1

ANALISIS TERHADAP KEGAGALAN UNI EROPA DALAM MENCIPTAKAN POSISI BERSAMA NEGARA ANGGOTANYA TERHADAP RENCANA INVASI AS KE IRAK 2003

Oleh: WIDYA AIRLANGGA

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

BANDUNG 2004

2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Keinginan untuk terbentuknya Eropa yang bersatu sudah dimulai sejak

lama. Sekitar abad ke 9 kekaisaran Charlemagne telah menguasai hampir seluruh wilayah Eropa barat. Di awal tahun 1800-an, Napoleon I dari kekaisaran Perancis berhasil menaklukkan sebagian besar benua Eropa ke dalam wilayah kekuasaannya. Semasa Perang Dunia II (1939 – 1945), Adolf Hitler nyaris sukses dalam mempersatukan Eropa di bawah bendera Nazi. Semua usaha yang disebutkan di atas pada akhirnya mengalami kegagalan karena lebih bersifat ingin menguasai negara/bangsa lain daripada mengadakan kerjasama di antara mereka. Meskipun Uni Eropa secara resmi baru terbentuk tanggal 1 November 1993, pondasi dari pendirian kerjasama ini dimulai tahun 1950 ketika Menteri Luar Negeri Perancis saat itu, Robert Schuman, dalam pidatonya menyerukan agar negara-negara Eropa memulai proses penyatuan Eropa secara bertahap. Proposal kerjasama yang dikenal dengan nama The Schuman Plan ini berupa integrasi industri baja dan batubara Perancis dan Jerman serta mengajak negaranegara lain untuk berpartisipasi. Bentuk dari integrasi ini adalah pembentukan European Coal and Steel Community (ECSC).1 Pembentukan ECSC ini dimaksudkan sebagai mekanisme pengaturan industri baja dan batubara yang memainkan peranan penting dalam perindustrian modern, terutama industri persenjataan.
1

Derek W. Urwin, European Union. Microsoft Encarta Reference Library, 2003.

3

Perjanjian yang menandai terbentuknya ECSC ditandatangani pada tahun 1951 oleh Perancis, Jerman Barat, Italia, Belgia, Belanda, serta Luksemburg, dan mulai berlaku efektif di tahun berikutnya. Pada tahun 1957 partisipan ECSC kembali menandatangani dua perjanjian di Roma, yang menjadi dasar terbentuknya European Atomic Energy Community (Euratom) demi

pengembangan energi atom yang bermanfat, serta pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community; EEC).2 Selanjutnya di bulan Juli 1967 didirikanlah sebuah organisasi Masyarakat Eropa (European Community; EC), yang merupakan hasil peleburan tiga organisasi (EEC, ECSC, Euratom). Sejumlah perjanjian ekonomi mendasar dari EEC secara bertahap diimplementasikan, dan hasilnya di tahun 1968 seluruh hambatan tarif di antara negara anggota berhasil dihilangkan. Setelah melalui negosiasi alot selama hampir dua tahun, pada tahun 1972 disetujui adanya penambahan anggota baru EC terhitung sejak tanggal 1 Januari 1973. Tambahan negara tersebut adalah Inggris, Irlandia, dan Denmark. Satu negara lain, Norwegia, gagal bergabung karena terganjal hasil referendum nasional masyarakatnya yang menolak masuk ke dalam keanggotaan European Community. Cepatnya perubahan-perubahan di bidang politik pada akhir 1980-an sekali lagi memaksa European Community untuk meningkatkan kerjasama dan integrasinya. Keruntuhan faham komunisme di Eropa Timur membuat banyak bekas negara komunis berpaling pada EC untuk mendapat dukungan politik dan
2

Mark R. Amstutz, International Conflict and Cooperation: An Introduction to World Politics, Brown & Benchmark Publishers, Dubuque, 1995, hlm. 370.

yang menjadi dasar bagi penerapan mata uang tunggal Eropa oleh negara-negara anggota EC. . Uni Eropa dibentuk dan diterima oleh Dewan Eropa melalui Traktat Uni Eropa (Treaty on European Union). adalah pertemuan di antara negara anggota EC yang dimaksudkan untuk memulai proses formal menuju perubahan atau revisi Traktat EC. EC sepakat untuk memberi bantuan kepada negara-negara tersebut. Melalui traktat ini Economy and Monetary Union (EMU) juga terbentuk. 4 Derek W. pada bulan Desember 1991 di kota Maastricht.menjadi Perdana Menteri Inggris di tahun 1990. Pada bulan Desember 1990 sejumlah petinggi negara-negara Eropa memulai proses menuju terciptanya kohesi politik yang lebih erat di antara negara-negara di kawasan Eropa dengan tujuan utama terbentuknya kebijakan luar negeri dan keamanan bersama. namun menolak untuk secara langsung menerima mereka dalam keanggotaan EC. 3 Konferensi antarnegara. Atas dasar perkembangan politik yang sangat cepat itulah Perancis dan Jerman Barat mengusulkan adanya konferensi antarnegara untuk mempercepat rencana penyatuan Eropa. Cit. Belanda. serta mata uang tunggal Eropa.4 Sejumlah konferensi susulan pun dilangsungkan menuju pembentukan Uni Eropa. Urwin. Op.3 Pada tahun 1989 dilangsungkan sebuah konferensi yang membahas rencana pembentukan suatu monetary union. atau biasa disebut Intergovernmental Conference (ICG). namun keadaan berubah ketika John Major -dengan pendekatannya yang lebih terbuka terhadap ide penyatuan Eropa. Setelah melalui diskusi yang panjang. Ketika itu Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menentang usulan peningkatan usaha penyatuan Eropa.4 bantuan ekonomi.

. akhirnya Perjanjian Maastricht yang menandai terbentuknya Uni Eropa secara resmi mulai berlaku sejak tanggal 1 November 1993. Awalnya para pendiri European Community mengharapkan munculnya suatu kekuatan baru dalam kebersamaan di antara negara-negara Eropa. Titel V Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Bersama (Common Foreign and Security Policy). Yunani. Inggris. setelah melalui ratifikasi oleh semua negara anggota penandatangan perjanjian.5 Ketujuh Titel beserta Protokol dan Deklarasi itu pada dasarnya dapat disimpulkan dalam tiga area utama: penyatuan ekonomi. dan kerjasama politik luar negeri dan keamanan bersama Eropa (Common Foreign and Security Policy). Titel III Amandemen Perjanjian ECSC. Belanda. negara-negara Eropa akan dapat menyatukan kekuatan untuk memainkan peran politiknya dalam skala regional maupun global. menjadi 5 Ketujuh Titel penting itu adalah: Titel I tentang Ketentuan Umum. Titel IV Amandemen Perjanjian Euratom. Salah satu pencapaian Amsterdam Treaty adalah dibentuknya High Representatives untuk CFSP. dan Titel VII Ketentuan Penutup. Melalui suatu konsep Eropa bersatu. Pada bulan Oktober 1999. Portugal. Irlandia. Titel VI Ketentuan Kerjasama dalam Masalah Keadilan dan Urusan Dalam Negeri.5 Karena masih adanya persoalan-persoalan dari negara Eropa terhadap substansi traktat ini. Perancis. yaitu Belgia. mantan Menteri Luar Negeri Spanyol dan Sekretaris Jenderal NATO. Denmark. penyatuan politik. Jerman Bersatu. dan Spanyol. Titel II Amandemen Perjanjian EEC. Cita-cita itu kini dirumuskan dalam Perjanjian Maastricht. Javier Solana Madariaga. yang menjadi landasan bagi pemberlakuan CFSP Uni Eropa terhitung sejak tanggal 1 Mei 1999 melalui Amsterdam Treaty. Italia. terutama dengan Titel V tentang Common Foreign and Security Policy (untuk selanjutnya disingkat CFSP). Luksemburg. Perjanjian ini terdiri dari 7 Titel dilengkapi oleh 14 Protokol dan 33 Deklarasi.

34. 1. Luxembourg. ia bertugas memastikan kelangsungan dan efisiensi dari politik luar negeri Uni Eropa. Presiden Amerika Serikat George W. .2 Identifikasi Masalah Pada tanggal 29 Januari 2002. 2001. bersama Iran dan Korea 6 The European Union and The World: Europe on the Move. Amsterdam Treaty juga memformulasikan tujuan pertahanan dan keamanan Uni Eropa dengan membuka peluang terhadap penggunaan kapabilitas militer dan non-militer untuk penanggulangan masalah-masalah kemanusiaan. hlm. Office for Official Publications of the European Communities. Bush dalam pidato kenegaraannya menyebutkan bahwa Irak.6 orang pertama yang memegang jabatan tersebut untuk periode lima tahun. Melalui perjanjian ini pula pada akhirnya mampu tercipta proses pembuatan keputusan CFSP.6 Bersama-sama dengan komisi dan negara anggota. dan menyediakan sarana penyatuan strategi bersama pada bidang-bidang di mana negara-negara anggota Uni Eropa saling berbagi kepentingan.

http://www. Ia juga menambahkan bahwa sudah saatnya Uni Eropa melakukan suatu tindakan untuk menghentikan Washington sebelum terjadi tindakan unilateral. komentar langsung terlontar dari sejumlah politisi di Eropa yang mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Chris Patten.shtml.7 Sejak saat itu terlihat jelas niat Amerika Serikat untuk merencanakan suatu aksi militer terhadap Irak. 8 European Foreign Ministers Attack Bush’s Policy.org/articles/2002/feb2002/euro-f15. Komisioner Uni Eropa untuk masalah luar negeri. Begitu pula dengan komentar Javier Solana. 9 AS dan Inggris Rencanakan Aksi Militer ke Irak.8 Berbeda dengan oposisi AS.9 Rencana AS dan Inggris menyerang Irak menimbulkan perpecahan di 7 http://www. .7 Utara. Hanya berselang dua minggu setelah pidato Bush tersebut. yang mewakili kebijakan luar negeri Uni Eropa. diakses pada tanggal 23 September 2003. Dalam komentarnya. mengatakan bahwa tindakan AS tersebut akan mengarah kepada unilateralisme global yang sangat berbahaya.com/kompas-cetak/0212/23/opini/57245.htm. Ia juga mengkritik konsep “axis of evil” AS karena dianggap tidak mewakili etika dalam berpolitik.wsws. pada tanggal 24 Februari 2002 juru bicara kantor Perdana Menteri Inggris justru mengatakan bahwa Inggris mendukung Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme dan memahami sikap AS yang menuduh Irak mengembangkan senjata pemusnah massal dan mendukung terorisme. Patten juga mengatakan bahwa saat ini pemerintahan Eropa sedang berusaha meningkatkan pengaruh internasionalnya dengan mengambil posisi peace-loving yang berhadapan langsung dengan Amerika Serikat yang “gemar berperang”.kompas. pada tanggal 9 Februari 2002 mengatakan bahwa AS bertindak sendiri tanpa dukungan negara lain. sebagai “axis of evil”. diakses pada tanggal 23 September 2003.

Aksi ini langsung ditanggapi oleh Inggris. menunjukkan upaya Amerika Serikat dalam melakukan penggalangan untuk mendapatkan dukungan terhadap rencana aksi serangan militer.htm.8 dalam tubuh koalisi internasional yang sebelumnya bertekad untuk bersama-sama memerangi terorisme global.di Afghanistan menyusul telah ditempatkannya 1. dan sejumlah negara Eropa lainnya secara tegas menolak rencana invasi tersebut. Presiden Perancis Jacques Chirac dalam pertemuan rutinnya dengan para duta besar menegaskan posisi Perancis dengan mengutarakan kekhawatiran akan adanya usaha untuk http://www. Tidak mengindahkan komentar penolakan tersebut.kompas. http://www. Menyikapi perkembangan rencana invasi AS ke Irak. diakses pada tanggal 23 September 2003.dephan.10 Pengiriman pasukan Inggris tersebut adalah yang terbesar sejak berakhirnya Perang Teluk. Jerman. yang merupakan koalisi terbesar Amerika Serikat dalam Operasi Anaconda di Afghanistan dalam rangka memerangi terorisme internasional pasca tragedi 11 September 2001.com/kompas%2Dcetak/0202/26/ln/asda02. 10 Keterlibatan Inggris dalam Rencana Penyerangan Irak. Inggris yang juga merupakan anggota Uni Eropa mengumumkan akan mengirim tambahan 1. Perancis. lawatan Wakil Presiden AS Dick Cheney di bulan Maret 2002 selama sepuluh hari di Timur Tengah yang mengunjungi sembilan negara Arab serta Israel dan Turki. Rusia.htm.go.700 prajurit pasukan elitnya -Royal Marine Commandos.id/strahan/inggris2.600 tentara terdahulu di sana. . diakses pada tanggal 21 September 2003. meskipun tidak mendapat tanggapan positif dari dunia internasional. Dari reaksi di Afghanistan ini terlihat peran Inggris dalam rencana penyerangan Irak menjadi faktor yang mendorong Amerika Serikat untuk tetap melaksanakan misi tersebut.

9 melegitimasi tindakan unilateral dan penggunaan kekuatan militer sebagai tindakan preventif. Jerman mengusulkan agar Tim Inspeksi Senjata PBB segera dibentuk kembali. Denmark. tepatnya tanggal 31 Agustus 2002 dilangsungkan pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri negara-negara Uni Eropa di kota Ellsinore. Ia juga mengatakan bahwa aksi militer hanya boleh dilakukan sebagai pilihan terakhir. Menurutnya perang di Irak selain mengancam kestabilan kawasan Timur Tengah juga akan berdampak pada kawasan Uni Eropa. Sementara itu pada tanggal 29 Agustus 2002 Perdana Menteri Inggris Tony Blair tetap pada pendiriannya yang mendukung adanya pergantian rezim di Baghdad. seraya mengutarakan resiko-resiko tak terduga yang dapat terjadi jika sampai meletus perang. Dalam pembicaraan jarak jauhnya. Di akhir pertemuan yang tidak menghasilkan resolusi resmi itu Menteri Luar Negeri Jerman Joschka Fischer menyatakan penolakannya atas aksi unilateral AS yang menggunakan invasi untuk menggulingkan suatu rezim. Blair mendorong Bush untuk segera mendapatkan legitimasi untuk menyerang Irak melalui dukungan PBB serta menetapkan batas waktu tertentu bagi Irak untuk membuktikan kepemilikan senjata pemusnah massal. Hanya berselang beberapa hari kemudian. Chirac beranggapan bahwa tindakan seperti itu bertentangan dengan pandangan Perancis tentang collective security yang didasari atas kerjasama antarnegara dan tunduk kepada otoritas dan keputusan Dewan Keamanan PBB. .

Pertentangan paling jelas terlihat antara Perancis dan Jerman melawan Inggris.11 Italia menjadi negara Eropa berikutnya yang mendukung rencana militer AS ke Irak. Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw menegaskan bahwa pihaknya ingin terlibat di dalam perang.htm. Dengan didukung Menteri Luar Negeri Spanyol Ana Palacio. Tekad Amerika Serikat untuk segera menyerang Irak terlihat dari keluarnya Resolusi Dewan Keamanan PBB no. http://www.kompas.org/articles/2002/sep2002/euro-D3%2. diakses pada tanggal 23 September 2003. Pernyataan tegas menolak perang juga terlontar dari pertemuan antara Presiden Perancis Jacques Chirac dengan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder di Paris tanggal 22 Januari 2003. 12 http://www.com/kompas-cetak/0212/23/opini/57245. Menteri Luar Negeri Perancis Dominique de Villepin dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tanggal 20 Januari 2003 mengatakan bahwa serangan militer terhadap Irak tidak dapat dijustifikasi.wsws. Pada intinya mereka menegaskan 11 European Union Foreign Ministers Divided on Iraq War. diakses pada tanggal 23 September 2003. Jack Straw menyatakan bahwa untuk memberikan tekanan terhadap rezim Saddam diperlukan adanya penggabungan skenario ancaman melalui aksi militer. sementara negara-negara lain lebih memilih berada di antaranya. Resolusi ini sekaligus memaksa Baghdad untuk kembali menerima kehadiran tim inspeksi PBB untuk senjata pemusnah massal setelah kehadiran terakhirnya di tahun 1998.12 Menyikapi perkembangan yang terjadi.shtml.10 Pasca pertemuan ditandai dengan semakin tajamnya perbedaan pendapat di antara negara-negara Uni Eropa mengenai krisis Irak. . 1441 pada tanggal 8 November 2002 yang memberi kesempatan terakhir bagi Irak untuk menyelesaikan krisis dengan jalan damai.

PM Italia Silvio Berlusconi mengatakan negaranya siap menjadi pangkalan udara AS.13 Hanya berselang sehari setelah ketua Tim Inspeksi Senjata PBB Hans Blix menyampaikan laporan kepada DK PBB mengenai misi yang telah mereka jalankan di Irak.htm. sikap negaranegara Eropa semakin terpecah.kompas. Finlandia (bersama Swiss) mendesak semua pihak memberi kesempatan Tim Inspeksi PBB menuntaskan tugasnya.com/harian/0301/30/nasl. Hongaria. Bush memberikan pidato kenegaraan yang intinya menuduh Saddam Hussein melecehkan PBB dengan mengadakan penipuan data senjata pemusnah massalnya. http://www. . untuk memperkuat posisi AS. Lebih dari itu. diakses pada tanggal 21 September 2003. jika AS melaksanakan rencananya menyerang Irak. pada tanggal 28 Januari 2003 Presiden AS George W.kompas. diakses pada tanggal 21 September 2003. 15 Sikapi Rencana Serangan AS ke Irak Eropa Terpecah. Portugal. 14 http://www.com/kompas %2Dcetak/0301/31/ln/107391.11 bahwa perang dengan Irak adalah tidak perlu dan lebih memilih memberi kesempatan tim inspeksi senjata PBB untuk menuntaskan tugasnya. dan Ceko. Polandia.14 Setelah Presiden Bush menyampaikan pidato kenegaraan.htm. diakses pada tanggal 23 September 2003. Tanggal 30 Januari 2003.suaramerdeka. http://www. PM Inggris Tony Blair dan PM Spanyol Jose Maria Aznar berinisiatif mengeluarkan surat bersama yang didukung Italia.15 Walau begitu. Bush juga menyatakan bahwa lebih dari duabelas tahun Saddam secara sistematis melanggar sejumlah perjanjian dengan PBB yang memintanya untuk menghentikan program persenjataan pemusnah massalnya.com/kompas%2Dcetak/0301/24/ln/95622. mereka mengatakan surat itu tidak secara khusus ditujukan kepada Jerman dan Perancis yang dengan 13 AS Bersitegang dengan Perancis dan Jerman soal Serangan ke Irak.htm.

. Inggris. juga mengatakan bahwa upaya perlucutan senjata Irak harus berlangsung dengan cara-cara damai di bawah naungan DK PBB. Oleh karena itu Uni Eropa tetap menganggap PBB sebagai institusi yang bisa menjadi jembatan tatanan dunia. Spanyol dan Amerika Serikat mengusulkan suatu rancangan resolusi PBB baru yang akan memuluskan jalan pasukan koalisi AS untuk melancarkan serangan militer terhadap Irak dengan alasan Irak telah gagal melakukan kompromi dalam hal perlucutan senjata. diakses pada tanggal 21 September 2003. Belgia tanggal 17 Februari 2003. Usulan tersebut muncul dalam sebuah sesi pertemuan tertutup di Dewan Keamanan PBB.eu. Sidang juga berpendapat bahwa tanggung jawab utama untuk perlucutan senjata Irak terletak pada Dewan Keamanan PBB. Dalam hal ini Jerman dan Perancis terus mendesak Uni Eropa untuk tetap menjaga posisi bersama dalam hal Irak. http://europa. Memanasnya perbedaan pendapat di antara negara-negara Uni Eropa memaksa dilangsungkannya sidang darurat Dewan Eropa di Brussels.16 Pada tanggal 24 Februari 2003. Jerman bersama Rusia menanggapi 16 Extracts from the Conclusions of the European Council. Perancis.int/comm/external_relations/iraq/intro/ec170203.htm. Di antaranya adalah bahwa krisis di kawasan teluk akan sangat mempengaruhi situasi dunia hingga sepuluh tahun mendatang. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah pernyataan berkaitan dengan semakin dekatnya rencana serangan AS ke Irak. Masih dalam forum yang sama.12 tegas menentang rencana AS tersebut. Uni Eropa kembali menegaskan komitmen akan usaha untuk menciptakan proses perdamaian di kawasan Timur Tengah serta penyelesaian konflik Israel-Palestina. Uni Eropa. dengan mengatasnamakan keinginan seluruh masyarakat Eropa.

Menyusul pertentangan di antara sesama negara Uni Eropa. 1. tetap bersikap optimis. sebagai salah satu penentang perang.france/. serta meningkatkan pengawasan Irak dari udara. . http://www.org/nca/features/2003/03/12032003175541. diakses pada tanggal 2 September 2003. dibutuhkan dukungan suara dari sedikitnya 9 dari 15 anggota PBB. Rusia maupun Cina tidak memvetonya. Chris Patten. Russia offer Alternative to War.com/2003/WORLD/meast/02/24/sprj. pada tanggal 12 Maret 2003 Komisioner UE untuk urusan luar negeri.13 proposal AS dengan mengeluarkan proposal tandingan yang mengusulkan agar dilanjutkannya inspeksi senjata. di mana Perancis.17 Adanya proposal tandingan ini membuat pasukan koalisi semakin sulit untuk melegitimasi perang melalui PBB karena agar proposal perangnya disetujui.1 Pembatasan Masalah 17 Germany.cnn. Reconstruction Aid not Guaranteed. 18 EU: Patten Says Rift Over Iraq Threatens EU Cohesion. dalam pernyataannya meminta maaf kepada dunia karena gagal menyatukan kebijaksanaan luar negeri Uni Eropa terhadap Irak. Menurutnya negaranegara besar di Eropa yang mendukung intervensi militer harus lebih menghormati institusi internasional.iraq.germany. Meski demikian Patten.18 Pada tanggal 20 Maret 2003 pasukan koalisi di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Inggris melancarkan serangan pertama ke Irak sebagai tanda dimulainya invasi terhadap negeri Saddam Hussein tersebut tanpa legitimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.2.asp. dan harus melihat seberapa jauh mereka telah menghancurkan kerjasama di Eropa. France. http://www.rferl.irq. diakses pada tanggal 23 September 2003. memperketat proses pemeriksaan kepemilikan senjata.

Sementara itu dipilihnya tanggal 20 Maret 2003 karena merupakan hari pertama dimulainya serangan pasukan koalisi ke Irak. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diuraikan di atas. Penulis memilih rentang waktu penelitian antara tahun 1991 sampai tanggal 20 Maret 2003 dengan tujuan menelaah penelitian ini secara lebih mendalam. yaitu Inggris sebagai pendukung rencana aksi militer terhadap Irak.14 Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas maka penulis akan membatasi penelitian pada problema kebijakan luar negeri dan keamanan. serta Perancis dan Jerman sebagai pihak yang menolak intervensi militer di luar mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa. dan kerjasama politik luar negeri dan keamanan bersama Eropa. dalam hubungannya dengan rencana invasi Amerika Serikat ke Irak 2003..2. penyatuan politik. baik negara-negara anggota Uni Eropa maupun Uni Eropa itu sendiri sebagai sebuah aktor Hubungan Internasional. peneliti memutuskan bahwa negara-negara Uni Eropa yang akan diteliti adalah hanya negara-negara yang menjadi aktor utama dalam krisis Irak. Tahun 1991 dipilih karena merupakan tahun Perjanjian Maastricht dicetuskan yang menandai terbentuknya tiga pilar utama Uni Eropa yaitu penyatuan ekonomi. Untuk menjadikan penelitian ini lebih fokus. penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : .

3. memahami.15 “ Apa Penyebab Kegagalan Uni Eropa dalam Menyatukan Posisi Bersama Negara-negara Anggotanya Terhadap Rencana Invasi Amerika Serikat ke Irak 2003? ” 1. dan mejelaskan tentang integrasi politik di suatu kawasan.2 Kegunaan Penelitian Lebih lanjut penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu acuan bagi penstudi ilmu Hubungan Internasional dalam mengetahui. 1. Dalam penelitian ini kasusnya adalah krisis Irak yang menimbulkan pertentangan kebijakan luar negeri dan keamanan di antara negara-negara anggota Uni Eropa 1.4 Kerangka Pemikiran Dalam pemikiran kaum realis.1 Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Penelitian Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui serta dapat menjelaskan penyebab gagalnya Uni Eropa menyatukan posisi bersama negara-negara anggotanya terhadap rencana invasi Amerika Serikat ke Irak 2003.3 1. Manusia ingin untuk mengendalikan. bukan .3. manusia dikarakteristikkan memiliki hasrat untuk saling berkompetisi.

Keinginan untuk mengambil keuntungan atas pihak lain serta menghindari adanya dominasi suatu pihak merupakan pandangan universal pemikiran realisme. Georg Sørensen. Introduction to International Relations. masyarakat. Seluruh perjanjian internasional hanya bersifat 19 Robert Jackson. Oxford University Press. Kaum realis memahami hubungan internasional sebagai persaingan di antara the great powers demi mencapai dominasi dan terciptanya keamanan. atau dengan kata lain terdapat hirarki kekuasaan yang membedakan kedudukan suatu negara dengan negara lain dalam sistem internasional. 68.16 dikendalikan. Pemikir realis abad ke-20. serta nilai-nilai dan cara hidupnya yang dianggap berharga dan berbeda dari negara lain. Negara merupakan aktor utama dalam politik dunia. atau tidak adanya pemerintahan dunia. Negara dipandang sebagai pelindung wilayah. atau biasa disebut the great powers. Hans Morgenthau mengatakan bahwa setiap manusia selalu memiliki keinginan untuk berkuasa (will to power). yaitu suatu sistem tanpa otoritas tunggal. 1999. Oleh sebab itu hubungan internasional pada dasarnya merupakan hubungan antarnegara. hlm. Negara-negara penting dalam politik dunia adalah negara-negara yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar. Namun demikian kedudukan negara tidaklah seimbang. Kenyataan bahwa semua negara harus berusaha untuk mencapai kepentingan nasionalnya berarti bahwa negara dan pemerintahan lain tidak akan pernah dapat bergantung pada negara lain. New York.19 Kaum realis memiliki asumsi mendasar bahwa politik dunia terbentang pada suatu anarki internasional. . Poin utama dari politik luar negeri realisme adalah untuk mencapai dan mempertahankan kepentingan suatu negara dalam politik internasional.

global governance memiliki sifat supranasional yang relatif lebih nyata. Theodore A. terj. yang secara efektif mengontrol wilayah dan penghuninya tanpa menghiraukan homogenitas etnis. Tidak seperti organisasi internasional pada umumnya. di mana dalam UE dapat 20 21 Ibid.. penulis mengidentifikasikan ada dua macam aktor yang terlibat. Sedangkan negara merupakan unit politik yang didefinisikan menurut teritorial. dimiliki oleh orang-orang tertentu. James H. serta Uni Eropa itu sendiri yang dikategorikan menjadi aktor non negara atau dalam kasus ini tergolong sebagai aktor global governance. hlm.22 Hal ini disebabkan dari sifat-sifat yang melekat di dalamnya.20 Dalam studi kasus ini. yaitu aktor negara anggota Uni Eropa. Hal tersebut membuat perjanjian. hlm. populasi dan otonomi pemerintah. 69. Couloumbis. Sehingga hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Uni Eropa tidak dikategorikan sebagai organisasi internasional semata. Bila disejajarkan dengan kategorisasi Organisasi Internasional. Dalam kasus ini Uni Eropa dikategorikan sebagai aktor global governance. 66. karena yang dapat berperan dalam UE ini tidak hanya dari pihak pemerintah negara-negara anggota. Aktor negara akan dilihat melalui kacamata realisme. Terminologi negara biasanya juga dikaitkan dengan terminologi negarabangsa. Bandung. konvensi. maka global governance ini dapat dikatakan sebagai satu Organisasi Internasional yang bersifat kompleks. hukum antarnegara dapat dikesampingkan dikala terjadi konflik kepentingan di antara negara-negara. Marcedes Marbun. Wolfe. . . Pengantar Hubungan Internasional: Keadilan dan Power. 22 Maksudnya bersifat kompleks di sini adalah suatu organisasi internasional yang mempunyai sifat baik sebagai organisasi internasional antarpemerintah maupun organisasi internasional non pemerintah. di mana dalam hal ini Couloumbis dan Wolfe mendefinisikannya sebagai: “ bangsa merupakan konsep yang merujuk kepada identitas etnik dan kultur yang sama. edisi ketiga. peraturan. 1986. ”21 Aktor lainnya dalam penelitian ini adalah Uni Eropa yang akan dilihat melalui teori neofungsionalisme sebagai bagian aliran pemikiran integrasi. Abardin.17 sementara sejauh negara yang bersangkutan masih ingin untuk mematuhinya.

Viotti.18 terbentuk suatu keputusan atau aturan-aturan praktis yang mengikat seluruh anggotanya tanpa harus diratifikasi terlebih dahulu oleh seluruh pemerintah negara-negara anggota. hlm. 24 Mark R. New York.. Economy.. 25 Paul R. 6th ed. Prentice Hall.the voluntary adjustment by states of their policies. New Jersey. 163. Cit. Menurut Joseph Grieco.. Martin Press.24 Sementara itu kerjasama internasional seperti yang terdapat dalam organisasi internasional merupakan kerjasama yang telah diinstitusionalkan. Kauppi. fungsi yudikatif dijalankan oleh European Court of Justice.25 23 Charles W. Mark V. .manage their differences and reach some mutually beneficial outcome”. St. Fungsi eksekutif UE dijalankan oleh Commission dan European Council of Ministers. dan sudah menjadi satu entitas supranasional. 74. kerjasama internasional didefinisikan sebagai: “ .. Wittkopf. Dengan kata lain institusi UE ini sudah seperti satu pemerintahan dalam satu negara. Struktur lembaga tersebut memungkinkan terciptanya kerjasama internasional di antara sesama negara anggota UE.. 187. hlm. dalam pengertian bahwa adanya perilaku yang dilakukan secara berulang yang terorganisir secara formal maupun informal dan merefleksikan sejumlah peraturan dan norma perilaku tertentu. Amstutz.23 Di samping itu global governance juga menjalankan fungsi-fungsi yang biasanya terdapat dalam pemerintah nasional.. Eugene R. World Politics: Trends and Transformation. International Relations and World Politics: Security. Op. fungsi legislatif dijalankan oleh European Parliament. 1997. hlm. Uni Eropa sebagai satu institusi memiliki lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi-fungsi yang layaknya terdapat dalam suatu pemerintahan nasional. Kegley Jr. Identity. 1997.

Aliran pemikiran ketiga disebut neofungsionalisme. yang bertujuan menciptakan penyatuan politik di antara wilayah-wilayah yang semula bebas dan berdaulat. Cit. Op. dan kegiatan politik mereka ke institusi pusat baru dan lebih besar.19 Uni Eropa merupakan contoh dari organisasi regional dengan kerjasama di antara anggotanya yang saat ini dirasa paling efektif. hlm. Integrasi internasional dilihat sebagai suatu proses di mana aktoraktor politik nasional dari berbagai negara diminta mengarahkan loyalitas. harapan. Aliran yang lebih mengutamakan integrasi sektor per sektor ini berpendapat bahwa di antara beberapa masyarakat yang paling serasi sekalipun. 79. dengan kelebihan mengkombinasikan model federalis dan fuungsionalis. dalam artian meningkatnya interdependensi sosial. ekonomi dalam komunitas Eropa. Aliran pemikiran kedua menerapkan pendekatan fungsionalisme. Amstutz. politik. tidak akan dapat mengintegrasikan semua fungsifungsi umum secara bersamaan. integrasi dipandang dalam pengertian legal dan institusional.26 Perbedaan pendapat dalam hal metode dan pendekatan ke arah integrasi telah memunculkan beberapa aliran pemikiran. . kelompok. bukan suatu proses. yang 26 Mark R. Menurut aliran pemikiran federalis. Integrasi adalah hasil akhir. Integrasi adalah suatu proses ujicoba terus menerus. Keefektifan Uni Eropa dapat dilihat dari adanya integrasi. atau negara melalui prosedur dan hukum yang mengikat anggotanya. Integrasi hanya dapat tercipta dengan dibentuknya suatu struktur yang memiliki kewenangan untuk mempengaruhi dan mengatur tindakan individu.

Organisasi Internasional akhir-akhir ini dianggap sebagai faktor penting dalam pembuatan kebijakan luar negeri negara-bangsa. Explaining Foreign Policy. 6. namun lebih dilihat sebagai agen sosialisasi jangka panjang yang secara bertahap dapat membuat para pembuat keputusan di dunia semakin responsif terhadap perlunya kesepahaman di dunia internasional. New Jersey. Pentingnya Organisasi Internasional dalam politik luar negeri tidak hanya terletak pada peranannya dalam resolusi konflik. harapan dan aktivitas politik dari negara-negara yang berintegrasi kepada suatu pusat yang baru. Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi.27 Proses integrasi Eropa Barat pada akhirnya menuju pada suatu integrasi politik. Uni Eropa sebagai sebuah organisasi supranasional regional dipandang sebagai aktor dalam Hubungan Internasional. Prentice Hall. Yogyakarta.29 27 Mohtar Mas’oed. 173-174. 249. hlm. di mana setiap negara anggota UE pada akhirnya akan melakukan suatu penyesuaian – atau suatu adaptasi – pada setiap kebijakan-kebijakan Eropa. Suatu integrasi politik membutuhkan adanya suatu pergeseran loyalitas. Prentice Hall. New Jersey. 29 Lloyd Jensen. Europe’s World Policy. . yang merupakan konsekuensi logis yang tidak bisa dihindarkan sebagai tujuan akhir dari masyarakat Eropa. hlm. 1989.20 lembaga-lembaganya memiliki atau mengambil alih yurisdiksi yang semula berada di tangan negara-bangsa. hlm. meskipun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan UE kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan nasional yang dipersepsikan suatu negara anggota.28 Di dalam proses integrasi UE ini juga terkandung pengertian akomodatif dan adaptif. PAU Studi Sosial UGM. Stuart Scheigold. 1971. 1982. 28 Leon Linberg.

explicit and implicit actions of governmental officials designed to promote national interests beyond a country’s territorial boundaries. Amstutz. 1993. dan instrumen yang dipilih oleh para pembuat keputusan di suatu negara.). Dalam kapasitas ini negara mempunyai fungsi dan peran yang tetap penting dalam setiap zaman.30 Kompleksitas pola hubungan yang memberi penekanan pada keterlibatan negara pada forum internasional seperti yang terlihat pada Hubungan Internasional di Eropa ternyata masih melibatkan aktor negara. 2. Pembuatan kebijakan luar negeri dalam suatu institusi seperti negara federal atau organisasi regional semacam Uni Eropa – pencapaian kebijakan luar negeri dan keamanan bersama oleh negara tunggal yang harus membagi aspek kedaulatan domestiknya untuk menyatukan kompetensi dalam menyikapi lingkungan eksternal – adalah lebih kompleks.”31 Politik luar negeri juga mengacu kepada keterlibatan negara dalam aktivitas internasional dengan menggunakan sejumlah tujuan. Berbagai diskusi mengenai konsep politik luar negeri telah dilakukan. Oleh karena itu politik luar negeri merupakan bidang kajian utama dalam studi hubungan internasional. namun politik luar negeri dapat didefinisikan sebagai “. Orlando. The Politics of United States Foreign Policy. Secara formal. hlm. 1.21 Pada prinsipnya adalah lebih mudah untuk menggambarkan asumsiasumsi dan mekanisme pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara-bangsa yang berdaulat... hlm.32 30 31 Christopher Hill (ed. . Rosati. Routledge. hlm. Mark R. 1996. The Actors in Europe’s Foreign Policy. Harcourt Brace Jovanovich. manifestasi fungsi internal dan eksternal sebuah negara dilakukan oleh politik (atau kebijakan) luar negeri.. Cit. 146. 32 Jerel A. London. Op. strategi.

ekonomi. Op. Jakarta. maka peraturan keimigrasian. hlm.34 Politik luar negeri dalam perumusannya sangat dipengaruhi oleh aspek domestik dan internasional yang saling berinteraksi. Agar lebih efektif. Mohtar Mas’oed. Seperti yang diungkapkan Mohtar Mas’oed bahwa konsep kepentingan nasional sering digunakan sebagai pengukur kebehasilan politik luar negeri suatu negara. Kepentingan nasional. Strategi nasional merupakan cara-cara yang digunakan suatu negara dalam mengimplementasikan politik luar negerinya. namun juga menjadi dasar bagi pembentukan tujuan nasional yang lebih konkret dan spesifik. Kepentingan nasional tidak hanya penting sebagai panduan. hlm. Jika keamanan nasional dan kesejahteraan adalah kepentingan nasional. . Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. menjadi pondasi bagi politik luar negeri. 1990. Kepentingan nasional suatu negara berakar dari nilai-nilai dan cara pandang serta mencerminkan karakter nasionalisme dan ideologi sebuah negara. Amstutz. Cit. 139. pengembangan zona perdagangan regional dan perjuangan Hak Azasi Manusia menggambarkan tujuan nasional yang hendak dicapai. 147.22 Dengan demikian dapat kita lihat adanya elemen-elemen dasar dalam proses pembuatan suatu kebijakan luar negeri. kebijakan luar negeri harus dibuat berdasarkan tujuan yang realistis dan melihat pada kemampuan riil negara tersebut.33 Kepentingan nasional akhirnya akan bermuara pada perumusan politik luar negeri. Strategi nasional merupakan proses di mana negara mampu mengeksploitasi kapabilitas power serta berpikir secara lebih kreatif dalam menggunakan sumber daya politik. keinginan mendasar sebuah negara. LP3S. dan militer untuk mencapai tujuan yang diharapkan. atau bisa juga 33 34 Mark R..

yang merupakan kondisi dalam negeri yang memerlukan tempat untuk tercapainya tujuan nasional. perkembangan suatu negara atau kawasan. Hal ini menggambarkan bagaimana negara-negara Uni Eropa bereaksi terhadap kondisi eksternal yang muncul dari adanya rencana invasi Irak oleh Amerika Serikat. Rosenau. misalnya kebutuhan akan rasa aman. ideologi yang dimiliki. dan sebagainya. . Sebagai suatu kumpulan orientasi umum. yaitu: 1. yaitu:  Kondisi domestik. kondisi sumber daya alam. dan sebagainya. Konsep politik luar negeri dipakai karena merupakan salah satu instrumen yang digunakan suatu negara untuk memenuhi kebutuhannya dalam interaksi dengan negara lain dalam Hubungan Internasional.  Kondisi eksternal. dan keadaan strategis yang menentukan posisi negara dalam politik internasional. dan nilai-nilai yang dijabarkan dari pengalaman sejarah. Muncul dua faktor yang mempengaruhi politik luar negeri. Ada tiga konsepsi tentang politik luar negeri berdasarkan pendapat James N. misalnya nilai yang dimiliki oleh negara lain. sumber daya yang dimiliki oleh negara lain. yang merupakan kondisi yang muncul di luar batas negara. persepsi.23 dikatakan dipengaruhi oleh lingkungan internal dan eksternal. Hal-hal yang termasuk dalam orientasi adalah sikap. kondisi keamanan yang dimiliki negara lain. Politik luar negeri merupakan pedoman bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi kondisi-kondisi eksternal yang menuntut pembuatan keputusan dan tindakan berdasarkan keputusan tersebut.

1976. London. World Politics: An Introduction. terdiri dari tujuan yang spesifik dan alat-alat untuk mencapai tujuan yang dipakai untuk menjawab peluang dan tantangan dari luar negeri. serta Inggris yang mendukung invasi. yang mendukung penelitian ini adalah politik luar negeri sebagai suatu bentuk tindakan. Dari ketiga konsep di atas. Berkaitan dengan penelitian ini adalah penolakan rencana invasi AS ke Irak oleh Perancis dan Jerman. Sebagai suatu bentuk tindakan. 16-17. Dianggap sebagai tahap yang paling nyata berupa langkah-langkah konkret yang diambil para pembuat keputusan yang berhubungan dengan kejadian dan situasi di luar negeri. Fase ini sering disebut sebagai strategi keputusan. Rosenau. bahwa keputusan mendukung atau menolak rencana invasi muncul karena adanya pertimbangan-pertimbangan yang 35 James N. Maksudnya adalah pertimbanganpertimbangan yang muncul merupakan strategi untuk memperoleh keuntungan bagi negara-negara Uni Eropa. Merupakan seperangkat rencana dan komitmen yang dikembangkan oleh para pembuat keputusan untuk membina dan mempertahankan situasi di luar negeri yang sesuai dengan orientasi pokok suatu negara. Disebut pula sebagai kelanjutan dari penerjemahan orientasi umum dan pengembangan serta artikulasi dari sasaran dan komitmen yang bersifat spesifik. Sebagai suatu perangkat komitmen. Collier MacMillan Publishing Company.24 2.35 Fase ini dapat dikatakan sebagai perilaku eksternal suatu negara. Kenneth W. 3. Thompson dan David Boyd. hlm. .

Dalam hal ini persepsi ancaman (threat perceptions) merupakan proses yang kompleks dan tidak mudah untuk didefinisikan. Keempat. Maksudnya yaitu mengacu pada tipe sistem politik. Terakhir. . Dalam hal ini sejarah atau pengalaman masa lalu menjadi hal yang dapat mempengaruhi persepsi suatu negara akan ancaman. Kedua. serta menggabungkan elemen-elemen persepsi dan tindakan. dimensi sosio-kultural. Namun secara tradisional keamanan 36 Reading materials for Strategic Studies Course.36 Pertama. yang mengacu pada luas negara dan lokasi geografisnya. Keamanan nasional itu sendiri merupakan suatu istilah yang sangat ambigu dan dapat berarti hal yang berbeda bagi individu yang berbeda. compiled by Anak Agung Banyu Perwita. dimensi kesejarahan. Dalam penelitian ini nantinya dapat dilihat bagaimana kebijakan keamanan suatu negara bersinggungan dengan kebijakan luar negeri dan kebijakan domestiknya yang tercermin dari kepentingan nasional. Persepsi ancaman turut mempengaruhi kebijakan keamanan suatu negara (national security policy). atau sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara. Bandung. Ph. Pertimbangan yang diambil sebagai suatu strategi juga tidak terlepas dari persepsi ancaman yang dianut oleh negara-negara anggota UE. sistem geopolitik.25 merupakan strategi pembuatan kebijakan terhadap kondisi eksternal yang akan memberikan keuntungan bagi masing-masing negara Uni Eropa. struktur rezim. dimensi struktural. dan ideologi yang dianut oleh suatu negara. dimensi ekonomi. Ada lima hal yang mempengaruhi persepsi ancaman. Ketiga. meliputi karakteristik masyarakatnya.D. Parahyangan Catholic University. Persepsi ancaman sekaligus menjadi suatu proses yang memisahkan sinyal dan reaksi. Department of International Relations.

Dalam mencapai keamanan nasional yang dikehendaki. serta institusi. bagaimana menghadapi ancaman tersebut. Ph. Boulder. Pertama. 1994. 15 dari bahan perkuliahan Kajian Strategis oleh Anak Agung Banyu Perwita. seringkali kebijakan keamanan nasional bersinggungan dengan kebijakan luar negeri. persepsi ancaman. negara dapat berkonsentrasi dalam memaksimalkan kekuatan militernya. US National Security: Policymakers.39 Pertama. yang menghasilkan efek domino terhadap nilai-nilai.38 Perlu diingat juga bahwa keamanan nasional tidaklah selalu berhubungan dengan militer. bahkan terkadang keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan. 39 Frederic Pearson.37 Kebijakan keamanan nasional setidaknya memiliki dua perbedaan mendasar dengan kebijakan luar negeri. 8. 38 Ibid. Komponen militer hanya menjadi salah satu elemen yang dilibatkan dalam kebijakan keamanan nasional. Namun demikian. Westview Press. The Global Spread Arms. Processes and Politics. Konsep keamanan nasional merupakan kombinasi yang kompleks dari tujuan-tujuan keamanan.D. keamanan nasional memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dan hanya terfokus pada keamanan dan keselamatan negara bangsa. negara-bangsa dapat berkonsentrasi dalam meningkatkan kerjasama di 37 Sam Sarkesian. Kedua. ada dua pendekatan yang dapat dilakukan. Westview Press. hlm. prinsip. Boulder. 1989. di mana kepentingan suatu negara berbaur dengan kepentingan keamanan nasionalnya. .26 nasional dapat diartikan sebagai perlindungan terhadap serangan militer eksternal. Kedua. kebijakan keamanan nasional diprioritaskan dalam menangani ancaman aktual dan potensial serta penggunaan kekuatan militer. hlm.

27

antara negara-negara demi meminimalisir bahaya dan ancaman yang mungkin timbul.

1.5

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini

adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian analisa deskriptif. Metode ini bertujuan mendeskripsikan apa yang telah terjadi. Dalam hal ini bagaimana kebijakan luar negeri dan keamanan negara-negara Uni Eropa dalam menyikapi rencana invasi Amerika Serikat ke Irak bulan Maret 2003. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sekunder melalui studi kepustakaan. Data yang digunakan penulis berasal dari buku, jurnal, internet, dan media ensiklopedi elektronik interaktif yang relevan dengan masalah yang akan dibahas.

BAB 2 UNI EROPA DAN COMMON FOREIGN AND SECURITY POLICY

28

2.1

Struktur Organisasi Uni Eropa Uni Eropa merupakan organisasi supranasional yang dilengkapi lembaga-

lembaga yang menjalankan berbagai kebijakan dalam Uni Eropa. Masing-masing lembaga memiliki peranan tersendiri dan berfrungsi seperti lembaga dalam suatu pemerintahan negara. Struktur Uni Eropa dapat dilihat melalui sistem pilar (pillar system). Negara-negara anggota Uni Eropa bekerjasama dalam 3 area, yang biasa disebut sebagai pilar. Sebagai pusat dari sistem ini adalah pilar European Community dengan fungsi supranasional yang bertanggung jawab atas prosedur institusi dan legislatif serta institusi-institusi di dalamnya, seperti European Commission, Council of Ministers, European Parliament, dan European Court of Justice (ECJ).40 Pilar ini terhubung dengan dua pilar lainnya berdasarkan kerjasama antar pemerintahan, yaitu Common Foreign and Security Policy (CFSP) dan Justice and Home Affairs (JHA).41 Kedua pilar ini merupakan hasil bentukan perjanjian Maastricht untuk mempererat kerjasama di tiga area tersebut. Pilar CFSP dan JHA memiliki basis kerjasama antar pemerintahan, di mana keputusan yang diambil haruslah berdasar mufakat. CFSP merupakan forum atau wadah bagi diskusi-diskusi politik luar negeri, deklarasi bersama, dan aksi bersama untuk menciptakan suatu kebijakan pertahanan dan keamanan Eropa. CFSP sendiri akan dibahas pada akhir bab ini. Sementara itu JHA merupakan pilar yang dibentuk untuk memperluas cakupan kerjasama antar negara-negara anggota, terutama dalam menangani masalah-masalah kriminal, terutama perdagangan narkoba, serta pelanggaran keimigrasian dan suaka politik.
40

The European Union’s Common Foreign and Security Policy, Office for Official Publications of the European Communities, Luxembourg, 1996. 41 Derek W. Urwin, European Union. Microsoft Encarta Reference Library, 2003.

29

2.1.1

European Council European Council (Dewan Uni Eropa) didirikan pada tanggal 10

Desember 1974 berdasarkan Artikel D dari Perjanjian Uni Eropa. Lembaga ini secara rutin mengadakan pertemuan dengan frekuensi minimal dua kali setahun, namun biasanya pertemuan berlangsung tiga kali setahun. European Council beranggotakan kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota, ditambah Presiden European Commission, didukung oleh Menteri Luar Negeri dan seorang anggota European Commission. Prosedur pengambilan keputusan yang berlaku adalah melalui konsensus. European Council memiliki pengaruh paling besar dalam proses integrasi di Eropa Barat pada tahun 70-an, 80-an, dan awal 90-an. Institusi ini membawa para pemimpin negara anggota menghasilkan keputusan-keputusan penting dalam Single European Act (SEA) dan Perjanjian Uni Eropa.42 European Council memiliki kebiasaan untuk membuat peraturan (hukum) yang mengikat negaranegara anggotanya dan dapat langsung diterapkan. Selain itu juga dapat mengeluarkan rekomendasi dan opini yang mengikat serta dapat menghasilkan suatu kebijakan umum melalui resolusi. Council sekaligus mendefinisikan acuan politik umum untuk Community dan Union, serta berperan penting dalam kebijakan luar negeri dan keamanan bersama. Council merupakan lembaga utama pengambilan keputusan, dan dalam dewan ini pula disetujui perundingan yang berdasarkan usulan dari Commission. Keputusan biasanya dapat diperoleh melalui jumlah suara terbesar, namun dalam
42

Werner Weidenfeld, Wolfgang Wessels, Europe From A to Z: Guide to European Integration, Office for Official Publications of the European Communities, Luxembourg, 1997, hlm. 114.

seperti perpajakan. dan 198b dari Perjanjian European Community. Prosedur voting yang berlaku yaitu suara terbanyak (majority). dalam konteks Justice and Home Affairs Cooperation : Artikel K. anggota parlemen dipilih secara langsung dengan sistem keanggotaan berdasarkan bobot pentingnya negara. K.3(2).4(2). serta keputusan yang memiliki relevansi dengan kebijakan luar negeri dan keamanan bersama. 2. J.7.1.6.30 beberapa bidang tertentu dituntut adanya kebulatan suara. European Parliament (Parlemen Eropa) didirikan dengan komposisi 626 anggota dari 15 negara anggota. MEPs) tidak duduk dan memilih sebagai kelompok nasional.3 European Commission43 Tujuan didirikannya European Commission (Komisi Eropa) adalah untuk menjamin pelaksanaan fungsi dan perkembangan pasar bersama (common 43 European Commission didirikan dengan dasar perjanjian : Artikel 155-163 (EC Treaty). tetapi sebagai kelompok politik. penetapan kebijakan bersama yang baru.6 dan K. Sejak tahun 1979. mengubah. Beberapa partai politik tansnasional Eropa terwakili di European Parliament. 158. J. atau menolak anggaran tahunan Uni Eropa.9 (Treaty of European Union). J.9 (Treaty of European Union).2 European Parliament Berdasarkan Artikel 137 -144.1. penerimaan anggota baru. . Parliament bertindak sebagai wakil politik dari Community memperdebatkan isu-isu dan mempertanyakan Commission untuk menandatangani. 2. Anggota parlemen (Member of European Parliaments. K.5(3). Lembaga ini dipimpin oleh seorang ketua dan 12 wakil ketua yang dipilih dari negara anggota untuk masa jabatan 30 bulan. dalam konteks CFSP : Artikel J.8(3). J.

. Untuk melaksanakan dua kebijakan utama Community – The Common Agricultural Policy dan The Common Commercial Policy – tidak bisa dilaksanakan dengan pola isolasi negara-negara anggota.). Peran mereka adalah untuk mengidentifikasikan masalah dan solusi Council of Ministers. tanggung jawab atas administrasi. 108-142. Inggris. Macridis (ed. Jerman. Anggota komisi terdiri dari 20 anggota individu (masing-masing 2 orang dari Perancis. dengan pertimbangan bahwa bisa saja terjadi pertentangan dari masalah-masalah yang ada akibat persaingan subsidi ekspor dan proteksi terselubung. 1995. Prentice Hall Inc. mewakili kepentingan Community. European Commission didirikan berdasarkan Perjanjian Paris (1951) dan Perjanjian Roma (1958). baik secara internal maupun eksternal. Commission sekaligus memastikan bahwa peraturan dan persyaratan dari perjanjian-perjanjian diimplementasikan dan diobservasikan. Italia dan Spanyol. The Foreign Policy of the European Community: Dream or Reality?. Roy C. dan satu orang dari sisa negara anggota) yang dipilih untuk 4 tahun dalam satu periode. hlm. Tugas lembaga ini adalah pembuat sekaligus pelaksana kebijaksanaan. London.44 44 Christopher Hill.. Pengusulan pembuatan undang-undang. Commission dipercaya dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan umum dan mengusulkan cara-cara baru dalam melaksanakan upaya-upaya Community.31 market). Masing-masing tugas ini memiliki sisi eksternal. pengelolaan anggaran dan memastikan bahwa perjanjian maupun keputusan lembaga dijalankan oleh para negara anggota merupakan tanggung jawab European Commission. dalam Foreign Policy in World Politics.

Dana Sosial Eropa. Dalam melaksanakan tugas-tugas eksekutifnya.1. hanya parlemen yang memiliki hak untuk mensahkan mosi kecaman. para anggota komisi wajib bebas sepenuhnya dari pemerintahan nasional mereka dan hanya bertindak demi kepentingan Uni Eropa. Commission juga merupakan katalisator Uni Eropa. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas Commission di bidang peraturan untuk pelaksanaan pasal-pasal tertentu dari perjanjian dan mengelola alokasi anggaran yang dimaksudkan bagi kegiatan Uni Eropa. dalam bidang kerjasama antar pemerintahan komisi memiliki hak yang sama seperti masing-masing negara anggota dalam hal pengajuan usulan. . European Commission juga sering dilihat sebagai badan eksekutif di dalam struktur kelembagaan Uni Eropa. Dana Pembangunan Daerah Eropa dan juga Dana Terpadu. Bagian terbesar dari anggaran kegiatan meliputi: Dana Penuntun dan Jaminan Pertanian Eropa. 2. Ia memiliki hak tunggal inisiatif dalam bidang undang-undang (tercakup dalam Perjanjian Roma sebagaimana direvisi oleh Perjanjian Maastricht) dan dapat mengarahkan dalam setiap tingkat proses yang mendahului diberlakukannya suatu “peraturan Eropa” yang baru. Setiap anggota komisi memiliki tanggung jawab bersama.4 The Court of Justice and The Court of First Instance Lembaga Majelis Peradilan di Uni Eropa yang memiliki tujuan mengawasi pelaksanaan hukum ini dibentuk atas dasar Artikel 165-168 (EC Treaty) dan Artikel L (Treaty of EU). Commission seringkali dituntut untuk meminta pendapat komite para pejabat dari negara-negara anggota.32 Dalam melaksanakan tugasnya.

Sidang Majelis Peradilan adalah pengadilan tinggi Uni Eropa yang telah memainkan peranan yang sangat penting dalam proses integrasi Eropa. 2.5 Economic and Social Committee Sebagai institusi yang mewakili kepentingan ekonomi dan sosial negaranegara anggota Uni Eropa. Komite ini murni sebagai advisory (pembantu). masing-masing 1 dari setiap negara anggota.6 The Court of Auditors . dan 1 tambahan diambil dari masing-masing anggota dengan sistem rotasi. Komite ini memiliki tugas mendiskusikan isu-isu yang beredar di kontinen yang mempengaruhi masalah ekonomi dan sosial. menciptakan forum di mana perusahaan-perusahaan.33 Majelis ini terdiri dari 13 orang hakim utama. 2.1. melobi komisi-komisi pada masalah-masalah yang sangat penting. Kewajiban mereka adalah menginterpretasi dan melaksanakan perjanjian Uni Eropa lainnya dengan dibantu 6 pengacara umum. dalam rangka membuat odd members. Keputusan dan penafsiran yang dihasilkan secara bertahap turut menciptakan undang-undang Eropa yang dapat diterapkan di semua negara-negara anggota Uni Eropa. persatuan buruh dan kelompok dapat melakukan tawar menawar secara transnasional. Economic and Social Committee memiliki dasar perjanjian Artikel 4(2) dan Artikel 193-198 dari EC Treaty. Mereka didominasi oleh pemerintah nasional dan disetujui oleh Council of Ministers untuk jangka waktu 6 tahun.1. Common Agricultural Policy merupakan salah satu area kebijakan komite yang harus dikonsultasikan pada Council dan European Commission.

yaitu pada tahun 1951 (ME6) yang beranggotakan Belanda.45 Pada tahun 1977 lembaga ini mulai beroperasi dan bertugas untuk mengawasi pengeluaran Uni Eropa dan diberi status lembaga melalui Perjanjian Maastricht. dan yang terakhir yaitu pada tahun 1995 dengan masuknya 3 negara lagi: Austria. Presidennya dipilih untuk masa waktu 3 tahun dan berkedudukan di Luxembourg. yaitu enlargement (penyelesaian).2.34 Dengan dasar perjanjian Artikel 4.1 (perluasan). ditunjuk untuk jangka waktu 6 tahun oleh Council dan bertugas setelah berkonsultasi dengan European Parliament. Belgia. . Luxembourg. deepening (pendalaman).2 Strategi Integrasi Uni Eropa Dalam proses integrasi Masyarakat Eropa terdapat 3 aspek dasar. 188a-188c dan 206 EC Treaty. 2. Op. dan Spanyol menambah keanggotaan menjadi 12 (ME12). hlm. dan Irlandia (ME9). Pada tahun 1986.. Yunani. Kemudian menjadi 9 negara pada tahun 1973 dengan masuknya Inggris. The Court of Auditors memiliki komposisi 15 orang anggota. Wolfgang Wessels. 45 Werner Weidenfeld. Perancis. Denmark. 2. dan Swedia (ME15). Finlandia. Portugal. Cit. dan completion Enlargement Istilah enlargement mengacu pada perluasan keanggotaan. Hingga saat ini Uni Eropa telah melakukan perluasan keanggotaan sebanyak 4 kali. Jerman Barat dan Italia. 118.

peran dan tanggung jawab yang lebih besar dan kuat pada institusi-institusi di dalam Uni Eropa. No. Dalam Perjanjian Maastricht disebutkan bahwa dengan menjadi anggota Uni Eropa mereka akan dapat mengeruk keuntungan ekonomi lebih besar daripada sekedar terikat dalam kerjasama ekonomi meskipun negara-negara EFTA memiliki prioritas dalam dalam perdagangan bebas Uni Eropa. dan lebih penting lagi adalah faktor budget yang harus disediakan untuk anggaran biaya Uni Eropa. 22. 1992.2.2 Deepening Aspek kedua dari strategi pembangunan jangka panjang Uni Eropa adalah deepening atau pendalaman. faktor ekonomi.35 Uni Eropa juga memiliki daya tarik tersendiri bagi negara-negara Eropa Barat untuk bergabung. Maastricht. kewenangan. Survey of Current Affairs. 195. sistem dan mekanisme birokrasi yang kesemuanya itu bersumber pada penguatan birokrasi dalam institusi itu sendiri. hlm. Termasuk juga di dalam konsep deepening adalah pendalaman di bidang kerjasama. Agustus. Hal tersebut dapat dilihat dari keinginan semua negara European Free Trade Area (EFTA). terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh Uni Eropa. and Europe”. antara lain faktor politik (kualitas demokrasi dan sistem pemerintahan). Hal ini tidak berarti bahwa sistem pendalaman kerjasama akan memperpanjang mekanisme birokrasi karena di dalam konsep itu sendiri terkandung juga makna simplikasi proses birokrasi dengan mempermudah 46 “Britain. . Vol. sosial kultural.46 Dalam kebijakannya untuk menerima anggota baru. 2. Yang dimaksud pendalaman adalah pembaruan tugas. 7.

Makin banyak jumlah anggota. maka tahun 1999 merupakan batas akhir untuk memberlakukannya di semua negara Uni Eropa. Dengan demikian keputusan-keputusan Uni Eropa terutama dalam bentuk regulation and directive memiliki validitas hukum yang kuat sebagai suatu produk kelembagaan.2. 2. Ide tentang pendalaman ini tidak dapat dipisahkan dari perluasan (baik keanggotaan maupun kegiatan) karena setiap perluasan ynag dilakukan akan berpengaruh langsung bagi implementasi konsep pendalaman. Berdasarkan konsep deepening ini. semakin sulit menyepakati sistem pengambilan keputusan mufakat bulat (unanimity). Contohnya adalah program penyatuan mata uang Eropa yang sudah direncanakan sejak tahun 1979.36 mekanisme pengambilan keputusan melalui syarat majority di berbagai jajaran institusi Uni Eropa. jangkauan keputusan dan segala peraturan yang dibuat oleh institusi-institusi Uni Eropa memberikan akibat hukum yang mengikat. .3 Completion Yang disebut completion dalam hal ini adalah batas penyelesaian suatu program yang telah diagendakan dalam program integrasi Uni Eropa. baik bagi negara anggota maupun bagi institusi yang bersangkutan. jika hingga tanggal 1 Januari 1997 pemberlakuan European Monetary Unit (EMU) belum dapat dilaksanakan. Salah satu contoh kesulitan dalam melaksanakan konsep pendalaman ini daat dilihat dari kompleksnya usaha untuk mencapai penyatuan moneter Eropa yang direalisasikan melalui pemberlakuan mata uang tunggal Eropa yang dikenal dengan sebutan Euro.

Duke University Press. mengurus. mendapatkan keuntungan.47 47 Neill Nugent. Completion merupakan keputusan politik suatu negara untuk ikut serta dalam program kerjasama internasional. Durham. Dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan tersebut. Pada bagian inilah terletak sebagian problematik sukses atau tidaknya Uni Eropa melakukan integrasi ekonomi. Di satu sisi. 244. baik yang ditujukan kepada negara-negara anggotanya sendiri maupun kepada negara-negara non-anggota. yaitu pada level supranasional untuk membentuk. namun pada kenyataannya masih banyak terjadi penundaan pemberlakuan program yang antara lain disebabkan oleh kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi. maupun sosial. kebijakan-kebijakan yang muncul dipengaruhi oleh sistem internasional yang terjadi pasca perang dingin. 2. dan untuk menyongsong dunia yang lebih modern. . yaitu dengan meningkatnya kondisi interdependensi yang membawa negara-negara Eropa Barat akhirnya mengalihkan kebijakan masing-masing negara kepada level yang lebih tinggi. 1994. hlm. ada ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar sehingga semua negara anggota merasa bahwa keputusan yang ada adalah hasil kesepakatan bersama. The Government and Politics of the European Union. politik. mengatur.3 Mekanisme Pembuatan Kebijakan Uni Eropa Uni Eropa sebagai sebuah institusi juga mengeluarkan berbagai macam kebijakan.37 Completion dalam hal ini berkaitan erat dengan agenda integrasi. Awal mula munculnya kebijakan-kebijakan Uni Eropa dapat dilihat dari dua segi.

3. hal ini dikarenakan perannya sebagai badan formal yang memiliki kewenangan untuk mengajukan proposal perundang-undangan. porsinya yang berhubungan langsung dengan keinginan dalam negeri masing-masing negara anggota.38 Di sisi lain yang lebih spesifik. Selain itu. sebuah proposal harus diperlihatkan terlebih dahulu kepada European Parliament untuk memberikan opininya. Sejak Single European Act (SEA) mulai berlaku pada tahun 1987. 2. Jika amandemen disetujui dan diterima oleh . namun kemungkinannya sangat kecil untuk terwujud kecuali Commission merasa perlu untuk mengangkat isu tersebut untuk diajukan sebagai rancangan proposal perundang-undangan. terdapat dua aturan dalam pembuatan keputusan atau perundang-undangan. The Consultation Procedure Awal mula munculnya proposal perundang-undangan yaitu ketika ada yang menyarankan agar Uni Eropa mengeluarkan tindakan terhadap sejumlah masalah yang terjadi. Parliament memiliki wewenang untuk menunda proposal yang diajukan sebelum diadopsi oleh Council. bisa berasal dari Council atau dari Commission. itu dikarenakan kekuatan politiknya. Sedangkan jika masalahnya berasal dari Council. yaitu the Consultation Procedure dan the Cooperation Procedure. dan tanggung jawabnya untuk kepentingan bersama.1. proposal perundang-undangan juga juga dapat berasal bukan dari kedua institusi tersebut. dapat dilihat bahwa kebijakan-kebijakan Uni Eropa dimunculkan oleh perjanjian-perjanjian yang akan menjadi kekuatan hukum dari kebijakan-kebijakan selanjutnya. Jika berasal dari dari Commission. Sebelum diwujudkan dalam suatu undang-undang.

maka proposal tersebut akan dipertimbangkan oleh Council. Council tidak langsung mengambil keputusan akhir. .39 Commission.  European Parliament Second Reading Parliament memiliki waktu sekitar 3 bulan untuk menentukan langkah terbaik yang harus diputuskan: 1. Akan tetapi bila beberapa dari seluruh amandemen yang diajukan tidak disetujui.2 The Cooperation Procedure Pembuatan keputusan melalui prosedur ini dapat dilakukan dengan berdasar pada Artikel 7 SEA dan diratifikasi di dalam Artikel 149 EEC Treaty. hlm. Parliament menganalisis opini atas isu yang dimunculkan. Setuju atas proposal kebijakan. 293.  Council First Reading Setelah mengetahui opini Parliament. 48 Ibid. tetapi diadopsi dahulu.. 2. Hal ini sangat berguna bagi Parliament untuk berunding dan merupakan alat untuk menekan penundaan suatu proposal.3. Prosesnya sama dengan proses yang terjadi dalam menganalisis Consultation Procedure.48  European Parliament First Reading Setelah komisi Eropa mempublikasikan proposalnya. Berbeda dengan Consultation Procedure yang memerlukan suara bulat dari semua menteri. Parliament bisa mengembalikan proposal tersebut.

Council dapat mengadopsinya sebagai perundangundangan Uni Eropa. Parliament menolak. Mengajukan kerugian yang sekiranya dapat timbul sesuai dengan suara terbanyak dari seluruh anggota. Council mengadopsinya hanya sekitar 3 bulan. Commission harus memilih untuk dijadikan amandemen.40 2.4 Common Foreign and Security Policy (CFSP) Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Bersama atau Common Foreign and Security Policy (CFSP) adalah suatu sistem kerjasama antara sesama negaranegara anggota Uni Eropa dalam setiap hubungan politik internasional. 3. Menolak dengan suara terbanyak dari seluruh anggota. Parliament setuju. 4. 2. 8. maka proposal tersebut dianggap tidak akan diadopsi. 7. Kebijakan . Apabila semua amandemen disetujui. Apabila tidak ada tindakan selama sekitar 3 bulan. Dapat memilih atau tidak sama sekali melakukan langkah-langkah seperti yang disebukan di atas. tergantung dari ada atau tidaknya opini baru. 6.  Council Second Reading Dalam hal ini tergantung dari bagaimana European Parliament Second Reading dalam mengambil keputusan: 5. Bila menghitung kerugian-kerugian yang akan ditimbulkan. maka harus langsung diberikan pada Council. maka Council bisa langsung mengadopsinya. Apabila tidak ada langkah yang diambil oleh Parliament.

Cit. 1996. hlm. Ancaman-ancaman serta tuntutan baru yang muncul 49 50 Werner Weidenfeld. Saat ini CFSP tidak saja dipandang sebagai perangkat institusional semata.49 Dasar pendirian CFSP dapat ditemukan dalam Maastricht Treaty Artikel B dan C tentang tujuan. Oxford University Press.50 Setiap negara memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan pada akhirnya menghasilkan politik luar negeri yang berbeda pula. dalam The Institutions of the European Union. dalam The Actors in Europe’s Foreign Policy.). Introduction: Actors and Actions.). negara-negara anggota Uni Eropa berharap akan memperbesar kapabilitas power negara mereka sendiri dan Uni Eropa secara umum dan juga akan meningkatkan kekuatan nasional mereka apabila berhadapan dengan negara-negara besar lainnya. William Wallace. 2.. London. kerangka kerja institusi tunggal. sehingga nantinya akan membahayakan kelangsungan Uni Eropa itu sendiri. 51 Christopher Hill. ketetapan akhir. hlm. Proses pembuatan keputusan di dalam CFSP mampu menghasilkan kebijakan. Christopher Hill (ed. New York. Wolfgang Wessels. Knud Erik Jørgensen. John Peterson. 211. Making the CFSP Work. Routledge. Dengan adanya kerjasama di bidang politik ini. Michael Shackleton (ed. 2002.41 ini juga merupakan sarana yang sangat penting untuk melindungi kepentingan nasional negara-negara anggota di dalam era interdependensi global ini. Op. 41. namun juga memiliki dimensi output. . memperjelas tujuan politik dan bagaimana untuk mencapainya. serta empat deklarasi yang termuat dalam Maastricht Treaty. Kepentingan dan pemikiran politik diterjemahkan menjadi tindakan.51 Negara-negara anggota Uni Eropa melihat bahwa kerjasama dalam bidang politik akan memperbesar kekuatan Uni Eropa di dunia internasional karena didukung oleh kapabilitas nasional negara-negara anggota. hlm. Instrumen yang digunakan oleh Uni Eropa dalam kerjasama bidang politik ini adalah Common Foreign and Security Policy.

eu. Mempromosikan kerjasama internasional. . yang menjelaskan bahwa salah satu tujuan Uni Eropa adalah: “to assert its identity on the international scene. 2. Office for Official Publications of the European Communities..1(2) Perjanjian Amsterdam adalah52: 1. 4.42 seiring berakhirnya Perang Dingin. 54 http://europa. 33. which might lead to a common defence..htm. 52 The European Union and The World: Europe on the Move.int/comm/external_relations/iraq/intro/council200303. hukum. Memperkuat keamanan Uni Eropa.int/scadplus/leg/en/lvb/r00001. in particular through the implementation of a common foreign and security policy including the progressive framing of a common defence policy. Luxembourg. Mendefinisikan prinsip-prinsip dan garis besar kebijakan luar negeri dan keamanan bersama yang dibuat oleh Dewan Eropa. Sasaran dari CFSP seperti yang tertuang dalam Artikel J.”53 Perjanjian tersebut juga mengidentifikasikan beberapa cara yang seharusnya dilakukan negara-negara anggota agar tujuan-tujuan fundamental tersebut dapat tercapai54: 1. Mengkonsolidasikan demokrasi. 3. diakses pada tanggal 8 November 2003. 53 The Common Foreign and Security Policy: Introduction. serta penghormatan terhadap hak azasi manusia.eu. CFSP juga tertuang dalam Artikel 2 dari pandangan umum EU Treaty. http://europa.htm. 2001. 5. serta jatuhnya Yugoslavia lama memaksa para pemimpin negara-negara Eropa untuk melengkapi diri dengan sumber daya seperti CFSP. Menjaga common values dan kepentingan fundamental dan independensi Uni Eropa. diakses pada tanggal 9 September 2003. re-unifikasi Jerman. Menciptakan perdamaian dan memperkuat keamanan internasional. hlm.

directed towards the areas of the world where Europe has ‘special interests’. serta sumber daya apa saja yang perlu disediakan oleh Uni Eropa dan negara-negara anggota. Joint actions are operational actions with financial means. common positions are declaratory statements -saying something as opposed to doing something. masa berlaku. 3. the Council has adopted more than 100 joint actions. They are at the top of the hierarchy of instruments in the sense that. common actions. Mengadopsi Joint Actions dan Common Positions. Strategi umum menjadi acuan kerangka kerja bagi setiap tindakan di bawah tiga pilar Uni Eropa. Since 1993. serta memungkinkan 55 The ‘common strategy’ is one of the new foreign policy instruments introduced by the Treaty of Amsterdam. Instrumen ini secara spesifik mengatur tentang prosedur pembuatan keputusan. than than they ever were under EPC. member states are formally more committed to the Euro-level policy and.56 Istilah yang hanya terdapat di Uni Eropa ini dapat diterjemahkan sebagai instrumen yang secara legal mengikat yang diperkenalkan melalui Perjanjian Maastricht. Hingga pertengahan 2001 tercatat ada 3 strategi umum yang telah diadopsi oleh European Council di Rusia. the Council can adopt decisions. yang ditetapkan oleh General Affairs Council di CFSP. Menentukan strategi umum. 56 Generally. once the European Council has adopted a common strategy. Mediterania. Nevertheless. more constrained in national policy-making. Hal ini berarti setiap negara anggota dalam menghadapi suatu permasalahan harus bertindak sesuai posisi dan aksi tertentu. . Ukraina. yang menjamin kelangsungan konsistensi dalam hubungan eksternal Uni Eropa.43 2. when the Council adopts common positions. or common positions by means of qualified majority voting. Setiap strategi menyebutkan tujuan. Common strategies are adopted unanimously by the European Council ‘in areas where member states have major common interests’. dan proses perdamaian di Timur Tengah.55 Instrumen ini diperkenalkan melalui perjanjian Amsterdam dan mengatur keseluruhan pedoman kebijakan bagi kegiatan-kegiatan individual negara. hence.

. 218. 57 58 Knud Erik Jørgensen. Op. Setiap negara anggota memiliki hak untuk mempengaruhi setiap fase yang harus dijalani dalam pembuatan kebijakan: setting agenda. dengan dibantu Coreper. Negara-negara anggota . untuk ‘ensure that their national policies conform to the common positions’. Ibid.atau lebih tepatnya menteri luar negeri negara-negara anggota . Dikatakan tersentralisasi karena proses pembuatan keputusan dilakukan melalui Council.secara langsung terlibat dalam proses kerja di dalam CFSP. yang dipimpin oleh seorang Presiden dengan sistem rotasi. hlm. dan sebuah working group yang beranggotakan ahli dari negara-negara anggota.57 Struktur CFSP itu sendiri di satu sisi sangat tersentralisasi sementara di sisi lain terdesentralisasi.58 Pusat dari pembuat keputusan di CFSP adalah General Affairs Council (GAC). hlm. Pembuatan suatu kebijakan dipersiapkan oleh Sekretaris Jenderal Council. serta untuk ‘undertake to uphold the joint actions’. the Political Committee. 217. sedangkan desentralisasi karena pemerintahan negara-negara anggota memainkan peranan yang sangat penting dalam pembuatan kebijakan. Dengan menandatangani Maastricht Treaty. pembuatan kebijakan.44 untuk dilakukannya ‘a qualified majority voting’ dalam menangani isu tertentu. pembuatan keputusan. . setiap negara anggota secara legal terikat untuk ‘give active and unconditional support to the implementation’ dari kebijakan bersama. dan implementasi. Cit. Dari sinilah kemudian prosesnya dapat menyebar ke institusi-institusi lain di dalam struktur Uni Eropa..

diakses pada tanggal 8 November 2003. They shall assure the implementation of these policies.eu. 2.htm. European Commission. The Council and the Commission shall be responsible for ensuring such consistency. seperti layaknya negara anggota. . European Commission terkait penuh dengan perkembangan common European Security and Defense Policy (ESDP). dapat merujuk pada Council menyangkut pertanyaan yang berhubungan dengan CFSP serta dapat mengajukan proposal kepada Council. security.int/scadplus/leg/en/lvb/r00001.) the consistency of its external activities as a whole in the context of its external relations. each in accordance with its respective powers”.4. dalam Artikel 3 dari EU Treaty disebutkan bahwa: “The Union shall ensure (. Commission juga mengimplementasikan anggaran CFSP (di bawah anggaran EC) termasuk melalui proposal keuangan.59 Hal tersebut ditindak lanjuti oleh Artikel 301 EC Treaty dengan mengkombinasikan pilar pertama dan ketiga Uni Eropa yang memungkinkan Council untuk menerapkan sanksi ekonomi bagi pihak yang melanggar kesepakatan atau kebijakan Uni Eropa... Commission juga dapat meminta Presiden untuk mengadakan pertemuan khusus dan mengusulkan agar menjalankan kebijakan. economic and development policies. dan berpartisipasi serta memberikan kontribusi berdasarkan kompetensi yang digariskan melalui 59 The Common Foreign and Security Policy: Introduction. http://europa. walaupun Commission dalam kapasitasnya di dalam EC tidak memiliki hak untuk berbuat demikian.45 Untuk mencapai keharmonisan serta mencegah kontradiksi antara kegiatan Community dan kegiatan antarpemerintahan.1 Peran European Commission dalam Proses CFSP European Commission terkait penuh dengan pekerjaan yang dilakukan oleh CFSP.

2. termasuk CFSP. keamanan. seperti di bidang perdagangan. Konsultasi kebijakan eksternal ini mengacu pada common positiona dan joint actions yang implementasi politiknya ditujukan terutama kepada . dan mengadopsi strategi umum. Mereka memutuskan isu-isu hubungan eksternal. ekonomi. di dalam konteks hubungan eksternal. bantuan pembangunan. Council dan Commission bertanggung jawab untuk memastikan tindakan eksternal Uni Eropa sebagai suatu keseluruhan. European Council menetapkan prinsip-prinsip serta pedoman umum CFSP. Commission bertanggung jawab atas sejumlah kebijakan eksternal Uni Eropa. rehabilitasi dan rekonstruksi serta menerapkan aturan sanksi.  Council of Ministers Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa dan Komisaris Uni Eropa untuk Hubungan Eksternal bertemu di dalam General Council setidaknya sekali dalam sebulan.4. Commission juga memikul tanggung jawab atas kegiatan EC di bidang kemanusiaan. dan kebijakan pembangunan.2 Peran Institusi Lain dalam Proses CFSP Ada sejumlah aktor atau badan yang berbeda yang terlibat di dalam elaborasi dan implementasi CFSP:  European Council Kepala negara dan kepala pemerintahan serta presiden Commission bertemu setidaknya sekali dalam 6 bulan untuk menyusun prioritasprioritas serta memberi pedoman umum bagi kebijakan-kebijakan Uni Eropa termasuk CFSP.46 perjanjian.

Pelaksanaan dan implementasi tindakan bersama yang berkaitan dengan anggaran diawasi oleh European Commission.  European Parliament Berdasarkan Maastricht Treaty. Jabatan ini . Kepresidenan dibantu oleh Sekretariat Dewan.  The Presidency of the Council The Presidency of the Council memegang peranan vital di dalam struktur organisasi dan tindakan institusi. Namun demikian Parliament terus diberi informasi dan dimintai pendapat mengenai orientasi luas dan pilihan-pilihan luas di bidang CFSP. Ini adalah peran kunci dalam CFSP yang keputusannya diambil secara mufakat. The Presidency of the Council mengorganisir dan mengatur pertemuan serta mencari pemecahan yang dapat menyelesaikan kesulitan. khususnya sebagai kekuatan utama dalam legislatif dan proses pembuatan keputusan. menurut urutan yang tidak ditentukan. peran Parliament terhadap pilar CFSP dan juga JHA hanya sebatas konsultasi.47 Presiden yang berkuasa. dan sejak Amsterdam Treaty dibantu oleh perwakilan Sekretaris Jenderal. Dewan memegang kursi kepresidenan selama 6 bulan bergantian dengan negara anggota lainnya. Amsterdam Treaty kemudian memperkenalkan struktur-struktur serta peran-peran yang baru:  The High Representative Amsterdam treaty memperkenalkan jabatan baru seorang High Representative (HR) di common foreign and security policy.

Sementara itu struktur-struktur CFSP dalam level tinggi adalah sebagai berikut61: 60 The European Union and The World: Europe on the Move. . hlm. ia bertugas memastikan kelangsungan dan efisiensi dari politik luar negeri Uni Eropa. termasuk peringatan awal mengenai potensi krisis. Javier Solana Madariaga.48 menyatu dengan Dewan Sekretaris Jenderal. Commission mendukung seorang anggota staf policy unit. Mandatnya termasuk memonitor. A Policy Planning and Early Warning Unit menyusun pilihan-pilihan kebijakan yang mungkin terdiri dari rekomendasi-rekomendasi serta strategi-strategi bagi presentasi Council di bawah tanggung jawab Presidency. HR membantu Council dalam hal yang berhubungan dengan CFSP. Pada bulan Oktober 1999. dan apabila memungkinkan bertindak atas nama Council atas permintaan Presiden melalui pembicaraan dengan negara ketiga. persiapan dan implementasi kebijakan. menganalisis. 2001. menjadi orang pertama yang memegang jabatan tersebut untuk periode lima tahun. serta membantu pembangunan dan event-event internasional. 34.  A Policy Planning and Early warning Unit A Policy Planning and Early Warning Unit dibentuk di dalam Sekretariat Dewan.60 Bersama-sama dengan Commission dan negara anggota. Luxembourg. HR juga dibantu oleh Sekretariat Dewan. Office for Official Publications of the European Communities. secara khusus melalui kontribusi perumusan. HR membantu Presiden dalam perwakilan eksternal Uni Eropa dan membantu Council dalam implementasi kebijakan CFSP. mantan Menteri Luar Negeri Spanyol dan Sekretaris Jenderal NATO.

termasuk ESDP dan menangani perkembangan isu harian.htm. di dalam sebuah krisis.int/comm/external_relations/cfsp/intro/index. ditempatkan dalam kerangka kerja Perwakilan Tetap Negaranegara Anggota. Lebih jauh lagi. PSC terdiri dari wakil-wakil negara pada tingkat duta besar. PSC mempersiapkan rekomendasi-rekomendasi untuk fungsi mendatang CFSP. terdapat kemungkinan untuk menarik PSC ke level Political Director. . termasuk yang berhubungan dengan General Council dan CFSP. PSC adalah Dewan yang menangani situasi krisis dan memeriksa semua opsi yang dapat dipertimbangkan sebagai respon Uni Eropa di dalam kerangka kerja institusional tunggal dan tanpa 61 http://europa.  Political and Security Committee (PSC) PSC adalah suatu elemen penting yang menghubungkan antara CFSP dengan rencana penciptaan ESDP. PSC memiliki peran sentral dalam pemberian arti dan tindak lanjut Uni Eropa terhadap suatu krisis. Duta-duta besar negara-negara anggota Uni Eropa dan Komisi Deputi Sekretaris Jenderal bertemu setidaknya seminggu sekali untuk mempersiapkan pertemuan-pertemuan dan keputusan-keputusan Council.49  Committee of Permanent Representative Dikenal juga sebagai ‘Coreper’.eu. termasuk juga persiapan aspek-aspek CFSP dalam General Council. diakses pada tanggal 9 September 2003. Commission terkait penuh dengan PSC melalui perwakilannya. Dengan menunda ratifikasi Perjanjian Nice yang dengan jelas menyatukan fungsi komite politik dan PSC.

. obatobatan terlarang. sekretariat. Afrika. dan Commission. Amerika Latin) dan batas fungsional (isu-isu PBB. terorisme) untuk mengelaborasi dokumen kebijakan dan pilihan-pilihan yang dapat dipilih sebagai bahan pertimbangan CFSP. Relex Councellors mempersiapkan pekerjaan Coreper dalam joint actions dan memastikan konsistensi antar pilar.50 prasangka terhadap proses pengambilan keputusan serta implementasi prosedur masing-masing pilar.  CFSP Working Group Kelompok kerja ini terdiri atas para ahli dari negara-negara anggota Uni Eropa dan pertemuan Commission sepanjang batas geografis (misalnya Asia.  Jaringan European Correspondents di semua negara anggota dan Commission mengkoordinasikan kegiatan sehari-hari CFSP dan mempersiapkan pertemuan PSC dan poin-poin CFSP dari General Council dan European Council. Mereka menjalin hubungan perhari terhadap isu-isu CFSP via jaringan telex Coreu (Correspondence européenne) yang memperbolehkan pertukaran pesan antara negara-negara anggota. legal. European Commission adalah anggota aktif grup ini.  Grup Relex Councellors memeriksa aspek-aspek institusional. dan finansial dari proposal yang dibuat di dalam CFSP.

PERANCIS.51 BAB 3 GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN LUAR NEGERI JERMAN. DAN INGGRIS 3.1 Jerman Di awal 90-an seiring berakhirnya Perang dingin dan terciptanya reunifikasi di antara dua Jerman (Barat dan Timur). hubungan antara Jerman dan Perancis telah mengubah pola yang sebelumnya renggang menjadi kedekatan .

Christopher Hill (ed.64 3.. Hal tersebut sekaligus menunjukkan penerimaan kembali peran Jerman dalam perpolitikan dunia di mana Jerman saat ini memainkan posisi yang secara strategis benar-benar baru.pdf. No. Derby.62 Pasca reunifikasi juga ditandai normalisasi dalam politik luar negeri Jerman yang dapat dilihat dari munculnya keinginan dan itikad dari para politisi generasi baru Jerman yang lebih terbuka kepada dunia luar termasuk dalam menyuarakan kepentingan nasionalnya. . diakses pada tanggal 19 Desember 2003. 2.).52 Franco-German yang lebih bersahabat. Vol.psa. http://www. hlm. 1996.1 Kepentingan Nasional dan Strategi Politik Luar Negeri Jerman Jerman saat ini berada pada tahap di mana keinginan untuk mempertahankan partner internasionalnya dengan menjadi ‘a good European’ serta untuk melindungi eksistensinya dengan bernaung di bawah kerangka Eropa sebagai pencegah munculnya gerakan ultra-nasionalis pasca reunifikasi. hlm. Blackwell Publishers Ltd.ac. 6-7. Routledge. hlm.uk/cps/2003/christian%20schweiger. Menyusul diterimanya tawaran untuk membantu misi militer penjaga perdamaian oleh Federal Constitution Court (lembaga legislatif di Jerman). 63 Christian Schweiger. 191. Germany’s Role in the CFSP: ‘Normalitat’ or ‘Sonderweg’? dalam The Actors in Europe’s Foreign Policy. 38. 40. 64 Reinhardt Rummel. The Impact of the Iraq Crisis on British-German Relations. dalam Journal of Common Market Studies. Juni 2000. Jerman merasa 62 Stanley Hoffman.. untuk pertama kalinya Presiden Perancis saat itu François Mitterand mengundang 294th Panzergrenadier-batallion dari Jerman untuk turut melakukan konvoy di ChampsÉlysées pada perayaan hari Bastilles tanggal 14 Juli 1994.1. 2003. Oxford.63 Keterbukaan Jerman juga dapat dilihat dari tawaran ‘unique relationship’ antara Jerman dengan Amerika Serikat yang diajukan oleh mantan Presiden AS Bill Clinton pada tanggal 1 Juli 1994. Towards a Common European Foreign and Security Policy. terutama jika melihat kuatnya kepentingan Jerman di kawasan timur Eropa. London.

berdasarkan aktivitas European Parliament serta Pemerintahan 65 66 Stanley Hoffman. Cit. Jerman kini memfokuskan kepentingannya pada promosi kerjasama multilateral dan resolusi konflik. Pada pidatonya Fischer menyampaikan pandangan federalisnya terhadap masa depan Uni Eropa.67 Jika melihat pada posisi geopolitik Jerman. 68 Reinhardt Rummel. 6. 193-4. Menteri Luar Negeri Jerman Joschka Fischer menyampaikan semacam proposal yang mencerminkan kepentingan Jerman akan reformasi institusional di Eropa. Op.65 Sejak kembalinya politik luar negeri Jerman ke jalur yang benar pasca reunifikasi. Cit. kedudukan Jerman menjadi sejajar dengan partner-partner internasionalnya di level Eropa. yang diharapkan akan menyatukan kembali benua Eropa yang sempat terpecah akibat konfrontasi antar ideologi semasa perang dingin.. hlm. 6-7. maka secara otomatis Jerman menjadi pemain penting dalam proses enlargement Uni Eropa di kawasan Eropa Timur..68 Dalam suatu pidato di Humbolt University Berlin bulan Mei 2000. Timur Tengah. tidaklah mengherankan apabila Jerman lebih memiliki kepentingan di kawasan Eropa Tengah dan Timur jika dibandingkan dengan kawasan Afrika Utara. Op. maupun kawasan-kawasan lainnya di dunia. hlm.66 Karena Jerman terletak tepat di jantung benua Eropa. hlm. 52. . Christian Schweiger. 67 Ibid.53 bahwa saat ini sangatlah penting untuk menggalang partner internasional yang dapat saling mengerti dan berbagi kepentingan dengan Jerman. Cit. hlm.. Op. Negara-negara Eropa serta Amerika Serikat berharap Jerman akan mengemban tanggung jawab dalam hal menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan di benua Eropa.

seperti masalah-masalah overpopulasi. sampai pencegahan terjadinya benturan antar kebudayaan. transformasi Eropa Timur. hlm. Menurut Fischer. di mana prioritas utama yaitu melaksanakan aktivitas melalui kerangka Uni Eropa.2 Jerman dan Integrasi Uni Eropa Setelah berakhirnya perang dingin dan seiring perubahan pola kebijakan luar negeri. Strategi diplomasi Jerman ini 69 Ibid. Jerman akan dengan mudah bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil atau dengan partner lain dari luar Uni Eropa. 8-9. . kontrol senjata pemusnah massal. Jerman tidak lagi memiliki kepentingan dalam permainan power politics di dunia internasional. polusi. Namun jika ternyata dalam jangka waktu tertentu mengalami kebuntuan.54 Eropa yang mencerminkan kekuaaan legislatif dan eksekutif dalam suatu negara federal. Jerman merasa bahwa sudah saatnya untuk lepas dari pengaruh Amerika Serikat. Ia juga mengusulkan agar dibentuk suatu perjanjian konstitusional sebagai basis kerangka kerja Uni Eropa secara federal. manajemen konflik global. Jerman sat ini lebih memilih untuk memainkan strategi ganda.69 Kepentingan utama Jerman saat ini adalah sejauh mana kesiapan mereka dan negara-negara partner Eropa untuk menerima Uni Eropa yang lebih besar serta mengembangkan kesatuan Eropa yang lebih efisien. Eropa yang federal hanya akan sukses terbentuk jika didasari atas pembagian kedaulatan yang tegas antara Eropa dan negara-bangsa.. 3.1. yang akan mempertegas pemisahan kekuasaan antara level Eropa dan level nasional. namun lebih kepada bagaimana harus menyikapi tantangan-tantangan yang lebih besar dan beragam dalam setiap agenda internasional.

. hlm. Mantan Menlu Jerman Klaus Kinkel pada suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa aktivitas unilateral sama sekali tidak memiliki masa depan. Gerhard Schröder dalam pidato pada pengangkatan dirinya sebagai Kanselir bulan November 1998 mengutarakan prioritas pemerintahannya untuk melakukan reformasi di tubuh Uni Eropa yang diharapkan akan meningkatkan kemampuan politis Uni Eropa dalam mengambil tindakan serta memperkuat legitimasi demokratis Uni Eropa. Schröder mengatakan bahwa Jerman menginginkan Eropa yang federal 70 Christian Schweiger.. 8-9. Op. Ia juga menambahkan Jerman tidak akan menggunakan konsep ‘independensi’ selama menyangkut masalah-masalah kebijakan luar negeri Jerman.70 Jerman melihat gagasan Uni Eropa yang federal merupakan suatu struktur yang efektif untuk menyatukan kepentingankepentingan yang sangat beragam dari berbagai level yang berbeda dalam suatu sistem politik. Cit. tapi lebih sebagai usaha untuk mengorganisir kebutuhan akan kerjasama di berbagai bidang dengan lebih efektif. Bagi Jerman konsep Eropa federal tidak dilihat sebagai usaha untuk menciptakan Eropa yang supranasional. Dalam pernyataan resminya pada EU Summit di Laeken bulan Desember 2001. Pemikiran Ruhe ini didasari atas pemikirannya yang menyebutkan bahwa tidak ada satupun negara di dalam Uni Eropa yang dapat berjalan sendiri-sendiri. Pemikiran eksklusif tentang balance of power hanya akan membawa politik global kembali ke masa lalu. Begitu pula dengan yang dikatakan mantan Menteri Pertahanan Volker Ruhe yang menambahkan bahwa Jerman harus menghindari strategi politik dan partner yang tidak bisa mengikuti perkembangan jaman.55 kemudian dikenal dengan istilah ‘changing partners in the diplomatic dance’.

72 Christian Schweiger. sebagai negara terbesar di antara 15 negara pastinya memiliki pengaruh di banyak sektor dari keterlibatan CFSP dalam hubungan 71 Menurut Encarta Dictionary Tools.. bukan sekedar pandangan atau pengaruh satu negara anggota semata. Cit.56 didasari atas prinsip-prinsip subsidiarity71. Oleh sebab itu pada tahun 1993 para diplomat Jerman memperkenalkan ide untuk menciptakan institusi CFSP yang lebih kuat dan menguntungkan bagi semua pihak. . tapi ingin untuk berkompromi dengan negara-negara yang memiliki tradisi konstitusi yang lebih tersentralisasi. 73 Reinhardt Rummel. subsidiarity diartikan sebagai ‘prinsip pembagian kekuasaan politik kepada unit-unit terkecil dari suatu sistem pemerintahan’. 11-12. Jerman juga mengusulkan suatu cara untuk memisahkan antara politik luar negeri nasional dengan politik luar negeri Uni Eropa melalui rancangan perjanjian konstitusional tertulis yang akan membuat Uni Eropa lebih transparan dalam menentukan pemisahan kekuasaan yang sangat jelas antara institusi-institusi di dalam Uni Eropa dengan level nasional dari negara-negara anggota. 56. maupun European Council menyangkut pencegahan konflik dan penanganan manajemen krisis. seperti Inggris. hlm. Op.72 Pemerintah Jerman tidak mengharapkan terjadinya transfer sistem politik ke Uni Eropa.73 CFSP Uni Eropa sangat bergantung pada pandangan umum dan kebijakankebijakan yang sangat luas. Op. Cit. WEU. NATO. CSCE.. Jerman. termasuk pemisahan kekuasaan yang jelas antara Uni Eropa dan tingkat nasional. suatu konsep yang menggabungkan sejumlah kriteria untuk kerjasama dan koordinasi yang lebih baik daripada PBB. hlm.

teknik dan keuangan. .57 internasional. Keterlibatan mereka dalam aktivitas militer lebih banyak dikonsentrasikan kepada arms control daripada armed intervention. mediasi konflik. serta ketertarikan Jerman terhadap permasalahan di kawasan Eropa Tengah dan Timur dapat kita lihat bahwa Jerman mempersepsikan bahwa ancaman yang mungkin terjadi dalam arena global saat ini adalah ancaman terhadap proses integrasi Uni Eropa. hlm. Saat ini di banyak bidang Jerman lebih memilih untuk berperan sebagai kontributor yang loyal dan pendukung daripada sebagai pemain di garis depan. Oleh sebab itu di 74 Ibid. kepentingan..1. dan nilai-nilai Jerman ternyata sama sekali tidak mendominasi agenda eksternal Uni Eropa. ambisi. Jerman juga kini lebih memilih untuk aktif dalam area-area yang secara tradisi membutuhkan partisipasi internasional seperti bantuan kemanusiaan. Namun di luar itu.3 Persepsi Ancaman dan Kebijakan Keamanan Nasional Jerman Berdasarkan posisi politik Jerman sebagai integrasionis. 54. maupun bantuan politik. Implementasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai Hak Azasi Manusia merupakan salah satu bidang di mana Jerman berusaha untuk memperkuat profil internasionalnya. Jerman kini lebih banyak terlibat dalam isu-isu non-militer. 3. pemerintah Jerman juga berpendapat bahwa dewasa ini tidak ada satupun institusi keamanan yang sanggup beroperasi sendirian dan dianggap mampu untuk menanggulangi konflik dengan kekerasan. Jerman beranggapan bahwa dalam menanggulangi ancaman-ancaman saat ini dibutuhkan adanya kerjasama multilateral antara negara-negara dan institusiinstitusi keamanan seperti NATO dan Dewan Keamanan PBB.74 Dalam pandangan yang lebih jauh.

resdal. Dalam menyikapi masalah-masalah konflik dan manajemen penanganan krisis terlihat bahwa Jerman menunjukkan semacam penolakan untuk terlibat pada kasus-kasus yang melibatkan kekuatan bersenjata..76 Pasukan bersenjata Jerman akan tetap memainkan peran dalam struktur militer Aliansi Atlantik Utara yang terintegrasi serta telah dilakukan reformasi untuk menjamin terciptanya keamanan dan stabilitas di Eropa. http://www. 53.75 Dalam Buku Putih Pertahanan Jerman yang dikeluarkan tahun 1994. Bersama dengan Perancis 75 76 Ibid. Kata Pengantar oleh Kanselir Jerman Dr. namun lebih kepada misi penjaga perdamaian multilateral. dikatakan bahwa menurut Jerman cara yang peling efektif dalam menciptakan stabilitas kawasan adalah melalui dukungan terhadap penegakan demokrasi di kawasan Eropa Tengah dan Timur serta menciptakan kondisi bagi ekonomi pasar yang kompetitif. integrasi dan kerjasama merupakan batu pijakan demi terciptanya suatu konsep stabilitas Eropa.htm. Helmut Kohl dalam Buku Putih Pertahanan Jerman 1994. hlm. . diakses pada tanggal 20 Maret 2004. Konsekwensinya Jerman akan menolak untuk menerjunkan angkatan bersenjatanya kecuali untuk membantu pertahanan kawasan yang termasuk dalam wewenang NATO. Hal ini merupakan lanhkah awal yang harus dilakukan negaranegara di kawasan tersebut agar dapat memperdekat jarak dengan Eropa Barat. Namun demikian pada tanggal 1 Juli 1994 Federal Constitutional Court menegaskan bahwa Jerman sebenarnya tidak keberatan untuk mengirimkan pasukannya menuju medan pertempuran selama hal tersebut mendapat mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.org/Archivo/alem-fword1. Menurut Jerman dalam Buku Putih Pertahanannya.58 dalam German Basic Law tercantum bahwa Jerman tidak menghendaki adanya suatu intervensi militer sepihak.

79 Saat ini ketika Perancis 77 Kata Pengantar oleh Menteri Pertahanan Jerman Volker Ruhe dalam Buku Putih Pertahanan Jerman 1994. http://www. diakses pada tanggal 23 . namun secara luas dipandang sebagai suatu konsep yang konkret tentang bagaimana menciptakan keharmonisan dan perdamaian di antara sesama negara Eropa serta menjamin kesinambungan peran Perancis dalam politik global. 79 Lukas Pachta.org/en/Analyses/France_Lukas_Pachta.resdal. hlm. di mana pemerintahan pusat berperan sebagai pelindung nilai-nilai demokrasi. Departemen Pertahanan Jerman berupaya dalam membangun suatu sistem pertahanan Eropa.europeum. Dengan tradisi demokrasi yang mengakar dengan kuat.org/Archivo/alem-fword2. Defending Democracy: A Global Survey of Foreign Policy Trend 1992-2002. http://www. http://www. Democracy Coalition Project. Negeri ini merupakan tempat kelahiran konsep ‘liberté.pdf. Perancis berhasil memposisikan diri dalam memberikan dukungan dan penyebaran demokrasi di seluruh dunia.pdf.77 3. diplomasi yang sangat berpengaruh dan dinamis. 78 France. serta perekonomian yang sangat sehat. 1.htm. Bagi Perancis modern. egalité.org/pdf/France.78 Integrasi Eropa menjadi dasar implementasi politik luar negeri tradisional Perancis.demcoalition. France: Driving Force of the EU Common Foreign and Security Policy?. Berakhirnya perang dingin secara tidak langsung telah menurunkan derajat kepentingan Perancis dalam perpolitikan dunia. diakses pada tanggal 15 Maret 2004. prinsip pemerintahan yang demokratis lebih dari sekedar pemikiran abstrak.2 Perancis Perancis dikenal sebagai negara yang memiliki catatan bagus dalam dukungannya terhadap segala upaya penegakkan nilai-nilai demokrasi di banyak negara. dan fraternité’. 67. diakses pada tanggal 20 Maret 2004.59 dan negara Eropa lainnya. hlm.

dalam segala macam bentuk.1 Kepentingan Nasional. Perancis juga merupakan aktor yang paling aktif dalam perpolitikan dan pembuatan kebijakan UE. 3. Tujuan. kedaulatan suatu negara. hlm. Perancis telah melihat proses integrasi Eropa sebagai sarana penting pencapaian kepentingan nasional dan tujuan politik luar negeri. 35. yang kedua yaitu kebijakan status-quo di Eropa atau balance of power. serta yang terakhir adalah upaya pencapaian status kekuatan dunia. serta keinginan Perancis untuk menjadi pelindung bagi sejumlah negara kecil di Eropa dan berperan sebagai penengah demi mempertahankan posisinya di Eropa.). sejumlah tujuan politik luar negeri telah mewarnai hubungan internasional Perancis. Roy C. hukum Desember 2003. . terutama yang menyangkut aspek politik dari integrasi. 1995. ketiga. Sejak tahun 1950-an. Eropa memainkan peranan penting dalam usaha Perancis dalam mengembalikan status super-power serta meraih kembali independensi yang sempat terlepas. Macridis.60 merasa kesulitan untuk mendapatkan otonomi politik luar negeri dan keamanan. London. Prinsip serta Prioritas Politik Luar Negeri Perancis Semenjak abad ke-18.80 Perancis telah sejak lama menjadi motor dalam integrasi UE. 80 Roy C. dalam Foreign Policy in World Politics. Prentice Hall. Macridis (ed. Yang pertama adalah kebijakan kedaulatan wilayah di Eropa. French Foreign Policy: The Quest for Rank. Konsep kebijakan status-quo di Eropa menurut Perancis berarti tidak boleh ada satu kekuatan nasional yang mendominasi kawasan Eropa. di mana Perancis memfokuskan diri pada masalah-masalah penghormatan terhadap Hak Azasi Manusia. prinsip-prinsip demokrasi. kebijakan untuk mempertahankan imperium Perancis.2. terutama dalam menghadapi kekuatan AS.

Sejak tahun 1945. Prinsip-prinsip independensi ini terus dipegang teguh oleh Perancis selama beberapa dekade terakhir dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyimpangan jalur. . Mitterand dan Chirac secara konsisten bekerja 81 82 Lukas Pachta. Pompidou. demokrasi dan pembangunan komunitas internasional.fr/france/gb/politiq/01.82 Hingga saat ini de Gaulle. Op. Cit. terutama di kawasan Timur Tengah dan Asia.diplomatie. Giscard d’Estaing. Semangat yang sama juga mendasari sejumlah inisiatif diplomasi Perancis yang dapat dikatakan spektakuler. Ambisi serta prinsip Perancis tersebut terus berlanjut setelah era perang dingin berakhir. http://www.81 Perancis merupakan negara yang menghargai nilai-nilai kemerdekaan dengan sangat tinggi. hlm. yaitu mencapai tingkat integrasi Eropa yang diinginkan demi memperkuat pemerintahan yang demokratis. konstruksi Eropa menjadi prioritas politik luar negeri Perancis. dan berhasil membentuk sejumlah tujuan utama politik luar negeri Perancis. pencegahan konflik dan perang.france.html. menjaga stabilitas dan kemakmuran di benua Eropa.61 internasional. mereka tidak melupakan segala upaya dalam menggalang rasa solidaritas antar negara. Meskipun Perancis sangat menjunjung nilai-nilai independensi. 3-6. serta menciptakan kemajuan di bidang perdamaian. serta penggalangan kerjasama antar negara dan bangsa. yang menunjukkan bahwa Perancis benar-benar memiliki kontrol dalam menganalisis situasi dan menentukan pilihan-pilihan politik luar negeri. suatu prinsip yang mengilhami politik luar negeri Jenderal besar Perancis Charles de Gaulle selama periode 1960-an.. diakses pada tanggal 24 Maret 2004.

Keunikan serta perasaan superioritas kebudayaan membuat bangsa Perancis merasa harus diistimewakan dari kebudayaan lain. hak untuk menentukan nasib sendiri. yang telah berperan dalam penyebaran nilai-nilai peradaban dan kemerdekaan.62 untuk menciptakan struktur Eropa yang kokoh dan mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi dan forum politik yang dihormati. serta mencegah munculnya kekuatan baru yang mendominasi kawasan Timur Tengah. Op. 52. Afrika. Dalam pembukaan salah satu pidatonya di tahun 1986. hlm.. hlm. di mana ia berhasil menggariskan kepentingan utama Perancis yaitu terciptanya keamanan di Eropa.. para pemimpin Perancis saat ni memandang Perancis sebagai sebuah negara yang sangat istimewa. keseimbangan antara beberapa kekuatan militer besar. Macridis. . baik secara politis maupun kebudayaan. serta beberapa kawasan di dunia di mana bendera Perancis berkibar. Begitu besar pengaruh Charles de Gaulle dalam kehidupan politik Perancis. Cit. terutama kebudayaan yang baru muncul seperti Amerika. François Mitterand. Ibid. menyatakan bahwa fokus politik luar negeri meliputi sejumlah pemikiran yang sederhana: kemerdekaan nasional. pembangunan di negara-negara dunia ketiga. konstruksi Eropa. Prinsip tersebut sekaligus menjadi dasar kepentingan Perancis untuk mempertahankan independensinya di 83 84 Roy C. 3.84 Oleh karena itu Perancis kini memainkan peran sebagai sebuah negeri yang sedang menjalankan misi melindungi nilai-nilai Perancis dengan mempromosikan UE sebagai satu-satunya organisasi yang memiliki kapabilitas dalam menghadapi Amerikanisasi. Presiden Perancis saat itu.83 Seperti halnya de Gaulle.

hlm.87 Sebagai salah satu negara tertua di Eropa. 1996. sementara di saat yang bersamaan juga berusaha untuk memajukan solidaritas regional dan internasional. hlm. yaitu bahwa Perancis tidaklah memiliki politik luar negeri selain translasi politik dalam negeri kepada lingkungan eksternal. serta Perancis akan memberikan dukungannya terhadap komunitas Eropa sehingga dapat menjadi perpanjangan tangan kebijakan-kebijakan nasional Perancis. France: The Impact of François Mitterand. hlm. Christopher Hill (ed. Perancis mengklaim dirinya sebagai negara yang berpengaruh dalam hubungan internasional. Integrasi Eropa juga diharap memberi pilihan-pilihan bagi politik luar negeri Perancis yang didukung oleh negara tetangga Eropa.. serta integrasi prioritas dan kebutuhan internal ke dalam politik internasional. .85 Filosofi ini menunjukkan bahwa Perancis berharap dapat memenuhi kepentingan nasionalnya melalui integrasi politik. 87 Ibid. 21. 20.86 Di samping segala kelebihannya. Oleh karena itulah Perancis berpendapat bahwa negara-negara Eropa harus saling membantu terutama ketika salah satu dari mereka sedang menghadapi suatu permasalahan. 86 Ibid. dalam The Actors in Europe’s Foreign Policy. Perancis menyadari bahwa UE masih memiliki beberapa kekurangan yang harus dibenahi. 23. Hal ini menunjukkan komitmen Perancis dalam upayanya memperkuat komunitas Eropa yang juga didasari oleh filosofi umum mantan Menteri Luar Negeri Perancis Claude Cheysson yang menjadi basis bagi pola baru kebijakan luar negeri Perancis. dalam hal ini melalui UE..). pencetus Universal Declaration of Human Rights. Perancis secara aktif mengembangkan kedekatannya dengan 85 Françoise de la Serre. serta anggota tetap Dewan Keamanan PBB.63 dunia internasional. Routledge. London.

terutama pembangunan di negara sedang berkembang. dan Asia serta mengumandangkan kampanye bagi pembangunan hubungan Utara-Selatan. Defending Democracy: A Global Survey of Foreign Policy Trend 1992-2002.88 Perancis sangat aktif dalam hal pengembangan nilai-nilai demokrasi melalui kombinasi program-program bilateral serta keikutsertaan mereka dalam berbagai organisasi internasional.89 88 89 http://www. terutama yang terjadi di kawasan Balkan. http://www.fr/france/gb/politiq/01. 3. diakses pada tanggal 24 Maret 2004. Egalité. hlm. Perancis merupakan negara terbesar keempat dalam hal kontribusinya terhadap badan utama dan pendukung loyal setiap operasi penjaga perdamaian PBB. Keikutsertaan Perancis dalam sejumlah organisasi internasional tersebut tidak terlepas dari prioritas de Gaulle yaitu mengembalikan posisi penting Perancis dalam politik internasional.org/pdf/France. Perancis telah menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB sejak pertama kali didirikan.html. Perancis sekaligus bagian tak terpisahkan dari NATO. Perancis juga membantu terselenggaranya pertemuan tahunan rutin kelompok G-7 serta sukses menduduki posisi-posisi penting dalam sejumlah organisasi-organisasi internasional penting di dunia. oleh karenanya Perancis memiliki posisi yang sangat kuat dalam menentukan prioritasprioritas serta program-program PBB. Fraternité’. serta sekretariat European Council. Termasuk di dalamnya IMF. Aktivitas Perancis yang sepenuhnya mendukung demokrasi dan perdamaian di seluruh dunia membuktikan komitmen pada konsep revolusi 1789 ‘Liberté.demcoalition. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). diakses pada .france. European Bank for Reconstruction and Development (EBRD). Timur Tengah. terlibat dalam seluruh operasi militer.64 kawasan Afrika.diplomatie. France.pdf. Democracy Coalition Project.

hubungan tanggal 15 Maret 2004. pertemuan antar menteri luar negeri tiap tiga bulan sekali. Perancis juga terus memperkuat kerjasama FrancoGerman serta pengembangan ESDP sebagai pondasi bagi setiap usaha memajukan demokrasi dan keamanan di Eropa. hlm.90 3. Usaha untuk mendekatkan kedua negara pasca PD II dimulai saat ditandatanganinya Élysée Treaty tanggal 23 Januari 1963.65 Politik luar negeri Perancis sejak tahun 1992 dapat dikarakteristikkan sebagai politik luar negeri yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan dengan didasari kepentingan nasionalnya. Seperti diutarakan oleh Jenderal de Gaulle dan Kanselir Adenauer.2 Perancis dan Integrasi Uni Eropa Perancis dan Jerman memainkan peranan penting dalam setiap tahap integrasi Eropa. Perjanjian tersebut memungkinkan terselenggaranya pertemuan Franco-German dua kali dalam setahun. dan juga youth affairs. tanpa keluar dari jalur perekonomian dan strategi tradisional. Eropa tidak akan pernah dapat terwujud tanpa rekonsiliasi antara Perancis dan Jerman. . serta pertemuan rutin membahas masalah-masalah pertahanan. pendidikan. yang sering dipandang sebagai usaha untuk menandingi hegemoni AS.. 1-2. 90 Ibid. Secara umum Perancis terus berupaya untuk memperkuat perekonomian global dan memperbesar pengaruh politik UE serta perannya dalam membangun pertahanan Eropa. Empat dekade sejak dimulainya ikatan Franco-German.2.

France.91 Namun demikian Perancis tidak terlalu sependapat dengan usulan Jerman akan pembentukan federasi Eropa. Kehadiran UE menjadi sangat berguna bagi Perancis ketika pengaruh Perancis mulai melemah dan meningkatnya hegemoni AS.92 Reaksi Perancis tersebut menguak kontradiksi lama dalam kebijakan Eropa Perancis. Pasca perang dingin ditandai dengan hasrat Perancis untuk kembali menjadi 91 http://www. Brussels. VII. diakses pada tanggal 24 Maret 2004. 3.html. serta berguna sebagai pelengkap bagi segenap usaha Perancis pada level nasional.france.93 Pengaruh de Gaulle sangat dirasakan ketika Perancis selalu berupaya untuk meningkatkan otonomi Eropa lepas dari bayang-bayang AS. 2. yaitu di satu sisi Perancis menginginkan Eropa yang kuat. hlm.uk/research/flynn2. Di satu sisi Jacques Chirac mendukung usulan pemikiran dibentuknya suatu konstitusi UE dalam pidatonya di German Bundestag (Dewan Federal Jerman) pada bulan Juni 2000.org. The EU Policy Network.fr/france/gb/politiq/03_2. 93 Kirsten Flynn. Germany and the UK in the Convention: Common Interests or Pulling in Different Directions?.66 unik kedua negara telah menghasilkan sejumlah kerjasama yang sukses dalam harmonisasi isu-isu yang terjadi di benua Eropa. 92 Kirsty Hughes. http://www. namun di sisi yang lain Eropa juga dilihat sebagai sarana untuk mengembangkan segenap ambisi nasional mereka.. EPIN Working Paper no. serta ketika kerjasama ekonomi dan investasi tidak bisa hanya dilakukan oleh kerjasama bilateral semata. diakses pada tanggal 24 Maret 2004. namun ia tidak sepenuhnya setuju atas prospek federasi Eropa. et al.pdf. Perancis merupakan negara yang melakukan aktivitas-aktivitas internasional UE sebagai kendaraan politik demi mencapai tujuan-tujuan yang tak dapat dicapai sendirian. hlm.eupolicynetwork. . European Security: French and UK Perspectives. Juli 2003.diplomatie.

fr/france/gb/politiq/08.html. 7. 67-82. No. hlm.france. Cit. yaitu tentang konsep dari keamanan. diakses pada tanggal 24 Maret 96 Lisbeth Aggestam. .diplomatie. ARENA report.96 Pada tahun tahun 1996. Perancis secara konsisten mengadaptasi perubahan-perubahan global terhadap kebijakan pertahanan dan disarmament. Op..67 negara yang sangat berpengaruh. dalam Redefining Security?: The Role of the European Union in European Security Structures.3 Persepsi Ancaman dan Kebijakan Keamanan Nasional Perancis Dilihat dari sudut pandang kesejarahan. 192. serta persepsi peranan Perancis dalam sistem keamanan Eropa. posisi geografi. kemampuan ekonomi dan rasa tanggung jawab internasional. Helene Sjursen. pendekatan kerjasama keamanan secara institusional. Publikasi buku putih pertahanan pemerintahan Perancis di tahun 1994.2. hlm. Europe Puissance: French Influence and European Independence. http://www.95 Perubahan-perubahan tersebut meliputi tiga dimensi. Panduan baru ini menegaskan prioritas akan persenjataan nuklir serta menetapkan empat tujuan kebijakan utama. reformasi angkatan bersenjata pada tahun 1996 serta ditetapkannya hukum yang mengatur program militer sejak tahun 1997 memungkinkan Perancis untuk melakukan perubahan tujuan-tujuan nasional mereka serta sarana untuk mencapainya sesuai dengan keadaan yang ada. 2000. Di samping tetap menjaga komitmennya akan prinsip independensi nasional serta kebutuhan untuk mempertahankan kepentingan nasional di dunia internasional dan nilai-nilai demokrasinya. yang menurut Perancis hanya dapat diperoleh melalui aksi kolektif terutama dengan sesama negara-negara Eropa.94 3. Perancis selalu menunjukkan ketertarikan atas segala kebijakan pertahanan dan keamanan. yaitu pengembangan angkatan 94 95 Stanley Hoffman. pemerintahan Chirac kembali mengeluarkan buku putih pertahanan.

Anand Menon (ed. Terakhir. termasuk menciptakan identitas pertahanan Eropa. 98 Saat ini kebijakan pertahanan Perancis terfokus pada tiga tujuan yang spesifik. Perancis sepenuhnya mendukung proses 97 European Diversification and Defense Market Guide. Pertama.html.html. 1997. serta mengurangi anggaran produksi militer hingga 30 persen dalam jangka waktu enam tahun.defense. terus memodernisasi peralatan dan perlengkapan militer. diakses pada tanggal 7 April 2004.). di mana kepentingan-kepentingan strategis Perancis difokuskan pada penjagaan perdamaian di dalam Eropa. mempertkuat struktur militer dengan basis Uni Eropa dan mengembangkan basis industri militer.fr/def_natio/anglais/why. implementasi kebijakan pertahanan yang komprehensif yang tidak dibatasi oleh ruang lingkup militer dan strategis semata. di wilayah yang berdekatan seperti Timur Tengah dan Mediterania. Perancis menjadi pendukung vokal terciptanya proses perdamaian Arab-Israel. 99 French Ministry of Defense. 1997. http://www. London. pengembangan Eropa. dalam The European Union and National Defence Policy. 23-48. Jolyon Howorth.org/iddma-guides-europe. http://www. pertahanan kepentingan-kepentingan strategis dan vital dari segala kemungkinan ancaman.bmpcoe. Peancis sangat mendukung berdirinya negara Palestina dan penarikan mundur Israel dari daerah yang didudukinya.doc-bxa. 98 Jolyon Howorth.gouv. Menyadari arti pentingnya perjanjian perdamaian yang komprehensif. hlm.97 Terpilihnya Chirac sekaligus menandai terjadinya sejumlah perubahan kebijakan keamanan dengan keluarnya hukum program militer yang baru untuk periode 1997-2000. Routledge.99 Di kawasan Timur Tengah. La Defense Nationale. menjamin kestabilan internasional. namun mencakup seluruh aktivitas nasional. serta daerah yang dapat memberikan keuntungan bagi aktivitas ekonomi Perancis. Kedua. .68 bersenjata Perancis yang profesional. France. U.S Department of Commerce. terutama saat konferensi Madrid tahun 1991. diakses pada tanggal 7 April 2004.

diplomatie. diakses pada tanggal 22 Maret 2004.69 perdamamain dengan terlibat dalam proses-proses perdamaian multilateral menyangkut kawasan tersebut. Di masa 1990-an terjadi perubahan konsep keamanan di mana multilateralisme menjadi elemen penting pendekatan keamanan nasional Perancis. Inggris. 1994. Cit.carlisle.3 Inggris 100 France.. 104 http://www. hlm. 3-4. and NATO. France.demcoalition.html. 2. Perancis secara konsep mengganti istilah ‘defence’ (pertahanan) dengan ‘security’ (keamanan) dengan alasan lebih dapat menjamin terciptanya stabilitas.fr/france/gb/politiq/08. 102 Kirsten Flynn.103 Sebuah transformasi yang radikal telah tercipta dalam kebijakan pertahanan dan keamanan Perancis. Defending Democracy: A Global Survey of Foreign Policy Trend 1992-2002.pdf.mil/ssi/pubs/1994/nato/nato. 101 Peter Schmidt.army.arena.pdf.101 Sejak tahun 1990-an.102 Sebagai salah satu dari lima kekuatan nuklir di dunia – bersama AS. Dan pencapaian tujuan keamanan tersebut paling baik jika difasilitasi secara kolektif. Rusia dan Cina – Perancis menjaga kesinambungan kekuatannya dengan mendukung pelarangan ujicoba nuklir serta berkomitmen dalam arms control dan disarmament.no/publications/wp01_4. http://www. 103 http://www.100 Kepentingan Perancis di bidang keamanan tidak terlihat secara signifikan atas pembangunan di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Legitimasi atas kebijakan ini didasari oleh kemampuan angkatan bersenjata Perancis yang kuat dan independen untuk melindungi segenap warga negaranya. http://www. diakses pada tanggal 15 Maret 2004.france.104 3. diakses pada tanggal 24 Maret 2004.org/pdf/France. Op. Democracy Coalition Project.htm. diakses pada tanggal 7 April 2004 .uio. Germany. hlm.

tapi fokus mereka lebih kepada kepentingankepentingan Inggris di dunia secara global. Namun demikian dari perspektif Inggris dapat dilihat bahwa untuk mempertahankan kebijakan demi mencapai kepentingan. Inggris menggunakan kekuatan eksternal. Konsep balance of power di Eropa ini membawa Inggris senantiasa melakukan pergantian dukungan terhadap blok yang lebih lemah maupun pihak yang dapat membantu tercapainya kepentingan-kepentingan Inggris.105 Untuk mencapainya. Seiring berakhirnya perang dingin.org/isa/doa01/.106 105 106 http://ciaonet. mundurnya AS secara perlahan dari Eropa. diakses pada tanggal 15 Maret 2004. Ibid. Inggris tidak melihat dirinya sebagai sebuah kekuatan di benua Eropa. banyak pihak yang melihat bahwa kebijakan Inggris tradisional tersebut mulai ditinggalkan. Kebijakan Inggris yang berasal dari perjuangan Partai Konservatif dalam kaitan hubungan Inggris dengan Eropa kontinental telah membuat Inggris terisolir di pinggiran Eropa serta tanpa memiliki suatu kebijakan pertahanan yang memadai. politik luar negeri Inggris secara tradisional berusaha untuk mencegah munculnya kekuatan tunggal maupun kelompok-kelompok kekuatan yang mendominasi benua Eropa dengan cara menjaga keseimbangan kekuatan (militer) di kawasan tersebut. dalam hal ini Amerika Serikat. jika melihat mulai menurunnya ancaman dari Uni Soviet. . serta tidak adanya kemungkinan kekuatan tunggal yang akan mendominasi Eropa.70 Sepanjang sejarahnya.

Op. Cm 3999.108 Pendekatan Partai Buruh terhadap Eropa telah mencegah Inggris dari keterisolasiannya di kawasan tersebut.. hlm. 108 Christian Schweiger. Berdasarkan Memorandum Crowe tahun 1907 tercantum orientasi politik 107 ‘euroscepticism’ dapat diartikan sebagai pandangan Inggris yang melihat integrasi Eropa lebih sebagai ancaman terhadap jiwa maupun nilai-nilai Inggris daripada sebuah keuntungan. Cit. serta pengembangan usulan pemberlakuan Quality Majority Voting (QMV) secara substansial di berbagai isu. hlm. 6.3. . keikutsertaan Inggris dalam pembentukan European Rapid Reaction Force. Cit. 110 Stanley Hoffman. 7. 192. The Stationary Office. Op. The Strategic Defence Review. 109 Ministry of Defence. hlm. Sejumlah kebijakan integrasi Inggris termasuk dalam Piagam Sosial Uni Eropa. atau dengan kata lain menjalin hubungan istimewa dengan partnernya yang berasal dari seberang samudera atlantik.1 Kepentingan Nasional dan Prioritas Politik Luar Negeri Inggris Politik luar negeri Inggris dapat dilihat sebagai politik luar negeri yang berorientasi ‘atlanticist’110.109 3. London 1998. Inggris cenderung ingin untuk memiliki kekuatan terlepas dari kekuatan yang dimiliki oleh Eropa karena merasa memiliki hubungan istimewa dengan AS tersebut. masyarakat Inggris memilih pemerintahan baru dari Partai Buruh yang secara fundamental lebih pro-integrasi di bulan Mei 1997. Tony Blair selaku Perdana Menteri yang baru membuat sejumlah kebijakan yang lebih mendukung integrasi Eropa jka dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya (Konservatif). Setelah memegang tampuk pemerintahan. Amerika Serikat.. Strategic Defence Review (SDR) baru yang dikeluarkan di awal pemerintahan Blair menunjukkan bagaimana secara pertahanan Inggris ingin menjadi salah satu negara pemimpin Uni Eropa.71 Setelah berakhirnya era 18 tahun ‘euroscepticism’107 di bawah pemerintahan Partai Konservatif.

AS. 113 Pidato Tony Blair dalam Konferensi Tahunan Partai Buruh. 8.AS dengan posisi yang lebih kooperatif di dalam Uni Eropa. Prentice Hall Inc.. Macridis (ed. British Foreign Policy: Tradition and Change. 1995. Op.. Roy C. 193. http://www. ia merombak pola pandang Inggris lama dan menggantinya dengan sesuatu yang baru pada EU Summit di kota Portschach bulan Oktober 1998.).112 Inggris mulai bersikap terbuka terhadap integrasi Eropa dan menyadari arti pentingnya pertahanan Eropa yang otonom. Inggris merupakan negara pulau yang memiliki negara-negara koloni yang tersebar di seluruh dunia. seperti dikutip dari tulisan Brian P. Withe. as an island state with vast overseas colonies and dependencies.guardian. London.3906870. 112 Stanley Hoffman. . whose existence as an independent community is inseparably bound up with the possession of sea power”.00.uk/Print/0.72 luar negeri Inggris dengan karakteristik yang ditentukan oleh kondisi geografis yang memisahkannya dengan Eropa daratan.3858.html. hlm. Blair nampaknya menyadari kalau ia dapat memaksimalkan pengaruh Inggris dalam hubungan internasional jika ia mampu mengkombinasikan kedekatan hubungan Inggris . oleh sebab itulah keberadaan Inggris sebagai suatu komunitas independen ditentukan oleh seberapa jauh Inggris dapat menguasai wilayah lautan. secara aktif mengembangkan program-program bantuan terhadap negara 111 kalimat pertama 1907 Crowe Memorandum dalam bahasa aslinya yaitu: “The general character of England’s foreign policy is determined by the immutable conditions of her geographical situation on the ocean flank of Europe. Blair juga menegaskan bahwa Inggris sama sekali tidak membuat prioritas dalam hubungannya dengan AS maupun dengan UE. diakses pada tanggal 19 Desember 2003.co. dalam Foreign Policy in World Politics.111 Ketika Tony Blair mengambil alih pimpinan pemerintahan di tahun 1997. 28 September 1999. Ia mengatakan bahwa Inggris memiliki potensi dalam menjembatani hubungan Eropa . Cit. hlm.113 Inggris saat ini merupakan negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia.

Melalui diplomasinya. sekarang mulai menunjukkan tanda-tanda kooperatif. keadilan.115 Menurut Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw.htm. meski awalnya agak sulit. Sepuluh negara dari kawasan tersebut bergabung. ke dalam keanggotaan Uni Eropa serta NATO. Namun demikian apa yang diperlihatkan oleh negara-negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur dalam 12 tahun terakhir sangatlah mengagumkan. selain memiliki sejumlah investasi-investasi yang tersebar di banyak negara. tujuan politik luar negeri Inggris adalah mencapai kepentingan Inggris di dunia yang aman. Kawasan Balkan.73 dunia ketiga. hanya bisa disaingi oleh AS. sebuah badan supremasi dalam pembuatan keputusan. Inggris beranggapan mereka telah mencapai tahap politik luar negeri yang mereka inginkan. Inggris nampak sangat menikmati penyebaran nilai-nilai kebudayaannya yang sangat banyak dibantu oleh bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling universal. menurut Straw politik luar negeri Inggris dapat dibagi menjadi tiga pilar yaitu keamanan. . atau akan segera bergabung. Untuk mencapainya. hal ini ditunjukkan di banyak bagian dunia seperti Afrika dengan tingkat kelaparan dan kemiskinannya. stabil dan sejahtera. diakses pada tanggal 15 Maret 2004.org. 115 Ibid. terutama dalam menciptakan kondisi yang lebih baik pasca runtuhnya tembok Berlin.foreignpolicy. Inggris juga merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. di 114 http://www.tr/eng/articles/straw_060103. Namun demikian tidak ada jaminan runtuhnya Uni Soviet akan menjadikan dunia lebih baik. Inggris sekarang tidak melihat adanya prospek akan terjadinya konflik di antara sesama negara Eropa. dan kesejahteraan.114 Inggris juga memiliki angkatan bersenjata yang sangat kuat.

maka menurut Tony Blair karakter antar pemerintahan di Uni Eropa seharusnya dapat lebih diperkuat lagi melalui reformasi mendasar akan tugas European Council sebagai agenda-setter bagi UE.3.publications.2 Inggris dan Integrasi Uni Eropa Jika melihat pada tradisi Inggris. hlm. meskipun Inggris mulai lebih bersikap menerima diterapkannya QMV di sejumlah isu. Menurut Jack Straw.parliament.uk/pa/cm200102/cmselect/cmfaff/698/2031303. Cit.118 Meskipun pemerintahan Partai Buruh dipandang sebagai pemerintahan yang mendukung integrasi Eropa.116 3. Christian Schweiger. 10.htm. namun Inggris tetap menangguhkan dukungannya terhadap pembentukan suatu konstitusi tertulis UE. berbeda dengan Jerman yang tidak mempermasalahkan jika QMV diterapkan di seluruh isu Uni Eropa termasuk masalah-masalah kebijakan luar negeri dan keamanan.. 116 117 Ibid. . serta pembentukan komisi baru di dalam European Parliament di mana perwakilan dari parlemen-parlemen nasional negara anggota dapat terwakili.74 mana sebagai pemersatu ketiga pilar ini dipilihlah keadilan sebagai poros utamanya. diakses pada tanggal 19 Desember 2003. Inggris masih menolak jika QMV tersebut akan diterapkan pada area krusial Inggris seperti masalah perpajakan serta kebijakan luar negeri dan keamanan. Merespon usulan konstitusi UE yang diusulkan Jerman serta pembentukan federasi Eropa. 118 http://www.117 Mengenai perdebatan akan masalah Quality Majority Voting (QMV). Op. kebijakan QMV tersebut akan saling bersinggungan dengan kepentingan-kepentingan nasional vital Inggris yang tidak dapat begitu saja ditentukan melalui pemungutan suara di UE.

yang dinamakan Konstitusi.number-10.uk/news. demi kelangsungan Uni Eropa yang dinamis. bagaimana UE dapat menjadi lebih 119 Pidato Tony Blair di Polish Stock Exchange. 120 Ibid. Sebagai hasilnya Inggris berharap dapat tercipta Eropa yang secara ekonomi dan politik ‘a superpower. penanganan tindak kriminal serta isu-isu yang menyangkut hubungan luar negeri dan keamanan. Namun Inggris akan bekerjasama secara lebih mendalam dengan negara-negara Eropa lain dalam hal kerjasama ekonomi. http://www. Blair sekaligus mengemukakan perspektif Inggris bahwa suatu debat konstitusional tidaklah perlu untuk diakhiri dengan suatu perjanjian yang mengikat secara legal. but not a superstate’.asp?NewsId=1341&Section=32. diakses pada tanggal 15 Maret 2004. sekaligus menjelaskan tujuan UE. Warsawa pada bulan Oktober 2000 Tony Blair mengakui bahwa pemerintahannya akan menolak model pasar bebas Eropa yang pernah diajukan Partai Konservatif. yang sama sekali tidak mengikat. 6 Oktober 2000.120 Di bulan Februari 2002 Menteri Luar Negeri Jack Straw mengkonfirmasi kepada publik bahwa Inggris mendukung dibentuknya suatu pernyataan prinsipprinsip tertulis yang dapat memperjelas pembagian wewenang dalam kerangka kerja UE. Inggris lebih memilih untuk mengusulkan dibentuknya suatu pernyataan prinsip-prinsip atau suatu piagam kompetensi.gov.75 dalam pidatonya di Polish Stock Exchange. lingkungan.119 Pada kesempatan yang sama Blair mengekspresikan pandangan tradisional Inggris yang meragukan prospek usulan konstitusi tertulis dan perjanjian yang mengikat secara legal sebagai basis kerjasama konstitusional UE. Tanggung jawabnya hanya berada pada masalah politis. .

. Cit. adalah tidak mungkin untuk menciptakan perdamaian di Bosnia atau mengatasi konflik kemanusiaan di Kosovo.121 Pemerintah Inggris juga tidak melihat rencana enlargement sebagai sesuatu yang dapat menghambat proses integrasi. hlm. Op. 531.3.76 bernilai. Ibid. Cit. 124 William Wallace. berakhirnya perang dingin serta runtuhnya Uni Soviet menjadikan Inggris sebagai: ‘a government which has no clear sense of its place in the world or its foreign policy priorities…. tanpa NATO serta komitmen AS di kawasan Eropa. Op.10. seta memberi garis pemisah yang jelas antara wewenang UE dan hak serta tanggung jawab negara anggota tanpa menjadikan UE sebagai sebuah superstate. Menurutnya. konflik. namun melihatnya sebagai sebuah kesempatan emas untuk lebih memperkuat keamanan dan stabilitas bagi Eropa secara keseluruhan. “Britain’s Search for a New Role in the World”. dalam The Observer. . Oleh karenanya Inggris serta partner-partner Eropa harus menciptakan suatu kebijakan pertahanan Eropa dengan memperkuat ikatan 121 122 Christian Schweiger. serta migrasi besar-besaran tak terkontrol di daerah perbatasan.123 3. 13-14.’124 Namun demikian Tony Blair menjelaskan bahwa posisi strategis Inggris saat ini sangat bergantung pada NATO. 123 Tony Blair. Agustus 1993. 16.. No. hlm.3 Persepsi Ancaman dan Kebijakan Keamanan Nasional Inggris Menurut William Wallace dalam salah satu artikelnya yang dimuat oleh The Observer. bahwa tanpa enlargement Eropa Barat akan selalu menghadapi ancaman instabilitas kawasan. 16.122 Seperti yang pernah dikatakan Blair. hlm.

fenomena failed-states yang terjadi pasca perang dingin muncul sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap keamanan global. . Serangan 11 September 2001 membuat Inggris merasa tidak dapat begitu saja mengabaikan ancaman-ancaman yang terutama datang dari kelompok Islam militan. dan juga pertentangan ideologi antara apa yang biasa disebut Timur dan Barat. 126 http://www. London.126 Di beberapa bagian lain dunia. Speech at the Lord Mayor’s Banquet.ciaonet. menyebarkan kekacauan di kawasan Afrika Tengah serta menjadi tempat berlindung bagi kelompok Al Qaeda untuk melancarkan serangan terburuk dalam sejarah terorisme. diakses pada tanggal 15 Maret 2004.foreignpolicy. 127 Ibid. Oleh sebab itu Inggris membuat suatu strategi untuk mengatasi segala ancaman tersebut.77 transatlantik (dengan AS) NATO.125 Menurut Inggris.org. serta memberi kapasitas UE untuk melakukan tindakan. yaitu127: 125 Tony Blair. Ancaman-ancaman global tersebut semuanya memiliki potensi untuk menggagalkan kepentingan-kepentingan nasional Inggris serta mengacaukan tatanan keamanan dan perdamaian internasional. 22 November 1999.tr/eng/articles/straw_060103. dan juga potensi ancaman lain terhadap keamanan Inggris. Kelompok yang menurut Inggris dapat mengacaukan stabilitas global maupun melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai demokrasi liberal dan HAM adalah kelompokkelompok teroris yang menggunakan agama sebagai pembenaran tindakan serta negara otoritarian yang dicurigai memiliki senjata pemusnah massal.org/isa/doa01/. seperti dikutip dari situs http://www. berakhirnya perang dingin sekaligus menguak konflik antar etnis dan antar agama yang lama terpendam.htm. diakses pada tanggal 15 Maret 2004.

seperti gelombang migrasi yang tak terkontrol. good governance serta pembangunan.  Mendorong terciptanya demokrasi. seperti yang dilakukan Inggris dengan program NEPAD (the New Partnership for Africa’s Development).  Meminimalisir ancaman-ancaman lain terhadap Inggris. Inggris memiliki komitmen yang sangat kuat dalam memberantas potensi ancaman sampai ke akar-akarnya.  Mempertahankan suatu sistem internasional yang stabil berdasar pada PBB.  Mendorong kepentingan ekonomi Inggris dalam suatu perekonomian global yang terbuka.78 Meminimalisir ancaman terorisme dan senjata pemusnah massal terhadap keamanan domestik dan internasional. Inggris juga merasa bahwa saat ini dibutuhkan suatu angkatan bersenjata yang efektif yang memiliki kapabilitas untuk mengatasi segala ancaman terhadap keamanan nasional. Tanpa adanya penegakan yang efektif. hukum dan kerjasama multilateral. Saat ini kepemilikan senjata nuklir serta senjata kimia/biologi merupakan ancaman terbesar bagi keamanan nasional Inggris. transnational crime. Inggris berpendapat bahwa hukum internasional akan . serta kelompok Islam radikal atau ekstrim.  Menjaga cadangan energi Inggris dan global.  Membangun Uni Eropa yang kuat dalam suatu lingkungan yang aman. Tujuan jangka pendek Inggris yaitu mengembangkan suatu teknik yang efektif untuk mengacaukan dan membasmi kelompokkelompok teroris yang dicurigai memiliki senjata pemusnah massal.

hingga penyerbuan. 128 129 Ibid. Dalam SDR 2002 disebutkan bahwa angkatan bersenjata Inggris dapat memainkan peran antar-pemerintahan serta sebagai bagian dari usaha internasional untuk mengatasi ancaman-ancaman terorisme internasional. The Stationary Office. perjuangan dalam mencegah penyebaran senjata-senjata mematikan tersebut akan terus berlanjut dengan cara menghentikan pasokan persenjataan menggunakan data-data intelejen yang dimiliki oleh Inggris maupun negara lain dalam kerangka internasional yang legal. Cm 5566 Vol. Dalam satu dekade mendatang.129 Meskipun SDR lama di tahun 1998 telah menyebutkan keberadaan sejumlah ancaman. Ministry of Defence. namun tidak cukup kuat untuk mengatasi ancaman seperti yang terjadi pada menara kembar WTC. The Strategic Defence Review: A New Chapter. .79 menjadi sia-sia. pencarian sumber terorisme. 29. Untuk itulah Inggris memutuskan untuk membuat suatu pedoman baru yang akan membuka wacana tentang persepsi ancaman yang dimulai dalam babak baru pasca tragedi WTC. Norwich. seperti operasi untuk stabilisasi. Kapasitas angkatan bersenjata Inggris untuk dapat melakukan operasi melawan terorisme global. baik dalam negeri maupun di seluruh dunia. 2002. tertuang dalam SDR baru ini. hlm.128 Strategic Defence Review (SDR) baru yang dikeluarkan bulan Juli 2002 dengan judul ‘A New Chapter’ menjadi pedoman bagi Inggris dalam menentukan arah kebijakan pertahanan keamanannya pasca tragedi 11 September 2001. I.

1 Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Terhadap Rencana Invasi AS ke Irak 2003 Uni Eropa dapat kita lihat sebagai ambisi kaum neo-fungsionalisme yang mencita-citakan terciptanya suatu institusi dengan kelebihan mengkombinasikan .80 BAB 4 ANALISIS TERHADAP KEGAGALAN UNI EROPA DALAM MENCIPTAKAN POSISI BERSAMA TERHADAP RENCANA INVASI AS KE IRAK 4.

Integrasi internasional dilihat sebagai suatu proses di mana negara-negara anggota Eropa Barat diharapkan dapat mengarahkan loyalitas. Konsep kebijakan keamanan yang terkandung dalam CFSP dimaksudkan untuk menyatukan kebijakan domestik dengan kebijakan luar negeri negara-negara anggota. dalam hal ini adalah Justice and Home Affairs (JHA). Yogyakarta. yang lembaga-lembaganya memiliki atau mengambil alih yurisdiksi yang semula berada di tangan negara-bangsa. Sehingga hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Uni Eropa tidak dikategorikan sebagai organisasi internasional semata. Proses pembuatan kebijakan dalam ruang lingkup CFSP haruslah melalui European Council terlebih dahulu. 173-174. Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi. Justice and Home Affairs. maka ia sebagai suatu institusi memiliki kebijakan domestik/internal. 1989. harapan. dan kegiatan politik mereka ke institusi pusat baru dan lebih besar. yaitu European Community termasuk EMU dan institusi lain. 130 Uni Eropa yang mendapatkan perannya sebagai salah satu kekuatan politik global di awal 90-an mendasari kerjasama antarnegara melalui tiga area utama atau sistem pilar. karena yang dapat berperan dalam UE ini tidak hanya dari pihak pemerintah negara-negara anggota. CFSP merupakan wadah yang dibentuk sebagai pedoman maupun untuk menyalurkan kebijakan-kebijakan luar negeri dan keamanan negara-negara anggota kepada dunia eksternal Uni Eropa.81 model federalis dan fungsionalis. . PAU Studi Sosial UGM. Jika UE diasumsikan sebagai suatu global governance131. sebagai perwakilan tinggi Uni Eropa untuk CFSP yang memiliki tugas untuk memastikan kelangsungan dan efisiensi dari politik luar 130 Mohtar Mas’oed. hlm. serta Common Foreign and Security Policy (CFSP). 131 Global governance di sini dapat diartikan sebagai suatu organisasi internasional yang mempunyai sifat baik sebagai organisasi internasional antarpemerintah maupun organisasi internasional non pemerintah. Oleh sebab itulah Uni Eropa menunjuk Javier Solana Madariaga.

European Council sepakat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan setingkat menteri luar negeri negara-negara anggota UE dengan tajuk General Affairs & External Relations Council (GAERC) Meeting pada tanggal 27 Januari 2003 di kota Brussels. namun kemudian meluas kepada topik rencana invasi AS ke Irak.132 Tanda-tanda akan meletusnya perang di kawasan teluk terlihat sejak terpilihnya George W.eu. serta menggagas dialog politik dengan pihak-pihak ketiga. Dalam kondisi tertentu ia juga diharap mampu untuk mewakili Council atas permintaan Presiden UE. Uni Eropa muncul sebagai sebuah institusi yang diharapkan oleh dunia untuk menjembatani terciptanya proses perdamaian di kawasan Teluk. Pada awalnya pertemuan tersebut hanya membicarakan proses perdamaian antara Israel dan Palestina. . bersama dengan seorang komisioner UE sebagai perwakilan kepada dunia eksternal yang saat ini dijabat oleh Chris Patten. karena dianggap sebagai satusatunya pihak yang dapat memberikan tekanan terhadap Amerika Serikat setelah menurunnya peran PBB. Pada dasarnya. Ditetapkan pula bahwa seseorang yang menjabat Sekretaris Jenderal Council harus juga menjabat perwakilan tinggi UE untuk CFSP. disusul serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC di New York. European Council mengadopsi sejumlah kesimpulan menyangkut krisis Irak.82 negeri dan keamanan UE.asp?lang=en. Di akhir pertemuan.int/pesc/default. Ia bertugas untuk membantu Council dengan memberikan sumbangsihnya dalam formulasi dan pembentukan serta implementasi kebijakan politik. Bush sebagai Presiden Amerika Serikat. dewan yang 132 http://ue. Menyadari tingkat kegentingan yang mungkin tercipta di teluk. diakses pada tanggal 9 September 2003.

dengan bantuan instrumen internasional yang relevan. 1441 tertanggal 8 November 2002.83 beranggotakan menteri-menteri luar negeri itu menyadari bahwa hal terpenting yang dapat dilakukan adalah pelucutan secara efektif dan menyeluruh atas senjata pemusnah massal yang dikembangkan oleh Irak. and Inspection Commission (UNMOVIC) dan International Atomic Energy Agency (IAEA). Dalam pernyataannya European Council juga menyarankan pihak pemerintah Irak untuk bersikap terbuka dan jujur dalam menerima kehadiran tim inspeksi dari UN Monitoring. European Council sekaligus menggarisbawahi sangat pentingnya untuk mencegah proliferasi senjata pemusnah massal. El Baradei dalam menyelesaikan inspeksinya sesuai mandat Resolusi 1441 DK PBB. Irak harus memberikan informasi utama dan tambahan dengan rinci serta tidak ditunda-tunda lagi tentang data kepemilikan senjata mereka. European Council sepenuhnya mendukung usaha yang dilakukan oleh PBB agar Irak mau bekerjasama dalam mematuhi resolusi Dewan Keamanan yang relevan. Resolusi ini sendiri sebenarnya sangat ambigu karena dikatakan bahwa Irak masih memiliki kesempatan terakhir untuk menyelesaikan konflik dengan cara damai. Oleh karena itu pula European Council menyatakan bahwa seharusnya setiap pihak menghormati tanggung jawab yang dipikul oleh . Verification. Hans Blix serta Dr. Dalam hal ini Dewan Keamanan masih dianggap sebagai instrumen utamanya. Uni Eropa juga menghargai serta sepenuhnya mendukung pekerjaan berat yang dipikul oleh Dr. dalam hal ini adalah Resolusi DK PBB no.

Costas Simitis.eu. Kedua.the “13” Concur. yang mengindikasikan keinginan terciptanya suatu kebijakan luar negeri bersama.135 133 http://europa.nsf/0/ceead0f3b97e79a4c1256cd2005bcb9a? OpenDocument.133 Situasi yang berkembang menunjukkan kecenderungan segera meletusnya perang di Irak. diakses pada tanggal 21 September 2003. Simitis membacakan kesepakatan yang telah dicapai. antara lain menyatakan bahwa UE mendukung sepenuhnya tugas yang diemban oleh tim inspeksi senjata PBB dan mendukung diberikannya waktu lebih banyak bagi mereka.reliefweb. tetap berusaha untuk menciptakan perdamaian. diakses pada tanggal 2 September 2003.int/w/rwb.84 DK PB dalam menciptakan dan mempertahankan keamanan dan perdamaian internasional. dalam kerangka kerja PBB. serta perwakilan 13 negara calon anggota Uni Eropa. Kompas.134 Dalam pernyataannya. 134 “Pemimpin Uni Eropa Minta Irak Patuhi Resolusi DK PBB”. . Pertemuan tersebut juga mempertemukan Sekretaris Jenderal PBB Koffi Annan dan Presiden European Parliament Pat Cox.int/comm/external_relations/med_mideast/intro/gac. Simitis lebih lanjut mengatakan bahwa pertemuan European Council tersebut menghasilkan dua poin utama. http://www. meskipun perang nampaknya tak bisa dihindari. seluruh negara anggota UE telah menunjukkan itikad untuk mempertahankan kesolidan UE dengan bersama-sama berdiskusi dan bertukar pikiran. bersama-sama dengan Presiden European Commission Romano Prodi dan perwakilan tinggi UE untuk CFSP Javier Solana. Pertemuan ini digagas oleh Presiden European Council. Atas dasar itulah pada tanggal 17 Februari 2003 di kota Brussels digelar pertemuan tingkat tinggi luar biasa Uni Eropa untuk membahas perkembangan yang terjadi.htm#me270103. Uni Eropa. Pertama. 135 Joint Position on Iraq Adopted by the “15” . 18 Februari 2003.

17 Februari 2003 http://europa. .1 Jerman Krisis Irak mulai mencuat ketika Gerhard Schröder tengah berjuang mempertahankan posisinya melalui pemilihan umum. Schröder menyatakan bahwa dirinya setuju untuk memberikan tekanan terhadap pihak Saddam. terutama Amerika Serikat. Dalam pidato pada peluncuran kampanye Partai Demokratik Sosial (SPD) tempatnya bernaung. dalam hal pelucutan senjata Irak. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Schröder untuk membawa masalah Irak ke dalam debat dan kampanye Pemilu Jerman.2 Reaksi Jerman. demi terciptanya perdamaian dan stabilitas di kawasan teluk. maupun di kawasan konflik lain. European Council menegaskan bahwa Uni Eropa siap untuk bekerjasama dengan partner internasionalnya. namun dirinya 136 Extracts from the Conclusions of the European Council.2. Perancis dan Inggris Terhadap Rencana Invasi AS ke Irak 4. diakses pada tanggal 2 September 2003.htm.eu.85 Pertemuan luar biasa tersebut juga menyimpulkan bahwa komunitas internasional harus bersatu dalam menyelesaiakan krisis di Irak.int/comm/external_relations/iraq/intro/ec170203.136 4.

. Schröder juga menegaskan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam konflik Irak.138 137 Marta Dassu.htm. Schröder sekaligus menegaskan. Walau begitu. Jerman akan mengambil posisi menentang setiap upaya perang melawan Irak dan menolak tegas bergabung dengan pasukan koalisi. Ia menganggap.eusec. 15 Januari 2003. diakses pada tanggal 23 Desember 2004. Jerman tetap menginginkan Irak memenuhi tuntutan Resolusi 1441 dan menghindari konflik internasional. How to Deal with Iraq : the European Perceptions.86 sama sekali tidak setuju akan adanya perang atau intervensi militer. 138 “Jerman Desak PBB Keluarkan Resolusi II Sebelum Perang Irak Terjadi”. Dalam kapasitasnya sebagai Kanselir. jika ada keputusan lain. bahkan dengan mandat DK PBB sekalipun. Kompas.137 Jerman berpendapat bahwa seharusnya apa yang terjadi di Afghanistan pasca 11 September 2001 tidak perlu terulang kembali. Schröder menolak menegaskan kemungkinan Jerman menggunakan hak veto jika PBB mengeluarkan resolusi baru yang memungkinkan menggunakan kekuatan militer terhadap Irak. Pada tanggal 14 Januari 2003. Ia hanya menekankan. Jerman mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi kedua tentang Irak sebelum terjadi peperangan. http://www. Tetapi. yaitu Jerman tidak akan mengambil peran apa pun jika terjadi perang. lanjut Schröder. Jerman akan menggunakan posisi dasarnya yang jelas dan tegas dalam pernyataan dan pengambilan suara. Pada kesempatan yang sama.org/dassu. Jerman dan Eropa menjamin akan bekerja sama dengan PBB untuk mendapatkan suara. bergabung dalam kekuatan militer itu jelas tidak bisa dipaksakan ke dalam tubuh PBB.

“Europeans Split with U.2 Perancis Dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan oleh Jerman dan Perancis pada pertemuan bilateral Schwerin tanggal 30 Juli 2002.seperti Jerman . bukannya bagaimana untuk menciptakan koalisi untuk menginvasi Irak. Tyler.87 Saat berbicara di depan Dewan Federal Jerman (Bundestag) tanggal 13 Februari 2003. yang terpenting saat ini adalah bagaimana menciptakan koalisi untuk perdamaian di Timur Tengah.2. kedua negara menyadari perlu adanya mandat DK PBB sebelum memutuskan untuk melakukan intervensi militer ke Irak.untuk berpartisipasi dalam melucuti Irak. yakni segala upaya penyelesaian krisis Irak haruslah melalui cara-cara damai. 21 Juli 2002. namun harus terlebih dahulu 139 140 “Schroeder: Irak Bisa Dilucuti Tanpa Perang”. mayoritas anggota DK PBB sependapat dengan pandangan Jerman. Patrick E. Kanselir Jerman Gerhard Schröder mengatakan ia bertekad menemukan penyelesaian damai atas krisis Irak. sangat sulit untuk mengatakan apakah serangan seperti itu akan memperkuat atau memperlemah aliansi internasional dalam menghadapi terorisme.S.139 4. . Menurut Perancis. Perancis bukannya sama sekali menolak . yakni Jerman tidak akan ambil bagian dalam serangan militer terhadap Irak. bersama-sama dengan Perancis dan Rusia. Perancis berpendapat bahwa pemerintahan Bush sangat berambisi untuk menyerang Irak sementara Perancis memiliki ambisi untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah. terutama antara Israel dan Palestina. Ia menambahkan. Menurutnya. on Need for Iraq Attack”. 14 Februari 2003. The New York Times.140 Meskipun demikian. seraya menggarisbawahi janji yang diucapkannya dalam pemilihan umum dulu. Kompas.

“Perancis. Chirac mengatakan.141 Jacques Chirac menyatakan penggunaan kekuatan militer terhadap Irak tidak bisa dibenarkan.2.142 4. dan Jerman Keluarkan Deklarasi Tolak Perang”. namun resolusi tersebut tidak menetapkan penempatan pasukan penjaga perdamaian. keadaan menunjukkan bahwa pelucutan senjata Irak bisa dicapai melalui proses pemeriksaan yang ditetapkan dalam Resolusi 1441. Cit. . yaitu pelucutan senjata. 11 Februari 2003. Op. Jika sampai aksi militer juga gagal. Tujuan utama dalam melakukan intervensi militer seharusnya tetap sesuai dengan tujuan terdahulu.88 mendapat legitimasi melalui DK PBB. Rusia. Oleh karena itu aksi militer hanya boleh dilakukan sebagai pilihan terakhir jika sampai upaya pelucutan senjata mengalami jalan buntu.3 Inggris 141 142 Marta Dassu. Ketika ditanya mengenai kemungkinan pasukan penjaga perdamaian PBB dikirim ke Irak untuk meningkatkan pemeriksaan. Pemimpin Perancis tersebut mengatakan. bukannya ditujukan untuk menggulingkan suatu pemerintahan. yang disetujui dengan suara bulat oleh DK PBB pada 8 November 2002. Resolusi itu menetapkan pengiriman kembali pemeriksa senjata ke Irak dan memberi Baghdad peluang terakhir untuk meninggalkan senjata penghancur massalnya atau menghadapi konsekuensi serius. dan tujuan pelucutan senjata Irak bisa dicapai melalui pemeriksaan senjata oleh PBB. Perancis siap mempertimbangkan segala sesuatu yang mungkin bisa dilakukan sesuai dengan Resolusi 1441. Kompas. DK PBB harus segera mengambil keputusan agar pihak yang bertikai dapat menghentikan konflik di antara mereka.

Inggris memperbantukan 30. ia masih menginginkan adanya resolusi PBB kedua. tidak perlu terburu-buru berperang.143 Perdana Menteri Inggris Tony Blair di London. Blair mengatakan. kini tinggal Presiden Irak Saddam Hussein yang melucuti persenjataannya. I. Norwich. Inggris mencanangkan satu dekade mendatang sebagai suatu babak baru yang harus dihadapi tidak hanya oleh Inggris. 17 kapal perang. hlm.000 personel militer. terutama dalam menghadapi segala bentuk terorisme. Cm 5566 Vol. dan sekitar 143 Ministry of Defence. Dalam jumpa persnya di kantornya. menegaskan. di mana mereka akhirnya mengganti SDR lama tahun 1998 dengan SDR baru yang memiliki cakupan ruang lingkup persepsi ancaman yang lebih luas. sekembalinya dari pertemuan puncak darurat Uni Eropa di Brussels tanggal 17 Februari 2003. karena dirinya berpendapat bahwa ada ikatan kesejarahan yang amat kuat antara AS dan UE. . Ia mengatakan. Tragedi 11 September ternyata menjadi perhatian serius oleh Inggris.89 Diterbitkannya Strategic Defence Review baru Inggris di bulan Juli 2002 seolah-olah mempertegas posisi Inggris dalam percaturan politik dan keamanan global. maka PBB harus bertindak tegas jika Saddam Hussein tidak memenuhi tuntutan PBB. The Stationary Office. namun juga oleh seluruh negarabangsa di dunia dalam perang melawan ancaman terorisme global. sebelum serangan militer yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Irak dilancarkan. dan jika PBB tetap menjaga kredibilitasnya. 2002. The Strategic Defence Review : A New Chapter. 6-7. Blair sekaligus berharap seluruh negara Uni Eropa akan mendukung kebijakan AS yang sangat tegas terhadap Irak. Downing Street.

19 Februari 2003. “Perancis Tolak Tegas Usulan Blair soal Irak”. Ketiga. 4.90 100 pesawat tempur ke kawasan Teluk untuk digunakan memerangi Irak jika perang jadi dilaksanakan.3 Kelemahan CFSP serta Gagal Terciptanya Posisi Bersama di Antara Negara Anggota Uni Eropa Integrasi yang terjadi di Eropa ternyata menimbulkan dilema tersendiri. . Irak juga harus melaporkan simpanan bibit antraks serta senjata kimia dan biologi lainnya. Keempat. Kompas. Irak harus menerbangkan 30 ilmuwan dan keluarganya ke Siprus sehingga bisa ditanyai tentang program senjata Irak secara bebas. yang oleh AS dan Inggris dicurigai bisa dimodifikasi menjadi pesawat penyebar racun. Kelima. Irak harus mengungkapkan seluruh pesawat capung. Irak harus menghancurkan semua senjata yang dilarang PBB. ada tiga dilema yang dihadapi oleh Uni Eropa saat 144 145 “Perangi Irak adalah Pilihan Uni Eropa yang Terakhir”. Keenam. menuntut Saddam Hussein secara resmi mengumumkan seluruh senjatanya melalui televisi Irak dan berjanji akan menyerahkan seluruh senjatanya. Menurut James A. Kompas.145 Pertama. Irak harus memenuhi komitmen untuk menghancurkan seluruh unit produksi senjata biologi yang bisa dengan mudah dipindahkan.144 Pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2003. Tony Blair mengajukan enam butir pemikiran terhadap Irak. Caporaso. Kedua. Ada enam butir yang tercakup dalam Blair's Benchmarks. 14 Maret 2003.

8. dilema menyangkut debat antara enlargement dan deepening.uk/cps/2003/christian%20schweiger. US National Security: Policymakers. hlm. kepentingan-kepentingan negara anggota sangat beragam dan potensial menimbulkan konflik. Derby. hlm.146 Pertama. ditambah lagi kedekatan antara kebijakan luar negeri dan kebijakan keamanan149. 147 Christian Schweiger.psa. 2000. . Boulder. 148 James A. Caporaso. 2003. http://www. hlm.147 Dilema ketiga yang dihadapi UE yaitu usaha dalam menciptakan suatu kebijakan luar negeri dan keamanan bersama (CFSP). membuat negara-bangsa enggan untuk menanggalkan sebagian kedaulatannya pada area CFSP dibanding pada bidang kerjasama lain seperti EMU.ac. Westview Press. hlm.. kekuatan institusi politik akan semakin berkurang dikarenakan prinsip subsidiarity yang dianut UE. Pertanyaan yang muncul seputar dilema apakah UE harus lebih luas melalui enlargement dengan menerima keanggotaan baru. Ditambah lagi hubungan yang tidak seimbang antara negara anggota dengan anggota lain sistem internasional. 146 James A. The European Union: Dilemmas of Regional Integration. 11. Caporaso. 149 Sam Sarkesian. The Impact of the Iraq Crisis on British-German Relations. Fakta menunjukkan bahwa ketika jumlah anggota bertambah. 9. Boulder. apakah merupakan bentukan yang tertutup atau suatu institusi yang terbuka terhadap dunia luar. terutama Amerika Serikat. 1989.148 Karena alasan-alasan tersebut. diakses pada tanggal 19 Desember 2003. Cit. ataukah memperdalam kerjasama (deepening) di antara negaranegara yang sudah lebih dahulu bergabung. Processes and Politics. Pertaruhan di dalamnya sangat besar. Kedua. 9.pdf. tentang bentukan dari Uni Eropa. Op. Westview Press.91 ini. Kerjasama politik luar negeri memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi serta sejumlah hambatan.

yang masing-masing memiliki pejabat eksekutif dan kementrian bidang luar negeri. Saat Romano Prodi menjabat Presiden European Commission di tahun 1999. . Di satu sisi Uni Eropa memiliki Council of Ministers yang beranggotakan para menteri luar negeri negara anggota.. adalah suatu kenyataan yang lumrah bahwa suatu negara diwakili oleh seorang pemimpin yang dapat berbicara mewakili komunitasnya. 85. hingga Direktur Jenderal European Commission yang menangani hubungan eksternal UE. Asumsi yang dipertanyakan inilah yang saat ini menghinggapi Uni Eropa sebagai suatu unitary actor. Tentu saja di sana ada negara-negara anggota sebagai aktor individual.. Caporaso Op.151 Pihak-pihak yang dapat menjadi sumber pembuatan kebijakan luar negeri di dalam UE sangat banyak. Dalam politik internasional. European Council yang beranggotakan pemimpin negara/pemerintahan negara anggota. Ibid. tercatat ada empat 150 151 James A. 113.92 Permasalahan lain timbul ketika berbicara tentang konsep ‘eksternal’ dalam ruang lingkup UE. Pertama. Negara masih dianggap sebagai sumber utama di mana kebijakan luar negeri dan aspek keamanan serta militer dari politik luar negeri dibuat. istilah tersebut dapat mengacu pada hubungan luar negeri dan aktivitas internasional yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota UE. terhadap aktor negara atau non-negara lain di seluruh dunia. hlm.150 Konsep ‘eksternal’ tersebut dapat memiliki dua pengertian yang berbeda. Cit. hlm. Akan sangat sulit untuk melakukan negosiasi dengan negara yang tidak memiliki pemimpin yang jelas. Kedua. dapat juga berarti hubungan internasional yang dilakukan oleh UE sebagai sebuah entitas.

dengan perwakilan tinggi CFSP Javier Solana. Hal tersebut masih berupa wacana yang masih diperdebatkan di antara sesama anggota UE sendiri. Pembentukan struktur komite baru .php. Di era di mana UE memiliki keinginan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitasnya. hlm. Report by Marius Wahl.152 Belum lagi ditambah penunjukkan Javier Solana di awal tahun 2000 untuk mengisi jabatan baru sebagai perwakilan tinggi Council yang bertanggung jawab dalam mengkordinasikan kebijakan luar negeri dan keamanan bersama. belum adanya suatu perangkat konstitusional yang legal. pemisahan institusional antara tugas komisioner urusan eksternal UE yang dijabat oleh Chris Patten. 113. .be/Events/Webnotes/2003/020403.Political and Security 152 153 Ibid.ceps. Pascal Lamy menangani perdagangan internasional.153 Pembentukan perwakilan tinggi untuk CFSP sebenarnya merupakan langkah maju yang menunjukkan konsistensi UE dalam menciptakan kebijakan luar negeri bersama serta manajemen kerjasama dan struktur politik yang telah ada sebelumnya. Chris Patten pada hubungan luar negeri. sistem yang ada sebenarnya membuat tugas keduanya menjadi tidak jelas. maupun Uni Eropa secara umum. pengaturan institusional UE dalam hal kebijakan luar negeri sangatlah membingungkan. Kedua. Gunter Verheugen bertanggung jawab atas masalahmasalah enlargement UE.. maka kita dapat melihat adanya dua aspek dalam CFSP secara khusus. Dalam kasus Irak. serta Poul Nielson untuk menghubungkan UE dengan negara-negara dunia ketiga. Pertama. http://www. diakses pada tanggal 2 September 2003.93 orang yang memiliki wewenang untuk menangani berbagai aspek politik luar negeri. Meskipun dualitas fungsi selama ini berjalan dengan lancar.

hlm.154 Perubahan-perubahan institusional yang terjadi tidak secara otomatis menciptakan kerjasama politik luar negeri.155 Namun demikian 154 Kirsty Hughes. Vol. Op. 121-122. Pembuatan kebijakan tetap bersifat antarpemerintahan dan berdasarkan mufakat.terletak pada keputusan European Commission. dalam The Brown Journal of World Affairs.94 Committee (PSC) - telah menjadi struktur organisasional UE dalam mendefinisikan serta mengembangkan analisis dan strategi bersama. Winter/Spring 2003.IX. hlm. Namun demikian Solana hanya dapat melakukan tindakan jika mendapat otoritas dari para menteri luar negeri negara anggota UE. Bahkan pada suatu kesempatan Solana pernah menyatakan bahwa hubungan kerjasama yang erat antara dirinya dengan Chris Patten hanya didasari oleh rasa pertemanan. 128. sementara ia menjabat untuk kurun waktu lima tahun. Solana juga berhadapan langsung dengan kebijakan luar negeri individual yang dikeluarkan oleh masing-masing negara anggota UE. 155 James A. ..termasuk bantuan kemanusiaan dan kebijakan internasional lain yang relevan seperti perdagangan dan pembangunan . serta menyediakan sarana kerjasama jika ada kepentingan-kepentingan bersama. Ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa presidensi UE berganti tiap enam bulan. Cit. Di saat yang bersamaan. Caporaso. Hal ini tentu saja mengarah kepada sejumlah masalah koordinasi. Perubahan lebih ditujukan untuk merasionalisasi pembuatan kebijakan. Issue 2. bukan berdasarkan pengaturan institusional yang jelas. memfasilitasi analisa bersama. European Foreign Policy Under Pressure. Pada akhirnya yang terjadi adalah perubahan pada lingkungan di mana negara-negara anggota UE membuat kebijakan luar negeri. pertukaran pendapat. Centre for European Policy Studies. perangkat kebijakan luar negeri .

apalagi dalam bidang keamanan. Aspen European Dialogue. atau bahkan nyaris tidak mungkin. Hal ini diakibatkan oleh minimnya antusias negara anggota untuk melakukan aksi militer bersama secara kolektif. Saling berbagi kepentingan. Marta Dassu. Aspen Institute Italia. baik manusia. 129. hlm.156 Ambiguitas yang muncul dalam menciptakan kebijakan luar negeri Eropa dikarenakan UE tidak pernah menentukan ruang lingkup tanggung jawab keamanannya sendiri. . diakses pada tanggal 23 Desember 2003. tidak dapat begitu saja muncul pada institusi bersama seperti Uni Eropa. Ketika kepentingankepentingan yang ada sangat beragam. dan kapasitas industri. untuk memisahkan ‘high politics’ (masalah pertahanan. Roberto Menotti. keamanan) dengan ‘low politics’ (menyangkut bidang ekonomi.157 156 157 Ibid. Padahal Eropa memiliki sumber daya.pdf.aspeninstitute.. kerjasama fungsional).it/icons/imgAspen/pdf/news/n22_dassu&menotti_e. negara-negara akan enggan untuk menyerahkan kekuasaannya kepada institusi kebijakan luar negeri dan keamanan bersama Eropa sebagai suatu unit yang dapat dikatakan masih bersifat abstrak. yaitu kenyataan sangat sulitnya.95 deskripsi institusionalisasi CFSP di atas ternyata memunculkan problem baru. Permasalahan kebijakan luar negeri UE tercermin dari terbatasnya kapasitas untuk aksi militer bersama dalam ruang lingkup yang lebih luas. bahan baku. ditambah aktor yang bermain di dalamnya adalah berdaulat. untuk menciptakan suatu kekuatan militer yang kuat. pada isu-isu atau wilayah geografis di mana UE seharusnya memiliki mandat untuk bertindak secara kolektif sebagai organisasi utama. Why Europe is Divided on Foreign Policy: Learning Lessons from the Iraq Debate. http://www. Problema dalam menciptakan suatu kebijakan luar negeri bersama terletak pada bagaimana agar dapat menciptakan suatu kepentingan bersama.

guardian. Setidaknya terdapat dua perbedaan mendasar yang terjadi di antara negara anggota.96 Kita dapat melihat bahwa krisis Irak telah menunjukkan kegagalan CFSP dalam mengkoordinasikan suatu posisi bersama karena negara-negara anggota Uni Eropa lebih memilih untuk mengambil posisi nasional. Krisis Irak menunjukkan bahwa dalam Uni Eropa belum tercipta suatu prinsip akomodatif dan adaptif.basicint. namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian negara anggota memilih untuk memperbantukan kekuatan militernya ke kawasan teluk. diakses pada tanggal 23 Desember 2003.htm. The Iraq Conflict and the Future of Europe. 159 Andrew Osborn.158 Jarak yang tercipta antara pro-invasi dengan anti-invasi.00. terlalu lebar untuk dijembatani.ac. sedangkan negara-negara anggota nampak enggan untuk melakukan adaptasi kebijakan keamanan bersama mereka jika hanya didasari oleh pernyataan sikap semata. Foreign Affairs Council menyebutkan bahwa kekuatan militer seharusnya merupakan pilihan terakhir. Negara-negara tersebut memilih pendekatan yang kedua dalam mencapai keamanan nasionalnya. yaitu dengan cara konvensional seperti menggunakan kapabilitas militer yang dimiliki. Uni Eropa gagal mengakomodir kepentingan-kepentingan nasional negara anggota. http://www.org/iraqconflict/Pubs/Discussion%20Papers/DS210303. 160 http://www. diakses pada tanggal 2 September 2003. . http://www. Dark Days for Europe.uk/ecpr/events/generalconference/marburg/papers/26/4/Youngs.html.uk/elsewhere/journalist/story/0.914499. 158 Glenys Kinnock. maupun dengan pihak yang memilih untuk bersikap netral.160 Pertama adalah interpretasi tentang penggunaan kekuatan militer.7792.159 Perbedaan yang timbul di antara negara-negara anggota akan semakin membuat sulit untuk mencapai kemajuan di bidang kerjasama kebijakan luar negeri dan keamanan.co. baik dukungan logistik maupun politis.p df. diakses pada tanggal 2 September 2003.essex.

Kedua. Para pemimpin Eropa nampaknya memiliki persepsi yang berbeda dalam mengartikan konsep ‘Barat’. dengan Amerika Serikat. Hal ini menyangkut persepsi sebagian negara anggota yang beranggapan bahwa UE belum bisa bergerak cepat dalam menangani perkembangan krisis yang terjadi dengan sangat cepat. Mereka lebih memilih untuk tetap berada dalam kerangka UE serta PBB sebagai perwujudan usaha mencapai keamanan nasionalnya melalui kerjasama di antara negara-negara demi meminimalisir bahaya dan ancaman yang mungkin timbul. untuk menciptakan posisi bersama terhadap isu-isu yang dianggap vital. . negara anggota. atau tidak ingin.97 Di sisi lain negara besar seperti Perancis dan Jerman memilih untuk menentang invasi. Negara seperti Inggris nampaknya setuju dengan konsep ‘Barat’ yang unipolar dengan AS sebagai pemimpin utamanya. Sementara beberapa negara anggota berpendapat bahwa alasan mereka bersekutu dengan AS adalah demi menjembatani perbedaan yang terjadi dalam aliansi transatlantik. hubungan Uni Eropa. Uni Eropa sebagai sebuah institusi tidak mendapatkan posisi sebagai pihak yang dianggap mampu untuk dipertimbangkan sebagai sarana konsultasi oleh negara anggota. Namun negara seperti Perancis dan Jerman menginginkan suatu konsep ‘Barat’ yang bipolar dengan Uni Eropa sebagai institusi yang diharapkan dapat menandingi hegemoni Amerika Serikat. Krisis Irak menunjukkan bahwa beberapa negara anggota UE tidak siap. karena UE sendiri belum memiliki sarana untuk meyakinkan negara anggota untuk menggunakan UE sebagai forum konsultasi utama maupun pembuatan keputusan. negara anggota lain tidak sependapat.

Irlandia. Impian para pemimpin Eropa terdahulu yang menginginkan negara-negara di kawasan Eropa Barat bersatu menjadi kenyataan melalui Perjanjian Maastricht tahun 1991. Yunani. Perjanjian Maastricht secara resmi berlaku terhitung tanggal 1 November 1993. yaitu mencapai dan mempertahankan kepentingan suatu negara dalam politik internasional. Tentu saja hal tersebut membuat perjanjian. BAB 5 KESIMPULAN Uni Eropa muncul sebagai sebuah entitas dalam hubungan internasional seiring berakhirnya perang dingin dan reunifikasi yang terjadi di Jerman. Hal ini sesuai dengan poin utama dari politik luar negeri realisme. Dalam kasus ini kita dapat memahami bagaimana kelompok negara-negara mengabaikan institusi sebesar UE dan PBB di kala krisis teluk terjadi. Italia. peraturan. nilai-nilai realisme yang dianut oleh negara-negara anggota masih sangat kental terasa. konvensi. Denmark. Jerman. Belanda. Setelah melalui ratifikasi oleh semua negara anggota penandatangan perjanjian. Inggris. Luksemburg. Portugal. yaitu Belgia. hukum antarnegara dapat dikesampingkan dikala terjadi konflik kepentingan di antara negara-negara. Kepentingan nasional serta persepsi ancaman yang berbeda membuat strategi politik luar negeri dan keamanan masing-masing negara juga berbeda.98 Perbedaan kebijakan di antara negara anggota UE sekaligus menunjukkan kepada dunia internasional bahwa dalam suatu struktur internasional seperti UE. dan Spanyol. Perancis. Uni Eropa mendasari kerjasama di .

kubu Inggris beserta Italia dan Spanyol yang lebih ‘atlantis’. dalam proses integrasi Uni Eropa terkandung pengertian akomodatif dan adaptif.99 antara negara anggotanya melalui tiga pilar utama. Justice and Home Affairs. Idealnya. Integrasi politik yang dicita-citakan membutuhkan adanya suatu pergeseran loyalitas. Negara-negara anggota Uni Eropa tidak . harapan dan aktivitas politik dari negara-negara yang berintegrasi kepada suatu pusat yang baru. maupun dengan kubu Yunani dan negara kecil yang memilih untuk bersikap netral. di mana setiap negara anggota Uni Eropa pada akhirnya akan melakukan suatu penyesuaian – atau suatu adaptasi – pada setiap kebijakan-kebijakan Eropa. Kenyataannya krisis di kawasan teluk tersebut telah menunjukkan sejumlah perbedaan mendasar yang terjadi di dalam Uni Eropa serta menguak kelemahan Uni Eropa dalam pembuatan kebijakan luar negeri. serta Common Foreign and Security Policy (CFSP). meskipun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan UE kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan nasional yang dipersepsikan suatu negara anggota. Keinginan Uni Eropa untuk suatu saat dapat berbicara di panggung internasional dengan satu suara di bidang kebijakan luar negeri dan keamanan masih sangat jauh dari yang diharapkan. yaitu pilar European Community. Meskipun Uni Eropa telah berusaha untuk menggalang sejumlah pertemuan tingkat tinggi di antara negara anggota. terlalu besar untuk sekedar dijembatani. namun perbedaan yang terjadi di antara kubu FrancoJerman. Uni Eropa menghadapi ujian sesungguhnya sebagai sebuah aktor yang tengah mencari kapabilitasnya ketika krisis Irak terjadi.

dan Inggris. Perancis.100 menunjukkan adanya proses akomodatif dan adaptif terhadap hasil pertemuan yang dilakukan Uni Eropa. terutama negara besar seperti Jerman. CFSP yang diadopsi oleh European Council . Pertama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi suatu tantangan dan krisis internasional yang besar. Uni Eropa gagal dalam mempromosikan atau mengusahakan terciptanya suatu strategi internasional. Suatu kebijakan luar negeri dan keamanan bersama Uni Eropa yang kuat dan efektif hanya akan terwujud jika negara-negara anggota. instrumen Uni Eropa dalam menangani manajemen krisis masih berada pada tahap kelahirannya. Penyebab kegagalan terciptanya posisi bersama di antara negara-negara anggota Uni Eropa dapat disimpulkan sebagai kegagalan institusional Uni Eropa dalam mengintegrasikan kebijakan luar negeri dan kebijakan keamanan anggotanya. Oleh karenanya peneliti menyimpulkan tiga penyebab utama terpecahnya suara negara-negara Eropa dalam menyikapi rencana invasi Amerika Serikat terhadap Irak di tahun 2003 yang lalu. Kegagalan Uni Eropa untuk menyatukan posisi terhadap krisis Irak dikarenakan Eropa tidak memiliki strategi yang sama terhadap kawasan teluk yang dapat menjadi titik awal pendekatan yang sama terhadap krisis Irak. yang akan memunculkan posisi bersama. bersama-sama mengembangkan strategi bersama serta secara konsisten berkoordinasi dan beroperasi dengan menggunakan strategi tersebut. tidak terlihat tandatanda terciptanya keinginan politik negara-negara anggota untuk mengembangkan strategi bersama tersebut. Saat terjadinya krisis Irak.

Council of Ministers. Tanpa adanya garis otoritas yang tegas. namun di sisi lain akan menimbulkan kendala dalam menghasilkan Eropa dengan suara tunggal. Uni Eropa masih harus menghadapi kenyataan klasik akan sulitnya memisahkan ‘high politics’ dengan ‘low politics’. semuanya dapat menjadi sumber pembuat kebijakan luar negeri. pada isu-isu atau wilayah geografis di mana UE seharusnya memiliki mandat untuk bertindak secara kolektif dengan suara tunggal sebagai organisasi utama. Kedua. Negara anggota sebagai aktor yang memegang kedaulatan penuh. kesepakatan tidak akan menjadi kenyataan. Hal ini berarti Uni Eropa belum dapat menentukan ruang lingkup tanggung jawab kebijakan luar negeri dan keamanan bersamanya sendiri. Predikat yang disandang oleh Uni Eropa sebagai sebuah unitary actor ternyata dihadang oleh hambatan struktural. Pihak-pihak yang dapat menjadi sumber pembuatan kebijakan luar negeri di dalam Uni Eropa sangat banyak. komisioner hubungan eksternal Uni Eropa. yang berimbas pada masalah koordinasi pembuatan kebijakan yang masih dirasakan sangat kompleks. CFSP yang dibentuk sebagai instrumen untuk menyatukan konsep kebijakan luar negeri dengan konsep . Proses enlargement yang dilakukan oleh Uni Eropa di satu sisi merupakan keberhasilan tersendiri di bidang kebijakan luar negeri. European Council. Tidak adanya semacam ‘Menteri Luar Negeri Uni Eropa’ membuat dualitas fungsi yang dijalani oleh Chris Patten dan Javier Solana sangat tidak efektif.101 melalui Perjanjian Maastricht di tahun 1991 hingga saat in masih berjuang dalam menemukan bentuk institusi serta kapabilitasnya. hingga perwakilan tinggi untuk CFSP.

. Kebijakan keamanan akan selalu bersinggungan dengan kebijakan luar negeri dan kebijakan domestik yang tercermin dari kepentingan nasional negara-negara anggota. Saling berbagi kepentingan. yang masing-masing dapat memilih untuk mengambil posisi nasional atas suatu isu vital. Problema dalam menciptakan suatu kebijakan luar negeri bersama terletak pada bagaimana agar dapat menciptakan suatu kepentingan bersama. Pemikiran realis yang memandang negara sebagai aktor terpenting. tidak dapat begitu saja muncul pada institusi bersama seperti Uni Eropa. bahwa anggotanya terdiri atas negara-negara berdaulat.102 keamanan harus bekerja ekstra keras untuk mendefinisikan ruang lingkup wewenangnya. Konsep penyerahan sebagian kedaulatan terhadap institusi supranasional seperti Uni Eropa tidak dikatakan gagal tercipta. negara-bangsa tampak enggan untuk mengakomodir maupun mengadaptasi suatu kebijakan bersama. Belum adanya suatu konstitusi tertulis yang diharapkan dapat mengatur negara anggotanya membuat Uni Eropa tidak memiliki kekuatan untuk memaksa anggotanya untuk mengikuti kebijakan-kebijakan Uni Eropa. Penyebab kegagalan yang terakhir terletak pada kenyataan yang harus dihadapi oleh Uni Eropa. Namun ketika berbicara masalah kebijakan luar negeri dan keamanan. contohnya penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa. apalagi dalam bidang keamanan. yang memiliki kedaulatan mutlak untuk menentukan nasibnya sendiri menyebabkan beberapa negara enggan untuk mengadaptasi kebijakan bersama Uni Eropa. apalagi jika dihadapkan pada krisis besar seperti Irak.

103

DAFTAR PUSTAKA

Amstutz, Mark R. International Conflict and Cooperation: An Introduction to World Politics. Dubuque: Brown & Benchmark Publishers, 1995. Caporaso, James A. The European Union: Dilemmas of Regional Integration. Boulder: Westview Press, 2000. Couloumbis, Theodore A., and James H. Wolfe. Pengantar Hubungan Internasional: Keadilan dan Power. Terjemahan Marcedes Marbun. Edisi ketiga. Bandung: Abardin, 1986. Hill, Christopher, ed. The Actors in Europe’s Foreign Policy, London: Routledge, 1996. Howorth, Jolyon, and Anand Menon, ed. The European Union and National Defence Policy. London: Routledge, 1997. Jackson, Robert, and Georg Sørensen. Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press, 1999.

104

Jensen, Lloyd. Explaining Foreign Policy. New Jersey: Prentice Hall, 1982. Kegley, Charles W. Jr., and Eugene R. Wittkopf. World Politics: Trends and Transformation. 6th ed. New York: St. Martin Press, 1997. Lentner, Howard H. Foreign Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio, Charles E. Merrill Publishing Company, 1974. Linberg, Leon, and Stuart Scheigold. Europe’s World Policy. New Jersey: Prentice Hall, 1971. Macridis, Roy C., ed. Foreign Policy in World Politics. London: Prentice Hall Inc., 1995. Mas’oed, Mohtar. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3S, 1990. . Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi. Yogyakarta: PAU Studi Sosial UGM, 1989. Ministry of Defence. The Strategic Defence Review. Cm 3999. London: The Stationary Office, 1998. Ministry of Defence. The Strategic Defence Review: A New Chapter. Cm 5566 Vol. I. Norwich: The Stationary Office, 2002. Nugent, Neill. The Government and Politics of the European Union. Durham: Duke University Press, 1994. Pearson, Frederic. The Global Spread Arms. Boulder: Westview Press, 1994. Peterson, John, and Michael Shackleton, ed. The Institutions of the European Union. New York: Oxford University Press, 2002. Rosati, Jerel A. The Politics of United States Foreign Policy. Orlando: Harcourt Brace Jovanovich, 1993. Rosenau, James N., Kenneth W. Thompson, and David Boyd. World Politics: An Introduction. London: Collier MacMillan Publishing Company, 1976. Sarkesian, Sam. US National Security: Policymakers, Processes and Politics. Boulder: Westview Press, 1989. Viotti, Paul R., and Mark V. Kauppi. International Relations and World Politics: Security, Economy, Identity. New Jersey: Prentice Hall, 1997.

105

Koran, Jurnal dan Bahan Perkuliahan “Britain, Maastricht, and Europe”, Survey of Current Affairs, Vol. 22, No. 7, Agustus, 1992. Journal of Common Market Studies, Vol. 38, No. 2, Blackwell Publishers Ltd., Oxford, Juni, 2000. Kompas, 15 Januari 2003. Kompas, 11 Februari 2003. Kompas, 14 Februari 2003. Kompas, 18 Februari 2003. Kompas, 19 Februari 2003. Kompas, 14 Maret 2003. Hughes, Kirsty. European Foreign Policy Under Pressure, dalam The Brown Journal of World Affairs, Centre for European Policy Studies, Vol. IX, Issue 2, Winter/Spring, 2003. , et al. France, Germany and the UK in the Convention: Common Interests or Pulling in Different Directions?, EPIN Working Paper, No. VII, Brussels, Juli, 2003. Reading materials for Strategic Studies Course, compiled by Anak Agung Banyu Perwita, Ph.D, Department of International Relations, Parahyangan Catholic University, Bandung. Sjursen, Helene. Redefining Security?: The Role of the European Union in European Security Structures, ARENA report, No. 7, 2000. The European Union and The World: Europe on the Move. Luxembourg: Office for Official Publications of the European Communities, 2001. The European Union’s Common Foreign and Security Policy. Luxembourg: Office for Official Publications of the European Communities, 1996. The New York Times, 21 Juli 2002.

doc-bxa.org/articles/2002/feb2002/euro-f15.10. Werner.eu.htm. Dassu.bmpcoe. http://www. http://www.wsws. Europe From A to Z: Guide to European Integration.rferl. “Britain’s Search for a New Role in the World”. European Union Foreign Ministers Divided on Iraq War.org/nca/features/2003/03/12032003175541. dalam The Observer.com/kompas%2Dcetak/0202/26/ln/asda02. http://www. AS dan Inggris Rencanakan Aksi Militer ke Irak. http://www. and Roberto Menotti. . How to Deal with Iraq: the European Perceptions.pdf.aspeninstitute.shtml . William. European Diversification and Defense Market Guide.kompas. Aspen Institute Italia. Why Europe is Divided on Foreign Policy: Learning Lessons from the Iraq Debate.htm. Extracts from the Conclusions of the European Council. The EU Policy Network.com/kompas%2Dcetak/0301/24/ln/95622. 1993. 1997. Reconstruction Aid not Guaranteed.int/comm/external_relations/iraq/intro/ec170203. http://www. http://www. Agustus. http://www.kompas.wsws.it/icons/imgAspen/pdf/news/n22_dassu&menott i_e.eupolicynetwork.shtml. Aspen European Dialogue. .org/dassu. http://www. Kirsten. EU: Patten Says Rift Over Iraq Threatens EU Cohesion.org/iddma-guides-europe.asp.org/articles/2002/sep2002/euro-D3%2.eusec. http://www.106 Wallace. and Wolfgang Wessels. U.htm. European Security: French and UK Perspectives. Marta. 531. Internet dan Media Elektronik Lainnya AS Bersitegang dengan Perancis dan Jerman soal Serangan ke Irak.S Department of Commerce.org.uk/research/flynn2. Luxembourg: Office for Official Publications of the European Communities.htm. No. http://europa. Flynn.html. Weidenfeld. European Foreign Ministers Attack Bush’s Policy.pdf.

http://www.7792.eu.914499.cnn.uk/cps/2003/christian%20schweiger.europeum.ac.org/iraqconflict/Pubs/Discussion%20Papers/DS21030 3.int/scadplus/leg/en/lvb/r00001.kompas. Pachta.pdf.fra nce/. Joint Position on Iraq Adopted by the “15” . http://www. Democracy Coalition Project.irq. Microsoft Encarta Reference Library. 1994.demcoalition. The Iraq Conflict and the Future of Europe.htm. Christian.dephan. Russia offer Alternative to War.gouv.htm.107 France. The Impact of the Iraq Crisis on British-German Relations. Schweiger.int http://ue. Kinnock.int . Germany.go. http://europa.the “13” Concur.basicint.int/w/rwb. http://www. http://www.00.mil/ssi/pubs/1994/nato/nato. http://europa. http://www. http://www.htm. France. Schmidt. Dark Days for Europe. Lukas. Peter. 2003. France: Driving Force of the EU Common Foreign and Security Policy?.org/pdf/France.id/strahan/inggris2.com/2003/WORLD/meast/02/24/sprj.carlisle.ht m.pdf.com/kompas%2Dcetak/0301/31/ln/107391.army. http://www.htm.guardian. The Common Foreign and Security Policy: Introduction.pdf. Sikapi Rencana Serangan AS ke Irak Eropa Terpecah.co.germany.eu. La Defense Nationale.uk/elsewhere/journalist/story/0. http://www. Glenys. Germany. Andrew. http://www. Derby.psa. http://www.pdf.eu.fr/def_natio/anglais/why. French Ministry of Defense. 2003.org/en/Analyses/France_Lukas_Pachta.reliefweb.iraq. http://www. Osborn.html.defense. France.nsf/0/ceead0f3b97e79a4c1256cd2005bcb 9a?OpenDocument. Keterlibatan Inggris dalam Rencana Penyerangan Irak. and NATO. Defending Democracy: A Global Survey of Foreign Policy Trend 19922002.

uk http://www.fr http://www.org http://www.org http://www.diplomatie.publications.essex.number-10.no http://www.com .108 http://www.com http://www.france.arena.suaramerdeka.ac.org.parliament.uk http://www.gov.kompas.tr http://www.uk http://www.foreignpolicy.uk http://www.be http://www.resdal.co.guardian.ciaonet.ceps.uio.