KONTEKSTUALISASI   AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK 

        Deddi Nordiawan* 

DEPOK, 1 DESEMBER 2009 

* Penulis adalah Dosen FEUI, Trainer di LPEM UI, Konsultan Keuangan Daerah di Medina Consulting, dan peneliti di Yayasan Prabandha

***  Sebelum  menempuh  pendidikan  tingkat  menengah,  penulis  adalah  seorang  anak  muda  yang  tidak  berani  bercita‐cita  tinggi.  Ketika  berada  di  jenjang  SMP,  penulis  tidak  berani  membayangkan  akan  bersekolah  di  SMA‐SMA  terbaik  yang  kebanyakan  milik  swasta,  karena  membayangkan biaya pendidikannya yang pasti tinggi. Tetapi, keadaan berubah ketika penulis  diterima di SMA Taruna Nusantara pada tahun 1993, sebuah sekolah berkualitas tinggi tetapi  biaya  pendidikannya  GRATIS.  Melalui  tempaan  di  sekolah  itu,  penulis  memperoleh  ilmu,  wawasan dan pergaulan yang semuanya membawa penulis pada tingkat kehidupan yang lebih  baik.  Pengalaman  yang  serupa  juga  dialami  oleh  ratusan  anak  muda  lain  yang  melewatkan  pendidikan  di  SMA  tersebut.  Kebanyakan  dari  mereka  berasal  dari  masyarakat  menengah  ke  bawah, yang kemudian bermodal ilmu, wawasan dan pergaulan di sekolah itu, mereka berhasil  loncat, naik tangga, berpindah ke strata sosial yang labih tinggi.  ***  Kisah  di  atas  menceritakan  bagaimana  sebuah  barang  publik,  yaitu  SMA  Taruna  Nusantara,  berhasil  menjadi  alat  rekayasa  sosial.  Kekuatan  sebagai  barang  publik  telah  menjadikan  SMA  tersebut menjadi eskalator kehidupan bagi beberapa orang. Seorang anak dari keluarga miskin,  dalam dunia yang semakin kapitalis, akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Eskalator  sosial yang dihadirkan oleh barang publik itulah yang menjadi pemecah rantai kemiskinan.   Kisah  di  atas  adalah  sekelumit  awalan  tentang  konteks  yang  harus  kita  pahami  ketika  kita  berbicara  tentang  transformasi  akuntansi  sektor  publik.  Akuntansi  Sektor  Publik  dilahirkan  untuk digunakan oleh pelaku, praktisi dan para pemangku kepentingan dari sebuah entitas yang  disebut  dengan  Organisasi  Sektor  Publik,  yang  tidak  lain  tidak  bukan  adalah  entitas  yang  mengelola barang publik.      

Barang Publik  Barang  publik  hadir  di  tengah‐tengah  kita  dengan  ciri  utama  tidak  adanya  rivalitas  untuk  mendapatkannya. Kita dapat menjumpai barang publik ini dalam beraneka ragam bentuk, mulai  dari yang benar‐benar tanpa rivalitas seperti  taman‐taman publik, jalan raya, atau keamanan,  sampai dengan yang masih mengandung rivalitasnya seperti listrik.  Barang  publik  juga  dapat  dicirikan  dari  sifat  inklusifnya,  sehingga  siapapun  bisa  menikmati  barang publik tersebut. Memang ukuran inklusif ini sering bias, mengingat seringkali kita jumpai  sebuah  barang  publik  yang  sebenarnya  cukup  inklusif  tetapi  terbatasi  dengan  masalah  ketersediaan  akses.  Sebagai  contoh,  sebuah  puskesmas  mempunyai  layanan  khusus  untuk  kelompok  miskin,  namun  keterbatasan  jalan  mengakibatkan  hanya  masyarakat  yang  mempunyai kendaraan yang bisa mengaksesnya.    Kedua ciri tersebut harus dijaga dengan baik agar fungsi utama barang publik tetap eksis dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bermasyarakat.  Disinilah  muncul  peran  penting  sebuah  instrument  yang  disebut  sebagai  kebijakan  publik.  Untuk  melahirkan  kebijakan  publik  yang  efektif  diperlukan  serangkaian  aktivitas    baik  itu  perumusan,  pelaksanaan  maupun  evaluasi  yang  dikelola secara simultan dan sinergis. Keseluruhan aktivitas tersebut dilaksanakan oleh sebuah  entitas yaitu organisasi sektor publik.     Organisasi Sektor Publik  Organisasi  Sektor  Publik  menjadi  penting  karena  barang  publik  tidak  bisa  kita  harapkan  turun  dari  langit  begitu  saja.  Barang  publik  harus  dikelola  keberadaannya  dan  diperjuangkan  fungsinya.   Bayangkan  jika  taman‐taman  publik  dikelola  oleh  entitas  komersil  yang  bermotif  keuntungan.  Jika  hal  itu  benar  terjadi  maka  akan  ada  harga  yang  harus  dibayar  oleh  masyarakat  jika  ingin  menggunakan  taman  tersebut.  Kalau  sudah  demikian,  hilanglah  sifat  inklusif  taman  sebagai  barang publik.  

Bayangkan pula ketika semua sekolah dikelola oleh entitas yang bermotif keuntungan. Apabila  menjadi  kenyataan,  maka  tidak  akan  pernah  ada  cerita  yang  dikisahkan  di  awal  tulisan  ini,  dimana sekolah menjadi barang publik yang berperan begitu besar sebagai alat rekayasa sosial.  Teori kegagalan pasar pun mengatakan bahwa barang publik tidak mungkin dikelola oleh pasar.  Barang publik harus dikelola oleh entitas khusus, yaitu organisasi sektor publik.  Dari  konteks  inilah  berkembang  prinsip  pertama  yang  menjadi  harga  mati  sebuah  organisasi  sektor  publik,  yaitu  prinsip  tidak  mencari  keuntungan  (non‐profit‐motive).  Dengan  prinsip  ini,  organisasi  sektor  publik  seyogyanya  tidak  menetapkan  harga  atas  barang  publik  yang  dikelolanya.  Kalaupun  ada  kebijakan  tarif,  motifnya  adalah  untuk  kepentingan  manajerial,  bukan untuk mencari contribution margin yang berfungsi mengganti biaya.  Upaya menjaga sifat non‐rivalitas dan inklusif membawa organisasi sektor publik pada prinsip  yang  kedua,  yaitu  dimiliki  oleh  publik.  Organisasi  sektor  publik  tidak  mempunyai  pemegang  saham, pemodal atau sebutan lain yang sejenis. Dalam konteks ini, organisasi sektor publik ini  dapat dikatakan sebagai entitas tanpa pemilik.   Kedua prinsip tersebut tidak hanya membangun karakteristik sebuah organisasi sektor publik.  Kedua  prinsip  tersebut  menjadi  koridor  utama  yang  mempengaruhi  cara  dan  perspektif  kita  dalam  mengembngkan  ilmmu  itulah  yang  kemudian  menjadi  acuan  penting  dalam  pengembangan akuntansi sektor pulik    Akuntansi Sektor Publik  Dari  sejarah  kelahirannya,  akuntansi  diciptakan  untuk  menghitung  keuntungan  dalam  rangka  penyediaan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan bisnis. Ketika teknik‐teknik  akuntansi digunakan dalam organisasi sektor publik yang tidak mencari keuntungan, tentunya  terjadi kontradiksi.   Kontradiksi  seperti  itu  sangat  penting  untuk  selalu  dipahami  ketika  kita  melakukan  konversi  atau adopsi dari best practices yang sudah dilakukan oleh entitas komersil. Tidak hanya ketika 

merancang  format  laporan  tetapi  juga  ketika  kita  merumuskan  kebijakan‐kebijakan  terkait  pengakuan dan pengungkapan transaksi.   Prinsip ketiadaan pemilik juga perlu dicermati dengan baik. Prinsip ini merubah cara pandang  kita  terhadap  neraca,  karena  ketiadaan  pemilik  menghilangan  salah  satu  unsur  sentral,  yaitu  owner’s  equity.  Begitu  banyak  teknik  analisa  mendasarkan  pada  angka  ekuitas,  maka  ketika  unsur  ekuitas  ditiadakan,  teknik‐teknik  analisa  pun  dipastikan  mengalami  reorientasi  yang  signifikan.  Pengembangan laporan‐laporan oleh organisasi sektor publik dalam ranah akuntansi manajerial  juga  sangat  jauh  berbeda  dengan  pengalaman  di  entitas  komersil.  Keberadaan  dua  prinsip  tersebut,  membuat  cakupan  akuntansi  manajerial  jauh  lebih  luas.  Sebagai  contoh,  sebuah  laporan  kegiatan  manajemen  tidak  cukup  bisa  dibaca  oleh  manajemen  dan  komisaris  tetapi  juga  harus  didesain  sedemikian  rupa  sehingga  bisa  dibaca  dan  dipahami  oleh  seluruh  masyarakat.   Singkat  cerita,  jauh  sebelum  kita  berdiskusi  tentang  standar  atau  berdebat  tentang  jurnal  transaksi, marilah kita semua memahami konteks akuntansi sektor publik ini. Dengan demikian  akan  terwujud  visi  yang  sama  tentang  ke  arah  mana  transformasi  Akuntansi  Sektor  Publik  digelindingkan.  Pemahaman  konteks  yang  baik  juga  akan  menjadikan  akuntansi  sektor  publik  tidak  kehilangan  pondasi,  bahkan  lebih  dari  itu,  akuntansi  sektor  publik  akan  menjadi  pengungkit proses rekayasa sosial di negeri ini. Semoga.  *** 

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful