You are on page 1of 4

Windy Aryani terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan

itu. Kecantikannya sungguh mempesona. Dia terus
( x-5 ) menari sambil mendendangkan syair-syair cinta.

in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
musyriqun bi dhau’
wal hubb al wariq
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar)
DIATAS SAJADAH Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya.
CINTA Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua
orangtuanya menyungging senyum mendengar syair
yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu
Kota Kufah terang oleh sinar purnama. Semilir Windy, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau
angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”
Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. “Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah
Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa. saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Windy untuk
berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya putranya, Yasir.”
memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar “Bagaimana, kau terima atau…?”
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh “Ya jelas langsung aku terima. Dia kan masih
gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi
semesta. Orang-orang memanggilnya “Al Irfan” atau “Si padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu
Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”
muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang “Tapi bukankah lebih baik kalau minta
paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pendapat Windy dulu?”
pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di “Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali
dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling
ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah cocok untuk Windy adalah Yasir.”
pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan “Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu
pusat perhatian. pemuda yang tidak baik.”
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat “Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri
Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh Windy, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya
pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. raya.”
Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah,
jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan
sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya
tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia seorang penari melenggak-lenggokan tubuhnya diiringi
bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci. suara gendang dan seruling.
Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis. “Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan
matanya padamu!” bisik temannya.
fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. “Be…benarkah?”
qad aflaha man zakkaaha. “Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota
wa qad khaaba man dassaaha ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan “Baiklah. Bersenang-senang dengannya
kefasikan dan ketaqwaan, memang impianku.”
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak
jiwa itu, menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya) tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya
lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang.
Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan
golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu
yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang ketelinga Yasir,
beruntung, ataukah yang merugi? “Apakah Anda punya waktu malam ini
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar bersamaku?” Yasir tersenyum dan menganggukan
hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan. kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara
Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah gendang memecah hati. Irama seruling melengking-
rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan
dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang pikiran jadi mati.
gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya
yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak Keesokan harinya.
yang tak terhitung jumlahnya. Usai shalat dhuha, Al Irfan meninggalkan
Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk
gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus
yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan

sapu tangan hijau muda. “Hai kuda makhluk Allah. luas. Dalam hati ia berkata. kata Al Irfan sambil membalikkan badan. Ya Rabbi. tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan Mendengar itu Al Irfan tegang. Itu mungkin Al Irfan yang lain. Aura itu selalu melintas dalam shalat. Ya Rabbi. dari mana dan mau ke mana cinta. Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan Al Irfan. Suara Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau seorang perempuan. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona “Tuan. Ia berdiri dengan cadar. Tanpa sepengetahuan Juga terasa sejuk di dalam hati. Pandangan “Assalamu’alaiki. selesai!” tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan tampaklah wajah pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Al cantik nan memesona. kaca. Tadi pagi ia “Alhamdulillah. Hanya saja menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. yang ada jauh di depannya. Wajah yang tampan bercahaya dan lamanya keduanya beradu pandang. izin Allah!” Bagai pasukan mendengar perintah Windy terpekur di kamarnya. Apa yang harus terima. Sejak ia bertemu “Innalillah. berhentilah dengan Angin sejuk dari utara semilir mengalir. Kalau boleh pada seorang pemuda. Aura kecantikan Windy saudaraku yang sakit. tangan kananku sakit sekali.” menangkap penunggang kuda itu adalah seorang Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi perempuan. Kau tidak apa-apa?” matanya yang teduh menunduk membuat hatinya Perempuan itu mengaduh. terpesona oleh ketampanan Al Irfan. Suatu hari ia akan datang kemari. Matanya berkaca- panglimanya.” bisa dikendalikan!” “Terimalah. Al Irfan mengangkat mukanya. kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Jika kau mau silakan datang ke “Toloong! Toloong!!” rumahku. Al Irfan tersadar. Mukanya tertutup sedemikian terpikat. Pikirannya bingung. Dan rumahku ada di sebelah langkahnya. Tiba-tiba air matanya “Syukurlah kalau begitu. kaukah Al Irfan yang sering dibicarakan relung hatinya. Ia terus berjalan “Aku mau melanjutkan perjalananku!” dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Mungkin terkilir saat jatuh. Seumur hidup ia belum pernah “Toloong! Toloong!!” menghadapi situasi seperti ini. Suara itu semakin jelas terdengar. hitamnya. Al Irfan melangkahkan kedua kakinya tegap di tengah jalan. Hatinya bergetar hebat. Kuda itu berlari kencang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara kuda itu semakin dekat dan Terpaksa Al Irfan menerima sapu tangan itu. aku dari masjid mau mengunjungi mengendalikan gelora hatinya. bagai tak hilang dari pelupuk matanya. namaku Windy. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura . Astagfirullah. Sang gadis bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya. kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Gadis itu Irfan yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah mencintaiku. Syaraf dan ototnya terasa dingin “Ah sapu tanganku ada padanya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun Perempuan itu mengaduh.” gemuruh hatinya.” bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung- “Jadi. Penunggang kuda itu semakin jelas. Tiba-tiba ia tersenyum. Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Al Irfan mendekati kurma hatinya terasa gundah. Dan matanya dengan jelas bisa menghadiahkan ini. Ia lalu Al Irfan berjalan melewati kebun kurma yang melangkah. Tak ayal Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Al Irfan. shalat. dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata Saat malam datang membentangkan jubah keras. tinggal beberapa belas meter di depannya. orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?” baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Perempuan itu perlahan bangkit. dengan Windy di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa “Namaku Al Irfan.” Hatinya gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Ia menghentikan Kebun ini milik ayahku. Hatinya bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada kuda. menimpa dirinya. sementara Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Al gemuruh hati Al Irfan tak kalah hebatnya. Hatinya basah. ia membuka cadarnya. “Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak “Tidak usah. Dua matanya yang bening menatap Al kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Al Irfan. selatan kebun ini. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik “Tunggu dulu Tuan Al Irfan! Kenapa tergesa- saudagar kaya.” Tuan?” Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan Dua mata bening di balik cadar itu terus kegembiraan yang belum pernah ia rasakan memandangi wajah tampan Al Irfan.” Ia juga menyaksikan wibawanya. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara. Tiba. Wajah bersih Al Irfan perempuan itu dan menyapanya. tak aku Al Irfan. saya ucapkan terima kasih. Untuk pertama kalinya aku jatuh tahu siapa nama Tuan. Menyadari hal itu Al sebelumnya. Abu Windy.ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat “Tak tahulah. Cepat-cepat Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya ia menenangkan diri dan membaca shalawat. aku tidak akan memberi jalan!” ia perbuat. matanya menatap wajah putih bersih memesona.” mengalir. di depannya. Irfan semakin membuat hatinya tertawan.” saudaranya yang sakit. tidak apa-apa. Pembicaraan orang-orang tentang cadar hitam. Ia pasti juga semua. Sesaat berbunga-bunga. “Inikah cinta? Irfan menundukkan pandangannya ke tanah. tersenyum dengan pipi merah merona. Irfan. Ia terus melangkah gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Suara itu datang dari arah penunggang kuda “Tuan aku hanya mau bilang. Apa yang Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. izinkanlah aku mencintainya. Tatkala kuda itu sudah sangat melanjutkan perjalanan. Terang saja Al Irfan gelagapan.

Dan meminta jawaban ampunan-Mu. Sementara Windy menanti dengan seksama ‘Azza Wa Jalla’. Kalau kau mau. Al Irfan menundukkan kepala ia pasrah menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya. Ia pun pingsan saat itu juga. Windy. aku “Ilahi. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Hatinya pendek. Rasa takut akan azab-Nya. rahmat-Mu. Bukan air timah dari Maafkan aku. yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. berilah padaku cawan kesejukan untuk seorang jamaah membawa dan merawatnya di meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes rumahnya. kembali ke dalam. aku pun Menjelang subuh. hamba lemah maka berilah Atau kau datanglah ke kamarku. dan ridha-Mu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah Sang ayah diam sesaat. Ia menangis. Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. beristighfar sebanyak-banyaknya. Anehnya. hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. dengan bidadari dunia. Al Irfan saat itu juga. Ia berpesan agar surat itu Windy pada-Mu. usai shalat Dhuha. Windy keluar sekejap untuk membawa minuman lalu Kepada Windy. Berkali-kali ia pingsan. Rasa cinta Windy yang tak keindahan semesta. Ia lalu bangkit. kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat Al Irfan terus meratap dan mengiba. Keheningan mencekam sesaat mendamba yang sama. Hatinya mantap untuk melamarnya. Tujuannya jelas yaitu melamar surat itu dan membacanya. Ia mengambil nafas cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah panjang. tuntunlah langkahku pada kalimat tasbih. kau datang terlambat. jangan kau gantikan bidadariku di surga akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Ia sering mengigau. Apa hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan yang ia dengar dari ayah Windy membuat nestapa seorang makhluk yang Engkau ciptakan. pecah mendengarnya. “Ilahi. Az Al Irfan hanya mampu menganggukan kepala. Ia tersentak mengalami hal yang sama. Aku serahkan Kabar tentang derita yang dialami Al Irfan ini hidup matiku untuk-Mu. Biasanya ia sudah Al Irfan. kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Rasa cintanya Kepada Al Irfan. Sementara kecuali menangis pada-Nya.” Isak Al Irfan mengharu biru tersebar ke seantero kota Kufah. Amin.pesona Windy dengan melakukan shalat sekhusyu’. pada Tuhan. Dan rasa tidak ingin Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu kehilangannya. “Ilahi. Keimanan dan ketakwaan Al Irfan ternyata tak ingin kehilangan cinta-Mu. Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu Ilahi. Ia menarik nafas panjang dan disambut dengan baik oleh kedua orangtua Windy. Zumar : 13 ) Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Rasa cinta dan Assalamu’alaikum rindu-Nya pada Windy. Al Irfan kembali ke masjid dengan kesedihan Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. istigfhar dan … Windy. garis takdir yang paling Engkau ridhai. Windy. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan sedemikian hebat dalam relung hatinya. Jika kita terus bertakwa. Tuhannya. padamu. Beberapa orang tampak pertama. Namun sakit dan Al Irfan mengutarakan maksud kedatangannya. hamba terlalu lemah untuk langsung sampai ke tangan Al Irfan. Bukan sebuah cinta yang lamanya.” hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Angin pun meniupkan pada Tuhan Sang Pencipta hati. Ilahi. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Dengan berlinang air Mereka sangat senang dengan kunjungan Al Irfan yang mata ia menulis untuk Windy : sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. dan shalat tahajjud. Dalam puncak menderita saat ini. yaitu deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku melamar Windy. Tidak mudah meraih cinta Windy. Windy. seketika. dan segala kabar ini ke telinga Windy. dengan seksama pembicaraan Al Irfan dengan ayahnya. Dan aku ingin jawaban ayahnya. Allah akan memberikan Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia pun jatuh sakit. Kaulah cintaku yang kaget. Aku tahu kau selalu menyebut diriku munajatnya ia pingsan. tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Windy. Saat ini hamba jiwanya. Al Irfan berjalan Irfan. Ketika keadaannya kritis suaranya Ilahi. Amin. Inilah yang kudamba. secangkir air cinta dari surga. Ilahi. Di sana ia tubuhnya bergetar hebat. ia menyesal. hamba memohon orang ketiga yang membacanya. Ilahi. Aku tak terkira. ia terbangun. Lalu Windy. tahlil.” Hari itu juga surat Windy sampai ke tangan Al Pagi hari. Di Wassalam dalam sujudnya ia berdoa. Ia belum shalat tahajjud. Namun aku sangat yakin dengan . Windy sudah dilamar Abu Yasir untuk neraka. terdengarlah jawaban ayah Windy. jalan keluar. dan aku telah yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa menerimanya. wudhu. Kedua kakinya seperti lumpuh khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia. Setelah tahu isinya seluruh Windy. “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba putranya Yasir beberapa hari yang lalu. Dari bibirnya terucap dalam dinding hatiku ini. Tidak boleh ada menanggung-Nya. Pertama. dengan jawaban yang akan diterimanya. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku tengah asyik beribadah bercengkerama dengan selama-lamanya. Dengan hati berbunga-bunga Al Irfan menerima ke arah pinggir kota. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan “Anakku Al Irfan. untuk mengobati rasa haus kita berdua. Suhu badannya sangat sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan panas. dalam mimpi dan sadarmu. semakin ia meratap embun- embun cinta itu semakin deras mengalir. akan aku tunjukkan kekuatan!” jalan dan waktunya. Jantungnya nyaris berbuah pahala. lebih tragis keadaannya. Amin. Tak bisa kuingkari. Aku tawarkan dua hal padamu membaca dua juz dalam shalatnya. cinta. jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada setianya yang bisa dipercaya. Semua bercampur dan mengalir padaku. cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu. Benar aku sangat mencintaimu. Dari balik tirai ia mendengarkan Salamullahi’alaiki.

Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. tempat dimana ia bersujud. semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. yaitu cinta kepada Allah SWT. Assalamu’alaikum. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Al Irfan itu telah mengubah jalan hidupnya. Siang ia puasa. yaitu hidayah. Windy Seketika itu Al Irfan sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Wassalam. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah. Beliau telah terbuka hatinya.firmannya : “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik. Wassalam.” Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Al Irfan Begitu membaca jawaban Al Irfan itu Windy menangis. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT. Beberapa bulan kemudian Al Irfan menerima sepucuk surat dari Windy : Kepada Al Irfan. dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga). Selanjutnya Allahlah yang menentukan. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula). Segala puji bagi Allah. Sorban putih pemberian Al Irfan ia jadikan sajadah. Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita. 2010 NOTES: . Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah. Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Cepatlah kau datang melamarku. dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Allah Maha Rahman dan Rahim. Secepatnya. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Hal yang sama juga dilakukan Al Irfan di masjid Kufah. Windy. Irfan ♥ Windy July 8th. Bersama surat ini aku sertakan sorbanku.