P. 1
penanggulangan hiv aids-17 jun 08

penanggulangan hiv aids-17 jun 08

4.67

|Views: 3,255|Likes:

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Pusat Informasi dan Komunikasi

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

Penanggulangan HIV-AIDS di LP/Rutan 2009 – 2013
Penanggulangan, pengobatan dan perawatan Narapidana pengguna narkoba dan HIV-AIDS di Lembaga Pemasyarakatan/Rumah Tahanan Negara (Lapas/Rutan) di Indonesia terjadi peningkatan serius terhadap masalah HIV-AIDS pada narapidana/tahanan Lapas/Rutan di Indonesia untuk tahun 2009 – 2013 dengan prioritas difokuskan pada 95 Lapas/Rutan. Proposal ini disusun dibawah tanggung jawab koordinasi SubDirektorat Binsustik, Dirjenpas berkoordinasi dengan Direktorat dan subunit terkait lainya di jajaran Dephukham dan bekerjasama dengan tim dari Departemen terkait lainnya, Komisi Penanggulangan AIDS, dan Lembaga Donor Internasional dan Nasional. Dimana upaya-upaya yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini sebagian besar didapatkan dari dana bantuan International. Sampai dengan saat ini Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI cq. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan belum memiliki pos anggaran tersendiri yang khusus untuk pelaksanaan program dan kegiatan penanggulangan HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkoba di Lapas/Rutan, dan kondisi ini dirasakan menjadi hambatan utama untuk Dirjenpas dapat merespons secara optimal, cepat, meluas dan berkesinambungan. Penyebaran HIV-AIDS di Indonesia terjadi dengan cepat. Trend penyebaran HIVAIDS ini adalah melalui penggunaan jarum suntik (penasun) secara bergantian dan selanjutnya mereka akan menularkan kepada pasangannya. Dengan estimasi populasi rawan tertular HIV pada tahun 2006 sebesar 193.000 (169.000 – 216.800) orang, diketahui hingga bulan September 2007 jumlah kumulatif kasus HIV-AIDS di Indonesia adalah 16.288 (5.904 kasus HIV dan 10.384 kasus AIDS), dimana 49,5% dari kasus AIDS tersebut adalah penasun.1 Masalah Narkoba dan HIV-AIDS di Lapas/Rutan Indonesia. Jumlah narapidana/tahanan di Indonesia pada tahun 2008 adalah 127.238 orang yang ditempatkan di 464 Lapas/Rutan dengan kapasitas keseluruhan sebesar 80.298 orang. Hal ini menunjukkan bahwa situasi penjara di Indonesia mengalami kelebihan kapasitas sebesar 55%. Tabel I: Perbandingan Rata-rata Pertahun Kapasitas Lapas/Rutan di Indonesia Keterangan Pembanding Jumlah Penghuni dengan

Tahun 200 200 200 200 200 200 200 2007

1

Departemen Kesehatan RI. Situasi Kasus HIV dan AIDS di Indonesia s.d September 2007. Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

1

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

0 Tahanan Dewasa dan Pemuda Tahanan Anak Pengh uni Narapid ana Anak Didik Jumlah Napi dan Tahanan Narkotika Kapasitas Presentase Over Kapasitas (%) 19,7 3

1 20,4 74

2 25,1 33

3 25,7 20

4 31,6 64

5 38,0 72 1,61 0 50,7 70 1,80 1 89,7 08 21,0 82 68,1 41 31,6 5

6 47,1 21 1,58 2 62,1 85 1,85 2 111, 357 31,4 65 76,5 50 45,4 7 50,01 6

756 32,5 61 1,82 4 54,3 14 64,6 19 -

973 35,9 25 2,11 6 59,4 88 64,6 19 -

945 39,8 15 2,06 7 67,9 60 7,21 1 64,3 45 6

865 43,0 26 1,97 6 71,5 87 11,9 73 66,8 91 7

880 54,3 59 1,98 4 88,8 87 17,0 60 68,1 41 30

2,175 72,91 4 2,133 127,2 38 38,17 2 80,28 9 58,34

Sumber: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Maret, 2005) Hingga saat ini Indonesia memang sudah memiliki 14 Lapas Khusus Narkotika. Akan tetapi ketigabelas Lapas Narkotika tersebut tidak mampu menampung jumlah narapidana/tahanan kasus narkoba yang terus mengalami peningkatan hingga mencapai 38.172 orang di bulan Oktober 2007. Akibatnya banyak narapidana/tahanan kasus narkoba ditempatkan di Lapas/Rutan Umum. Kecenderungan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini adalah banyak pula narapidana/tahanan umum (bukan kasus narkoba), tetapi ternyata memiliki latar belakang sebagai pengguna narkoba ketika mereka masih berada di dalam masyarakat. • Pengguna Narkoba di Lapas/Rutan. Menurut data mengenai jumlah narapidana/tahanan narkoba per Oktober 2007, diketahui 74% adalah pemakai (dimana 40%nya pemakai jarum suntik), 24% pengedar dan 2% produsen. • HIV-AIDS di Lapas/Rutan. Menurut hasil surveillance yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI ke beberapa Lapas/Rutan di Indonesia selama beberapa Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

2

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

tahun terakhir diketahui prevalensi narapidana/tahanan HIV-AIDS di Lapas/Rutan pada tahun 2006 adalah 5,4 %. Sejak tahun 2004 hingga 2006 terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya. Data surveilance pada tahun 2006 menunjukkan bahwa prevalensi HIV/AIDS di Lapas Cipinang adalah 30,36%, dan di Lapas Klas IIA Denpasar, Kerobokan, Bali adalah 3,45%. • Tingkat Kematian di Lapas/Rutan. Angka kematian narapidana/tahanan di Indonesia selama 6 (enam) tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan tajam terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 49% dari tahun sebelumnya. Jumlah narapidana/tahanan yang meninggal tersebut sejak tahun 2004 hingga 2007 secara berturut-turut meningkat sebesar 21%, 4% dan 7%. Umumnya penyebab kematian narapidana/tahanan narkoba ini adalah HIV-AIDS (12%), TBC (10%), Hepatitis (4%), gangguan pencernaan (11%), gangguan pernapasan (13%), penyakit lain-lain (29%) dan tidak diketahui (21%). Dari data tersebut, jika diklasifikasikan menurut provinsi, maka diketahui angka kematian tertinggi terjadi di Lapas/Rutan DKI Jakarta (29%) dan Jawa Barat (20%). • Perilaku Beresiko di Lapas/Rutan. Menurut Studi “Rapid Assesment” yang dilakukan di Lapas/Rutan Jakarta, terdapat informasi dari para narapidana/tahanan bahwa penggunaan narkoba dikalangan mereka adalah dengan menggunakan jarum suntik dan memakainya secara bersama.2 Hubungan sexual juga terjadi diantara para tahanan tetapi angka beresikonya tidak setinggi pemakai jarum suntik. Selain itu juga terdapat anekdot/cerita pengalaman beberapa mantan narapidana tentang kasus perkosaan (tidak banyak) serta sex komersil demi narkoba yang terjadi di lapas. Selain itu juga terdapat perilaku beresiko lainnya yaitu tatoo dan/atau tindik yang dianggap souvenir di penjara.

Respon Nasional Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia dikoordinasikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dimana Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai salah satu anggotanya. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan merupakan salah satu unit eselon I dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang menangani Sistem Pemasyarakatan di Indonesia. Sebagai respon terhadap perkembangan jumlah narapidana/tahanan narkoba, maka tahun 2002 dibentuklah Direktorat Bina Khusus Narkotika3 yang berwenang untuk menangani permasalahan yang berkaitan dengan narapidana/tahanan narkotika dan HIV-AIDS, baik yang ditempatkan di Lapas/Rutan Umum maupun khususnya di Lapas Khusus Narkotika.

Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

3

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

Dasar pelaksanaan program dan kegiatan penanganan masalah narkoba dan HIVAIDS di Lapas/Rutan adalah Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba di Lapas/Rutan 2005-2009. Berbagai program dan kegiatan yang terangkum dalam 3 (tiga) pilar utama dan 2 (dua) pilar pendukung yaitu: Pilar Utama: 1. Penegakan dan Bimbingan Hukum; 2. Perawatan dan Pencegahan; dan 3. Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial. Pilar Pendukung : 1. Kerjasama Antar Instansi; dan 2. Penelitian, Monitoring dan Evaluasi. Strategi ini dijadikan sebagai dasar hukum dalam penyediaan pelayanan penanggulangan HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkoba di seluruh Sistem Pemasyarakatan di Indonesia. Tujuannya agar upaya pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV-AIDS; pengobatan bagi pecandu dan intervensi pengurangan dampak buruk (harm reduction) bagi penasun yang terus menggunakan narkoba suntik di Lapas/Rutan dapat tersedia di semua Lapas/Rutan di Indonesia. Berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan sepanjang kurun waktu 2 (dua) tahun implementasi Stranas HIV-AIDS dan Narkoba di Lapas/Rutan 2005 – 2009, adalah: 1. Kesepakatan Cimacan (15 -17 Desember 2005) 2. Pembentukaan kelompok kerja HIV-AIDS tingkat Propinsi dalam Temu Regional I s.d III di tahun 2006 – 2007 (yang berasal dari 95 Lapas/Rutan). a. Pertemuan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi para pimpinan Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM, Lapas/Rutan dan instansi terkait atas pentingnya keberhasilan implementasi Stranas HIV-AIDS dan Narkoba di Lapas/Rutan 2005 - 2009. b. Pada pertemuan inilah diputuskan pentingnya penanganan masalah HIV-AIDS dan narkoba dilakukan oleh tim khusus yang disebut Tim AIDS Lapas/Rutan yang terdiri dari dokter, perawat, konselor, petugas BCC-Harm Reduction, metadon, adiksi dan manajer kasus. 3. Pelatihan bagi tenaga di Lapas/Rutan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan terapi bagi narapidana, tahanan narkoba dan HIV-AIDS, seperti: a. Pelatihan TOT konselor untuk VCT; b. Pelatihan konselor untuk VCT; c. Pelatihan IMAI; d. Pelatihan PTRM Bagi Petugas Lapas/Rutan; e. TOT BCC/Risk Reduction Bagi Petugas Lapas/Rutan; f. Pelatihan Pengurangan Dampak Buruk Narkoba Dalam Rangka Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan (Pelatihan BCC/RR); g. Pelatihan Pembinaan Konselor Dalam Rangka Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan; h. Pelatihan Pembinaan Medis dan Paramedis Dalam Rangka Penanggulangan HIVAIDS di Lapas/Rutan; Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 4 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

i. Pelatihan Tenaga Analis Kesehatan dan Laboratorium; j. Pelatihan Tenaga Adiksi di Lapas/Rutan; k. Pelatihan Bagi Pelatih Untuk Tenaga Manajemen Kasus dalam rangka Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan; l. TOT Theurapeutic Community bagi Petugas Pemasyarakatan; m. Pelatihan Manager Kasus. Pendanaan kegiatan di atas sebagian besar merupakan hasil kerja sama dengan beberapa Lembaga Donor Internasional dan Nasional. Program Penanggulangan HIV-AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba di Lapas/Rutan Program ini merupakan penerapan berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba di Lapas/Rutan 2005-2009 dengan fokus untuk meningkatkan dan mengembangkan aktivitas di 95 Lapas/Rutan yang diidentifikasikan memiliki narapidana/tahanan HIV-AIDS dan pengguna narkoba dalam jumlah besar. Penegakan Hukum Terhadap Penyalahguna Narkoda, Bimbingan Hukum dan Program Lingkungan yang kondusif Luaran: Terciptanya LAPAS/RUTAN yang bebas terciptanya kebijakan yang kondusif Kegiatan: a. Advokasi dan Ketrampilan Penyalahgunaan Narkoba di Lingkungan LAPAS dan Rutan b. Pembekalan Ketrampilan Advokasi c. Kegiatan Advokasi d. Operasi P4GN e. Pembuatan dan/atau mengkaji kebijakan tentang testing dan konseling di Lapas/Rutan f. Pembuatan dan/atau mengkaji kebijakan pelayanan sosial di Lapas/Rutan g. Pembuatan dan/atau mengkaji kebijakan bantuan hukum di Lapas/Rutan h. Pembuatan dan/atau mengkaji kebijakan untuk bentuk kerja sama dengan Ditjen i. Pembuatan dan/atau mengkaji kebijakan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di Ditjen Lapas/Binsustik Mengkaji Pedoman Pelaksanaan P4GN j. Advokasi kebutuhan anggaran APBN Pencegahan dan perawatan HIV & AIDS, IMS, TBC dan penularan menular lainnya. Luaran:Tersedianya layanan komprehensif bagi Napi dengan HIV/AIDS dan ketergantungan obat dari sisi perawatan, hukum dan sosial sesuai dengan standar Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info dari penyalahgunaan narkotika dan

5

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

yang ditetapkan oleh Depkes untuk layanan kesehatan serta DepHukHam untuk bidang hokum Kegiatan: a. Dukungan dan Pengobatan=P2DP) b. Pemetaaan Mengembangkan dan/atau mengkaji pedoman, peraturan/SOP, tatalaksana yang terkait pencegahan perawatan, dukungan dan pengobatan (termasuk: HR, IMS, VCT, Metadon, ART dan Sistem Rujukan (Pencegahan, Perawatan, sarana, prasarana dan alat pendukung untuk melaksanakan layanan Lapas perawatan dukungan dan pengobatan c. Bimbingan teknis implementasi program dan pelayanan yang terkait pencegahan perawatan, dukungan dan pengobatan (termasuk: HR, IMS, VCT, Metadon, ART dan Sistem Rujukan (Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan=P2DP) d. Pembekalan program dan pelayanan yang terkait pencegahan perawatan, dukungan dan pengobatan (termasuk: HR, IMS, VCT, Metadon, ART dan Sistem Rujukan (Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan=P2DP) e. Pembekalan Pengetahuan dan Ketrampitalan UP dan PEP f. Bimbingan Teknis Pengetahuan dan Ketrampilan UP dan PEP g. Pembelian bahan habis pakai untuk UP h. Membuat sistem database rekam medis di tingkat institusi pemberi layanan (Pembelian Komputer – Training – Supervisi) i. j. Mengidentifikasi sasaran dan kebutuhan jumlah tenaga medis dan non medis dalam menerima layanan pasien Menerapkan kualifikasi (sertifikasi dan lisensi) tenaga medis dengan merujuk parameter nasional.

k. Penegakkan Diagnosa untuk HIV dan IO lainnya disertai Laboratorium penunjang dan rontgen l. Obat-obatan OI merujuk laporan Depkes dan penunjang lainnya (Infus, analgetik etc, Syringe, Spuit) Daftar OI dari Depkes lihat di bawah.

Kerjasama dan Koordinasi Luaran:Terciptanya program berkesinambungan Kegiatan: a. Pembekalan untuk ketrampilan kepemimpinan dan fasilitasi b. Pertemuan Rutin Koordinasi c. Pertemuan Regional Kalapas, Karutan dan Kabapas Dalam Rangka Advokasi Program Penanggulangan HIV-AIDS d. Pertemuan Koordinasi tingkat UPT e. Bimbingan Teknis Implementasi Penguatan Jejaring Kerja f. Lokakarya Pokja Nasional Penguatan Pokja HIV-AIDS Dalam Rangka Akselerasi Program Penanggulangan HIV-AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info dan kebijakan yang efisien, efektif dan

6

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

g. Buku Petunjuk Panduan Rujukan Bagi Tim AIDS di Lapas/Rutan Rehabilitasi dan Layanan Sosial Luaran:Tersedianya atau diperbaruinya layanan kesehatan, hukum dan sosial yang berorientasi pada kebutuhan pasien dan mudah dijangkau. Kegiatan: a. Mengindentifikasi dukungan sosial yang tersedia di masyarakat maupun keluarga yang dapat diberikan untuk Napi dengan HIV/AIDS di dalam dan sesudah keluar dari LAPAS/RUTAN b. KIE c. BCC d. Pelatihan Terapi dan Rehabilitasi Terpadu Korban Narkotika dan HIV-AIDS di Lapas/Rutan e. Praktek Magang Terapeutic Community (TC) Bagi Petugas Terapi & Rehabilitasi (T&R) di Lapas Khusus Narkotika f. Mengindentifkasi dan mendukung pengembangan program dampingan bagi Napi melalui pendekataan kemitraan dengan masyarakat Penelitian, Pengembangan dan Pengamatan Program: a. b. c. d. e. f. g. h. Pembekalan Pengetahuan tentang Riset Operational Pembekalan Ketrampilan menulis ilmiah Ketrampilan Database (Dbase, Access/Excell Epiinfo, SPSS) Monitoring dan evaluasi program pencatatan dan pelaporan dan alur pelaporan dan umpan balik hasil pelaporan Pendokumentasian Laporan Tahun Program HIV & AIDS Di lapas dan Rutan Perencanaan proposal anggaran APBN Pemuktahiran STRANAS HIV dan AIDS di LAPAS dan RUTAN dan termasuk perhitungan pendanaan Pencetakan buku STRANAS

PRINSIP KOMISI KEBENARAN
Komisi Kebenaran merupakan salah satu instrumen negara dalam mencegah impunitas. Karena itu, pembentukannya tidak terlepas dari prinsip-prinsip utama. Prinsip-prinsip utama tersebut, sebagai berikut: 1. Prinsip umum yang berkaitan dengan kewajiban negara untuk mencegah imunitas • Akuntabilitas Negara memiliki kewajiban untuk menjamin tersedianya mekanisme hukum, baik melalui lembaga yudisial atau pun mekanisme lainnya sehingga pelanggaran HAM masa lalu dapat dipertanggungjawabkan. • Jaminan terpenuhinya hak atas kebenaran Korban beserta keluarganya memiliki hak yang tak dapat dicabut untuk mengetahui konteks dan informasi mengenai pelanggaran HAM masa lalu. Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

7

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

• Jaminan adanya mekanisme pemulihan bagi para korban Terpenuhinya hak atas kebenaran menjadikan setiap korban pelanggaran HAM dan keluarganya memiliki hak yang tak tergantikan atas pemulihan, tanpa harus menunggu ada atau tidaknya proses hukum atas kejahatan tersebut. 2. Prinsip pelestarian ingatan kolektif akan kejahatan di masa lalu Pada dasarnya, ingatan kolektif akan kekerasan dan kejahatan di masa lalu merupakan warisan penting yang perlu dijaga untuk dua kepentingan. Pertama, untuk menjamin terjaganya dokumen-dokumen penting yang berguna bagi penegakan akuntabilitas bagi kejahatan masa lalu. Kedua, melindungi generasi yang akan datang dari kemungkinan terjadinya kejahatan yang sama. 3. Prinsip imparsialitas dan independensi Setiap Komisi Kebenaran dibentuk di atas prinsip imparsialitas, yakni kemampuan untuk bertindak secara utuh tanpa melakukan suatu pemihakan pada satu atau lain pihak. Prinsip independensi mencakup keharusan suatu Komisi Kebenaran untuk bebas dari segala bentuk intervensi pemerintahan dalam melaksanakan mandat kerjanya. Meskipun anggaran pembiayaan Komisi Kebenaran sepenuhnya berasal dari anggaran negara, namun hal ini tidak boleh menjadi alasan yang menghalangi Komisi Kebenaran untuk bekerja secara mandiri. 4. Prinsip pencegahan keberulangan Komisi Kebenaran dibentuk berdasarkan prinsip pencegahan keberulangan kejahatan yang sama di masa yang akan datang (non-recurrence). Oleh karena itu, rekomendasi dan laporan dari Komisi Kebenaran haruslah secara khusus ditindaklanjuti untuk perbaikan yang bersifat kelembagaan maupun yang berkaitan secara langsung dengan pemenuhan hak dari para korban dan keluarganya. 5. Prinsip komplementer Pembentukan Komisi Kebenaran tidak dimaksudkan untuk mengganti fungsi pengadilan dan kewajiban negara untuk menuntut pelaku pelanggaran HAM berat. Komisi Kebenaran merupakan pelengkap dari fungsi pengadilan (komplemen). Komisi Kebenaran tidak dapat, dalam situasi apa pun, mengambil fungsi-fungsi yudisial yang dimiliki peradilan atau untuk mencampuri dalam kasus-kasus yang sedang diadili. Komisi Kebenaran tidak memiliki kewenangan untuk menentukan tentang apakah seorang individu tertentu secara legal bertanggung jawab untuk kejadian-kejadian yang sedang diselidiki. Prinsip ini juga menghindarkan kemungkinan terjadinya double jeoppardy (nebis in idem) sebagaimana diuraikan Mahkamah Konstitusi dalam putusannya mengenai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

Sumber: Direktorat Bina Khusus Narkotika Ditjen PAS

Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

8

Pusat Informasi dan Komunikasi
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI

DATA OLAHAN

Update : 17 JuniApril 2008 (WID) Contact : Dwi

Alamat: Gedung Utama Lantai M1 Jl.HR Rasuna Said Kav.4-5 Karet Kuningan Jakarta 12490 Telp:021-52920746, 021-52920747. Faximile:021-52920311. Email:informasi@hukumham.info. Website:www.hukumham.info

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->