BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Ketika membahas tentang sejarah munculnya filsafat Islam, maka harus diakui bahwa pemikiran filsafat masuk ke dalam dunia Islam melalui filsafat Yunani. Pemikiran filsafat tersebut dijumpai oleh pemikir-pemikir Islam di Suria, Mesopotamia (Irak), Persia dan Mesir. Kota Iskandariyah di Mesir sampai abad VII adalah pusat studi filsafat, teologi dan sains yang sangat penting. Filsosof yang terkenal di kota ini antara lain Philo (30 SM-50 M). Dan ketika pada abad VII Masehi, umat Islam mengadakan perluasan wilayah ke daerah-daerah tersebut, maka berarti dimulainya kontak antara filsafat Islam dan filsafat Yunani.1 Pada masa al-Khulafa al-Rasyidun dan Daulah Umayyah, filsafat Yunani tersebut belum dikembangkan. Karena pada masa itu, perhatian umat Islam terfokus pada penaklukan wilayah dan lebih menonjolkan kebudayaan Arab. Barulah pada zaman Daulah Abbasiyah yang berpusat di Bagdad, mulai diperhatikan secara serius filsafat Yunani ini, terutama pada masa al-Ma’mun (813-833 M.), putera Harun alRasyid, yang dikenal dengan zaman penterjemahan. Di antara bekas pengaruh kebudayaan Yunani di daerah tersebut, adalah bahasa administrasi yang digunakan adalah bahasa Yunani. Bahkan di Mesir dan
1 Perlu diketahui bahwa filsafat Yunani telah masuk ke daerah ini bersamaan dengan penaklukan Alexander the Great dari Macedonia ke kawasan Asia dan Afrika Utara. Keinginan Alexander untuk menguasai sekaligus menyatukan kebudayaan yang ditaklukkannya, baik di Barat maupun di Timur, maka dibukalah pusatpusat pengkajian kebudayaan dengan menjadikan kebudayaan Yunani sebagai inti kebudayaannya. Di bagian Barat dikenal pusat kebudayaan di Athena dan Roma, sedangkan untuk Timur dikenal Alexandria (Iskandariah) di Mesir, Antioch di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia dan Bactra di Persia. Lihat : Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Cet.X; Jakarta:UI Press, 1986), h. 46

~1~

Suria, bahasa ini tetap dipergunakan sesudah masuknya Islam ke daerah tersebut. Baru pada abad VII oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705) diganti dengan bahasa Arab.2 Di antara yang tertarik pada filsafat Yunani dari kalangan filosof Muslim adalah al-Farabi. Menurut Massignon (ahli ketimuran berkebangsaan Perancis), sebagaimana yang dikutip Ahmad Hanafi, bahwa Al-Farabi adalah seorang filosof Muslim yang pertama. Dia juga mengakui bahwa sebelumnya al-Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia Islam, akan tetapi ia tidak menciptakan sistem filsafat tertentu. Demikian pula persoalan-persoalan yang dibicarakannya masih banyak yang belum memperoleh pemecahan yang memuaskan. Sebaliknya Al-Farabi telah dapat menciptakan suatu sistem filsafat yang lengkap dan telah memainkan peranan yang penting dalam dunia Islam seperti yang dimiliki oleh Plotinus di dunia Barat. Al-Farabi juga menjadi guru bagi Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Avirosm), dan filosof Islam lainnya yang datang sesudahnya. Olehnya itu, ia mendapat gelar al-Mu’allim al-Tsani (guru kedua) sebagai kelanjutan dari Aristoteles yang mendapat gelar al-Mu’allim al-Awwal (guru pertama).3 Pembicaraan tentang Al-Farabi sudah cukup banyak, meskipun belum mencakup seluruh aspek pemikirannya. Ia adalah pembangun filsafat dalam arti yang sebenarnya dan ia telah meninggalkan suatu bangunan filsafat yang teratur rapi bagian-bagiannya, dan oleh karenanya maka ibnu Khillikan menamakannya “filosof Islam yang paling besar”.
2 3

Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Cet.VIII; Jakarta:Bulan Bintang, 1990), h. 8 Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Cet. V; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 82

~2~

Filsafat Al-Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran Syi’ah Imamiah. Misalnya dalam soal mantik dan filsafat fisika ia mengikuti Aristoteles, dalam soal etika dan politik ia mengikuti Plotinus. Selain itu Al-Farabi adalah seorang filosof sinkretisme (pemaduan) yng percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat. Meskipun Al-Farabi telah banyak mengambil dari Plato, Aristoteles dan Plotinus, namun ia tetap memegangi kepribadian, sehingga pikiran-pikirannya tersebut merupakan filsafat Islam yang berdiri sendiri, yang bukan filsafat Stoa, atau Peripatetik atau Neo Platonisme. Memang bisa dikatakan adanya pengaruh aliranaliran tersebut, namun bahannya yang pokok adalah dari Islam sendiri.4
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dalam makalah ini membahas tentang Al-Farabi dengan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana biografi (riwayat hidup) Al-Farabi ?
2. Bagaimana pemikirannya tentang emanasi (al-faidh), filsafat al-nafs (jiwa) dan

filsafat kenabian?
3. Bagaimana teori politiknya (al-Madinah al-Fadhilah) ?

BAB II PEMBAHASAN
4

Ibid, h. 122

~3~

A. Biografi (Riwayat Hidup al-Farabi) Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalaqh. Di kalangan orang-orang Latin Abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr (Abunaser). Ia lahir di suatu kota kecil bernama Wasij, wilayah Farab (sekarang dikenal dengan kota Atrar), Turkisatan pada tahun 257 H (870 M).5 dan wafat di Damaskus pada 339 H (950 M). Sebutan Al-Farabi diambil dari kota kelahiran beliau, Farab yang juga disebut kampung Urtar, dahulu masuk daerah Iran, akan tetapi sekarang menjadi bagian dari Republik Uzbekistan. Ayahnya seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki. Karena itu Al-Farabi terkadang dikatakan sebagai keturunan Persia dan terkadang sebagai keturunan Turki6 His parents were originally of Persian descent, but his ancestors had migrated to Turkistan. Known as al-Phararabius in Europe. 7 Maksudnya, bahwa orangtuanya awalnya berasal dari keturunan Persia, tetapi leluhurnya telah bermigrasi ke Turkistan. Ia dikenal sebagai al-Pharabius di Eropa. Sejak kecil Al-Farabi suka belajar, dan ia mempunyai kecukupan luar biasa dalam bidang bahasa. Bahasa yang dikuasainya antara lain, bahasa Iran, Turkistan dan Kardistan.8 Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di Kota yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’iah inilah Al-Farabi menerima pendidikan
5 6

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Cet. III; Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 32 Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 25 7 The Window Philosophy on The Internet, Abu Al-Nasr Al-Farabi, Turkistani Muslim Philosopher, h. 1. http://www.trincoll.edu.html., (Diakses 9 Nopember 2009) 8 Ahmad Hanafi, op. cit., h. 81

~4~

dasarnya. Dia digambarkan “sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subjek yang dipelajari.”9 Setelah

menyelesaikan studi dasarnya, Al-Farabi pindah ke Bukhara, pada saat itu Bukhara merupakan ibukota dan pusat intelektual. Di sinilah Al-Farabi pertama kali belajar tentang musik. Sebelum dia tenggelam dalam karir Filsafatnya, terlebih dahulu dia menjadi seorang Qadhi. Setelah melepaskan jabatan Qadhinya, Al-Farabi kemudian berangkat ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian dan Filsafat. Guru utama Al-Farabi adalah Yuhanna ibn Hailan.10 Pada masa kekhalifahan Al- Mu’tadid (892902 M ), baik Yuhanna ibnu Hailan maupun Al-Farabi pergi ke Baghdad. Segera saja Al-Farabi unggul dalam ilmu logika. Pada masa kekhalifahan Al-Muktafi (902-908 M), atau pada tahun-tahun awal kekhalifahan Al-Muqtadir (908-932 M), Al-Farabi dan ibnu Hailan meninggalkan Baghdad, (semula menurut Ibn Khallikan) menuju Harran. Dari Baghdad tampaknya Al-Farabi pergi ke Konstantinopel. Di Konstantinopel ini,

menurut suatu sumber, dia tinggal selama delapan tahun, mempelajari seluruh silabus filsafat.11 Dalam sebuah website dijelaskan bahwa : Al-Farabi (also called al-Pharabius in Europe) was one of the most famed of Moslem philosophers. Of Turkish origin he was educated in Farab and Bukhara but spent time in Baghdad and at the court of Prince Sayf al-Dawlah in Aleppo, Syria”.12
9

Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), h. 71 Ahmad Hanafi, op.cit., h. 72 11 Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam, (Cet. II; Bandung: Mizan, 2003), h. 55 12 “Al-Farabi,” http://www.hyperhistory.com/online_n2/people_n2/alfarabi.html., (Diakses 9 Nopember
10

2009)

~5~

Bahwa Al-Farabi yang dikenal di Eropa dengan al-Pharabius,13 adalah salah seorang filosof Muslim yang terkenal. Sebagai orang Turkistan, ia belajar di Farab dan Bukhara, tetapi ia banyak menghabiskan waktunya di Bagdad dan membantu pemerintahan Saif al-Daulah di Aleppo, Syria. Antara 910 dan 920 M, Al-Farabi kembali ke Baghdad untuk mengajar dan menulis. Reputasinya sedemikian rupa sehingga ia mendapat sebutan “guru kedua” (Aristoeles mendapat sebutan “guru pertama”). Pada zamannya, Al-Farabi dikenal sebagai ahli logika. Menurut berita, Al-Farabi juga “membaca” (barangkali mengajar) Physics-nya Aristoteles empat puluh kali, dan Rhetoric-nya Aristoteles dua ratus kali. Pada 942 M, situasi di ibukota dengan cepat semakin memburuk karena adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Al-Baridi. Al-Farabi sendiri

merasa akan lebih baik pergi ke Suriah. Menurut Ibnu Abi Usaibi’ah, di Damaskus Al-Farabi bekerja di siang hari sebagai tukang kebun, dan pada malam hari belajar teks-teks filsafat dengan memakai lampu jaga. Juga sekitar masa inilah Al-Farabi setidak-tidaknya melakukan satu perjalanan ke Mesir, (Ibnu Usaibi’ah menyebutkan tanggalnya, yaitu 338 H, setahun sebelum Al-Farabi wafat). Menurut Ibn Khallikan, di Mesir inilah Al-Farabi menyelesaikan Siyasah Al-Madanniyah yang mulai ditulisnya di Baghdad. Setelah meninggalkan Mesir, Al-Farabi bergabung dengan lingkungan cemerlang filosof, penyair, dan sebagainya, yang berada di sekitar Sultan dinasti Hamdan di Aleppo yang bernama Saif Al-Daulah.14 Dalam pejumpaan pertamanya, Saif Al-Daulah
Ada nama al-Farabi versi Eropa, yaitu al-Pharabius (www.hyperhistory.com) dan al-Phararabius (www.trincoll.edu.html). 14 Yamani, op. cit., h. 55-56
13

~6~

sangat terkesan dengan Al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaanya atas berbagai bahasa.15 Kendati Sultan mau menganugrahinya uang yang berlimpah, Al-Farabi sudah merasa cukup mengambil empat dirham saja setiap hari, karena ia lebih memilih hidup zahid atau sederhana. Dr. T. J. de Boer menggambarkan tentang kematiannya : “he died at Damascus, while on a journey, in December, 950; and it is reported that his prince, attired as a Sufi, pronounced over him his funeral oration”.16 Jadi, Al-Farabi meninggal pada bulan Desember 950 M, di Damaskus pada usia delapan puluh tahun17 Dalam sebuah literatur dijelaskan sebagai berikut : Farabi contributed considerably to science, philosophy, logic, sociology, medicine, mathematics and of course, stands out as an Encyclopedist. As a philosopher, he may classed as Neoplatonist who tried to synthesize Platonism and Aristotelism with theology and he wrote such rich commentaries on Aristotle’s physics, meteorology and logic in addition to a large number of books on several other subjects embodying his original contribution. 18 Maksudnya, bahwa Al-Farabi memberikan kontribusi yang cukup bagi ilmu pengetahuan, filsafat, logika, sosiologi dan tentu saja sebagai Ensiklopedis. Sebagai seorang filosof, dia bisa digolongkan sebagai Neoplatonis yang mencoba mensintesis Platonisme dan Aristotelisme dengan teologi dan menulis karya yang mengomentari karya Aristoteles tentang fisika, meteorologi dan logika serta sejumlah buku yang merupakan kontribusi nyata al-Farabi.

15 16

Ahmad Zainul Hamdi, op. cit., h. 74 DR. T. J. de Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York:Dover Publications, t. th.), h. 108 17 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Cet. II; Jakarta: Djambatan, 2002), h. 280 The Window Philosophy on The Internet, Abu Al-Nasr Al-Farabi, Turkistani Muslim Philosopher, h. 1. http://www.trincoll.edu.html., (Diakses 9 Nopember 2009)
18

~7~

Oleh karena itu, Al-Farabi yang dikenal sebagai filosof Muslim terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna, sehingga filosof yang datang sesudahnya seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan

mengupas sistem filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat terbukti dengan usahanya mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dan Aristoteles.19 Dengan demikian maka beliau dianggap sebagai yang paling terpelajar dan tajam dari para komentator karya Aristoteles. Ibnu Sina pernah mempelajari buku metafisika karangan Aristoteles empat kali, tetap belum juga mengerti maksudnya. Setelah ia membaca karangan Al-Farabi yang berjudul Aghradl kitabi ma Ba’da atThabiah (Intisari Buku Metafisika), baru ia mengerti apa yang selama ini dirasakan sukar.20 Di antara karangan-karangannya ialah: 1. Agradlu ma Ba’da at-Thabi’ah
2.

Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain (mempertemukan pendapat kedua filosof; masudnya Plato dan Aristoteles).

3. Tahsil as-Sa’adah (mencari kebahagiaan). 4. ‘Uyun ul-Masail (Pokok-pokok persoalan) 5. Ara-u Ahl-il Madinah al-Fadlilah (Pikiran-pikiran penduduk Kota Negeri

Utama).
19 Ada anggapan bahwa perbedaan antara guru dengan murid, Plato dan Aristoteles. Boleh jadi, di samping sistem pemikiran, juga perbedaan hidup. Plato lebih suka hidup menyendiri, sedangkan Aristoteles lebih menyenangi kehidupan duniawi, kaya dan berkeluarga bahkan pernah menjadi menteri dari Alexander the Great. Lihat : Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, op. cit., h. 30 20 Sudarsono, Filsafat Islam, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 31

~8~

6. Ihsa’u al-Ulum (Statistik Ilmu).21

B. Pemikiran al-Farabi
1. Emanasi (al-Faidh)

Emanasi berasal berasal dari bahasa Inggris yaitu emanation; berasal dari bahasa latin e, atinya dari dan manare, artinya mengalir. Emanasi adalah doktrin mengenai terjadinya dunia.22 Emanasi ialah teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari zat yang wajibul wujud (Zat yang mesti adanya; Tuhan ). Teori Emanasi disebut juga “teori urut-urutan wujud”. Menurut Al-Farabi, Tuhan adalah pikiran yang bukan berupa benda. Bagaimana hubungannya dengan alam yang berupa benda ini? Apakah alam keluar dari padanya dalam proses waktu, ataukah alam itu qadim seperti qadimnya Tuhan juga? Persoalan emanasi telah dibahas oleh aliran Neo-Platonisme yang menggunakan kata-kata simbolis (kiasan), sehingga tidak bia didapatkan hakikatnya yang sebenarnya. Akan tetapi Al-Farabi telah dapat menguraikannya secara ilmiah, dimana ia mengatakan bahwa segala sesuatu keluar dari Tuhan, karena Tuhan mengetahui Zat-Nya dan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya.23 Dalam ajaran Plotinus, dari yang esa memancar akal, dari akal memancar jiwa dunia dan dari jiwa dunia memancar materi dunia. Jadi, menurutnya Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan sebagai penggerak pertama (prima causa).24
21 22

Ahmad Hanafi, op. cit., h. 82 Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Cet.III; Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 193 23 Ahmad Hanafi, op. cit., h. 92 24 Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 37

~9~

Seperti halnya dengan Plotinus, Al-Farabi mengatakan bahwa Tuhan itu Esa sama sekali. Karena itu yang keluar dari pada-Nya juga satu wujud saja. Sebab emanasi itu timbul karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap Zat-Nya yang satu.25 Sedangkan dalam doktrin Mutakallimin, Tuhan adalah Pencipta (Shani’ atau Agent) yang menciptakan dari tiada menjadi ada ( ‫ , اليجـاد من العـدم‬creatio ex nihilo). Bagi al-Farabi, Tuhan menciptakan sesuatu dari bahan yang sudah ada secara pancaran. Tuhan menciptakan alam sejak azali dengan materi alam berasal dari energi yang qadim. Sedangkan susunan materi yang menjadi alam adalah baru. Karena itu, menurutnya kun Tuhan yang termaktub dalam Al-Qur’an ditujukan kepada syai’ ( ‫ , ) شـيئ‬bukan kepada la’ syai’ ( ‫62.) ل شــيئ‬ Jadi dalam dunia Islam, teori emanasi ini pertama kali diperkenalkan oleh al-Farabi. Tuhan diyakini Maha Esa, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak, Maha Sempurna dan tidak berhajat kepada apapun. Karena itu yang keluar darinya juga satu, wujud satu. Jadi Al-Farabi berpegang pada asas, yang berasal dari yang satu pasti satu juga ( ‫.) ل يفيد عن الواحد إل واحد‬ Jelasnya, proses emanasi itu dapat digambarkan sebagai berikut : Tuhan sebagai Akal berpikir tentang dirinya dan dari pemikiran-Nya itu timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama ( ‫ ) الوجود الول‬dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua ( ‫ ) الوجـود الثاني‬yang juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama ( ‫ ,العقـل الول‬First Intelligence ) yang tidak bersifat materi. Wujud
Ahmad Hanafi, loc. cit. Konsep kun disebutkan dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat, seperti pada Q. S. Yasin/36 : 82 (               ) . Lihat : Ibid
26 25

~ 10 ~

kedua ini berpikir tentang wujud pertama, dan dari pemikiran itu timbul wujud ketiga ( ‫ ,) الوجـود الثـالث‬disebut Akal Kedua ( ‫ ,العقل الثاني‬second intelligence ). Wujud Kedua atau Akal Pertama ini juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbul Langit Pertama ( ‫ ,السماء الولى‬first heaven ) Wujud 3 / Akal 2 Tuhan Dirinya Wujud 4 / Akal 3 Tuhan Dirinya Wujud 5 / Akal 4 Tuhan Dirinya Wujud 6 / Akal 5 Tuhan Dirinya Wujud 7 / Akal 6 Tuhan Dirinya Wujud 8 / Akal 7 Tuhan Dirinya Wujud 9 / Akal 8 Tuhan Dirinya Wujud 10 / Akal 9 Tuhan Dirinya = Wujud 4 / Akal 3 = Bintang-Bintang ( ‫) الكواكب الثابتة‬ = Wujud 5 / Akal 4 = Saturnus ( ‫) كـرة الزهـل‬ = Wujud 6 / Akal 5 = Jupiter ( ‫) كرة المستـرى‬ = Wujud 7 / Akal 6 = Mars (‫) كر ة المريج‬ = Wujud 8 / Akal 7 = Matahari ( ‫) كرة الشمـس‬ = Wujud 9 / Akal 8 = Venus ( ‫) كرة الزهـرة‬ = Wujud 10 / Akal 9 = Merkurius ( ‫) كـرة العطارة‬ = Wujud 11 / Akal 10 = Bulan ( ‫) كـرة القمـر‬

Pada pemikiran Wujud 11 / Akal 10 berhentilah terjadinya akal-akal. Tetapi dari Akal 10 muncullah bumi serta ruh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur yakni api, udara, air dan tanah. Dengan demikian, ada 10 akal dan 9 langit. Akal 10 mengatur dunia yang ditempati manusia ini. Akal 10 ini disebut juga

~ 11 ~

‘Aql Fa’al (Akal Aktif) yaitu Jibril.27 Menurut Al-Farabi akal berjumlah 10. Dasar penetapan itu ialah mengingat jumlah planet yang berjumlah 9. Tiap akal membutuhkan satu planet, kecuali akal pertama yang tidak membutuhkan planet.28 Tujuan Al-Farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan kemahaesaan Tuhan. Karena tidak mungkin Yang Maha Esa berhubungan dengan yang tidak Esa atau banyak. Andaikan alam diciptakan secara langsung mengakibatkan Tuhan berhubungan dengan yang tidak sempurna, dan ini menodai keesaan-Nya. Jadi, dari Tuhan Yang Maha Esa hanya muncul satu, yaitu Akal Pertama yang berfungsi sebagai perantara dengan yang banyak.29

2. Jiwa ( an-Nafs )

Manusia adalah makhluk terakhir dan termulia yang lahir di atas bumi ini. Ia terdiri dari dua unsur: jasad dan jiwa. Jasad berasal dari alam ciptaan dan jiwa berasal dari alam perintah (alamu’ l amar). Berdasarkan perbedaan asal antara jiwa dan badan, maka jelaslah bahwa jiwa merupakan unsur yang lebih penting dan lebih berperan dari pada jasad, sehingga Al-Farabi, seperti halnya para filosof Yunani, lebih banyak perhatiannya dalam membahas hal-hal yang berkaitan dengan jiwa yang dianggap sebagai hakikat manusia.30
27 28

Hasyimsyah Nasution, loc. cit. Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam, (Cet. I; Jakarta:Universitas Indonesia, 2006), h. 46 29 Hasyimsyah Nasution, loc. cit. 30 Ahmad Daudy, op. cit., h. 40

~ 12 ~

Menurut Al-Farabi, kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan

binasanya jasad tidak membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah ( ‫ ) النفـس الناطقة‬yang berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad dari alam khalq, berbentuk, berupa dan berkadar. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya. Jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut :
a. Daya gerak ( ‫ ,المحـركة‬montion ), yakni : 1) Makan ( ‫ ,الغاذية‬nutrition ) 2) Memelihara ( ‫ ,المـربية‬preservation ) 3) Berkembang ( ‫ ,المـولدة‬reproduction ) b. Daya mengetahui ( ‫ ,المدركة‬cognition ), yakni : 1) Merasa ( ‫ ,الحاسة‬sensation ) 2) Imajinasi ( ‫ ,المتخلية‬imagination ) c. Daya berpikir ( ‫ ,الناطقة‬intellection ) 1) Akal praktis ( ‫ ,العقـل العمـلي‬practical intellect ) 2) Alam teoritis ( ‫ ,العقـل النظـري‬theoretical intellect )31

Pada umumnya pemikiran Al-Farabi tentang jiwa sangat diwarnai oleh pemikian para filosof Yunani, terutama Aristoteles dan Plato. Defenisi jiwa dari Aristoteles diterima oleh Al-Farabi. Ia mengatakan, jiwa adalah “kesempurnaan pertama bagi jisim alami yang organis yang memiliki kehidupan dalam bentuk potensial”. Namun, kendatipun ia menerima konsep Aristoteles yang mengatakan bahwa jiwa adalah forma bagi jasad, tapi ia menafsirkan “forma” dalam arti “jauhar”
31

Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 39

~ 13 ~

(substansi) yang berdiri sendiri dan yang berasal dari akal kesepuluh (‘aql fa’-‘al). Dengan demikian, hubungan jiwa dengan jasad tidak esensial tapi aksidental, sehingga jiwa tidak akan fana dengan sebab kematian jasad. Dalam hal ini, Al-Farabi lebih menyukai konsep Plato yang menganut paham keabadian jiwa di samping kesesuaiannya dengan ajaran Islam.32 Mengenai keabadian jiwa, Al-Farabi membedakan antara jiwa khalidah dan jiwa fana’. Jiwa khalidah adalah fadilah, yaitu jiwa yang mengetahui kebaikan dan berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani. Jiwa ini tidak hancur dengan hancurnya badan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah jiwa yang telah berada pada tingkat akal mustafad. Sedangkan jiwa fana adalah jiwa jahilah, tidak mencapai kesempurnaan karena belum dapat melepaskan diri dari ikatan materi, ia akan hancur dengan hancurnya badan.33 3. Filsafat Kenabian Pengingkaran terhadap wahyu dari agama Islam sudah timbul sejak masa Nabi Muhammad saw. Orang-orang kafir Quraisy tidak mau mengakui bahwa Nabi Muhammad saw. mendapat wahyu dan dapat berhubungan dengan alam ketuhanan, sebab ia adalah manusia biasa yang makan dan minum serta pergi ke pasar. Sebagaimana dinyatakan dalam Q. S. Al-Furqan/25 : 7 sebagai berikut :

        
32 33

Ahmad Daudy, op. cit., h. 40 Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 40

~ 14 ~

          
Terjemahnya : Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?” 34 Setelah al-Qur’an sebagai mukjizatnya yang terbesar membungkam mulut mereka, sedang mereka adalah ahli bahasa dan kesusasteraan, maka mereka menuduhnya sebagai tukang sihir. Maka jawaban terhadap tuduhan-tuduhan mereka itu sebagaimana tercantum dalam Q. S. Al-Kahfi/18 : 110 sebagai berikut :

                                
Terjemahnya : Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".35 Pada masa pertama Islam kaum muslimin mempercayai sepenuhnya apa yang datang dari Tuhan, tanpa membahasnya atau mencari-cari alasannya. Namun keadaan ini tidak lama kemudian dikeruhkan oleh berbagai keraguan, setelah

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Cet. I; Semarang:Toha Putra, 1999), h. 287 35 Ibid., h. 243

34

~ 15 ~

golongan-golongan luar Islam dapat memasukkan pikirannya di kalangan kaum muslimin, seperti golongan Mazdak dan Manu dari Iran, golongan Sumniah dari agama Brahma, orang-orang Yahudi, Nasrani dan sebagainya. Sejak saat itu, setiap dasar-dasar agama Islam dibahas dan dikritik. Dalam menghadapi mereka, orangorang Muktazilah telah memberikan kontribusi yang sukar dicari bandingannya. Dalam hubungan ini, serangan Ibn ar-Rawandi (wafat akhir 111 H) dan Abu Bakar ar-Razi (wafat 250 H) terhadap kenabian perlu dicatat.36 Dalam suasana tersebut, Al-Farabi perlu mengambil bagian. Apalagi ia semasa dengan Ibn ar-Rawandi dan Abu Bakar ar-Razi. Al-Farabi adalah orang pertama yang mengemukakan dan mendetailiser stetemen kenabian itu, tentang kenabian ia tidak meninggalkan suatu tambahan bagi para penggantinya dari kalangan filosof Islam belakangan. Teori kenabian ini merupakan bagian tertinggi di dalam pandangan filosofis Al-Farabi.37 Menurut al-Farabi, nabi dapat mengetahui hakikat-hakikat karena ia dapat berkomunikasi dengan akal kesepuluh yang merupakan akal terakhir dalam rangkaian proses emanasi. Dalam faham al-Farabi, akal kesepuluh ini dapat disamakan dengan malaikat. Kesanggupan berkomunikasi dengan akal kesepuluh inilah yang memungkinkan para nabi dan rasul dapat menerima wahyu. Filsafat kenabian Al-Farabi terkait erat dengan ajarannya tentang hierarki daya-daya jiwa manusia. Menurutnya, kemampuan penginderaan jiwa manusia
36 AIbn ar-Rawandi dalam bukunya Az-Zamarrudah mengingkari kenabian pada umumnya dan kenabian Nabi Muhammad saw. ia mengatakan bahwa para Rasul itu tidak diperlukan, karena Tuhan telah memberikan akal kepada manusia, agar dapat membedakan antara baik dan buruk, dan petunjuk akal sudah cukup untuk itu. Demikian pula dengan ar-Razi. Baca : Ahmad Hanafi, Pengantar ..., op. cit., h. 103 37 Ibrahim Madkour, fi al-Falsafah al-Islamiyyah Manhaj wa Tathbiquh, terj. Yudian Wahyudi Asmin dan Ahmad Hakim Mudzakkir, Filsafat Islam : Metode dan Penerapan (Cet. II; Jakarta:Rajawali, 1991), h. 87

~ 16 ~

terbagi ke dalam lima tahap, yaitu pertumbuhan, penginderaan, bernafsu, mengkhayal dan berpikir. Kelima daya jiwa ini membentuk hierarki di mana setiap tahap hadir untuk tahap di atasnya. Menurut al-Farabi, manusia memperoleh pengetahuan dari daya

mengindera, mengkhayal38 dan berpikir. Ketiga daya ini merujuk pada kedirian manusia, yaitu jism, nafs dan aql.39 Daya mengindera merujuk pada indera eksternal sedang daya mengkhayal dan berpikir disebut indera internal. Menurut Al-Farabi, manusia dapat berhubungan dengan ‘Aql fa’al melalui dua cara, yakni penalaran atau renungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi pilihan yang dapat menembus alam materi untuk dapat mencapai cahaya ketuhanan. Sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh Nabi. Ciri khas seorang nabi bagi Al-Farabi adalah mempunyai daya imaginasi yang kuat di mana obyek indrawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya. Ketika ia berhubungan dengan ‘Aql fa’al’ ia dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu. Wahyu adalah limpahan dari Tuhan melalui ‘Aql fa’al’ (akal 10) yang dalam penjelasan Al-Farabi adalah Jibril. Dapatnya Nabi berhubungan langsung dengan akal 10(Jibril) tanpa latihan karena Allah menganugrahinya akal yang mempunyai kekuatan suci (qudsiyah) dengan daya tangkap yang luar biasa yang diberi nama hads.40
Selain kata mengkhayal atau daya khayal, penulis juga menggunakan sinonimnya, yaitu imajinasi. Karena kedua istilah ini (mengkhayal dan imajinasi) digunakan oleh para penulis tentang teori kenabian al-Farabi. Lihat : Ahmad Hanafi, Pengantar, op. cit., h. 104 -105 dan Ahmad Zainul Hamdi, op. cit., h. 76 - 79 39 Ahmad Zainul Hamdi, op. cit., h. 77 40 Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 44
38

~ 17 ~

Jadi jika pada seseorang terdapat banyak imajinasi yang istimewa, maka nubu’at-nubu’atnya bisa menjadi sempurna di siang hari seperti nubu’at-nubu’at malam hari, di saat berjaga ia mampu berhubungan dengan Akal-Faal seperti ketika ia berhubungan dengan Akal-Faal tersebut di saat ia sedang tidur, bahkan mungkin sekali hal itu terjadi dalam bentuk yang lebih jelas dan sempurna. Maka seorang nabi menurut Al-Farabi adalah manusia yang diberi imajinasi yang besar yang dimungkinkan untuk mengetahui ilham-ilham langit di dalam berbagai kondisi waktu.41

4. Negara Utama (al-Madinah al-Fadhilah)

Sebelum membahas persoalan politik, Al-Farabi membahas masalah psikologi manusia. Menurutnya, setiap manusia mempunyai fitrah sosial, fitrah untuk berhubungan dan hidup bersama orang lain. Dari fitrah ini kemudian lahir apa yang disebut masyarakat dan negara.42 Dalam kaitannya dengan kemampuan mengatur dan menggapai keutamaan, Al-Farabi membagi masyarakat ke dalam dua bagian, yaitu masyarakat sempurna ( ‫ ) المجتمع الكامل‬dan masyarakat kurang sempurna ( ‫ .)المجتمـع غيـر الكامـل‬Masyarakat yang sempurna adalah masyarakat yang mampu mengatur dan membawa dirinya pada keutamaan tertinggi, sedangkan
Ibrahim Madkour, op. cit., h. 129 Gagasan tentang fitrah sosial kemudian diulangi oleh Jean-Jacques Rousseau (1712 – 1778 M.) dengan konsep kembali ke alam (retur a la nature) yang kemudian melahirkan konsep social contract (kontrak sosial), kemauan untuk bekerjasama demi tercapainya kebutuhan bersama di antara individu. Lihat : Frans Magnis Suseno, Etika Politik, (Cet.I; Jakarta:Gramedia, 1994), h. 238
42 41

~ 18 ~

masyarakat kurang sempurna adalah masyarakat yang tidak bisa mengatur dan membawa dirinya pada keutamaan tertinggi. Kebaikan dan keutamaan tertinggi adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud adalah tercapainya kemampuan untuk aktualisasi potensi jiwa dan pikiran.43 Konsep negara berasal dari Plato yang mempersamakan negara dengan tubuh manusia. Negara utama, kata Al-Farabi, serupa dengan badan yang sempurna sehatnya. Seluruh anggotanya saling bekerja sama untuk membantu dan menyempurnakan serta memelihara hidupnya. Anggota badan itu berlebih kurang tingkat dan dayanya, dimana hati merupakan anggota pengendali. Demikian pula halnya negara dimana bagian-bagiannya berlebih kurang tingkatnya, dan padanya terdapat seorang kepala sebagai pemimpin. Anggota badan saling melayani, begitu pula dalam negara terdapat warga negara yang saling membantu. Badan itu membentuk suatu kesatuan, demikian pula halnya Negara utama yang setiap bagiannya saling berkaitan dan diatur menurut tingkat kadar kepentingan.44 Selanjutnya, Al-Farabi membagi negara dalam tiga bagian yaitu : a. Negara besar, adalah negara yang berdaulat dan bebas dan membawahi negara-negara bagian; b. Negara sedang, adalah negara bagian;
c. Negara kecil, adalah pemerintah daerah atau daerah otonom.45

43 Achmad Khudori Soleh, Pemikiran Politik Al-Farabi, Jurnal Psikoislamika, Fakultas Psikologi UIN Malang, Vol. IV/ No. 2 Juli 2007, h. 3. http://www.uin-malang.ac.id (Diakses 9 November 2009) 44 Ahmad Daudy, op. cit., h.51 45 Achmad Khudori Soleh, loc. cit.

~ 19 ~

Menurut Al-Farabi, di antara tiga macam negara di atas: besar, sedang dan , kecil, hanya negara yang diatur dengan sistem pemerintahan utama (fadilah) yang mampu mengantarkan masyarakatnya pada kesejahteraan dan kebahagian. Sistem pemerintahan utama ini, dalam mengantarkan masyarakatnya mencapai kebahagiaan adalah sama seperti kerjasama anggota tubuh dalam menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya. Al-Farabi juga membedakan negara menjadi lima macam : a. Negara utama, yaitu negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan. Menurut al-Farabi, negara utama adalah negara yang dipimpin oleh rasul dan kemudian oleh filosof. b. Negara orang-orang bodoh, yaitu negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan.
c. Negara orang-orang fasik, yaitu negara yang mengenal kebahagiaan, Tuhan

dan akal fa’al seperti penduduk utama, akan tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negeri yang bodoh. d. Negara yang berubah-ubah, ialah negara yang penduduknya semula mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki negara utama, tetapi kemudian mengalami kerusakan.
e. Negara sesat, yaitu negara yang penduduknya yang mempunyai konsepsi

yang salah tentang Tuhan dan akal fa’al, tetapi kepala negaranya beranggapan bahwa dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.

~ 20 ~

Karena itu, negara utama (madinah al-fadilah) tidak bisa dipimpin sembarang orang melainkan oleh mereka yang benar-benar memenuhi persyaratan tertentu (dustur). Pemimpin utama (al-ra’is al-awwal) harus memenuhi persyaratan yang bersifat fitrah (bawaan) dan pengayaan (muktasab). Persyaratan yang bersifat bawaan (fitrah), antara lain; 1. Dari sisi hati atau jiwa, mempunyai kelebihan dalam soal kesalehan dan ketaqwaan, sebagai representasi manusia sempurna yang telah mencapai tahap akal aktif dalam menangkap dan menterjemahkan isyarat-isyarat

ilahiyah. Disamping itu, juga terbukti mempuyai akhlak atau moral yang baik dan terpuji. 2. Dari segi kecerdasan, mempunyai keunggulan dalam hal representasi imajinatif.
3. Dari segi politik, mempunyai kebijaksanaan yang sempurna dalam

menjalankan policy dan menagai persoalan-persoalan yang timbul. Jug mempunyai keunggulan persuasif serta sifat tegas dan lugas dalam menghadapi penyelewengan dan ketidakadilan.
4. Dari sisi manajerial, mempunyai keunggulan dalam retorika, sehingga bisa

menjelaskan persoalan-persoalan penting dengan baik dan mudah, pada masyarakat.46 Di sisi lain, tak semua orang mempunyai kapasitas untuk memimpin atau memandu orang lain atau-kalaupun memang memilikinya-( tak semua orang

46

Ibid, h. 7

~ 21 ~

memiliki) kemampuan untuk menasehati orang lain untuk berbuat hal-hal tertentu. Ada orang yang banyak memiliki keduanya atau hanya salah satunya saja. Sebagian lain memiliki sedikit, dan sebagian lagi malah tak memiliki keduanya. Menurut AlFarabi, dengan demikian ada tiga kelompok orang, dari segi kapasitas untuk memimpin, yaitu untuk memandu dan menasehati: penguasa tertinggi atau penguasa sepenuhnya (unqualified ruler) atau penguasa tanpa kualifikasi, Penguasa subordinat (tingkat kedua) yang berkuasa dan sekaligus dikuasai, dan yang dikuasai sepenuhnya. Negara utama adalah negara yang diperintah oleh penguasa tertinggi yang “... benar-benar memiliki berbagai ilmu dan setiap jenis pengetahuan... Ia mampu memahami dengan baik segala yang harus dilakukannya. Ia mampu membimbing dengan baik sehingga orang melakukan apa yang diperintahkannya. Ia mampu menentukan, mendefenisikan, dan mengarahkan tindakan-tindakan ini ke arah kebahagiaan. Hal ini hanya terdapat pada orang yang memiliki kecenderungan alami yang besar lagi unggul, bila jiwanya bersatu dengan akal aktif. Penguasa tertinggi, dengan demikian, adalah nabi atau imam yang merupakan pemberi hukum. Mereka menggariskan pendapat dan tindakan untuk komunitasnya melalui wahyu dari Tuhan. Ringkas kata, mereka adalah orang yangselain sempurna fisik, mental dan jiwanya- memiliki keahlian yang sempurna dalam kearifan teoretis dan praktis yakni keahlian memerintah atau politik.47

47

Yamani, op. cit., h. 61-62

~ 22 ~

Jadi, Nabi dan filosof adalah dua tokoh yang sangat layak menjadi kepala negara utama karena keduanya telah mampu berhubungan dengan akal aktif yang merupakan sumber hukumdan aturan yang diperlukan bagi kehidupan masyarakat. Kalaulah ada perbedaan, maka itu terletak hanya pada cara berhubungan dengan akal aktif yang oleh nabi melalui daya khayal, sedangkan oleh filosof dengan pemikiran akal.48 Mengenai cara kerja kota utama, Al-Farabi menyatakan bahwa pertamatama penduduknya dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kelebihankelebihan (merits) mereka-yaitu berdasarkan kecenderungan-kecenderungan alamiah mereka dan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan karakter yang telah mereka bentuk. Yakni masing-masing diberi kedudukan sebagai yang diperintah atau yang memerintah. “... yang dimulai dengan peringkat penguasa yang tertinggi. Kemudian secara berangsur-angsur turun, sampai ke peringkat yang diperintah, yang tidak memiliki elemen memerintah, dan di bawah peringkat ini tidak ada lagi peringkat.49 Walhasil, Negara utama atau setidaknya pemerintahan terbaik adalah rezim dimana orang-orang saleh dan profesional merupakan yang paling banyak mengambil peranan atau penentu kebijakan. Dengan sistem seperti itu, diharapkan mereka akan mampu mendidik dan membawa masyarakat pada tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan tertinggi.50

48 49

Ahmad Daudy, op. cit., h. 54 Ibid., h. 64 50 Achmad Khudori Soleh, loc. cit.

~ 23 ~

BAB III KESIMPULAN Dari uraian makalah tentang Al-Farabi, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Al-Farabi yang dikenal sebagai filosof

Islam terbesar, memiliki keahlian

dalam banyak bidang keilmuwan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna.
2. Emanasi ialah teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam

makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Zat yang mesti adanya; Tuhan).

~ 24 ~

3. Menurut Al-Farabi, kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara

accident , artinya antara keduanya mempunyai substansi, dan binasanya jasad tiak membawa binasanya jiwa. 4. Dalam paham Al-Farabi, akal kesepuluh ini dapat disamakan dengan malaikat, kesanggupan berkomunikasi dengan akal sepuluh inilah yang memungkinkan para nabi dan rasul dapat menerima wahyu.
5. Negara utama adalah negara yang diperintah oleh penguasa tertiggi, yang

benar-benar memiliki berbagai ilmu dan setiap jenis pengetahun. Ia mampu memahami dengan baik segala yang harus dilakukannya.

DAFTAR PUSTAKA Amien, Miska Muhammad, Epistemologi Islam, Cet. I; Jakarta:Universitas Indonesia, 2006 Bagus, Loren, Kamus Filsafat, Cet.III; Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2002 Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992 de Boer, DR. T. J., The History of Philosophy in Islam, New York:Dover Publications, t. th. Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Cet. I; Semarang:Toha Putra, 1999 Hamdi, Ahmad Zainul, Tujuh Filsuf Muslim, Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004 Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Cet. V; Jakarta: Bulan Bintang, 1991
~ 25 ~

Madkour, Ibrahim, fi al-Falsafah al-Islamiyyah Manhaj wa Tathbiquh, terj. Yudian Wahyudi Asmin dan Ahmad Hakim Mudzakkir, Filsafat Islam : Metode dan Penerapan Cet. II; Jakarta:Rajawali, 1991 Nasution, Harun , Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Cet.VIII; Jakarta:Bulan Bintang, 1990 ________ , Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Cet.X; Jakarta:UI Press, 1986 Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Cet. III; Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002 Sudarsono, Filsafat Islam, Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997 Suseno, Frans Magnis, Etika Politik, Cet.I; Jakarta:Gramedia, 1994 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Cet. II; Jakarta: Djambatan, 2002 Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam, Cet. II; Bandung: Mizan, 2003

Literatur Internet/Website : “Al-Farabi,” http://www.hyperhistory.com/online_n2/people_n2/alfarabi.html., (Diakses 9 Nopember 2009) The Window Philosophy on The Internet, Abu Al-Nasr Al-Farabi, Turkistani Muslim Philosopher, http://www.trincoll.edu.html., (Diakses 9 Nopember 2009) Achmad Khudori Soleh, Pemikiran Politik Al-Farabi, Jurnal Psikoislamika, Fakultas Psikologi UIN Malang, Vol. IV/ No. 2 Juli 2007, h. 3. http://www.uinmalang.ac.id (Diakses 9 November 2009)

~ 26 ~

~ 27 ~

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful