Surah ar-Ra d

Surah ar-Ra'd terdiri dari 43 ayat. Surah ini dinamakan AR-RA'D yang berarti "Guruh" diambil dari ayat 13

x

Surah ar-Ra d

x

Surak ini bernama surah ar-Ra'd (Guruh). N a m a itu telah dikenal sejak awal masa Islam, bahkan pada sejak masa Nabi saw. Penamaannya dengan ar-Ra'd disebabkan salah satu ayatnya berbicara tentang guruh. Memang, dalam surah al-Baqarah [ 2 ] : 19 ada j u g a disebut kata Ra'd, tetapi uraian di sana b u k a n m e n y a n g k u t guruh, tetapi m e n y a n g k u t orang-orang munafik. Sedang, di sini ayatnya secara tegas berbicara tentang guruh sebagai pelaku yang bertasbih bersama malaikat. Tidak diketahui adanya nama lain u n t u k surah ini, selain a r - R a ' d . U l a m a berbeda p e n d a p a t t e n t a n g m a s a t u r u n n y a . A d a y a n g berpendapat setelah Nabi saw. berhijrah atau dengan kata lain M a d a n i y y a h . D a n ada pula yang berpendapat bahwa seluruh ayat surah ini turun sebelum beliau berhijrah, atau paling tidak sebagian besar ayat-ayatnya M a k k i y y a h . Ini setelah memerhatikan k a n d u n g a n uraian surah y a n g t e m a n y a serupa dengan tema ayat-ayat yang turun sebelum hijrah. Salah satu ayat y a n g dinilai oleh sementara ulama bahwa surah ini turun ketika Nabi saw. telah bermukim di M a d i n a h a d a l a h a k h i r ayat surah i n i . Tetapi, j i k a m e m e r h a t i k a n kandungannya y a n g sejalan dengan kandungan ayat pertama, sungguh wajar ia j u g a merupakan bagian dari surah M a k k i y y a h . A d a j u g a yang menilai ayat y a n g berbicara tentang guruh (ayat 13) turun di M a d i n a h , dan juga beberapa ayat lainnya. N a m u n , pendapat-pendapat itu h a n y a sekadar dugaan, bahkan tidak berdasarkan riwayat y a n g shahih.

197

198

Surah ar-Ra'd [13]

Tema u rama surah ini adalah uraian tentang kebenaran al-Qur'an dan bahwa ia adalah bukti kebenaran dan risalah Nabi M u h a m m a d saw. Tuduhan y a n g t i d a k beralasan dari k a u m m u s y r i k i n t i d a k l a h pada t e m p a t n y a dihiraukan, balikan tidak pada tempatnya diucapkan. Betapa ajakan al-Qu r'an y a n g d i s a m p a i k a n Nabi M u h a m m a d saw. b u k a n ajakan y a n g haq, padahal intinya adalah keesaan Allah sedang keesaan-Nya terbukti amat jelas pada avat-ayat kattniyah vang terhampar di langit dan di bumi. D e m i k i a n lebih

kurangThabathaba i. Pakar keserasian al-Qur'an, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa i, berpendapat serupa. Bertitik tolak dari n a m a surah i n i — " a r - R a ' d " — d i a menegaskan bahwa tujuan u t a m a surah ini adalah uraian tentang sifat alQ u r ' a n vang penuh dengan kebenaran dan y a n g dapat memberi pengaruh positif y a n g lahir dari k a l i m a t - k a l i m a t n y a y a n g sangat jelas dan, dengan "suaranya" y a n g gamblang, ia dapat melahirkan rasa takut dan gentar bagi siapa yang mau melihat, walau terkadang juga tidak memberi pengaruh bahkan menjadi sebab kesesatan dan kebutaan—bagi yang enggan. N a m a yang paling tepat untuk tujuan itu adalah Guruh karena guruh merupakan suatu kenyataan dan hak y a n g didengar oleh y a n g buta dan y a n g melek serta oleh siapa pun y a n g m e n a m p a k k a n diri atau y a n g bersembunyi. Ia j u g a dapat disertai oleh kilat dan hujan dan dapat j u g a tidak. H u j a n pun kalau turun dapat memberi manfaat jika tanah y a n g dihujamnya subur dan bisa j u g a tidak bermanfaat j i k a y a n g d isi r a m i n y a adalah tanah y a n g gersang. D e m i k i a n a l - B i q a ' i m e n g e m u k a k a n tema surah dari kata guruh n a m a yang disandangnya. Dari segi hubungan surah ini dengan surah sebelumnya, kita dapat berkata bahwa surah ini merupakan perincian dari ayat-ayat y a n g menjadi penutup surah yang lalu, yang antara lain berbicara tentang b a n y a k n y a ayat htUiniyah y a n g merupakan satu-satunya

y a n g terhampar di alam raya, tetapi diabaikan oleh k a u m m u s y r i k i n (ayatayat 105-108). Sekian banyak ayat yang terlihat di langit dan di bumi diuraikan dalam surah ini, seperti ayat 2, 3, dan 4. U r a i a n n y a tentang bagian-bagian yang berdampingan di bumi dan kebun-kebun serta aneka tanaman yang disirami dengan air yang sama mengantar kepada uraian tentang pembuktian keniscayaan hari Kemudian karena terdapat kemiripan antara kehidupan tanah

5urah ar-Ra'd [13]

199

yang tadinya gersang (mati) dengan kebangkitan manusia dan hidup kembali di hari Kemudian setelah m e n g a l a m i kematian. Di sisi lain, s u n g g u h serasi awal ayat pada surah ini dengan p e n u t u p surah sebelumnya. A k h i r uraian pada surah Yusuf adalah tentang ayat-ayat al-Qur an. Ia bukan cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran agama, serta petunjuk dan rahmat bagi k a u m y a n g beriman. Sedang, awal surah ar-Ra'd j u g a berbicara t e n t a n g ayat-ayat al-Kitdb, Qur'aniyah m a u p u n kauniyah, baik a y a t - a y a t
3

sebagaimana akan terbaca nanti pada ayat

pertama surah ini. Ada hal lain y a n g m e n a r i k dari surah ini, y a i t u i r a m a musikal y a n g dilahirkan kata-kata, penggalan kalimat, dan fdshilahf penutup ayat-ayatnya. tuqinun,

Lima ayat pertama ditutup dengan irama y a n g sama: yuminun, yatafakkarun,yaqilun, dan khdlidun.

Selanjutnya, dari ayat e n a m sampai

dengan 2 7 , h u r u f sebelum a k h i r n y a adalah ^///"sehingga bernada panjang seperti al-'iqdb, had, miqddr, al-mutadl, an-nahar, w di, ats-tsiqdl, dan

seterusnya hingga ayat 2 7 . Setelah pembaca terbiasa dengan nada itu tibatiba akhir ayat 2 8 diubah dengan m e n g a k h i r i n y a dengan huruf bd ' y a i t u alqulub lalu melanjutkan kembali sebagaimana sebelumnya menggunakan nada panjang mddb, matdb, mi'dd, dan seterusnya hingga akhir surah.

KELOMPOK 1

AYAT 1-4

201

202

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok i Ayat 1

Surah ar-Ra'd [13]

203

AYAT 1

"Alif, Ldm, Mim, Rd'. Itu ayat-ayat dari Tubanmu

al-Kitdb

dan yang

diturunkan

kepadamu "

adalah al-bacj; akan tetapi kebanyakan

manusia

tidak beriman.

Alif, Ldm, Mim,

Rd'. D e m i k i a n l a h huruf-huruf y a n g d i g a b u n g satu

dengan l a i n n y a sehingga melahirkan ayat-ayat al-Qur'an y a n g fungsinya "menjelaskan beriman", segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang

sebagaimana bunyi akhir ayat surah Yusuf. Itu y a n g amat tinggi yang terhampar di alam raya, adalah y a n g diciptakan dan dikendalikan kepadamu adalah

kedudukannya, yakni ayat-ayat kauniyah ayat-ayat al-Kitdb, yakni kitab kauniyah

oleh Allah, dan demikian juga ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan

m a k n a dan lafaznya dari Tuhan Pemelihara-/MZ/, wahai M u h a m m a d , al-haq,

y a k n i k e b e n a r a n m u t l a k y a n g a m a t s e m p u r n a . A y a t - a y a t itu kebanyakan

m e n u n j u k k a n keesaan dan kebesaran Allah swt., akan tetapi manusia tidak beriman

dan enggan mengakui keesaan Allah dan enggan pula

m e n e r i m a ayat-ayat itu sebagai bukti kebenaran. Salah satu pendapat tentang ( J.\) Alif ldm, Mim, Rd', dan ayat-ayat

y a n g m e n g g u n a k a n huruf-huruf fonetis y a n g mengawali beberapa surah alQ u r ' a n adalah b a h w a huruf-huruf itu bertujuan m e n a r i k perhatian k a u m musyrikin. Seakan-akan ia berkata: "al-Qur'an tersusun dari huruf-huruf yang biasa kalian g u n a k a n dalam bahasa Arab seperti ( J.\) Alif Ldm, Mim, Rd'.

Cobalah buat semacam al-Qur'an dengan m e n g g u n a k a n kata-kata y a n g tersusun dari huruf-huruf y a n g kalian ketahui itu! Pasti kalian tak m a m p u . " Masalah huruf-huruf itu telah penulis jelaskan secara luas pada awal surahsurah al-Baqarali, Ali 'Imran, dan surah-surah lain yang dimulai dengan hurufhuruf. Rujuklah ke sana! Di sini, penulis ingin menambahkan pendapat lain. Sementara orientalis berpendapat bahwa huruf-huruf itu merupakan semacam isyarat-isyarat d a l a m musik u n t u k kesatuan nada. Yusuf al-Qardhawi dalam tafsirnya atas surah ar-Ra'd menulis bahwa m e m a n g bacaan huruf-huruf tersebut m e m p u n y a i l a n g g a m tersendiri y a n g dapat berpengaruh, bahkan menurut al-Qardhawi beberapa orang temannya m e n y a m p a i k a n kepadanya

204

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok I Ayat 1

bahwa sementara pakar dari Barat dalam bidang musik memeluk Islam setelah m e n d e n g a r huruf-huruf tersebut dan b a h w a sebagian di antara mereka m e n e m u k a n sesuatu y a n g janggal pada beberapa surah y a n g dimulai dengan h u r u f fonetis itu, tetapi k e m u d i a n mengetahui b a h w a kejanggalan tersebut lahir dari cara m e m b a c a y a n g keliru. D i a tidak membacanya secara terputusputus tetapi m e m b a c a n y a secara terpadu. A l - Q a r d h a w i j u g a m e n y e b u t k a n b a h w a dia memeroleh informasi dari beberapa t e m a n n y a y a n g mengelola R u m a h S a k i t "Akbar" di P a n a m a City, A m e r i k a , b a h w a m e r e k a telah m e l a k u k a n percobaan-percobaan y a n g m e m b u k t i k a n b a h w a a l - Q u r ' a n m e m p u n y a i pengaruh positif terhadap orang-orang sakit, b a i k m u s l i m m a u p u n n o n - m u s l i m , baik y a n g mengerti bahasa Arab m a u p u n tidak.

Demikian al-Qardhawi. Secara panjang lebar, pengaruh ayat-ayat al-Qur'an terhadap jiwa manusia, penulis uraikan d a l a m b u k u Mukjizat Rujuklah ke sana jika A n d a berminat. Kata ( obT ) aydt adalah j a m a k dari ( l , J ) dyah y a n g dari segi bahasa berarti tanda. (>\&\ obT cJl>) tilka ayat al-Kitdb al-Qur'an. d i p a h a m i oleh b a n y a k al-Qur'an.

ulama dalam arti ayat-ayat

H a n y a saja, pendapat ini menjadikannya unzila

sama dengan penggalan selanjutnya, yakni ( ^ L J \ J jj\ ^ i J l j ) wa albzdzi ilaika/dan yang diturunkan kepadamu.

Ini menjadikan u l a m a - u l a m a itu

m e m a h a m i apa yang

diturunkan

itu berfungsi m e n e r a n g k a n apa y a n g al-Kitdb y a n g disebut p a d a penggalan

d i m a k s u d dengan kata ayat-ayat

sebelumnya. P e n u l i s — m e n d u k u n g pendapat u l a m a lain y a n g m e m a h a m i ayat al-Kitdb d a l a m arti tanda-tanda y a n g terbentang di a l a m raya. Ini lebih y a n g disebut sesudahnya

tepat karena pada dasarnya kata ( j ) waldan

berfungsi menggabung dua hal yang berbeda. Dengan memahami kata tersebut d a l a m arti ayat-ayat dari Tuhanmu kauniyah dan m e m a h a m i y a n g diturunkan kepadamu

d a l a m arti a l - Q u r ' a n , j e l a s p e r b e d a a n n y a , w a l a u p u n

persamaannya disebutkan oleh lanjutan penggalan itu, y a k n i k e d u a - d u a n y a adalah al-haq. Dengan d e m i k i a n , kita dapat berkata bahwa tidak m u n g k i n

terjadi perbedaan antara hakikat i l m i a h y a n g terbentang di alam raya dan kandungan ayat-ayat al-Qur'an. Keduanya adalah hak dan keduanya bersumber dari Allah swt. A l a m raya adalah c i p t a a n - N y a sedang al-Qur'an adalah firrnan-firrnan-Nya. Dari sini j u g a kita dapat menegaskan berdasar

Kelompok I Ayat 2

Surah ar-Ra'd [13]

205

ayat ini bahwa, d a l a m pandangan al-Qur'an, tidak ada pertentangan antara i l m u d a n Islam. T i d a k ada uraian al-Qur'an y a n g bertentangan dengan

hakikat-hakikat ilmiah. Kalau seandainya ditemukan pertentangan itu, y a n g keliru adalah penafsiran al-Qur'an atau penelitian ilmiah. Dalam konteks ini, Ibn Rusyd berpendapat bahwa hakikat-hakikat ilmiah y a n g d i t e m u k a n tidak keluar dari tiga k e m u n g k i n a n j i k a dikaitkan dengan ayat-ayat ai-Qur'an. Pertama, h a k i k a t ilmiah tersebut sejalan dengan teks hakikat itu tidak d i s i n g g u n g oleh ayat-

dan k a n d u n g a n ayat-ayat. Kedua, ayat al-Qur'an. Dan ketiga,

secara lahiriah hakikat i l m i a h y a n g d i t e m u k a n

itu bertentangan dengan teks ayat-ayat. Yang pertama dan y a n g k e d u a tidak m e n i m b u l k a n problem. A d a p u n k e m u n g k i n a n ketiga m a k a jalan keluarnya, m e n u r u t Ibn Rusyd, adalah m e n a k w i l k a n ayat-ayat tersebut sehingga sejalan dengan hakikat ilmiah. Pendapat ini s u n g g u h tepat, w a l a u p u n harus dicatat bahwa penakwilan itu baru dapat dilakukan jika penemuan y a n g dimaksud benar-benar merupakan hakikat ilmiah yang tidak terbantahkan. Sekian banyak penemuan yang telah dinyatakan sebagai penemuan ilmiah, ternyata terbukti kekeliruannya sehingga sedikitpun tidak wajar d i n a m a i hakikat ilmiah.

AYAT 2

"Allah Yang meninggikan bersemayam masing

langit

tanpa

tiang yang

kamu lihat, kemudian dan bulan. mengatur dengan

Dia Masingurusan Tuhan

di atas Arsy, dan menundukkan untuk waktu supaya yang kamu

matahari Allah

beredar

ditentukan. meyakini

menjelaskan kamu."

ayat-ayat

pertemuan

Allah swt. y a n g m e n u r u n k a n al-Qur'an. Allah j u g a Yang

meninggikan tanpa

langit, yakni menjadikannya tinggi sejak penciptaannya dalam keadaan

riang p e n y a n g g a h yang dapat kamu lihat dengan m a t a kepala k a m u semua, atau y a n g k a m u lihat ketiadaannya dengan m a t a kepala k a m u , Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan kemudian antara

206

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok I Ayat 2

lain guna kemaslahatan m a k h l u k . Masing-masing itu beredar secara teratur untuk waktu yang ditentukan

dari matahari dan bulan oleh-Nya. Ini setahun

dan itu sebulan atau hingga waktu yang ditentukan bagi kepunahan matahari dan bulan serta kehancuran alam raya. Adab mengatur urusan makhluk-Nya,

baik yang di langit m a u p u n di bumi. Allah menyiapkan bagi mereka sarana kehidupan ruhani dan jasmani, menjelaskan keesaan dan kebesaran-Nya, supaya Tuban kamu. j*-lJi ) rafa'a as-samawati/meninggikan langit antara. ayat-ayat, yakni tanda-tanda kamu dengan

kamu meyakini

pertemuan

Firman-Nya: (

lain m e n g a n d u n g m a k n a m e m i s a h k a n n y a dari bumi sehingga matahari dan bintang-bintang dapat m e m a n c a r k a n cahayanya ke bumi dan hujan y a n g d i t a m p u n g oleh awan dapat tercurah. Itu semua telah terjadi, dan tidak m u n g k i n akan terjadi tanpa ada yang mengatur dan m e n g e n d a l i k a n n y a . Firman-Nya; ( U j y .WP jju ) bighairi yang kamu libat'dalam amadin taraunahal'tanpa tiang

arti sebenarnya ada tiangnya, tetapi k a m u tidak lihat

dengan mata kepala. Tiang tersebut adalah daya-daya yang diciptakan Allah swt. sehingga tiang ini dapat m e n i n g g i dan tidak jatuh ke bumi, tidak j u g a planet-planet yang ada di alam raya ini saling bertabrakan. Firman-Nya: Dia bersemayam f-^ f ) tsumma istawa 'ala al- 'arsyf kemudian

di atas Arsy telah dijelaskan m a k n a n y a ketika menafsirkan

QS. al-A'raf [ 7 ] : 54. Di sana, antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa ada u l a m a y a n g enggan menafsirkannya: " H a n y a AJlah y a n g tahu maknanya", demikian u n g k a p a n u l a m a - u l a m a salaf (abad I-III H ) . Kata (<s d i k e n a l o l e h b a h a s a . N a m u n , kaifiyahlcaranya tidak ) istawa

diketahui.

M e m e r c a y a i n y a adalah wajib dan m e n a n y a k a n n y a adalah b i d a h , demikian ucap Imam M a l i k ketika makna kata tersebut ditanyakan kepadanya. U l a m a - u l a m a sesudah abad UI H berupaya menjelaskan m a k n a n y a d e n g a n m e n g a l i h k a n m a k n a k a t a istawa bersemayam ke m a k n a majazi dari m a k n a d a s a r n y a , y a i t u dan, dengan d e m i k i a n ,

y a i t u "berkuasa"

penggalan ayat ini bagai menegaskan tentang kekuasaan Allah swt. dalam mengatur dan mengendalikan alam raya. Tetapi, tentu saja hal tersebut sesuai dengan kebesaran dan k e s u c i a n - N y a dari segala sifat k e k u r a n g a n atau

Kelompok I Ayat 2

Surah ar-Ra'd [13]

207

k e m a k h l u k a n . R u j u k l a h ke tafsir surah al-A'raf itu u n t u k m e m a h a m i lebih j a u h m a k n a penggalan ayat ini!"* Ayat ini dan banyak ayat a k Q u r ' a n yang lain hanya menyebut matahari dan bulan. Padahal, ada b a n y a k benda langit y a n g lain dan y a n g j a u h lebih besar dari keduanya. Agaknya, penyebutan keduanya secara khusus disebabkan keduanya m e m p u n y a i pengaruh yang besar terhadap kehidupan m a k h l u k di b u m i . Para i l m u w a n tidak dapat m e m b a y a n g k a n b a g a i m a n a k e h i d u p a n di bumi tanpa matahari. Bulan j u g a m e m p u n y a i pengaruh y a n g tidak kecil. Pasang naik dan pasang turun, misalnya, adalah pengaruh cahaya bulan. Kata yajri memberi kesan peredaran pada suatu tempat y a n g ) yasbah yang antara lain berarti

sangat luas. Ini serupa j u g a dengan kata ( berenang

y a n g memberi kesan a d a n y a suatu tempat y a n g sangat l u a s —

katakanlah samudra di m a n a ada salah satu kapal sedang m e n g a r u n g i n y a . Bayangkanlah betapa besar samudra itu! A P Q u r ' a n melukiskan bahwa:

^>=^-^_^ciJp
"Dan Dia-lahyang Masing-masing telah menciptakan dari keduanya

J^i? f Zj^\j
l y

j\^>\j

J^e>^-<-^
dan garis

_>*J

malam

dan siang, matahari beredar di dalam

bulan. edarnya"

itu (yasbah)

(QS. al-Anbiya [ 2 1 ] : 3 3 ) . Kata ( f ) tsummalkemudian pada ayat ini bukan d i m a k s u d k a n u n t u k

menunjukkan jarak waktu, tetapi untuk menggambarkan betapa jauh berbeda dan besar tingkat penguasaan 'Arsy dibanding dengan penciptaan langit dan bumi. A y a t di atas m e n g g u n a k a n b e n t u k kata kerja masa l a m p a u k e t i k a b e r b i c a r a t e n t a n g p e n i n g g i a n l a n g i t ( £Jj ) rafa a/telah meninggikan.

Sedangkan, ketika berbicara tentang pengaturan-Nya, digunakan bentuk kata kerja mudhanimasa kini dan datang ( jj*u ) yudabbir. Ini karena peninggian

langit itu telah rampung dengan selesainya penciptaan langit dan bumi, sedang pengaturan dan p e m e l i h a r a a n - N y a berlanjut terus-menerus sejak dahulu, sekarang, hingga masa mendatang.

" Lihat tafsir Q S . a!-A'raf [7]: 54 pada volume 4 halaman 54.

208

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok I Ayat 2

Di sisi lain, hai ini j u g a dapat merupakan bantahan kepada orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi d a l a m enam hari, D i a beristirahat pada hari ketujuh. Mahasuci Allah atas kepercayaan sesat itu. Kata ( ^ J J ) yudabbir belakang/di akhir sesuatu. terambil dari kata ( ^ J S J dabbara Dari sini, lahir kata ( y* ) y a n g berarti di

duburlbelakang-bokong.

O r a n g y a n g yudabbir

atau m e l a k u k a n penadbiran, bukan saja m e n g a d a k a n

sesuatti, tetapi juga m e m e r h a t i k a n apa y a n g akan terjadi sesudah dan di belakang p e n g a d a a n n y a itu. Dia harus m e m p e r h i t u n g k a n b a g a i m a n a akhir dan kesudahan serta d a m p a k y a n g akan datang dari apa y a n g d i a d a k a n n y a itu. Penadbiran menuntut agar mewujudkan dengan baik dan benar apa yang

diadakan itu sehingga ia dapat berfungsi untuk masa kini dan masa mendatang serta tidak melahirkan d a m p a k - d a m p a k negatif. Allah swt. menciptakan dan m e n i n g g i k a n langit, m e n u n d u k k a n matahari dan bulan, serta mengatur perjalanannya, dan itu semua dilakukan-SNya dengan m e m e r h a t i k a n segala sesuatu serta mengaturnya sehingga tidak ada dampak negatif yang akan terjadi pada segala sesuatu akibat penciptaan dan pengaturan itu. M a n u s i a sering kali ketika membuat atau menciptakan sesuatu telah mengaturnya sedemikian rupa. Telah terlihat dan terasa olehnya bahwa segala sesuatu sudah demikian sempurna, tetapi tak lama k e m u d i a n , lahir d a m p a k - d a m p a k negatif dari penciptaan dan pengadaannya. Ini karena penadbiran yang dilakukan manusia tidak pernah sempurna. Kata ( y>^\) al-amr/urusan m e n c a k u p segala sesuatu sehingga tidak ada

satu urusan atau persoalan pun y a n g tidak berada di bawah kendali Allah. Bukan hanya matahari dan bulan atau benda-benda langit di angkasa, tetapi segala sesuatu hingga yang sekecil-kecilnya. Dia yang rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput menumbuhkan rumput-

itu kering

kehitam-hitaman,

atau subur kehijau-hijauan ( Q S . al-A'Ia L87]: 4 - 5 ) . Salah satu aspek dari tadbir dydt (menjelaskan ayat-ayat), (yudabbiru al-amr) adalah yufashshilu al-

baik ayat-ayat al-Qur'an m a u p u n ayat-ayat

kauniyah, yang kesemuanya merupakan tanda-tanda keesaan dan kebesaranN y a . Penjelasan y a n g beraneka ragam, sekali m e n y e n t u h akal, di kali lain

Kelompok I Ayat 2

Surah ar-Ra'd [13]

209

emosi, di kali ketiga mengajak dengan lemah lembut atau mengancam dengan perintah atau dengan kisah. Pemaparan tanda-tanda di alam raya pun silih berganti. Sekali dengan m e n g u n d a n g melihat keserasiannya, di kali lain manfaat yang dapat diraih, di kali ketiga dengan bencana-bencana yang terjadi. S e m u a Allah swt. adakan pada w a k t u n y a dan dengan sebab y a n g hak serta dengan tujuan y a n g sesuai dan serasi. Itulah sebagian k a n d u n g a n m a k n a menjelaskan ayat-ayat. Itu semua Allah swt. l a k u k a n agar manusia sampai

kepada keyakinan tentang keniscayaan hari Kemudian. Kata ( O J J J J ) tuqinun atau yaqin adalah pengetahuan y a n g m a n t a p

tentang sesuatu disertai d e n g a n t e r s i n g k i r n y a a p a y a n g m e n g e r u h k a n pengetahuan itu, baik berupa keraguan m a u p u n dalih-dalih y a n g

d i k e m u k a k a n lawan. Itu sebabnya pengetahuan Allah swt. tidak d i n a m a i mencapai tingkat y a k i n karena pengetahuan Yang M a h a M e n g e t a h u i itu sedemikian jelas sehingga tidak pernah sesaat atau sedikit pun disentuh oleh keraguan. Berbeda dengan manusia yangyakin. Sebelum tiba keyakinannya,

ia terlebih d a h u l u disentuh oleh keraguan. N a m u n , ketika ia sampai pada tahap yakin, menjelaskan keraguan y a n g t a d i n y a ada menjadi sirna. Itu disebabkan Allah ayat-ayatnya d a l a m b e n t u k beragam dan silih berganti, seperti

penulis k e m u k a k a n di atas, sehingga keraguan terkikis sedikit demi sedikit dan yang bersangkutan mencapai tahapyaqin.

D e n g a n m e m e r h a t i k a n a l a m r a y a serta k e h e b a t a n d a n k e t e l i t i a n perjalanannya serta dengan mempelajari ayat-ayat al-Qur'an seseorang akan sampai pada k e y a k i n a n b a h w a pasti ada Penciptanya, dan b a h w a m a k h l u k tidak diciptakan secara sia-sia. Ada tujuan dari kehadiran manusia di pentas bumi ini. M a n u s i a adalah m a k h l u k bertanggung j a w a b sehingga pasti dia akan d i t u n t u t p e r t a n g g u n g j a w a b a n n y a dan diberi ganjaran dan sanksi sempurna. Ganjaran dan sanksi d a r i - N y a tidak terjadi seluruhnya d a l a m kehidupan dunia. Karena itu, pasti sang Pencipta (Allah swt.)—menyediakan v.aktu tertentu u n t u k memberi balasan sempurna bagi amal baik dan amal :r_ruk seseorang.

210

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok I Ayat 3

AYAT 3

"Dan Dia yang sungai-sungai

membentangkan padanya. Dan

bumi dan menjadikan menjadikan padanya malam kepada

gunung-gunung semua siang.

dan

buah-buahan Sesungguhnya "

berpasang-pasangan, pada yang demikian

Allah menutupkan itu terdapat ayat-ayat

bagi kaum yang

memikirkan.

Dan b u k a n h a n y a benda-benda langit y a n g Allah ciptakan dan atur peredarannya. Dia j u g a yang membentangkan bumi, sebagaimana k a m u lihat

dengan p a n d a n g a n mata. D i a yang m e n u n d u k k a n n y a hingga k a m u dapat berjalan di seluruh persada b u m i dengan n y a m a n dan menjadikan gunung—betapapun tingginya dan tertancap ke bumi, dan menjadikan Dan, dari air tawar itu, Dia buah-buahan gunungsungai-

sungai mengalirkan air tawar padanya. padanya, yakni di b u m i itu, semua

menjadikan

dari berbagai m a c a m dan

jenis berpasang-pasangan

dan beranak pinak. A d a y a n g putih dan ada yang malam

merah. A d a y a n g manis dan ada y a n g m a s a m . Allah menutupkan kepada

siang sehingga antara lain m e n g a k i b a t k a n m a t a n g n y a buah-buahan. pada yang demikian itu, y a k n i semua y a n g disebut di atas,

Sesungguhnya terdapat

ayat-ayat,

yakni tanda-tanda y a n g sangat jelas bagi keesaan dan kaum yang b e r s u n g g u h - s u n g g u h m e r e n u n g dan

kebesaran Allah, bagi mem ikirkan -nya.

Firman-Nya: ( Jp1« Dia yang membentangkan

^ J J ^ yt>j ) wa huwa

alladzi

madda

al-ardhal

bumi sama sekali tidak bertentangan dengan bulat

atau lonjongnya b u m i . Karena, Allah swt. menciptakan bumi bulat, tetapi d a l a m saat y a n g sama Dia menjadikannya sedemikian besar d a l a m ukuran manusia sehingga ia menjadi datar dan dapat dihuni dengan n y a m a n . Ke m a n a pun A n d a m e m a n d a n g atau menuju, selama A n d a berada di pentas bumi ini Anda pasti akan melihat dan mendapatkan bumi ini datar. Persoalan bulatnya b u m i telah menjadi hakikat ilmiah y a n g diuraikan al-Qur'an dalam banyak ayat dan ini telah d i u n g k a p oleh u l a m a - u l a m a Islam j a u h sebelum Galileo ( 1 5 6 4 - 1 6 4 2 M ) . A l - B i q a i ( 1 4 0 6 - 1 4 8 0 M . ) , misalnya, berulangulang m e n y e b u t hakikat ini dalam tafsirnya, antara lain ketika menafsirkan

Kelompok I Ayat 4

Surah ar-Ra'd [13]

211

ayat ini. Bahkan, Ibn H a z m ( 9 9 4 - 1 0 6 4 M . ) d a l a m b u k u n y a , al-Ftishilft Milal wa an-Nihal,

al-

m e m b u k t i k a n hal tersebut sambil m e m b a n t a h orang-

orang y a n g menolaknya. Dan masih b a n y a k u l a m a Islam lainnya. Ayat ini mengisyaratkan bahwa segala macam jenis b u n g a yang menghasilkan buah hanya dapat berproduksi bila terjadi perkawinan antara unsur jantan dan betinanya, baik yang berasal dari bunga itu sendiri m a u p u n dari dua jenis b u n g a yang berbeda. M e m a n g , m e n u r u t para pakar, banyak pohon y a n g terdapat pada dirinya d u a jenis "alat kelamin". D a l a m hal ini bisa jadi k e d u a n y a d i t e m u k a n pada satu bunga, seperti h a l n y a kapas, dan bisa pada pohon y a n g sama tetapi d a l a m k e m b a n g y a n g berbeda. A d a j u g a yang hanya berupa pohon jantan atau pohon betina sehingga perlu dilakukan perkawinan antar-keduanya, seperti halnya pohon k u r m a . Sementara orang mempertanyakan mengapa soal malam dan siang disebut pada ayat ini, padahal k e d u a n y a berkaitan dengan matahari dan bulan y a n g dibicarakan oleh ayat yang lalu. Ada yang menjawab bahwa m a l a m dan siang disebut pada ayat ini y a n g berbicara tentang b u m i — b u k a n pada ayat y a n g berbicara tentang matahari dan bulan karena terjadinya m a l a m dan siang adalah akibat perputaran bumi, bukan akibat peredaran matahari dan bulan. Ayat di atas—sebagaimana ayat-ayat y a n g lain—tersusun dengan sangat serasi. Yang disebut pertama adalah bumi, lalu gunung-gunung y a n g menjadi penyanggah bagi tegaknya bumi. G u n u n g berfungsi sebagai cagak-cagak bagi kemah. Seterusnya adalah sungai-sungai yang banyak terdapat di lereng-lereng gunung. Dari sungai, air menguap ke udara untuk kemudian turun lagi dalam bentuk hujan dan ini mengairi tanah y a n g menghasilkan aneka buah y a n g berpasang-pasangan. D e m i k i a n , satu demi satu disebutkan secara berurut sesuai dengan fungsi dan d a m p a k y a n g dihasilkannya.

AYAT 4

"Dan di bumi ada kepingan-kepingan • "'i9gur, tanaman-tanaman '.-{•'•cabang, disirami dengan dan pohon air yang

yang

berdampingan, bercabang

dan

kebun-kebun tidak atas

kurma yang sama. Kami

dan yang sebagian

melebihkan

212

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok I Ayat 4

sebagian terdapat

yang

lain

dalam

rasanya.

Sesungguhnya berpikir. "

pada

yang

demikian

itu

tanda-tanda

bagi kaum yang

U n t u k lebih menjelaskan apa y a n g diuraikan pada ayat yang lalu tentang kebesaran dan kekuasaan Allah, ayat ini melanjutkan bahwa dan di bumi

tempat k a m u semua m e m i j a k k a n kaki dan m e n g h i r u p udara, k a m u semua melihat d e n g a n sangat nyata ada kepingan-kepingan berdekatan dan berdampingan tanah yang saling

n a m u n d e m i k i a n kualitasnya berbeda-beda.

A d a y a n g tandus ada pula y a n g subur dan ada j u g a y a n g jenisnya sama yang d i t u m b u h i oleh t u m b u h a n y a n g berbeda. Ada y a n g menjadi lahan kebun anggur dan tanaman-tanaman kebun-

persawahan dan ada juga yang menjadi bercabang dengan dan yang tidak airyangsama bercabang.

lahan bagi perkebunan pohon

kurma yang

S e m u a kebun dan t u m b u h a n itu disirami

lalu t u m b u h Kami rasanya

berkembang dan berbuah pada w a k t u tertentu. N a m u n d e m i k i a n , melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam

d e m i k i a n j u g a d a l a m besar d a n k e c i l n y a , w a r n a dan b e n t u k n y a , serta perbedaan-perbedaan terdapat tanda-tanda y a n g lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu

kebesaran Allah bagi kaum yang

berpikir.

D a l a m tafsir al-Muntakhab

y a n g d i s u s u n oleh sekian p a k a r y a n g

dikoordinasi oleh Kementerian W a k a f Mesir, ayat ini mereka pahami sebagai pengisyaratan a d a n y a i l m u tentang tanah (geologi dan geofisika) dan i l m u l i n g k u n g a n h i d u p (ekologi) serta p e n g a r u h n y a terhadap sifat t u m b u h t u m b u h a n . Secara i l m i a h — m e n u r u t mereka—telah diketahui bahwa tanah pesawahan terdiri atas butir-butir mineral y a n g beraneka ragam sumber, ukuran dan susunannya; air y a n g bersumber dari hujan; udara; zat organik yang berasal dari limbah t u m b u h - t u m b u h a n dan m a k h l u k h i d u p l a i n n y a yang ada di atas m a u p u n di dalam lapisan tanah. Lebih dari itu, terdapat pula berjuta-juta m a k h l u k hidup yang amat halus y a n g tidak dapat dilihat dengan m a t a telanjang karena u k u r a n n y a y a n g sangat kecil. J u m l a h n y a p u n sangat bervariasi, berkisar antara p u l u h a n j u t a sampai ratusan juta pada setiap satu gram tanah pertanian. Sifat-sifat tanah yang bermacam-macam itu, baik secara kimia, fisika, m a u p u n secara biologi, m e n u n j u k k a n kemahakuasaan Allah, Sang Pencipta dan kehebatan penciptaan-Nya. Tanah, seperti y a n g diakui

Kelompok I Ayat 4

Surah ar-Ra'd [13]

213

oleh para petani sendiri, benar-benar berbeda dari satu jengkal ke satu jengkal lainnya. Perbedaan tanah dan lain-lain yang disebutkan di atas, dan yang dilakukan oleh Allah swt., sama sekali tidak m e m b a t a l k a n h u k u m - h u k u m alam y a n g juga ditetapkan Allah swt. Itu sebabnya campur tangan petani, misalnya dengan m e n a m b a h k a n salah satu zat u t a m a yang diperlukan sebagai bahan m a k a n a n , misalnya dengan m e n g g u n a k a n p u p u k y a n g sesuai dengan jenis tanah, akan m e n g a k i b a t k a n perubahan y a n g berpengaruh pada t u m b u h t u m b u h a n . Ini pun diisyaratkan oleh kata "Kami" d a l a m fitman-Nya:

"Kami melebihkan

sebagian

atas sebagian

yang

lain dalam

rasanya. " Seperti

telah sering kali d i k e m u k a k a n dalam tafsir ini bahwa bentuk j a m a k yang menunjuk kepada Allah swt. m e n g a n d u n g makna keterlibatan pihak lain bersama-Nya, dalam hai ini adalah kelebihan rasa sebagian atas sebagian yang lain.

KELOMPOK 2

AYAT 5-7

215

216

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok II Ayat 5

AYAT 5

"Dan jika engkau

heran,

maka yang mengherankan tanah, apakah

adalah

ucapan

mereka: makhluk itulah, neraka,

"Apakah bila kami telah menjadi yang baru?" Mereka itulah yang

kami akan menjadi Tuhan mereka; dan

kafir kepada dan itulah

belenggu-belenggu mereka

di leher

mereka; "

penghuni-penghuni

kekal di dalamnya.

B u k t i - b u k t i y a n g d e m i k i a n jelas t e n t a n g keesaan Allah swt. serta kekuasaan-Nva d a l a m mencipta, m e n g h i d u p k a n , dan m e m a t i k a n sungguh sangat jelas sehingga dinyatakannya di sini bahwa Dan jika ada sesuatu pada satu saat atau hari yang mengherankan adalah ucapan engkau ketika itu wajar heran, maka yang patut

engkau dan siapa pun dengan keheranan yang amat besar mereka: "Apakah bila kami telah menjadi makhluk tanah, yang apakah barur" kami Mereka

akan d i k e m b a l i k a n h i d u p lagi dan menjadi

itulah vang mengingkari keesaan Allah dan keniscayaan Kiamat yaitu orangorang y a n g kafir kepada dan orang-orang itulah belenggu-belenggu Tuhan. M e r e k a y a n g menutupi hakikat kebenaran; y a n g sangat jauh dari rahmat Ilahi serta dilekatkan mereka

di tangan mereka lalu diikat belenggu itu di leher

dan orang-orang itulah yang sungguh sangat merugi dan yang akan menjadi penghuni-penghuni tetapi mereka neraka. Mereka menghuninya bukan untuk waktu singkat yakni w a k t u y a n g sangat lama.

kekal di dalamnya,

Firman-Nya:

"Jika engkau heran, makayang

mengherankan"'dipahami

oleh sementara ulama

antara lain al-Qurthubi dalam arti: "Jika engkau wahai M u h a m m a d heran dengan pendustaan mereka kepadamu padahal mereka dahulu mengakuimu sebagai seorang yang sangat j uj ur, yang lebih mengherankan lagi adalah ucapan mereka y a n g mengingkari keniscayaan Kiamat." Dapat juga penggalan ayat tersebut dipahami secara u m u m dan ditujukan bukan saja kepada Nabi M u h a m m a d saw., seperti pendapat al-Qurthubi itu.

Kelompok 1 Ayat 5 1

Surah ar-Ra'd [13]

217

tetapi ditujukan kepada siapa pun y a n g berakal. M e m a n g , siapa pun y a n g berakal sehat akan heran bila masih ada y a n g m e r a g u k a n akan a d a n y a kebangkitan manusia di H a r i Kiamat setelah sekian b a n y a k bukti-bukti keniscayaannya. Kata ( u ^ i P ) 'ajabun m a k n a besar/agung. d a l a m b e n t u k nakirah/indifinite mengandung adalah

Sedang, kata ( J ^ p ^ ! ) al-aghldllbelenggu-belenggu y a i t u kalung

b e n t u k j a m a k ( JA!1 ) al-ghul

besi y a n g salah satu u j u n g n y a

m e n g i k a t tangan dan ujung lainnya digantungkan di leher sehingga gerak yang dibelenggu menjadi sangat terbatas. Firman-Nya:

"Belenggu-belenggu

di leher

mereka,"

ada y a n g m e m a h a m i n y a sebagai firman-

gambaran siksa y a n g mereka alami di akhirat nanti sejalan dengan Nya:

"Ketika belenggu

dan rantai

dipasang

di leher mereka,

seraya

mereka

diseret"

(QS. al-Mu'min [ 4 0 ] : 7 1 ) , dan ada juga yang m e m a h a m i n y a sebagai ilustrasi tentang keadaan mereka dalam k e h i d u p a n dunia ini. Keengganan mereka yang tidak beriman diserupakan dengan keadaan seseorang yang terikat tangan ke lehernya sehingga tidak dapat mengambil sesuatu, tidak juga dengan leluasa dapat menoleh ke kiri dan ke kanan. Kedua m a k n a ini—-hakiki dan majazi,

dunia dan akhirat—dapat digabung dalam m e m a h a m i ayat tersebut. Karena siapa yang enggan menerima kebenaran yang disampaikan oleh para rasul, di hari Kemudian nanti, dia akan dibelenggu dan diseret ke neraka. S u n g g u h orang-orang kafir itu m e m u t a r b a l i k k a n keadaan. M e r e k a mestinya pada m u l a n y a heran dan takjub melihat fenomena alam raya, tetapi dalam kenyataan mereka menganggapnya biasa. Di sisi lain, mereka mestinya tidak heran apalagi menolak keniscayaan Kiamat setelah begitu banyak buktibukti y a n g terhampar, tetapi k e n y a t a a n n y a mereka heran dan m e n o l a k n y a . S u n g g u h tidaklah wajar seseorang tidak metasa heran atau tidak k a g u m

218

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok II Ayat 6

melihat suatu keajaiban dan sungguh lebih tidak wajar j i k a ia heran dan m e n o l a k sesuatu y a n g tidak m e n g h e r a n k a n dan tidak pula wajar ditolak.

AYAT 6

"Mereka padahal

meminta telah

kepadamu terjadi

supaya

disegerakan contoh mempunyai Tuhanmu

siksa, sebelum siksa sebelum bagi

kebaikan, mereka. manusia keras

bermacam-macam benar-benar dan sesungguhnya

Sesungguhnya, sekalipun mereka

Tuhanmu zalim,

ampunan benar-benar

sangat

siksa-Nya. "

B u k a n hanya pengingkaran mereka terhadap keniscayaan Hari Kiamat yang mengherankan dari ulah orang-orang kafir itu, tetapi j u g a ulah mereka y a n g lain, y a i t u mereka meminta kepadamu supaya disegerakan datangnya

siksa yang d i a n c a m k a n atas mereka. S u n g g u h aneh dan begitu berani lagi ceroboh mereka itu. M e r e k a m e m i n t a d a t a n g n y a siksa, padahal tidakkah lebih baik dan logis jika sebelum m e m i n t a siksa mereka m e m i n t a kebaikan

yang dijanjikan yaitu dengan mengindahkan tuntunan Rasul? S u n g g u h aneh mereka yang m e m i n t a siksa itu padahaltelah siksa sebelum mereka. terjadi bermacam-macam contoh

Seperti y a n g dialami oleh k a u m N u h , 'Ad, Tsamud,

Luth, dan lain-lain. B u k a n k a h apa y a n g mereka alami itu m e m b u k t i k a n kebenatan ancaman Allah? N a m u n demikian, Allah swt. menangguhkan siksa atas mereka untuk memberi mereka kesempatan berintrospeksi, menyesal, dan bertaubat. Sesungguhnya benar mempunyai ampunan Tuhanmu y a n g selalu berbuat baik itu sekalipun mereka benarzalim

y a n g luas bagi manusia Tuhanmu

dan mcngkufuri-Nya, dan sesungguhnya benar-benar sangat keras siksa-Nya

juga, wahai M u h a m m a d ,

bagi y a n g terus-menerus durhaka dan

enggan bertaubat, baik siksa itu duniawi lebih-lebih ukhrawi. Kata { oViiU ) al-rnatsuldt adalah bentuk j a m a k dari ( i k a ) matsulah. la

tetambil dari kata ( Jiw ) m/W yang berarti sama.

Siksa yang dijatuhkan Allah

dinamai d e m i k i a n karena siksa tersebut seimbang dan sama dengan dosa vang mereka lakukan.

Kelompok II Ayat 7

Surah ar-Ra'd [13]

219

Thabathaba'i m e m a h a m i

firman-Nya:

"Sesungguhnya

Tuhanmu

benar-benar

mempunyai

ampunan"sebagai

penjelas

mengapa ulah k a u m kafirin itu sangat mengherankan. Yakni, Allah swt. sangat luas r a h m a t - N y a sehingga m e n c a k u p semua m a n u s i a w a l a u p u n mereka berbuat kezaliman. R a h m a t - N y a mengalahkan amarah-Nya, tetapi anehnya mereka tidak memanfaatkan rahmat y a n g d e m i k i a n luas bahkan mereka m e m o h o n siksa-Nya. Ayat di atas m e n g g u n a k a n kata ( mengisyaratkan bahwa ) an-nds/semua manusia untuk

ra^^r^/pengampunan

Allah dapat

menyentuh

semua manusia termasuk y a n g kafir selama mereka m e n e m p u h jalan y a n g benar u n t u k meraihnya. Karena itu pula ayat ini m e n y a t a k a n Allah Pemilik maghfirabimempunyai a m p u n a n . Kata itu juga memberi kesan bahwa AJlah

memiliki a m p u n a n yang dapat Dia bagi-bagikan kepada siapa saja, baik yang m e m i n t a m a u p u n y a n g tidak m e m i n t a . M e m a n g , b a n y a k pelanggaran dan dosa yang Allah ampuni sebelum pelakunya bermohon {baca antara lain Q S . asy-Syura [ 4 2 ] : 2 5 , 3 0 dan 3 4 ) .

AYAT 7

Orang-orang (bukti) peringatan; dari

kafir berkata: Tuhannya? dan bagi setiap

"Mengapa Sesungguhnya

tidak diturunkan engkau

kepadanya seorang

suatu

ayat pemberi "

hanyalah petunjuk

kaum ada pemberi

(buat mereka).

Ada hal lain yang juga mengherankan akibat kesesatan mereka yang telah m e l a m p a u i batas itu. Orang-orang m e n g e j e k : Mengapa tidak diturunkan kafir selalu berkata dengan tujuan

kepadanya,

yakni kepada Nabi

M u h a m m a d saw., suatu ayat yaitu bukti berupa mukjizat tanda kebenaran dari Tubannya?Mereka berkata: "Alangkah baik dan tepatnya jika bukti yang

d i t a m p i l k a n oleh M u h a m m a d a d a l a h m u k j i z a t i n d r i a w i seperti v a n g ditampilkan oleh M u s a , 'Isa, dan nabi-nabi sebelumnya." Usul mereka itu

220

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok II Ayat .

ditanggapi bahwa: Sungguh aneh permintaan mereka. AJ-Qur'an sedemikian jelas menjadi bukti. Apakah itu belum cukup? Di sisi lain, bukti-bukti hanya ada dan bersumber dari Allah swr. Engkau, w a h a i M u h a m m a d , tidak

memiliki sedikit campur tangan pun dalam hal menghadirkan mukjizat karena sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan serta pemberi petunjuk buat

petunjuk dan b i m b i n g a n ; dan bagi setiap

kaum ada pemberi

mereka, baik sebagai nabi vang diutus Allah m a u p u n sebagai pewaris-pewaris nabi yang bertugas m e n y a m p a i k a n dan melanjutkan ajarannya. Apa yang diusulkan oleh k a u m kafirin itu m e m a n g sangat aneh. Jika ada seseorang yang mengaku sebagai insinyur atau dokter, kemudian diragukan oleh orang lain, sangat aneh jika dia m e n a m p i l k a n hal-hal luar biasa yang tidak berkaitan dengan profesinya. Sebaliknya, bila dia m e m a p a r k a n bukti k e b e n a r a n n y a dengan sesuatu y a n g berkaitan dengan pengakuannya-— katakanlah kesembuhan pasien bagi dokter—-tentu saja pembuktian itu lebih k u k u h daripada m e l a k u k a n hal-hal indriawi y a n g luar biasa karena buktibukti indriawi yang diajukan bisa saja dinilai sebagai salah satu pengelabuan mata atau hipnotisme. K e t i k a m e n a f s i r k a n Q S . a l - A n ' a m [ 6 ] : 3 7 , p e n u l i s a n t a r a lain mengemukakan bahwa sungguh aneh logika mereka itu. Dari m a n a gerangan mereka mengetahui bahwa Allah akan rela melayani permintaan mereka, sedang selama ini sudah sekian banyak bukti yang dipaparkan-Nya? Bukankah alam raya dengan segala isinya adalah bukti-bukti yang nyata dan oleh alQ u r ' a n d i n a m a i ayat-ayat? H a n y a karena terulangnya serta keterbiasaan kita melihat atau mendengarnya, ia tidak dianggap lagi suatu peristiwa luar biasa y a n g dapat menjadi ayat/bukti. J a t u h n y a sesuatu karena daya tarik bumi tidak kurang m e n g a g u m k a n daripada jika sesuatu itu tertarik ke atas. Hanya saja, karena yang itu sudah sering kali terjadi, ia tidak lagi dianggap bukti oleh mereka yang lengah. Sungguh, tata kerja alam raya yang berjalan konsisten sesuai dengan h u k u m - h u k u m yang ditetapkan AJlah, pada hakikatnya, adalah peristiwa-peristiwa luar biasa, kendati ia sudah sering dilihat. Di sisi lain, tidak tertutup kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa berbeda yang tidak biasa karena, b a i k y a n g telah terlihat sehari-hari m a u p u n y a n g tidak, kesemuanya tidak keluar dari kekuasaan dan kodrat Allah, dan ketika itu

Kelompok il Ayat 7

Surah ar-Ra'd [13]

221

vang terlihat sehari-hari m a u p u n tidak, k e d u a n y a sangat mengagumkan dan dapat menjadi bukti kebenaran. Di sisi lain, Allah menolak pengabulan permintaan orang-orang kafir karena Yang Mahakuasa itu telah berkali-kali mengabulkan permintaan orangorang kafir terdahulu tetapi mereka vang sifatnya mirip dengan sifat orangorang kafir M e k k a h itu tetap saja mengingkari dan mendustakan kebenaran vang dibawa para rasul.

Dan sekali-kali .v;at (tanda-tanda deh orang-orang ::u (sebagai

tidak ada yang kekuasaan dahulu.

menghalangi Kami),

Kami ttutak mengirhnkan karena kepada ia telah Tsamudunta menganiayanya.

ayatdidustakan betina Dan

melainkan

Dan telah Kami berikan

mukjizat)

yang dapat dilihat, tanda-tanda

tetapi mereka untuk

Kami tidak memberi
7

melainkan

menakuti"

( Q S . al-lsra'

. l * ] : 5 9 ) . J i k a d e m i k i a n , apa g u n a n y a permintaan mereka dikabulkan? Ucapan atau usul mereka dengan m e n g g u n a k a n redaksi seperti dikutip i y a t ini "Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu ayat (bukti) dari

- .v/vmw)'/??'"menunjukkan betapa j a u h n y a mereka dari sopan santun kepada Allah swt. Ini dipahami dari ucapan mereka "dari Tuhannya", yakni dari Tuhan

Nabi M u h a m m a d saw. Seharusnya mereka berkata "dari Allah", atau "dari -Lihan", atau "Yang Mahakuasa", dan s e m a c a m n y a . Dengan berkata "dari -uhannya", seakan-akan mereka ingin m e n u n j u k k a n b a h w a Tuhan Nabi . M u h a m m a d saw. tidak m a m p u . " K a l a u T u h a n n y a m a m p u pasti Dia membantunya dan m e n u r u n k a n bukti yang k a m i minta," begitu maksud -Japan mereka. Ayat di atas tidak memerintahkan Nabi saw. menjawab usul mereka itu. . ~: dipahami bukan dari tiadanya kata quh'katakanlah sebagaimana beberapa

i" .i: lainnya. A g a k n y a , hal tersebut demikian u n t u k mengisyaratkan bahwa _:^pan mereka itu tidak perlu dilayani atau digubris.

KELOMPOK 3

AYAT 8-16

f

'O^-^ W

J^^*

^

223

Surah ar-Ra'd [13]

^l^j^oj^^y^^^y'JiCiJib

*****

Kelompok III Ayat 8-9

Surah ar-Ra'd [13]

225

AYAT 8-9

"Allah mengetahui berkurang di dalam

apa yang dikandung

oleh setiap perempuan,

dan apa

yang sisiyang

rahim dan yang bertambah. (Allah) lagi Yang mengetahui Mahatinggi."

Dan segala sesuatu pada semua yang gaib dan

Nya ada ukuran(nya). tampak; Yang Mahabesar

Setelah avat-ayat y a n g lalu m e m b u k t i k a n kekuasaan AJlah swt., kini diuraikan i l m u - N y a yang sangat luas lagi mencakup segala y a n g kecil dan y a n g besar. Tuhan Yang M a h a Mengetahui-lah y a n g m e n e n t u k a n j u g a jenis ayat atau mukjizat y a n g d i t u r u n k a n n y a kepada setiap rasul. Salah satu objek pengetahuan-Nya adalah tentang k a n d u n g a n . sejak d a h u l u , sekarang, dan terus-menerus, mengetahui Allah,

keadaan janin sejak

masih berbentuk sperma. Calon bapak lalu m e m b u a h i ovum y a n g berada dalam diri seorang calon ibu. Allah mengetahui j u g a apa yang oleh setiap perempuan dikandung

atau betina setelah pertemuan sperma dan ovum y a n g

k e m u d i a n menempel di d i n d i n g rahim. Allah mengetahui, bukan saja jenis kelaminnya, tetapi berat badan dan bentuknya, keindahan dan keburukannya, usia dan rezekinya, masa kini dan masa depannya, dan lain lain. Dan .Allah mengetahui j u g a apa, y a k n i sperma serta ovum, yang berkurang di dalam.

rahim yang dapat mengakibatkan janin lahir cacat atau keguguran dan Allah mengetahui juga yang bertambah, kembar. Dan segala kandungan, pada sesuatu, sisi-Nya yakni t u m b u h atau yang d a l a m keadaan

baik m e n y a n g k u t kandungan m a u p u n selain ada ukuran-nyz. y a n g sangat teliti, baik dalam

kualitas, kuantitas, m a u p u n kadar, w a k t u dan tempatnya, j a n g a n heran m e n y a n g k u t pengetahuan itu karena Allah adalah Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi semua

sehingga pada

akhirnya tidak ada sesuatu pun y a n g gaib bagi-Nya. Kata ( jaJu ) taghidh sesuatu yang cair yang d i p a h a m i oleh al-Biqa'i dalam arti di suatu tempat yang sangat dalam. berkurangnya Dari sini,

terdapat

ulama tersebut m e m a h a m i penggalan ayat tersebut d a l a m arti b a h w a Allah i\vt. mengetahui penambahan cairan y a n g terdapat dalam rahim atas cairan

226

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 8-9

y a n g ada sebelumnya y a n g m e r u p a k a n unsur kelahiran dan yang k e m u d i a n dapat berakibat lahirnya a n a k kembar. Thabarhaba'i lain lagi p e m a h a m a n n y a . U l a m a ini m e m a h a m i kata taghidh bumi. ( d a l a m arti apa yang dijadikan
A.}S,P

oleh rahim

seperti

air yang

ditelan

) ghidhah

m e n u r u t n y a adalah tempat perhentian air sehingga

semua bagaikan ditelannya. Atas dasar itu, ulama ini m e m a h a m i penggalan ayat di atas sebagai berbicara tentang hal yang berkaitan dengan rahim pada saat k e h a m i l a n . Pertama apa yang dikandung oleh rahim y a i t u janin, d a l a m berkurang di dalam rahim

hal ini rahim m e m e l i h a r a n y a . Kedua,

apa yang

yaitu darah haid y a n g diolah oleh rahim menjadi m a k a n a n janin. Dan yang ketiga adalah yang bertambah y a i t u darah nifas y a n g dikeluarkan oleh rahim

setelah melahirkan. Ada juga yang berpendapat ( f l ? - y ^ Jo-Jii l a ) ma taghidhu d a l a m arti w a k t u yang berkurang bahwa yang dimaksud yang berkurang di dalam dengan rahim

al-arhamlapa

dari masa kehamilan normal (kurang dari adalah kelebihan dari masa normal

sembilan bulan) dengan yang berlebih itu. Sifat Allah ( ) abKabir

d i p a h a m i oleh sementara u l a m a dalam arti dan kekuasaan. Imam al-Ghazaii m e m a h a m i atau dengan kata lain

kebesaran dalam hal keagungan "kebesaran"

itu d a l a m arti kesempurnaan

Zat-Nya

kesempurnaan wujud-Nya. Selanjutnya, kesempurnaan w u j u d ditandai oleh dua hal yaitu keabadian dan sumber wujud.

Allah kekal abadi. Dia awal y a n g tanpa permulaan dan akhir y a n g ranpa pengakhiran. T i d a k dapat tergambar d a l a m benak, apalagi dalam kenyataan bahwa Dia pernah tiada dan satu ketika akan tiada. Allah adalah Dzat y a n g wajib w u j u d - N y a . Berbeda dengan makhluk y a n g w u j u d n y a didahului oleh ketiadaan dan diakhiri pula oleh ketiadaan. Dari segi sumber wujud, Dia

adalah sumbernya karena setiap yang t na ujud pasti ada yang mewujudkannya. Mustahil sesuatu dapat mewujudkan dirinya sebagaimana mustahil pula ketiadaan y a n g m e w u j u d k a n n y a . J i k a d e m i k i a n , benak kita pasti berhenti pada wujud yang wajib dan vang merupakan sumber dari segala y a n g wujud. Dialah Allah yang Mahabesar itu.

Kelompok III Ayat 10-11

Surah ar-Ra'd [13]

227

Kata (

)

al-Muta'dl,

di samping m e n u n j u k k a n ketinggian Allah

swt., juga mengandung makna ketidakmampuan selain-Nya untuk mencapaiNya, yang dibuktikan oleh kuatnya hujjahl dalil. M e m a n g , ada saja makhluk

yang merasa dirinya m e n y a n d a n g kebesaran atau ketinggian k e d u d u k a n dengan berbagai dalih atau w a h a m . Tetapi, itu semua adalah palsu dan tidak lama bertahan. Sayyid Q u t h u b , ketika sampai pada penafsiran kedua sifat Ilahi ini, menulis: "Kedua kata yang m e n g g a m b a r k a n sifat Allah itu memberi kesan, tetapi kesan itu sangat sulit d i g a m b a r k a n d e n g a n k a t a - k a t a y a n g lain. Sesungguhnya, Dia tidak menciptakan suatu ciptaan kecuali ada kekurangan yang m e n j a d i k a n n y a k e c i l — d i sisi-Nya. T i d a k satu pun dari semua ciptaan Allah y a n g d i n a m a i besar, tidak j u g a satu peristiwa dari peristiwa-peristiwa apa pun atau karya dari karya-karya apa pun yang dinamai besar, kecuali dia langsung mengecil begitu disebut n a m a Allah. Demikian juga dengan "al-

Muta'dllYangMahatinggi." Setelah menguraikan hal di atas, Sayyid Q u t h u b menulis: "Apakah A n d a duga aku telah menjelaskan sesuatu? Tidak! Tidak satu penafsir al-Qur'an pun yang m a m p u berdiri di hadapan al-Kabir al-Muta'dl. " Yang

Ayat 9 di atas, yang d i m u l a i dengan pernyataan bahwa Allah Mengetahui semua gaib dan yang tampak,

diakhiri dengan dua sifat-Nya al-

Kabir al-Muta'dlsehingga

pada a k h i r n y a ayat ini menjelaskan bahwa ilmu

Allah swt. mencakup segala sesuatu lagi menguasai dan mengatasinya, tidak ada sesuatu pun y a n g dapat mengatasi-Nya. Dia tidak dikalahkan oleh y a n g gaib, tidak juga oleh yang nvata karena Dia adalah al-Kabir al-Muta'dl, yakni

Dia y a n g abadi dan Dia juga sumber w u j u d lagi Kuasa m e n g a l a h k a n segala sesuatu.

AYAT 10-11

"Sa/na saja siapa di antara berterus-terang \ang berjalan dengannya,

kamu yang merahasiakan dan siapa yang bersembunyi

ucapan,

dan siapa hari

yang dan

di malam

di siang hari. Ada baginyapengikuti-pengikutyang

bergiliran,

228

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 10-11

di hadapannya Sesungguhnya mengubah keburukan

dan di belakangnya; Allah tidak mengubah

mereka

menjaganya suatu

atas perintah kaum sehingga Allah dapat

Allah. mereka

keadaan

apa yang terhadap

ada pada sesuatu

diri mereka katun,

Dan apabila

menghendaki menolaknya;

maka tak ada yang

dan sekali-kali

tak ada pelindung

bagi mereka

selain Dia. "

Karena Allah mengetahui yang gaib dan tampak, bahkan mengetahui segala sesuatu sebelum, pada saat, dan sesudah w u j u d n y a , m a k a sama bagi Allah siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapan-nya saja

agar tidak berterus-terang

ada y a n g mengetahui kecuali dirinya sendiri dan siapa yang dengannya,

y a k n i dengan ucapan itu sehingga diketahui y a n g lain dan

sungguh di malam

hari y a n g gelap gulita dan yang hari

berjalan

menampakkan

diri t e r a n g - t e r a n g a n di siang

bolong. T i d a k berbeda s e d i k i t p u n

p e n g e t a h u a n - N y a m e n y a n g k u t vang jelas dan vang tersembunyi, w a l a u terdapat perbedaan dalam nyata dan tersembunyinya sesuatu. Siapa pun, baik yang bersembunyi di m a l a m hari atau berjalan terangterangan di siang hari, masing-masing ada baginya pengikut-pengikut, yakni bergiliran,

malaikat-malaikat atau m a k h l u k jv^zg-selalu m e n g i k u t i n y a secara di hadapannya menjaganya suatu sehingga kaum dan juga atas perintah di belakangnya, Allah. Sesungguhnya mereka,

vakni para malaikat itu, keadaan

Allah tidak mengubah

dari positif ke negatif atau sebaliknya dari negatif ke positif apa yang ada pada diri mereka, Allah yakni sikap mental keburukan

mereka mengubah

dan pikiran mereka sendiri. Dan apabila terhadap

menghendaki

suatu kaum, tetapi ingat bahwa Dia tidak m e n g h e n d a k i n y a kecuali

j i k a manusia mengubah sikapnya terlebih d a h u l u . J i k a Allah menghendaki keburukan terhadap suatu k a u m , ketika itu berlakulah ketentuan-Nva yang berdasar sunnatullah atau h u k u m - h u k u m kemasyarakatan yang ditetapkanNya. Bila itu terjadi, maka tak ada yang dapat sunnatullah menimpanya; dan sekali-kali jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Kata ( o L i * l i ) al-mu rnu'aqqibah. 'aqqibat menolaknya dan pastilah

tak ada pelindung Dia.

bagi mereka, yang

adalah bentuk j a m a k dari kata ( dJUii} altumit. Dari

Kata tersebut terambil dari kata ( ^ J i p ) 'aqibyaitu

Kelompok III Ayat 10-11

Surah ar-Ra'd [13]

229

sini kata tersebut dipahami dalam arti /;/fw^/£«ft seakan-akan yang mengikuti itu meletakkan t u m i t n y a di tempat tumit y a n g diikutinya. Patron kata yang d i g u n a k a n di sini m e n g a n d u n g m a k n a penekanan. Yang d i m a k s u d adalah m a l a i k a t - m a l a i k a t yang ditugaskan .Allah m e n g i k u t i setiap orang secara sungguh-sungguh. k a t a ( AJ£ist£;) yahfazhunahttJmemeliharanya dapat dipahami dalam arti

mengawasi manusia d a l a m setiap g e t a k langkahnya, baik ketika dia tidak b e r s e m b u n y i m a u p u n saat p e r s e m b u n y i a n n y a . D a p a t j u g a d a l a m arti memeliharanya, penciptaan nya. Ketika menafsirkan surah ath-Thariq pada firman-Nya: dari g a n g g u a n apa pun y a n g dapat menghalangi tujuan

"Setiap jiwa

pasti

ada pemeliharanya"

( Q S . ath-Thariq [ 8 6 ] : 4), p e n u l i s — bahwa "Manusia

pada b u k u Tafsir ai-Qur'an

al-Karim—-mengemukakan

bergerak dengan bebas di siang hari, matahari dan k e h a n g a t a n n y a sangat m e m b a n t u manusia dalam segala aktivitasnya. Tetapi, bila m a l a m tiba dan kegelapan menyelimuti lingkungan, apakah Allah membiarkan manusia tanpa pemeliharaan dan perlindungan? Tidak! Salah satu bentuk pemeliharaan-Nya adalah melalui bintang-bintang yang darinya manusia dapat mengetahui arah. Pemeliharaan Allah terhadap setiap jiwa bukan hanya terbatas pada tersedianya sarana dan prasarana kehidupan, seperti udara, air, matahari, dan sebagainya, terapi lebih dari itu. Dalam kehidupan kita ada yang dikenal dengan istilah 'indyatullah, di samping sunnatullah. J i k a ada kecelakaan fatal dan seluruh yakni sesuai dengan

p e n u m p a n g tewas, y a n g d e m i k i a n adalah sunnatullah,

h u k u m - h u k u m alam vang biasa kita lihat, tetapi bila kecelakaan sedemikian hebat, yang biasanya menjadikan semua p e n u m p a n g tewas, tetapi ketika itu ada y a n g selamat, ini adalah 'indyatulldh y a n g merupakan salah satu bentuk

pemeiiharaan-Nya. Nah, ada m ala ikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk menangani pemeliharaan itu." Kata ( &\ y[>) bi umr Allah dipahami oleh banyak ulama dalam arti atas perintah Allah. Thabathaba'i m e m a h a m i n y a d a l a m arti lebih luas. U l a m a

ini terlebih dahulu menggarisbawahi bahwa manusia bukan sekadar jasmani,

230

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 10-11

tetapi dia adalah m a k h l u k ruhani dan jasmani dan y a n g terpokok d a l a m segala p e r s o a l a n n y a adalah sisi dalamnya y a n g m e m u a t perasaan dan

kehendaknya. Inilah yang terarah kepadanya perintah dan larangan, dan atas dasarnya sanksi dan ganjaran dijatuhkan, d e m i k i a n juga k e n y a m a n a n dan kepedihan serta kebahagiaan dan kesengsaraan. Dari sanalah lahir amal baik atau b u r u k dan kepadanya ditujukan sifat i m a n dan kufur, w a l a u p u n harus diakui bahwa badan adalah alat y a n g d i g u n a k a n n y a u n t u k meraih tujuan dan maksud-maksudnya. Atas dasar itu, T b a b a t h a b a i m e m a h a m i kata ( 4il> bayniyadaihi wa min khalfihi/di hadapannya
JAJ AJJU JU

y>}

min pada

dan juga di belakangnya

ayat ini d a l a m arti seluruh totalitas m a n u s i a , y a k n i seluruh arah y a n g mengelilingi jasmaninya sepanjang hayatnya, dan tercakup j u g a semua fase k e h i d u p a n kejiwaan y a n g d i a l a m i n v a , d e m i k i a n juga kebahagiaan dan kesengsaraannya, a m a l - a m a l n y a yang baik dan y a n g buruk, serta apa y a n g disiapkan baginya dari sanksi atau ganjaran. S e m u a itu, baik y a n g terjadi di masa lalu m a u p u n masa datang. Selanjutnya, T h a b a t h a b a ' i m e n g i n g a t k a n b a h w a manusia adalah m a k h l u k lemah. Allah swt. menyifatinya dengan m a k h l u k yang tidak memiliki k e m a m p u a n u n t u k m e n a m p i k mudharat, tidak juga m e n d a t a n g k a n manfaat, tidak kematlan, tidak j u g a kehidupan atau kebangkitan. Dia tidak memiliki k e m a m p u a n memelihara apa y a n g berkaitan dengan dirinya atau dampak-dampaknya, baik yang hadir bersama dia sekarang m a u p u n yang telah lalu. S e m u a itu h a n y a dapat dipelihara oleh Allah swt. karena Allah adalah Hafidzliviaiia Pemelihara ( Q S . asy-Syt'ira [ 4 2 ] :

6) dan j u g a ada petugas-petugas yang ditugaskan-Nya sebagaimana firmanN y a : "Dan sesungguhnya pemelihara"(QS. Allah "muaqqibdt", atas kamu ada pengawas-pengawas/pemelihara-

al-lnfithar [82]: 10). Seandainya tidak ada apa yang dinamai pastilah manusia segera mengalami kebinasaan pada dirinya

sendiri, baik dalam hal-hal y a n g berkaitan dengan vang di hadapannya atau yang sedang terjadi maupun di belakangnya. 'Ietapi, karena amr Allah, Allah/perintah

vakni karena adanya pemeliharaan atas dasar perintah-Nya u n t u k

m e m e l i h a r a m a n u s i a , dia t i d a k p u n a h . P e m e l i h a r a a n itu j u g a a d a l a h pemeliharaan dari amr Allah, yakni dari terjadinya kehancuran dan kebinasaan. Karena keduanya, yakni kebinasaan dan kehancuran juga merupakan perintah

Kelompok III Ayat 10-11

Surah ar-Ra'd [13]

231

dan urusan Allah, sebagaimana halnya kelangsungan hidup, kesehatan, dan lain-lain. Alhasil, tidak terjadi kelangsungan satu jasad kecuali atas amr Allah,

yakni perintah dan kehendak Allah, sebaliknya pun d e m i k i a n , tidak terjadi k e p u n a h a n dan kebinasaan kecuali atas amr/perintah dan k e h e n d a k - N y a

semata. T i d a k langgeng kondisi kejiwaan/keruhanian seseorang, amal, atau dampak amalnya kecuali karena amr Allah, tidak juga batal dan punah sesuatu kecuali atas amr Allah. Dengan demikian, para malaikat pemelihara itu

melaksanakan tugasnya atas amr Allah sekaligus mereka memelihara manusia dari kepunahan dan kebinasaan y a n g juga merupakan bagian dari amr Allah.

Dari sini, Thabathaba'i melihat kaitan yang sangat erat antara penggalan ayat di atas "mereka menjaganya atas perintah Allah" dan penggalan berikutnya keadaan suatu kaum

yang menyatakan "Sesungguhnya sehingga mereka mengubah

Allah tidak mengubah

apa yang ada pada diri mereka.

" D a l a m arti, Allah

menjadikan para muaqqibat\xt\

melakukan apa yang ditugaskan kepadanya

yaitti memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan di atas karena Allah telah menetapkan bahwa Allah mereka dalam mengubah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga

apa yang ada pada

diri mereka,

yakni kondisi kejiwaan/WV/

mereka, seperti m e n g u b a h kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan

menjadi kedurhakaan, iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah akan mengubah ni'mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi

kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu ketetapan pasti y a n g kait-mengait. Demikian lebih k u r a n g T h a b a t h a b a i. Firman-Nya:

"Sesungguhnya

Allah tidak mengubah

keadaan

sesuatu

kaum, "secara panjang

lebar penulis uraikan d a l a m b u k u Secercah

Cahaya Ilahi. Di sana antara lain

penulis k e m u k a k a n bahwa paling tidak ada d u a ayat dalam al-Qur'an y a n g sering d i u n g k a p dalam konteks perubahan sosial, yaitu firman-Nya dalam Q S . al-Anfal [ 8 ] : 5 3 :

232

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 10-11

"Yang demikian disebabkan

itu (siksaan y a n g terjadi terhadap Fir'aun dan rezimnya) karena Allah kepada tidak akan mengubah mereka nikmat sendiri yang mengubah telah apa

dianugerahkannya yang terdapat dalam

satu kaum, sampai

diri mereka"

dan ayat yang kedua adalah ayat yang sedang

ditafsirkan ini. Kedua ayat di atas berbicara tentang perubahan, tetapi ayat pertama berbicara tentang perubahan nikmat, sedang ayat kedua y a n g menggunakan kata ( U ) mal apa berbicara tentang perubahan apa pun, yakni baik dari ni 'mat atau sesuatu y a n g positif menuju ke niqmatl murka Ilahi atau sesuatu y a n g

negatif m a u p u n sebaliknya dari negatif ke positif. Ada beberapa hal vang perlu digarisbawahi m e n y a n g k u t kedua ayat di atas. Pertama, perubahan masyarakat ayat-ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan individu. Ini d i p a h a m i dari p e n g g u n a a n kata ( f jfl) pada qauml

kedua ayat tersebut. Selanjutnya, dari sana dapat ditarik

kesimpulan bahwa perubahan sosial tidak dapat d i l a k u k a n oleh seorang manusia saja. M e m a n g , boleh saja perubahan bermula dari seseorang yang, ketika ia m e l o n t a r k a n dan m e n y e b a r l u a s k a n i d e - i d e n y a , d i t e r i m a dan menggelinding dalam masyarakat. Di sini, ia bermula dari pribadi dan berakhir pada masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu "menular" kepada masyarakat luas, lalu sedikit demi sedikit "mewabah" kepada masyarakat luas. Kedua, p e n g g u n a a n kata "qaum" juga m e n u n j u k k a n bahwa h u k u m

kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi k a u m muslimin atau satu suku, ras dan a g a m a tertentu, tetapi ia berlaku u m u m , kapan dan di m a n a pun mereka berada. Selanjutnya, karena ayat tersebut berbicara tentang kaum, ini berarti sunnatullah yang dibicarakan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi, b u k a n ukhrawi. Pertanggungjawaban pribadi baru akan terjadi di akhirat kelak, berdasarkan firman-Nya:

"Setiap

mereka

akan datang

menghadap

kepada-Nya

sendiri-sendiri"

(QS.

Maryam [19]: 95).

Kelompok III Ayat 10-11

Surah ar-Ra'd [13]

233

Ketiga,

kedua ayat tersebut juga berbicara tentang dua pelaku perubahan.

Pelaku y a n g p e r t a m a a d a l a h Allah swt. y a n g m e n g u b a h n i k m a t y a n g dianugerahkan-Nya kepada suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat atau, katakanlah, sisi luar/lahiriah masyarakat. Sedang,

pelaku kedua adalah manusia, d a l a m hal ini masyarakat yang m e l a k u k a n perubahan pada sisi dalam mereka atau dalam istilah kedua avat di atas terdapat dalam diri mereka. Perubahan

( ^ „ . j j i b l a ) ma bi anfusihiml'apayang

yang terjadi akibat c a m p u r tangan Allah atau y a n g diistilahkan oleh ayat di atas dengan ( l a ) mdbi qaurnin menyangkut banyak hal, seperti kekayaan

dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kemuliaan atau kehinaan, persatuan atau perpecahan, dan lain-lain yang berkaitan dengan masyarakat secara u m u m , bukan secara individu. Sehingga, bisa saja ada di antara anggotanya yang kaya. tetapi jika mayoritasnya miskin, masvarakar tersebut dinamai masyarakat miskin, d e m i k i a n seterusnya. Keempat, k e d u a ayat itu j u g a m e n e k a n k a n bahwa perubahan y a n g

dilakukan oleh Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat m e n y a n g k u t sisi dalam mereka. Tanpa perubahan ini, musrahil

akan terjadi perubahan sosial. Karena itu, boleh saja terjadi perubahan penguasa atau bahkan sistem, tetapi jika sisi dalam masyarakat tidak berubah, keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. J i k a demikian, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam pandangan al-Qur'an yang paling pokok guna keberhasilan perubahan sosial adalah perubahan sisi dalam manusia

karena sisi dalam manusialah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif, dan bentuk, sifat, serta corak aktivitas itulah yang mewarnai keadaan masyarakat apakah positif atau negatif Sisi dalam manusia dinamai ( ^ J * ) naf s, bentuk j a m a k n y a ( JJL>\)
I

anfus )

dan sisi luar yang d i n a m a i n y a antara lain ( ajsdrn. Sisi dalam

)

jisrn yang dijamak (

tidak selalu sama dengan sisi luar. Ini diketahui dan terlihat

dengan jelas pada orang-orang munafik (baca Q S . a l - M u n a l i q u n [ 6 3 ] : 4 ) . J i k a kita ibaratkan nafs dengan sebuah wadah, nafs adalah wadah besar vang di d a l a m n y a ada kotak/wadah berisikan segala sesuatu y a n g disadari oleh manusia. Al-Qur'an m e n a m a i "kotak" itu f y > ) qalbu.
Vv

Apa-apa y a n g

telah dilupakan manusia n a m u n sesekali dapat muncul dan y a n g d i n a m a i

234

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 10-11

oleh i l m u w a n "bawah wilayah "kalbu".

sadar"juga

berada di dalam wadah nafs, tetapi di luar

Banyak hal yang dapat d i t a m p u n g oleh naf, perubahan Pertama,

n a m u n d a l a m konteks

(pada nafs) penulis menggarisbawahi tiga hal pokok. nilai-nilai y a n g dianut dan dihayati oleh masyarakat. Setiap nafi

nafs m e n g a n d u n g nilai-nilai, baik positif m a u p u n negatif paling tidak

mengandung hawa nafsu yang mendorong manusia kepada kebinasaan. Nilainilai yang m a m p u mengubah masyarakat harus sedemikian jelas dan mantap. Tanpa kejelasan dan kemantapan, ia tidak akan menghasilkan sesuatu pada sisi luar manusia karena yang mengarahkan dan melahirkan aktivitas manusia adalah nilai-nilai yang dianutnya. Dan nilai-nilai itulah yang memotivasi gerak l a n g k a h n y a dan vang melahirkan a k h l a k baik atau pun buruk. A p a b i l a suatu m a s y a r a k a t m a s i h m e m p e r t a h a n k a n n i l a i - n i l a i n y a , perubahan sistem, apalagi sekadar perubahan penguasa tidak akan menghasilkan perubahan masyarakat. Di sisi lain, semakin luhur dan tinggi suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula y a n g dapat dicapai, sebaliknya semakin terbatas ia, semakin terbatas pula pencapaiannya. Sekularisme atau pandangan kekinian dan kcdisinian, pencapaiannya sangat terbatas, sampai di sini dan kini saja, sehingga menjadikan p e n g a n u t n y a h a n y a m e m a n d a n g masa kini, dan pada gilirannya melahirkan budaya m u m p u n g . Kekinian dan kedisinian j u g a menghasilkan k e m a n d e k a n di samping menjadikan orangorang y a n g memiliki pengaruh dan kekuasaan dapat bertindak sewenangwenang. Nilai yang diajarkan Islam adalah Nilai Ketuhanan Yang M a h a Esa. Dia sangat luhur lagi langgeng sehingga perjuangan mencapai keluhuran tidak pernah akan mandek, apalagi Allah menjanjikan untuk menambah anugerahN y a u n t u k mereka y a n g telah mendapat anugerah.

"Allah akan petunjuk. lebih

menambah

petunjuk saleh yang

kepada

mereka

yang

telah

mendapat dan

Dan amal-amal

kekal lebih

baik di sisi Tuhanmu

baik kesudahannya"

{QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 7 6 ) , dan:

Kelompok III Ayat 10-11

Surah ar-Ra'd [13]

235

Y^tf ^ r a w bersyukur Ibrahim [ 1 4 ] : 7 ) . Kedua,

pasti

Kutambak

(anugerah-Ku)

untuk

kamu"

(QS.

m e n y a n g k u t sisi dalam

manusia, y a i t u iradth,

yakni tekad dan

kemauan-keras. Ibn T a i m i y a h , ketika menjawab pertanyaan tentang hakikat azarn dan irddah, menjawab lebih kurang sebagai berikut: " / r a d a / d t e k a d y a n g kuat

itulah yang menghasilkan aktivitas bila disertai dengan k e m a m p u a n . Karena itu, a p a b i l a irddah y a n g m a n t a p telah d i m i l i k i dan d i s e r t a i d e n g a n

k e m a m p u a n sempurna pasti wujud pula aktivitas y a n g dikehendaki karena ketika itu telah terpenuhi secara sempurna syarat dan tersingkirkan pula penghalangnya." Apabila ada irddah dan k e m a m p u a n j u g a telah sempurna, sedang apa belum

y a n g diharapkan tidak terpenuhi, y a k i n l a h b a h w a ketika itu irddah sempurna. Irddah

lahir dari nilai-nilai atau ide-ide y a n g ditawarkan dan diseleksi baik,

oleh akal. J i k a akal sehat, ia akan memilih dan melahirkan irddah yang

demikian p u l a sebaliknya. S e m a k i n jelas nilai-nilai y a n g ditawarkan serta semakin cerah akal vang m e n y e l e k s i n y a semakin kuat p u l a Irddah irddah-nya.

vang d i t u n t u t oleh Islam adalah y a n g m e n g a n t a r m a n u s i a

berhubungan serasi dengan Tuhan, alam, sesamanya dan dirinva sendiri. Dengan kata lain yaitu k e h e n d a k y a n g kuat u n t u k m e w u j u d k a n nilai-nilai tauhid dengan segala tuntunannya. Semakin kukuh irddah, semakin bersedia

seseorang u n t u k berkorban dengan jiwa dan hartanya. Karena itu, ketakutan dan kekikiran bertentangan dengan irddah, kedermawanan adalah bukti irddah Ketiga, y a n g kuat. sebaliknya keberanian dan

menvangkut k e m a m p u a n . Kemampuan terdiri dari kemampuan

fisik dan k e m a m p u a n non-fisik, yang dalam konteks perubahan sosial dapat dinamai kemampuan pemahaman. Suatu masyarakat yang wilayahnya memiliki kekayaan materi, tidak dapat bangkit mencapai kesejahteraan lahir dan batin, tanpa m e m i l i k i k e m a m p u a n d a l a m b i d a n g p e m a h a m a n ini. Kemampuan p e m a h a m a n ini d i n a m a i oleh filosof m u s l i m kontemporer,

236

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 10-11

M a l i k Ibn Nabi, sebagai abManthiq

al-Amalyl

Logika Praktis.

Kemampuan

pemahaman mengantar seseorang/masyarakat mengelola sesuatu dengan baik dan benar dan m e n u n t u n n y a agar m e n g g u n a k a n k e m a m p u a n materialnya secara baik dan benar pula. Sebaliknya, hilangnya k e m a m p u a n p e m a h a m a n akan mengakibatkan hilangnya kemampuan material. Bahkan, jika akan terkikis

k e m a m p u a n p e m a h a m a n tidak d i m i l i k i , lambat laun irddah

dan ketika itu yang terjadi adalah kepasrahan kepada nasib, atau irddah, beralih kepada bal lain yang m u t u n y a lebih rendah. K e m a m p u a n p e m a h a m a n y a n g dibicarakan di atas tempatnya juga pada sisi dalam Firman-Nya: manusia.

Apabila yang

Allah menghendaki menolaknya"

keburukan

terhadap

suatu

kaum, maka tak ada

dapat

adalah penegasan tentang k a n d u n g a n penggalan

sebelumnya tentang sunnatullah bagi terjadinya perubahan, khususnya dari positif menjadi negatif. Yakni tidak ada satu kekuatan pun y a n g dapat menghalangi berlakunya ketentuan sunnatullah itu. Penggalan ini menguatkan sekali hakikat yang berulang-ulang ditegaskan oleh a h Q u r ' a n bahwa segala sesuatu kembali kepada pengaturan Allah dan k e h e n d a k - N y a . Sementara ulama menjadikan penggalan terakhir ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa perubahan yang d i m a k s u d oleh ayat ini adalah perubahan dari positif ke negatif saja. Bukan perubahan dari negatif ke positif. Pendapat ini kurang tepat, sebagaimana telah dijelaskan di atas ketika m e n g u r a i k a n arti ( ?j*>M ) md bi qaumin. Bahwa penutup ayat ini hanya

berbicara tentang keburukan yang m e n i m p a k a u m karena konteks ayat berbicara tentang orang-orang kafir yang meminta agar siksa disegerakan (baca ayat 6 ) . Ayat di atas, di samping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia karena darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan melalui s u n n a h - s u n n a h - N y a berkaitan erat d e n g a n

kehendak dan sikap manusia. Di samping t a n g g u n g jawab itu, ayat ini juga m e n g a n u g e r a h k a n kepada m a n u s i a penghormatan vang demikian besar. Betapa tidak? Bukankah ayat ini menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan

Kelompok III Ayat 12-13

Surah ar-Ra'd [13]

237

.Allah atas manusia tidak akan terjadi sebelum manusia terlebih d a h u l u melangkah. D e m i k i a n sikap dan kehendak m a n u s i a menjadi "syarat" y a n g m e n d a h u l u i perbuatan Allah swt. S u n g g u h ini merupakan penghormatan yang luas biasa!

AYAT 12-13

"Dia-lah ketakutan guruh

yang

memperlihatkan

kepada

kamu

kilat aivan

untuk

menimbulkan Dan karena

dan harapan, dengan

dan Dia mengadakan memuji-Nya: (demikian

berat, (mendung). malaikat

bertasbih

pula) para lalu

takut kepada-Nya, kepada padahal siapa yang Dia-lah

dan Allah

melepaskan

halilintar,

menimpakannya tentang Allah,

Dia kehendaki;

dan mereka

membantah

Yang Maha ku k uh tipu

daya-Nya."

Ayat ini masih merupakan lanjutan uraian tentang bukti-bukti kekuasaan Allah swt. K a n d u n g a n n y a m e m b u k t i k a n betapa luas Ilmu dan Kuasa .Allah dan betapa mudah Dia melaksanakan ancaman-Nya bila Dia telah menetapkan kebinasaan suatu k a u m . Dia-lah dari saat ke saat memperlihatkan yang M a h a Mengetahui dan Kuasa itu yang kepada kamu kilat, yakni cahaya yang ketakutan dalam benak

berkelebat dengan cepat di langit untuk menimbulkan

k a m u — a p a l a g i para pelaut—jangan sampai ia m e n y a m b a r dan juga u n t u k menimbulkan harapan dan Dia mengadakan bagi turunnya hujan, lebih-lebih bagi yang bermukim, awan berat, y a k n i m e n d u n g y a n g m e n g a n d u n g butir-

butir air y a n g m e n g u a p dari laut dan sungai k e m u d i a n menvatu dan berat sehingga akhirnya turun tercurah ke bawah. Dan guruh m e n y u c i k a n n a m a Allah disertai dengan malaikat karena takut kepada-Nya, memuji-Nya senantiasa bertasbih para yang kehendaki

d e m i k i a n pula halilintar

dan Allah

melepaskan

oerpotensi membakar, lalu menimpakannya

kepada siapa yang Dia

sehingga halilintar itu mernbakarnya. Tetapi, betapapun sudah demikian jelas Aiasnya Ilmu dan Kuasa Allah, sikap orang-orang kafir itu tidak berubah. Betapapun semua sudah mengakui, menyucikan, dan memuji-Nya termasuk ^uruh yang "tidak berakal" itu telah meraung sedemikian keras sebagai bukti

238

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 12-13

keesaan dan kesucian Allah serta ketundukan dan kepatuhannya kepada Yang M a h a k u a s a itu, orang-orang kafir masih tetap ingkar dan mereka membantah kamu, wahai M u h a m m a d dan k a u m muslimin, tentang Dia-lah Tuhan Yang Mahakukuh terus

keesaan daya-

dan kekuasaan Allah, padahal

tipu

Nya atau Mahakeras siksa-Nya. Ada u l a m a y a n g m e m a h a m i kataguruh yusabbihu ar-Ra 'd/guruh bertasbih pada firman-Nya: ( J ^ j i l )

dalam arti malaikat yang bertugas mengatur

guruh. Ada lagi y a n g m e m a h a m i n y a d a l a m arti kiasan. Yakni, suara guntur y a n g m e n g g e l e g a r itu m e n g u n d a n g siapa y a n g m e n d e n g a r n y a u n t u k mengingat Allah swt. dan m e n y u c i k a n - N y a . Ada lagi yang m e m a h a m i n y a sebagai satu ilustrasi. G u n t u r diilustrasikan sebagai m a k h l u k berakal dan bertasbih y a n g m e n y u c i k a n Allah swt. Penulis c e n d e r u n g menguatkan

pendapat y a n g menyatakan bahwa m e m a n g guruh bahkan segala sesuatu bertasbih memuji Allah. Kita tidak perlu m e m b a h a s bagaimana cara guruh bertasbih karena Allah telah menegaskan:

"Bertasbih dalamnya. Nya, tetapi Maha

untuk-Nya

langit yang

tujuh pun

dan bumi

serta semua yang dengan Dia

ada di memujiadalah

Dan tak ada sesuatu kamu tidak mengerti

melainkan mereka.

bertasbih

tasbih

Sesungguhnya

Penyantun

lagi Maha

Pengampun"'(QS.

al-lsra' [ 1 7 ] : 4 4 ) .

Dengan d e m i k i a n , semua upaya u n t u k mengetahui b a g a i m a n a cara bertasbih mereka, atau apa yang mereka tasbihkan, semuanya akan gagal dan jawaban yang dibelikan tidak benar karena, seandainya hal tersebut diketahui, itu menggugurkan pernyataan Allah di atas, yakni kamu sekalian tidak tasbih mereka. mengerti

Asy-Sya'rawi b a h k a n lebih j a u h lagi. M e n u r u t n y a , ilmu pengetahuan modern telah berhasil mempelajari bahasa m a k h l u k dan m e m b u k t i k a n n y a bahkan telah m e m b u k t i k a n bahwa t u m b u h - t u m b u h a n pun m e m p u n y a i emosi. Para pakar dewasa i n i — m e n u r u t n y a — m e m p e l a j a r i perasaan pohon terhadap manusia yang menyiraminya. Suatu percobaan yang dilakukan oleh

Kelompok III Ayat 12-13

Surah ar-Ra'd [13]

239

para pakar m e n y a n g k u t getaran-getaran y a n g terjadi pada .saat pohon itu disiram oleh seorang petani; tetapi setelah petani itu meninggal dunia, dan d i u k u r lagi getaran-getaran y a n g terjadi pada pohon itu, kali ini d i t e m u k a n getaran tersebut kacau seakan-akan pohon tersebut bersedih atas kepergian p e t a n i y a n g s e l a m a ini m e n y i r a m i n y a . D e m i k i a n a s y - S y a ' r a w i , y a n g s e l a n j u t n y a m e n g u k u h k a n uraian di atas dengan ayat a l - Q u f an y a n g melukiskan sikap langit dan bumi terhadap para pembangkang, yakni bahwa:

"Langit dan bumi tidak menangisi

mereka"

(QS. ad-Dukhan [44]: 29).

Tasbih yang dilakukan oleh guruh, malaikat, bahkan segala sesuatu, selalu disertai pujian. Ini karena memuji sesuatu hendaknya benar dan tepat. Sedang,

tidak satu m a k h l u k pun mengenal Allah dengan pengenalan sempurna. "Mahasuci Engkau kami tidak mampu memuji-Mu, Engkau adalah

sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu," demikian ucapan hamba-bamba-Nya y a n g m e n y a d a r i k e l e m a h a n n y a . Di sini, para m a l a i k a t d a n j u g a guruh m e n y u c i k a n Allah terlebih d a h u l u baru menetapkan pujian kepada-Nya. Agaknya, hal itu disebabkan mereka khawatir jangan sampai pujian yang mereka maksud tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah swt. Itu sebabnya i m a m Ghazali menggarisbawahi bahwa Allah swt. Mahasuci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh ind ra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh w a h a m , atau yang terlintas dalam nurani dan pikiran. "Aku tidak sekadar berkata-—tulis a l - G h a z a l i — b a h w a Dia M a h a Suci dari segala m a c a m kekurangan karena ucapan semacam ini h a m p i r mendekati ketidaksopanan. Bukanlah kesopanan bila seseorang berkata bahwa Raja/Penguasa suatu negeri bukan penjahit atau pembekam karena menafikan sesuatu h a m p i r dapat m e n i m b u l k a n waham! dugaan k e m u n g k i n a n k e b e r a d a a n n y a dan y a n g

demikian m e n i m b u l k a n w a h a m kekurangan baginya." Allah swt. M a h a s u c i dari segala sifat kesempurnaan y a n g diduga oleh banyak m a k h l u k karena, pertama, mereka m e m a n d a n g kepada diri mereka dan m e n g e t a h u i silat-silat mereka serta menyadari a d a n y a sifat sempurna pada diri mereka seperti pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, kehendak, dan kebebasan. M a n u s i a meletakkan sifat-sifat tersebut u n t u k

240

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 12-13

makna-makna tertentu dan menyatakan bahwa itu adalah sifat-sifat sempurna. Selanjutnya, manusia juga menempatkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat di atas sebagai sifat kekurangan. Perlu d isadari bahwa manusia paling tinggi hanya dapat memberikan kepada Allah sifat-sifat kesempurnaan seperti vang mereka nilai sebagai kesempurnaan serta m e n y u c i k a n Allah dari sifat kekurangan—seperti lawan dari sifat-sifat kesempurnaan di atas. Padahal sebenarnya, Allah M a h a s u c i dari sifat-sifat kesempurnaan y a n g diduga oleh manusia, sebagaimana Dia Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan yang dinafikan manusia. Ini disebabkan kedua sifat tersebut lahir dari pemahaman manusia, padahal D i a Mahasuci dari sifat y a n g terlintas d a l a m benak dan khayalan manusia atau vang serupa dengan apa yang terlintas itu. Seandainya tidak ada izin dari-Nya untuk menamai-Nya dengan nama/sirat-sifat tersebut—karena hanya dengan demikian manusia mampu mendekatkan terhadap-Nya—dan pemahaman sifat-sifat

s e a n d a i n y a t i d a k a d a izin t e r s e b u t ,

kesempurnaan yang demikian itu pun tidak wajar disandangkan kepada-Nya. Kata ( J u h i ) a l-m i ha l ada y a n g m e m a h a m i n y a t e r a m b i l dari kata ( 51>-UP _ Jj-la) mdhala - mumahalah, yakni melakukan tipu daya. Ini berarti

bantahan dan penolakan mereka terhadap keesaan Allah dinilai sebagai salah satu bentuk tipu daya. Boleh jadi hal tersebut demikian karena bantahan dan penolakan itu mereka sampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang m e n g a n d u n g ejekan dan cemoohan, bukan bermaksud mencari kebenaran. Nah, untuk m e n g h a d a p i tipu dava mereka itulah Allah m e n u n j u k diri-Nva sebagai M a h a k u k u h tipu d a y a - N y a serupa dengan firman-Nya:

"Orang-orang mereka

kafir itu membuat

tipu daya dan Allah membalas

tipu

daya

Dan Allah sebaik-baikpembalas

tipu daya" {QS. Ali 'Imran [ 3 ] : 5 4 ) . yang

Ada juga y a n g m e m a h a m i kata di atas berasal dari kata ( J^-U ) mdhala memiliki arti perbantahan. mereka sangat

Dengan demikian, penggalan akhir ayat ini berarti dalam perbantahan. Pendapat ketiga Penganut

kuat dan keras kepala

menyatakan bahwa kata itu terambil dari kata { J

) haul/kekuatan.

pendapat ini menilai huruf mim pada awal kata mihdl adalah

tambahan dan,

Kelompok ill Ayat 14

Surah ar-Ra'd [13]

241

dengan d e m i k i a n , p e n u t u p ayat 13 di atas berarti Allah Mahakuat, keras siksa-Nya.

yakni

AYAT 14

"Hanya bagi Allah-lab sembah

dakwah yang

benar. Dan berhala-berhala sesuatu

yang

mereka mereka, supaya tidaklah

selain Allah tidak dapat seperti mulutnya, orangyang padahal

memperkenankan kedua telapak

pun bagi ke air Dan

melainkan mencapai

membuka

tangannya

ia tidak dapat sampai dalam kesia-siaan. "

ke mulutnya.

doa orang-orang

kafir, kecuali

Setelah ayat-ayat y a n g lalu m e m b u k t i k a n kemahakuasaan Allah swt. d a l a m penciptaan dan p e n g a t u r a n a l a m raya, keluasan i l m u - N y a , d a n ketiadaan sedikit dalih pembenaran pun bagi y a n g mempersekutukan-Nya, tidak diragukan lagi bahwa hanya bagi Allah-lah dakwah yang benar. Apabila

seseorang bermohon kepada-Nya secara tulus, Dia m e n g a b u l k a n n y a , dan apabila yang Mahakuasa itu menyeru seseorang dengan seruan yang berbentuk ajakan, ajakannya sangat jelas lagi penuh kebenaran, dan jika Dia menyerunya d a l a m bentuk ketetapan, tidak satu p u n dapat mengelak. S e m u a datang dengan penuh kerendahan diri. Dan ada pun berhala-berhala sembah selain Allah k e s e m u a n y a tidak dapat memperkenankan yang sesuatu mereka pun

walau sedikit apa pun bagi mereka yang mengakui keesaan AJlah itu. Berhalaberhala itu tidak dapat mengabulkan sesuatu buat mereka, melainkan pengabulan orangyang membuka kedua telapak tangannya seperti

ke d a l a m s u m u r

vang m e n g a n d u n g air supaya mencapai mulutnya

air itu d i c i d u k n y a lalu m e n d e k a t k a n n y a g u n a telapak t a n g a n n y a y a n g

u n t u k dia m i n u m . Padahal,

terbuka itu tidak sampai ke kedalaman s u m u r dan, dengan demikian, ia vakni air itu sedikit pun tidak dapat sampai doa dan ibadah orang-orang Kata (
o_jPi )

pula ke mulutnya. kesia-siaan

Dan belaka.

tidaklah

kafir, kecuali dalam

da 'wah/dakwah

dalam ayat ini dapat bermakna ibadah dan ajakan

dapat juga berarti doa dan permohonan. Kata ini pada mulanya berarti

242

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 15

untuk datang

membantu

atau memberi.

Dari sini, lahir m a k n a

permohonan.

Di sisi lain, agar p e r m o h o n a n d i k a b u l k a n Allah, tentu saja y a n g bermohon harus memenuhi syarat-syarat, yang disimpulkan dalam ketulusan beribadah. Dari sini da'wahjiiga. berarti ibadah. J ) ) ila ai-

Al-Biqa'i m e m a h a m i kata ( J ) ) il/i pada firman-Nya: (

ma 'sebagai isyarat bahwa kedua telapak tangannya tidak sampai ke arah yang dia harapkan. Pengarang tafsir al-Jalalain, (s\i £ l J s.ti* J,] seperti orangyang misalnya, menjelaskan m a k n a ild al-ma' iiyablugha fahul mencapai

Ja^\-r ) kabdsithi
membuka

kaffaihi

kedua telapak

tangannya

ke air supaya

midutnya

dengan menyatakan, "Seperti pengabulan seseorang yang membuka

kedua telapak tangannya guna mendapat air di mulut sumur dan memintanya agat air dalam s u m u r itu naik menuju kepadanya, tetapi sekali-kali air itu tidak dapat mencapai mulutnya." Ini adalah p e r u m p a m a a n tentang orang-orang kafir y a n g m e n y e m b a h dan berdoa kepada berhala-berhala. Berhala, sebagaimana air, adalah sesuatu y a n g tidak berakal. Keduanya tidak mengetahui atau merasakan kebutuhan y a n g m e m i n t a . Air tidak mengetahui kebutuhan si haus, tidak j u g a berhala d a p a t m e n a n g k a p k e i n g i n a n p e n y e m b a h n y a , p a d a h a l si h a u s d a n si penyembah sangat m e m b u t u h k a n n y a . Keadaan mereka ketika itu seperti seseorang vang sedang d u d u k di m u l u t sumur, yaitu tidak dapat mencapai air yang berada dalam sumur itu dan tidak juga air itu dapat naik kepadanya, w a l a u p u n ia m e m i n t a n y a atau m e n g u l u r k a n kedua rangannva. Bahkan, seandainya kedua telapak tangannya dapat mencapai air, ia tetap tidak dapat memperolehnya karena telapak rangannva terbuka sehingga sebelum sampai ke m u l u t n y a air telah jatuh berceceran.

AYAT 15

"Hanya dengan petang

kepada sukarela hari. "

Allah-—sujud ataupun

segala

apa yang

di langit

dan di bumi, di waktu pagi

baik dan

terpaksa

dan bayang-bayangnya

Kelompok lli Ayat 15

Surah ar-Ra'd [13]

243

J i k a hanya

bagi Allah-lah

dakwah

yang benar—-seperti

bunyi ayat y a n g

lalu—sangat wajar jika hanya

kepada Allah saja, tidak kepada selain-Nya, apayangdi

sujud dan patuh m e m e n u h i kehendak dan perintah-Nya segala

langit dan di bumi, seperti malaikat, jin, manusia, binatang, t u m b u h a n , dan benda-benda tak bernyawa, baik dengan kemauan sendiri, ataupun sukarela, yakni dengan sadar dan

terpaksa seperti halnya orang-orang kafir pada saat

mereka merasa sangat butuh dan seperti h a l n y a m a k h l u k tak berakal y a n g tunduk tanpa sadar dan bahkan lebih dari itu bayang-bayangnya, yakni semua

yang ada di langit dan di b u m i i t u — j i k a memiliki bayangan—-semua t u n d u k kepada-Nya antara lain d a l a m panjang dan pendeknya, baik di waktu dan m a u p u n petang hari. pagi

Sujudnya langit dan bumi berarti k e p a t u h a n n y a m e m e n u h i ketetapanketetapan Allah swt. y a n g berkaitan dengan alam raya. A i r — m i s a l n y a — ditetapkan Allah untuk selalu mengalir ketempat yang rendah. Ia menjadi beku pada suhu 0°C dan mendidih jika mencapai suhu 1 0 0 C . Ini terjadi kapan dan di m a n a pun karena itulah ketentuan Allah y a n g berlaku di bumi ini. Ia pun p a t u h — s e a n d a i n y a Allah menghendaki y a n g lain, seperti halnya api y a n g m e n g h a n g a t k a n a t a u m e m b a k a t d a n m e m b i n a s a k a n y a n g dibakarnya—jika Allah menghendaki ia dingin dan menyelamatkan, api akan patuh seperti ketika Allah m e m e r i n t a h k a n n y a dingin dan m e n y e l a m a t k a n Nabi Ibrahim as. (baca Q S . al-Anbiya [ 2 1 ] : 6 9 ) . Firman-Nya yang menegaskan bahwa bayang-bayang pun sujud kepada Allah m e r u p a k a n l a m b a n g betapa kuasa Allah dan betapa besar kepatuhan m a k h l u k - m a k h l u k - N y a . Seandainya Allah menjadikan bumi ini transparan itau mengkilat seperti air ketika terkena sinar marahari, bayangan tidak akan : i m p a k . Ini m e n u n j u k k a n betapa kuasanya Allah swt. dan m e n u n j u k k a n ? a l a bahwa, kendati ada manusia yang enggan sujud, bayangannya tetap sujud _j.n patuh kepada-Nya. Bahkan, berhala-berhala yang disembah pun sujud . ^ a d a Allah swt. Sebenarnya, m a n u s i a - m a n u s i a y a n g kafir itu p u n sujud kepada Allah zjjam sekian bagian dari anggota badannya. Dia hanya membangkang melalui ir.egota badan yang dapat dikendalikannya. Adapun yang di luar kendalinya,
ll

244

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 16

semua t u n d u k kepada Allah swt., seperti denyut j a n t u n g atau peredaran darahnya. Kata ( j j j t i l ) al-ghuduww terambil dari kata ( \JL& ) ghadd y a n g berarti

keluar. Yang d i m a k s u d di sini adalah w a k t u yang biasanya manusia saat itu keluar dari r u m a h n y a guna memenuhi aneka kebutuhannya. Waktu tersebut adalah pagi hari setelah matahari terbit sampai tengah hati. Sedang, kata ( JW>*^ ) abashdl a d a l a h j a m a k ( J__^t ) ashil/sore hari, y a i t u sejak

m e n g u n i n g n y a sinar matahari sampai terbenamnya. Pada kedua w a k t u itu tampak secara jelas bayang-bayang sesuatu. Ayat ini menegaskan b a h w a Allah swt. yang menguasai segala sesuatu dan m e n u n d u k k a n n y a sesuai kehendak-Nya. Ayat ini m e m b u k t i k a n bahwa Allah adalah Mahaperkasa sehingga semua t u n d u k m e m e n u h i Nya, suka atau tidak suka. kehendak-

AYAT 16

Katakanlah: Katakanlah:

"Siapakah "Maka

Tuhan patutkah

langit kamu mereka

dan bumi?" mengambil tidak (pula)

katakanlah: selaiu-Nya bagi diri

"Allah. " menjadi mereka

pelindung-pelindung sendiri sedikit

(padahal) kemanfaatan

menguasai

dan tidak

kemudharatan?" atau samakah bagi Allah kedua Pencipta " ciptaan segala

Katakanlah: gelap gulita

"Adakah sama yang dan terang yang telah benderang?; mencipta mereka?"

buta dan yang ataukah seperti

dapat

melihat menjadikan sehingga

mereka

sekutu-sekutu itu sesuatu serupa dan

ciptaan-Nya

menurut Dia-lah

Katakanlah:

"Allah adalah

Tuhan Yang Maha

Esa lagi Mahaperkasa.

J i k a telah terbukti dari uraian-uraian y a n g lalu dan d a l a m bentuk yang sangat jelas bahwa Allah M a h a Perkasa, kini Dia memerintahkan Rasul-Nya u n t u k m e n g a r a h k a n pertanyaan y a n g m e n g a n d u n g k e c a m a n sekaligus b i m b i n g a n . Katakanlah, wahai M u h a m m a d , kepada mereka yang enggan Tuhan Pencipta dan Pengatur langit

m e n e r i m a kebenaran Ilahi; "Siapakah dan bumi

dan segala isinya?" T i d a k ada j a w a b a n lain, dan mereka pun

Kelompok III Ayat 16

Surah ar-Ra'd [13]

245

m e n g a k u i n y a . M a k a , karena itu, tidak perlu m e n u n g g u j a w a b a n mereka, langsung saja katakanlah: bahwa Tuhan Pencipta alam raya adalah "Allah". "Jika kalian telah mengakui

Jika demikian, kecamlah mereka dan katakanlah:

atau jika telah terbukti dengan sangat jelas b a h w a h a n y a Allah Pencipta dan Pengatur seluruh a l a m raya serta y a n g t u n d u k k e p a d a n y a — w a l a u bayangb a y a n g k a m u — m a k a patutkah pelindung-pelindung kamu mengambil selain-Nya menjadi yang kamu sedikit untuk

dan mengabaikan Allah swt., padahal

jadikan p e l i n d u n g itu tidak menguasai kemanfaatan

w a l a u bagi diri mereka sendiri

u n t u k dapat mereka raih dan tidak pula kemudharatan

dapat mereka tampik? Bukankah manusia seharusnya menjadikan pelindung siapa yang dapat memberinya manfaat atau paling tidak menampik mudharat vang m e n i m p a n y a ? S u n g g u h aneh sikap k a m u ! j i k a d e m i k i a n , k a m u m e m p e r s a m a k a n d u a hal y a n g bertolak belakang." Katakanlah, M u h a m m a d : "Adakah sama siapa yang yang dapat melihat atau samakah buta m a t a dan hatinya dengan dan terang wahai siapa

aneka gelap gulita

benderang?"

Jelas sekali tidak sama! Yang m e m p e t s a m a k a n n y a pastilah t i d a k sehat pikirannya. Ayat di atas menggunakan bentuk j a m a k u n t u k kata ( o U J ? ) aneka gelap gulita sedang pada kata ( ) nur/terang benderang zhulumdtl

menggunakan Ini pun

bentuk tunggal, yang k e d u a n y a metupakan bentuk mashdarikatajadian. karena k e g e l a p a n serta kesesatan b e r m a c a m - m a c a m , s u m b e r n y a

demikian. Berbeda dengan cahaya y a n g h a n y a bersumber dari Allah semata. ""Siapa yang tidak dianugerahi Allah nur, dia tidak lagi dapat memperolehnya dari siapa pun." Ataukah mereka yang mempersekutukan bagi Allah A l l a h itu t e r b a w a oleh sekutu-sekutu yang telah

^ e s e s a t a n n y a s e h i n g g a menjadikan 'pencipta,

yakni memercayai bahwa sembahan-sembahan ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan

m e r e k a telah menurut

mencipta seperti s a n d a n g a n mereka

itu serupa

dan, dengan demikian, berhala-berhala itu pun wajar wahai M u h a m m a d : "Apa

disembah sebagaimana Allah disembah? Katakanlah,

? u n y a n g m e r e k a p e r s e k u t u k a n d e n g a n A l l a h , berhala atau selainnya, Kesemuanya t i d a k d a p a t m e n c i p t a s e s u a t u , b a h k a n m e r e k a l a h y a n g liciptakan. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, tidak ada yang w u j u d kecuali

246

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok III Ayat 16

Dia Penciptanya dan Dia-lah

Tuhan Yang Maha

Esa sehingga tidak ada yang sehingga tidak sesuatu

wajar disembah kecuali Allah lagi Dia juga Mahaperkasa pun yang tidak dikendalikan-Nya.'
1

Kaum musyrikin m e n g a k u i bahwa Allah adalah Pencipta alam raya. Kepercayaan itu menjadi titik tolak untuk mengantar mereka mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya. Karena itu, pertanyaan pertama langsung dijawab oleh ayat di atas, tetapi pertanyaan sesudahnya tidak dijawab karena jawaban mereka tidak sejalan dengan hakikat y a n g diajarkan al-Qur'an. Dan hakikar itulah yang akan d i b u k t i k a n melalui pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab itu. Setelah mereka m e n g a k u i b a h w a A l l a h adalah Pencipta alam raya, tentulah mereka j u g a harus m e n g a k u i bahwa Dia adalah Pemiliknya y a n g kuasa lagi berwenang penuh memberi manfaat dan mudharat, sedang apa y a n g diciptakan-Nya itu tidak memiliki sedikit kemampuan pun, jangankan m e m b e r i n y a kepada y a n g lain, terhadap dirinya pun mereka tidak m a m p u . Bukankah mereka dimiliki oleh Allah? J i k a demikian, kepercayaan dan sikap mereka dengan menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah y a n g dapat memberi manfaat atau m e n a m p i k mudharat adalah sesuatu yang bertentangan dengan kepercayaan mereka sendiri bahwa Allah adalah Pencipta. Firman-Nya:

"Ataukah seperti

mereka

menjadikan

bagi Allah sekutu-sekutu

yang

telah

mencipta

ciptaan-Nya"dan

setetusnya, bukanlah redaksi yang ditujukan secara

langsung kepada para penyembah selain Allah. Ini terlihat dengan jelas dari redaksinya y a i t u kata "mereka", dan a g a k n y a ditujukan kepada Nabi saw.

Bukti-bukti tentang kekeliruan kepercayaan mereka telah dibentang oleh penggalan y a n g lalu dari ayat ini. Tidak ada lagi k e m u n g k i n a n lain y a n g m e n j a d i k a n mereka m e m p e r s e k u t u k a n Allah kecuali jika mereka percaya bahwa ada pencipta selain Allah. Suatu hal y a n g sebenarnya mereka sendiri tidak m e n g a k u i n y a . N a m u n , karena mereka masih juga mempersekutukanNya, k e m u n g k i n a n itu d i m u n c u l k a n di s i n i — d i depan Nabi M u h a m m a d saw,-—bukan u n t u k d i t a n y a k a n k e p a d a m e r e k a . N a h , j i k a d a l i h i t u

Kelompok III Ayat 16

Surah ar-Ra'd [131

247

d i m u n c u l k a n oleh siapa pun, j a w a b a n n y a pun jelas. J a w a b a n itulah y a n g d i s a m p a i k a n k e p a d a m a n u s i a , m e l a l u i N a b i M u h a m m a d saw., b a h w a kemungkinan semacam itu tidak pada tempatnya karena Allah adalah Pencipta segala sesuatu. T i d a k ada satu p u n yang mengaku bahwa dia pencipta alam raya. Kalau seandainya ada pencipta selain Allah, tentulah dia pun akan memperkenalkan dirinya kepada manusia, misalnya dengan m e n g u t u s p u l a Dara nabi. N a m u n , sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu pun y a n g melakukan hal tersebut. Bahkan, mereka yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu m e n g a k u i bahwa Pencipta h a n y a Allah semata. Kata ( J i ) quh'katakanlah, di s a m p i n g u n t u k menegaskan bahwa apa

vang disampaikan Rasul saw. ini b u k a n bersumber dari diri pribadi beliau -endiri tetapi dari Allah swt. Dan juga memberi kesan bahwa orang-orang Kafir yang mempersekutukan Allah itu tidak wajar mendapat penghormatan dari Allah. Allah tidak berdialog langsung dengan mereka. Kata ( j l g i J l ) al-qahhdr terambil dari akar kata { ^ menundukkan tujuannya untuk ) qahara mencapai y a n g dari tujuannya, Allah swt.

>egi bahasa berarti menjinakkan, n a u mencegah lawan mencapai

serta merendahkannya.

menjinakkan mereka yang menentang-Nya dengan jalan memaparkan bukti?ukti keesaan-Nya dan menundukkan para pembangkang dengan kekuasaanXva serta m e n g a l a h k a n m a k h l u k seluruhnya dengan mencabut n y a w a n y a . Demikian az-Zajjaj pakar bahasa dalam k a r y a n y a , Tafsir Asma Dalam buku Menyingkap Allah sebagai al-Qahhdr al-Husnd.

Tabir Ilahi, penulis antara lain menyatakan bahwa adalah Dia yang m e m b u n g k a m orang-orang kafir kebesaran-Nya, menekuk lutut para

lengan kejelasan tanda-tanda

r rmbangkang dengan kekuasaan-Nya, menjinakkan hati para pencinta-Nya ^ - l i n g g a bergembira menanti di depan pintu rahmat-Nya, m e n u n d u k k a n : i : i a s dan dingin, m e n g g a b u n g k a n kering dan basah, mengalahkan besi -rr.gan api, memadamkan api dengan air, menghilangkan gelap dengan terang, ~ cnjeritkan manusia dengan kelaparan, tidak m e m b e r d a y a k a n n y a dengan " i u r dan kantuk, memberinya yang dia tidak inginkan dan menghalanginya : • ri apa yang dia d a m b a k a n . D e m i k i a n al-Qabbdr, 'iz vang lalu bahwa; "Hanya kepada Allah—sujud ".v; di bumi,
r

vang menegaskan pada segala apa yang di langit di

dengan

sukarela hari. "

ataupun

terpaksa

dan bayang-bayangnya

.'- :u pagi dan petang

KELOMPOK 4

AYAT 17-26

249

250

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 17

Surah ar-Ra'd [13]

251

AYAT 17

"Allah telah lembah Dan

menurunkan ukurannya, mereka buih tentang

air dari langit,

maka mengalirlah buih yang membuat

ia di

lembah-

menurut

maka arus itu membawa lebur dalam itu juga. api untuk

mengembang. perhiasan atau membuat

dari apa yang

barang-barang, perumpamaan pergi tanpa

seperti yang

Demikianlah batil. Adapun

Allah buih,

haq dan yang yang

maka ia akan maka ia tetap "

bekas dan adapun

bermanfaat

bagi manusia,

di bumi.

Demikianlah

Allah membuatperumpamaan-perumpamaan.

Ayat yang lalu menegaskan bahwa Allah adalah

al-QahhdrlMahaperkasa.

Ayat ini membuktikan salah satu keperkasaan-Nya. Air yang terdapat di sungai dan di laut, j a u h dari langit, d i a n g k a t n y a ke atas, yakni ke langit, padahal sifat air selalu mencari tempat yang rendah. Demikian lebih kurang al-Biqa'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat yang lalu. A n d a juga dapat menghubungkannya seperti Thabathaba i, yaitu setelah ayat-ayat y a n g l a l u m e n e g a s k a n b u k t i kesesatan k a u m m u s y r i k i n d a n m e n g u r a i k a n perbedaan y a n g jelas antara kebenaran dan kesesatan serta perbedaan antara yang m e n e m p u h jalan kebenaran dan keburukan, ayat ini dan ayat-ayat berikut menjelaskan perbedaan itu dengan terperinci. U n t u k maksud tersebut, ayat ini m e n y a t a k a n bahwa Allah telah menurunkan yang tercurah dari langit, yakni hujan, maka mengalirlah arus yang sangat deras di lembah-lembah maka arus itu membawa Dan menurut air

ia, yakni air, dengan masing-masing,

ukurannya mengembang.

di atasnya buih yang

d e m i k i a n j u g a keadaan y a n g terjadi dari apa, y a k n i logam, api untuk membuat perhiasan atau barang-barang, seperti yang

yang

mereka lebur dalam

seperti buih h aq bekas, bagi

alat-alat, m a t a uang, pedang, dan sebagainya, ada j u g a buih-nyu i arus itu juga. dan yang j Demikianlah Allah membuat buih perumpamaan

tentang

batil. Adapun

itu, maka ia akan pergi

hilang tanpa bermanfaat

binasa, dan tanpa manfaat dan harga; dan adapun manusia,

yang

maka ia tetap di bumi untuk dimanfaatkan oleh m a l d i l u k - m a k h l u k Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Ilahi. Demikianlah

252

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 17

Penyebutan kata / ^ g i r setelah sebelumnya telah dinyatakan

menurunkan

air agaknya bertujuan u n t u k menegaskan bahwa ia tercurah. Karena kata turun d i g u n a k a n j u g a oleh a b Q u r a n d a l a m arti menciptakan seperti ketika

menjelaskan tentang besi (baca Q S . a l - H a d i d [ 5 7 ] : 2 5 ) . Kata ( J ? - ) haqq dan f J i » U ) bdthil/batil adalah dua substansi yang

berlawanan. Haq adalah sesuatu yang mantap lagi tidak berubah, sedang bathil adalah sesuatu y a n g wujud tetapi sifatnya sementara lalu menghilang dan punah, ^ / / / a d a l a h sesuatu y a n g pasti binasa dan lenyap. Kata ( hij^i) al-awdiyah adalah bentuk j a m a k dari ( ^ \ A\) al-wddy

yakni tanah rendah di antara dua g u n u n g (lembah). nakirahlindifinite

Penggunaan bentuk

u n t u k kata ini bertujuan u n t u k m e n g g a m b a r k a n aneka

lembah dari segi besar kecilnya, luas dan sempitnya, serta panjang dan pendeknya. Ini untuk dikaitkan dengan kata sesudahnya yaitu ( biqadarihalsesuai indifinite ukurannya masing-masing.
USJJUJ )

Ada juga yang memahami bentuk

itu untuk mengisyaratkan bahwa air y a n g tercurah dari langit tidak

menjangkau semua tempat, tidak juga mengalir di semua lembah; ada lembah yang m e n a m p u n g air, dan ada j u g a yang tidak m e n a m p u n g n y a karena tidak mendapat curah hujan. Ayat ini menjelaskan b a h w a air y a n g d i t u r u n k a n Allah di lembah itu sesuai dengan daya tampung lembah, atau dalam istilah ayat di atas ( Ufcjjij) biqadiriha, karena kalau melebihinya maka akan terjadi banjir yang berpotensi

merusak. M e m a n g , sesekali bisa saja air yang tercurah (hujan) sangat lebat sehingga m e n i m b u l k a n banjir, tetapi karena ayat ini bermaksud memberi perum pamaan tentang yang /w^/kebenaran, digarisbawahi nya kata biqadarihd

itu. Di samping itu, karena pada u m u m n y a lembah m e n a m p u n g air sesuai dengan kadar/kapasitas daya tampungnya. Kata (_ujh ) az-zabadadalah yang terlihat saat air mendidih. Ayat ini agaknya bermaksud menyatakan bahwa kebatilan, walau tampak dengan jelas ke p e r m u k a a n dan meninggi bagaikan menguasai air yang mengalir, hal tersebut hanya sementara karena beberapa saat kemudian buih itu luluh dan yang tetap tinggal adalah air yang bersih. Demikian juga dengan logam y a n g diliputi oleh aneka kotoran. Dengan membakarnya, akan terlihat buih, atau limbah banjir, atau gelembung

Kelompok IV Ayat 17

Surah ar-Ra'd [13]

253

dengan jelas kualitas logam dan akan menyenangkan yang melihatnya, sedang kotoran y a n g m e l i p u t i n y a hilang terbuang tanpa ada sedikit manfaat pun serta hilang tanpa disesah. Yang dimaksud dengan firman-Nya: ( an-nasa/adapun logam yang bermanfaat bagi manusia ^JLI U l i l ) ammct mdyanfau

adalah air bukan bui hnya dan

setelah dibakar dan hilang kotorannya. Ayat ini tidak m e n y e b u t air

dan logam itu secara langsung tetapi menegaskan manfaatnya. Hal tersebut untuk mengisyaratkan bahwa y a n g penting bukan air atau logamnya, tetapi manfaat y a n g harus dihasilkan oleh air dan logam itu. Demikian j u g a yang hacj, yang penting bukanlah ide-ide yang benar, yang berada di menara gading atau mengawang-awang di angkasa, tetapi yang lebih penting adalah manfaat dan penerapan ide-ide yang benar itu dalam kehidupan d u n i a w i sehingga dapat m e m b e r i manfaat. Karena a p a l a h arti ^ / - / w ^ / k e b e n a r a n j i k a ia ditempatkan di m e n a r a gading? atau jika ia tidak m e m b u m i . Selanjutnya, vang dimaksud bermanfaat di sini mencakup aneka manfaat, baik jasmani maupun

m a u p u n tuhani, baik perorangan m a u p u n kolektif, baik d u n i a akhirat.

Banyak ulama m e m a h a m i bahwa ayat di atas menampilkan dua m a c a m perumpamaan, m a s i n g - m a s i n g u n t u k kebenaran dan u n t u k kebatilan.

Contoh pertama bagi kebenaran adalah air yang mengalir dengan sangat deras dan contoh kedua adalah logam dengan kualitasnya yang jernih. Sedang, contoh pertama dari kebatilan adalah buih y a n g dihasilkan oleh derasnya irus air dan contoh kedua adalah karat yang keluar akibat pembakaran logam. Thahir Ibn 'Asyur berpendapat bahwa perumpamaan kedua ditampilkan r>agi mereka yang tidak pernah/jarang melihat arus air yang terjadi di lembah.embah. Bagi mereka yaitu diberi perumpamaan logam dan pembakarannya. Dari berbagai barang tambang y a n g dihasilkan manusia melalui proses r e m b a k a r a n , seperti emas, perak, tembaga dan t i m a h , ada y a n g dapat dijadikan perhiasan atau peralatan seperti bejana. Ada j tiga yang berupa sampah •eperri sampah air y a n g m e n g a p u n g di atas permukaan air. Bagian barang : i m b a n g yang mengalir itu disebut ( ) kbabits (limbah ). Dengan tamsil
1

i . : dan l i m b a h n y a serta tambang dan l i m b a h n y a itu, Allah menerangkan •irbenaran dan kebatilan. Kebenaran diibaratkan sebagai air dan tambang

254

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 17

y a n g jernih, sedangkan kebatilan diibaratkan sebagai limbah air dan limbah tambang y a n g tidak m u n g k i n dapat dimanfaatkan dan akan lenyap dan terbuang. Sedangkan, air jernih dan tambang jernih yang dapat berguna untuk kepentingan manusia akan bertahan di dalam tanah agar dapat dimanfaatkan. D e n g a n tamsil y a n g sangat jelas seperti itulah Allah swt. memperlihatkan kebaikan dan kejahatan kepada manusia. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i a y a t di atas h a n y a m e n a m p i l k a n satu perumpamaan saja yang kemudian bercabang. Mereka memahami bukan saja dalam arti buih air, tetapi juga kotoran-kotoran yang kata.za.bad melengket

pada logam, di m a n a kotoran Itu baru dapat hilang apabila logam tersebut dibakar. M a k s u d n y a , arus air yang turun dari langit dan yang ditampung dan m e n g a l i r dari aneka l e m b a h itu, m e n g h a s i l k a n di s a m p i n g b u i h , j u g a m e n g a k i b a t k a n kotornya logam y a n g terendam di dasar paling dalam dari lembah itu. Kedua perumpamaan itu tidak ada manfaatnya. Thabathaba'i memeroleh beberapa kesan dari ayat ini. Pertama, ayat ini mengisyaratkan bahwa anugerah rahmat Allah swt.

yang tercurah dari langit—vang diibaratkan oleh ayat ini dengan air—turun sedemikian rupa dan masing-masing m e n a m p u n g n y a sesuai dengan kadar kesediaannya m e n a m p u n g . Apabila wadah y a n g d i m i l i k i n y a besar, akan banyak air/rahmat yang diperolehnya, demikian juga sebaliknya. Bukankah— menurut ayat i n i — m a s i n g - m a s i n g m e n a m p u n g sesuai kadarnya? Kedua, tercurahnya rahmat/air ke lembah-lembah dan terukurnya kadar

masing-masing tidak dapat dilepaskan dari limbah dan kekotoran y a n g tampak, tetapi semua itu pasti tidak langgeng dan akan hilang. Berbeda dengan rahmat/air yang akan tetap dan langgeng. Dengan demikian, apa yang terdapat dalam wujud ini hanya ada dua macam. Pertama yang haq, mantap, dan langgeng, dan kedua y a n g hilang dan lenyap. Ketiga, haqlkebenaran tidak akan "menentang" atau mendesak haq y a n g

lain, tetapi ia mendukung dan memanfaatkannya serta mengantarnya kepada kesempurnaan. Ini dipahami dari pernyataan ayat di atas bahwa ia dibumi dan memberi manfaat bagi manusia. Yang d i m a k s u d dengan tetap tidak

menentang—-tulisnya—bukan

berarti terjalinnya keharmonisan dan kasih

sayang secara terus-menerus. Betapa d e m i k i a n , padahal kita melihat api

Kelompok IV Ayat 1 7

Surah ar-Ra'd [13]

255

dipadamkan air dan air dihabiskan oleh api. Tanah dimakan oleh t u m b u h a n , t u m b u h a n d i m a k a n oleh b i n a t a n g d a n b i n a t a n g saling m e m a k a n dan

m e n e r k a m , dan pada akhirnya bumi menelan semuanya. Yang d i m a k s u d tidak menentang itu adalah walaupun ia saling terkam menerkam, dalam

saat yang sama mereka bekerja sama u n t u k mencapai tujuan jenisnya. Ini serupa dengan kayu dan kapak. W a l a u p u n keduanya saling bertentangan, pada akhirnya k e d u a n y a m e w u j u d k a n apa y a n g dikehendaki oleh tukang/ p e n g a p a k — k a t a k a n l a h pintu. Serupa juga dengan timbangan, w a l a u p u n ia saling mengalahkan, sekali sayap kiri y a n g berat di kali lain sayap kanan, keduanya pada akhirnya bekerja sama mewujudkan tujuan si penimbang untuk mengetahui kadar berat sesuatu. Demikian itu keharmonisan dan kerja sama yang terjalin bagi yang d i n a m a i haq. Tetapi, tidak seperti itu pada kebatilan. M i s a l n y a jika ada k e t u m p u l a n pada kapak atau kecurangan pada timbangan. Ini bertentangan dengan / M ^ vang merupakan tujuan yang ingin dicapai sehingga akibatnya merusak dan mengakibatkan mudharat. Apa vang digambarkan ayat di atas terjadi juga pada bidang aqidah dan kepercayaan. Kepercayaan y a n g / w ^ dalam jiwa seorang m u k m i n diibaratkan dengan air y a n g tercurah dari langit, y a n g mengalir di aneka lembah y a n g berbeda-beda kadarnya. Orang akan memeroleh manfaat dengan

kehadirannya, m e n g h i d u p k a n jiwa mereka dan melanggengkan kebajikan dan keberkahan. Adapun batil vang dianut oleh seorang kafir, ia bagaikan buih, ia hanya bertahan sebentar tetapi kemudian pergi lenyap, sia-sia. tanpa bekas.

"AUah meneguhkan teguh itu dalam

(iman) kehidupan zalim

orang-orang di dunia

yang beriman

dengan

ueapan

yang

dan di akhirat; dan Allah apa yang

menyesatkan (QS.

orang-orang

yang

dan memperkuat

Dia kehendaki"

Ibrahim [ 1 4 1 : 2 7 ) .

256

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 18

AYAT 18

"Bagi orang-orang orang-orang

yang

menyambut

seruan

Tuhan mereka yang terbaik. mereka mempunyai niscaya hisab

Dan semua mereka yang

yang tidak menyambutnya,

sekiranya

yang ada di bumi dan sebanyak akan menebus buruk tempat diri mereka kediaman

isi bumi itu lagi bersamanya, Itulah yang

dengannya. mereka

bagi mereka dan itulah

dan tempat

ialah Jahanam

seburuk-buruk

kediaman."

Setelah ayat y a n g lalu memberi p e r u m p a m a a n tentang haq dan

batil,

kini dijelaskan anugerah atau dampak buruk yang diraih oleh masing-masing. Bagi orang-orang yang menyambut seruan 'Tuhan, Allah swt. Pemelihara dan

Pembimbing mereka dengan mengikuti kebenaran yang ditawarkan-Nya dan juga Rasul-Nya, disediakan bagi mereka kesudahan dan suasana serta kondisi yang terbaik. Di d u n i a dan di akhitat kelak. Dan orang-orang yang tidak

menyambutnya,

y a k n i e n g g a n m e n e r i m a t a w a r a n - N y a dan bersikeras

mengikuti kebatilan, mereka akan menghadapi kesulitan dan kesengsaraan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Sekiranya kekayaan yang ada di bumi dan ditambah sebanyak niscaya mereka akan menebus mereka mempunyai semua

isi bumi itu lagi

bersamanya,

diri mereka dengannya,

yakni dengan kekayaan

itu. Orang-orang itulah yang sangar jauh dari rahmat Ilahi dan^rr//g" disediakan bagi mereka hisab, y a k n i perhitungan, yang hasilnya pasti buruk kediaman seburuk-buruk mereka tempat akibat

b u r u k n y a p i l i h a n m e r e k a dan tempat k e m a t i a n n y a ialah Jahanam dan itulah

k e l a k setelah kediaman.

Jika yang menyambut ajakan Ilahi akan memeroleh kesudahan yang baik, tentulah y a n g tidak m e n y a m b u t n y a memeroleh kesudahan yang buruk. Jika yang tidak m e n y a m b u t n y a bersedia m e n u k a r segala apa y a n g d i m i l i k i n y a di dunia dengan kesudahan buruk itu, yang menyambutnya tidak akan bersedia menukar kesudahan baik y a n g diraihnya itu dengan apa vang d i m i l i k i n y a di dunia ini, betapapun banvaknya yang mereka m i l i k i — w a l a u sebanyak dunia dan ditambah hm sebanyak itu.

Kelompok IV Ayat 19

Surah ar-Ra'd [13]

257

Agaknya, kata f \ ^ b % ^ t ) istajabulmenyambut, ini sebagai ganti dari kata yang kata awdiyahllembah-lembah menyambut mukmin,

yang d i g u n a k a n oleh ayat

bertujuan menyerasikannya dengan

y a n g disebut oleh ayat y a n g lalu y a n g juga

dan m e n e r i m a hujan y a n g tercurah dari langit. terambil dari kata ( J-^a) rnahd yang antara lain

Kata ( i l ^ i l ) al-mihdd berarti buaian.

Penggunaan kata tersebut m e n g a n d u n g m a k n a ejekan. Kata

ini pada m u l a n y a d i g u n a k a n d a l a m arti sesuatu yang d i h a m p a r k a n untuk menjadi rempat duduk. Jika Anda d u d u k atau berbaring di kasur, A n d a akan merasa n y a m a n , berbeda jika A n d a d u d u k di tanah. D u d u k di tanah relatif lebih n y a m a n daripada d u d u k di batu-batu karang. Ini p u n relatif lebih nyaman daripada di atas batu yang panas. Tetapi, dapatkah Anda bayangkan betapa ' n y a m a n n y a " d u d u k di atas api yang membakar? Lebih-lebih lagi jika tempat d u d u k atau berbaring itu sempit dan tidak ada ruang gerak cukup, serupa dengan a n a k yang diletakkan di atas buaian.

AYAT 19

"Adakah orang yang Tuhanmu orang yang adalah

mengetahui

bahwa

apa yang

diturunkan

kepadamu

dari orang-

kebenaran,

sama dengan dapat

orangyang

buta? Hanyalah

berakal saja yang

mengambil

pelajaran.

D e m i k i a n l a h perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Karena itu, adakah orangyang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari

Tuhanmu,

wahai M u h a m m a d , m e n g e t a h u i n y a bahwa ia adalah

kebenaran orang

dan y a n g diibaratkan dengan air atau logam murni itu sama dengan

vang buta y a n g serupa dengan buih dan kotoran logam itu? Pastilah tidak sama! Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat menyadari

perumpamaan dan mengambil

pelajaran.

Ayat di atas m e n g g u n a k a n kata buta u n t u k mereka vang menolak apa vangditurunkan Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw., yakni al-Qur'an, karena :irman-firman Allah itu sedemikian jelas bagaikan terlihat dengan mata kepala sehingga dapat dijangkau oleh siapa p u n — w a l a u hanya m e m i l i k i m a t a saja.

258

5urah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 20-22

N a m u n demikian, karena mereka menolaknya, mereka adalah orang yang buta mata hatinya. Sayyid Quthub menggarisbawahi mengetahui penggalan ayat ini buta yang bukan Ini,

m e m p e r h a d a p k a n orangyang memperhadapkannya

dengan orangyang

dengan "orang y a n g tidak mengetahui".

m e n u r u t n y a mengisyaratkan bahwa h a n y a kebutaan hati y a n g menjadikan seseorang menolak hakikat y a n g sangat jelas y a n g ditawarkan oleh ajaran Islam. M a n u s i a kerika m e n g h a d a p i hakikat kebenaran terdiri dari dua kelompok, mengetahui". "melihat sehingga mengetahui" dan "buta sehingga tidak

D e m i k i a n tulisnya. adalah bentuk jamak dari ( c J ) lubb yaitu saripati

Kata ( u L l ^ i ) ahalbdb sesuatu.

Kacang—misalnya—-memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni

dinamai lubb. UlulAlbab

yang tidak diselubungi oleh "kulit", y a k n i kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Istilah yang digunakan al-Quf an ini mengisyaratkan bahwa saripati serta hal y a n g terpenting pada manusia adalah akal-nya m u r n i yang tidak diselubungi oleh nafsu. UlulAlbab yang

bukan sekadar yang

memiliki k e m a m p u a n berpikir cemerlang, tetapi k e m a m p u a n berpikir yang disertai dengan kesucian hati sehingga dapat mengantar p e m i l i k n y a meraih kebenaran dan m e n g a m a l k a n n y a serta m e n g h i n d a r dari kesalahan dan kemunkaran. Inilah saripati manusia. Adapun jasmaninya, ia tidak lain kecuali kulit yang m e n u t u p i saripati itu. N a m u n demikian, tentu saja kulit pun harus dipelihara agar saripati tersebut tidak terganggu.

AYAT 2 0 - 2 2

"Orang-orang dan orang-orang dihubungkan, hisab yang

yang yang

memenuhi

janji Allah dan tidak membatalkan apa-apa yang Allah perintahkan kepada yang Tuhan bersabar mereka dan takut Tuhan

perjanjian supaya kepada mereka, berikan kejahatan

menghubungkan takut

dan mereka

buruk. Dan orang-orang

demi wajah

dan melaksanakan kepada mereka,

shalat, dan menafkahkan secara sembunyi

sebagian

rezeki yang Kami serta menolak

atau terang-terangan

Kelompok IV Ayat 20-22

Surah ar-Ra'd [13]

259

dengan

kebaikan;

orang-orang

itulah yang

mendapat

tempat

kesudahan

(yang

Ayat-ayat ini menjelaskan sebagian dari ciri-ciri dan sifat Ulul yaitu orang-orang yang selalu memenuhi

Albdb,

janji yang diikatnya atau dikukuhkan perjanjian, baik m e n y a n g k u t yang supaya

dengan n a m a Allah dan tidak

membatalkan

w a k t u d a n t e m p a t n y a m a u p u n p e l a k s a n a a n n y a , dan orang-orang s e n a n t i a s a menghubungkan dihubungkan apa-apa yang Allah perintahkan

seperti silaturahmi serta menjalin h u b u n g a n harmonis dengan Tuhan mereka dan buruk.

binatang dan l i n g k u n g a n , dan mereka selalu takut kepada

takut kepada hisab, yakni perhitungan hari Kemudian, yang berakibat Dan orang-orang yang bersabar

melaksanakan perintah, menjauhi larangan

serta menghadapi petaka demi wajah Tuhan mereka, yakni mencari keridhaan Allah, dan melaksanakan shalat secara bersinambung dan m e m e n u h i syarat, sebagian rezeki yang Kami berikan

rukun, dan sunnahnya, dan menafkahkan kepada mereka, siapa p u n atau ha\\< secara sembunyi-$tmh\\r\y\ terang-terangan

sehingga tidak diketahui oleh

d a n d i k e t a h u i oleh o r a n g l a i n g u n a

m e n g h i n d a r k a n mereka dari sangka b u r u k atau memberi contoh y a n g baik dan atau ketika m e n u n a i k a n zakat wajib serta sungguh serta penuh h i k m a h kejahatan dengan menolak kebaikan, dengan s u n g g u h baik penolakan mendapat

ttu dengan lisan m a u p u n perbuatan, dan orang-orang tempat kesudahan y a n g baik.

itulah yang

Firman-Nya: (disl J ^ J U 0J3JJ ) yufuna

bi'ahdAlldh/memienuhi

janji

Allah

antara lain mengisyaratkan perjanjian antara manusia dan Allah swt. Memang, ada perjanjian antara manusia dan Allah, y a k n i bahwa mereka mengakui keesaan Allah serta tunduk dan patuh kepada-Nya. Perjanjian itu terlaksana melalui nalar dan fitrah manusia sebelum dikotori oleh kerancuan. Ada j u g a u l a m a y a n g berpendapat bahwa perjanjian itu telah terlaksana pada suatu ketika di suatu alam sebelum masing-masing manusia hadir di pentas dunia. Kata ( j^-ivj*: ) yakhsyauna diterjemahkan dengan takutadalah dan ( 0 ) yakhdfuna vang k e d u a n y a

berdasarkan pemahaman sementara ulama

y a n g menilai k e d u a kata itu sinonim tanpa perbedaan. Ayat ini, m e n u r u t mereka, m e n g g u n a k a n k e d u a n y a u n t u k tujuan penganekaragaman redaksi.

260

Surah ar-Ra'd [131

Kelompok IV Ayat 20-22

Namun, ada juga ulama yang membedakannya. Yakni, kata yakhsyauna

adalah

takut y a n g disertai dengan penghormatan dan p e n g a g u n g a n dan y a n g lahir dari adanya pengetahuan tentang yang ditakuti itu, sedangyakhdfuna adalah

sekadar takut yang boleh jadi disertai dengan kebencian atau tanpa mengetahui vang ditakuti itu. Selanjutnya, terbaca di atas bahwa objek kata adalah Allah yang ditunjuk dengan kata Ra b bahurn. yakhsyauna

Kata yang dipilih menjadi

objek tersebut mengesankan a d a n y a harapan dari vang takut karena y a n g ditakutinya adalah Allah y a n g juga Rabb, vakni Pemelihara, Pendidik y a n g selalu berbuat baik, bukan Allah vang dilukiskan dengan Perkasa, amat pedih [36]: 11 ( kepada atau Yang

siksa-Nya. Ini serupa juga dengan firman-Nya d a l a m Q S . Yassn lt "*^ lT*^"J J wakhasyiya (Allah yang
3 1

ar-Rahmdna

bi al-ghaiblyang

takut

ar-Rahman

mencurahkan

Rahmat). sebagai m e n g a n d u n g m a k n a

T h a b a t h a b a ' i m e m a h a m i kata.yakhsyauna

t e r p e n g a r u h j i w a a k i b a t k e k h a w a t i r a n t e n t a n g akan d a t a n g n y a suatu keburukan atau sesuatu y a n g negatif dan s e m a c a m n y a . Sedang, yakhdfitna

mengandung makna adanya upaya mempersiapkan sesuatu guna menghadapi dan berlindung dari keburukan yang diduga akan menimpa, walaupun ketika itu hati yang bersangkutan tidak tersentuh. Ini dikukuhkan oleh Thabathaba'i dengan ayat-ayat yang berbicara tentang "ketakutan"para mereka dinyatakan sebagai ( 4ji ^1 j j - I Jy^i Allah/mereka tidak takut kepada sesuatu nabi. Dari satu sisi, ahadan illa

V ) ld yakhsyauna kepada

pun kecuali

Allah (QS. al-

Ahzab [ 3 3 ] : 3 9 ) , dan di sisi lain mereka j u g a dilukiskan disentuh oleh khauf dan, dengan demikian, tentulah mereka yakhdfun seperti keadaan Nabi Musa yang

as. y a n g dilukiskan dalam ( Q S . T h a h a [ 2 0 ] : 6 7 ) atau dugaan khauf

boleh jadi dialami oleh Nabi M u h a m m a d saw. karena pengkhianatan lawanlawan beliau (QS. al-Anfal [8J: 5 8 ) . Pakar tafsir, al-Alusi, berpendapat bahwa pada u m u m n y a perbedaan-perbedaan m a k n a antara satu lafazh dan yang lain adalah perbedaan y a n g bersifat u m u m , b u k a n perbedaan y a n g pasti dan m e n y e l u r u h . Setiap perbedaan yang dijelaskan oleh u l a m a akan d i t e m u k a n satu dua contoh y a n g mengecualikannya. Kata ( ^ j w > ) shabaru tidak menyebut salah satu aspeknya. Ini berarti

kesabaran-kesabaran yang dimaksud mencakup segala aspek kesabaran, antara

Kelompok IV Ayat 20-22

Surah ar-Ra'd [13]

261

lain ketika menghadapi musibah, kesabaran dalam ketaatan dan pelaksanaan tugas, kesabaran menghindari kedurhakaan, dan lain-lain. Firman-Nya: ( j^ftUi jjCL*) mimma Kami berikan kepada mereka razaqnahumlsebagian rezeki yang

dapat d i p a h a m i sebagai isyarar b a h w a mereka

tidak dituntut untuk menafkahkan semua rezeki yang diperolehnya. Sebagian rezeki yang tidak dinafkahkan itu agar mereka tabung. Pelaksanaan tuntunan ini menuntut upaya dan kerja keras sehingga rezeki yang diperoleh melebihi kebutuhan agar kelebihan itu dapat ditabung. Penggalan ayat ini dapat j u g a bermakna bahwa, sebanyak apa pun yang dinafkahkan seseorang, hal tersebut baru merupakan sebagian dari anugerah Allah. Bukankah wujud serta sarana kehidupan, seperti bumi tempat berpijak dan udara yang dihirup, kesemuanya adalah rezeki dari Allah swt.? Kata
((JjijJj)

yadra'un

berarti menolak.

D a l a m hal ini a d a l a h

m e n y i n g k i r k a n d a m p a k y a n g terjadi atau akan terjadi dari suatu keburukan dengan cara y a n g baik. M e m a n g , salah satu cara terbaik u n t u k m e n a m p i k keburukan serta perselisihan adalah dengan berbuat baik kepada lawan. Dalam konteks ini, Allah berfirman: "Dan tidaklah Tolaklah yang teman (kejahatan itu) dengan sama kebaikan dan kejahatan. orang menjadi

cara yang lebih

baik, maka tiba-tiba seolah-olah telah

antara

kamu dan antara

dia ada permusuhan

yang sangat setia"{QS.

Fushshilat [41 ] : 3 4 ) . Di sisi lain, memberantas

k e b u r u k a n h a r u s p u l a d e n g a n cara y a n g b a i k . J a n g a n s a m p a i u p a y a memberantasnya menimbulkan dampak yang lebih buruk daripada keburukan yang ingin disingkirkan. Di sisi lain, Rasul saw. bersabda: "Bertakwalah kepada Allah di m a n a dan kapan saja, dan susulkanlah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu." Perlu digarisbawahi b a h w a pemaafan dengan cata yang baik d a l a m menghadapi keburukan, tentu saja bukan dengan mengorbankan kebaikan atau prinsip-prinsip ajaran agama dan tidak j u g a y a n g akhirnya memberi peluang bagi tersebarnya k e b u r u k a n itu secara lebih luas. Oleh sebab itu, sekian banyak ulama menggarisbawahi bahwa ayat ini adalah tuntunan dalam konteks h u b u n g a n pribadi dengan pribadi atau pribadi dengan Allah swt. dalam rangka meraih p e n g a m p u n a n - N y a , b u k a n d a l a m persoalan ajaran agama.

262

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 23-24

AYAT 2 3 - 2 4

"Surga-surga

Adn, mereka

masuk

ke dalamnya

bersama

dengan mereka

orang-orang dan anak dari baik

yang saleh dari orang-orang cucu mereka, semua tempat pintu; sedang

tua mereka,

pasangan-pasangan masuk

malaikat-malaikat 'alaikum bimd

ke tempat-tempat " Maka,

mereka alangkah

"Saldmun itu."

shabartum.

kesudahan

Tempat kesudahan y a n g baik yang dijanjikan u n t u k UlulAlbab Surga-surga yang Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan

adalah orang-orang tua mereka,

saleh, y a k n i yang beriman kepada Allah dan taat dari orang-orang baik suami m a u p u n istri

mereka yakni ibu, bapak, pasangan-pasangan dan anak cucu mereka.

Bukan hanya itu y a n g m e t e k a peroleh. Di surga sana malaikat-malaikat masuk "Saldmun

mereka berbahagia memeroleh aneka nikmat sedang ke tempat-tempat alaikum mereka dari semua pintu

sambil mengucapkan:

bimd shabartum.

Kedamaian dan kesejahteraan selalu bersama kalian Maka,

disebabkan dahulu, ketika h i d u p di dunia, kalian telah bersabar." alangkah baik tempat kesudahan itu.

M a s u k n y a ke surga ibu, bapak, dan anak cucu itu bukan berarti bahwa mereka m e m a s u k i n y a tanpa d u k u n g a n i m a n dan amal saleh. Kata ( £-L» ) shalaha, yang diterjemahkan taat, menunjukkan bahwa mereka pun beriman

dan beramal saleh. H a n y a saja, boleh jadi amal mereka belum sampai ke tingkat yang sama dengan tingkat iman dan amal sang anak yang menyandang sifat-sifat Ulul Albdb itu. N a h , g u n a m e l i m p a h k a n lebih b a n y a k lagi

kesenangan dan kebahagiaan kepada p e n y a n d a n g sifat itu, ibu, bapak, pasangan, dan anak c u c u n y a ditingkatkan dari peringkat bawah surga y a n g mestinya mereka raih ke peringkat y a n g lebih tinggi agar mereka semua bergabung sebagai satu keluarga dan dapat h i d u p bersama. Firman-Nya:

Kelompok IV Ayat 25

Surah ar-Ra'd [13]

263

"Malaikat-malaikat

masuk

ke tempat-tempat

mereka

dari

semua

pintu"

mengisyaratkan banyaknya pintu kesabaran, dan mengisyaratkan pula luasnya tempat tinggal mereka sehingga amat banyak pintunya. Atau, itu dan

m e n g i s y a r a t k a n s e r i n g n y a para m a l a i k a t k e l u a r m a s u k m e n e m u i m e m b a w a kebahagiaan dan kesenangan buat mereka.

Kata ( f%*>) salam telah dijelaskan pada ayat 10 surah Yunus ' dan ayat 4 8 surah Hud,' rujuklah ke sana!
J

1

AYAT 25

''Dan orang-orang dan memutuskan

yang

mengurai

perjanjian

Allah sesudah untuk memeroleh

diikat dengan dihubungkan kutukan dan

teguh dan bagi

apa yang

Allah

perintahkan itulah yang

mengadakan mereka tempat

kerusakan kediaman

di bumi, yang

buruk. "

Setelah menguraikan amal-amal kebajikan dan ganjaran orang-orang yang m e n g i k u t i kebenaran, kini diuraikan keburukan y a n g mengikuti kebatilan serta apa yang menanti pata pelaku keburukan. Dan a d a p u n orang-orang yang mengurai, yakni membatalkan dan dengan

melanggar perjanjian teguh,

mereka dengan Allah sesudah perjanjian itu diikat apa yang Allah perintahkan

dan selalu memutuskan

kepada mereka

untuk dihubungkan

antara lain silaturahmi. M e r e k a m e m u t u s k a n n y a antara

lain dengan memecah belah persatuan dan kesatuan, memutuskan hubungan harmonis antara manusia dan Allah, dan lain-lain y a n g diperintahkan Allah untuk selalu dihubungkan dan ditautkan, seperti m e n g h u b u n g k a n kata yang b a i k d e n g a n p e n g a m a l a n y a n g baik p u l a , dan m e r e k a mengadakan kerusakan terus-menerus

di bumi apa pun bentuk kerusakan itu, baik terhadap memeroleh kutukan,

hak m a n u s i a m a u p u n l i n g k u n g a n , mereka itulah yang

1

Lihat tafsir QS. Yunus [10]: 10 pada volume S halaman 345. I.ihar. rafsir QS. Hud [11]: 48 pada volume 5 halaman 642-

264

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok IV Ayat 26

y a k n i dijauhkan dari rahmat Allah dan bagi mereka

tempat

kediaman

yang

buruk sehingga tidak mendapatkan sesuatu kecuali keburukan. Yang d i m a k s u d dengan sesudah diikat dengan teguh adalah sesudah

kehadiran para nabi dan rasul m e m b a w a bukti-bukti keesaan-Nya, baik melalui ajakan memerhatikan kitab suci y a n g diturunkan bersama nabi dan rasul-rasul itu m a u p u n yang terhampar dengan jelas di alam raya ini. Bacalah kembali ayat 2 - 4 surah ini u n t u k m e m a h a m i m a k n a ayat ini!

AYAT 2 6

"Allah meluaskan (nya). dunia Mereka dibanding "

rezeki bagi siapa yang bergembira dengan dengan kehidupan

Dia kehendaki di dunia, hanyalah

dan padahal mata

menyempitkan kehidupan (kesenangan

kehidupan akhirat,

sementara).

Al-Biqa'i ketika menghubungkan

a y a t ini d a n a y a t s e b e l u m n y a

berpendapat bahwa sebelum ayat ini telah ada anjuran agar menafkahkan h a r t a y a n g m e r u p a k a n s a l a h s a t u cata y a n g p a l i n g a m p u h untuk

m e n g h u b u n g k a n apa y a n g diperintahkan Allah swt. u n t u k d i h u b u n g k a n , dan d i k e m u k a k a n pada ayat yang lalu bahwa rahmat Allah serta anugerah kebajikan-Nya jauh dari orang-orang kafir. Di sini, seakan-akan orang-orang kafir berkata: " M e n g a p a justru kami y a n g Anda katakan jauh dari rahmat Allah padahal k a m i memeroleh rezeki y a n g banyak, sedangkan orang-orang beriman y a n g Anda nyatakan dekat k e p a d a - N y a dan m e n g h u b u n g k a n apa y a n g diperintahkan Allah u n t u k d i h u b u n g k a n , tidak memeroleh rezeki sebanyak k a m i ? " U n t u k m e n a n g g a p i mereka, ayat ini m e n y a t a k a n : Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, yakni bagi siapa pun, bukan

berdasar k e i m a n a n dan kekufuran seseorang, tetapi berdasarkan h u k u m h u k u m p e r o l e h a n rezeki y a n g d i t e t a p k a n - N y a — d a n i t u l a h c e r m i n a n k e h e n d a k - N y a , dan menyempitkannya h u k u m itu. Mereka, durhaka dengan bagi y a n g tidak m e m e n u h i h u k u m berfoya-foya, dan

yakni orang-orang kafir, bergembira,

kehidupan

di dunia, yakni dengan kekayaan dan kesejahteraan

Kelompok IV Ayat 26

Surah ar-Ra'd [13]

265

y a n g mereka nikmati, padahal dibanding dengan kehidupan

kehidupan

dunia

y a n g mereka peroleh itu

akhirat y a n g akan d i n i k m a t i oleh orang-orang

beriman, hanyalah

mata', y a k n i kesenangan y a n g sedikit lagi sebentar.

Dapat juga dikatakan m e n y a n g k u t h u b u n g a n ayat ini dengan ayat s e b e l u m n y a b a h w a d a l a m benak s e m e n t a r a k a u m m u s l i m i n terlintas pertanyaan yang menyatakan bagaimana Allah swt. melapangkan rezeki bagi orang-orang kafir sehingga mereka semakin d u r h a k a dan membangkang.

Tidakkah sewajarnya mereka disiksa saja atau paling tidak jangan dianugerahi limpahan rezeki? Ayat di atas menjelaskan bahwa perluasan rezeki adalah atas kehendak Allah swt. N a m u n demikian, ayat ini tidak menyebut kehendak-Nya itu

ketika m e n g u r a i k a n penyempitan rezeki. Sebenarnya, p e n y e m p i t a n rezeki p u n aras kehendak-Nya juga, retapi hal ini tidak disebut bukan saja karena telah d a p a t d i p a h a m i d a r i p e n y e b u t a n y a n g l a l u , tetapi j u g a untuk

m e n g h i n d a r k a n dari Allah kesan negatif dengan melakukan p e n y e m p i t a n rezeki. Yang d i m a k s u d dengan kehendak Allah di sini adalah h u k u m dan

ketentuan-ketentuan yang ditetapkan-Nya m e n y a n g k u t perolehan rezeki, antara lain kerja keras, pemanfaatan dan penciptaan peluang, dan sebagainya. Siapa pun yang sungguh-sungguh berusaha, pintu rezeki dapat terbuka luas baginya. Itulah h u k u m y a n g ditetapkan-Nya sekaligus kehendak-Nya. Di tempat lain Allah berfirman:

Dan mereka (daripada

berkata: kamu)

"Kami lebih

banyak

mempunyai tidak

harta dan "

anak-anak Katakanlah: dikehendakimengetahui"

dan kami

sekali-kali

akan diazab.

"Sesungguhnya

Tuhanku

melapangkan

rezeki bagi siapa yang manusia tidak

Nya dan menyempitkan

akan tetapi kebanyakan

(QS. Saba [ 3 4 ] : 3 5 - 3 6 ) . Yakni, tidak mengetahui bahwa perluasan dan penyempitan rezeki bukan berdasar pada keimanan dan kekufuran.

KELOMPOK 5

AYAT 27-35

267

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 27

Surah ar-Ra'd [13|

269

AYAT 2 7

Orang-orang

kafir berkata:

"Mengapa

tidak diturunkan

kepadanya

ayat f bukti) siapa yang "

dari Tubannya?" Dia kehendaki

Katakanlah: dan memberi

"Sesungguhnya hidayah

Allah menyesatkan siapa pun yang

ke arah-Nya

bertaubat.

Setelah ayat y a n g lalu m e m b a n t a h apa y a n g boleh jadi diucapkan oleh k a u m musyrikin, kini apa y a n g mereka ucapkan secara jelas dan mereka usulkan sebelum ini d i k e m u k a k a n lagi guna m e n u n j u k k a n betapa anehnya sikap mereka. Yaitu, orang-orang mengejek dan berolok-olok: kepadanya, kafir senantiasa berkata "Mengapa tidak diturunkan sekadar u n t u k oleh A l l a h

yakni kepada M u h a m m a d , ayat, yakni bukti berupa mukjizat vang dia nyatakan telah mengutusnya kepada k a m i ? "

indriawi dari Tuhannya Katakanlah,

wahai Nabi mulia: A l a n g k a h besar sikap keras kepala kalian.

Telah berulang-ulang wahyu-wahyu Ilahi yang merupakan mukjizat dan bukti k e b e n a r a n y a n g a k u t a m p i l k a n dan telah b e r u l a n g - u l a n g p u l a a k u m e n y a m p a i k a n tantangan k e p a d a k a m u u n t u k m e m b u a t s e m a c a m n y a , n a m u n k a m u tidak melayani tantangan itu. Ini berarti kamu sebenarnya tidak m e m i n t a bukti, tetapi m e m a n g k a m u enggan percaya sehingga kamu sesat dan Allah pun menyesatkan k a m u "Sesungguhnya yanv Dia kehendaki Allah menyesatkan siapa

u n t u k Dia sesatkan bila y a n g bersangkutan m e m i l i h

kesesatan dan ketika itu bukti apa p u n y a n g dipaparkan pasti ditolaknya seperti keadaan kalian dan Allah j u g a memberi pun yang bertaubat hidayah ke arah-Nya siapa

dan menyesali kesalahannya w a l a u p u n sebelum itu dia

selalu ragu dan ragu. Terkesan dari apa y a n g d i p e r i n t a h k a n k e p a d a R a s u l saw. u n t u k

disampaikan ini bahwa ia tidak s e p e n u h n y a sejalan dengan usul kaum musyrikin itu. M e m a n g demikian, apa y a n g disampaikan Rasul itu pada hakikatnya bukan jawaban tetapi mengandung makna kecaman dan keheranan atas sikap mereka y a n g terus-menerus m e n y a m p a i k a n ucapan itu. Apa y a n g dimaksud oleh ayat ini lebih kurang seperti y a n g tersurat dalam kalimat-

270

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 27

kalimat panjang yang penulis k e m u k a k a n sesudah kata Katakanlah

di atas.

Kalimat-kalimat serupa d i k e m u k a k a n j u g a oleh pakar tafsir az-Zamakhsyari dan al-Biqa'i. Firman-Nya: Sesungguhnya dan memberi hidayah Allah menyesatkan siapa pun siapa yang Dia yang bertaubat kehendaki

ke arah-Nya

j u g a dapat

dipahami d a l a m arti keimanan dan kesesatan, bukan berdasar ada tidaknya bukti indriawi seperti yang mereka usulkan. Bisa saja seorang beriman tanpa bukti seperti itu, d e m i k i a n j u g a sebaliknya, karena k e i m a n a n dan kesesatan terpulang kepada ketentuan Allah swt. Ketentuan itu tidak ditetapkan-Nya tanpa memerhatikan kehendak hati masing-masing. Allah swt. akan memberi petunjuk siapa y a n g siap h a t i n y a u n t u k m e n e r i m a dan Allah menyesatkan siapa yang sesat dan enggan menerima ajakan sesuai firman-Nya:

"Maka, tatkala mereka;

mereka

berpaling memberi

(dari kebenaran), petunjuk kepada

Allah memalingkan kaum yang fasik"

hati (QS.

dan Allah tiada

ash-Shaff[6l]:5). Kata ( ^ J U S ) andba sebelumnya mengandung m a k n a kembali ke tempat semula setelah

ragu. Yang dimaksud di sini adalah pengakuan tentang kebenaran

setelah jelas bukti-buktinya serta tampil m e n y a m b u t setelah sebelumnya membelakangi. Ayat ini mengesankan bahwa sebenarnya bukti-bukti yang dipaparkan Nabi M u h a m m a d saw. apalagi ayat-ayat al-Qur'an sudah sangat cukup untuk m e n y e n t u h hati siapa pun, n a m u n ada di antara m e r e k a y a n g b e l u m mengambil sikap jelas, atau dengan kata lain masih ragu. Jika secara tegas mereka menerimanya, ketika itulah yang bersangkutan telah kembali. Mereka dinilai kembali karena tuntunan ayat-ayat al-Qur'an adalah sesuatu yang sangat dekat kepada fitrah. M e r e k a y a n g m e n o l a k n y a dianggap menjauh darinya. Tetapi, bila setelah menjauh itu ia m e n e r i m a n y a , ketika itulah ia dinamai andba.

Kelompok V Ayat 28-29

Surah ar-Ra'd [13]

271

AYAT 2 8 - 2 9

"Orang-orangyang karena tenteram. kebahagiaan dzikrullah.

beriman Sungguh, yang

dan hati mereka hanya dengan

menjadi mengingat

tenteram Allah, saleh, hati bagi

disebabkan menjadi mereka

Orang-orang dan tempat

beriman yang

dan beramal baik. "

kembali

Orang-orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan kembali m e n e r i m a t u n t u n a n - N y a , sebagaimana disebut pada ayat y a n g lalu itu, adalah orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram orang-

setelah sebelumnya disebabkan

bimbang dan ragu. Ketenteraman itu yang bersemi di dada mereka karena dzikrullah,

yakni mengingat Allah, atau karena ayat-ayat Allah, yakni Sungguhi tenteram.

al-Qur'an, yang sangat memesona k a n d u n g a n dan redaksinya. C a m k a n l a h bahwa hanya Orang-orangyang beriman dengan mengingat Allah, hati menjadi

dan beramal

saleh, seperti yang keadaannya seperti itulah

itu, y a n g tidak akan m e m i n t a bukti-bukti tambahan dan bagi mereka kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan mereka j u g a tempat kembali yang

di dunia dan di akhirat dan bagi

baik, yaitu surga. dengan lidah.

Kata ( f's ) dzikrlzikir

pada m u l a n y a berarti mengucapkan

W a l a u p u n m a k n a ini k e m u d i a n berkembang menjadi "mengingat". N a m u n demikian, mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah m e n y e b u t n y a . D e m i k i a n j u g a m e n y e b u t d e n g a n l i d a h dapat m e n g a n t a r hati untuk

m e n g i n g a t l e b i h b a n y a k lagi a p a y a n g d i s e b u t - s e b u t iru. Kalau k a t a "menyebut" dikaitkan dengan sesuatu, apa yang disebut itu adalah namanya. Karena itu, ayat di atas dipahami dalam arti menyebut nama Allah. Selanjutnya,

nama sesuatu terucapkan apabila ia teringat disebut sifat, perbuatan, maupun peristiwa y a n g berkaitan d e n g a n n y a . Dari sini dzikrullah dapat mencakup

makna menyebut keagungan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksaNya, atau perintah dan l a r a n g a n - N y a dan j u g a w a h y u - w a h y u - N ya. Berbeda pendapat u l a m a tentang apa y a n g d i m a k s u d dengan dzikrullah

dalam ayat ini. Ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti al-Qur'an karena m e m a n g salah satu n a m a a l - Q u r ' a n adalah adz-Dzikr (baca Q S . al-Anbiya' [ 2 1 ] : 50

272

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 28-29

dan al-Hijr [15]: 9 ) . Pendapat ini lebih sesuai untuk menjadi jawaban terhadap keraguan k a u m musyrikin serta permintaan mereka mendatangkan ayat/bukti kebenaran Rasul saw. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti zikir secara u m u m , baik berupa ayat-ayat a l - Q u r ' a n m a u p u n selainnya. B a h w a zikir m e n g a n t a r kepada ketenteraman jiwa tentu saja apabila zikir itu dimaksudkan untuk mendorong hati menuju kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Bukan sekadar ucapan dengan lidah. Kata ( ) ala d i g u n a k a n u n t u k m e m i n t a p e r h a t i a n m i t r a bicara

menyangkut apa yang akan diucapkan. Dalam konteks ayat ini adalah tentang dzikrullah yang melahirkan ketenteraman hati. Thabathaba'i menggarisbawahi bahwa kata ( tenteram ) tathma'innu/menjadi Iman

adalah penjelasan tentang kata sebelumnya y a k n i beriman.

tentu saja bukan sekadar pengetahuan tentang objek iman karena pengetahuan tentang sesuatu belum mengantar kepada keyakinan dan ketenteraman hati. Ilmu tidak menciptakan iman. Bahkan, bisa saja pengetahuan itu melahirkan kecemasan atau bahkan pengingkaran dari y a n g bersangkutan seperti yang diisyaratkan oleh Q S . a n - N a m l [ 2 7 ] : 14:

j'- "
"Dan mereka padahal mengingkarinya meyakini karena kezaliman

a

^

1^

.'.0.1.

^^,>5 J >_ ^
(mereka)

dan kesombongan

hati mereka

(kebenaran)

nya. "

M e m a n g , ada sejenis pengetahuan y a n g dapat melahirkan iman, y a i t u pengetahuan y a n g disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah serta kelemahan dan kebutuhan m a k h l u k k e p a d a - N y a . Ketika pengetahuan dan kesadaran itu bergabung d a l a m jiwa seseorang, ketika itu lahir ketenangan dan ketenteraman. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah adalah Penguasa tunggal dan Pengatur alam raya dan Yang d a l a m g e n g g a m a n tangan-Nya segala sesuatu, menyebut-nyebut nama-Nya, mengingat kekuasaan-Nya, serta s i f a t - s i f a t - N y a y a n g a g u n g , pasti a k a n m e l a h i r k a n k e t e n a n g a n ketenteraman d a l a m jiwanya. A b d u l l a h Ibn Abbas, k e t i k a b e r u m u r belasan tahun, menceritakan dan

pengalamannya sebagai berikut: "Suatu ketika, aku berjalan di belakang Nabi

Kelompok V Ayat 28-29

Surah ar-Ra'd [13]

273

saw., lalu beliau bersabda kepadaku; ' W a h a i anak muda! S u n g g u h aku akan mengajarmu beberapa k a l i m a t (yaitu).' Peliharalah (ketetapan-ketetapan) Allah, niscava Dia m e m e l i h a r a m u , Peliharalah (ketetapan-ketetapan) Allah, niscaya e n g k a u m e n d a p a t i - N y a selalu di h a d a p a n m u . A p a b i l a e n g k a u b e r m o h o n m a k a b e r m o h o n l a h k e p a d a A l l a h , apabila e n g k a u m e m i n t a bantuan maka mintalah bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa

sesungguhnya seandainya umat berhimpun untuk memberi sesuatu manfaat k e p a d a m u , mereka tidak akan m a m p u m e m b e r i m u kecuali sesuatu y a n g telah d i t e t a p k a n Allah u n t u k m u ; dan b i l a m e r e k a b e r h i m p u n menjatuhkan mudharat kepadamu, mereka tidak akan untuk mampu

m e n j a t u h k a n n y a k e p a d a m u , kecuali sesuatu y a n g telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran telah ditutup" (HR. atTirmidzi). Imam Ghazali menulis: " M a n u s i a sebagai h a m b a Allah harus dapat m e n g a m b i l dari lafazh Allah" kesadaran tentang ta-Allah. Allah, y a k n i

k e k u a s a a n - N y a y a n g m u t l a k d a l a m k e p e m i l i k a n dan pengaturan seluruh m a k h l u k . Seluruh jiwa dan / w ^ m ^ / k e h e n d a k n y a harus ia kaitkan dengan Allah, ia tidak m e m a n d a n g kecuali kepada-Nya, tidak menoleh ke selainNya, tidak mengharap, tidak pula takut kecuali kepada-Nya. B a g a i m a n a tidak d e m i k i a n , sedang ia seharusnya telah p a h a m dari n a m a ini b a h w a sesungguhnya Dia adalah w u j u d y a n g hakiki dan / ^ s e d a n g selain Dia akan lenyap binasa. Dengan demikian, dia akan memandang bahwa dirinya adalah vang pertama akan binasa dan dia adalah sesuatu yang batil, sepetti pandangan Rasul saw. dengan sabda beliau: 'Kalimat yang paling benar diucapkan seorang penyair adalah kalimat Labid yaitu: Segala sesuatu selain Allah pasti disentuh kebatilan (HR. Bukhari, M u s l i m dan Ibn M a j a h dari A b u H u r a i r a h ) . " Kata ( j i J i J ) tathma'innu m e n g g u n a k a n bentuk kata kerja masa kini. menggambarkan terjadinya

P e n g g u n a a n n y a di sini b u k a n b e r t u j u a n

k e t e n t e r a m a n itu pada m a s a t e r t e n t u , tetapi y a n g d i m a k s u d a d a l a h kesinambungan dan kemantapannya. Ayat ini tidak bertentangan dengan firman-Nya:

274

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 30

''Sesungguhnya Allah gemetar

orang-orang hati mereka"

mukmin adalah

mereka yang apabila

disebut

nama

(QS. al-Anfal [ 8 ] : 2) karena ayat pada surah al-

Anfal ini menggambarkan keadaan mereka ketika mendengar ayat-ayat yang m e n g a n - d u n g a n c a m a n , sedang ayat ar-Ra'd ini a d a l a h k e t e n t e r a m a n menyebut n a m a Allah yang rahmat-Nya m e n g a l a h k a n amarah-Nya, yang r a h m a t - N y a m e n c a k u p segala sesuatu. Ada j a w a b a n lain u n t u k m e n a m p i k dugaan pertentangan itu yang penulis k e m u k a k a n ketika menafsirkan Q S . al-Anfal itu, y a k n i rasa takut dan gentar y a n g dirasakan oleh orang-orang yang beriman adalah tahap pertama dari gejolak jiwa ketika itu merasa sangat takut akibat m e m b a y a n g k a n a n c a m a n dan siksa Allah, sedang ayat Q S . arRa'd menggambarkan gejolak hati mereka setelah rasa gentar itu berlalu, yakni ketika mereka mengingat rahmat dan kasih sayang Allah. Kedua kondisi psikologis ini d i t a m p u n g oleh firman-Nya:

"Allah telah menurunkan serupa (mutu ayat-ayatnya) orang mereka yang takut kepada

perkataan

yang

paling

baik (yaitu) gemetar menjadi

ahQur'an kulit kulit dan

yang oranghati

lagi berulang-ulang Tuhannya, kemudian

karenanya tenang

di waktu mengingat

Allah" ( Q S . az-Zumar [ 3 9 ] : 2 3 ) . ) ihaba, dalam arti yang baik,

Kata ( j& menyenangkan,

) timba berasal dari kata ( dan menggembirakan.

Kata ini merupakan sifat (adjektiva) kehidupan.

dari suatu kata yang tidak disebut, misalnya

Kehidupan betapapun m e w a h n y a tidak akan baik jika tidak disertai ketenteraman hati. sedang ketenteraman hati baru dapat dirasakan bila hati yakin dan percava bahwa ada sumber y a n g tidak terkalahkan y a n g selalu mendampingi dan memenuhi harapan.

AYAT 30

Seperti berlalu

itulah, beberapa

Kami

telah mengutusmu

pada suatu

umat yang sungguh kepada

telah mereka

umat sebelumnya

supaya engkau

membacakan

Kelompok V Ayat 30

Surah ar-Ra'd [13]

275

yang

Kami

wahyukan Katakanlah:

kepadamu, "Dialah

padahal Tuhanku

mereka

mengkufuri selain

Tuhan Dia;

Yang hanya "

Rahman. kepada-Nya

tidak ada tuhan kepada-Nya tempat

aku bertawakal

dan hanya

kembaliku.

Thahir Ibn 'Asyur memahami ayat ini sebagai lanjutan jawaban terhadap ucapan orang-orang kafir yang berkata: "Mengapa ayat (bukti) dari Tuhannya?"'Menurutnya, tidak diturunkan kepadanya

jawaban y a n g d i k e m u k a k a n pada

ayat 2 7 yang lalu, tidak lebih dari m e n g g a m b a r k a n keheranan atas sikap dan kesesatan mereka, belum lagi j a w a b a n terhadap usul mereka. Demikian Ibn 'Asyur. A l - B i q a i berpendapat bahwa ayat-ayat y a n g lalu m e n u n j u k k a n bahwa pembangkangan kaum kafirin sudah sangat jauh dan berlangsung lama. Sudah b a n y a k j u g a gangguan mereka serta telah berlarut kesabaran menghadapi mereka. M a k a , ketika itu, boleh jadi orang kafir atau m u s l i m berkata: "Bukankah engkau, wahai Nabi M u h a m m a d saw., adalah utusan Allah yang diperkenankan permohonannya sebagaimana rasul-rasul yang lalu?

Bermohonlah kepada Allah! Kiranya kita tidak berlarut-larut menanti." Nah, ayat ini menjawab ucapan itu. D e m i k i a n aI-Biqa'i. Apa pun h u b u n g a n n y a , yang jelas ayat ini menegaskan bahwa itulah, seperti

yakni seperti pengutusan para rasul y a n g Kami uraikan k e p a d a m u

d a l a m sekian banyak ayat y a n g telah engkau terima dan y a n g m e n u n j u k k a n k e p a d a m u kuasa Kami yang penuh, Kami juga. telah mengutusmu pada suatu sungguh vang

umat, yakni seluruh manusia sejak masamu hingga akhir zaman, yang telah berlalu sebelum p e n g u t u s a n m u itu beberapa umat sebelumnya

j u g a m e m b a n g k a n g para rasul. Kami m e n g u t u s m u , wahai M u h a m m a d , supaya engkau membacakan padahal kepada mereka ayat-ayat al Q u r ' a n yang Tuhan Kami Yang

wahyukan Rahman,

kepadamu,

mereka terus-menerus mengkufuri

y a k n i Tuhan y a n g selalu mencurahkan rahmat. Hai M u h a m m a d ,

Kami mengutusmu hanya untuk itu, bukan untuk melayani usul-usul mereka m e n y a n g k u t pembuktian kebenaranmu. Setelah menjelaskan fungsi Nabi M u h a m m a d saw., sekali lagi beliau diperintahkan: Katakanlah kepada mereka yang meragukan kebenaranmu:

"Dialah, yakni ar-Rahman itu, Tuhanku Pembimbing dan yang selalu berbuat

276

Surah ar-Rad [13]

Kelompok V Ayat 30

baik kepadaku. Aku percaya penuh kepada-Nva dan tidak akan mcngkururi anugerah-Nya. A k u y a k i n bahwa tidak ada tuhan, tidak ada penguasa langit Dia; hanya kepada-

dan bumi, tidak ada j u g a y a n g berhak disembah selain Nya aku bertawakal,

y a k n i berserah diri setelah u p a y a maksimal y a n g dapat tidak kepada siapa pun selain-Nya tempat

kulakukan, dan hanya kepada-Nya kembaliku,

yakni bertaubat dan j u g a kembali setelah ke matian nanti.

Firman-Nya m e n g u r a i k a n kedatangan Nabi M u h a m m a d saw. sebagai telah berlalu beberapa umat sebelumnya bukan saja mengisyaratkan bahwa

beliau bukan orang pertama sebagai rasul, tetapi juga mengandung semacam a n c a m a n , y a k n i u m a t - u m a t y a n g l a l u telah d i b i n a s a k a n A l l a h k e t i k a m e m b a n g k a n g rasul-Nya. M a k a , kalian p u n — w a h a i masyarakat M e k k a h — terancam hal serupa karena kerasulan Nabi M u h a m m a d saw. serupa dengan kerasulan nabi-nabi yang lalu dan, dengan d e m i k i a n , perlakuan Allah pun tidak akan j a u h berbeda. Kata ar-Rahman telah dijelaskan m a k n a n y a secara panjang lebar dalam

penafsiran surah al-Fatihah. Di sana, antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa ban vak u l a m a berpendapat bahwa baik ar-Rahman keduanya terambil dari akar kata ( A3-J ) rahmah. ( J^Us ) falan dan ( ) Rahman maupun ar-Rahim

setimbang dengan

Rahim dengan ( J_J*3) fa'U. T i m b a n g a n ( j*>U3) dan atau kesementaraan, dan

fa'lan biasanya menunjukkan kepada kesempurnaan

sedang t i m b a n g a n ( J-J^ ) fa 'U m e n u n j u k k e p a d a kesinambungan kemantapan. Rahman Rahman

Itu salah satu sebab sehingga tidak ada b e n t u k j a m a k dari kata

karena kesempurnaannya itu, dan tidak ada juga vang wajar dinamai kecuali Allah swt. Berbeda dengan kata Rahim, yang dapat dijamak

dengan (sX3~) ) Ruharna', sifat m a k h l u k .

sebagaimana ia dapat menjadi sifat Allah dan juga

Kaum musyrikin m e n g a k u tidak mengenal a r - R a h m a n :

Apabila menjawab:

dikatakan

kepada

mereka:

"Sujudlah

kepada

ar-Rahman",

mereka

"Siapakah

ar-Rahman

itu?" ( Q S . al-Furqan [251: 6 0 ) . M e r e k a

Bandingkan dengan volume 1 tentang tafsir ayat 3 surat al-Fatihah pada halaman 40.

Kelompok V Ayat 31

Surah ar-Ra'd [13]

277

enggan sujud kepada-Nya, padahal Dia-lah y a n g m e n g a n u g e r a h k a n aneka rahmat kepada seluruh makhluk, baik yang kafir dan durhaka maupun yang m u k m i n dan taat. Dengan d e m i k i a n , penyebutan kata tersebut di sini, di samping m e m p e r k e n a l k a n sifat Allah y a n g R a h m a n itu, j u g a m e n g a n d u n g kecaman bahwa orang-orang kafir m e n i k m a t i anugerah dan kasih sayangNya, tetapi sungguh sangat buruk mereka karena terus-menerus mengkufuriNya.

AYAT 31

"Dan

sekiranya atau

ada suatu dibelah (tentu Maka,

bacaan

yang bumi inilah).

dengannya atau diajak

gunung-gunung berbicara

dapat dengannya adalah mengetahui kepada bencana tempat tidak

digeserkan orang-orang kepunyaan bahwa manusia disebabkan kediaman menyalahi

dengannya al-Qur'an tidakkah

mati, Allah.

Bahkan segala persoalan yang beriman petunjuk ditimpa dekat Allah

orang-orang

seandainya semuanya.

Allah menghendaki Dan orang-orang mereka sendiri

tentu Allah memberi yang kafir senantiasa

perbuatan mereka janji. "

atau bencana janji

itu terjadi

sehingga

datanglah

Allah. Sesungguhnya

Setelah mengecam kekufuran mereka terhadap Allah yang mewahyukan al-Qur'an, kini dikecam sikap mereka terhadap al-Qur'an yang mereka tidak m e n g a k u i n y a sebagai bukti kebenaran. Ayat ini menyatakan: Dan ada suatu bacaan yang dengannya, y a k n i dengan bacaan itu, sekiranya

gunung-gunung dibelah

dengan m u d a h dapat digeserkan aengan

oleh siapa pun dari tempatnya, atau

membaca-T^w bumi, atau diajak berbicara

dengan membaca-nya orang-

'•rangyang

sudah mati lalu dia h i d u p dan berdialog, tentu al-Qur'an inilah

oacaan itu. S u n g g u h al-Qur'an adalah bukti y a n g sangat jelas. Karena itu, sungguh mengherankan mengapa mereka masih m e m i n t a bukti yang lain. Jar'kan sebenarnya segala, persoalan adalah kepunyaan Allah dan atas kehendak

^an wewenang-Nya, bukan milik dan wewenang para nabi dan utusan-utusanXva sebagaimana kalian duga, wahai k a u m kafir.

278

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 31

Maka, tidakkah orang-orang Allah petunjuk menghendaki kepada

yang

beriman

mengetahui

bahwa Allah

seandainya memberi

agar s e m u a m a n u s i a beriman, tentu semuanya

manusia

dan, dengan demikian, tentu semua akan

beriman dengan mudah. Tetapi, itu tidak dikehendaki-Nya karena Dia meng­ anugerahkan manusia kebebasan dan k e m a m p u a n m e m i l a h dan m e m i l i h Dan orang-orang yang kafir yang mengingkari t u n t u n a n Allah y a n g engkau ditimpa bencana disebabkan

s a m p a i k a n , w a h a i M u h a m m a d , senantiasa perbuatan atau

y a n g telah terbiasa mereka lakukan sehingga menjadi sifat mereka itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. Bencana-bencana

bencana

itu akan silih berganti sehingga

pada akhirnya datanglah

janji Allah menyangkut Allah

kemenangan k a u m m u s l i m i n dan kehancuran mereka. Sesungguhnya tidak menyalahi janji. 61 j J ) letu anna qurananlseandainya ada bacaan

Firman-Nya: (

dan

seterusnya, tidak dilanjutkan dengan menyebut apa y a n g terjadi seandainya ada bacaan y a n g m a m p u menggeser gunung, membelah bumi, dan berdialog dengan orang mati. B a n y a k ulama yang berpendapat bahwa lanjutan redaksi perandaian itu adalah "tentulah Muhammad tetapi seluruh Allah al-Quran yang diturunkan kepada Nabi ini, sedang

saw. Ini. " Ada lagi y a n g m e n a m b a h k a n bahwa: "tentulah tidak melakukannya kembali karena " Dia tidak menghendaki,

persoalan

kepada-Nya.

J i k a d e m i k i a n , ayat ini bermaksud menggarisbawahi bahw*a persoalan k e i m a n a n dan kekufuran mereka bukanlah berkaitan dengan kehadiran atau ketidakhadiran bukti indriawi, tetapi berdasar kehendak Allah dan ketentuanNya. Tetapi, perlu diingat bahwa k e h e n d a k dan ketentuan-Nya itu Allah sesuaikan dengan kecenderungan jiwa manusia sebagaimana ditegaskan oleh ayat 5 surah ash-Shaff y a n g telah d i k u t i p sebelumnya. T h a h i r Ibn ' A s y u r m e n j a d i k a n p e r a n d a i a n di atas s e a k a n - a k a n menyatakan bahwa seandainya ada bacaan y a n g sifatnya seperti y a n g disebut itu, tentulah kitab al-Qur'an ini yang dapat melakukannya, tetapi a h Q u r ' a n tidak d i t u r u n k a n u n t u k itu. Yang perlu digarisbawahi dan d i k e m b a n g k a n dari pandangan u l a m a ini adalah b a h w a al-Qur'an tidak diturunkan u n t u k menjadi bukti indriawi yang dapat melahirkan hal yang bersifat suprarasional, tetapi ia adalah bukti aqliyah (msional) sekaligus kitab hiddyah yang menerangi

Kelompok V Ayat 31

Surah ar-Ra'd [13]

279

akal dan pikiran serta obat bagi keresahan j i w a dan penyakit ruh ani y a n g pada gilirannya mengantar kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Thabathaba'i berpendapat lain. M e n u r u t n y a , jawaban perandaian itu adalah " S e a n d a i n y a ada bacaan seperti itu., mereka pun tidak akan percaya, kecuali bila dikehendaki Allah karena seluruh persoalan h a n y a kembali kepada-Nya, tidak satu p u n y a n g kembali kepada selain-Nya. Ini, menurut­ nya, lebih sesuai dengan lanjutan ayat y a n g menegaskan bahwa segala per­ soalan kembali kepada-Nya. Ayat i n i — j u g a menurut T h a b a t h a b a ' i — m i r i p dengan firman-Nya:

"Seandainya

Kami

menurunkan dengan

malaikat mereka

kepada

mereka,

dan

orang-orang (pula) segala kecuali (QS.

yang telah mati berbicara sesuatu ke hadapan mereka

dan Kami kumpulkan

niscaya mereka tetapi kebanyakan

tidak (juga) akan beriman, mereka tidak mengetahui"

jika Allah menghendaki, al-Anam [6]: 111).

D i s e b u t n y a ketiga p e r a n d a i a n di atas sejalan dengan riwayat y a n g menyatakan b a h w a suatu ketika tokoh-tokoh k a u m musyrikin mengutus seseorang u n t u k m e n y a m p a i k a n kepada Nabi M u h a m m a d saw. bahwa: Seandainya e n g k a u — H a i M u h a m m a d — d a p a t memperlebar pegunungan di M e k k a h dengan m e m i n d a h k a n n y a sehingga kami dapat m e n g g u n a k a n bahannya u n t u k m e n a n a m , atau engkau dapat mendekatkan negeri S y a m karena perdagangan kami ke sana, atau engkau membangkitkan nenek moyang K a m i , yakni Qushai, sehingga kami dapat bercakap-cakap dengannya (maka parulah kami akan percaya)." Demikian dalam beberapa riwayat. Kata ( )yay'as, yang diterjemahkan di atas dengan mengetahui, pada

rv.ulanya berarti berputus

asa. Ada u l a m a vang m e m a h a m i n y a dalam arti asal

~;akna kata tersebut. Yakni apakah orang-orang beriman belum berputus asa .r.L-nvangkut keimanan semua manusia setelah jelas bagi mereka bahwa kalau ^-..ah menghendaki niscaya Dia memberi petunjuk semua manusia, sedang mereka telah diberi tahu bahwa Allah tidak menghendaki? Allah tidak

280

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 32

m e n g h e n d a k i k a r e n a s e s u n g g u h n y a t i d a k a d a lagi b u k t i y a n g dapat m e y a k i n k a n akal pikiran dan j i w a manusia melebihi a l - Q u r ' a n . A d a juga yang m e m a h a m i n y a d a l a m arti mengetahui karena seseorang yang berputus

asa m e n y a n g k u t sesuatu, ia telah mengetahui bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Banvak u l a m a berpendapat bahwa y a n g d i m a k s u d dengan orang-orang

yang kafir pada ayat ini adalah yang bertempat tinggal ketika itu di Mekkah, sedang y a n g dimaksud dengan terjadi dekat tempat kediaman mereka adalah

di Hudaibiyah, pada tahun VI H. ketika disepakati perjanjian gencatan senjata antara Nabi saw. dan k a u m musyrikin M e k k a h . Perjanjian itu k e m u d i a n dilanggar oleh k a u m musyrikin sehingga Nabi saw. bersama kaum muslimin menuju ke M e k a h dan pada tahun VIII H. Kata ( berarti memukul ) qdri'ah sesuatu terambil dari kata ( dengan sesuatu. ) /jara'ayAng pada mulanya

Seperti misalnya m e n g e t u k pintu

dengan alat y a n g dipegang dengan m a k s u d agar y a n g berada di dalam mendengar dan membukanya. Karena ketukan menimbulkan suara, dan suara tersebut sering kali tidak terduga dan mengagetkan, kata qari'ah m a k n a n y a sehingga d i p a h a m i dalam arti suara keras yang berkembang atau

mengagetkan

segala sesuatu yang datangnya mendadak dan mengagetkan. Yang dimaksud o l e h a y a t i n i a d a l a h bencana yang mengagetkan. Sementara ulama

m e m a h a m i n y a dalam arti pasukan-pasukan vang dikirim oleh Rasul saw. menghadapi k a u m musyrikin di beberapa daerah di luar kota M e k a h . Ini karena mereka menduga bahwa ayat ini turun setelah Nabi saw. berhijrah ke Madinah. Kata ( Jj£ ) tahidlu adalah qanah, dapar berarti menimpa, dan dalam konteks ayat ini menduduki—

yaitu bencana vang menimpa. Dapat juga berarti

ketika dipahami sebagai penggalan—yaitu bahwa engkau, wahai M u h a m m a d , akan datang bersama pasukan Islam menduduki dan menguasai kota Mekah.

AYAT 32

"Dan sesungguhnya

telah diperolok-olokkan

rasid-rasul

sebelummu,

maka Aku

Kelompok V Ayat 33-34

Surah ar-Ra'd [13]

281

beri tangguh alangkah

bagi orang-orang

kafir, kemudian

Aku binasakan

mereka.

Maka,

hebatnya

siksaan-Ku!"

Setelah ayat yang lalu menguraikan penolakan k a u m musyrikin terhadap a l - Q u r ' a n , k i n i N a b i saw., y a n g d i p e r i n t a h k a n m e n y a m p a i k a n dan menjelaskan ayat-ayat kitab suci itu, d i t e n a n g k a n h a t i n y a dan dihibur menghadapi penolakan bahkan ejekan itu, sekaligus mengancam para pengejek dan p e m b a n g k a n g . Kepada beliau d i i n g a t k a n bahwa sesungguhnya diperohk-olokkan sebelummu, oleh o r a n g - o r a n g y a n g d u r h a k a b a n y a k telah rasul-rasul

seperti Nuh, S y u a i b , H u d , Shalihj dan lain-lain. U m a t mereka

juga m e m i n t a bukti-bukti sebagaimana permintaan u m a t m u itu, w a h a i M u h a m m a d , padahal u m a t m u telah dianugerahi a I - Q u r \ m namun tetap
s

m e n u n t u t bahkan mcmperolok-olok, maka Aku beri tangguh

bagi

orang-

orang kafir, y a k n i mereka y a n g durhaka itu beberapa lama, dan membiarkan mereka hidup bersenang-senang tanpa gangguan; kemudian setelah tiba waktu

y a n g Aku tetapkan y a n g relatif m e m a n g agak lama—sebagaimana dipahami dari kata tsumma hebatnya siksaan-Ku (kemudian)—Aku binasakan itu! kafir sebagai ganti kitayang memperolokmereka. Maka, alangkah

Penggunaan kata orang-orang olokkan untuk menunjukkan

bahwa kekufuran mereka itulah yang

mengundang olok-olok, dan olok-olok itu telah mencapai tingkat kekufuran.

AYAT 3 3 - 3 4

"Maka apakah Tuhan yang menjaga (sama dengan yang tidak demikian

setiap diri terhadap sifatnya)? Mereka

apa yang menjadikan

diperbuatnya beberapa hendak ataukah untuk benar). pemberi azab

sekutu bagi Allah. Katakanlah: memberitakan sekadar

'Namailah

mereka'. Atau apakah kamu a di bumi diperindah (yang

kepada Allah apa yang pada lahirnya

tidak di ketahui-Ny telah

perkataan

saja? Sebenarnya dan dihalangi

orang-orang

kafir itu tipu daya mereka

dari jalan

Dan barang siapa disesatkan petunjuk. akhirat Bagi mereka lebih

Allah, maka bagi mereka tak ada satu pun kehidupan dunia dan sesungguhnya pun

azab dalam

keras dan tak ada bagi mereka

satu pelindung

dan Allah. "

282

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 33-34

Allah M a h a k u a s a menjatuhkan sanksi. Bukankah Dia Yang Mahakuasa atas segala sesuatu? Bukankah Dia yang meninggikan langit tanpa penyanggah serta menghamparkan bumi? Bukankah Dia yang menganekaragamkan buktibukti kekuasaan-Nya sebagaimana telah diuraikan oleh ayat-ayat y a n g lalu? J i k a demikian, maka apakah Tuhan yang menjaga, memelihara, menguasai,

dan mengetahui amal setiap diri dan jiwa baik yang taat maupun yang dtirhaka serta akan m e m i n t a pertanggungjawaban terhadap apa yang diperbuatnya,

sama dengan selain-Nya yang tidak demikian sifatnya? Pasti tidak! Jangankan sama atau serupa, y a n g serupa dengan serupanya p u n tidak! M e m a n g , t i d a k a d a y a n g m e m p e r s a m a k a n Tuhan y a n g sifat-Nya d e m i k i a n kecuali orang-orang y a n g musyrik y a n g tertutup mata hatinya. Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah, y a k n i m e m b u a t berhala dan

m e n y e m b a h n y a sebagai sekutu-sekutu Allah. Hai M u h a m m a d , Katakanlah kepada mereka: "Namailah mereka dengan

namanya yang sebenarnya serta sebutlah sifat-sifatnya. Mereka adalah berhalaberhala, m a k h l u k - m a k h l u k lemah, y a n g k a m u buat sendiri." Atau kamu dengan m e n j a d i k a n n y a sekutu-sekutu Allah hendak tidak diketahui-Nya di bumi, apakah

memberitakan

kepada Allah apa yang

yakni y a n g tidak ada

wujudnya karena sesungguhnya Allah tidak tahu-menahu tentang hal tersebut. Seandainya sekutu-sekutu itu ada wujudnya, pastilah Allah mengetahuinya, ataukah perkataan p e n a m a a n b e r h a l a - b e r h a l a itu sebagai s e k u t u - s e k u t u pada lahirnya sekadar

saja y a n g tidak memiliki sedikit substansi pun? adalah telah diperindah

Sebenarnya tidak ini dan tidak itu. Sebenarnya oleh setan untuk orang-orang

kafir itu disebabkan karena kekufuran mereka—

tipu daya mereka dalam menyembah berhala-berhala dan upaya membendung ajaran Islam dan mereka teperdaya oleh u p a y a setan ini sampai akhirnya mereka dihalangi barang dan menghalangi orang lain dari jalan y a n g benar. Dan tak dalam

siapa disesatkan

Allah akibat kebejatan j i w a n y a maka bagi mereka petunjiik.Yang ada bagi mereka adalah azab

ada satu pun pemberi kehidupan dunia

antara lain berupa penyakit, kehilangan harta, penawanan azab akhirat'yang mereka,

atau p e m b u n u h a n dan keresahan hati, dan sesungguhnya

akan mereka peroleh lebih keras dari siksa duniawi itu dan tak ada bagi baik di dunia m a u p u n di akhirat, satu pelindung

pun dari siksa Allah.

Kelompok V Ayat 33-34

Surah ar-Ra'd [13]

283

B e r m a c a m - m a c a m penafsiran u l a m a tentang m a k s u d l i r m a n - N y a : ( ^ j i
-

) sammuhumlnamailah.

Di samping m a k n a vang diuraikan di atas,

ada juga yang memahaminya sebagai penghinaan, yakni apa yang kamu sembah itu tidak ada namanya karena tidak ada w u j u d n y a dan tidak juga wajar diberi nama. Ada juga yang m e m a h a m i n y a sebagai perintah kepada para penyembah untuk menjelaskan sirat-sifat dan k e a d a a n n y a g u n a mereka lihat apakah ia wajar disembah dan dipersekutukan dengan Allah M e n g e t a h u i sifat-sifat, substansi, dan k e m a m p u a n n y a mengantar u n t u k menetapkan peranan yang dapat d i l a k u k a n n y a . Ayat ini serupa dengan firman-Nya:

Katakanlah: hubungkan dan diketahui tidak mungkin

"Perlihatkanlah dengan Dia sebagal

kepadaku

sembahansembahan (Nya). (Setelah

yang

kamu

sekutu-sekutu

diperlihatkan sekali-kali Allah!) Saba

hakikat berhala-berhala (untuk disembah

itu maka lahir kesimpulan) dan dijadikan sekutu-sekutu

Sebenarnya [34]: 27).

Dialah Allah Yang Maha perkasa

lagi Mahabijaksana"(QS.

Firman-Nya: ( J pada lahirnya

JA ysCaj) bizhdhirin

min al-qaullsekadar

perkataan maanzala

serupa dengan firman-Nya: ( jda-L, JA U 4» i J^Ji u )

Allhh biha min sulthan.

R u j u k l a h ke Q S . Yusuf [ 12]: 4 0 pada h. 4 6 2 u n t u k

m e m a h a m i n y a lebih d a l a m . A d a j u g a y a n g m e m a h a m i kata ini dalam arti kitab suci yang diturunkan Allah, yakni apakah penyembahan berhala-berhala

itu m e m p u n y a i dasar ajaran agama yang benar? A y a t di atas m e n g e m u k a k a n tiga d a l i l y a n g s a n g a t k u k u h guna

membatalkan kepercayaan k a u m musyrikin yang mengira bahwa ada sekutusekutu ba"i Allah. Pertama, berhala-berhala itu tidak memiliki sifat-sifat yang menjadikan­

nya wajar menjadi sekutu Allah, bahkan n a m a pun tidak ia miliki. Kedua, j i k a mereka m e n d u g a ada sifat-silat-Nya, hal tersebut tidak

diketahui Allah. Nah, apakah dengan demikian mereka lebih pandai dan lebih mengetahui dari Allah? Pasti tidak!

284

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok V Ayat 35

Ketiga,

mereka hanya m e n a m a i n y a .sebagai sekutu-sekutu Allah, tanpa

saru h a k i k a t , dan p e n a m a a n d e m i k i a n t i d a k l a h benar s e h i n g g a harus ditinggalkan.

AYAT 35

"Perumpamaan sungai

surga yang dijanjikan buahnya

kepada

al-muttaqun; juga naungannya. sedang tempat

Mengalir Itulah kesudahan

sungaitempat bagi

di dalamnya;

bersinambung, yang " bertakwa;

kesudahan orang-orang

bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Setelah menjelaskan perolehan orang-orang kafir, kini diuraikan perolehan orang-orang beriman. Yakni mereka akan memeroleh surga. keadaan dan sifat y a n g sangat menakjubkan dari surga yang A l l a h kepada al-muttarjffu, Perumpamaan oleh sekuat

dijanjikan

yakni orang-orang yang berusaha

k e m a m p u a n n y a m e l a k s a n a k a n perintah Allah dan menjauhi larangannya, adalah seperti taman yang sangat indah. Mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya

y a k n i di s e k i t a r n y a ; T a m a n itu m e m i l i k i b a n y a k b u a h d a n bersinambung, juga naungannya

tak henti-henti dan tidak terbatas oleh m u s i m atau waktu. demikian pula. Itulah kesudahan anugerah yang sangat tinggi nilainya yang bertakwa; sedang

y a n g merupakan tempat tempat kesudahan

bagi orang-orang

bagi orang-orang

kafir ialah neraka karena mereka menolak

ajaran Ilahi. Kata ( J i « ) matsal digunakan dalam arti perumpamaan atau sifat dan

keadaan yang menakjubkan. Kata ini tidak digunakan untuk mempersamakan antara dua hal yang disebutnya. M e m a n g , ada perbedaan antara matsal dan

mitsil. Yang kedua (mitsil) mengandung makna persamaan bahkan keserupaan atau kemiripan, sedang matsal t e k a n a n n y a lebih banyak pada keadaan atau itu.

sifat y a n g menakjubkan y a n g dilukiskan oleh kalimat matsal

KELOMPOK 6

AYAT 36-43

285

286

Surah ar-Ra'd [13J

Kelompok VI Ayat 36

Surah ar-Ra'd [13]

287

AYAT 3 6

"Dan orang-orang dengan apa yang

yang

telah Kami berikan kepadamu,

kepada mereka al-Kitab dan di antara Katakanlah:

bergembira

diturunkan

golongan-golongan 'Sesungguhnya mempersekutukan dan hanya

yang bersekutu, aku hanya sesuatu pun

ada yang mengingkari untuk

sebagiannya.

diperintah

menyembah Hanya

Allah dan tidak aku berdakwah

dengan-Nya. aku

kepada-Nya

kepada-Nya

kembali."'

Orang-orang kafir menolak ajakan Nabi M u h a m m a d saw. sehingga mereka wajar mendapat siksa neraka, dan adapun orang-orang Kami berikan kepada mereka al-Kitab, yang tidak mengingkari yang telah

ar-Rahman

tidak juga mendustakan w a h y u - w a h y u - N y a atau utusan-Nya, mereka itu bergembira dengan apa, yakni kitab suci yang diturunkan kepadamu, wahai

M u h a m m a d , dan di antara golongan-golongan yang bersekutu

musyrik, Yahudi, dan Nasrani

dan bekerja sama d a l a m upaya m e m a d a m k a n ajaran Ilahi, sebagiannya, yakni sebagian dari k a n d u n g a n al-Qur'an

ada yang mengingkari

yaitu hal-hal y a n g tidak sejalan dengan keyakinan mereka, seperti keesaan Allah atau kenabian M u h a m m a d saw. Mereka itu mengusulkan perubahanperubahan k a n d u n g a n al-Qur'an. Katakanlah: diperintah secara tegas dan pasti untuk mempersekutukan menyembah "Sesungguhnya aku hanya

Allah Tuhan Yang M a h a Hanya kepadahanya

Esa dan tidak

sesuatu

pun dengan-Nya.

Nya saja aku berdakwah kepada-Nya aku kembali,

m e n y e r u m a n u s i a kepada kebenaran dan

yakni bertaubat jika aku melakukan sesuatu yang

kurang tepat." Kata al-Kitab pada firman-Nya: orang-orang yang telah Kami berikan sedang

kepada mereka al-Kitab yang diberi

ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti al-Quran

itu adalah k a u m m u s l i m i n , sahabat-sahabat Nabi M u h a m m a d

saw. Mereka bergembira dengan silih bergantinya turun w a h y u - w a h y u Allah y a n g m e m b a w a aneka tuntunan. Kata ( ulj^-S'O al-ahzab/kelompok~kelompok y a n g dimaksud ayat ini

terdiri dan tiga kelompok y a n g saling bertentangan, yaitu k a u m musyrikin,

288

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 36

Yahudi, dan Nasrani. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i kata al-Kitab Taurat dan Injil, sedzngyang

d a l a m arti

diberi kitab itu adalah orang Yahudi dan Nasrani

yang m e m e l u k agama Islam, dan yang m e n u r u t satu riwayat j u m l a h mereka sebanyak delapan puluh orang. Ada lagi y a n g m e n g a i t k a n ayat ini dengan nama Allah y a n g diingkari oleh kaum musyrikin yaitu ar-Rahman. Konon, Abdullah Ibn Sallam, seorang

Yahudi yang memeluk agama Islam, mengetahui persis nama itu. Nah, ketika turunnya ayat y a n g m e n y e b u t kata ar-Rahman, bergembira. Sedang al-ahzab, dia dan t e m a n - t e m a n n y a

yakni k a u m musyrikin, ada yang mengingkari

dan menolaknya. Seperti ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah, di m a n a Nabi saw. m e m e r i n t a h k a n menulis Bismillah ar-Rahman ar-Rahim tetapi ditolak

oleh delegasi k a u m musyrikin dengan alasan mereka tidak mengenal kata arRahman. Pendapat tetakhir ini sulit ditetima khususnya jika diakui bahwa ayat ini t u r u n sebelum Nabi saw. berhijrah ke M a d i n a h , j a u h sebelum terjadinya Perjanjian H u d a i b i y a h dan sebelum Islamnya A b d u l l a h Ibn Sallam. Jika merujuk kepada kebiasaan al-Qur'an menggunakan ( \yj\) (itu al-Kitab atau Ahl al-Kitab istilah

dan s e m a c a m n y a , a g a k n y a yang telah Kami berikan kepada

pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang mereka al-Kitab

pada ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi,

mengingat masa turunnya yang disebut di atas, agaknya yang dimaksud adalah orang-orang y a n g percaya kepada Taurat atau Injil yang ketika itu tinggal di M e k a h dan sekitarnya, seperti Waraqah Ibn Naufai, atau orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah vang bergembira dengan kehadiran Nabi M u h a m m a d saw. ketika mereka belum mengetahui bahwa ajaran y a n g beliau sampaikan m e m b a t a l k a n a g a m a Yahudi dan Nasrani. Dalam tafsir al-Muntakhab vang disusun oleh T i m Departemen W a q a f

Mesir, ayat ini mereka pahami lebih kurang sebagai berikut: Orang-orang yang diberi pengetahuan tentang kitab suci sewajarnya bergembira menyambut kitab suci yang d i t u r u n k a n kepadamu. Sebab, kitab sucimu merupakan kelanjutan dari pesan-pesan suci Ilahi yang lalu. Katakan, wahai N a b i mulia, kepada y a n g mengingkari sebagian dari apa y a n g d i t u r u n k a n k e p a d a m u akibat sikap permusuhan dan fanatisme mereka: "Aku hanya diperintahkan

Kelompok VI Ayat 37

Surah ar-Ra'd [13]

289

m e n y e m b a h Allah dan tidak m e n y e k u t u k a n - N y a dengan apa pun. J u g a diperintah u n t u k mengajak orang lain agar beribadah hanya kepada-Nya, dan h a n y a kepada-Nyalah aku akan kembali." M e m a h a m i n y a d e m i k i a n m e n g h i n d a r k a n kesulitan yang m u n c u l bila m e m a h a m i ayat ini turun di M e k k a h . Karena pendapat ini tidak berbicara tentang kenyataan tetapi tentang sikap yang wajar diambil, khususnya oleh mereka yang memiliki pengetahuan tentang al-Kitab.

AYAT 3 7

"Dan demikianlah, dalam bahasa

Kami

telah

menurunkannya seandainya kepadamu, dan tidak engkau

sebagai

penentu hawa engkau

hukum nafsu tidak

Arab. Dan demi,

mengikuti

mereka setelah datang pengetahuan mempunyai satu pelindung pun

niscaya sekali-kali

(juga) pemelihara

dari Allah. "

Ayat ini masih lanjutan ayat y a n g lalu, yakni Dan sebagaimana Kami telah m e n u r u n k a n kitab-kitab suci kepada ahl al-Kitab demikian Kami p u n telah menurunkannya, penentu hukum yakni al-Qur'an kepadamu, y a n g benar dan dalam bahasa jugalah, wahai Arab.

M u h a m m a d , sebagai

Karena itu, j a n g a n engkau ikuti siapa pun y a n g mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan kitab suci y a n g t u r u n k e p a d a m u itu! Dan kekuasaan-Ku, seandainya engkau mengikuti hawa nafsu mereka demi

antara lain

mempersekutukan Allah setelah d a n t u n t u n a n n a l a r kepadamu, mempunyai satu pelindung

datang pengetahuan m a k a niscaya

y a n g j elas, y a k n i w a h y u sekali-kali engkau tidak

pun dan tidak juga pemelihara

dari siksa Allah. itu, yang

D a r i k a t a ( j J J i T ) kadzalikaldemikianlah

a t a u seperti

m a k s u d n y a m e m p e r s a m a k a n al-Qur'an dari segi sumbernya dengan kirabkitab suci y a n g lain, tersirat juga bantahan kepada mereka y a n g menolak kenabian M u h a m m a d saw. Seakan-akan ayat ini menyatakan bagaimana kalian mengingkari kenabiannya dan menolak w a h y u - w a h y u yang disampaikannya, padahal y a n g beliau alami dan terima serupa dengan apa yang dialami dan disampaikan oleh manusia-manusia lain, seperti Ibrahim, D a u d , M u s a , dan

290

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 37

'Isa. J i k a kalian mengakui mereka sebagai manusia-manusia y a n g menerima wahyu serta merupakan utusan-utusan Allah, mengapa manusia yang bernama ' ' M u h a m m a d " itu kalian tolak kenabiannya? M e n g a p a kalian menolak wahyu y a n g diterimanya, sedang w a h y u y a n g diterima Daud, M u s a , dan 'Isa kalian terima? vSungguh hal ini sama sekali tidak adil! A y a t di a t a s m e n y i f a t i a l - Q u r ' a n d e n g a n d u a sifat. Pertama,

k a n d u n g a n n y a y a n g m a m p u memberi putusan bagi segala perselisihan dan k e m u s y k i l a n y a n g dihadapi u m a t manusia. D a n kedua, keistimewaan pada

kata-kata dan susunan redaksinya y a n g m e n g g u n a k a n bahasa Arab. U n t u k yang kedua ini rujuklah ke ayat kedua surah Yusuf untuk memahami mengapa al-Qur'an berbahasa A r a b .
8

U m a t Islam, k h u s u s n y a para pakar, m e m p u n y a i t a n g g u n g j a w a b yang sangat besar u n t u k m e n a m p i l k a n solusi a h Q u r ' a n tethadap problema-

problema kemanusiaan. Ini memerlukan upaya penafsiran yang sejalan dengan p e r k e m b a n g a n m a s y a r a k a t agar terbukti d a l a m k e n y a t a a n h i d u p akan kebenaran ayat ini y a n g m e n y a t a k a n bahwa a h Q u r ' a n m a m p u memberi putusan atas perselisihan manusia. Kandungan ayat ini serupa dengan flrmanNya:

"Manusia Allah

itu adalah para

umat yang nabi sebagai

satu.

(Setelah

timbul

perselisihan), dan benar yang orang yang kepada

maka pemberi untuk m.ereka telah mereka

mengutus

pemberi bersama

kabar gembira mereka Kitab dengan tentang perkara

peringatan, memberi perselisihkan. didatangkan

dan Allah menurunkan keputusan di antara

manusia tentang Kitab, Kitab yaitu

Tidaklah berselisih kepada mereka

itu melainkan setelah datang

* Lihat tafsir QS. Yusuf [1 2]: 1 -2 pada halaman 9.

Kelompok VI Ayat 38-39

Surah ar-Ra'd [13]

291

keterangan-keterangan Allah memberi hal yang memberi petunjuk

yang nyata, karena dengki antara orang-orang yang beriman

mereka sendiri. kebenaran Dan Allah

Maka, tentang selalu

kepada

mereka petunjuk

perselisihkan

itu dengan

kehendak-Nya.

orang yang dikehendaki-Nya

kepada jalan yang

lurus"(QS.

aI-Baqarah [ 2 ] : 2 1 3 ) . Redaksi ayat ini ditujukan k e p a d a Rasul saw., tetapi ayat ini pada h a k i k a t n y a ditujukan kepada selain beliau, k h u s u s n y a umat Islam. Bahwa redaksinya ditujukan kepada Nabi saw., sebagai isyarat tentang perlunya memerhatikan dan m e n g i n d a h k a n peringatan ini. Karena, jangankan orang kebanyakan, Rasul saw. yang demikian tinggi detajatnya dan mantap imannya masih diperingatkan oleh Allah swt.

AYAT 3 8 - 3 9

"Dan

sesungguhnya

Kami kepada

telah mereka

mengutus istri-istri

rasul-rasul

sebelummu

dan

Kami ada dengan

menganugerahkan wujudnya izin Allah.

dan keturunan. suatu ayat

Dan tidak melainkan apa

bagi seorang Bagi setiap

rasid masa,

mendatangkan ada ketentuannya. dan disisi-Nyalah

Allah menghapus terdapat

yang "

Dia kehendaki

dan menetapkan

Ummu al-Kitab.

Kaum musyrikin menolak kerasulan Nabi M u h a m m a d saw., antara lain karena beliau m a k a n dan m i n u m serta berjalan di pasar. Mereka menolak karena manusia tidak wajar menjadi rasul, y a n g wajar adalah maiaikac. D e m i k i a n logika k a u m musyrik (baca Q S . al-Furqan [ 2 5 ] : 7 ) . Kalaupun ia seorang manusia, ia harus sesuci malaikat dan tidak memiliki naluri seksual sehingga, dengan d e m i k i a n , tentu tidak wajar pula ia kawin dan m e m p u n y a i anak keturunan. Pandangan mereka itu diluruskan oleh ayat ini dengan menegaskan bahwa. Dan sesungguhnya kepada masyarakat manusia banyak rasul-rasul Kami telah mengutus

sebelummu

yang kesemuanya

adalah manusia, tidak seorang pun di antara nabi y a n g diutus itu kepada mereka itu malaikat dan Kami menganugerahkan kepada mereka, yakni

sebagian besat dari para rasul itu, istri-istri

dan anak ketumnan

karena mereka

292

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok Vt Ayat 38-39

adalah m a n u s i a y a n g m e m i l i k i naluri dan k e b u t u h a n

s e k s u a l serta

mendambakan anak keturunan sebagaimana manusia normal yang lain. Dan tidak ada wujudnya, u n t u k mendatangkan yakni tidak bisa terjadi bagi seorang rasul siapa pun dia

suatu ayat, yakni mukjizat sesuai usul masyarakatnya,

atau h u k u m guna mengganti atau membatalkan hukum yang lain, baik dalam syariat rasul y a n g lalu m a u p u n d a l a m syariatnya sendiri melainkan izin Allah karena segala sesuatu kembali kepada-Nya semata. Bagi setiap u n t u k sesuatu ada ketentuannya Dia kehendaki y a n g tertentu. Allah menghapus apa dengan masa yang

untuk dihapus dan menetapkan

apa yang Dia kehendaki untuk disisi-Nyalab

ditetapkan. S e m u a berdasar h i k m a h kebijaksanaan-Nya, dan terdapat Ummu al-Kitab, yakni Lauh Mahfuzh.

Ayat ini m e n g g u g u r k a n sekian b a n y a k dalih k a u m m u s y r i k i n yang menolak kerasulan Nabi M u h a m m a d saw. Mereka, misalnya, berkata bahwa tidak wajar seorang Rasul memiliki anak dan istri. Ia seharusnya berkonsentrasi dalam dakwah dan ibadah. Dalih ini ditolak dengan menunjuk kepada rasulrasul y a n g lalu, y a n g h a m p i r s e m u a n y a beristri dan m e m i l i k i anak, bahkan h a m p i r semuanya berpoligami. Konon, Nabi D a u d as. memiliki seratus istri dan N a b i Sulaiman as. lebih dari itu. Ayat ini—seperti d i k e m u k a k a n s e b e l u m n y a — t u r u n sebelum Nabi saw. berhijrah, j i k a d e m i k i a n , ketika itu Nabi saw. belum beristri lebih dari satu. Atau paling tidak baru menikah dengan Saudah ra. dan 'Aisyah ra., yakni beberapa bulan sebelum berhijrah ke M a d i n a h . Poligami yang d i l a k u k a n oleh Nabi M u h a m m a d saw. pun tidak dapat dijadikan dalih u n t u k menilai ketidakwajaran beliau menjadi N a b i atau mengurangi nilai kemuliaan beliau. Ini karena beliau tidak berpoligami kecuali setelah berusia lebih l i m a p u l u h t a h u n dan p e r k a w i n a n beliau sesudah Khadijah ra. adalah untuk kepentingan dakwah atau u n t u k kepentingan wanita yang beliau kawini itu. Bukankah yang beliau kawini semuanya adalah janda, kecuali 'Aisyah ra.? Anak-anak Nabi M u h a m m a d saw. sebanyak tujuh orang, empat wanita dan tiga laki-laki, masing-masing secara berurut sesuai kelahirannya adalah 1) A l - Q a s i m , 2) Z a m a b , 3) R u q a y y a h , 4 ) Fathimah, 5) U m m u Kaltsum, 6) 'Abdullah y a n g diberi gelar dengan ath-Thayyib dan ath-Tbahir, 7) Ibrahim.

Kelompok Vf Ayat 38-39

Surah ar-Ra'd [13]

293

Kesemuanya lahir dari istri beliau y a n g pertama, yakni Khadijah ra. kecuali yang terakhir yang lahir dari ibu yang bernama M a r i y a h al-Qibthiyyah. Semua anak beliau meninggal pada masa hidup beliau, kecuali as-Sayyidab Fathimah ra. y a n g meninggal e n a m bulan setelah Rasul saw. wafat. Kata ummu al-Mahfuzh al-kitab d i p a h a m i oleh b a n y a k u l a m a d a l a m arti Allah yang meliputi segala sesuatu. al-Lauh

atau ilmu

Banyak ulama )yamhuAlldh apa al-Kitab

m e m a h a m i firman-Nya: ( L_JU53* ^ oJcs-j mci yasyau yang iva yntshitu wa 'indahu ummu

j s-Uola &\ y*£ al-KitiiblAllah

menghapus

Dia kehendaki

dan menetapkan

dan di sisi-Nyalah

ada Ummu

dalam arti Allah menghapus kebaikan atau keburukan, kebahagiaan atau kesengsataan, kesehatan atau penyakit, kekayaan atau kemiskinan, dan lainlain yang berkaitan dengan makhluk-makhluk-Nya. Ada juga yang membatasi penetapan dan penghapusan itu hanya pada kebahagiaan dan kesengsaraan ukhrawi. A d a juga yang m e m a h a m i n y a bukan dalam konteks nasib makhluk, tetapi dalam konteks penetapan dan pembatalan h u k u m - h u k u m syariat. Jika pendapat ini diterima, penggalan ayat ini dapat j u g a dianggap sebagai salah satu sanggahan atas keberatan orang-orang kafir dengan adanya pembatalan syariat N a b i M u s a as. atau Nabi 'Isa as. dengan syariat a g a m a Islam y a n g diajarkan Nabi M u h a m m a d saw., atau a d a n y a h u k u m - h u k u m a g a m a y a n g dibatalkan oleh Allah dan atau rasul, yakni apa yang diistilahkan dengan naskh. T h a h i r Jbn 'Asyur menggarisbawahi bahwa objek kata dan "menghapus" kehendaki". "menetapkan" Dia

dijelaskan oleh a y a t ini d e n g a n k a t a "apa yang

Ini mengisyaratkan banyak hal y a n g tidak dapat terhitung. Di ancaman-Nya dengan m e n g i l h a m i penyesalan dan

antaranya menghapus

taubat kepada y a n g berdosa; juga termasuk satu bentuk penghapusan adalah mengubah ketetapan h u k u m terhadap perampok, yakni mereka yang tadinya harus dijatuhi h u k u m a n dapat dimaafkan bila ia datang secara sukarela menyerahkan diri dan membuktikan penyesalan dan kesalehannya. Termasuk
:

u g a d a l a m hal k e h e n d a k - N y a menetapkan atau m e n g u b a h , m e n g a l i h k a n

nati seseorang dari cinta menjadi benci atau sebaliknya. Tentu saja, masih Danyak lainnya y a n g tidak dapat disebut bahkan tidak dapat diperinci oleh penalaran manusia. Demikian Ibn 'A-syur.

294

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 40

AYAT 4 0

"Dan

sungguh

jika Kami mereka

perlihatkan

kepadamu

sebagian engkau

dari yang

Kami

ancamkan tugasmu mereka.

kepada

atau Kami wafatkan saja, sedang

karena menghisab

sesungguhnya amalan

hanya menyampaikan "

Kami-lah

yang

Setelah menegaskan bahwa Allah swt. melakukan apa yang dikehendaldN y a sesuai h i k m a h kebijaksanaan-Nya m e n y a n g k u t segala sesuatu, sedang sebelum ini (antara lain pada ayat e n a m surah i n i ) telah dinyatakan bahwa k a u m musyrikin bermohon agar dipercepat siksa atas mereka, dalam konteks p e r m o h o n a n yang bertujuan memperolok-olok itu, ayat ini menegaskan bahwa dan sungguh pasti jika Kami perlihatkan dari kepadamu, yang Kami hai M u h a m m a d , ancamkan kepada

semasa h i d u p m u di d u n i a sebagian

m e r e k a — s e b a g a i m a n a y a n g mereka usulkan atau d i i n g i n k a n oleh sahabats a h a b a t m u — t e n t u l a h engkau akan m e l i h a t n y a atau jika Kami wafatkan

engkau sebelum terlaksananya ancaman itu maka akhirnya mereka p u n akan disiksa karena kepada Kami j u g a l a h mereka kembali dan ketika itu mereka akan m e m p e r t a n g g u n g j a w a b k a n semua amal mereka kepada Kami bukan k e p a d a m u karena sesungguhnya Kami-lah yang menghisab tugasmu hanya menyampaikan mereka, saja, sedang

m e m p e r h i t u n g k a n amalan

kemudian

memberi balasan setimpal dengan kedurhakaan mereka. Ayat ini tidak menegaskan apakah mereka akan disiksa di d u n i a atau di akhirat kelak. Ketiadaan penegasan itu bertujuan m e n g g a b u n g k a n antara a n c a m a n dan harapan. Siapa tahu ada di antara mereka y a n g sadar, kalau bukan karena harapan m a k a karena takut. Siksa di d u n i a y a n g d i a n c a m k a n di sini pada akhirnya terjadi juga-— paling tidak seperti bunyi ayat di atas adalah sebagian dari yang Kami ancamkan.

Siksa yang terjadi itu antara lain adalah kemarau yang berkepanjangan selama tujuh t a h u n dan kekalahan total serta t e r b u n u h n y a tokoh-tokoh k a u m musyrikin pada Perang Badar. Ini diisyaratkan oleh firman-Nya:

Kelompok VI Ayat 41

Surah ar-Ra'd [13]

295

Maka, tunggulah manusia.

hari ketika langit membawa (Mereka

kabut yang

nyata, yang

meliputi

Inilah azab yang pedih.

berdoa):

"Tuhan kami, orang-orang padahal

lenyapkanLth mukmin. telah "

dari kami azab itu. Sesungguhnya Bagaimanakah kepada berpaling lain) mereka darinya gila. mereka seorang dapat

kami akan menjadi menerima peringatan,

datang mereka orang siksaan hari keras.

Rasul yang

memberi

penjelasan, seorangyang Kami

kemudian diajar (dari

dan berkata: Sesungguhnya

"Dia adalah (kalau)

lagi pula

akan melenyapkan (ingkar). hantaman (Ingatlah) yang

itu agak sedikit (ketika) Kami

sesungguhnya menghantam

kamu akan kembali mereka Pemberi dengan

Sesungguhnya

Kami adalah

balasan''(QS.

ad-Dukhan [44]: 10-16).

AYAT 41

"Dan apakah bumi.

mereka

tidak

melihat

bahwa

sesungguhnya

Kami

mendatangi hukum tidak hisab-

Kami kurangi dapat

ia dari tepi-tepinya? ketetapan-Nya;

Dan Allah menetapkan dan Dia-lah

ada yang Nya. "

menolak

Yang Mahaeepat

Ayat ini merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah melaksanakan ancaman-Nya. Para pembangkang itu diingatkan bahwa tanda-tanda jatuhnya siksa dan kekalahan mereka cukup jelas apakah mereka buta dan tidak bahwa sesungguhnya Kami melalui h a m b a - h a m b a Kami mendatangi melihat bumi,

yakni menguasai daerah-daerah y a n g tadinya dikuasai oleh orang-orang kafir, dengan k e m a t i a n dan kekalahan mereka, lalu Kami kurangi penguasaan Dan

mereka atas daerah-daerah ini sedikit d e m i sedikit dari tepi-tepinya?

296

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 41

Allah

menetapkan

hukum.

Dia m e n e n t u k a n k e m e n a n g a n dan kekalahan, dapat

pahala atau siksa. Semua menurut kebendak-Nya sendiri tidak ada yang menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Mahaeepat hisab-Nya

karena Allah

tidak m e m b u t u h k a n

waktu untuk menyelesaikan sesuatu. Di sisi lain. terhampar

p e n g e t a h u a n - N y a m e n y e l u r u h dan b u k t i - b u k t i h u k u m pun dengan sangat jelas.

Sementara u l a m a berpendapat bahwa ayat ini turun setelah Nabi saw. berhijrah. Atas dasar itu, mereka m e m a h a m i kata {jp^) al-ardh/bumi

adalah daerah-daerah pinggiran yang pernah dikuasai oleh orang-orang kafir M e k a h dan M a d i n a h dan yang ketika t u r u n n y a ayat ini mulai dikuasai oleh k a u m m u s l i m i n . Kapan pun ayat ini turun, apakah sebelum atau sesudah Nabi saw. berhijrah, dan siapa pun orang kafir yang dimaksud—apakah orang kafir pada masa Nabi M u h a m m a d saw. atau yang h i d u p sebelum masa b e l i a u — d a n di m a n a pun terjadi p e n g u r a n g a n itu, apakah di M e k a h dan M a d i n a h atau di daerah lain, y a n g jelas ayat ini seakan-akan menyatakan tidakkah orang-orang kafir itu m e m e r h a t i k a n b a g a i m a n a perubahan terjadi silih berganti dalam kehidupan dunia ini, kematian sesudah kehidupan, k e h a n c u r a n sesudah p e m b a n g u n a n , k e h i n a a n sesudah k e m u l i a a n , dan sebagainya. Tidak ada satu pun yang langgeng karena semua di tangan Allah swt., Dia vang menentukan. Jika demikian, j a n g a n l a h orang-orang kafir itu berbangga atau merasa tenang dengan keadaan mereka. Sementara ilmuwan memahami ayat ini sebagai menunjuk hakikat ilmiah m e n y a n g k u t b u m i . Para pengarang tafsir al-Muntakhab y a n g berkaitan dengan b u m i . Pertama, m e n u n j u k dua hal

tentang kecepatan rotasi b u m i dan

resultannya yang menyebabkan dua k u t u b n y a bertambah datar sehingga terjadi pengurangan pada dua tepian bumi. Kedua, tentang molekul-molekul

atmosfer yang meluncur sangat cepat apabila telah melampaui ruang gravitasi b u m i dan akan terlempar jauh ke luar kawasannya. Karena hal itu terjadi secara terus-menerus, terjadi pengurangan pada tepian-tepian b u m i secara terus-menerus pula. Selanjutnya, mereka menyatakan bahwa p e n e m u a n ini dapat dipakai sebagai tafsiran lain dari kata al-ardh pada ayat ini, y a n g oleh

mayoritas ulama diartikan dengan tanah kekuasaan orang-orang kafir.

Kelompok VI Ayat 42

Surah ar-Ra'd [13]

297

Sayyid Q u t h u b menolak dengan sangat keras penafsiran ilmiah ini dan m e n i l a i n y a sebagai " o m o n g kosong". Konteks ayat tidak mendukung makna

p e m a h a m a n i l m u w a n itu. Konteks ayat sangat m e n e n t u k a n redaksinya. D e m i k i a n lebih kurang Sayyid Q u t h u b .

Apa yang dikemukakan oleh Sayyid Q u t h u b di atas sungguh tepat, walau ini bukan berarti menolak hakikat i l m i a h y a n g diuraikan itu tetapi konteks ayat tidak m e n d u k u n g p e m a h a m a n n y a d e m i k i a n . Di sisi lain, d i t e m u k a n ayat lain y a n g m e n d u k u n g p e m a h a m a n y a n g m e n y a t a k a n bahwa ayat ini berbicara tentang pengurangan kekuasaan orang-orang kafir dan kekalahan mereka menghadapi k a u m beriman. Ayat yang penulis maksud adalah firmanNya:

"Sebenarnya kenikmatan mereka Kami

Kami (hidup

telah di dunia)

memberi

mereka

dan

nenek

moyang

mereka apakah lalu yang

hingga panjanglah

umur 'mereka. Maka, negeri (orangkafir), mereka

tidak melihat kurangi luasnya

bahwasanya dari segala

Karni mendatangi penjurunya.

Maka,

apakah

menang?"

(QS. al-Anbiya [ 2 1 ] : 4 4 ) .

AYAT 4 2

"Dan sungguh daya, tetapi

orang-orang semua apa yang tipu

kafir yang daya

sebelum

mereka dalam

telah mengadakan kekuasaan Allah. kafir

tipu Dia akan

itu adalah

mengetahui mengetahui

diusahakan

oleh setiap diri, dan orang-orang kesudahan yang baik. "

milik siapa tmipat

Orang-orang kafir yang diancam itu memang berupaya untuk melakukan tipu daya, tetapi itu tidak akan berhasil. Mereka tidak lebih baik dari orangorang kafir y a n g lalu. Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum tipu mereka, daya

y a k n i sebelum orang-orang kafir M e k k a h itu, telah mengadakan

298

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 43

dan rencana jahat terhadap rasul-rasul utusan Allah, tetapi semua baik yang dilakukan dahulu maupun sekarang adalah dalam

tipu

daya Allah.

kekuasaan

Dia y a n g telah dan terus-menerus akan mengatur langkah-langkah u n t u k menggagalkannya. Sangat m u d a h b a g i - N y a m e l a k u k a n hal itu karena Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, baik usaha itu berupa tipu

daya m a u p u n bukan, dan kalau dahulu mereka tidak mengetahui bahwa kesudahan baik akan diraih para rasul dan pengikut-pengikutnya, m a k a kelak orang-orang kafir akan mengetahui milik siapa tempat kesudahan yang baik,

yakni k e m e n a n g a n di d u n i a dan surga di akhirat kelak.

AYAT 4 3

Dan orang-orang "Cukuplah mempunyai Allah

kafir berkata: menjadi

"Engkau bukan seorang

utusan".

Katakanlah: yang

saksi antara

aku dan kamu

dan siapa

ilmu al-Kit&b. "

Pada akhirnya, tujuan akhir dari segala tipu daya orang-orang kafir adalah penolakan terhadap ajaran Ilahi yang engkau sampaikan, wahai M u h a m m a d , dan karena, itu orang-orang utusan kafir terus-menerus berkata "Engkau bukan usul-usul Allah seorang mereka menjadi

Allah", apalagi engkau tidak memenuhi

m e n d a t a n g k a n mukjizat indriawi. Katakanlah: saksi antara

"Cukuplah

aku dan kamu; D i a yang m e n y a k s i k a n kebenaran apa y a n g aku yang

s a m p a i k a n dan c u k u p j u g a y a n g m e n y a k s i k a n k e b e n a r a n k u siapa mempunyai ilmu al-Kitab,

"Yakni y a n g m e m a h a m i bukti kebenaran yang

d i h i d a n g k a n oleh kitab suci al-Qur'an dan kitab alam raya y a n g terhampar. Kesaksian Allah'yang dimaksud di sini, antara lain pernyataan-pernyataan

Allah y a n g termaktub d a l a m al-Qur'an seperti:

"Sesungguhnya

engkau

salah seorang

dari

rasul-rasul"

( Q S . Yasin [ 3 6 ] : 3 ) ,

j u g a tantangan y a n g termuat d a l a m kitab suci a l - Q u r ' a n u n t u k m e m b u a t

Kelompok VI Ayat 43

Surah ar-Ra'd [13]

299

s e m a c a m n y a j i k a mereka m e r a g u k a n status Nabi M u h a m m a d saw. sebagai penyampai risalah Allah. Berbeda pendapat u l a m a tentang siapa yang d i m a k s u d dengan yang mempunyai ilmu al-Kitab. "siapa

"Ada vang m e m a h a m i n y a m e n u n j u k kepada menyatakan

o r a n g t e r t e n t u , y a k n i W a r a q a h Ibn Naufal y a n g telah

dukungannya kepada Nabi M u h a m m a d saw. ketika Nabi saw. datang bersama Khadijah ra. dan m e n y a m p a i k a n p e n g a l a m a n beliau m e n e r i m a w a h y u pertama. Ada juga yang menunjuk kepada Abdullah Ibn Sallam. Pakar-pakar lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ulama-ulama Bani Isra'il. Ayat ini m e n u r u t mereka sejalan dengan firman-Nya:

"Dan apakah

tidak cukup menjadi

bukti bagi mereka

bahwa para ulama

Bani

Isrd'il tnengetahuinya?"

(QS. asy-Syu'ara [ 2 6 ] : 1 9 7 ) . A g a k n y a pendapat ini

c u k u p beralasan dan dari sini pula dapat dimengerti mengapa kata yang d i g u n a k a n di sini adalah yang mempunyai ilmu al-Kitab bukan ahl al-Kitab.

M e m a n g , j a u h sebelum kehadiran Nabi M u h a m m a d saw., orang-orang Yahudi telah membicarakan tentang kehadiran seorang nabi yang sifat-sifatnya mereka ketahui dari kitab Taurat dan Injil, dan yang tentu saja hal tersebut diajarkan oleh para rabbi dan pendeta-pendeta mereka. Sayyid Q u t h u b m e m a h a m i siapa yang
L

memahami

ilmu al-Kitdb

adalah

Allah swt, 'Dia-lah yang di sisi-Nya ilmu y a n g mutlak dan menyeluruh tentang Kitab (al-Qur'an) ini dan semua kitab," demikian tulisnya. Meskipun dalam catatan kaki tafsirnya ia tidak m e n u t u p k e m u n g k i n a n m e m a h a m i n y a d a l a m arti orang-orang oleh ayat 3 6 y a n g lalu. Bisa juga kesaksian tersebut dari siapa pun yang mendalami pengetahuan tentang al-Kitab, yakni al-Qur'an. Siapa yang m e n d a l a m i n y a , akan m e n e m u k a n keistimewaan dan m e n g a n t a r n y a berkesimpulan bahwa kitab suci ini tidak m u n g k i n m e r u p a k a n karya manusia. Ia adalah w a h y u - w a h y u Ilahi y a n g diterima oleh seorang m a n u s i a pilihan. M a n u s i a itulah utusanNya yang Dia tugaskan m e n y a m p a i k a n n y a kepada masyarakat u m u m . Yang yang telah diberi al-Kitab, sebagaimana disinggung

300

Surah ar-Ra'd [13]

Kelompok VI Ayat 43

m e n y a m p a i k a n n y a adalah Nabi M u h a m m a d saw., jika demikian beliau adalah utusan-Nya. D e m i k i a n akhir ayat ini berbicara tentang al-Qur'an dan demikianlah ayat surah ini bertemu dengan awal ayatnya Alif, Lam, Mim, ayat-ayat al-Kitab dan yang diturunkan manusia kepadamu tidak beriman' Ra. Itulah al-

dari Tuhanmu adalah

haq; akan tetapi kebanyakan

(QS. ar-Ra'd [ 1 3 ] : 1).

Mahabenar Allah dan Rasul-Nya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful