P. 1
Polmas dalam aspek Administrasi Kepolisian

Polmas dalam aspek Administrasi Kepolisian

4.7

|Views: 3,152|Likes:
Published by dolly99
Kebijakan Program Polmas dalam sistem administrasi kepolisian
Kebijakan Program Polmas dalam sistem administrasi kepolisian

More info:

Published by: dolly99 on Aug 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

1

PENERAPAN KONSEP COMMUNITY POLICING DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEJAHATAN DI MASYARAKAT
( TINJAUAN TEKNIS DALAM ASPEK ADMINISTRASI KEPOLISIAN )

I.

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Tidaklah salah bila dikatakan bahwa kebanyakan aparat kepolisian saat ini masih sangat berorientasi pada keberhasilan pengungkapan kejahatan. Karena prestasi polisi dinilai dan diukur oleh suatu sistem yang menghargai kecakapan polisi dalam penangkapan pelaku kejahatan. Dengan asumsi demikian dapat dikatakan bahwa polisi sebagai salah satu komponen dalam sistem peradilan pidana merupakan pihak yang secara aktif berbuat sesuatu untuk mencegah kejahatan. Tetapi melihat komponen-komponen lain seperti ejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan sebagai pihak yang justru membiarkan penjahat bebas. (Friedman, 1992 ; Deters, 1979). Sebagai warga masyarakat setiap orang dapat berperan serta dalam menjaga keamanan dan keselamatan diri dari segala bentuk kejahatan. Banyak keberhasilan dari kepolisian diperoleh dari bantuan dan peran serta masyarakat. Seperti dalam pengungkapan kasus kriminal atau tindakan tertangkap tangan, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat memiliki andil, minimal berperan sebagai saksi atau pemberi informasi. Merupakan sesuatu yang lazim apabila dalam pelaksanaan tugasnya kepolisian dihadapkan pada permasalahan yang serba kompleks dan rumit. Meningkatnya angka kejahatan yang menyangkut kualitas maupun kuantitas tidak dapat dielakan. Sehingga dalam menghadapi kriminalitas yang terus meningkat diperlukan profesionalisme dan peningkatan kinerja polisi. Namun demikian keterbatasan sumberdaya kepolisian tidak dapat dihindari dan hal ini merupakan permasalahan kepolisian yang terus membayangi prestasi kerja polisi. Walaupun dengan segala keterbatasan pada kasus tertentu kadang polisi juga dapat berhasil mengungkapnya.

2 Meningkatnya angka kejahatan pada suatu daerah merupakan tantangan bagi kepolisian. Tindakan kepolisian dengan pencegahan, pembinaan dan penindakan mewarnai tugas kepolisian dilapangan. Apa yang dilakukan oleh polisi dalam menghadapi kejahatan sudah jelas dan rinci. Namun demikian keterlibatan masyarakat belum banyak membantu tugas kepolisian dalam menanggulangi meningkatnya angka kejahatan. Sehingga sebagian besar polisi merasa bahwa mereka kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat, lembaga peradilan dan aparat lainnya. Hal ini sangat berdampak pada kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas. (Friedman, 1992 ; Campbell dan Schuman, 1976). Aktifitas kepolisian ini terus dikembangkan diberbagai negara maju maupun berkembang dan dipahami bersama bahwa negara Jepang merupakan pelopornya. Penggunaan istilah Community Policing atau “ Pemolisian Masyarakat ” pada kepolisian Jepang dimulai pada tahun 1993. Istilah tersebut diilhami dari tulisan David Bayley yang berisi tentang hasil penelitian mengenai sistem Koban dan Chuzaisho di Jepang. Dengan Community Policing maka kepolisian Jepang dapat dikatakan sebagai penegak hukum modern. Predikat tersebut diterapkan bukan hanya dilihat dari adanya berbagai fasilitas pendukung tugas yang serba modern. Akan tetapi mengacu kepada pandangan beberapa pakar penegak hukum tentang konsep penegakan hukum modern. Penegakan hukum modern dimaksud adalah penegakan hukum yang menitik beratkan pada kegiatan preventif dibandingkan tindakan represif. Oleh sebab itu upaya mencegah kejahatan sebagai kebijakan criminal yang dilakukan oleh kepolisian harus dapat menimbulkan efek pencegahan terhadap muncul dan berkembanganya kejahatan selanjutnya. Sehingga upaya yang dilakukan harus sistemik baik yang bersifat preventif maupun represif. Hal ini perlu dipikirkan sebab secara konseptual masyarakat menuntut lebih besar terhadap peranan Polisi. (Muladi, 2002 : 274). Sehingga dalam merumuskan tuntutan masyarakat tersebut Polri haruslah mampu melakukan analisa yang tajam dalam rangka menerapkan pola kegiatan kepolisian yang tepat untuk dapat mememenuhi harapan masyarakat tersebut. Walaupun sejak kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Soetanto Konsep Perpolisian asyarakat ini telah bergulir namun sampai saat ini masih belum menemui formula yang tepat untuk menerapkan konsep itu dalam situasi masyarakat Indonesia yang beraneka ragam.

3

2.

Maksud dan Tujuan a. Maksud Maksud penulisan makalah ini adalah disamping untuk melaksanakan penugasan pembuatan makalah yang materinya menyangkut Administrasi Kepolisian oleh dosen, makalah ini pula bertujuan sebagai sarana untuk belajar dalam menuangkan pemikiran saya tentang Mata Kuliah Administrasi Kepolisian yang diterima dengan ditunjang dengan beberapa referensi – referensi yang relevan dengan permasalahan ini. b. Tujuan Dengan penulisan makalah ini, kami mengharapkan agar makalah ini dapat dijadikan sebagai referensi dan tambahan wawasan / pengetahuan bagi pembaca mengenai hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Strategi ”Comunity Policing” dalam rangka mencegah terjadinya kejahatan ditinjau dari berbagai macam aspek dalam sistem Administarai Kepolisian. 3. Permasalahan Sebagai salah satu aspek dalam system Administrasi Kepolisian Strategi Perpolisian Masyarakat atau Community Policing yang diterapkan Polri saat ini pada hakekatnya sudah berjalan sekian lama namun dikarenakan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia yang mejemuk membuat pelaksanaan strategi ini agak mengalami kendala hal tersebut perlu dikaji dengan seksama dalam tinjauan akademis sehingga dalam pelaksanaannya nanti Strategi ini dapat berjalan dengan baik namun tidak melanggar dari aturan-aturan yang ada. Dalam makalah kali ini penulis berusaha untuk mencoba menggali beberapa pokok permasalahan untuk dapat dibahas dalam Bab selanjutnya yaitu : a. Bagaimana bentuk-bentuk hubungan yang terjadi antara Polisi dan Masyarakat pada umumnya serta bagaimana pola hubungan yang terbaik untuk merealisasikan keinginan masyarakat atas terciptanya keamanan yang kondusif ?

4 b. Bagaimana menyelaraskan antara upaya Pencegahan Kejahatan dengan penerapan Strategi Community Policing yang dilakukan oleh Polri ? c. Apa saja yang dapat dilakukan oleh Polri untuk membina hubungan dengan masyarakat ditinjau dari keterpaduan fungsi kepolisian yang ada di organisasi Polri dalam rangka mencegah kejahatan ? d. Bagaimana bentuk kesinambungan pelaksanaan strategi perpolisian masyarakat dikaitkan dengan Polri sebagai bagian sistem peradilan pidana ? II . PEMBAHASAN 4. Pengertian Community Policing Istilah komuniti (community) berkaitan dengan banyak fenomena, pola penafsiran dan juga asosiasi. Dalam hal ini community diartikan sebagai sebagai bentuk kolektifitas yang merujuk pada suatu kelompok yang para anggotanya menempatkan ruang atau wilayah tertentu yang sama, baik di lingkungan tetangga, desa maupun perkotaan. Menurut Woersley (1987) komuniti mempunyai tiga makna. Pertama komuniti sebagai lokalitas yang dapat diartikan sebagai sebuah satuan kehidupan secara georafis dengan batas wilayah yang jelas. Kedua komunity dapat dilihat sebagai sebuah jaringan antar hubungan komuniti yang ditandai dengan adanya konflik maupun kerjasama yang saling memberi dan menerima diantara anggota. Yang ketiga ditandai dengan adanya sebuah hubungan sosial khusus. Community Policing adalah gaya perpolisian yang mendekatkan polisi kepada masyarakat yang dilayaninya. Namun dapat juga didefinisikan sebagai cara atau gaya atau model pemolisian dimana polisi bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk mengidentifikasi penyelesaian masalah sosial dalam masyarakat. Selain penjelasan diatas diperlukan juga pemahaman terhadap sistem manajemen kepolisian, tindakan dan kebijakan kepolisian dalam pemberian pelayanan keamanan. Termasuk didalamnya pemahaman mengenai sistem hukum dan sistem peradilan pidana yang mengikat tugas kepolisian. Hal tersebut diatas merupakan unsur-unsur yang saling terkait dalam hubungan fungsional antara kepentingan, kekuasaan dan kewenangan yang dapat

5 digunakan untuk menjelaskan gaya pemolisian yang terfokus dalam Community Policing. Oleh sebab itu Community Policing dijadikan dasar pada usaha bersama antara polisi dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam masyarakat. Sehingga pemolisian tidak dilakukan untuk melawan kejahatan, tetapi untuk mencari dan melenyapkan sumber kejahatan. Sukses dari Community Policing bukan hanya dalam menekan angka kejahatan, tetapi ukurannya manakala kejahatan tidak terjadi. (Rahardjo, 2001) 5. Hubungan polisi dan masyarakat Menurut Robert. R. Friedmann dalam bukunya “ Community Policing Comparative Perspectives and Prospects “. Dijelaskan bahwa terdapat lima konsep hubungan polisi dan masyarakat. Selanjutnya konsep hubungan polisi dan masyarakat dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Polisi dan masyarakat yang keduanya ekslusif Posisi hubungan masyarakat terpisah jauh dari polisinya. Kondisi ini terlalu sempit untuk dijadikan contoh soal seperti menjauhnya polisi dari kelompok perusuh. Sebab dalam situasi apapun polisi harus tetap memberikan jasa pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kondisi ini tidak tepat dijadikan pilihan praktis. b. Polisi dan masyarakat tumpang-tindih atau duplikasi sepenuhnya Kondisi dimana terdapat kemanunggalan mutlak antara hubungan polisi dengan masyarakatnya, polisi menjadi masyarakat dan masyarakat menjadi polisi. Kondisi ini tidak dapat dijadikan pilihan yang tepat. c. Masyarakat merupakan bagian dari polisi Kondisi dimana kepolisian menjadikan masyarakat sebagai bagian dari dirinya. Kemungkinan ini jelas ada seperti yang diperagakan oleh kepolisian di negara Jerman Timur. Ratusan ribu karyawan pemerintah diberi tugas untuk

6 mengumpulkan informasi tentang aktifitas warga masyarakat, melakukan kegiatan mata-mata dan sebagian masyarakat merupakan informan polisi. d. Polisi merupakan bagian dari masyarakat Merupakan kebalikannya dimana sebuah masyarakat yang menjadikan polisi sebagai bagian darinya. Masyarakat terlibat dalam penyelenggaraan kepolisiannya sendiri dengan kekuatan lembaga control sosial informal yang bersifat internal dan terbatas seperti kelompok etnis, kelompok profesi dan sebagainya. Prinsip penyelenggaraan kepolisian sendiri merupakan contoh soal yang baik karena masyarakat dapat tertib tanpa kehadiran polisi. Masyarakat menyadari akan nilainilai atau norma yang berlaku dan diterima oleh semua warganya, sehingga terbentuk jaringan control sosial informal yang kuat. e. Polisi dan masyarakat saling tumpang-tindih. Kondisi dimana masyarakat membentuk badan penegak hukum resmi untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan seperti adanya pelanggar hukum dan pelaku kejahatan. Situasi dan kondisi yang saling terkait atau berhimpitan dapat diterapkan, namun penerapannya tergantung pada situasi tertentu. Polisi bukan satusatunya kekuatan dalam masyarakat yang bertindak sebagai penegak hukum dan ketertiban. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas hubungan ideal antara polisi dan masyarakat dalam konsep Community Policing terdapat penafsiran yang berbeda. Posisi hubungan antara polisi dan masyarakat yang paling ideal tentunya akan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, struktur organisasi dan fungsi tugas kepolisian. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana harapan dan keinginan dari masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu hubungan polisi dengan masyarakat yang terdapat di Indonesia sesuai dengan penjelasan d dan e. 6. Pencegahan kejahatan sebagai upaya perlindungan masyarakat Pencegahan kejahatan merupakan tindakan untuk memberikan perlindungan dan menghindari rasa takut masyarakat dari gangguan kejahatan. Selanjutnya pengamanan

7 terhadap masyarakat tidak semata-mata terfokus pada para pelaku kejahatan, tetapi juga pada kecenderungan dalam mengendalikan kejahatan itu sendiri. Untuk mencegah dan memberikan perlindungan masyarakat terhadap gangguan kejahatan maka dilakukan tindakan kepolisian. Adapun tindakan kepolisian dimaksud adalah : a. Melakukan eliminasi terhadap faktor-faktor kriminogen yang ada dalam masyarakat. b. Menggerakan potensi masyarakat dalam hal mencegah dan mengurangi kejahatan. (Kemal Darmawan, 1994 : 7 ; March Ancel, 1954 ). Berdasarkan penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa upaya memberikan perlindungan masyarakat dari rasa takut terhadap gangguan kejahatan harus dilakukan secara tegas. Namun demikian kebijakan yang bersifat pencegahan lebih diutamakan yaitu dengan melakukan eliminasi terhadap faktor korelatif kriminogen dengan menggerakan potensi dan partisipasi masyarakat. Termasuk melakukan kegiatan pencegahan pada daerah rawan dan kegiatan penindakan terhadap kejahatan yang muncul. Kegiatan pencegahan kejahatan ini sebaiknya dilakukan secara terorganisir dengan baik sehingga dapat mengendalikan angka kejahatan secara efektif.

7. Penyelenggaraan Community Policing oleh Polri Kedudukan organisasi Polri saat ini berada langsung di bawah Presiden. Dengan posisi demikian maka Polri diharapkan lebih profesional dalam pelaksanaan tugasnya sehingga lebih dapat memberikan pelayanan, lebih dapat memberikan perlindungan, pengayoman dan melakukan penegakan hukum kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Kondisi ini membawa konsekuensi logis terhadap struktur organisasi, budaya, perilaku dan kinerja Polri. Sehingga dengan semangat reformasi, Polri berupaya untuk merubah paradigma menjadi organisasi kepolisian yang demokratis sejalan dengan nilai-nilai yang berkembang pada suatu negara yang masyarakatnya semakin demokratis.

8 Keamanan dan ketertiban dalam masyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap individu, kelompok bahkan negara untuk menjaga kelangsungan hidup dan terselenggaranya pemerintahan. Menyadari akan pentingnya rasa aman dan adanya berbagai keterbatasan sumberdaya kepolisian maka peran serta masyarakat membantu tugas-tugas keamanan tidak dapat dielakan. Berkaitan dengan hal tersebut diatas secara langsung atau tidak langsung telah tercantum perlunya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban. Dalam Undang Undang dasar 1945 pasal 27 dijelaskan bahwa “Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Dalam Undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana pada pasal 108 dijelaskan sebagai berikut : a Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tulisan. b. Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketentraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa, terhadap hak milik, wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik. c. Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib serta melaporkan hal itu kepada penyelidik atau penyidik. Selanjutnya pada pasal 111 ayat (1) dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban dinyatakan sebagai berikut : “ Dalam hal tertangkap tangan setiap orang berhak, sedangkan setiap orang yang mempunyai wewenang dalam tugas ketertiban, ketentraman dan keamanan umum wajib, menangkap tersangka guna diserahkan beserta atau tanpa barang bukti kepada penyelidik atau penyidik ”.

9 Dalam Undang-undang Kepolisian Nomor 2 tahun 2002, pasal 14 ayat (1) huruf c , dinyatakan sebagai berikut : “ Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas : “Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masy. terhadap hukum & peraturan perundangundangan ”. Kemudian dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah pada bagian ke-lima mengenai kewajiban kepala daerah, pasal 43 huruf (d) dan (f) dijelaskan bahwa : “Kepala Daerah mempunyai kewajiban huruf (d) menegakan seluruh peraturan perundang-undangan dan huruf (f) memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat “. Berdasarkan penjelasan pasal tersebut diatas maka setiap kepala daerah memiliki kewajiban untuk menegakan hukum dan memelihara keamanan dan ketertiban yang terkait dengan tugas kepolisian. Selanjutnya dalam Kebijakan dan Strategi Kapolri Tentang Penerapan Model Polmas Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri, sesuai dengan Skep Kapolri No.Pol.: Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 bidang operasional, kebijakan yang digariskan meliputi : a. b. Penerapan Polmas sebagai suatu strategi diimplementasikan hanya pada tataran lokal di mana model perpolisian dioperasionalisasikan. Penerapan Polmas sebagai suatu falsafah diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas masing-masing satuan fungsi operasional Polri termasuk tampilan setiap personel Polri dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka penyelenggaraan kegiatan Community Policing oleh Polri saat ini sudah menjadi suatu kebijakan dan strategi. Dengan demikian Polri diharapkan dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di lingkungan tugasnya. 8. Implementasi Pencegahan Kejahatan Oleh Polri Pencegahan kejahatan telah lama ditetapkan sebagai objek utama dari “ politik kriminal “ namun konseptualisasinya masih dalam proses pertumbuhan. Menurut Tuck ( Graham,

10 John : 1990 ) dijelaskan bahwa pencegahan kejahatan tidak dapat didefinisikan sebagai suatu perangkat tehnis, tetapi tetap sebagai suatu konsep yang sedang diperjuangkan. (Kemal Darmawan, 1994 : 16 ) Apabila Polri melakukan pencegahan kejahatan sebagai suatu strategi dalam penegakan hukum, maka tampilan kegiatan kepolisian seyogyanya didasarkan atas beberapa pertimbangan. Pertimbangan tersebut diantaranya meliputi : a. b. c. Apakah sudah menaikan status operasional pencegahan kejahatan. Menempatkan pelayanan sebagai sarana utama pemecahan masalah. Mengembangkan manajer tingkat menengah yang ahli dan kompeten dalam memutuskan bagaimana fungsi kepolisian harus diintegrasikan dalam masyarakat tertentu. d. e. Mengembangkan suatu sistem untuk alokasi sumberdaya yang luwes dan tepat serta sesuai kebutuhan setempat. Menyeimbangkan pelaksanaan kebijakan setempat dengan pelestarian standarstandar yang tidak dapat ditawar lagi. (Koenarto, 1998 : 266 ; Bayley : 1992 ) Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka Polri saat ini telah melakukan peningkatan terhadap status operasional pencegahan kejahatan dengan adanya fungsi Binamitra. Seperti di tingkah KOD kedudukan Binamitra sudah memilki posisi yang sejajar dengan Bagian Operasi dan Bagian Administrasi. Selanjutnya telah menempatkan bidang pelayanan masyarakat sebagai ujung tombak kegiatan Polri. Sedangkan terhadap pengembangan keahlian manajer tingkat menengah untuk mengintegrasikan fungsi kepolisian dalam masyarakat masih terus dilakukan. Termasuk pengembangan sistem alokasi sumberdaya dan penentuan standar penilaian kinerja. Dengan mempertimbangkan penjelasan tersebut diatas kegiatan pencegahan kejahatan terbagi 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan social, pendekatan situasional dan pendekatan kemasyarakatan. Pemahaman tentang ketiga pendekatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

11 a. Pendekatan social, biasanya disebut dengan Social Crime Prevention yaitu segala perhatian dan kegiatan ditujukan untuk menumpas akar penyebab kejahatan dan kesempatan individu untuk melakukan pelanggaran. Yang menjadi sasaran adalah populasi umum (masyarakat) ataupun kelompok-kelompok yang secara khusus mempunyai resiko tinggi untuk melakukan pelanggaran. b. Pendekatan situasional, biasa disebut sebagai Situational Crime Prevention yaitu segala perhatian diarahkan untuk mengurangi kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan pelanggaran. c. Pendekatan kemasyarakatan, biasa disebut Communty Based Crime Prevention yaitu segala langkah ditujukan untuk memperbaiki kapasitas masyarakat untuk mengurangi kejahatan dengan jalan meningkatkan kapasitas mereka / potensi masyarakat untuk menggunakan control social informal. ( Kemal Darmawan,1994 : 17) Ketiga pendekatan pencegahan kejahatan tidak dapat dikatakan sebagai bagian yang terpisah atau mempunyai ciri-ciri tersendiri yang benar-benar mutlak. Tetapi lebih merupakan pendekatan yang saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama lain. Biasanya pendekatan pencegahan kejahatan didahului dengan kegiatan penelitian / penyelidikan terhadap anatomi kejahatan. Setelah dilakukan analisa maka kepolisian dapat menentukan pendekatan pencegahan dan selanjutnya menentukan cara bertindak yang paling efektif dan efisien. Kebijakan kepolisian yang bersifat reaktif tidak membawa dampak yang berarti bagi kecemasan masyarakat dan meningkatnya angka kejahatan. Oleh sebab itu diperlukan kebijakan kepolisian yang proaktif. Mengingat tindakan kepolisian proaktif lebih menuntut kerjasama dan mengaktifkan peran masyarakat dalam tugas keamanan. Telah dipahami bersama bahwa dalam pelaksanaan tugasnya kepolisian dihadapi oleh berbagai keterbatasan. Mulai dari keterbatasan sumberdaya sampai dengan kompleksitas tugas kepolisian. Sehingga untuk menyiasati keberhasilan tugasnya harus merubah strategi dan tindakan kepolisian. Yaitu dengan mengaktifkan kerjasama antara kepolisian dan

12 masyarakat dalam menyelesaikan kejahatan dan masalah sosial yang timbul. Hubungan kerjasama antara polisi dengan masyarakat harus dibangun sedemikian rupa. Sehingga tercipta hubungan yang ideal walaupun pada kenyataannya hubungan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, struktur organisasi dan fungsi tugas kepolisian. Secara umum kegiatan pencegahan terhadap kejahatan dilakukan oleh fungsi preventif kepolisian yang diemban oleh Binamitra, Samapta, dan Lalu Lintas yang didukung oleh kegiatan Inteligen. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh fungsi kepolisian tersebut belum dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pencegahan kejahatan yang efektif dan terintegrasi. Oleh sebab diperlukan langkah-langkah dalam upaya mewujudkannya. Pencegahan kejahatan bukan menjadi otonomi kepolisian saja. Semua pihak, instansi dan korporasi memiliki kepentingan untuk mencegah kejahatan. Mengingat kejahatan merupakan suatu kejadian yang pada umumnya harus dihindari. Sebagai contoh pencegahan terhadap kejahatan yang dilakukan oleh sector swasta atau bisnis telah menjadi prioritas untuk ditangani dengan cepat. Dunia bisnis semakin mengandalkan pengendalian kerugian untuk melindungi keuntungan. Perusahaan tidak dapat lagi memperlakukan kejahatan (baca: kerugian) sebagai harga melakukan bisnis. Praktisi pencegahan kejahatan yang sudah menguasai seni analisa kejahatan akan direkrut oleh para pengusaha yang membutuhkan keamanan. ( James D’ Addario, 1999 : 2 ) Berdasarkan kutipan tersebut diatas profesi diluar kepolisian telah menilai bahwa pencegahan kejahatan sudah menjadi prioritas yang perlu secepatnya diantisipasi. Profesi swasta tersebut menganggap bahwa kejahatan adalah suatu kerugian dalam bisnis oleh sebab itu diperlukan keahlian untuk mengusai seni analisa kejahatan untuk menciptakan keamanan dalam usaha. Dengan demikian jelas bahwa kejahatan bukan saja menjadi permasalahan kepolisian. Dunia swastapun sangat terganggu dengan adanya aktifitas kejahatan. Analisa kejahatan merupakan perangkat informasi yang memungkinkan pimpinan kepolsian dapat mengetahui perubahan tindak kejahatan yang sangat cepat. Oleh sebab

13 itu analisa kejahatan justru menghemat waktu dan bukan menghabiskan waktu. Selanjutnya dianjurkan untuk menggunakan logika dalam upaya mencegah dan menyelidiki kejahatan. ( James, 1999 : Sherlock Holmes ) Analisa kejahatan menyajikan koleksi rincian data kejahatan yang menjawab pertanyaan seperti : siapa, apa, kapan, dimana dan bagaimana. Data ini kemudian disusun menjadi catatan untuk dikaji pola kecenderungannya. Analisa kejahatan dapat mempertinggi nilai pengambilan keputusan, menghemat alokasi sumberdaya yang digunakan, selektif dalam menggunakan tindakan antisipatif dan tajam dalam mengembangkan latihan yang diperlukan. Namun yang paling penting bahwa pengambilan keputusan yang dibantu dengan analisa kejahatan memastikan adanya obyektifitas dan efektifitas dalam pencegahan kejahatan. Analisa kejahatan memerlukan pemahaman aritmatika yang sangat sederhana tapi proses perhitungan dan analisanya dimulai dari dasar / awal. Namun dengan adanya tehnologi computer semuanya menjadi lebih mudah untuk diwujudkan. Terdapat 2 (dua) metode yang dapat digunakan untuk menganalisa kejahatan. Metode analisa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Analisa Kriminal Makro Adalah analisa terhadap hakekat ancaman Kamtibmas, secara substansi menganalisa semua aspek yang melatar belakangi gangguan Kamtibamas dimaksud ( FKK, PH dan AF ) dan akibat yang ditimbulkan. Serta potensi kerawanan yang kemungkinan dapat ditimbulkan menjadi unsur suatu gangguan Kamtibmas. Tujuan analisa makro adalah untuk mengetahui kecenderungan umum situasi dan kondisi Kamtibmas pada masa tertentu. Hasil analisa ini digunakan untuk kepentingan strategis baik dibidang pembinaan maupun operasional. Sedangkan lingkup pendekatan ini pada hakekatnya merupakan penggabungan atau pendekatan keterpaduan antar fungsi dan pada akhirnya menjadi kebutuhan dari berbagai fungsi dalam kesatuan wilayah Polri. b. Analisa kriminal Mikro

14 Merupakan analisa terhadap suatu kasus tertentu dalam rangka menanggulangi dan mencegah dampak yang ditimbulkan. Tindakan kepolisian diarahkan pada upaya menggerakan peran serta seluruh fungsi kepolisian secara terintegrasi. Seperti dalam menggerakan kegiatan fungsi Intelkam, Reserse, Binamitra, Samapta, Lalu-lintas dan fungsi staf lain yang diperlukan. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka diperlukan kemampuan untuk menganalisa suatu kejahatan baik dengan melakukan analisa criminal makro maupun mikro. Analisa criminal makro diperlukan untuk menganalisa kecenderungan terhadap gangguan keamanan yang disebabkan oleh kejahatan secara umum. Sedangkan analisa kriminal mikro dilakukan untuk menganalisa satu kasus yang menjadi prioritas untuk ditangani. Dengan melakukan analisa kasus maka Polri dapat menentukan alternative pilihan dan menentukan cara bertindak yang tepat. Sehingga upaya pencegahan yang dilakukan senantiasa mempertimbangkan aspek tempat, waktu, sasaran, modus operandi, kerugian, korban dan sebagainya. Selanjutnya analisa terhadap kejahatan ini dapat diwujudkan dengan melakukan pemberdayaan dan peningkatan kemampuan terhadap bagian, fungsi, atau unit-unit operasional kepolisian. Khususnya yang berkaitan dengan tugas pelayanan, pencegahan, penyelidikan dan penyidikan. 9. Bantuan Langsung Kepolisian Kepada Masyarakat Dalam rangka mendukung kebijakan tindakan kepolisian yang proaktif maka diperlukan peran dan kemampuan Polri yang profesional. Adapun peran kepolisian yang profesional dapat diwujudkan dengan cara sebagai berikut : a. Bantuan kehadiran personil Polri. Personil yang sangat berpengalaman ditempatkan di lingkungan masyarakat untuk memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman yang berkenaan dengan kegiatan pencegahan kejahatan. Personil yang ditugaskan di tempat tersebut diupayakan memiliki pengalaman dan memahami betul karakteristik wilayahnya. Sehingga memudahkan yang bersangkutan untuk

15 menentukan sikap dan mengambil suatu keputusan yang berkenaan dengan kegiatan pencegahan kejahatan. b. Apabila kepolisian telah memiliki data dan informasi yang berkaitan dengan kejahatan. Maka informasi ini dapat disampaikan kepada masyarakat. Sebab dengan memberikan bantuan atau informasi (melalui video, gambar dan sebagainya) yang berkaiatan dengan kejahatan maka masyarakat diharapkan memilki informasi yang tepat, cepat dan lengkap tentang kejahatan itu sendiri. Yang pada akhirnya masyarakat memilki pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya mencegah kejahatan . c. Memberikan laporan berkala berupa selebaran, pamflet dan sarana informasi lain yang terkait dengan pencegahan kejahatan. d. Menciptakan sistem pemberian penghargaan bagi individu maupun kelompok personil Polri yang mampu memberikan pelayanan istimewa kepada masyarakat. Dengan adanya pemberian penghargaan kepada yang berprestasi diharapkan dapat menumbuhkan motivasi dan nilai-nilai ketauladanan bagi personil lainnya. e. Pemberian penghargaan juga disampaikan kepada masyarakat secara individu atau kelompok yang telah bertindak positif membantu Polri untuk mengungkap kejahatan dan melakukan tindakan terpuji lainnya. Pemberian ini dapat berupa surat tanda penghargaan, sejumlah uang maupun kesempatan untuk mengikuti kursus tertentu. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka kepolisian proaktif memerlukan kehadiran polisi baik secara fisik , beserta ide-ide dan kegiatan kepolisian nyata. Model kegiatan patroli memberikan kontribusi positif dalam membangkitkan keberanian masyarakat untuk melapor atau memberikan informasi kepada polisi. Khususnya yang berkaitan dengan masalah kejahatan yang tentunya sangat bermanfaat bagi program pencegahan kejahatan. Dengan demikian kegiatan patroli memegang peranan yang penting dalam rangka pencegahan kejahatan. Adapun keuntungan dari adanya kegiatan patroli dapat dijelaskan sebagai berikut :

16

a. Kegiatan kepolisian proaktif dengan patroli di daerah yang terdapat konsentrasi masa, dapat memberikan efek terhadap berkembangnya atau terjadinya kejahatan. b. Petugas Patroli dapat melakukan penangkapan langsung terhadap pelaku pelanggar atau kejahatan. Untuk selanjutnya dilaporkan pada kantor polisi terdekat untuk dilanjutkan prosesnya. c. Kegiatan patroli merupakan model yang paling tepat untuk dilaksanakan di lingkungan pemukiman, perkantoran, perbelanjaan dan sebagainya. Selain itu polisi dapat pula berinteraksi dengan masyarakatnya dan cara ini dinilai sangat efektif untuk mengurangi rasa tidak aman dari warga masyarakat. d. Kegiatan patroli yang dilakukan dengan kendaraan, sepeda dan berjalan kaki dapat meningkatkan dukungan moral dan empati masyarakat terhadap polisinya. Disamping sebagai upaya untuk mendekatkan polisi dengan masyarakatnya. Namun demikian untuk pelaksanaanya disesuaikan dengan wilayah atau areal tugasnya.

10. Tindakan Sosial Bersama Upaya pencegahan kejahatan memberikan kesempatan untuk meminimalkan tingkat kerawanan daerah. Biasanya sambutan yang paling hangat datang dari kalangan yang memiliki status sosial yang tinggi atau berada di lingkungan elit, atau mereka yang hidup di lingkungan yang tingkat kejahatanya rendah. Hal ini disebabkan karena golongan masyarakat tersebut justru paling mudah dijadikan sasaran kejahatan. Sehingga upaya pencegahan kejahatan tersebut perlu dilakukan penelitian, pengkajian dan disosialisasikan dengan terencana. Terdapat suatu pandangan kuat yang menyebutkan bahwa tanpa adanya peran serta dan kerja sama dari masyarakat maka polisi akan sangat mustahil dapat melaksanakan strategi penanggulangan kejahatan secara efektif. Berkaitan dengan hal ini Goldstein (1977) menyatakan sebagai berikut “Apapun yang polisi lakukan dalam usahanya

17 mengedepankan kejahatan serius. Mereka harus mengakui bahwa usaha mereka sangat bergantung pada adanya kerjasama dan peran serta masyarakat. Kenyataan menunjukkan bahwa polisi tidak akan mungkin membuahkan suatu kemampuan yang menyamai kemampuan kolektif yang dimiliki masyarakat dalam pencegahan kejahatan, dalam melaporkan adanya pelanggaran, mengidentifikasi pelaku dan membantu proses penuntutan. (Kemal Darmawan, 1994 : 102 ) Pendapat tersebut diatas juga diperkuat dengan pendapat Sir Robert Pell pada tahun 1929 dinyatakan bahwa : “Polisi haruslah bekerjasama dengan masyarakat, melindungi hakhak, melayani kepentingan, serta berusaha mendapatkan kepercayaan masyarakat dimana mereka melaksanakan tugas kepolisian ”. (Muhamad Kemal Darmawan, 1994 : 102 ; Mayhall, 1984 ) Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka langkah utama yang harus dilakukan dalam mengimplementasikan gaya pemolisian model Community Policing adalah dengan menghimbau masyarakat untuk bersedia ikut terlibat dalam kegiatan kepolisian. Adapun peran serta masyarakat dalam membantu tugas kepolisian ditujukan dalam upaya : a. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pencegahan kejahatan. b. c. d. Melatih dan mendidik masyarakat untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk mengamanankan diri, jiwa, harta benda dan lingkungannya. Memotivasi masyarakat untuk segera melaporkan kepada polisi apabila melihat kejadian yang mencurigakan. Meningkatkan hubungan yang harmonis antara polisi dan masyarakat dalam memelihara keamanan dan ketertiban. Melalui pertemuan dan diskusi secara rutin antara polisi dan masyarakat diharapkan Polri dapat menawarkan kerjasama tentang upaya mencegah kejahatan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok masyarakat. Untuk selanjutnya mampu mengambil langkah yang tepat dalam mengembangkan cara bertindak sesuai dengan lingkungan masyarakatnya.

18 Oleh sebab itu diperlukan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk memahami dan menguasai tentang strategi pencegahan kejahatan. Adapun langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Membentuk lembaga pencegahan kejahatan yang diorganisir mulai pada tingkat daerah, propinsi maupun nasional. Dengan dibentuknya lembaga ini dilakukan kontak kegiatan dengan pemerintah daerah, sekolah-sekolah, lembaga swadaya masyarakat, pengamat kepolisian dsb. Lembaga ini dibentuk dengan tujuan mencegah kejahatan yang telah menjadi perhatian masyarakat baik yang menyangkut segi kuantitas maupun kualitas. Sehingga lingkungan masyarakat terbebas dari unsur-unsur kejahatan dan pada akhirnya mampu mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat sebagaimana diharapkan bersama. b. Membuat pos anti kejahatan Kegiatan Polri dilakukan dengan memberikan bimbingan dan upaya memberdayakan pos pencegahan kejahatan serta menyusun strategi untuk menghadapi tipe-tipe kejahatan khusus yang sedang berkembang. Sebagai contoh adanya pos anti narkoba yang keberadaanya dapat memberikan bantuan informasi maupun bantuan lainnya yang terkait dengan penyalahgunaan narkotika dan obat keras terlarang lainnya. Kegiatan ini dapat juga diperluas dengan melakukan tindakan pencegahan terhadap kejahatan menonjol lainnya. 11. Kebijakan Sistem Peradilan Pidana Sistem peradilan pidana (Criminal Justice Sistem atau CJS) merupakan salah satu sistem dalam masyarakat yang digunakan dalam rangka menanggulangi kejahatan. Upaya menanggulangi kejahatan mengandung pengertian yang bermakna pencegahan dan penindakan atau pemberantasan. Mengingat bahwa kejahatan yang ada dalam masyarakat tidak mungkin dihilangkan sama sekali maka pengendalian berarti pula menjaga agar kejahatan itu selalu berada dalam batas toleransi.

19 Menjaga sampai batas toleransi mengharuskan Polri untuk dapat menganalisa dan menghitung secara kuantitatif yang didasarkan pada kriteria dan kesepakatan yang telah ditentukan. Hal ini menyebabkan polisi terkadang melupakan nilai-nilai yang berlingkup kualitatif. Sehingga dalam melakukan analisa terhadap kejahatan kadang kurang efektif dan tidak obyektif. Namun demikian perlu dipahamai bersama bahwa tujuan dari sistem peradilan pidana adalah : a. Mencegah agar masyarakat terhindar menjadi korban kejahatan. b. Secepatnya menyelesaikan kejahatan yang terjadi agar masyarakat puas dan merasa aman, karena keadilan cepat ditegakan. c. Mengusahakan agar para pelaku kejahatan tidak mengulangi kejahatan lagi. ( Koenarto, 1997 : 129 ) Berdasarkan kutipan diatas maka kegiatan pencegahan kejahatan merupakan suatu tujuan yang hendak dicapai dalam mewujudkan tujuan dari sistem peradilan pidana. Sebagai pelaksananya adalah Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Idealnya ke-empat instansi ini dapat bekerjasama secara kompak dan pelaksanaan tugasnya mengalir dalam satu garis tak terputus dan saling berkesinambungan. Selanjutnya dengan kegiatan yang sinergi dapat mewujudkan tampilan tugas transparan, jujur dan dapat segera memberikan rasa keadilan pada masyarakat. Kesatuan yang semacam ini dapat disebut sebagai “ Integrated Criminal Justice Sistem “. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka upaya pencegahan kejahatan sebenarnya bukan hanya tugas Polri sendiri. Tetapi seluruh aparat CJS harus terpanggil untuk mendukung pencegahan kejahatan. Karena sistem yang berjalan kurang dapat mewujudkan rasa keadilan maka kepercayaan terhadap hukum terus menjadi berkurang. Kondisi ini mendorong pelaku kejahatan secara berani melakukan kejahatan bahkan mengulanginya karena hukuman atau vonis yang dikenakan tidak sebanding. Bahkan pada kasus tertentu pelaku kejahatan memiliki hubungan yang kuat terhadap pejabat CJS. Sehingga timbul sebutan seperti adanya orang-orang yang kebal hukum, orang kuat dan sebagainya.

20 Peran Lembaga Pemasyarakatan yang kurang atau tidak berfungsi dengan baik juga dapat merupakan tempat pendidikan bagi para penjahat. Pada akhirnya lembaga ini dinilai gagal dalam mencegah berkembangnya perilaku positif bagi residivis yang ada didalamnya. Bahkan dalam beberapa kasus diungkap oleh Polri bahwa di lembaga pemasyarakatan justru terdapat lahan bagi para penjahat untuk melakukan aksinya seperti melakukan transaksi pembelian dan peredaran narkoba. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas Polri memiliki peran yang dominan dan berada pada garis terdepan dalam melakukan pencegahan kejahatan. Pencegahan kejahatan secara konseptual menginginkan kebijakan yang komprehensif. Kegiatan pencegahan primer diarahkan pada lingkungan masyarakat secara umum. Pencegahan kejahatan sekunder diarahkan terhadap pelaku kejahatan yang potensial. Sedangkan untuk kegiatan pencegahan tersier yang diarahkan pada mereka yang terlanjur menjadi pelaku tindak pidana. (Muladi , 2002 : 275 ) Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka Polri memiliki tanggung jawab dalam rangka melakukan pencegahan kejahatan baik yang bersifat primer, sekunder dan tersier. Namun demikian aparat CJS tidak dapat lepas dari tanggung jawabnya untuk ikut serta membantu Polri dalam upaya melakukan pencegahan kejahatan secara professional dan proporsional. Walaupun pandangan masyarakat umum menghendaki bahwa pencegahan kejahatan menjadi tanggung jawab Polri. Namun demikian mengingat perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin demokratis maka Polri diharapkan lebih aspiratif terhadap harapan dan keinginan masyarakat yang berkembang dan responsive terhadap perubahan yang terjadi. IV. PENUTUP 12. Kesimpulan “Community Policing” sebagai gaya perpolisian dewasa ini terus dikembangkan di negara-negara berkembang. Community policing intinya merupakan suatu tindakan bersama antara polisi dan masyarakat dalam pembinaan Kamtibmas yang didasarkan

21 pada kepercayaan akan profesionalisme kepolisian serta kesediaan masyarakat untuk bekerjasama tanpa mempermasalahan keterbatasan sumberdaya yang ada. Bahwa orientasi tugas kepolisian yang berwawasan masyarakat perlu dipahami dan dipertimbangkan keberadaannya dalam tugas kepolisian mendatang. Keinginan bekerjasama dan mengaktifkan masyarakat untuk menghadapi kejahatan dapat mengurangi kompleksitas dan beban tugas kepolisian. Sehingga mendatang diperlukan strategi kepolisian yang lebih mendekati harapan dari masyarakat. Tindakan kreatif yang dilakukan oleh kepolisian dalam rangka mencegah kejahatan dilakukan dengan langkah-langkah yang terencana dengan baik. Adapun langkah dimaksud dimulai dengan melakukan analisa terhadap kejahatan, bantuan kepolisian langsung, informasi anti kejahatan dan kebijakan system peradilan pidana. Sehingga program kegiatan dalam upaya pencegahan kejahatan dapat dilaksanakan secara efektif. 13. S a r a n Menghadapi realita kejahatan yang terjadi saat ini di Indonesia dibutuhkan kebijakan dalam pencegahan kejahatan yang konseptual dan konsisten. Sehingga upaya yang dilakukan oleh Polri lebih responsive, akomodatif dan antisipatif dengan pengelolaan informasi / data yang terintegrasi dengan baik antara kepolisian dengan system peradilan pidana, dimana Polri berperan sebagai koordinator dalam upaya penanggulangan dan pencegahan kejahatan. Studi kajian mengenai pencegahan kejahatan yang terintegrasi tentunya

mengandalkan pelibatan potensi yang ada dimasyarakat. Oleh sebab itu dalam penerapannya perlu mendapat dukungan dari legislatif dan eksekutif. Sehingga perwujudan keamanan dan ketertiban masyarakat dapat dengan mudah dicapai dan pelibatan peran serta masyarakat terus meningkat. Disamping itu peranan media elektronik maupun media cetak dapat dimanfaatkan maksimal terkait dengan upaya pencegahan kejahatan dimaksud.

22 Pencegahan kejahatan merupakan salah satu strategi dalam menerapkan gaya Community Policing. Orientasi penegakan hukum modern selalu menitik beratkan terhadap tindakan preventif daripada represif. Sehingga dengan peran dan fungsi Binamitra diharapkan dapat lebih mengakomodir kegiatan pencegahan kejahatan yang didukung oleh system pelayanan terpadu yang lebih terintegrasi. Bahwa kegiatan kepolisian dalam gaya apapun selalu bersandar pada berbagai hubungan dengan pemerintah daerah, masyarakat dan kepentingan organisasi lainnya. Oleh sebab itu dalam menentukan kebijakan kepolisian seyogyanya dikoordinasikan terlebih dahulu. Apabila dalam pelaksanaanya menghadapi berbagai kendala maka dapat dengan mudah diminimalisir dan potensi yang ada dalam masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal. Demikian Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang dberikan oleh Dosen Mata Kuliah Administraasi Kepolisian, penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna maka penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan pembaca demi lebih baiknya makalah ini dikemudian hari. Jakarta, Juni 2008 PENULIS

DOLLY GUMARA NO. MHSW 6496

23 DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bayley, David.H, 1992, Police for The Future, Disadur oleh Koenarto , Cipta Manunggal, Jakarta Finlay, Mark and Zvekic, Ugljesa, 1998, Alternatif Gaya Kegiatan Polisi Masyarakat , Tinjauan Lintas Budaya, Cipta Manunggal, Jakarta. James D’Addario, Francis, 1999, Mencegah Kerugian dengan Analisa Kejahatan, Cipta Manunggal, Jakarta. Koenarto, 1997, Hak Asasi Manusia dan Polri, PT. Cipta Manunggal. Jakarta Muhamad Kemal Darmawan, 1994, Strategi Pencegahan Kejahatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Muladi, 2002, Demokratisasi Hak Asasi Manusia dan Reformasi Hukum di Indonsia, The Habibie Centre, Jakarta. Soesilo, R, Kitab Undang – undang Hukum Pidana, Bogor, Politeia, 1993 Soesilo, R dan Karjadi, M, Kitab Undang – undang hukum Acara Pidana, Bogor, Politeia, 1986. Rahardjo, Satjipto, 2001, Makalah Seminar “Polisi Antara Harapan dan Kenyataan”, Hotel Borobudur, Jakarta. Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No. 22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah, Jakarta, Penerbit Arloka, 1999. Republik Indonesia, Undang – undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta, Babinkum Polri, 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->