besar bagi partai politik agar bisa memberikan tempat yang lebih baik pada perempuan. Sangat wajar perempuan selalu medapatkan penghalang teknis dan non- teknis untuk bisa mendapatkan posisi yang baik dalam hal politik. Pertama adanya tindakan aktif seperti target atau penyedian kuota khusus yang akan memaksa partai politik untuk bekerja lebih aktif untuk merekrut perempuan. BAB III Kesimpulan Teori demokrasi bukanlah sesuatu yang netral dan bebas dari nilai. tetapi ia adalah teori yang dibangun dengan landasan pengeksklusian dan pengabaian keberadaan perempuan dalam masyarakat. dalam hal strategi para pendukung ini memikirkan dua langkah.Sebagaimana yang disebutkan di subbab sebelumnya bahwa perempuan selalu menjadi subordinasi laki-laki. bukan sebagai sebuah bentuk diskriminasi pada laki-laki.15 Penulis berkeyakinan bahwa perlu ada affirmative action yang memiliki payung hukum tetap bagi partai politik untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen. Yang ketiga.

1998). Pateman. (Ilmu Politik Universitas Indonesia). (Cambridge. Polity press. Chusnul. Carol. .dalam hal perubahan wacana politik yang menjadi semakin memperhatikan keberadaan perempuan dan hak yang lebih luas untuk masuk ke ranah politik. The Sexual Contract. Hak lebih luas itu dapat diwujudkan dengan memberikan affirmative action berupa pemberian kuota yang lebih besar bagi perempuan dalam hal perwakilan politik mereka dengan payung hukum yang tetap. Gender Inequality and Electoral Quotas in Political Representation: Lesson from Indonesia and Argentina. Daftar Pustaka Mar’iyah. Keterwakilan ini perlu diberikan dalam ranah yang affirmative karena partai politik dan masyarakat sekarang masih sangat patriarkis sehingga perlu ada tindakan yang tegas untuk mengubah struktur dan pandangan tersebut.

(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. . Pemikiran Politik Barat. 2007). (Cambridge: Polity Press.Philips. Anne.. Engendering Democracy. Suhelmi. 1991). Ahmad.