P. 1
Manajemen Disaster

Manajemen Disaster

4.33

|Views: 2,056|Likes:
Published by dolly99
Penanggulangan Limbah Beracun sebagai upaya manajeen bencana
Penanggulangan Limbah Beracun sebagai upaya manajeen bencana

More info:

Published by: dolly99 on Aug 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

PENTINGNYA MANAJEMEN DISASTER LIMBAH BERACUN BEBAHAYA DALAM MEMINIMALISIR EFEK NEGATIF YANG DITIMBULKAN DARI PROSES PEMBANGUNAN

DAN INDUSTRI DI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kesadaran akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana telah mulai muncul pada dekade 1990-1999 yang dicanangkan sebagai Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional. Upaya untuk mengurangi risiko bencana secara sistematik membutuhkan pemahaman dan komitmen bersama dari semua pihak terkait terutama para pembuat keputusan (decision makers). Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Resolusi Nomor 63 tahun 1999 menyerukan kepada Pemerintah di setiap negara untuk menyusun dan melaksanakan Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Nasional untuk mendukung dan menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan. Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak wilayah yang rawan bencana dan masih dalam proses pembangunan serta sedang menggiatkan kegiatan industri yang bertujuan meningkatkan taraf ekonomi rakyat. Tentunya menimbulkan efek negatif dari kegiatan pembangunan tersebut. Masalah limbah beracun berbahaya yang masih belum tertangani dengan baik membawa dampak destruktif bagi sosial masyarakat dan lingkungan hidup yang pada akhirnya menimbulkan bencana yang mengerikan bagi kehidupan manusia dan alam. Sejarah telah mencatat betapa mengerikan Kasus Minamata tahun 1956 yang mengakibatkan korban manusia yang tidak sedikit disebabkan pembuangan limbah Air Raksa / Merkuri yang dihasilkan oleh kegiatan industri pupuk urea “Chisso Co Ltd”. Teluk Minamata yang menjadi sumber kehidupan nelayan dan penduduk sekitartelah berubah menjadi monster yang menakutkan selain dampaknya merusak ekologi dan ekosistem di teluk tersebut juga membuat banyaknya berjatuhan korban jiwa dan cacat fisik. Selain kasus Minamata yang terjadi diluar negeri tersebut tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi di Indonesia seperti Kasus Buyat dimana logam – logam berat ( merkuri ) yang dihasikan dari pembuangan limbah penambangan emas milik PT Newmont Minahasa Raya membuat seorang penduduk yang bernama Andini Lenzun di Desa Ratatotok Timur , Pantai Buyat Minahasa Selatan Sulawesi Utara terkena penyakit yang mememiliki ciri yang sama pada Kasus Minamata. Selain itu pula Sungai Citarum yang berada di Jawa Barat telah mengalami pencemaran yang

dilakukan oleh 217 industri yang berada disepanjang aliran Sungai Citarum. Setiap hari sekitar 1.320 Liter per detik atau setara 270 Ton perhari limbah dibuang ke sungai tersebut sehingga warna sungai yang dulunya bening pada saat ini telah terlihat hitam dengan bau busuk yang menyengat. Masyarakat menduduki tempat penting dalam penanggulangan bencana limbah beracun berbahaya karena masyarakat merupakan subyek, obyek sekaligus sasaran utama upaya pengurangan resiko bencana. Sebagai subyek masyarakat diharapkan dapat aktif mengakses saluran informasi formal dan non-formal, sehingga upaya pengurangan risiko bencana secara langsung dapat melibatkan masyarakat. Pemerintah bertugas mempersiapkan sarana, prasarana dan sumber daya yang memadai sebagai bentuk memanajemen bencana yang ditimbulkan seperti yang terjadi paragraph diatas. Dalam rangka menunjang dan memperkuat daya dukung setempat, sejauh memungkinkan upaya-upaya pengurangan risiko bencana akan menggunakan dan memberdayakan sumber daya setempat termasuk sumber dana, sumber daya alam, ketrampilan, proses-proses ekonomi dan sosial masyarakat. 2. Maksud dan Tujuan a. Maksud Maksud dari pembuatan makalah ini untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen juga menjadi informasi bagi pembaca untuk mengetahui program prioritas yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah dalam memanage disaster / bencana yang ditimbulkan dari limbah industri dan proses pembangunan. b. Tujuan Tujuan makalah ini pula yaitu untuk mendiskripsikan kebijakan dan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana pada umumnya dan bencana limbah kimia pada khususnya, sehingga kegiatan pembangunan dapat berkelanjutan, terarah dan terpadu. 3. Ruang Lingkup Manajemen Bencana mengakomodasikan kepentingan dan tanggung jawab semua pemangku kepentingan terkait dan disusun melalui proses koordinasi dan partisipasi . Disaster Manajemen merupakan landasan, prioritas, aksi serta mekanisme pelaksanaan dan kelembagaan penanganan bencana khususnya yang ditimbulkan oleh limbah industri dari proses pembangunan dan industri.

4. Permasalahan Dalam hal penanggulangan bencana, kita memiliki Badan Koordinasi Nasional

Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 2001. Di tingkat Provinsi dibentuk Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang disingkat Satkorlak PBP. Di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang disingkat Satlak PBP. Walaupun tugas dan fungsi dari Bakornas, Satkorlak dan Satlak PBP ini telah jelas diuraikan dalam Keppres tersebut, namun faktanya ketika terjadi bencana terlihat institusi ini sering "kedodoran". Dirasakan selama ini, pemahaman terhadap manajemen bencana memang semakin luntur, karena dianggap bukan prioritas dan bencana hanya datang sewaktu-waktu saja. Dapat dipastikan pemahaman dasar tentang manajemen bencana tidak dikuasai atau tidak dimengerti oleh banyak kalangan baik birokrat, masyarakat, maupun swasta. Penanganan bencana selama ini dapat dikatakan "bagaimana nanti saja". Padahal negara kita adalah negara yang memiliki ancaman bahaya bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah kimia industri yang berbahaya bagi alam dan manusia dengan klasifikasi sangat bervariasi dan sangat berat. Suatu ketika bila terjadi bencana dan menelan korban jiwa dan lingkungan hidup , kita selalu terkaget-kaget dan mengatakan kecolongan. Pengalaman telah terbukti bencana bahwa kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh pengelolaan limbah industri yang menyalahi prosedur standar tidak menutup kemungkinan akan terjadi seperti di Teluk Minamata Jepang dan Teluk Buyat Sulawesi Utara . Melihat kenyataan dan akibat yang ditimbulkan diatas dapat diambil beberapa pokok permasalahan yang akan penulis coba bahas antara lain :
a.

Bagaimana faktor – faktor penyebab bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah berbahaya beracun yang dihasilkan dari industri dan proses pembangunan di Indonesia ?

b.

Bagaimana kegiatan/aksi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengendalikan dan mengurangi resiko bencana yang disebabkan oleh limbah berbahaya beracun yang dihasilkan dari industri dan proses pembangunan di Indonesia ?
BAB II PEMBAHASAN

4.

Faktor – faktor yang Menyebabkan

Pada umumnya bencana yang disebabkan oleh limbah beracun berbahaya dapat disebabkan oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain:
a. Penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) yang disebabkan oleh proses

pembangunan yang tidak memperhatikan / tidak berwawasan lingkungan ataupun tidak menggunakan AMDAL dalam pengelolaan limbah hasil kegiatan industri.
b. Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di

dalam kota/ kawasan industri yang berisiko bencana terhadap lingkungan hidup Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan memperhatikan dampak potensi kerusakan lingkungan yang minimal, namun proses pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya lingkungan ini terhadap kehidupan masyarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya lingkungan hidup di Indonesia semakin berkurangdisebabkan kegiatan industri yang mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik dan psikis menyebabkan peningkatan risiko bencana baik di lingkungan makro maupun di lingkungan mikro terhadap dimana manusia tinggal disekitarnya. Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti tidak tertatanya sistem pengelolaan limbah industri yang pada akhirnya terjadinya wabah penyakit dikarenakan kontaminasi manusia dengan zat kimia disekitar lokasi pembuangan limbah. Limbah kimia yang dihasilkan dari siklus kegiatan industridan pembangunan dapat berupa zat padat, zat cair maupun berupa gas. Limbah kimia yang dihasilkan dari proses pengelolaan limbah yang buruk sedikit demi sedikit akan bertambah pada suatu komunitas makhluk hidup yang ada di lingkungan tersebut. Seperti pada sungai / laut yang tercemar oleh limbah merkuri pada ikan tentunya racun limbah tersebut akan terakumulasi dan apabila dikonsumsi oleh manusia akan masuk dalam tubuh dan terakumulasi sehingga merusak paru-paru dan ginjal.

Gagalnya sebuah sistem teknologi yang mengakibatkan terjadinya malapetaka teknologi (technological disaster) selalu bersumber pada kesalahan sistem (system error) yang bersumber pada desain sistem yang tidak sesuai dengan kondisi di mana sistem itu bekerja. Hal ini terjadi karena perancangan sistem yang gagal mempertemukan system teknis dan sistem sosial. Hal yang demikian sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang mengakibatkan kerugian jiwa seperti kecelakaan industri yang mengakibatkan kebocoran gas, keracunan dan pencemaran lingkungan. Kemudian dari faktor – faktor yang menyebabkan tersebut diatas selain “man made” yang dilakukan oleh pihak industry juga disebabkan kurang ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terutama dalam pengawasan pelaksanaan AMDAL yang dimiliki oleh pemilik pabrik. Otoritas badan pemerintah yang mengurusi lingkungan hidup seperti BAPPEDA kurang efektif menjalankan tugasnya dalam melakukan upaya pre- emtif dan preventif, ironisnya setelah pencemaran tersebut telah memakan korban baru kemudian mau bertindak sehingga terkesan Management Disaster masalah pencemaran limbah yang dilakukan pemerintah terkesan seperti pemadam kebakaran. Fungsi Manajemen Bencana pada saat ini belum bersifat kesemestaan, belum melibatkan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pemerintah saja. Pemerintah memiliki keterbatasan-keterbatasan. Sikap apatis dari masyarakat masih tetap berperan dalam pembiaran munculnya bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah berbahaya. Problem Manajemen Disaster masih dianggap oleh sebagian besar masyarakat merupakan milik pemerintah padahal dalam menghadapi kondisi tersebut semua pihak harus mampu menjadi pelaku yang setara, semua harus berperan utama, bukan hanya berperan serta. Sasaran implementasinya adalah masyarakat mengetahui ancaman bahaya di lingkungan masing-masing, masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dengan tentunya menggunakan prinsip kebersamaan dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya secara maksimal . Jadi back to basic pelaksanaan manajemen bencana yang berhubungan dengan Lingkungan Hidup yang tercemar limbah kimia berbahaya adalah " Habluminallah, Habluminannas, Habluminalam".
5.

Menghilangkan Faktor Penyebab Kerentanan (vulnerability) Banyak pihak telah mencoba menyusun siklus manajemen dengan maksud dan tujuan agar mudah dipahami dan mudah diaplikasikan terutama oleh masyarakat umum. Sebagai contoh pihak

United Nation Development Program (UNDP) dalam program pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan tahun 1995 dan 2003, menyusun siklus manajemen bencana dalam versi cukup sederhana. UNDP membagi manajemen bencana menjadi empat tahapan besar. Tahap pertama kesiapsiagaan (perencanaan siaga, peringatan dini), tahap kedua tanggap darurat (kajian darurat, rencana operasional, bantuan darurat), tahap ketiga pasca darurat (pemulihan, rehabilitasi, penuntasan, pembangunan kembali), tahap keempat pencegahan dan mitigasi atau penjinakan. Pengalaman menunjukkan, dari keempat tahap tersebut justru tahap kedua yaitu tahap tanggap darurat yang selalu penuh "hiruk pikuk" tetapi koordinasinya sangat lemah. Hal ini membuktikan bahwa manakala bencana itu terjadi, penanganan bencana selalu dilakukan dalam suasana kepanikan dan kebingungan. Pada saat tanggap darurat ini nampak ada yang terkagetkaget dan merasa kecolongan, ada yang serius, ada yang menjadi "seksi repot", ada yang hanya menonton saja, bahkan ada yang berpura-pura minta sumbangan tetapi untuk kepentingan pribadi. Pada tahap ketiga, yaitu pasca darurat, nuansa rehabilitasi dan rekonstruksi mulai berbau "projek", banyak pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Pada tahap keempat, yaitu pencegahan dan mitigasi, semua pihak mulai melupakan peristiwa bencana yang lalu, hampir semua tidak peduli lagi harus berbuat apa. Kembali ke tahap pertama, yaitu kesiapsiagaan, bisa dipastikan semua pihak tidak siap dan tidak siaga, dan bila terjadi bencana, kembali kecolongan, terkaget-kaget dan panik. Padahal penanganan keempat tahap sejak kesiapsiagaan, tanggap darurat, pasca darurat, pencegahan dan mitigasi masing-masing memiliki bobot keseriusan yang sama. Kelompok masyarakat sebagai pelaku utama manajemen bencana ini harus dapat diupayakan dari tingkat yang paling kecil yaitu kelompok Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dusun, kampung, sampai kelompok yang lebih besar yaitu desa atau kelurahan, kecamatan, bahkan kota atau kabupaten dimana kegiatan industri tersebut berada. Terus terang, walaupun nantinya undangundang kebencanaan ini telah terbit, namun masih perlu adanya prasyarat agar manajemen bencana berbasis masyarakat ini dapat terealisasi. Prasyarat ini antara lain adanya tokoh penggerak (dari aktivis atau tokoh setempat), konsep yang jelas, objek aktivitas yang jelas, kohesivitas masyarakat setempat, bahasa komunikasi kerakyatan yang tepat berbasis kearifan budaya setempat, dan jaringan informasi yang mudah diakses setiap saat. Bahan untuk sosialisasi dan pelatihan manajemen kebencanaan lingkungan hidup berbasis masyarakat ini telah banyak disusun oleh pihak-pihak yang peduli, bentuknya bermacam-macam,

sangat bervariasi. Pada dasarnya kita harus menciptakan bahan sosialisasi dengan bahasa rakyat, yang mudah dimengerti dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dalam melakukan tahap-tahap kesiapsiagaan, tanggap darurat, pasca bencana, mitigasi dan pencegahan. Bentuk bahan sosialisasi berupa daftar pertanyaan atau matrik isian, misalnya, matrik analisis risiko bencana limbah industri, matrik mengenal ancaman bahaya di lingkungan sekitar kita, matrik mengenal kerentanan dan kapasitas kemampuan lingkungan terhadap limbah kimia dan proses industri , matrik rencana operasional dengan kerangka logis setempat. Pengisian daftar pertanyaan atau matrik isian dapat dilakukan pada saat pelatihan atau lokakarya penanggulangan bahaya limbah kimiawi di setiap RT atau RW atau desa dimana kegiatan industri tersebut beraktifitas. Tidak kalah pentingnya adalah pelaksanaan gladi berdasar skenario seolah-olah terjadi bencana. Gladi ini harus merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh masing-masing kelompok masyarakat. Lokakarya dan gladi ini adalah bentuk lain dari fungsi kontrol dalam manajemen bencana berbasis masyarakat. Sering gladi ini tidak serius diikuti oleh berbagai pihak, padahal gladi adalah bagian penting yang harus diikuti oleh segenap anggota masyarakat agar bila terjadi bencana maka situasi dapat diatasi tanpa kepanikan. Bagaimanapun juga, gladi tetap harus dilakukan dengan serius demi keselamatan diri dan semua pihak di kala bencana sebenarnya datang secara tiba-tiba.
6.

Prioritas Penanggulangan Resiko Bencana Limbah Kimia Pengurangan risiko bencana Limbah Kimia di Indonesia dilakukan dengan

mempertimbangkan aspek berkelanjutan dan partisipasi dari semua pihak terkait. Upaya ini dilakukan dengan komitmen yang kuat dengan mengedepankan tindakan-tindakan yang harus diprioritaskan. Penyusunan prioritas ini perlu dilakukan untuk membangun dasar yang kuat dalam melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana Limbah Kimia yang berkelanjutan serta mengakomodasikan kesepakatan internasional dan regional dalam rangka mewujudkan upaya bersama yang terpadu. Lima prioritas pengurangan resiko bencana Limbah Kimia beracun berbahaya yang dilakukan adalah: a. Meletakkan pengurangan resiko bencana limbah kimia sebagai sasaran prioritas nasional maupun daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat dalam merevitalisasi lingkungan yang tercemar limbah.

b.

Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau risiko bencana limbah kimia serta menerapkan sistem peringatan dini sebelum kerusakan lingkungan akibat limbah tersebut memba -hayakan kehidupan manusia

c.

Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana limbah kimia pada semua tingkatan masyarakat mulai dari tingkat nasional sampai dengan lingkungan masyarakat yang terkecil

d.

Mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana limbah yang dihasilkan industri dengan menerapkan, mengawasi dan mengontrol pelaksanaan AMDAL perusahaan.

e.

Memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana limbah kimia pada semua tingkatan masyarakat agar respons yang dilakukan lebih efektif. Sebagai penerjemahan dari pergeseran paradigma ke arah perlindungan terhadap masyarakat

yang berada disekitar rawan bencana limbah kimia yang dihasilkan industri sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar rakyat, pengurangan risiko bencana limbah kimia industri harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Menghargai hak untuk hidup dan kehidupan yang bermartabat dan pemerintah bertanggung jawab memastikan perlindungan dari risiko bencana limbah kimia berbahaya yang sejatinya terhindarkan. b . Bertujuan mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana limbah kimia berbahaya dari proses-proses pembangunan dan aktifitas industri yang tidak berkelanjutan yang dapat memperburuk perubahan ketersediaaan daya dukung lingkungan hidup c. Akuntabel kepada masyarakat berisiko dan atau terkena bencana limbah kimia berbahaya serta didorong untuk meningkatkan partisipasi, equiti dan keadilan serta dilaksanakan dengan perspektif kebersamaan Untuk menjaga akuntabilitas pengurangan risiko bencana limbah kimia hasil kegiatan industri dalam kebijakan pembangunan, akan dikembangkan indikator pencapaian yang terukur dan masyarakat sipil akan dilibatkan dalam melakukan pengawasan melalui mekanisme

pemantauan perkembangan tingkat pencemaran lingkungan hidup di semua tataran, mulai dari pusat sampai ke desa. Tingkat efisiensi dan keberhasilan pelaksanaan pengurangan resiko bencana limbah kimia berbahaya di Indonesia dapat diukur dari indikator-indikator berikut :
a. Peningkatan jumlah jiwa yang selamat pada kejadian bencana

b. Penurunan jumlah korban yang terluka/cedera akibat bencana
c. Penurunan signifikan persentase masyarakat yang terkena dampak kejadian bencana d. Persentase jumlah penduduk korban bencana yang dapat dihitung pada waktu tertentu

setelah bencana e. Kapasitas penanganan tanggap darurat Komitmen seluruh instansi pemerintah, swasta ( pemilik pabrik ) dan pemangku kepentingan terkait merupakan suatu hal yang mutlak dibangun dan dibina dalam pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana limbah kimia. Manajemen penanganan bencana lingkungan hidup yang disebabkan limbah kimia berbahaya dapat berlanjut berdasarkan prioritas kebutuhan penanganan bencana dan sesuai kebijakan pemerintah. Diharapkan kegiatan ini akan selalu bisa diperbarui sesuai dengan perkembangan kebencanaan di Indonesia sampai di tingkat lokal. BAB III PENUTUP
7.

Kesimpulan dan saran Seperti yang telah dijelaskan secara panjang lebar diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwasanya bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kontaminasi lingkungan hidup dengan limbah industri umumnya terjadi oleh karena ulah manusia yang seharusnya bertanggungjawab mengelola limbahnya. Gagalnya sebuah system teknologi yang dimiliki oleh perusahaan dalam mengolah limbah kimia berbahayanya mengakibatkan malapetaka teknologi yang menyebabkan kerugian korban jiwa dan penurunan kualitas lingkungan hidup. Pemerintah sebenarnya telah menyusun siklus manajemen penanggulangan bencana namun hal tersebut belum berjalan maksimal karena cenderung bersifat temporer dan sporadis karena setelah adanya bencana yang disebabkan oleh limbah kimia industri telah memakan korban

barulah pemerintah mau bertindak padahal sebenarnya hal tersebut dapat dicegah kejadiannya bila pemerintah dapat melakukan pengawasan pelaksanaan AMDAL yang dilakukan perusahaan. Untuk dapat menghindari kesan / opini yang telah berkembang diatas pemerintah pusat sampai dengan daerah melakukan upaya positif dengan menerapkan manajemen bencana ( Disaster Management ) yang berjenjang dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh strata kehidupan masyarakat terutama yang tinggal disekitar lingkungan pabrik yang beraktifitas baik dalam lingkungan makro maupun lingkungan mikro dengan menerapkan lima prioritas pengurangan resiko bencana limbah kimia beracun berbahaya seperti yang telah disampaikan diatas selain itu pula usaha bersama yang dilakukan untuk mengurangi resiko bencana tersebut perlu dijaga akuntabilitasnya dan membuat parameter terukur dengan menyusun indikatorindikatornya. 8. Penutup Demikian Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang dberikan oleh Dosen Mata Kuliah Administrasi Pemerintahan, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna maka penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan pembaca demi lebih baiknya makalah ini kedepan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->