You are on page 1of 10

TUGAS MATA KULIAH

HUKUM EKONOM ISLAM


JUDUL : PERJANJIAN ASURANSI SYARIAH

DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK III KELAS H
SEMESTER V

TERDIRI DARI
1. HADIRAT SYUKUR. H (0810041600354)
2. AAN SUHAENA (0810041600384)
3. JABARI (0810041600095)
4. RAFIZAL (0810041600358)
5. PETRUS EDISON SILAEN (091000774201067)
6. CERY ILVAN (0810041600439)
7. DAYANA HARAHAP (0810041600468)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
PEKANBARU 2010
PENDAHULUAN

Judul makalah ini adalah Perjanjian AsuransI Syariah. Makalah ini dibuat
sebagai tugas kelompok yang diberikan oleh Dosen Hukum Ekonomi Islam yaitu
Bapak Syaifuddin Anshari, S.Ag M,Hum. Pembahasan mengenai makalah ini
berupa Asuransi Syariah yan berupa konsep Asuransi Islam.

Prinsip dari tafakul (Asuransi) adalah pembagian risiko dan berlawanan


dengan Asuransi Konvensional yaitu pemindahan risiko.

Dalam skema risiko (asuransi) ada 3 hal yang harus dihindari : Gharar
(Ketidak pastian), Maisir (Perjudian), dan riba (Bunga).

Bahan-bahan makalah ini kami ambil dari 2 (dua) buah buku yaitu buku 1 :
Judul adalah “Asuransi Syariah” karangan Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ. FIIS
dan buku yang ke II judul adalah “Asuransi Syariah Dalam Praktik” karangan
Muhaimin Iqbal.

Sesungguhnya institusi syariah modern mendapat pijakan yang kuat yaitu


mengedepankan prinsip kerjasama saling menanggung dan membantu.

Disinilah manusia mengupayakan cara berupa bersama-sama salling


membantu, saling menjamin, ta’awuni, tadhamuni, takafuli.
Judul Perjanjian Asuransi Syariah

Adanya perbedaan pendapat-pendapat ulama serta perdebatan mereka


tentang halal-haramnya asruansi. Perbedaan pendapat ini memberikan suatu
kesimpulan bahwa sesungguhnya perbedaan pendapat di kalangan para ahli
Hukum Islam sekarang tentang Asuransi, lebih disebabkan karena mereka tidak
mempunyai gambaran yang utuh tentang ta’min (Asuransi) itu sendiri.

Asuransi Syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang


memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan
peserta dan operator syariah berasal dari ketentuan di dalam AL-Qur’an mengenai
Asuransi Syariah ini adalah antara lain solusi yang tampak benar dipermukaan
namun tentu benar menurut Allah.

Konsep Asuransi Islam bukanlah hal baru karena sudah ada di zaman
Rasulullah. Istilah lain sering digunakan untuk Asuransi Syariah adalah tafakul
yang berarti secara Etimologis adalah menjamin atau salaing menanggung.

Menurut pengertiannya Tafakul adalah saling memikul risiko diantara


sesame sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko
lainnya. Saling pikul risiko ini dilakukan atas dasar saling menolong dalam
kebaikan dengan cara masing-masing mengeluarkan dana, dana ibadah,
sumbangan, derma yang di tujukan, untung menanggung risiko Takaful yang
sesuai dengan Al-Qur’an.

Pada akad Asuransi Syariah ada istilah “Dana Kebijakan” atau Tabarru
(sumbangan, hibah, dana kebajikan atau derma), Tabarru dengan akad yang
mengakibatkan pemilikan harta, tanpa ganti rugi yang dilakukan seseorang dalam
keadaan hidup kepada orang lain secara sukarela. Konetk akad dalam Asuransi
Syariah Tabarru bermaksud memberikan dana sesuatu tanpa ada keinginan untuk
menerima apapun dari orang yang menerima kecuali kebaikan dari Allah SWT.
Akad pada Asuransi Syariah yang melandasinya akad tolong menolong (akad
takaful) atau untuk menyalurkan dana kebajikan melalui Akad Tabaru (Hibah).1

Akad dalam Islam dibangun atas dasar mewujudkan keadilan dan


menjauhkan penganiayan.

Dala teori Hukum Kontark secara Islam setiap terjadi transaksi, maka akan
terjadi salah satu dari tiga hal berikut :

Pertama, kontraknya sah, kontraknya fasad, dan ketiga akadnya batal.


Kontrak Asuransi Syariah haruslah bukan merupakan kontrak jual beli.

Jumhur Ulama figih menyatakan Hukum Akad (Perjanjian) terdiri dari tiga
hal :

1. Pertanyaan untuk mengikat diri (perikatan)

2. Pihak-pihak yang ber akad (adanya tertanggung dan penanggung).

3. Obyek Akad

Pengelolaan dan penanggungan risiko, Asuransi Syariah tidak


membolehkan adnya gharar (ketidak pastian/ spekulasi), untuk menghindari
gharar pada setiap kontrak Asuransi Syariah harus dibuat sejelas mungkin dan
sepenuhnya terbuka. Gharar terjadi apabila kedua belah pihak (misalnya peserta
Asuransi pemegang polisi dan perusahaan) saling tidak mengetahui apa yang akan
terjadi. Kapan musibah akan menimpa, apakah minggu depan, tahun depan dan
sebagainya. Inilah yan disebut gharar ketidakjelasan yang dilarang dalam agama
Islam. Contoh adalah memberi atau menjual anak lembu yang masih dalam
perutnya.

Dengan cara gharar dan maisir (perjudian/ keuntungan tiba-tiba)


memberikan suatu tantangan kepada operator Asuransi Syariah dalam upaya
untuk memastikan tidak adanya kedua unsur tersebut dalam Asuransi Syariah,
investasi dan manajemen dana bebas bunga. Yang dibolehkan dalam Islam adalah
1
Dari Buku Asuransi Syari’ah Karangan Ir. Muhd. Syakir Sula
bukan risiko atau memindahkan risiko kepada pihak ke tiga dengan menggunakan
kontrak jual belilah yang tidak dibolehkan.

Dibawah Hukum Syariah dibawah pengaturan Asuransi Syariah Riba


(Bunga) sama sekali dilarang, untuk menghindari riba dalam Asuransi Syariah
kontribusi para pesertanya dikelola dalam skema pembagian risiko dan bukan
sebagai premi.

Pada masalah Riba dieliminir dengan konsep Mudhabarah (bagi hasil).

Akad perjanjian (konvensional) dimana pihak yang memberikan sesuatu


kepada orang lain berhak menerima penggantian dari pihak yang diberinya. (Jika
barang yang muawwadah kala hilang di tangan orang yang menerimanya maka ia
akan mengalami kerugian karena ia harus membayar penggantiannya).

Dalam asuransi biasa (konvensional) terjadi kerancuan/ ketidakjelasan


dalam masalah akad. Akad yang melandasi semacam akad jual beli, penjual,
pembeli barang yang di perjualbelikan atau yang akan diperoleh serta ijab (akad)
jelas, tetapi yang menjadi masalahnya adalah harganya (berupa besar premi yang
akan dibayarkan) kepada perusahaan asuransi. Padahal hanya Allah yang tahu
tahun berapa kita meninggal jadi pertanggungan yang akan diperoleh sesuai
dengan yang diperjanjikan ini jelas. Tetapi jumlah yang akan dibayarkan menjadi
tidak jelas, tergantung usia kita dan hanya Allah yang tahu kapan kita meninggal.

Dalam Asuransi Syariah risiko Individu atau Organisasi disebarkan atau


dibagi dengan orang atau organisasi disebar atau dibagi dengan orang atau
organisasi lain yang memiliki sifat risiko yang relatif sama.

Berdasarkan model yang ditetapkan oleh Asuransi Syariah, individu atau


organisasi membayar, kontribusi dalam bentuk sumbangan dengan ketentuan
bahwa bila terjadi risiko pada salah satu peserta, peserta akan menerima bantuan
dana asuransi syariah untuk menutupi kerugian yang dihadapinya.
Untuk menghindari qharar (ketidakpastian) maisir (perjudian) riba (bunga),
Asuransi Syariah memiliki konsep tembok perlindungan, yaitu berapa kontrak
atau ikatan Asuransi Syariah itu sendiri.

Asuransi Syariah tidak menggunakan perikatan jual beli, melainkan


menggunakan perikatan yang sesuai syariah seperti perikatan Mudharabah
(berbagi keuntungan). Perbedaan konsep asuransi konvesional (perpindahan
risiko) dengan Asuransi Syariah (berbagi risiko).2

Dalam mekanisme dana di Asuransi Syariah, premi yang dibayarkan peserta


dalam 2 rekening yaitu rekening peserta dan rekening tabarru (hibah), pada
rekening Tabarru inilah di tampung semua dana Tabarru peserta seagai dana
tolong menolong atas dana kebijakan yang jumlahnya disekitar 5% - 10% dari
premi pertama (tergantung usia).

Contohnya seorang disebut saja peserta (A) meninggal, dia mengambil


paket asuransi 10 tahun uang pertangungannya 10 juta. Apabila tahun ke empat,
tuan (A) meninggal dunia, baru bayar premi 4 juta maka ahli warisnya mendapat
10 juta. Pertanyaan muncul darimana sisa 6 juta diperoleh. Uang 6 juta diambil
dari rekening khusus yaitu dari rekening tabarru dan semua peserta sejak awal
sudah ihklas untuk memberikan derma.

Produk Asuransi Syariah

1. Asuransi Jiwa Murni (Al Khairat)

2. Asuransi Jiwa Murni + Kesehatan (Tafakul Falah)

3. Asuransi Dana Pendidikan (Fulnadi)

1. Asuransi Jiwa Murni (Al Khairat)

2
Dari Buku Suransi Syariah dalam Praktek Karangan Muhaimin iqbal
Diberikan kepada Ahli waris apabila peserta meninggal dunia baik karena
sakit maupun karena kecelakaan.

- Kecelakaan diri adalah manfaat tambahan pertama

Diberikan kepada peserta atau ahli waris apabila peserta meninggal atau
cacat tetap sebagian karena kecelakaan.

- Cacat tetap total adalah manfaat tambahan kedua

Diberikan kepada peserta apabila peserta mengalami cacat tetap total


akibat sakit atau kecelakaan.

- Dana sentuhan harian rawat inap (casd plan) adalah manfaat ketiga

Diberikan kepada peserta menjalani rawat inap di rumah sakit disebab


sakit atau kecelakaan

Apabila peserta hidup akhir kontrak berhenti atau mengalami klaim


sehingga menyebabkan ke pesertaannya berakhir maka kepada yang
bersangkutan atau ahli warisnya akan dibayarkan nilai tunai polis yang
merupakan akumulasi premi tabungan berikut hasil investasinya.

2. Asuransi Jiwa + Kesehatan (Takaful Falah)

Adalah produk yang dirancang secara khusus bagi peserta yang


menginginkan manfaat asuransi secara menyeluruh, ketika peserta
mengalamu musibah meninggal baik karena sakit ataupun kecelakaan ; cacat
tetap total karena sakit atau kecelakaan ; cacat tetap sebagian karena
kecelakaan ; dana santunan harian selama peserta dirawat inap di rumah sakit
dan juga manfaat bila peserta mengalami atau menderita penyakit-penyakit
kritis. Peserta juga berhak atas nilai tunia polis ketika kepesertaan berakhir.

Takaful Falah akan memberikan bagi hasil yang menarik yaitu memberikan
bagi hasil 80% dari hasil investasi dana di rekening tabungan peserta. Untuk
bagian tabarrul hibah dari premi yang di akadkan untuk saling menanggung
dan saling tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah.

Premi takaful dapat dibayar tahunan dan sekaligus, premi dengan cara
pembayaran tahunan sekurang-kurangnya sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta
rupiah).

Untuk masa perjanjian maksimal 65 tahun sedangkan masa perjanjian


asuransi minimal 5 tahun

3. Asuransi Dana Pendidikan (Fulnadi)

Adalah program asuransi untuk perseorangan yang bertujuan untuk


menyedia akan dana pendidikan untuk peserta putra putri peserta sampai
pendidikan tingkat sarjana dengan manfaat proteksi atas resiko meninggal.

Keuntungan Fulnadi

1. Tak ada dana hangus

2. Biaya pendidikan diterima hingga perguruan tinggi

3. Premi cukup dibayar hingga anak usia SMA (18 th)

4. Anak akan menerima beasiswa dimana peserta sudah tidak bias membayar
premi (bebas premi) tapi dalam tahapan pendidikan tetap diterima.
5. Apabila peserta meninggal maka ahli waris menerima empat manfaat,
yakni

a. Santunan untuk istri sebesar 100% rencana menabung suami

b. Seluruh dana tabungan + bagi hasil

c. Uang masuk sekolah SD, SMP, SMA serta perguruan tinggi

d. Uang sekolah per tahun selama TK, SD, SMP, SMA dan perguruan
tinggi (4 th)3

KESIMPULAN

Islam mengarahkan kepada Umatnya untuk mencari rasa aman baik untuk
diri sendiri dimasa mendatang maupun untuk keluarganya. Sebagaimana nasihat
Rasul kepada Sa’ad bin Abi Waggash agar mensedekahkan sepertia hartanya
saja…. Selebihnya ditinggalkan untuk keluarganya agar mereka tidak menjadi
beban masyarakat.

Dengan pengertian, Asuransi Syariah mempunyai konsep saling


menanggung atau tanggung jawab social yang mana jika sebagian mereka
mengalami peristiwa, maka semuanya saling menolong dalam menghadapi
peristiwa tersebut dengan sedikit pemberian (derma) yang diberikan oleh masing
– masing peserta.

Dengan pemberian tersebut mereka dapat menutupi kerugian-kerugian yang


dialami oleh peserta yang tertimpa musibah. Karena Asuransi Syariah adalah

3
Dari buku Asuransi Syariah dalam Praktek Kkarangan Muhaimin Iqbal
sebuah gabungan kesepakatan untuk saling menolong yang telah diatur dengan
sangat rapi, tujuannya adalah menghilangkan atau meringankan kerugian dari
peristiwa-peristiwa yang terkadang menimpa sebagian mereka.

Dan jalan yang ditempuh adalah dengan sedikit memberi pemberian


(derma) dari masing-masing individu.