P. 1
Membangun SID Surakarta 26 Juni 2008

Membangun SID Surakarta 26 Juni 2008

|Views: 149|Likes:
Published by Tatang Taufik
Bahan diskusi bagaimana Kota Surakarta mengembangkan sistem inovasi daerah (Bahan pembentukan DRD Surakarta).
Bahan diskusi bagaimana Kota Surakarta mengembangkan sistem inovasi daerah (Bahan pembentukan DRD Surakarta).

More info:

Published by: Tatang Taufik on Aug 09, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2009

pdf

text

original

Workshop “Membangun Sistem Inovasi Daerah” Surakarta, 26 Juni 2008

Tatang A. Taufik Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

MEMPRAKARSAI PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH

OUTLINE

Kerangka Pikir

Review Beberapa Konsep/Pengertian

Penguatan Kelembagaan bagi Pengembangan SID

Kerangka Strategis Pengembangan SID

2

OUTLINE

Kerangka Pikir

Review Beberapa Konsep/Pengertian

Penguatan Kelembagaan bagi Pengembangan SID

Kerangka Strategis Pengembangan SID

3

TANTANGAN : PEMBANGUNAN YANG BERBASIS PENGETAHUAN
Kesejahteraan/Kemakmuran, Kemandirian & Peradaban Bangsa

Knowledge Economy

Knowledge Society

Daya Saing dan Kohesi Sosial

Sistem Inovasi

Isu-isu Kontekstual
Kecenderungan dan Tantangan Universal Globalisasi Kemajuan Iptek, Inovasi

Ekonomi Pengetahuan

Klaster Industri

1. 2. 3. 4.

SDM yang terdidik, kreatif, dan terampil Infrastruktur komunikasi yang dinamis Sistem inovasi yang efektif Pemerintahan, insentif ekonomi dan rejim kelembagaan yang mendukung

1. Sistem informasi dan komunikasi 2. Pembelajaran seumur hidup dan budaya inovasi 3. Sistem inovasi yang efektif 4. Modal sosial 5. Kepemimpinan/kepeloporan dalam pemajuan sosial budaya masyarakat 6. Rejim kebijakan yang kondusif


Ekonomi Jaringan Faktor-faktor Lokalitas 4

OUTLINE

Kerangka Pikir

Review Beberapa Konsep/Pengertian

Penguatan Kelembagaan bagi Pengembangan SID

Kerangka Strategis Pengembangan SID

5

ESENSI 1

• Sistem inovasi ~ Pendekatan sistem (system approach)

• Kebijakan inovasi ~ Kegagalan sistemik (systemic failures)

6

REVIEW : PENGERTIAN SISTEM INOVASI DAN KEBIJAKAN INOVASI

 Sistem Inovasi : suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, jaringan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik), serta proses pembelajaran.  Kebijakan inovasi (innovation policy) merupakan kelompok kebijakan yang mempengaruhi kemajuan-kemajuan teknis dan bentuk inovasi lainnya, yang pada dasarnya bertujuan :
 Membangun/mengembangkan kapasitas inovatif setiap “simpul” (fungsi/kegiatan/proses) dalam sistem inovasi;  Meningkatkan/memperlancar aliran pengetahuan dalam dan antarfungsi/kegiatan/proses dalam sistem inovasi (ini juga berarti meningkatkan proses pembelajaran dalam sistem); dan  Memperkuat hubungan dan keterkaitan rantai nilai vertikal dan horisontal antar- fungsi/kegiatan/proses produksi, litbang, adopsi dan difusi (termasuk komersialisasi) dan fungsi/kegiatan/proses penunjang dalam sistem inovasi.

7

SISTEM INOVASI : BERBAGAI ELEMEN PENTING
Permintaan (Demand)
Konsumen (permintaan akhir) Produsen (permintaan antara)

Sistem Politik
Pemerintah Penadbiran (Governance) Kebijakan RPT

Sistem Pendidikan dan Litbang
Pendidikan dan Pelatihan Profesi Pendidikan Tinggi dan Litbang Litbang Pemerintah Intermediaries Lembaga Riset Brokers

Sistem Industri
Perusahaan Besar
UKM “Matang/ Mapan”

PPBT

Supra- dan Infrastruktur Khusus
Standar dan Norma Dukungan Inovasi dan Bisnis HKI dan Informasi Perbankan Modal Ventura

Framework Conditions
Kondisi Umum dan Lingkungan Kebijakan pada Tataran Internasional, Pemerintah Nasional, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota
• • • • • • Kebijakan Ekonomi Kebijakan ekonomi makro Kebijakan moneter Kebijakan fiskal Kebijakan pajak Kebijakan perdagangan Kebijakan persaingan
Kebijakan Industri/ Sektoral Kebijakan Promosi & Investasi Kebijakan Keuangan Infrastruktur Umum/ Dasar • Sikap dan nilai • Keterbukaan terhadap pembelajaran dan perubahan • Kecenderungan terhadap Inovasi dan kewirausahaan • Mobilitas

Budaya

Alamiah SDA (Natural Endowment)

Catatan : RPT = Riset dan Pengembangan Teknologi (Research and Technology Development) PPBT = Perusahaan Pemula (Baru) Berbasis Teknologi.

8

SISTEM INOVASI : DINAMIKA INTERAKSI

Daerah Pengetahuan dan Inovasi

Sistem Inovasi Daerah (SID)

Interaksi

Litbang & PT

Pembelajaran

Keterkaitan dan Jaringan

Pemerintah

Bisnis

Sistem Inovasi

9

SISTEM INOVASI : SUBSISTEM DAN KETERKAITAN MULTIDIMENSI
Klaster Industri 3

Sistem Inovasi Nasional
Klaster Industri 1

SID

SID

Sektor I
Klaster Industri:

Daerah A

Daerah C

Sektor II

Klaster Industri 1-Z Klaster Industri 3-B Klaster Industri 2-C

Sektor III
SID : Sistem Inovasi Daerah.

Klaster Industri 1-A

10

ESENSI 2 : IMPLIKASI KEBIJAKAN

• Intervensi untuk mendorong pembangunan yang berbasis pengetahuan : Kebijakan inovasi, dengan kerangka pendekatan sistem. • Kebijakan inovasi merupakan proses pembelajaran yang perlu diarahkan pada pengembangan sistem inovasi yang semakin mampu beradaptasi. • Kebijakan inovasi tak lagi hanya menjadi ranah monopoli dan tanggung jawab Pemerintah ”Pusat,” tetapi juga Pemerintah ”Daerah.”

11

KELOMPOK “SUMBER” KEGAGALAN YANG MELANDASI PERLUNYA KEBIJAKAN “Sedikit” dibahas/diperhatikan, tetapi sebenarnya sering dihadapi dalam kenyataan. Kegagalan Pemerintah

Kegagalan Pasar Kegagalan Sistem
Argumen yang “sangat/paling luas” diterima oleh ekonomi “arus utama”. Argumen yang “mulai muncul” dan menjadi “dasar dalam paradigma sistem inovasi” tetapi belum banyak diterima oleh ekonomi “arus utama”.
12

ILUSTRASI KETERKAITAN KEBIJAKAN BAGI KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI
Kebijakan Ekonomi Makro  Moneter  Fiskal  Perdagangan

Kebijakan Pendidikan  Pengetahuan dan Keterampilan  Kreativitas  Profesionalisme  Kewirausahaan Kebijakan Litbang Kebijakan Sains

Kebijakan Industri  Investasi  Perpajakan - Subsidi  Insentif  Regulasi - Deregulasi

Kebijakan Inovasi

Kebijakan Daerah
Kebijakan Teknologi

Kemajuan Industri: Daya Saing, Kapasitas Inovatif, Tingkat Difusi, Pembelajaran, Kewirausahaan

Perbaikan Bisnis yang Ada Perkembangan Bisnis Pemula yang Inovatif

Perkembangan Investasi

13

KERANGKA PEMETAAN INSTRUMEN KEBIJAKAN INOVASI
Agenda Strategis

Fungsi, Aktivitas dan Aktor Sistem Inovasi
Sisi Obyek/Aktor yang Dipengaruhi

Tujuan Kebijakan Isu Kebijakan Harus semakin jelas exit policy -nya

Karakteristik Pengaruh/Dampak

Implisit

Tatanan Kelembagaan (Institutional Setting)

Dampak Fungsi dan Variabel Sistem Inovasi

Li Tu ngk ju up an

Faktor Kontekstual

Spesifik

Eksplisit

Fungsional
14

Sisi Penyediaan (Supply Side)

Bidang Keterkaitan (Linkage Area)

Sisi Permintaan (Demand Side)

KRITERIA KEBIJAKAN

• Efektivitas. • Efisiensi. • Memiliki daya bangkitan yang signifikan (significant leveraging effects). • Kelayakan cakupan (adequacy of scope). • Memenuhi kaidah pasar (conforming to the market mechanisms). • Konsistensi. • Koherensi. • Keterbukaan dan akuntabilitas. • Komitmen kebijakan.
15

KERANGKA UMUM POLA KOORDINASI

Prakarsa Tematik dan/atau Spesifik
N A S I O N A L D

Dimensi Nasional

Dimensi Daerah

A E R

Kerangka Kebijakan Inovasi Kondisi Umum (Framework Conditions)

A H

16

ESENSI 3 : KOHERENSI KEBIJAKAN

• • •

• •

Kerangka kebijakan (policy framework) Governance : termasuk kelembagaan, kewenangan, tugas & fungsi Willingness : – Political will & komitmen dari pembuat kebijakan – Good will dan komitmen dari pelaku dan stakeholders lain Kemampuan, untuk bertindak saling mengisi, saling melengkapi, saling memperkuat sehingga menghasilkan sinergi positif Perubahan mindset.

17

OUTLINE

Kerangka Pikir

Review Beberapa Konsep/Pengertian

Penguatan Kelembagaan bagi Pengembangan SID

Kerangka Strategis Pengembangan SID

18

ORGANISASI PENADBIRAN INOVASI (INNOVATION GOVERNANCE)
Tingkat 1 Kebijakan lintas bidang tingkat tinggi Pemerintah Dewan kebijakan

Tingkat 2 Koordinasi yang berpusat pada misi kementerian

Departemen/ Kementerian Industri, dll.

Departemen/ Kementerian Riset dan Teknologi

Departemen/ Kementerian Sektoral lainnya

Tingkat 3 Koordinasi & pengembangan kebijakan yang lebih rinci Tingkat 4 Pelaku riset dan inovasi

Dewan Riset dan Akademi

Badan Teknologi dan Inovasi

Badan-badan Program Pendukung

Kontraktor Program Lembaga Litbang Perguruan Tinggi

Perusahaan, Pertanian, Rumah sakit, dsb.

Produsen:

19

“STRUKTUR ORGANISASI” PENADBIRAN (GOVERNANCE) KEBIJAKAN DI DAERAH
Kebijakan, Program, Kegiatan dan Organisasi serta Jaringan di Luar Daerah, Nasional & Internasional
Tingkat 1 Kebijakan lintas bidang tingkat tinggi Tingkat 2 Koordinasi yang berpusat pada misi Perangkat Daerah (Badan/Dinas/ Kantor, dll.)

Gubernur/ Bupati/Walikota
DRD Asisten, Ka. Bappeda & Ka. Perangkat Daerah tertentu

DPDS
Tim/Gugus Tugas Tim Ahli

DPRD

Badan/Dinas/ Kantor Sektoral

Badan/Dinas/ Kantor Lintas Sektor

Organisasi Perangkat Daerah lainnya

Tingkat 3 Koordinasi Implementasi

Kegiatan

Kegiatan

Kegiatan

Tingkat 4 Pelaku litbang/ inovasi Perguruan Tinggi

Lembaga Litbang/ UPTD, dll.

Kontraktor Program

Produsen

Konsumen

Litbang Swasta/Non-pemerintah

Keterangan:
Instruksi, Sumber Daya Saran (Advis) / Pelaporan Hasil
Koordinasi dan Integrasi Horisontal (Kerjasama)

Instruksi, Sumber Daya, Saran/ Pelaporan, Hasil, Koordinasi dan Integrasi Horisontal & Vertikal (Kerjasama)

20

KELEMBAGAAN DPDS & DRD

• Lembaga “fungsional” – fungsi publik – peran umum : policy advisory & advocacy – catatan :
• di banyak negara ada pula yang berperan sekaligus sebagai funding agency • berbeda dengan S&T Council ( atau Innovation Council dan/atau Competitiveness Council) di beberapa negara biasanya merupakan kelembagaan penentu/pengambil kebijakan secara kolektif

• Peran memberikan dukungan untuk mendorong pertumbuhan dan sinergi berbagai unsur dalam sistem.

21

OUTLINE

Kerangka Pikir

Review Beberapa Konsep/Pengertian

Penguatan Kelembagaan bagi Pengembangan SID

Kerangka Strategis Pengembangan SID

22

TANTANGAN DI INDONESIA

 Kondisi dasar yang belum teratasi sebagai prasyarat agar upaya pengembangan/ penguatan SIN dapat ditingkatkan;  Persoalan/isu pokok yang perlu dipecahkan agar SIN berkembang dan kemajuannya dapat dipercepat;  Rendahnya kepeloporan untuk melakukan perbaikan dalam jangka panjang; dan  Fragmentasi kebijakan di berbagai bidang.

23

STRATEGI POKOK

 Memperbaiki kondisi dasar sebagai prasyarat bagi peningkatan upaya pengembangan/penguatan SIN.  Melakukan reformasi kebijakan inovasi di berbagai sektor/bidang dan lintas-sektor/bidang serta pada tataran pemerintahan yang berbeda, secara bertahap dan berkelanjutan.  Mengembangkan kepemimpinan (leadership) dan memperkuat komitmen nasional dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi nasional dan daerah.  Meningkatkan koherensi kebijakan inovasi di tingkat nasional dan daerah.
CATATAN : Elaborasi tentang ini dapat dilihat antara lain dalam rujukan.
24

Kerangka dan Elemen Penting bagi Perkembangan Sistem Inovasi Daerah
Kerangka Kebijakan
(kerangka dan instrumen, termasuk regulasi daerah)

• Yang telah ada • Baru dan/atau pemula • Ke daerah • Ke luar daerah

Bisnis

Keterkaitan, Jaringan & Interaksi Produktif
Permintaan Penyediaan pengetahuan/ pengetahuan/ inovasi: inovasi: Akses • Penciptaan/ Adopsi pengembangan Pemanfaatan • Alih Pengembangan Kewirausahaan, Komersialisasi & Difusi

Investasi
• • • •

• • • • •

Pendanaan litbang Modal berisiko Perbankan Jasa keuangan lain Pasar modal

Sistem Pembiayaan bagi Aktivitas Inovasi

• Litbang (& rekayasa) • Lab. Khusus (& Taman Iptek) • Inkubator & PJPB/BDSP • Jasa legal, bisnis/ manajemen, kewirausahaan • SDM • Organisasi profesi & bisnis • Jaringan khusus

Infrastruktur dan Dukungan Khusus dan/atau Terspesialisasi

Infrastruktur Dasar

Pengetahuan “Lokal”
• Embodied • Disembodied (tacit dan yang terkodifikasi)

• Lokal • Global (antardaerah, nasional, internasional)

Kebutuhan “Pasar”

Pengetahuan “Global” (Nasional & Internasional)
• Embodied • Disembodied (tacit dan yang terkodifikasi)

Lembaga/Organisasi lain yang Terkait dengan Daerah
(pemerintah, swasta, dan non-pemerintah, termasuk lembaga internasional)

25

TANTANGAN KEBIJAKAN INOVASI

Merumuskan konsep KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI (INNOVATION POLICY FRAMEWORK)
– yang menjadi acuan bersama, – diterjemahkan ke dalam tindakan dengan sasaran yang jelas dan terukur, – secara konsisten diimplementasikan, – dipantau dan dievaluasi, serta – diperbaiki secara terus-menerus.

Proses dan produk kebijakan inovasi yang baik pada dasarnya merupakan proses dan produk pembelajaran
26

ISU KOHERENSI KEBIJAKAN DI INDONESIA

• Fragmentasi “sektoral”; • Dikotomi “Pusat/Nasional” – “Daerah”; • Tumpang-tindih dan Inkonsistensi antar “bidang/aspek”; • Perkembangan sistem pemerintahan; • Kebutuhan proses pembelajaran kebijakan yang lebih baik; • Kebutuhan respons kebijakan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi atas dinamika perubahan dan tantangan.

27

USULAN PERBAIKAN KERANGKA KEBIJAKAN

Beberapa aspek pertimbangan agenda :
• • Tema kebijakan inovasi yang mendasar (fundamental) dan luas; Bersifat universal bagi konteks nasional dan daerah serta kondisi sektoral/industrial pada umumnya di Indonesia; Bidang-bidang yang saling berkaitan dan bersifat cross-cutting issues; Merupakan faktor kunci (sangat penting) bagi prakarsa-prakarsa berdasarkan situasi saat ini dan antisipasi ke depan; Dapat menjadi agenda kolaboratif pada tataran nasional dan daerah.
28

• •

ISU KEBIJAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DI INDONESIA

 Kelemahan kerangka umum.  Kelemahan kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang serta rendahnya kemampuan absorpsi UKM.  Kelemahan keterkaitan, interaksi dan kerjasama difusi inovasi (termasuk praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang).  Persoalan budaya inovasi.  Kelemahan fokus, rantai nilai, kompetensi dan sumber pembaruan ekonomi dan sosial.  Tantangan global.

29

HEKSAGON KEBIJAKAN INOVASI
4 3 5

2 1

6

• • • • • •

Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi dan bisnis. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang dan mengembangkan kemampuan absorpsi UKM. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang. Mendorong budaya inovasi. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi dan klaster industri nasional dan daerah. Penyelarasan dengan perkembangan global.
30

STRUKTUR KEBIJAKAN
Tujuan dan Sasaran

Indikator Capaian

Sub-Kegiatan Kerangka Kebijakan Kegiatan Program Sub-Kegiatan

Kegiatan Agenda Kebijakan Instrumen Kebijakan

31

CONTOH MATRIKS RENCANA TINDAK KOLABORATIF

D. MENDORONG BUDAYA INOVASI 2008 – 20.. Tujuan Kebijakan D.1 Cara / Tindakan D.1.1 D.1.2 Indikator Aktor/ Pelaksana X   Aktor/ Pelaksana Y  

32

Terimakasih
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Gedung BPPT II, Lt 21 Jl. MH. Thamrin 8, Jakarta 10340 Telp. (021)-3169813 Fax. (021)-3169811 E-mail: tik@inn.bppt.go.id http: //www.inn.bppt.go.id

33

INOVASI, TECHNOPRENEURSHIP DAN MODERNISASI “SUMBER” PERKEMBANGAN EKONOMI Perbaikan Bisnis yang Ada (Existing)
Keterkaitan
Pengetahuan & Kompetensi

Siklus yang Makin Menguat (Dari vicious cycle menjadi virtuous cycle)

Faktor keunggulan lokalitas

Pembelajaran, termasuk Litbangyasa

Rantai Nilai Inovasi & Difusi
Interaksi & Keterkaitan

Penyediaan pengetahuan/ teknologi

Daya Saing yang Lebih Tinggi

Rantai Nilai Produksi
ROI yang Lebih Tinggi

Investasi untuk Inovasi

Investasi Dari Luar

Pengembangan Bisnis Baru

Investasi (&
perdagangan )

Ke Luar

34

KOHESI SOSIAL
• Kohesi sosial merupakan kapasitas masyarakat pada berbagai tataran (komunitas, daerah, nasional, internasional) dalam memastikan/mengupayakan kesejahteraan bagi seluruh anggotanya dan menghindari kesenjangan / disparitas (Thirion, 2004) Karakteristik positif suatu masyarakat berkaitan dengan hubungan antar anggota masyarakat yang bersangkutan (unit-unit dalam masyarakat, termasuk individu, kelompok, asosiasi, dan wilayah) (McCracken, 1998).
Box 1 - Jenson’s Five Dimensions of Social Cohesion Belonging ------------ Isolation Inclusion ------------ Exclusion Participation --------- Non-involvement Recognition --------- Rejection Legitimacy ----------- Illegitimacy Box 2 – Bernard’s Formal and Substantive Dimensions of Social Cohesion FORMAL SUBSTANTIVE Equality / Inequality Inclusion / Exclusion Recognition / Rejection Belonging / Isolation Legitimacy / Illegitimacy Participation / Non-involvement 35

MUNCULNYA ISU/PERSOALAN KEBIJAKAN
Edquist (2001)

Munculnya “persoalan atau isu” kebijakan: Artinya, apa yang menjadi tujuan penting (terkait dengan “sistem inovasi”) dinilai tidak tercapai (DAN TIDAK DAPAT TERCAPAI DENGAN SENDIRINYA). Ini berkaitan dengan ”alasan/argumen” kebijakan inovasi sebagaimana ditelaah dalam beragam literatur. Adanya kemampuan lembaga publik mengatasi/memecahkan atau mengurangi persoalan yang bersangkutan.

36

I. SISTEM INOVASI: Fungsi Sistem (Johnson dan Jacobson, 2001)

1. Menciptakan pengetahuan baru. 2. Memandu arah proses pencarian penyedia dan pengguna teknologi, yaitu mempengaruhi arah agar para pelaku mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya. 3. Memasok/menyediakan sumber daya, yaitu modal, kompetensi dan sumber daya lainnya. 4. Memfasilitasi penciptaan ekonomi eksternal yang positif (dalam bentuk pertukaran informasi, pengetahuan dan visi). 5. Memfasilitasi formasi pasar.

37

TIGA DIMENSI PENTING KEBIJAKAN INOVASI

Dimensi ”penadbiran kebijakan” (policy governance), bahwa kebijakan inovasi dapat ditentukan pada beragam tataran (lokal, daerah, nasional dan internasional), di mana koherensi dan komplementasi satu dengan lainnya sangatlah penting. • Dimensi sektoral di mana terdapat beragam faktor yang akan memberikan pengaruh umum serupa walaupun dengan tingkat yang berbeda dan pengaruh yang mungkin bersifat spesifik sektor. Karenanya, respons kebijakan yang dikembangkan perlu mempertimbangkan hal ini. • Interaksi dengan bidang kebijakan lainnya, di mana kebijakan inovasi seringkali perlu diimplementasikan melalui kebijakan lainnya. Karenanya, konsepsi inovasi dan sistem inovasi perlu semakin ”lekat/terpadu” dalam beragam kebijakan terkait lainnya.
38

KOHERENSI KEBIJAKAN INOVASI

• Salah satu kriteria kebijakan yang baik adalah koherensi • Koherensi kebijakan inovasi menyangkut keterpaduan dan harmonisasi, sinergi (saling mengisi dan memperkuat) terutama antar pola kebijakan ekonomi, industri dan pengetahuan/teknologi, baik ”di daerah” maupun ”antara pusat dan daerah,” sehingga tidak berbenturan, bertolak belakang dan membingungkan.

39

DIMENSI KOHERENSI KEBIJAKAN

Secara konsep, koherensi kebijakan pada dasarnya menyangkut (setidaknya) tiga dimensi, yaitu
q Koherensi horisontal yang menentukan bahwa masing-masing kebijakan yang terkait atau kebijakan-kebijakan sektoral dikembangkan untuk saling mengisi dan/atau memperkuat atau meminimumkan ketidakkonsistenan (”inkonsistensi”) dalam tujuan yang (mungkin) saling bertentangan; Koherensi vertikal yang menentukan bahwa keluaran yang dicapai/diperoleh sesuai atau konsisten dengan yang dimaksudkan (direncanakan) oleh pembuat kebijakan; Koherensi temporal yang berkaitan dengan keadaan bahwa kebijakan yang diambil/ditetapkan saat ini akan tetap efektif di masa mendatang dengan membatasi potensi ”inkoherensi” dan dapat memberikan semacam panduan bagi perubahan (dan berkaitan dengan manajemen transisi).
40

q

q

KOHERENSI ~ KOORDINASI • Kontinuum antara dua ekstrim :
q q Tertutup ~ Rule and order; Top-down Bebas ~ self-regulation; liberal

Alternatif kombinasi solusi :
q Tertutup ~ Rule and order; Top-down : q Regulasi – mengikat : mis. UU No.18/2002; UU No. 32/2004 q Regulasi – mengikat “terbatas” : mis. Perpres No. 7/2005 (RPJMN), sesuai UU No. 25/2004 (SPPN) Terbuka ~ demokratis; fleksibilitas - “context-specific” adjustment q Pendekatan : Partisipatif  Metode Koordinasi Terbuka/MKT q Koordinasi ~ proses membangun konsensus q Policy learning ~ kebijakan bukan sekedar “produk kebijakan,” melainkan proses pembelajaran  perbaikan kebijakan (policy reform).

q

41

A. MENGEMBANGKAN KERANGKA UMUM YANG KONDUSIF BAGI INOVASI

Tujuan Kebijakan
1. Reformasi Kebijakan Inovasi dan Bisnis

Cara
Penghapusan Regulasi Penghambat

Contoh/ Catatan
• Peninjauan regulasi: Analisis Dampak Regulasi ~ RIA (Regulatory Impact Assessment) • Evaluasi Perijinan Bisnis • Pengembangan Sistem Basisdata - PUDPKM • Legislasi Inovasi & Daya Saing • RPJMD 1. Kerangka Kebijakan: Penyusunan Strategi Inovasi Daerah / Jakstrabang Iptekda 2. Kelembagaan (DPDS & DRD) 3. Mekanisme Koordinasi Terbuka 4. Pengembangan Sisrenbang Iptek 1. Reformasi Prosedur Perijinan Bisnis
42

Lingkungan Legal dan Regulasi yang Kondusif

Pengembangan Penadbiran & Koherensi Kebijakan Inovasi

Simplifikasi Adminsitratif

A. MENGEMBANGKAN KERANGKA UMUM YANG KONDUSIF BAGI INOVASI Tujuan Kebijakan
2. Pengembangan Infrastruktur Dasar Inovasi

Cara
Pendirian Laboratoria Terspesialisasi Pendirian Pusat Pelayanan dan Inovasi / Taman Iptek Pendirian Inkubator Pendirian Pusat Produktivitas dan Purwarupa Pengembangan Pusat/ Jaringan Informasi Tekno-bisnis

Contoh/ Catatan

3. Memperkecil Kesenjangan Pasar dalam Pembiayaan Inovasi.

Pengembangan Kerangka Legal untuk Modal Berisiko

1. Pembiayaan inovasi

43

A. MENGEMBANGKAN KERANGKA UMUM YANG KONDUSIF BAGI INOVASI Tujuan Kebijakan
4. Peningkatan Perlindungan dan Pemanfaatan HKI

Cara
Kampanye Keperdulian dan Apresiasi HKI Pengembangan Sentra HKI (Technology Licensing Office/TLO) Peningkatan Perolehan HKI

Contoh/ Catatan
1. Kampanye Keperdulian HKI 2. Apresiasi Prestasi HKI

1. Fasilitasi Pendaftaran HKI 2. Insentif Peningkatan Perolehan HKI

5. Perpajakan dan Pengelolaan Risiko Inovasi 6. Persaingan Bisnis yang Sehat dan Adil

Pengembangan Sistem Insentif Perpajakan dan Pengelolaan Risiko Inovasi Pengawasan Persaingan Bisnis Sistem Pengadaan Pemerintah Pengembangan Kerjasama Antardaerah 1. Insentif Pengadaan Pemerintah bagi Bisnis (UKM) Setempat

44

B. MEMPERKUAT KELEMBAGAAN DAN DAYA DUKUNG IPTEK/LITBANG SERTA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN ABSORPSI UKM

Tujuan Kebijakan
1. Pengembangan/ Penguatan Kelembagaan

Cara
Pengembangan/ Revitalisasi Kelembagaan Pengembangan Sistem Pengelolaan dan Pembiayaan Kelembagaan Inovasi Pengembangan Organisasi/ Pengorganisasian Penadbiran Inovasi

Contoh/ Catatan
• Kelembagaan Kolaboratif DPDS • Pengembangan/Pendampingan DRD • Asosiasi Bisnis dan Profesi 1. Fasilitasi Penataan Sistem Manajemen PPIT

1.Pengembangan Organisasi/ Pengorganisasian Penadbiran Inovasi Daerah 1. Pengembangan Sisrenbang Iptek 1.Prakarsa Kolaboratif Pemetarencanaan Pengetahuan/ Teknologi Tradisional (Masyarakat) ~ Obat Bahan Alam

2. Pengembangan Daya Dukung Iptek

Penataan Sistem Manajemen Program Pengembangan pemetarencanaan (Roadmap) dan/atau Foresight Pengembangan Sumber Pendanaan Iptek Pengembangan teknologi Peningkatan Kualitas SDM

• Peningkatan Kesiapan Teknologi (Technology Readiness) 45

B. MEMPERKUAT KELEMBAGAAN DAN DAYA DUKUNG IPTEK/LITBANG SERTA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN ABSORPSI UKM

Tujuan Kebijakan

Cara

Contoh/ Catatan
1. Sistem Dukungan Teknologi UKM 2. Pelatihan SDM UKM

Modernisasi UKM 3. Pengembangan Kemampuan Absorpsi UKM

46

C. MENUMBUHKEMBANGKAN KOLABORASI BAGI INOVASI DAN MENINGKATKAN DIFUSI INOVASI, PRAKTIK BAIK/TERBAIK DAN/ATAU HASIL LITBANG

Tujuan Kebijakan
1. Pengembangan/ Penguatan Kelembagaan Kolaborasi

Cara
Pengembangan/ Penguatan Kelembagaan Kemitraan Strategis Peningkatan Daya Saing Pengembangan Program Kemitraan Strategis Inovasi

Contoh/ Catatan
1. Dukungan Pendanaan bagi DPDS 2. Insentif bagi Formasi dan Penguatan Kelembagaan Strategis (mis. asosiasi, konsorsia) 1. Dana Padanan (Pola Patungan) Kerjasama Litbang 2. Insentif Litbang Kolektif UKM 3. Insentif Litbang Kolaboratif UKM 1. Peningkatan Dokumentasi dan Diseminasi 1. Diagnosis UKM dan pengembangan model bisnis teknologi - PPKDT • Pengembangan Pola Pemanfaatan Kepakaran / Keahlian Peneliti di Lemlitbang - PPKDT • Program Liaison Officer

2. Peningkatan Difusi Inovasi, Praktik Baik (Terbaik) dan hasil Litbang

Diseminasi Praktik Baik (Terbaik) dan Hasil Litbang Peningkatan Transaksi Bisnis dan Non Bisnis Pemanfaatan Kepakaran/ Keahlian Khusus oleh Swasta, Lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah Lainnya Komersialisasi Inovasi dan/atau Hasil Litbang

Reverse Brain Drain

47

D. MEMBANGUN BUDAYA INOVASI (1)
Tujuan Kebijakan
1. Pengembangan/ Penguatan Budaya Kreatif-Inovatif dan Kewirausahaan

Cara
Program Lifelong Learning Pendidikan Dini Kewirausahaan Apresiasi Prestasi Inovasi Kampanye Keperdulian

Contoh/ Catatan

2. Peningkatan/ Pengembangan Perusahaan Pemula (Baru) yang Inovatif

Program Inkubasi TeknoBisnis Pengembangan Kelembagaan Pembiayaan Berisiko Insentif Pembiayaan Usaha Pemula (Baru) Reverse Brain Drain

1. Model Pembiayaan bagi Inkubator Teknologi - PPKDT 1. Model Kelembagaan Pembiayaan bagi Perusahaan Pemula Inovatif (PPBT) - PPKDT

3. Dinamisasi Perkembangan Inovasi dan Manajemen 4. Reformasi di Bidang Publik

Bantuan teknis peningkatan kapasitas pelaku bisnis

Bantuan teknis peningkatan kapasitas pelaku bisnis 48

D. MEMBANGUN BUDAYA INOVASI (2)
Tujuan Kebijakan
5. Penguatan Kohesi Sosial

Cara
Sistem Pengelolaan, Perlindungan Hukum, dan Pemanfaatan Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat) Prakarsa Inventarisasi dan Dokumentasi Pengetahuan/ Teknologi Tradisional (Masyarakat)

Contoh/ Catatan

1. Rujukan/Panduan Inventarisasi dan Dokumentasi Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Tekmas) 2. Program Inventarisasi dan Dokumentasi Tekmas 1. Kampanye Keperdulian Pengelolaan, Pemanfaatan dan Pengembangan Tekmas dan HKI

Kampanye Keperdulian Pengelolaan, Pemanfaatan dan Pengembangan Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat) Kemitraan Inovasi Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat)

• Rujukan/Panduan Inovasi Tekmas • Prakarsa Kolaboratif Pemetarencanaan Tekmas • Insentif Inovasi/Pengembangan Tekmas

49

D. MEMBANGUN BUDAYA INOVASI (3)

Tujuan Kebijakan
5. Penguatan Kohesi Sosial

Cara
Sistem Pengelolaan, Perlindungan Hukum, dan Pemanfaatan Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat)

Contoh/ Catatan
• Panduan Pengelolaan Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat) • Kerangka/Landasan Legal Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat) • Insentif Inovasi/Pengembangan Pengetahuan/Teknologi Tradisional (Masyarakat)

50

E. MENUMBUHKEMBANGKAN SISTEM INOVASI DAN KLASTER INDUSTRI NASIONAL DAN DAERAH

Tujuan Kebijakan
1. Prakarsa Klaster Industri Spesifik Daerah dan/atau Prakarsa Sistem Inovasi 2. Koordinasi Kebijakan Daerah, Daerah Nasional

Cara
Prakarsa KI/SI Technology Foresight/ Roadmapping Sistem Insentif Pengadaan Pemerintah Prakarsa Mekanisme Koordinasi Terbuka Kebijakan Inovasi dan/atau Daya Saing Kerjasama Daerah dan Daerah - Nasional

Contoh/ Catatan
1. Pengembangan KI Daerah

1. Prakarsa Peningkatan Koordinasi Kebijakan Inovasi

1.***

Bantuan Teknis Pendirian 1.Pendampingan Tim/Pokja KI 3. Pengembangan/ atau Pengembangan/ Daerah Penguatan Kelembagaan Khusus Penguatan Kelembagaan Khusus

51

F. PENYELARASAN DENGAN PERKEMBANGAN GLOBAL Tujuan Kebijakan
1. Peningkatan Keperdulian Isu-isu Internasional Relevan 2. Pengembangan HKI, Mutu, Standar dan Kelestarian Lingkungan

Cara
Fora Isu Internasional Intelijen Pasar internasional Fasilitasi Perolehan HKI Fasilitasi Peningkatan MSTQ Standar Teknis bagi Pengadaan Pemerintah di Bidang Spesifik Ekoefisiensi Sistem Produksi

Contoh/ Catatan

3. Pengembangan Teknologi Dunia usaha 4. Pengembangan/ Penguatan Kerjasama internasional

Pengkajian dan Audit Teknologi Perbaikan Teknologi Bisnis Fora Internasional Fasilitasi Kerjasama/ Jaringan Internasional 52

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->